Kitab Pusaka Jilid 31

Mode Malam
Jilid : 31 

SEMENTARA ITU SI NONA TELAH melompat kesamping arena, sambil bercekak pinggang ia awasi Suma Thian yu dengan mata melotot besar.

Sementara Suma Thian yu masih terkejut bercampur keheranan, diiringi dua kali bentakan keras, tahu-tahu ditengah arena telah bertambah dengan dua manusia aneh.

Kedua orang itu mempunyai perawakan yang saling

bertolak belakang, yang disebelah kiri berperawakan jangkung lagi ceking, usianya diantara empat puluh tahunan hanya saja saking kurusnya tubuhnya tinggal kulit pembukus tulang.

Sebaliknya orang yang berada disebelah kanan berperawakan cebol lagi gemuk, mukanya bulat seperti rembulan, tubuhnya gemuk seperti gentong, sehingga mirip sekali dengan seekor babi yang siap disembelih, diapun berusia diantara empat puluhan.

Begitu melihat munculnya ke dua orang itu si nona tadi segera berteriak:

"Orang ini jahat sekali dia telah membunuh A hoa ku, paman Ko kau harus membalaskan dendam bagiku"

Ternyata lelaki setengah umur yang berperawakan jangkung dan ceking itu bernama Ko Lip Kun, orang menyebutnya si monyet sakti berlengan panjang.

Sedang si lelaki cebol lagi gemuk seperti babi itu bernama Si Tay Kong dengan julukan panglima langit penegak bumi.

Monyet sakti berlengan panjang Ko Lip Kau nampak agak terkejut ketika melihat bangkai ayam tersebut, maka dengan wajah penuh amarah ia menegur:

"Engkoh cilik, inikah hasil perbuatanmu?" Suma Thiau yu manggut-manggut, jawabnya:

"Yaa, akulah yang membunuh ayam alas itu, maklumlah aku sedang kelaparan, aku tidak tahu kalau ayam alas itu sebenarnya binatang kesayangan nona ini"

Monyet sakti berlengan panjang kembali mendengus dingin. "Engkoh cilik, kau telah membuat gara-gara yang besar, nona itu adalah putri kesayangan Kokcu kami, dan bila kau cuma menganggap ayam itu cuma seekor ayam alas saja maka dugaanmu itu keliru besar, kau tahu binatang tersebut adalah ayam berbulu emas sejenis unggas yang amat langka didunia saat ini!"

Sekarang Suma Thian yu baru sadar bahwa ia telah melakukan suatu perbuatan yang amat salah, dari cerita  Paman Wan nya dulu ia pernah mendengar kalau ayam  berbulu emas termasuk jenis unggas yang langka, tak  disangka sama sekali kalau ayam alas yang terbunuh sekarang ini sesungguhnya unggas yang berbulu emas.

Seandainya kejadian ini berlangsung di siang hari, mungkin ia tak akan bertindak seceroboh ini, apa mau dikata malam begitu gelap, ia menjadi menyesal sekali atas terjadinya peristiwa ini, maka Suma Thian segera menjura sambil minta maaf, katanya:

"Aku menyesal sekali telah membunuh ayam berbulu emas milik kalian itu, apapun yang kalian minta untuk mengganti kerugian itu tentu kupenuhi"

"Engkoh cilik sekarang kau tak usah membicarakan itu,  yang penting turutlah aku untuk menemui kokcu kami, segala sesuatunya akan diputuskan kokcu kami nanti"

Mendengar perkataan ini Suma Thian yu menjadi sangat tercengang, tanyanya kemudian:

"Tolong tanya lembah apakah ini dan siapakah kokcunya?"

Monyet sakti berlengan panjang Ko LiP Kun menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Maaf aku tak dapat memberitahukan persoalan ini kepadamu, mari kita berangkat!"

Ia segera mempersilahkan Suma Thian yu untuk berangkat mengikuti di belakang panglima langit penegak bumi Si Yay Kong, sementara Ko Lip Kun mengikuti di belakang anak muda tersebut.

Dalam keadaan demikian Suma Thian yu menolak permintaan mereka niscaya akan terjadi suatu pertarungan yang amat seru, padahal pemuda itu tak ingin berbuat demikian.

Dengan menelusuri dinding tebing yang amat curam mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya panglima langit penegak bumi menghentikan langkahnya dan berpekik nyaring.

Bersama dengan bergemanya pekikan tersebut Suma Thian yu melihat diturunkannya sebuah keranjang bambu dari puncak tebing tersebut.

Keranjang bambu itu diikat dengan seutas tali yang amat besar.

"Silahkan naik, engkoh cilik" kata monyet sakti berlengan panjang Ko Lip Kun, "kemudian kau akan disambut orang lain disana nanti"

Kembali Suma Thian yu menurut dan segera duduk dalam keranjang itu tanpa banyak cing cong, ketika panglima langit penegak bumi berpekik lagi, keranjang bambu itu segera diangkat naik,

keranjang bambu itu hanya muat satu orang saja, Suma Thian yu merasa hatinya berdebar keras, kemudian pikirnya dan dengan perasaan tak tenang:

"Entah siapakah kelompok manusia-manusia ini, kalau dilihat dari gerak-geriknya aneh sekali, jangan-jangan mereka adalah sekelompok penyamun?"

Masih ada satu hal lagi yang membuatnya keheranan, yaitu apakah orang-orang itu naik turun dengan menggunakan keranjang bambu semuanya tadi dengan nyata, nona itu muncul dari suatu tempat kegelapan dari bawah tebing, demikian pula dengan

Si Lip Kun serta Si Tay Kong, mustahil mereka pun diturunkan dari atas tebing dengan keranjang bambu, tibatiba satu ingatan melintas didalam benaknya.

"Aah benar, dibawah tebing sana pasti ada tempat rahasia yang menghubungkan lorong tersebut dengan puncak bukit..." Berpikir sampai disitu, Suma Thian yu segera menunduk kebawah, benar juga ketiga orang lawannya sudah tidak nampak dikaki tebing itu, hal ini membuatnya semakin tegang.

Keranjang bambu itu ditarik naik dengan gerakan yang amat lamban ibarat siput sedang merambat pohon, pemuda itu tak dapat membayangkan apa akibatnya andaikata tali keranjang itu tiba-tiba diputuskan oleh lawan.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya keranjang itu tiba juga di puncak bukit itu, ternyata tempat itu berupa sebuah tanah lapang yang luas, sepasukan lelaki bergolok dan bertombak telah siap berjajar-jajar disitu.

Tiba-tiba muncul lelaki setengah umur yang berjalan kehadapannya, lalu berkata:

"Atas perintah kokcu kau disuruh mengikuti kami!"

Bagaikan seorang tawanan tanpa perlawanan, Suma Thian yu mengikuti rombongan itu menuju kesudut tebing yang lain.

Sedangkan rombongan jago jago bergolok tadi dengan terbagi menjadi dua baris mengawal dari belakang.

Dalam perjalanan itulah Suma Thian yu berpikir: "Yaa benar, mereka tentu sekelompok penyamun,

sedangkan yang dimaksud sebagai kokcu tentulah kepala perampok, hmmm. begitu pun ada baiknya juga, bila apa yang ku duga memang benar, pasti akan kusapu mereka hingga lenyap dari muka bumi!"

Setelah berjalan kaki kemudian, mendadak lelaki itu membalikkan badan dan berkata pada Suma Thian yu:

"Maafkan kekasaran kami sesuai dengan peraturan di sini, setiap orang yang akan memasuki lembah, matanya harus ditutup dengan kain hitam"

Sambil berkata ia mengeluarkan selembar kain hitam dan siap di tutupkan kewajah anak muda tersebut.

Suma Thian yu segera mendongakan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, katanya:

"Soal ini tak perlu kau kuatirkan, aku tak akan membocorkan rahasia kalian, jadi kalian tak perlu pula menutupi sepasang mataku!" Lelaki kekar itu segera menarik muka seraya membentak: "Peratuaran tetap peraturan, apalagi aku pun tak mungkin mengambilkan keputusan, jadi aku harap kau mau menuruti

perkataanku ini"

"Tidak bisa!" bentak Suma Thian yu peruh amarah.

Ia tahu apabila sepasang matanya ditutup kain hitam oleh lawan berarti keselamatan jiwanya telah terjatuh ketangan musuh.

Tentu saja ia tak ingin mempergunakan nyawanya sebagai barang permainan.

"Tidak maupun kau harus mau!" bentak lelaki kekar itu sambil bersiap-siap hendak menutupi mata Suma Thian yu dengan kain hitam. Dengan cekatan Suma Thian yu berkelit kesamping lalu teriaknya penuh amarah:

"Kau jangan turun tangan semaumu sendiri, bila kau tak tahu aturan dan nekad terus aku akan bertindak keji kepadamu"

Baru saja ia selesai berkata, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara dengusan dingin yang amat menyeramkan. Suara itu begitu menyeramkan hingga mem buat bulu kuduk semua orang berdiri.

Suma Thian yu menjadi tertegun setelah mendengar suara tertawa yang mengerikan itu, dengan cepat dia berpaling namun apa yang kemudian terlihat membuat pemuda tersebut menghembuskan napas dingin.

Ternyata di belakang tubuhnya telah muncul seorang manusia dan seekor binatang, orang itu berperawakan setinggi lima depa rambutnya panjang selutut, kepalanya amat besar dan mengenakan topi lebar, usianya diantara delapan puluh tahunan, matanya yang berkilat kilat menandakan kalau dia adalah seorang jago lihay yang berkepandaian tinggi.

Sedangkan disamping kakek itu berdiri seekor gorilla yang tinggi besar dan kekar, seluruh tubuhnya berbulu hitam, terutama sepasang matanya yang terlihat dibalik kegelapan, persis seperti dua bola lampu yang bersinar tajam. Ketika kawanan lelaki yang mengurung disekeiiling Suma Thian yu melihat kemunculan orang tersebut, serentak mereka mengundurkan diri selangkah ke belakang, kemudian menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tak berani berpaling lagi.

Dengan langkah pelan kakek itu berjalan menuju kehadapan Suma Thian yu, kemudian ujarnya:

"Bocah muda, lembah ini disebut Lembah tidak kembali

(Put kui kok). Semenjak delapan puluh tahun berselang belum pernah ada seorang manusia pun yang bisa keluar dari lembah ini dalam keadaan selamat, kini kau sudah datang kemari, berarti bagimu hanya tersedia dua jalan saja untuk dipilih,   satu adalah jalan hidup sedangkan yang lain adalah jalan mati silahkan kau memilihnya sendiri!"

Biarpun kakek itu sudah berusia lanjut, ternyata setiap  patah kata tersebut dapat diutarakan dengan suara yang amat keras dan nyaring.

Ketika kakek itu sudah menyelesaikan perkataannya, Suma Thian yu bertanya:

"Bagaimana aku harus menempuh bila jalan kehidupan yang kupilih..?"

Kakek itu segera tertawa tergelak.

"Haah...haah... haah... ternyata orang di dunia ini mempunyai jalan pemikiran yang sama, hanya jalan kehidupan yang selalu di pilihnya, kalau begini terus keadaannya maka suatu ketika lembah Put kui kok ini pasti akan menjadi penuh juga!"

Suma Tnian yu menjadi kebingungan dan berdiri dengan wajah tercengang dan penuh tanda tanya, untuk beberapa saat dia terbungkam dalam seribu bahasa.

Dengan sorot mata yang tajam kakek itu mengawasi kembali wajah hingga kaki anak muda tersebut, kemudian sahutnya:

"Apabila ingin hidup, maka janganlah memberikan perlawanan bila sepasang mata mu ditutup dengan kain hitam nanti" Tiba-tiba muncul rasa ingin tahunya didalam hati, Suma Thian yu segera bertanya lebih jauh:

"Bagaimana seandainya membangkang?" "Maka kau bakal mampus!"

"Seandainya orang itu memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sehingga sukar untuk dikuasai, bagaimana jadinya?"

"Apakah kau yakin bisa meloloskan diri dari lembah Put kui kok ini?"

"Tidak, aku tidak mampu, aku hanya bertanya seandainya terdapat manusia macam begini?"

Mendengar perkataan tersebut, kembali si kakek tertawa terbahak-bahak.

"Haah... haah... haah... kau tidak usah memikirkan tentang orang lain, cukup dibiarkan berdasarkan kemampuanmu sendiri, apakah kau mempunyai keyakinan akan berhasil?"

"Bagaimana andainya manusia sebangsa pendekar berkepandaian seperti dewa?" ngerocos Suma Thian yu terus.

"Hmm, kata-kata yang tidak berbobot lebih baik tak usah diucapkan, ayo segera tutup mulutmu dengan kain"

Perkataan dari kakek ini penuh berwibawa, membuat Suma Thian yu tidak membang kang dan tak berani membangkang lagi.

Sudah barang tentu Suma Thian ya tidak akan benar-benar takut kepadanya, namun berbicara tentang keadaan yang terbenrang didepan mata sekarang, biarpun kau memiliki kepandaian yang luar biasa pun jangan harap bisa meninggalkan tebing tersebut dengan begitu saja.

Sebagai seorang lelaki pintar yang pandai menilai keadaan, secara diam-diam Suma Thian yu menghimpun tenaga untuk bersiap siaga, sekalipun diluarnya dia tetap menunduk padahal begitu ada kesempatan baik dia akan berusaha untuk meloloskan diri.

Tampaknya kakek itu mempunyai sorot mata yang amat tajam, dia seperti sudah mengetahui kalau Suma Thian yu mempunyai niat untuk melarikan diri bila kesempatan baik ada, oleh sebab itulah disaat sepasang matanya ditutup dengan kain hitam, dia segera melancarkan sentilan dari kejau han untuk menotok jalan darah tidurnya.

Menanti Suma Thian yu merasakan datangnya sergapan tersebut dan berusaha untuk mengerahkan tenaganya melakukan perlawanan keadaan sudah terlambat, tahu-tahu badannya menjadi kaku dan hilangkah kesadarannya.

Entah berapa lama sudah lewat, menanti dia membuka matanya kembali, empat penjuru disekeliling tempat itu sudah dikurung oleh busu-busu berpakaian ringkas yang membawa senjata.

Dengan perasaan tercenggang bercampur kaget, Suma  Thian yu segera melompat bangun dan memeriksa keadaan sekitar situ, ternyata dia telah berada ditengah sebuah ruangan yang luas dan lepas, dikursi utama duduklah seorang kakek berambut putih, di sebebh kanannya duduk seorang nenek, agaknya nenek itu adalah istrinya.

Duduk disebelah kiri adalah si nona yang dijumpai di muka lembah tadi.

Suuia Thian yu memandang lebih jauh, nonyet sakti berlengen panjang Ko Lip kun serta panglima langit penegak bumi Si Tay Kong terlihat pula disana, hanya si kakek aneh dengan gorilanya saja yang tidak nampak batang hidungnya.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar kakek berambut putih yang duduk dikursi utama itu menegur dengan suara yang lembut lagi amat ramah:

"Bocah cilik, silahkan berdiri"

Suma Thian yu menurut dan segera bangkit berdiri, kemudian dengan suara terce ngang tanyanya:

“Aku berada dimana sekarang?"

"Tempat ini adalah lembah Put kui kok" kata kakek tersebut samoil tersenyum, "sobat cilik sangat beruntung bisa berpesiar ke nirwana seperti ini, boleh dibilang ke semuanya ini merupakan rejekimu, apakah kau merasa tempat ini sangat menyenangkan?"

Sama Thian yu menatap kakek tersebut lekat-lekat, kemudian jawabnya ketus: "Sedikitpun tidak menyenangkan, aku rasa kau pasti kokcu dari lembah ini bukan?"

"Benar, tolong tanya sobat mengapa kau menganggap tempat ini tidak menyenang kan?"

"Sebab ada orang menutupi mataku kemudian menotok  jalan darah tidurku, setelah itu aku baru digusur kemari, perbuatan semacam ini sangat memuakkan dan menjemukan, darimana bisa dibilang amat menye nangkan ?"

Kokcu tersebut kembali dibuat tertegun tapi kemudian ia berpaling ke arah si nona yang berada disebelah kirinya dan bertanya:

"Benarkah telah terjadi peristiwa semacam ini? Ide dari siapakah itu?"

Nona tersebut segera menggeleng.

"Bukankah ayah sendiri yang memenrintahkan begitu, barang siapa yang hendak memasuki lembah, maka dia wajib ditutupi matanya dengan kain hitam sebelum diantar masuk"

"Oya.." Kokcu tua itu seperti baru teringat dengan perintahnya, dia segera berpaling kembali ke arah Suma Thian yu sambil katanya:

"Ditengah malam buta begini sobat cilik memasuki lembah kami sebetulnya sedang mengembankan tugas rahasia apa?"

"Tidak, aku tidak lagi melaksanakan tugas rahasia apa pun, aku benar-benar terjatuh dari atas puncak tebing dan pada hekekatnya aku tidak mengetahui kalau tempat ini bernama lembah Put kui kok"

Kokcu tua itu segera menyimpitkan sepasang mata, kemudian tertawa dingin:

"Hmmm.... setiap sobat yang sampai di tempat ini tak seorangpun yang bukan terjatuh dari puncak tebing, benarkah kejadian yang begitu kebetulan bisa terjadi secara berulangulang? Sobat cilik, jangan-jangan kau memang mempunyai misi rahasia tertentu?"

Suma Thian yu segera tertawa terbahak-bahak: "Haaahh....haaahh.... haaahh.... mau percaya atau tidak

terserah kepadamu, yang jelas aku bukan datang karena sedang menjalankan suatu misi rahasia tertentu, apa bila kau memang ingin membunuhku, silahkan saja dilaksanakan dengan segera!"

Kokcu tua benar-benar merasa terkejut bercampur keheraran, tanpa terasa dia mengamati Suma Thian yu berapa kejap lagi kemudian baru katanya:

"Kau memang sedikit rada berbeda dengan orang lain, yakin kau sama sekali tidak takut mati, apabila kau tidak bersedia mengungkapkan alasan kedatanganmu kemari, terpaksa selembar nyawamu harus kau tinggalkan disini!"

Dengan pandangan dingin Suma Thian yu melirik sekejap kearah kokcu tersebut, kemudian katanya:

"Sesuai dengan nama lembahmu, aku sudah bertekad tak akan kembali lagi ke dunia ramai, kaupun tidak usah banyak bicara lagi, aku sudah pasrah kepada nasib, cuma bila menginginkan nyawaku maka kalian harus membayar dengan mahal"

Sikap dari Suma Thian yu yang kian lama kian bertambah keras ini segera menimbulkan perasaan kaget dan gusar bagi para hadirin lainnya.

Mendadak kokcu tua itu melompat bangun dari tempat duduknya, lalu sambil menuding kemuka bentaknya penuh amarah:

"Bekuk bajingan itu!"

Suara bentakannya amat keras bagaikan guntur yang menyambar di siang hari bolong.

Bersamaan dengan diturunkannya perintah tersebut, dua orang lelaki kekar segera maju ke depan dan menyeret tubuh Suma Thian yu dari sisi kiri dan kanan.

Melihat kejadian tersebut, Suma Thian yu tertawa dingin berulang kali, ditunggunya sampai kedua orang itu mendekatinya, kemudian sepasang telapak tangannya dilontarkan bersama dengan menghimpun tenaga sebesar enam bagian.

Terhajar oleh serangan yang maha dahsyat tersebut, tibatiba saja terdengar dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan, belum lagi dua orang lelaki tersebut sempat me nyentuh ujung baju lawannya, mereka sudah mencelat kebelakang dan roboh binasa.

Atas terjadinya peristiwa tersebut, semua orang menjadi amat terperanjat.

Suma Thian yu segera mendongakkan kepalanya dan berpekik panjang, lalu dengan sepasang mata berapi-api ditatapnya kokcu tua itu tanpa berkedip, kemudian serunya:

"Inilah contoh yang paling baik untukmu, bila kau mendesak diriku lagi, jangan salahkan bila darah segar akan berceceran diseluruh arena ini!"

Tampaknya kokcu tua itu tidak dibuat gentar karena kematian kedua orang anak buahnya, malahan dengan sikap yang amat tenang dia berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh:

"Heeehh...heeehh... Suatu tindakan yang amat bagus, suatu sikap yang tegas, dengan demikian akupun tidak usah merasa rikuh terhadap mendiang guruku lagi. Pengawal, penggal kepala anjing keparat ini!"

Perkataannya seperti perintah dari seorang kaisar saja membuat semua orang tak berani membangkang.

Atas perintah tersebut, monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun dan panglima langit penegak bumi Si Tay kong segera turun kedalam arena, disusul kemudian lima orang lelaki yang berada dikedua belah sisi arena.

Suma Thian yu masih tetap berdiri dengan senyuman dikulum, pada hakekatnya tak seorangpun diantara mereka yang dipandang sebelah mata olehnya, malah katanya dengan suara hambar:

"Tempat ini terlampau sempit, tidak leluasa untuk bertarung, begini saja, bagaimana kalau kita langsungkan pertarungan di luar sana?"

Monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun segera menyetujui dan melompat ke luar lebih dulu dari  ruangan.

Kelima orang lelaki lainnya segera mengikuti dibelakangnya, hanya panglima langit penegak bumi Si Tay kong seorang yang mengawasi musuhnya tanpa berkedip. Dengan sikap yang santai dan tenang Suma Thian yu

pelan-pelan keluar dari dalam ruangan, dengan ketat panglima langit penegak bumi Si Tay kong mengikuti dibelakangnya, seakan-akan dia kuatir kalau pemuda itu berusaha melarikan diri.

Baru saja Suma Thian yu melangkah menuju ketengah arena, para jago segera mengurungnya ketat-ketat, hal ini membuatnya sangat mendongkol, segera sindirnya:

"Beginikah kemampuan dari orang-orang lemban Put kui kok? Bisanya hanya main keroyok dengan mengandalkan dengan jumlah yang banyak?"

Monyel sakti berlengan tunggal Ko Cip kun nampak tertegun kemudian gelagapan dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Mendadak dari belakang tubuhnya terdengar suara seseorang menyahut:

"Benar, kami memang merupakan manusia-manusia yang mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak"

Ketika Suma Thian yu melirik kesamping, ternyata orang yang mengucapkan perkataan tersebut tidak lain adalah si kokcu tua tersebut.

Kontan saja dia tertawa terbahak-bahak, kemudian berseru:

"Haaahh... haaah... kalau begitu hitung-hitung menambah pengetahuan Suma Thian yu kalau memang demikian, silahkan kalian maju semua bersama-sama!"

Baru selesai dia berkata, mendadak tampak lima macam senjata tajam dibacokkan bersama ketubuhnya.

Kelima macam senjata itu semuanya menyerang dengan mempergunakan jurus se rangan yang biasa, namun dilancarkan hampir bersamaan waktunya.

Suma Thian yu tertawa dingin tiada hentinya, tiba-tiba ia merendahkan tubuhnya lalu mencabut keluar pedang Kit hong kiam dari dalam sarung. Tampak cahaya tajam berkelebat lewat, dengan jurus burung hong pulang kesarang dia babat musuhnya dengan gencar,

sementara suara jeritan ngeri yang memilukan hati segera bergema memecahkan keheningan, diantara berkelebatnya cahaya pedang tersehat, seorang lelaki kekar tewas dengan kepala berpisah dari badan.

Berada didalam keadaan seperti ini, terpaksa Suma Thian yu harus bertindak keji, tubuhnya maju selangkah kedepan, lalu dengan siasat memancing harimau meninggalkan bukit, pedangnya seakan-akan membacok lelaki yang berada ditengah, siapa tahu di tengah jalan tiba-tiba saja gerakan

tubuhnya berubah, sambil membalikkan badan dia melepaskan sebuah bacokan ke seorang lelaki yang lain dengan jurus Burung hong menghadap sang surya.

Semestinya jurus serangan itu dipergunakan amat tepat dan hebat, sayang sekali pihak lawan telah membuat persiapan yang amat bagus, kembali barisannya berubah dan serangan dari Suma Thian yu itu mengenai sasaran yang kosong.

Monyet sakti berlengan panjang serta Panglima langit penegak bumi yang bertangan kosong belaka tidak langsung terjun ke arena, melainkan mereka selalu mencari peluang untuk melancarkan serangan dan menutup setiap kebocoran dan kelemahan yang ada.

Dengan demikian Suma Thian yu segera merasakan tenaga yang menekan dirinya kian lama kian bertambah berat,  apalagi dia seorang dikerubuti oleh empat jago lihay, keadaan benar-benar amat kritis dan berbahaya.

Pada mulanya Suma Thian yu melakukan perlawanan dengan mempergunakan ilmu Pedang Kit hong kiam hoat, namun selanjutnya dia pergunakan ilmu pedang tanpa nama berusaha mencari kemenangan.

Sayang sekali pihak musuh melancarkan serangan menurut barisan yang sudah diatur secara sempurna, hal ini membuat usaha Suma Thian yu sama sekali tidak mendatangkan hasil. Diantara mereka, Ko Lip kun dan Si Tay kong dua orang yang menyerang paling gencar dan berbahaya.

Jangan dilihat kedua orang itu sama sekali tidak bersenjata namun angin pukulan yang dilontarkan setajam sebatang pedang, ini semua membuat Suma Thian yu menjadi amat payah dan sama sekali tidak mampu memperlihatkan kebolehannya.

Ditengah berlangsungnya pertarungan yang amat sengit inilah, tiba-tiba terdengar suara pekikan panjang bergema membelah angkasa.

Suma Thian yu tertegun, sebab suara pekikan itu sudah jelas berasal dari kakek pendek diatas tebing tadi, apabila orang inipun turut terjun ke arena pertarungan, niscaya dia akan terkurung dan mati kutunya.

Sementara dia masih tertegun, sesosok bayangan hitam telah menerobos masuk kedalam dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat...

Belum sempat Suma Thian yu melihat pendatang itu  dengan jelas, tiba-tiba saja dia merasakan daya tekanan yang

menindih kepalanya bertambah berat, cepat-cepat Suma Thian yu mengayunkan tangan kirinya ke atas untuk mengurangi daya tekanan tersebut.

Sementara pedang ditangan kanannya di  putar menciptakan segulung kabut pedang yang segera membentuk selapis dinding kuat yang menghadang didepan dadanya.

Yang dikatakan orang: Betapa pun rapatnya suatu pertahanan, toh pasti ada yang lupa, begitu juga keadaan Suma Thian yu sekarang.

Kendatipun pertahanan tubuh bagian depannya amat ketat namun dia lupa dengan pertahanan belakang tubuhnya.

Tiba-tiba saja pinggangnya terasa kaku, segenap kekuatan yang dimilikinya punah dan tak ampun tubuhnya segera roboh terjerembab ke atas tanah.

Ternyata orang yang menyergapnya secara licik itu tak lain adalah kokcu tua berwajah mulia namun berhati licik dan keji itu... Sejak terjun ke arena, pertarungan besar maupun kecil sudah dialami oleh Suma Thian yu, paling tidak beratus pertarungan, akan tetapi belum pernah ia jumpai siasat yang begitu licik dan rapat seperti apa yang dialaminya sekarang.

Tampaknya kemunculan kakek cebol tadi tidak lebih hanya merupakan sebuah tipu muslihat saja dengan tujaan hendak memancing suma thian yu agar pecah perhatiannya.

Dengan kepandaian kokcu tua yang amat lihay, begitu melihat musuhnya melalaikan pertahanan bagian belakang tubuhnya, secara diam-diam lantas dia menyelinap ke belakang tubuhnya lalu menotok jalan darah anak muda tersebut.

ketika tubuhnya dikempit oleh kakek cebol tadi, suma Thian yu masih tetap ber otak jernih, hanya saja tubuhnya terasa begitu lemas seakan-akan sama sekali tak bertenaga.

terdengar kokcu tua itu tertawa dingin kemudian berseru: "Penggal kepala bajingan cilik ini, manusia semacam ini

hanya akan meninggalkan bencana saja bila dibiarkan tetap hidup dalam lembah kita"

Kakek cebol itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun, sambil mengempit tubuh Suma thian yu dia segera beranjak pergi dari situ.

Mendadak terdengar seseorang membentak keras: "Ay suhu, tunggu sebentar"

Rupanya kakek cebol itu she aY bernama Siang, orang menyebutnya makhluk pembalik awan, ketika mendengar putri kesayangan kokcunya menghardik, diapun bertanya dengan suara dingin:

"Keponakan masih ada urusan apa lagi?"

Gadis itu sama sekali tidak menggubris pertanyaan si makhluk pembalik awan ay siang, kepada ayahnya dia lantas berseru:

“Ayah, orang ini pasti akan berguna bila dibiarkan tetap hidup, menurut perdapat siauli, lebih baik disekap didalam penjara saja, lama-kelamaan sikapnya akan melunak dengan sendirinya" "Ay hiante, kita turuti saja perkataan siauli, coba kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya"

Oleh karena kokcunya sudah berkata demikian, maka kakek cebol itu tidak banyak bicara lagi, sambil membanting tubuh pemuda itu keatas tanah, umpatnya:

"Hitung-hitung kau si bocah keparat memang masih berumur panjang, rasakanlah hidup selama berapa hari lagi"

Dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Buru-buru Kokcu tua memerintahkan malaikat langit  penegak bumi Si Tay kong agar mengusir pergi Suma Thian yu dari situ.

Si Tay kong memang sangat membenci terhadap pemuda  ini karena barusan pemuda tersebut telah membunuh dua arang panglimanya, kini melihat ada kesempatan yang sangat baik untuk melampiaskan rasa bencinya, cepat-cepat dia mencengkeram tubuh Suma Thian yu lalu dibawa keluar ruangan.

Suma Thian yu yang tertotok jalan darahnya sama sekali tak berkutik, dalam keadaan demikian dia hanya bisa pasrahkan diri pada nasib.

Panglima langit penegak bumi Si Tay Kong membawa Suma thian yu menuju ke depan sebuah bukit, kemudian membantingnva keras-keras keatas tanah, setelah tertawa dingin katanya:

"Bocah keparat setelah terjatuh ke tangan toaya, berarti  kau telah bertemu dengan raja akhirat, membunuh orang barus membayar dengan nyawa, tentunya kau mengerti akan perkataan ini bukan? Nah sekarang toaya akan menyuruh kau merasakan dulu bagaimana enaknya nya bila otot dibetot dan tulang dikilir..."

Sambil berkata dia lantas mengangkat tangan-nya dan siap ditotokkan keatas jalan darah Ki tiong hiat di depan dada pemuda tersebut.

Seandainya torokan ini sampai dilakukan, niscaya Suma Thian yu akan tersiksa setengahmati, mau hidup tak bisa mau mati pun tak dapat....sepanjang hidup mungkin akan menderita terus.

Disaat totokan hampir mengena ditubuh pemuda itulah, mendadak dari tengah udara terdengar seseorang membentak nyaring:

"Si Tay kong, jangan tertindak kurang ajar!"

Cepat-cepat Si Tay kong menarik kembali tangannya seraya berpaling, ternyata kokcu hujin dan putri kesayangan kokcu nya telah berditi disitu sambil mengawasi perbuatannya dengan sorot mata yang tajam dan mengerikan hati.

Tak kuasa lagi peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya karena terperanjat, dengan cepat dia berkata dengan sikap hormat:

"Hujin, mengapa kau bisa berada disini?"

Nyonya kokcu itu sudah berusia tujuh puluh tahunan, rambutnya telah berubah semua, mukanya juga penuh berkerut, kini dengan muka yang dingin dan kaku dia menegur sambil tertawa dingin:

"Si Tay kong, cara kerjamu ini benar-benar licik dan   munafik, cepat enyah dari sini, lain kali bila kau berani berbuat semacam ini lagi, jangan salahkan bila Linio akan membacok kepalamu sampai kutung "

Tanpa bercuit sekejap pun Malaikat langit penegak bumi Si Tay kong ngeloyor pergi bagaikan seekor anjing yang baru kena digebuk, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Nyouya kokcu segera menghampiri Suma Thian yu, mengempit tubuhnya lalu bersama sama putrinya berangkat menuju ke penjara bukit sana... .

Yang dimaksudkan penjara bukit adalah sebuah gua dipunggung bukit yang bagian depannya ditutup dengan pintu besi dan dijaga oleh beberapa orang jago berilmu tinggi.

Bila seseorang sudah dijebloskan ke dalam penjara bukit

ini, maka biarpun kau bersayap pun jangan harap bisa terbang keluar dari situ, kecuali kau mampu menjebolkan pintu bajanya. Setibanya didepan penjara bukit, nyonya kokcu segera membuka piutu besi dan mendorong pemuda itu kedalamnya, dalam sekejap mata itu pula nyonya kokcu telah membebaskan pula pengaruh totokan atas dirinya.

Menanti Suuma Thian yu merasa jalan darahnya sudah bebas, tahu-tahu pintu baja telah tertutup rapat kembali, dalam keadaan begini biar pun kau akan berteriak sampai serak suaranya juga percuma.

Suma Thian yu benar-benar merasa putus asa, habis sudah pengharapan-nya sekarang.

Ketika beranjak masuk ke ruang penjara itu, tiba-tiba disudut ruangan itu dia menjumpai ada seseorang berbaring pula disitu, orang itu sedang tertidur nyenyak dengan muka menghadap ke dalam sehingga tidak ke lihatan raut wajah aslinya.

Suma Thian yu tidak ingin membangunkan dirinya, maka sambil duduk disampmg orang itu, dia mulai duduk sambil melancarkan peredaran darah didalam tubuhnya.

Lebih kurang setengah per minum teh kemudian, mendadak terdengar orang itu menjerit kaget kemudian berseru:

"Hiante, mengapa kau pun bisa berada disini?" Mendengar orang itu menyebut dirinya sebagai hiante,

Suma Thian yu turut menjadi terperanjat, ketika diamatinya lagi dengan seksama, dia segera berseru tertahan:

"Tio toako, kau "

Kata selanjutnya belum sempat diteruskan, dia sesungguhnya tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

Maklumlah, siapa yang akan menyangka bekal bertemu orang yang dikenal di dalam penjara bukit semacam ini, apalagi orang itu adalah satu-satunya sobat karibnya, si pena baja bercambang Tio Ci Hui? Bagaimana pula dia tak dibuat terkejut, sedih dan gembira?

Si Pena baja bercambang Tio Ci hui segera memeluk tubuh Suma Thian yu dan menangis tersedu-sedu. Lama, lama kemudian, pena baja bercambang Tio Ci hui barulah berkata:

"Hiante, mengapa kau pun terjatuh ke tangan kelompok manusia-manusia tersebut?"

"Sekarang habis sudah riwayat kita, mengapa nasib kita harus mengalami nasib begini?"

Suma Thian yu sendiripun amat sedih, secara ringkas diapun lantas menceritakan semua kisah pengalamannya selama ini, diantaranya dijelaskan pula sebab musabab sehingga sahabatnya menaruh kesalahan paham kepadanya.

Ketika selesai dengan perjelasannya ini, dia pun bertanya kemudian:

"Tio toako, apakah kau masih mencurigai diriku?"

Malu dan menyesal bercampur aduk didalam hati si pena baja bercambang Tio Ci hui, segera jawabnya:

"Hiante, kesemuanya ini memang kesalahan toako yang bertindak kurang teliti sehingga, menaruh kesalahan paham kepadaku, tapi berbicara sesungguhnya, keadaan pada saat ini memang benar-benar telah mengguncangkan jalan pikiranku, maafkan aku, aku memang tidak becus sehingga harus mencelakai dirimu sedemikian rupa"

"Tio toako, peristiwa yang sudah lewat lebih baik kita lupakan saja, bukankah kau sendiripun mengalami nasib demikian gara-gara urusanku? Andaikata kau tidak meninggalkan perusahaan Sin liong piau kiok, kau pun tidak akan mengalami nasib seperti apa yang kau alami hari ini, bukankah hal ini sama artinya dengan akulah yang telah mencelakai dirimu?"

Setelah perbincangan dilanjutkan, suasana menyeramkan yang semula mencekam penjara gunung itupun semakin berkurang.

Mendadak Suma Thian yu teringat kembali dengan kitab pusaka tanpa kata yang berada dalam sakunya sekarang, tanpa terasa semangatnya berkobar kembali, dia akan mengajak rekannya pena baja bercambang untuk sama-sama membicarakan tentang kitab pusaka ini. Pena baja bercambang Tio Ci hui yang mendengar penuturan itu menjadi terkejut bercampur gembira, sehabis menepuk bahunya, dia lantas berseru:

"Hiante, nampaknya ditengah kesulitan kita masih menjumpai jalan hidup, kita bakal tertolong sekarang !"

"Kenapa?"

"Mengapa kau tidak menggunakan kesempatan  yang sangat baik ini untuk mempelajari isi kitab pusaka tersebut didalam penjara ini, bukan saja dapat mengusir waktu, dapat

juga menambah kepandaian silatmu, suatu ketika apabila ilmu tersebut telah berhasil kau kuasai, memangnya pintu baja tersebut mampu merintangi kita?"

Suma Thian yu menjadi gembira sekali, inilah yang

dikatakan orang sebagai: Say ang yang kehilangan kuda, siapa yang bisa menduga kalau ini bukan rejeki?

Sekalipun kedua orang itu sudah terkurung didalam penjara bukit, namun justru karena hal ini mereka telah berhasil mempelajari isi kitab pusaka yang menggetarkan seluruh kolong langit, tentu saja hal semacam ini tak pernah diduga sama sekali oleh kokcu lembah Put kui kok tersebut.

Diatas bukit tiada waktu, entah berapa waktu pemuda itu harus berdiam dalam penjara tersebut.....

oooOooo oooOooo

UNTUK sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Suma Thian yu dan Tio Ci hui yang sedang melatih ilmu didalam penjara bukit lembah Put Kui kok.

Sementara itu, suasana didalam dunia persilatan telah berubah kacau, badai pembunuhan berdarah pun mulai mengancam setiap orang di dunia ini.

Keheningan sebelum menjelangnya suetu per tarungan besar terasa paling menyesakkan, paling mengerikan dan paling tidak menentramkan hati orang, seakan-akan seluruh jagad telah mampus semua.... Kaum iblis dari golongan hitam nampaknya sudah mulai berubah sasaran mereka, kini tiada yang mengusik atau mengganggu kaum rakyat kecil lagi, mereka saling menghimpun tenaga dan kekuatan masing-masing untuk bersama-sama menghadapi para jago dari golongan lurus.

Kaum hitam kini telah mengangkat Kul lun indah Siau wi goan sebagai pemimpin mereka, sebaliknya dari pihak kaum lurus belum ditemukan seorang pemimpin pun, seakan-akan semua orang sedang menunggu kedatangan Suma Thian yu dari Tibet untuk memimpin mereka semua.

Begitulah, siang malam para jago dari kaum lurus samasama berharap kedatangan pemuda itu dengan membawa serta kitab pusaka tanpa kata, mereka pun berharap kemampuan pemuda itu sanggup untuk melenyapkan ancaman badai pembunuh yang kian mengancam tiba.

Hampir setiap orang mempunysi jalan pemikiran demikian, namun siapa pun tidak yakin Suma Thian yu dapat kembali terutama sekali bagi sepasang manusia bodoh dari bukit Wu san yang tahu pemuda itu sudah terjatuh ke dalam jurang.

Dalam keadaan demikian, mau tidak mau para jago kaum lurus harus mempertimbangkan kembali pilihan mereka, dan akhirnya diusulkan mengangkat Hui im tongcu Gak say bwe sebagai pemimpin mereka.

Semua peristiwa ini sudah barang tentu diselenggarakan dan diumumkan oleh masing-masing secara diam-diam dan rahasia, itulah sebabnya pula suasana didalam dunia tenteram.

Siapakah yang menduga kalau dibalik ketenangan tersebut, suatu pertarungan antara kaum sesat dan lurus segera akan berkobar...

Sesungguhnya ilmu silat yang dimiliki Kun lun indah Siau Wi goan tidak terhitung hebat, namun akal muslihat serta kecerdasan otaknya memang jauh lebih unggul dari siapa pun, terutama dengan silat lidahnya yang lihay, banyak kaum lurus yang terbujuk olehnya sehingga mau berpihak kepadanya, antara lain It cu hoa kiam dari Tiam cong pay dan lain sebagainya.

Yang paling hebat lagi adalah Sip hiat jin mo atau manusia iblis penghisap darah serta si mayat hidup, dua tokoh kaum iblis yang berilmu tangguh pun bersedia menerima perintahnya, ini semua membuat pertentangan diantara mereka sendiri semakin berkurang, namun kerja sama mereka dalam menghadapi kaum lurus semakin bertambah kokoh dan menakutkan.

Hingga kini, para gembong iblis kaum hitam sejak yang hebat sampai yang rendahpun telah berkumpul semua didalam gedung kediaman Siau Wi goan yang berada dalam kota Tiang an, sudah barang tentu orang-orang yang dapat diundang Siau Wi goan pastilah jago-jago kaum rimba hijau yang terpandang.

Dengan gaya pimpinan Kun lun indah Siau Wi goan yang sudah mendendam terhadap para jago kaum lurus, secara otomatis semua perencanaannya yang licik ditunjuk kan untuk memusnahkan kaum dari muka bumi ini.

Orang bilang: Bila tahu lawan bila tahu diri, maka setiap pertarungan pasti akan dimenangkan.

Sepanjang masa ini tujuan dari Siau Wi goan adalah berupaya sedapat mungkin untuk menyelidiki gerak-gerik  kaum lurus, agar di dalam penggebrakan selanjutnya pihaknya dapat meraih kemenangan dan keberhasilan besar.

Itulah sebabnya dia mulai menyelidiki setiap orang yang dicurigai, terutama terbadap jago-jago pilihan seperti Siau yau kay Wi Kian,sepasang manusia bodoh dari Wu san, Bu lim ji ci dan Ciong liong lo sian jin sekalian.

Kemudian setelah mengetahui kekuatan lawan serta kemampuan mereka, dia pun mulai mengatur, rencana untuk menggasak mereka sedemikian rupa sehingga semuanya dapat di tumpas habis.

Sudah barang tentu untuk menyusun perencanaan semacam ini bukanlah suatu pekerjaan yang gampang sekali. Tapi bagi Kun lun lndah Siau wi goan yang licik, segala sesuatunya ternyata bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Satu-satunya manusia yang membuatnya merasa kuatir adalah jejak Suma Thian yu yang belum diketahui bagaimana nasibnya itu, ia benar-benar merasa menyesal terutama atas kegagalannya menumpas Suma Thian yu ketika berada di lembah Toan hun kot tempo hari, padahal saat tersebut dia mempunyai peluang yang bagus sekali.

Setiap kali teringat akan Suma Thian yu, wajah berseri yang selalu menghiasi wajahnya pasti akan menghilang, hatinya pun seakan-akan dikalungi dengan beban besi yang berat sekali.

Baginya sehari Suma Thian yu masih hidup berarti ancaman terhadap semua rencana belum hilang karena satu-satunya orang yang mampu mengobrrak-abrik semua perencanaannya ini hanya anak muda tersebut seorang.

Selama ini Sau Wi goan sudah banyak mengirim orang untuk menyelidiki jejak pemuda itu, namun hasilnya masih tetap merupakan sebuah teka teki besar.

Beberapa hari berselang dia mendapat tahu dari Leng kong kalau Suma Thian yu telah tewas terjatuh dalam jurang, berita ini mendatangkan kegembiraan yang singkat bagi

Kun Lun indah, tapi dia pun kembali menjadi murung dan resah bila teringat bahwa mati hidup pemuda lawannya ini masih tetap merupakan suatu teka teki besar.

Kaluu dibicarakan memang sangat mengherankan, dia bukannya merasa kuatir meng hadapi Ciong liong lo sianjin dan sekalian tokoh-tokoh tua yang lihay, mengapa justru merasa resah dan kuatir terhadap Suma Thian yu seorang bocah yang masih ingusan?

Mungkinnah dia selalu beranggapan bahwa Suma Thian yu lah yang mampu menghancurkan semua usahanya ini?

Yaa, setelah terjadi bentrokan beberapa kali, dia memang mulai sadar bahwa musuh sesungguhnya baginya adalah Suma Thian yu.... Ditambah lagi dengan perjalanan Suma Thian yu ke Tibet, dia semakin memahami beban tugas yang sedang diembankan pada pemuda tersebut, sudah pasti pemuda inilah yang diserahi tugas untuk mententeramkan dunia persilatan dari gangguan pihaknya.

Ditambah pula ketika berada ditebing Toan hun say Suma Thian yu telah berhasil merebut kembali kitab pusaka tanpa kata dari tangan San yap koay mo, betul keaslian kitab pusaka itu masih merupakan sebuah tanda tanya besar, namun  selama teka teki itu belum terungkap, berarti sudut ancaman pun belum bisa dihilangkan pula.

Berdasarkan banyak alasan inilah, maka setiap hari Kun lun indah Siau Wi goan se lalu murung, resah dan tidak gembira...

Suatu hari, ketika Bi kun lun Siau Wi goan masih duduk diruang tengah dengan resah, tiba-tiba dari luar muncul seorang petugas yang melaporkan:

"Lapor tayjin, diluar datang utusan dari lembah Put kui kok yang mohon berjumpa"

Mendengar kata "Put kui kok" paras muka Kun lun indah Siau Wi goan segera berubah hebat, bagaimanapun juga lembah Put kui kok merupakan sekelompok kekuatan yang tidak boleh dianggap remeh.

Selama banyak tahun teraknir ini, belum pernah ada orang yang bisa munculkan diri setelah tiba dilembah Put Kui kok tersebut, tapi hari ini dari pihak Put kui kok telah muncul orang yang datang menghadap, bisa di duga urusannya pasti gawat sekali. Maka dia segera menurunkan perintahnya:

"Undang utusan ini masuk!"

Tak lama setelah kepergian petugas itu, seorang lelaki berusia empat puluh tahunan telah muncal dimuka ruangan, Kun kun indah segera turun dari singgasananya untuk me nyambut kedatangan tamu agungnya itu...

Orang ini berusia empat puluh tahunan, bertubuh jangkung, bertangan panjagn dan berwajah serius, dia mengenakan pakaian ringkas yang amat ketat. Orang tersebut bukan lain adalah monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun yang pertama kali dijumpai Suma Thian yu.

Setelah berjumpa dengan Kun Lun indah Siau wi goan, si monyet sakti berlengan panjang Mo Lip kun segera memberi hormat sambil menyapa ramah:

"Apakah anda adalah Siau tayhiap?" "Yaa betul"

"Aku Ko Lip kun mendapat perintah dari Kokcu untuk datang menyampaikan kabar gembira"

"Kabar gembira? Darimana datangnya kabar gembira buat aku Siau wi goan?" Kun lun indah Siau Wi goan balik bertanya dengan wajah keheranan.

Monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah...haah...haah...apakah selama berapa waktu belakangan ini Siau tayhiap sedang murungkan sesuatu persoalan ?"

"Persoalan yang sedang kuhadapi kelewat banyak, bersediakah Ko tayhiap mengutarakan secara langsung saja?"

"Sudahkah Siau tayhiap mendapat tahu kabar berita tentang Suma siauhiap?"

Begitu mendengar nama 'Suma Thian yu' disebut orang,   Kun lun indah, Siau wi goan segera merasakan kepalanya menjadi pusing dan dadanya seperti terhantam benda yang amat berat sekali, dengan agak gelagapan ia segera tertanya:

"Apakah bocah keparat itu masih hidup hingga sekarang?" "Yaa, dia masih hidup "

"Dimana?" tukas Wi Siau wi goan lagi dengan perasaan panik dan tidak sabar.

Sekali lagi monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Haah...haah... haah... dia berada di dalam lembah Put kui kok sekarang" Setelah mendengar jawaban tersebut, Kun lun indah Siau wi goan menjadi gembira setengah mati, dia ikut mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.

Mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, segera tanyanya kembali.

"Apakah mati hidupnya sudah ditetapkan?" "Belum. Cuma lebih banyak mampusnya daripada

hidupnya, sebab saat ini dia sudah disekap didalam penjara bukit"

Mendadak Kun lun indah Siau Wi goan menjerit kaget: "Aduh celaka, dia membawa benda mestika "

Ketika berbicara sampai disini Kun lun indah Siau Wi goan tidak melanjutkan kemkali kata-katanya, sebab dia memang sengaja berbuat demikian agar Suma Thian yu menjadi incaran orang-orang lembah Put kui kok dan cepat dibinasakan.

Monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun kontan saja membelalakkan matanya lebar-lebar, kemudian berseru cepat:

"Benda mestika apakah itu? Apakah Siau tayhiap bersedia memberi keterangan kepada kami?"

Kun lun indah Siau Wi goan kembali menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.

"Aku tahu bocah keparat itu tidak akan menyerahkan benda mestika tersebut dengan begitu saja"

"Sebenarnya mestika apakah itu?"

"Kau pernah mendengar tentang kitab pusaka Kun tun kan kun kun huan siu cinkeng? Nah, mestika itulah yang berada disakunya"

"Apa?" teriak monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun segera menjerit kaget, "kau maksudkan kitab pusaka tanpa kata?"

"Benar, kitab pusaka tersebut berada di tangan bocah keparat tersebut"

000O000 Setelah mengetahui kalau Suma thian yu menggembol mestika yang tak ternilai harganya itu, Monyet berlengan panjang Ko lip kun menjadi sangat panik, dia segera memohon diri kepada tuan rumah dan segera berangkat kembali ke lembahnya.

Menanti Ko Lip kun sudah berlalu, Kun lun indah Siau wi goan baru mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, dalam anggapan-nya kali ini, biarpun Suma Thian yu mempunyai berapa buah batok kepala pun semuanya akan terpengal habis.

Tiba-tiba suara tertawanya terhenti sampai ditengah jalan, lalu sambil bertepuk tangan serunya:

"Cepat undang Lim tayhiap"

Yang dimaksudkan Lim tayhiap adalah si harimau angin hitam Lim Khong, tak selang berapa saat kemudian Lim Kong telah muncul.

Secara ringkas Siau wi goan lantas menceritakan tentang soal Suma Thian yu yang baru didengarnya, setelah itu katanya:

"Hiante, ajaklah beberapa orang jago lihay dan segera berangkat, begitu ada kabar, segera kirim kabar kembali, bila bertemu dengan bocah keparat tersebut, bagaimana pun juga kau harus membunuhnya sampai mampus!"

Harimau angin hitam Lim Kong tertawa seram.

"saat itu tak usah toako kuatirkan, selama hayat masih dikandung badan, aku bersumpah akan bertarung dengan Suma Thian yu keparat itu hingga dia mampus!"

Setelah mengundurkan diri dari ruangan, dia lantas memerintahkan kepada si ular berekor nyaring Mo Pun ci,  Leng Kong taysu dan Hu hok cu sekalian agar bersiap sedia untuk berangkat, sedangkan dia sendiri berangkat kegedung timur untuk berpamitan dengan gurunya si mayat hidup Ciu jit hwee.

Dengan mengikuti dibelakang si monyet sakti berlengan panjang, berangkatlah rombongan yang dipimpim harimau angin hitam Lim Khong menuju ke sekitar lembah Put kui kok dengan maksud berjaga-jaga bilamana Suma Thian yu sempat melarikan diri dari sana.

Dalam pada itu, Suma thian yu dan pena baja bercambang Tio ci hui yang terkurung dalam penjara bukit, kecuali bersantap makanan yang dihidangkan oleh pihak Put kui kok, mereka selalu mempelajari ilmu silat secara tekun.

Berkat kecerdasan otak dari Suma Thian yu, maka tidak sampai dua bulan kemudian semua isi kitab Kun tun kan kun cinkeng tersebut telah berhasil dipelajari dengan matang, yang sekarang tinggal melaksanakan secara praktek.

Ilmu silat yang tercantum didalam kitab pusaka itu memang benar-benar merupakan ilmu sakti yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, semuanya berjumlah tujuh jurus, dari setiap jurus mempunyai daya kekuatan yang luar biasa.

Apabila ketujuh jurus seraTgan tersebut dipergunakan secara beruntun maka perubahan yang dapat dikembangkan akan meningkat, luar biasa biarpun harus bertarung sebanyak dua ratus gebrakan pun, orang tetap akan dibuat kebingungan.

Tapi sekarang Suma Thian yu baru bisa mengingat-ingat cara mempergunakan ketujuh jurus serangan itu saja, sekalipun demikian, orang yang sanggup menghadapinya sekarang boleh dibilang hanya beberapa gelintir saja.

Pena baka bercambang Tio Ci hui sendiri semenjak pertemuan-nya dengan Suma thian yu, ia nampak lebih ceria dan terbuka, keputusasaan yang semula mencekam perasaannya sudah lenyap tak berbekas, sedangkan harapan-nya untuk bisa hidup lebih jauh pun berkobar kembali...

Oleh sebab itulah, selama Suma Thian yu mempelajari kitab pusaka tanpa kata, dia sendiri tidak mengganggu, satu demi satu semua ilmu silat yang dipelajarinya dulu dilatih kembali, bahkan dari Suma Thian yu pun dia berhasi mempelajari berbagai macam ilmu kepandaian. Hanya dalam dua bulan yang singkat, dasar tenaga dalam maupun ilmu silat yang dimiliki kedua orang ini telah memperoleh kemajuan yang pesat.

Hari ini ketika mereka baru selesai sarapan, tiba-tiba pintu baja dibuka orang dan muncullah Monyet sakti berlengan panjang Ko lip kun serta panglima langit penakluk bumi Si tay kong.

Sebenarnya suma Thian yu sedang berbaring, maka begitu berjumpa dengan kedua orang itu, diapun segera merintih dan bersikap seolah-olah menjadi lemah dan sekarat karena kekurangan makanan.

Monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun hanya berdiri didepan pintu saja sambil mengawasi kedua orang itu sekejap, kemudian sambil mengawasi Suma Thian yu, tegurnya dingin:

"Sahabat kecil, pelayanan Put kui kok terhadapmu tentunya tidak terlalu jelek bukan?"

Suma Thian yu kembali merintih, lalu sambil duduk dengan wajah murung sahutnya"

"Dua bulan ini hampir saja nyawaku turut lenyap, apakah pelayanan semacam ini pun kau anggap sebagai pelayanan yang baik? Kau benar-benar bedebah "

Monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata tersebut, lain dengan panglima langit penegak bumi Si Tay Kong, dia tak sanggup menahan diri lagi, sambil membentak gusar ia siap menerjang ke depan untuk menghajar Suma Thian yu, tapi niat tersebut segera dicegah oleh monyet sakti berlengan panjang.

"Hiante, buat apa sih kita mesti bercekcok dengan setan  cilik itu? Ingat saja apa tujuan kedatangan kita sekarang? Janganlah disebabkan urusan kecil sampai masalah besar pun turut terbengkelai, kenapa sih kau selalu mengumbar watak kerbaumu?"

Dengan gemas dan penuh amarah panglima langit penegak bumi Si Tay kong segera mengumpat:

"Kau bebedah keparat, anak jadah " Niatnya untuk memberi hajaran kepada pemuda tersebut pun segera diurungkan.

Kemudian monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun baru berkata lagi dengan senyum an licik menghiasi wajahnya:

"Sobat cilik, aku dengar kau membawa sejilid kitab pusaka yang tak ternilai harganya, bolehkah dipinjamkan sebentar kepadaku?"

Suma thian yu amat terkejut setelah mendengar perkataan ini, sampai-sampai Pena baja bercambang yang berada di sampingnya pun turut merasa terkejut.

Untung Suma Thian yu cukup cekatan, setelah berpikir sebentar ia segera dapat menebak jalan pemikiran orang, maka katanya kemudian:

"Kitab pusaka apa sih? Aku tidak memilikinya"

"Bocah keparat, kau masih bermaksud untuk berlagak  pilon?" bentak panglima langit penegak bumi dengan gusar,  "di hadapan orang pintar tidak usah berbohong, kami tahu kau menggembol kitab pusaka tanpa kata. Hmm, memangnya berusaha mau membohongi toaya mu?"

"Didalam saku ku hanya terdapat selembar kertas rongsokan, benarkan kertas itu kitab pusaka atau bukan, aku sendiripun kurang tahu, apakah kalian berdua menginginkan kertas rongsokan itu?"

Kemudian dengan ilmu menyampaikan suara dia berkata pada si Pena baja bercambang:

"Toako, untuk sementara waktu kau hadapi seorang diantara mereka, jangan biarkan mereka kabur, sebab inilah satu-satunya ke sempatan buat kita untuk melarikan diri.

Buru-buru pena baja bercambang menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya bersiap sedia untuk membunuh salah seorang musuhnya itu.

Mendadak Suma Thian yu teringat kembati dengan perbuatannya sewaktu memper mainkan Sam yap koay mo dan manusia iblis berkepala ular tempo hari, maka dengan cara yang sama diapun berseru: "Apakah kedatangan kalian berdua dikarenakan kertas rongsokan ini...?"

Dia segera mengeluarkan kitab pusaka itu dan diperlihatkan di hadapan ke dua orang itu.

Bagaikan kucing melihat ikan asin, Ko Lip kun dan Si Tay kong segera melototkan matanya besar-besar.

Kembali Suma thian yu mengoceh:

"Rupanya kalian berdua menginginkan kertas rongsokan ini, sayang seribu kali sayang, kertas ini hanya selembar saja, bagaimana cara untuk membaginya?"

Dalam perkiraan Suma Thian yu, ke dua orang itu pasti akan saling berebut setelah mendengar perkataan itu.

Siapa tahu kedua orang itu menjadi gusar sekali setelah mendengar ucapan yang bernada adu domba ini, Monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun segera mengumpat:

"Bocah keparat, kau anjing licik, memangnya kau anggap dengan hasutanmu itu lantas kami akan saling bentrok sendiri? Toaya mu tak akan termakan oleh tipu muslihat anjing keparat macam kau!"

SERAYA berkata dia lantas maju kedepan dan menghampiri Suma Thian yu.

Sebaliknya panglima langit penegak bumi Si Tay kong menghampiri si pena baja bercambang.

Tindakan yang dilakukan kedua orang tua itu justru merupakan apa yang diharapkan oleh pemuda tersebut, diamdiam ia menjadi kegirangan setengah mati.

Mendadak terdengar Monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun menjulurkan tangannya kedepan sambil membentak penuh amarah:

"Bawa kemari bocah keparat!"

Suma Thian yu sengaja memperlihatkan kitab pusaka itu dihadapan lawannya kemudian dimasukkan kembali kedalam sakunya sambil mengejek sinis.

"Tak akan semudah itu, kau anggap dikolong langit terdapat manusia bodoh yang mau menyerahkan mustikanya dengan begitu saja? Huuh, kalau sauya enggan menyerahkan kepadamu lantas mau apa kau?"

Meledaklah hawa amarah si Monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun sehabis mendengar perkataan ini, otototot hijaunya sampai menonjol keluar semua saking marahnya, sambil membentak keras, kelima jari tangannya dipentangkan lebar-lebar kemudian menyambar tubuh Suma Thian yu sambil umpatnya:

"Kepingin mampus rupanya kau?"

Siapa tahu belum sampai kelima jari tangan-nya mencapai sasaran, Suma thian yu sudah berkelebat lewat dan lenyap dari pandangan mata.

Belum sempat Monyet sakti berlengan panjang Ko Lip kun membalikkan badannya, mendadak punggungnya terasa amat sakit, seluruh tulang belulangnya bergemerutuk keras, lalu diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati tubuhnya roboh terkapar keatas tanah.

Panglima langit penegak bumi Si Tay kong memang tidak malu disebut manusia licik, begitu menjumpai Ko Lip kun roboh keatas tanah ia tidak berusaha membantu kawannya malahan sebaliknya kabur keluar pintu.

Pena baja bercambang Tio Ci hui kuatir musuhya itu berhasil melarikan diri, sudah barang tentu dia tak akan membiarkan lawannya lolos dengan begitu saja, sambil membentak dia melompat kedepan untuk mengejar.

"Tunggu dulu!"

Suma Thian yu pun tidak berani berayal sebab dia tahu setengah langkah saja dia terlambat, pintu penjara akan tertutup kembali, berarti dia harus berusaha lebih dulu sebelum berhasil lolos dari situ.

Karenanya pada saat yang hampir bersamaan mereka berdua bersama-sama menerobos keluar dari pintu penjara.

Setelah dua bulan tak bertemu sinar matahari, mereka merasakan semangatnya berkobar kembali setibanya dialam bebas, begitu melihat dua orang sipir penjara ada disitu, tanpa banyak bicara, seorang satu mereka hajar lelaki penjaga bui itu sampai tewas.

Dalam pada itu si pena baja bercambang Tio Ci hui telah berhasil mengejar hingga dibelakang Si Tay kong, menyadari kalau jalan untuk kabur telah tertutup, panglima langit penegak bumi ini segera membalikan badan dan  mengayunkan telapak tangan-nya bersama-sama melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Bagaimanapun juga pena baja bercambang adalah seorang piasu, ilmu silatnya biasa-biasa saja bila dibandingkan dengan musuhnya yang merupakan jago lihay kalangan rimba hijau, tentu saja selisihnya jauh sekali.

Begitu melihat musuhnya membalikkan badan sambil melancarkan serangan ia menjadi gelagapan dibuatnya dan cepat-cepat menghindar ke samping....

Sudah barang tentu Si Tay kong tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang amat baik ini dengan begitu saja, mendadak ia merubah gerakan tubuhnya, lalu dengan jurus Naga sakti mengebaskan ekor, dia hantam batok kepala Tio Ci hui.

Gerak serangan tersebut amat gencar lagi dahsyat,

mustahil rasanya buat Tio Ci hui untuk meloloskan diri lagi, tak ampun lagi dia berseru tertahan dan memejamkan matanya menunggu kematian tiba.

Di dalam detik yang amat kritis inilah, mendadak terdengar suara pekikan nyaring bergema memecahkan keheningan.

Suma Thian yu dengan gerakan secepat sambaran petir menerobos masuk diantara kedua orang itu kemudian ia sambut serangan dari Si Tay kong tadi dengan kekerasan, sementara telapak tangan yang lain membacok tubuh lawannya ini.

Di dalam serangan tersebut Suma Thian yu hanya, mempergunakan tenaga sebesar emapt bagian saja, tapi ilmu silat yang digunakan justru ilmu sakti dari kitab pusaka tanpa kata.

Disamping berniat mencoba kemampuan ilmu silat tersebut, dia pun ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas sakit hatinya terhadap Si Tay kong yang pernah memperlakukan dirinya sangat buruk dua bulan berselang.

Biarpun niat yang sebenarnya hanya memberi hukuman kepada lawan sehingga menjadi cacad, apa mau dibilang kepandaian silat yang dihasilkan dalam serangan tersebut benar-benar luar biasa dahsyat dan hebatnya.

Mimpi pun Si Tay kong tidak menyangka kalau Suma Thian  yu bakal menggunakan serangan maut sedemikian dahsyatnya untuk menghadapi dirinya.

Menanti angin pukulan lawan yang amat dahsyat dan tak terlawan itu sudah tiba didepan mata, terlambat sudah baginya untuk menarik kembali serangannya tersebut.

"Blaaarr !"

Suatu benturan dahsyat segera terjadi, menyusul kemudian ditengah udara bergema suara jeritan ngeri yang memilukan hati.

Tubuh si panglima langit penegak bumi Si Tay kong segera mencelat seperti layang-layang yang putus benang dan terlempar ketengah udara, sewaktu terjatuh kembali ke bumi, kepalanya lebih dulu yang menembuk batu cadas.

Tak ampun lagi, kepalanya sagera hancur berantakan, isi benaknya berhamburan kemana-mana, manusia tersebut tewas dalam keadaan yang benar sangat mengerikan.

Suma Thian yu menjadi melongo dengan mata terbelalak besar setelah menyaksikan peristiwa ini, sampai lama sekali dia masih belum mampu mengucapkan sepatah katapun.

Mendadak....

Ditengah udara berkunaandang lagi suara tertawa seram yang dingin dan menggidikkan hati:

Suatu pembunuhan yang bagus sekali hitung-hitung

menambah pengetahuanku.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 31"

Post a Comment

close