coba

Kunanti Di Gerbang Pakuan Jilid 04

Mode Malam
Baru pada esok malamnya Pangeran Yudakara mengunjungi kesatrian. Pangeran itu minta laporan Pragola, sejauh mana dia melakukan penyelidikan di sekitar puri Yogascitra. Sertamerta Pragola melaporkan apa yang dilihat dan dialaminya. Dia mengatakan bahwa nampaknya Pangeran Yogascitra semakin bersemangat untuk mengumpulkan orang-orang pandai dalam upaya memperkuat Pakuan. Dikatakannya, betapa Pangeran Yogascitra berupaya keras hendak mencari Ksatria Ginggi.

“Ada khabar dari putrinya yang tinggal di mandala, bahwa beberapa kali lelaki bernama Ginggi itu pernah mengunjunginya, sehingga menimbulkan penafsiran kepada Pangeran Yogascitra bahwa lelaki itu mencintai putrinya,” kata Pragola.

“Lanjutkan…”

“Karena perkiaraan ini, Pangeran Yogascitra akhirnya menyuruh putrinya untuk menerima cinta pemuda itu, dengan harapan bisa membujuk orang itu untuk mau tinggal di Pakuan,” lanjut Pragola. Pangeran Yudakara hanya mengangguk dan mendengus.

Hening sejenak. Pangeran yang jadi majikan Pragola ini nampak merenung dan mengerutkan dahi seolah-olah lagi berpikir keras.

“Kita butuh berhadapan dengan pemuda itu, tapi tidak di Pakuan ini…” gumamnya. Giliran Pragola yang mengerutkan dahi tanda tak mengerti akan tujuan Pageran Yudakara. “Orang itu berbahaya. Ingat peristiwa penyerbuan Sagaraherang pada sepuluh tahun silam (1551). Kegagalan gerakan itu salah satu di antaranya karena hadangan pemuda bernama Ginggi. Jadi kita perlu menghadapinya sebelum masuk Pakuan,” kata Pangeran Yudakara. “Bagaimana caranya, padahal kita tidak tahu di mana dia berada. Kita pun belum jumpa dengan orang itu sehingga kita belum tahu wajahnya,” kata Pragola.

“Besar kemungkinan kita bisa berjumpa, asalkan engkau selalu ikut ke mana orang-orang puri Yogascitra pergi,” tutur pangeran itu. Pragola mengetuk jidatnya sendiri karena kebodohannya. Mengapa tidak bisa mencari lelaki bernama Ginggi, bukankah Pangeran Yogascitra akan berupaya mencarinya? Dia bisa membonceng kepada usaha mereka.

“Saya mengerti rencanamu, Pangeran…” kata Pragola menyembah.

“Tugas kita adalah satu, mencoba mengganggu tujuan orang Pakuan dalam upaya memupuk kembali kekuatan mereka. Jangan biarkan orang-orang pandai berkumpul di Pakuan. Usaha kita adalah menghadang orang yang akan memperkuat Pakuan. Itulah sebabnya, tujuan awal kita, yaitu membawa dan membujuk sepasukan perwira Pakuan ke wilayah timur dengan dalih untuk menolong rekan-rekan mereka yang terjebak di Puncak Cakrabuana harus berlangsung dengan lancar,” kata Pangeran Yudakara.

“Sesudah kekuatan Pakuan lemah, apa yang akan dilakukan selanjutnya, Pangeran?” tanya Pragola.

“Banyak rencana besar bila Pakuan bisa kita kuasai…” gumam Pangeran Yudakara. Matanya berbinar-binar dan sorotnya jauh ke depan.

Selanjutnya Pangeran Yudakara memberikan petunjuk agar Pragola semakin dekat dengan orang-orang puri Yogascitra. Bahwa kemungkinan besar Pragola akan melakukan perjalanan panjang ke wilayah timur bersama mereka, kendati sebelumnya tidak masuk dalam rencana, kini harus dilaksanakan dengan baik. Baik bukan untuk kepentingan Pakuan, melainkan untuk tugas-tugas dari misi yang diembankan.

“Engkau harus ikut mereka dan selesaikanlah tugasmu dengan baik,” kata Pangeran Yudakara.

Pragola mengerti akan ucapan ini. Maksudnya tentu hanya satu, yaitu menghadang orangorang yang diperlukan Pakuan untuk memasuki dan memperkuat dayo (ibukota) tersebut. Tentu ada berbagai cara untuk mencegah mereka. Salah satu di antaranya dan merupakan pilihan terakhir adalah membunuh mereka.

“Hati-hati, orang-orang yang diundang Pakuan adalah orang-orang digjaya. Tugas yang akan engkau kerjakan ini tentu berat,” tutur Pangeran Yudakara.

Sesudah memberikan beberapa petunjuk, seperti biasa Pangeran Yudakara pergi dari tempat itu secara diam-diam. dia keluar lewat jendela dan meloncat ke atas wuwungan.

***

Namun ternyata rencana untuk melakukan perjalanan ke wilayah timur seperti apa yang direncanakan Raden Banyak Angga tidak bisa dilaksanakan secara cepat. Pragola mendapatkan kabar bahwa untuk melancarkan usaha itu menghadapi banyak hambatan. Pangeran Yogascitra sebagai penasehat Raja, ternyata malah mendapat teguran dari Sang Prabu Nilakendra. Entah siapa yang melaporkan, yang jelas Sang Prabu akhirnya mengetahuinya bahwa telah berlangsung sebuah perundingan rahasia tanpa mengikutsertakan dirinya.

Namun pada prinsipnya, raja ini setuju bahwa pajajaran harus kuat.

“Tapi kekuatan negara hanya menitikberatkan pada kekuatan militer hanya melahirkan pertumpahan darah belaka. Yang merasa kuat dalam militer, cenderung selalu melakukan peperangan. Karena punya kekuatan militer, kadang-kadang kita selalu ikut campur kepada urusan orang lain. Atau mungkin selalu punya ambisi untuk menundukan orang lain. Jangan samakan saya dengan ayahanda Ratu Sakti atau pun dengan kakek buyut Sang Surawisesa. Saya tidak berambisi untuk menaklukan orang lain, apalagi berupaya merebut mengaruh dan kekuasaannya,” tutur Sang Prabu Nilakendra.

“Namun Paduka, negara memperkuat militer bukan berarti kita harus punya ambisi dalam melakukan peperangan. Militer pun bisa berguna dalam mempersatukan persatuan bangsa. Bangsa yang merasa aman dan terlindungi akan memiliki ketentraman hidup. Pihak negara lain pun akan merasa segan untuk mengganggu. Barangkali juga mereka akan merasa takut karena kekuatan kita. Itulah sebabnya, saya selalu mengajukan usul-usul seperti itu,” tutur Pangeran Yogascitra.

“Pembangunan kekuatan militer secara besar-besaran tentu memerlukan dana besar. Tegakah kita mengganggu kesejahteraan rakyat dengan memungut pajak-pajak tinggi hanya untuk menbangun kehidupan militer? Rakyat sudah cukup berat. Sesudah tujuh pelabuhan penting milik kita dikuasai musuh, mata pencaharian rakyat hanya tertumpu kepada pertanian semata. Kalau pun ada kehidupan perdagangan, hanya terbatas di antara mereka saja, tak seperti masa puluhan tahun silam, dimana Pajajaran bisa melakukan perdagangan antarnegara. Ini menyebabkan keuangan negara terbatas, begitu pun penghasila rkyat. Jadi, betapa kejamnya kita, bila memaksakan kehendak memperkuat militer yang butuh dana tinggi sambil menyengsarakan rakyat,” tutur Raja.

Pertemuan antar Raja dan penasihat ini, di mata Pragola hanya menimbulkan kesan bahwa di antara pejabat Pakuan sebenarnya sudah tak ada persatuan lagi. Perundingan rahasia di puri Yogascitra yang belakangan diketahui Raja, hanya membuktikan bahwa sudah tak ada kesatuan pendapat lagi di antara mereka. Barangkali masih banyak pejabat yang masa pendiriannya dengan Pangeran Yogascitra. Tapi yang tak setuju dengan gagasan pangeran itu pun ternyata ada.

Dan kesimpulan dari semua ini, hanya menerangkan bahwa Pajajaran sudah kian melemah juga. Inilah saatnya Pajajaran sudah kian melemah juga. Inilah saatnya pajajaran dihancurkan. Inilah saatnya Dayo Pakuan diserang. Tapi siapakah yang harus menyerang, Cirebon ataukah Banten?

Berpikir sampai di sini, Pragola sendiri bingung. Apa yang diketahuinya malam itu, di mana ada pertikaian kecil antara Pangeran Yudakara dan lelaki asing dari wilayah Banten tersebut, hanya menandakan telah terjadi semacam persaingan di antara mereka dalam menentukan siapa yang paling mampu menundukan Pajajaran. dan Pragola merasa khawatir, sebab malam itu nampaknya Pangeran Yudakara amat terpukul. Bukan saja terpukul karena malam itu dia dikalahkan lelaki asing tersebut, tapi juga terpukul karena kenyataan ini. Banten memang lebih kuat dari Cirebon. Lantas bila benar begitu kenyataannya, mau apa Pangeran Yudakara? Mengapa pula ada semacam persaingan di antara mereka padahal setahunya, antara Banten dan Cirebon tak pernah ada pertikaian. Kalau memang begitu, pertikaian siapakah ini?

Ingatan Pragola kembali mengulang perjalanannya dari mulai awal hingga dia tiba di pusat Kerajaan Pajajaran ini.

Perjalanannya terlalu jauh. Padahal kalau dia pikir, sebetulnya urusannya sederhana saja, yaitu ingin berupaya membalas dendam akan kematian ayah-bunda dan gurunya. Kedua orang tuanya mati karena sakit-sakitan setelah kehilangan anak pertama karena peperangan.

Sebelum dia dilahirkan de dunia, orang tuanya punya anak tunggal, laki-laki usia tiga atau empat tahun. Datanglah bencana peperangan.

Kacutakan Waringin diserbu prajurit Pajajaran karena menolak membayar seba (pajak Tahunan). Cutak (setingkat camat) Wirajaya yaitu ayahanda Pragola, merasa punya alasan untuk menolak permintaan seba dari Pakuan sebab Karatuan Talaga, di mana kacutakan itu berada, sudah lama masuk wilayah Cirebon. Akan halnya para petugas muhara (penarik pajak) dari Pakuan masih juga mencoba menarik pajak, karena Kacutakan Waringin letaknya ada di perbatasan dan lebih dekat kepada wilayah Pajajaran ketimbang ke pusat kekuasaan Cirebon atau pun ke Talaga. Di saat-saat keuangan Pakuan makin menipis, Sang Mangabatan Ratu Sakti, penguasa Pakuan ketika itu mencoba mearik pajak kepada wilayah-wilayah yang masih bisa diambil pajaknya. Banyaknya wilayah Pakuan berpaling ke Cirebon dan meninggalkan kewajiban membayar pajak. Ini merupakan kerugian bagi Pakuan. Itulah sebabnya, wilayah-wilayah yang berani mati bergabung dengan Cirebon, tapi yang sebenarnya kedudukan mereka lebih dekat ke wilayah Pakuan ketimbang ke Cirebon, oleh pihak Pakuan ditekan. Bagi yang membangkang tak ada pilihan lain kecuali digempur oleh prajurit Pakuan.

Itulah yang terjadi kepada Kacutakan Waringin. Waringin yang sebagian besar penduduknya sudah berganti memeluk agama baru yang disebarkan oleh Cirebon, diserbu Prajurit Pakuan. Banyak terjadi korban jiwa dalam pertempuran yang tak seimbang ini. dalam kancah pertempuran ini, Cutak Wirajaya dan istrinya berhasil menyelamatkan diri, akan tetapi putra tunggalnya yang masih bocah hilang entah ke mana. Banyak penduduk mengabarkan, anak itu ada di tengah kancah pertempuran. Dia tengah bermain di saat prajurit Pajajaran datang menyerbu. Dan ketika anak itu hendak pulang ke rumah, di tengah jalan terjebak pertempuran. Semua orang menduga anak itu kemungkinan ikut tewas. Namun ketika diadakan pemeriksaan di bekas reruntuk pertempuran, tidak diketemukan mayat bocah lakilaki.

Tapi mati atau pun tidak anak itu, yang jelas, kedua orang tuanya tidak berhasil mendapakannya kembali. Bocah itu hilang tak terbekas dan telah membuat kesedihan yang sangat.

Semenjak saat itulah Cutak Wirajaya selalu sakit-sakitan, begitu pun istrinya. Ketika istrinya mengandung anak kedua juga dalam keadaan sakit-sakitan, begitu pun di saat melahirkan seorang bayi laki-laki yang kelak bernama Pragola. Sedangkan Cutak Wirajaya meninggal satu tahun kemudian.

“Ayahandamu meninggal karena jiwanya tertekan. Sebagai cutak dia tak sanggup menyelamatkan rakyatnya. Belum pulih rasa penderitaannya karena serangan orang Pakuan, sudah ditimpa kemalangan lagi karena kematian istri yang tercintanya,” tutur Ki Guru Sudireja lagi.

Puluhan tahun sejak peristiwa itu, bocah yang hilang bernama Ginggi tak pernah dipermasalahkan lagi, kecuali dendam yang berlarut-larut. Pragola misalnya, secara tidak disadarinya telah memendam dendam berat kepada orang-orang Pajajaran. Kebenciannya terhadap orang Pajajaran karena membuat penderitaan kepada keluarganya belumlah terobati. Belakangan dendam bertambah besar ketika gurunya sendiri menjadi korban pertempuran melawan prajurit Pakuan.

Semakin membara api yang ada di dada pemuda itu. Dan api tak mungkin padam sebelum dendam terbalaskan.

Untunglah Paman Manggala telah mendekatkan Pragola kepada Pangeran Yudakara. Pemuda itu seperti aliran air yang mendapatkan salurannya. Paman Manggala mengabarkan bahwa untuk menuju sukses dalam melakukan perlawanan kepada orang-orang Pajajaran haruslah bergabung dengan Pangeran Yudakara, sebab pangeran calon penguasa Kabupatian Sagaraherang ini akan bekerja untuk kepentingan Cirebon dalam upaya untuk meruntuhkan kerajaan agama lama bernama Pajajaran itu.

Tapi begitulah yang terjadi. Mengikuti rencana Pangeran Yudakara rasanya bertele-tele. Dia tak boleh bertindak semaunya kecuali atas perintah dan sepengetahuan Pangeran Yudakara. Lebih bertele-tele dari itu, Pangeran Yudakara ternyata punya rencana besar yang tidak pernah terpikirkan kepentingannya, terutama untuk Pragola. Pemuda ini memang benci orangorang Pajajaran tapi tak pernah terpikir untuk menghancurkan atau merebut negri itu. Rasanya pekerjaan tersebut terlalu besar dan akan makan waktu lama. Yang ingin dia kerjakan hanyalah mencari biang keladi kerusuhan, terutama yang menyangkut kampung halamannya. Pragola pernah melakukan penyelidikan, peristiwa penyerbuan orang-orang Pajajaran pada puluhan tahun silam ke Waringin berlangsung amat tidak terpimpin. Menurut berita yang sampai, penyerbuan itu tidak dilengkapi perintah langsung dari Pakuan, melainkan hanya kehendak dari penguasa yang diserahi tugas menarik pajak. Itulah sebabnya untuk bisa mengumpulkan pajak, mereka main tekan dan main serbu kepada yang membangkang.

Bertolak dari keterangan ini, Pragola hanya akan mencari mereka yang terlibat saja, kalau hal ini memang memungkinkan. Pragola juga tadinya hanya akan mencoba mencari siapa-siapa saja perwira Pakuan yang melakukan pengeroyokan sehingga menewaskan Sudireja, gurunya. Barangkali ksatria bernama Ginggi akan dimasukkan sebagai musuh yang harus dilawan, mengingat orang ini ada kaitannya walau secara tidak langsung.

Sepuluh tahun silam Ki Sudireja ikut bergabung menyerang Pakuan. Namun usaha ini gagal karena Pakuan banyak dikawal orang pandai. Salah satu di antaranya adalah Ksatria Ginggi. Ki Sudireja melarikan diri namun terus dikejar hingga akhirnya terjebak ke tengah kepungan para perwira Pakuan. Dalam pertempuran tidak seimbang. Ki Sudireja tewas. Pragola mengelompokkan Ksatria Ginggi sebagai musuhnya, sebab secara tidak langsung lelaki itu ikut menggagalkan perjuangan Ki Sudireja.

Namun, begitulah yang dipikirkan Pragola. Sebenarnya dia kurang tertarik untuk terjun ke urusan akal-akalan (politik). Menurutnya, perjuangan Pangeran Yudakara adalah perjuangan politik. Salah satu pihak ingin menguasai pihak lainnya. Dalam hal ini, Cirebon ingin menguasai Pakuan. Peperangan yang diakibatkan oleh pertentangan politik selalu berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup rakyat. Hancurnya penduduk Kacutakan Waringin pada puluhan tahun silam sebetulnya adalah korban dari permainan politik juga. Wilayah Waringin diperebutkan oleh Cirebon dan Pakuan sehingga timbul pertempuran. Padahal bagi rakyat yang tidak tahu apa-apa, ikut ke mana sebetulnya sama saja.

Permainan politik juga suka mengacaukan arti kebersamaan. Pragola mendapatkan contoh ini dari hasil pertemuan antara Pangeran Yudakara dengan lelaki asing di puri Yudakara tempo hari. Sudah jelas antara Cirebon dan Banten tak punya permasalahan. Namun dari percakapan kedua orang itu, ternyata telah tercipta semacam persaingan dalam memperlihatkan citra dan kualitas pribadi masing-masing. Bila melihat sepak-terjang Pangeran Yudakara yang mencoba meneliti dan mencari kelemahan Pakuan, ada kecenderungan Cirebon berniat mengganggu dan menyerang Pakuan. Namun nyatanya niat ini pun dipegang Banten. Bahkan dengan pongahnya, lelaki yang diduga datang dari wilayah Banten itu mengatakan, hanya Bantenlah yang sanggup menyerbu dan menduduki Pakuan dan bukannya Cirebon yang dikatakan sudah lemah.

Pragola gundah dengan jalan pikirannya ini. Akan dilanjutkankah pengabdiannya kepada Pangeran Yudakara? Kalau dia melepaskan diri, bisakah dia bergerak sendiri? Pragola ingat pula, dia bisa menyelundup ke Pakuan karena jasa Pangeran Yudakara juga. Kalau bergerak sendiri, belum tentu bisa masuk ke Pakuan, terlebih-lebih untuk bisa memasuki puri Yogascitra. Padahal dia menilai, penelusurannya dalam upaya mendekatkan diri kepada musuh-musuhnya bisa dilakukan lewat pintu puri Yogascitra ini.

“Aku masih perlu bergabung dengan Pangeran Yudakara…” pikirnya kemudian.

Berpikir sampai di sini, akhirnya Pragola mengembalikan lagi rencana semula. Dia akan tetap mengikuti apa perintah pangeran itu.

Entah kapan akan melakukan perjalanan kembali ke wilayah timur. Namun selama berada di Pakuan ini, di samping bertindak atas komando Pangeran Yudakara, Pragola pun akan bergerak berdasarkan naluri sendiri, naluri untuk mendapatkan musuh-musuhnya.

*** Tidak terasa satu tahun telah berlalu. Selama itu tidak ada peristiwa penting yang ada kaitannya dengan urusan penyerbuan ke Pakuan. Perwira Goparana dan Jayasasana tetap berdiam di istana, bertindak sebagai pengawal Raja. Dalam satu tahun ini, hanya tiga kali melakukan pertemuan rahasia secara bersama-sama, sedang biasanya, yang menemui Pragola hanyalah Pangeran Yudakara.

Namun selama satu tahun berada di Pakuan, sebenarnya Pragola telah banyak mendapatkan hal-hal penting yang perlu dicatatnya. Catatan ini telah melahirkan penilaian dan pandangan terhadap keberadaan Pakuan pada kurun waktu belakangan ini. Benar seperti yang dikatakan orang, bahwa penguasa Pakuan yang sekarang seperti kurang berambisi mengembalikan Pajajaran ke zaman keemasan. Ada semacam frustasi yang melanda negri ini. Sebagian rakyat seperti menderita kekecewaan berat melihat keadaan. Di setiap obrolan baik secara tersembunyi mau pun terang-terangan, banyak orang mengatakan bahwa zaman keemasan Pajajaran telah sirna. Kaum prepantun selalu melantunkan lagu duka. Bila pun mereka bertutur perihal kebesaran, itu adalah kebesaran masa silam. Para orang tua banyak memaparkan kebesaran Sang Prabu Ratu Jaya Dewata atau Sri Baduga Maharaja (1482-1521) karena keberhasilannya membangun Pakuan sehingga di bawah kepemimpinannya rakyat sejahtera. Mereka membesar-besarkan keberadaan masa lalu mungkin karena rindu akan zaman yang tak kembali, atau juga disodorkan sebagai cemoohan kepada keadaan masa kini. Di anrata sesama pejabat terjadi saling salah-menyalahkan. Mereka lebih banyak membicarakan mengenai kelemahan orang lain ketimbang berupaya mengubah keadaan.

Akibat dari kemelut di antara sesamanya, maka tujuan utama untuk mensejahterakan rakyat tidak pernah berhasil. Para pandita hanya menghabiskan waktunya di kuil. Mereka berupaya untuk tidak melakukan kesalahan dan kerjanya mensucikan diri di tempat terpencil tanpa melirik kiri-kanan, tanpa ingin yahu apakah orang lain hidupnya benar atau tidak. Tak peduli orang lain berlaku salah, yang penting dirinya benar. Itulah sebabnya, kendati mereka hafal isi kitab Darma Siksa. Siksa Kandang Karesian, Pasuk Tapa, Mahapawitra, Siksa Guru, Dasa Sila, Jagad Upadrawa dan berbagai ajaran moral lainnya, kesemuanya hanya untuk santapan mereka saja. Orang lain, rakyat misalnya, terserah mereka mau apa, barangkali sikap ini dilakukan karena di saat-saat gencarnya penyebaran agama baru, kebijaksanaan Raja sejak turun-temurun tak pernah berubah. Mereka tidak melarang atau tidak memaksakan kehendak kepada rakyat dalam menentukan kepercayaan.

Raja Pajajaran hanteu nyaram somah milih agama

anu eudeuk dipilih pi’eun salajuna hirup anu dicaram soteh

palah-pilih teu puguh pilih mimiti milih agama ieu laju milih agama itu

laju bosen … milih deui

( Raja Pajajaran tak melarang rakyat memilih agama

yang mesti dipilih untuk kelancaran hidup yang memang dilarang

terlalu banyak memilih dan asal memilih mula-mula meilih satu agama

kemudian memilih agama yang lain lagi sesudah bosan…memilih yang baru lagi !)

Kaum pendeta membiarkan ke mana rakyat mau memilih. Yang setia kepada agama lama, mereka mempertahankan kesetiaannya tanpa diperintah. Yang tertarik kepada agama baru mereka pun pindah agama tanpa kesulitan. Namun karena kebebasan yang diberikan ini, banyak rakyat akhirnya bimbang tidak ikut ke mana-mana. Jadilah mereka orang frustasi sebab hidup tanpa pegangan. Hidup tak beraturan menyebabkan kesejahteraan pun tak terurus. Ada orang yang pandai dan memanfaatkan kepandaiannya untuk diri sendiri sambil merugikan orang lain. Tanpa pegangan hidup yang benar, mereka menjadi orang serakah. Tak terkecuali kaum pedagang atau pun petani.

Wong huma darpa mamangan tan igar yan tan pepelakan

( Kaum petani menjadi serakah tidak merasa senang

bila tidak bertanam sesuatu )

Petani sudah mengubah sikap. Bila dulu mereka bertani hanya untuk bertahan sekadar tidak lapar atau tidak perlu meminta kepada orang lain, kini malah berupaya memperkaya diri sebesar-besarnya. Sikap serakah ini terjadi setelah mereka melihat banyak orang menderita sengsara karena kebodohannya.

Ngajadikeun gaga sawah tikap ulah sangsara

jaga rang nyieun kebon

tihap malah ngundeur ka huma beet ka huma laga sakalih

hama na beunang urang laku sadu cocobana tihap malah hasil

mulah tihap muksur

pakarang ulah tihap nginjeum simbut cawet malah kasaratan hakan inim ulah kakurangan anak-ewe pituturan

sugan dipajar durpala siksa ( Membuta sawah ladang agar tidak sengsara

membuat kebun agar tidak terpaksa meminta ke ladang umum

ternak agar tidak membeli perkakas agar tidak meminjam

pakaian agar tidak cumpang-camping makan-minum jangan kekurangan anak-istri beri nasihat

agar tidak dikatakan buta aturan )

Ini adalah ajaran moral bagian dari Siksa Kandang Karesian, filsafat orang Pajajaran yang disusun pada zaman Sri Baduga maharaja ( 1462-1521 M).

Ajaran semacam ini hanya gencar dilakukan kaum pendeta di dalam kuil saja. Sedangkan rakyat yang jauh dari kuil cenderung sudah tak menjabarkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan sikap ini bukan terjadi karena orang berganti agama, melainkan karena sikap frustasi melihat keadaan negara saja.

Ajaran agama lama hanya teguh dilantunkan di seputar istana saja. Ini terjadi karena sikap Raja yang mencoba tetap bersetia kepada agama karuhun (nenek moyang). Raja bahkan bertekad, kalau pun benar Pakuan diancam musuh, maka kehadiran mereka hanya akan dilayani oleh kekuatan dan keyakinan akan agama karuhun. Selama berada di Pakuan, Pragola menyimak, betapa berbagai mantera dan jampi-jampi menjadi santapan sehari-hari kaum pendeta termasuk juga Raja. Mereka rupanya percaya, mantera punya kekuatan hebat dalam menangkal marabahaya.

Pragola memuji sikap Raja yang tetap mempertahankan agama lamanya. Sebab memang pada hematnya, begitulah yang namanya keyakinan. Tidaklah mudah berganti agama, kecuali tanpa keyakinan kepada agama sebelumnya. Pragola juga berpendapat, Raja yang baik adalah Raja yang cinta kepada keyakinannya. Namun yang Pragola tak suka kepada penguasa Pakuan ini, dia tidak mempertahankan keberadaannya secara seimbang. Adalah tidak seimbang bila dalam memcoba mempertahankan negara, raja hanya bersunyi-sunyi di kuil bersama para pendeta. Memimpin negara ada di dunia nyata dan hanya bisa dikerjakan dengan kerja lahiriah, bukan seperti yang dilakukan Sang Prabu Nilakendra ini.

Namun tentu saja, ini adalah jalan pikiran Pragola secara pribadi saja. Sedangkan bila dia berpikir untuk kepentingan politik, sikap-sikap yang tengah berlangsung di Pakuan sangatlah menguntungkan misinya. Tentu Pangeran Yudakara gembira melihat keadaan di Pakuan ini. Barangkali karena hal-hal inilah Pangeran Yudakara, Perwira Goparana atau pun Perwira Jayasasana, tidak melakukan pergerakan secara berlebihan. Mungkin segalanya akan dibiarkan berlangsung sejauh mana suasana terjadi. Bila keadaan seperti itu teru berlarut, hanya punya arti Pakuan kian hari kian melemah. Dan ini semakin menguntungkan bagi kelancaran misi. Barangkali penyerbuan ke Pakuan akan dilakukan sesudah keadaan di Pakuan benar-benar parah karena keropos sendiri. Begitu yang diperkirakan Pragola.

Bahkan ketika rencana melakukan perjalanan ke wilayah timur semakin berlarut-larut kapan akan dilakukan, Pragola tidak peduli. Berangkat atau tidak, tokh tujuannya sama, yaitu melihat Pakuan menuju ke keruntuhan.

***

Rencana perjalanan ke wilayah timur beberapa kali ditangguhkan. Selain karena Raja kurang setuju, juga Pakuan sendiri sibuk dengan kemelutnya. Ternyata kelemahan yang terjadi di pusat pemerintahan ini menyebabkan terjadinya kekacauan yang dilakukan wilayah-wilayah yang di bawah Pakuan. Semakin banyak wilayah yang ingin memisahkan diri dari Pakuan.

Mereka ingin berpaling dari Pakuan, bukan saja akaren tergoda untuk tergabung dengan kekuatan agama baru, melainkan juga karena sebal terhadap sikap-sikap lemah Raja. Mereka menganggap sudah tak ada manfaatnya lagi berada di bawah naungan Pakuan sebab segala kepentingan dan kesejahteraan rakyat sudah tak terpenuhi, sedangkan di lain pihak Pakuan tetap menarik seba kepada rakyat.

Sampai tahun kedua Pragola tinggal di Pakuan, orang-orang Pakuan sibuk memadamkan berbagai pemberontakan kecil yang ada di beberapa wilayah. Lucunya, karena Pragola di Pakuan bertindak sebagai “prajurit”, maka beberapa kali dia pun ikut dikirim ke daerah pertempuran sebagai anggota pasukan di bawah pimpinan Banyak Angga. Dia ikut “berperang” sebab Pangeran Yudakara pun setuju dia “ikut”. Hanya tentu saja setiap kali Pragola terlibat dalam peperangan, dia tak pernah bertempur sungguh-sungguh. Dia tak punya kepentingan untuk membunuh lawan, sebab pada hematnya, lawan yang dihadapi orang-orang Pakuan sebetulnya merupakan “kawan” untuk dirinya.

Menyerbu dan memerangi daerah-daerah yang ingin memisahkan diri adalah sesuatu hal yang tak disukai Sang Prabu Nilakendra. Kata Raja ini, memerangi negara-negara yang ada di Pajajaran, selain menghamburkan dana, membuat kesengsaraan kepada rakyat, juga harus memupuk rasa benci orang-orang yang ditaklukkan. Tapi bagaimana pula akalnya agar wilayah-wilayah itu tetap bergabung dengan Pakuan sambil tak ada paksaan? Itulah kesulitannya. Dan kebijaksanaan Raja ini dianggap oleh kalangan pejabat istana sebagai suatu sikap-sikap lemah. Selama dua tahun lebih Pragola tinggal di Pakuan, nampak terjadinya kekurangpuasan di antara pejabat. Mereka khawatir, sikap Raja seperti ini hanya akan membuat negara lemah dan akhirnya menjadi bulan-bulanan lawan. Oleh sebab itulah pada tahun ketika di mana Pragola berada di sana, para pejabat seolah bersatu dalam memiliki tekad, yaitu mempertahankan Pakuan sambil tidak terlalu melibatkan kebijakan Raja.

Kembali para pejabat mengadakan pertemuan rahasia. Tujuannya lebih mengukuhkan tujuan semula, yaitu berusaha menghimpun orang-orang pandai yang sebenarnya masih bertebaran di seantero Pajajaran.

Pada umumnya mereka mendesak agar secara diam-diam Pakuan mengirimkan sepasukan perwira tangguh untuk membebaskan rekan-rekannya yang menurut “laporan” Pragola terjebak di Puncak Cakrabuana oleh pasukan Cirebon.

“Yang terjebak di sana adalah perwira-perwira tangguh. Selama mereka di sana, kita telah banyak kehilangan, membuat negara dalam keadaan lemah. jadi, apa pun terjadi, kita harus menolong mereka. Menolong karena negara harus bertanggung jawab, tapi juga karena negara membutuhkan mereka,” tutur para pejabat.

Pragola merasa bahwa sebentar lagi dia pasti akan diajak melakukan perjalanan ke wilayah timur seperti apa yang sudah dijanjikan pada tiga tahun berselang.

***

Benar saja apa yang diperkirakan Pragola, bahwa pada akhirnya rencana melakukan perjalanan ke wilayh timur akan dilaksanakan. Banyak Angga mengabarkan bahwa Pragola haurs mempersiapkan sesuatu sebab minggu depan perjalanan panjang akan dimulai.

Pada tiga hari sebelum rencana keberangkatan dilakukan, Pangeran Yudakara menghubunginya lagi. Pangeran ini mengingatkannya kembali apa yang menjadi tujuannya. “Orang Pakuan mengajakmu karena butuh engkau sebagai pemandu di jalan. Namun sebetulnya kitalah yang mendompleng pada mereka. Mereka sebenarnya tengah membantu kita untuk mengumpulkan orang-orang yang harus kita lenyapkan,” tutur Pangeran Yudakara. “Pasukan yang akan membantumu telah kusiapkan di sana,” lanjutnya lagi.

Pragola tidak banyk meminta petunjuk dan pengarahan, sebab rencana seperti ini sebenarnya telah diketahui hampir tiga tahun yang lalu. Hanya saja pemuda ini mendapat kenyataan bahwa Cirebon tetap dengan keputusannya yaitu hendak mengambil inisiatif melumpuhkan Pakuan kendati Banten telah melarangnya.

Ingin sekali pragola bertanya perihal ini. Tapi pertemuan Pangeran Yudakara dengan orang dari Banten pada tiga tahun berselang itu tentu amat dirahasiakan, sebab selama ini Pangeran Yudakara tidak pernah membicarakannya, termasuk kepada Perwira Goparana dan Jayasasana.

Sampai jauh malam Pragola masih berpikir tentang ini. Kalau memang Cirebon relatif lemah seperti apa kata orang Banten, mengapa pihak Cirebon seperti memaksakan kehendak untuk tetpa menyerbu Pakuan? Tidakkah tindakan ini hanya akan merepotkannya saja? Berdasarkan pengetahuan yang didapat Pragola, sejak kebangkitannya, Cirebon sebenarnya selalu didukung Demak. Hanya karena bantuan Demak maka Cirebon bisa melepaskan diri dar Pakuan. Begitu pun ketika Cirebon menyerang Banten untuk membebaskan wilayah itu dari kekuasaan Pakuan, Demaklah yang memberinya kekuatan.

Tapi sekarang Demak telah begitu lemah karena didera berbagai pertentangan dan perebutan kekuasaan, sehingga otomatis cirebon sudah tidak bisa mengandalkan kekuatan Demak dalam urusan kemiliteran. Apakah Cirebon kini sudah memiliki keprcayaan diri untuk melakukan rencana-rencana besar?

Pragola tak sanggup memikirkannya, sebab pada hematnya dia bukanlah sebagai seorang negarawan. Hanya karena seringnya bertemu dengan kaum bangsawan saja pemuda ini tahu situasi politik. Itu pun tidak mengetahuinya secara mendetail. Kata Paman Manggala pun, politik itu sulit diduga. Apa yang ada dipermukaan belum tentu menggambarkan isi keseluruhan. Bahwa Cirebon lemah, mungkin hanya perkiraan orang saja, sebab kalau benarbenar negara itu tidak memiliki kepercayaan diri, tak nanti akan melakukan rencana dalam upaya melumpuhkan Pakuan. Atau, benar-benarkan sebetulnya Cirebon lemah dan tak sanggup melakukan apa yang menjadi rencananya? Mungkinkah rencana-rencana yang dilakukan Pangeran Yudakara itu sebetulnya hanya gertak sambal belaka? Menggertak siapa? Mungkin menggertak siapa saja yang punya anggapan bahwa Cirebon sudah lemah. Pragola menggaruk-garuk kepalanya bila memikirkan hal ini. Dia tak tahu tujuan –tujuan Cirebon yang sebenarnya. Atau katakanlah, dia tak tahu jelas yang menjadi perjuangan Pangeran Yudakara. Namun yang pasti, ini telah menyeretnya kepada hal-hal yang membuat dirinya ruewt. Sadar atua tidak, nyatanya tujuannya yang lebih bersifat pribadi telah tertumpuk oleh tujuan yang lebih besar, yaitu permasalahan negara.

***

Pada esok harinya ketika Pragola mencongklang naik kuda di sebuah jalan berbalay, berpapasan dengan sebuah rombongan. Rombongan itu terdiri dari sepuluh prajurit yang berjalan mengawal sebuah jampana (tandu). Di atasnya duduk seorang wanita usia sekitar tigapuluh tahun. Wanita itu nampak anggun dengan pakaiannya yang serba gemerlap.

Rambutnya hitam berombak, terjurai begitu saja di belakang punggungnya. Kain kebayanya terbuat dari satin halus buatan negri Parasi dengan ornamen warna emas pada ujungujungnya. Bila melihat rambutnya yang tergerai, Pragola hanya membayangkan seorang gadis belia sebab di Pakuan itu hanya gadis-gadis belia dan perawan yang selalu membiarkan rambutnya begitu saja diterpa hembusan angin. Namun pemuda itu mengakui, wanita ini masih memiliki kecantikan yang amat memukau. Hidungnya kecil mancung, mulutnya mungil merah merona dan bulu matanya lentik melengkung.

Pragola meminggirkan kudanya ketika rombongan itu lewat. Dia sadar harus memberi hormat sebab wanita itu tentu bukan dari keluarga sembarangan. Mana mungkin wanita biasa duduk dikawal di atas jampana kayu jati berukir indah? Tentu dia adalah wanita bangsawan yang kedudukannya amat penting.

“Berhenti…” kata wanita itu menyuruh berhenti kepada keempat orang pengusung jampana. Mereka berhenti tepat di mana Pragola meminggirkan kuda.

“Serasa aku pernah melihat wajahmu, anak muda…” tutur wanita itu melirik kepada Pragola. Pemuda itu berdegup jantungnya sebab sorot wanita itu begitu tajam.

“Engkau tentu prajurit Pakuan. Tapi aku tak tahu engkau bertugas sebagai apa serta di bawah perwira siapa?” tanya wanita anggun ini, menatap dan tersenyum manis.

“Dia adalah anak buah Raden Banyak Angga, Juragan,” kata seorang pengawal. Menipis sunggingan bibir wanita itu demi mendengar penjelasan ini. Prgola sendiri heran, mengapa wanita jelita ini menghentikan senyumannya, padahal dia ingi sedikit berlama-lama menikmati senyuman bak bunga merebak ini.

“Anak buah Banyak Angga…” desisi wanita itu masih menatap tajam Pragola. Merenung sejenak, kemudian senyumnya kembali muncul membuat matahari di hati Pragola cerah kembali.

“Melihat tampangmu, serasa dunia kembali ke belasan tahun silam. Dulu pun Banyak Angga punya pembantu. Dan engkau mengingatkanku pada pembantu lama Banyak Angga…” tutur wanita itu masih senyum.”Tapi sudahlah,” ujarnya, ”Itu masa lalu, sesuatu yang tak mungkin terulang lagi,”

Wanita itu memberi tanda agar perjalannya segera dilanjutkan. Namun beberap atindak kemudian dia sudah menyuruh orang-orangnya untuk berhenti kembali.

“Undanglah anak muda itu agar datang ke puriku…” ujar wanita itu. “Hari ini, Juragan?” tanya pengawal.

“Hari ini…” “Anak muda, siapa namamu?” tanya pengawal. “Pragola…”

“Engkau diundang ke puri Layang Kingkin. Juragan adalah pemiliknya. Dialah Nyi Mas Layang Kingkin,” kata pengawal.

Pragola hanya menatap wanita itu sebab dia tidak tahu siapa dia.

“Tundukan kepalamu, sebab Nyi Mas adalah ibu suri!” kata pengawal. Pragola baru terkejut. Inikah bekas permesuri almarhum Prabu Ratu Sakti?

“Undanglah sore nanti. Tapi katakan padanya, tak perlu bicara pada Banyak Angga…” kata Nyi Mas Layang Kingkin. Sesudah itu rombongan segera berlalu.

Tinggallah Pragola merenung seorang diri di atas punggung kuda. Pertemuan barusan sungguh aneh tapi amat menarik perhatian. Aneh sekali, mengapa secara tiba-tiba wanita itu ingin mengundang dirinya? Namun ini menimbulkan perhatian bagi dirinya. Pragol aingi sekali mengetahui, apa maksud undangannya itu. Pemuda ini pun merasa penasaran untuk datang memenuhi undangan wanita anggu itu karena baru kali inilah ada seorang wanita menghubungi dirinya. Hingga usianya yang duapuluh ini, Pragola belum perna mengenal wanita. Ini karena perhatiannya selama ini tersita oleh urusan-urusan yang jadi kemelut dalam hidupnya. Pragola sudah sengsara sejak kecil. Boleh dikata dia tak pernah mengenal ayahbundanya sebab orang tuanya meninggal di saat usianya masih kecil. Barangkali yang bertindak sebagai orangtuanya dalah Ki Sudireja. Namun orang tua ini lebih bertindak sebagai guru kedigjayaan ketimbang orangtua. Pendidikan yang diberikan Ki Sudireja bukan berupa kasih-sayang, melainkan pengaruh-pengaruh kebencian terhadap orang lain. Walau pun Ki Sudireja selalu memberi pesan agar seorang laki-laki harus bertindak ksatria, jujur dan perwira, namun Ki Sudireja selalu mengajarkan untuk balas-dendam. Selama kecil tak ada orang yang memanjakannya. Tidak pula oleh harta kekayaan. Kata orang, Cutak Wirajaya cukup kaya dalam memimpin kecutakannya. Tapi ketika dia meninggal, hartanya habis digunakan perjuangan melawan orang-orang Pakuan. Tidak ada kehidupan remaja pada pemuda ini, sebab suasana perjuangan tidak pernah memberinya kesempatan. Bercakap-cakap dengan wanita boleh dikata tak pernah terjadi. Selama hidupnya, Pragola hanya ikut kesnakemari bersama Ki Sudireja yang melakukan pengembaraan sambil main sembunyi karena selalu dikejar orang-orang Pakuan.

Itulah sebabnya, ketika datang undangan dari seorang wanita, Pragola begitu tertarik hatinya. Karena rasa ketertarikan inilah dia akan mentaati anjuran wanita itu, yaitu datang memenuhi undangan tanpa mengabarkan peristiwa ini kepada siapa pun termasuk Banyak Angga.

Sore hari seperti apa yang dijanjikan, Pragola pergi menuju puri Layang Kingkin. Kata orang, puri besar dengan bangunan-bangunan megah itu dulunya bernama puri Bagus Seta sebab pemiliknya adalah Bangsawan Bagus Seta. Pada peristiwa besar tigabelas tahun silam, bangsawan ini diisukan terlibat persekongkolan pemberontak. Namun bangsawan ini lolos dari pemeriksaan apalagi tindakan. Barangkali karena tidak terbukti, atau barangkali karena segan.

Bangsawan Bagus Seta adalah besan penguasa Pakuan ketika itu, yaitu Prabu Ratu Sakti. Pengetahuan ini didapat Pragola hanya beberapa saat sebelum pemuda itu pergi. Karen aingin tahu siapa dan apa latar belakang wanita itu, maka Pragola menyempatkan diri mengobrol dengan seorang gulang-gulang yang ada di kesatrian. Tidak semua yang menyangkut wanita itu diceritakan sebab gulang-gulang yang umurnya cukup tua itu pun tak begitu mengenal Nyi Mas Layang Kingkin secara rinci.

“Tapi sebaiknya engkau tidak terlalu dekat-dekat sana,” tutur gulang-gulang yang diperkirakan berusia lima puluh tahun itu.

“Mengapa, Paman…?”

“Entahlah, sejak peristiwa pemberontakan Kandagalante Sunda Sembawa tiga belas tahun silam, keluarga itu sedikit diasingkan kaum bangsawan lainnya. meNurut khabar yang aku terima, dulu anata para pejabat istana dengna Kangjeng Prabu Ratu Sakti pernah terjadi percekcokan karena urusan wanita yang kin mengaku sebagai ibu suri itu,” kata gulanggulang tua.

“Paman maksudkan, wanita anggun itu bukan benar-benar ibu suri?” Pragola mengerutkan dahinya.

“Bukan. Nyi Mas Layang Kingkin sebetulnya hanyalah seorang selir terkasih. Walau pun usianya paling muda di antara para selir, namun kekuasaannya melebihi yang lainnya, bahkan hampir menyaingi permesuri sendiri. Apalagi setelah permesuri pun wafat mengikuti Kangjeng Prabu, Nyi Mas Layang Kingkin semakin berkuasa juga. Dia hampir-hampir bertindak sebagai ibu suri, serta pengaruhnya terhadap Sang Prabu Nilakendra hampir merasuk kalau saja para pejabat yang lainnya tidak menghalanginya,” tutur sang gulanggulang.

“Mengapa? Begitu burukkah perangai Nyi Mas Layang Kingkin, sehingga pejabat lainnya perlu membatasinya?” tanya Pragola.

“Entahlah. Tapi begitulah adanya…” jawab gulang-gulang lagi.

“Paman, Nyi Mas Layang Kingkin belum tentu mempunyai keperluan khusus kepada saya. Barangkali dia ingin mengenal siapa saya. Namun kendati begitu, harap Paman membantu saya untuk tidak mengabarkan hal ini kepada siapa pun. Saya tak ingin majikan saya tahu,” kata Pragola menatap gulang-gulang itu. Yang ditatap hanya melamun, sepertinya merasa keberatan Pragola mengajukan permohonan ini.

“Saya bisa menduga, majikan saya akan tak senang bila mendengar saya memasuki puri Layang Kingkin. Tapi saya hanyalah orang kecil bila dibandingkan dengan Nyi Mas layang Kingkin. Saya di Pakuan ini hanyalah pengabdi, harus mentaati siapa pun, termasuk juga kepada Nyi Mas Layang Kingkin,” tutur Pragola. Gulang-gulang masih merenung, namun pada akhirnya dia mengangguk juga.

“Baiklah. Tapi sekali lagi, hati-hatilah,” tuturnya.

Dan Pragola jadi juga memasuki puri itu. Mulanya disambut oleh pengawal yang demikian ketat menjaga kompleks puri itu. Namun belakangan, sesudah ada pengawal yang mengenalnya, Pragola segera diizinkan memasuki kompleks puri.

Memasuki halaman yang luas dan asri karen adi sana banyak koleksi tanaman-tanaman hias, Pragola tetap mendapatkan pengawalan.

Pemudaitu tidak tahu, apakah memang begitu biasanya, bahwa ibu suri selalu mendapatkan pengawalan ketat setingkat raja, ataukah ini hanya keinginan Nyi Mas Layang Kingkin sendiri karena sadar dirinya kurang disukai.

Yang jelas, ketika Pragola memasuki paseban, di sana sudah terdapat Nyi Mas Layang Kingkin. Dia duduk berismpuh dengan anggunnya karena rambutnya yang halus hitam, nampak berombak menuruni punggungnya.

Kini wanita cantik itu sudah mengenakan kebaya yang berbeda dengan yang dikenakan tadi pagi. Jenis kainnya masih sama terbuat dari satin halusa, tapi yang ini buatan negri Cina.

Warnanya kuning jingga, juga dengan ornamen dan kelim yang dihiasi warna emas di setiap sisi-sisinya. Kulit wajahnya nampak putih bersih. Bukan perbawa pupur (bedak) atau pun sebangsa polesan lainnya, namun memang karena kulit wajah itu yang putih halus. Tak terdapat bintik setitik, sepertinya nyamuk pun segan menyapanya.

Berdegup jantung Pragola ketika tiba-tiba dia sadar bahwa Nyi Mas Layang Kingkin sebenarnya tengah tersenyum menertawai karena dia ternganga-nganga melihat purnama di wajahnya. Pemuda itu segera menundukkan kepala dengan kulit wajah serasa merah padam saking malunya.

“Duduklah anak muda…” desisi wanita itu merdu dan menyengat jantung.

Pragola segera duduk bersila di bangsal berlantai kayu jati halus itu. Jaraknya ada sekitar tiga tindak dari Nyi Mas Layang Kingkin yang tetap menatapnya dengan senyum dikulum. Sebetulnya di sana banyak orang lain. Di luar bangsal Pragola menghitung pengawal ada sekitar enam orang dengan tameng logam di tangan kiri dan tombak di tangan kanan. Di samping itu, duduk bersimpuh di belakang Nyi Mas Layang Kingkin sempat orang dayang. Para dayang itu berpakaian indah-indah dan berusia muda-muda. Wajahnya pun nampak cantik-cantik, sehingga bila Pragola disuruh memilih, dia tentu akan bingung musti memilih siapa.

Sesudah Pragola duduk bersila, Nyi Mas Layang Kingkin bertepuk tiga kali. Demi mendengar aba-aba itu, baik para dayang mau pun para pengawal, serentak mengundurkan diri dari paseban. Tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk tidak bisa menyimak bila yang berada di bangsal tengah melakukan percakapan.

Pragola kembali jantungnya berdegup. Dia menduga, ini adalah pertemuan penting, paling tidak untuk Nyi Mas Layang Kingkin. Kalau tak begitu, mengapa orang lain musti pergi? Ini hanya menandakan bahwa obrolan mereka tidak boleh didengar oleh siapa pun.

“Sudah berapa lama engkau mengabdi kepada Banyak Angga, anak muda?” tanya Nyi Mas Layang Kingkin dengan senyum tetap tersungging.

“Hampir tiga tahun, Juragan…” jawab Pragola hormat sekali sambil tak kuasa untuk balik memandang.

“Hm… sudah cukup lama, akan tetapi aku satu kali pun belum pernah bertemu denganmu, anak muda…’ tutur lagi Nyi Mas Layang Kingkin. Ya, mengapa tak pernah bertemu satu kali pun? Mengapa pula Pragola tak pernah tahu akan Nyi Mas Layang Kingkin, ibu suri istana? Pragola termenung sejenak. Memang tak pernah ada yang membicarakan perihal keberadaan ibu suri, tidak pula Banyak Angga yang selama hampir tiga tahun menjadi “majikan”nya. “Saya terlalu disibukkan oleh tugas-tugas rutin, Juragan. Baru-baru ini saya pun habis pulang dari pertempuran di wilayah barat perbatsan Cisadane. Tentu saja tak ada waktu untuk …” “Untuk apa, anak muda?”

“Misalnya untuk jalan-jalan ke puri ini…” jawab Pragola sekenanya. Terdengar tawa merdu keluar dari mulut mungil wanita anggun ini, membuat debar jantung Pragola kian kencang. “Kau sangka puri ini semacam taman, ya? Sedangkan untuk masuk ke Taman Mila Kancana yang memang tempatnya untuk jalan-jalan engkau belum tentu mendapatkan izin,” tutur Nyi Mas Layang Kingkin dengan bunyi suara seperti dikulum.

Pragola tersipu dibuatnya. Pernyataan tadi tentu amat menyinggung perasaan Nyi Mas Layang Kingkin kalau saja wanit aini orang pemarah. Namun nampaknya perangai wanita anggun berbulu mata lentik ini tak seburuk yang disangka orang. Dia begitu manis budi bahasanya. Dalam keadaan marah pun tetap mengulum senyum sehingga siapa pun akan betah dimarahi olehnya.

“Saya terlalu sembrono bicara, Juragan …” tutur Pragola menundukkan kepala. “Sebutlah aku Nyi Mas saja…” kata Nyi Mas Layang lembut.

Pragola menatapnya sejenak, “Saya tak berani, Juragan…”

“Kalau aku yang menyuruh, mengapa tak berani? Sudah terbiasakah engkau membantah perintah yang lebih atas?” Nyi Mas Layang Kingkin menatap tajam.

“Sama sekali saya tak berani…” “Masih tetap tak mau mentaati?”

“Maksud saya tak berani membantah setiap atasan…” “Sebutlah aku Nyi Mas!”

“Baik Nyi Mas…”

“Nyi Mas Layang Kingkin!”

“Nyi Mas Layang Kingkin, Juragan!” “Huss!!!”

“Oh, ya Nyi Mas Layang Kingkin…” Dan terdengar tawa merdu dari mulut merah merekah itu. Begitu bebasnya tawa Nyi Mas Layang Kingkin sehingga dia tak perlu menutupi mulutnya. Padahal setahu Pragola, setiap wanita di Pajajaran tak berani tertawa bebas. Kalau pun ada yang tak bisa menahan untuk tertawa, biasanya selalu menutupi mulut dengan punggung tangannya agar mulut tak bebas dilihat orang.

Namun hati pemuda itu tidak ada keinginan untuk menegur perilaku wanita itu. Nyi Mas Layang Kingkin terlalu anggun, terlalu cantik dan setiap tindak-tanduknya mengandung pesona. Betapa merdu tawa bebasnya, betapa renyah desah napasnya. Bibirnya itu yang merah merekah, gigi-giginya itu yang putih bak mutiara berbaris…oh, hai, segalanya mengundang degup, membuat debar bertambah kencang!

“Hai, kerjamu menganga saja anak muda. Bisa-bisa ada lalat memasuki lubang mulutmu!” celoteh Nyi Mas Layang Kingkin membuat Pragola tersipu.

“Engkau ini orang serius tapi membuat yang melihatmu merasa geli karena lucu,” kata Nyi Mas Layang Kingkin. Mereka keduanya saling berpandangan sejenak. Wanita anggu itu kian menantang namun Pragola menunduk kalah.

Sejenak mereka diam, sepertinya kehabisan pembicaraan. Namun ini merupakan kesempatan untuk berpikir, sebetulnya apa maksud undangan wanita anggun ini? Rasanya sudah cukup lama mereka saling mengobrol, namun Nyi Mas Layang Kingkin belum juga mengutarakan maksud undangannya ini. Hanya sekedar ingin bersenda-gurau kepada seorang prajurit rendahan seperti dia? Hanya akan membuat diri Nyi Mas Layang Kingkin terhina saja. Kalau barusan wanita mengajaknya bercanda, itu barangkali karena sifat-sifat Nyi Mas Layang Kingkin yang periang dan senang bergurau saja. Jadi bukan maksudnya mengundang Pragola hanya untuk bercanda.

***

0 Response to "Kunanti Di Gerbang Pakuan Jilid 04"

Post a Comment