Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 24

Mode Malam
LIEM Toa Lek terperanjat saat inilah baru tahu silelaki itu sengaja berbuat demikian jasteru ingin memancing ia masuk jebakan bukannya keistimewaan itu sengaja dibuang.

Tampak bayangan senjata roda berkelebat silih berganti dan menerjang datang dari empat bagian delapan penjuru.

Baru baru Liem Toa Lek menggerakkan golok ditangannya berputar menciptakan selapis cahaya tajam melindungi seluruh badan.

“Sebagai seorang Cong Piauw Su yang mengepalai sebuah kantor cabang bagaimana pun juga kepandaian silatnya bukan termasuk kelas rendah.

 Tetapi siorang berbaju ringkas itu telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, angin desiran tajam menggulung keluar dari sepasang senjata roda yang berputar tiada hentinya itu, Liem Toa Lek beserta goloknya seketika terkurung didalam bayangan roda lawan.

“Sementara itu Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan dapat melihat keadaan tidak menguntungkan pihaknya permainan senjata roda lawan sangat lihay dan bila mana pertarungan ini dilanjutkan lebih jauh Liem Toa Lek pasti akan menderita kekalahan!

Diam diam Nyioo Su Jan melirik sekejap kearah si orang berjubah panjang, ketika itu jago tadi dengan bergendong tangan sedang menonton jalannya pertarungan ditengaa kalangan.

Wajahnya tertutup oleh kain kerudung hitam sehingga susah dilihat bagaimanakah perubahan wajahnya pada saat itu, namun dari sikapnya berdiri dapat ditarik kesimpulan kalau ia ada maksud berpeluk tangan menonton harimau berkelahi.

Nyioo Su Jan segera berbisik lirih ke pada rekannya, “Hu Cong Piauw tauw, kau perhatikan siorang berjubah panjang itu. Aku hendak membantu Liem Piauw su. Agaknya mereka berdua bukan berasal dari satu jalan. Ada dua orang kemungkinan sekali ada orang ketiga, kita harus paksa mundur salah satu di antaranya lebih dahulu.”

Poei Ceng Yan termenung sebentar,akhirnya ia mengangguk.

“Kau harus berhati hati!” Sambil tertawa Nyioo Su Jan mengangguk, ia segera melangkah kesisi kalangan dan berteriak keras, “Kantor cabang kota Kay Hong bukan tempat  untuk  beradu  kepandaian.  Kepandaian sahabat

 dalam permainan senjata roda sangat lihay, sayang kau sudah salah memilih tempat untuk berkelahi.”

Sementara itu permainan sepasang roda bergigi “Jiet Gwat Siang Loen” dari siorang berbaju ringkas itu makin dahsyat dan makin gencar, seketika memaksa perputaran cahaya golok Liem Toa Lek makin lama semakin menyusut.

Agaknya siorang berbaju ringkas itu ada maksud mempermainkan lawannya, ia tidak turun tangan keji terhadap orang she Liem sebaliknya mempermainkan senjata roda itu makin lama makin gencar dan memaksa cahaya golok Liem Toa Lek makin lama makin menyempit.

Ketika itu Nyioo Sn Jan sudah berada didekat kalangan, sepasang senjata Pan Koan pit dicekal ditangan siap turun tangan.

Tiba tiba seorang berpakaian singset itu merentakan sepasang rodanya kekedua belah samping perutnya, “Kawan, Apabila kau ada maksud membantu, kenapa tidak turun tangan saja secara berbareng “

Dalam hati kecil Nyioo Su Jan pada Kaktu itu sedang memikirkan bagaimana cara nya mencari alasan untuk ikut turun tangan, dengan berkumandangnya suara teriakkan itu ia segera meloncat masuk kedalam kalangan.

“Saudara besar benar ucapanmu….”

Sepasang pit dengan dahsyat segera di-tutul ke depan,Si orang berbaju singsat itu menggetarkan sepasang senjata rodanya menerima  serangan sepasang Pan Koan Pit dari Nyioo Su Jan tampaklah bayangan    roda    selapis    demi    selapis    berkelebat

 mengurung tubuh Nyioo Su Jan serta Liem Toa Lek kedalam kurungan.

Poei Ceng Yan yang melihat kejadian ini jadi tertegun diam diam pikirnya dalam bati.

“Kepandaian silat yang dimiliki Nyioo Su Jan tidak lemah. Dalam perusahaan Hauw Wie Piauw kiok lapun boleh disebut seorang Piauw su memiliki nama cemerlang, tapi permainan sepasang senjata roda serta perubahan jurus dari orang ini sungguh aneh dan luar biasa sekali, sekali pun sudah ditambah Nyio Su Jan seorang pun masih belum kelihatan ada perubahan…. keadaan tetap seperti Liem Toa Lek bergerak searang diri….sungguh lihay, sungguh lihay….”

Terasa bayangan senjata roda berkelebat silih berganti, deruan angin tajam memecahkan kesunyian. Nyioo Su Jan serta Liem Toa Lek pada waktu yang bersamaan merasa desakan tenaga tekanan amat dahsyat menekan mereka, senjata pit serta golok kena dipaksa sehingga harus menangkis dengan repotnya, mereka dipaksa berada dibawah angin.

Poei Ceng Yan yang menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan, hingga kini masih belum berhasil juga menemukan perubahan dari permainan senjata lawan. Tak terasa ia menghela napas, pikirnya.

“Kalau ditinjau dari kejadian ini hari agaknya para jago Bu-lim yang berkumpul didalam kota Kay Hong saat ini merupakan jago jago lihay semua.”

setelah melihat pertarungan itu selama beberapa jurus, Poei Ceng Yan mulai paham Bilamana pertarungan ini dibiarkan lebih jauh maka Nyioo Su Jan serta Liem Toa Lek-tak akan terhindar dari mara bahaya,

 sekali pun diri sendiri ikut terjun kedalam kalangan pun belum tentu bisa menolong situasi

Satu satunya harapan yang ada dalam benaknya saat ini adalah menantikan kemunculan Kwan Tiong Gak, serta mengenal asal usul duri orang orang ini.

Berpikir sampai disitu, tak terasa lagi ia membentak keras. “Tahan!”

Walaupun selama ini si lelaki berbaju ringkas yang bersenjatakan sepasang roda gigi berbasil merebut posisi diatas angin, namun ia selalu bersabar dan tidak turunkan tangan keji.

Kini, mendengar suara bentakan dari Poei Ceng Yan, ia segera menarik kembali senjatanya dan mundur lima langkah kebelakang.

“Ada urusan apa?” tegurnya.

“Permainan sepasang roda bergigi Cing Kang Jiet Gwat Siang Lun saudara betul betul luar biasa, ini hari boleh dihitung cayhe sudah membuka mata serta memperoleh banyak pengalaman.”

“Poei Hu Cong Piauw tauw terlalu memuji.” Sahut lelaki itu sambil tersenyum.

“Dengan andalkan permainan roda cayhe entah bisakah menjumpai Kwan Cong Piauw tauw dari perusahaan kalian?”

“Seandainya kau suka melaporkan nama, caybe tentu akan berusaha untuk melaporkan kehadiranmu.”

Orang berbaju ringkas itu seketika tertawa terbahakbahak.

“Poei Hu Cong Piauw tauw, kau tidak sudi mengundang  Kwan  Cong  Piauw  tauw  untuk  bertemu

 dengan cayhe. Aku takut di-kemudian hari kalian akan merasa amat menyesal,”

“Kenapa?” Poei Ceng Yan merasa tercengang. “Karena kantor perusahaan kalian sedang berada

dalam kancah suatu gelombang badai yang amat besar.”

“Oooouw….,!” seru Poei Ceng Yan sambil melirik sekejap kearah manusia berkerudung lainnya. “Kalau didengar dari nada ucapanmu. agaknya saat ini sudah terdapat banyak sekali kawan kawan kangouw yang mengurung kantor cabang perusahaan kami?”.

Selama ini si manusia berjubah panjang tetap bergendong tangan berdiri disisi kalangan, sikapnya seolah olah menunjukan perikatan yang sedang terjadi dalam kalangan sama sekali tiada hubungan dengan dia orang.

“Jikalau Poei Hu Cong piauw thaw tak bisa mempercayai perkataanku, terpaksa cayhe mohon diri!”.

“Kawan!” seru Poei Ceng Yan cepat cepat setelah mendehem sejenak. “Setelah membawa maksud datang kemari, kenapa buru-buru hendak berlalu?”

Ucapan ini diutarakan sangat keras. agaknya ia sengaja berbuat demikian agar Kwan Tiong Gak yang bersembunyi dalam ruangan dapat ikut mendengar.

Kiranya Poei Ceng Yan merasa urusan beruban semakin tegang, dan ia mengerti keadaan seperti ini tak dapat diselesaikan dengan kekuatan sendiri.

Si orang berjubah panjang yang selama ini berdiri tak berkutik, tiba tiba melirik sekejap kearah bangunan kecil itu, ujarnya dingin.

 “Kwan Tiong Gak, kau anggap dengan bersembunyi didalam bangunan kecil itu lantas bisa meloloskan diri dari bencana ini?” Suasana dalam bangunan kecil tetap sunyi tak kedengaran sedikit suara pun.

Poei Ceng Yan yang melihat kejadian itu hatinya jadi serba salah, pikirnya.

“Toako tidak menyahutnya ini menandakan untuk sementara waktu ia tak ingin munculkan diri, kalau aku buka suara mencegah perbuatannya bukankah hal ini sama artinya beritahu kepadanya kalau Kwan Toako memang benar bersembunyi dalam ruangan itu “

Terpaksa ia pura pura berlagak pilon dan membungkam dalam seribu bahasa.

Ketika si orang berjubah panjang itu tidak mendengar suara jawaban dari dalam ruangan, ia segera tertawa dingin.

“Kwan Tiong Gak, kau bersikap sembunyi sembunyi seperti cucu kura kura. Apakah tidak takut ditertawakan orang?”

Sembari berbicara tiba tiba badannya meloncat kedepan menerjang kearah bangunan rumah tersebut.

Melihat kejadian itu Poei Ceng Yan terperanjat, selagi ia siap meloncat kedepan untuk menghadang, tiba tiba terdengar suara desiran tajam bergema mamenuhi angkasa, anak panah bagaikan hujan gerimis beterbangan menyambar datang.

Nyioo Su Jan benar benar sangat handal disekeliling bangunan rumah itu ia sudah tanam banyak sekali ahli panah namun di luaran orang lain tak akan tahu disana sudah di persiapknn jago.

 Si orang berjubah panjang itu segera ayunksn tangan kanannya kedepan. serentetan cahaya hijau menyambar lewat. Tahu-tahu anak panah yang berada disekeliling tempat itu pada rontok ke atas tanah.

“Kawan!” seru Poei Ceng Yan sambil mendengus dingin, “Tempat ini adalah perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kami selamanya tidak memperkenankan orang lain bertingkah di sini!”.

Sembari berkata ia segera menerjang ke depan dengan dahsyatnya.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, si lelaki berpakaian singsat yang membawa senjata sepasang roda itu tahu tahu sudah mendahului Poei Ceng Yan menghadang jalan pergi orang berjubah panjang itu. serunya dingin,

“Perkataan dari Poei Hu Cong piauw tauw sedikitpnn tidak salah, perusahaan Hauw Wie piauw kiok selamanya tidak memperkenankan orang lain jual lagak disini”.

Perubahan yang telah terjadi secara mendadak ini, seketika membuat Poei Ceng Yan, berhenti dan berdiri melengak.

Dalam perkiraan Poei Ceng Yan. sekalipun mereka berdua tidak datang bersama sama namun tujuannya tentu sama. Siapa sangka kedua orang ini bukan saja tidak saling mongenal bahkan ada tanda tanda hendak saling bergebrak.

Walaupun Hu Cong Piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok ini tidak dapat memahami maksud tujuan kedua orang ini, namun dalam hati ia paham seandainya kedua orang ini saling bergebrak maka situasi tersebut akan sangat menguntungkan dirinya.

 Karena berpendapat demikian, iapun tidak turun tangan menghadang.

Terdengar si orang berjubah panjang itu tertawa dingin.

“Saudara, kau tak usah jual lagak, kau bisa mengelabui orang orang Hauw Wie piauw kiok namun tak bakal bisa mengelabui cayhe”

“Mau bicara katakanlah sampai puas, tetapi jangan harap kau bisa maju selangkah lagi!”.

“Jadi kau hendak menghadang jalan pergi ku?” “Sedikitpnn tidak salah” sahut orang berbaju ringkas

itu seraya ayunkan sepasang tangannya-

“Kalau kau ingin agar cayhe mundur, dari sini rasanya hanya ada satu cara saja yaitu kalahkan dulu permainan sepasang roda bergigi ini.”

“Haaaa…. haaa,…. haaaa…. apakah kau merasa bahwa permainan sepasang rodamu itu sudah tiada tandingan dikolong langit?”

“Jadi kau tidak percaya? Mari.,., mari kita coba-coba saja buktikan, perkataan siapa yang benar.”

“Boleh!” jengek si orang berjubah panjang itu sambil tertawa dingin. “Namun sebelum kita bergebrak, cayhe ingin terangkan dulu dua persoalan .,….”

“Cepat katakan. Kau tak usah ulur waktu lebih lama lagi, karena hal ini tidak akan mendatangkan keuntungan bagimu.”

“Kenapa?”

 “Karena sebentar lagi, kemungkinan besar bala bantuan cayhe akan tiba disini” jawab siorang berbaju singset sambil memantang keadaan cuaca.

“Sama, sama,,…. sama, sama…. kau tak bisa menggertak diriku….”

Terdengar ia merandek sejenak, lalu samBungnya lebih jauh. ,

“Setelah kita saling bergebrak maka pertarungan ini adalah suatu pertarungan yang menentukan mati hidup kita. Kalau bukan kau yang mati maka akulah yang binasa, jikalau saudara tidak ingin jadi setan bodoh, lebih baik tanya dulu siapakah namaku.”

“Semisalnya kau suka menyebutkan namamu, aku akan pentang telinga untuk mendengarkan.”

“Ada satu soal lagi harus kau ketahui dulu, setelah aku beritahukan namaku, maka kaupun harus ucapkan pula siapakah namamu.”

“Bagus sekali!” seru Poei Cerg Yan di dalam hati. “Kedatangan kedua orang ini sudah cukup menimbulkan keonaran, kalau bala bantuan mereka tiba disini semua, kerepotan akan semakin menjadi….”

Melihat jarak yang begitu dekat antara kedua orang itu dengan ruangan diman Kwan Tiong Gak berada, orang she Poei ini yakin apabila Cong Piauw tauw nya dapat menangkap pembicaraan mereka berdua dan saat ini tentu sedang menyusun suatu rencana.

“Aku lihat usulmu itu tak usah dijalankan lagi” terdengar siorang berbaju singset berseru dingin. “Jikalau kau sampai menemui ajalnya ditanganku, kaupun tak usah tahu siapakah diriku.”

 Kedua orang itu bersitegang beberapa saat lamanya, suasana meruncing dan agaknya suatu pertarungan sengit tak akan terhindar. Namun sampai detik ini mereka hanya cek-cok mulut belaka tanpa seorang pun yang ingin turun tangan lebih dahulu.

Nyioo Su Jan yang melihat kejadian itu diam diam mengerutkan dahi, pikirnya dalam hati, “Kedua orang ini sama sama mengenakan kerudung hitam diatas wajahnya, muncul pula dalam waktu bersamaan disini. Peristiwa ini boleh dikata sangat kebetulan sekali, di tambah pula sikap mereka yang bicara saja tanpa ada yang ingin turun tangan terlebih dahulu agaknya keadaan sedikit, tidak beres apakah perbuatan inipun merupakan siasat dari mereka berdua .”

Karena berpikir dsmikian. Ia lantas berbisik pada Poei Ceng Yan.

“Poei Hu Cong Piauw tauw keadaan agaknya sedikit tidak beres. Kita harus berusaha mendekati ruangan itu untuk bergabung dengan Giok Liong serta Ih Coen sekalian, Seandainya terjadi suatu perubahan secara tiba tiba kita dapat melayani dengan lebih baik.”

“Perkataanmu sedikitpun tidak salah.” Poei Ceng Yan mengangguk.

Sembari memperhatikan situasi disekitarnya perlahan lahan mereka mengundurkan diri kesisi ruangan.

Sementara itu siorang berjubah panjang serta silelaki berpakaian singset sedang berdiri saling berhadap hadapan dengan demikian tak seorangpun yang bisa pecahkan perhatian.

Dengan cepatnya Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan telah   berkumpul   jadi   satu   dengan   Thio   Toa  Hauw

 sekalian, segera ia memberi pesan kepada orang she Thio itu.

“Suruh mereka lebih banyak persiapan senjata rahasia, kalau bukan keadaan terpaksa jangan turun tangan mencari gara gara.”

Thio Toa Hauw mengangguk, ia segera bungkam dalam seribu bahasa.

Sementara disisi belah sini Poei Ceng Yan sekalian memperketat penjagaan, ditengah kalangan telah terjadi perubahan.

Siorang berbaju singset yang berdiri berhadap hadapan dengan orang berjubah panjang itu setelah menanti beberapa saat tidak juga melihat pihak lawan meuunjukan suatu tindakan. ia tak bisa menahan sabar lagi.

“Saudara, berhati hatilah!” tiba tiba ia membentak, sepasang tangan segera diayun ke depan melancarkan serangan.

Dengan sebat orang berjubah panjang itu berkelit kesamping, telapak kanan diayun ke depan balas melancarkan sebuah serangan.

Tenaga dalam yang dimiliki orang ini amat sempurna, kekuatan angin pukulan yang menggulung keluar barusan benar benar dahsyat menimbulkan suara deruan yang memekikan telinga.

Sepasang senjata roda dari orang berbaju singsat itu segera di pentang kesamping lantai meluncur kedepan, dengan membentuk selapis cahaya tajam ia menahan datangnya babatan musuh.

Siorang berjubah panjang tertawa dingin ujung bajunya     segera     dikebas     kedepan    men-ciptaken

 serentetsn cahaya putih menotok dada orang berbaju singsat itu.

Melibat datangnya cahaya putih, siorang berbaju singsat menggetarkan senjata ditangan kirinya membentuk selapis cahaya hijau menahan datangnya terjangan cahaya lawat.

Ketika sinar matanya dialihkan kearah depan, maka ia temukan di ditangan orang berjubah panjang itu ssat ini telah bertambah dengan sebilah golok lemas terbuat dari baja tipis.

Kiranya orang berjubah panjang ini menyembunyikan golok lemasnya dibalik ujung baju, setiap saat bilamana ia kebutkan ujung bajunya itu maka golok lemas segera meluncur keluar bagaikan sebatang senjata rahasia.

Setelah ia mencekal kembali goloknya, sang tubuh meloncat kedepan diiringi kelebatan cahaya golok ia terjang kedepan.

Serangan macam ini boleh dihitung merupakan suatu kebiasaan yang jarang ditemui cahaya  golok menggulung kedepan laksana gulungan ombak yang turun dari atas air terjun.

Menjumpai pihak musuh lihay, orang berbaju singsat itu segera merentangkan sepasang senjata roda bergigi “Jiet Gwat Siang Loennya,” dengan menciptakan selapis bayangan roda, ia tahu terjangan musuh dengan keras lawan keras.

Tampak cahaya golok menggulung tiada hentinya menghantam bayangan roda yang berlapis lapis, kadang kala diselingi oleh bentrokan-bentroksn nyaring diiringi percikkan bunga-bunga api.

 Pertaiungan ini benar-benar amat seru masing-masing pihak menggunakan seleruh kelihaian yang dimiliki saling terjang menerjang saling desak mendesak dengan keras lawan keras.

Dipandang dari luaran saat ini tinggal kelebatan cahaya golok serta gulungan bayangan senjata roda belaka, susah bagi orang luar untuk orang luar untuk melihat jelas jurus serangan serta gerakan tubuh kedua orang itu.

Mendadak, terlihat orang beriupah panjang itu menerobos keangkasa, setelah berjumpalitan ditengah udara badannya melayang satu tombak jauhnya dari kalangan, begitu sepasang kaki mencapai tanah Sekali lagi ia enjotkan badan lenyap ditelan kegelapan.

Sedangkan silelaki bersenjata roda bergigi itu perlahan lahan menyimpan kembali senjatanya dan berjongkok melakukan pemeriksaan.

Mengikuti tindakan lelaki itu, Poei Ceng Yan pun alihkan sinar matanya kebawah. tampak diatas permukaan tanah berbelepotan bekas darah, agaknya siorang bersenjata galok itu telah mengundurkan diri dengan membawa luka.

“Sekarang dapatkan cayhe menjumpai Kwan Cong Piauw tauw?” terdengar siorang berpakaian singsat itu bertanya kembali sambil memandang wajah Poei Ceng Yan.

“Tentang soal ini …. tentang soal ini.”

“Poei Hu Cong Piauw tauw, kalau bicara tak usah gelagapan, bisa atau tidak cukup kau putuskan dengan sepatah katamu.”

 “Begini saja? Besok pagi kau datang ke mari lagi, siauw te tentu akan mengaturkan suatu kesempatan pertemuan bagimu. Bagaimana?”

“Besok pagi?” jengek siorang berbaju ringkas itu sambil tertawa dingin. “Aku takut waktu sudah tidak kecandak lagi.”

“Ia campur tangan pukul mundur siorang berjubah panjang itu” pikir Poei Ceng Yan didalam hati. “Kalau ditinjau dari pertarungan yang begitu sengit bahkan siorang berjubah panjang itupun telah terluka hingga mengucurkan darah, aku rasa pertarungan ini bukan suatu kesengajaan. ….”

Sementara berpikir sampai disitu, ia lantas berkata lambat.

“Agaknya didalam hati Heng thay ada suatu kesulitan?

Entah dapatkah kau terangkan dulu ucapanmu itu”

Kembali silelaki bersenjatakan sepasang roda bergigi itu tertawa dingin.

“Hmm! saudara berusaha untuk menghindarkan diri dari ucapan caphe. ini menandakan kalau kau tidak bermaksud membiarkan cayhe berjumpa dengan Kwan Cong Piauw tauw. Kalau memang begitu, disini cayhe mohon diri lebih dahulu.”

Setelah bsrbicara hendak pergi, ia lantas putar badan berlalu.

“Heng thay harap tunggu sebentar, silahkan mendengarkan dulu sepatah dua patah kata cayhe.” buru buru Poei Ceng Yan berseru

“Cayhe datang kemari dengan membawa maksud yang  tulus  dan  mulia,  jikalau  Kwan  Cong  Piauw tauw

 tidak ingin menjumpai diriku. Akapun tak bisa berbuat apa apa lagi-kecuali berlalu dari sini.”

“Harap Heng thay menanti sejenak di ruang tengah.” bisik Poei Ceng Yan kembali dengan suara lirih. “Biarlah cayhe melayani dirimu sebagai seorang tuan rumah.”

“Maksud kedatanganku kemari hanya bertujuan mencapai Kwan Cong Piauw tauw belaka” ujar si lelaki bersenjatakan sepasang roda setelah termenung sebentar. “Bahkan urusan ini amat penting dan sangat mendesak, waktu tak bisa diulur lebih lama lagi, seandainya cayhe tidak bisa menjumpai Kwan Cong Piauw tauw sebelum kentongan keempat, lebih baik tak usah bertemu lagi.”

“Baik! Aku orang she Poei akan berusaha dengan segala kemampuan untuk menyelesaikan masalah ini, harap Heng thay menanti sejenak di ruang tengah.”

“Kalau demikian adanya, aku rasa Kwan-Cong piauw tauw masih berada didalam kantor cabang ini bukan?” tiba tiba silelaki itu berseru setelah mendehem ringan.

“Aku orang she Poei akan berusaha untuk mencarinya kembali sebelum kentongan keempat bilamana kau tidak berhasil juga menjumpai dirinya, terpaksa cayhepun akan-membiarkan kau berlalu.”

“Baiklah! Cayhe akan menanti sejenak di sini.”

“Nyioo Su Jan membawa jangan untuk sahabat” Nyioo Su Jan segera berseru.

Ia menyebut namanya lebih dahulu, tak lain bertujuan agar si lelaki itu pun suka menyebutkan namanya pula namun agaknya lelaki tersebut ada maksud menghindarkan diri dari hai tersebut. setelah mengucapkan     kata-kata     terima     kasih     ia   lantas 

 meubungkam dan berjalan keruang tengah mengikuti dibelakang Nyioo Su Jan.

Seorang pembantu muda segera menghidangkan air teh, beberapa orang itupun secara terpisah ambil tempat duduknya masing masing.

Setelah semua orang duduk, siorang berkerudung itu berkata kembali.

“Saat ini waktu berharga melebihi emas Poei Hu Cong Piauw tauw silahkan cepat-cepat berusaha untuk mencari baik Kwan Cong Piauw tauw kalian!”

“Baik! Cayhe segera psrgi.” Poei Ceng Yan bangong berdiri dan melangkah keluar.

“Tidak perlu….!” Tiba tiba terdengar suara deheman keras berkumandang memecahkan kesunyian, tahu-tahu Kwan Tiong Gak dengan langkah lambat telah munculkan diri di dalam ruangan.

Si orang berkerudung itu dengan cepat bangun berdiri. “Saudarakah yang bernama Kwan Cong Piauw tauw?”

sapanya.

“Sedikitpun tidak salah, caybe Kwan Tiong Gak.”

Buru buru orang berkerudung hitam itu melepaskan kain kerudung hitamnya dan memperkenalKan diri, “Cayhe Seng Thian Kie menemui Kwan Cong Piauw tauw.”

“Seng heng tak perlu banyak adat!” Kwan Tiok Gak segera menjura balas memberi hormat.

Sambil tertawa Seng Thian Kie ambil tempat duduk kembali, ujarnya, “Cayhe mendapat perintah dari suhu datang memberitahukan suatu berita penting ntuk Kwan Loociapwee”,

 “Suhumu….” Kwan Tiong Gak termenung sejenak,

“Suhu adalah “Hwie Loen Ong” atau si Raja Roda Terbang.”

“Aaaakh! Maaf, maaf. Kiranya murid kesayangan dari si Raja Roda Terbang. Tidak aneh kalau permainan sepasang senjata roda mu luar biasa!”

“Kwan Loocianpwee terlalu memuji….”

ia merendek sejenak, lalu tambahnya, “Kemarin malam suhuku baru saja tiba dikota Kay Hong, dan berhasil mendengar kabar berita yang tidak menguntungkan diri Kwan Cong Piauw tauw, karena itu sengaja suhuku mengutus cayhe datang kemari untuk memberi bisikan.”

“Maksud baik gurumu, aku orang she Kwan merasa sangat berterima kasih sekali!”

“Sewaktu boanpwee tiba disini tadi, sebenarnya ada maksud mohon berjumpa secara baik baikan, tetapi aku menemukan ada orang yang menguntit kedatanganku serta membinasakan seorang peronda dari perusahaan kalian. Kalau kutinjau dari penjagaan yang ketat agak nya perusahaan kalian sejak semula sudah mengadakan persiapan.”

“Perusahaan yang membuka pengawalan barang banyak mengingat permusuhan dengan orang. mau tak mau kami harus bertindak sangat hati-hati….,” kata Kwan Tiong Gak.

Setelah mengeluh jenggotnya, ia menambahkan. “Entah kabar berita apa yang hendak gurumu

sampaikan kepada cayhe?”

 “Suhu minta boanpwee sampaikan kepada Kwan Cong Piauw tauw bahwa malam ini Pada kentongsn keempat serta kentongan kelima ada orang yang hendak datang menyerbu kantor perusahaan kalian!”.

“Kenapa waktunya ditentu antara kentongan keempat kentongan kelima.”

“Justru disinilah letak kekejian mereka, dengan diundurkannya waktu tersebut hampir menjelang pagi maka serangan mereka akan membuat orang tidak siap dan merasa diluar dugaan.”

“Ehmm! Perkataanmu sedikitpun tidak salah” Kwan Tiong Gak mengangguk. “Pada saat saat menjelang pagi, mereka yang melakukan perondaan memang sudah mulai kelihatan lelah dan mengantuk!”

“Menurut guruku, beliau berkata bahwa sewaktu mereka menyerbu kedalam perusahaan kalian nanti, tindakan yang akan dilakukan amat keji dan ganas. Maka dari itu beliau suruh aku datang kemari memberi laporan kepada Kwan Cong Piauw tauw agar bisa mempersiapkan diri lebih dahulu.”

“Maksud baik suhuku sangat kami terima dihati, silahkan saudara menyampaikan rasa terima kasihku kepada gurumu sekembalinya dari sini, katakan saja dalam lima hari kemudian aku orang she Kwan tentu akan datang berkunjung kerumah kalian.”

Seng Thian Kie segera tersenyum. . “Besok sebelum hari gelap. suhuku sudah akan meninggalkan kota Kay Hong” ujarnya

“Begitu cepat?” kelihatannya Kwan Tiong Gak dibikin tertegun.

 Tiba tiba Seng Thian Kie mengambil kembali kerudung hitamnya dan dikenakan ke keatas wajah, katanya, “Waktu sudah hampir tiba!”

“Ebmmm….” Kwan Tiong Gak segera berpaling sekejap kearah Liem Toa Lek dan berkata, “Sampaikan perintah mereka perketat penjagaan berusaha menumpukkan seluruh kekuatan pada anak panah serta sambitan senjata rahasia, mereka dilarang unjukan diri untuk bergebrak dengan pihak lawan.”

Liem Toa Lek menjura dan segera berlalu dari ruangan.

Sementara itu Seng Thian Kie telah membungkus kembali wajahnya dengan kerudung hitam, namun ia duduk kembali kekursinya. “Seng si heng….”

“Boanpwee mendapat perintah dari suhu untuk datang kemari, Kwan Cong Piauw tauw menaham serangan musuh.”

“Tentang soal ini„ cayhe tidak berani menerimanya”. “Tadi Seng heng membantu kita pukul mundur

seorang musuh tangguh….” Sela Poei Ceng Yan dari samping.

“Kalau begitu bagus sekali, sudah lama kudengar permainan sepasang roda dari si raja roda terbang telah mencapai puncak kesempurnaan, aku rasa Seng si heng sudah memperoleh warisan seluruh kepandaian….,,.!”

Maksud dari ucapan ini jelas menunjukkan bahwa ia hanya pernah mendengar nama besar dari si raja roda terbang belaka, tindakan siroda terbang mengutus muridnya mengirim kabar sudah merupakan suatu tindakan yang luar biasa, ia begitu sudi menempatkan muridnya untuk membantu memukul musuh?

 Agaknya Seng Thian Kie pun dibikin tertegun.

“Apakah Kwan Cong Piauw tauw tidak, kenal dengan dengan guruku?” tanyanya.

“Kami hanya pernah mendengar nama hebatnya saja. tapi belum parnah saling mengenal”.

“Tentang soal ini. Tentang soal ini….”

“Semisalnya gurumu ada urusan hendak disampaikan kepadaku, silahkan Seng si heng utarakan secara blak blakan.”

“Suhu beritahu kepada boanpwee untuk tetap tinggal disini membantu Perusahaan kalian pukul mundur musuh tangguh, setelah itu cayhe harus segera meninggalkan tempat ini kembali menghadap suhu kemudian bersama sama meninggalkan kota Kay Hong”, Kwan Tiong Gsk termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata, “Seng Si heng, tahukah kau asal-usul dari musuh tangguh yang akan datang menyerang kami setelah kentongan keempat nanti?”

“Tentang soal ini, suhu tidak memberi petunjuk kepada boanpwee, boanpwepun tidak berani mengambil analisa sendiri” kata Seng Thian Kie cepat cepat seraya menggeleng.

Kwan Tiong Gak mengangkat cawan teh nya dari meja dan diteguk setegukan, lain sambil tertawa ujarnya, “Aku orang she Kwan teringat akan satu persoalan, harap Seng Si heng suka menyampaikannya kepada gurumu sepeninggalnya dari sini.”

“Urusan apa?”

“Selama beberapa hari ini cayhe terus-menerus mengadakan menyelidiki dan mempelajari peta mustika pengangon kambing itu, kini sebagian besar sudah

 berhasil kupahami hanya ada sedikit bagian bagian saja yang belum berhasil kupahami, entah seberapa banyak yang telah diketahui gurumu tentang peta pengangon kambing ini….”

“Tentang soal ini boanpwe merasa kurang paham, camun boanpwee pernah mendengar suhu memutuskan kisah tentang peta pengangon kambing itu, agaknya ia mengetahui sedikit tentang peta mustika itu”

“Kalau begitu bagus sekali, harap Seng Si heng suka menyampaikan undangan cayhe kepada suhumu untuk bersama-sama mempelajari isi peta mustika tersebut.”

“Kwan Cong Piauw tauw, benarkah ucapanmu ini,” seru Seng Thian Kie tiba-tiba sambil bangun berdiri.

“Suhumu mungkin tahu bahwa aku orang she Kwan selama hidup tidak pernah bicara bohong.”

“Boanpwee akan segera sampaikan ucapan ini kepada suhu. namun maukah ia datang kemari boanpwee tidak berani memastikan.”

“Suhumu mau datang kemari atau tidak, harap Seng Si heng suka memberikan suatu jawaban kepadaku”

“Baik! Setelah cayhe berjumpa dengan suhu perduli bagaimanapun tentu akan balik lagi memberi jawaban untuk Kwan Cong Piauw tauw.”

Sekali berkelebat badannya segera melayang keluar dari ruangan itu.

Nyioo Su Jan pun segera ikut gerakkan badan siap mengejar keluar dari ruangan. namun perbuatannya ini berhasil dicegah oleh Kwan Tiong Gak.

“Su Jan! Tak usah kau kejar dirinya” seru orang she Kwan setelah pasang telinga beberapa saat lamanya.

 “Diantara ucapan orang ini terselip hal-hal yang mencurigakan, dan keanehan tersebut tanpa terasa telah ia perlihatkan dalam perubahan air muka, kenapa Cong Piauw tauw tidak membiarkan hamba pergi mengejar diri nya untuk mengetahui asal-usul yang benar?”

“Kepandaian silat yang dimiliki Seng Thian Kie tidak lemah, bahkan merupakan seorang manusia yang teliti dan cermat dalam bertindak, Seandainya kau menguntit perjalanannya kemungkinan besar jejakmu segera konangan.”

“Benarkah Cong Piauw tauw hendak mengundang si raja roda terbang datanglah kemari.” Kwan Tiong Gak tidak menjawab, sebaliknya ia memberi perintah.

“Coba kalian pergi memeriksa sebentar setiap bagian dan setiap pelosok dari kantor perusahaan kita, kemungkinan besar sebelum terang nanti kita benar benar akan melangsungkan suatu pertarungan sengit.”

“Cong Piauw tauw! apakah kau percaya akan ucapan dari Seng Thian Kie itu?”

“Si Raja Roda terbang mengutus murid nya datang membantu kita, tentu saja iapun membawa maksud maksud tertentu.” kata orang she Gak sambil tersenyum, “masing mesing pihak membawa maksud maksud tertentu, terpaksa kita pun harus menghadapinya dengan adu kecerdikan.”

“Aaakh! kalau begitu hamba segera pergi mengatur penjagaan lebih dahulu.”

Selesai bicara, orang she Nyioo ini segera melangkah keluar dari dalam ruangan.

“Toako! agaknya kau sudah mempunyai rencana yang masak,” bisik Poei Ceng Yan lirih.

 Kwan Tiong Gak segera tersenyum.

“Sewaktu ada di kebun belakang tadi, kalian sudah menjumpai berapa orang?”

“Dua. Seorang adalah Seng Thian Kie sedang yang lain memakai jubah panjang ia mengundurkan diri setelah dikalahkan. Oleh permainan sepasang roda orang she Seng itu.”

“Nah! Itulah dia, Seng Thian Kie bantu kita pukul mundur musuh tangguh, tujuannya tidak lain sedang mencari hati dengan kita orang. Bukankah begitu?”

Aaaakh “! Benar ia mebaiki kita dan berusaha berkenalan dengan Toako tidak lain karena ia ingin mengelabui rahasia dari peta pengangon kambing itu.”

Kembali Kwan Tiong Gak tersenyum.

Disekitar kota Kay Hong sudah berkumpul jago jago lihay dari kalangan Bu lim, siapakah diantara mereka yang bukan datang dikarenakan ingin mendapat rahasia peta pengangon kambing itu?”

“Menurut apa yang siauw te ketahui, agaknya si Raja Roda terbang adalah seorang manusia yang susah dihadapi. Toako mengundang ia datang  kemari bukankah sama arti mencari kerepotan buat diri sediri?”

“Ia datang kemari untuk bersama sama diriku menyelidiki rahasia peta pengangon kambing asalkan aku tidak mengingkari janji tentu saja ia tak akan mencari gara gara dengan diriku.”

“Jadi Toako ada benar-benar ada maksud membagikan peta pengangon kambing itu dengan si Raja Roda terbang?”

 “Saudara Poei,” ujar Kwan Tiong Gak dengan wajah serius. “Perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kita sudah ada banyak tahun tersohor di kolong langit sudah banyak dagangan besar yang kita terima, dan banyak badai kekacauan yang kita hadapi, jago jago tersohor kalangan Liok lim yang ada di lima keresidenan sebelah Utara kebanyakan pernah bergebrak dengan siauw heng, namun kebanyakan urusan-urusan itu akan selesaikan di suatu tempat dengan kuda jempolan serta sebilah golok….”

“Aku tahu,” tukas Poei Ceng Yan cepat, “Untuk mendirikan merek emas perusahaan Hauw Wie Piauw kiok ini, toako telah mengorbankan banyak pikiran serta tenaga.”

Perlahan lahan Kwan Tiong Gak menghela napas panjang.

“Aaaaai…., Tetapi keadaan situasi yang kita hadapi ini hari jaub berbeda dengan keadaan tempo dulu, bentrokan bentrokan yang bakal terjadi sudah tak bisa kita hadapi dengan kekuatan sendiri. Maka dari itu mau tak mau kita harus mengundang bantuan tenaga luar untuk menyelesaikan peristiwa ini, mau tak mau kita harus menggunakan sedikit akal untuk menghadapinya.”

“Toako. Jadi kau hendak bekerja sama dengan si Raja Roda Terbang untuk memukul mundur musuh tangguh?” seru Poei Ceng Yan seperti telah memahami akan sesuatu.

Kwan Tiong Gak tertawa.

“Saat ini masih susah bagi kita untuk memahami perubahan situasi yang akan datang terpaksa harus melangkah setindak kemudian baru ambil rencana untuk tindakan selanjutnya.”

 Ia merandek sejenak, lalu tambah, “Coba kau beri bisikan kepada Su Jan sekalian agar mereka bertindak lebih hati-hati, kalau si Raja Roda Terbang ada kabar segera bawa mereka menghadap kemari.”

Poei Ceng Yan mengiakan dan segera melangkah keluar, setibanya didepan pintu mendadak teringat olehnya akan sesuatu. Ia segera berhenti dan bertanya kembali, “Toako, bagaimana dengan Thay Heng Tuo Shu? Apakah perlu kita beri kabar kepadanya?”

“Persoalan itu baru kita pikirkan setelah si Raja Roda Terbang datang kemari serta ditinjau dulu bagaimana perubahan situasi selanjutnya.”

“Aaaakh!….” tidak banyak bicara lagi Poei Ceng Yan pun segera berlalu dari ruangan itu.

Beberapa saat kemudian tampak Nyioo Su Jan muncul dengan tergesa-gesa ujarnya, “Cong Piauw tauw. si Raja Roda Terbang serta muridnya mohon bertemu!….,”

“Suruh mereka masuk kedalam”. Sembari berkata ia bangun berdiri dan berjalan keluar dari ruangan.

“Kwan heng kau tak usah repot repot menyambut diri” terdengar suara yang amatnya nyaring berkumandang dari depan pintu.

“Oooouw …. Sungguh kekar dan seram orang itu “

Tampak orang itu memiliki alis tebal mata besar dengan wajah bercambang, di badannya memakai baju ketut berwarna hitam yang memancarkan cahaya berkilauan. Kedua ujung bajunya sebatas sikut. Celana panjang pun berwarna hitam serta memancarkan cahaya berkilauan, Entah setelan pakaian ini terbuat dari bahan apa?.

 Poei Ceng Yan sudah lama mendengar nama besar si raja roda terbang namun si raja roda pribadi amat jarang berkelana dalam dunia persilatan, karena itu sangat jarang orang orang Bu-lim yang pernah menjumpai dirinya, tanpa terasa lagi ia memperhatikan orang itu beberapa kejap lebih banyak, Kwan Tiong Gak mendehem sembari menjura ia memperkenalkan diri, “Cayhe Kwan Tiong Gak.” Si orang berbaju hitam itupun segera menjura balas memberi hormat.

“Cayhe si raja roda terbang Swan Cwan.”

“Sudah lama kukagumi nama besar anda, beruntung ini hari kita bisa saling berjumpa”.

“Kwan Cong Piauw tauw terlalu memuji, sudah lama aku dengar nama besar Golok Sakti Genta Emas yang menggetarkan delapan penjuru. Dalam hati aku orang she Kwan pun merasa amat kagum. Hanya saja harap kau suka memaafkan kedatangan cayhe yang memakai pakaian ringkas sebab sebentar lagi permainan busuk akan dimulai”,

Kwan Tiong Gak yang banyak pengalaman selama ini merasa terheran heran dengan pakaian yang dikenakan orang itu, ia tidak tahu baju macam itu terbuat dari bahan apa, namun iapun tidak ingin bertanya secara gegabah. mendengar ia mengungkapnya sendiri segera menimbrung, “Pakaian yang dikenakan, sungguh aneh sekali, aku pikir benda ini tentu mempunyai asal usul yang amat besar.”

Sembari berkata ia mempersilahkan tamunya ambil tempat duduk.

Setelah duduk Swan Cwan segera tertawa.

 “Padahal pakaian ini tak bisa dikatakan suatu benda mustika yang sangat berharga, benda ini bukan lain adalah kulit ular kerak baja “That Kia Coa Pie” hadiah dari seorang sahabat yang sudah lama tinggal dikeresidenan Im Kwee,”

“Aaaakh kiranya kulit ular kerak baja “Thiat Kia Coa Pie”, sudah lama aku dengar benda ini kerasnya luar biasa bisa bisa digunakan untuk menahan bacokan golok serta tusukan pedang, entah benarkah demikian?”

“Memang demikian adanya. ” sahut si Raja roda terbang Swan Cwan setelah meneguk air tehnya. “Tetapi benda itu baru bisa menunjukan kehebatan tersebut bilamana sudah memiliki suatu tahun tertentu, apalagi mendapatkan benda ini tak bisa langsung dibuat  pakaian. kulit itu harus direndam dulu dalam minyak. “Ci Ma” selama tiga tahun, kemudian setelah dikeringkan, beberapa lama dibawah terik matahari, barulah kulit tersebut bisa di gunakan untuk bikin pakaian”

“Tidak menjumpai satu urusan, kecerdikan tidak tambah setingkat, apabila bukan ada penyesalan dari Kwan heng. siauw te pun tak bakal tahu akan persoalan ini!”

Sembari berbicara sepasang matanya tanpa terasa telah meneliti badan si Raja Roda terbang tersebut.

Senjata roda bergigi dari si Raja Roda terbang sudah amat tersohor dikolong langit Kwan Tiong Gak ingin sekali melihat bagaimanakah bentuk dari roda terbang teitebut.

Kwan Tiong Gak ingin sekali melihat bagaimanakah bentuk dari roda terbang tersebut.

 Namun ia hanya dapat melihat si Raja Roda Terbang Swan Cwan memakai mantel-hitam yang amat besar menutupi hampir separuh bagian tubuhnya, susah bagi orang lain untuk mengetahui dimanakah ia simpan senjata roda terbangnya yang terkenal itu,

Walaupun Kwan Tiong Gak tidak berhasil menemukan macam apakah senjata roda terbangnya, tetapi ia dapat melibat adanya sebuah sabuk hitam yang melilit pada pinggangnya, dengan pengetahuan Kwan Tiong Gak yang luas, ia segera dapat mengenal sebagai semacam senjata tajam yang bersifat lunak.

Ketika itulah terdengar si raja roda terbang tertawa terbahak bahak.

“Haaa …. haaa …. .haa ….sewaktu siauw te melakukan perjalanan lewat kota Kay Hong, tanpa sengaja telah kutemukan banyak sekali jago Bu lim yang kumpul di kota ini. timbul rasa ingin tahuku dalam hati dan segera diam diam aku melakukan penyelidikan. Hasil aku temukan kalau orang orang itu sebenarnya datang untuk mencari setori dengan diri Kwan heng,….”

“Bukan. Mereka bukan lagi mencari setori dengan aku orang she Kwan melainkan dsebabkan selembar peta pengangon kambing.”

“Peta pengangon kambing?” tanya si raja Roda terbang. Karena membicaraan telah dialihkan ke pokok persoalan tanpa terasa lagi air muka pun berubah serius.

“Benar. Sebuah peta lukisan yang menunjukkan tempat tersimpannya sejumlah harta karun. Cwan heng. Rasanya kau pernah mendengar berita ini bukan?”.

“Benar. Siauw te pernah mendengarnya” Swan Cwan mengangguk.  “Katanya  harta  karun  itu  meliputi jumlah

 yang amat banyak sehingga nilainya susah diduga. Kwanheng”

“kau telah melakukan penelitian sebanyak beberapa hari tentu banyak rahasia yang telah kau dapatkan bukan tentang harta karun itu-?”

“Aaaai.,….! Kalau dibicarakan sungguh menyesal sekali, walaupun sudah lama siauw te melakukan penyelidikan serta mempelajari rahasia peta pengangon kambing itu, namun saat ini hanya kupahami sebagian saja. Nanti aku masih membutuhkan petunjuk petunjuk yang berharga dari Cwan heng.”

“Haaa. …. haaa,….,ha»a…. Kwan heng, kita baru untuk pertama kalinya saling berjumpa. ternyata Kwan heng mengundang sianwte uutuk bersama sama menyelidiki serta mempelajari rahasia peta pengangon kambing itu. Hal ini benar benar membuat siauw te tercengang dan sedikit tidak percaya!”.

“Cwan heng! Antara dirimu dengan siauw te tidak pernah saling kenal dan masing-masing hanya pernah mendengar nama masing-masing namun kau begitu perhatikan keselamatan kami dengan malam-malam mengirim muridmu datang memberi bisikan bahkan tidak mengikat permusuhan dengan orang lain. Hal ini pun membuat siauw te merasa amat berterima kasih sekali”.

“Aaaakh….! haaa…. haaa….mana mungkin inilah yang disebut antara Enghiong sering terjalin ikatan batin yang kuat.”

Pada saat itulah tiba tiba terdengar dua kali suara suitan panjang berkumandang datang memecahkan kesunyian.

 Si Raja Roda Terbang segera bangun berdiri, ujarnya, “Sudah waktunya bagi mereka untuk datang, suitan tadi mungkin merupakan tanda dari kehadiran mereka.”

“Sedikit pun tidak salah, suitan itu memang merupakan tanda bahaya yang menandakan mereka telah menemukan pihak lawan mandekati perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kami.”

“Kwan heng, kau bersiap sedia hendak menghadapi serangan lawan dengan cara apa?”

“Hingga kini siauw te masih belum tahu jago jago lihay manakah yang telah datang, aku bermaksud hendak berjumpa dulu diri mereka kemudian baru menyusun rencana selanjutnya.”

“Bagus! Memang seharusnya perapatan lebih dulu kemudian baru kekerasan, dengan demikian tidak sampai merosotkan pamor Kwan heng. ayoh kita jalan! siauw te temani Kwan heng meninjau dulu malaikat mana yang telah datang menyambang.”

“Cwan heng adalah tetamu, mana boleh ikut melibatkan diri dalam pergolakan ini?”

“Haaa…. haaa…. ha….jikalau suruh cayhe tetap bertahan dalam ruangan-ini tanpa keluar, rasanya akupun tak perlu datang kemari.”

“Aku dengar katanya besok sebelum sang surya lenyap dari jagad, kalian berdua hendak meninggalkan tempat ini?”

“Sedikitpun tidak salah, besok sebelum malam tiba, kami memang ada maksud meninggalkan kota Kay hong.”

“Apakah Cwan heng serta muridmu tidak dapat tinggal beberapa hari lagi disini?”

 “Tidak dapat …. Swan Cwan menggeleng.

Tiba tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang datang memotong ucapan Swan Cwan yang belum selesai diutarakan.

Ketiga semua orang berpaling, tampakKh Nyioo Su Jan dengan langkah terburu buru sedang melangkah masuk kedalam ruangan!

“Bagaimana Su Jan? apakah kalian sudah berhadapan muka dengan mereka?” tegur Kwan Tiong Gak ketika dilihatnya orang she Nyioo itu munculkan diri.

“Sedikitpun tidak salah, kami telah saling berjumpa muka dengan mereka. saat ini ruang belakang kantor kita sudah terkepung, agaknya jumlah mereka yang hadir malam ini tidak sedikit.”

“Siapakah mereka?”

“Mungkin pemimpin mereka belum tiba kemari, tak seorangpun yang buka suara menjawab pertanyaanku, namun mereka telah menyampaikan satu pesan, katanya sepertanak-nasi kemudian, tentu akan muncul seseorang yang hendak mengadakan pembicaraan dengan Cong Piauw tauw.”

“Sepertanak nasi kemudian? sekarang sudah jam berapa?”

“Kentongan keempat baru saja lewat.”

“Sepertanak nasi lagi bukankah sudah memasuki kentongan kelima dan hari sudah terang tanah?”

“Tidak salah, kecuali mereka bermaksud turun tangan setelah terang tanah, sungguh-membuat orang merasa tidak mengerti apa maksud mereka yang sebenarnya?”

Tiba tiba terdengar Swan Cwan tertawa hambar.

 “Hmm, mereka Ingin turun tangan setelah terang tanah, sungguh suatu pemikiran yang gila!”

“Cwan heng, sebenarnya apa yang telah terjadi?” Tanya Kwan Tiong Gak seraya berpaling.

“Mereka berbuat demikian sama arti memandang rendah perusahaan kalian, hal ini mengartikan bahwa dengan waktu antara kentongan kelima sampai terang tanah nanti mereka berkemampuan untuk membasmi seluruh orang yang ada didalam kantor ini,”

“Ehmm! …. .kalau mereka benar benar mempunyai cara pemikiran seperti ini, memang tindakan tersebut rada sedikit gila….”

Ia berpaling kesamping dan tambahnya.

“Su Jan, cari pemimpin mereka yang bisa mewakili berbicara, tanyakan kepada mereka pihaknya hendak turun tangan secara bagaimana”? silahkan dimulai saja, kami bisa menerimanya dengan tangan terbuka.”

Agaknya Kwan Tiong Gak pada saat ini sudah diumbar oleh hawa amarah, sewaktu berbicara kendati tetap mempertahankan ketenangannya, namun dari sepasang mata memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan.

“Aku segera laksanakan tugas ini” Nyioo Su Jan segera menjura kemudian putar badan berlalu.

Sementara itu Poei Ceng Yan, Liem Toa Lek sekalian telah mengundurkan diri untuk memperketat pos penjagaannya masing masing

Halaman belakang dari kantor perusahaan tersebut terlalu luas, dengan jumlah pengawal yang sedikit pihak perusahaan Hauw Wie Piauw kiok rada repot juga dalam pembagian penjagaan.

 Terdengar Swan Cwan mendehem perlahan kemudian berkata.

“Kwan heng, sudah lama kudengar akan kelihayan ilmu menyambit senjata rahasia genta emasmu. Malam ini mungkin siauw te akan buka mata untuk mengagumi permainanmu itu. Kenapa kita tidak menyambut saja kedatangannya sembari memberi sedikit pelajaran buat mereka.?”
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 24"

Post a Comment

close