Cincin Maut Jilid 19

Mode Malam
Jilid 19

SAMBIL MELOMPAT KELUAR DARI kurungan, Kwan Hong segera berseru:

"Ayah, perlukah kita melanjutkan terjangan menuju ke gudang harta tersabut?"

Kwan Lok khi hanya tertawa dingin tiada hentinya, sambil mengulapkan tangan, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia melompat ke depan menuju keluar lorong rahasia tersebut.

Kwan Hong menjadi tertegun setelah menyaksikan tingkah laku ayannya, namun dia-pun tidak banyak berbicara lagi, buru buru tubuhnya bergerak menyusul di belakang ayahnya. Dari dalam gua tersebut hanya terdengar suara gelak tertawa Cing shia sancu yang amat nyaring.

Setelah tertawa, Bu Liong berkata:

"Cing peng, aku hendak menengok bocah itu, kau
pulanglah duIu!" tubuhnya berkelebat lewat dan lenyap dibalik lorong rahasia.

Cahaya mutiara dalam ruangan bagaikan sinar api, menerangi hampir seluruh ruangan disekitar sana. . .

Dalam ruangan besar yang berkilauan itu penuh dengan berserakan aneka macam barang berharga seperti intan permata, zamrud, batu manao, mutiara dan lain sebagainya.

Bu Siau-huan meski sudah menanjak dewasa, bagaimanapun juga dia adalah seorang gadis remaja, sambil memainkan seuntai mutiara ujarnya dengan wajah berseri:

"Semua perhiasan ini akan kugunakan sewaktu aku menikah nanti. . ."

Terhadap perkataan gadis itu. Liong Tian im seolah olah tidak mendengarnya sama sekali, sinar matanya sedang tertuju pada sebuah genta emas yang maha besar diruang sebelah.

Genta tersebut berwarna hitam pekat, oleh karena itu tak dapat memancarkan sinar keemasan yang menyilaukan mata, yang nampak hanya selapis kabut cahaya emas yang tipis dan membumbung ke angkasa.

Dengan termangu-mangu pemuda itu mengawasi genta emas tersebut tanpa berkedip, lalu gumamnya: "Genta emas pelenyap irama, akhirnya aku berhasil melihat dirimu."

Tak terlukiskan rasa sedih dalam hatinya bila teringat kematian yang mengenaskan dari orang tuanya gara-gara genta tersebut, dengan air mata mengembang dimata, tanpa sadar dia berjalan menghampiri genta emas pelenyap irama.

"Jangan masuk kesitu!" tiba-tiba Ba Siau huan menjerit kaget dengan suara lengking.

Dengan perasaan bimbang dan penuh penderitaan Liong Tian im mendusin kembali dari lamunannya, dia berpaling seraya bertanya:

"Mengapa?"

Agak tertegun Bu Siau huan sewaktu melihat lelehan air mata diwajah pemuda itu, dengan cepat dia memburu kemuka lalu bisiknya:

"Disitulah yayamu menyimpan harta pusakanya, segenap kitab pusaka ilmu pedangnya di simpan disana, bila kau melangkah masuk ke situ maka semua alat jebakan yang berada di sini akan bergerak serentak, tak seorang manusia pun yang bisa melawan serangan panah racun berantai serta obat musik membakar tubuh yang maha dahsyat tersebut.. ."

"Tidak, aku harus masuk dan melihat genta emas pelenyap irama itu." ujar Liong Tian im.

Kembali Bu Siau huan menggelengkan kepalanya.

"Yaya ku paling pantang kalau ada orang memasuki tempat ini, bahkan aku pun tak berani, bila kau bersikeras hendak masuk kesitu terpaksa aku harus bersiap siap menerima teguran dan dampratan dari yaya."

Tampaknya sigadis seperti enggan menampik keinginan Liong Tian im, sambil menggigit bibir dia menekan sebuah tombol diatas pintu batu tersebut, lalu ujarnya:

"Semua alat jebakan yang berada di dalam ruangan rahasia itu sudah kuhilangkan, sekarang masuklah . .."

Sebenarnya Liong Tian im merasa agak sungkan, akan tetapi daya tarik dari genta emas pelenyap irama itu kelewat besar sehingga akhirnya dia tak sanggup menahan diri dan buru buru masuk ke dalam.

Akan tetapi dari atas genta emas pelenyap irama itu dia hanya berhasil menjumpai huruf huruf Hindu yang tak dikenal olehnya, kon ttn saja kejadian mana membuat hatinya merasa sangat kecewa.

"Aku benar benar tak habis mengerti" demikian ia berpikir, "mengapa para jago dalam dunia persilatan memandang tinggi nilai dari genta emas ini? Bahkan mereka tak segan segannya mengorbankan diri, mengorbankan anak muridnya hanya disebabkan genta seperti ini..."

Segera diangkatnya senjata patung Kim mo sin jin tersebut dan diketukkan pelan ke atas genta emas pelenyap irama tersebut, alhasil sama sekali tidak suara yang bergema akibat benturan itu.

Sementata dia masih berdiri tertegun, mendadak dari atas tubuh genta yang berwarna hitam pekai itu muncul dua belas buah lukisan yang berbentuk aneh sekali. Liong Tian im merasa sangat keheranan, ia menyaksikan ke dua belas buah gambar itu mirip sekali dengan gaya seseorang manusia.

Sementara pemuda itu keheranan, tanpa terasa ke dua belas gaya manusia yang tertera di atas pemukaan genta itupun diingatnya ke dalam benak.

Begitu senjata patung Kim mo sin jin ditarik kembali mendadak ke dua belas buah gambar yang berada dipermukaan genta itupun turut lenyap tak berbekas.

Kenyataan ini semangkin mengherankan hatinya, diam diam dia berpikir:

"Heran, apa sebabnya begitu? Apakah terpengaruh dari senjata Kim mo sio jin ini maka gambaran tersebut baru muncul secara tiba-tiba? Tetapi kejadian ini tak mungkin bisa terjadi, benar benar suatu peristiwa yang tak masuk diakal."

Sementara Liing Tian-im masih berdiri termangu-mangu, dalam ruangan batu itu setiap bertambah dengan seseorang.

Tak terkirakan rasa marah Cing shia sancu ketika melihat Liong Tian im telah memasuki ruangan penyimpanan harta pusakanya, bulu dan rambutnya hampir berdiri semua menahan geram hatinya, dengan mata berapi api diam diam ia menyumpah:

"Siau huan si budak sialan ini benar benar tak tahu diri, berani benar ia mengajak keparat itu memasuki gudang harta, rupanya akulah yang kelewatan memanjakan dia sehingga dia jadi rusak" Waktu itu, Bu Siau huan berdiri di depan genta emas berjajar dengan Liong Tian im, sedemikian asyiknya mereka disitu sampai sampai tak mereka sadari kehadiran Cing shia sancu di belakang tubuh mereka berdua.

"Hmmm . ." dengusan dingin yang menyeramkan mendadak menyambar diangkasa, "Siau huan !" tegur Cing shia sancu marah.

Dengan tubuh gemetar keras dan wajah ketakutan Bu Siau huan membalikkan badannya sambil berbisik:

"Yaya . . !"

"Siapa suruh kau datang kemari . . ." Meskipun Bu Siau  huan disayang dan dimanja oleh Cing shia sancu, akan tetapi gadis itu menaruh perasaan hormat dan jeri terhadap kakeknya, apalagi setelah dilihatnya kakek itu  menghampirinya dengan wajah penuh kegusaran, tanpa sadar dia mundur beberapa langkah dengan penuh ketakutan . ..

"Aku . . aku . ."

Liong Tian im merasa sedih sekali karena menyaksikan Bu Siau huan di damprat gara gara dia, dengan cepat ia maju dua langkah kemuka, kemudian setelah memberi hormat katanya:

"Sancu, harap kau jangan mendamprat Siau huan, kesemuanya ini berasal dari idee ku, jadi kalau kau ingin mendamprat, silahkan mendamprat diriku saja, boanpwe tak akan mendendam kepada Sancu. ."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Cing shia sancu, tegurnya kemudian: "Mengapa kau datang kemari . . . "

Liong Tian im agak tertegun, sahutnya kemudian. "Boanpwe hanya terdorong rasa ingin tahu saja."
Setajam sembilu sorot mata Cing-shia sancu yang mengawasi wajah Liong Tian im, seolah olah dia bermaksud hendak menembusi rahasia hatinya saja, selang sesaat kemudian, sancu itu baru berkata dengan suara dalam.

"Perkataanmu itu bukan alasan ! Kau harus tahu,  jangankan orang asing, bahkan putra ku sendiripun tak berani sembarangan memasuki gudang harta ini tapi kau, kau telah memaksa cucu perempuanku untuk mengajakmu kemari, hal ini membuktikan kalau kedatanganmu di bukit Cing shia ini memang ada tujuan tertentu."

"Yaya, akulah yang mengajaknya kemari kau jangan menyalahkan dia," kata Bu Siau-huan sambil menggelengkan kepalanya berulangkali.

"Tutup mulutmu!" bentak Cing shia sancu sambil mendengus dingin "disini tak ada urusan lagi!"

Lalu setelah melirik sekejap kearah Liong Tian im, dengan wajah dingin, serunya:

"Ayo bicara ! sebenarnya apa yang kau inginkan dengan kedatangankanmu kemari ?"

Diam-diam Liong Tian im menghela napas panjang, pikirnya: "Aaai, aku memang suka banyak urusan, mengapa justeru memasuki tempat seperti ini? sekarang sancu sedang marah, bahkan Siau huan pun kena didampratnya, ya semoga saja sancu jangan mendampratnya lagi, biarlah segala sesuatunya kutanggung sendiri Maka tanpa sangsi lagi dia berkata: "Sancu kedatangan boanpwe disebabkan genta emas pelenyap irama tersebut."

"Apa ? Karena genta emas pelenyap irama?" paras muka Cing shia sancu berubah hebat "Dari mana kau bisa tahu kalau genta tersebut berada di gudang penyimpan Sunli?"
Sekali lagi Liong Tian im menghela napas panjang. "Sebelum boanpwe datang kemari, aku sama sekali tak
tahu kalau Genta emas pelenyap irama tersimpan disini, tapi sejak kemunculan Kwan Lok khi, ketua dari kaum sesat itu, boanpwe baru tahu . .."

Dengan suara keras Cing shia sancu rnenukas.

"Katakan ! Apa hubunganmu dengan genta emas pelenyap irama ?"

Nada suaranya dingin seperti es, dan lagi sikapnya amat mendesak dan menekan, membuat orang sukar untuk mempertahankan diri.

Akan tetapi Liong Ttan im enggan mencari keributan dengan manusia golongan putih seperti int, maka sambil menahan diri kembali ia menghela napas panjang.

"Ai . . sancu, boanpwe pun tak perlu mengelabuhi dirimu lagi sesungguhnya genta emas pelenyap irama ini merupakan benda milik keluarga boanpwe, orang tuaku justru mati gara gara eenta emas ini . ."

"Haaah Ha ha ha .." seusai mendengar perkataan itu, Cing shia sancu tertawa tergelak dengan kerasnya, "Tak terhitung jumlah manusia yang tewas gara gara memperebutkan genta emas pelenyap irama ini, benda mestika tersebut pada dasarnya merupakan benda tidak bertuan, darimana kau bisa mengatakan kalau benda itu merupakan barang keluargamu."

Tapi kemudian ia berseru tercengang dan berkata : "Tapi masa ada kejadian seperti ini?"
"Genta emas pelenyap irama ini mempunyai irama kaitan yang erat sekali dengan riwayat boanpwe harap sancu jangan menertawakan.."

Cing shia sancu segera tertawa dingin.

"Didalam gudang harta ini, kecuali pun sancu dan beberapa orang tertentu, orang lain dilarang memasukinya. orang yang boleh masuk kemari haruslah keluarga dari kami, kini kau telah melanggar pantangan besarku, dan aku tak dapat mengampuni dirimu lagi."

"Ooh yaya, kau jangan menyalahkan dia." pinta Bu Siau huan amat sedih. "kesemuanya ini adalah kesalahanku.."

Tapi sambil membusungkan dada Liong Tian ini segera menyambung:

"Boanpwe bersedia menerima hukuman dari sancu." "Kau jangan menyesal, hukumanku amat berat sekali. . ."

Baru saja Liong Tian im hendak menyahut, tiba tiba Bu Siau huan mencegahnya berbicara seraya berseru:

"Liong, kau tak boleh menerimanya. . ."
Sambil tertawa dingin Cing sbia sancu berseru Iagi. "Aku hendak membunuhmu dengan tanganku sendiri,
itulah hukuman yang akan kujatuhkan atas dirimu . ."

Liong Tian im menjadi tertegun, dia tak menyangka kalau Cing shia sancu dapat mengucapkan kata kata seperti itu.

Sebagai seorang pemuda yang keras kepala, sejak kecil ia sudah dibesarkan dalam lingkungan hidup yang kejam, ia sudah terbiasa menerima siksaan dan penghinaan sehingga menyebabkan pikirannya agak cupat, begitu mendengar kalau Cing shia sancu hendak membunuhnya, suatu hawa amarah yang terpendam dalam dadanya segera muncul kembali dan menghiasi raut wajahnya . .

Sambll tertawa dingin dia lantas berseru: "Jadi kau bertekad hendak membunuhku ?"

"Inilah satu satunya jalan yang bisa kutempuh" ucap Cing shia sancu menegaskan, "bila kabar tentang genta emas pelenyap irama ini sampai tersiar dalam dunia persilatan, bukit Cing shia tak pernah bisa tenang untuk selamanya, tadi aku harus membunuhmu untuk membungkamkan saksi . ."

Bu Siau huan membelalakkan matanya lebar lebar, hampir saja dia tak percaya kalau kakeknya dapat mengucapkan perkataan yang begitu keji dan tidak mengenal perikemanusiaan, saking gelisahnya tanpa terasa dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Oooh yaya, kau sungguh kejam..." keluhnya. "Keluar kau dari sini!" bentak Cing shia sancu dengan
gusar.

Cepat Bu Siau huan menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kecuali kaupun membinanakan diriku." katanya, "aku akan sehidup semati dengan Liong, bagaimana dia mati bagaimana pula aku mati, yaya, harap kan sudi memberi kepuasan untuk kami berdua."

"Mengapa kau harus berbuat demikian?" seru Cing shia sancu dengan wajah tertegun.

Dengan penuh perasaan duka Bu Siau huan melelehkan air matanya dengan deras, sahutnya dengan suara gemetar:

"Aku cinta kepadanya, aku ingin selalu berada bersamanya.
"

Liong Tiau im merasakan hatinya bergetar keras, dia tidak menyangka kalau Siau huan begitu mencintai dirinya, dia hanya merasa tat toi se?andacg untuk mendampingi gadis yang anggun tersebut, saking kaget dan tercengangnya untuk sesaat pemuda itu hanya berdiri kaku ditempat berdiri sambil memandang ke arahnya dengan wajah tertegun.

Lebih lebih Cing shia sancu, mimpi pun dia tak pernah menduga sampai kesitu, tubuhnya segera berdiri tegak seperti patung mukanya tertegun sementara hatinya seperti dihantam dengan sebuah martil raksasa yang amat berat.

Lama kemudian dia baru mundur dengan sempoyongan lalu serunya agak gemetar:

"Kau... mengapa kau mencintai seorang gelandangan seperti dia? Mengapa kau bisa mencintai seorang pengembara..?"

"Yaya!," seru Bu Siau huan dengan wajah serius. "Cinta tidak membagi tingkatan, cinta tidak membagi tingkatan hidup, yang diperlukan kecocokan hati,."

"Tidak boleh!" bentak Cing shia sancu seraya mendengus marah, "keluarga Bu adalah keluarga terhormat keluarga ternama yang sudah turun temurun memimpin dunia persilatan, kau harus kawin dengan seorang pria dari  tingkatan sosial yang memadahi, Siau huan. selamanya jangan harap kau bisa mendampinginya..."

Liong Tian im merasakan hatinya amat kecut  pandangannya seraya kabur dan kosong, seluruh keangkuhan dan kekerasan hatinya yang dilatih dimasa lalu kini pudar dan
musnah tak berbekas, tubuhnya serasa sempoyongan, dengan putus asa dan rendah diri mencekam seluruh perasaannya.

Ia merasakan pukulan batin yang terlampau berat, meski ruangan itu disinari aneka mutu manikam yang mahaI harganya tapi merasa semuanya tak bersinar lagi.

Setelah menghela napas dengan penuh kesedihan, bisiknya lirih: "Siau huan, ucapan yayamu memang benar, kita berasal dari tingkat sosial yang berbeda, aku tak sepadan untuk mendampingimu, sela pil ikatan dan penyekat yang teiwujud telah memisahkan kita dalam dua arah yang berlawanan tidak pantas aku mendampingimu. ."

"Tidak," jerit Bu Siau hutn dengan kaget, "aku tak butuh tingkat kedudukan, aku tidak butuh nama besar, aku hanya menginginkan kau, Liong, harap kau jangan mengucapkan kata-kata seperti itu, asal kita sama sama mencintai yang lain, tiada kekuatan lain yang dapat memisahkan kita berdua. ."

Ucapannya amat memilukan hati sementara air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, sungguh membuat orang merasakan terharu dan ikut bersedih hati, Liong Tian-im hanya bisa menghela napas dia hanya dapat membungkam dalam seribu bahasa.

"Baik." seru Cing shia sancu kemudian sambiI tertawa seram "kau bilang tiada kekuatan yang dapat memisahkan kalian ? sekarang juga aku akan memisahkan kalian berdua."

Dia berdiri ditengah tengah antara kedua orang itu, kemudian menyentilkan jari tangannya ke arah pintu.

"Tang tang !" diiringi bunyi keleningan pintu terbuka lebar dan muncul dua orang lelaki berbaju hitam yang berdiri dengan sikap hormat di sana.

"Hantar nona keluar dari sini." perintah Cing shia sancu dingin. "Baik." sahut dua orang lelaki itu bersama, dua buah lengan yang kuat dengan cepat menyambar lengan Bu Siau huan kemudian menyeretnya keluar dari sana.

Sekuat tenaga Bu Siau huan berusaha meronta dan melepaskan diri dari cekalan, namun ia tak berhasil dengan usahanya itu, serunya kemudian dengan suara gemetar:

"Yaya lepaskan aku. . ."

Tapi ia diseret terus meninggalkan ruangan itu.

Baru berjalan lima enam langkah, gadis itu berpaling lagi, sambil berteriak.
"Liong, nantikanlah aku, aku pasti akan bersama dirimu . ." Liong Tian im hanya merasakan pandangan matanya kabur,
telinganya didengungkan terus oleh perkataan Bu Siau huan yang memilukan hati itu, hatinya sakit seperti tercabik cabik menjadi berapa potong.
Akhirnya sambil menghela napas sedih dia bergumam. "Biarkan cinta kasih kami berubah menjadi kenangan manis
saja.."

Paras mukanya kembali berubah, serunya kemudian angkuh:

"Sancu, silahkan turun tangan . ."

Cing shia sancu tertawa dingin. sambil menuding genta (emas pelenyap irama katanya: "Kalau toh kedatanganmu kemari disebabkan genta emas pelenyap irama, aku akan memenuhi keinginanmu itu, akan kubiarkan kau tetap tinggal disini menemani genta emas pelenyap irama tersebut, kau boleh memilikinya dan mendampinginya selama hidup, tapi kau harus tahu seluruh ruangan ini penuh dengan alat rahasia, jangan harap kau bisa meninggalkan ruangan ini, bila pintu gerbang sudah kntutup nanti, semua alat rahasia akan mulai bekerja dan tertuju kepada dirimu, bila kau tidak bergerak secara sembarangan. mungkin kau masih dapat hidup selama beberapa hari lagi, paling paling kau cuma mati kelaparan belaka. . ."

"Mengapa kau tidak membinasakan saja diriku?" seru Liong Tian im dingin.

"Heehh. . heeh. . hee. . kau tidak pantas." jengek Cing-shia sancu sambil tertawa dingin.

Liong Tian im termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya:

"Baik, harap kau sampaikan kepada Bok toako bahwa aku sudah turun gunung, harap dia pulang sendiri bila matanya telah sembuh, dengan begitu dia tak usah memikirkan tentang diriku lagi."

Cing-shia sancu manggut manggut.

"Aku dapat menyampaikan hal ini padanya.

Selesai berkata ia lantas melompat keluar dari ruangan itu, kemudian terdengar suara gemerincing nyaring menggema diseluruh ruangan. tiba tiba diri atas langit langit ruangan muncul sebuah pintu baja yang amat besar menyumbat pintu rahasia mana dan menyekap Liong Tian im dalam ruangan tersebut.

Dengan sedih Liong Tian im menghela napas panjang, memandang genta emas pelenyap irama itu, dia hanya bisa membungkam dalam seribu bahasa diambilnya patung Kim mo sin jin dan diketuknya lagi genta tersebut pelan, lalu gumamnya:

"Selama hidup aku akan mendampingi dirimu."

Kali ini perasaan hatinya benar benar Mo" bang dan  kosong, bahkan semangat yang semula muncul dalam hatinya tadi, kini sudah lenyap tak berbekas, dalam benaknya selain muncul bayangan wajah Bu Siau huan yang sedani tersenyum, ia tak bisa membayangkan yang lain.

Dia sama sekali tidak membenci Cing-shia sancu, dia hanya membenci diri sendiri. membenci kegegabahan sendiri hingga sembarangan menginap rahasia orang lain.

Mendadak diatas tubuh genta emas pelenyap irama itu muncul kembali ke dua belas lukisan aneh tersebut, kemudian segulung ke kuatan yang aneh pula menarik perhatian Liong Tian im untuk memperhatikan lukisan mana lebih seksama.
Akhirnya dengan wajah tertegun dia berpikir: "Sesungguhnya lukisan lukisan tersebut melambangkan apa
? Bagaimana juga aku toh tak bisa keluar lagi dari sini, mengapa tidak ku manfaatkan kesempatan yang ada untuk menyelidiki lukisan lukisan aneh tersebut ? Aiaaa tampaknya seperti semacam ilmu silat? Kemudian sambil tertawa getir dia melanjutkan: "Ilmu silat .. haaah .. haaah . . haaaah . . sekali pun aku berhasil memiliki ilmu silat yang tangguh lalu apa gunanya? Toh pada akhir nya aku bakal mati kelaparan disini aaai . , , tadi mengapa aku tidak nekad untuk beradu jiwa saja dengannya ? Buat apa aku mesti memilih siksaan hidup semacam sekarang ini . . ."

Dia duduk dilantai sambil memejamkan matanya rapat rapat, dalam benaknya penuh dengan persoalan ia teringat kembali semua peristiwa yang telah dialaminya selama ini.

Tapi lambat laun semua kenangan itu makin lama semakin hambar, sebagai gantinya ke dua belas macam lukisan aneh tersebut muncul kembali di dalam benaknya.

Mendadak dia mengangkat lengannya kemudian menirukan gerakan gerakan tersebut tanpa sadar, dalam waktu singkat kedua belas macam lukisan itu muncul lagi dalam benaknya, Begitulah, tanpa pemuda itu sadari, dia telah berlatih dengan tekun gerakan gerakan aneh yang diperolehnya dari dua belas lukisan aneh tersebut.

Waktu berlalu dengan cepat, entah berapa saat sudah lewat ketika secara tiha tiba pemuda itu menangkap
serentetan suara yang sangat aneh, pelan pelan dia membuka matanya kembali, seorang perempuan setengah umur tahu tahu sudah muncul dihadapannya.
"Apakah Lim cianpwe ?" Liong Tian im menegur lirih. "Siau.. Siau huan telah menceritakan kejadianmu
kepadaku." bisik Lim Siok hoa lirih, "kini aku telah menutup kembali semua alat jebakan yang berada disini, cepatlah kabur meningaalkan tempat ini, toakomu ,sedang menantikan dirimu disana." 

"Apakah sepasang mata toakoku telah sembuh?" tanya Liong Tian im cepat.

Dengan gelisah Lim Siok hoa menukas:

"Waktu tidak mengijinkan kepada kita untuk banyak berbicara setelah meninggalkan tempat ini kau akan mengetahui segala galanya, sekarang kita harus secepatnya pergi meninggalkan tempat ini, hati hati kalau sampai diketahui sancu . . ."

Liong Tian im menengok sekejap gua yang muncul di belakang tubuhnya, buru buru dia bangkit dan berseru sambil menjura:

"Lim cianpwe, terima kasih atas bantuanmu dan Siau huan, aku pergi dulu." sekarang dia sudah tahu kalau waktu mendesak dan kesempatan baik hanya tersedia sebentar saja, cepat cepat dia melompat bangun dan meninggalkan tempat itu.

Dari belakang tubuhnya dia hanya mendengar suara helaan napas sedih dari Lim Siok-hoa .. .

Liong Tian im berlari kencang kedepan, tak selang berapa saat kemudian dari depan sana tampak cahaya terang yang mencorong masuk ke dalam, ketika ia mendongakkan kepalanya, ternyata dia sudah keluar dari bukit Cing shia, didepan gua tersebut tampak Jago pedang buta Bok Ci sedang berdiri menanti.

"Toako, kau sudah sembuh!" segera teriaknya. Jago pedang buta Bok Ci menggenggam tangannya erat erat, lalu berkata, "Adik Liong, kau adalah adik Liong ku."

Mereka berdua saling berpelukan dengan gembira, sampai lama sekali tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Akhirnya Jago pedang buta Bik Ci menarik napas panjang panjang ditatapnya seluruh wajah Liong Tian im dengan seksama, kemudia mengangkat kepala dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahh haaah haaah akhirnya aku dapat melihat kembali jagad raya ini, adik Liong sungguh tak kusangka kalau wajahmu begini tampan, sekarang kita boleh baik-baik saling memandang.

"Toako, mengapa aku mesti terburu napsu." kata Liong Tian im sambil tertawa.

Dengan wajah serius jago pedang buta Bok Ci berkata:

"Adik Liong, kau tidak mengerti bagaimanakah perasaan orang buta, seorang yang sudah lama hidup dalam kesepian, betapa mengharapnya dia melihat segala sesuatu didunia ini, tapi sebelum terbit terang tentu harus melewati kegelapan sekarang aku sudah memahami arti dari perkataan itu, kita harus membuat suatu karya besar didalam dunia persilatan."

Kedua orang itu saling berpandangan dan tertawa terbahak bahak, kemudian berlalu dari sana.

Baru saja kedua orang itu lenyap dari pandangan mata, Lim Siok hoa serta Bu Cing peng telah muncul dari balik batu cadas, Bu Cing peng menarik napas panjang panjang kemudian berkata agak emosi: 
.." "Siok hoa, bukankah dahulu kita pun seperti mereka juga

Lim Siok hoa menggelengkan kepalanya berulang kali. 
"Aku tidak keberatan jika Siau huan bergaul bersama Liong Tian im .. ."

Mendadak ucapannya terhenti sampai di tengah jalan.

Cing sia sancu dengan ujung baju yang berkibar terhembus angin telah melayang turun dari tengah udara ditatapnya Bu Cing peng sekejap lalu tegurnya dingin.

"Mana Siao huan ?"

"Bukankah dia berada dalam kamarnya ?" tanya Lim Siok hoa keheranan.

Cing shia sancu mengeluarkan secarik kertas surat dan disodorkan dihadapan perempuan, itu sambil berseru:

"Coba kalian peiiksp sendiri..."

Ketika surat itu dibentang, maka terbacalah isinya yang berbunyi demikian:

"Aku telah pergi, biar sampai diujung langit pun akan kucari Liong, kalian tak usah mencariku lagi, suatu ketika aku akan kembali, waktu itu aku pasti sudah menjadi suami isteri  dengan Liong, aku mencintainya timbul karena "cinta" ku yang suci dan murni ! Aku tak ambil perduli apapun yang terjadi,  aku hanya takut sehari pun aku tak bisa berpisah dengannya. harap kalian jangan teringat terus denganku selama berada dalam dunia persilatan, aku tetap akan menjaga peraturan yang berlaku dibukit Cing sia, aku akan mencari Liong sampai dapat. ."

Membaca sampai disini, seluruh badan Lim Siok hoa gemetar keras, gumamnya kemudian:

"Aai, bocah ini benar benar kelewat menuruti napsu. ." Bu Cing peng pun mendepak depakkan kakinya berulang kali karena gelisah, serunya:

"Ayah, paling penting kita harus mencari Siau huan, harap kau orang tua kembali dulu, aku dan Siok hoa akan menyusul ke bawa bukit, siapa tahu masih sempat untuk menyusulnya kembali."

Cing shia sancu menghela napas panjang, "Aaaai, dia masih seorang bocah, masih terlalu tak tahu urusan . . ."
"Aku tahu ayah, aku tak akan menyalahkan dia. . ."  "Mari kita segera berangkat." dengan cemas Lim Siok-hoa
berseru keras "bila ada persoalan, lebih baik kita bicarakan sekembalinya ke rumah saja..."

Tanpa membuang banyak waktu lagi, kedua orang itu  segera melompat pergi ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik pepohonan yang lebet sana.

Matahari senja biru saja menarik kembali sinarnya yang indah, awan kelabu telah menyelimuti angkasa, dalam remang renangnya cuaca, angin berhembus silir semilir,  menerbangkan dedaunan menguning yang telah kering. Suara derap kaki kuda yang kencang bergema memecahkan keheningan dan mengetuk setiap orang.

Beberapa ekor burung terbang kembali ke sarangnya, melewati hadapan sepasang lelaki perempuan yang sedang menempuh perjalanan dengan menunggang kuda.

Bu Cing peng mendongakkan kepalanya memandang sekejap keadaan cuaca, lalu katanya.

"Siok hoa, jangan gelisah, Siau huan meski kecil umurnya, dia adalah seorang nona yang pintar, tak nanti akan terjadi hal hal yang tak diinginkan sepanjang jalan."
Setelah menghela napas panjang, terusnya: "Sepanjang jalan mengejar hingga kini, meski kita tak
berhasil menemukan jejak Liong Tian im serta Siau huan, tapi ada satu hal yang perlu kita perhatikan, aku seperti merasa ada orang yang secara diam diam mengikuti kita berdua."

Ehmm, akupun berperasaan demikian" Lim Siok-hoa membenarkan "Sudah puluhan tahun lamanya kau berkelana didalam dunia persilatan, kau lebih mengerti pula tentang berbagai persoalan yang terjadi didalam dunia persilatan, menurut pendapatmu apa yang bakal terjadi." katanya kemudian.

Bu Cing peng menarik napas panjang-panjang, kemudian menyahut: "Sekarang, kita toh belum tahu siapakah musuh kita itu bagaimana mungkin bisa mengetahui apa gerangan yang telah terjadi."

Sorot matanya yang tajam memandang sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian setelah tertawa dingin terusnya:

"Heeeh, heeeh heeeh seandainya sobat yang tidak memandang sebelah matapun kepadaku itu berani mencari gara gara, aku Bu Cing peng dari bukit Cing shia terpaksa akan memberikan sedikit pelajaran kepadanya."

Suaranya yang sengaja diucapkan dengan nada tinggi melengking itu segera menggema di seluruh angkasa.

Lim Siok hoa tertegun dia melirik sekejap kearah hutan sebelah kiri dengan wajah tercengang, tapi dengan cepat ia dapat memahami apa yang diinginkan Bu Cing peng. .

"Haah... haahh... haahhh" tiba-tiba saja dari dalam hutan datang berkumandang suara gelak tertawa yang seram.

OdOo^ O^o^oo

Berbareng dengan menggemanya suara gelak tertawa tersebut, seorang kakek bertubuh ceking pelan pelan berjalan keluar dari balik hutan, dia menjura kepada Bu Cing peng, kemudian katanya:
"Apakah saudara baru saja turun dari bukit Cing shia?" "Benar," jawab Bu Cing peng dingin, "apakah lotiang ada
sesuatu petunjuk ?"

Kakek berjenggot hitam itu tertawa terbahak bahak. "Haah, haah, haah memberi penunjuk sih tidak berani, aku hanya ingin membicarakan tentang sesuatu dengan saudara."

Kemudian sambil mengulapkan tangannya tanda mempersilahkan.

"Silahkan masuk kerumahku untuk berbincang bincang,"

Tanpa banyak bicara lagi dia membalikkan badan dan segera berlalu dari situ dengan kecepatan luar biasa. .

Bu Cing peng tertegun, baru saja dia hendak menegur, Lim Siok noa telah menyodok tubuhnya sambil memberi tanda agar jangan banyak berbicara . .

Kakek aneh yang gerak geriknya jauh diri kebiasaan itu bergerak ke depan dengan kecepatan luar biasa, dalam sekejap mata saja dia sudah berada belasan kaki jauhnya dari tempat semula.

Bu Cing peng dan Lim Siok hoa pun tidak banyak berbicara, mereka hanya mengikut terus dibelakangnya dengan mulut terkunci.

Kurang lebih setengah li kemudian di depan mata mereka muncullah sebuah bangunan gedung yang besar sekaIi.

Di depan gedung besar tersebut terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan:

BU LIM TIT IT KEH"

Lima hurup besar itu terbuat dari emas murni dan memancarkan sinar yang berkilauan, sungguh besar sekali lagaknya. Dengan perasaan terkesiap Bu Cing peng segera berpikir.

"Entah siapakah tuan rumah gedung ini. Dia berani menyebut gedungnya sebagai Rumah nomor wahid dikolong Iangit, berarti ilmu silatnya paling tidak bisa diandalkan padahal jagoan lihay dalam dunia persilatan sangat banyak, toh tak seorang pun yang berani menyebut rumahnya sebagai Bu lim tit it keh "

Belum habis dia berpikir, mendadak kakek itu berpaling sembari berkata:

"Silahkan kalian berdua mengikuti lohu masuk kedalam gedung untuk minum teh!"

"Tolong tanya, siapakah nama lo sianseng? "tanya Bu Cing peng sambil menjura.

Kakek itu berpaling dan memandang sekejap kearah papan nama yang bertuliskan BU LIM TiT IT KEH itu, kemudian setelah termangu mangu beberapa saat, sahutnya dingin:

"Hongpo Ling hong!"

Begitu mendengar nama tersebut Bu Cing-peng segera merasakan hatinya bergetar keras, mimpipun dia tak menyangka kalau kakek ini adalah Hongpo Leng hong yang pernah bertarung melawan lima ratus orang perampok di bukit Hu gau san.

Konon dalam pertarungan tersebut, secara beruntun dia berhasil membinasakan tujuh puluh dua orang jago lihay dari golongan hitam dibukit Hu goo san tersebut dalam pembantaian secara besar besaran itu, hampir semua pentolan perampok berhasil digulung olehnya tanpa ampun. Semenjak pertarungan berdarah itulah, nama besar Hong po Leng hong menjadi termashur dikolong langit dan disegani sebagai jago lihay nomor wahid dikolong langit."

"Ooh, rupanya Hongpo lo enghiong!" seru Bu Cing peng kemudian

Dengan langkah lebar Hongpo Leng Hong berjalan masuk kedalam gedung.

Tampak dua orang lelaki berbaju hitam menyambut kedatangan mereka dengan hormat, bahkan buru-buru menerima tali les kuda dari tangan Bu Cing peng dan Lim Siok hoa, kemudian dua-duanya pergi.

Bu Cing peng tidak tahu apa sebabnya Hongpo Leng Hong menghalangi perjalanan mereka suami istri berdua ditengah jalan? Diam diam ia mengerling membeli tanda kepada Lim Siok hoa, kemudian dengan cepat menyusul dibelakang Hongpo Leng hong masuk kedalam sebuah ruangan tamu yang sangat lebar.
Setelah tertawa dingin Hongpo Leng hong berkata: "Silahkan kalian berdua duduk dulu, lohu akan segera
mengundang ayahku keluar.."

Sekali lagi Bu Ciug peng merasakan hatinya bergetar keras. kalau dilihat dari usia Hongpo Leng hong, paling tidak ia telah berusia delapan puluh tahunan, siapa sangka kalau dia masih mempunyai ayah.

Maka buru buru dia menjura, kemudian sahutnya. "Silahkan! Aku tak berani mengganggu ketenangan. Hongpo locianpwee."

Hongpo Leng hong tidak berbicara, dia segera melangkah masuk keruangan dalam.

Memandang bayangan punggungnya yang menjauh, Lim Siok hoa merasakan hatinya benar benar terperanjat segera bisiknya:

"Cing peng, bagaimanakah pendapatmu tentang Hongpo Leng hong?"

Bu Cing peng segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Orang ini pernah menjadi tenar hanya dalam semalam
saja dibukit Hu gou san, bila di lihat dari sikapnya yang dingin, tampaknya sangat tidak bersahabat, sebentar kau harus menghadapi dengan berhati-hati. Untung saja kita tak punya dendam sakit hati dengannya, sekalipun didalam suatu persoalan telah melakukan kesalahan kepadanya, aku pikir hal manapun bukan sesuatu yang luar biasa , ."

Belum habis dia berkata, mendadak dari belakang ruangan berkumandang suara langkah kaki manusia, tampak Hongpo Leng hong dengan membimbing seorang kakek yang berjenggot putih sepanjang dada pelan pelan berjalan mendekat.

Buru buru Bu Cing-peng dan Lim Siok-hoa bangkit berdiri untuk menyongsong kedatangannya.

Kakek berjenggot putih itu segera menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berkata: "Silahkan duduk, silahkan duduk!" Dia memandang sekejap ke arah Bu Cing-peng, kemudian tegurnya:
"Bu tayhiap, apakah kau datang dari bukit Cing sia?" "Benar!" Bu Cing peng mengangguk, "locianpwee ada
persoalan apa yang hendak dibicara kan?" Kakek berjenggot putih itu tertawa seram.
"Heeh hee he he . . kami keluarga Hongpo selalu hidup
turun temurun di sini dan tak pernah terikat dengan  perguruan mana pun didunia ini, atas kesudian para enghiong hohan, pada aku berusia seratus delapan tahun dahulu mereka telah menghadiahkan sebuah papan nama "Ju tit it keh" kepadaku, lohan merasa tak pantas untuk untuk menerima sebutan ini... Meski didepan pintu terpancang papan nama itu, kami tak berani menganggap kami jagoan, Siapa tahu kemarin telah muncul dua orang pemuda yang datang mencari gara gara disini, mereka berlalu setelah menerbitkan keonaran keonaran ditempat ini, padahal aku si suipo Hangpo It Hong merasa tak pernah melakukan kesalahan apapun dengan orang lain."

Setelah malam itu juga kami kirim orang untuk menyelidiki asal usul dari kedua orang pemuda itu, baru kami ketahui kalau kedua orang itu baru saja turun dari bukit Cing sia.

Lim Siok hoa segera mendengus.

"Sudah pasti Liong Tian im dan jago pedang buta. Hongpo hiong tertawa dingin. "Heeeh, heeeh, heeeh yang paling menggemaskan adalah seorang budak yang datang bersama mereka, dia menganggap ilmu silatnya sudah hebat, bukan saja membuat keonaran di sini, bahkan memaksa lohu untuk mencopot papan nama Bulim tit it keh tersebut, bahkan dia bilang dikolong langit dewasa ini kecuali keluarga Bu, kecuali orang orang dari Cing sia san, dikolong langit tak ada seorang manusia pun yang berhak disebut nomor satu. Dalam amarahnya anak murid kami segera turun tangan dan bertarung dengannya, dalan pertarungan itu ada puluhan orang kami cedera di tangannya."

Bu Cing peng menjadi terperanjat sekali, kembali pikirnya: "Tak heran kalau Hongpo Leng bong selalu menunjukkan
sikap bermusuhan denganku, rupanya Siau huan dia Liong Tian im telah membuat keonaran disini, tak heran kalau sekarang mereka datang mencari diriku . ."

Belum habis ingatan tersebut melintas, cepat cepat dia bertanya lagi:

"Kapan mereka perginya . . ."
Dengan suara dingin Hongpo Ir hiong meneruskan: "Sebelum pergi, budak itu berkata dari pihak Cing shia san
masih ada orang yaag akan datang kemari lagi, dia bilang bila lohan melihat ada orang dari Cing shia san yang kesitu maka papan nama tersebut harus sudah di lepaskan kalau tidak bakal ada bencana yang akan datang, Meski lohu sudah lama tak mencampuri urusan dunia persilatan, namun kami tak akan mengijinkan orang lain mencari gara gara dengan kami, itulah sebabnya sengaja kuutus anakku untuk menunggu kedatanganmu di tengah jalan sungguh tak disangka dari pihak Cing shia pay benar benar ada orang yang bermaksud merebut julukan Bu lim tit it keb ter sebut dari tangan kami."

Bu Cing peng semakin gelisah setelah mendengar perkataan itu, buru buru serunya:

"Harap cianpwe jangan salah paham, kedatangan kami suami istri berdua kemari hanya bertujuan untuk mengejar putriku."

"Salah paham ? he he he..." Hongpo It hiong tertawa dingin, "kalian Cing sia san terbilang juga suatu perguruan besar, apakah kalian mengijinkan orang lain membuat keonaran dengan sekehendak hatinya sendiri dibukit kalian ? Memang Pak seh wu kami tak sebesar bukit Cing shia san kalian, tapi kamipun bukan manusia manusia yang bisa dipermaikan dengan semaunya sendiri."

"Hei, Siau huan si bocah itu benar benar tak tahu diri" dengan jengkel Lim Siok hoa mendepak depakkan kakinya ketanah, Cing peng mari kita segera menyusulnya, bila dia berbuat keonaran terus menerus sepanjang jalan. Cing -shia san kita bisa dibikin sulit. . ."

Bu Cing-peng menghela napas panjang.

"Aaai, . , bocah ini memang kelewat menuruti hati sendiri, yaa, terpaksa kita harus mengejarnya dia membujuknya agar kembali ke Cing sia san, Sedang persoalan ini, lebih baik kita bereskan secara baik baik dengan tuan rumah. . ." "Kamt tidak butuh kalian banyak berbicara, Pek-see bu  thian tempat yang bisa diganggu dengan semuanya sendiri. ." tukas Hongpo Leng hong dingin.

Bu Cing peng semakin tertegun lagi:

"Sekarang mau apa kau?" tegurnya kemudian. Hongpo It hong segera berseru dengan gemas.
"Mau apa? Kami hendak menahan kalian di sini, agar budak itu datang kemari dan minta maaf."

Mendengar ucapan itu, Bu Cing peng ikut naik darah, dia segera belas tertawa dingin.

"Cing sia san bukan manusia yang bisa tunduk dibawah perintah orang, hmm putri kami saja tak mampu kalian hadapi, sekarang masih berani sesumbar dengan mengatakan hendak menahan kamu benar benar orang bodoh lagi bermimpi."

"Jelas berada kata Hongya . Leng Hong disini, "kebetulan kemarin aku dan ayahku tak ada dirumah, maka budak tersebut bisa lolos dengan mudah, kalau tidak, mungkin dia sudah bakal keok ditangan lohu sebelum lima gebrakan."

Lim Siok hoa ikut naik darah setelah mendengar ucapan tersebut, dia segera melompat bangun dari tempat duduknya sambil berseru:

"Sungguh tak kusangka kalau kau adalah seorang manusia yang begitu tekebur tak heran kalau putriku berniat mencopot papan nama Thian he tit it keh didepan gedung kalian memang kelewatan tekebur dan tak tahu diri!" Cemoohan dan sindiran tersebut bukan saja menggusarkan Hongpo Leng hong bahkan Hong po It-hiong yang lebih mampu menahan diri pun turut melompat bangun saking gusarnya.

Dia mesti sudah lanjut usia, namun lompatannya ternyata masih jauh lebih gagah dari pada seorang jago persilatan pun, kenyataan ini sudah barang tentu mengejutkan Bu Cing peng maupun Lim Siok-hoa.

"Kau bilang apa ?" bentak Hongpo It hiong dengan suara sedingin es. Lim Siok hoa tak mau menunjukkan kelemahannya, dia pun berteriak dengan suara keras:

"Aku bilang, kalian orang orang dari Pek see wu hanya manusia yang tak tahu diri, aku benar benar tidak habis mengerti mengapa para jago didinia bisa menghadiahkan papan nama Thian he-tii-it keh untuk manusia macam kalian
.."

"Siok hoa, kurangi perkataan yang tak sedap." buru buru Bu Cing peng mencegah.

Lim Siok hoa mengerling sekejap ke arahnya, kemudian menyahut.

"Terhadap manusia semacam ini, buat apa kita mesti memakai sungkan segala? Meskipnn Siau huan salah bagaimanapun juga dia hanya seorang angkatan muda, kami toh sudah minta maaf kepadanya dan urusan bisa dianggap beres siapa tahu dia memaksa hendak menahan kita berdua disini, siapa yang tidak menjadi gusar. ."

"Tutup mulut. ." Hongpo It hiong membentak keras. Dia maju dua langkah kedepan, kemudian terusnya dengan amarah yang berkobar kobar.

"Bila lohan tidak melihat aku sebagai seorang wanita, sekarang juga aku telah memberi pelajaran kepadamu."

"Kalau perempuan lantas kenapa? Kalian toh tak mampu banyak berkutik terhadap putriku, kini masih berani membicarakan soal wanita dihadapanku. . . cuuub, benar benar tak tahu malu. . . "

Hongpo Leng hong segera mengebaskan ujung bajunya sambil menerjang maju kedepan serunya keras:

"Ayah! Buat apa mesti banyak berbicara dengan manusia gemacam ini, tempo hari ketika ananda menundukkan kaum rampok di bukit Hu gou-san dan membunuh tujuh puIuh dua orang hohan pun tak pernah mengerutkan dahi, apakah kita harus membiarkan mereka mencopot papan nama kita itu, Hmm !"

Diam diam Hongpo It-hiong menghela napas panjang, ujarnya kemudian setelah termenung sejenak.

"Terserah apa yang hendak kau lakukan, tapi tak boleh membuat malu keluarga Hongpo lagi, berapa hari yang lalu kita sudah dibikin pecundang sehingga kehilangan muka, hari ini..."
Sambil tertawa dingin Hongpo Lenghong segera menukas: "Ayah, kau tak usah kuatir, serahkan saja kedua orang
makhluk ini kepadaku." Lim Siok hoa benar benar sudah tak sabar lagi, baru saja dia hendak tampilkan diri mendadak Bu Cing peng menarik lengannya sambil berbisik lirih:

"Siok hoa, lebih baik biar aku saja yang maju." Hoogpo Lengbong yang menyaksikan kedua orang itu berebut hendak tarun tangan, dengan cepat dia berkata dingin:

"Lebih baik kalian berdua maju bersama sama saja, tempo hari akupun seorang diri menghadapi tujuh puluh dua orang perampok dibukit Hungou saa. waktu itu tak seorang manusia pun bisa tertahan sebanyak sepuluh gebrakan ditanganku . ."

Lim Siok hoa menerjang maju ke depan, kemudian serunya:

"Benarkah sedemikian lihaynya ? Hmm, aku toh tidak percaya dengan begitu saja . ."

Telapak tangannya segera didorong kedepan, sebuah pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kemuka dengan hebatnya.

Hongpo Leng hong merasa terkesiap, dia tidak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki perempuan itu sedemikian sempurnanya, sehingga sebuah kebasan pelan pun bisa mendatangkan kekuatan sedemikian hebatnya.

Dengan paras muka berubah, dia lantas berseru. "Tidak heran kalau kau berani bersikap amat tekebur,
rupanya kan memang benar benar memiliki sedikit kepandaian yang tangguh." Kini, dia sudah tak berani lagi memandang gegaban terhadap musuhnya, telapak tangan kanannya melepaskan sebuah bacokan, sementara telapak tangan kirinya melancarkan pukulan udara kosong ketengah udara, ketika sepasang telapak tangannya direntangkan daya kekuatannya segera bertambah berlipat ganda.

Lim Siok hoa merupakan seorang ahli silat yang berpengalaman, dalam sekilas pandangan saja dia sudah menebak maksud Hongpo Leng hong, sambil mendengus, telapak tangan kanannya, segera diayunkan ke depan dan menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaaammm .. .!"

Suatu ledakan yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, akibatnya kedua orang itu sama sama memaksa bahunya bergetar keras dan masing masing mundur sejauh lima langkah.

Ketika empat mata saling berpandangan, kedua belah pihak sama sama memancarkan sinar tajam yang berkilauan.

Mendadak dari tempat kejauhan berkumandang suara dentingan nyaring yang memekikkan telinga, meski masih berada ditempat kejauhan, akan tetapi setiap orang yang berada dalam ruangan itu dapat mendengarnya dergan jelas sekali.

Dengan paras muka berubah, cepat-cepat Bu Cing peng berseru:

"Siok hoa, cepat mundur !" Lim Siok hoa melayang kembali ke tempat semula, kemudian bertanya dengan wajah tertegun.

"Ada apa ?"
Dengan wajah sangat tegang Bu Cing peng berkata. "Seorang musuh besarku dimasa lalu telah datang, orang
itu tak menentu gerak geriknya, tapi mempunyai kegemaran membunuh, berhubung aku mencampuri suatu persoalan, akibatnya aku telah mengikat tali permusuhan dengannya.

Sementara itu, Hongpo It hiong telah memandang keluar ruangan sambil menegur:

"Apakah saudara Ko yang telah datang?"

Suara dentingan nyaring tadi mendadak lenyap tak berbekas, menyusui kemudian terdengar seorang tertawa terbahak bahak dari luar pintu, suara tertawanya kedengaran aneh.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu seorang sastrawan berusia pertengahan yang mengenakan pakaian biru sudah melangkah masuk sambil membopong sesosok tubuh.

Sastrawan setengah umur itu membanting orang bawaannya ke tanah, kemudian mengalihkan sorot matanya yang dingin bagaikan es itu keatas wajah Bu Cing peng, sekulum senyuman yang sangat dingin dan sinis segera tersungging diujung bibirnya.

"Heeeheehe... ternyata saudara Bu benar benar telah datang" jengeknya, "gara-gara putrimu itu siaute harus mengejar sampai sejauh lima li sebelum berhasil membekuknya, sebetulnya aku bermaksud langsung menuju ke bukit Cing shia, tapi sekarang, hehe he he, tampaknya aku tak usah bersusah payah pergi ke rumah Cing sia lagi."

Lim Siok hoa berpaling ke arah tubuh manusia yang tergeletak ditanah itu, hampir saja dia menjerit kaget, ternyata orang itu bukan lain adalah putri kesayangannya. Bu Siau huan.

"Kim jiu suseng (sastrawan bertangan emas) ada urusan apa kau mencari aku ?" Bu Cing-peng segera menegur.

Kim jiu suseng Ko Cian tertawa terbabat bahak.

"Hah . . haah .. haah . . saudara Bu benar benar seorang pelupa tiga tahun berselang bukankah kita pernah bersua dikuil besar keluarga Ong ? Masa kau sudah lupa ? Tempo hari, seandainya saudara Bu tidak mengacau dari tengah, aku pun tak usah bersusah payah mengembara lagi selama kira kira tiga tahun di dunia persilatan bahkan satu satunya harapan untuk hidup tenang pun tidak berhasil kuperoleh . ."

Bu Cing-peng tertawa dingin

"Heeehh. . , heehh. . .heeehh.. apa maksud saudara Ko berkata demikian. Urusan yang lalu kini sudah menjadi basi, tak ada gunanya untuk disinggung kembali, meskipun perbuatan siaute waktu itu sedikit menuruti napsu sendiri. tapi. ."

"Omong kosong!" Kim jiu suseng Ko Cin mendengus dingin, Li Kui telah membunuh keponakanku, dia membunuh keponakanku itu hanya gara gara seorang perempuan, dendam berdarah sedalam lautan ini apakah mesti kubiarkan saja? Kau telah melepaskannya pergi, mengapa aku harus mengampuni dirimu."
Bu Cing peng tak mau mengalah, diapun segera berseru. "Saudara Ko adalah seorang enghiong besar yang sudah
lama termashur didalam dunia persilatan, mengapa kau tidak menyelidiki dahulu duduknya persoalan sampai jelas sebelum mencari aku? keponakan mustikamu itu terpikat dengan istri Li Kui meskipun Li Kui bukan seorang keturunan perguruan ternama dia tak malu disebut sebagai seorang Hohan,  berulang kali dia telah mencoba untuk bersabar terus, tapi keponakanmu itu bukan saja tak tahu diri bahkan secara terbuka menyatakan hendak merampas istri Li Kui dengan kekerasan, akibatnya kedua belah pihak menjadi saling bertarung dan dalam pertarungan itulah Li Kui telah membunuh keponakanmu . . ."

"Tutup mulut!" bentak Kim jiu so eng semakin gusar "aku hanya ingin bertanya kepadamu, mengapa kau melepaskan Li Kui, jadi kau tak usah menjelaskan duduknya persoalan kepadaku Kau tak usah mengira karena berasal dari bukit Cing shia maka tak seorang jago persilatan pun yang kau pandang sebelah mata, harus diketahui Hongpo loenghiong adakah seorang jagoan juga. . ."

"Saudara Ko, mengapa kau berkata demikian" buru buru Hongpo It hiong berseru, "Pek seh wu kami ini, bisa berdiri berkat jasamu yang besar, siaute pun tidak mempunyai keinginan lain, aku hanya berharap kau sudi menyerahkan bocah perempuan itu kepadaku agar bisa kujatuhi hukuman yang setimpal baginya." Kim-jiu suseng segera tertawa terbahak bahak:

"Haaa, haaa, haaa, tentu saja, tentu saja, tujuanku semula hanya ingin memancing munculnya Bu Cing peng, sekarang orang she Bu itu sudah datang tentu saja budak ini pun sama sekali tak ada harganya bagiku, akan segera kuberikan kepadamu."

Sambil tertawa Hongpo It-hong berkata:

"Maksud baik saudara Ko akan lohu terima dengan senang hati."

Dia mengerling sekejap kearah Hongpo Leng hong dengan langkah lebar Hongpo Lenghong segera berjalan kedepan menghampiri tubuh Bu Siau huan.

Paras muka Lim Siok hoa segera berubah hebat dengan cepat dia melompat kemuka sambil menegur:

"Mau apa kau?"

"Kau tak usah berkaok2. aku hendak meringkus budak ini .
. ." kata Hongpo Leng hong dingin.

Dalam gelisahnya Lim Siok hoa segera mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan, siapa tahu Kim jiu suseng segera bertindak cepat dia mengulapkan tangannya pelan, tahu tahu serangan yang maha dahsyat itu sudah berhasil dipunahkan hingga tak berbekas.

Lim Siok hoa menjadi terperanjat sekali, secara beruntun dia mundur dua langkah, bagaikan ikan kena pancing, burung kena panah, untuk sesaat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Dengan suara dingin Kim jiu suseng berkata: "Selama ada aku disini siapa pun dilarang turun tangan secara sembarangan."

"Hmm mentang mentang seorang jagoan dari dunia persilatan kau lantas mengira boleh mampermainkan seorang boanpwe dengan sekehendak hatinya? kalau punya kemampuan lepaskan putriku, mari kita bertarung habis habisan," tantang Lim Siok hoa.

Kim jiu suseng mengejek dingin.

"Aku telah mengabulkan permintaan tuan rumah untuk menyerahkan bocah perempuan ini kepadanya, bila kalian hendak menolong orang, turun tanganlah setelah kuserahkan orang ini ke tangan Hongpo ayah dan anak, waktu itu, sekalipun kau hendak melukai orang dengan kekerasan pun aku tak akan ambil perduli."

kemudian dicengkeramnya tubuh Bu Siau-huan dan dilemparkan ke depan, tubuhnya yang lembut dan putih itu segera meluncur ke arah Hongpo Leng bong bagaikan sebuah kapas.

Waktu itu berhubung jarak antara ke dua belah pihak terlampau jauh, maka kendatipun Bu Cing peng dan Lim Siok hoa memiliki tenaga dalam yang amat sempurna pun tak sempat lagi untuk turun tangan menolong, apalagi musuh besar berada di depan mata, sudah pasti Kim jiu suseng tak akan membiarkan mereka turun tangan secara begitu mudah.

Dalam pada itu, Bu Siau huan tergeletak tidak sadar, beberapa buah jalan darah penting ditubuhnya sudah ditotok oleh Kim jiu suseng maka secara mudah Hongpo Leng hong menyambutnya dan segera dibawa masuk keruang dalam dengan langkah lebar.

Menyaksikan perbuatan orang, dengan gusar Bu Cing peng berseru: "Behenti."

Dengan cepat dia bergerak maju ke depan lalu tegurnya lagi dingin:

"Kau hendak membawanya kemana?"

"Tak usah kuatir" sahut Hongpo Leng hong sambil berpaling "sebelum urusanmu dengan Kim jiu suseng selesai, kami tidak akan mengusik budak ini barang seujung rambut pun."

Mendengar perkataan itu, Bu Cing peng baru merasa agak tenang, dia tahu tiga orang yang hadir dalam ruangan sekarang rata rata merupakan jagoan yang berilmu tangguh dalam dunia persilatan apalagi sekarang mereka sudah saling berhadapan, begitu pertarungan meledak, suatu keadaan yang mengerikan sudah pasti tak dapat dihindari.

Bu Cing peng menarik napas panjang panjang, kemudian sambil berpaling ke arah Kim jiu suseng, katanya:

"Saudara Ko, benarkah kau hendak menyulitkan diriku pada hari ini. ."

"Kecuali dengan cara itu, aku tak bisa menemukan cara lain yang lebih baik lagi untuk membereskan persengketaan antara kita berdua" kata Kim jiu suseng dingin," Meski Li Kui sudah bilang, Bu Cing peng telah mendatangr kalau dihitung hitung masih tidak terlalu rugi bagiku, cuma aku yang harus menanggung ruginya. karena kau harus mengorbankan nyawa gara gara Li Kui."

Sesudah tertawa terbahak bahak dengan suara yang tinggi melengking, mendadak wajahnya berubah kembali menjadi dingin seperti es. ujarnya lebih jauh dergan suara ketus:

"Aku hendak membunuhmu untuk membalas dendam bagi kematian keponakanku malam ini, jangan harap kalian suami istri berdua dapat lolos dari tanganku, kalau tidak, mulai hari ini aku tak akan bernama Kimjiu suseng lagi."

Setelah mengucapkan beberapa patah kata dengan suara yang keras dan tegas itu, dia masukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan sebuah tangan emas kecil, kemudian di buang ke atas tanah.

Diujung jari tengah dari tangan emas itu tercantum kata "mati" dari huruf hitam !

Inilah lambang dari Kimjiu suseng sebelum melakukan pembunuhan, dari sinilah orang persilatan menyebutnya sebagai si tangan pencabut nyawa, sebab setiap orang yang pernah melihat tangan emas tersebut, tak seorang pun yang bisa lolos dalam keadaan hidup. 

Dengan wajah berubah hebat Bu Cing peng maju kedepan, kemudian serunya lantang:

"Kim jiu suseng, urusan Lim Kui akan kupikul seorang diri, tapi sebelum pertarungan kita langsungkan, aku mempunyai suatu permintaan kecil, harap saudara Ko sudi memandang diatas wajah siaute untuk melepaskan Li Kui dia adalah seorang lelaki yang jujur, polos dan gagah, sama sekali tidak bermaksud jahat." Sambil tertawa dingin Kim jiu suseng menukas:

"Sebelum mampus kau masih mintakan ampun untuk orang, hmm coba diantara kita berdua tidak terikat dendam kesumat, aku gembira sekali dapat berkenalan dengan seorang lelaki gagah seperti kau..."

Bu Cing peng tertawa dingin pula:

"Kau tak usah berlagak sok bijaksana sok berhati baik, siapapun tahu kalau Kim jiu suseng berhati busuk dan bertangan kejam, membunuh orang tanpa berkedip, cukup berdasarkan ini pun aku Bu Cing peng tak akan sudi berkenalan dengan kau."

"Baik !" seru Kim jiu suseng kemadian dengan gusar, "lebih baik kita bereskan persoalan ini diujung tangan saja .. "

Dengan suatu gerakan cepat dia meloloskan sebuah cambuk panjang berwarna perak, disepanjang tubuh cambuk itu penuh dengan senjata kait yang sangat tajam.

Ketika digetarkan pelan, cambuk itu segera memegang bagaikan sebuah tombak, pelan pelan dia bergeser maju melakukan penekanan.

Buru buru Bu Cing peng meloloskan pedangnya pula dengan cepat ia menciptakan enam gelombang pedang dan
menyongsong datangnya cambuk panjang lawan dengan jurus Im yang-kui-it (lm yang berasal satu).
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 19"

Post a Comment

close