Lembah Tiga Malaikat Jilid 47

Mode Malam
Jilid 47

Sambil menjura Pau Heng segera berkata.

“Beruntung sekali aku tak sampai menyia-nyiakan harapan nona, aku telah berhasil membawa mereka sampai di tempat ini, tapi hutan tersebut…”

“Sebenarnya dalam hutan inipun terdapat alat jebakannya, tapi kini sudah disingkirkan semua, harap kalian mengikuti aku !”

Sembari berkata dan membalikkan badan dan berjalan lebih dulu menuju ke depan.

Lambat laun para jago merasa semakin kagum dan hormat terhadap kemampuan Nyoo Hong leng, tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka segera berangkat mengikuti di belakang tubuhnya.

Sesudah menembusi hutan itu, pemandangan segera berubah sebuah kota kecil berwarna abu-abu membentang di depan mata dan menghalangi perjalanan mereka.

Buyung Im seng serta Khong Bu siang dengan pedang terhunus berdiri di depan pintu kota, sesosok tubuh bocah berbaju hijau tergeletak tewas di pintu gerbang.

Bu tok taysu yang luka pada lengan kirinya sudah terbalut, dengan tangan kanan membawa golok berdiri pula dibelakang Khong Bu siang.

Pelan-pelan Seng Cu sian berjalan mendekati bocah berbaju hijau itu, kemudian memperhatikannya dengan seksama, tampak darah kental pelan-pelan mengalir dari ulu 

hati bocah berbaju hijau tersebut. Rupanya dia terkena sebuah tusukan yang mematikan, sebuah tusukan yang tepat mengenai jantungnya.

Menyaksikan hal mana, sambil menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali dia berkata.

“Golok menyerang lurus, pedang menyerang secara miring, tusukan pedang yang menembusi ulu hati orang benar-benar jarang sekali dijumpai dikolong langit.”

“Inilah sebuah jurus pedang hasil ciptaan dari Buyung Toako kalian yang dinamakan It tian hoang cun (setitik gincu merah), sebenarnya termasuk jurus pedang berhawa sesat,

ganas lagi keji, agaknya Buyung Im seng berhasil menguasi jurus pedang tersebut dengan baik sekali.”

Seng Cu sian dapat menangkap kalau ucapan si nona mengandung nada menyindir, maka dia hanya mengiakan sekenanya lalu tidak banyak bicara lagi.

Senyuman yang semula menghiasi wajah Nyoo Hong leng, kini sudah lenyap tak berbekas, wajanya berubah menjadi amat serius, kemudian pelan-pelan berkata.

“Sekarang kita sudah melewati beberapa buah perintang yang kuat, tapi dewasa ini masih ada sebuah perintang lagi yang sedang menantikan kedatangan kita, perlu saudara sekalian ketahui perintang ini terhitung paling berbahaya dan lagi saudara sekalian harus mengandalkan pula kepandaian silat masing-masing untuk menembusinya.”

“Maksudmu, kita akan mengadakan suatu pertarungan sistem keras lawan keras ?” tanya Pau Heng.

“Benar, di dalam kota batu tersebut tersekap berbagai jagoan lihai dari dunia persilatan…”

“Aku tahu, tapi mereka pun termasuk orang-orang yang dikendalikan suatu kekuatan” kata Kwik Soat kun cepat, “mengapa nona Nyoo tidak menggunakan saja cara yang telah kau gunakan untuk menghadapi orang-orang lain untuk menghadapi mereka ? Mengapa kita harus melangsungkan suatu pertarungan keras lawan keras ?”

“Aku memang banyak mengetahui tentang rahasia perguruan tiga malaikat, tapi aku bukan pemilik perguruan tiga malaikat ini hingga apa yang kuketahui tentang pelbagai masalah pun tidak selengkap majikannya sendiri. Apalagi orang-orang yang disekap di dalam kota batu berbeda dengan cara mengendalikan orang-orang lainnya, mungkin hal ini disebabkan mereka semuanya rata-rata mempunyai kedudukan serta nama besar yang amat tinggi dalam dunia persilatan, maka Buyung Tiang kim tak tega untuk menghilangkan kejernihan otak mereka sehingga berubah menjadi sesosok mayat hidup saja. Itulah sebabnya dia telah pergunakan cara lainnya….” 

“Rupanya nona telah melupakan satu hal” ucap Kwik Soat kun tiba-tiba sambil tersenyum.

“Soal apa ?

“Asalkan kita tidak membuka pintu-pintu ruangan tersebut, mereka pun tak akan menampakkan diri untuk menghadang, bila daya ingatanku tidak salah, tampaknya mereka pun tak pernah meninggalkan tempat penyekapannya.”

“Aku tahu, tapi keadaan sekarang agak berbeda, mungkin situasinya ada perubahan, bila kota batu ini tak ada kegunaan lain, Buyung Tiang kim pun tidak akan sampai membangun kota batu itu.”

“Yang menjadi biang keladi dari semua kejahatan adalah Ci im Kiongcu tapi terhadap Buyung Tiang kim tampaknya nona masih mempunyai kesan serta pandangan yang jelek.”

“Bukan begitu, kota batu ini dibangun oleh Buyung Tiang kim dengan mengandalkan sedikit kemampuan dari Ci im kiongcu, bagaimana mungkin ia bisa menciptakan keadaan seperti ini ?”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh.

“Tampaknya cici seperti tiada hentinya memeras otak untuk memikirkan satu persoalan, siau moay sangat berharap dapat membantumu.”

“Moga-moga saja kau bukan lagi menyindirku” seru Kwik Soat kun cepat. Nyoo Hong leng segera menggeleng.

“Ucapanku ini muncul dari hati yang jujur.” “Baiklah, kalau begitu silahkan bertanya.”

Setelah tertawa hambar Nyoo Hong leng berkata.

“Dengan kecerdasan dan kemampuan Buyung Tiang kim, sepuluh orang Ci im kiongcu pun belum tentu bisa mengungguli dirinya, tapi mengapa ia justru terkena rencana busuk dari Ci im kiongcu ?”

“Soal ini… soal ini… memang merupakan masalah yang berat, aku harus memikirkanya dengan seksama.”

“Kalau begitu aku titipkan masalah ini untuk cici pikirkan.” 

“Siau moay akan berupaya sekuat tenaga, entah benar atau tidak hasil pemikiranku nanti, pasti akan kuberikan suatu jawaban untukmu.”

Sambil tertawa Nyoo Hong leng manggut-manggut.

“Bagus sekali” serunya, “selewatnya kota batu ini, kita bicarakan lagi persoalan tersebut.”

Kemudian setelah memandang sekejap kawanan jago yang berada disitu, dia melanjutkan.

“Setelah memasuki kota batu ini, harap saudara sekalian suka bertindak lebih berhati-hati sebab semua orang yang disekap dalam kota batu ini merupakan jago-jago kelas satu dari dunia persilatan, mereka semua memiliki jurus-jurus silat yang dahsyat dan mematikan, apalagi setelah disekap sekian tahun, harap kalian jangan terlalu mengharapkan penampilan mereka yang jujur, terbuka dan gagah seperti watak-watak mereka dulu.”

“Terima kasih banyak atas petunjuk nona” sahut Seng Cu sian sambil mendehem pelan. Kembali Nyoo Hong leng berkata sambil tertawa hambar.

“Kalian pun jangan mengharapkan sesuatu yang kelewat tinggi dariku, aku sendiripun kurang begitu menguasai tentang orang-orang yang berada dalam kota batu ini, agar kita masing-masing dapat saling bantu membantu kita harus membentuk satu barisan sebelum memasuki kota batu itu, biar Buyung Im seng dan Khong Bu siang tetap dibebani tugas sebagai pembuka jalan, Seng tayhiap harap berjalan di sayap kanan, Tong locianpwe harap berjalan di sayap kiri. Kiu ji taysu dan Bu to taysu berada dibagian tengah, sedang aku dan nona Kwik berada dibelakang kalian menghadapi serangan, harap masingmasing pihak mengusahakan perlindungan terhadap diri sendiri lebih dahulu.”

“Nona, aku ingin menanyakan sesuatu.” tiba-tiba Tong Lim berseru sambil mendehem. “Soal apa ?”

“Selama pertarungan berlangsung apakah kami diperbolehkan melancarkan serangan dengan segala kemampuan dan cara yang kami miliki ?”

“Apabila keadaan membutuhkan, kalian boleh mempergunakan cara apa saja.”

“Cuma kalian pun harus tetap memperhatikan posisi masing-masing, apabila bukan disebabkan oleh kebutuhan yang luar biasa, lebih baik jangan meninggalkan tempat kedudukan masing-masing, seluruh barisan kita ini harus maju mundur secara kompak, jangan mengacaukan kekuatan sendiri.”

“Selama bertarung dengan orang, apakah kita haru berhenti ?” Seng Cu sian bertanya pula. 

“Dengan pertanyaan dari Seng tayhiap tersebut, aku jadi teringat kalau masih ada satu persoalan lagi yang belum sempat kujelaskan kepada kalian, tujuan yang terutama dari penyerbuan kita sekarang adalah menerobos dari kota batu ini untuk menghancurkan pusat pengendalian orang-orang Sam seng bun, dari situlah kita pasti akan menemukan cara yang tepat untuk membebaskan orang-orang yang tersekap dalam kota batu tersebut. Oleh sebab itu dalam penyerbuan kita sekarang, tujuannya adalah melewati atau menerobosi tempat ini, bukan bermaksud untuk bertarung mencari nama.”

“Kami mengerti” Seng Cu sian mengangguk.

“Sekarang kalian harus mempersiapkan diri dengan baik, kita harus segera berangkat.”

Para jago tidak banyak berbicara lagi, masing-masing mengatur napas untuk mempersiapkan diri.

Kurang lebih seperminum teh kemudian, sesuai dengan apa yang diatur Nyoo Hong leng tadi, para jago membentuk sebuah barisan untuk memperkuat posisi masing-masing.

Buyung Im seng dan Khong Bu siang dengan pedang terhunus berjalan paling dimuka, Seng Bu sian dan Pau Heng sekalian juga meloloskan senjata masing-masing untuk mempersiapkan diri.

Kini paras muka semua orang telah berubah menjadi amat serius, hanya Nyoo Hong leng seorang yang masih tetap mempertahankan kesantaiannya….

Dengan formasi seperti apa yang diatur sebelumnya, berangkatlah para jago memasuki kota itu.

Mendongakkan kepalanya memandang ke muka, suasan amat hening dan sepi, tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak.

Kedua sisi jalan berupa deretan rumah yang memanjang, satu dengan lainnya berselisih tak jauh dan dihubungkan dengan sebuah pintu kayu.

Kalau dibilang sebagai kota batu, maka tempat ini lebih cocok kalau dibilang sebagai gua deret batu yang dikelilingi dinding pekarangan.

Sebuah jalan besar beralaskan batu hijau terbentang jauh kedalam sana, tatkala beberapa orang itu sampai didepan rumah-rumah batu deretan pertama mendadak pintu kayu terbuka lebar dan tampaklah seorang kakek berjubah biru yang berjenggot panjang pelanpelan munculkan diri.

Menyusul dibelakang kakek berjubah biru itu adalah seorang perempuan berusia empat puluh tahunan yang berpakaian sederhana. 

Laki perempuan itu segera menuju ke jalan raya setelah keluar dari pintu rumah, tampaknya mereka bermaksud untuk mengadakan penghadangan.

Nyoo Hong leng yang menyaksikan kejadian tersebut segera berbisik pelan. “Harap kalian suka berbaik hati.”

Dengan cepat dia melompat ke depan menghalangi jalan pergi Buyung Im seng serta Khong Bu siang.

Seluruh barisan pun berhenti pada jarak empat lima depa dari kakek itu. Belum lagi Nyoo Hong leng berbicara, Seng Cu sian telah berteriak kaget. “Liong hong-siang kiam pit !”

Kakek berjubah biru itu segera berpaling dan mengawasi Seng Cu sian lekat-lekat, kemudian tegurnya.

“Siapakah kau ? Mengapa bisa kenal dengan lohu ?” “Siaute Seng Cu sian, masa saudara Tong tidak kenal ?”

Mendadak ia teringat kalau wajahnya telah rusak, tidak heran kalau musuhnya tidak kenal, buru-buru dia menambahkan.

“Bentuk muka maupun paras muka siaute sudah berbeda dengan keadaan di masa lampau, tak heran kalau kalian berdua tidak kenal lagi dengan diriku.”

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, kakek berjubah biru itu mengawasi wajah Seng Cu sian beberapa saat lamanya, kemudian berkata lagi.

“Aku tak ambil perduli kau adalah Seng Cu sian atau bukan, kalau toh kau kenal dengan kami suami istri berdua, lohu pun ingin menasehati beberapa patah kata untukmu.”

“Tong heng ingin menyampaikan apa ?”

“Tinggalkan barisan dan mengundurkan diri dari kota batu, bila tak mau menuruti nasehat lohu, jangan salahkan kalau diujung pedang lohu tak akan mengenal rasa kasihan.”

Sembari berkata tangan kanannya digerakkan meloloskan pedangnya dari atas punggung. Nyonya setengah umur itupun segera meloloskan senjatanya pula untuk bersiap-siap. 

“Sepasang pedang naga dan burung hong bersatu, kekuatan yang dihasilkan berlipat ganda.” gumam Seng Cu sian.

Meski ucapan tersebut seolah-olah ditujukan unutk memuji kelihaian sepasang pedang naga dan burung hong, sesungguhnya dia hendak menggunakan ucapan mana unutk memberitahukan keadaan yang sebenarnya dari kekuatan Liong hong siang kiam tersebut kepada Nyoo Hong leng sekalian.

Dalam pada itu, manusia berjubah biru sudah memperhatikan sekejap keadaan barisan lalu ucapnya dingin.

“Sungguh tak nyana si dewa ular Tong Lim pun turut datang.” Tong Lim segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaaah…. haaah… orang yang suka bermain ular kurang cocok untuk menempati kedudukan tinggi, sebutan saudara Tong telah meningkatkan kedudukan siaute.”

Manusia berbaju biru itupun tertawa dingin.

“Paling tepat bila kaupun ikut mengundurkan diri dari sini..”

“Tong locianpwe tak usah banyak berbicara lagi,” ucap Nyoo Hong leng sembari mengulapkan tangannya, “bocah penunjuk jalan telah tewas diujung pedang kami.”

“Lohu tidak ambil perduli sudah berapa banyak manusiakah yang telah tewas ditangan kalian, lohupun tak ambil perduli disebabkan masalah apa kalian datang kemari, aku hanya tahu akan satu hal yakni kalian tidak boleh melewati tempat ini, lohu suami istri telah mendapat perintah untuk menyerang setiap orang yang melewati daerah ini.”

“Aku pikir tentunya masih ada cara lain untuk bisa melewati tempat ini bukan ?”

“Hanya ada satu jalan, kalian harus dapat mengungguli sepasang pedang naga dan burung hong.”

“Bagus sekali, sebagian kecil dari orang-orang kami merupakan sobat lamamu, lainnya tentu belum pernah kau jumpai bukan ?”

“Dia adalah Buyung kongcu” ucap manusia berbaju biru itu sambil menunjuk ke arah Buyung Im seng.

Nyoo Hong leng segera menuding ke arah Khong Bu siang, sambil berkata pula. Manusia berbaju biru itu mengawasi Khong Bu siang sekejap, lalu menggeleng. “Tidak kenal !” katanya kemudian. 

“Dia adalah Khong Bu siang, Toa sengcu dari perguruan tiga malaikat.”

Mendengar perkataan tersebut, manusia berbaju biru itu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaaah…. haaahh… haaaahh… lohu hanya menuruti perintah dari Seng tong, tidak kenal dengan Seng cu pribadi, sekali pun nona akan berbicara sampai membusuk lidahnya juga percuma, lohu tidak akan percaya dengan begitu saja.”

“Aku lihat kau sadar sepenuhnya itulah sebabnya dengan bersabar diri mengajakmu berbicara, tapi bila kau memang bersikeras hendak menentukan menang kalah melalui permainan silat, kami pun tak akan merasa takut, cuma kalian suami istri berdua merupakan manusia-manusia ternama dlama dunia persilatan, mengapa kalian rela menjadi tawanan orang lain ?”

Mencorong sinar tajam dari balik mata manusia berbaju biru itu, dia termenung beberapa saat lamanya, kemudian mengayunkan pedangnya sambil membentak.

“Bila kalian enggan untuk mengundurkan diri dari sini, jangan salahkan kalau sepasang pedang kami tak kenal ampun.”

Seng Cu sian menghela napas panjang.

“Aaai… saudara Tong” ucapnya pula, “apa yang dikatakan nona Nyoo benar, kalian sudah tahunan disekap orang disini dan harus menuruti perintah orang lain, betapa aibnya kejadian ini, mengapa kalian tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari kehidupan yang terkurung ini ? Kami tak berani mengharapkan bantuan dari kalian berdua tapi kalian toh bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari kehidupan yang terbatas.”

“Lohu tak ingin bersilat lidah dengan kalian” seru manusia berbaju biru itu gusar, “bila kalian tak mau mengundurkan diri lagi dari sini, lohu akan segera turun tangan.”

Nyoo Hong leng menggelengkan kepalanya berulang kali setelah menyaksikan kejadian itu, katanya kemudian.

“Mereka telah mendapatkan semacam perlakuan yang istimewa sehingga untuk mengendalikan diri sendiri pun tidak bisa, kalau memang cara baik tak bisa ditempuh, terpaksa kita harus menggunakan kekerasan.”

Dengan cepat dia bergeser lima depa ke samping sambil mengulapkan tangannya. “Serbu !”

Buyung Im seng dan Khong Bu siang mengiakan lalu menyerbu ke depan, sepasang pedang mereka digerakkan bersama menyerang kakek berjubah biru serta nyonya setengah umur itu. 

Dengan cepat manusia berbaju biru serta nyonya setengah umur itu menggerakkan pedangnya menyambut datangnya ancaman dari Buyung Im seng serta Khong Bu siang, suatu pertarungan telah berkobar.

Liong hong sian kiam merupakan tokoh termashur dalam dunia persilatan, apalagi sepasang pedang naga dan burung hong mereka berpadu kedahsyatannya berlipat ganda. Entah berapa banyak manusia kenamaan di dalam dunia persilatan yang telah hancur oleh gabungan sepasang pedang mereka.

Tapi serangan yang dilancarkan Buyung Im seng serta Khong Bu siang hampir semuanya merupakan jurus-jurus pedang yang sangat ganas dan buas.

“Sreeet, sreeet, sreeet…!” Secara beruntun beberapa bacokan kilat dilancarkan, membuat Liong hong siang kiam segera dipindahkan secara paksa.

Dengan susah payah Liong hong siang kiam berusaha untuk mempersatukan gerak serangan mereka, tapi sayang berhubung jurus pedang mereka berdua sangat ganas, jurus serangan yang mereka gunakan pun hampir semuanya tertuju ke bagian yang mematikan di tubuh manusia berbaju biru serta nyonya setengah umur itu, untuk sesaat mereka berdua tak bisa banyak berkutik.

Pada hakekatnya jurus serangan yang digunakan Buyung Im seng serta Khong Bu siang adalah jurus-jurus serangan yang dahsyat dan mematikan, sama sekali diluar kebiasaan pada umumnya, terdesak oleh serangan yang maha dahsyat itu, manusia berbaju biru serta nyonya setengah umur itu dipaksa untuk berpisah dan tak mampu untuk menyatukan kembali serangan gabungan mereka.

Kendatipun demikian, Lioh hong siang kiam merupakan manusia yang berilmu silat amat sempurna, walaupun jurus serangan kedua orang itu sangat ganas dan buas, namun selewatnya sepuluh gebrakan, lambat laun mereka dapat juga menguasai keadaan.

Namun serangan demi serangan yang dilancarkan Buyung Im seng serta Khong Bu siang makin lama semakin bertambah ganas dan gencar, sekalipun Liong hong siang kiam masih dapat mempertahankan diri, namun mereka hanya berada dalam posisi bertahan belaka.

Pertempuran ini berlangsung amat seru dan panas, tampak cahaya pedang berkilauan kesana kemari, bayangan manusia tak nampak, hanya deruan angin serangan yang memekikkan telinga, kesemuanya ini membuat para penonton jadi tertegun lalu berdiri terbelalak dengan mulut melongo.

Nyoo Hong leng yang menyaksikan kejadian tersebut segera berkerut kening, bisiknya lirih.

“Seng locianpwe, bagaimana dengan ilmu silat Liong hong siang kiam ini ?” 

“Liong hong siang kiam mempunyai nama dan kedudukan yang amat tinggi dalam dunia persilatan, ilmu pedang mereka amat sempurna dan luar biasa sekali.”

“Bagaimanakah ilmu pedang mereka berdua bila dibandingi dengan kepandaian locianpwe ?”

“Ilmu silat Liong hong siang kiam jauh lebih tinggi ketimbang kepandaian aku, kami

dapat saling menyebut saudara dengannya, yang penting adalah disebabkan hubunganku dengan Buyung Tiang kim.”

Nyoo Hong leng manggut-manggut, sorot matanya segera dialihkan kembali ke arena pertarungan dimana keempat orang itu sedang bertempur sengit.

Setelah mengamatinya beberapa waktu, dia pun berkata.

“Liong hong siang kiam cukup lihai, tetapi bila kepandaian mereka setingkat saja lebih hebat, niscaya Buyung Im seng dan Khong Bu siang akan terluka diujung pedang mereka berdua.”

“Nona maksudkan kekuatan mereka berempat berimbang ?” Nyoo Hong leng menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Bukan demikian, kepandaian silat yang dimiliki Buyung Im seng dan Khong Bu siang masih setingkat lebih tinggi, hanya saja berhubung beberapa buah jalan darah di tubuh mereka tertotos sehingga gerak geriknya agak bebal, bila pertarungan dilangsungkan lebih jauh dan kepandaian mereka berdua lebih dikembangkan, sudah pasti Liong hong siang kiam akan terluka di ujung pedang mereka berdua.”

“Nona, perkataanmu itu kedengarannya sedikit agak bertentang..” seru Pau Heng. Nyoo Hong leng segera tersenyum.

“Akulah yang kurang jelas menerangkan perkataanku itu, tapi aku pikir kalian seharusnya tahu akan hal ini, sebab telah kukatakan bahwa jurus serangan dari Buyung Im seng serta Khong bu siang hanya melulu jurus menyerang tanpa pertahanan, oleh sebab itu didalam melancarkan serangan banyak titik kelemahan yang ditemukan, seandainya kepandaian silat dari Liong hong siang kiam lebih tinggi setingkat saja, dalam berapa jurus serangan yang singkat saja mereka akan temukan titik kelemahan tersebut dan berhasil melukai atau merenggut nyawa mereka berdua…”

“Bila pertarungan dibiarkan berlangsung terus ?” tanya Pau Heng.

“Semakin lama pertarungan ini berlangsung jurus pedang yang mereka pergunakan pun akan semakin ganas dan buas.” 

Belum habis dia berkata, tiba-tiba berkumandang suara dengusan dan jeritan tertahan memecahkan keheningan.

Semua orang segera berpaling, tampaklah Liong hong siang kiam masing-masing sudah terkena sebuah tusukan, kakek berjubah biru itu terluka pada dadanya sedangkan nyonya setengah umur itu terluka pada paha kirinya.

Sebetulnya dengan jurus pedang Khong Bu siang serta Buyung Im seng yang ganas, serangan mereka dapat merenggut nyawa kedua orang musuhnya, untung saja kepandaian silat yang dimiliki kedua orang itu sangat lihai, sehingga tepat pada saatnya mereka berhasil menghindarkan diri dari tusukan mematikan tersebut.

Mendadak Nyoo Hong leng berpekik nyaring, Buyung Im seng dan Khong Bu siang segera menarik kembali serangan pedang mereka yang hampir saja dilontarkan kembali.

Nyoo Hong leng segera melompat ke depan Liong hong siang kiam, kemudian katanya. “Kedua orang locianpwe ini adalah orang baik, kuampuni nyawa kalian berdua.”

Sepasang telapak tangannya segera dilayangkan kedepan menotok jalan darah mereka berdua.

“Betul-betul suatu pertarungan yang amat sengit dan dahsyat.” gumam Seng Cu sian kemudian.

“Anehnya, mengapa tiada orang yang menampilkan diri untuk membantu mereka ?” sambung Pau Heng.

“Disinilah letak titik kelemahan dari orang-orang Sam seng bun dan mereka mendapatkan perintah untuk melaksanakan pertarungan secara sendiri-sendiri.”

Lalu setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

“Mari kita maju lebih ke depan ! Kalian harus ingat, semakin ke depan semakin berbahaya keadaan kita.”

Seng Cu sian berpaling dan mengawasi wajah Buyung Im seng serta Khong Bu siang, dijumpainya kepala mereka sudah basah oleh keringat, tampaknya didalam pertarungan yang barusan berlangsung, meski mereka menangkan Liong hong siang kiam, namun kemenangan tersebut tidak diperoleh secara gampang.

Maka setelah menghela napas panjang, dia pun berkata.

“Nona, tampaknya pertarungan ini berhasil dimenangkan mereka dengan susah payah, bila mereka harus turun ke gelanggang lagi untuk menghadapi pertarungan sesengit ini, bisa jadi mereka akan kehabisan tenaga.” 

“Ehm, lantas siapakah yang akan turun ke arena pertarungan dalam babak berikutnya ?” tanya Nyoo Hong leng.

“Sekarang nona adalah pemimpin kami, tak ada salahnya bagimu untuk memilih dua diantara kami untuk turun diarena.”

Nyoo Hong leng temenung sebentar, kemudian mengangguk.

“Baik ! Kita lihat dulu siapakah yang akan turun tangan melakukan penghadangan nanti, kemudian baru mengambil keputusan siapa yang pantas untuk diterjunkan ke arena…”

Selesai berkata dia lantas beranjak dan meneruskan perjalanan ke depan.

Bangunan rumah batu itu didirikan dengan jarak hanya beberapa kaki, tak sampai berapa langkah Nyoo Hong leng berjalan pintu kedua telah dibuka lebar, tampak seorang hwesio tua berjubah abu-abu berjalan keluar dari ruang batu itu dan menghadang jalan mereka.

Hwesio ini sudah amat tua, namun pakaian yang dikenakan sangat bersih, wajahnya merah bercahaya. Ini menunjukkan kalau sandang pangannya terjamin.

Nyoo Hong leng berhenti dan mengayunkan tangannya mencegah Khong Bu siang serta Buyung Im seng untuk maju ke depan, kemudian sambil berpaling katanya.

“Siapakah diantara kalian yang kenal dengan lo siansu ini ? Tolong sebutkan nama serta asal usulnya.”

“Aku kenal” ucap si kaitan sakti Pau Heng, “lo siansu ini bergelar It lui dan berasal dari Siau lim si.” sambungnya menjelaskan.

“Ya, lolap memang It lui” jawab pendeta itu.

Dengan sepasang matanya yang tajam Nyoo Hong leng mengawasi wajah It lui siansu sekejap, kemudian ujarnya.

“Lo siansu adalah seorang pendeta agung yang mempunyai kedudukan tinggi dalam dunia persilatan tampaknya kesadaranmu sama sekali tidak dipengaruhi oleh mereka.”

“Itulah sebabya lolap pun tak ingin melukai jiwa kalian, lebih baik kalian kembali saja !” Nyoo Hong leng tersenyum.

“Banyak sekali masalah yang kupahami tentang perguruan tiga malaikat, tapi tidak banyak mengetahui tentang orang-orang yang disekap dalam kota batu ini.”

Kemudian setelah berhenti sebentar, dia menambahkan. 

“Lo siansu, bersediakah kau untuk menjawab beberapa pertanyaanku…?” “Boleh saja, tanyalah !”

“Aku lihat kesadaranmu amat jernih…”

“Yaa, lolap memang sadar dan berpikiran jernih !” “Apakah kau masih merindukan kuil Siam lim si ?” It lui taysu termenung sejenak, kemudian katanya.

“Sekalipun lolap sangat merindukan kuil Siau lim si, apa pula yang bisa kulakukan ?”

“Kami telah menghancurkan alat perangkap yang dipasang dalam lorong rahasia, bila losiansu akan meninggalkan tempat ini maka tidak ada halangan yang akan kau jumpai, kau bisa kembali ke kuil Siau lim si dan melewatkan sisa hidupmu dengan tenang.”

Mendengar itu, It lui taysu ketawa terbahak-bahak. “Haaah… haaah… haaah, tempat ini pun sama tenangnya.”

Nyoo Hong leng segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya sedih. “Taysu sudah tak dapat diselamatkan lagi, kalau begitu loloskan senjatamu !” Kembali It lui taysu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa. “Liong hong siang kiam saja tak becus, lolap apa bisa melakukan perlawanan ?” “Kalau begitu, taysu bersikeras hendak turun tangan ?” tanya Nyoo Hong leng.

It lui taysu tidak menjawab lagi, dia segera duduk bersila diatas tanah sambil menggosokkan sepasang tangannya satu dengan lainnya.

Tindakan ini sama sekali diluar dugaan, bahkan manusia-manusia berpengalaman luas seperti Seng Cu sian dan Pau Heng sekali pun dibikin tidak habis mengerti, pikir mereka bersama.

“Masa hanya duduk saja dilantai sambil menggosokkna sepasang tangannya, mereka sudah dapat memahami kami ?”

Tampaknya Bu tok taysu merasa inilah kesempatan baginya untuk menunjukkan jasa, segera bisiknya kepada Nyoo Hong leng.

“Pinto akan berlalu lebih dulu.” 

Mendadak dia melejit ke udara dan menyeberang melewati samping badan It lui taysu.

Ketika It lui taysu menggetarkan sepasang tangannya, mendadak terpancar keluar segulung tenaga pukulan amat dahsyat, kekuatan tersebut dengan cepat menerjang ke muka.

Bu tok taysu merasakan dadanya seakan-akan dihantam oleh martil seberat ribuan kati, tak ampun badannya segera mencelat meninggalkan permukaan tanah kemudian “Blaaam

!” terbanting keras-keras pada jarak tujuh delapan depan dari posisi semula.

Buru-buru Nyoo Hong leng memburu ke dpean sambil memeriksa keadaan pendeta tersebut, ternyata Bu tok taysu sudah menemui ajalnya, darah nampak mengucur keluar dari ujung bibirnya.

Lui Hua hong menjadi tertegun, lalu serunya.

“Sam ko, kau berasal dari Siau lim si, tahukah kau kepandaian silat apakah yang dipergunakan olehnya itu ?”

“Pinceng belum pernah menyaksikan kepandaian silat seperti ini, namun bila dugaanku tidak salah, besar kemungkinan adalah ilmu pukulan Boan yok sin kang dari kalangan Buddha.”

Tiba-tiba It lui taysy tersenyum.

“Tepat sekali perkataanmu itu, memang ilmu pukulan Boan yok sin kang…” Kemudain setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh.

“Kalau memang sudah tahu kalau ilmu pukulan ini merupakan Boan yok sin kang tentunya kau pun sudah tahu tentang kekuatan sendiri bukan.. ?”

“Menurut apa yan tecu ketahui” ujar Kiu ji taysu, “ilmu pukalan Boan yok sin kang

dahsyat dan kuat, entah ilmu kebal macam apapun yang dilatih seseorang, tak ananti akan tahan menghadapi ancaman tersebut…”

“betul” It lui taysu manggut-manggut, “itulah sebabnya lebih baik menuruti saja nasehat lolap, jangan menyerbu ke dalam lagi secara sembrono.”

Selesai berkata, dia lantas memejamkan mata dan tidak memperdulikan para jago lagi. Dengan lirih Nyoo Hongleng berkata kepada Kiu ji taysu.

“Kau toh sudah tahu bahwa ilmu pukulannya adalah Boan yok sin kang, tahukah kau kepandaian apakah yang bisa dipakai untuk mematahkan serangan tersebut ?” 

“Diantara ke tujuh puluh dua macaam kepandaian sakti dari Siau lim si, memang ada semacam ilmu pukulan yang bisa dipakai untuk menandingi Boan yok sin kang, sayang sekali pinceng tidak mengetahui ilmu silat apakah itu.”

Tong Lim mendengus dingin.

“Kalau begini caramu menjawab, sudah diutarakan pun sama artinya dengan sama sekali tidak diucapkan.”

Mendadak Nyoo Hong leng mengulurkan tangannya ke depan, sembari berkata. “Pau cianpwe, tolong pinjamkan senjata kaitan saktimu itu kepadaku.”

Pau Heng mengiakan dan segera menyerahkan senjata kaitannya kepada si nona. Setelah menerima senjata kaitan tersebut, Nyoo Hong leng lantas berkata.

“Harap saudara sekalian suka mundur sejauh satu kaki dari posisi sekarang.”

Semua jago tidak tahu apa yang hendak dilakukan Nyoo Hong leng, maka semua orang menurut dan segera mengundurkan diri sejauh satu kaki dari posisi semula.

Pelan-pelan Nyoo Hong leng mengangkat senjata kaitan tersebut ke udara, lalu katanya. “Locianpwe, boanpwe ingin sekali mencoba kepandaian silat dari locianpwe.”

It lui taysu membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, sesudah memandang sekejap ke arah Nyoo Hong leng, katanya.

“Senjata apa sih yang kau pergunakan itu ?” “Pancingan ikan.”

“Betul, pancingan ikan. Sewaktu kulancarkan serangan nanti tubuhku masih berada satu kaki dari sini, apakah ilmu pukulan Boan yok sin kang dapat melukaiku ?”

“Kalau begitu silahkan nona untuk mencoba sendiri !” “Berhati-hatilah !” seru Nyoo Hong leng.

Dengan cepat tangan kanannya digetarkan keras, tiba-tiba saja senjata kail pancingan itu menyambar ke muka denga kecepatan luar biasa…

Tampak cahaya putih menyambar lewat, dari ujung pancingan tersebut meluncur keluar seutas benang putih yang membawa mata kail emas menyambar ke muka. 

It lui taysu segera menggetarkan tangan kanannya melepaskan sebuah pukulan ke depan, langsung menghantam ke atas mata kail emas tersebut….

Nyoo Hong leng menggetarkan kembali pergelangan tangan kanannya, mendadak mata kail emas itu ditarik kembali.

Tapi begitu ditarik, dia menyerang lagi, sebuah sergapan kilat kembali dilancarkan.

Begitulah seterusnya, sebentar menyerang, sebentar ditarik, hanya dalam waktu singkat dia melancarkan lima buah serangan.

It lui taysu pun mengikuti permainan kail sakti ini harus berulang kali melancarkan pukulan-pukulan dahsyatnya.

Menyaksikan kesemuanya itu, sambil tersenyum Kwik Soat kun lantas berkata.

“Nona Nyoo memang sangat cerdik, rupanya dia sedang memancing It lui taysu untuk mengumbar pukulannya.”

Tak selang berapa saat kemudian, Nyoo Hong leng telah melancarkan dua puluhan jurus serangan, sedangkan It lui taysu pun harus melepaskan dua puluhan jurus pukulan juga.

Mendadak Nyoo Hong leng membuang senjata pancingannya ke atas tanah, lalu secepat kilat meloloskan pedangnya, diiringi bentakan keras, tubuh dan pedang bersatu padu langsung menyerang ke tubuh It lui taysu…..

Para jago yang menyaksikan jalannya pertarungan itu tahu bahwa dalam bentrokan ini menang kalah dan mati hidup kedua belah pihak akan menjadi taruhan, tanpa terasa mereka semua melengos ke arah lain.

Tapi perasaan ingin tahu yang kuat pun mendorong mereka untuk mengetahui siapa yang berhasil menangkan pertarungan tersebut. Oleh sebab itu setelah melengos sekejap, kembali mereka menengok ke tengah arena pertarungan.

Dalam waktu yang amat singkat inilah dalam arena pertarungan telah terjadi perubahan yang besar sekali.

Tampak Nyoo Hong leng dengan pedang terhunus berdiri di sisi tubuh It lui taysu, sedangkan It lui taysu duduk memejamkan mata, darah mengalir keluar dari depan dadanya.

Nyoo Hong leng sama sekali tidak berpaling untuk menyapa beberapa orang itu, melainkan berjongkok untuk memeriksa keadaan luka si hwesio, kemudian menggerayangi tubuhnya.

Sambil memungut kembali senjata pancingan saktinya, Pau Heng segera berbisik. 

“Apa yang sedang dilakukan nona Nyoo ?”

“Untuk membuktikan sesuatu” sahut Kwik Soat kun, “bila ia berhasil maka selanjutnya kita dapat bergerak dengan bebas tanpa hambatan apa pun jua.”

Mendadak Nyoo Hong leng melompat bangun, tangan kanannya diayunkan berulang kali menotok tiga buah jalan darah di tubuh It lui taysu, kemudian melepaskan pula empat buah pukulan diatas badannya, setelah itu tubuhnya terpelanting dan roboh terjengkang diatas tanah.

Menyaksikan kejadian ini, para jago menjerit kaget. “Nona Nyoo…”

Serentak semua orang bergerak maju ke muka.

Kwik Soat kun memayang Nyoo Hong leng bangkit dari atas tanah, lalu memukul punggungnya dengan sebuah gaplokan keras.

Nyoo Hong leng segera muntahkan darah kental, setelah itu dia baru berkata. “Hebat amat tenaga pukulan dari hwesio ini.”

“Nona Nyoo, bagaimana dengan keadaan lukamu ?” tanya Seng Cu sian dengan perasaan kuatir.

“Aku tidak mengapa.”

Lalu sembari menatap wajah It lui taysu lekat-lekat, katanya lebih jauh dengan wajah serius.

“Moga-moga saja cara dan taktikku tidak salah, kalau keliru maka sulit bagi kita untuk meninggalkan kota batu ini.”

“Mengapa ?”

“Setiap orang yang disekap dalam kota batu ini merupakan jago-jago kelas satu dari dunia persilatan, dengan mengandalkan kekuatan dari kita beberapa orang, rasanya sulit menerobos keluar dari tempat ini dengan selamat.”

“Apakah nona hendak menguasai orang-oran itu serta memanfaatkannya ?”

“Kita harus dapat menguasai orang-orang itu, dengan demikian kita baru berkekuatan untuk menghadapi orang-orang perguruan tiga malaikat…” 

Setelah berpalin dan memandang sekejap ke arah para jago, dia meronta bangun dari cekalan Kwik Soat kun sembari berkata lagi.

“Cici, gunakan pedang untuk mengancam pada bagian mematikan di punggung It lui taysu, turuti semua perintahku untuk mencabut nyawanya.”

“Harus membunuhnya ?”

“Seandainya mereka tak dapat kita gunakan, terpaksa harus membunuhnya….”

Kwik Soat kun tidak banyak bertanya lagi, dia mengambil sebilah pedang lalu ditempelkan diatas bagian mematikan dari punggung It lui taysu…

“Bila kuulapkan tanganku nanti, kau harus segera merenggut jiwanya…” pesan Nyoo Hong leng lagi.

Kwik Soat kun manggu-manggut, hawa murninya segera disalurkan keluar untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan….

Tampak It lui taysu yang semula memejamkan matanya, pelan-pelan membuka matanya kembali, sepasang matanya ditujukan ke wajah Nyoo Hong leng dan mengawasinya lekat-lekat.

Waktu itu Nyoo Hong leng menderita luka dalam yang tidak enteng, namun dia tak

sempat untuk beristirahat lagi, sembari mengerahkan semangat dan tenaganya, ia berkata sambil tersenyum.

“Taysu masih kenal dengan aku ?”

“Ya, masih kenal” It lui taysu mengangguk. “Kau terluka ?”

“Tidak parah luka yang lolap derita.”

“Enci kwik, harap mundur” perintah Nyoo Hong leng kemudian.

“Nona Nyoo, kaupun harus beristirahat dulu” kata Seng Cu sian dengan rasa kuatir. “Waktu yang tersedia untuk kita tidak banyak, tak usah beristirahat lagi.”

Pelan-pelan dia mengangkat tangan kanannya, kemudian melanjutkan. “Locianpwe, tahukah kau benda apakah ini ?”

Sorot mata It lui taysu segera dialihkan ke atas tangan kanan Nyoo Hong leng. 

Semula para jago tidak memperhatikan, setelah mendengar pertanyaan dari si nona, mereka baru ikut mendongakkan kepalanya, namun Nyoo Hong leng telah menurunkan kembali tangan kanannya.

Pelan-pelan It lui taysu bangkit berdiri, kemudian ujarnya. “Lolap mengerti.”

“Bagus sekali, kalau begitu harap taysu suka berjalan dimuka sebagai pembuka jalan untuk kami.”

It lui taysu manggut-manggut, dia membalikkan badan dan bergerak maju ke depan.

Nyoo Hong leng segera mempercepat langkahnya dengan mengikuti dibelakang tubuh It lui taysu.

Kwik Soat kun memburu pula ke sisi Nyoo Hong leng, kemudian berbisik lirih. “Nona Nyoo, sesungguhnya apa yang telah terjadi ?”

Selapis perasaan lelah yang amat tebal menyelimuti wajah Nyoo Hong leng, dia merangkul pundak Kwik Soat kun dengan tangan kirinya sembari berkata.

“Cici, bimbinglah aku untuk melanjutkan perjalanan.”

Kwik Soat kun berpaling, ia saksikan muka nona itu pucat pias tak nampak sedikit warna darah pun, timbul perasaan kasihan dalam hati kecilnya, dia pun berkata.

“Kau harus ingat kondisi badanmu sendiri. Apabila kau memang tak tahan, janganlah terlampau dipaksakan.”

“Kita harus berhasil menerobos keluar dari kota batu ini terlebih dulu sebelum beristirahat.”

Kwik Soat kun segera menggeserkan badannya setengah langkah lebih ke kanan, kemudian menindihkan sebagian besar kekuatan tubuh Nyoo Hong leng diatas bahu sendiri, setelah itu baru berkata.

“Sekalipun harus gelisah pun tak perlu gelisah disaat begini, aku lihat tulang belulang dalam tubuhmu seolah-olah sudah mau copot semua…”

Nyoo Hong leng tersenyum.

“Tak mengapa, bila kau bersedia membimbingku untuk melanjutkan perjalanan, hal ini sudah lebih dari cukup.” 

“Berhenti !” suatu bentakkan menggeledek seperti suara guntur membelah bumi tiba-tiba saja bergema memecahkan keheningan.

Tampaknya Nyoo Hong leng seperti dibangkitkan kembali semangatnya oleh bentakan terebut, mendadak dia meronta bangun dari bimbingan Kwik Soat kun dan menepuk punggung It lui taysu satu kali.

Kali ini Kwik Soat kun dapat melihat dengan jelas sekali tepukan dari Nyoo Hong leng itu persis menghajar diatas jalan darah Mia bun hiat ditubuh It lui taysu.

It lui taysu yang sedang melanjutkan perjalanan itu segera berhenti.

Sudut pandangan Kwik Soat kun kebetulan sekali tertutup oleh tubuh It lui taysu, maka buru-buru dia bergeser ke samping untuk menengok ke depan.

Tampak seorang lelaki berjubah kuning yang membawa golok dan memelihara cambang pendek seperti tombak pada dagunya telah menghadang jalan pergi mereka.

Nyoo Hong leng segera mendorong Kwik Soat kun sembari berbisik dengan lirih. “Majulah ke depan dan ajaklah dia berbicara, namun jangan bertarung melawannya.” Kwik Soat kun mengiakan, dia tampil ke depan dan berseru.

“Kau mengenakan jubah kuning, jubah yang bersulamkan naga, dandanan seperti ini sedikitpun tak mirip dengan dandanan orang persilatan, mengapa kau pun bisa tersekap disini ?”

“Hui liong ong (Raja naga terbang) berjubah kuning bergolok emas, pernahkan mendengar nama ini ?”

Terkesiap Kwik Soat kun setelah mendengar perkataan itu, diam-diam pikirnya.

“Oooh, rupanya dia adalah Hui liong ong yang bernama besar dan termashur itu, aai… kalau begitu ruang batu dalam kota batu ini benar-benar ibaratnya sarang naga gua harimau, semua harimau termashur dari kolong langit hampir seluruhnya berkumpul disini. Bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendir, sungguh sulit untuk dipercaya rasanya…”

Berpikir demikian, dia pun berkata.

“Oooh… rupanya kaulah Hui liong ong, selama banyak tahun umat persilatan mengira kau telah tiada, sungguh tak nyana kalau kau berada disini sebagai tawanan orang.”

Hui liong ong tertawa dingin. 

“Kau adalah seorang wanita, lohu tak ingin ribut dengan kaum lemah seperti kau, ayo cepat mundur dari sini !”

Kwik Soat kun berpaling dan memandang sekejap ke arah It lui taysu yang berada dibelakangnya, kemudian berkata.

“Hui liong ong, kenalkah kau dengan hwesio tua ini ?”

“Hmm ! It lui taysu, tentunya tahu juga tentang kepandaian silatnya bukan ?” Sekali lagi Hui liong ong mendengus dingin.

“Hmm, ilmu silat yang dimilikinya memang lumayan, tapi bila dia ingin menerobos lewat dari tempat ini, maka golok lohu tidak akan mengenal belas kasihan.”

Kwik Soat kun yang mendengar ucapan tersebut, dalam hati kecilnya lantas berpikir.

“Nyoo Hong leng menyuruh aku tampil ke depan menghadapi Hui liang ong, entah apa maksud tujuannya. Dan bagaimana pula kau harus menghadapi dirinya ? Kalau pembicaraan harus berlangsung terus seperti ini, sudah pasti pertarungan tidak bisa dihindari.”

Sementara dia masih termenung, mendadak tampak It lui taysu maju beberapa langkah ke depan.

Dengan perasaan terkesiap Kwik Soat kun mundur sejauh dua langkah ke belakang.

It lui taysu mendekati Hui liong ong hingga pada jarak empat lima depa, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun mengayunkan tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Boan yong sin kang yang dimilikinya cukup sempurna dan sudah mencapai tingkatan menyerang dan menyergap menurut perasaan hatinya, bersama dengan ayunan tangannya itu, segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat segera meluncur ke depan.

Tampaknya Hui liong ong agak jeri menghadapi angin pukulan dari It lui taysu, buruburu dia mengigos ke samping untuk menghindarkan diri.

Sekalipun tubuhnya berkelit dari angin pukulan It lui taysu, namun golok emasnya tidak sambil diam, sebuah bacokan kilat segera diayunkan ke depan.

Serangan goloknya itu sungguh amat dahsyat, serangan yang diluncurkan terasa membawa deruan angin golok yang dahsyat dan tajam. 

Walaupun serangan golok emas itu sangat ganas, namun It lui taysu sama sekali tidak menghindarkan diri, bahkan mengangkat tangan kirinya untuk memapaki datangnya bacokan golok tersebut.

Seng Cu sian sekalian termasuk manusia-manusia yang berpengalaman sekali dalam dunia persilatan, namun tak urung terperanjat juga mereka setelah menyaksikan sistem pertarungan yang digunakan kedua orang tokoh silat itu.

Tampaknya bacokan golok emas dari Hui liong ong segera akan mampir ditubuh It lui taysu, mendadak golok emas itu berhenti sejenak.

Ternyata tenaga pukulan yang dilancarkan It lui taysu telah datang tepat pada waktunya dan persis menghantam pergelangan tangan kanan Hui liong ong yang mengenggam golok.

Hui liong ong membentak keras dan mengendorkan kelima jari tangannya, tiba-tiba saja golok emasnya terlepas ke tanah, lalu dia membalikkan kelima jari tangannya mencengkeram tangan kiri It lui taysu kencang-kencang.

It lui taysu membalik pula tangan kirinya, balas mencengkeram pergelangan tangan kanan Hui liong ong.

Kedua orang itu melancarkan cengkeraman yang sama terhadap musuhnya hampir bersamaan waktunya.

Dengan cepat serangan mereka berdua saling membentur satu sama lainnya….

Betapa dahsyatnya tenaga yang disertakan kedua belah pihak dalam melancarkan serangan itu, akibatnya kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur sejauh dua langkah dari posisi semula.

Tapi berhubung tangan mereka berdua yang lain saling mencengkeram urat nadi lawannya sehingga saling bertautan satu sama lainnya, maka kedua belah pihak pun sama-sama meminjam kekuatan tersebut untu melejit ke tengah udara.

Tubuh Hui liong ong melejit ke samping kemudian menggunakan bahunya untuk menumbuk dada It lui taysu.

Sedangkan It lui taysu menggunakan pula bahunya untuk menyambut sodokan bahu Hu liong ong.

Dengan cepat sepasang bahu mereka saling menumbuk satu sama lainnya dan bersamasama pula lepas tangan, tubuh mereka mundur sejauh dua langkah dengan sempoyongan kemudian roboh terjengkan ditanah. 

Ketika semua orang mencoba untuk mengawasi dengan lebih seksama, tampak darah kental telah meleleh keluar dari ujung bibir kedua orang itu.

Agaknya kedua orang itu sama-sama menderita luka dalam yang sangat parah, walaupun ingin duduk bersila untuk mengatur napas, tapi kekuatan untuk berbuat demikian sudah tidak ada, belum lagi duduk tenang, tubuhnya terjengkang kembali ke atas tanah.

Pertarungan yang dilangsungkan barusan itu hanya memakan waktu yang teramat singkat, paling banter cuma tiga lima gebrakan saja, namun keganasan dan keseruannya cukup menggetarkan perasaan siapa saja yang melihatnya.

Buru-buru Kwik Soat kun mendekati It lui taysu dan membimbingnya bangun, setelah itu dia menegur.

“Taysu, bagaimana keadaan lukamu ? Apakah sangat parah ?”

It lui taysu membuka matanya dan memandang sekejap ke arah Kwik Soat kun, bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah kata pun yang muncul.

Mengetahui betapa parahnya luka yang diderita pendeta itu buru-buru Kwik Soat kun berkata.

“Lo siansu, kau jangan berbicara dulu.”

It lui taysu membuka mulutnya dan tiba-tiba muntahkan darah kental yang bercampur dengan hancuran isi perutnya, kemudian matanya terpejam dan menemui ajalnya.

Kwik Soat kun segera memeriksa napas It lui taysu, ternyata napasnya pun berhenti juga. Sementara itu Nyoo Hong leng telah berjalan mendekat, sambil tertawa hambar katanya. “Apakah dia sudah mati ?” tanyanya.

Kwik Soat kun manggut-manggut.

“Ya, sudah mati, entah bagaimana dengan raja naga terbang bergolok emas.” “Cobalah periksa keadaan” serunya.

Kwik Soat kun bangkit berdiri dan pelan-pelan mendekati Hui liong ong, tampak darah meleleh keluar dari ketujuh lubang inderanya, ternyata orang ini pun telah tewas.

Sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas sedih ia berkata. “Nona Nyoo, dia pun telah tewas !” 

Nyoo Hong leng tidak banyak berbicara lagi, pelan-pelan dia beranjak meninggalkan tempat itu.

Para jago tidak banyak bicara, mereka mengikuti di belakangnya sambil membungkam. Di tengah Kwik Soat kun berkata.

“Di dalam sekali bentrokan saja sudah dua orang yagn tewas, nona Nyo sendiri pun telah menderita luka cukup parah, bila sekarang muncul tokoh persilatan seperti Hui liong ong entah bagaimana cara kita untuk menghadapinya.”

Nyoo Hong leng tertawa hambar.

“Kalau kau bertanya kepadaku, aku sendiripun kurang begitu jelas, coba kau hitung masih berapa pos penjagaan yang harus kita lalui.”

Kwik Soat kun mencoba untuk menghitung, kemudian jawabnya. “Masih ada dua buah.”

“Ini berarti kita sudah melalui empat buah pos penjagaan, bila dari dua pos penjagaan terakhir muncul lagi jagoan lihai, terpaksa kita harus berusaha untuk menerobosnya dengan menggunakan kekerasan.”

“Sebelum hujan sedia payung, tampaknya kecerdasan nona pun sudah mencapai pada batasnya, aku lihat sebelum pertandingan berlangsung, lebih baik kita rundingkan dulu bagaimana caranya untuk menghadapi mereka.”

“Ilmu silat yang dimiliki orang-orang dalam ruang batu itu sangat lihai dan luar biasa, padahal kondisi badan Buyung Im seng dan Khong Bu siang belum pulih kembali seperti sedia kala, mereka belum berkemampuan untuk melangsungkan pertarungan lagi, sedangkan aku sendiri pun sudah terluka, oleh sebab itu kita harus mengorbankan satu diantara kita semua.”

“Sekalipun mengorbankan seseorang pun belum tentu dapat menembusi kesulitan ini !” seru Seng Cu sian.

“Asalkan orang itu tidak takut mati, maka aku mempunyai cara untuk membuatnya mampu menghadapi jagoan lihai yang berilmu silat berapa kali lipat lebih lihai daripadanya.”

Seng Cu siang memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya. “Menurut nona, bagaimana dengan diriku ?”

Nyoo Hong leng termenung sambil berpikir sebentar, kemudian ujarnya. 

“Kau tak bisa !”

“Mengapa ?” tanya Seng Cu sian dengan wajah tertegun. Nyoo Hong leng tertawa hambar.

“Kau berjiwa pendekar dan berbudi luhur, kurang keji dan buas, belum lagi bertarung keadaan sudah merugikan diri sendiri.”

“Lantas apakah ada diantara kita yag cocok untuk peranan tersebut ?” tanya Lui Hua hong cepat.

“Tentu saja ada !” Nyoo Hong leng manggut-manggut. “Kalau begitu harap nona memilih satu diantara kami !” Kembali Nyoo Hong leng tersenyum.

“Bila aku diharuskan memilih, maka orang yang sudah kupilih tak boleh menampik lagi.” serunya.

“Tentu saja” kata Pau Heng cepat, “kami sudah cukup mengetahui akan kemampuan nona, tentu saja kami pun rela menerima perintahmu.”

Tiba-tiba Nyoo Hong leng menuding ke arah si dewa ular Tong Lim sembari berkata. “Tong locianpwe paling serasi untuk memerankan hal ini.”

“Aku… ?” si dewa ular Tong Lim nampak agak tertegun.

“Benar, selama membawa kalian melewati banyak tempat berbahaya, aku sendiri pun beberapa kali harus menyerempet bahaya yang sangat besar, yaa, keadaan yang kita hadapi sekarang memang tiada keadaan yang menggembirakan.” katanya kemudian.

“Lohu sadar kalau tak mampu memikul tanggung jawab serta tugas berat ini” jawabnya.

“Tong Lim” Pau Heng menukas, “Nona Nyoo bisa tertarik kepadamu, hal ini merupakan suatu kebanggaan untukmu, bila kau menolak lagi permintaannya itu, tidak mencerminkan seorang lelaki sejati.”

“Baik !” kata Nyoo Hong leng kemudian sambil tersenyum.

Dia segera mengayunkan telapak tangannya menghantam ke belakang batok kepala si ular sakti Tong Lim. 

Sebagaimana diketahui nona ini berperawakan kecil dan pendek, sebaliknya Tong Lim tinggi besar, dia harus melompat dulu sebelum dapat menghantam batok kepalanya.

Sesudah terkena pukulan tersebut, Tong Lim segera maju ke depan sembari membusungkan dada.

Tergerak hati Kwik Soat kun sesudah menyaksikan kejadian itu, buru-buru dia menghampiri Nyoo Hong leng sembari berkata.

“Tong Lim sudah pasti bukan tandingan orang itu, bukankah tindakanmu sekarang sama artinya dengan menghantar kematiannya ?”

“Orang itu dapat menggunakan ilmu pedang terbang untuk melukai korbannya, kemampuannya sama sekali di luar dugaanku, tapi sekarang Tong Lim sudah bukan Tong Lim yang dahulu lagi, aku tak dapat menduga menang kalah mereka, tapi yang pasti kita dapat menembusi tempat ini dengan selamat.”

Sementara mereka masih berbincang-bincang, mendadak terdengar suara deheman berat memecahkan keheningan, tampak seorang tojin tua berpedang yang memelihara jenggot putih sepanjang dada telah muncul dengan langkah lebar lalu menghadang jalan pergi Tong Lim.

Dengan perasaan terkejut Seng Cu siang berseru. “Aaah, Cing Siu cu dari Bu tong pay.”

“Kalau Cing Siu cu kenap ?” tanya Nyoo Hong leng.

“Dia merupakan tokoh paling lihai dari Bu tong pay belakangan ini…”

“Kalau begitu ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat yang luar biasa sekali ?” Sementara itu, Tong Lim sudah menerjang ke hadapan Cing Siu cu.

“Berhenti !” bentak Cing Siu cu sambil menggetarkan pedangnya.

Siapa tahu Tong Lim sama sekali tidak menuruti perkataannya, malahan dia pentangkan sepasang telapak tangannya menyergap tubuh Ceng Sin cu.

Gerak serangannya ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa.

Cing Sin cu menggetarkan pedangnya dan melancarkan sebuah dengan kecepatan tinggi.

Diantara berkelebatnya cahaya tajam, tahu-tahu lengan kanan Tong Lim sudah terpapas kutung oleh bacokan pedang tersebut, tapi Cing Siu cu sendiri pun kena dicengkeram tubuhnya oleh tangan kiri Tong Lim. 

Belum pernah didalam dunia persilatan berlangsung pertarungan dengan sistem semacam ini, para jago yang menyaksikan jalannya pertarungan ini semakin tertegun dibuatnya.

Sambil menggertak gigi, Nyoo Hong leng melejit ke udara secara tiba-tiba bagaikan seekor elang sakti, kemudian dengan cepatnya dia menotok jalan darah penting di tubuh Cing Siu cu.

Bersamaan itu pula telapak tangan kirinya melepaskan pula tepukan diatas badan Tong Lim.

Pelan-pelan Tong Lim melepaskan tangan kirinya dan bangkit berdiri….

Meskipun lengan kanannya telah dikutungi orang, darah kental pun masih mengucur tiada hentinya, namun dia sendiri seakan-akan tidak merasakan hal tersebut.

Sebetulnya ditubuh Tong Lim terdapat dua ekor ular merah, seekor sudah terpapas kutung oleh pedang Cing Siu cu, sedangkan yang lain karena melilit diatas lengannya maka ular itu pun turut terpapas mampus.

Dalam pada itu, Nyoo Hong leng kelihatan letih sekali, terutama sesudah menepuk tubuh Tong Lim dua kali, tubuhnya segera sempoyongan….

Cepat Kwik Soat kun melompat ke depan dan membopong tubuh nona tersebut, katanya. “Nona, kau tentu letih sekali.”

Pau Heng, Seng Cu sian dan lain-lainnya segera maju pula dengan langkah lebar, kemudian berkata bersama-sama.

“Demi menegakkan keadilan dan kebenaran bagi dunia persilatan, nona harus memeras tenaga habis-habisan, kejadian ini sungguh membuat kami sebagai kaum pria merasa malu sekali….”

Selama menembusi pelbagai rintangan, semua orang dapat melihat bahwa Nyoo Hong leng sudah mengeluarkan segenap sisa kekuatan yang dimilikinya, kekuatan tersebut tidak seharusnya dimiliki oleh seorang gadis cantik yang berusia dua puluh tahunan macam dia, tiba-tiba saja dari hati kecilnya muncul suatu perasaan kagum dan hormat yang tebal.

Nyoo Hong leng menghembuskan napas panjang, sambil tertawa katanya kemudian.

“Selewatnya kota batu, yang lain akan lebih mudah dihadapi, cuma kita perlu untuk beristirahat sebentar.”

Seusai berkata, dia lantas memejamkan matanya rapat-rapat dan mengatur napas. 

Setelah mengalami berbagai pertarungan sengit yang berlangsung barusan, para jago telah menaruh perasaan kagum yang luar biasa terhadap Nyoo Hong leng, mereka merasa bahwa kehebatan gadis ini hampir sama dengan kecantikan wajahnya, seakan-akan memancarkan sinar terang keempat penjuru.

( Bersambung ke jilid 48 ) 
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 47"

Post a Comment

close