Lembah Tiga Malaikat Jilid 05

Mode Malam
Jilid 5

Dengan langkah cepat Buyung Im seng berlarian ke depan, sementara Tong Thian hong mengikuti di belakangnya.

Dalam waktu singkat mereka sudah berjalan sejauh tujuh-delapan li, saat itulah Buyung Im seng baru menghentikan perjalanannya sambil menengok sekejap sekeliling tempat itu.

Setelah yakin kalau tak ada yang menguntit, dia baru berbisik lirih.

"Saudara Tong, walaupun kita belum sampai menemukan letak Sam seng tong, tapi bisa menemukan perkampungan dari Im Hui pun merupakan hasil yang lumayan." "Mari kita mencari tempat yang agak tersembunyi untuk beristirahat semalaman." usul Tong Thian-hong, "Besok kita periksa keadaan lagi, sehingga bila akan kembali lagi di kemudian hari tak sampai salah jalan."

Buyung Im seng manggut-manggut, sahutnya: "Benar, kita memang harus mencari tempat untuk beristirahat."

Tong Thian hong memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya: "Di depan sana terdapat sebuah hutan, hayo kita tengok kesana, siapa tahu tempat itu cocok untuk kita bermalam."

Dengan langkah lebar mereka segera melanjutkan perjalanannya. Lebih kurang beberapa li kemudian, benar juga sampailah mereka di tepi sebuah hutan. "Aaah, ternyata di sana memang ada sebuah hutan...!" seru Tong Thian hong kegirangan, "mari kita masuk ke hutan untuk beristirahat sebentar..."

Baru saja mereka akan masuk ke dalam hutan, mendadak terdengar seseorang berseru sambil tertawa merdu.

"Ucapan cengcu memang benar, coba lihat mereka telah datang." 

Menyusul suara tertawa merdu itu, dari balik hutan pelan-pelan muncul dua orang gadis cantik. Orang yang berjalan dipaling depan adalah Ciu Peng, sedangkan di belakang Ciu Peng mengikuti pula seorang nona berbaju hijau.

Terdengar nona berbaju hijau bertanya. "Siapa diantara kalian berdua yang bernama Buyung Im seng?"

"Ada apa?" tanya Tong Thian Hong. "Kau yang bernama Buyung Im seng?"

Ton Thian hong segera menggelengkan kepalanya: "Bukan!" "Kalau bukan kau, tentunya yang ini?"

"Ada urusan apa kau mencari Buyung Im seng?" Buyung Im seng lantas bertanya. "Sudah lama kudengar akan namanya, aku hanya berharap bisa bersua muka." sahut si nona baju hijau itu sambil tertawa.

"Sayang sekali belum tentu Buyung Im seng bersedia untuk berjumpa dengan nona."

"Mengapa ia tidak bersedia untuk bersua denganku?" seru si nona marah.

Buyung Im seng tertawa, sahutnya: "Sepengetahuanku, watak Buyung kongcu aneh sekali."

"Bagaimana anehnya?"

"Dia kurang begitu suka berbincang bincang dengan kaum perempuan." "Aaaahhh, omong kosong! Aku dengar hubungannya dengan Biau hoa lengcu baik sekali, bukankah Biau hoa lengcu juga seorang wanita?"

"Ooohh, rupanya cukup jelas nona menyelidiki tentang diri Buyung Im seng!" "Hmm! Orang persilatan pada bilang Biau hoa lengcu berilmu silat amat lihai dan berwajah cantik jelita, ingin kulihat macam apakah tampang Buyung Im seng itu sehingga ia memiliki kemampuan untuk menggaet hati Biau hoa lengcu."

Belum sempat Buyung Im seng menjawab, tiba-tiba Tong Thian hong sudah tertawa tergelak.

"Apa yang sedang kau tertawakan?" si nona berbaju hijau itu menegur dengan marah.

"Apakah mau tertawapun tidak boleh?"

"Hmm, jika kalian bermaksud untuk menggoda kami, itu berarti kalian sudah bosan hidup di dunia."

"Lantas apa yang harus kulakukan sehingga kami bisa hidup lebih lanjut...?" "Jawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya, maka akupun akan melepaskan kalian meninggalkan tempat ini."

"Baiklah, silahkan nona bertanya."

"Sungguhkah kalian kenal dengan Buyung Im seng?" "Tentu saja sungguh-sungguh kenal." 

"Dimana orangnya sekarang?"

"Sudah kukatakan tadi, dia telah dibawa orang ke Jit seng lo!" "Baiklah! Kalau begitu, bawa aku menuju ke Jit seng lo!"

Tong Thian hong segera menggelengkan kepala berulang kali, katanya: "Tidak bisa!"

"Kenapa?"

"Sebab aku sendiripun tidak tahu dimanakah letaknya Jit seng lo tersebut." Buyung Im seng yang selama ini cuma membungkam, tiba-tiba mendehem pelan lalu berkata. "Nona, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu." "Pertanyaan soal apa?"

"Nona toh tidak kenal dengan Buyung Im seng, tapi kau begitu menaruh perhatian kepadanya, tolong tanya mengapa demikian?"

"Tentu saja ada alasannya."

"Dapatkah nona memberi tahu alasannya kepadaku?" "Mengapa harus kukatakan padamu?"

"Sebab aku punya hubungan yang cukup akrab dengan Buyung Im seng, bila nona bersedia mengemukakan alasannya, bila aku bertemu lagi dengan Buyung Im seng di kemudian hari, bisa kusampaikan hal tersebut kepadanya..."

Nona berbaju hijau itu termenung sejenak, kemudian katanya: "Aku hendak mengajukan suatu persoalan kepadanya."

"Persoalan apa?"

"Kau toh bukan Buyung Im seng, kusebutkan masalahnya belum tentu kau tahu." "Sekalipun dia bukan Buyung Im seng," tukas Tong Thian hong, "tapi hubungannya dengan Buyung Im seng bicarakan dengannya setiap masalah yang dihadapi Buyung Im seng, tentu diketahui juga olehnya."

"Sungguhkah perkataan itu?"

"Benar, cuma perlu ditambahkan sekalipun aku tidak menguasai masalah yang dihadapi Buyung Im seng sebesar 100%, paling tidak 70-80% kuketahui secara pasti."

Nona baju hijau itu kembali menggeleng katanya, "Aku kuatir persoalan yang kutanyakan belum tentu kau bisa menjawab."

"Apa yang ingin nona tanyakan boleh sampaikan kepadaku, mungkin aku bisa memberikan jawabannya secara samar-samar."

"Yang kutanyakan adalah sial pribadinya, darimana kau bisa tahu?" "Tanyakan saja, aku percaya masih dapat menjawabnya." 

Ciu Peng yang berada disampingnya segera berbisik. "Kalau didengar dari nada pembicaraannya, dia seperti punya keyakinan besar, mengapa nona tidak mencoba untuk bertanya kepadanya, lihat saja ia lagi ngibul atau bukan."

Nona berbaju hijau itu termenung sebentar, kemudian sahutnya, "Baiklah!" Dia lantas mengalihkan kembali sorot matanya ke wajah Buyung Im seng,

kemudian melanjutkan. "Aku ingin menanyakan sial hubungannya dengan Biau hoa lengcu, tahukah kau?"

"Soal ini pernah ia bicarakan denganku." "Sungguh!?" seru si nona baju hijau itu girang. "Tentu saja sungguh!"

"Pernahkah Buyung Im seng mengatakan kepadamu, dia berasal dari marga mana?"

"Berulang kali dia ingin menanyakan soal Nyo Hong leng, entah apa maksud sebenarnya?" pikir Buyung Im seng.

Berpikir demikian, dia lantas menjawab. "Ia pernah memberitahukan soal ini padaku, katanya Biau hoa lengcu berasal dari marga Nyo."

Nona baju hijau itu segera tersenyum. "Tampaknya memang kau bukan lagi mengibul."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Tahukan kau siapa namanya?" Buyung Im seng kembali berpikir. "Masalah yang menyangkut Nyo Hong leng tak boleh kubocorkan terlalu banyak."

Maka diapun menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya. "Aku tahunya sih memang tahu, cuma soal ini tak bisa kuberitahukan kepada nona."

"Kenapa? Toh Buyung Im seng telah memberitahukan kepadamu? Kenapa kau tak dapat memberitahukan kepadaku?"

"Sebab dia percaya aku tak akan memberitahukan pada orang lain, maka dia baru memberitahukannya kepadaku."

Nona baju hijau itu termenung beberapa saat, lalu berkata.

"Ucapanmu itu memang ada benarnya juga." Sesudah berhenti sejenak, terusnya. "Bukankah dia bernama Nyo Hong ling?"

Betapa terkejutnya Buyung Im seng setelah mendengar perkataan itu, pikirnya. "Sam seng bun benar-benar sangat lihai, padahal jarang sekali orang persilatan yang mengetahui nama Nyo Hong leng, ternyata pihak Sam seng bun berhasil mengetahui juga..."

Sementara dia masih termenung, nona berbaju hijau itu sudah berkata lagi. "Betul bukan perkataan itu?"

"Betul sekali!"

"Dalam waktu belakangan ini, apakah kau bisa bersua dengan Nyo Hong leng?" 

Buyung Im seng termenung beberapa waktu lamanya, lalu menjawab. "Soal ini sukar untuk dijawab."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Cuma aku pasti dapat berjumpa dengannya meski dilain waktu."

"Dapatkah kau berjumpa dengan Buyung Im seng?"

"Dengan Buyung Im seng si bocah keparat itu sih aku yakin dengan cepat dapat bersua kembali dengannya."

"Hei, kenapa kau malah memakinya?" seru si nona berbaju hijau itu keheranan. Tong Thian hong segera menyambung, katanya. "Hubungan mereka berdua terlalu baik, tidak mempersoalkan adat istiadat, dan lagi sudah terbiasa dengan sebutan itu, maka tak heran jika setiap kali menyebutnya lantas kelepasan bicara."

"Oooh, kiranya begitu."

Setelah menghela napas panjang, terusnya. "Aku sudah tak dapat membayangkan wajah Siau-ling-ling lagi, tapi aku tahu wajahnya pasti jauh lebih cantik daripada aku."

"Siapa Siau ling ling itu?" sela Buyung Im seng. "Siau ling-ling adalah Nyo Hong-ling."

"Jadi kalian kenal?"

"Aku masih teringat dengannya entah dia masih teringat denganku atau tidak?" "Bila nona bisa teringat kepadanya, tentu saja diapun masing ingat dengan nona." Dengan cepat nona baju hijau itu menggelengkan kepalanya berulang kali." "Belum tentu! Karena aku lebih besar tiga tahun dari dirinya, ketika itu dia masih belajar berbicara."

Buyung Im seng merasa tiada perkataan lain yang bisa dibicarakan lagi, maka dia lantas menjura, katanya.

"Baiklah! bila aku bertemu dengan nona Nyo nanti, akan kusampaikan pesan dari nona ini, nah, kami akan mohon diri lebih dulu."

"Tunggu sebentar!"

"Nona ada pesan apa lagi?"

"Bila kau bersua dengan Buyung Im seng, beritahu kepadanya akan sepatah kataku ini."

"Perkataan apa?" "Suruh dia bersikap baik pada Siau ling!"

Mendadak nona baju hijau itu merendahkan suaranya sambil berbisik lirih. "Tolong sampaikan kepada Buyung Im seng, katakan bila dia ingin menancapkan

kakinya dalam dunia persilatan, dan masih akan membalas dendam kematian ayah ibunya, hanya Siau ling ling seorang yang dapat membantu usahanya itu." 

"Terima kasih atas petunjuk nona." kata Buyung Im seng dengan wajah serius, "Bila aku bersua dengan Buyung Im seng, nanti pasti akan kusampaikan pesan ini kepadanya."

Tiba-tiba Ciu Peng menimbrung dari samping. "Apakah wajah Buyung Im seng sangat tampan?"

Nona baju hijau itu segera tertawa, katanya. "Budak bodoh, sepasang mata Siau Ling ling tumbuh di atas kepala, dia cuma memandang ke atas tak pernah memandang ke bawah, mana mungkin dia bisa salah memilih?"

Ciu Peng segera tersenyum. "Benar juga perkataan nona, cuma Buyung Im seng itu sepantasnya kalau merasa berterima kasih kepadamu."

"Mengapa harus berterima kasih kepadaku tanya si nona berbaju hijau itu keheranan."

"Secara diam-diam nona berniat membantunya tapi ia sama sekali tidak tahu, coba kalau dia tahu bukankah dia akan merasa berterima kasih sekali kepadamu?"

"Aku sama sekali tidak kenal dengan Buyung Im seng, mengapa harus ku bantu dirinya. Aku berbuat begini karena tak lebih demi Siau ling ling...!"

Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan. "Cuma orang yang bisa disenangi Siau ling ling sudah pasti naga diantara manusia, aku toh berharap sekali dapat bersua dengannya, ingin kuketahui perbedaan apakah yang dimilikinya sehingga bisa disenangi oleh Siau ling-ling."

"Menurut apa yang kuketahui, Buyung Im seng hanya seorang pemuda yang biasa saja." kata Buyung Im seng kemudian. "Aku sudah lama bergaul dengannya, tapi tidak kujumpai ada sesuatu yang berbeda dari orang lain."

Nona berbaju hijau itu segera menggelengkan kepala berulang kali, katanya. "Soal ini mah tentu saja kau tidak mengerti!"

"Mengapa?"

"Sebab kau adalah lelaki, yang melihat lelaki tentu saja jauh berbeda dengan perempuan melihat lelaki."

"Oooh, kiranya begitu..." 00oo00

BAGIAN KE TUJUH

"Pembicaraan diantara kita berdua kita akhiri sampai di sini saja", kata nona berbaju hijau itu, kemudian, "Harap kalian berdua jangan lupa dengan pesanku itu!"

"Kami pasti akan mengingatnya selalu." Tong Thian hong berjanji, selesai berkata ia lantas membalikkan badan dan berlalu dari sana.

Buyung Im seng segera mengikuti di belakangnya.

"Berhenti!" mendadak nona baju hijau itu membentak dengan suara dalam.

Seraya berpaling Buyung Im seng bertanya, "Apakah nona masih ada pesan lain?" 

"Kalian bisa meloloskan diri dari ujung pedang toako ku, hal ini menunjukkan kalau kepandaian kalian hebat sekali, sekalipun kalian berdua tak sampai takut, toh hal itu merupakan kerepotan juga bagimu, biar Ciu Peng yang mengantar kalian sampai di depan sana."

"Maksud baik nona, ku ucapkan banyak terima kasih dulu!"

Nona berbaju hijau itu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Ciu Peng, kemudian perintahnya.

"Hantarlah mereka melewati Sam cay-ting kemudian mereka melanjutkan perjalanannya sendiri."

"Andai kata besok cengcu menegur, bagaimana budak bisa menanggungnya...?" "Tak usah kuatir" kata nona baju hijau itu sambil tertawa, "tentu saja aku yang akan menanggungnya!"

"Budak terima perintah!" Ciu Peng segera memberi hormat. Seusai berkata dia lantas berangkat, dia lantas berangkat lebih dulu ke depan sana. Tong Thian hong dan Buyung Im seng segera mengikuti di belakangnya.

Tak lam kemudian, mereka bertiga sudah ada tiga-lima li jauhnya dari tempat semula.

Dengan suara lirih Buyung Im seng segera berbisik. "Kelihatannya nona Im sangat mempercayai dirimu." Ciu Peng segera tersenyum.

"Budak memang bermaksud untuk mengikuti selera hatinya, tentu saja gampang sekali untuk membaikinya."

"Ada satu hal yang tidak kupahami, apakah nona bersedia memberi petunjuk?" Ciu Peng segera menghentikan gerakan tubuhnya, lalu berkata. "Jika ada persoalan, lebih baik kita bicarakan selesai melewati tempat ini saja, seratus kaki di depan sana ada barisan Sam cay tin yang amat lihai."

"Apa yang dimaksudkan dengan Sam cay tin?" tanya Tong Thian hong.

"Sebuah barisan yang penuh dengan jebakan serta alat-alat rahasia yang sangat lihai."

Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Buyung Im seng, kemudian katanya. "Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Dari mana nona Im kenal dengan Biau hoa lengcu? Apa lagi ia tampak begitu menaruh perhatian kepadanya?"

"Kongcu-ya, jangan lupa aku cuma seorang dayang, bagaimana ceritanya sehingga ia bisa berkenalan dengan Biau hoa Lengcu, mana mungkin akan diceritakannya kepadaku, cuma..."

"Cuma kenapa?"

"Cuma ada seorang yang mungkin bisa menjawab pertanyaan itu." "Siapa dia?" 

"Biau hoa Lengcu nona Nyo, bila kau telah bertemu dengannya dan menanyakan soal ini masalahnya kan menjadi terang? Yang bisa budak beritahu kepada kalian adalah ilmu silat yang dimiliki Im cengcu kakak beradik sangat lihai, daripada bermusuhan lebih baik berteman."

"Maksud nona apakah Im Hui bersaudara bisa saja menghianati perguruan Sam Seng bun?" bisik Buyung Im seng lirih.

"Kalau dilihat dari keadaannya, hal ini susah untuk diduga, tapi tak ada salahnya buat kongcu untuk mencobanya dengan mempergunakan sedikit akal."

Buyung Im seng segera manggut-manggut. "Terima kasih banyak atas petunjuk dari nona."

"Im cengcu tampaknya tidak akan melakukan pengejaran terhadap kalian", bisik Ciu Peng.

"Sedang nona Im juga mengucapkan kata-kata tulus."

Setelah berhenti sejenak, terusnya. "Nona Im adalah seorang yang berhati mulia, sedangkan Im cengcu sendiri adalah seorang jago lihai yang berotak cerdas, ia bisa mengambil keputusan untuk melepaskan kalian pergi, ini menunjukkan kalau dia memang bermaksud untuk menjual muka kepada kalian."

"Aku mengerti, di kemudian hari aku pasti akan baik-baik menyelesaikan persoalan ini."

"Nah, kalian boleh berangkat! Sekeliling tempati itu penuh dengan penjagaan yang saling berhubungan satu sama lainnya, jika terlampau lama berada di sini, bisa jaga rahasia budak akan ketahuan."

Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit kemudian, mendadak keadaan medan berubah. Tampak gundukan tanah bermunculan dimana mana, semak belukarpun mengitari sekeliling tempat itu.

Ciu Peng memandang sekejap ke arah kedua orang itu, kemudian manggutkan kepala pertanda agar mereka berdua jangan banyak bertanya, Tong Thian hong mendehem pelan, lalu katanya. "Bagaimana caranya untuk melewati tempat itu?" "Silahkan kalian untuk mengikuti di belakangku." "Apakah selangkahpun tak boleh salah?"

"Benar, selangkahpun tak boleh salah, sebab, sekali salah bisa mengakibatkan kematian tanpa liang kubur."

"Baiklah! Kalau begitu harap nona suka membawa jalan."

"Kalian harus berhati-hati!" Dengan langkah yang pelan dia lantas berjalan ke depan.

Secara diam-diam kedua orang itu memperhatikan keadaan di sekeliling sana. Setelah memperhatikan dengan seksama, maka tampaklah bahwa jarak antara gundukan tanah dengan semak belukar di sekelilingnya ternyata teratur sekali, ini menunjukkan kalau gundukan tanah maupun semak belukar itu adalah hasil bikinan manusia. 

Rupanya Ciu Peng memang berniat untuk memberi kesempatan agar kedua orang itu bisa menyaksikan keadaan di sekitarnya dengan lebih jelas lagi, perjalanan ternyata tidak dilakukan terlampau cepat.

Kurang lebih beberapa ratus kaki kemudian, gundukan tanah serta semak belukar itu baru terputus.

Ciu Peng segera menghentikan langkahnya kemudian berkata.

"Setelah berjalan lebih kurang lima puluh kaki lagi dan mengitari sebuah tebing, di depan sana akan terbentang sebuah jalanan lebar, semoga kalian berdua baik-baik menjaga diri, maaf budak tak bisa menghantar lebih jauh lagi."

"Terima kasih nona!" Buyung Im seng segera menjura.

"Nona Ciu Peng," kata Tong Thian hong pula, "Kecuali jalanan ini, apakah masih ada jalan lain yang bisa berhubungan langsung dengan perkampungan itu?"

"Tidak ada." sahut Ciu Peng sambil menggeleng, "sepengetahuan budak, hanya ada satu jalan lewat ini saja."

"Kecuali mendatangi perkampungan ini, entah masih ada cara apalagi untuk menjumpai nona?"

"Kalian masih ingin bertemu denganku?"

"Daya pengaruh Sam seng bun kini sudah tersebar di seluruh dunia persilatan, baik teman maupun lawan tak ada yang tahu dimanakah sarang komando mereka, boleh dibilang peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang sangat aneh didalam dunia persilatan."

"Jadi kalian ingin menyelidiki rahasia Sam seng bun lewat diriku?" sambung Ciu Peng.

"Nona bersedia membantu kami secara terang-terangan, hal ini sungguh membuat aku merasa berterima kasih sekali..."

"Tapi hal ini kulakukan bukan dengan maksud untuk membantu kalian..." sambung Ciu Peng.

"Kalau bukan membantu dengan maksudmu sendiri, apakah kau dipaksa untuk membantu?"

"Boleh dibilang begitu, aku mendapat perintah dari pangcu kami untuk membatu Buyung kongcu."

"Jadi pangcu kalian juga sudah tahu kalau aku terperangkap dalam sebuah kantor cabangnya Sam seng bun?"

Cui Peng tidak langsung menjawab pertanyaan itu, katanya.

"Kekuasaan Sam seng bun amat besar dan kuat, Li ji pang tersohor karena pencarian beritanya yang cepat dan tajam, bila kongcu ingin bermusuhan dengan Sam seng bung, paling baik adalah bekerja-sama dengan perkumpulan Li-ji pang kami." 

"Pangcu kalian ibaratnya naga sakti yang kelihatan kepala tidak kelihatan ekornya, sekalipun aku bermaksud mencarinya, belum tentu keinginanku ini bisa tercapai."

"Tentang soal ini akan segera kulaporkan pada pangcu kami begitu kalian sudah pergi nanti, pasti akan muncul anggota Li ji pang yang akan membawa kalian untuk menjumpai pangcu kami."

Setelah berhenti sebentar terusnya.

"Budak sudah terlalu banyak bicara, apa yang bisa kukatakan juga sampai di sini saja, harap kalian berdua baik-baik menjaga diri, budak akan pulang dulu."

Tidak menunggu kedua orang itu berbicara, dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Buyung Im seng berdiri di situ sambil memandang bayangan punggung Ciu Peng menjauh dari sana, menanti bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan, dia baru berkata.

"Sungguh tak nyana dalam perkumpulan Li ji pang bisa terdapat begitu banyak jago yang berbakat."

"Hei, apakah saudara Buyung sudah banyak bertemu dengan anggota Li ji pang?" seru Tong Thian hong.

Sambil tertawa Buyung Im seng manggut-manggut.

"Perkumpulan Li ji pang boleh dianggap sebagai suatu perguruan aneh yang sejak dulu sampai sekarang belum pernah dijumpai, anggota perkumpulannya hampir semua terdiri dari gadis-gadis berusia dua puluh tahunan, lagi pula sebagian besar nona-nona cantik yang berotak cerdik."

"Saudara Buyung pernah berjumpa dengan pangcu mereka?" "Pernah, sewaktu ada di kota Hong ciu dulu!"

"Pangcu itu tentunya amat cantik sekali!" kata Tong Thian hong ingin tahu. Buyung Im seng segera tertawa setelah mendengarkan perkataan itu.

"Aneh sekali, hampir semua anggota perkumpulan Li ji pang berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, akan tetapi pangcunya justru..."

Mendadak ia menutup mulut dan tidak berbicara lagi. "Justru kenapa?" desak Tong Thian hong.

"Tak sedap dilihat!"

"Mungkin orang yang bersedih hati mempunyai tujuan lain, lantaran wajah sendiri terlampau jelek, maka dibentuknya organisasi kaum wanita yang dari dulu sampai sekarang baru muncul sebuah ini!"

"Orang yang berparas jelek, seringkali justru berotak cerdas dan berbakat bagus, oleh sebab itu bila berbicara soal pekerjaan, jangan terlalu menilai orang dari wajahnya saja."

Tong Thian hong tersenyum. 

"Walaupun perkataan dari saudara Buyung benar, cuma akupun mempunyai pandangan yang lain."

"Bagaimana pandanganmu?"

"Darimana kau tahu kalau Li ji pang pangcu bukan sedang menyaru dan sengaja berubah wajah sendiri hingga menjadi jelek dan tak sedap dipandang?"

Buyung Im seng termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ujarnya.

"Tapi apa sebabnya dia harus menyaru dan merubah wajah sendiri? Aku dan dia juga tidak saling mengenal, tiada hubungan apa-apa lagi, apa sebabnya dia harus menyembunyikan wajah aslinya di hadapanku?"

"Dia adalah seorang ketua dari suatu organisasi yang besar dalam dunia persilatan dewasa ini, mana ia sudi secara sembarangan menjumpai orang dengan wajah aslinya?"

"Setiap orang perempuan selalu berharap wajahnya cantik dan menawan hati, aku berjumpa dengannya juga tanpa maksud lain, kenapa dia malah berharap orang tahu jika dia jelek?"

"Siapa tahu dibalik kesemuanya ini masih ada alasan lain yang tertentu?" "Alasan apa?"

"Apa alasannya, aku sendiripun tidak jelas, aku hanya mempunyai perasaan demikian saja."

Buyung Im seng segera tertawa.

"Soal ini sukar untuk dibuktikan, lebih baik kita buktikan sendiri dilain waktu." "Tentu saja, aku pun bukan ingin bicara sembarangan, andaikata wajah pangcu dari Li ji pang benar-benar amat jelek, aku rasa dia pasti akan memilih banyak sekali perempuan-perempuan jelek, untuk masuk menjadi anggota perkumpulannya, toh tidak harus memilih begitu banyak gadis yang cantik." "Ehmm... ucapanmu itu masuk diakal juga."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka sudah membelok di suatu tebing, mendadak dari kejauhan sana terdengar suara deburan ombak sungai yang sangat keras.

Buyung Im seng segera memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya.

"Saudara Tong, sekarang kita akan pergi kemana?"

Tong Thian hong menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Apakah saudara Buyung telah menjanjikan tempat pertemuan dengan nona Nyo?" tanyanya.

"Tidak!" 

"Waaah... bisa repot kalau begitu, bila kita gagal untuk mengadakan kontak dengan nona Nyo, maka dia pasti mengira kita masih berada dalam perkumpulan Sam seng bun, jika kerja sama kedua belah pihak tak bisa teratur, bisa jadi semua urusan akan terbengkalai."

"Bagaimana juga toh mustahil bagi kita untuk balik kembali ke sana..."

"Mengapa tidak?" bisik Tong Thian hong. "Asal kita bisa mencari sebuah akal agar jangan sampai diketahui semua orang, bahkan Im Hui sendiripun tak akan menyangka kalau kita yang sudah pergi akan balik kembali ke situ."

"Tapi dengan cara apa?"

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Sekalipun kita dapat balik kembali ke perkampungan keluarga Im, apa pula yang hendak kita lakukan?"

"Saudara Buyung, apakah kau sungguh-sungguh mempercayai ucapan dari nona serta Ciu Peng?"

"Kenapa? Apakah mereka juga sedang mengadakan akal licik untuk membohongi kita?"

"Dengan kedudukan Im Tongcu, aku tak percaya kalau mereka tidak tahu dimanakah letak Sam seng bun tersebut, seandainya kita masih ingin menemukan letak lembah tiga malaikat tersebut maka dua bersaudara Im merupakan titik terang buat kita."

Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak terdengar bunyi burung merpati yang terbang melintasi udara meluncur lewat dari atas kepala mereka.

Melihat itu Buyung Im seng segera berbisik dengan lirih. "Sayang sekali kedua ekor burung elang milik Ki hujin tidak kubawa serta, coba kalau kebetulan kubawa dan berhasil menangkap burung merpati pos itu, kita bisa mengetahui apa saja yang mereka bicarakan."

Tong Thian hong termenung beberapa saat lamanya, lalu ujarnya. "Merpati pos yang barusan lewat di atas kita itu kalau bukan melaporkan suatu masalah besar, tentunya surat yang dikirim dari Sam seng tong malam ini pasti ada urusan besar yang akan terjadi." 

"Darimana saudara Tong bisa mengatakan burung merpati pos itu berasal dari Sam seng tong?"

"Ditengah malam buta begini ada merpati pos yang terbang melintas, itu berarti persoalannya penting sekali, kecuali surat perintah dari tiga malaikat, siapa lagi yang berani malam-malam buta begini mengganggu ketenangan Im Hui?" "Aaaah... belum tentu begitu, apabila burung merpati pos itu juga belum pasti akan mengganggu Im Hui."

"Berbicara soal kecerdasan dan ilmu silat, saudara Buyung jelas jauh melebihi kemampuan siaute, akan tetapi kalau berbicara soal pengalaman dalam dunia persilatan, aku berani mengucapkan sepatah kata sombong, saudara Buyung masih jauh ketinggalan dari pada diriku", setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan. 

"Jika saudara Buyung tidak percaya, apa salahnya kalau kita menyembunyikan diri untuk melihat keadaan."

"Bersembunyi dimana?"

Tong Thian hong mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya. "Lebih baik kalau bersembunyi di atas pohon besar di tepi jalan itu."

"Suatu akal yang bagus sekali, selain mengawasi gerak gerik musuh, kitapun bisa menyembunyikan diri!"

"Tak jauh di depan sana agaknya terdapat sebatang pohon, mari kita bersembunyi di atas sana, mungkin dengan cepat bisa kita lihat hasilnya."

Kedua orang itu segera berangkat menuju ke depan sana, benar juga di sana tumbuh pohon yang amat besar sekali.

Buyung Im seng memandang sekejap batang pohon itu, kemudian katanya sambil manggut-manggut. "Batang pohonnya besar dan dahannya banyak, daunpun amat rimbun, kita bisa tiduran di sana, sungguh merupakan tempat persembunyian yang bagus sekali."

Sambil bercakap-cakap kedua orang itu melompat naik ke atas pohon besar itu, memilih suatu tempat yang lebat daunnya dan duduk bersila di situ untuk mengatur pernapasan.

Betul juga, seperti apa yang diduga Tong Thian hong, tak lama kemudian terdengar suara ujung baju tersampok angin berkumandang tiba, agaknya ada orang sedang lewat di bawah pohon sana.

Buyung Im seng merasa girang sekali, segera teriaknya. "Mereka telah datang!"

Buru-buru Tong Thian hong menarik tangan Buyung Im seng, sambil berbisik lirih. "Jangan bertindak gegabah, kita cuma boleh bersembunyi sambil mengintip jangan sampai menunjukkan jejak kita."

Benar juga tak selang beberapa saat kemudian kembali muncul beberapa sosok bayangan manusia yang berlarian lewat di bawah pohon.

"Hei, coba lihat, mengapa mereka berlarian?" bisik Buyung Im seng keheranan. "Walaupun siaute tak bisa menerangkan secara keseluruhan, tapi aku percaya di sini pasti akan terjadi suatu peristiwa yang maha besar."

"Peristiwa apa?"

Mendadak Tong Thian hong membungkam dan tak berbicara lagi, tangannya ditempelkan di depan bibir memberi tanda kepada Buyung Im seng agar jangan bicara.

Pada saat itulah kembali ada dua sosok bayangan manusia berlarian dekat, saat lari sampai di bawah pohon dimana kedua orang itu berada mendadak mereka berhenti. 

Buyung Im seng merasa heran sekali, pikirnya. "Mengapa kedua orang ini secara tiba-tiba berhenti di sini? Mau apa mereka?"

Ia mencoba untuk menengok ke bawah, tampaklah seorang lelaki berbaju putih sedang berdiri di bawah pohon besar itu sambil bergendong tangan..." Rupanya orang itu bukan lain adalah Im cengcu, Im Hui.

Kemunculan Im Hui secara tiba-tiba ditempat itu menunjukkan bahwa persoalan yang bakal terjadi bukanlah persoalan sepele.

Tong Thian hong segera berpaling memandang Buyung Im seng dengan ilmu menyampaikan suara, katanya. "Ditengah malam buta begini Im Hui datang kemari, ini menunjukkan bahwa suatu peristiwa besar bakal terjadi."

Buyung Im seng manggut-manggut.

"Dia berhenti tepat di bawah pohon besar ini, entah apa sebabnya?" ia balik bertanya.

Belum sempat Tong Thian hong menjawab, tampak seorang lelaki berbaju hitam lari mendekat dan memberi hormat kepada Im Hui, kemudian ujarnya. "Malaikat kedua tiba!"

Mendengar disebutnya "Malaikat kedua", Buyung Im seng merasakan hatinya bergetar keras hampir saja dia menjerit tertahan saking tak kuasanya menahan emosi.

"Dimanakah kereta kencana dari malaikat kedua?" kedengaran Im Hui sedang bertanya.

"Sudah berada seratus kaki dari sini."

"Baik, bawa aku untuk menyambut kedatangannya!"

"Tidak perlu!" mendadak dari kejauhan sana berkumandang suara sahutan yang berat.

Menyusul kemudian terdengar roda kereta berputar dan sebuah kereta kencana yang aneh sekali bentuknya meluncur tiba dengan kecepatan yang amat tinggi. Sekeliling ruang kereta itu gelap dan berwarna hitam, sehingga membuat siapapun sukar untuk melihat jelas keadaan didalam ruang kereta tersebut. Di sebelah depan, belakang, kiri maupun kanan kereta itu tidak tampak ada pengawal yang mengikuti kereta itu, yang ada cuma seorang kusir kereta berbaju hijau dan bertopi kecil yang duduk di depan kemudi.

Im Hui yang jumawa dan tinggi hati itu segera maju ke depan dengan sikap hormat sekali, setelah menjura dalam-dalam, katanya dengan suara lirih. "Im Hui menjumpai Ji seng!"

"Im tongcu tak usah banyak adat!" suara yang berat dan berwibawa segera berkumandang keluar dari balik kereta.

"Im Hui telah menerima surat perintah lewat burung merpati, apabila tak dapat menyambut kedatangan Ji seng dari jauh, harap sudi dimaafkan...!"

Orang di dalam kereta itu segera tertawa. 

"Sebetulnya aku tak ingin mengganggu ketenangan Im Tongcu, tapi berhubung ada suatu urusan penting yang harus dibicarakan secara langsung dengan Im Tongcu, terpaksa aku berkunjung kemari."

"Ji seng terlalu serius..."

Setelah berhenti sebentar dia bertanya. "Entah persoalan apakah yang hendak dibicarakan? Silahkan Ji-seng mengutarakannya."

Mendadak suara orang didalam kereta itu berubah menjadi dingin sekali, katanya. "Apakah Im Tongcu mengetahui tentang gerak-gerik dari adikmu selama ini?" "Aku jarang sekali mencampuri urusan adikku, tidak kuketahui kesalahan apa yang telah dilanggar oleh adikku?"

"Adikmu selalu merasa tidak puas dengan tindak tanduk dari Sam seng bun kita, benarkah ini ada kenyataannya?"

"Soal ini aku kurang begitu jelas, sebab belum pernah adikku membicarakan persoalan ini denganku!"

"Adikmu bukan anggota Sam seng bun, tapi tidak sedikit persoalan dari Sam seng bun kita yang diketahui olehnya, tentang hal ini apakah Im tongcu juga tidak begitu jelas?"

Im Hui termenung beberapa saat lamanya, kemudian menjawab. "Tentang soal ini hamba benar-benar tidak tahu."

Mendengar jawaban tersebut, orang yang berada dalam kereta itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh... haahhh... haahhh... Im tongcu adalah seorang yang amat cerdas, akalmu cukup meyakinkan, ataukah didalam hal ini menjadi begitu bodoh?" Buru-buru Im Hui merangkap tangannya sambil menjura.

"Harap Ji seng maklum, seandainya aku orang she Im telah melanggar peraturan dalam perguruan Sam seng bun, silahkan Ji seng menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada hamba akan tetapi adikku bukan anggota Sam seng bun, terhadap gerak geriknya Im Hui tak bisa terlalu banyak mencampurinya."

"Hmm! Kau tentunya juga mengerti, kau adalah salah seorang manusia yang penting didalam perguruan kami!" seru orang dalam kereta itu dengan suara dingin.

"Aku orang she Im tahu akan hal ini dan merasa bangga sekali karena mendapat kepercayaan dari Sam ceng (tiga malaikat)."

"Bagus sekali, seandainya kuperintahkan kepadamu sekarang untuk menyelesaikan suatu masalah pelik, bersediakah kau untuk melaksanakannya...?" "Silahkan memberi perintah, sekalipun harus mati juga tak akan kutampik!" "Usahakan agar adikmu juga masuk menjadi anggota perguruan Sam seng bun kita." 

"Seandainya hamba menggunakan hubungan pribadi minta kepadanya agar berbakti satu kali demi perguruan Sam seng bun kita, mungkin dia tak akan menampik, akan tetapi jika dia diminta masuk ke dalam Sam seng bun, secara resmi, hamba rasa dia takkan meluluskannya."

Setelah menghela napas panjang, terusnya. "Dua tahun berselang, aku orang she Im sudah menerima firman yang meminta kepadaku untuk mengajak adikku masuk menjadi anggota perguruan segenap kemampuan untuk mengajaknya masuk menjadi anggota, tapi usaha hamba selama ini tak pernah mendatangkan hasil."

"Aku tahu!" kata orang didalam kereta itu dengan dingin. "Waktu itu agaknya dia belum begitu banyak mengetahui tentang urusan dalam perguruan Sam Seng bun, tapi keadaannya sekarang sudah lain."

Mendadak suaranya berubah menjadi dingin menyeramkan, pelan-pelan terusnya. "Bila kau tak mampu menasehati adikmu agar masuk menjadi anggota perguruan Sam seng bun, masih ada satu cara yang bisa dilaksanakan..."

"Membunuhnya untuk membungkamkan mulutnya bukan?" sambung orang she Im itu dengan cepat.

"Im tongcu memang benar-benar seorang yang cerdik!" puji orang didalam kereta itu dengan dingin.

"Perintah dari Ji-seng, aku orang she Im tak berani membangkang, cuma Im Hui belum tentu bisa menangkan kelihaian dari adikku."

Ucapan tersebut bukan saja membuat orang didalam kereta itu tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, dalam waktu yang cukup lama sekalipun Buyung Im seng dan Tong Thian hong yang bersembunyi di atas pohon pun menjadi tertegun dibuatnya, pikir mereka.

"Kepandaian silat yang dimiliki Im Hui sudah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali, apakah nona Im itu benar-benar masih jauh lebih lihai daripada yang dimiliki Im Hui?"

Sementara itu, orang yang berada dalam kereta itu sudah berkata lagi dengan suara dingin.

"Sungguhkah perkataanmu itu?"

"Hamba tidak berani membohongi Ji-seng!"

"Selain mempergunakan ilmu silat, aku rasa masih ada cara lain untuk membinasakan dirinya, misalkan meracuni dia, toh sama saja bisa merenggut selembar jiwanya".

"Hamba dan adikku adalah saudara sekandung dari seorang ayah dan seorang ibu yang sama, usia adikku itu selisih banyak sekali bila dibandingkan dengan usiaku, apalagi sejak kecil akulah yang merawatnya hingga menjadi dewasa, soal meracuni atau melukai secara diam-diam..."

"Kau tidak tega untuk turun tangan sendiri?" tukas orang didalam kereta itu. 

"Aaaii...!" Im Hui menghela napas panjang, "hamba akan usahakan sekali lagi untuk membujuknya agar mau masuk menjadi anggota perguruan Sam seng bun, kalau dia tidak mau meluluskan lagi permintaanku ini terpaksa aku harus turun tangan untuk membunuhnya."

"Semoga saja ucapanmu itu muncul dari hati sanubarimu!" kata orang dalam kereta itu.

Im Hui segera menjura dalam-dalam. "Apakah Ji seng masih ada pesan yang lain?" "Konon kalian berhasil menangkap Buyung Im seng?"

"Ya, ditengah jalan telah terjadi suatu perubahan tiba-tiba, semua orang yang mengawal telah terbunuh habis, ketika hamba menyusul ke tempat kejadian hanya berhasil menyelamatkan jiwa dua orang kuris kereta."

"Sudah kau selidiki siapa yang melakukan perbuatan itu?"

Im Hui menggeleng, sahutnya. "Hamba sedang melakukan penyelidikan sekarang." "Titik terang sih belum ada, cuma kalau dilihat dari persoalannya, besar kemungkinan dilakukan oleh orang-orang Sam seng bun kita sendiri."

Orang dalam kereta itu termenung sebentar, kemudian tanyanya. "Darimana kau bisa berkata demikian?"

"Tertangkapnya Buyung Im seng dan Biau hong lengcu hanya diketahui oleh orangorang Sam seng bun kita, hampir boleh dibilang orang persilatan tidak ada yang tahu tentang persoalan ini, karena itu hamba berani mengatakan bahwa dalam perguruan Sam seng bun kita sesungguhnya terdapat banyak musuh dalam selimut."

"Peraturan dari perguruan Sam seng bun kita sangat ketat, siapakah yang berani begitu bernyali untuk melakukan perbuatan semacam itu?"

"Soal ini hamba belum mendapat bukti dan tidak berani sembarangan menuduh." "Kau sudah periksa kedua orang kusir kereta itu?"

"Sudah!"

"Apa yang mereka katakan?"

"Baru saja pertarungan dimulai mereka sudah kena dilukai orang, tentu saja jalannya peristiwa tidak mereka ketahui."

Mendadak orang didalam kereta itu tertawa dingin, serunya. "Im tongcu, bila kau mempunyai sesuatu kecurigaan dalam hatimu, tak ada salahnya untuk dibicarakan secara blak-blakan!"

"Hamba tidak berani!"

"Tidak mengapa, cepat katakan!"

"Dari pihak Seng thong (ruang malaikat) konon telah mengutus serombongan besar jago lihai untuk datang kemari, benarkah ada kejadian seperti itu?"

"Betul, memang ada kejadian seperti itu." 

"Secara tiba-tiba mengutus orang yang begitu banyak kemari, dan lagi sebelum kejadian tidak diterima surat pemberitahuan, tampaknya kalian sudah tidak mempercayai hamba lagi?"

Seandainya Im tongcu dapat membujuk adikmu agar masuk menjadi anggota Sam seng bun, atau membunuhnya demi keamanan kita semua, bukan saja pihak Seng tong akan mempercayai dirimu kembali, bahkan kaupun akan diberi imbalan yang besar sekali."

Buyung Im seng yang bersembunyi di atas pohon dapat mendengarkan semua pembicaraan itu dengan sangat jelas, segera pikirnya.

"Ooohh... rupanya pihak Seng tong telah mulai menaruh curiga terhadap Im Hui." Sementara itu Im Hui telah menjura seraya berkata. "Terima kasih banyak atas nasehat Ji seng."

Tiba-tiba orang didalam kereta itu menghela napas panjang, katanya kemudian. "Im Hui, moga-moga kau bisa menjaga dirimu baik-baik", setelah berhenti sejenak, terusnya. "Mari kita pergi."

Tampak kusir kereta berbaju hijau itu tiba-tiba menyentak tali les kudanya, tibatiba kereta itu membalik arah dan lari melalui jalan semula...

"Apakah Ji seng tidak duduk sebentar didalam perkampungan kami?" seru Im Hui. "Tidak usah!"

"Hamba dengan hormat mengiringi kepergian Ji seng."

Sungguh cepat gerak lari kereta berbentuk aneh itu, baru dua patah kata Im Hui berbicara, kereta itu sudah berada beberapa kaki jauhnya.

Terdengar orang didalam kereta itu kembali berkata. "Adikmu adalah seorang gadis pintar yang mengetahui keadaan, seandainya kau menggunakan hubungan persaudaraanmu untuk membujuknya, aku rasa kemungkinan besar dia bersedia masuk menjadi anggota Sam seng bun."

"Je seng tak usah kuatir, hamba akan berusaha dengan sepenuh tenaga, bila mana perlu akan kubunuh dirinya untuk memperlihatkan kebaktian hamba kepada Sam seng bun."

Buyung Im seng yang mendengar pembicaraan itu amat terkesiap, diam-diam pikirnya. "Entah menggunakan cara apakah pihak Sam seng bun menguasai anak buahnya, ternyata terhadap manusia seperti Im Hui diperlakukan pengawasan yang begitu ketat sekali... sungguh suatu kejadian di luar dugaan..."

Setelah memandang hingga kereta itu jauh meninggalkan pandangan mata, Im Hui baru menarik napas panjang dan berlalu pula dari tempat itu. Setelah Im Hui pergi, orang yang berjaga disekitar pohon pun segera bubar, dalam waktu singkat tak seorang manusiapun yang kelihatan berkeliaran di sana.

Tong Thian hong memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, setelah yakin kalau orang-orang Sam seng bun telah pergi semua, dia baru berbisik lirih. 

"Sudah kau lihat saudara Buyung?" "Melihat apa?" "Im Hui kelihatan sangat menderita, padahal kedudukannya dalam perguruan Sam seng bun tinggi sekali, tapi ia toh tidak mampu melindungi adik kandungnya sendiri."

"Dari mereka berdua, yang seorang adalah Tongcu dari perguruan Sam seng bun sedangkan yang lain tidak bersedia menggabungkan diri dengan perguruan Sam seng bun, tetapi kedua-duanya tinggal ditempat yang sama, kejadian ini betul-betul membuat orang tak habis mengerti saja..."

"Bila paham yang dianut berbeda, tak akan cocok untuk bersatu, meski mereka dua bersaudara tapi masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri, peristiwa macam ini tidak jarang ditemui dalam dunia persilatan, jadi tiada sesuatu yang perlu diherankan."

"Cuma, yang aneh sekarang dua bersaudara masih bisa saling hormat menghormati meski masing-masing menempuh jalan sendiri, kalau didengar dari perkataan Im Hui tadi, agaknya selain rasa hormatnya kepada adik perempuannya itu, diapun menaruh rasa takut. Tapi perintah dari Ji seng sangat mendesaknya, Im Hui sudah tak dapat bertahan lebih jauh, aku menguatirkan sekali bagi keselamatan nona Im yang baik hati itu."

"Bagaimana? Masa ia benar-benar akan membunuh adik kandungnya sendiri?" "Andaikata Im Hui tidak mampu membujuk adiknya agar bergabung dengan perguruan Sam seng bun, maka dia hanya ada dua jalan yang ditempuh."

"Dua jalan yang mana?"

"Pertama, membunuh adiknya untuk merebut kepercayaan Sam seng kepadanya, dan kedua menghianati perguruan Sam seng bun, tapi kalau dilihat dari keadaan tadi, agaknya Im Hui tak akan sampai menghianati perguruan Sam seng bun, itu yang berarti tinggal sebuah jalan saja yang bisa ditempuh olehnya, yakni membunuh adiknya sendiri."

00oo00

BAGIAN KE DELAPAN

"Nona Im berhati bajik dan sangat mulia, andaikata Im Hui ingin mencelakainya, hal ini bisa ia lakukan dengan gampang sekali, sekarang kita sudah mengetahui akan kejadian ini, sepantasnya kalau kita sampaikan kabar ini kepadanya." "Tapi perjalanan kembali penuh dengan rintangan, tak mungkin kita bisa balik kembali ke perkampungan tersebut tanpa diketahui jejaknya oleh mereka." Buyung Im seng segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, keluhnya kemudian. "Seandainya Nyo Hong ling berada di sini ia pasti mempunyai akal bagus untuk mengatasi keadaan ini."

Tiba-tiba Tong Thian hong tertawa, katanya. "Siaute juga mempunyai suatu cara yang bodoh, mungkin saja masih bisa dipergunakan untuk menolong nona Im." "Bagaimana cara itu?"

"Kalau didengar ucapan Ciu Peng agaknya dia mempunyai cara khas untuk mengadakan kontak dengan perkumpulan Li ji pengnya, asal kita bisa menemukan 

pangcu dari Li ji pang serta minta bantuannya untuk menyampaikan berita ini

pada Ciu Peng, lalu minta Ciu Peng menyampaikannya pada nona Im bukankah hal ini akan beres? Sekalipun Im Hui tega turun tangan keji terhadap adiknya sendiri, juga tak akan melakukan dalam tiga lima hari ini, asal dalam tujuh hari kita bisa berjumpa dengan pangcu dari Li ji pang, aku yakin 80% jiwa nona Im masih bisa diselamatkan."

"Betul, siaute tak menyangka kalau kau bisa berpikir sampai ke situ..." Mendadak dia menghela napas panjang, gumamnya lagi.

"Sayang, sayang!"

"Apanya yang sayang?" tanya Tong Thian hong agak tertegun.

"Sayang kepergian Im Hui terlalu lambat, coba kalau dia pergi agak cepat sedikit, sudah pasti kita bisa menguntit di belakang keretanya Ji-seng."

Toan Thian hong menghela napas panjang. "Aaaikalau dibicarakan

sesungguhnya kejadian inipun merupakan suatu kejadian yang sangat aneh, dengan kedudukan yang begitu tinggi kenapa pada sewaktu melakukan inspeksi dia tidak membawa pengiring yang banyak, sebaliknya hanya membawa seorang kusirnya?"

"Justru karena itu, andaikata kita menguntit ketika itu, banyak rintangan tak diinginkan yang bisa kita hindari."

"Sekarang keadaan belum terlambat, bagaimana kalau kita mencoba menyusulnya?"

"Betul, karena yang ditumpanginya sangat istimewa sekali, dalam sekilas pandangan kita dapat segera mengenalinya kembali.

"Saudara Buyung, kalau memang kita akan menyusulnya mari kita sekarang juga berangkat!"

Tanpa membuang waktu lagi dia lantas melompat turun dari atas pohon dan mengejar ke depan.

Buyung Im seng juga tidak membuang waktu lagi, dia segera menyusul dari belakang.

Mengikuti arah larinya kereta itu, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah melakukan pengejaran sejauh puluhan li, akan tetapi bayangan kereta itu belum juga ditemukan.

Sambil menggelengkan kepala Buyung Im seng berseru.

"Sungguh mengherankan! Padahal sepanjang jalan sampai kemari tidak tampak ada jalan persimpangan, kitapun sudah mengejar dengan secepat-cepatnya, mengapa belum nampak juga jejaknya?"

Tong Thian hong mendongakkan kepalanya dan memandang cuaca sejenak, kemudian katanya sambil tertawa.

"Asal kita ingat terus bentuk keretanya yang aneh itu, rasanya bukan suatu hal yang sulit untuk menemukannya didalam waktu lain, sekarang kita tak usah 

terlalu terburu napsu, yang penting sekarang berusaha mengadakan kontak dengan orang-orang Li ji pang."

"Saudara Tong, tahukah sekarang kita berada dimana?" tanya Buyung Im seng sambil ketawa. Tong Thian hong mengalihkan sinar matanya dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu kemudian menggeleng.

"Sekarang hari belum terang, mari kita lanjutkan perjalanan untuk mencari rumah penginapan, kita harus merubah wajah kita."

Secara tiba-tiba Tong Thian hong seperti teringat sesuatu yang sangat penting, buru-buru tukasnya.

"Saudara Buyung, walaupun nona Im mengutus Ciu Peng untuk mengantar kita meninggalkan tempat berbahaya, tapi Im Hui sendiripun rupanya ada niat juga untuk melepaskan kita pergi."

Buyung Im seng termenung beberapa saat, lalu menjawab. (Bersambung ke jilid 6) 
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 05"

Post a Comment

close