Kitab Pusaka Jilid 17

Mode Malam
Jilid 17

DlTENGAH pertarungan sengit yang berlangsung, kedua belah pihak kembali bertarung sepuluh gebrakan lebih, semakin pertarungan berlangsung, Siang wi coa Bian Pun ci merasa makin terkejut.

Akhirnya dia menjadi nekad, goloknya di tangan kanan segera diangkat sambil melancarkan bacokan tipuan, kemudian tubuhnya mundur beberapa langkah dan merogoh kedalam sakunya.

Setelah itu sambil tertawa dingin dengan suara yang menyeramka, pergelangan tangannya bergetar dan dia melemparkan golok Boan liong to tersebut keluar.

"Bocah keparat, serahkan selembar nyawa mu!" bentaknya keras-keras.

Aneh memang kalau dibicarakan, ketika golok Boan liong to itu dilontarkan, ternyata bagaikan seutas tali saja senjata tersebut menari-nari ditengah udara.

Suma Thian yu menjadi tertegun, baru saja dia mengangkat pedangnya untuk mencongkel, mendadak golok Boan liong to yang meliuk-liuk itu sudah berada dihadapannya, bahkan mengembang menjadi besar sekali. Ujung golok tersebut dengan kecepatan luar biasa menyambar keaepan wajah Suma Thian yu.

Menghadapi keadaan seperti ini, Suma Thian yu menjerit kaget, cepat pedang Kit hong kiam itu diputar kencang menciptakan selapis jaring pedang yang tebal dihadapannya

Dalam pada itulah, baru saja pedang tersebut membentuk jaring pedang yang kuat, golok Boan liong to terssbut sudah meluncur datang

“Blaam, blaaaamm...!" suara ledakan keras yang memekikkan telinga bergema memecahkan kebeningan.

Termakan oleh tangkisan Suma Thian yu yang begitu rapat, golok Boan liong to itu melejit keudara dan langsung menyambar ke tubuh Setan muka hijau Siang Tham yang sedang menonton jalannya pertarungan dari sisi areaa.

Setan muka hijau Siang Tham sama sekali tidak menduga akan datangnya ancaman itu, buru-buru dia menjatuhkan diri dengan gerak kan keledai malas menggelinding untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya maut....

Pada saat itulah, terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumanding dari belakang tubuhnya.

Menanti Setan muka hijau Siang Tham berpaling, dia saksikan seorang lelaki kekar sudah mampus ditembusi golok Boan liong to itu sehiagga ususnya berhamburan ketanah.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam waktu singkat.

Baru saja Suma Thian yu berhasil meloloskan diri dari serangan maut tersebut, mendadak dia merasakan pandangan matanya menjadi silau dan tiga titik cahaya bintang sudah menyambar ke hadapan wajahnya...

Rupanya Siang wi coa Bian Put ci memang licik dan berhati keji, ketika goloknya disambit ke arah musuh tadi, sebenarnya dia hanya bermaksud untuk memecahkan perhatian lawan padahal senjata maut yang dipersiapkan untuk merenggut nyawa Suma Thian yu menyambar dari arah berlawanan.

Siasat yang keji, licik dan berbahaya ini sungguh menggidikkan hati orang, coba kalau jago kelas dua yang menghadapi keadaan ini, niscaya dia sudah mampus termakan oleh siasat busuk tersebut.

Sayang sekali musuh yang dihadapinya adalah Suma Thian yu yang tangguh, bukan saja dia telah mengawasi sekeliling tempat itu dengan seksama, telinganya juga menangkap semua suara yang datang dari delapan penjuru.

Baru saja Siang wi coa Bian Pun ci mengayunkan tangannya, dia sudah merasakan hal tersebut, maka simbil berpekik nyaring, pedangnya diputar menggunakan jurus Po hong pat ta (angin puyuh menyambar ke delapan penjuru).

Kemudian sepasang bahunya bergerak dan menggunakan ilmu langkah Ciong tiong luan poh untuk menembusi serangan senjata raha sia tersebut untuk menerjang makin ke depan.

"Bajingan cabul, serahkan batok kepalamu!" bentaknya.

Dengan jurus Liu seng kan gwat (bintang kejora mengejar rembulan) secepat petir menyapu ke muka.

Mimpipun Siang wi coa Bian Pun ci tidak menyangka kalau gerakan tubuh dari Suma Thian yu begitu cepat dan lincah, baru saja ia mendeagar suara bentakan lawan, tahu-tahu dadanya sudah terasa dingin dan perih.

Tak ampun lagi dia menjerit kaget, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh rubuhnya, cepat-cepat dia melayang mundur sejauh satu kaki lebih dengan gerakan mendatar.

Ketika ia memeriksa dadanya, ternyata di situ telah bertambah dengan luka yang memanjang, darah kental masih bercucuran dengan amat derasnya.

Suma Thian ya ingin maju kedepan untuk melepaskan tusukan, menjadak ia mendengar suara gemerincing di atas geladak, ketika me nengok, ternyata disitu terdapat sebuah lencana emas yang gemerlapan tajam.

Dalam pada itu, siang wi coa Bian Pun Ci baru saja berhasil berdiri tegak, melihat lencana emas yang berada di lantai, dia segera meraba dada sendiri, saat itulah baru diketahui kalau lencana itu adalah miliknya sendiri. Namun berada dalam keadaan demikian, ia tak sempat untuk mengambilnya lagi, sepasang kakinya segera menjejak tanah dan melejit ketengah udara.

Sewaktu melewati disamping lelakiyang mati penasaran tadi, dia cabut keluar golok Boan liong to, setelah itu sambil berpaling dan melotot gusar kearah Suma thian yu, serunya:

"Bocah keparat! Selama bukit nan hijau, air tetap mengalir, lihat saja pembalasanku nanti!”

Ucapan terakhir baru diutarakan. Siang wi coa Bian Pun ci sudah melompat turun ke sampan kecil dibawah perahu besar itu, kabur terbirit-birit.

Setan muka hijau Siang Tham yang menyaksikan pembantu utama nya sudah melarikan diri dari sana, tentu saja dia tak berani berdiam diri lebih lama lagi disana, apalagi setelah Suma Thian yu mendemonstrasikan ilmu saktinya barusan, boleh dibilang nyalinya sudah dibikin rontok.

Mendadak dia mengundurkan diri ke ujung buritan perahu, kemudian dengan gerakan yau cu huan sin (burung belibis membalikkan badan) cepat-cepat dia menceburkan diri ke air dan melarikan diri.

Suma Thian yu yang berjiwa besar, selamanya tak sudi mengejar musuh yang telah melarikan diri, maka dia balik ke tempat semula den membungkukkan badannya untuk mengambil kembali lencana emas tersebut, tanpa diperiksa lebih seksama lagi, dia masukkan ke dalam saku dan dianggapnya sebagai tanda mata atas kemenangannya terhadap Siang wi coa Bian Pun ci.

Sementara itu, kawanan lelaki kekar bersenjata yang masih tertinggal diatas perahu, sudah dibikin ketakutan setengah mati oleh kehebatan Suma Thian yu yang ibarat malaikat

dari langit itu, mereka mendekam dengan tubuh menggigil, mulut membungkam, bahkan bernapas keras keraspun tak berani.

Menyaksikan kesemuanya itu Suma thian yu merasa geli didalam hati kecilnya, maka sambil menuding ke arah bukit Kun san, pe-rintahnya kepada orang-orang itu: “Cepat jalankan perahu menuju ke bukit Kun san, jangan mencoba untuk membangkang!"

"Baik!" jawab para lelaki itu hampir bersamaan.

Jangkarpun di naikan dan perahu melanjutkan perjalanannya menuju ke arah bukit Kun san.

Karena tertunda oleh pertarungan sengit itu ketika perahu tiba dibukit Kun san, matahari sudah tenggelam ke langit barat, saat orang memasang lampu penerangan.

Setelah meninggalkan perahu besar itu, Suma Thian yu memerintahkan kepada orang-orang itu untuk pergi, kemudian sambil menggandeng tangan Bi hong siancu Wan Pek lan yang halus dan  lembut, mereka bersama-sama berangkat menuju ke bukit Kun san.

Sejak kecil sampai seusia dewasa sekarang belum pernah Bi hong siancu Wan Pek lan menyaksikan pertarungan sesengit hari ini, sampai sekarang jantungnya masih saja berdebar dengan kerasnya.

“Engkoh Thian yu, aku benar-benar merasa kagum sekali kepadamu" lama kemudian Bi hong siarcu baru dapat mengutarakan kata-kata yang sudah lama terpendam dalam hati nya itu.

"Apa yang kau kagumi?” tanya Suma Thian ya keheranan.

Selembar wajah Bi hong siancu Wan Pek lan segera berubah menjadi merah padam karena jengah, dia segera melengos ke arah lain, lalu jawabnya agak terrsipu-sipu:

"Kepandaian silatmu amat hebat, berbicara yang sesungguhnya, belum pernah kusaksikan pertarungan yang begitu serunya seperti apa yang berlangsung tadi"

Hal ini tak bisa menyalahkan gadis itu, sejak kecil Bi hong siancu Wan Pek lan sudah dipingit didalam rumah, tak sekali pun dia melangkah keluar dari halaman rumahnya, walaupun saban hari berlatih silat, yang menjadi 1awan latihan juga hanya suhu-suhu dalam perusahaan, tentu saja berbeda sekali dengan pertarungan sungguhan yang berlangsung hari ini.

Suma Thian yu segera tersenyum. "Kau terlalu memuji, dilain waktu peristiwa semacam ini masih akan banyak kau jumpai”

Bi hong siancu hanya membungkam dalam seribu bahasa, padahal dalam hati kecilnya sudah lama timbul benih cintanya terhadap Suma Thian yu, tak heran kalau dia merasakan  kuatir sekali menyaksikan kekasih hatinya sedang mempertaruhkan nyawa.

Perjalanan berlangsurg terus tanpa berhenti sementara malam sudah menjelang tiba, kini seluruh bukit Kun san sudah diliputi kegelapan yang luar biasa.

Mendongakkan kepalanya sambil memandang bukit Kun san dihadapan matanya, Suma Thian yu menghela napas panjang, katanya lagi:

"Adik Lan, ke mana kita harus menemukan dua bersaudara Thia?”

“Yaa, sejak tadi aku memang ingin menanyakan soal ini kepadamu"

Sekali lagi Suma Thian yu menghembuskan napas panjang. "Seandainya tidak berjumpa dengan setan muka hijau tadi,

mungkin saat ini kita sudah sampai di tempat tujuan dua bersaudara Thia pun pasti akan menunggu disini aku pikir mereka pasti akan menyumpahi aku karena mengingkar janji, karenanya pergi karena mendongkol"

Agaknya Bi hong siancu juga berpendapat demikian, seandainya dua bersaudara Thia memang sudah mendongkol, lantas ke manakah mereka harus mencari dua saudara itu di tengah bukit Kun san yang begini luasnya...

Mendadak Bi hong siancu menjerit kaget, sambil menuding ke arah punggung bukit, serunya kepada Suma Thian yu dengan perasaan cemas:

“Engkoh Thian yu, coba kau lihat apakah itu?”

Ketika Suma Thian yu menengok ke depan, dia menyaksikan ada setitik cahaya api sedang bergerak gerak di depan sana.

Anak muda tersebut lantas berpikir: Jangan-jangan orang yang sedang melakukan perjalanan di depan sana adalah dua saudara Thia!"

Berpikir sampai di situ dia meajadi girang sekali, sambil menggandeng tangan Bi hong siancu, segera serunya:

“Adik Lan, mari kita kejar!"

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tu buh yang sempurna, ke dua orang itu segera meleset ke depan dengan cepatnya.

Bagaikan segalung hembusan angin, ke dua orang itu sudah tiba di punggung bukit, tapi cahaya api yang terlihat tadi kini sudah lenyap tak berbekas.

Dengan perasaan tercengang Suma Thian yu segera celingukan memandang sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian gumamnya:

Aneh, kenapa cahaya api itu bisa lenyap tak berbekas?”

Agaknya Bi hong siancu juga merasakan sesuatu yang tak beres, segera bisiknya”

“Jangan-jangan cahaya api setan?"

“Cahaya api setan?” gumam pemuda itu, tidak mungkin, adik Lan, kita mengejar kemari sepanjang jalan, bukankah cahaya api itu selalu berkedip kedip?"

“Ya. benar!"

Hal ini membuktikan kalau cahaya api tersebut bukan api setan. disamping itu api setan hanya berkedip tak menentu, apa lagi melayang kesana kemari."

“Lantas benda apakah itu?" tanya Bi hong siancu dengan perasaan tak habis mengerti.

Dengan cepat Suma Thian yu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Entahlah, aku sendiri pun tak tahu"

Baru selesai dia berkata, mendadak dari lembah depan sana terlihat ada cahaya api yang berkedip lalu lenyap.

Suma Thian yu segera menjerit kaget:

"Adik Lan, berada disana!”

Menanti Bi hong siancu menengok kedepan sana, lembah tersebut sudah gelap kembali. "Mana engkoh Yu? Tidak ada apa-apa di situ, mungkin engkoh Thian yu salah melihat, serunya kemudian dengan perasaan ragu.

“Tidak mungkin" sembari berkata, Suma Thian yu segera bergerak lebih dahulu menuju ke dalam lembah sana.

"Adik Lan, ayolah ikuti aku!"

Bi hong siancu Wan Pek lan membuntuti dengan kencang di belakang pemuda tersebut menuju ke dasar lembah.

Tiba didasar lembab, suasana ditempat itu gelap gulita sehingga untuk melihat ke lima jari tangan sendiripun tak bisa.

Suma Thian yu yang pernah makan Jin sian kiam lan masih bisa melihat keadaan dalam kegelapan seperti ditengah hari saja berbeda sekali dengan Bi hong siancu.

Terpaksa dia menarik tangan Suma Thian yu sambil berkata:

"Engkoh Thian yu, aku takut, apakah kau membawa korek api?"

Setelah mendengar ucapan tersebut, Suma Thian yu baru sadar dan segera menyumpahi kecerobohan sendiri sehingga hanya dia yang dipikirkan tanpa menggubris keadaan dari gadis tersebut.

Mska dia lantas menggendeng tangan Bi hong siancu dan selangkah demi selangkah berjalan menuju ke dalam lembah situ.

Semakin berjalan ke depan, Wan Pek lan merasa semakin terkejut dan ketakutan, akhirnya tak tahan lagi dia bertanya dengan nada tercenganh:

"Engkoh thian yu, apakah kau menyaksikan bintang cahaya tadi muncul disini?”

“Benar dan tak bakal salah lagi!"

“Kalau begitu, apakah dua bersaudara Thia berdiam di dasar lembah ini?"

SFekali lagi perkataan tersebut menyadarkan kembali Suma Thian yu, sekalipun pertanyaan yang diajukan tanpa maksud tertentu, tapi justru hal mana mendatangkan peringatan dan kewaspadaan bagi sang pemuda. Yaa, mana mungkin dua bersaudara Thia bisa berdiam di dasar lembah yang begini gelap gulita?

Apalagi sekalipun cahaya api yang terlihat itu adalah sebuah cahaya api dari dua bersaudara Thia, setelah dikejar sekian waktu oleh Suma Thian yu dan Wan Pek lan, seharusnya dua bersaudara Thia mengetahui akan hal ini.

Mengapa mereka justru mempertahankan mereka? Apakah dua bersaudara Thia ada maksud untuk mempermainkan Suma Thian yu?

Tidak! Sudah pasti dibalik kesemuanya ini terdapat hal-hal yang mencurigakan.

Tak mungkin cahaya bintang yang terlihat tadi adalah cahaya obor yang dibawa oleh dua bersaudara Thia.

Suma Thian yu termenung beberapa saat lamanya,

akhirnya dia memutuskan suatu kesimpulan, yang sudah pasti yang dihadapinya sekarang merupakan serangkaian

persoalan yang sangat mencurigakan hati.....

Bi hong siancu merasa amat gelisah dan tak tenang, tapi lantaran Suma Thian yu tidak melakukan satu gerakan terpaksa dia pun hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.

Akhirnya Suma Thian yu bersuara juga, kata nya: "Adik Lan, mungkin semacam binatang liar atau ular

beracun atau mungkin juga binatang buas?"

"Aku pikir sudah pasti ada setan atau siluman nya disini" seru Bi hong siancu tiba-tiba.

Ketika mengucapkan begitu, punggungnya terasa menjadi dingin dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Suma Thian yu pun segera merasakan bulu kuduknya pada berdiri semua, pikirnya:

"Seandainya manusia yang kujumpai atau binatang buas, mungkin masih gampang untuk dihadapinya, paling banter kalau tak mampu me lawan bisa kabur, bagaimana kalau makhluk itu setan atau iblis? bisa banyak bahayanya daripada rejeki " Sementara dia masih berpikir, terdergar Bi bong siancu Wan Pek lan berkata lagi:

“Engkoh Thian yu, lebih baik kita pulang saja!"

Mendengar perkataan itu, Suma Thian yu segera tertawa terbahak bahak.

"Haah...haah...haaah...adik Lan nyalimu kelewat kecil, asal aku berada disampingmu, biarkan saja kalau ada setan atau siluman, masih agak baikan kalau mereka tidak muncul,  kalau berani datang, akan kugunakan pedang Kit hong kiam untuk meringkus mereka semua"

Kaum lelaki yang seringkali mempunyai keberanian dan kekuatan nya didepan kekasih hatinya, ada orang bilang: Pria adalah mahkluk yang paling suka menonjolkan diri didepan lawan jenisnya.

Malam yang gelap semakin gelap, hawa seram yang mendirikan bulu roma berhembus lewat tiada hentinya, ditambah lagi dengan ca haya tajam yang muncul dan lenyap secara aneh tadi, membuat suasana disitu terasa bertambah mengerikan.

Sekalipun Suna Thian yu memiliki ilmu silat yang lihay, tak urung harus menunjukkan pula perasaan sangsi dan was was, hanya saja berhubung sedang berada didepan kekasihnya  Wan Pek lan, maka rasa seram itu tak sampai di ungkapkan.

Akhirnya ucapan yang gagah perkasa dari Suma Thian yu  itu berhasil merontokan rasa takut Wan Pek lan, gadis itu merasa seperti mempunyai tulang punggung, maka rasa ngeri yang semula mencekam perasaannya pun kini tarsapa lenyap.

Kembali mereka berdua meneruskan perjalanannya menuju kedalam lembah, setelah melalui sebuah tikungan dan berjalan kurang lebih dua kaki lagi, mendadak Suma Thian   yu menjerit kaget:

"Aaah...!"

Bi hong siancu Wan Pek Tan yang berada dibelakangnya kontan saja menjadi merinding, buru-buru tanyanya:

"Ada urusan apa, engkoh Thian yu?” Keadaan Wan Pek lan saat ini ibaratnya orang buta yang sedang berjalan, sekalipun dia pernah melatih ilmu memandang dalam kegelapan, sayang sekali lembah tersebut terlampau gelap sehingga benda apapun tidak terlihat olehnya.

Ketika mendengar si anak muda itu menjerit, dia mengira Suma Thian yu sudah tertimpa bencana, dalam kagetnya dia lantas menarik tubuh anak muda tersebut semakin kencang.

Dengan suara lembut Suma Thian yu lantas berkata: "Adik Lan apakah kau dapat melihat batu peringatan di

depan sana?”

“Di mana?"

Dari dalam sakunya Suma Thian yu segera mengeluarkan mutiara Ya beng cu pemberian dari Cong liong lo siangjin tersebut. (Yang benar berhasil diperoleh dengan mencurinya di rumah Hui cha cun cu).

Begitu Ya beng cu tadi dikeluarkan, maka empat penjuru sekeliling tempat itu pun menjadi terang benderang bermandikan cahaya.

Pada mulanya Bi hong siancu merasa tertegun, kemudian dengan gembira dia segera bersorak.

"Engkoh Thian yu, mengapa tidak kau keluarkan mutiara ini sedari tadi!"

Bikin aku seperti orang buta yang sedang berjalan saja!

Suma Thian yu segera menyerahkan mutiara Ya beng cu tersebut ke tangan Bi hong siancu kemudian sambil menuding tugu peringatan-depan sana:

“Adik Lan, kita sudah salah memasuki daerah terlarang!"

Dengan meminjam cahaya yang memantul keluar dan mutiara Ya-beng cu tersebut, Wan Pek lan dapat menyaksikan keadaan disekitar sana dengan jelas, hatinya kontan tercekat dan air mukanya berubah hebat.

Ternyata dihadapan mereka berdaa terpancang sebuah kayu besar yang tertera beberapa huruf dengan besarnya, tulisan ini berbunyi demikian:

"SIAPA YANG MEMASUKI LENBAH INI MATI". Kayu peringatan ini berbeda bentuknya dengan batu peringatan yang pernah dijumpai pemuda tertebut diluar hutan bukit Han san, namun nada suaranya sama.

Bi hong siancu Wan Pek lan yang menyaksikan kejadian   saat ini, paras mukanya segera berubah menjadi pucat pias seperti mayat, cepat-cepat dia membenakan kepalanya diatas dada Suma Thian yu, kemudian katanya penuh ketakutan:

"Engkoh Thian yu, bagaimana sekarang? Apakah kita sudah memasuki lembah tersebut?”

Suma Thian yu berjalan kedepan sambil menengok jauh kemuka sana, tampak olahnya jalan dalam selat itu amat sempit, sekalipun dia sudah pernah makan Jin sian kiam lan, tapi sorot matanya hanya mampu menangkap pemandangan yaag berada sekitar dua kaki dari ha dapannya, sedang pemandangan selewatnya itu hanya bisa di lihat secara lamatlamat saja.

Oleh sebab itu dia hanya bisa melihat kalau tempat itu merupakan sebuah lembah yang di tengahnya terdapat  sebuah jalan kecil beralas batu dengan semak belukar dikedua belah sisinya.

Dilihat dari hal ini, bisa diketahui kalau di ujung lembah tersebut berdiam seorang tokoh persilatan yang berwatak aneh, atau kalau tidak, orang itu tentu merupakan seorang gembong iblis!

ooo0ooo

SELESAI memeriksa keadaan di depan sana Suma Thian yu segera berkata kepada Wan Pek lan:

"Adik Lan, jangan takut, sekarang kita belum memasuki lembah terlarang itu!"

Kemudian sambil menuding ke depan sana, barulah dianggap memasuki lembah!

Dengan wajah yang pucat dan diliputi rasa takut yang tebal, Bi hong siancu Wan Pek lan berseru lagi:

"Engkoh Thian yu, lebih baik kita balik saja!" Suma Thian yu tersenyum.

“Adik Lan, kalau nyalimu begitu kecil, bagaimana mungkin bisa berkelana dalam dunia persilaitan dan peroleh nama besar? Orang kuno bilang: “Kalau sudah datang, mengapa tak dilihat? Apa sebabnya kalau kita menerjang kedalam sana untuk melihat keadaan?"

"Jangan! Aku takut!.. " seru Wan pek lan sambil menggelengkan kepala berulang kali.

"Hes, adik Lan, apa yang kau takuti, kalau tidak memasuki sarang harimau, bagaimana mungkin bisa mendapatkan anak macan? Aku pikir, lebih baik kita masuk ke dalam sana sembari menengok jagoan darimana kah yang berdiam disini"

Sambil berkata, Suma Thian yu segera menarik tangan Wan Pek lan dan diajak menyerbu kedalam lembah tersebut.

wan Pek lan bertindak sangat berhati-hati sekali, dengan membawa perasaan hati yang tak tenang, selangkah demi selangkah dia mengikuti anak muda tersebut, padahal hatinya berdebar keras sekali.

Menyaksikan wajah si nona yang diliputi perasaan seram dan ketakutan itu Suma Thian yu segera tertawa lebar.

“Haaaah...haaahh....haaahh...adik Lan, jikalau keadaanmu begini terus, terpaksa aku harus balik kembali, masa ada orang hendak melalap dirimu?”

Wan Pek lan sendiri pun merasa keberanian sendiri kelewat lemah, tapi sekalipun dia berusaha untuk tidak merasa takut apa mau di kata hatinya semakiu bertambah tegang.

Akhirnya dia harus menelan air liur sembari memberanikan diri untuk melanjutkan perjalanannya ke depan.

Mendadak Suma Thian yu menghentikan langkahnya dan tidak meneruskan perjalanannya lagi, ketika Wan Pek lan mengangkat mutiara Ya beng cu nya tinggi-tinggi sembari menengok ke depan, tanpa terasa lagi ia menjerit kaget:

"Aduh celaka!” Suma Thian yu terkesiap, dia segera menggenggam pergelangan tangan Wan Pek lau kencang-kencang, lalu katanya:

“Adik Lan, apa yang perlu ditakuti? Itu mah cuma setumpuk tengkorak manusia, masa kau menjadi ketakutan seperti ini? Ayo berangkat!”

Dengan mengangkat tangannya yang gemetar, Wan Pek lan menuding ke arah depan, serunya:

"Coba kau lihat... bukan... bukankah diatas sana ada tulisannya... ?"

"Benar, tulisan itu berbunyi: BEGINILAH CONTOHNYA. Artinya tempat ini merupakan peringatan yang terakhir, apabila berani maju sengkah lagi maka tumpukan tengkorak itu adalah contoh yang paling baik untuk kita"

Wan pek lan segera menarik baju Suma Thian yu sambil merengek untuk kembali, berada dalam keadaan demikian terpaksa dengan perasaan apa boleh buat Suma Thian yu menghela napas panjang dan membalikkan badan untuk mengundurkan diri dari situ.

Mendadak........

Dari belakang tubuh mereka berkumandang suara tertawa seram yaug amat mengerikan hati.

Suma Thian yu berdua segera merasakan punggungnya dialiri hawa dingin, seluruh tubuh mereka bergetar keras, apalagi setelah membalikkan badan dan menyaksikan apa yang tertera dihadapannya, kedua orsng itu kembali menjerit kaget.

"Aaaah !"

Ternyata pada tujuh delapan langkah dihadapan mereka sekarang, entah sejak kapan lelah berdiri seorang kakek berambut panjang yang berwajah bengis dan mengerikan, dia sedang mementangkan mulutnya yang lebar sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Jangankan ditengah bukit yang gelap mendadak muncul manusia aneh semacam itu, walaupun ditengah hari bolong pun orang akan merasa bergidik sesudah bertemu dengan manusia seperti ini.

Dengan perasaan kaget Suma Thiaa yu segera mundur dua langkah, lain bentaknya keras-keras”

"Siapa kau?"

Makhluk tua itu melotot besar dengan mulut yang melebar, serunya sambil tertawa geram:

"Heeeh, heeeh, heeeh, pertanyaan ini seharusnya lohu lah yang mengajukan, siapakah kau bocah muda?”

Setelah mendengar kakek aneh itu dapat berbicara, Suma Thian-yu merasa agak lega hatinya, maka dia berseru lagi:

"Berbicara pun ada yang duluan ada yang belakangan, kau belum menjawab pertanyaan ku, bagaimana mungkin aku dapat menjawab pertanyaanmu itu?”

Seluruh wajah makhluk tua itu berbulu panjang, mendadak dari balik matanya yang buas mencorong keluar sinar setajam sembilu, ditatapnya wajah Suma Thian yu lekat-lekat, seperti lidah ular berbisa yang sedang mencari mangsanya.

Menghadapi keadaan seperti ini, Suma Thian yu menjadi bergidik, berdiri bulu kuduknya.

Lama sekali, makhluk tua itu baru berkata dengan suara yang menggidikkan hati:

Lohu hidup dengan makan daging manusia, orang menyebutku sebagai Si jin ong (Raja pemakan manusia), sedang nama yang sebenarnya sudah lama sudah tidak  dipakai lagi, sehingga nama tersebut menjadi terlupakan sama sekali....

Si jin ong? Suatu nama yang terasa asing. jangankan Suma thian yu berdua belum pernah mendengarnya, sekalipun dalam duania persilatan juga tidak terdapat manusia seperti ini.

Suma Thian yu segera tertawa tebahak-bahak. "Haaah...haaah...haaahh...maaf kalau aku tak dapat

mengenali mu, ternyata kau adalah Si jin mo (iblis pemakan manusia), maaf, maaf ” Mendadak makhluk tua itu membalikan sepasang matanya sehingga biji matanya lebih banyak putihnya daripada hitamnya keadaannya waktu itu tak berbeda dengan setan gantung hidup, sungguh menggidikkan hati orang yang melihatnya.

Setelah mengawasi kedua orang itu secara bergantian, akhirnya sorot mata tersebut berhenti diwajah Bi hong siancu Wan pek lan, dan menatapnya tanpa berkedip.

Menggelikan sekali keadaan Wan pek lan, pada hakekatnya dia sudah dibikin pusing tujuh keliling karena kagetnya, bahkan seluruh tubuhnya seakan tertotok jalan darahnya, mutiara Ya beng cu tersebut masih terangkat tinggi-tinggi tapi wajahnya tertegun, matanya terbelalak dan mulutnya melongo, dia seperti berdiri bodoh disana.

Pada saat itulah, mahluk tua itu mementangkan mulutnya lebar lebar, kemudian setelah tertawa seram katanya:

"Ditengah malam buta begini, secara beruntun kalian berdua sudah menembusi dua buah tempatku, sudah pasti kedatangan kalian disertai maksud tertentu, dan sudah pasti kedatangan kalian disertai maksud tertentu, juga ada yang diandalkan, nah! Sekarang katakan, ada urusan apa kalian datang mencari lohu?"

Setelah berhasil menenangkan hatinya yang bergolak, Suma Thian yu menjura, sahutnya:

"Malam ini boanowee mempunyai janji dengan seseorang untuk bertemu di bukit ini, tapi karena ditengah jalan terjadi musibah sehingga kedatangan kami terlambat, orang yang kami janjikan itu tidak di temukan, akhirnya kami menyaksikan ada setitik cahaya muncul disini, itulah sebabnya kami pun muncul disini, jadi kedatangan kami bukan disengaja apa lagi mencari diri cianpwe!".

Dengan memicingkan matanya makhluk tua itu mendengarkan Suma Thian yu menyelesaikan perkataannya, setelah itu katanya:

"Kalau toh kedatangan kalian tanpa sengaja setelah membaca peringatan di kayu itu seharusnya berhenti, apa lagi setelah melihat tulang tengkorak, seharusnya kembali mengapa kau jutru memasuki daerah terlarang secara sengaja?”

Suma Thian yu segera dipojokkan sehingga tak mampu memberikan jawaban lagi, dia terbungkam dalam seribu bahasa.

Sementara itu Bi hong siancu wan Pek lan yang berada disisinya telah berhasil juga mengatasi rasa takut dalam hatinya, dia segera menimbrung:

Pada mulanya kami hanya terdororg oleh rasa ingin tahu, karena munculnya sinar tersebut kelewat aneh, kemudian setelah melihat tengkorak yang berserakkan disini, kami baru bermaksud untuk balik toh sampai sekarang belum lagi menginjak daerah terlarangmu?” 

Dengan sorot mata yang tajam makhluk tua itu mengawasi kembali wajah wan Pek lan tanpa berkedip, menanti gadis itu sudah me nyelesaikan perkataannya, dia baru tertawa.

“Heeh...heeh...heehh... bocah, kau memang memasuki tempat ini tanpa sengaja, tapi dia ada maksud untuk mencari gara-gara, kalau toh sudah berani berbuat, tidak sepantasnya kalau mundur secara pengecut. Hari ini, jangan kalian

berdua dapat meninggalkan tempat ini kecuali "

"Kecuali kenapa?" buru-buru Bi hong siancu bertanya.

Makhluk tua itu tertawa secara licik, kemudian sambil menyeringai seram katanya:

“Kecuali kalau aku bersedia menghadiahkan sebuah mustika untukku !"

Sembari berkata, sepasang matanya segera mengawasi mutiara Ya beng cu yang berada di tangan Wan Pek lan itu.

Suma Thian yu segera memahami maksud hatinya itu, tanpa terasa dia mendongakkan keepalanya sambil tertawa nyaring.

“Haaah...haaah...haaah... rupanya kau tak lebih seorang pencoleng yang ingin membegal harta milik orang? Tidak sulit bila kau menginginkan mutiara Ya beng cu ini, tapi sebelumnya harus memperlihatkan dahulu beberapa jurus seranganmu, asal aku merasa puas tentu saja akan ku serahkan dengan begitu saja, kalau tidak...hmm! Jangan mimpi!"

Mendengar ucapan tersebut, makhluk tua itu segera membentak dengan suara gusar:

“Bocah keparat, rupanya kau masih belum tahu siapakah diriku ini...?"

Tidak nampak gerakan apa yang digunakan tahu-tahu makhljuk tua itu sudah melejit ke tengah udara, lalu sepasang tangannya di rentangkan lebar-lebar, sepuluh gulung desingan angin tajam pun segera mengurung tubuh Bi hong siancu dengan kaitanya.

Terdengar Bi hong siancu menjerit kaget, serta merta dia mundur kebelakang.

Siapa tahu justeru karena dia mundur, hal ini justru memberi kesempatan yang sangat baik bagi makhluk tua itu untuk melancarkan serangan lebih lanjut.

Sums Thian yu menjadi terperanjat sekali setelah menyaksikan peristiwa itu, pikirnya:

"Aduh celaka!"

Menyusul kemudian, dia lantas membentak kerss: "Adik Lan, menubruk ke depan!”

Sembari berseru, dia turut menerjang pula ke depan, sebuah pukulan yang dahsyat segera di tolak ke depan dan mengirim tubuh Bi hong siancu sampai sejauh satu kaki lebih, sedang dia menggantikan kedudukan Wan Pek lan tadi dan menyambut kedatangnya kesepuluh desingan angin jari tadi.

Waktu itu, Suma Thian yu telah mengerahkan Bu siang sin kang yang dimilikinya untuk menyambut serangan musuh, tatkala ancaman lawan sudah hampir mengenai batok kepalanya, mendadak jago muda kita berjongkok, kemudian dengan tangan sebelah memainkan jurus Pah ong tou to (raja lain menyinggih pagoda) dia lepaskan sebuah pukulan dengan Bu siang sin kang untuk menyongsong datangnya ancaman lawan. Berhubung peristiwa itu berlangsung amat mendadak, makhluk tua itu tak menyangka kalau anak muda tersebut memiliki ilmu silat yang amat tinggi, maka menghadapi kejadian tersebut, makhluk tua itu sama sekali tidak berganti jurus.

Dua gulung tenaga yang maha dahsyat itu segera saling bertemu di tengah udara.

"Blaaammmmmmm !"

Suatu benturan nyaring yang amat memekikkan telinga segera berkumandang mencekam keheningan.

Tubuh si makhluk tua yang sedang melancarkan serangan ke bawah itu segera dikirim sejauh lima langkah lebih dari posisi semula oleh sisa benturan ke dua gulung tenaga raksasa itu, tubuhnya segera mundur dengan sempoyongan, mukanya hijau membesi dan sama sekali tiada warna darah, akhirnya dengan perasaan tak percaya dia mengawasi musuhnya dengan mata terbelalak.

Suma Thian yu sendiripun menderita kerugian akibat dari benturan mana, sekarang dia sedang tertunduk di tanah dengan wajah memucat, hatinya terasa amat sedih.

Begitu berhasil berdiri tegak, mahkluk tua itu segera mengawasi anak muda tersebut tanpa berkedip, kemudian bentaknya gusar:

Bocah keparat, tidak kusangka kalau kau memiliki kepandaian silat yang begitu tangguh jauh di luar dugaan semula ”

“Kau pun hebat juga!" sahut Suma Thian yu sembari melompat bangun dari atas tanah.

Makhluk tua itu mendonggakkan kepala dan kembali  tertawa seram, suaranya amat tak sedap didengar, seperti gembira seperti sedih, seperyi tertawa seperti juga menangis.

Selesai tertawa, dengan sepasang mata yang dingin bagaikan es, dia mengawasi wajah Suma Thian yu lekat-lekat, lama kemudian baru pelan-pelan ujarnya:

"Bocah keparat, tahukah kau sudah berapa tahun lohcu berdiam ditempat ini?" "Aku toh bukan apa-apa mu, dari mana bisa tahu?" "Betul, makanya aku hendak memberitahukan kepadamu,

sudah tiga puluh tahun lamanya aku berdiam disini, selama ini entah berapa banyak manusia yang telah mampus dalam lembah pemakan manusia ini"

"Aku toh tidak mengawasimu sepanjang tahun, darimana mungkin bisa mengetahui segala tetek bengek urusanmu itu?”

“Ehmmm...." kembali makhluk tua itu bercerita dengan asyik nya, "paling tidak ada empat ribu orang yang sudah terkubur disini, diantaranya entah berapa banyak yang merupakan jago-jago berilmu tinggi"

Ketika mendengar ucapan tersebut, Suma Thian yu menjadi tercengang dan tidak habis mengerti, segera tanyanya dengan ragu ragu:

"Buat apa kau memberitahukan segala sesuatunya itu kepadaku? Hmm, sengaja membual dan sok gagah, apa kau anggap kesemuanya itu bisa menggertak aku sehingga membuat aiu jadi ketakutan?"

Waktu itu si makhluk tua tersebut sedang bercerita dengan asyik, ketika kena disemprot oleh Suma Thian yu, kontan saja amarahnya memuncak. Dengan sinar mata yang buas dan wajah yang menyeramkan, dia segera mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Terasa desingan angin tajam menderu-deru, segulung angin puyuh yang amat hebat langsung saja mengurung tubuh anak muda itu.

Waktu itu Suma Thian yu sudah membuat persiapan yang matang, dia sama sekali tidak gugup atau gelagapan menghadapi lawan.

Sepasang ujung bajunya segera dikebaskan keluar, hawa pukulan Bu siang sin kang pun turut mengalir keluar kerika dua gulung kekuatan besar itu sekali lagi saling membentur di tengan udara, terjadilah ledakan dahsyat yang mengerikan sekali. Bukan saja bumi turut bergoncang, batu berguguran dan pasir beterbangan, keadaannya mengerikan sekali.

Terseret oleh sisa kekuatan yang memancar ke empat penjuru, tubuh kedua orang itu bergoncang keras sekali, ujung bajunya sampai berkibar terhembus angin.

Dua kali gagal merobohkan lawannya, mau tak mau makhluk tua itu harus memeriksa pemuda ingusan yang terada dihadapannya sekali lagi.

Selang beberapa saat kemudiau, sambil tertawa seram dia baru berseru lantang:

"Bocah keparat, kau merupakan satu-satunya musuh tangguh yang pernah kujumpai selama puluhan tahun ini, kesempatan yang baik sukar ditemukan, mari kita mencoba sekali lagi, asalkan kau tak sampai kena kurobohkan dalam jangka waktu seratus gebrakan saja kalian berdua dapat pergi dari sini dengan selamat, lohu pun akan menghadiahkan sebuah mestika untuk kalian, bahkan sejak kini akan kuhapus larangan yang terpasang di depan lembah sana"

Suma Thian yu memahami maksud ucapan lawannya, maka dengan cepat dia bertanya lagi:

"Dan mulai sekarang tak akan makan daging manusia lagi?” "Ehmmmm!"

Suma Thian yu menjadi amat gembira, segera serunya: "Baik, aku akan melempar batu-batu untuk memancing datangnya batu kemala, aku akan berusaha dengan segala

kemampuan"

Mendengar Suma Thian yu mengartikan permintaannya, selapis hawa kegirangannya segera menghiasi wajah makhluk tua itu, inilah senyuman pertama yang disaksikan Suma Thian yu sejak mereka berdua memasuki lembah tersebut ....

Dari sini, bisa disimpulkan kalau dia adalah seorang iblis yang kecanduan ilmu silat.

Mendengar kalau ke dua orang itu hendak bertarung, Bi hong siancu merasa jantungnya berdebar keras, dia ingin mencegah pertarungan itu, tapi setelah dipikir kembali, apalagi setelah ditinjau dari adu kekuatan yang barusan berlangsung, dia dapat menyimpulkan kalau kekasihnya sama sekali tidak kalah dengan lawan.

Maka dari itu ucapan yang sudah berada diujung bibirnya itu segera ditelan kembali.

Makhluk tua itu segera menyingkirkan rambutnya yang panjang kesamping sehingga nampak wajahnya yang penuh bulu, kemudian sambil menyeringai seram, serunya:

"Hei bocah, kau yang menghitung, kita membatasi hanya seratus jurus saja!”

Selesai berkata dia segeri menyerbu kedepan Suma Thian yu dan menyerang tubuh bagian bawah pemuda itu dengan jurus Tui san tian-hay (mendorong bukit membendung samudra).

Menghadapi ancaman yang datangnya secara tiba-tiba itu, Suma Thian yu tidak mundur, sebaliknya malah maju, dengan penyerangan menggantikan pertahanan dia memunahkan datangnya ancaman tersebut dengan jurus Si gou wang gwat (radak memandang rembulan)

“Jurus pertama!” Bi hong siancu segera berteriak keras.

Makhluk tua itu tertawa seram, seluruh tubuhnya melejit ke udara dengan jurus It hok cong thian (bangau sakti menembusi langit) ketika berada satu kaki dari permukaan

tanah sepasang lengannya membuat gerakan saling menyilang ditengah udara, kemudian setelah masing-masing membentuk gerakan setengah lingkaran, dengan jurus Cong eng poh toh (elang ganas menubruk kelinci) dia terkam tubuh Suma

Thian yu secara ganas...

Makhluk tua itu memang bersifat buas, rasa irinya amat besar, dia paling benci kalau ada jagoan persilatan yang mampu menandinginya, itulah sebabnya serangan yang dilancarkan kini semuanya ganas dan tak mengenal ampun!

Jangan, dililat jurus serangan yang digunakannya jurusjurus biasa, namun kedahsyatannya tak bisa dipandang enteng.

Mengikuti datangnya gerakan tersebut, Suma Thian yu segera melayang mundur kebelakang, kemudian dengan jurus Khong ciok kay tian atau burung merak mementang sayap dia tangkis datangnya serangan tersebut.

Bi hong siancu amat menguatirkan keselamatan kekasihnya, untuk sesaat matanya menjadi terbelalak dan mulutnya melongo, untuk sementara waktu dia lupa untuk menghitung.

Sambil melancarkan serangan, makhluk tua itu segera memperingat kan dengan lantang:

“Hei bocah, sudah jurus ke tiga!"

Dia seperti mengutirkan Wan Pek lan lupa untuk menghitung jurus serangan yang dipakai maka setiap kali melepaskan satu serangan, makhluk tua itu segera memberi peringatan.

Sistim pertarungan yang begini aneh ini bukan saja tak pernah dijumpai, mungkin didengar pun belum pernah.

Suma thian yu telah memusatkan segenap perhatiannya untuk menghadapi musuh, dia tahu hasil pertarungan malam ini bukan cuma menyangkut keselamatan bagi dia dan Wan pek lan saja, bahkan menyangkut pula entah berapa ribu jiwa manusia yang tanpa sengaja tersesat dalam lembah terlarang ini.

Oleh sebab itu semua serangan dilancarkan dengan mantap dan berhati-hati sekali, jurus disusul dengan jurus, semuanya menggunakan ilmu Tay kim to liong pat ciang ajaran Put Gho cu.

Semua pukulan dilepaskan secara mantap dengan perhitungan yang matang, sedikit pun tak berani mempunyai ingatan untuk memandang enteng lawannya.

Dari sini dapat disimpulkan kalau Suma Thian yu adalah seorang pendekar muda yang berjiwa besar dan berwatak mulia, dia merasa semua persoalan yang menyangkut jiwa orang banyak merupakan masalah penting Yng harus diutamakan.

Mendadak terdengar Bi hong siancu berseru keras: "Jurus kelima puluh!” Merdengar itu, makhluk tersebut segera berpekik keras berulang kali, gerakan tubuh segera berubah, ujung bajunya berkibar kian kemari, segulung angin ruyuh dengan kekuatan dua ratus kati langsung menyapu tubuh Suma Thian yu.

"bocah keparat!" teriaknya sambil menahan geram, "kau benar benar hebat, sudah lima puluh gebrakan kita bertarung, belum juga ketahuan hasilnya, selama puluhan tahun baru bertemu tiga orang yang lain, kauadalah orang ke empat yang bisa melawanku melebihi lima puluh jurus ”

Suma Thian yu turut tertawa panjang. "Haaahh...haaaahh... kemungkinan besat kau akan

bertemu dengan satu satunya orang yeng bisa mengalahkan kau selama tiga puluh tahun terakhir ini pada hari ini"

"Mengalahkan aku?" Heeehh... heeeeh...masih terlampau awal untuk berkata demikian jengek makhluk tua itu dengan nada mencemooh, aku nasehati kepadamu lebih baik jangan bermimpi disiang hari bolonglagi!”

Suma Thian yu tertawa keras, mendadak gerakan tubuhnya ikut berubah, kali ini dia mengembangkan gerakan langkah  Cok liong luan ka cap lak poh untuk bergerak kian kemari, lalu dengan jurus To thian huan jie (mencuri berganti waktu)  untuk mengancam jalan darah Ki bun hiat ditubuh mahkluk  tua itu.

Si Makhluk tua tersebut hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu pihak lawan sudah menerobos masuk dari sisi tubuhnya, hal ini membuatnya cepat-cepat menghindar dengan tergopoh-gopoh....

Siapa tahu Suma Tian yu berbuat demikian dengan maksud memancing musuhnya untuk perangkap, begitu musuh mundur, tiba-tiba saja dia membentak kerat:

“Lihat serangan!”

Dengan jurus Seng gi im pian (bintang bergeser awan berubah), ditengah udara segera berkumandang suara guntur menggelegar dengan kerasnya, disusul kemudian segulung angin pukulan yang tajam dengan membawa suara desingan tajam langsung menggulung tubuh si makhluk tua tersebut... Jurus serangan ini tak lain adalah satu jurus dari ilmu pukulan Sian Po hong cian ajaran Cong liong lo sianjin, kedahsyatannya luar biasa, dimana angin pukulan itu menyambar, pasir dan debu ikut berhamburan ke mana-mana.

Sejak dulu hingga sekerang, belum pernah makhluk tua tersebut menyaksikan ilmu pukulan seindah ini, dia tak berani menyambut dengan kekerasan, cepat tubuhnya melompat mundur sejauh dua kaki lebih dari posisi semula.

"Blaaaammmmm!”

Ketika angin pukulan yang dilancarkan Suma Thian yu menghantam di atas batu karang pada bukit tersebut, kontan saja batu dan pa sir berguguran, seluruh permukaan bergoncarg keras, keadaannya seperti dilanda oleh gempa bumi saja.

Bi hong siancu menjadi termangu menyaksikan kedahsyatan kekasihnya, tanpa terasa ia memuji:

“Sebuah ilmu pukulan yang amat dahsyat, jurus yang keenam puluh enam!”

Saking girangnya sampai dia menyebutkan jurus serangannya lebih banyak dari keadaan yang seharusnya, tapi waktu itu si mahkluk tua pun sedang dibikin terperana oleh kedahsyatan lawannya, sehingga ia tidak merasakan hal tersebut, tentu saja diapun tidak mengajukan protesnya atas kesalah mana.

Diam-dian Suma Thian yu merasa girang, dia makhluk tua tersebut sudah dibikin ketakutan hingga pecah nyali dan sejak kini tak akan berani untuk melakukan serangan lagi.

Siapa tahu, setelah debu berterbangen dan suara menjadi sirap mendadak terdengar suara gemerutuknya tulang belulang yang amat nyaring....

Tampaknya makhluk tua tersebut telah menghimpun hawa sesatnya secara diam-diam dan berencana untuk melancarkan sebuah serangan maut untuk merebut kemenangan.

Betul juga, setelah terdengarnya suara gemerutukan  nyaring itu, mendadak terdengar mahkluk tua itu membentak dsngan keras: “Kaupun boleh merasakan sebuah pukulan ku ini!” katanya kemudian.

Begitu ucapann tersebut selasai diutarakan, Suma Thian yu segera merasakan nafasnya menjadi sesak, tubuhnya yang bergerak ke depan pun seakan-akan dihisap oleh sesuatu kekuatan yang maha dahsyat, kesemuanya ini kontan saja membuat hatinya terkesiap.,

Buru-buru dia menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya dan mengeluarkan ilmu bobot seribu untuk menahan gerakan ba-dannya. Pada saat intulah terasa ada segulung angin pukulan yang lembut dan halus menyambar kedepan menyambar kehadapan tubuhnya.

Suma Thian yu amat terperanjat, dengan gerakan Yau cu huan sin (burung belibis membalikan badan) seluruh tubuhnya melejit ke samping untuk menghindarkan diri dan ternyata ia tak mampu untuk melancarkan perlawanan.

Baru saja tubuhnyta meluncur ketengah udara, segulung hawa dingin telah menyambar lewat dan suara gemuruh yang keras dan memekikkan telinga pun menggelegar dari arah belakang. Dengan cepat Suma Thian yu membalikkan badannya, dengan cepat ia menjulurkan lidahnya karena kagum.

Rupanya batuan cadas yang berada dibelakang tubuhnya itu, kini sudah kena tersapu hingga rata dengan tanah, tak sebutir batupun yang kelihatan.

Bi hoig siancu sendiripun merasakan jantungnya berdebar keras, pekiknya didalam hati:

“Ooohh, sungguh berbahaya!"

Kemudian teriaknya dengan lantang sekali: "Jurus ke enam puluh tujuh!"

Makhluk tua iiu kelihatan gembira sekali setelah menyaksikan Suma Thian yu sama sekali tak mempunyai kepandaian sakti untuk membendung serangan mautnya tadi, sambil mengulumkan senyuman yang angkub dan bangga, ejeknya: "Bagaimana? Apakah nyalimu sudah dibikin pecah karena ketakutan ?”

Suma Thian yu segera mendengus dingin.

"Hmmmm. kalau permainan kucing kaki tiga sih tak akan bikin keder orang lain, lebih baik kau jangan mencobah untuk ngomong besar lagi !”

Makhluk tua tersebut selamanya sombong, tinggi hati dan  tak pernah memandang sebelah matapun terhadap orang lain, begitu mendengar Suma thian yu memakinya sebagai ilmu  silat kucing kaki tiga saja, kontan saja dari malu ia menjadi marah, sambil berkaok-kaokpenuh kegusaran, teriaknya keraskeras:

Bagus sekali bocah keparat, kau kelewat menghina orang, hari ini kalau ada kau tak akan ada aku!”

Berbicara sampai disitu, dia lantas melomp[at kehadapan pemuda tersebut, kemudian....weeeass! weeesss! weeess! secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai yang semuanya dahsyat dan luar biasa.

Dengan mengeluarkan ilmu langkah Ciok liong luan poh ajaran dari Siau yau kay Wi kian secara mudah sekali Suma thian yu berhasil memunahkan ancaman tersebut satu per satu, kemudian teriaknya dengan suara lantang:

“Sekarang sudah tujuh puluh gebrakan! Jika pertarungan macam begini dilangsungkan terus, seratus juruspun belum tentu akan ketahuan siapa yang unggul dan siapa yang kalah, bagaimana kalau kita berganti acara saja?”

“Tidak bisa, seratus juruspun belum habis, mana boleh berganti acara ?”

Kembali mahkluk itu itu melancarkan beberapa gerakan untuk memunahkan ancaman lawan, kemudian melepaskan pula dua buah jurus serangan untuk meneter musuhnya.

Suma Thian yu segera berseru dengan suara lantang:

“Sisanya bagaimana kalau kita selesaikan dengan menggunakan senjata tajam saja?”

“Senjata tajam? Selama hidup belum pernah lohu mempergunakan senjata tajam untuk bertarung!” Suma Thian yu benar-benar didesak sehingga apa boleh buat, terpaksa ia menghimpun hawa murninya dari Tan tiam kedepan dada, kemudian dengan jurus Peng lui san lian (guntur menggelegar petir menyambar) secepat kilat membacok tubuh mahkluk tua tersebut.

Menyusul kemudian, kakinya dengan jurus Kui seng ti to(Bintang timurmenentang bintang kejora) dia tendang tubuh bagian bawah mahkluk tua tersebut.

Serangan berantai yang maha dahyat tersebut kontan saja membuat si mahkluk tua itu kerepotan setengah mati, sambil berkaok-kaok karena kegusaran, dia melancarkan pula serangan sergapan balasan secara nekad....

Bi hong siancu yang menyaksikan batas seratus jurus  sudah hampir berakhir menjadi kegirangan, sebab selama ini Suma thian yu tidak pernah memperlihatkan gejala akan kalah, hatinya makin mantap dan rasa percaya diri pun tumbuh.

“Jurus ke tujuh puluh enam!” teriaknya keras-keras. Mendengar itu, mahkluk itu itu segera memprotes,

umpatnya:

“Bocah perempuan sinting, kau jangan ngawur, sekarang baru jurus ketujuh puluh lima!”

Wan pek lan yang merasa bahwa kekasihnya pasti akan berhasil memenangkan pertarungan ini, nyalinya bertambah besar, dia segera membantah pula:

“Tadi, didalam pukulan tendangan dipakai dua jurus serangan, kenapa? Apa tidak benar?”

Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu kembali terlibat dalam pertempuran yang sengit, dan masingmasing sudah bertarung tiga gebrakan lagi, maka Wan pek lan buru-buru berteriak dengan suara lantang:

“Jurus kedelapan puluh!”

Sekarang, mahkluk tua ini sudah mempunyai hitungan, dia tahu, bila pertarungan tersebut dilangsungkan lebih jauh, jangankan masih sisa dua puluh jurus, sekalipun masih ada seratus jurus pun belum tentu dapat mengungguli lawannya. Cemas dan mendongkol membuatnya makin naik darah, segera bentaknya dengan penuh kegusaran:

"Bocah keparat, tidak ku sangka kalau kau bisa melewati delapan puluh gebrakan dengan lancar, mari, mari, mari! Lohu akan melanggar kebiasaan dengan menganggap  delapan puluh jurus sebagai sembilan puluh lima jurus, segenap kepandaian silat yang lohu miliki akan dipergunakan dalam  lima jurus yans terakhir ini aku akan membuat hatimu takluk seratus persen!”

“Haaahh...haaah... haahh... tinggal lima jurus saja...?” seru Suma Thian yu sambil tertawa terbahak-bahak, "bukankah hal ini akan menguntungkan diriku?"

"Menguntungkan memang cuma kau akan segera membuktikan sendiri, betulkah kau merasa beruntung atau tidak?”

Kembali Suma Thian yu tertawa ringan.

“Baiklah, daripada membangkang, lebih baik aku akan menurut saja, lima jurus serangan dahsyatmu akan kusambut semuanya!”

Makhlus tua tersebut tidak berbicara lagi, telapak tangan kirinya segera diayunkan kemuka, segulung angin pukulan berhawa lembut segera meluncur kedepan.

Suma Thian yu pun segera melontarkan pula sebuah pukulan dengan ilmu pukulan Sian po hwee hong ciang yang maha dahsyat itu.

Siapa tahu, disaat kedua gulung angin pukulan itu saling membentur satu sama lainnya, tiba-tiba terdengar makhluk tua itu tertawa terbahak bahak sambil menjengek:

"Pukulan yang inilah baru merupakan seranganku yang sesungguhnya."

Seusai berkata, telapak tangan kanannya membentuk gerakan satu lingkaran ditengah udara, lalu ditolak kedepan.

Segulung hawa pukulan yang dingin merasuk tulang langsung saja mengurung seluruh badan Suma thian yu.

Menghadapi ancaman bahaya yang berada didepan mata, Suma Thian yu sama sekali tidak gugup, dalam bahaya dia mencari selamat lantaran telapak tangan kanannya sudah keburu di dorong kedepan dan tak leluasa untuk menarik kembali, terpaksa dia menggunakan telapak tangan kanannya untuk menahan serangan, sementara telapak tangan kirinya dengan menghimpun tenaga sebesar delapan bagian sudah melancarkan bacokan secepat kilat.

Dengan begitu, kedua orang tersebut jadi saling melontarkan serangan dengan mempergunakan sepasang telapak tangan, empat telapak tangan yang saling menempel membuat empat gulung aliran listrik yang saling membentur pada jarak tiga langkah.

Dalam waktu singkat seluruh angkasa sudah dipenuhi oleh desingan angin tajam, mereka berdua saling mengerahkan tenaga dalam untuk melakukan perlawanan.

Pertarungan adu kekerasan seperti ini hanya akan berlangsung jika orang yang terlibat dalam pertrungan adalah jago-jago berilmu tinggi, sebab pertarungan seperti ini selamanya mempertaruhkan jiwa raga mereka sendiri.

Tapi hanya dengan jalan ini pula orang baru bisa  mengetahui sempurna atau tidaknya tenaga dalam seseorang, disamping itu bisa pula membuat isi perut musuh hancur berantakan termakan serangan maut itu hingga akhirnya tewas.

Namun pertarungan semacam inipun  merupakan pertarungan yang sangat menghamburkan tenaga, orang luar tak pernah akan berhasil mencegah berlangsungnya pertarungan tersebut kecuali secara kebetulan datang seorang jago lihay yang berilmu jauh lebih tinggi dari mereka berdua, kalau tidak, mereka berdua baru dapat dilerai apabila salah satu diantara mereka sudah tewas.

Bi hong siancu yang sebenarnya sudah merasa makin kuatir lagi, memandang dua orang yang saling berhadapan dengan mata terpejam dan peluh membasahi tubuh mereka itu, dia tahu kalau pertarungan sudah meningkat dari posisi yang sangat gawat. Dalam keadaan demikian, apabila salah satu pihak berpikiran bercabang sehingga serangan hawa murninya mengendor, sudah pasti tenaga dalam musuh akan segera menyusul masuk ke dalam isi perutnya dan berakibat kematian baginya.

Bi hong siancu benar-benar merasakan hatinya berdebar keras, dengan perasaaa kuatir teriaknya tiba-tiba:

“Hei, bila pertarungan semacam ini dilangsungkan lebih jauh, akhirnya sudah pasti ada salah satu pihak yang akan tewas, ayo cepat hentikan serangan kalian, jangan bertarung lagi ”

Tapi ketika dilihatnya kedua belah pihak tetap berdiam diri, seakan-akan tidak mengubris perkataannya, bahkan dari ubun-ubun mereka memanancar keluar kabut berwarna putih, hatinya semakin gelisah lagi.

Dengan cepat satu ingatan melintas dalam benaknya, segra teriaknya keras-keras:

"Hei, makhluk tua, Kau suruh aku menghitung dengan cara bagaimana? Bukankah lima jurua terakhir sudah lewat?"

Sekalipun dia sudah berteriak sekeras-kerasnya, atau mungkin sampai putus lidahnya sekalipun, hal tersebut tak akan mempengaruhi keadaan dalam arena.

Sebab pertarungan yang sekarang sedang meningkat pada keadaan paling gawat dan setiap saat bisa mengakibatkan kematian yang fatal bagi mereka yang lengah.

Waktu itu, paras muka Sama Thian yu dari hijau membesi telah berubah menjadi pucat pias, butiran keringat sebesar kacang kedelai telah membasahi jidatnya dan mengucur kebawah.

Sedangkan keadaan dari si makhluk tua itu pun tak jauh berbeda, seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat, bibirnya terkatup kencang-kencang dsan wajahnya menunjukan penderitaan.

Apabila keadaan seperti berlangsung lebih lanjut maka kedua belah pihak akan sama-sama terluka dsn bahkan bisa jadi akan berakibat kematian untuk mereka berdua. Bi hong siancu Wan Pek lan nampak gelisah sekali bagaikan semut dalam kuali panas, tapi apa pula yang bisa dilakukan olehnya dalam keadaan seperti ini?

Jangankan dia tidak berkemampuan untuk memisahkan kedua orang ini, bahkan bila ia bertindak secara gegabah pun bisa jadi akan menimbulkan bencana kematian bagi dirinya.

Pepatah kuno mengatakan: Bila ada dua harimau yang bertarung, salah satu diantaranyaa akan terluka.

Di dalam dunia persilatan, tak mungkin akan terdapat dua orang manusia yang mempunya ilmu silat seimbang, terutama sekali dalam tenaga dalam, tak mungkin hasil yang dicapai orang yang satu akan sama dengan orang yang lain.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 17"

Post a Comment

close