Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 13

Mode Malam
Mendengar orang itu datang dari Peking, air muka kedua orang tentara penjaga pintu itupun agak berubah melunak.

“Apakah thayjien punya kartu nama untuk disampaikan?”

“Tidak perlu kartu nama lagi, katakan saja orang she Liuw dari Peking ingin berjumpa.”

Melihat tamunya tidak suka mengeluarkan kartu nama, kedua orang tentara itu jadi kerutkan keningnya.

“Kalau begitu thayjien harap tunggu sejenak di sini, biarlah hamba laporkan hal ini ke dalam.”

Ia putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Sejurus kemudian, tentara tadi baik lagi dengan membawa seorang lelaki berusia pertengahan, berjubah hitam dengan topi terbuat dari kulit binatang serta tujuhdelapan orang bersenjata lengkap.

“Thayjien, agaknya istana jendral tak bisa ditembusi secara mudah, iring-iringan kereta kitapun rasanya tak dapat langsung masuk ke dalam,” kata Phoa Ceng Yan setelah melihat munculnya beberapa orang itu.

Ketika itu tentara penjaga tadi telah berjalan mendekat.

“Tok Say telah menanti di pintu, sengaja beliau mengirim Ho Su Ya dengan membawa sepuluh orang tentara menyambut kedatangan tamu terhormat, harap Thayjien segera mengikuti kami.”

“Istri dan Siauw li ………”

“Hamba telah menyediakan dua buah tandu” buruburu Ho Su Ya yang memakai topi kulit menyambuti.

 Ketika itulah dua buah tandu kecil telah berjalan mendekat.

Setelah semuanya diatur Ho Su Ya baru berpaling ke arah Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan, tanyanya.

“Tentunya, cuwi dari perusahaan Piauw-kiok bukan?” “Benar, kami mendapat pesanan untuk menghantar

Thayjien kemari” buru-buru Phoa Ceng Yan menjura. Ho Su Ya tersenyum seraya balas memberi hormat.

“Istana jendral melarang sembarangan orang berjalan masuk, aku lihat bagaimana kalau cuwi bongkar muatan Liuw Tahyjien di sini saja?”

Phoa Ceng Yan mengangguk, ia perintahkan anak buahnya untuk bongkar dan turunkan barang barang milik Liuw Thayjien.

Dua buah tandu kecil bergerak mendekati kereta dan membawa Liuw Hujien serta nona Liuw meninggalkan tempat itu.

Setelah semua barang dibongkar, Phoa Ceng Yan pun memberi perintah kepada Nyoo Su Jan.

“Su Jan, putar kereta dan kembali ke Piauw-kiok.”

Nyoo Su Jan mengiakan, ia membawa beberapa kereta kosong itu bergerak ke kantor cabang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang berada di kota Kay Hong.

Mendadak Liuw Thayjien berjalan dua langkah ke depan seraya berseru.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, bila He koan ada urusan ingin berjumpa entah kemanakah aku harus mencari Phoa ya?”

 Phoa Ceng Yan yang mendengar pertanyaan itu segera tertawa hambar.

“Aku tinggal di jalan besar sebelah timur, kantor cabang perusahaan Liong WIe Piauw-kiok.”

“Lalu Phoa-ya bermaksud hendak tinggal di kota Kay Hong berapa lama…?”

“Soal ini sulit ditentukan, bila tak ada urusan yang sangat istimewa, mungkin setelah lewati tahun baru segera berangkat.”

“He-koan pikir dalam sehari dua hari ini ingin mendatangi kantor Piauw-kiok kalian untuk menyambangi Phoa-ya.”

“Tidak berani, tidak berani, sampai waktunya cayhe akan menyambut kedatangan Thayjien.” buru-buru Phoa Ceng Yan menjura.

Liuw Thayjien tertawa hambar, dengan di bawah pengawalan beberapa orang tentara kerajaan ia melangkah memasuki bangunan yang besar dari istana jendral tersebut.

Phoa Ceng Yan dengan membawa Nyoo Su Jan serta sepuluh anak buah perusahaan Liog Wie Piauw-kiok pun meninggalkan tempat itu dan kembali ke kantor cabang.

Baru saja kereta berhenti di pintu depan Kwan Tiong Gak dengan memimpin empat orang piauw tau dari kantor cabang kota Kay Hong telah menyambut kedatangannya di pintu.

Ketika waktu itu menunjukkan akhir tahun kantor perusahaan piauw-kiok pun telajh berhenti bekerja, seluruh anggotanya pada beristirahat dan kembali ke kampung halamannya masing-masing.

 Buru-buru Phoa Ceng Yan melangkah maju ke depan seraya menjura.

“Menyusahkan toako harus menyambut dari jauh.” Kwan Tiong Gak tersenyum.

“Selama dalam perjalanan kau tentu sangat letih, siauw heng telah perintahkan mereka untuk persiapkan sebuah meja perjamuan untuk menyambut kedatanganmu, silahkan saudara masuk ke dalam untuk minum secangkir arak.”

Phoa Ceng Yan tertawa getir.

“Siauwte merasa sangat menyesal harus mengejutkan toako…”

“Saudara, peristiwa ini bukan suatu kejadian yang kecil dan merupakan suatu peristiwa yang terbesar sejak perusahaan Lionw Wie piauw-kiok didirikan, sekalipun hitung-hitung aku sendiri yang mengambil barang itupun belum tentu bisa aman tentram.”

Keempat orang Piauw-tauw lainnya pun bersamasama menjura hormat.

“Menghunjuk hormat buat Hu Cong Piauw-tauw.”

“Tak usah banyak adat,” buru-buru Phoa Ceng Yan berseru seraya tersenyum.

Segera mengandeng tangan kanan Phoa Ceng Yan, Kwan Tiong Gak melangkah masuk ke dalam.

“Ayoh, kita semua masuk dan duduk di dalam, selama melakukan perjalanan kalian sudah menderita terhembus angin dan salju, seharusnya sekarang mereguk secawan arak dan beristirahat.”

 “Terima kasih, toako,” Phoa Ceng Yan tertawa hambar.

Dengan mengikuti dari belakang Kwan Tiong Gak mereka melangkah masuk ke dalam ruangan.

Setibanya di ruangan belakang, meja perjamuan telah dipersiapkan Kwan Tiong Gak dengan mengandeng tangan Phoa Ceng Yan duduk di kursi pertama sedang Nyoo Su Jan, Lie Giok Lang, Thio Toa Hauw serta Ih Coen ditambah keempat Piauw-tauw penting dari kantor cabang kota Kay Hong menempati di kursi-kursi kosong lainnya.

“Toako” ujar Phoa Ceng Yan sambil angkat cawan arak di hadapannya. “Siauwte tidak becus dan hanya persoalan kecil saja mengharuskan Toako turun tangan sendiri, secawan arak ini biarlah anggap sebagai arak hukuman buat siauwte.”

Kwan Tiong Gak pun tidak turun tangan mencegah, ia hanya duduk sambil tersenyum.

Phoa Ceng Yan setelah meneguk cawan pertama ia penuhi cawannya kembali dengan arak.

“Berkat kasih sayang dan perhatian dari Cong Piauwtauw yang anggap aku melebihi sendiri, siauw-te merasa sangat berterima kasih, tapi ternyata aku tidak berkemampuan untuk membantu mereka menghilangkan kesal dan murung dari Cong Piauw-tauw, bila diingat sungguh membuat hatiku merasa amat kecewa sekali, secawan arak ini biarlah aku hormati cuwi sekalian sebagai hukuman atas ketidak mampuanku dalam membantu kalian.”

“Nyoo Su Jan beberapa orang Piauw-tauw buru-buru bangun berdiri.

 “Hu Cong Piauw-tauw terlalu merendah!” serunya hampir berbareng.

“Mari kita sama sama bersantap sembari minum,“ ajak Kwan Tiong Kag kemudian sambil pimpin menyumpit sekerat daging. “Setelah kalian selesai minum dan bersantap, aku masih ada dua urusan penting hendak dirundingkan dengan kalian.”

Pada hari hari biasa, ia selalu bersikap penuh wibawa, cukup sepatah kata ucapan ini telah mempengaruhi hati semua orang.

Suasana seketika berubah jadi sunyi, saking heningnya sampai tak kedengaran sedikit suarapun, yang terdengar hanyalah suara tegukan arak serta kecapan mulut.

Sepertanak nasi kemudian, perjamuan itupun telah selesai.

Dua orang pelayan membersihkan meja dan menghidangkan teh wangi.

Sembari meneguk secawan teh ujar Kwan Tiong Gak penuh keseriusan.

“Seharusnya aku tidak patut membicarakan persoalan ini setelah kalian bersantap tapi berhubung waktu yang sangat mendesak terpaksa pembicaraan ini kulakukan juga dalam keadaan tergesa-gesa dengan kalian.”

Walaupun ucapan dari Kwan Tiong Gak ini diutarakan sangat halus, tapi dengan keseriusan serta kewibawaan pada hari-hari biasa seluruh piaut tauw yang ada di dalam piauw-kiok kebanyakan jeri dan menghormatinya, karena itu pada saat ini tak seorangpun yang berani memotong.

 “Toako, kau ingin membicarakan soal apa?” tanya Phoa Ceng Yan.

“Aku sudah berjanji dengan seseorang untuk mengadakan pertemuan, sebelum sore nanti harus sudah tiba di tempat yang telah ditentukan.”

“Toako kau telah berjanji hendak mengadajan pertemuan dengan siapa …?” Phoa Ceng Yan kelihatannya agak tertegun.

“Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang lalu si Dewa Api Ban Cau serta tiga orang Liok-lim lainnya yang tidak kuketahui namanya.”

“Bagaimana mungkin si Dewa Api Ban Cau bisa berjalan searah dengan Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang?”

“Di antara mereka berdua pada dasarnya memang tiada terikat dendam yang sangat mendalam, mereka bisa-bisa saja karena satu urusan bentrok dan bergebrak kemudian setelah urusan lewat bersatu kembali.”

“Ke Giok Lang sudah mendapat tanda terima yang ditulis oleh Liuw Thayjien sendiri, setiap saat ia boleh minta lukisan pengangon kambing itu dari tangan Liuw Thayjien sedang Ban Cau di dalam kalangan pertarungan sudah kena dipaksa berada di bawah angin secara bagaimana kedua orang itu bisa bersatu kembali?” agaknya Phoa Ceng Yan masih keheranan dibuatnya.

“Walaupun Ban Cau kena dilukai Ke Giok Lang dengan jarum beracun, tapi sama sekali tidak menderita kekalahan total di bawah pimpinannya masih terdapat banyak jago-jago lihay, bilamana ia ada maksud menerjang   ke   Giok   Lang   dengan   sepenuh  tenaga,

 rasanya kitapun tak dapat tiba di kota Kay Hong dengan selamat.”

“Aaaaai………. lalu toako hendak pergi menghadiri pertemuan tersebut dengan membawa berapa orang?”

“Di dalam pertemuan ini aku rasa mereka tidak berniat untuk turun tangan terhadap kita semua, tapi kitapun tak boleh tidak harus melakukan persiapan, aku ingin merepotkan saudara serta Su Jan ikut aku pergi menghadiri pertemuan itu.”

“Toako, kapan kau hendak berangkat?” “Kita segera berangkat.”

Mendengar keputusan Cong Piauw-tauw-nya, Phoa Ceng Yan lantas menarik sekejap dari Nyoo Su Jan.

“Su Jan, kaupun harus bersiap-siap.”

“Setiap saat hamba bisa berangkat.” jawab Nyoo Su Jan dengan cepat.

“Bagus sekali” Phoa Ceng Yan segera berangkat bangun. “Toako berjanji hendak berjumpa dengan mereka di mana?”

“Kuil Thian Ong Bio tujuh li di kota sebelah Timur.”

Tampak seorang lelaki kekar berusia lima puluh tahunan bangun berdiri.

“Cong Piauw-tauw” ujarnya lantang. “Kuil Thian Ong Bio sudah lama tidak digunakan sebagai tempat sembahyang keadaan-nya sunyi dan liar, aku rasa mereka tidak bermaksud baik mengundang Cong Piauwtauw ke sana entah bagaimana kalau hamba dengan membawa orang melakukan penjagaan dab penyelidikan terlebih dahulu?”

 Orang yang barusan bicara bukan lain adalah ketua Piauw-tauw dari kantor cabang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok di kota Kay Hong, si “Hwee Huang Si” atau si Batu Terbang Liem Toa Lek.

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Ini hari adalah tanggal dua sembilan bulan dua belas, besok sudah ganti tahun, setelah para anggota repot selama setahun, seharusnya sekarang beristirahat nyenyak, kau tak usah mengganggu ketenangan mereka lagi, apalagi pihak lawanpun rata-rata merupakan jago lihay dari kalangan Liok-lim, kepergian mereka hanya mendatangkan kerepotan belaka.”

“Hamba sudah lama berdiam di kota Kay Hong, terhadap situasi di sekitar sini sangat hapal, mohon Cong Piauw-tauw suka memberi ijin kepada cayhe serta ketiga orang Piauw-tauw lainnya boleh ikut menghadiri pertemuan itu.”

Kwan Tiong Gak termenung sejenak kemudian menggeleng.

“Kalian tidak usah pergi, kebanyakan orang malah mendatangkan kerepotan. Apalagi di dalam kantor kitapun membutuhkan orang untuk menjaganya, baiklah kau seorang saja yang ikut.”

Liem Toa Lek mengiakan, ia pesan beberapa patah kata kepada ketiga orang Piauw-tauw-nya kemudian bangkit berdiri seraya menyambar senjata andalannya.

Kwan Tiong Gak pun ikut bangun berdiri. “Mari kita berangkat?”

Pertama tama ia melangkah dahulu ke muka.

 Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta Liem Toa Lek pun dengan iring-iringan mengikuti dari belakang Kwan Tiong Gak berjalan meninggalkan kantor cabang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.

Kedua orang petugas kantor telah mempersiapkan kuda jempolan dari Kwan Tiong Gak serta tiga ekor kuda lainnya menanti di depan halaman.

Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak telah mengulapkan tangannya.

“Tidak usah, kita tak usah naik kuda, lebih baik jalan kaki semua.”

Mendengar perintah Cong Piauw-tauw-nya, Liem Toa Lek segera berpaling kepada beberapa orang anak buahnya.

“Tuntun kuda ke dalam istal dan beri rumput yang banyak, kuda jempolan Cong Piauw-tauw tak ternilai harganya, kalian harus menjaganya baik baik.” bisiknya lirih.

Beberapa orang anggota perusahaan Liong Wie Piauw-kiok itu mengiakan dan berlalu.

Setelah memberi pesan kepada anak buahnya, Liem Toa Lek segera berebur jalan di muka Kwan Tiong Gak.

“Biarlah hamba yang bawa jalan di depan!” serunya cepat.

Demikianlah dengan beriring-iringan Kwan Tiong Gak sekalian meninggalkan kantor cabang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok menuju ke kuil Thian Ong Bio di luar kota sebelah timur.

Perkataan Liem Toa Lek sedikitpun tidak salah, kuil Thian Ong Bio adalah sebuah kuil kecil yang telah tak

 terpakai lagi, pintu jendela sudah pada roboh, rumput liar serta alang-alang tumbuh subur setinggi lutut, empat penjuru tak ada penduduk yang tinggal di sana.

“Sungguh sunyi tempat ini,” tak tertahan lagi Kwan Tiong Gak berseru dengan kening berkerut.

“Setahun yang lalu,” ujar Liem Toa Lek beri keterangan. “Kuil Thian Ong Bio masih digunakan beberapa orang Toojin untuk bersembahyang, tapi setahun kemudian ketika hamba datang kemari lagi, ternyata suasana sudah sunyi, entah mengapa mereka telah meninggalkan kuil ini?”

“Mari kita berjalan masuk!” ajak sang Cong Piauwtauw.

Pertama tama ia melangkah terlebih dulu ke depan. Phoa Ceng Yan serta Liem Toa Lek yang melihat

Cong Piauw-tauwnya menerjang terlebih dahulu, buruburu berebut maju ke muka.

“Cong Piauw-tauw, ada baiknya kita bukakan jalan untukmu!” serunya hampis berbareng.

Tapi Kwan Tiong Gak sudah menggeleng dan mencegah dengan suara lirih.

“Tidak usah, kalian berjalan ke belakang saja dan jaraknya harus ada di antara enam depa.”

Phoa Ceng Yan serta Liem Toa Lek mengiakan, buruburu mereka mengundurkan diri ke belakang.

Kwan Tiong Gak percepat langkahnya langsung masuk ke dalam ruangan besar.

Phoa Ceng Yan, Liem Toa Lek serta Nyoo Su Jan pun seraya kerahkan hawa sinkang untuk bersiap sedia

 mengikuti dari belakang Cong Piauw-tauwnya Kwan Tiong Gak.

Beberapa orang dengan jalan beriring memasuki ruangan besar.

Tampaklah si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang sambil goyang goyangkan kipasnya menyambut kedatangan beberapa orang itu dari balik ruangan besar.

“Kwan Tiong Gak Piauw-tauw, ternyata kau seorang yang patut dipercayai!” serunya memuji.

Kwan Tiong Gak berhenti dan tertawa hambar. “Hanya saudara seorang?” balik tanyanya.

“Si Dewa Api Ban Cau serta beberapa orang kawannya sedang menanti di ruangan dalam.

“Bagus sekali! Mari kita bicara di dalam ruangan tengah saja.”

“Tunggu, tunggu sebentar, dengarkan dulu sepatah dua patah kata dari aku orang she Ke.”

“Ke heng, silahkan bicara.”

“Aaaaai………suatu peristiwa pembegalan barang kawalan biasa yang sering terjadi dalam dunia kangouw, karena ikut campurnya siauw-te tidak disangka telah membuat urusan ini jadi begitu kacau.”

“Silahkan saudara menjelaskan maksud ucapanmu itu.”

“Sebelum Kwan Cong Piauw-tauw dari perusahaan kalian dan mendatangkan banyak kerepotan buat perusahaanmu.”

 “Soal ini, aku orang she Kwan sudha mendengar laporan mereka.” perlahan lahan Kwan Tiong Gak mengangguk.

“Pada saat ini ada beberapa orang kawan kawan kang ouw sudah datang mencari aku orang she Ke untuk diajak bicara,” kata Ke Giok Lang. “Terus terang saja kuberitahukan kepada kau Cong Piauw-tauw, sebelum kedatanganmu kemari, di dalam kuil Thian Ong Bio sudah terjadi dua kali pertempuran sengit, siauw-tepun beruntun telah melukai tiga orang….”

“Siapa yang telah kau lukai?”

“Ketiga orang itu sangat jarang berkelana di dalam dunia kangouw terutama di daerah utara, karena mereka terlalu andalkan ilmu silatnya dan tidak pandang sebelah mata terhadap siauw-te, maka barusan saja kuberi sedikit pelajaran kepada mereka agar mereka pun tahu seberapa tingginya langit dan berapa tebalnya bumi.”

Kwan Tiong Gak tersenyum.

“Ke Kongcu sudah bicara setengah harian lamanya belum juga menyebutkan siapakah nama ketiga orang itu” tegurnya.

“Oooow… hee…heee….sekalipun kuutarakan, belum tentu Kwan Piauw-tauw mengenalnya.”

“Coba siapakah mereka!” “Lam Thian Sam Sah.!”

“Apakah mereka bukan terdiri dari dua lelaki dan satu wanita” tiba tiba si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan menimbrung dari samping. “Salah satu diantaranya adalah seorang lelaki berbaju hitam bersenjatakan sebatang  Thian  Kui  So  yang  di  dalam disembunyikan

 jarum beracun persis seperti kegunaan kipas Ke Kongcu

.?”

“Aaaakh! Jika demikian adanya tentu Phoa Hu Cong Piauw-tauw pun pernah berjumpa dengan mereka,” kata Ke Giok Lang diiringi senyuman hambar.

“Cayhe tidak pernah bicara takabur, terus terang saja siauw-te pernah merasakan bagaimana hebatnya sebatang jarum beracun yang dilepaskan dari senjata Thian Kui So tersebut.”

“Bagaimana daya kerja jarum beracun it?” sambung si Hoa Hoa Kongcu lagi sambil tersenyum.

“Daya kerja racunnya sangat keras dan dahsyat, seseorang setelah terkena jarum tersebut seketika itu juga akan kehilangan daya tempurnya.”

“Lalu secara bagaimana Phoa Hu Cong Piauw-tauw menyembuhkan luka racun itu?”

“Untuk melepaskan bel harus mencari si pemasang bel itu sendiri, yang melukai diriku adalah orang itu dan yang menolong aku pun juga dia.”

Sampai di situ Ke Giok Lang tidak ingin berbicara terlalu panjang lagi, ia menyingkir ke samping membuka jalan.

“Dalam ruangan tengah masih banyak orang menantikan kedatanganmu, silahkan cuwi masuk ke dalam.”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Ke Kongcu! Agaknya perkataanmu belum selesai bukan?”

 “Cayhe sudah selesai berbicara, apa yang harus kutanyakan lagi? seharusnya Kwan heng-lah yang cepat ambil keputusan.”

“Bagus sekali, cayhe pasti akan memberikan suatu jawaban yang memuaskan untuk Ke Kongcu.”

“Dan cayhe berharap jawaban itu adalah suatu jawaban yang sangat bersahabat,” sambung Ke Giok Lang pula diiringi senyuman hambarnya yang menghiasi bibir.

Kwan Tiong Gak tersenyum dan mengangguk, ia tidak bicara lagi dan langsung masuk ke ruangan tengah.

Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta Liem Toa Lek dengan salurkan tenaga sinkang-nya mempersiapkan diri mengikuti dibelakang Cong Piauw-tauwnya Kwan Tiong Gak masuk ke dalam ruangan tengah.

Ketika sinar mata mereka bersama-sama menyapu keadaan di dalam ruangan itu, tampaklah dalam ruangan yang sunyi dan terpencil berdiri dua puluh orang lelaki kekar tinggi pendek tak menentu.

Si Dewa Api Ban Cau dengan memakai seperangkat jubah warna hijau berdiri di tengah ruangan dengan wajah penuh keseriusan.

Sedangkan Lam Thian Sam Sah duduk bersila di pojokan ruangan sedang menyembuhkan luka yang diderita.

Perkataan dari Ke Giok Lang tadi sedikitpun tidak salah, Lam Thian Sam Sah telah menderita luka yang sangat parah.

Sepasang mata Kwan Tiong Gak bagaikan pelita di tengah kegelapan menyapu sekejap seluruh wajah  jago-

 jago yang hadi di ruangan tengah tersebut, lalu seraya menjura kepada Ban Cau serunya.

“Tentunya saudaralah yang disebut orang-orang kangouw sebagai Si Dewa Api Ban Heng?”

Ban Cau tertawa hambar.

“Kwan Piauw-tauw! Sungguh tajam pandanganmu, walaupun kita berdua pernah berhubungan satu sama lain tapi rasanya hanya melalui surat menyurat belaka bukan? menurut ingatan cayhe di antara kita berdua belum pernah berjumpa barang sekalipun.”

“Terhadap Ban-heng yang merupakan seorang jago kenamaan, kegagahan, gerak-gerik serta ketajaman mata yang jauh berbeda dengan orang lain sudah tentu tidak sukar bagiku untuk mengenalinya sekalipun di antara kita berdua belum pernah berjumpa.”

“Terima kasih, terima kasih, Kwan Cong Piauw-tauw terlalu memuji.”

Sinar mata Kwan Tiong Gak perlahan lahan dialihkan ke atas wajah para jago yang hadir dalam ruangan tengah, ia temukan diantara mereka ada delapan sampai sembilan puluh persen adalah anak buah Ke Giok Lang serta Ban Cau yang pada menyoren senjata.

“Kwan-heng!” terdengar Ke Giok Lang berkata seraya menggerak-gerakkan kipasnya.

“Perusahaan piauw-kiok kalian sudah berhasil menghantar pembesar she Liuw sekeluarga serta seluruh harta kekayaan tiba di kota Kay Hong dengan selamat, terhadap nama besar Liong Wie Piauw-kiok pun boleh dihitung tidak menderita suatu kerugian apapun, dengan demikian     bukankah     tanggung     jawab   selanjutnya

 terhadap keselamatan anggota keluarga she Liuw bukan menjadi tanggung jawab kalian lagi?.”

“Ada satu persoalan yang membuat aku orang she Kwan merasa patut disayangkan!” kata Kwan Tiong Gak dengan nada berat.

“Urusan apa?” tanya Ke Giok Lang dengan sepasang biji mata berputar-putar.

“Ke-heng, buat apa kau bikin jaring untuk menjerat diri sendiri? tidak seharusnya kau paksa Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok demi ikut menanda tangani surata tanda terima tersebut.”

“Hitam di atas putih tertera sangat jelas sekali, semisalnya Liuw Thayjien dengan berdasarkan bukti tersebut melaporkan hal ini kepada pihak pengadilan dan menuduh kami perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bersekongkol dengan jago kalangan Liok-lim untuk jebak ia masuk perangkap, bukankah hal ini membuat kami ada perkataanpun susah untuk membantah.”

Beberapa patah ucapan ini sangat cengli sekali, kendati Ke Giok Lang adalah seorang yang licik dan banyak akal, untuk sesaat pun tak berhasil memperoleh jawaban yang pantas.

Lama sekali ia termenung, otaknya berputar keras dan akhirnya ia bertanya, “Lalu menuruti pandangan Kwan heng bagaimana baiknya?”

“Seharusnya kita utarakan dengan pepatah kuno yang mengatakan, yang cerdik belum tentu cerdik dan yang bodoh belum tentu bodoh, kesemuanya ini hanya salah kau Ke heng dari pintar jadi keblinger, salah satunya cara yang bagus pada saat ini adalah persilahkan Ke Kong cu serahkan   kembali   tanda   terima   itu   untuk kemudian

 dimusnahkan di depan mata kita semua, setelah itu aku orang she Kwan segera akan putar badan berangkat balik ke utara dan tidak mencampuri urusan ini lagi.”

“Kwan heng, sungguh amat ringan ucapanmu itu!” seru Ke Giok Lang sambil tersenyum. “Apa kau lupa bahwa kita orang-orang Bu lim paling mengucapkan apa yang pernah diucapkan selamanya tak akan disesali? Karena barang kawalan dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian aku orang Ke Giok Lang tidak sayang sayangnya telah bentrok dengan beberapa orang kawan Liok-lim sehingga di dalam pertarungan tersebut banyak anak buahku yang terluka, tahukah kalian apa tujuanku berbuat demikian, walaupun aku orang she Ke merasa amat kagum terhadap nama besar kau Kwan Cong Piauw-tauw, tapi seharusnya di antara pihak aku dengan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian sama sekali tak ada hubungan apapun, tujuanku melindungi kalian selama ini semata-mata hanyalah ingin melindungi peta lukisan pengangon kambing tersebut, jangan terjatuh ke tangan orang lain karena benda itu sudah menjadi milik aku orang she Ke dan aku tidak ingin benda milikku itu kembali kena dirampas orang di tengah jalan, justru karena tidak ingin merusak nama besar perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian, selama nanti setelah kalian menghantarkan keluarganya pembesar Liuw itu tiba di kota Kayhong dan perusahaan kalian telah melepaskan tanggung jawab kita baru bekerja kembali, coba kau pikir apa salahku berbuat demikian?”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Aku orang she Kwan percaya kau Ke Kongcu masih punya cara yang lain untuk mendapatkan lukisan peta pengangon kambing itu tanpa menggunakan tanda terima yang ada.”

 “Aku Ke Giok Lang selama bekerja selalu berharap setiap urusan bisa dibuat beres dengan tepat dan tidak banyak buang tenaga, setelah Liuw Thayjien menulis sendiri tanda terimanya, aku tidak takut ia pungkiri janji.”

“Ke Kongcu, rasanya kaupun terlalu pandang enteng pembesar she Liuw itu, jika ia benar-benar ada maksud hendak serahkan lukisan tersebut kepadamu, seharusnya sebelum ia masuk ke dalam istana Jendral paling sedikit menyapa dulu diriku, ternyata tak sepatah katapun yang disampaikan kepada kami.”

Ke Giok Lang tersenyum.

“Apakah Liuw Thayjien bersungguh sungguh hendak seahkan peta lukisan pengangon kambing itu kepadaku atau tidak, tunggulah sebentar jawaban segera akan kaliabn ketahui.”

Mendengar ucapan tersebut air muka Kwan Tiong Gak kontan berubah hebat, tapi sebentar kemudian sudah pulih kembali seperti sedia kala.

“Jika demikian adanya, Ke Kongcu sudah kirim orang untuk menagih lukisan pengangon kambing itu?” tanyanya.

“Sedikitpun tidak salah…..”

Ia merandek sejenak, lalu sambungnya.

“Tapi saudara boleh berlega hati, orang yang cayhe kirim untuk menagih lukisan tersebut sama sekali bukan orang dari kalangan Liok-lim, dia adalah seorang kenamaan di dalam kota Kay Hong, sekalipun Liuw Thayjien ada maksud menghindarkan diri dari kenyataan pun tidak akan menyangka aku bisa minta orang yang mintakan lukisan pengangon kambing tersebut.”

 “Jikalau demikian adanya, pengaruh Ke Kongcu bukan saja sudah tersebar di kalangan Liok-lim bahkan sudah menerobos pula ke dalam kalangan kaum pembesar, orang kenamaan?”

“Aaaaaach….. haaa….haaa….. seseorang yang sering melakukan perjalanan di dalam dunia kangouw, seharusnya mencari kawan lebih baik, mereka suka membantu aku orang she Ke sudah tentu bantuan ini tak akan kutolak mentah mentah.”

“Generasi muda menggantikan generasi tua, Ke Kongcu belum lama terjunkan diri ke dalam dunia persilatan tapi pengaruhmu berhasil kau sebar di segala pelosok Bu Lim, keberhasilanmu ini sungguh membuat orang merasa kagum,” puji Kwan Tiong Gak.

Walaupun dimulut ia sedang berbicara dengan Ke Giok Lang, tapi sepasang matanya melototi wajah si Dewa Api Ban Cau tajam tajam di samping memperhatikan perubahan wajahnya.

Tetapi air muka Ban Cau masih tetap dingin, kaku dan serius, terhadap ucapan dari Kwan Tiong Gak sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun.

Ke Giok Lang tertawa hambar.

“Kwan heng, watak siauwte, selamanya adalah tidak dapat menahan perkataan di dalam hati, saudara Ban heng ini sejak semula sudah menyetujui untuk bekerja sama dengan siauw-te, sekarang kita merupakan satu rombongan.”

“Haaa…. haaa….. haaa….. Ke Kongcu!” seru Kwan Tiong Gak sambil mendongak dan tertawa terbahak bahak. “Tempo dulu waktu berada di Peking siauwte sama    sekali    tidak    memenuhi    undanganmu   untuk

 berjumpa, bila dipikir sekarang, hal tersebut sungguh merupakan suatu tindakan yang terlalu ceroboh.”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya.

“Bila kita bicarakan dari situasi yang kita hadapi saat ini, urusan semakin jelas lagi tertera, dan aku rasa apa maksud Ke Kongcu mengundang aku orang she Kwan datang kemaripun seharusnya boleh segera diterangkan.”

Sekalipun berada di musim salju yang dingin, Ke Giok Lang masih menggoyang goyang kipasnya juga untuk menyejukkan badan.

“Kwan heng” ujarnya. “Perkataan dari orang she Ke sudah dijelaskan…”

“Sungguh sayang pikiranku tumpul sehingga tidak dapat menduga apa maksud yang sebenarnya dari Ke Kongcu.”

“Ke Kongcu” tiba tiba Phoa Ceng Yan menimbrung dari samping. “Urusan kantor dari Cong Piauw-tauw kami terlalu banyak dan tak bisa berdiam terlalu lama di sini, bilamana Ke Kongcu ada perkataan lebih baik diutarakan saja secara terus terang, jikalau maksudmu mengundang kami datang hanya ingin berjumpa saja, sekarang kita semua telah bertemu.”

Wajah Ke Giok Lang masih penuh dihiasi oleh senyuman.

“Setelah meneguk secawan arak, seribu cawanpun dikatakan kurang. Pembicaraan tidak cocok separuh katapun dikatakan terlalu banyak. Kelihatan Phoa heng tidak ingin terlalu lama berkumpul dengan aku orang she Ke”

 Selagi Phoa Ceng Yan siap memberikan tanggapannya, mendadak tampak seorang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan dengan  memakai separangkat baju singsat buru-buru lari masuk ke dalam ruangan kemudian mendekati Ke Giok Lang dan membisikkan sesuatu ke telinga si Hoa Hoa Kongcu ini.

Ke Giok Lang kebutkan kipasnya, lelaki kekar itu segera putar badan dan mengundurkan diri dari ruangan.

Suasana seketika itu juga berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, di tengah kesunyian suasana terasa semakin menegang…..

“Kwan heng!” ujar Ke Giok Lang kemudian sembari menutup kipas di tangannya. “Menurut pengetahuan di dalam kota Kay Hong, kecuali Piauw su dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok masih ada jago jago lihay siapa lagi…?”

“Di dalam kota Kay Hong, naga harimau hilir mudik tiada hentinya, jago lihay banyak jumlahnya, entah Ke Heng ingin tanyakan yang mana?”

“Benar, di kota Kay Hong memang banyak terdapat jago lihay, tetapi yang berani bermusuhan dengan aku orang she Ke rasanya tidak seberapa banyak.”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Cayhe percaya Ke Kongcu bukan seorang yang pandai pentang mulut besar, apa yang bisa kau utarakan tentu punya pegangan yang kuat, tentunya sejak semula kau sudah tanam pengaruh di kota Kay Hong ini.”

Entah karena urusan apa mendadak Ke Giok Lang telah kehilangan kepandaiannya untuk menguasai diri sendiri, senyuman yang semula menghiasi wajahnya

 berubah menjadi suatu mimik yang dingin dan kaku terbentang di depan mata.

“Kwan Cong Piauw-tauw terlalu memuji, di kota Kay Hong aku orang she Ke tidak lebih banyak berhasil berkawan dengan beberapa orang.”

“Jika kudengar dari nada ucapan Ke Kongcu, agaknya terhadap aku orang she Kwan hatimu punya rasa tidak puas.”

“Hmmmm! Apabila di kota Kay Hong ini ada orang yang berniat membawa maksud buruk terhadap aku orang she Ke, maka paling sedikit perusahaan Liong Wie Piauw-kiok termasuk salah satu diantaranya…”

Ia merandek sejenak lalu sambungnya.

“Dengan orang-orang yang punya kedudukan serta nama di kota Kay Hong kebanyakan aku Ke Giok Lang pernah berhubungan sebagai kawan, tapi terhadap perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian selamanya tidak pernah mengganggu, hal ini dikarenakan kau orang she Kwan.”

Walaupun ucapan ini kedengarannya tidak mengandung sesuatu maksud tertentu, padahal maksud sebenarnya terkandung suatu penyerangan yang tajam.

Tidak salah lagi ia sedang mengatakan apabila kawan kawan Bu lim yang ada di kota Kay Hong ini kecuali perusahaan Liong Wie Piauw-kiok sudah kena ditaklukkan semua oleh Ke Giok Lang, Kwan Tiong Gak adalah seorang jagoan yang berpengetahuan sangat luas, sudah tentu iapun dapat menangkap nada ucapan tersebut, setelah termenung beberapa saat katanya.

“Bila di kota Kay Hong ini hanya kami orang-orang perusahaan  Liong  Wie  Piauw-kiok  saja  yang  berani

 merusak pekerjaan Ke Kongcu, maka orang-orang perusahaan kami memang patut kalian curigai terus, tapi jika didengar dari nada ucapan Ke Kongcu agaknya kecuali kami perusahaan Liong Wie Piauw-kiok paling sedikit masih ada seorang yang patut dicurigai, entah siapakah orang itu?”

“Seorang toosu tua dari kuil “Ting To Sia Yen”. Cuma menurut apa yang aku orang she Ke ketahui Thian Peng Totiang ini hanya menerjunkan diri dalam soal agama, ia tidak ingin bergaul dengan akui orang she Ke ini bukan berarti ia memusuhi aku orang.”

“Ke Kongcu, kau mengupasi orang persoalan ini satu demi satu, dan akhirnya kau merasa begitu yakin bila kami orang-orag dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok lah yang memusuhi dirimu.”

“Tentang soal ini seharusnya dalam hati kecil Kwan Cong Piauw-tauw sudah punya perhitungan sendiri, perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bisa berdiri di dalam dunia persilatan sebagai perusahaan piauw-kiok nomor wahid di kolong langit, ini mengartikan baik dalam kecerdasan maupun dalam soal kepandaian silat. Kwan Cong Piauw-tauw benar benar luar biasa.”

Air muka Kwan Tiong Gak perlahan lahan berubah semakin serius.

“Ke Kongcu, perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami bisa mendapat kemajuan seperti ini hari sudah tentu sebagian besar harus berdasarkan bantuan dari kawan kawan kangouw, tetapi kami pun selama ini menjagajaga peraturan perusahaan piauw-kiok ketat-ketat dan selamanya belum pernah dilanggar, kedatangan aku orang she Kwan kali ini untuk memenuhi undangan pun tidak  lebih  hanya  ingin  menarik  kembali  tanda  terima

 tersebut, kecuali itu perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami sama sekali tidak mempersiapkan tindakan apaapa, kedatangan aku orang she Kwan ke sini juga dilakukan terang terangan dan hingga kini belum pernah tiba saat saat penggunaan senjata, apa perlunya aku orang she Kwan menggunakan akal licik? Ke Kongcu, ucapak aku orang she Kwan pun hanya sampai di sini saja.”

Pada dasarnya wajah Kwan Tiong Gak memang keren berwibawa, apalagi ucapan tersebut diutarakan lancang, hal ini membangkitkan rasa percaya di hati semua orang.

Ke Giok Lang kerutkan keningnya sehabis mendengar ucapan tersebut.

“Kecuali dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian yang secara diam-diam main setan, hanya tinggal toosutoosu dari kuil “Ting To Sia Yen” saja. Hmmm! Toosutoosu hidung kerbau ini sungguh bernyali besar.”

“Ke Kongcu,” sambung Phoa Ceng Yan dari samping. “Kota Kay Hong adalah sebuah kota kenamaan, orang yang berlalu lalang dan hilir mudik bagaikan aliran air di sungai, setiap hari berganti wajah mengapa kau begitu ngotot mengatakan tentu orang-orang penduduk Kay Hong lah yang memusuhi dirimu?”

“Jika orang itu datang dari luar kota, aku rasa tak akan sedemikian kebetulannya, memusuhi diriku apalagi mereka-pun tidak tahu kejadian yang sesungguhnya di balik kesemuanya ini.”

“Ke Kongcu, kau sudah bicara setengah harian, sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Walaupun Liuw Thayjien sudah lama bergulungan di dalam    pemerintahan,    tetapi    dia    masih merupakan

 seorang yang bisa pegang janji, setelah melihat surat tanda terima tersebut, ia telah menyerahkan peta lukisan pengangon kambing itu kepada orang yang kukirim.”

“Dan kini peta lukisan pengangon kambing itu kembali dirampas orang?” sambung Kwan Tiong Gak dengan wajah serius.

“Sedikitpun tidak salah, Kwan Cong Piauw-tauw, bagaimana pendapatmu mengenai peristiwa ini?”

Kwan Tiong Gak termenung beberapa saat lamanya kemudian tertawa hambar.

“Peristiwa ini terjadi sangat mendadak dan berada di luar dugaanku, aku orang she Kwan tak dapat memberikan pendapat mengenai peristiwa ini.”

“Kalau begitu apakah Kwan Cong Piauw-tauw sudah mempercayai ucapan siauwte?”

“Cayhe mau percaya atau tidak entah apa hubungannya dengan diri Ke Kongcu?”

Mendadak Ke Giok Lang mendongak dan menggapai seorang lelaki berusia tiga puluhan melangkah maju ke muka.

Si Hoa Hoa Kongcu segera membisikkan sesuatu ke samping telinganya, lelaki itu manggut tiada hentinya lalu memggapai pula ke arah kawannya.

Empat orang lelaki menyahut dan maju ke muka, kemudian lima sosok bayangan manusia laksana sambaran petir lari keluar dari ruangan.

Menanti kelima orang anak buahnya sudah berlalu Ke Giok Lang baru berpaling kembali ke arah Kwan Tiong Gak.

 “Kwan heng, tanda terima tersebut sudah kami serahkan ke tangan Liuw Thayjien, peta lukisan pengangon kambing-pun kena dirampas orang, bilamana Kwan heng ingin minta kembali tanda terima tersebut rasanya amat sulit sekali.”

“Apakah Ke Kongcu menaruh curiga terhadap aku orang she Kwan?”

“Soal ini sih siauwte tidak berani memastikan, selama hidup siauwte hanya bekerja setelah ada bukti yang nyata, tetapi bilamana dikatakan siauwte sama sekali tidak menaruh curiga, tentunya kau orang she Kwan pun tak akan percaya.”

“terus terang aku hendak beritahu kepada Ke Kongcu, siauwte sendiripun rada menaruh curiga terhadap diri Ke Kongcu.”

Mendengar ucapan tersebut Ke Giok Lang segera tertawa terbahak bahak.

“Haaa……haaa…..haaa….. hal ini sudah kuduga sebelumnya.”

“Ke Kongcu, setelah kau kehilangan peta lukisan pengangon kambing agaknya sama sekali tidak menunjukkan rasa gelisah ataupun cemas.”

“Urusan sudah jadi begini, cemaspun tak ada gunanya.”

“Kalalu begitu bagaimana kalau siauwte mohon diri terlebih dahulu ….?”

Perlahan lahan Ke Giok Lang menghela napas panjang.

“Kwan heng, lebih baik kau jangan pergi dahulu.” “Mengapa?”

 “Siauwte menaruh curiga terhadap Kwan heng, dan Kwan heng pun menaruh curiga terhadap siauwte, lebih baik kita sama sama berkumpul jadi satu menanti hingga urusan ini menjadi beres dan terang.”

“Jikalau siauw-te tidak ingin berdiam di sini?”

“Lebih baik Kwan heng jangan ngotot hendak menggunakan kekerasan, daripada harus terjadi bentrokan kekerasan di antara kita.”

Kwan Tiong Gak termenung beberapa saat lamanya, akhirnya ia berkata.

“Untuk minta siauw-te berada di sini tidak sukar tetapi kita harus bicarakan dulu satu syarat.”

“Bagus! Ada syarat bisa dibicarakan, Kwan Cong Piauw-tauw silahkan berbicara.”

“Untuk berdiam di sini bagi cayhe tidak sukar, tapi aku berharap bisa menarik kembali tanda terima tersebut…..”

Ia termenung sejenak lalu tambahnya.

“Mungkin dalam pandangan cuwi menuduh aku orang she Kwan terlalu takut menghadapi urusan, kenyataannya memang tidak salah, aku orang she Kwan adalah seorang rakyat biasa, tidak dapat dibandingkan dengan keadaancuwi sekalian.”

“Haaa……haaa….haaa….. Kwan heng adalah rakyat baik baik kalau begitu kami adalah kaum penyamun bukan?”

“Perkataanku bukan mengartikan demikian, kami orang-orang yang membuka perusahaan piauw-kiok boleh dihitung sebagai kaum pedagang, kita kita harus membuka kantor cabang di setiap tempat secara baik baik  untuk  mencari  keuntungan  material,  ada pepatah

 mengatakan bila rakyat janganlah cari gara-gara dengan pembesar. Cayhe tidak berharap ada surat tanda bukti yang terjatuh ke tangan kaum pembesar pemerintahan.”

“Jikalau Kwan Cong Piauw-tauw hanya merisaukan tanda terima saja, urusan semakin mudah diselesaikan, malam ini juga cayhe bisa pergi mengambilnya.

Walaupun Liuw Thayjien sendiri adalah seorang yang lemah tak bertenaga, tetapi keketatan serta kerapatan penjagaan dalam istana jendral seharusnya kaupun tahu, beberapa orang Bu su melindungi istana pun bukan manusia sembarangan, jikalau Ke Kongcu bermaksud hendak mencuri tanda terima itu, takut urusan malah akhirnya berubah makin besar, ini namanya melukis harimau tidak jadi yang muncul adalah sejenis anjing.”

“Tidak mudah, tidak mudah, kiranya bukan saja Kwan Cong Piauw-tauw begitu paham terhadap seluk beluk Bu Lim, ternyata terhadap keadaan istana jendral pun mengetahui begitu jelas.” puji Ke Giok Lang sambil tersenyum.

“Aaah! Ke Kongcu terlalu memuji.”

Ke Giok Lang mendongak dan tertawa terbahak bahak.

“Haaa……haaa…. haaaa….. seorang yang punya nama besarpun ternyata bisa begitu merendah…..”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya.

“Menurut pendapat Kwan Cong Piauw-tauw, tanda bukti itu tak boleh dicuri, tetapi benda tersebut sudah berada di tangan Liuw Thayjien, entah apa yang harus kami lakukan sekarang?”

“Cara gelap ada beribu ribu cuma yang terang terangan hanya sebuah saja.”

 “Silahkan Kwan Cong Piauw-tauw memberi penjelasan.”

“Menggunakan peta lukisan pengangon kambing untuk ditukar dengan tanda terima tersebut.”

“Aaakh! Suatu cara yang amat bagus, cuma lukisan pengangon kambing itu sudah tidak berada di tanganku lagi!” Ke Giok Lang tertawa hambar.

“Cayhe percaya Ke Kongcu pasti dapat mencari kembali lukisan pengangon kambing yang hilang.”

“Kwan heng terlalu memandang tinggi diri siauw-te!”

Si Hoa Hoa Kongcu tertawa tergelak, kemudian tambahnya.

“Memandang di atas nama Kwan Tiong Gak mu ini biarlah untuk kali ini siauwte jual muka untukmu, asalkan siauwte berhasil mencari kembali lukisan pengangon kambing itu, aku orang she Ke rela bersama-sama Kwanheng pergi minta kembali tanda terima tersebut.”

“Perkataan Ke Kongcu berat bagaikan sembilan Hioloo, sebelumnya siauwte mengucapkan terima kasih dahulu.”

“Semisalnya siauwte tak berhasil mencari kembali lukisan pengangon kambing itu?” tiba tiba si Hoa Hoa Kongcu bertanya kembali.

“Tentang soal ini, tentang soal ini…..”

“Jikalau lukisan pengangon kambing tak berhasil kudapatkan kembali, siauwtepun akan berusaha keras untuk mencarinya kembali.”

“Ucapan dua macam, semisalnya Ke Kongcu tidak berhasil mencari kembali lukisan pengangon kambing itu,

 mka aku orang she Kwan pun terpaksa akan ikut mengadu untung.”

“Entah dapatkah Kwan heng menyanggupi siauwte semisalnya kau yang berhasil mendapatkan kembali lukisan pengangon kambing itu suka mengabarkan siauwte untuk kemudian bersama-sama pergi menghadapi Liuw Thayjien dan minta kembali surat tanda terima tersebut?”

“Boleh, boleh, asalkan siauwte berhasil menemukan kembali lukisan pengangon kambing itu, bagaimana juga Ke Kongcu pasti akan kami kabari, kecuali cayhe tidak berhasil temukan dirimu.”

“Aaaakh! Ucapan ini terlalu samar, entah dalam keadaan bagaimana Kwan heng anggap tidak berhasil menemukan siauwte?”

“Aku orang she Kwan selamanya bicara satu tetap satu, bicara dua tetap dua, apakah Ke Kongcu hendak memaksa aku untuk angkat sumpah.”

“Siauwte tidak berani berbuat demikian.” dengan buruburu Ke Giok Lang berkelit. “Cuma setelah Kwan heng berhasil menemukan kembali lukisan pengangon kambing itu, aku harap kaupun mempunyai suatu pernyataan yang jelas.”

“Perduli bagaimanakah cara mengutarakan pernyataan tersebut, asalkan tidak menyukarkan diriku, pasti akan cayhe penuhi.”

Ke Giok Lang agak termangu mangu sejenak, setelah itu katanya.

“Bila ditinjau situasi yang dihadapi saat ini, agaknya sebelum   Kwan   Cong   Piauw-tauw   berhasil  dapatkan

 kembali surat tanda terima tersebut untuk sementara tak akan meninggalkan tempat ini?”

“Siauwte berharap sebelum Cap Go Meh bisa kembali ke Peking, soal mendapatkan kembali lukisan  pengangon kambing itu bisa lebih cepat sudah tentu  lebih baik.”

Ke Giok Lang menunggu kembali lalu mengangguk. “Baiklah, jikalau Kwan heng berhasil menemukan

kembali lukisan pengangon kambing itu, harap kau pasang sebuah lentera merah di depan pintu kantor cabang Piauw kok kalian selama dua malam, jikalau siauwte belum juga tiba maka ini berari siauwte telah meninggalkan kota Kay Hong.”

“Ke Kongcu bisa mencari aku, tetapi bagaimana caranya pula apabila cayhe ingin mencari Ke Kongcu?”

“Tiga hari sebagai batas waktu, bilamana cayhe berhasil mendapatkan kembali lukisan pengangon kambing itu sudah tentu bisa kuhantar sendiri ke perusahaan Piauw-kiok kalian untuk berjumpa dengan Kwan heng, bilamana yang aku dapat hanya berita saja tentang lukisan pengangon kambing itu, maka siauwte akan kirim orang untuk melaporkan berita tersebut kepada Kwan heng.”

“Baik! Kita tentukan demikian saja, jikalau Ke Kongcu membutuhkan bantuan siauwte, kirim saja orang untuk memberitahu, siauwte pasti akan segera berangkat.”

“Terimakasih atas kesudian Kwan heng.” buru-buru Ke Giok Lang menjura. “Asalkan siauwte berjumpa dengan musuh yang sangat tangguh tentu akan kukirim orang untuk minta bantuan Kwan heng, dan semisalnya Kwan heng   yang   membutuhkan   bantuan   siauwte  silahkan

 pasang pula lentera merah di depan pintu kantor cabang piauw-kiok, siauw-te segera akan datang memberi bantuan.”

Kwan Tiong Gak segera mendongak dan tertawa terbahak bahak.

“Semoga Ke Kongcu bisa memperoleh hasil, siauwte menanti kabar baikmu di dalam kantor piauw-kiok.”

Setelah menjura ia menoleh kepada Phoa Ceng Yan sekalian.

“Mari kita pergi.”

Dengan langkah lebar ia berlalu terlebih dulu dari ruangan.

Ke Giok Lang mengikuti dari belakang dan menghantar rombongan tersebut hingga keluar ruangan.

“Kwan-heng, dapatkah kau berhenti sebentar.” tiba tiba serunya.

Dengan cepat Kwan Tiong Gak putar badan, sepasang matanya berkilat.

“Apakah Ke kongcu masih ada urusan?”

“Barusan saja siauwte teringat akan satu hal semisalnya Kwan heng ingin mempertahankan diri sebagai penduduk baik-baik lebih baik untuk sementara waktu bersembunyi dahulu.”

“Aku orang she Kwan adalah seorang lelaki sejati, kenapa harus menyembunyikan diri.”

“Siauwte tidak memiliki kepandaian untuk meramal kejadian yang akan datang, tapi aku akan ingat ingat terus persoalan ini mau mendengarkan atau tidak itu terserah pada Kwan heng sendiri.”

 “Tentang soal ini Ke Kongcu tak usah kuatir.”

“Kalau begitu anggap saja siauwte terlalu banyak bicara” seru si Hoa Hoa Kongcu kemudian sambil tempelkan tangan kanannya di tepian kipas sendiri.

“Ke Kongcu terlalu merendah.” “Cuwi silahkan berangkat!”

Kwan Tiong Gak ulapkan tangannya dengan membawa Phoa Ceng Yan sekalian berlalu dari kuil Thian Ong Bio.

Setelah jauh meninggalkan kuil tersebut, Phoa Ceng Yan berpaling dan setelah dirasakan tak ada yang menguntit bisiknya kepada sang Cong Piauw-tauw-nya.

“Agaknya Ke Giok Lang bukan seorang jago yang gampang diusir.”

Kwan Tiong Gak menghela napas panjang.

“Entah siapakah yang telah memberi gelar “Hoa Hoa Kongcu” kepadanya, bukan saja tidak sesuai dengan wataknya, bahkan pandai sekali dia memancing orang untuk terperosok ke dalam langkah-langkah yang salah.”

Ia merandek, sejenak kemudian tambahnya.

“Dia adalah seorang yang berpengetahuan luas, pikirannya tajam dan akalnya banyak seharusnya terhadap manusia macam begini tak boleh diberi julukan sebagai si Hoa Hoa Kongcu.”

“Toako, agaknya kau masih mempercayai perkataannya.?”

“Dalam soal sekecil ini, aku percaya ia tak bakal bicara bohong,” kata Kwan Tiong Gak seraya mengangguk. “Justru  yang  menjadi  persoalan  pada  saat  ini   adalah

 terjatuh ke tangan siapakah lukisan pengangon kambing itu?”

Ia menghembuskan napas panjang.

“Sayang aku belum pernah membicarakan persoalan ini dengan diri Liuw Thayjien pribadi.”

“Cong Piauw-tauw, apakah kau merasa peristiwa ini ada kemungkinan adalah permainan setan dari Liuw Thayjien?” sela Nyoo Su Jan.

“Liuw Thayjien sudah ada puluhan tahun lamanya berkecimpungan di dalam pemerintahan, ia benar-benar bukan seorang yang patut dipandang enteng, tetapi aku belum pernah memperhatikan dirinya dengan cermat dan tak kuketahui bagaimanakah wataknya?”

“Dia adalah seorang yang penuh dengan pengetahuan, penuh dengan pengalaman…” timbrung Phoa Ceng Yan.

“Orang she Liuw ada banyak bagian yang sangat berbeda dengan orang lain, sebagai seorang pembesar kelas dua pada waktu ini ternyata ia berkecimpung pula dalam soal Bu Lim, sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh,” sambung Kwan Tiong Gak kembali.

“Siauwtepun berpendapat demikian, aku lihat agaknya terhadap lukisan pengangon kambing itu ia sama sekali tidak menaruh rasa sayang, oleh karena itu siauwte-pun merasa yakin jelas terhadap rahasia lukisan pengangon kambing itu pembesar she Liuw ini sama sekali tidak mengerti.”

“Emmmm, urusan ini memang ada sedikit mengherankan, cuma sampai detik ini kita masih belum dapat memahami keseluruhannya.”

 “Ke Giok Lang bisa menaklukkan si Dewa Api Ban Cau untuk bergabung ke dalam pihaknya ini cukup membuktikan kecerdikan Ke Kongcu luar biasa sekali,” kata Nyoo Su Jan.

“Persoalan tentang rahasia lukisan pengangon kambing tidak banyak yang tahu, rasanya peristiwa lenyapnya lukisan pengangon kambing tersebut apabila bukan permainan setan dari pihak Ke Kongcu sendiri, ada kemungkinan merupakan siasat dari Liuw Thayjien.”

“Sebelum kita berhasil mendapatkan bukti yang nyata, janganlah sembarangan ambil kesimpulan sendiri.” akhirnya Kwan Tiong Gak mencegah anak buahnya bicara lebih lanjut.

Gerakan tubuhnya dipercepat untuk kembali ke kantor cabang Piauw-kiok-nya.

Ketika beberapa orang itu tiba di depan pintu kantor, beberapa orang anggota piauw-kiok sudah menyambut kedatangan mereka.

Tahun baru sudah tiba, untuk sementara perusahaan Liong Wie Piauw-kiok berhenti bekerja, pintu besar tertutup rapat, bendera perusahaan yang sepanjang jalan selalu berkibarpun telah diturunkan.

Kwan Tiong Gak sekalian bersama sama masuk ke dalam ruangan belakang, setelah ambil duduk Liem Toa Lek memerintahkan kokinya persiapkan makanan.

Sejurus kemudian perjamuan telah dipersiapkan.

Tapi belum sampai seteguk arak masuk mulut mendadak tampak seorang lelaki lari masuk ke dalam dengan terburu-buru.

“Ada urusan apa?” tegur Kwan Tiong Gak seraya meletakkan kembali cawan araknya ke meja.

 “Tangan kanan dari Tok Say mohon bertemu dengan Cong Piauw-tauw” lapor lelaki itu seraya menjura.

Walaupun Kwan Tiong Gak adalah seorang jago gagah perkasa yang berjiwa jantan tetapi dia adalah seorang pedagang yang mencari sesuap nasi dengan membuka perusahaan piauw-kiok, mendengar tangan kanan dari sang Tok Say datang mencari dirinya ia agak sedikit melengak.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 13"

Post a Comment

close