Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 09

Mode Malam
“Hmmmm! Sungguh tidak kusangka perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang namanya terkenal di seluruh dunia kangouw ternyata bisa dipermainkan orang lain, heee…heee…. kelihatannya berita yang tersiar di dalam dunia kangouw tak boleh dipercaya penuh,” jengek Liauw Thayjien dingin.

“Thayjien! Bila kau putuskan pasti hendak berangkat sekarang juga cayhe sekalipun bukannya tidak berani melanjutkan perjalanan, kita adalah orang-orang yang mencari sesuap nasi dengan menjual nyawa, boleh dikata nyawa kami sebenarnya sama sekali tak berharga. Justru maksud cayhe ngotot hendak tetap tinggal di dalam kuil ini tujuannya tidak lain karena takut keluarga Liauw kalian kena dicelakai orang, coba Thayjien pikirlah secara teliti! Semisalnya kau memang berkeinginan keras untuk melanjutkan perjalanan, cayhe segera akan perintahkan mereka untuk mempersiapkan kereta.”

“Heeeei…. kita akan berdiam berapa lama di sini??.” “Menunggu setelah Cong Piauw-tauw kami tiba!”

Jelas ia sudah kena dibuat jera oleh perkataan Phoa Ceng Yan yang amat tajam serta lihay itu.

“Tadi cayhe sudah katakan, Cong Piauw-tauw kami memiliki seekor kuda jempolan, di dalam tiga-lima hari kemudian tentu sudah tiba di sini!” sambung Phoa Ceng Yan lebih lanjut.

“Setelah Cong Piauw-tauw kalian tiba maka tak usah takuti mereka lagi?”

“Boleh dibilang demikian! Maka dari itu dia bisa menduduki jabatan sebagai Cong Piauw-tauw sedang cayhe cuma mendapat bagian Hu Cong Piauw-tauw saja.”

 “Jadi maksudmu setelah berdiam tiga hari kita dapat berangkat kembali?” tanya Liauw Thayjien kembali.

“Sedikitpun tidak salah! Jika memang terlambat maka tidak akan melewati lima hari.”

Akhirnya Liauw Thayjien menghembuskan napas panjang.

“Kecuali He-koan suami isteri ngambek dan tidak perduli orang-orang perusahaan Piauw-kiok kalian lagi untuk melakukan perjalanan sendiri, rasanya pasti sulit juga untuk menundukkan kau Phoa Hu Cong Piauwtauw” katanya.

“Thayjien! Aku orang she Phoa cuma seorang yang kasar, tidak terlalu banyak bersekolah, tetapi aku masih tahu bila menjadi seorang manusia tak boleh terlalu mementingkan diri sendiri. Demi keselamatan dari kalian keluarga Liauw serta untuk menjaga merek emas dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok selama dua puluh tahun ini, terpaksa aku orang she Phoa tak dapat menempuh bahaya…”

“Heee…..heee….heee…. kami membayar ongkos mahal agar perusahaan kalian suka mengawal kami, tidak disangka semua gerak gerik serta perbuatan kami harus mendengar keputusan dari kalian, hal ini benarbenar menjengkelkan sekali,” sindir Liauw Thayjien tertawa dingin tiada hentinya.

Buru-buru Phoa Ceng Yan merangkap tangannya menjura, “Thayjien! Harap kau orang suka memaafkan kelancangan kami ini” ujarnya sambil tertawa. “Menghadapi situasi seperti ini sekalipun thayjien harus memaki dan menyalahkan aku orang she Phoa, biarlah aku terima di hati saja. Cuma saja bilamana thayjien suka menjelaskan alamat dari calon Besanmu itu, kami dapat

 mencarikan akal untuk menghantar surat tersebut ke kota Kay Hong. Di kota Kay Hong sana perusahaan kamipun punya sebuah kantor cabang, biarlah mereka yanga hantarkan surat tersebut kepadanya.”

“Kalian hendak kirim dengan apa?”

“Burung merpati! Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami punya sejumlah burung-burung merpati yang sangat terlatih dan sering digunakan untuk mengirim berita antara markas dengan kantor cabang, jika thayjien hendak menyampaikan surat kepada calon besanmu kita dapat menggunakan burung merpati untuk mengirimnya ke kantor cabang kami, kemudian dari sana akan memerintahkan seseorang untuk menyampaikan surat tersebut ke tempat tujuan.”

“Sekarang kalian masih ada burung merpati itu?” “Masih ada seekor burung yang terbaik.”

“Baiklah, biar aku pergi membuat sepucuk surat kemudian biar burung merpati dari perusahaan kalian mengirimnya ke kota Kay Hong.”

“Thayjien! Ditengah cuaca yang demikian dingin serta berangin kencang, lebih baik kau orang menggunakan kertas surat yang tipis dan ringan.”

“Ehm! Memang jangan sampai burung tersebut merasa terlalu berat!” Liauw Thayjien mengangguk.

Ia lantas bangun berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.

Phoa Ceng Yan pun dengan mengikuti Liauw Thayjien berjalan keluar dari ruangan itu.

Pada waktu itu terlihatlah beberapa orang pembantu sedang  membersihkan  halaman  dari  tumpukan  salju,

 dengan cepat ia enjotkan badannya meloncat naik ke atas atap rumah kemudian dari sana memandang ke empat penjuru.

Dari sana ia melayang keluar dari kuil untuk melakukan pemeriksaan sekali lagi dengan teliti, setelah itu dengan langkah lambat-lambat baru berjalan kembali ke dalam ruangan.

Pada saat ia hendak memasuki pintu kuil itulah, mendadak terdengar suara derapan kaki kuda berkumandang datang memecahkan kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu.

Phoa Ceng Yan segera merasakan hatinya tergetar keras, tubuhnya dengan cepat berputar memandang ke arah luar.

Tampaklah seekor kuda warna putih bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dengan cepat berlarimendekat, di atas punggung kuda tersebut terdapatlah sesosok tubuh manusia.

Warna putih kuda itu amat mulus dan tiada bedanya dengan permukaan salju, dari atas hingga ke bawah sama sekali tidak kelihatan sedikit titik hitampun.

Phoa Ceng Yan menghembuskan napas panjang, setelah berdiri tegak mendadak bentaknya keras, “Berhenti! Jika kau orang tidak menghentikan lagi larinya kudamu itu, jangan salahkan aku orang she Phoa akan turun tangan terhadap dirimu.”

Di tengah suara bentakan yang amat keras itulah, mendadak kuda putih tersebut berhenti berlari, sedang orang yang tertelungkup di atas punggung kuda tersebut mendadak dongakkan kepalanya, mengayunkan tangan kirinya dan berkemak kemik.

 Belum sempat sepatah kata meluncur keluar, tubuhnya tahu-tahu sudah terjatuh ke atas tanah dengan menimbulkan suara yang amat gaduh.

Melihat kejadian itu Phoa Ceng Yan melengak, selagi ia hendak berjalan mendekati orang itu untuk memeriksa keadaan yang sebetulnya, mendadak terdengarlah kuda putih itu meringkik panjang lututnya tahu tahu  ditekuk dan berlutut di hadapan tubuh orang tersebut.

“Aaaakh….! Kiranya seekor kuda jempolan yang sangat menarik hati.”

Jika dilihat dari sikap kuda tadi, kelihatan sekali bila ia menaruh rasa sangat hormat terhadap majikannya.

Dengan langkah lebar Phoa Ceng Yan segera berjalan ke depan tubuh orang itu dan membopong tubuh dari atas tanah.

Tampaklah paras muka orang itu sudah berubah jadi hijau membesi, jelas ia sudah kena terbokong oleh senjata rahasia.

Kendati Phoa Ceng Yan sendiripun sedang berada di dalam keadaan berbahaya, tetapi teringat bahwa menolong orang merupakan suatu kejadian yang sangat penting tanpa berpikir panjang lagi ia segera  membopong tubuh orang itu dan dengan langkah terburu-buru kembali kedalam kuil.

Beberapa orang lelaki yang ada di tengah halaman sejak tadi sudah mendengar suara jeritan tertahan dari Phoa Ceng Yan, melihat dia orang membopong orang itu sambil berlari masuk ke dalam kamar, mereka lantas tahu jika si orang tua itu sedang menolong orang tersebut.

 Tanpa berpikir panjang lagi orang yang berada di sebelah kiri lari keluar kuil dengan mulut membungkam, secara sadar ia bertindak sendiri sebagai pengawas keadaan, yang mengawasi apakah dari belakang ada orang yang melakukan pengejaran atau tidak.

Sedangkan orang yang ada di sebelah kanan bersama-sama dengan Phoa Ceng Yan lari masuk ke dalam ruangan.

Membuka perusahaan mengawal barang paling mudah mendapat keuntungan, tapi peraturanpun paling ketat, sang pembantu tersebut setibanya di depan pintu ruangan ternyata tidak berani melanjutkan kembali langkahnya.

Yang paling aneh adalah kuda putih yang tinggi besar itu, ia mengikuti dari belakang Phoa Ceng Yan dan berjalan masuk ke dalam ruangan kuil, kemudian sambil tundukkan kepala menanti di samping.

Melihat kebagusan serta kegagahan kuda putih tersebut, rata-rat para pembantu piauw-kiok pada dongakkan kepalanya seraya memuji.

“Kuda bagus! Kuda bagus! Sekalipun kuda jempolan Hwee Liong Ci dari Cong Piauw-tauw yang bisa melakukan perjalanan seribu lie dalam seharipun susah untuk menandinginya.”

Haruslah diketahui kebanyakan orang Bu Lim setelah melihat pedang bagus atau kuda bagus rata-rata menunjukkan rasa suka, para pembantu piauw-kiok ini walaupun bukan termasuk jago-jago kangouw tetapi karena sudah banyak tahun berkelana di dalam Bu-lim sambil mengawal barang. Pengetahuan mereka bertambah luas, ketajaman mata melebihi siapapun,

 sebab itu mereka mengetahui jika kuda tersebut kuda jempolan.

Kita balik pada Phoa Ceng Yan, di mana orang setelah tiba di dalam kamar segera meletakkan orang itu di samping api unggun yang belum padam, hawa hangat menyamankan suasana, kemudian diperiksa badan orang tadi dengan teliti.

Dilihatnya orang itu adalah seorang pemuda tampan yang baru berusia delapan sembilan belasan tahun, ia memakai celana warna hitam dengan jubah biru berikat kepala warna biru dengan sepasang alis yang tebal, berbadan kekar. Walaupun air mukanya pada saat ini sudah berubah jadi hijau membesi tapi tak sampai menutupi ketampanan wajahnya.

Phoa Ceng Yan yang melakukan pemeriksaan teliti di tubuhnya tak berhasil menemukan tanda luka apapun, ia segera balikkan badannya.

Terlihatlah di atas jalan darah “Hong Hu” di belakang pundaknya masih tersisa sedikit darah kering, hal ini membuat si orang tua itu kerutkan kening.

“Sungguh suatu tindakan yang kejam!” pikirnya. “Bukan saja senjata rahasia yang digunakan sangat beracun bahkan menghajar pula tepat di atas jalan darah, sekalipun badannya terbuat dari baja murnipun tak akan bisa kuat menahan serangan tersebut.”

Walaupun pengetahuannya sangat luas, tapi iapun hanya bisa membedakan bila pemuda tersebut kena dilukai oleh sebangsa senjata rahasia yang amat kecil dan sangat beracun, jari-jari tangannya segera dikerahkan tenaga untuk merobek pakaian di atas pundak.

 Sedikitpun tidak salah, terlihatlah sebatang jarum ekor walet yang amat lembut dan kecil masih kelihatan tersundul diluar kulit.

jarum ekor walet yang tersundul keluar dari kulit pundak itu memancarkan sinar kebiru-biruan, sekali pandang sudah bisa ditentukan bila racun yang dipoleskan di atas senjata rahasia tersebut benar-benar sangat ganas.

Setelah melihat jelas bentuk senjata rahasia itu, Phoa Ceng Yan baru kelihatan tertegun.

“Aaakh..! Senjata rahasia Yan Wie Tui Hun Ciam.” “Apa itu senjata rahasia ekow walet pengejar sukma?”

mendadak terdengar suara Liauw thayjien menyambung.

Phoa Ceng Yan berpaling, tampak Liauw Thayjien dengan langkah lambat sedang bertindak masuk ke dalam ruangan.

Ia lantas tertawa getir.

“Senjata rahasia ekor walet pengejar sukma adalah semacam senjata rahasia yang amat beracun, asalkan menembusi badan pasti akan membinasakan, racunnya sangat luar biasa.”

Ketika itu Liauw Thayjien barusan dapat melihat jelas bila diatas tanah menggeletak seseorang.

“Maksudmu orang ini sudah terkena hajaran senjata rahasia Yen Wie Tui Hun Ciam tersebut?”

“Tidak salah.” Phoa Ceng Yan manggut.

“Phoa-ya! Cepat cabut keluar senjata beracun tersebut dari atas pundaknya!” seru Liauw Thayjien sambil melangkah mendekat dan menengok sekejap ke arah pemuda tersebut.

 Kembali Phoa Ceng Yan tertawa getir dan menggeleng.

“Racun ganas yang terpoles di atas jarum pencabut nyawa ini sangat luar biasa, kecuali menggunakan obat pemunah manungal dari si penyambit senjata rahasia, orang lain tak bakal bisa bantu memunahkannya, bila aku cabut keluar jarum beracun itu dari pundaknya maka kemungkinan besar pemuda ini bakal lebih cepat menemui ajalnya.”

“Tapi kitapun tak bisa berpeluk tangan melihat orang lain menjelang sekarat!”

“Bilamana aku orang tiada bermaksud untuk menolong dirinya, akupun tak akan membopong dirinya msuk ke dalam kuil.”

Liauw Thay jien menghela napas panjang.

“Jika kita tidak bantu dirinya mencabut keluar senjata beracun itu, bukankah sebentar lagi ia bakal mati?”

“Dugaan Thayjien salah besar, menurut apa yang orang she Phoa ketahui, asalkan jarum beracun itu tidak sampai tercabut maka kemungkinan besar nyawanya bisa diperpanjang beberapa saat.”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Sewaktu kau turun tangan menolong dirinya apakah kau tidak tahu jika pemuda ini sudah terhajar oleh senjata rahasia yang sangat beracun?”

“Ehm! Akupun tidak tahu jika senjata rahasia yang menghajar dirinya adalah jarum ekor walet pengejar sukma.”

“Nyawa manusia sangat berharga, Phoa Hu Cong Piauw-tauw, apa yang hendak kau lakukan saat ini?”

 Mendengar pertanyaan itu, Phoa Ceng Yan jadi melengak, tapi mengingat Liauw Thayjien adalah seorang yang pernah menjabat sebagai pembesar maka tidak aneh kalau nada ucapannya tidak terlepas dari nada seorang pembesar walaupun sudah menghadapi peristiwa macam begini.

Pikirannya segera berputar, beberapa saat kemudian ia baru menyahut.

“Thayjie! Aku sendiripun tidak tahu semisalnya aku tidak berhasil menolong hidup orang ini apakah hal tersebut merupakan suatu perbuatan melanggar hukum atau tidak, tapi menurut peraturan dari dunia kangouw, setiap kali kami menemui persoalan yang sangat merepotkan, jikalau semisalnya aku tidak berhasil menolong hidup dirinya maka akupun tidak usah ganti nyawa sendiri, tapi kejadian yang sebenarnya kami harus jelaskan kepada sanak keluarganya dan kepada perguruannya pun aku harus memberikan suatu pertanggungan jawab.”

“Setelah orang itu mati, kenapa tidak kalian laporkan saja kepada kaum pembesar negeri?” kata Liauw Thayjien.

“Dalam dunia kangouw terdapat peraturan dunia kangouw yang harus kami taati, peristiwa ini sudah tentu tidak perlu kami laporkan kepada kaum pembesar.”

“Tidak salah!” Liauw Thayjien mengangguk. “Kalian sebagai orang kangouw memang memiliki cara penyelesaian kalian sendiri.”

Ia menghela napas panjang.

“Hee-koan sudah selesai membuat surat!” tambahnya.

 “Bagus! Kau serahkan saja kepadaku, akan kubantu kirimkan surat ini sampai kealamatnya.”

Dari dalam sakunya Liauw Thayjien mengambil keluar selembar kertas putih dan diangsurkan kepada si orang tua itu.

“He-koan sudah menurut nasehatmu, surat yang aku tulis amat singkat sekali.”

“Thayjien boleh berlega hati, dalam satu dua hari ini Besan dari thayjien tentu sudah menerima surat ini,” kata Phoa Ceng Yan seraya menerima angsuran surat itu.

Perlahan lahan Liauw Thayjien mengalihkan sinar matanya ke arah dada pemuda berbaju biru itu, ia berbatuk batuk kering.

“Phoa-ya! He-koan menyimpan berbagai macam obat mujarab yang dapat digunakan untuk memunahkan racun-racun ganas tersebut, entah dapatkah obat-obat  itu digunakan buat ini?”

“Obat apa?”

“Sewaktu He-koan masih menjabat sebagai pembesar di kota Tok-Hu pernah mendapat hadiah dari seorang tabib kenamaan…”

Tiba-tiba pemuda berbaju biru itu menggerakkan jari tangannya dan menuding dada sendiri.

“Sungguh hebat lweekang yang dimiliki orang ini.” diam-diam pikir Phoa Ceng Yan ketika melihat pemuda tersebut menunjukkan suatu gerakan.”setelah terhajar senjata rahasia beracun Yen Wie Tui Hun Ciam nyatanya dalam waktu singkat ia bisa menggerakkan jari-jari tangannya, sungguh suatu kejadian yang luar biasa!”

 Berpikir akan persoalan itu, mendadak suatu ingatan bagus berkelebat di dalam benaknya, dengan cepat ia meraba dada pemuda berbaju biru itu.

Di mana jari-jari tangannya bergerak, si orang tua ini dengan cepat meraba sebuah botol kumala di balik sakunya.

Buru-buru Phoa Ceng Yan merogoh ke dalam saku orang itu dan diambilnya keluar sebuah botol porselen.

Botol porselen itu panjangnya ada dua coen danberwarna hijau bening, setelah membuka gabus penutupnya mengelinding keluarlah dua butir pil.

Di dalam botol tersebut hanya terdapat dua butir pil, satu warna hijau kemerah-merahan dan yang lain berwarna putih keperak-perakan.

Phoa Ceng Yan letakkan kedua butir pil tersebut ke telapak tangannya dan memandang benda itu dengan terpesona, warna kedua butir pil itu tidak sama rasanya penggunaannya sama sekali berbeda.

Ia mengetahui jelas maksud pemuda berbaju biru itu menuding dada sendiri adalah minta ia mengambil keluar botol porselen yang ada di dalam sakunya, tapi ia tidak mengerti pil warna yang manakah merupakan obat pemunah dari racun tersebut.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Apakah pil obat itu  cukup memberitahukan kepadamu maksud tujuannya menuding botol porselen tersebut??” tanya Liauw Thayjien sembari terbatuk-batuk.

“Dalam keadaan luka parah ia masih tidak melupakan botol porselen yang disimpan dalam saku, sudah tentu jelas sekali membuktikan bila isi dari botol porselen itu adalah obat pemunah racun yang mujarab!”

 “Dan kini di dalam botol tersebut semuanya terdapat dua butir pil yang berlainan warnanya, salah sebutir diantaranya tentu bukan merupakan obat pemunah bukan?”

“Benar! Di antara kedua butir pil tersebut yang satu adalah pil pemunah sedang yang lain bukan pil pemunah, saat ini aku sendiripun susah untuk membedakan mana yang pil pemunah dan mana yang bukan pil pemunah!”

“Perlahan-lahan Liauw Thayjien menghela napas panjang.

“Heeei…! Jikalau kita tak berhasil membedakan butiran pil yang mana adalah pil pemunah racun, sekalipun saat ini kita miliki obat pemunah juga sama saja tak dapat digunakan untuk menyelematkan jiwanya.

“Cara lain sih masih ada!” kata Phoa Ceng Yan setelah termenung sebentar. “Tapi berhasil atau tidak masih susah dibicarakan.”

“Apa caramu itu???”

“Cabut dulu jarum Yen Wie Ciam yang menghajar pada punggungnya, salurkan tenaga dalam akan  kubantu menyadarkan dirinya dari pingsan, kemudian biar ia sendiri yang menunjukkan butiran pil mana adalah pil pemunah racun!”

“Obat tersebut ia yang membawa sendiri, sudah tentu pemuda tersebut dapat menentukan sendiri mana yang merupakan pil pemunah racun!”

“Cuma cara inipun merupakan suatu tindakan sangat berbahaya,” kata Phoa Ceng Yan kembali berat.

“Bagian mana yang kau maksud bahaya.”

 “Jikalau aku tidak berhasil menyadarkan dirinya, maka kita tak akan berhasil menyelamatkan jiwanya lagi.”

“Kecuali bertindak demikian, masih adakah cara-cara yang kiranya dapat digunakan?.”

“Bilaman dibicarakan dalam situasi seperti ini, kecuali cara tersebut rasanya tak ada cara lain lagi….”

Selagi mereka bercakap-cakap, Nyoo Su Jan dengan membawa baki berisi makanan sudah berjalan masuk.

“Jie-ya, siapakah orang ini?” tanya Nyoo Su Jan sambil meletakkan baku berisi makanan itu ke atas tanah.

“Aku sendiripun tidak tahu.” perlahan-lahan Phoa Ceng Yan menggeleng. “Ia menunggang kuda dan kesasar sampai ke sini, sedang pemuda itu sendiri jatuh pingsan karena terhajar senjata rahasia.”

Sinar mata Nyoo Su Jan dialihkan ke atas jarum beracun Yen Wie Tui Hun Ciam yang masih melekat pada punggungnya.

“Aaaakh! Ia sudah terhajar oleh jarum beracun Yen Wie Tui Hun Ciam…..” serunya tiba-tiba dengan rasa kaget.

“Tidak salah, bahkan kalau sudah tak ditolong lagi, maka jiwanya bakal melayang.”

“Kuda putih yang berada di luar ruangan apakah kuda tunggangannya??….“ kembali Nyoo Su Jan bertanya.

“Ehmmm! Jikalau kuda tunggangannya bukan seekor kuda jempolan yang cerdik, mungkin ini hari jiwanya sudah melayang.”

“Jadi Jie-ya mau menolong dirinya?”

 “Benar, urusan sudah menjumpai diriku sudah tentu aku harus berusaha keras…..”

“Jika ditinjau dari perubahan air mukanya, jelas ia sudah keracunan hebat, bila tidak berhasil kita tolong dirinya, maka kesulitan bakal menimpa diri kita.”

“Soal ini aku sendiripun tahu, jika kita tidak berhasil menyelamatkan jiwa maka kerepotan bakal saling berdatangan, dan bila kita berhasil menolong dirinya kerepotan tetap bakal datang. Sekarang urusan ini sudah menjumpai kita, kalau memang apapun terjadi kita tetap merasakn kerepotan, bukankah jauh lebih baik kita coba dulu tolong orang itu. Kedatanganmu sungguh amat bagus, coba perintahkan mereka perketat penjagaan, mungkin satu dua jam ini aku tak bisa lepaskan diri dalam ruangan, sebentar lagi aku mau turun tangan menolong dirinya.”

Dirobeknya pakaian kulit kambing pada pundak pemuda itu, lalu jari-jari tangan kanan mulai bekerja mencabut keluar jarum beracun yang menghajar di atas jalan darah “Hong Hu Hiat” pada pundak pemuda berbaju biru itu, sedangkan tangan kirinya angsurkan pil pemunah tadi ke tangan Liauw Thayjien.

Liauw Thayjien terima obat pemunah itu, Phoa Ceng Yan lantas gunakan tangan kirinya membimbing bangun pundak pemuda tersebut, telapak tangan ditempelkan ke atas jalan darah “Ming Bun Hiat” pada punggung diamdiam hawa murni disalurkan menerjang masuk ke isi perutnya.

Liauw Thayjien yang belum pernah mencampurkan diri dalam urusan dunia kangouw, ketika melihat Phoa Ceng Yan tempelkan telapak kanannya ke atas punggung pemuda berbaju biru itu dalam hati jadi keheranan.

 “Eeei…. terhitung cara apakah ini? masa menyembuhkan luka keracunan hanya dengan tempelkan tangan ke atas punggung?”

Tampaklah beberapa saat kemudian batok kepala Phoa Ceng Yan mulai dibasahi oleh keringat yang makin lama semakin deras bagaikan curahan hujan, dari ujung kepala sampai bawah basah kuyup semua.

Melihat kejadian itu, Liauw Thayjien jadi semakin terkejut bercampur keheranan.

“Phoa-ya, kau lelah?” tak tertahan lagi tanyanya.

Ketika itu Phoa Ceng Yan sedang pusatkan seluruh perhatian untuk paksa keluar racun dari dalam tubuh si lelaku berbaju biru itu dengan kerahkan tenaga lweekang, sudah tentu tak ada waktu baginya untuk menjawab pertanyaan dari Liaw Thayjien.

Ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Liauw Thayjien yang melihat Phoa Ceng Yan tetap duduk bersila sambil pejamkan mata, agaknya sama sekali tidak mendengar pertanyaan, iapun tidak mengajukan pertanyaan lebih lanjut.

Kembali lewat beberapa waktu, mendadak si orang berbaju biru itu menghembuskan napas panjang, perlahan-lahan ia membuka matanya.

Agaknya ketika itu Phoa Ceng Yan sudah kecapaian, sesudah menghembuskan naoas ringan buru-buru katanya.

“Liauw Thayjien, cepat tunjukkan pil itu kepadanya dan suruh ia tunuk pil mana yang pemunah racun.”

 Liauw Thayjien menurut, ia keluarkan telapak tangannya dan menunjukkan kedua butir pil kepada sang pemuda.

“Dia antara kedua butir ini mana yang merupakan pil pemunah racun?”

“Pil berwarna putih keperak-perakan adalah pemunah racun.”

Liauw Thayjien segera mengambil pil yang dimaksud dan diserahkan ke mulut pemuda tersebut.

“Phoa-ya, apakah pil ini diberikan saja kepadanya.” “Tanyakan saja kepadanya.”

Si orang berbaju biru itu tidak menjawab tapi pentangkan mulut lebar-lebar.

Liauw Thayjien pun lantas hantar pil warna putih ke dalam mulut si orang berbaju biru.

Setelah itu dimasukkannya pula pil berwarna merah tadi ke botol kumala, lalu menutup gabusnya dan diletakkan di depan tubuh sang pemuda.

Setelah semuanya beres ia baru bangun berdiri dan bertindak keluar dari ruangan.

Si lelaki berbaju biru itu setelah menelan pil pemunah racun segera pejamkan matanya pula untuk mengatur pernapasan.

Phoa Ceng Yan dengan kerahkan sisa tenaganya mengirim hawa lweekang ke dalam isi perut sang pemuda dan bantu ia perlancar jalannya peredaran  darah di badan.

Sepeminum teh kemudia, mendadak si orang berbaju biru itu buka suara, katanya.

 “Terima kasih atas bantuan dari Locianpwee, boanpwee sudah bisa atur pernapasan sendiri, cianpwee tidak usah repot repot lagi.”

Cara menyembuhkan luka dengan menggunakan tenaga dalam merupakan suatu pekerjaan yang sangat berat dan banyak mengeluarkan tenaga murni, Phoa Ceng Yan yang ada maksud menolong orang telah kerahkan seluruh hawa murni yang dimilikinya.

Sesudah lewat beberapa saat hawa murni di dalam badan hampir boleh dikata sudah tinggal sedikit, keringat ngucur keluar menembusi mantel bulunya, sekalipun si orang berbaju biru itu tidak menyuruh ia beristirahat pun ia tak akan meneruskan pekerjaannya.

Si orang berbaju biru itu melirik sekejap ke atas wajah Phoa Ceng Yan yang penuh diliputi keletihan, setelah itu ia baru pejamkan mata atur pernapasan.

Phoa Ceng Yan menghembuskan napas panjang, tubuhnya langsung dijatuhkan ke belakang dan rebah ke atas tanah, kelelahan yang dialami saat ini bagaikan kelelahan yang dialami setelah mengalami suatu pertarungan yang maha sengit.

Waktu itu Nyoo Su Jan dengan jalan merindik-rindik masuk ke dalam ruangan, sebagai seorang jago kawakan yang sering melakukan perjalanan setelah melihat sekejap keadaan ruangan perlahan-lahan ia menutup pintu kembali dan mengundurkan diri untuk berjaga-jaga di luar.

Kiranya ia takut keadaan Phoa Ceng Yan yang sangat mengenaskan itu dapat diketahui oleh pihak lawan, maka dari itu untuk amannya sengaja ia berjaga-jaga di depan pintu untuk menghalangi setiap orang yang bermaksud untuk masuk ke sana.

 Setelah berbaring beberapa saat, perlahan-lahan Phoa Ceng Yan bangun duduk dan mulai atur pernapasan.

Menanti ia selesai salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan satu lingkaran dan rasa lelah lenyap dari dalam tubuh pada waktu itu si orang berbaju birupun sudah selesai bersemedi dan sedang duduk di sudut ruangan.

Ketika Phoa Ceng Yan buka mata untuk kedua kalinya, keadaan dari si orang berbaju biru itu sudah berubah dari keadaan semula, wajah sembab hijau yang semula menghiasi wajahnya kini sudah tersapu lenyap berganti dengan selembar wajah tampan dan gagah perkasa.

“Loo-Cianpwee sudah selesai bersemedi, boanpwee pun seharusnya mohon diri” kata si orang berbaju biru itu hambar.

Ia bangun berdiri, membuka pintu dan berjalan keluar dengan langkah lebar.

Ia tidak menanyakan kisahnya sehingga ditolong, juga tidak mengucapkan sepatah kata terima kasih bahkan tidak menanyakan pula nama Phoa Ceng Yan maupun meninggalkan nama sendiri, begitu keluar dari ruangan segera meloncat naik ke atas kuda, menarik tali les dan diiringi suara ringkikan kuda putihnya laksana sambaran petir meleset sejauh delapan depa untuk kemudian lenyap di balik hutan sana.

Menanti Phoa Ceng Yan tiba di depan pintu kuil bayangan manusia sudah lenyap tak berbekas.

 Nyoo Su Jan yang melihat kejadian itu tak bisa menahan golakan dihatinya lagi, kontan ia bentang bacot memuji.

“Sungguh seekor kuda yang bagus… ”

Ia bepaling, sewaktu melihat Phoa Ceng Yan pun sudah keluar, buru-buru sambungnya dengan berganti nada.

“Jie-ya, siapakah orang itu? Agaknya di dalam kalangan Bu Lim sebelah utara belum pernah menemui jejak orang ini.”

“Ia tidak tinggalkan nama” Phoa Ceng Yan menggeleng.

“Ehmmm! Apakah Jie-ya tidak menanyakan hal tersebut kepadanya?”

“Kepergiannya teramat cepat, sang manusia amat gesit kudanya lincah, sama sekali tidak memberi suatu kesempatan bagiku untuk mengajukan pertanyaan.

Thio Toa Hauw yang berdiri di samping pintu kuil sehabis mendengar perkataan itu hawa gusarnya kontan bergelora.

“Hmmm! Bangsat cilik itu benar-benar tidak tahu kesopanan, bikin dongkol. Jie-ya! Kau sudah sia-sia menolong selembar nyawanya, kurang ajar benar, masa sepatah kata terima kasihpun tidak diucapkan, jika di kemudian hari aku si Loo Thio menemui dirinya lagi, tentu akan kukasih sedikit hajaran kepadanya.”

“Toa-Hauw, lain kali aku larang kau ungkap kembali persoalan ini “ cegah Phoa Ceng Yan sembari ulapkan tangannya. “Kita sebagai orang kangouw yang sering melakukan perjalanan sudah sepatutnya sering tolong menolong dan membantu, urusan telah lewat biarkanlah

 berlalu, apalagi kitapun menolong bukan mengharapkan upah orang lain.

Walaupun di dalam hati tidak puas, Thio Toa Hauw tidak berani membantah perkataan Hu Piauw-tauw-nya, dengan hati mendongkol segera putar badan berlalu.

“Jie-ya, jika ditinjau dari kudanya kemungkinan besar orang ini mempunyai asal-usul yang luar biasa.” bisik Nyoo Su Jan dengan suara lirih. “Budi tidak mengenal terima kasih, inilah baru dinamakan wajah seorang pendekar sejati!”

“Su Jan, jangan bicarakan urusan ini lagi “ potong Phoa Ceng Yan sambil terbatuk batuk kering. “Tadi kau keluar sebentar dan apa yang sudah kau temui di sana?”

“Hamba serta Giok Liong sekalian bekerja untuk kumpulkan sedikit bahan makanan yang kira-kira bisa digunakan untuk penuhi ransum selama empat-lima hari buat manusia maupun kuda, selain itu secara teliti dan cermat kamipun sudah periksa keadaan di empat penjuru, tapi tak sebuah tanda yang mencurigakan pun berhasil kita temukan. Hamba merasa keadaan sekeliling kuil ini sangat tenang bahkan ketenangan yang membawa rasa keheranan.”

“Semakin hening, suasana semakin menakutkan! Kita jangan terlalu bertindak gegabah……” kata Phoa Ceng Yan seraya tertawa getir.

Ia dongakkan kepala memandang cuaca.

“Waktu masih pagi, sekalipun bakal terjadi urusan juga tak akan berlangsung pada saat ini. Menggunakan kesempatan ini ada baiknya suruh mereka makan yang kenyang lalu beristirahat sebentar. Semisalnya si Dewa Api   Ban   Cau   betul-betul   sudah   pasang   jebakan di

 sebelah sana dan ini hari tidak berhasil menjumpai kita, maka nanti malam pihak mereka pasti akan adakan suatu gerakan.”

Agaknya Nyoo Su Jan secara tiba-tiba teringat akan suatu persoalan yang penting, buru-buru ujarnya.

“Eeeeii……….Piauw-tauw, pemuda tadi sudah kena terhajar senjata rahasia macam apa?”

“Jarum beracun Yen Wei Tui Hun Ciam” seru Phoa Ceng Yan rada melengak.

“Jarum Yen Wie Tui Hun Ciam adalah sebangsa senjata rahasia tunggal yang sangat istimewa, jarang sekali orang-orang Bu-lim yang menggunakan senjata tersebut.”

“Tentang hal ini aku sih tahu” Phoa Hu Cong Piauwtauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini tertawa getir. “Dan didalam dunia kangouw saat ini hanya seorang saja yang menggunakan senjata rahasia ini sebagai senjata andalan.”

“Si “Kui Siu” atau Tangan Setan Mo Cing.” “Tidak salah, memang si tangan setan Mo Cing.”

“Menurut apa yang hamba ketahui, selamanya antara Kui Siu serta Shia Kiam atau si pedang sesat belum pernah berpisah.”

“Tentang hal ini akupun tahu,” kembali si orang tua mengangguk. “Di mana si tangan Setan Mo Cing munculkan diri maka “Shia Kiam” atau si pedang Sesat pasti menguntil datang.”

“Jie-ya” Nyoo Su Jan berbisik rendah.

“Sudah ada banyak tahun si Tangan Setan serta si Pedang Sesat tidak pernah munculkan dirinya di dalam

 dunia kangouw, kemunculan mereka di tempat ini ada kemungkinan disebabkan karena suatu maksud tertentu.”

“Maksudmu, kedatangan mereka-pun disebabkan oleh barang kawalan kita kali ini?” teriak Phoa Ceng Yan tertegun.

“Soal ini hamba tidak berani terlalu memastikan,  hanya saja peristiwa ini terjadi sangat kebetulan, dalam musim dingin yang menggigilkan badan serta jalan raya yang tertutup lapisan salju tebal apalagi menjelang tutup tahun, kebanyakan jago-jago Liok-Lim kenamaan sudah masanya beristirahat menyambut kedatangan Tahun Baru, seharusnya Kui So serta Shia Kiam tidak akan dikarenakan jual beli ini lantas cari sangu untuk melewati Tahun Baru bukan?”

“Tidak salah, si Dewa Api Ban Cau ditambah tangan dan pedang sesat, urusan memang sedikit rada kebetulan.”

“Bahkan mereka masih tinggalkan suatu bukti kepada kita bahwa si tangan setan Mo Cing pun telah unjukkan diri.”

“Tapi diantara perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita dengan pihak mereka belum pernah terlibat sengketa!” seru Phoa Ceng Yan.

“Kita sudah menolong orang yang pernah dilukai si Tangan Setan Mo Cing, bukankah hal ini berarti sudah memberikan suatu kesempatan yang baik buat mereka untuk mencari gara-gara?”

“Su Jan!” kata si Orang tua seraya tertawa getir. “Jikalau kedatangan mereka adalah membawa maksud tujuan, sekalipun kita tidak menolong orang itupun mereka sama saja tak akan melepaskan kita orang.”

 “Perkataan dari Jie-ya memang tidak salah, agaknya urusan makin lama berubah semakin merepotkan, hamba segera akan perintahkan mereka untuk banyak bikin persiapan.”

Ia merandek sejenak.

“Walaupun keadaan pihak musuh jauh lebih kuat, paling banterpun kita harus bertempur sampai mati, justru persoalannya sekarang terletak pada diri keluarga Liauw. Heee……! Sekarang, hamba malah sebaliknya sangat mengharapkan nona Liauw benar-benar seorang gadis yang memiliki rangkaian ilmu silat lihay.”

“Kalau rejeki bukan bencana, kalau bencana tak akan terhindar, sampai waktunya aku kepingin sekali agar mereka suka memberi sedikit keterangan tentang maksud kedatangannya, setelah itu kita lakukan suatu pertarungan sepuas-puasnya, daripada harus merasakan kemasgulan, kemurungan serta kesumpekan sebanyak ini, jauh lebih baik semuanya berlalu dengan blakblakan.”

“Jie-ya, maafkan hamba akan bicara terus terang. Kemungkinan sekali Cong Piaut tauw sudah mulai melakukan perjalanan, dengan kecepatan lari kudanya, mungkin dalam beberapa hari ini akan tiba di sini, sekarang kita harus berusaha keras menahan siksaan serta kepahitan getir untuk mengesampingkan semua persoalan yang tak berguna, kita harus mencari akal untuk bertahan hingga kedatangan Cong Piauw-tauw kita.”

“Perkataanmu tidak salah, pergilah melakukan persiapan.” Phoa Hu Cong Piauw-tauw mengangguk.

 Agaknya secara tiba-tiba ia sudah teringat akan suatu persoalan yang penting, sembari mengelus jenggot sambungnya lagi.

“Su Jan, aku sudah teringat akan suatu persoalan!.”

Nyoo Su Jan yang sudah putar badan dan melangkah keluar mendengar perkataan itu lantas berhenti dan berpaling.

“Jie-ya, kau masih ada urusan apa yang hendak diperintahkan??”

“Toa-hauw memiliki kekuatan alam luar biasa, hanya jurus-jurus ilmu silatnya kurang sempurna, setelah menemui jago lihay kadangkala hanya dalam tiga lima jurus kena didesak bergebrak jarak dekat kemudian tertotok jalan darahnya. Bila kita hendak bertahan seharusnya kau aturkan penjagaan sedemikian rupa sehingga Toa Hauw bisa unjukkan sedikit kegagahannya.”

Ia tarik napas panjang panjang dan beristirahat sebentar.

“Jikalau kita bisa lewatkan hadangan ini akan memohonkan kepada COng Piauw-tauw untuk carikan satu akal menyempurnakan diri Toa Hauw, menambah kecerdikannya dan wariskan beberapa rangkaian ilmu silat yang sesuai bagi dirinya.”

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah, soal ini sudah lama kita rundingkan, dan akhirnya berhasil kami dapatkan satu cara, cuma cara ini harus bekerja sama pula dengan Jie-ya kau orang tua.”

“Harus bekerja sama dengan diriku?”

“Tidak salah. Gelang terbang dari Jie-ya beserta du alat bandring otomatis dan empat busur panjang yang

 keras bisa kita gunakan berbareng, sekalipun kita jumpai seorang jago lihay kelas wahidpun hamba percaya masih bisa menghadapinya, cuma… ”

“Su Jan, teruskan kata katamu, tidak mengapa!” seru Phoa Ceng Yan tertawa.

“Jie-ya harus bisa menahan hina, makian serta hasutan musuh, kita jangan gubris makian serta tantangan mereka”.

“Baik! Akan kudengarkan siasatmu itu.”

“Hamba sudah periksa situasi di sekitar sini, jikalau kita akan bertahan di dalam kuil ini maka ruang tengah harus kita jadikan titik pusat, soal keluarga Liauw sana terpaksa hamba harus merepotkan Jie-ya untuk bikin takluk dulu Liauw Thayjien.”

“Heeeei…..! Jikalau kau suruh aku bicarakan lagi tentang sesuatu dengan mereka sebenarnya Loohu sudah malu untuk buka suara, bagaimana kalau titik pusat penjagaan dari ruang tengah kita pindahkan ke ruang yang mereka tempati saja?”

“Hamba serta Giok Liong sudah bikin perhitungan yang cermat, kami merasa bahwa ruangan itu tidak kuat……”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya.

“Hamba sudah gunakan papan serta kulit pohon untuk membangun sebuah ruang kecil di dalam ruangan tengah, rasanya ruangan tersebut cukup digunakan sebagai tempat persembunyian beberapa orang keluarga Liauw! Apalagi tempat itupun jauh lebih aman daripada ruangan sekarang.”

Beberapa patah perkataan ini sengaja diucapkan dengan  suara  keras,  sehingga  para  pembantu Piauw-

 kiok yang meronda di luar pintu besar pun dapat mendengar perkataan itu jelas.

Selagi Phoa Ceng Yan bersiap hendak memberi jawaban, tiba-tiba Liauw Thayjien munculkan dirinya dari balik ruangan.

“Phoa-ya, kau tidak perlu bersedih hati!” serunya seraya ulapkan tangannya. “Urusan sudah jadi begini, terpaksa kau harus berbuat sesuai dengan perintah dari Nyoo Su Jan Piauw-tauw.”

“Thay-jien, kau terlalu sungkan” buru-buru Nyoo Su Jan menjura. “Di dalam keadaan dan situasi macam begini terpaksa kita harus saling percaya mempercayai dan saling bantu membantu, dengan demikian hadangan bahaya ini baru bisa kita lalui.”

“Aku paham, entah kapan kami harus pindah!” potong Liauw Thayjien tertawa hambar.

“Lebih baik sekarang juga pindah kemari! Bilamana kedatangan mereka adalah benar-benar dikarenakan kita orang, rasanya sebentar lagi orang-orang itu pasti sudah tiba di sini, bahkan ada kemungkinan besar malam nanti bakal terjadi suatu perubahan besar…..” 

“Baiklah, sekarang juga cayhe akan suruh merekap pindah masuk ke ruang tengah.”

“Su Jan! Tidak bisa salahkan orang lain merasa tidak senang” sela Phoa Ceng Yan seraya tertawa hambar menanti Liauw Thayjien telah berlalu. “Orang lain adalah buang uang meminta kita jadi pengawalnya, bukannya kami yang menurut perintah sekarang merekalah yang setiap langkah harus mendengar petunjuk kita orang.”

 “Keadaan kritis dan tidak mengijinkan kita banyak berpikir panjang, rasanya kejadian inipun merupakan suatu peristiwa yang tidak terhindarkan.”

Ia merandek sejenak, lalu sambungnya.

“Jie-ya, kau harus baik-baik beristirahat sebelum Cong Piauw-tauw tiba di sini maka semua urusan masih harus andalkan kepandaian Jie-ya.

Selesai berkata, Nyoo Su Jan lantas berlalu untuk adakan persiapan persiapan seperlunya.

Liauw Thayjien dengan membimbing Liauw Hujien serta nona Liauw pindah masuk ruang tengah kuil.

Sedikitpun tidak salah, Nyoo Su Jan sekalian sejak semula sudah persiapkan sebuah rumah kecil yang sangat kuat dan tertutup di tengah ruang kecil itu ditutup oleh papan serta kulit pohon yang tebal dan kokohnya luar biasa di bawah jendela bertumpukan batu batu cadas dalam jumlah yang sangat banyak.

Jelas membuktikan bila Phoa Ceng Yan sekalian sudah bulatkan tekad untuk bertahan mati-matian di dalam kuil tersebut dengan titik pusat di dalam ruang tengah tadi.

Cuaca makin lama semakin gelap, suasana di sekeliling tempat itupun mulai kelihatan samar-samar, rasa tegang mulai mencekam hati setiap orang semua.

Ketika itu salju sudah berhenti, awan gelap mulai buyar dan muncullah langit nan biri dengan separuh bagian rembulan memancarkan cahayanya menyinari permukaan jagat yang putih menyilaukan mata.

Dalam kuil sudah disulut lampu, suasana empat penjuru sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun

 kecuali ringkikan-ringkikan kuda yang menambah keseraman di tengah malam yang bening itu.

Kurang lebih mendekati kentongan kedua di luar kuil tiba-tiba muncul empat sosok bayangan manusia, suara berdetaknya kaku kuda berlari di atas permukaan salju kedengaran sangat jelas.

Phoa Ceng Yan yang bersembunyi di tempat kegelapan di balik pintu besar kuil dengan meminjam cahaya rembulan dapat melihat pemandangan di luar kuil dengan sangat jelas.

Di lihatnya empat sosok bayangan manusia menghentikan larinya kuda pada kurang lebih sepuluh kaki di luar kuil dan sama-sama meloncar turun ke ats permukaan tanah.

Agaknya keempat orang itu sama sekali tiada mengandung maksud hendak melancarkan serangan bokongan, setelah menyerahkan keempat ekor kuda itu pada seorang, sisanya tiga orang dengan langkah lebar berjalan ke arah kuil.

Melihat kejadian itu Phoa Ceng Yan lantas berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyoo Su Jan.

“Agaknya mereka siap-siap menantang kita untuk bergerak “ bisiknya lirih.

“Jika memang begitu, pasti mereka adalah jago-jago kenamaan.”

Gerakan tubuh ketiga orang itu sangat cepat, di dalam sekejap mata sudah berada kurang lebih tiga kaki di luar kuil.

Pihak lawan tidak buka suara untuk menantang perang, sedang dari pihak Phoa Ceng Yan pun tidak kedengaran  suara  bentakan  maupun  teguran,  mereka

 hanya memandang orang-orang itu dengan pandangan dingin.

Menanti ketiga orang itu sudah mencapai tiga kaki dari kuil mendadak bersama-sama menghentikan langkahnya, salah seorang diantaranya seorang kakek tua berjubah panjang warna hijau dengan jenggot melambai sepanjang dada maju ke depan seraya menjura, katanya.

“Siapakah yang sedang bertugas? Harap suka laporkan kepada si telapak besi gelang emas Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan kalian, katakan saja si Dewa Api Ban Cau malam-malam datang berkunjung.”

Selagi Phoa Ceng Yan siap-siap hendak memberi jawaban, Nyoo Su Jan yang ada disisinya sudah keburu menyahut.

“Oooooouw……..! Kiranya Ban Loo-yacu yang namanya sangat terkenal di dalam Bu Lim, cayhe aturkan selamat datang! Maaf kami menyambut kurang hormat.”

Sembari menjawab, lambat-lambat ia berjalan keluar dari tempat persembunyian.

Ban Cau dongakkan kepala memandang sekejap ke arah Nyoo Su Jan.

“Maaf, Loohu punya mata tak berbiji, tidak berhasil kukenali sebutan dari kawan.”

“Cayhe Nyoo Su Jan! Ban Loo-yacu adalah cianpwee loojien, sudah tentu tak akan mengenali aku orang she Nyoo yang sama sekali tak bernama di dalam dunia persilatan,” kata Nyoo Su Jan seraya menjura.

Ban Cau mendengus dingin.

 “Kau tidak usah meluncurkan sindiran dalam katakatamu, sana beritahu kepada Phoa Ceng Yan, coba lihat maukah dia orang menemui aku sebagai si tetamu.”

Phoa Ceng Yan yang bersembunyi di belakang pintu dapat mendengar jelas semua perkataan dari kedua orang itu, tapi berhubung belum mendapat tanda dari Nyoo Su Jan maka ia merasa kurang leluasa untuk unjukkan diri.

Terdengar Nyoo Su Jan kembali berkata, “Bilamana dibicarakan dari nama serta kedudukan Ban Loo-yacu saat ini sudah tentu seharusnya Phoa Hu Cong Piauwtauw dari perusahaan kami munculkan diri untuk menemui tamu, cuma saja…..”

Ban Cau ulapkan tangannya memotong pembicaraan selanjutnya dari Nyoo Su Jan, sahutnya.

“Kau tidak usah bukakan pintu buat aku orang, Loohu malam-malam datang berkunjung bukannya dikarenakan ingin mengikat persahabatan, jika kau tidak ingin sampaikan berita ini jangan salahkan Loohu segera akan terjang masuk ke dalam.”

Melihat Nyoo Su Jan terdesak dan sulit untuk memberi jawaban lagi, Phoa Ceng Yan batukbatuk kering sambil melangkah keluar dari tempat persembunyian.

“Siapa yang datang mencari aku orang she Phoa.”

Seraya menyahut lambat-lambat ia munculkan dirinya dan berjalan keluar ke pintu kuil, melihat munculnya Phoa Hu Cong Piauw-tauw ini, Ban Cau segera merangkap tangannya menjura, “Si telapak besi gelang emas Phoa Jie-ya, di sini Ban Cau menghunjuk hormat.”

Buru-buru Phoa Ceng Yan balas menjura.

 “Tidak berani…..tidak berani, cayhe tidak berani menerima penghormatan besar dari Ban Toa-ya.”

Si Dewa Api Ban Cau tertawa hambar.

“Selama beberapa tahun ini siauw-tee bersembunyi terus di gunung dan jarang berkelana di dalam dunia persilatan, tapi aku dengar nama besar dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian beserta kedashyatan dari gelang terbang pencabut nyawa dari Phoa Jie-ya, katanya kau sudah berhasil mkendesak kawan-kawan Liok-lim di daerah utara sampai tak bisa berkutik.”

Phoa Ceng Yan mendengus dingin sahutnya.

“Jikalau kedatangan Ban Heng pada malam ini dikarenakan soal kawan-kawan di sekitar daerah Utara, maka aku orang she Phoa dengan suka hati akan menyampaikan pendapat dari Ban heng ini kepada Cong Piauw-tauw kami, aku rassa Cong Piauw-tauw tentu akan memberikan satu jawaban yang memuaskan hati Ban Heng, aku orang she Phoa hanya menjabat kedudukan kecil, di atas masih ada COng Piauw-tauw dan maaf aku orang tak bisa ambil keputusan sendiri…..”

“Haaaa……….haaa…………..haaaa… kalau

begitu Phoa heng hanya bisa berbuat apa saja?” potong Ban Cau sembari dongakkan kepalanya tertawa tergelak.

Melihat kejadian itu, diam-diam di dalam hati Phoa Ceng Yan berpikir.

“Bila aku ulur sedikit waktu lagi berarti memberi kesempatan pada mereka untuk mengadakan persiapan lebih teliti, jikalau ia tidak suka memberi muka kepadaku, akupun tidak usah menggunakan kata-kata untuk menyanjung dirinya lagi.”

Berpikir akan hal tersebut, ia lantas menyahut.

 “Pertanyaan dari Ban-heng betul-betul membuat Siauw-te jadi tidak paham, di bawah kolong langit tak ada orang kedua. Di dalam rumah tak ada dua majikan, di dalam perusahaan pengawal barang-barang kita punya peraturan kami sendiri aku orang she Phoa tidak ingin bicara terlalu besar……”

“Heee…..heee……heee…… di dalam persoalan barang walaupun kali ini, apakah kau Phoa Jie-ya bisa ambil keputusan,” kembali potong Ban Cau diiringi suara tertawa dingin.

Phoa Ceng Yan segera tertawa terbahak-bahak. “Ooouw.. jika demikian adanya, tujuan Ban-heng pun

terletak pada barang-barang kawalan kami?”

“Barang kawalan dari perusahaan Liong Wie Piauwkiok selamanya tak ada yang berani mengutak-ngatik, dalam hati siauw-tee merasa tidak puas, kami ingin cobacoba menahan barang kawalan dari perusahaan kalian kali ini.”

“Mau merampok katakan saja terus terang mau merampok, seorang lelaki sejati selamanya bicara blakblakan, cara Ban-heng belak-belok tak menentu apakah tidak berarti membuang tenaga terlalu banyak?”

Disindir oleh Phoa Ceng Yan, air muka Ban Cau kontan berubah jadi merah padam, serunya gusar.

“Kalau begitu anggap saja aku orang she ban ada maksud merampok barang kawalan kalian, kau Phoaheng bersiap-siap hendak berbuat apa?”

“Siauw-tee berani mengawal barang sudah tentu tidak bakal takut menghadapi mereka-mereka yang ada maksud merampok barang kawalan kami, jikalau Banheng punya kesadaran tunggulah sebentar, setelah kami

 bereskan dulu orang-orang piauw-kiok kami, rasanya turun tangan kemudian pun belum terlambat…..”

“Ban-heng, kau baik-baik jaga diri, maaf siauw-tee tak bisa menemui lebih lanjut,” sambungnya kemudian sambil ulapkan tangannya.

Dengan sinar mata tetap melototi diri Ban Cau, si orang tua ini lambat-lambat mengundurkan diri ke dalam ruangan kuil.

Ban Cau adalah seorang manusia yang licik dan banyak akal, sebenarnya maksud kedatangannya di sini adalah ingin mencari tahu beberapa persoalan dari mulut Phoa Ceng Yan.

Siapa sangka Phoa Ceng Yan jauh lebih lihay daripadanya, hanya di dalam beberapa patah kata saja ia berhasil menyelamuri diri Ban Cau sehingga lupa dengan maksud kedatangannya.

Menanti Phoa Ceng Yan sudah balik ke dalam ruangan kuil, Ban Cau baru teringat kembali akan maksud kedatangannya adalah ingin mencari sedikit keterangan, tapi kini tak sedikit keteranganpun yang berhasil ia dapatkan.

Senjata rahasia gelang emas dari Phoa Ceng Yan sudah amat terkenal di dalam dunia kangouw. Si Dewa api Ban Cau tidak berani bersikap terlalu gegabah, melihat Phoa Ceng Yan mundur ke belakang.

Selama ini Nyoo Su Jan terus menerus bersembunyi di tempat kegelapan di balik pintu, ketika dilihatnya Ban Cau dengan membawa anak buahnya mengundurkan diri, dalam hati jadi keheranan.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 09"

Post a Comment

close