Cincin Maut Jilid 31

Mode Malam


Jilid 31
BAGAIKAN penyu buta bertemu kura-kura Li jiya boleh dibilang tak berani menghembuskan napas panjang, diamdiam dia melirik sekejap kearah Liong Tian im kemudian bisiknya:

"Oh . . . tuan ku, kau harus membantu kami"
Liong Tian im melirik sekejap ke arah lelaki bertopi aneh itu, kemudian bisiknya: “Siapakah dia?"
Dengan wajah pucat pias, sahut Li jiya dengan suara gemetar:
"Dia adalah adik misan tongkeh kami, Long Cu Hong."
Long cu Hong adalah seorang berandal di kota itu, dengan andalkan pengaruh Yu Toa hiong saban hari dia selalu malang melintang di jalan raya, begitu berjumpa dengan orang yang tak berkenan dia lantas main pukul, pada hakekatnya merupakan seorang berandal yang di benci tapi ditakuti setiap orang.

Liong Tian iin segera tertawa dingin:
"Heeeeh heeeh heeeh. Leng cu Hong kemari."
Leng cu Hong belum pernah bertemu dengan Liong Tian Im menyaksikan si anak muda itu memanggil namanya, ia segera tertawa terbahak-bahak dengan bangganya, sembari berlari mendekat dia berseru:

"Haha heeeh.. rupanyanya kaupun mengetahui tentang nama Leng cu Hong ? Apakah kau dengar dari muIut piauko ku ? Heeh... heeeh, kepalan aku Long cu Hong pernah menghajar su hay ciau liong (naga sakti dari empat samudera), kakiku pernah menendang Lam san mong hou (harimau ganas dari bukit selatan) setiap jago dan orang gagah yang berkunjung kemari, mereka selalu mempersembahkan kartu namanya kepadaku, hmm, hmm, dari mana kau sobat."
Sesungguhnya orang ini tidak memiliki kemampuan apaapa, namun selembar bibirnya betar-benar lihay dan tajamnya bukan kepalang, bertemu dengan siapa saja, ia selalu main gertak.

Tatkata dia menyaksikan Liong Tian-im berada bersama sama Li Jiya sekalian, dikiranya pemuda itu hanya setara kepandaiannya dengan orang-orang tersebut, maka dia sengaja main bentak untuk menunjukkan wibawanya.

Disatu pihak dia main gertak, dilain pihak Li Jiya dan Ong  Ma cu merasa panik sekali, diam diam mereka berdua merasa amat gelisah pikirnya hampir berbareng:
"Oooh, sauya ku, mau mengibul juga harus melihat orang, kau tak tahu diri sambil mengigau tak karuan, hati-hati kalau sampai terbentur batunya."
Dalam pada itu, Liong Tian im berseru:
"Long cu Hong, sudah berapa tahun kau berfoya-foya disini
?"
"Hmm, sudah banyak tahun aku berada ditempat ini,
berbicara soal tingkatan aku hanya kalah sejari, berbicara soal keturunan, aku pun berasal dari keluarga terpandang, bila kau si bocah keparat juga ingin hidup di sini, paling tidak kau  harus belajar dengan aku Long cu Hong, tanggung kau tak bakal merasa dirugikan.."

Mendadak Liong Tian im mencengkeram baju Long cu Hong dan menyeretnya mendekat, kemudian serunya:
"Kau harus merangkak di hadapanku.."
Long Cu Hong nampak tertegun, dia tidak menyangka kalau pemuda sama sekali tak dikenal ini berani membuka mulut untuk memaki orang, dia seperti tertegun, kemudian sambil menuding ke arah Liong Tian im serunya:
"Aaaah, kau ini manusia macam apa ? Berani benar bersikap begitu kurang ajar terhadap toaya..."
Paras muka Liong Tian im menjadi dingin, mendadak selapis hawa pembunuhan yang menyeramkan menghiasi seluruh wajahnya, dengan sorot mata berkilat dia mengawasi wajah Long cu Hong lekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah serunya:

"Bila kau tidak mau merangkak seperti apa yang kuperintahkan, jangan salahkan jika aku tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu.."
Sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah Long cu Hong menjumpai peristiwa yang begitu menggidikkan hati seperti hari ini, diam-diam ia merasa terkesiap muncul setitik perasaan takut di dalam hatinya tanpa terasa dia maju beberapa langkah sementara keangkuhan dan sikap sombongnya hilang lenyap entah ke mana.

"Mau apa kau ?" serunya kemudian dengan suara gemetar.
Liong Tian Im mencengkeram tubuhnya lalu mengangkatnya ke tengah udara, serunya.
"Aku menghendaki selembar jiwanya.."
Leng cu Hong menjadi terperanjat dan ketakutan setengah mati, teriaknya keras-keras:
"Lepas tangan, lepaskan aku, bila ada persoalan mari kita bicarakan secara baik baik, tongkeh dari perkampungan keluarga Yau adalah kakak misanku, bila kau membunuhku maka piauko ku akan mencarimu, sobat aku lihat kau pun bukan seorang jagoan pembunuh yang lihay, mengapa tidak kau lepaskan diriku untuk kali ini. ." Dihari hari biasa dia hanya tahu menganiaya rakyat kecil yang jujur, bila bertemu dengan jagoan sesungguhnya, tentu saja mati kutu nya sama sekali.
Kini dengan wajah murung dan kuatir dia berkaok-kaok ditengah udara, pada hakekatnya perbuatannya itu hanya akan memalukan orang-orang perkampungan keluarga Yau saja.

Liong Tian im segera menurunkan kembali tubuh Long cu Hong diatas tanah, kemudian ujarnya:
"Sekarang, bawa aku menjumpai kakak misanmu, hmmm. . tampaknya kau selalu menganiaya orang baik dihari-hari biasa dan tak pernah melakukan suatu pekerjaan baik pun,  sekarang kuperintahkan kepadamu untuk setiap satu langkah berlutut satu kali, kau harus berlutut sampai dihadapan piauko mu..."

"Tapi..." seru Long cu Hong gemetar.
"Tak usah banyak bicara" tukas Liong Tian im sambil membentak, "hati-hati kalau aku sampai membacok mampus dirimu..."
Menyusul ayunan tangannya, segulung angin pukulan yang sangat kuat segera berhembus lewat dan menghajar diatas sebuah batu cadas besar ditepi jalan.
"Blamm...!" diiringi suara ledakan keras, batu tersebut terhajar hancur sehingga menjadi berkeping keping dan muncrat keempat penjuru.
"Tong cu Hong menjadi amat terperanjat dia sama sekali tidak menyangka kalau musuhnya memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna tanpa terasa pikirnya dihati.
"Aduh mak, aku benar-benar telah berjumpa dengan jagoan lihay !" Saking takutnya seluruh tubuh terasa menjadi lemas, dia jatuh berlutut keatas tanah dan berteriak keras.
"Ooh Thian kau jangan membacokku, hamba akan segera berlutut..."
Pada saat ini dia hanya tahu mempertahankan selembar jiwanya, dalam keadaan demikian tentu saja dia tak ambil perduli terhadap gaya dan gerak geriknya dimasa lalu..
Betul juga, setiap selangkah berjalan dia lantas menjatuhkan diri berlutut sekali.
Oleh karena orang ini banyak menyalahi orang dihari-hari biasa dan lagi dibenci banyak orang, maka tatkala para penduduk kampung menyaksikan keadaan dari Long cu Hong tersebut hampir semuanya lantas berhenti sambil maju menonton, diam-diam mereka kegelian, tak seorang manusia pun yang kasihan terhadap orang ini.

Walaupun perkampungan keluarga Yau hanya sebuah kota kecil namun jalan raya disitu amat banyak, toko pun tersebar dimana mana, apalagi waktu itu tepat disaat orang berbelanja, orang yang berlalu ladang banyak sekali.

Banyak diantara mereka yang datang untuk menyaksikan keadaan Long cu Hong yang mengenaskan itu.
Sementara itu Long cu Hong yang mesti berlutut sekali tiap maju selangkah, kini tulang lututnya sudah terasa sakit dan linu hingga merasuk ke dalam tulang, darah membasahi tubuhnya sedang mulutnya merintih kesakitan namun dia tak berani berhenti, terpaksa selangkah demi selangkah maju terus menuju ke pusat kota.

Akhirnya sampai juga mereka di depan sebuah gedung besar, di depan gedung tumbuh sebatang pohon kui, empat penjuru tampak ada enam tujuh belas ekor kuda tertambat di situ, empat orang lelaki berpedang menjaga di pintu gerbang. Tatkala ke empat lelaki itu menyaksikan keadaan Long cu Hong yang mengenaskan dimana setiap kali maju selangkah lantas berlutut sekali, mereka kelihatan tertegun lalu memandang ke arah Liong Tian im dengan pandangan tercengang.
Dengan penuh penderitaan Long cu Hong segera berseru: "Cepat laporkan kepada toaya, hari ini kita orang-orang
perkampungan keluarga Yau telah bertemu dengan..."
Ke empat orang lelaki tersebut nampaknya sudah merasakan keadaan yang tak beres, seorang diantaranya segera Iari masuk ke dalam untuk memberi laporan.
Liong Tian im dengan pandangan sedingin es tetap duduk duduk diatas kudanya sambil mengawasi kawanan gentong nasi tersebut.
Pelan-pelan dia mendongakkan kepalanya memandang awan di langit, terhadap kejadian yg sedang berlangsung dihadapannya dia bersikap seolah-olah tidak merasa, sementara berbagai ingatan berkecamuk di dalam benaknya, dia sedang berusaha untuk mencari akal bagaimana caranya menghadapi keadaan seperti hari ini.

Dia tahu besar kemungkinannya Yau Toa-hiong mempunyai hubungan khusus dengan pihak Jit gwat san, itu berarti dia bukan seorang manusia sembarangan paling tidak dia harus membuat persiapan seperlunya ..

Tatkala sorot matanya melirik sekejap kearah Long cu Hong yang sedang berlutut diatas tanah, tanpa terasa terpancar juga sikap memandang hinanya terhadap manusia rendah tersebut.

Biasanya manusia semacam ini akan membanggakan diri mengunggulkan diri bahkan menyombongkan diri dihadapan orang banyak, tapi setelah penderitaan dan kesulitan berdatangan dia pun menampilkan sikap patut dikasihani yang mengenaskan.
Beginilah keadaan yang sesungguhnya dari Long cu Hong, penampilan semacam itu tampaknya tidak mirip dengan penampilan dari seorang manusia...
Dari balik gedung bergema suara langkah kaki manusia yang berat, tak selang berapa saat kemudian muncul empat lima orang lelaki berbaju hijau dari balik gedung tersebut, orang-orang itu berjalan keluar mengiringi seorang lelaki gemuk yang berwajah merah bercahaya.

Bagaikan bertemu dengan bintang penolongnya, segera Long cu Hong merangkak maju beberapa langkah sembari berseru.
"Tio ya, aku Long cu betul-betul sudah dipencundangi orang...!"
Lelaki gemuk berwajah merah itu mengernyitkan alis matanya sambil menunjukkan wajah memandang hina, dia hanya mengiakan pelan lalu mengalihkan sorot matanya yang setajam sembilu itu ke atas tubuh Liong Tian im. Setelah memperhatikannya sekejap, dia pun menegur.

"Saudara, siapa namamu?"
Dari sikap tenang, dingin dan mantap dari si lelaki gemuk she Tio tersebut, terutama ketenangannya menghadapi situasi yang terbentang didepan mata, Liong Tian im segera sadar bahwa ia telah berjumpa dengan seorang musuh tangguh.

Sahutnya kemudian sambil tertawa dingin "Aku she Liong, Tio ya nama besarmu adalah..."
Lelaki gemuk itu tercekat, wajahnya yang memereh  kelihatan sedikit mengejang keras, jelas dia sudah mengetahui siapa lawannya sekarang, terutama sekali huruf "Liong" tersebut melambangkan apa? Hanya dia seorang yang mengerti. Sekulum senyuman paksa segera tersungging diujung bibirnya, dia berkata:
"Tak kusangka Liong ya yang muncul disini, aku Tio Hok toan minta maaf bila kurang hormat."
Liong Tian im sendiripun merasakan dadanya seakan akan dihantam oleh martil yang sangat berat, diam-diam hatinya amat terkesiap, mimpipun dia tak menyangka kalau lelaki gemuk berwajah merah itu tak lain adalah jago lihay dari partai Liu lm pay yang disebut orang sebagai Pat luang sin kiam (Pedang sakti pat huang) Tio Hok toan.

Konon dengan kepandaian pedangnya yang lihay, dia pernah membunuh mampus sepuluh orang jagoan yang tangguh dan mengobrak abrik bukit Thian san, dia terhitung seorang jago pedang termashyur dimasa lampau.
Dengan wajah serius Liong Tian im segera berkata: "Selamat berjumpa, selamat berjumpa, rupanya Pat huang
sin kiam..."
Dengan pandangan dingin Pat huang sin kiam Tio Hok toan melirik sekejap ke arah Long cu hong serta Li Jiya sekalian, kemudian setelah memperlihatkan suatu perubahan mimik muka yaag aneh dia menjura seraya berkata:

"Liong ya, terima kasih banyak kuucapkan karena kau bersedia memberi pelajaran kepada kawanan cecunguk tersebut, sekarang harap kau sudi memandang di wajah siaute dengan melepaskan mereka semua.."

Sekalipun dia mengutarakan kata kata yang penuh rasa sungkan, padahal dibalik kesungkanan tersebut terselip nada permusuhan yang penuh dengan amarah.
Liong Tian im bukan orang bodoh, sudah barang tentu dia dapat mendengar nada tersebut, diam-diam pikirnya: "Lihay amat orang ini !" Namun dengan wajah sama sekali tak berubah, segera dia menyahut:
"Terserah pada keputusan saudara Tio..."
Dengan wajah sedingin es Tio Hok toan berkata lagi kepada Long cu Hong:
"Liong ya telah melepaskan kalian semua, mengapa kalian tidak segera enyah dari sini?"
Di saat Long cu Hong sekalian melarikan diri terbirit-birit kedalam gedung. Pat huang sin kiam Tiok Hok toan telah berkata lagi kepada Liong Tian im sambil tertawa.
"Saudara Liong silahkan duduk didalam, Yau sianseng telah meminta kepada siaute untuk mewakilinya."
"Hmm! sungguh besar amat lagak Yau tong keh..." Liong Tian im mendengus berat-berat.
Diatas wajah Pat huang sin kiam Tio Hok-toan segera tersungging kembali sekulum senyuman yang dingin dan kaku, dia berlagak seolah-olah tidak mendengar perkataan tersebut, sambil membalikkan badan dan menuju ke ruang gedung, kembali katanya:

"Aku akan membawa saudara Liong menuju kedalam."
Liong Tian im memandang sekejap jago lihay yang bertubuh tegap itu, mendadak timbul perasaan tercekat dihatinya, dia tertawa hambar, kemudian mengikuti Tio Hok toan menuju kedalam.

Sesudah melewati sebuah serambi panjang, di depan sana muncul sebuah kebun bunga yang sangat besar, ketika angin berhembus lewat terendus bau harum yang semerbak.
Liong Tian im hanya merasakan pikirannya menjadi jernih, dia menghembuskan napas panjang-panjang. Sebuah jalan kecil beralaskan batu kecil terbentang menuju ke belakang sebuah gunung-gunungan, sebuah bangunan berloteng di bangun disisi gunung-gunungan tersebut.
Di depan bangunan loteng itu, terpasang pula sebuah papan nama yang bertuliskan tiga huruf besar dari emas: "ENG HlOMG HWEE"
Mendadak dari balik gunung gunungan itu melompat keluar seorang bocah perempuan berbaju hijau yang membawa sebilah pedang terhunus, dengan cepat gadis cilik itu menghadang jalan pergi Liong Tian im.

"Siau hong, mau apa kau?" Tie Hok toan segera menegur dengan suara lembut.
Dengan sepasang matanya yang bulat besar gadis cilik berkuncir dua ini menatap wajah Liong Tian im lekat-lekat sembari mencibir sahutnya:
"Empek Tio, bukan orang ini adalah manusia yang telah menganiaya orang orang keluarga Yau kita?"
"Huuui! Anak kecil jangan sembarangan berbicara, ayo cepat menyingkir" bentak Tio Hok toan cepat.
Gadis cilik itu kembali cemberut, katanya: "Tidak, aku harus melihat dulu manusia macam apakah yang berani menghina orang orang kita, empek Tio, kau jangan turut campur, aku Yau Siau hong harus memberi pelajaran lebih dulu kepadanya."

Gacis cilik ini hanya berusia delapan sembilan tahunan namun caranya berbicara seperti orang persilatan saja, meski kekanak-kanakan namun nadanya mantap dan berat.
Pat huang sin kiam Tio Hok toan segera tertawa terbahakbahak:
"Haaahh...haaah, kau sibocah yang kelewat tak tahu diri." Namun dia sama sekali tidak berniat untuk menghalangi niat gadis cilik itu.
Meski Yau Siau hong polos dan lincah, namun ia cukup tenang dan tak takut urusan, walaupun usianya masih sangat muda, sembari menggetarkan pedangnya dia berseru:
"Hei beranikah kau bertarung melawan diriku?" Liong Tian im tertawa terbahak-bahak:
"Haahh...haaahh...adik kecil, aku tak akan bertarung melawan mu."
"Hai, kau jangan menganggap aku masih kecil, sesungguhnya kepandaian yang kumiliki tidak sedikit, bila kau tak berani bertarung melawanku silahkan angkat kaki dan enyah dari sini sekarang juga, kami orang-orang dari perkampungan keluarga Yau tidak senang menyambut kedatanganmu."

Ucapan ini tidak bisa ditanggapi dengan begitu saja, sudah jelas bocah perempuan ini berniat untuk memperolok-olok Liong Tian im.
Dengan pandangan tak senang Liong Tian im melirik sekejap ke arah Tio Hok toan kemudian tegurnya.
"Saudara Tio, aku lihat lebih baik kau sendiri saja!"
Tio Hok toan tak berani saling bertatapan muka dengan pihak lawan, buru-buru dia melengos ke arah lain, seakanakan dia memang sengaja hendak membuat malu Liong Tian im.

"Silahkan saudara Liong memberi pelajaran kepada bocah ini.."
Liong Tian im agak tertegun.
"Saudara Tio!" serunya dengan cepat, "apakah perbuatan semacam ini tidak kelewat batas." Yau Siau hong segera menggetarkan pedangnya sembari melancarkan bacokan, dia membentak nyaring:
"Siapa bilang kelewat batas atau tidak kelewat batas? Kau telah menghina dan mempermainkan orangku, apakah sekarang kami pun tak boleh memperolok-olok dirimu?"
Cahaya pedangnya bergetar diudara dan membias ke mana-mana, nampaknya dia berniat untuk turun tangan.
Liong Tian-im sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki bocah itu sudah mencapai tingkat yang tinggi, dalam kejutnya cepat-cepat tubuhnya mengegos ke-samping, lalu serunya dengan suara lantang:

"Adik kecil, lebih baik kau bermain di dalam sana, hati-hati kalau sedang memegang pedang."
Pada saat ini dia berusaha keras untuk menekan hawa amarahnya didalam dada, dengan gerakan jang aneh, tahutahu ia telah berhasil mencengkeram pedang ditangan Yau Siau hong tersebut kemudian ujarnya lagi:

"Adik cilik, kepandaian mu cukup lain kali mesti banyak berlatih lagi"
Paras muka Yau Siau hong berubah hebat, paras mukanya segera menjadi pucat pias, dia sama sekali tidak menyangka kalau ayunan tangan yang begitu ringan telah berhasil mencengkeram tangannya ...

Saking malunya dia membalikkan badan dan segera kabur meninggalkan tempat itu, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kebun sana.
"Hehehh... dari balik gedung berloteng itu berkumandang suara jengekan dingin. "benar-benar suatu kepandaian yang sangat lihay saudara Tio, tamu agung telah datang mengapa kau tidak segera mempersilahkannya masuk?" Suara tertawa rendah yang berat itu segera diikuti suara pekikan panjangnya yang amat nyaring, begitu kerasnya suata tersebut membuat pendengaran Liong Tian im menjadi mendengung keras, diam-diam ia terkejut atas kesempurnaan tenaga dalam lawannya. penilaian dan pandangannya  terhadap Yau Toa hiong pun segera ikut berubah.

Sambil tertawa hambar Pat huang sin kiam Tio Hok toan berkata lagi:
"Saudara Liong, silahkan duduk didalam..." Liong Tian im tertawa dingin, bersama Pat huang sin kiam Tio Hok toan mereka berjalan menuju kedalam bangunan loteng tersebut.
Lamat-lamat setitik bunga api muncul dari ruangan, dibawah cahaya api tersebut tampak seorang lelaki setengah umur yang mengenakan jubah berwarna biru berdiri angker disitu.

Begitu menyaksikan Long Tian im melangkah masuk kedalam ruangan, buru-buru dia maju kedepan sambil berseru:
"Saudara Liong, silahkan masuk, siaute Yau Toa hiong minta maaf bila tak dapat menyambut kedatanganmu dari depan."
"Aah, mana. mana, Yau tongkeh terlampau merendah..." sahut Liong Tian im hambar.
Yau Toa hiong bisa menjadi pemimpin dunia persilatan di wilayah tersebut, boleh dibilang keberhasilannya itu dicapai bukan secara gampang, bukan saja tergantung pada kemampuannya, selain itu dia memiliki pula sepasang mata yang tajam.

Barang siapa pernah munculkan diri sekejap saja dihadapannya, maka ia sudah dapat menilai orang itu sampai delapan sembilan bagian,. Kini, begitu ia bersua muka dengan Liong Tian im, sadarlah dia kalau sudah bertemu dengan musuh tangguh, meski tidak sampai diutarakan keluar, namun dalam hati kecilnya sudah mempunyai perhitungan.
Sambil tertawa terbahak-bahak dia lantas berseru: "Haah..haaahh..saudara Liong, terus terang saja keadaanku
ibarat: Mendengar suara orang menuruni tangga, namun tak nampak orangnya nongol. Beberapa kali aku ingin terjun kedunia persilatan untuk berjumpa dengan dirimu, apa mau dibilang tidak mempunyai kesempatan tersebut, kali ini...
Heeeh... heeeeh... heehheehh... ternyata kau telah berkunjung sendiri kemari haahhaah... boleh dibilang kedatanganmu ini amat memenuhi seleraku!"

"Oooh.... perkampungan keluarga Yau merupakan seorang pemimpin suatu wilayah, aku bisa berkesempatan untuk bertemu dengan dirimu, hal ini boleh di bilang merupakan rejeki ku, cuma kali ini, sewaktu siaute lewat disini terus terang saja aku ada beberapa patah kata kritikan hendak kusampaikan kepadamu, harap kau jangan marah."
Yau Toa hiong nampak tertegun, kemudian serunya: "Silahkan kau utarakan, siaute akan mendengarkannya
dengan penuh perhatian !"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Liong Tian im, sepatah kata demi sepatah kata serunya:
"Kau harus mampus..."
Paras muka Yau Toa hiong mengejang keras. Senyuman yang semula menghiasi wajahnya kini lenyap tak berbekas, sudah jelas ucapan tersebut menempati posisi yang amat hebat di dalam hatinya, tampaknya dia seperti tak pernah menduga bila Liong Tian im bakal mengucapkan kata-kata yang begitu menusuk pendengaran. Sesudah tertegun beberapa saat, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak suara tertawanya begitu keras dan memekikkan telinga, bahkan dibalik gelak tertawa mana tarselip suara raungan marah yang membara, seolah-olah binatang liar yang menderita luka parah saja.

Kemudian setelah berhenti tertawa dia berkata.
Bagus bagus sekali, perkataanmu itu memang amat tak sedap didengar, saudara Liong mari kita meneguk secawan lebih dulu kemudian siaute baru ingin bertanya kepada saudara, mengapa aku harus mampus, paling tidak kau harus memberi keterangan yang sejelas-jelasnya agar siaute pun bisa mati dengan jelas pula ..."

"Tentu saja" kata Liong Tian im sambil tertawa dingin, "sampai waktunya aku berharap kau jangan menjadi marah..."
Yau Toa hioog segera bertepuk tangan satu kali sembari berseru:
"Hidangkan arak !"
"Baik" dari belakang ruangan terdengar seseorang menyahut, kemudian pelan-pelan muncul dua orang dayang berbaju merah dengan gerak-gerik yang luwes dan cekatan mereka menghidangkan arak ke atas meja, kemudian diam diam mengundurkan diri dari tempat tersebut.

Yau Toa hiong segera mempersilahkan tamunya masuk, bersama Liong Tian im mereka duduk berjajar, ia memenuhi cawan dengan arak, dan sambil mengangkat cawannya sambil tertawa keras, serunya:

"Saudara Liong inilah arak perjumpaan kita Kan pai...!"
Orang ini benar-benar bersikap supel begitu selesai berkata dia segera meneguk habis araknya lebih dulu.
Liong Tian im segera menegok habis pula isi cawannya. Dengan cepat Tio Hok-toan memenuhi kembali cawan mereka, dan ke tiga orang itupun menghabiskan lagi isi cawannya, keadaan tersebut bagaikan teman lama yang sudah lama tak bersua, kini telah berkumpul kembali, sedikitpun tidak mirip dengan musuh tangguh yang saling berhadapan muka.

Padahal dalam hati kecil masing-masing mempunyai perhitungannya sendiri-sendiri...
Sikap Yau Toa hiong pada malam ini sedikit agak luar biasa, tanpa maksud tujuan tertentu dia meneguk araknya berulang kali.
Setelah terpengaruh arak tujuh delapan bagian dan merasa sedikit kurang beres, dia baru membuang cawannya ke tanah hingga hancur berantakan, serunya terkekeh-kekeh sembari menepuk bahu Liong Tian im:

"Saudara Liong, coba kau terangkan apa sebabnya siaute harus mati? Cuma kau harus berhati-hati kalau berbicara, sebab walaupun aku Yau Toa hiong adalah seorang manusia, namun kadangkala bisa melakukan perbuatan yang tidak mirip perbuatan manusia..."

"Mengapa? Yau tongkeh, memangnya kau anggap dirimu sebagai seorang manusia.?" seru Liong Tian im dingin.
Yau Toa hiong tertegun, kemudian serunya sambil tertawa seram.
"Lebih baik jangan gusar lebih dulu, kau masih belum memberitahukan kepadaku apa sebabnya aku pantas untuk mati?"
Sambil tertawa dingin, Liong Tian im berseru:
"Kau mendapat perintah siapa untuk menyusahkan diriku?" Yau Toa hiong termenung sambil berpikir sebentar,
kemudian sahutnya cepat: "Dari Kiau Ngo nio! saudara Liong, kau tak usah keheranan mengapa aku Yau Toa hiong bisa menuruti perintahnya, terus terang saja anggota kaum iblis tersebar diseantero jagad, lagipula antara aku orang the Yau dengan Kiau Ngo nio juga mempunyai persetujuan kerjasama dalam menghadapi serbuan musuh luar, oleh karena saudara Liong telah menyalahi nyonya tauke kami, hal ini sama artinya dengan kau telah menyalahi Yau Toa hiong..."

Liong Tian im mendengus dingin.
"Hmm. itulah sebabnya sudah kukatakan tadi, kau harus mampus karena kau bersedia melaksanakan perintah..."
"Heeeh... heeeh... heeeh..." Yau Toa hiong tertawa seram, "saudara Liong, aku tak bisa tidak harus mengagumi akan keberanianmu, aku pun mau tak mau harus menghormati kesetiaan kawanmu, tapi sayang walaupun kau memiliki kepandaian silat yang melebihi orang lain, toh mustahil bisa memusuhi semua orang yang berada di kolong langit, bagaimanapun juga kau toh bakal mati juga diujung senjata orang lain, mengerti ? Musuh banyak kepandaian jauh lebih ampun daripada dirimu, hanya saja mereka belum berhasil menemukan dirimu..."

Liong Tian im tertawa hambar.
"Itu mah urusan dikemudian hari, Yau tongkeh kau bukan seorang yang pintar, bila kau mengerti akan kenyataan maka kau tak akan mempersiapkan situasi seperti hari ini.."
Baik Yau Toa hiong maupun Pat huang sin kiam Tio Hok toan sama-sama dibikin tertegun, mereka tak bisa menduga apa maksud dibalik perkataan dari Liong Tian im itu.
Pat huang sin kiam Tio Hok toan segera melompat bangun, kemudian serunya:
"Arak telah habis diminum, rasanya kinilah saatnya bagi kita untuk membicarakan persoalan kita." "Aaah, buat apa kau mesti terburu-buru?" seru Yau Toa hiong sembari menggeleng, "kalau toh sobat kental sudah datang, itu tak boleh membiarkan mereka kecewa, saudara Tio bila arak bertemu sobat karib, seribu cawanpun terasa kurang, kau harus menghormati saudara Liong dengan arak lebih dulu..."

Pada saat itulah, seorang lelaki kekar muncul dari ruangan kemudian berseru.
"Majikan Ciong Ping mohon bertemu.."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Yau Toa hiong yang berapi-api, alis matanya yang tebal berkernyit, lalu sambil tertawa terbahak-bahak serunya:
"Cepat benar berita mereka, suruh dia masuk kedalam..."
Tak selang berapa saat kemudian tampak seorang kakek kurus yang menggembol pedang berjalan masuk ke dalam ruangan, sinar matanya tajam bagaikan kilat, langkah kakinya tegap dan mantap wajahnya sedingin salju, ia memandang sekejap ke atas wajah Liong Tian im dengan hambar kemudian katanya dingin.

"Saudara Yau siaute datang tanpa diundang..." Yau Toa hoang tertawa terkekeh kekeh.
"Heeehh... heeeeh... sebenarnya aku bermaksud untuk pergi mengundang tak disangka saudara Ciang telah datang duluan, haaahh... haahh... saudara Ciang tentunya Kiau ngo nio-nio telah meninggalkan sesuatu pesan bukan."

"Aku mendapat perintah dari Kiau Ngo nio untuk berbincang-bincang dengan Liong Tian im..." sahut Ciang Peng.
Liong Tian im mendengar ucapan mana segera berseru ketus: "Oh, rupanya Cian sianseng datang untuk mencariku? Kita adalah manusia yang suka berterus terang bila ingin memberi pelajaran, aku Liong Tian im tak bakal membuatmu menjadi kecewa."

"Heehh... heeeh," Ciang Peng tertawa seram "saudara Liong benar-benar pandai berbicara, kali ini aku Ciang Peng jauh-jauh datang kemari adalah mendapat perintah untuk memenggal batok kepalamu saudara Liong, kau tak akan membuat siaute merasa kecewa bukan?"

Liong Tian im tidak menyangka kalau Ciang Peng berani bicara begitu tekebur, darah panas didalam dadanya kontan saja berkobar keras, ia merasa amarahnya meluap sampai di ujung rambut sembari menarik muka dan tertawa seram, serunya:

"Saudara Ciang, asal kau mempunyai kepandaian, setiap saat batok kepalaku ini akan kupersembahkan kepadamu, hanya masalahnya sekarang mampukah saudara Ciang untuk melaksanakannya,"

Ciang Peng segera menggerakkan sepasang tangannya dengan cepat.
"Criiing!" diantara kilatan cahaya tajam yang menyilaukan mata, tahu-tahu pedangnya sudah diloloskan keluar, ketika senjata tersebut digetarkan, maka terdengarlah suara dengungan yang memekikkan telinga.

Dengan wajah sedingin es, serunya kemudian: "Kalau begitu mari kita buktikan dengan kekerasan."
Liong Tian im mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaah... haaah Kiau Ngo nio melanggar perkataan sendiri, ia berjanji akan mengurung diri selama setahun dibukit jit gwat san nya tanpa menginjakkan kakinya kembali dalam dnnia persilatan, siapa tahu manusia yang menganggap dirinya sebagai pentolan kaum sesat itu hanya dapatnya mengingkari janji, huuuh..."
"Ngaco belo..." teriak Ciang Pang sambil melotot, "walaupun Kiau Ngo nio berjanji tak akan meninggalkan Jit gwat san dalam setahun mendatang, namun dia tak pernah mengatakan kalau dia tak akan mencampuri dunia persilatan,
asal dia tidak menampilkan diri didalam dunia persilatan hal ini tak bisa bisa dianggap sebagai suatu tindakan mengingkari janji..."

Liong Tian im mendengus dingin, dia melirk sekejap ke arah Ciang Peng dan berkata ketus.
"Boleh aku tahu, apa kedudukan Ciang sianseng dalam bukit Jit gwat san..?"
Ciang Peng tertegun.
"Aku hanya seorang pembantu Kiau Ngo cio, tentu saja tak dapat dibandingkan sejajar dengan Kiau Ngo nio, kali ini aku mendapat perintahnya..."
"Enyah kau dari sini !" bentak Liong Tian im sembari menarik muka. "dl tempat ini tiada hak bagimu untuk berbicara"
Bentakan gusar dari Liong Tian im tersebut segera disambut oleh Ciang Peng dengan tertegun, sekalipun dia bukan jago kenamaan dalam dunia persilatan, toh selama ini belum pernah ada orang menghardik dirinya seperti hari ini.

Oleh sebab itu paras mukanya segera berubah hebat, hawa napsu membunuh segera menghiasi wajahnya, dengan penuh amarah dia membentak keras-keras:
"Apa maksudmu ? Orang she Liong, tunjuk kan cengli mu"
Dengan pandangan menghina Liong Tian im mendongakkan kepalanya memandang langit-langit rumah, sikapnya yang angkuh dan ketus sungguh membuat orang merasa tak tahan.
Pelan-pelan dia berkata:
"Kwan Lok khi dan Kwan Heng sendiripun tak berani bersikap begini kurang ajar bila bertemu denganku, kau dengan kedudukan seorang pembantu berani menantangku berduel ? Hmm berbicara soal tingkat kedudukan kau hanya termasuk tingkatan kacung, buat apa mesti tetap tinggal disini untuk membuat malu..."

Saat ini Ciang Peng benar-benar tak sanggup menahan diri lagi, dengan marah ia membentak, lalu sambil mengayunkan pedangnya membentuk cahaya kilat, ia menerjang ke depan sembari melancarkan bacokan kilat.

Liong Tian im segera melayang pula ke depan, lalu serunya sambil tertawa dingin. "Tampaknya kau pingin modar !"
"Kentut busuk!" balas Ciang Peng sembari menggetarkan pedangnya, "kau sendiri yang pingin modar..."
Segulung hawa dingin yang tebal segera menyelimuti seluruh wajah Liong Tian im.
Menyusul kemudian sepasang matanya memancarkan sinar dingin yang menggidikkan hati, ditatapnya Ciang Peng dalamdalam membuat orang tersebut menjadi bergidik dan pucat pias wajahnya karena ketakutan.

Pelan-pelan Liong Tian im mengangkat tangan kanannya ke atas. lalu berkata dingin:
"Ciang Peng, nasibmu tergantung pada pukulanku ini..." "Aku tidak percaya" seru Ciang Peng dengan sekujur badan
gemetar keras, "orang she Liong, mari kita beradu jiwa."
Di kala seseorang mengetahui kalau dirinya sudah tak mungkin lolos dari kematian, biasanya dia akan merubah perasaan takutnya menjadi suatu keberanian dengan harapan bisa melakukan serangan terakhir yang merupakan penentuan.
Keadaan Ciang Peng sekarang tak lain adalah keadaan macam begitu, sambil membentak gusar, cahaya pedangnya bergetar menciptakan berlapis-lapis bayangan hancur yang langsung menyergap ke tubuh Liong Tian im.

Dengan cekatan Liong Tian-im mengigos ke samping lalu meluncur pergi dengan kecepatan bagaikan segulung hembusan angin, kemudian sembari mendengus dingin, telapak tangan kanannya secepat kilat melepaskan sebuah cengkeraman kearah bayangan hitam tersebut.

Angin serangan yang dahsyat dan menderu-deru langsung menembusi dada Ciang Peng, lima jari tangan anak muda tersebut menancap telak diatas dada lawan, kemudian darah segar pun memancar keluar bagaikan pancuran.

Ciang Peng melototi wajah Liong Tian im sambil memperdengarkan teriakan keras yang memekikkan telinga, pedang yang berada di tangan kanannya segera terjatuh ketanah, kemudian dari tenggorokannya berkumandang suaru yang aneh sekali.

"Kau... kau sungguh kejam !" serunya gemetar.
Pelan-pelan Liong Tian im mengendorkan cengkeramannya atas tubuh Ciang Peng, kemudian berkata dingin:
"Apa yang masih tersisa dalam pandanganmu kini? Ciang Peng, aku toh sudah memperingati dirimu, janganlah mengusik aku, tetapi kau tak percaya. sekarang inilah kenyataannya seseorang yang bertanggung jawab penuh untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, selamanya tak akan hidup bersama dengan kaum sesat, siapa suruh kau menjadi pentolan golongan hitam..."

"Saudara Ciang, bagaimana keadaanmu ?" Yau Toa hiong segera berseru dengan wajah berubah. Ciang peng tertawa getir.
"Aku sudah tak sanggup untuk mempertahankan diri lagi, saudara Yau, harap kau sampai kan itu kepada sancu hujin, katakan kalau aku Ciang Peng tak sanggup menahan penganiayaan manusia laknat tersebut, ingat, sehari bocah keparat ini hidup di dunia ini, kita semua jangan harap bisa hidup terus, saudara Yau, kan harus berusaha untuk melenyapkan bibit bencana ini !"

Kenyataan yang terbentang didepan mata ini segera menghilangkan pengaruh arak pada diri Yau Toa hiong, paras mukanya segera mengejang keras, hawa amarah yang membarapun segera menyelimuti seluruh wajahnya.
"Liong . , kau sangat keji !" serunya gemas. "Kekejianku hanya terhadap manusia-manusia rendah
kaum hitam." kata Liong Tian im hambar. "Saudara Yau, bila kau segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar, aku Liong Tian-im pasti akan menganggap dirimu sebagai sahabat
!"

"Orang she Liong, kau tak usah membicarakan soal semacam itu dengan diriku, apa yang kupikirkan sekarang hanya ingin membunuhmu, dengan membunuhmu saja semua perasaan benci dan dendam dalam hatiku baru dapat terlampiaskan."

"Saudara Yau" kata Liong Tian im sedih, "berhargakah bagimu untuk berbuat demikian? Disaat aku masuk kemari tadi, kujumpai putri kesayanganmu, dia memang seorang gadis yang baik, polos dan lincah, apakah kau tidak memikirkan dirinya? Apakah kau menghendaki dia berkembang dalam situasi seperti ini? Kita semua adalah manusia, manusia yang berperasaan, tentunya kau tak akan mengesampingkan putrimu bukan? Aku percaya tiada orang tua didunia ini yang tidak mengharapkan anaknya berhasil." Sekujur tubuh Yau Toa hiong gemetar keras, sepasang matanya berkaca-kaca, sayang kesemuanya itu hanya berlangsung sekejap mata, diam-diam ia menggigit bibirnya kencang-kencang, kemudian serunya dengan suara keras.

"Tutup mulut, tiada orang yang bersedia mendengarkan kuliahmu itu..."
"Sudahlah, tak usah berkeras kepala!" seru Liong Tian im sambil menggeleng, "aku tahu liangsim mu sudang mendapat teguran, saudara Yau kau masih mempunyai sifat yang baik tapi mengapa harus bersikeras untuk bercokol dalam lingkungan yang gelap ?"

"Criling..."
Terdengar suara gemerincingannya pedang bergema di tangan Tio Hok toan, sambil mengangkat pedangnya yang diangkat di depan dada, ia maju dan langkah kedepan, lalu serunya.

"Kau berbicara terlalu banyak, saudara Liong lebih baik kita selesaikan persoalan ini diujung senjata saja."
Liong Tian im tidak menyangka kalau Pat huang sin kiam  Tio Hok toan bakal mencabut pedangnya dan menghalangi dia di saat seperti itu, dia melirik sekejap ke arah Tio Hok toan kemudian sambil mendengus dingin katanya.
"Saudara Tio apakah kah ingin bertarung melawan diriku ?" "Kita berdiri dalam pihak yang berbeda, sekalipun berasal
dari sudut yang berbeda pula, namun bagi kita orang-orang golongan hitam dan putih rasanya tiada cara yang lebih bagus untuk menentukan siapa menang siapa kalah selain  diputuskan Iewat pertarungan, saudara Liong, apakah kau tidak mengijinkan siaute untuk mencobanya ?"

"Saudara Tio, tidakkah kau rasakan hal tersebut sebuah tindakan menyerempet bahaya." tegur Liong Tian im dingin. Tio Hok toan segera tertawa dingin.
"Adakalanya nyerempet bahaya merupakan permulaan dari suatu keberhasilan, asal tugas lohu dapat tercapai sekalipun harus menyerempet bahaya juga bukan masalah. saudara Liong kau anggap betul tidak ?"

Ketika dilihat jago pedang kenamaan ini berkeras kepala untuk melaksanakan keinginannya sadarlah Liong Tian im bahwa satu pertarungan tak bisa dihindari lagi, terpaksa dia mencabut keluar senjata patung kim mo sin jinnya lalu sambil digetarkan keras katanya.

"Baiklah! Saudara Tio aku akan mengiringi untuk bermain sebanyak beberapa jurus !"
Dia cukup mengetahui akan kepandaian silat dari musuhnya, dan diapun tahu kalau dia adalah seorang jago pedang lihay yang belum pernah di jumpai sebelumnya, oleh sebab itu dia harus meloloskan senjatanya untuk beradu kepandaian dengan Tio Hok toan.

Sambil menggenggam senjata ditangan, Tio Hok toan menggetarkan senjatanya pelan, beberapa bunga pedang segera terpancar kemana-mana, setelah menghembuskan napas panjang, wajahnya berubah menjadi dingin bagaikan es ujarnya ketus:

"Kita bukan lagi mencoba kepandaian, melainkan untuk beradu jiwa, saudara Liong selama pertarungan berlangsung tiada batasan bagi kita untuk menggunakan kepandaian apa pun, akupun berharap kau tak usah berbelas kasihan pula, siaute paling benci dengan orang yang berpura-pura sok baik hati!"

Paras muka Liong Tian im berubah hebat:
"Saudara Tio, kau boleh melancarkan serangan dengan sekehendak hatimu, akan kusambut semua ancamanmu itu!" Tio Hok toan bisa di anggap orang sebagai Pat huang sin kiam, sudah barang tentu kepandaian dalam permainan pedangnya cukup ampuh, mendadak ia menggetarkan pedangnya, kemudian sambil membentak keras selapis cahaya pedang segera menyelimuti seluruh angkasa.

Liong Tian im sangat terperanjat, dia tidak menyangka kalau tenaga dalam yang di miliki lawan begitu sempurna, sekalipun hanya satu gebrakan saja, namun sudah dapat di ketahui sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang di milikinya.

Satu ingatan segera berkelebat lewat dalam benaknya, pikirnya kemudian:
"Pat huang sin kiam memang betul-betul bukan manusia sembarangan, cukup ditinjau dari kepandaian ilmu pedang yang dimilikinya, sudah dapat diketahui sampai dimanakah taraf iImu pedang yang dia miliki, aku harus menghadapinya dengan berhati-hati.

Bagaikan sukma gentayangan tubuhnya berkelebat lewat dan menerobos keluar melalui tengah sambaran pedang lawan, menyusul kemudian senjata patung Kim mo sin jinnya diayunkan ke luar.

Tampak selapis cahaya keemas-emasan memancar
kemana-mana, begitu menyilaukan cahaya tersebut, membuat sepasang mata pat huang sin kiam Tio Hok toan tak sanggup untuk dipentangkan kembali..

Dengan perasaan terkesiap Tio Hok toan segera berteriak: Sambil tertawa dingin Liong Tian im segera mengejek:
Sekarang aku akan menyuruh kalian saksikan betapa lihaynya senjata nomor satu dikolong langit ini.."
Pat huang sin kian Tio Hok toan menggetarkan pedangnya dan secepat sambaran kilat melancarkan tujuh delapan buah bacokan kilat, semua ancaman tersebut dilakukan dengan kecepatan luar biasa sekali dan kehebatan yang menggetarkan sukma, pada hakekatnya tiada peluang barang sedikitpun  juga.
Hawa serangan Liong Tian im membukit senjatanya didorong kedepan dengan kemampuan yang luar biasa, padahal waktu itu Tio Hok toan sedang menggerakkan pedangnya untuk melakukan pertolongan untuk menyelamatkan diri, dengan wajah berubah hebat karena terkesiap secara beruntun tubuhnya mundur beberapa langkah kebelakang.

"Traang...!"
Mendadak terdengar suara benturan nyaring ditengah udara, serentetan cahaya pedang tahu-tahu mencelat ketengah udara dan "Blaaaa" menembusi atap rumah sehingga tinggal gagang pedangnya saja yang bergetar ditengah udara.
"Kau !" Tio Hok toan berseru dengan perasaan terkesiap. "Hmm, jika aku ingin membunuhmu, maka hal ini bisa
kulakukan semudah membalikkan tanganku sendiri, tapi aku tak ingin berbuat demikian" kata Liong Tian im dingin.
Pelan-pelan Tio Hok toan berhasil juga mengendalikan perasaannya, ia bertanya.
"Benda apa yang kau kenakan di tanganmu itu ?" "Cincin maut !"
"Oooh.." pelan-pelan Pat huang sin kiam Tio Hok toan menundukkan kepalanya tanpa menjawab, dia seakan-akan sedang memikirkan suatu persoalan, bibirnya bergetar keras, lama kemudian ia baru berguman seorang diri:

"Cincin maut . . cincin maut. . kalau begitu adalah . ."
Sementara itu Yau Toa hiong merasakan hatinya bergetar keras setelah menyaksikan saudara angkatnya Pat huang sin kiam Tio Hok toan turut menderita kekalahan total, dengan cepat pedangnya dicabut keluar kemudian serunya:
"Orang she Liong, sungguh hebat kepandaian silatmu. ." "Yau tongkeh, bila kau bersikeras hendak turun tangan,
tentu saja aku harus mengiringi kehendakmu itu" kata Liong Tian im dingin, "cuma sebelumnya aku hendak berkata lebih dulu, sebentar bila pertarungan telah berlangsung dan ada seseorang yang terluka, atau mati, jangan salahkan aku Liong Tian in tidak menerangkan sebelumnya."

Yau Toa hiong tertawa terkekeh kekeh "Heeeeh, heeeh, heeeeh, tak usah banyak berbicara, yang soal ini tak usah disinggung-singgung."
Terlukanya Ciang Pang telah membangkitkan hawa napsu membunuh dari Yau Toa hiong, kekalahan dari Pat huang sin kiam Tio Hok toan membuat Yau Toa hiong merasa amat sedih.

Keadaan seperti ini Yau Toa hiong perkampungan keluarga Yau bakal hancur hari ini.
Maka dengan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, Yau Toa hiong berseru dengan gusar:
"Orang she Liong, kau berani membuat keonaran didalam perkampunganku, perbuatan tersebut merupakan suatu perbuatan yang sangat tidak cerdik."
Setelah pihak tuan rumah mendesaknya dengan perkataanperkataan yang memojokkan padamlah niat Liong Tian im untuk membimbingnya kembali kejalan yang benar, dia tahu hal tersebut merupakan suatu yang tak mungkin terjadi, karenanya setelah mendengus, serunya dingin.

"Yau cengcu, apakah kau bersikeras hendak mengorbankan segala sesuatunya untuk bermusuhan denganku?" "Mungkinkah bagiku untuk lepas tangan ?" Yau Toa hiong tertawa seram, "kau datang ke perkampungan kami untuk melukai orang, tindakanmu tersebut pada hakekatnya tidak memandang sebelah matapun terhadap aku orang she Yau, cukup berdasarkan hal ini, aku tidak bisa harus mencampurinya."

Liong Tian im mengernyitkan alis matanya yang tebal, dari dasar hatinya muncul segulung api amarah yang tak diketahui darimana datangnya, sekulum senyuman hambar segera tersungging di ujung bibirnya, ujarnya kemudian dengan suara dingin:

"Yau cengcu, kau tak akan mampu untuk mengatasi persoalan ini, bahkan Kwan Lok khi sendiripun tak berani bersikap begini kurang ajar kepadaku, apalagi kau, hahah haah ingatlah kau tak lebih hanya seorang kepala kampung kecil !"

Yau Toa hiong benar-benar merasa gusar sekali sehingga sekujur tubuhnya gemetar keras, teriaknya keras-keras:
"Kau terlalu menghina orang !"
Kemarahannya pada saat ini telah memuncak, pada hakekatnya dia seperti melupakan semua kelihayan, pedangnya segera diputar kencang membentuk serentetan cahaya tajam di angkasa, lalu dengan jurus Kiam-im tengkhong (bayangan pedang melesat diudara) langsung membacok ke tubuh Liong Tian im.

"Cengcu, terpaksa aku harus membuat kesalahan  kepadamu" seru Liong Tian im sembari mengigos ke samping.
Senjata patung kim mo sin jin yang berada ditangannya digetarkan membentuk selapis cahaya emas yang segera menyelimuti seluruh angkasa, seketika itu juga serangan pedang dari Yau Toa hiong berhasil didesak kembali ke belakang. Yau Toa hiong semakin terkesiap lagi menyaksikan serangan Kiam im teng khong yang dilancarkan olehnya itu berhasil dipunahkan lawan secara begitu gampang, dengan tubuh gemetar keras dia lantas mengigos ke samping sambil melancarkan sebuah bacokan.

Bayangan cahaya meluncur di udara, Liong Tian im tahutahu sudah melayang keluar dari kepungan cahaya pedang Iawan, senjata Kim mo sin jinnya diputar setengah lingkaran busur lalu dibacokkan ke dada lawan.

"Triiingg..."
Diiringi dentingan nyaring, tubuh lawan yang baru berdiri tegak segera mundur ke belakang, kemudian mendengus berat-berat.
Ketika Yau Toa hiong mencoba untuk melirik sekejap ke atas pedang sendiri, tampak ujung pedang tersebut telah gumpil sebesar ibu jari, kenyataan ini membuat hatinya ia makin terperanjat lagi sehingga paras mukanya berubah hebat, ditatapnya wajah Liong Tian im dengan ketakutan.

Dengan cepat pikirnya:
"Aku benar-benar telah berjumpa dengan musuh tangguh nomor sini di dunia ini. berbicara soal kepandaian silat, aku merasa tak mampu untuk menandingi dirinya. Tapi kalau aku disuruh menyerah kalah hmm. aku Yau Toa hiong lebih suka mati dari pada melakukan pekerjaan semacam ini."

Liong Tian im telah menggetarkan senjata mestikanya sambil mengawasi lawannya lekat-lekat, dengan tenangnya dia menunggu datangnya serangan mematikan dari pihak lawan.

Akan tetapi, walaupun sudah ditunggu sekian waktu, ternyata pihak lawan sama sekali tidak bermaksud untuk melanjutkan serangannya. Yau Toa hiong mengayunkan pula pedangnya sambil mengawasi lawan dengan wajah serius, dalam hati kecilnya sudah tumbuh sedikit perasaan takut, rasa takut itu munculnya sangat aneh, dia tahu bila persoalan ini tidak bisa diselesaikan secara baik, niscaya perkampungan keluarga Yau yang aman tenteram ini akan hancur berantakan berkepingkeping.

Itulah sebabnya mau tak mau dia harus bertaruh, mempertaruhkan seluruh harta kekayaan serta kedudukannya dalam perkampungan tersebut.
Ketika Pat huang-sin kiam Tio Hok toan menyaksikan ke dua orang itu masih bermaksud untuk melanjutkan pertarungan buru buia dia menerobos maju ke depan, kemudian sambil mengerutkan alis matanya, dia berjalan mendekati Yau Toa hiong.

"Cengcu, harap kau jangan turun tangan lagi" serunya agak emosi.
"Mengapa ?" tanya Yau toa hiong.
Tio Hok-toan menghela napas panjang2 "Aaaai... cengcu, apakah kau belum bisa melihat siapa gerangan pemuda itu ?"
Waktu itu, Yau Toa hiong sedang diliputi oleh amarah yang berkobar-kobar, pada hakekatnya dia tidak berkesempatan untuk memikirkan persoalan tersebut maka setelah mendengar perkataan dari Tio Hok toan, dia mendengus berat-berat.

"Hmmm, paling banter hanya seorang pemuda yang tak tahu diri, apanya yang patut dilihat?"
Liong Tian im naik darah setelah mendengar ucapan itu, serunya kemudian sambil menahan geram: "Apa kau bilang .."
Waktu itu Tio Hok toan sudah mengetahui asal usul serta kedudukan Liong Tian im, melihat kedua orang bersiap sedia melangsungkan pertarungan lagi, buru-buru dia menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru: "Cengcu, dia putra Liong Siau thian !"
"Apa?" Yau Toa hiong berseru gemetar "Kau bilang dia adalah putra tuan penolong?"
Dengan pandangan hampir tak percaya dia memandang sekejap ke arah Liong Tian im, kemudian sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas, katanya lagi.
"Saudara Tio kau jangan bergurau, persoalan ini luar biasa sekali pengaruhnya..."
"Siapa bilang aku berbicara sembarangan? Aku mempunyai bukti dan semuanya itu merupakan kenyataan..." kata Tio Hok toan dengan wajah amat serius."
Sementara itu Liong Tian im turut menjadi tertegun, dia menganggap asal usulnya merupakan suatu teka-teki yang tidak diketahui orang bahkan hingga kini dia sendiripun tidak tahu ayahnya mati di tangan siapa, apalagi nama ayahnya juga hampir tidak diketahui orang?.

Tapi hari ini dia mendengar nama ayahnya disebut oleh Tio Hok toan, tak heran kalau si anak muda itu menjadi amat terkejut dibuatnya, segera ditatapnya Tio Hok toan dengan perasaan tercengang, setelah itu serunya:

"Dari mana kau bisa mengetahui nama ayahku?"
Dengan wajah sedih, Tio Hok toan berkata: "Ayahmu adalah saudara angkat kami, sedang kami
bersaudara pernah menerima budi kebaikan dari ayahmu, budi tersebut belum pernah kami balas hingga kini, untunglah hari ini kami dapat berjumpa dengan keturunannya, bayangkan  saja bagaimana mungkin aku tak merasa gembira..."

Yau Toa hiong masih belum percaya dengan saudaranya itu, terdengar ia berseru lagi: "Saudara Tio, darimana kau bisa tahu kalau dia adalah putra Liong Siau thian ?"
Tio Hok tosu tertawa getir.
"Masa kau masih belum menyaksikan cincin maut yang dikenakan olehnya itu ? Cincin tersebut milik keluarga Liong di saat siaute menjumpai musibah dulu, bukankah pemilik cincin yang telah menyelamatkan kita ?"

"Aaaah, benar, kenapa aku bisa melupakan akan hal itu," seru Yau Toa hiong kemudian.
Dipandangnya Liong Tian im sekejap dengan perasaan menyesal, kemudian ia berkata:
"Liong sauhiap, maafkanlah dosa serta kesalahan kami, seandainya aku Yau Toa hiong tahu kalau kau adalah putra tuan penolongku Liong Siau thian, sekalipun aku diancam dengan golok pun tidak akan bertarung denganmu, mari... mari, . tidak bertarung kita tak akan saling mengenal, mari kita meneguk secawan!"

Orang ini benar-benar seorang lelaki yang berjiwa terbuka, setelah mengetahui kalau Liong Tian im adalah putra tuan penolongnya, seluruh perasaan dendamnya segera punah tak berbekas.

Buru-buru dia menitahkan orang untuk menghidangkan arak, kedua belah pihak pun segera minum arak dengan riangnya, tentu saja kali ini tiada pendapat yang meledakledak, tiada pula suasana sindir menyindir.

Dalam perjamuan, Liong Tian im terbayang kembali akan kematian ayahnya yang mengenaskan, suatu perasaan sedih dan menderita yang amat sangat segera menyelimuti hatinya.
Kenangan sedih serta penderitaan yang pernah dialaminya sejak kecil, membuat pemuda itu bermuram durja dan diliputi perasaan sedih yang sangat mendalam. Setelah menghela napas panjang, dia pun bertanya:
"Bagaimana ceritanya kalian berdua hingga dapat berkenalan dengan ayahku ?"
"Aaai . . !" helaan napas panjang rendah dan murung bergema dari mulut Tio Hok toan, sepasang matanya ikut berkaca-kaca pula, katanya sedih.
"Ayahmu pernah melepaskan budi yang amat besar kepada kami bersaudara. sebab beliau lah yang telah memberikan hidup baru untuk kami, kejadian ini berlangsung pada belasan tahun berselang, andaikata tiada pertolongan dari ayahmu, aku dan Yau cengcu tak akan hidup hingga hari ini . . ."

Liong Tian im tertegun, kemudian serunya: "Sebenarnya apa yang telah terjadi ?"
Tio Hok toan tertawa hambar.
"Kejadian lampau berlalu bagaikan asap, bila dibayangkan kini rasanya tinggal sisa-sisa tipis, dalam waktu yang singkat dua puluh tahun sudah lewat, dari usia pertengahan pun kami telah menjadi tua, aai, waktu memang berlalu dengan cepat !"

Di dalam benaknya segera muncul kembali kenangan dimasa lampau, kejadian yang sudah lewat satu demi satu muncul kembali dari hatinya dan melintas dalam benak kakek itu.

Peristiwa tersebut berlangsung amat lama, mesti sudah lama namun kejadian tersebut tidak menjadi pudar dengan beralihnya sang waktu, malah sebaliknya kedua orang itu setiap saat hampir selalu terbayang dalam benak mereka berdua, terutama bila malam yang sepi telah tiba.

Yau Toa-hiong dan Tio Hok toan selalu akan menyinggung kembali peristiwa tersebut dan membicarakan musibah yang menimpa diri mereka itu. Rupanya dimasa masih muda dulu, Yau Toa hiong serta Tio Hok toak adalah jago-jago lihay yang khusus melakukan pekerjaan pengawalan barang kiriman gelap.
Berhubung kedua orang ini tidak bergabung dengan  sesuatu perusahaan atau mendirikan suatu kantor, maka jarang sekali ada orang persilatan yang mengetahui pekerjaan mereka yang sebenarnya.

Orang-orang persilatan yang tahu, kedua orang jago lihay ini seringkali mondar-mandir dipelbagai daerah dan mempunyai hubungan kontak dengan pelbagai partai dan perguruan besar dalam dunia persilatan.

Oleh sebab mereka sosial, banyak teman serta partai bergaul karena banyak teman serta hubungan merupakan modal dasar bagi orang yang melakukan pekerjaan ini, maka di mana pun mereka sampai, temannya selalu membantu.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 31"

Post a Comment

close