Kuda Besi (Kuda Hitam dari Istana Biru) Jilid 04

Mode Malam
jilid 4

Mendengar olok-olok si orang aneh, Kun Hiap gerakkan tangannya menyangkal, "Tidak, tidak. Ah, aku sudah cukup gelisah, Sahabat, jangan engkau bertanya lagi."

Orang itu ternyata berwatak terus terang dan lincah, "Baik. Lalu engkau ingin hendak mencari siapa?"

Mendengar kata2 itu, Kun Hiap menganggap bahwa orang itu memang mengerti tata kesopanan maka diapun menjawab, "Ya aku memang hendak mencari  susiok (paman guruku) si Pedang-terbang Wi Kiam Liong."

Tiba2 orang itu tertawa gelak2. "Ho, kiranya hendak mencari Wi-heng, Dia sudah kenal lama dengan aku," serunya.

Mendengar pengakuan itu, serentak Kun Hiap bertanya, "Siapakah nama 

cianpwe?”

"Namaku mungkin engkau belum pernah mendengar," sahut orang itu, "tetapi engkohku mempunyai nama besar di dunia persilatan."

"Siapa?"

"Naga-emas-sakti Nyo Hwat!"

Nyo Hwat adalah ketua dari partai persilatan Hoa-san-pay. Kun Hiap sudah tahu. Waktu berada di rumah keluarga Li, ketika mendengar suara kicau burung, Nyo Hwat telah menderita luka-dalam. Saat itu Kun Hiap juga disitu maka dia tahu peristiwa itu. Tetapi dia belum tahu kalau Nyo Hwat masih mempunyai seorang adik.

Dipandangnya orang itu dengan lekat. Kecuali perawakannya yang jauh lebih pendek dari Nyo Hwat, roman mukanya memang agak minp.

Diam-diam Kun Hiap mengeluh dalam hati karena pengalamannya yang begitu sempit sehingga banyak sekali tokoh persilatan yang belum dikenalnya.

"O, kiranya Nyo cianpwe," serunya sesaat kemudian, "apakah cianpwe tahu bahwa Nyo Hwat tayhiap telah menderita luka di rumah keluarga Li?"

"Ya, kutahu," sahut orang itu, “aku sudah bertemu Wi Kiam Liong dan toako yang menuju ke rumah Wi Ki Hu. Kedatanganku kemari tak lain hendak melihat siapakah tokoh yang begitu lihay sehingga dapat mengalahkan beberapa ko-jiu yang sakti."

Mendengar nada ucapan orang itu, Kun Hiap menganggap kalau orang itu tentu berada di fihaknya.

"O, ternyata mereka. sudah sama menuju ke tempat ayah?" serunya.

Sejenak memandang Kun Hiap, orang itu mendesis lalu berkata: "O, kalau begitu engkau ini Wi hiantit!"

Kun Hiap terkesiap, "Apakah cianpwe kenal dengan ayahku?"

Orang itu tertawa mengekeh, lalu menepuk bahu Kun Hiap dengan keras, "Sudah tentu kenal hiantit. Seharusnya engkau memanggil aku Nyo jisiok (paman kedua).”

Sejenak bersangsi, akhirnya Kun Hiap menyebut, "Nyo . . . jisiok." 

"Hiantit yang baik, tahukah engkau siapa musuh kita itu?"

Kun Hiap menghela napas, ''Sudahlah, tak perlu dikatakan lagi. Dia adalah nona Tian yang selalu mengejar-ngejar aku itu1”

Orang itu kepalkan tinju dan berseru, "O, hanya seorang anak perempuan saja. Sungguh besar sekali nyalinya. Naga-sakti Nyo Hwat dan Rajawali-emas Li Goan Siu itu kan bukan tokoh sembarangan, mengapa dia berani mempermainkan mereka. Hm, kalau tak kuberi hajaran, budak perempuan itu tentu belum  kapok!"

"Nyo . . . jisiok," seru Kun Hiap, "kurasa lebih baik kita pulang saja. Setelah bertemu ayah baru nanti kita berunding lagi."

“Apa?” teriak orang itu, "engkau mengang-gap aku tak mampu menghadapi budak perempuan itu?"

"Nyo jisiok," kata Kun Hiap, "ilmusilatnya memang sakti sekali."

Orang itu menepuk dada dan berseru, "Jangan kuatir, jika aku ada, Tian Hui Yan tentu tak berani bertingkah."

"Hai, kiranya engkau sudah kenal namanya," seru Kun Hiap.

"Tentu saja," sahut orang itu, "nama Tian Hui Yan itu kini sudah membuat nyali orang persilatan gemetar."

Kun Hiap kerutkan dahi. Diam-diam dia heran mengapa sekarang orang itu memuji Hui Yan. Tetapi sebelum dia sempat membuka mulut, orang itu sudah berkata pula, "Tetapi asal ada aku, tak mungkin Tian Hui Yan berani muncul. Engkau percaya tidak?"

Sudah tentu Kun Hiap sungkan untuk mengatakan tidak percaya. Terpaksa dia tertawa.

"Baiklah, mari kita pulang dulu dan coba saja apakah ayahmu punya rencana apa," kata orang itu.

Diam-diam Kun Hiap menimang. Apabila pulang, tentu akan makan waktu beberapa hari, kalau selama beberapa hari itu dia bersama dengan seorang yang bermulut besar suka membanggakan diri, rasanya tentu muak. Tetapi dia tak mempunyai daya untuk menghindari orang itu. 

Tengah Kun Hiap merenung tiba2 orang aneh itu bersuit nyaring. Waktu bicara, lebih2 kalau tertawa tadi, nada suara orang itu parau seperti seekor itik. Tetapi saat itu dia dapat bersuit dengan nyaring sekali.

"Nyo jisiok, apa-apaan engkau itu?" Kun Hiap melonjak kaget.

Belum orang itu menyahut tiba2 terdengar derap lari kuda mendatangi. Memang daerah Kam-siok itu merupakan dataran sehingga sesuai sekali untuk menggunakan kuda.

Sebenarnya keluarga Kun Hiap juga punya banyak sekali kuda. Tetapi belum pernah dia mendengar derap lari kuda yang sedemikian kencang-nya. Pada lain kejab, dua ekor kuda berbulu pu-tih mulus muncul. Kedua binatang itu bertubuh tegar dan lannya seperti angin.

"Kuda hebat!" teriak Kun Hiap.

“Itu masih belum apa2," kata si orang aneh, "di rumahku, kuda semacam itu masih belum tergolong kuda yang nomor satu."

“Cepat sekali kedua ekor kuda itu sudah tiba dan berhenti di tempat kedua orang itu.

“Hoa-san-pay itu punya kumpulan kuda yang hebat. Orang persilatan belum tahu hal itu.”

"Ah, tak kira kalau markas Hoa-san-pay mempunyai koleksi kuda yang hebat," seru Kun Hiap, "orang persilatan tak tahu hal itu."

Orang itu agak tersipu-sipu, tetapi untung Kun Hiap tak memperhatikannya. Anakmuda itu tengah memandang kedua ekor kuda putih itu dengan penuh perhatian. Pada lain kilas, wajah orang itupun tenang kembali dan berkata, "Lekas naik kuda!"

Kun Hiap terkejut, "Naik?" Mempunyai kesempatan untuk melihat dua ekor kuda yang seindah itu saja sudah merupakan kegembiraan besar, apalagi kalau disuruh menaiki-nya. Pemilik kuda itu tentu akan menyayangi kudanya seperti permata yang tak ternilai harganya. Jangankan dinaiki orang lain, disentuh saja kiranya pemiliknya tentu tak senang.

"Aku suruh naik?" Kun Hiap mengulang. Ia takut kalau salah dengar. Tetapi pada lain kilas, dia kuatir kalau orang itu akan menarik kembali perintahnya. Maka tanpa menunggu jawaban lagi, Kun Hiap terus loncat mencemplak.

Tak berapa lama barulah dia melihat orang tadi mengendarai kuda yang seekor 

dan tengah mengejarnya. Keduanya segera mencongklang bersama. Selama itu sebenarnya Kun Hiap hendak bicara tetapi karena angin menderu kencang sekali, dia sampai tak dapat membuka mulut. Sebaliknya orang itu santai2 saja. Dia tertawa dan bicara seperti biasa. Mau tak mau Kun Hiap terpaksa harus menaruh kekaguman.

Menjelang petang, Kun Hiap tak tahu lagi sudah beberapa puluh li dia telah menempuh perjalanan. Selama itu banyak sekali penunggang kuda lain yang telah dilaluinya.

Cuaca makin lama makin remang tetapi kedua kuda putih itu terus berlari saja, Kun Hiap melihat disebelah muka terdapat sebuah kota. Dia mengira orang itu tentu akan berhenti bermalam di kota itu. Tetapi ternyata kedua kuda putih itu terus saja, masuk lalu melintas keluar dari kota ini.

"Kuda yang hebat!" pada waktu keluar kota, terdengar seseorang berseru.

Kun Hiap berpaling hendak melihat siapa orang yang meneriaki itu tetapi tahu2 dia sudah terbawa kudanya sampai sepuluhan tombak lebih Sehingga dia tak dapat melihat jelas, siapa orang tadi.

Diam2 Kun Hiap merasa pernah mendengar nada suara orang tadi. Ya, benar, itulah suara, Nyo Hwat, ketua Hoa-san-pay.

Kalau orang lain yang meneriaki, mungkin Kun Hiap tak curiga, Karena siapapun orangnya yang melihat kuda putih itu, tentu akan memujinya. Tetapi yang  memuji itu adalah Nyo Hwat, ketua Hoa-san-pay sendiri. Bukankah tadi orang yang bersamanya menempuh perjalanan itu mengatakan kalau adik seperguruan dari Nyo Hwat. Mengapa sekarang Nyo Hwat sendiri tak kenal kepada orang itu ?

Sejenak menimang, Kun Hiap bersangsi, kemungkinan tadi dia salah dengar. Atau kemung-kinan orang yang meneriaki tadi memang memili-ki nada suara yang mirip dengan suara Nyo Hwat. Ah, lebih baik dia tak usah memikiri hal itu lagi.

Kuda putih masih tetap berlari kencang. Pada saat rembulan muncul, tiba2 orang itu bersuit nyaring. Kedua ekor kuda putih itupun meringkik panjang dan serempak berbenti. Waktu memandang ke depan, kejut Kun Hiap bukan kepalang. Ternyata saat itu dia berada dalam sebuah hutan pohon ang-co.

Kun Hiap masih ingat akan tempat itu ketika dua hari setelah berangkat dari rumah, dia melintasi hutan itu. Waktu itu dia belum berjumpa dengan Kera-sakti- gunung-Thian-san Lo Pit Hi dan masih empat ratusan li jauhnya dari desa keluarga Li. Tetapi mengapa dengan naik kuda putih dalam setengah hari saja 

dia sudah dapat tiba di hutan itu ?

Orang itu mengambil ransum kering dan di lemparkan kearah Kun Hiap, "Lekas makanlah. Setelah makan kita melanjutkan perjalanan lagi !”

Waktu makan tiba2 Kun Hiap teringat sesuatu, serunya, "Nyo jisiok, kedua kuda putih ini luar biasa larinya. Kita tentu akan dapat menyusul Nyo tayhiap dan Wi susiok."

"Ya, sudah tentu. Tetapi perlu apa menghiraukan mereka ?" sahut orang itu.

Kun Hiap terkejut dalam hati. Aneh, mengapa tak perlu memikirkan Nyo tayhiap dan paman Wi Kiam Liong? Saat itu mulailah dia merasa bahwa ada sesuatu yang tak wajar pada diri orang itu. Dia tak mau banyak bertanya lagi. Nanti saja setelah bertemu dengan ayahnya, baru dia akan minta keterangan.

Orang itu makan dengan lahap sekali, kemudian berkata, "Kali ini kita akan mencapai tempat tujuan dengan cepat. Kalau engkau tak mau memegang tali kendali, pasti engkau akan dilempar kuda itu. Besok petang hari, kita tentu sudah tiba di tempat tujuan."

"Besok sore ?" Kun Hiap mengulang kaget, "kalau menurut perhitunganku, besok pagi2 saja, kita tentu sudah tiba disana."

"Huh, engkau tahu apa? Lekas naik kuda lagi," sahut orang.

Kun Hiap mengira, karena setengah harian sudah berlari kencang sekali, tentulah kedua kuda putih itu lelah sekali sehingga kecepatannya berkurang, Tanpa  banyak bicara, dia terus mencemplak kudanya dan kedua kuda putih itupun lalu mencongklang lagi.

Entah berapa lama dan berapa ratus li sudah mereka tempuh. Pada waktu menjelang fajar, barulah Kun Hiap timbul perasaan, bahwa ada sesuatu yang mencurigakan.

Karena malam hari, Kun Hiap tak tahu arah mana yang ditempuhnya. Apalagi kuda putih itu larinya cepat sekali. Tetapi kini setelah fajar dan mentari terbit, dia tahu kalau matahari itu berada disebelah kiri. Dengan begitu jelas bahwa perjalanannya itu menuju ke selatan. Ini jelas berlawanan. Kalau menuju ke rumah ayahnya, tentu harus kearah utara.

"Hai, salah jalan, kita keliru ini," serunya serentak.

Dia berusaha untuk berteriak sekerasnya teta-pi suaranya itu lenyap ditelan 

angin kencang. Dia berusaha untuk berpaling kemuka agar tidak dilanda angin lalu berteriak sampai dua kali.

"Jangan ngacau! Apanya yang salah ?" seru orang itu.

"Kalau pulang seharusnya ke sebelah utara!" teriak Kun Hiap.

"Bagi seorang tay-tianghu (ksatrya) dia dimana saja itu rumahnya. Mengapa harus memilih selatan atau utara?"

Mendengar jawaban itu Kun Hiap makin curiga. Jelas orang itu tak bermaksud membawanya pulang. Dia kerahkan tenaga untuk menghentikan kuda putih tetapi begitu ditarik, kuda putih itu meringkik keras dan julurkan lehernya kemuka, krekkk tali kendali serentak putus. Dan karena tali kendali putus,

kuda itu makin seperti anakpanah cepatnya.

Kun Hiap marah dan terkejut. Dia lebih dulu lepaskan kedua kakinya dari besi pijakan dan sekali tangan menekan ke pela, dia terus apungkan tubuh ke udara. Dia hendak melepaskan diri dari kuda itu.

Tetapi orang itu tiba2 juga enjot tubuhnya loncat keatas kuda Kun Hiap dan menangkap kaki Kun Hiap. Kun Hiap seperti tak bertenaga dan tak berdaya sama sekali ketika ditarik oleh orang itu.

Kini orang itu boncengan dengan Kun Hiap. Kudanya dibiarkan lari tanpa dinaiki. Kun Hiap mengeluh daiam hati tetapi dia tak mampu meronta, Apa boleh buatlah

!

Setengah jam kemudian sekonyong-konyong orang itu membawa Kun Hiap melambung ke udara. Ternyata dia hendak pindah ke kuda yang kosong tadi.

Kedua ekor kuda putih itu berlari dengan cepat sekali. Tetapi orang itu dengan membopong tubuh Kun Hiap dapat loncat pindah ke kuda yang lain. Walaupun selamat tetapi tak urung Kun Hiap merasa ngeri dan kucurkan keringat dingin.

Demikian dengan berselang seling pindah bergantian naik kedua kuda putih itu, perjalanan mereka berjalan lancar. Waktu menjelang sore, entah sudah berapa ratus li jauhnya.

Saat itu kuda meluncur disebuah jalan besar, Kanan kiri jalan penuh ditumbuhi dengan pohon yang tinggi besar. Tak berapa lama lagi, tibalah mereka di muka pintu sebuah gedung besar dan kedua kuda itupun berhenti. 

Kun Hiap menghela napas longgar. Tiba2 pintu besar terbuka dan dan sebelah dalam tampak empat orang lelaki berlari-lari menghampiri. Mereka berempat rata2 berumur 30an tahun dan sama mengenakan pakaian ringkas seperti orang persilatan.

"Hm, gedung ini tentulah milik seorang tokoh besar dalam dunia persilatan, "pikir Kun Hiap. Dia heran perlu apa orang tadi membawanya kesitu.

Saat itu keempat lelaki tadi sudah tiba.

Mereka memberi hormat dan lelaki yang berdiri diujung kiri berkata, "Ah, nona Tian datang, maaf kami tidak jauh2 menyambut."

Mendengar itu Kun Hiap melongo. Nona Tian? Siapa itu nona Tian? Apakah Tian Hui Yan si dara centil itu? Cepat dia berpaling ke belakang tetapi tak ada orang lain.

"Keempat orang itu buta barangkali atau mungkin gila. Bukankah dia seorang pemuda dan orang yang membawanya tadi juga seorang lelaki setengah tua? Mengapa mereka menyebut-nyebut nona Tian?'' pikirnya.

Dia hendak bertanya tetapi tiba2 dari samping terdengar suara orang tertawa mengikik, "Apakah Poa lo-ya-cu ada di rumah?"

Kun Hiap tak asing lagi pada nada suara tertawa itu. Ya, itulah tawa Hui Yan. Seketika Kun Hiap terlongong-longong.

Selama dalam perjalanan tadi dia menganggap orang yang membawanya itu seorang lelaki, tetapi mengapa sekarang tiba-tiba saja berobah menjadi Tian Hui Yan?

Cepat dia berpaling dan menatap orang itu. Kebetulan orang itu atau Hui Yan juga sedang memandangnya dan menjebikan kerut muka kepadanya. Ia masih mengenakan pakaian warna kelabu, tangannya memegang sebuah topeng kulit, yang baru saja dikenakannya.

Entah bagaimana Kun Hap tertawa keras.

Dengan tertawa itu dia hendak menghambur rasa dongkol dan kejut dalam hatinya. Dia menertawakan dirinya sendiri. Dia mengira kalau sudah terlepas dari libatan Hui Yan! Siapa tahu yang 'mengerjainya' itu tak lain dan tak bukan tetap  si dara centil.

Mendengar Kun Hiap tertawa, berkatalah Hui Yan dengan nada haru, "Ah, 

kiranya engkau . . . engkau suka bersama-sama aku ..."

Sudah tentu Kun Hiap seperti dikili hatinya. Dia tertawa meringis seperti monyet makan terasi, mulut hanya menganga tak mengeluarkan sepa-tah kata.

Tetapi pada lain kilas kini dia mendapat kesan bahwa Tian Hui Yan itu senang sekali berada dengan dia. Hati Kun Hiap tergetar. Tak tahu dia harus bagaimana, merasa senang atau muak.

Sebagai seorang anakmuda yang berdarah panas, sudah tentu tergetar juga perasaan hati Kun Hiap berhadapan dengan seorang dara secantik Hui Yan. Tetapi karena Hui Yan selalu mempermainkannya maka dia mendongkol dan ingin menghindar..

Melihat Kun Hiap tertegun, Hui Yan ulurkan tangan mengangkat tubuh Kun Hiap ke atas kuda, didudukkan di belakangnya. Kun Hiap hendak loncat turun tetapi bau harum dari tubuh si dara dan. sentuhan dengan tubuh daraa itu membuat semangat Kun Hiap serasa melayang-layang. dia tak ingin turuh lagi bahkan ingin rasanya dia berada bersama si dara untuk selama-lamanya.

Lelaki dari rombongan penyambut tadi berkata pula, "Nona Tian, Poa lo-ya-cu sudah menutup diri, sudah lama tak menerima tetamu lagi, seharusnya nona tahu akan hal itu."

Ah, pikir Kun Hiap, kiranya gedung itu tempat kediaman keluarga Poa di wilayah Oulam, Dengan memaksa membawanya datang kesitu, tentulah Tian Hui Yan tak bermaksud buruk. Dara itu hendak membantunya untuk membikin terang soal persamaan gambar lukisan orang di ruang Istana Tua dengan dirinya (Kun Hiap).

Merenungkan hal itu diam2 lunaklah hati Kun Hiap. Tetapi kalau dia teringat bagaimana selama dalam perjalanan tadi dia dipermainkan seperti anak kecil, mau tak mau dia mendongkol juga. Sekarang setelah dilepas Hui Yan sebenarnya, dia ingin melarikan diri saja tetapi dia masih ragu-ragu.

"Paman sekalian," kata Hui Yan kepada keempat penyambutnya, "kedatanganku kemari ada urusan penting sekali dengan Poa lo-ya-cu, Walaupun Poa lo-ya-cu sudah lama tak menerima tamu tetapi kali ini kuminta supaya mau menerima aku."

Walaupun masih bernada sungkan tetapi ucapan Hui Yan itu jelas merupakan keputusan yang tak dapat ditawar lagi. Dia harus bertemu dengan Poa Cing Cay.

Rupanya keempat lelaki itu sudah kenal akan watak Hui Yan. Mendengar kata2 Hui Yan seketika berobahlah wajah mereka. Mereka saling bertukar pandang dan 

lelaki yang bicara tadi, segera berkata, "Harap nona suka masuk dan minum teh dulu di dalam, nanti akan kulaporkan kepada. Poa lo-ya-cu."

"Baik," sahut Hui Yan. Dia terus loncat turun dan kuda dan berseru kepada Kun Hiap, "Wi kongcu, mari kita beristirahat kedalam dulu."

Kun Hiap sendiri memang ingin sekali menjelaskan tentang soal lukisan orang di Istana Tua yang mirip dengan dirinya itu. Karena sekarang sudah terlanjur berada di rumah keluarga Poa, biarlah dia menyelidiki soal itu sekali.

“Baik," katanya seraya loncat dari kudanya.

Keempat penyambut itu mengamati Kun Hiap sampai beberapa saat dan berkata, "Tuan ini ..."

"Aku yang rendah bernama Wi Kun Hiap. Ayahku adalah pendekar-naga-emas Wi Ki Hu dari Liong-cung-cu," cepat Kun Hiap memperkenalkan diri.

Mendengar itu mereka tertawa cerah, "O, kiranya Wi kongcu. Ayah kongcu itu bersahabat baik Tiga hari yang lalu ayah kongcu berkunjung kemari dan bermalam sampai dua hari. Kemarin lusa baru pergi."

Mendengar itu Kun Hiap makin heran sehingga tak dapat berkata apa-apa.

"Ho, kalau aku yang datang tidak ditemui tetapi kalau orang lain disambut begitu hangat. Mengapa pilih kasih?" seru Hui Yan.

"Nona Tian, tak boleh menyesali lo-ya-cu," cepat orang itu berkata, "Wi tayhiap adalah sahabat karib dari lo ya-cu sebelum lo-ya-cu mengasingkan diri. Yang sering berjumpa dengan lo-ya-cu juga hanya dua tiga sahabat saja.”

Sambil menunjuk pada Kun Hiap, Hui Yan berseru, "Putera dari sahabat karib, seharusnya, lo-ya-cu mau menemui juga."

"Mudah-mudahan saja." seru orang itu lalu mempersilahkan tetamunya masuk.

Tiba2 Kun Hiap maju menghampiri dan berseru, "Tunggu dulu. Tadi kalian mengatakan kalau ayahku bahwa kemarin lusa meninggalkan tempat ini, bukan?"

Keempat orang itu mengiakan. "Ya benar. Mengapa Wi kongcu heran? Memang Wi tayhiap sering berkunjung kemari."

Memang seharusnva Kun Hiap tak terkejut tetapi dalam soal itu dia memang 

bingung dan curiga. Poa Ceng Cay adalah seorang jago kelas satu. Peribadinya bersih dan baik. Dalam persahabatan selalu bersungguh-sungguh. Demi kepentingan sahabat, ibarat disuruh menerjang kedalam lautan api pun akan dilakukannya juga. Dia benar2 seorang tokoh yang jarang terdapat bandingannya dalam dunia persilatan.

Memang bukan sekali dua kali Kun Hiap mendengar nama Poa Ceng Cay. Tetapi belum pernah ia mendengar ayahnya menyebut-nyebut nama orang itu. Kini baru dia mengetahui bahwa ayahnya ternyata bersahabat lama dengan Poa Ceng Cay.

Yang menjadi keheranan Kun Hiap yalah, mengapa ayahnya tak pernah mengatakan soal itu? Pada hal soal itu adalah soal yang baik dan gemilang. Bukankah setiap orang akan bangga kalau menjadi sahabat baik dari seorang tokoh terkenal seperti Poa Ceng Cay?

''Ah, tidak apa2" kata Kun Hiap sambil tersenyum hambar hanya karena terlambat dua hari maka aku tak dapat bertemu dengan ayah."

Keempat orang itupun tak menanyakan lebih lanjut. Mereka lalu masuk ke dalam.

Sepanjang jalan masuk ke gedung kediaman Poa Ceng Cay, terdapat sebuah jalan yang terbuat dari beton. Kanan kiri jalur, ditanami pohon2 tinggi. Ujung jalan, sebuah tanah lapang, ditengahnya didirikan sebuah pagoda batu.

"Silakan duduk dulu, kami akan masuk memberitahukan kapada lo-ya-cu " kata keempat orang itu.

Kun Hiap dan Hui Yan dalam pagoda itu. Kun Hiap sengaja mengawasi keempat orang yang menerobos kedalam gerumbul pohon.

"Wi kongcu. Apanya sih yang engkau lihat itu," tegur Hui Yan. Tetapi Kun Hiap diam saja dan tak berbalik tubuh.

"Ah," Hui Yan menghela napas, "tak lain maksudku membawamu kemari kecuali demi untuk kebaikanmu. Tetapi engkau menerimanya dengan sikap begini . . . ai

. . . bagaimana ya begitu itu?"

Nada suara si dara terdengar rawan dan haru sekali. Diam2 Kun Hiap menimang, "Ya, benar. Dia memang tak bermaksud buruk membawaku kemari. Walaupan caranya dengan memaksa, tetapi dia tak terlalu dapat disalahkan." 

Berpikir begitu, mau tak mau hati Kun Hiap terasa lemah juga. Dia berpaling dan hendak menghibur dara itu. Tetapi begitu memandang: Hui Yan, diapun  melongo.

Mendengar suaranya yang begitu rawan, Kun Hiap mengira tentulah Hui Yan bersedih dan masygul hatinya. Tetapi ternyata apa yang dilihatnya, malah sebaliknya. Ia sedang leletkan lidah, kedua tangannya menarik kedua pipinya hingga mukanya seperti muka setan. Sudah tentu kata2 yang sudah siap di mulut Kun Hiap tadi, ditelannya kembali. Sejenak tertegun, dia berputar tubuh membelakangi dara itu lagi. Didengarnya Hui Yan tertawa mengikik. Kun Hiap menghela napas dan menutupi telinganya dengan kedua tangannya.

Tetapi Hui Yan sengaja gunakan lwekang untuk tertawa maka betapapun Kun Hiap menutup telinganya rapat2, tetap suara tawa dara itu menyerang masuk kedalam telinganya.

Selagi Kun Hiap sedang menderita tertawaan Hui Yan, sekonyong-konyong dia melihat sesosok tubuh berloncatan menuju ke pagoda situ. Ternyata yang datang itu adalah salah seorang dari keempat lelaki yang menyambut kedatangannya tadi. Cepat sekali orang itu sudah tiba.

“Bagaimana?" tegur Hui Yan, "mau tidak lo-ya-cu menemui aku?"

Lelaki itu gelengkan kepala, "Lo-ya-cu. mengatakan. beliau tak mau menemui orangluar. Harap tuan berdua pulang saja."

Kun Hiap serentak berbangkit dan terus hendak pergi. Tetapi Hui Yan kerutkan kedua alis, mencegahnya. "Wi kongcu, duduklah dulu.”

Kemudian dara itu berseru lantang, "Poa lo-ya-cu, kedatanganku kemari bukanlah untuk iseng akan tetapi benar-benar ada urusan penting.

Kalau engkau orangtua tak mau menemui aku, itu sih tak mengapa, aku juga tak dapat berbuat apa2, tetapi aku punya cara untuk mengadu biru disini sehingga sampai anjing dan ayam dari keluarga Poa takkan dapat tidur tenang!"

Dengan tenang Hui Yan terus melangkah maju dan berseru nyaring. Entah sampai berapa jauh barulah dia berhenti.

"Berani mati!” tiba2 terdengar suara seorang tua membentak. Suara itu seperti meledak diatas wuwungan pagoda. Tetapi ternyata baik diatas atap pagoda maupun disekeliling beberapa belas meter, tak ada seorangpun juga. Jelas suara itu berasal dan jarak tiga li jauhnya. 

Kun Hiap berjingkrak kaget tetapi Hui Yan malah tertawa, serunya, "Lo-ya-cu, engkau sudah membuka mulut, apakah engkau masih tak mau menemui aku?"

Kembali suara orangtua yang parau itu berseru pula, “Bawa kedua orang itu kepadaku!'

Lelaki juru penyambut tadi gopoh mempersilakan agar Hui Yan dan Kun Hiap ikut kepadanya.

Diam-diam Hui Yan girang sekali. Hanya dengan mengoceh seenaknya saja ternyata dia dapat memaksa Poa Ceng Cay merobah keputusannya..

"Wi kongcu, mari kita pergi kesana," serunya kepada Kun Hiap. Tetapi pemuda itu tetap tegak membelakangi dan tak mengacuhkannya.

Hui Yan menghampiri kesamping pemuda dan berkata dengan berbisik, "Wi kongcu, engkau ini kan seorang anak laki yang gagah, mengapa hatimu begitu sempit seperti anak perempuan saja. Kalau engkau marah, masakan engkau akan marah seumur hidup?"

Mendengar itu merahlah muka Kun Hiap. Dia tahu kalau diolok dara itu tetapi ucapan dara itu memang tepat sekali. Terpaksa Kun Hiap tertawa kecut dan berkata, "Sudahlah, jangan ngoceh saja. Mari kita menemul Poa tayhiap."

"Kalau begitu, apakah engkau masih marah kepadaku?" tanya Hui Yan.

"Nona Tian, jelas engkau tahu kalau aku tak berdaya cari alasan memarahimu, mengapa engkau masih bertanya saja?" balas Kun Hiap.

Hui Yan tertawa mengikik dan turun dari pagoda terus ayunkan kaki. Tak berapa lama keduanya melalui beberapa gerumbul semak yang tinggi. Disebuah rumah gubug yang dikelilingi dengan pohon siong, mereka melihat seorang lelaki tua bertubuh pendek sedang duduk bersila diatas sebuah batu besar. Dia bertubuh pendek, mengenakan pakaian warna biru, sepasang matanya meram2 ayam, atau setengah meram setengah terbuka. Dari celah2 kelopak matanya  memancar sinar yang amat tajam. Dia tengah memungut kipas dengan

perlahan-lahan...

Hui Yan maju menghampiri dan memberi hormat, 'Toa lo-ya-cu, waktu kecil aku sudah pernah melihatmu. Waktu itu kira2 sepuluh tahunan yang lalu.

Semangatmu saat itu masih segar sekali!"

Ternyata orang tua pendek itu adalah Poa Ceng Cay, tokoh pedang dan pelukis yang termasyhur di seluruh dunia. Dia tampak santai-santai saja berkipas-kipas. 

“Soal begitu tak perlu engkau ucapkan dengan mulut manis. Apa yang engkau teriakkan tadi?"

Hui Yan tertawa, "Poa lo-ya-cu, engkau seorang pendekar besar yang termasyhur diseluruh dunia, mengapa engkau harus melayani ocehan seorang budak kecil seperti diriku ini? Kedatanganku jauh- jauh kemari, perlu hendak mohon petunjuk.''

"Soal apa?” seru Poa Ceng Cay.

Hui Yan menunjuk pada Kun Hiap, serunya "Dia adalah Wi kongcu dari wilayah Liong-se. Poa lo-ya-cu, apakah engkau pernah melukis dirinya?"

Acuh tak acuh saja Poa Ceng Cay mengangkat kepala dan memandang Kun Hiap. Kun Hiap gopoh memberi hormat, “Wanpwe Wi Kun Hiap, menghaturkan hormat kepada cianpwe "

Baru Kun Hiap berkata sampai disitu, sekonyong2 Poa Ceng Cay meraung keras dan serentak berdiri dan mengebutkan kipasnya, brettt, kulit pohon siong disampingnya segera terkelupas separoh lebih. Wajahnya yang merah segar, pun serentak berobah pucat

Pertama kali melihat Poa Ceng Cay, Hui Yan dan Kun Hiap mendapat kesan bahwa tokoh itu memang layak menjadi seorang tokoh silat kelas satu. Tetapi kini sekonyong-konyong dia berobah sedemikian memberingas, sudah tentu kedua anakmuda itu terkejut sekali dan tak mengerti apa sebabnya.

Bermula keduanya mengira mungkin dibelakang mereka telah muncul benda atau mahiuk yang menyeramkan maka serempak merekapun berpaling kebelakang. Tetapi mereka tak melihat apa2.

Kun Hiap cepat berpaling ke muka lagi. Dilihatnya saat itu Poa Ceng Cay duduk lagi di tanah. Wajahnya tetap pucat pasi. Sepasang matanya dipejamkan tetapi dahinya bercucuran keringat deras.

Hui Yan dan Kun Hiap bertukar pandang penuh keheranan. Keadaan Poa Ceng Cay saat itu seperti orang yang menderita luka parah tetapi disekeliling tempat itu kecuali Hui Yan dan Kun Hiap berdua, tak ada orang lain, Adakah orang yang diam2 telah menyerang secara gelap kepada Poa Ceng Cay dan kini sudah melarikan diri dan menumpahkan kesalahan kepada Hui Yan berdua?

Walaupun tak takut segala apa tetapi mau tak mau Hui Yan juga cemas. Poa Ceng Cay termasyhur sekali dalam dunia persilitan. Hampir semua ko-jiu (jago 

kelas satu) dalam dunia persilatan adalah kawannya. Kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atas diri Poa Ceng Cay, tentulah mereka berdua akan dituduh sebagai pelaku dan sukar untuk menyangkal lagi.

Segera Hui Yan berjongkok dan berteriak, “Poa lo-ya-cu, Poa lo-ya-cu!"

Tampak Poa Ceng Cay membuka mata dengan pelahan-lahan Walaupun Hui Yan berada dihadapannya, tokoh itu tak meagacuhkan melainkan memandang  kepada Kun Hiap.

Sudah tentu Kun Hiap kelabakan dah tak mengerti mengapa Poa Ceng Cay memandangnya begitu rupa. Terpaksa dia tersenyum dan bangkit berdiri.

Setelah beberapa saat memandang si anak-muda, Poa Ceng Cay baru mengusap keringat dan menghela napas longgar.

“Poa lo-ya-cu, engkau ini bagaimana?” seru Hui Yan.

Seperti orang yang terjaga dari mimpi, Poa ceng Cay menyahut, "Ah, tidak apa2, aku orang tua itu sudah kabur penglihatanku."

Sambil menunjuk pada Kun Hiap, kembali si dara berseru lagi, "Lo-ya-cu, apakah dulu engkau pernah bertemu dengan dia?"

Poa Ceng Cay tertawa hambar, "Belum pernah.”

Hui Yan tertawa mengikik, "Poa lo-ya-cu, waktu dulu pernahkah engkau melukis gambar orang dan orang itu "

Sebenarnya Hui Yan hendak berkata dan orang itu mirip sekali dengan dia (Kun Hiap). Tetapi sebelum sempit menyelesaikan kata-katanya, Poa Ceng Cay sudah berdiri dan menukas, "Kalian datang dari jauh. Sebenarnya aku ingin bicara beberapa saat dengan kalian. Tetapi aku masih mempunyai lain urusan, kalian silakan saja!"

"Poa lo-ya-cu. aku belum habis bicara!" seru Hui Yan.

Tetapi Poa Ceng Cay tetap tak menggubris dan berseru memberi perintah, "Lekas pergi!" Habis berkata dia terus berputar tubuh sambil kebutkan lengan bajunya, wut setiup angin kuat menghambur sehingga Hui Yan terdorong

sampai enam tujuh langkah ke belakang.

Kun Hiap yang lebih lemah tenaga-dalamnya, terlempar lebih jauh lagi, dan sebelum dia dapat berdiri tegak, telinganya sudah mendengar suara Poa Ceng 

Cay yang parau, "Berusahalah untuk melepaskan diri dari Tian Hui Yan dan kembali kemari lagi. Aku hanya mau memberitahu kepadamu saja."

Kun Hiap tertegun. Sebelum dia dapat menemukan apakah yang didengarnya itu suara Poa Ceng Cay atau bukan tiba2 si dara Hui Yan sudah berteriak, “Tidak  adil. Poa lo-ya-cu, aku belum selesai omong, betapa penting urusanmu itu tetapi seharusnya engkau menunggu omongku dulu!"

Dara itu melesat maju sampai setombak, tiba-tiba dia berpaling dan berseru kepada Kun Hiap, “Hai, apa-apaan engkau diam seperti patung begitu? Hayo lekas ikut aku mencarinya.”

“Ya, ya," sahut Kun Hiap.

Sekali bergerak, gerakan tubuh seperti segulung asap yang menyembur ke   muka. Melihat itu Kun Hiap sengaja lambatkan larinya sehingga dalam sekejab mata saja dia sudah ketinggalan sampai lima enam tombak. Pada saat melalui sebatang pohon besar dia terus enjot tubuh ke udara menyambar dahan pohon. Dan sekali berayun dia melayang keatas bersembunyi dalam jerumbul daun yang lebat.

Dari cela2 daun dia memandang ke sebelah muka. Dilihatnya saat itu Hui Yan sedang melompati sebuah sungai kecil dan dari terumbul pohon di seberang tepi sungai, muncullah keempat lelaki tadi. Mereka lalu menyerang Hui-Yan

Bermula Kun Hiap mencemaskan keselamatan si dara. Tetapi setelah mengikuti pertempuran itu beberapa saat, hatinyapun longgar. Jelas keempat lelaki itu bukan sungguh2 hendak mencelakai Hui Yan melainkan hanya mengepungnya saja supaya jangan melanjutkan larinya.

Hui Yan mengamuk, menyerang kian kemari untuk menerobos keluar dari kepungan, tetapi tetap tak mampu. Karena mendongkol dan gugup dara itu sampai menjerit-jerit histeris.

Tiba2 dari samping Kun Hiap terdengar setiup angin menyambar dan tahu2 muncullah Poa Ceng Cay, Wajahnya nampak serius sekali.

"Petunjuk apakah yang hendak cianpwe berikan kepadaku?" kata Kun Hiap.

Poa Ceng Cay memandang beberapa kejab kepada Kun Hiap lalu berkata," Bagaimana ayah ibumu memperlakukan engkau?" I

Sudah tentu Kun Hiap bingung mendengar pertanyaan semacam itu.. Poa Ceng Cay itu seorang tokoh yang terhormat tetapi mengapa mengajukan pertanyaan 

yang tak karuan semacam itu?

Namun dia menjawab juga," Ah, mana di dunia ini terdapat ayah bunda yang tak sayang kepada anaknya. Sudah tentu ayahbundaku baik sekali kepadaku."

Poa Ceng Cay tertegun beberapa saat.

"Ayahmu selama itu tak pernah mengatakan kepadaku kalau mempunyai seorang putera," katanya," dan bahkan sudah begini besar."

“Ya," sahut Kun Hiap, “Ayah memang tak pernah memberitahukan kepada wanpwe tentang diri Poa lo-Cianpwe."

Alis Poa Ceng Cay mengkerut," Begitu? Kalau begitu tentulah dia memang bermaksud hendak menyembunyikan.”

"Ayah sayang sekali kepada wanpwe," Kun Hiap gopoh memberi penjelasan," beliau tak mengijinkan wanpwe keluar kedunia persilatan. Itulah sebabnya maka beliau tak memberitahukan wanpwe tentang nama Poa lo-cianpwe.

Itu sudah sewajarnya, mengapa lo-cianpwe mengatakan ayah mempunyai maksud begitu?"

Poa Ceng Cay mengangguk, "Dia tak mengizinkan engkau terjun ke dunia persilatan?"

"Ya!” sahut Kun Hiap," karena aku meminta dengan sangat untuk ikut paman Wi maka kali ini untuk yang pertama kalinya beliau baru mengizinkan."

Dalam berkata-kata itu hati Kun Hiap terasa sesal.. Baru yang pertama kali dia ke luar ke dunia persilatan, dia sudah mengalami beberapa kesulitan, Kalau begitu, lebih enak jika tinggal dirumah saja.

Poa Ceng Cay mendengus, "Hm, kalau begitu, bukan saja dia hendak mengelabuhi aku, tetapi juga hendak mengelabuhi mata dan telinga semua orang di dunia ini."

Sudah tentu Kun Hiap tak mengerti apa maksud omongan tokoh itu. "Cianpwe," katanya, "apa maksud cianpwe mengucap begitu?"

"Apakah sama sekali engkau tak tahu?" Poa Ceng Cay menegas dengau nada sarat. 

Kun Hiap makin bingung, serunya, "Bagaimanakah sebenarnya soal ini?"

Poa Ceng Cay menengadah memandang la-ngit lalu menghela napas panjang, Sinar matanya yang berkilat tampak meredup dan wajahnyapun seperti kelihatan letih. Ditepuknya bahu anak muda itu, "Kalau engkau tak tahu, tak usah engkau banyak bertanya lagi," katanya.

Kecurigaan Kun Hiap makin meluap. Dia menduga tentu ada sesuatu rahasia  yang menyangkut dirinya. Dan rahasia itu dia tak tahu sama sekali. Sekarang dia harus tahu tentang rahasia itu. Dia harus minta keterangan kepada Poa Ceng Cay. Tetapi sebelum dia sempat membuka mulut. Poa Ceng Cay sudah menggenggam tangan Kun Hiap, "Aku hendak memberi kepadamu sebuah barang.”

Seketika Kun Hiap rasakan dirinya diseret oleh sebuah tenaga besar yang membawanya mela-yang naik turun dan tahu2 dia meluncur turun la-gi bersama Poa Ceng Cay.

Tetapi baru saja keduanya turun ke bumi, dari ja-uh terdengar suara Hui Yan berseru, "Poa lo-ya-cu, kalau engkau memperlakukan begini macam, aku tentu akan membalasmu. Ada ubi ada tales, ada budi tentu kubalas."

Poa Ceng Cay tertawa gelak?, "Sam-ah-thau, jangan menggertak aku. Bukankah engkau tak mampu menerobos kepungan keempat orangku tadi?"

"Poa lo-ya-cu, dengarkanlah aku bicara..."-

Tetapi Poa Ceng Cay tak menghiraukan. Dia terus membawa Kun Hiap lari ke muka. Kun Hiap pernah menyaksikan kelihayan ilmusilat Hui Yan yang dapat mempecundangi beberapa tokoh kelas satu. Tetapi sekarang ternyata dia tak mampu lo-los dari kepungan keempat orang bawahan Poa Ceng Cay. Itu baru orang bawahannya kalau Poa ceng Cay sendiri, wah entah bagaimana saktinya.

Kun Hiap seperti dibawa terbang. Telinganya dideru suara angin yang kencang. Cepat sekali dia sudah melintasi sebuah pagar tembok yang tinggi.

Tiba2 dari jauh terdengar suara ayam berkokok bersahut-sahutan dengan gencar.

Suara kokok ayam itu makin lama makin nyaring, tak enak di telinga. Mendengar itu Poa Ceng Cay berhenti dan suara kokok ayam itupun, berhenti juga. Sebagai gantinya kini terdengar kicau burung prenjak yang sedap didengar.

Wajah Poa Ceng Cay agak berobah kata-nya, "Ah, tak kira kalau mamamu begitu 

limbung-Sampai ilmu siluman Peh-kin-lian-beng, cu-sim-toh-hun ( Seratus burung serempak berbunyi, menghancurkan-hati menyambar-nyawa), pun diajarkan kepada anaknya."

Kemudian dia mengulurkan sebatang seru-ling pandak yang berwarna hitam mengkitap lalu ditiupnya. Dari ujung tembok segera muncul orang yang menghampiri, memberi hormat dan menyatakan siap menerima perintah. Poa Ceng Cay menyerahkan seruling itu kepadanya, "Lekas engkau kejar, kerahkan tenaga-murnimu dan tiup sebanyak tujuh kali."

Setelah menerima seruling orang itu terus melesat pergi.

Kun Hiap yung pengalamannya dangkal, tak tahu apa yang disebut ilmu-jahat Peh-kin lian-beng, cu-sim-loh-hun itu, tetapi dia ingat akan peristiwa ketika ketua Hoa-san-pay Nyo Hwat terkena serangan suara burung sehingga menderita luka- dalam. Jelas ilmu semacam itu sama dengan Hu-sim-sip-hun, ilmu untuk merontokkan semangat dan menggulung nyawa. Khusus untuk mengacau ketenangan pikiran dan hati lawan.

Memang ganas sekali ilmu semacam itu tetapi kalau berjumpa dengan lawan yang lebih sakti kepandaiannya, dia sendirilah yang akan menderita luka yang parah sekali.

Menyadan bahwa yang mengeluarkan bunyi burung itu tentulah Hui Yan dan kini Poa Ceng Cay suruh anakbuahnya untuk menghadapi dengan seruling mau tak mau dia cemas juga. 1

"Poa lo-cianpwe "

Baru Kun Hiap berkata begitu, Poa Ceng Cay sudah lambaikan tangan dan berkata, "Tak perlu engkau banyak blcara, aku sudah mengerti. Ilmu itu   memang terlalu ganas sekali. Karena dia berani sembarangan menggunakannya maka aku hendak memberinya pelajaran. Tetapi tak sampai membuatnya terluka berat."

Kun Hiap tertegun, "Dia akan terluka?"

"Bagaimana? Apakah engkau memang senang bersama dara itu?" balas Poa Ceng Cay.

Sudah tentu Kun Hiap gopoh menolak, "Harap cianpwe jangan salah faham. Kalau bertemu dia aku seperti ular menyurut kedalam lubang, lebih baik tak bertemu saja. Tetapi kedatanganku kemari adalah atas bantuannya. Mana aku sampai hati melihatnya menderita luka?" 

Poa Ceng Cay leletkan lidah, "Apakah di Istana Tua itu kalian melihat gambar lukisan orang itu?"

Kun Hiap mengiakan, “Ya, gambar orang itu mirip aku maka Hui Yan lalu berkeras membawa aku kemari, perlu hendak mohon keterangan kepada cianpwe tentang hal yang misterius itu."

Belum Poa Ceng Cay menjawab, tiba2 dari kejauhan terdengar suara burung berbunyi, nadanya tak enak didengar dan diramaikan pula oleh bunyi yang hiruk pikuk.

Saat bunyi hiruk itu mendengung maka bunyi suara burungpun terputus-putus sehingga ketika dengung bunyi hiruk itu meraung sampai yang ketujuh kali, suara bunyi serempak berhenti.

"Karena engkau tak suka bertemu dengan dia, lebih baik kutahannya sampai beberapa hari. Setelah engkau pergi, baru kulepaskan lagi, bagaimana?"

"Ah, itu bagus sekali. Tetapi bagaimana dengan soal yang kukatakan tadi "

Secara diplomatis Poa Ceng Cay menjawab, "Wajah orang itu memang sering mirip, demikian juga dengan benda2 di dunia mi. Mengapa engkau heran?"

Tetapi keterangan tokoh itu sudah tentu tidak memuaskan Kun Hiap tetapi dia tahu kalau Poa Ceng Cay tentu juga tak mau memberi keterangan lebih lanjut lagi maka diapun tak mau mendesak dan membiarkan dirinya dibawa berjalan oleh tokoh itu.

Ternyata tempat kediaman PoaCeng Cay itu merupakan sebuah bangunan yang penuh dengan rumah2 dan kebanyakan jaraknya saling jauh serta harus berjalan berbiluk-biluk. Kun Hiap hampir tak dapat mengingat lagi dan tak tahu arah yang ditujunya.

Lebih kurang setengah jam kemudian barulah mereka tiba di sebuah gedung. Pintu gedung itu rupanya selama bertahun-tahun tak pernah dibuka. Hal itu dibuktikan dari banyaknya rumput dan rotan hutan yang tumbuh memenuhi depan pintu.

Berdiri di depan pintu, Poa Ceng Cay menghela napas. Wajahnya kelihatan rawan. Kemudian dia mendorong pintu dengan pelahan-lahan. Krek, krek, krek

..... rotan hutan yang menjalar diatas pintu, berderak-derak putus semua. Selekas pintu terbuka tampak di halaman dalam penuh dengan rumput yang 

tinggi. Beberapa binatang rase dan tikus terkujut berlarian.

Diam2 Kun Hiap heran mengapa dia dibawa ketempat yang hampir tak pernah didiami orang itu.

'"Poa lo-cianpwe, sebenainya engkau hendak memberi aku barang apa saja?" tanyanya.

"Hanya sebatang senjata berikut ilmu permainannya yang terdiri dari duabelas jurus," kata Poa Ceng Cay.

"Bagaimana wanpwe harus menerima pemberian sedemikian besar itu?" gopoh Kun Hiap berseru.

Kembali Poa Ceng Cay meletakkan tangannya ke bahu Kun Hiap, katanya, "Ayahmu adalah sahabat baikku. Dalam perkenalan pertama dengan engkau kalau hanya kuberikan sedikit barang yang tak berharga, kiranya sudah jauh dari pantas. Mengapa engkauharus bersikap sungkan?"

Mendengar kata-kata yang diucapkan Poa Ceng Cay dengan nada yang rawan, makin besarlah kecurigaan Kun Hiap.

Poa Ceng Cay mengajak Kun Hiap masuk ke dalam ruang. Diatas paseban atau ruang muka tergantung sebuah papan nama. Diatasnya tertulis tiga huruf Poa- coat-tong atau Paseban-setengah-matang.

Kiranya Poa CengCay digelari dan dikagumi orang persilatan sebagai Kiam-hoa- song-coat atau Ahli-pedang-dan-lukisan- Tetapi dia sendiri dengan rendah hati mengatakan bahwa kepandaiannya ilmupedang masih jauh dari semparan sedang ilmu melukisnyapun hanya setengah matang. Dan sejak itu dia menamakan diri dengan gelar Poan-coat lojin atau si Tua-setengah-matang.

Karena ruang paseban itu disebut Poan-coat-tong maka tentulah menjadi tempat kediaman Poan-coat lojin.

Tetapi Kun Hiap memperhatikan bahwa sebelah ujung papan nama itu sudah lepas dari pakunya dan menggelantung ke bawah. Pun perkakas perabot dalam ruang paseban itu juga sudah tak keruan, banyak yang remuk. Sampaipun lantai yang terdiri dari marmer hijau juga hancur. Disana sini terdapat bekas telapak kaki yang membekas sampai setengah dim dalamnya. Hal itu menimbulkan  kesan bahwa dulu tempat itu tentu pernah dijadikan ajang pertempuran dahsyat dari beberapa jago sakti.

Sejenak berhenti di tengah ruang, Poa Ceng Cay lalu mengajak Kun Hiap keluar 

dari pintu samping, berjalan di sebuah lorong lalu mendorong sebuah pintu.

Kun Hiap tak melihat barang sebuah alat perkakas dalam ruang itu, kecuali sebuah meja dari kayu jati. Diatas meja jati itu terdapat sebuah gelang besar berwarna hitam mengkilap. Garis tengah gelang itu hampir satu meter, lingkaran gelang tidak tajam melainkan tumpul. Pada batang gelang terdapat beberapa ukiran huruf tetapi tak dapat dibaca jelas.

Tiba di meja itu, Poa Ceng Cay berkata, "Yang akan kuberikan kepadamu tak lain adalah Oh-hun-cwan ini."

Karena melihat Oh-hun-cwan atau Gelang-awan-hitam itu bukan merupakan suatu benda yang- luar biasa, setengahnya dalam hati Kun Hiap gelo juga.

"Poa cianpwe, aku tak dapat menggunakan senjata itu, " katanya. "Engkau kira apakah itu Kim-kong-cwan biasa saja?' tukas Poa Ceng Cay.

Mendengar nama Kim-kong-cwan atau Gelang-malaekat, tiba2 hati Kun Hiap tergerak karena teringat suatu hal.

Dia teringat ketika berada di Istana Biru, pertama kaii berjumpa dengan Koan Sam Yang yang bergelar Ing-put-hoan-jiu atau Selamanya-tak-pernah-balas- memukul. Saat itu Koan Sam Yang pernah bertanya sampai dimana ayah Kun Hiap telah mencapai latihannya memainkan Kim-Kong-cwan.

Memang ketika mendengar pertanyaan semacam itu dari Koan Sam Yang. Kun Hiap heran. Kini Poa Ceng Cay hendak memberinya sebuah gelang Kim-kong- cwan. Adakah ini hanya secara kebetulan saja?

Ah, kepala Kun Hiap berdenyut-denyut pusing apabila memikirkan peristiwa aneh yang diha-dapinya saat itu. Dia benar2 tak tahu apa sebenarnya rahasia yang tengah menyelubungi dirinya itu.

Poa Ceng Cay memungut gelang Kim-kong-cwan dan dipencet-pencet dengan jari lalu berkata, "Lihatlah, gelang ini terdapat banyak tulisan huruf kecil-kecil, apa engkau dapat melihatnya?"

Kun Hiap maju menghampiri. Memang benar batang gelang itu penuh dengan tulisan huruf2 kecil tetapi jelas dan mudah dibedakan.

Poa Ceng Cay menjentik dengan jarinya dan terdengarlah bunyi tring, tring dari batang gelang. 

"Periksalah hati2 huruf2 itu. Jurus2 permainan gelang2 itu semua tertulis disitu. Ini milik engkau punya . . . !” tiba2 Poa Ceng Cay tak melanjutkan kata2nya.

"Aku punya apa?" tanya Kun Hiap setelah terkesiap sejenak.

"Kukatakan, benda ini adalah milikmu. Engkau harus merawatnya baik.2,"

kata Poa Ceng Cay.

Kun Hiap menerima gelang itu lalu diikatkan pada pinggangnya. Sedangkan Poa Ceng Cay mundur selangkah dan memandang Kun Hiap dengan tajam. Wajah tokoh itu menampilkun kerut yang sedih.

Walaupun masih belum jelas tetapi sedikit banyak Kun Hiap sudah merasa bahwa dalam soal itu tentu terselip suatu rahasia. Setelah tertegun sejenak, dia memberi hormat, 'Poa cianpwe, jika cianpwe sudah tak ada pesan apa-apa lagi, wanpwepun hendak pamit."

“Biar kuantarkan engkau keluar," kata Poa Ceng Cay.

Kun Hiap merasa dirinya sudah.terlepas dari libatan Hui Yan maka dengan gembira diapun berkata, "Poa cianpwe tak perlu mengantar. Asal menjaga jangan sampai nona Tian menyusul aku, aku sudah berterima kasih."

"'Jangan kuatir," Poa Ceng Cay tertawa, memang nanti akan kutahannya sampai tiga empat hari. Siapa sih suruh dia berani masuk ke sini dan tidak mau menghormat aku?'

Kun Hiap kerutkan dahi berpikir, kemudian berkata, "Nona Tian masih muda belia, bukankah Poa cianpwe takkan membikin susah kepadanya?"

Poa ceng Cay menghela napas, "Hiantit, terus terang saja, aku memang belum berani membikin susah kepadanya."

Diam2 Kun Hiap terkejut Kiranya si dara Hui Yan itu memang mempunyai latar belakang yang hebat. Dia harus berhati-hati terhadap dara itu.

Kun Hiap mendengar tadi bahwa ayahnya baru saja meninggalkan perumahan desa Poa. Lebih baik dia lekas2 menyusul saja. Setelah pamit dia terus keluar dari perumahan desa keluarga Poa. Dilihatnya kedua ekor kuda putih masih makan rumput di tempat peristirahatannya tadi. Melihat Kun Hiap, kuda itu mengangkat kepala dan meringkik keras sebagai pertanda kalau mengenal Kun Hiap.

Tiba2 timbul pikiran Kun Hiap. Kalau dia tak menaiki kuda hebat itu tak mungkin 

dia da-pat menyusul ayahnya. Tetapi pada lain kilas dia-pun kuatir. Kuda itu mempunyai hubungan erat dengan Tian Hui Yan. Kalau dia menggunakannya, bukankah kelak kemudian hari akan terlibat dengan Hui Yan lagi?

Sampai beberapa saat belum juga dia dapat mengambil keputusan. Akhirnya dia teringat bahwa Hui Yan akan ditahan Poa Ceng Cay sampai empat lima hari.

Pada waktu itu dia tentu sudah ber sama-sama ayahnya. Saat itu barulah dia akan lepaskan kuda putih. Biar kalau mau kembali kepada nona majikannya.

Setelah menetapkan keputusan, Kun Hiap terus menceplak salah seekor dan mencongklangkan pesat. Diam2 dia merenung kalau Hui Yan itu seorang dara yang manis dan lemah lembut, mau juga dia meminta seekor kuda itu kepada si dara. Dengan memiliki kuda putih sahabat itu, tentulah kelak banyak sekali gunanya dalam dunia persilatan.

Setelah tiba di jalan raya, dia melanjutkan perjalanan. Di sepanjang perjalanan dia hendak bertanya orang tentang ayahnya. Ayahnya, Pendekar Naga-emas Wi Ki Hu, seorang tokoh persilatan yang terkenal. Tentu beliau akan menempuh jalan yang besar. Mudahlah bertanya kepada orang mengenai perjalanan ayahnya.

Kun Hiap gembira sekali. Dia mencongklongkan kudanya lebih pesat. Setelah tiba ditempat yang ramai, dia akan bertanya kepada orang, demikian pikirnya.

Menjelang magrib, tibalah dia disebuah hutan pohon angco. Dimuka hutan itu tampak seekor kuda yang tengah menyepak-nyepak. Kun Hiap terkejut gembira. Jelas itu adalah kuda ayahnya.

Sambil mengeprak kuda, dia berseru gembira. "Yah, engkau dimana?”

Srattt sesosok bayangan melayang turun dari gerumbul pohon. Dia seorang

lelaki setengah tua, lebih kurang berumur limapuluhan tahun. Wajahnya serius, menimbulkan rasa gentar kepada orang. Dia bukan lain adalah ayah dari Kun Hiap yaitu Wi Ki Hu, jago pedang ternama yang bergelar Pedang-naga-emas.

"Ayah!" kembali Kun Hiap mengulangi teriakannya.

“Hm. kiranya orang yang menyelidiki perjalananku itu adalah engkau sendiri,'" seru Wi Ki Hu, "kukira kalau tiga serangkai Chin-nia-sam-shia itu yang hendak cari perkara kepadaku. “Mengapa engkau disini ,” baru berkata begitu Wi Ki

Hu melihat gelang Oh-hun cwan yang menggelantung di pinggang Kun Hiap. Tiba2 dia mundur selangkah tangannya memegang sebatang pohon dan wajah 

berobah tegang, memandang lekat2 pada Kun Hiap.

Sudah tentu pemuda itu terkejut, serunya, “Ayah, kenapa engkau?” Tetapi Wi Ki Hu tak menjawab. Wajahnya makin tak sedap dipandang.

Tangannya yang memegang batang pohon tak terasa makin mengencang, krak, krak kulit pohon hancur bertebaran, kelima jarinya masuk sampai beberapa

dim -kedalam batang pohon.

Kun Hiap makin terkejut dan buru2 lari menghampiri. Tetapi sebelum dia sempat membu-ka mulut, Wi Ki Hu sudah memberitik, “Berhenti!”

Tenaga-dalam Wi Ki Hu memang hebat sekali. Bentakan itu membuat telinga Kun Hiap seperti mau pecah rasanya sehingga dia terhuyung-huyung mundur beberapa langkah ke belakang baru dapat berdiri tegak.

Setelah itu dia baru mengangkat muka memandang ke arah ayahnya. Dia terkejut. Saat itu Wi Ki Hu sedang menunduk, tangannyapun tidak mencengkeram batang pohon lagi. Pada batang pohon itu tampak membekas telapak jari sedalam lima dim.

Beberapa saat kemudian baru dia mengangkat muka lagi Wajahnya memang masih pucat tetapi sikapnya tidak setegang tadi lagi.

Melihat itu longgarlah perasaan Kun Hiap, serunya, "Yah, apakah engkau marah karena aku berkeliaran kemana-mana sendiri tanpa mengajak paman Wi?

Sebenarnya aku juga tak bermaksud "

“Engkau kemana saja?" cepat Wi Ki Hu menukas. Tadi suaranya seperti geledek tetapi sekarang sudah banyak berobah seperti orang yang lelah.

"Aku baru saja datang dari desa keluarga Poa," sahut Kun Hiap.

"Dari mana kuda putih itu? Engkau masih kemana lagi?" tegur Wi Ki Hu.

"Panjang sekali centanya,"' jawab Kun Hiap, "pertama kali, aku bertemu dengan Thian-san-sin-kau Lo Pit Hi. Dia mengajak aku berjalan sama-sama. Ketika tiba di sebuah istana tua berwarna biru " tiba2 Kun Hiap tak melanjutkan

keterangannya karena saat itu dia memperhatikan bahwa ayahnya tidak mendengarkan keterangannya itu melainkan seperti orang yang sedang melamun.

"Yah. , " terpaksa Kun Hiap meneriaki. 

"O," Wi Ki Hu gelagapan dan mengangkat muka, "apa saja yang engkau ketahui?"

Kun Hiap tercengang. Dia benar2 tak mengerti mengapa tiba-tiba sikap ayahnya berobah begitu rupa. Dia gelengken kepala, "Yah, penuh sekali keheranan yang kurasakan tetapi aku tak mengerti sama sekali."

Wi Ki Hu menghela napas longgar, "Memang dalam dunia persilatan itu banyak sekali hai-hal yang aneh dan misterius. Karena baru pertama kali terjun ke dunia persilatan, engkau tentu heran. Lekas mari kita pulang."

Mendengar ayahnya menyatakan jawaban dengan nada terpaksa dan akhirnya dengan setengah memaksa hendak mengajak pulang, timbullah rasa enggan dalam hati Kun Hiap.

"Yah, engkau kan sudah mengizinkan kali ini aku keluar ke dunia persilatan mengapa sekarang engkau hendak mengajakku pulang? Apakah engkau anggap aku masih belum temponya terjun ke dunia persilatan?"

"Pulang! Pulang saja! Kalau kusuruh pulang engkau harus pulang," kata Wi Ki Hu.

Selama ini belum pernah Kun Hiap menerima perlakuan yang sedemikian getas dari ayahnya. Kah ini dia memperhatikan ayahnya seperti orang yang bingung kehilangan faham. Apa boleh buat terpaksa dia menurut saja.

“Lekas naiki kudamu dan mengikuti di belakangku, jangan terpisah jauh2," seru Wi Ki Hu.

Kun Hiap mengiakan, kemudian dia berkata pula, "Masih ada sebuah benda yang diberikan kepadaku oleh seorang wanita yakni nyonya Tian."

"Ngaco!" bentak Wi Ki Hu, "aku tak kenal dengian wanita yang bernama nyonya Tian!"

Kun Hiap cepat mengeluarkan kotak kumala, katanya, "Yah, nyonya Tian itu pesan wanti2 agar aku harus menyerahkan sendiri kepada ayah. Dia bilang, apabila melihatnya engkau tentu sudah tahu sendiri.”

Sejenak memandang kotak kumala itu, berkatalah Wi Ki Hu dengan nada dingin, "Aku tak kenal dengan nyonya Tian itu."

Karena tak tahu siapakah mama dari Tian Hui Yan atau wanita yang memberikan kotak kumala itu, Kun Hiap juga tercengang. 

"Anak perempuan yang sulung dari nyonya Tian itu menikah dengan pimpinan Cin-nia-sam-shia yaitu Thian-peng-te-lat Khong Gong Tin .." baru Kun Hiap berseru begitu, tiba2 Wi Ki Hu mencengkeram dada puteranya terus diangkat ke atas.

Sudah tentu Kun Hiap ketakutan setengah mati, "Yah...!” "Siapa lagi yang engkau jumpai!" bentak Wi Ki Hu

"Yah, kasihlah kesempatan aku bicara dulu," pinta Kun Hiap.

"Lekas lemparkan kotak kumala itu," bentak Wi Ki Hu, "nanti setelah pulang baru aku mau mendengar ceritamu lagi "

Sudah tentu Kun Hiap kaget sekali, "Tetapi yah, aku sudah terlanjur menyanggupi permintaan orang. Bagaimana aku harus melemparkan kotak kumala ini? Kalau engkau tak mari menerimanya, biarlah lain hari kukembahkan saja kepada nyonya itu."

"Huh," tiba2 Wi Ki Hu merebut kotak kumala itu terus dilempar.

Kun Hiap melongo dan memandang layang kotak itu. Ternyata kotak kumala itu jatuh menyangkut diatas sebatang pohon yang tinggi dau tidak sampai jatuh ke tanah.

"Yah ," baru Kun Hiap berseru sepatah, dia sudah dilontarkan ayahnya ke atas

kuda putih. Wi Ki Hu juga naik kuda dan segera memerintahkan Kun Hiap supaya ikut.

Benar2 Kun Hiap tak mengerti mengapa tiba-tiba saja ayahnya memperlakukan dirinya begitu rupa. Dia coba mengingat-ingat apakah dia telah melakukan kesalahan. Paling2 dia hanya mengunjuk ke tempat kediaman keluarga Poa saja.

Soal titipan kotak kumala dari nyonya Tian, dia merasa memang tak tahu dan tak ada hubungan dengan dirinya. Dia kan hanya ingin mengunjukkan sikap baik terhadap wanita yang telah memperlakukannya dengan manis budi itu.

“Aneh, mengapa ayahnya sekarang tampak begitu marah sekali. Apa boleh buat diapun terpaksa mengikuti di belakang kuda ayahnya. Semalam suntuk, Wi Ki Hu menempuh perjalanan tanpa berhenti.

Ketika tengah malam tiba, Kun Hiap tak dapat menahan kesabarannya lagi. Dia larikan kudanya kemuka dan berseru, “Yah, mungkin paman masih mencari aku. 

Apakah aku tak perlu mencari dan memberitahu kepadanya?"

"Engkau ini anakku atau bukan? Kalau anakku, harus dengar kataku!” bentak Wi Ki Hu.

Mendengar kata2 yang begitu bengis dari ayahnya, Kun Hiap kaget ketakutan. Dia sampai kucurkan keringat dingin.

"Tentu saja aku ini putera ayah. Baik, yah, aku tak berani bicara lagi," katanya gopoh.

Wi Ki Hu menghela napas longgar seperti terlepas dari tindihan batu berat. Sedangkan Kun Hiap masih menganggap bahwa karena pengalamannya masih hijau, kemungkinan dia tak tahu bahwa persoalan yang tengah dihadapi itu menurut ayahnya memang sangat serius sekali. Tentulah. demi keselamatannya maka ayahnya sampai bersikap begitu bengis. Pikirnya, mana ada ayah yang hendak mencelakai anaknya. Dengan pemikiran itulah maka terpaksa dia diam saja dan hanya mengikuti perjalanan ayahnya yang dilakukan hampir non-stop itu.

Hari itu Kun Hiap benar2 letih sekali. Dia menelungkupkan tubuh, tidur diatas pelana kudanya. Untung kuda putih itu memang seekor kuda yang luar basa. Walaupun tengah lari kencang dan kadang berloncatan tetapi jalannya masih tetap stabil, sehingga Kun Hiap tak sampai terlempar jatuh.

Karena lelahnya maka sekali tidur, Kun Hiap tidur sampai beberapa jam. Waktu bangun di sebelah muka dia sudah melihat tembok tinggi dari rumahnya, Ah, ia menghela napas.

Selama itu ayahnya selalu melarangnya untuk bermain-main jauh dari rumah. Paling jauh hanya sepuluhan li. Bahwa kali ini dia telah mendapat izin untuk ikut kepada pamannya mengantarkan barang antaran, benar2 suatu kegembiraan besar. Tetapi baru di tengah perjalanan, telah terjadi peristiwa yang aneh dan tahu2 ayahnya telah menyusul dan mengajaknya pulang lagi. Tak tahu dia, kapan lagi dia akan dibert izin untuk keluar rumah pula.

Beberapa saat kamudian kedua ekor kuda itu sudah memasuki perkampungan. Di sepanjang jalan setiap orang yang berjumpa tentu memberi hormat kepada Wi Ki Hu. Tetapi Wi Ki Hu tak mengacuhkan dan tetap melarikan kudanya.

Sikap Wi Ki Hu itu membuat orang heran. Bahkan ada sementara orang yang menjebikan muka kepada Kun Hiap, mengira pemuda itu tentu melakukan kesalahan sehingga membuat ayahnya marah. 

Kun Hiap hanya dapat gelengkan kepala kepada mereka dan tak berani berkata apa2.

Tak berapa lama merekapun masuk kedalam rumah, langsung menuju ke bangunan yang menjadi tempat tinggal Kun Hiap.

"Masuk! perintah Wi Ki Hu, "Tanpa mendapat izinku, jangan berani2 meninggalkan tempat tinggalmu."

Kun Hiap terkejut sekali ," Yah, aku tak boleh keluar? Engkau ..... engkau...” Tĕtapi Wi Ki Hu sudah berputar tubuh dan berseru pula, "Selangkahpun jangan

engkau keluar dari kamarmu. Akan kusuruh orang menjagamu. Kalau engkau

berani melanggar, jangan salahkan kalau aku bertindak keras."

Kun Hiap makin merasa janggal. Itu kan bukan nada kata2 seorang ayah terhadap anaknya. Dia tahu perangai ayahnya yang keras dalam memegang kata2. Terpaksa Kun Hiap hanya tertawa kecut, serunya," Yah, aku ingin tahu mengapa ayah memerintahkan begini?”

Wi Ki Hu menghela napas," Pelahan-lahan engkau tentu akan mengerti sendiri. Hiap ji, kelak engkau tentu tahu juga, Engkau harus dengar kataku. Coba katakan, apakah aku sampai hati akan mencelakai engkau?"

Saat itu Kun Hiap memandang Wi Ki Hiap. Baru pertama kali itu sejak dia dewasa, dia mendapatkan sikap ayahnya bukan lagi seperti seorang pendekar besar yang termasyhur, melainkan hanya seperti seorang tua yang sudah lunglai semangatnya.

"Yah, sudah tentu engkau takkan mencelakai aku. Aku patuh pada perintahmu," katanya.

Wi Ki Hu menepuk bahu anakmuda itu. Mulut hendak mengatakan sesuatu, tetapi tak dapat mengeluarkan kata. Dia hanya menghela napas panjang, berputar tubuh terus melangkah keluar.

Kun Hiap mengiring kepergian ayahnya dengan memandang bayang2 punggungnya sampai beberapa saat. Setelah ayahnya lenyap, barulah dia menghela napas dan terus masuk.

Setelah duduk beberapa saat barulah dia menyuruh bujang untuk menyediakan makanan. Tetapi setelah hidangan disediakan, dia tak punya selera makan dan terus baringkan diri diatas pembaringan. Karena menempuh perjalanan nonstop selama beberapa hari, begitu berbaring dia terus jatuh pulas. 

Entah sudah tidur berapa jam, hanya waktu dia membuka mata dia merasa didepan ranjangnya seperti terdapat orang yang berdiri. Tetapi dia tak mengacuhkan. Pikirnya, toh dia berada dalam rumahnya sendiri, bukan di dunia persilatan maka tak akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Maka dia menggeliat dan membalikkan tubuh, terus hendak tidur lagi.

Tetapi pada saat hendak menggeliatkan tubuh, tiba2 dia merasa dan melihat jelas bahwa yang berdiri didepan ranjangnya itu seorang gadis. Kun Hiap terkesiap. Ah, mungkin pandang matanya masih kabur karena ngantuk.

Ayahnya memang memanjakannya dengan ketat sekali. Dia  diberi  tempat sebuah bangunan tersendiri dengan dua orang bujang pelayan. Tiada seorang  luar yang diperbolehkan masuk. Maka tak mungkin ada seorang gadis tak dikenal dapat menyelundup masuk kesitu.

Dengan keyakinan itu tanpa berpaling tubuh untuk melihat dengan jelas, Kun Hiap hanya mendesuh, "Uh, jangan ganggu aku, aku mau tidur lagi!

Baru dia mendesuh begitu dengan suara parau gadis itu berkata, "Can kongcu, aku memberanikan diri lancang mengunjungi kemari, apakah engkau tidak marah?"

Hampir Kun Hiap melonjak kaget. Buru2 dia melenting duduk. Tampak gadis di depan ranjang itu menundukkan kepala, pipinya bersemu merah karena tersipu- sipu. Kun Hiap terkejut. Gadis itu bukan Hui Yan melainkan kakaknya yang nomor dua.

"Engkau " Kun Hiap tak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia hendak

berkata, “engkau mengapa kemari?” Tetapi sesaat dia ingin berkata, ‘perlu apa engkau kemari?’ Tetapi ternyata hanya kata-kata engkau saja yang dapat keluar dan mulutnya, kemudian dilanjutkan untuk mempersilakan gadis itu duduk.

Gadis itu menurut. Dia duduk dengan tundukkan kepala tak berani memandang Kun Hiap

"Sebenarnya aku tak berani mengganggumu," katanya dengan berbisik, tetapi mamaku memaksa aku. Karena tak berdaya. terpaksa aku melakukan perintahnya, mencari engkau kemari."

"Ah, tak apa," kata Kun Hiap. "Apa yang engkau perlukan supaya kubantu. Katakan saja."'

Gadis itu baru berani mengangkat kepala memandang Kun Hiap, “Dimanakah sam-sumoayku? Apakah Can kongcu tahu?" 

Kun Hiap tertegun, "Dia?" Entah apakah masih berada di rumah keluarga Poa sana, ya?" kata Kun Hiap.

"Keluarga Poa?" gadis itu mengulang kaget.

"Ya Poa ceng Cay tayhiap," kata Kun Hiap. “Adikmu menyaru sebagai pemuda dan mengaku kalau sute dari Nyo Hwat ketua Hoa-san-pay lalu membawa aku kepada keluarga Poa. Karena dalam pembicaraan dia menyinggung perasaan tuan rumah, maka sekarang dia ditahan disana." ....

Gadis itu serentak berdiri dan menghela napas pelahan, "Ah, sam-sumoay memang suka cari onar. Terima kasih atas keterangan Can kongcu. Aku permisi pergi."

Habis berkata gadis itu terus melangkah ke pintu. "Nona Tian, tunggu,” tiba2 Kun Hiap berseru.

Nona itu hentikan langkah dan memandang Kun Hiap lalu tundukkan kepala dan berkata, "Can kongcu hendak memberi pesan apa lagi ?"

Kun Hiap kembali tertegun seperti kena pesona, kemudian baru berkata, "Nona Tian, aku masih belum tahu siapa nama nona ?"

Seketika sepasang pipi nona itu bertebar merah, katanya, "Aku aku bernama

Tian Hui Giok."

"Ah nama dan orangnya benar2 serasi sekali,” Kun Hiap memuji.

Wajah Hui Giok makin merah, Dia berputar tubuh dan ayunkan langkah menuju ke pintu. Kun Hiap buru2 menyusul, "Mengapa nona hendak buru2 pergi?”

Kembali Tian Hui G ok berhenti, Dalam hati sebenarnya dia memang segan pergi tetapi sebagai seorang gadis diapun malu kalau dilihat orang. .

Hati Kun Hiap berdebar keras. Dia hendak bicara apa2 lagi tetapi tak tahu apa yang harus dikatakan. Keduanya saling diam sampai beberapa jenak.

"Aku hendak pamit pergi," akhirnya Tian Hui Giok yang lebih dulu membuka mulut.

Kun Hiap tetap tak dapat mencari kata2 untuk mencegahnya. Dia kelabakan sendiri. Sekonyong-konyong dari jauh terdengar suara orang membentak dengan 

marah, "Hai, main2 apa kalian disini? Mana kongcu?”

Menyusul terdengar suara seorang bujang kecil menyahut, "Kongcu sedang tidur."

Celaka, pikir Kun Hiap, ayah datang. Mendengar itu Tian Hui Giok juga kaget, ''Kalau begitu aku harus cepat pergi."

"Jangan," cegah Kun Hiap, "kalau engkau keluar tentu akan dilihatnya. Lebih baik engkau bersembunyi dalam kamarku saja."

"Itu tidak pantas," bantah Tian Hui Giok, "kalau sampai ketahuan ayahmu, bukankah lebih runyam?"

Habis berkata gadis itu menunduk, pipi dan telinganyapun merah semua.

"Tetapi dia takkan lama disini, lekas engkau sembunyi ," desak Kun Hiap dan

tanpa disadari dia terus mencekal tangan si nona. Tetapi pada lain saat dia cepat2 lepaskan lagi. Dia menyadari kalau perbuatannya itu mungkin akan menimbuikan rasa kurang senang dari Tian Hui Giok karena Tian Hui Giok itu seorang gadis yang alim dan lemah lembut.

Diam2 Kun Hiap heran mengapa nona seperti Hui Giok menaruh perhatian besar kepadanya. Ah, diapun harus bersikap menghormat kepada nona itu.

Setelah melepaskan cekalannya, dia berkata, "Nona Tian. ayahku akan segera datang. Lebih baik engkau cepat bersembunyi saja."

Akhirnya Tian Hui Giok mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam kamar, bersembunyi di balik kelambu. Kun Hiap juga terus baringkan diri. Hatinya dat- dit-dut tak keruan, bukan karena takut ayahnya datang melainkan karena merasa bahwa tidur didekat seorang nona cantik yang begitu lemah lembut, memang menimbulkan perasaan gundah yang sukar dilukiskan.

Derap langkah Wi Ki Hu makin terdengar dekat. Ketika Kun Hiap mengintip, dilihatnya ayahnya memanggul kedua lengan, berjalan masuk dengan kepala menunduk. Wajahnya serius. Begitu masuk kedalam kamar, memandang Kun Hiap sejenak lalu tiba2 menghela napas pelahan dan terus duduk.

Kun Hiap bertambah heran. Dulu setiap kali datang tentulah ayahnya hendak mengontrol latihannya silat. Selamanya tak pernah duduk dalam kamarnya. Tetapi mengapa sekarang berobah sikapnya ?

Kun Hiap pun2 melanjutkan tidur. Beberapa saat kemudian terdengar Wi Ki Hu 

berkata, "Hiap-ji, mengapa engkau tak ganti pakaian terus tidur ?"

Pelahan-lahan Kun Hiap membuka mata, sahutnya, "Aku lupa dan karena lelah sekali terus tertidur. Yah, kapan engkau datang?"

"O, baru saja," sahut Wi Ki Hu. Memandang sejenak pada Kun Hiap, tiba2 dia menghela napas lagi terus berbangkit dan berjalan mondar mandir.

Melihat ayahnya masih belum pergi, mengingat Tian Hui Giok yang masih bersembunyi di belakang kelambu, hati Kun Hiap berdetak keras sekali. Ayahnya seorang yang pegang keras pada atutan. Kalau ketahuan dirinya menyembunyikan seorang gadis cantik dalam kamar, tentulah ayahnya akan marah besar.

"Yah, ada soal apa?” akhirnya ia bertanya. Wi Ki Hu terkesiap, sahutnya, “Tak apa2. Kita ayah anak berdua ini memang biasanya jarang berkumpul sehingga seperti ada jurang pemisah. Itulah sebabnya maka aku duduk disini. Hiap-ji, mungkin engkau menganggap aku ini terlalu tak kenal perasaan, bukankah begitu ?"

Mendengar itu diam2 Kun Hiap mengeluh. Selama ini tak pernah ayahnya membicarakan soal2 semacam itu. Tetapi mengapa sekarang, justru dalam kamarnya bersembunyi seorang gadis, ayahnya malah bicara panjang lebar ?

"Yah, mana aku berani menyalahkan ayah?” sahut Kun Hiap.

Wi Ki Hu menghela napas, "Ah, kalau begitu baiklah. Engkau harus tahu, bahwa aku mempunyai beberapa hal yang sulit kukatakan.

Baru berkata begitu, tiba2 Wi Ki Hu hentikan ucapannya. Wajahnya meringis seperti merasa telah kelepasan bicara.

"Ya, ya," Kun Hiap tak sempat memperhatikan perobahan muka ayahnya, melainkan mengiakan saja.

Karena perasaannya sedang terhimpit persoolan yang berat maka Wi Ki Hu sendiri juga tak memperhatikan ucapan Kun Hiap yang gugup itu. Dia tertawa terus maju menghampiri.

Kun Hiap terkejut dan hendak bangun tetapi tahu2 Wi Ki Hu sudah berada di hadapannya, mengulurkan tangan memegang bahu Kun Hiap. Saat itu Wi Ki Hu sedang menghadap ke arah kelambu, dekat sekali dengan tempat Tian Hui Giok. Wi Ki Hu berkepandaian tinggi. Asal Hui Giok mengeluarkan suara sedikit saja atau beringsut pelahan, tentu tetap akan diketahui Wi Ki Hu. 

Dua kali Wi Ki Hu menepuk bahu Kun Hiap seraya berkata, "Hiap-ji, kepandaianmu memang masih dangkal Apakah engkau mau berjanji kepada  ayah bahwa selama 10 tahun engkau takkan keluar dulu dan akan berlatih keras belajar ilmu-silat?"

Kun Hiap tertegun, katanya, "Yah, aku ingin tahu apa sebab ĕngkau

menginginkan begitu?"

Dunia persilatan itu penuh bahaya," kata Wi Ki Hu, "kepandaianmu masih cetek, kalau sampai terjadi sesuatu padamu, apakah mamamu takkan berduka? Apakah aku tega melihat hal semacam itu?"

Kalau Wi Ki Hu menyuruh lain soal, agar ayahnya cepat2 pergi dari kamar, tentulah Kun Hiap segera akan mengiakan saja. Tetapi kalau disuruh menyetujui perintah ayahnya dimana dia harus menyekap diri selama 10 tahun sudah tentu Kun Hiap membuat reaksi juga, "Biarlah aku menghadap mama. Kutahu beliau tentu akan mengizinkan aku keluar ke dunia persilatan, Seperti kali ini aku diperkenankan ikut keluar bersama paman Wi, apakah juga bukan atas persetujuan mama?”

"Wajah Wi Ki Hu mengerut gelap, dia menyurut mundur dan berseru, "Jadi engkau tak mau mendengar kata-kataku?"

Entah dari mana mendapat keberanian. Atau mungkin karena malu hati terhadap Tian Hui Giok yang berada dibalik kelambu, atau memang karena tak mau  disekap selama 10 tahun tiba2 Kun Hiap mengangkat kepala dan berseru, "Yah, apapun perintahmu, aku pasti akan menurut. Tetapi hanya kali ini terpaksa aku tak dapat menurut. Karena sudah belajar silat, sudah tentu aku harus mengamalkan untuk kebaikan dan keadilan. Mengapa aku harus disekap dalam rumah saja? Apakah itu bukan berarti mematikan semangatku?''

Seketika wajah Wi Ki Hu berobah gelap.

"Aku sudah mengatakan begitu, masa akan kujilat kembali? Sepuluh tahun kemudian, engkau tentu akan maju hebat, tidak seperti keadaan se karang ini."

Tetapi Kun Hiap juga ngotot sehingga wajahnya pucat.. "'Yah, apakah engkau juga baru terjun ke dunia persilatan pada usia tigapuluhan tahun?"

“Ngaco!'' bentak Wi Ki Hu. Tangannya serentak diangkat. Walaupun belum dipukulkan tapi karena dia memiliki tenaga-dalam yang he-bat maka setiup arus tenaga menghambur keluar sehingga kelambu sampai bergetar keras. 

Celaka, keluh Kun Hiap. Dia terus hendak menggunakan taktik untuk pura2 meluluskan dulu. Besok gampang kalau mau dirobah lagi. Yang penting ayahnva supaya segera meninggalkan kamar itu.

Baru dia hendak mengucap kata tiba2 dilihatnya ayahnya sedang memperhatikan ke arah kelambu dengan wajah yang terkejut heran. Dan sebetum tahu apa   yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan Tian Hui Giok, sekonyong- konyong ayahnya sudah menggeram marah, "Siapa yang bersembunyi di belakang kelambu itu?"

"Baik, yah, aku setuju melakukan perintahmu tadi. Eh, mana ada orang di belakang kelambu?” dengan gugup Kun Hiap terus berseru. Untuk menekan jangan sampai ayahnya mengetahui persembunyian Hui Giok.

Wi Ki Hu menamparkan tangan sehingga Kun Hiap terlempar jatuh sampai beberapa langkah lalu tutukkan jari tengah ke muka, cret . . . searus angin tajam melanda ke muka dan bum terdengar letupan keras disusul dinding tembok

yang amblong.

Sudah tentu Wi Ki Hu sendiri juga terkejut. Dia merasa kalau tenaga-dalamnya belum mencapai tataran sesakti itu. Tentulah orang dibalik kelambu yang meminjam tenaga tutukan jarinya tadi untuk digempurkan pada dinding tembok. Begitu dinding tembok jebol, orang itupun terus melarikan diri.

Dengan bersuit nyaring, Wi Ki Hu terus melesat lari. Begitu menerobos dari tembok yang jebol tadi dia sudah melihat sesosok bayangan tubuh memberosot keluar dari pintu kamar samping. Dan bayangan itu jelas seorang gadis.

“Berhenti!” Wi Ki Hu makin marah sekali.

Tetapi gadis itu terlampau cepat sekali gerakannya. Pada saat Wi Ki Hu menggembor, gadis itu sudah melesat tiga tombak jauhnya.

Tiba2 Wi Ki Hu tertawa gelak-2.

"Ha, ha. ha, kalau aku sampai membiarkan engkau mampu lolos, bagaimana aku masih punya muka untuk berdiri di dunia persilatan?" serunya.

Segera dia gerakkan kedua tangan dan bagai seekor burung aneh, tubuhnya terangkat diatas tanah dan terbanglah dia meluncur ke depan.

Tian Hui Giok memang hebat juga ilmu ginkangnya. Tetapi betapapun juga tetap kalah sakti dengan Wi Ki Hu. Dalam beberapa kejap saja Wi Ki Hu sudah hampir dapat menyusulnya. 
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kuda Besi (Kuda Hitam dari Istana Biru) Jilid 04"

Post a Comment

close