Kelelawar Hijau Jilid 21

Mode Malam
Tanpa sadar Lam-kong Pak berpaling kearah ayahnya. Lam-kong Liu menghela napas panjang, ujarnya^

"Seandainya dikatakan bahwa ibumu adalah seorang jahat, tentu saja aku tak akan membenarkan perkataan itu tapi dalam kenyataan dia mmemang berhati keji dan telengas. entah selama ia jadi pemilik Pengadilan dunia persilatan- entah berapa banyak jago lihay dari kalangan lurus maupun kalangan sesat yang menemui ajalnya diujung telapak tangannya. mungkin jumlah korban yang mampus sudah mencapai ratusan orang banyaknya..."

Lam-kong Pak membungkam dalam seribu bahasa. ia percaya apa yang diucapkan ayahnya sudah pasti tak bakal salah, sebab sewaktu berada dalam pertemuan besar untuk memperebutkan urutan nama besar. ia pernah rasakan pula akan kekejian ibunya, hal itu menunjukan bahwa perbuatan ibunya dimasa lampau bukanlah suatu perbuatan yang betul.

Sesudah berdiam beberapa saat Lam-kong Pak segera alihkan pokok pembicaraan kearah lain katanya:

"Apakah cianpwee bertiga sudah berjumpa dengan Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng?"

"Tidak." jawab oei ci-hu sambil menggeleng. "baru saja engkau masuk kedalam gua, Sian-yan Peng telah muncul disana maka kami segera mengikuti dibelekangnya berangkat kelembah ini?"

Lam-kong Pak termenung sebentar kemudian iapun menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya didalam gua mulut gunung berapi,

Mendengar kisah tersebut ketiga orang kakek tua itu menghela napas tiada hentinya, mereka ikut beriba hati atas kejelekan nasib yang dialami iblis matahari, iblis rembulan- iblis bintang. Terdengar oei ci-hu berkata: "Sungguh tak kusangka pada akhir hidupnya tiga bintang bertangan iblis dapat tobat dari kesalahannya dan kembali kejalan yang benar, sayang nasib mereka memang jelek sehingga harus mengalami akhir yang mengenaskan... terutama payung sengkala itu sudah terjatuh ketangan gembong iblis tua. entah kejahatan dan kekejian apa lagi yang dia lakukan dikolong langit..."

"cianpwee bertiga tenaga dalam yang kalian miliki masih belum pulih kembali seperti edia kala. kalian harus mencari tempat yang terpencil untuk baik2 melatih diri,sehingga kekuatan kalian bisa pulih kembali seperti sedia kala. khususnya untuk bersiap sedia menghadapi Sian-yan cianpwee serta Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng.. Sekarang aku yang muda ingin mohon diri terlebih dahulu. aku hendak pergi mencari ibuku serta rekan2 lainnya"

"Pergilah..." sahut oei ci-hu, "sekarang kami telah menggunakan khasiat dari ilmu hipnotis Tong-bin-toa-hoat untuk mengembalikan hawa murni kami yang hilang, aku percaya tak lama kemudian seluruh kekuatan yang kami miliki telah pulih kembali seperti sedia kala. Nah sampai jumpa kembali satu bulan mendatang dikota Lok-yang."

Setelah berpamitan dengan ketiga orang kakek tua itu. berangkatlah Lam-kong Pak, menigggalkan lembah terebut, ia tak tahu kemana harus pergi mencari jejak dari Sun Han Siang sekalian. dia kuatir kalau sampai ibunya sekalian berjumpa dengan Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng. sebab dengan kekuatan gabungan dari beberapa orang itu belum tentu bisa menandingi kedahsyatan ilmu silat yang dimiliki iblis tua itu. apa lagi payung sengkala benda mustika yang maha dahsyat itu sudah terjatuh ketangannya. Setelah melakukan pencarian yang seksama. disekeliing lembah terpencil itu. Lam-kong Pak baru berangkat menuju kekota Kay- hong.

Setelah masuk kedalam kota, ia lihat diujung sebuah jalan raya terdapat sebidang tanah lapang yang sedang dikerumuni orang banyak. suasana ramai sekali.

Rupanya hari itu adalah hari baik buat mereka, suasana didalam kota penuh sesak dengan beraneka macam jualan-

Ada yang pasang tenda untuk melihat nasib. ada yang mengadakan atraksi silat, ada yang jual silat, jual cerita serta pelbagai macam permainan.

Sambil ber-desak2an diantara kerumunan orang banyak.

Lam-kong Pak melanjutkan perjalanannya masuk kekota.

Tiba2 disisi jalan kurang lebih satu tombak dihadapannya, ia saksikan ada dua orang manusia sedang menjalankan praktek lihat nasib, perawakan tubuh mereka sangat menyolok dan lain daripada keadaan manusia biasa.

Yang tinggi dan kurus bagaikan sebuah bambu, dengan badan ibaratnya kulit pembungkus tulang duduk dibelakang sebuah meja. Sedang yang lain pendek dan gemuk bagaikan buah beligo, perutnya buncit dengan panca  indranya hampir berdempetan satu sama lainnya.

Dagangan mereka berdua nampak agak sepi karena orang2 yang berkumpul disekitar tempat itu lebih banyak yang tertarik untuk melihat atraksi dari pada melihat nasib.

Dlam2 Lam-kong Pak mendesis, ia kenali dua orang manusia berbentuk aneh itu sebagai "Hey-thian-siang-sat" tetapi berhubung paras muka mereka sudah dirubah sedemikian rupa maka andaikata bukan orang yang sangat mengenal diri mereka, sulit untuk mengetahui indentitas mereka yang sebenarnya. Tiba2... dari balik kerumunan orang banyak muncul dua orang manusia, satu pria yang lain perempuan.

Mereka bukan lain adalah "Hek teng-tui-hun" lampu hitam pengejar nyawa Leng cing ciu serta Janda kawin tujuh kali Pui Kun.

Menyaksikan kemunculan dua orang manusia itu, Lam- kong Pak segera gelengkan kepalanya berulang kali, dalam hati ia berpikir.

"Sungguh tak kusangka perempuan lonte yang tak tahu ketuaan dirinya itu berhasil menggaet lampu hitam pengejar nyawa.. Aaaai,. entah apa maksud dan tujuan mereka datang kemari?"

Sementara ia masih termenung memikirkan persoalan itu. tampaklah catatan mati hidup telah menggapai kearah lampu hitam pengejar nyawa sambil berseru, "Eeeei.. yaya yang itu silakan datang kemari untuk ber-cakap2 menurut nasib yang tertera diatas wajahmu dalam tiga hari mendatang engkau bakal ketimpa bencana besar."

Lampu hitampengejar nyawa Leng cing ciu segera mendengus dingin sahutnya: "Hmm aku tidak perCaya dengan segala macam omong kosong dari kalian penipu2 ulung"

"Yaya kalau engkau tidak perCaya maka dikemudian hari kaupasti akan menyesal sekali, mumpung sekarang belum terlambat kami bisa tunjukan jalan terang untuk menghindari bencana besar itu."

Perkataan yang sangat menarik hati ini segera menggerakkan hati Lampu hitam pengejar nyawa, ia mendekati tanda tersebut seraya bertanya: "Bagaimana caranya untuk menghindarkan diri dari bencana besar itu?"

= =oooooooooo= = 

"ASAL engkau bersedia membayar dua puluh tahil perak aku akan mewakili dirimu untuk panjatkan doa dan memohon pengampunan dalam kuil shia- hong-bio kemudian akan carikan pula seorang pengganti untuk mewakili dirimu menemui kematian, dengan jalan begitu maka bencana besar akan terhindar dari tubuhmu." oceh catatan mati hidup.

Pada saat yang bersamaan Hek sim wangwee atau hartawan berhati keji sedang menggapai kearah Janda kawin tujuh kali sembari berseru.

"Eeei.., nona kemarilah sebentar aku lihat bintang kesialan telah memancar diatas wajahmu, ancaman kematian sudah berada didepan mata kalau engkau tidak cepat2 cari jalan keluar maka jiwamu pasti akan melayang, tapi nona tak usah kuatir aku punya cara untuk selamatkan jiwamu. "

"Huuh... omong kosong ngaco belo jangan sembarangan omong yaa.. aku akan kawin lagi masa ada bencana kematian diambang pintu? mungkin kau salah lihat bintang terang kau katakan bintang kesialan-"

"Aku adalah ong Poan Sian (ong setengah dewa)" Hartawan berhati keji memperkenalkan, "diriku bisa melihat kejadian yang sudah lewat dan meramalkan kejadian yang akan datang, kalau kutinjau dari alis wajah nona secara beruntun engkau harus kawin dengan dua belas orang suami dengan begitu hidupmu baru bisa terjamin sampai akhir tua nanti betul tidak apa yang kuucapkan-"

"coba lihat sampai sekarang aku sudah pernah kawin berapa kali? kalau engkau bisa menjawab secara tepat aku baru akan mempercayai perkataanmu." Hartawan berhati keji putar sepasang biji matanya mulutnya pura2 berkemak-kemik sedang jari tangannya seperti lagi menghitung, akhirnya ia berkata:

"Menurut perhitunganku tak lama kemudian nona akan kawin dengan suamimu yang kedelapan-"

Mendengar jawaban tersebut, sekujur badan Janda kawin tujuh kali bergetar keras

"Wuoo engkau benar2 setengah dewa, perkataanmu memang tidak keliru barusan engkau katakan bintang kesialan sudah berada didepan mata, coba terangkan dulu berdasarkan apa engkau mengatakan demikian?"

"Harap nona serahkan dulu dana sekedarnya buat ongkos, kemudian dengan se-jelas2nya akan kubeberkan semua kesialan yang bakal menimpa diri nona, andaikata ramalanku tidak cocok maka bukan saja uangnya kembali, bahkan engkaupun boleh mengobrak-abrik tendaku ini."

Akhirnya Janda kawin tujuh kali terpancing juga oleh perkataannya, ia segera bertanya:

"Berapa tahil perak yang kau butuhkan sebagai dana ?" "Aku tahu dalam saku nona terdapat banyak sekali uang

perak.   apa   lagi   persoalan   ini   menyangkut   usia   serta

kehidupan nona, karena itu ongkosnya pun harus berlipat ganda, bagaimana kalau nona bayar dulu empat puluh tahil perak?"

Janda kawin tujuh kali Pui Kun adalah salah seorang diantara tiga manusia paling miskin didunia persilatan dalam sakunya saat itu paling banyak cuma ada tujuh delapan puluh tahil perak belaka ongkos yang dimintanya sangat tinggi, ia jadi sayang dansakit hati, sambil tertawa dingin segera ujarnya: "Huuh,.. mahal amat ongkos yang musti kubayar ogah aku lebih baik tak usah saja."

"Kalau toh nona tidak ingin menghindari bencana besar yang berada didepan mata akupun tak akan terlalu memaksa kehendakmu silahkan nona berlalu dari sini"

Walaupun dalam hati Janda kawin tujuh kali merasa sayang untuk membuang uang sebesar itu tetapi diapun agak menguatirkan nasib sendiri terutama setelah didengarnya bencana besar telah berada didepan mata, akhirnya dengan perasaan berat dia berkata:

"Begini saja bagaimana kalau engkau beri sedikit potongan buat aku? anggap saja sebagai korting?"

"Tidak kurang setengikpun aku tak sudi bicara, lebih baik coba pergi saja dari sini."

Janda kawin tujuh kali jadi gemas bercampur mendongkol teriaknya keras2:

"Bagaimana kalau tiga puluh tahil perak saja? tentunya engkau tidak merasa keberatan bukan?"

"Selamanya aku setengah dewa tak pernah menawarkan dan tak sudi ditawar kalau orang keberatan Untuk keluar uang lebih baik cepat2lah berlalu dari sini dari pada kehadiranmu terus menerus ditempat ini akan mengganggu kelancaran usahaku."

Dengan gemas mendongkol dan penasaran apa boleh buat, Janda kawin tujuh kali ambil keluar empat puluh tahil perak dan di banting keatas meja, serunya dengan jengkel^

"Nah, ambillah uang itu ayoh cepat katakan bencana besar apa yang sedang mengancam nonamu?" Dengan sangat ber-hati2 Hartawan berhati keji masukkan uang perak itu kedalam sakunya kemudian menjawab:

"Setelah mengambil harta kekayaan orang lain sudah menjadi kewajibanku untuk lenyapkan bencana orang. selamanya ramalan2 sakti dari aku ong setengah dewa tak pernah meleset, orang yang hendak nona kawini sekarang seharusnya adalah seorang manusia kenamaan dalam kolong langit, orang itu sudah pasti bukan rekan yang melakukan perjalanan bersama dirimu tadi"

Janda kawin tujuh kali segera tertawa dingin.

"Heeehh-heeehh-heeehhh...ramalanmu keliru besar nonamu telah. "

Hartawan berhati keji tersenyum. tukas dengan cepat. "Nona berwajah cantik dan suka menghibur diri dengan

segala macam kesenangan kalau cuma begitu saja sih belum terhitung sebagai suatu perkawinan. sebab kalau begituan pun dianggap sebagai suatu perkawinan mungkin nona sudah pernah kawin ber-ratus2 kali banyaknya."

"Jadi maksudmu, aku bakalan menikah dengan seorang manusia yang luar biasa sekali?"

"Betul kalau nona adalah seorang jago yang pernah belajar ilmu silat, maka engkau bakal kawin dengan seorang jagoan lihay dari kolong langit, ramalanku ini sudah pasti tak bakal salah lagi"

Sekali lagi sekujur badan Janda kawin tujuh kali bergetar keras. tanpa sadar ia bergumam seorang diri:

"Jangan2 aku akan kawin dengan siluman tua itu. ?

tapi. aah masa iya?" "Benar dialah orangnya...nona bakal kawin dengan orang yang kau maksudkan itu."

Janda kawin tujuh kali segera tertawa dingin.

"Heeehh-heeehh-heeehhh... engkau tahu siapakah yang kumaksudkan?"

"Aku bukan seorang anggota dunia persilatan. tentu saja tidak tahu siapakah orang itu, tapi aku dapat melukiskan bentuk wajah serta potongan badan orang yang nona maksudkan itu"

"Kalau engkau dapat menebak secara jitu, nonamu segera akan menghadiahkan kembali sepuluh tail lagi"

Paras muka Hartawan berhati keji berbunga, dengan muka berseri katanya:

"Harap nona suka menyerahkan lebih dahulu hadiah yang nona janjikan itu, bagaimanapun toh kalau aku salah bicara maka engkau masih dapat mendepak tendaku ini"

Janda kawin tujuh kali tertawa dingin. "Heehh...heehh...heeehh... kalau engkau dapat

melukiskan raut wajah orang itu secara tepat, engkau benar2 adalah dewa hidup,."

Sambil berkata ia merogoh kedalam sakunya, dan serahkan sepuluh tahil perak. keatas meja.

Tanpa banyak bicara Hartawan berhati keji menyambar uang diatas meja dan segera dimasukkan kedalam sakunya.

"orang itu berusia tujuh puluh tahunan, badannya tinggi besar dan mukanya penuh bopeng putih..."

Janda kawin tujuh kali tak dapat menahan emosinya lagi, ia segera menjerit kaget,. "Woou.. engkau.,, benar2 seorang dewa hidup,,.ramalanmu sungguh lihay"

Hartawan berhati keji menyeringai dan tertawa senang, sambil menggertak gigi ujarnya:

"Nama besar ong setengah dewa sudah amat tersohor dimana-mana empat penjuru kolong langit tak ada yang tak kenal namaku, kalau cuma meramal begitu saja sih urusan keciL. apabila nona bersedia untuk mengorbankan uang sebesar dua puluh tahil perak lagi, maka akan kutunjukkan sebuah jalan terang bagimu"

Janda kawin tujah kali jadi mendongkol bercampur jengkel, ia berteriak keras:

"Uang dalam saku nonamu tinggal tiga puluh tahil perak belaka, apakah engkau hendak menguras semua isi kantongku hingga ludas?"

Hartawan berhati keji tersenyum. "Tangan nona halus dan empuk itu tandanya selama hidup tak akan kekurangan uang asal engkau kirim satu kerlingan mata yang aduhai. . tanggung uang akan datang sendiri ketanganmu."

"coba kau terangkan dahulu jalan terang apakah yang hendak kau tunjukkan kepadaku??"

"Aku dapat membuat engkau jadi manusia nomor satu didalam dunia persilatan, mulai saat ini bukan saja apa yang kehendaki akan terpenuhi, tak pernah kekurangan uang lagi, bahkan setiap malam bakal ada pemuda tampan yang kuat dan gagah menemani kau tidur."

Janda kawin tujuh kali jadi tertarik sekali oleh obrolan tersebut, dengan Cepat dia ambil keluar dua puluh tahil perak dari sakunya dan diletakkan keatas meja, serunya, "Ayoh cepat katakan" Dengan cekatan Hartawan berhati keji masukkan uang perak itu kedalam sakunya, lalu berkata:

"Dari sini menuju kearah barat. ketika hampir mendekati kaki tembok kota terdapat sebuah kebun bunga yang besar milik keluarga Siok. tempat itu sangat sepi. terpencil dan sudah lama tak pernah dihuni orang, tetapi didalam kebun bunga yang amat luas itu terdapat pelbagai macam bangunan loteng serta gardu istirahat yang sangat indah, malam nanti mendekati kentongan ketiga, berangkatlah menuju kegedung tersebut, sebelum berangkat dandan dulu yang ayu agar kelihatan lebih menarik hati. apa bila sudah mengadakan pertemuan dengan setan tua itu. gunakanlah kesempatan yang sangat baik itu untuk mencuri benda mustika yang dimilikinya, asal benda mustika itu berhasil kau dapatkan maka engkau akan jadi manusia nomor satu dikolong langit?"

Timbul kecurigaan dalam hati Janda kawin tujuh kali setelah mendengarperkataan itu, dia segera menegur:

"siapakah sebenarnya engkau? darimana engkau bisa tahu tentang urusan dunia persilatan?"

"Pepatah kuno mengatakan: kalau seorang siucay tak pernah keluar pintu rumah. dia tak akan tahu urusan dunia. Aku mendapat julukan setengah dewa, masa urusan sekecil itu saja tidak tahu.,. apakah engkau tidak terlalu menghina akan kepandaianku?"

Janda kawin tujuh kali segera bangkit berdiri, dengan enteng ia bergerak maju kedepan. tiba2 ia merasa sakit hati sekali karena lima puluh tahil perak telah kabur dengan begitu saja, sambil tertawa dingin ia menerjang kemuka dan menyambar saku Hartawan berhati keji yang berada dihadapannya. Rupanya Hartawan berhati keji sudah menduga sampai kesitu, tubuhnya yang bulat bagaikan bola daging segera bergerak mundur kebelakang dengan suatu gerakan  cekatan, serunya sambil tertawa cekikikan.

"Hiiihh...hiiihh...hiiihh.. nona.,.engkau jangan sok bergurau aah.. aku selama hidup paling takut geli.. jangan me-ngitik2 pinggangku..."

Dengan suatu gerakan yang manis dia menghindarkan diri, dengan demikian cengkeraman yang dilancarkan Janda kawin tujuh kali mengena disasaran yang kosong.

Melihat serangannya gagal, perempuan cabul itu merasa agak tidak puas, dengan jurus macan tutul unjukkan cakar, sekali lagi dia cengkeram saku orang itu. Hartawan berhati keji segera berteriak keras2:

"Aduuuh..tolong...tolong.. .perempuan ini hendak merampas uang perakku. . .tolong ... ada begal perempuan.

. . "

Sambil gembar-gembor dia melarikan diri kearah orang banyak, teriakan tersebut segera memancing perhatian orang banyak dan didalam waktu singkat sekitar tempat itu telah dikerumuni orang banyak.

Dalam keadaan demikian terpaksa Janda kawin tujuh kali harus urungkan maksudnya tanpa memperdulikan diri Lampu hitam pengejar nyawa lagi dia kabur lebih dahulu menuju ketengah kerumunan orang banyak.

Keadaan yang dialami Lampu hitam pengejar nyawa jauh lebih mengenaskan lagi tujuh puluh tahil perak kena tertipu binasa ludas, dengan wajah uring2an terpaksa ia kabur menuju ketengah kerumunan orang banyak.

Setelah dua orang pria dan wanita itu lenyap dari pandangan mata Hartawan berhati keji baru unjukan diri dari tempat persembunyiannya sambil mengerahkan tubuhnya yang bulat bagaikan gentong ia dekati catatan mati hidup sambil menegur, "Toa-ya daganganmu hari ini tentu sukses bukan?"

"Waah payah sekali deh." jawab catatan mati hidup dengan cepat, "aku Toa-ya sudah bersilat lidah putar bibir berusaha untuk menjebak cecunguk itu tapi sama sekali tak ambil gubris setengikpun aku tidak dapat bagaimana dengan Ji-ya?"

HARTAWAN berhati keji gelengkan kepalanya yang bulat gede seperti biligo jawabnya.

"Aaai. .toa-ya, engkau toh tahu sebetulnya aku jie-ya masih punya setahil uang perak...sungguh tak nyana mencuri ayam tak berhasil, malahan uangku sendiri kena dirampas..sungguh sialan"

Lam-kong Pak yang secara diam2 mengikuti jalannya peristiwa itu segera memaki dalam hati kecilnya setelah mendengar jawaban tersebut:

"Kurang ajar, mereka benar2 setan pelit dalam saku masing2 terdapat puluhan tahil perak. tapi diluaran tak mau bicara sejujurnya, entah apa yang sedang mereka lakukan ditempat ini? biarlah kuintil terus gerak-gerik mereka berdua"

Sementara pemuda itu masih termenung, catatan mati hidup telah berkata lagi:

"Ji-ya urusan sekecil ini buat apa dibicarakan biarlah hari ini aku toa-ya yang menjamu dirimu, apalagi ketika tempo hari aku kalah bertaruh satu meja perjamuan sampai sekarang toh belum kubayar, ayoh kita cari rumah makan."

"Benar juga perkataan dari toa-ya. ayoh berangkat" sahut Hartawan berhati keji dengat cepat, "didengar dari pembicaraan toa-ya tersebut. dapatlah dibuktikan kalau hubungan persaudaraan diantara kita berdua tak bisa dibandingkan dengan persaudaraan manapun juga . kalau ada kesempatan aku ji-ya pasti akan balas menjamu diri toa- ya juga ."

Dua orang manusia ajaib itu segera tinggalkan tenda tempat usaha mereka dan berangkat menuju kesebuah rumah makan yang besar dan mentereng.

Diam2 Lam-kong Pak mengintil dibelakang mereka berdua, dengan suatu gerakkan yang manis dia berhasil mencari tempar duduk ditengah ruangan.

Dua orang makhluk ajaib tersebut memilih tempat duduk disebelah luar, setelah duduk catatan mati hiduppun berkata:

"Ji-ya, ini hari aku sengaja akan memilih sendiri sayur yang akan dipesan, agar kita berdua bisa menikmati masakan yang lezat dengan se-puas2nya"

"Hooree... toa-ya, engkau memang royal sekali." teriak Hartawan berhati keji sambil bertepuk tangan kegirangan. "toa-ya, engkau tentu tahu bukan beberapa hari belakangan ini perutku terasa amat masam dan kering, lebih baik pilihlah menu sayur yang banyak mengandung minyak babi"

"ooah...tentu saja..tentu saja.. asal ji-ya tidak merasa Canggung. aku pasti tak akan membuat dirimu jadi keCewa"

Habis berkata catatan mati hidup segera bangkit berdiri dan turun dari loteng untuk pesan sayur, beberapa saat kemudian ia muncul kembali disamping rekannya sembari berkata: "Ji-ya, sungguh tak disangka kita harus berjumpa dengan kedua orang gembong iblis itu disini"

"Perhitungan dari majikan sun selamanya jitu dan tepat. ia telah memperhitungkan bakal ada beberapa orang gembong iblis akan munculkan diri disini. pekerjaan kita tidak lebih hanya mendorong ombak membantu gelombang agar dua orang gembong iblis itu mencari penyakit buat diri sendiri. sungguh tak disangka mereka benar2 tak takut mati. malam ini pasti ada pertunjukkan bagus disini."

Mendengar perkataan tersebut. satu ingatan secara cepat berkelebat dalam benak Lam-kong Pak, tahu rombongan yang dipimpin ibunya sudah pasti berada disekitar tempat ini, sedangkan kedua orang makhluk ajaib itu hanya menjalankan tugas yang diperintahkan kepada mereka untuk menipu habis uang perak yang dimiliki Lampu hitam pengejar nyawa serta Janda kawin tujuh kali kemudian disuruh mereka pergi menempuh bahaya.

sementara ia masih termenung, dari anak tangga berkumandang suara gemericikan kayu yang berdenyit, tanpa berpalirg lagi Lam-kong Pak. dapat menduga kalau malaikat raksasa Loo Liang-jan pasti sudah munculkan diri disitu, sebab langkah kaki orang lain tak mungkin seberat itu, apabila membuat seluruh ruangan bergetar keras.

Sedikitpun tidak salah, terdengar Loo Liang-jan berteriak keras setibanya dihadapan dua orang manusia jelek^

"Aku Loo-tua mendapat tugas untuk jual silat ditempat ini dengan tujuan untuk melindungi kerja kalian berdua, sebetulnya aku berhasil mendapat untung beberapa tahil perak, siapa tahu uangku kena dicuri oleh kadet2 sialan, untung kalian berdua mendapat keuntungan besar, ini hari aku Loo-tua akan ikut makan sampai se-puas2nya" "Loo Liang-jan takaran perutmu terlalu besar dan mengerikan, kami tak mampu memberi makan dirimu" teriak catatan mati hidup dengan cepat, "jamuan yang kuadakan pada hari ini semuanya telah menelan biaya sebesar tujuh delapan tahil perak. bagaimana kalau kuberi dua tiga tahil perak kepadamu? tapi kalau lain kali engkau sudah bertemu dengan Lam-kong sauya, jangan lupa untuk mintakan ganti buat diriku loo"

"oooh. sudah tentu, sudah tentu, engkau tak usah kuatir"

Tak lama kemudian pelayan muncul sambil membawa dua baki besar serta dua teko arak.

setelah dihidangkan keataS meja Hartawan berhati keji segera mendengus dingin. Dengan muka masam ia berseru: "Toa-ya, sayur apaan ini?"

"oooh... ji-ya, engkau benar2 tak tahu diri, masih ingat tidak sewaktu tempo hari engkau mengatakan sedang sakit perut dan menceret, bukankah engkau katakan jangan  pesan makanan yang terlalu mengandung minyak? aku telah pesankan beberapa piring sayur mayur untukmu, akhirnya engkau malah tak senang hati. Barusan engkau mengatakan kalau belakangan ini kurang makan hidangan yang berminyak. maka sengaja toa-ya pesan kepada koki agar siapkan sayur yang mengandung banyak minyak babinya, coba lihat sayur ini bernama Ang-sio Ti-ba kulit babi masak kecap"

Loo Liang-jan yang rakus sama sekali tidak ambil perduli kulit babi atau bukan, sumpitnya dengan cepat bekerja untuk sikat hidangan tersebut.

Hartawan berhati keji memandang sayur lain yang dihidangkan- kemudian sambil mendengus serunya kembali: "Toa-ya, lalu apa nama sayur ini?" "Oooh sayur ini namanya duri ikan masak saus" Hartawan berhati keji kontan tertawa dingin.

"Hahh..heehh.,heehh...aku cuma pernah dengar masakan Hi-sit sirip ikan, belum pernah dengar ada sayur yang bernama duri ikan masak saus. IHuuh coba lihat, mana lihat daging ikannya? masa engkau anggap aku sebagai kucing yang doyan makan duri2 ikan sisa orang lain?"

Tak lama kemudian pelayan muncul kembali menghidangkan delapan macam sayur dan satu macam kuah, diantaranya terdapat masakan ikan asin digoreng. tahu masak kecap. kuah sari daging sapi dan lain-lain...

Hartawan berhati keji segera bangkit berdiri dengan hati mendongkol serunya.

"Toa-ya, aku tak berani menerima jamuan makanmu ini.. kalau toh Loo Liang jan tidak merasa keberatan, biar dia yang menemani engkau makan-. aku mau pesan satu mangkuk nasi goreng saja"

"Ji-ya, mau makan atau tidak itu urusanmu sendiri, pokoknya aku toa-ya sudah menjamu dirimu, kalau engkau menampik maka lain waktu jangan salahkan aku lagi"

Dengan hati mendongkol Hartawan berhati keji pesan nasi goreng dan bersantap dimeja lain, sementara si catatan mati hidup dan Loo Liang jen melahap hidangan yang berada didepan mata.

Dari meja seberang, Hartawan berhati keji sempat berseru dengan rasa mendongkol:

"Hey, Loo Liang-jan- engkau tertipu mentah2 kalau Cuma hidangan semaCam itu sih tak bakal kelewat dari dua tahil perak. toa-ya kalau suruh kau ganti tiga tahil itu namanya selain dia makan dengan gratis engkau malah disuruh nombok satu tahil perak lagi"

Loo Liang-jan tidak ambil perduli urusan tetek bengek seperti itu, yang paling penting bagi dirinya adalah isi perutnya yang lapar.

Kuah daging sapi yang begitu encer segera diteguk habis. kemudian ia menguras pula sisa2 kulit babi yang masih ada diatas baki. setelah itu dia minta satu gentong nasi seorang diri ia habiskan separuh gentong lebih.

Pada saat itulah... dari arah anak tangga berkumandang suara langkah kaki manusia. disusul seseorang munculkan diri dalam ruang loteng, orang itu bukan lain adalah Kakek ombak menggulung.

Hartawan berhati keji segera putar biji matanya, kemudian serunya dengan suara lantang:

"Hey setan tua malam ini ditengah kebun bunga keluarga Siok bakal dilangsungkan suatu pertunjukkan bagus. aku dengar katanya payUng sengkala benda mustika dari dunia persilatan itu sudah terjatuh ketangan Janda kawin tujuh kali, kalau engkau ada maksud untuk mengincar benda mustika tersebut, jangan lupa untuk berangkat kesitu lihat keramaian-.."

Kakek ombak menggulung tertawa dingin. "Heehh..heehh..heehh...payung sengkala berada

ditangan suhengku Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng. lebih baik engkau jangan bicara sembarangan yaa"

"Kakak seperguruanmu telah terpikat oleh kegenitan Janda kawin tujuh kali, setelah permainan satu babak ternyata secara diam2 payung sengkala tersebut telah dicuri oleh Janda kawin tujuh kali, menurut berita yang kudengar. saat ini perempuan tersebut sedang bersembunyi ditengah kebun bunga keluarga Siok"

sekali lagi Kakek ombak menggulung tertawa dingin. "Heehh-heehh-heehh...kalau kejadian itu benar, masa

engkau sendiripun tidak tertarik untuk ikut serta dalam perebutan payung sengkala tersebut?"

"Waaahh...kalau kami sih tak punya ambisi untuk ikut memperebutkan benda mustika itu, karena walaupun punya payung sengkala belum tentu kami mampu untuk melindunginya. oleh sebab itu aku sama sekali tidak tertarik... kalau engkau tidak percaya yaa sudahlah, bagaimanapun toh sebentar lagi Lam-kong sau-ya bakal datang kemari,.."

Nama besar diri Lam-kong Pak pada saat ini berbeda jauh dengan keharuman namanya dimasa silam, Kakek ombak menggulung tidak berani berdiam terlalu lama disitu, sengaja ia berlaku santai dan perlahan turun dari loteng.

Selesai bersantap diam2 Lam-kong Pak menguntil dibelakang dua orang makhluk ajaib serta Loo Liang-jan, ia lihat beberapa orang itu masuk kedalam sebuah rumah penginapan, dia pun segera ikut pesan sebuah kamar dirumah penginapan yang sama.

Sang surya telah condong keufuk sebelah barat, tak lama kemudian haripun jadi gelap. Lam-kong Pak menggunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk bersemedi dan mengatur pernapasan selama satu dua jam didalam kamarnya sendiri, dalam waktu singkat semua rasa penat dan lelah yang semula menyelimuti tubuhnya hilang tak berbekas, bahkan ia merasakan adanya segulung aliran hawa panas yang amat kuat memasuki jalur peredaran hawa murninya dan ikut mengelilingi seluruh badannya. Pemuda itu tak berani membuang waktu terlalu lama. selesai bersemadi berangkatlah dia menuju kehalaman belakang, sebab ia tahu rombongan yang dipimpin oleh ibunya saat itu berdiam disederetan kamar yang berada diujung paling belakang.

Dari salah satu ruang kamar. secara lapat2 Lam-kong Pak mendengar ada suara pembicaraan yang amat lirih, dengan cepat ia dekati ruangan itu.

Dengan cepat dia kenali suara pembicaraan adalah ibunya. sedangkan lawan berbicaranya bukan lain adalah ayahnya. kenyataan tersebut sangat menggirangkan hatinya, dengan cepat ia hampiri jendela kamar yang lain-

Pada saat itu dia dengar seorang dara muda dengan suara yang nyaring sedang berkata:

"Enci Hiang, siau-moay ada sepatah dua patah kata hendak ditanyakan kepadamu. cuma selama ini aku merasa kurang enak untuk mengutarakannya keluar, karena sudah lama terpendam dalam perutku maka lama kelamaan aku merasa andai kata tidak diucapkan keluar, maka akhirnya aku yang bakal sengsara sendiri. oleb sebab itu menggunakan kesempatan yang sangat baik ini hendak kuutarakan kepada cici. entah setelah mendengar perkataan itu apa cici bisa marah kepadaku?"

Suara pembicaraan itu bukan lain adalah cu Li- yap.

Terdengar Pek li Hiang dengan cepat menjawab:

"Adik Yap hubungan kita sudah melebihi saudara sekandung sendiri, apa yang hendak kau ucapkan segeralah diutarakan keluar, kenapa musti canggung atau malu? apa engkau anggap diriku sebagai orang luar?" "Sebetulnya...sebetulnya-,..agak malu aku utarakan persoalan ini kepadamu. ehmm lebih baik tak usah dibicarakan lagi aah... aku malu"

"Eeeh. ..kenapa sih kalau bicara mencle-mencle. ayoh dong kalau mau bicara. awas ya, kalau engkau tak mau ucapkan keluar aku ogah bicara dengan kau lagi.. ayoh cepat katakan"

cu Li- yap tampaknya masih sangsi, tapi setelah didesak terus menerus akhirnya toh ia berbicara juga :

"Selama ini,.. apakah engko Pak pernah melakukan.  "

Apa yang diucapkan selanjutnya tak sempat didengar, sebab suara bisikan tersebut amat lirih sekali melebihi bisikan nyamuk. sulit bagi Lam-kong Pak yang  bersembunyi diluaran untuk menangkap pembicaraan itu.

Beberapa saat kemudian terdengarlah Pek-li Hiang tertawa cekikikan lalu dengan nada mengomel sahutnya:

"Kau harus beritahukan dahulu kepadaku dengan kau apakah dia sudah."

"Belum pernah" jawab cu Li- yap sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Akupun belum pernah" sambung Pek-li Hiang dengan cepat.

Lam-kong Pak yang bersembunyi diluar kamar segera angkat bahu, dengan ringan ia mendorong pintu dan masuk kedalam ruangan-

Mula2 dua orang gadis itu tampak agak terperanjat ketika menyaksikan kemunculan seseorang didalam kamar mereka. tapi sesaat kemudian dengan girang mereka lari kedalam pelukannya sambil berseru manja: "Kau jahat kau jahat apa yang kami bicarakan barusan pasti sudah kau dengar"

= =000000000= =

"APA SIIH yang barusan kalian bicarakan." seru Lam- kong Pak sambil berlagak pilon, "aku sama sekali tidak mendengar, apakah kalian bersedia untuk ulangi kembali apa yang barusan kalian bicarakan itu?"

cu Li- yap dan Pek-li Hiang saling bertukar pandangan sekejap. kemudian tertawa cekikikan.

Lama sekali cu-li Yap baru berkata:

"coba kau tebak apa yang sedang kami bicarakan beberapa saat berjelang?"

"Baiklah aku akan coba untuk menerkanya, bagaimana kalau aku dapat menebaknya secara jitu ?"

"Kalau engkau bisa menebak secara jitu, maka apa yang kau inginkan dari kami akan kami berikan tanpa membantah" sahut Pek-li Hiang sambil tertawa.

"Baik. kita tetapkan dengan ucapanmu itu, eeei... jangan coba menghindar yaa kalau betul"

"Jangan kuatir, kami tak akan main curang" ujar orang gadis itu menyahut bersama.

Lam-kong Pak gelengkan kepalanya sambil pura2 berpikir keras dengan dahi berkerut, lama sekali ia baru bergumam seorang diri:

"Kalau berani menjanjikan hadiah yang begitu besar buat diriku, itu berarti apa yang sedang kalian bicarakan pastilah susah ditebak dengan akal sehat. ...atau dengan perkataan lain aku harus memikirkan dari persoalan2 yang tidak  biasa. "

Tiba2 sianak muda itu menepuk batok kepalanya sendiri. se-olah2 seseorang yang mendadak memahami akan sesuatu, dengan cepat ia berseru: "Aaah mungkin apa yang kutebak tak akan keliru."

Meskipun cu Li yap dan Pek-li Hiang tidak perCaya kalau pemuda itu dapat menebak apa yang barusan mereka bicarakan, tak urung juga paras muka kedua orang gadis itu berubah jadi merah padam karena jengah, serunya dengan cepat,

"ciiss jangan ngibul dulu. sampai tua pun jangan harap

bisa menebak persoalan itu dengan jitu"

Lam-kong Pak tersenyum misterius, dengan suara yang amat lirih dia berbisik:

"Bukankah kalian berdua sedang saling menanyakan kepada lawannya. apakah pernah mengadakan hubungan senggama dengan diriku? ayoh. betul tidak?"

Dua orang dara cantik itu agak terperangah, kemudian dengan ter-sipu2 mereka tundukkan kepalanya rendah2, lama sekali mereka tak mampu mengucapkan sepatah kata pun

"Bagaimana?? Betul bukan tebakanku??" teriak Lam- kong Pak dengan suara keras.

"ciiss tak tahu malu, tebakanmu keliru besar." teriak cu Li-yap pula sama kerasnya-

"Engkau berani sumpah dihadapan Thian- atau pengakuanmu itu tidak bohong??" cu Li-yap makin ter-sipu2, tanpa banyak bicara lagi ia segera jatuhkan diri kedalam pelukan pemuda itu sambil omelnya:

"Kau jahat..kau jahat...aku tak mau tahu aaah.. kalau kau jahat lagi. Aku tak mau pedulikan kau"

Sekali rangkul Lam-kong Pak memeluk gadis2 itu dengan kencang. katanya:

"Nah kalian kalah bukan? ayohlah sekarang siapa kalah musti Penuhi apa yang telah dijanjikan sebelumnya, sekarang aku mau tuntut hadiahnya dari kamu berdua."

"Apa yang kau inginkan?" tanya cu Li-yap dan Pek-li Hiang hampir berbareng.

"Tentu saja aku inginkan suatu pekerjaan yang paling menyenangkan bagi umat manusia."

"Suatu pekerjaan yang paling menyenangkan bagi umat manusia?" seru cu Li-yap keheranan, "apa itu? apa engkau bersedia menerangkan lebih jelas lagi?"

"Bagi seorang pria muda semaCam aku maka pekerjaan yang paling menyenangkan ialah lulus ujian negara serta menikmati malam pengantin, karena itu sekarang aku inginkan yang terakhir itu dari kalian berdua"

cu Li-yap dan Pek-li Hiang seketika merasakan jantungnya berdebar keras, tapi mereka pura2 berlagak bodoh, kembali tanyanya, "Jadi apa yang kau inginkan dari kami berdua? kami bingung jadinya."

Lam-kong Pak tertawa ter-bahak2, ia rangkul dua orang gadis itu makin erat, bisiknya:

"Aku ingin tidur bersama kalian berdua, kemudian aku akan ajak kalian berdua untuk menikmati Sorga dunia yang katanya sangat nikmat itu... mau bukan ?" Dua orang gadis manis itu jadi malu sekali. mereka memukul dada sianak muda itu dengan tinjunya yang halus, tentu saja pukulan itu tidak keras. sementara paras mukanya berubah makin merah padam. Melihat dua orang gadis itu tidak mengucapkan sepatah katapun, kembali Lam-kong Pak berkata: "Apa yang musti kalian takutkan? setiap umat manusia yang hidup dikolong langit pasti akan merasakan nikmatnya sorga dunia tersebut, hanya saja persoalannya tergantung sekarang atau nanti... ayohlah sayang, kalian tak usah takut, tidak sakit kok."

Suasana hening untuk beberapa saat lamanya. tiba2 Pek- li Hiang buka suara dan alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, katanya^

"Engkoh Pak. tahukah engkau kalau empek Lam-kong, empek Lu serta oei cianpwee telah datang semua kemari "

"Ehmm Aku sudah tahu."

"Engkoh Pak" ujar cu Li-yap pula dengan sedih, "tahukah engkau, lantaran kedatangan empek Lam-kong kemari, telah timbul suatu peristiwa yang kurang menyenangkan?"

"Apa yang telah terjadi?" seru Lam-kong Pak dengan wajah terperangah. "Ibuku telah lenyap tak berbekas, entah kemana dia sudah pergi...?"

Terhadap peristiwa tersebut Lam-kong Pak sama sekali tidak merasa aneh. ia tahu dimasa lampau cu Hong Hong secara diam2 mencintai ayahnya, hal ini mengakibatkan timbulnya perasaan dendam dalam hati Sian-yan Peng terhadap ayahnya, tetapi ia sama sekali tak menduga kalau mereka yang sudah berusia lanjut dalam kenyataan masih mempunyai watak seperti anak kecil. "Engkau tidak berusaha untuk menemukan kembali ibumu yang pergi tanpa pamit?" tanya Lam-kong Pak kemudian-

"Aaah.. siapa bilang aku tidak berusaha untuk mencarinya? kami secara be-ramai2 sudah berangkat melakukan pencarian, wilayah sekitar seratus li dari kota ini sudah kami geledah selama dua hari ber-turut2, namun sama sekali tiada kabar berita yang berhasil didapat, a a i... mama memang agak keterlaluan-"

"Engkau tak usah kuatir" hibur Lam-kong Pak dengan suara lembut, "bibi cu tidak akan pergi terlalu jauh dari sini Aa a ii... mereka semua telah dicelakai oleh Cinta, engkau tahu? ayahmu Sian-yan Peng bakal melangsungkan pula pertarungan yang amat seru melawan ayahku"

Tanpa diminta, Lam-kong Pak segera menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama berada dilembah tersebut. serta semua peristiwa yang terjadi belakangan ini? kemudian ia menambahkan:

"Ini hari aku lihat sepasang manusia jelek dari wilayah Hay-thian buka tenda menjadi tukang ramal, menurut apa yang kudengar rencana tersebut muncul dari usul ibuku, apakah kalian tahu apa maksud yang sebenarnya dengan segala macam perbuatan itu?"

"Kami telah menemukan kalau Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng bersembunyi didalam kebun bunga keluarga Siok." sahut Pek-li Hiang menerangkan, "secara diam2 mereka ditugaskan untuk mengawasi gerak geriknya. kami ingin tahu apakah masih ada gembong iblis lainnya yang berada ber-sama2 dirinya. dan terakhir kami temukan kalau cuma Kakek ombak menggulung seorang yang berada ber-sama2 dirinya." Lam-kong Pak tertawa dingin sehabis mendengar keterangan tersebut, ujarnya.

"Kedua orang gembong iblis itu sama2 mempunyai kepentingan pribadi yang saling bertentangan, kerja sama mereka sebetulnya diselubungi oleh niat busuk yang amat keji. Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng bersedia menerima kakek ombak menggulung sebab dia hendak memperpunakan tenaganya. sedangkan kakek ombak menggulung bersedia digunakan tenaganya karena dia ingin merampas payung mustika itu dari tangan kakak seperguruannya. meskipun sekarang nampaknya akur dan bisa bekerja sama dalam kenyataan keadaan mereka ibaratnya harimau dan srigala hidup dalam satu liang, cepat atau lambat akhirnya pastilah akan terjadi suatu pertarungan seru yang mengakibatkan kedua orang itu saling bunuh membunuh"

"Malam ini empek Lam-kong, empek LU empek oei Serta Bibi Lam-kong Sekalian akan melakukan  penyelidikan kedalam kebun bunga keluarga Siok." seru cu Li-yap. "engkau ada minat untuk pergi kesana tidak? Mungkin pada saat ini mereka semua telah berangkat lebih dahulu"

"Barusan aku masih sempat mendengar suara ayah dan ibuku sedang ber-cakap2 dalam kamar, aku rasa mereka tak akan berangkat dalam saat2 sepagi ini."

"Aku dengar katanya mereka akan berangkat agak pagian, agar gembong iblis tua itu sama sekali berada diluar dugaan" seru Pek-li Hiang dengan cepat.

"Kalau begitu biarlah kutengok dulu mereka, kalau ternyata beberapa orang itu sudah berangkat maka akupun segera akan menyusul mereka kesana, kalian berdua lebih baik menunggu disini saja. karena dengan andalkan payung mustika tersebut. kekuatan yang dimiliki gembong iblis tua itu jadi hebat dan luar biasa sekali"

"Tidak kami tak mau tinggal disini, kami mau ikut bersama, Kau jangan tinggalkan kami disini sendirian," rengek kedua orang gadis itu hampir berbareng.

Lam-kong Pak didesak sehingga jadi merasa apa boleh buat, terpaksa ia mengajak dua orang gadis itu untuk menengok keruang sebelah, ternyata beberapa orang itu sudah berangkat maka ketiga orang muda mudi itupun segera meneruskan perjalanan menuju kearah barat.

sebelum kentong kedua menjelang, mereka telah sampai ditempat tujuan.

Walaupun kebun bunga dari keluarga Siok termasuk harta peninggalan dari seorang pedagang kaya raya tetapi berhubung keturunannya sama sekali sudah pUnah maka tiada orang yang mengurusi lagi harta warisan tersebut oleh sebab itu tempat ini jadi puing berserakan yang sama sekali tak berpenghuni. dari rakyat jelata yang hidup disekitar sanapun tak ada yang berani menempatinya.

Setibanya diluar dinding kebun, Lam-kong Pak segera menyambar tubuh kedua orang gadis tadi, lalu satu dikempit dikiri yang lain dlkanan, ia enjotkan badan melayang tutun kebalik kebun tadi gerakan tubuhnya enteng dan lincah sekali

Ditengah kebun bunga tersebut terdapat sebuah bangunan bertingkat yang amat tinggi, semuanya terdiri dari empat tingkat pada waktu itu cahaya lampu yang redup memancar keluar dari tingkat kedua secara lapat-lapatpun dari ruangan itu berkumandang suara pembicaraan manusia. Lam-kong Pak segera menyembunyikan dua orang gadis itu ketengah semak belukar.

kemudian dia sendiri melayang keluar jendela tingkat kedua, dari situ dia melongok kedalam ruangan,

Tampaklah Janda kawin tujuh kali dan Lampu hitam pengejar nyawa roboh terkapar diatas tanah, meskipun masih hidup namun mereka tak dapat berkutik, sebab jalan darahnya telah tertotok.

Sedangkan Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng duduk berhadapan dengan Kakek ombak menggulung. mereka sedang minum arak sambil ber-cakap2. Terdengar kakek ombak menggulung sedang berkara^

"Suheng, apa yang hendak kau lakukan untuk menghukum kedua orang bangsat ini ??"

"Tentu saja kita tak boleh biarkan mereka tetap hidup dikolong langit, jagal saja sampai mampus"

"Suheng, sebelum hukuman dijatuhkan apakah engkau bersedia untuk menghadiahkan Pui Kun Janda kawin tujuh kali itu kepada siau-te?" pinta kakek ombak menggulung.

"Baiklah cuma engkau mesti bersikap sangat hati2, sebab aku lihat perempuan ini bukanlah seorang perempuan yang sederhana"

"Siau-tepunya cara untuk mengendalikan dirinya" kata kakek ombak menggulung dengan nada meyakinkan.

la segera mendekati Lampu hitam pengejar nyawa dan menotok jalan darah kematiannya, kemudian membebaskan jalan darah yang ada ditubuh Janda kawin tujuh kali seraya berkata:

"Pui Kun, sejak sekarang engkau sudah jadi milikku. aku harap engkau jangan coba2 main gila lagi yaa, Hmm kalau tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku bertindak keji kepadamu."

Pui Kun Janda kawin tujuh kali mengerling sekejap kearah kakek tua itu, kemudian serunya:

"Sejak lama aku sudah menaruh rasa kagum dan hormat yang luar biasa terhadap kalian suheng-te berdua.. tak usah kuatir, apa yang berdua inginkan pasti akan kupenuhi tanpa membantah."

Seraya berkata ia melemparkan sebuah kerlingan maut kearah Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng, bahkan duduk pula disamping gembong iblis berwajah bopeng itu.

Menyakslkan tingkah laku dari perempuan binal itu, diam2 Kakek ombak menggulung mendengus dingin, tapi diapun tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Tampaklah Bintang yang bertaburan diangkasa Liok  Hoa Seng mengamati sekejap wajah Janda kawin tujuh kali, tiba2 ia merangkul perempuan itu dan didekapnya kedalam pelukan,

Kakek ombak menggulung semakin tertegun melihat perbuatan dari kakak seperguruannya. sorot mata yang memancarkan cahaya bengis terlintas diatas wajahnya, saking gusar dan terpengaruh oleh emosi sampai2 sayur yang berada dalam jepitan sumpitpun sampai terjatuh keatas meja, dari sini bisa dibayangkan betapa marah dan dendamnya jago tua tersebut terhadap Janda kawin tujuh kali serta kakak seperguruannya. cuma saja ia tak berani mengumbar hawa amarahnya itu.

Dipihak lain Janda kawin tujuh kali tertawa terkekeh- kekeh dengan cabulnya, bersandar dalam rangkulan Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng sambil memberi minum iblis tua itu dengan arak wangi, dengan senang hati gembong iblis tersebut menerima layanan maut dari perempuan tersebut.

"Sute " serunya kemudian dengan suara lanang, "perempuan ini tidak jadi kuberikan kepadamu, aku hendak memakainya buat diriku sendiri"

Kakek ombak menggulung tetap membungkam dalam seribu bahasa, tapi saking mendongkolnya sekujur badannya gemetar keras.

Janda kawin tujuh kali yang berada dalam pclukan Bintang yang bertaburan diangkasa Lok Hoa Seng, menggesek-gesekan payudaranya keatas badan gembong iblis tersebut, sedang tangannya melayani iblis tua itu minum arak begitu syaduh dan mesrah keadaannya membUat kakek ombak menggulung semakin mendongkol dibuatnya.

Suatu ketika.... tiba-tiba Janda kawin tujuh kali melancarkan sebuah totokan kilat menghajar jalan darah siau-hay-hiat ditubuh Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa seng, kemudian tanpa membuang waktu ia sambar payung sengkala yang tergantung dipunggung iblis tua itu dan melayang mundur lima enam langkah dari tempat semula, tertawa jalangnya kian lama klan bertambah nyaring,

Bagaimanapun juga Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng adalah seorang jagoan lihay yang berkepandaian tinggi, ketika ujung jari lawan menempel diatas tubuhnya tadi, buru2 jalan darahnya digeserkan kearah lain-

Kendati begitu, tak urung sekujur badannya sempat jadi kaku juga untuk beberapa saat lamanya, disebabkan karena itulah sewaktu Pui Kun merampas payung sengkala yang tergantung diatas punggungnya, dia sama sekali tak mampu untuk turun tangan-

Untuk beberapa saat lamanya dua orang gembong iblis itu dibikin terperangah tanpa mengetahui harus berbuat apa, kejadian ini benar2 suatu peristiwa yang memalukar sekali, mereka tak mengira bakal kecundang di tangan seorang perempuan cabul.

Dengan muka masam dan mata melotot penuh kegusaran- Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng segera besseru desgan suara berat:

"Pui Kun serahkan kembali payung mustika itu kepadaku, percuma saja engkau miliki payung itu sebab walaupun engkau andalkan senjata tersebut, akhirnya toh tetap bukan tandinganku"

"Aaah aku tidak percaya...kalau engkau ingin ambil kembali payung ini, silahkan untuk coba merampasnya sendiri" sahut Janda kawin tujuh kali sambil tertawa sekikikan-

Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng sama sekali tidak berkutik dari tempatnya semula, sedangkan Kakek ombak menggulung tanpa banyak bicara segera menerjang kedepan,

Menyaksikan datangnya tubrukan itu, Pui Kun sijanda kawin tujuh kali segera menggerakkan payung sengkalanya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blammm.." ditengah suatu bentrokan kekerasan yang amat memekikkan telinga. Kakek ombak menggulung kena dihajar sampai jatuh jumpalitan diudara.

Menggunakan kesempatan yang amat baik Janda kawin tujuh kali melayang turun diatas pagoda tersebut, siapa tahu baru saja kakinya menempel diatas permukaan tanah, sesosok bayangan manusia laksana sambaran kilat telah meluncur memapaki datangnya perempuan itu.

Janda kawin tujuh kali Pui Kun menjerit kaget, sebelum dia tahu apa yang sudah terjadi, tahu2 payung mustika yang berada dalam genggamannya sudah berpindah tangan.

Lam-kong Pak yang mengikuti jalannya peristiwa itu  dari tempat persembunjiannya cuma bisa gelengkan kepalanya berulang kali, ternyata orang yang turan tangan secara cepat itu bukan lain adalah Suma Ing.

Dalampada itu Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng serta kakek ombak menggulung telah melayang turun dari atas pagoda.

Setelah mengetahui kalau payung mustika itu terjatuh ketangan Suma Ing, Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng segera maju kedepan seraya berkata.

"Suma Ing, serahkan payung mustika itu kepadaku, aku akan menerima engkau sebagai muridku yang terakhir"

Suma Ing tertawa dingin.

"Huuuhh... untuk mempertahankan payung mustika inipun engkau tak becus. mau apa terima aku sebagai mUrid? Hmm Benar2 manusia bermUka tebal"

Merah padam selembar wajah Bintang yang bertaburan diangkasa mendengar sindiran itu, dengan gusar ia membentak keras lalu menerjang maju kedepan-

Kakek ombak menggulung tanpa mengucap sepatah katapun mengikuti dari arah belakang. Bintang yang bertaburan diangkasa tahu kalau orang yang mengikuti dari belakang tubuhnya adalah adik seperguruan sendiri, ketika mendengar desiran angin lewat dia segera berpaling kebelakang. Dengan gerakan itu maka terjangannya kearah depanpun mengalami kegagalan total, sementara Suma Ing dengan gampang berhasil menghindarkan diri dari tempat itu,

"Sute apa yang hendak kau lakukan??" hardik Bintang yang bertaburan diangkasa dengan suara keras.

"Siau-te ingin membantu suheng untuk membekuk bajingan cilik itu, engkau harus tahu kalau Suma Ing bajingan cilik itu mempunyai banyak sekali permainan setan, apabila engkau bertindak kurang hati2 maka bisa jadi akan tertipu oleh siasat licinnya" Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehh-heeehh-heeeh...maksud baikmu biarlah aku terima dalam hati, lebih baik kau..."

Pada saat itulah tiba2 dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat Lam-kong Pak meluncur ketengah gelanggang dan menyambar payung mustika tersebut.

Suma Ing cepat2 putar senjata balas menghantam tubuh sianak muda itu. sementara dua orang gembong iblis  tuapun secepat sambaran petir melancarkan cengkeraman maut keatas punggung Lam-kong Pak.

Dewasa ini mereka lebih rela apabila payung mustika itu untuk sementara waktu berada ditangan Suma Ing, daripada benda mustika tadi terjatuh ketangan Lam-kong Pak^ sebab kedua gembong iblis itu tahu bahwa ilmu silatnya yang dimiliki Lam-kong Pak tanpa mustika pun sudah luar biasa dahsyatnya, apa lagi kalau memiliki payung sengkala yang mempunyai kekuatan maha dahsyat itu,

Dalam keadaan begini terpaksa Lam-kong Pak harus menyelamatkan diri lebih dahulu, cekatan tubuhnya mundur tiga langkah kebelakang, terhadap mundurnya pemuda itu maka posisi Suma Ing malah jauh lebih menguntungkan, ia selamat dari gangguan bahkan tak usah turun tangan sendiri untuk menghadapi serangan2 dari Lam-kong Pak. karena dua orang gembong iblis itu selalu menghalangi serangan Lam-kong Pak yang diarahkan kepada dirinya.

"Sreeet sreeet sreeet " secara beruntun empat sosok bayangan manusia munculkan diri dari belakang gunung2an, orang pertama adalah Awan hitam pengejar rembulan oei ci-hu. kemudian disusul manusia yang suka pelancongan Lu It Beng, sedang dibelakangnya mengikutiJago angin guntur Lam-kong Liu serta Sun Han Siang.

Lam-kong Pak segera berjalan mendekati rombongan ayah ibunya dan berkumpuljadi satu komplotan.

"Sreet sreeet Sreeet " Kembali tujuh delapan sosok bayangan manusia melayang masuk ketengah gelanggang.

orang pertama yang munculkan diri lebih dahulu adalah Sian-yan Peng atau ketua dari perkumpulan bulu hijau, diikuti oleh Ngo-hoa-bak daging lima warna oei Hun. Pi- hek Cuncu Datuk hitam tebal chin Tong Ho bu-sang Setan gantung hidup Gou Jit Pat-pit-lul-kong dewa geledek berlengan delapan Si put Slu. BU siang-to golok tanpa tandingan Hong Goan. Tiat-sau-ciu sapu baja Kim Kiu, Tiat-pan-than bangku besi oh Sik Kay serta Sui sang-biau melayang diatas air Ma Tie sekalian beberapa orang.

Apakah kelompok yang dipimpin oleh Sian-yan Peng dapat bekerja sama dengan rombongan dari Lam-kong Liu untuk menghadapi dua orang gembong itu atau tidak. yang jelas posisi sangat tidak menguntungkan dua orang iblis tua tersebut. Dengan suara mendalam Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng segera berkata^

"Suma Ing. engkau harus tahu diri lihatlah, sebagian besar jago2 persilatan yang berada dihadapanmu adalah kelompok manusia yang memusuhi dirimu dan tak dapat hidup berdampingan dengan engkau, mereka amat membenci dirimu, ingin menghirup darahmu dan makan dagingmu ..walaupun sekarang engkau hendak kabur, tak mungkin kau bisa lolos dari kejaran mereka."

Suma Ing menyeringai seram. sahutnya:

"iblis tua, engkau tak usah pakai akal busuk membohongi diriku apa lagi menggertak aku sehingga takut... Huuhh semakin banyak orang yang berkumpul disini semakin baik bagi diriku. karena posisiku jauh lebih aman lagi...engkau tak percaya? silahkan saja menyaksikan sendiri"

Habis berkata ia segera duduk bersila keatas tanah dan turunkan kantong rangsumnya sambil menggigit bak-pao dan ayam goreng ia menikmati santapannya dengan nikmat, se-akan2 disekitar tempat itu sama sekali tak orang lain-

Ber-puluh2 orang jago lihay yang berada disekeliling tempat itu melotot dan mengawasi gerak geriknya tanpa berkedip. siapa pun tak ada yang berani turun tangan lebih dahulu karena siapa berani turun tangan itu berarti harus menanggung resiko dikerubuti orang banyak.

Suma Ing tertawa terbahak-bahak. sambil memperlihatkan separuh ayam gorengnya ia berkata kepada bintang yang bertaburan di angkasa:

"Haaah-haaah-haaahh... iblis tua, ayam goreng ini betul2 enak dan nikmat sekali.... masakan tersohor dari rumah makan Ki-eng-lou dikota Lok-yang memang terkenal karena enaknya, engkau pingin mencicipi tidak? Haaahh- haahh...daging ayamnya yang enak biar aku yang makan sendiri, bagaimana kalau kuberi bagian tulangnya saja? Haaahh-haaahh...engkau toh anjing tua yang doyan makan tulang??"

Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng merasa amat gusar sekali mendengar ejekan tersebut sepasang matanya melotot besar. mukanya merah padam dan otot2 hijau diatas wajahnya pada menonjol keluar semua, namun ia tak bisa berbuat apa2. sebab ia tahu asal serangan dilancarkan kearah pemuda itu niscaya perbuatan itu akan mendapat sambutan dari orang banyak.

Menyaksikan gembong ibis tua itu sama sekali tak terkutik terhadap sindirannya Suma Ing semakin kegirangan, sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Sian-yan Peng sambil berseru pula:

"Sian-yan Peng semua orang berkata bahwa istrimu tidak setia, diam2 main serong dengan suami orang lain, engkau tahu tidak akan peristiwa ini? ooh...sungguh kasihan istri menyeleweng sang suami masih belum sadar rupanya engkau senang yaa kalau istrimu mencicipi kehebatan dari suami2 orang lain haaah-haaahh-haaahh... mungkin punyamu sudah lemas dan tak berguna lagi? penyakit impoten?"

Hawa amarah yang berkobar dalam dada Sian-yan Peng sukar dikendalikan lagi, apalagi setelah mendengar ejekan- ejekan yang menyakitkan hati itu ia mendengar dingin kemudian alihkan sorot matanya dan melotot kearah Lam- kong Liu dengan penuh kebencian.

Lam-kong Pak jadi amat mendongkol dan gusar sekali atas perbuatan lawannya diam-diam ia memaki dihati: "Anjing bedebah... sungguh keji maksud hatinya manusia semacam ini tak boleh dibiarkan hidup lebih lanjut dikolong langit, dia harus dibunuh".

Pemuda itupun tahu kalau bajingan muda tersebut sengaja hendak menciptakan keonaran dan kegaduhan diantara sesama jago sehingga dia mendapat kesempatan untuk melarikan diri, dalam hati ia merasa sangat gelisah.

Sun Han Siang teramat gusar sekali dengan suara keras teriaknya lantang.

"Suma Ing kalau engkau mengakui bahwa dirimu adalah seorang manusia cepat tinggalkan payung mustika itu diatas tanah, aku tanggung engkau masih bisa mengundurkan diri dari sini dalam keadaan selamat, aku minta engkau jangan ngaco belo dan bicara yang tak karuan lagi"

Suma ing yang berwajah amat jelek tertawa dingin tiada hentinya. "Heeehh-heeeh h-heeehh... kalau aku bukan manusia, maka orang yang membuat diriku juga bukan manusia. itu berarti engkau yang memaki suamimu sendiri"

Lam-kong Pak tak dapat menahan diri lagi dengan langkah lebar ia maju ketengah gelanggang lalu terhadap Bintang yang bertaburan diangkasa serta Sian-yan Peng serunya

"Tujuanku tidak lain hanya ingin memberi ajaran kepada Suma ing binatang terkutuk itu, aku sama sekali tiada maksud untuk mengincar payung sengkala, aku harap kalian tak usah kuatir kalau aku bermain curang. andai kata kalian tidak lega hati, maka setiap saat silahkan untuk turun tangan-"

sian-yan Peng Ketua perkumpulan bulu hijau sama sekali tidak memberi komentar apa2, sebaliknya Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeh-heeehh-hheeehh...sekarang aku hendak memperingatkan kepadamu, barang siapa berani mendekati dirinya maka itu berarti dia ada niat untuk mengincar payung sengkala. apa akibatnya... Hmm silahkan saja untuk menanggungnya sendiri"

Lam-kong Pak balas tertawa dingin-

"Heeehh-heeehh-heeehh...iblis tua, engkau tak usah jual lagak dihadapanku, jangan anggap aku Lam-kong Pak untuk menghadapi dirimu, kalau tidak percaya ayohlah kita bertempur lebih dahulu sebanyak beberapa ratus jurus"

cu Li-yap dan Pek-li Hiang segera bangkit berdiri teriak mereka dengan suara lantang:

"Engkoh Pak. dalam keadaan begini lebih baik jangan turun tangan lebih dahulu, orang lain bisa bertahan masa kita tak bisa menahan diri? Marilah kita saling mempertahankan diri, dan coba lihat bangsat itu bisa bertahan sampai kapan?"

"Betul" seru Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng dengan cepat, "delapan sampai sepuluh hari tidak makan nasi, bagiku sama sekali tidak ada pengaruh apa2, apalagi mempengaruhi tenaga dalamku, ayohlah kita bertahan saja disini. coba lihat saja masing2 pihak bisa bertahan sampai kapan"

Habis berkata dia segera tarik tubuh Kakek ombak menggulung untuk diajak duduk diatas tanah.

Sian-yan Peng tertawa dingin, dengan suara berat ia segera berseru pula "Duduk semua" Kawanan iblis itu tak ada yang membantah mengikuti pimpinan mereka didalam waktu singkat semua orang sudah duduk bersila diatas tanah.

Lam-kong Pak terperangah dibuatnya, sebelum dia sempat berbuat sesuatu terdengar oei ci-hu berseru dengan suara dalam: "Ayoh kita juga duduk keatas tanah"

Terpaksa Lam-kong Pak mengundurkan diri kembali kedalam rombongan dan duduk diantara ayah dan ibunya.

Berpuluh-puluh orang jago persilatan itu duduk membuatsatu lingkaran luas disekitar Suma ing dengan Cepatnya pula manusia terkutuk itu sudah terkepung rapat.

Sekejap mata suasana dalam kebun bunga keluarga Siok diliputi keheningan dan kesuyian begitu sepi sehingga suara jengkerik dan hembusan angin yang menggoyangkan daun ranting pohon saja yang kedengaran. ..

Semua orang duduk mengitari gelanggang dengan sabar tiada orang yang berbicara dan tiada orang pula yang berkutik dari posisinya masing- masing.

Kejadian ini sangat menggelisahkan Suma ing yang berotak licik sehingga tanpa sadar peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng mampu tidak makan tidak minum selama delapan sampai sepuluh hari tanpa mempengaruhi tenaga dalam serta kesehatan tubuhnya, sedang rombongan lain mempunyai jumlah anggota yang sangat banyak setiap saat mereka depat mengutus orang2nya untuk pergi membeli bahan makanan, walaupun duduk disana sampai tiga atau lima tahunpun tidak menjadi soal.

Lain keadaannya dengan ia sendiri, kalau dalam enam tujuh hari ia tak makan tak minum, jangan dibilang untuk bertempur melawan jago2 lihay. mungkin untuk jalanpun masih merupakan suatu tanda tanya besar, karena itu biji matanya segera berputar dan otaknya diperas untuk mencari akal bagus guna mengatasi keadaannya yang amat gawat itu.

= -oodwoo- =

SEMALAM berlalu dengan cepatnya, fajarpun telah menyingsing diufuk timur diantara para jago lihay tersebut tak seorangpun yang bergerak dari tempat duduknya semula, walaupun Suma ing berulang kali coba menghasut dan memancing perpecahan diantara mereka, tetapi tak ada orang yang sudi mempercayai perkataannya, usahanya pun seketika mengalami kegagalan total. Dalam hati kecilnya Lam-kong Pak segera berpikir:

"Kalau ditinjau dari situasi yang terbentang didepan mata saat ini, mungkin dalam tiga empat hari mendatang tak akan mengalami banyak perubahan yang berarti."

Berpikir sampai disitu, dengan ilmu menyampalkan suara ia segera berbisik kepada oei ci Hu:

"Cianpwee, aku rasa dalam tiga empat hari mendatang situasi dalam gelanggang tak akan mengalami banyak perubahan yang berarti, apa salahnya kalau menggunakan kesempatan yang sangat baik ini Cianpwee bertiga duduk bersemedi untuk pulihkan kembali tenaga dalam kalian yang masih berantakan? dengan aku sebagai pelindungnya aku rasa tiada mara bahaya yang bakal terjadi"

"Baiklah" Sahut oei ci-hu setelah termenung dan berpiklr sebentar, "setelah tenaga dalam yang kami miliki pulih kembali seperti sedia kala, engkaupun bisa bersemedi selama beberapa hari, kalau dalam enam hari mendatang situasi masih tetap tiada perubahan apapun, itu berarti kekuatan yang dimiliki kelompok kita akan semakin bertambah kuat lagi."

Bicara sampai disitu. awan gelap pengejar rembulanpun segera menyampaikan maksud tersebut kepada Lu It-beng serta Lam-kong Liu.

tiga orang jago lihay tersebut dengan Cepat duduk bersila untuk atur pernafasan, dalam beberapa saat kemudian mereka sudah berada dalam keadaan lupa akan segala- galanya
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kelelawar Hijau Jilid 21"

Post a Comment

close