Cincin Maut Jilid 34 (Tamat)

Mode Malam
Jilid 34
"KAU TERLALU BODOH"
Hoi tay berkata dingin,
"ayahku tak akan membicarakan persoalan macam begini denganmu dalam hati kecilnya hanya ada ilmu silat dan uang, dia tak akan berubah pikirannya karena harus mengorbankan putranya, heeeh... heeeh heeeh.. lagi pula aku Hoi tay pun tak akan membikin malu bapakku, paling tidak aku akan menantangmu untuk berduel, kalau tidak, aku Hoi tay  percuma menjadi majikan muda tempat ini."

"Punya semangat"
puji jago pedang buta Bok Ci sambil memperlihatkan ibujarinya
"aku paling kagum dengan manusia bersemangat macam ini, seperti kau, keberanianmu sungguh jauh lebih besar daripada kebanyakan orang, hanya sayang kau telah salah mencari sasaran"

"Hmmmm..."
Ho Hay mendehem dingin,
"kau kelewat percaya pada kemampuanmu sendiri, sayang aku tidak percaya dengan segala macam tahayul.."
Tubuhnya segera bergerak maju, tiba tiba saja tangan kanannya meloloskan pedang, kemudian cahaya pedang bergetar dan menciptakan bertitik sinar ditengah udara, kemudian secara langsung menyerang tubuh jago pedang buta Bok Ci. Jago pedang buta Bok Ci merupakan seorang ahli silat yang mahir dalam permainan ilmu pedang, dengan kesempurnaan ilmu pedang yg dimilikinya saat ini, boleh dibilang dia sudah mencapai tingkatan tiada taranya didunia ini, maka dari itu dalam sekilas pandangan saja ia dapat melihat tinggi rendahnya tenaga dalam orang.

Begitu Hoi tay melepaskan serangannya, dia sudah mengetahul kalau ilmu pedang lawan tidak begitu hebat, atau lebih tepat di katakan sebagai taraf permulaan dari permainan suatu ilmu pedang...sambil tertawa dingin segera serunya:

"Sobat, kalau kepandaian semacam ini yang kau andaikan maka kau makin ketinggalan jauh sekali."
Tangannya digetarkan pelan, pedang kayu itu dengan berubah menjadi serentetan cahaya tajam langsung menyongsong datangnya ancaman lawan dan mengetuk lengan Ho Hay keras-keras

"Aduuh .."
Ho Hay menjerit kesakitan dengan suara yang amat memilukan hati, pedangnya terjatuh ke atas tanah.
Ditatapnya Jago pedang buta dengan sinar mata terkejut dan keheranan., kemudian serunya agak tergetar. "Kau.."
"Katakan kepadaku, ayahmu telah menyembunyikan adik angkatku di mana?" seru jago pedang buta Bok Ci dengan suara sedingin es.
"Hmmm, kau salah melihat orang" Ho Hay tertawa dingin, "selama hidup aku tak akan memberitahukan soal ini
kepadamu..."
Jago pedang buta Bok Ci segera mengayunkan pedangnya, kemudian berkata lagi:
"Aku percaya kua tak akan takut mati " ucapnya "tapi pedang kayu ku ini sudah banyak membunuh manusia buas macam kau, nada ucapan merekapun sama seperti kau, cuma sayangnya tak seorangpun yang bisa bertahan sampai akhir, aku percaya kaupun tidak memiliki kemampuan semacam ini."
"Hmmm, kalau begitu cobalah" tiba-tiba Ho Hay membentak keras.
Telapak tangannya digulung ke depan, serentetan cahaya biru segera mencelat ketengah Perubahan ini sangat besar dan siapa pun tak pernah menyangka sebelumnya.
Paras muka jago pedang buta Bok Ci berubah hebat, dia mengayunkan pedang kayunya sambil melepaskan sebuah bacokan, berturut-turut melesat ke udara dengan cepat.
Cahaya biru tadi meluncur ke depan dan menancap diatas kayu sambil memperdengarkan suara ledakan nyaring, seluruh bangunan rumah tersebut segera bergoncang keras. sebaliknya Ho Hay terkena sebuah tusukan mematikan d ari jago pedang buta Bok Ci, darah menyembur keluar dari mulutnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia roboh terkapar di atas tanah dan langsung saja tewas seketika.

sebelum meninggal sepasang matanya yang penuh kebencian itu sedang melotot ke arah jago pedang buta Bok Ci, seakan-akan sampai titik darah penghabisan pun dia tak bisa memejamkan matanya.

Lelaki she Lok itu menjadi semakin ketakutan lagi setelah menyaksikan majikannya tewas secara mengenaskan sepasang kakinya menjadi lemas seakan-akan tak bertenaga, dengan terkesiap dia menubruk ke sisi tubuh Ho Hay sambil berteriak keras:

"Majikan muda Majikan muda "
Dengan suara d ingin jago pedang buta Bok Ci segera berkata:
"Sekarang tinggal kau seorang, aku lihat kau pun tak ada artinya untuk hidup terus di dunia ini, cuma a kupikir tak boleh membiarkan kau mati dengan begitu saja, maka ku anjurkan kepadamu lebih baik bersikaplah lebih jujur, mungkin dengan begitu nyawamu masih bisa diselamatkan."
Kemudian setelah terhenti sejenak dan tertawa hambar, dia berkata lagi:
"Berapa jalan untuk menuju ke dasar sungai?"
"Dua buah" suara lelaki itu kedengaran gemetar keras.
Sementara itu jago pedang buta Bok Ci telah berpaling sambil berseru:
"Nona Bu, keluarlah, ketiga rongsokan tersebut sudah ada dua yang musnah, yang tersisa sebuahpun sudah hampir cuma aku masih ingin menahannya lebih lama.." Pelan-pelan Bu siau huan munculkan diri dari tempat persembunyiannya, lalu berkata: "Bok toako, mari kita berangkat sekarang juga"

Tapi dengan cepat jago pedang buta Bok ci menggelengkan kepalanya berulang kali
"Terlalu pagi" katanya,
"kita harus menunggu sampai menjelang malam nanti"
Sementara itu lelaki she Lok tadi berubah wajahnya sangat hebat setelah mendengar kalau mereka hendak masuk
penjara untuk menolong orang, saking takutnya dengan badan gemetar keras serunya:
"oooh tuan, kau hendak menyuruhku membawa jalan ?" "Jadi kau tidak bersedia ?" jengek jago pedang buta Bok ci
dingin.
"oooh pergi, pergi.. tapi... ampunilah aku..." lelaki tersebut benar-benar ketakutan setengah mati.
Sekali lagi jago pedang buta Bok ci mendengus dingin. "Kalau ingin hidup, kau mesti mendengarkan perkataanku, kalau tidak, batok kepalamu itu bisa jadi akan berpisah dengan badan mu...

ooo00000ooo

MALAM amat gelap, udara terasa dingin dan menusuk tulang, suasana di seputar sungai say cu hoo dalam keadaan hening dan tak nampak sesosok kalangan manusia pun.
Selain suara daun dan ranting yang bergoyang saling bergesekan terhembus angin, hanya suara air yang mengalir di tengah sungai.
Di angkasa hanya beberapa butir bintang masih gemerlapan, sedang rembulan entah sejak kapan telah tersembunyi di balik awan, menyembunyikan sinarnya yang lembut dan mengintip dengan kemalu-maluan dibalik awan tebal.

Suasana dan keadaan seperti ini merupakan saat yang paling baik bagi orang yang berjalan malam melakukan operasinya. Jago pedang buta Bok Ci adalah seorang jago kawakan, dia paling pandai untuk memanfaatkan kesempatan sebaik ini untuk melaksanakan rencananya. Bersama Bu siau huan dia menggiring lelaki she Lok yang sedang sial itu, berangkatlah mereka menuju ke sungai say cu hoo.

"Sudah sampai belum? "
jago pedang buta Bok Ci menegur pelan "sebenarnya permainan setan apa yang sedang kau
lakukan?"
seluruh badan lelaki itu gemetar keras karena ketakutan, cepat-cepat dia berseru "Ooooh ., tuanku, dalam keadaan seperti ini buat apa aku mesti membohongimusejak kematian majikan muda, aku kembali ke markas juga mati, tidak kembali pun tetap mati. masa aku berani bermain gila di hadapanmu?"

Dengan sangat berhati-hati dia berjalan menelusuri sungai, mendadak didepan sana muncul sebuah bendungan, suasana disekitar bendungan amat sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

"itu dia, disana" kata si laki itu kemudian sambil menuding ke arah depan.
Dia maju beberapa langkah ke depan dan berdiri diatas papan kayu diatas bendungan lalu dengan menggunakan ujung kakinya dia menjejak papa n tadi tiga kali. Dari dalam ruangan segera terdengar seseorang menegur:

"Bunga merah daun hijau."
Lelaki itu memandang sekejap ke arahjago pedang buta Bok Ci, kemudian sahutnya:
"Sekuntum bunga kuning."
Pelan-pelan papan itu dibuka orang suasana dalam lorong rahasia gelap gulita tak nampak sedikit benda pun.
Jago pedang buta Bok ci segera menuding ke dalam memberi tanda kepada lelaki itu agar masuk ke dalam lebih dulu
Lelaki itu tertawa getir, dengan berat hati dia berjalan masuk ke dalam menyusuri anak tangga batu dan menuju ke dasar lorong.
Hanya anehnya sepanjang jalan, ternyata mereka tidak menjumpai seorang manusiapun. Jago pedang buta Bok Ci segera menegur lagi:
"jika kau berani bermain gila dihadapanku, sekali tusuk akan kukirim kau ke akherat " "Bila kau tak percaya denganku, tusuklah aku sekarang juga ..." sahut lelaki itu dengan suara gemetar.
Dengan sangat berhati-hati dia melongok sekejap kedalam, tampak diujung lorong yang amat panjang itu tampak muncul setitik cahaya lentera, kepada jago pedang buta Bok Ci segera bisiknya:

"Disitulah sahabatmu di kurung, tapi aku tidak tahu apakah kata sandi yang berlaku didalam sana, maka aku tak dapat masuk kedalam, kau harus tahu peraturan dalam perkumpulan kami sangat keras dan ketat."

"Kau benar-benar tidak mengetahui kata sandi yang berlaku disana.?" tegur jago pedang buta Bok ci dingin. Lelaki itu berkata dengan sungguh-sungguh.
"sekarang aku perlu meloloskan diri dari maut, masa harus membohongi dirimu? Tuanku percuma kau memaksa aku, aku benar-benar tidak tahu." Dipandangnya Bu siau huan sekejap, kemudian katanya.

"Bila nona ini disuruh menyamar sebagai petugas mengirim makanan, mungkin kalian masih mampu untuk menyelundup masuk ke dalam."
"Kalau begitu, enyahlah dari sini," seru sagat pedang buta Bok ci dingin.
"aku harap kau jangan meng,cjj," harus kau ketahui, biar kau kabur ke ujung langitpun aku sanggup untuk mengejarmu dan bila sampai hal ini terjadi, bagaimanakah akibatnya tentu sudah kau ketahui denganjelas bukan.."

Gemetar keras seluruh badan lelaki itu, dia membalikkan badan dan segera angkat kaki dari situ.
"Hamba tahu..."
Jago pedang buta Bok Ci dan Bu siau huan tidak memperdulikan orang itu lagi, mereka segera melanjutkan perjalanannya menuju kearah mana munculnya sinar lentera itu..
Belum sampai di tempat tujuan, mereka berdua sudah mendengar suara bentakan dan teriakan yang gaduh.
serentetan sinar lentera menyusup keluar lewat celah-celah pintu, begitu lemah cahanyanya bagikan seorang kakek yang hampir mendekati ajalnya.
Bu siau huan memandang sekejap ke arah jago pedang buta Bok Ci, kemudian menatap penuh tanda tanya, maksudnya dia harus turun tangan dengan cara bagaimana? Jago pedang buta Bok ci segera berbisik:

"Lakukan saja seperti apa yang dikatakan oleh keparat tadi, mungkin cara tersebut merupakan suatu cara yang baik"
Bu siau huan mengangguki ia lantas merubah suaranya dan berteriak dengan rendah:
"Buka pintu, buka pintu..."
suara gaduh dalam ruangan itu segera berhenti, agaknya mereka tertarik oleh suara panggilan perempuan yang merdu itu?"
Terdengar seorang lelaki tertawa terbahak-bahak kemudian berseru:
"Betul-betul maknya, mau apa ongji so datang kemari lagi..?"
suara yang lain segera menyambung:
"Apa lagi? Paling-paling datang untuk mencari Lo Lau bersenang-senang, semalam Lau tua tidak mampu bertahan sampai babak terakhir, malam ini dia pasti akan mencarinya untuk melanjutkan permainan, sialan, tengah malam datang mencari kesenangan..." "Duuuk" Terdengar suara benturan keras, agaknya seseorang sedang menjotos tubuh seseorang keras-keras, kemudian bergema suara gelak tertawa yang sangat keras. Terdengar seseorang berseru dengan gusar:

"Bila kau Lojit berani bergurau lagi dengan aku Lau tu, heeehh, hhecehh..heeeeh.. hati-hati kalau aku akan mengetuk pecah batok kepalamu yang botak itu, bila kau tidak terima, aku akan menyerahkan kepadamu "

Bu siau huan merasakan pipinya berubah menjadi merah, hampir saja meledak hawa amarahnya.
Berapa saat kemudian terdengar suara pintu dibuka orang dan kedua belah pintu kecil tadi terpentang sedikit.
"Aaah, tidak benar"
Baru saja dari ruangan bergema suara jeritan kaget secepat sambaran petir jago pedang buta Bok Ci telah menerobos masuk kedalam ruangan itu.
semua orang hanya merasakan ada bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu jago pedang buta Bok Ci dengan pedang terhunus sudah muncul didepan mata, bahkan ketika pedangnya digetarkan ke udara seketika itu juga ada dua lelaki yang roboh terjungkal keatas tanah.

Dengan suara dingin dia lantas berseru:
"Jangan berisik, siapapun yang berani sembarangan bergerak akan kubelah batok kepalanya seperti membelah buah semangka.."
Dalam runngan tertebut, kecuali dua lelaki yang dirobohkan oleh jago pedang buta Bok Ci tadi, kini masih ada lima orang lelaki lain yang berdiri dengan wajah kaget dan gugup.
Ke lima lelaki itu dengan sepuluh mata mereka bersamasama mengawasi jago pedang buta Bok Ci penuh ketakutan, mereka tidak tahu siapa gerangan musuh yang muncul itu secara mendadak.
Pelan-pelan Bu siau huan meloloskan pedangnya kemudian merapatkan pintu ruangan tersebut, setelah itu tanyanya:
"Bok toako, mana orangnya?"
Jago pedang buta Bok Ci memperhatikan orang-orang tersebut, kemudian berkata:
"Aku bernama jago pedang buta Bok Ci, sekarang kami datang untuk meminta orang kepada kalian.."
Pepatah bilang. Pohon punya bayangan, manusia punya nama. Pengungkapan nama besar itu segera menggetarkan perasaan orang yang berada dalam ruangan tersebut, paras muka mereka berubah hebat, sedang dalam hatinya lantas berpekik:

"Aduh maki hari ini benar-benar ketemu batunya, dengan kepandaian orang, bukan pekerjaan yang sulit baginya untuk membereskan kami semua, hehmmm... agaknya habis sudah riwayat kami hari ini..."

Tak seorang manu5iapun yang berani menjawabnya pertanyaan dari jago pedang buta buta Bok Ci.
Mereka saling berpandangan sekejap kemudian bersamasama menundukkan kepalanya rendah-rendah, agaknya mereka sedang mohon ampun dari lawannya.
" Lebih baik kau saja yang menjawab" kata Jago pedang buta Bok Ci secara tiba-tiba,
"hal ini sudah termasuk sikap paling sungkan bagimu. ."
Tiba-tiba pedang kayunya dipakai untuk menunjuk si lelaki berkepala botak itu. Cepat-cepat lelaki botak itu menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya sambil tertawa getir: "Kau jangan bertanya kepadaku, hanya seorang yang tahu dimanakah sahabatmu itu d i-kurung, kami tak lebih hanya bertugas menjaga pintu belaka, orang itulah yang seharusnya kau cari .."

"siapa ? Dia berada dimana ?" tanya jago pedang Buia Bok ci dengan suara dingin...
"Dia lagi masuk ke dalam untuk mengambil barang,
mungkin sebentar lagi akan keluar," bisik lelaki botak itu lirih...
Meskipun jago pedang buta Bok Ci rada tidak percaya, namun diapun dibikin apa boleh buat, maka setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dia perintahkan ke lima orang itu untuk duduk menjadi satu.

"si bocah cantik, kau amat menarik, aku harus mencium pipimu dengan mesra."
Pada saat inilah dari dalam lorong rahasia berkumandang suara senandung yang tak karuan, lalu tampak seseorang muncul dengan sempoyongan.
Buru buru jago pedang buta Bok Ci memadamkan lentera yang berada di atas meja lalu menotok jalan darah ke lima lelaki itu pedangnya digetarkan dan bersama Bu siau huan berjaga-jaga disisi kiri dan kanan menunggu munculnya lelaki tadi.

"Hmm" kedengaran lelaki itu berseru dengan tak senang hati, "neneknya, baru saja aku Tay im jiau pergi sebentar, beberapa setan sialan itu sudah memadamkan lampu dan tidur, h mm... toaya membawa arak tapi kalian tak seorangpun boleh turut minum."

Mendadak sebuah benda dingin yang tajam menusuk di atas punggungnya, membuat sekujur tubuhnya gemetar keras, seketika itu juga dia telah mendusin dari pengaruh araknya. sambil melompat karena teperanjat serunya. "Siapa yang sedang bergurau dengan toaya?" "Jangan berisik, hati-hati kalau ketusuk dirimu. ." ancam Bu siau huan dingin.
sinar lentera mencorong ke empat penjara dan ruangan itu menjadi terang benderang kembali.
Tay im jiau seperti ayam terbuat dari kayu berdiri kaku ditempatnya, dibuat terkesiapnya pemandangan yang terbentang didepan matanya sekarang., setelah memperhatikan sekejap wajah si jago pedang buta Bok cikemudian tegurnya:

"Mau apa kalian ?"
"Minta orang-orang yang hari ini kalian tangkap itu" sahut jago pedang buta Bok Ci dengan suara dingin-Tay Im jiau segera tertawa seram...
"Heeeh ... heeeh...buat apa? hendak menolong orangpun tidak begini caranya."
"Tak usah bermain setan dihadapanku, bahkan berani berbicara yang tak karuan lagi pedang yang berada dipunggungku itu akan menusuk ke depan tanpa perasaan kasihan, cukup maju lima inci saja, sudah pasti nyawamu akan melayang, aku lihat ada baiknya kau bersikap lebih jujur lagi "

Bu siau tuan segera mendorong tangannya ke depan, kontan Tay im jiao berkaok kaok karena kesakitan, darah segar memancar ke luar dari punggung Tay im jiau.
Berubah hebat selembar wajah Tay im jiau, sekarang dia baru mengetahui betapa lihaynya pihak lawan, bahkan mampu turun tangan secara tidak mengenal ampun... Maka dengan suara gemetar dia berseru:

"Aku akan mengajakmu aku akan mengajukan..."
Dia lantas beranjak menuju ke depan. setelah melewati dua tikungan, dia berhenti di bawah sebuah batu besar yang menempel di atas sebuah dinding berwarna putih, sepasang tangannya memutar batu besar itu pelan sehingga muncullah sebuah mulut gua yang bisa di lewati hanya seorang.
suara afiran air berkumandang datang dari balik gua tadi, bau lembab pun menusuk hidung, bahkan udara disitu terasa dingin menusuk tulang ...
jika pedang buta Bok Ci agak tertegun, dia tak mengira kalau ditempat tersebut terdapat sebuah penjara air yang begitu rahasia letaknya, karena gusar seluruh tubuhnya sampai gemetar keras dengan gemas digetarkannya pedang kayu itu kemudian berseru.

"Cara kalian mencelakai orang benar-benar luar biasa sekali. "
"Dia berada didalam sana..." bisik Tay imjiau dengan suara gemetar. Jago pedang buta Bok ci sebera berteriak ke arah dalam gua.
"Keluarlah, saudaraku, masih banyak persoalan yang menunggu mu untuk diselesaikan.
"Toako " pelan-pelan Liong Tian im menampilkan diri dari balik gua,
" rupanya kau telah datang..."
Jago pedang buta Bok Ci tertawa getir. "Bagaimana rasanya didalam gua sana?"
Dengan tubuh basah kuyup Liong Tian im muncul dari dalam gua. kemudian sahutnya.
"Masih mendingan, cuma saja terlalu sumpek maka hutang yang mereka buat hari ini berikut dengan bunganya harus kita tuntut kembali, coba kau lihat, aku harus menahan rasa mendongkol semenjak tadi-.."

sambil menepuk bahunya, jago pedang buta Bok Ci berkata, "saudaraku, kau masih belum melihat siapa yang telah datang..?"
"siau huan" Liong Tian im begitu berpaling, tiba-tiba saja dia menyaksikan Bu siau huan sedang berdiri disisinya dengan air mata bercucuran sungguh terharu dibuatnya.
"Mengapa kau pun datang kemari?" kembali dia bertanya. "hm.." bisik Bu siau huan lirih.
Ditengah panggilan itu, hati mereka berdua seolah-olah terpadu menjadi satu, serentak perasaan cinta nya ikut terungkapkan pula.
Meski dalam situasi semacam ini tidak cocok untuk mengungkapkan perasaan begini, namun dari sorot mata kedua belah pihak mereka dapat menangkap setitik pengharapan, sambil tertawa ringan jago pedang buta Bok Ci segera berseru:

"Kali ini, seandainya bukan dia yang memberitahukan kejadian tersebut kepadaku, mungkin kau tak akan bisa keluar lagi untuk selamanya..."
"siau huan, terima kasih banyak" seru Liong Tian im kemudian dengan perasaan terharu.
sementara itu, Tay imjiau yang menyaksikan ke tiga orang lawannya sedang terbuai dalam mengungkapkan perasaan, dengan cepat dia merasa memperoleh peluang baik untuk meloloskan diri, biji matanya segera berputar, kemudian menggunakan kesempatan dikala musuhnya tidak memperhatikan mendadak dia melejit ke udara dan kabur keluar, sedemikian cepat gerakan tubuhnya sehinggi sama sekali diluar dugaan siapa pun.,. Liong Tian im seaera membentak keras:

"sobat, kau anggap bisa kabur dari sini?" Waktu itu Liong Tian im sedang dicekam oleh perasaan  gusar bercampur mendongkol yang tak mampu dilampiaskan, melihat lelaki yang pernah menyiksanya hendak melarikan diri, hawa napsu membunuhnya segera timbul kembali, sambil meraung gusar dia mengejar dari belakang dengan tak kalah cepatnya.

Bagitu mendengar suara desingan tajam bergema dari belakang tubuhnya, Tay im jiu segera sadar kalau kepandaian silat yang dimiliki lawannya jauh melebihi dirinya, bila dia sampai terjatuh ke tangan lawan, sudah dapat dipastikan jiwanya akan melayang. Maka dengan menghimpun tenaga dalamnya dia berteriak keras keras:

"Tolong... tolong... ada orang membongkar penjara." " Aduuuduuuh "
Baru selesai teriakan yang penuh perasaan cemas itu punggungnya sudah termakan oleh sebuah bacokan Liong Tian im yang sangat keras, dia menjerit kesakitan, kemudian tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.
"Kau tak akan bisa lolos," dia masih sempat berteriak keras. "Hmmm lihat saja nanti, bila aku tak mampu memusnahkan
tempat ini, aku tak akan keluar dan tempat ini." jengek Liong Tian im dingin.
Belum lama setelah perkataan itu tersiar dalam ruangan, mendadak dari empat arah delapan penjuru ruangan telah bermunculan puluh a n orang laki kekar yang bersenjata lengkap.

Dengan suara dingin Liong Tian im segera berseru: "Undang kemari Ho say kun..."
Dengan sorot mata dingin bagaikan es, dia memandang sekejap sekeliling ruangan, mendadak dia menyaksikan senjata adalannya terletak diatas meja besar, sambil tertawa dingin tubuhnya segera melejit kedepan, dia menyambar senjata andalannya yang berat luar biasa.
Kawanan manusia berbaju  hitam itu cukup mengetahui akan kesempurnaan tenaga dalamnya, ternyata tidak seorang manusia pun berani menghadang atau melancarkan sergapan kearahnya, mereka hanya mengawasi ketiga orang musuhnya dengan pandangan ketakutan.

"Ningg, ..ningg niigg."
Dari dalam lorong bawah tanah yang amat luas itu mendadak berkumandang serentetan suara keleningan yang amat nyaring.
seketika itu juga semua orang yang sedang melakukan pengepungan dalam lorong rahasia tersekat merasakan semangatnya bangkit kembali, mereka tidak nampak setegang tadi, jelas mereka tahu setelah berkumandangnya suara keleningan tersebut, siapakah yang akan munculkan diri

oleh sebab itu mereka menggenggam pedangnya masingmasing dengan kencang, kemudian semakin ketat mengurung ketiga orang lawan nya itu.
"Hmnm"
Dari belakang kerumunan orang yang banyak bergema suara deheman berat, kemudian terdengar seseorang berteriak keras dengan suara yang parau seperti gembrengan bobrok.

"Hocu tiba."
Bayangan manusia tiba tiba berpisah kesamping dan terbukalah sebuah jalan lewat tampak Ho Say kun diiringi dua orang kakek kurus kering berjalan masuk ke dalam arena.
Wajah ke tiga orang itu diliputi hawa pembunuhan yang mengerikan, mereka nampak buas dan sama sekali tidak dihiasi oleh senyuman barang sedikitpun. sesudah tertawa terbahak-bahak Liong Tian im berseru dengan suara kereng:
"sobat, lagi lagi kita bersua kembali "
Ho Say kun memandang sekejap ke arah Liong Tian im dengan pandangan dingin, kemudian katanya:
"Persoalan diantara kita lebih baik dibicarakan nanti saja -." sorot matanya yang buas dan mengerikan pelan pelan
dialihkan ke wajah jago pedang buta Bok Ci, kemudian tegurnya dengan suara sedingin es:
cepat Ho say kun berkata lebih jauh:
"selamat bersua, selamat bersua, sobat Bok aku Ho say kun sama sekali tiada ikatan dendam ataupun perselisihan dengan dirimu mengapa kau begitu kejam dengan membinasakan putraku

"oob rupanya kau sudah tahu"
Dengan penuh kesedihan Ho Say kun berseru:  "Disaat kau belum masuk kemari aku sudah mendapat
tahu, sobat Bok, kesalahan apakah yang telah dilakukan
putraku atas dirimu? Mengapa kau bunub dirinya secara kejam?"

"Hmm, dosa-dosanya pantas untuk menerima hukuman mati, apalagi kematian manusia semacam ini tidak perlu disayangkan."
jawaban dari sijago pedang buta Bok Ci amat dingin, hambar dan tak sedap didengar.
" omong kosong."
saking gusarnya Ho say kun maju selangkah ke depan, kemudian berkata lebih jauh. "Dia tak lebih hanya seorang bocah, siapa bilang kalau dosa-dosanya pantas ditebus dengan kematian? sekarang aku telah mengirim jenasahnya pulang, sebelum aku dapat membunuhmu, jenasahnya tak akan kumasukan ke dalam liang kubur."

Jago pedang buta Bok Ci merasakan hatinya bergetar sangat keras, serunya tanpa sadar:
"Jadi kau telah berkunjung ke rutan petani tua itu?" "Tentu saja aku berkunjung kesitu" jawab Ho Say kun
dengan perasaan benci.
Hawa napsu membunuh mulai menyelimuti seluruh wajah jago pedang buta Bok Ci, dia berkata lebih jauh:
"Kalau begitu kau telah turun tangan keji terhadap keluarga petani tua itu. Terus terang saja-"
Mendadak Hosiy kun menyaksikan paras muka anak muda itu penuh diliputi hawa napsu membunuh yang amat mengerikan, hatinya bergetar kerasdiam-diam dia menghimpun tenaga dalamnya ke dalam sepasang lengan, ke mudian setelah tertawa dan manggut manggut sahutnya:

"Apakah artinya kematian dari beberapa orang macam mereka itu?"
"Aaah ?"
jago pedang buta Bok Ci berseru lagi dengan suara gemetar keras-
"kau telah berhati keji dengan membantai mereka sekeluarga?" Ho say kun segera tertawa seram-
" Heeeh, heeeh, heeeh, aaah cuma permainan kecil, cuma permainan kecil, putraku tewas dirumah mereka, sudah sepantasnya kalau mereka pun mengorbankan selembar jiwanya untuk ongkos jalan, sebetulnya kejadian ini lumrah dan sangat adilapa gunanya mesti bersungguh hati ?" Jago pedang buta Bok Ci merasakan hatinya sangat sakit, pandangan matanya menjadi berkunang-kunang dan tubuhnya terasa gontai-
Suatu perasaan sedih yang amat sangat muncul secara tiba tiba dari hati kecilnya, dia teringat akan kebaikan keluarga petani itu, terutama sepasang bocah yang polos dan lucu itu, mereka tidak seharusnya tewas-

seandainya dia bisa menahan diri dan tidak melancarkan serangan dirumah itutak mungkin keluarga petani itu akan terkena getahnya-
Dengan pedih kesedian dia menghela napas panjang, kemudian gumamnya:
"Aaaai, meski aku tidak membunuh Pak jin. Pak jin mati lantaran aku. ."
sepasang matanya yang cekung itu berubah menjadi merah darah, serentetan sinar mata yang tajam bagaikan sembilu mencorong ke luar dari bilik matanya dan menatap wajah Ho say kun dalam-dalam, sorot mata itu begitu dalam, begitu tajam dan penuh disertai dengan rasa benci yang meluapluap.

Tanpa terasa Ho say kun mundur selangkah, ditatapnya musuh yang menyeramkan ini dengan penuh ketakutan
Jago pedang buta Bok Ci maju selangkah lebih kedepan, lalu serunya penuh kebencian:
"Tahukah kau hutang darah ini harus kau sendiri yang membayarnya ?"
Ho say kun tertawa getir. "Tidak menjadi soal" katanya,
"toh dendam kesumat diantara kita tak pernah akan berakhir, sekalipun ditambah lagi dengan beberapa macam persoalan juga tak mengapa, yang jelas hari ini ada kau tak ada aku, kita berdua tak boleh hidup bersama-sama."
"sreeet"
serentetan bunga pedang meleset ke tengah udara. Tahu tahu pedang kayu tadi sudah bergetar diangkasa sambil memancarkan sinar yang berkilauan.
Pelan-pelan jago pedang buta Bok Ci menggerakkan pedangnya lalu berkata.
"lo hocu, aku hendak mencabut nyawamu sekarang juga." "Boleh" sahut Ho say kun sambil menggetarkan pula
pedangnya
" nyawa putraku toh mesti dituntut kembali." "Tidak"
tiba-tiba Liong Tian im menggetarkan senjata patung Kim mo sinjin nya lalu berseru
"tua bangka celaka ini sudah kelewat parah menyiksaku, lebih baik serahkan saja dia padaku untuk dibereskan"
Tidak"
tolak jago pedang buta Bok Ci kukuh
"aku hendak membalaskan dendam bagi keluarga petani yang baik hati itu."
Dia menarik napas panjang-panjang, kemudian melanjutkan:
"To hocu, agak anak buah mu sudah boleh membubarkan diri, toh kehadiran mereka disini tak akan banyak membantu, malah bisa jadi akan membuat urusan makin terbengkalai, aku berharap ditempat ini cuma ada kita beberapa orang, mati  atau hidup biar kita berdua yang menentukan sendiri"

"Baik," Ho Say kun pelan-pelan berkata,
"lohu akan mendengarkan perkataanmu itu."
Dia mengulapkan tangannya dengan pelan, serentak kawanan jago pedang berbaju hitam yang berada di sekeliling tempat itu mundur dengan wajan tercengang, jelas mereka dibuat kaget dan keheranan oleh tindakkan dari Ho-Say kun tersebut.

Padahal darimana mereka tahu kalau musuh yang mereka hadapi sekarang sesungguhnya adalah manusia yang berilmu tangguh? sekalipun ada mereka yang membantu juga percuma saja, kalau tidak mana mungkin Ho say kun akan menyanggupi sekarang, yang hadir dalam arena kecuali Ho say kun masih ada dua orang kakek kurus kering itu, dengan demikian posisi mereka ada tiga melawan tiga, jadi boleh dibilang cukup adil-

Belum lagi Ho say kun turun tangan, kakek kurus kering yang berada disisinya telah berkata:
"Hocu, serahkan saja orang ini kepada aku siau jiu giam lo.
-"
Jago pedang buta Bok Ci memperhatikan kakek itu  beberapa saat lamanya, sementara hawa napsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya, dia mengangkat pedang kayunya dan membuat satu lingkaran busur ditengah udara, setelah itu katanya:

"siu jiu giam lo, hati hati kau, aku akan sebera turun tangan..."
Ditengah gelak tertawa yang amat nyaring, siujiu giam lo menggetarkan pedangnya seperti gulungan air, diiringi suara bentakan nyaring, cahaya pedang yang berlapis lapis itu segera meluncur ke muka dan membacok tubuh si jago pedang buta Bok Ci. Jago pedang buta Bok Ci miringkan tubuhnya sambil memutar pedang kayunya melepaskan bacokan, jurus serangan ini merupakan j urus tercepat dari ilmu Thian kiam kiam hoat dalam menyerang tubuh.

Untuk menghadapi musuh biasajagopedang buta Bok Cita k pernah menggunakan jurus itu secara sembarangan, alasannya karena jurus itu terlampau lihay, bila dipakai niscaya musuh akan terluka atau mampus.

ini dia sudah diliputi oleh hawa napsu membunuh yang berkobar, sebab itu tanpa sangsi dipakainya jurus serangan mana tanpa kenal kasihan.
"Aduuuh .."
Tubuh siujiu giam lo tiba-tiba roboh ke atas tanah sambil memperdengarkan jerit kesakitan yang rendah dan berat dengan wajah meringis karena sakit dia memegang perut sendiri yang berlumuran darah, tetesan darah meleleh dan lalu keluar melalui celah-celah jari tangannya dan menodai permukaan tanahDengan sempoyongan dia maju beberapa langkah kemudian serunya tertahan.

"Hocu.."
Ho say kun sangat sedih, katanya cepat"Katakanlah aku tak akan membuatmu kecewa,-"
Dengan penuh kebencian siu jiu giam lo memandang sekejap kearah jago pedang buta Bok Ci, kemudian bisiknya.
"Balaskan dendam, balaskan dendam bagiku." "Blaamm"
Dengan benturan keras, tubuh siu jiu giam lo segera roboh terjungkal diatas tanah, setelah berguling beberapa kali, dengan putus asa dia muntahkan darah segar, lalu bisiknya gemetar: "Aku, aku akan mati-.."
Napasnya yang terakhir seakan-akan berat sekali untuk di hembuskan, sepasang matanya terbelalak lebar-lebar dengan amat seram, mata itu melototi butiran air di atas dinding gua lekat-lekat, kematian macam begini benar-benar membuat hati setiap orang merasa bergidik dan seram.

" orang she Bok kau sangat kejam " teriak Ho say kun sambil berteriak keras.
"Tapi ketimbang kau, aku masih selisih jauh sekali" sahut jago pedang buta Bok Ci dingin,
"toa hocu, kau telah menjajah wilayah say-cu ho, memperkosa banyak istri orang dan anak gadis orang, tidakkah perbuatanmu itu kejam dan buas ?"
Ho say kun tertawa rawan:
" Aku tahu apa maksudmu datang kemari, Bok Ci, kita tak perlu banyak berbicara lagi. Thian telah menakdirkan satu diantara kita berdua untuk mati hari ini juga..."
"yang mati mungkin adalah kau sendiri..." kata Jago pedang buta hambar.
Ho say kun tampak agak tertegun.
"Atas dasar apa kau berkata demikian ?"
"Tentunya kau sudah menyaksikan serangan pedangku tadi bukan?" kata jago pedang buta Bok Ci dingin,
"toa hocu, apakah kau yakin dapat menghindarkan diri dari tusukanku tadi? Aku rasa sepanjang hidup kau tak akan mampu untuk melakukannya."
sekujur badan Ho SRy kun gemetar keras, tiba-tiba suatu bayangan hitam melintas dalam benaknya.
serangan pedang yang dilancarkan tadi memang benarbenar kelewat cepat, sedemikian cepatnya sehingga hampir tiada seorang manusia pun yang dapat melihat dengan jelas bagaimana cara serangan itu dilepaskan. Dia pun cukup mengetahui akan kemampuan tenaga dalam yang dimilikinya, kendatipun terhitung kelas satu, namun bila dibandingkan dengan lawannya, ia masih ketinggalan jauh sekali.

Maka setelah mendengus dingin serunya:
"Kau tak usah mengibul, aku tak pernah mempercayai segala macam tahayul..."
oooooooo
Tahu kalau musuhnya sangat hebat, dia tak berani bertindak secara gegabah, pedangnya segera diangkat keatas dan pelan-pelan ditunjukkan ke udara, kemudian dengan serius ditatapnya jago pedang buta lekat-lekat.

"ooh, rupanya kau adalah anak murid perguruan Tay seng bun?" kata Jago pedang buta Bok Ci kemudian.
Ho say kun berseru tertahan, "Aaaah, darimana kau bisa tahu?"
Jago pedang buta Bok Ci segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah, haah haaah, sekarang aku baru mengetahui asal
usulmu yang sebenarnya, jadi murid yang menghianati perguruan dan peraturan perguruan Tay seng bun melama ini adalah kau. demi keberhasilanmu untuk menempeli Kwan lok khi, kau tak segan-segan membunuh kakak dan adik perguruanmu sebanyak lima orang dengan cara yang paling keji. Heeeeh... heeeh... sungguh tak nyana kalau kau adalah murid murtad yang berhati buas itu. Ho tua hari ini kau lebihlebih jangan berharap bisa hidup-"

"sebenarnya siapakah kau?" suara Ho say kun kedengaran agak gemetar-
"mengapa bisa mengetahui banyak persoalan dari perguruan kami-" "Kau jangan lupa kalau aku adalah putra Thian Kiam, juga merupakan ahli warisnya" kata jago pedang buta Bok Ci dengan suara dingin,
"sewaktu suhengmu hendak menemui ajalnya dengan membawa luka ia datang mencariku dan menyerahkan tanggung jawab membunuhmu kepadaku."
"Apa?" seru Ho Say kun gemetar, "suhengku tidak mampus ?" Kembali Bok Ci tertawa dingin.
"Matinya sih sudah mati, cuma matinya tidak denga mata meram, dia telah melukiskan wajah maupun nada suaramu kepadaku, tadi aku hanya melupakan saja akan hal tersebut."
"Sekalipun kau teringatnya kembali, lantas apa pula yang bisa kau lakukan?" jengek Ho say kun dengan gusar,
"aku Ho say kun bukan manusia yang gampang minta ampun kepada orang lain tak usah kuatir, sekalipun kau tak berhasil menemukan aku. toh aku tetap akan mencarimu?"
Kembali jago pedang butaBok Ci tertawa dingin
"Minta ampun? Haaaah... haaah... haaah.. kalau manusia macam kaupun bisa diampuni, mungkin Thian akan marahmarah, lebih baik simpan kembali impian indahmu itu..." "Ehmmmm. "

Ho say kun meraung keras-keras, lalu dengan gusarnya memutar pedang saktinya. Dengan satu gerakan yang cepat bagaikan-sambaran kilat secara beruntun dia melancarkan tujuh delapan buah serangan berantai, serangkaian serangan tersebut benar benar amat cepat dan beruntun, juga dia bermaksud tidak memberi kesempatan kepada jago pedang buta Bok Ci untuk meloloskan pedangnya.

Sayang sekali bajingan tua ini kelewat rendah menilai musuhnya, kalau tidak mungkin dia tak akan sampai menemui ajalnya secepat ini, atau paling tidak masih dapat menyelamatkan selembar jiwa kerdilnya. Terhadap ilmu pedang aliran Tay seng bun boleh dibilang meski memejam matapun jago pedang buta Bok Ci dapat menguasai tiap jurus serangannya dengan tepat.

oleh sebab itu, ia menunggu sampai gerak serangan musuh agak melamban, kemudian dengan suatu gerakan yang  enteng mendorong pedang itu ke muka. Tusukan mana dilancarkan tepat pada waktunya danpersis berhasil menahan serangan gencar dari Ho say kun.

Dalam kagetnya Ho Say kun segera mempergencar serangan pedangnya dengan suatu tusukan sepenuh tenaga.
Jago pedang buta Bok Ci segera memutar pergelangan tangannya, lalu membentak, "Roboh kau, Toa hocu "
Perubahan yang terjadi amat mendadak ini membuat Ho say kun sama sekali tidak ada ingatan untuk merubah gerakannya, tahu-tahu dadanya terasa sakit sekali dan sebatang pedang sudah pelan-pelan menembusi perutnya.

"Aduuh "
Dengan wajah berubah hebat Ho say kun menjerit kesakitan dengan suara yang sekeras-kerasnya, begitu kesakitannya dia sehingga gemetar keras sekujur tubuhnya.
Dia membuang pedang yang berada dalam gengamannya, lalu dengan mempergunakan sepasang tangannya dia mencengkeram pedang kayu milik jago pedang buta Bok Ci. Dalam keadaan seperti ini, dia tak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.

"Hmmm, kematianmu sekarang masih terhitung cukup memuaskan..."jengek Bok Ci dingin. Dia mencabut keluar pedang kayunya dari tubuh lawan. Tiba-tiba saja Ho say kun berlutut ketanah lalu roboh terkapar diatas tanah, habis sudah riwayat hidupnya yang penuh dengan dosa.
Kakek kurus yang berada disisi arena menjadi panik, dia tahu kalau keadaan tidak menguntungkan, tanpa mengucap sepatah katapun dia membalikkan badan dan segera melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

"Kembali..."
Dengan suara dalam dan berat jago pedang buta Bok Ci membentak nyaring, kemudian lanjutnya:
"Bila kau berani kabur, maka keadaan macam itulah yang bakal kau alami"
Kakek itu berpaling dengan ketakutan, dengan wajah pucat pas i dan tubuhnya gemetar serunya:
"Kau hendak melakukan pembunuhan keji" Bok Ci tertawa dingin.
"Kubur mereka baik baik dan semoga kau dapat hidup melewati sisa umur mu secara baik-baik..."
Kakek itu nampak agak tertegun, kemudian tanpa mengucapk«n sepatah katapun dia mencengkeram jenazah dari Ho say kun dan di bawa lari meninggalkan tempat itu.
Memandang bayangan punggung dari kakek tersebut.
Liong Tian im dan Bu siau huan sama-sama menghela napas panjang.
Untuk beberapa saat lamanya mereka bertiga membungkam dalam seribu bahasa.
Lama, lama kemudian akhirnya mereka berjalan keluar dari lorong rahasia bawah tanah itu dan berangkat menuju kebukit jit gwat san. Mereka berniat untuk mencari Kwan Lok-khi dan menuntut pertanggungan jawab darinya. Bukit yang tinggi, puncak yang sepi, sejak fajar hingga petang selalu diliputi oleh selapis kabut yang amat tebal, tebal sekali sshingga sukar ditembus oleh pandangan mata.

Lapisan kabut putih yang tebal dan rapat itu seperti selapis kain putih yang menyelubungi tubuh sesosok mayat, selamanya tak mampu memperdengarkan gelak tertawa yang riang, sebaliknya malah menunjukkan wajah yang seram dan memuakkan...

Diatas puncak bukit jit gwat san, di depan sebuah gua yang sangat besar, menggunakan kesempatan disaat kabut tebal sedang menyusup, Leng Hong ya bersembunyi seorang diri di tempat tersebut sambil berlatih ilmu pernapasannya.

Dia hampir saja melupakan waktu, berlatih dan berlatih terus dengan tekunnya seorang diri
Mendadak dari ujung pandangan matanya dia menyaksikan kemunculan tiga titik bayangan hitam dari kejauhan sana..
Menyaksikan hal itu, hatinya segera tertegun kemudian pikirnya dengan cepat:
"entah siapa yang bernyali begitu besar, ternyata berani menyusup naik ke bukit jit gwat san ini melalui belakang bukit
? Hmm sudah pasti mereka adalah manusia manusia yang sudah makan nyali macan atau empedu beruang."

Kini dia sedang mertamu dalam keluarga Kwan di bukti Jit gwat san dan membantu Kwan Lok khi untuk merencanakan segala persoalan yang sedang dihadapi rekannya itu.
Menyaksikan munculnya manusia-manusia tak di kenal dalam suasana begini, sudah barang tentu dia merasa terkejut sekali.
Dengan tidak menimbulkan sedikit suara berisik pun, pelanpelan dia melesat kedepan lalu dengan tubuh yang lincah seolah-olah menumpangi kabut pekat, dia menyongsong kedatangan bayangan-bayangan tersebut.
"Berhenti"
Dengan suara yang keras seperti geledek yang membelah bumi disiang hari bolong dia membentak nyaring.
sedemikian nyaringnya suara bentakan tersebut sehingga membuat seluruh ruangan di sekitar bukit tersebut mendengung tiada hentinya.
Atas bentakan yang menggeledek itu, ketiga sosok bayangan manusia yang sedang meluncur keatas bukit itu serentak merubah haluan mereka dan menyongsong kedatangan Leng Hong ya.

Dalam waktu singkat mereka sudah menghentikan gerakan tubuh masing-masing dan memandang kearah tokoh dari kaum sesat ini dengan wajah penuh amarah-
Leng Hong ya tak kalah terperanjatnya setelah mengetahui siapakah gerangan ke tiga orang tamu yang tak dikenal itu, sebab tamu-tamu ini sangat dikenal olehnya dan cukup ditakuti selama ini meski hanya perasaan takut sesaat.
Ternyata mereka adalah Liong Tian im dan jago pedang buta Bok Ci.

Dia cukup mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki dua orang pemuda tersebut, bila dibandingkan dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang, pada hakekatnya masih ada selisihnya.

Dalam keadaan begini, ia benar-benar tak berani menduga siapakah yang bakal mengungguli pertarungan tersebut seandainya sampai benar-benar terjadi pertarungan.
yang membuatnya lebih terperanjat lagi adalah kehadiran si nona yang belum di ketahui namanya itu. Gadis tersebut memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, siapa saja dapat melihat dalam pandangan mata pertama bahwa nona itu merupakan seorang tokoh silat yang berkepandaian silat sangat hebat.

Maka setelah tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang menggidikkan hati dia berkata:
" Heeeh. heeeeh, heeh, orang she Liong, kita bersua lagi" Liong Tian im mendengus dingin.
"Hmmm Leng sian seng, semenjak kapan sih kau telah menjadi anjing penjaga pintunya keluarga Kwan? Hmm nampaknya aku mesti mengucapkan selamat kepadamu atas keberhasilanmu menjadi anjing penjaga pintu yang baik"

Merah padam selembar wajah Leng Hong ya karena jengah sesudah mendengar perkataan itu, tiba-tiba bentaknya dengan penuh kegusaran,
" omong kosong aku Hong ya hanya secara kebetulan saja bertemu dengan kalian bertiga ditempat ini."
sekali lagi Liong Tian im mendengus dingin.
"Hmm Kalau memang Leng sian seng tidak bermaksud  untuk membuat gara-gara dengan kami, silahkan minggir dan memberi jalan lewat buat kami bertiga, aku akan mencari Kwan Lok khi dan membuat perhitungan dengannya atas dendam sakit hati terbunuhnya ayahku di tangannya.."

Agak tertegun Leng Hong ya setelah mendengar perkataan tersebut dia agak termenung sebentar, kemudian serunya:
"Dari mana kau bisa tahu akan kejadian tersebut ?"
Dia cukup mengetahui tentang "asal usul dari Liong Tian  im" maka dikala pihak lawan dapat mengungkapkan kalau musuh besar pembunuh ayahnya adalah Kwan Lok khi hampir saja dia tidak percaya dengan hal tersebut. Dia tak percaya kalau Liong Tian im mampu untuk menyelidiki persoalan tersebut serta mengetahui kejadian yang sesungguhnya, oleh karenanya dengan wajah tercengang dan penuh perasaan heran diawasinya pihak
lawan tanpa berkedip. Dengan suara sedingin es Liong Tian im berkata:

"Tentang masalah tersebut, lebih baik kau tak usah turut campur, pokoknya kau hanya tahu bahwa usahaku membalaskan dendam bagi kematian ayahku adalah suatu perbuatan yang lumrah dan sudah sepantasnya, barang siapa berani menghalangi niatku ini maka dia akan kuanggap pula sebagai musuhku, nah saudara harap kau memberijalan lewat sekarang."

"Hmmm "
Leng Hong ya mendengus dalam-dalam, kemudian sambungnya lebih jauh:
"Kurasa persoalan tak akan sedemikian gampangnya  seperti apa yang kau bayangkan, sekarang, aku lihat, heeh, heeh, heeeh, aku lihat kau sudah bosan hidup lebih lanjut di dunia ini? Hmm, baiklah bila kau memang ingin mampus, aku akan segera memenuhi kehendak hatimu itu."

Paras muka Liong Tian im seaera berubah menjadi dingin membeku bagaikan es.
"Leng sian seng"
pelan-pelan dia berkata dengan suara kaku dan sinis, " rupanya kau berniat sekali untuk mencapuri urusan
pribadiku ini.."
Leng Hong-ya tidak mengalah dengan begitu saja, diapun berkata dengan suara sedingin es:
"Kwan Lok Khi telah memberikan janjinya kepadamu bahwa dalam setahun mendatang ia tak akan keluar dari bukit jit gwat san ini barang setengah langkahpun dan janjinya tersebut telah dipegang baik-baik olehnya selama ini. Tapi sekarang... heeeh h. heeeh, kau tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, kau manusia yang tak tahu diri, sudah diberi hati masih merogoh rempela, sekarang kau menyerbu kemari dengan membawa konco-koncomu. Hmm. bukankah jelas sudah kalau perbuatanmu ini bermaksud untuk mencari keuntungan diair keruh? Memangnya kau anggap dia hanya manusia lemah yang tak berkemampuan untuk menghajarmu sampai dibawah gunung.? Kau jangan salah perhitungan kawan."

Liong Tian im menjengek sinis, kemudian tertawa dingin tiada hentinya.
"Dari mana kau bisa tahu kalau dia tak pernah turun gunung lagi selama ini?" jengeknya.
"soal ini..."
Leng Hong ya tertegun untuk beberapa saat lamanya, seakan-akan tidak menduga kalau akan muncul pertanyaan semacam ini, setelah termenung beberapa saat lamanya, dia baru berkata kembali dengan cepat:

"selama ini hampir tiap hari aku selalu mendampinginya, tentu saja aku tahu kalau selama ini dia tak pernah turun dari bukit ini walau hanya satu langkah pun... apakah bukti ini kurang jelas "

Liong Tian im menarik napas panjang-panjang, kemudian berkata dengan penuh kebencian:
"Hmmm Kendatipun dia tak pernah terjun sendiri ke dalam dunia persilatan barang selangkah pun, tapi secara diam-diam ia telah menurunkan perintahnya kepada segenap anak murid bukit jit gwat san serta konco-konconya dalam dunia persilatan untuk mencegat, menghadang dan berusaha membunuhku di mana-mana." "Akibat dari kejadian ini, hampir saja aku dikirim secara rahasia oleh Ho say kun ke bukit jit gwat san ini. Hm Dengan berbuat demikian, apalah bedanya dengan kehadirannya sendiri kedalam dunia persilatan?"

Leng Hong ya sebera tertawa seram, "Heeeh h... heeeh h... memandang diatas perjanjian yang telah dibuat oleh kita selama ini, kuanjurkan pada kalian agar lebih baik menggelinding turun saja dari bukit ini, daripada sebagai akibatnya kedua belah pihak sama-sama bentrok muka dan berakibat tak enak bagi semua pihaki sedangkan mengenal masalah hubungan dendam pribadimu dengan Kwan sancu, aku pasti akan menyampaikan hal mana kepada Kwan sancu, coba kita tanyakan kepadanya apakah dia benar-benar pernah melakukan perbuatan semacam ini atau tidak-"

sementara itu. Liong Tian im sudah dibuat teramat gusar bercampur mendongkol, saking gemasnya dia sampai mengangkat senjata Kim mo sin jinnya tinggi-tinggi.
"Heeeh». heeh... bagus sekali." serunya kemudia sambil tertawa dingin-
"rupanya kau memang sengaja hendak mengacau dan mencari gara-gara denganku"
Leng Hong-ya sama sekali tidak bermaksud untuk mengalah, malahan sikapnya makin lama semakin bertambah ketus, ketika mendengar ucapan dari anak muda itu, dia malahan tertawa seram dengan kerasnya-

"Hmmm, selamanya aku bilang satu tetap satu, tak seorang manusia pun yang dapat merubah maksud hatiku ini dengan begitu saja"
"Haaah... haaah... haaaah..."
Gelak tawa yang amat keras, nyaring dan menjalar hingga menembusi lapisan awan ini berkumandang keluar dari mulut Liong Tian-im. Di hadapan matanya seakan-akan terlintas kembali adegan kematian ayahnya sedang di bunuh secara licik dan keji oleh Kwan Lok khi.
Tak ampun lagi, sepasang matanya segera berubah  menjadi merah membara seperti semburan api yang menyalanyala, sambil memutar senjata Kim mo sio jinnya, dia  berteriak keras-keras:

"Barang siapa hendak bermaksud menghalangi niatku
untuk membalaskan dendam bagi kematian ayahku, maka aku akan menganggap dirinya sebagai musuh besarku nomor satu, Leng Hong-ya Meskipun kau tidak mempunyai dendam  ataupun sakit hati dengan diriku, namun apabila kau ingin mencoba-coba untuk menghalangi usahaku untuk membalas dendam maka... heeeh heeeh heeeh akupun tidak akan melepaskan kau dengan begitu saja."

"Haah haaah haah"
saking gusarnya Leng Hong ya sampai mendongakkan kepalanya dan tertawa seram,
"Bocah keparat, kau betul-betul amat sombong dan tekebur sekali."
Liong Tian im tidak bertindak sungkan-sungkan lagi, dengan cepat tubuhnya mencelat ke tengah udara kemudian melesat kedepan dengan kecepatan luar biasa.
senjata Kim mo sinjin (patung sakti iblis emas) yang berada dalam genggamannya segera diputar kencang menciptakan serentetan cahaya berkilauan yang dengan cepat menyebar ke angkasa dan menyambut datangnya tubuh lawan.

secara ganas dan buas sekali, cahaya tajam yang dihasilkan oleh serangan patung Kim mo sin-jin tadi meluncur ke depan dan menerkam tubuh Leng Hong ya.
serangan ini benar-benar dahsyat dan mengerikan apabila sampai terkena pada sasarannya, sudah dapat dipastikan musuh tentu akan mampus dengan tubuh yang remuk dan hancur tak karuan lagi bentuknya.
Leng Hong ya sama sekali tidak menyangka kalau pemuda yang berada dihadapannya ini bisa turun tangan dengan kecepatan yang begitu hebat, ternyata dalam sekali lompatan saja dia mampu melancarkan sebuah serangan yang tajam, hebat, dahsyat dan sangat mematikan lawan.

Tak terlukiskan rasa kaget, ngeri dan seramnya dia setelah menghadapi kejadian tersebut.
Buru-buru tubuhnya melejit ke tengah udara, lalu telapak tangan kanannya dibacokkan miring ke samping dengan melepaskan sebuah pukulan kilat yang benar-benar luar biasa sekali.

Ancaman inipun sangat lihay dengan pengaruh yang luas, terutama sekali tenaga serangannya, pada hakekatnya benarbenar mengerikan hati. Tapi pada saat itujuga suatu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya.

"Tenaga dalam yang dimiliki pemuda ini sungguh sangat sempurna dan sama sekali di luar dugaan siapapun"
demikian dia berpikir sebentar,
"tampaknya aku mesti menghadapinya secara berhati-hati sekali, bila hari ini aku bersikap terlalu gegabah atau kurang berhati-hati, sudah pasti nana baik serta pamorku di hadapan umat persilatan lainnya akan hancur tak karuan, aku tak boleh bertindak terlalu gegabah lagi, bila perlu harus kuhadapi dia dengan sepenuh tenaga dan kemampuan yang kumiliki."

Angin pukulan yang menderu-deru dan menggulung kedepan laksana sebuah lapisan dinding tembaga yang tebal sekali.
Tiba-tiba saja Liong Tian im menyelinap lewat melalui sisi angin pukulan yang sangat dahsyat tersebut, kemudian tangannya digetarkan keras-keras dan senjata patung Kim mo-sin jinnya didorong ke muka, langsung menghantam punggung Leng Hong ya yang sedang maju.
Tindakan ini sama sekali dlluar dugaan setiap orang yang hadir dalam arena, tapi mereka pun merasa kuatir bagi keselamatan Leng Hong ya dalam menghadapi ancaman tersebut-

Berada didalam keadaan seperti ini, Leng Hong ya berniat untuk memperlihatkan kekuatan tenaga dalamnya yang amat sempurna, dia tahu kalau serangan tersebut memang tidak mudah untuk dihindari dengan begitu saja.

Maka tubuhnya segera dimiringkan kesamping, mendadak direndahkan pula ke bawah dengan menempel dibawah iga Liong Tian im, dia berusaha untuk meneter musuhnya terus menerus.

Jelaslah sudah, dia telah mengeluarkan sebuah jurus serangan beradu jiwa.
Padahal ke dua belah pihak sama sama tidak berniat untuk membuyarkan serangan atau mengalah dengan melompat mundur kebelakang, tampaknya kedua belah pihak sama sama akan terluka dan tewas.

Disaat yang amat kritis itulah mendadak terdengar seseorang menjerit keras.
"Ayah... lepaskan dia"
Jeritan itu datangnya sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan, akibatnya Leng Hong ya menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.
Disaat dia tertegun itulah Liong Tian im telah memperoleh kesempatan yang sangat baik untuk dimanfaatkan.
Dengan menggunakan peluang yang sedikit itu, cepat tubuhnya setengah berjongkok lalu senjata cincin maut yang dipakai dalam jari tangannya itu dilepaskan ke muka dan persis menghajar dada Leng Hong ya keras-keras,
"sreett."
Waktu sudah tidak sempat lagi, tiba-tiba saja terdengar Leng Hong ya mendengus tertahan, telapak tangan kanannya memang masih sempat menekan ke muka, hanya sayang tenaganya sudah tidak memadahi lagi..

"Aduuhh..."
jerit kesakitan yang begitu rendah dan dalam ini hampir saja tak terdengar oleh telinga manusia.
Dengan sempoyongan Liong Tian im mundur selangkah ke belakang, kemudian muntahkan darab segar-
Untuk beberapa saat dia berdiri termangu-mang u ditempat sambil memandang ke arah Leng Ning ciu yang diliputi perasaan kaget dan gugup itu dengan pandangan termangu, sekujur badan Leng Hong ya gemetar keras.

"ooh-"
dengan gemas bercampur mendongkol ia mencabut keluar cincin maut tersebut dari atas dadanya, segulung darah kental segera menyembur keluar dan membasahi tangannya.
Dengan memegang cincin kecil yang berlumuran darah, pelan-pelan ia serahkan benda tersebut ke tangan Leng ning ciu, katanya dengan perasaan gemas dan benci:
"lnilah pelajaran yang kau berikan kepada ayahmu, kau... kau anak perempuan yang tidak berbakti, kau berani membantu orang luar untuk melukai ayahmu sampai begini rupa, hubungan kita... hubungan kita sebagai ayah dan anak putus sampai disini saja, mulai hari ini kita berdua sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi..."

sambil memegangi luka di atas dadanya yang parah, dia menghela napas panjang, dengan sempoyongan dan menahan deritaselangkah demi selangkah ia berjalan meninggalkan bukit itu.
Darah kental menetes tiada hentinya sepanjang jalan, menodai permukaan tanah yang tidak merata. "Ning ciu "
Dengan penuh penderitaan Liong Tian im memanggil gadis itu, kemudian setelah terhenti sejenak terusnya:
"Kau... kau... kau... kau telah menyelamatkan jiwaku."
Waktu itu, Leng Hing ciu sedang berada dalam keadaan kaget bercampur tertegun, sewaktu menyaksikan ayahnya berlalu sambil membawa luka yang parah, tak terlukiskan rasa sedih dan pedih hatinya.

Mendadak dengan suara yang keras setengah menjerit, dia memanggil keras-keras:
"Ayah " "
Leng Hong ya seolah-olah tidak mendengar teriakan itu, selangkah demi selangkah dia melanjutkan perjalanannya menuruni bukit itu, terhadap teriakan dari putri kesayangannya itu dia berlagak seakan-akan tidak mendengar-

Leng Ning ciu makin sedih, sambil menutupi wajahnya dengan ke dua belah tangannya ia berseru lagi dengan suara gemetar:
"ooh ayahMaafkanlah daku..."
sekarang, dia sangat mendambakan pengampunan dan pengertian dari ayahnya, tapi apa yang diperolehnya hanya kekecewaan.
sebab yang paling penting baginya sekarang ialah pengampunan dan pengertian dari ayahnya, dia tidak membutuhkan hal hal yang lain, karena hal mana sangat penting dan perlu baginya. oleh sebab itu dia menangis, menangis sejadi-jadinya, sampai darah pun ikut jatuh bercucuran.
Pelan-pelan dia mendongakkan kepalanya diatas wajahnya yang putih bersih, kini basah oleh air mata.
Ditatapnya wajah Liong Tian im dengan perasaan bimbang lalu dengan suara gemetar dia berbisik,
"Kau. kau telah melukai ayahku" "Aku tidak sengaja berbuat begitu,"
sahut Liong Tian im sambil menahan derita, "Ning Ciu, maafkanlah aku "
Leng Ning ciu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak suaranya amat mengerikan.
"Aku benci kepadamu, aku tak sudi lagi bertemu denganmu, selamanya tak sudi bertemu lagi denganmu."
saking pedihnya dia tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, kemudian secara tiba-tiba dia melompat kedepan dan mengejar ke arah mana ayahnya berlalu tadi, sepanjang jalan dia berteriak-teriak tiada hentinya memanggil ayahnya yang kini entah sudah pergi ke mana.

Bergetar keras perasaan Liong Tian im menyaksikan kesemuanya itu, setitik perasaan sedih muncul dalam hati kecilnya, dia jadi lupa dengan luka yang diderita olehnya, diapun lupa apa maksudnya datang ke bukit jit gwat san ini.

Dia hanya merasa kedatangannya kali ini tidak terlalu tepat, dengan amat sedih dan mata berkaca kaca dia berkata:
"Dia dia telah pergi "
Jago pedang buta Bok Ci turut merasa sedih, sambungnya dengan nada lirih: "yaaa. yang harus pergi kini telah pergi, yang harus datang segera akan berdatangan beginilah nasib mengatur manusia, adikku, kau harus bangkitkan kembali semangatmu janganlah membiarkan kau kehilangan segala sesuatunya, tapi kaulah yang harus melindungi segala sesuatunya itu."

setelah menghela napas panjang, lanjutnya. "Mari kita turun gunung, lukamu cukup parah. "Tidak"
Liong Tian im menggelengkan kepalanya berulang kali
"Aku harus membalas dendam, aku harus membalas dendam."
"Im, kesehatanmu lebih penting dari segala-galanya" Bu siau huan menjerit kaget.
Liong Tian im tertawa getir.
"Apalah artinya kesehatan badan bagiku? yang penting tidak seharusnya hilang, kini sudah hilang lenyap, apa lagi yang berharga bagiku untuk dipikirkan? segala sesuatunya sudah tidak terlalu penting lagi bagiku."

"Im toh masih ada aku" bisik Bu siau huan dengan suara gemetar karena menahan isak tangis.
"aku dapat menutupi luka dalam hati mu itu." sesudah tertawa getir Liong Tian im menggelengkan
kepalanya berulang kali-
"Kau terlalu terpengaruh oleh perasaanmu, cintamu terlalu buta, mungkin aku akan menyia-nyiakan harapanmu itu"
Dengan membawa langkah tubuhnya yang berat dan mantap, dia menyeret senjata patung Kim mo sin jin-nya dan berjalan menuju ke atas bukit itu. Bu siau huan maupun jago pedang buta Bok Ci amat terkejut menyaksikan tindakan mana, dengan cepat mereka mengejar dari belakangnya-
"Traaanngg-,"
Tiba-tiba ditengah udara berkumandang suara genta yang dibunyikan rendah dalam dan parau, suaranya amat keras dan mendengung, di seluruh lembah bukit itu, seakan-akan suara genta kematian saja. suaranya yang bergetar gemetar, mengalun diangkasa dan memancarkan kemana-mana. Liong Tian im mendaki bukit kemudian berhenti didepan sebuah bangunan rumah yang luas dan megah, dia menarik napas panjang-panjang kemudian sambil menghimpun hawa murninya berteriak keras:

"Kwan Lok khi, keluar kau. Aku Liong Tian im sengaja datang mencarimu untuk membalas dendam"
"Hmm..."
Dengusan rendah bergema memenuhi angkasa, belasan orang jago pedang berbaju hitam tiba-tiba muncul dari balik gedung besar itu, Kwan Hong yang memimpin rombongan tersebut segera melotot ke arah Liong Tian im dengan penuh kegusaran:

" Liong Tian im mau apa kau datang kemari?"
sekulum senyuman dingin yang sadis dan keji menghiasi ujung bibir Liong Tian im, dengan gemas dan penuh kebencian dia berseru lantang.
"Aku datang kemari untuk mencari ayahmu?"
Berubah hebat paras muka Kwan Hong, kembali dia berseru dengan suara gemetar: "Ayahku tidak menerima tamu."
sekali lagi Liong Tian im mendengus berat, "Hmm Kau anggap aku akan mengurungkan niatku mencarinya dengan begitu saja ?"
"Kwan Hong, kau harus mengerti, hari ini pokoknya aku orang she Liong harus mencari dia sampai ketemu kalau tidaki aku tak nanti akan datang kemari"
"Hmm, atas dasar apa kau berani berbicara semaunya sendiri."
Kwan Hong benar-benar merasa sedih, gusar dan cemas, perasaan yang bercampur aduk. Kembali Liong Tian im mendengus dingin,
"Hmmm, dengan dasar senjata Kim mo sinjin ditanganku  ini, bila ayahmu enggan menampilkan diri, terpaksa aku Liong Tian im akan menyerbu sendiri ke dalam, sampai waktunya nanti, tentu saja yang harus berkorban dari pihak kalian bukan hanya kalian ayah dan anak saja.."

Kwan Hong benar-benar naik darah, dia meloloskan pedangnya kemudian berteriak: "Liong Tian im, kau jangan terlalu memojokkan orang "
Liong Tian im mendengus dengan sinis,
"Hmm, siapa yang merasa berhutang dia harus membayar, persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, aku harap kau jangan memaksa aku untuk membunuhmu sebab hal tersebut akan merupakan suatu kejadian yang amat memedihkan hati bagi ibumu"

"Ada urusan apa kau datang mencari ayahku ?"
tanya Kwan Hong dengan sekujur badannya gemetar keras. Liong Tian im meraung gusar.
"Ayahmu memerintahkan orang lain untuk membunuh ayahku, dendam kesumat itu lebih dalam dari samudra dan harus ku tuntut balas, hari ini bila aku Liong Tian im tak mampu membinasakan bajingan tua tersebut dengan tanganku sendiri, aku bersumpah tidak akan meninggalkan bukit Jit gwat san ini barang selangkah cun.."
"omong kosong"
Kwan Hong berteriak dengan sekeras-kerasnya, "sejak kapan ayahku pernah mengirim orang untuk
membinasakan ayahmu ?"
Liong Tian ini segera mengangkat senjata patung Kim mo sinjinnya ke udara kemudian berkata:
"Lebih baik kau menyuruh ayahmu tampilkan diri saja, dia pasti akan teringat akan hal ini-jauh lebih jelas dari pada dirimu. Hanya ayahmu yang bisa memberitahukan persoalan ini, kepadaku aku harap kau jangan membuat kami harus menunggu dengan tidak sabar lagi."

Kwan Hong berpikir sebentar lalu sambil berpaling teriaknya keras-keras:
"ibu..."
Kiau Ngo-nio pelan-pelan muncul dari ruangan dia segera berkata.
"Aku telah mendengar tentang kesemuanya itu. Liong Tian im betulkah kau hendak mencari Kwan Lok khi ?"
Liong Tian im agak tertegun, kemudian sahutnya.
"Dendam kesumat terbunuhnya ayahku merupakan dendam sakit hati yang lebih dalam dari samudra, hal ini sudah merupakan suatu kejadian yang lumrah dan sewajarnya, aku hendak mencarinya karena aku hendak membalaskan dendam bagi kematian ayahku, mengapa kau tidak memperkenankan aku meujumpainya.."

"Aaaaiiii ?"
Tiba-tiba Kiau Ngo nio menghela napas panjang, air mata bercucuran membasahi pipinya ia berkata: "Kau sudah cukup membuat kami menderita, mengapa dalam keadaan beginipun kau datang mencarinya lagi ? Apakah tindakan kami keluarga Kwan yang sudah begitu mengalah kepadamu masih belum cukup ?"

yang membuat orang tidak habis mengerti adalah sikap perempuan ini yang tiba-tiba nampak gemetar, dia masih tetap bersandar di tepi pintu, menggeleng dengan pedih, seakan-akan menunjukkan sikap yang sedih sekali.

Pada saat itu pula, Kwan Hong berseru dengan penuh perasaan benci dan dendam:
"Liong Tian im. terus terang saja kukatakan kepadamu, sebelum hari ini kami memang masih berusaha keras untuk berupaya agar bisa membinasakan dirimu tapi selewatnya tengah hari ini, ayahku telah berubah pikiran, dia melarang kami untuk menyulitkan dirimu lagi. kami hanya berharap bila melewati sisa hidup kami di bukit jit gwat san ini dengan aman dan tenteram "

"Omongan setan "
Liong Tian im membentak sinis,
"Kwan Hong, kau tak usah mengaco belo tak keruan, aku Liong Tian im tidak suka mendengar perkataan semacam itu."
Kwan Hong benar-benar dibuat naik darah saking gusarnya seluruh badannya sampai gemetar keras.
Mendadak ia menggetarkan pedangnya, seperti bersiap sedia untuk melangsungkan pertarungan, tapi sebelum niat tersebut dilakukan Kiau Ngo nio itu sudah mencegah niatnya itu dengan kerlingan matanya.

Kwan Hong merasa panas hatinya, dengan perasaan tak puas dan marah dia berteriak lagi:
"lbu sekalipun kita harus bersabarkan diri, toh kesabaran orang ada batasnya." "Tutup mulutmu "
Kiau Ngo nio membentak gusar secara tiba-tiba,
" apakah kau sudah lupa dengan pesan dari ayahmu?"
Gemetar keras seluruh tubuh Kwan Hong, buru-buru serunya agak tergagap:
"Soal ini, ini ananda tak berani untuk melupakannya.." setelah menghela napas panjang Kiau Ngo nio
mengulapkan tangannya kemudian berkata:
"Kalau begitu, ajaklah diu masuki setelah bertemu dengan ayahmu nanti, dia akan mengerti dengan sendirinya"
Kwan Hong memandang sekejap kearah Liong Tian im dengan penuh kebencian, kemudian katanya:
"Silahkan ikut aku"
Dia mengajak Liong Tian im memasuki gedung besar tersebut, jago pedang buta Bok Ci dan Bu Siau buan segera mengikuti dibelakangnya dengan perasaan tegang, mereka kuatir Kwan Lok khi mempersiapkan jago-jagonya dalam, gedung itu untuk menjebak mereka.

Ketika tiba di muka sebuah kamar tidur, mendadak Kwan Hong menghentikan langkah tubuhnya, kemudian berkata:
"Ayahku berdiam dalam, ruangan ini, silahkan masuk.." "Aku pun akan ikut masuk" jago pedang buta Bok Ci segera
menyambung dengan suara dingin.
Dengan cepat Kwan Hong menghadang di hadapanj ago pedang buta Bok Ci. teriaknya:
"Tidak bisa Aku hanya akan mengijinkan Liong Tian im seorang yang masuk ke dalam, ruangan ini."
Mendengar perkataan mana, jago pedang buta Bok Ci segera tertawa dingin, katanya. "Ayahmu toh bukan seorang anak kecil, masa dia akan ketakutan seperti ini ? Bila ayahmu berniat untuk menyelesaikan hutang daranya ini, mengapa dia tidak segera menampilkan diri dari dalam ruangan.."

"orang she Bok"
dengan gusar Kwan Hong membentak nyaring, "aku melarang kau menghina ayahku.."
"Huuuh. Kau dan ayahmu sama-sama menggemaskannya" jago pedang buta Bok Ci kembali berkata sinis,
"kamu berdua hanya pandainya menyusun rencana keji untuk mencelakai orang saja, hari ini kalau aku Bok Ci diperkenankan masuki urusan agak mendingan tapi kalau tidak. aku pasti akan merubah bukit jit gwat san ini menjadi lautan darah "

sementara itu. Liong Tian ini merasakan darah panas mendidih didalam dadanya, rasa gusar dan sedih bercampur aduk menjadi satu.
Mendadak mencorong sinar mata yang amat tajam dan menggidikkan hati dari balik matanya, selapis hawa pembunuhan yang amat tebal segera menyelimuti wajahnya, sesudah mendengus dingin, mendadak tubuhnya menerjang maju ke muka.

"Toako, kau jangan kuatir" katanya sambil tertawa hambar,
"aku percaya orang she Kwan itu tak nanti bisa melalap dirku, andai kata aku sampai mengalami sesuatu cedera, saat itu kau masih ada kesempatan untuk membalaskan dendam bagiku "

"Adikku, kau tak boleh menyerempet bahaya ini." seru si jago pedang buta Bok Ci dengan parasaan terperanjat Kembali Liong Tian im tertawa rawan
"Tak usah kuatir, aku toh bukan seorang bocah cilik " katanya cepat.
Pelan-pelan dia mendorong pintu itu dan menyelinap  masuk ke dalam, dengan cepat dia mengawasi sekejap sekeliling ruangan tersebut sementara senjata patung Kim mo sin jin nya diangkat di depan dada siap menghadapi segala sesuatunya. Dengan perasaan hati yang amat tebang ia maju selangkah demi selangkah.

semua perabot yang berada dalam ruangan itu telah di singkirkan, di tengah-tengah ruangannya digantung selembar kain tirai berwarna hitam pekat. Liong Tian im menarik napas dengan perasaan tegang, kemudian serunya keras-keras: "Kwan Lok khi. Liong Tian im datang mencari balas -"

suasana disitu amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suara pun, pelan-pelan dia menyingkap tirai hitam itu sambil melongok ke dalam.
Mendadak ia saksikan selembar wajah manusia yang pucat pias, selembar wajah yang jelek dan mengerikan hati.
"Traaanng..."
senjata patung Kim mo sinjin nya terlepas dari cekalan dan terjatuh ke tanah sambil menimbulkan suara dentingan yang amat nyaring.
Liong Tian im hanya merasakan hatinya bergetar keras, pandangan matanya menjadi gelap, tanpa terasa gumamnya:
"Aaah... dia, dia...dia telah mati, ternyata dia telah mati." Dengan gemas dia menghantam permukaan tanah keras-
keras, lalu serunya dengan sedih.
"Rupanya aku telah datang terlambat, aku datang terlambat selangkah saja. oooh, aku adalah seorang anak
yang sangat tidak berbakti, ternyata aku tidak berkemampuan untuk membunuhnya dengan tangan sendiri, ooh ayah maafkanlah putramu... ampunilah ketidakbecusan putramu ini."
suara isak tangis berkumandang keluar, pelan-pelan lenyap ditengah ruangan,
"ooooh..."
Mendadak ia muntah darah segar, tubuhnya mundur ke belakang dengan sempoyongan kemudian roboh terjengkang keatas tanah, seketika itu juga ia tak tahu akan segalagalanya.

"Im Bu siau huan segera memburu masuk ke dalam dan berseru dengan gemetar,
"kenapa kau.. ?"
Jago pedang buta Bok Ci ikut memburu ke dalam, sewaktu menjumpai Liong Tian im yang roboh tak sadarkan diri, dia mengira anak muda tersebut sudah tewas oleh senjata rahasia, hatinya menjadi pedih sekali. Tiba-tiba ia berteriak keras:

"oooohmataku"
Mendadak pandangan matanya menjadi gelap gulita, air mata bercampur darah meleleh keluar membasahi wajahnya, seketika itu juga ia tak dapat melihat apa-apa lagi. sambil meraba tubuh Liong Tian im dan menangis tersedu-sedu, katanya kemudian:

"Mungkinkah aku telah ditakdirkan sebagai orang buta kembali,adiku kau tentu tak menyangka bukan kalau sepasang mata kakakmu akan menjadi buta kembali? Haah haaah... aku tak dapat menyaksikan dan menikmati kembali dunia yang indah ini-"

sekujur badan Bu siau huan gemetar keras, tiba-tiba dia berseru dengan gemetar"Bok toako, dia belum mati, kita harus selekasnya mengirim dia pulang kebukit Cing shia"
"Asalkan masih bisa hidup, ini sudah lebih dari cukup, ayo berangkat, sekarang juga kita berangkat menuju kebukit Cing shia-"
Tak selang berapa lama kemudian, tampaklah seorang lelaki buta bersama seorang gadis dan sesosok tubuh setengah mati berjalan menuruni bukitjit gwat sat Mereka tak lain adalah jago pedang buta Bok Ci, Bu siao huan dan Liong Tian im. Ketiga orang itu sedang melakukan perjalanan untuk kembali kebukit Cing shia san.

Kembali kebukit yang terpencil dan jauh dari pertikaian dan perselisihan dunia persilatan itu.
Sejak saat itu, dalam dunia persilatan tak pernah terlihat lagi jejak dari mereka bertiga.
Dunia ini seakan-akan tak pernah hadir ketiga tokoh persilatan tersebut...
Dan sampai disini pula kisah cerita "Cincin maut" ini, sampai berjumpa kembali dilain cerita.

TAMAT
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 34 (Tamat)"

Post a Comment

close