Kitab Pusaka Jilid 30

Mode Malam
Jilid : 30

Mendengar berita kematian dari Suma Thian yu, dua bersaudara Thian dan Wan pek lan merasa bagaikan disambar guntur disiang hari bolong, terutama Wan Pek lan, saking sedihnya dia sampai jatuh pingsan seketika.

Dengan susah payah semua orang baru berhasil menyadarkan kembali Wan Pek lan, setelah sadar gadis itu bersikeras hendak pergi ke gua Jit yang sui tong untuk melihat keadaan, katanya, biarpun orangnya sudah mati, dia ingin melihat jenasahnya.

Walaupun dua bersaudara Thian dan Sin sian siangsu telah berusaha untuk membujuknya dengan berbagai cara, namun tak mampu mengubah jalan pemikirannya, pada saat itulah Wu san siang gi siu (dua manusia bodoh dari bukit Wu) muncul secara tiba-tiba dihadapan mereka.

Bertemu dengan sepasang manusia bodoh itu, Sin sian siangsu merasa amat lega, dia tahu ke dua manusia aneh tersebut tentu dapat membujuk Wan Pek lan.

Siapa tahu Toa gi siu Khong Sian segera berseru begitu bertemu dengan Wan Pek lan.

"Bocah perempuan, bukankah kau ingin pergi ke gua jit yang sui tong untuk mencari mayat? Kebetulan sekali, kami dua orang tua bangka pun ingin berpesiar pula ke situ, kita

sejalan, sepanjang perjalanan tentu tak akan kuatir kesepian!" "Locianpwee memang baik sekali, siauli merasa amat

bergembira dapat menempuh perjalanan bersama kalian" seru Bi hong siancu Wan Pek lan cepat-cepat.

Toa gi siu Khong Sian segera tertawa terkekeh-kekeh: "Heee....heeh...ayolah berangkat, kalau sampai terlambat,

tulang belulangpun sukar untuk dilihat lagi!”

Selesai berkata dia segera berangkat duluan, tanpa berpikir panjang, Wan pek lan segera mengikutinya dibelakang.

Siapa tahu baru saja berjalan beberapa langkah, mendadak Tay gi sian Khong Sian menghentikan langkahnya sambil berseru lagi:

“Aah, ogah! Untuk kesitu kita mesti menempuh perjalanan jauh, paling tidak mesti ada tandu untuk menggantikan kaki sendiri"

Dia membalikkan badan lalu berjalan kembali ketempat semula.

Untuk sesaat Bi hong siancu dibuat bingung dan pusing tujuh keliling, dia hanya bisa berdiri bodoh ditempat sambil mengawasi Tay gi siu dengan termangu. Mendadak Si gi siu Khong Bong berteriak:

"Eeei, aneh benar, aku seperti mengendus bau manusia!" "Bau manusia!", perkataan yang tiada ujung pangkalnya ini

segera membuat semua orang tertegun dan serentak meroleh kearah Ji gi siu.

Tay gi siu Khong Sian nampak manggut-manggut, kemudian bergumam seorang diri:

"Yaa betul seperti bau badan si bocah itu, jangan-jangan dia sudah di panggang orang sampai hangus?"

"Aah, tidak betul" kata Ji gi siu Khong seraya   menggelengkan kepalanya berulang kali, tampaknya bau ini berasal dari arah lembah Si hun kok dibukit Ki ciok san, heran, bukankah bocah itu sudah mampus di gua Jit yang sui tong?

Kenapa bisa muncul lagi dibukit Ki ciok san untuk menghantar kematian?"

Tanya jawab yang dilakukan kedua orang itu bagaikan gumaman terhadap diri sendiri membuat para pendengar jadi bingung dan merasa tidak habis mengerti.

Dua bersaudara Thian yang menyaksikan kejadian tersebut, segera salah menduga kalau Siang gi siu dari bukit Wu san ini sedang kumat sakit ingatannya terutama Thia Yong, hampir saja dia tertawa cekikikan saking gelinya.

Sedangkan Sin sian siungsu yang mendengar perkataan itu, buru-buru bertanya:

"Sungguhkah perkataan dari kalian berdua itu?"

Tay gi siu Khong Sian miringkan kepalanya sambil memasang telinga, sejenak kemudian teriaknya secara tibatiba:

"Aduuh celaka, bocah itu terancam bahaya!"

"Ayo jalan, kita sambut dari belakang" sambung Ji gi siu Khong Bong cepat-cepat.

Tanpa memperdulikan keempat orang yang masih hadir diarena lagi, kedua orang itu segera menggerakan tubuhnya dan seperti sambaran cahaya, tahu-tahu saja sudah meluncur kemuka, kemudian dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan semua orang.

Sin sian siangsu yang menyaksikan kesemuanya itu hanya bisa menggelengkan ke palanya berulang kali sambil berkata:

"Yaa, manusia aneh dengan watak yang aneh, empat

puluh tahun berselang sudah begini, sekarang edannya makin bertambah hebatnya..."

"Yu cianpwe, apakah kedua orang itu yang dikenal sebagai sepasang manusia bodoh dari bukit Wu? tiba-tiba Thin pit suseng Thia cuan bertanya dengan keheranan.

"Ya benar, bukankah ucapan mereka berdua rada sinting dan tak genah?"

Toan im siancu Thia Yong segera mendengus:

"Hmm, aku lihat mereka berdua benar-benar sudah sinting dan edan semua..."

"Bila kau berkata begini, maka ucapan mu itu keliru besar" ucap Sin sian siangsu sambil menggeleng, "orang kuno bilang, mereka yang amat cerdik justru mirip orang bodoh, tanpa mereka dari mana kita bisa tahu kalau Thian yu masih hidup sehat di dunia ini?" 

"Apa? Engkoh Yu belum mati?"

Kejut dan gembira menyebabkan Bi hong siancu Wan Pek lan berteriak keras sehabis mendengar perkataan itu, namun setelah ucpan meluncur keluar, dia baru sadari kalau sudah khilaf, merah dadu wajahnya, cepat-cepat dia menunduk rendah-rendah.

Sin sian siangsu manggut-manggut, katanya lagi:

"Bila Wu san siang gi tidak berbohong, kemungkinan besar Suma Thian yu sedang terkurung di bukit Ki ciok san saat ini, kita tak boleh membuang waktu lagi, mari kita berangkat ke situ tntuk melihat lihat keadaan"

"Aneh" Thi pit suseng Thian Cuan berseru pula, "aku  dengar Ki ciok san berada dalam pengawasan dan kekuasaan

dua bersaudara penjual obat, bagaimana mungkin Suma Thian yu dapat terkurung di situ?" "Sekarang, kita tak usah menggubris dulu soal-soal semacam itu, ayoh berangkat" tukas Sin sian siangsu cepat.

Seusai berkata dia segera berangkat dulu menuju ke bukit Ki ciok san dengan kecepatan tinggi.

Itulah sebabnya pula, begitu Sin sian siangsu bertemu dengan Siau yau kau, dia langsung menanyakan soal Suma Thian yu.

Siau yau kay segera memperlihatkan sekulum senyuman yang amat misterius,lalu sahutnya:

"Dia sudah kabur!"

Biarpun hanya jawaban yang singkat namun bagi pendengaran Bi hong siancu Wan Pek lan, pada hakekatnya hal ini merupakan obat penenang yang sangat mujarab.

Bukankah dengan ucapan tersebut berarti pula kalau Suma Thian yu belum tewas di gua air Jit yang sui tong?

Agaknya Sin sian siangsu mempinyai jalan pemikiran yang sama, semua kemurungan dan kekuatiran yang selama ini mencekam perasaannya, seketika hilang lenyap tak berbekas.

Terdengar Siau Yau kay berkata lebih jauh:

"Mari kita mencarinya secepat mungkin, andaikata sampai tersusul oleh Manusia iblis penghisap darah mungkin akan lebih banyak bahayanya dari pada keberuntungan"

Secara ringkas dia lantas menceritakan apa barusan yang terjadi kepada semua orang.

Mengetahui kalau Suma thian yu berhasil lolos dari

ancaman bahaya, tapi sekarang sedang dikejar-kejar gembong iblis nomor satu didunia, Bi hongsiancu Wan Pek lan kembali merasakan hatinya berdebar keras, perasaan tak tenang sekali lagi mencekam perasaannya.

Dengan cepat dia bertanya ke arah mana pemuda itu melarikan diri, lalu tanpa membuang waktu lagi segera mengejar pula ke arah yang sama.

Siau Yau kay yang menjumpai cucu keponakannya begitu terpengaruh oleh perasaan cinta, tentu saja tak tega membiarkan gadis itu menyerempet bahaya seorang diri, dengan cepat dia mengejar pula dari belakang... Sin sian siangsu, dua bersaudara Thia semuanya tak mau ketinggalan, serentak mereka menggerakan tubuh masingmasing untuk bergerak menuju kedepan...

000O000

SUMA THIAN YU melarikan diri secepat-cepatnya menuju kedepan, tatkala tiba disebuah bukit, fajar sudah hampir menyingsing, tapi langit masih tetap gelap gulita bagaikan tinta, masih untung sepasang mata Suma thian yu mampu melihat dalam kegelapan sehingga dapat mengurangi banyak ancaman bahaya.

Tiba diatas puncak bukit yang tak diketahui namanya itu, Suma Thian yu baru berpaling dan menengok ke bawah, ketika tak nampak manusia iblis penghisap darah menyusul dia baru dapat menghembuskan napas panjang dan duduk dilantai untuk bersemedi.

Siapa tahu, baru saja dia berada dalam keadaan lupa diri, mendadak dihadapan-nya muncul seorang manusia yang berperawakan tinggi besar....

Orang itu adalah seorang hwesio berusia tujuh pulah tahunan, rambutnya sudah memutih semua, dia mengenakan pakaian padri yang sudah dekil, kaki kanannya cacad sedang dibawah ketiak kanannya mengembol sebuah tongkat kayu sebagai penyangga.

Padri itu muncul dan berdiri dengan begitu saja dihadapan Suma Thian yu. Ketika menjumpai pemuda itu sedang duduk bersemedi, diapun tidak mengganggu sebaliknya berdiri disitu bagaikan sebuah patung saja, seakan-akan hendak menunggu sampai Suma Thian yu mendusin kembali dari semedinya.

Lama kemudian Suma Thian yu baru selesai menyalurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan satu kali, semua rasa letih hilang lenyap dan sebagai gantinya dia merasakan tubuhnya menjadi segar bugar kembali. Ketika ia membuka matanya dan melihat ada seorang pemuda tua berdiri dihadapan-nya, dengan perasaan terkejut segera tegurnya:

"Siapa kau?"

Pendeta tua itu tersenyum.

Pertanyaan tersebut seharusnya lolaplah yang mengajukan kepadamu, siau sicu siapa namamu? Mau apa datang ke puncak Pek Jin hong ini...?"

Cepat-cepat Suma Thian yu bangkit berdiri kemudian setelah memberi hormat katanya:

"Aku bernama Suma Thian yu, berhubung lagi dikejar-kejar orang maka tanpa sengaja sampai disini, harap kau sudi memaafkan"

Hweesio tua itu manggut-manggut.

"Ehmm, kalau dilihat dari mimik wajahmu, lolap memang sudah paham sebagian be sar, siapa sih yang sedang mengejarmu?"

"Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay!"

"Oooh..." hweesio tua itu menjerit kaget, tanpa terasa ia memperhatikan lagi pemuda itu beberapa kejap, lalu terusnya, "apakah kau mempunyai sengketa atau perselisihan dengannya?"

"Yaa, boanpwee telah menghadiahkan sebuah pukulan ketubuhnya"

Mendengar pengakuan itu, si hweesio gegera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak:

"Haaah...haaah... siau sicu pandai bergurau, kau taahu manusia macam apakah

Manusia iblis penghisap darah itu? Kau mampu menghadiahkan sebuah pukulan ketubuhnya? Betul-betul sebuah berita besar yang aneh, apalagi jika kau mampu menghadapinya, mengapa pula mesti melarikan diri?"

Sebenarnya Suma Thian yu ingin menceritakan semua pengalamannya kepada orang ini, tapi dia berpikir lebih jauh, apakah hweesio tua ini orang jahat atau orang baik pun belum diketahui olehnya, andaikata kisah sejujurnya justru mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri, bukankah hal ini malah akan membuatnya penasaran? berpikir demikian maka segera jawabnya:

"Sebetulnya boanpwee baru bisa menghajarnya disaat dia tak siap, begitu berhasil maka aku pun segera melarikan diri.."

"Oooh rupanya begitu, kalau demikian sih memang tak aneh"

Kita sudah berbincang-bincang sekian lama, tapi boanpwee belum sempat mengetahui siapa nama gelar taysu?"

"Haah...haahh... lolap adalah Leng Khong"

"Ooohh, rupanya Leng khong taysu, sudah lama kudengar akan nama besarmu, rupanya aku betul-betul punya mata tak berbiji, harap taysu sudi memaafkan"

Biarpun dimulut dia berkata begini, sebaliknya dalam hati kecilnya dia mengumpat:

"Kau keledai busuk, anjing gundul, justru paman Wan bisa tewas karena dicelakai oleh kalian manusia-manusia tengik yang munafik, setelah kuketahui kau berada disini, sebentar aku pasti akan menyuruh mu merasakan penderitaan, dengan begini rasa mendongkol dan benciku baru dapat terlampiaskan!"

Sekalipun dihati kecilnya dia berpikir demikian, namun hal tersebut tak sampai diungkapkan keluar.

Leng khong taysu adalah ketua Go bi pay, sejak dia   berhasil mengepung Wan liang di Ciat thian tong dan sebuah kakinya dipapas kutung oleh Wan Liang, sejak itu pula menyerahkan kedudukan ciang bunjinnya kepada Seng khong taysu, seorang adik seperguruannya, sedang dia sendiri kabur ke Pek jin hong dan menutup diri untuk memperdalam ilmu Tat cun heng hoat kun nya.

Tentu saja dia berbuat demikian dengan harapan bisa turun gunung lagi dan mencari Kit hong kiam Wan Liang untuk membalas sakit hatinya.

Tapi dari mana Suma Thian yu bisa mengetahui tentang Leng khong taysu? Rupanya sewaktu Wan Liang terjatuh ke dasar jurang tempo hari, dalam keadaan tak sadar dia selalu mengigaukan nama orang-orang yang pernah mengerubutinya, termasuk diantaranya nama Leng khong taysu, itulah sebabnya Suma Thian yu dapat mengingatnya hingga sekarang.

Kedua orang itu sudah berbincang cukup lama, tapi selama ini Leng khong taysu tak pernah merasakan pedang Kit hong kiam yang tersoren dipunggung anak muda itu.

Dalam pada itu matahari sudah condong ke barat, suasana magrib mulai menyelimuti puncak Pek jin hong.

Melihat keadaan cuaca, Leng khong tayse segera berkata: "Sebentar lagi ada tamu yang akan berkunjung, inginkah

siau sicu untuk berkenalan dengan teman baru?" Dengan gembira Suma Thian yu berseru:

"Empat samudra adalah saudara, lebih banyak seorang teman berarti lebih banyak sebuah jalan"

Leng khong taysu segera tertawa terbahak-bahak. "Haahh... haahh... haahh... perkataanmu memang betul,

selama kita hidup dirumah, orang tualah tulang punggung kita, tapi se lama berada diluar rumah, temanlah tulang punggung kita. Bagi orang yang gemar berkelana macam kau makin banyak berteman memang semakin baik."

"Sekalipun berteman itu penting, memilih teman baikpun merupakan syarat utama, selamanya boanpwe berhati-hati dalam memilih teman, sehingga tak sampai dicelakai oleh teman sendiri.

Tujuan Suma Thian yu mengucapkan perkataan itu sudah jelas sekali, yakni hendak menyindir Leng khong taysu, sebab musibah yang menimpa Leng khong taysu saat ini tak lain karena dia percaya dengan perkataan orang sehingga menjual teman sendiri dan menempuh perjalanan sesat.

Sayang sekali Leng khong taysu tidak memahami arti lain dibalik perkata tersebut.

Tak lama kemudian fajar telah menyingsing, tibatiba dari bawah bukit sana terdengar dua kali pekikan nyaring bergema di angkasa. Leng khong taysu tertawa terbahak bahak:

"Aah mereka sudah datang suatu persa habatan memang mengutamakan pegang janji, mereka memang benar-benar manusia yang memegang janji, nyatanya perjanjian yang dibuat sepuluh tahun berselang tidak sampai mereka lupakan"

Baru saja selesai ia berkata, dari puncak bukit sana telah meluncur dua bayangan manusia.

Mereka bertekuk pinggang ditengah udara lalu dengan gerakan burung manyar terbang dipasir melesat keatas permukaan dengan enteng, dan tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Cukup ditinjau dari gerakan tubuh mereka dapat diketahui bahwa ilmu silat yang mereka miliki benar-benar amat hebat.

Sekali lagi Leng khong taysu tertawa tergelak: "Haah... haahh...haaah...Ciong hiante memang amat

memegang janji, bila kedatangan kalian tidak kusambut dari jauh, mohon kau sudi memaafkan"

Ternyata yang datang adalah seorang kakek dan seorang pemuda. Si kakek berusia enam puluh tahunan, berjubah hitam, sepatu laras hitam dan bermata tunggal, gerakgeriknya sangat angkuh dan jumawa, sebaliknya pemuda yang datang bersamanya berusia dua puluh tiga, dua puluh empat tahunan, beralis tipis, mata sipit, hidungbengkok seperti paruh betet dan gerak-geriknya cabul.

Ketika kakek itu melihat Suma Thian yu, ia lantas menegur pada Leng Kong taysu:

"Toa suhu, apakah ia muridmu?"

"Haaahh... haaahh... mari, mari kuperkenalkan kalian semua, dia adalah Ciong locianpwee yang disebut orang Malaikat sakti bermata tunggal, sedang yang seorang lagi muridnya Ciong locianpwee yang dise but harimau berwajah kemala Kok Ciu"

Kemudian sambil berpaling kearah dua orang itu ia melanjutkan:

"Sedang anak muda ini adalah tamuku, Suma Siauyap" Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie memperhatikan Suma Thian yu sekejap, ketika melihat pedang antik yang tersoren dipunggung anak muda tersebut ia   berseru tertahaa:

"Lote, aku lihat pedangmu seperti amat kukenal, boleh aku tahu apa nama pedang mu itu?"

Suma Thian yu tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, tapi ia segera ambil Keputusan dan menjawab:

"Kit Hong Kiam!"

Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing hwie bertiga sama-sama terperanjat, lalu tegurnya dengan wajah tercengang:

"Kit Hong Kiam? apa hubunganmu dengan Wan liang?" "Dia adalah suhuku" jawab Suma Thian yu seolah-olah

seorang bocah yang tak tahu urusan.

Leng Kong taysu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. Suaranya amat lengking dan tinggi sehingga membuat seluruh dataran itu bergetar keras. Seusai tertawa diapun berkata:

“Peristiwa ini benar-benar amat kebetulan, inilah yang dikatakan pepatah kuno sebagai: Dicari sampai sepatu jebol tidak ketemu akhirnya ditemukan tanpa sengaja, hemm, bocah, benarkah Wan Liang adalah gurumu?"

"Eeii... buat apa aku musti berbohong?"

"Bocah keparat!" seru malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing hwie sambil tertawa seram, jalan ke surga tidak kau lalui, jalan menuju ke neraka justru kau hampiri, cepat katakan padaku dimana Wan liang sekarang?"

"Dia orang tua telah meninggal, tewas dicelakai seorang perempuan jalang yang tak tahu malu"

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, sikap Suma thian yu masih tenang-tenang saja, seolah-olah ia tidak sadar seakanakan tidak mengetahui kalau ke tiga orang yang berada dihadapannya berniat jahat terhadap dirinya.

Leng Kong taysu menggelengkan kepala nya berulang kali setelah menyaksikan keadaan tersebut, diam-diam pikirnya: "Heran, mengapa orang she Wan itu memilih seorang gentong nasi sebagai murid nya"

Berpikir demikian ia segera menegur lagi: "Benarkah Wan Liang telah mati?"

"Benar, mengapa sih taysu bertanya terus?" Leng Kong taysu menghela napas panjang.

Ia bukan bersedih hati karena kematian Wan Liang, melainkan menyesal karena tak mampu membalas dendam atas sakit yang diterimanya dulu, maka ujarnya kemudian:

"Baiklah kalau begitu, akan kubunuh dirimu, kalau bagaimana mungkin rasa dendam yang sudah terpendam selama ini dapat terlampiaskan?"

Sepasang matanya berkilat-kilat memancarkan sinar kebencian, selangkah demi selangkah dia mendekati pemuda itu, sikapnya seakan-akan seekor ular berbisa yang siap memagut mangsanya.

Pada saat itulah tiba-tiba si harimau berwajah kemala Kok Cin berseru:

"Silahkan mundur locianpwee, untuk membunuh seekor ayam kenapa harus memakai golok penjegal kerbau? serahkan saja bocah keparat ini pada boanpwee"

Ceng Kong taysu tertawa dan manggut-manggut, katanya:

”Kalau begitu silakan keponakan mewakili ku, cuma ingat jangan sampai ia terbunuh!"

"Oooh, itu mah boanpwee sudah tahu" jawab harimau berwajah kemala Kok Cin samil tertawa angkuh.

Ia langsung menerjang kehadapan Suma Thian yu dan meloloskan sebatang senjata penggaris baja, kemudian bentaknya sinis:

"Bocah keparat cabut keluar pedangmu!"

Melihat senjata lawan. Suma Thian yu segera tertegun, sebab senjata penggaris adalah tandingan dari pedang, betapapun tajamnya sebatang pedang, bila sudah bertemu dengan senjata begini niscaya akan patah.

Mengetahui akan alasan tersebut Suma Thian yu tidak meloloskan pedangnya, katanya kemudian sambil tersenyum: "Pedangku ini adalah pedang warisan mendiang guruku, bila keadaan tidak amat mendesak, aku rasa lebih baik kulayani diri mu dengan tangan kosong saja"

Mendengar perkataan ini, si harimau berwajah kemala Kok Cin salah mengira bahwa perkataan ini diartikan menghina atau memandang rendah dirinya, dengan gusar ia membentak:

"Bocah keparat, apa sih yang kau andalkan hingga berani memandang hina toaya mu, aku tidak percaya kalau kau punya tiga kepala enam lengan!"

Sambil menerjang kedepan dia langsung membacok Suma Thian yu dengan jurus menyembah kepada pintu langit.

Suma Thian yu tak ingin terlalu menonjolkan diri, apa lagi masih ada dua orang musuh yang mengincar dari sisi arena, ia tahu bila sikapnya terlalu jumawa, hal ini bisa memancing datangnya bencana, oleh karena itu ia berkelit kesamping menghindari serangan itu.

Serungguhnya dalam serangannya ini si harimau berwajah kemala Kok Ciu hanya bermaksud mencoba kemampuan  lawan, ia menjadi bergembira hati setelah menyaksikan gerakgerik lawannya yang terlalu lamban, cepat-cepat ia melancarkan sapuan lagi dengan jurus Angin berpusing menyapu salju.

Tergopoh-gopoh Suma Thian yu berkelit kembali, lalu teriaknya:

"Kau benar-benar ingin bertarung? Aku mengira kau cuma mau main main saja"

Harimau berwajah kemala Kok citu tertawa seram....

"Bocah keparat, kamatian sudah didepan mata masih berbicara seenaknya, lihatlah nanti toaya akan membacok lengan kirimu sampai kutung!"

Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut Suma Thian yu merasakan datangnya serangan yang membacok bahunya. Diam-diam pemuda itu tertawa dingin, ditunggunya sampai senjata lawan tinggal satu depa dari sisi bahunya, tiba-tiba ia membungkukkan badan lalu dari arah bawah ia sodok lambung lawan keras-keras.

"Bluuk...!"

Sodokan Suma Thian yu bersarang telak dilambung Kok Ciu.

Pemuda itu berniat merecoki musuhnya, maka ia hanya menggunakan tenaganya sebesar dua bagian saja.

Kok Ciu yang terkena pukulan segera merasakan perutnya sakit, untung saja tenaga dalamnya cukup sempurna sehingga dia masih bisa mempertahankan diri.

Tapi dengan terjadinya peristiwa ini meledeklah amarah si harimau berwajah kemala itu.

Sambil meraung ia putar senjatanya kencang-kencang lalu secara beruntun melancarkan tiga buah pukulan.

Suma thian yu mengeluarkan ilmu langkah delapan mabuk untuk menghindar dari serangan-serangan musuhnya, sikap pura-puranya ini diperankan dengan amat baik, sehingga Leng Kong taysu maupun malaikat bermata tunggal berhasil dikelabuhi habis-habisan. Kalau Leng Kong taysu mengira Suma thian yu seorang jagoan lemah yang tak berkepandaian maka berbeda pendapat dengan si harimau berwajah kumala Kok ciu, setelah beberapa kali serangannya hampir mengenai lawan selalu dapat dihindari secara manis dan tepat, makin bertarung ia semakin terkejut sehingga akhirnya ia  membentak keras:

"Bocah keparat, rupanya kau berlagak blo'on, kalau seorang lelaki sejati tunjukan semua kepaniaianmu"

Suma Thian yu tertawa terbahak-bahak: "Haahaa...haah... kau terlalu sungkan, bila saudara Kok

selalu mengalah padaku buat apa kira musti melanjutkan pertarungan ini?"

Harimau berwajah kemala Kok Ciu membentak nyaring ia melompat kedepan lalu senjatanya diayunkan ketubuh Suma Thian yu berulang ulang dengan jurus berlaksa bunga pada mekar. "Keparat busuk aku akan beradu jiwa denganmu, pokoknya kalau hari ini kau tidak, mampus akulah yang mati!" teriaknya penuh emosi.

Tiba-tiba Suma Thian yu menemukan titik kelemahan pada serangan lawannya, ia segera tertawa nyaring, tubuhnya segera menerjang kebalik kabut senjata lawan, lalu secara telak menghantam dada musuh.

Kasihan si harimau berwajah kemala, belum sempat ia melihat bayangan musuh, dadanya sudah terasa sakit sekali, bagaikan tertindih batu besar, menyusul kemudian darah kental muntah dari bibirnya, wajahnya berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, kemudian setelah mundur beberapa langkah dengan sempoyongan ia terjatuh keatas tanah dan tak sanggup merangkak bangun lagi.

Biar mimpipun Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing hwie tidak menyangka kalau murid kesayangannya dapat menderita kekalahan secara tragis ditangan seorang bocah muda yang masih berbau tetek, melihat muridnya terluka parah, meledaklah amarah nya, tanpa memperdulikan keadaan muridnya, ia berpekik nyaring dan melompat kehadapan Suma Thian yu, lalu sebuah pukulan yang maha dashyat disodokkan ketubuh lawan.

Dengan langkah Ciok Tiong Loan Poh, Suma thian yu membalikkan badannya kemudian melenyapkan diri dari hadapan lawan-nya.

Menyaksikan Ciong ing hwie sudah melancarkan serangannya, cepat-cepat leng Kong taysu berseru mencegahnya:

"Ciong hiante, tunggu dulu, biar aku yang membereskan bajingan ini, aku lihat luka yang diderita muridmu cukup parah, kau harus segera merawatnya"

Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie segera meninggalkan lawannya lalu menghampiri Harimau berwajah kemala dan mengobati lukanya.

Dalam pada itu Leng Kong taysu telah menyerobot maju kehadapan Suma Thian yu. Sambil menunjuk kearah kaki Leng Kong taysu yang cacad Suma Thian yu berkata:

"Taysu sekali bersalah jangan kauulangi  kesalahan tersebut, sekalipun mempunyai dendam sakit hati sedalam lautan dengan guruku, toh orangnya sudah mati, sepantasnya

bila budi dan dendam pun ikut dikubur bersama kematian-nya, masa kau membenci orang yang sudah mati?"

Leng Kong taysu tertawa dingin:

"Dendam sakit hati ini ibaratnya yang tak terukur   dalamnya, biarpun aku dapat menggali keluar jenasahnya dan seribu kali membacok tubuhnyapun sakit hati ini belum dapat terlampiaskan, setelan kau menampilkan diri mewakili dirinya hari ini, terpaksa akupun akan melampiaskan dendam ku itu kepadamu”

Melihat kekerasan kepala lawannya, Suma Thian yu hanya bisa menghela napas panjang, ujarnya kemudian:

"Bila murid kaum beragama keji semua seperti kau, entah bagaimana jadinya dunia ini? jelek-jelek taysu pernah terhitung seorang ketua dari suatu perguruan besar di masa lalu, sepantasnya bila kau memandang tawar semua budi dan dendam yang ada didunia ini, jangan lagi keikutsertaanmu dalam menumpas seorang pendekar besar sudah merupakan suatu kesalahan, kini kau pun enggan melepaskan orang yang telah meninggal, kemana kau letakkan perasaanmu?"

"Tak usah ngebacot terus!" bentak Leng Koog taysu penuh amarah, dengan menghimpun tenaga dalam sebesar tujuh bagian ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat ke tubuh Suma Thian yu.

Menjumpai keadaan demikian Suma Thian yu menggelengkan kepalanya berulang kali.

Ia segera menghimpun pula tenaga dalamnya dan melepaskan sebuah pukulan dengan gabungan tenaga Bu Siang Sin Kang dan Ciong Goan sim hoat.

"Blaamm!" Suatu ledakan yang amat dahsyat bergema memecahkan keheningan, bersamaan dengan terjadinya benturan tersebut, desingan angin puyuh berhamburan kemana-mana.

Leng Kong taysu memang amat hebat, ditengah hembusan angin yang memacar kemana-mana itu ia justru mendesak Suma Thian yu dan melepaskan serangkaian pukulan dengan ilmu Tat Mo Hoa Kim hasil ciptaan-nya belum lama berselang.

Suma Thian yu sangat terkejut, ia tak berani berayal lagi dan segera melancarkan serangan balasan dengan ilmu delapan jurus pembunuh naga (Tay Ong To Liong Pat Si).

Dalam pada itu, malaikat sakti bermata tunggal telah   selesai mengobati harimau berwajah kemala, melihat Leng Kong taysu telah bertarung sengit, apalagi menjumpai gerakgerik Suma Thian yu yang gagah perkasa, diam-diam ia mulai menguatirkan keselamatan dari rekannya.

Karena itu secara diam-diam ia mempersiapken tiga batang jarum Bwe Hoa Ciam yang amat beracun dan siap dilancarkan ke arah lawan.

0000o0000 0000o0000

BEGITU Suma Thian yu mengeluarkan ilmu Tay Cing To Liong pat Si, segera terlihat betapa dahsyatnya ilmu pukulan ajaran Put Gho Cu ini, Leng Kong taysu segera merasakan dari arah delapan penjuru muncul angin pukulan dan bayangan serangan dari lawannya.

Sungguhnya Leng Kong Jaysu bukan manusia

sembarangan, ia dapat memimpin Go Bi Pay paling tidak mesti memiliki ilmu silat simpanan yang tangguh, kekalahan yang dideritanya sekarang tak lain karena ia tak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Jika seseorang sudah berada dalam keadaan demikian, berarti ia sudah memasuki dari awal perbuatan dosa, karena manusia demikian ini paling gampang tertipu dan masuk perangkap. Sejak kakinya cacad dipuncak Ciat Thian hong, pendeta ini melalu menyembunyikan diri dipuncak Ciat Thian hong untuk mendalami ilmu pukulan Tat Hoa Mo Kun nya, sepuluh tahun bagaikan sehari, Leng Kong taysu tak pernah malas melatih ilmunnya.

Tak heran kalau ilmu itu benar-benar mengerikan setelah dipergunakan olehnya hanya sayagnnya ia menderita cacad dikaki, sehingga gerak-geriknya kurang leluasa, ditambah lagi lengan kirinya harus memegang tongkat penyangga badan, kesemuanya ini membuat gerak-geriknya kurang leluasa dan lamban.

Itulah sebabnya sejak awal pertarungan Suma Thian yu lah berada di posisi atas angin.

Dalam pada itu, malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie telah membopong si harimau berwajah kemala Kok Ciu kesisi arena, kemudian ia menghampiri arena pertarungan dan mengikuti jalannya pertarungan tersebut dengan seksama.

Mendadak terdengar Leng Kong taysu berpekik nyaring, telapak tangan dan tongkatnya dipergunakan bersama-sama, agaknya ia hendak mempergunakan segenap kemampuannya untuk beradu jiwa dengan lawan.

Suma Thian yu segera berkata dengan hambar: "Taysu, kemampuanmu tidak lebih hanya begini-begini

saja, sebelum terlambat kuanjurkan kepadamu untuk tahu diri"

Sewaktu mengucapkan perkataan tersebut, ia berhasil menangkap tongkat Leng Kong taysu dan memandangnya dengan wajah sinis...

Seketika itu juga Leng Kong taysu kehilangan keseimbangannya, dalam keadaan demikian asal Suma Thian yu membetot, kemudian mendorong tongkat itu niscaya Leng Kong taysu akan kehilangan keseimbangan badannya dan terjungkal keatas tanah.

Tiba-tiba si malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie membentak keras:

"Bocah keparat, lihat senjata rahasia!" Bersama dengan ayunan tangannya, tiga batang jarum Bwee Hoa Ciam menyambar kedepan dan mengancam tubuh bagian atas, tengah dan bawah Suma Than yu.

Suma Thian yu sama sekali tak menyangka kalau Ciong Ing Hwie bakal melakutan sergapan secara tiba-tiba, ia jadi tertegun setelah mendengar bentakan tersebut, tahu-tahu titik cahaya tajam telah menyambar dihadapan-nya.

Untung saja Suma Thlan yu tidak gugup dalam menghadapi situasi demikian, cepat-cepat ia dorong tangan kanannya kemuka lalu mundur dua langkah kebelakang, nyaris ia termakan sergapan maut tersebut.

Siapa tahu disaat Suma Thian yu belum sempat berdiri tegak, Leng Kong taysu telah membentak keras lalu melontarkan tongkatnya keerah pemuda tersebut.

Tak terlukiskan kagetnya Suma thian yu menghadapi situasi yang demikian, cepat-cepat dia merubah gerakan tubuhnya, lalu melejit ke udara dan menyambut lemparan tongkat tersebut.

Bagaimana diketahui Leng Kong taysu memiliki tenaga dalam yang sempurna, sudah barang tentu lemparan-nya tadi disertai tenaga dalam yang kuat, akibatnya sewaktu menyambut tongkat tadi pemuda tersebut merasakan pergelangan tangannya menjadi kesemutan,  sedang tubuhnya ikut tergetar mundur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan.

Malaikat sakti bermata tunggal Ciong ing Hwie memang seorang manusia yang amat licik, melihat ada kesempatan yang amat ba gus ia segera menerobos kemuka serta melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kemuka.

Ancaman bahaya yang berulang kali dialami Suma Thian Yu membuat pertahannya kocar-kacir dan napasnya tersengkalsengkal, tak bisa dibendung lagi tubuhnya mundur terus berulang kali, mundar punya mundur akhirnya dia tidak menyadari kalau tubuhnya telah berada disisi jurang, bila ia mundur selangkah lagi niscaya badannya akan terjerumus kedalam jurang tersebut. Kesampatan yang demikian baiknya ini tentu saja tak akan sia-siakan oleh siapapun, Leng Kong taysu segera melompat kedepan pemuda itu dan mendesaknya lebih jauh, sedang Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie mendesak datang dari sebelah kiri.

Posisi Suma thian yu saat ini benar-benar amat kritis, menghadapi desakan lawan yang datang dari muka dan terhadang jurang yang amat dalam, membuat pemuda itu gugup dan panik.

Tiba-tiba malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing hwie tertawa dingin dan berkata:

"Bocah keparat, segera kau loloskan pedang Kit Hong Kiam yang kau gembol itu, lalu lompat turun diri sini, dengan   tenaga dalam yang kau miliki aku percaya kau masih bisa lolos dari kematian!"

"Tapi kalau kau berani mengatakan kata tidak...hmm..."

Mendadak Suma Thian yu berpekik nyaring dengan menghimpun tenaganya sebesar sepuluh bagian ia membentak nyaring:

"Kau jangan bermimpi disiang bolong!"

Bersamaan dengan bentakan itu, sepasang tangan dilontarkan kedepan, seketika itu juga muncul dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat seperti amukan angin puyuh langsung menggulung ketubuh Ciong Ing Hwie.

Kong taysu menarik napas dingin menyaksikan kejadian tersebut, jeritnya kaget:

"Ciong hiante cepat kabur!"

Bersamaan waktunya ia melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat dari sisi arena, dengan maksud untuk mengurangi daya pengaruh dari tenaga pukulan lawan yang mempergunakan ilmu Bu Siang Sin Kang itu.

Dipihak lain malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie pun tidak berpeluk tangan belaka.

Dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan ayunan tangannya. Sebagaimana diketahui, ketiga orang ini merupakan jagojago yang tangguh dalam dunia persilatan dewasa ini, boleh dibilang semua memiliki ilmu silat yang amat tangguh, bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya suara ledakan yang timbul akibat bertemunya tiga kekuatan tersebut.

"Blaam...!"

Akibat dari ledakan yang amat keras itu, tiga gulung desingan angin dahsyat itu memancar ke empat penjuru, sedang Suma thian yu berasa baru seolah-olah bergetar keras.

Dalam terkejutnya Leng kong taysu segera menjejakan kakinya keatas tanah dan secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ia melompat dari arena.

Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing hwie pun tidak tinggal diam, secepat kilat ia mundur pula kebelakang.

Disaat kedua orang itu berlompatan ke belakang daya ledakan nyaring sekali lagi bergemuruh di udara diikuti pula jeritan kaget yang makin lama semakin menjauh dan semakin lemah, sebelum akhirnya lenyap lama sekali.

Lama... lama sekali akhirnya debupun membuyar dan langitpun bersih kembali.

Leng liong taysu tidak menjumpai bayangan Suma thian yu, sedang tempat dimana pemuda itu berdiri tadi sudah tenggelam dan lenyap dari pandangan mata.

Leng kong taysu segera menghela napas panjang, lalu mengangkat kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, demikian pula dengan si malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwei, dalam waktu yang singkat di seluruh arena hanya dipenuhi gelak tertawa yang panjang.

Selang beberapa saat kemudian Leng Kong taysu berkata: "Takdir....takdir... bocah keparat itu memang sudah

ditakdirkan harus mati demikian, heee...hehe... akupun tak usah repot-repot lagi membuang tenaga, cuma sayang..."

"Apanya yang disayangkan?" tanya Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie.

"Sayang kita tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana si keparat cilik itu merasakan siksaan yang paling hebat, ai.....ai ....tentu merupakan tontonan yang mengasikkan, sayang ”

Dengan wajah masih tidak mengerti, Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie bertanya lagi:

"Siksaan yang paling keji apa maksudmu?" Leng Kong taysu tertawa seram:

"Kau tau apa nama jurang yang berada dibelakang bukit sana?"

Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie menggelengkan kepala berulang kali lalu menjawab:

"Aku tidak tahu, tolong berilah keterangan sejelasnya!?" "Kau pernah mendengar tentang lembah Put pui kok

(lembah tidak kembali) yang namanya termashur dalam dunia persilatan?"

"Aah...Put pui kok...heeeeh "

Selesai mengucapkan kata tersebut si Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie tertawa seram tiada hentinya.

Hal ini menunjukan betapa gembiranya perasaan si iblis tua tersebut.

Leng Kong taysu tak dapat menahan raga gembiranya pula, ia juga tertawa terba hak-bahak sambil katanya:

"Inilah pembalasan yang harus dirasakan oleh ahli waris Wan Liang, aku benar-benar puas"

"Memang patut disayangkan, bila kita dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematian bocah keparat itu, aku baru benar-benar gembira sekali" kata Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie sambil menghela napas panjang.

Baru selesai iblis itu berbicara, tiba-tiba terdengar dengusan dingin diudara:

Kedua orang itu merasa amat terkejut, tanpa terasa Leng Kong taysu membentak gusar:

"Siapa?"

Tiba-tiba dari ujung bukit sana muncul dua orang kakek yang berwajah ketolol-tololan. Begitu mengetahui pendatang itu adalah sepasang kakek bodoh dari bukit Wu san, Leng Kong taysu merasakan tubuhnya bergetar keras seraya berpekik di hati.

Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie turut terkesiap dibuatnya, tapi segera bentaknya:

"Ada urusan apa kalian datang kemari?"

Sekilas perubahan muncul diatas wajah Toa Gi Siu Khong siang yang dingin bagaikan es itu, tiba-tiba ujarnya sambil membentak:

"Ayo kembalikan seorang Suma Thian yu kepadaku!" "Bocah keparat itu sudah sepantasnya menerima kematian,

apalagi toh bukan aku yang mencelakainya, masa kau menyalahkan aku sekarang" ujar Leng Kong taysu hambar.

Dengan suara yang dingin dan kaku kembali Toa Gi siu Khong Siang membentak:

"Ayo cepat kembalikan seorang Suma Thian yu kepadaku!" Selama ini Toa Gi Siu Khong Siang ialah orang tokoh yang   suka bergurau, akan tetapi saat ini wajahnya amat serius serta

diliputi hawa napsu membunuh yang amat mengrikan.

Setiap ucapannya diutarakan dengan suara dalam dan tegas.

Leng Kong taysu segera tertawa seram: "Bagaimana cara mengembalikannya?"

"Seorang diantara kalian harus membayar dengan nyawa!"

Selama ini malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie hanya pernah mendengar nama besar Wu San Siang Gi, tapi belum pernah mengetahui sampai dimanakah ilmu silat yang dimiliki mereka, ketika mendengar ucapan Toa Gi Siu Khong Siang ia segera tertawa seram:

"Hei... si tolol tua memangnya kau juga sudah bosan hidup?"

Selesai berkata ia menerjang ke hadapan Toa Gi Siu, lalu dengan jurus Bocah dewa menunjuk jalan, secepat kilat ia membacok jalan darah dia Ki Koan Hiat di tubuh Toa Gi siu.

Biarpun ia cepat ternyata Toa Gi siu Khong Siang lebih cepat dari pada gerakan tubuhnya, tampak tubuhnya berkelebat ke depan dan pergelangan tangan si malaikat sakti bermata tunggal telah dicengkeramnya keras-keras.

Kontan saja si malaikat sakti bermata tunggal menjerit kesakitan bagaikan ayam yang mau disembelih, peluh sebesar kacang kedelai membasahi seluruh jidat orang itu.

Sementara itu Toa Gi siu Khong siang telah berkata lagi dengan suara yang dingin bagaikan es:

"Kau telah mencelakai Suma Thian Yu, biar ada sepuluh orang Ciong Ing Hwie pun belum tentu bisa menggantinya, bila hari ini tidak kuberi pelajaran yang setimpal, rasanya semua perasaan dendamku belum terlampiaskan keluar!"

Dengan sekuat tenaga ia menggencet pergelangan tangan lawan, kasihan Ciong Ing Hwie yang telah lanjut usia itu, ia segera melolong menjerit kesakitan.

Toa Gi Siu Khong segera berpaling ke arah Leng Kong taysu seraya ujarnya pula:

"Hei, keledai gundul yang berjiwa buaya, bukankah kau gemar melihat siksaan siksaan yang keji semacaam ini? nah sekarang nikmatilah sepuas hatimu, agar segala napsumu dapat terlampiaskan!"

Sesungguhnya Leng Kong taysu cukup mengetahui akan kehebatan sepasang kakek bodoh dari bukit Wu san, namun setelah mengetahui rekannya menjumpai kesulitan, sudah barang tentu ia tak dapat berpeluk tangan belaka.

Tiba-tiba ia menerjang kedepan sambil melepaskan sebuah sodokan kearah tubuh Toa Gi Siu.

KaKek bodoh kedua Khong Bong mandengus dingin, ia mengebaskan pula ujung bajunya kedepan, segulung angin puyuh yang amat keras segera memunahkan angin pukulan Leng Kong taysu hingga lenyap tak berbekas.

Akibat dari sapuan tersebut Leng Kong taysu segera terpental hingga mundur beberapa langkah.

Dalam pada itu harimau berwajah kemala yang roboh tak sadarkan diri terbangun oleh jeritan gurunya, ketika menjumpai gurunya sedang disiksa olah kakek yang tak dikenal, hawa amarahnya segera berkobar, bentaknya keraskeras:

"Setan tua, lepaskan tanganmu!"

Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, ia menyerbu kemuka secara kalap.

Toa Gi Siu Khong Siang semakin gusar, ia menghimpun tenaga dalamnya kedalam telapak kiri, ketika melihat kedatangan lawan, menanti Kok Ciu sudah menerjang tiba seperti anjing gila, tenaga pukulannya segera dilontarkan kedepan.

"Weess..."

Bagaikan menerjang diatas se1apis baja yang sangat kuat, harimau berwajah kemala Kok ciu mendengus tertahan, kemudian roboh terjengkang keatas tanah dan jatuh tak sadarkan diri.

Leng Kong taysu menjadi sangat panik setelah menyakitkan semua adegan tersebut.

Dia tahu sepasang kakek bodoh dari Wu San adalah  pendekar yang termasyur karena kewelas  asihannya, semenjak terjun kedunia persilatan sampai kini belum pernah membunuh orang atau menyiksa seseorang, tapi kini hari ini ia telah melakukan berbagai perbuatan  yang luar biasa, hal  mana menunjukan bahwa ada sasuatu yang tak beres.

Maka secsra diam-diam dia memungut tongkatnya dari atas tanah, kemudian melejit ke udara dan meelarikan diri dari tempat itu.

Sebenarnya Ji Gi Siu Khong Bong hendak mengejar, tapi Toa Gi Siu Khong Siang segera memberi tanda kepadanya, maka ujarnya kemudian:

"Apakah kita akan biarkan keledai gundul itu kabur dengan begitu saja?"

"Akhirnya manusia semacam dia pasti akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, apa gunanya kita musti memusuhi seluruh perguruan Go bi pay?" kata Toa Gi Siu.

"Wah, kalau begitu terlalu keenakan si keledai gundul itu, bagaimana dengan manusia she Ciong ini?" Pelan-pelan Toa gi Siu Khong Siang melepaskan cengkeramannya, kasihan si malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie yang namanya amat menggetarkan tujuh propinsi di utara itu, ia segera roboh keatas tanah dengan wajah penuh penderitaan.

Toa Gi Siu Khong Siang segera mendengus dingin.

"Hmm, tak nyana kau seorang tokoh yang termasyur dalam dunia persilatan, ternyata menggunakan cara yang rendah dan licik untuk menghadapi seorang pemuda yang masih ingusan, hari ini aku banya memberi sedikit pelajaran untukmu, tapi   bila sampai terjatuh ketangan ku lagi, nanti akan kucabut selembar nyawa anjingmu!"

Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ini HWie tidak berkata sepatah katapun, ia merasakan pergelangan tangan-

nya amat sakit bagaikan disayat-sayat dengan pisau, sehingga tak sedikit kekuatanpun yang dapat dipergunakan lagi, hal ini membuatnya amat terperanjat, disangkanya Toa Gi Siu Khong Siang telah mencenderai dirinya.

Dalam sekilas pandangan saja Toa Gi Siu Khong Siang dapat menebak suara hatinya, katanya kemudian sambil tertawa tergelak:

"Kau tak usah kuatir, aku tak pernah mencederai orang secara licik dan munafik, sebentar lagi kau akan pulih lagi seperti biasa, aku hanya berharap gunakanlah rasa sakit yang kau derita sekarang sebagai suatu pelajaran, sehingga kau dapat kembali ke jalan yang benar"

Seusai berkata, bersama Ji Gi Siu Khong Bong ia segera berlalu dari situ, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap di balik bukit sana.

Memandang bayangan tubuh ke dua orang itu dengan pancaran sinar kebencian, Malaikat sakti bermata tunggal Ciong Ing Hwie menggertak gigi sambil bergumam:

"Suatu ketika aku akan membuat kalian menderita merasakan sakit yang lebih keji baru kemudian akan kubunuh secara pelan-pelan agar kalian merasakan penderitaan..!"

oooOoo oooOooo 

SUMA THIAN YU merasa kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang ketika terjatuh dari puncak bukit Pek Jin Hong, tahu-tahu ia sudah roboh tak sadarkan diri.

Entah beberapa saat telah lewat. Ketika sadar kembali dari pingsannya, langit sudah gelap, sekeliling tubuhnya dicekam kegelapan yang amat pekat, dia hanya merasa sedang berbaring diatas tanah berumput, suasana disekeliling situ amat hening, sehingga suara angin pun tak kedengaran.

Ia tahu sekarang bahwa dirinva sudah berada didasar jurang setelah terjatuh dari puncak bukit tadi.

Ia mencoba bangkit dari tumpukan rumput, anehnya ia tak merasa kesakitan, ketika jari tangannya digigit terasa saku pula, ini menandakan kalau ia belum mati.

Maka dengan mengandalkan ketajaman matanya ia mulai berjalan menelusuri kegelapan.

Mendadak...

Setitik bayangan hitam muncul di depan mata dan bayangan itu pelan-pelan bergerak menghampirinya.

Gerakan itu amat lambat, lambat sekali. Mungkinkah ular?

Suma Thian yu mulai berpikir.

Maka iapun menghentikan langkahnya, aneh, ternyata bayangan hitam itupun berhenti.

Tanpa terasa bulu romanya pada bangun berdiri, tapi terdorong oleh rasa ingin tahunya, kembali ia maju selangkah.

Bayangan hitam itu pun turut maju, hanya kali ini ia tidak berhenti lagi, melainkan meneruskan langkahnya menghampirinya.

Dengan perasaan tegang dan panik, Suma Thian yu segera menggenggam peredangnya lalu bersiap-siap seakan-akan menghadapi musuh yang tangguh.

Akhirnya titik hitam itu mulai memasuki jarak pandangan matanya, ternyata dugaan-nya keliru, teryata bukan seperti seekor ular yang diduganya, melainkan seekor ayam alas. Suma Thian ju menghembuskan napas lega, membayangkan sikap tegang yang barusan dialaminya tadi ia jadi geli sendiri.

Pelan-pelan ia maju menghampirinya, sudah barang tentu ia tak usah merasa takut terhadap seekor ayam alas.

Siapa tahu baru saja Suma Thian yu berjalan lima langkah, mendadak ayam alas itu mementangkan sayapnya dan menerjang ketubuhnya.

Menanti Suma Thian yu sadar akan datangnya bahaya, tahu-tabu ayam alas itu sudah berada

diatas kepalanya, sehingga terpaksa ia harus cepat-cepat menjatuhkan diri bertiarap.

Bersamaan dengan mendesingnya angin tajam, tiba-tiba kepalanya terasa amat sakit, tahu-tahu ikat kepalanya sudah tersambar ayam alas itu hingga sobek, masih untung hanya beberapa lembar rambutnya yang ikut rontok, coba kalau kulit kepalanya yang tersambar niscaya akan muncul sebuah  lubang besar disana.

Suma Thian yu merasa mendongkol bercampur geli, ia tak menyangka kalau seekor ayam alaspun mempunyai kemampuan yang begitu hebat, dalam keadaan demikian timbul lagi sifat kekanak-kanakan-nya, serta merta ia membalikan badannya, dimana ayam alas itu masih berdiri sambil berkotek.

Tiba-tiba Suma Thian yu merasa perutnya amat lapar, pikirnya kemudian:

"Mengapa tidak kutangkap saja ayam alas sebagai penangsal perutku yang lapar, tentu enak sekali rasanya.

Dengan berhati-hati sekali ia mendekati ayam alas itu.

Mendadak ayam alas itu kembali berkotek, kemudian

sambil mementangkan sayapnya ia menerjang Suma Thian Yu lagi.

Kali ini Suma Thian yu telah membuat persiapan yang

cukup matang, begitu si ayam melompat ke atas kepalanya, ia segera me rendahkan kepalanya serta menyambar kaki ayam tersebut. Ketika kakinya tertangkap pemuda itu, si ayam segera menundukan kepalanya dan mematuk pergelangan tangan Suma Thian yu sehingga terluka karena kesakitan, terpaksa pemuda itu melepaskan ayam tersebut.

Melihat patukannya mendatangkan hasil, sekali lagi si ayam alas itu mementagkkan sayapnya sambil menerkam orang, kali ini ia siap mematuk sepasang mata Suma Thian yu.

Tak terlukiskan amarah Suma Thian yu menghadapi kejadian ini, pedangnya segera diloloskan dan diantara berkelebatnya cahaya biru mendadak terdengar ayam alas itu berpekik kesakitan, tahu-tahu kepalanya terpapas potong jadi dua dan mati seketika.....

Sama Thian yu menggelengkan kepalanya berulang kali sambil gumamnya:

"Kalau cuma membunuh seekor ayam pun aku harus mengeluarkan tenaga sebesar ini, mana mungkin aku bisa menduduki kursi utama didalam dunia persilatan?"

Dipungutnya bangkai ayam itu, lalu ia membuat api unggun untuk memanggang ayam tadi.

Tiba-tiba.....

Dari kejauhan sana terdengar suara orang yang merdu: "Kuur....kuur....a hoa....a hoa "

Dari dasar jurang bisa muncul seorang manusia pun sudah terhitung merupakan kejadian yang aneh, apalagi yang muncul seorang wanita, tanpa terasa Suma Thian yu mengalihkan pandangannya kearah datangnya suara tadi, tak lama kemudian muncul sebatang obor yang makin lama semakin mendekati ke arahnya.

Ketika diamatinya dengan seksama ternyata orang itu adalah seorang gadis muda yang memegang sebatang obor sambil berjalan mendekat, nona itu tidak hentinya bersuara a...hoa a hoa

Suma Thian yu sengaja mendehem, tampaknya gadis itu sangat terkejut ketika menjumpai Suma Thian yu, iapun berseru tertahan sambil menegur:

"Siapakah kau?" "Nona, aku sedang tersesat!" sahut Suma Thian yu cepat. "Tersesat?" dengus si nona sambil mendekati.

"Hmm, kau legi ngaco belo, lembah ini terpenci1 lagi pula empat penjuru dikelilingi bukit yang terjal, bagaimana caramu masuk sampai disini? ayo Jawab sejujurnya, jangan sampai terjadi kesalah pahamam diantara kita!"

Cepat-cepat Suma Thian yu menjura sambil berkata lagi: "Aku benar-benar terjatuh dari puncak bukit sana, harap

nona jangan mentertawakan"

Mendengar perkataan tersebut si nona tertawa cekikikan. "Ucapanmu lebih-lebih ngaco, mana mungkin ada orang dapat hidup setelah terjatuh dari puncak Pek Cin Hong, jangan lagi manusia, batu cadas yang amat keraspun akan hancur lebur, kau jangan mengigau di siang bolong."

Sambil tertawa Suma Thian yu menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya kemudian:

"Nona, mau percaya atau tidak terserah, yang pasti persoalan ini toh tak perlu diperdebatkan lagi"

Tiba-tiba si nona melihat bangkai ayam yang berada   dibawah kaki Suma Thian yu, dengan wajah berubah ia segera menjerit kaget.

"Aah, kaukah yang membunuh A Hoa ?"

Suma Tnian yu tertegun, lalu sambil menunjuk bangkai ayam itu sambil berkata keheranan.

"Apa, kau bilang nona? inikah A Hoa... Jadi A Hoa adalah ayam alas ini?"

"Dia adalah A Hoa, bentak nona itu dengat penuh amarah, sedang matanya melorot besar, kau bajingan tengik, aku akan beradu jiwa dengan mu!", lantas dia mengayunkan tinjunya dan menghantam tubuh Suma thian yu.

"Eeii tunggu dulu", sambil berkelit Suma Thian Yu menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Jangan menyerang dulu nona, kalau memang ada persoalan mari kita bicarakan secara baik-baik"

Si nona menerjang lebih jauh sambil melepaskan pukulannya, bentaknya keras: "Aku tak mau tau, pokoknya kau harus mengganti nyawa ayam alas itu!"

Suma Thian yu tertawa terbahak-bahak.

"Haha... haha... apa sih artinya seekor ayam alas? masa aku harus mengganti dengan nyawaku, memangnya kau anggap ayawa ku lebih tak berharga dari ayam itu?"

Setelah beberapa terjangannya mengalami kegagalan, nona itu marah benar, hingga gemetar keras seluruh tubuhnya, cepat-cepat dia membuang obornya keatas tanah lalu mengeluarkan sebatang anak panah pendek dan dilontarkan ke udara.

Diiringi suara desingan yang tajam, panah itu melesat ke udara dan menimbulkan suara desingan yang amat keras.

Setelah melepaskan panah tadi si nona melancarkan serangan berantai, angin pukulan yang menderu-deru seketika menyelimuti angkasa.

Suma Thian yu terkejut sekali melihat ancaman tersebut, segera pikirnya:

"Hebat sekali tenaga dalam yang dimiliki perempuan ini, tak kusangka dengan usianya yang begini muda ia memiliki kepandaian yang sehebat ini!"

Dengan mengembangkan ilmu  langkah  Ciok Tiong Luan poh pemuda itu berkelit kesamping, kemudian dengan mata yang jeli ia periksa di sekeliling tempat itu, sebab dari kemunculan si nona yang amat mendadak itu, serta tindakannya melepaskan panah bersuara, menunjukkan bahwa dibelakang nona ini masih banyak jago-jago yang hebat.

Apa yang diduganya memang benar, mendadak terdengar dua pekikan aneh dari tempat kejauhan sana.

Suara itu amat keras dan nyaring, hal ini menunjukkan bahwa tenaga dalam mereka amat sempurna.

Sementara pekikan masih menggema diudara, tiba-tiba Suma Thian yu menyaksikan ada dua bayangan manusia meluncur datang secepat kilat.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 30"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close