Cincin Maut Jilid 23

Mode Malam
Jilid 23

MENARIK napas panjang, pelan pelan mendongakkan kepalanya memandang angkasa biru, kemndian tanyanya lebih jauh:

"Apakah kau tidak malu terhadap Jit gwat-san ?" Kwan Hong merasa terkesiap, cepat cepat serunya.
"Ayah, kesalahan apakah yang telah ananda lakukan hingga menimbulkan amarah yang begitu besar dari ayah ?"

Kwan Lok khi tidak langsung menjawab pertanyaan
anaknya itu. pelan pelan dia mengangkat tangannya ketengah udara, kemudian diarahkan keatas ubun ubun Kwan Hong.

Setelah itulah dia baru berkata. "Apa yang telah kau lakukan, masa harus ayah terangkan kepadamu ? Masa kau tidak tahu perbuatan apakah yang telah kau lakukan ?"

Paras muka Kwan Hong berubah hebat, perasaan putus asa dengan cepat tercermin di atas wajahnya, dia mencoba memandang ayahnya dengan penuh permohonan ampun.

ANGIN MALAM yang dingin berhembus lewat dari dasar lembah, beberapa burung gagak terbang melintas memecahkan keheningan malam yang mulai mencekam, malam yang panjang kini telah berada didepan mata ..

Kwan Liok khi memandang dingin ke wajah putranya, telapak tangannya itu menempel diubun ubun Kwan Hong, saat dia mengerahkan sedikit saja tenaga dalamnya, Kwan Hong akan mati seketika.

Tak heran kalau semua orang yang hadir di arena sama  sana dibikin terkesiap oleh kekejaman dan kebuasan Kwan Lok khi, mereka hanya memandang ketengah arena dengan perasaan ngeri.

Sekujur badan Kwan Hong telah gemetar keras karena ketakutan, sorot mata mohon pengampunan terpancar keluar dari balik matanya, sambil memegangi ujung baju ayahrya, dia mulai merengek dengan suara gemetar:

"Ayah mengapa kau hendak membunuh ku?"

"Kau telah menghianati ayahmu, dikemudian hari bisa saja akan menghianati pula bukit Jit gwat san ini kepada musuh, biar ayah cuma mempunyai seorang putra, tapi, aaaii . . ." Dengan menghela napas dalam dalam, selintas rasa sedih telah muncul diatas wajahnya, kendatipun dia adalah pentolan dari kaum iblis, tapi bila sudah dihadapkan saat untuk membunuh putranya, tak urung rasa kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya akan timbul juga, ia tak tega untuk melakukan pembunuhan tersebut.

Kwan Hong tertegun untuk beberapa saat, kemudian serunya:

"Ayah, mungkin ananda memang ada kesalahan yang pantas untuk dibunuh, tapi bagaimanapun juga kau orang tua harus menerangkannya lebih dulu kepada ananda, sampai waktunya, kendatipun ananda harus mati, aku akan menjadi setan yang mengetahui duduknya persoalan."

"Nak. apakah kau benar-benar tidak mengerti apa sebabnya ayah hendak membunuhmu?" tanya Kwan Lok khi dengan perasaan sedih.

Kwan Hong menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tidak tahu!"
Dengan pandangan dingin Kwaa Lok khi menatap jago padang buta Bok Ci sekejap, dari balik sorot matanya lalu terpancar keluar rasa benci dan dendam yang membara, seolah olah jago pedang buta mempunyai dendam kesumat sedalam lautan saja dengannya.

Sesudah tertawa seram, dia lantas berseru:

"Bok Ci, aku hendak mengadukan ucapanmu tadi dengan putraku..." "Aku tidak mempunyai kegembiraan untuk berbuat demikian, lebih kalau kurangi saja pembicaraanmu." jawab jago pedang buta Bok Ci dingin.

Kwan Hong semakin tertegun, Iagi dia tidak habis mengerti persoalan apakah yang sebenarnya telah terjadi, lebih-lebih tidak mengerti kalau persoalan mana ada hubungannya dengan jago pedang buta Bok Ci.

Dia berpaling kewajah jago pedang buta Bok Ci, kemudian menegur:

"Bok Ci, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Jago pedang buta Bok Ci mengerutkan dahinya kencang kencang, lalu menjawab dengan suara dingin:

"Ayahmu akan memberikan penjelasan sendiri kepadamu."

Selintas hawa napsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Kwan Hong, dengan cepat dia memahami apa gerangan yang telah terjadi, pelan pelan sorot matanya dialihkan kewajah ayahnya, lalu bertanya: "Ayah, benarkah kau menghendaki putramu mati dalam keadaan tidak jelas duduk persoalan."

Padahal selama hidupnya Kwan Lok khi sudah banyak membunuh manusia, tetapi belum pernah dia merasakan suasana semacam hari ini dimana ia merasa tak tega untuk turun tangan.

Beberapa kali tenaga dalamnya sudah akan dikerahkan keluar untuk membunuh anaknya, tapi . . . bagaimanapun juga, hubungan darah antara ayah dan anak memang amat dalam, dia betul betul merasa tak tega untuk melancarkan serangan keji terseebut.

Tadi, dia memang sangat marah sehingga putranya diperintahkan untuk datang menghadap, tapi sekarang dia mulai menyesal, menyesal dia tidak menyelidiki masalah itu sehingga putranya harus tewas di tangan dia sendiri . . .

Akan tetapi bagaimanapun juga peraturan yang berlaku dalam bukit Jit gwat san tak bisa dilanggar hanya disebabkan putranya, apabila dia tidak menghukum mati Kwan Hong pada hari ini maka dikemudian hari dapat kehabisan daya untuk mengurusi anak buahnya yang begitu banyak dalam bukit Jit gwat san.

Bahkan bisa jadi seluruh golongan iblis tak tunduk lagi dibawah perintahnya.

Berbicara sejujurnya, Kwan Lok khi amat menyukai nama, kedudukan serta keberhasilan yang berhasil dicapai sekarang, dia menyukai kesuksesan yana berhasil dicapai bukit Jit gwat san selama ini, akan tetapi dia pun menyayangi jiwa putranya
...

Dengan cepat dia terjerumus dalam suatu keadaan yang serba salah, dia dihadapkan pada pilihan antara nama, kedudukan serta kasih sayang.

Keputusan yang diambil itulah yang akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya dari usaha Jit gwat san menguasai dunia, bila dia lebih memberatkan pada kasih sayang dan  tidak membunuh putranya, bisa hancur berantakan perjuangannya selama ini. Tapi sebaliknya lagi, bila dia lebih memberatkan kedudukan dan keberhasilannya selama ini, maka satu satunya putra kesayangannya itu harus di binasakan diujung telapak tangan sendiri.
Setelah termenung beberapa saat, dia pun berkata lagi: "Alat rahasia dari gua mati hidup ini hanya diketahui ayah
dan kau seorang, bahkan anak  buah  kepercayaanku sendiripun tidak tahu, kini bukan saja jago pedang buta Bok Ci mengetahui cara untuk membuka patkwa besi tersebut,  bahkan . .."

"Ayah, ananda tidak mengatakan rahasia ini kepadanya !" dengan gelisah dan suara gemetar Kwan Hong berseru.

Kwan Lok-khi secara menarik wajahnya kemudian menegur "Kalau tidak kau katakan dari mana dia bisa tahu."

Pertanyaan ini amat sukar untuk dijawab sehingga untuk beberapa saat lamanya Kwan Hong menjadi tertegun, sepatah katapun di tak sanggup ucapkan keluar, sebab peristiwa ini benar benar kelewat aneh dan di luar dugaan.

Biia ayahnya tidak membocorkan rahasia tersebut, sudah pasti dialah yang membocorkan rahasia itu.

"Aah, betul .. bukankah aku pernah memberitahukan rahasia ini kepada Leng Ning cu?" 1 satu ingatan mendadak berkelebat lewat didalam benaknya.

Berpikir sampai disini, dia pun mulai menaruh curiga atas duduknya persoalan tersebut. Dia curiga Leng Ning ciu telah menghianatinya, tapi kejadian inipun bukan sesuatu yang bisa terjadi, karena hingga saat terakhir, Leng Ning-ciu belum pernah berpisah dari sisinya, dan dia tak akan mempunyai kesempatan untuk memberitahukan rahasia tersebut kepada jago pedang buta Bok Ci, dia tidak percaya kalau Leng Ningciu kenal dengan dua orang musuhnya ini. . .

"Ayah tentang persoalan ini aku belum dapat memberikan jawaban yang secara pasti kepadamu" kata Kwan Hong cepat, "beri aku sedikit waktu untukku agar aku dapat menyingkap duduk persoalan yang sebenarnya dari peristiwa ini . .."

Kwan Lok khi segera menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Aku tak bisa menunggu sampai kau dapat menyelesaikan persoalan ini, sebab kau harus tahu bagaimanakah peraturan yang berlaku dalam bukit Jit gwat san ini, aku tak bisa dikarenakan kau adalah putraku maka peraturan yang sudah turun temurun itu harus kuhapuskan dengan begitu saja nak, ayah harus minta maaf kepadamu."

"Ayah ! Aku akan membenci dirimu." kata Kwan Hong
sedih. "orang berambut putih memberi orang berambut hitam, ananda kalau bisa mati ditanganmu pasti tak akan mengucapkan sepatah kata menyesalpun, cuma keturunan  dari keluarga Kwan kita..."

Waktu itu, sebenarnya Kwan Lok kbi sudah mengeraskan hatinya siap turun tangan, mendadak hatinya merasa bergetar sangat keras, ucapan orang berambut putih memberi orang berambut hitam itu sangat menyayat hati kecilnya terutama ucapan tentang keturunan dari keluarga Kwan, dia merasa seolah olah ada awan gelap yang menyelimuti seluruh perasaannya." Peristiwa ini memang merupakan suatu persoalan serius, keluarga Kwan hanya mempunyai Kwan Hong seorang, apabila Kwan Hong terbunuh sekarang maka keturunan keluarga Kwan pun akan musnah hingga disini saja.

Masalah tersebut dengan cepat ::crress Kwan Lok khi sehingga sukar untuk bernapas, telapak tangannya hampir  saja akan ditarik kembali dari atas ubun ubun Kwan Hong, tapi ingatan lain dengan cepat melintas lewat didalam benaknya.

"Anak murid golongan iblis tersebut luas sampai dimana mana, bila kau membebaskan seorang yang membocorkan rahasia dengan begitu saja, bagaimanakah pertanggungan jawabmu terhadap anggota golongan iblis lainnya.

Ingatan mana kembali berputar dan berkecamuk di dalam benaknya.

"Hanya dikarenakan Kwan Hong adalah putramu maka kau lepaskan dia dengan begitu saja, sedang kami anggota golongan iblis, oleh karena tak punya hubungan sanak saudara denganmu, bila kami telah membocorkan rahasia Jit gwat san, maka kau tak akan melepaskan kami."

Dia seolah olah menyaksikan ada banyak sekali anggota golongan iblis yang sedang menegurnya, maka sorot mata makin lama mencorong keluar semakin tajam, dibalik pandangan matanya yang dingin lambat laun muncuI setitik cahaya merah yang menggidikkan hati.

"Ayah..." Kwan Hong menjerit kaget.

"Nak, ayah tak dapat melepaskan kau." seru Kwan Lok-khi dengan wajah yang keji. 

Di dalam benak pikirannya kembali terlintas suatu penandangan yang sangat indah. Dia seakan akan menyaksikan dirinya sudah merajai dunia persilatan, seolah olah utusan dari pelbagai perguruan datang menyembahnya, di mana ia lewat orang orang bersama memandang sambil bersujud menghormat.

Kegagahan dan keangkerannya waktu itu sudah pasti akan mentereng sekali, jauh melebihi seorang kaisar, oleh sebab itu dia harus berusaha untuk mencapai keadaan seperti itu sekalipun kini dia halus mengorbankan jiwa putranya.

Telapak tangannya yang menekan ke bawah makin lama semakin bertambah berat, hawa pukulan yang dahsyat pun sudah terpusatkan dalam telapak tangan, asal pukulan itu dilancarkan maka Kwan Hong akan tewas seketika itu juga. . .

Agaknya Kwan Hong merasakan datangnya ancaman bahaya maut, mendadak serunya dengan suara gemetar:

"Ayah. . ."

Panggilan "ayah" yang begitu mengibakan hati tersebut, dengan cepat menyadarkan kesadarannya kembali Kwan Lok khi dari impiannya yang indah, lamunannya segera lenyap tak berbekas, dengan perasaan hati yang dingin mendadak dia berpikir:

"Dia adalah putra kandungku, apakah aku harus membunuh anakku sendiri? Oooh . . sungguh keji kenyataan ini, walaupun aku bisa mengt:e.arican seluruh kolong langit, tapi aku pun akan kehilangan satu-satunya putra yang kumiliki. . ." Dia menghela napas panjang, tanpa terasa semua kemarahan dan kekalahannya ditimpakan ke tubuh jago pedang buta Bok Ci di tatapnya orang itu dengan sepasang mata melotot besar, kemudian serunya penuh kebencian:

"Bok Ci, setelah putraku mati nanti, menurut dugaanmu siapakah orang pertama yang akan kubunuh?"

"Apa yang mesti ditanya, tentu saja kau sendiri!" jawab Jago pedang buta Bok Ci hambar.

Kwan Lok khi menjadi tertegun.

"Mengapa kau tidak mengatakan dirimu sendiri. ." dia berseru keras.

Jago pedang buta Bok Ci tertawa terbahak.

"Haaah. . haaaaah. . haaah. . alasannya sangat sederhana ketika kau menyaksikan Kwan Hong sudah tergeletak tewas diatas tanah, maka kau akan menyesali sepasang telapak tangan sendiri dan mungkin kau akan memapas kutung telapak tanganmu, maka aku bilang kau tak akan mampu mengurusi aku lagi, orang yang hendak kau buuh paling dulu sudah pasti adalah dirimu sendiri."

Tiba tiba Kwan Hong berkata:

"Ayah, berilah kesempatan kepada ananda untuk membunuh bajingan ini, kemudian baru kau menghukum aku. Semua persoalan ini bisa timbul gara gara mereka berdua, seandainya mereka tidak datang, bukit Jit gwat san pun tak akan terjadi peristiwa yang begini banyak.". Sebenarnya Kwan Lok khi berminat untuk melepaskan diri dari persoalan ini, tapi dengan demikian hal tersebut sama artinya dengan mengakui bahwa dia telah memaafkan KwanHong.

Padahal menurut peraturan yang berlaku dalam bukit Jit gwat san, bila ada anggota yang melanggar kesalahan, entah berada dalam keadaan apapun, maka pertama tama yang harus dihukum adalah orang sendiri lebih dulu, terutama orang yang telah menghianati Jit gwat-san.

Sudah barang tentu sekarang, dia tak bisa mengampuni putranya dengan begitu seja, apalagi sengaja mengulur waktu.

"Ayah !" teriak Kwan Hong dengan cemas, "kalau tidak, bunuhlah aku sekarang juga."

"Baik!" kata Kwan Lok khi kemudian sambil mengeraskan hatinya, "kau tak akan merasakan penderitaan apapun."

Sambil memejamkan matanya rapat rapat, diam diam dia mulai mengerahkan tenaganya siap membunuh anaknya.

Disaat yang amat kritis itulah, mendadak dari tengah udara berkumandang datang suara bentakan gusar yang amat keras, kemudian terdengar seseorang berteriak penuh kemarahan.

"Kau berani mencabut nyawa Hong ji. ."

Ditengan keremangan senja, tampak seorang perempuan cantik berbaju biru dengan dibimbing oleh empat orang dayang berbaju hijau berjalan masuk ke dalam gua. Perempuan itu bertubuh putih bersih, meski usianya sudah banyak namun kecantikannya sama sekali belum meluntur, bahkan keanggunannya masih terpancar keluar dari wajahnya.

"Hujin!"

Perempuan itu mendengus dingin, selapis hawa dingin yang menyeramkan menghiasi wajahnya, dengan suatu gerakan indah dia melompat turun disisi Kwan Hong, kemudian sambil menariknya kesamping, dia berseru:

"Nak, kemarilah kau..."

"Ibu!" seru Kwan Hoig dengan napas terengah.

Dari balik biji mata perempuan itu, terpancar keluar sinar kasih sayang yang amat tebal dipandangnya Kwan Hong sekejap, ketika tidak menjumpai luka apapun ditubuhnya, ia baru menghembuskan napas panjang.

"Pergilah menemani nona Leng" katanya kemudian, "dia sedang menantikan kedatanganmu dalam kebun bunga..."

Liong Tian Im yang mendengar perkataan itu, segera merasakan hatinya bergetar keras, seakan akan disambar geledek saja, ia merasa sedih sekali.

Walaupun dia tidak merasa kalau dirinya mencintai Leng Ning ciu, akan tetapi dia merasa kalau gadis tersebut merupakan gadis pertama yang dikenal olehnya, bayangan tubuhnya telah membekas amat dalam dihati kecilnya, terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli dan pandai berbicara itu, seolah olah membekas selalu didalam hatinya. Kwan Hong memang ingin sekali meninggalkan tempat itu secepatnya, dia segera mengiakan:

"Baik. . "

Baru saja akan beranjak pergi, meadadak dari arah belakang berkumandang suara bentakan nyaring dari Kwan Lok khi:

"Berhenti !"

Dengan perasaan bergetar keras, buru buru Kwan Hong menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh dengan perasaan ngeri bercampur takut tanyanya dengan suara gemetar:

"Ayah, masih ada urusan apa lagi?"

"Aku tidak mengijinkan kau pergi." kata Kwan Lok khi dengan suara sedingin es, "ayah tak bisa melepaskan kau hanya dikarenakan kau adalah putraku, disini hadir musuh maupun orang kita sendiri, seandainya berita ini sampai tersiar, bagaimanakah tanggung jawabku terhadap orang orang di dunia ini? Apa lagi masih ada sepatah kata yang lebih-lebih lagi bakal disebar luaskan orang."

"Perkataan apakah yang lebih penting dari pada nyawa putramu sendiri." seru perempuan cantik tersebut dengan kening berkerut dan perasaan tak senang.

Kwan Lok khi tertawa dingin.

"Aku tak ingin orang lain memduhku sebagai seorang yang takut bini, hujin kau adalah istriku ada banyak masalah yang sebenarnya tidak pantas kau campuri." "Hm!" perempuan itu mendengus, "Ada orang biIang,  orang yang paling akrab hubungannya ialah antara suami dan istri, meski kita sebagai suami istri sungguh tidak disangka sedikit perasaan pun tak tercermin diantara kita berdua, anak itu milikku sekali pun hendak kau bunuh juga paling tidak harus memperoleh persetujuanku, bila kau ingin menunjukkan yayamu sebagai seorang sancu, aku Kiau Ngo nio yang pertama tama menunjukkan sikap menolak . . ."

Paras muka Kwan Lok khi berubah hebat, dia nampak merasa gusar sekali, berada di bukit Jit gwat san boleh dibilang ia adalah pemimpin tertinggi, tiada orang yang berani mengusik atau membantah ucapannya.

Tapi isterinya yang cantik inilah merupakan satu satunya orang yang membuat kepalanya pusing, entah berada dalam keadaan bagaimanapun, dia selalu akan membentak dirinya secara kasar, oleh sebab itu banyak orang yang mengatakan bahwa Jit gwat Sancu adalah seorang yang takut bini.

Sudah sering perkataan itu terdengar olehnya, ada kalanya justru amat menyiksa perasaan hatinya.

"Yaa, sampai dimanakah penderitaan dan siksaan batin  yang di alami, mungkin hanya mereka yang pernah merasakan baru bisa melukiskan secara tepat, sebab orang yang takut  bini seringkali tidak memperoleh kedudukan dalam rumah tangga, akibatnya sang suami akan merasakan suatu perasaan rendah diri, dia jiwa nya menjadi tertekan.

Sementara itu Kwan Lok khi telah berbicara dengan penuh amarah:

"Urusanku pun hendak kau campuri?" "Begitulah sifat Lo nio!" sahut Kiau Ngo nio dengan suara dingin, "bila kau si tua bangka berani berbuat apa apa terhadap si bocah, sama artinya dengan kau ingin berbuat apa apa terhadap lonio. Bila ada urusan, cari saja dengan diri  lonio. ."

Ucapan mana benar benar membuat Kwan Lok khi merasa serba salah, selama hidup dia tidak takut langit tidak takut bumi, walaupun berada didepan orang berlagak sebagai lelaki sejati, tapi bila benar benar mesti bentrok dengan Kian Ngo nio dia menjadi ragu sekali, sebab dia cukup memahami bagaimanakah watak yang sebenarnya dari Kiau Ngo nio...

Sambil tertawa getir akhirnya dia berseru: "Hujin, buat apa kau mesti berbuat demikian ?" Kiau Ngo nio segera tertawa dingin.
"Mengapa tidak ?" sahutnya "anak Lo nio sudah menjadi hak Lo nio untuk mengurusinya, barang siapa berani mengganggu seujung rambutnya pun, aku akan beradu jiwa dengannya, tua bangka celaka, sudah kau dengar belum ucapanku ini."

Kwan Lok khi sungguh merasa kehilangan muka, keningnya kontan saja berkerut kencang.

"Hujin pulanglah dahulu sebentar akan ku bicarakan lagi masalah tersebut denganmu."

"Apa ? Kau hendak menasehati lonio " teriak Kiau Ngo nio sambil bertolak pinggang, sepasang matanya melotot besar sekali. Perempuan memang sumber dari bencana, seringkali mereka ribut ribut hanya disebabkan masalah sepele, apa lagi kalau sudah menantang didepan sang suami, bisa pusing kepala dibuatnya.

Kwan Lok khi menghela napas sedih dihatinya, akhirnya dia mengalah, katanya:

"Hujin, beri ini mengapa kau mencari gara gara terus denganku ?"

Sebelum menikah dengan Kwan Lok khi, Kiau Ngo nio memang sudah termashur karena wataknya yang berangasan, sejak kecil ia sudah memiliki watak menang sendiri bukan saja Kwan Lok khi tak sanggup menghadapinya, bahkan setiap orang dari bukit Jit gwat san dibikin pusing kepalanya oleh perempuan ini, tapi siapa pun tak berani melotot atau menunjukkan wajah tak senang hati dihadapannya, sebab  ilmu silat yang dimiliki perempuan itu boleh dibilang nomor satu disitu.

Kwan Lok khi bisa selihay hari inipun sebagian besar karena bantuan dari Kiau Ngo nio, seandainya Kiau Ngo nio tidak jatuh hati kepadanya dulu, mungkin sampai sekarang orang she Kwan masih seorang bocah rudin jangankan menjadi pentolan kaum iblis, untuk membuka perguruan di bukit Jit gwat san pun mungkin tak mampu.

"Hm . .." perempuan itu menjengek dingin, "aku lihat makin lama ucapanmu semakin tak genak, tempo dulu kalau bukan Io nio sudah buta matanya sehingga memilih dirimu, sekarang mana mungkin kau bisa menjadi tenar seperti ini ? Hmm. kalau sampai Lo nio dibikin marah, jangan harap kau bisa menjadi pentolan dunia persilatan lagi."

Ucapan tersebut benar benar kelewat batas, Kwan Lok khi tak dapat menahan rasa marahnya lagi, dia segera membentak nyaring:

"Hujin, bila saja kau masih tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku tak akan sungkan sungkan lagi terhadap dirimu."

Sebenarnya dia hanya bermaksud untuk menaikkan gengsinya sebagai seorang lelaki saja, terutama dlhadapan orang lain, tapi setelah ucapan mana diutarakan dia menjadi menyesal sekali.

Sampai dimanakah watak perempuan itu, ia mengetahui dengan jelas, semangkin kau mengusiknya maka auman yang berkobar dalam dada Harimau betina itu akan semakin menjadi, bisa jadi urusan akan makin ruwet dibuatnya.

Menyadari akan akibat yang timbuI, Kwan Lok khi segera mengalihkan sorot matanya ke arah Kiau Ngo nio tidak memahami maksud tatapan tersebut itu. melihat Kwan Lok khi mendampratnya, hawa amarah yang masih berkobar didalam dadanya semakin menjadi-jadi, matanya segera melotot besar, sambil melancarkan bacokan dia berteriak:

"Tua bangka celaka, kalau lo nio pun tidak mampu mengusirmu dari bukit ini, selanjutnya aku tak akan she Kiau lagi."

Berbareng dengan diayunkan telapak tangan tersebut, segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kedepan dan menghantam tubuh lelaki tersebut. Kwan Lok khi cukup mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki istrinya, dengan wajah beruban hebat, cepat-cepat dia melompat mundur sejauh lima enam langkah.

Kepada Kwan Hong segera teriaknya "Nak, cepat kau suruh ibumu pergi. ." Nada ucapannya sekarang jauh lebih lembut daripada semula, karena dalam keadaan tak mampu untuk membujuk istrinya pergi meninggalkan tempat itu, terpaksa  dia harus mohon bantuan dari putranya dengan harapan putranya yang menghilangkan suasana serba rikuh tersebut, sehingga dia dapat lebih mengkonsentrasikan pikirannya untuk menghadapi ancaman dua orang musuh tangguhnya.

Kwan Hong tak berani membangkang buru buru dia menarik tangan Kiau Ngo nio sambil berseru:

"lbu ! Mari kita kembali ke kamar saja . ."

Sambil melemaskan diri dari teriakan anaknya Kiau Ngo nio berseru dengan suara lantang:

"Aaaai kau si bocah benar benar tak lalui diri, si tua bangka celaka itu hendak membunuh dirimu tapi kau malah membantunya, bangsat tua ini tak tahu diberi keenakan bila memberi angin sedikit saja kepadanya, ia akan menjadi lupa daratan. ."

Sesabar sabarnya Kwan Lok khi, titik kesabaran orang toh ada batasnya juga, ketika dilihatnya perkataan dari Kiau Ngo nio makin lama semakin tak genah, mukanya kontan saja berobah menjadi hijau membesi, seperti hati babi yang baru dipotong saja, betul betul amat tak sedap dipandang. "Sialan. . lebih baik aku tak usah menjadi anggota Jit gwat san dari pada harus menahan hati akibat ulah perempuan busuk itu." demikian dia berpikir.

Dengan kemarahan yang membara, ia segera membentak:

"Hujin, aku perintahkan kepadamu segera enyah dari sini.
."

"Enyah?" Kiau Nno nio segera tertawa terbahak-bahak, "haaaah, haaaaah. haaaaah, tak akan segampang itu, Jit gwat san adalah harta peninggalan dari keluarga Kiau, bukan tempat tinggal kau manusia she Kwan belum lagi aku menyuruhmu enyah, kau sudah ingin mengenyahkan lonio?
Hratita xratsku dulu memang sial delapan keturunan sehingga bisa kawin dengan tua bangka celaka macam kau. Boleh saja kalau kau menginginkan kami enyah, tapi kau harus menyembah dulu didepan kaki lo nio sambil menyebut nenek moyangmu."

Ucapan mana kontan saja membuat Kwan Lok khi makin mengenaskan, dia seperti kehilangan harga dirinya sebagai seorang lelaki, nama dan kedudukan yang diperolehnya selama inipun seolah-olah turut punah tak berbekas.

Tentu saja dia tak bisa menelan perkataan mana dengan begitu saja.

Dalam keadaan tak bisa di tahan lagi, dia segera membentak keras, kemudian telapak tangannya diayunkan kedepan menampar wajah Kiau Ngo nio keras keras.

"Plaaak" sebuah bekas telapak tangan yang merah membengkak segera tertera nyata diatas wajab Kiau Ngo nio yang putih, wajah yang semula cantik jelitapun kini berubah menjadi merah membara dan bengkak seperti bakpao.

Tamparan tersebut masih mendingan yang lebih celaka lagi akan amarahnya dari Harimau betina tersebut.

Menangis, ribut, mau bunuh diri merupakan senjata  andalan kaum wanita, tampaknya semua senjata itu telah dikeluarkan semua bila kaum lelaki sudah dihadapkan senjata mana, pasti tak akan tahan dibuatnya.

Kiau Ngo nio menjadi tertegun, kemudian menangis tersedu sedu, dia segera menarik rambut sendiri hingga terurai tak karuan, kemudian mengeluarkan sapu tangan dan menyeka air matanya yang menganak sungai.

"Tua bangka keparat, kau berani menghantam nyonya mudamu ?" teriaknya sambil lengah "baik, baik, kau boleh ambil semua harta kekayaanku dibukit Jit gwat san ini, aku akan segera mencari engku, biar dia orang tua yang menghadapimu, akan kulihat apa yang bisa kau lakukan terhadapnya."

Kwan Lok khi menjadi panik sekali, walaupun dia mempunyai nyali untuk menampar istrinya, tepi tak berani mengusik engkonya yang tak pakai aturan itu.

Ia lebih suka melakukan pekerjaan yang lain daripada bertemu dengan engkunya itu, kalau cuma melotot atau mengumpat masih mendingan bila dia sampai mengeluarkan ilmu simpanannya yang justru merupakan ilmu tandingan dari Toa biong jiu keluarga Kwan, dia bisa keok dibuatnya. Oleh karena itu, dalam cemasnya Kwan Lok khi seakan akan sudah lupa akan harga dirinya sebagai seorang lelaki lagi, dengan gugup dan gelagapan ia segera berseru:

"Hujin, kalau ada persoalan mari kita bicarakan secara baik baik . ."

"Kentut! Kiau Ngo nio tak akan perduli apa pun, pokoknya kita bikin bubar hubungan kita selama ini. ." Kemudian setelah berhenti sejenak serunya.

"Tulang miskin, tua bangka celaka, kau anggap setelah menampar nyonya besarmu, maka urusan bisa dibereskan dengan beberapa patah katamu itu? Tunggu saja nanti, bila lonio tidak menyuruh kau berlutut sambil minta ampun di hadapanku, aku tak akan menjadi putrinya Kiau Ceng moi, kami punya putra putri keluarga Kiau bukan manusia sembarangan, bayangkan sendiri bagaimanakah sikapmu ketika mengejar aku dulu."

Kenangan masa lalu segera melintas kembali didepan mata Kwan Lok-khi, tiap kali teringat akan hal itu, hatinya pasti merasa sedih sekali, terutama ketika ia kehilangan harga dirinya dulu, sampai sekarang peristiwa mana masih membekas dihatinya.

Seandainya ia tak berjumpa dengan Kiau Ngo-nio mustahil dia menjadi tenar seperti sekarang, bahkan bisa jadi ia masih menjadi seorang rudin.

Dengan perasaan yang amat pedih, Kwan Lok khi menghela napas panjang, pintanya kemudian:

"Hujin, janganlah kau korek korek luka didalam hatiku." "Oooh, kau takut aku ungkapkan keadaanmu yang sebenarnya?" jengek Kiau Ngo nio sambil tertawa dingin, "tua bangka celaka, manusia sialan, lo nio suka bicara mau apa kau? ... Siapa suruh kau kawin denganku dulu ..."

Sambil berkata sambil menangis, dia seperti merasakan hatinya benar-benar amat tersiksa, apa lagi sewaktu dia  melirik sekejap ke sekeliling tempat itu dan menyaksikan  setiap orang sedang memperhatikannya, rasa benci dan marahnya makin berkobar kobar dia ingin sekali membalas tamparan tersebut agar Kwan Lok-khi pun turut mendapat aib.

Mendadak dia mengayunkan telapak tangannya sambil membentak:

"Orang she Kwan, hari ini lo nio akan beradu jiwa dengan mu."

Tampaknya Kwan Lok khi sama sekali tidak menyangka  kalau dia bakal turun tangan secara mendadak, "Plak!" sebuah tamparan keras membuat tubuhnya menjadi sempoyongan  dan hampir saja jatuh terduduk diatas tanah.

Kontan saja sepasang matanya berubah menjadi merah berapi api dan memancarkan sinar kebuasan yang mengerikan, teriaknya dengan nyaring.

Harga diri seorang lelaki membuatnya menjadi kalap, kalau dihari hari biasa ia tak berani mengusik harimau betina tersebut, maka sekarang ia tak ambil perduli lagi, dengan kemarahan yang tak terbendung lagi dia maju ke depan, membentak nyaring dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan. Melihat datangnya serangan yang begitu dahsyat, Kiau Ngo nio mengegos kesamping, kemudian kelima jari tangannya dipentangkan siap mencengkeram sikut Kwan Lok Khi.

Kwan Hong yang menyaksikan ke dua orang tuanya siap bertarung sendiri didepan orang banyak segera merasa malu sekali, dengan cepat dia melompat menghadang didepan kedua orang itu, lalu berseru dengan hati yang amat gelisah.

"Ayah, ibu, kalian berdua jangan berkelahi terus disini!"

Kwan Lok khi memang tidak berhasrat untuk menyerang secara sungguhan, melihat putranya sudah melerai diapun segera manfaatkan kesempatan tersebut untuk mengundurkan diri, dengan cepat dia melayang mundar lalu serunya dengan wajah dingin: "Anak Hong, kau. ."

Waktu itu, sebetulnya Kiau Ngo nio pun sedang bersiap sedia untuk turun tangan, melihat putranya Kwan Hong menghadang didepan tubuhnya, terpaksa dia harus menghentikan langkahnya dan berseru pada Kwan Hong sambil menangis terisak:

"Nak, Lo nio sudah memeliharamu hingga dewasa, masa kau tidak membelai diriku? Sekarang ibu dianiaya orang, mengapa kau hanya berpeluk tangan belaka? Jika kau adalah seorang anak yang berbakti, sekarang juga kau harus mengusir tua bangka itu dari sini."

"Ibu, dia adalah ayahku. . . ." seru Kwan Hong agak tergagap.

Dengan mata melotot Kiau Ngo nio berseru lagi: "Kalau ayahmu lantas kenapa ? Lo nio kalau sudah marah, siapa pun tak akan kenal Iagi, bila orang orang dari keluarga Kiau kita jengkel dan tidak berperasaan, siapa pun tak akan menganggap Jit gwat san kita sebagai pentolannya kaum iblis, jikalau kau ingin menjadi Jit gwat sancu yang akan datang, maka kau harus tidak kenal siapa pun, bila terbelenggu oleh perasaan, siapa pun didunia ini tak akan tunduk kepadamu."

Kwan Hong tak berani menjawab, terpaksa dia menarik lengan Kiau Ngo nio dan diajak berlalu dari situ.

Kini amarah yang membara dalam dada Kiau Ngo nio sudah jauh lebih berkurang tapi masih tidak terima dengan begitu saja, sambil berpaling kembali serunya:

"Tua bangsa celaka, hari ini kau berhasil duduk diatas   angin dan boleh berbangga hati sementara waktu, tapi hati hati mulai saat ini, kalau lo nio tak dapat sedikit memberi pelajaran kepadamu, percuma aku menjadi putrinya Kiau, Bila tak punya keberanian, jangan pulang kerumah malam nanti.
Hmmm, jika berani pulang. aku pasti akan memberikan suatu ganjaran yang setimpal untukmu."

Kwan Lok khi pun sadar bahwa malam ini jangan harap dia bisa melewatkannya dengan aman tentram.

Dihari biasa tanpa persoalan pun dia sudah mengomel
terus, apa lagi setelah menyakiti hatinya sekarang, sudah pasti dia tak akan memberikan sedikit ketenanganpun baginya.

Kwan Lok khi adalah orang yang sudah berpengalaman, dia tahu rasa benci Kiau Ngo nio sekarang belum hilang, bila dia berbicara baik baik sekarang justru hal tersebut akan menimbulkan kemarahan yang semakin menjadi dari perempuan tersebut.

Maka dengan wajah yang tetap dingin seperti es dan wajah tetap diliputi amarah, dia berteriak:

"Hm. silahkan saja berlagak buas silahkan bersikap galak, aku memang sudah tahu akan kelihayanmu, Kau anggap aku takut menghadapi kebuasan dan kegalakanmu itu."

oooOooo oocOooo

Bayangan tubuh dari Kiau Ngo-nio dan Kwan Hong sudah semakin menjauh, dimana akhirnya lenyap dibalik remangremangnya suasana. Kegelapan malam sudah menyelimuti angkasa dan mengurung seluruh jagat.

Cahaya lampu mulai dipasang dan bergemerlapan diseluruh bukit Ji gwat san.

Dari balik gua mati hidup terpancar keluar cahaya api obor yang menjilat-jilat di tengah udara, serta memancarkan gulungan asap berwarna hitam pekat. Paras muka Kwan Lok khi berwarna merah membara, persis seperti orang yang sedang mabok oleh arak, dibalik warna merah membara itu melintas pula hawa pembunuhan yang mengerikan.

Saat itu dia dapat menghembuskan napas lega, perasaan hatinya jauh lebih ringan.

Sorot mata yang tajam berkilauan, di balik kegelapan dan pelan-pelan mencari dua orang pemuda lawannya, ia bertekad hendak melenyapkan kedua orang pemuda tersebut dari muka bumi. Akan tetapi ketika sorot matanya berhenti ditengah arena, dengan cepat ia jadi tertegun.

Rupanya kecuali Liong Tian-im yang masih berdiri dimulut gua, Jago pedang buta Bok Ci sudah lenyap tak berbekas, kemanakah di telah pergi?

Pelbagai ingatan dengan cepat menyelimuti benak Kwan Lok-khi, sambil tertawa dingin tegurnya:

"Orang she Liong, mana sahabatmu itu ?"

Sekarang, kawanan jago lihay yang begitu banyak dalam gua baru merasakan sesuatu yang tak beres, mereka semua hanya tertarik untuk menyaksikan perselisihan keluarga dan melupakan dua orang musuh yang hadir disitu.

Kini, pihak lawan tahu tahu sudah berkurang seorang, sejak kapan perginya pun tidak diketahui mereka, andaikata Sancunya sampai menegor, siapapun tak akan tahan memikul tanggung jawab tersebut.

Oleh sebab itu dengan ketakutan paras muka mereka berubah hebat, ditatapnya wajah Kwan Lok-khi dengan perasaan ngeri.

Liong Tian im berdiri tegak di depan pintu gua mati hidup, sorot matanya yang tajam menatap wajah Kwan Lok khi tanpa berkedip setelah hawa murninya diripun ke seluruh badan, dia menarik napas panjang panjang, lalu berkata dengan hambar:

"Toako ku sedang memasuki gua mati hidup mu untuk melihat lihat keadaan." Mendengar perkataan tersebut, Kwan Lok-khi merasa terperanjat kini semua alat rahasia di dalam goa mati hidup sudah dimatikan, dengan kepandaian silat yang dimiliki Jago pedang buta Bok Ci, asal dia sempat berjalan sekali didalam gua, maka semua rahasia disitu akan teringat olehnya, hal tersebut sama halnya dengan membongkar semua rahasia alat jebakan di sana.

Bila hal ini sampai terjadi, berarti gua mati hidup tak akan mampu menghalangi ke kurungan dari si pedang langit lagi.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya dii mengambil sebuah keputusan didalam hati pikirnya:

"Aku harus menggerakkan kembali semua peralatan rahasia dari gua mati hidup tersebut dan mengurung jago pedang buta Bok Ci di dalam sana, dengan tersisa Liong Tian im seorang, maka dia akan lebih mudah untuk dij hadapi..."

Akan tetapi setelah dilihatnya Liong Tian im berdiri persis di bawah patkwa besar tersebut, dengan cepat dia pun menyadari kalau benda yang hendak dilindungi pihak lawan adalah Pat kwa tersebut, sudah pasti dia tak akan memberi kesempatan kepadanya untuk menggerakkan alat rahasia dari tersebut.

Setelah tertawa seram katanya:

"Keparat she Liong, saudaramu tidak mungkin bisa keluar lagi dengan selamat, bila kun punya minat, tak ada salahnya untuk turut masuk kedalam, coba lihatlah apakah ucapan lohu..."

Liong Tian im segera mendengus tukasnya: "Tak akan segampang itu, toako sudah mengetahui jelas akan keadaan dalam gua tersebut, mesti peralatan rahasiamu sangat lihay hal itu cuma bisa menakut nakuti orang orang biasa, kalau berganti dengan kami huuh masih belum terhitung seberapa."

Kwan Lok khi sama sekali tidak menyangka kalau pemuda tersebut amat sombong ternyata sama sekali tak memandang sebelah mata pun terhadap gua mati hidupnya.

Sambil tertawa seram, diapun berseru:

"Bocah keparat, beranikah kau untuk maju selangkah lagi?"

Tujuan Liong Tian im sekarang adalah mengulur waktu selama mungkin dengan gembong iblis tersebut, agar toakonya Bok Ci mempunyai cukup waktu untuk menolong si pedang langit Bok Keng jin dari dalam kurungan.

Dengan kemantapan yang tersedia, dia menyahut lagi dingin:

"Bila toako ku sudah keluar nanti, akan ku masuki gua tersebut untuk kubuktikan sampai dimanakah kelihayan dari gua mati hidupmi itu, aku ingin tahu apakah tempat tersebut benar benar terdiri dari dinding baja. . ."

Kwan Lok khi bukan seorang yang bodoh, tentu saja dia dapat memahami jalan pemikiran Liong Tian im, satu ingatan segera melintas dalam benaknya, sambil mengulapkan tangannya diiringi jarinya segera menuding ke depan, itulah kode rahasia dari bukit Jit gwat san: Kepada ke empat orang lelaki yang berada dibelakangnya, dia lantas berseru:

"Bekuk bocah keparat itu. ."

"Baik!" jawab ke empat orang lelaki itu sambil serentak mencabut keluar pedangnya.

Kemudian dengan gerakan tubuh secepat sambaran kilat mereka melompat kedepan, dari tengah udara masing masing melancarkan empat buah serangan berantai yang semuanya berjumlah enam belas buah serangan, semua ancaman itu merupakan ancaman mematikan, tak sebuah pun yang jauh dari tempat mematikan ditubuh Liong Tian-im.

Dari gerak jurus serangan yang dilancar kan ke empat orang lelaki berbaju hitam itu, Liong Tian im telah membuat suatu keputusan yang jelas, ia mengerti bahwa posisinya sangat tidak mengurungkan maka pikirnya kemudian:

"Aku harus berhasil membunuh ke empat bajingan ini
dalam sekali gebrakan, dengan begitu musuh baru bisa dibikin keder atau paling tidak akan mengurangi kekuatan musuh yang hadir disini, demi keselamatan toako aku tak boleh membiarkan Kwan Lok khi menggerakkan pat-kwa besar tersebut, sehingga alat rahasia yang ada mulai bekerja kembali..."

Senjata patung Kim mo sin jin nya segera digetarkan lalu secepat kilat disodokkan sebanyak empat kali ke tengah udara, gerak mana dilakukan dalam waktu singkat dengan kecepatan tinggi. Empat kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera bergema memecahkan keheningan malam, tahu tahu empat orang lelaki itu sudah tewas dalam keadaan mengerikan.

Percikan darah kental berhamburan keempat penjuru, hancuran kepala berserakan di mana-mana dan tercerai berai ditubuh orang orang yang berada diseputar arena.

Peristiwa ini dengan cepat membuat orang menjadi kaget, paras muka mereka berubah hebat, siapa pun tidak  menyangka musuh yang masih muda beliau itu ternyata memiliki kepandaian silat yang sangat luar biasa dan dalam sekali gebrakan saja, empat orang itu telah dihabisi nyawanya.

Ditinjau dari sini, bisa diketahui kalau tingkat ilmu silat yang dimiliki pemuda tersebut pada hakekatnya tidak berada dibawah kemampuan pemimpin mereka sendiri.

Kwan Lok khi merasa amat sedih, dia merasa hatinya amat pedih karena kehilangan empat orang kepercayaanrya, tapi timbul juga perasaan ngeri bercampur takut dihati kecilnya, hampir saja dia tak percaya kalau dalam beberapa hari saja Liong Tian im telah memperoleh kemajuan yang begitu pesat.

"Bocah keparat, kau bakal mampus karena uIahmu itu. ." teriaknya penuh amarah.

"Hmmm, bila kau tidak kuatir orang orang Jit gwat san mu tewas semua dalam keadaan begini, kirimlah lebih banyak gentong gentong nasi tersebut untuk menerima kematiannya, meski toaya senang membunuh, tapi ada kalanya memang perlu untuk menghabisi beberapa orang kurcaci dari dunia persilatan .. ." "Hmmm . . ." suatu dengusan keras menggema memecahkan keheningan, lalu seorang lelaki berjubah abu abu dengan membawa sebuah tongkat tembaga, telah menampilkan diri ke tengah arena.

Setelah menjura kepada ketuanya, dia berkata.

"Sancu, serahkan saja bajingan keparat ini kepadaku. . ."

Kwan Lok khi segera mengenali orang tersebut sebagai pengurus rumah tangga Ciong, ilmu silat yang dimiliki orang ini tidak kalah bila dibandingkan To hu jin maupun Pek li kit, dia memang termasuk salah seorang jagoan yang tangguh dari bukit Jit gwat san.

Sambil manggut manggut ujarnya kemudian "Ciong si, kau hanya boleh menang tak boleh kalah didalam pertarungan ini, aku Kwan Lok khi tak boleh membiarkan bocah keparat ini bercokol terus disini, kalau orang orang sampai mengatakan kita orang orang Jit gwat san tak becus hingga untuk melenyapkan seorang angkatan muda pun tak mampu, aku orang she Kwan bisa tak punya muka untuk berdiri lagi dalam dunia persilatan."

Ciong Ki tertawa seram. "Sancu, kau tak usah merisaukan hal ini, aku Ciong Ki tak akan membuatmu merasa kecewa !"

Setelah maju beberapa langkah, sambil mempersiapkan senjata toya tembaganya, dia membentak keras:

"Liong Tian im, kalau kau punya kepandaian, mari kita bergebrak..."

Liong Tian im berkerut kening, lalu katanya: "Bila aku ingin menghantar kematianmu, aku orang she Liong pasti tak akan menyia-nyiakan keinginanmu..."

Kedudukan Ciong Ki dibukit Jit gwat san sangat tinggi, Kwan Lok khi dapat menyerahkan urusan rumah tangga kepadanya, dari sini bisa diketahui kalau kemampuannya memang hebat.

Dia berasal dari Khong tong pay, bukan saja mulutnya pandai mengumpak dan mencari muka, kepandaian silatnya pun boleh dibilang luar biasa sekali...

Ketika dilihatnya Liong Tian im memandang rendah dirinya, kontan saja amarahnya berkobar, sambil tertawa seram serunya:

"Bocah keparat, kemampuanmu itu bila kutimbang dengan ujung jariku, kalau di bilang paling banter cuma separuh botol cuka, digoncangkan dikocok ke sana kemari sama sekali tak bisa dianggap sebagai sebiji jih3.
Liong Tian im segera tertawa terbahak bahak. "Haaahhh....hhhaaaahhh, kemampuanmu juga tidak begitu
hebat mfilim biii ti^a kucing tentu mencuri ikan, apalagi kalau sudah mengendus bau amis, aku lihat setelah senja tiba, kau baru muncul di tengah malam."

"Sialan bocah keparat ini, mulutnya benar benar tidak  bersih, apalagi kalau sudah buka suara, benar benar tak sedap didengar." gerutu Ciong Ki dihati, "dari sini bisa diketahui  kalau bocah keparat ini mempunyai asal usul yang luar biasa dengan kepandaian yang hebat, cukup dilihat dari kemampuannya bersiat lidah, orang biasa sudah jelas tak akan mampu untuk menandinginya." 

Berpikir demikian dia lantas tertawa terbahak bahak.

"Haaah, haaah, haaah, kau adalah si bocah busuk dari  dalam janwv mitn keras latnya bukan kepalang, aku Ciong Ki bisa bertemu dengan seseorang macam sobit, toe airbem.r gnl sepanjang masa hubungan km merupakan sahabat mati hidup makanya bila kau tidak mampus akupun tak akan hidup."

Dia mengeetarkan tongkat tembaganya dan diputar membentuk beberapa jalur bayangan tajam yang beruntun, kemudian dengan kecepatan yang menggetarkan sukma, dia hantam kepala Liong Tian im dengan jurus nang-tah bu-cinglong (mengemplang kekasih tak setia).

Hakekatnya keadaan sekarang ibaratnya emas murni bersemu spt dahsyat yang sam lo Wh keras dari pada yang lain.

Liong Tian im tertawa dingin, senjata patung emas Kim-mo sin jin nya segera diayunkan ke atas untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

"Traaaang !"

Ditengah udara berkumandang suara bentrokan yang amat nyaring sekali. disusul kemudian percikan bunga api memancar ke empat penjuru.

Sekujur tubuh Ciong Ki gemetar keras, bagaikan ranting pohon terhembus angin, hampir saja dia terjerembab ke atas tanah. Kontan saja dia melotot besar besar lalu berteriak dengan suara menggeledek:

"Kau benar benar keparat sialan, ayo kenapa tidak keluarkan saja semua simpananmu ? Hei sahabat i L'on e hal ini jangan kau sama kan dengan sehari maka tigan kali kau ringkas menjadi sehari makan satu kali, nantikan saja bs laga aku nanti :"

"Nasib dunia persilatan tak sedap dicrakan-kita lebih baik menangkap pun harus menangkap, tapi kau harus mengerti, bila air dilain gentong sampai bocor, sekali pun sang ikan tak sampai mati juga akan cedera, bila tahu diri, lebih baik suruhlah Tang keh kalian maju sendiri Vau tnetfcl menge." i trs^s panit \n\ jirafc gm?ang ui uk dihadapi i, Ciong Ki berjseiut kuntog lalu neciesis revi jhb, tangannya digetarkan dan seha-.b ayunan tongkat kembali meluncur ke depan.

Walaupun hal ini bukan suatu hal yang mempertaruhkan jiwa, namun jelas merupakan suatu nn dikan menjual tenaga, mungkin dia sendiri jauh lebih jelas dari pada orang lain, bekerja untuk keluarga Kwan memang bukan suatu pekerjaan gampang.

Jangan dilihat dihari hari biasa Kwan Lok khi yang selalu menganggapmu sebagai orang kepercayaan, bila wajahmu sampai celomotan abu seperti kau sedang mencari jalan kematian sendiri.

Sementara itu, Kwan Lok khi juga sudah mendongkolkan sekali setelah dilihatnya pertarungan antara Ciong Ki melawan musuhnya belum berhasil juga meraih keuntungan, keningnya berkerut kencang, lalu sepasang matanya berapi api. "Ciong Ki!" mendadak dia menegor, "sudah jurus beberapa ini? Apakah kau memerlukan bantuanku. ."

Mendengar pemimpinnya sudah membuka suara, seluruh tubuh Ciong Ki gemetar keras karena ngeri, kalau semula dia masih bisa meneter musuh, maka sekarang dia sendiri yang dibuat gelagapan sampai tak mampu untuk mempertahankan diri lagi. Ia tahu nada suara majikannya sudah tak baik, bisa jadi dia akan memperoleh kesulitan sendiri nanti.

Maka dengan ketakutan setengah mati katanya. "Sancu, ini adalah jurus kedua puIuh delapan"
"Aku yakin kau pasti mengetahui tentang peraturan keluarga Kwan kami jauh lebih jelas daripada siapapun, bila bertarung merawat musuh maka tak boleh kelewat tiga puluh gebrakan, bila tiga puluh gebrakan sudah lewat terpaksa aku akan mempersilahkan kau minum arak!" kata Kwan Lok khi dingin.

Arak tersebut tentu bukan arak kesenangan, tiada arak
yang enak untuk orang yang tak mampu, itu berarti hanya ada arak getir pencabut nyawa baginya.

Kwan Lok-khi memang sudah termashur karena kebuasan dan kekejamannya, bila anggota Jit gwat san sampai menderita kekalahan ditangan orang, sekalipun selembar jiwanya tidak lenyap ditangan orang, dia pun tak akan lolos dari tangan Kwan Lok khi.

Ciong Ki adalah seorang jagoan yang sudah lama mengendon disitu, sudah barang tentu dia cukup memahami arti perkataan tersebut, ini berarti bila dalam dua gebrakan lagi ia tak sanggup merobohkan lawan, berarti selembar jiwanya pun tak dapat dipertahankan lagi.

Ciong Ki menjadi merinding sendiri karena ketakutan, buruburu teriaknya keras-keras:

"Sancu, tuanku . . selembar nyawa Ciong Ki masih berharga untuk hidup .. . "

Ini namanya si muka bengkak mengaku gemuk, sudah tahu tak mampu untuk bertahan lebih jauh, namun berlagak sok jagoan, jangankan ke dua jurus serangan dilepaskan dengan menggunakan jurus yang tangguh, dilihatnya dari gerakan toyanya yang berputar ditengah udara pun dapat diketahui kalau dia sedang mempertaruhkan jiwanya.

"Heehhmm..."

Dia mendesis untuk memperbesar keberanian sendiri, lalu toya tembaganya diayunkan ke muka dengan sekuat tenaga.

Segulung desingan angin tajam menembusi diantara pertahanan senjata lawan dan menyongsong tubuh si anak muda tersebut dengan sasaran yang jitu.

Dalam anggapan Ciong Ki, dengan serangannya kali ini dia pasti akan berhasil untuk meraih kembali nama baiknya, sehingga tanpa terasa dia berseru:

"Sobat, hadiah balasanku ini harap kau terima."

Liong Tian im berkelebat sambil memutar senjata paturg Kim mo sin jinnya, lalu menyahut dengan senyuman dikulum: "Lotiang jangan kelewat sungkan, hadiahmu ini tak nanti akan kau kirim dengan sia sia, cuma aku orang she Liong tak berani untuk menerimanya, lebih baik kan simpan saja untuk majikanmu !"

Ia berkelit dengan cepat, melancarkan serangan lebih cepat lagi, tahu tahu Ciong Ki hanya merasakan tangannya menjadi ringan dan tongkat tembaganya itu sudah hancur berantakan menjadi berkeping-keping.

Menyaksikan keadaan tersebut, keadaan Ciong Ki segera berubah bagaikan tertuduh yang divonis mati, mukanya menjadi layu dan murung, setelah menghembuskan napas sedih ia menghela napas panjang, katanya:

"Sobat. dengan begini, maka selembar naywaku tak bisa dipertahankan lagi !"

Mendadak terdengar serentetan suara dingin berkumandang:

"Bagaimana Ciong Ki, kau hendak turun tangan sendiri ataukah mengharuskan aku yang turun tangan !"

Suara yang dingin dan kaku itu seperti sambaran guntur di langit nan biru, kontan saja membuat Ciong Ki terbelalak dengan wajah ketakutan, seluruh tubuhnya terasa dingin seperti es, dia tahu kematian sudah berada di depan mata.

"Sancu." katanya kemudian dengan sedih, "kebuasanmu sungguh telah merasuk sampai ke tulang sumsum, baiklah aku Ciong Ki akan menggorok leher sendiri untuk pulang kerumah leluhur, kita jumpa lagi dalam penitisan mendatang." Sambil menghela napas panjang, dia mengangkat telapak tangannya dan diayunkan keatas ubun-ubun sendiri.

Di saat tangannya diayunkan ke bawah, wajahnya tak  urung menampilkan juga perasaan ngeri dan takut yang amat tebal.

"Plaakk..!" diiringi bunyi keras, ayunan telapak tangan itu persis bersarang diatas batok kepalanya, membuat darah segar segera memercik keempat penjuru.

Secara beruntun sudah ada lima sosok mayat yang tergelepar diatas tanah, darah yang anyir meleleh dimanamana membuat suasana amat memerihkan hati.

Semua yang hadir nampak menundukkan kepala dengan sedih, hanya Kwan Lok khi seorang tetap berdiri ditempat tanpa perubahan emosi, seolah-olah kejadian ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia.

Dia bukanya tidak acuh terhadap kematian beberapa orang itu, justru ia sedang gusar karena dari sekian banyak jagoan golongan hitam yang dipeliharanya selama ini, ternyata tak seorang angkatan muda, sayangnya mesti dia marah dan mangkel, marah tersebut tak bisa dilampiaskan sendiri, bagaimanapun juga, sebagai cikal bakalnya kaum iblis, tentu saja dia segan untuk ribut sendiri dengan seorang bocah cilik."

Maka dari itu, sorot matanya kembali memandang sekejap ke arah kawanan jago yang berada dibelakangnya dengan cepat, dia berniat untuk mencari seorang jagoan lihay yang pantas untuk mewakili dirinya.

Sorot mata yang merah membara telah memandang sekejap seluruh wajah orang-orang itu, namun nyatanya tak seorang manusia pun diantara mereka yang bersedia menampilkan diri untuk melangsungkan pertarungan, sekali lagi dia menatap mereka dengan sorot mata, menanya:

"Siapakah yang bersedia mewakiliku untuk membekuk keparat ini . . ."

Namun nyatanya tak seorangpun yang menanggapi, mereka semua seakan akan telah berubah menjadi setansetan bernyali kecil, semuanya membungkam dalam seribu bahasa.

Jangan dilihat sikap mereka dihari hari biasa yang begitu gagah perkasa, bila benar-benar bertemu dengan pertarungan maka kegagahan mereka entah sudah kabur ke mana. Ciong  Ki merupakan seorang contoh yang baik, hingga kini darahnya belum mengering, dan darah tersebut menunjukkan betapa kerasnya peraturan yang ditetapkan Kwan-ya mereka.

Bila tiga puluh gebrakan sudah lewat dan ia masih belum mampu merobohkan lawan, berarti selembar nyawa sendiri akan turut digadaikan, bayangkan saja siapakah yang bersedia melakukan perbuatan yang sebodoh ini?

Melihat anak buahnya membungkam semua, dengan gusar Kwan Lok khi menegur:
"Hei, apakah kalian sudah pada mampus?" "Sancu apakah batas tiga puluh jurusmu bisa
diperlonggar?" tanya Hu to Jin dengan suara gemetar.

"Diperlonggar?" teriak Kwan Lok khi sambil melototkan sepasang matanya bulat-bulat, "nenek keparat! Sudah lama aku orang she Kwan mengendon dalam dunia persilatan dan selama ini peraturanku tak pernah berubah, kau ingin merusak nama baikku..."

Hu to jin berdiri bodoh, pada hakekatnya sikap majikannya tidak memberi kesempatan sama sekali baginya untuk mengatur napas apalagi setelah mendengar teriakannya ibarat hembusan angin dingin dari arah barat laut, ia jadi ketakutan setengah mati dan tak berani berbicara lebih jauh.

"Kembali!" Kwan Lok khi membentak dengan keras menggeledek: "Bekuk bocah keparat itu, kalau tidak, aku akan membunuh dirimu . ."

Dengan terperanjat Hu to Jin mendongakkan kepalanya,  lalu memandang wajah Kwan Lok khi termangu, ia tak percaya kalau majikannya akan menghantar dirinya kedepan pintu akhirat.

Akan tetapi sebagai seorang jagoan ternama, dia pun enggan memperlihatkan kelemahan dihadapan umum, kendatipun harus mati. dia harus mati secara terhormat.

Maka dengan langkah lebar dia maju ke depan, kemudian serunya: "Hei, lohu datang untuk menjumpaimu"

Liong Tian im tertawa dingin.

"Heeh . . heeeh. . . keadaanmu ibaratnya dt uo fc'jaii diatas lobak. bagus dilihat tak enak dimakan. kau harus tahu rumput muda dimakan, kuda diatas tembok tidak gampang ditunggangi, aku lihat lebih baik kau tahulah diri, apalagi kalau sudah saling berhadapan muka dengan raja akhirat, sekalipun kau punya nyawa rangkap sepuluh pun, sembilan diantaranya akan kena direnggut.." "Hmm, kau si setan gantung keparat tak usah banyak ngebacot." tukas Hu to jin sambil membalikkan telapak tangannya "lihat seranganku ini dan serahkan saja nyawa anjingmu.."

Begitu telapak tangannya diayunkan kedepan, gulungan angin pukulan yang maha dahsyatpun segera menggulung ke arah depan, tampaknya Hu to jin telah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk merobohkan lawan.

Liong Tian im tak berani gegabah, dia cukup mengetahui mutunya suatu serangan, dalam sekilas pandangan saja ia sudah tahu kalau musuhnya bukan seorang manusia sembarangan.

Sambil tertawa dingin, dengan suatu gerakan yang lincah dan enteng dia berkelit kearah samping, kemudian tahu-tahu sudah menyelinap kebelakang tubuh Hu to jin.

Menyusul kemudian, serentetan bayangan emas yang amat menyilaukan mata menyambar kebelakang punggung Hu to Jin dengan kecepatan luar biasa.

Hu to Jin tertegun, cepat cepat dia memutar badan sambil melakukan suatu gerakan untuk mencengkeram senjata patung Kim mo sin jin tersebut.

"Aduuuh..."
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 23"

Post a Comment

close