Kitab Pusaka Jilid 21

Mode Malam
Jilid : 21 
SEBAGAI SEORANG jagoan yang berilmu tinggi, sudah baraag tentu penguntilen tersebut tak akan lolos dari ketajaman pende ngarannya, sayang pikiran dan perasaannya waktu itu sedang kalut, sehingga bal ini sama sekali tak diketahui olehnya.

Si anak muda itu masih saja melanjutkan perjalanannya dengan kepala tertunduk dan pikiran kalut.

Diri kejauhan sana terdengar suara auman harimnu yang amat nyaring, di tengah kegelapan malam begini, suara tersebut mendatang kan perasaan bergidik bagi siapa pun yang men dengarnya.

Bukit Ngo tay san memang tersohor sebagai penghasil harimau di daratan Tionggoan, itu berarti suara auman harimau tersebut ber kumandang dari bukit di depan sana.

Suma Thian ya agak sangsi, kendatipun dia memiliki ilmu silat yang sangat lihay, bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menda-tangi bukit Ngo tay san seorang diri, tapi untuk menuju ke daerah Shia say, orang harus melalui jalanan tersebut, karena hanya jalan ini yang tersedia.

Sementara dia masih sangsi dan tak tahu apa yang harus dilakukan, mendadak dari arah belakang terasa bergemanya suara desingan angin tajam.

Begitu mendengar suara tersebut, dengan sigap Suma Thian yu miringkan badannya kesamping, segulung angin dingin segera menyambar tiba.

Suma Thian yu memang berilmu tinggi, ke tajaman pendengarannya luar biasa, sepasang matanya juga dapat melihat dalam kegelapan, dengan suatu gerakan jumpalitan, ia menyambut datangnya sambaran angin tajam tersebut, rupanya sebatang peluru tembaga.

Dari arah belakang berkumandang lagi sua ra pekikan nyaring seperti pekikan monyet, dengan perasaan terkejut Suma Thian yu ber paling, dia menyaksikan ada sesosok bayangan hitam sedang meluncur datang dari arah belakang dengan kecepatan luar biasa. Menyaksikan kehadiran orang tersebut, Suma Thian yu merasakan hatinya terkesiap, belum sempat ia menegur pihak lawan telah ber seru lebih dulu:

"Kau yang bernama Suma Thian yu?" "Benar!" jawab pemuda yang ditanya itu.

Sambil menjawab, Suma Thian yu menga mati pendatang tersebut dengan seksama.

Dia adalah seorang kakek berusia delapan puluh tahunan yang memakai jubah panjang berwarna-warni, mukanya bulat seperti rembulan yang sedang penuh, keningnya tumbuh sebuah bisul besar, sorot matanya tajam berkilat, siapapun akan mengetahui bahwa ia adalah seorang jago lihay yang berilmu tinggi.

Setelah mendehem beberapa kali, orang itu menegur kembali:

"Kau yang mengundang aku kemari?"

"Tidak!" cepat Suma Thian yu menggeleng, aku sama sekali tidak kenal denganmu, kenapa mesti mengundangmu kemari?"

Dari sakunya tiba-tiba kakek itu mengeluarkan sepucuk surat, lalu serunya lebih lanjut:

"Bukankah surat ini adalah surat tantangan bertempur darimu?"

Lagi-lagi sepucuk surat, Suma Thian yu merasa dirinya sial, sial delapan turunan.

Baru saja dia ribut dengan Siau yau kay gara-gara sepucuk surat, sekarang kakek tersebut mengeluarkan kembali sepucuk sampul surat yang persis sama dengan surat pertama, janganjangan isi surat itu pun berisi rambut dan kaku perempuan?

Sementara pikirannya berputar, dia menyahut dengan cepat:

"Aku tak pernah menulis surat kepada siapa pun, tidak kuketahui apa yang lotiang maksud kan"

"Omong kosong, bukankah kaupun sedang meremas sepucuk surat? Tak usah kau terang kan lagi, lohu juga tahu kalau sampul surat tersebut persis sama dengan surat yang kau tunjukan kepadaku"

Sekali lagi Suma Thian yu merasakan hatinya bergetar keras, sekarang dia baru sadar kalau tangannya masih meremas surat dari Siau yau kay tersemu, buru-buru dia membantah.

"Surat ini bukan milikku, orang lain yang menyerahkan kepadaku"

"Bawa kemari!" bentak makhluk tua itu dingin, "lohu akan memeriksanya..."

Tanpa terasa Suma Thian yu menyodorkan surat tersebut ketangannya, makhluk tua tersebut membandingkan kedua sampul tersebut dengan seksama, kemudian seteiah tertawa seram serunya:

"Bocah muda! Kau masih ingin menyangkal? Sudah jelas benda ini milikmu, hei, aku ingin bertanya sekali kepadamu, sudah lama lohu tak pernah mencampuri urusan dunia persilatan lagi, sudah empat puluh tahun aku hidup mengasingkan diri dan belum pernah ada orang berani menantangku bertempur, nyali mu benar-benar besar sekali, berani betul kau menyuruh orang menghantar surat tersebut kepadaku dan menyuruhku menunggu di kaki bukit Ngo tay san, bukankah kejadian ini menggelikan sekali?"

Suma Thian yu semakin kebingungan lagi se tuduh mendengar perkataan tersebut, tak kuasa lagi dia menghela napas panjang, diam-diam dia hanya mengeluh akan nasib sendiri yang kurang beruntung.

Sejak turun gunung hingga sekarang rasanya belum pernah dijumpainya suatu peristiwa yang bisa berkenan dalam hatinya. Maka dengan suara nyaring dia bertanya:

"Bolehkan aku tahu siapa namamu?"

"Bocah muda, pandai benar kau berlagak pilon?

Bagaimana? Setelah bertemu dengan lohu lantas mangkerat dan ketakutan?"

"Terus terang saja aku tidak mengengetahui tentang surat tantangan tersebut, lagipula aku pun tidak mengenalmu, bagaimana mungkin bisa mengirim surat untuk menantangmu? Bukankah kejidan ini sangat aneh dan aneh dan tidak sesuai dengan keadaan pada umumnya? Apalagi surat tersebut juga bukan tulisanku."

Mahkluk tua itu segera tertawa dingin.

"Hmmm, lohu sudah terbiasa menganggur hingga malas untuk menggerakkan badan, coba kalau murid ku tidak keluar rumah, malam ini kau akan cukup merasakan penderitaan."

Berbicara sampai disini, makluk tua tersebut berhenti sejenak, kemudian sambungnya lebih jauh:

"Kalau toh kau berani menantangku untuk bertarung, sekarang, mengapa malah mundur ketakutan? Orang bilang: Yang datang tidak bermaksud baik yang bermaksud baik tak akan datang. Bocah muda, aku tahu kau pasti memiliki kepandaian silat yang luar biasa tapi lohu tak ingin menganiaya kaum muda, apalagi melancarkan serangan secara sembarangan. Begini saja, lohu akan duduk disini, sedangkan engkau bolehlah menyerang sekehendak hati mu sendiri, kau pun tak usah berbelas kasihan, lakukan saja seranganmu dengan sepenuh tenaga, tapi kau harus tahu, malam ini adalah malam terakhir dari perjalananmu di dunia ini!"

Selama hidup belum pernah Suma Thian yu menghadapi situasi seperti ini, tapi kalau didengar dari nada pembicaraan makhluk tua tersebut dapat diketahui kalau dia adalah seorang jago lihay yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi.

Hanya saja, selama ini dia tak mau mengerti, mengapa ia bisa menyalahi makhluk tua tersebut?

Maka sekali lagi dia bertanya dengan hormat:

"Tolong tanya siapa nama cianpwe? Aku pikir, diantara kita berdua tentu sudah terjadi kesalahan paham"

"Salah paham? Tak mungkin, orang yang menghantar surat itu masih berada disekitar sini, dia pun sudah jelas memberitahukan ke pada lohu kalau kau akan tiba disini malam ini juga!"

"Dapatkah kau mengundangnya kemari?" "Tentu saja dapat, tapi hal ini bisa dilakukan setelah kita selesai bertarung"

"Aku tak berani"

"Tak berani? Bocah muda, kau anggap lohu ini manusia macam apa? Sembarang bisa dipermainkan orang dengan begitu saja?"

"Aku sama sekali tak bermaksud untuk mem permainkan cianpwe, kalau tak percaya, pertemukan aku dengan si penghantar surat tersebut, persoalan pasti akan menjadi beres dengan sendirinya"

Mendengar perkataan tersebut, makhluk tua itu tertawa terbahak-bahak, kemudian sambil duduk bersila diatas tanah, ujarnya dingin:

"Segera lepaskan seranganmu, kalau tidak, lohu akan menghancur lumatkan tubuhmu!"

Suma Thian yu menghela napas panjang, perasaannya seperti di tindih dengan sebuah batu cadas yang berat sekali, dia merasa amat murung dan kesal, banyak kesulitan yang rasanya sukar untuk diutarakan keluar.

Akhirnya dia mengambil suatu keputusan kepada makhluk tua itu, katanya:

"Bila kau bersikeras menuduhku, yaa... apa boleh buat, kesalahan paham ini tak mungkin bisa dibuat jelas hanya dengan sepatah dua patah kata saja. Aku bersedia menuruti permintaanmu itu, cuma sebelum pertarungan berlangsung, bolehkah aku mengetahui siapa nama besar mu?"

Sekali lagi makhluk tua itu mendongakkan kepa1anya sambil tertawa seram.

"Heeeh...heeh... tampaknya sebelum melihat peti mati kau tak akan menitikkan air mata, baiklah, lohu akan memberitahukan kepadamu, agar kau bisa mampus dengan mata yang meram kencang."

Kemudian setelah mengamati Suma Thian yu sekejap, pelan-pelan dia berkata:

"Lohu bernama Pi... Ciang... Hay." Begitu mendengar nama Pi Ciang Hay, paras muka Suma Thian yu berubah amat hebat, tercekat perasaannya dan tanpa terasa dia men jerit kaget dengan suara keras:

"Kau.... kau adalah Sip hiat jin mo (manusia iblis pengisap darah) yang termashyur namanya itu?"

Rupanya kakek aneh itu bukan lain adalah gemboang iblis yang paling tersohor namanya dalam dunia persilatan, sip hiat jin mo Pi Ciang hay adanya.

Sejak enam puluh tahun berselang, iblis tersebut sudah termashur sekali namanya dalam dunia persilatan, kejahatan serta kekejiannya sudah tersiar luas sampai ketempat kejauhan.

Semasa masih mudanya dulu, dia paling gemar melakukan perbuatan menghisap darah dengan jarum perak, perbuatan tersebut sedemikian keji dan buasnya, sehingga banyak umat persilatan yang membencinya.

Dengan jarum perak untuk mengisap darah korbannya, iblis tersebut memanfaatkan darah manusia untuk memupuk kekuatannya guna menyempurnakan ilmu pukulan Pek lek si hun ciang (pukulan geledek pembetot sukma) yang di yakininya.

Setelah ilmu tersebut dapat dikuasai, kehebatannya makin menjadi-jadi, hampir boleh dibilang seluruh dunia persilatan telah dikuasai olehnya.

Pada saat yang hampir berurusan, di dalam dunia  persilatan muncul pula seorang gembong iblis yang bernama mayat hidup Ciu Jit hwee. Kemunculan iblis ini segera menim bulkan suasana yang makin kalut dalam dunia persilatan, belum sampai dua tahun kemunculannya dalam dunia persilatan, nama busuknya sudah jauh melebihi Sip hiat jin mo.

Ilmu silat yang dimiliki kedua orang ini sama-sama lihaynya, kalau ilmu pukulan pek-lek si hun Ciang lebih mengutamakan kekuatan yang bersifat keras, maka ilmu pukulan Hu si im hong ciang dari si mayat hidup Ciu Jit Hwe lebih mengutamakan sifat dingin yang lembut. Kedua orang ini sudah pernah saling bentrok satu sama lainnya, alhasil kekuatan mereka berdua berimbang, cuma kalau berbicara dalam hal kekejiannya, maka teranglah ilmu pukulan angin dingin pembusuk mayat atau Ho si im hong siang masih jauh lebih mematikan orang.

Pertarungan yang berakhir seri ini membuat kedua orang iblis tersebut menjadi sahabat, tapi persahabatan antar sesama gembong iblis tentu saja bukan persahabatan yang sejati, yang benar mereka saling memanfaatkan kesempatan yang ada untuk saling merobohkan lawan.

Selama hidupnya, manusia iblis penghisap darah Pi Ca hui hanya menerima seorang murid, yakni Hit cha cui cu si rasul garpu terbang kiong Lui.

Dibawah bimbingan yang seksama dari iblis tersebut, Kiong Lui berhasil menguasani enam tujuh bagian ilmu silat dan Sip hiat jin mo tersebut....

Hanya sayangnya Kiong Lui tidak memiliki bakat yang terlalu bagus, sehingga kepandaian-nya tak bisa mencapai tingkat kesempurnaan, disaat iblis tersebut mengetahui kalau muridnya hanya kayu lapuk yang berukir berukir indah, hatinya benar-benar sengsara dan gusar, sayang sekali menyesal tak ada gunanya, diapun hanya bisa menyesali diri sendiri.

Demikianlah, ketika Suma Thian yu mengetahui siapakah musuhnya ini, dia merasa amat terkesiap, diam-diam pekiknya dihati:

Banyak kejadian didunia ini memang aneh rasanya, membuat orang sukar untuk menduganya, sesungguhnya Suma Thian yu sedang berangkat menuju ke Tibet, siapa tahu banyak persoalan justru dijumpai disaat seperti ini, bahkan musuh yang dijumpai pun kebanyakan adalah gembong iblis.

OOWOO

TIBA-TIBA Suma Thian yu teringat akan sesuatu, bukankah dia hendak mencari Sip hiat jin mo ini untuk membuktikan soal kematian orang tuanya? Tak disangka sama sekali, orang yang hendak dicarinya itu kini bisa muncul didepan mata.

Sudah jelas kejadian ini bukan suatu kebetulan saja, melainkan sudah diatur oleh seseorang, justru karena Sip hiat jin mo Pi ciang hay mendapat surat pemberitahuan dari seseorang, maka dia mengetahui dengan jelas akan jejak anak muda tersebut.

Terdengar Sip hiat jin mo Pi Ciang hay tertawa seram, lalu ujarnya dengan suara lantang:

"Bocah keparat, kau tak usah berlaga pilon lagi, bila kau tidak kenal dengan lohu, mengapa menantangku untuk berduel disini?"

"Aku benar-benar tidak kenal denganmu, selain itu aku pun tak pernah bermaksud menantangmu bertarung, tapi kebetulan sekali, aku memang ada maksud menyambangmu sekalian meminta petunjuk darimu"

"Meminta petunjukku?" Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay tertawa terbahak bahak, "mengapa tidak kau katakan ingin minta petunjuk ilmu silat dari ku?"

"Tidak, aku hanya minta keterangan kepadamu untuk, membuktikan suatu berita" jawaban dari Suma Thian yu amat tegas.

Ucapan tersebut segera menarik perhatian si Manusia iblis pengisap darah tersebut, dengan kening berkerut dia berseru:

"Membuktikan tentang suatu berita?"

"Aku she Suma bernama Thian yu, ayahku Tiong lo, tolong tanya kenalkah kau dengan ayahku?"

Dengan cepat Manusia iblis pengisap darah Ti Ciang hay menggelengkan kepalanya berulang kali, tanyanya agak tercengang:

"Buat apa kau menanyakan tentang persoalan ini? Lohu hanya dikenal orang, selamanya tak pernah mengenal orang lain"

Sungguh jawaban ini merupakan suatu jawaban yang sangat takabur. Maksudnya dia tak mau kenal dengan orang lain saja. "Kalau begitu, bajingan keparat itulah yang sengaja menipu aku" seru Suma Thian yu kemudian.

"Hei bocah muda, kau tak usah bergumam melulu, bila ada persoalan, katakan saja dengan cepat, kalau tidak, lohu sudah tak sabar unuk menunggu lebih jauh!" bentak Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay tak sabar.

"Tolong tanya, apakah Suma Tiong ko tewas di tanganmu?"

Sekali lagi Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. "Orang yang mampus di tanganku sudah tak terhitung jumlahnya, kalau suruh kuingat satu per satu, waah sulit

sekali! Bocah muda, seandainya lohu yang membunuhnya, apa yang hendak kau lakukan?"

Sepasang mata Suma Thian yu melorot besar dan memancarkan sinar yang amat tajam, katanya dengan cepat.

"Kalau begitu kau mengakui kalau ayahku mati di tanganmu? Kau juga yang menghancurkan gedung keluarga ku serta menghadiahkan lencana emas kepada si Ular berekor nyaring?"

Mendengar ucapan mana, Sip hat jin mo Pi Ciang hay kembali menjadi tertegun dan kemudian serunya agak tercengang:

"Hei lencana emas apa yang kau maksudkan? Lohu tak mengerti, apalagi lohu hanya membunuh orang, tidak pernah membakar rumah atau menghadiahkan sesuatu pada orang lain"

Suma Thian yu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, katanya:

"Kalau begitu kau telah ditipu dan dibodohi orang lain dengan seenaknya, benar-benar suatu berita yang luar biasa, seorang gembong yang tersohor namanya dalam dunia persilatan ternyata dipermainkan orang."

Tutup mulutmu! Jangan kau lanjutkan olok-olokmu itu, cepat kau katakan siapa yang berani mencabuti kumis harimau itu?" Dia adalah si ular berekor nyaring Bian pun ci yang bernama amat tersohor dalam dunia persilatan."

Suma Thian yu memang berniat adu domba, maka dia sengaja menyebutkan nama "si ular berekor nyaring" itu dengan suara yang amat nyaring.

Betul juga, Marusia iblis penghisap darah itu segera naik darah, rupanya gembong iblis ini memiliki sebuah kelemahan yakni dia suka dirinya berada dikedudukan paling tinggi, dia tidak berharap ada orang yang melebihi dirinya, apalagi kalau sudah dilangkahi orang, seringkali hal tersebut akan menimbulkan ambisinya yang menyala-nyala.

Terdengar dia bertanya dengan gelisah:

"Siapakah Bian Pun ci itu? Cepat beritahu kepadaku!"

Diam-diam Suma Thian yu merasa amat kegirangan setelah menyaksikan kemarahannya memuncak, namun dia berlagak hambar, sahutnya pelan:

Dia mah seorang jagoan yang amat tersohor, asal kau berkelana didalam dunia persilatan, siapa saja tentu akan mengenali dirinya "

Belum selesai dia berkata, Manusia iblis penghisap darah telah membentak lagi dengan gusar:

"Omong kosong, kau tak usah mengucapkan kata-kata yang tak terguna lagi, cepat beritahu kepadaku, sekarang berada dimana dia?"

Kau lupa dengan orang yang menghantarkan surat kepadamu itu? Dia adalah pembantu Bian pun ci. Asal kau menanyakan persoalan ini kepadanya, maka segala sesuatunya akan menjadi terang"

Pemuda ini memang hebat, apalagi tindakannya yang balik mengigit orang betul-betul rupakan suatu langkah yang jitu.

Dengan begitu selain ia dapat menghilangkan kesalah pahaman Manusia iblis penghisap darah dengannya, diapun bisa mengetahui siapakah yang telah mempermainkan dirinya ini. Dengan sorot mata buas, Manusia iblis Penghisap darah Pi ciang hay menoleh sekejap kearah Suma thian yu, kemudian serunya:

"Kau jangan meninggalkan tempat ini secara sembarangan, aku percaya kau tak bakal bisa lolos dari cengkeramanku!"

Dalam sekali berkelebat saja bayangan tubuhnya tahu-tahu sudab lenyap dari pendangan mata.

Menyaksikan kesempurnaan ilmu meringankan tubuhnya

ini, Suma thian yu harus menjulurkan lidahnya sambil berpikir: "Benar-benar sebuah ilmu meringankan tubuh yang amat

lihay, nama besar orang ini sungguh bukan nama kosong belaka"

Tentu saja dia tak akan pergi dengan begitu saja, karena   dia ingin tahu siapakah pengacau yang telah menfitnah dirinya berulang kali.

Tak selang berapa saat kemudian, Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay telah balik kembali dengan mengapit seseorang dibawah ketiaknya, dia langsung melayang turun dihadapan Suma Thian yu.

Suma Thian yu mencoba mengamati orang itu, ternyata sama sekali tidak di kenal.

Sementara dia masih termenung dengan wajah tertegun, orang itu sudah dilepaskan oleh Manusia iblis pengisap darah dari kempitannya.

Apa yang dilakukan orang muda itu? Ternyata dia merangkak ke hadapan Suma Thian yu, kemudian sambil berlutut, seraya merengek-rengek:

"Sauya, tolonglah hambamu, hamba telah menyampaikan surat tersebut kepadanya, tapi dia malah menahan diri hamba, ooooh sauya tolonglah hamba dan balaskan sakit hati hamba ini"

Mendengar ucapan tersebut, Suma Thian yu menjadi amat terkesiap, bajingan ini sungguh amat licik, ternyata dia pun pandai melimpahkan bencana ke tubuh orang. Saking tertegunnya, untuk beberapa saat Suma Thian yu jadi tergagap dan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Manusia iblis pengisap darah Pi Ciang hay pun agak tertegun sesudah mendengar perkataan tersebut, menyusul kemudian teriaknya dengan suara menyeramkan:

"Bocah keparat! Apa lagi yang hendak kau katakan sekarang? Heeeh, heeeh, hari ini bila aku tidak mencincang tubuhmu sehingga hancur berkeping-keping, sulit rasanya untuk melampiaskan rasa mangkel dalam hatiku"

"Eeeh, eeeh, tunggu dulu." seru Suma Thian yu sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, "aku sama sekali tidak mengetahui siapakah orang ini!"

Baru selesai dia berkata, tiba-tiba orang tersebut sudah berteriak kembali.

"Sauya, tegakah kau mengorbankan hamba? Dalam hal apakah hamba telah berbuat salah kepada sauya? Ooh sauya! Mengapa kau tak bersedia menolongku? Sauya, berbuatlah baik hati."

"Keparat sialan! Siapa yang menjadi sauya mu? Aku ingin bertanya kepadamu, siapa yang suruh kau mengantarkan surat tersebut?"

"Sauya, mengapa kau pelupa? Bukankah kau yang suruh suruh aku mengantarkan kemari?" seru orang itu keras-keras.

Menyaksikan kelicikan orang itu, Suma Thian yu benarbenar merasa gusar bercampur mendongkol, kalau bisa, dia ingin sekali menghajar lawannya tersebut sampai mampus.

Sementara itu, Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay juga mulai tidak percaya dengan Suma Thian yu, dengan gusar ia membentak nyaring:

"Bocah keparat! Bagus sekali perbuatanmu, ayo cepat serahkan selembar nyawamu!"

Seusai berkata dia lantas maju ke muka sambil melepaskan sebuah bacokan ke tubuh Suma Thian yu.

Jangan dilihat serangan yang dilancarkan olehnya ini kelihatannya sederhana dan lembut padahal kekuatan yang disertakan di dalam serangan tersebut benar-benar amat dahsyat.

Dengan cekatan Suma Thian yu melompat mundur sejauh satu kaki lebih, kemudian cegahnya:

"Eeeei, tungu dulu! Kesalahan pahammu kelewat mendalam, selain itu kau pun sudah tertipu"

"Betul, aku memang tertipu, tertipu oleh aksi licik kau si bocah keparat!" bentak Manusia iblis pengisap darah sambil menerjang maju lebih kedepan.

Sembari berkata, telapak tangannya segera diayunkan keatas siap melancarkan serangan.

Mendadak, dari sisi jalan dibalik hutan, berkumandang suara jenggekan seseorang diiringi suara tertawa dingin:

"Heeeh... heeehh... heeehh... kalau orang sudah tua, maka semakin tua semakin, bertambah pikun, tua bangka she Pi, aku lihat makin tua kau semakin tak becus saja"

Manusia iblis pengisap darah Pi Ciang hay menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, dia urungkan niatnya untuk melancarkan serangan dan segera berpaling, ternyata disisi jalan telah berdiri seorang pengemis tua.

Orang yang munculkan diri itu bukan lain adalah Siau yau kay Wi Kian adanya.

Melihat datangnya bintang penolong, Suma thian yu menjadi kegirangan setengah mati.

Sementara itu, Siau yau kay Wi Kian telah berjalan menghampiri Manusia iblis penghisap darah, lalu sambil tertawa terkekeh-kekeh katanya:

"Sudah empat puluh tahun kita tak bersua, rupanya sobat masih segar seperti sedia kala, cuma kalau sedang menghadapi persoalan lebih baik diselidiki dulu sampai jelas, jangan sembarangan menuduh orang lain, perbuatanmu sekarang sungguh menggelikan, sungguh mengenaskan!"

Setelah menyaksikan kemunculan Siau yau kay Wi Kita, mendengar pula perkataan tersebut, Manusia iblis penghisap darah menjadi naik darah, teriaknya keras-keras: "Lagi-lagi kau yang mencampuri urusan kami, hmmm! Apa sih yang kau pahami?"

Pengemis tua itu tertawa terkekeh-kekeh lagi.

"Aku paling paham tentang persoalan ini, terus terang saja aku si pengemis tua pun hampir tertipu oleh cucu kura kura ini, aku pun hampir saja salah menuduh orang baik"

Sembari berkata dia lantas menuturkan pengalamannya dimana dalam sampul surat di beri kuku dan rambut perempuan.

Setelah itu, sambil mencengkeram orang tadi, ujarnya: "Ayo jawab siapa yang menitah kau melakukan perbuatan

ini? Kalau kau bersedia menjawab dengan sejujurnya, berarti kau akan mengurangi hukumannya, kalau tidak, hmmm!

Malam ini kau akan merasakan penderitaan yang paling hebat!"

"Sauya kami yang suruh!" teriak orang itu sambil menuding ke arah Suma Thian yu.

"Ploook!" Siau yau kay Wi Kian menempeleng orang itu keras-keras, kemudian umpat nya:

"Siapa bilang dia punya rumah dan menjadi sauya? Ayo jawab, siapa yang suruh?"

"Dia yang suruh, mengapa kalian tak mau mempercayai aku?" seru orang tersebut sambil menangis.

"Baik! Kalau memang begitu, coba kau sebutkan, siapakah nama sauya mu itu?"

Orang tersebut menjadi tertegun setelah mendengar ucapan mana, dia melongo dan tergugup, tak sepatah kata pun yang sanggup diuta-rakan keluar.

Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi termanggu sendiri, pikirannya juga turut berguncang keras.

"Plaaakk!" sekali lagi Siau yau kay Wi Kian menghajar orang itu keras-keras.

"Bukankah dia adalah sauya mu? Mengapa kau tidak mengenali namanya?" ia membentak, "bajingan keparat anjing busuk, aku si pengemis tua harus memberi pelajaran lebih dulu kepadamu"

Seraya berkata, dia tangkap lengan kanan lelaki tersebut, kemudian ditariknya keras-keras. Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, lengan tangan lelaki itu segera tertarik hingga patah.

Peluh sebesar kacang kedelai segara jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya, dia nampak amat menderita.

Manusia iblis penghisap darah pun sudah menyadari akan ketidakberesan persoalan tersebut, dia pasti tahu ada orang yang sedang bermain gila dengannya.

Maka dengan amarah yang memuncak, dihampirinya orang itu, lalu bentaknya keras:

"Siapakah kau? Apa hubunganmu dengan si Ular berekor nyaring Bian Pun Ci?"

Sambil menggigit bibir menahan rasa sakit lelaki itu bungkam seribu bahasa.

Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay segera menggetarkan tangannya, orang itu menjerit kesakitan lagi, suaranya keras bagaikan ayam hendak disembelih, hijau membesi, hampir saja dia akan jatuh tak sadarkan diri.

“Ayo bicara!" bentak Manusia iblis penghisap darah lagi dengan sorot mata memancar kan suatu sinar kebuasan, "akan lohu lihat, kau bersedia menjawab atau tidak?"

Sambil berkata, dia bersiap sedia membetot tubuhnya lagi. "Jangan, jangan...! Aku akan menjawab, aku akan

menjawab! Dia adalah majikan hamba! seru lelaki itu ketakutan.

"Sekarang dia berada di mana?"

"Dia berada bersama-sama dengan si Mayat hidup Ciu Jit hwee locianpwee!"

Nama "si Mayat hidup" tersebut segera di terima oleh Manusia Iblis penghisap darah bagaikan tiga bilah pisau belati yang menancap di ulu hatinya, dia segera meraung gusar: "Rupanya orang itu adalah ahli waris bajingan tua tersebut, anjing keparat! Kau tak bisa diampuni!"

Telapak tangannya segera diayun ke depan.

"Blaamm!" tak sempat menjerit kesakitan lagi, lelaki kasar itu mampus dengan batok kepala hancur dan benaknya tercecer di mana-mana, karena dari itu tentu saja selembar jiwanya melayang keakhirat untuk melapor diri kepada raja akhirat.

Manusia iblis penghisap darah benar-benar merupakan iblis yang membunuh orang tanpa berkedip, selesai menghabisi nyawa lelaki tersebut, dengan sikap seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, ia berpaling kepada Suma Thian yu seraya berkata:

"Bocah, hampir saja kau menjadi setan penasaran...!"

Suma Thian yu merasa sangat tidak puas dengan perkataan itu, dihati kecilnya dia men damprat:

"Omong kosong, kau bedebah tua kelewat sombong, memangnya kau anggap sauya takut kepadamu?"

Sekalipun dalam hatinya berpikir demikian, tentu saja perkataan tersebut tidak sampai di utarakan keluar, maka diapun hanya membungkam dalam seribu bahasa.

Menyaksikan duduknya persoalan sudah jelas, Siau yau kay Wi kian tahu kalau berada disitu kelewat lama, sama sekali tak ada manfaatnya, maka sambil menarik tangan Suma Thian yu, serunya:

"Ayo berangkat, mau apa lagi mengendon disini?

Memangnya menunggu digebuk?" Selesai berkata, dia lantas berpamitan dengan Manusia iblis penghisap darah, kemudian sambil menarik tangan Suma Thian yu ber lu dari situ...

Ternyata Manusia iblis penghisap darah sama sekali tidak menghalangi kepergian mereka, gembong iblis ini memang berwatak sangat aneh, asal orang lain takut kepadanya, hal ini sudah cukup, tapi jangan sekali-kali mencoba untuk mengancamnya, diapun tidak akan sembarangan mengusik orang lain. Disiniiah letak kebaikan atau kelebihannya, sepanjang hidup dia selalu tergila-gila oleh ilmu silat, berusaha untuk melatih diri dengan sebaikbaiknya, tentu saja sasaran yang diincar kursi pemimpin dunia persilatan.

Walaupun ambisinya itu mendekati kekejaman, namaun hal inipun mengurangi napsunya untuk membunuh orang.

Berbeda dengan si mayat hidup Ciu Jit hwee, dia mengandalkan ilmu silatnya untuk menekan orang, menerima murid secara besar-besaran dan mencari komplotan untuk memperluas pengaruhnya, walaupun tujuannya tak berbeda dengan Manusia iblis penghisap darah, tapi cara yang digunakan justru berbeda.

Siau yau kay Wi kian cukup memahami wataknya ini, dia segera menarik tangan Suma thian yu sambil berkata:

"Mahkluk tua itu tak boleh diusik, bila kau berjumpa lagi dengannya dikemudian hari,kalau bertemu berusahalah cepatcepat pergi, kalau tidak, sepuluh orang macam kau pun akan habis juga ditangannya"

Suma thian yu menjadi curiga sekali, dengan cepat dia bertanya:

"Memangnya dia mempunyai tiga kepala enam lengan?

Murid kesayangannya pun tak lebih hanya begitu saja, memangnya dia memiliki kemampuan seberapa hebatnya?"

"Bocah,kau tahu apa?" damprat Siau yau kay, "kau anggap Pi Ciang hay hanya berbernama kosong belaka? Suhumu Put Gho cu pun paling-paling hanya bisa bertarung seimbang dengan-nya, itupun terjadi pada lima puluh tahun berselang, apalagi aku si pengemis tua..."

"Tapi dia nampaknya tidak memiliki sesuatu yang melebihi orang biasa, masa kepandaian silatnya amat dahsyat?"

Siau yau kay Wi Kian segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah...haahh... haaah... mau percaya atau tidak terserah

padamu, tapi kalau perangaimu tidak di rubah, dikemudian hari masih banyak penderitaan yang kau alami. Anak muda memang begitulah, wataknyn tak takut langit tak takut bumi, tapi kau harus ingat, setinggi-tingginya gunung, masih ada yang lebih tinggi lagi, sehebatnya manusia masih ada yang masih ada yang lebih hebat lagi, dunia begini luas, dunia persilatan begitu lebar, orang pintar berada dimana-mana, bila kau hendak menilai orang dari tampang wajahnya, sudah jelas perbuatan itu keliru besar. Kau harus perhatikan, bukan manusia yang bertubuh kasar saja yang hebat, seringkali  hebat juga mereka yang bertampang aneh dan dan sama  sekali tak sedap dipandang"

Ucapan tersebut benar-benar merupakan suatu pelajaran yang amat berharga dan bernila tinggi, dengan seksama dan penuh ketekunan dia menerima pelajaran mana, wajahnya nampak terharu sekali.

Ketika ia mencoba untuk mengingat kembali semua tokoh aneh yang pernah dijumpainya, memang tak salah lagi, apa yang diucapkan memang benar, seperti misalnya Wi san siang gi, Sin sian siancu dan Siau yau kay sekalian, semuanya bertampang jelek dan tak sedap dalam pandangan, tapi mereka semua justru merupakan jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan.

Ketika mereka berdua tiba dibawah bukit Ngo tay san, kabut kegelapan telah menyelimuti seluruh jagad.

Tiba-tiba Siau yau kay Wi Kian berkata:

"Bukit ini tidak baik dilewati, ada baiknya kita mengambil jalan berputar saja"

"Mengapa? tanya Suma Thian yu terperanjat" "Aaaahh, kau ini selalu pingin bertanya, masa aku si

pengemis tua akan mempermainkan dirimu?"

"Oooh, tidak, tidak, boanpwe hanya bertanya karena rasa ingin tahu saja"

"Baiklah, kalau memang begitu ambillah keputusan sendiri!"

Selesai berkata dia membalikkan badannya sambil melayang ke tengah udara, menanti Suma Thian yu sadar kembali, bayangan tubuh si pengemis tersebut sudah lenyap tak berbekas"

Suma Thian yu memang seorang pemuda yang keras kepala, melihat Siau yau kay sudah berlalu, dia pun berpikir. "Walaupun orang bilang Ngo tay san penuh dengan binatang buas, engapa aku harus takut dengan binatang binatang tersebut?"

Karena berpendapat demikian, dia pun melanjutkan perjalanannya memasuki hutan yang lebat tersebut.

Waktu itu hari sudah gelap, angin berhembus lewat membawa suara pekikan binatang buas.

Daun dan ranting bergoyang kian kemari menimbulkan suara gemerisik, batuan cadas yang berserakan dimana-mana seakan-akan berubah menjadi setan yang sedang mementangkan cakarnya.

Dalam keadaan begini, walaupun dihari-hari biasa dia bernyali besar, sekarang toh merasa bergidik juga.

Suasana disekeliiing tempat itu gelap gulita, malam yang pekat telah menyelimuti seluruh jagad.

Tiba-tiba muncul setitik cahaya lirih dari balik celah-celah ranting dan daun.

Walaupun hanya setitik cahaya saja, namun Suma Thian yu seakan-akan menemukan harta karun, gembiranya bukan main, dengan cepat dia melesat menuju ke arah mana berasalnya cahaya tersebut.

Setelah menembusi hutan belukar, di depan sena muncul sebuah api unggun, tapi Suma Thian yu tidak berani maju mendekat ketempat itu, dengan cekatan dia melompat keatas pohonu dan menengok ke arah api unggun tadi. Dengan cepat dia menyaksikan disisi api unggun duduk seorang pemuda....

Binatang buas takut dengan cahaya api, rupanya pemuda itu menggunakan kobaran api untuk mengusir binatang buas, diam-diam Suma Thian yu mengagumi akan kecerdasan nya.

Tempat di mana Suma thian yu menyembunyikan diri sekarang persis dibelakang punggung pemuda itu.

Begitu mendekati pemuda disisi api unggun tadi, Suma thian yu semakin berhati-hati lagi dalam tindak tanduknya.

Dalam keheningan yang mencekam seluruh jagad itulah, tiba-tiba terdengar pemuda itu seperti bergumam seorang diri. "Setelah sampai disini, mengapa sang tamu tidak turun untuk berbincang-bincang dan mengusir keheningan?"

Suma Thian yu amat terperanjat, pekiknya dihati. "Sempurna amat tenaga dalam yang dimiliki orang ini,

tampaknya pemuda ini memiliki kepandaian silat yang sangat lihay"

Berpikir sampai disitu, dia lantas melayang turun dari atas pohon, begitu mencapai tanah segera ujarnya kepada pemuda tersebut sembari menjura.

"Permisi saudrara, aku sedang tersesat jalan sehingga mengganggu ketenangan saudara, untuk itu harap kau sudi memaafkan"

Sambil berkata, dia memperhatikan pemuda itu sekejap, tampak anak muda tersebut mempunyai wajah yang tampan dengan bibir merah dan gigi putih bersih, matanya jeli, alis mutanya lentik usianya dua puluhan dan memakai baju model sastrawan, dandanan itu mudah menimbulkan kesan baik bagi siapapun.

Pemuda itu memejamkan matanya rapat-rapat kendatipun Suma Thian yu telah berada dihadapannya, dia pun tidak membuka mata nya, hanya ujarnya hambar:

"Silahkan duduk, bila pelayananku ditengah gunung kurang baik, harap kau sudi memaafkan"

"Aaaah, mana, mana. Boleh aku tahu siapa nama saudara?"

“Aku bernama Chin Siau dan saudara?"

Sewaktu berbicara ia masih tetap memejamkan mata rapatrapat, hal ini membuat Suma Thian yu segera berpikir:

"Jangan jangan dia buta?" Berpikir demikian, buru-buru dia menjawab.

"Aku she Suma bernama Thian yu, harap saudaraka sudi memberi banyak petunjuk"

Ketika mendengar nama "Suma Thian yu", mendadak pemuda sastrawan itu membuka matanya lebar-lebar dan memperhatikan Suma Thian yu sekejap, kemudian sahutnya dingin: "Oooh, rupanya Suma siauhiap, sudah lama kudengar nama besarmu "

"Aaah, saudara kelewat sungkan, dimanakah rumah saudara?"

"Aku tak punya rumah, empat samudra adalah rumahku" jawaban dari Chin Siau ini dingin sekali dan kaku.

"Ooohh, begitu pula denganku"

Suma thian yu merasakan pula hatinya amat sedih, dia merasa timbulnya suatu perasaan "senasib sependeritaan" dengan pemuda ini.

Sejak awal sampai sekarang, sikap maupun paras muka Chin Siau tetap kaku dan dingin, kecuali sedang berbicara, pada hakekatnya tiada anggota badan lainnya yang bergerak, seakan-akan dia mengenakan topeng kulit, sudah pasti orang ini merupakan manusia berdarah dingin.

Setelah mendengar perkataan dari Suma thian yu itu, paras muka Chin Siau sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun, katanya dingin:

"Ooooh, kau pun tiada rumah? Tentunya hatimu merasa sedih dan murung bukan?"

Pertanyaan yang diucapkan sangat tiba-tiba ini aneh sekali nadanya, sehingga menimbulkan suatu perasaan yang aneh pula bagi siapa pun yang mendengar.

"Yaa, aku merasa sedih, murung sehingga pada hakekatnya tak bergairah untuk hidup" "Perasaan Suma siauhiap persis seperti apa yang kualami, tolong tanya bencikah kau dengan musuh yang telah menyebabkan kematian orang tuamu dan musnahnya keluargamu?"

"Tentu saja dendam kesumat itu lebih dalam dari samudra, siapa pun akan merasa bencinya sampai menusuk ketulang sumsum"

Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata Chin Siau, dengan suara yang dingin, kembali dia bertanya:

"Kalau memang begitu mengapa kau harus membunuh orang lain dan merasuk kedalam keluarga lain?" "Aku?" dengan terkejut Suma Thian yu balik bertanya, "kapan sih aku melakukan perbuatan keji itu?"

Dengan sorot mata setajam sembilu, Chin Siau mengawasi Suma thian yu lekat-lekat, kemudian tegurnya:

"Coba kau lihat kuburan siapakah itu?"

Mengikuti arah yang ditunjuk Suma Thian yu berpaling, sebuah gundukkan tanah baru berada dua kaki didepan mata.

Semenjak makan daun Jin Sian kiam lan, sepasang mata Suma Thian yu bisa dipakai untuk melihat dalam kegelapan, maka walaupun kuburan tersebut berjarak dua kaki, dia masih dapat membaca tulisan yang tertera diatas batu nisan tersebut:

"Disini disemayamkan ayah tercinta Chin Ki kim" Di bawahnya tertulis:

"Yang berduka cita anak yang tak berbakti, Chin Siau"

Selesai, membaca tulisan itu, dengan pandangan bingung dan tidak habis mengerti Suma thian yu menengok ke wajah Chin Siau, kemudian tanyanya agak ragu:

"Kuburan ayahmu?"

Chin Siau berpekik nyaring dengan nada suara yang amat sedih, mencorong sinar penuh benci dari balik matanya, dengan gusarnya dia membentak keras:

"Dia kan korban diujung pedangmu, masa kau hendak menyangkal?"

Mendenger perkataan itu bergetar keras, perasaan Suma thian yu, buru-buru dia menggoyangkan tangannya berulang kali, serunya:

"Kau, kau salah paham, aku tak kenal dengan ayahmu Chin Ki kim, apalagi akupun tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah!"

Mendadak Chin Siau melompat bangun, lalu diambilnya sebilah pedang dari tanah, ketika tangannya menarik gagang pedang tersebut... "Cring!" di iringi suara nyaring dan pancaran sinar tajam keempat penjuru, pedang itu sudah tertarik setengah depa dari sarung. "Pedang bagus!" Suma Thian yu menjerit kaget setelah menyaksikan senjata tersebut.

Kemudian sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, serunya lagi:

"Tunggu dulu, jangan mencabut pedangmu lebih dulu, kalau ada urusan lebih baik kita bicarakan secara baik-baik"

"Bagaimana? Kau takut? heeeh, heeeh, malam ini akan ku suruh engkau rasakan bagaimana hebatnya ilmu pedang Bu bok kiam hoat (ilmu pedang tanpa mata).

Mendengar nama ilmu pedang Bu bok kiam hoat, terkesima hati Suma Thian yu, dia menjerit kaget:

"Jadi kau adalah ahli waris dari Bu bok ceng (pendeta tak bermata)?"

Chin Siau tertawa angkuh. "Heeeh...heeh...heeeh...benar, tak nyana kena1 juga

dengan Pendeta tak bermata, aku rasa disaat kau sedang membantai keluarga Chin tempo hari, tentunya tak pernah menyangka bukan kalau dia masih mempunyai putra yang berhasil lolos dari musibah tersebut?"

"Chin heng, jangan kelewat kukuh dengan pendirian yang salah" kata Suma Thian yu dengan wajah serius, kalau ingin melakukan sesuatu, haruslah pandai membedakan mana yang benar dan mana yang salah, bila membunuh orang baik-baik, kau bisa menyesal sepanjang masa"

Berbicara sampai disitu, dia berhenti sejenak, lalu sambungnya kembali lebih jauh:

"Andaikata aku benar-benar telah melakukan pembunuhan tersebut, masa aku akan takut menghadapi pembalasan dendammu?"

"Kalau begitu, cabut pedangmu!" seru Chin Siau sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Dengan cepat Suma Thian yu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tidak mempunyai ikatan dendam itu atau sakit hati dengan saudara, mengapa kita mesti bertarung menggunakan kekerasan? Bila ada persoalan, mari dibicarakan secara baikbaik, suatu ketika urusan toh akan beres dengan sendirinya"

Chin Siau berkerut kening, mendadak dia mencabut keluar pedangnya, tampak cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, pedang yang berada ditangannya telah menyambar di udara membiaskan cahaya tajam.

Setelah menghumus pedangnya, dia membentak lagi dengan suara sedingin salju:

"Toaya akan menghitung sampai tiga, bila kau belum juga mencabut pedang, jangan salahkan toaya akan membunuh orang yang tak bersenjata!"

"Satu... dua..."

Dia berhenti sejenak sambil memandang kearah musuhnya, menyaksikan Suma Thian yu masih tetap berdiri tak bergerak, dia segera berseru lagi:

"Tiga!"

Begitu selesai berseru, cahaya tajam berkilauan di angkasa, secepat sambaran kilat dia melepaskan sebuah tusukan ke tubuh Suma Thian yu. Siapa tahu, pada saat itulah menda dak terdengar Suma Thian yu tertawa panjang, ujung bajunya berkibar terhembus angin dan tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Chin Siau menjadi tertegun, cepat dia memandang sekejap sekeliling arena, tapi tak nampak sesosok bayangan manusia pun disitu.

Kejadian ini membuat hatinya tertegun, diam-diam dia lantas berpikir:

"Jangan-jangan dia telah melarikan diri?"

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara pekikan nyaring, mendengar suara tersebut, Chin Siau menjadi terkesiap, dengan perasaan bergidik ia membentak gusar:

"Pingin mampus rupanya kau!"

Dengan jurus Huan si cian ciau (membalikkan badan membabat ular) dia memutar badan sambil melancarkan bacokan, cahaya kilat segera berkelebat lewat dan membabat ke arah mana berasalnya suara Suma thian yu. Untuk kesekian kalinya Suma thian yu mengeluarkan kembali ilmu langkah Ciok liong loan poh nya untuk menghindarkan diri.

Tampak sepasang bahunya bergerak, tahu-tahu dia sudah menyusup kehadapan Chin Siau, bentaknya keras-keras:

"Kau betul-betul keras kepala dan tak bisa di didik, padahal aku bermaksud baik tapi nyatanya cuma serangan amarah darimu.... sekalipun kau menyaksikan dengan mata sendiri pun, tidak seharusnya kau bertindak begitu gegebah!"

Gagal dengan ke dua serangannya, Chin Siau terperanjat sekali, namun setelah sorot matanya terbentur dengan kuburan ayahnya yang berada tak jauh dari situ, amarahnya segera berkobar kembali, sambil berpekik nyaring dia menerjang maju ke muka.

Pedangnya dengan jurus Lu im si gwat (awan lewat menutup rembulan) secara beruntun melancarkan tiga buah tusukan kilat mengancam tiga buah jalan darah penting ditubuh Suma thian yu.

Tanpa sebab tanpa musabab Suma thian yu harus menghadapi gangguan seperti ini, kemarahannya kontan memuncak, mendadak dia berpekik nyaring, pedangnya dicabut keluar, lalu dengan memainkan tiga jurus pertolongan dari ilmu pedang Bu beng kiam hoat ajaran Cong liong lo sian jin, dia melakukan perlindungan diri.

Seketika itu juga tampak cahaya tajam memancar kemanamana, bunga pedang mencapai beribu kuntum bagaikan selembar kabut pedang yang amat besar menghadang lima depa dihadapannya dan membentuk kabut tebal yang begitu rapat sehingga tidak tertembusi.

"Traaangg... traaangg...!" tiba-tiba berkumandang suara benturan nyaring yang memekikkan telinga.

Ketika cahaya tajam lenyap, ke dua orang itu sama-sama melompat mundur sejauh tiga ltlangkah lebih, kemudian dengan wajah agak masgul, pekiknya dihati:

"Betul-betul ilmu pedang bagus!" Usia mereka berdua hampir seimbang, tampangnya juga sama-sama ganteng, lagipula ilmu pedang yang digunakan masing-masing memiliki keistimewaan sendiri, kesemuanya ini membuat Suma Thian yu menaruh perasaan sayang terhadapnya.

Agaknya Chin Siau mempunyai perasaan yang sama, dari tingkah laku serta cara Suma Thian berbicara, dia dapat merasakan kejujuran dan kemuliaan hati orang.

Akhirnya dengan perasaan ragu ia menegur:

"Kau benar-benar tidak melakukan perbuatan tersebut?" "Tentu saja, apakah kau anggap aku adalah seorang

manusia yang gemar membunuh? Suma thian yu balik bertanya.

"Tahu orangnya tahu wajahnya belum tentu tahu hatinya, siapa tahu kalau kau memang seorang manusia buas yang gemar memubunuh manusia!"

Suma Thian yu manggut-manggut.

"Yaa, masuk diakal, memang masuk diakal, aku tidak berharap kau bisa memahami perasaanku, tapi paling tidak harus memahami dulu hal ikhwal dari persoalan ini, bila kau percaya denganku, harap kau membeberkan semua peristiwa tersebut kepadaku"

Dengan sorot mata tajam, Chin Siau mengwasi Suma Thian yu beberapa saat lamanya, kemudian berkata dengan suara dingin:

"Duduk! Sewaktu aku berbicara nanti, kau tak usah nimbrung!"

Pelan-pelan pemuda itu duduk bersila, lalu menuturkan riwayat hidupnya.

Sejak berusia sembilan tahun Chin Siau sudah  meninggalkan rumah, dia dibawa pergi oleh seorang pendeta agung dari dunia persilatan yakni Bu bok ceng.

Sejak meninggalkan rumah, sepuluh tahun sudah lewat tanpa terasa.

Ramahnya terletak didusun Pek siang cun, hanya tiga li dari bukit Ngo tay san. Baru dua hari berselang dia pulang Kerumah, ketika sampai di depan pintu rumahnya, segala sesuatu yang berada disana telah berubah.

Gedung yang semula megah ketika dia meninggalkan rumah dulu, kini telah berubah jadi setumpukan puing-puing yang berserakan, mayat bergelimpangan dimana-mana, keadaan itu mengenaskan sekali.

Waktu itu Chin Siau sempat muntah darah dan jatuh tak sadarkan diri, setelah sadar kembali baru dia mengubur keluarganya lalu dengan mengikuti pesan dari ayahnya dulu, dia mengubur jenazah ayahnya dibukit Ngo say san.

Sebetulrya dia bermaksud untuk berjaga disisi kuburan ayahnva selama tiga hari, malam ini merupakan malam yang pertama, tak tahunya dia telah berjumpa dengan Suma Thian yu.

Ketika diketahui kalau pemuda  yang  muncul bernama "Suma Thian yu", hatinya menjadi tercekat, dia lantas teringat kembali dengan pesan ayahnya sebelum ayahnya mati....

Suma Thian yu merasa amat terharu sesudah mendengar penuturan tersebut, dengan wajah serius tanyanya kemudian:

"Jadi saudara Chin bersikeras menuduh kalau peristiwa berdarah yang terjadi saat itu merupakan hasil karyaku?"

Di sisi jenasah ayahku tertinggal kata peringatanmu, itulah sebabnya aku tahu kalau kau yang melakukan kesemuanya ini" sahut Chin Siau dengan air mata membasahi wajahnya.

"Aaah, masa ada kejadian seperti ini?" Suma Thian yu menjerit kaget dengan wajah tercengang, sudah jelas perbuatan

ini merupakan perbuatan busuk orang yang sengaja menfitnah orang lain "

"Yaa, bisa jadi demikian"

"Aku dengan ayahmu tak pernah saling mengenal, dulu  tiada dendam, belakangan inipun tiada sakit hati, lagipula hari ini baru sampai ditempat ini, bagaimana mungkinperistiwa yang terjadi beberapa hari berselang ada sangkut pautnya dengan diriku?" "Inikan menurut perkataanmu tanpa saksi, bagaimana mungkin aku dapat mempercayainya dengan begitu saja?"

"Hingga sekarang, apakah saudara Chin masih mencurigai diriku?"

"Lebih baik percaya daripada sama sekali tidak!"

Sikap dari Chin Siau ini sungguh membuat hati orang jadi sedih, tapi kalau keluarganya yang terbunuh, kesedihan yang mencekam perasaan hatinya betul-betul tak akan tertahan oleh siapa saja.

Dengan kening berkerut, Suma thian yu menghela napas panjang, katanya kemudian:

"Kalau memang saudara Chin berpendapat demikian, akupun tak akan membantah, silahkan saja kau turun tangan apabila ingin membalas dendam bagi kematian orang tuamu"

Chin Siau tertawa tergelak. "Haaah...haaahh...haah...siapa yang berani menghalangi

niatku untuk membalas dendam? Bila masa berkabungku selama tiga hari sudah lewat, aku bisa menyelidiki peristiwa ini sampai tuntas, apabila kaulah pembunuhnya, hmm! Aku akan menyuruh kau merasakan siksaan yang terkeji didunia ini"

"Setiap saat kunantikin petunjukmu" kata Suma Thian yu cepat.

Kemudian setelah menyarungkan kembali pe dangnya dan menjura, dia berkata lebih jauh:

"Berhubung aku masih ada urusan, maaf kalau harus minta diri dulu, sekembaliku dari Tibet nanti, pasti akan kulewati lagi tempat ini dan sampai waktunya aku akan menuruti saja keinginanmu"

"Bagus sekali, sampai waktunya akan kutunggu kedatanganmu di tempat ini"

Suma thian yu tidak memperdulikan lawannya lagi, dia membalikkan badan dan segera berlalu dari situ.

Sepeninggal Suma Thian yu, Chin Siau merasa hatina serba salah, jalan pemikirannya saling bertentangan, bagaimana pun juga dia tetap nmenaruh curiga, sebab dilihat dari penampilan Suma Thian yu, sudah jelas dia tidak mirip dengan seorang gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkedip....

Tapi diapun merasa kalau Suma thian yu merupakan orang yang paling dicurigai, sebab seandainya tiada suatu urusan, bagaimana mungkin dia akan melewati tempat itu? Dengan pikiran kacau dia duduk terpekur disisi api unggun sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

Mendadak....

Dari belakang tubuhnya berkumandang suara gemersak yang keras seolah-olah ada ular yang sedang menggeser mendekat.

Sebagai seorang jago yang berilmu tinggi, Chin Siau sama sekali tidak dibikin ketakutan, tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Konon pendeta tak bermata adalah seorang pendeta yang berasal dari negeri asing, ilmu pedang yang dipelajarinya bukan Kung fu dari daratan Tionggoan, melainkan dari negeri Hu siang (kini Jepang).

Seperti namanya si Pendeta tak bermata adalah seorang pendeta buta, namun ilmu silat nya sangat lihay, terutama sekali permainan ilmu pedang butanya, hakekatnya menjagoi se luruh dunia persilatan.

Berhubung dia memang berbakat lagipula amat cerdik, setibanya didaratan Tionggoan dia segera mempelajari ilmu pedang dari pelbagai aliran yang ada didaratan Tionggoan, kemudian meleburnya menjadi satu dan digabungkan dengan ilmu pedang asalnya.

Dengan kepandaian seperti ini, tak heran kalau kemajuan yang berhasil dicapainya amat pesat.

Umat persilatan hanya mengetahui kalau di daratan Tionggoan telah muncul seorang jago pedang bernama Pendeta tak bermata, cara kerjanya jujur, bijaksana dan selalu membantu kaum lemah, oleh sebabitu banyak jago menyebutnya sebagai Pendeta berjiwa pendekar.

Namun orang yang mengetahui asal usulnya yang sebenarnya boleh dibilang sedikit sekali. Selama hidup, Pendeta tak bermata hanya menerima seorang murid saja, yakni Chin Siau.

Semenjak berumur sembilan tahun, Chin Siau sudah ikut belajar ilmu silat, sepuluh tahun lamanya dia mendalami kepandaian gurunya, kini boleh dibilang ia telah berhasil menguasai delapan sembilan bagian dari kepandaian gurunya.

Dengan kepandaiannya itu, dia berhasil menempatkan dirinya sebagai seorang jago pilihsn diantara angkatan muda.

itulah sebabnya dia merasa amat terperanjat setelah melangsungkan pertarungan sengit melawan Suma thian yu, pemuda itu merupakan satu-satunya musuh tangguh yang pernah dijumpainya sejak dia turun gunung.

Dalam pada itu, suara gemercik yang datang dari arah belakang terdengar makin bertambah nyaring, bahkan makin lama suaranya semakin mendekati dirinya.

Chin Siau memperhatikan suara itu dengan seksama, setelah menentukan arahnya dengan tepat, mendadak ia membentak keras, cahaya kilat berkelebat lewat, Chin Siau telah mengayunkan pedangnya melepaskan bacokan maut kearah mana berasalnya suara tersebut.

Jerit kesakitan berkumandang memecahkan keheningan.

Ternyata bukan ular besar yang sedang ber jalan mendekati, melainkan seorang manusia.

Dengan cepat Chin Siau membalikkan badan nya, kurang lebih empat kaki di belakang tubuhnya tergeletak sesosok tubuh manusia, dia adalah seorang lelaki setengah umur yang se pasang kakinya sudah putus, darah bercucuran keras, dan tubuhnya bergulingan ke sana kemari menahan rasa sakit.

Chin Siau menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian tersebut, dia menira ada seekor ular besar yang sedang mendekatinya, ternyata suara tersebut berasal dari langkah kaki seorang penyamun.

Pelan-pelan dia bangkit berdiri dan  berjalan mendekati orang tersebut, kemudian sambil menatap lelaki bergolok yang sedang berguling-guling diatas tanah kesakitan, bentak nya penuh amarah: "Siapah kau? Mengapa menyusup kebelakang tubuh sauya?

Rupanya kau ingin mencelakai sauya?"

Dengan sepasang kaki terpapas kutung, lelaki itu hanya mengerang kesakitan sambil berguling kian kemari, dalam keadaan begini, tentu saja dia tak mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Menyaksikan kejadian itu, dari sakunya Chin Siau mengekuarkan sebuah bungkusan obat dan ditaburkan disekitar mulut luka pada kakilelaki yang terpapas kutung itu.

Obat itu sungguh amat mujarab, tak selang beberapa saat kemudian darah telah berhenti mengalir dan rasa sakitpun jauh berkurang. Melihat musuhnya sudah dapat berbicara, Chin Siau baru mengajukan pertanyaannya lagi:

"Siapa yangg menitahkan kau untuk mencelakai sauya?" "Maaf, aku telah salah mengincar orang" sahut lelaki itu

sambil menatap muka lawannya.

"Salah mengincar orang?" Chin Siau bertanya dengan wajah tercengang.

"Benar! Toaya mengira kau adalah bocah keparat she Suma"

"Oooh..." Chin Siau semakin tertegun, "mengapa kau hendak membunuh Suma Thian yu?"

"Aku bersumpah hendak membunuh anjing keparat tersebut, bagaimanapun juga, sebelum aku berhasil mencingcang tubuhnya sehingga hancur berkeping-keping belum puas rasanya hatiku untuk melampiaskan rasa dendam sakit hatiku"

Mendengar ucapan tersebut, Chin Siau segerara merasakan hatinya bergetar keras, api amarah yang semula sudah hampir padam kini berkobar kembali, buru-buru dia bertanya:

"Beritahu kepadaku, perbuatan jahat apakah yang telah dilakukan olehnya?"

Menyaksikan mimik wajah Chin Siau tersebut, diam-diam lelaki kekar itu tertawa seram, buru-buru sahutnya:

"Keparat itu memperkosa istriku, membunuh seluruh anggota keluargaku... " 
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 21"

Post a Comment

close