Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 10

Mode Malam
Si Dewa Api merupakan seorang iblis kenamaan di dalam kalangan Liok-lim, kenapa mereka mengundurkan diri sebelum berhasil mencapai pada sasarannya??”

Phoa Ceng Yan yang melihat kejadian inipun rada keheranan dibuatnya.

“Su Jan, mereka mengundurkan diri??” bisiknya lirih. “Mungkin waktu yang mereka janjikan untuk turun

tangan belum tiba, dan sekarang mereka mengundurkan diri terlebih dulu sambil menunggu waktu.”

“Dengan watak si Dewa Api Ban Cau yang licik dan banyak pengalaman sebelum punya pegangan kuat, ia tak akan berani datang kemari untuk menempuh bahaya,” kata Phoa Ceng Yan setelah termenung sejenak. “Kini mereka sudah datang bahkan ajak aku bicara secara berhadapan muka, tak mungkin ia suka mengundurkan diri sedemikian mudah, paling tidak ia akan tunjukkan dulu dua-tiga macam senjata apinya sebagai tameng dalam pengunduran diri tersebut.”

“Perkataan Jie-ya tidak salah,” Nyoo Su Jan mengangguk. “Di antara persoalan ini pasti sudah ada perubahan, tetapi perubahan apakah tang telah terjadi sehingga bisa membuat si iblis tua itu berubah pendapat menjelang saat-saat kritis dan mengundurkan diri??”

“Mungkinkah mereka sedang gunakan siasat licik untuk menipu kita?” seru Phoa Ceng Yan tiba-tiba. “Sengaja mereka munculkan diri kemudian mengundurkan diri, setelah itu mengambil kesempatan sewaktu penjagaan kita sedikit mengendor, secara diamdiam mereka menyelundup masuk ke dalam kuil…..”

 Belum sempat Nyoo Su Jan memberikan jawabannya, mendadak nampaklah Lie Giok Liong berlari masuk dengan langkah cepat.

“Giok Liong, bukannya berjaga-jaga di posmu, buat apa lari kemari dengan gugup dan gelagapan?” tegur Phoa Ceng Yan sang Hu Cing Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok dengan alis berkerut.

“Jie-siok! Siauw-tit telah menemui suatu kejadian yang mengherankan, karena itu sengaja datang minta pendapat dari paman Jie-siok!” lapor Lie Giok Liong seraya menjura.

“Ada Urusan apa??”

“Sewaktu Siauw-tit berjaga-jaga di pos penjagaan mendadak menemukan empat sosok bayangan manusia dengan gerakan menyelinap mendekati kuil kita…..”

“Kalian sudah tahu ada orang hendak menyelinap masuk ke dalam kuil, kenapa kau orang malah meninggalkan pos penjagaan, jangan bergurau!”

“Paman Jie-siok, Siauw-tit belum selesai menceritakan keadaan selanjutnya.”

“Baiklah! Kau teruskan lebih lanjut.”

“Keempat sosok bayangan manusia itu sewaktu tiba kurang lebih tiga kaki di luar tembok kuil, mendadak salah satu di antaranya tanpa sebab mendadak jatuh tertelungkup seperti menubruk katak.”

“Aaaakh! Kemudian??” Phoa Ceng Yan berseru tertahan.

“Justeru keistemewaannya terletak di sini, baru saja orang yang jatuh itu bangun berdiri, orang yang berada di sampingnya mendadak jatuh rubuh ke atas tanah, empat

 orang itu jatuh ke atas tanah saling bergilir, ketika orang terakhir berhasil meronta bangun dari tanah, maka mereka berlalu terbirit-birit tanpa menoleh lagi, karena siauw-tit tidak paham di manakah letak keistemewaan dari persoalan ini, maka sengaja datang kemari untuk laporkan urusan ini pada paman Jie-siok.”

Sembari mengelus jenggotnya Phoa Ceng Yan termenung berpikir keras, beberapa saat kemudia ia baru berkata, “Soal ini…..soal ini….. benar-benar membuat orang merasa sedikit tidak paham.”

“Jie-ya, mungkinkah ada jagoan lihay yang membantu kita secara diam-diam?” timbrung Nyoo Su Jan dari samping.

“Nona Liauw………”

“Apa yang berhasil Giok Liong lihat serta mengundurkan diri si Dewa Api Ban Cau secara mendadak, tidak mungkin kalau tak ada sebabsebabnya……”

“Kalau begitu, biarlah aku pergi tengok diri Liauw Thayjien.”

Habis berkata orang tua she Phoa ini bangun dan melangkah menuju ruangan tengah.

“Cepat kembali dan berjaga-jaga di tempat semula.” bisik Nyoo Su Jan kemudian kepada diri Lie Giok Liong sepeninggal Phoa Ceng Yan. “Peristiwa yang terjadi pada malam ini rada sedikit kabur, sungguh membuat orang jadi kebingungan, sekalipun jelas ada jago lihay yang secara diam-diam membantu kita dengan gunakan kepandaian lihaynya mengundurkan musuh tangguh, tapi kitapun jangan terlalu bersikap gegabah,”

 Perlahan-lahan Lie Giok Liong menghela napas panjang.

“Cahaya rembulan menyinari permukaan salju dengan terangnya, pemandangan di sekitar beberapa kaki dari pos penjagaanku dapat dilihat dengan jelas, tapi ……….

kecuali keempat orang itu jatuh bangun dipermainkan orang belum pernah kutemukan lagi bayangan manusia yang lain, jika benar-benar ada orang yang membantu kita secara diam-diam maka kepandaian silat dari orang itu betul-betul luar biasa lihaynya.”

“Bila kepandaian silat dari orang itu biasa saja, rasanya iapun tak bakal bisa kejutkan musuh tangguh sehingga melarikan diri terbirit-birit.”

“Heee……….. apalagi jika jago lihay itu adalah nona Liauw, kita seharusnya merasa sangat malu.”

“Sedikitpun tidak salah! Orang lain hamburkan uang minta kita mengawal keselamatan mereka sepanjang jalan, tidak disangka sewaktu kita hadapi persoalan yang kritis sebaliknya orang lain yang melindungi keselamatan kita.”

“Aku mau pergi” kata Lie Giok Liong kemudian seraya menjura. “Jikalau paman Jie-siok menemukan sesuatu harap dia orang suka cepat-cepat beri kabar kepadaku.”

“Kenapa? Agaknya terhadap persoalan ini kaupun sudah timbul perasaan ingin tahu?”

“Kepandaian silat seseorang ternyata bisa dilatih hingga tahap mengundurkan musuh tangguh tanpa perlihatkan sedikit jejak, kejadian ini benar-benar susah dipercaya dengan pikiran manusia, cayhe kepingin sekali bisa bertemu dengan manusia macam begini.”

 Ia merandek sejenak, setelah tukar napas sambungnya.

“Terus terang saja aku beritahu pada Nyoo-heng, sejak Lam Thian Sam Sah mengundurkan diri secara misterius, selama ini siauw-te terus menerus memperhatikan segala gerak-gerik dari kereta yang ditumpangi nona Liauw”.

“Lalu apakah Lie-heng sudah pernah menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan ataupun istimewa?”

“Belum, selama ini cayhe belum berhasil menemukan suatu tanda-tanda yang aneh ataupun mencurigakan.”

“Jie-ya sudah pergi tanyakan persoalan ini pada Liauw Thayjien, jikalau jago lihay yang barusan saja bantu kita mengundurkan musuh tangguh ini adalah hasil  perbuatan nona Liauw, rasanya kali ini ia pasti berhasil menemukan tanda-tanda tersebut.”

“Mengapa?”

“Di dalam ruang tengah cuma terdapat sebuah jalan keluar saja, peduli nona Liauw memiliki kepandaian silat seberapa lihaypun tidak mungkin dia orang bisa masuk keluar dengan menembusi dinding……”

Ia rada merandek sejenak, lantas tambahnya.

“Musuh tangguh telah mengundurkan diri, untuk beberapa saat tak mungkin bisa balik kemari, bagaimana kalau kitapun pergi ke ruang tengah untuk melihat-lihat keadaan?”

“Meninggalkan tugas pos penjagaan, aku takut paman jie-siok akan menegur?”

“Sekalipun kita pergi menengok sejenak rasanya tak akan buang banyak waktu………”

 “Baiklah!” akhirnya Lie Giok Liong setuju. “Nyoo Piauw-tauw selama ini mendapat penghargaan dari paman Jie-siok, asalkan kau berjalan di depan rasanya paman Jie-siok tak akan menegur.”

Nyoo Su Jan tersenyum, setelah ia serahkan tugas pos penjagaan mereka kepada dua orang pembantu piauw-kiok, katanya.

“Kalian baik-baiklah berjaga di pintu besar, bilamana menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan berusahalah secepat mungkin sampaikan berita itu ke dalam ruangan tengah.”

“Nyoo-ya harap berlega hati” sahut kedua orang pembantu piauw-kiok itu seraya menjura.

Kemudian Nyoo Su Jan baru berpaling dan memandang sekejap ke arah Lie Giok Liong.

“Mari kita pergi”

Dengan langkah lambat ia berjalan ke depan.

Lie Giok Liong dengan cepat menguntil dari belakang Piauw-tauw she Nyoo ini menuju ke dalam ruangan.

Ketika kedua orang itu mendekati ruangan, pada waktu itu Phoa Ceng Yan sedang bercakap-cakap dengan Liauw Thayjien.

Terdengar Phoa Ceng Yan dengan suara lirih sedang berkata.

“Putri kasayanganmu apakah masih ada di dalam ruangan?”

“Sejak Siauw-li masuk ke dalam ruangan tengah, hingga kini belum pernah meninggalkan tempat ini barang selangkahpun,” sahut Liauw Thayjien perlahan.

 “Apakah Thayjien yakin tidak salah melihat?”

“Tidak salah. He-koan tahu siauw-li belum pernah meninggalkan ruang kecil ini barang selangkahpun.”

“Dapatkah Thayjien masuk sejenak untuk memeriksa sendiri???”

Liauw Thayjien tampak termenung, akhirnya ia manggut.

“Baiklah! He-koan akan periksa sebentar ke dalam!”

Ia lantas bangun berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruang kecil di tengah ruang besar kuil tersebut.

Sesaat kemudian ia sudah melangkah ke luar. “Siauw-li sudah tidur pulas!”

“Apa? putrimu sudah tertidur nyenyak?” Phoa Ceng Yan jadi tertegun dibuatnya.

“He-koan melihat hal tersebut dengan mata kepala sendiri dan siauw-li betul-betul sudah tertidur pulas, apakah aku masih bisa menipu kalian?”

“Oouw…….oouw…… sudah tentu Thayjien tak bakal berbicara bohong.”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! He-koan ada beberapa patah kata bila tak kuucapkan keluar rasanya mengganjel di tenggorokan.”

“Silahkan Thayjien mengutarakan keluar.”

“Aku sudah banyak menuruti kemauan kalian semua, tapi lebih baik kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw sedikit tau keadaan, masa di tengah malam buta kau paksa aku yang jadi ayah pergi tengok putriku sendiri, walaupun keadaan tidak sama dengan waktu waktu biasa, tapi kejadian ini telah melanggar tata kesopanan… ”

 Phoa Ceng Yan terbatuk batuk kering, buru-buru ia rangkap tangannya menjura.

“Teguran dari Thayjien memang tepat!” sahutnya perlahan. “Kebanyakan keluarga pembesar paling ketat menjaga peraturan rumah tangga, tapi keadaan kita hadapi saat ini jauh berbeda dengan keadaan biasa, sedikit teledor kemungkinan besar kita akan kehilangan nyawa bersama-sama, oleh karena itu di banyak tempat terpaksa aku orang she Phoa harus mendapatkan bukti dengan sangat berhati-hati.”

Setelah mendengar perkataan itu hawa gusar dalam dada Liauw Thayjien pun rada reda.

“Agaknya suatu peristiwa besar kembali terjadi pada malam ini?”

“Tidak salah, walaupun Thayjien harus tidur di pojokan kuil yang sempit dan banyak menderita siksaan lahir maupun bathin, tapi orang-orang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok dari kedudukan teratas aku orang she Phoa hingga bagian bawah para pembantu piauw-kiok yang terluka semuanya berjaga di atas tanah lapang bersalju yang sangat dingin, kita sudah salurkan seluruh kekuatan yang kita miliki untuk melindungi keselamatan dari Thayjien sekeluarga.”

Liauw Thayjien menghela napas panjang. “Sebenarnya kalianpun sudah cukup

menderita…….cuma, apa sangkut pautnya urusan itu dengan diri Siauw-li??”

“Liauw Thayjien! Terus terang saja kukatakan barusan ada beberapa kelompok jago-jago Liok-lim dengan mengambil arah yang berlainan sama-sama menyerang kuil  kita,  tapi  sewaktu  mereka  mendekati  kuil  secara

 mendadak mengundurkan diri kembali dengan terbirit birit?”

“Ooouw… ada urusan demikian?”

“Tidak salah, justeru disinilah letak rasa curiga di hati cayhe, setelah aku pikir bolak balik akhirnya berhasil kamu dapatkan dua kesimpulan.”

“Dan apa hubungannya dengan Siauw-li”

“Pertama ada seorang jago lihay yang memiliki kepandaian silat dashyat bersembunyi di sekitar tempat ini dan bantu kita mengundurkan para penjahat. Kedua, mereka sengaja menjalankan siasat licik untuk mencobacoba kekuatan kita apa benar-benar mengandalkan persiapan. Kita jangan bicarakan kesimpulan yang kedua, jikalau semisalnya benar-benar ada seorang jago lihay yang membantu kita, lalu siapakah orang itu? Inilah yang membuat kami harus berpikir dan menduga-duga .”

“Maka dari itu kalian lantas mencurigai Siauw-li?” sambung Liauw Thayjien cepat.

“Lam Thian Sam Sah setelah membuka horden kereta putrimu buru-buru mengundurkan diri terbirit-birit, HoaHoa Kongcu menerjang masuk ke dalam ruang tidur putrimu dan akhirnya mengundurkan diri serta menghadiahkan obat mujarab, sebegitu banyak hal-hal yang mencurigakan benar-benar membuat orang merasa tidak paham di manakah letaknya alasan-alasan tersebut! Bila kau Liauw Thayjien berkedudukan seperti aku Phoa Ceng Yan sekarang ini, maka apa yang hendak kau lakukan?”

Sekali lagi Liauw Thayjien menghela napas panjang. “Perkataanmu memang betul, kejadian ini memang tak

bisa salahkan kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw.”

 “Thayjien bisa memahami kesusahan aku orang she Phoa, dengan demikian aku orang she Phoa pun bisa berlega hati. “ segera Phoa Ceng Yan merangkap tangannya menjura.

“Baiklah!” kembali Liauw Thayjien berbatuk-batuk kering. “Besok pagi, setelah semangat Siauw-li sedikit baikan, kau Phoa Hu COng Piauw-tauw boleh bercakapcakap dengan dirinya, aku rasa di balik kesemuanya ini memang benar-benar masih tersembunyi suatu rahasia..”

“Tia! Aku sudah bangun ……” tiba-tiba terdengar suara seseorang yang lemah lembut memotong pembicaraan.

Ketika Phoa Ceng Yan berpaling, dilihatnya nona Liauw dengan rambut panjang terurai di pundak melangkah keluar dari balik ruang kecil itu lambat-lambat.

“Malam sudah kelam, hawa diluarpun dingin, cepat pergi beristirahat, ada perkataan kita bicarakan besok hari saja” buru-buru Liauw Thayjien menegur seraya mendehem.

Liauw Wan Jie tersenyum manis.

“Selama dua hari ini secara mendadak aku merasa badanku jauh lebih baikan, bahkan semangatpun sudah pulih kembali. Tia! Kau tidak usah kuatir buat diriku lagi.”

“Apakah setelah menelan pil mujarab pemberian Hoa Hoa Kongcu…….” sela Phoa Ceng Yan dari samping.

“Ehm! Tidak salah, sejak menelan pil pemberiannya, aku merasa penyakitku rada baikan… ”

Gadis she Liauw ini merandek sejenak, lantas tambahnya.

“Bukankah kalian sangat mencurigai diriku?”

 “Berhubung banyak urusan berlangsung sangat bertepatan waktu, mau tak mau terpaksa kami harus mencurigai diri nona” Phoa Ceng Yan membenarkan.

“Sekarang aku berdiri di sini, ada persoalan apa silahkan ditanyakan semua.”

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, akhirnya ia rangkap tangannya menjura.

“Nona memiliki kepandaian silat yang lihay bahkan berulang kali membantu kami mengundurkan musuhmusuh tangguh, bukan saja cayhe merasa sangat berterima kasih, sekalipun Cong Piauw-tauw kamipun ikut merasa kagum bercampur girang.”

“Apa maksud perkataanmu itu?” Liauw Wan Jie segera menggeleng. “Badanku lemah tak bertenaga, untuk turun tangan menyembelih seekor ayam pun tak becus, mana mungkin bisa memiliki kepandaian silat.”

“Walaupun manusia pandai tidak suka unjukkan muka, tapi jejak dari nona sudah bocor dan diketahui banyak orang, agaknya tiada berguna kau orang berbohong  lagi.”

“Setiap perkataan yang kuucapkan adalah kata-kata sejujurnya, jika kau tak percaya itupun merupakan suatu kejadian yang tidak bisa dibuktikan lagi.”

Phoa Ceng Yan jadi melengak.

“Cayhe sama sekali tidak bermaksud untuk menciptakan kesalah-pahaman dengan diri nona…..”

“Perduli kau ada maksud menganggap soal ini kesalah-pahaman atau tidak, yang jelas apa yang aku ucapkan adalah kata-kata sejujurnya.” potong Liauw Wan Jie cepat. “Aku tidak bisa ilmu silat, jangan dikata orang

 yang bisa ilmu silat sekalipun orang biasapun cukup sekali tinju bisa membinasakan diriku.”

“Ada kalanya cayhepun merasa bahwa nona tidak mirip dengan seorang yang pandai bersilat.”

“Kalau memang sudah melihat betul, kenapa kau ubah kembali pendapatmu itu?”

“Karena cayhe tidak berhasil menjelaskan persoalanpersoalan yang terjadi secara beruntun dan kebetulan itu secara tepat! Oleh sebab itu cayhe merasa di balik kesemuanya ini tentu masih ada sebab-sebab lain.”

Nona Liauw menghela napas panjang.

“Aku berharap kalian bisa mempercayai perkataanku.” “Mana berani kami tidak mempercayai perkataan

nona, cuma cayhe sangat berharap nona suka menceritakan semua rahasia di balik kesemuanya ini, semisalnya nona merasa jalan inipun susah ditempuh, maka kami berharap nona suka membuka suatu jalan yang rasanya bisa kita lampaui.”

“Heeeeeiii! Tindakan kalian ini bukankah sama dengan bertanya jalan dengan orang buta? Kau suruh aku berbuat apa, bagaimana aku bisa tahu??”

Dalam hati Phoa Ceng Yan tahu sekalipun ditanyakan lebih lanjut tak berguna, karena itu ia lantas alihkan bahan pembicaraan.

“Nona, silahkan kau kembali untuk beristirahat.”

“Pada malam ini semangatku luar biasa segar, lebih baik kau tumpahkan keluar seluruh kecurigaan yang mencekam di dalam dadamu.”

“Baiklah,” kata Phoa Ceng Yan kemudian setelah ragu-ragu sejenak. “Kenapa sewaktu Hoa Hoa Kongcu

 menerjang masuk ke dalam ruangan tidur nona bukan saja ia tidak melukai dirimu bahkan menghadiahkan obat yang sangat mujarab?”

“Liauw Wan Jie termenung tidak bicara, agaknya ia sedang berpikir cermat sebelum menjawab.

“Bocah, kau harus bicara terus terang,” sela Liauw Thayjien dari samping.

“Bicara sejujurnya, aku sendiripun kurang begitu paham mengapa ia hadiahkan sebutir obat mujarab kepadaku,” kata Liauw Wan Jie seraya mengangguk. “Tapi aku jelas mengetahui bahwa diapun tidak punya alasan yang kuat untuk mencelakai diriku.”

“Jikalau perkataan yang nona ucapkan adalah sejujurnya, maka rasanya baik Hoa Hoa Kongcu maupun Lam Thian Sam Sah tiada alasan untuk datang kemari.”

“Tidak salah, tapi mereka pada berdatangan lalu dikarenakan apa ….”

Phoa Ceng Yan tertegun, kemudian tertawa getir. “Karena apa? Pertanyaan dari nona sangat bagus!

Hingga sekarang aku orang she Phoa pun masih belum paham, apa sebabnya?”

“Jadi maksudmu, kedatangan mereka dikarenakan aku??” kata Liauw Wan Jie sambil membereskan rambutnya yang panjang terurai.

“Soal ini si bukan” Phoa Hu Cong Piauw-tauw menggeleng. “Jikalau kedatangan mereka disebabkan nona, agaknya tindakan yang diambil tidak perlu sedemikian buas dan keji, mereka bisa mohon bertemu secara blak-blak kan……”

“Aaakh! Lalu karena apa mereka datang kesini?”

 “Jikalau nona betul-betul tidak tahu, maka persoalan ini harus ditanyakan ayahmu.”

Sinar mata Liauw Wan Jie perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah Liauw Thayjien, perasaan curiga mulai melintasi alisnya.

“Tia, sebenarnya barang berharga apakah yang kita bawa sehingga menimbulkan inceran sebegitu banyak orang-orang?”

“Menurut perkataan dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw, kedatangan orang-orang ini bukannya dikarenakan untuk merampok emas, perak ataupun barang-barang mustika lainnya…..” kata Liauw Thayjien menggeleng.

“Tidak salah!” sambung Phoa Ceng Yan pula. “Sekalipun Thayjien sudah kumpulkan banyak emas, perak maupun barang antik, tapi barang-barang tersebut masih tidak termasuk suatu barang kawalan yang besar. Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami sudah pernah mengawal beberapa ratus laksa tahil perak di daratan Tionggoan sebelah Utara tetapi belum pernah ada orang yang berani menempuh bahaya mengikat tali permusuhan dengan kami ataupun menghadang barangbarang kawalan kami, sekalipun beberapa orang pentolan Liok-lim yang tak dapat diajak kompromipun tak akan berani banyak ribut, tapi kali ini…. beberapa orang iblis kenamaan dari kalangan Liok-lim sudah pada munculkan diri.”

“Jadi maksudmu barang yang kami bawa sudah melampaui nilai beberapa ratus laksa tahil sehingga memancing perhatian mereka?”

“Tidak salah,” jawab Phoa Ceng Yan dengan air muka serius. “Kemungkinan sekali barang-barang itu sama sekali tidak bernilai di mata kalian dan tiada berharga

 beberapa ratus laksa tahil, tapi bagi mereka benda itu betul-betul bernilai.”

“Tia! Sebenarnya apa yang sudah kita bawa?? Harta adalah benda sampingan yang tidak berguna…….”

“Aku sendiripun tidak paham tentang soal ini,” Liauw Thayjien menggeleng dan memotong perkataan putrinya yang belum selesai.

“Menurut apa yang cayhe ketahui, lukisan peta pengangon kambing itu termasuk salah satu di antaranya,” sela orang tua she Phoa dari samping.

Liauw Thayjien nampak termenung berpikir keras, sesaat kemudian ia baru mengambil keputusan.

“He-koan akan bertanggung jawab, asalkan yang mereka minta adalah lukisan peta pengangon kambing itu maka kalian boleh serahkan peta tersebut kepada mereka asalkan kita bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat!”

Agaknya Phoa Ceng Yan sama sekali tidak menduga kalau Liauw Thayjien bisa berkata demikian, ia mendehem.

“Sungguh?”

“Sudah tentu sungguh, kemungkinan sekali lukisan peta itu benar-benar bernilai, tapi di tanganku tak kumengerti dimanakah letak berharganya benda tersebut.”

“Walaupun perkataan bisa diucapkan demikian,” sela Phoa Ceng Yan sambil menghela napas panjang. “Tapi asalkan aku orang she Phoa masih ada napas tiga cun yang bergetar, maka aku tak akan membiarkan orang lain mengganggu barang seujung rambutpun terhadap kalian sekeluarga Liauw?”

 Liauw Thayjien pun menghela napas panjang seraya menggeleng.

“Phoa-ya, uang dan harta adalah barang sampingan, aku menjabat sebagai pembesar kelas dua walaupun pernah tenggelam di dalam kemakmuran serta kelimpahan harta, tapi dalam pandanganku  pribadi benda tersebut tak berguna bagai awan di langit, perkataan dari Siauw-li kemungkinan besar tak bakal salah, sesudah He-koan pikir tiga kali rasanya pikiranku tak berhasil menyimpulkan kapankah Siauw-li mendapat kesempatan untuk belajar ilmu silat… ”

Ia merandek sejenak, lalu dengan air muka serius sambungnya lebih lanjut.

“Hingga detik ini agaknya kau Phoa Hu Cong Piauwtauw masih belum berhasil mengetahui jelas apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kami?”

Phoa Ceng Yan tertegun, pikirnya.

“Perkataan ini sedikitpun tidak salah, hingga detik ini aku masih belum berhasil memahami apa sebabnya mereka gerakan masa untuk atur jebakan dengan menghadang barang kawalanku ini ”

Kedengaran Liauw Thayjien melanjutkan lagi ucapannya.

Kemungkinan sekali orang lain sudah mengetahui jelas tentang soal ini!”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, lain kali jikalau kau bertemu lagi dengan pihak musuh maka jangan lupa tanya pada mereka sebenarnya apa yang mereka kehendaki? Asalkan benda tersebut ada di dalam tumpukan    barang-barang    kami,    cayhe    pasti  akan

 menyerahkan keluar.”

Phoa Ceng Yan merasa sangat malu sekali, tapi untuk beberapa saat iapun tak mengerti jawaban apa yang harus diutarakan.

“Bocah, kau kembalilah ke bilik untuk beristirahat!” ujar Liauw Thayjien kemudian kepada Liauw Wan Jie seraya berpaling.

Liauw Wan-jie mengiakan, perlahan-lahan ia putar badan bertindak masuk ke dalam ruangan.

Liauw Thayjien pun mengikuti dari belakang tubuh Liauw Wan Jie melangkah masuk ke dalam ruangan.

Lama sekali Phoa Ceng Yan memandang bayangan punggung kedua orang itu hingga lenyap dari pandangan, akhirnya dengan hati murung ia putar badan berjalan keluar dari ruangan.

Ketika Nyoo Su Jan serta Lie Giok Liong sudah menanti di atas permukaan salju di luar ruangan.

Menemui kedua orang itu Phoa Ceng Yan langsung tertawa getir.

“Sudah kalian dengar semua?”

“Semua telah kami dengar.” Nyoo Su Jan membungkuk dan menjura.

“Perkataan dari Liawu Thayjien sedikitpun tidak salah,” kata Phoa Ceng Yan setelah mendehem. “Kita hanya tahu keadaan disekeliling kita penuh terkurung oleh keadaan bahaya, tapi apa yang mereka kehendaki kita orang masih belum jelas.”

Nyoo Su Jan termenung, lalu manggut.

 “Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah, barang kawalan kita kali ini bukan saja mempunyai banyak perubahan bahkan masih terbungkus pula oleh suatu rahasia yang sangat misterius dan susah diketahui, jikalau dikatakan si Dewa Api Ban Cau sekalian sama sekali tidak mendapatkan kabar berita, rasanya merekapun tak bakal munculkan dirinya kembali di dalam Bu lim setelah lama cuci tangan mengasingkan diri.”

“Yang menggelikan lagi adalah pihak bajingan sudah tahu benda apa yang akan diincer, sebaliknya kita orang yang melindungi barang tersebut masih tidak tahu barang apa yang sedang kita kawali!”

“Kemungkinan sekali Liauw Thayjien hanya dipergunakan orang? dengan demikian sudah tentu ia sendirianpun tak bakal tahu rahasia di balik semuanya ini…..”

Phoa Ceng Yan kerutkan alisnya, lama sekali ia termenung, akhirnya mengangguk.

“Perkataanmu ini memang rada ceng li!”

“Jie-ya, bilamana dikemudian hari kau bisa berjumpa lagi dengan mereka, baiknya gunakan sedikit siasat untuk jebak mereka dalam perkataan.” bisik Nyoo Su Jan lagi sambil dongakkan kepalanya memandang rembulan.

Phoa Ceng Yan mengangguk.

“Kelihatannya hanya satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh!”

Ia lantas ulapkan tangannya.

“Giok Liong, coba kau pergi meronda sebentar, bilamana menemukan jejak musuh laporkan padaku secepatnya.”

 Lie Giok Liong menjura lalu putar badan berlalu.

Menanti Lie Giok Liong sudah lenyap dari pandangan, Phoa Ceng Yan baru berpaling, bisiknya, “Su Jan, mari kita kongkouw!”

Ia melangkah keluar dari ruangan kuil.

Dengan kencang Nyoo Su Jan membuntuti dari belakang, sekeluarganya dari kuil ia baru menegur.

“Jie-ya, kita akan kemana?”

“Walaupun si Dewa api Ban Cau sudah mengundurkan diri, tapi aku percaya mereka pasti sudah tinggalkan mata-mata di sekitar tempat ini untuk mengawasi segala gerak-gerik kita.”

“Apakah Jie-ya akan menangkap dan cari keterangan dari mulut mereka…….”

“Soal itu sih bukan!” potong Phoa Ceng Yan. “Aku ingin agar supaya mereka suka membawakan sepucuk suratku buat si Dewa Api Ban Cau.”

“Jie-ya, bila besok malam Cong Piauw-tauw belum datang, maka lusa sebelum menjelang siang hari ia pasti sudah tiba di sini, rasanya kalau mau bicara saat itulah merupakan waktu yang paling tepat.”

“Su Jan! Coba kau bayangkan, jikalau Cong Piauwtauw sudah tiba di sini dan ia bertanya apa sebabnya mereka ada maksud untuk mengganggu barang kawalan kita jikalau aku tak dapat menjawab pertanyaan ini bukankah peristiwa tersebut merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan?”

Nyoo Su Jan tersenyum.

 “Maka dari itu Jie-ya ingin menemui si Dewa Api dan menanyakan keadaan sejelasnya sebelum Cong Piauwtauw tiba di sini?”

“Tidak salah, aku ingin menanyakan urusan ini sampai jelas, dengan demikian bila Cong Piauw-tauw mengajukan pertanyaan aku bisa menjawab dengan lancar.”

Waktu itu kedua orang itu sudah berjalan meninggalkan kuil sejauh enam-tujuh kaki di bawah sorotan sinar rembulan dilihatnya permukaan tanah hanya tertutup oleh selapis salju nan putih, seluruh jalan raya telah diselimuti dengan salju.

“Situasi di sekeliling tempat ini tidak begitu kita pahami, berjalan di malam hari rasanya kurang leluasa” bisik Nyoo Su Jan lirih. “Jika Jie-ya memang ada maksud hendak bertanya, Rasanya besok pagi cari merekapun masih belum terlambat.”

“Baiklah! Kalau begitu kita tinjau dulu di sana dan selidiki apa sebabnya mereka mengundurkan diri, kemungkinan sekali di atas permukaan salju kita bakal berhasil menemukan sesuatu jejak yang banyak membantu kita di dalam pengungkapan rahasia ini.”

“Benar!” Nyoo Su Jan memperdengarkan tanda setujunya. “Kecuali orang itu sudah berhasil melatih kepandaian silatnya hingga mencapai taraf tidak menempel tanah kalau tidak sepatunya di atas permukaan salju tertinggal telapak kaki atau sedikitnya tanda-tanda yang bisa diselidiki.”

“Heiii………! Marilah kita pergi adu untung! Selama separuh hidupku aku berkelana di dalam dunia kangouw dan banyak menemui manusia aneh maupun peristiwa

 aneh tapi belum pernah berjumpa dengan situasi yang sulit dan membingungkan semacam kali ini …….”

Ia merandek sejenak, lantas sembari memandang sekejap ke arah Nyoo Su Jan tampaknya.

“Giok Liong berjaga di pos sebelah utara.” “Tidak salah, biar hamba bawa jalan.”

Nyoo Su Jan berebut jalan terlebih dahulu di depan Phoa Ceng Yan, lalu sambungnya, “Jie-ya, situasi yang kita hadapi pada saat ini walaupun penuh diliputi awan gelap ini masih berada dalam keadaan ada kekejutan tanpa mara bahaya….. kita tidak tahu mengapa mereka bermaksud mengganggu barang kawalan kita, jago-jago Liok-lim serta iblis-iblis tua yang telah mengasingkan diri satu demi satu saling susul menyusul munculkan dirinya di dalam Bu-lim tapi kemudian seorang demi seorang mengundurkan diri dalam keadaan sangat mengherankan, suasana sekeliling kita rasanya penuh diliputi oleh kemisteriusan, jikalau bukan dikarenakan beban yang kita pikul untuk melindungi seluruh keluarga Liauw terlalu berat, kepingin sekali hamba melakukan suatu penyelidikan secara teliti.”

“Keadaan kita saat ini sama halnya dengan minum arak di bawah pohon pare, mencari kesenangan di tengah kepahitan.”

Sewaktu bercakap-cakap, mereka sudah tiba di kuil bagian Utara.

Mereka berdua tidak bicara lagi, seluruh perhatian dipusatkan jadi satu dan menyapu seluruh permukaan salju dengan sinar mata tajam.

Sedikitpun tidak salah, di atas permukaan salju nan putih  mereka  temukan  sebaris  bekas  tapak  kaki yang

 kacau balau tidak karuan tapi seluruh bekas kaki tersebut hanya terdapat di dalam lingkungan tiga kaki di luar tembok kuil. Tiga kaki di balik lingkungan tersebut salju tetap putih, jelas tidak pernah dijamah orang.

Jika ditinjau dari bekas telapak kaki yang tertera di atas permukaan salju, agaknya orang-orang itu sudah menemui suatu kejadian yang sangat mengejutkan sewaktu tiba di tempat kurang lebih tiga kaki dari kuil sehingga mereka terburu-buru putar tubuh dan lari ngacrit, dengan demikian bekas kaki yang tertera di atas permukaan salju pun jadi kacau balau tidak karuan.

“Di bawah sorotan sinar rembulan serta pantulan cahaya dari permukaan salju, seharusnya dengan ketajaman mata Giok Liong, benda dalam jarak tiga kaki bisa ia lihat dengan sangat jelas sekali” kata Phoa Ceng Yan.

“Benar, orang-orang itu pasti sudah menemui sesuatu kejadian yang sangat mengejutkan sewaktu tiba kurang lebih tiga kaki dari tembok kuil, sehingga mereka ngacrit pergi dengan ketakutan,” sambung Nyoo Su Jan.

“Saat itu keadaan apa yang sudah mereka temukan di tempat ini?”

Sinar mata Nyoo Su Jan dengan tajam menyapu sekeliling kalangan, dan akhirnya sinar mata berhentu du atas sebuah pohon kayu besi yang tumbuh pada suatu tempat pemberhentian, hatinya jadi sedikit bergetar.

“Jie-ya, jika ada orang bersembunyi di balik pohon sambil melancarkan serangan mengundurkan para penjahat, rasanya ia tidak perlu undurkan diri”.

“Sedikitpun tidak salah,” Phoa Ceng Yan menengok ke sana.

 Hawa murnipun disalurkan mengelilingi seluruh badan, dalam dua tiga loncatan ia sudah tiba di sisi pohon tersebut.

Sinar mata dengan tajam melakukan pemeriksaan, tampak di sekeliling pohon tersebut sama sekali tidak terdapat bekas-bekas telapak kaki yang menandakan pernah dilalui orang, permukaan salju nan putih halus bersih dan rata bagaikan kaca.

“Jie-ya, apakah berhasil menemukan sesuatu?” tanya Nyoo Su Jan yang mengejar dari belakang.

Phoa Ceng Yan menggeleng.

“Tidak, sedikitpun tidak terdapat bekas kaki.”

“Aku lihat lebih baik kita tak usah buang tenaga dengan percuma lagi, semua urusan tunggu saja setelah Cong Piauw-tauw kita datang!” kata Nyoo Su Jan sambil menghembuskan napas panjang.

“Dalam keadaan seperti ini rasanya kita hanya dapat berbuat demikian, kecerdikan serta kepandaian silat dari Cong Piauw-tauw jauh melebihi kita orang semua, kemungkinan sekali ia bisa berhasil menemukan sedikit titik terang dalam keadaan aneh yang beruntun kita temui ini.”

“Siapa, cepat berhenti!” tiba-tiba terdengar Lie Giok Liong membentak keras.

“Giok Liong, aku! Seru Phoa Ceng Yan dengan air muka berkerut.

Tapi bagaimanapun juga dia adalah jago yang berpengalaman sangat luas baru saja ucapan meluncur keluar ia sudah merasa keadaan sedikit tidak beres, dengan cepat badannya berputar ke belakang.

 Nyoo Su Jan pun mengikuti gerakan Piauw-tauwnya ikut putar badan ke belakang.

“Dalam waktu mereka berdua sama-sama putar badan, hawa murnipun secara diam-diam disalurkan mengelilingi tubuh siap melakukan penjagaan terhadap segala kemungkinan.

Kurang lebih tiga kaki dari mereka muncul seorang lelaki kasar berpakaian ringkas berwarna hitam gelap.

“Kawan! Setelah datang kemari seharusnya sebutkan nama besarmu!” seru Phoa Ceng Yan sembari menjura. “Cayhe adalah Phoa Ceng Yan, terimalah hormatku.”

Sehabis berkata ia rangkap tangan memberi hormat. “Sudah lama aku mendengar nama besar Phoa Jie-

ya!” sahut si orang berbaju hitam itu singkat.

Selangkah demi selangkah Phoa Ceng Yan maju ke depan.

“Kawan, siapa namamu? maaf aku orang she Phoa punya mata tak berbiji sehingga tidak tahu kapan kita pernah berjumpa”

Orang berbaju hitam itu tetap berdiri tak bergerak di tempat semula, hanya suara tertawa dingin bergema tiada hentinya.

“Phoa Jie-ya! Ada baiknya jika kau jangan mendesak terlalu maju ke depan di tengah malam buta begini cayhe sama sekali tidak bernapsu untuk turun tangan terhadap kalian.”

“Asalkan saudara tiada berniat untuk mengganggu barang kawalan kami, itu berarti kawan karib dari aku she Phoa, kawan, kenapa tidak masuk ke dalam kuil untuk duduk-duduk sebentar? di tengah malam buta dalam kuil

 kami walaupun tak ada hidangan lezat yang bisa dihidangkan untuk menyambut tamu, tapi aku orang she Phoa masih membawa sedikit arak bagus, bagaimana kalau kita minum secawan untuk menghangatkan badan…”

“Sungguh patut disayangkan cayhe masih ada urusan di badan, tidak berani menerima tawaran baik dari Phoa Jie-ya” potong si orang berbaju hitam itu cepat.

Mendengar jawaban tersebut, Phoa Ceng Yan jadi melengak.

“Kawan! Jikalau kau tidak ingin memberi tahu nama besarmu, entah bolehkah cayhe ketahui apa maksud kunjunganmu pada malam begini?”

“Jikalau urusan ini tiada sangkut paut dengan kau Phoa Jie-ya, cayhepun tak akan datang berkunjung di tengah malam buta yang dingin dengan menempuh perjalanan di atas permukaan salju yang tebal ini.”

“Jika demikian adanya, kawan! Tentu kau sedang menjalankan tugas penting.”

“Tidak salah! Cayhe memang sedang menjalankan tugas perintah.”

“Entah perintah dari siapa?” “Ke Kongcu”.

“si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang?”

“Tidak salah! Majikan kami memerintahkan cayhe untuk memberitahu kepada Phoa Jie-ya kalian bahwa keadaan kalian sudah terkepung rapat-rapat, si Dewa Api Ban Cau dengan beberapa orang iblis sakti yang telah mengundurkan diri dari kalangan dunia persilatan kini

 sudah menunjukkan gerakan-gerakannya berjaga-jaga untuk mengawasi daerah sekitar tempat ini.”

“Maksud baik dari Ke Kongcu akan kami terima dengan senang hati, cayhe ucapkan banyak terima kasih!” sahut Phoa Ceng Yan segera.

Si Orang berbaju hitam itu tertawa hambar. “Majikan kami masih menitipkan pula sepatah kata.” “Apa yang ia katakan?”

“Menurut majikan kami, jikalau Phoa Jie-ya membutuhkan tenaga bantuannya, majikannya kami rela turun tangan membantu kalian.”

Beberapa patah kata itu benar-benar berada di luar dugaan Phoa Ceng Yan, maka setelah termenung beberapa saat katanya.

“Antara Ke Kongcu dengan perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok selama ini tiada ikatan dendam maupun hubungan erat, aku rasa dibalik kesemuanya ini tentu ada maksud tertentu bukan?”

“Phoa Jie-ya tidak malu disebut orang jago kangouw kawakan, didalam mata tidak dapat dikotori dengan batu kerikil, Majikan kami tidak sayang-sayangnya rela mengikat dendam dengan banyak pentolan iblis sudah tentu tak mungkin bekerja tanpa suatu balas jasa yang besar pula.”

“Dapatkah kau orang jelaskan dulu berapa besar balas jasa yang ia inginkan?”

“Liauw Si-cu tersebut memiliki sebuah lukisan, tolong kau Phoa Piauw-tauw suka mengajak ia berunding, bila ia suka hadiahkan barang itu kepada kami maka majikan kamipun  akan  kerahkan  semua  tenaga  yang  dipunyai

 untuk melindungi seluruh anak buah perusahaan piauwkiok kalian beserta keselamatan mereka sekeluarga…..”

Ia merandek sejenak lalu sambungnya.

“Jika Phoa Piauw-tauw bisa menyampaikan maksud hati majikan kami ini sudah tentu jauh lebih bagus lagi, tapi bila Phoa Piauw-tauw tidak suka menyampaikan pesan ini, maka cayhe mohon bisa bertemu dengan Liauw Sicu dan menerangkan sendiri urusan ini kepadanya.”

Phoa Ceng Yan tertawa hambar.

“Tolong sampaikan kepada Ke Kongcu, katakan saja maksud baiknya akan kami terima di hati, sedang mengenai kau ingin membicarakan persoalan ini dengan Liauw Thayjien sendiri, cayhe rasa itu tidak perlu.”

“Jadi kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka mewakili kami untuk sampaikan urusan tersebut kepadanya?”

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan menggeleng.

“Kami perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok sudah ada puluhan tahun melakukan pekerjaan ini, tapi belum pernah berbuat begitu bodoh dengan menasehati si pemilik barang untuk menyerahkan harta bendanya, peraturan ini tak boleh rusak di tanganku.”

“Phoa Jie-ya, kau pikirlah dengan lebih cermat, majikan kami punya maksud baik.”

“Tadi aku orang she Phoa sudah katakan bahwa maksud baiknya akan kuterima di hati saja, kawan! Silahkan kau tinggalkan tempat ini!”

“Jika dilihat dari keadaan, agaknya Phoa Jie-ya tidak suka minum arak kehormatan sebaliknya malah memilih arak hukuman!”

 “Kawan! Kalau bicara ada baiknya sedikit tahu aturan” seru Phoa Ceng Yan dengan air muka berubah membeku. “Selama ini aku orang she Phoa selalu pandang kau sebagai seorang utusan, sekembalinya dari sini kau boleh utarakan seluruh perkataanku ini kepada majikan kalian, jikalau Ke Kongcu ingin mencari diriku, setiap saat aku orang she Phoa menunggu kedatangannya di kuil ini.”

Si orang berbaju hitam itu tidak banyak bicara lagi, ia tertawa dingin lalu putar badan berlalu dari sana.

Menanti si orang berbaju hitam itu sudah pergi sangat jauh, Nyoo Su Jan baru menghela napas panjang.

“Jie-ya! Ke Giok Lang terang-terangan menginginkan lukisan tersebut, aku lihat pandangan kita pasti tak bakal salah lagi, bencana yang kita temui terus menerus dalam melakukan perjalanan kali ini justeru penyakitnya pasti terletak di atas gambar lukisan!” 

“Setelah berhasil temukan sebab dari bencana yang terjadi beruntun ini hatipun bisa lega, setelah Cong Piauw-tauw tiba di sini, kitapun bisa memberikan pertanggung jawaban!” kata Phoa Ceng Yan seraya mengangguk.

“Jie-ya, jikalau Ke Giok Lang sungguh akan datang mengunjungi kuil ini, maka Jie-ya siap menggunakan cara apa untuk menghadapi dirinya?”

“Jika ia sungguh datang kemari terpaksa kita harus melakukan suatu pertarungan melawan dirinya, cuma setelah kupikir dua tiga kali rasanya ia tidak bakal datang jika ia serius menginginkan gambar lukisan tersebut, sekalipun kita halangi juga percuma saja. Sudah tentu

 iapun tidak perlu menggunakan cara putar kalangan macam begini lagi.”

“Perkataan Jie-ya sedikitpun tidak salah, kita tidak takut serangan terang, justeru yang membuat kita jeri adalah kemungkinan serangan gelap. jika semisalnya Ke Giok Lang benar-benar mencari satroni ke dalam kuil ini ada baiknya Jie-ya jangan terlalu banyak berbicara dengan dirinya maupun menggubris dirinya.”

“Maksudmu ”

“Pertama bisa dihindari pertarungan satu lawan satu dengan dia orang dan kedua memaksa ia mempunyai pikiran yang tak menentu dan rasa curiga yang besar.”

Phoa Ceng Yan mengangguk.

“Aku harus berpikir lebih cermat dahulu baru bisa mengambil keputusan….”

Sejurus kemudian ……. kurang lebih dua kaki dari tembok pekarangan tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat. Lie Giok Liong dengan meloncat tembok pekarangan melayang datang.

“Menghunjuk hormat buat paman Jie-siok!” katanya sembari menjura.

“Tidak perlu banyak adat… ”

Nyoo Su Jan buru-buru melangkah ke depan dan mendekati ke sisi Lie Giok Liong, katanya lirih.

“Giok Liong, keadaan musuh sewaktu datang dan pergi apakah ada menunjukkan sikap yang aneh?”

Lie Giok Liong termenung sejenak, akhirnya ia menggeleng.

“Aku tidak berhasil menemukan hal yang aneh!”

 “Kau tidak usah terburu-buru, coba dipikirkan lebih teliti lagi, walaupun hanya urusan yang kecilpun jangan kau lepas begitu saja.”

“Ada suatu titik yang rasanya sangat istimewa, kedatangan orang itu sangat bernafsu dan ganas tetapi sewaktu tiba dekat dengan kuil mendadak seperti telah berjumpa dengan suatu peristiwa yang sangat mengejutkan sekali kemudian buru-buru putar badannya melarikan diri. Pada waktu itu mereka berada sangat dekat dengan kuil sehingga secara lapat-lapat bisa kelihatan sikapnya gugup dan cemas.”

“Jie-ya, saat ini paling sedikit satu soal yang berhasil kita buktikan kebenarannya!” seru Nyoo Su Jan kemudian.

“Ehmmm……. urusan apa?”

“Ada seorang jago berkepandaian tinggi yang secara diam-diam membantu diri kita, orang lihay itu berhasil mengejutkan para penjahat sehingga melarikan diri terbirit-birit, sedang kita sama sekali tidak berhasil temukan tempat persembunyiannya.”

“Orang lihay yang secara diam-diam membantu tidak ingin kita mengetahui siapakah dirinya, aku rasa kitapun tidak perlu terlalu paksakan diri cari akal untuk menemui dirinya.”

Ia percepat langkahnya berjalan masuk ke dalam kuil seraya tambahnya.

“Suruh mereka berjaga-jaga di sekitar tempat ini menurut giliran, malam ini cahaya rembulan memancarkan cahaya yang tajam di seluruh permukaan salju, kecuali seorang jago lihay yang telah berhasil melatih ilmu silatnya hingga mencapai taraf terbang, aku

 rasa tak bakal lolos dari pengawasan maupun pengintaian kita, setelah menemui tanda bahaya cepatlah kirim kabar kepadaku.”

“Paman Jie-siok boleh berlega hati.” Lie Giok Liong bungkukkan badan menjura.

Setibanya di dalam ruang kamar dalam kuil, Phoa Ceng Yan jatuhkan diri berbaring ke atas tanah, pejamkan mata dan beristirahat.

Walaupun begitu otaknya masih berputar terus memikirkan segala peristiwa aneh yang baru ditemuinya selama beberapa hari ini. Ia merasa setiap peristiwa yang telah terjadi merupakan kejadian aneh yang belum pernah ditemuinya selama dua puluh tahun bekerja sebagai pengawal barang.

Semalaman berlalu dengan cepat tanpa menimbulkan suatu peristiwa apapun.

Hari kedua seharian penuh juga aman tenteram tidak terjadi segala kerepotan, suasana di sekitar kuil sunyi sehingga seperti orang yang mengepung di sekeliling sana sudah pada bubaran semua.

Liauw Thayjien yang harus menganggur seharian menanti sang surya lenyap di balik gunung tak sabaran lagi, tegurnya.

“Phoa-ya, ini hari seharian penuh tidak kelihatan gerakan apapun, jika ada orang yang mau datang rasanya sejak semula sudah datang.”

“Kita tunggu satu malam lagi, besok siang mungkin Cong Piauw-tauw kami sudah bisa tiba di sini, begitu ia tiba kita segera melanjutkan perjalanan kembali.”

“Antara keluarga besanku serta He-koan mempunyai hubungan    yang    sangat    erat,    ia    sudah   meminta

 kedatanganku sebelum tutupan tahun, seharusnya Hekoanpun tidak boleh bikin kecewa harapannya, tolong kau Phoa-ya suka memberitahu kepada anak buahmu sekalian, katakan saja apabila kita bisa tiba di kota Kay Hong Hu sebelum tutupan tahun maka setiap orang yang ikut mengawal He-koan kali ini mendapat upah tambahan sebesar tiga puluh tahil perak.”

“Tiga puluh tahil perak bukan suatu jumlah yang kecil, Thayjien bisa timbul maksud semua ini tentu akan disambut mereka dengan rasa terima kasih yang bukan kepalang cuma Cong Piauw-tauw kami sudah peroleh kabar melalui burung merpati, ia pasti berhasil temukan tempat ini dan bila dihitung lamanya perjalanan, besok siang tentu sudah akan tiba disini. Bilamana di tengah jalan tidak terjadi peristiwa lagi, perjalanan bisa kita lakukan lebih cepat sehingga memenuhi harapan Liauw Thayjien untuk melewati akhir tahun di kota Kay Hong.”

“Semoga saja begitu” kata Liauw Thayjien perlahan. Ia merandek sejenak lalu tambahnya.

“Phoa-ya! He-koan ada suatu urusan yang merasa kurang paham, entah dapatkah kau memberi sedikit keterangan?”

“Tiada halangan, silahkan Thayjien ajukan pertanyaan.”

“Kau adalah Hu Cong Piauw-tauw, dalam perusahaan expedisi kalian kecuali Cong Piauw-tauw, apakah kepandaian silatmu boleh disebut paling tinggi?”

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, kemudian baru menyahut.

“Kecuali Cong Piauw-tauw, kedudukan cayhe di dalam perusahaan  expedisi  Liong  Wie  Piauw-kiok  memang

 dapat dihitung yang tertinggi, tapi dalam hal kepandaian silat tak bisa dikatakan nomor dua lagi.”

“Akh! Phoa-ya terlalu merendah ”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya.

“Jikalau sampai besok siang Cong Piauw-tauw dari perusahaan kalian masih belum kelihatan juga, apa yang hendak kalian lakukan?”

Justeru karena persoalan ini Phoa Ceng Yan merasa serba sulit apa lagi sekarang ditanyai secara langsung.

Setelah termenung beberapa saat baru jawabnya. “Soal ini aku rasa tidak mungkin terjadi! Menurut

perhitungan kami sampai waktunya Cong Piauw-tauw tentu bisa tiba di sini atau paling banter akan terlambat satu dua keuntungan belaka.”

“Phoa-ya! Bukannya He-koan tidak mempercayai dirimu. He-koan hanya ingin tahu waktu yang benar bagi pemberangkatan kita.”

“Baiklah! Jikalau Cong Piauw-tauw kami tidak bisa tiba pada sore hari, kita segera berangkat besok.”

“Baiklah! Kita tetapkan demikian saja.” Liauw Thayjien mengangguk. “He-koan percaya atas perkataan dari Phoa-ya.”

“Liauw Thayjiem!” kata Phoa Ceng Yan sambil tertawa getir. “Aku orang she Phoa berulang kali membatalkan perjalanan kesemuanya adalah dikarenakan keselamatan kalian sekeluarga, terus terang aku beritahu kepada Liauw Thayjien, di balik kesunyian di sekeliling kuil ini telah penuh tersebar jago-jago yang siap merampok barang kawalan kita kali ini.”

 “Apa yang mereka inginkan? Phoa-ya, tahukah kau soal ini dengan jelas?”

“Cayhe berhasil mengetahui sebagian kecil saja……” “Barang apa yang mereka inginkan?”

“Gambar lukisan pengangon kambing termasuk salah sebuah barang yang diincar.”

“Kecuali lukisan pengangon kambing itu masih ada barang apa lagi yang diinginkan?”

“Jika ditinjau dari keadaan mereka agaknya bukan lukisan pengangon kambing saja yang diinginkan.”

“Jadi berarti masih ada yang lain? Apakah barang itu?”

“Hingga saat ini cayhe masih belum paham cuma seharusnya dalam hati Liauw Thayjien sudah punya perhitungan sendiri, bukan?”

“Aku benar tidak tahu barang apa yang diinginkan,” kata Liauw Thayjien sembari menggeleng.

“Kalau begitu urusan jadi sulit, sewaktu kami terima permintaan kalian dari pihak perusahaan benar-benar tidak tahu barang apa saja yang dibawa Liauw Thayjien? Tapi di pihak orang yang punya maksud untuk membegal ternyata sejak lama sudah pusatkan pikiran cari berita hingga sangat jelas sekali.”

“Hingga sampai saat ini aku lihat agaknya kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw masih tidak percaya terhadap Hekoan” seru Liauw Thayjien kembali sembari tertawa getir.

“Thayjien terlalu curiga, aku orang she Phoa bukannya tidak percaya terhadap Liauw Thayjien cuma situasi yang kita hadapi saat ini sangat aneh, dan aku orang  she  Phoa  sendiri  masih  merasa  kurang paham

 terhadap urusan di balik kesemuanya ini, mau tak mau harus kami selidiki urusan ini sampai jelas.”
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 10"

Post a Comment

close