Lembah Tiga Malaikat Jilid 14

Mode Malam
Jilid 14

"Kau telah membawa bahan pembicaraan melantur sampai jauh sekali." tukas Nyo Hong leng.

"Menurut nona Nyo, apa yang harus kita lakukan sebagai persiapan?" kata Kwik soat kun kemudian kembali ke pangkal pembicaraan mereka.

"Dalam soal ini aku tak bisa melebihi kemampuanmu, lebih baik kau saja yang mengaturkan untuk kami!"

Kwik soat kun kembali tersenyum.

"Selama ada non Nyo di sini, tidakkah kau terlalu meninggikan kedudukan siau moay dengan mengaturkan segala sesuatu?"

"Gunakan mereka yang mampu, kalau toh nona Kwik memiliki kemampuan untuk mengatur siasat, kenapa kami tidak meminta bantuanmu?" jawab Nyo Hong leng sambil tertawa hambar.

"Siau moay akan mengajukan sebuah rencana, suka dipakai atau tidak, harap kalian suka mengambil keputusan."

"Katakan!"

"Nama nona Nyo terlalu besar, mungkin orang-orang Sam seng bun sudah menaruh perhatian atas gerak gerikmu, sudah barang tentu Buyung Kongcu pun tidak terlepas dari pengawasan orang-orang Sam seng bun, andaikata kita kunjungi lembah Cui liu kok dengan muka asli kita, tak bisa disangkal lagi, hal ini sama artinya dengan memberitahukan kepada orang lain tentang asal usul kita."

"Jadi maksud nona Kwik, kita haru berangkat dengan cara menyaru wajah kita yang sesungguhnya?"

"Paling baik memang begitu!"

266 

"Kita berempat, tiga perempuan seorang lelaki harus menyaru sebagai apakah kita, sehingga mengelabui ketajaman mata orang2 Sam seng bun?"

"Siau moay mempunyai suatu akal bagus, cuma saja terpaksa mesti merendahkan derajat nona Nyo."

"Semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, aku selalu melakukan perjalanan dengan menggunakan wajah asliku dan belum pernah menyamar, aku pikir menyamar tentulah suatu permainan yang sangat menarik hati."

Kwik soat kun tertawa. "Konon nona mempunyai suatu kebiasaan yang suka akan kebersihan, apakah kau tidak risih untuk menempelkan obat-obatan itu di atas wajahmu?"

Nyo Hong leng tertegun sejenak, kemudian sahutnya. "Kalian benar-benar sangat lihai, sampai kebiasaan hidup dan kekurangan yang kumiliki pun dapat kau selidiki dengan begitu jelasnya."

"Itulah sebabnya, terpaksa aku harus merendahkan derajatmu dengan menyarukan dirimu sebagai seorang kacung bukan..."

"Aku akan menyamar sebagai kacung bukannya siapa?" "Tentu saja Buyung kongcu!"

Diam-diam Nyo Hong leng menghembuskan napas lega, pikirnya: "Untung saja sebagai kacung bukannya..."

Kwik soat kun telah berpaling ke arah Siau tin sambil berkata pula. "Kau juga harus menyamar sebagai kacung buku!"

"Buyung Kongcu seorang masa harus membawa dua orang kacung buku? Terlalu berlebihan rasanya! seru Siau tin.

Kwik soat kun segera menggeleng.

"Kau akan menyaru sebagai kacung bukuku!" katanya.

Kemudian sambil memandang lagi ke wajah Buyung Im Seng, katanya lebih jauh. "Kau pun tak boleh muncul dengan wajah aslimu, aku hendak merubah wajahmu sedikit tua, kemudian ditambah dengan sebuah jenggot panjang, dengan begitu maka wajah aslimu akan tertutup."

"Tapi, kemana kita harus mencari barang kebutuhan tersebut?" tanya Buyung Im Seng.

"Soal ini, tak perlu kongcu risaukan, segala sesuatunya telah dipersiapkan dari tadi."

"Kalau begitu cepatlah turun tangan, agar kita pun segera melanjutkan perjalanan."

"Sekalipun terburu napsu juga tak usah detik ini juga, kita musti mengatur dulu

segala sesuatunya sampai sempurna, jangan sampai ada yang bocor hingga rencana kita berantakan di tengah jalan."

Kemudian sambil menuding ke arah sebuah perkampungan nun jauh di sana, dia menambahkan. "Tuan rumah perkampungan itu mempunyai hubungan akrab 

dengan perkumpulan Li ji pang kami, bagaimana kalau kita beristirahat dulu di situ? Selesai menyamar kita baru melanjutkan perjalanan lagi?"

"Apakah perkampungan itupun merupakan salah satu kantor cabang dari Li ji pang kalian?" tegur Nyo hong leng.

"Itu sih tidak." jawab Kwik soat kun sambil tertawa hambar, "terhadap nona Nyo, siau moay rasa tidak usah berbohong lagi, sesungguhnya tuan rumah perempuan dari perkampungan itu dulunya adalah anggota Li ji pang kami."

"Oooh, kiranya begitu!"

"Siau moay akan membawakan jalan."

Selesai berkata dia lantas berangkat lebih dulu menuju ke depan sana. Begitulah tak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka dalam perkampungan itu, selesai beristirahat dan menyamar, menggunakan kegelapan malam yang mencekam, mereka lanjutkan perjalanan menuju ke depan.

Sementara itu, dandanan beberapa orang itu telah mengalami perubahan, Buyung Im Seng memakai jubah panjang dengan menunggang kuda jempolan, ia mengenakan topeng kulit manusia yang berwarna tembaga dengan jenggot sepanjang dada, di depan pelana kudanya tergantung sebilah pedang mustika.

Nyo Hon leng yang gemar akan kebersihan enggan memakai obat penyamar, di atas wajahnya dia hanya mengenakan selembar topeng kulit manusia dan menyamar sebagai kacung bukunya Buyung Im Seng, ilmu kepandaian menyaru yang dimiliki Kwik soat kun memang sangat lihai, ia menyamar sebagai seorang kakek dengan jenggot kambingnya yang panjang.

Siau tin juga menyamar sebagai seorang bocah lelaki kecil yang merupakan kakek dan cucu dengan Kwik soat kun.

Empat orang dengan empat ekor kuda berjalan menyusuri jalan raya, tapi mereka tetap mempertahankan suatu jarak tertentu.

Kwik soat kun benar-benar seorang yang amat teliti, sebelum berangkat ia telah menjanjikan pula tanda rahasia untuk saling mengadakan hubungan, sehingga tak sampai kedua belah pihak tersesat dan salah mengambil jalan.

Kwik soat kun dan Siau ting berjalan dimuka, sedangkan Buyung Im Seng Nyo Hong leng mengikuti di belakangnya.

Belasan li setelah meninggalkan perkampungan, Kwik soat kun melarikan kudanya menelusuri sebuah jalan kecil yang sempit dan sepi...

Sebenarnya Hong leng berjalan di belakang Buyung Im Seng, tiba-tiba mencemplak kudanya dan melarikannya bersanding dengan pemuda itu, bisiknya: "Toako, tahukah dimana letaknya lembah Cui liu kok tersebut?"

"Tidak tahu, nona Kwik tidak mengatakannya."

"Mereka sudah mempunyai rencana didalam hatinya, apakah kita harus mengikuti di belakang mereka tanpa mengetahui keadaan yang sesungguhnya?" 

"Menurut dugaanku mungkin Kwik soat kun sendiripun tidak tahu dimana letaknya lembah cui liu kok itu, cuma dia enggan mengutarakannya keluar karena kuatir hal ini akan menurunkan nama besar perkumpulan Li ji pang mereka, dia ingin menggunakan ketajaman pendengaran mata-mata Li ji pang mereka untuk menyelidiki letak lembah Cui liu kok tersebut, kemudian baru memberitahukannya kepada kita."

Nyo Hong leng termenung dan berpikir beberapa saat kemudian, lalu sahutnya. "Ehmm, benar juga perkataanmu itu!"

Mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang amat ramai berkumandang tiba, ternyata Siau tin telah melarikan kudanya mendekati dengan cepat.

Tiba di hadapan Buyung Im Seng, mendadak menarik les kudanya dan berhenti. "Cepat bersembunyi!" serunya kemudian.

"Apa yang terjadi?" tanya Buyung Im Seng dengan wajah agak tertegun.

"Nona Kwik suruh aku memberitahukan kepada kalian bahwa Giok hong siancu dari lembah Giok hong kok telah datang dari depan sana, sebentar lagi pasti akan bertemu dengan kita."

"Haaah... Giok hong siancu telah sampai di sini? Mana mungkin ia akan sampai di sini?" seru Buyung Im Seng dengan perasaan terperanjat.

"Bagaimana mungkin nona Kwik bisa tahu bila Giok hong siancu akan sampai di sini?" sela Nyo Hong leng pula.

Siau tin menjadi tertegun, kemudian serunya, "Aku musti menjawab pertanyaan siapa lebih dulu?"

"Sama saja, siapa duluan siapa belakangan bagiku sama sekali tak ada bedanya." "Tempat ini terletak sangat dekat sekali dengan lembah Giok hong kok, asal Giok hong siancu sedang keluar dari lembahnya, maka kita segera berjumpa dengan mereka."

"Apakah sebelum pergi, Giok hong siancu memperlihatkan gejala atau tanda2 tertentu?"

Siau tin termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya. "Bila kedatangan Giok hong siancu tak menunjukkkan sesuatu pertanda, bagaimana mungkin enci Kwik bisa mengetahuinya?"

"Apa pertandanya?"

"Didalam melakukan perjalanan, Giok hong siancu selalu diiringi oleh lebah kemalanya dalam jumlah yang amat banyak, suara dengungan lebahnya lain daripada yang lain, sehingga sekilas pendengaran saja dapat segera membedakannya."

"Oooh, kiranya begitu."

Sementara mereka sedang bicara, Kwik soat kun telah berlalu pula dengan langkah tergopoh-gopoh, sambil mendekati mereka, serunya dengan cemas. "Giok hong siancu telah tiba, cepat kita bersembunyi, jangan sampai diketahui olehnya." 

Buyung Im Seng mempunyai perhitungan sendiri dalam hatinya, kalau bisa menghindari Giok hong siancu memang paling baik dihindari daripada tindak tanduknya yang tak tenang menimbulkan kecurigaan orang.

Akan tetapi Nyo hong leng masih saja tidak habis mengerti, tak tahan ia lantas bertanya. "Gilakah Giok hong siancu itu?"

"Bila mengandalkan ilmu silat yang sebenarnya, tentu saja dia masih belum tandingan nona Nyo."

"Lantas apa yang mesti kita takuti?"

"Didalam lembah Giok hong kok, Giok hong siancu memelihara banyak sekali jago lihai, dan lagi setiap bepergian tentu membawa lebah-lebah kemalanya, padahal kita ada urusan penting perangi Giok hong siancu juga berangan-angan, seandainya terjadi bentrokan, bukankah hal ini akan menunda perjalanan kita?"

Nyo hong leng mencoba untuk memasang telinga dan memperhatikan baik-baik, ia dengar suara perputaran roda bergema makin mendekat, agaknya ada sebuah kereta kuda yang datang dari arah depan.

Sambil tersenyum dia lantas berkata. "Baiklah, kita akan menaruh rasa jeri kepadanya..."

Dia membalikkan badan dan lari masuk ke balik hutan di tepi jalan.

Kwik soat kun sekalian segera mengikuti pula di belakangnya, masuk ke dalam hutan itu. Hutan itu letaknya di tepi jalan, tak lama setelah beberapa orang itu masuk ke hutan tampaklah belasan ekor kuda mengiringi sebuah kereta kuda berjalan lewat di atas jalan sempit tersebut.

Di atas masing-masing kuda duduklah seorang gadis berpakaian ringkas yang menyoren pedang ditangan masing-masing membawa sebuah kurungan lebah, bunyi dengungan keras menggema dari balik kurungan itu, suaranya memang lebih keras dan berbeda sekali dengan suara lebah biasa.

Memandang hingga rombongan itu menjauh, Nyo hong leng menghembuskan napas panjang, ujarnya kemudian, "Aku mengerti sekarang!"

"Apa yang nona Nyo pahami?"

"Semenjak perguruan Sam seng bun munculkan diri dari dalam dunia persilatan, kecuali sembilan partai besar serta Kay pang, hampir semuanya mendengar perintah dari Sam seng bun, hanya lembah Giok hong kok yang kecil saja tetap berdiri sendiri, agaknya beberapa keranjang lebah kemala itulah yang diandalkan, Aaiii...! Andaikata beribu-ribu ekor lebah kemala terbang dan menyerang bersama, bagaimanapun lihainya ilmu silat yang dimiliki seseorang, akhirnya takkan tahan juga."

Kwik soat kun tertawa. "Lebah kemala yang dibawa Giok hong siancu sekarang tak lebih hanya satu dua diantara beribu lainnya, bila berada dalam Giok hong kok, sekaligus dia dapat melepaskan lebah kemalanya sehingga menutupi angkasa." "Betulkah di dunia ini tak terdapat kepandaian untuk menaklukan lebah-lebah beracun itu?" 

"Mungkin ada, tapi sampai detik ini belum pernah kudengar kalau dalam dunia persilatan ini terdapat orang yang sanggup menghadapi lebah kemala dari lembah Giok hong kok."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, kitapun harus melanjutkan kembali perjalanan kita."

Dia lantas melarikan kudanya meninggalkan tempat itu lebih dulu. Siau tin menarik tali les kudanya dan menyusul di belakang Kwik soat kun.

"Mari kita juga berangkat!" bisik Nyo Hong leng. Kedua orang itu segera menjalankan kudanya keluar dari dalam hutan itu.

Setibanya di luar hutan, Nyo hong leng berkata sambil tertawa. "Sekarang kedudukan kita berbeda, kau adalah majikan sedang aku cuma seorang kacung buku, sudah sepantasnya jika kau berjalan di depan."

Empat orang dengan terbagi menjadi dua rombongan melanjutkan perjalanannya. Ada kalanya mereka berkumpul menjadi satu, ada kalanya selisih amat jauh, mereka saling mengadakan hubungan dengan mengikuti tanda rahasia yang ditinggalkan.

Akan tetapi bila tiba saatnya untuk beristirahat atau menginap, maka mereka berkumpul di dalam sebuah rumah penginapan yang sama.

Tengah hari itu, sampailah mereka di tepi sebuah sungai kecil, Nyo hong leng segera menyusul ke samping Kwik soat kun sambil bisiknya. "Nona Kwik, agaknya hari ini sudah mencapai hari ketiga."

"Benar!" "Bila sebelum matahari terbenam nanti kau masih belum berhasil menemukan letak lembah Cui liu kok itu, berarti batas waktu nona telah habis dan kita akan berpisah."

"Itulah sebabnya Siau moay harus mengajak kalian masuk ke dalam lembah Cui liu kok sebelum matahari terbenam nanti." jawab Kwik soat kun sambil tertawa hambar.

"Sekalipun begitu kebetulan malam nanti kita berhasil menemukan lembah Cui liu kok, tapi aku rasa nona Kwik tak usah turut kami untuk menyerempet bahaya lagi."

"Kenapa?" "Sebab batas waktu nona Kwik telah habis, tentu saja kau harus pergi meninggalkan kami."

"Sayang Siau moay telah memperoleh persetujuan dari pangcu untuk memperpanjang cutiku menjadi setengah bulan." ucap Kwik soat kun sambil tertawa lebar.

"Hanya khusus untuk menemani kami memasuki lembah Cui liu kok?" "Omongnya saja cuti, sesungguhnya termasuk juga urusan dinas, oleh sebab itu pangcu kami telah mengutus pula empat orang anggotanya untuk datang kemari membantu kita."

Nyo hong leng segera berpaling sekejap ketika tidak nampak ada orang yang berlalu lalang di situ, dengan suara rendah dia lantas bertanya. "Dimana orangnya?" 

"Mereka akan secara langsung berangkat menuju ke lembah Cui liu kok, mungkin saja mereka telah menyamar pula menjadi orang lain dan sudah tiba cukup lama di sana."

"Orang dipilih pangcu kalian untuk bertarung melawan orang-orang Sam seng bun, tentunya merupakan inti kekuatan perkumpulan kalian bukan?"

"Itu mah tergantung dari sudut pandangan yang bagaimana? Kalau dibilang soal ilmu silat, maka dalam perkumpulan kami sulit rasanya untuk menemukan seseorang yang bisa menandingi kehebatan nona, apalagi kalau dibilang untuk berhadapan dengan pihak Sam seng bun, cuma ke empat orang yang dikirim kemari semuanya memiliki kemampuan khusus yang dapat diandalkan."

Nyo Hong leng tahu sekalipun ditanyakan lebih lanjut juga tak akan memperoleh hasil apa-apa, maka sambil tertawa hambar, katanya. "Selama beberapa hari ini, nona sudah berapa kali berhubungan dengan orang2 dari perkumpulanmu?" "Cuma enam kali, apakah nona Nyo menemukan sesuatu yang tidak beres...?" "Segala sesuatunya berjalan dengan baik, kita bekerja-sama dengan perkumpulan kalian memang benar-benar lebih leluasa."

Pada saat itulah tiba-tiba tampak seekor kuda dilarikan kencang-kencang, mendekat dari depan menyeberangi sungai kecil, dan lewat disamping beberapa orang itu.

Memandang hingga bayangan kuda itu lenyap dikejauhan sana, Kwik soat kun segera berbisik. "Kita juga harus segera berangkat."

Dia melompat naik ke atas kuda lebih dulu dan menyeberangi sungai kecil itu. Nyo hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, kemudian bisiknya. "Bila menghadapi sesuatu peristiwa, lakukanlah dengan berani, aku pasti akan selalu berada di sisimu."

Suaranya lemah lembut tapi pada ucapannya gagah perkasa, membuat Buyung Im Seng merasakan semangat jantannya berkobar kembali, dengan cepat ia mencemplak kudanya dan melarikannya kencang-kencang.

Nyo hong leng segera mengejar dari belakang, betul juga dia mengikuti di sisi Buyung Im Seng. Siau tin berjalan paling belakang, setelah menyeberangi sungai kecil itu, dia baru menyusul ke belakang Kwik soat kun.

Empat ekor kuda dilarikan kencang2, entah beberapa saat sudah lewat, kuda-kuda itu sudah basah bermandi keringat. Tiba-tiba Nyo hong leng berkata dengan menyampaikan ilmu suaranya. "Toako, perhatikan baik-baik gerak-gerik Kwik soat kun!"

Ketika Buyung Im Seng memperhatikan perempuan itu dengan seksama, maka tampaklah setiap melakukan perjalanan sekian waktu, Kwik soat kun pasti mengalihkan sorot matanya ke tepi jalan dan memperhatikan sekejap.

Jelas kedua belah sisi jalan yang ditinggalkan tanda rahasia perkumpulannya, cuma saja tidak dikenali orang lain. 

Buyung Im Seng manggut2 sebagai pertanda kalau dia memahami arti dari kata Nyo hong leng.

Mendadak Kwik soat kun menarik tali les kudanya, binatang yang sedang dilarikan kencang itu seketika terhenti secara tiba-tiba.

Siau tin yang mengikuti di belakang Kwik soat kun sama sekali tak menyangka ke situ, hampir saja tubuhnya menumbuk diri Kwik soat kun yang berada dihadapannya.

Dengan cepat Buyung Im Seng dan Nyo hong leng sama-sama menghentikan pula, gerakkan tubuhnya.

Ketika mendongakkan kepalanya maka tampaklah di atas sebuah tebing yang curam penuh tumbuh aneka bunga yang berwarna merah, jauh memandang ke depan warna tersebut amat menyolok mata, tampak tebing yang ratusan kaki tingginya itu hampir semuanya tertutup oleh bunga warna merah, hal ini jelas menunjukkan kalau bunga itu ditanam dengan tenaga manusia.

Segulung angin gunung berhembus lewat menggoyangkan bunga-bunga berwarna merah. Dengan suara lirih Kwik soat kun lantas berbisik. "Ang hoa gay (Tebing bunga merah)!"

"Ang hoa gay bukan lembah Cui liu kok, apa sangkut pautnya tempat ini dengan tujuan kita?" seru Buyung Im Seng.

Lembah Cui liu kok terletak di belakang tebing Ang hoa gay, cuma kalau dilihat dari keadaan medan di sini..."

"Bagaimana?"

"Berbahaya sekali!" Buyung Im Seng segera mengalihkan sinar matanya ke depan, tampak tanah pegunungan saling bersambungan dengan lembah nan hijau, sejumlah mata memanjang bunga merah bertaburan dimana mana, betul-betul suatu pemandangan alam yang sangat indah.

Dengan kegirangan pemuda itu lantas bertanya. "Kenapa aku tidak menamakan sesuatu yang kurang beres?"

"Jika kongcu mau memperhatikan dengan seksama, maka tidak sulit bagimu untuk mengetahuinya..."

Sambil menunjuk ke arah sebuah lembah di tempat kejauhan sana, katanya. "Jika kita ingin menuju ke belakang tebing ang hoa gay tersebut, berarti kita harus melewati lembah tersebut, bukan?"

Buyung Im Seng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sahutnya. "Benar, memang harus mengelilingi lembah tersebut."

"Nah, tempat yang amat berbahaya itu letaknya justru didalam lembah tadi." "Sekarang kita toh belum sampai mendekat lembah itu, darimana kau bisa tahu kalau tempat itu sangat berbahaya?"

Kwik soat kun segera tertawa. "Baiklah." dia berkata, "mari kita dekati tempat itu coba kita buktikan benar atau tidak apa yang kukatakan itu." 

"Bila kita harus melakukan perjalanan dengan menunggang kuda, aku rasa kita musti mengelilingi suatu jalan yang panjang sekali."

"Bila kita tinggalkan kuda dan berjalan kaki, sepertanak nasi kemudian sudah akan sampai di tepi lembah tersebut."

"Bagaimana pula dengan ke empat ekor kuda kita ini?"

"Ya, terpaksa kita tinggalkan," jawab Kwik soat kun sambil tertawa hambar. Buyung Im Seng termenung beberapa saat lamanya, kemudian katanya. "Kalau jurang yang dalam itu tak bisa diseberangi, lebih baik kita balik kemari dan selanjutnya berjalan dengan memutar."

"Menurut apa yang kuketahui, disinilah terletak satu-satunya jalan menuju ke lembah Cui liu kok.."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya. "Aku masih dapat memberitahukan satu hal lagi untuk kongcu, yakni sebagian besar lembah Cui liu kok dibuat dengan tenaga manusia."

"Bila lukisan yang dibuat anggota perkumpulan Li ji pang tidak keliru, seharusnya pohon liu yang berada dalam lembah itu merupakan pohon-pohon tua yang sudah berusia lama itu berarti Sam seng bun sudah bercokol didalam lembah Cui liu kok semenjak puluhan tahun berselang."

"Dalam perguruan Sam seng bun terdapat banyak sekali manusia-manusia berbakat mereka bisa saja memindahkan pohon-pohon tua yang sudah berusia puluhan tahun ke dalam lembah tersebut."

"Aku tidak habis mengerti, kenapa mereka harus menanam pohon liu saja didalam lembahnya, kenapa tidak menanam pepohonan yang lain?" sela Nyo hong leng dingin.

"Hal ini merupakan suatu rahasia besar, juga merupakan kunci daripada persoalan ini, bila rahasia ini bisa disingkap mungkin kita akan segera memahami duduk persoalan yang sesungguhnya didalam perguruan sam seng bun tersebut."

Sinar matanya pelan-pelan dialihkan dari wajah Nyo hong leng ke wajah Buyung Im Seng, kemudian katanya lebih lanjut. "Masih ada satu persoalan lagi, entah apakah kalian berdua sudah tahu...?"

"Dewasa ini kita berada dalam keadaan senasib sependeritaan, aku rasa nona Kwik juga tak usah berbicara secara berbelit-belit lagi." tukas Nyo hong leng.

"Nona cerdas dan hebat, siau moay rasa tentunya nona sudah tahu bukan...?" "Apakah orang-orang Sam seng bun telah mengetahui identitas kita?"

Kwik soat kun segera mengangguk. "Kecerdasan nona memang luar biasa sekali, hanya didalam sepatah kata saja sudah dapat menebaknya secara jitu!" "Sungguhkah itu?" dengan wajah tertegun dan setengah tak percaya Buyung Im Seng berseru. 

"Sungguh!" "Soal ini, kenapa aku tidak tahu?" "Nona Nyo menduganya dengan mengandalkan kecerdasan, sedangkan aku mendapat tahu dari laporan anak murid perkumpulan kami."

"Tapi aku tidak melihat ada orang berbicara dengan dirimu!" seru Nyo hong leng. "Mereka meninggalkan tanda rahasia ini untuk menyampaikan kabar kepadaku." "Maksudmu kita telah terjerumus ke dalam kepungan perangkap yang sengaja diatur oleh orang-orang Sam seng bun?"

"Mereka telah mementangkan jaringnya lebar-lebar dan sangat mengharap kita bisa mengantar diri ke dalam perangkapnya."

"Apakah kita hanya mempunyai cara untuk menghantarkan diri saja?" "Selain ini, kita masih mempunyai cara lagi."

"Apakah caramu itu?"

"Putar badan dan tinggalkan tempat ini."

"Dengan susah payah kita mencari sampai di sini, mana boleh pulang dengan tangan kosong?"

"Kalau memang begitu, kita harus pergi mengadu nasib!" Mendadak Nyo hong leng menyela.

"Nona, boleh aku mengajukan persoalan?" "Tidak berani, silahkan nona Nyo utarakan!"

"Apakah orang-orang Sam seng bun mengetahui dengan jelas identitas dari kita semua?"

"Siau moay cuma tahu kalau dia mengetahui identitasku, mungkin belum tentu dia bisa mengetahuinya."

"Kenapa bisa demikian?"

"Alasannya gampang sekali, mustahil Biau hoa lengcu menyamar sebagai seorang kacung buku, sebab hal ini sama sekali tak bisa diterima dengan akal sehat." "Nona Kwik, keadaan yang terbentang di depan mata kini sudah amat jelas, kecuali perkumpulan kalian sudah mempunyai kontak dengan pihak Sam seng bun, seharusnya kita sudah berada dalam keadaan mati hidup bersama-sama bukan?" "Apakah nona Nyo merasa tak berlega hati terhadap diriku?"

"Ini sih tidak, maksud siau moay, aku rasa dalam keadaan dan situasi seperti sekarang ini, kita harus bekerja-sama dengan ketat, siapa punya kecerdasan sumbangkanlah kecerdasan, siapa bisa menyumbangkan akal muslihat, sumbanglah akal muslihat..."

Kwik soat kun termenung sebentar kemudian katanya. "Aku mengerti, mari kita berangkat!"

Setelah berkata dia lantas berangkat lebih dulu menuju ke depan sana.

Dari atas pelana kudanya Buyung Im Seng mengambil turun senjata tajam serta barang kebutuhannya, kemudian menyusul di belakang Kwik Soat bun...

275 

Nyo hong leng berjalan di belakang Buyung Im Seng, sedangkan Siau Tin mengikuti di belakang Nyo Hong leng.

Setelah melewati suatu tanah perbukitan, mereka tiba di depan sebuah jeram yang dalam sekali, mencoba memperhatikan keadaan disekitar sana, tampak jeram itu melingkar ke atas dan mengelilingi bukit tersebut. Apa yang diduga Kwik soat kun memang tidak salah bila ingin melingkari jeram itu, entah berapa jauh mereka harus menempuh dan berapa bukit lagi yang harus dilewati.

Nyo hong leng mencoba untuk melongok ke jurang itu, dalamnya tak terhingga, mungkin mencapai beberapa ratus kaki lebih.

Dengan cepat dia pasang telinga dan mendengarkan dengan seksama, lamat-lamat dari dasar jurang terdengar suara gemuruh yang keras sekali, jelas di bawah jurang itu mengalir sebuah sungai dengan air yang deras sekali.

Buyung Im Seng lantas berkata. "Kecuali kita menuruni jurang ini dengan mempergunakan rotan, rasanya aku tak bisa menemukan cara lain yang bisa dipakai untuk menyeberangi jurang dalam ini."

Kwik soat kun memperhatikan pula tempat itu sekejap, kemudian ujarnya pelan. "Rupanya di sini terdapat sebuah jembatan penyeberangan tapi sekarang jembatan itu telah mereka hancurkan."

Nyo hong leng mencoba untuk menundukkan kepalanya, benar juga di sana ia jumpai ada sebatang besi yang tergantung di bawah jurang, besi itu tertanam dalam-dalam dibalik batu cadas yang kuat, jelas biasanya dipakai untuk tempat gantungan rantai, cuma sekarang rantainya sudah diambil orang.

"Jika kita sedang menuruni jurang ini dengan rotan, kemudian mendapat serangan ketika berada ditengah jalan, berapa bagian kah harapan kita untuk hidup?" kata Kwik soat kun lagi.

Nyo hong leng menundukkan kepalanya dan memandang sekejap ke dasar lembah, kemudian katanya, "Andaikata ditengah jalan ada orang melancarkan serangan kepada kita, dan ilmu silat yang dimiliki orang itu hanya separuh saja dari ilmu

silat serta kepandaian yang kita miliki, maka sudah pasti kalian akan mati terbunuh, sedangkan aku akan menjadi satu-satunya orang yang berhasil meloloskan diri dari serangan ini."

Kwik soat kun tertawa hambar. "Menurut apa yang nona bicarakan, apakah kita hanya bisa mengundurkan diri dari sini?" katanya.

"Tidak, aku akan turun lebih dulu, dan membantu kalian untuk membersihkan dulu semua rintangan yang ada."

"Nona tidak boleh turun tangan secara sembarangan, menurut laporan anggota perkumpulan kami, kau adalah satu-satunya orang yang belum berhasil mereka tebak indentitasnya, bila kau sembarangan turun tangan, bukankah hal ini sama artinya dengan membongkar rahasia sendiri? Lagi pula kalau toh kita sudah diketahui lawan, tapi sepanjang jalan tak nampak ada yang menghadang, itu berarti mereka memang ada niat untuk memancing kita memasuki lembah Cui liu kok." 

"Menurut pendapatmu, mereka tak akan melancarkan serangan kepada kita dikala kita turun ke bawah nanti?"

"Siau moay memang berpendapat demikian." "Andaikata mereka turun tangan?"

"Siau moay pun telah membuat persiapan yang matang, aku rasa selain mengandalkan ilmu silat yang sesungguhnya, seharusnya masih ada cara lainnya lagi."

"Kau hendak menghadapi mereka dengan memakai senjata rahasia?" tanya Nyo hong leng.

"Mempergunakan senjata rahasia hanya merupakan salah satu cara yang bisa dipergunakan, aku rasa semestinya masih ada cara yang lain lagi."

"Baiklah, nona begitu bersikeras dengan pendapatmu, tampaknya kau telah mempunyai persiapan yang matang."

Kwik soat kun tertawa hambar. "Ya, terpaksa kita harus mengadu nasib!" katanya. Oo(00)oO

Bagian ke 21

Beberapa orang itu segera bekerja keras dengan mengumpulkan banyak sekali rotan-rotan yang sudah tua, kemudian disambungnya satu per satu hingga mencapai ke dasar lembah.

Dengan berpegangan pada rotan itu, pelan-pelan Kwik soat kun merambat turun. Diluaran dia tampak tenang seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa, padahal didalam hati kecilnya merasa tegang sekali, dengan memusatkan segenap perhatiannya diam-diam dia mengawasi ke sekeliling tempat itu.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali di luar dugaan beberapa orang itu, sampai Kwik soat kun mencapai dasar jeram, ternyata tak ada seorang manusiapun yang melancarkan sergapan.

"Sekarang giliranku!" kata Buyung Im Seng. Dengan berpegang pada rotan, diapun meluncur turun. Ternyata dari atas tebing curam itu tak nampak ada orang yang melancarkan serangan, Buyung Im Seng berhasil pula mencapai dasar lembah itu dengan selamat.

Menyusul kemudian Nyo hong leng dan Siau tin juga meluncur turun serta berdiri

di atas sebuah batu cadas besar yang menempel di atas dinding tebing. Air di dasar jeram itu mengalir dengan derasnya, ombak yang besar sangat mengerikan hati.

Batu cadas besar dimana mereka berada sekarang letaknya di atas sungai tersebut. Nyo hong leng mendongakkan kepalanya dan memperhatikan puncak bukit di depan sana, menyaksikan dinding yang licin dan curam itu, dia mengerutkan dahinya, lalu berkata. "Nona Kwik kita sudah turun, tapi bagaimana cara untuk menyeberangi sungai deras itu dan merangkak naik ke atas dinding tebing yang curam di seberang sana?" 

Dengan kening berkerut Kwik soat kun berseru. "Kita sudah tertipu, seharusnya kita meninggalkan satu orang untuk berjaga di atas tebing sana!"

Belum habis dia berkata, rotan yang mereka pergunakan itu sudah diputus orang dan terjatuh ke bawah, kemudian tercebur ke sungai dan dibawa arus, dalam waktu singkat rotan tadi sudah lenyap tak berbekas.

Nyo hong leng mendongakkan kepala dan memandang sekejap ke arah dinding curam di seberang sana, kemudian ujarnya. "Sekarang kita sudah tiada jalan mundur lagi, satu-satunya jalan adalah maju terus."

Kwik soat kun tertawa. "Tapi siau moay tidak menemukan ada jalan di depan sana, kalau bicara tentang bahaya maka maju jauh lebih berbahaya daripada mundur, apalagi pertama kali yang harus kita hadapi terlebih dahulu adalah menyeberangi sungai deras ini."

Arus sungai yang amat deras itu berwarna hijau membesi dengan buih-buih gelombang berwarna putih, tidak diketahui berapa dalamnya sungai tersebut. Nyo hong leng melirik sekejap ke arah Kwik soat kun, lalu ujarnya.

"Nona Kwik agaknya kau ada maksud untuk mempersulit diriku bukan? Jalan ini adalah kau yang tunjukkan buat kami, sekarang kita sudah terjebak dalam posisi yang amat terjepit, tapi kau malah tidak memperlihatkan rasa sesal barang sedikitpun jua."

"Itulah disebabkan kabar berita dari Sam seng bun terlampau cepat dan tajam, dan hal ini pula merupakan salah satu hal yang mencurigakan hati siau moay selama ini."

"Apa pula yang kau curigai?" "Curiga kalau di dalam perkumpulan Li ji pang kami juga terdapat mata-mata dari Sam seng bun."

"Betul!" seru Buyung Im Seng dengan cepat. "sepanjang perjalanan datang kemari, kita sudah lakukan dengan sangat berhati-hati, sedikitpun tiada yang mencurigakan, andaikata dalam tubuh Li ji pang tak ada mata-mata yang membocorkan rahasia ini, dari mana mereka bisa tahu semua gerak-gerik kita?" "Ia tak mau menyebutkan asal usul dari nona Nyo, ini menunjukkan kalau orang itupun bukan orang penting dalam perkumpulan kami, asal aku dapat pulang

untuk melakukan penyelidikan, rasanya tak sulit untuk menemukan orang itu."

"Itu mah urusan perkumpulan kalian." Tukas Nyo hong leng, "persoalan terpenting yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana caranya untuk menyeberangi arus sungai yang amat deras ini?"

"Aku mempunyai sebuah akal bagus!" kata Kwik soat kun kemudian.

Dia lepaskan jubah biru yang dikenakan dan merobeknya menjadi selembar tali kain lalu diikatnya satu dengan yang lainnya membentuk seutas tali yang panjang, setelah itu dia mencabut keluar pedang milik Siau tin, mengikat gagang pedang tersebut dengan tali kain tadi lalu menengok ke arah Buyung Im Seng sambil berkata.

"Tenaga sambitanku terlampau lemah, dapatkah kongcu menimpukkan pedang ini melewati arus sungai deras ini?" 

Buyung Im Seng segera mengalihkan sinar matanya ke depan, ia lihat selisih kedua tepian sungai mencapai empat kaki lebih, andaikata tiada mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sempurna, sulit untuk menyeberanginya.

Diam-diam menilai kemampuan sendiri, dirasakan untuk menimpuk pedang tersebut melewati arus deras rasanya masih berlebihan, tapi diapun tidak yakin apakah pedang yang disambit ke depan tersebut mampu menembusi dinding batu yang sangat keras itu.

Maka jawabnya kemudian. "Dapatkah pedang ini menembusi dinding tebing, sulit bagiku untuk memberikan jaminan."

"Di depan sana dekat dinding tebing terdapat sebatang pohon siong yang rendah, asal kau dapat melemparkan pedang itu pada dahan pohon siong tersebut, aku rasa ini sudah lebih dari cukup."

"Jarak tempat ini dengan pohon siong rendah itu mencapai enam kaki lebih, mampukah tali ini mencapai tempat tersebut?"

"Sewaktu membuat tali tadi, sudah mengukur panjang tali tersebut, tali ini ada delapan kaki panjangnya, tak usah khawatir kekurangan, lemparkan saja ke situ!" "Biar aku saja!" bisik Nyo hong leng tiba-tiba. "Tunggu sebentar!" cegah Kwik soat kun.

Buyung Im Seng tertegun, lalu katanya. "Dalam keadaan dan situasi seperti ini, soal mati hidup kita sudah merupakan masalah yang gawat, dapatkah kalian berdua sedikit saling mengalah?"

"Kau salah paham", kata Kwik soat kun, "maksudku nona Nyo adalah satu-satunya orang yang masih belum diketahui identitasnya oleh pihak lawan, diapun merupakan orang yang berilmu silat paling tinggi diantara kita berempat, bilamana keadaan tidak terlalu memaksa lebih baik jangan sampai ketahuan orang lain." "Maksudmu disekitar tempat ini sudah ada orang yang sedang mengawasi gerakgerik kita?"

"Aku yang rendah telah memeriksa sekeliling tempat ini, pada jarak sepuluh kaki dari kita memang tiada musuh yang bersembunyi, tapi pada dinding seberang dan puncak bukit itu sudah pasti ada musuh yang sedang mengawasi kita, mungkin saja pihak lawan sengaja mengatur jebakan ini dengan tujuan hendak mencoba kepandaian silat kita, hati-hati kan tak ada salahnya, bukan?"

Buyung Im Seng mengangguk berulang kali, setelah mendengar perkataan itu. "Perkataan nona Kwik memang benar, baiklah terpaksa aku akan memperlihatkan kejelekanku, harap kalian jangan menertawakan diriku..."

Setelah berkata, tangan kanannya digetarkan melempar pedang tersebut ke depan. Dengan diiringi suara desingan tajam yang memekakkan telinga, pedang itu meluncur ke tepi seberang sana dan menancap pada pohon siong pendek di tepi seberang sana. 

Kwik soat kun mencoba untuk menarik tali kain itu, terasa tali itu kuat sekali dan pedang itupun menancap dalam sekali, maka sambil tersenyum katanya. "Tenaga sambitan dari kongcu sungguh luar biasa sekali."

Sembari berkata, dia lantas mengikatkan tali kain itu pada sebuah batu cadas besar dekat dinding tebing, kemudian melanjutkan. "Siapa yang akan menyeberang lebih dulu?"

"Biar aku yang menyeberang duluan!" jawab Buyung Im Seng.

"Boleh, cuma sebelum kongcu menyeberangi sungai ini, terlebih dulu ingin kuterangkan akan satu hal."

"Katakanlah nona!"

"Kalau dilihat dari situasi yang kita hadapi sekarang, sungai dengan arus deras ini memang sengaja mereka persiapkan untuk menjajal kepandaian silat yang kita miliki dengan maksud untuk mengetahui identitas kita yang sebenarnya, sebelum diketahui lawan, aku sangat berharap agar nona Nyo bersedia merahasiakan sedikit kemampuannya, agar tak sampai menimbulkan kecurigaan mereka."

"Aku mengerti." Ucap Nyo hong leng. "Bila nona dapat mengingat selalu kalau saat ini dirimu bukan Biau hoa lengcu, melainkan seorang kacung buku saja, maka sudah pasti penampilanmu tak akan terlampau menyolok."

Kemudian sambil mengulapkan tangannya dia berseru. "Silahkan kongcu!" Ternyata dia kuatir Nyo hong leng enggan menuruti nasehatnya dan berang, maka sengaja menahan Buyung Im Seng lebih dulu dengan tujuan untuk mengatasi halhal yang tak diinginkan.

Diam-diam Buyung Im Seng menghimpun tenaga dalamnya, lalu melompat naik tali kain dan mengerahkan ilmu meringankan tubuh Cau sung hui (terbang di atas rumput) untuk menyeberangi sungai itu melewati tali kain tersebut.

Menyusul kemudian Kwik soat kun dan Siau tin juga ikut menyeberang. Tentu saja ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siau tin tidak sepadan bila dibandingkan dengan Kwik soat kun, ketika hampir mencapai tepi seberang sana, ia merasa tak tahan, terpaksa ia melompat ke depan.

Nyo hong leng adalah orang terakhir yang menyeberangi sungai tersebut, kalau berbicara tentang ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, jangankan melewati tali kain tersebut, sekalipun melompati tali tersebut secara langsung pun bukan suatu masalah yang sulit baginya, tapi sekarang dia harus bermain sandiwara, dengan sepasang tangan memegang tali kain itu erat-erat, dia merangkak

selangkah demi selangkah ke seberang, kalau dilihat dari gayanya seakan akan dia lebih jauh kepayahan dari pada Siau tin tadi.

Setelah semua orang tiba di pantai seberang, Nyo hong leng baru menghembuskan napas panjang. "Mirip bukan dengan pemain sandiwara tadi...?" bisiknya kemudian dengan suara lirih.

Kwik soat kun tersenyum, dia mendongakkan kepalanya memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya. "Tampaknya kita harus mendaki melewati tebing yang amat curam ini!" 

Baru saja selesai berkata, tiba-tiba terdengar suara kelintingan berbunyi, dan tahutahu ada empat buah keranjang bambu yang diturunkan dari dinding tersebut.

Menyusul kemudian kedengaran ada seseorang sedang berseru dengan suara yang amat nyaring dari puncak tebing itu.

"Bila kalian berempat ingin naik ke atas tebing dengan menunggang keranjang tersebut, maka harap kalian melaporkan nama serta asal usul yang sebenarnya, terus terang kami sudah mengetahui identitas kalian yang sebetulnya, maka bila ada yang mencoba untuk membohongi kami dengan menggunakan nama palsu, maka terpaksa kamipun akan memutuskan tali keranjang tersebut, ditengah jalan agar dia tercebur dalam sungai berarus deras di bawah tebing sana."

Kwik soat kun segera menghimpun tenaganya dan mendongak kepala lalu serunya keras2. "Bila kami tidak bersedia melaporkan nama kami yang sebenarnya...?" "Kalau memang begitu, maka terpaksa kami akan persilahkan kalian untuk mendaki ke atas puncak tebing ini dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang kalian miliki, tapi sebelumnya akan kuterangkan lebih dulu, bila sampai ditengah jalan nanti, bisa jadi kami akan jatuhkan dua belas balok kayu dan batu cadas besar untuk menyerang kalian, kecuali kalian merasa yakin dapat mengatasi serangan2 itu kalau tidak hanya satu jalan yang bisa kalian lewati, yakni melaporkan nama kalian."

Kwik soat kun segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya kemudian setelah termenung sejenak.

"Tebing karang itu ribuan kaki tingginya, lagi pula tegak lurus dan licin sekali, untuk mendaki saja sudah tidak mudah, apalagi bila diserang dengan dua belas batang balok kayu ditambah batu-batu cadas besar, aku rasa sulit buat menghindari diri dari musibah tersebut."

"Bukan cuma sulit, pada hakekatnya kita sudah tidak punya kesempatan lagi untuk menghindarkan diri." Kata Nyo hong leng.

"Ya, tampaknya kita memang harus menuruti perintah mereka itu!" kata Kwik soat kun kemudian sambil mengangguk.

Dia lantas mendongakkan kepalanya memandang ke puncak tebing itu, lalu serunya. "Aku tidak percaya kalau kalian sudah mengetahui identitas kami semua!" "Tidak sulit bila kalian ingin membuktikannya." Sahut orang di atas puncak tebing itu dengan lantang, "asal kalian berani melaporkan nama palsu, maka setibanya ditengah bukit nanti kami akan perintahkan orang untuk menjatuhkan balok kayu dan batu cadas besar untuk menyerang kalian."

"Ooh.. itu kan terlalu berbahaya!"

Orang yang berada di atas puncak tebing itu segera tertawa terbahak-bahak, "Ha... ha.. jika kau takut bahaya, juga tak ingin menderita kerugian besar, sulit juga untuk menghadapi keadaan begini!" 

"Aku punya sebuah akal bagus yang dapat membuat kedua belah pihak sama-sama tidak rugi, tapi menguntungkan pula masing-masing pihak, bersediakah kau mendengarnya?"

"Baik! Coba kau katakan lebih dulu," ucap orang itu.

"Bila kau akan benar2 sudah mengetahui identitas kami yang sebenarnya, tak ada salahnya bila secara langsung menyebut nama kami yang sebenarnya, maka kami segera akan memulihkan kembali wajah kami yang sebenarnya dan naik ke atas keranjang bambu itu."

Orang yang berada di atas tebing itu tampak termenung sebentar, lalu menjawab. "Baiklah jika kami sekalian tidak meluluskan permintaan kalian mungkin kalian masih menganggap kami sedang bersiasat untuk membohongi kalian."

"Aku yakin kalau caraku ini adil sekali, semua orang tidak bakal dirugikan dan siapapun tak dapat bersiasat licik untuk membohongi pihak lawannya."

Tiba-tiba Nyo Hong leng berbisik lirih. "Cara ini bagus sekali, apakah mereka benar mengetahui identitasku yang sebenarnya, dengan cara begini kita bisa mengetahui dengan jelas dan pasti."

Sementara itu dari puncak tebing telah terdengar suara seseorang berseru dengan lantang. "Wakil ketua dari perkumpulan Li ji pang, Kwik soat kun!"

Kwik soat kun segera tersenyum. "Betul, memang aku orangnya, kabar berita yang kalian peroleh sungguh cepat." Serunya.

"Buyung kongcu, Buyung Im Seng!"

"Benar, aku berada di sini!" sahut Buyung Im Seng segera dengan suara lantang. "Masih ada lagi nona Siau tin, juga berasal dari perkumpulan Li ji pang...!" "Bagus sekali." Siau tin berseru lantang, "bahkan aku yang berkedudukan rendahpun dapat kalian ketahui, sungguh luar biasa sekali pendengaran kalian." Ketiga orang itu segera mendekati keranjang bambu tersebut siap untuk menaikinya, tetapi ketika tidak terdengar suara teriakan lagi dari atas tebing,

Kwik soat kun segera berpaling ke arah Nyo hong leng dan berkata sambil tertawa hambar.

"Kami semuanya berjumlah empat orang, kini kalian baru memanggil tiga orang saja."

Suara di atas tebing itu segera menyahut. "Masih ada seorang lagi adalah seorang yang tak tahu diri, tentu saja kamipun tak usah menyebutkan namanya lagi." Mendengar ucapan tersebut, Kwik soat kun lantas berbisik dengan suara lirih. "Tampaknya mereka masih belum tahu identitasmu, ilmu silat nona sudah mencapai puncak kesempurnaan yang tak terhingga, aku rasa untuk merahasiakan kemampuan sendiri tentu tak sulit bukan? Yang sulit adalah kalau perempuan untuk menyamar sebagai laki-laki, gampang sekali hal ini diketahuinya, terpaksa aku haru menurunkan derajatmu untuk sementara waktu menyaru sebagai seorang anggota Li ji pang kami!"

"Tapi siapa namaku?" 282 

"Kau bernama Sian hong saja! Dalam perkumpulan Li ji pang tiada pembagian tingkat kedudukan tak sedikit diantara mereka yang mempergunakan nama kecilnya sebagai sebutan, sebab di kemudian hari mereka harus kawin, maka selama bekerja dalam Li ji pang mereka hanya numpang untuk sementara saja."

Sambil tertawa Nyo hong leng mengangguk. "Terhadap peraturan yang tertera pada perkumpulan Li ji pang, Siau moay merasa kagum sekali, sayang pangcu kalian selalu tidak bersedia untuk menjumpai Siau moay."

Dalam pembicaraan suatu perjalanan beberapa hari ini baik dalam tindak tanduk maupun pembicaraan, Nyo hong leng dan Kwik soat kun boleh dibilang selalu bentrok satu sama lainnya, berulang kali mereka saling beradu kecerdasan, meski sering kali Kwik soat kun mengalah dikala keadaan sudah gawat dan menghindari bentrokan yang tidak diinginkan, namun lambat lain Nyo hong leng dapat ditaklukkan juga oleh Kwik soat kun.

Tampak Kwik soat kun mendongakkan kepalanya dan berseru dengan suara lantang. "Yang ini, diapun seorang anggota perkumpulan kami yang bernama Sian hong, sudah pernah mendengar?"

Dari atas puncak tebing itu segera berkumandang suara terbahak-bahak yang amat nyaring. "Ha.. ha.. ha.. nama yang tidak pernah terdengar percuma saja disebutkan, sebab tahu atau tidak toh sama saja bagi kami!"

Nyo hong leng tersenyum, dia lantas melangkah pula menuju ke arah ranjang bambu tersebut.

Dalam waktu singkat ke empat buah keranjang bambu itu sudah ditarik naik ke puncak tebing, cepat sekali gerakannya, hanya dalam waktu seperempat jam mereka sudah tiba di atas puncak tebing itu.

Ketika Buyung Im Seng mendongakkan kepalanya, ia saksikan ada seorang kakek berjubah abu-abu sedang berdiri di puncak sambil berpangku tangan, sementara empat lelaki berpakaian ringkas yang menyoren golok masing-masing memegangi seutas tali berdiri di tebing itu, sementara sebuah tiang kayu yang kuat terpancang di sana, diatasnya melintang kayu besar pada kayu besar yang melintang tampak enam buah roda berputar, ke empat orang lelaki tadi berdiri di ujung tali di bawah derekan tadi, sementara dua yang lain tetap kosong.

Ternyata di atas puncak tebing itu memang sudah ada persiapan yang sempurna, pada bersamaan waktunya mereka dapat menurunkan enam keranjang bambu dan mengangkut enam orang naik ke atas puncak tebing.

Kwik soat kun dan Buyung Im Seng sekalian bersamaan waktunya segera melompat turun dari dalam keranjang.

Dengan sinar mata yang tajam, kakek berjubah abu-abu itu memandang sekejap wajah ke empat orang itu, kemudian tegurnya. "Bukankah kalian berempat mengenakan topeng manusia?"

"Benar", sahut Kwik soat kun, "aku telah melaporkan identitas kami, rasanya tak perlu melepaskan topeng kulit manusia yang kami kenakan ini lagi bukan?" 

Kakek jubah abu-abu itu segera tertawa dingin, "He.. he... setelah kalian menyebutkan nama dan identitas masing-masing, mengapa pula kamu semua masih terus menyembunyikan wajah asli dibalik topeng?"

Buyung Im Seng segera menarik lepas jenggot palsunya dan melepaskan topeng yang dikenakannya, kemudian memperkenalkan diri. "Aku adalah Buyung Im Seng!"

Kakek jubah abu-abu itu memperhatikan Buyung Im Seng beberapa kejap, lalu mengangguk. "Ehmm... tampan sekali, konon kau sudah menjadi anggota Biau hoa bun, apakah kedatanganmu kemari telah diketahui oleh Biau hoa lengcu?"

"Apa maksudmu mengucapkan kata-kata tersebut?"

Kakek jubah abu-abu itu segera tertawa terbahak-bahak. "Ha.. ha.. kami sangat berharap Biau hoa lengcu bisa mengetahui kalau kau telah datang kemari, dengan demikian dia pasti akan menyusul pula kemari."

Kwik soat kun kuatir kalau sindiran dari kakek jubah abu-abu itu menimbulkan

rasa gusar bagi Nyo hong leng sehingga mengakibatkan terjadinya bentrokan yang tidak diinginkan, buru-buru dia menukas.

"Seandainya Biau hoa lengcu benar-benar telah berada di sini, cukup dengan beberapa patah katamu itu, niscaya batok kepalamu sudah berpindah rumah." Kakek berjubah abu-abu itu kembali mendongakkan kepalanya sambil tertawa tergelak. "Ha.. ha.. lohu juga mendengar orang berkata bahwa Biau hoa lengcu selain berilmu tinggi, wajahnyapun cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, sayang lohu tak dapat meninggalkan tempat ini..."

Tak tahan Nyo hong leng segera menukas. "Seandainya kau dapat meninggalkan tempat ini, apa pula yang hendak kau lakukan?"

"Bila lohu dapat meninggalkan tempat ini sudah pasti aku akan berusaha untuk menjumpainya."

"Kini Buyung kongcu telah berada di sini, bila Biau hoa lengcu mendengar berita ini, niscaya diapun akan menyusul kemari, suatu ketika keinginanmu itu pasti akan terkabul."

Kakek baju abu-abu itu tertawa hambar, sorot matanya lantas dialihkan ke wajah Buyung Im Seng, kemudian katanya. "Setelah kau menggabungkan diri dengan perguruan Biau hoa bun, sekarang berkumpul pula dengan orang-orang Li ji pang, lohu pikir seorang hoa hoa kongcu (lelaki hidung bangor) macam kau sudah pasti takkan mampu untuk melakukan suatu pekerjaan besar."

Buyung Im Seng jadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian. "Ucapan ini mirip suatu teguran, mirip juga sebagai peringatan, entah apa maksud hatinya yang sesungguhnya?"

Sementara ia masih termenung, kakek jubah abu-abu itu telah berkata lagi. "Diantara kalian berempat, tentunya ada seorang yang menjadi pemimpin bukan?" Kembali Buyung Im Seng berpikir. "Berbicara soal pengetahuan dan pengalaman dalam dunia persilatan aku masih kalah jauh bila dibandingkan dengan Kwik soat kun, lebih baik biar dia saja yang menghadapi persoalan ini daripada aku mesti turun tangan sendiri."

Sementara itu ketika Kwik soat kun tidak mendengar Buyung Im Seng bersuara, dengan cepat sambungnya. "Buyung kongcu tak suka banyak bicara biar aku saja yang akan berbincang bincang denganmu."

Kakek jubah abu-abu itu segera tertawa dingin, jengeknya. "Kaukah si wakil ketua dari perkumpulan Li ji pang?"

"Benar, siapa nama anda sendiri?" "Lohu Ho heng hui, aku rasa dengan usiamu yang begini muda belum tentu pernah mendengar nama julukan lohu?"

"Pek lek jiu (si tangan geledek) Ho Heng hui?"

Ho heng hui tampak gembira sekali setelah menyaksikan Kwik soat kun berhasil menyebutkan nama julukannya, ia lantas tertawa terbahak bahak. "Haa... ha... tampaknya keberhasilan Li ji pang untuk punya nama dalam dunia persilatan bukan hanya kosong belaka, ada juga beberapa orang diantaranya yang berbakat baik."

Tapi sejenak kemudian, paras mukanya telah berubah, dengan suara dingin ia melanjutkan. "Perkumpulan Li ji pang termasyhur dalam dunia persilatan karena ketajaman mata serta pendengarannya, tapi tak kalian sangka bukan gerakanmu sebagai seorang wakil ketua ternyata kami ketahui pula dengan sejelas-jelasnya?" Kwik soat kun tak menanggapi pertanyaan itu, sebaliknya malah balik bertanya. "Sudah banyak tahu Ho locianpwe tidak melakukan perjalanan dalam dunia persilatan?"

"Ada apa?" Ho Heng hui berkerut kening.

"Banyak sekali kaum muda dan angkatan muda dalam dunia persilatan yang mendengar tentang keampuhan Pek leng sin kun (pukulan sakti tangan geledek) dari locianpwe telah pulang ke alam baka dan selama hidupnya tak ada harapan untuk menyaksikan kehebatan Pek leng sin kun lagi, tak disangka ternyata locianpwe bersembunyi ditempat ini."

Beberapa patah kata itu meski diucapkan dengan nada yang lembut dan menarik hati, tapi justru mengandung nada sindiran, membuat Ho heng hui merasa pedih sekali hatinya.

Ia segera tertunduk dan menghela napas panjang, katanya. "Ada urusan apa kalian datang menyerempet bahaya ket empat ini?"

"Bukankah locianpwe sudah mengetahui dengan jelas? Kenapa masih bertanya lagi?"

"Apakah kalian ingin berkunjung ke kuil Ban hud wan...?" tegur Ho heng hui dingin.

"Konon kuil Ban hud wan merupakan jalan rahasia terpenting menuju ke Sam seng tong, setelah kami berterus terang, tentunya tak usah pergi ke Ban hud wan lagi." "Sayang sekali lohu tak sanggup untuk menghaturkan segala sesuatunya bagi kalian." Ucap Ho heng hui dingin.

Sekalipun beberapa patah kata itu diucapkan dengan suara yang dingin dan kaku, namun paras mukanya secara lamat-lamat diliputi oleh perasaan malu bercampur menyesal.

Kwik soat kun tahu kalau kakek itu bersedih hati, dia lantas mengalihkan pokok pembicaraannya.

(Bersambung ke jilid 15)
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 14"

Post a Comment

close