Kitab Pusaka Jilid 01

Mode Malam
Jilid 1 : Jago pedang yang dikhianati  kekasih

Di SUATU JALAN bukit yang sepi nun jauh di sana, dibawah rembulan yang redup, lamat-lamat tampak dua sosok manusia sedang berlarian dengan langkah tergesa-gesa.

Menanti mereka semakin mendekat, tampaklah kalau dua orang itu adalah seorang nenek berambut putih yang sedang menggandeng tangan seorang bocah cilik.

Sambil berlari kencang, tiada hentinya nenek berambut putih itu berpaling kebelakang memandang kearah belakang dengan sinar mata gugup, panik dan ketakutan.

Sekilas pandangan saja, dapat diketahui kalau mereka sedang menghindarkan diri dari suatu persoalan atau pengejaran dari sementara orang.

Tapi bila dilihat dari langkahnya yang lamban serta perawakan tubuhnya yang telah menua, bisa diketahui pula jika dia bukan seorang manusia persilatan, melainkan seorang nenek biasa yang berhati baik. Didepan sana terbentang sebuah hutan bambu yang amat lebat, melihat itu bagaikan sipenjelajah gurun pasir yang bertemu dengan tanah hijau, wajah nenek itu segera berseri, dengan cepat dibopongnya bocah itu kemudian sambil mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya, dia kabur masuk ke dalam hutan dengan napas tersengal.

Setelah berada didalam hutan, nenek itu kembali berpaling dan celingukan beberapa waktu lamanya ke tempat luaran sana, kemudian itu baru ia hembuskan napas panjang dan meletakkan sibocah ketanah.

Sambil duduk kelelahan. ia berkata: "Aaaaiii. masih untung Thian melindungi kita dan lolos dari mulut harimau, mari kita beristirahat sebentar!"

Baru selesai sinenek bergumam, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara seram yang kedengarannya mendirikan bulu roma orang. mendengar suara itu si nenek segera berpaling...

Mendadak ia menjerit tertahan saking kaget dan takutnya. "Aaaah..."

Entah sejak kapan, ternyata dibelakang tubuhnya telah berdiri berjajar tiga orang bersenjata golok yang mengenakan kain kerudung hitam diatas wajahnya.

Ditengah jeritan kaget sinenek, dari balik hutan secara beruntun muncul lagi empat lima orang berkerudung hitam.

Ia tak berani berayal lagi, buru-buru dibopongnya tubuh bocah itu ingin menerjang ke luar dari kepungan, siapa tahu baru saja ia bangkit berdiri, dua orang manusia telah muncul dihadapannya dan menghadang jalan pergi nya. 

Tergetar keras perasaan sinenek setelah menjumpai empat penjuru penuh dengan musuh. hatinya menjadi dingin separuh, buru-buru ia menjatuhkan diri berlutut, lalu sambil menangis pintanya:

"Kumohon kepada hohan sekalian agar mengampuni selembar jiwa bocah ini, keluarga Suma tinggal seorang sauya ini saja, dia masih kecil dan tak tahu urusan, kumohon kepada kalian kasihanilah selembar jiwanya."

Sambil berkata, air mata nenek itu jatuh bercucuran dengan amat derasnya.. sungguh mengenaskan sekali keadaannya.

Siapa tahu yang diperoleh sebagai penggantinya adalah gelak tertawa licik yang mendekati kalap.

Terdengar salah seorang diantaranya berkata;

"Toaya sekalian bertugas disini memang bertujuan untuk melenyapkan keturunan Suma Tiong Ko, kau sinenek jelek yang sudah hampir mampus. untuk menyelamatkan diri saja belum tentu sanggup, masih berani benar memikirkan keselamatan orang lain, lebih tak usah banyak ngebacot lagi!"

Mendengar perkataan itu, sinenek bertambah gelisah, sambil menangis tersedu-sedu kembali pintanya,

"Ooohhh... hohan sekalian, kalau mau membunuh, aku saja! Kumohon kepada kalian agar suka mengampuni selembar jiwanya, berbuatlah sedikit kebajikan!"

"Mengampuni jiwanya? Berbuat kebajikan? Hmmn Toaya tak pernah memikirkan soal tetek bengek semacam itu, toaya hanya tahu setia pada tugas tidak tahu apa artinya memberi pengampunan dan apa artinya berbuat kebaikan, enyah kau dari sini! Kalau tidak, terhitung kau sendiripun kujagal sekalian!"

Sehabis mendengar kata kata yang sama sekali tiada harapan itu, si nenek berambut putih itu menangis semakin menjadi, tampal ia memeluk bocah itu makin kencang, isak tangisnya juga makin nyaring menggema di dalam hutan itu.

Si bocah yang berada dalam pelukannya itu melototkan sepasang matanya yang jeli, dia mengawasi terus lelaki bersenjata golok disekeliling tempat itu dengan penuh kebencian, dan balik sorot matanya yang masih polos, jelas terlihat tiada perasaan jeri atau ketakutan yang terpancar keluar.

Mendadak terdengar salah seorang lelaki itu membentak keras, tubuhnya bergerak ke muka menghampiri nenek itu, kemudian sambil mendorong tubuh nenek itu kebelakang, makinya kalang kabut.

Kasihan si nenek yang telah lanjut usia itu, kena didorong oleh lelaki tadi, bagaikan mabuk arak saja tubuhnya segera mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, begitu terjatuh ketanah, dia mengaduh tiada hentinya..

Kemudian sambil mengayunkan goloknya ke bocah itu, lelaki berkerudung itu tertawa seram.

"Heeh .. . heeh ...bocah keparat, kau jangan salahkan kalau Toayamu berhati kejam!"

Selesai berkata dia lantas mengayunkan goloknya membacok tubuh bocah tersebut.

Melihat majikan mudanya terancam bahaya disaat yang kritis inilah mendadak ia menubruk ke atas bocah itu dan melindunginya dengan menggunakan tubuh sendiri. Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang dari mulut nenek itu, percikan darah segar segera berhamburan mengotori sekujur badan lelaki itu.

Ketika semua orang berpaling ketempat kejadian maka tampaklah ayunan golok dari lelaki itu sudah menembusi perut si nenek sehingga ususnya pada keluar semua...

Kasihan si nenek yang setia membela majikannya sampai mati, demi keselamatan majikan mudanya dia rela mengorbankan nyawanya.

Lelaki berkerundung itu segera mendengus dingin, sambil membersihkan goloknya dan noda darah, dia mencaci maki kalang kalut:

"Nenek jelek, nenek sialan, tampaknya kau memang sudah bosan hidup, pingin mati saja"

Seraya berkata dengan gemas dia lantas menendang mayat si nenek yang masih menindih diatas tubuh bocah itu sehingga mencelat ke tempat jauh sekali dari sana.

Betul betul perbuatan orang pembunuh keji yang membunuh orang tak berkedip, kekejaman, kebuasan dan kebrutalannya sukar dilukiskan dengan kata kata.

Bocah itu melirik sekejap kearah mayat si nenek yang mati demi menyelamatkan jiwanya itu, kemudian menangis tersedu sedu,

Melihat itu dengan gusar lelaki berkerundung tersebut membentak keras :

"Menangis, menangis terus! Hm, hayolah menangis sampai puas. beritahu pada raja akhirat nanti, akulah yang telah mengirimmu Pulang ke sana . !"

Begitu selesai berkata, goloknya kembali diayunkan kedepan untuk membacok batok kepala bocah itu. Disaat yang amat kritis inilah, dari tengah udara berkumandang suara pekikan yang nyaring memekikkan telinga.

Tampak sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah meluncur masuk ketengah arena, kemudian tampak cahaya putih berkelebat lewat, serentetan jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan.

Dengan perasaan terkesiap kawanan jago berkerundung yang berada disekeliling tempat tu berpaling, entah sejak kapan tahu tahu di tengah arena telah bertambah dengan seorang busu setengah umur yang memegang sebilah pedang.

Sementara itu, si lelaki berkerundung yang telah  menyiapkan bacokan mautnya terhadap bocah tadi, kini sudah tewas ditanah.

Seketika itu juga suasana dalam hutan itu menjadi gempar, serentak semua orang menyebarkan diri ke empat penjuru dan bersiap siaga mengurung busu setengah umur itu rapat rapat.

busu berusia setengah umur itu kira-kira telah berusia empat puluh tahun, matanya tajam dengan wajah yang tampan, dibawah janggutnya memelihara segumpal jenggot kambing, pakaiannya ringkas dan nampak sangat gagah sekali.

Dengan sorot matanya yang tajam dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan dingin ujarnya:

"Kawanan tikus! Apakah kalian ingin membunuh orang sampai keakar-akarnya?"

Tak seorang manusiapun yang menjawab, semua orang bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Sampai lama kemudian, salah seorang diantaranya baru berkata.

"Orang she Wan, lebih baik kau jangan mencampuri urusan orang lain, apakah kau berani menanggung peristiwa yang berlangsung pada hari ini?"

Lelaki setengah umur itu menatap tajam pembicaraan tersebut lekat lekat, lalu sahutnya :

"Iya,aku Wan Liang akan menanggungnya seorang diri. jika kalian tidak puas, silahkan maju bersama-sama, kalau tidak, cepat sipat ekor dan pergi dari sini!"

Suaranya nyaring dan bertenaga penuh, selesai berkata ia lantas mengawasi orang-orang disekitar tempat itu dengan sinis.

Mendadak terdengar beberapa kali bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, lelaki berkerudung yang berada disekeliling tempat itu serentak maju bersama dan mengayunkan golok mereka untuk membacok tubuh Wan Liang.

Sungguh hebat manusia yang bernama Wan liang itu. melihat sergapan dari kawan lelaki berkerudung itu. dia tertawa dingin lalu berpekik keras, suara nyaring menjulang tinggi sampai keangkasa.

Mendadak sepasang bahunya digetarkan sambil melejit keudara dengan menggunakan suatu gerakan tubuh yang cepat bagaikan sambaran kilat dia meluncur mengitari sekeliling tempat itu ....

Seketika itu juga timbul di arena pertarungan tampak serentetan cahaya putih berkelebat lewat, bagaikan kupu kupu yang terbang diantara bebungaan, dia meluncur kesana  kemari dengan lincahnya. Dalam waktu singkat jeritan ngeri yang memilukan hati  berkumandang  memecahkan keheningan, bayangan manusia berkelebat, cahaya putih menyambar, jeritan ngeri segera bergema memecah keheningan.

Tahu tahu ditengah arena telah bertambah dengan enam sosok mayat yang membujur di tanah-

Sisanya yang dua orang segera melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat kejadian.

Busu setengah umur yang mengaku bernama "Wan Liang" itu tetap berdiri tenang ditempat semula seakan akan tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun, dengan napas tenang, wajah tidak berubah, dia berdiri tertawa disitu.

Akhirnya ia menatap bocah tersebut dan menegur sambil tertawa: "Nah, kau merasa terkejut sekali dengan peristiwa ini?"

Sampai sebesar itu, belum pernah bocah tersebut menyaksikan mayat mnnusia yang bergelimpangan serta pertarungan yang begitu sengit sejak tadi ia sudah berdiri tertegun disitu dengan tubuh kaku.

Menanti Wan Liang menegur, dia baru tersadar kembali dari lamunan, dengan cepat ia menjatuhkan diri berlutut sambil berkata:

"Oooh . Pousat yaya terima kasih atas pertolonganmu itu sehingga membuat aku..."

Menyaksikan kejadian itu, Busu setengah umur itu segera memegang perutnya sambil tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya yang keras segera menelan ucapan bocah itu berikutnya.

Selesai tertawa, ia baru berkata: "Hayo bangun, tak usah mengucapkan kata kata yang tak berguna lagi..."

Sembari berkata dia lantas membangunkan bocah itu dan diperhatikan sejenak.

Tampak bocah itu berwajah tampan dengan bibir yang merah serta dua baris gigi yang putih. pada hakekatnya dia merupakan seorang bocah yang amat menarik.

Wan Liang segera menepuk nepuk bahu bocah itu kemudian menghela napa panjang, pikirnya.

"Bocah ini benar benar amat kasihan dan menyenangkan. aku bisa menolongnya, hal ini merupakan suatu kemujuran. Kalau dilihat dari potongan badannya, jelas dia merupakan bahan bagus unutk berlatih silat... tapi apa mungkin aku bisa membawanya pergi?"

berpikir sampai disitu. dia telah bersiap siap membalikkan badannya untuk pergi, tapi ketika dilihatnya bocah itu menangis dengan begini sedihnya ia lantas menghela napas panjang. pikirnya dihati:

"Wan Liang wahai Wan Liang . . menolong orang lain merupakan kewajiban bagi setiap umat manusia, apakah kau tega membiarkan bocah yang tak tahu urusan ini mesti berdiam di sini dihembus angin dingin?"

Berpikir sampai disini, tanpa terasa busu berusia pertengahan itu mundur beberapa langkah lagi, mendesak ia mendongakkan kepalanya berpekik nyaring, lalu membalikkan badan berlalu dari sana.

Dalam waktu singkat tampak bayangan tubuhnya berkelebat lewat dan lenyap dibalik hutan sana.

Sinar rembulan yang redup kini telah menembusi hutan menyoroti si bocah yang berada disana seorang diri. ia sedang mendekan diatas tubuh nenek tersebut sambil menangis tersedu-sedu.

"Thio popo... Thio popo... " gugamnya terus menerus.

-ooo)(00000)(000-

BUKIT CIAT THIAN Hong menjulang tinggi keangkasa dan berdiri angker diantara bukit-bukit yang lain.

Waktu itu matahari sudah tenggelam kelangit barat mendatangkan sinar yang kemerah-merahan, kemudian awan gelappun mendekati tanah perbukitan itu dan menyelimuti seluruh jagad.

Tebing Goan Gwat Peng berbentuk sebuah topi yang datar menutupi puncak Ciat Thian Hong.

Diatas tanah datar tersebut duduk berkerumun beberapa orang, ada yg berdiri, ada yang berbincang bincang, ada pula yang sedang memandang ketempat kejauhan.

Tiba tiba dari tanah datar dipuncak bukit itu berkumandang datang dua kali pekikan nyaring, menyusul kemudian tampak dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan seperti angin puyuh melayang turun di atas tanah datar itu, gerakannya cepat dan mengagumkan sekali.

Bayangan manusia itu seperti dari seorang pria dan seorang wanita, usia mereka diantara tiga empat puluh tahunan

Begitu tiba ditempat tujuan, mereka mengawasi sekejap sekeliling tempat itu. kemudian si pria berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Haaahhh. . . haaahhh. . Haaabbh rupanya

kalian sudah berdatangan lebih awal, aaiii ... tiga orang saudara dari bukit Tiang pek san-pun telah jauh-jauh berangkat kemari, sungguh tak kusangka, oooh .... masih ada Kang pangcu dari sungai kuning juga telah datang selamat

berjumpa, selamat bejumpa. rasanya tidak sia-sia perjalanan aku orang she Siau hari ini"

Selesai berkata dia lantas menyalami setiap orang yang hadir disana dan mengajaknya berbincang-bincang sebentar. Sementara itu, seorang kakek berambut putih telah datang menghampiri kedua orang itu, lalu sambil menjura katanya. "Siau tayhiap berdua telah datang terlambat, membuat

kami harus menunggu dengan cemas, sewaktu datang tadi apakah kalian berdua telah melihat dia?" Orang yang berbicara tadi adalah Pangcu dari perkumpulan Tiang Ciau Pang disungai kuning Kang Hong Siang adanya. dia berusia tujuh puluh tahun dan mempunyai anak buah  sebanyak ribuan orang lebih. boleh dibilang perkumpulannya merupakan perkumpulan paling besar, paling tangguh dan paling berpengaruh didalam dunia persilatan dewasa ini.

Lelaki she Siau itu segera tertawa ter-bahak2, "Haaaahh haaah haaah .. tampaknya Kang tangkeh

seorang yang terburu napsu, kalau waktunya belum sampai, mana mungkin dia akan datang lebih awal? Lagi pula malam ini kita telah menanti kedatangannya disini, apakah kita mesti kuatir dia lagi kelangit?"

Ternyata sepasang suami istri ini adalah Bi Kun Lun (Kun lun indah) Sian Wie Goan dan Siau Hu Yong(Hu Yong  Tertawa) Chin lan eng dua orang jago yang dianggap sebagai pemimpin dunia persilatan dewasa ini.

Dalam pada itu, rembulan sudah berada di angkasa membuat suasana diatas tanah datar dipuncak bukit itu nampak agak terang, semua orang segera berkumpul ke tengah lapangan tersebut.

Bi Kunlun Siau Wie Goan mendongakkan kepalanya memandang waktu, kemudian ujarnya dengan wajah berseri:

"Waktunya sudah tiba, murgkin orang She Wan akan mengingkari janjinya.."

Belum selesai dia berkata, mendadak dari tengah udara telah berkumandang datang suara pekikan panjang yang amat nyaring....

Mendengar pekikan tersebut, semua orang menjadi tertegun, pada saat itulah tampak sesosok bayangan hitam secepat kilat telah meluncur ditengah udara lalu melayang turun ke tanah. Serta merta semua orang mundur beberapa langkah dengan terperanjat. Dengan manisnya orang itu segera melayang turun ke atas permukaan tanah.

"Haaahhh... haaahhh . .. haaahhh . . . aku orang she Wan sudah datang terlambat, bila kalian harus menunggu agak lama, harap suka dimaafkan" katanya lantang.

Rupanya orang yang baru datang itu adalah si busu berusia pertengahan Wan Liang.

Tampak sekulum senyum, menghiasi bibirnya. Dia berdiri ditengah arena dengan angkuh dan mengawasi setiap orang disekitar arena dengan pandangan tajam, akhirnya sorot mata tersebut berhenti diatas tubuh Bi Kun-lun Siauw Wie Goan.

Mendadak paras mukanya berubah menjadi amat serius, katanya sambil tertawa dingin :

"Hmm. ...hmm.....sudah kuduga kalau permainan ini merupakan sandiwara hasil ciptaanmu, Siau Wie Goan, kuberitahu kepadamu, aku Wan Liang bersikap cukup baik kepadamu, menganggap kau sebagai saudara sendiri siapa tahu kau si manusia munafik berwajah manusia berhati binatang, apa maksudmu merusak nama baikku? Bahkan pada hari ini telah mengundang jago-jago dari golongan putih dan golongan hitam untuk menungguku disini, masa kau anggap aku tidak tahu kalau tujuanmu adalah menginginkan batok kepalaku ini....? Hm, sekarang aku orang she Wan sudah datang memenuhi janji, akan kulihat permainan setan macam apa lagi yang bisa kau tunjukkan kepadaku?"

Sekulum senyuman manis selalu saja menghiasi ujung bibir Bi Kun Lun Siau Wie Goan, katanya dengan santai :

"Saudara Wan, kau salah paham, berbicara dari hubungan persahabatan kita ini, masa aku tega melakukan perbuatan semacam ini kepadamu? Tindak tandukmu itu hanya dalam hati kecilmu yang tahu, sekalipun aku Siau Wie Goan ingin melindungi dirimu juga tidak mungkin bisa mewujudkan keinginanku tersebut ..." 

Mendengar perkataan itu, Wan Liang menjadi gusar sekali sehingga dari balik matanya memancar cahaya berapi api  yang penuh diliputi kegusaran, sambil menggigit bibir serunya

"Siau Wie Goan, kau merampas cinta dan menjebak  temanmu itu ketempat yang memalukan, bahkan secara diam diam menghubungi kawanan jago dari golongan hitam dan putih untuk bersama sama menyerang diriku, sekarang masih bisanya mengucapkan kata kata yang sok gagah, hmm ... kau anggap aku orang she Wan adalah seorang bocah berusia tiga tahun yang bisa kau tipu mentah mentah "

Belum habis dia berkata. Bi Kun Lun Siau Wie-Goan telah menimbrung lagi:

"Sekarang sudah bukan saatnya berdebat mempersoalkan masalah itu lagi, malam ini begitu banyak teman yang telah berada disini, mereka sudah menunggu dengan tak sabar. sedangkan aku orang she Siau cuma kebetulan saja ikut menghadiri pertemuan ini, bila kau merasa ada persoalan, sampaikan saja kepada mereka!"

Setelah berhenti sebentar, dengan wajah penuh senyuman dia melanjutkan: "Wan heng, mari ku perkenalkan beberapa orang teman kepadamu, dia adalah Kang pangcu, ketiga orang bersaudara itu datang dari Tiang Pek San, dan dia ini adalah ketua Go Bi Pay "

"Aku orang she Wan sudah tahu.terima kasih banyak atas perkenalanmu, aku she Wan sudah lama mengenal mereka, buat apa kita mesti banyak berbicara lagi."

Lotoa dari Tiang Pek Sam Sat(Tiga Malaikat bengis dari Tiang Pek San) Li Gi segera tertawa dingin tiada hentinya, lalu berkata:

"Bagus, bagus... tampaknya ucapan dari jago pedang angin puyuh memang cukup cepat dan tegas. nama besarmu bukan cuma nama kosong belaka. jauh-jauh kami datang kemari tentu saja bukan dikarenakan ingin bersilat lidah belaka. mari biar aku orang she Li yang mencoba kepandaian silatmu lebih dulu."

Selesai berkata ia lantas meloloskan sebilah golok dan bersiap siap untuk melancarkan serangan.

Kit Hong Kiam Khek Wan Li cukup sadar akan keadaan   yang dihadapinya, selesai itu diapun telah bertekad untuk menghadapi masalah tersebut dengan pertaruhan selembar jiwanya. maka begitu dilihatnya Lotoa dari Tiang Pek Sam Sat, si bintang berkepala sembilan Li Gi telah meloloskan senjatanya tanpa sungkan sungkan lagi diapun segera mencabut keluar pedang Kit Hong Kiam yang tersoren dibelakang punggungnya.

Terdengar suara dentingan yang amat nyaring menggema memecahkan keheningan menyusul kemudian terlihat cahaya biru memancar ke empat penjuru.

Si Bintang berkepala sembilan logi segera meloloskan pedangnya daridalam sarung kemudia serunya tertawa:

"Pedang bagus!"

Setelah memegang senjatanya, Kit Hong Kiam khek Wan Liang segera menggetar pelan senjata mestikanya itu, ditengah udara segera muncul tiga kuntum bunga pedang yang menyilaukan mata.

Demonstrasi jurus Bwe Hoa Sam Long (Tiga Kuntum Bunga Bwee melompat) tersebut dengan cepat memancing pujian semua orang.

Sebenarnya tujuan dari Kit Hong Kiam Khek Wan Liang bukan untuk memamerkan kepandaiannya, tapi kejadian ini justru telah membangkitkan amarah dari bintang berkepala sembilan Li Gi.

Tampak sepasang matanya melotot besar dengan memancarkan cahaya kebuasan. ditatapnya wajah Kit Hong Kiam Khek Wan Liang dengan penuh kegusaran, kemudian sambil tertawa seram katanya,

"Orang she Wan, lebih baik jangan menjual lagak lagi disini. mari kita tentukan kemampuan kita diujung senjata!"

Begitu selesai berkata, goloknya segera diputar kencang, lalu membacok ketubuh Kit Hong Kiam Khek Wan Liang dengan mempergunakan jurus Soat Kay Hoan-San (salju menyelimut Hoa san).

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang merupakan seorang tokoh sakti dalam dunia persilatan dewasa ini, ilmu pedangnya sangat lihay sekali, meski belum sampai setahun dia terjun kedalam dunia persilatan, akan tetapi nama besarnya telah menggetarkan seluruh kolong langit.

Ilmu pedangnya yang telah mencapai puncak kesempurnaan itu boleh dibilang merupakan seorang jago pedang paling tangguh selama seratus tahun belakangan ini.

Ketika dilihatnya golok Kiu Tau Siu Li Gi membacok datang, sambil mendengus dingin dia miringkan kepalanya kesamping dan mengegos dari ancaman tersebut, kemudian dengan cekatan dia mundur sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.

"Li tangkeh!" ujarnya dengan lantang, "kalau hanya mengandalkan kemampuanmu seorang masih ketinggalan jauh sekali, mengapa kalian bertiga tidak maju bersama sama saja?"

Cemoohan yang bernada mengejek ini kontan saja  membuat paras muka Kiu tau siu Li Gi menjadi merah padam. kegusarannya makin membara, bentaknya keras :

"Keparat she Wan, serahkan selembar jiwa anjingmu!"

Seusai bekata bagaikan anjing gila dia menubruk kedepan. goloknya diayun ke udara dan membacok batok kepala Kit Hong Kiam Khek Wan Liang secara keji. Pada saat itulah dari dalam arena kembali melompat keluar dua sosok bayangan manusia sambil mengayun golok masing masing. mereka menyerang Kit Hong Kiam Khek secara ganas.

Tak bisa disangkal lagi, kedua orang itu bukan lain adalah loji dan losam dari Tiang Pek Sam Sat, Pia Mia Siu(Binatang beradu jiwa )Li Khing, dan Liat hwe Siu(binatang berangasan) Li Hiong.

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang menjadi girang. setelah dilihatnya ketiga orang itu turun tangan bersama, tanpa terasa ia mendongakan kepalanya dan berpekik nyaring, menyusul kemudian sambil menerjang kemuka, dia mengembangkan permainan ilmu pedang Kit Hong Kiam Hoatnya untuk melancarkan serangan balasan.

Tiang Pek Sam Sat bukan manusia sembarangan. mereka sudah terkenal dalam dunia persilatan, sudah banyak kejahatan yang mereka lakukan, kekejamannya bukan kepalang, tak sedikit manusia yang tewas ditangan mereka.

Dalam kalangan Liok lim, mereka dikenal sebagai jago kelas satu yang disegani banyak orang, Akan tetapi bila dibandingkan dengan kehebatan Kit Hong Kiam khek, maka kemampuan mereka itu boleh dibilang masih selisih jauh sekali.

Tak selang berapa saat kemudian, empat orang yang berada diarena pertarungan itu sudah saling bergebrak sebanyak sepuluh gebrakan lebih.

Mendadak Tiang Pek Sam Sat berpekik aneh, tubuh mereka melejit setinggi satu kaki lebih, kemudian dengan membentuk satu garis, tiga bilah golok mereka dengan posisi segitiga, terbagi menjadi atas, kiri dan kanan bagaikan sebuah jalan mengurung tubuh Kit Hong Kiam Khek.

Menghadapi ancaman tersebut, Kit Hong Kiam khek Wan Liang mendengus dingin, dengan jurus Ki-hwee liau-thian (mengangkat obor membakar langit) pedangnya diangkat diatas kepala.sepasang matanya mengawasi ketiga kuntum bunga golok yang meluncur tiba dari tengah angkasa itu dengan seksama ....

Dengan kecepatan bagaikan sambaran petir ketiga kuntum bunga golok yang meluncur datang dari tengah angkasa itu telah tiba dalam sekejap mata . ...

Traaaang benturan senjata yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan, menyusul kemudian terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati bergema, bayangan manusia segera berpisah, loji dari Tiang Pek Sam Sat, si binatang beradu jiwa Li Kheng telah terkapar ditanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Dan sebaliknya si binatang berkepala sembilan Li Gi dan si binatang berangan Li Hong segera melejit kesamping untuk menghindarkan diri, kemudian tanpa berpaling lagi mereka kabur menyematkan diri dari tempat tersebut.

Sehabis melukai ketiga orang lawannya Itu, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang berdiri tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, ia berdiri ditempat dengan senyum dikulum, lalu sambil tersenyum tegurnya :

"Sekarang, tiba giliran siapa"

Bi Kun lun Siau Wie Goan maju dua langkah kedepan, lalu sahutnya sambil tertawa seram :

"Atas kesudian beberapa orang sahabat yang hadir di arena malam ini untuk mempercayai diriku, aku telah diangkat menjadi pemimpin mereka sesungguhnya tujuan kami mengundang kehadiran saudara Wan kemari, tak lain adalah berharap kau suka meluluskan satu permintaan kami."

"Apakah permintaan kalian itu?" tanya Kit Hong Kiam Khek Wan Liong sambil tertawa dingin.

"Minta kepadamu untuk selamanya mengundurkan diri dari dunia persilatan..." jawab Bi Kun Lun Siau Wie Goan tegas.

"Kalau tidak . . ?" Wan Liang balik bertanya 

"Terpaksa aku harus berbuat kasar kepadamu" Baru selesai Bi Kun Lun Siau Wie-Goan mengutarakan kata katanya, Siau Hu Yong Cian Lan Eng yong berada disampingnya telah menukas dengan wajah sedingin es

"Wie-Goan buat apa banyak bicara dengannya, waktu sudah tidak pagi lagi."

Begitu mendengar ucapan tersebut, seketika itu juga Kit Hong Kiam Khek merasakan sorot matanya memancarkan cahaya berapi, dia tak menyangka kalau kekasih yang dicintainya, kini telah berubah menjadi seorang manusia sekeji ini.

Tak tahan lagi, akhirnya dia mencaci maki dengan penuh kegusaran :

"Perempuan rendah, . sekalipun sudah menjadi setan, aku orang she Wan ingin mendahar darah dan dagingmu!"

Siau Hu yong Chin Lan Eng segera tertawa terkekeh-kekeh dengan jalangnya :

"Heehh... . heeehhh. ,.. Wan tayhiap yang sok suci dan sok gagah, memangnya kau anggap bisa menelan aku Lan eng dengan begitu saja ? Malam ini, bila kau bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamatpun sudah merupakan suatu kemujuran bagimu"

Saking marahnya Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sempat tertawa nyaring, suaranya ibarat monyet monyet di selat Wi sia yang berpekik bersama, suaranya penuh kepedihan. kesedihan, seperti menjerit, seperti menangis, mengerikan sekali kedengarannya.

Begitu selesai tertawa, mendadak ia melotot besar, mencorong sinar tajam dari balik matanya, sambil menggertak gigi bentaknya.

"Aku orang she Wan tidak percaya kalau kau si perempuan rendah bisa memiliki kemampuan untuk menahanku disini, malam ini aku orang she Wan datang dengan membawa tekad untuk beradu jiwa, tapi setelah mendengar perkataan itu, aku orang she Wan justru tak akan mati, ingin kulihat apa yang bisa kau lakukan terhadap diriku?"

Baru selesai Kit Hong Kiam Khek Wan Liang berkata, mendadak terdengar suara seseorang yang tua tapi nyaring bergema datang.

"Omitohud!"

Dari sudut tanah lapang itu pelan pelan berjalan mendekat seorang pendeta tua.

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang segera berpaling sekejap ke arahnya, ternyata orang itu adalah Leng Kong taysu, ciangbujin dari partai Go bi .. ..

Dengan langkah pelan Leng kHong toysu berjalan ketengah arena, kemudian tegurnya:

"Wan tayhiap, sejak berpisah baik baikkah kau? Mengingat hubungan persahabatan kita selama beberapa tahun, pinceng ingin menasehatimu dengan sepatah kata: Turutilah anjuran dari Siau tayhiap, sejak detik ini mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dan jangAn muncul kembali dalam keramaian dunia!"

"Mengapa? Persoalan dari aku orang she Wan hanya aku sendiri yang bisa memutuskan. Hari ini, mengapa taysu malah berkomplot dengan kaum munafik untuk menghadapi aku?"

Malam ini, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sudah cukup menyadari akan situasi yang dihadapinya, diapun tahu kesalahan pahaman umat persilatan kepadanya tak mungkin bisa dijelaskan dalam sepatah kata saja, oleh karena itu sikap maupun caranya berbicara pun turut berubah menjadi agak keras dan ketus.

Tapi dengan demikian. hal ini justru telah telah membangkitkan kemarahan umum dari semua jago lihay yang berkumpul diarena hari ini. Belum sempat Leng KHong taysu menjawab pertanyaan itu, ketua Tiang Ciu Pang dari sungai kuning Kang Hong Siang telah membentak dengan penuh kegusaran:

"Orang she Wan, yakinkah kau dapat mengundurkan diri dengan selamat..?"

"Soal ini tidak perlu kau risaukan!" jawab Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sinis.

"Bagus sekali!" ketua Tiang ciau pang Kang-Hong Siang tertawa lebar, "rupanya kau orang she Wan, seorang manusia tak tahu diri, hm... kau anggap kepandaian yang kau miliki sudah terhitung sangat liehay? Siapa tahu lohu dapat memenuhi harapanmu itu".

Begitu selesai berkata dia segera menggerakkan sepasang bahunya dan bergerak kedepan dengan kecepatan luar biasa, belum tiba pada sasarannya, sebuah pukulan dahsyat yang disertai desingan angin tajam telah di lontarkan keatas tubuh Kit Hong Kiam Khek.

Sebelum peristiwa ini, antara Kang Hong Siang dan Wan Liang memang sudah pernah terikat oleh suatu perselisihan, kin begitu musuh besar saling bertemu,tanpa terasa lagi Padam seluruh wajahnya, tanpa banyak berbicara lagi pertarungan sengit segera berkobar.

Padahal keadaan seperti ini justru merupakan apa yang dihadapkan oleh Kit Hong Kiam Khek Wan Liang, sebab berbicara soal kemampuan. dia masih sanggup untuk mengungguli setiap orang yang hadir diarena bila pertarungan dilangsungkan satu lawan satu.

Tapi orang kuno pernah berkata. Sepasang tangan susah menghadapi empat tangan, hohan sukar menahan kerubutan orang banyak Andai kata belasan orang jago lihay yang hadir sekarang menyerang bersama sama, betapapun lihaynya ilmu silat yang dimiiki Kit Hong Kiam Khek Wan Lang, toh lebih banyak ancaman bahayanya daripada keuntungan. Maka diapun segera menggunakan sistim memecah belah kekuatan lawan untuk mengobarkan kemarahan mereka satu demi satu, kemudian membereskan pula mereka satu demi satu, sehingga dengan demikian, akan makin melemah kekuatan lawannya.

Tatkala serangan dari Kang Hong Siang di lancarkan datang, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang juga tak sungkan sungkan lagi, pedang mustikanya segera diayunkan ke udara membentuk serentetan bianglala yang amat menyilaukan mata, lalu dengan Jurus Khong Ciok Say "burung merak mementangkan sayap" pedangnya membuat selapis kabut pedang yang tebal untuk membendung lebih dulu ancaman dahsyat lawan, setelah itu sambil berpekik nyaring tubuh berikut pedangnya melebur menjadi satu mulai mengembangkan permainan ilmu pedang Kit Hong Kiam hoat yang telah didalaminya selama dua puluh tahunan itu.

"Sreeet, sreseet, sreeet....." tiga buah serangan berantai di lancarkan secara beruntun memaksa Kang pangcu yang menjagoi sungai Huang Ho ini terdesak mundur sejauh satu kaki-

Belum lagi dirinya berdiri tegak, suatu pekikan nyaring kembali berkumandang, pedangnya dengan menciptakan selapis cahaya tajam langsung membabat batok kepala Kang Hong Siang dengan 'Liu tian ciau ka' "kilat dan guntur menjadi satu".

Pada hakekatnya serangan tersebut dilancarkan dengan kecePatan yang amat sukar diikuti dengan pandangan mata, mimpipun Kang Hong Siang tidak mengira kalau ilmu pedang Kit Hong Kiam yang amat termashur itu mengandung jurus ampuh yang mematikan.

Menanti ia menyadari tibanya cahaya biru didepan mata, keadaan sudah terlambat, tanap terasa ia menjerit kaget:

"Habislah riwayat ku kali ini!" dengan cepat ia memejamkan matanya menantikan datangnya kematian.

Di saat yang kritis itu. mendadak dari tengah arena meluncur dua sosok bayangan hitam kemudian menyusul dari arena itu berkumandanglah suara bentrokan senjata yang amat nyaring...

Tiba tiba saja Kang Hong Siang merasakan munculnya segulung angin pukulan yang dahsyat itu menghantarnya keluar dari arena dan jatuh terkapar ditanah.

Menanti dia dapat kembali, tampaklah Leng Khong toysu  dan Bi Kun Lun Siau Wie Goan telah menyelamatkan selembar jiwanya barusan.

sementara itu, Bi Kun Lun Siau Wie Goan telah menjadi naik pitam, dia itu lantas membentak dengan nyaring:

"Saudara sekalian malam ini dia tak boleh dibiarkan pergi lagi dalam keadaan hidup.:

Selesai berkata dia segera meloloskan pedang nya lebih dulu.

Kawanan jago lainnya juga meloloskan senjata masing masing, hanya Leng kong taysu, ketua dari Go bi pay saja  yang menggulung bajunya sehingga kelihatan lengannya yang kekar, ia tidak mempergunakan senjata tajam,.

Menyaksikan situasi  yang terbentang ada di  depan mata itu, seketika itu juga Kit Hong Kiam Khek Wan Liang  merasakan hatinya turut menjadi tegang, dia cukup tahu kalau kawanan jago yang hadir di arena sekarang terdiri dari jago jago golongan putih maupun hitam, sebagian besar jago jago itu merupakan kelas satu dalam dunia persilatan, bukan   berarti suatu pekerjaan gampang untuk melarikan diri dari kepungan dengan selamat. Tampak sorot matanya itu terakhir berhenti diatas tubuh Bi Kun Lun Siau Wie Goan, dibalik sorot matanya itu terpancar keluar rasa benci dan dendam yang amat tebal.

Selama ini Bi Kun Lun Siau Wie Goan hanya tertawa dingin tiada hentinya, sedang istrinya Siau Hu Yong Chi Lan Eng tertawa jalang, tampaknya mereka sengaja berbuat demikian untuk membangkitkan kemarahan dari Kit Hong Kiam Khek Wan Liang agar lebih cepat turun tangan untuk menentukan mati hidup mereka.

Benar juga, Kit Hong Kiam Khek segera masuk perangkap, dengan sorot mata yang berapi-api seperti binatang buas. dia memandang ke kiri kanan dengan garangnya, persis seperti seekor harimau yang sedang mengincar mangsanya.

Anehnya, sekalipun kawan jago tersebut sudah begitu lama melakukan pengepungan, namun tak seorangpun diantara mereka yang maju untuk melancarkan serangan

Tapi hal inipun tak bisa disalahkan. Kit Hong Kiam Khek  Wan Liang sudah termashur dipersilatan sebagai seorang jagoan yang amat dahsyat. bagaimanapun banyaknya kawanan jago yang mengurungnya, tak urung mereka dibikin tercekat juga oleh kegagahan lawannya.

It ci hoa kim (pedang satu huruf) Yu liang gi dari Thian cong pay tak dapat menahan sabarnya lagi, mendadak ia membentak keras.

"Apalagi yang mesti dinantikan?"

Begitu selesai berkata (bunga kuncup baru mekar), kemudian dengan membawa sambaran angin tajam membacok tubuh Wan Liang.

Begitu It Ci hoa Kiam Yu liang gi mempelopori serangan tersebut, To gan sinkun (malaikat sakti bermata tunggal) Cong Eng hui yang berada disebelah kanannya segera  menggerakkan senjata andalannya Siang coa kou (sepasang kaitan ular) untuk menyerang Kit Hong Kiam Khek. Begitu dua orang itu sudah melibatkan diri dalam pertempuran, serentak puluhan orang jago lihay lainnya turut melepaskan pula serangan-serangan.

Walaupun Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sudah bertekad untuk melangsungkan pertarungan sengit, setelah menyaksikan kejadian itu, tak urung naik pitam juga dibuatnya, dia segera membentak gusar: "Bedebah, kalian benar-benar tak tahu malu !"

Pedang Kit Hong Kiamnya segera berubah dengan jurus  Ban Hong jut ciau (selaksa lebah keluar sarang), secepat kilat dia menerjang It ci hoa Kiam Yu Liang Gi, tapi sampai ditengah jalan, nendadak dia marubah jurus serangannnya menjadi Thian ho ta sia (sungai langit tumpah kebawah) dengan kecepatan tinggi ia berganti menususk pergelangan tangan dari To Gan sinkun Cong Eng hui.

Jurus serangan ini sekilas pandangan seperti terdiri dari dua gerakan, padahal diantara maju mundurnya terbentuk selapis cahaya tajam yang bersambungan,

It-ci hoa-Kiam Yu Liang gi. si jagoan pedang dari Thiamcong-pay itu segera merasakan pandangan matanya menjadi kabur, sementara dia mundur dengan gugup, pedang sakti dari

Kit Hong Kiam Khek telah berganti arah mengancam To gan-sinkun.

Dipihak lain To Gan sinkun Cong Eng hui mimpipun tak pernah menduga kalau Kit Hong Kiam Khek bakal mempergunakan taktik suara ditimur menyerang kebara unutk memperdaya dirinya, menanti desingan angin pedang sudah tiba didepan badan, untuk menghindar tak sempat lagi.

Tahu tahu ujung pedang Wan Liang secepat kilat sudah menyambar diatas pergelangan tangannya secara telak.

Mendadak terdengar To gan sinkun Cong Eng hui menjerit keras, tubuhnya mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, sambil memegangi pergelangan tangannya yang terluka dia mengundurkan diri dari arena pertarungan.

Beberapa macam gerakan itu dilakukan dalam waktu singkat, meski panjang untuk diceritakan. padahal kecepatannya ibarat sambaran cahaya berkilat saja.

Dalam waktu singkat seluruh arena telah diliputi kilatan golok dan pedang serta suara teriakan yang memekakan telinga, diantaranya terdengar beberapa kali jeritan ngeri serta teriakan kesakitan.

Dalam sekejap mata, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang telah dikepung musuh dari empat penjuru, semua musuh yang dihadapinya rata rata merupakan jagoan kelas satu, walaupun ia sudah mengerahkan segenap kepandaian yang dimilikinya untuk melawan, namun setiap saat dia mesti menghadapi rintangan yang cukup berat.

Betul dia tangguh dan berilmu tinggi, tapi mungkinkah dia untuk menghadapi kerubutuan puluhan orang sekaligus.

Ternyata Bi Kun Lun siau Wie Goan cukup licik, setiap kali melancarkan serangan dia selalu meninggalkan beberapa bagian tenaga murninya. sikap tersebut seakan-akan hendak memberi kesempatan bagi Kit Hong Kiam Khek untuk mengatur naps, tapi bagi pandangan orang yang pintar maka tindakan semacam ini justru menunjukkan kelicikan, seakanakan dia merasa tidak puas sebelum menyaksikan Wan Liang mati kelelahan dan kehabisan tenaga.

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang cukup memahami keadaan tersebut, maka diapun khusus mencari Siau Wie Goan sebagai sasarannya, jurus serangan demi jurus serangan semuanya dibacokkan ketubuh Bi kun lun.

Tak selang setengah perminum teh kemudian sekujur

badan Kit Hong Kiam Khek sudah penuh dengan luka bacokan

, darah segar telah membasahi seluruh badannya, namun dia masih tetap melawan dengan gagah beraninya. 

Siau Hu Yong Chin Lan Eng katanya saja turut ambil bagian dalam kerubutan tersebut, tapi dia lebih tepat kalau dibilang membantu mencaci maki.

Perempuan jalang yang tak tahu malu ini sembari melancarkan serangan, ia selalu melontarkan kata kata cemoohan dengan kata yang kotor dan cabul untuk merangsang kegusaran Wan Liang.

Bahkan boleh dibilang setiap kata yang diucapkan olehnya terasa bagiakan sebilah pisau yang menembusi perasan Wan Liang, membuat ia merasa amat menderita.

Begitulah disamping harus melakukan perlawanan matimatian terhadap ancaman yang datang dari kawanan jago lihay, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang juga harus menaan sakit hatinya akibat cemoohan orang, batinnya mengalami penderitaan, siksaan yang amat sangat ini membuat jago tua ini teringat untuk mati.

Tapi baru saja ingatan untuk mati melintas didalam benaknya, napsu untuk hidup serta bara api dendam yang membara dalam bati semakin berkobar, dengan cepat ingatan mana melintas dalam benaknya, diam-diam dia pun berpikir :

"Aku tak boleh mati, bagaimanapun juga aku harus tetap hidup lebih lanjut !"

Begitu ingatan mana melintas lewat, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya sambil berpekik nyaring, segenap sisa tenaga dalam yang di milikinya dihimpan menjadi satu, dengan mennjejakkan kakinya ketanah. Dia melambung tinggi dua kaki lebih ke tengah udara, kemudian berjumpalitan, pedang menciptakan berkuntum bunga pedang yang bagaikan hujan gerimis menyelimuti tubuh semua orang. Waktu itu para jago bertarung dengan penuh napsu, menyaksikan ia melambung keudara. serentak semua orang mengangkat goloknya ke atas pula.

"Omitohud" seru Leng Khong taysu dari Go Bi Pay menyusul dibelakang tubuh Wan Liang, dia melejit pula ketengah udara sambil melancarkan sebuah pukulan.

Bila digencet dari atas dan bawah, bagaimanapun lihaynya ilmu silat yang kau miliki, rasanya sulit juga untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Kit liong-Kiam-kek Wan Liang memang cukup lihay, tubuhnya yang baru melesat sejauh satu kaki dari permukaan tanah itu mendadak menghentikan gerakan badannya, lalu dengan ilmunya Sia Khong Teng sin (Menghentikan badan ditengah udara) dia menahan gerakan tubuhnya, kemudian pedanga yang sebenarnya hendak membacok kebawah itu diangkat keatas secara tiba-tiba.

Dengan meringankan tubuh Liu Im ti (Tangga awan berjalan) yang amat liehay itu, tubuhnya melejit keudara, saat itulah dia bertemu dengan sergapan yang dilepaskan Leng Khong taysu dari atas kebawah.

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sangat membenci kawanan jago silat yang menganggap dirinya pendekar tapi kenyataannya berbuat sewewenang wenang, tanpa berpikir panjang lagi pedangnya dengan manggunakan jurus Thian khong lui hee (guntur menggelegar dari tengah angkasa) langsung membabat sepasang kaki Leng Kong taysu.

Kasihan Leng khong taysu yang terlalu memandang enteng lawannya itu, tatkala menyaksikan pedang saktinya menyambar kebawah, tubuhnya sudah tak sanggup lagi untuk melejit keudara.

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan. kaki Leng Hong taysu tahu-tahu sudah terpapas kutung menjadi dua bagian, orangnya pun segera ribih terkapar keatas tanah dan jatuh tak sadarkan diri.

Bi Kun Lun Siau Wie Goan yang pertama menemukan peristiwa ini, sambil membentak gusar tubuh berikut pedangnya segera melebur menjadi satu, kemudian meluncur kearah mana Kit Hong Kiam Khek terjatuh tadi.

Sayang keadaan sudah terlambat. tubuh Kit Hong Kiam Khek telah lenyap dibawah tebing Goan Gwat Peng tersebut.

-Bagian Pertama-

SENJA TELAH menjelang tiba, matahari sore dengan membawa sisa cahayanya telah bersembunyi dibalik bukit, angin berhembus kencang menggugurkan dedaunan yang mengering.

Dalam suasana beginilah, lamat lamat terdengar suara derap kaki kuda yang lemah diiringi suara gemerisik berkumandang datang diri bawah bukit sana ....

Tak lama kemudian, dari balik tikungan bukit muncul   seekor kuda kurus yang bernafas memburu dan tubuh penuh dengan pasir, di-atas kuda tadi duduk seorang lelaki setengah umur yang berpakaian dengan warna luntur. sebilah pedang antik tersoren dipinggangnya, tapi wajahnya murung dan sedih. .

Dengan termangu dia duduk diatas pelana sambil membawa sinar mata ke tempat sana.

Dalam pangkuannya sebelah depan duduk pula bocah berumur lima, enam tahun yang berwajah tampan dengan bibir yang merah serta dua baris gigi berwarna putih.

Kuda itu, dengan susah payah berjalan maju ke depan. Mendadak terdengar bunyi burung yang ber-kaok kaok, ketika lelaki setengah umur itu mendongakkan kepalanya

tampaklah seekor burung gagak sedang bertengger diatas dahan sambil berbunyi tiada hentinya. 

Dengan rasa segan lelaki setengah umur itu menarik kembali sinar matanya yang sayu, kemudian tertawa dingin, gumamnya:

"Binatang sialan, kaupun dapat mewartakan suasana murung bagi diriku "

Tiba tiba kuda kurus itu terkulai lemas dan roboh terkapar keatas tanah ....

Dengan tubuh terkejut lelaki setengah umur itu menyambut tubuh si bocah dan melompat turun dari atas pelana.

Sungguh cepat gerakan tubuhnya, tampak bayangan abu abu berkelebat lewat, lelaki setengah umur itu sudah melayang turun ke atas tanah.

Tangannya yang satu menahan tali lesnya, sementara tangan yang lain mengelus bulu surai kuda tersebut sambil ujarnya dengan penuh perhatian :

"Siau hek, kau terlalu lelah, mari kita istirahat sebentar, menanti kesehatan tubuhmu sudah pulih kembali kita baru lanjutkan perjalanan ini "

"Aaai... kau pasti akan menggerutu kepada ku sebagai majikan yang tak pernah memikirkan tentang dirimu, padahal aku sendiri pun merasa murung dan sedih, coba bayangkan, Hanya setahun, dalam setahun yang singkat, kau dan aku telah berubah ... bukankah begitu? Siau hek "

Kuda kurus yang bernama "Siau hek" itu seakan akan mengerti dengan perkataan dari majikannya, dia meringkik tiada hentinya seperti lagi menghela nafas.

Lelaki berusia pertengahan itu segers menepuk nepuk leher si kuda menitahkan kepadanya untuk beristirahat. lalu sambil duduk di sampingnya, dengan penuh kasih sayang dia membelai bulu surai kuda itu seraya katanya-

"Kau bertambah kurus Siau hek, untung kau dan aku tak usah menempuh badai lagi. teringat tahun berselang, kita masih termasyur sampai dimana-mana, kapankah kita pernah menjadi anjinga yang dikejar kejar orang? Apakah inilah balas jasa yang harus kita terima bagi perjuangan kita selama sepuluh tahun?"

Gumamam tersebut segera menyentuh perasaan sedih

yang mencekam perasaan lelaki setengah umur itu, dia separti merasakan tekanan batin yang amat hebat tapi tak sanggup untuk mengutarakannya keluar, selesai berkata ternyata dia mendekam diatas tengkuk si Siau hek dan menangis tersedu sedu ....

Air mata yang panas meleleh keluar membasahi pipinya dan menembusi pakaiannya, tiap air mata berarti setetes darah, suatu persoalan.

Yaa, selama sepuluh tahun berjuang, menanamkan kebaikan dan kebajikan bagi manusia tapi hasil yang diperolehnya hanya cemoohan dan dendam kesumat, bahkan kekasih yang di cintai bagaikan nyawa sendiripun telah meninggalkan pelukannya berpindah ke pelukan orang-lain.

Yang lebih mengenaskan lagi adalah ia lari ke dalam   pelukan seorang lelaki yang sebetulnya merupakan sobat karib yang dianggap bagaikan saudara kandung sendiri, tak heran kalau dia jadi sedih dan melelehkan air mata.

"Hayo bangun Siau hek! Kita sudah hidup miskin dan terdesak, tiada sesuatu kenangan yang bisa diingat kembali"

Ucapan semacam itu entah sudah diulang beberapa kali, dan sslalu diucapkan dalam keadaan kecewa dan sedih

Siau hek segera menggerakkan lehernya sambil meringkik panjang, tiba tiba ia bangkit berdiri.

Mula mula lelaki itu membimbing bocah itu terlebih dulu, kemudian ia baru naik keatas punggung kudanya dan melanjutkan perjalanannya menelusuri jalan.

Waktu itu sudah bulan sembilan, angin musim gugur berhembus kencang menggugurkan dedaunan dan menggoyangkan dahan serta ranting, membuat suasana jadi bertambah suram dan gelap ....

Ditengah keheningan yang mencekam hanya ada derap kaki kuda serta deruan angin kencang yang membelah bumi, suasana semacam ini membuat pendekar itu merasa dirinya makin kesepian, makin terasing dari keramaian dunia.

Ternyata lelaki setengah umur itu tak lain adalah Kit Hong Kiam Khek Wan Liang yang pernah menggetarkan seluruh dunia.

Apakah dia benar benar telah mengundurkan diri dari keramaian dania persilatan?

Berapa tahun berselang, baik jago dari golongan putih maupun golongan hitam segera akan mengacungkan jempolnya bila menyinggung tentang Kit Hong Kiam Khek Wan Liang.

Tapi sekarang, apa sebabnya dia bisa berubah menjadi begitu mengenaskan dan menyedihkan?

Dia sesungguhnya lagi menghindarkan diri dari apa? Sedang menantikan apa?

Waktu itu, setelah dari tebing Koan jit peng Kit Hong Kiam Khek telah jatuh tak sadarkan diri.

Orang bilang: Siapa menanam kebaikan dia akan mendapat kebaikan Kit Hong Kiam Khek Wan Liang pernah menolong nyawa seorang bocah didalam sebuah hutan yang lebat, akhirnya selembar jiwanya ditolong pula oleh bocah kecil itu.

Ketika Kit Hong Kiam Khek Wan Liang tersadar kembali dari pingsannya dan melihat si bocah kecil yang duduk disampingnya, seketika itu juga keinginan untuk hidup segera tumbuh dalam hatinya, dia bertekad hendak hidup lebih jauh, bertekad hendak mencari kecepatan uniuk membalas dendam, membalas sakit hati. 

Maka sambil memaksakan diri dia mengambil obat dari sakunya, lalu menitahkan kepada bocah itu untuk mengobatinya.

Bocah itu adalah putra dari Suma Tiong-yu, seorang pembesar setia dari Pemerintah asa itu, selain cerdik juga berbakat bagus, oleh karena itu ia dapat melaksanakan perawatan yang baik untuk menyembuhkan luka dari lelaki tersebut.

Berhubung kedua orang itu sama sama hidup sebatang kara maka timbul perasaan simpatik diantara kedua belah pihak.

Kit-Hong-Kiam-kek Wan Liang merasa marah karena  difitnah orang dan dikucilkan dari dunia persilatan, sebaliknya Suma Thian-yu, si bocah itu telah kehilangan kedua orang tua nya dan tak punya tempat tinggal lagi.

Maka dari itu, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang segera mengambil keputusan untuk mengajaknya melakukan perjalanan bersama. Setelah beristirahat selama beberapa hari dibawah bukit Ciat thian Hong, sambil berusaha menghindarkan diri dari pengejaran Bi Kun Lun Siau Wie   Goan, diapun berusaha menyembuhkan luka nya.

Ternyata setelah sehat kembali, Kit Hong kiam Khek Wan Liang merasakan pukulan batin yang amat berat membuatnya berusaha untuk menghindarkan diri dari kenyataan, sering merasakan tersentuh hatinya dan sedih, padahal penderitaan yang dialaminya masih jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan apa yang diderita bocah kecil itu.

Suma Thian yu pernah bermaksud untuk belajar silat dari Kit Hong Kiam Khek Wan Liang namun permintaan itu ditolak olehnya. Perlu diketahui, selama hidupnya Kit Hong Kiam khek Wan Liang selalu terbenam dalam ilmu silat, maka masa depannya menjadi hancur tak karuan, sini dia merasa muak terhadap Segala macam perselisihan dau pembunuhan dalam dunia persilatan

Mengingat apa yang telah dialaminya selama ini, sudah tentu dia tak ingin menyaksikan bocah itu mengalami nasib yang sama seperti diri nya, tak heran kalau permintaan bocah itu di tolak tegas-tegas.

Waktu malam sudah kelam, angin berhembus kencang membuat suasana amat mengerikan.

Setelah melewati sebuah gunung yang tinggi, didepan muncul sebuah bukit kecil yang diliputi kabut tebal,lama sekali Kit Hong Kiam khek Wan Liang memperhatikan bukit tersebut, akhirnya dia bergumam lagi kepada si kuda Siau-hek

"Sudah sampai siau Hek, didepan sanalah bukit Gi Im Hong masih ingatkah kau? Enam tahun berselang aku pernah memberitahukan kepadamu dikemudian hari aku akan mengajaknya berdiam dibukit ini tak kusangka enam tahun kemudian, kami benar-benar telah kembali kesini, bukit Gi im hong masih tetap seperti dulu, tapi di. . ,"

Dengan sedih dia menghela napas panjang, semua kemurungan yang memenuhi dadanya selama inipun buyar mengikuti helaan napas tersebut.

Tanpa terasa bayangan tubuh Siau Hu yong Chin Lan eng melintas kembali dalam benaknya, wajahnya yang menawan, senyumnya yang manis, dan suaranya yang begitu merdu.

Sumpah setianya masih mendengung dalam telinganya,  cinta kasihnya yang dalam serasa masih menyelimuti dadanya, tanpa terasa Wan Liang menjadi melamun, terbuai oleh lamunan nya yang indah. Hingga burung gagak berbunyi memecahkan kesunyian, ia baru tersadar dari lamunannya

Puncak Gi Im Hong terletak dalam propinsi Oulam dalam deretan pegunungan Kil ih san, puncak itu menjulang tinggi ke angkasa dikelilingi banyak bukit lainnya.

"Rumah" dari Kit Hong Kiam Khek Wan Liang terletak dipunggung bukit terjal tersebut, yaitu didalam sebuah gua kuno yang dikelilingi oleh semak belukar.

Gua itu ditemukan Kit Hong Kiam Khek Wan Liang pada enam tahun berselang, ketika ia sedang menemani Siau hu yong Chin San eng berpesiar ketempat itu, waktu itu mereka telah bekerja keras hampir sebulan lamanya untuk mendandani gua itu, bahkan menyiapkan pula alat perlengkapan rumah tangga sebagai tempat mereka berdiam dikemudian hari.

Tapi, perubahan manusia sukar diduga siapa sangka enam tahun kemudian, yang datang kembali ke gua hanya seorang pendekar pedang yang murung dan sedih.

Yaa, siapakah yang dapat menduga perubahan nasib yang bakal menimpa dirinya ?

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang dengan mengajak Yu Ji dan kuda kurus menuju kedepan gua. ternyata ia tak berani masuk kedalam, semua benda yang berada disana hanya akan membangkitkan kenangan dan kesedihan di dalam hatinya saja.

Tiba didepan gua, lamat lamat Wan Liang mengendus bau harum tubuh dari kekasihnya, andaikata yang masuk kedalam rumahmereka sekarang adalah mereka berdua, tentu indah sekali suasananya ketika itu. . .Angin gunung berhembus kencang membuat Yu ji merasa kedinginan setengah mati, tanpa terasa dengan gigi beradu pintanya kepada Wan Liang; "Paman, aku kedinginan; bagaimana kalau kita imasuk untuk beristirahat ?"

Mendengar perkataan itu, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang baru tersentak bangun dari lamunannya.ia melirik sekejap kearah Yu ji, benar juga ia telah mengkerut menjadi satu dan gemetar tiada hentinya. Dengan perasaan hati yang kecut Wan Liang segera membawanya melompat turun dari atas kuda, dengan cepat ia menemukan tombol rahasia pembuka pintu, setelah mengikat kudanya didahan pohon, dia membopong bocah itu masuk kedalam gua.

Ruangan gua itu sangat luas, setelah melalui gerbang, mereka melewati sebuah lorong yang panjang satu kaki, didalam terdapat ruangan-ruangan gua yang terang benderang. pada langit-langit gua itu penuh terdapat mutiara yang digunakan sebagai alat penerang. 

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang segera menurunkan Suma Thian yu keatas tanah, kemudian melangkah masuk kedalam pintu sebelah kanan.

Baru saja melangkah maju setengah tindak, mendadak ia menjerit tertahan dengan penuh lain kaget:

"Haaaah?" Seperti orang kalap ia menerjang masuk keruang dalam.

Suma Thian yu dibikin tertegun oleh tindak tanduknya yang aneh itu, dia cepat memburu kedalam ruangan dan mengintip dengan rasa ingin tahu

Tampak Kit Hong Kiam Khek sedang berdiri termangu memegang sebuah kotak kayu yang berukir indah, matanya mendelong sementara tangannya yang memegang kotak tersebut gemetar tiada hentinya. Lama kemudian, ia baru membuka kotak itu, ternyata didalamnya berisi secarik kertas...

Dengan wajah pucat, bibir gemetar keras dan mata melotot besar, lama sekali Kit Hong kiam khek Wan Liang tertegun, akhirnya dia merobek robek kertas itu, membanting kotak  kayu itu ketanah dan menyumpah dengan penuh kegusaran: "Perempuan lonte, kamu benar benar perempuan lonte yang tidak tahu malu, watakmu memang watak lonte, melihat orang lain lantas tertarik, bukan cuma menyia nyiakanku, kaupun memaki aku . .. Hmm! Kau perempuan berhati busuk seperti ular beracun, kau anggap perbuatanmu itu akan membuatku marah dan mampus? Haaahhh . . . .haa ha ha haa aku

justru tak akan mampus, lihat saja nanti "

Dalam gelak tawa yang amat keras itulah segenap amarah dan rasa bencinya dilampiaskan keluar, suaranya mengerikan sekali, seperti orang tertawa dan juga bagai orang menangis seperti berteriak, lalu seperti monyet yang berpekik, membuat tiap orang yang sempat mendengarkan suara tertawanya itu menjadi bergidik.

Dalam waktu singkat seluruh cahaya dalam gua itu bagaikan bergoncang keras, seperti ada gempa bumi yang tiba tiba melanda tempat itu, membuat Yu ji yang berada didepan pintu pun merasakan sukmanya serasa melayang meninggalkan tubuh, bulu kuduknya pada bangun berdiri, tangan kakinya gemetar keras.
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 01"

Post a Comment

close