coba

Kunanti Di Gerbang Pakuan Jilid 07

Mode Malam
Sekarang Pragola mencoba menelaah jalan pikiran Nyi Mas Layang Kingkin. Menyimak bicaranya, wanita cantik ini orang yang pro terhadap Kangjeng Prabu Nilakendra dan sama sekali menolak gagasan Pangeran Yogascitra yeng berupaya mengirim dan mengumpulkan orang pandai ke Pakuan. Karena itulah Nyi Mas Layang Kingkin menyuruhnya ikut menghalangi perjalanan Banyak Angga.

Yang dia tak menyangka bahwa Nyi Mas Layang Kingkin bisa juga bertindak keras dengan mengirimkan pasukan pembunuh untuk melenyapkan Banyak Angga, bahkan dirinya.

Dirinya? Pragola mencoba menepiskan persankaan buruk ini. Bisa jadi serangan terhadap dirinya adalah kekeliruan. Atau seperti apa kata Paman Manggala, semua dilakukan seperti sungguh-sungguh agar Banyak Angga percaya bahwa semuanya bukan diatur.

Pragola mnjadi pusung sendiri sebab semua yang dia pikirkan hanya akan berupa dugaandugaan belaka.

Pemuda ini tersentak lamunannya ketika dai belakang ada gerakan halus. Ketika dia membalikkan tubuh, ternyata Paman Manggala yang datang.

Pragola tak menyapanya. Dia merasakan ada kerenggangan di antara mereka. Atau paling tidak, dia merasa bahwa Paman Manggala sudah menjadi renggang dengan dirinya sebab orang tua itu dicurigai menyembunyikan sesuatu rahasia.

“Tidurlah, engkau pasti lelah dan mengantuk,” bisik Paman Manggala. Pragola menggelengkan kepala.

“Kalau begitu kita berbincang saja,” bisik lagi Paman Manggala. Orang tua itu terus berbisik, menyadarkan Pragola bahwa Paman Manggala ingin pembicaraan penting yang hanya bisa didengar berdua saja.

“Engkau tentu menemukan sesuatu yang penting tadi siang,” kata Paman Manggala. “Paman sendiri bagaimana?”

“Ya, sebetulnya kita telah sama-sama menemukan sebuah misteri,” jawab Paman Manggala. “Ada lebih dari satu misteri bagiku dan Paman perlu menerangkannya padaku,’ gumam Pragola.

“Kau kan sudah tahu, tawanan yang mati itu diutus oleh siapa…”

“Kemudian siapa yang mengutus penghadang pertama yang yang kemudian Paman bunuh itu?” tanya Pragola.

Paman Manggala terpekur sejenak, kemudian menghela napas.

“Aku membunuh tawanan yang sebetulnya orang sendiri itu agar rahasia kita tidak terkuak,” kata Paman Manggala.

“Agar rahasia mereka juga dalam upaya membunuhku juga tidak terbongkar,’ potong Pragola.”Mengapa mereka hendak membunuhku?” tanya lagi Pragola dengan penuh desakan.

Kembali Paman Manggala menghela napas.

“Ya … aku juga sebetulnya merasakan bahwa sebetulnya merasakan bahwa sepertinya ada upaya membunuhmu. Tapi aku belum tahu dasar kecurigaanku pada utusan Pangeran Yudakara itu. Dan kalau pun aku bunuh mereka, sebetulnya aku lebih mengkhawatirkan mereka buka mulut sewaktu diperiksa nanti. Makanya kulenyapkan saja mereka,”

Pragola tak berkomentar.

“Sungguh, aku juga berpikir sepertimu, mengapa kau jadi sasaran pembunuhan. Dan kebingungan kian bertambah ketika kita menerima hadangan kedua. Aku curiga mereka bukan orang sendiri. Dan terbuktibahwa penghadang yang kedua diutus oleh Nyi Mas Layang Kingkin. Ini mencurigakan,”

“Paman mengenal juga Nyi Mas Layang Kingkin?”

“Bekas selir mendiang Sang Prabu Ratu Sakti ini adalah kekasih gelap Pangeran Yudakara,” bisik Paman Manggala.

Serasa ada halilintar menyambar ubun-ubunnya manakala Pragola mendengar ucapan Paman Manggala ini. Nyi Mas Layang Kingkin kekasih gelap Pangerab Yudakara?

“Aku bingung dan curiga. Nyi Mas Layang Kingkin punya pasukan tentu di luar pengetahuan Pangeran Yudakara. Yang patut dicurigai, apa keperluan Nyi Mas Layang Kingkin mengirimkan pasukan pembunuh sepertinya ingin berusaha menyaingi upaya-upaya Pangeran Yudakara?” tanya Paman Manggala.

“Apakah Nyi Mas Layang Kingkin pun bekerja untuk Cirebon?” tanya Pragola setengah menerawang kesana-kemari.

“Nyi Mas Layang Kingkin adalah orang Pakuan tulen namun merupakan tokoh yang diasingkan di negrinya,” kata lagi Paman Manggala.

Pembicaraan yang dilakukan dengan pelan menyerupai bisikan ini tidak dilanjutkan sebab ada suara batuk. Yang batuk ternyata Paman Angsajaya. Dalam keremangan nampak dia bangun dan duduk seraya menutupi mulutnya dengan punggung tangan kanannya.

***

Para perampok yang ditawan sudah diserahkan kepada cutak terdekat untuk diurus sebagaimana mestinya. Sesudah tugas ini diselesaikan, keempat orang itu kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan masih tetap dilakukan jalan kaki kendati cutak menawarinya empat ekor kuda yang bagus-bagus.

Banyak Angga memberi alasan, lebih aman dilakukan jalan kaki ketimbang naik kuda. Dengan berkuda hanya akan menarik perhatian orang, padahal perjalanan mereka harus dilakukan dengan diam-diam.

“Kaum permapok akan menganggap kita saudagar kaya dan pihak musuh akan mencurigai bahwa kita adalah orang-orang penting,” tutur Banyak Angga.

Sekarang perjalanan tidak dilakukan tergesa-gesa walau pun sudah telat satu hari. Keempat orang itu berjalan santai di samping kelelahan karena banyak mengalami bahaya, juga karena mereka tahu, Sagaraherang letaknya sudah tak terlalu jauh lagi.

Mereka berjalan sambil tak terlalu banyak bicara, Banyak Angga berjalan di depan, kedua adalah Pragola. Sedangkan melangkah paling belakang adalah Paman Manggala dan Paman Angsajaya. Kedua orang itu hanya sesekali saja melakukan pembicaraan, itu pun bukan hal yang penting. Sedangkan Banyak Angga lebih banyak diam ketimbang bicara. Ini membuat Pragola lebih leluasa mengumbar lamunannya. Tak bisa dipungkiri, ada semacam pukulan batin kepada pemuda ini setelah mendengar berita perihal Nyi Mas Layang Kingkin.

Nyi Mas Layang Kingkin adalah wanita dewasa. Barangkali usianya dengan Pragola terpaut lima tahun. Kalau Nyi Mas Layang Kingkin wanita biasa, barangkali Pragola harus memanggilnya seperti seorang adik kepada kakak perempuannya. Tapi Nyi Mas Layang Kingkin bukan wanita sembarangan. Dia adalah bekas selir mendiang raja terdahulu. Walau pun wanita itu jadi orang terasing seperti apa kata Paman Manggala, namun wanita anggun itu tetap menjadi penghuni puri di istana raja. Bahkan disebut-sebut sebagai wanita yang cukup berpengaruh, terutama bagi Sang Prabu Nilakendra.

Ya, Nyi Mas Layang Kingkin adalah seorang agung di istana Pakuan. Tapi mengapa wanita berdagu runcing dengan hidung kecil mancung itu demikian manis budi ke padanya?

Senyumnya selalu merekah, kerlingnya selalu membetot jantungnya. Ada kerling cinta terhadapnya. Oh, hai Layang Kingkin, benarkah engkau cinta padaku?

Usia bukanlah halangan. Banyak lelaki mendapatkan wanita lebih muda. Mengapa wanita yang lebih tua tak berhak mendapatkan lelaki lebih muda? Itu bukan sebuah dosa.

Yang menjadi ganjalan sekarang, betulkah Nyi Mas Layang Kingkin terlibat urusan politik? Tapi semua orang punya keputusan sendiri-sendiri termasuk dalam politik. Itu tak jadi halangan. Tapi kesedihan di hati Pragola adalah ucapan pahit Paman Manggala. Benarkah Nyi Mas Layang Kingkin menjadi kekasih gelap Pangeran Yudakara?

Pahit sekali. Pahit dan menyakitkan. Nyi Mas Layang Kingkin yang bersikap manis kepadanya, nyatanya punya kekasih gelap, Pangeran Yudakara lagi, yaitu seseorang yang dianggap atasannya dan harus diseganinya.

Kekasih gelap? Mengapa harus menjadi kekasih gelap? Mengapa harus main sembunyi bukankah Pangeran Yudakara seorang duda dan Nyi Mas Layang Kingkin seorang janda? Apa yang membuat mereka main sembunyi seperti itu?

Pragola berharap, ini hanyalah khabar burung. Artinya, berita yang disampaikan Paman Manggala terhadapnya hanyalah isu yang kebenarannya diragukan. Ya, itulah harapan hatinya.

Selama melakukan perjalanan, bila malam tiba atau bila suasana menjadi sunyi, sebetulnya Pragola selalu terkenang Nyi Mas Layang Kingkin. Dia teringat akan pipi wanita itu yang putih kemerahan di saat tubuh wanita itu jatuh dalam pelukan Pragola karena kakinya keseleo di tepi kolam kaputren. Pragola pun sungguh ingat, betapa lekuk-relung tubuh Nyi Mas Layang Kingkin demikian menantang ketika pakaian sutra tipisnya tersorot cahaya lentera.

Ya, pemuda itu baru sadar belakangan ini, bahwa Nyi Mas Layang Kingkin sebenarnya telah menawarkan gelora cinta ke padanya, namun peluang yang ditawarkan ini dibuang percuma olehnya.

Nyi Mas, betapa sebetulnya engkau cinta padaku. Tapi benarkah orang lain bilang bahwa engkau bermain asmara secara gelap dengan lelaki lain, keluh Pragola.

Dan kalau saja suasana sunyi di perjalanan terus berlangsung, barangkali lamunan Pragola akan terus berlarut-larut.

Namun hati pemuda ini segera tersentak manakala pada jalanan setapak di depannya terlihat seorang wanita berlari tergopoh-gopoh.

Wanita itu lari dengan penuh ketakutan. Apa yang menyebabkannya terbirit-birit seperti itu bisa diketahui belakangan.

Ternyata wanita yang ditaksir usianya sekitar duapuluh lima tahunan ini tengah dikejar seorang lelaki. Lelaki itu barangkali usianya tigapuluh lima, pantas menjadi suaminya. Tapi mengapa lelaki itu seperti marah dan berniat hendak menganiaya wanita yang dikejarnya? Siapa tak menduga hendak menganiaya sebab di tangan kanan lelaki itu terpegang erat sebuah golok. Golok itu tak mengkilap benar, sebagai tanda kurang runcing. Namun setumpultumpulnya golok, kalau dibacokkan ke kepala orang tentu berakibat fatal.

Wanita itu sudah nampak kepayahan karena dikejar terus. Satu dua tindak saja sudah terkejar. Golok di tangan lelaki itu segera terayun. Nyata sekali akan segera mengenai belakang kepala wanita itu.

Namun sebelum benda itu menghantam kepala, secara tiba-tiba terlempar ke udara, kemudian ujungnya menancap keras di dahan pohon. Pemegangnya sendiri terpental ke belakang dan jatuh berdebuk. Lelaki itu meringis seraya memegangi pergelangan tangannya. Lelaki itu demikian kaget, menatap Banyak Angga yang barusan melemparkan sebutir batu dan kena telak di pergelangan tangannya.

“Perempuan laknat itu yang berdosa. Mengapa aku yang dihukum?” kata lelaki itu kasar. “Siapakah perempuanitu dan mengapa hendak kau bunuh?" tanya Banyak Angga. “Dibunuh atau tidak, itu urusanku sebab dia adalah istriku!” jawab lelaki itu bangkit dan hendak memukul wanita yang nampak berdiri menggigil ketakutan. Namun sebelum tujuannya terlaksana, lelaki berangasan itu sudah didorong mundur oleh Banyak Angga sehingga tubuhnya kembali terjengkang.

“Dia adalah istrimu. Tapi bila sudah menyangkut keselamatan nyawa, maka semua orang bisa ikut campur. Aku tak suka melihat orang dianiaya, apalagi seorang wanita,” kata Banyak Angga.

Lelaki yang terjengkang itu sebenarnya tak punya kepandaian apa-apa, hanya berangasan saja. Namun karena berangasan itulah, dia seperti tak memiliki rasa takut.

“Melihat pakaianmu dan juga kulit wajahmu yang sehat, tentu engkau seorang santana (sebutan untuk kelompok masyarakat pertengahan). Engkau juga seorang gagah, hai pemuda. Sayang kegagahanmu tidak kau gunakan di atas jalan kebijaksanaan. Kau hanya melihat kulitnya saja. Hanya karena melihat seorang lelaki hendak menganiaya perempuan, maka engkau langsung bersimpati pada si perempuan tanpa melihat sebab-musababnya,” tutur si lelaki berangasan sambil masih tetap memegangi pergelangan tangan kanannya.

“Tentu aku akan lihat permasalahannya. Karena itulah aku hentikan dulu perbuatan penganiayaanmu,” jawab Banyak Angga lagi.”Sekarang sebutkanlah alasanmu, mengapa begitu tega hendak mencelakai istri sendiri,” lanjutnya.

Si lelaki berangasan itu mendengus dan memalingkan muka.

“Aku enggan menerangkan aib yang dilakukan bedebah itu. Tapi kalau engkau cinta dendang prepantun, tentu engkau ingat kisah-kisah sedih Raden Banyak Angga yang kerap dilantunkan prepantun,” kata si berangasan. Seketika memerah kuli pipi Banyak Angga.

“Sudahlah Raden, kita tak perlu berurusan dengan mereka,” tutur Paman Angsajaya melibatkan diri dalam persoalan.

“Nah, sekarang tentu kalian tahu tentang permasalahan kami. Jadi tak perlu lagi melindungi perempuan tak berharga yang gila pangkat dan gila harta ini,’ kata si lelaki berangasan sambil bangkit menggenggam pisau. Demikian bencinya dia pada istrinya sehingga tetap bertekad ingin membunuhnya. Namun untuk kesekian kalinya, Banyak Angga menghalangi tindakan brutal lelaki itu.

“Engkau selalu berusaha menghalangiku, apa hakmu?” teriak si berangasan.

“Hakku adalah menghalangi tindakan kejammu,” kata Banyak Angga menatap namun dengan sorot mata lesu. ”Dan aku harus menghalangi agar kau tak bertindak kejam terhadap wanita,” lanjutnya.

“Maksudnya, engkau suruh aku agar punya hati lemah terhadap wanita seperti kisah-kisah prepantun mengenai Raden Banyak Angga itu?” tanya si lelaki berangasan. “Ingat, aku bukanlah Banyak Angga, melainkan seorang lelaki yang punya harga diri. Aku adalah lelaki yang tak mau dihina oleh perempuan tidak seperti Banyak Angga yang mandah begitu saja dikhianati Layang Kingkin, kekasih tak setianya itu!” Paman Angsajaya hendak menghambur ke depan dan nampak hendak melayangkan serangan kepada lelaki kasar itu. Namun dengan sigapnya Banyak Angga menghalanginya.

Pemuda yang wajahnya kini pucat-pasi karena ucapan tajam si Berangasan segera menghampir si wanita yang ada di belakangnya. Dengan gerakan tak terduga Banyak Angga melayangkan tangan kanannya. Dan “plak” pipi kiri wanita itu ditamparnya sehingga tubuhnya terpelanting.

“Engkau memang patut dihukum. Tapi cepatlah pergi. Aku tak mau kau binasa karena perbuatan burukmu itu!” desis Banyak Angga menatap tajam si wanita. Dan wanita itu bangkit dengan mata berlinang. Dia pergi dari tempat itu dengan tergopoh-gopoh. Ada terdengar isaknya yang tertahan. Makin lama terdengar makin pelan karena wanita itu semakin menjauh.

Namun si lelaki tak puas dengan keputusan ini. Dia segera mengejar istrinya yang kemudian segera dihalangi Paman Angsajaya.

“Kalau kau tetap akan membunuh istrimu, maka kau pun akan kubinasakan!” teriak Paman Angsajaya mengancam. Si berangasan malah menerjang menyerang Paman Angsajaya yang ditepiskan dengan mudah oleh prajurit setengah baya ini.

Banyak Angga tak sempat melihat perkelahian kecil ini sebab dia segera pergi dari tempat itu dengan wajah murung. Selang beberapa tindak, Pragola pun ikut melangkah di belakangnya. Dia melangkah hanya dengan tanpa sadar sebab perasaannya kacau-balau.

Kini ke padanya sudah datang lagi berita baru mengenai Nyi Mas Layang Kingkin. Kemarin malam dia dapatkan melalui Paman Manggala bahwa Nyi Mas Layang Kingkin adalah kekasih gelap Pangeran Yudakara. Hari ini Pragola pun menambah perbendaharaan pengetahuan lagi. Betulkah Nyi Mas Layang Kingkin pernah punya hubungan dengan Raden Banyak Angga?

***

Banyak Angga berdiri mematung di atas tonjolan batu, melihata hamparan padang ilalang bercampur tanah rawa di dataran rendah itu. Rawa ini banyak ikannya sehingga dalam masa istirahat ditempat itu, mereka tak kekurangan bahan makanan.

Pragola pun sama berdiri di sana, agak surut di belakang Banyak Angga.

“Maafkan bila saya terlajur mengetahui peristiwa kelabu Raden…” tutur Pragola memecah kesunyian.

“Kalau engkau sering pergi malam-malam ke dayo Pakuan, maka di kedai tertentu suka ada prepantun mendendangkan kisahku. Jadi dengan demikian, sudah banyak orang tahu mengenaiku,” gumam pemuda itu menunduk. “Yang aku sesalkan mengapa banyak pendapat seperti itu. Sepertinya aku lemah terhadap wanita,” sambungnya.

“Mungkin para penyimak cerita pantun mengenaia Banyak Angga berkeinginan, sekurangkurangnya Banyak Angga melakukan suatu tindakan dan bukan sekadar bersedih berkeluh kesah melihat Nyi Mas Layang Kingkin berkhianat seperti itu,” kata Pragola.

Untuk yang kesekian Pragola mengulum senyum.

“Banyak cara laki-laki membenci wanita. Mungkin ada laki-laki yang marah besar karena harga dirinya merasa dilangkahi. Sedangkan aku sendiri cenderung memilih menjauhi. Dan aku tak percaya lagi kepada mereka,” kata Banyak Angga.

“Raden mendendam Nyi Mas Layang Kingkin?” tanya Pragola.

“Mungkin begitu. Tapi lebih besar lagi perasaan kasihan terhadapnya. Lihatlah, hanya karena terlalu besar mengejar ambisi pribadi, hidup Nyi Mas Layang Kingkin jadi seperti itu. Dia mungkin tinggal di istana dengan kekayaan melimpah tapi hidupnya sebetulnya sepi. Semua orang mengasingkannya,” kata Banyak Angga.

“Demikian sepikah dia?” Pragola begitu tertarik sebab berita mengenai ibu suri datang langsung dari Banyak Angga, lelaki yang semasa mereka remaja amat dekat hubungannya. “Ya, aku kira demikian. Tak ada orang yang paling sengsara selain orang yang menderita kesepian,” tutur Banyak Angga.

Banyak Angga bercerita, dulu hubungan mereka amat baik. Satu sama lain berjanji akan sehidup-semati. Namun kenyataan membuktikan lain. Mendiang Sang Prabu Ratu Sakti, raja Pajajaran ketika itu (1543-1551 M), di sampjng menaksir Nyi Mas Banyak Inten, adik Banyak Angga, juga sama memperhatikan Nyi Mas Layang Kingkin. Gadis iru bahkan tergoda dan memilih menjadi selir raja ketimbang bersuamikan anak bangsawan biasa. Nyi Mas Layang Kingkin bahkan menginginkan lebih dari itu. Untuk menempatkan dirinya sebagai satusatunya selir terkasih, maka dia mencoba menyingkirkan Nyi Mas Banyak Inten dari kedudukannya sebagai pesaing. Kakak tirinya Suji Angkara yang dikenal sebagai pemuda hidung belang, dibantunya untuk menggoda Nyi Mas Banyak Inten dan menyebabkan gadis itu itu dihukum masuk mandala ( asrama kaum wiku, pendeta wanita) karena dianggap menghina Raja, (baca episode Senja Jatuh di Pajajaran).

“Menjadi selir terkasih mungkin bisa terlaksana. Namun tentu saja sifatnya sementara. Sesudah Sang Prabu wafat, tak ada cinta tak ada kekuasaan. Hanya karena segan terhadap mendiang Raja terdahulu saja, maka Sang Prabu Nilakendra tak mendepaknya. Nyi Mas Layang Kingkin diasingkan dari semua kegiatn istana, kendati diberinya berbagai kesenangan duniawi,” tutur Banyak Angga.

Pragola mengangguk-angguk. Namun begitu, dalam hatinya menyimpan pertanyaan. Tahukah Banyak Angga kendati Nyi Mas Layang Kingkin seperti terasing di dalam tembok istana, sebetulnya tengah punya gerakan tertentu?

Pragola kembali teringat, betapa ada pasukan yang dikendalikan ibu suri yang bertugas membuntuti dan membunuh Banyak Angga. Mungkin pemuda itu tak pernah tahu. Dia hanya menyangka, pasukannya tiga kali diserang oleh musuh yang sama, yaitu kalau bukan oleh pasukan Cirebon, tentu oleh komplotan perampok.

Pragola tak mau tahu apakah Banyak Angga waspada atau tidak. Namun yang jelas, melihat gerakan Nyi Mas Layang Kingkin, dia merasa bingung, apa yang dikehendaki wanita anggun tapi misterius itu?

Ya, Nyi Mas Layang Kingkin benar-benar misterius. Dalam pertemuan rahasia dengannya di istana tempo hari, Nyi Mas Layang Kingkin akan memberi kesenangan padanya kalau mau membantu. Namun belakangan, ternyata Pragola jadi sasaran pembunuhan pula.

“Suatu saat, teka-teki ini harus aku singkap,” tuturnya dalam hati.

“Maafkan kalau sikapku mengganggumu, Pragola,” suara Banyak Angga membuyarkan lamunan Pragola. Pemuda ini menengok, belum paham apa yang dimaksud Banyak Angga. “Mengapa harus mengganggu saya?” tanyanya.

“Sebab kalau kau menyimak tindak-tandukku yang tak menyukai wanita, seolah-olah keberadaan mereka itu amat buruk. Padahal tentu tak semua wanita buruk seperti itu. Atau…” kata Banyak Angga seperti tak mau melanjutkan kalimatnya.

“Atau tentu Nyi Mas Layang Kingkin sebenarnya tak buruk. Mengapa karena punya ambisi maka orang dianggap buruk? Punya ambisi adalah berupaya mengejar sesuatu yang lebih baik. Itu hal yang wajar. Mungkin aku tak suka padanya karena ambisi yang dia punyai merugikanku,” tutur Banyak Angga.

Pragola tersenyum mendengar pendapat Banyak Angga. Semakin nyata kini, bahwa pemuda bangsawan ini sebenarnya punya kelemahan. Banyak Angga punya penyakit susah menyalahkan orang lain. Kalau ada orang yang dirasa merugikannya, maka penyebabnya selalu dilihat dulu dari sudut dirinya. Kata Banyak Angga, Nyi Mas Layang Kingkin meninggalkannya, karena kedudukan dirinya lebih rendah ketimbang Raja. Untuk mengejar ambisi, tentu saja wanita itu harus memilih Raja ketimbang Banyak Angga.

“jadi, tak ada sesuatu yang aneh di sini. Hanya saja pengaruh dari tindakan Layang Kingkin ini berpengaruh terhadapku sehingga pada akhirnya aku meragukan nilaian cinta seorang wanita,” kata Banyak Angga.

“Kalau Raden tak melihat bahwa sifat seperti itu tak terdapat pada semua wanita, mengapa Raden tak berusaha mendapatkan cinta wanita lain?”

“Wanita yang bagaimana?”

“Cobalah wanita dari kalangan biasa, barangkali ambisinya tak terlalu besar,” jawab Pragola. “Mungkin juga benar, wanita dari kalangan kebanyakan akan taat dan menghormat bila dikawini. Tapi belum tentu dasarnya karena cinta. Atau kalau pun cinta, dia hanya mencintai kebangsawananku, bukan terhadap diriku,” kata Banyak Angga.

Pragola merenung. Sulit sekali kalau semuanya sudah didahapkan kepada persangkaan. Nyi Mas Layang Kingkin suatu kali seperti menawarkan cinta terhadapnya. Kalau Pragola harus berpikir seperti Banyak Angga, benarkah wanita itu cinta dirinya? Dia ibu suri, sedangkan Pragola prajurit biasa, hanya anak dari seorang cutak, itu pun cutak pemberontak karena mencoba melawan pemerintahan Pajajaran. Mungkinkah wanita kalangan istana jatuh cinta kepada dirinya? Dan kalau pun benar menampakkan gejala ini, tentu ada sesuatudi luar dirinya yang diharap.

Pragola mengerutkan alis. Dia tak sanggup berpikir ruwet seperti Banyak Angga. Kalau wanita itu mau mengajaknya bercinta. Tapi bila belakangan ternyata berniat jahat, maka akan dia hadapi dengan cara lain pula. Tak perlu banyak pilihan seperti yang dipikirkan Banyak Angga.

***

Perjalanan kembali dilanjutkan. Tujuan utama wilayah Gunung Cakrabuana telah hampir tercapai. Tapi semakin dekat ke tempat tujuan, perasaan Pragola semakin tak tenang. Dia ingat, perjalanan yang berat ini sebetulnya ditempuh untuk perkara bohong belaka.

Ini adalah akal dari Pangeran Yudakara yang menginginkan dayo Pakuan kosong dari orangorang pandai.

Dengan memberitakan bahwa di Puncak Cakrabuana terkepung belasan perwira Pajajaran oleh pasukan Cirebon, Pangeran Yudakara, atasan Pragola, berharap banyak orang pandai dari Pakuan “keluar sarang” untuk menolong rekan-rekan mereka.

Akal ini belum sepenuhnya berhasil. Buktinya, yang pergi ke Cakrabuana bukan perwiraperwira Pakuan, melainkan Banyak Angga.

Pangeran Yogascitra, penasihat Raja, sungguh pandai dan hati-hati. Dia tak langsung mengirimkan belasan perwira untuk menjemput dan menyelamatkan “belasn perwira terkepung” itu, melainkan hanya mengirim penyelidik, yaitu Banyak Angga dulu.

Yang jadi kekhawatiran Pragola, pada suatu saat Banyak Angga tahu bahwa terkepungnya belasan perwira hanya merupakan berita palsu belaka. Dan kalau Banyak angga terlanjur tahu, maka Pragola harus membunuhnya, kemudian melaporkannya ke Pakuan sebagai serangan perampok. Dengan demikian, misi kedua dan seterusnya akan menyusul sampai sebagian besar orang pandai yang setia pada Pajajaran terkuras habis.

Mengingat bahwa ada kecenderungan dirinya membunuh Banyak Angga, terbesit perasaan tak enak pada dirinya. Banyak Angga memang musuh. Tapi sudah hampir empat tahun ini dia bersamanya. Secara pribadi Pragola tak bermusuhan dengan Banyak Angga. Anak bangsawan yang pemurung ini tak menampakkan alasan untuk dibenci. Banyak Angga ini orang baik.

Kendati anak seorang bangsawan berpengaruh di Pakuan, Banyak Angga tak sombong. Kepada siapa saja dia berlaku hormat, termasuk juga kepada bawahannya. Untuk melakukan kebijaksanaan, terkadang dia minta pendapat bawahan-bawahannya. Banyak Angga misalnya, kerapkali mengajak Pragola ikut memutuskan perkara.

Ini hanya menandakan bahwa Banyak Angga selalu menghargai dan mempercayainya. Dan ingat akan masalah ini, Pragola menjadi semakin tak enak.

Pragola sedih. Semakin lama dirinya semakin dilibatkan dalam urusan politik, dan semakin terasa bahwa kemanusiaannya terganggu. Pemuda ini mulai meraba bahwa politik ini jauh dari rasa kemanusiaan. Bayangkanlah, Pragola harus menulikan telinga, mengatupkan mata dan mengubur cinta kasih di hatinya hanya karena apa yang disebutnya sebagai perjuangan. Banyak Angga yang sebetulnya pemuda baik dan pantas dijadikan sahabat sejati, harus dianggap musuh karena urusan politik. Pragola sedih mengingatnya.

Sekarang perjalanan sudah tiba di wilayah antara Sagaraherang dan Sumedanglarang. Ini adalah wilayah hutan jati yang kata orang amat angker.

Sebagian penduduk menganggapnya di hutan jati ini banyak dedemit (hantu) dan genderewo (sebangsa jin). Bila ada orang memasuki wilayah ini susah untuk bisa kembali. Kebanyakan hilang tak tentu rimbanya.

Tapi menurut pengamatan Pragola, hutan jati itu tak aman karena banyak dihuni orang jahat. Ketika hendak menuju Pakuan seorang diri, Pragola pernah tersesak masuk hutan jati ini.

Pemuda ini pernah berurusan dengan perampok. Mereka adalah pelarian dari Pajajaran tapi juga tak mau bergabung ke Sumedanglarang karena negri ini kendati telah melepaskan diri dari Pakuan tapi telah menjadi negri pemeluk agama baru. Perampok juga ada yang dulunya pernah menjadi penduduk Sumedanglarang.

Pragola pernah mendengar khabar, setelah Sumedanglarang memeluk agama baru, ada sebagian yang tak setuju ikut penguasa agama baru. Mereka meninggalkan Sumedanglarang dan memilih hidup mengasingkan diri. Namun belakangan, tujuan mereka bergeser. Yang semula hanya mengasingkan diri dan tak mau mengabdi, beberapa kelompok di antaranya berubah menjadi perampok dan kerjanya berbuat kekacauan.

Yang memusingkan, ada beberapa kelompok perampok punya selera mengadu-domba. Contohnya, bila mereka menjarah ke wilayah Sumedanglarang, mereka mengaku sebagai pasukan Pajajaran. Dan sebaliknya bila menjarah ke wilayah Pajajaran mereka mengaku dari Sumedanglarang. Di wilayah utara bila menjarah orang Cirebon, mereka pun mengaku orang Pajajaran.

Mereka adalh kelompok yang membenci Pajajaran, juga tak suka terhadap penguasa agama baru sebab pada dasarnya mereka beranggapan bahwa yang membuat dirinya hidup sengsara dan menjadi terlunta-lunta adalah karena pertikaian berkepanjangan antara Cirebon dan Pakuan. Cirebon selalu berupaya seluruh wilayah Jawa Kulon berada dalam pengaruhnya dan di lain pihak Pakuan ingin keberadaan Pajajaran tetap lestari. Karena pertikaian ini, rakyat menjadi terpecah-pecah. Begitu menurut pendapat mereka.

Namun tentu saja ini hanya akal-akalan kecil dan sederhana yang terlalu mudah untuk ditebak oleh kedua belah pihak. Buktinya, kendati Cirebon dan Pakuan tetap bermusuhan, keduanya tak pernah terpengaruh oleh akal bulus ini. Permusuhan Cirebon dan Pakuan yang terus berlangsung, sebetulnya bukan hasil adu-domba mereka.

***

Ternyata dugaan Pragola benar. Mencari jalan memutar untuk menghindari perhatian khalayak risikonya bertemu perampok.

Ketika sudah ada dalam kepungan hutan jati, mereka pun malah jadi kepungan kaum penjahat. Mereka bagai sekelompok kancil yang dikepung sekumpulan srigala. Empat orang berdiri di tengah, dikelilingi oleh puluhan orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan penuh cambang-bauk di wajah. Semuanya bersenjatakan berat, mulai dari kelewang hingga penggada. Mereka bertampang garang dan seperti siap membunuh.

“Serahkan harta atau nyawa!” teriak pemimpinnya.

“Kalian salah memilih. Kami tak punya harta, sedangkan nyawa pun tak akan berarti,” tutur Banyak Angga tenang.

Pemimpin perampok yang bermata juling itu mendengus marah.

“Kalian melakukan perjalanan jauh tapi tetap segar dan tak kelihatan kumal. Hanya punya arti bahwa kalian bukan orang kebanyakan. Coba serahkan buntalan kalian, barangkalai di dalamnya berisi batangan emas, atau kepingan uang negri Parasi, Cina atau Portugis,” kata si juling.

“Atau bisa juga pakaian di buntalan itu adalah kain satin buatan negri Campa,” sambung yang lainnya maju setindak dan bersikap mau merampas buntalan yang dibawa Paman Angsajaya. Yang diancam segera mundur setindak, kemudian kedudukannya tergantikan oleh Paman Manggala yang melangkah ke depan.

“harta kami hanya secuil kepandaian. Kalau kalian mau akan aku beri,” kata Paman Manggala mengepalkan tinju kirinya.

Ini adalah tantangan terang-terangan. Pragola mengerutkan kening, mengapa Paman Pragola memancing-mancing perkelahian?

Pragola sudah bosan, setiap bertemu musuh selalu saja berkelahi. Sedangkan baik perkelahian “pura-pura” mau pun yang beneran, selalu merepotkan dirinya.

Kelompok perampok itu belasan, mungkin puluhan banyaknya. Yang namanya perampok, kendati berangasan tapi hanya mengandalkan tenaga kasar. Dengan taktik ilmu tinggi sebetulnya mereka mudah dikalahkan. Tapi sekali lagi, Pragola malas melakukannya. Dia takut salah tangan, sebab bila suatu saat terdesak, bisa-bisa pembunuhan terjadi lagi.

Tapi Paman Manggala seperti tak menyadarinya. Buktinya orang tua itu malah menantang. Dan terbukti pula kelompok rampok itu marah besar karena kesembronoan Paman Manggala ini. Dengan gerengan keras si juling mengayunkan goloknya. Terdengar suara berciutankarena tenaga ayunan yang demikian besar. Tapi tenaga besar adalah kesalahan dalam anggapan orang yang senang mengutak-atik taktik. Paman Manggala nampak mengulum senyum ketika menerima serangan ini. Dan ayunan golok yang berciutan karena kekuatan tenaga besar ini dengan mudahnya dikelitkannya. Tubuh si juling sedikit limbung dan kuda-kudanya terganggu karena tenaga yang dia keluarkan malah membedol kedudukannya. Dan inilah kesempatan terbaik bagi Paman Manggala untuk melumpuhkannya. Paman Manggala hanya perlu “menambah” tenaga tolakan yang dikerahkan si juling dengan sedikit dorongan ke punggung orang itu. Maka tak ayal, si juling jatuh terjerembab dan hidungnya mencium tanah.

Namun kekalahan si juling bagaikan komando bagi teman-temannya. Buktinya, begitu si juling berteriak kesakitan, yang lainnya segera menghambur menerjang. Maka dalam sekejap terjadi pertempuran tak seimbang. Empat orang dikeroyok puluhan lawan yang kesemuanya bersenjata lengkap.

Sekali lagi, ini bisa disebut sebagai pertempuran tidak seimbang. Dari empat orang yang terkepung, sebetulnya hanya Paman Angsajaya yang bertempur mati-matian. Prajurit tua ini di samping berusaha menyelamatkan nyawanya, juga berusaha melumpuhkan lawan dan kalau mungkin membunuhnya. Namun ketiga orang lainnya bertempur tidak mati-matian, kalau pun tak disebut sebagai main-main.

Perlawanan yang dilakukan Banyak Angga memang tidak terkesan main-main, namun Pragola tahu, pemuda usia tigapuluh tahun ini jiwanya dan tak sanggup memendam dendam. Banyak Angga hanya berusaha mempertahankan keselamatan nyawanya dan secuil pun tak bermaksud melukai apalagi membunuh lawan. Pragola sendiri berkelahi tak sungguh-sungguh. Dia hanya berusaha dirinya tak terluka dan tak berniat membunuh lawan. Bukan karena belas kasihan seperti yang dimiliki hati Banyak Angga tapi karena merasa tak punya kepentingan apa pun musti membunuh orang-orang tiada arti itu. Pragola melihat, kepandaian para perampok itu hanyalah kepandaian biasa saja, hanya mengandalkan tenaga kasar tanpa dibarengi teknik tinggi.

Tapi yang membuat Pragola heran, adalah tindak-tanduk Paman Pragola, orang tua itu bertempur lebih terkesan sebagai asal-asalan saja, padahal penyulut kemarahan kaum perampok adalah bermula dari sikap dirinya yang menantang.

Pragola menduga, Paman Manggala bersikap demikian karena seperti dirinya juga yaitu tak merasa berkepentingan untuk menghajar para perampok.

Namun belum habis Pragola berpikir soal dugaannya ini, hatinya terkejut karena punya dugaan lainnya. Paman Manggala barangkali sengaja berbuat demikian untuk memberikan kesempatan kepda kaum perampok agar bisa membunuh Banyak Angga.

Membunuh Banyak Angga? Ya, mengapa tak begitu? Perjalanan rombongan ini hampir berakhir sebab hutan jati ini terletak di wilayah segitiga antara Sagaraherang, Sumedanglarang dan Talaga. Tujuan utama rombongan Banyak Angga adalah Gunung Cakrabuana di wilayah Talaga. Pragola sendiri pernah berkhawatir, kalau rombongan sudah tiba di Cakrabuana dan Banyak Angga tidak mendapatkan apa yang sebelumnya diberitakan, maka bualan Pragola akan terbongkar. Ya, tak ada belasan perwira Pajajaran yang terkepung di sana dan tak perlu mengirim belasan perwira penyelamat ke Puncak Cakrabuana. Jadi, kalau Banyak Angg sudah tahu dia dikibuli, maka Pragola dan Paman Manggala dicurigai, akan ditanyai dan akhirnya rahasia akan terbongkar pula.

Pragola tak merasa takut rahasianya terbongkar. Tapi ada satu perasaan yang melebihi rasa takut. Perasaan itu bernama malu. Ya, Pragola akan merasa malu kepada Banyak Angga. Pemuda itu seperti menyayangi dirinya, menghargainya dan selalu penuh percaya.

Betapa malunya Pragola kalau tiba-tiba Banyak Angga tahu bahwa dirinya pembual. Dan bualan dirinya tidaklah sepele sebab menyangkut keselamatan negri Pajajaran, negri yang amat dicintai Banyak Angga.

Sudah diperintahkan oleh Pangeran Yudakara, bahwa suatu saat Banyak Angga harus dibunuh. Barangkalai inilah yang tengah diusahakan Paman Manggala, membunuh Ksatria Pajajaran itu melalui perampok.

Memang terbukti, Banyak Angga semakin sibuk menghindari serbuan dari kiri, kanan, depan dan belakang. Oleh Paman Manggala yang posisinya berdekatan, Banyak Angga dibiarkan saj adan tak dibantu sedikit pun. Padahal kalau mau, dengan amat mudahnya Paman Manggala menghalau pengeroyok Banyak Angga.

Orang tua itu pun sebetulnya tengah dikepung beberapa pengeroyok. Namun Pragola yakin, dalam satu gebrakan saja, sebetulnya Paman Manggala akan dengan mudah melumpuhkan lawan.

Yang telah sanggup melumpuhkan perampok hanyalah Paman Angsajaya. ada beberapa anggota perampok yang terjungkal karena babatan kelewangnya. Namun dirinya sendiri pun mengalami pendarahan karena banyak luka di sana-sini. Orang tua itu bahkan semakin lama semakin lemah tenaganya. Gerakannya pun tidak segesit pada babak-babak awal. Bahkan Pragola cenderung menilai bahwa gerakan Paman Angsajaya pada pertempuran paling akhir ini semakin lamban saja. Dia memang sudah tua. Lagi pula dalam perjalan jauh ini, beberapa kali Paman Angsajaya harus mengalami pertempuran.

Pragola menjadi bimbang dibuatnya. Kalau harus bertempur mati-matian di samping dia tak punya kepentingan pribadi juga berarti bertolak belakang dengan keinginan Paman Manggala. Tapi bila membiarkan suasana ini berlangsung, berarti menyuruh para perampok membunuh Banyak Angga. Tegakah dia membiarkan pemuda itu mati dicecar golok golok-golok para perampok?

Pragola bimbang, secara politis, Banyak Angga adalah musuhnya, namun secara pribadi, antara dia dan Banyak Angga tak punya pertentangan apa pun. Malah Banyak Angga adalah lelaki yang budinya paling baik dan paling halus selama Pragola mengenal berbagai tipe orang. Secara manusiawi, Pragola tak boleh membiarkan Banyak Angga celaka.

Namun untuk yang kesekian kalinya rasa bimbang menerpa hatinya. Antara naluri manusia dan perintah yang diembannya terasa saling berbenturan. Dan selama hatinya berkecamuk, adegan pertempuran terus berlangsung. Dia dengan mudah menghalau pengeroyoknya.

Namun Banyak Angga yang punya kepandaian di bawah dirinya, mengalami kerepotan. Beberapa luka telah terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Luka itu tak seberapa tapi banyak mengeliarkan aliran darah. Kalau dibiarkan terlalu lama Banyak Angga bisa dipastikan bakal ambruk kehabisan darah.

Namun Pragola masih tak memberikan bantuan. Dan di hatinya terjadi saling bedol antara dua pendapat. Pragola sedikit menundukkan wajah ketika dilihatnya Banyak Angga melirik padanya. Pragola tahu, tentu Banyak Angga minta bantuan pada dirinya yang kedudukannya sedikit agak jauh. Mungkin Banyak Angga sudah tak memiliki harapan dapat bantuan Paman Manggala sebab orang tua itu selalu bertempur membelakangi Banyak Angga. Lagi pula Paman Manggala pun nampak sedang “sibuk” dikeroyok banyak orang.

Melihat betapa wajah Banyak Angga menampakkan permohonan, Pragola tergerak hatinya dan berniat hendak menolongnya. Namun gerakannya terhenti manakala di kejauhan terlihat sekumpulan orang. Pragola terkejut sebab kelompok itu adalah orang-orang Cirebon, semuanya anak buah Pangeran Yudakara.

Pragola terkejut sebab di sana terlihat Perwira Goparana dan Jaya Sasana. Goparana adalah lelaki tinggi besar pendatang dari tanah arab yang mengabdi pada Karatuan Cirebon.

Sedangkan Jaya Sasana adalah orang dari Karatuan Talaga yang juga sama mengabdi ke Cirebon dan kini ditugaskan menyertai Pangeran Yudakara.

Pragola punya alasan untuk terkejut sebab di abisa menduga, kedua perwira itu pasti di utus Pangeran Yudakara untuk melihat perkembangan. Perjalanan sudah hampir sampai ke tujuan namun Banyak Angga masih selamat. Ini mungkin akan menjadi tanggung jawab dirinya dan Paman Manggala, mengapa keadaan berlarut-larut. Padahal perintah Pangeran Yudakara sudah jelas. Kalau Banyak Angga luput dari serbuan dan hadangan di perjalanan, maka Paman Manggala dan Pragola harus tanggung jawab membereskannya.

Dugaan inilah yang mengejutkan dirinya. Dengan demikian, kedudukan Pragola kini terjepit. Di lain pihak ada rasa kemanusiaan yang ingin dipertahankan. Namun di pihak lain dia ditekan oleh urusan politik.

Namun sebelum dia memilih tindakan apa yang mesti dilakukan, secara tiba-tiba ada bayangan berkelebat memasuki arena pertempuran. Bayangan itu berkelebat kesana-kemari dan serentak terdengar jerit-jerit kesakitan. Tubuh-tubuh perampok terlempar kesana-kemari dan jatuh berdebuk untuk tak bangun lagi. Kini yang terlihat di sana adalah dua tubuh bergeletak. Tubuh Paman Angsajaya yang berlumuran darah dan tubuh Banyak Angga yang juga tergeletak berlumuran darah. Sedangkan di antara dua tubuh tergeletak, berdiri seorang lelaki. Lelaki itu berpakaian kumal warna hitam. Celana sontog dari kain kasar dan ada tambalan di sana-sini nampak lebih kumal lagi.

Pragola tak sanggup menaksir berapa usia lelaki kumal itu, sebab wajahnya tertutup kumis dan cambang yang lebat. Rambutnya panjang terurai dan riap-riapan. Yang menentukan lelaki itu belum tua karena matanya bulat berbinar tak cekung ke dalam. Begitu pun kulit wajahnya tak berkerut. Namun siapakah dia, inilah yang ingin Pragola tahu.

Rupanya itu pula yang diinginkan oleh Goparana dan Jaya Sasana. Kedua orang perwira Cirebon itu nampak ternganga heran, betapa puluhan perampok bertumbangan hanya dalam satu dua gerakan saja. Ini hanya menandakan, betapa hebatnya orang ini. Goparana dan Jaya Sasana langsung meloncat-loncat beberapa kali dan dalam sekejap sudah tiba di hadapan lelaki berambut riap-riapan itu. Namun orang itu seperti tak peduli. Dia malah menghampiri tubuh Banyak Angga yang tergeletak dan langsung memondongnya. Kemudian lelaki itu hendak berlalu.

“Berhenti!” teriak Goparana yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar itu. Lelaki berambut riap-riapan itu segera menghentikan langkahnya.

“Turunkan Banyak Angga!” kata Goparana bernada perintah.

Tapi lelaki itu tak menurut. Dia hanya berdiri saja sambil sepasang tangannya memondong tubuh Banyak Angga.

“Kuperintahkan, turunkan Banyak Angga!” jawab lelaki itu dengan nada datar.

“Hm, dengan kepandaianmu seperti itu, sengkau sudah bersikap sombong,” dengus Goparana bertolak pinggang.

“Memang benar, terkadang tersembul pikiran ganjil pada diri kita. Ragu-ragu berbuat kebenaran karena takut disalahkan,” gumam lelaki itu, masih tetap memondong tubuh Banyak Angga.

“Sialan! Engkau tak jawab pertanyaanku. Barangkali pertanyaan seperti ini akan engkau jawab!” teriak Goparana. Dan tanpa memberi peringatan terlebih dahulu Goparana menerjang. Cukup ganas dan membahayakan sebab Goparana mencoba menyerang ubunubun. Ini serangan mengarah nyawa dan dilakukan ke arah bagian yang tak terlindung. Lelaki itu tengah memondong tubuh Banyak Angga yang pingsan karena banyak mengeluarkan banyak darah. Artinya, sepasang tangan lelaki itu tengah tak berpungsi dan tak mungkin melakukan tangkisan.

Suara angin pukulan terdengar berciutan tanda pukulan itu dibarengi tenaga dalam yang amat kuat. Pragola ngeri membayangkannya. Kalau serangan itu mengenai sasaran, batok kepala lelaki itu akan pecah berhamburan.

Namun kenyataannya sungguh di luar dugaan. Lelaki bercambang bauk itu bukan saja bisa menghindar tapi juga sanggup melakukan serangan balasan. Caranya amat luar biasa, ganjil tapi menakjubkan. Ketika tubuh Goparana menerjang dan menyodok ke atas, lelaki itu sambil tetap memondong tubuh Banyak Angga mundur tiga tindak dengan cepat. Akibatnya, sodokan tangan kanan Goparana tak mencapai sasaran kecuali angin pukulan menerpa rambut yang semakin riap-riapan. Sebelum Goparana melanjutkan serangan susulan dengan sodokan tangan kiri, secara kilat lelaki misterius itu bersalto ke belakang sambil kedua ujung kakinya melakukan serangan silang. Gerakan sepasang kaki ini sungguh ganjil. Kaki kiri melakukan sabetan menyilang dari kanan ke samping kiri dan ujung kaki kanan diayun dari bawah ke atas. Dengan demikian, dalam satu gerakan balasan, Goparana menerima dua serangan sekaligus. Satu serangan mengarh pinggang kanannya dan satu serangan lainnya menendang tangan kiri Goparana yang tengah melakukan sodokan.

Yang diserang nampak terkejut. Untuk menghindar sapuan ke arah pinggang, Goparana harus sedikit membungkuk agar tubuh bagian perut tertarik ke belakang. Namun akibat dari gerakannya ini, tubuh bagian atas seolah “menyodorkan” diri untuk menerima tendangan kaki kanan musuh.

Goparana nampak seperti serba salah, mana yang harus diselamatkan, apakah pinggangnya atau tangannya. Kalau dua-duanya jelas tak mungkin. Namun memilih pinggang yang selamat, risiko bukan tak ada. Dan ini barangkali yang menjadi kekeliruan pilihannya.

Serangan tendangan kaki kanan lawan dari bawah ke atas adalah untuk menyerang sodokan tangan kirinya yang terlanjur masuk. Kalau tangan itu ditarik selain sudah tak mungkin, juga kalau pun bisa akan ada bagian tubuh lainnya yang akan terkena getahnya. Bagian tubuh Goparana yang akan menerima serangan adalah dagunya bila tangannya bisa ditarik, maka dagunya akan hancur kena tendangan lawan. Tangan kiri Goparana tetap amenyodok ke depan dan menyerang angin. Dan sebelun tangan itu bergerak, secara kilat dihantam tendangan kaki kanan lawan dari bawah ke atas. Sungguh amat cepat sebab dilakukan sambil bersalto ke belakang.

Terdengar jerit kesakitan dari mulut Goparana karena perelangan tangannya kena hantaman ujung kaki lawan. Dan ketika sepasang kaki itu menjejak bumi dengan ringannya, Goparana yang tinggi besar jatuh bertekuk lutut sambil tangan kanannya memegangi pergelangan tangan kiri yang terkulai patah.

“Sudahlah, jangan ada lagi perkelahian,” gumam lelaki itu menatap Jaya Sasana yang berdiri terpana. Namun keterpanaan ini hanya sejenak. Untuk selanjutnya Jaya Sasana segera menghambur ke depan melakukan serangan dahsyat.

Serangan Jaya Sasana ini dihadapi dengan tangkisan-tangkisan sepasang kaki lelaki itu. Dan sepasang kaki itu bisa melakukan serangan balik secara beruntun. Serangan itu amat dahsyat. Bergantian kiri dan kanan secara cepat dan beruntun. Jaya Sasana kerepotan menghadapi serangan ini. Kini bahkan giliran dia yang sibuk menangkis kiri dan kanan. Sampai pada suatu saat dia pun menjerit dan tubuhnya terlempar ke udara karena tendangan ke arah ulu hatinya. Jaya Sasana tak bergerak lagi ketika tubuhnya jatuh berdebum.

Kini yang berdiri di arena tinggal tiga orang. Lelaki misterius yang memondong Banyak Angga serta Pragol adan Paman Manggala.

Lelaki berambut riap-riapan itu berdiri dengan sepasang kaki terpentang lebar. Matanya silih berganti menatap ke arah Pragola dan Paman Manggala.

“Aneh sekali, kita gemar melakukan ketololan,” gumamnya tanpa pragola tahu apa maksudnya. Kemudian lelaki itu berbalik dan hendak berlalu.

“Hey, mau dibawa ke mana Banyak Angga?” tanya Pragola. Lelaki itu menghentikan langkahnya sejenaka.

“Tahukah engkau arti sahabat?” jawab lelaki itu.”Sahabat adalah melakukan kebaikan tanpa mengharapkan imbalan. Dia hadir di saat kita kesepian. Tidak selalu memuji namun berani mengoreksi di saat kita salah. Kalau engkau melarangku membawa Banyak Angga, ada di manakah kedudukanmu sebenarnya?”

Pragola tertunduk malu. Kemudian dia merasakan, betapa lelaki itu menertawakan dirinya. Ketika Pragola mengangkat wajah, Banyak Angga sudah dibawa pergi. Sayup-sayup terdengar lelaki misterius itu bersenandung, lirih dan sedih.

Hidup banyak menawarkan sesuatu Namun bila salah memilihnya

Kita adalah orang-orang yang kalah

***

“Siapakah orang itu?” tanya Perwira Goparana. Itulah yang juga menjadi pertanyaan di benak Pragola. Namun tidak seorang pun yang sanggup menjawabnya. Paman Manggala hanya termenung lesu padahal Pragola tahu, orang tua ini tak terlalu banyak menghabiskan tenaga dalam perkelahian tadi. Dia bahkan terluka pun tidak. Pragola hanya menduga, kelesuan ini karena Paman Manggla tak menyelesaikan tugas dengan baik. Banyak Angga lepas. Kendati terluka parah, belum tentu mati. Dan kalau Banyak Angga tak mati, artinya rahasia terbongkar.

Dengan perasaan sebal Pragola pun terpaksa harus mengeluhkan hal ini. Betapa tidak, dia jadi terlibat semakin dalam.

Perwira Goparana juga terduduk lesu sambil memegangi tangannya yang menderita patah tulang. Sedangkan beberapa prajurit yang menyertainya tengah sibuk mengurusi Perwira Jaya Sasana yang masih pingsan. Sedangkan prajurit tua Angsajaya, anak buah Banyak Angga, diketahui telah tewas karena terlalu banyak menderita luka.

Dari hampir tigapuluh perampok, ternyata hanya empat orang yang tewas. Itu pun kesemuanya tewas oleh tangan Paman Angsajaya. Ini hanya punya arti bahwa bahwa duapuluh enam perampok sisanya dilumpuhkan tanpa dibunuh. Hanya orang yang punya kemampuan hebat saja yang sanggup mengatur perkelahian masal seperti itu tanpa membuat kesalahan tangan membunuh.

Pragola hanya menatap saja ketika para perampok yang mulai bangun, satu-persatu meninggalkan tempat itu tanpa menengok atau bicara apa pun. Seperti Pragola, yang lain pun membiarkan para perampok pergi. Ini benar-benar menandakan bahwa mereka tak berkepentingan dengan perampok. Kalau pun tadi pencetus pertempuran adalah Paman Manggala, namun jelas tujuannya menyulut kemarahan perampok agar bisa membunuh Banyak Angga dan Paman Angsajaya.

“Hebat sekali, orang itu melumpuhkan siapa pun tanpa membunuh…” kata Goparana sambil masih meringis menahan sakit.

Serasa tersentak jantung Pragola ketika mendengarnya. Ucapan seperti ini pernah terlontar dari mulut beberapa orang baik di wilayah Tanjungpura mau pun di Sagaraherang. Dan semua orang sepakat menduga bahwa orang hebat yang mampu mengalahkan tanpa membunuh adalah Ksatria Ginggi! Ginggi. Benarkah orang kumal tadi adalah Ginggi?

Pragola tak mau mengemukakan pendapat ini pada siapa pun. Mungkin karena ketegangan di hatinya, atau juga mungkin juga karena perasaan was-was antara percaya dan tidak. Kalau dia harus mempercayainya, maka dia telah berhasil menemukan musuh besarnya.

Merasa dia sudah menemukan apa yang dicari, Pragola berjingkat hendak meninggalkan tempat itu.

“Hai, mau ke mana kau?” Goparana menegur. Namun Pragola masih tetap hendak melanjutkan langkahya.

“Berhenti!” teriak Goparana.”Manggala, cegah anak itu!”

Sungguh mengejutkan, ternyata Paman Manggala mentaati perintah ini. Dia meloncat menghalangi perjalanan Pragola.

“Pragola, engkau tak bisa bertindak sekehendak hatimu. Perwira Goparana adalah wakil Pangeran Yudakara,” kata Paman Manggala.

“Mengapa saya tak boleh meninggalkan tempat ini?” tanya Pragola. “Karena engkau ada di bawah kepemimpinan pangeran,”

“Sungguh bijaksana, seorang pemimpin hendak membantai anak buahnya sendiri,” gumam Pragola.

“Jangan bicara lancang!” potong Paman Manggala tersinggung.

“Saya tak asal bunyi. Tapi ini bukti, ada ancaman pembunuhan terhadap saya,” “Ngawur!”

“Paman sudah sering menyembunyikan sesuatu. Sudah dua kali saya akan dibunuh, padahal saya tahu, para penghadang itu adalah pasukan terselubung yang bertugas membunuh Banyak Angga. Mengapa saya pun dimasukkan ke kelompok yang harus dibunuh?” tanya Pragola sengit.

“kau sendiri tahu, kelompok penghadang kedua adalah utusan Nyi Mas Layang Kingkin!” jawab Paman Manggala.

“Memang begitu pengakuannya. Tapi aku tak percaya Nyi Mas mau membunuhku!” sergah Pragola.

Baik Paman Manggala, Perwira Goparana mau pun Jaya Sasana yang sudah tertatih-tatih bangun terlihat heran mendengar percakapan ini.

“Kalian menyebut-nyebut Nyi Mas Layang Kingkin, ada apakah ini sebenarnya?” tanya Perwira Goparana.

Pragola dan Paman Manggala saling pandang. Mungkin tengah saling tunggu siapa yang harus memberi keterangan. “Ada pasukan lain selain yang dikirim Pengeran Yudakara,” tutur Paman Manggala. “Pasulak lain?” Goparana mengerutkan alisnya.

“Mereka tewas semua. Tapi ada yang sempat mengaku bahwa mereka diutus Nyi Mas Layang Kingkin,”

Baik Goparana mau pun Jaya Sasana sama-sama mengerutkan kening.

“Apakah pasukan itu pun sama datang untuk membunuh Banyak Angga?” tanya Goparana. Pragola merenung. Jawabannya tak perlu orang tahu. Bukankah ini rahasia bila Nyi Mas Layang Kingkin pernah berkata cinta padanya?

“Sebab saya anak buahnya Pangeran Yudakara. Dan saya tahu, hubungan Nyi Mas dengan Pangeran amat baik,” tutur Pragola.

“Hm…” dengus Goparana pelan.

“Kita musti lapor kepada Pangeran sebab kalau benar demikian, tindakan Layang Kingkin sungguh mencurigakan. Untuk apa dia punya pasukan sendiri padahal dia sedang menggalang kerja-sama dengan Pangeran Yudakara?” kata Jaya Sasana yang nampak masih merasakan sakit di ulu hatinya.

“Pangeran Yudakara hanya mengutus satu pasukan untuk memburu Banyak Angga. Sedangkan gangguan yang lainnya kami tak bertanggungjawab,” kata Goparana menatap ke arah Pragola.

“Juga tak bertanggung jawab dalam upaya membunuh saya?” tanya Pragola sinis. “Pangeran Yudakara yang bertanggung jawab semuanya, termasuk rencana membunuhmu!” jawab Goparana tegas dan hal ini sangat mengejutkan Pragola.

“Terima kasih, kau beritahu saya,” gumam Pragola tersenyum masam.”Saya juga sudah curiga demikian. Yang perlu saya tahu, apa penyebabnya, bukankah saya ini anak buahnya?” tanya Pragola.

“Engkau adalah anak buah yang kesetiaannya diragukan,” tutur Goparana.”Kau berjiwa lemah dan selalu ragu-ragu dalam melakukan tindakan. Sebagai contoh, tugasmu kau kerjakan berlarut-larut dan tak selesai. Ada kesan kau keberatan melenyapkan nyawa Banyak Angga.

Orang yang ragu-ragu tak pantas menjadi orang-orang Yudakara,” kata Goparana panjanglebar.

Pragola tersenyum pahit mendengarnya.

0 Response to "Kunanti Di Gerbang Pakuan Jilid 07"

Post a Comment