Cincin Maut Jilid 17

Mode Malam
Jilid 17
"HMM, APA yang hendak kan katakan Ugi?"

"Sancu, sungguh tega kau mencelakai nyawa Lim cianpwee
. . ."

"Dosanya besar dan tak bisa diampuni, hal ini tak bisa salahkan lohu" jawab Cing shia sancu sambil tertawa dingin." besar amat nyalimu? Meski kau bisa menyelamatkan jiwatya untuk sementara waktu, namun kau sendiri telah melanggar peraturan dari Cing sia pay, kami, cukup berdasarkan hal ini, nyawamu tak bisa diampuni lagi."

"Peraturan Cing sia san kalian betul betul tidak mengenal peri kemanusiaan." kata Liong Tian-im gagah, "dosa macam apakah yang di lakukan Lim cianpwee sehingga kau menjatuhkan hukuman sekeji ini kepadanya? San cu, kau pun seorang manusia. ." Cing shia sancu merasa amat gusar bentaknya:

"Kau berani mencampuri urusan dari keluarga Bu kami? Bocah keparat, terus terang kuberitahukan kepadamu ilmu pedang keluarga Bu kami baru bisa berhasil bila perasaan dan napsu bisa teratasi lebih dulu, kemudian baru melatih ilmu berhati dingin, terhadap siapa pun tak boleh mempunyai perasaan, kalau tidak, ilmu pedang yang dipelajari tak akan bisa mencapai tingkatan yang tertinggi. Selama ini aku selalu bersikap sama terhadap setiap orang, siapa yang melakukan kesalahan dia harus dihukum. Lim Siok hoa telah melanggar pantangan berzinah, maka menurut peraturan perguruan dia harus dijatuhi hukuman mati, inipun sudah kelewat sungkan kepadanya!"

Liong Tian im segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Mungkin Lim cianpwe telah dibuat penasaran oleh tuduhan tersebut, seandainya betul demikian hal ini pun hanya bisa disalahkan pada jiwanya belaka, apalagi masalah semacam ini sepantasnya dibereskan sendiri oleh putramu, kini putramu  tak ada digunung, bila kau membakarnya dengan begitu saja, mungkin andaikata putramu kembali kau tak bisa memberikan pertanggungan jawabmu . . ."

Cing shia sancu agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian:

"Putraku sudah mati lama, boleh dibilang, dia dibunuh secara tidak langsung oleh perempuan cabul berhati keji ini . .
."

Liong Tian im segera tertawa, sebelum San cu dari Cing shia san itu menyelesaikan kata katanya dia telah menukas: "Sancu, ilmu yang kau latih adalah ilmu hati dingin, yakni melupakan tujuh perasaan enam napsu, bahkan terhadap orang yang paling dekat dengan dirimu pun tak boleh melahirkan soal perasaan, tapi dari ucapan Sancu barusan, aku dapat mengetahui kau tak bisa menghilangkan perasaan tersebut, atau dengan perkataan lain, ilmu hati dinginmu belum berhasil mencapai pada puncaknya "

Tiba tiba Cing shia Sancu menghela napas panjang, katanya kemudian dengan sedih:

"Manus!a bukan malaikat, siapakah yang benar benar bisa menghilangkan segala perasaan ? Aku sudah melatih ilmu pedang hampir seratus tahun Iamanya, namun aku tak pernah berhasil mencapai taraf tak berperasaan sama sekali, oleh karena itu ilmu pedangku masih tetap tertahan sampai pada tahap ilmu pedang saja. tak bisa maju lagi barang setapakpun
."

Liong Tian im tertegun, dia tidak menyangka kalau ilmu pedang dari Cing shia sancu telah berhasil mencapai tingkatan ilmu pedang terbang, dia cukup mengetahui apa yang disebut ilmu pedang terbang itu yakni membunuh orang dengan suatu sinar tak berwujud yang menyerupai pedang.

Akan tetapi kepandaian semacam itu hanya pernah didengar dan tak pernah disaksikan orang, sedang Cing shia sancu yang berhasil mencapai tahap sedemikian tinggi pun masih belum merasa puas, lantas taraf kepandaian seperti apakah yarg diincar olehnya?
Berpikir sampai di situ, tanpa terasa dia lantas bertanya: "Sebetulnya tahap macam apakah yang di harapkan sancu
daiam melatih itu pedangmu itu?" Cing shia sancu agak termenung sebentar, kemudian sahutnya dengan perasaan bimbang:

"Jagad tiada batasnya, samudra tiada ukuran. sejauh mata memandang, selapis langit di atas langit, itulah rahasia ilmu pedang terbang coba kau pikirkan sendiri."

Liong Tian-im terperanjat sekali, dia tidak menyangka bila dalam dunia persilatan benar benar terdapat ilmu pedang yang tiada berbatasan semacam itu, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.

"Tahap semacam itu benar benar kelewat tinggi." demikian ia berpikir, "Bagaimana pun juga kekuatan manusia ada batas batasnya, aku rasa mustahil manusia dapat mencapai taraf kepandaian semacam itu, tak mungkin keadaan semacam itu bisa tercapai aaai ! Sungguh tak dsangka kepandaian ilmu pedang masih mempunyai pengetahuan demikian dalamnya, mungkin aku tiada berjodoh untuk menyaksikan ke kln aku tiada berjodoh untuk menyaksikan kepandaian semacam itu. Padahal ilmu pedang dari Cing shia sancu sudah tiada tandingannya di kolong langit, ilmu pedang terbang saja telan dikuasai tapi dia masih melatih terus tiada hentinya, sebenarnya apa yang dia cari ?"

Berp'kir sampai disitu, timbul perasaan ingin tahu dalam hatinya, diapun bertanya Iagi.

"Aku rasa dikolong langit tak mungkin terdapat manusia semacam ini."

"Siapa bilang tak ada ?" Cing shia sancu mendengus dingin di lautan timur terdapat seorang pertapa yang sanggup mencapai tingkatan semacam itu, jangan mengira ilmu pedang Cing shia pay betul betul tiada tandingannya dikolong langit, aku hanya bisa menakut-nakuti orang persilatan biasa, andaikata benar benar berjumpa dengan jagoan lihay, mungkin aku tak mampu menahan sebuah serangannya."

Yang dia maksudkan sebagai jagoan lihai itu entah jagoan yang memiliki kepandaian sampai taraf dimana, namun dilihat dari ucapannya yang amat serius bisa di ketahui kalau ucapan tersebut bukan gertak sambal belaka, tapi itu pun sukar dipercaya dengan akal manusia.

Cing shia sancu mengerling sekejap ke arah Liong Tian im kemudia dengan suara dingin ujarnya kembali.

"Persoalan yang kuberi tahukan kepadaku sudah kelewatan banyak, siau pwee, sekarang bersiap siaplah menerima kematianmu pun sancu tak dapat merusak peraturan perguruanku gara gara kau seorang."

Setelah mengerling sekejap ke arah senjata patung Kim mo sin jin yang berada ditangan Liong Tian im mendadak dia berkata lagi sambil tertawa seram:

"Bila kau tuk ingin mati, serahkan senjata patung Kim mo  sin jin tersebut kepadaku, pun sancu akan mengijinkan kau pulang dan mengundang gurumu untuk datang mengambilnya sendiri cuma..."

Mula mula agak tertegun juga Liong Tian im sewaktu mendengar Cing shia sancu menginginkan patung kim mo sin jin tersebut, kemudian setelah mendengus dingin, katanya seraya memutar senjata patung kim mo sin jin tersebut:

"Tidak bisa, lebih baik kau turua tangan sendiri saja!" Cing shia sancu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh .haahh...besar amat lagakmu anak muda, lohu ingin melihat sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimilikimu sehingga begitu berani berbuat keonaran dibukit Cing shia ini, dalam lima gebrakan aku akan merebut nyawamu."

"Tidak segampang itu" jengek Liong Tian im dingin, "lebih baik kau tambah dengan lima gebrakan lagi saja."

Melihat anak muda itu ada maksud memandang rendah dirinya, kontan naik darah Cing shia sancu, sambil membentak nyaring tubuh nya melompat kedepan, telapak tangannya di ayunkan kedepan melancarkan sebuah pukulan ke tubuh  Liong Tian im.

Liong Tian im mengegos sambil melompat, mendadak dadanya terasa dingin, segulung hawa darah menggelora dalam tubuhnya, lalu setelah memelLb segumpal darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

Tapi si anak muda itu tetap menahan diri, sambil memutar senjata patung Kim-mo-sin jinnya, dia membentak keras:

"Keluarkan pedangmu, kalau tidak aku tak bertarung melawanmu .. ."

Cing-shia sancu sama sekali tidak menyangka, dalam keadaan terluka arak muda itu ma sih tetap keras kepala.

Sesudah tertawa dingin, katanya.

"Baik, sekalian kutunjukkan dari ilmu pedang Cing shia pay kami . . ." Diantara kebasan ujung bajunya, tahu tahu dia sudah menggenggam sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya tajam.

Serentetan cahaya dingin memantul keluar dari balik pedang yang tipis, terutama dikala tersentil pelan, segera menggema suara dengungan yana amat nyaring membelah angkasa.

Setajam sembilu sorot mata Cing shia sancu tanpa berkedip ia menatap Liong Tian im lekat lekat, sementara pedang pendeknya dini dirp ke depan.

"Yaya, dia sudah terluka." Bu Siau huan menjerit kaget, "mengapa kau turun tangan lagi.."

Liong Tian im tertawa getir, serunya:

"Nona Bu, terima kasih atas perhatianmu, akan kuingat terus didalam hati."

Diam diam ia merjgbimpua tenaga, mendadak mencorong sinar ke emas emasan dari balik senjata patung Kim mo sin jin tersebut, ditatapnya Cing shia sancu dengan serius, lalu setelah membentak keras, ia melancarkan serangan secepat kilat dengan jurus Kay thian pit tee (membuka langit menutup bumi).

Ditengah percikan cahaya keemas emasan, mendadak terdengar suara bentakan nyaring, "Traaang."

Tubuh Liong Tian im telah didesak hingga mundur kesamping oleh jurus pedang lawan yang memancar memercikan pelbagai cahaya gemerlapan itu.. Dengan gusar Liong Tiao im membenak keras, secara beruntun dia lancarkan empat jurus serangan berantai akan tetapi semuanya berhasil dihadapi Ciag-shia sancu dengan mudah.

Sebaliknya ilmu pedang lawan yang lihay membuat Liong Tian lm tak sempat berpikir lebih mendalam, dia hanya  merasa pedang pendek Cing shia sancu ibaratnya seekor naga sakti, kelihayannya sanggup membelah emas, kecepatannya melebihi sambaran petir, sedemikian lihaynya sampai setitik bekas pun sukar dicari.
Sambil tertawa dingin mendadak Cing shia sancu berkata. "Kau telah melancarkan empat buah serangan, sekarang
tiba giliranmu untuk melancarkan sebuah serangan balasan"

Pedang pendeknya digetarkan miring, ditengah udara  segera memercik keluar dua puluh empat titik gelombang bunga, hawa padang yang dingin memencar kemana mana, diantara getaran cahaya pedang langsung mendesak ke tubuh anak muda itu.

Liong Tian im terperanjat sekali menyaksikan kejadian itu, dia merasa tak mampu untuk menghindarkan diri dari serangan yang amat dahsyat tersebut, diam-diam dia menghela napas panjang. matanya dipejamkan rapat rapat siap menantikan datangnya kematian.

Mendadak, ditengah udara berkumandang suara dengusan rendah lalu disusul suara bentrokan nyaring yang memekikkan telinga, diantara percikan bunga api yang memancar keempat penjuru, pedang pendek Cing shia sancu sudah ditangkis dengan sebatang pedang yang meluncur datang dari luar arena. Cepat cepat Liong Tian-im membuka matanya sambil menengok ke depan, tampak seorang lelaki berkerudung yang mengenakan baju biru telah muncul ditengah arena, dengan pedang terhunus dia sedang saling bertatap muka dengan Cing shia sancu.

Sementara itu Cing shia sancu dengan wajah gusar dan pedang pendek digetarkan keras keras sedang menegur:

"Siapa kau ?"

"Buat apa sancu menanyakan siapakah aku, boan-seng hanya mohon kepada sancu agar sudi melepaskan siauya itu .
. ." kata orang berkerudung itu dingin.

Dia memandang sekejap ke arah Liong Tian im, lalu memandang pula Lim Siok hoa yang terikat diatas tiang hukuman, tiba tiba tanyanya dengan nada emosi:

"Juga perempuan itu , ,"

"Hmm!" Cing shia sancu mendengus dingin "tiada pekerjaan yang begitu gampang, bukan saja aku hendak menghancurkan mereka berdua, termasuk kau pun tak akan kulepaskan, jangan mengira dengan mengandalkan berapa jurus ilmu pedang rongsokmu itu, kau berani membuat
keonaran dibukit Cing shia san ini, terus terang kukatakan kau masih ketinggalan terlampau jauh. .."

"Benar, benar harap Sancu sudi berbelas kasihan!" kata orang berkerudung itu berulang kali.

"Enyah kau!" mendadak Cing shia sancu membentak keras. Cahaya pedang berkilauan diangkasa mendadak muncul segulung cahaya tajam yang makin !ama semakin membesar seperti gelombang tak berwujud saja menggulung tubuh manusia berkerudung itu.
Manusia berkerudung tersebut segera tertawa tergelak. "Haahh, , baahh. .barbh, . , jurus Tiap kiam aiu im
(SiSuoan pedang tayangan baju) Sancu memang pantas disebut kepandaian nomor wahid dikolong langit. . ."

Dengan sikap amat serius dia mendorong pedangnya ke depan, gerakan itu enteng seperti kapas dan lantang menerjang ombak kebalik cahaya kilat hawa pedang Iawan yang hebat.

Tatkala sepasang pedang tersebut saling membentur, segera terjadi suara benturan pe ai

Woro manusia berkerudung itu menarik kembali pedangnya, lalu membuat gerakan busur ditengah udara, setelah itu melesat secepat kilat. . .

Cing shia sancu berseru dengan mendadak:

"Hai, mengapa kau pun pandai menggunakan ilmu pedang perguruan kami . . ?"

Manusia berkerudung itu menghela napas pelan.

"Aai . . . akar dan bunga sesungguhnya bersumber sama, Sancu, buat apa kau menyelidiki persoalan ini dengan seksama ?" Cing shia sancu menarik kembali pedangnya sambil mengundurkan diri kebelakang kembali dia berseru:

"Lepaskan kain kerudung yang menutupi wajahmu !"

Ucapan tersebut bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong, mendadak lelaki berkerudung itu gemetar keras, dia menatap wajah Cing shia sancu dengan termangu, lalu mundur dua langkah dengan perasaan ragu.

Sesaat kemudian manusia berkerudung itu baru menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya:

"Wajahku sudah hancur dan rusak, sekalipun sancu dapat melihatnya juga tak akan bisa mengenali diriku"

"Heeh . . heeh . . heeh . . hanya setan yang percaya   dengan perkataanmu itu" jengek Cing shia sancu sambil tertawa dingin, "kecuali anggota perguruan kami, tak mungkin ada orang yang bisa menggunakan ilmu pedang keluarga Bu, jurus serangan yang kau gunakan untuk melancarkan serangan tadi hampir semuanya merupakan jurus serangan perguruan kami, bahkan kemantapannya jauh lebih mengungguli lohu, aku tak dapat mengerti anggota perguruan manakah dirimu yang sebetulnya ? ilmu pedang keluarga kami tak pernah diwariskan kepada orang lain, dari siapakah kau mempelajari ilmu pedang tersebut ?"

Sekali lagi manusia berkerudung itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Mengapa sancu begitu ngotot ingin mengungkap rahasiaku
? Bukankah sudah kukatakan tadi, persoalan apapun lebih baik tak usah di tanyakan sampai mendetail, kalau sudah menjadi jelas malah tiada berarti jadinya . .." "Kau tak mau bicara ?" Seru Cing shia sancu gusar "hmmm, baik. aku masih mempunyai cara untuk menghadapi dirimu."

Baru saja dia hendak menghimpun tenaganya untuk melancarkan serangan lagi, tiba tiba terdengar Lim Siok-hoa merintih penuh penderitaan.

Walaupun Cing shia sancu berhati sekeras baja, tak urung dia berpaling juga kearahnya.

Tampak Bu Siau huan dan Liong Tian im telah berdiri disamping Lim Siok-hoa, waktu itu Liong Tian im telah memotong tali yang membelenggu perempuan tersebut.
Sancu gusar sekali, kepada Go Tiong segera serunya: "Hei, apakah kalian telah manpus semua ? Mengapa tidak
segera kalun bekuk bajingan cilik itu . .  ."

Go Tiong tak berani membangkang dengan membawa ke tiga orang anak buahnya dia menerjang ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilatan . . .

Mendadak manusia berkerudung itu berpekik nyaring, pedangnya digetarkan dan melepaskan tiga kali tusukan ke atas tubuh Go Tiong.

"Jika kau berani mengusik mereka, kucabut segera selembar jiwamu." ancam manusia berkerudung itu dingin.

Go Tiong menjerit kaget, tahu tahu pakaian yang dikenakan telah terpapas kutung tiga bagian, paras mukanya segera berubah hebat, ia tak menyangka kalau ilmu pedang lawan sudah mencapai tingkat seperti itu, bahkan belum pernah dijumpai sebelumnya. Manusia berkerudung itu segera mundur setelah menarik kembali serangannya lalu melompat ke hadapan Lim Siok hoa dan memutuskan tali temali yang membelenggu tubuh perempuan itu.

Kemudian sambil melayang turun dihadapan Bu Siau huan, bisiknya. "jaga ibumu baik baik!"

Cing shia sancu tidak menyangka kalau manusia berkerudung itu begitu bernyali sehingga tak memandang sebelah matapun terhadapnya dengan gusar ia tertawa nyaring, kemudian ia lompat ke depan suatu gerakan cepat.

Cahaya pedang berkilat, kemudian melepaskan sebuah bacokan ke tubuh manusia berkerudung itu.

Dengan cekatan manusia berkerudung itu mengegos ke samping, pedangnya berkilauan tajam dan segera memunahkan ancaman tersebut.

Lagi lagi jurus serangan yang dipergunakan adalah Jan san teng sui (bukit gundul air mengering) sebuah jurus dari ilmu pedang keluarga Bu.

Cing-shia sancu tertegun, ia tak habis mengerti siapa gerangan manusia berkerudung yang misterius itu ?

Dia ingin sekali mengetahui asal usul orang ini, tanyanya dengan gusar.

"Dari mana kau pelajari jurus serangan tersebut ?" Manusia berkerudung itu menyusut mundur dengan ketakutan.

"Sancu, mengapa kau menanyakan persoalan itu lagi?" serunya "bukankah sudah kukatakan bahwa ilmu silat itu sumbernya satu? Apa manfaatnya bagi keluarga Bu kalian setelah mengetahui riwayatku ?"

"Omong kosong !" Cing-shia sancu gusar sekali "ilmu pedang partai kami tak pernah di wariskan kepada orang lain, kalau kau bukan mendapatkannya dengan jalan mencuri tentu."

Belum lagi ia menyelesaikan perkataannya, mendadak Lim Siok hoa berseru keras:
"Ayah, tak usah ditanya lagi, dia adalah Cing peng.." Sekujur tubuh manusia berkerudung itu gemetar keras.
"Siok hoa, kau..."

Agak emosi Lim Siok hoa berseru lagi:

"Walaupun kau sudah mengembara selama banyak tahun, namun caramu belum berubah, dari tingkah lakumu aku sudah dapat menduga akan dirimu."

Cing shia sancu termangu mangu, mendadak dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dia merasa makin tua semakin pikun sanpai sampai putra sendiripun tak di kenal lagi.

"Nak, benarkah kau . ." dia bertanya ragu agak emosi. Bu Cing Peng mengangguk pelan. "Benarkah aku Cing peng!"

Dia seperti ingin mengutarakan banyak perkataan tapi  untuk sesaat tak tahu harus berbicara darimana, buru buru ia menjatuhkan diri berlutut didepan Cing-shia sancu dan mencium kaki ayahnya.

Sambil tertawa Cing shia sancu berkata: "Seharusnya aku dapat mendugamu semenjak tadi, kalau tidak, siapa pula manusia dalam dunia persilatan yang bisa menggunakan ilmu pedang keluarga Bu kami ? Nak. ilmu silatmu makin lama semakin tangguh, apakah kan telah berhasil . . ."

Dengan cepat Bu Cing-peng menggeleng "SoalIini .. . bolehkah kumohonkan ampun bagi Siok hoa ?"

Cing shia sancu segera tertawa. "Setelah kau kembali,  tentu saja kau yang berhak mengambil keputusan, cuma . . ."

"Ayah, kita telah menyiksa Siok-hoa selama banyak tahun" Bu Cing-peng menghela napas sedih, "dia tak bersalah, selama banyak tahun aku tak punya muka kembali ke rumah karena aku takut kepada Siok hoa . . ."

"Hmm, darimana kau bisa tahu . . ." Cing shia sarcu mendengus dingin.
Kembali Bu Cing-peng menghela napas panjang. "Peristiwa itu telah kuselidiki dengan sejelas jelasnya, Siau
yau yoso benar benar seorang manusia yang jujur dan ksatria sejati, seandainya bukan dia yang menasehati diriku terus menerus, tak nanti aku akan balik lagi kemari." Buru buru dia berjalan ke hadapan Lim Siok hoa, lalu bisiknya lirih:

"Siok hoa..."

Lim Siok hoa tertawa getir.

"Cing peng, kau telah bertemu dengan toa suhengku?" dia bertanya.

Sekali lagi Bu Cing peng menghela napas panjang "Bukan hanya bertemu muka, kami telah bersahabat karib justru karena peristiwa tempo hari, dia selalu mengembara ke sana kemari dan tak pernah membicarakan soal ilmu silat lagi."

"Aaaai pikirannya kelewit cepat." Lim Siok hoa menghela napas sedih.

Agaknya dia tak ingin menyinggung kembali peristiwa lama yang amat mengharukan hati itu, setelah tersenyum lirih kepada Bu Cing peng, pelan pelan sorot matanya dialihkan ke wajah Bu Siau huan.

"Dia adalah anak kita." katanya kemudian sambil tertawa, "Siau huan. ."

"Ayah . . ." Bu Siau huan teriak keras.

Bu Cing peng segera menggenggam tangan anak gadisnya erat erat seraya berseru:

"Nak kau telah dewasa "

Awan kelabu yang semula menyelimuti bukit Cing shia kini terbang lenyap dengan kehadiran Bu Cing peng, penderitaan dan tekanan batin yang dialami Lim Siok hoa seIama belasan tahun akhirnya tersapu bersih sedang Bu Siau huan pun dari seorang anak yatim kini berubah menjadi anak yang berbahagia, karena ayah dan ibunya kembali mendampinginya.

Seharusnya gadis itu merasa gembira, merasa bahagia  sekali . . . tapi tidak demikian dengannya, karena kebahagiaan tersebut hanya bersifat sementara, kembali ada masalah lain yang menggerogoti perasaan dan pikirannya.

Dia adalah seorang gadis, seorang gadis remaja yang baru mekar, perasaan gadis remaja memang lebih dalam dari samudra, dengan kemunculan Liong Tian im, membuat hatinya kembali melayang ke tubuh orang lain ke tubuh Liong Tian im.

Terombang ambing ditengah samudra cinta memang suatu kejadian yang tragis, kejadian yang tragis kadang kala bisa mengakibatkan suatu keadaan dan akhirnya membuahkan kenangan . . . .

ooOoo ooOoo

BU SIAU HUAN sudah tahu urusan, gadis yang tahu urusan berarti tahu pula kesedihan gadis yang mengerti kesedihan berarti mulai mempunyai kemurungan, apakah yang dia murungkan ? Bjhiac ia sendiripun tidak tahu.

Seorang diri ia duduk diatas puncak bukit, membiarkan angin gunung yang kencang menerpa tubuhnya membuat ujung bajunya berkibar, rambutnya ttrarat kalut dan tubuh serasa dingin. TiM, . . bahkan dia sendiripun tak tahu apa yang kurang dilakukan disana? Melihat matahari terbitkah? Atau melihat matahari terbenam, . ? Semuanya tidak, ia sedang menanti seseorang.

"Aaaai!" dia menghela napas pelan dan berpikiran," belum pernah aku menunggu orang, belum pernah merasakan gelisahnya menunggu orang baru hari ini kurasakan kesemuanya itu tak disangka kalau semuanya itu sangat menjemukan . ."

Sesudah membasahi bibirnya dengan lidah, kembali gumamnya sambil tertawa:

"Padahal siapa suruh aku buru buru datang kemari sebelum waktunya? Dan sekarang aku malah mempunyai lamanya waktu yang berjalan, benar-besar menggelikan. . ."

Pelan pelan dia mengalihkan sorot matanya memperhatikan awan yang menggantung di angkasa dan akhirnya terhenti diatas sebuah batu cadas dipuncak bukit sana, mendadak hatinya bergetar keras, gumamnya dengan perasaan heran:

"Mengapa dia duduk disana? Apakah dia pun sedang menantikan kedatanganku lantaran datang kelewat awal? seandainya benar-benar begitu, bukankah peristiwa ini menggelikan sekali ? Kami berdua sama sama menantikan kedatangan lawan, siapa pun sedang menantikan kedatangan sendiri."

Sesosok bayangan punggung yang lebar dan kekar muncul diatas tebing bukit yang curam itulah bayangan seorang pemuda yang duduk seorang diri diatas batu sambil memandangi awan diangkasa dengan termangu. . .

Bu Siau-huan ingin menyapanya, namun tak tahu bagaimana mesti membuka suara, meski perjumpaan ini bukan perjumpaan yang pertama namun setiap kali mereka selalu berpisah dalam keheningan, siapapun tidak mengucapkan sepatah katapun, mereka menyampaikan perasaan cintanya dengan pandangan mata belaka, hati mereka berpadu dalam keheningan, cinta yang membisu biasanya langgeng, mungkin juga dalam hati mereka sudah saling memadu janji..

Setelah termenung berapa saat, akhirnya sambil memberanikan diri ia berseru lantang: "Hei!"

Teriakan itu mengalun sampai di seluruh daerah dan memancarkan ke empat penjuru, suara gaung yang memantul mendengung susul menyusul dan memekikan telinga.

Bu Siau huan merasa pipinya agak panas, ia tertunduk dengan wajah tersipu, sementara jantungnya berdebar keras.

Orang yang berada dipuncak bukit itu seakan akan tidak mendengar menggerakkan tubuhnya sedikitpun tidak, ia tetap duduk terpekur disitu seperti sedang memikirkan suatu persoalan.

"Hmm!" Bu Siau huan mendengus dingin, lalu mencibirkan bibirnya. "kau berani tidak menggubrisku!"

Ia menanti berapa saat lagi, namun orang itu belum juga bergerak, Bu Siau nuan benar benar tak sabar lagi, dia ingin angkat kaki dari situ, sayang sepasang kakinya tak menuruti perintahnya lagi, bahkan niat untuk bergeserpun tidak. Akhirnya dengan marah Bu Siau huan menjerit lengking Iagi:

"Hei, kau ini !"

Kali ini orang yang berada dipuncak bukit itu mendengar pelan pelan ia membalikkan badan dan memandang ke arah Bu Siau huan dengan termangu, tiada seruan yang emosi, tiada perubahan wajah mukanya tetap murung, sedih. .

Bu Siau huan tertegun, ia tak menyangka wajah orang itu basah oleh air mata, dibawah sinar matahari memantulkan sinar tajam yang berkilauan, dengan termangu dia memandang lawan, tak diketahui persoalan apa yang membuatnya sedih?

"Liong, kau ..." sepasang keningnya berkerut mukanya nampak amat murung.

Buru buru Liong Tian im menyeka noda air mata diujung matanya, lalu melejit keudara, meski senyuman paksa menghiasi bibirnya namun tidak menutupi awan kesedihan yang menghiasi wajahnya.

"Liong, kau menangis!" tanya Bu Siau huan lirih. Tidak. .." Liong Tian im menggeleng.
Bu Siau huan menyentil sebutir air mata yang sempat menghiasi pipi pemuda itu, lalu berkata murung.

"Buat apa kau membohongiku? Lihatlah, air matapun belum mengering, persoalan apa sih yang membuatmu sedih ?"

"Aaah . . !" Betapa beratnya helaan nafas itu, bagaikan sebuah godam raksasa tak berwujud yang menghantam hati Bu Siau huan, dengan perasaan terkejut dia mengangkat kepalanya lalu memandang wajah pemuda yang penuh hawa misterius itu dengan termangu, entah sedari kapan dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, perasaan sedih dan murung menyelimuti perasaannya .. .

Ia merasa sedih karena helaan napas pemuda itu, dia menderita dan sengsara karena kedukaannya.
Liong Tian im menghela napas panjangnya dengan pedih: "Aku menjadi sedih karena teringat orang tuaku, Siau huan
tidak seharusnya ku bawa penderitaan ini untukmu, mengertikah kau akan maksudku ini . . . ?"

Siau huan mengerti, cuma dia makin bingung, ia merasa keheranan oleh kerahasiaan Liong Tian im, lebih Iagi terpikat oleh perasaan kagum membuat dia kehilangan pegangan, di genggamnya tangan pemuda itu kencang-kencang.

"Kau seharusnya gembira, hati-hati kalau kepedihan akan merusak badanmu !" katanya mengangguk.

Inilah tumpahan perhatian yang suci murni, Liong Tian-im merasa hatinya manis bercampur hangat tapi muncul pula perasaan kecut dan sedih yang aneh, dia merasa gadis yang suci dan polos ini memiliki kecantikan yang rupawan, keayuan dibalik kecerdikan, kepolosan dibalik kelembutan, diam diam ia menghela napas, tidak berkata kata lagi.

"Baru pertama kali ini kukenal gadis sepolos dan selembut dia, demikian ia berpikir, "aku tidak pantas bertemu dengan gadis secantik ini, aaai aku masih mempunyai dendam kesumat sedalam lautan.

Dikemudian hari masih banyak mara bahaya yang mengancamku, siapa tahu tiap hari mesti luntang lantung dalam dunia persilatan, aku tak boleh menyusahkannya, apabn membuatnya kuatir dan murung sepanjang hari . . .

"Nona Bu !"

Siau huan tidak mengerti akan panggilan yang begitu dingin dan asing itu, buru buru serunya:

"Kau sepantasnya memanggil namaku, sebutan itu tidak hangat, tidak mesrah . . ."

"Aai, aku takut tidak memadahi bagimu!" Liong Tian-im menghela napas sedih.

"Eeh . . jangan berkata begitu kita sama sama manusia, tidak terbagi dalam tingkatan sosial yang berbeda, kita setingkat sederajat, siapa bilang kau tidak memadahi ?"

Saking gelisahnya hampir saja dia menangis, matapun  sudah memerah, di tatapnya Liong Tian-lm dengan sorot mata yang sedih dan penuh permohonan, dia berharap pemuda itu bisa memanggilnya "Siau huan" suatu keinginan yang membara, juga suatu pengharapan yang memilukan hati.

Liong Tian-im menarik napas panjang, akhirnya dia berbisik juga.

"Siau huan !" Bu Siau huan segera tertawa, senyuman yang manis menawan hati, pelan-pelan ia bersandar diatas lengannya yang kuat, terbenam dalam dunia cinta yang hangat.

Sayang waktu yang begitu syahdu hanya berlangsung sebentar, sebab cinta kasih yang penuh kemesraan dan kehangatan itu segera di kacau oleh kehadiran dua orang tamu tak di undang.

Pertama-tama Bu Siau huan yang melompat dulu, teriaknya dengan cemas:

"Liong, ada orang menyerbu puncak Kim-teng!"  "Dimana letak Kim teng ?" Liong Tian im tidak mengerti. Bu Siau huan makin gelisah.
"Kim teng adalah tempat kami menyimpan pusaka, juga merupakan daerah terlarang dibukit Cing shia ini . ."

"Oooh," pelan pelan Liong Tian im mengalihkan sorot matanya ke arah dua sosok bayangan manusia yang sedang berlarian mendekat.

Dua sosok bayangan manusia itu meluncur tiba bagaikan sukma gentayangan dan berhenti disebuah batu cadas, dari situ mereka memandang ke tempat kejauhan sana.

Kemudian terdengar seseorang berkata dengan suara dalam:

"Saudara Pek Ii, disinikah letaknya ?" Yang berbicara adalah seorang lelaki gemuk yang berwajah merah bersinar, sebilah pedang terselip dipunggungnya, namun sorot mata orang itu tak jujur, ia sedang celingukan kesana ke mari dengan liar.

Rekannya adalah seorang kakek yang kurus kering ia sedang mendengus seraya menjawab "Betul, menurut peta, disinilah Ietaknya."

"Haahh...haahh, bila penyelidikan kita mendapatkan hasil nyata, Tiong cu akan datang sendiri."

"Hem Pek li kau jangan kau pandang musuh ini kelewat sederhana" kakek ceking itu memperingatkan dengan serius, "meski ilmu Toa lo sin kang dari Tiong cu kita telah berhasil dengan sukses namun diapun enggan bertarung dengan sitelur busuk dari Cing shia san."

"Hmm!"Pek li kit mendengus dingin, "kau Hu lo jin (si manusia sebatang kara) memang selalu pengecut, apa sih kelihayan dari Cing shia san? Sudah sekian lama kita sampai disini namun bayangan setan pun tak nampak satupun."

Bu Siau huan sungguh tak leluasa menyaksikan keangkuhan kedua orang itu, sambil tertawa dingin ia menyumpah:

"Sialan, manusia tekebur!"

Sebetulnya suara itu diucapkan sangat lirih dan maksudnya ditujukan kepada Liong Tian lm apalagi jarak kedua belah pihakpun amat jauh, tapi nyatanya kedua orang tamu tak diundang itu dapat mendengarnya dengan jelas.

Lelaki gemuk itu segera tertawa terbabak-bahak. "Haah, haaah, haaah saudara Hu-lo, tak kau sangka bukan kalau disini pun ada orang yang sedang bersembunyi"

Jangan dilihat bentuk badannya yang gemuk dan bulat seperti gumpalan daging, nyatanya gerakan tubuh orang itu cepatnya bagaikan sambaran kilat, dalam sekali kelebatan saja dia sudah berada sejauh berapa kaki dan melayang turun dihadapan Bu Siau huan.

Sambil menuding ke arah gadis itu, Pek li Kik segera menegur:

"Hmm, barusan kau yang memakiku?" "Kalau benar kenapa ?" ia balik menanya.
"Woow. . . tajam betul mulut kecilmu itu, apakah kedudukanmu di bukit Cing shia ?"

"Tak usah tanya !" katanya kemudian.

Gadis ini masih polos dan lincah, belum punya pengalaman dalam dunia persilatan, membuat orang lain segera mengetahui keadaannya dengan jelas, Liiong Tian im berkerut kening, ia merasa perkataan itu amat menggelikan hati.

Dalam pada itu Pek li Kit telah berkata lagi sesudah tertawa dingin:

"Nona, tahukah kau kalau disini terdapat suatu tempat  yang bernama Kim teng ? Konon dalam bukit itu penuh dengan emas mestika dan barang barang bagus lainnya, bila kau bersedia memberitahukan kepadaku letaknya, entah kuhadiahkan mutiara indah untukmu." "WOOWW . . . sok sosial kau !" dengus Bu Siau huan sambil tertawa dingin, "kau anggap barang kami boleh dibagikan kepada orang sesuka hatinya . ."

Mendadak Hu lo Jin melancarkan sebuah serangan untuk mencengkeram tubuh Bu Siau huan, serunya:

"Bagus sekali, kini ada kau, kami tak akan takut tak berhasil menemukan tempatnya"

Gerakan itu dilancarkan sedemikian cepatnya hingga sukar diikuti dengan pandangan mata, baru berkelebat tahu tahu sudah sampai pada sasarannya.

Liong Tian im gelisah, buru buru dia lancarkan sebuah serangan membabat pergelangan tangan Hu lo jin.

"Hebat amat kepandaianmu!" jengek Tian im sambil membentak.

Ia lupa kalau Bu Siau-huan adalah cucu perempuan Cing shia sancu, sudah barang tentu kepandaian silat yang dimilikinya jauh lebih sempurna daripada kepandaian yang dimiliki.

Belum lagi cengkeraman Hu lo Jin mencapai sasarannya, gadis itu sudah berkelit sambil mundur, cepatnya seperti hembusan angin puyuh, sedemikian cepatnya sampai gerakan apa yang dipergunakanpun tak sempat terlihat jelas.

Bu Siau buan segera tertawa terkekeh kekeh, ejeknya: "Huuuh, cuma cakar anjing budukan" Gagal dengan cengkeramannya Hu lo Jin jadi tertegun, sementara badannya masih melonjak mendadak dilihatnya serangan Liong Tian im menyambar tiba, tanpa terasa ia mendengus dingin sambil berseru:

"Bangsat, pingin mampus rupanya kau!"

Telapak tangannya segera dibalik, segulung hawa pukulan memancar ke luar diri telapak tangannya dan langsung menyongsong datangnya serangan dari Liong Tian im.

"Blaaammm . . ." ditengah udara terjadi benturan keras yang memekikkan telinga.

Hawa pukulan yang saling beradu segera memancarkan ke empat penjuru berupa pusaran angin berpusing, kontan kedua belah pihak sama sama merasakan hatinya bergetar keras dan tak kuasa lagi mundur dua langkah.
Hu-lo jin marah sekali, ia segera berkaok kaok keras: "Bocah keparat, tampaknya kau punya juga ilmu simpanan
.. ."

Ia berdiri dengan telapak tangan tunggal disilangkan di depan dada, dari balik matanya terpancar keluar sinar mata yang dingin, sekujur badannya bergemerutukan nyaring, tiba tiba jubahnya ciut menggelembung besar hingga tampangnya kelihatan mengerikan hati,

Liong Tian-im terkesiap, ia tak menyangka kalau Hu to jin sanggup mendesak hawa murninya keluar badan hingga membuat jubahnya menggelembung besar, meski begitu ia tak merasa gentar, sambil tertawa dingin ia berdiri dengan tangan disiapkan, matanya mengawasi tubuh lawan tanpa berkedip. "Hehmm!"

Hu lo jin mendehem rendah, tiba tiba ia mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan.

Liong Tian im mendengus dingin, sambil membentak ia sambut ayunan tangan lawan dengan sebuah pukulan dahsyat pula.

"Blaamm!" sekali lagi terdengar suara benturan keras.

Kali ini Liong Tian im merasakan hawa darah dalam dadanya bergolak, dengan sempoyongan dia mundur jauh tujuh delapan langkah, tiap kali mundur selangkah, kakinya melesak ke tanah sedalam tiga inci, hal mana membuat Bu Siau huan amat terperanjat.

"Kau terluka?" serunya penuh perhatian.

"Tidak" Liong Tian im menggeleng, "hebat juga tenaga dalam keparat ini . . . "

"Kau sudah jeri?" dengus Hu to jin sinis.

"Bangsat siapa yang takut padamu!" bentak Liong Tian im gusar.

Ia segera menyiapkan terjangan lagi, kini dia berdiri saling berhadapan dengan hu to jin.

"Haahh . .haahh. , haahh . ." mendadak Pek li Kit tertawa terbahak bahak, "Saudara Ho-to, biar aku saja yang menghadapi orang ini." "He heh ! Kau ingin bertarung dua lawan lam?" jengek Bu Siau huan dengan mata berkelit, "Hmm! Cing shia san bukan tempat yang bisa dikunjungi semau hati sendiri, kalau sudah datang, paling tidak kau harus meninggalkan beberapa macam kepandaianmu lebih dulu."

Lalu kepada Liong Tian im katanya sambil tertawa: "Kemarilah kau!"
Sejak berjumpa dengan gadis polos yang halus dan menawan hati ini tanpa terasa Liong Tian im telah jatuh hati kepadanya tapi berhubung ia merasa gadis itu kelewat anggun, sedang ia sendiri rendah kedudukannya maka ia merasa tak memadahi untuk mendampinginya."

Kendatipun persoalan ini belam pernah dipikirkan secara seksama, namun sudah terlintas dalam benaknya, itulah sebabnya tatkala Bu Siau huan memanggiInya, tanpa disadari pula Liong Tian im maju berlari ke sisinya. "Biar aku saja yang memberi pelajaran kepada dua makhluk tak tahu diri ini !" ucapnya dingin.

Dengan cepat Bu Siau-huan menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Liong, buat apa kau mesti turun tangan ? Aku ingin mengurung mereka berdua, agar yaya yang menghukum mereka . ."

Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah panji keciI berbentuk segi tiga, lalu berkata lagi:

"Panji ini adalah panji naga langit dari Cing shia-san, mungkin kalian berduapun pernah mendengar akan benda ini, nah sekarang aku akan mengurung kalian berdiam disini, menanti yaya mengirim orang untuk membekuk kamu berdua
. . ."

Pek li Kit segera tertawa terbahak bahak.

"Haah . haahh . . haaahh . . bocah perempuan, besar amat lagakmu . ."

"Kau akan segera merasakan keihayan dari panji Thianliong ki ini, lihat saja."

Dengan tangannya yang halus dan putih, gadis itu   menyentil pelan kemuka. tiba tiba panji Thian-liong-ki tersebut tertancap diatas tanah seketika itu juga angin puyuh
menderu-deru, kabut dan awan menyelimuti seluruh angkasa.

Hu to Jin dan Pek li Kit sama sama berubah mukanya, mereka tak menyangka kalau panji yang begitu kecilnya ternyata memiliki kekuatan yang maha besar sehingga mampu memanggil angin membuat angin mengurung mereka berdua dalam barisan seketika itu juga, kedua orang itu merasakan jagad seketika telah menjadi gelap, dari sekeliling tubuh mereka bermunculan panji panji besar yang tak terhitung jumlahnya, panji panji tersebut tingginya mencapai dua kaki dan mengurung ke dua orang itu npu rapu

Sudah beberapa kali Pek li Kit mencoba untuk menerjang keluar dari kepungan namun tak pernah berhasil melampai tiga batang panji kecil yang mengurungnya.

Tak terlukiskan rasa gusar Pek li Kit menghadapi kejadian seperti ini, dia segera mendongakkan kepala dan tertawa seram. "Budak sialan, bila lohu berhasil lolos dari sini kucincang tubuhmu menjadi berkeping keping . ."

Panji tersebut dibuat oleh Cing-shia sancu menurut kedudukan bintang ngoheng pat-kwa ditambah dengan Im yang Tay khek, asal ada manusia yang tersekap di dalamnya maka akan timbul gangguan pemikiran yang berakibat munculnya pelbagai khayalan.

Bila orang yang terkurung dilam barisan tersebut tidak mengenal kedudukan bintang Ngo heng maka selama hidup jangan harap ia bisa lolos dari kepungan.

Yang paling mengerikan lagi adalah khayalan yang kemudian muncul dan memenuhi benak sang korban, bila telaga dalam orang itu tak sempurna, tiap kali akan bermunculan pelbagai bayangan musuh yang seolah olah sedang menyergapnya, hingga tanpa disadari dia akan bertarung sendiri dengan bayangan khayalan tersebut.

Sehingga dia akan kehabisan tenaga, muntah darah dan akhirnya mati dalam keadaan yang mengerikan.

Kini, Hu to jin dan Pek li Kit jelas mengalami khayalan seperti itu, dalam kepungan barisan ternyata mereka berdua tidak bisa membedakan antara musuh dan kawan, bahkan saling menggempur dengan sengitnya.

Seketika itu juga hampir angin pukulan menderu-deru. serangan maut dilancarkan bertubi-tubi bagaikan mereka sudah nekad ingin beradu jiwa saja. Liong Tian im berdiri tertegun sesudah menyaksikan kejadian tersebut, dia tak menyangka kalau dua orang jago re-"Ha.n yang begini !a-ig!th t" r r v a i a berhasil di kurung
oleh panji naga sakti yang kecil dalam daerah seluas satu kaki saja tahu-tahu saling bertarung nekad

Dari sini bisa disimpulkan kalau barisan ini benar-benar mempunyai daya pengaruh yang luar biasa.
Setelah terir,anei" sekian waktu, akhirnya 6\z ter urnani. "jin?gtTn ha1 ini miru.ia'ian eLJuah b:-ihi:i yang sangat
lihay."

Bu Siau huan sendiri pun merasa agak bangga terdengar ia berkata.

"Kshanak8D anggota partai kami mengetahui akan satu dua macam ilmu barisan semacam ini untuk melindungi keselamatan sendiri, ilmu barisan partai kami tak perlu persiapan sebelumnya. tapi sudah dipersiapkan jauh hari sebelum peristiwa, asal kita membawa benda seperti natu atau bambu atau ranting, maka musuh bisa kita kurung didalam barisan mana, coba kalau bukan disebabkan kepandaian silat yang dimiliki kedua orang ini kelewat hebat, tak nanti aku gunakan panji Thian liong ki .."

"Siau huan, tenaga dalam yang dimiliki orang ini memang amat sempurna." ujar Liong Tian-im, "mesktpun mereka terkurung untuk sementara waktu, tetapi lama kelamaan pasti akan menemukan keistimewaan barisan tersebut, siapa tahu kalau mereka dapat menjebolkan diri dan keluar dari  kepungan barisan itu . " "Haa . . haa . haa . . . mustahil hal ini bisa mereka lakukan" Bu Siau-hian tertawa geli, "asal kugunakan bel emas Hu tagkin dan membunyikannya, niscaya kedua orang itu akan muntah darah sampai mati, dalam keadaan bingung dan terpengaruh oleh kelihayan ilmu barisan, mereka pasti akan mengira bunyi bel perenggut nyawa sebagai irama dewa dewi, mereka tentu akan mendengarkan dengan seksama, maka dalam keadaan seperti inilah keadaan mereka akan sangat berbahaya, bunyi bel itu akan mengacaukan perasaan dan pikiran mereka, hingga sang korban lebih mudah mengalami jalan api menuju neraka yang berakibat muntah darah dan mati . ."

Sembil mengeluarkan sebuah genta kecil berwarna emas, dia melanjutkan:

"Bila kau tak percaya, mari kita buktikan."

Dia lantas membunyikan genta itu pelan, seketika itu juga diangkasa bergema suara keleningan yang amat menusuk pendengaran.

"Tingg, ting, tingg..."

Bunyi keleningan yang tajam menyebar ke seluruh puncak bukit tersebut dan mengalun sampai ditempat kejauhan sana .
..

"Aduuuh. . !"

Tiba-tiba Hu to jin menjerit ngeri dan muntah darah segar, tubuhnya bergoncang keras sebelum roboh tergelepar ke atas tanah.

Walaupun ia terluka oleh bunyi keleningan yang maha dahsyat itu, namun telinganya masih direntangkan lebar lebar menikmati bunyi keleningan terserut, seakan akan baginya bunyi keleningan itu merupakan suatu musik yang sangat indah. . .

Sebaliknya keadaan Pek-li Kit meski jauh lebih baikan, namun diapun meraung dan menjerit tiada hentinya, agaknya dia sedang berusaha untuk mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melawan bunyi keleningan tersebut.

Akan tetapi, setelah meronta sekian waktu akhirnya suara rauopacnya makin lama semakin bertambah lemah dan akhirnya dia kehilangan tenaga, setelah muntah darah tiga kali, ia roboh tergelapar pula keatas tanah sambil tersengkal sengkal.

Sambil tertawa Bu Siau huan berkata:

"Asal kubunyikan keleningan ini tiga kali lagi niscaya mereka berdua akan mati dalam "keadaan mengenaskan."

Liong Tian im berkerut kening.

"Kita toh tak punya dendam atau sakit hati dengan mereka, buat apa kau mesti . . ."

"Baik, bukankah mereka dulu yang hendak membunuh kita tapi sekarang, mengapa kau justeru mintakan ampun buat mereka? Aku mah tak akan berbelas kasihan, paling tidak ilmu silat mereka berdua harus dipunahkan lebib dulu."

"Memunahkan ilmu silat mereka?" Liong Tian im semakin tertegun, "bukankah keadaan tersebut jauh lebih menyiksa daripada menyabut jiwa mereka." "Haaah, haaah, haaah, siapa suruh mereka datang mencari gara gara dibukit Cing shia..."

Tangannya segera diputar dan keleningan itu sudah digenggam lagi kemudian diangkat ke atas dan digoyangkan berapa kali, ternyata keleninginnya kali ini tidak menimbulkan suara apa-apa.

Gadis ini tertegun, tiba tiba serunya: " Hei, siapa kau?"

"Haaahh haaa haahh gelak tertawa nyaring berkumandang secara tiba tiba dari belakang tubuh mereka berdua.

Dalam kejut dan keheranan Bu Siau huan merasa ada sebuah telapak tangan yang besar dan aneh sedang merampas keleningan kecilnya dari arah belakang.

"Kau. , kau.. ." saking marahnya Bu Siau huan tak sanggup melanjutkan perkataannya.

Orang yang munculkan diri secara tiba tiba itu adalah seorang kakek berjenggot hitam, ia segera tertawa terbahak bahak kemudian menghancurkan lumatkan keleningan emas itu hingga berkeping keping.

Setelah itu dengan sinar mata yang tajam bagaikan sembilu, dia tertawa sinis ujarnya:

"Memangnya partai Cing shia hanya mau menggunakan pelbagai ilmu sesat belaka?"

"Siapa kau?" bentak Bu Siau huan marah. "Kalian berdua telah melukai orangku, maka hari ini akupun hendak mena?al kalian bt\ !au . .." kata kakek berjenggot hitam itu keras.

Paras muka Bu Siau huan berubah hebat, segera serunya: "Liong, hajar dia . . ."
Liong Tian im melompat ke udara lalu mengayunkan telapak tangannya menghantam dada kakek berjenggot hitam itu.

"Hmm, enyah kau dari sini." seru kakek berjenggot hitam itu sinis.

Liong Tian im merasa sempoyongan, ternyata tubuhnya telah didorong Iawan sehingga mundur sejauh dua kaki lebih, ia tak menyangka sama sekali kalau orang itu memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna, sehingga dalam sekali kebasan saja sudah memiliki Kekuatan begitu dahsyat.

"Aaah . . kau . .. " Bu Siau huan tak sanggup melanjutkan perkataannya lebih jauh.

Kakek berjenggot hitam itu hanya tertawa terbahak bahak, memandang sekejap kearah mereka berduapun tidak.

Saking ngerinya Bu Siau huan membelalakkan matanya lebar lebar, dia menatap wajah kakek berjenggot hitam itu dengan perasaan seram, dia tak mengira kalau dorongan telapak tangan lawan yang begitu eateng ternyata tak mampu dilawan Liong Tian Im. bahkan menyebabkan tubuhnya terjerembab keatas tanah, tenaga dalam yang begini sempurna benar benar mengejutkan hati orang. Liong Tian im segera merangkak bangun dari atas tanah, kemudian tanpa memikirkan resikonya dia menerjang lagi ke depan.

Tapi, baru saja tenaga serangannya siap di muntahkan, tahu tahu segulung angin pukulan yang amat ketat telah menekan tubuhnya sehingga membuat sejujur badannya gemetar keras, kendatipun tak sampai terjatuh ketanah, namun cukup membuat hawa darahnya bergelora keras.

Sambil tertawa terbahak bahak, kakek berjenggot hitam itu berseru:

"Kau masih selisih jauh sekali, lebih baik tak usah mencari penyakit di sini !"

"Hmm !" Liong Tian-im mendengus dingin, keningnya berkerut, hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya.

Setelah melototi wajah kakek berjenggot hitam itu sekian lama, ujarnya dingin:

"Aku ingin mencoba kepandaian silatmu. ."

"Ooh. keangkuhanmu benar-benar menyenangkan," seru kakek berjenggot hitam itu sam bil tertawa keheranan.

Kemudian setelah berhenti sejenak, mendadak ia menarik kembali senyumannya lalu ber seru lebih jauh:

"Apa kedudukanmu dalam bukit Cing shia?"

"Aku bukan orang Cing shia san, kali ini kau telah salah melihat. ." "APA?" Kakek berjenggot hitam itu tertegun, "Kau bukan anggota Cing shia san ? Kalau begitu kau murid siapa ? Selain pihak Cingsia san siapa lagi yang sanggup mendidik seorang murid semacam kau ?"

Liong Tian-im tertawa dingin.

"Aku rasa hal itu adalah urusan pribadiku sendiri, tak usah kau urusi."

"Hah, haahh, haahh, haaah, kau benar benar merupakan pemuda paling angkuh yang pernah kujumpai selama tni, meski kau berani menantang lohu, cuma aku tak akan marah, semasa masih muda dulu, akupun mempunyai tabiat seperti ini."

Kemudian setelah melirik sekejap ke arah Bu Siau huan, ia menambahkan:

"Apakah dia binimu ?"

Bu Sian buan masih termasuk seorang gadis remaja, dia baru mulai menanjak dewasa, maka setelah mendengar perkataan itu mukanya berubah menjadi merah padam karena jengah.

Kendatipun dia membenci kelancangan mulut kakek berjenggot hitam itu. namun jantung nya berdebar keras, kepalanya tertunduk rendah rendah hingga hampir boleh dikata tak berani menengok lagi kearah Liong Tian im meski hanya sekejap mata pun, dia pun kuatir pemuda itu...

Namun gelak tertawa kakek berjenggot hitam yang makin menjadi membuat Bu Siau huan semakin malu, sehingga andaikan disana ada lubang, tentu ia sudah menerobos masuk ke dalamnya.

Liong Tian-im juga merasakan hatinya bergetar keras, dia tak menyangka kalau kakek berjenggot hitam tersebut bakal mengajukan pertanyaan seperti ini, dia merasa tingkatannya amat rendah, kurang memadahi kalau mau mempersunting gadis cantik dari Cing shia san ini.

Tak heran kalau hatinya sakit seperti di tusuk tusuk dengan jarum segera setelah mendengar perkataan itu, buru buru serunya:

"Kau jangan sembarangan berbicara. . ." Sekali lagi kakek berjenggot hitam itu memandang wajah Bu Siau-hoan dengan sinar mata setajam sembilu, lalu ia tergelak keras.

"Hah. . haah . . haah . . . bagus sekali, bila dia bukan binimu, akupun dapat berlega hati."

Bu Siau huan serta Liong Tian im sama-sama tertegun sesudah mendengar perkataan itu, mereka dapat merasakan betapa banyaknya arti daIam ucapan mana hingga membuat mereka tak dapat menebak apa maksud yang sebenarnya dari orang itu.

Kedua oreng muda mudi itu hanya merasa kalau cara kerja kakek yang berilmu tinggi ini aneh sekali, tidak sebagaimana umumnya cara kerja kebanyakan orang, bahkan menyimpang sama sekali dari peraturan umum.

Sambil mencibirkan bibirnya, Bu Siau huan tertawa dingin, serunya: "Kau si tua bangka, apa sangkut pautnya urusanku denganmu."

Kakek berjenggot hitam itu tertawa, dia mengangkat lengannya keatas, segulung hawa khikang segera memancar keluar dari balik ujung bajunya dan menyambar kearah tiga batang panji Thian liong ki yg menancap diatas tanah.

"Weess.,." deru angin tajam disertai gelombang hawa khikang yang maha dahsyat menghembus keluar dan
menyapu ketiga batang panji kecil itu sampai hilang lenyap tak berbekas.

Pada saat itulah Hu to jin dan Pek li Kit baru bangun dari impian, dengan sempoyongan pelan pelan mereka berjalan keluar,

Ho to Jin yang penuh berlepotan darah segera tertawa seram.

"Heehh... heeehh... betul betul sebuah barisan yang sangat lihay, benar benar amat lihay."

"Aaai, sungguh tak disangka baru saja tiba dibukit Cing shia, kami telah jatuh pecundang ditangan orang, entah bagaimana tanggung jawab kami terhadap majikan nanti?" keluh Pek li Kit dengan sedih, "Yaa..semuanya ini harus disalahkan kami yang bertindak kelewat gegabah."

Dengan tubuh gemetar dan menggelengkan kepalanya tiada hentinya, kedua orarg itu berjalan meninggalkan tempat itu, pada hakekatnya mereka sama sekali tidak melihat akan kehadiran kakek berjenggot hitam tersebut. Hal ini dapat dimaklumi sebab mereka berdua belum lama meninggalkan barisan, pemandangan khayal yang tertera didepan mata masih membekas dalam benak mereka, karenanya setelah keluar dari barisan mereka masih mengira tetap terkurung dalam kepungan.

Tiba tiba terdengar Bu Sian huan membentak dengan wajah sedingin es:

"Kau berani melepaskan keluar ke dua orang telur busuk itu?"

"Mereka adalah dua orang budakku" kata kakek berjenggot hitam itu ketus, "mengapa aku tak boleh melepaskan mereka? kau sibudak cilik betul betul hebat, kecil kecil sudah sanggup menggunakan barisan panji Thian liong ki dari Cing shia san, tampaknya kalau bukan anak murid Cing shia sancu, sudah pasti keturunan dari keluar Bu."

"Kau sendirilah bajingan tua." Bu Siau huan membalas dengan marab, akan ku kurung sekali dirimu bersama mereka.."

"Heh. heh, heeh kau tak akan berhasil mengurung aku,   lebih lebih kaupun tak memiIiki kemampuan sehebat itu, jangankan kau bahkan Cing shia Sancu sendiripun belum tentu berani bersikap kurang ajar kepadaku, heeh...heh, heeh,  orang besar tak akan mengingat lagi kesalahan manusia rendah, kau tak lebih cuma seorang bodoh, bila aku mesti  ribut denganmu, hal ini hanya akan merosotkan kedudukanku saja . .."

Ucapan mana diutarakan amat keras dan nyaring, berkumandang hingga ke tempat kejauhan dan menyusup kedalam telinga Hu to Jin serta Pek li Kit. Mendadak ke dua orang itu merasa terperanjat, serentak mereka melompat mendekat dan menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah.

"Majikan" serunya bersama, "budak .. ."

"Minggir ke samping sana" tukas kakek berjenggot hitam itu dingin, "disini tiada tempat bagi kalian untuk mencampurinya . .."

Kalau dibilang sungguh aneh sekali, dengan kedudukan Pek li Kit dan Ho to Jin dalam dunia persilatan ternyata mereka menunjukkan perasaan jeri dan takut dihadapan kakek misterius itu.

Setelah mengiakan berulang kali, dengan sepasang tangan diluruskan kebawah mereka mengundurkan diri dua langkah kebelakang dan berdiri dikedua belah sisi kakek berjenggot hitam itu seperti gaya seorang pelayan saja.

Kakek berjenggot hitam itu tidak menggubris mereka lagi, sambil tertawa seram dia berseru:

"Hei budak cilik, tahukah kau dimana letak lorong rahasia diatas puncak Kim teng ini? Cepat bawa lohu kesana, asal kau bersedia membawa jalan, lohu pasti akan memberi banyak kebaikan untukmu."

"Sekalipun aku tahu juga tak akan memberitahukan kepadamu" tukas Bu Siau huan dingin.

"Haa... Benar itu Heehh. . .heeehh. . aku toh kurang percaya." Sorot matanya yang tajam pelan pelan dialihkan ke wajah Bu Siau huan, sementara sekulum senyuman yang dingin dan hambar segera tersungging diujung bibirnya, pelan pelan dia berjalan mendekati gadis tersebut.

Liong Tian lm, merasa anat terperanjat setelah  menyaksikan kejadian itu, buru buru dia maju ke muka seraya berseru:

"Berhenti kau !"

Dia tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki kakek berjenggot hitam ini sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, maka sewaktu di lihatnya kakek tersebut menghampiri Bu Siau huan, dia kuatir gadis itu dicelakai olehnya, dalam cemasnya buru buru anak muda tersebut mencabut keluar senjata patung Kim mo sin jin nya dan disiapkan didepan dada.

Bu Siau huan tertawa dingin, kepada Liong Tian-im ujarnya:

"Liong, kau tak usah mencampuri urusan ini, dia tak akan mampu melukai diriku..."

Sedang kakek berjanggot hitam itu juga melotot ke arah Liong Tian im seraya berseru:

"Hei, mengapa kau mesti tegang ? Masa aku akan bertarung melawan seorang angkatan muda ? Hm..."

Tatkaln sorot matanya membentur dengan senjata patung Kim mo sin jin yang berada di tangan Liong Tian im, sekilas perasaan heran menghiasi wajabnya, kemudian agak emosi ia berseru : "Aah . . . Klm mo siu jin, Kim mo sin jin, rupanya benda tersebut berada ditangan mu. ."

Sewaktu menemukan sinar aneh dibalik sorot mata orang.
Liong Tian im sendiripun merasa tertegun, dia tidak habis mengerti mengapa serjata Kim-mo sin-jin tersebut dapat membangkitkan rasa kaget bagi kakek berjenggot hitam itu.

Pelan pelan dia memutar senjata mestikanya sehingga membuat memancarkan serentetan cahaya tajam yang aneh dan menyilaukan mata, lalu ujarnya dingin:

"Darimana kau bisa kenali senjataku ini.."

"Heeeh, heeeh, heeeh, kalau begitu kedatanganmu kesinipun disebabkan persoalan tersebut. Hm. sungguh tak disangka barang barang yang tak berhasil ditetemukan selama ini bisa muncuI semuanya disini, hai anak muda, senjata tersebut tak akan mendatangkan manfaat dan kegunaan apa apa bagimu, aku bersedia menukarnya dengan senjata pedang Tay-hoan li kiam yang termashyur itu.

"Heeeh, heeeh. heeeh, lebih baik kau gunakan sendiri saja," jengek Liong Tian im sambil tertawa dingin "aku masih tidak tertarik."

"Ini berarti kau sengaja mencari kesulitan buat diri sendiri, baik. kalau begitu jangan saIahkan lohu."
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 17"

Post a Comment

close