Lembah Tiga Malaikat Jilid 28

Mode Malam
Jilid 28

Buyung Im seng memperhatikan lelaki itu dengan seksama, puluhan langkah sudah dilalui namun tidak terjadi perubahan apa-apa, baru saja akan mengejek mendadak terlihat olehnya lelaki berbaju hitam itu jatuh terjengkang ke tanah dengan badan tertelungkup, kemudian setelah meronta sebentar akhirnya dia tak berkutik lagi.

Dengan suara dingin Khong Bu siang lantas berkata :

"Seandainya tadi Buyung kongcu tak mau mendengarkan perkataanku, maka orang yang tergeletak di sana sekarang bukanlah lelaki berbaju hitam itu, melainkan saudara."

Buyung Im seng membungkam dalam seribu bahasa, sementara dalam hati kecilnya berpikir.

"Jika dia tidak memperingatkan diriku, aku pasti akan menyerbu ke depan, saat itu niscaya aku sudah keracunan dan mati. Bagaimanapun juga, ia memang mempunyai budi pertolongan kepada diriku."

Sementara dia masih termenung, Nyoo Hong leng telah berkata kembali :

"Di depan sana kalau memang ada racun, katakan saja toh sudah cukup. Kenapa kau mesti pergunakan begitu banyak tenaga untuk menangkap seseorang lalu menggunakannya sebagai kelinci percobaan ?"

"Andaikata sekarang aku masih seorang Toa sengcu, aku percaya kalian akan mempercayai perkataanku, tapi aku sekarang tak lebih hanya Khong Bu siang, aku rasa kalian tentu merasa ragu terhadap setiap perkataan yang kuucapkan. Oleh karena itu mau tak mau aku harus membuktikannya dengan suatu kenyataan." Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan sorot matanya dialihkan ke wajah Buyung Im seng dan Lian Giok seng, kemudian melanjutkan :

"Entah bagaimanakah jalan pemikiran kalian tapi yang pasti keadaan kita

sekarang adalah senasib sependeritaan. Aku percaya baik kepandaian silat maupun kecerdasanku melebihi kalian berdua, aku harap di dalam keadaan seperti ini

kalian berdua mau menuruti perintah dariku meski untuk sementara saja." "Toa sengcu..." seru Lian Giok seng.

"Aku adalah Khong Bu siang" tukas orang itu cepat, "kau tak usah menyebut aku sebagai Toa sengcu lagi, selanjutnya kita boleh saling membahasai dengan sebutan saudara."

Liang Giok seng menjadi tertegun, kemudian sahutnya :

"Soal ini... baiklah, hamba akan menuruti perintah."

Khong Bu siang segera mendongakkan kepalanya memperhatikan cuaca, tanpa senja telah menjelang tiba, matahari sorepun memancarkan sinar yang indah.

Melihat senja telah menjelang tiba, dia menghembus napas panjang, kemudian katanya.

"Moga-moga saja sebelum menjelang tengah malam nanti kita sudah dapat bersua dengan Buyung Tiang kim, kemudian sebelum fajar telah meloloskan diri dari mara bahaya."

"Kita harus berusaha melewati daerah beracun dulu sekarang." tukas Nyoo Hong leng.

"Racun yang disebarkan disekitar tempat ini memang sangat lihai, asal kena tersentuh sedikit saja maka racun itu akan segera mulai bekerja. Aku harus memeriksa dulu berapa besarkah daerah yang disebari racun itu. Tapi kalau dilihat dari jenis racun yang tidak gampang dalam pembuatannya, jelas tempat yang disebar pun tak akan terlalu besar."

Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arahnya, kemudian katanya : "Andaikata meraka tak bisa menyebarkan seluruh wilayah di sekitar tempat ini dengan racun, asal kita melingkari daerah ini, bukankah urusan menjadi beres ?" Dengan cepat Khong Bu siang menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bila kita masih bisa menghindari tempat ini, tak nanti mereka akan menyebari tempat ini dengan racun."

Kemudian sambil membungkukkan badan ia mengambil dua macam senjata, setelah itu katanya lagi "Aku akan pergi melihat keadaan, kemudian baru kita putuskan lebih jauh."

"Kau harus berhati-hati !" pesan Nyoo Hong leng.

"Tak usah kuatir, kalian jangan bergerak, berdiri saja ditempat masing-masing." Walaupun mukanya ditutupi dengan kerudung hitam sehingga sulit buat orang lain untuk mengetahui mimik wajahnya, namun kalau didengar suaranya dapat didengar kalau dia merasa amat gembira. 

Tampak dia melompat ke udara lalu berjumpalitan dengan kepala di bawah, kaki di atas kemudian dengan kedua macam senjata itu sebagai pengganti kaki, dia berjalan menyelusuri tempat itu.

Gerakan badannya amat cepat dan lagi amat lincah, dalam waktu singkat dia sudah berada sejauh tujuh delapan kaki dari tempat semula kemudian setelah memeriksa sebentar, dia berjalan balik lagi dengan waktu yang sama, setelah itu ia baru berjumpalitan dan melayang turun ditempat semula.

"Bagaimana ?" tanya Nyoo Hong leng.

"Daerah yang disebari racun mencapai delapan kaki lebih, bagaimanapun bagusnya ilmu meringankan tubuh seseorang, jangan harap bisa melampaui tempat itu dalam sekali lompatan."

"Dengan senjata menggantikan kaki, kau berhasil melewati daerah beracun dengan selamat, mengapa kami tidak menirukan pula caramu itu untuk menyeberangi wilayah yang beracun ini ?"

Khong Bu siang berpikir sebentar, lalu katanya :

"Untuk menyeberangi daerah beracun ini jelas bukan suatu pekerjaan sukar, yang terpenting adalah bisa mendapatkan benda sebagai pengganti kaki serta waktu menyentuh tanah jangan terlalu berat sehingga menyebabkan debu beterbangan, asal hal ini bisa dilakukan, niscaya daerah tersebut bisa dilewati dengan selamat." "Berbicara menurut kemampuan yang dimiliki kami beberapa orang, rasanya bukan sesuatu yang sulit untuk melaksanakan hal tersebut, cuma sayang senjata yang bisa digunakan sebagai pengganti kaki terlampau sedikit jumlahnya."

"Itu mah bukan soal sulit" kata Lian Giok seng, "disekitar pesanggrahan Teng cian siau cu penuh tumbuh pepohonan bambu, biar aku mengambilnya beberapa sebagai pengganti kaki."

Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu. Menanti Lian Giok seng sudah pergi jauh, Khong Bu siang baru berkata dengan suara rendah :

"Buyung kongcu, untuk menjumpai ayahmu, kita bakal melewati tempat-tempat berbahaya yang jauh lebih sukar dibandingkan dengan tempat bahaya yang bakal kita lalui jika meninggalkan tempat ini. Aku sudah kehilangan pamorku sebagai

Toa sengcu di hadapan Lian Giok seng, apa yang ku ucapkan juga belum tentu akan diturut, bagaimana agar dia mau membantu dengan sepenuh tenaga, hal ini terpaksa harus tergantung pada dirimu sendiri."

Buyung Im seng termenung sebentar lalu berkata :

"Perkataanmu terlalu kabur, dapatkah kau jelaskan lebih terang lagi ?"

"Lian Giok seng mempunyai banyak teman lama di dalam perguruan Sam seng bun, kita membutuhkan bantuan mereka agar dapat berhasil dengan sukses."

Agaknya perkataan itu belum selesai diutarakan, karena secara tiba-tiba dia tutup mulut. 

Buyung Im seng kembali berpikir sebentar, lalu katanya lagi : "Ada beberapa hal aku masih kurang begitu jelas."

Mendadak suara Khong Bu siang berubah menjadi dingin dan kaku, tegasnya : "Apakah aku harus mengatakannya jelas ?"

"Kecerdasan dan kemampuanku tak bisa menandingi kehebatanmu, sudah barang tentu jika kau bisa menjelaskan lebih jelas, hal tersebut justru jauh lebih baik bagiku."

"Menurut perhitunganku, untuk berjumpa dengan ayahmu maka kita harus melewati dulu beberapa buah tempat yang amat berbahaya, menurut perhitunganku, paling tak ada berapa orang diantaranya bakal mati, kau Buyung kongcu jelas tak boleh mati, akupun tak ingin mati, sedangkan nona Nyoo lebihlebih tidak boleh mati, namun dalam kenyataan harus ada yang mati, kalau kami tak boleh mati, otomatis kita harus mencari beberapa orang untuk menggantikan kita."

"Kalau didengar dari pembicaraan itu, agaknya mereka bakal mampus" kata Buyung Im seng.

"Kesempatan untuk hidup hanya dua puluh persen, kau harus menyuruh Lian Giok seng untuk mencari beberapa orang teman."

"Kalau suruh mereka datang hanya untuk menghantar kematian saja, hal ini mana bisa ku utarakan ?"

"Aku hanya memberitahukan keadaan yang sebenarnya, sedang bagaimanakah cara untuk mengatasinya, hal ini lebih baik diputuskan sendiri oleh Buyung kongcu."

"Di dalam perguruan Sam seng bun toh banyak terdapat manusia-manusia yang jahat dan banyak melakukan kejahatan, kematian mereka sudah merupakan suatu yang pantas, mengapa saudara Buyung harus menaruh kasihan terhadap mereka ?" kata Nyoo Hong leng pula.

Sementara pembicaraan berlangsung, Lian Giok seng dengan membopong segenggam bambu telah muncul kembali.

Terdengar Khong Bu siang berkata lebih jauh.

"Bila kita sedang berjalan sampai ditengah jalan lalu diserang orang, bisa jadi kita akan dibikin gelagapan, maka aku harap bila kalian membawa senjata rahasia, siapkan senjata rahasia untuk menghadapi lawan, bila tidak membawa senjata rahasia, harap siapkan batu untuk menjaga segala kemungkinan dan lagi nanti kita harus berjalan beriring, nah aku akan berjalan lebih duluan."

Sambil membalikkan badan ia segera melompat ke udara, lalu dengan mempergunakan senjata sebagai pengganti kaki, dia menyeberangi tempat itu lebih dulu.

Buyung Im seng segera mengambil pula sebatang bambu dan menirukan cara Khong Bu siang mengikuti di belakangnya, hanya jarak berselisih hampir dua kaki. Dengan suara lirih Hong leng segera berbisik. 

"Lian locianpwe, harap kau berjalan empat kaki di belakang Buyung kongcu, seandainya terjadi sesuatu perubahan, kitapun masih mempunyai kesempatan untuk menghadapinya."

"Aku rasa lebih baik kita menunggu sampai kedua orang itu mencapai seberang sana lebih dulu baru kita menyusul di belakang." kata Lian Giok seng cepat.

Nyoo Hong leng berpikir sebentar, kemudian mengangguk. "Ucapan locianpwe memang ada benarnya."

Dalam perkiraan kedua orang itu, Khong Bu siang dan Buyung Im seng pasti akan mendapat serangan setelah berada ditengah jalan nanti, siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali di luar dugaan, ternyata mereka berdua berhasil menyeberangi daerah beracun itu dengan cepat dan selamat tanpa mengalami serangan apapun.

Nyoo Hong leng segera memandang Lian Giok seng sekejap, kemudian pelan katanya.

"Tampaknya Ji sengcu dan Sam sengcu bukan seorang manusia yang pintar dan berakal."

"Dari mana kau bisa tahu ?"

"Sekalipun mereka menyebarkan racun di sini, tetapi tidak tahu untuk mempersiapkan orang di sekitarnya, coba jikalau mereka melancarkan serangan maut dikala kita sedang menyeberangi daerah beracun ini, niscaya keadaan kita akan berbahaya sekali."

Sembari berkata dia lantas melompat ke depan dan mempergunakan sepasang bambu untuk menyeberangi tempat itu.

Lian Giok seng ikut menghimpun tenaga, menutup pernapasan dan menyusul di belakang Nyoo Hong leng.

Ternyata mereka berdua berhasil mencapai tempat seberang dengan aman dan selamat.

Khong Bu siang segera memandang sekejap ke arah Nyoo Hong leng dan Buyung Im seng, kemudian katanya.

"Kejadian ini rada aneh" "Apanya yang aneh?"

"Aku tidak percaya kalau Ji sengcu dan Sam sengcu bisa melupakan tempat jebakan ini"

"Dengan kemampuan dari Ji sengcu, seharusnya hal ini memang tak akan bisa dilupakan, mungkin dibalik kesemuanya itu masih terdapat alasan yang lain." seru Lian Giok seng.

"Maksudmu ada orang yang secara diam-diam membantu kita untuk membersihkan semua jebakan-jebakan yang berada di sini ?"

"Ya, hamba berpendapat demikian." 

Khong Bu siang segera termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya lagi. "Aku tak bisa menduga, siapakah yang bersedia membantu kita."

"Hamba rasa Toa sengcu sudah lama menanamkan pengaruhnya dalam Seng thong, mungkin ada orang yang secara diam-diam membantu dirimu."

Khong Bu siang mendehem pelan, lalu berkata :

"Jika ada orang yang membantu kita secara diam-diam, sudah pasti mereka membantumu, mereka membantu diriku ? Jelas hal ini tiada hubungan dengan aku."

Lian Giok seng hanya tertawa dan tidak membantah lagi.

Tiba-tiba Khong Bu siang melompat ke udara dan menerjang ke balik semak belukar lebih kurang dua kaki dari situ.

Tampak tangan kanannya diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan, dimana angin pukulannya berhembus lewat, semak belukar segera bertumbangan, tangan kirinya cepat menyambar ke depan mencengkeram seseorang.

Nyoo Hong leng sekalian segera mengalihkan sorot matanya ke arah depan, ternyata punggung orang itu sudah basah kuyup dengan darah.

Dengan seksama Khong Bu siang perhatikan sekejap mulut luka di punggung mayat itu tiba-tiba kain kerudung hitamnya bergetar keras, jelas perasaannya sedang bergejolak keras, hal ini menunjukkan kalau dia merasa amat terperanjat. Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Lian Giok seng, kemudian tanyanya dengan suara rendah :

"Apa yang telah membuatnya terperanjat ?"

"Entah !" Lian Giok seng menggelengkan kepalanya berulang kali.

Agaknya Khong Bu siang mendengar jelas pembicaraan kedua orang itu, dengan cepat dia menyambung :

"Kemarilah kau, coba kau periksa luka yang diderita orang ini.."

Dengan langkah lebar Lian Giok seng segera maju ke depan, setelah memeriksa mayat itu sekejap, ujarnya :

"Dia terluka oleh sejenis senjata rahasia yang berbentuk bulat." "Hanya begitu saja ?"

"Soal yang lain tidak berhasil kulihat." "Coba kau periksa sekitar mulut lukanya."

Nyoo Hong leng dan Buyung Im seng sama-sama melongok ke depan, betul juga disekitar mulut luka itu ditemukan segulung warna hitam yang amat lekat.

"Aku tidak mengerti, lingkaran hitam itu sebenarnya melambangkan soal apa ?" kata Buyung Im seng.

"Tampaknya seperti luka terbakar." 

Mendadak Lian Giok seng seperti memahami akan sesuatu, segera serunya dengan cepat :

"Aaah, aku mengerti sekarang, aku sudah mengerti !"

Sembari berkata, wajahnya segera memperlihatkan perasaan kaget dan seram yang amat tebal.

"Apa yang kau pahami ? Cepat katakan !" seru Nyoo Hong leng dengan perasaan tercengang.

"Mo gan wi, Mo gan wi..."

"Apa sih Mo gan wi itu ?" seru Buyung Im seng keheranan, "dia manusia atau nama julukan ?"

"Semuanya bukan, Mo gan wi adalah sejenis senjata rahasia, senjata rahasia yang mematikan !"

"Berjuta-juta manusia di dunian ini pandai mempergunakan senjata rahasia, aku rasa pasti terdapat sejenis senjata rahasia lain yang jauh lebih lihai daripada Mo gan wi tersebut."

"Kau tidak mengerti "

"Itulah sebabnya aku ingin memohon petunjuk dari locianpwe !"

"Sayang, dalam keadaan dan situasi seperti ini, tak ada waktu lagi bagiku untuk memberi penjelasan."

"Paling baik tak usah dijelaskan lagi" tukas Khong Bu siang, "kalau dijelaskan hanya akan membingungkan jalan pemikiran manusia saja."

"Aaaiperkataan Toa sengcu memang benar !" Lian Giok seng menghela napas

panjang.

Khong Bu siang tidak berbicara lagi, dia membaringkan mayat itu ke tanah, kemudian berkata :

"Aku rasa disekitar tempat ini nanti banyak terdapat mayat manusia, semua penjaga di sini telah tewas semua oleh senjata rahasia Mo gan wi, karena itu tak ada orang yang menyerang kita"

Selesai berkata dia lantas melangkah maju ke depan.

Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian bisiknya lirih.

"Hati-hati sedikit !"

Lalu dia menyusul di belakang Khong Bu siang.

Setelah berjalan sekian lama, akhirnya sampailah mereka di ujung jembatan Kiu ci kiau.

Tampak Toan Thian wi yang mengenakan baju berwarna merah itu berdiri di ujung jembatan sambil menghadang jalan pergi mereka...

Dengan suara lirih Khong Bu siang berbisik : 

"Kalian berhenti dulu"

Kemudian dia berjalan mendekati jembatan dan menegur dingin : "Minggir kau !"

Toan Thian wi buru-buru menjura sambil berseru :

"Menjumpai Toa sengcu !"

"Tak usah banyak adat, aku minta kau minggir dari situ !" Toan Thian wi ragu-ragu sebentar, kemudian menegur :

"Siapakah kau ?"

"Sudah begini lama kau berada didalam perguruan Sam seng bun, masa siapakah aku juga tak kau ketahui ?"

"Kau adalah Toa sengcu"

"Benar, kalau toh sudah mengetahui siapakah aku, apakah kau juga berani membangkang perintahku ?"

"Aku belum pernah menyaksikan paras muka Toa sengcu yang sebenarnya, hari ini aku berharap bisa berjumpa muka denganmu sehingga apa yang menjadi harapanku bisa terpenuhi !"

"Sudah berapa lama kau menyimpan harapan tersebut ?" tegur Khong Bu siang dingin.

"Sudah dua puluh tahun aku menjaga jembatan ini, keinginan itupun sudah dua puluh tahun kusimpan di dalam hati."

"Mengapa tak kau utarakan keinginanmu itu sedari dulu ?" "Aku tak punya kesempatan"

"Sekarang kau anggap kesempatan telah tiba ?"

"Benar. Ji sengcu dan Sam sengcu bersama-sama menghadapi Toa sengcu, hamba mendapat perintah untuk menahan jembatan ini."

"Besar benar perkataanmu itu." Toan Thian heng tertawa hambar.

"Terus terang kukatakan, terhadap Ji sengcu dan Sam sengcu pun aku tidak berniat untuk berbakti kepadanya sampai mati, begitu juga terhadap Toa sengcu, aku dapat membantu mereka, berarti dapat juga membantu dirimu"

Mendadak Khong Bu siang menghela napas panjang, katanya :

"Apakah semua orang yang berada dalam Sam seng bun sama semua seperti kau ?" "Menurut apa yang kuketahui, Sam seng bun bisa menguasai anak buahnya karena suatu sistim yang rahasia, seperti siksaan, peraturan dan lain sebagainya, tapi

begitu rahasia tersebut terbongkar maka mereka pun tak akan lagi berbakti kepada Sam seng bun" 

"Tapi yang jelas kalian dipengaruhi oleh semacam obat beracun yang bersifat lamban. karena pengaruh racun itu maka kalian tak akan bisa meninggalkan Sam seng bun lagi"

"Oleh karena itu banyak orang lantas bertekad untuk membalas dendam. Bila mereka mendapat kesempatan, maka serentak mereka akan berbalik arah..." Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan :

"Sudah dua puluh tahun lamanya, Sam seng bun menjagoi dunia persilatan, setiap orang yang mendengar nama Sam seng bun, tentu akan mengalah dan mundur teratur, padahal anggota Sam seng bun sudah bertekad untuk berontak, bila saatnya sudah tiba, maka keadaannya pasti akan berubah jadi mengerikan sekali" "Sayang sekali waktu yang tersedia bagiku amat terbatas, aku tak dapat banyak berbicara lagi denganmu."

"Apa yang kuucapkan juga sudah selesai, bila Toa sengcu ingin menggunakan kepandaian silat untuk menyeberangi jembatan ini, silahkan saja untuk turun tangan"

Pelan-pelan Khong Bu siang menyingkap kain kerudung mukanya, kemudian berkata :

"Bukankah kau ingin menyaksikan raut wajahmu yang sebenarnya"

Toan Thian heng memperhatikan beberapa saat lamanya, kemudian baru menegur. "Siapakah kau ?"

Khong Bu siang tidak menjawab pertanyaan itu, dia menurunkan kembali kain kerudungnya lalu berkata.

"Kau sudah melihat wajahku dan apa yang menjadi harapanmu selama dua puluh tahunpun sudah terpenuhi."

Toan Thian heng manggut-manggut. "Baik, aku akan menyingkir !" katanya.

Kemudian dengan cepat dia menyingkir ke samping.

"Kami serombongan terdiri dari empat orang" kata Khong Bu siang kemudian. "Apakah para huhoat dari Sam seng thong ?"

"Selain Lian Giok seng, juga terdapat Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng." Toan Thian heng berpikir sebentar, kemudian katanya :

"Suruh mereka menyeberang semua ! Melepaskan seorang atau empat orang juga sama saja akan mati."

Waktu itu malam hari sudah menjelang tiba pemandangan pada jarak dua sampai tiga kaki di sekeliling tempat itu sudah menjadi samar dan tak bisa terlihat jelas.

Khong Bu siang segera memberi tanda, Lian Giok seng, Nyoo Hong leng dan Buyung Im seng segera menyeberangi jembatan itu semua. 

Mendadak Toan Thian heng kembali ke ujung jembatan dan menghadang jalan pergi mereka.

Sambil tertawa dingin Khong Bu siang segera menegur :

"Mengapa ? Apakah kau menyesal ?"

"Bukan begitu, aku ingin menanyakan tentang satu hal." sahut Toan Thian heng. "Soal apa ?"

"Benarkah kau adalah Toa sengcu yang asli ?"

"Dua jam berselang aku masih berada dalam ruang Seng thong sambil memberi peringatan tapi sekarang Ji sengcu dan Sam sengcu sudah tidak mengakui kedudukanku sebagai Toa sengcu lagi. Menurut pendapatmu apakah aku masih terhitung Toa sengcu atau bukan ?"

"Seharusnya kau bukan karena usiamu terlalu muda, sudah dua puluh tahun aku berjaga di jembatan Kiu ci kiau ini, padahal sewaktu masuk ke dalam perguruan Sam seng bung, aku masih berusia lima puluhan tahun, sedang kini aku sudah berusia lanjut, walaupun di dunia ini terdapat ilmu awet muda, tidak seharusnya bekas-bekas ketuaan bisa dihilangkan sama sekali, tapi aku lihat usia Toa sengcu memang belum begitu tua."

"Baiklah, kalau begitu kukatakan bahwa aku bukan Toa sengcu yang sebenarnya." "Kalau begitu, bolehkah aku tahu nama Toa sengcu ?"

"Kalau orang merasa tak puas, hal ini merupakan sesuatu yang tidak benar..." "Tapi kalau ada kesempatan untuk mengetahui sesuatu rahasia, mengapa aku tak memanfaatkan ?"

"Aku bernama Khong Bu siang" katanya kemudian, "apakah kau pernah mendengar nama itu ?"

Toan Thian heng termenung sebentar, kemudian menjawab :

"Khong Bu siang.... ? Khong Bu siang ..." Agaknya pernah mendengar orang membicarakan soal ini, sayang aku sudah tak ingat lagi siapa yang pernah menyebut nama ini."

"Apa lagi yang hendak kau tanyakan ?

"Kamu mau membawa Buyung kongcu kemana ?" "Membawanya untuk berjumpa dengan Buyung Tiang kim" "Membutuhkan bantuanku ?"

"Bila kau berminat untuk membantu kami, jagalah di jembatan ini dan jangan

biarkan orang-orang dari Ji sengcu dan Sam sengcu melewatinya, sebab bantuanmu ini sangat berguna buat kami."

"Baik, aku akan berusaha dengan sepenuh tenaga."

Kemudian sambil menjura kepada Buyung Im seng katanya lagi :

"Jika berjumpa dengan Buyung tayhiap, tolong sampaikan salamku untuknya." 

"Boanpwe mewakili ayahku mengucapkan banyak terima kasih." dengan cepat Buyung Im seng menjura.

Toan Thian heng segera menyingkir ke samping sambil berseru. "Silahkan saudara sekalian lewat."

Dengan dipimpin Khong Bu siang, serentak Buyung Im seng sekalian mengikuti di belakangnya berlalu dari situ.

Terdengar Toan Thian heng berseru dengan lantang :

"Jika Ji sengcu dan Sam sengcu sekalian dapat menyeberangi jembatan ini, hal tersebut berarti aku sudah tewas di ujung jembatan Kiu ci kiau ini."

Beberapa patah kata itu diucapkan dengan suara lantang dan gagah, tak bisa disangkal lagi dia sedang memberitahukan kepada Khong Bu siang sekalian bahwa dia akan bertahan di jembatan tersebut sampai titik darah penghabisan.

"Bila kami bisa memecahkan kekuatan yang ada, pasti akan kuutus orang untuk membantu dirimu."

Mendengar perkataan itu, Toan Thian heng segera tertawa terbahak-bahak, "Haah, haaah, haah, setelah mendengar perkataanmu itu, sekalipun harus mati aku akan mati dengan perasaan lega." katanya kemudian.

Khong Bu siang berpaling dan memandang sekejap ke arah Lian Giok seng, kemudian katanya lirih, "Bagaimana dengan ilmu silat yang dimiliki Toan Thian heng ?" tanyanya.

"Lihai sekali !" jawabnya dengan tegas. "Sampai seberapa lihai kepandaian silatnya ?" "Sepuluh kali lipat lebih hebat daripadaku."

Mula-mula Khong Bu siang agak tertegun kemudian serunya. "Kau bukan sengaja mengunggul-unggulkan kepandaiannya ?"

"Sama sekali tak bermaksud untuk mengunggulkan, bila terjadi pertarungan

antara kau melawan dia, dalam dua puluh gerakan saja aku sudah akan kehilangan kemampuanku untuk menangkis."

"Wah, kalau begitu dia akan bertahan di jembatan Kiu ci kiau ini sampai mati, itu berarti dia akan bertahan dalam waktu yang sangat lama sekali"

Mendadak Khong Bu siang menghentikan langkahnya lalu berkata : "Kembalilah dan beri tahu satu hal kepadanya."

"Beri tahu soal apa ?"

"Katakan kepadanya agar berhati-hati terhadap kotak kayu ditangan Ji sengcu, dalam kotak itu berisi senjata rahasia yang sangat beracun, terutama sekali terhadap pantulan sinar dari kaca bening yang berada di dalam kota tersebut, dia harus berhati-hati."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya : 

"Senjata rahasia yang terpancar dari kotak kayu itu bila tertangkis oleh senjata, maka senjata rahasia tersebut akan meluncur keluar dengan mengikuti senjata tajam, hal ini penting diperhatikan, cepat kau sampaikan."

Lian Giok seng manggut-manggut dan segera berlalu. oooOooo

Setelah beberapa orang itu menyeberangi jembatan Kui ci kiau, dipimpin Khong Bu siang mereka melanjutkan perjalanan ke depan.

Ketika Buyung Im seng menyaksikan jalan yang mereka lewati adalah jalan ketika datang, tergerak hatinya, ia lantas berseru :

"Hei, kau hendak membawa kami kemana ?" "Pergi menjumpai ayahmu."

"Bila ingatanku tak salah, jalanan yang kita tempuh sekarang adalah perjalanan meninggalkan Sam seng thong ?"

"Benar, sewaktu kalian datang kemari, kalian telah melewati sebuah kota batu yang rendah dan pendek ? Masih ingat ?"

"Ya, masih ingat dengan jelas" sahut Nyoo Hong leng, "tampaknya tempat itu memang merupakan sebuah tempat yang aneh sekali."

"Bila di dalam dunia persilatan benar-benar terdapat tempat berkumpulnya kawanan jago lihai, maka tempat tersebut sudah pasti adalah tempat tersebut." "Aku sungguh merasa heran, Sam seng bun mengurung begitu banyak jago lihai di sini, sebenarnya apakah maksud dan tujuan kalian ?"

"Suruh mereka untuk menyerahkan ilmu silat yang dimilikinya."

"Aaah..." Nyoo Hong leng berseru tertahan, "tak heran kalau ilmu silat yang dimiliki orang-orang Sam seng bun beraneka raga dari pelbagai perguruan manapun ada."

"Aaai, kepandaian silatku ini sesungguhnya berhasil kuperoleh sesudah memasuki perguruan Sam seng bun" kata Khong Bu siang cepat.

"Hanya dalam hal ambisi, perguruan Sam seng bun memang melebihi siapa pun, tapi kehidupan seorang manusia paling cuma puluhan tahun belaka, sekalipun ilmu silatnya berhasil dilatih hingga mencapai nomor satu di dunia, tapi toh akhirnya

tak akan lolos dari kematian."

"Tentu saja bukan cuma sampai di situ sana, masih ada hal-hal lainnya lagi" kata Khong Bu siang.

"Dapatkah kau katakan kepada kami ?"

"Tentu saja boleh, tapi dalam keadaan dan situasi seperti ini, kita mana dapat membicarakan soal-soal besar dalam dunia persilatan dengan leluasa..?" "Baiklah," ujar Nyoo Hong leng kemudian, "soal ini boleh kita bicarakan kembali lain waktu, tapi yang tidak kupahami adalah mengapa tempat seperti ini bisa mengurung begitu banyak jago lihai dari dunia persilatan ?" 

Di tempat ini mempunyai semacam belenggu tak berwujud yang membelenggu segenap jago silat yang terkurung di dalam kota batu itu."

"Ditempat itu penuh dengan jago-jago luar biasa dari dunia persilatan, tokoh-tokoh persilatan yang maha hebat dari kolong langit, sekalipun tubuh mereka dibelenggu rantai emaspun, belum tentu dapat membelenggu mereka, tapi sewaktu kami melalui kota batu itu, mengapa tidak kami jumpai bekas-bekas belenggu di tubuh mereka semua. ?"

"Baiklah, untuk mencapai kota batu dimana orang-orang itu disekap masih cukup jauh, menggunakan kesempatan ini baiklah kita bicarakan keadaan yang sebenarnya dari kota batu yang banyak orang tersekap didalamnya."

"Aku pernah membuka salah satu pintu rumah untuk diperiksa isinya" sela Buyung Im seng, "tetapi kujumpai orang di dalam ruangan itu masih tetap duduk tenang saja, tangan tanpa belenggu, tubuh tanpa ikatan, tapi anehnya mengapa mereka justru rela dibelenggu di tempat semacam itu ?"

"Jangankan seseorang yang memiliki ilmu silat sangat lihai, sekalipun seorang manusia biasapun, jika dikurung sepanjang tahun dalam rumah batu itu, dia pasti akan berusaha keras untuk melarikan diri, mana mungkin mereka bersedia tinggal sepanjang tahun di dalam ruangan tanpa melakukan suatu gerakan apapun ?" "Yang kami ingin ketahui sekarang adalah belenggu macam apakah yang telah mengikat mereka serta bagaimana caranya untuk memecahkan belenggu tersebut

?"

"Walaupun sudah kuucapkan, belum tentu kalian mau mempercayainya dengan begitu saja."

"Coba kau katakan dulu."

"Sekalipun aku adalah Toa sengcu dari perguruan tiga malaikat ini, tapi kepandaian semacam apakah yang telah dipergunakan untuk mengurung orang

dalam kota batu itu serta bagaimana cara pemecahannya, hingga sekarangpun aku tidak tahu."

"Kalau begitu, apakah kau tahu mengapa mereka sampai tersekap di tempat itu ?" Kembali Khong Bu siang menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Andaikata aku tahu bagaimana mereka sampai terkurung, sudah pasti kuketahui juga bagaimana caranya untuk memecahkan cara tersebut secara baik."

Nyoo Hong leng segera menghembuskan napas panjang sesudah mendengar perkataan itu.

"Benar-benar suatu persoalan yang membuat orang tidak habis mengerti tapi aku mengerti bahwa apa yang kau katakan itu adalah kata-kata yang sesungguhnya." Khong Bu siang segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Lian Giok seng, kemudian katanya :

"Mungkin kau pernah mendengar cerita tersebar dari seorang lain..." 

"Aku memang pernah mendengar orang bercerita, konon orang-orang yang disekap dalam kota batu itu agaknya dikuasai oleh semacam ilmu pembetot sukma."

"Apa yang dinamakan ilmu pembetot sukma ?" tanya Nyoo Hong leng, "dalam ilmu silat, belum pernah kudengar nama semacam itu."

"Menurut kabar yang tersiar, kecuali ketiga orang sengcu, tiada orang lain yang mengetahui keadaan yang sebenarnya, tak nyana Toa sengcu sendiripun tak tahu." "Sudah berapa kali dalam kesempatan berbincang-bincang, aku ingin sekali mencari tahu keadaan yang sebenarnya dari mulut Ji sengcu maupun Sam sengcu, tapi mereka pun tak mampu menjawab pertanyaan tersebut, agaknya mereka sendiripun kurang begitu tahu."

"Kalau toh ada cara untuk menguasai, tentu ada pula cara untuk membebaskannya, jika kalian semua tidak memahami, bukankah kejadian ini benar-benar merupakan sesuatu lelucon yang tak lucu ?" kata Nyoo Hong leng cepat.

"Persoalannya sudah amat jelas, sebelum orang-orang itu turun tangan, mereka bertekad untuk mengurung orang-orang itu sepanjang masa dalam kota batu dan tak boleh keluar barang selangkahpun, maka cara tersebut tak pernah diwariskan lebih lanjut."

Mendengar itu, Nyoo Hong leng segera menghela napas panjang.

"Aaaikalau berbincang menurut apa yang kau katakan, sekalipun kita dapat

memasuki kota batu, belum tentu bisa menyelamatkan orang.. ?"

Khong Bu siang tidak langsung menjawab, dia termenung dan berpikir sesaat kemudian baru katanya :

"Ya, terpaksa kita harus pergi mengadu nasib, aku pikir, asal kita mempunyai cukup waktu, sudah pasti kita akan berhasil melihat keadaan yang sebenarnya." Nyoo Hong leng menghela napas panjang.

"Aaaidalam dunia persilatan perguruan tiga malaikat sudah termasyhur sebagai

suatu perkumpulan yang penuh diliputi kerahasiaan serta kemisteriusan, sungguh tak disangka kalian sebagai pentolan dalam perkumpulan Sam seng bun pun hanya mengetahui satu tak tahu lainnya. Aaai, sungguh bikin orang tak habis

mengerti"

Sesudah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.

"Sebenarnya siapakah orangnya yang benar-benar mengetahui keadaan yang sebenarnya dari perguruan Sam seng bun ?"

"Soal initermasuk aku sendiri pun tidak mengerti. Orang yang memberi

kedudukan kepada itu hanya memberi tahu padaku bagaimana cara mengendalikan serta cara menghadapi Sam seng bun, tapi dia tak pernah

mengungkapkan latar belakang yang sebenarnya dari perguruan Sam seng bun ini." "Kalau begitu, Ji sengcu dan Sam sengcu masih mengerti jauh lebih banyak daripada dirimu ?"

Khong Bu siang termenung sejenak, katanya : 

"Mungkin memang begitu, tapi yang pastimereka tidak akan mengetahui rahasia

sekitar kota baru yang digunakan untuk menyekap orang. Kehebatan dari perguruan Sam seng bun adalah setiap orang dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya, tetapi kecuali persoalan serta tugas-tugas mereka masing-masing, jarang sekali ada yang mengetahui persoalan lainnya." "Tampaknya di atas kalian tiga orang Sengcu masih ada seorang pentolan lain yang menguasai seluruhnya ?"

Khong Bu siang segera tertawa getir. "Ucapanmu memang tepat sekali."

Mendadak Nyoo Hong leng menghentikan langkahnya dan membelalakkan matanya lebar-lebar, serunya cepat :

"Siapakah orang itu ?"

"Entahlah, mungkin dia hanya seorang huhoat di dalam ruang Seng thong, mungkin juga dia seorang pengawal biasa, tiada orang yang dapat menemukan setitik jejakpun untuk menduga-duga kedudukannya."

"Aah, makin berbicara rasanya semakin misterius, sungguh membuat orang sukar buat mempercayainya."

Khong Bu siang termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya kembali : "Kalau mau berbicara baiklah aku bicarakan seluruhnya dengan terus terang, daripada kau menaruh curiga terhadap diriku."

Sesudah menghembuskan napas panjang, lanjutnya :

"Ia tak pernah munculkan diri, tapi setiap tiga bulan sekali yakni pada tanggal lima belas tengah malam, kami pasti akan menemukan sepucuk surat rahasia didalam hiolo kecil di dalam ruangan Seng thong, ada kalanya hanya sepucuk, tapi ada kalanya dua pucuk, malam pengambilan surat rahasia biasanya merupakan suatu masalah besar yang amat rahasia, dalam ruangan Seng tong kecuali kami bertiga, dilarang ada orang lain yang turut mengetahuinya."

"Apakah setiap pucuk surat rahasia dibaca bersama oleh kalian bertiga..?" sela Nyoo Hong leng.

Dengan cepat Khong Bu siang menggelengkan kepalanya berulang kali. "Belum tentu, di atas sampul surat rahasia itu sudah tertera jelas sekali, ada

kalanya di atas sampul itu bertuliskan hanya aku seorang yang boleh membacanya, ada kalanya hanya ditujukan buat Ji sengcu atau Sam sengcu pribadi, pokoknya jarang sekali kami bertiga disuruh membaca surat itu bersama-sama."

"Apa saja yang tercantum didalam surat itu ?"

"Memberi petunjuk kepada kami untuk melaksanakan tugas dalam perguruan Sam seng bun, juga memberi batas waktu buat kami untuk menyelesaikan tugas tersebut, kamipun mengatur dan memerintah Sam seng bun atas dasar surat rahasia itu/" 

Sekali lagi Nyoo Hong leng menghembuskan napas panjang.

"Aaai, sungguh penuh dengan liku-liku yang aneh, penuh dengan misterius yang menggetarkan hati, tentunya banyak sudah surat rahasia yang simpan bukan ?" "Tak ada sama sekali, karena setiap surat rahasia yang selesai dibaca harus dikembalikan lagi ke dalam hiolo emas dan tak boleh dibawa keluar dari ruang Seng tong."

Nyoo Hong ling segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Lian Giok seng, dan kemudian tanyanya :

"Tentang soal-soal seperti ini, apakah kalian tahu ?"

"Aku hanya tahu setiap tengah malam tanggal tiga, enam, sembilan, dua belas dan lima belas, ketiga sengcu pasti mengadakan rapat bersama dalam ruang Seng tong, setiap kali rapat baru selesai selewatnya tengah malam, apa yang sebenarnya terjadi, aku mah tidak mengetahui dengan pasti."

Nyoo Hong leng tertawa dingin.

"Kalau begitu, kau si Toa sengcu tidak lebih cuma seorang boneka, seorang antek manusia yang kau sendiripun tidak mengetahui."

"Hmm... andaikata kekuasaan besar benar-benar berada di tangan seorang Toa sengcu, tak nanti orang lain akan benar-benar menyerahkan kedudukan Toa sengcu ini padaku."

Diam-diam Nyoo Hong leng segera berpikir.

"Ternyata kedudukannya sebagai Toa sengcu inipun hanya sebuah nama kosong yang sama sekali tak mendatangkan perasaan apa-apa baginya, sehingga sudah sejak lama dia telah mempunyai niat untuk berkhianat "

Sementara itu, Khong Bu siang telah berkata :

"Sekalipun di belakang kami masih terdapat seorang lain yang mengatur segalagalanya, tapi itupun hanya dia lakukan setiap tiga bulan sekali, sedang dihari biasa, bila mana terjadi suatu persoalan maka akulah yang mengatur segalanya, jadi boleh dibilang kedudukan aku sebagai seorang Toa sengcu pun boleh bilang bukan suatu kedudukan boneka atau nama kosong belaka."

Sementara pembicaraan masih berlangsung mereka sudah berada di kota batu tempat para jago silat disekap.

Waktu itu kentongan pertama sudah hampir tiba, di bawah kerlipan cahaya bintang, pemandangan disekitar tempat itu secara lamat dapat terlihat jelas. "Mari kita tunggu sebentar sebelum memasuki kota batu itu !" bisik Khong Bu siang.

Buyung Im seng ingin cepat-cepat berjumpa dengan ayahnya, buru-buru dia berseru kembali.

"Kalau toh sudah sampai di sini, rasanya makin cepat semakin baik, mengulur waktu hanya akan merugikan diri kita saja." 

"Buyung kongcu, bila kau masih teringat dengan perkataanku, tentu saja kau tak akan terburu-buru memasuki kota batu itu" pelan-pelan Khong Bu siang berkata. Buyung Im seng termenung dan berpikir sebentar, kemudian ujarnya :

"Aku sudah tidak teringat lagi apa yang kau katakan, dapatkah kau mengulangi sekali lagi ucapanmu ?"

"Sudah kukatakan tempat ini berbahaya sekali, siapa yang berjalan paling dulu, kemungkinan besar akan menjumpai ancaman bahaya maut, sebetulnya aku ingin mencari beberapa orang untuk mewakili kita mampus, tapi sepanjang jalan ternyata kita tidak berhasil menemukan orang yang bisa dipergunakan."

"Jika kita menunggu sebentar lagi, bantuan dan manfaat apakah yang bisa kita petik ?" tanya Buyung Im seng kemudian.

"Sebentar lagi rembulan akan muncul, bila cahaya rembulan telah memancar ke empat penjuru maka paling tidak kita masih mempunyai beberapa bagian kesempatan untuk melanjutkan hidup."

"Seandainya Ji sengcu dan Sam sengcu sampai membawa orang menyusul kemari, bukankah kita bakal repot sendiri ?"

"Aku saja tidak mengetahui seluk beluk yang sesungguhnya dari kota batu dimana para jago persilatan itu disekap, aku yakin mereka lebih-lebih tidak

mengetahuinya, mereka harus menyerempet bahaya juga bila ingin datang kemari." Buyung Im seng berseru tertahan dan tidak banyak berbicara lagi, setelah termenung dan memperhitungkan sebentar, dia lantas berpikir :

"Seandainya benar-benar ingin menyerempet bahaya, sudah sepantasnya kalau aku yang turun tangan lebih dahulu."

Dalam pada itu, terdengar pula Nyoo Hong leng berkata.

"Kalau toh kau sendiripun tidak mengetahui dengan pasti keadaan yang sebenarnya dari kota batu ini, darimana kau bisa bilang jika dalam kota batu ini terdapat banyak sekali mara bahaya yang amat luar biasa?"

"Ada berapa orang huhoat dari Sam seng bun yang tersesat di tempat ini, akibatnya mereka tewas secara mengenaskan."

Tiba-tiba Buyung Im seng berkata.

"Konon setiap tengah malam, pintu-pintu yang berada di dalam kota batu ini dibuka bersama-sama, entah benar atau tidak kabar berita ini?"

"Ya, tengah malam setiap tanggal tiga, enam dan sembilan." "Hamba tidak mengerti" sela Lian Giok seng.

"Jangan bertanya kepadaku, yang kuketahui pun tidak lebih banyak, mungkin rahasia terbesar dari perguruan Sam seng bun terletak di tempat ini, dan malam ini kita akan melakukan penelitian yang seksama dalam kota batu ini."

"Lantas, mengapa kita tidak segera masuk ke dalam ?" 

"Bila kita lebih awal memasuki tempat itu, berarti kita akan lebih awal pula menjumpai mara bahaya."

"Maksudmu, setelah tengah malam lewat nanti, kita baru memasuki kota batu ?" "Kalau saat itu baru masuk aku rasa kelewat malam, lebih baik kita tunggu sampai rembulan sudah muncul, selewatnya kentongan kedua, kita baru bertindak."

"Hari ini sudah tanggal berapa ?" kembali Nyoo Hong leng bertanya. "Tanggal dua puluh tiga. Dikala rembulan sudah muncul nanti berarti sudah kentongan ke

Nyoo Hong leng mencoba untuk memperhatikan sekeliling tempat itu dengan seksama, terdengar suara deruan pohon siong dan angin yang berhembus lewat, kecuali itu sekeliling sana terasa sepi dan hening tak ada sesuatu suarapun, sambil menghela napas katanya :

"Sewaktu datang kemari, kamipun pernah melewati kota batu ini tapi kami tidak mengetahui bahaya maut apakah yang tersembunyi dibalik kesemuanya ini, maka kami melewatinya secara santai dan tenang, selain merasa agak seram, sepi dan heran terhadap bangunannya yang aneh, kami sama sekali tidak menemukan sesuatu keanehan apapun. Akan tetapi setelah mendengar keteranganmu sekarang, agaknya kota batu yang sepi itulah baru merupakan tempat yang paling penting

dari perguruan Sam seng bun kalian."

"Bila dapat menyingkap rahasia dari kota batu tempat penyekapan para tawanan ini, maka dalam sekejap mata saja semua rahasia dari perguruan Sam seng bun akan tersingkap."

Dengan sorot mata berkilat Nyoo Hong leng mengawasi wajah Khong Bu siang lekat-lekat, kemudian katanya :

"Bagaimanapun juga, aku dapat merasakan bahwa kau masih mempunyai banyak rahasia yang tak dapat diungkapkan secara keseluruhan dalam sekejap mata." Khong Bu siang segera menghela napas panjang.

"Sudah berapa tahun aku menjadi Toa sengcu dari perguruan Sam seng bun, tentu saja banyak rahasia yang kuketahui. Cuma, apa yang kuketahui sebagian besar hanya terdiri dari sepotong-sepotong, oleh karena itu aku tak bisa mengingat kesemuanya itu secara keseluruhan, tapi bila kalian bisa menanyakannya, mungkin aku akan teringat kembali. Aaai, sekalipun aku ingin memberitahukan kepadamu juga tak tahu bagaimana cara untuk mengemukakannya !"

"Kau sudah menjadi Toa sengcu selama banyak tahun, anggap saja sebagai seorang boneka, apakah selama ini belum pernah mendatangi kota batu tempat penyekapan kawanan jago ini ?"

"Pernah datang sekali, peristiwa ini terjadi pada setahun berselang, waktu itu aku bersama Ji sengcu dan Sam sengcu datang kemari bersama-sama..."

Setelah menengok sekejap ke arah Lian Giok seng, dia menambahkan : "Agaknya kau pun diajak bersama ?" 

"Benar" sahut Lian Giok seng cepat, "hanya waktu itu aku menjaga di luar kota dan tidak ikut masuk ke dalam."

"Aku masih ingat, waktu itupun tanggal dua puluh tiga, ketika rembulan muncul, waktu sudah menunjukkan kentongan kedua, kami memasuki kota batu ketika rembulan sedang terbit."

"Apakah waktu itu tak ada mara bahaya ?" tanya Nyoo Hong leng.

"Kami datang untuk melaksanakan perintah, apakah sudah diatur semuanya secara diam-diam, rasanya hal ini sudah cukup jelas."

Sesudah berhenti sejenak, lanjutnya :

"Aku masih ingat, waktu itu aku, Ji sengcu dan Sam sengcu bersama-sama melewati tiga tempat yang amat berbahaya, kalau dipikir kembali setelah kejadian, dalam hati kecil kami masih terasa agak ngeri..."

"Apa yang kalian takutkan ?"

"Aku rasanya seandainya sebelum kejadian kami sudah mengetahui bagaimana cara untuk mengatasinya, dengan mengandalkan kepandaian silat yang kami miliki, maka untuk melewati pos-pos berbahaya itu dengan selamat sangat sulit sekali, paling tidak ada satu dua orang diantaranya akan tewas secara mengenaskan."

"Siapakah yang memberitahukan cara mengatasi tempat-tempat berbahaya tersebut kepada kalian ?"

"Surat rahasia yang ditinggalkan di dalam hiolo emas dalam ruang Seng tong itu tercantum jelas cara untuk mengatasi kesulitan tersebut, cuma peristiwa itu telah berlangsung setahun berselang, apakah mereka masih menggunakan cara yang lama untuk menghadapi keadaan tersebut, hal mana sukar untuk diduga." "Paling tidak kau toh memahami salah satu cara diantaranya ?"

"Malam ini, aku memang bersiap-siap untuk menggunakan cara ini.." Setelah menengok sekejap ke arah Buyung Im seng dan Lian Giok seng, dia menambahkan :

"Aku harap kalian berdua suka membantuku." "Mengapa aku tidak dimasukkan dalam hitungan ?"

"Taktik tersebut hanya bisa digunakan oleh tiga orang dan kami bertiga sudah sanggup untuk melaksanakannya, sebab itu harap nona menjadi pengintai saja yang mengawasi dari sisi arena."

"Aku ingin menerangkan satu hal, yakni dalam pandangan kami Buyung kongcu seharusnya hanya seorang tamu, ia tak bisa disuruh untuk melaksanakan sesuatu tugas kewajiban."

Buyung Im seng yang segera mendengar perkataan itu, buru-buru menukas : "Mara bahaya yang kita jumpai pada malam ini timbul gara-gara diriku, aku sebagai seorang manusia bila sedikit bahaya pun enggan dilewati, bukankah hal ini merupakan suatu perbuatan yang amat tidak berbakti..." 

"Kali ini tak usah dibicarakan lagi, lain kali tak mungkin akan terjadi lagi peristiwa semacam ini."

Khong Bu siang manggut, katanya pula :

"Ya, lain kali, aku pasti akan menanyakan maksud hatimu terlebih dahulu." Sorot matanya segera dialihkan untuk memandang sekejap ke arah Buyung Im seng serta Lian Giok seng, setelah itu sambungnya lebih jauh :

"Bagian yang paling bahaya akan kuhadapi keadaan bahaya itu, harap Toa sengcu suka memberi petunjuk." kata Lian Giok seng.

"Aku bernama Khong Bu siang, dari sejak dua jam berselang aku sudah bukan Toa sengcu dari perguruan Sam seng bun lagi."

Kemudian setelah mendehem pelan, sambungnya lebih jauh.

"Kita harus melewati sebuah pintu batu, sesaat ketika kita lewati pintu batu itu

pada saat yang bersamaan ada dua belas macam senjata tajam yang bersama-sama akan menyergap datang."

"Dua belas macam senjata tajam yang dimaksudkan adalah senjata dari jenis yang sama ataukah ada beberapa macam senjata tajam yang berbeda-beda ?" "Seingatku, senjata tajam itu bukan terdiri dari semacam senjata, tapi ada golok, ada pedang, masih ada toya besi dan senjata-senjata berat sejenisnya yang akan

menyerang bersama, enam macam menyerang bagian tengah, enam macam sisanya menyerang kiri dan kanan. Serangan itu mereka pergunakan dengan ilmu silat

yang berbeda-beda tapi semuanya merupakan suatu kerja sama yang amat hebat, hampir semuanya menyerang pada saat yang bersamaan. Untungnya saja mereka cuma menyerang satu jurus, asal kita dapat menahan serangan gabungan dari mereka bebarapa orang, maka orang-orang itu akan segera membubarkan diri dan tidak melancarkan serangan lagi."

"Itu berarti dalam saat bersamaan kau hendak membendung enam macam senjata tajam, sedangkan aku dan Buyung kongcu harus menahan tiga macam senjata bersama-sama."

"Benar, dari kedua belas macam senjata tajam tersebut, serangan yang manapun sudah cukup untuk mematikan orang, apalagi kalau beberapa senjata itu menyerang bersama-sama, tentu saja kehebatannya lebih mengerikan, bila salah satu diantaranya tak terbendung, kemungkinan besar kita akan tewas secara mengerikan atau paling tidak pun bakal terluka parah dan cacad."

Lian Giok seng segera manggut-manggut, katanya.

"Apakah kita harus bertarung sendiri-sendiri ataukah turun tangan secara bersama-sama ?"

"Tentu saja harus ada serangkaian ilmu kerja sama yang baik untuk bisa menahan kedua belas macam senjata tersebut sehingga tak sampai menjadikan timbulnya suatu titik kelemahan."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya : 

"Sekarang kita bertiga harus melatih dulu ilmu kerja sama untuk menghadapi serang gabungan lawan nanti."

Buyung Im seng dan Lian Giok seng saling berpandangan sekejap, kemudian mereka bersama-sama maju mengerumuni.

Pelan-pelan Khong Bu siang berkata.

"Sekarang kalian harap perhatikan dahulu dengan seksama, aku akan menggambarkan dulu cara bekerja sama dan berpisah yang diperiksa dalam ilmu kerja sama tersebut. Setelah garis besarnya kalian ketahui aku baru akan menerangkan lagi, dengan kecerdasan otak kalian berdua, aku percaya pasti dapat memahami dengan cepat."

Waktu rembulan belum muncul, penerangan yang mereka andalkan pun hanya dari cahaya bintang, oleh sebab itu walaupun Lian Giok seng dan Buyung Um seng memiliki ketajaman mata yang luar biasa, toh mau tak mau mereka harus pasang telinga dan memperhatikan dengan seksama.

Dengan cepat Khong Bu siang membuat garis di atas tanah untuk menerangkan cara kerja sama diantara mereka bertiga, bahkan menjelaskan pula satu sama lainnya secara terperinci, sekalipun mereka hanya terdiri dari tiga orang, tapi diantara serangan-serangan mereka untuk menghadapi gabungan kedua belas macam senjata tajam tersebut, jurus serangan yang digunakan justru berkaitan antara yang satu dengan lainnya..."

Buyung Im seng serta Lian Giok seng adalah jagoan kelas satu di dalam dunia persilatan, setelah Khong Bu siang memberikan sedikit keterangannya, kedua orang itu segera menjadi paham dan mengerti.

Lian Giok seng, kemudian katanya dengan suara dalam,

"Saudara Lian, agaknya pedang lemasmu tak dapat digunakan didalam pertarungan ini."

Ketika Lian Giok seng mendengar orang itu secara tiba-tiba memanggilnya sebagai saudara, hatinya kontan saja bergetar hebat, buru-buru serunya.

"Tidak berani, tidak berani.... Toa seng..."

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Khong Bu siang menukas cepat : "Jangan sebut aku sebagai Toa sengcu lagi, sekarang kita sedang menghadapi kesulitan yang sama, mati hidup kitapun tergantung dalam tindakan selanjutnya, sudah sepantasnya bila kita saling menyebut sebagai saudara."

Lian Giok seng segera mendehem beberapa kali, kemudian katanya :

"Kalau toh saudara Khong bersikeras untuk berbuat demikian, siaute pun terpaksa harus turut perintah."

"Jika kita dapat melewati ketiga tempat pos penjagaan yang amat berbahaya itu dan berhasil menjumpai Buyung tayhiap, siaute pun akan segera mengembalikan wajah asliku dengan tidak mengenakan kain cadar warna hitam lagi." 

"Saudara Khong berpesan agar siaute jangan melawan musuh dengan mempergunakan pedang lemas, tapi dewasa ini akupun tidak dapat menemukan senjata yang lain, apa yang mesti ku perbuat ?"

"Soal ini tak perlu digelisahkan, di dalam kota batu, senjata tajam bisa ditemukan setiap saat."

"Kau hanya membicarakan satu tempat berbahaya, bagaimana dengan tempat yang lain ? Bagaimana pula berbahayanya ?"

"Dua tempat yang lain kecuali harus mengandalkan ilmu silat juga membutuhkan kecerdasan otak, aku yakin masih sanggup mengatasinya. Bila dibicarakan sekarang rasanya cuma akan membingungkan jalan pemikiran kita saja, maka lebih baik tak usah dibicarakan dahulu."

"Bagilah sedikit pekerjaan bagiku, jangan terlalu menganggap diriku sebagai nona besar."

Mendadak Khong Bu siang menempelkan jari tangannya di atas bibir sambil berbisik.

( Bersambung ke jilid 29)
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 28"

Post a Comment

close