coba

Kemelut Di Cakrabuana Jilid 14

Mode Malam
Purbajaya hanya berjanji kalau dirinya bersedia menikahi gadis itu. Dia sanggup sehidup semati dengan Nyimas Wulan.

"Namun kita tak melakukannya secara tergesa-gesa. Perkawinan harus dilakukan dengan persiapan yang matang," tutur Purbajaya.

Janji ini diucapkan serius kendati hati kecilnya berkata kalau sebetulnya dia tak mencintai gadis ini. Tapi, mengapa pula hidup bersama harus selalu didasarkan pada cinta-kasih semata? Tidak selalu. Rasa iba dan kasihan bahkan rasa tanggung jawab, bisa mengalahkan sebuah perasaan bernama cinta.

Hatinya berkata kalau cinta-kasihnya sebenarnya telah direbut oleh Nyimas Waningyun, wanita pertama yang dia temukan. Namun demikian, sejak saat itu pun dia sudah menyadarinya kalau dirinya tak mungkin bersatu dengan gadis bangsawan Nagri Carbon itu. Nyimas Yuning Purnama yang malah sudah bersedia ditikahi, dia buyarkan sebab Purbajaya tahu kalau gadis itu tidak mencintainya, melainkan hanya mau mentaati keinginan orangtua semata.

Dan kini Purbajaya tidak mencintai Nyimas Wulan namun bersedia mengawini gadis itu. Sungguh aneh memang. Bersedia menikahi padahal tidak merasa mencintai. Namun Purbajaya tetap bertekad dalam hatinya. Dia harus mengawini gadis itu. Dia harus menolong kehidupan gadis itu. Lingkungan di mana Nyimas Wulan berada tidak mendukung agar gadis itu mempertahankan keberadaan dirinya sebagai gadis terhormat. Godaan dan cobaan akan membuat gadis itu mudah terjerumus ke jurang penderitaan dan kehinaan.

Kehidupan di Tanjungpura sepertinya demikian "bebas". Kaum lelaki dengan amat mudahnya mencumbu dan mengawini kaum perempuan untuk kemudian dicampakkan begitu saja untuk kembali merayu yang lainnya. Nyimas Wulan begitu bertemu Purbajaya, langsung akrab langsung mesra. Melihat kenyataan ini, hati Purbajaya merasa terenyuh. Dia akan bersedih kalau gadis secantik dia, sejujur dia dan begitu mudah mempercayai lelaki, akan dipermainkan lelaki yang tak bertanggungjawab.

Itulah sebabnya, dia akan berusaha melindungi gadis itu. Akan dia selamatkan gadis itu melalui sebuah perkawinan yang syah dan murni. Lain daripada itu, Purbajaya pun akan bertanggungjawab. Nyimas Wulan yang ramah dan menyinta serta mudah percaya pada lelaki dan begitu relanya menyerahkan cintanya kepadanya, akan disambut oleh Purbajaya dengan sebuah perasaan tanggung jawab.

Ya,dia harus menikahi gadis itu!

***

HINGGA sampai pada suatu saat, cinta dan cumbu Nyimas Wulan tak bisa dibendung lagi oleh pertahanan iman Purbajaya.

Ketika itu panen padi telah usai dengan hasil cukup melimpah. Untuk menghormati Dewi Sri sebagai dewi pemberi padi-padian menurut kepercayaankaruhun (nenek-moyang) orang Pajajaran, maka di Tanjungpura diadakan upacarangidepkeun . Itu adalah suatu upacara tradisi menyimpan padi dileuit (lumbung) sesudah dikurangi untuk membayarseba (pajak), membayar para pekerja di huma dan sesudah disisihkan sebagian untuk bibit.

Ngidepkeun atau upacara menyimpan padi di lumbung akan dilalui pula dengan berbagai keramaian. Berbagai kesenian rakyat sepertipantun, wawayangan, ngekngek ataujentreng sama diadakan dengan meriah.

Upacara menyimpan padi ini diadakan di beberapa tempat, terutama di perkampungan besar yang banyak terdiri dari tuan tanah. Juragan Ilun Rosa dan Ki Jayasena adalah dua orang tuan tanah yang banyak memiliki kekayaan huma bahkanranca (rawa) yang di saat kemarau bisa ditanami padi dan di musim hujan diambil ikannya.

Di dua perkampungan di mana kedua orang tuan tanah itu tinggal, suka diadakan pesta ngidepkeun secara besar-besaran. Keduanya seperti bersaing mengadakan pesta hajatan. Kalau yang satu mengundang juru pantun terbaik, maka yang satunya lagi sama mencari juru pantun terbaik. Kalau salah satu di antara mereka mengundang panembang dan penari ngekngek yang muda dan cantik-cantik, maka yang satunya pun melakukan hal yang sama pula. Dua-duanya sepertinya tak mau kalah dari lainnya.

Malam itu kampung terang benderang karena cahayaoncor (obor) yang dipasang di manamana. Bahkandamar-sewu (pelita berjajar seribu) sama meramaikan malam indah itu. Baik Juragan Ilun Rosa mau pun Ki Jayasena sama-sama bersaing membuat kampung masingmasing menjadi terang-benderang. Malam itu di kediaman Juragan Ilun Rosa diadakan kesenian jentreng dan pantun, sementara di kediaman Ki Jayasena, selain jentreng yang sudah baku, juga ditampilkan pertunjukan wawayangan. Seni pantun yang dipanggungkan di kediaman Juragan Ilun Rosa menampilkan ceriteraPua-pua Bermana Sakti , sementara di kediaman Ki Jayasena, pertunjukan wawayangan menampilkan ceritera mengenai Pendawa Lilima yang menjemput Dewi Sri(Mapag Dewi Sri) yang tengah berada di sorga maniloka agar sudi turun ke buana panca tengah untuk mensejahterakan umat manusia dengan menebar padi-padian.

Dewi Sri demikian lekat di hati masyarakat Pajajaran. Seolah benar, pemberi hidup di muka bumi ini adalah seorang dewi dari kayangan.

Dalam upacara ngidepkeun ada caraMapag Dewi Sri . LaguPamegat yanag dilantunkan oleh rombongan kesenian jentreng adalah sebuah lagu untuk mengundang Dewi Sri hadir di tempat itu. Setelah itu, disusul lagiPanimang , yaitu menurunkan seikat padi sebagai lambang turunnya Dewi Sri dari kayangan. Padi yang diturunkan, dijemput olehwali-puun (sesepuh) sambil membawa pakaian wanita dan kemudian dikenakan kepada ikatan padi sambil diiringi oleh laguPamapag (penjemput Dewi Sri).

Di belakangnya satu barisan wanita berpakaian indah-indah melakukan tarian sambil di tangannya membawa mangkuk-mangkuk yang berisi bunga-bungaan, minyak kelapa, pohon hanjuang, beras dantektek (lipatan dauan sirih). Ikatan padi yang dijemput itu ditaburi beras dan bunga-bungaan sebagai penghormatan kepada"Dewi Sri" yang telah berkenan "hadir".

Setelah upacaranetepkeun , yaitu menyimpan padi di lumbung, maka berlangsunglah acara hiburan. Kaum lelaki memakai bendo, berpakaian bedahan lima dan berkain batik dengan keris bersampur (diikat selendang sutra) di pinggang, menari bersama kaum wanita yang berpakaian indah dan berparas elok-elok. Sementara yang muda-muda, terutama para gadis, saling berebutan untuk mendapatkan bekas sesaji, bahkan butir-butir kemenyan untuk banyak keperluan, seperti ingin awet muda, ingin cantik atau karena ingin segera mendapatkan jodoh.

Dan ketika melihat pertunjukan ini, Purbajaya jadi ingat Nyimas Wulan. Purbajaya berada di tempat pesta keluarga Ki Jayasena, sementara Nyimas Wulan berada jauh di sebelah selatan di kediaman Juragan Ilun Rosa, ayahandanya. Apakah gadis itu pun tengah mengingat dirinya pula?

Maka ketika muda-mudi lain larut dalam kegembiraan, Purbajaya malah menyelinap pergi untuk pergi menuju kediaman Juragan Ilun Rosa.

Ya, sejauh ini Purbajaya masih tetap mengaku ak mencintai gadis itu namun bukan berarti tidak menyayanginya. Kini Purbajaya telah menyayangi gadis itu setelah Purbajaya merasa banyak menerima kebaikan cinta yang diberikan gadis itu. Dan manakala melhat muda-mudi brsuka-ria, Purbajaya tak bisa menahan kerinduan untuk menemui Nyimas Wulan. Itulah sebabnya dia menyelinap pergi untuk menemui gadis itu.

Rumah kediaman Juragan Ilun Rosa tidak begitu jauh. Letaknya agak ke sebelah selatan dari kediaman Ki Jayasena. Kedua orang itu termasuk keluargasantana (masyarakat pertengahan), Juragan Ilun Rosa malah disebut-sebut sebagai keluarga bangsawan karena kekerabatan yang dekat kepada Kandagalante Subangwara. Namun baik Juragan Ilun Rosa mau pun Ki Jayasena, sama-sama sebagai orang kaya yang banyak memiliki tanah pertanian yang luas. Huma dan palawija di sekitar wilayah Tanjungpura boleh dikata mereka yang punya. Baik Juragan Ilun Rosa mau pun Ki Jayasena sama-sama memiliki usaha perikanan payau dan usaha perairan di sepanjang sungai Citarum. Keduanya dikenal oleh masyarakat Tanjungpura sebagai orang-orang kaya tapi keduanya tak pernah saling bersatu. Mereka memang tak bermusuhan namun juga tidak bersahabat. Dan keduanya selalu menjaga jarak untuk tidak saling berhubungan.

Mudah diduga bila hal ini terjadi sebab Ki Jayasena punya kebencian kepada Kandagalante Subangwara, sementara Juragan Ilun Rosa adalah kerabat dekatnya. Namun dasar bandot, kendati kepada bapaknya benci, kepada putrinya, Nyimas Wulan, Ki jayasena malah cinta setengah mati.

Tempo hari Purbajaya ditegur karena diketahui berdekatan dengan gadis itu. Teguran Ki Jayasena diartikan Purbajaya sebagai memiliki tujuan ganda. Ki Jayasena melarang Purbajaya mendekati Nyimas Wulan karena gadis itu keabat musuh besarnya. Namun juga Ki Jayasena melarang dia mencintai gadis itu karena dia yang ingin mengambil bunga mekar itu.

Purbajaya sebal dengan kejadian ini. Cintanya tak pernah mulus karena selalu dihadang pihak-pihak lain yang juga amat berkepentingan dengan urusan ini. Tak dinyana, pesaingnya kini adalah bandot tua. Mengaku "paman"nya lagi!

Namun kali ini, rasanya dia tak perlu mengalah. Kepada Raden Ranggasena dari Carbon atau pun kepada Aditia dari Sumedanglarang, dia mau mengalah sebab ingin beri kesempatan kepada sesama kaum muda. Tapi kepada Ki Jayasena lain lagi. Orang tua bangkotan itu sudah terbiasa kawin-cerai dan kepada gadis-gadis muda begitu lahapnya bagaikan kambing melahap daun muda. Jangan hanya karena gemar mengalah dalam urusan cinta, maka kali ini Purbajaya pun musti mengalah pula kepada bandot tua. Tidak, dia tak terima itu.

Maka keputusan batinnya ini telah dijadikannya sebagai pemicu semangat dalam mendapatkan kasih Nyimas Wulan.

Jalan berbatu dan terkadang bercampur debu tana merah tak menjadikannya sebagai halangan ketika Purbajaya berjalan di malam gelap. Yang penting, dia bisa menemui gadis itu.

Ketika dia tengah berjalan cepat, di depannya ada gelebur cahaya obor. Siapakah malammalam berjalan sendirian berbekal obor? Purbajaya menyipitkan matanya karena ingin melihat jelas.

"Wulan!" teriak Purbajaya gembira. Dadanya berdebar.

Gadis pembawa obor itu sejenak berhenti karena kaget ditegur orang. Dia menyipitkan mata karena silau oleh cahaya obor. Setelah yakin yang memanggilnya adalah Purbajaya, Nyimas Wulan serta-merta melemparkan batang obor dan dia segera manghambur ke arah di mana Purbajaya berada. Purbajaya pun sama berlari mendekat. Hingga sampai suatu saat keduanya saling bertubrukan disertai peluk-cium.

"Nyimas ... "

"Purba ... " Diam sejenak kecuali napas-napas dengan dengus keras karena hentakan-hentakan berahi yang tak tertahankan.

"Nyimas, mengapa kau kemari?" "Engkau pun mengapa kemari, Purba ...?" "Karena ingin bertemu denganmu ... " "Itu pula yang aku inginkan, Purba ..." "Oh, Nyimas ... "
"Purba ... "

Sepasang insan muda-mudi ini saling peluk erat, saling kecup mata, saling kecup pipi dan berakhir pada saling kecup bibir. Dua tubuh yang berkuketan tak mau lepas ini akhirnya jatuh berdebum di atas tanah berdebu warna merah. Namun debu kotor tidak mereka hiraukan sebab dua tubuh yang menyatu erat ini bergulingan ke sana ke mari seperti cacing kepanasan laiknya. Tanah berdebu yang kotor mereka jadikan alas tidur empuk dan udara terbuka dengan terpaan angin pesisir mereka jadikan selimut penghangat. Oh, ya. Semuanya sudah tak perlu lagi sebab gelora cinta mereka sudah merupakan penghangat berahi.

Entah berapa lama mereka bergumul. Tahu-tahu di tempat itu sudah berdiri seseorang berbekal obor. Purbajaya sungguh terkejut sebab yang datang ternyata Ki Jayasena. Maka buru-buru dia dan Nyimas Wulan bangun sambil menepuk-nepuk debu yang melekat di badan.

Ki Jayasena menatap adegan cumbu-rayu dengan mata melotot dan gigi berkerot saking marahnya.

"Hm .... Bagus. Bagus sekali, ya ...!" gumamnya dengan tubuh menggigil seperti kena demam. Serta-merta Ki Jayasena mencabut golok yang telah siap di pinggang. Obor yang dibawanya serta-merta dilemparkan ke tubuh Purbajaya. Sesudah itu, Purbajaya pun segera diserangnya dengan sabetan-sabetan golok.

Purbajaya terpaksa mendorong tubuh Nyimas Wulan yang ketika itu masih memeluk erat tubuhnya. Dia ingin serangan ganas ini hanya mengarah padanya saja dan tidak melukai tubuh molek Nyimas Wulan.

Lemparan batang obor yang cahayanya menggelebur, bukanlah lemparan biasa, melainkan sebuah lemparan yang disertai tenaga dalam yang cukup tinggi. Demikian pun ketika sabetansabetan golok itu tidak sekadar ganas saja, namun juga disertai tenaga dalam yang kuat. Desiran angin karena golok menyabet teasa dingn menerpa pipi Purbajaya. Kalau saja yang menerima serangan ini orang biasa, maka bukan saja tubuhnya akan hangus terpanggang api, namun juga akan kena sabetan golok yang terlihat mengkilap saking tajamnya.

Namun sebodoh-bodohnya Purbajaya, bagaimana pun dia adalah murid terkasih Ki Jayaratu, tokoh yang disegani di Nagri Carbon. Maka ketika menerima serangan deras dan membabibuta dari Ki Jayasena, tangan kanannya segera melakukan tangkisan. Percikan bunga api muncrat ke sana ke mari ketika gagang obor hancur berantakan. Purbajaya terus mengebutngebutkan kedua tangannya agar bunga api tidak menempel, baik pada pakaian Nymas Wulan, mau pun pada pakaiannya sendiri.

Purbajaya masih belum mau membalas serangan, selain tidak berniat, ditambah lagi oleh ganasnya serangan Ki Jayaratu yang datang tiada hentinya. Dan melihat serangan-serangan ganas ini, Purbajaya merasa kalau Ki Jayasena ini berniat akan membunuhnya atau paling tidak ingin membuatnya terluka parah. Oleh karena ini, Purbjaya terpaksa melakukan tangkisan-tangkisan yang menyertakan tenaga dalam pula.

Terasa ngilu dan nyeri pergelangan tangan Purbajaya manakala melakukan sampokan ke arah golok, pertanda Ki Jayasena memiliki tenaa dalam yang kuat pula. Purbajaya harus melakukan perkelahian dengan amat hati-hati jangan sampai tubuhnya terluka oleh serangan ganas ini. Dia menahan serangan sambil berusaha melindngi Nyimas Wulan. Dia tak ingin gadis itu terluka oleh ganasnya serangan Ki Jayasena.

Namun untunglah, Ki Jayasena rupanya tak berniat mencelakakan Nyimas Wualan sebab yang dicecarnya hanya Purbajaya seorang.

Ketika serangan golok Ki Jayasena bisa ditepis, terlihat ada pertahanan yang kosong pada bagian tubuh orang tua ini. Pertahanan kosong terkuak karena serangan glok arahnya jadi melenceng oleh tepisan tangan Purbajaya. Namun peluang untuk melakukan serangan balik amatlah tipisnya karena Purbajaya yakin, Ki Jayasena pasti akan mengulangi serangannya yang barusan gagal. Namun sebelum golok kembali disabetkan mengarah ubun-ubun, dari arah bagian bawah Purbajaya segera menohok ulu hati Ki Jayasena dengan kecepatan yang sulit diukur.

Tohokan ini telak mengarah ulu hati dan terdengar Ki Jayasena mengeluh pendek namun bisa diduga ini merupakan keluhan tanda kesakitan. Sebelum Ki Jayasena hilang rasa erkejutnya, tohokan kedua sudah datang lagi. Kali ini lebih telak dan lebih keras. Akibatnya, tubuh Ki Jayasena terlontar ke belakang dan tubuhnya jatuh berdebuk di atas tanah yang mengandung bebatuan. Sudah barang tentu sakitnya bukan alang-kepalang sehingga tak sadar mulut Ki Jayasena terkaing-kaing seperti anjing kena gebuk batang rotan.

Purbajaya terkejut oleh ulahnya ini dan segera berjingkat hendak bangunkan tubuh Ki Jayasena, ketika secara tiba-tiba datang pula seseorang ke tempat itu.

Dan untuk kedua kalinya Purbajaya terkejut sebab yang datang kali ini adalah Raden Yudakara.

"Anak kurang ajar, masa kepada pamanmu sendiri berlaku tak senonoh seperti ini? Apa kesalahan dia, hah?" cerca Raden Yudakara menghambur mendekati Purbajaya.

Purbajaya tak mau menjawabnya, apalagi Raden Yudakara langsung melakukan serangan. Hanya anehnya, serangan tidak dilakukan sepenuh hati. Buktinya, serangan itu bisa dihindarkan dengan amat mudahnya. Siasat apa pula sehingga pemuda aneh ini tak melakukan serangan secara sungguh-sungguh? Serangan yang kedua tak dilakukan Raden Yudakara. Dia hanya berkacak pinggang saja sambil menatap Purbajaya.

"Hati-hati Purba, dia adalah pamanmu sendiri," kata pemuda itu."Aku tak suka ada orang muda tak menghargai yang tua,"lanjutnya lagi.

Purbajaya tahu, kemarahan Raden Yudakara ini hanya sandiwara belaka, namun apa perlunya? Tokh yang dia bela sebenarnya jelas-jelas kaki-tangannya sendiri. Mustinya kalau mau bela, belalah dengan benar. Mengapa Raden Yudakara tidak menyerang sungguhan sehingga Purbajaya menderita luka, misalnya? Nampaknya dia pura-pura marah hanya agar Ki Jayasena merasa puas saja Purbajaya didamprat "atasan"nya.

Dan kali ini Purbajaya pun terpaksa jadi ikut bersandiwara, tak melakukan pembelaan apaapa. Kerjanya hanya menunduk saja seperti seoang murid dimarahi gurunya.

"Ada apa ini, paman dan keponakan saling gebot seperti ini? Memalukan sekali ... " tanya lagi Raden Yudakara dengan nada menunjukkan tak senang.

"Dia!" Ki Jayasena menunjuk hidung Purbajaya. "Dia apa?" tanya lagi Raden Yudakara.
"Dia bercinta dengan gadis itu!" jawab Ki Jayasena memberengut seperti anak kecil.

"Sudah biasa sesama anak muda saling bercinta, apanya yang aneh?" tanya Raden Yudakara heran.

"Tapi ... "

"Tapi apa, Jayasena?"

"Dia bercinta dengan anak seseorang yang saya tidak suka!"jawab Ki Jayasena akhirnya.

"Ah. Malah sungguh mulialah bila kita sanggup berbesan dengan orang yang tidak kita sukai. Dengan demikian kita bisa mengukir hidup baru melalui persahabatan. Bukan begitu, hai gadis elok?" tanya Raden Yudakara seraya mengerling tajam kepada Nyimas Wulan yang tersipu-sipu karena percakapan yang menyangkut dirinya ini. Namun demikan, gadis itu masih memiliki rasa penasaran. Buktinya dia mengajukan pertanyaan kepada Ki Jayasena.

"Sebenarnya apakah kesalahan ayahanda kepadamu, Paman?" ucapnya.

"Ah, hanya masalah kecil saja, gadis cantik," Raden Yudakara yang menjawab, membuat Nyimas Wulan tersipu karena pujian."Sesudah kau menjadi istri adikku Purbajaya, maka semua urusan bereslah sudah," lanjut Raden Yudakara membuat Nyimas Wulan tersenyum bahagia dan wajahnya penuh rasa terima kasih kepada Raden Yudakara yang mungkin terasa begitu memperhatikan dirinya.

"Terima kasih bila begitu," sambut Nyimas Wulan ceria."Selama ini Paman Jayasena selalu baik bahkan terlalu baik kepada saya. Makanya sungguh tak percaya kalau engkau bisa membenci ayahanda," tutur Nyimas Wulan lugu. Sementara itu dari kejauhan dari arah selatan terlihat gelebur beberapa cahaya obor. "Wulan, kau pasti dicari keluargamu ... " desis Raden Yudakara memperingatkan.
Purbajaya pun sama menduga kalau yang datang adalah rombongan yang tengah mencari Nyimas Wulan karena mungkin gadis itu pergi sendirian tanda meminta izin pada siapa pun. Dan kalau benar begitu, kejadian ini tentu akan jadi perhatian pihak keluarga Juragan Ilun Rosa.

"Cepat kau hampiri dan pulang bersama mereka," kata Raden Yudakara.

Rupanya Nyimas Wulan pun mengerti situasi. Maka sesudah berpandangan sejenak dengan Purbajaya, gadis itu segera berlari kecil menuju ke tempat dari mana rombongan itu muncul.

"Ayo kita pulang dan jangan biarkan mereka tahu kalau kita berada di sini ..." kata Raden Yudakara sambil duluan berlalu dari tempat ini.

"Si Purba ini yang menculik gadis itu, mengapa malah kita yang kelabakan?" tanya Ki Jayasena tak puas.

"Tentu. Tapi kesalahan dari kita seorang akan menjadi tanggung jawab bersama. Makanya kesulitan ini jangan sampai terjadi. Ayo cepat kita pergi!" ajak lagi Raden Yudakara.

Akhirnya mereka beriringan kembali ke wilayah utara.

***

Namun di kediaman Ki Jayasena terjadi lagi kegaduhan. Kali ini, Ki Jayasena kembali mendapat giliran kena semprot Raden Yudakara. Purbajaya mencuri dengar dari tempat sembunyi, betapa Raden Yudakara amat kesal terhadap ulah Ki Jayasena yang dianggapnya kekanak-kanakan.

"Si Purba itu bodoh dalam bercinta. Akan tetapi engkau yang bangkotan malah mau merendahkan diri rebutan perempuan dan menjadi pesaingnya!" cerca Raden Yudakara.

"Tapi Si Wulan sejak masih ingusan telah saya intip dan amati. Jadi siapa tidak akan kesal sesudah dia anum dan dewasa malah diambil orang, anak setan lagi!" jawab Ki Jayasena gemas. Namun kembali Raden Yudakara mencerca orang tua itu sebagai bangkotan yang dungu.

"Sudah aku katakan, Si Purba itu bodoh dalam bercinta. Coba saja simak, sebentar lagi gadis itu sudah lepas dari pelukannya," kata lagi Raden Yudakara dan terdengar amat menyakitkan telinga Purbajaya yang mencuri dengar. "Tapi bukankah Raden tadi katakan kalau anak setan itu akan Raden jodohkan dengan Nyimas Wulan?" Ki Jayasena berkata khawatir.

"Yang namanya akan itu artinya belum, tolol! Mengapa perasaan khawatirmu sudah kau dahulukan? Uh, dasar bangkotan bodoh!" cerca lagi Raden Yudakara.

"Maksud Raden, di saat Si Wulan akan dijodohkan, maka gadis ranum itu cepat-cepat kita sabet, begitu?" tanya Ki Jayasena penuh semangat.

"Tidak persis seperti itu ... " gumam Raden Yudakara.

"Jadi, bagaimana?" Ki Jayasena tak sabar."Bagaimana kalau Si Sumirah anak saya saja kita berikan pada Si Purba agar pupuslah sudah persaingan kami?"

"Apa?" potong Raden Yudakara dengan suara geram.

"Maksud saya, kalau Raden sudah bosan kepada Si Sumirah, bolehlah dilepaskan dan berikan sama Si Purba ..." Ki Jayasena berkata penuh rasa takut.

"Engkau ini mengoper-oper perempuan seperti orang mengoper kambing saja, Sena ... " omel Raden udakara dengan nada sebal.

"Bukan itu maksud saya, Raden ... "

"Sudahlah, jangan ganggu aku, aku tengah berpikir!"

Diam sejenak. Sampai pada suatu saat Purbajaya mendengar siasat-siasat yang tengah dirancang pemuda aneh itu.

"Hanya Kandagalante Subangwara yang bisa mengirimkan Si Purbajaya ke Pakuan ... " gumam Raden Yudakara.

"Mengapa tidak Raden saja yang mengirimkannya?" tanya Ki Jayasena.

"Tidak. Tidak mungkin. Pamanku yang bodoh Ki Sunda Sembawa kerjanya buruk dan ceroboh. Aku sudah dengar kalau Ki Yogascitra pejabat Pakuan sudah mencurigai tindaktanduk Ki Sunda Sembawa yanag selalu kasak-kusuk di Sagaraherang. Kalau aku datang ke Pakuan dan diketahui aku sebagai kerabat Ki Sunda Sembawa, bisa pupuslah semua rencanaku. Mati aku kalau semua orang Pakuan sama-sama jadi mencurigaiku ..."

"Ki Yogascitra? Bukankah dia pejabatpuhawang (akhli kebaharian di Pakuan?" tanya Ki Jayasena."Benar, Sena ..."

"Bukankah Si Purbajaya mau Raden pekerjakan di puri Yogascitra sebab anak dungu itu dianggap ahli kelautan?" tanya Ki Jayasena lagi.

"Memang benar sekali, Sena. Aku ingin susupkan Si Purbajaya ke puri Yogascitra untuk mengamati tindak-tanduk pejabat itu," jawab Raden Yudakara. "Sungguh riskan melepas anak bengal itu berjalan sendirian. Bagaimana kalau dia malah bergabung dengan Pakuan dan membuka rahasia keberadaan kita?" Ki Jayasena bertanya penuh rasa khawatir.

"Anak itu rewel, gemar bertanya ini-itu dan sesekali suka membantah pada pendapatku. Namun sudah aku teliti, anak itu memang bodoh dan lugu. Dia buta politik. Hanya karena dia putra dari penguasa Tanjungpura yang amat disegani pihak Pakuan saja maka aku tetap mau memanfaatkan anak itu. Si Purba di Pakuan akan dihargai dan dipercaya karena ayahandanya amat dihargai kesetiaannya. Itu amat menguntungkan kita. Itulah sebabnya, aku tetap butuh dia. Dan aku pun percaya, dia akan tetap ikut kita. Di samping dia lugu dan awam terhadap kehidupan politik, dia pun terikat oleh sesuatu yang tak mungkin dia lepas. Dia banyak salah. Di Sumedanglarang dia bersalah, begitu pun di Carbon. Hanya aku yang bisa melindunginya. Itulah sebabnya dia akan tetap ikut aku untuk bisa kembali ke Carbon."

"Kalau dia tetap mau memisahkan diri dari kita?"

"Hm ... Di Pakuan belasan bahkan puluhan orang-orangku sudah siap-sedia mengawalnya. Kalau terlihat mencurigakan, anak-buahku akan membunuhnya di Pakuan sana ... " Raden Yudakara mendengus.

Ki Jayasena memuji jalan pikiran Raden Yudakara ini.

"Baru saya mengerti, mengapa Raden begitu "membela" anak setan itu. Saya pun mengerti, mengapa Si Purba harus punya hubungan baik dengan Ki Subangwara penguasa Tanjungpura yang sekarang," kata Ki Jayasena.

"Nah, otakmu mulai cemerlang, Sena. Memang begitulah maksudku," ujar Raden Yudakara."Kandagalante Subangwara dihargai oleh penguasa Pakuan karena kesetiaannya juga. Jadi kalau Si Purba dikirim ke Pakuan atas nama Kandagalante Subangwara, ini akan sangat memudahkan rencana-rencana kita," ujar Raden Yudakara lagi.

"Saya percaya padamu dan saya berjanji akan selalu mentaatimu, Raden ... " kata Ki Jayasena amat merendah da hormat sekali.

***

PURBAJAYA tak pernah punya ketenangan hati. Sampai dengan hari ini hidupnya tetap berada di bawah bayang-bayang orang lain. Raden Yudakara tak mau melepaskannya dan tetap berupaya agar Purbajaya ada di bawah kendalinya.

Entah siasat apa yang dia lakukan. Yang jelas, Raden Yudakara telah berhasil menjalin hubungan dengan Kanadagalante Subangwara secara mudah.

Bahkan tak lebih dari satu bulan, Raden Yudakara sudah menghasilkan kepercayaan yang membuat Purbajaya berdebar.

Di pagi hari yang cerah, Purbajaya dipanggil ke bale-gede rumah kediaman Ki Jayasena. "Purba, sudah terlalu lama engkau tertahan di sini. Kali ini kau harus mulai melanjutkan tugasmu yang terhenti ini," kata Raden Yudakara bicara serius.

"Tugas apakah itu?" tanya Raden Yudakara dengan perasaan khawatir karena telah menduga sesuatu.

"Ini kotak surat daun nipah. Jangan kau sia-siakan sebab ini adalah surat untuk mengantarmu memasuki gerbang kehidupan di Pakuan. Kau harus menghubungi Ki Yogascitra pejabat terkenal di Pakuan. Berikan surat ini padanya dan engkau akan diterima di sana," kata Raden Yudakara seraya menyodorkan sebuah kotak mungil terbuat dari kayu cendana berukir dan berbau harum.

Purbajaya menerimanya dengana tangan agak gemetar. Mengapa tak begitu sebab penyusupan dirinya ke Pakuan dengan pura-pura menjadi akhli kelautan sudah merupakan siasat yang diatur secara resmi oleh penguasa Nagri Carbon namun kini dia menerima perintah itu dari pemuda bernama Raden Yudakara yang dia tahu memiliki ambisi pribadi dalam urusan besar ini. Dia tegang dan khawatir. Dia akan segera bisa menyusup ke pusat kota Pajajaran dengan dengan gandulan urusan pribadi pemuda bangsawan aneh ini.

Dan Purbajaya sulit untuk menghindar. Sejauh ini dia tak punya hubungan dengan orangorang Carbon selan kepada Raden Yudakara. Sementara itu, Carbon telah mengatur agar selama bekerja sebagai mata-mata, Purbajaya harus selalu berhubungan dengan Raden Yudakara. Jadi bila melihat kenyataan ini, tidak terlihat kejanggalan dan secuil pun tidak melenceng dari perencanaan. Siapa yang bakal menyangka kalau dalam misi negara ini terselippula kepentingan pribadi?

Purbajaya sudah menduga bahwa Raden Yudakara memanfaatkan gerakan yang dilakukan Carbon guna melaksanakan ambisi politik tertentu. Hari ini dia menjadi mata-mata Carbon, hari lain dia sebaga mata-mata untuk kepentingan orang-orang Sagaraherang. Namun bila rencana sudah dilakukan dengan matang, maka hasil akhir ingin dia miliki sendiri.

Purbajaya tidak bisa melarikan diri dari genggaman pemuda itu sebab seperti yang sudah diketahui, Purbajaya akan dihadang tuduhan sebagai pengkhianat karena terbukti melawan dan menggagalkan misi Carbon ke puncak Cakrabuana. Purbajaya bahkan gurunya Ki Jayaratu akan dianggap pengkhianat dan pembelot sebab kegagalan misi di Cakrabuana juga karena "andil" mereka juga. Baik Paman Jayaratu mau pun dirinya, kukuh dengan pendapatnya bahwa pengiriman pasukan ke puncak Cakrabuana adalah tindakan sia-sia.

Purbajaya pun sama tidak bisa pulang ke Sumedanglarang sebab kematian beberapa orang dari Sumedanglarang yang ikut misi muhibah akan dipertanyakan kepadanya.

Dengan demikian, Purbajaya hanya bisa tetap bersama Raden Yudakara saja kendati dirinya amat muak.

"Itu adalah surat daun nipah dari Kandagalante Subangwara. Hanya dia yang dipercaya oleh Ki Yogascitra. Kau pasti diterima di sana. Maka bekerjalah dengan baik di sana," kata Raden Yudakara. Purbajaya mengangguk kendati dia sangsi apa yang dimaksud "bekerja dengan baik" di sana. "Percayakah dia pada saya?" tanya Purbajaya kemudian.
"Kalau kau ingin lihat tipe orang Pajajaran, maka simaklah sikap hidup Ki Yogascitra. Dia adalah pejabat jujur. Sedangkan orang jujur biasanya bodoh, mudah ditipu dan mudah dipermainkan orang, kata Raden Yudakara.

Purbajaya menatap wajah pemuda itu dengan senyum getir.

"Begini. Ki Yogascitra memang manusia cerdik. Itulah sebabnya, sejak Pajajaran dipimpin oleh Sang Prabu Surawisesa, (1521-1535 Masehi) sampai kepada Sang Prabu Ratu Dewata (1535-1543 Masehi) dan hingga kini di bawah kepemimpinan Sang Prabu Ratu Sakti (15431551 Masehi), Ki Yogascitra tetap bertahan sebagai pejabat negri. Menurut orang Pajajaran, dia adalah pemikir yang arif. Kalau mengeluarkan kritik, dia tidak terdengar sebagai kritik, bahkan Ratu (penguasa) menganggapnya pendapat Ki Yogascitra sebagai masukan yang berharga. Ki Yogascitra pun diakui sebagai pejabat yang sabar. Dia tak pernah haus kekuasaan juga tak pernah menyingkirkan saingan. Baginya jabatan adalah tanggungjawab yang harus dijalankan dan bukannya anugrah yang harus diterima. Tidak pendendam tidak pula pendengki. Tidak bercuriga dan tidak menganggap orang lain jahat." kata Raden Yudakara.

"Itulah sikap mulia ... " seru Purbajaya.

"Bukan. Itulah kebodohan," potong Raden Yudakara. "Mengapa?"
"Kebaikan-kebaikan pejabat itu yang barusan aku paparkan adalah sebuah kelemahan. Sudah aku katakan tadi, orang jujur cenderung bodoh, sebab si jujur mudah dibodohi oleh sesuatu bernama siasat. Hanya karena dia tak pernah berbuat bohong maka dia percaya kalau orang lain tidak akan membohonginya. Hanaya karena dia tidak pernah berbuat khianat maka dia pun percaya kalau orang lain pun tidak akan berlaku khianat padanya. Itulah sebuah kedunguan, disangkanya semua kehidupan akan bersifat alamiah seperti air sungai yang mengalir selamanya dari hulu ke hilir atau seperti benda yang jatuh dari atas ke bawah dan tak akan terjadi kebalikannya. Tidak. Dan jangan dungu seperti itu sebab manusia bisa bicara hitam bisa bicara putih atau bahkan bicara hitam untuk putih atau malah sebaliknya bicara putih untuk hitam. Dan karena kita tahu Ki Yogascitra orang dungu, maka dari sudut itu pulalah kita mempermainkannya," kata Raden Yudakara panjang-lebar.

Purbajaya termangu-mangu mendengarnya. Dia memuji jalan pikiran pemuda ini yang sanggup menebak "kelemahan" orang lain namun sekaligus juga bergidik. Ini adalah jalan pikiran yang tak pernah dipikirkan oleh orang yang berpikiran wajar, kecuali atas dasar rencana-rencana jahat.

"Jangan bengong saja. Ayo cepat terima kotak kayu cendana ini dan simpan baik-baik sebab sebentar lagi kau harus segera pergi dari tempat ini," kata Raden Yudakara memotong lamunan Purbajaya.

"Kapan saya harus berangkat?" "Malam ini juga!" "Malam ini juga?"
"Ya, mengapa tidak?" Raden Yudakara balik bertanya.

"Rasanya perintah ini terlalu tergesa-gesa ... " Purbajaya mengerutkan dahi.

"Jangan kau katakan tergesa-gesa sebab inilah sesuatu pekerjaan yang musti dilakukan dengan cepat. Lebih cepat lebih baik sebab sesudah tugas ini, kau punya rencana kehidupan untuk mengukir masa depan," kata Raden Yudakara.

"Apakah itu?" tanya Purbajaya.

"Bukankah engkau akan menikahi Nyimas Wulan? Semakin cepat kau menyelesaikan tugas di Pakiuan, maka akan semakin cepat pula kau bersatu dengan kekasihmu," jawab Raden Yudakara. Hanya mengisyaratkan bahwa Purbajaya baru boleh menikahi Nymas Wulan bila sudah menyelesaikan tugasnya.

Purbajaya masih termangu. "Apa yang engkau pikirkan?"
"Saya musti bertemu dulu dengan Nyimas Wulan ... " "Gadis itu, biar aku yang urus!"
"Seperti halnya Raden "mengurus" Nyimas Waningyun tempo hari di Carbon?" Purbajaya menyindir membuat Raden Yudakara sedikit terhenyak malu. Pemuda itu melengos ke samping dan tertawa masam.

"Anggaplah aku bersalah padamu karena telah mengambil dan mempersunting gadis pujaanmu. Tapi kau harus ingat kepentingan lebih luas. Aku terpaksa menikahi Nyimas Waningyun karena semuanya demi kepentingan kita. Pangeran Arya Damar harus punya ikatan denganku agar kepercayaan yang dia berikan tidak setengah-setengah," kilah Raden Yudakara enteng-enteng saja bicaranya.

Purbajaya merasa sebal. Setiap Raden Yudakara bicara perihal kepentingannya selalu dikatakannya sebagai kepentingan "kita".

"Dan apa pula "kepentingan kita" atas diceraikannya Nyimas Yuning Purnama dari Sumedanglarang itu, Raden?" sindir lagi Purbajaya tak kepalang.

"Oh, ya?" Raden Yudakara garuk-garuk kepala. "Buat apa aku tinggal berlama-lama di wilayah itu? Dengan penguasa di sana aku tidak memiliki persesuaian paham, maka aku ceraikan gadis itu," jawab Raden Yudakara. Namun rupanya dia merasa kalau jawaban ini tidak memuaskan Purbajaya. Buktinya pemuda itu melanjutkan bualnya. "Lagian kau harus tahu, Purba, bahwa semua yang aku lakukan tidak semata-mata karena urusan pribadi. Semuanya demi sesuatu kepentingan lebih besar. Kalau aku sudah tak punya kesesuaian paham dengan pihak penguasa, buat apa aku bercapek-capek punya istri di sana? Ingatlah, bukan cinta yang aku kejar, melainkan ambisi untuk mengejar kedudukan. Perkawinan hanyalah jembatan untuk menghubungkan diri kepada cita-cita sebenarnya sebab pada dasarnya kepercayaan penguasa hanya bisa diberikan melalui jalur kekerabatan. Kau harus tahu itu!" kilahnya.

"Pantas kau bunuhi semua orang yang tak mendukung ambisimu, Raden ..." gumam Purbajaya.

"Hm, mungkin benar begitu. Namun kematian murid-murid Ki Dita tak berkaitan dengan politik. Mereka mati mungkin karena alasan balas-dendam saja. Si Aditia itu membenciku. Syukurlah kau telah bunuh orang itu. Sementara Si Wista pemuda dungu bernyali kecil itu pernah mengadu pada ayahandanya perihal keberadaanku. Itu berbahaya. Makanya aku bunuh."

"Keji ... " gumam Purbajaya seperti lebih berkata pada dirinya saja.

"Tidak keji sebab itu untuk menjaga keselamatan diri. Kau lihatlah seekor harimau dalam mengoyak-oyak tubuh banteng. Kalau dia tak berbuat begitu, maka tubuhnyalah yang dikoyak tanduk banteng yang runcing dan kuat," kilah Raden Yudakara lagi tak habis-habisnya mengaluarkan alasan, sehingga Purbajaya hanya sanggup menghela napas saja.

"Sudahlah. Kau jangan tanya yang bukan-bukan. Jangan pula bercuriga padaku kalau gadismu takut kuganggu. Yang penting, pusatkan dulu pikiranmu dalam mengemban tugas di Pakuan," kata Raden Yudakara seperti ingin menutup obrolan.

"Tapi paman saya sepertinya ingin mengganggu keberadaan Nyimas Wulan ..." kata Purbajaya masih penasaran dan mengingatkan pemuda itu akan "sifat" Ki Jayasena.

"Dia takut padaku. Kalau aku katakan jangan ganggu, dia yakin takkan ganggu. Sudahlah, jangan kau rewelkan perihal perempuan. Aku jamin, bila kau sudah tiba di Pakuan, maka sebentar kemudian kau akan lupakan gadis lamamu sebab di Pakuana adalah sorganya segala kecantikan duniawi," potong Raden Yudakara yang mulai jengkel oleh kerewelan Purbajaya."Sebentar hari kau akan bermain-main di Taman Milakancana (taman bunga istana Pakuan). Itulah sorga dunia," lanjut Raden Yudakara lagi amat tak mengenakkan perasaan Purbajaya.

Namun demikian, akhirnya Purbajaya menerima kotak kayu cendana berisi lembaran surat daun nipah yang kata Raden Yudakara amat penting untuk dijadikan pembuka gerbang Pakuan.

Purbajaya berdiri dengan tubuh lunglai. Betapa tidak sebab kepergiannya ke Pakuan tak sempat dia khabarkan kepada Nyimas Wulan.

Tentu saja ini menyedihkan. Betapa kelak gadis itu akan kehilangan dan pasti akan merasa sedih.

*** Kalau kau punya teman satu maka yang bisa dilihat cuma satu kalau kau punya banyak teman maka tak satu pun bisa dilihat tapi kalau kau tak punya teman maka siapa pun bisa dilihat

Ini adalah lantunan ciptaan Paman Jayaratu dan suka ditembangkan di saat santai atau di saat Paman Jayaratu termenung seorang diri.

Purbajaya kurang menyimak, apa makna lantunan ini. Kadang-kadang dia pun kuran kerasan mendengarnya sebab tembang itu dilantunkan dengan nada yang kurang enak didengar.

Namun di saat Purbajaya dalam kesendirian seperti ini, dia mencoba melantunkannya dengan suara amat perlahan. Nada lantunannya dia coba ubah agar terdengar sedikit merdu seperti tembang-tembang yang basa didengar di wilayah Pajajaran.

Orang Pajajaran kalau menyanyi selalu penuh perasaan baik temban-tembang sedih mau pun gembira.

Sambil berjalan santai menyusuri jalan setapak dan buntalan pakaian menggandul di bahu, Purbajaya bersenandung menahan sepi.

Dendang ciptaan Paman Jayaratu ini semakin dicerna semakin terasa maknanya

Kalau punya teman seorang, maka kita hanya bisa mengenal luar dalam dalam sahabat yang seorang ini. Purbajaya teringat ketika masih bersama Paman jayaratu. Dia benar-benar tak mau berpisah dengan orang tua itu sebab Purbajaya menganggap hanya Paman Jayaratulah orang terbaik baginya. Hanya Paman Jayaratu yanga sayang padanya dan yang mau mengerti perasaannya. Tak ada orang sebaik Paman Jayaratu.

Demikian pun halnya ketika dekat dengan seorang wanita. Maka wanita itu pula yang dia anggap paling baik. Ketika Purbajaya semakin dikelilingi banyak orang, maka tidak seorang pun perangai dan karakternya dia kenal dengan baik. Mereka bahkan bersaing mendekatinya dengan hati palsu. Atau bisa juga Purbajaya salah memilih karena tak hapal akan karakter sebenarnya. Dan menurut Paman Jayaratu, akan lebih baik bila kita tak memiliki teman, sebab dengan demikian kita akan menilai mereka secara objektif dan orang lain pun menilai kita secara objektif pula.

"Terkadang keberadaan seorang musuh masih lebih berguna ketimbang orang mengaku sahabat," tutur Paman Jayaratu ketika itu. Menurut orang tua ini, musuh selamanya akan membuat kita waspada dan memaksa kita melakukan instrospeksi karena dengan gamblang dan jujur seorang musuh akan selalu mencari-cari kejelekan kita.

Sebaliknya keberadaan seorang sahabat bisa tak berguna sebab yang bernama sahabat biasanya tak akan berani atau merasa segan memberitahu perihal kejelekan kita. Terkadang sahabat hanya akan meninabobokan kita dengan hal-hal yang baik saja karena ingin membuat kita senang dan sebaliknya khawatir kalau kita tersinggung oleh kritiknya. Ya, akhirnya Purbajaya mengerti akan makna lantunan Paman Jayaratu ini. Namun demikian, sampai kini Purbajaya sulit memilih salah satu. Atau barangkali Purbajaya sulit menolak salah satu. Dia butuh cinta dan cinta bisa bersemi melalui persahabatan.Dia pun butuh banyak teman sebab teman yang banyak akan memberinya banyak keragaman dalam berpikir dan bertindak. Sementara kalau Purbajaya tak memiliki teman, rasanya hidup ini hampa. Semuanya memang bisa dilihat namun tak bisa dijamah. Semuanya ada di kejauhan dan semuanya tidak bisa dimiliki. Padahal seperti apa kata hatinya, semua orang perlu memiliki sesuatu.

Purbajaya memang belum bisa mengimbangi apa yang telah dicapai oleh pemikiran gurunya. Namun demikian, sebagai pengisi sepi Purbajaya terus berdendang. Sampai pada suatu saat dia menghentikan tembangnya karena jauh di depannya terdengar pula lantunan lain.

Ketika kau dikalahkan
maka hatimu sakit penuh dendam namun ketika kau menang
kegembiraan tak memiliki kesempurnaan sebab orang yang kau kalahkan
hatinya sakit penuh dendam maka berbahagialah
orang yang mencapai kemenangan tanpa mengalahkan
dia tak menyakiti atau pun disakiti!

Purbajaya tertegun. Siapakah yang tengah melantun jauh di depannya?

Itu suara lantunan laki-laki. Pelan namun jernih dan kuat. Lantunannya bersahaja namun menggugah rasa. Mengapa pula orang di depannya sama melantunkan tembang? Apakah orang itu mau mengimbangi dan menyainginya? Mustahil. Purbajaya berdendan dengan suara pelan sekali, asal bisa didengar sendiri saja. Mungkin lelaki di depannya secara kebetulan saja berdendang, sama maksudnya sekadar mengusir rasa sepi.

Berpikir seperti itu, Purbajaya pun tak raGu-ragu lagi melangkah ke depan, namun kali ini dia jadi menghentikan lantunannya.

Sampai pada suatu kelokan jalan, di depannya terlihat seorang lelaki usia limapuluhan duduk bersila di atas batu bundar. Lelaki itu di kepalanya terlihat sorban putih yang ujungnya berkibar-kibar karena tertiup angin pagi. Pakaiannya serba putih dan ditutupi kain lebar sejenis jubah.

Purbajaya coba mengingat-ingat, serasa pernah melihat orang berpakaian seperti ini, namun di mana dan kapan, dia tak tahu.

Purbajaya tak mau berpikir lama, sebab dia sudah lantas menyapanya dengan sebuah salam yanag biasa diucapkan orang yang telah memeluk agama baru. Pakaian yang digunakan lelaki ini biasanya dipakai oleh orang yang telah memiliki agama baru.

"Bapak yang tengah duduk, maafkan saya numpang lewat ..." kata Purbajaya hormat sekali karena sorot mata orang itu sungguh tajam berwibawa. "Silakan lewat. Tapi kalau boleh tanya, engkau anak muda datang dari mana dan hendak ke mana? Sepertinya engkau anak orang berada. Pakaianmu menunjukkan kau golongansantana (masyarakat pertengahan) dan bawaan di gendonganmu rupanya cukup berisikan barang berharga ... " bertanya lelaki asing ini.

Purbajaya ingin berskap hati-hati. Banyak orang jahat di sekelilingnya. Dan lelaki asing ini berani menilai keadaa dirinya. Namun Purbajaya tak percaya kalau orang yang punya sorot berwibawa ini hanya seorang penjahat belaka. Apalagi lelaki ini pandai melantunkan syair yang isinya padat penuh filsafat kendati isinya tidak benar-benar baru. Lantunan syair seperti ini Paman Jayaratu pun pernah mendendangkannya. Bahkan kalau Purbajaya tak salah mengingat, Pangeran Suwarga, Manggala (Panglima Prajurit) Nagri Carbon pun pernah berujar seperti ini.

"Tembangmu bagus, Bapak. Hanya sayang di dalam kehidupan sebenarnya hal itu tak pernah ada," Purbajaya mengritik lantunan ini.

Mendengar kritik ini sebentar dahinya terlihat berkerut namun sebentar kemudian sudah terdengar tawa rengahnya.

"Betul. Itu karena orang telah memiliki penyakit bernama ambisi. Orang cenderung ingin memiliki kelebihan dari yang lainnya, maka terjadilah saling kalah-mengalahkan," jawab lelaki berjubah putih dan berjanggut tebal ini.

"Aneh sekali, hampir semua orang berkata kalau ambisi itu penyakit, namun tokh dilakukan juga," kata lagi Purbajaya.

"Tanyakan itu pada dirimu sendiri, anak muda ..." potong orang tua setengah baya itu. "Saya tak punya ambisi, Bapak!"
"Benarkah?"

Sejenak keduanya saling pandang namun akhirnya Purbajaya mengangguk pasti. "Kau pernah merasa sakit hati?"
Purbajaya perlahan mengangguk. "Nah, itulah ambisi!"
Purbajaya tercengang, tak mengerti akan ucapan orang tua ini. Purbajaya ikut duduk di sebuah batu lainnya sehingga akhirnya dua orang itu saling berhadapan.

"Saya tak mengerti, Bapak ... " tukas Purbajaya masih mengerutkan dahi.

"Kau punya kehendak untuk tak disakiti. Mungkin kau pernah ditinggal cinta, maka kau sakit hati. Rasa sakit hati itu muncul karena kau punya ambisi agar cinta tak lepas dari genggamanmu, agar gadis yang engkau cinta selamanya jadi milikmu dan tak ada oraang lain yang ganggu. Mungkin kau marah dan benci pada lelaki yang merebut cintamu. Nah, bukankah ini terjadi karena ambisi?" lelaki itu bicara panjang-lebar membuat Purbajaya terdesak karena benar dia pernah sakit hati karena urusan kehendak. Kehendak, bukankah ini pun ambisi?

"Bisakah manusia menghilangkan ambisinya?" tanya Purbajaya sesudah termenung sejenak.

"Mungkin tak bisa. Ambisi itu hawa-nafsu. Tuhanlah yang memberinya. Namun Tuhan pun memberi kita sebuah akal. Akal disimpan di otak. Orang bijaksana bisa memainkan perasaan, akal dan pikiran agar ambisi yang dipunyainya tidak menimbulkan huru-hara dan membahayakan kehidupan. Kau sudah diberi semuanya, tinggal kau pilih bagaimana cara memainkannya agar tak membahayakan kehidupan," kata lelaki itu masih tetap bersila dan bersuara tenang.

Purbajaya menghela napas mendengar uraian ini. Itulah sulitnya. Tidak semua orang sanggup memainkan akal, pikiran dan perasaannya untuk digunakan secara wajar tanpa membahayakan kehidupan. Terkadang orang hanya memainkan perangkat jiwanya untuk kepentingan pribadinya semata. Dan kalau sudah begini, maka perang ambisi akan timbul di mana-mana dan mencari kemenangan tanpa mengalahkan orang lain adalah bohong belaka.

"Saya ini anak keluarga santana dan buntalan ini berisi pakaian dan kepingan uanag logam. Dengan bekal yang cukup ini, saya ingin bertualang ke wilayah barat," kata Purbajaya mencoba memindahkan percakapan dari hal yang ruwet-ruwet.

"Bertualang ke wilayah barat tentu bukan untuk mencari keuntungan dan kesenangan, anak muda ..." kata lelaki itu.

Purbajaya kembali menatap penuh selidik.

"Ya, bukankah keramaian ada di wilayah timur seperti Carbon, misalnya?" lelaki itu menegaskan dengan nada khusus.

"Saya tak bermaksud berniaga ..."

"Kalau begitu, hati-hatilah. Kehidupan niaga penuh tipu-daya karena yang dicari hanyalah keuntungan. Kalau perniagaan tidak dilandaskan kepada aturan agama, itu akan membahayakan," kata lelaki itu."Namun harap kau ketahui, ada jenis tipu daya yang lebih berbahaya ketimbang tipu-daya dalam urusan dagang."

"Apakah itu?" tanya Purbajaya melirik.

"Bukankah sudah aku katakan kalau manausia itu penuh ambisi? Jagalah ambisimu agar ketika sampai di wilayah barat kau tidak terperosok ke dalam tindak-tanduk yang membahayakan kehidupan umat," kata lelaki itu amat mencurigakan Purbajaya.

"Siapakah Bapak ini? Saya punya keyakinan, Bapak bukan orang sembarangan. Barangkali Bapak sudah mengenal siapa saya sebenarnya," Purbajaya berjingkat dan berdiri. Dia siap menghadapi segala kemungkinan.

Lelaki itu pun ikut berdiri dan jubahnya berkibar-kibar kena tiupan angin pesisir utara. "Kalau ketika berada di wilayah Sagaraherang kau tidak mabuk seperti raden Yudakara, barangkali kau akan tahu siapa aku," jawab orang itu bertolak pinggang dan tertawa.

Maka terbayang kembali di puri Ki Sunda Sembawa ada lelaki asing mencegat Raden Yudakara bahkan memukul roboh pemuda bangsawan itu. Purbajaya amat terkejut setelah mengingatnya.

"Anda Ki Rangga Guna?" teriak Purbajaya kaget dan memasang kuda-kuda siap untuk bertempur.

"Hahaha, aku memang Rangga Guna!" jawab lelaki itu.

Dan Purbajaya mengeluh. Belum lagi bergerak memasuki Pakuan sudah diketahui musuh. Ya, Ki Rangga Guna adalah pencinta Pajajaran. Bagaimana pun tetap akan menganggap Purbajaya sebagai musuhnya sebab diketahui berkomplot dengan Raden Yudakara. Purbajaya mengeluh. Ki Rangga Guna ini memiliki ilmu kewiraan amat tinggi. Terbukti Raden Yudakara yang pandai, hanya dalam satu gerakan santai saja telah terlontar tak berdaya oleh pukulan Ki Rangga Guna.

Urat-urat di tubuh Purbajaya menegang keras. Dia siap menghadapi ancaman baru yang datang dari Ki Rangga Guna. Namun aneh, Ki Rangga Guna hanya tertawa-tawa saja.

"Lanjutkanlah kalau kau mau melakukan perjalanan ke Pakuan," ujarnya membingungkan. Purbajaya tetap terpaku di tempatnya.
"Mengapa masih diam? Katanya mau pergi?" Ki Rangga Guna berkata seperti mengejek. "Mengapa engkau tidak menahanku, Ki Rangga?" tanya Purbajaya masih bercuriga. "Karena engkau tengah mengemban misi!" kata Ki Rangga Guna.
"Misiku jahat!" Purbajaya langsung mengaku sebelum dituding orang. "Tidak, asalkan engkau pandai memilih, anak muda ..."
Purbajaya tercengang. Aneh sekali, masa orang Pajajaran membiarkan negrinya disusupi musuh?

Sepertinya Ki Rangga Guna mengerti akan isi hati Purbajaya. Buktinya dia berkata dan mencoba menerangkan perihal sikapnya.

"Aku memang orang Pajajaran. Namun kuanggap, Carbon pun Pajajaran juga. Paling tidak, penguasa di Carbon adalah keturunan Pajajaran. Aku menghargai kepada keturunan yang mau mencoba meningkatkan keberadaan dan kebesaran leluhur. Namun menjaga kebesaran leluhur tidak selalu musti mengiktui tata-cara hidup leluhur. Kalau ada tata cara kehidupan baru yang lebih sempurna dan dijalankan untuk memperkaya kualitas hidup, aku setuju saja. Itu yang aku artikan tentang sikap-sikap Carbon selama ini."

"Tapi ... " bantah Purbajaya. "Ya, aku tahu, ada beberapa orang Carbon yang tergelincir karena ambisi pribadinya. Itulah sebabnya aku katakan, kau harus pandai-pandai di Pakuan kelak. Sekali kau ikut tergelincir, maka tak akan ada maaf bagi petualang-petualang politik," kata Ki Rangga Guna.

"Benarkah perkataanmu, Ki Rangga?" Purbajaya masih tak percaya akan kesungguhan Ki Rangga Guna ini.

"Apa maksudmu, anak muda?" Ki Rangga Guna balik bertanya.

"Sebab saya tahu anda adalah orang Pajajaran yang ingin membela Pajajaran. Jadi, bagaimana mungkin membiarkan bahkan mendorong saya melakukan penyusupan ke Pakuan?" tanya Purbajaya masih belum yakin.

Ki Rangga Guna tersenyum mendengarnya.

"Tidak salah. Apa pun terjadi aku tetap orang Pajajaran. Namun aku pun pernah katakan, hanya kepada orang-orang yang akan merusak aku akan lawan dan halau, sementara kepada yang ingin membuat Pajajaran menjadi lebih besar aku akan bantu. Aku percaya kepada Kangjeng Susuhunan Jati dan aku pun percaya kepada pembantunya bernama Pangeran Suwarga," tutur Ki Rangga Guna lagi.

"Benarkah begitu? Lantas bagaimana dengan Raden Yudakara, misalnya?" tanya Purbajaya.

0 Response to "Kemelut Di Cakrabuana Jilid 14"

Post a Comment