Kitab Pusaka Jilid 16

Mode Malam
Jilid 16

Suatu hari sampailah Suma Thian yu dikota Tiang-an-gi di dalam propinsi Ou lam.

Tiang an gi terletak hanya dua hari perjalanan dari telaga Tong tin ou, menurut perhitungan Suma Thian yu masih ada berapa hari lagi menjelang tanggal lima belas, maka dia pun menginap dalam sebuah rumah penginapan di kota Tian an gi tersebut.

Rumah penginapan itu bernama Gwat kek can, pelayanannya sangat baik, lingkungannya amat sepi dan indah, membuat orang merasa kerasan sekali tinggal disitu,

tak heran kalau hanya saudagar yang berdiam dikota tersebut.

Suma Thian yu mendapat sebuah kamar yang terletak dipaling ujung ruang sebelah timur.

Sementara itu senja sudah menjelang tiba, banyak pelancong dan saudagar yang pulang ke penginapan untuk beristirahat, hanya Suma Thian yu seorang yang tak ada urusan dan duduk dekat jendela sambil memandang kolam di luar kamarnya.

Mendadak dari luar pintu penginapan sana terjadi kegaduhan, pertama-tama Suma Thian yu tidak begitu menaruh perhatian, siapa tahu suara gaduh tadi makin lama terdengar semakin ramai.

"Kalian buka penginapan toh bermaksud mencari uang, asal aku si pengemis tua punya uang, mengapa tak boleh menginap disini?”

Suma Thian yu segera merasa suara itu sangat dikenal olehnya, buru-buru dia membuka pintu dan melongok keluar.

Dan terlihatlah segerombolan manusia sedang mengurung seorang pengemis tua yang berpakaian compang-camping. Dalam sekilas pandangan saja Suma Thian yu dapat mengetahui orang itu sebagai Siau yau kay Wi Kian adanya.

Sebetulnya ia Ingin maju melerai, tapi setelah berpikir sejenak dia urungkan niatnya itu, siapa tahu pengemis tua itu hendak menggunakan akal muslihat apa lagi untuk mengatasi persoalannya.

Dalam pada itu, seorang pelayan sedang berdiri sambil tertawa paksa:

“Tuan cin sin ya, penginapan kami benar-benar sudah penuh dan tiada kamar lain, harap kau mencari kamar penginapan yang lain saja!”

Siau yau kay Wi Kian segera menggelengkan kepalanya berulang kali sambil berseru!

“Tidak bisa, kalian semua adalah kawanan anjing yang punya mata bila melibat uang, sudah jelas di dalam sana masih ada tiga buah kamar kosong, masa kau hendak membohongi aku si pengemis tua? Kalau aku tak mau pergi, kau mau apa?"

Tangannya segera merogoh kedalam saku dan meraba beberapa saat kemudian dengan berhati-hati sekali dia mengeluarkan seuntai mata uang tembaga dan diperlihatkan kepada pelayan itu kemudian serunya: “Coba keu lihat, bukankah aku si pengemis tua mempunyai uang?"

Selesai berkata, seakan akan kuatir kalau ada orang hendak merampas uangnya saja, dengan cepat ia te1ah menyimpannya kembali sementara sepasang matanya segera mengawasi wajah semua orang dengsn sikap was-was dan curiga.

Untuk masa itu, seuntai mata uang tembaga hanya bisa dipakai untuk makan satu kali, tentu saja masih kurang kalau hendak dipakai untuk membayar penginapan.

Oleh sebab itu para pelancong dan saudagar yang mengerumuni tempat itu segera tertawa terbahak-bahak karena geli.

Salah seorang diantaranya dengan cepat berseru dengan suara dingin seperti es:

"Hei engkoh tua, apa kau cuma mempunyai uang sebanyak itu?”

Siau yau kay manggut-manggut, serunya dengan wajah serius:

"Kenapa? Uang sebanyak, inipun masih cukup untuk menginap selama delapan atau sepuluh hari disini"

sekali lagi semua orang tertawa terbahak-bahak sesudah mendengar perkataan itu, seseorang kembali berseru dari sisi arena:

“Pelayan, enyahkan saja pengemis edan itu dari situ, tampaknya pengemis ini memang sengaja hendak mencari gara-gara!”

Bagaimanapnu jua, pelayan itu tak ingin terjadinya keributan di rumah penginapannya, maka sambil tertawa paksa dan menjura berulang kali, katanya:

"Oooh, dewa hartaku yang baik, harap kau sudi berbuat kebaikan, janganlah mengacau lagi di sini, bila kau ribut terus disini, usaha kami bisa bubar! Bila kau ingin sangu, katakan saja berterus terang, kami bersedia memberi sedikit sangu untukmu"

Kembali Siau yau kay Wi Kian berteriak teriak keras: "Huuh, kau si anjing budukan jangan kelewat menghina, aku si pengemis tua tidak butuh uang, aku hanya ingin menginap disini. Tak usah kuatir, anak angkatku segera akan keluar, dia pasti akan membayar rekeningku"

Ketika semua orang mendengar kalau dia mempunyai anak angkat disitu, tak kuasa lagi segera tertawa terbahak bahak.

Pelayan itu segera menepuk dahi sendiri sambil berteriak keras:

"Oh Thian! seorang pengemis tua saja sudah cukup membuatku pusing, bila ditambah dengan seorang anak angkatnya lagi, waah... bisa berabe jadinya”

Kemudian sambil menjura lagi katanya:

“Oooh lo yaya, kumohon kepadamu pergilah dari sini, sekarang lagi waktunya para tamu berdatangan, kemarilah lagi nanti saja"

Baru saja Siau yau kay akan menjawab, dia menyaksikan Suma Thian yu sedang berjalan keluar.

Padahal sejak tadi ia sudah melibat kalau Suma Thian yu memasuki rumah penginapan tersebut, maka dia segera datang kemari mencarinya.

Terdengar ia berseru sambil bertepuk tangan:

“Nah, sudah datang, sudah datang! Anak angkat aku si pengemis tua telah datang untuk membayar rekening"

Ketika semua orang mendengar perkataan itu, serentak mereka berpaling keerah pintu, tapi disana tak nampak bayangan pengemis.

Suma Thian yu melanjutkan langkahnya menuju kemuka penginapan, begitu Siau yau kay melihat pemuda itu sudah munculkan diri, kembali dia berteriak gembira:

“Bagus sekali! Aku si pengemis tua sudah hampir setengah harian lamanya mencarimu, rupanya kau sedang tidur enak disini, lihat saja aku akan menghajarmu atau tidak!"

Semua orang turut berpaling, ketika dilihat pengemis tua  itu sedang berbicara dengan seorang pemuda tampan berpakaian perlente, semua orang lain mengira pengemis tua itu indah tak beres otaknya sehingga kerjanya hanya menggoda orang.

Pelayan itupun mengalihkan sorot matanya yang keheranan kearah Suma Thian yu, lalu diperhatikan dari atas hingga ke bawah dengan seksama.

Suma Thian yu segera mendorong orang-orang yang berada disekitar situ agar minggur kemudian sambil menjura kepada pengemis tua itu, katanya dengan sopan:

"Bila aku tidak menyambut kedatangan lo-cianpwe dari jauh, harap kau sudi memaafkan"

Begitu ucapan tersebut diutarakan semua orang semakin dibikin kebingungan dan tidak habis mengerti, mereka malah menganggap Suma Thian yu ikut gila.

Buru-buru pelayan itu berkata kepada Suma Thian yu dengan ramah dan sopan:

“Apakah kek-koan kenal dengan dia?”

Sambil bersenyum suma Thian yu manggut-manggut.

“Yaa, kenal, harap siapkan hidangan dan arak berusiasepuluh tahun, aku hendak menjamu sahabatku ini, rekeningnya akan ku bayar sekalian nanti”

Melihat Suma thian yu bersedia untuk membayar, pelayan  itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas, dia segera masuk kedalam untuk mempersiapkan hidangan.

Sementara mereka yang menonton keramaian pun segera pada bubar tapi dari dalam rumah penginapan itu mulai terdengar suara kasak kusuk orang membicarakan kejadian ini

Setelah Siau yau kay duduk, Suma thian yu baru bertanya dengan sikap hormat”

“Cianpwe, mengapa kau pun sampai disini?” Siau yau kay segera tertawa cekikikan.

“Rahasia langit tak boleh bocor, mari kita minum arak dulu sebelum kuceritakan keadaan yang sebenarnya”

Suma thian yu pun tidak bertanya lebih jauh, mereka berdua segera bersantap sambil berbincang-bincang, mempergunakan kesempatan itu, thian yu membeberkan kejadian yang dialaminya selama beberapa hari ini. Ketika Siau yau kay Wi kian mendengar Suma thian yu berhasil memapas rambut Chin lan eng dan memapas sebuah telinganya, dengan gembira ia segera mengebrak meja sembari berseru:

"Suatu tindakan yang amat bagus! Kita memang wajib menegakkan keadilan serta kebenaran bagi umat persilatan!”

Gebrakan meja itu segera mengagetkan semua tamu yang kebetulan sedang bersantap, hampir semua orang mengalihkan sorot matanya kearah mereka, bahkan ada pula yang menggelengkan kepalanya sembari menyumpah kalang kabut:

“Orang gila, benar-benar sudah tak ada orang yang bisa menolongnya lagi...”

Setelah arak dihidangkan, dan beberapa cawan sudah masuk ke dalam perut Siau yau kay Wi kian segera meletakkan cawan araknya ke meja sambil bergumam:

"Aneh, mengapa dia belum juga datang?”

"Siapa? Siapa yang kau maksudkan?” tanya Suma Thian yu dengan wajah tercengang.

Siau yau kay tertawa cekikikan, dengan misterius dia melirik sekejap ke arah Suma Thian yu, kemudian katanya:

"Tali jodoh seribu li hanya tergantung disatu titik, aaai... sulit juga menjadi seorang mak comblang..."

Ucapan itu bagaikan orang yang sedang bergumam, hal ini membuat Suma Thian yu menjadi kebingungan setengah mati, dia merasa perkataan dari pengemis tua itu ngawur seakanakan dibalik kesemuanya itu masih tersimpan semacam rahasia.

Sebagai pemuda yang berjiwa mulia, dia tak ingin mendesak orang untuk mengungkapkan semua rahasianya, karena orang lain tidak mengungkapkan hal tersebut, maka dia pun tidak mendesak lebih jauh.

Maka sambil mengangkat cawan araknya, dia meneguk seorang diri. Suatu ketika dia mengalihkan sorot matanya ke depan pintu, mendadak pandangan matanya terasa kagum lalu sarunya tertahan:

"Aaaaah!"

Bukan cuma dia saja yang merasa terkejut bercampur keheranan, hampir semua tamu yang berada dalam ruangan sama-sama merasa ka get dan menghela napas tiada  hentinya, sorot mata mereka pun sama-sama dialihkan kearah pintu.

Rupanya dari depan pintu berjalan masuk seorang gadis yang wajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, dia berusia enam tujuh belas tahunan, memakai baju berwarna kuning dengan ikat pinggang berwarna hijau mata yang jeli, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang mungil membuat gadis itu nampak begitu cantik dan amar mejawan hati.

Tak heran kalau semua orang yang hadir disitu sama sama merasa terkejut dan mengira ada bidadari yang turun dari kahyangan, tanpa berkedip barang sekejap pun mereka semua mengawasinya lekat-lekat.

Menghadapi kemunculan gadis centik itu, tiba-tiba saja  dalam hati semua orang timbul suatu ingatan yang aneh, mereka berharap gadis itu berjalan menuju kedepan meja mereka. Tapi gadis itu hanya memindang sekejap sesekeliling ruangan, kemudian dengan lemah gemulai berjalan menuju ke meja yang ditempati pengemis tua itu.

Ketika tersenyum, terlihatlah sepasang lesung pipinya yang indah dan mempesona hati.

Ia memberi hormat kepada pengemis tua itu, lalu katanya:

“Harap dimaafkan bila kau orang tua harus menunggu terlalu lama"

Kemudian ia mengambil tempat duduk didekat pengemis tua itu.

Dengan kejadian ini, maka suara helaan napas dan seruan keheranan sekali lagi kerkumandang dalam ruangan itu.

pada hakekatnya kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh, seorang pengemis tua ternyata menantikan kedatangan seorang gadis cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, pada hakekatnya peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang aneh dan hampir saja membuat semua orang merasa bagaikan sedang bermimpi di siang hari bolong.

Tiga manusia yang berbeda duduk di meja yang sama, betul-betul suatu perpaduan yang amat tak sedap.

Setelah duduk, gadis itu menundukkan kepalanya rendahrendah lalu melirik sekejap kearah Suma Thian yu dengan wajah tersipu-sipu, setelah itu baru ujarnya:

“Rupanya kau pun berada disini? Kapan datangnya?”

"Hari ini baru sampai" jawab Suma Thian yu dengan wajah tersipu-sipu pula, bisa bertemu dengan nona ditempat ini, sungguh merupakan kejadian yang menyenangkan.

Siau yau kay Wi kian yang menyaksikan kejadian tersebut segera tertawa terbahak-bahak.

“haah...haah...haah...kalau tidak berjodoh bagaimana bisa berjumpa? Kalian berdua tak usah berlagak malu lagi, mari! Kita keringkan dulu secawan arak!”

"Nona Wan, apakah kau masih marah padaku?" tanya Suma Thian yu kemudian.

Gadis itu tak lain adalah putri kesayangan dari Mo im sin liong (naga sakti dari mega) Wan kiam ciu, congpiautau dari perusahaan Sin liong piaukiok di kota Heng ciu Bi hong siancu (Dewi burung hong) Wan Pek lan adanya.

Ketika mendengar pertanyaan dari Suma thian yu itu, merah padam selembar wajah Wan pek lan karena malu, sahutnya dengan suara tergagap:

“Aaahhh, itu mah hanya suatu kesalahan paham belaka, Susiok Coa telah memberi penjelasan dan kami tahu kalau siauhiap bersih!”

“Siapakah Susiok Coa mu itu?” tanya Suma thian yu dengan wajah tercengang.

Bi hong siancu Wan pek lan segera berpaling kearah Siau yau kay Wi kian lalu sahutnya:

“Dia orang tualah adanya!” Sekarang Suma thian yu mengerti, tanpa terasa ia berseru:

“Tak heran kalau locianpwe marah-marah pada waktu itu, rupanya diantara kalian mempunyai hubungan yang sangat akrab”

“Bpcah, kau jangan keburu bersenang hati!“ damprat Siau yau kay Wi kian dengan gusar, “seandainya terbukti kalau kau adalah pembunuhnya, masa aku si pengemis tua akan melepaskan dirimu dengan begitu saja?”

Ketika Bi hong siancu Wan Pek lun menanyakan kaadaan yang sebenarnya kepada pemuda itu, secara ringkas Suma Thian yu segera menceritakan semua peristiwa yang dialaminya termasuk Siau yau kay mengejarnya ke gua Hui im tong dan menuntut pertanggungan jawab darinya.

Selesai mendengar cerita mana, dengan perasaan tak tentram tenteram Bi hong siancu Wan Pek lan memandang sekejap kearah Suma thian yu dengan pancaran sinar cinta yang mendalam, katanya:

“Semuanya ini gara-gara kejelekanku, hampir saja aku menuduh orang baik, tentunya kau tidak menjadi gusar bukan?”

Suma thian yu tertawa getir, kemudian ujarnya dengan nada bersungguh-sungguh:

“Berbicara menurut keadaan pada waktu itu, siapapun akan menaruh curiga kepadaku, selama ini aku masih merasa kuatir kalau Tio toako masih marah terus kepadaku!”

Wan pek lan tersenyum.

“ketajaman mata paman tio memang sungguh mengagumkan, dari seluruh piasu yang ada dalam perusahaan, Cuma dia seorang yang memahami perasaanmu, gara-gara peristiea tersebut, dia telah telah bentrok dengan ayahku sehingga kedua belah pihak merasa sama-sama tidak senang”

“bagaimana sekarang....? buru-buru Suma thian yu bertanya.

“Ia sudah pergi meninggalkan perusahaan”

“Apa?” seru Suma thian yu terkejut. Siau yau kay Wi kiam yang berada disamping segera menukas dengan nada dingin:

“Biarkan saja dia pergi, kalau harus mengendon terus  dalam perusahaan, pada hakekatnya seperti orang berbakat yang dipendam, bagaimanapun juga tak bisa menonjol dan menjadi besar, cita-cita seorang lelaki berada diempat penjuru, bila ia mau mengembara ketempat luaran, kemungkinan besar malah akan dijumpai suatu kemukjijatan”

Suma thian yu tahu, ucapan Siau yau kay tersebut mengandung suatu makna yang amt mendalam, ia bisa  berkata demikian, pasti dikarenakan suatu pertimbangan maka hatinya pun menjadi lega.

Malam itu Suma thian yu minta dua kamar lagi untuk beristirahat kedua orang itu.

Keesokan harinya, ketika Suma Thian yu bangun dari tidurnya, ia menyaksikan Siau yau kay Wi Kian sudah pergi entah kemana, kamarnya ditinggilkan dalam keadaan kosong.

Sewaktu Bi hong siancu menjumpai Siau yau kay sudah pergi, sekulum senyuman tersungging diujung bibirnya.

“Perempuan memang mahkluk yang amat tajam perasaannya, Wan Pek lan memang cerdik, dengan cepat dia mengetahui kaku Wi locianpwe ada niat untuk menjodohkan mereka berdua, hatinya jadi merasa amat berterima kasih.

Siau yau kay Wi kian dengan susah payah mengajak Wan  Pek lan datang kesitu kemudian menyerahkannya kepada  Suma Thian yu, dia pergi tanpa pamit, rupanya segala sesuatu yang hendak dilakukannya itu telah diatur dengan rapi sekali.

Kalau dibicarakan memang sungguh mengangumkan sekali, sepanjang hidupnya dia selalu berkelana dalam dunia persilatan, urusannya banyak dan repot sekali, kenyataannya dalam kesibukan tersebut dia masih sempat mengurusi cinta muda mudi, hingga dibilang, sebenarnya hal ini merupakan suatu tindakan yang luar biasa.

Bisa dibayngkan pula betapa berterima kasihnya Wan Pek lan setelah menyaksikan kesemuanya itu. Berbeda dengan Suma Thian yu, dia masih sedikit kebingungan oleh hilangnya Siau yau kay, dia berusaha keras untuk menemukan jejak pengemis tua itu, bayangkan sendiri, apakah perbuatannya ini tidak menggelikan...?

Setelah membayar rekening, berangkatlah kedua orang itu meninggalkan kota Tiang an gi menuju ke kota Gak ciu.

Sepanjang jalan mereka selalu berpesiar dan menikmati keindahan alam, didampingi seorang gadis yang cantik seperti Bi hong siancu, sedikit banyak Suma thian yu jauh merasa lebih riang dan gembira.

Setelah kesalapahaman diantara mereka dapat diatasi, hubungan muda mudi ini semakin akrab, setiap kali Suma thian yu terbayang kembali peristiwa mesranya dengan Wan pek lan tempo hari, dimana mereka bermesraan dengan hangatnya, dalam hati kecilnya selalu timbul pertanyaan kapankah keadaan seperti ini bisa berulang kembali.....

Padahal Wan pek lan sendiripun berperasaan sama, seringkali ia memperhatikan ketampanan wajah kekasih hatinya, suatu perasaan gembira yang belum pernah dialaminya sebelumnya selalu menyelimuti perasaannya.

Gak yang lo terletak diluar kota Gak ciu, pesis ditepi telaga Tong ting cu.

Waktu itu, diatas loteng berdiri sepasang muda mudi yang sedang menikmati keindahan alam disekelilingnya.

Tampakk gadis itu memandang ketempat kejauhan sana, lalu katanya:

“Engkoh thian yu, masih berapa jauhkah dari tempat ini sampai dibukit Kui san?”

“Kalau sekarang juga berangkat maka senja nanti sudah sampai, Cuma kita tak tahu di manakah dua saudara berdiam, sehingga kalau harus dicari, kita masih membutuhkan banyak waktu”

Rupanya sepasang muda mudi ini tak lain Suma Thian yu dan Bi hong siancu Wan pek lan yang sedang datang memenuhi janji. Memandang air telaga nan hijau dan dihembus angin yang semilir semilir, Wan Pek lan menarik napas panjang-panjang, memandang ti ik bayangan putih dikejauhan sana, tanpa terasa katanya:

"Kalau bisa menumpang angin seribu li, memecahkan ombak selaksa pal, ooh.. betapa asyiknya waktu itu!”

Apakah adik Lan ingin menumpang sampan untuk menyelusuri telaga kenamaan ini?"

“Ehmmm..."

Belum habis berkata, Suma Thian yu sudah menarik tangan Wan Pek lan yang putih dan diajak turun dari loteng, kemudian menuju ke tepi telaga dan menyewa sebuah sampan untuk berpesiar ke tengah telaga.

Sekulum senyuman manis menghiasi ujung bibir Wan Pek lan, hatinya terasa berdebar keras, karena keadaan mereka sekarang bagaikan sepasang kekasih yang sedang berpacaran ditengah telaga.

Makin lama mereka meninggalkan Gak yang lo semakin jauh...

Semenjak kecil Wan Pek lan selalu dikurung dalam kamar dan tak pernah keluar dari rumah, kepergiannya kali ini boleh dibilang merupakan perjalanan jauh pertama kali yang dilakukan olehnya, memandang burung manyar yang terbang diatas telaga serta kapal layar yang bersimpang siur di kejauhan sana, dia merasa gembira sekali.

Mendadak dia menyaksikan ada sebuah perahu sekang bergerak mendekati perahu mereka dari belakang, segera bisiknya:

Engkoh Thian yu, dari belakang sana ada sebuah kapal sedang mengejar kita, mari kita beradu kecepatan dengan mereka, coba dilihat siapa yang bergerak lebih cepat"

Suma thian yu berhenti mendayung sambil berpaling, paras mukanya segera berubah hebat, segera serunya:

“Siapa bilang kalau mereka sedang mengajak kita beradu kecepatan? Mereka datang untuk menangkap orang"

“Menangkap siapa? Apakah perahu pemerintah?” Menyaksikan kepolosan Wan Pek lan yang menyenangkan itu, Suma Tnian yu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh...haaaahh...haaah... mereka datang mencari kita" "Mencari kita...?"

"Benar adik lan!"

Dengan perasaan tercengang Wan Pek lan berpaling dan memperhatikan sekejap perahu yang sedang melakukan pengejaran itu, dengan cepat ia saksikan ada dua orang lelaki kekar yang memegang golok berdiri diujung geladak.

Pada ujung tiang perahu itu tergantung sebuah panji segi empat yang bertuliskan huruf “Tong” amat besar.

Dengan perasaan tercengang Wan pek lan segera berseru: "Perlambang apa sih huruf ‘Tong’ itu?”

Suma Thian yu berpaling dan melihat sekejap lagi, kemudian sahutnya cepat:

"Penyamun dari telaga Tong ting ou, kalau bukan tentunya sama dari suatu partai atau suatu perkumpulan.”

“Ehhmm" Wan Pek lan mengiakan, sementara sepasang matanya masih saja mengawasi perahu yang mendekat itu tanpa berkedip, pelbagai pikiran serasa berkecamuk didalam benaknya. Mendadak, dari atas perahu itu berkumandang suara keleningan yang sangat ramai.

Ketika Wan Pek lan mendongakkan kepalanya, tanpa terasa ia menjerit kaget:

"Aaah ”

Dengan cepat Suma Thian yu berpaling, hatinya segera terasa terkesiap, rupanya dari atas geladak perahu itu sudah penuh berisi lelaki-lelaki bersenjata lengkap yang sedang mengawasi Suma thian yu berdua tanpa berkedip.

Dalam waktu singkat, perahu itu sudah semakin mendekati sampan kecil yang ditumpangi oleh Suma thian yu itu, tapi gelombang yang besar dengan cepat memisahkan kembali kedua perahu itu sejauh setengah kaki lebih.

Pada saat itulah, dari ujung geladak perahu itu muncul seorang kakek berjubah panjang, kepada Suma Thian yu dia segera berseru keras: "Hei, apakah kau she Suma?”

Suaranya nyaring sekali, meski angin berhembus kencang namun suara pembicaraannya masih kedengaran jelas sekali dalam pendengaran Suma Thian yu, dari sini dapat disimpulkan kalau tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sudah mencapai puncak kesempurnaan.

"Yah, memang akulah orangnya!” jawab Suma Thian yu cepat.

Tenaga dalam yang sengaja dipancarkan untuk menembusi suara angin dan gelombang dengan cepat membawa suara tersebut hingga kesisi telinga lawan.

Perahu itu segera menurunkan jangkar,kemudian terdengar kakek berjubah panjang itu membentak lagi:

"Lohu mendapat perintah untuk menangkap siauhiap,  harap kau sudi memberi muka agar mengikuti lohu pergi dari sini, tanggung kau ntak akan menderita kerugian barang seujung rambutpun”

Suma Thian yu segera meletakkan dayungnya dan bangkit berdiri kemudian sahutnya:

“Sayang sekali aku masih ada urusan hendak pergi dari sini, tolong sampaikan saja kepada Pangcu kalian, setelah urusan dibukit Kun san selesai, aku pasti akan mengunjungi markas kalian”

Ketika mendengar suara jawaban tersebut, kakek itu nampak tertegun, kemudian tanyanya dengan perasaan tercengang:

“Apakah Sianuhiap kenal dengan pangcu kami?” Suma Thian yu tertawa terbahak bahak.

“Haah...haaahh...haahh...nama besar Kang pangcu sudah termashur di seantero jagad, siapa bilang kalau aku tidak mengetahui akan nama besarnya?"

“Kalau memang begitu, bagaimana kalau siauhiap silahkan naik ke atas perahu?”

“Terima kasih, aku rasa tidak usah, biarlah maksud baikmu itu kuterima didalam hati saja" Seusai berkata, Suma Thian yu segera mengambil dayungnya dan mendayung sekuat tenaga, perahu itu segera meluncur kembali sejauh satu kaki lebih ke depan.

Mendadak......

Suara petikan yang amat nyaring berkumandang datang dari arah perahu besar itu.

Mula-mula Suma Thian yu mengira kalau kakek itu bermaksud hendak menangkapnya hidup-hidup, maka dia segera berpaling, tetapi setelah mengetahui apa yang terjadi, diam-diam dia semakin terkejut lagi.

Ternyata diatas geladak perahu tersebut telah berdiri si Setan bermuka hijau Siang tham.

Terdengar Setan bermuka hijau Siang Tham tertawa keras dengan seramnya.

“Heeh...heeeh...heeeh...bocah keparat, apakah kau ingin kabur dengan begitu saja? Hmmm, telaga Tong ting ou akan menjadi tempat untuk mengubur jenazahmu!"

Setelah tertawa seram lagi dengan kerasnya, dengan suara dingin dia melanjutkan:

Orang yang bisa terkubur didasar telaga ini bukan manusia sembarangan apalagi disisimu didampingi oleh seorang bocah perempuan yang begitu cantik” heeehh...heeehbh "

Bi hong siancu Wan Pek lan serentak melompat bangun sesudah mendengar perkataan itu, sepasang matanya melotot besar, kemudian bentaknya dengan suara nyaring:

"Anjing keparat, bila kau berbicara tidak senonoh lagi, jangan salahkan bila nona akan memotong lidahmu!"

Bukan gusar, setan muka hijau Siang Tham menjadi tertawa sehabis mendengar perkataan itu, suara tertawanya seperti tangisan monyet diselat Wushia, membua tsiapapun yang mendengarnya merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Selesai tertawa, dia lantas membentak dengan gusar: "Kematian sudah berada diambang pintu, kau masih berani

bersikap liar... baik, toaya akan suruh kau merasakan sedikit pelajaran lebih dulu!" Kemudian sambil mengulapkan tangannya dia membentak: "Lepaskan panah!"

Seketika itu hujan panah memenuhi seluruh angkasa dan bersama-sama menyambar tubuh Suma thian yu berdua.

Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, Suma Thian yu menjadi terperanjat sekali, cepat-cepat dia mendayung perahunya lagi sehingga meluncur satu kaki kedepan, serunya kemudian kepada Wan pek lan:

“Adik Lan, dapatkah kau mendayung? Biar aku yang menghadapi serangan mereka”

Sembari berkata dia lantas menyerahkan dayung tersebut kepada Wan pek lan.

Sementara itu bidikan anak panah yang pertama sudah terjatuh semua kedalam air, tak sebatangpun yang mencapai pada sasarannya....

Sekuat tenaga Wan pek lan mendayung, sekali lagi sampan itu meluncur satu kaki lagi kedepan, kini jaraknya dengan perahu besar itu menjadi enam kaki lebih.

Mendadak terdengar suara keleningan berkumandang lagi dari atas perahu besar itu, hujan panah sekali lagi meluncur kedepan menembusi angkasa.

Buru-buru Suma thian yu mengebaskan ujung bajunya kedepan, segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepat menyambar kedepan.

Ketika lapisan anak panah tersebut tiba didepan sampan tersebut, seakan akan membentur pada selapis dinding baja yang sangat kuat saja, anak panah itu pada rontok dan jatuh semua ke dalam air.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah Wan Pek lan segera mendayung sampan-nya dan mundur kembali dari situ.

Akan tetapi perahu besar itupun segera mengangkat jangkarnya dan melakukan pengejaran dengan kecepatan luar biasa.

Hujan anak panah masih saja meluncur datang tiada hentinya, tapi setiap kali tiba didepan pemuda tersebut, anak panah tersebut semuanya rontok ke dalam air dan sama sekali tidek berfungsi lagi.

Namun Suma Thian yu sendiripun bukan manusia yang  terdiri dari kawat tulang besi, lama kelamaan dia kehabisan tenaga juga, apabila keadaan seperti ini harus dilangsungkan lebih jauh, sekalipun tidak terpanah, paling tidakpun akan mati kelelahan. Wan pek lan mengetahui kalau cara tersebut bukan suatu cara yang baik, maka ia segera berkata:

“Engkoh thian yu, mari kita menyerbu keatas saja, rupanya mereka hendak membuat kau letih lebih dulu, kemudian baru menangkap kita dalam keadaan hidup-hidup!”

Ucapan tersebut dengan cepat menyadarkan pemuda itu dari impian-nya.

Suma thian yu merasa apa yang diucapkan itu memang benar, maka dia segera berseru:

“Adik lan, dayung perahu itu dan sambut kedatangan mereka!”

Dengan sepenuh tenaga Wan pek lan mendayung sampan itu kuat-kuat, sampan itupun seperti ikan terbang saja segera meluncur kedepan dan menyongsong kedatangan perahu besar tersebut.

Hujan panah semakin bertambah gencar sedangka Suma thian yu harus memutar telapak tangan tiada hentinya.

Sesudah bersusah payah sekian waktu, akhirnya berhasil juga mereka menembusi pertahanan lawan dan mencapai tepi perahu besar itu.

000O000

Mendadak dari atas perahu berkumandang suara bentakan yang amat nyaring:

“Berhenti!"

Hujan panah segera berhenti, disusul kemudian setan muka hijau Siang Tham menampakkan diri dari balik ruang perahu. Sesudah menggelengkan kepalanya berulang kali sambil mengawasi sekeliling tempat itu, dia menyeringai seram, lalu serunya:

“Bocah keparat apakah kau sudah merasa takluk? Baik!

Menyerah saja tanpa memberikan perlawanan, memandang diatas wajah bocah perempuan itu, toaya bersedia mengampuni selembar jiwa anjingmu itu!”

Rupanya setan muka hijau Siang Tham mengira kedua  orang itu hendak menyerahkan diri keatas perahu, padahal Suma Thian yu sudah membenci setan muka hijau Siang tham itu sehingga merasuk kedalam tulang sum-sumnya, terutama akan kekejian dan kelicikan manusia itu.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia merogoh kedalam sakunya dan mengambil sesuatu benda, kemudian dengan sepenuh tenaga di sentilkan kearah depan.

Seketika itu juga nampaklah serentetan cahaya perak yang kecil dan lembut langsung menyambar kearah tenggorokan setan muka hijau Siang Tham tersebut.

Waktu itu setan muka hijau Siang Tham sedang gembira atas keberhasilannya, tentu saja dia tidak pernah menyangka kalau Suma ThiaO yu akan bertindak demikian.

Baru saja dia menyaksikan datangnya sambaran cahaya perak kearahnya, tahu-tahu ancaman sudah berada didepan mata, sambil men erit kaget, buru-buru dia melompat mundur ke belakang.

“Weeesss.....!”dengan membawa desingan angin tajam, cahaya perak itu segera menyebar lewat dari sisi telinganya.

Kebetulan sekali dibelakang tubuhnya sendiri adaseorang kakek, tak ampun lagi cahaya perak tadi segera menghajar diatas jalan darah oian keng hiat dari kakek itu.

Terdengar jeritan yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, tubuhnya segera roboh kebelakang dan tewas seketika itu juga.

Sementara itu setan muka hijau Siang Tham sudah berhasil berdiri tegak kembali, setelah dilihatnya kakek tua itu tewas dalam keadaan mengenaskan, timbul rasa mendongkol bercampur dendam dihati kecilnya.

Belum sempat dia menurunkan perintah untuk melancarkan serangan dengan anak panah lagi, mendadak dari sampan kecil teraebut sudah berkumandang suara prkikan nyaring yang memekikan telinga.

Berbareng dengan berkumandangnya suara  pekikan nyaring tersebut, tampak sesosek bayangan manusia secepat sambaran kilat menerjang ke atas perahu.

Tampak bayangan manusia itu berkelebatan lewat dan tahu-tahu sudah berdiri tegak diatas geladak tepat dihadapannya, orang itu bukan lain adalah Suma Thian yu.

"Bocah keparat, serahkan nyawa anjing mu!” Setan muka hijau Siang Tham segera membentak gusar.

Serangan yang amat dahsyat segera dilontarkan ke depen, segulung angin puyuh dengan cepat menyambar dan menggulung ke tubuh lawan.

Pada saat itulah di tengah udara kembali berkumandang suara bentakan nyaring, bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan, tahu-tahu Bi hong siancu Wan Pek lan sudah turun pula diatas geladak perahu tersebut.

Dalam keadaan demikian, si Setan muka hijau Siang Tham tidak sempat untuk mengubris Wan Pek lan lagi, dengan amat kalapnya dia langsung menerjang ke anak muda tersebut.

Suma Thian yu mendengus dingin tubuhnya seperti segulung angin lembut segera menyapu ke depan.

Dalam pada itu, puluhan orang lelaki kekar yang berada diatas perahu tersebut tanpa menanti perintah lagi masingmasing menggerakkan goloknya membacok tubuh Wan Pek lan.

Sebagai seorang gadis yang berilmu tinggi, sudan barang tentu Wan Pek lan tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban bacokan lawan, dengan suatu gerakan yang indah dia bergerak diantara ayunan berpuluh bilah golok mestika tersebut, kemudian dimana jari tangan nya menyambar, suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati pun berkumandang saling susul menyusul.

Pertarungan antara Suma Thian yu dengan setan muka hijau Shian Tham pun berlangsung dengan seimbang.

Seran muka hijau Shiang Tham merasa membenci sekali terhadap Suma Thian yu karena tanpa mengeluarkan suara peringatan apa pun si anak muda itu telah melancarkan sergapan dengan senjata rahasia untuk melukai orangnya.

Oleh sebab itu begitu turun tangan dia lansungg mengeluarkan jurus serangan mematikan untuk meneter lawannya, angin pukulan mayat busuk yang maha dahsyat pun digunakan hingga mencapai pada puncaknya.

Tadi, Suma thian yu melakukan sergapan dengan senjata rahasia tanpa memberi pemberitahuan terlebih dahulu, karena pertama, dia sangat membenci atas diri setan muka hijau  Siang tham, kedua ia pun ingin memecahkan perhatian  musuh, agar dia mempunyai kesempatan untuk merebut naik keatas perahu.

Begitulah, pertarungan segera berkobar dengan serunya, kedua belah pihak saling menyerang dan saling bertahan dengan sepenuh tenaga, siapapun tidak berhasil menemukan titik kelemahan yang bisa di manfaatkan.

Wan Pek lan yang menghadapi kawanan lelaki bermuka bengis itu sudah bertempur hingga mencapai pada puncaknya, sekalipun pada mulanya dia masih perkasa, tapi begitu waktu semakin berlarut, pertahanan nya pun ikut menjadi goyah  pula.

Menyaksikan kejadian tersebur, diam-diam Suma Thian yu merasa amat gelisah, dia segera menggertak gigi kencang kencang, lalu me nyalurkan tenaga dalamnya ke dalam telapak tangan, setelah itu sambil melancarkan serangan dengan ilmu Sian po hui hong ciang ajaran Cong liong lo siansu, dia melepaskan suatu sergapan maut.

“Siang tham!’ bentaknya dengan penuh kegusaran, “sauya akan segera menghantar kau untuk pulang kealam baka!” Tampak suara guntur dan kilatan cahaya menderu-deru ditengah angkasa, angin puyuh menyapu seluruh jagad, bagaikan munculnya segulung angin puyuh berbentuk naga sakti, serangan tadi langsung menggulung ke tubuh si setan muka hijau Siang Tham.

Betapa terperanjatnya setan muka hijau Siang tham menghadapi ancaman itu, keringat dingin segera jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, wilayah seluas sepuluh kaki disekeliling tempat iu pun segera terkurung dalam pengaruh angin serangan dari Suma thian yu.

Menyaksikan kesemuanya itu, si setan muka hijau Siang tham menjadi gugup dan gelagapan setengah mati, untuk meloloskan diri sudah tentu tidak sempat lagi, akhirnya dia menghela napas panjang dan memejamkan matanya sambil menantikan datangannya saat kematian.

Disaat yang amat kritis inilah...

Mendadak terdengar lagi suara pekikan nyaring amat keras berkumandang memecahkan keheningan.

Ketika mendengar suara pekikak nyaring tadi, Suma thian yu turut berpaling, tapi dia segera mundur dua langkah dengan perasaan terkejut....

Sebenarnya posisi si setan muka hijau Siang tham pada saat itu sudah amat kritis sekali, tapi berhubung munculnya suara pekikan secara tiba-tiba dan Suma thian yu mundur beberapa langkah dengan sigap, setelah mendengar pekikan itu, maka secara otomatis Setan muka hijau Siang tham terhindar lolos dari bahaya maut.....

Walaupun tak sampai menemui ajalnya, namun akibat dari peristiwa tersebut, setan muka hijau Siang tham bermandikan keringat dingin juga sangking kagetnya.

Mendadak kedua orang itu saling berpisah kesamping, sesosok bayangan manusia secepai sambaran petir segera meluncur tiba dan melayang turun di atas geladak perahu.

Dengan sorot mata yang tajam, Suma Thian yu segera mengawasi wajah orang itu lekat lekat. Ternya orang ini adalah seorang lelaki berusia empat puluh tahunan, bermata tikus, berhidung bajing, kepala botak tak berambut dan memakai pakaian ringkas yang mahal  harganya, dilihat dari kelicikan dan kesadisan yang menghiasi wajahnya, siapapun akan mengetahui bahwa dia bukan manusia baik-baik.

Suma Thian yu memperhatikan orang itu beberapa saat, rasa curiga segera berkecamuk dalam benaknya, dia pikir usia orang ini paling banter baru empat puluh tahunan, tapi mengapa bisa memiliki kesempurnaan tenaga dalam diatas enam puluh tahun hasil latihan, kejadian ini sungguh  membuat orang lain tidak mempercayai dengan begitu saja.

Wajah setan muka hijau Siang Tham segera berseri karena gembira setelah mengetahui siapa yang datang, sammbil tertwa terbahak-bahak segera serunya:

"Saudara Bian, kebetulan sekali kedatanganmu, musuh ku ini agak kelewat atos!”

ketika mendengar perkataan tersebut, pendatang itu

segera menatap wajah Suma Thian yu, dia tahu kalau si setan muka hijau Siang tham adalah seorang manusia yang termasyur punya nama besar dalam kalangan hitam kalau toh dia mengatakan kalau musuhnya ter lampau tangguh, maka hal ini tak bakal salah lagi.

Akan tetapi setelah meneliti wajah Sama Thun yu yang dianggap nya masih ingusan tersebut, dengan cepat pikirannya berubah, dia merasa ucapan dari si Setan muka hijau Siang Tbam itu kelewat dibesar-besarkan dari keadaan yang sesungguhnya, sehingga tanpa terasa lagi dia mendengus dingin.

"Himm, memangnya dia mempunyai kepala tiga lengan enam? Atau bisa terbang kelangit menerobos ke dalam tanah?"

Mendengar perkataan tersebut buru-buru Setan muka hijau Siang Tham menjawab: “Musuh kita ini adalah duri bagi kelompok mata kita, harap Bian heng jangan melepaskannya dengan begitu saja, lagi pula..."

Berbicara sampai disitu, si setan muka hijau yang licik segera mengereling sekejap kearah Bi hong siaucu Wan Pek lan.

Sesudah mendengar ucapan tersebut, pendatang she Bian itu baru memperhatikan kalau diatas perahu terdapat seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, kontan saja dia membuka mulutnya lebar-lebar sehingga air liur pun turut menetes keluar.

"Tentu saja, tentu saja" sehutnya kemudian sambil tertawa licik, "masa aku akan membiarkan si bocah perempuan ini terlepas dengan begitu saja?"

Sementara kedua orang gembong iblis itu masih bercakapcakap, Suma Thian yu telah memutar otak untuk memikirkan siapa gerangan orang tersebut, karenanya dia tidak begitu memperhatikan terhadap apa yang diucapkan pendatang tersebut barusan.

Berbeda dengan Wan Pek lan yang semenjak tadi sudah kehabisan sabarnya, dia melompat kedepan dan menuding hidung orang tersebut sembari mengumpat:

“Hey bajingan keparat, babi bertamparg jelek! Kalau berbicara sedikitlah tahu diri, hmm, lihat, nona akan memberi pelajaran kepadamu!"

Seusai berkata dia lantas melancarkan sebuah bacokan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Orang itu nampak tertegun, lalu tidak nampak gerakan apa yang digunakan olehnya, tatkala serangan dari Wan Pek lan sudab hampir mengenai tubuhnya dan nyaris orang itu teriuka parah, tahu-tahu bayangan manusia berkelebat lewat dan lenyap dari pandangan mata.

Bentakan gusar dari Bi hong siancu Wan Pek lan tadi

segera menyadarkan kembali Suma Thian yu dari lamunannya, dia tertegun juga setelah menyaksikan gerakan tubuh lawan yang begitu aneh, tanpa terasa serunya keras: "Adik Lan, cepat mundur, orang tak bisa di hadapi dengan begitu !"

Maksud baik Suma thian yu itu tidak memperoleh tanggapan yang selayaknya dari Wan pek lan bahkan gadis tersebut sama sekali tidak menggubrinya barang sekejap.

Sebagaimana diketahui, perempuan adalah mahluk yang aneh, biasanya perempuan paling suka menjaga nama baik, apabila kau melarangnya atau memberi peringatan kepadanya, maka dia akan menganggap kau sedang menghinanya atau memandang rendah dirinya.

Dalam keadaan demikian, walaupun dia tahu kalau bukan tandingan dari musuhnya, namun mereka akan nekad juga mencari gara-gara.

Begitulah dalam keadaan Bi hong siancu Wan Pek 1an sekarang, terdengar dia membentak nyaring, kemudian sepasang lengannya dikem bangkan dan menggunakan jurus Hui yan keng hong (Burung walet naga sakti) tubuhnya meluncur ke depan dan menerjang musuhnya.

Orang itu benar-benar licik dan cabul, dia sengaja  memancing musuhnya untuk mendekat, begitu kepalan dari Wan Pek lan sudah hampir mengenai dadanya, mendadak dia merendahkan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari serangan lawan, sementara telapak tangannya pada saat yang bersamaan membabat ke buah dada Wan Pek-lan dengan kecepatan luar biasa.

Gagal dengan serangannya, tahu-tahu Wan Pek lan menyaksikan pukulan musuh sudah berada didepan mata.

Dalam terkesiapnya, buru-buru dia menjatuhkan diri ke belakang, kemudian mundur dari posisi semula, kendatipun serangan maut musuhnya berhasil dihindari, tak urung dia bermandi peluh karena tegang dan paniknya.

Sumu Thian yu mengerti, apabila dia tidak segera menampakkan diri, niscaya Wan Pek lan akan terjatuh ke tangan musuh. Maka sambil menggerakkan badannya dia berdiri diantara Wan Pek lan dengan orang itu, kemudian sambil tertawa hambar dan melirik sekejap wajah orang itu tegurnya:

"Hebat amat kepandaian silatmu, siapa namamu? Orang itu tak sudi menatap lawannya, dia hanya mengerling sekejap kearah Suma thian yu kemudian

menyahut:

“Selamanya toaya mu tak pernah berganti nama, aku adalah Bian Pun Ci dari bukit Ci san!”

Mendengar nama ‘Bian pun ci’, Suma thian yu segera terperanjat, segera serunya:

“Oohh, rupanya Bian tayhiap, aku benar-benar tak mengira kalau kau dari bukit Ci san”

Rupanya gembong iblis bermata tikus berhidung barongsay dan bertam[ang jelek ini tak lain adalah sian Wi coa (Ular berekor bersuara) Biang Pun ci, seorang sampah masyarakat dari lembah hijau.

Setiap orang persilatan yang menyinggung nama sian Wi coa Biang Pun ci hampir semuanya mengutuk dan menyumpahinya.

Perlu diketahui, Biang Pun ci adalah seorang lelaki yang paling suka merusak kehormatan kaum wanita, banyak anak gadis atau istri orang yang dinodai olehnya, bukan diperkosa saja bahkan semuanya dibuinuh secara keji.

“Memperkosa" adalah kejahatan nomor satu didunia bagi orang yang belajar silat, "perempuan” merupakan pantangan yang paling besar, itulah sebabnya setiap pendekar yang merasa memiliki ilmu silat tangguh, pasti akan berusaha untuk membunuh dan membasmi kaum durjana yang melakukan kejahatan tersebut.

Apa mau dikata, ilmu silat yang dimiliki Siang wi coa3 Bian Pun ci sangat lihay, kepandaian silat yang dimiliki, bukan cuma sakti dan aneh, bahkan mengandung berbagai bisa yang amat keji. Ituulah sebabnya walaupun berulang kali dia kena  dikepung, tapi selalu saja berhasil lolos dengan mengandaikan ilmu beracunnya.

Kesemuanya itu membuat bajingan besar ini bertambah sombong dan takabur, kejahatan yang dilakukan juga semakin brutal, bahkan berpuluh kali lipat lebih menggila.

Begitulah, sebagi manusia yang tinggi, Siang Wi coa Bian Pun ci menjadi amat bergembira setelah menegar kata-kata sanjungan dari Suma thian yu itu.

Setelah tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya, diapun berseru dengan suara keras:

“Biasanya orang yang mengetahui nama toayamu bukan manusia sembarangan, siapa nama gurumu?”

Agak mendongkol juga Suma Thian yu menghadapi ucapan lawan yang begitu sombong dan tak tahu adat itu, sahutnya kemudian dengan dingin seperti es:

“Apabila kusebutkan nama guruku, mungkin kau akan jatuh semamput karena kaget, asalkan mampu menangkan satu jurus atau setengah gerakan dariku, pasti akan kusebutkan nama guruku"

Siang wi coa Bian Pun ci meludah dengan gemas lalu dengan wajah penuh amarah serunya:

“Bocah keparat, atas dasar apa kau berani berkata begitu takabur? Bukan toayamu sengaja omong besar, kalau harus bertempur dengan bocah ingusan macam kau, tak usah mempergunakan sepasang tangan pun toaya sanggup untuk bermain-main dengan dirimu!”

Suma thian yu sendiri pun merupakan seorang pemuda yang tinggi hati, kalau tidak mendengar masih mendingin, begitu mendengar ucapan yang amat takabur itu kontan saja dia terttawa terbahak babak, dengan cepat dia melompat kehadapan Bian Pun ci, kemudian dengan jurus Siang liong ciong cu (sepasang naga berebut mutiara) dia mencongkel sepasang mata lawan.

Siang wi coa Bian Pun ci tertawa ringan, dengan cekatan dia berkelit kesamping, kemudian jengeknya dengan sinis: "Dengarkan baik-baik bocah keparat, toaya akan mengalah sepuluh jurus untukmu!”

Suma Thian yu menjadi naik darah, teriaknya kemudian: "Aku orang she Suma belum pernah sudi menerima

kebaikan dari orang lain meski satu jurus pun, orang she Bian, kalau kau memang seorang lelaki sejati, ayo kita bertempur mati-matian, sebelum ada yang mampus jangan berhenti!”

Begitu mendengar disebutkannya nama ‘Suma’, Siang wi coa Bian Pun ci menjadi amat terkesiap, mendadak sepasang matanya melotot besar lalu sambil menatap wajah si anak muda dengan gusar, tegurnya keras-keras:

"Benar, sauya mu dari keluarga Suma, kenapa? Menjadi ketakutan?”

Mencolong sinar tajam dari balik mata Siang wi coa Bian Pun ci sesudah mendengar ucapan tersebut, mendadak ia tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya:

"Haaah...haaah...haahh...bocah keparat, tampaknya takdir sudah menentukan kalau usiamu harus berakhir sampai hari ini, sehingga Thian mengirimmu ke hadapan toaya, hutang piutang kita ditahun tahun yang lalu pun harus diperhitungkan sekarang, heee... heeeeh..."

Thian yu menjadi kebingungan setengah mati setelah mendengar perkataan lawannya, ia tahu kalau musuhnya tidak bermaksud baik tapi tidak memahami maksud dari perkataan musuhnya itu.

Sambil tertawa dingin dia lantas berseru:

“Orang she Bian tak usah banyak berbicara lagi, waktu yang kita punyai sudah tidak banyak lagi, ayo kita tentukan saja siapa saja lebih kuat melalui pertarungan!"

"Bagus tepat sekali! Udulmu itu memang cocok dengan selera toaya!"

Jawaban dari Siang wi coa Bian Put ci ini diucapkan dengan sombong dan amat jumawa.

Tidak banyak berbicara lagi, dia lantas menvabut keluar sebuah senjata tajam dari pinggangnya. Terkesiap juga Suma Thian yu setelah menyaksikan bentuk dari senjata tajam itu.

Rupanya senjata tajam yang digengam oleh Siang wi coa Bian Pun ci pada saat ini berbentuk golok bukan golok pedang bukan pedang, seperti tali tapi seperti ruyung, diam-diam segera pikirnya:

“Aneh betul senjata tajam yang digunakan oleh orang ini, mungkin hanya Siang wi coa Bian Pun ci seorang yang menggunakan senjata tajam macam ini didalam dunia persilatan dewasa ini!"

Jangan dilihat senjata lembek itu seperti tali, padahal merupakan sebuah senjata sakti yang luar biasa setali, senjata itu bernama Boan liong to.

Seluruh bagian dari senjata ini terbuat dari baja asli, seandainya seseorang tidak memiliki tenaga dalam dan tenaga luar yang sempurna, jangan harap bisa mempergunakan senjata itu.

Apabila berada ditangan orang biasa, Boan liong to  tersebut hanya berupa sebuah tali baja belaka, akan tetapi apabila sudah berada di tangan seorang jagoan Liok lim yang amat lihay seperti Bian Pun ci, maka bukan saja dapat digunakan sebagai ruyung yang bersifat lembek, bisa pula digunakan sebagai pedang yang bersifat keras.

Tak heran kalau Suma Thian yu menjadi terkejut bercampur keheranan setelah melihat senjata tersebut.

Menjumpai si anak muda itu terperanjat dengan mata yang terbelalak lebar, Siang wi coa Bian pun ci menjadi bangga sekali, ia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa:

"Haaah.....haaahh.....haaah......bocah keparat, cabut keluar pedangmu!”

Di saat Siang wi coa mencabut keluar senjata Boan liong to nya tadi, Suma Thian yu telah membalikkan tangannya menggenggam gagang pedang, maka begitu Bian Pun ci selesai berkata, segera terdengar suara dentingan yang amat nyaring, tahu-tahu pedarg Kit hong kiam yang amat tajam itu sudah diloloskan keluar. Berkilat sepasang mata Siang wi coa Bian Pun ci sesudah menjumpai pedang mestika yang berada ditangan sianak  muda itu, setelah tertegun beberapa saat lamanya, diam-diam dia memuji:

"Pedang bagus!”

Kemudian, dia lagi-lagi tertawa sambil berseru:

“Hee...hee...hee...rupanya kau adalah ahli waris dari orang she Wan itu, inilah yang dinamakan sudah dicari kemanamana sampai sepatu pun jebol masih belum ketemu, akhirnya berhasil ditemukan tanpa membuang tenaga, hari ini toaya akan menagih hutang lama berikut rentennya, harap kau suka bersiap-siap untuk membayar kepadaku!"

Sudah seringkali Suma Thian yu bertemu dengan jago-jago persilatan dan mendapat tahu sedikit tentang peristiwa lama yang menyangkut paman Wan Liang nya, dia sering merasa sedih, bahkan adakalanya bertanya kepada diri sendiri, mengapa Wan liang bisa dimusuhi oleh semua jago dari dunia persilalatan?

Tetapi menurut analisanya selama sepuluh tahun belakangan ini, terbukti kalau Wan Liang sama sekali tidak punya salah, apalagi setelah bertemu dengan musuh-musuh seperti Siang wi coa Bian pun ci dan sebangsanya, sehingga hal mana semakin membangkitkan amarah dan perasaan penasarannya.

Tiba-tiba saja paras mukanya berubah menjadi hijau besi, mencorong sinar gusar dari balik matanya, sambil membalikkan pergelangan tangannya, pedang Kit hong kiam tersebut dengan disertai angin tajam secerat kilat meluncur kedepan memmbabat tubuh Bian Pun Ci, si gembong iblis cabul itu.

Bian Pun ci cukup cekatan dan licik jadi orang, dan lagi ilmu silat yang dimilikinya memang sangat lihay.

Menyaksikan datangnya cahaya tajam  yang  muncul didepan mata, dia sama sekali tidak gugup atau panik, sambil menggeserkan badan nya, dia mundur dua langkah ke samping, lengannya segera berputar sambil menyodok ke depan.

Golok mautnya dengan jurus Hou leng cay bun (harimau muncul dimulut gudang) menyambar kedepan tapi ketika tiba ditengah jalan, mendadak dia memutar pergelangan tangannya lagi, dengan jarus Huan lay kun thian (membalik guntur menggulung langit) membacok tubuh Suma Thian yu.

Dalam satu jurus dengan dua gerakan dan yang dipergunakan bersama sama, penampilan ilmu sakti oleh  Siang wi coa Bian Pun ci kontan saja membuat para jago yang berada disekeliling tempat itu menjerit kaget.

Bagi seorang ahli, dalam sekali gebrakan sudah diketahui ada atau tidak, ditinjau dari sini bisa diketahui kalau nama besar yang dimiliki oleh Siang wi coa dalam kalangan Liok lim selama ini bukan berhasil diraih karena untung-untungan saja.

Se menjak Suma Thian yu memperoleh petunjuk dari Cong liong lo sianjin, ilmu silat maupun ilmu pedang yang dimilikinya sudah memperoleh kemajuan yang amat besar.

Ketika dilihatnya Bian pun ci telah mengeluarkan ilmu simpanannya, diapun tidak berani berayal lagi, pedang Kit hong kiamnya segera menyapu dihadapan wajahnya, menyusul bentakan pendek, selapis bayangan pedang yang menyelimuti seluruh angkasa langsung mengurung tubuh Bian Put ci.

Begitulah, masing-masing pihak segera mengembangkan segenap kepandaian silat yang dimilikinya untuk bertarung dengan sengit, untuk beberapa saat penarungan berlangsung amat ketat, menang kalah juga sukar untuk di tentukan.

Sejak awal sampai akhir, Suma Thian yu hanya mempergunakan ilmu pedang Kit hong kiam hoat yang berhasil disadapnya dari pa an Wan nya dulu, ilmu pedang ini sudah menggetarkan dunia persilatan semenjak puluhan tahun berselang, dahulu Siang wi coa Bian Pun ci nyaris pernah termakan oleh ilmu pedang tersebut. Waktu itu, setelah Bian Pun ci menderita kekalahan diujung pedang lawan, dengan membawa rasa dendam ia jauh meninggalkan daratan Tionggoan untuk mencari guru pandai.

Siapa tahu kembalinya ke daratan Tionggoan kali ini, bukan saja tak berhasil membalas dendam atas aib yang pernah diterimanya dulu, bahkan musuh besar Wan liang sudah berpulang ke alam baka.

Sementara dia merasa murung dan kesal karena sakit  hatinya tak terbalas, tanpa sengaja dia telah berjumpa dengrn ahli waris dari Win Liang ditelaga Tong-ting ou ini, bayangkan saja, bagaimana mungkin Siang wi coa Bian Pun ci akan melepaskan kesempatan yang sangat baik untuk membalas dendam ituu dengan begitu saja?

Tampak dia memainkan golok Boan liong to nya dengan mengerahkan seluruh kepandaian silat yang dimilikinya,  kontan saja dia memaksa Suma Thian yu harus berputar-putar dengan repot.

Untuk beberapa saat lamanya cahaya golok bayangan pedang menyelimut seluruh angkasa.

Tak selang beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah bergebrak sebanyak tiga puluh jurus lebih, tapi kedua belah pihak tetap bertahan secara gigih, siapapun tak bisa menentukan siapa yang lebih tangguh dan siapa yang lemah.

Sembari melakukan pertarungan yang sengit, diam-diam Siang wi-coa Bian Pun ci merasa terkejut oleh kenyataan yang terbentang dihadapan matanya sekarang.

Padahal musuh yang sedang dihadapinya sekarang baru berusia tujuh delapan belas tahun apabila pemuda ingusan seperti inipun tak mampu diringkus, bagaimana mungkin dia bisa menancapkan kakinya lagi didalam dunia persilatan?

Selain itu, sudah puluhan tahun lamanya dia mendalami  ilmu golok terebut, sekalipun selama ini sudah banyak musuh tangguh yang pernah dihadapinya, tapi belum pernah ia jumpai musuh muda yang begini ganas seperti hari ini. Bahkan dia berpendapat kalau kehebatan Kit hong kiam Wan Liong dimasa lalu pun belum mampu melampaui kelihayan pemuda tersebut sekarang.

Tidak heran kalau Siang wi coa Bian Put ci merasa terkejut bercampur tidak percaya.

Yaa siapa yang menduga kalau Suma Thian yu sudah mendapat petunjuk dari beberapa orang tokoh persilatan yang amat lihay, se hingga dia memiliki beberapa macam aliran   ilmu silat yang berbeda beda, kemudian secara tidak sengaja salah makan Jiu siam kiam lan yang langka sehingga tenaga dalamnya sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Dengan bekal ilmu silat yang begitu hebatnya, mana mungkin Siang wi coa Bian Put ci dapat menaklukannya?
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 16"

Post a Comment

close