Cincin Maut Jilid 24

Mode Malam
Jilid 24

JERITAN NGERI yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan, selembar nyawapun melesat kembali dari dalam jasad kasar Hu to Jin dan lenyap dibalik kegeIapan malan.

Menyaksikan kematian yang datangnya beruntun terhadap anak buahnya, lama kelamaan Kwan Lok-khi habis juga kesabarannya, terutama sekali terhadap kematian dari Ciong Ki yang sial dan Hu to Jin yang apes.

Tiba-tiba saja muncul perasaan iba dalam hati kecilnya, sementara itu Liong Tian im telah menyimpan patung Kim mo sin jinnya dan berkata dengan suara hambar:

"Kwan tongkeh, agaknya kita berdua harus menyelesaikan sendiri persoalan ini." Kwan Lok-khi tertawa seram.

"Heehh, heeeeh, heeeeh, saudara, malam ini kau telah unjuk gigi dihadapanku, selama berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah aku orang she Kwan dipecundangi orang seperti ini. Baik! Memandang pada kepandaian silat yang kau miliki ini, rasanya kurang baik bila aku berpeluk tangan belaka."

Kemudian setelah tertawa tergelak dengan suara nyaring, ia menambahkan lebih jauh:

"Kita ibaratnya perahu di laut, sampan di sungai, sebelum tenggelam tak pernah berakhir, namun kau pun harus mengerti selamanya aku Kwan Lok khi cukup bersetia kawan, menyaksikan keberanianmu untuk berkunjung ke bukit Jit gwat san ini, aku bersedia memberikan sesosok jenasah yang utuh bagimu."

"Setelah mendengar ucapanmu itu, bila aku Liong Tian im masih tak tahu diri, ini berarti kurang tahu diri namanya." jengek sang pemuda dingin, "Kwan ya, asal kau mampu lakukan, silahkan saja segera dilaksanakan."

"Hmm. sebetulnya aku orang she Kwan berniat untuk menghadiahkan tujuh delapan lembar nyawa itu untukmu, sayang sekali anak buahku tak ada yang setuju meski kita berdua pernah punya hubungan, namun nyawa-nyawa yang hilang itu tiada hubungan denganmu, maka aku kira lebih baik kita selesaikan saja persoalan ini dengan adu kekerasan."

"Sudahlah Kwan ya, lebih baik tak usah ngebacot terus  yang bukan-bukan, apa yang kau inginkan pasti akan kulayani
!" Keadaan Kwan Lok khi sekarang ibaratnya perahu naga yang terjungkal dalam pecomberan, seluruh kemangkelan hatinya tak terlampiaskan rasanya, apalagi menghadapi Liong Tian im yang "Bun bu cuan cay" (menguasai ilmu sastra maupun ilmu silat) ini, ia benar-benar tidak berkutik.

Dengan wajah dingin dan tubuh tergetar keras karena marah ia membuat suatu gerakan melingkar ditengah udara dengan telapak tangan kanannya, kemudian sambil tertawa terbahak bahak serunya lantang:

"Haahahaaha berhati-hatilah saudara, telapak tanganku ini lebih keras dari pada baja."

Begitu selesai berkata, mendadak dia melejit ke udara lalu menyerobot maju ke depan, telapak tangannya yang besar secepat sambaran petir mencengkeram ke depan. terutama sekali kelima jari tangannya yang tajam bagai pisau, benar benar mengerikan sekali.

Akan tetapi Liong Tian im bukan lentera yang kehabisan minyak, menyaksikan serangan lawan yang meluncur tiba, meski hatinya terkesiap dan terkejut, namun serta merta senjata patung Kim mo sin jinnya didorong ke depan menyongsong datangnya serangan Kwan Lok khi.

Namun gerak serangan dari Kwan Lok khi ini tak mungkin bisa dihadapi dengan mudah, jangan JifihM reaksi dari Liong Tian im cukup cepat, namun diapun mengerti serangan patung Kim mo sin-jin tersebut paIing banter hanya bisa menggetarkan tubuh lawan, bila ingin melukai lawannya itu, mungkin akan lebih sulit daripada naik ke langit.

Dengan suatu gerakan yang lincah Kwan Lok-khi menghindarkan diri dari serangan lawan, mendadak telapak tangannya dibalik lalu ditolak kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat langsung saja meluncur ke depan dengan kekuatan yang mengerikan.

Liong Tian-im terkesiap, dia merasakan daya tekanan yang menindih tubuhnya makin lama semakin bertambah besar . . .

"Blaaamm . .. !"

Untung saja angin serangan tersebut tertahan oleh dinding gua yang tebal, coba kalau tidak begitu, niscaya Liong Tian im sudah kena terdesak mundur sejauh tujuh belas delapan belas langkah lebih.

"BIaaammm .. . !" angin serangan yang menggasak dinding gua menyebabkan batu dan pasir berguguran ke bawah dan mengotori seluruh wajah Liong Tian im.

Kwan Lok khi segera mendesak Iebih kedepan, sambil tertawa seram jengeknya:

"Sobat, lebih baik berbaring saja disini dengan tenang. . ."

Sebuah sodokan jari tangan langsung di arahkan ke bawah ketiak si anak muda tersebut.

Kendatipun Liong Tian im termasuk seorang jagoan lihay dalam deretan jago-jago muda, namun bila harus bertarung melawan cikal bakalnya kaum gembong iblis seperti Kwan Lok khi, keadaan mana ibaratnya setan besar bertemu setan kecil, tidak sampai berapa gebrakan kemudian, ia sudah dibikin kerepotan dan kalang kabut tidak karuan, bentakan setelah totokan jari tangan itu, dia benar benar dibikin terpantek kaku diatas tanah tanpa bisa berkutik. 

Tak terlukiskan amarah si anak muda tersebut menghadapi situasi seperti ini, sambi melotot gusar dengan hati yang gelisah, dia berteriak keras keras:

"Sobat, mengapa kau tidak memberi kepuasan kepadaku ?" Kwan L ik khi menjengek sinis.
"lngin kepuasan? Boleh saja, tapi tunggulah sampai kubereskan keparat she Bok yang berada dalam gua itu. ."

Sembari berkata, dia segera memutar kembali Pat kwa besar diatas langit langit gua itu.

Dari dalam gua segera berkumandanglah suara gemuruh yang amat keras dan memekikkan telinga.

Dinding batu yang maha besar itupun pelan pelan bergerak turun ke bawah, bila dinding tersebut telah menyumbat mulut gua, niscaya orang yang tersekap dalam gua tersebut akan mampus.

"Yaatt .!"

Mendadak berkumandang suara bentakan keras dari balik gua besar yang gelap gulita itu, menyusul kemudian tampak serentetan bayangan pedang meluncur lewat, tahu tahu pedang kayu yang hitam itu sudah menahan gerak meluncur dari dinding batu itu.

Menyusul kemudian tampak Bok Ci dan seorang kakek yang berambut kusut telah melompat keluar dari dalam gua. Begitu muncul diri si jago pedang buta Bok Ci segera menggetarkan pedang kayunya dan melepaskan sebuah bacokan kilat ke atas tubuh Kwan Lok khi.

Menghadapi ancaman tersebut Kwan Lok khi tertawa tergelak. lalu melayang ke samping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut, tapi dengan cepat ia menjadi terkesiap, sebab dalam sekejap saja pedang sakti itu sudah berubah berulang kali.

Akhirnya dengan ketakutan dia melompat mundur sejauh tujuh delapan langkah lebih.

Si kakek berambut kusut yang tak lain adaIah si pedang langit itu segera tertawa dingin tiba-tiba jengeknya:

"Saudara Kwan selamat berapa tahun ini, kau cukup merasa berbangga ..."

Peristiwa ini benar benar merupakan suatu kejadian yang diluar dugaan, padahal sudah sekian lama si pedang langit Bok Keng jin tersekap dalam gua mati hidup, namun kenyataannya dia masih bisa muncul dalam keadaan  hidup.

Kecuali dia terbuat dari besi baja, kalau tidak, mengapa ia tak mati terkurung dalam alat rahasia yang begini banyak ?

Kwan Lok khi berusaha untuk memutar otak dan memecankan teka teki itu, namun belum juga ada jawaban yang ditemukan.

Akhirnya dengan perasaan terkesiap dia berseru: "Jadi kau belum mati ?"

Si pedang langit tertawa seram. "Heee... heeeh... delapan belas jebakan beruntung sudah kutembusi tujuh belas jebakan diantaranya, Hmm, saudara Kwan, apakah kau masih mempunyai gua kura kura lain yang bisa kukunjungi dan kusaksikan sampai dimanakah kehebatan dari kau si bocah keparat yang suka mengibul ? Aku ingin tahu kalian pihak kelompok iblis masih memiliki kemampuan apa Iagi "

Kwan Lok-khi segera tertawa dingin.

"Heee . . . heeh . . sungguh tak kusangka nasib kau si telur busuk betul betul amat mujur, padahal dalam gua mati hidup tersebut aku pernah menyekap mampus Lam kiong pat ciang (delapan panglima dari istana selatan )" Tang hay busu (busu dari lautan timur) serta Yu leng sam koay (tiga manusia aneh sukma gentayangan), dari sekian banyak orang, tak seorangpun diantara mereka yang berhasil lolos dengan selamat. Bok heng, aku tidak percaya kalau tubuhmu tidak mengalami cedera."

Si Pedang langit segera maju dua langkah ke depan, lalu berseru:

"Apakah kau ingin mencobanya ? Aku tahu selembar nyawa tuaku ini memang sama sekali berharga, apalagi kita berdua pun merupakan sobat tua, tak ada salahnya bagi kita untuk bersikap lebih mesrah."

Walaupun Kwan Lok khi merupakan seorang gembong iblis yang berkedudukan amat tinggi, namun berbicara soal kepandaian silat sejati, dia masih bukan tandingan dari si pedang langit, apabila berbicara soal tenaga pukulan, maka si Pedang langit bukan tandingan dari Kwan Lok khi, sebab kebiasaan mereka berdua berbeda, keberhasilan dalam permainan ilmu pukulan maupun ilmu pedang pun berbeda. Akibatnya kedua belah pihak sama-sama menyegani pihak lawannya.

Mencorong sinar buas dari balik mata Kwan Lok khi ketika itu, sesudah tertawa seram katanya:

"Saudara Bok, kau benar benar seorang keparat yang tidak tahu kemampuan sendiri."
Si pedang langit Bok Keng jin tertawa terkekeh kekeh. "Kau si anak kura kura memang takutnya terhadap yang
galak dan berani terhadap yang Iemah, hei! Apakah kau belum puas di beri pelajaran oleh binimu maka sekarang hendak mencariku sebagai tempat pelampiasan. ."

Merah padam selembar wajah Kwan Lok khi karena jengah. "Ngaco belo saja!"

Si Pedang langit tidak menggubris lawannya lagi, dia segera menuding ke atas tubuh Liong Tian im sambil serunya:

"Hei anak muda, mari kita pergi!"

Liong Tian im merasakan sekujur badannya bergetar keras dan tahu tahu saja darahnya sudah bebas.

Dengan cepat dia melompat bangun, kemudian sambil mengulapkan tangannya dia berseru:
"Tua bangka celaka, mari kita mencoba sekali lagi!" "Hmmm, kepandaian silat yang kau miliki itu masih selisih
jauh sekali, kalau ingin turun tangan, lebih baik panggil  saja bapakmu biar dia sendiri yang maju" jengek Kwan Lok khi dingin.

"Hmm !" Liong Tian-im mendengus dingin, "kau jangan tekebur lebih dulu, dalam setahun mendatang. kau pasti akan mampus ditanganku, saat itu bukan saja kau akan meminta bantuan dari harimau betinamu, bahkan anakmu pun terpaksa harus dimintai tolong."

Merah padam selembar wajah Kwan Lok khi saking gusarnya, dia merasa pemuda ini betul betul memiliki selembar mulut yang tajamnya melebihi pisau silet, bila tidak diberi pelajaran, rasanya sangat menggemaskan sekali.

Baru saja dia akan turun tangan untuk melancarkan sergapan, mendadak si Pedang langit tertawa ringan sembari berseru:

"Ayo berangkat ! Saudara Kwan, lain waktu kita akan berkunjung kembali !"

Begitu selesai berkata, mereka bertiga segera berkelebat sejauh tiga kaki dari posisi semula.

Kawanan jago yang berjaga disekeliling tempat itu menjadi melongo setelah melihat itu dan tertegun, tanpa terasa mereka menutup jalan pergi ketiga orang itu.

"Enyah kau!" bentak si pedang langit sambil mengulapkan tangannya.

Beberapa jeritan ngeri segera menyadarkan kembali Kwan Lok khi dari lamunannya, dia merasa tenaga dalam yang dimiliki musuhnya cukup menggetarkan sukma, terpaksa ia membiarkan ketiga orang itu berlalu dengan begitu saja.

Malam amat kelam, udara amat dingin dan memancarkan kabut tebal yang menyelimuti angkasa.

Bintang bintang kecil entah bersembunyi di mana, rembulan diufuk sebelah barat menongolkan diri dari balik awan dengan kemalu maluan.

Ditengah kegelapan malam, mendadak si Pedang langit muntah darah segar, dadanya bergelombang naik turun dengan cepatnya sementara napasnya tersengkal tersengkal macam orang yang habis menempuh sejauh berapa puluh li saja.

Sedang sepasang matanya seperti mutiara yang kehabisan sinar, begitu buram dan sayu, amat memedihkan keadaannya.

Bok ci menjadi amat gelisah, cepat cepat serunya: "Ayah mengapa kau?"

Si pedang langit menghembuskan napas panjang, lalu berkata:

"Tadi, keadaan sungguh membahayakan coba kalau Kwan Lok khi tahu kalau isi perutku terluka parah sehingga tenaga untuk mengangkat tangan pun tak ada, mungkin kita bertiga sekarang sudah mati diujung telapak tangannya!"

oooOooo

SI JAGO pedang buta Bok Ci serta Liong-Tian im sama sama merasa amat terkesiap, mereka tidak mengira kalau si pedang langit yang begitu termashur namanya dalam dunia persilatan, ternyata menaruh perasaan takut yang begitu besar terhadap cikal bakal gembong iblis Kwan Lok khi.

Dilihat dari hal tersebut apakah sigembong Iblis tersebut benar benar akan melepaskan mereka atau tidak, hal mana masih merupakan suatu persoalan yang amat sukar untuk diduga.

"Ayah, sekarang kita harus kemana?" tanya Bok Ci dengan perasaan amat gelisah.

Si Pedang langit menarik napas panjang-panjang, lalu sahutnya:

"Lima puluh li disekeliling daerah ini merupakan wilayah kekuasaan dari keluarga Kwan, mungkin sebelum kita sempat menuruni bukit ini selangkah, Kwan Lok khi sudah memperoleh kabar dan memburu ke sini, coba kalau ayah tidak terluka, mungkin saja dia akan melepaskan kita, tapi sekarang keadaannya mungkin akan berubah, bila dugaanku tidak salah, di belakang kita sekarang ada orang yang sedang melakukan penguntilan."

Baik si jago pedang buta Bok Ci maupun Liong Tian im. mereka sama-sama tertegun dan serentak menoleh kebelakang.

Benar juga, dibalik bayangan pepohonan yang lebat tampak sesosok bayangan manusia sedang berkelebat lewat.

Liong Tiao im mendengus dingin, bisiknya.

"Mari kita mencari tempat untuk menyembunyikan diri" Ke tiga orang itu segera berlarian kedepan, lalu menyelinap ke samping dan menyembunyikan diri dibelakang sebuah pagar dinding.

Bayangan manusia yang menguntit di belakang itu nampak tertegun ketika secara tiba tiba kehilangan jejak lawannya, dengan cepat dia melakukan penggeledahan yang seksama di sekeliling tempat itu.

Mendadak dia meluncur ke depan, naik ke atas sebuah batu cadas dan melongok dari atas.

Dengan suatu gerakan cepat Liong Tian im menyelinap kehadapan orang itu sambil menegur:

"Sobat, caramu menguntit orang benar benar kelewat gegabah dan bodoh."

Sekujur tubuh orang itu gemetar keras karena terperanjat, agaknya dia tak menyangka kalau musuhnya begitu cekatan, baru saja dia menampakkan diri, pihak lawan telah berhasil menemukan jejaknya.

Dengan perasaan terkesiap buru2 dia berseru:

"Sancu menitahkan kepadaku untuk menghantar kalian bertiga turun gunung, sebab disekitar tempat ini terdapat banyak pos penjagaan, apa lagi dalam kegelapan begini, takutnya bila sampai melakukan kesalahan terhadap sobat..."

Kemudian setelah mendehem beberapa kali dia berkata lebih jauh:

"Kalian bertiga hanya tahu berlarian tanpa tujuan kalau begini terus sampai fajar menyingsingpun jangan harap bisa keluar dari bukit Jit gwat san ini, aku Bong Kaia kut bersedia mewakili sancu..."

"Sancu kalian kelewat baik" tukas Liong Tian im dingin. "cuma sayang kami tak mampu untuk menerima kebaikan seperti ini, tong kalian toh kau bersama Bok Kian kui (melihat setan dalam impian) aku akan menyuruhmu menjadi setan ungguhan pada malam ini."

Sementara orang tersebut masih tertegun, telapak tangan Liong Tian im sudah menghantam keras keras diatas ubunubunnya.

Kasihan orang itu, belum sempat meneriakkan sesuatu, ia benar benar sudeh berangkat ke akherat untuk bertemu setan.

Pada saat itulah, dalam kegelapan malam mendadak muncul serentetan bayangan lentera barwama merah yang muncul dari balik kegelapan hutan sana.

Lentera merah itu bergoyang tiada hentinya dan bergerak amat lincah, cahaya merah yang tajam menyoroti seluruh tubuh mereka menjadi terang benderang.

Bayangan lentera yang bersinar tajam itu segera menyelinap kembali ke balik dedaunan setelah bergoyang sebentar. .

Jago pedang buta Bok Ci yang menyaksikan kejadian tersebut segera termenung sambil berpikir sebentar, kemudian katanya dengan wajah amat serius: "Orang itu merupakan teman atau lawan sukar untuk diketahui, tapi sudah jelas dia sedang memberi sebuah petunjuk jalan untuk kita, kini kita sudah terkurung dalam jebakan musuh..."

Sementara itu bayangan lentera berwarna merah itu kembali bergoyang dengan suatu gerakan cepat ketiga orang itu segera menyelinap ke arah depan.

Tiba tiba saja lentera merah itu lenyap tak berbekas, sementara ditengah hutan yang lebat dan tahu tahu sudah muncul Leng Ning ciu yarg berdiri tak berperasaan disana.

"Leng Ning ciu!"

Liong Tian im dan jago pedang buta Bok Ci sama sama tertegun dan hampir saja memekikkan namanya.

Namun perasaan mereka berbeda saat ini, kendatipun penuh dengan pergolakan darah panas, namun tak berani untuk mengemukakan perasaan, terpaksa mereka hanya memendam dalam dalam perasaan cintanya itu.

Terutama sekali Leng Ning ciu sendiri walaupun wajahnya sedingin es, namun dihati keciInya ingin sekali bermesrahan dengan Liong Tian im, bahkan berharap sianak muda itu dapat memanggilnya dengan penuh kesenangan.
Dengan suara dingin Leng Ning ciu segera berseru: "Sekarang, kalian berada dalam keadaan yang sangat
gawat, semua peralatan dan jebakan yang berada diatas bukit ini akan segera bergerak, apabila kalian masih mempunyai kepercayaan kepadaku seperti dahulu kala, silahkan mengikuti aku untuk menyingkir sementara waktu dibukit belakang sana."
Sipedang langit berkerut kening, kemudian ujarnya: "Nona Leng, aku orang she Bok mengucapkan banyak
terima kasih dulu kepadamu, cuma bersembunyi sementara waktu hanya akan memperoleh keamanan yang singkat, jelas cara ini bukan suatu cara jangka panjang yang terlalu baik."

Dengan cepat Leng Ning ciu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau jangan kelewat keras kepaIa, Kwan Lok khi bukan seorang buta yang mudah dikibuli, ia sudah tahu kalau kau menderita luka yang sangat parah, hanya sebelum memastikan kalau kau benar benar terluka, dia berusaha menghindari suatu pertumpahan darah yang lebih besar. Kini, diseluruh jalan tembus sudah disiapkan jago jago pedangnya, asal kalian salah melangkah, kalian akan menderita kekalahan total.. ."

Kemudian setelah tertawa sehingga dua baris giginya yang putih terlihat jelas, dia melanjutkan lebih jauh:

"Aku sudah menguasahi tujuh sampai delapan buah tempat jebakan yang berada disini, bila kalian berlalu saat ini, tidak mudah bagi mereka untuk mengetahui jejak kalian, tetapi bila kalian mengulur waktu lagi, mungkin aku tak akan sanggup untuk menolong kalian lagi"

Dia menggeserkan tubuhnya pelan dan bertindak pergi menuju ke dalam hutan yang gelap. Liong Tian im sekalian nampak agak ragu, namun akhirnya mereka beranjak juga untuk mengikuti dibelakang gadis itu.

Setelah melalu sebuah hutan yang lebat dan melewati jalan bukit yang berliku liku, didepan sana muncul sekumpulan rumah batu yang besar.

Leng Ning ciu segera menghentikan langkahnya sambil berkata:

"Tempat ini merupakan tempat abu leluhur dari bukit Jit  gwat san, semua anggota Jit gwat san diIarang untuk mendekati tempat ini, bahkan Kwan Lok khi sendiri pun hanya akan berkunjung kemari setiap tahun sekali disaat duduk bersembahyang didepan abu leluhurnya, Kalian boleh beristirahat selama beberapa hari disini, aku yakin Kwan Lok khi sendiripun tak akan menyangka kalau kalian berada disini."

Setelah menghela napas panjang dan melirik sekejap ke arah Liong Tian im dengan penuh perasaan cinta dia membalikkan badan dan berlalu dan situ tanpa mengucapkan kata lagi.

Liong Tian im merasa amat terkesiap, disaat gadis itu hendak pergi, lamat lamat dia menyaksikan dua titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya, untuk sesaat dia menjadi tertegun dan berdiri mematung disana.

Suatu perasaan sedih dan murung yang sangat aneh muncul didalam hatinya setelah menghela napas panjang, pandangan matanya dialihkan ketempat kegelapan didepan sana.

"Traaang..." Bunyi genta yang amat memekikan telinga bergema memecahkan keheningan dan mengalun diseluruh angkasa.

Ketiga orang itu segera tersentak kaget dan sadar kembali dari lamunan, rumah batu didepan sana bagaikan sesosok sukma gentayangan yang sedang mendekam diatas tanah.

Sipedang langit merasakan udara dingin mencekam tubuhnya, makin lama dia semakin penat, akhirnya dia setelah menghela napas panjang dia berkata:

"Masuklah, aku harus membereskan dulu luka dalamku yang mengancam jiwa ini."

Pelan pelan mereka mendorong pintu rumah batu itu dan berjalan masuk ke dalam.

Jago pedang buta Bok Ci segera menyulut lentera yang berada diatas dinding batu dan menerangi seluruh ruangan yang gelap.

Kecuali dua buah meja, disana hanya ada sebuah pembaringan, si pedang langit segera duduk bersila di atas pembaringan dan mulai mengatur napas.

Dalam kegelapan hanya kedengaran suara dengusan nafas yang berat saja, selain itu sama sekali tidak kedengaran suara lain.

Dalam suasana begini Liong Tian im dan jago pedang buta Bok Ci sama sama mempunyai maksud untuk membuka suara tapi tak tahu dari mana mereka harus mulai berbicara. Akhirnya kedua orang itu hanya duduk termangu-mangu sambil melamun ke sana kemari . . lama ke lamaan rasa lelah menghantui mereka dan terasa telah terlelap tidur.

Di tengah keheningan malam ituIah, mendadak terdengar suara langkah kaki manusia bergema memecahkan keheningan.

Liong Tian im yang pertama-tama sadar lebih dahulu dengan tegang ia menahan napas lalu menggenggam senjata patung Kim mo sio jinnya kencang kencang dan mengawasi keluar pintu dengan pandangan yang tajam.

Dari luar pintu muncul dua sosok bayangan manusia, agaknya kedua orang itu sedang berjalan menuju kedalam ruangan itu, tapi sewaktu tiba di depan undak-undakan batu tersebut, mendadak mereka menghentikan langkahnya.
Tiba-tiba terdengar seseorang berkata sam bil tertawa: "Sik jiya, beuar-benar ketemu setan, sudah semalam ini
hujin masih menyuruh kita datang ke tempat macam setan ini ehm, padahal aku baru saja aku akan menikmati kehangatan si budak kecil itu."

"Heeeh, heeeh, heeeh," Sik jiya tertawa dingin, "Agaknya kau sudah bosan hidup rupanya, berani betul berkaok kaok disini, hati-hati kalau sampai Kwan ya berhasil menemukan kita disini! Betul kita punya hujin yang menjadi tulang punggung kita, namun selama berada di sini lebih baik kita bersikap lebih hati-hati, kalau sampai ketahuan, batok kepala kita bisa berpindah rumah, hei ! Siang losam, kau bilang hujin benar-benar akan bentrok dengan Kwan ya ?"

Siang losam tertawa terbahak bahak. "Haah, haah, haaah... sudah pasti begitu, kau tahu hujin orangnya picik dan berjiwa sempit, dia tak nanti akan membiarkan Kwan ya bersenang senang mencari perempuan lain, konon gundik Kwan ya bernama Tin Cu hoa. Hmm, tampaknya bila gentong cukanya (rasa cemburu) sudah pecah, yang bakalan apes adalah kita sendiri!"

Liong Tian ioa menarik napas panjang panjang, ketika dilihatnya si jago pedang buta dan Pedang langit telah menyembunyikan diri di dalam ruangan, si anak muda itu segera mengetahui maksud mereka dan ikut menyelinap ke balik kegelapan.

Terdengar suara laras sepatu melangkah datang dari luar pintu dan berjalan masuk ke dalam, dengan amat cekatan mereka pun segera menyulut lentera.
Mendadak terdengar Stk jiya berseru tertahan: "Aaah, Siang losam, aku lihat ada yang tidak beres,
agaknya barusan ada orang datang kemari, coba kau lihat tentera ini masih panas, diatas pembaringan pun nampak bekas orang berbaring, kita harus memeriksa lebih dulu dengan seksama, jangan sampai tahu tahu terjadi suatu peristiwa . . .

Dengan cepat Sang losam menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Maknya, buat apa lagi mesti bersikap tegang ? Tempat ini memang sering digunakai orang untuk mencari kehangatan malam, siapa tahu kalau si cebol jelek baru saja mencari kehangatan ditempat ini bersama Ciat bi hoa. Mungkin dia lantas kabur setelah melihat kita datang kemari .." "Tidak mungkin" seru Sik Jiya tidak percaya, "si cebol jelek tak akan mempunyai keberanian sebesar ini !"

Siang losam tertawa terkekeh.

"Kau mengerti apa ? Paling cuma kentut busuk Denekrau Si Cebol jelek itu hampir saban malam pasti datang kemari, kau jangan melihat tubuhnya cebol, hatinya sama sekali tidak cebol, dia tahu kalau tiada orang berani kemari, maka secara diam diam ia merubah tempat ini sebagai kamar pengantinnya. Meski keparat itu mana cebol, tampangnya jelek lagi, namun pasangannya betul betul amat cantik. Terus terang saja, setiap hari aku Siang losam selalu putar otak dan berupaya untuk mengajak si bocah perempuan itu bermain serong denganku . ."

"Hmm . .," Sik Jiya tertawj dingin. "tidak nyana kalau kau Siang losam juga punya ingatan untuk melanggar pagar tanaman orang lain, Hei Siangya, kita adalah ibarat semangkuk air, siapapun tidak mengganggu yang lain, bolehkah aku bermesrahan semalam dengan Siau sin ji mu itu?"

"Bolehsaja!" sahut Siang losam sambil bertepuk tungan, "lonte itu cuma tahunya uang, asal kau melemparkan uangnya keatas ranjang heemm...dalam waktu singkat dia sudah siap sedia untuk melakukan pertempuran."

Sementara kedua orang itu masih berbincang bincang, dari luar ruangan terdengar lagi suara langkah manusia bergema mendekat. Sik Jiya dan Siang losam segera tahu kalau orang yang mereka tunggu telah datang, buru-buru mereka berdiri disisi pintu dan bertanya dengan hormat:

"Jit gwat san bukit perkasa, keluarga Kwan ietkar ugfc." Dari luar pintu segeia menyahut pula dengan keras seperti:
"perempuan bertusuk konde burung hong, membuat syair diatas tebing."

Tampak Kiau Ngo nio yang berwajah dingin membawa belasan orang lelaki telah berjalan masuk kedalam ruangan itu.

Mereka semua adalah orang orang kepercayaan Kiau Ngonio diatas bukit Jit gwat san, sebagian besar merupakan bekas anak buah sancu yang terdahulu yakni Kiau Ong.

Sekarang mereka semua sudah duduk diatas lantai sambil memandang kearah Kiau Ngo nio.

Dengan pandangan dingin Kiau Ngo nio memandang sekejap keseluruh ruangan, kemudian serunya:

"Bawa kemari Tin Cu hoa!"

"Baik" suara sahutan bergema dari luar pintu.

Seorang perempuan berdandan menyolok dan berwajah genit digusur masuk kedalam ruangan, perempuan itu bermata jeli dan senyuman menghiasi ujung bibirnya, terhadap keadaan disekeliling sana, sama sekali tak nampak takut. Setelah memandang sekejap ke arah Kiau Ngo nio dengan pandangan dingin, dia lantas menegur:

"Mana Kwan toaya?"

"Malam ini, Kwan toaya mu sudah tiada waktu lagi untuk bermesrahan denganmu" kata Kiau Ngo nio dingin, "maka dia telah menyerahkan kau kepada lonio untuk diberi pelajaran, aku ingin melihat sebenarnya mengandalkan rayuan macam apakah kau Tin Cu hoa bisa memikat Kwan toaya sehingga tergila-gila kepadamu ."

Setelah menyaksikan gelagat tidak beres, Tin Cu hoa baru kaget dan tahu kalau keadaan sangat gawat.

Namun dia pun seorang yang sangat berpengalaman dan sudah terbiasa menghadapi situasi seperti itu, kendatipun dia tak tahu mengapa Kwan ya menitahkan orang untuk membawanya ke sana, namun dia sama sekali tidak takut.

Setelah mengerling sekejap, ujarnya kemudian sambil tertawa:

"Siapa sih cici ini? Tampaknya amat akrab dengan Kwan ya."

Kiau Ngo nio mendengus dingin.

"Hmm! Akrab sih tidak, cuma kami pernah tidur seranjang dan hidup bersama."

"Ooohh..." Tin Cu hoa segera memutar biji matanya dengan genit Ialu terkekeh kekeh, "aku kira siapa, rupanya Kwan ya memang benar-batar tak jujur, masa dia sudah memiliki seorang cici yang baik pun tidak diperkenalkan kepada budak, tahu kalau cici baik sekali kepada Kwan ya, aku Tin cu hoa tak nanti akan saling berebut cinta denganmu Cici, kalau begitu tolong beritahu kepada Kwan ya bahwa Tin Cu hoa telah mengundurkan diri, harap Toaya jangan datang mencariku lagi."

Sikap mau pun gerak gerik perempuan ini benar benar membuat hati orang menjadi gatal rasanya, meskipun Kiau Ngo nio ingin permak perempuan tersebut habis-habisan, namun setelah menyaksikan sikapnya yang begitu munduk munduk, dia menjadi tak tahu bagaimana harus mulai dengan aksinya.

"Tin Cu hoa." katanya kemudian. "aku tak dapat mewakilimu untuk menyampaikan hal ini kepadanya, lebih baik kau memberitahukan sendiri kepadanya.

"Betul juga ucapanmu!" seru Tin Cu hoa cepat, perempuan ini memang pandai menyelami perasaan orang, begitu menyaksikan gelagat tidak baik, serta merta nada suaranya pun ikut mengumpak Kiau Ngo nio.

Tampak dia mencibirkan bibirnya yang kecil dan memerah itu, kemudian menggerutu:

"Sekalipun hendak bubar, memang sudah sepantasaya bila bubar secara baik baik, kalau begitu harap cici sudi menjadi saksi bagi budak bahwa selanjutnya hubungan kami ibarat api dan air, siapa pun tidak kenal yang lain."

Api kegusaran yang membara di dalam hati Kiau Ngo nio segera berkobar, apalagi bila terbayang bagaimana Tin Cu hoa telah merebut suaminya sehingga membuat ia hidup kesepian dan harus merasakan siksaan serta penderitaan yang hebat, dendam dan sakit hati yang bercampur aduk membuatnya tak mampu menguasahi diri lagi.

Mencorong sinar tajam dari bilik matanya, dengan suara yang mengerikan dia berseru:

"Tin Cu hoa, kau perempuan rendah yang tak tahu malu, perbuatan apa saja telah kau lakukan, menggaet kaum lelaki, merebut suami orang, kau . . . kau memang lonte keparat !
Aku ingin bertanya kepadamu, sebenarnya kau menyukai uang Kwan ya atau menyukai orangnya ?"

"Pertanyaanmu benar benar brutal tapi menarik." Tin Cu  hoa berkerut kening, "walaupun kami miskin, bukan berarti kami tertarik oleh harta kekayaan Kwan ya, apalagi seseorang terperosok dalam keadaan seperti ini bukan semuanya timbul atas dasar kehendak sendiri."

"Sreeet!"

Dengan suatu gerakan yang sangat cepat dan sama sekali diluar dugaan, Kiau ngo nio menyambar pakaian yang dikenakan Tin Cu hoa dan merobeknya sehingga tampak pakaian dalamnya yang berwarna merah, kulit badan yang putih bersih pun segera tertera didepan mata.

Kawanan lelaki itu merasakan pandangan matanya menjadi silau, masing masing jadi bernapsu sekali untuk meraba tubuh dari siperempuan genit itu.

Sik jiya menelan air liurnya sambil menahan napsu birahi, katanya dengan cepat: "Hujin, kulit tubuh perempuan ini benar-benar halus dan putih, mana montok lagi ..."

"Tak heran kalau Kwan ya pun sampai terpukau olehnya." tukas Kiau Ngo nio hambar "Haahahaa . . . . indah betul perawakan lonte ini, benar benar bagus, bagalmana? Apakah perlu kutinggalkan lonte ini untuk kalian? Tapi kalian tak boleh membiarkannya sehingga lari, sebentar aku akan meminta kembali diri nya dari kalian."

Dalam sekilas pikiran saja, dia sudah berhasil menemukan cara yang paling baik untuk membuat malu perempuan ini, ditatapnya sekejap wajah Tan Cu hoa dengan pandangan dingin, kemudian serunya:

"Aku rasa kau sudah cukup puas bukan melayani Kwan-ya? Sekarang mereka semua pun membutuhkan pelayanan darimu nah! Silahkan saja untuk melayani mereka. . . cuma sayang Kwan-ya tak bisa menyelamatkan dirimu pada malam ini.
Haaah . . . haaaah. . . haaaah. . ." Menyusul gelak tertawa yang amat nyaring.

Kiau Ngo nio segera membalikkan badan dan berlalu dari sana, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan malam.

Paras muka Tin Cu hoa segera berubah hebat, dengan cepat dia menutupi tubuhnya yang telanjang dan melirik sekejap kearah kawanan lelaki itu, sementara kawaran lelaki tadi sedang mendekatinya sambil mengerubung.

Melihat kawanan lelaki yang berjalan mendekat itu, Tin Cu hoa tertawa dingin, telapak tangannya yang lembut segera diayunkan kedepan. Secara beruntun tiga orang lelaki yang tak tahu diri itu roboh terkapar diatas tanah.

Menyaksikan kejadian ini, orang orang yang lain menjadi tertegun mereka sama sekali tidak menyangka kalau perempuan itu merupakan jago lihay yang sengaja menyembunyikan diri.

"Saudara sekalian, Hadang ditengah pintu!"

Sik Jiya dan Siang losam adalah manusia-manusia cekatan yang berpengalaman, dengan cepat dia menerjang kedepan pintu untuk menerkam kedepan, tapi Tin Cu hoa jauh lebih cepat daripada mereka berdua, tahu tahu ia sudah menghadang di depan pintu.

"Tak seorang manusia pun yang boleh pergi dari sini" ujar Tin Cu hoa dingin, "kalian berani mencari gara gara denganku berarti kalian memang sudah bosan hidup, kalian harus tahu, Tin Cu hoa bukan manusia sembarangan di dalam dunia persilatan."

Mendadak dia mengayunkan tangannya, berpuluh-puluh cahaya putih yang amat menyilaukan mata segera meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Kawanan lelaki itu berseru tertahan, wajah mereka segera menunjukkan keputus asaan yang menghadapi kematian, bayangan manusia bergulingan ketanah, dalam waktu singkat tinggal Siang losam dan Sik Jiya saja yang belum roboh.

Siang Losam menjadi amat terperanjat dan ketakutan, segera serunya cepat:

"Nona, kami ada persoalan yang hendak dibicarakan!" Tin Cu hoa tertawa dingin.

"Masih ada persoalan apa lagi yang hendak dibicarakan? Barusan bukankah Kiau Ngo nio telah menyerahkan diriku kepada kalian ? Kenapa kalian tak mau mengucapkan apa apa pada saat itu ? sekarang . . Hmmm ! sudah terlambat. . ."

Gerak serangan dari perempuan ini benar benar sama sekali diluar dugaan, baru saja tubuhnya bergerak, tahu tahu Siang losam dan Sik jiya sudah mendengus tertahan dan roboh terkapar ke atas tanah.

Dia berkerut kening sambil memasang telinga baik baik, lamat lamat terdengar olehnya bahwa Kiau Ngo nio sedang cekcok dengan Kwan Lok khi, suara tersebut makin lama semakin mendekat.

Paras muka Tin Cu boa berubah hebat, baru saja dia akan melompat keluar, mendadak dari balik kegelapan terdengar Liong Tian im sedang berbisik lirih:

"Nona, kemarilah kau, untuk sementara waktu bersembunyilah dahulu disini . . ."

Tin Cu hua menjadi sangat terperanjat dia sama sekali tidak menduga kalau di tempat itu terdapat seseorang yang
sedang menyembunyikan diri, hawa napsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya, dia maju beberapa langkah lalu berseru dengan dingin.
"Apa kawan sealiran dari dunia persilatan" "Walaupun bukan kawan sealiran dari dunia persilatan
namun merupakan rekan dari dunia persilatan, keadaanmu sama dengan keadaan kami, sedang berada dimulut harimau orang, bila kau tidak menyembunyikan diri lagi. . ."

Tin Cuhua segera tertawa terbahak bahak.

"Haah . . haah . . haah . . selamanya kalau aku Tin Cu hua sedang bekerja maka tak pernah meninggalkan korban dalam keadaan hidup, apabila kau adalah sobat dari dunia persilatan, tinggalkan dulu namamu bila urusan disini telah selesai, aku pasti akan berkunjung untuk menyampaikan rasa terima kasih."

Liong Tian im menjadi gusar sekali.

"Kalau begitu pergilah, aku sebetulnya berniat untuk membantumu sungguh tak disangka kau malahan bersikap sok jumawa baik Kwan Lok khi dan Kiau Ngo-nio segera akan
datang kemari, bagaimana caranya untuk menghadap terserah kepada dirimu sendiri."

"Haaah. . . heeeh , . rupanya kau orang baik?" jengek Tin Cu hoa sambil tertawa dingin.

Secepat sambaran kilat dia menerjang kearah tempat persembunyian Liong Tian im, telapak tangannya digetarkan dan segulung hawa serangan segera menggulung di tengah udara langsung mencengkeram ke atas tubuh si anak muda itu.

Liong Tian im yang bermata tajam sudah dapat menangkap gerakan tak terduga lawan, tiba tiba saja dia mencengkeram pergelangan tangan perempuan itu lalu menariknya ke belakang. "Hati-hati, Kiau Ngo nio sudah tiba .. ."

Serentetan suara langkah kaki manusia berkumandang datang, tampak Kwan Lok khi dan Kiau Ngo nio telah muncul didepan pintu.

Kiau Ngo-nio nampak agak tertegun setelah menyaksikan suasana dalam ruangan itu, segera serunya:

"Lo Sik !"

Suasana didalam ruangan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, sementara bau anyirnya darah terendus dalam penciuman Kwan Lok Khi muupun Kiau Ngo-nio.

Ke dua orang itu sama sama bergetar keras karena terperanjat, dengan cepat Kwan Lok khi berseru dengan tercengang:

"Jangan-jangan sudah terjadi peristiwa . ."

Setitik cahaya api muncul dari tangan Kwan Lok khi dan memercikkan sinarnya ke seluruh ruangan, dengan cepat dia menangkap lampu lentera yang belum lama di padamkan itu, sedangkan jenazah yang bergeleparan di tanah hampir saja membuat Kiau Ngo nio jatuh terjerembab.

Kontan saja perempuan itu menjerit keras, "Tua bangka celaka, bagus sekali perbuatanmu ini !"

Kentut." bentak Kwan Lok-khi pula dengan gusar, "kau telah mengundang Tin Cu hoa sampai ke sini, apa yang telah
kau lakukan terhadapnya ? Apakah kau hendak membunuhnya
? Hmm kau perempuan berhati kejam, sekarang telah terjadi peristiwa ini, akan kulihat bagaimanakah penangungan jawabmu kepadaku."

Kiau Ngo nio melototkan sepasang matanya bulat bulat lalu membentak keras:

"Tua bangka, kau berani mengumpat lonio."

Saking gusarnya seluruh tubuhnya sampai gemetar keras, dengan mengayun telapak tangannya dia meiepaskan sebuah bacokan kilat ketubuh Kwan Lok khi.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat langsung menerjang keatas tubuh orang she Kwa tersebut.
Kwan Lok khi mengigos ke samping, lalu teriaknya: "Perempuan bajingan, kau lihat dulu saat sekarang adalah
saat bagaimana, kau masih hendak mengajakku bertarung ?"

Kiau Ngo nio meludah ke atas tanah, "Cuuuh ! Saat yang bagaimana pun sama saja." teriaknya, "sudah menjadi watak lonio untuk melabarak siapa saja yang berani mencoba diriku, Lo nio akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungi kepentinganku sendiri. Hei, orang she Kwan, nyali anjingmu makin lama semakin besar, mau bermain perempuan pun berani bermain dirumah sendiri . . Hmm, Lo nio seorang... seorang tidak cukup kau, berani mencari tiga empat orang Iagi. Biar lonio akan menguliti perempuan lonte itu."

Kwan Lok khi menjadi gusar setengah mati rambutnya pada berdiri seperti landak, serunya amat gusar:

"Kau berani mengganggu seujung rambutnya aku akan segera menghabisi nyawamu !" "Heeh heeeeh, heeeeh tua bangka celaka." Kiau Ngo nio sambil tertawa dingin, "setelah mempunyai yang baru, Lo nio pun sudah tidak kau maui lagi. . ."

Dia sedang merasa amat menderita sekali, air matanya segera jatuh bercucuran dan meledaklah isak tangisnya.

Kwan Lok khi paling pantang melihat perempuan menangis, dengan cepat dia membalikkan badan dan melengos ke arah lain.

Mendadak dia berseru tertahan:

"Hei, mengapa Tin Cu hoa tidak nampak?"

Kemudian sambil membalikkan badan, tanyanya dengan penuh kegusaran:

"Perempuan keparat kau telah menyembunyikan dia dimana ?"

"Dia kalau bukan sudah mampus, tentu sudah kabur..." ucap Kiauu Ngo nio dingin.

"Kentut anjing, kau pastilah menyembunyikan dia" seru Kwan Lok khi amat gusar.

Kiau Ngo nio segera menyeka air matanya lalu berseru:

"Apakah artinya seorang perempuan busuk, mengapa kau harus kebingungan seperti orang kehilangan mestika ? jangan lupa, Lo nio adalah istrimu yang sah, sedangkan perempuan sialan itu tak lebih hanya lonte yang bisa dipakai setiap orang
!" "Tutup mulut !" bentak Kwan-Lok khi dengan hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya "bila kau berani mengumpat yang bukan-bukan lagi, jangan salahkan kalau aku tak akan sungkan sungkan terhadap dirimu lagi."

"Aku mau memaki lonte, mau apa kau?" tantang Kiau Ngo nio dengan suara dingin, "lonte ! Lonte yang bisa ditunggangi setiap orang . . ."

"Hmmm . . kau memang -ii8knya, telur busuk sialan !" seru Kwan Lok khi amat gusar.

Kembali Kiau Ngo nio melototkan sepasang matanya bulat bulat.

"Kau ingin memberontak ? Sampai Lo nio pun kau maki maki ? baik, baik -jika Lo nio tak akan beradu jiwa denganmu, aku tak akan she Kiau, Kwan Lok khi, kau bisa
mempunyai kedudukan seperti hari ini, siapa yang memberi ?"

Melihat orang itu tidak menjawab, dengan gusar kembali bentaknya keras keras: "Ayo bicara!"

Menyaksikan si harimau betina sudah mulai unjuk gigi, keberanian Kwan Lok khi segera lenyap tak berbekas. namun dia pun sangat menguatirkan keselamatan dari Tin Cu hoa, maka sambil menggelengkan kepalanya berulang kali katanya:

"Hujin, saat seperti ini tidak baik bila kau ribut denganku. ." "Aku tak ambil perduli!" seru Kiau Ngo nio sambil bertolak
pinggang, "kecuali bila kau bersedia untuk memutuskan hubungan dengan lonte tersebut, kalau tidak, jangm harap aku bersedia mengampuni dirimu."

"Baik!" kata Kwan Lok khi kemudian dengan gusar bercampur gemas, "aku tak akan menggubris dirinya lagi."

"Tidak bisa, aku menginginkan kau harus membunuhnya lebih dulu, kalau tidak jangan harap kau bisa hidup dengan aman dan tenteram disini!"

"Kau jangan kelewat memojokkan orang" seru Kwan Lok  khi dengan mendongkol. "asal aku tidak berhubungan:" Selanjutnya, toh hal ini sudah lebih dari cukup, jika aku harus membunuhnya, hal ini kurang mencerminkan peri
kemanusiaan, apalagi dia toh cuma seseorang yang tak pandai bersilat, membunuh orang semacam ini hanya akan membuat kita kehilangan muka"

"Dasar tulang kere !" umpat Kiau Ngo nio lagi dengan marah, "kau memang seorang lelaki busuk yang bertulang miskin, tampaknya bila nay nay tidak beri pelajaran kepadamu sehingga minta ampun! sia-sia saja aku menjadi anggota keluarga Kiau. Sekarang, kuperintahkan kepadamu untuk enyah dari sini."

"Tidak bisa !" jawab Kwan Lok khi sambil tertawa dingin, "kecuali bila kau serahkan Tin Cu hoa kepadaku . ."

Suara percekcokan antara Kiau Ngo nio dan Kwan Lok khi dalam ruangan gelap itu makin lama semakin bertambah keras, entah darimana datangnya keberanian dalam hati Kwan Lok-khi saat ini, ternyata diapun sama sekali enggan mengalah, bahkan balas melotot ke arahnya dengan sikap menentang. Kiau Ngo nio semakin naik darah.

"Tua bangka keparat, kau berani memandang hina diriku ? Lonte busuk itu kalau bukan sudah kabur, sudah pasti kaulah yang menyembunyikannya, aku sudah tahu kalau kau menganggap kami ibu dan anak sebagai duri dalam daging, seringkali berusaha untuk menyingkirkan kami berdua dari muka bumi."

"Hujin. lebih baik jangan berkaok kaok macam macan kesiangan !" jengek Kwan Lok khi sinis, tempat ini merupakan daerah terlarang bagi bukit ini, tanpa ijinku, siapa saja dilarang datang kemari, Sekarang. orang-orang kepercayaanmu sudah tergeletak semua disini, sudah jelas mereka tidak memandang sebelah matapun terhadap aku si Sancu, Hm tanpa diragukan lagi sudah pasti kau yang membekengi mereka sehingga mereka berani tak memandang sebelah mata terhadapku."

Setelah tertawa seram, tegasnya:

"Selama ini kita hidup sebagai suami istri yang baik dan menghargai lawan jenisnya tapi Hmm, sekarang kau berani menghianati aku sebagai Sancu itu berarti suatu ketika kau pun hendak menyingkirkan aku dari sini."

Diatas wajahnya yang menyeramkan, sepasang matanya yang memancarkan sinar biru kelihatan yang berapi api.

Kiau Ngo nio yang menyaksikan kejadian ini menjadi amat terkesiap, segulung hawa dingin yang menggidikkan hatinya muncul dari alas kaki, sudah banyak tahun mereka hidup sebagai suami istri. tapi belum pernah ia saksikan sikap bengis dari Kwan Lok khi seperti apa yang ditampilkan sekarang. Kalau dulu, setiap kali dia sedang merasa tak berkenan dihati, Kwan Lok khi selalu menunjukkan sikap minta dibelas kasihani, oleh karena itu dia memaki Kwan Lok khi sebagai tulang miskin, seorang lelaki pengecut yang takut istri.

Tapi sekarang, dia mulai sadar kalau Kwan Lok khi sudah berubah, bukan saja berubah menjadi keras hatinya seperti baja bahkan makin lama berubah makin mengerikan.

Dengan perasaan tercekat Kiau Ngo nio segera berseru:

"Engkoh Lok, sikapmu terhadap diriku memang ada yang tak benar, watakku jelek dan terlampau berangasan hal ini sudah menjadi watakku, gara gara sejak kecil aku biasa dimanjakan ayah ibuku, dan kau sudah seharusnya mengerti akan itu."

Kwan Lok khi tertegun, dia tidak menyangka kalau perempuan judas yang dihari hari biasa selalu menunjukkan wajah bengis, tiba tiba saja mengucapkan kata kata halus seperti ini.

Diam diam dia menghela napas panjang, tanpa terasa ia teringat kembali pemandangan di kala ia masih miskin dulu, coba kalau tiada perubahan nasib, entah bagaimanakah keadaan sekarang?

Maka setelah menghela napas panjang dia pun menggelengkan kepalanya berulang kali, ia nampak begitu tua dan serba salah.
Akhirnya, setelah termenung sejenak, Kwan lok khi berkata. "Sudahlah, kau tak usah banyak berbicara lagi, asal kau
merubah watakmu yang dulu. ." Mendadak dia menunjukkan wajah tertegun lalu serunya dengan suara keheranan:

"Heei . .apa yang terjadi? Rupanya disini masih ada orang yang menyembunyikan diri. ."

ooooo00ooooo

Dengan suatu gerakan cepat dia mengambil lampu lentera itu dan dipakai untuk menerangi sudut dinding yang gelap.

Di antara cahaya lentera yang bergoyang nampak sesosok bayangan manusia muncul didepan mata.

Ternyata orang itu adalah Tin Cu hoa, dengan suatu lompatan cepat dia berlarian menghampiri Kwan Lok khi.

"Sekarang kau baru datang" seru perempuan itu sedih, hampir saja aku mampus di tangan perempuan ini."

Dia melirik sekejap kearah Kiau Ngo nio sambil memancarkan sinar kebencian dan dendam, sikap mana dengan cepat mengobarkan kembali hawa amarah Kiau Ngo nio.

Lonte busuk, kau belum mampus?" bentaknya penuh kegusaran.

"Aduh mak, nyonya yang mengenaskan, kau tak usah berlagak didepanku." jengek Tin Cu hoa dengan genit, "betul, aku memang lonte, sedang kau? Kaupun seorang perempuan yang memelihara lelaki untuk kepuasan diri sendiri! Heeeheehee... Nyonya besar, kau tak nanti pernah merasakan kehangatan dan kemesraan seperti yang pernah kualami .."

Dengan genit dia melirik sekejap ke arah, Kwan Lok khi, kemudian terusnya sambil tertawa:

"Bila kau tidak percaya, silahkan saja ditanyakan kepada engkoh Lok."

Tindakan tersebut hampir saja membuat dada Kiau Ngo nio mau meledak rasanya, dia menganggap dirinya seorang perempuan yang berhati kasar dan buas, tapi selama hidupnya belum pernah mengucapkan kata kata yang begitu tak tahu malu macam demikian.
Maka setelah meludah keatas tanah umpatnya. "Lonte yang tak tahu malu, kau benar benar seorang
perempuan cabul yang bermuka tebal."

"Hmmm . . ." Tin Cu hoa mendehem dengan suara dingin dan berat.
Kemudian selang berapa saat kemudian ia baru berkata: "Bagi perempuan macam kita ini memang sesungguhnya
tak punya rasa malu, cuma kau pun tidak sebaik yang kau bayangkan, sebab perempuan macam kau memang tak
pernah ada yang baik. wahai nyonya yang mengenaskan, lebih baik kau enyah saja dari hadapanku sekarang."

"Apa ?" Kiau Ngo nio membentak dengan gusar, "kau si lonte busuk juga berani mengusir lo nio?" "Nyonya yang mengenaskan, kau lebih baik tahu diri," kata Tin Cu hoa lagi dingin, "sekarang keangkeran dan kewibawaanmu sudah tak ada harganya lagi disini, toa sancu kitapun belum tentu akan membantumu, kalau aku menjadi kau lebih baik sekarang juga pulang ke kamar dan tidur sepuas puasnya..."

"Lonte sialan!" umpat Kiau Ngo nio disertai sumpah serapah. "kau berani berlagak dihadapanku? Huuuh, sampah masyarakat semacam kau tidak laku kalau ingin bermain genitan disini, selama hidup Lo nio sudah berwatak demikian, siapa tahu kalau pada hari ini aku akan membunuh lebih dulu."

Tubuhnya meluncur ke depan secepat sambaran kilat  telapak tangannya yang putih bersih dilayangkan ke udara dan menciptakan serentetan bayangan telapak tangan yang tebal, dia menghajar tubuh Tin Cu hoa dengan geram.

Sikap Kwan Lok-khi kelihatan aneh sekali. tiba-tiba dia berteriak lantang:

"Hujin, jangan kau cabut nyawanya."

Posisinya sekarang serba salah, dia tak tahu bagaimana harus mengetasi suasana yang serba rikuh ini.

Kiau Ngo nio berangasan dan kasar, begitu mendengar kalau suaminya melindungi lonte tersebut, kontan saja hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh benaknya.

Dengan kening berkerut kencang dan hawa dingin terpancar dari wajahnya, dia menggeluarkan bayangan telapak tangannya di tengah udara, kemudian langsung dibacokkan ke depan. Berada ditengah kurungan angin pukulan yang berlapis lapis, tentu saja Tin Cu hoa tak bisa berlagak pilon lagi, mendadak dia melejit lincah enam langkah kesamping kiri untuk meloloskan diri, kemudian teriaknya amat marah:

"Kau hendak main kasar? Baik, kita sama sama main kasar, coba dilihat saja nanti siapa yang lebih kasar."

Pada dasarnya dia memang memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, apalagi setelah naik darah sekarang, dengan cepat dia memutar telapak tangannya menyongsong datangnya ancaman tersebut, begitu cepat gerakannya, pada hakekatnya tidak mirip dengan suatu penampilan dari seorang gadis lemah.

Secara beruntun dia melancarkan tiga buah pukulan dahsyat yang langsung mendesak Kiau Ngo nio sehingga mundur berulang kali kebelakang.

Kiau Ngo nio semakin naik darah, kembali dia mencaci maki kalang kabut:

"Tua bangka celaka, muka tebal tak tahu malu, kau bilang tak pandai bersilat, bagaimana buktinya sekarang ? Lonte busuk ini telah mengeluarkan ilmu simpanannya."

Kwan Lok khi sendiripun menjadi terperanjat, dia sama sekali tidak mendengar kalau Tin Cu hoa memiliki kepandaian silat yang begitu hebat.

Sudah banyak tahun Tin Cu hoa hidup sepembaringan dengannya, tapi selama ini pula dia selalu merahasiakan kalau dia pandai bersilat. Sebaliknya, Kwan Lok kbi juga tak pernah mengetahui
kalau pasangannya ini pandai bersilat, sebab selama ini dia tak pernah menemukan gejala bila perempuan itu memiliki kepandaian sijat yang tinggi.

Oleh sebab itu, setelah tertegun berapa saat Kwan Lok khi menjadi kebingungan setengah mati, dari heran yang mencekam perasaannya selama ini sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.

Akhirnya dengan perasaan bergetar keras dan tiba tiba saja paras mukanya berubah serius, dia membentak:

"Tahan."

Kiau Ngo nio melompat mundur ke samping lalu teriaknya dengan lantang.

Ttia rergia ctHlv, sekarang tentunya sudah kau saksikan semuanya bukan?"

Kwan Lok khi menarik napas panjang-panjang, lalu mendekati Tin Cu hoa dengan wajah amat serius, katanya.

"Cu hoa, kau berasal dari perguruan mana?"

Tin Cu hoa melirik sekejap ke arahnya lalu menyahut  dengan suara dingin: "Apakah kau tidak berhasil melihatnya?"

Kwan Lok khi segera tertawa seraro,

"Heeeb, . heeeh. , heeh. . aku benar benar sudah kau kelabuhi selama banyak tahun, hampir saja hancur ditanganmu. Tin Cu hoa, bukankah jurus Siu li sin cing (jahitan indah di balik baju) yang kau pergunakan barusan berasal dari perguruan Lui sah bun?"

"Benar!" jawab Tin Cu hoa dengan wajah berubah hebat, katanya dengan emosi, "dua puluh tahun berselang, dalam suatu malam saja tujuh orang tokoh sakti yang berada di dalam perguruan Liu sah bun binasa di tanganmu, aku Tin Cu hoa sebagai murid angkatan kedua belas dari Liu sah bun, murid dari Ho Siau hui khusus datang kemari untuk membalas dendam kepadamu ..."

"Hmm..." Kwan Lok khi mendengus dingin "hebat sekali rencana busukmu itu, sayang sekali kau telah berjumpa denganku .."

"Cuuuh" Tin Cu hoa meludah, "kau tak lebih hanya nama di atas kueh raoggang, tidak terhitung suatu persoalan, orang  tua Kwan selama ini aku selalu merahasiakan indentitasku, hal ini bukan dikarenakan takut kepadamu dengan mengandalkan sedikit kekayaan yang kau miliki, aku sudah melihat lebih dari cukup."

Kwan Lok khi merasakan hatinya bergetar sangat keras, dalam benaknya segera terlintas kembali bagaimana dia menuruni bukit Jit gwat san dan membunuh tujuh orang busu dari Liu sah bun serta menumpas perguruan itu dari muka bumi.

Waktu itu dia masih gagah perkasa, dengan kekuatan yang tangguh dia mampu menghabisi nyawa ke tujuh jago lihay dari Liu sah bun tanpa mengalami kesulitan.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 24"

Post a Comment

close