Kitab Pusaka Jilid 10

Mode Malam
Jilid 10

Terdengar dia mendengus dingin, dengan sorot mata memancarkan cahaya tajam, bentaknya sembari menggertak gigi:

"Apakah kedatangan kalian berlima untuk merenggut

nyawa sauya? Turutilah nasehatku, sipat ekor dan pulang saja kerumah dengan tenang, laporkan kepada Siauw Wi goan, begitu aku orang she Suma berhasil menemukan bukti yang nyata, pasti akan kubasmi keluarga Siau dengan darah"

Baru selesai dia berkata, terdengar orang yang berada di paling depan telah tertawa dingin tiada hentinya.

"Hehehehe....bocah keparat, tinggalkan pedang mestika milikmu, kalau tidak hari ini ditahun depan adalah hari ulang tahun kematian mu yang pertama!"

Suma Thian yu segera menyodorkan pedang Kit hong kiamnya kedepan setelah mendengar perkataaa itu, katanya sambil tertawa angkuh: "Nih, sauya persembahkan dengan kedua belah tanganku, ambillah sendiri!"

Ketika manusia berkerubung tersebut  menyaksikan perbuatan lawannya, dia masih mengira Suma Thian yu benarbenar berhasrat untuk menyerahkan pedang itu kepadanya, ia lantas maju beberapa langkah kedepan siap menerima  sodoran mana. Tiba-tiba Suma Thian yu membentak nyaring: Sambutlah!"

Pedangnya meluncur kedepan seperuti anak panah yang terlepas dari busurnya, pedang Kit hong kiam tersebut langsung menyambar kewajah penjahat berkerudung itu.

Meryusul gerakan mana seluruh tubuh Suma Thian yu ikut pula menerjang maju kemuka.

Tampaknya pedang itu segera akan menyambar ditubuh lawan, manusia berkerudung itu menjerit kaget, buru-buru dia berkelit kesamping.

Disaat yang amat singkat inilah Suma Thian yu menggerakkan tangannya untuk membacok pergelangan tangan lawan sambil membentak.

"Tinggalkan dahulu lenganmu!"

Menyusul jeritan ngeri yang memilukan hati, seperti burung yang kena bidikan saja, manusia berkerudung itu melejit kebelakang.

Sayang tubuhnya sempoyongan beberapa langkah, setelah itu roboh terjengkang ke tanah dan tak sanggup berdiri lagi.

Diatas tanah tinggal sebuah lengan yang terpaksa, darah kental membanjiri permukaan tanah dan menyusup ke dalam.

Setelah berhasil meraih kemenangan dalam pertarungan pertama, kemarahan Suma Thian yu agak mereda, dia memandang sekejap manusia berkerudung yang terpapas lengannya itu, kepada keempat orang rekan-nya ia berseru sambil tertawa dingin.

"Siapa lagi yang ingin maju untuk mengantar kematian?"

Ketika mendengar tantangan tersebut, keempat orang manusia berkerudung itu serentak mengayunkan goloknya dan maju menerjang dari empat penjuru, dilihat dari gerakan  tubuh mereka, jelas kalau orang-orang itu adalah jagoan kelas satu dalam dunia persilatan.

Kendatipun demikian, Suma Thian yu yang bernyali besar sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap mereka. Dia berdiri dengan segenap perhatiannya dihimpun menjadi satu, ditunggunya sehingga senjata tajam ke empat orang itu hampir mengenai tubuhnya....

Disaat yang amat kritis itulah tiba-tiba dari balik keheningan berkumandang suara bentakan gusar yang amat nyaring:

"Mundur!"

Menyusul kemudian, terlihat sesosok bayangan hitam meluncur datang secepat sambaran kilat dan langsung menyerbu ke dalam arena pertarungan.

Mendengar bentakan tersebut, keempat manusia berkerudung itu segera mengundurkan diri dan memberi sebuah jalan lewat.

Pendatang itu menancapkan kakinya ditanah setelah pencoleng-pencoleng berkerudung itu mengundurkan diri, begitu sampai dia lantas menegur:

"Suma siaubiap, Wi goan telah datang terlambat, kau tidak terluka bukan?"

Ketika Suma Thian yu mendongakkan kepalanya, dia

segera mengenali orang itu sebagai Bi kun lun Siauw Wi goan, maka dengan perasaan mendongkol sahutnya:

"Terima kasih atas bantuan yang datang tepat pada waktunya, Siau tayhiap, mengapa ke datanganmu begitu kebetulan?"

Ucapan mana mengandung maksud ganda, dia menuduh Bi kun lun lah yang telah bermain gila secara diam-diam.

Bi kun lun Siau Wi goan berlagak seolah-olah tidak mendengar, bukan saja tidak gusar, malahan tertawa seram.

"Suma siauhiap, tampaknya kesalah pahamku terhadap Wi goan sudab kelewat mendalam! Ketahuilah semua persoalan yang ada didunia ini tak akan terungkap sebelum peti mati di buka, aku Wi goan betul-betul bermaksud baik kepadamu, tapi nyatanya malah mendapatkan kesalahan paham belaka, padahal orang-orang ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Wi goan!" Padahal penjelasan dari Bi kun lun Siau Wi goan tersebut berlebih-lebihan sehingga tak ubahnya seperti menampar mulut sendiri.

Suma Thian yu merasa geram sekali setelah mendengar perkataan itu, tapi justeru karena demikian, dia semakin merasa yakin kalau Bi kun lun Siau Wi goan adalah seorang pentolan pencoleng yang licik dan sangat berbahaya.

Menghadapi manusia semacam ini, jalan yang terbaik  adalah menjauhi dan jangan sampai terkena pelet, kalau tidak maka akibatnya sukar dibayangkan mulai sekarang,

Suma Thian yu adalah seorang manusia yang cerdas dengan bakat yang luar biasaa, sekilas pandangan saja dia sudah dapat menduga sampai kesitu, maka sambil tertawa dingin katanya:

"Kalau mememang begitu, akulah yang kelewat curiga, terima kasih atas bantuanmu, biarlah kubayar dikemudian hari saja"

Selesai berkata dia lantas ber berjalan melalui sisi Bi Kun lun Siau Wi gon dan berlalu dari situ..

Belum lagi dua langkah, mendadak dari belakang punggungnya berkumandang datang suara desingan angin pukulan yang sangat kuat langsung menyergap jalan darah Pek hwee hiat di punggungnya.

Sebenarnya Suma Thian yu berprinsip sebelum berhasil memegang bukti yang nyata tentang kejahatan yang telah dilakukan Bi kun lun Siau Wi goan, dia enggan untuk ribut atau bentrok dengan manusia tersebut, apa lagi kalau sampai terjadi bentrokan secara kekerasan.

Orang bilang: Cocok atau tidaknya seserang dalam pergaulan ditentukan dalam sepa tah kata, dia tahu banyak berbicara dengan manusia licik hanya akan mendatangkan kesulitan dan kerugian bagi dirinya sendiri, oleh sebab itu dia berusaha menjauhi.

Maka sambil menahan rasa mangkel dalam hatinya, dia siap berlalu meninggalkan tempat itu. Siapa sangka disaat dia membalikkan badan siap meninggalkan tempat itu, tiba-tiba dari belakang  punggungnya mendesing datang segulung hawa pukulan yang langsung menyergap jalan darah Pek hwee hiat di belakang benaknya...

Dalam perkiraan Suma Thian yu, serangan terkutuk yang rendah dan tak tahu malu itu dilakukan Bi kun lun Siau Wi goan, saking gemasnya sepasang gigi sampai saling bergerutukan keras.

Cepat-cepat ia menghimpun tenaga dalam ajaran

pamannya Kit hong kiam kek Wan Liang yakni ilmu Jiong goan sim hoat untuk me lindungi seluruh badan, setelah itu telapak tangannya didorong keatas menyongsong datangnya serangan pembokong itu.

Dan begitu merasa kalau serangannya sudah dihadapi, Suma Thian yu segera bergeser kekiri lalu berputar dengan ujung kaki sebagai as untuk berganti arah, himpunan tenaga

dalam yang telah dipersiapkan ditangan kanan itu secepat kilat dibabat kebelakang menghantan tubuh musuhnya, sementara tubuhnya turut berputar pula menangkis, berputar dan menyerang yang dilakukan Suma Thian yu meski panjang  untuk diceritakan, padahal ketiga  macam gerakan  itu dilakukan hampir pada saat yang bersamaan.

Menanti dia sempat melihat jelas paras muka lawannya, orang itu sudah kena terhajar oleh serangan dahsyatnya itu sampai mencelat sejauh satu kaki lebih dan jatuh tak sadarkan diri dengan sikap terlentang.

Diluar dugaan ternyata orang itu bukan Bi kun lun Siau Wi goan seperti apa yang diduga semula melainkan seorang pencoleng berkeru dung kain hitam.

Selama hidup Suma Thian yu paling benci dengan  perbuatan menyergap yang dilakukan dari belakang, kemarahannya segera berkobar, sambil membentak tubuhnya menerjang kearah pencoleng berkerudung yang sudah tergeletak itu siap melakukan pukulan yang mematikan. Bi kun lun Siau Wi goan sendiri berdiri termangu-mangu disitu tak tahu apa yang meski dilakukan.

Dalam situasi seperti ini, keadaannya yang paling mengenaskan, mau turut campur tak bisa, tidak turut campur bagaimana?

Dalam pada iiu, tiga orang manusia berkendung lainnya jaga tak berani bertindak secara sembarangan karena kehadiran Siau Wi goan disitu, terpaksa mereka harus mengorbankan jiwa rekannya tanpa bisa berbuat banyak.

)o(X)o(

TAMPAKNYA kepalan sakti dari Suma thian yu segera akan menghantam diatas kepala pencoleng berkerudung itu, serentak semua orang memejamkan matanya rapat-rapat karena tak tega menyaksikan peristiwa yang amat mengerikan itu.

Pada dasarnya Suma Thian yu memang berhati welas kasih, begitu muncul keinginan-nya untuk mengampuni jiwa orang, ia lantas tak tega untuk melanjutkan niatnya semula untuk melakukan pembunuhan.

Dari serangan memukul segera diubah menjadi serangan mencakar.... Kraaas!" terdengar suara kain yang robek, akhirnya kain kerudung hitam orang yang terluka itu terbakar dan muncullah raut wajah aslinya.

Manusia berkerudung yang terobek kain  kerudungnya adalah seorang kakek kurus ceking bermata tikus berhidung elang, dia tak lain adalah kakek ceking yaug telah  menghadang jalan pergi Suma Thian yu ketika berada di tanah lapang gedung keluarga Siau tadi.

Setelah mengetahui siapa gerangan orang yang dihadapi,

Suma Thian yu segera tertawa seram "Haaah...haah....haaah, nampaknya aku Suma Thian yu

memang tidak salah melihat orang"

Kemudian sambil mengangkat tangan kakek ceking itu, ujarnya lagi kepada Bi kun lun Siau Wi goan dengan lantang: "Siau tayhiap, bukankah orang ini adalah anak buahmu?" Dikala Suma Thiar yu merobek kain kerudung orang itu itu  tadi, Bi kun lun Siau Wi goan sudah meraia gelisah bercampur gusar. Dia gelisah karena jejaknya ketahuan dan kuatir Suma

Thian yu membocorkan rahasia tersebut keluar sehingga mempengaruhi nama baiknya dikemudian hari.

Dia marah karena kakek itu sudah merusak rencana yang telah disusunnya dengan susah payah.

Apalagi sesudah mendengar pertanyaan dari Suma Thian yu ibaratnya orang yang langsung mengorek luka dalam tubuhnya, benar-benar tak sedap perasaannya ketika itu.

Tanpa terasa timbul niat jahat didalam hatinya, sambil menghindarkan diri dari tanggung jawab sahutnya:

"Tentu saja kenal, keparat tua ini adalah tamu yang datang menyambangi Wi goan kemarin, sungguh tak kusangka dia adalah seorang manusia berhati keji, seorang komplotan dari perampok berkerudung yang kejam itu, harap Suma sauhiap jangan marah, kuperiksa orang ini dengan seteliti mungkin"

Sembari berkata dia berjalan mendekati Suma thian yu, sementara sinar matanya memancarkan cahaya kebuasan yang membuat anak muda itu terkesiap dan segera menghimpun tenaganya bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan

Kasihan kakek bertubuh kurus berhidung elang itu, dia sudah jatuh tak sadarkan diri, mukanya pucat pasi seperti mayat, dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa luka dalam yang dideritanya cukup parah.

Bi kun lun Siauw Wi goan telah berjalan menuju ke  hadapan Suma Thian yu, akan tetapi memandang keadaan si kakek kurus yang kempas-kempis dengan lemah, dia segera berseru sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau dilihat keadannya yang begitu lemah, agaknya tidak enteng luka yang diderita olehnya, berarti jaraknya dengan kematian pun tidak jauh, lebih baik dibunuh saja!"

Sudah barang tentu Suma Thian yu tak ingin memberi kesempatan kepada Bi kun lun untuk menghilangkan saksi hidup ini, baru saja dia berusaha untuk mencegah perbuatnya itu, mendadak terasa cahaya perak berkelebat lewat lalu.. "Craaap!

Menanti Thian yu memeriksa kembali, di atas dada kakek ceking itu sudah menancap sebatang peluru perak sepanjang empat inci yang menembusi tubuh tersebut.

Atas peristiwa ini, Suma Thian yu menjadi teramat gusar, ia lepaskan cekalannya terhadap kakek ceking itu kemudian membalikkan tubuhnya.

Ternyata perbuatan tersebut hasil perbuatan dari tiga  orang perampok berkerudung yang lain, saat itu ketiga orang perampok berkerudung tadi telah menggotong rekannya yang terluka dan melarikan diri menuju kehutan.

Suma Thian yu tidak rela membiarkan kawanan penjahat tersebut melarikan diri, tak sempat memberi kabar kepada Bi kun lun lagi, dia segera menggerakan tubuhnya, bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, secepat kilat dia menyusul dibelakang kawanan perampok berkerudung tersebut.

Melihat itu, Bi kun lan Siau Wi goan menjadi gelisah, buruburu ia turut mengejar sambil berteriak:

"Suma siauhiap, harap tunggu sebentar."

Namun Suma Thian yu berlagak seolah olah tidak mendengar, malah dia mempercepat gerakan tubuhnya menyusul sampai di tepi hutan.

Tapi ke empat perampok berkerudung tadi sudah melarikan diri dan lenyap dari pandangan mata.

Sementara itu, Bi kun lun Siau Wi goan telah menyusul pula ke situ, terdengar ia berkata:

"Suma Siauhiap, musuh yang kabur jangan dikejar, bila mereka sampai terjatuh kembali ke tangan Wi goan dikemudian hari, pasti akan kukuliti tubuhnya kemudian kucincang badan nya"

Pelan-pelan Suma thian yu membalikan badannya lalu menatap sekejap wajah Bi kun lun Siau Wi goan dengan wajah diliputi hawa pembunuhan, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan mana. "Hmmm, terlalu keenakan kawanan perampok tersebut gumamnya dingin, pokoknya selama Thian yu masih dapat bernafas, pasti akan kubasmi kawanan manusia laknat itu sampai akar-akarnya"

Kemudian setelah memandang sekejap ke lima ekor kuda jempolan yang tertinggal disitu.

"Siauhiap, bagaimana kalau dari ke lima kuda jempolan yang tertinggal ini Siauhiap hanya membawa pulang empat ekor dan tinggalkan seekor untukku?"

Bi kun lun Siau Wi goan menjadi teramat gusar setelah mendengar perkataan itu, dengan nada berat dia segera menegur:

"Apa-apaan kau ini? Apakah kau mencurigai aku punya hubungan dengan kawanan perampok berkerudung itu? Bila siauhiap tetap tak bisa memahami kenyataan yang sebenarnya, tindakanmu itu benar-benar  tak  bisa dimaafkan "

Suma thian yu berpaling dengan pandangan sinis lalu tertawa dingin.

"Heeehh...heeeh...heeeh...aku rasa dihati masing-masing sudah mempunyai pandangan sendiri, sekarang memang tak perlu kau akui, toh suatu saat akan tiba juga saatnya untuk membongkar semua rahasia ini"

Selesai berkata dia membalikkan badan dan segera berlalu dari sana...

Sikapnya yang sinis dan memandang hina terhadap orang lain ini, kontan saja membangkitkan rasa gusar yang membara didalam hati Bi kun lun Siau Wi goan.

Tahukah apa sebabnya orang ini selalu bersabar dan berusaha keras untuk menghindari suatu bentrokan secara langsung dengan Suma Thian yu ?

Sebab dia kuatir jejak dan rahasianya ter bongkar, asal dia bertarung melawan Suma thian yu, niscaya semua rahasianya bakal terbongkar...

Sekalipun demikian, kesabaran orang ada batas-batasnya, sindiran dan ejekan Suma thian yu yang dilontarkan berulang kali membuat seorang manusia yang tak berperasaan akan marah, apalagi orang itu adalah Bi kun lun Siau Wi goan seorang pemimpin dunia persilatan dewasa ini?

Mendadak terdengar ia membentak penuh amarah: "Berhenti!"

Tiba-tiba dia meloloskan pedangnya dari sarung, sorot matanya tajam bagaikan sembilu, ketika pedang tersebut digelarkan maka tampaklah getaran cahaya pedang dari ujung senjata tersebut memancar keluar tiada hentinya.

Mendengar suara bentakan tersebut, Suma Thian yu segera berhenti, apa lagi ketika mendengar suara lawan meloloskan pedang, menggunakan kesempatan dikala bukannya membalikkan diri, dia turut meloloskan pula pedang Kit hong kiamnya.

Suasana menjadi tegang dan seram, kedua belah pihak dengan senjata terhunus berdiri saling berhadapan dalam jarak hanya sepuluh langkah belaka.

Sambil menggertak gigi menahan diri Bi kun lun Siau Wi goan memaki dengan geramnya:

"Bocah keparat, kau kelewat menghina orang! Apakah kau anggap Siau Wi goan adalah seorang manusia yang dapat dihina dan dipermain kan seenak hatimu sendiri? Hari ini, bila kau tidak memberi penjelasan yang terang, jangan harap bisa pergi meninggalkan tempat ini!"

"Orang she Siau!" Suma Thian yu balas mengejek, "kenyataan telah tertera didepan mata, apakah kau bermaksud untuk menyangkal lagi? Jika kau ingin mengetahui dengan jelas, ehmm, tak ada salahnya kuterangkan kepadamu. Yang jauh tak usah dibicarakan, aku hanya ingin tahu hari ini kau sebagai pemimpin dunia persilat an, apa lagi dalam gedungmu terkumpul begitu banyak jago lihay, mengapa sewaktu sauya dikepung kepung bangsat berkerudung kau bisa muncul secara tiba-tiba untuk membantu?"

Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan lebih jauh. Kalau toh....kau berniat untuk membantu, mengapa kau biarkan diriku disergap orang? Mengapa kau berpeluk tangan belaka membiarkan kawanan manusia laknat itu melarikan  diri, bukan saja tidak mengejar, malahan membentak diriku agar berhenti, apakah kau tidak merasa bahwa tindakanmu itu sangat mencurigakan? Kini setelah menyaksikan anak buahmu melakukan tindakan yang salah sehingga jejaknya ketahuan, lagi-lagi kau membunuh orang untuk menghilangkan saksi, bahkan terhadap perbuatan keji kawanan perampok berkerudung itu pun kau tidak memberikan reaksi apa-apa, bukankah kesemuanya ini semakin memperlihatkan jiwamu yang memang sudah busuk? Hmmm, kau jangan menganggap aku sebagai seorang bocah yang baru berusia tiga tahun, jangan kau anggap semua perbuatanmu itu bisa mengelabuhi diriku dan membuatku bodoh selalu!

Tatkala selesai mendengar perkataan tersebut, mendadak Bi kun lun Siau Wi goan mendongakkan kepalanya dan berteriak gusar, suara teriakan yang dipancarkan dengan disertai tenaga yang sempurna itu kontan saja menggetarkan seluruh penjuru dunia dan membuat daun serta ranting jatuh berguguran keatas tanah.

Seusai berteriak dia berkata sambil tertawa dingin:

“Hanya berdasarkan beberapa persoalan yang tetek bengek ini kau ingin menfitnah aku Siau wi goan? Bocah keparat, mengapa kau tidak renggut sekalian selembar nyawaku?"

"Betul, betul, persoalannya sekarang adalah aku belum berhasil mendapatkan bukti yang nyata!"

Bi kun Iun Siau wi goan semakin naik pitam sesudah mendengar jawaban mana, teriaknya lagi:

Selama ini lohu tidak menganggapmu sebagai kawanan percoleng, aku menerima dengan segelas kehormatan, bersikap baik kepada mu, siapa sangka kau bocah keparat ternyata hanya manusia yang tak tahu diri, kau telah membalas kebaikanku dengan perbuatan keji. Baik lah untuk memperpanjang umurku selama beberapa puluh tahun lagi, lohu akan mengalah sepuluh jurus untukmu, begitu sepuluh jurus sudah lewat, terpaksa harus dilihat bagaimanakah nasibmu nanti"

Seandainya Suma Thian yu tidak mendengar perkataan itu, keadaannya masih mendingan, begitu mendengar ucapan mana, dia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, ditatapnya Bi kun lun Siau Wi goan dengan sorot mata setajam sembilu.

"Orang she Siau, kau betul-betul latah dan gila!" serunya dengan suara lantang, kau hendak mengalah sepuluh jurus untukku? Hmm kau anggap aku hanya seorang bocah cilik? Terus terang kuberitahukan kepadamu, sewaktu berada diluar gua tempo hari, apakah kau berhasil menangkan setengah jurus dariku?"

Setelah keadaan berubah menjadi begini rupa, Suma thian yu dipaksa untuk membuka kartu.

Kontan saja ucapan mana membuat Bi kun lun Siau Wi goan menarik napas dingin, paras mukanya berbuat hebat, tapi sejenak kemudian telah pulih kembali seperti sediakala.

Hanya saja... kali ini selapis hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajahnya.

Sebetulnya Suma Thian yu berbicara demikian, tujuannya adalah memancing reaksi dari Bi kun lun Siau Wi goan, begitu menyaksikan musuhnya berubah muka, dia menjadi terang dan mengerti, tak terlukiskan rasa gembira dalam hatinya sekarang.

Sekali pun demikian, dia masih membutuhkan suatu bukti yang nyata dan berada didepan mata sebelum anak muda tersebut dapat membunuh Siau Wi goan. Orang bilang:

"Seorang Kuncu membalas dendam, tiga tahun pun belum terhitung terlambat" kematian paman Wan yang begitu mengenaskan hingga kini belum dapat diungkap olehnya secara jelas, maka dia harus menahan diri dan bertindak sangat berhati-hati, sebab sedikit salah melangkah, bisa jadi dia akan dianggap musuh umum oleh umat persilatan.

Sebaliknya Bi kun lun Siau Wi goan sendiripun berperasaan serba bertentangan, di samping dia ingin memperalat pemuda ini, tetapi dipihak lain dia pun kuatir anak muda ini akan merusak dan menghancurkan semua rencana yang telah disusunnya selama ini.

Mumpung kini berada ditengah alas yang sepi dan tiada manusia lain, apa salahnya kalau pemuda ini dibunuh saja agar tidak menmbulkan bibit bencana dikemudian hari?

Berpikir sampai disitu, napsu membunuh yang berkobar dalam dada Siau Wi goan makin menjadi, tampak dia maju ke depan berapa langkah, lalu ujarnya:

"Bocah muda, lohu sudah hidup setua ini, namun belum pernah dihina dan disindir orang dengan seenaknya seperti saat ini, bila aku tidak meringkus kau pada hari ini, tentunya kau anggap di dunia ini sudah tiada orang pan dai lagi!"

Suma Thian yu tertawa sinis.

"Hmmm, dengan kemampuan yang kau miliki itu, kau hendak membereskan aku?"

Seraya berkata pedang Kit hong kiamnya diangkat sejajar bahu, lalu tangan kananya bergerak ke atas, dengan jurus Ciong liong jiu hay (naga sakti masuk ke laut) pedangnya seperti seekor naga sakti menyodok jalan darah Ki kan hiat ditubuh Bi kun lun.

Selama ini Bi kun lun Siau Wi goan mengawasi terus ujung pedang lawannya, begitu menyaksikan ujung pedang tersebut menusuk ke bawah teteknya, mendadak ia bergerak dan melejit ke samping tambil berseru keras:

"Jurus pertama!"

Suma Thian yu menjadi amat gusar menyaksikan  musuhnya hanya menghindar tidak membalas, ia segera menarik kembali pedangnya dan tidak melancarkan serangan lagi.

Bi kun lun Siau Wi goan kelihatan agak tertegun tatkala menyaksikan lawannya menarik kembali serangannya, dengan perasaan tercengang bercampur gusar ia segera membentak.

"Kenapa kau? Bocah keparat, sudah dibikin ketakutan?"

Suma Thian yu mendengus dingin, setengah memaki teriaknya. "Orang she Siau, kau tak usah sombong dan berlagak sok, dengan mengandalkan kemampuan yang kau miliki itu, masih belum berhak bagimu untuk mengalah untukku, jika ingin bertarung, hayolah kita bertarung secara blak-blakan dan bertempur sampai titik darah penghabisan, kalu ingin bermain pura-pura mah, hmmm, sauya tidak cocok denagn selera permainan seperti itu!"

Bi kun lun Siau Wi goan kembali tertawa terkekeh-kekeh. "Hehehehehe.... rupanya begitu, aku masih mengira kau

takut menghadapi diriku! Beginipun ada baiknya juga, aku orang she Siau akan menyempurnakan keinginanmu itu "

Ketika ucapan terakhir masih berada dibibir, Siau Wi goan telah menggerakkan pedang nya dan menyerang dengan jurus Ci kou thian bun (mengetuk langsung pintu langit), tampak serentetan cahaya hijau meluncur kedepan dan menusuk  tubuh Suma Thian yu dengan kecepatan luar biasa.

Ditinjau dari gerakan tubuhnya ini, tidak sulit untuk  diketahui betapa cepat dan sempitnya jalan pikiran Bi kun lun Siau Wi goan, dia hanya maunya mencari keuntungan belaka, buktinya sementara pembicaraan masih berlangsung, ia sudah menyergap orang secara tiba-tiba.

Kecuali berhadapan dengan seseorang yang berkepandaian silat sangat lihay, biasanya cara menyergap semacam ini akan menda-tangkan suatu hasil yang amat baik.

Untung saja kewaspadaan Suma Thian yu masih tetap tinggi, sekalipun sedang berbicara namun ia telah bersiap siaga menghadapi se gala kemungkinan yang tak diinginkan.

Selama menghadapi manusia licik macam Bi kun lun Siau  Wi goan, orang memang selalu berprinsip "meski manusia tak berniat melukai harimau, harimau justru ada niat melukai manusia".

Maka begitu pedang Siau Wi goan menusuk datang, dia lantas berteriak lantang:

"Sebuah serangan yang amat bagus!"

Mendadak ia membalikan tangannya mainkan jurus Long kian sin ciau (ombak menggulung ular sakti). Pedang Kit hong kiamnya seperti segulung ombak dahsyat langsung menyapu kedepan dan mengetarkan pedang Bi kun lun Siau Wi goan sehingga tergetar dari posisi semula.

Menyusul kemudian pedangnya berubah menjadi gerakan Im liong tham jiau (naga yang mementangkan cakar) langsung mencengkeram jalan darah kit hou hiat diatas tenggorokan Bi kun lun.

Bagi seorang jago silat, begitu serangan dilancarkan maka akan diketahui apakah musuhnya berisi atau tidak. Serangan Suma thian yu didalam menghadapi ancaman bahaya ini betul-betul amat hebat, bukan setiap jago silat yang mempergunakannya dengan sempurna. 

Bi kun lun Siau Wi goan cukup mengetahui mutu suatu serangan, sebagai pemimpin dunia persilatan, tentu saja ia enggan menerima kerugian yang berada didepan mata.

Menyaksikan kejadian tersebut, buru-buru dia menarik kembali pedangnya untuk mengutamakan keselamatan sendiri, setelah itu teriaknya dengan perasaan terkejut!

"Aaaah, ilmu pedang kit hong kiam hoat!"

Sementara berseru, tubuhnya telah melepaskan diri dari kurungan kabut pedang yang dipancarkan oleh Suma thian yu, siapa tahu Suma Thian yu memang berhasrat memberi pelajaran yang setimpal untuk Bi kun lun sehingga ia tahu diri.

Tiba-tiba ia berpekik nyaring, pedang Kit hong kiamnya diputar menciptakan selapis bayangan pedang yang memenuhi angkasa, bagaikan benduangan sungai Huang ho yang jebol, dengan amat dahsyatnya langsung mengurung ketubuh Siau Wi goan.

Bagi jago lihay yang bertarung, yang menjadi pantangan terbesar adalah memecahkan perhatian.

Bi kun lun Siau Wi goan menjerit kaget, hawa murninya yang terkumpul segera membuyar sebagian besar, ditambah pula Suma thian yu dengan serangan berantainya, ia kena di desak sampai mundur terus berulang kali. Sekilas pandangan ia seperti didesak mundur, padahal ia justru manfaatkan kesemppatan tersebut untuk menghimpun kembali hawa murninya disamping mencari titik kelemahan di tubuh Suma Thian yu sehingga dapat mempersiapkan serangan balasan yang mematikan"

Begitu turun tangan Suma Thian yu berhasil mendesak mundur seorang jago silat yang memimpin dunia persilatan dewasa ini, semangat bertarungnya segera berkobar, ia berpekik berulang kali lalu pedang Kit hong kiamnya dengan jurus Liong teng kiu siau (naga melompat kelangit sembilan) ia langsung menggorok tengkuk Bi kun lun.

Mendadak Bi kun lun Siau goan melejit ke udara dengan gerakan elang raksasa menentang sayap, pedangnya berputar secepat kilat dengan jurus Ceng lui kan hong (guntur bergetar angin terbendung) dia lepaskan serangan balasan untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

"Traaang!" ketika sepasang pedang saling bertemu ditengah udara, terdengarlah suatu benturan nyaring yang memekakkan telinga, akibatnya kedua orang itu sama-sama terdorong mundur sejauh satu langkah.

Bi kun lun Siau Wi goan yang lihay, tidak menggubris apakah senjatanya cedera atau tidak, dia menerjang lagi kedepan melakukan tubrukan, dengan jurus Cuan im si gwat (menembusi awan mengejar rembulan) dengan membawa desingan angin serangan yang tajam ia langsung menusuk jalan darah Tham tiouw hiat di bagian tengah dada antara kedua tetek Suma Thian yu.....

Sudah barang tentu Suma Thian yu tak berani mengendorkan perhatiannya dalam menghadapi ancaman tersebut, buru-buru dia me ngembangkan permainan ilmu pedang Kit hong kiam hoat ajaran paman Wan nya untuk melayani serangan musuh.

Begitulah, sebentar kedua orang itu bergu mul menjadi satu, sebentar lagi berpisah, situasi pertarungan yang berlangsung kian lama kian bertambah seru, keadaannya benar-benar sangat mengerikan. Kedua orang ini, yang satu adalah pendekar besar dari golongan putih dan hitam sedangkan yang lain adalah seorang pendekar yang baru muncul di dunia persilatan, pertarungan yang kemudian berkobar sungguh menggetarkan sukma setiap orang.

Pertarungan sengit macam ini sulit dijumpai dalam dunia persilatan, kedua orang itu sama-sama mengeluarkan pelbagai jurus simpanan-nya untuk berusaha membunuh lawannya.

Sementara itu Bi kun lun Wi goan makin bertempur makin terkejut, dia cukup mengetahui akan kelihayan ilmu pedang kit hong kiam hoat tersebut, sewaktu kit hong kiam kek Wan   liang masih termashur dikolong langit dulu, dia pernah bersahabat karib dengan Bi kun lun Wi goan, mereka sering berkelana bersama sehingga kedua belah pihak sama-sama mengetahui keunggulan dan kelemahan lawan-nya.

Tapi kini permainan pedang Kit hong kiam hoat dari Suma thian yu berbeda dengan permainan yang pernah dilakukan Wan liang dahulu, tak heran kalau Siau WI goan dibikin terperanjat sekali.

Kalau dilihat dari gerakan tubuh Suma Thian yu, nampak kalau permainan itu ajaran dari Kit hong kiam kek Wan Liang, tapi yang berbeda adalah tenaga dalamnya justru setingkat masih diatas kemampuan Wan Liang pribadi....

Kejadian ini sama artinya dengan Wan Liang telah muncui kembali di dalam dunia persilatan.

Sementara ingatan mana melintas dalam benak Bi kun lun Siau Wi goan, sambil bertarung ia pun bertanya:

"Apa hubunganmu dengan Wan Liang? Cepat katakan!" "Guruku!" jawab Suma Thian yu singkat.

Suma Thian yu memang sengaja membohonginya,

sekalipun dikatakan Wan Liang adalah gurunya juga tak salah, memang ilmu pedang kit hong kiam hoat tersebut didapatkan dengan cara mencuri belajar, namun yang dia pelajari toh ilmu dari Kit hong kiam kek Wan Liang. Siapa tahu Bi kun lun Siau Wi goan segera tertawa nyaring sesudah mendengar perkataan itu, sambil melompat keluar dari arena pertarungan, serunya cepat:

"Mengapa tidak kau terangkan semenjak tadi?" "Sekalipun kukatakann, apa gunanya?", melihat orang itu

melompat keluar dari arena, Suma Thian yu segera berniat untuk menghadapi siasat lawan dengan siasat pula.

Terdengar Bi kun lun Siau Wi goan tertawa terbahakbahak.

"Haah...haaah...haaah...apakah gurumu berada dalam keadaan baik-baik?"

Sebelumnya Suma Thian yu hendak mengatakan kalau gurunya telah meninggal dunia, tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya, dia merasa tak perlu berbicara sejujurnya menghadapi manusia licik seperti itu.

Maka sahutnya kemudian dengan lantang:

"Berkat kemurahan Thian, Beliau berada dalam keadaan sehat wal'afiat seperti sedia kala!"

Bi kun lun Siau Wi goan segera memperlihatkan sikap seakan-akan merasa gembira sekali.

"Apakah dia pernah menyinggung tentang aku?" tanyanya. "Ehmm... " Suma Thian yu hanya mengiakan saja.

"Apa yang dia katakan?" Siau Wi goan seperti ingin mengetahui sejelas-jelasnya, ia lan tas menunjukkan sikap seakan-akan sangat ramah.

Suma Thian yu berlagak serius, jawabnya:

"Setiap kali dia orang tua menyinggung tentang kau, dia pasti akan mencaci maki dirimu kalang kabut, dikatakan kau adalah iblis paling keji yang ada didunia ini! Dikatakan pula binimu yang tak tahu malu itu adalah seorang perempuan jalang yang kebusukan hatinya melebihi ular berbisa!"

Mimpipun Bi kun lun Siau Wi goan tidak menyangka kalau Suma Thian yu dapat mengucapkan kata-kata makian sekeji ini, kontan saja amarahnya memuncak, dengan mata melotot besar dan menggertak gigi menahan diri, bentaknya keraskeras: "Bocah keparat! Kalau ingin berbicara, sedikitlah tahu diri, apakah kau sudah bosan hidup?"

Kembali dia menerjang ke muka, pedangnya diayunkan kedepan melepaskan serangan lagi dengan jurus Han Bwee tu luan (Bunga BWee mengeluarkan sari) dia tusuk dada Suma Thian yu.

Mencorong sinar tajam dari balik mata anak muda itu, dia membentak pendek, langkah Ciok tiong luan poh ajaran Siau yau kay Wi Kian segera digunakan, tampak ujung baju terhembus angin, tahu-tahu dia sudah  menyelinap  ke belakang punggung Bi kun lun, sementara pedang Kit Hong kiamnya bagaikan cahaya pelangi menusuk jalan darah Ki tong hiat di belakang punggung lawan.

Kemarahan Suma Thian yu telah memuncak dia merasa bukan cara yang tepat untuk mengulur waktu dengan manusia semacam ini karena itu serangan yang kemudian di lancarkan langung ditujukan kebagian mematikan ditubuh lawan.

Begitu Suma Thian yu gunakan ilmu gerakan tubuh Cok liong luan poh, gerakan tubuhnya menjadi bertambah cepat, menanti Bi kun lun Siau Wi goan menjumpai bayangan tubuh Suma Thian yu telah lenyap dari pandangan dan hawa dingin dari tusukan pedang sudah tiba dipunggungnya, dia baru menjerit kaget.

"Mati aku kali ini!"

Dengan sedapat mungkin dia menerjang maju kemuka, maksudnya adalah mencari kesempatan hidup ditengah keputus asaan.

Tapi Suma Thian yu mengikuti terus bagaikan bayangan, ujung pedangnya sudah menempel diatas bajunya.

Disaat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras berkumandang memecahkan keheningan.

Sesosok bayangan tubuh yang bergerak cepat, dengan membawa segulung tenaga pukulan yang dahsyat bagaikan angin puyuh langsung membacok Giok seng kun dibelakang benak Suma Thian yu, sungguh dahsyat dan mengeri kan sekali ancaman mana. Suma thian yu merasa terperanjat sekali, ia tahu bila pedangnya dilanjutkan penusukan-nya kedepan, niscaya Bi  kun lun Siau Wi goan tewas diujung pedangnya, akan tetapi sebagai resikonya diapun akan terhajar mati oleh serangan yang datangnya dari arah belakang itu. Berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia harus mengutamakan keselamatan sendiri lebih dulu, kemudian baru soal membalas dendam.

Cepat-cepat pedangnya ditarik kembali, kemudian kakinya bergeser dan sekali berkelebat ia sudah melompat keluar dari arena pertempuran. Atas kejadian mana, Bi kun lun Siau Wi goan segera lolos dari lubang jarum kematian, selembar jiwanya berhasil diseret keluar dari dalam neraka. Disaat Suma Thian yu berdiri tegak, ia saksikan ditengah arena bertambah dengan seorang pemuda berbaju hijau, orang itu adalah Cun gan siu cay Si Kok seng. Sambil tertawa Suma Thian yu berseru:

"Oh, rupanya saudara Si, sungguh hebat tenaga pukulanmu, nyaris batang leherku kena kau tebas kutung!"

Sambil tersenyum buru-buru Cun gan siacay Si Kok seng menjura dan meminta maaf, katanya:

"Bilamana siaute telah bertindak ceroboh harap saudara Suma sudi memaafkan!"

Kemudian sambil berpaling kearah Bi lun lun Sau Wi goan, ia berkata pula:

"Kalian berdua adalah sama-sama orang sendiri mengapa harus saling bertarung?"

Bi kun lun Siau Wi goan tidak mengucapkan barang sepalah katapun, mendadak dia membalikan badan dan berlalu dari sana.

Memandang bayangan punggung Bi kun lun Siau Wi goan yang menjauh, Cun gan siucay Si Kok seng menggelengkan kepala sambil menghela napas panjang, kepada Suma Thian yu katanya:

"Tabiat orang itu memang sangat aneh, saudara Suma, buat apa kau mesti ribut dengannya? Suma Thian yu tidak menggubris ucapan mana, waktu itu dia sedang berdiri dengan pelba gai persoalan berkecamuk didalam benaknya.

Apa yang barusan dikatakan Si kok seng, pada hakekatnya sama sekali taterdengar olehnya...

Pelan-pelan Cun gan siucay Si Kok Seng mendekati Suma Thian yu, lalu dengan sikap yang menghormat tanyanya. "Saudara Suma, kau masih marah kepadaku?" Suma Thian yu berseru tertahan, buru-bu sahutnya dengan nada minta maaf:

"Tidak, tidak...! Aku sedang memikirkan suatu persoalan

..."

"Persoalan apakah itu? Bolehkah diberitahukan kepadaku?" Si Kok seng bertanya lebih jauh.

"Tolong tanya bagaimanakah hubungan saudara Si dengan Siau tayhiap ?

"Soal ini...kami hanya pernah berjumpa beberapa kali saja, buat apa kau menanyakan tentang soal ini?"

"Bagaimana watak orang itu?"

Sambil bertanya, kali ini Suma thian yu memperhatikan perubahan wajah dan sikap Cun gan siaucay Si kok seng.

Cun gan siucay Si Kok seng termenung dan mempertimbangkannya sejenak, setelah itu baru sahutnya.

"Menurut hasil pengamatan siaute selama banyak waktu,  aku rasa dia adalah se orang yang jujur, periang, suka berteman, ramah dan rendah diri, satu satunya kejelekan yang dimiliki adalah wataknya yang berangasan, saudara Suma, kau bertanya begini teliti tentang dirinya apakah kau menaruh curiga terhadap orang itu?"

Ketika mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa Suma Thian yu melirik dan memperhatikan beberapa kejap Cun gan siau cay Si Kok seng, melihat wajah orang itu menunjukkan kejujuran, dia pun menyahut dengan suara hambar:

"Ooh, tidak apa-apa, aku hanya bertanya sambil lalu saja." "Saudara Suma, aku lihat belum tentu demikian, apakah

kau mempunyai suatu rahasia yang sulit dibicarakan? Walaupun kita baru bersahabat beberapa hari, sesungguhnya kita merasa saling mencocoki satu sama yang lainnya, anggap saja diriku sebagai saudara sendiri, bila kau mempunyai kesulitan, utarakan kepada ku, asal siauje sanggup membantumu, sudah pasti akan kubantu dirinu dengan sekuat tenaga"

"Aaah, tidak apa-apa" Suma Thian yu menyangkal berulang kali, "terima kasih banyak atas perhatian saudara Si, kebaikanmu itu tak akan kulupakan untuk selamanya..."

Cun gan siaucay Si Kok seng mengerti, sekalipun ditanyakan lebih jauh juga tak bakal mendapatkan suatu hasilpun, maka diapun mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, tanyanya:

"Saudara Suma, kau bermaksud hendak kemana?"

"Aku mengembara tak menentu, empat samudra sebagai rumahku, dan kau...?"

"Sama saja, bila ksu tak keberatan, bagaimana kalau kudampingi dirimu sepanjang perjalanan?"

"Akan kusambut dengan senang hati" jawab Suma thian yu ringkas.

Maka berjalanlah kedua orang itu menuruni bukit.

Sepanjang jalan Cun gan Siucay Si Kok seng seperti ada maksud untuk membaiki anak muda tersebut, semua pembicaraannya amat santai dan persoalan apapun dibicarakan.

Setiap kali melalui suatu tempat, dia pasti menerangkan riwayat jago yang bercokol di sana serta keadaan daerah disekitarnya, diantaranya dia pun membicarakan pula sedikit tentang sembilan partai besar dan beberapa orang jago yang menonjol dari golongan rimba hijau.

Tapi ada satu hal yang tak pernah dibicira kan Cun gan siucay selama ini, yakni asal usul serta perguruannya.

Setiap kali Suma Thian yu menanyakan soal ini, Cun gan siucay Si Kok seng selalu menye lamurkan dengan masalah lain, akibatnya lama kelamaan hal ini menimbulkan kecurigaan di dalam hati Suma Thian yu, oleh karena itu Suma Thian yu sendiripun selalu menghindarkan diri bila berbicara soal riwayat hidupnya serta tanggung jawab serta tugas yang terbeban di atas bahunya...

Hari itu mereka berdua tiba di kota Siau Kwan, hari sudah gelap dan burung terbang kembali ke sarangnya, suasana remang mendatangkan perasaan murung bagi siapa pun.

Dari kejahuan mereka berdua menyaksikan munculnya sebuah dusun dengan asap yang mengepul, tanpa terasa Suma Thian yu teringat kembali akan pemandangan yang mengerikan dari perkampungan yang anggota keluarganya dibantai tempo hari, sehingga tanpa terasa dia menghembuskan napas panjang...

Dengan perasaan ingin tahu, terdengar Cun gan Siucay Si kok seng segera bertanya:

"Saudara Suma, mengapa kau menghela napas? Kulihat sepanjang jalan kau selalu berkeluh kesah, apakah dalam hatimu terdapat ke

murungan dan kesedihan yang tak terungkapkan?" "Tidak, aku hanya teringat akan suatu peristiwa berdarah

yang mengerikan sekali..." jawab Suma Thian yu sambil menggeleng.

"Peristiwa apa sih yang begitu kau risaukan?"

Suma Thian yu menuding perkampungan di depan sana, lalu menjawab:

"Perkampungan itu telah memancing luapan perasaanku, karena disanalah kusaksikan suatu adegan pembunuhan yang mengerikan sekali."

Secara ringkas dia lantas menceritakan apa saja yang telah disaksikan olehnya dalam per kampungan mana kepada Cun gan Siaucay Si Kok seng, diantaranya dia sempat mencaci maki pula perbuatan biadab dari kawanan perampok berkerudung itu.

Mendengar penuturan mana, parat muka Cun gan siaucay Si Kok seng berubah hebat, ia me mandang ke tempat kejauhan, lalu pelan-pelan berkata: "Ooooh....rupanya begitu, tak heran kalau malam itu kau menanyakan soal mutiara, rupa nya kau mencurigai perbuatan tersebut dilaku kan oleh Siau tayhiap?"

"Benar! Hingga kini aku masih mencurigai pembunuh keji itu adalah Siau Wi goan"

Berbicara sampai disitu, Suma Thian yu segera memperhatikan wajah Si Kok seng lekat-lekat, sebab tujuannya berkata demikian memang ingin mengetahui reaksi lawan.

Cun gan Siucay Si Kok seng termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata:

"Seandainya kalau perbuatan terkutuk ini dilakukan olehnya aku pasti akan membabalaskan dendam bagi sukma  penasaran yang tewas dalam perampungan tersebut. Suma heng, bila kau dapat memberitahukan keadaan waktu itu dengan lebih jelas, hal mana akan lebih baik" Berbicara  sampai disitu, dia lantas menunjuk kan wajah marah, alis matanya berkenyit dan menggertak gigi menahan emosi.

Semenjak kecil Suma Thian yu sudah hidup ditengah  gunung yang jauh dari keramaian dunia, segala macam kelicikan dan kebusukkan manunia masih asing baginya, maka setelah merasakan ucapan Si Kok seng yang gagah perkasa itu, ia dibuat terharu sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Dengan cepatnya pula segala macam kecurigaan yang semula dilimpahkan atas diri Si Kok seng, seketika lenyap sebagian besar,

bahkan menyesal telah mencurigai rekannya itu.

Cun gan siaucay Si Kok seng mengikuti terus perubahan sikap lawannya secara diam-diam, setelah mengetahui perubahan dari orang itu, diam-diam ia tertawa geli, ia merasa menang, permainan caturnya telah berhasil menguasai posisi yang strategis, itu berarti usahanya untuk mengendalikan  Suma Thian yu dikemudian hari akan berjalan lebih mudah, hingga tugas yang dibebankan kepadanya pun bisa dilaksana kan dan tercapai pada apa yang diharapkan. Begitulah, mereka berdua telah memasuki kota Siau kwan dan mencari sebuah rumah makan yang kecil ditepi jalan.

Sepanjang perjalanan kedua orang itu sudah merasa lapar, maka tanpa dibilang mereka ber dua sama-sama membelok kedalam rumah makan tersebut.

Baru saja melangkah masuk kedalam pintu, dari balik ruangan berjalan keluar dua orang manusia, ketika empat orang saling bersua, masing-masing mundur selangkah dengan ter peranjat.

Ketika mendongakkan kepalanya Suma Thian yu segera mengenali orang itu sebagai Thi pit suseng (sastrawan berpena baja) Thi bersaudara. Tak terasa lagi dia segera berteriak gembira.

"Ooeh...rupanya saudara Thia, hidup manusia memang sering bertemu dilain tempat, meng apa kalian berdua bisa muncul disini?"

Ketika Thi pit suseng Thia Cuau melihat orang itu adalah Suma Tbian yu, diapun segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah... haaahh....haaahh....kami belum lama tiba disini, eeeh..bukankah kau pergi keperusahaan Sin liong piaukiok? Mengapa bisa muncul dikota jelek dan sepi seperti ini?"

"Tapi... panjang sekali untuk diceritakan" sahut Suma Thian yu sambil menghela napas, "tempat ini bukan tempat yang cocok untuk ber bincang-bincang, bila Thia toako tak ada urusan penting, bagaimana kalau kita duduk kembali sambil berbicara?"

"Begitupun baik juga!" berbicara sampai disitu, Thi pit suseng Thia Cuan segera mengalihkan sorot matanya kearah adiknya.

Tuan im siancu Thia Yong tertawa manis hingga kelihatan dua baris giginya yang putih, nampak dia manggut-manggut.

"Duduk sebentar lagipun tak ada salahnya"

Maka mereka berempat masuk kembali kedalam rumah makan.

Oleh Suma Thian yu, Cun gan siucay Si Kok seng segera diperkenalkan kepada Thia bersaudara. Sedangkan Cu gan Siucay segera menaruh kesan yang baik begitu berjumpa Toan im sian cu dalam pandangan yang pertama.

Untuk memperlihatkan sikapnya yang hangat, dia segera memaksakan diri untuk mentraktir, ia memanggil pelayan dan memesan sayur yang mahal harganya.

Tentu saja dalam rumah makan sederhana semacam ini,

tak mungkin bisa menyiapkan sayur yang mahal harganya  itu.

Padahal Cun gan siucay Si Kok seng berbuat demikian   bukan bermaksud untuk memperli hatkan kedudukannya  saja.

Thi pit suseng Thia Cuan merasa tidak sabar menyaksikan kejadian tersebut, segera selanya:

"Sudahlah, hantar saja beberapa macam sayur seadanya!" Pemilik warung itu adalah seorang kakek berambut putih,

dia segera mengiakan berulang kali, kemudian tanyanya: "Apakah perlu arak?" "Tentu saja" sahut Cun gan siucay Si Kok seng lagi, "asal ada arak bagus yang berumur sepuluh tahun keatas, boleh bawa kemari!"

Pemilik warung itu mengiakan berulang kali dan segera berlalu dari situ.

Menanti pemilik warung itu sudab berlalu, Cun gan Siucay Si Kok seng baru berpaling dan ujarnya kepada Toan im siancu Thia Yong sambil tertawa:

"Nona Thia sudah terbiasa dengan hidangan disini?" "Bagus sekali" jawab Toan im siancu Thia Yong tersenyum

hingga nampak sepasang lesung pipinya yang manis.

Menyaksikan senyuman si nona, Cun gan sisucay Si Kok   seng segera merasakan jantung nya berdebar keras, ia seperti merasa mendapat berkah yang tak ternilai harganya,

Thit pit suseng Thia Cuan merasa sangat tak puas menyaksikan kejadian itu, dia merasa pemuda ini licik dan tidak jujur, suka merayu dan tidak setia, akan tetapi berhubung orang itu adalah rekan seperjalanan Suma Thian yu maka iapun merasa sungkan untuk mengumbar amarahnya. Perjamuan itu berlangsung sangat meriah, sepanjang perjamuan Suma Thian yu lebih ba nyak berbincang bincangdengan Thi pit su seng Thia Cuan daripada dengan lainnya.

Sedangkan Cun gun siaucay Si Kok seng dengan taktik merayunya berbicara tiada henti nya dengan Toan im siancu Thia Yong, dia bertanya ini itu tiada habisnya membuat si nona kadangkala merasa bosan dan muak...

Akan tetapi, setiap Kali Toan im siancu mencari kesempatan untuk mengajak Suma Thian yu berbicara, dia selalu dibuat sakit hati oleh jawaban sang pemuda yang amat tajam.

Dasar watak kaum gadis memang keras kepala dan ingin menang sendiri, ditimbang jalan pikirannya sempit, apa yang hendak di kerjakan selalu berusaha mencapai sukses, kalau tidak maka dia akan berjalan sebaliknya meski tahu kalau jalan itu salah.

Itulah sebabnya, kendatipun Thia Yong merasa muak dan bosan berbincang-bincang dengan Cun gan siaucay Si Kok seng, namun untuk memenuhi tuntutan pembalasan dendamnya terhadap Suma Thian yu, ia harus menyabar kan diri dan melayani pertanyaan Si Kok seng dengan sikap berpura-pura hangat.....

Di dalam perkiraannya semula, cara terse but pasti akan memancing rasa cemburu dan perhatian dari Suma Thian yu, siapa tahu pe muda itu berlagak seakanakan tidak melihatnya, bahkan berbincang-bincang dengan asyik nya...

Menyaksikan rencana dan usahanya mengalami kegagalan total, Toan im siatcu Thia Yong merasakan hatinya hancur lebur, mendadak ia menggebrak meja dan bangku berdiri.

"Aku akan pergi dulu!" teriaknya keras-keras. Oleh tindakan yang amat mendadak dari si nona, tiga orang lain-nya merasa amat terperanjat.

Padahal waktu itu Cun gan siaucay Si Kok seng sedang berbicara dengan asyik, sekali, tidak menyangka kalau gadis itu bakal bertindak seperti ini, kontan saja pemuda itu dibuat ter tegun dan memandang wajahnya kebingungan, ia tak habis mengerti didalam hal apakah dia telah melakukan kesalahan terhadap gadis itu.

Padahai Suma Thian yu sendiripun berpendapat demikian, dia memandang wajah Toan im siancu Thia Yong dengan   sikap tertegun, tindakan si nona yang amat tiba-tiba ini benarbenar tidak dipahami olehnya.

Thi pit suseng Thia Cuan paling memahami tabiat dari adiknya ini, apalagi sejak kecil dialah yang merawat adiknya ini, maka semua tindak tanduknya Thia Cuan yang paling me mahami.

Tampak dia turut bangkit berdiri, lalu ter tawa terbabakbahak.

"Haaah...haah...haah... baik, berangkat "

Berangkat, memang waktu sudah tidak pagi, kita masih harus berangkat ke kota San tin untuk mencari penginapan" Keempat orang itu berangkat meninggalkan warung dan masing-masing mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang

sempurna berangkat menuju kekota San tin dengan cepat.

Sepanjang jalan, Cun gan siucay Si Kok seng ada niat untuk memperlihatkan kebolehannya dia selalu memimpin di paling muka bahkan kerap kali berpaling dan berseru kepada tiga orang rekannya agar berjalan lebih cepat.

Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam merasa geli, tanpa terasa dia pun memandang rendah diri Si Kok seng.

Semenjak Thi pit suseng Thia Cuan berjumpa dengan Suma Thian yu, dia seperti telah menemukan teman yang mencocoki hatinya saja, sepanjang jalan selalu berada disampingnya bahkan berbincang dan bergurau dengan amat leluasa.

Pada saat itulah Thi pit suseng berbisik kepada Suma thian yu:

"Suma hiante, bagamanakah hubungan persahabatanmu dengan Si Kong seng?"

xXx "TAK BISA dibilang sangat akrab" jawab Suma Thian yu, "kami hanya bertemu secara kebetulan, untuk mengurangi kesepian sepanjang jalan maka kami memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama

"Ooooh...Thi pit suseng Thia Cuan mengiakan, lalu membisiknya, "orang ini tidak jujur dan berjiwa munafik, sudah pasti bukan manusia baik-baik, hiante, kau harus selalu waspada dan bersiap-siap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan

"Siaute pun berpendapat demikian" Suma Thian yu manggut-mauggut, "terutama sekali atas riwayat dan asal usulnya, hingga kini ma sih menjadi sebuah tanda tanya besar".

Sambil melanjutkan perjalanan, secara ring kas dia lantas mengisahkan perkenalannya dengan Si Kok seng.

Thi pit suseng Thia Cuan hanya membungkam diri dalam seriba bahasa, sorot matanya yang memandang kaku kedepan, lalu mempercepat langkahnya dan menyusul dibelakang Cun pan siaucay Si Kok seng dengan ketat.

Setelah melalui sebuah hutan yang lebat, sampailah mereka di kota Han san tin.

Can gan siucay Si Kok seng yang berlarian kencang didepan mendadak menghentikan ge rakan tubuhnya, lalu sambil berpaling kearah tiga orang dibelakangnya dia berkata:

"Untuk menyingkat jalan, bagaimana jika kita menembusi hutan lebat di depan sana?"

Thi pit suseng Thia Cian buru-buru meng goyangkan tangannya mencegah:

"Jangan, jangan, siapa yang sudah bosan hidup, dialah yang akan menembusi hutan lebat itu".

Mendengar perkataan tersebut, Suma Thian yu segera bertanya dengan wajah tercengang:

"Apakah di dalam hutan itu terdapat ancaman bahaya yang amat besar...?"

"Selama sepuluh tahun terakhir ini, setiap orang yang hendak pergi ke Kota Han san tin dari Siau kwan, pasti akan melingkari hutan lebat ini, mengenai apa sebabnya aku kurang begitu tahu."

Cu gan siucay Si Kok seng yang berada didepan, segera tertawa terbahak-bahak sesudah mendengar ucapan itu, katanya:

"Benarkah ada kejadian seperti ini? Aku orang she Si justeru tak percaya dengan segala tahayul!"

Sambil berkata dia membalikkan badan dan meninggalkan jalan raya umuk lari ke arah hutan lebat itu.

Toan im siancu Thia Yong ada maksud untuk memanasi  hati Suma Thian yu, ia segera mem buat muka setan kepada kakaknya dan anak muda itu, kemudian setelah mendengus dingin katanya:

"Hmmm.....aku tak sudi menjadi pengecut macam kalian berdua!"

Selesai berkata dia menyusul di belakang Cun gan siucay Si Kok seng dan lari menuju kearah hutan.

Melihat adiknya mengumbar napsu, Thi pit suseng menjadi sangat gelisah, segera teriaknya:

"Adik Yong! Kembali, adik Yong "

Belum habis dia berseru, mendadak.....

Dari arah depan sana terdengar Cun gan siau cay Si Kok seng menjerit kaget dan melompat mundur kebelakang, disusul Toan im siancu Thia Yong menjerit kaget pula sambil menyingkir kesamping.

Thi pit suseng Thia Cuan dan Suma Thian yu merasa amat terperanjat setelah mendengar suara jeritan itu, serentak mereka meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi.

Tiba dihadapan Cun gan siucay Si Kok seng, apa yang kemudian terlihat membuat kedua orang itu mundur selangkah dengan paras muka berubah hebat.

Ternyata mereka menyaksikan sebuah tugu disisi hutan...

sebuah tugu peringatan yang terbuat dari tulang-tulang tengkorak manusia, diatas tugu itu terlukiskan: "Kembali! Maju lebih kemuka berani mati" Ketujuh huruf itu amat besar dan semuanya tersusun oleh tulang manusia yang memutih.

Sesudah hilang rasa kagetnya, dengan mendongkol Cun gan siucay Si Kok seng meludah, teriaknya.

"Manusia jadah dari manakah yang berani menggunakan benda-benda semacam itu untuk menakut-nakuti aku? Hmm, aku Si Kok seng justru ingin mencobanya..."

Nama Si Kok seng yang diucapkan terakhir sengaja diucapkan dengan sangat nyaring.

Begitu selesai berkata, mendadak telapak tangannya diayunkan kedepan, segulung angin pukulan yang sangat dahsyat dengan cepat meluncur kedepan.

"Braaak...!" susunan tugu yang terbuat dari tulang belulang itu segera hancur berantakan dan berserakan diatas tanah.

Thi pit suseng Thia Cuan merasa amat terperanjat setelah menyaksikan kejadian ini, baru saja ia hendak mencegah perbuatan mana, tugu tulang belulang itu sudah hancur remuk, tak kuasa lagi dia menghela napas panjang, ia sadar bakal celaka.

Selang beberapa saat mereka menanti, namun suasana dalam hutan tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Kenyataan ini membuat Si Kok seng makin takabur, buruburu serunya kepada tiga orang yang lain:

"Serbu saja! Mari kita langsung menyerbu kedalam hutan tersebut!"

Selesai berkata dia lantas berjalan paling depan memasuki hutan itu, di susul oleh Toan im siancu.

Thi pit suseng kuatir adiknya menjumpai mara bahaya, maka dia lantas mengajak Suma Thian yu menyusul dipaling belakang.

Baru saja ke empat orang itu memasuki hutan, mendadak terdengar suara tertawa dingin yang mengerikan berkumandang memecahkan keheningan, disusul kemudian suara pekikan aneh muncul dari empat penjuru dan menggema diseluruh hutan.

Thi pit suseng Thia Cuan sudah berpengalaman didalam menghadapi beratus-ratus kali pertarungan, pengalamannya luas sekali, begi tu menyaksikan suasana gelap yang menyelimuti hutan tersebut, ia sudah mendapat firasat jelek, apa lagi setelah mendengar suara pekik kan aneh itu, tanpa terasa bulu kuduknya bangun berdiri.

Buru-buru teriaknya dengan suara keras:

"Si siauhiap, jangan bertindak gegabah, kau harus berhatihati "

Sembari berkata dia lantas melayang kesamping adiknya Toan im siancu dan diam-diam bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Mendadak terdengar Cun gan siucay Si Kok seng menjerit kaget, suara kaget itu berasal dari lima kaki dihadapan mereka.

Suma Thian yu yang pertama-tama menerjang kedepan setelah mendengar seruan kaget itu, dengan suatu gerakan yang cepat dia

melayang turun diatas tubuh Si Kok seng.

Mendadak pandangan matanya terasa silau, ternyata didepannya terdapat sebuah tanah kosong seluas dua puluh kaki, waktu itu api membara dengan terangnya menyinari sekitar tempat itu

Ditengah hutan muncul sebuah tanah lapang, kejadian ini sudah cukup mengherankan hati orang, apa lagi kalau tanah lapang itu terang benderang seperti disiang hari saja, hal ini lebih aneh lagi, tanpa sadar ke empat orang itu merasakan jantungnya berdebar keras.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 10"

Post a Comment

close