Cincin Maut Jilid 26

Mode Malam
Jilid 26

SAKING GUSARNYA, dia tertawa seram, lalu serunya: "Baik baik sekali, aku akan menyuruh kau merasakan
bagaimana hebatnya permainan kapak aliran Lam hay ini."

Di tengah udara terlintas serentetan cahaya tajam, lalu tampak bayangan kampak menembusi angkasa dan menyerang ke tubuh Liong Tian im.

Gerakan ini cepatnya bukan kepalang, membuat Liong Tian im merasa amat terperanjat sekali, dia tidak menyangka kalau permainan kampak orang ini ternyata tidak sebodoh seperti apa yang diduga semula.

Buru buru Liong Tian im berkelit kesamping menghindarkan diri dari bacokan kampak orang kemudian tangan kanannya bergerak cepat dan menyodok keluar menggunakan senjata patung Kim mo sin jin, arah sasarannya adalah dada Busu berbaju merah itu.

Di Lam hay Busu berbaju merah ini sudah termasyhur sebagai seorang jago lihay dalam permainan kampak terbang, terlihat sepasang tangannya diayunkan bersama, tiba tiba saja kedua kampak tersebut lepas tangan dan meluncur ke arah Liong Tian im dengan kecepatan tinggi.

Ancaman tersebut segera memaksa Liong Tian im harus berganti tiga posisi secara beruntun sebelum berhasil meloloskan diri dari ancaman lawan.

Siapa tahu, ketika dua buah kampak tersebut gagal mengenai sasarannya, senjata tersebut berputar membentuk satu lingkaran busur ditengah udara, kemudian melayang kembali ke tangan Busu berbaju merah yang segera memutarnya kembali sambil melancarkan bacokan berikutnya.

"Bagus. ." bentak Liong Tian im, "permainan kampakmu paling banter hanya begini."

Dia segera manfaatkan kesempatan tersebut dengan mengeluarkan jurus Jft-jd im tui heng (menyapu bayangan mengejar jejak) senjata patung Kim-mo sin jin nya dengan berobah menjadi serentetan bayangan emas, dengan kecepatan yang paling tinggi menghantam punggung Busu berbaju merah itu.

"Aduuuuh . . ."

Di tengah udara berkumandang suara jerit kesakitan yang memilukan hati, disusul kemudian semburan darah segar dari mulut Busu itu. Dengan tubuh sempoyongan dan wajah memucat, orang itu mundur beberapa langkah ke belakang lalu roboh terjungkal keatas tanah.

"Parahkah lukamu ?" Kwan Hong segera menegur dengan suara gemetar karena cemas.

Dengan wajah memancarkan kebencian, Busu berbaju merah itu mendongakkan kepalanya dan melotot sekejap ke arah Liong Tian im, lalu sambil menyeka noda darah yg membasahi ujung bibirnya, dia berteriak keras dengan suara parau:

"Orang she Liong, hutang berdarah ini pasti akan ditagih seseorang kepadamu .."

"Hmm. . untuk sementara waktu kami akan melepaskan kalian hari ini." seru Kwan Hong pula dengan penuh amarah dan kebencian. "tapi tidak sampai tiga hari, aku Kwan Hong pasti akan mencari dirimu lagi dan pada waktu itu hmm..hmm... kau harus memberikan keadilan kepadaku. ."

Dia menggeserkan tubuhnya yang berat, dan membopong Busu berbaju merah itu naik ke atas kuda lalu di iringi hentakkan keras, dia membawa Busu berbaju merah itu berlalu dari situ.

Di tengah keheningan itu, kini tinggal Leng Ning ciu dan Liong Tian im bardua, mereka berdua merasakan betapa cepatnya perubahan yang terjadi di dunia ini, juga terbayang lagi semua pengalaman yang telah dialaminya selama ini . . .

Hujan yang rintik melayang layang ditengah angkasa, diatas jalan yang becek dan berlumpur sudah tak nampak sesosok bayangan manusia pun. Tinggal beberapa orang petani yang masih berada di sawah untuk membereskan rerumputan liar yang mereka kumpulkan sepanjang hari . . .

Ditengah hujan yang membasahi seluruh jagad, tiba tiba muncul dua orang penunggang kuda yang berjalan menembusi air hujan, menelusuri jalan yang becek menuju ke depan sana.

"Empek Leng. ." pemuda yang berada disebelah kiri itu seperti tak mampu menahan kemurungan hatinya, setelah maju sekian lama, akhirnya dia berseru lagi kearah si kakek yang berada diiebelah kanannya.

"Harap kau jangan marah lagi" Kakek berjenggot hitam itu berwajah sedingin es seakan akan mukanya dilapisi dengan salju nan dingin, alis matanya yang tebal nampak berkerenyit dan mulutnya mengulum tertawa dingin yang menyeramkan.
Dengan perasaan mendongkol dia menyahut. "Mengapa aku harus marah? Dengan kedudukan Leng
Hongya dalam dunia persilatan siapakah yang tidak menghormati diriku sebagai Leng Hongya bila berjumpa denganku?. . Sekarang, hmm, sungguh tak kusangka dalam keluargaku tertimpa musibah macam begini, bakal ditaruh kemanakah wajah tuaku ini? Di kemudian hari, bagaimana mungkin aku punya muka untuk berjumpa pula dengan ayahmu."

"Aaii..." Kwan Hong ikut menghela napas panjang, "adikku itu memang tak tahu urusan, padahal dia merupakan seorang gadis yang cerdik tapi heran mengapa dia bisa melakukan perbuatan seperti ini? jangan toh kau aku sendiripun tak pernah menduga akan terjadi peristiwa ini, tatkala urusan telah berlangsung, aku segera tahu bahwa persoalan ini tak mungkin tidak ku laporkan kepada kau orang tua, jikalau kau sampai menegur dikemudian hari, bukan saja siaute tak sanggup untuk memikul tanggung jawab ini, bahkan ayahku sendiri juga tak bisa memberikan pertanggungan jawabnya kepada empek Leng, sebab bagaimanapun juga, empek Leng berada di rumah kami sewaktu peristiwa tersebut berlangsung, aai, benar-benar menyedihkan hati"

Leng Hong ya mendengus dingin.

"Bila budak itu berhasil kutemukan, aku harus mengikat dia rumah, ia tidak melihat dulu bagaimana tersohor dan tingginya kedudukan lembah Tee ong kok dalam dunia persilatan, kalau toh harus memilih besan, paling tidak juga harus besan dan keluarga ternama, tapi sekarang, aaai. . . kalau perempuan sudah dewasa memang payah."

"Betul juga perkataan ini" Kwan Hong menyambungi lagi perkataan tersebut. "pengetahuan si moay kelewat picik, kalau ingin kawin masa kawin dengan laki laki bertampang begitu? padahal ayah ibuku menganggapnya melebihi putri sendiri, sedangkan keluarga Kwan juga boleh dibilang mempunyai nama yang setaraf dengan Tee ong kok, berbicara soal kekayaan...hmm, empek Leng, harap kau orang jangan marah bila ucapan siaute terlalu kasar dihadapan empek Lang, aku benar benar tak berani sembarangan berbicara."

"Tak menjadi soal!" kata Leng Hong ya senyum tak
senyum. "kita toh sudah hampir menjadi sekeluarga, masa kau mesti bersungkan sungkan lagi terhadap diriku? Ayahmu pernah membicarakan persoalan ini denganku, ia bermaksud akan mengawinkan kalian diakhir tahun inilah aku rasa kau sudah cukup dewasa, kalau cepatan kawinpun merupakan suatu kejadian yang baik, hanya saja..." Kwan Hong merasakan jantungnya berdebar keras, cepat cepat dia berseru.

"Empek Leng, mungkinkah siautit tidak cocok dengan selera kau orang tua "

"Bukan... bukan begitu !" Leng Hongya menggeleng, "sekarang Leng Ning ciu sudah kabur dengan orang, berita yang memalukan ini kurang baik jika sampai tersiar dalam dunia persilatan aku kuatir watak bocah ini tidak cocok dengan wataknya "

ocOoo ocOoo

"AAAAl . . . bukannya siautit sengaja mengucapkan kata kata yang kurang sedap didengar." kata Kwan Hong sedih, rni moay memang kelewat tak tahu diri, kalau toh dia hendak mencari jodoh, sudah seharusnya kalau memilih yarg bertampang bagus, namun kenyataannya dia malah menuju dengan bocah keparat yang sesungguhnya tidak sesuai baginya. ."

"Kwan Hong. . ." mendadak Leng Hong ya mengalihkan sorot matanya yang dingin itu ke atas wajah Kwan Hong, sedangkan suara panggilannya juga sengaja ditarik sangat panjang menantikan jawaban dari Kwan Hong.
Dengan hormat Kwan Hong segera menyahut. "Empek Leng, jika kau ingin mengucapkan sesuatu,
silahkan saja diutarakan, asal siautit mampu melakukannya, pasti akan kuusahakan untuk melakukannya bagi kau orang tua, empek Leng silahkan kau utarakan." "Sudah sekian lama kau membicarakan tentang tingkah laku Ning ciu anak gadisku itu, tapi belum kau terangkan dia telah kabur dengan sauya dari perguruan mana, coba kau sebutkan namanya, aku ingin tahu orang itu ku kenal atau tidak."

"Lebih baik tak usah disinggung lagi. ." ujar Kwan Hong dengan nada kesal "bila dibicarakan, Empek Leng sudah pasti akan dibuat mendongkol setengah mati, buktinya manusia macam siautit yang cukup berjiwa besar pun-dibikin kesal. . yaa jika si moay mengikuti keparat tersebut, maka keadaannya ibarat sekuntum bunga indah ditancapkan di-atas tahi kerbau, sayang sekali dengan kecantikan wajahnya itu."

"Sebenarnya siapakah orang itu?" desak Leng Hong ya lebih jauh dengan kening berkerut.

Kwan Hong menghela napas panjang.

"Empek Leng, lebih baik kau lihat sendiri saja, bila siautit yang melaporkan, mungkin si moay akan mendendam kepadaku, andaikata dia memberikan kesulitan untuk siaute. . waaah ini baru berabe namanya"

Ucapan demi ucapan dari Kwan Hong terasa seperti mengelitik hati Leng Hong ya, dia ingin sekali bisa terbang dan segera menyusul putrinya. Dia ingin tahu lelaki tak punya  mata macam apakah yang berani menggaet putri Leng
Hongya dari lembah Tee ong kok, Tentu saja yang paling penting adalah untuk melihat apakah lelaki bernyali besar itu cukup pantas menjadi menantunya keluarga Leng atau tidak.

Sesudah mendengus dingin, katanya kemudian. "Kwdan Hong, sesungguhnya kau menyintai Leng si moay mu atau tidak ?"

Kwan Hong segera merasakan semangatnya bangkit kembali.

"Apa aku perlu menerangkan lagi? Dari sikap siautit yang begitu membelai Leng si moay, seharusnya empek Leng tahu betapa cintanya siautit kepadanya, waktu itu seandainya  siautit tidak bertindak gegabah, tak nanti Leng si moay sampai dirampas orang. . ."

"Dirampas orang ?" seru Leng Hongya terkejut. "kau maksudkan Ning ciu dirampas oleh bocah keparat itu."

Kemudian setelah tertawa seram, terusnya:

"Sungguh tak disangka, baru berapa hari saja aku Leng Hongya tidak berkelana dalam dunia persilatan, ada orang yang sudah berani merampas putri dari aku she Leng. Hmmm, ingin sekali kusaksikan manusia berkepala tiga berlengan  enam macam apakah yang telah mencari gara-gara dengan diriku? Aku ingin tahu apakah dia sudah makan hati beruang atau memang merasa bernyawa rangkap."

"Empek Leng" buru-buru Kwan Hong berseru lagi "kalau di bilang dirampas olehnya, hal inipun rasanya kurang tepat, sebab Leng-si moay sendiripun tampaknya ada hasrat untuk mengikuti bocah keparat tersebut, sikapnya yang setengahsetengah inilah menyebabkan terjadinya peristiwa seperti hari ini." "Kalau begitu, putriku yang tertarik kepadanya..." seru Leng Hong ya dingin.

"Soal ini..." Kwan Hong segera tertawa getir. "soal ini mah aku sendiripun kurang tahu."

"Hmm, aku harus menyelidiki persoalan ini sampai jelas, aku ingin tahu siapakah yang mempunyai nyali sedemikian besar..." seru Leng Hong ya kemudian penuh kebencian.

Dua orang itupun melanjutkan kembali perjalanannya menelusuri jalan yang becek dan hujan yang makin deras menuju ke depan sana.

Tak selang berapa saat kemudian, sampailah mereka didalam sebuah kota besar.

Sambil menuding kearah rumah penginapan Hong yen yang mengibarkan panji berhuruf "Lo", Kwan Hong berkata:
"Empek Leng, bocah keparat tersebut tinggal di situ" "Kau tak salah melihat ? Selidiki dahulu sejelas jelasnya
sebelum bertindak . ."

Kwan Hong segera tertawa seram.

"Siautit sudah menyelidiki persoalan ini cukup jelas, bocah keparat itu menuju ke selatan bersama Si moay, disini mereka berdiam selama tiga hari, asal empek Leng melakukan penyelidikan segala sesuatunya akan menjadi beres."

Leng Hongya mendengus dan lompat turun dari atas kudanya, kemudian setelah menyerahkan tali les kudanya kepada Kwan Hong dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedalam ruangan.

Pelayaii segera muncuI sambil menyambut kedatangannya: "Toaya apakah kau hendak menginap disini." sapanya.
Leng Hongya mendengus dingin sambil mendorong pelayan itu serunya kasar.

"Minggir kau..."

Pelayan itu tidak mengira kalau tamunya adalah seorang tamu kasar yang tak tahu aturan sambil duduk tertegun dilantai, ia lantas-berseru. "Toaya..."

Kwan Hong yang menyusul dari belakang segera berkata pula.

"Kami datang mencari orang, tiada urusan denganmu."

Sementara itu Long Hongya, sudah memandang sekejap keseluruh ruangan kemudian tegurnya:

"Mereka berada didalam kamar yang mana?"

"Aku sendiripun tak tahu" sahut Kwan Hong agak tergagap, "soal ini harus ditanyakan kepada ciangkwee . ."

Leng Hongya benar benar merasakan hatinya amat gelisah, kalau bisa dia ingin segera menemukan Leng Ning-ciu dan menyeretnya pulang ke rumah, maka sambil melompat ke depan meja sang kasir, dia cengkeram kakek kurus kering dibelakang meja itu dan membentak:  "Di dalam kamar manakah tinggal seorang lelaki dan seorang perempuan . . . ?"

"Disaaa . . dikamar sana .." jawab sang kasir dengan tubuh menggigil karena ketakutan.

Lebg Hongya mendengus dingin, ia segera menyerobot ke depan kamar itu dan berteriak keras sambil menggedor pintu:

"Bocah keparat, menggelinding keluar kau" suasana dalam ruangan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun seakan akan tiada oraag yang berdiam disitu.

Leng Hongya makin naik pitam, sambil menendang pintu kamar itu keras keras, teriaknya lagi:

"Buka pintu... buka pintu!" "Siapa?"
Dari dalam kamar berkumandang suara teguran yang dingin dan kaku seperti suara es.

Leng Hongya yang sedang merasa gusar bertambah gusar lagi setelah mendengar suara jawaban tersebut, ibaratnya api bertemu minyak, dia segera mendongakkan kepalanya sambil tertawa seram.
Kemudian dengan suara dingin dia menegur.  "Nenek moyangmu yang telah datang, bocah keparat!
Cepat bukakan pintu untuk bapakmu. "Hmm. ." Sekali lagi berkumandang suara dengusan dingin dari dalam ruangan tersebut, menyusul kemudian pintu terbuka dan muncullah seorang pemuda berjubah biru bertopi hijau.
"Kau hendak mencari siapa?" tegur pemuda itu ketus. "Bocah keparat" teriak Leng Hongya amat gusar, "kau telah
menyembunyikan putriku di mana?"

Kwan Hong tertegun, ia tidak menyangka kalau pemuda yang munculkan diri itu bukan Liong Tian-im, melainkan seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenal.

Dia segera tahu kalau kesalahan paham ini berakibat fatal, maka cepat cepat dia berseru:

"Empek Leng, bukan dia."

"Apa ?" Leng Hong ya melotot besar sambil membentak, "mengapa tidak kau katakan sedari tadi ?"

Selama ini dia adalah seorang yang angkuh dan tinggi hati, tak pernah memandang sebelah matapun terhadap orang lain, tahu kalau salah oratfgj dia lantas berjalan menuju ke kamar yang lain, jangankan minta maaf atas kesalahannya, memandang sekejap pun tidak.
Dengan suara dingin pemuda itu segera berkata: "Kau sudah berteriak teriak dan berkaok-kaok macam
orang sinting, sehingga kami suami isteri berdua terbangun dari tidurnya, sekarang, apakah kau akan pergi dengan begitu saja?"

Leng Hong ya tertegun kemudian tertawa terbahak bahak. "Haaah, haah haaah, mau apa kau?"

"Jika kau tak tahu aturan, tentu saja aku mempunyai cara yang tak tahu aturan pula untuk menghadapi dirimu, mengapa kau tidak mencoba untuk bertanya kepada orang lain apakah aku Say hong kiam kek (jago pedang angin barat) It bun Bong adalah seorang manusia yang gampang dipermainkan."

Leng hong ya tidak menyangka kalau pemuda yang tekebur dia tinggi kiri ini tak lain adalah putra dari Hay sim sancu It bun Yau.

Setelah termangu mangu berapa saat, ia lau tas menegur. "Baik baikkah ayahmu ?" It bun Bong tertawa seram.
"Heeeh heeeh, heehe. terima kasih atas perhatianmu,  cuma sayang sekarang bukan saatnya bagi kita untuk membicarakan masalah tersebut tak perlu karena kau telah mengusikku, maka akupun tak akan melepaskan kau dengan begitu saja . .."

Dia melompat ke depan, tiba tiba saja telapak tangan kirinya melancarkan sebuah cengkeraman ke arah badan Leng Hongya.

Menghadapi serangan tersebut, Leng Hong ya nampak tertegi?n, dia seperti tidak menyangka kalau orang ini bernyali begitu besar sehingga terhadap dia pun berani turun tangan sedemikian kasarnya.

Setelah mendengus dingin ujarnya kemudian: "Kau masih selisih jauh sekali, sekalipun ayahmu datang sendiri juga tak berani bertindak sewenang wenang kepadaku
. ."

Bahunya bergerak sedikit, tahu tahu serangan yang sangat dahsyat itu berhasil dihindari dengan amat indah, bahkan telapak tangamya membalik dan secepat kilat membabat urat nadi lt bun Bong.

Tindakan semacam ini sama sekali diluar dugaan It bun Boog, membuat pemuda tersebut terkesiap dan cepat cepat mundur sejauh tujuh delapan Iangkah.
Kwan Hong buru buru maju kedepan sambil berseru: "Saudara It bun, dia adalah Leng Hongya, kita semua
adalah orang orang sendiri."

"Oooh ... rupanya empek Leng dari lembah Tee ong kok." seru It bun Bong sambil tertegun

Leng Hongya mendengus dingin, "Hmmm, seandainya tidak memandang di atas wajah It bun Hu, hari ini Leng Hongya pasti akan memberi pelajaran yang setimpal kepadamu"

lt bun Bong mengiakan berulang kali, buru buru mengundurkan diri kembali kedalam kamarnya.

"Ayah..."

Mendadak dari beIakang tubuh Leng Hong ya berkumandang suara panggilan merdu.

Leng Hongya segera merasakan seluruh tubuhnya gemetar keras, buru buru dia berpaling, tampak olehnya Leng Ning ciu sudah berdiri dibelakang tubuhnya dengan wajah murung, sedih tercampur ketakutan.

Memandang raut wajah putrinya yang lembut, Leng  Hongya merasakan hatinya menjadi hampir saja ia tak tahan
untuk menegur apalagi mendamprat putrinya yang dipelihara, dan dididik semenjak kecil itu.

Namun wajahnya masih tetap dingin seperti es, setelah mendengus berat teriaknya keras.

"Ning ciu, mana bocah keparat itu?" "Ayah. . siapa yang kau maksudkan."
"Aku maksudkan manusia tekebur yang berani melarikan putriku dan tidak memandang sebelah matapun terhadap keluarga Leng itu." seru Leng Hongya dengan nada tak   senang hati, "aku ingin menyaksikan apakah bocah tekebur itu mempunyai lima buah batok kepala."

Ketika Leng Ning ciu menyaksikan Leng Hongya dan Kwan Hong muncul bersama di situ, dia sudah tahu kalau urusan tersebut telah berkembang semakin besar, dia cukup memahami watak dari Leng Hongya ini, apabila sedang tidak berkenan dihati, bisa jadi dia akan turun tangan membunuh orang.

Sekarang mereka telah muncul disitu, hal ini berarti apabila Liong Tian im sempat bersua muka dengan Leng Hongya, niscaya akan berkobar suatu pertarungan sengit disana.

Dengan kepandaian silat yang dimiliki Leng Hongya, belum tentu Liong Tian im sanggup untuk menandingi kelihayannya, bisa jadi pemuda itu akan tewas ditangan ayahnya. Maka dari itu, dengan cepat dia memutar otaknya mencari akal, setelah itu serunya dengan cemas:

"Ayah, kau jangan mempercayai obrolan dari Kwan Hong !"

Kwan Hong menjadi tertegun, serunya cepat dengan suara gemetar.

"Si moay, kau . .."

"Kuperingatkan kepadamu, janganlah sekali kali kau coba untuk merenggangkan hubungan dari kami berdua" kata Leng Ning ciu sambil menarik mukanya, "apa yang telah kau lakukan pada hari itu, kau sendiri sudah jelas, janganlah mendesak diriku sehingga menyiarkan busukmu itu secara umum."

Paras muka Kwan Hong berubah hebat, serunya cepat.

"Si moay, bila ada persoalan katakan saja secara baik baik." Kemudian sesudah tertawa getir, lanjutnya.
"Empek Leng, siautit toh sudah bilang, mengurusi masalah semacam ini makin parah, tiada hasil apapun yang akan kuperoleh,serangan Si moay mendamprat siautit lagi . . aaai tahu begini aku tak akan sudi untuk mengurusi persoalan ini."

"Dalam hal ini aku tak akan menyalahkan dirimu." kata Leng Hong ya cepat.

Pelan-pelan dia maju dua langkah ke depan kemudian melanjutkan: "Ning ciu." muka Leng Ning ciu segera berubah hebat, buru buru serunya dengan gelisah, "Ayah, sekarang aku masih belum ingin pulang. aku ingin berkelana lebih dulu dalam dunia persilatan sebelum kembali ke Lembah Tee ong kok.
Ayah, apakah kau tidak lega hati membiarkan putrimu."

Leng Hong ya tertawa dingin.

"Heeh. . heeeh... aku hanya mempunyai seorang putri macam kau, tentu saja aku tak akan berlega hati membiarkan seorang anak gadis berkelana seorang diri dalam dunia persilatan kendatipun mengandalkan nama Tee ong kok kita, orang lain tak akan berani mengusikmu, tapi kelicikan dan bahayanya dunia persilatan sukar diduga, tak urung akan terjadi juga suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan."

Setelah menghela napas panjang, seperti menyimpan suatu persoalan yang merisaukan hatinya, dia berkata lebih jauh.

"Lagi pula ayah sudah tua, aku ingin mencarikan jodoh bagimu mumpung ayah masih hidup sekarang, bila persoalan ini bisa kuselesaikan dengan segera maka aku pun akan mati berlega hati."

Merah dadu selembar wajah Leng Ning ciu setelah mendengar perkataan tersebut serunya agak tersipu sipu:

"Putrimu masih kecil, lebih baik persoalan ini kita bicarakan lagi dikemudian hari-saja."

"Tidak !" seru Leng Hoagya dengan tegas, "sekarang juga kau harus pulang ke rumah, aku tak akan mengijinkan kau berkelana seorang diri dalam dunia persilatan, setelah kita pulang ke lembah Tee ong kok, aku akan segera memanggil orang untuk mempersiapkan perkawinanmu ini . . ."

Kwan Hong segera merasakan jantungnya berdebar keras sesudah mendengar perkataan itu, sambil maju ke depan timbrungnya:

"Si moay, apa yang diucapkan empek Leng merupakan kenyataan semua . . ."

Leng Ning ciu segera tertawa dingin tukasnya dengan cepat:

"Siapa yang suruh kau banyak berbicara ? ini adalah urusan kami ayah dan anak, kau yang tiada sangkut pautnya lebih baik jangan turut campur."

Untuk sesaat lamanya aka menjadi tertegun dan membungkam dalam seribu bahasa, malah setelah disemprot oleh Leng Ning cu dengan kata kata yang tajam dia menjadi gelagapan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Sikapnya yang tersipu sipu dan mengenaskan ini segera memancing semua orang yang berada dalam rumah penginapan itu mulutnya sambil tertawa terbahak bahak.
Leng Hongya merasa kasihan, maka segera bentaknya: "Ning ciu, kau tak boleh bersikap demikian terhadap Kwan
Hong, mengerti !"

"Huuuuh, sikapku ini masih terhitung sungkan." kata Leng Ning-ciu mendongkol "coba kalau sampai kemarahanku memuncak, dia akan lebih runyam lagi keadaannya." Leng Hongya segera berpaling dan berseru:

Kwan Hong, sekarang kau seret keluar bocah keparat tersebut, bila dia sudah kabur ketakutan, kuberi waktu selama tiga hari kepadamu untuk menyeretnya kembali."

Kwan Hong menjadi terkesiap setelah mendengar ucapan tersebut, serunya cepat cepat:

"Tapi. . empek Leng, aku tidak tahu dia tinggal dikamar yang mana?"

Baru saja dia hendak bertanya kepada Leng Ning cio, mendadak ia menyaksikan Liong Tian im sedang berjalan masuk dari depan pintu rumah penginapan ito, diam diam ia menjadi sangat kegirangan kepada Laug Hongya serunya dengan cepat:

"Empek Leng, itu dia orangnya. ."

Leng Hongya berpaling, dia menyaksikan seorang pemuda sedang membersihkan tubuhnya dari butiran air hujan yang melekat di badannya.

Melihat itu api amarahnya segera berkobar sambil tertawa seram segera teriaknya keras keras:

"Hei kau . kau si bocah keparat, cepat menggelinding kemari. . ."

Bentaknya itu membuat sang pemuda berkerut kening lalu mendongakkan kepalanya.

Menanti empat mata saling bertemu, Leng Hongya baru berseru dengan nada tercengang. "Ooooh, rupanya kau.,." Kemudian setelah berhenti sejenak dia menambahkan:

"Mana Bok toako mu?"

"Hmm, sejak berpisah di lembah Tee-ong kok hingga kini sudah cukup lama kita tak bersua." kata Liong Tian im dingin, "kini kau datang ditemani saudara Kwan, entah ada urusan apa."

Pemuda ini sungguh jumawa dan tinggi hati berhadapan dengan seorang tokoh berkedudukan tinggi pun sikapnya masih sinis dan menghina, bahkan berani berbicara sedemikain angkuhnya ke semuanya ini segera mengobarkan napsu membunuh di dalam hati Leng Hongya.

Dengan kening berkerut dan sepasang mata merah membara, dia mengawasi lawannya lekat lekat.

"Liong Tian im mengapa kau melarikan putriku?" tegurnya kemudian dengan suara menyeramkan.

Liong Tian im nampak tertegun setelah mendengar perkataan itu, dia tak menyangka kalau pihak lawan akan mengucapkan kata kata yang begitu tak sedap didengar.

Sesudah mencibirkan bibir, dia balas menanya dengan nada ketus:

"Apa maksudmu?"

"Aku menginginkan nyawamu. ." seru Leng Hongya dengan penuh kebencian.

"Ayah. ." Leng Ning ciu menjerit dengan suara yang memilukan hati, sementara air matanya berderai dengan derasnya membasahi pipinya yang putih dan halus.

"Ayah, mengapa kau menuduhnya dengan kata kata yang kasar?" keluhnya pedih.

Leng Hongya tertawa dingin.

"Heeehh. . heeh. . heeeh apa yang mesti kukatakan? Apakah hal ini bukan suatu kenyataan? kalau aku tidak menyusul tampil disini, siapa tahu apa yang hendak kalian lakukan lebih jauh . ? Hmmm."

Kwab Hong yang berada disisinya segera mengangguk berulang kali sambungnya:

"Ucapan dari empek Leng memang benar, seandainya kita tidak segera menyusul kemari, sudah pasti Si moay akan menderita kerugian. . bila sampai demikian. Oooh, benar benar suatu kejadian yang amat mengenaskan. ."

Rupanya orang ini telah mengarahkan ucapannya ke hal-hal yang jorok dan cabul.

Kontan saja Leng Ning ciu melotot besar karena marah, sebaliknya paras muka Liong Tian im berubah hebat.

"Kwaa Hong, kau manusia rendah yang tak tahu malu." bentak Liong Tian im kemudian dengan gusarnya.

Kwan Hong menjengek dingin. "Hmm aku Kwan Hong memang bukan seorang lelaki sejati, namua akupun tak akan berlaku seperti kau, menipu dan menggaet seorang anak gadis yang belum tahu urusan . ."

"Apa ?" teriak Liong Tian im semakin gusar, "kau berani berbicara sembarangan ?"

Sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu itu dialihkan ke wajah Kwan Hong dan menatapnya lekat lekat.

Kwan Hoag menjadi bergidik hatinya, untuk sesaat dia menjadi gelagapan dan tak mampu menjawab, akhirnya dengan ketakutan dia menyembunyikan diri dibelakang Leng Hongya.

Leng Hongya segera mendengus dingin.

"Hmm, nampaknya kau ingin berlagak di hadapanku..." jengeknya sinis.

"Tidak berani, tapi dihadapanmu siapa saja akan berlagak. .
."

Leng Hongya betul betul gusar sekali, dia mengayunkan tangannya dan secara tiba tiba menghajar ke arah sikut Liong Tian-im.

Tindakan ini sama sekali diluar dugaan Liong Tian im, memaksanya harus berganti posisi sambil melancarkan serangan balasan.

"Blaaaamm. ."

Benturan dari sepasang telapak tangan itu menimbulkan suara ledakan yang keras dan memekikkan telinga, dinding ruangan bergoncang keras seperti mau roboh, membuat semua orang yang berada dalam rumah penginapan itu kabur tunggang langgang, kuatir menjadi korban.

Dengan suara dingin Leng Hong ya berseru:

"Hmm, tampaknya kau sibocah keparat hebat juga, baru berpisah berapa hari, tenaga dalammu telah memperoleh yang amat pesat."

Baru saja dia akan melancarkan serangan lagi mendadak Leng Ning ciu menyelinap ke hadapannya dan berseru sambil menggoyang tangannya berulang kali.

"Ayah, jangan turun tangan."

Orang bilang: Bila gadis sudah dewasa, dia akan lebih condong keluar.

Nyatanya ucapan ini memang benar.

Leng Hongya tidak menyangka kalau putrinya tak segan menurunkan derajat sendiri dengan membelai orang lain, kemarahan yang sudah memuncak, kini makin menjadi-jadi.

"Enyah kau!" bentaknya kemudian.

"Tidak!" bantah Leng Ning Ciu sambil menantang. "Tidak ayah, bila kau hendak menghadapi Liong Tian im maka putrimu akan segera mati disini, dia adalah orang baik, kau tidak seharusnya bersikap demikian terhadapnya."

"Hmm..." Kwan Hong mengejek sinis, "Si moay, keliru besar bila kau bersikap demikian, empek Leng bersusah payah datang kemari, tujuannya tak lain adalah untuk menjatuhi hukuman kepada keparat tersebut, tapi kau..."

"Tutup mulut..." bentak Leng Ning ciu dengan wajah membesi "enyah kau dari sini!"

Pengusiran secara kasar dari Leng Ning ciu ini benar benar meletakkan Kwan Hong dalam posisi yang serba susah, tindak tanduknya yang memojokkan, membuat dia merasa amat kehilangan muka.

Paras muka Kwan Hong segera berubah hebat dia merasa api amarahnya, meski sudah berkobar hingga mencapai pada puncaknya, namun ia tidak berani memberikan pernyataan apapun, terpaksa katanya sambil tertaw kering:

"Si moay mau apa kau?"

"Tiada persoalan yang akan aku bicarakan denganmu." seru Leng Ning ciu dengan wajah dingin, "tempat ini
merupakan usaha dagang orang, kau jangan mengacau usaha orang lain mencari uang, Kwan Hong, enyah kau dari sini, kalau tidak aku tak akan mengenalimu lagi."

Saking marahnya Kwan Hong tertawa seram.

"Heehee .. empek Leng, tampaknya aku harus bermohon diri lebih duIu, Si moay akan tidak begitu merasa senang menyaksikan kehadiranku disini, anggap saja siautit yang banyak urusan sehingga mencampuri urusan yang sama sekali tiada sangkut pautnya dengan diriku ini aaaii, nampaknya jadi orang baik pun sukar."

Leng Hongya sendiri pun merasa tak tahan oleh sikap putrinya itu, namun dia pun merasa enggan untuk mendamprat putrinya dihadapan orang banyak, maka segera memberi tanda kepada Kwan Hong dengan kerlingan mata, katanya.

"Kau tak usah pergi, memang beginilah watak dari Ning ciu, dikemudian hari kau pasti akan terbiasa dengan wataknya tersebut,"

Sesungguhnya Kwan Hong memang merasa berat hati untuk meninggalkan tempat itu, namun karena dia diletakkan
pada posisi yang tak enak dan selalu dipojokkan oleh keadaan, terpaksa dia harus keraskan kepala untuk pergi dari situ.

Maka ketika Leng Hongya yang justru menahannya tetap berada disitu segera berkenan dalam hatinya, setelah tertawa dingin katanya.

"Empek Leng, kau suruh siautit tetap tinggal disini, meski siautit punya nyali yang lebih besarpun aku tak akan berani menolak perintahmu, akan tetapi aku lihat sikap Si moay sedikit rada tak beres, seolah olah dia merasa hatinya lega apabila siautit sudah menyingkir dari sini, maka aku lihat lebih baik siautit menyingkir saja lebih dahulu, bila sikap Si moay sudah rada baikan barulah aku datang lagi minta maaf kepada Si moay sekalian memenuhi seruan empek Leng."

OOOOOJOOO

Leng Hongya tertawa terkekeh kekeh dengan serunya.

"Kau tak usah ribut dengan Ning ciu, belakangan waktu sudah berkumpul dalam serumah sekalipun dalam sikapnya ada yang tak beres kau sudah seharusnya... sudah seharusnya mengalah sedikit."

Dia memang ada maksud untuk menganggap pemuda itu sebagai menantunya meski, niat tersebut tak berani di utarakan secara blak-blakan, namun bisa ditangkap dari nada pembicaraannya.

Kwan Hong bukan seorang manusia tolol, selama ini dia memang sedang menunggu kesempatan baik untuk di tunggangi.

Maka begitu kesempatan yang dinantikan telah tiba, tentu saja dia tak akan melepaskannya dengan begitu saja, buru buru serunya sambil tertawa:

"Tentu saja... tentu saja, apa yang telah empek Leng pesankan, sudah pasti akan siautit laksanakan heheheee, usia si moay masih muda, dia memang gampang terpengaruh oleh bujuk rayu picisan dari kaum manusia bermoral bejad, sebab dia terlalu sedikit memahami kehidupan dalam masyarakat ini, dia tidak mengetahui betapa licik dan berbahayanya manusia didunia ini, banyak diantara mereka yang berpura pura baik, padahal perbuatannya semua hampir merupakan perbuatan yang merugikan banyak orang."

"?aatn tahun, aku pernah menjumpai saatu peristiwa di keresidenan Siang-than dalam propinsi Oh tam, peristiwa tersebut hampir sama dengan kejadian pada hari ini. Rakyat yang hidup di Siant than kebanyakan hidup sederhana tapi gembira."

"Ditempat itu terdapat seorang hartawan she Lim yang mempunyai seorang putri bernama Siau giok, dia masih kecil dan tidak begitu memahami terhadap persoalan di dunia." "Suatu hari, dia berkenalan dengan seorang pemuda, pemuda itu berjiwa bejad dan banyak sudah melakukan kejahatan, ketika Si kemuda suatu ketika berkelana sampai di Siang than, ia jadi tertarik ketika bertemu dengan Siau giok yang berparas cantik itu.

"Dengan berbagai bujuk rayu akhirnya dia berhasil menipu Siau giok untuk diajak pergi ke luar desa, bahkan berhasil pula menggaet sejumlah kekayaan dari hartawan Lim tersebut."

"Seandainya pemuda itu mau hidup hemat dan jujur, sudah pasti kehidupannya akan sangat gembira, siapa sangka,  setelah berada di luar desa, ia mulai mempermaikan Siau giok, bahkan akhirnya memaksa Siau giok untuk melayani tamu tamu yang membayar kepadanya."

"Dalam keadaan itulah, secara kebetulan siautit lewat disitu setelah kudengar berita ini, segera kubunuh pemuda laknat tersebut dan menghantar Siau-giok pulang kedusunnya."

Berbicara sampai disini, dia lantas tertawa bangga, kemudian melanjutkan:

"Empek Leng, dilihat dari contoh peristiwa tersebut, dapat disimpulkan kalau dalam dunia ini terdapat beraneka ragam manusia yang bertujuan untuk mencapai maksudnya saja tanpa memperdulikan tindakan macam apakah yang dia gunakan."

"Enyah kau dari sini !" bentak Leng Ning ciu dengan gusar, "tak ada orang yang menyuruh kau menjual jamu disini !"

Kwan Hong melirik sekejap kearah Liong Tian im, kemudian katanya lagi. "Si moay, apa yang kuceritakan barusan semuanya merupakan suatu kenyataan !"

"Bagus sekali." seru Leng Hongya cepat, "kau memang seorang pemuda yang hebat, seorang pemuda yang mempunyai masa depan cemerlang, semangat menolong kaum lemah memang merupakan prinsip utama dari seorang umat persilatan, walaupun orang persilatan menolong tanpa pamrih, tapi bila bertemu dengan kasus seperti itu memang sudah merasa seharusnya bila kau turun taman membantu."

Buru buru Kwan Hong berseru sambil tertawa:

"Ah. mana, mana, siautit hanya secara kebetulan saja menjumpai peristiwa ini !"

Orang ini benar benar bermuka tebal, hampir setebal dinding tembok besar, setelah mengobrol kesana kemari, dia lantas berbangga hati menerima pujian orang.

Pada saat itulah, dari antara keramaian orang yang turut mendengarkan obrolan tadi muncul seseorang yang berdandan seperti seorang saudagar.

Setelah maju beberapa langkah kedepan dia menjura seraya berkata:

"Saudara, maaf bila aku menimbrung, aku Lim Tay pia merasa kagum sekali atas semangat saudara yang bersedia menolong kaum lemah dari penindasan, cuma aku merasa  agak heran dan ingin menanyakan berapa hal kepada saudara, mohon sudilah kiranya saudara memberi petunjuk sehingga kecurigaan dan ketidak mengertianku menjadi terbuka."

"Katakanlah sianseng" kata Kwan Hong dengan bangga. Lim Tay pia segera tertawa tergelak, "Haahaahaaa betulkah saudara sudah berkunjung ke Siang than?"

Kwan Hong agak tertegun, kemudian dengan nada tak senang sahutnya:

"Siang than di propinsi Oh lam adalah sebuah tempat yang indah dengan kehidupan rakyatnya yang sederhana, berhubung aku ada hal ingin menyelesaikan suatu persoalan disitu, aku pernah bermain selama beberapa hari disana .."

"Oooh, mengenai hartawan she Lim dari Siang tha yang saudara ceritakan tadi, apakah saudara masih ingat siapa nama aslinya ?"
Kwan Hong menjadi tertegun, kemudian sahutnya. "Kejadian ini sudah berlangsung cukup lama, bagaimana
mungkin aku bisa mengingatkan dengan jelas ? Tapi yang jelas hartawan itu she Lim tapi . . mengapa kau menanyakan persoalan ini ?"

"Waah. . aneh kalau begitu." seru Lim Tay pin sambil menepuk kepala sendiri, yang jelas di kota Siang than propinsi Oh lam hanya terdapat satu keluarga she Lim, bila saudara berkata demikian hal ini sudah pasti tak akan cocok dengan kenyataannya."

Kwan Hong yang mendengar perkataan itu menjadi naik pitam, segera benjaknya keras-keras.

"Kau ini manusia macam apa?, berani benar mengucapkan perkataan yang tidak-tidak. Siang tham luas tempatnya, darimana kau bisa tahu kalau di sana hanya terdapat satu keluarga she Lim saja? Aku lihat, lebih baik kau segera pergi saja, aku tak punya waktu untuk ribut denganmu..."

"Sobat, ada sepatah kata yang kurang sedap didengar." kata Lim Tay pin serius, "aku Lim Tay pin sudah lima generasi hidup di Sang-tham, selama ini belum pernah ada keluarga Lim kedua disana, kalau didengar dari cerita saudara tadi, sudah jeIas keluarga kami yang dimaksudkan, terus terang saja kami merasa tak terima dengan cerita bualan yang saudara ucapkan tadi, sebab hal ini akan merusak nama baik keluarga kami.."
"Soal ini..." Kwan Hong menjadi tertegun. "Haahaahaaa..." ketika para tamu menyaksikan cerita
bualan dari Kwan Hong kena dibongkar oleh saudagar she Lim itu, tak tahan lagi tertawa terbahak-bahkan, bahkan banyak diantaranya yang segera berlalu dengan pandangan sinis.

Kwan Hong menjadi gusar sekali sehingga paras mukanya berubah hebat, keadaannya tampak lebih mengenaskan lagi.

Ternyata Lim Tay pin cukup tahu diri, dia segera mengundurkan diri dari situ.

Dengan cepat Kwan Hong melompat ke depan dan menghadang dihadapannya, kemudian dengan suara dingin bentaknya.

"Sobat, maknya kau, siapa suruh kau mengaco belo tak karuan disini?"

Walaupun Lim Tay pin hanya seorang saudagar, namun dia bukan seorang yang takut ancaman, maka ketika dilihatnya Kwan Hong mencengkeram tubuhnya secara kasar, dia segera membentak dengan marah:

"Hai, kau tahu aturan tidak? Semua yang ku ucapkan adalah kenyataan yang sebenarnya, Siang than adalah dusun kelahiranku peristiwa apa pun yang terjadi disana tak pernah akan terkelabuhi dimata kami, apalagi persoalan yang kau ceritakan tadi justru berlangsung di rumahku, aku wajib membersihkan keluargaku dari fitnahan yang keji itu. ."

Saudagar ini benar benar tidak takut mati, bukan saja dia tak gentar menghadapi kematian bahkan masih berani menunjukkan sikap yang keras kepala.

Kwan Hong segera mengangkat telapak tangannya kiri sambil membentak gusar. "Kubunuh kau. ."

Rupanya Kwan Hong tahu kalau tak bisa membebaskan diri dari posisi yang sangat memojokkan dirinya itu, dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa dia mengambil keputusan untuk turun tangan dengan kekerasan.

Baru saja dia mengangkat telapak tangannya, suasana diempat penjuru menjadi heboh, orang pada menuding ke arah Kwan Hong sambil mencaci maki.

"Tahan!"

Liong Tian im melompat kedepan dengan cepat lalu membalikkan tangannya mencengkeram telapak tangan kiri Kwan Hong, lalu bentaknya keras keras:

"Sekarang kau boleh melepaskan tanganmu!" Waktu itu Kwan Hong sedang diliputi amarah yarg membara bara namua tiada tempat melampiaskan, maka dilihat Liong Tian im mengayunkan tangannya sambil melancarkan cengkeraman, dia segera mengebaskan tangan kirinya sambil membentak:

"Penipu yang tak tahu malu, kau memang anaknya, anak jadah. ."

\Dengan cepat dia melepaskan Lim Tay pin, kemudian kepalan kanannya diayunkan kedepan langsung menghantam ke dada Liong Tian im.

Angin pukulan yang menderu deru membuat serangan itu nampak menyeramkan sekali.

"Hmm. . !"

Liong Tian im mendengus dingin, tubuhnya melayang cepat kesamping untuk meloloskan diri dari serangan dahsyat itu, kemudian tegurnya ketus.

"Kau mengumpat siapa? Orang she Kwan, mari kita adu kepandaian. ."

Baru saja dia hendak melancarkan serangan ke arah Kwan Hong, mendadak Leng Ning ciu memburu ke maka dengan wajah amat murni, kemudian sambil tertawa lembut kepada Liong Tian-im, katanya halus:

"Liong, mari kita pergi saja, percuma ribut dengan manusia kasar seperti ini . ." "Betul" sahut Liong Tian im sambil tertawa dingin pula, "ribut dengan manusia seperi ini pada hakekatnya hanya akan menurunkan derajat kita sendiri"

Dia membalikkan badan dan berjalan bersanding dengan Leng Ning ciu untuk beranjak pergi dari situ.

Menyaksikan sikap mesra mereka berdua, Kwan Hong jadi tertegun, lalu api cemburu berkobar di dalam dadanya membuat dia hampir saja tak mampu untuk mengendalikan diri.

Dengan suara gemetar ia segera berseru:

"Si moay, mengapa kau pergi bersama manusia macam begitu.."
Leng Ning ciu berpaling dan menyahut sinis: "Mengapa dengan dia ? Hmm, dibandingkan dengan
manusia tak punya liangsim macam kau, sungguhnya dia jauh lebih hebat daripadamu Kwan Hong, aku tak akan memperdulikan dirimu lagi, kau pun tak usah datang mencariku lagi."

Kwan Hong memandang tertegun bayangan punggung
Leng Ning-ciu yang beranjak pergi, suatu perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata kata menyelimuti hatinya, dia menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah kata katapun yang sanggup diutarakan keluar.

"Ning ciu !" Leng Hong ya tak bisa mempertahankan sikap tenangnya lagi, ia tahu sudah kelewat banyak rasa mendongkol yang dialami Kwan Hong hari ini, maka dia meletik kedepan dan menghadang Leng Ning ciu.

Memandang putrinya yang semenjak kecil sudah kehilangan kasih sayang ibunya ini, dia besar benar merasa amat pedih.

Selama ini, dia menganggap Leng Niig ciu melebihi nyawa sendiri, dia tahu bahwa dia tak mampu kehilangan dia, sebab dia adalah satu satunya darah dagingnya.

Tapi tingkah lalu gadisnya diluaran cukup membuat orang tua itu bersedih hati, harap saja ia tak percaya kalau seorang gadis bisa meninggalkan orang tuanya demi menyusul kasih hatinya, tapi duduk persoalannya sudah menjadi jelas sekarang, sedemikian jelasnya sehingga tak mungkin dihapus lagi.

"Nak, apakah ayahmu sendiri pun sudah dak kau maui." keluh Leng Hongya sedih.

Dibelakang ucapan yang memedihkan hal itu sudah berkumandang suara helaan napas yang memilukan.

Ketika helaan napas yang membuat hati orang menjadi  kecut ini menembusi hati Leng Ning ciu, tiba tiba saja sekujur tubuhnya gemetar keras. dia sama sekali tak menyangka kalau ayahnya begitu tangguh dan gagah akan bersedih hati hingga sedemikian rupa oleh tindakannya yang tidak berbakti.

Air mata mengembang didalam kelopak matanya dan meleleh keluar menyusul helaan napasnya yang mengenaskan dengan sedih dia membalikkan badan lalu memanggil dengan suara gemetar:

"Ayah. ."

Hampir saja dia ingin menubruk ke dalam pelukan Leng Hongya dan menangis tersedu.

Akan tetapi suatu niat yang kuat menekannya untuk berbuat demikian, dia tahu, bila ia sampai menunjukkan sikap yang lemah, sudah pasti Liong Tian im dan dia akan berpisah untuk selamanya dan tak mungkin akan berkumpul kembali.

Dihadapkan pada pilihan antara kekasih dan orang tua, dia rela kehilangan yang terakhir daripada kehilangan yang pertama, sebab dihati kecilnya yang pedih tak bisa kehilangan Liong Tian-im, ia cukup memahami keadaan sendiri, bila dia kembali ke lembah Tee ong kok kali ini maka hanya kesepian dan sebatang kara yang menemani disampingnya melewati masa depan, jangan harap dia bisa meloloskan diri dari kurungan tak berwujud itu dengan begitu gampang.

Leng Hongya sendiri amat mencintai putrinya, kesepian diusia tua membuat kakek yang berambisi besar ini tak mampu bersikap lebih leluasa, dia cukup mengetahui akan ketuaan dan kelemahan yang mulai merongrong dirinya.

Lambat laun air mata mulai mengembang pada dalam kelopak matanya, dengan pedih ia berkata:

"Ning ciu, masih ingatkah kau dengan ayah?"

Leng Ning ciu mendongakkan kepalanya dengan perasaan tercekat, lalu sahutnya gemetar: "Ayah, ananda tak pernah akan melupakan kau orang tua."

Leng Hongya tertawa pedih, namun muncul pula perasaan terhibur dalam hati kecilnya dari perkataan Leng Ning ciu tersebut, ia tahu kalau putri kesayangannya belum meninggalkan dia, itulah sebabnya dalam hatinya yang hampir mengering, terbentik setitik kehangatan.

Dengan sedih ia berkata:

"Asal kau masih ingat dengan ayahmu, akupun merasa lega, mungkin kau telah dewasa, kau menganggap aku sebagai seorang ayah sudah tidak terlalu penting lagi, semenjak ibumu meninggal setelah melahirkan kau hingga
kini, aku bisa bertahan hidup hingga kini karena demi kau, kau harus tahu aku amat mencintai ibumu sudah banyak orang yang akan mencarikan jodoh bagiku, tapi semuanya kutampik karena apakah itu? Karena kau tak boleh mempunyai ibu tiri, aku tak ingin hubungan yang tidak serasi antara putriku dan ibu tirinya, akupun tak ingin kau bersedih hati karena kehadiran ibu tirimu."

"Ayah, aku tahu kalau kau sangat baik kepadaku.. " bisik Leng Ning ciu sedih.

Leng Hongya tertawa getir, kembali ujarnya:

"Aku senang kalau kau bisa mengetahui perasaan ayah, semenjak kau hadir didunia ini, aku telah menganggapmu sebagai nyawaku, aku tahu kalau aku tak bisa hidup tanpa kau, setiap hari menyaksikan kau bertambah dewasa, kegembiraan yang ayah dapati jauh berbeda dengan kegembiraan orang lain dan tak mungkin orang lain bisa memahaninya. Tapi dikalau kau benar benar sudah menginjak dewasa, makin lama ayah merasa semakin agak ngeri jika suatu saat kau akan pergi meninggalkan aku, sebab suatu saat kau toh akan menemukan jodohmu, oleh sebab itu seringkali aku berpikir untuk mencarikan seorang yang cocok untuk dijodohkan kepadamu. kau tahu persoalan semacam ini hanya bisa dijumpai tak bisa diminta, persoalan yang kita takuti terlalu banyak, seperti watak orang itu, raut wajahnya perangainya, ilmu silatnya, asal usulnya, kesemuanya itu harus diselesaikan dulu secara ketat sebelum menjatuhkan pilihannya, oleh sebab itulah para remaji seperti jadi tertunda sampai bertahun tahun," Setelah tertawa ringan, dia melanjutkan.

"Setelah kulakukan pengumpuIan bahan dari perbagai wilayah, akhirnya ayah berkesimpulan bahwa dalam dunia persilatan dewasa ini hanya ada dua tiga orang saja yang pantas untuk dijodohkan kepadamu, tapi berhubung terdapat perbedaan paham dan aliran maka setelah berpikir pulang pergi kurasakan hanya satu orang saja yang sekiranya bisa dikatakan sesuai."

Kwan Hong yang mendengar sampai disini segera merasakan jantungnya berdebar keras, dia sangat berharap Leng Hongya sudi menyebutkan namanya agar dia bisa jual tampang dan lagak didepan Liong Tian im.

Sayang sekali Leng Hongya cukup tahu diri, disaat yang paling penting inilah dia segera menghentikan perkataannya.

Walaupun waktu itu Leng Ning ciu sedang berada dalam keadaan sedih, namun setelah mendengar Leng Hongya membicarakan tentang masalah perkawinannya, dia menjadi tersipu sipu dengan wajah memerah, buru buru dia metiuridukkan kepalanya rendah rendah. Dengan perasaan tak tenang dan kemudian "Ayah, usiaku masih muda, persoalan ini lebih baik kita bicarakan dikemudian hari saja. .."

Dengan cepat Leng Hongya menggelengkan kepalanya berulang kali, tukasnya:

"Usiamu sudah tidak terhitung kecil, gadis berusia tujuh delapan belas tahun ibaratnya sekuntum bunga, bila sudah lewat tiga puluh tahun maka dia akan berubah menjadi bunga yang layu, Nak, bagaimana pun juga seorarg gadis pasti akan menemukan jodohnya, aku toh tak bisa memeliharamu sepanjang tahun di rumah . . . "

Setelah menghela napas panjang, terusnya: "Ning-ciu, kau memahami perkataanku bukan ?"
"Yaa, aku mengerti, ayah memang sangat baik kepadaku .
."

"BiIa kau sudah mengerti mari kita segera pulang kerumah..." seru Leng Hongya dengan mata mencorongkan sinar tajam.

Sekujur tubuh Leng Ning ciu segera gemetar keras: "Aku..."
Hampir saja dia merasa tidak berdaya untuk menampik permintaan ayahnya yang sudah lemah itu, tapi kalau dia disuruh pulang kembali ke Tee ong kok, sesungguhnya diapun betul betul merasa enggan. "Akan tetapi, permintaan ayahnya tidak termasuk kelewat batas, ia tidak mempunyai kemampuan untuk menampik lagi."

Memanfaatkan kesempatan ini, Leng Hong ya berkata lagi sambil tertawa:

"Seorang anak gadis kurang baik jika harus menggembara terus ditempat luar, andaikata sampai terjadi sesuatu peristiwa yang tidak di inginkan, bukan saja akan merugikan masa depanmu selanjutnya, bahkan ayah sendiripun tidak bisa memberikan pertanggungan jawab kepada dunia persilatan."

Kwan Hong juga memanfaatkan kesempatan itu untuk berseru sambil tertawa seram:

"Si moay, perkataan dari empek Leng memang betul, harap kau suka memilih dengan menggunakan kecerdasanmu, janganlah menampik maksud baiknya, lagipula . . ."

Dia sengaja melirik sekejap ke arah Liong Tian-im, kemudian baru melanjutkan:

"Pihak lawan tak lebih cuma seorang gelandangan, berbicara soal kedudukan perangai dan asal usal, dia masih tidak terhitung seberapa, masuk hitunganpun tidak, bila kau berjalan bersamanya, hal ini bisa mempengaruhi pamor serta nama besar dari lembah Tee ong kok, bila sampai nasi menjadi bubur . , heeh heeh .. heeh .. mungkin Si moay ingin menyesal pun tak sempat lagi. ."

"Tutup mulut" bentak Leng Ning ciu gusar "siapa suruh kau banyak berbicara ? Urusan ini merupakan urusan pribadiku sendiri yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Jit gwat san kalian, bila kau masih tak tahu diri disini, hati hati kalau aku akan bertindak kasar kepadamu." "Si moay!" seru Kwan Hong agak tersipu "disinilah letak ketidak benaranmu, aku toh menasehatimu secara baik, hal ini bukan urusanmu saja, apalagi hubungan antara Jit gwat san dengan Lembah Tee ong kok memang sangat erat, sudah sepantasnya bila siaute memperhatikan keadaan pribadimu..."

"Terima kasih" tukas Leng Ning ciu, "sayang aku tak sudi menerima kebaikanmu itu" lebih baik kau memperhatikan orang lain saja .."

Merah padam selembar wajah Kwan Hong karena mendongkol dengan cepat dia berpaling ke arah Leng Hongya sambil berseru.

"Empek Leng, ku rasa kau perlu menerangkan dulu kedudukan siautit bila Leng si moay masih saja membuat susah diriku pada hakekatnya aku tak bisa berbicara lagi."

"Baik" ujar Leng Hongya "Ning ciu, kau seharusnya bersikap demikian terhadapnya, dia adalah seorang pemuda yang jujur, merupakan seorang jago yang menonjol sekali ayah..."

Dia berhenti sejenak, lalu dengan agak lantang, dia menambahkan lebih jauh:

"Aku benda menjodohkan kau kepada keluarga Kwan"

Kwan Hong memang seorang lelaki licik yang pandai memanfaatkan kesempatan, begitu Leng Hongya menyatakan niatnya untuk menjodohkan Leng Ning ciu kepadanya, dia menjadi kegirangan setelah mati, seketika itu juga semua kemangkelan dan rasa mendongkol yang dialaminya tadi tersapu lenyap dari dalam hatinya. Buru-buru dia menjatuhkan diri berlutut sembari berseru. "Menantu memberi hormat kepada Gak tayjin."
Leng Hongya segera memayangnya bangun sembari berkata.

"Bangun, bangunlah, selanjutnya kita adalah orang dari sekeluarga .."

Keputusan yang diambil secara tiba tiba ini sama sekali diluar dugaan, ini ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, seketika itu jiga membuat tubuh Leng Ning ciu bergoncang keras.

Hampir saja dia tak percaya kalau ayahnya akan mengambil keputusan begitu cepat, bahkan kebahagiaan putrinya pun dikesampingkan.

"Ayab, kau . ." saking sedihnya Leng Ning ciu sampai tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya.

Sambil menggelengkan kepadanya berulang kali Leng Hongya tertawa getir, katanya.

"Kejadian ini merupakan suatu kejadian besar, suatu peristiwa besar yang patut digirangkan. ."

Mak-ya kalau dibilang peristiwa ini merupakan suatu peristiwa besar yang patut digirangkan, dia tak pernah memikirkan kalau keputusan yang diambilnya itu ibarat membuat si nona dalam kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan kebencian. . Kalau Leng Ning ciu merasa kesedihan setengah mati dan menangis tersedu sedu, maka ada seorang lain yang justru merasa gembira. Dalam hati kecilnya dia merasa sangat kegirangan, namun diluarnya dia berlagak seolah-olah merasa sedih, setelah berpaling beberapa kali kearah Leng Hongya, dia menggelengkan kepala dan maju kedepan seraya berkata.

"Leng gak-hu (ayah mertua), mari kita mengajak Ning ciu pulang ke rumah."

Kwan Hong memang seorang yang benar benar licik, dia tahu kurang baik bila membiarkan calon istrinya menangis tersedu sedu ditempat seperti ini, apalagi kalau sampai ketahuan orang akan duduk persoalannya yang sebenarnya, mereka sudah pasti akan mentertawakan kejadian tersebut.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 26"

Post a Comment

close