coba

Kemelut Di Cakrabuana Jilid 07

Mode Malam
"Kau ... Kau bohong padaku, Nyimas ... " wajah Aditia nampak merah-padam. Sepasang tangannya bahkan terkepal.

"Aditia, mari pulang!" ajak Ki Dita sama berwajah tak senang. Namun pemuda itu masih mengepalkan tinjunya dengan berang sekali.

"Kau memalukan. Sepertinya gadis di dunia hanya dia seorang!" kata lagi Ki Dita.

"Bukan itu yang saya pikirkan. Memang masih banyak gadis yang jauh lebih cantik, lebih sempurna dan lebih utuh. Yang aku tak enak, betapa mudahnya dia membual. Ketika saya pinang, dia bilang belum saatnya. Namun belakangan, dia menikah dengan Raden Yudakara. Hanya sebentar saja sudah dicampakkan. Dan aku mau tolong dia agar jadi istri yang baik, namun pinanganku dia tolak untuk kedua kalinya dengan alasan tak mau punya suami lagi. Nah, sekarang, nyatanya dia masih ingin dipermainkan orang Carbon. Rupanya dia masih belum kapok dipermainkan begundal dari Carbon!" teriak Aditia berang.

"Sudah. Mari kita pulang saja!" Ki Dita tak sabar dan menarik tangan Aditia. Aditia terpaksa beranjak namun dengan wajah memberengut marah.
"Anak muda, suatu waktu kita saling jajal kepandaian," kata Ki Dita kepada Purbajaya.

Tinggallah tiga orang itu. Namun rupanya Ki Bagus Sura tak mau tinggal terlalu lama. Buktinya dia segera beranjak dari tempat itu.

"Lain kali kalau mau mengobrol berlama-lama, lebih baik di dalam rumah saja," kata Ki Bagus Sura. Purbajaya mau bicara, kalau-kalau Ki Bagus Sura salah sangka. Namun orang tua itu keburu pergi.

"Nyimas, saya heran akan sikapmu tadi ... " gumam Purbajaya menyesalkan sikap gadis itu. Nyimas Yuning tidak menjawab, melainkan dia pun segera berlalu dari tempat itu.
***

Purbajaya menerima khabar bahwa Ki Bagus Sura akan mengemban tugas muhibah ke wilayah Karatuan Talaga. Entah apa penyebabnya orang tua itu mengajaknya pergi.

Namun tentu saja Purbajaya merasa gembira diajak serta. Pada dasarnya pemuda ini senang memiliki pengalaman. Pengalaman baik atau pun buruk baginya adalah pengetahuan yang bisa menambah wawasannya.

Karatuan Talaga sebetulnya tidak begitu jauh dari Sumedanglarang. Bila berkuda dengan santai, paling lama hanya menghabiskan waktu sekitar dua hari perjalanan atau mungkin tiga hari saja.

Namun begitu, sebetulnya Purbajaya belum tahu betul di mana persisnya letak ibu negri Talaga ini. Beberapa bulan silam memang pernah melakukan perjalanan bersama Raden Yudakara, namun hanya sampai ke lereng timur Gunung Cakrabuana lewat wilayah Rajagaluh dan terus ke Guranteng.

Sekarang dia diajak serta melakukan perjalanan ke tempat itu tentu saja hatinya berminat. Ki Bagus Sura mau mengejaknya, barangkali karena menganggap Purbajaya telah dianggap "orang sendiri".

Namun yang membuat Purbajaya merasa ada ganjalan, Aditia dan teman-temannya akan ikut serta.

Ketika ditanyakan kepada Ki Bagus Sura, dia mengatakan kalau perjalanan muhibah ini pun benar musti diikuti oleh rombongan Ki Dita.

"Banyak murid Ki Dita dipersiapkan untuk jadi calon perwira Sumedanglarang. Secara periodik para calon mendapatkan pelatihan mental dan fisik. Muhibah dalam mengunjungi negri-negri di luar Sumedanglarang adalah bagian dari kewajiban mereka dalam memenuhi persyarakatan untuk diangkat sebagai perwira," kata Ki Bagus Sura.

Purbajaya mau menegerti akan penjelasan ini.Dia pun pernah mendengar khabar kalau sasana kewiraan yang dipimpin oleh Ki Dita ini telah banyak menghasilkanlulusan dan kini banyak menjadi perwira kerajaan. Pemuda Aditia dan beberapa teman-temannya tentu

diharapkan akan menjadi perwira handal kelak. Itulah sebabnya perlu menerima bekal epengalaman agar kelak bisa mengabdi kepada negara dengan baik.

Purbajaya mengerti ini. Namun karena hal ini pula, maka kegembiraannya dalam melakukan perjalanan ini menjadi sedikit terganggu. Peristiwa tadi malam tentu susah dilupakan, terutama oleh pemuda Aditia. Dalam perkelahian singkat, dia dan teman-temannya dipecundangi oleh Purbajaya. Namun juga yang amat menyakitkan hati Aditia, bukan hanya sekadar kalah bertarung, melainkan juga kalah dalam "rebutan cinta".

Betapa akan bencinya mereka kepada Purbajaya. Sekarang Purbajaya malah akan jadi teman seperjalanan. Maukah mereka?

Namun sungguh di luar dugaan, ketika mereka tahu bahwa Purbajaya ikut serta, mereka malah nampak gembira. Mengapa gembira? Itulah misteri sebab Purbajaya menerimanya dengan penuh curiga.

"Mungkin sudah mereka lupakan peristiwa malam itu," tutur Ki Bagus Sura.

Dugaan Ki Bagus Sura ini tidak melegakan Purbajaya. Dia tetap merasa kalau mereka sebetulnya masih memendam rasa penasaran ke padanya.

Namun demikian, Purbajaya tak mau mengemukakah hal ini. Ki Bagus Sura nampaknya tak memiliki perasaan curiga apa pun. Malah malam itu, yang jadi orang bersalah sepertinya Purbajaya sendiri. Malam itu jelas-jelas Ki Bagus Sura seperti menyesalkan kepada Purbajaya perihal tudingan Aditia. Mungkin Ki Bagus Sura menganggap laporan itu benar adanya.

Hati Purbajaya mengeluh. Untuk ke sekian kalinya dia bertemu lagi dengan pemuda yang mudah emosi dan mudah merasa iri. Mereka menyatroni dirinya malam itu karena iri saja. Iri karena ada gadis di negrinya yang dipersunting pemuda negri lain.

Aditia seperti memendam dendam kepada "wong grage" sebab mereka pikir semua pemuda Carbon tukang permainkan wanita.

Ingat ini, Purbajaya jadi sedih. Hanya karena perbuatan Raden Yudakara maka semua pemuda Carbon kena getahnya.

***

Hari ini adalah hari pemberangkatan rombongan muhibah. Subuh itu Purbajaya baru turun dari surau ketika di pelataran taman dilihatnya Nyi Yuning Purnama berdiri menghadang. Gadis itu seperti sengaja mencegatnya.

"Ustad ... " gadis itu menyapa pelan.

"Nyimas, saya pergi hari ini ... " gumam Purbajaya masih ingat peristiwa malam itu.

"Ini sebungkus makanan, khusus buat bekalmu di perjalanan ...." gadis itu menyodorkan sebuah bungkusan penganan.

"Yang lainnya, bagaimana?"

"Ayahanda serta Paman Ranu sudah disediakan para dayang lain," jawab gadis itu. "Aditia dan teman-temannya?"
Nyimas Yuning menunduk. "Saya tak mau ada orang yang iri. Perasaan iri suka mendatangkan musibah," kata Purbajaya. Nyimas Yuning menghela napas.
"Maafkan saya, Ustad ... " kata gadis itu akhirnya. "Engkau berurusan dengan mereka, Nyimas?"
"Benar. Tadinya ini hanya urusan saya, tapi jadi melibatkanmu juga, Ustad." "Soal apa, sih?" tanya Purbajaya kendati pun sudah tahu.
"Ya, karena saya menolak cinta dia ... " "Mengapa menolak"
"Mengapa kau pertanyakan itu, sepertinya ada kewajiban setiap pria musti dilayani?" Nyimas Yuning balik bertanya.

"Engkau gadis pemberani. Namun pada akhirnya, saya nilai kau pun gadis biasa juga," kata Purbajaya sedikit menggores.

Nyimas Yuning tak tersinggung malah tersenyum tipis.

"Saya memang gadis biasa. Tapi apa sebenarnya maksud perkataanmu, Ustad?" tanya gadis itu menatap tajam.

"Ya, engkau gadis biasa dan terkadang terkesan lugu dalam membuat putusan," kata Purbajaya.

"Adakah yang keliru dalam putusan saya?"

"Bukan sesuatu hal yang keliru. Namun kau bertindak ganjil dan membuat orang lain bingung, Malam itu sebelum rombongan Aditia datang, kau menolak perjodohan. Tapi di hadapan semua orang, kau malah mengaku kalau saya ini calon suamimu. Coba, di hadapan semua orang. Bagaimana itu?" tanya Purbajaya penasaran.

"Kalau saya mengakau hal itu, mengapa?"

Mendapatkan pertanyaan balasan seperti ini, Purbajaya jadi gelagapan. Ya, apa yang harus dia jawab. Maukah dia menolak kenyataan ini? Maukah dia menyinggung perasaan gadis ini. Mungkin pada mulanya dia mau tolak kehendak ayahnya. Namun sesudah beberapa kali ditimbang, dia putuskan untuk menerima saja.

"Pengakuan saya malam itu adalah untuk menolongmu dan juga sekalian menolong saya. Saya dihina habis-habisan oleh Aditia. Jadi kalau saya tak katakan engkau calon suamiku, maka hinaannya akan semakin menjadi-jadi."

Purbajaya melongo dan tak bisa berkata apa. "Bagaimana, apa Ustad keberatan dengan ini?" Nyimas Yuning mendesak dan Purbajaya kembali gelagapan seperti mulut kemasukan air.

"Saya memang gadis biasa bahkan sudah tak bernilai, Ustad ... Kau tentu tahu apa maksud perkataan Adsitia malam itu," keluh Nyimas Yuning parau.

"Bukan ... Bukan itu. Saya tak berpikir seperti itu," kata Purbajaya. Dia takut sekali kalau dirinya menyinggung perasaan gadis itu.

Nyimas Yuning berbalik dan Purbajaya akan mengejar. Namun dari beranda depan ada suara panggilan untuknya. Suara itu mengatakan kalau semua orang sudah siap untuk berangkat.

"Nyimas ... Saya harus berangkat!" Sejenak gadis itu menoleh.
"Ya ... berangkatlah!" ujarnya dan kembali berbalik.

Percakapan yang terakhir ini terlalu singkat sehingga Purbajaya tidak bisa meraba apa arti jawaban gadis itu. Sebuah pengharapan agar dia lekas kembali ataukah usiran agar Purbajaya memang "harus pergi"? Ah, ini membingungkan, pikirnya.

Kini terdengar suara Ki Bagus Sura memanggil-manggil. "Ya, saya segera datang!" jawab Purbajaya bergegas.
Benar saja, Ki Bagus Sura telah siap menantinya.

"Yang lain sudah lama menunggu. Tapi, apakah kau telah minta diri sama Si Yuning?" tanya Ki Bagus Sura membuat Purbajaya tersipu.

Ki Bagus Sura nampak berpakaian amat ringkas. Pakaiannya jenis yang biasa digunakan oleh kaum santana (golongan pertengahan) yaitu baju kampret dan celana komprang namun terbuat dari kain halus buatan Nagri Campa. Ikat kepalannya berwarna sama dengan warna bajunya.

Keluar dari pekarangan puri, rombongan Ki Dita sudah menunggu sebanyak empat orang, yaitu Ki Dita dan tiga orang muridnya.

Semuanya mengangguk seadanya kepada Ki Bagaus Sura namun tidak kepada Purbajaya. Dan hal ini hanya menandakan bahwa mereka masih memendam rasa penasaran kepadanya..

Dengan demikian, rombongan muhibah ini terdiri dari tujuh orang. Mereka naik kuda beriringan. Ki Bagus Sura, Paman Ranu dan Purbajaya berjalan sejajar dan di belakangnya Ki Dita, Aditia, dituturkan oleh dua orang teman Aditia yang belakangan diketahui sebagai Yaksa dan Wista.

Seperti sudah diketahui di bagian depan, rombongan ini akan melakukan perjalanan muhibah ke Karatuan Talaga. Talaga sebetulnya masih berada di bawah Sumedanglarang manakala kedua negri itu ada di bawah kekuasaan Pajajaran. Namun sesudah pengaruh Carbon masuk, tahapan kekuasaan ini sudah tak begitu kentara. Sang Susuhunan Jati yang oleh Wali Sanga dinibatkan sebagaipanatagama (penata kehidupan beragama) dan Carbon ditunjuk sebagaipuser bumi agama Islam, sudah tak menempatkan negri-negri yang ada seperti hirarki pemerintahan semula. Dengan demikian, Sumedanglarang pun kini tak menganggap Talaga sebagai bawahannya lagi, sebab keduanya sama-sama menganggap, pusat kekuasaan hanya ada di Carbon saja.

Namun sudah barang tentu, kebijakan seperti ini tidak selamanya diakui. Walau pun jumlah orang yang berpikir beda tidak begitu banyak namun tetap mengganggu.

Selama manausia diberi kemampuan untuk berpikir dan berkehendak, tidak selamanya jalan pikiran dan kehendak mereka sama. Ketika Sumedanglarang dan Talaga bergabung dengan Carbon saja, sudah terlihat ada kelompok yang tak setuju dan memilih minggir dari percaturan politik. Ada juga kelompok-kelompok tertentu yang malah menginginkan baik Sumedanglarang mau pun Talaga tetap mempertahankan kesetiaannya kepada Pajajaran.

Baik Kangjeng Pangeran Santri di Sumedanglarang mau pun Kangjeng Sunan Parung di Talaga,ingin mencoba menghalau kelompok-kelompok ini dan tetap berusaha menjalin persatuan dan kesatuan. Maka untuk itulah kedua negara secara berkala saling mengirimkan utusan persahabatan.

***

PERJALANAN menuju Karatuan Talaga dilakukan santai saja. Di samping merasa tak perlu melakukan dengan cepat karena tak diburu oleh waktu, mereka pun membutuhkan banyak pengalaman di jalan, terutama untuk keperluan pelatihan tiga orang murid Ki Dita.

"Tahun lalu calon ksatria dihadang perampok," kata Ki Dita.

"Ouw! Yang namanya diserang musuh bukan latihan. Itu sungguhan!" Wista yang bertubuh ceking kurus berseru kaget.

Purbajaya ingat, pemuda ceking ini adalah pemuda yang lari duluan ketika Aditia dihajar Purbajaya. Dia heran, mengapa pemuda bernyali kecil seperti ini bisa "lulus testing" dan ikut rombongan ini.

"Dasar kau penakut, Wista!" cerca Aditia yang mencongklang di sampingnya.

"Pertarungan sesungguhnya adalah pelatihan paling baik dan paling sempurna," kata Ki Dita membuat ngeri pemuda Wista.

"Kalau saja ayahmu bukan pejabat penting, tak nanti kau bisa ikut rombongan ini," Yaksa menyela, membuat wajah Wista merah padam. "Jangan bawa-bawa ayahandaku!" Wista memotong dengan wajah merah-padam.

"Tapi omonganku benar. Kau jangan memalukan ayahmu," desak Yaksa."Susah-payah ayahmu berjuang agar kau diterima dalam pelatihan ini. Padahal kau tahu, hanya pemuda berkualitas saja yang bisa diterima dalam pelatihan ini," kata Yaksa lagi.

Untuk ke sekian kalinya Purbajaya senyum dikulum. Di mana-mana selalu saja ada yang mengandalkan kekuasaan untuk kepentingan diri pribadi.

Cita-cita untuk menempatkan anak menjadi ksatria negara memang merupakan dambaan semua orang tua. Para pemuda pun berhal begitu. Mereka merasa keberadaan dan kebanggaannya akan tercipta bila bisa masuk menjadi jajaran perwira di Sumedanglarang. Kalau ayahnya pejabat, maka sang pejabat akan berupaya memasukkan anaknya jadi perwira. Perwira adalah batu loncatan untuk menjadi pejabat penting di istana. Jadi sang ayah musti mempersiapkan anaknya juga agar kelak menjadi pejabat di sana.

"Dengan masuknya engkau, sebetulnya ada orang lain yang peluangnya tertutup padahal dia lulus testing," kata Ki Dita ikut menyela."Tapi aku sebagai gurumu takkan putus asa. Asalkan engkau sanggup memperlihatkan kemampuan, semua orang tidak akan kecewa kepadamu," sambungnya.

Pemuda Wista mengangguk-angguk mengiyakan walau pun ada rona merah di wajahnya karena banyak diperingatkan orang.

"Ini adalah perjalanan muhibah yang cukup berat. Namun dengan demikian akan merupakan ajang pelatihan yang baik bagi Gan Wista. Saya yakin, sepulangnya dari muhibah ini, Gan Wista pasti punya pengalaman berarti," kata Paman Ranu memberikan semangat sambil melecut kudanya.

Rombongan bertujuh ini masing-masing mengendarai seekor kuda yang gagah dan tinggi besar. Mereka adalah kuda-kuda pilihan, khusus didatangkan dari Sumba melalui Pelabuhan Muhara Jati, Carbon. Tentu saja tidak semua orang mendapatkan fasilitas istimewa seperti ini, kecuali orang-orang tertentu yang dihargai pemerintah.

Kata Ki Dita dan Ki Bagus Sura, kuda-kuda ini terbaik di negerinya. Bila melakukan perjalanan cepat tanpa henti, maka kuda gagah ini bisa berlari selama dua hari penuh tanpa makan dan minum. Dan bila kuda-kuda ini dipacu, sebenarnya menuju Karatuan Talaga tidak akan menghabiskan waktu dua hari. Namun kata Ki Bagus Sura,kuda mahal perawatannya pun mahal. Kalau terjadi apa-apa pada kuda ini, negara akan banyak dirugikan. Justru karena kuda ini mahal, maka mereka menggunakannya dengan apik sekali. Mereka berpendapat, kuda mahal harus dijaga keutuhannya. Jangan sampai sakit apalagi cedera. Sebab kalau begitu, perawatan akan lebih mahal mengurus kuda ketimbang orang yang sakit.

Lagi pula semakin santai di perjalanan dan semakin lama menempuh perjalanan, maka akan semakin banyak menerima pengalaman berharga, terutama bagi calon ksatria.

Dan benar saja, karena perjalanan dilakukan berlama-lama, maka banyak pengalaman dilalui, termasuk pengalaman "penting" yang selalu "ditunggu". Di tengah jalan, di tengah hutan pohon pinus, mereka dihadang orang jahat. Ketika itu rombongan baru saja memasuki kawasan hutan pinus di tepi Sungai Cimanuk. Di daerah ini kerap kali kaum pedagang antara dua negri selalu dihadang perampok. Perampok ini bisa saja penjahat biasa namun bisa juga karena alasan "politik"

Seperti yang pernah diketahui oleh Purbajaya kemelut berkepanjangan antara Carbon dan Pajajaran telah melahirkan berbagai perbedaan pendapat di kalangan masyarakat. Melemahnya kekuasaan Pajajaran di wilayah timur dan utara telah menyebabkan banyak negara kecil di wilayah itu memilih memindahkan kesetiaannya kepada Carbon. Namun tentu saja tak semua orang punya pendapat seperti itu. Ada juga kelompok yang tetap mempertahankan kesetiaannya kepada Pajajaran. Namun kelompok seperti ini kebanyakan terasing dari percaturan negri bersangkutan. Dan walau pun tidak terang-terangan dianggap musuh negara namun mereka terputus komunikasinya dari dunia ramai.

Di Karatuan Sumedanglarang pun ada yang ingin mempertahankan kesetiaannya kepada Pajajaran. Begitu pun di Karatuan Talaga. Mereka yang berbeda haluan, memilih mengasingkan diri. Namun yang sikapnya keras, memberontak, membuat kekacauan atau malah menjadi perampok. Mereka tinggal di gunung, di hutan lebat dan untuk mempertahankan hidupnya, kerjanya mencegat kaum pedagang di sepanjang jalan pedati antara Galuh (Ciamis) dan Pakuan (Bogor).

Sejak zamannya Kangjeng Prabu Sri Baduga Maharaja raja Pajajaran yang pertama (14821521 Masehi), telah dibangun semacam "high-way" Pajajaran yang menyambungkan wilayah Galuh dengan Pakuan. Jalan raya penghubung kehidupan politik dan ekonomi ini dari Galuh menuju Kawali, Rajagaluh, Talaga, Sumedang, terus ke utara ke wilayah Sagaraherang (Subang),ke barat menuju Cikao (wilayah Purwakarta), Tanjungpura (Karawang), agak membelok lagi ke selatan menuju Muaraberes (wilayah Bekasi), Cibarusa, Cileungsi, dan kembali munuju arah barat sampai kedayo (ibu kota) Pajajaran yaitu Pakuan. Dari Pakuan sebenarnya jalan ini terus bersambung ke wilayah Karatuan Tanjungbarat di tepian Sungai Cisadane dan akhirnya langsung menuju ke wilayah Banten.

Jalan raya ini sudah biasa dilalui pedati kaum saudagar atau perjalanan para petugas negara dalam berkomunikasi dengan negri-negri di sepanjang itu. Namun karena perobahan politik, jalan raya sepanjang ini kini tidak lagi digunakan secara sambung-menyambung sebab telah dibatasi oleh kepentingan berbeda antara Carbon dan Pajajaran.

Rombongan Ki Bagus Sura pantas diminati para penjahat sebab selain mereka menunggang kuda bagus, jenis pakaian yang mereka kenakan pun amat menandakan bahwa yang sedang berkuda beriringan ini adalah kaum bangsawan. Apalagi pada punggung kuda Paman Ranu baik di kiri mau pun di kanannya menggandul peti-peti kayu cendana berukir indah. Peti-peti ini oleh Purbajaya diketahui sebagai benda-benda cinderamata yang sedianya akan diserahkan kepada penguasa Karatuan Talaga.

"Ranu, jaga peti-peti itu ... " Ki Bagus Sura memperingatkan akan adanya bahaya.

"Ya, amankan barang-barang itu," gumam Ki Dita. Namun aneh sekali, mata Ki Dita berbinar-binar seperti bergembira. Mengapa dihadang perampok malah bergembira, pikir Purbajaya. Namun belakangan akhirnya sadar. Barangkali ini dianggapnya sebuah peristiwa baik bagi orang-orang yang tengah menjalani latihan. Bukankah pernah dikatakan bahwa pertempuran sesungguhnya merupakan pelatihan paling sempurna?

Maklum akan isi hati Ki Dita, Purbajaya tidak ikut maju. Apalagi baik Ki Bagus Sura mau pun Paman Ranu, bahkan Ki Dita sendiri, enak-enak saja duduk di atas punggung kuda.

"Turunlah kalian semua. Dan kalau ingin selamat, serahkan peti-peti berukir itu!" teriak perampok.

"Juga uang-uang kalian. Uang apa saja, apakah itu uang logam dari Portegis, Cina, Campa, Parasi atau uang jenis apa pun!" teriak yang lain.

"Kuda kalian pun harus ditambat di sini. Haha, itu kuda bagus, cocok untuk digunakan di pegunungan!"

"Jangan lupa pakaian mereka, Jaya!"

"Ya, betul, tanggalkan pula pakaian kalian. Itu buatan wilayah Hindustan. Di sini barang seperti itu susah!"

Semua anggota perampok saling mengeluarkan pendapat yang pokoknya meminta agar semua harta yang ada pada rombongan muhibah ini diserahkan pada mereka.

Bergetar hati Purbajaya. Jumlah perampok ada sekitar limabelas orang. Bukan takut pada mereka, tokh anggota muhibah tujuh orang dirasa cukup melayani mereka. Tapi masalahnya, yang "harus" melawan perampok sudah diputuskan hanya tiga orang saja, yaitu mereka yang sedang menjalani pelatihan. Ketika Purbajaya melirik, nampak tiga orang calon ksatria itu wajahnya tegang. Wista belum apa-apa malah sudah mengucurkan keringat deras di seluruh wajahnya yang ceking.

Ketika Ki Dita memerintahkan mereka, Aditia dan Yaksalah yang lebih dahulu meloncat. Sementara Wista masih terlihat duduk di atas punggung kuda dengan tubuh mendadak bongkok.

Purbajaya belum bisa menduga, mengapa murid-murid Ki Dita tidak meloloskan senjata masing-masing padahal pedang sudah siap di pinggang. Mungkin mereka tak berhati kejam dan tak mau melumpuhkan lawan hingga terluka apalagi membunuh. Namun bisa juga karena alasan lain. Dasar gerakan ilmu kewiraan mereka mengandalkan kehalusan. Bila sedang latihan pun, gerakan mereka diiringi petikan dawai kecapi dan alunan suara suling. Sementara golok dan pedang hanyalah lambang dari kekuatan kasar.

Lawan cepat menduga bahwa mereka akan mendapatkan perlawanan . Karena itu, mereka bersiap untuk mengepung.

Aditia dan Yaksa sudah bergerak ke depan. Sementara Wista masih tak beranjak dari punggung kuda, kecuali wajahnya yang pucat-pasi. Namun tingkah dua-duanya sebetulnya tak disetujui Purbajaya. Wista amat memalukan tapi Aditia dan Yaksa pun amat semberono. Mereka mendahului melakukan serangan amat tidak tepat. Dengan jumlah tenaga hanya terdiri dua orang saja lebih baik mengambil posisi bertahan ketimbang menyerang. Taktik bertahan tak selamanya punya arti tidak menyerang. Dalam bertahan paling tidak bisa mempelajari gaya serangan lawan. Menurut hemat Purbajaya kita baru bisa melakukan serangan total kalau sudah bisa mengukur seberapa jauh tingkat kepandaian lawan. Optimiskah Aditia dan Yaksa kalau kepandaian mereka sanggup mengungguli lawan?

Maka pertempuran pun terjadilah. Aditia dan Yaksa menghambur ke depan, disambut pula oleh serbuan yang sama dari pihak lawan dengan senjata terhunus.

Aditia dan Yaksa dikepung rapat. Golok dan pedang menerjang kedua orang itu dari kiri, kanan dan depan. Kalau orang biasa menerima serangan seperti itu, barangkali hanya dalam sesaat tubuhnya sudah tercincang habis. Tidak demikian dengan Aditia dan Yaksa. Dan Purbajaya boleh memuji sebab kedua orang pemuda itu bisa menghindari berbagai serangan lawan dengan cukup baik.

Untuk beberapa lama, pertempuran ini enak ditonton. Para pengepung yang beringas, ditepis oleh gerakan amat halus dan indah dilihat. Bagi orang awam, tontonan ini lebih terlihat aneh. Masa sabetan golok dan pedang hanya dikelit dengan gerak "tari".

Tapi Purbajaya bisa menikmatinya dengan baik. Betapa tarian itu memperlihatkan gerakan taktis dan amat pas. Serangan pengepung, ditepisnya dengan kelitan-kelitan yang tak memerlukan tenaga tapi pas dalam membuyarkannya.

Amat indah. Namun sampai kapan ini akan berlangsung?

Nampaknya kedua orang pemuda itu terlalu asyik memperagakan taktik bertahan, padahal dalam gebrakan pertama, justru mereka yang menyerang. Ini amat tidak efektif. Baik Aditia mau pun Yaksa telah mengabaikan prinsip bertempur. Harus diingat, bertempur itu untuk mengalahkan. Jadi kendati yang dilakukan adalah taktik bertahan, namun tujuan utama tetap harus mengalahkan lawan. Apa pun yang dilakukan, tujuan akhir adalah kemenangan.

Purbajaya pernah diajari oleh Paman Jayaratu, bahwa setiap kali lawan menyerang, makan akan terkuak kekosongan pertahanan. Itulah peluang kita untuk balik menyerang.

Purbajaya menilai, sebetulnya rombongan perampok ini hanya memiliki tenaga kasar saja dan kepandaiannya pun biasa-biasa, tak ada yang istimewa. Hanya tampang dan gerakannya serangannya saja yang ganas sebab tujuannya mungkin untuk menakut-nakuti lawan. Setiap serangan, mereka lakukan dengan membabi-buta, kurang terarah dan terkesan semberono. Lawan yang begini amat mudah dipatahkan serangannya dengan cara memanfaatkan tenaganya. Namun sungguh aneh, peluang-peluang seperti ini tak dimanfaatkan oleh Aditia dan Yaksa. Disengajakah ini?

Purbajaya teringat, ketika dia diserang pemuda ini beberapa hari lalu, Aditia malah bernafsu ingin mengalahkan dirinya. Serangannya malah tidak memperlihatkan kehalusan gerak sebab waktu itu Aditia tengah geram dan penuh emosi. Gerakannya ganas dan terkesan ingin melukai bahkan membunuhnya. Namun kenapa kepada komplotan perampok ini baik Aditia mau pun Yaksa seperti punya perasaan "welas-asih"? Barangkali dua orang murid ini ingat pesan guru bahwa perjalanan ini dianggap sebagai ajang pelatihan semata. Kalau pun musti bertarung betulan tapi jangan sampai membunuh betulan. Begitu barangkali. Sementara beberapa hari lalu kepada Purbajaya malah dianggapnya sebagai ajang "sungguhan" dan musti membabat habis dirinya. Sialan benar, pikir Purbajaya sambil terus menyaksikan jalannya pertempuran.

Terlihat ada tiga orang yang sekaligus mencecar Aditia dengan pedangnya. Dua orang datang dari samping dan seorang lagi berada di tengah. Ketiga serangan itu diarahkan ke bagian tubuh paling lemah. Serangan dari kiri sebuah tusukan pedang mengarah perut samping bagian kiri dan serangan pedang kedua datang dari kanan akan mengarah perut bagian kanan. Sementara penyerang dari depan mengayunkan senjatanya untuk memenggal kepala.

Dengan amat cepatnya Aditia mundurkan langkah sambil doyongkan tubuh ke belakang. Kedua tusukan pedang luput tak mengarah sasaran dan ayunan dari depan yang mengarah leher pun hanya lewat sejengkal saja dari sasaran. Namun ketiga orang itu terus mencecarnya dengan serangan-serangan susulan sehingga Aditia main mundur terus padahal dari belakangnya penyerang lain mulai berdatangan pula . Dari belakangnya, ada tiga tusukan trisula yang sekaligus ingin menerobos ke punggung pemuda itu.

"Wista, bantu aku!" teriak Aditia sesudah menjetuhkan diri ke atas tanah berdebu guna menghindari tusukan tiga buah trisula.

"Purbajaya, sialan kau malah diam saja!" giliran Wista yang teriak kepada Purbajaya. "Lho, aku kan tidak ikut latihan?" jawab Purbajaya masih menclok di atas punggung kuda.
"Bangsat! Kau ini pengecut sekali!" Wista mencoba menyabetkan ujung cameti kuda terbuat dari ekor ikan pari ke arah wajah Purbajaya. Sudah barang tentu Purbajaya tidak mau begitu saja wajahnya kena sabetan ujung cameti. Dengan miringkan wajah sedikit saja cameti berlalu tak mengarah sasaran. Wista penasaran serangannya gagal. Maka lagi-lagi dia menyerang dengan cameti, namun juga lagi-lagi dia gagal. Karena kesal, akhirnya Wista malah mengejarngejar ke mana kuda Purbajaya beranjak.

Melihat adegan ganjil ini, ada beberapa anggota perampok yang ketawa karena merasa lucu. Namun Ki Dita wajahnya merah padam. Mungkin marah dan malu oleh sikap Wista.

"Wista, berhenti kau!" teriak Ki Dita gemas. Namun ujung cameti pemuda itu sudah terlanjur melayang lagi. Dan kali ini Purbajaya sudah tak sempat lagi menjauhkan kudanya. Maka satusatunya jalan ialah menarik ujung cameti keras-keras. Tak ayal tubuh Wista terjengkang ke depan. Celakanya, tubuh ceking itu malah jatuh di tengah arena pertempuran. Maka akibatnya, Wista pun jadi sasaran penyerangan para perampok.

Baru saja Wista berdiri, sudah disambut hujan serangan. Pemuda ceking ini berteriak dan matanya membelalak saking terkejut dan ngerinya. Dia jumpalitan beberapa kali ke belakang dan jatuh berdebuk di atas tanah keras berbatu. Sambil menyeringai kesakitan, Wista mencoba duduk. Namun baru saja hendak bernapas, serangan lain datang mencecarnya. Untuk kedua kalinya, tubuh Wista jumpalitan lagi.

Boleh jadi Wista penakut. Namun gerakan saltonya sebetulnya boleh juga. Walau pun lintang-pukang dan terlihat tak tenang, nyatanya dia berhasil menggagalkan semua serangan lawan. Menurut penilaian Purbajaya, pemuda ini sebetulnya punya bakat juga. Hanya saja yang membuat gerakannya buruk karena katenangannya diganggu rasa takut.

Yang nampak mengkhawatirkan perasaan Purbajaya malah nasib pemuda Yaksa. Dia memang pemberani namun semberono, tak beda dengan Aditia. Mungkin juga karena didasarkan pada sikapnya yang agak pemberang. Beberapa hari lalu pemuda ini ikut mengeroyok Purbajaya di taman puri Ki Bagus Sura. Pemuda ini terlihat garang dan kalau bicara selalu mengejek. Hanya menandakan Yaksa ini orang tinggi hati. Menurut Purbajaya, orang boleh berani namun sikap hati-hati tetap harus dijaga. Di sepanjang jalan, Yaksa suka berkilah kalau kejahatan tak boleh dibiarkan.

"Engkau juga orang jahat karena suka menggoda wanita!" katanya pada Purbajaya. Yaksa tetap menuduh kalau Purbajaya telah berlaku cabul, atau sekurang-kurangnya telah mencoba merayu wanita sebab malam-malam mengobrol berduaan di taman dan itu melanggar etika sopan-santun.

Ingat ini Purbajaya senyum sendiri. Lelaki ngobrol dengan wanita masuk ke dalam tindak kejahatan. Begitu dalam kamus Yaksa. Makanya tak heran malam itu Yaksa amat marah, sama marahnya dengan Aditia. Yaksa amat bernafsu untuk memukul dan mencederai Purbajaya.

Sekarang dalam menghadapi perampok, alasan untuk melenyapkan kejahatan dari muka bumi semakin jelas. Makanya Yaksa bertempur penuh semangat walau ya, dilakukan dengan semberono. Bila Aditia hati-hati saking tak mau menyerang adalah Yaksa yang kebalikannya. Dia terus-terusan menggempur lawan kendati tak memikirkan akan risikonya. Banyak pukulan telak menghunjam tubuh lawan namun tak urung dia pun terkena beberapa sabetan senjata tajam.

Kini suasana sudah amat membahayakan ketiga orang itu. Kepungan semakin rapat dan serangan semakin gencar. Bila keadaan dibiarkan berlarut-larut tentu akan berakibat buruk kepada nasib para pemuda itu.

Purbajaya ingin minta izin untuk bergabung dan terjun ke arena pertempuran. Namun pada saat yang sama, Ki Dita sudah turun tangan. Hanya dalam waktu yang singkat, belasan anggota perampok itu lintang-pukang dihajar Ki Dita. Para perampok bagaikan daun kering tertiup angin. Tubuh-tubuh mereka beterbangan ke sana ke mari, sisanya jadi bulan-bulanan ketiga orang muda itu.

Tak ada yang mati memang. Tapi tubuh para perampok bergeletakan. Beberapa di antaranya berguling-guling sambil mengerang kesakitan. Yang tersisa mungkin yang agak jauh dari arena saja. Dan manakala melihat banyak teman-temannya rontok, mereka pun segera mengambil langkah seribu, membiarkan yang luka begitu saja.

Aditia dan Ki Dita menghampiri Yaksa yang terluka di beberapa bagian tubuhnya. Sementara Wista bergegas menghampiri Purbajaya.

"Selamat. Kau hebat, Wista ... " Purbajaya ingin menyalami pemuda itu. Namun Wista mengelak. Dan "plak-plak!", tangan Wista melayang dua kali menampar pipi kiri dan kanan Purbajaya. "Huh, dasar pengecut!" teriak Wista berang.

Purbajaya menatap pemuda itu dengan senyum masam.

"Kau patut dicurigai. Barangkali engkau memikirkan kami mati di sini!" teriak Wista lagi marah sekali.

***

Yaksa banyak menerima luka berdarah. Namun demikian, Purbajaya mendapatkan kalau itu sebenarnya hanya luka biasa dan tak membahayakan nyawanya.

Untuk mengeringkan luka itu, Purbajaya sengaja mengumpulkan daun-daun sirih yang kebetulan banyak terdapat di sekitar hutan. Sesudah itu dia menghampiri Yaksa.

"Mau apa kau ke sini?" Wista yang tengah merawat luka temannya berkata ketus. Purbajaya segera menyodorkan lembaran daun sirih.
"Tidak perlu. Pergi sana!" kata Wista menepiskan sodoran tangan Purbajaya. Purbajaya tak banyak bicara, berjingkat menghampiri Paman Ranu.
"Paman, tolong tumbuk yang halus lembar daun sirih ini. Lantas borehkan pada luka Yaksa," kata Purbajaya menyodorkan daun sirih.

Dengan sigapnya, Paman Ranu mengerjakan apa yang diminta Purbajaya. Sesudah itu memborehkan ramuan itu ke setiap bagian tubuh Yaksa yang luka.

Melihat Yaksa mau menerima pertolongan yang bukan dari Purbajaya, pemuda ini hanya senyum masam. Aneh sekali, pikirnya. Hanya karena satu masalaha saja orang bisa punya kebencian sebesar itu. Hanya satu masalah? Hanya sebesar itu? Benarkah?

Purbajaya ingat ucapan Nyimas Yuning Purnama. Betapa Aditia sakit hati karena beberapa kali cintanya ditolak, sementara gadis itu "mandah" saja dipermainkan lelaki lain.

"Tapi Aditia merasa bermasalah dengan kita bukan melulu urusan Si Yuning saja," kata Ki Bagus Sura di saat-saat istirahat di tengah perjalanan."Sebetulnya itu juga bawaan dari masalah ayahnya juga," lanjut orang tua itu.

Aditia itu anak pejabat penting di Sumedanglarang bernama Ki Sanjadirja. Sesama pejabat ada yang bersaing ingin duduk paling dekat dengan Kangjeng Pangeran Santri. Untuk itu, mereka berupaya untuk menjadi orang terpercaya.

"Tahun-tahun sebelumnya, Ki Sanjadirja banyak diutus untuk melakukan kunjungan muhibah ke beberapa negara. Entah mengapa,belakangan tugas ini diserahkan Kangjeng Pangeran padaku," tutur Ki Bagus Sura. Tugas dipindahkan seperti ini tentu amat merisaukan Ki Sanjadirja. Dia punya kesan seolaholah kemampuan dirinya tak terpakai. Tapi belakangan, mereka pun malah menuduh Ki Bagus Sura yang punya gara-gara. Katanya Ki Bagus Sura melakukan tindakan tak terpuji.

"Aku dituding cari muka dan katanya telah menjelek-jelekkan mereka. Padahal selahannya bukan itu. Ketika berkunjung ke wilayah Tanjungpura, pernah terjadi salah paham sehingga pejabat di sana merasa tersinggung oleh perilaku Ki Sanja. Akibatnya, tugas selanjutnya aku yang jalankan. Maka ditambah lagi oleh penolakan cinta anaknya kepada Si Yuning, maka semakin runyam hubungan kami," tutur Ki Bagus Sura lagi.

"Pantas kalau begitu " gumam Purbajaya."Tapi, adakah cara pemecahannya agar pertikaian
tidak berlarut-larut?" tanya Purbajaya.

"Ini bukan sekadar piring yang pecah, namun karena kami telah bersebrangan paham. Sanjadirja itu orangnya penuh ambisi. Dia menginginkan jadi orang kuat dan hanya dia yang dipercaya pihak penguasa. Dengan seperti itu sulit akur, kecuali kita mau berada di bawah pengaruhnya dan jangan mencoba menentang kehendaknya atau bahkan menjadi pesaingnya," kata Ki Bagus Sura.

"Mengapa Ki Bagus malah jadi pesaingnya?" tanya Purbajaya.

"Aku tak bermaksud begitu. Tujuanku hanya mengabdi. Itu saja. Kalau belakangan Kangjeng Pangeran lebih mempercayaiku, itu bukan sebuah dosa," jawab Ki Bagus Sura.

"Hubungan Ki Bagus dengan Ki Dita bagaimana?"

"Ki Dita itu menurutku orang baik. Kelihatannya dia ingin netral. Tapi urusan kewiraan Ki Sanja yang pegang. Jadi otomatis dia ada di bawah kendali Ki Sanja. Maka tak ada anjing yang tak setia tuannya," kata Ki Bagus Sura lagi.

Purbajaya pun bisa melihat, betapa di dalam perjalanan ini, hubungan antara Ki Bagus Sura dan Ki Dita seperti terhalang pagar tembok. Ki Dita lebih banyak bercakap-cakap dengan ketiga orang muridnya dan sebaliknya Ki Bagus Sura banyak mengobrol dengan Purbajaya atau Paman Ranu. Namun demikian, Purbajaya bisa merasakan, hanya Aditia dan dua orang temannya saja yang benar-benar memperlihatkan sikap permusuhan. Ki Dita tidak memperlihatkan sorot kebencian kecuali bersikap acuh tak acuh saja.

"Tidak bersahabat tapi kok mau melakukan perjalanan bersama?" tanya Purbajaya heran.

"Kami sama-sama mengemban tugas. Sungguh tak baik di hadapan Pangeran memperlihatkan kurangnya persatuan," jawab Ki Bagus Sura menghela napas.

Sesudah dirasa cukup beristirahat dan sesudah dilihatnya pemuda Yaksa bisa melanjutkan perjalanan, maka mereka pun menaiki kuda masing-masing untuk meneruskan perjalanan.

Ini adalah hari kedua, hari yang bila perjalanan lancar maka seharusnya sudah tiba di tempat tujuan. Namun berhubung perjalanan dilakukan dengan santai, ditambah oleh gangguan keamanan di tengah jalan, diperkirakan perjalanan baru menempuh sepertiganya saja. Kata Ki Bagus Sura, perjalanan dua pertiganya lagi mungkin bisa diselesaikan dalam waktu dua hari perjalanan. Apalagi perjalanan jadi bertambah lamban sebab Yaksa yang masih luka tak bisa dibawa cepat.

Tadi malam tubuh Yaksa bahkan menggigil karena demam. Sementara usaha Purbajaya dalam memberikan bantuan pengobatan selalu ditolaknya.

"Kalau kau tidak acuh tak acuh, barangkali Yaksa tak bakalan terluka parah," Wista masih memendam rasa sesal yang mendalam kepada "ketololan" Purbajaya yang tak mau  membantu.

"Sudah, jangan merengek seperti itu. Ini hanya akan membuat orang sombong ini jadi semakin tinggi hati," kata Yaksa mendelik kepada Purbajaya.

"Siapa yang bilang kalau kita butuh bantuan dia?" giliran Aditia yang mendelik dengan sorot mata panas.

"Diamlah kalian. Merasa tak bisa menari jangan lantai yang disalahkan," Ki Dita menengahi."Mungkin benar Yaksa terluka karena tak ada bantuan dari pihak lain. Tapi kesalahan paling mendasar adalah karena kelemahan dan ketololan kalian juga. Camkan ini, Karatuan Sumedanglarang tidak membutuhkan ksatria lemah dan dungu dan yang kerjanya hanya merengek atau menyalahkan orang. Aneh sekali, pemuda Purbajaya ini aku tak tahu entah siapa yang mengajarnya. Namun yang elas, dia berjiwa halus dan tak banyak bicara. Sementara kalian ini lahir dari keluarga terhormat malah kerjanya uring-uringan saja. Kalian harus tahu, ilmu yang kumiliki ini mengandalkan gerakan halus. Dan gerakan halus hanya bisa dilakukan oleh orang berperangai halus juga," kata Ki Dita dengan nada penuh sesal.

Baik Aditia mau pun Wista nampak melongo demi mendengar Ki Dita menyumpahi mereka. Bahkan Yaksa pun yang tengah luka terlihat terkejut dengan kenyataan ini.

Purbajaya bisa merasakan kekecewaan ketiga orang pemuda ini. Menurut pikiran mereka, seharusnya Ki Dita membela mereka dan bukannya malah menyumpahi sambil balik memuji "lawan". Purbajaya ada sedikit senang dipuji Ki Dita. Namun rasa khawatirnya pun jadi tak kepalang. Bukankah dengan kejadian ini akan semakin menyulut kebencian ketiga orang muda itu terhadapnya?

Purbajaya jadi merasa tak enak dibuatnya.

Sesudah percakapan ini, semuanya jadi berdiam diri. Ketiga orang itu membisu seribu bahasa. Demikian sampai perjalanan memakan waktu hampir setengah hari. Hanya desah kuda mereka yang terdengar. Atau hanya kicauan burung walik di dahan-dahan kareumbi yang terdengar berceloteh.

Kini sudah memasuki kawasan hutan pinus lagi dan jalanan menaik. Perasaan Purbajaya jadi tak enak sebab perjalanan ini mengingatkannya kepada ucapan Ki Bagus Sura.

Kata orang tua itu, penghadangan oleh kaum perampok sebetulnya sudah diaggap biasa dan kebanyakan bisa ditepis karena kepandaian mereka tak seberapa. Namun yang paling mencemaskan adalah penghadangan yang dilakukan oleh orang-orang yang bermasalah dengan negara karena urusan politik. "Mereka rata-rata punya kepandaian hebat sebab dulunya pun di negri ini termasuk orang penting juga," kata Ki Bagus Sura. Yang paling dicemaskan oleh Ki Bagus Sura adalah dikenalnya sebuah organisasi gelap yang ramai disebut-sebut sebagai Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih. Mereka selalu mengacaukan keamanan di sepanjang antara Sumedang dan Talaga. Mereka adalah kelompok yang sakit hati baik kepada Sumedanglarang mau pun kepada Talaga.

"Mereka sakit hati karena Karatuan Sindangkasih dibiarkan takluk kepada Carbon. Padahal keinginan mereka, baik Talaga mau pun Sumedanglarang harus bisa melindunginya sebagai negri bawahannya," kata Ki Bagus Sura.

"Begitu kuatkah pasukan itu?" tanya Purbajaya jadi merasa khawatir.

"Benar. Disebut pasukan siluman sebab tindak-tanduknya penuh misteri. Mereka menyerang secara gelap dan melarikan diri secara gelap pula. Dalam melakukan serangan, jarang menampakkan diri.Makanya setiap yang akan melakukan perjalanan di sepanjang SumedangTalaga, musti berhati-hati."

"Hebat sekali mereka ... " bisik Purbajaya terkesan.

"Khabarnya mereka dibantu oleh orang-orang pandai dari Pajajaran," jawab Ki Bagus Sura.

Jalanan semakin sempit dan menaik. Di kiri-kanannya kalau tak hutan belukar tentu jurang menganga. Sementara jalan yang dilewati terdiri dari debu tebal dan sepertinya akan menjadi lumpur tebal pula bila terjadi musim hujan.

Kini semua anggota rombongan semakin membisu. Tak banyak bicara bukan karena urusan cekcok tadi, melainkan karena rasa tegang. Tak ada wajah ceria lagi, baik di wajah Ki Dita mau pun wajah Ki Bagus Sura. Hanya Paman Ranu yang biasa. Mungkin begitu pembawaan orang tua setengah baya ini.

Agar tak terpengaruh oleh kekhawatiran semua orang, Purbajaya malah sedikit memajukan langkah kudanya. Yang jalan di muka sekarang adalah Ki Dita dan Wista. Dengan demikian, kini Purbajaya berjalan sejajar dengan Wista.

Namun ketika didekati Purbajaya, Wista hanya memalingkan wajah bahkan mencoba menarik kendali kuda agar maju agak ke depan. Hanya saja tindakan itu segera diurungkannya manakala di depannya ada hal-hal yang mencurigakan.

Matahari tak pernah tiba ke tanah di wilayah ini sebab dedaunan hutan ini begitu lebatnya. Yang ada waktu itu hanya kabut tebal melayang-layang di antara dedaunan.

Purbajaya merasakan, betapa dinginnya hawa di sekitarnya. Mungkin lembah yang mereka lewati begitu dalam dan tiupan angin begitu kencang di bagian dasar lembah. Kesunyian amat mencekam. Tak ada suara burung atau pun binatang hutan di sekitarnya. Demikian miskin penghunikah hutan berkabut ini?

Purbajaya menarik tali kekang kudanya sehingga binatang itu tertahan langkahnya. Rupanya yang menahan kaki kuda bukan Purbajaya seorang. Ki Dita dan Ki Bagus Sura pun sama menghentikanlangkah kudanya masing-masing. Yang lainnya serentak berhenti karena ikut yang lain.

Purbajaya menduga, baik Ki Bagus Sura mau pun Ki Dita sudah mencurigai keadaan sekelilingnya yang dirasa ganjil.
Purbajaya sejak tadi memang curiga. Mustahil di tengah hutan lebat seperti ini tidak terdengar suara binatang apa pun. Kalau sekelompok burung menjauh, binatang melata sirna dan serangga tak ada, hanya menandakan bahwa ketentraman mereka diganggu sesuatu. Apakah itu?

Purbajaya saling pandang dengan Ki Bagus Sura. Sementara Ki Dita sudah lebih dahulu mengeluarkan pedangnya.

Bila Ki Dita saja sudah mempersiapkan diri, hanya menandakan bahwa bahaya besar tengah menghadang. Dan kalau dalam menghadapi perampok saja Ki Dita nampak tenang, maka mudah diduga kalau bahaya kali ini jauh lebih bahaya ketimbang perampok.

Berdebar dada Purbajaya. Dia teringat penjelasan Ki Bagus Sura mengenai gangguangangguan apa saja yang terdapat di tengah perjalanan ini.

Kini semua orang sudah menghentikan langkah kudanya masing-masing. Semuanya duduk terpaku tak ada yang berani buka suara. Bahkan kuda-kuda pun sama tak bergerak, kecuali ekornya yang dikibas-kibaskan.

Ketegangan dan rasa cemas terlihat jelas diwajah Ki Bagus Sura. Bahkan di kedingan udara hutan berkabut ini, jidat Ki Bagus Sura nampak mengucurkan keringat.

"Benar ... Merekalah yang datang!" desis Ki Bagus Sura parau.

Sepasang mata Ki Bagus Sura menatap tajam ke arah pepohonan. Purbajaya jadi penasaran, apa yang dilihat orang tua itu.

Yang dilihat di pepohonan sebenarnya hanyalah kabut tebal. Namun di sela-sela kabut warna putih, terlihat pula ada kabut warna hijau, melayang tipis di sekitarnya. Kabut apakah ini?

Kabut hijau ini pada mulanya hanya melayang tipis saja. Tapi makin lama makin tebal sehingga seluruh kabut berwarna hijau.

"Tutuplah hidung dan mulut!" teriak Ki Bagus Sura.

Warna hijau semakin tebal dan menutupi seluruh pandangan. Purbajaya mencoba menahan napas. Namun sampai kapan kuat bertahan, dia tak yakin sebab kabut hijau semakin tebal saja.

Hanya selintas Purbajaya melihat teman-temannya secara beruntun melorot jatuh dari atas kudanya masing-masing. Sesudah itu, pandangan matanya pun jadi gelap dan kepalanya pusing sesudah menghisap bau wewangian yang aneh tapi yang membuat dirinya mabuk. ***

Ketika sadar, Purbajaya mendapatkan dirinya sudah terikat di batang pohon. Masih terletak di tengah hutan lebat namun bukan di tepi jalan pedati.

Melihat sekelilingnya hutan amat lebat, hanya menandakan bahwa mereka selagi pingsan diseret dari jalan pedati, entah ke daerah mana. Siapa yang menyeret mereka?

Purbajaya menoleh ke sana ke mari. Dia bersyukur. Kendati mereka sama-sama dalam keadaan terikat, namun semua anggota rombongan dalam keadaan utuh tak kurang suatu apa. Di hadapannya terlihat Ki Bagus Sura dan Ki Dita terikat di pohon berlainan.

Sementara dia sendiri berdampingan dengan Wista dan Aditia yang juga sama-sama terikat di batang pohon berbeda. Akan halnya Yaksa, pemuda itu tubuhnya tergeletak begitu saja beralaskan semak-belukar.

Purbajaya semula terkejut. Dia menduga Yaksa telah jadi mayat.

Namun sesudah dilihatnya pernapasan Yaksa turun-naik dan bahkan terdengar suara dengkur, hanya menandakan pemuda ini tengah tidur pulas. Yaksa tidak diikat karena si penyerang nampaknya melihat Yaksa orang lemah karena luka-lukanya.

Suasana masih sunyi. Purbajaya tetap berdiam diri. Dia menunggu beberapa lama kalaukalau si penyerang ada di sekitar itu. Namun ditunggu berlama-lama, tak ada gerakan mencurigakan. Dengan demikian, Purbajaya akhirnya punya kesimpulan kalau mereka sebenarnya telah ditinggalkan begitu saja oleh si penyerang. Siapakah lawan-lawan mereka yang begitu tangguh ini?

Perampokkah mereka? Purbajaya musti menarik sangkaannya ini.

Kalau perampok musti menjarah harta. Namun peti-peti berukir berserakan begitu saja. Demikian pun pundi-pundi miliknya yang diisi uang logam Negri Cina, masih terasa utuh karena di pinggang beratnya tak berkurang.

Kepala Purbajaya masih terasa pening. Pandangan matanya pun masih berkunang-kunang. Dia ingat, sebelum tiba di tempat ini ada terpaan kabut aneh berwarna hijau dan baunya aneh memabukkan.

Sesudah menghirup kabut hijau, semuanya jatuh pingsan.

Sekarang secara tiba-tiba sudah berada di sini dengan tubuh terikat di pohon.

Purbajaya menduga, mereka bukan komplotan perampok. Barang berharga berserakan begitu saja, hanya menandakan bahwa mereka sebenarnya tak butuh harta dan bukan berniat menjarah harta. Lantas, apa yang mereka inginkan?

Sementara hati Purbajaya bertanya-tanya seperti itu, nampak Ki Bagus Sura dan Ki Dita sudah tersadar dari pingsannya. Seperti Purbajaya, mereka pun pada mulanya meneliti sekelilingnya dan memeriksa tubuhnya masing-masing yang terikat di batang pohon.

"Perbuatan merekakah ini?" tanya Ki Dita menatap Ki Bagus Sura. "Barangkali benar mereka..." suara Ki Bagus Sura hampir berupa bisikan. "Siapakah yang dimaksud, Ki Bagus?" tanya Purbajaya penasaran.
Ki Bagus Sura dan Ki Dita saling pandang. Rupanya mereka baru tahu kalau Purbajaya pun sudah siuman dari pingsannya.

"Yang memiliki serangan uap hijau hanya satu, yaitu anggota Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih ... " kata Ki Bagus Sura dengan suara penuh rasa khawatir.

"Nyi Rambut Kasih?" Purbajaya bergumam.

"Engkau tak akan mengenal tokoh ini sebab Nyi Rambut Kasih hidup sekitar enampuluh tahun yang lalu," kata Ki Bagus Sura.

Sambil menunggu yang lainnya siuman, berceritalah Ki Bagus Sura.

Di wilayah dekat Karatuan Talaga terdapat sebuah karajaan kecil bernama Sindangkasih (Majalengka kini adalah perkembangan dari Kerajaan Sindangkasih), diperintah oleh seorang ratu cantik bernama Nyi Rambut Kasih. Dia amat setia kepada agamakaruhun (nenekmoyangnya). Kendati negri-negri kecil lainnya seperti Maja dan Rajagaluh bahkan Talaga sendiri sudah memeluk agama baru, namun Nyi Rambut Kasih tetap fanatik dengan agama lamanya.

Namun demikian, kendati dia tak mau berpindah agama, Ratu sendiri membebaskan rakyatnya untuk memilih apa yang diminatinya. Banyak rakyatnya yang berpindah agama namun ada pula yang mengikuti keteguhan Ratu. Sementara itu, dalam peralihan kehidupan zaman di negrinya, Nyi Rambut Kasih memilih meninggalkan keraton, entah ke mana dia pergi mengasingkan diri. Sampai dengan tahun 1490 Masehi, Cirebon telah beranggapan bahwa seluruh penduduk Sindangkasih telah memeluk agama baru, terkecuali ratunya sendiri yang menghilang entah ke mana.

"Banyak dugaan berbeda. Namun penduduk menganggap Sang Ratu telahngahiyang (menghilang secara gaib) sebab kalau mati harus ada kuburnya dan kalau hidup harus tahu di mana dia berada. Maka karena itu, orang menyebutnya sebagai ngahiyang. Hidup di dunia tidak namun mati pun tidak," kata Ki Bagus Sura menjelaskan.

"Tapi apa hubungannya dengan Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih?" tanya Purbajaya semakin penasaran. "Aku sudah katakan dulu, komplotan ini disebut siluman karena tindak-tanduknya misterius. Kalau datang dan pergi tak diketahui kapan dan di mana. Tahu-tahu lawan terkalahkan. Ya, seperti kita ini.”

"Tidak perlu dibuat aneh. Mereka melumpuhkan kita dengan siasat licik," Aditia bicara dan ternyata dia sudah siuman."Mereka meracuni kita, kan?" lanjutnya.

Wista dan Yaksa pun sudah bangun. Dan karena Yaksa tidak diikat, maka walau pun dengan susah payah karena menahan sakit bila keluar tenaga, Yaksa segera membukakan semua ikatan, kecuali tali yang mengikat tubuh Purbajaya.

Paman Ranu menggeleng-gelengkan kepala, heran dan kecewa dengan sikap Yaksa ini. Lantas dia sendirilah yang bantu melepaskan tali di tubuh Purbajaya.

Sementara Purbajaya tidak banyak perasaan mengenai hal ini. Dia malah terus tanya perihal keberadaan pasukan siluman.

"Ya, belakangan aku tahu, mereka kalahkan kita dengan uap beracun. Hanya yang aku penasaran, mereka tak memberikan kita peluang untuk saling berhadapan," kata Ki Bagus Sura.

"Padahal kalau bisa saling berhadapan, kita bisa tahu apa sebetulnya mereka inginkan," sambung lagi Ki Bagus Sura.

"Mereka orang jahat. Apalagi yang mereka inginkan selain harta yang kita bawa?" Wista mulai buka suara

"Harta yang kita bawa dan bernilai tinggi, berceceran begitu saja. Hanya membuktikan, mereka tak butuh harta," kata Purbajaya sambil menunjuk ke arah belukar di mana peti-peti berserakan.

Isinya porak-poranda begitu saja "Sepertinya mereka melecehkan apa yang sebenarnya kita anggap berharga," sambung Purbajaya lagi.

0 Response to "Kemelut Di Cakrabuana Jilid 07"

Post a Comment