Lembah Tiga Malaikat Jilid 37

Mode Malam
Jilid 37

Walaupun Bu tok taysu seorang yang berpengalaman sangat luas, tapi berhubung wibawa Sengcu sudah tertanam dalam hatinya, maka berhadapan dengan Sengcu yang nampak seperti sungguh seperti juga gadungan ini, ia dibuat gelagapan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Satu-satunya harapan baginya sekarang adalah berharap kedatangan kawanan jagi dari Seng tong tepat pada saatnya, agar merekalah yang membuktikan kedudukan toa sengcu yang sebetulnya.

Khong Bu siang sudah melewati tanah lapan di depan gedung menuju ke pintu kedua. Tampaknya para pendeta yang berjaga disekeliling tempat itupun sangat memperhatikan peringatan Khong Bu siang yang melarang mereka mendekat sampai jarak tiga depa.

Maka sebagian diantara mereka ada yang lari keluar dari pintu kedua, ada pula yang segera menyingkir ke dua belah samping pintu begitu menyaksikan Khong Bu siang mendekat.

Dengan begitu, secara mudah dan leluasa Khong Bu siang bertiga dapat berjalan keluar dari pintu kedua.

Selama ini Bu tok taysu mengikuti terus dibelakang, sementara otaknya berputar keras guna mencari suatu akal yang bagus untuk mengatasi situasi yang dihadapannya sekarang, sayang usahanya itu tidak mendatangkan hasil.

Setelah berjalan keluar dari pintu kedua, sebuah halaman depan yang lebar kembali terbentang di depan mata, setelah melewati halaman tersebut berarti mereka telah keluar dari kuil Ban hud wan.

Jika Bu tok taysy ingin menahan Khong Bu siang sekalian didalam kuil Ban hud wan, maka inilah kesempatan mereka yang paling akhir.

Kesempatan baik akan segera lenyap dengan begitu saja, jika tidak dimanfaatkan dengan sebaiknya dalam keadaan demikian, mau tak mau Bu tok taysu harus mengerahkan kepalanya sambil berkata :

“Sengcu, bila kau benar-benar adalah seorang Sengcu asli, mengapa takut untuk membuktikan kebenarannya oleh pihak Seng tong ?”

Khong Bu siang masih tetap melangkah ke depan dengan langkah yang tidak terlalu cepat tapi tidak pula lambat, terhadap bentakan dari bu tok taysu itu dia seakan-akan tidak mendengarnya sama sekali.

Bu tok taysu menjadi gelisah sekali, cepat serunya lagi :

“Bila sengcu tida bersedia untuk menunggu sebentar lagi guna membuktikan identitas yang sebenarnya, terpaksa pincent harus menurunkan perintah untuk melakukan penghadangan.”

Teriakan itu diutarakan dengan suara keras sehingga semua orang yang berada dihalaman depan pun akan mendengar dengan jelas, akan tetapi Khong Bu siang sama sekali tidak berpaling, menggubris pun tidak.

Mendadak Bu tok taysu mempercepat langkahnya melewati dari Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng lalu melewati Khong Bu siang dan mengulapkan tangannya.

Empat orang pendeta yang sebenarnya mundur terus mengikuti gerak langkah Khong Bu siang secara tiba-tiba menghentikan langkah mereka kemudian goloknya disilangkan di depan dada, menghalang jalan pergi toa sengcu tersebut.

Khong Bu siang sama sekali tidak menghentikan langkahnya, pelan-pelan dia masih saja berjalan ke depan.

“Sengcu, berhenti !” teriak Bu tok taysu.

Tampak Khong Bu siang mengayunkan tangan kanannya, serentetan suara dengusan tertahan segera bergema memecahkan keheningan.

Dari keempat orang pendeta yang menghadang jalan pergi Khong Bu siang itu, dua diantaranya berikut golok mereka terpental sejauh tujuh delapan depa, sedangkan dua orang yang lain membuang golok mereka dan berjongkok sambil memegangi perut masing-masing.

Buyung Im seng yang menyaksikan kejadian tersebut segera merasakan hatinya tergerak, pikirnya :

“Hanya didalam sekali ayunan tangan saja, Khong Bu siang dapat melukai empat jago, terlepas bagaimana taraf kepandaian silat yang dimiliki keempat orang itu, cukup dilihat dari kecepatan geraknya maupun gaya serangannya yang dahsyat sudah cukup menggetarkan hati siapapun, sekalipun seorang yang berilmu tinggi, belum tentu dia sanggup melukai empat orang dalam sekali gebrakan saja. Khong Bu siang tak mau berhenti tadi, mungkin disebabkan karena ia hendak menggunakan waktu sedang berjalan untuk menghimpun tenaga dalamnya secara diam-diam dan mengeluarkan semacam ilmu maha sakti, itulah sebabnya sekali ayunan tangan saja ia dapat melukai empat orang,”

776 

Berhubung dia mempunyai pendapat demikian, maka terhadap sikap Khong Bu siang yang jalan terus tanpa berhentipun tidak lagi merasa keheranan.

Dalam pada itu, Bu tok taysu yang menyaksikan sekali ayunan tangan Khong Bu siang telah berhasil melukai empat orang muridnya, tak terlukiskan rasa kaget yang mencekam perasaannya waktu itu.

Buru-buru dia membungkukkan badannya menjura seraya berkata :

“Toa sengcu, harap kau sudi mendengarkan sepatah dua patah kata dari hamba.” Khong Bu siang segera menghentikan langkahnya sambil berkata :

“Baik, katakanlah !” jawabnya acuh tak acuh.

“Sengcu adalah pemimpin kami yang telah membawa Sam seng bun mencapai puncak kejayaan didunia persilatan, berkat kepercayaan sengcu pula, siauceng dapat memimpin kuil Ban hud wan selama ini. Berapa tahun belakangan ini kami selalu melakukan tugas dengan sebaik-baiknya tanpa melanggar. Tapi kini dari pihak Seng tong telah datang perintah, bagaimana mungkin siauceng berani mengesampingkan perintah tersebut dengan begitu saja ? Toa sengcu, pinceng hanya mohon sudilah kau menunggu sebentar saja, asal sudah bertemu dengan utusan dari Seng tong maka segalanya akan beres.” Khong Bu siang segera tertawa dingin.

“Hmm, siapakah dalam perguruan Sam seng bun yang bisa menyuruh aku menantikan kedatangannya ? Kau boleh mewakili aku untuk menyampaikan ke pihak Seng tong agar mereka melakukan pemeriksaan, siapakah yang bernyali begitu besar berani menyelidiki jejak diriku.”

“Soal ini siauceng tidak berani.” “Apa yang kau takuti ?”

“Siauceng kuatir dijatuhi hukuman oleh pihak Seng tong.”

“Kau takut dihukum pihak Seng tong, apa kau tidak takut dijatuhi hukuman olehku ?” “Kau sudah bukan anggota Sam seng bun lagi, mengapa harus takut kepadamu ?” mendadak seseorang menjengek dengan dingin.

Buyung Im seng yang mendengar perkataan itu segera berpikir di dalam hati :

“Cepat amat kedatangan mereka, seandainya kami tidak makan dulu, mungkin saat ini sudah jauh meninggalkan kuil Ban hud wan ini.”

Sementara itu terdengar Khong Bu siang telah membentak gusar. “Siapa itu ? Berani benar bersikap begitu kurang sopan kepadaku.”

“Blaaaammmmm !” pintu kuil yang semula tertutup rapat mendadak terpentang lebar, kemudian dua orang manusia berbaju hitam, satu di depan yang lain dibelakang melangkah masuk kedalam.

Orang yang berjalan di muka bertubuh jangkung dengan wajah yang dingin, sama sekali tak berperasaan, ditangan kanannya memegang sebuah lencana tembaga. 

Yang dibelakang bertubuh pendek dengan perut buncit, diapun membawa sebuah lencana tembaga, hanya bedanya lencana tersebut digenggam ditangan kiri.

Sambil tertawa dingin Khong Bu siang segera berseru.

“Heeeeh… heeehhh… heeeh… kalian juga berani bersikap kurang ajar kepadaku ?” Lelaki jangkung yang berada didepan segera mengangkat lencana tembaganya sambil menukas :

“Kami mendapat perintah datang kemari untuk membekukmu dan menyeretmu kembali ke ruang Seng tong untuk menanti hukuman !”

“Terhadap aku berani mengucapkan kata-kata seperti itu, hmm, manusia seperti kau harus dihukum, tangkap dia !”

Tangan kirinya segera diulapkan memberi tanda.

Buyung Im seng ragu-ragu sejenak, tapi dengan cepat dia menerjang ke muka, tangan kanannya denga jurus Keng to liat an (ombak dahsyat meretakka pantai) melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke dada lelaki berbaju hitam yang bertubuh jangkung ceking itu.

Lelaki berbaju hitam yang ceking lagi jangkung itu tertawa dingin, dia miringkan

tubuhnya ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan Buyung Im seng kemudian tangan kirinya membalik secara tiba-tiba dan secepat sambaran kilat mencengkeram pergelangan tangan kanan Buyung Im seng.

Menyaksikan kelima jari tangannya berwarna hitam pekat, tergerak hati Buyung Im seng, segera pikirnya :

“Tampaknya ilmu yang dilatih orang ini adalah Hek see ciang (pukulan pasir hitam), aku mesti berhati-hati !”

Cepat tangan kanannya ditarik kembali untuk menghindari cengkeraman kelima jari tangan manusia berbaju hitam itu kemudian secepat kilat dia lepaskan sebuah tendangan kilat.

Tendangan itu muncul sangat mendadak dan langsung mengarah ke lutut kanan manusia berbaju hitam itu.

Tampaknya lelaki ceking lagi jangkung itu memang memiliki ilmu silat yang amat lihai, dalam tergesa-gesa kaki tidak ditekuk, langkah tidak bergeser, hanya tubuhnya yang tahu-tahu sudah mengigos lima depa ke samping, langsung terhindar dari tendangan Buyung Im seng.

“Orang-orang yang bergabung dalam Seng tong memang semuanya jagoan berilmu tangguh !” kembali Buyung Im seng berpikir.

Sementara ingatan tersebut melintas, ilmu pukulannya segera mengembangkan seranganserangan gencar yang maha dahsyat, jurus-jurus sakti yang aneh dan sukar diduga arah tujuannya dilepaskan dengan beruntun mengancam tempat-tempat mematikan ditubuh lelaki jangkung tersebut.

Sejak Buyung Im seng memperoleh kitab pukulan peninggalan Buyung Tiang kim, kepandaian silatnya telah memperoleh kemajuan pesat, apalagi setelah berlangsungnya pertarungan sengit melawan Buyung Tiang kim didalam kota batu dibawah tanah, 

kemajuan yang diperoleh semakin pesat, kelihaian ilmu silatnya sekarang boleh dibilang sudah terhitung jagoan tangguh dalam dunia persilatan.

Dibawah serangan berantai yang dilepaskan secara gencar itu, lelaki berbaju hitam yang ceking lagi jangkung itu kontan saja dibuat kelabakan setengah mati.

Ketika lelaki berbaju hitam yang gemuk pendek itu menyaksikan rekannya mulai tak tahan, dia segera turun tangan membantu.

Sebetulnya Nyoo Hong leng ingin turun tangan membantu setelah dilihatnya pihak lawan main kerubut, tapi niatnya itu segera dibentak oleh Khong Bu siang.

Walaupun Nyoo Hong leng menuruti juga perkataan Khong Bu siang dan tidak maju membantu, tapi timbul juga kecurigaan dalam hatinya.

Kendatipun Buyung Im seng dapat mengalahkan kedua orang itu, tapi dengan harus bertarung satu lawan dua, sudah banyak waktu yang dibutuhkan untuk merobohkan mereka.

Berbeda kalau dia turun terjun ke arena, dengan satu lawan satu niscaya kedua lawan bisa dirobohkan dalam waktu singkat, bagaimanapun didalam soal waktu mereka akan

peroleh keuntungan besar.

Nyoo Hong leng memang tidak mengutamakan kecurigaan dalam hatinya, namun toh sepasang matanya yang terbelalak lebar mengawasi wajah Khong Bu siang penuh tanda tanya.

Dia menduga dengan kecerdasan Khong Bu siang, seharusnya dapat merasakan juga kecurigaan yang mencekam perasaannya sekarang.

Namun Khong Bu siang sama sekali tidak menggubrisnya, dia seolah-oleh memang bermaksud untuk mengulur waktu.

Bu tok taysu sendiri cuma berdiri disisi arena dengan wajah termangu, wajahnya penuh diliputi kebingungan dan perasaan tidak habis mengerti.

Jelas hingga kini dia masih belum berhasil menemukan cara yang paling tepat untuk menghadapi situasi yang sedang dihadapi sekarang.

“Blaaamm ! Blaaamm !” tiba-tiba terdengan dua kali benturan nyaring berkumandang datang, dua orang manusia berbaju hitam itu masing-masing sudah terkena pukulan Buyung Im seng.

Sedemikian beratnya pukulan tersebut, membuat kedua orang manusia berbaju hitam itu muntahkan darah segar, lencana tembaganya sudah terjatuh ke tanah, sementara sepasang tangan mereka memegangi perut sendiri sambil terbungkuk-bungkuk kesakitan.

Jelas sudah kalah kedua orang itu sudah kehilangan daya kemampuannya lagi untuk meneruskan pertarungan.

Khong Bu siang hanya memandang sekejap ke arah dua orang manusia berbaju hitam itu kemudian secara tiba-tiba melanjutkan kembali langkahnya ke depan.

Baik Buyung Im seng maupun Nyoo Hong leng sama-sama merasakan tindakannya itu sedikit aneh, namun dibawah pengawasan Bu tok taysu, kurang leluasa bagi mereka 

untuk banyak bertanya, maka tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka turut beranjak pergi dari situ.

Nyoo Hong leng segera mempercepat langkahnya melampaui Khong Bu siang lalu membalikkan badan sambil menghadang kepergiannya, setelah itu menegur.

“Apa yang telah terjadi ?”

“Bila kau masih ingin berlalu dari sini dalam keadaan selamat, lebih baik jangan banyak bertanya pada saat ini.”

Resiko tersebut memang kelewat besar, maka Nyoo Hong leng tak berani banyak bertanya lagi.

Perjalanan yang ditempuh Khong Bu siang cepat sekali, dalam waktu singkat dia sudah membelok ditikungan bukit situ dan lenyap dari pandangan.

Nyoo Hong leng segera memperlambat langkahnya menunggu hingga Buyung Im segn menyusul disamping tubuhnya, kemudian berbisik.

“Buyung toako, aku merasa….”

Mendadak dia menutup mulut dan tidak berbicara lagi. “Kenapa ?” tanya Buyung Im seng keheranan.

“Anak tak akan membicarakan kesalahan ayahnya, istri tak akan membicarakan kejelekan suaminya, aku tidak pantas untuk membicarakan soal dia dengan orang lain, bukankah begitu ?”

Selapis rasa murung dan sedih yang amat besar menyelinap diantara kerutan dahinya, setengah perminum teh kemudian, pelan-pelan dia baru berkata :

“Menurut perasaanmu, bagaimana sih dengan dia ?” Buyung Im seng menghela napas panjang.

“Aai, kau cerdik sekali tapi hatimu terlampau baik dan mulia, oleh karena setiap tindakan maupun merencanakan sesuatu, tindakanmu selalu kurang keji, licik dan buas sehingga boleh dibilang… boleh dibilang kau sudah menderita kerugian besar sebelum melakukan sesuatu..”

Nyoo Hong leng segera mengerdipkan matanya yang besar dan jeli, kemudia menukas. “Jadi kau maksudkan, aku harus bersikap lebih buas, lebih keji dan lebih licik ?”

Buyung Im seng segera tersenyum.

“Jangan salah mengartikan perkataanku, aku tidak bermaksud demikian.” Mereka berdua telah membelok pula pada tikungan bukit.

Tampak oleh mereka Khong Bu siang sudah berdiri tegak diujung tikungan sana, sehingga hampir saja Nyoo Hong leng menumbuk ke dalam pelukan Khong Bu siang. Waktu itu Khong Bu siang melepaskan kain cadarnya, namun wajahnya tidak nampak girang , tidak nampak juga murung, sama sekali tidak menampilkan perasaan apa-apa sehingga mendatangkan suatu perasaan sukar diduga. 

Nyoo Hong leng segera menghentikan langkahnya sambil menegur : “Mengapa sih kau berdiri di ujung tikungan ? Bikin hatiku kaget saja !”

Pelan-pelan Khong Bu siang menyimpan lagi kain cadarnya, kemudian katanya lembut : “Sekarang kita masih berada dalam situasi yang berbahaya sekali, justeru karena mereka masih menganggap diriku sebagai Toa sengcu maka mereka tak berani mempergunakan cara yang lebih keji, tapi kalian berdua harus bekerja sama secara baik-baik denganku !” “Aku kawin dengan ayam turut, sekalipun harus mengikuti kau untuk menyerempet bahaya, hal ini merupakan kewajibanku, tapi orang lain toh bukan apa-apa, dia adalah Buyung kongcu, aku rasa tidak sepantasnya jika kaupun menyuruh dia berbuat yang sama. Alangkah akan lebih baik beberkan seluruh rencanamu yang cermat itu kepada kita, daripada menyuruh orang buta naik kuda buta, lebih baik utarakan saja secara blakblakan agat kita semua juga turut tahu.”

“Bila Buyung kongcu tidak melakukan perjalanan bersama kita, kecil sekali harapan baginya untuk meninggalkan tempat ini dengan selamat…”

Dengan cepat Nyoo Hong leng menggeleng.

“Aku justru bisa kawin denganmu karena menginginkan keselamatan jiwanya, bukan saja hal ini merupakan tugas tanggung jawabmu, inipun merupakan salah satu syarat yang harus kau penuhi…”

“Menurut syarat yang kita janjikan dulu, aku hanya bertugas melindunginya sampai ia bertemu kembali dengan ayahnya,” tuka Khong Bu siang cepat, “kini saudara Buyung telah berhasil memenuhi keinginannya masa aku harus melindunginya terus seumur hidup ?”

Sebenarnya Buyung Im seng ingin membantah, tapi teringat kalau hal mana merupakan jerih payah Nyoo Hong leng terpaksa dia pun hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.

Dengan kening berkerut Nyoo Hong leng menghela napas panjang, ujarnya kemudian : “Orang lain juga tak akan mengikuti kita seumur hidup, setelah meninggalkan wilayah Sam seng bun, sekalipun kita hendak menahannya pun belum tentu dia bersedia !” “Jika kalian masih inging meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat, lebih baik turuti saja perintahku.”

“Tentu saja harus menuruti perkataanmu, cuma kau pun harus mengerti lebih dahulu, dia bukan bawahanmu, juga bukan anggota perguruan Sam seng bun, kau jangan memasukkan orang kedala, bule-bulemu !”

“Disekitar tempat ini penuh dengan mara bahaya yang setiap saat bisa mengancam keselamatan jiwa kita, apa yang bakal terjadi aku sendiripun tak bisa meramalkan lebih dulu, itu mesti dilihat menurut situasi dan kondisi kemudian baru mencari akal untuk mengatasinya, kalau kau suruh aku memberi penjelasan lebih dulu, maka aku harus berbicara mulai dari mana dan sampai kemana ?”

Tampak Buyung Im seng kuatir kalau kedua orang itu bakal ribut lebih lanjut, cepat-cepat dia menjura seraya berkata : 

“Kalian berdua tak usah ribut lagi gara-gara persoalanku, bila segalanya bisa berjalan lancar, satu jam kemudian kita sudah dapat meninggalkan daerah kekuasaan dari Sam seng bun, sampai waktunya lebih baik kita meneruskan perjalanan secara berpisah saja, karena itu aku minta kalian semua maulah bersabar.”

Khong Bu siang tak banyak cerita lagi, dia membalikkan badan dan segera melanjutkan kembali perjalanannya.

Baru berjalan belasan kaki, mendadak dia menyaksikan ada dua orang gadis sedang berdiri menanti disisi jalan.

Tampaknya Khong Bu siang merasa terkejut sekali disamping rasa cengangnya yang tebal, dengan cepat dia menghentikan langkah.

Ternyata dua orang gadis yang sedang berdiri menanti disisi jalan itu tak lain adalah Kwik Soat kun serta Siau tin.

“Enci Nyoo, terima kasih atas pertolonganmu.” begitu berjumpa, Kwik Soat kun berseru. Nyoo Hong leng menjadi tertegun.

“Maksudmu aku yang telah menolong kalian ?”

“Sekalipun bukan kau pribadi, tapi dia kan melakukan pertolongan atas perintahmu. Apa bedanya ?”

Dengan cepat Nyoo Hong leng memutar otaknya sambil berpikir :

“Mungkin ada orang lain yang mencatut namaku untuk menyelamatkan mereka berdua, mungkin persoalan ini sulit untuk dijelaskan dalam waktu singkat, kalau begitu aku tak usah terburu-buru memberi penjelasan lagi.”

Maka dia lantas bertanya, “Kalian tidak menderita bukan ?” “Tidak, kami baik sekali.”

“Bagaimana cara kalian keluar dari situ ?” tiba-tiba Khong Bu siang menegur dengan suara dingin.

“Ada orang yang menghantar kami kemari.” “Siapa ?”

“Tidak kenal, pada hakekatnya kami tak sempat melihat jelas raut wajahnya.” Kontan saja Khong Bu siang tertawa dingin.

“Heeeh… heeehh…. heeehh…. sungguh membuat orang sukar untuk mempercayainya.” “Kalau tidak percaya, kau boleh bertanya kepada nona Nyoo, orang itu melakukan tugas atas perintahnya, nona Nyoo pasti lebih tahu daripada aku.”

Khong Bu siang berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyoo Hong leng, kemudian sambil mengalihkan kembali sorot matanya ke wajah Kwik Soat kun, dia bertanya lagi. “Sekarang apa yang hendak kalian lakukan ?”

782 

“Orang itu memberitahukan kepada kami agar menunggu kedatangan nona Nyoo disini, kemudian bersama-samanya meninggalkan tempat ini.”

Khong Bu siang termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia pun mengangguk. “Baiklah ! Kalian boleh melakukan perjalanan bersama kami ! Cuma sebelum kita berpisah, kalian harus melakukan seperti apa yang kuperintahkan, mengerti ?” Kembali Kwik Soat kun manggut-manggut.

“Hal itu sudah barang tentu !”

Khong Bu siang segera mendehem pelan, kemudian katanya :

“Saudara Buyung, silahkan kau berjalan dimuka untuk membuka jalan bagi kami.” Sebelum Buyung Im seng bertindak, Nyoo Hong leng sudah mendahului sambil berseru : “Biar aku saja yang membuka jalan untuk kalian !”

Mendadak Buyung Im seng melejit ke udara dan melampaui Nyoo Hong leng dengan cepat, setelah itu katanya :

“Toa sengcu telah menunjuk kepadaku untuk berjalan dimuka, aku rasa nona tak perlu berebut tugas dengan diriku bukan ?”

Nyoo Hong leng menghela napas panjang, pelan-pelan dia berjalan balik ke samping Khong Bu siang, lalu tegurnya dengan suara dalam.

“Dapatkah kau bersikap lebih sungkan kepadanya ?”

“Bersikap lebih sungkan kepada siapa ?” seru Khong Bu siang dengan suara keras. Tiba-tiba Nyoo Hong leng tertawa hambar, dengan suara yang sangat lembut katanya : “Khong Bu siang ! Kau jangan kelewat sok !”

“Aku tidak terlampau memahami maksud dari perkataanmu itu.”

“Baiklah, akan kuucapkan dengan lebih jelas lagi, cuma ini urusan pribadi kita, bagaimanapun juga kau tak boleh melimpahkan amarahmu kepada orang lain, seandainya kau menaruh perasaan benci atau mendendam, silahkan saja dilampiaskan kepadaku, mengerti ?”

“Katakan saja ! Aku dapat memperhatikan perkataanmu itu dengan lebih seksama.” “Kalau begitu bagus sekali, aku bersedia kawin denganmu…”

“Kau sedang memenuhi janjimu dan aku ini amat mempercayai dirimu.” tukas Khong Bu siang cepat.

“Cuma sekarang aku belum jadi istrimu.”

“Dengan cepat akan terjadi juga, sebab sepeninggal tempat ini aku hendak mencari suatu tempat terpencil dan sepi untuk melangsungkan pernikahan denganmu…”

“Tempat yang tenang sudah cukup, tidak usah suatu daerah yang terpencil, aku Nyoo Hong leng adalah seorang gadis, mempunyai suami dan punya anak toh bukan sesuatu yang luar biasa, mengapa harus kuatir diketahui orang lain ?”

783 

“Kalau begitu bagus sekali,” sambung Khong Bu siang cepat, “pada hari perkawinan nanti, akan kuundang semua enghiong hohan dari seluruh kolong langit untuk bersamasama merayakannya.”

Nyoo Hong leng berkerut kening, kemudian berkata dengan suara lembut.

“Khong long, bersediakah kau untuk mendengarkan perkataanku hingga selesai ?” “Kata Khong long tersebut sangat menawan hati, silahkan kau katakan ! Aku tidak akan menimbrung lagi.”

“Aku bersedia kawin denganmu bukan dikarenakan aku menyukaimu melainkan karena ingin membantu Buyung kongcu.”

“Soal ini aku sudah tahu.”

“Bila perkawinanku denganmu sama sekali tidak berakibat diperolehnya bantuan yang benar untuk Buyung kongcu, maka akan hilanglah makna yang sebenarnya dari perbuatanku ini.”

“Aku bersedia membantunya untuk memasuki kota batu dan berjumpa dengan Buyung Tiang kim, sekarang ia telah bertemu dengan orang yang ingin dijumpai, terlepas Buyung Tiang kim tersebut asli atau palsu, mati atau hidup, tapi dia toh nyatanya telah bersua dengan orang itu, sedang aku juga tak pernah mengingkari janji, bagaimanapun aku toh tak bisa membantunya terus sepanjang hidup.”

Nyoo Hong leng tersenyu.

“Kedengarannya sangat menarik hati, tapi segala sesuatu perubahan yang kemudian terjadi setelah berada di kota batu bawah tanah tak satupun berada dalam dugaanmu, bahkan segala sesuatunya boleh dibilang harus kami tempuh sendiri dengan menyerempet bahaya, terlepas bagaimana hasil dari tindakan nekad kami ini kau tak bisa dianggap telah memberikan bantuan yang besar, lebih tak bisa dibilang kalau keberhasilan kami ini

berkat jasa-jasamu.”

“Di dalam menghadapi persoalan apa saja, suatu batasan pasti ada, sekalipun aku tidak memberikan bantuan yang terlalu besar untukmu, tapi toh sudah kuusahakan dengan segala kemampuan yang kumiliki, persoalannya sekarang adalah bagaimana sikap kita terhadapnya dikemudian hari ?”

“Ehmm, aku berpendapat harus membantunya lagi, aku berharap dia bahagia, urusannya bisa berjalan semua dengan lancar dan sukses, sebab itulah menjadi alasanku terutama mengapa bersedia kawin denganmu…”

“Aku bersedia melakukan pekerjaan apa saja untukmu, tapi tak ingin menjadi seorang budak sepanjang masa demi Buyung Im seng.”

Nyoo Hong leng merasakan ucapannya itu sangat tajam, blak-blakan, kasar dan sama sekali tidak bernada sungkan atau berperasaan, tak terlukiskan rasa mendongkolnya kini. “Khong long !” kembali dia berseru sambil tertawa hambar, “untung saja aku belum

kawin denganmu.”

“Maksudmu ?” Khong Bu siang tertegun. 

“Seorang lelaki sejati lebih mengutamakan janji daripada segala-galanya, sekali dia telah berjanji maka selamanya tak pernah akan berubah lagi. tapi untunglah aku cuma seorang perempuan. apa yang telah kuucapkan boleh saja kuingkari kembali.”

“Jadi nona bermaksud untuk membatalkan ?”

“Betul, tapi pembatalan ini terjadi sebagai akibat keenggananmu untuk menepati janji.” Mendadak Khong Bu siang membungkam dalam seribu bahasa, dia kelihatan termenung tapi langkah perjalanannya semakin dipercepat.

Oleh karena wajahnya ditutup oleh selembar kain cadar hitam, maka sulit bagi Nyoo Hong leng untuk melihat mimik wajahnya.

Dalam pada itu, mendadak dari arah depan sana berkumandang suara bentakan nyaring yang menggema sampai disitu.

Sewaktu Nyoo Hong leng mendongakkan kepalanya, dia saksikan ada empat orang Busu berbaju biru sedang menghadang Buyung Im seng.

Menyaksikan kejadian ini, sambil menghimpun tenaga dalamnya dia segera melejit ke udara, dalam dua kali lompatan saja dia telah melalui Khong Bu siang dan mendekati Buyung Im seng.

Keempat orang Busu berbaju Busu biru itu masing-masing membawa sebilah pedang, tapi diujung senjata tersebut kelihatan pula ditambah dengan sebuah benda berbentuk bulan sabit.

Pedangnya seperti senjata biasa, tapi setelah bertambah dengan gigi berbentuk bulan sabit maka segera berubahlah bentuknya menjadi semacam benda yang aneh sekali, sehingga dalam sekilas pandangan pun terasa lebih aneh dan menyeramkan.

Buyung Im seng mengalihkan sorot matanya sambil memandang sekejap wajah keempat orang busu berbaju biru itu, kemudian sambil mengulapkan tangannya dia menegur. “Apakah kalian berempat anggota perguruan tiga malaikat ?”

Keempat orang busu berbaju biru itu saling berpandangan sekejap, kemudian menyahut : “Benar ! ”

Dengan wajah sedingin es, Buyung Im seng segera menegur :

“Kalau toh sebagai anak murid perguruan sam seng bun, mengapa tidak segera mengunjuk hormat kepada Sengcu ?”

Empat orang Busu berbaju biru itu segera menjengek dingin:

“Hmm, kami mendapat perintah dari Sengcu untuk melakukan penghadangan diri, dari mana ada Sengcu yang bisa dihormati ?”

Sementara pembicaraan berlangsung, Khong Bu siang dan Nyoo Hong leng telah memburu pula ke tengah arena.

Sambil tertawa dingin, Khong Bu siang segera berseru : “Buyung huhoat menyingkir>” 

Waktu itu Buyung Im seng sedang memutar otak untuk mencari akal bagaimana caranya merampas senjata dari salah seorang lawannya, kemudian memakainya untuk menghadapi tiga orang musuh lainnya. Ketika mendengar seruan dari Khong Bu siang itu, terpaksa diapun menyingkir ke arah samping.

Pelan-pelan Khong Bu siang berjalan menuju kehadapan keempat orang Busu berbaju biru itu, kemudian tegurnya :

“Kalian datang atas perintah dari siapa ?”

Pakaiannya yang berwarna hitam serta kain cadar mukanya yang berwarna hitam pula, tampaknya cukup mendatangkan kewibawaan yang sangat besar, sehingga tanpa terasa empat orang busu berbaju biru itu mundur dua langkah ke belakang.

Manusia berbaju biru yang ada disebelah kiri memandang lebih dulu sekejap ke arah ketiga orang rekannya, kemudian baru mengalihkan sorot matanya ke wajah Khong Bu siang sembari menjawab :

“Kami mendapat perintah Seng tong untuk datang kemari.” “Ehmm, mau apa datang kemari ?”

“Menghadang kepergian anda !”

“Besar amat nyali kalian, tahukan kalian siapakah diriku ini ?”

“Walaupun kami berempat belum pernah bertemu dengan Sengcu, tapi kami pernah dengar kalau Sengcu mengenakan dandanan seperti ini.”

“Bagus sekali, setelah mengetahui kalau aku seorang Sengcu, mengapa kalian tidak buang senjata ditangan untuk menerima hukuman ?”

Busu berbaju biru yang ada disebelah kiri itu segera menyahut :

“Kalau toh kau adalah toa sengcu, mengapa dari pihak Seng tong mengirim surat penangkapan ? Sudah jelas kau adalah manusia gadungan yang ingin menggunakan hak kedudukan sengcu untuk menakut-nakuti orang.”

Ditengah bentakan nyaring, pedang bergigi bulan sabit ditangan kanannya segera diayunkan kemuka melancarkan sebuah sapuan kilat ketubuh Khong Bu siang.

Biasanya senjata pedang mengutamakan menutul dan menusuk, tapi dengan dibawahnya sebuah Gwat ya atau gigi berbentuk bulan sabit maka senjata dapat dipergunakan sebagai banyak jenis senjata tajam.

Ketika melepaskan sapuan kilat, yang dipergunakan adalah serangan dari ilmu golok. Buyung Im seng dapat merasakan betapa sempurnanya tenaga dalam lawan, terutama dalam ayunan senjata Gwat ya kiamnya tadi, terasa adanya desingan angin tajam yang menderu-deru.

Khong Bu siang segera mengigos ke samping, meloloskan diri dari serangan tersebut,

lalu tangan kanannya menerobos ke depan dan mencengkeram pergelangan tangan kanan orang berbaju biru itu.

Cepat-cepat Busu berbaju biru itu menarik pergelangan tangan kanannya ke bawah, kemudian secepat kilat menarik kembali pedang Gwat ya kiam nya. 

Gagal dengan cengkeraman mautnya, Khong Bu siang segera menyingkir ke sampint, kemudian.. “wess !” sebuah bacokan dilepaskan.

Angin pukulan yang menderu-deru seperti gulungan ombak menghantam tepian pantai segera melawan datang diantara gulungan angin pukulan tersebut, terdengar pula suara desingan tajam dengan menderu-deru, mengerikan sekali keadaannya.

Ilmu silat yang dimiliki orang berbaju biru itu tidak lemah, dengan cepat dia melangkah setindak ke samping, untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Tapi pada saat yang bersamaan itulah, tiga orang Busu berbaju biru lainnya segera bertindak, tiga bilah pedang Gwat ya kiam dengan memancarkan sinar yang gemerlapan secara terpisah menyergap tiba dan mengancam tubuh Khong Bu siang dari tiga arah yang berbeda.

Khong Bu siang segera melejit ke tengah udara, pukulannya dilepaskan secara beruntun, angin pukulan yang menderu-deru segera menghadang gerak serangan pedang dari ketiga orang itu.

Akan tetapi keempat orang manusia berbaju bitu itu seperti sudah mempunyai ikatan batin yang mendalam sekali, permainan keempat bilah pedang Gwat ya kiam mereka pun dapat dikombinasikan secara manis dan indah sekali.

Walaupun tenaga dalam yang dimiliki Khong Bu siang sangat sempurna, tenaga pukulannya juga lihai, namun untuk sesaat diapun tak mampu untuk menaklukan keempat orang itu.

Dalam waktu singkat, lima orang itu sudah terlibat dalam belasan gebrakan yang amat seru .

Dalam pada itu, Buyung Im seng, Nyoo Hong leng, Kwik Soat kun serta Siau tin telah berdiri mengelilingi kelima orang yang terlibat dalam pertarungan sengit itu.

Buyung Im seng mencoba untuk mengamati pebuatan jurus serangan dari keempat bilah pedang Gwat ya kiam tersebut, sesaat kemudian keningnya segera berkerut katanya kemudian :

“Dia menderita kerugian karena tidak membawa senjata, biar kubantu dirinya agar keempat orang itu segera ditaklukan dan kitapun segera meneruskan perjalanan lagi.” Nyoo Hong leng menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Aku kuatir sudah tidak sempat lagi.” “Kenapa ?” tanya pemuda itu keheranan.

“Coba kau perhatikan keadaan sekeliling tempat ini, agaknya kita sudah berada dalam kepungan musuh.”

Buyung Im seng segera mendongakkan kepalanya dan memperhatikan sekeliling tempat itu dengan seksama, benar juga, dia menyaksikan dari belakang pohon, dari balik batu lama-lamat kelihatan ada bayangan manusia sedang bergerak-gerak, sambil menghela napas katanya kemudian :

“Ya, benar, kita memang sudah terkepung !” 

“Sebelum kita dapat memahami gerakan musuh, paling baik adalah jangan bergerak secara sembarangan, apabila kurang cermat sehingga menimbulkan pertarungan masal, maka akibatnya pasti sukar dibayangkan lagi.”

Buyung Im seng segera manggut-manggut. “Ucapan nona memang benar !”

“Buyung toako, tampaknya kau seperti berusaha untuk menjauhkan diri dariku, benarkah demikian ?” tiba-tiba Nyoo Hong leng menegur.

“Aah, siapa yang bilang begitu ? Aku merasa amat berterima kasih sekali kepadamu.” “Aku selalu menyebutmu sebagai toako, dapatkah kau pun memanggil diriku sebagai adik ?”

Buyung Im seng mengerdipkan matanya beberapa kali, kemudian balik bertanya : “Bolehkah aku memanggilmu adik ?”

Sementara itu, Nyoo Hong leng sudah merasa bahwa dirinya adalah nyonya Khong Bu siang, baginya sudah tiada keraguan apa-apa lagi didalam hatinya, maka dengan cepat dia menimbrung.

“Siapa bilang tidak boleh ? Aku belum menikah dengan Khong Bu siang, masa kau akan memanggil anak kepadaku mulai sekarang ?”

Ucapan mana selain terlalu tajam dan blak-blakan, secara lamat-lamat pun dapat terasa adanya suatu luapan emosi.

“Kalau memang begitu aku akan memanggil Nyoo Hian moay (adik) saja kepadamu” seru Buyung Im seng kemudian.

“Kau lebih besar dua tahun daripada diriku, memang sudah sepantasnya bila kau menyebut hian moay kepadaku.”

Sementara itu, dalam arena pertarungan masih berlangsung suatu pertempuran yang amat seru, cahaya pedang tampak berkilauan menyelimuti seluruh angkasa, pertarungan antara Khong Bu siang melawan keempat orang busu berbaju biru itu sudah berlangsung hingga mencapai pada puncaknya…

Nyoo Hong leng berpaling sekejap, kemudian berkata :

“Mungkin Khong Bu siang juga sudah melihat kalau kita telah terkepung, maka dia tak terlampau terburu nafsu untuk cari kemenangan.”

Ilmu silat yang dimiliki keempat orang busu berbaju biru itupun lihai sekali,” kata Kwik Soat kun, “bila keempat orang manusia berbaju biru itu bisa dibunuh sudah pasti akan kekurangan beberapa orang musuh tangguh.”

“Tapi hal inipun akan mengundang datangnya serbuan dari para jago lihai yang telah mengepung disekeliling tempat ini sekarang.” sambung Nyoo Hong leng.

“Tapi kalau pertarungan harus dibiarkan berlangsung terus dalam keadaan begini, sampai kapan pertarungan baru akan berakhir ?” 

“Sekarang Khong Bu siang sedang memeras otak untuk mencari akal guna menghadapi lawan, sebelum ia mendapatkan cara yang paling tepat untuk menghadapi kerubutan tersebut, tak mungkin dia akan menaklukan keempat orang itu.”

“Bila waktu mesti diulur-ulur terus, bagi kita hal mana hanya akan mendatangkan banyak kerugian tanpa adanya keuntungan apa-apa.”

“Bagaimanapun juga, tak mungkin kita bisa lebih memahami keaadaan Sam seng bun dari pada Khong Bu siang sendiri, maka sebelum dia mengambil suatu keputusan, paling baik kita pun jangan sembarangan mengambil tindakan lebih dulu.”

“Hian-moay” sela Buyung Im seng, “menurut perasaan siauheng, bila pertarungan dibiarkan terus, terhadap kita belum tentu akan mendatangkan keuntungan apa-apa, terutama sekali apabila Ji sengcu dan Sam sengcu menyusul sampai disini.”

Mendadak dari tengah arena berkumandang serentetan suara dengan dengusan tertahan yang memotong perkataan Buyung Im seng yang belum sempat diselesaikan itu.

Ketika semua orang mendongakkan kepalanya lagi, tampak Khong Bu siang telah berdiri gagah ditengah arena, sementara keempat orang Busu berbaju biru itu sudah terkapar mati diatas tanah.

Pelan-pelan Nyoo Hong leng berjalan mendekat, lalu tanyanya dengan suara lirih. “Sekarang, apa yang harus kita lakukan ?”

Khong Bu siang menghela napas panjang.

“Kecil sekali harapan bagi kita untuk meloloskan diri dari sini.” jawabnya lirih.

“Kalau toh kau tak punya rencana yang baik, buat apa kita mesti menunggu lagi disini ? Lebih baik kita terjang saja sekarang !”

Dengan cepat Khong Bu siang menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Di depan sana terdapat sebuah tempat yang strategis dan amat berbahaya, seandainya mereka telah mempersiapkan jebakan ditempat itu, maka tiada harapan bagi kita untuk bisa lolos dari situ dalam keadaan selamat.”

“Lantas apa yang harus dilakukan sekarang ?”

“Satu-satunya kesempatan adalah menunggu disini.” “Menunggu apa ?”

“Menunggu sampai mereka telah selesai mempersiapkan diri lalu melangsungkan pertarungan habis-habisan dan berupaya membekuk pemimpin mereka..”

“Maksudmu, kita harus menunggu sampai Ji sengcu dan Sam sengcu menyusul kemari, kemudian kita baru berusaha membekuk mereka sebelum mencari akal lain ?”

“Benar, inilah satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh.”

Nyoo Hong leng termenung beberapa saat lamanya, kemudian bertanya lagi : “Bolehkah kita mencobanya ?”

“Mencoba apa ?” 

“Mencoba menerjang ke depan, seandainya benar-benar tak berhasil, kita baru mengundurkan diri lagi kemari.”

“Seandainya kita merasa tak ada harapan untuk maju lebih ke depan, maka berarti pula tiada harapan buat kita untuk mundur lagi kemari” jawab Khong Bu siang dingin.

“Masa begitu serius ?”

“Saat dan keadaan pada saat ini kritis sekali, aku harap kalian lebih baik menuruti saja perkataanku.”

“Aku boleh saja menuruti perkataanmu, tapi belum tentu orang lain bersedia menuruti perkataanmu itu.”

“Bila siapa saja diantara kalian tak ingin berdiam disini, suruh saja mereka pergi sendiri

!”

Ucapan mana kontan saja membuat Nyoo Hong leng menjadi tertegun. “Suruh mereka pergi ?” tegurnya.

“Benar, siapa saja diantara kalian yang segan tetap tinggal disini, siapapun boleh pergi dari sini.”

“Bagaimana dengan aku ? Tetap tinggal disini atau mengikuti mereka pergi meninggalkan tempat ini ?”

“Aku harap kau tetap tinggal disini, sebab bila pergi dari sini maka kesempatan untuk hidup benar-benar teramat kecil sekali.”

Walaupun pembicaraan mereka berdua tidak terlampau keras, tapi Buyung Im seng maupun Kwik Soat kun sekalian dapat mendengarnya dengan sangat jelas.

Buyung Im seng kuatir kalau kedua orang itu cekcok lagi gara-gara persoalan tersebut, buru-buru dia menukas :

“Hian-moay, harap jangan kau ribut lagi dengan saudara Khong, apabila saudara Khong bersikeras hendak bertahan ditempat ini, sudah pasti dia mempunyai alasan sendiri, siauheng pun merasa lebih baik kita menunggu disini.”

“Apakah toako pun berpendapat harus menunggu disini ?”

“Aku berpendapat, apa yang diketahui oleh saudara Khong jauh lebih banyak sepuluh kali lipat daripada kita, bila dia menghendaki tetap tinggal disini, tentu saja hal ini diputuskan bukan tanpa alasan.”

“Nah, begitu baru pandangan dari seorang lelaki sejati !” komentar Khong Bu siang cepat.

Nyoo Hong leng segera mencibirkan bibirnya yang kecil, lalu mendengus dingin.

“Huuh, kadang kala orang suka menempeli wajahnya sendiri dengan emas, janganlah kau anggap orang lain benar-benar menyetujui rencana serta pendapatmu itu.”

Khong Bu siang menghela napas panjang.

“Aai, saudara Buyung, sebentar lagi ditempat ini bakal berlangsung suatu pertempuran yang benar-benar amat sengit, sampai wktunya mungkin sulit buat kita untuk saling 

memperhatikan keselamatan yang lain, oleh sebab itu aku tak berani menjamin keselamatannya dari nona Kwik maupun nona Siau tin.

“Seandainya betul tak sanggup untuk melindungi keselamatan sendiri, sekalipun harus tewas, kami juga tak akan menyalahkan kepada siapapun.” sahut Kwik Soat kun cepat. “Aku hanya merasa berkewajiban menerangkan persoalan ini lebih dahulu, tapi aku toh tetap akan berdaya upaya untuk melindungi keselamatan kalian sebisanya, bila perlindunganku kurang baik, tak bisa dihindari suatu kecerobohan dan kebocoran bakal terjadi. Oleh sebab itu aku berkewajiban untuk menerangkan lebih dulu, hingga kalian sampai saatnya nanti kalian tak usah menggerutu kepadaku.”

“Kau bilang siapa yang akan menggerutu kepadamu ?” teriak Nyoo Hong leng tiba-tiba. “Aku maksudkan satu-satunya orang dikolong langit ini yang berani menggerutu dan membantah ucapan dari aku Khong Bu siang !”

“Jadi kau maksudkan aku ?” seru Nyoo Hong leng lagi. Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

“Seandainya orang yang menjumpai mara bahaya adalah diriku sendiri, bagaimana dengan sikapmu ?”

Agaknya Khong Bu siang sama sekali tidak menduga kalah Nyoo Hong leng akan mengemukakan pertanyaan seperti itu, untuk sesaat dia menjadi tertegun.

“Ilmu silat yang kau miliki masih lebih dari cukup untuk melindungi keselamatan jiwamu sendiri,” katanya kemudian, “aku pikir, kau tidak perlu mendapatkan bantuan dari orang lain lagi.”

“Hal itu hanya berlaku seandainya aku berjumpa dengan manusia-manusia yang berilmu yang biasa, andaikata aku bertemu dengan jago lihai kelas satu dari perguruan Sam seng bun ?”

“Bila pertarungan telah berlangsung nanti lebih baik kita berkumpul menjadi satu saja, aku akan berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki untuk mencoba melindungi kalian semua.”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara yang dingin menyeramkan :

“Khong Bu siang ! Buyung kongcu ! Kalian telah terkepung dalam kurungankami, asal kuturunkan perintah maka kalian akan segera merasakan serangan-serangan asap beracun dari api beracun.”

Mendengar seruan mana, Buyung Im seng segera berbisik dengan suara lirih : “Siapa yang bersuara itu ?”

“Ji sengcu ! Mereka memang sudah lama sekali punya rencana untuk menyingkirkan aku, sekarang berhasil jua mereka mendapatkan kesempatan begini baik.”

“Seandainya mereka melancarkan serangan dengan mengirimkan jago-jagonya, kita masih bisa memberikan perlawanan dengan melakukan suatu pertarungan mati-matian, 

tapi jika mereka menyerang dengan mempergunakan asap beracun dan api beracun, bagaimana cara kita untuk menanggulanginya ?”

“Sulit untuk mencari suatu cara untuk menghadapi serangan mereka. Kalau hanya pai beracun sih masih bisa dilawan, tapi asap beracun itu lihai lagipula panas dan jahat, setiap celah dapat ditembusi, begitu menyusup ke tubuh maka sang korbanpun akan segera jatuh pingsan, sebelum memperoleh pertolongan dari obat penawar khususnya, siapapun akan jatuh pingsan selama empat jam.”

Dengan kening berkerut Buyung Im seng segera berkata :

“Kalau begitu, keadaan kita sekarang ibaratnya harimau dalam sangkar, sekalipun punya tenaga juga percuma ?”

Tiba-tiba Kwik Soat kun menimbrung :

“Asap beracun dari Sam seng bun mungkin merupakan suatu cabang lain yang berdiri sendiri tapi menurut apa yang kuketahui setiap asap pemabuk yang digunakan oleh kaum kurcaci dalam dunia persilatan, mereka selalu melepaskannya dengan berdiri searah denan hembusan angin, bila arah hembusan anginnya keliru, bisa jadi si pelepas asap pemabuklah yang akan menjadi korban sendiri.”

“Barisan asap api dari Sam seng bun sama sekali berbeda dengan kepandaian lain, orang yang bertugas melepaskan api beracun dan asap beracun itu bukan saja memperoleh pendidikan khusus, lagi pula mereka pun mengenakan semacam pakaian yang dibuat secara khusus.”

“Kau pernah menjadi Toa sengcu dari perguruan tiga malaikat, apakah kau tak bisa mengendalikan barisan asap api itu ?” tanya Nyoo Hong leng dengan cepat. “Keistimewaan dari Sam seng bun kami adalah terletak pada pusat pengendalian komando di ruang Seng tong, setiap orang yang mendapatkan perintah selalu dikendalikan oelh semacam kekuatan misterius agar mereka setia sampai mati demi perguruan tiga malaikat. Selama ini mereka selalu menganggap Sengcu-nya sebagai malaikat, oleh sebab itulah pengaruh pribadi didalam Sam seng bun tidak begitu besar, kendatipun dia adalah seorang Sengcu, asal sudah meninggalkan ruang Seng tong, maka dia tak dapat menurunkan perintah lagi.”

“Aah, mengerti aku sekarang,” kata Buyung Im seng sambil berseru tertahan, “asal orang-orang itu bisa menciptakan sebuah ruang Seng tomg dengan tiga buah patung

malaikat yang terbuat dari baja, maka soal siapakah Sengcunya sebetulnya bukan sesuatu yang terlampau penting.”

“Perkataanmu memang benar, tetapi orang yang menjadi Sengcu itu bila tidak memiliki kecerdaan dan ilmu silat yang cukup untuk memimpin khalayak ramai, toh sama saja dia tak akan berkemampuan untuk menjadi seorang Sengcu.”

“Oooh, hal ini sudah barang tentu, ruang Seng tong tersebut hampir boleh dibilang telah mengendalikan separuh bagian dari urusan dunia persilatan, bila pemimpinnya tidak memiliki kecerdasan yang luar biasa, dia memang tak akan berkemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang maha penting itu.” 

“Aaai..! Andaikata saudara Buyung bersedia menjabat sebagai Sam sengcu, dengan kecerdasanmu sekarang mungkin kau masih bisa merubah haluan serta tujuan yang sebenarnya dari Sam seng bun sekarang.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menambahkan. “Sedangkan aku hanya akan meneruskan perintahmu saja.”

Walaupun wajahnya tertutup oleh selembar kain cadar, namun secara lamat-lamat dapat dirasakan sepasang sorot matanya yang tajam dan menggidikkan hati itu sedang ditujukan ke wajah Buyung Im seng dan memandangnya lekat-lekat.

Nyoo Hong leng menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi kemudian niat itu diurungkan.

Sambil tertawa hambar Buyung Im seng berkata lagi :“Rencana dari saudara Khong pasti amat hebat dan sempurna, siaute bersedia untuk mendengarkannya dengan seksama.” “Sesungguhnya rencanaku amat sederhana, tak usah dipikirkan dengan menggunakan akal yang cerdas, tapi siaute tahu kalau rencana tersebut pasti akan mendatangkan hasil yang luar biasa.”

“Ah, itukah siasat ditengah siasat ?”

“Cuma, diantaranya masih ada satu persoalan lagi.” “Persoalan apa ?”

“Apakah saudara Buyung memiliki keberanian untuk melaksanakan rencana ini ?” “Seandainya pada satu bulan berselang, siaute pasti akan menyambut usulmu itu dan berusaha kubantu dengan sepenuh tenaga. Tapi setelah mengalami banyak kejadian dan pengalaman yang luar biasa, tiba-tiba saja siaute merasa bahwa persoalan di dunia ini banyak sulitnya daripada mudahnya, bukan hanya dengan sepatah dua patah kata janji saja yang akan dapat menyelesaikan setiap hal atau masalahnya. Oleh sebab itu, aku harus mendengarkan penjelasan dari saudara Khong lebih dulu, kemudian siaute pertimbangkan masak-masak sebelum memberi jawaban kepadamu.”

Tampaknya Khong Bu siang merasa terkejut dan tercengang sekali setelah mendengar jawaban dari Buyung Im seng itu, dia termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata.

“Seandainya saudara Buyung menyetujui, siaute bersedia untuk menyaru sebagai saudara Buyung…”

“Dan aku menyaru sebagai saudara Khong dengan kedudukan sebagai Toa sengcu ?” sambung Buyung Im seng.

“Benar, kau boleh kembali ke ruang Seng tong dan berusaha untuk merubah seluruh corak dan haluan dari Sam seng bun !”

“Caranya sih bagus sekali, hanya sayang sedikit sudah agak terlambat… !” “Tidak bisa !” tiba-tiba Nyoo Hong leng menyela, “Buyung kongcu tidak terlalu

memahami persoalan dalam Seng tong sudah pasti perbuatannya itu akan menimbulkan banyak kecurigaan.” 

Khong Bu siang segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, kemudian dia membungkam dalam seribu bahasa.

“Apa yang kau tertawakan ?” tegur Nyoo Hong leng keheranan.

“Aku mempunyai suatu perasaan yang sangat aneh, itulah sebabnya tak tahan aku menjadi tertawa.”

“Coba kau utarakan !”

“Kau harus berjanji dulu tak boleh marah, dengan begitu aku baru berani berbicara.” “Baik, aku tak akan marah !”

“Aku merasa kita tidak mirip sebagai suami istri.”

“Tidak ada yang patut diherankan, sesungguhnya kita memang belum secara resmi menjadi suami istri.”

“Sampai kapan baru bisa dianggap sah ?”

“Setelah melakukan upacara perkawinan, kita baru dapat dianggap sah sebagai suami istri.”

“Saudara Buyung berjiwa besar dan bersifat bijaksana, dia ingin melakukan suatu pekerjaan besar didalam dunia persilatan, agar tidak kalah dengan hasil-hasil yang dilakukan ayahnya dimasa lampau.”

Buyung Im seng tertawa hambar.

“Saudara Khong terlalu memuji.” katanya, “siaute tahu kalau tak punya kemampuan untuk berbuat demikian.”

“Bisa menahan sabar adalah satu persoalan, ambisi adalah suatu persoalan yang lain.” Sesudah berhenti sekejap, dia melanjutkan.

“Untuk mengatasi masalah tersebut, aku rasa sekarang pun belum terlalu terlambat, apa salahnya bila saudara Buyung pikirkan lagi dengan seksama, bagaimana dengan cara yang siaute usulkan itu.”

“Baik ! Siaute akan memikirkan dahulu persoalan ini dengan seksama, bila sudah mengambil keputusan baru memberitahukan kepada saudara Khong….”

“Bagus sekali, tapi siaute harus memperingatkan satu hal lebih dulu kepada saudara Buyung, begitu meninggalkan tempat ini dan Buyung heng baru memutuskan hal tersebut, kurasa hal ini bukan suatu pekerjaan yang terlampau gampang lagi.”

Diam-diam Buyung Im seng berpikir didalam hati :

“Apa yang dikatakan ayah memang benar, Khong Bu siang bukan seorang manusia yang sederhana, secara tiba-tiba dia bersedia menyerahkan kedudukannya sebagai Toa sengcu kepadaku, entgah apa maksud dan tujuan yang sebenarnya. Aku harus berusaha untuk mengorek dulu latar belakang dari usulnya ini.”

Berpikir demikian, dia lantas berkata : 

“Saudara Khong, aku merasa kagum sekali dengan kemampuanmu untuk mengatasi situasi.”

“Maksudmu ?” Khong Bu siang tertegun.

“Siaute memang ada hasrat untuk menyelamatkan umat persilatan dalam hal ini ternyata saudara Khong berhasil menebaknya secara jitu.”

“Bapak harimau tak mungkin melahirkan anjing, tak usah dipikirkan pun hal ini sudah jelas.”

“Seandainya siaute dapat menjadi Toa sengcu dari perguruan tiga malaikat dan memberi perintah kepada segenap anggota perguruan Sam seng bun, hal ini memang benar-benar merupakan sesuatu kekuatan yang maha besar !”

“Bukan kekuatan yang maha besar saja, hal inipun merupakan sumber kekacauan dari dunia persilatan dewasa ini, seandainya tujuan serta haluan dari Sam seng bun dapat diperbaiki dan diarahkan kembali ke jalan yang lurus, secara otomatis dunia persilatanpun akan memperoleh masa tenang yang cukup berarti.”

“Tapi siaute merasa kelewat asing dengan ruangan tersebut, sekalipun bersedia menyaru sebagai saudara Khong dan kembali ke ruang Seng tong, toh belum tentu aku bisa menyelesaikan persoalan-persoalan serta kesulitan yang akan dihadapi didalam ruangan Seng tong ?”

“Saat ini tak perlu kau risaukan, sudah pasti ada orang yang secara diam-diam memberi petunjuk kepadamu untuk melakukannya, bila saudara Buyung berminat untuk mencari otak yang sebenarnya dari perguruan Sam seng bun, mencari dengan menyaru sebagai diriku merupakan suatu cara yang paling tepat.”

“Sebuah usul yang sangat menarik hati !” ujar Buyung Im seng sambil tersenyum. “Sedangkan mengenai segala tindak tanduk setelah berhasil menyelundup kedala ruang Seng tong, siaute dapat memberikan penjelasan secara garis besarnya, dengan kecerdikan saudara Buyung, siaute percaya segala sesuatunya pasti dapat kau hadapi.”

“Apakah sekarang juga kita akan berganti pakaian ?”

“Seandainya saudara Buyung bersedia siaute mempunyai akal untuk menghindari pengamatan dari orang disekitar sini.”

Buyung Im seng berpaling dan memandang sekejap ke arah sekeliling tempat itu kemudian pikirnya :

“Cara ini benar-benar sukar dipecahkan dengan akal manusia, coba akan kuketahui sampai dimanakah kemampuan yang dimilikinya sehingga di depan umum dia bisa saling bertukar pakaian denganku tanpa diketahui orang lain…”

Berpikir begitu, dia lantas menyahut :

“Baik ! Siaute bersedia untuk melaksanakan usul dari saudara Khong itu…” “Jadi saudara Buyung sudah setuju ?”

“Aku setuju, bagaimanakah tindakah selanjutnya, silahkan saudara Khong memberi petunjuk !” 

Khong Bu siang tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya berpaling ke arah Nyoo Hong leng sambil bertanya :

“Apakah nyoya Nyoo juga setuju ?”

Nyoo Hong leng termenung sebentar, kemudian sahutnya :

“Yang bersedia memukul, yang lain bersedia dipukul, aku pun jadi ogah untuk mencampuri.”

“Aku harap kalian berdua dapat menjaga rahasia ini.”

“Nona Nyoo saja ogah mengurusi, kami sebagai orang yang berada diluar garispun lebihlebih tak berhak untuk mengurusinya,” sahut Kwik Soat kun cepat, “tidak usah kuatir

soal memegang rahasia, kami tak nanti akan membocorkannya.”

Kembali Khong Bu siang mengamati wajah mereka bertiga sekali lagi, kemudian berkata

:

“Harap nona bertiga menunggu disini, jangan bergerak, aku dan saudara Buyung akan bertukar pakaian dulu.”

Selesai berkata dia lantas berjalan lebih dahulu ke arah depan…

Buyung Im seng tidak mengetahui dimanakah letak maksud dan tujuannya, secara diamdiam dia menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, kemudian mengikuti dibelakangnya.

“Kalian hendak kemana ?” Nyoo Hong leng menegur tiba-tiba dengan suara dingin. “Akan berganti pakaian !” sahut Khong Bu siang cepat.

“Empat penjuru penuh dengan musuh yang melakukan pengepungan, kemanakah kalian hendak berganti pakaian ?”

“Didepan sana terdapat sebuah pohon besar !”

Sebenarnya Nyoo Hong leng merasa mendongkol sekali dan tak ingin mencampuri urusan Buyung Im seng lagi, namun setelah menyaksikan kedua orang itu benar-benar beranjak pergi, ia menjadi tak tega untuk berpeluk tangan saja, sambil melompat ke depan dan melakukan pengejaran, serunya lagi dengan nada cemas :

“Kalian dua orang lelaki pergi dengan begitu saja meninggalkan kami tiga orang perempuan sendiri, sebetulnya apa maksudmu ?”

( Bersambung ke jild 38 )
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 37"

Post a Comment

close