Cincin Maut Jilid 14

Mode Malam
Jilid 14

"Waktu itu aku pernah punya jodoh dan berjumpa satu kali dengan ayahmu, tentu saja diantara kami berdua pun mempunyai sedikit hubungan persahabatan, memandang diatas wajah ayah mu, sekalipun aku bakal di tegur Sancu juga akan mengajak kalian ke sana..."

Liong Tian im menjadi tertegun, "Lo sianseog, jadi kau benar bonar menjumpai cahaya merah dan hujan ke emasamasan yang terjadi di puncak bukit itu ?" serunya.

Cui Lo sianseng segera menengadah dan tertawa terbahak bahak.

"Hahhh... haaahh, peristiwa itu berlangsung pada lima tahun berselang, waktu itu aku merasa kalau kepandaian silat yang kumiliki lumayan, maka kudaki puncak bukit itu untuk mengintip apa gerangan yang telah terjadi saat itu, tapi justru karena gara garaku ini hampir saja selembar nyawaku lenyap disitu, seandainya Cing shia sancu tidak memberi kesempatan bagiku, mungkin sekarang sukmaku sudah berada dialam baka."

"Cui lo sianseng, dapatkah kau mengisahkan cerita tersebut untuk kami semua." kata jago pedang buta kemudian dengan wajah tertarik.
Sekali lagi Cui lo sianseng tertawa terbahak bahak. "Haahh... haaahhh... lebih baik kita berbincang bincang
sambil melakukan perjalanan, sebab perjalanan yang bakal kita tempuh masih jauh."

"Ayah, aku ikut." seru pemuda berkulit hitam itu tiba tiba.

Cui lo sianseng memandang sekejap keara putra kesayangannya, lalu berkata sambil tertawa.

"Aku kelewat memanjakan kau, baiklah jika kau memang ingin menambah pengetahuanmu. Bila kita berdua tak boleh turut masuk, sebab kalau tidak maka kita berdua pun tas bisa pulang lagi dengan selamat."

Dipimpin oleh Cui lo sianseng, segala sesuatunya dapat dilalui dengan aman dan lancar.

Saking hapalnya dia dengan daerah disekitar tempat itu, sampai sampai sekalipun harus memejamkan mata juga dapat melaluinya secara tepat.

Akan tetapi berhubung perjalanan yang mereka tempuh amat sulit, maka mereka harus ke lewat berhati hati, bukit yang tinggi dengan tebing yang curam terbentang jauh didepan mata, jurang yang menganga dan dalam tak terkiranya membentang dibagian bawah, seandainya kurang berhati hati sehingga tercebur ke bawah, niscaya tubuh akan terbanting hancur berantakan . . .

Diantara sekian orang, hanya Cui lo sianseng seorang yang pernah mengunjungi tempat itu.

Bukit karang yang tinggi dan tertutup awan, dengan pepohonan siong yang hijau dan segar, semuanya masih seperti sedia kala, lumut nan hijau dan tebal menyelimuti permukaan batu-batuan disana, menambah seramnya suasana disitu.

Cui lo sianseng nampak amat gembira dan terharu, pengalaman lamanya terlintas kembali dalam benaknya.

-------------sambungan dr jilid sebelumnya -----------------

"Asal kau bersedia mengutarakannya keluar" ujar Liong Tian im dengan tegas, "bila dikemudian hari terjadi pelbagai kesulitan dalam lembah Tee ong kok, aku Liong Tian im seorang yang akan menanggungnya, sekalipun harus mati juga rela "
Leng Hongya menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tak ingin merubah suatu tempat yang aman tenteram
menjadi suatu tempat pembantaian "

"Hmm, sungguh tak kusangka kau Leng Hongya juga tahu merasa takut . .." ajak jago pedang buta sinis. "Siapa bilang aku takut urusan . . ." bentak Leng Hongya dengan mata melotot.

Jago pedang buta tertawa terbahak bahak.

"Hahahaha . . . jika tidak takut, mengapa tidak berani kau utarakan?"

Di dalam anggapannya Leng Hoogya pasti akan menuturkan rahasia tersebut setelah di ejek olehnya, siapa sangka Leng Hongya yang dihari hari biasa selalu mementingkan soal nama dan kedudukan itu tiba tiba saja merubah sikapnya.

Ia hanya tertawa dingin, dan kemudian berkata hambar: "Jangan harap aku termakan oleh siasatmu itu..."

Liong Tian im melangkah maju dengan tindakan lebar lalu berkata:

"Aku tidak takut bermusuhan dengan segenap manusia didunia ini, katakan saja padaku." Tiba tiba berkumandang suara tawa dingin, lalu terdengar seseorang berseru dengan suara yang tua tapi nyaring:

"Hmmm , . . besar amat bacotmu!"

Baru selesai ucapan tersebut berkumandang sesosok bayangan hijau telah meluncur tiba dengan kecepatan luar biasa, seperti angin yang berhembus lewat saja, tahu tahu ia sudah munculkan diri ditengah arena.

Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna itu membuat Liong Tian menjulurkan lidahnya secara diam diam, tak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki orang ini sudah mencapai tingkatan yang demikian sempurna.

Jago pedang buta memasang telinga, memperhatikan setiap saat, kemudian ujar:

"Adik Liong, beritahu kepadaku macam apakah manusia yang baru tiba itu . . ."

Lione Tian im memperhatikan sekejap orang yang baru tiba itu, lalu menjawab:

"Orang itu mengenakan jubah hijau, telanjang kaki, membawa sebuah toya besi besar, bermata besar dia bermulut lebar."

"Ehmm, dugaanku tak meleset, bahkan Im cu (si Bayangan hijau) pun telah datang."

Sementara itu Uk In cu atau si Bayangan hijau itu sudah tertawa terkekeh kekeh dengan seramnya.

"Hehehehe. . . tak nyana kau si mata buta masib teringat akan diriku, hehehehe . . . . aku mengira kau sudah mampus didalam peti lemparan itu, siapa tahu ternyata kau masih bisa berjalan masuk kedalam lembah Tee ong kok dalam keadaan hidup "

Sesudah tertawa selain lagu ujarnya kepada Leng Hongya: "Saudara Leng, sukma gentayangan yang nyaris mampus di
ujung pedang kita empat be)at subuh berselang ternyata berani datang tapi ia lembah Tee ong kok nyali orang ini terhitung tidak kecil. . ."

"Tiba tiba jago pedang buta maju ke muka, kemudian serunya dengan suara dingin:

"Sepasang mataku ini hancur ditangan kalian, aku telah merasakan siksaan dan penderitaan karena tak punya mata, seandainya tiada semangat membalas dendam yang menunjang hidupku, mungkin aku sudah mati sejak dahulu..."

Kemudian setelah berteriak keras penuh kemarahan dan penderitaan serunya lagi dengan lantang:

"Bayangan hijau, kau adalah salah seorang yang turut memegang peranan penting, hari ini aku akan pergunakan batok kepalaku untuk mencuci bersih dendam dan sakit hati yang telah tertanam selama empat belas tahun di dalam hatiku . . ."

"Hehehehe. . . belum pernah kudengar seorang manusia buta masih berani bertingkah tekebur dihadapanku. . ." jengek Bayangan hijau dengan suara dalam.

Di dalam anggapannya, seseorang yang telah kehilangan sepasang matanya tak mungkin bisa memiliki kepandaian silat yang luar biasa, kendatipun ilmu silat tersebut dilatih dengan bagaimanapun tekunnya, sambil tertawa dingin segera ujarnya lagi dengan sinis: 

"Seandainya kau menganggap tusukan pedang ku yang lalu masih karang cukup, hari ini aku akan menghadiahkan sebuah tusukan lagi. ." Jago pedang buta Bok Ci merasakan darah panas di dalam tubuhnya mendidih keras, hawa pembunuhan yang tebal segera menyelimuti wajahnya, ia meraba codet di pipinya sebentar lalu serunya dengan gemas:

"Aku tak akan memberi kesempatan kepadamu untuk melancarkan serangan bala balasan."

"Sreeeet!"

Segulung cahaya pedang berkelebat lewat, serentetan sinar tajam yang menyilaukan mata pun segera memenuhi tengah udara.

Lik Im Cu berpekik keras, tubuhnya melesat maju ke depan, telapak tangannya diayunkan kemuka melepaskan sebuah pukulan. .

Jago pedang buta menarik kembali pedangnya sambil mundur, lalu ujarnya sinis:

"Kau sudah mampus satu kali, tapi untuk sementara tidak kurenggut nyawamu karena aku ingin membuktikan kepadamu bahwa orang buta belum tentu lebih rendah daripada orang yang berbiji mata."

Omong kosong !" bentak Lik Im-cu. "pandai amat kau mengibul."

Tapi saat itu pula segumpal alis mata yang hitam dan tebal jauh rontoh dari atas wajahnya, dia segera menjerit keras karena kaget, bahkan mulutnya tak bisa dirapatkan kembali.

Seandainya Jago pedang buta memutar pedangnya pelan, maka batok kepala Lik Im cu niscaya akan tersayat menjadi dua bagian oleh kecepatan pedang lawan, namun jago pedang buta seperti sengaja mengajaknya bergurau, hanya sepasang alis matanya saja yang dipapas...

Setelah Lik Im cu meraba bulu matanya dan merasa alisnya itu sudah gundul, paras mukanya baru berubah hebat lantaran takut hampir saja dia tak percaya kalau didunia ini terdapat ilmu pedang yang begitu hebat.

Dengan suara gemetar segera tanyanya: "llmu pedang apakah ini?"
"Hmm, sekarang tentunya kau sudah tahu bukan bahwa seorang buta belum tentu lebih rendah dari padamu! Huuh, kau telah menghadiahkan sebuah tusukan diatas wajahku, sekarang akupun akan menyuruh kau merasakan bagaimana enaknya ditusuk pedang."

Dengan ketakutan Lik Im cu mundur bera pa langkah ke belakang, toya bajanya segera diputar diangkasa menciptakan selapis bayangan cahaya yang amat menyilaukan mata.

Rupanya demontrasi kepandaian ilmu pedang yang dilakukan Jago pedang buta tadi telah membuat nyalinya pecah, pikirnya, "Bila kulakukan pertahanan seketat ini, tak nanti ilmu pedangmu dapat melukai aku."

Dia berpendapat demikian, keberaniannya segera timbul kembali, ujarnya kemudian dengan lantang:

"Si buta sialan, silahkan kau rasakan pula kehebatan dari permainan toya bajaku." Ia disebut orang sebagai bayangan hijau, karena ilmu meringankan tubuh yang di milikinya lihay sekali, tapi kalau berbicara soal kepandaian yang sesungguhnya, dia sebetulnya tidak memiliki apa apa.

Namun orang ini memiliki otak yang cerdas, dengan akal muslihat yang amat licik tak sedikit ide bagusnya yang berhasil membuat Leng Hongya sukses dalam melakukan beberapa usaha, itulah sebabnya Leng Hongya menaruh pandangan lain terhadap orang lain.

Sebaliknya dia pun mendompleng nama besar Leng Hongya untuk memperbesar nama serta kedudukan sendiri. Bila berjumpa dengan orang, dia pun berkata:

"Leng Hongya paling akrab hubungannya dengan diriku, urusanku berarti urusannya !"

DaIam kenyataan memang kebanyakan jago persilatan bersikap hormat kepadanya karena memandang diatas wajah Leng Hongya, tapi lama kelmaan hal ini menimbulkan watak angkuh dan tinggi hatinya.

Dalam pada itu toya baja tersebut telah meluncur ke bawah dengan membentuk sekilas cahaya bnsir.

Jago pedang buta segera mendengus dingin:

"Hmm, kau masih seperti empat belas tahun berselang, begitu enteng dan sama sekali tiada yang cepat!"

Cahaya pedang memancar turun mengenai bayangan toya yang rapat langsung menyergap wajah Lik Im-cu. Tampak bayangan darah memercik keempat penjuru, bayangan pedang segera lenyap kembali tak berbekas.

"Aduuh . . !"

Selama ini Lik Im-cu sangat bangga dan percaya penuh  atas kemampuan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, siapa tahu mesti dia sudah mencoba untuk berkelit  kesamping, namun dia tak berhasil menghindarkan diri dari
bacokan pedang lawan, sambil menjerit kesakitan, dia mundur kebelakang sembari menutupi wajahnya.

Percikan darah segar meleleh keluar dari jari tangannya dengan geram bercampur marah dia berpekik nyaring, sebuah bekas bacokan berdarah yang panjang dan dalam telah pembelah mukanya.

"Saudara Leng !" teriaknya keras keras, "wajahku telah robek, cepat balaskan dendam bagiku. . ."

Leng Hongya tak mengira kalau Lik Im cu begitu bodoh dan tak becus, belum lagi satu gebrakan, da sudah dikalahkan dengan mengenaskan.

Setelah tertawa dingin, serunya: "Bok Ci, kau berani melukai orang dalam lembah Tee ong kok ku ini ?"

"Huuh, lembah Tee ong kok itu macam apa? Kau tak usah menggunakan asap Tee ong kok untuk menakut-nakuti orang.

Leng Hongya tertawa seram. "Heeh. . heeh . . heeh .. meskipun Tee ong kok bukan terhitung apa apa, namun dalam pandangan sementara sahabat persilatan tempat ini merupakan suatu tempat yang amat misterius, hehe heeh, lohu tidak butuh kau banyak berbicara, perhatikan saja tempat penjara disekeliling tempat ini, kau akan segera mengetahui dengan sendirinya."

Walaupun Jago pedang buta Bok Ci tak bisa melihat apa apa, namun dia memiliki daya pendengaran serta daya penciuman yang amat tajam, setelah memperhatikan sejenak ketengah udara, dengan paras muka serius dia menyentuh tubuh Liong Tian im, lalu bisiknya:

"Adik Liong, apa yang telah kau temukan?"

Liong Tian im turut memperhatikan sekeliling tempat itu kontan saja hatinya terkesiap.

Ternyata dari atas tebing batu yang berada disekeliling tempat itu, kini telah bermunculan berapa puluh orang lelaki berbaju hitam yang membawa sebuah tabung panjang!

Tabung tabung panjang tersebut semuanya ditujukan ke arah Liong Tian im dan jago pegang buta yang berada dibawahnya.

Asal Leng Hongya mengulapkan tangannya niscaya senjata rahasia yang tersimpan di dalam tabung panjang itu akan menyembur keluar.

"Isi tabung itu adalah jarum perak yang amat tajam" Leng Hongya menerangkan, "kini kalian berdua telah terkepung !"

Liong Tian im berpaling ke arah jago pedang buta, kemudian berbisik: "Kita telah terkurung sekarang, toako, bagaimana baiknya menurut pendapatmu?"
Jago pedang buta termenung sebentar, kemudian ujarnya: "Leng Hongya seorang yang licik dan banyak tipu muslihat,
tak nanti dia akan mau bunuh kita dengan begitu saja, coba perhatikan baik baik, disekitar tempat ini pasti ada hal hal yang mencurigakan"

Liong Tian im melihat sekejap ke sudut Barat daya, kemudian berkata:

"Sudut barat daya kosong melompong tanpa manusia, bila kita menyerbu keluar dengan begitu saja, niscaya senjata rahasia lelaki lelaki itu tak akan mengena tubuh kita, cuma pikirnya mengapa Leng Hongya bersikap begitu gegabah tanpa mengirim penjaga untuk mempertahankan sudut barat daya. ."

Begitu timbul kecurigaan di dalam hatinya, dia segera berpaling ke arah Leng Hongya.

Tampak orang itu berdiri dengan senyuman dikulum, wajah tetap menyeramkan terhadap pembicaraan ke dua orang itu seakan akan tidak mendengarnya sama sekali.

Sekujur badan Jago pedang buta Bok Ci gemetar keras, segera serunya:

"Sudut barat daya merupakan tempat yang sangat berbahaya dalam lembah ini, Hmm Leng hongya belut betul berhati busuk dan bahaya, rupanya dia berharap kita berdua bisa mati karena terserang kabut beracun. . ." Setelah termenung sebentar dengan kepada tertunduk, dia berkata:

"Adik Liong tak urung berdua bakal mati pada hari ini, mari kita beradu nasib, biar aku yang berada dibarisan belakang, mari kita menyerbu kesudut barat daya. . ."

Begitu selesai berkata pedang ditangannya segera digetarkan keras keras menciptakan berkuntum kuntum bunga pedang yang berkilauan, dengan disertai beribu ribu jalur bayangan pedang, ia membacok tubuh Leng Hongya keras keras.

Dengan suatu gerakan yang cekatan Leng Hongya bergeser kesamping, kemudian pedangnya diayunkan ke muka melancarkan tusukan.

Ayunan pedangnya ini menyerupai suatu sasaran nyata seperti juga sebuah serangan tipuan, membuat orang merasa sukar untuk menduga datangnya ancaman tersebut, tapi ada satu hal yang membuat orang keheranan, yakni serangan mana dilakukan pada saat yang amal tepat, bahkan menyerang sambil menolong diri.

Hal mana memaksa Jago pedang buta Bok Ci harus membubarkan serangannya bilamana ingin selamat.

Liong Tian im bergerak maju, kemudian sambil memutar senjata patung Kim-mo sin jin nya dia berseru:

"Toako, cepat pergi!"

Begitu senjata patung Kim mo sin jio memperlihatkan kelihayannya, beribu ribu jalur cahaya keemasan memancar keluar, seguIung tenaga serangan yang amat kuat pun meluncur keluar.

Serta mata Leng Hongya menggeserkan tempat berpijaknya dan mengigos ke samping.

Jago pedang buta segara mendorong tubuh Liong Tian im dengan telapak tangan kirinya kemudian berseru:

"Blla kau tidak menuruti perkataan toako aku akan marah!"

Liong Tian im kena didorong sampai mundur lima enam langkah dengan sempoyongan, setelah tertegun sesaat katanya:

"Baiklah toako, akan kutunggu didepan sana."

Dia lantas melejit kedepan dan siap meninggalkan tempat itu.

Mendadak Lik lm cu membisikkan sesuatu kesisi telinga lojin yang berada disampingnya.

Paras muka lojin itu berubah hebat, serunya dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti:

"Aaah, benarkah telah terjadi peristiwa ini?"

"Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, masa akan membohongi dirimu . . .?" seru Lik lm cu dengan suara lantang. Tojin itu segera melejit dan menghadang jalan pergi Liong Tian im, tanyanya.

"Sicu, harap tunggu sebentar, pinto lm Tiong cu ingin menanyakan sesuatu kepadamu"

"Apa yang hendak kau katakan ?" kata Liong Tian im dingin.

In Tiong-cu segera mendengus dingin.
"Tuyu ku ln Oh-cu apa benar terluka di tanganmu." "Huuh, To keh su sian (empat dewa dari golongan To) tak
lebih hanya begitu saja, In Oh cu berani membohongi umat persilatan dengan nama kosong, ia pantas untuk mampus, pertanyaanmu ini benar benar tak tahu diri . ."

Paras muka Im Tiong cu berubah bebat, bentaknya dengan gusar.

"Kau si pembunuh cilik berani benar tidak pandang sebelah matapun terhadap empat dewa dari golongan To, ini menunjukkan kalau kau memang seorang yang tinggi hati.
Baiklah, aku Im Tiong cu memang manusia yang tak tahu diri, pertama tama aku ingin minta beberapa petunjuk jurus serangan lebih dulu dirimu?"

Begitu mengetahui kalau It Oh cu yang termashur dalam dunia persilatan benar benar terluka ditangan lawan, tercekat hatinya, dengan cepat dia mendapat tahu kalau pemuda ini memiliki kepandaian silat yang luar biasa.

Sebab itu dia baru begitu berani memandang rendah lawan-Iawannya. Akan tetapi, kalau diingat kepandaian silat yang dimiliki It Oh cu amat luar biasa, hampir saja dia tak percaya kalau seorang jago lihay dari golongan kaum lurus bisa terluka ditangan seorang anak muda seperti ini. .

Dengan gemas bercampur gusar dia meloloskan pedangnya yang tersoren dipunggung, sekilas cahaya pedang menyambar lewat bagaikan kilat, setelah bergetar diangkasa segera memancar bagaikan serentetan suara pekikan naga yang memekakkan telinga.

Setelah itu diawasinya Liong Tian im amat serius, pedangnya pelan-pelan disilangkan di depan dada, kemudian katanya:

"Berhati hatilah saudara pinto akan turun tangan!"

Liong Tian im mengangkat senjata patung kim mo sin jinnya tinggi tinggi talu berkata sinis.

"Tak usah munafik dan bergalak sok suci dan bijaksana, kepandaian silat yang kau miliki itu masih belum kupandang sebelah matapun."

"Hmm..." Im Tiong cu mendengus marah, dengan jurus Han lun cit im (Putik bunga memanah bayangan) ia melancarkan sebuah tusukan kedepan.

Tampak cahaya pedang berkelebat lewat dan segera menotok keatas iga kiri Liong Tian im.

Liong Tian im segera membalikkan badannya, tiba tiba senjata patung Kim mo sin jin yang dimilikinya itu diayunkan dari atas kebawah, kemudian disodokan separuh depan, bukan saja dia berhasil membendung serangan kilat lawan, malah sempat mengena pergelangan tangan lawan.

Serangan yang cepat lagi ganas ini kontan saja membuat Im Tiong cu amat terperat.

Dalam kejutnya Im Tiong cu berseru tertahan kemudian pikirnya:

"Tak kusangka pemuda seperti dia sudah dapat mainkan senjatanya seperti apa yang dikehendaki, tak heran kalau dia sanggup mengalahkan It Oh cu, rupanya dia benar benar memiliki ilmu silat yang luar biasa.

Dalam terkesiapnya dia segera menarik kembali sikap latahnya, seluruh tenaga dan pikirannya dipusatkan diujung pedang tersebut sementara serangan dilancarkan jauh lebih dahsyat daripada serangan yang pertama kali tadi.

Secara beruntun Liong Tian im melancarkan tiga buah serangan beruntun yang memaksa In Tiong cu mundur sejauh tiga langkah, ketika ia sempat melirik sekejap ke artih jago jpedang buta dan Leng Hongya, nampak pedang yang di pergunakan ke dua orang itu bergetar secepat angin, masing masing berusaha untuk merebut posisi yang lebih menguntungkan, apa daya kepandaian yang dimiliki kedua belah pihak sama sama lihaynya sehingga nampaknya cukup sulit untuk menentukan siapa menang siapa kalah.

Pada saat itulah jago pedang buta berpaling sambil berseru:

"Adik Liong, mengapa kau tidak cepat-cepat pergi !" Untuk memberi jawaban atas pertanyaan rekannya, terpaksa Liong Tian im memecahkan perhatiannya.

Padahal jago lihay yang sedang bertarung hanya memanfaatkan kesempatan baik yang berlangsung hanya sedetik, sudah barang tentu In Tiong-cu tidak menyia nyiakan kesempatan tersebut dengan begitu saja, sambil membentak keras pedangnya diayunkan ke depan sambil melancarkan serangan serangan berang.

Serangan yang dilancarkan secara beruntun ini kontan saja mendesak Liong Tian im mundur sejauh tujuh delapan  langkah, belum sempat dia memperbaiki posisinya yang jelek, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara tertawa dingin, menyusul kemudian segulung tenaga serangan yang amat dahsyat menekan kepalanya.

Liong Tian im mendengus dingin, serunya: "Tampaknya kau sudah bosan hidup !"

Tanpa berpaling telapak tangan kirinya ia lancarkan sebuah serangan ke arah Im tiong cu, sementara senjata patung Kim mo sin jin yang berada ditangan kanannya di ayunkan kebelakang.

"Traaaang!" Lik Iim-cu menjerit kesakitan lalu mundur dengan perasaan terperanjat, toya bajanya kena terhajar sampai melengkung seperti busur.

"Ako paling benci dengan cara menyergap yang tak tahu malu semacam ini." ujar Liong Tian-im dingin.

Dengan gusar Im Tiong-cu melotot sekejap ke arah Lik In cu, dia merasa gusar sekali atas sergapan yang dilakukan orang ini. 

Sebagai seorang ahli, tentu saja ia enggan dan rikuh untuk turun tangan memanfaatkan kesempatan tersebut, teriaknya tiba tiba: "Sambutlah seranganku lagi !"
Liong Tian-im tertegun, lalu sambil tertawa serunya: "Mengapa kau tidak mencoba-coba untuk melancarkan
sergapan ?"

Seperti meadapat penghinaan yang amat besar Im Tiong Cu membentak amat gusar, secara beruntun dia lancarkan tiga buah bacokan pula, setiap serangannya ditujukan ke bagian bagian yang mematikan ditubuh Liong Tian-im.

Dengan cepat Liong Tian im mengeluarkan jurus Thay-san kheng (bukit Tay san menindih kepala) sambil berseru keras:

"Bok toako, aku akan menunggu didepan sana !"

Bagaikan sambaran petir dia melejit keudara, senjata patung Kim mo sin jinnya dihantamkan keatas pedang In Tiong cu. . . "Traang . !" pedang tersebut bergetar keras lalu patah menjadi dua bagian.

Dengan perasaan terkesiap In Tiong cu mundur kebelakang kemudian memandang Liong Tian im yang kabur kearah barat daya itu dengan wajah termangu mangu.

Begitu Liong Tian im bergerak meninggalkan tempat itu, jago pedang buta Bok Ci segeramenyusul dari belakang, tampak ami kirinya kena terbacok oleh senjata lawan hingga muncul sebuah mulut luka yang yang memanjang, darah segar jatuh bercucuran membasahi mukaan ta.oj6hi. Memandangi bayangan punggung kedua orang yang menjauh, sekulum senyuman dingin segera menghiasi ujung bibirnya, dia bertepuk tangan tiga kali lalu mengayunkan tangannya memberi tanda.

Kawanan lelaki berbaju hitam yang membawa tabung panjang tadi segera mengundurkan diri dari situ dan lenyap dari pandangan mata, sepeninggal kawanan lelaki berbaju hitam itu, Lik Im cu bertanya:

"Saudara Leng mengapa kau lepaskan mereka berdua."

Leng Hongya mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaah, haaah, haaah, tenaga dalam yang dimiliki kedua oraag itu sangat lihay, namun bukan berarti tidak mempan terhadap pengaruh racun, aku hendak mempergunakan beberapa macam binatang beracun yang kubawa dari wilayah Biau untuk merubah watak mereka dan memanfaatkan kemampuan mereka."

Seusai berkata, kembali dia menengadah sambil tertawa terbahak-bahak.

Lembah bukit terbentang jauh ke dalam dan berbelok ke balik sebuah tanah perbukitan

berkata aneh semak belukar tumbuh liar di kedua belah sisi jalan, bau busuk yang menusuk hidung berhembus lewat mengikuti tiupan angia, bau itu amat menusuk penciuman.

Liong Tian im menghentikan sebentar gerakan tubuhnya seraya berpaling dan memandang sekejap kearah jago pedang buta Bok Ci mendadak timbul suatu firasat aneh dalam hatinya.

"Toako kau terluka?. tegurnya keheranan.

Jago pedang buta Bok Ci menghembuskan napas dalam dalam, lalu menjawab pelan:

"llmu pedang yang dimiliki Leng Hongnya telah mencapai puncak kesempurnaan terutama jurus Seng hui mo ai (Bintang beterbangan, neraka kesepian) nya amat lihay itu, nyatanya aku tak mampu untuk menghadapi ancaman mana, bukan toako sengaja berbicara besar, aku yakin tiada kepandaian  ilmu pedang dari pelbagai perguruan di dunia ini yang   sanggup menandingi ilmu pedang Thian yang Kiam hoat keluargaku, semenjak terjun ke dunia persilatan, baru pertama kali ini ku jumpai jagoan yang lihay seperti Leng Hongya, ini menunjukkan kalau ilmu pedang Tee Ciok kiam hoat miliknya bukan cuma nama kosong belaka."

Liong Tian im merobek ujung bajunya untuk membungkus mulut luka ditubuh jago pedang buta, kemudian memandang sekejap sekeliling tempat itu, dia merasa tempat disekitar sana amat sepi hening dan agak menyeramkan.
Dia menghela napas panjang, kemudian katanya: "Toako aku tahu kalau Leng Hongya amat membencimu,
bahkan kalau bisa membinasakan kita berdua, tapi sepanjang perjalanan mengapa tiada orang yang menghalanginya kita, bahkan kawanan lelaki berbaju hitam tadipun seolah olah lenyap dengan begitu saja."

Jago pedang buta menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang, katanya: "Liong te, bukan toako sengaja mengatai dirimu, sesungguhnya pengalamanmu didalam dunia persilatan kelewat sedikit. sedangkan Leng Hongya adalah seorang manusia munafik yang licik, keji dan banyak tipu muslihatnya, dia terlihat bijaksana dan mulia untuk membohongi dunia persilatan didunia ini, padahal apa yang dilakukan tak lebih merupakan pembunuhan pembunuhan brutal yang keji dan busuk. Kali ini Im Tiong cu telah menyaksikan perbuatannya itu, dia tak akan menyangka kalau bibit bencana sebenarnya telah menimpa pada dirinya, menurut apa yang toako ketahui jalanan ini menuju kekota kematia di Tay gwan kwan, sebagai manusia berhati hitam dan berakal busuk dia memang  terbiasa memancing orang orang yang bermusuhan dengannya kemari agar mereka mati secara mengenaskan jenazahnya musnah tak meninggalkan jejak."

Walaupun Liong Tian im merasa tempat itu agak menyeramkan tapi tidak menjumpai gejala-gejala yang menunjukkan tempat itu berbahaya, maka dengan kening berkerut serunya.

"Toako, tiada sesosok bayangan setanpun yang berada disini, masa terdapat marabahaya ditempat semacam ini? jalanan yang tertentu disini sangat lebar, aku tak percaya kalau Leng Hongya bisa mengurung kita berdua."

Mendadak jago pedang buta merendahkan suaranya sembari berkata:

"Adik Liong, kemungkinan besar ada orang yang sedang mengintai dan mengawasi pembicaraan kita sekarang, kita kan tidak percaya malah menerjang keluar lewat sisi kanan jalan"

Tapi dia sengaja menuding ke sebelah kiri sambil berteriak keras: "Coba kau lihat dlsebelah kiri ada jalan adik Liong, coba kau ke sana dan periksalah keadaan di situ!"

Liong Tian im ragu ragu sebentar, tetapi akhirnya dia berjalan juga ke sebelah kanan lengan langkah lebar.

Baru saja berjalan tujuh delapan langkah, mendadak dari balik semak belukar berkumandang suara pekikan nyaring, enam orang lelaki yang membawa tabung panjang telah munculkan diri dan menghadang jalan perginya. Terdengar seseorang, berkata dengan suara keras:

"Asal kau tidak melalui tempat ini, kamipun tak akan menyusahkan dirimu, tapi kalau mencoba dengan kekerasan, jangan salahkan kalau kami akan melancarkan serangan dengan tabung pasir emas bara api serta jarum tojaq ekor lebah . ."

Liong Tian im mendengus, kemudian tertawa terbahak bahak.

"Haaaahhh . .. haaahhh. . . menggelikan, sungguh menggelikan."

Ternyata ke enam orang lelaki bertabung panjang itu tidak mengerti mengapa Liong Tian-im tertawa tergelak, dengan p&ndacgl kebingungan dan tak habis mengerti mereka awasi anak muda itu lekat lekat.

Terdengar suara yang berat dan dalam berkata lagi dengan suara dingin:

"Persoalan apakah yang membuat anda tertawa kegelian ?" Liong Tian-im menarik kembali senyumannya, kemudian berkata dengan nada sinis:

"Hm Leng Hongya harus menggunakan cara semacam itu untuk menghalangi kami heran apakah hal ini tidak menggelikan ?"

Orang itu mendengus dingin katanya keras:

"Kau jangan memandang enteng tabung pasir emas baja api itu, saksikan dulu kelihayannya sebelum tertawa. ."

"Blaaammm ..."

Mendadak terjadi ledakan berat dan keras menyusul munculnya gulungan asap tebal yang menyelimuti angkasa, hujan pasir memancar keempat penjuru dan meluncur ke  tubuh Liong Tian im bagaikan selapis awan, Liong Tian im  tidak menyangka kalau tabung sekecil itu bisa memiliki daya penghancur yang begitu dahsyatnya, dalam terka ttapo?a buru buru dia melompat ke belakang untuk menghindarkan diri.

Dimana bayangan pasir itu menyambar lewat, permukaan tanah terbakar hangus menjadi arang, pasir pasir tadi telah menembusi tanah dan membentuk sebuah kubangan besar.

"Bagaimana ?" kata Jago pedang buta sambil tersenyum, senjata rahasia semacam ini beracun sekali, siapa yang terkena segera akan mampus, tak ada harganya buat kita untuk beradu kepandaian dengan manusia manusia semacam itu, mari pergi dulu sebelum menyusun rencana selanjutnya. .
." Walaupun Liong Tian im tak dapat meredakan hawa amarah yang bergolak dalam hatitnya, tapi dia pun tahu
bahwa apa yang dikatakan toakonya sebagai suatu kenyataan.

Bila dia sampai mengadu tubuhnya dengan senjata rahasia beracun semacam itu, berarti tindakannya itu merupakan suatu tindakan bodoh.

Dengan uring uringan dipandangnya keenam orang lelaki itu sekejap, akhirnya sambil berbincang bincang dan bersenyum ia berlalu bersama sama jago pedang buta.

Kawanan lelaki itupun tidak melakukan pengejaran, mereka hanya mengawasi kedua orang itu dengan perasaan tidak habis mengerti.

Cahaya matahari yang panas memancar ke empat penjuru dan menyoroti hutan tersebut, daun-daun kuning yang berguguran di tanah mulai membusuk dan menyiarkan bau yang tak sedap . . ketika uap panas membumbung ke angkasa. terciptalah kabut tebal yang menyelimuti sekitar sana.

"Liong Siangkong, Liong siangkong. . ." sewaktu Liong Tian im dan jago pedang buta sedang berjalan ke depan, tiba tiba muncul seorang nona berbaju putih dari sisi jalan, mainan yang tergantung pada pinggangnya menimbulkan suara ting tang yang amat nyaring ketika gadis itu sedang berjalan.

Mendengar suara panggilan tersebut Liong Tian im dan si Jago pedang bata segera berhenti dan mengawasi wajah nona berbaju putih itu dengan tertegun.

Dengan lemah gemulai nona berbaju putih itu berjalan mendekat, ditangannya membawa sebuah nampan besar berwarna merah, di atas nampan terletak dua buah cawan putih porselen kemudian katanya pelan.

"Perjalanan selanjutnya yang akan kalian berdua tempuh penuh dengan mara bahaya, apakah bisa berjalan keluar dari Tay gan kwan," nona kami tak berani memastikan tapi ia ingin menunjukkan kebaktiannya kepada kalian, karenanya nona kami telah buatkan kueh obat untuk menawarkan racun kabut dari wilayah Biau tersebut harap kaliaa berdua sudi meneguk.
. ."

"Tolong tanya siapakah nona kalian Mengapa dia menaruh perhatian yang begitu besar terhadap kami berdua . . . , .". ucap Liong Tian im dengan wajah tertegun. Nona berbaju putih itu tertegun.

"Liong siangkong benar benar seorang pelupa" katanya, "sudah berapa kali berjumpa dengan nona kami namun masih juga pelupa. nona kami she Leng, dia adalah putri kesayangan Leng Hongya . . ."

Selembar wajah yang cantik bagaikan sekuntum bunga yang baru mekar segera melintas dalam benak Liong Tian im, hatinya kontan bergetar keras.

"Ooooh... rupanya dia . . . " ujarnya.

Satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya diam diam pikirnya:

"Leng Ning ciu . . . wahai Leng Ning ciu, dia nampaknya menaruh cinta kepadaku, seperti juga tidak dia selain memperhatikan aku, tapi setiap kali tak benlka? dia in kepadaku, apa yang sesungguhnya telah terjadi?" Apakah hati perempuan berubah seribu kali dalam sehari? Apakah natinya dapat berubah sebentar panas dingin .. ."

Akan tetapi tatkala ia teringat kembali tindakan Leng Ning ciu yang telah mencabik-cabik secara tak berperasaan sapatangan yang di simpan bagaikan nyawa sendiri itu, hawa amarahnya segera berkobar, katanya dengan suara dingin:

"Harap nona sampaikan kepada nona, Liong Tian im mengucapkan terima kasih padanya."

Nona berbaju patih itu seperti belum memahami maksudnya, dengan sedih kembali dia berkata:

"Terima kasih tak perlu kami hanya berharap kalian selamat sepanjang jalan dan jangan melupakan cinta nona kami kepadamu dikemudian hari. ."

Nada suaranya amat memilukan hati membuat serasa terperana dibuatnya, Liong Tian im dan Jago pedang buta Bok Ci segera merasakan hatinya bergetar keras, hampir saja dia terpikat oleh ucapan lawan.

Jago pedang buta Bok Ci merasakan sekujur badannya gemetar keras, bagaikan kehilangan sukma saja dia menghela napas panjang dan membungkam diri dalam seribu basa.

Liong Tian ini menjadi amat terperanjat setelah mendengar helaan napas itu, buru buru serunya.

Toako, apakah tubuhmu kurang enak..." "Aaah tidak mengapa" jago pedang buta Bok Ci tertawa sedih, "aku hanya merasakan mulut lukaku secara lamat lamat terasa sakit ..."

Ia tak dapat menutupi penderitaan dan siljj gaan yang dialami dalam hatinya, namun paran mukanya berubah menjadi jauh lebih lembut, buru buru diambilnya cawan diatas nampan itu dan segera dibuka tutupnya, segulung bau harum semerbak yang amat tebal segera berhembus keIuar.

Ujarnya kemudian dengan sedih:

"Setelah datang kemari, yang penting adalah lelamar" adik Liong, minumlah, kita masih harus melanjutkan perjalanan ...
."

Selesai berkata itu meneguk habis isi cawan itu, kemudian berlalu dengan langkah lebar.

Liong Tian im segera mengulapkan tangannya kearah nona berbaju putih itu serunya:

"Pergilah kau, maksud baik nonamu biarlah kuterima didalam hati saja."

Paras muka nona berbaju putih itu berubah hebat, kembali serunya:

"Dengan menpertaruhkan keselamatan jiwa budak datang menghantarkan obat buatan nona, Liong Siangkong jika kau tidak meneguknya bukan saja budak tak dapat memberikan pertanggungan jawabnya nanti sekalipun nona sendiri juga tak akan memaafkan." Liong Tian im meoarik napas panjang panjang, katanya tiba tiba:

"Seandainya kau takut dimarahi nona, tuang saja isi cawan itu ke atas tanah !"

Nona berbaju putih itu sama sekali tidak menyangka kalau Liong Tian im akan bersikap begitu tak tahu perasaan, paras mukanya berubah hebat, sambil memegang nampan tersebut dia menjadi serba salah, akhirnya gadis itu hanya bisa berdiri ditempat dengan wajah tersipu sipu.

Namun sepasang matanya secara lamat lamat berkaca2, diawasinya Liong Tian im yang sombong dan tak berperasaan itu dengan wajah termangu, agaknya ia merasa sangat tidak puas terhadap perlakukan pemuda ini terhadap nonanya.

Pada saat itulah, dari balik sebatang pohon melompat  keluar sesosok bayangan manusia yang adalah Leng Ning ciu.

Dengan sorot mata yang penuh kesedihan dia mengawasi Liong Tian im, lama kemudian ia baru mendengus dingin.

Terkesiap nona berbaju putih itu, serunya dengan suara gemetar:

"Nona, aku , . . ."

"Bwee Hiang !" tukas Leng Ning ciu tak berperasaan, "kalau toh orang lain tak sudi menerima kebaikan kita, tuang saja isi cawan itu ke tanah "

Berbicari sampai disitu dia lantas mengambil cawan air teh itu, lalu dengan tubuh gemetar karena sedih, dia menuang isi cawan berisi obat penawar itu kedepan Liong Tian im. Kemudian cawan itu di banting keras keras ke atas tanah, sambil menutupi mukanya dia membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Beberapa perubahan tersebut berlangsung secara rnendadak, hal mana membuat Liong Tian im berdiri kaku karena tertegun di tempat semula, pelbagai persoalan serasa berkecamuk dalam benaknya hingga dia sendiri tak tahu bagaimanakah perasaannya waktu itu.

Kemunculan gsdis itu sangat mendadak tapi pergipun amat mendadak, kecuali tersisa bau Iiarum ditengah udara, Liong Tian im tidak merasakan apa apa.

Menanti bayangan tubuh dari Leng Ning ciu dan Bwee  Hiang sudah lenyap dari pandangan mata, Liong Tian im baru seperti bangun dari impian. dengan wajah tertegun, diawasinya cairan obat yang tumpah di tanah tanpa berkedip, gumamnya:

"Air yang tumpah tak mungkin bisa dikumpulkan lagi, aku terlampau menyakitkan hati."

Perasaan kesepian dan kosong yang sangat aneh segera menyergap kedalam hatinya, pikirannya serasa kosong dan tiada perasaan apapun akhirnya dengan sedih dia menghela napas.

"Entah sejak kapan jago pedang buta telah menghampirinya. dengan suara duka, katanya:

"Dia telah pergi . . ."

Kemudian setelah menghela napas tambahnya: "Banyak persoalan yang harus kau ketahui dan pahami, aai, kau kelewat tak mengerti apa arti cinta ..."

Perasaan Liong Tian im waktu itu buruk sekali, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia meneruskan perjalanannya ke depan.

Sepanjang perjalanan kedua orang itu tidak saling berbicara lagi, perasaan masing masing seperti dibebani oleh suatu beban yang amat berat...

Tiba tiba dari balik hutan yang amat tebal kabut itu pelan pelan membumbung tinggi ke angkasa dan pelan pelan menyebarkan diri ke empat penjuru, daerah yang diliputi pun makin lama semakin melebar,
Dengan perasaan terkejut Liong Tian im segera berkata: "Aaaah. . . inilah kabut selaksa bunga dari wilayah Biau !
Leng Hongya benar benar seorang yang luar biasa sampai sampai kabut yang langka inipun dapat dipindahkan kemari, tak heran kalau tiada orang yang bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup....

Setelah mendengus dingin, terusnya: "Tapi Leng Hongya juga kelewat memandang rendah diriku, sawaktu melatih ilmu kabut beracun di bukit Lau san tempo hari aku pernah menyekap diri selama empat puluh sembilan hari dalam lembah yang beracun itu, kabut macam apapun sudah pernah kujumpai "

Teringat kembali dengan penderitaannya ketika menggembleng diri dipuncak bukit Lau-san, timbul perasaan sedih dan kecut di dalam hatinya, saking sedihnya hampir saja dia melelehkan air mata.

"Kabut selaksa bunga, kabut selaksa bunga..." jago pedang buta berguman tiada hentinya, "nama ini seperti pernah kudengar sebelumnya."

Dalam pada itu, kabut warna warni yang menyelimuti disekeliling tempat itu makin lama semakin menebal, lambat laun sekujur tubuh mereka berdua terkurung suatu bau yang sangat aneh segera menusuk hidung mereka.

Cepat cepat Liong Tian im menutup semua jalan darah yang berada didalam tubuhnya, kemudian menegur:

"Toako, apakah kau tidak mempunyai suatu perasaan yang aneh."
Jago pedang buta menggelengkan kepalanya berulang kali. "Sewaktu baru datang tadi, aku masih merasa muak dan
pening, tapi sekarang muncul segulung bau harum didalam tubuhku dan sama sekali tidak merasakan sesuatu yang aneh."

Ia seperti secara tiba tiba menangkap sesuatu, dengan cepat sambungnya pula:

"Mungkin hal ini disebabkan aku telah minum obat penawar yang dibuat sendiri oleh Ling Ning ciu, mana mungkin bisa berdiri tegak selama ini dengan aman dan selamat ."

Tiba tiba suatu bunyi aneh menggema ke dalam telinga mereka berdua, jago pedang buta segera memasang telinga baik baik, kemudian dengan wajah serius katanya katanya kepada Liong-Tian im:

"Suara tersebut seperti suara manusia mari kita tengok ke sana . ."

Pelan pelan dia mencabut keluar pedang kayunya, kemudian bersama Liong Tian im mereka cepat cepat menerjang masuk kedalam kabut tebal tersebut.

Setelah menembusi sederet pepohonan yang rapat, mendadak dihadapan mereka muncul sebuah hutan bambu yang rumit dan berwarna kuning.

Liong Tian im mencoba untuk melongok sekejap ke dalam hutan bambu itu, tiba tiba hatinya merasa bergetar keras.

Ternyata diatas tanah penuh berserakan tulang belulang manusia, waktu itu terdapat dua orang manusia aneh berambut panjang yang penuh berbisul sedang melakukan pertarungan mati matian.

Kedua orang itu turun tangan dengan kecepatan luar biasa sedemikian cepatnya sampai tak tampak jelas kepandaian apakah yang dipergunakan mereka, namun yang pasti setiap jurus serangan yang mereka pergunakan rata rata merupakan jurus serangan yang mematikan.

Sedemikian serunya pertarungan yang sedang berlangsung waktu itu membuat Liong Tian im diam diam harus menarik napas dingin.

Mendadak kedua orang itu menyebarkan diri, lalu terdengar salah seorang diantarnya meraung dengan suara parau: "Kita tak usah bertarung lagi, coba lihai kedua orang itu sudah cukup buat kita berdua."

Begitu Liong Tian im menyaksikan wajah mereka, hatinya kontan saja terkesiap, dia sama sekali tak menyangka kalau kulit dan daging di wajah kedua orang itu sudah hilang lenyap sehingga yang tersisa hanya tulang belulangnya belaka.

Pada hakekatnya sepasang mata yang masih baik, hampir tiada bagian tubuh lain yang masih utuh.

Belum lagi Liong Tian im berdua bergerak maju, kedua orang manusia aneh itu sudah menerjang tiba secara kalap, dengan cakar setannya mereka langsung mencengkeram tubuh Liong Tian im dan jago pedang buta Bok ci.

"Tahan!" bentak Liong Tian-im sambil mengayunkan telapak tangannya ke depan.

Agaknya ke dua orang kakek yang berambut panjang  secara itu tidak menyangka kalau pihak lawan memiliki serangkaian ilmu silat yang sangat lihay, setelah tertegun sebentar, mereka segera menarik kembali serangannya sambil mundur.
Dengan suara dingin Liong Tian im segera bertanya. "Kita tak pernah terikat oleh dendam sakit hati apa apa,
mengapa kalian turun tangan sekejam itu kepada kami .. ."

Dua orang manusia aneh yang berwajah menyeramkan itu saling berpandangan sekejap, mendadak ia menengadah dae memperdengarkan suara tertawa aneh yang amat memekikkan telinga, seakan akan ada sesuatu lelucon yang berharga mereka tertawakan. Jago pedang buta segera berkerut kening kemudian ujarnya:

"Adik Liong, kemungkinan besar kita telah bersua dengan dua orang manusia gila !"

"Ngaco belo!"

Bentakan yang keras dan berat seperti geledek itu berkumandang dari mulut manusia aneh yang berada disebelah kiri, sedemikian kerasnya bentakan itu membuat Liong Tian im dan jago pedang buta merasakan telinganya mendenging keras.

Tak terlukiskan rasa terkejut kedua orang itu menghadapi kenyataan yang tertera di depan mata, mereka tak pernah mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan sedemikian sempurnanya.

Dengan menggunakan suara bentakan tadi jelas manusia aneh tersebut telah sertakan pula tenaga dalamnya, dari sini dapat diduga kalau dua orang manusia aneh yang tak  diketahui asal usulnya ini merupakan pentolan dunia persilatan yang memiliki kepandaian silat amat luar biasa.. .

Mencorong sinar buas dari balik mata manusia aneh tersebut. katanya tiba tiba:

"Walaupun aku Thian me-sat kun kena tertipu oleh Leng Hongya sehingga terkurung selama delapan tahun disini, namun kami belum sampai gila dibuatnya. Kini kalian berduapun seperti nasib kami berdua, selama hidup jangan harap bisa keluar selangkah pun dari sini, setahun sekarang kalian bersahabat karib, tapi bila rasa lapar sudah membuat kesadaran kalian menjadi hilang, toh akhirnya kamu berdua bakal bertarung pula untuk saling mempertahankan hidup . . .
."

"Sekalipun kehilangan kesadaran toh tidak berarti berus beradu jiwa . . ." kata Liong Tian im tertegun.

Thian mo sat kun tertawa dingin, "Heeeh . . . heeehh . . . heeeh .. . . kau mengerti apa ? Bila seseorang sudah  kelaparan setengah mati sehingga dirasakan daripada hidup lebih baik mati, maka untuk melenyapkan rasa lapar yang menyerang diri tersebut, walau pun terhadap sahabat karib sendiri pun akan saling bentrok mengapa tidak kau perhatikan tulang belulang ysng berserakan ditanah. Bukankah mereka semua rata-rata dibacok mati orang lain kemudian dagingnya dimakan untuk menahan lapar "

Selama hidup belum penuh Liong Tian ini mendengar cerita yang begini aneh dan begitu kejam seperti apa yang didengarnya sekarang, tanpa terasa peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh badannya, sekujur tubuh gemetar keras.

"Jadi kali saling bertempur mati matian hanya ingin membunuh pihak yang lain, agar yang satu bisa melanjutkan hidupnya?" tanyanya keheranan bercampur tidak habis mengerti tapi, . ,sekalipun untuk sementara waktu nyawa kalian tertolong namun akhirnya toh bakal kelaparan juga sebelum mati secara mengenaskan."

Perkataan itu kontan saja membuat dua orang manusia aneh tersebut berdiri saling berpandangan muka, mereka hanya tahu bertarung tapi belum pernah memikirkan teori persoalan itu. Thian mo sat kun (Malaikat sakti iblis langit) menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian katanya:

"Kami berdua sedang bertarung mati matian bukan bermaksud untuk membinasakan lawannya, sebetulnya kami hanya msresba untuk mengambil keputusan siapa yang harus mati duluan. Sebab dimasa lampau kami berdua pernah mempunyai hubungan persahabatan yang sangat akrab, kami ingin sekali membiarkan rekannya hidup terus, berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa kami harus saling bertarung untuk menentukan mati hidup masing masing."

Jago pedang buta termenung sambil berpikir sebentar, kemudian katanya lagi:

"Kau adalah Thian mo sat kun, kalau begitu yang ini tentunya The mo siong sin (Dewa bengis iblis bumi)?" tanyanya kemudian.

"Benar..." sahut manusia aneh yang lain ketus. "tak nyana kau pun masih teringat akan losu, bagus, bagus sekali, aku merasa gembira sekali karena ada orang yang menyinggung kembali namaku dimasa lampau."

Diatas wajah berlobang yang tak berperasaan itu sama  sekali tidak menemukan perubahan apa apa, sehingga membuat orang sukar untuk menemukan perobahan gembira, marah, sedih atau murung dirinya, akan tetapi kaIau didengar dari nada suaranya, tak sukar untuk menangkap gejolak emosi didalam hatinya.

Dengan keheranan jago pedang buta berkata:

"Kalau toh kalian berdua sanggup melawan kehebatan dari kabut selaksa bunga tersebut mengapa kalian berdua tidak berusaha untuk meninggalkan tempat ini, sebaliknya malah rela berdiam ditempat yang lebih mirip dengan neraka ini."

"Heeeh, heeeh, heeh." Thian mo sat kun tertawa seram "andaikata bisa keluar dari sini kami sudah pergi semenjak dulu, tak nanti kami terkurung selama delapan tahun lamanya disini. Hu, kalian memang mudah untuk memasuki tempat ini, tapi jangan harap bisa keluar dari sini dalam keadaan selamat. Ketahuilah hutan bambu kecil ini tak lain adalah barisan Toksiu lian buau toa tin (barisan bambu beramai) yang dibangun dengan menyesuaikan entah berapa banyaknya tertata sedemikian dahsyatnya barisan tersebut, sudah hampir tiga puluh orang jago lihay dunia persiIatan yang tewas ditempat ini.."

Mendengar perkataan yang diucapkan amat serius itu, Liong Tiao im merasa kurang percaya, tanpa terasa dia merengok kesekeliling tempat itu, apa yang terlihat ternyata
hanya daun daun bambu yang telah berubah seperti air sungai saja.
Dengan perasaan terkesiap segera serunya:  "Apakah kalian tidak berhasil menemuka sesuatu cara
untuk mematahkan barisan ini?"

"Selama delapan tahun, pelbagai cara sudah kami pikirkan, tapi tak semacampun yang bisa membawa hasil" kata Tee mo itoag sin Sing, kalau tidak begitu, tak naati Leng Hongya dapat mengurung kami berdua disini hingga begitu gampang.."

Tiba tiba jago pedang buta bertanya:

"Sebenarnya dendam kesumat apakah yang terjalin antara kalian berdua dengan Leng Hongya mengapa dia sampai mengurung kalian berdua ditempat berbahaya yang diliputi kabut beracun ini."

Paras muka Thian mo sat kun berubah hebat, dia seperti hendak melancarkan t iorukM|, bentaknya keras keras :

"Buat apa kau menanyakan persoalan ini ??

"Apakah aku salah bertanya ?" Jago pedang buta agak tertegun.

"Persoalan itu merupakan rahasia kami, kau dilarang untuk menanyakannya" kata malaikat sakti iblis langit dengan suara dingin.

Dewa bengis iblis bumi mengelus perutnya berulang kali, tiba tiba dari dalam perutnya berkumandang suara keruyukan nyaring, dia menarik napas panjang panjang, lalu dengan nada penuh penderitaan katanya:

"Toako, aku lapar sekali !"

Mendengar perkatan itu, Malaikat sakti iblis langit segera mengayunkan sepasang le'apaj langitnya sambil menerjang ke tubuh Liong Tian im, serunya dengan lantang:

"Bocah ini lebih gemukan, mari kita bunuh dirinya lebih dahulu. . ."

Dengan suatu gerakan yang amat cepat bagaikan
sambaran kilat dia melepaskan serangan, sedemikian cepatnya sehingga sulit rasanya untuk melakukan perlawanan.

Liong Tian im hanya merasakan segulung tenaga serangan yang sangat kuat menekan ke atas kepalnya, buru buru dia membalikkan telapak tangannya menyongsong datangnya ancaman tersebut

"Blaamm!" terjadi suatu ledakan keras yang amat memekikkan telinga.

Liong Tian-im mendengus tertahan, tubuhnya terhajar mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan, darah panas bergolak di dalam dadanya kemudian muntah darah segar, semburan darah itu tepat mengenai wajah Malaikat sakti iblis langit.

Menggunakan lidahnya Malaikat sakti iblis langit menjilati noda darah yang melekat di atas wajahnya itu, seakan akan mencicipi sebuah hidangan yang sangat lezat, dan berkhasiat, dia bertepuk targan berulang kali sambil tertawa terbahak bahak.

"Haaahh. . .haaah. . . haaah. . . darah segar loji, daging si bocah muda ini pasti empuk dan lezat sekali. ."

Dengan suatu gerakan yang amat cepat bagaikan
sambaran kilat, kelima jari tangannya 5 tinggal tulang pulih ttu dipentangkan lebar-lebar kemudian mencengkeram dada
Liong Tian im yang belum sempat berdiri tegak itu.

Perubahan yang berlangsung amat mendadak ini sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Liong Tian im untuk melancarkan serangan balasan.

"Heehh... heehh, ..heeehh.. . suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan. Dari suara desingan yang bergema Jago pedang buta Bok   Ci mengerti kalau rekannya sedang terancam bahaya maut, secepat kilat pedang kayunya melancarkan bacokan ke depan.

Serangan ini di lancarkan olehnya dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya belum lagi serangannya tiba, dari tengah udara sudah berkumandang suara desingan tajam yang amat memekikkan telinga.

Thian-mo sat-kun sama sekali tidak menyangka kalau serangan lawannya dilancarkan sedahsyat itu, ia mendengus diogin, kemudian sambil membalikkan tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat secara beruntun kakinya bergeser berganti tempat kedudukan . ,

"Plaaakk. . !" pedang kayu ditangan Jago pedang buta telah mengetuk diatas punggung tangannya.

"Aduuuh. . ." Thian mo sat kun menjerit kesakitan, "apa hubunganmu deagan si pedang langit Bok Keng jin"

Jago pedang buta tidak mengira kalau serangan pedangnya yang dilancarkan dengan kekuatan besar itu hanya sempat membuat pihak lawan kesakitan, padahal dalan perkiraan semula, paling tidak tangan tersebut akan terpapas kutung menjadi dua.

Didalam terperanjatnya dia segera menarik kembali pedangnya sambil melomnat ke sisi Liong Tian im.

"Adik Liong, bagaimanakah keadaan dirimu?" tanyanya dengan penuh perhatian dan rasa kuatir.

Liong Tian im menggelengkan kepala berulang kali. "Toako, semenjak kecil siaute sudah terbiasa hidup sebatang kara, tidak pernah ada orang yang menaruh perhatian terhadapku, tiada orang yang menguatirkan keselamatanku tapi kau . . . aaai, aku tidak tahu bagaimana barat membalas budi kepadamu . . ."

Dibalik senyumanya yang rawan, terlintas pula senyuman puas yang amat cerah, lanjutnya:

"Aku rela mati disini, asal toako bisa lolos dari kurungan hutan bambu ini."

"Hutan bambu?" tiba tiba jago pedang buta seperti mendapatkan satu ilham, segera serunya "adik Liong cepat kita tertolong."

Dengan pandangan tak habis mengerti Liong Tian im memperhatikan toakonya yang penuh dengan persaudaraan itu, ia tak habis mengerti apa sebabnya toakonya menunjukkan sikap macam orang kehilangan ingatan.

Dalam pada itu Tee mo siong sin dan Thian mo sat kun telah melompat maju pula ke depan.

"Bocah muda, permainan setan apa yang sedang kau persiapkan?" tanya dewa bengis iblis bumi dengan suara dalam.

"Aku telah berhasil menemukan sebuah cara yang sangat baik untuk meninggalkan barisan ini" kata jago pedang buta dengan wajah serius, "sekarang paling baik kalau kita jangan bertarung lebih dulu menanti kita sudah meningalkan tempat ini, mau bertarung terserah kepada keputusan kalian sendiri." Mendengar perkataan itu, Thian mo sat kun menengadah dan tertawa terbabak-bahak, dia seperti menyaksikan sesuatu kejadian yang amat menggelikan hati saja.

"Haaahh... haahh haaah kau seorang manusia buta juga ingin keluar dari sini? Haaah haaah selama berada disini, pelbagai macam cara telah kupikirkan entah dengan melompat, melejit, memotong bambu. . hampir semuanya telah kucoba, namun tiada sebuahpun yang mendatangkan hasil sedangkan kau, haaah hehehe, Kau ibiratnya burung pungguk merindukan bulan berhayal yang bukan bukan."

Setelab tertawa tergelak lagi, dia bertanya: "Coba utarakan dulu caramu itu,"
"Caraku sederhana sekali" kata jago pedang buta dengan nada bersungguh sungguh, "asal kita lepaskan api dan membakar tempat neraka ini, bukankah segala sesuatunya akan beres? Hmm, aku yakin meski kalian berdua telah mencoba dengan cara apapun, cara paling sederhana ini pasti belum pernah dipikirkan bukan..."

Begitu ucapan tersebut diutarakan bukan saja Thian mo sat kun dan Tee mo siong sin menjadi tertegun, bahkan Liong  Tian im pun diam diam memuji dan mengakui kecerdikan sang toakonya.

Dewa bengis iblis bumi segera menepuk tangan sendiri sambil berkata:

"Aaah, benar, kami tak pernah menduga sampai ke situ, seandainya cara tersebut telah kupikirkan, tak mungkin kami akan terkurung secara sia sia selama delapan tahun, bet orang buta, aku mengagumi dirimu. . ." Dengan cepat jago pedang buta meminta bahan pembuat api. mengumpulkan ranting kering dan segera membakarnya.

Dalam waktu singkat asap hitam membumbung tinggi ke angkasa, seluruh hutan bambu itu mulai terbakar.

"Kalau dibilang memang cukup aneh, begitu api berkobar, keampuhan dari barisan bambu berantai Tok-siu-lua huan-toaun itu segera punah."

Ketika Liong Tian-im memperhatikan lagi ke muka, dia saksikan tempat tersebut tak lebih hanya terdiri dari puluhan batang bambu sebesar lengan manusia.

Begitu melepaskan diri dari kurungan hutan bambu, mereka berempat segera menghembuskan napas lega.

Thian mo sat kun segera melompat lompat kegirangan sambil tertawa terbahak bahak:

"Haaahhh . . . haaahhh . , . haaahhh ... horeee ... aku bebas, aku telah bebas .. . "

Tapi kegembiraan tersebut datangnya kelewat cepat, tatkala dewa bengis iblis bumi mengucapkan kata-kata tersebut, dengan penuh penderitaan dia melelehkan air matanya.

Terdengar Dewa bengis iblis bumi menghela napas panjang, kemudian katanya:

"Toako, wajah kita sekarang telah berubah menjadi begini rupa, manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan, bagaimana mungkin bisa pergi menjumpai orang . . ." 
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 14"

Post a Comment

close