Kitab Pusaka Jilid 29

Mode Malam
Jilid : 29

MERASA mendingan kalau Sam yap koay mo tidak mendengar perkataan tersebut, sindiran ini diterimanya dengan perasaan bagaikan disayat-sayat pisau tajam.

Mendadak ia saksikan Suma Thian yu sedang mengangkat tangannya tinggi-tinggi sehingga pertahanan dadanya sama sekali terbuka, bila ia manfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan pukulan, niscaya musuh akan tergeletak mampus.

Berpikir demikian, tanpa terasa tubuhnya mendadak maju ke depan, diiringi hentakan menggeledek tiba-tiba telapak tangan-nya diayunkan ke muka menghajar dada lawan.

Sejak permulaan tadi Suma Thian yu sudah menduga sampai kesitu, ia mendengus dingin, sepasang telapak tangannya segera didorong kemuka sementara tubuhnya melompat kebelakang.

Penutup peti mati itu langsung melejit berapa depa ketengah udara kemudian menyambar batok kepala Sam yap koay mo.

Padahal waktu itu Sam yap koay mo sedang menyerang, melihat datangnya peti mati tadi, serta merta dia pergunakan tangan-nya yang sebelah mencoba menahan penutup peti mati itu.

"Kraaakkk...!"

Siapa sangka penutup peti mati itu hanya tersanggah ujung sebelahnya saja, sehingga hilanglah keseimbangan benda tersebut, tak ampun ujung penutup peti mati yang lain langsung menyambar ke kaki iblis itu dengan disertai sisa tenaganya.

Sam yap koay mo menjerit kesakitan, ia mundur beberapa langkah dengan sempoyongan sedang paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Lama-kelamaan Suma Thian yu menjadi bosan untuk mempermainkan musuhnya lebih lanjut, dia berniat untuk menghabisi saja jiwa iblis tua itu, maka sambil menerjang kemuka bentaknya:

"Siluman tua, sauya akan penuhi harapanmu "

Mendadak dia mengayunkan tangan kanannya, segulung angin puyuh yang amat keras langsung menyerang tubuh Sam yap koay mo.

Terkesiap sekali Sam yap koay mo menghadapi ancaman yang begitu dahsyat, dalam hati kecilnya ia berpekik:

"Habis sudah riwayatku kali ini!"

Dengan mernghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya, ia lontarkan sepasang telapak tangannya kemuka dengan harapan bisa menolong selembar jiwanya dari ancaman tersebut.

Pada detik-detik yang sangat keritis itulah mendadak terdengar suara tertawa seram yang sangat aneh berkumandang datang dari belakang punggung Suma Thian yu.

Menyusul kemudian muncul setitik cahaya putih yang menyergap punggungnya.

Dan balik semak belukar beberapa kaki dari mereka berada, kedengaran seseorang berseru dengan suara nyaring:

"Suma Thian yu, lembah Si hun kok ini akan menjadi tempat kuburan untuk selamanya” Suma Thian yu segera menghimpun tenaga  murninya sambil melambung ke udara setinggi tiga kaki lebih, kemudian dengan gerak tubuh walet terbang naga sakti, tubuhnya meluncur lagi ke bawah setibanya ditengah angkasa, dengan demikian ia lolos dari sergapan senjata rahasia yang datangnya dari belakang itu.

Melejit ke udara sambil membalikkan badan, sambil menyerang seraya menghindar, semua gerakan tersebut boleh dibilang hanya mengandalkan tenaga murni, bila seseorang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam   yang sempurna, mustahil hal semacam itu dapat dilakukan olehnya.

Diam-diam Sam yap koay mo bersorak memuji, pergelangan tangan kanannya segera digetarkan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke tubuh pemuda itu.

Ketika sepasang kaki Suma Thian yu baru mencapai pemukaan tanah, angin pukulan dari Sam yap koay mo telah meluncur datang ke depan tubuhnya dengan di sertai desingan angin tajam.

Tidak sampai tubuhnya berdiri tegak secara beruntun pemuda itu melontarkan tangan tunggalnya melepaskan tiga buah serangan hebat, sementara tubuhnya sendiri mundur berapa langkah.

Menanti ia menengok lagi, ternyata orang yang berdiri disisi Sam yap koay mo adalah si harimau angin hitam Lim Khong.

Tak ragu lagi orang yang menyergapnya dengan senjata rahasia tadi bukan lain ada lah Lim Khong si manusia laknat tersebut.

Sementara pemuda itu hendak menyindirnya dengan beberapa patah kata, mendadak terdengar suara pekikkan nyaring bergema membelah keheningan di waktu senja itu, gelak tertawa menyusul pula dari puluhan kaki seputar arena.

Dengan cepat Suma Thian yu berpaling, ia saksikan ada beberapa sosok bayangan manusia sedang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa... Melihat siapa yang datang, Suma Thian yu tertawa terbahak-bahak serunya:

"Haaa... haa... haaa... rupanya sudah berdatangan semua, beruntung sekali aku orang she Suma, ternyata sekali bisa menjumpai berapa orang jago lihay dari golongan hitam hari ini"

Baru selesai dia berkata, ditengah arena telah melayang turun tiga sosok tubuh manusia, mereka adalah Kun lun indah Siau Wi goan, Wan wan cu serta si ular berekor nyaring Mo Pun ci.

Jadi termasuk si harimau angin hitam Lim Khong serta Sam yap koay mo, pihak musuh menjadi lima orang.

Kelima orang tersebut hampir semuanya merupakan jagojago lihay dari golongan rimba hijau, malah Kun lun indah Siau Wi goan merupakan pemimpin mereka.

"Siau Wi goan!" Suma Thian yu segera berseru sambil tertawa dingin, kejahatan yang kau lakukan sudah terlampau hebat, kekejianmu juga sudah diketahui orang, masih punya mukakah kau untuk memimpin para pendekar dari gololgan putih?"

"Heeehh...heeeh...sayang sekali kau sudah tak mampu  untuk menyiarkan berita ini keluar!" jengek Kun lun indah Siau Wi goan sambil tertawa seram.

Suma Thian yu merasa ucapan ini ada benarnya juga, bila

ia tidak berusaha untuk meloloskan diri hari ini, mana mungkin perbuatan Siau Wi gon bisa diketahui orang lain?

Tak heran kalau ia berani bersekongkol dengan kaum iblis untuk berusaha melenyapkan jiwanya, agaknya dia memang takut rahasia tersebut bocor sehingga ia su dah bersiap-siap menahannya disitu.

Berpendapat demikian, diam-diam ia tertawa dingin, pikirnya:

"Tidak sulit bila ingin menahan aku Suma Thian yu disini, cuma darah pasti akan bercucuran di lembah Si hun kok ini" Dalam pada itu pihak lawan sudah berdiri berjajar sambil mempersiapkan diri, terdengar Wan Wan cu berseru sambil tertawa seram:

"Hei bocah, sewaktu ditebing Pek hok nia hampir saja aku jatuh dipecundangi olehmu, hari ini kita bersua kembali, maka aku akan menghabisi nyawamu disini untuk membalas sakit hatiku yang lalu"

Suma Thian yu tertawa hambar:

"Siluman tua yang tak tahu diri, hanya mengandalkan  sedikit kemampuanmu itu masa kau ingin membalas dendam? Apakah kau tidak merasa bahwa perbuatanmu itu terlalu tak tahu diri? Terus terang saja sauya katakan kepadamu, tidak sulit bila ingin menahan sauya, cuma kalian berlima mesti turun tangan bersama-sama!"

Belum selesai ia berkata, Kun lun indah Siau Wi Goan telah berseru sambil tertawa seram:

"Tepat sekali ucapanmu itu, sebab toaya memang punya rencana untuk berbuat begitu

Suma Thian yu tertawa terbahak-bahak.

"Haah... haah... haah... hitung-hitung siauya terbuka sudah mataku, anjing peliharaan monyet, memang manusia macam kaulah yang sanggup melakukan perbuatan semacam ini!"

Kun lun indah Siau Wi Goan tertawa seram, sebelum ia sempat menjawab, mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring:

"Sudah lama kudengar nama besar Kun lun indah, dalam anggapanku Kun lun indah tentulah seorang lelaki sejati yang berjiwa terbuka, siapa sangka aku si pengemis tua menelan kekecewaan heeh... heeh... kau ingin meraih kemenangan dengan mengandalkan jumlah yang banyak bukan? Sayang apa yang kau inginkan itu belum tentu bisa tercapai secara mudah"

Kun lun indah Siau Wi goan menjadi amat terkesiap oleh perkataan tersebut, ketika ia berpaling tampak seorang pengemis tua yang berpakaian compang camping sedang munculkan diri dari balik semak dengan langkah pelan. Dia muncul sambil membawa poci arak, langkahnya gontai seperti orang yang sedang mabuk.

Mengetahui siapa yang datang, Kun lun indah Siau Wi goan menjadi terkesiap, belum sempat ia menjawab, Wan wan cu yang berada disisinya telah berseru sambil tertawa seram:

"Sudah lama kudengar saudara Wi menutup diri sambil memperdalam ilmu, sungguh tak nyana kau telah muncul pula disini!"

Yang datang menang si pengemis Wi Kian, dengan mata yang sipit dia mengerling sekejap ke arah Wan wan cu, lalu berlagak kaget, serunya:

"Ooh kikira siapa ternyata saudara Wan, kenapa sih kaupun bersedia menuruti perkataan orang dengan membantu manusia durjana melakukan kejahatan?"

Didamprat lebih dulu oleh pengemis tersebut, Wan wan cu menjadi amat malu dan sedih, tapi dihati kecilnya ia mengumpat:

"Pengemis busuk, kau tak usah banyak ngebacot, sebentar bila pertaruangan sudah berlangsung, pasti akan kusuruh kau tunjukan kejelekannya"

Sedang diluaran, ia tertawa licik seraya berkata: "Saudara Wi memang gemar bergurau, bicaranya sekehendak hati, masih untung kita adalah sobat lama

sehingga kata-kata semacam itu tak sampai kumasukan ke dalam hati, hmm...hmmm... saudara Wi masih tetap gagah seperti sedia kala, aku mesti mengucapkan selamat untukmu"

Ucapan yang terakhir ini tidak genah dan tak pakai aturan membuat si pengemis Siau yau kay menjadi terkesiap, serunya kemudian sambil tertawa dingin:

"Aku si pengemis tidak doyan yang lunak tidak pula yang keras, kau tak usah merayu ku dengan kata-kata yang lembut karena tidak cocok dengan seleraku, apakah kau sudah berubah kelamin sehingga menjadi si nona yang diperam kakinya?"

Kata-kata dengan nada yang tajam itu kontan saja mengobarkan amarah Wan Wan cu, sebenarnya dia ingin membantah, namun Siau yau kay sudah keburu berkata ke pada Kun lun indah:

"Kau si telur busuk peliharaan anjing. Jika kau berani kasak kusuk dibelakang aku si pengemis tua nyalimu benar-benar amat besar, Hmm..hampir saja aku termakan oleh rencana busuk kalian..."

“Pengemis busuk, percuma saja kau banyak bicara" tukas Kun lun indah Siau Wi Goan dingin, "malam ini aku orang she Siau ingin mencoba sampai dimanakah kemampuanmu itu"

"Tunggu dulu" Siau yau kay Wi Kian menggelengkan kepalanya berulang kali, "mau bertarung mau saling membunuh, tentu akan kulayani, cuma ingin kutanyakan dulu suatu masalah kepadamu"

Berbicara sampai disini, Siau yau kay sengaja memperkeras suaranya, sedang biji matanya berputar memandang sekejap sekeliling sana, kemudian terusnya:

"Aku mau tahu benarkah kau yang telah membunuh

seluruh keluarga dari perusahaan Sin liong piaukiok, menfitnah Suma Thian yu, memakai rambut palsu menyaru sebagai perempuan untuk menggusarkan aku, menulis surat

tantangan kepada Sip hiat jin mo serta pelbagai kejahatan lainnya?"

Mendengar perkataan itu Kun lun Indah Siau wi goan segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak:

"Kalau tidak keji bukan lelaki namanya, kapan sih dunia persilatan bisa reda dari pembunuhan? Dan pekerjaan yang manakah dapat dilakukan secara berhasil tanpa menggunakan otak dan tenaga? Apa yang dilakukan aku orang she Siau tak lebih cuma sebuah siasat kecil saja"

Siau yau kay sama sekali tidak menggubris perkataan Siau Wi goan, kembali ia berkata:

"Membasmi keluarga Chin, menfitnah Suma Thian yu sebagai pelakunya kemudian memperalat Chin Siau untuk membunuh Suma Thian yu, apakah perbuatan-perbuatan terkutuk ini juga hasil perbuatan kau si manusia berhati binatang?"

Mendengar perkataan ini bukannya marah Siau wi goan malah tertawa seram, jawabnya:

"Benar, memang ini hasil perbuatanku, setan dedemit yang berotak licik setelah kau mengetahui segala perbuatanku ini berarti lembah Hun Kok akan menjadi kuburanmu!"

Suma Thian yu yang mendengarkan pembicaraan tersebut semenjak tadi sudah tak mampu membendung hawa amarahnya, gemetar keras seluruh tubuhnya, sambil ber pekik nyaring ia meloloskan pedangnya dan menerjang kedepan serta melepaskan sebuah tusukan ketubuh Kun Lun indah.

"Siau wi goan kau manusia laknat" teriaknya penuh amarah Jika aku membiarkan kau lolos dari pedangku hari ini, Suma Thian yu bersumpah tak akan menginjakan kaki didaratan Tionggoan lagi."

Sebelum serangannya mencapai sasaran, tiba-tiba berkumandang suara bentakan nyaring.

"Tahan"

Suma Thian yu segera menarik serangannya dan mundur dua langkah, sewaktu berpaling ia jumpai seorang pemuda sedang melangkah keluar dari semak belukar, ternyata orang itu adalah Chin Siau.

Berseri paras muka Siau Yau kay melihat kemunculan Chin Siau, rupanya teriakannya tadi hanya merupakan pancingan belaka dan alhasil Siau Wi Goan masuk perangkap.

Betapa terkejutnya Kun lun indah Siau Wi guan menyaksikan kemunculan Chin Siau, ia melotot sekejap ke arah pengemis tua itu kemudian serunya penuh geram:

"Oooh, rupanya begitu jadi kalian telah merencanakan kesemuanya ini?"

Siau Yau Kay tertawa terkekeh-kekeh.

Pengakuanmu secara langsung akan lebih berbobot dari  pada kesaksian seratus orang, coba kalau aku Si pengemis tua tidak memakai akal, masa kau mau mengaku?", “bukankah  kau pernah berkata tadi, orang mesti pakai otak ” 000O000

SEKETIKA itu juga Kun lun indah Siau Wi goan terbungkam dalam seribu bahasa. Sementara itu Chin Siau telah menampilkan diri dari tempat persembunyiannya.

Ia tampak begitu tenang, seolah-olah kemenangan pasti berada ditangannya dan tidak kuatir Kun lun indah akan kabur dari situ.

Tiba-tiba sekulum senyuman sinis menghiasi wajah Chin Siau yang hijau membesi, itulah senyuman yang angkuh dan penuh amarah.

Kun lun indah Siau Wi goan sama sekali tidak gemetar, ini disebabkan seorang gembong iblis yang tangguh yaitu Wan wan cu berdiri disisinya, selain itu diapun yakin berlapis-lapis alat rahasia yang dipersiapkan didalam lembah Si Hun kok cukup mam u untuk mengatasi lawan-lawannya

"Sobat cilik" ejeknya kemudian sambil tertawa dingin, "apa yang ingin kau ketahui telah kau ketahui semua, biar mampus pun tentunya kau dapat mampus dengan mata meram bukan? Sayang dari dua buah peti mati yang tersedia satu  diantaranya sudah hancur, jadi terpaksa kau mesti dikubur tanpa rumah "

Mendengar ucapan tersebut, bukannya marah Chin Siau malah tertawa seram, suara tertawa sangat tak sedap didengar.

"Bajingan she siau teriaknya dengan suara menyeramkan, kau ini manusia atau binatang?"

"Tentu saja manusia" sahut Siau Wi goan tak tahu malu. "Kalau manusia memang lebih bagus, ku mohon cabutlah

pedangmu dan bayarlah hutangmu padaku."

Mendengar ucapan tersebut Kun lun indah Siau Wi Goan tertawa tergelak.

"Haaah... haaahh... untuk menghadapi manusia macam kau, kenapa mesti menggunakan pedang?"

Mendadak Chin Siau melepaskankan pedangnya, diantara kilauan pedang yang memancar ke mana-mana terdengar suara desingan yang amat lirih, tahu-tahu sekilas cahaya perak telah menyambar kepala Kun lun indah secepat sambaran petir.

Kun lun indah iau Wi Guan si manusia licik teIah menduga semenjak tadi, tiba-tiba badannya mundur beberapa langkah, setelah lolos dari serangan tersebut segera ejeknya:

"Bocah keparat, aku orang she Siau sudah mencoba cakar kucingmu itu, tak nyana kalau kau masih punya muka berlagak serius, mengingat Thian maha baik sku masih bersedia mengalah tiga jurus kepadamu!"

Waktu itu itu Chin Siau sudah kalap tak sepotong katapun yang terdengar dari mulutnya, begitu tangan-nya gagal ia menerjang ke depan sambil melepaskan sebuah serangan lagi dengan jurus Membunuh naga ditengah ombak.

"Sreet, sreett ".

Serentetan desingan tajam menyebar kedepan.

Kun Lun indah tidak membalas serangan tersebut dan dengan cara yang sama kembali ia meloloskan diri dari ancaman lawan, kemudian ejeknya:

"Bocah keparat, selewatnya tiga jurus serangan nanti, akan kubuat kau keok, dari gentong nasi siapakah kau belajar ilmu si latmu?"

Berhadapan muka dengan musuh besar pembunuh ayahnya, Chian Siau telah kehilangan kesadaran serta kejernihan otaknya, pedangnya diputar kencang bagai orang kalap, lingkaran cahaya pedang segera memenuhi angkasa dan bagaikan daun kering yang berguguran semuanya menyerang tubuh kun Lun indah.

Suma Thian yu yang menyaksikan peristiwa ini bukan dibuat kagum oleh kehebatan pedang Chin siau sebaliknya ia malah dibuat terperanjat tanpa terasa ia menjerit keras:

"Saudara Chin jangan gegabah, ayo cepat mundur!" Sambil berseru ia segera terjun ke arena.

Waktu itu Chin Siau sudah menyerang bagaikan orang kalap, hatinya baru terkejut setelah mendengar peringatan tersebut. Dengan melambatnya gerak serangan, kejernihan pikirannya pun agak pulih.

Sementara ia masih tertegun Kun lun indah Siau Wi goan telah menerjang dihadapan tubuhnya mengincar jalan darah Tam Tiong Hiat didadanya.

Chin Siau berusaha untuk menghindar, sayang keadaan sudah terlambat tanpa terasa ia menarik napas dingin dan berpekik dalam hati:

"Habis sudah riwayatku kali ini"

Agaknya Chin Siau akan menderita luka parah akibat serangan tersebut...

Untunglah disaat yang amat keritis Suma Thian yu telah menerjang datang dengan suara menggelegar ia membentak:

"Mundur kau dari sini!"

Kalau di ceritakan memang aneh, tidak nampak sesuatu gerak apapun pemuda tersebut, tapi sekujur badan Kun Lun indah Siau Wi Goan bagaikan menumbuk di atas selapis dinding baja yang amat kuat, tergetar mundur beberapa langkah dengan sempoyongan sebelum akhirnya dapat berdiri dengan tegak.

Setelah dua tiga kali jiwanya di tolong Suma Thian yu, Chin Siau merasa harga dirinya terluka, ia menyesal maka jadi malu dan sangat tersiksa, sedemikian menderitanya sehingga tak terlukiskan dengan kata.

Tiba-tiba ia menjura kepada Suma Thian yu lalu ujarnya: "Budi kebaikanmu tak akan kulupakan, terima kasih juga atas kesediaanmu untuk melupakan perbuatanku yang lalu, aku harus pergi dulu sekarang, tetapi kumohon kepadamu

dengan sangat, dalam keadaan apa pun jiwa anjing orang she Siau ini harus tetap kau pertahankan sehingga suatu ketika aku dapat membunuh bajingan ini dengan tanganku sendiri!"

Selesai berkata, tanpa menengok lagi kearah Kun Lun indah ia berlalu dari situ.

Baru saja Chin Siau melangkah beberapa kaki, Sam Yap Koay Mo telah menghadang jalan perginya. "Bocah busuk, kau anggap semudah ini urusan dapat diselesaikan?" jengaknya sambil tertawa seram, lembah Si Hun Kok bukan rumah nenek moyangmu yang bisa kau datangi dan kau tinggalkan semaumu sendri, kalau hal ini kubiarkan bagaimana mungkin aku dapat bersua lagi dengan sobat-sobat persilatan?"

Baru saja selesai Sam yap koat mo berkata, kembali sesosok bayangan manusia berkelebat lewat.

Dengan wajah cengar-cengir Siau yau kay telah muncul dihadapannya sambil mengejek:

"Wah, besar amat bacotmu, bercerminlah dahulu

bagaimana tampangmu itu, dengan mukamu yang tiga bagian mirip manusia lima bagian mirip setan bisa-bisanya kau membacot setinggi langit, kau tidak kuatir ku tertawakan sampai gigiku pada copot?"

Kemudian kepada Chin siau katanya pula:

"Hei, bocah pergilah sana, pokoknya kalau gunung masih hijau jangan takut kehabisan kayu bakar, sebagai anak lelaki asal kau punya semangat jangan kuatir dendam sakit hatimu tak dapat terbalas!”

"Terima Kasih" seru Chin Siau sambil menjura.

Tanpa memperdulikan orang lain lagi ia meninggalkan tempat itu, sebetulnya Sam yap koay mo ingin melakukan pengejaran ketika dilihatnya Siau yau kay lagi melotot besar, seluruh amarahnya segera dilampiaskan keatas tubuh pengemis tersebut.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menghimpun tenaga dalamnya, langsung di bacokan keatas kepala Siau yau kay dengan jurus Menyembah pada pintu langit.

berbicara soal tingkat kedudukan maupun soal usia kedua orang itu hampir seimbang, disaat Siau yau kay mulai terjun ke dunia persilatan dari kalangan Liok Lim pun muncul gembong-gembong iblis yang menamakan dirinya sebagai Ci san su mo (empat iblis dari bukit Ci).

Hanya saja di satu pihak ilmu yang dipelajari bersumber   pada aliran lurus, sedang dipihak lain lebih mengandalkan ilmu sesat dari kalangan hitam, padahal kaum sesat tak akan mengungguli kaum lurus, karena itulah ilmu silat yang dimiliki Sam Yap Koay Mo tidak pernah berhasil melampaui Siau yau kay.

Begitu melihat Sam Yap Koay Mo melancarkan serangan, Siau Yau Kay segera mendengus dingin, dengan mengeluarkan ilmu enam belas langkah pengacau pikiran ia mengegos kesamping.

Dalam pada itu, Suma Thian yu yang telah menyelamatkan jiwa Chin Siau waktu itu telah saling berhadapan dengan Siau Wi goan.

Begitu bertemu dengan Suma Thian yu, belum apa-apa Kun lun indah Siau Wi goan sudah menaruh perasaan jeri

terhadap pemuda tersebut, ini bisa dimaklumi sebab ia pernah bertarung melawan pemuda itu, padahal saat tersebut suma Thian yu masih terhitung pemuda ingusan yang tanpa pengalaman tapi dengan keuletannya ia mampu bertarung seimbang melawannya, apalagi sekarang, sudah barang tentu keadaannya jauh berbeda, Suma Thian yu yang dihadapannya sekarang bukan saja berpengalaman luas dalam menghadapi berbagai macam pertarungan dengan petunjuk Ciong Liong Lo sianjin, ilmu silatnya telah mendapatkaan kemajuan teramat pesat.

Dalam sekilas pandangan Suma Thian yu sudah dapat menebak jalan pikiran Kun lun indah, jengeknya:

"Wahai Siau Wi goan, dimanapun kau bersembunyi, hukum langit tetap mengintaimu, benar semua perbuatanmu dapat kau simpan dan kau rahasiakan dengan amat rapat, tapi orang bilang sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan jatuh juga, dulu sauya tak berkutik karena kekurangan bukti, tapi  kali ini kau telah mengakui semua perbuatanmu, terpaksa sauya akan menegakkan keadilan dengan meringkus kau si manusia laknat dari muka bumi!"

Seusai berkata ia segera meloloskan pedang Kit Hong Kiamnya. "Bocah keparat, apa yang ingin kau lakukan pada hakekatnya seperti orang dunggu yang lagi mengigau, jengek Kun lun indah sambil tertawa dingin. Aku berani mengakui perbuatanku tentu saja dengan perhitungan kau tak bakal  lolos dari cengkera manku ini, ayo cepat letakkan pedangmu!"

Suma Thian yu membentak penuh amarah, dengan jurus Naga sakti mementang cakar dia langsung menusuk jalan darah Hun Su hiat dilambung rusuk.

Cepat-cepat Kun lun indah Siau Wi goan menggeserkan tubuhnya ke samping, ia bermaksud untuk melawan musuhnya dengan ilmu tangan kosong Ki Na Jin Hoat.

Suma Thian yu mendengus dingin.

"Bila kau memang ingin mampus, jangan salahkan kalau sauya akan berbuat kejam!"

Sekali lagi ia melepaskan serangan yang amat dahsyat.

Kun lun indah Siau Wi goan menyadari posisinya, ia tahu ilmu pedang yang di miliki Suma Thian yu amat sempurna, bila pedangnya tidak segera di loloskan, niscaya ia akan   mengalami kekalahan total.

Dengan perasaan terkesiap ia buru-buru mundur ke samping, kemudian pedangnya diloloskan, dengan jurus ular berbisa melilit badan, ia tusuk jalan darah Yu Bun Hiat lawannya dari samping.

Sejak pertarungan berlangsung, kedua belah pihak samasama mengeluarkan ilmu pedang Kun Lun Pay yang hebat, sementara dilain pihak lebih mengandalkan pada ilmu pedang Kit Hong Kiam dari Wan Liang yang pernah menggetarkan dunia persilatan.

Kedua belah pihak sama-sama menyerang dengan sekuat tenaga, bisa dibayangkan betapa seru dan hebatnya pertarungan itu.

Tiba-tiba Wan Wan Cu dan si harimau angin hitam Lim Khong yang sedang menonton jalannya pertarungan dari sisi arena itu saling bertukar pandangan sekejap, kemudian harimau angin hitam Lim Khong mendekati Siau Yau Kay, sedang Wan wan cu menghampiri Suma Thian yu yang sedang bertarung.

Jangan dilihat Suma Thian yu bertarung sengit, padahal ia selalu memperhatikan gerak gerik kedua orang tersebut, diam-diam ia tertawa dingin kemudian sambil memutar otak, permainan pedangnya semakin dipergencar.

Berbicara soal ilmu pedang Kit Hong Kiam hoat sesungguhnya ilmu pedang tersebut tidak terlalu asing bagi Siau Wi goan, sebagaimana diketahui semasa masih hidup dulu Wan Liang adalah saudara angkat Siau Wi goan, kedua orang itu sering latihan bersama maka tak heran kalau ia sangat menguasai ilmu pedang tersebut.

Oleh sebab itulah sewaktu Suma Thian yu menggunakan  ilmu pedang Kit Hong Kiam hoat untuk menghadapinya, diamdiam Siau Wi goan tertawa geli pikirnya:

"Kau bocah keparat, memang punya mata tak berbiji, masih mendingan kalau kau menggunakan ilmu pedang lain untuk meng hadapiku tapi dengan menakai ilmu tersebut sama artinya kau sudah bosan hidup"

Siapa tahu jurus kemudian keadaan sama sekali berubah, biarpun Suma Thian yu masih mempergunakan ilmu pedang yang sama namun gerakannya jauh berbeda dengan gerakan yang pernah dipergunakan Wan Liong semasa hidupnya dahulu, selain tiada kelemahan, jurus-jurus serangannya justru lebih sempurna.

Dalam waktu singkat Kun Lun indah Siau Wi Guan sudah keteter hebat sehingga tidak mampu untuk memberikan perlawanan lagi.

Semakin bertarung Siau Wi Guan semakin terkejut, semakin hatinya kecut, gerak annya makin kalut merasa dirinya terkepung rapat, permainannya jadi kacau tak beraturan lagi.

Suma Thian yu segera merasakan datangnya kesempatan baik ia berpekik nyaring lalu serunya:

"Siau wi goan, hari ini pada tahun esok akan menjadi hari ulang tahun kematian mu yang pertama!" Ditengah pekikan yang amat nyaring Suma Thian yu melejit ketengah udara setinggi kaki, badannya berjumpalitan sehingga kepala berada dibawah dan kaki diatas.

Kemudian dengan jurus Hujan bunga berguguran yang diiringi suara desingan nyaring dan bunga pedang yang menyebar keseluruh angkasa, ia mengurug seluruh tubuh Siau Wi goan rapat-rapat.

Jurus serangan yang dipergunakan ini sebenarnya bukan jurus serangan dari ilmu pedang Kit Hong Kiam Hoat, yang benar adalah salah satu jurus ampuh dari ilmu pedang tanpa nama ajaran Ciong Liong Lo Siangjin, maka tak heran kalau gerakannya lain dari pada yang lain.

Kun lun indah Siau Wi Guan terbelalak seketika, keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Sambil menarik napas dingin ia berpikir dalam hati: "Habis sudah riwayatku kali ini"

Disaat yang begitu kritis, mendadak terdengar suara bentakan yang menggelegar:

"Lihat serangan!"

Sebatang senjata rahasia tahu-tahu melesat datang dan mengancam jalan darah Tay Hiang Hiat dikening Suma Thian yu, berada dalam posisi yang sulit kepalanya berada dibawah dengan kaki diatas, sedang pedang yang melancarkan serangan hampir saja menembus tulang dada Siau Wi Goan.

Dalam keadaan demikian seandainya ia melanjutkan serangannya untuk menghabisi nyawa Siau Wi goan, ia sendiripun pasti terluka parah....

Jadi kedua belah akan sama-sama terluka parah.

Tentu saja siapapun tak ingin mengorbankan diri dengan begitu saja.

Sebaliknya kalau Sian Wi goan untuk mengatur diri, rasanya hal ini terlain sayang untuk dilakukan.

Dengan demikian ia dihadapkan pada dua pilihan yang harus segera diputuskan dalam waktu yang singkat, tanpa iman yang kuat sulit rasanya orang mengambil keputusan dengan tepat. Akhirnya Suma Thian yu mengambil keputusan.

Mendadak ia berpekik nyaring ditengah, pekikan tersebut tubuhnya berjumpalitan di tengah udara kemudian secepat sambaran kilat ia menerjang lagi kemuka

"Traaaaang "

Menyusul serentetan cahaya tajam yang menyerang tubuh Siau Wi goan, mendadak terdengar suara kesakitan yang menyayat hati .....

Bayangan manusia berkelebat, bagaikan seekor rajawali Suma Thian yu melayang turun ke atas tanah.

Sebaliknya Siau Wi Goan sudah mundur kebelakang dengan darah segar bercucuran dari bahu kirinya, darah mengalir dengan deras sampai sekujur bajunya menjadi merah darah.

Dalam sekejap mata bukan saja Suma Thian yu dapat menghindari sergapan yang mengancam jiwanya, bahkan ia mampu melukai Siau Wi goan, andaikata di sekitar arena ada penontonnya niscaya semua orang akan bersorak memuji.

Diam-diam Wan Wan cu menghela napas panjang, bagaimanapun juga kepandian silat semacam itu belum pernah dijumpainya.

Biarpun Suma Thian yu berhasil melukai lawan-nya secara telak, namun hatinya masih belum puas, baginya satu hari Siau Wi goan belum mampus dunia persilatan tak akan memperoleh ketenangan.

Sekali lagi ia membentak penuh amarah, dengan jurus guntur menggelegar petir menyambar, dia tusuk tubuh Siau Wi goan sambil bentaknya:

"Anjing keparat, manusia jadah macam kau tak boleh di ampuni, cepat serahkan nyawa bangsatmu!"

Waktu itu pedang Siau Wi goan sudah terjatuh diatas tanah serta bahu kirinya terluka, tak heran semangat pertarungnya pun ikut padam, melihat Suma Thian Yu berniat menghabisi nyawanya, dengan wajah hijau membesi ia menghela napas panjang, lalu setelah mundur beberapa langkah, matanya dipejamkan sambil menanti datangnya elmaut.

Mendadak... Sambil melompat kedepan Wan Wan cu berpekik nyaring, dia menghadang diantara sang pemuda dan Siau Wi goan lalu bentaknya keras-keras"

"Tahan!"

"Kau ingin mencampuri urusanku?" bentak Suma Thian Yu sambil menarik serangannya.

Wan Wan Cu tidak ambil perduli, kepada Kun Lun indah katanya:

"Lote, pulanglah cepat untuk mengobati luka mu itu, biar aku seorang yang menghadapinya"

Tak terlukiskan rasa gembira Siau Wi goan mendengar perkataan tersebut, ia tahu lukanya cukup parah, bila dibiarkan terus akhirnya dia tentu atan mati kehabisan darah, maka katanya:

"Terima kasih atas bantuanmu!"

Ia membalikkan badan dan segera beranjak pergi.

Menanti Siau Wi Goan telah berlalu, Wan Wan Cu baru berpaling kearah Suma Thian Yu dan katanya sambil tertawa seram:

"Membunuh itu mudah, tapi apa perlunya kau menghabisi nyawanya?"

Suma Thian yu mendengus dingin.

"Disaat anjing keparat she Siau itu membunuh orang memangnya ia pernah berpikir demikian?"

Wan Wan Cu terbungkam dalam seribu bahasa, tapi ia segera mengalihkan pembicaraan kesoal lain, katanya:

"Aku masih ingat dengan hadiah pukulanmu ketika berada ditebing bangau putih?"

"Aku lihat inilah kesempatan terbaik bagiku untuk menagih hutang, bocah keparat bersiap-siaplah menerima pukulanku"

Suma Thian Yu tertawa sinis, ketika ia hendak menyarungkan pedangnya kembali, tiba-tiba Wan Wan Cu menggoyangkan tangan-nya sambil berseru:

"Eee... eeeee... tunggu dulu, aku ingin mencoba kelihayan ilmu pedangmu itu!" Sementara pemuda itu masih keheranan, Wan wan cu telah mengeluarkan sejenis senjata dari sakunya dan ketika diamati lebih seksama ternyata benda itu merupakan Sam Ciat kun.

Suma thian tertawa tergelak, pedangnya digetarkan menciptakan titik-titik bunga pedang lalu sambil tertawa dingin serunya:

"Waah...rupanya kau pandai juga menggunakan sam ciat kun, kalau begitu sauya memang punya mata tak berbiji, silahkan!"

Begitu selesai berkata pedangnya segera dibacokan ke tubuh Wan wan cu dengan jurus Dewa suci memetik bunga.

"Hmm...hmm...bagus sekali seranganmu" jengek Wan wan cu dengan muka sinis.

Dengan ujung Sam ciat kun yang sebelah, ia tangkis serangan tersebut, sementara ujung yang lain menerobos kedalam langsung membabat jalan darah tay yang hiat di kening lawan.

Sesungguhnya Suma thian yu memang berniat memancing musuhnya masuk perangkap, melihat Wan wan cu menyerang dengan jurus-jurus yang tangguh, dalam sekilas pandangan saja ia sudah tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki lawan benarbenar tak boleh dianggap enteng.

Suma Thian Yu sama sekali tidak gugup, ia menunggu sampai senjata lawan mendekati kepalanya, lalu sembil membentak tubuhnya terputar bagai gangsingan, sementara pedangnya langsung membabat Wan Wan Cu dengan jurus gotong putus bukit wu.

Dalam waktu itu pertarungan antara Siau Yau Kay dan Sam Yap Koay Mo sudah berlangsung seratus jurus lebih, kini mereka telah mencapai detik-detik penentuan.

Kalau dibilang sesungguhnya Siau Yau Kay merupakan seorang tokoh silat yang hebat, tapi heran mengapa ia tak mampu mengungguli manusia macam Sam Yap Koay Mo walaupun telah bertarung sebanyak seratus jurus lebih.

Mungkinkah nama besar Siau Yau Kay hanya nama kosong belaka... Bila ada yang berpendapat demikian maka pandangan tersebut merupakan suatu pandangan yang keliru.

Pengemis tua ini justru memiliki watak yang aneh sekali, yaitu gemar mencuri ilmu silat orang lain, dia tahu Sam Yap Koay Mo pernah mempelajari ilmu silat yang di peroleh dari kitab pusaka yang didapatnya dari Suma Thian Yu, dalam anggapannya ilmu silat yang dimiliki orang itu pasti amat hebat, oleh sebab itulah sejak pertarungan berlangsung ia selalu berada dalam posisi bertahan, dasar ilmu gerakan tubuhnya sangat tangguh sulit rasanya bagi lawan untuk berhasil melukainya.

Dalam kenyataan memang begitulah, biar pun Sam Yap Koay Mo telah menyerang secara ngotot, jangan lagi melukai musuhnya, menjawil ujung bajunyapun tak mampu.

Ini masih mendingan, yang lebih payah lagi hampir seluruh ilmu silat yang dimilikinya berhasil dicuri oleh Siau Yau Kay.

Serarus jurus kemudian Siau Yiu Kay baru merasa Sam Yap Koay Mo tak lebih hanya seorang manusia bernama kosong, manusia yang benar-benar tak berguna, ini semua membuat hatinya amat kecewa.

Maka sambil tertawa dingin ejeknya:

"Hei, anak anjing budukan, rupanya kau hanya mampu menggunakan ilmu silat kucing kaki tiga, sialan benar kau ini, lalu kau kemanakan ilmu silat kucing yang kau pelajari dari kitab pusaka tersebut?"

Sim Yap Koay Mo sudah amat mendongkol semenjak tadi, apalagi setelah mendengar ejekan tersebut, bagaikan minyak bertemu api, ia berkaok-kaok penuh amarah, bagaikan kalap ia lepaskan sebuah pukulan dengan sepenuh tenaga.

Kembali Siau Yau Kay tertawa dingin.......

"Hei, orang dungu kau tak usah memamerkan ilmu cakar kucing lagi"

"Sampai di manakah kemampuan empat iblis dari bukit Ci sudah kuketahui amat jelas, yang ingin kuketahui hari ini ialah kepandaian silatmu yang berhasil kaupelajari dari kitab pusaka tanpa kata" "Jika kau tidak menggunakannya lagi jangan menyesali jika nyawamu kucabut".

Padahal seperti yang diketahui, Sam Yap Koay Mo tidak berhasil mempelajari apa-apa, perkataan lawan diterimanya bagaikan suatu ejekan, dari malu ia menjadi gusar dari gusar ia menjadi kalap.

Sambil menubruk pengemis tersebut, umpatnya kalang kabut:

"Kau pengemis busuk, pengemis anjing, bacotmu bau, biar kutonjok mulutmu itu sampai remuk"

Siau Yay Kay tertawa terkekeh-kekeh, tubuhnya berputar dan bayangan tubuhnya lenyap dari hadapan Sam Yap Koay Mo.

Sementara iblis tua itu masih tertegun, mendadak sebuah pukulan dahsyat telah mendarat dipunggungnya, uuaaak..uaak.

Ia muntah darah segar lalu terjengkang dan roboh ke atas tanah.

Sambil menunjukkan muka setan, Siau Yau Kay menggelengkan kepalanya dan tertawa terkekeh-kekeh, jengeknya:

"Heeeh... heee...heeh...heeee... kau betul-betul gentong nasi yang tak berguna, jadi empat iblis dari bukit Ci adalah manusia-manusia gembos yang tak tahan pukulan, tau begini aku mah tak sudi bertarung dengan kalian"

Sewaktu mengucapkan perkataan tersebut, Siau yau Kay melotot kearah Sam Yap koay mo, tapi sudah jelas perkataan itu sebetulnya ditujukan kepada harimau angin hitam Lim Khong yang berdiri tak jauh dari sana.

Ejekan tersebut terlampau pedas.....

Harimau angin hitam Lim Khong merasa hatinya tak karuan, tapi ia mengerti ilmu silat Siau Yau Kay terlampau

tangguh dan mustahil dapat dihadapainya dengan begitu saja.

Tapi sekarang sudah jelas orang lagi mengejeknya ia tidak terima kalau hal ini dibiarkan begitu saja. Sambil tertawa seram ia maju kedepan beberapa langkah, lalu teriaknya penuh rasa geram:

"Pengemis sialan kau sudah mencaci maki Lim toaya?"

Siau Yau kay segera mengangkat kepalanya dan pura-pura kaget.

"Aaaah... masa ya?"

Tapi kemudian sambil terkekeh-kekeh ia melanjutkan: "Aaaah... kau ini keliru mungkin, anak si mayat hidupkan

semuanya tangguh, masa aku si pengemis berani menyindir? lagipula nama besarmu toh sudah termasyur diseantero dunia, si pengemis sih tak berani memandang rendahmu"

Ucapan ini amat menggembirakan Harimau angin hitam Lim Khong, dia merasa bagaikan dibuai dibalik awan, enaknya bukan kepalang.

Sebenarnya ia mau menjawab begini. "Aaah, masa...kau kelewat memuji "

Siapa tahu sebelum perkataan tersebut meloncat keluar, tiba-tiba Sau Yau Kay berseru kaget lagi:

"Hei, kemana telingamu, kok hilang semua, apa sih yang terjadi?"

Harimau angin hitam Lim Khong jadi melongo lalu berdiri dengan wajah tersipu-sipu, kalau bisa ia akan menangis keraskeras untuk menghilangkan perasaan kesal yang mencekam dirinya saat itu....

Dia tahu Siau Yau Kay hendak mempermainkannya, tapi apa mau dikata kepandaian lawan terlalu tangguh, sehingga perasaan mendongkolnya hanyadapat disimpan dalam hati.

Siau Yau Kay menjadi amat geli menyaksikan keadaan lawannya itu, perutnya se perti dikilik-kilik, gelinya bukan buatan.

Pada saat itulah tiba-tiba....

Beberapa pekikan nyaring bergema di kejauhan sana, ada suara lelaki ada juga suara perempuan.

Tiba-tiba saja Suma Thian Yu merasa amat kenal akan suara pekikan itu. Bersama dengan suara pekikan tadi, dari balik lembah pun terdengar suara yang amat seram.

Siau Yau Kay tertegun seketika, paras muka nya berubah amat hebat.

Harimau angin hitam Lim Khong turut berpaling, tapi ia segera menjerit kaget:

"Aaaah...!"

Ternyata dari balik semak belukar muncul seorang kakek berusia delapan puluh tahunan yang berwajah aneh bagaikan siluman.

Orang itu memakai jubah panjang yang berwarna warni, mukanya bulat seperti rembulan, pada jidatnya tumbuh  daging tumor yang amat besar, inilah ciri khas dari gembong iblis yang paling menakutkan didunia persilatan yaitu manusia iblis penghisap darah Pi Ciang Hay.

Tidak heran kalau Siau Yau Kay maupun si angin hitam Lim Khong dibuat terkesiap olehnya.

Dalam pada itu pertarungan antara Suma Thian yu dengan Wan Wan Cu tertunda untuk sementara waktu, masing-masing pihak melompat ke belakang untuk melihat siapa gerangan yang datang, akhirnya Siau Yau Kay yang menegur dahulu sambil tertawa terkekeh-kekeh:

"Eee... tumben, kau juga ikut kemari, apakah ikut mencari keramaian?"

Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang Hay tertawa seram...

"Kau mundur sepuluh langkah kebelakang, tak usah ngebacot" bentaknya.

Siapa pun tak akan tahan mendengar umpatan semacam itu, apalagi hati Siau Yau Kay yang termasuk jago kawakan dunia persilatan.

Siapa tahu Siau Yau Kay justru menurut, tanpa membantah ia mundur sepuluh langkah kebelakang, benar-benar merupakan suatu ke jutan, atau mungkin pengemis ini memang berjiwa pengecut? Menyaksikan Siau Yau Kay sudah mundur, manusia iblis penghisap darah segera berpaling kearah si harimau angin hitam Lim Khong lalu serunya sambil menyeringai seram.

"Kaupun juga!"

Si harimau angin hitam Lim Khong mendengus dingin, tubuhnya sama sekali tidak bergerak dari posisi semula. Mencorong sinar tajam dari balik mata si manusia iblis penghisap darah, ditatapnya Lim Khong lekat-lekat, lalu

jengeknya:

"Bagus, kekerasan kepalamu memang sungguh mengagumkan sayang kau terlalu tak tahu diri, mau mundur tidak!"

"Hmmm... kecuali guruku seorang, tiada orang manusiapun didunia ini yang sanggup memerintah aku!"

"Huuh, kau anggap si mayat hidup kelewat hebat sehingga aku menjadi ketakutan? sekali lagi kuperingatkan, kau mau mundur tidak?"

"Tidak!" jawab Lim Khong angkuh, matanya merah berapiapi penuh diliputi hawa kemarahan.

Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang Hay segera mengebaskan ujung bajunya kearah depan, angin puyuh yang maha dasyat pun serta merta menyambar ketubuh lawan.

Berada dalam keadaan demikian, harimau angin hitam Lim Khong tetap kukuh dengan pendirianya, cepat-cepat ia mengerahkan ilmu bobot segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk memantekkan sepasang kakinya diatas tanah dengan mengerahkan ilmu bobot seribu.

Siapa sangka biarpun harimau angin hitam Lim khong telah mengerahkan segenap kekuatan-nya namun ketika angin pukulan itu menyambar lewat, tubuhnya segera terangkat dan terlempar sejauh sepuluh kaki lebih.

Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay tertawa terbahak-bahak, katanya kemudian:

"Lebih baik cepat cepatlah bersemedi untuk melindungi sepasang kakimu itu, sebab kalau tidak dua belas jam kemudian kakimu pasti akan menjadi cacad!" Pada mulanya harimau angin hitam tidak merasakan apaapa, setelah mendengar ucapan tersebut secara diam-diam ia baru beusaha memeriksa, ternyata benar juga sepasang kakinya menjadi kaku, peredaran darah serasa tersumbat dan timbul rasa sakit bagai ditusuk-tusuk dengan jarum tajam.

Tak terlukiskan rasa kaget dan takutnya, dalam keadaan demikian ia tak ambil peduli soal gangsi lagi, cepat-cepat ia duduk bersila dan mulai mengatur pernapasan.

"Nah, inilah pelajaran bagi mereka yang keras kepala" ucap manusia iblis penghisap darah sambil tertawa.

"Sekarang kau pulang dan beritahu kepada gurumu, beginilah watak dari Pi Ciang Hay, siapa yang menuruti perkataanku selamat dan siapa yang menentang mampus!"

Selesai berkata tanpa memperdullkan orang-orang yang lain ia langsung menghampiri Sam Yap Koay Mo serta menggeledah sakunya, tiba-tiba paras mukanya berubah

bebat, sambil menyadarkan Sam Yap Koay Mo dari pingsannya ia menegur dengan gelisah:

"Mana kitab pusakanya?"

Sam Yap Koay Mo yang baru sadar dari pingsan-nya setelah muntah darah menjadi mendongkol ketika ada orang menanyakan soal pusaka, tanpa melihat jelas siapa pembicaranya dia langsung mengumpat:

"Telur busuk, siapa yang biang aku punya kitab pusaka!"

Semenjak kecil sampai setua ini belum pernah manusia iblis penghisap darah dimaki sebagai telur busuk, kontan saja amarahnya meledak, dia langsung menampar wajah Sam Yap koay Mo keras-keras lalu bentaknya:

"Cepat kau serahkan kitab pusaka itu"

Sam Yap Koay Mo yang ditampar keras-keras tmenjadi pening dan berkunang-kunang, otot-ototnya pada menonjol keluar semua, sebetulnya dia hendak mencaci maki sehabishabisnya, tapi setelah mengetahui orang tersebut manusia iblis penghisap darah, semua umpatannya segera ditelan kembali ke dalam perut, kemudian katanya dengan nada lembut: "Oooh, rupanya locianpwee..."

Pada dasarnya manusia iblis penghisap darah merupakan manusia yang tak sabaran, cepat-cepat ia menegur dengan tak sabaran, cepat-cepat ia menegur lagi:

"Sebetulnya kitab pusaka itu kau simpan di mana?"

Sam Yap Koay Mo menggelengkan kepalanya berulang kali. "Siapa bilang aku memperoleh kitab pusaka, aku tertipu

mentah-mentah, yang kuperoleh cuma sekedar kertas rongsokan belaka!"

"Kau tidak usah mengurus kertas rongsokan atau bukan, pokoknya jawab dulu dimana benda itu sekarang?"

Terburu-buru Sam Yap Koay Mo celingukan disekeliling tempat itu seolah-olah kuatir kalau Suma Thian yu sudah keburu kabur, menjumpai si anak muda tersebut masih berada ditempat, cepat-cepat ia menuding kearahnya sambil berseru:

"Itu dia berada ditangan si bocah keparat tersebut"

Mendengar ucapan mana, manusia iblis penghisap darah segera melepaskan Sam Yap Koay Mo, mendadak ia bangkit berdiri lalu dengan sorot mata yang memancarkan kebuasan selangkah demi selangsah ia menghampiri Suma Thian yu.

Dibalik sorot matanya yang buas tadi terselip hawa napsu membunuh yang mengerikan.

Suasana diarena sangat hening, masing-masing diam dengan hati berdebar mengawasi manusia iblis penghisap darah serta Suma Thian yu bergantian.

oooOooo oooOooo SUMA THIAN YU terkesiap,

ketika sinar matanya saling beradu dengan sinar mata manusia iblis penghisap darah, ia merasa seolah-olah ada segulung aliran listrik yang kuat menembusi uluhatinya, membuat tubuhnya bergidik dan bersin beberapa kali.k

"Lihay amat tenaga yang dimiliki iblis tua ini" Biarpun di hati kecilnya pemuda itu menjerit kaget, tapi paras mukanya sama sekali tak berubah, ia masih berdiri ditempat semula dengan wajah tenang dan kalem.

Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay baru menghentikan langkahnya setelah berada lima enam langkah dihadapan Suma Thian yu, tiba tiba ia mengulurkan tangan-nya sambil berseru:

"Bawa kemari!"

"Apanya yang harus kuserahkan?" Tanya Suma Thian yu sambil keheranan.

"Apa lagi, tentu saja kitab pusaka tanpa kata"

"Ooo.... kitab itu rupanya yang kau inginkan, sayang seribu sayang kitab tersebut telah kuhancurkan" sahut Suma Thian yu.

Sekali lagi Si manusia penghisap darah tertawa seram, suaranya tajam dan mengerikan bagaikan jeritan kuntilanak dimalam hari, selesai tertawa kembali serunya:

"Ayo, cepat bawa kemari! aku tahu kitab tersebut belum kau musnahkan!"

"Buat apa sih kau memerlukan kertas rongsokan itu" seru Suma Thian yu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kau tak perlu tahu, pokoknya cepat serahkan padaku, ingat peringatan ini untuk yang ke tiga kalinya!"

Sekali lagi Suma Thian yu menggelengkan kepalanya sambil tertawa dingin.

"Tak mungkin kuserahkan kitab ini padamu, sebab Ciong Liong Lo Sianjin yang menyerahkan kitab itu padaku, bila kau meng inginkannya, tunggulah sampai kuserahkan kembali pada Lo sianjin dan kau boleh langsung minta padanya"

"Tak usah banyak bicara, kau tak perlu menggunakan

nama Ciong Liong Lo sianjin untuk menggertakku, aku tahu si tua bangka itu sudah modar, berani kau menipuku?"

Dari perkataan manusia iblis penghisap darah ini dapat disimpulkan bahwa ia pun menaruh perasaan keder terhadap Ciong Long lo sianjin. Mempergunakan titik kelemahan tersebut, Suma Thian yu segera menjawab.

Dia orang tua hingga kini masih hidup sehat wal’afiat, bila kau benar-benar melarikan kitab pusaka ini dia tentu tak akan mengampuni dirimu!"

"Omong kosong!" bentak manusia iblis penghisap darah penuh amarah.

"Bocah keparat, kau anggap aku takut dengannya? manusia berdebah, aku justru mau mencoba samapi dimanakah kemampuannya?"

Begitu selesai berkata ia pentangkan kelima jarinya dan menyambar tubuh Suma Thian yu.

Sesungguhnya Suma Thian yu menang sudah merasa tak puas terhadap kesombongan dan kejumawaan manusia iblis penghisap darah, hanya saja selama ini ia belum mendapat kesempatan untuk menjajal kemampuannya, melihat datangnya cengkeraman tersebut ia berpikir:

"Kalau kau tak menyerang lebih dahulu aku mati kutu tapi setelah kau menyerang lebih dahulu, hmm! gembong iblis ini mesti diberi pelajaran yang setimpal"

Berpendapat demikian iapun tak bergerak dari posisi semula, menanti ke lima jari tangan manusia iblis penghisap darah hampir mencengkeram tubuhnya, sepasang lengannya baru bergerak cepat sambil bentaknya:

"Pingin mampus rupanya kau?"

Sambil mengkeram Pi Ciang Hay secepat sambaran kilat kepalan-nya yang lain menghantam bahu dari manusia iblis penghisap darah keras-keras.

"Blaaammm "

Manusia iblis penghisap darah sama sekali tidak menduga akan datangnya serangan tersebut, seketika itu juga tubuhnya tergetar mundur sejauh tiga langkah, masih untung tenaga dalamnya cukup sempurna, ia tak sampat gelagapan ditengah kepanikan, dengan memaksaan diri ia berhasil menahan tubuhnya hingga tak sampai terjungkal keatas tanah. Walaupun demikian, sempurna-sempurnanya tenaga dalam yang ia miliki, bahunya terasa sakit juga oleh pukulan Suma thian yu yang keras itu.

Rasa terkejut dan gusar segera menyelimuti perasaannya,  ia terkejut karena seumur hidupnya, kecuali dari orangorang angkatan yang lebih tua belum pernah ada yang mampu mengganggu seujung rambatnya pun.

Tapi kenyataannya sekarang Suma Thian yu yang masih muda ini, ibaratnya anak harimau yang baru turun gunung, ternyata berani menghadiahkan sebuah bogem mentah ke atas tubuhnya.

Bayangkan saja bagaimana mungkin ia sampai tak menjadi marah.

Siau Yau Kay yang melihat Suma Thian yu telah menghajar manusia iblis penghisap darah, diam-diam berpekik dihati:

"Aduh celaka!"

Tanpa terasa ia melejit kedepan menghampiri Suma Thian yu lalu dengan ilmu menyampaikan suara katanya:

"Setan cilik kau sudah membuat gara-gara, kau anggap gembong iblis tua ini bisa dipermainkan sekehendak hatimu, ayo cepat kabur, biar aku si pengemis tua yang menahan dirinya, jika kau tidak menurut, masih mendingan kalau cuma nyawa yang hilang, bila kitab pusaka itu sampai terjatuh ketangan iblis tua ini, siapakah manusia didunia persilatan ini yang sanggup menaklukan dirinya itu"

Jangan karena urusan kecil sehingga kita menderita kerugian besar, siapakah yang mampu memikul dosa sebesar itu nantinya?"

Suma Thian yu menjadi tertegun, lalu timbul rasa menyesalnya, dia tahu bila sekarang tidak kabur, bila ingin meloloskan diri nanti mungkin akan lebih sulit dari pada mendaki kelangit.

Semenara ia berpikir demikian, tiba-tiba Siau Yau Kau menuding kearahnya sambil mengumpat:

"Cucu kura-kura, kau memang telur buruk yang goblok, aku si pergemis tua toh pernah memperingatkan dirimu, kau anggap Pi locianpwe bisa di permankan sekehendak hatimu? kau manusia tak tahu diri, manusia goblok yang sudah pingin mampus, ayo cepat minta maaf pada Pi locianpwe!"

Semua ucapan dari Siau Yau Kay ini disampaikan dengan nada sungguh-sungguh dan serius, tapi sepasang biji matanya justru berputar tiada hentinya memberi peringatan kepada sang pemuda agar cepat-cepat melarikan diri.

Selama ini Suma Thian yu selalu merasa tidak mengerti apa sebabnya Siau yau kay mesti berbuat begini, tapi teringat bahwa dia membawa kitab pusaka yang tak ternilai harganya, jika benda itu sampai hilang niscaya dia akan menyesal sepanjang masa, maka dia tak berani berdiam terlalu lama lagi disitu.

Dengan berlagak seakan-akan hendak memberi hormat kepada manusia iblis penghisap darah, diam-diam hawa murninya dihimpun menjadi satu, lalu sambil menarik napas, sepasang kakinya menjejak tanah keras-keras.

Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dia melejit ke udara dan langsung meluncur ke atas tebing.

Waktu itu, si manusia iblis penghisap darah mengira Suma Thian yu bersungguh hati hendak minta maaf kepadanya, karena itu dia tidak mempersiapkan diri sebaik-baiknya, menanti pemuda itu sudah kabur, dia baru sadar akan hal tersebut namun sayang keadaan sudah terlambat.

Tanpa terasa lagi dia berpekik penuh amarah, bagaikan petir yang menyambar di angkasa, ia segera melakukan pengejaran secara kencang....

Tentu saja Siau yau kay tak akan membiarkan dia kabur dengan begitu saja, bahunya bergetar dan ia hadang jalan perginya, lalu berkata dengan pelan:

"Pi loji, buat apa sih mesti sewot dan mengumbar hawa amarah? Kalau orang sudah kabur yaa biarkan saja kabur, biarkan aku si pengemis tua yang bertanggung jawab menemukan-nya kembali, bukankah urusan sudah beres?" Hawa amarah Manusia ib1is penghisap darah benar-benar meluap sehabis mendengar kan perkataan dari Siau yau kay itu, sambil berpekik penuh kegusaran serunya:

"Kau si pengemis busuk, kau anggap aku masih belum memahami tipu muslihatmu itu?"

Begitu selesai berkata, telapak tangan-nya diayunkan kedepan untuk membacok tubuh Siau yay kay.

Sebagai pengemis yang cerdik Siau yay kay telab menduga sampai kesitu, maka begitu menjumpai Suma Thian yu sudah pergi jauh, diapun tak ingin membuat gara-gara dengan Pi Ciang hay, cepat-cepat dia mengegos kesamping dan menghindarkan diri dari sergapan tersebut.

Sesungguhnya Pi Ciang hay sendiripnn tiada hasrat untuk menghadapi Siau yau kay, melihat pengemis itu sudah mengegos ke samping maka ia segera mengeluarkan ilmu meringankan tubuh elapan langkah mengejar comberet untuk menyusul kearah mana Suma Thian yu melarikan diri tadi.

Siau yau kay kuatir Suma Thian yu menemui bahaya, diapun tak berani bertindak ayal, segera disusulnya pula dari belakang, tapi sayang keberangkatan-nya selangkah lebih lambat, menunggu dia sudah menyusul kemuka, bayangan tubuh Manusia iblis penghisap darah sudah lenyap dari pandangan.

Mendadak dari arah depan melayang datang empat sosok bayangan manusia dan langsung menerjang kehadapan Siau yau kay.

Menjumpai kedatangan bayangan manusia tersebut, Sian yau kay tertegun, menanti ia dapat melihat jelas si penghadang tersebut, sambil tertawa terbahak-bahak segera katanya:

"Hai tua bangka, apakah kau datang untuk menghantar kematianmu?"

Rupanya orang yang baru datang adalah si dewa peramal Yu Seng see beserta sastrawan pena baja Thia Cian, Toan im siancu Thia Yong dan Bi hong siancu wan pek lan. Begitu bertemu dengan Siau yau kay, Sin sian siangsu segera menegur:

"Kemana perginya Thian yu si bocah itu? Apakah kau telah berjumpa dengannya?"

Rupanya Sin sian siangsu yang menjumpai rotan yang dipakai Suma Thian yu dalam gua Jit yang sui tong putus, dia mengira pemuda tersebut pasti mati, karena selama ini belum pernah ada orang yang bisa lolos dan goa air tersebut.

Dengan membawa perasaan yang duka dan menyesal dia pun kembali ke daratan Tionggoan, teringat akan pesan Ciong liong lo sian Jin yang menyuruhnya melindungi keselamatan Suma Thian yu, dia menjadi malu dan menyesal sekali, bagaimana mungkin ia dapat memper-tanggung jawabkan diri dihadapan Ciong liong lo siaujin nanti?

Semakin dipikir Sin sian siangsu merasakan hatinya makin kalut, seorang tokoh kenamaan ternyata tak mampu melindungi keselamatan seorang angkatan muda, peristiwa semacam ini benar-benar merupakan suatu, peristiwa yang memalukan.

Jangan lagi Ciong liong lo sianjin tidak akan memaafkan dirinya, setiap umat persilatan pun tak akan mengampuni kesalahan-nya itu. Sewaktu memasuki Eng bun kwan, diapun bertemu dengan dua bersaudara Thia dan Wan Pek lan, adapun kedatangan mereka ber tiga dari bukit Kun san adalah untuk menjemput kedatangan pemuda itu.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Sin sian siangsu menceritakan semua pengalamannya....
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 29"

Post a Comment

close