Kelelawar Hijau Jilid 16

Mode Malam
Satu ingatan berkekebat dalam benak Lam-kong Pak ia semakin ber-hati2 lagi mendekati tempat pembicaraan itu dan sekarang secara lapat2 ia dapat melihat dua sosok bayangan tubuh yang sedang berdiri saling berhadapan pada jarak beberapa tombak dihadapannya. Terdengar manusia tembaga itu sedang berkata:

"Mengenai soal perselisian dan sengketa yang terjadi dimasa lampau aku mengetahuinya paling jelas dalam peristiwa ini engkau tak dapat menyalahkan Lam-kong Liu"

"Hmm.. jadi kalau begitu engkaupun bukan orang luar" seru ketua perkumpulan bulu hijau dengan suara dingin. "sebenarnya siapakah engkau?? darimana kau bisa tahu akan perselisihan yang terjadi diantara kami dimasa silam?"

Sambil tetap mengempit dua orang rekannya, manusia tembaga itu menjawab dengan suara dalam:

"Tentang soal ini maaftah jika aku tak bisa menerangkan, tapi aku benar2 bermaksud baik, apabila engkau bisa berpikiran lebih terbuka, marilah kita berempat sama2 melepaskan kedok masing2 dan bertemu dengan muka aslinya, dari peperangan kita beralih menjadi perdamaian"

"Tutup mulut" bentak ketua perkumpulan bulu hijau dengan suara keras, "karena peristiwa ini aku telah menderita selama puluhan tnhun lamanya, aku baru puas jika telah membinasakan Lam-kong Liu dengan tanganku sendiri usahamu yang licin dan pakai akal2an itu bakal sia- sia belaka. "

Sambil berkata per-lahan2 dia maju kedepan, ia sudah siap untuk melepaskan serangannya.

Manusia tembaga itu tampak terkesiap dan mundur kebelakang dengan perasaan kaget.

Lam-kong Pak yang bersembunyi disekitar tempat itu tak dapat berdiam diri lebih jauh, sambil tertawa dingin ia segera melayang keluar dari tempat persembunyiannya. "Saudara?" serunya dengan suara lantang, "engkau selalu mengatakan tak akan melepaskan ayahku sebenarnya apa sebabnya?? kalau engkau tidak mau menerangkan lebih baik kita langsungkan pertarungan sengit ditempat ini"

Ketua perkumpulan bulu hijau tertawa dingin, "Heehhh...  heeehh...  heehhh... kalau aku ada niat untuk

membinasakan dirimu, engkau sibocah cilik tak akan bisa

hidup sampai ini hari... mengerti?"

"Aku tak sudi menerima kebaikanmu itu, kalau engkau tidak bersedia melepaskan sikapmu yang bermusuhan dengan ayahku lebih baik kita adu kekuatan untuk menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita "

Ketua perkumpulan bulu hijau tertawa seram^.

"Haaahh-haaahh-haaahhh... jika engkau bisa mati tanpa penasaran aku akan memenuhi keinginanmu itu"

Sambil berkata ia menggantungkan kembali senjata payung sengkalanya keatas pundak lalu pasang kuda2 siap bertempur, rupanya ia tidak ingin mencari kemenangan dengan andalkan benda mustika dari dunia persitatan itu.

Lam-kong Pak sendiripun segera menyimpan kembali senjata tanduk naganya. lalu pasang kuda2 siap menerima serangan-

Pertarungan sengit bakal berlangsung, nafsu mensbunuh yang amat tebal menyelumuti seluruh hutan tersebut.

Disaat suasana jadi tegang dan pertarungan hampir berlangsung tiba2 manusia tembaga itu berseru keras.

"Eeei bocah cilik, engkau tak usah begitu tahu diri, lebih baik jangan engkau campuri urusan ini " "Maksud baik cianpwee biarlah kuterima didalam hati asal engsku bersedia memperiihatkan paras aslimu. maka akupun akan sudahi persoalan sampai disini.

orang itu merasa serba salah, untuk beberapa saat lamanya ia membungkam dalam serlou bahasa,

Melihat orang itu berdiam diri, Lam-kong Pak berkata lagi:

"Kalau memang engkau merasa keberatan, lebih baik jadilah saksi bagi pertarungan kami berdua"

Lam-kong Pak telah bertekad untuk membongkar kedok yang menyelubungi paras muka ketua perkumpulan bulu hijau itu, dia tak ambil perduli resiko yang harus dipikul olehnya, setelah mengucapkan kata2 tersebut ia bersiap siaga melakukan serangan-Tiba2 ujarnya lagi kepada manusia tembaaga itu:

"cianpwee, menggunakan kesempatan yang sangat baik ini sembuhkanlah luka dalam yang diderita dua orang rekanmu aku perCaya masih mampu untuk bertahan sampai lima ratus gebrakan"

"Tak usah, aku sudah memberi obat kepadanya. dalam tiga lima jam mendatang lukanya tak akan memburuk. aku harus bertindak sebagai saksi dalam pertarungan yang akan kalian langsungkan"

Lam-kong Pak tidak banyak bicara lagi.. sepasang telapaknya disilangkan didepan dada dengan ilmu Sang- hao-it-ciang-hoat laksana kilat dia lepaskan tiga buah pukulan berantai dengan dasar tenaga dalam yang sempurna dalam tubuh pemuda itu ditambah kasiat dari buah merah yang dia salah makan cairan empedu dari naga sakti yang dia minum serta peroleh tambahan tenaga dari tiga sosok bayi hawa murni, bukan saja kekuatan tubuhnya telah mencapai seperti enam puluh tahun hasil latihan bahKan tanpa sadar semua kekuatan itu telah membentuk suatu semangat juang yang luar biasa.

= OOOO^^OOOO= =

MESKI pun ilmu pukulan Sam-hao-it ciang- hoat yang berhasil diciptakan olehnya tidak termasuk suatu kepandaian yang sangat ampuh dikolong langit tapi setelah dimainkan sendiri olehnya bukan saja kekuatan tenaganya maha dahsyat bahkan memancarkan suatu wibawa yang membuat orang jadi segan.

Ratusan jurus kemudian kedua orang itu mulai bertempur sambil bergerak kian kemari, sekilas pandangan tampaklah serangan yang dilancarkan kedua orang itu se- olah2 tidak bersungguh hati bahkan mendatangkan perasaan yang melihat, walaupun begitu manusia tembaga itu adalah seorang ahli silat paras mukanya tampaklah kian lama kian bertambah serius.

Walaupun pertarungan itu tidak mengejutkan hati bahkan nampak enteng dan ringan, namun daun2 pohon Siong yang ada disekitar gelanggang pertarungan ternyata pada berguguran keatas tanah, dalam waktu singkat diatas permukaan tanah telah tertumpuk daun pohon Siong sampai beberapa cun tebalnya.

Lam-kong Pak dengan mainkan serangkaian ilmu pukulan Sam-hao-it- ciang- hoat, walau pun berhasil mempertahankan diri sampai dua ratus gebrakan lebih, tapi selewatnya itu ia mulai terdesak di bawah angin memaksa sianak muda itu mau tak mau terpaksa harus mengeluarkan ilmu sakti payung sengkala. Ketua perkumpulan bulu hijau sendiripun menggunakanjurus2 serangan aneh untuk melayani pertarungan itu.jurus serang yang dipergunakan olehnya mirip sekali dengan jurus pukulan dari ilmu payung sengkala. tapi dalam kenyataan mempunyai gerakan yang lain dari pada yang lain, membuat orang sukar untuk meraba arah tujuannya.

Kedua orang itu sama2 mengutamakan kecepatan dan kemantapan untuk mengimbangi kecepatan lain, kedua belah pihak sama2 bertempur tanpa menimbulkan desingan suara, mereka sama2 mempunyai jalan pikiran yang sama yakni tidak mengharapkan kedatangan Sun Han Siang ditempat itu sehingga mengganggu jalannya pertarungan tersebut.

oleh sebab itulah, lima ratus gebrakan kemudian kedua belah pihak mulai penat dan napasnya mulai ter-sengkal2, mereka telah mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya untuk meneruskan pertarungan tersebut.

Sementara itu. walaupun manusia tembaga yang bertindak sebagai saksi merasa sangat gelisah. namun tidak leluasa baginya untuk turut serta dalam pertarungan ini, sebab ke dua belah pihak sedang melangsungkan suatu pertarungan yang adil dan seimbang, jika ia sampai turut campur maka salah satu pihak pastt akan merasa tak senang hati.

Tujuh ratus jurus sudah lewat tanpa terasa, kedua belah pihak telah saling bertempur hingga hampir dua jam lamanya, dengusan napas yang memburu kedengaran makin lama semakin keras. bahkan keringat sebesar kacang kedelai mulai membisahi jidat masing2.

Hal itu menunjukkan bahwa pertempuran sudah mencapai pada puncaknya. siapa menang siapa kalah siapa mati siapa hidup akan segera ditentukan dalam dua ratus gebrakan berikut ini.

Kedua belah pihak sama2 berusaha untuk mencapai kemenangan bagi pihaknya sendiri, semua sisa tenaga yang dimilikinya dikerahkan keluar... bentrokan2 nyaring berkumandang tiada hentinya..

Kedua orang sama2 membentak keras. sekuat tenaga mereka lepaskan satu pukulan dengan tenaga penuh.,.

"Blaaamm... " desingan nyaring menggelegar diangkasa. pusaran angin berpusing menggulung diseluruh gelanggang beberapa batang pohon besar yang tumbuh disekitar tempat itu pada tumbang keatas tanah dengan menerbitkan suara keras, dalam benturan itu kedua belah pihak terdorong mundur sampai satu tombak lebih dengan tubuh sempoyongan. Manusia tembaga itu segera berseru dengan suara dalam:

"Aku rasa pertarungan sudah cukup berlangsung seru. sekarang kalian boleh berhenti bertempur"

Tapi kedua orang itu sama-sama tak mau mengalah ataupun menyudahi pertarungan itu. dalam hati masing2 mempunyai suatu kepercayaan yang meyakinkan hati mereka. siapapun diantara mereka berdua tak ada yang memiliki kepandaian lebih lihay, atau dengan perkataan lain mereka berdua sama mempunyai harapan untuk mengalahkan lawan.

Sekali lagi kedua orang itu maju mendekat dengan langkah yang amat lambat, kemudian sambil membentak keras kedua belah pihak saling melepasksn ber-puluh2 buah pukulan berantai dengan menggunakan segenap kekuatan yang mereka miliki... "Blaaamm... blaaamm.." benturan keras bergetar memekikkan telinga, kedua orang itu mundur lima enam langkah kebelakang dengan sempoyongan, paras muka mereka berubah jadi merah darah dan wajahnya nampak menyeramkan sekali-

Melihat keadaan yang semakin parah dari kedua orang itu. manusia tembaga tersebut segera letakkan kedua orang rekannya keatas tanah, kemudian cdengan wajah serius katanya: "Hey. kenapa kalian berdua masih juga tidak hentikan pertarungan ini...??"

Sebelum ada jawaban yang diberikan tiba2 salah seorang manusia tembaga yang berbaring diatas tanah telah menyela:

"Pertarungan yang sedang berlangsung pada saat ini adalah suatu pertarungan yang seimbang dan adil biarkanlah mereka bertempur sampai selesai"

Satu ingatan berkelebat dalam benak Lam-kong Pak ia merasa nada ucapan orang itu penuh mengandung anjuran dan membangkitkan semangat dalam keadaan yang payah dan kehabisan tenaga ucapan tersebut segera mendorong kembali semangatnya untuk bertempur, sekali lagi ia menerjang maju kedepan.

"Blaam... B la a mm... Blaammm.." benturan demi benturan berlangsung memecahkan kesunyian tubuh kedua orang itu bergetar keras dan mundur empat lima langkah kebelakang akhirnya mereka sama2 roboh terjengkang diatas tanah.

Manusia tembaga yang berdiri berpaling kearah  rekannya yang berbaring diatas tanah kemudian serunya: "Loo-te kau." "Engkau tak usah kuatir." jawab manusia yang ada diatas tanah dengan nada serius, "mati hidup sudah digariskan oleh takdir engkau gelisah tak ada gunanya"

Sementara itu mereka berdua sudah sama-sama duduk diatas tanah, badan bagian keatas terjengkaDg kebelakang sepasang tangan menahan diatas permukaan dan kepalanya berputar lemas diatas bahu nafas mereka memburu bagaikan kerbau andaikata tidak memikirkan nama baik mungkin mereka sudah merebahkan diri untuk tidur, sebab kedua orang itu sama2 sudah terlampau lelah

Sementara itu Lam-kong Pak dan ketua perkumpulan bulu hijau dengan susah payah telah bangkit kembali dari atas tanah dengan sempoyongan mereka maju saling mendekat lalu melancarkan satu serangan-

Pukulan yang dilepaskan kali ini merupakan serangan yang dilancarkan bersama dengan majunya sang badan karena itu setelah kedua belah telapak saling menempel siapa pun tak berhasil mendorong lawannya, telapak mereka se-olah2 menempel jadi satu dan tak bisa dipisahkan lagi.

Pertarungan semacam ini mirip sekali dengan pertarungn tanpa aturan yang sering dilakukan oleh orang2 yang tak mengerti akan ilmu silat bukan saja tidak pakai aturan bahkan sangat menggelikan sekali tapi dalam kenyataan kedua orang itu sudah mengerahkan sisa tenaganya yang dimilikinya untuk melakukan pertarungan terakhir.

Meski pun kedua belah pihak sama2 sudah kehabisan tenaga tapi dorongan terakhir yang dipancarkan olehnya benar2 luar biasa angin pukulan yang tajam memancar keluar dari balik telapak mereka begitu bebatnya pusingan angin puyuh membuat tiga orang manusia tembaga yang berada disisi kalangan pun tergetar mundur sejauh beberapa langkah kebelakang...

Tapi setelah terjadi benturan yang keras tubuh mereka berdua sama2 mencelat sejauh satu tombak lebih tujuh delapan depa, badan mereka terbanting keatas tanah dan roboh terkapar, siapapun tidak menggerakan tubuh lagi bahkan napaspun bampir saja ikut berhenti.

MANUSIA tembaga yang berdiri disisi kalangan itu menjerit kaget dan siap maju kedepan, tapi sebelum perbuatan itu dilakukan tiba2 manusia tembaga yang duduk diatas tanah itu berkata:

"Saudara, aku minta engkau menahan diri dan jangan melakukan suatu apapun terhadap diri mereka, sekarang engkau tak boleh maju kedepan-"

"Apakah engkau tega menyaksikan ia mati dalam keadaan yang mengenaskan..?" tanya orang itu dengan wajah serius.

"Sekalipun mati diapun akan mati dengan gagah dan terhormat, kematiannya pasti akan menggemparkan seluruh kolong langit, kenapa engkau musti gelisah??"

Meskipun diluaran ia berkata begitu, namun kain hijau yang menutupi wajahnya telah basah oleh air mata. suarapun bertambah jadi agak parau.

Kemurungan dan kesedihan yang tebal menyelimuti seluruh hutan, membuat suasana yang sunyi terasa semakin menyeramkan.

Tiba2 dua orang yang berbaring diatas tanah mulai merangkak bangun dengan susah payah, Dengan suara kagum manusia tembaga yang berdiri itu segera berseru: "Loo-te. ketajaman matamu benar2 mengagumkan. " "Heng-tay tak usah memuji diriku" sahut manusia tembaga yang duduk ditanah. "bila tiada perubahan yang lain dalam bentrokan yang terakhir itu kedua orang tersebut pasti sudah menggunakan tenaga kelewat bataS jika begitu maka mereka akan mati karena kehabisan tenaga..,."

Dalam pada itu ketua perkumpulan bulu hijau maupun Lam-kong Pak telah bangkit kembali, tubuh mereka sempoyongan tiada hentinya darah kental mengalir keluar dari mulut dan hidung, bahkan telinga pun basah oleh darah yang mengucur keluar.

Menyaksikan keadaan yang sangat mengerikan itu, manusia tembaga yang berdiri segera berseru dengan nada terperanjat,

"Saudara, apa gunanya engkau adu jiwa tanpa mendatangkan hasil apa2?? lebih baik sudahilah pertarungan itu sampai disini saja. "

Lam-kong Pak terengah-engah, tiba2 serunya:

"barang siapa berani mencampuri urusan ini. aku akan segera memukul ubun2ku sendiri untuk bunuh diri. "

Sementara berbicara, buih bercampur darah telah memancar Keluar dari lubang hidung dan mulutnya, keadaan benar2 mengerikan sekali.

orang itu saking terperanjat sampai berdiri tertegun, sudah sekian puluh tahun lamanya ia hidup dikolong langit. tapi belum pernah menyaksikan pertarungan yang berlangsung begitu sengitnya.

Tiba2.. terdengar suara ujung baju tersampok angn berkumandang datang, disusul munculnya beberapa sosok bayangan manusia yang dipimpin oleh Sun Han Siang. Ketika perempuan itu menyaksikan keadaan dari putranya, paras mukanya kontan berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, air mata jatuh berlinang membasahi seluruh tubuhnya.

Untuk beberapa saat ia berdiri menjublak karena kejutnya, kemudian sambil berseru sedih ia menerjang kearah Lam-kong Pak.

Manusia tembaga yang duduk diatas tanah itu mendadak berseru dengan suara kera:

"Kalau engkau tak ingin menyaksikan putramu dituduh sebagai manusia pengecut yang tak berani menghadapi kenyataan, lebih baik cepatlah mundur dari situ"

Dengan hati terkesiap Sun Han Siang menghentikan langkan kakinya, lama sekali dia mengamati orang itu, kemudian baru menegur: "Siapa engkau?"

"Tak usah banyak bertanya." jawab orang itu dengan hambar. "yang penting engkau harus segera mengundurkan diri, jika engkau tak bersedia mendengarkan nasehatku maka putramu akan mati dengan mata yang tidak meram...^"

"Apakah engkau adalah Lam-kong Liu?" bentak Sun Han Siang.

"Bukan-"

"Kalau engkau bukan Lam-kong Liu^ dengan hak dan kedudukan apakah engkau melarang gerak gerikku??"

orang itu tertawa dingin-"Aku tidak melarang tapi memperingatkan. "

Belum habis orang itu berbicara, tiba2 Lam-kong Pak menempelkan telapaknya keatas ubun2 sendiri dan mengancam. "Ibu, aku harap engKkau bersedia memenuhi harapanku. jika aku mati maka diapun tak akan hidup lebih jauh. setelah kematian ini maka kakek ombak menggulung sudah bukan merupakan suatu ancaman lagi, biarlah aku berada dalam keadaan begini. sebab pertarungan kami berjalan adil sekali, sekali-pun aku harus mengorbankan jiwaku demi keamanan dunia persilatan, kematianku ini berharga sekali"

Setelah perkataan itu diutarakan keluar, semua orang tertunduk dengan parasaan hormat dan kagum, tapi menghadapi masalah besar yang mempengaruhi mati hidup seseorang ini siapapun merasa tidak leluasa untuk buka suara secara sembarangan. Hanya cu Hong Hong seorang yang tidak mau tahu akan keadaan tersebut, lalu serunya .

"Huuh.. apa itu keadilan atau kebenaran, aku tidak perCaya dengan kesemuanya itu.. bagaimanapun juga mereka berdua tak boleh  melanjutkan  lagi  pertarungan  ini. "

Sambil berseru ia segera maju kedepan dan mencengkeram tubuh Lam-kong Pak.

Pencuri tua Pek-li Gong yang menyaksikan tindakan perempuan itu jadi amat gelisah, dengan andaikan gerakan yang lincah ia lompat kedepan dan segera mencubit pantatnya keras2.

cu Hong Hong menjerit kesakitan ia segera putar badan dan menerjang kearah pengemis tua.

"cu Hong Hong" seru Pek Li Gong cepat "Engkau tak boleh marah kepadaku, tahukah engkau jika cengkeramanmu itu dilanjutkan maka bagaimanakah akibatnya?"

"Hmm engkau si tua bangka sialan benar2 membuat hatiku jadi gemas." seru cu Hong Hong gemas, "bukan mencubit tempat lain kenapa engkau justru mengarah pantatku??"

"Huuh... jangan mengira pantatmu wangi, apa lagi dihadapan banyak orang mereka akan menjadi saksi bagiku bahwasanya aku sama sekali tak bermaksud untuk mempermainkan dirimu..."

Bicara sampai disini pencuri tua itu segera mencium jari tangannya yang barusan digunakan untuk mencubit lalu sambungnya kembali:

"Waduuh... .Sudah bau belum? aku rasakan jari tanganku berbau sebangsa belirang dan bau minyak2kan bau sekali"

"Bajingan tua jangan mencari kata2 yang tak sedap didengar untuk menggoda aku, hati2 aku tak akan melepaskan dirimu begitu saja." Pek-li Gong tertawa dingin.

"IHeehhh...heeehhh..,heeehh...cu Hong Hong engkau benar2 sudah makan nasi dengan perCuma selama puluhan tahun. pepatah mengatakan: Kalau punya otak tidak pernah digunakan maka apa artinya hidup seratus tahun? coba bayangkan setelah terjadi bentrokan yang terakhir keadaan dari Lam-kong Pak dan ketua perkumpulan bulu hijau sama2 gawat dan kritisnya tapi itu bukan berarti bahwa mereka sudah tak ada harapan untuk hidup. jika engkau bersikeras   mencampuri   urusan   ini,   Hooohh-hooohhh. .

.apakah engkau masih belum paham dengan tabiat bocah muda itu. "

"orang lain tak akan kugubris tapi bagaimanapun juga aku tak bisa menyaksikan putriku hidup menjanda"

Begitu perkataan tersebut diutarakan keluar ketua perkumpulan bulu hijau segera mendengus dingin tubuhnya kelihatan gemetar agak keras. Tingkah lakunya itu bisa diketahui oleh siapapun yang ada didalam kalangan terutama sekali Sun Han Siang dan ketiga orang manusia tembaga itu, mereka hanya bisa menggeleng sambil menghela napaS panjang tiada hentinya.

JelaS perkataan yang diucapkanoleh cu Hong Hong telah melukai halus ketua perkumpulan bulu hijau.

"Kii... kita. kita a... boleh.. ber...bertempur lagi." terdengar Lam-kong Pak berbisik

Hampir saja perkataan itu tak mampu diutarakan keluar sebab buih berCampur darah mengalir keluar terus dari mulutnya.

cu Li Yap dan Pek li Hiang jadi kalap. mereka menjerit Sedih dan segera menerjang kedepan-

Melihat perbuatan dua orang gadis itu malaikat raksasa Loo Liang-jan jadi amat gusar, dia rentangkan sepasang tangannya yang lebar untuk mendesak mundur gadis itu sampai beberapa langkah kemudian Serunya lantang:

"Jangan mengira aku Loo-tua adalah Seorang manusia dungu, lebih baik aku berbuat salah kepada nona berdua dari pada membuatkan kalian berdua menjerumuskan Lam- kong sau-ya sebagai seorang manusia yang tidak berbudi. "

Dua orang gadis itu sudah kehilangan pikiran warasnya mereka menerjang tubuh Loo Liang-jan secara kalap dan masing2 melepaskan pukulan dahsyat kearah depan.

Namun Loo Liang jan sama sekali tidak melepaskan serangan balasan- Blaaaammm Blaamm dua pukulan amat dahysat dengan telak bersarang diatas dada Loo Liang-jan yang tinggi besar, tubuhnya kontan mencelat sejauh satu tombak lebih dan muntahkan darah segar. Dua orang gadis itu berdiri tertegun, sementara hendak menerjang kembali kearah Lam-kong Pak terlihatlah sianak muda itu serta ketua perkumpulan bulu Hijau sedang menghimpun sisa tenaganya yang dimilikinya untuk saling menyerang kembali dengan hebatnya.

"Ploookk" dalam benturan yang kemudian terjadi dua orang jago itu sama muntahkan darah segar yang membasahi wajah masing2, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terubah jadi manusia berdarah tubuhnya roboh terkapar diatas tanah, mereka sama sekali tak berkutik lagi keadaannya bagaikan orang mati.

Payung sengkala yang tergantung diatas punggung ketua perkumpulan bulu hijau terjatuh diatas tanah ditengah hutan belantara yang gelap. benda itu memancarkan sinar merah yang menyilaukan mata.

Suasana berubah Jadi sunyi sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun yang kedengaran kecuali hembusan angin yang mengoncangkan pohon hanya dengusan napas para jago yang bergema diatas udara, keadaan pada waktu itu betul2 mengenaskan.

Kecuali tiga orang manusia tembaga yang masih tetap tenang dan tidak menunjukan perubahan apapun para jago lainnya sama2 berdiri menjublak dengan perasaan kaget siapapun tidak berani maju kedepan untuk melihat keadaan yang sebenarnya.

Sun Han siang berteriak sedih, meskipun tidak sampai bersuara tapi kelihatan sekali akan kesedihan hatinya dan kesedihan tersebut dengan cepat merambat kepada yang lain sampai2 Pek li Gong yang dihari biasa selalu tersenyum simpulpun tak kuat untuk menahan diri dan akhirnya ikut mengucurkan air mata. Dengan sempoyongan dua orang gadis itu maju kedepan akhirnya mereka roboh keatas tanah.

Suasana ditengah gelanggang jadi amat kalut, Pek-li Gong lari menghampiri Pek-li Hiang sedang cu Hong Hong lari kesamping cu Li Yap. sebaliknya Sun Han Siang lambat2 dan sangat berhati2 sekali mendekati Lam-kong Pak.

Sambil maju kedepan diam2 ia berdoa dalam hatinya, meskipun ia tak perCaya akan malaikat atau setan tapi dikala seseorang sedang dirundung susah dan putus asa maka satu2nya yang diharapkan bantuannya adalah Yang Kuasa, dia berharap agar Thian- menaruh kasihan kepadanya hingga satu2nya sanak yang dimilikinya itu masih tetap hidup didunia.

Disamping itu, diapun amat membenci manusia tembaga yang telah menghalangi jalan perginya. ia menganggap orang itu pastilah Lam-kong Liu, ia membenci dirinya dalam anggapan Lam-kong Liu terlalu mementingkan diri sendiri, terlalu kejam karena ingin menjaga nama baiknya maka dari itu ia tidak merasa sayang putranya tersiksa dan menderita.

"Berhenti" manusia tembaga itu membentak lagi, dia bukan lain adalah manusia tembaga yang telah menghalangi Sun Han Siang tadi.

Kali ini Sun Han Siang tak mau mendengarkan lagi, sekalipun andaikata ada orang yang hendak membinasakan dirinya pada saat itu diapun tak mau mengundurkan diri.

Lam-kong pak terkapar diatas tanah secara lapat2 ia saksikan percikan darah menodai seluruh wajahnya ia merasakan sakit hati dan perasaannya bagaikan di-iris2 pisau. "Berhenti..."

Bentakan orang itu dingin tegas dan nyaring jelas itu diutarakan keluar setelah mengambil keputusan yang amat berat.

Sun Han Siang masih tetap tidak menggubris ucapan orang itu, namun langkah kakinya pada saat ini kian lama kian bertambah lambat, hampir saja ia kehilangan keberanian untuk maju kedepan-

Tapi.. bagaimanapun juga dia harus membuat terang keadaan yang sebenarnya, dia ingin tahu apakah putranya yang hanya satu itu masih hidup dikolong langit, ia berharap dalam waktu yang amat singkat itu Thian- telah bermurah hati dan tidak mengambil jiwa putranya.

"Berhenti engkau dengar tidak ucapanku itu?" bentakan nyaring untuk kesekian kalinya bergema diangkasa.

Entah darimana munculnya hawa amarah. tiba2 sun Han Siang meludah kearah orang itu. Manusia tembaga tersebut sama sekali tidak menghindarkan diri, dengan cepat ludah tersebut mampir kebawah dagunya, namun ia tidak berusaha untuk membersihkannya. Sun Han Siang mendengus dingin, katanya:

"Hmm engkau punya hak apa untuk mengurusi tingkah laku dan gerak-gerikku?"

"Putramu sama sekali belum mati tapi jika engkau maju untuk mengganggu dirinya. maka jiwanya tak ketolongan lagi^.."

sekujur badan Sun Han Siang gemetar keras. ia segera bertanya dengan suara dalam: "Sungguhkah perkataanmu itu?" "Hmmm kalau tidak percaya majulah kedepan dan cobalah sendiri."

Tindakan tersebut ternyata manjur sekali, sekalipun Sua Han Siang bernyali besar namun ia tak akan berani menempuh bahaya untuk mempermainkan jiwa putranya, untuK beberapa saat lamanya ia berdiri menjublak ditempat semula.

Dengan suara dingin manusia tembaga itu berseru kembali.

"Aku harap engkau segera mengundurkan diri dan tunggu ditempat semula"

"Sampai berapa lama ia baru sadar dari pingsannya?" "Aku bukan malaikat penolong darimana bisa tahu kalau

dia akan sadar sampai kapan?"

Sun Han Siang jadi gusar sekali. "Hmmm jadi engkau hanya bicara secara ngawur?"

orang itu tertawa dingin.

"Heehh-heeehh-heehh... apakah aku sedang bicara ngaco belo atau tidak tak lama kemudian engkau akan tahu sendiri boleh kau tak mau dengarkan nasehatku berarti kamu akan menyesal untuk selamanya "

Selama hidupnya Sun Han Siang hanya bertindak menurut suara hati sendiri, tak sekalipun ia suka diperintah orang, meskipun wataknya tidak sampai berangasan seperti watak cu Hong Hong, namun diapun tak sudi  bertekuk lutut dengan begitu saja.

Tapi sekarang, demi putranya mau tak mau dia harus bertekuk lutut, hal ini membuat perempuan itu sambil menggigit bibir segera mengundurkan diri. Suasana ditengah gelanggang kembali berubah jadi hening dan sepi, dua orang gadis itu sudah disadarkan dari pingsannya, tapi seperti orang kehilangan pikiran mereka hanya duduk ter-manggu2 sambil memandang kearah Sun Han Siang.

Setengah perminum teh sudah lewat, namun ketua perkumpulan bulu hijau maupun Lam-kong Pak yang ada digelanggang masih menggeletak tak berkutik, bahkan sama sekali tiada tanda yang menunjukkan bahwa mereka masih hidup,

Lama kelamaan cu Hong Hong tak kuat menahan sabar lagi, dengan suara keras ia segera berteriak:

"Payung sengkala itu adalah benda milikku, perduli bagaimanakah nasib kedua orang itu. pusaka dari dunia persilatan itu sudah sepantasnya kalau diserahkan kembali kepada pemiliknya"

Manusia tembaga itu mendengus dingin.

"Hmm engkau tak usah terburu napsu mereka masih akan melangsung kan satu pertarungan lagi sebelum menang kalah bisa ditetapkan.."

"Apa? mereka akan langsungkan satu pertarungan lagi?" saking terperanjatnya Sun Han Siang sampai berdiri ter- magu2.

kawanan jago dari golongan putih lainnya pun tertegun, hampir boleh dikata mereka tak perCaya dengan perkataan tersebut.

"Apakah kalian anggap aku sedang bergurau?" seru manusia tembaga itu.

Belum habis ia berkata, dua orang jago  yang menggeletak diatas tanah itu mulai menggerakkan tubuh mereka, semua orang yang hadir disana saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun. hampir saja mereka mengira bahwa orang itu telah menggunakan ilmu sihir untuk mempengaruhi kedua orang itu.

= =ooooooooo= =

KETUA perkumpulan bulu hijau dan Lam-kong Pak yang terkapar diatas tanah bergetar tiada hentinya, kemudian dengan susah payah bangkit dan duduk bersila diatas tanah.

cu-li Yap dan Pek-li Hiang bersorak gembira, mereka hendak menyerbu maju kedepan-Tapi Sun Han Siang segera berseru dengan nada dalam:

"Mati atau hidup ditentukan oleh takdir, untuk sementara waktu aku harap kalian suka bersabar diri"

Mendengar ucapan tersebut, terpaksa dua orang gadis itu menghentikan gerakan tubuhnya, sementara cu Hong Hong sendiri dengan perasaan tidak tenang garuk2 kepalanya yang tiada gataL

Ketua perkumpulan bulu hijau telah mengetahui bahwa payung sengkalanya terjatuh diatas tanah. tapi ia tidak mengambilnya, sebab setelah benturan berikutnya ini meskipun tidak sampai mati mereka harus berbaring setengah harian lamanya. mengambil atau tidak bukan persoalan yang penting karena akhirnya toh akan diambil orang lain-

Ia rela benda itu diambil orang dari atas tanah. dari pada membiarkan orang lain mendapatkannya dari tubuhnya. Dengan sempoyongan kedua orang itu bangkit berdiri. bagaikan orang mabuk mereka maju mundur tidak menentu.

pada saat itulah dengan suara lantang tapi berat manusia tembaga itu berseru:

"Pertarungan ini adalah pertarungan yang terakhir. kita akan mengambil patokan siapa yang mundur paling jauh dialah yang akan dianggap kalah, sang pemenang berhak untuk mendapatkan payung sengkala tersebut."

Setelah ucapan itu diutarakan keluar, semua jago baru merasa terperanjat. sekarang mereka baru tahu akan maksud dari manusia tembaga tersebut. untuk  mendapatkan payung sengkala itu maka sesaorang harus mampu menaklukan hati ketua perkumpulan bulu hijau.

Kendatipun maksud dan tujuannya adalah benar tapi setelah terjadi bentrokan yang terakhir itu maka walaupun mereka tak akan sampai mati paling sedikit kedua orang itu harus berbaring selama tiga sampai lima bulan sebelum semua tenaga dan kekuatannya pulih kembali seperti sedia kala.

pada jarak tiga langkah, kedua orang itu sama2 berdiri tegak. keadaan mereka sudah menyerupai setan yang mengerikan, hawa murni sudah tak dapat dihimpun kembali. karenanya mereka terpaksa harus saling beradu kekuatan dengan menggunakan gerakan biasa

Perasaan hati semua orang kembali tercekat. seluruh hutan tercekam dalam suasana yang mendebarkan hati.

Lama kelamaan Sun Han Siang tak kuat menahan tekanan, suasana yang amat menyeramkan itu dengan suara berat ia berkata. "Lam-kong Liu. kalau anak Pak tidak beruntung dan menemui ajalnya. maka sepanjang hidup aku tak sudi bertemu lagi dengan dirimu"

Manusia tembaga itu sama sekali tidak menjawab, seluruh perhatiannya telah dipusatkan kearah Pertarungan-

Mendadak. disaat yang paling kritis itulah dari dalam

hutan terhembus lewat bau belirang yang amat tebal. "Aduuh.. celaka" teriak Pek-li Gong dengan terperanjat.

Semua orang kaget dan sorot matanya segera jelalatan sekeliling tampat itu.

Asap tebal yang menyelimuti sekeliling tempat itu kian lama kian menebal, dalam waktu singkat wilayah seluas beberapa puluh tombak sudah terkurung semua oleh asap tersebut.

Dalam keadaan seperti itulah dari tempat kejauhan berkumandang suara gemerisik yang amat lirih, se-akan2 ulat sutera yang sedang makan daun.

Walaupun gelagat tidak menguntungkan dan ancaman bahaya muncul di empat penjuru. akan tetapi siapapun tidak bergerak dari tempat semula, sebab pertarungan terakhir dari Lam-kong Pak melawan diri ketua perkumpulan bulu hijau ini jauh lebih penting daripada keselamatan jiwa mereka sendiri.

Sementara itu dua orang jago tersebut per-lahan2 mendorongkan sepasang telapaknya kedepan ketika saling menempel kedua belah pihak sama2 menggigit bibir sambil mendengus berat, tubuh mereka bergentar keras kemudian roboh terjengkang keatas tanah

Darah bagaikan pancuran menyembur keluar diri mulut serta lobang hidung mereka berdua, manusia berbaju tembaga yang duduk disisi kalangan segera bangkit berdiri dan mengukur jarak mundur yang dilakukan oleh dua orang itu, ternyata kedua belah pihak sama2 mundur satu langkah kebelakang, hal ini membuktikan bahwa kekuatan mereka adalah seimbang.

Meskipun menang kalah sukar dibedakan tapi ditinjau dari darah yang mengalir keluar dari ketujuh lubang indera mereka dapat dipastikan delapan puluh persen mereka tak bisa hidup lagi.

Tiga orang manusia tembaga itu sama2 memperdengarkan helaan napas sedih lambat-lambat ketiga orang itu menuju ketengah gelanggang.

Sun Han Siang serta cu Hong Hong tidak memperdulikan segala sesuatu lagi, merekapun ikut menerjang masuk ketengah gelanggang.

Tiba2 dari sekitar gelanggang yang terkurung oleh asap tebal itu bergema datang suara keras yang amat menyeramkan disusul seseorang berseru "Kalian semua sudah jatuh kedalam Cengkeramanku coba kalian periksalah keadaan disekitarmu..."

Semua orang kenal suara itu sebagai suara dari Kakek ombak menggulung yang belum lama berselang telah dipaksa mundur oleh ketua perkumpulan bulU hijau.

Sun Han Siang serta cu Hong Hong segera memeriksa keadaan disekelilingnya, mereka saksikan Kobaran api telah berkobar dengan besarnya dan menjilat setiap benda yang ditemuinya, api mulai merambat keataS ranting pohon dan membakar dahan pohon disekitarnya.  "Kreeseekskreeseeekk-kraak-buumm" Sebatang pohon yang sangat besar dengan kobaran api tumbang keatas tanah.

Jarak antara para jago yang hadir dalam gelanggang itu dengan Lam-kong Pak berdua yang menggeletak diatas tanah masih ada dua tiga puluh langkah jauhnya sementara semua orang masih terperangah menghadapi kejadian yang sama sekali tak terduga itu batang pohon tadi tepat tumbang disisi tubuh kedua orang itu.

Disusul pohon raksasa lainnya pun ikut tumbang, kayu terbakar menciptakan lautan api disekitar sana yang dengan cepat mengepung kedua orang itu ditengah kalangan.

Kobaran api yang menjilat setiap benda disekitar tempat itu dengan cepat pula merambat kesegala penjuru semua orang merasakan dirinya seakan2 berada ditengah tungku, pakaian mereka mulai terjilat tapi membuat suaSana jadi kalut dan kacau balau.

Sun Han Siang sangat menguatirkan keselamatan putranya sambil menjerit sedih ia menerjang masuk kedalam kurungan lautan api.

Tapi empat penjuru terkurang api mereka se-akan2 berada disebuah samudra api yang tiada batasnya dalam keadaan begitu sukar mereka untuk temukan jejak ketua dari perkumpulan bulu hijau serta Lam-kong Pak.

Suasana menjadi kritis dan ancaman jiwa setiap saat bakal terjadi...

pada saat itulah tiba2 muncul sesosok bayangan manusia yang menerobos masuk kedalam kurungan api, dengan gerakan cepat orang itu bukan lain adalah Lak-gwee-soat salju bulan keenam Tong Hui. Baik pakaian maupun badannya sama sekali tidak terbakar ataupun terjilat api. namun paras mukanya telah berubah jadi merah padam bagaikan babi panggang. Setibanya digelanggang, ia segera berteriak keras: "Jangan gelisah. ikuti padaku dan mari kita tinggalkan tempat ini..." cu Hong Hong tertawa dingin.

"Heehh...heeehhh...heeehh... masa engkau tak takut terbakar??"

"Aku mempunyai obat pemadam api tapi jumlahnya tidak terlalu banyak" seru Tong-Hui dengan suara keras, "karena itu terpaksa kita musti menerjang keluar dari sini ber-sama2, kalau ketinggalan seorang saja niscaya bakal celaka. sebab aku tak berdaya untuk menolongnya kembali."

Semua orang percaya kalau salju bulan ke enam ini benar2 memiliki obat anti api sebab diantara senjata rahasianya yang ampuh terdapat pula sejenis peluru yang disebut Ngo-luiyan-hwee-tan, bahan mepedak itu dahsyatdaya penghancurnya karena itu dia pasti memiliki obat anti kebakaran yang mujarab untuk digunakan setiap saat.

Diantara rombongan para jago itu hanya Sun Han Siang serta dua orang gadis yang tak menggubris anjuran tersebut, mereka tidak memikirkan nasib sendiri bahkan secara nekad malahan menerjang masuk ketengah lautan api.

Menyaksikan tingkah laku ketiga orang perempuan itu, dengan cepat Pek-li Gong berseru kepada malaikat raksasa Loo Liang-jan serta Siang Hong Tie:

"cepat kita Cegah tingkah laku yang nekad dari ketiga orang itu, kita rundingkan lagi persoalan ini setelah lolos dari kobaran api yang makin menghebat ini" Tanpa membuang banyak waktu, Loo Liang-jan langsung menerjang kearah Sun Han Siang yang kesadarannya sudah makin menurun akibat keCemasan serta kekuatirannya.

Ketika Loo Liang-jan mencapai belakang punggungnya. pemuda itu masih belum merasakan apa2. menunggu tubuhnya sudah tertangkap dan dikempit oleh orang she- Loo itu, dia baru sadar. tapi keadaan sudah terlambat dan tak bisa banyak berkutik lagi. Dengan mudahnya ia dirarik kembali ketempat semula oleh malaikat raksasa.

Dipihak lain Pek-li Gong dengan gampang berhasil menguasai Pek-li Hiang sedangkan Siang Hong Tie menyeret kembali cu Li Yap.

dalam keadaan begitu tiada pilihan lain bagi para jago untuk mengundurkan diri dari sana dengan mengikuti salju bulan keenam Tong Hui, berangkatlah rombongan para jago itu menerjang kearah wilayah kebakaran yang agak tipis kobaran apinya.

Dari dalam sebuah kantung terbuat dari kulit menjangan, Tong Hui mengambil segenggam bubuk berwarna hitam dan segera disebarkan kearah kobaran api.. ^ceesss^ kobaran api disana seketika padam dan musnah tak berbekas, diikuti beberapa sebaran berikutnya menciptakan sebuah jalan kecil yang bisa dilewati rombongan para jago itu untuk mengundurkan diri.

Begitulah, sambil menyebar bubuk obat mereka undurkan diri dari tempat kejadian.

Kendatipun badan tak sampai terkapar atau terluka  tetapi berhubung jalan tembus itu Cuma beberapa tombak dan lagi kedua belah sisi jalan merupakan kobaran api yang dahsyat maka lama kelamaan terpengaruh oleh hawa panas yang luar biasa, beberapa orang jago itu mulai pusing dan ber-kunang2 hampir saja mereka jatuh tak sadarkan diri.

Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dahulu rombongan para jago yarg berusaha meloloskan diri dari ancaman kobaran dengan mendapat pertolongan dari Tong Hui, sementara itu Lam-kong Pak dan ketua perkumpulan bulu hijau telah sadarkan ketika batang pohon didekat mereka kendatipun begitu sekujur badannya terasa lemah dan sama sekali tak bertenaga untuk berbuat apa2.

Beberapa saat kemudian dengan susah payah mereka berusaha bangkit kembali tapi akhirnya roboh kembali keatas tanah, sementara itu pohon besar telah bertumbangan disekitar mereka membuat kedua orang itu sama sekali terputus hubungannya dengaa dunia luar.

Tiga otang manusia tembaga itu menjerit kaget menyaksikan peristiwa itu dengan cepat mereka lancarkan beberapa buah pukulan dahysat kearah kobaran api.

Tapi sayang kobaran api yang menjilat daerah disekitar tempat itu terlalu hebat meskipun angin pukulan mereka berhasil memadamkan sebagian kecil dari jilatan api tersebut tapi dengan cepat kobaran api lain menutup celah kosong itu bahkan kobaran api dari arah belakang merambat kedepan makin cepat.

Akhirnya keadaan betul2 kritis sekali pada saat itulah salah satu dari manusia tembaga itu menghela napas panjang dan berseru sedih:

"Aaaai mungkin akulah yang mencelakai jiwanya..,." Sambil berkata ia berusaha menerjang masuk kedalam kobaran api yang sedang membara itu.

Dua orang rekannya dengan cepat bertindak. mereka tarik lengan manusia tembaga itu kemudian sambil menghimpit tubuhnya mereka bergerak menuju keluar gelanggang menjauhi tempat kebakaran tersebut.

Pada waktu itu Lam-kong Pak serta ketua perkumpulan bulu hijau yang terkepung diantara kobaran api telah putus harapan dan tipis kemUngkinannya untuk hidup, mereka sadar bahwa jiwa mereka telah terancam mara bahaya....

Karena putus harapan kedua orang itu tak ada yang mau memperdulikan payung sengkala yang menggeletak diatas tanah meskipun isi perutnya sudah terluka parah tapi karena tenaga dalamnya masih utuh maka walaupun api membakar disekelilig mereka namun kedua orang itu masih sanggup mempertahankan diri.

Suatu ketika tiba2 Lam-kong Pak buka suara dan berkata:

"SeKarang kita sudah berada dalam keadaan yang kritis dan setiap saat keselamatan jiwa kita terancam oleh maut, dalam keadaan demikian sudah sepantasnya kalau kita kesampingkan semua urusan pribadi maupun perselisihan sebelumnya bukankah begitu?"

Pada waktu itu sianak muda tersebut tak mau pikirkan persoalan lain karena tak ada gunanya memikirkan kesemuanya itu misalnya saja bagaimana dengan keselamatan ibu-nya, kedua orang gadis itu serta tiga orang manusja tembaga itu??

Sebelum ajalnya tiba, dia hanya ingin mengetahui sesuatu yakni siapakah ketUa perkumpulan bulu hijau itu?

"Benar" terdengar ketua perkumpulan bulu hijau menjawab, "semua perselisihan yang pernah terjadi diantara kita memang sudah sepantasnya dikesampingkan, kita harus berterima kasih kepada Thian- karena Beliau telah mengatur segala sesuatunya ini buat kita" Lam-kong Pak terperangah mendengar ucapan itu. "Apa maksudmu?" tegurnya.

"Dewasa ini dikolong langit hanya engkau seorang yang mampu bertarung seimbang dengan aku, dan Kita berdua harus mati bersama ditempat yang sama pula, bukankah itu berarti bahwa Thian telah mentakdirkan kita untuk mengalami keadaan seperti ini? sebaliknya andaikata kita berdua tidak mati bersama, melainkan mati bersama orang lain, aku percaya kejadian ini pasti akan merupakan suatu peristiwa yang amat disesalkan Sepanjang hidupku hingga mati pun tak meram"

Batin Lam-kong Pak Sangat terpukul setelah mendengar perkataan itu, dengan cepat sahutnya lantang:

"Benar tepat sekali pendapat orang gagah memang selalu sama, sayang perkenalan kita berlangsung agak lambat"

"Tidak. sama sekali tidak terlambat, asal bisa bertemu itu, namanya belum terlambat."

Lam-kong Pak menengadah keatas dan tertawa ter- bahak2.

Kobaran api sudah hampir menjilat tubuh mereka berdua. tapi kedua orang itu sama sekali tak ambil perduli, perasaan hati mereka pada saat ini hanya mereka berdua yang memahami.

Setelah tertawa ter-bahak2 beberapa saat lamanya keadaan luka mereka semakin parah, tubuh mereka sempoyongan hampir roboh. Lam-kong Pak segera berkata: "Saudara sebelum ajal kita tiba dapatkah saksikan raut wajah aslimu??"

"Boleh saja, tapi sebelum itu aku hendak ajukan suatu pertanyaan lebih dulu. dan engkau harus memberi jawaban yang sejujurnya." "Tanyalah asal aku tahu. aku pasti tak akan membuat engkau jadi kacewa"

"Apakah engkau tahu kalau kita masih mempunyai sedikit harapan untuk hidup?"

"Aku pikir kesempatan hidup bagi kita sudah putus, sekalipun ada dewa atau malaikat turun dari kahyanganpun tak mungkin bagi kita untuk meloloskan diri dari jepitan lautan api, sebab aku tak tahu sampai berapa ribu li luasnya hutan belantara ini"

"Memang benar seandainya kita tak punya benda mustika dunia persilatan, sudah tentu kita dapat pejam  mata sambil menantikan datangnya kematian ..."

"Kau maksudkan payung sengkala benda mustika itu?" "Benar dengan payung tersebut ditangan, bukan saja tak

mempan  dibakar  tak  mungkin  pula  kita  jadi  tenggelam,

masa pengetahuan seremeh itupun tak diketahui olehmu?"

Lam-kong Pak segera berpaling kearah payung sengkala tersebut, ia lihat cahaya merah memancar keluar keempat penjuru, jilatan api betul2 tak dapat mendekati wilayah disekelilingnya.

Diam2 pemuda itu merasa tercengang bercampur  kagum, sebab seandai kata tiada benda mustika itu niscaya kobaran api telah membakar hangus badan mereka.

"Aku rasa sekarang engkau harus unjukkan wajah aslimu " seru pemuda itu kemudian.

"Lihatlah..."

Ia sambar rambut palsunya dan segera dilepaskan dari atas wajah. sehingga tampaklah paras muka aslinya.

Padahal bagi Lam-kong Pak raut wajah tersebut sama sekali tidak membuat hatinya tercengang, sebab ketika masih berada dalam markas besar perkumpulan bulu hijau tempo hari menggunakan kesempatan dikala Loo Liang-jan sedang bertempur melawan ketua dari perkumpulan bulu hijau. secara lapat2 ia telah melihat pula paras muka yang asli dari orang ini.

Sekarang dibawah sorot cahaya api yang ber-kobar2 diempat penjuru, terlihatlah nyata paras muka asli orang itu.

Ia baru berusia lima puluh tahunan, alisnya panjang dengan mata yang jeli, hidung mancung mulut lebar, kecuali kerutan dahinya membawa hawa sesat yang tipis. semestinya muka orang itu termasuk tampan dan gagah.

"Sebenarnya siapakah engkau??" sekali lagi Lam-kong Pak menegur.

"Bukankah engkau sudah saksikan paras muka asliku??" "Tapi sama sekali aku tak kenali dirimu, terus terang saja

kukatakan sejak dulu aku sudah tahu akan paras muka aslimu itu"

"Kapan sih engkau pernah melihat paras mukaku??" "Tempo  hari.  sewaktu  engkau  sedang   melangsungkan

pertarungan  seru  melawan  Loo  Liang-jan  dalam  markas

besar perkumpulan bulu hijau"

"Hmm... aku hanya menyanggupi kepadamu untuk periihatkan paras muka yang asli aku toh tak pernah menyanggupi engkau untuk beritahu siapakah aku??"

"Kalau begitu bolehkah aku tahu, kenapa engkau angkat kakek ombak menggulung sebagai gurumu??"

"oooh ... tindakanku itu sih hanya merupakan tipu muslihat belaka, dalam kenyataan dalam ilmu silat yang dia miliki sama sekali bukan tandinganku" "Lalu apakah maksud tujuanmu yang sebenarnya ??"

"Untuk menyelidiki dendam berdarah yang telah berlangsung banyak tahun berselang"

"Jadi dia adalah musuh besarmu??"

"Benar, tapi hingga detik ini aku masih belum tahu dengan jelas "

"Apa hubunganmu dengan cu Hong Hong?"

"Jangan kau sebut perempuan loote itu lagi..." tukas ketua perkumpulan bulu hijau dengan geram,  "kalau engkau berani mengungkap namanya lagi aku akan tinggalkan engkau dalam kepungan lautan api seorang diri." Lam-kong Pak mendengus dingin.

"Hmm aku memang tak ingin keluar dari dalam keadaan hidup, engkau tak usah mengancam atau menggertak diriku dengan ancaman semacam itu, menurut apa yang kutahu kecuali watak cu Cianpwee agak berangasan sebenarnya dia adalah seorang perempuan yang baik akhlaknya."

"coba ulangi lagi perkataanmu itu" seru ketua perkumpulan bulu hijau dengan menyambar payung sengkalanya.

Lam-kong Pak adalah seorang lelaki jujur ia tak mau bertekuk lutut dihadapan orang lain, mendengar ancaman tersebut dengan lantang ia berteriaK kembali: "Ia terhitung seorang perempuan yang berhati baik"

"Blaaanmmm" ketua perkumpulan bulu hijau rentangkan payung mustikanya, dengan suara dingin ia berseru:

"Dalam persoalan yang lain aku masih dapat bersabar diri, tapi kalau engkau mengatakan dia adalah seorang perempuan yang baik, maka aku tak dapat bersabar diri....hehehe...hemm.. sekarang aku mau pergi dahulu" "Pergilah cepat " jawab L^m-kong Pak tak kalah ketusnya. "selama hidup aku tak akan merubah cara berpikirKu, kalau engkau hendak merubah jalan pikiranku maka itu berarti engkau sedang berhayal disiang hari belong"

Ketua perkumpulan bulu hijau tertawa dingin tiada hentinya, ujung kakinya menjejak tanah dan tubuhnya segera meluncur kearah udara, per-lahan2 badannya melayang diudara mengikuti hembusan angin. dimana payung sengkalanya tiba. kobaran api segera menyingkir kesamping dan sama sekali tak mampu merusak atau melukai orang serta payungnya. "Hey bocah muda, sekarang kau. "

Sebelum teriakan dari ketua perkumpulan bulu hijau berakhir. dengan suara tak kalah kerasnya Lam-kong Pak menukas:

"Kalau mau pergi cepatlah pergi, selama hidup jangan harap engkau bisa merubah jalan pikiranku kalau baik selamanya tetap baik kalau jahat selamanya tetap jahat."

Baru saja bicara sampai disitu, karena payung sengkala telah beralih ketangan ketua perkumpulan bulu hijau, maka kobaran api diempat penjurpun mulai merambat kesekeliling tubuhnya.

Lam-kong Pak menggertak gigi menahan diri, walaupun keringat telah membasahi badannya namun ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Ketua perkumpalan bulu hijau yang tubuhnya berhenti ditengah udara jadi serba salah dibuatnya, ia tak tega meninggalkan si anak muda itu sendirian, tapi kalau ia balik kesisinya berarti ia telah mengaku kalah, untuk beberapa saat lamanya jago tua itu jadi serba salah dan tak tahu apa yang musti dilakukannya. Tiba2 terdengar suara gemerisik yang nyaring berkumandang datang, tampaklah kobaran api menyingkap kesamping dan muncullah sesosok bayangan manusia.

Dengan satu gerakan tubuh yang cepat bagaikan sambaran kilat ia menerjang kesamping tubuh Lam-kong Pak dan sekali sambar tahu2 jalan darahnya kena dicengkeram, orang yang barusan munculkan diri itu bukan lain adalah Suma Ing musuh bebuyutan dari jago muda kita.

Setelah tahu siapa musuhnya yang munculkan diri diam2 Lam-kong Pak menghela nafas panjang. pikirnya.

"Andaikata aku mati ditengah kobaran api mungkin kematianku masih meninggalkan sedikit nama bagus. sebaliknya kalau aku sampai mampus ditangan bajingan tengik ini sampai matipun aku tak akan mati dengan mata pejam"

"Haaahh...haaahh...haaahhh..." sementara itu Suma ing tertawa ter-bahak2 dengan kerasnya, "Lam-kong Pak engkau tak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti hari ini bukan?? semua jago yang hadir dalam hutan ini telah musnah terkubur ditengah lautan api, tak seorangpun yang dapat meloloskan diri dalam keadaan selamat, sedang engkau... setelah merasakan siksaan yang paling keji dikolong langit tubuhmu baru akan terkubur ditengah lautan api, anggaplah kesemuanya itu sebagai pembalasan yang setimpal."

Lam-kong Pak mendengus dingin.

"Mati atau hidup sudah digariskan oleh takdir kejadian ini bukanlah suatu kejadian yang luar biasa Suma ing. aku ingin bertanya kepadamu mengapa engkau bisa masuk kedalam lautan api tanpa cedera ataupun menderita luka barang sedikitpun juga ??" Suma ing menyeringai seram,

"Heehhh-heeehh-heeehhh... salju bulan keenam Tong Hui memiliki peluru sakti Ngo-kui-yan-hwee-tan. sudah tentu dia pun memiliki obat pemadam api. aku berhasil merampasnya satu bungkus, oleh sebab itulah aku bisa keluar masuk ditengah kobaran api dengan leluasa"

Satu ingatan berkelebat dalam benak Lam-kong Pak pikirnya.

"Asal kawanan jago dari golongan putih bisa berada ber- sama2 Tong Hui kemungkinan besar jiwa mereka dapat diselamatkan, entah bagaimana nasib dengan ketiga orang manusia tembaga itu?? mungkin lebih banyak bahaya yang mereka jumpai dari pada keuntungan-.."

Berpikir sampai disitu ia lantas bertanya

"Kebakaran yang terjadi kali ini apakah hasil karya dari kakek ombak menggulung??"

"Bukan akulah yang mengajukan usul bagus ini dan aku juga yang melepaskan kobaran api pertama"

Lam kong Pak merasa amat sakit hati sehabis mendengar perkataan itu sampai sekarang dia masih belum berani mempercayai kalau kebejatan moral Suma ing sudah mencapai pada taraf yang tak dapat dlobati lagi, ia pejamkan matanya rapat2 kemudian berkata:

"Suma ing engkau telah membunuh mati ibumu sendiri dia kemungkinan besar telah membakar mati ayahnya sendiri. bagaimanakah perasaanmu setelah melakukan perbuatan semacam itu??"

Suma ing menengadah dan tertawa ter-bahak2- "Haah-haah haah... perasaan? tentu saja ada perasaanku adalah siapa berbuat kesalahan dia harus menerima ganjarannya yang setimpal"

"Bila aku dan ibu yang mati. mungkin saja kami tak akan menyalahkan dirimu, tapi apakah ayahpun berbuat sesuatu yang menyalahi engkau?"

"Hmm terus terang kuberitahukan kepadamu." seru Suma ing dengan penuh kebencian. "Aku membenci setiap orang yang ada. tentu saja termasuk pula Lam-kong Liu sendiri, kalau toh dia yang melahirkan diriku kenapa ia melepaskan tanggung jawab untuk mendidik serta memelihara aku..? aku percaya, seandainya dia belum mati maka dia tak akan memaafkan perbuatanku, oleh sebab itu aku tak usah mengharapkan balas kasihan dari orang lain, aku pun tak usah mengharapkan pemberian maaf dari  orang lain- aku harus menggunakan segala macam perbuatan serta tindakan yang dapat kulakukan untuk membasmi dan melenyapkan setiap orang yang memusuhi diriku."

"Kalau memang begitu pendirianmu, sekarang juga silahkan turun tangan sebab aku pun tak ingin membuang waktu dengan percuma, akhlakmu sudah bejad dikolong langit sudah tak ada obat mujarab yang bisa digunakan untuk menyelamatkan dirimu lagi."

Suma ing sangat marah dan mendendam, sambil menggertak giginya hingga berbunyi gemerincingan serunya:

"Aku akan menggigit dan merusak panca-indramu dengan gigitan gigiku."

Lam-kong Pak sama sekali tak merasa terperanjat mendengar ancaman tersebut sebab diapun telah menyadari suatu ketika jika dirinya terjatuh ketangan bajingan ini maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2

Suma Ing rentangkan mulutnya hendak menggigit hidung Lam-kong Pak. tiba2 ia hentikan gerakan tersebut sambil berseru: "Aaah... tunggu sebeatar.^."

Kiranya selama ini ketua perkumpulan bulu hijau masih belum pergi dari tempat itu, meskipun ia tak sudi takluk dan mengaku kalah terhadap Lam-kong Pak, akan tetapi diapUn merasa tak tega membiarkan sianak muda itu disiksa oleh Sum Ing yang kejam.

Perasaan hatinya pada saat ini sukar dilukiskan dengan kata2, ia merasa serba salah dan tak tahu apa yang mesti dikerjakan, ia sangat membenci Lam-kong Liu. juga amat mendendam terhadap cu Hong Hong, tapi apa sebabnya dia hendak menolong Lam-kong Pak??

Mungkinkah ia sangat kagum atas kegagahan serta kejantanan Lam-kong Pak. atau mungkinkah ia Cuma ber- pura2 belaka??

= =000000000= =

SUMA Ing sendiri merasa amat terperanjat ketika dilihatnya Ketua perkumpulan bulu hijiu dengan membawa payung sengkala per-lahan2 melayang turun keatas tanah, dengan tenang tapi tegang dia bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan- 

"Suma ing." seru Ketua perkumpulan bulu hijau dengan suara berat dan mendalam, "lepaskan dia. dan akupun akan mengampuni selembar jiwamu"
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kelelawar Hijau Jilid 16"

Post a Comment

close