Lembah Tiga Malaikat Jilid 02

Mode Malam
Jilid 2

PERSOALAN tentang lembah tiga malaikat itu tiba tiba saja lohu teringat akan beberapa hal.

Tubuh Buyung Im-seng yang telah bangkit berdiri itu segera duduk kembali, katanya: "Kalau begitu aku siap mendengarkan penjelasanmu."

Kim Cok sendiri juga mengerti, apabila ia tidak singgung masalah lembah tiga malaikat pada saat ini, mungkin sulit untuk menahan Buyung Im-seng di sana. Maka katanya:

"Setengah tahun berselang, seorang teman lamaku kebetulan berkunjung menengok ku"

"Tentunya temanmu itu secara kebetulan adalah anggota Sam-seng-bun, maka ia mengetahui banyak tentang latar belakang perguruan itu. Betul bukan ?" Sambung Tong Thian-hong.

Dengan dingin Kim Cok memandangi sekejap Tong Thian hong, agaknya ia hendak mengumbar hawa amarahnya, tapi dengan capat perasaan itu ditekan kembali, sambungnya: "Teman lamaku ini apakah benar-benar anggota Sam-seng-bun atau bukan, lohu kurang tahu. Tapi ia memang banyak membicarakan masalah Samseng-bun dengan lohu."

"Apa saja yang dibicarakan ?"

"Katanya seluruh dunia persilatan akan mengalami perubahan besar, sudah tentu beberapa tahun Sam-seng-bun memupuk kekuatan secara diam-diam paling lama dua tahun lagi, paling cepat satu tahun kemudian seluruh dunia persilatan pasti akan terjatuh ke tangan mereka."

"Dia masih banyak membicarakan persoalan lain, sayang sudah terlalu lama kejadian ini berlangsung, sehingga lohu sendiripun sudah banyak yang lupa."

"Terima kasih atas petunjukmu !" kata Buyung Im-seng, dia lantas beranjak dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Dengan cepat Kim Cok menghalangi jalan perginya, dia berseru: Buyung Kongcu, kau hendak pergi kemana ?"

"Apa yang hendak Kim-seng katakan sudah habis diucapkan, sedang apa yang bisa kudengar juga sudah selesai kudengar, tentu saja aku hendak memohon diri !" "Kongcu, silahkan duduk dulu, mungkin bila kupikirkan beberapa waktu lagi ada banyak persoalan yang bisa kuingat kembali."

"Tapi sayang aku sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi untuk menunggu, harap Kim-heng pikirkan secepatnya, bila dalam seperminuman teh kau masih belum berhasil mengingat apa-apa, aku tak akan menunggu lagi." Kim Cok termenung dan berpikir sejenak kemudian katanya: "Yaa, yaa, aku sudah teringat lagi, dia masih memberitahukan suatu hal kepada lohu."

"Persoalan apa ?"

"Dia bilang separuh bagian jago lihay yang ada didalam dunia persilatan ini telah menggabungkan diri dengan perguruan Sam-seng-bun dalam dunia persilatan sudah tiada kekuatan lain lagi yang bisa menghalangi niat Sam-seng-bun, sekalipun ayahmu Buyung tayhiap hidup kembalipun percuma saja."

"Apakah saudara Kim percaya dengan perkataannya itu ?"

"Sebenarnya aku tidak percaya, tapi setelah dijelaskan pelbagai masalah besar lainnya, mau tak mau aku menjadi percaya juga."

"Jikalau kau sudah percaya, sepantasnya kalau menggabungkan diri dengan perguruan Sam-seng-bun." sindir Tong Thian-hong.

"Pertama karena aku sudah mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan. Kedua sekalipun aku ingin bergabung juga harus ada yang mengantar, maka... " Buyung Im-seng tertawa lebar, tukasnya: "Kalau atap tidak terjatuh tak akan pecah, seorang panglima perang besar kemungkinan akan tewas di medan laga, kalau toh saudara Kim sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan lebih baik jagalah diri dengan waspada, jangan sampai mendapat suatu akhir yang mengenaskan"

Kim Cok tertawa terbahak bahak ; "Haa... haah... haahh.. tapi bila tidak bergabung dengan perguruan Sam-seng bun, besar kemungkinan kita akan mampus semakin cepat lagi."

Buyung Im-seng tertawa dingin, katanya: "Setiap manusia mempunyai tujuannya sendiri-sendiri, aku pun tak ingin banyak membujukmu lagi."

Kongcu, apakah kau mempunyai urusan penting lainnya ?"

"Kalau pembicaraan tidak mencocoki, banyak bicarapun tak ada gunanya, aku tak ingin berdiam lebih lama lagi."

"Kalau memang begitu, akupun tak berani memaksa lebih jauh, cuma harap kongcu menunggu sebentar, akan kuberi tanda dulu kepada Li Tat agar menyingkirkan macam-macam kumbangnya, daripada kongcu kena dilukai nanti." 

"Sekalipun aku menunggu lebih lama lagi belum tentu mereka bisa datang kemari." "Kongcu, apa kau bilang ?"

"Aku bilang, orang-orang yang lebih garang dari binatang buas buas yang sedang kau tunggu itu, aku rasa saudara Kim tak usah repot-repot lagi "

Melihat keadaan semakin runyam, terpaksa Kim Cok menarik mukanya seraya berkata: "Seorang bocah yang masih muda belia, mengapa kata katanya begitu tak tahu sopan santun ?"

Yang dikuatirkan Buyung Im-seng justru kalau dia dihantar keluar dari situ dengan hormat, sebab kalau sampai demikian keadaannya, untuk mencari garagara pasti akan sulit sekali. Oleh sebab itu, ketika pihak lawan berubah wajah, ini justru berkenan dihatinya, maka sambil tertawa katanya: "Saudara Kim maksudkan diriku?"

"Tentu saja kau !"

Tiba-tiba Tong Thian -hoang menerjang maju ke depan, serunya: "Besar amat nyalimu, sungguh berani mendamprat kongcu kami !"

Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

"Bagus !" Seru Kim Cok. "Lohu akan memberi pelajaran dulu kepada kau si pelayan, kemudian baru memberi pelajaran kepada majikannya!"

Sambil mengayun tangan, dia sambut datangnya serangan tersebut. Serangan yang dilakukan kedua orang itu hampir diayunkan pada saat yang bersamaan, "Blaaam... !" suatu bentrokan segera terjadi.

Hasil dari bentrokan kekerasan tersebut, baik Tong Thian hong maupun Kim Cok sama-sama mundur selangkah.

Dengan bentrokan kekerasan tersebut, maka kedua orang itu lantas tahu kalau kekuatan mereka seimbang alias setali tiga uang.

Diam-diam Kim Cok merasa terkejut, pikirnya: "orang ini tidak lebih cuma seorang pembantunya Buyung kongcu, mengapa ilmu silatnya luar biasa hebatnya? Kalau begitu Buyung kongcu sendiri pasti luar biasa!"

Berpikir demikian, ternyata serangan yang kedua tidak lagi dilancarkan.

Dalam anggapannya semula, sekalipun tidak berhasil melukai musuhnya dengan serangan tersebut paling tidak bisa memberi pelajaran kepada orang itu, siapa sangka dia sendiri malahan terdorong mundur selangkah ke belakang.

Dengan kening berkerut Buyung Im seng juga sedang berpikir.

"Tujuan kami adalah menangkap hidup-hidup diri mereka, tapi Tong Thian hong telah saling beradu kekerasan dengannya, harapan tersebut tampaknya sukar untuk diwujudkan."

Tapi berada di hadapan Kin Cok ia merasa sukar untk memberi teguran, hal mana membuat hatinya merasa amat bersedih hati. 

Pada saat itulah, tiba tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat tahu-tahu Nyo Hong ling dan Ki Li ji sudah melompat keluar melewati beberapa orang.

Belum sempat buyung Im seng menegur Ki Li ji telah membalikkan badan sambil menubruk ke arah Kim Cok.

Sepasang tangannya dipergunakan bersama, dalam waktu singkat dia sudah melancarkan empat buah serangan berantai.

Ke empat buah serangan itu dilancarkan secara berurutan dan seakan akan dilancarkan tanpa berhenti, hal ini memaksa Kim Cok secara beruntun harus mundur sejauh empat langkah.

Paras muka Kim Cok segera berubah hebat, katanya dengan dingin: "Buyung kongcu, memandang di atas wajah ayahmu lohu tak ingin turun tangan keji padamu, tapi sobat dan anak buah kongcu bila mendesak terus menerus, jangan salahkan kalau lohu tak akan mengenal belas kasihan lagi !"

Mendengar perkataan itu, Buyung Im seng lantas berpikir: "Dia tersohor sebagai Si hun ciang, sudah pasti dia hendak mempergunakan ilmu pukulan membetot sukma itu!"

Sementara dia masih memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat, Tong Thian hong telah berebut berkata lagi: "Saudara memiliki ilmu silat apalagi yang disebut hebat? Mengapa tidak digunakan semua ? Dengan kepandaian yang kau miliki itu, aku percaya masih sanggup untuk menyambutinya sendiri, tak usah kau mengusik kongcu kami.

Pelan-pelan Kim Cok mengangkat tangan kanannya ke tengah udara, paras mukanya juga turut berubah menjadi serius sekali.

Buyung Im seng mencoba untuk mengamat-amatinya, ia tengah saksikan telapak tangan kanan Kim Cok yang sudah diangkat ke udara itu lamat-lamat memancarkan cahaya merah yang kehijau-hijauan.

Tampak Kim Cok mengayunkan tangan kanannya dan langsung menghajar ke tubuh Tong Thian hong.

Rupanya Tong Thian hong sudah tahu kalau dia telah mempergunakan ilmu pukulan si-hun ciang, agak sangsi hatinya, dia tak tahu hatinya dia tak tahu sampai dimanakah kelihaian ilmu pukulan itu dan harus menghadapinya dengan cara yang bagaimana.

Sementara sekujur badan Nyo Hong ling gemetar keras, kemudian roboh terjengkang ke atas tanah, Tong Thian menjadi tertegun, baru saja dia hendak membangunkan gadis itu, tiba-tiba terdengar bisikan lirih berkumandang di sisi telinganya. "cepat tutup napas dan melindungi denyut nadi!"

Suara itu adalah bisikan Nyo Hong ling dengan ilmu menyampaikan suaranya. Ketika Buyung Im seng menyaksikan Nyo Hong ling roboh ke tanah, dengan hati terkejut ia menerjang ke muka dan menubruk ke arah Kim Cok.

Sambil membalikkan badan Kik Cok menghindarkan diri dari serangan Buyung Im seng itu, kemudian sambil melayang mundur katanya dingin: "Kongcu benar-benar tak tahu diri, aku tak ingin melukai diri kongcu..." 

Buyung Im seng berpaling dan memandang sekejap Nyo Hong ling yang tergeletak di tanah itu, kemudian serunya: "Kau telah menggunakan cara yang keji untuk melukainya."

Kim Cok tertawa terbahak bahak: "Haahh... hahh... hah... aku toh mempunyai julukan sihun ciang, kau anggap julukan itu cuma suatu julukan belaka tanpa ada kenyataannya?"

Baru saja dia hendak berkata lagi, tiba-tiba terdengar Tong Thian hong berbisik dengan ilmu menyampaikan suara: "Lindungi denyutan nadi, jangan melawan tenaga pukulannya dengan kekerasan!"

Tiba-tiba Ki Li ji menerjang maju ke depan melewat samping, kemudian tanpa menimbulkan sedikit suarapun menyerang ke arah Kim Cok.

Dengan cekatan Kim Cok menghindarkan diri ke samping, kemudian sambil membalikkan badan melepaskan sebuah pukulan.

Ki Li ji seakan akan tak mampu untuk menghindarkan diri lagi "Blaamm!" tubuhnya segera roboh terjengkang ke atas tanah.

Walaupun Tong Thian hong bisa menduga bahwa Ki Li ji mungkin sudah mendapat petunjuk dari Nyo Hong ling untuk berpura pura kena pukulan dan roboh ke tanah, tapi ia merasa kuatir sekali, sehingga tanpa terasa tubuhnya turut menerjang pula ke depan.

Tampak Ki Li ji membuka matanya kemudian dipejamkan kembali, sikapnya seakan akan seseorang yang sedang terluka parah.

Agak lega juga Tong Thian hong menyaksikan keadaannya itu, belum sempat ia mendongakkan kepalanya, tiba-tiba terasa desingan angin tajam menerjang langsung ke arahnya.

Dibalik angin pukulan itu terbawa hawa dingin yang menyengat badan, ia tahu Kim Cok lagi-lagi menggunakan tenaga pukulan Sihun ciangnya untuk melukai musuh.

Buru buru dia mengerahkan hawa murninya untuk melindungi jantung kemudian menyambut datangnya serangan itu dengan kekerasan.

Dimana angin pukulan Sihun ciang tersebut menyambar lewatm segulung hawa dingin yang menyusup tulang langsung menerjang ke tubuhnya. Tong Thian hong segera berpikir:

"Ternyata tenaga pukulan Si hun ciang adalah sejenis tenaga pukulan yang khusus dipakai untuk menghancurkan nadi orang, sungguh hebat sekali kecerdasan Nyo Hong ling, ternyata dalam satu bentrokan saja sudah berhasil mengetahui ciri-ciri kekejaman ilmu pukulan ini"

Berpikir demikian, tubuhnya segera berputar putar pelan jatuh ke atas tanah. Demikian dari empat orang yang hadir di situ tinggal Buyung Im seng seorang yang belum roboh, ini membuat keberanian Si hun ciang Kim Cok bertambah besar, sambil tertawa tergelak segera serunya: "Buyung kongcu, apakah kau ingin sekali bertemu dengan anggota Sam seng bun ?" 

"Yaa, dimana orangnya ?" "Akulah orangnya ?" "Saudara Kim ?"

"Betul, selain aku juga Ong Thi san dan si manusia macan kumbang Li Tat semuanya adalah orang-orang Sam seng bun!"

Setelah tertawa gelak, terusnya: "akupun pernah mendengar tentang para Hoa-li dari perguruan Biau hoa bun, aku mendengar ilmu silat mereka rata-rata sangat lihay, sungguh tak disangka mereka tak lebih hanya manusia-manusia lemah yang tak sanggup untuk menyambuti sebuah seranganku pun"

Setelah menengok sekejap ke arah Nyo Hong ling dan Ki Li ji yang menggeletak di tanah lanjutnya: "Tentu saja Buyung kongcu jauh lebih tangguh dari pada mereka, tapi bila ingin mempergunakan bantuan dari beberapa orang ini untuk membantumu membalas dendam, aai... Hakekatnya perbuatan itu seperti orang yang lagi mengigau!"

"Ilmu apakah yang telah kau gunakan untuk melukai mereka." "Si hun ciang khusus suatu ilmu pukulan penghancur nadi!"

"Apakah saudara Kim juga telah bersiap siap untuk menjajalkan pula ilmu pukulan Si hun ciang tersebut di atas tubuhku ?"

"mungkin kalau cuma aku seorang belum bisa menandingi kehebatan kongcu, cuma aku tidak bermaksud untuk bertarung satu lawan satu melawan dirimu"

"Kalau begitu kau bermaksud untuk bermain kerubutan?"

"Benar, aku bermaksud untuk bertarung melawan kongcu dengan jalan mengerubut, kecuali kongcu bersedia untuk menyerahkan diri"

Buyung Im seng mengalihkan sinar matanya untuk meneliti sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil berpaling katanya: "kecuali kau, Ong Thi san dan Pa Jin Li Tat, masih ada siapa lagi ?"

"Dua puluh orang jago lihay telah mempersiapkan diri di balik ruangan ini, asal aku memberi tanda, maka serentak mereka munculkan diri dari empat arah delapan penjuru dan bersama menyerang diri kongcu"

Buyung Im seng segera memutar otaknya mencari akal guna menghadapi situasi ini.

Tiba tiba menyaksikan Kim Cok memberi tanda dengan ulapan tangannya. Ditengah kegelapan tampak cahaya golok berkilauan, benar juga, dari balik kegelapan di luar ruangan sana segera bermunculan belasan orang lelaki kekar berpakaian ringkas yang bersenjata golok.

Sambil tertawa terbahak bahak kata Kim Cok: "sekarang kongcu tentunya sudah percaya bukan ?" Tiba tiba sambil menarik muka, katanya lagi dengan dingin: "Aku percaya kongcu mempunyai kemampuan untuk menerjang keluar dari kepungan kami, tapi kedua orang temanmu dan pembantumu itu sudah pasti tak akan mampu untuk melakukan perjalanan bersama, bila kongcu sudah tak ambil peduli 

lagi terhadap keselamatan mereka silahkan saja untuk melangsungkan pertarungan"

"Kami akan baik-baik melayani diri kongcu serta teman dan pelayanmu itu!" Selanjutnya ?"

"Aku akan segera mengirim burung merpati untuk melaporkan kejadian ini ke Seng Thong dalam satu dua hari pasti ada surat perintah dari Malaikat untuk menyelesaikan diri Kongcu, jadi aku tak bisa memutuskan sendiri persoalan ini." "Mereka sudah terluka oleh ilmu pukulan Si hun pian apakah kau bisa menyembuhkan lukanya itu ?"

"Bila bersedia untuk menyerahkan diri, tentu saja akupun akan menyadarkan mereka, tapi bila kongcu sudah lolos dari kepungan, maka sahabat dan pelayan saudara itu tak usah kulaporkan ke Seng thong lagi, siapa tahu kalau kita akan segera menghukumnya di sini juga"

"Agaknya mereka terlalu menilai tinggi diriku!" Buyung Im seng kemudian.

Dia lantas berlagak agak sangsi, setelah memandang sekejap ke arah Nyo Hong ling berdua serta Tong Thian hong, sambil menghela napas katanya: "Baiklah! Apa yang hendak kau lakukan atas diriku ?"

"Tadi toh aku sudah berkata, akan ku sambut kongcu dan teman temanmu secara baik baik." jawab Kim Cok sambil tertawa: "Cuma... "

"Cuma bagaimana ?" tanya Bunyung Im seng dengan suara dingin. "Cuma aku harus menotok jalan darah kongcu !"

"Menotok jalan darahku ?"

"Benar kalau kongcu tidak bersedia untuk kutotok jalan darahnya, itu berarti kau tak mau menyerahkan diri, maka pembicaraan kita tadi pun menjadi sama sekali tak ada gunanya."

"Bila jalan darahku tertotok, waktu itu aku benar-benar akan menuruti semua perkataan tanpa bisa melawan, aku tak bisa menyanggupi permintaannya itu" Terdengar Kim Cok telah berkata lebih jauh: "Bila kongcu tidak bersedia kutotok jalan darahnya, masih ada sebuah cara lagi yang lebih bagus"

"Apakah caramu itu ?"

"Akan ku ikat sepasang tangan kongcu dengan tali otot kerbau !"

Buyung Im seng kembali berpikir: "Andaikata mereka belum terluka, sekalipun sepasang tanganku diikat juga tidak menjadi soal" Berpikir demikian, dia terus mengiakan.

"Kalau Kim Heng memang begitu tak percaya dengan diriku, agaknya hanya cara ini yang bisa dilakukan."

"Kelicikan dunia persilatan terlalu mengerikan, kongcupun demikian pula terlalu halus, tapi aku tak bisa tidak harus sedia payung sebelum hujan, kita memang 

selisih usia puluhan tahun, tapi kalau siaute sampai mengalami perahu yang terbalik di selokan, bukankah kejadian ini akan ditertawakan orang ?" Menyaksikan kegembiraan orang, Buyung Im seng merasakan kemarahannya berkobar, tapi ia tetap menahan diri untuk tak sampai mengumbar kemarahan tersebut, Kim Cok segera memberi tanda, kemudian katanya: "Buyung kongcu bersedia menyerahkan diri, mengapa kalian tidak maju ke muka untuk mengikat tangannya?"

Buyung Im seng tertawa dingin, pelan-pelan dia meluruskan tangannya ke depan. Dua orang lelaki berbaju hitam segera tampil ke depan, kemudian dengan seutas tali otot kerbau mengikat sepasang tangan Buyung Im seng erat erat.

Kim Cok memandang sekejap ke arah Nyo Hong ling sekalian, kemudian serunya pula: "Masih ada beberapa orang itu, sekalian diikat juga !"

Dengan gusar Buyung Im seng segera berseru: "Orang She Kim, perkataanmu masuk dalam hitungan tidak?"

"Perkataan apa ?" Jawab Kim Cok sambil tertawa seram. "Kau sudah bilang, bila aku menyerahkan diri mengapa kau malahan mengingkari janji?"

"Itulah kesalahan kongcu sendiri !" "Kesalahan aku sendiri ?"

"Kita kan sedang berhadapan sebagai musuh, dalam keadaan demikian pembicaraan apalagi yang bisa dipercaya? Jika sebelum kongcu menyerahkan diri tadi minta kepadaku untuk menyadarkan teman dan pelayanmu itu lebih dulu terdesak oleh keadaan mungkin aku akan menuruti janji sayang sekali ternyata kau tak pandai menggunakan kesempatan, sekarang tanganmu juga telah dibelenggu, apakah aku musti memenuhi janjimu lagi...?"

"Kau amat rendah dan hina!" teriak Buyung Im seng gusar.

"Kalau tidak mengalami suatu kejadian, kecerdasanmu tak akan bertambah matang, andai kata kongcu masih mempunyai kesempatan untuk hidup lebih maju, nasehatku ini pasti akan banyak bermanfaat bagimu."

Diam-diam Buyung Im seng mencoba untuk mengerahkan tenaga dalamnya, tapi otot kerbau yang membelenggu tubuhnya itu sangat kuat sekalipun memiliki tenaga dalam yang lebih sempurna pun jangan harap bisa mematahkannya.

Sementara itu kedua orang lelaki kekar tadi sudah bekerja cepat, dalam waktu singkat Nyo Hong ling bertiga sudah dibelenggu juga.

"Bimbing mereka bangun !" teriak Kim Cok.

Empat orang lelaki kekar segera lari maju dan masing-masing membimbing bangun seorang diantaranya.

Kim Cok maju ke depan dan menghantam punggung Tong Thian hong lebih dahulu. Melihat itu, dengan terkejut Buyung Im seng segera berseru: "Hey apa yang kau lakukan ?"

Kim Cok tertawa, sahutnya: "Kongcu amat cerdik, sampai pelayanmu pun lihay sekali, sedang kedua orang hoa-li dari Biau hoa-bun tersebut bisa melakukan 

perjalanan bersama Buyung Kongcu, ini menandakan kalau merekapun bukan manusia sembarangan, aku tidak percaya kalau mereka bisa jatuh pecundang di tanganku secara gampang, maka aku harus menyadarkan mereka lebih dulu untuk ditanyai lebih jelas !"

Buyung Im-seng merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya. "Orang ini benarbenar sangat licik, aku hampir saja terkecoh di tangannya... !"

Tampak sepasang tangannya bekerja cepat secara beruntun dia melepaskan pula sebuah pukulan ke atas punggung Nyo Hong ling serta Ki Ji ji, tak lama kemudian mereka bertiga pun secara beruntun sadarkan diri.

Buyung Im seng kembali berpikir. "Dari antara kami, ilmu silat Nyo Hong ling terhitung paling lihay, entah apakah dia sanggup untuk memutuskan otot kerbau tersebut atau tidak ?"

sementara itu Nyo Hong ling telah membuka sepasang matanya, ia memandang sekejap ke arah Kim Cok kemudian memandang pula ke arah Buyung Im seng, setelah itu pelan-pelan ia memejamkan kembali matanya.

Kim Cok segera tertawa terbahak bahak, serunya: "Kalian bertiga telah pulih kembali kesadarannya seperti sedia kala, tak usah berlagak lagi."

Tiba-tiba suaranya berubah menjadi dingin menyeramkan, serunya lebih jauh: "Kalian akan berjalan sendiri masuk ke dalam ruangan, ataukah membutuhkan bantuanku ?"

Nyo Hong ling memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian berjalan lebih dulu menuju ke ruang tengah.

Ki Li ji, Tong Thian Hong dan Buyung Im seng secara beruntun ikut pula masuk ke dalam ruangan.

Lim Cok berjalan dipaling belakang, sikap hormatnya tadi kini sudah tidak nampak lagi, dengan gaya yang sok dia duduk dikursi utama kemudian serunya: "Manusia yang tahu keadaan dia barulah orang yang pandai, aku tak ingin menyusahkan kalian beberapa orang, tapi akupun tak ingin disusahkan oleh kalian semua." Sementara pembicaraan masih berlangsung ke empat orang lelaki berbaju hitam tadi sudah ikut masuk pula ke dalam ruangan dan berdiri disamping dengan tangan lurus ke bawah.

Buyung Im seng berpaling dan memandang sekejap ke arah empat orang lelaki itu, kemudian ujarnya: "apa yang kami ketahui sangat terbatas sekali, bila kau ingin menanyakan sesuatu, tanyakan saja !"

Kim Cok segera tertawa terbahak bahak: "Haaahh... haaahh.. haaahhh... kongcu memang seorang manusia pintar yang amat bijaksana, persis seperti ayahmu dulu, aku merasa amat kagum."

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya. "Kedatangan kalian berempat ke utara kali ini sudah pasti ada tujuannya, dapatkah kongcu menjelaskan tujuanmu itu ?" Buyung Im seng segera berpikir didalam hati: "Tampaknya aku harus mencari akal untuk mengarang suatu cerita bohong..." 

Belum sempat ia menjawab, Tong Thian hong telah menyela lebih dahulu. "Kongcu kami telah mengajak beberapa orang teman untuk mengadakan suatu pertemuan, secara kebetulan saja lewat di sini."

Kim Cok segera manggut-manggut: "Baik ! Siapa saja yang hendak kalian temui itu

?"

Rupanya Tong Thian hong kuatir kalau Buyung Im seng tak sanggup memberi jawaban, maka sengaja dia memberi kata pembukaan agar pemuda itu bisa melanjutkan karangan cerita bohongnya. Sebagai seorang pelayan sudah tentu ia tidak bisa banyak bicara, kuatir jejaknya malah dicurigai orang, maka katanya kembali: "Soal itu mah... aku kurang tahu."

"Kau amat jujur, bila berkata lebih jauh belum tentu lohu akan mempercayai perkataanmu itu."

Sinar matanya segera dialihkan ke wajah Buyung Im seng, kemudian katanya kembali: "Pelayan Kongcu telah membocorkan tujuanmu, aku lihat kongcu tak bisa tidak harus berbicara lebih lanjut."

Buyung Im seng termenung sampai lama sekali, kemudian dia baru berkata: "Aku ada janji dengan beberapa orang teman ayahku dulu."

"Sin Cu sian dan Lui Hoa hong ?"

Buyung Im seng diam-diam berpikir: "Aku pernah membuat keonaran di kota Hong ciu, sudah pasti orang-orang Sam seng bun mendengar akan kejadian ini, asal dia percaya saja aku harus mengarang cerita yang lebih bagus lagi."

Berpikir demikian, diapun lantas berkata: "Yaa, mereka telah mencarikan beberapa orang sahabat lagi bagiku !"

Kim Cok tersenyum. "Apakah mereka juga telah berangkat ke kota Hong ciu semua

?"

"Benar, mereka sudah berangkat dua hari lebih pagi."

"Ehmm... dalam pertemuan yang akan diselenggarakan ini, siapa saja yang akan turut menghadirinya ?"

"Dua orang pamanku yang mengatur kesemuanya ini, mereka tidak menyinggung soal nama-nama mereka."

"Sin Cu sian, Lui Hua hong dan ayahmu adalah saudara angkat, tentu saja mereka akan membantumu dengan sepenuh tenaga, cuma aku tidak percaya kalau mereka tidak memberitahukan kepadamu, siapa-siapa saja yang telah diundangnya untuk menghadiri pertemuan itu."

Kembali Buyung Im seng berpikir: "Kalau ku sebut dua nama secara sembarangan bisa jadi rahasia kebohonganku bakal ketahuan, lebih baik berkeras mengaku tidak tahu saja... "

Dia lantas menggelengkan kepalanya seraya berseru: "Kalau kedua pamanku itu tidak menyinggung dan akupun tidak banyak bertanya, dari mana bisa kuketahui nama-nama mereka ? Mau percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri, itu kan urusanmu sendiri." 

Sambil tersenyum Kim Cok lantas manggut-manggut. "Ehmm... tampaknya memang bohong." ia berkata: "tapi Sin Cu sian dan Lui Hua hong memang kelewat gegabah, mengapa ia begitu tega membiarkan kau pergi seorang diri ? Aaai,

seandainya salah satu diantara mereka berdua ada yang mengikuti di sampingmu, rasanya malam ini sulit bagiku untuk menangkap kongcu"

"Bila sampai waktunya aku belum juga sampai di sini, mereka pasti akan berangkat untuk datang mencariku."

"Tak menjadi soal." tukas Kim Cok: "Kongcu tak akan berdiam terlalu lama di sini, paling cepat besok pagi, paling lambat besok malam Kongcu akan berangkat meninggalkan tempat ini"

"Kau hendak membawa aku kemana ?" tanya Buyung Im seng pura-pura amat cemas.

"Sampai waktunya Kongcu pasti akan tahu dengan sendirinya !" setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, lanjutnya: "Bawa mereka ke dalam penjara batu!"

Pembantu pembantunya mengiakan, masing-masing membawa seorang dan menuju keluar, Buyung Im seng tertawa dingin, dia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi kemudian niat itu dibatalkan.

Kim Cok mengelus jenggotnya sambil tertawa katanya: "Kongcu terhadap sahabat dan pelayanmu itu aku tak akan risau, tapi aku harap kongcu bisa memikirkan pula keselamatan mereka bertiga, aku minta kau jangan sembarangan berkutik.

Bagus sekali. pikir Buyung Im seng, "rupanya semua pikiran dan perhatiannya hanya ditujukan padaku seorang"

Sementara itu Ong Thi san telah berjalan datang dengan langkah lebar kemudian katanya: "saudara Kim, cukupkah hanya membelenggu tangan mereka saja ?" "Menurut pendapat saudara Ong?"

"Lebih baik kalau ilmu silatnya dipunahkan saja!"

Kim Cok berpikir sebentar, lalu katanya: Aku rasa tidak perlu, yang kita kuatirkan hanya Buyung Kongcu seorang, sisanya yang tiga orang tak perlu dikuatirkan, apakah saudara Ong telah melepaskan merpati pos?"

"Secara beruntun aku telah melepaskan tiga ekor burung merpati pos, paling lambat besok tengah hari kita sudah akan memperoleh surat perintah dari atasan" Buyung Im seng berempat digusur oleh ke empat orang lelaki itu menuju ke sebuah tebing karang di belakang perkampungan sambil membuka sebuah pintu baja, serunya: "Harap kalian berempat masuk sendiri" Tong Thian hong, Nyo Hong ling, Ki Li ji dan Buyung Im seng secara berurutan lantas masuk ke dalam gua batu itu. "Blaamm. " diiringi suara keras pintu baja itu ditutup rapat. Gua tersebut adalah

sebuah gua batu yang dalamnya dua kaki dinding di sekeliling gua itu berupa batu karang yang keras. 

Tong Thian hong langsung berjalan menuju ke ujung gua itu, kemudian pelan pelan duduk. "Li ji, kau terluka?" tanya Nyo Hong ling lirih.

Ki Li ji menggelengkan kepala berulang kali "Begitu mendapat petunjuk dari nona, aku lantas mengarahkan tenaga untuk melindungi nadi" katanya "Meski badanku terasa kurang enak setelah makan pukulannya, namun setelah ku atur pernapasan secara diam-diam, kesehatan badanku sekarang telah pulih kembali seperti sedia kala"

"Asal kita tak ada yang terluka, tak usah merasa khawatir lagi." kata nyo Hong ling kemudian.

"Tapi otot kerbau yang membelenggu tangan kencang sekali, aku rasa tidak gampang untuk memutuskannya" kata Buyung Im seng.

Nyo Hong ling segera tersenyum. "Tak menjadi soal" katanya "Asal menggunakan ilmu penyusut tulang, tidak sulit untuk melepaskan ikatan otot kerbau tersebut

dari tangan, tapi dewasa ini aku tak akan melepaskan ikatan pada tangan kalian itu"

Buyung Im seng lantas berpaling ke arah Tong Thian hong sambil bertanya. "Saudara Tong, kau bisa menggunakan ilmu menyusut tulang?"

Tong Thain hong gelengkan kepalanya berulang kali.

"Siaute belum pernah melatih kepandaian seperti itu!" Buyung Im seng lantas menengok ke luar, tampak dua buah lentera tergantung dimulut pintu penjara dan menerangi lima enam jengkal di sekeliling pintu tersebut.

Melihat itu, sambil tersenyum lantas ujarnya: "kim Cok kuatir sekali kalau kita kabur, sekalipun dia berhasil menangkap kita tapi pikirannya justru makin gundah dan tidak tenang oleh sebab itu dia berusaha secepatnya menghantar kita pergi, aku pikir kita bisa jadi akan dipisah-pisah, bila otot kerbau yang membelenggu kita sekarang tidak dilepas, andaikata besok terjadi suatu perubahan, kita akan terlambat untuk melepaskan diri dari belenggu ini"

Nyo Hong ling termenung sebentar, kemudian katanya: "Jika belenggu itu kita lepas dalam sekilas pandangan saja orang akan mengetahui akan hal itu. Begini saja! Akan kuberi kalian seorang sebilah pisau kecil yang kalau digenggam ditangan tak sampai ketahuan mereka, seandainya ditengah jalan kita menjumpai hal-hal diluar dugaan dan tak bisa saling menolong segera patahkan otot-otot kerbau tersebut dengan pisau itu"

"Ya, tampaknya memang kita harus berbuat demikian"

Tiba-tiba sepasang tangan Nyo Hong ling yang terbelenggu itu menyusut dengan sendirinya, ketika tangannya digoyangkan berulang kali, maka tali itupun lolos dengan sendirinya.

Meskipun tangannya sudah lolos dari belenggu, namun tali otot kerbau itu masih tetap utuh seperti sedia kala. 

Nyo Hong ling segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan tiga pisau yang amat tajam, sambil diserahkan ke tangan tiga orang itu, katanya sambil tertawa:

"Pisau ini terbuat dari besi baja yang telah berusia seribu tahun, tajamnya luar biasa di pakai memecahkan ilmu khikang sebangsa ilmu Kin ciong kay, Thi pu san dan lain lainnya aku membawa enam bilah untuk persiapan, aku harap kalian bisa baik baik menyimpannya dan jangan sembarang dibuang"

Tiga orang itu manggut-manggut dan segera di simpan dalam cekalan tangan. Nyo Hong ling segera mengerahkan kembali ilmu menyusut tulangnya untuk mengenakan kembali tali belenggu tangannya itu. Keesokan harinya mendekati tengah hari Kim Cok, Ong Thi san dengan membawa empat orang anak buahnya dengan bersenjata lengkap berjalan masuk ke dalam penjara.

Tampak Nyo Hong ling sekalian duduk bersandar di atas dinding batu, selain Buyung Im seng hampir boleh di bilang yang lain berada dalam keadaan lemas dengan mata pudar, keadaan mereka seperti orang yang keletihan.

Kim Cok segera tertawa terbahak bahak katanya: "Saudara Ong, bagaimana ? Tidak meleset dari dugaanku bukan?"

"Menurut pendapatku lebih baik bersikaplah lebih berhati hari!" X ooOoo X

* BAGIAN KE TIGA *

KIM Cok kembali menggelengkan kepala berulang kali katanya: "Asal seorang sekali dan dua orang perempuan ini dibiarkan kelaparan barang dua hari lagi, sekalipun tidak mati juga sudah hampir, bila kita putuskan nanti mereka kemungkinan besar ketiga orang itu takkan tahu sampai di Seng thong. Satu satunya yang paling menakutkan adalah Buyung kongcu, tetapi dalam firman yang kita dapat dengan jelas diterangkan bahwa kita tak boleh melukainya terpaksa kita harus membawanya dengan kurungan besi ditambah dua buah rantai baja yang kuat."

Sambil bercakap cakap dengan Kim Cok sepasang mata Ong Thi san tiada hentinya mengawasi ke empat orang tersebut, ketika kelihatannya otot kerbau yang membelenggu tangan mereka masih utuh dan tak kelihatan bekas putus, dia baru menghembuskan napas panjang. 

"Mungkin Kim Heng memang benar, siaute yang kelewat banyak curiga!" Sinar mata Kim Cok segera dialihkan ke tubuh Buyung Im seng kemudian sambil tertawa katanya:

"Cuma, Buyung kongcu adalah seorang yang tahu gelagat, aku rasa kau pasti tak akan menyusahkan kami bukan ?" Dengan kemarahan yang berkobar kobar, Buyung Im seng berkata dingin.

"Kesuksesan yang berhasil dicapai seorang laki-laki sejati didapat dengan merangkak selangkah demi selangkah, soal kecil itu mah tak akan sampai menodai namaku" 

"Benar, benar sekali perkataanmu itu !" kata Kim Cok sambil tertawa, seorang lelaki sejati dia harus pandai menyesuaikan diri, itulah sebabnya aku minta kongcu jangan mengacau kami sepanjang jalan nanti " Buyung Im seng mendengus dingin dan tidak menggubris lagi.

Paras muka Kim Cok berubah hebat, dengan dingin katanya: "Saudara berempat silahkan keluar ! Buyung kongcu harap berjalan yang paling muka. "Buyung Im seng bangkit berdiri dan keluar dari penjara dengan langkah lebar.

Empat buah kerangkeng besi yang terbuat dari baja sebesar lengan telah tersedia di depan pintu, kerangkeng-kerangkeng itu berada dalam keadaan terbuka lebar.

Buyung Im seng langsung masuk ke dalam kerangkeng yang pertama, sedangkan Nyo Hong ling, Ki Li ji dan Tong Thian hong berurutan masuk pula ke dalam kerangkeng lain.

"Pasang gembokan !" perintah Kim Cok sambil mengulap tangannya. Ke empat orang lelaki itu segera mengiakan dan menutup pintu besi, kemudian diberi pula gembokan besar yang beratnya sekitar lima belas kati. Didalam kerangkeng besi itu terdapat sebuah kursi, jadi orang yang berada dalam kurungan itu bisa duduk. "Turunkan tirai!" perintah Kim Cok lagi. Empat orang lelaki itu segera

menurunkan tirai yang sudah dipersiapkan di atas kerangkeng itu sehingga pemandangan di empat penjuru sama sekali tertutup. Tirai yang diturunkan itu sangat tebal, sehingga begitu diturunkan maka pemandangan menjadi gelap. Terdengar Ong Thi san berseru dengan gembira "Kim heng, segala sesuatunya berjalan amat lancar!"

Kim Cok tertawa terbahak bahak: "Haaah... Haaah... haaahhh... kalau saudara Ong masih banyak curiga, baiknya siaute menghantar keberangkatan saudara Ong saja" Tiba-tiba terdengar Ong Thi san berkata dengan suara lantang. Buyung Kongcu, kami mendapat perintah dari atasan untuk tidak melukai dirimu, tapi dalam surat perintah tersebut juga diterangkan bahwa andai kata kongcu melawan terpaksa kami hanya akan menghantar mayat kongcu saja kesana.

Dua belas orang jago lihai lain berilmu tinggi juga membawa bwe-hoa ciam yang sangat beracun, asal kongcu melakukan tindakan pembangkangan dua belas buah tabung bwe hoa ciam segera kana memuntahkan enam puluh batang jarum beracun dari empat arah delapan penjuru, bagaimanapun tingginya ilmu silat kongcu,

jangan harap bisa meloloskan diri dengan selamat" "Aku sudah mendengarnya"

"Kalau sudah mendengar, itu lebih baik lagi, mari kita berangkat.

Buyung Im seng segera merasakan kerangkeng itu digotong orang bergerak ke depan. Lebih kurang satu jam kemudian, berputarnya roda kereta beriring maju ke depan.

Berada dalam keadaan begini, selain ke empat orang itu tak dapat saling memandang ke arah rekannya, pemandangan di sekeliling tempat itupun tak dapat dilihat. 

Diam-diam Buyung Im seng berpikir. Nyo Hong ling memiliki ilmu menyusut

tulang, bisa saja dia melepaskan diri dari belenggu otot kerbau itu secara gampang, tapi entah bagaimana dengan Ki Li ji dan Tong Thian hong ? Apakah mereka juga berhasil memutuskan otot kerbau yang membelenggu tangannya..."

Sementara itu dalam hatinya sedang berpikir tiba-tiba iringan kereta kuda itu terhenti secara tiba-tiba. Menyusul kemudian terdengar seseorang berseru dengan suara yang keras dan kasar: "Tinggalkan ke empat buah kereta itu, kalian boleh melanjutkan perjalanan !"

Kim Cok segera tertawa terbahak bahak: "Haah... haaah... hahhhh... sobat, tahukan kau isi kereta ini ?"

"Sepuluh laksa tahil perak ditambah dengan sepeti barang mustika, kalau kami tidak mendapatkan infi yang bisa dipercaya, buat apa datang menghadang kepergian kalian ?"

"Bagus sekali! Sobat, pentang matamu lebar-lebar, perhatikan kami baik-baik, jangan dianggap kami adalah orang piaukiok, aku orang she Kin sudah puluhan tahun berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah aku makan sesuap nasipun dari perusahaan pengawalan barang."

Suara yang kasar dan nyaring itu kembali berkata dengan dingin: "Kami tak punya waktu untuk ribut dengan kalian lagi, jika kamu sekalian tidak meninggalkan barang-barang kawalanmu, terpaksa kita musti beradu kekuatan lewat ilmu silat." "Budak-budak yang tak bermata, barang milik sam seng bun juga berani diincar..." "Trang... !" suatu bentrokan senjata yang keras sekali memotong ucapan Kim Cok selanjutnya.

Menyusul kemudian terjadilah suatu bentrokan senjata yang keras sekali berkumandang dari empat arah delapan penjuru.

Jelas pembegal-pembegal itu sudah mempersiapkan orangnya disekitar sana, begitu perintah penyerangan diturunkan, dua terus menyerbu bersama dari empat

penjuru.

Buyung Im seng merasa amat murung pikirannya. "Entah siapakah mereka ? Mengapa menganggap kami sebagai uang yang akan dibegal?"

Saking ingin mengetahui keadaan, dia berusaha untuk menarik kain tirai hitam yang menutup kerangkengnya itu dengan kedua jari tangannya.

Tapi tirai tersebut amat kuat dan sulit disingkap, sebab rupanya kain hitam itu dikerudungkan dari atas kerangkeng besi itu sampai ke bawah, dengan begitu sulitlah untuk menyingkapnya.

Buyung Im seng segera menghela napas panjang, perasaan ingin tahunya yang begitu keras terpaksa hanya ditekan dalam hatinya saja, kain kerudung yang ditarik tadipun segera dilepaskan kembali.

Karena tak dapat melihat pemandangan di luar, terpaksa dia harus memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan dengan seksama. 

Terdengar suara bentrokan senjata berlangsung amat seru dan gencar, bahkan sering terdengar jeritan-jeritan kesakitan yang memilukan hati, jelas pertempuran yang sedang berlangsung di luar amat seru.

Tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda yang keras, menyusul kereta yang ditumpanginya itu menerjang ke depan.

Tapi belum sampai beberapa kaki, tiba-tiba kereta itu menumbuk sesuatu dan terbalik, kerangkeng besi itupun turut terguling keluar dari atas kereta.

Kerangkeng besi itu berguling beberapa kali di tanah dan akhirnya berhenti, tapi dengan terjadinya peristiwa itu, kain hitam penutup tiraipun segera tersingkap lebar.

Buyung Im seng mencoba untuk memeriksa keadaan di sekelilingnya, dilihatnya dua ekor kuda yang menarik keretanya itu sudah roboh terluka parah, kereta itu sendiri menubruk pohon besar dan terbalik, tampaknya setelah terluka kuda itu lari kesakitan, akibatnya hilangnya kendali maka kereta itupun menubruk pohon.

Pertempuran sengit masih berlangsung di sekeliling tempat itu, dan orang manusia berkerudung sedang melangsungkan pertarungan sengit melawan Ong Thi san dan Kim Cok.

Dua belas lelaki yang mengiringi kereta tawanan itu ada delapan orang di antaranya yang terluka parah, empat orang sisanya masih memberi perlawanan yang sengit.

Pelan pelan Buyung Im seng bangkit dan duduk tampak dia tengah mengawasi juga pembegal tersebut, ternyata mereka semua mengenakan baju ringkas berwarna hitam dengan wajah masing-masing tertutup oleh kain hitam, senjata yang digunakan adalah sebilah pedang.

Ada beberapa orang manusia berbaju hitam yang terluka, sekalipun sedang membalut lukanya, mereka tidak melepaskan kain kerudung mukanya.

Terdengar jeritan-jeritan ngeri kembali berkumandang memecahkan kesunyian, empat orang pengawal terakhir yang masih memberi perlawanan itu akhirnya kena ditusuk juga oleh beberapa orang jago pedang berbaju hitam itu sehingga tewas.

Dengan demikian, selain Kim Cok dan Ong Thi san segenap anak buahnya telah ditumpas habis oleh penyerang-penyerang gelap itu, anehnya ternyata penyergappenyergap berbaju hitam itu sama sekali tidak mencampuri pertarungan sengit antara Kim Cok dan Ong Thi san melawan dua orang manusia berkerudung itu, sambil berpekik nyaring, mereka segera berlalu dari sana.

Buyung Im seng melihat ke arah lain, dia menjumpai ketiga kereta lainnya masih utuh dan berada ditempat, sedangkan Nyo Hong ling sekalian masih menunggu di atas kereta.

Sementara dia masih melamun, tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan bergema memecahkan keheningan, tiba-tiba Ong Thia san membalikkan badannya dan melarikan diri. 

Tampaknya manusia berkerudung itu telah bertekad untuk melakukan pembunuhan sampai keakar akarnya, dengan cepat ia mengejar dari belakang. Tampak Ong Thi san membalikkan tangan sambil melepaskan segenggam jarum tajam ke belakang.

Manusia berkerudung itu segera memutar pedangnya untuk memukul rontok jarum-jarum perak itu, tapi karena terhadang sebentar tadi, Ong Thi san telah memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur empat lima kaki lebih ke depan. Tampaknya ia sudah mengerahkan segenap kekuatannya untuk secepatnya melarikan diri, sungguh cepat gerakan tubuhnya...

Manusia berkerudung itu seperti tahu bahwa dikejarpun tak ada gunanya, sekalipun kurang berkenan dalam hatinya, terpaksa dia hanya bisa memandang bayangan punggung Ong Thi san hingga lenyap tak berbekas.

Akhirnya dia membalikkan badannya dan ikut terjun karena pertarungan untuk mengerubut Kim Cok.

Buyung Im seng kembali berpikir dihati: "Manusia berkerudung ini entah berasal dari mana ? Serangan mereka sungguh amat keji, tampaknya aku tak bisa duduk termenung sambil memasrahkan diri"

Berpikir di situ, dia lantas mengeluarkan pisau kecil yang disembunyikan dalam genggamannya itu dan cepat-cepat memotong tali otot kerbau yang membelenggu tangannya itu.

Baru saja tali otot itu di putuskan dua orang manusia berkerudung itu telah berhasil membunuh Kim Cok kemudian bersama sama menghampirinya. Kemunculan kawan manusia berkerudung itu terlalu tiba-tiba, Buyung Im seng sendiripun tak bisa menentukan mereka adalah kawan atau lawan, terpaksa hawa murninya dikerahkan keluar sambil bersiap siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Dua orang manusia berkerudung itu berjalan ke depan kerangkeng besi Buyung Im seng, kemudian menggerakkan pedangnya mematahkan gembokan di luar, setelah itu katanya: "Buyung kongcu, silahkan menolong rekan rekanmu dan cepatlah melarikan diri !" Dengan perasaan tercengang Buyung Im seng segera berpikir. "Bagus sekali! Rupanya mereka sudah mengenali diriku"

Ketika selesai berbicara tadi, kedua orang itu segera angkat kaki meninggalkan tempat itu, sedetikpun tidak mau berhenti.

"Hey, harap kalian tunggu sebentar!" teriak Buyung Im seng dengan lantang. Salah seorang diantaranya tiba tiba mempercepat larinya terbirit meninggalkan tempat itu.

Sedang lainnya berhenti, tapi ia tidak membalikkan tubuhnya.

"Buyung kongcu, kau masih ada urusan apa lagi?" tegurnya. "siapa namamu? Mengapa bisa tahu kalau aku ketimpa musibah dan sengaja datang menolongku ?" Manusia berkerudung itu belum juga membalikkan badannya, dia menjawab: "Pengaruh dan kekuatan Sam seng bun amat luas, anak buahnya sangat banyak, 

kini kongcu belum lagi meloloskan diri dari bahaya, maaf jika kami tak bisa memberikan identitas kami semua, lebih baik kongcu baik-baik menjaga diri, di lain waktu kau bakal tahu dengan sendirinya, nah selamat tinggal"

Tidak menunggu sampai Buyung Im seng berkata, cepat-cepat orang itu berlalu dari situ.

Tetapi teringat akan kebaikan orang lain, dia tak tega untuk mengucapkan sesuatu. Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Memandang punggung bayangan orang itu, Buyung Im seng menghempaskan napas panjang, baru saja dia akan membuka pintu kerangkeng besinya, tiba-tiba terdengar seseorang menghela napas dari belakang tubuhnya.

"Aaii...! orang yang membantumu sangat banyak, sayang kekuatan itu bercerai berai dan tak dapat dipersatukan"

Ketika ia berpaling, tampaklah orang itu tak lain adalah Nyo Hong ling.

Tampak kain kerudung kerangkeng besi lainnya berkarat pula, kemudian tampak Tong Thian hong dan Ki Li ji berlompatan keluar.

Jelas mereka sudah memotong tali otot kerbau yang membelenggu mereka dan menerjang keluar dari kerangkeng.

Sambil tertawa rikuh Buyung Im seng lantas berkata: "Orang-orang itu telah merusak rencana kita! saudara Buyung, dapatkan kau memberitahukan padaku, siapa gerangan orang-orang itu ?" tanya Tong Hian hong.

"aaii..., kalau kukatakan, mungkin kalian tak akan percaya " "Kenapa?"

"Sebab seperti juga saudara Tong, aku juga tidak tahu siapakah orang-orang itu?" Tong Thian hong menjadi keheranan: "Saudara Buyung juga tidak kenal ?"

Dari mimik wajahnya dapat diketahui kalau dia tidak percaya.

"Ucapan Buyung kongcu adalah kata-kata yang jujur." sela Nyo Hong ling, "Dia sendiri mungkin tak tahu siapa gerangan orang-orang itu."

"Ooooh... !" sekalipun Tong Thian hong tidak banyak bertanya lagi, tapi dari mimik wajahnya itu tampak sangat tidak puas.

"Asal usul beberapa orang itu tidak sulit untuk diduga." Pelan-pelan Nyo Hong ling melanjutkan.

"Apakah nona sudah tahu ?"

"Ya, mereka adalah orang-orang Sam seng bun" "Apa ? Orang-orang Sam seng bun ?"

"Betul, kedengarannya memang agak jengkel, tapi kalau diteliti lebih jauh tidak sulit untuk memahaminya, kita kan belum sehari ditawan mereka ? Selain orang

orang Sam seng bun, siapa lagi yang bisa mendengar kabar tersebut demikian cepatnya ?"

"Benar, dugaan nona memang masuk akal" Tong Thian hong manggut-manggut tanda setuju.

"Semasa masih hidupnya dulu. Buyung tayhiap adalah seorang yang arif bijaksana, banyak orang yang pernah menerima budi kebaikannya, meski Buyung tayhiap tidak membutuhkan balasan tapi mereka yang pernah menerima budinya pasti ingatnya terus dihati. Semenjak Buyung tayhiap terbunuh, terdesak oleh keadaan mereka terpaksa menggabungkan diri dengan Sam seng bun, tentu tak sedikit yang memperoleh kedudukan yang tinggi, maka ketika dapat kabar kalau Buyung Im Seng tertawan, serentak mereka mengumpulkan rekannya untuk memberi pertolongan, mungkin juga mereka kenal dengan Kim Cok, maka sengaja mukanya memakai kerudung hitam, kita tinjau cara kerjanya yang keji tanpa membicarakan seorang manusia hiduppun, sudah jelas kalau orang-orang itu kuatir rahasianya terbongkar..."

Kemudian sambil memandang ke wajah Buyung Im Seng, tersenyum sambil tertawa.

Dia bisa menyebutmu Buyung Kongcu secara langsung, ini menandakan kalau dia kenal denganmu."

Buyung Im seng tertegun, lalu katanya: "Perkataan nona memang singkat masuk diakal, cuma mereka telah meninggalkan kembali rencana kita !"

"Di dunia ini memang tiada sesuatu kejadian yang bisa di bilang amat sempurna, terpaksa kita harus menyusun suatu rencana lain yang lebih baik lagi... !"

"Masih adakah akal lain yang dapat membuat kita menyusup ke dalam perguruan Sam Seng bun ?"

"Ada sih ada, cuma harus menurunkan derajat saudara Tong dan Buyung Kongcu!" "apa maksudmu ?" tanya Tong Thian hong.

"Kau dan Buyung kongcu bisa menyamar sebagai kusir kereta dan tergeletak di sini pura-pura terluka, aku pikir pihak Sam-seng-bun dengan cepat akan mengirim orangnya kemari. Meskipun kedudukan kalian tidak terlalu tinggi, tapi berhubung cuma kamu berdua yang hidup demi memberikan pertanggungan jawab, kemungkinan besar kalian akan dibawa ke Seng-Thong"

"Akal ini memang bagus, tapi bagaimana dengan Hoa-cu serta nona Ki ?"

"Kami akan menyaru sebagai kalian berdua dan sengaja munculkan diri beberapa kali agar memancing perhatian orang-orang Sam-Seng-bun, kemudian baru mencari kesempatan lain untuk menyusup ke dalam Seng-thong mereka..." "Ehmm...! Ini dinamakan sekali tepuk dapat dua hasil, selain bisa membuat orang orang Sam-seng-bun mengira Buyung Kongcu dan pelayannya sudah kabur, juga dapat menghilangkan kecurigaan kepada kami"

"Inipun bisa membuka kesempatan buat kita untuk menyusup ke dalam lembah tiga malaikat" Nyo Hong ling menambahkan. 

"Setelah menyusup ke dalam lembah tiga malaikat, apa yang harus kami lakukan? Bagaimana mengadakan kontak ? Harap nona mengatur segala sesuatunya lebih dahulu."

Nyo Hong ling termenung sebentar, kemudian jawabnya: "Bagaimanakah keadaan dalam Sam-seng-bun, aku sendiripun tidak tahu, apa yang harus kalian lakukan lebih baik hadapi saja menurut keadaan waktu itu, sedang soal mengadakan kontak aku pikir tidak perlu, sebab bagaimanapun rahasianya cara kita mengadakan kontak, bisa jadi akan diketahui orang-orang Sam seng bun"

"Maksud nona dapat kupahami, setelah kami masuk ke dalam lembah tiga malaikat harus bekerja dengan kepandaian masing-masing untuk mengatasi kesulitan bukan ?"

"Yaa, inilah suatu pertaruhan, bahkan pertaruhan yang amat besar, kita sama sekali tidak memiliki keyakinan untuk menang, tapi kita harus menyerempet bahaya dengan mengandalkan kecerdasan serta keberanian kita sendiri." Buyung Im-seng menghela napas panjang.

"Aaai... kalau aku yang menempuh bahaya ini, hal mana sudah sepantasnya, tapi Tong heng dan nona berdua... "

"Aku bukan demi kau, aku berjuang demi Biau hoa bun ku sendiri" tukas Nyo Hong-ling, kalau kita tidak melawan kekuatan Sam-seng-bun, tak nanti Sam-sengbun akan melepaskan kami, itulah sebabnya kau tak usah merasa sungkan."

"Tapi Tong-heng kan tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan ini, agaknya dia tak perlu untuk turut menyerempet bahaya"

Tong Thian-hong memandang sekejap ke arah Ki Li-ji, kemudian katanya: "Tidak mengapa, sudah lama siaute menaruh perasaan ingin tahunya atas

perguruan Sam-seng-bun tersebut, aku ingin sekali bisa mendapat keterangan yang lebih mendalam tentang kekuatan itu"

"Tapi terlalu berbahaya!" bisik Ki Li-ji.

"Seorang manusia, bisa hidup sampai seratus tahunpun akhirnya akan mati juga, bila dapat menyingkap sedikit rahasia tentang kekuatan yang menguasai dunia persilatan sekarang, sekalipun harus mati juga tak akan menyesal."

Ki Li ji segera tertawa manis. "Kau sangat gagah..." pujinya. "Nona terlalu memuji."

"Aku berbicara sesungguhnya!" ucapan nona ini lembut dan penuh perasaan cinta. Nyo Hong ling ikut berkata pula: "Kalau memang saudara Tong memiliki kegagahan seperti ini, aku rasa saudara Buyung juga tak usah memikirkannya di hati lagi"

Setelah menghela napas panjang, terusnya: "Dewasa ini kecuali kita beberapa orang muda, kebanyakan jago-jago tua dan kaum locianpwe mungkin sudah tak seorangpun yang berani bermusuhan dengan pihak Sam-sen-bun lagi"

Beberapa patah kata ini segera mengobarkan semangat Buyung Im-seng dan Tong thian-hong, dia saling berpandangan sekejap lalu tertawa 

Nyi Hong-ling melihat waktu sejenak, kemudian katanya: "Waktu sudah tidak pagi lagi, kalian harus segera menyaru !"

"Hoa-cu dan nona Ki silahkan melanjutkan perjalanan ! Aku percaya kami masih sanggup untuk menyelesaikan persoalan ini."

"Aku percaya, dengan kepandaian yang kalian miliki sekarang, sekalipun dikepung orang-orang Sam-seng-bun, untuk meloloskan diri bukan suatu masalah sukar.

Ingat perkataanku, bila terjadi pertarungan jangan bertarung terlampau lama, kita hanya ingin tahu letak sarang mereka saja."

(Bersambung ke jilid 3) 
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 02"

Post a Comment

close