Cincin Maut Jilid 08

Mode Malam
Jilid 08
GAK HONG memperhatikan sekejap alis mata sang pemuda yang tebal, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram:

"Haah, haaaah, haaah, kau ingin meloloskan diri dari kota kematian ini ? Mungkinkah kita masih mempunyai masa mendatang ?"

"Sudab, kau tak usah banyak bicara lagi!" tukas Liong Tianim dingin.

Kemudian dengan sinar mata memancarkan cahaya tajam, lanjutnya lebih jauh. "Aku ingin bertanya kepadamu, siapa yang telah mematahkan lengan kirimu itu?"

Gak Hong memandang sekejap lengan kiri sendiri yang kutung, setelah direndam sekUi lama didalam air, mulut luka tersebut telah berubah menjadi putih, malah lamat lamat masih nampak air darah meleleh keluar.

Setelah tertawa getir sahutnya:

"Lukaku sudah kaku dan mati rasa, untung saja masih dapat menutup semua peredaran darah. . ."

Teringat bagaimana kalau dia harus kembali di daerah yang dikelilingi air, mencorong sinar buas dari balik matanya, dengan gema penuh kebencian sahutnya:

"Si buta sialan itu betul betul terkutuk bila bersua lagi dikemudian hari, lohu pasti akan membunuhnya."

"Si buta?" Liong Tian Im segera manggut-manggut "rupanya kau telah berjumpa dengannya sehingga kehilangan sebuah lenganmu, kalau begitu tak aneh lagi."
"Kau kenal dengan dia ?" Gak Hong menjerit kaget. "Kau maksudkan si jago pedang buta Bok Ci?" setelah
tertawa, lanjutnya, "dia datang dari tebing Toa-pousat-nia !"

"Apa?" Tiba-tiba Gak Hong menjerit keras dengan sekujur tubuh bergetar keras. "dia berasal dari Toa-pousat-nia ?"

"Kau juga tahu tempat ancam apakah Toa-pousat nia itu ?" pemuda itu berkerut kening. Gak Hong tidak memperdulikan dirinya, ia hanya bergumam seorang diri:

"Tak anehlah kalau begitu, tak aneh." Setelah menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya lebih jauh dengan penuh penderitaan:

"Tampaknya dendam sakit hati lohu tak akan bisa kutuntut balas lagi untuk selamanya."

Liong Tian-im sama sekali tidak mengenali asal usul si jago pedang buta Bok Ci, terutama sekali terhadap ilmu pedangnya yang luar buasa tersebut, diapun turut merasa terkejut bercampur keheranan.

Tapi dari pembicaraan Gak Hong sekarang dia tahu kalau orang tersebut mengetahui terang asal usul dari Bok Ci. maka buru buru tanyanya dengan cepat.

"Kau tahu, dia itu murid siapa?"

Gak Hong masih saja bergumam seorang diri:

"Thian tee ji kiam (dua pedang langit bumi) Kim mo it sin (ditemani satu dewi) Hud bun sam seng (tiga kaum orang suci kaum Budha)

Too keh su sian (Empat dewa dari agama Too) Sungguh  tak kusangka hari ini aku si pengejar guntur penyambar petir harus keok dengan ahli waris dari seorang jago lihay termasuk diantara sepuluh manusia paling hebat dikolong langit masa lalu"

Berbicara sampai disitu, kembali dia tertawa terbahakbahak seperti orang gila: "Haaah....haaahh..haaah....bayangkan bagaimana mungkin dendam semacam ini bisa ku tuntut balas?"

"Kau sudah dikurung Leng Hongya selama dua belas tahun, untuk membalas dendam itupun belum kesampaian lebwa?" kalau ingin menyusun rencana untuk membalas dendam terhadap si jago pedang buta Bok ci, aku lihat kau betul betul seorang manusia yang tak bisa diobati lagi . ."

Ucapan dari Liong Tian im itu sangat berbobot. membuat Gak Hong langsung menjadi terkejut.

Dengan cepat dia pun tersadar kembali dari lamunannya, sambil menepuk kening sendiri hormatnya:

"Yaa,yaa, aku memang terlalu kebangetan !"

"Tadi kau menyebutkan tentang sepasang pedang langit dan bumi. . . sebenarnya apa maksudmu ?"

"Didalam dunia persilatan dimasa lalu terdapat sepuluh jagoan yang paling top didunia ini, mereka meliputi kaum Buddha, kaum agama To, kaum lurus dan sesat dengan pengaturan nama disesuaikan kemampuan ilmu silat yang mereka miliki, itulah sebabnya segera muncul istilah sepasang pedang langit bumi, bila emas satu dewi, tiga orang suci kaum buddha, empat dewa kaum agama Too ..."

"Oooh, kalau begitu guruku menempati kedudukan nomor tiga, tapi siapakah sepasang pedang langit bumi itu?"

"Konon vang dimaksudkan sebagai sepasang pedang langit bumi adalah dua bersaudara,MJ atx pedang mereka dapat dimainkan sedemikan rupa sehingga pedang dan manusia dapat membaur menjadi satu serta membunuh orang dengan pedang terbang, tapi tiada orang yang mengetahui asal usul mereka, semua orang hanya tahu kalau dia berasal dari tebing To pousat nia . ."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Liong Tian im, serunya dengan cepat:

"Kalau begitu si jago pedang buta Bok Ci adalah ahli waris dari sepasang pedang langit dan bumi, tak heran kalau dia hanya menggembol pedang kayu meski hanya bersejatakan ranting pohon liu yang lemas dia masih mampu mengalahkan keturunan dari Gi bong kim kiam dari Say pak"

"Gi bong kim kiam?" Gak Hong menghela napas panjang, "sudah dua belas tahun aku tersekap disini, tak nyana keadaan didalam dunia persilatan masih tetap seperti sedia kala"

Setelah berhenti sejenak, dia tertawa seram lalu memyambung lebih jauh:

"Leng Yong peng Nv-ibsi Leng Yong peng Uu in^in mengelabuhi dunia dengan memunahkan banyak ilmu sakti dari dunia persilatan yang perbuatanmu itu akan sia sia belaka
!?"

Sedangkan Liong Tian im pun segera berpikir:

"Menurut urutan nama didalam dunia persilatan, Sepesang pedang langit dan bumi berada didepan iblis emas, aku tidak percaya kalau ilmu silatku masih kalah dengan pedang langit bumi. Suatu hari aku pasti akan mencari Toako untuk berduel
!" Sementara dia masih berpikir, Gak Hong setelah menghentikan suara tertawanya sambil berkata:

"Kau tahu, ilmu pedang yang dimiliki Leng Yok peng itu berasal dari siapa ?"

Pertanyaan yang munculnya sangat mendadak ini agak membuat Liong Tian im menjadi tertegun, bukannya menjawab dia segera balik bertanya:
"Kau tahu, ilmu silat Leng Hongya berasal dari siapa ?" "Dikolong langit tiada orang kedua yang lebih mengetahui
tentang asal usul ilmu silatnya daripada diriku"

Sewaktu mengucapkan perkataan tersebut tak tertutupi sikap bangga diatas wajahnya.

Sesudah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh:

"Ketika sepasang pedang langit dan bumi terjun ke daratan Tionggoan dulu, mereka dengan pedang kayu dan pedang perak mengalahkan sepuluh jagoan dari sepuluh partai sehingga namanya menggemparkan seantero jagad, tapi entah bagaimana selanjutnya kedua-duanya ternyata lenyap tak berbekas..."

"Ooooh... kalau begitu ilmu silat dari si jago pedang buta  Bok Ci yang berasal dari si pedang langit, tapi bagaimana pula dengan si pedang bumi...?" seru Liong Tian-im.

Gak Hong melanjutkan penuturannya:

"Tersiar berita dalam dunia persilatan waktu itu kalau sepasang pedang langit dan bumi saling membunuh sendiri, mereka bertarung selama dua hari dua malam dipuncak bukit Hong san tanpa diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah tapi akhirnya pada hari ketiga mereka sama sama mampus. . ."

Liong Tian im menjadi tertarik sekali oleh kejadian itu, sehingga untuk sementara waktu dia jadi melupakan masalah tentang genta emas itu, tak tahan dia bertanya lagi dengan perasaan ingin tahu:

"Kalau begitu belum tentu si pedang bumi mati dalam pertarungan itu, buktinya sekarang si jago pedang buta kan sudah muncul kembali di dalam dunia persilatan ?"

Gak Hong segera tertawa seram.

"Sewaktu aku tahu kalau bocah keparat itu datang dari tebing Toa pousat nia, aku lactij tahu kalau peristiwa dulu belum mengakhiri kehidupan mereka, heeh , . heeh . ,heeh . . dengan demikian, akupun telah berhasil membuktikan sesuatu."

Liong Tiong im hanya mengawasi wajah Gak Hong lekat lekat, sementara dalam hati kecilnya berpikir:

"Orang ini penuh berjenggot sehingga sukar dilihat wajah aslinya, tapi jika dilihat dari kesempitan jiwanya serta kelicikan dan kekejian sifatnya, dapat diketahui kalau orang ini adalah seorang manusia rendah yang menakutkan, aku harus berwaspada selalu, kalau tidak bisa jadi akan kena disergap olehnya .. ."

Belum habis dia berpikir, Gak Hong sambi memejamkan matanya mendadak berkata: "Ehmm ... heran, dari mana datangnya bau harum disitu ?
Kalau diendus rasanya menyegarkan sekali. ."

Dia mencoba untuk mengendusnya beberapa kali, kemudian lanjutnya lebih jauh:

"Aaah .. ? Kenapa bau harum ini bisa mendatangkan suatu kenyamanan yang tak terlukiskan dengan kata kata , . . . "

Buru buru Liong Tian im menukas:

"Kau jangan mengesampingkan dulu jalannya cerita, hayo selesaikan dulu ceritamu itu"

Gak Hong membuka matanya dan mengawasi cairan putih yang menyiarkan bau harum tersebut, seketika itu juga mencorong sinar aneh dari balik matanya.

Namun dia sama sekali tidak memperlihatkan sikap tersebut diatas wajahnya, diam diam dia berpikir lagi:

"Mungkin benda ini adalah air liur Naga harum yang sering tersiar dalam dunia persilatan ? Kalau tidak, dengan luka parah si bocah keparat yang begitu parah, bahkan terluka termakan pula sebuah pukulan dahsyatku, mengapa luka luka tersebut bisa disembuhkan dengan cepat"

Sementara ingatan mana melintas dalam benaknya, dimulut dia bercerita lebih lanjut:

"Leng Hong ya dari lembah Tee ong kok tak lain adalah putra si pedang bumi Leng Gwa, sedangkan Bok Ci si bocah keparat itu adaah putra Bok Kim ti pedang langit !" "Ooooh !" dalam hati kecilnya Liong Tian im segera berpikir lebih jauh:

"Rupanya beginilah ceritanya, tak heran kalau Leng hong ya memiliki kepandaian silat yang begitu lihay, bahkan masih berhasrat sekali untuk bisa merebut genta emas tersebut

Sementara Liong Tian im masih termenung, Gak Hong telah menemukan sebab musubab terjadinya cahaya terang serta sumber bau harum yang berada delam goa itu.

Dengan sinar mata rakus dia mengawasi benda bulat berwarna putih yang berada di atas tanah itu, sekali lagi hatinya merasakan sei u onrcanean yang amat keras, pikirnya:

Jikalau aku dapat menelan pil Goan wan tan dihasilkan oleh Kerang dingin berusia seribu tahun tersebut, maka dalam satu jam saja tenaga dalamku bisa mencapai tingkatan yang paling top, saat itulah aku pasti bisa merajai dunia persilatan lagi serta membalaskan dendam bagi kematian Lim hiante."

Tapi begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, diapun berpikir lebih jauh:

"Tapi aku tak boleh membuat bocah keparat itu menjadi curiga, bila aku sudah mendapatkan Goan wan mestika itu, tapi diketahui olehnya, waah, bisa runyam keadaanku waktu itu"

Tentu saja Liong Tian im tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan Gak Hong waktu itu, kedengaran dia bertanya lagi: "Apakah orang persilatan juga ada yang tahu kalau Leng Hongya sesungguhnya merupakan putra sipedang bumi Leng Gwat?"

Gak Hong segera tertawa.

"Kecuali Leng Yok-peng yang tahu akan hal ini, diseluruh dunia mungkin hanya kami berdua yang tahu"
Sesudah mendehem pelan dia baru melanjutkan. "Menurut dugaan lohu, setelah kematian sepasang pedang
langit dan bumi, sekarang tiga orang suci dari kaum Buddha, empat dewa dari kaum agama To serta gurumu tentu masih hidup segar bugar. . ."

Ucapan tersebut hendak menyelidik, tapi Liong Tian im tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya sambil termenung, nampaknya ada sesuatu yang dipikirkan.

Pelan-pelan Gak hong mulai menggeserkan kakinya menuju kearah gua tersebut.

Mendadak Liong Tian im mendongakkan kepalanya sambil menegur nyaring:

"Mau apa kau?"

Gak Hong agak tertegun kemudian sahutnya: "Aku. . . aku hendak kencing!"
Liong Tian im tidak berkata apa apa lagi dia segera menundukkan kepalanya dan memikirkan kembali soal genta emas pelenyap irama tersebut. Gak Kong maju beberapa langkah lagi, sekarang dia sudah mendekati cairan putih tadi dan siap mengambil benda sebeser batu itu.

Pada saat itulah . . .

"Byuuuurr . . ." terlihat air dingin menyibak ke empat  penjuru, kemudian muncullah sebuah mahluk hitam yang  amat besar diatas permukaan air yang bergerak ke dalam gua.

Dengan wajah tercengang Liong Tian-im mendongakkan kepalanya, ia segera menyaksikan ada sebuah kerang raksasa yang besarnya semanusia sedang mementangkan kulit kerangnya lebar-lebar, hawa dingin yang mencekam tubuh segera terpancar keluar.

Begitu kerang tersebut mementangkan diri lebar lebar, maka terlihatlah daging kerang yang berwarna merah menyala itu, sungguh membuat orang yang memandangnya menjadi muak.

Gak Hong turut berpaling setelah mendengar suara tersebut, tapi begitu menyaksikan makhluk yang berada dihadapannya, dia segera menjerit tertahan:

"Aaah, kerang dingin berusia seribu tahun" Buru buru dia membungkukkan badannya dan menyambar benda bulat ditengah cairan putih itu.

Begitu cairan putih yang berada diatasnya tersentuh tangan, dengan cepat cairan putih tadi meleleh mencair, dalam waktu singkat muncul sebuah mutiara yang memancarkan cahaya tajam. Liong Tian-im menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian itu, sementara kerang raksasa tadi dengan membawa segulung hawa dingin yang luar biasa telah menerjang tiba, dari balik dagingnya yang merah segera memancar keluar semburan air keras yang segera menyambar ketubuh Gak Hong.

Gak Hong hanya mempunyai sebuah lengan kanan saja, melihat datangnya semburan air lersebut, dengan cepat dia menggeserkan kakinya kesamping dengan menempelkan tubuhnya diatas dinding gua, kemudian tubuh bagian atasnya ditekuk kebawah untuk meloloskan diri dari semburan air dahsyat tersebut.

Liong Tian im sama sekali tidak menyangka kalau makhluk semacam itu pun dapat menyerang orang, sambil membentak keras dia lalu membalikkan telapak tangannya sambil menghajar kulit kerang tersebut.

"Criing..." pukulan dahsyat Liong Tian im yang berbobot seribu kati itu seakan akan menghantam diatas papan baja saja, ternyata hanya membuat kerang raksasa itu tergeser ke samping.

Sementara masih terperanjat itu, mendadak Liong Tian im menyaksikan Gak Hong telah mengambil sebutir mutiara besar yang memancarkan cahaya tajam itu siap dimasukkan  kedalam mulut.

Dengan cepat dia membentak keras:

"Gak Hong, mau apa kau?"

Gak Hong tidak ambil perduli, dia mementangkan mulutnya lebar lebar siap menelan mutiara kerang tersebut. Tiba-tiba kerang raksasa itu mementangkan kembali kulit kerangnya sambil membuka mulut, suatu tenaga hisapan yang maha dahsyat segera muncul dalam gua itu membuat Gak Hong tak sanggup untuk berdiri tegak lagi.

Dengan sempoyongan dia maju dua langkah ke depan tangan kanannya diayunkan ke depan bermaksud untuk meloloskan diri dari ( naga hisapan aneh dari kerang raksasa tersi but.

Tapi badannya toh kena terhisap juga si hingga maju beberapa langkah ke depan.

Dengan pandangan dingin Liong Tian im memperlihatkan saja Gak Hong meronta keras untuk menyelamatkan jiwanya, sedang dalam hatinya diapun merasa terkejut oleh kekuatan daya hisapan dari kerang raksasa tersebut, pikirnya:

"Entah kerang raksasa ini termasuk makhluk aneh aneh ? Heran, kenapa dia bisa memiliki tenaga hisapan yang begitu besarnya ? Lagi pula kulit kerangnya bisa begitu keras seperti baja sehingga dihantampun tak bisa hancur."

Sementara dia masih berpikir bagaimana caranya untuk membunuh kerang raksasa itu, terdengar Gak Hong telah berteriak:

"Hei, cepat tariklah aku !"

Liong Tian im segera mendengus dingin:

"Hmm bukankah kau sangat pandai menyergap orang lain dari belakang ? Mengapa iku harus menyelamatkan dirimu ?" Gak Hong hanya mengayunkan kepalan tunggalnya sekuat tenaga, sementara tubuhnya terseret terus ke depan, tiba tiba kaki kanannya menjejak dada kulit kerang itu dengan maksud untuk menahan tubuhnya agar jangan sampai dijepit oleh katupan kulit kerang tersebut.

Dengan napas tersengkal kedengaran ia menjerit keras: "Binatang terkutuk kau juga berani menelan
j&yarau7 HtDtn aku akan menyuruh kau mampus disini !"

Diam-diam Liong Tian-im merasa geli juga melihat tingkah laku orang itu, pikirnya:

"Mungkin keparat ini sudah kelewat lama di sekap orang sehingga otaknya juga sedikit rada kurang beres. . . masa kerang juga mengerti dengan perkataannya?"

Berpikir sampai disitu, dia lantas mendengus dingin seraya berkata:

"Aku lihat yang mampus adalah kau. ." "Apa kau bilang?" teriak Gak Hong marah.
"Aku lihat lebih baik kau berusaha dulu untuk meloloskan diri dari ancaman kerang tersebut, daripada nantinya tubuhmu sendiri kena tertelan. . ."

"Maknya. .. " maki Gak Hong.

Dalam gusarnya, kaki kanannya menjadi tergelincir sehingga hampir saja seluruh tubuhnya terjatuh ke dalam tubuh kerang tersebut. "Blaaamm. . ." ketika kerang itu kena tumbuk oleh badan Gak Hong, sambil menjerit aneh, tubuhnya segera menggelinding pergi dari tempat tersebut.

Gak Hong walaupun kena diterjang sampai jumpalitan dan terjatuh tujuh depa disisi rog kerang.

Belum sempat dia berdiri tegak, mendadak terasa olehnya ada segulung tenaga hisapan yang maha dahsyat telah memancar kembali dari tubuh kerang tersebut.

Gak Hong merasa terkejut sekali, dia menjadi sempoyongan dan kebetulan sekali menginjak diatas cairan putih tersebut.

Dengan demikian, dia semakin nak mampu tak berdiri tegak lagi, kontan jeritnya keras-keras:

"Hei, tahanlah aku. . ."

"Benda apakah yang berada ditanganmu itu?" Liong Tian im kemudian bertanya.

"Sebutir mutiara..."

"Hmm... hingga sekarangpun kau masih merasa untuk mengelabuhi aku? Buat apa aku menolongmu?" jengek sianak muda itu kemudian sambil tertawa dingin.

Tubuh Gak Hong sudah bergeser setengah kaki lagi dari situ, tapi sambil menggigit bibir dia masih saja menggenggam mutiara itu kencang-kencang, namun dia tak berhasil untuk memasukannya kedalam mulut. "Cepat kau lemparkan mutiara itu ke tanah niscaya kerang raksasa itu pun tak akan mencari dirimu lagi" teriak Liong Tian im kemudian.
Sambil menggigit bibir kencang-kencang Gak Hong berseru: "Benda ini adalah pil Goan wan dari kerang sakti berusia
seribu tahun, pil ini sudi mendapat sari hawa dingin dari telaga Han tham, siapa yang dapat menelannya maka akan mendapatkan tambahan tenaga dalam luar biasa..."

"Aaah, tak heran kalau kau enggan melepaskannya walaupun sampai mati..." seru Liong Tian im sambil tertawa.
Sementara dalam hati kecilnya dia lantas berpikir: "Manusia yang rakus semacam dia memang tak jarang
dijumpai dalam dunia ini, kali ini fcfcr kau rasakan saja siksaan akibat dari ra tnsaiuiur

Dalam pada itu Gak Hong sudah mengerahkan segenap tenaganya untuk mempertahankan diri, sepasang kakinya sudah berusaha untuk memantek diatas tanah keras keras, tapi bagaimanapun dia berusaha untuk memantekkan badannya diatas tanah, badannya toh masih bergerak juga pelan pelan ke muka termakan oleh hisapan kerang tersebut.

Padahal dia pun tahu, kerang berusia seribu tahun itu hanya bermaksud untuk menarik kembali Goan-wan itu, asal dia melepaskan pil Goan wan tadi niscaya dirinya akan terlepas dari mara bahaya.

Namun dia pun merasa berat hati untuk melepaskan Goan wan yang dapat menambah tenaga dalamnya sebesar enam puluh tahun dengan begitu saja, padahal benda tersebut sudah berada digenggamannya, maka dari itu dia berusaha keras untuk meronta dan menahan diri.

Waktu itu, dia tidak menyalahkan kerakusan dirinya, dia justru merasa mendongkol sekali terhadap Liong Tian im karena ia hanya menonton saja tanpa bermaksud untuk membantunya.

Dengan penuh kebercian dia segera berpikir:

"Baik, dia mengharapkan aku ditelan oleh kerang tersebut lebih dulu, kemudian baru merebut Goan-wan ini sehingga menjadi nelayan yang beruntun tapi sayang aku bukan orang bodoh, aku justru tak membiarkan kau menerima keuntungan ini."

Sambil membentak keras dia lantas mengayunkan lengannya dan melemparkan mutiara tersebut kearah Liong Tian im.

Dengan memancarkan cahaya berkilauan mutiara tersebut langsung meluncur keudara dan menyambar ke depan.

"Saudara Liong, cepat kau terima mutiara itu !" teriak Gak Hong keras keras.

Kakinya bergeser kesamping, kepalan kanannya langsung dihantamkan keras keras diatas kulit kerang tersebut.

Sambil memperdengarkan suara jeritan seperti bayi menangis. kerang berusia seribu tahun itu langsung menjepit tubuh Gak Hong secepat kilat. Tenaga jepitan ini mencapai seribu kati beratnya, tentu saja Gak Hong tak berani gegabah, buru buru dia berputar setengah lingkaran lalu mundur sejauh tujuh langkah.

oooXooo

SAYANG sekali, bagaimanapun cepatnya dia berusaha untuk menghindarkan diri dari serangan itu, tak jenggotnya
yang panjang kena terjepit juga oleh kerang raksasa tersebut.

Gak Hong menjadi ketakutan setengah mati, dengan wajah kesakitan buru buru dia menggerakkan telapak tangannya untuk memotong jenggot sendiri yang terjepit.

Kerang raksasa itu segera menggelinding ke samping sambil mementangkan kembali kulit kerangnya, hanya kali ini arahnya sudah dialihkan ke arah Liong Tian im.

Perlu diketahui luas gua itu pada dasarnya memang tidak besar, apalagi kerang itu pun berputar secepat kilat, belum sempat Liong Tian im berpikir, segulung tenaga hisapan yang besar telah menghisap tubuhnya.

Dia segera membentak keras, tubuhnya mengikuti tenaga hisapan kuat itu menerjang keras, buru buru dia masukkan mutiara tadi kedalam sakunya, setelah itu dia rentangkan tangannya untuk menahan kulit kerang tersebut.

Selama dia menonton dari sisi arena tadi rupanya pemuda tersebut telah berhasil menemukan sumber kekuatan yang diandalkan kerang raksasa itu untuk melancarkan serangannya.

Maka sambil mengerahkan tenaga dalamnya dan membentak keras, dia angkat kerang iei ke tengah udara, namun saking beratnya, sepasang kaki sendiri menjadi terbenam kedalam tanah sedalam berapa inci.

Gak Hong segera menyaksikan ada kesempatan baik baginya, waktu itu Liong Tian im sedang mengerahkan segenap tenaganya untuk melawan kerang raksasa tersebut, maka sambil menarik napas panjang, dia maju kedepan dan menghantam punggung anak muda itu keras.

"Bajingan keparat yang tak tahu diri!" maki Liong Tian im penuh kegusaran.

Tubuh bagian atasnya segera menyingkir ke samping, kemudian dengan ilmu meminjam tenaga menyalurkan kearah lain, dia salurkan tenaga pukulan lawan kedalam tanah.

"Blaamm.!" tubuhnya berguncang keras, sepasang kakinya melesak setengah inci lagi kedalam tanah.

Hawa napsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh benak, ia jadi teringat kembali peristiwa lama ketika ia dihantam pula oleh Leng kong taysu dari arah belakang.

Sambil membentak keras, sepasang lengannya direntangkan lebar-lebar, kaki kanannya mundur setengah depa, lalu dengan tangan kiri sebagai poros, ia berputar satu lingkaran busur.

Kerang raksasa itu menjerit lagi, akibat pentangan dari Liong Tian im ini, dagingnya hancur dan robek dari bilik daging merah itu segera terpancar keluar cairan berwarna putih . . ."

Dengan gusar Ltong Tifcnioi segera berseru: "Hari ini aku harus membunuh manusia laknat seperti kau ini "

Sepasang lengannya digetarkan membuang kerang raksasa itu ke samping, kemudian dengan ganasnya dia menubruk ke atas tubuh Gak Hong.

Buru buru Gak Hong menundukkan kepalanya menghindarkan diri dari timpukan kerang raksasa itu . . .

"Blaaamm...!" terdengar suara benturan keras bergema  dari arah belakang, disusul hancuran batu memercik kemanamana.

Dengan kesakitan dia merintaft, apalagi setelah menyaksikan sinar buas yang terpancar dari balik mata Liong Tian-im, dia merasakan hatinya terkesiap, tanpa terasa dia mundur selangkah ke belakang. .

Dari balik pakaian Liong Tian-im, memancar keluar serentetan cahaya mutiara yang tajam, hal ini membuat dia nampak semakin mengerikan hati . .

"Gak Hong!" seru Liong Tian im dengan suara dalam, "hari ini aku akan menyuruh kau menyaksikan kelihayan dari ilmu silat Kim mo bun."

Gak Hong tahu kalau dia bukan tandingan dari Liong Tian im, maka dengan suara gemetar serunya:

"Jika kau membunuhku, kau tak akan mengetahui kejadian tentang ayahmu dimasa lalu."

Liong Tian im segera tertawa dingin. "Aku sudah tidak membutuhkan dirimu lagi, aku masih bisa pergi mencari Leng Hongya."

Dengan tangan tunggalnya melindungi dada Gak Hong mundur terus kebelakang mengira gerak maju Liong Tian Im, wajahnya pucat pias seperti mayat, peluh telah membasahi i lurtih tubuhnya . .

Akhirnya dia berteriak keras:

"Sekalipun kau berhasil membunuhku juga, jangan harap bisa keluar dari tempat ini!"

Pelan pelan Liong Toan-im mengangkat tangan kanannya keatas, lingkaran cahaya merah yang terpancar keluar dari jari tangannya makin lama semakin besar dan semakin membara warnanya .. .

Paras muka Gak Hong telah berubah menjadi pucat keabuabuan, dengan suara parau serunya:

"Sekalipun kau dapat meloloskan diri dari mara bahaya, tapi kau tak akan mengetahui jalan menuju kelembah Tee ong-kok, kau akan mati terbunuh ditangan Leng Yok-peng.

"Terima kasih atas perhatianmu" seru Liq Tian-lm dengan suara dingin menyerang "yang jelas hal tersebut merupakan kejadian yang akan berlangsung setelah kau mampus."

Gak Hong benar-benar merasa ketakutan setengah mati, dengan nada merengek dia berseru lagi:

"Ditempat semacam ini, kita seharusnya adalah senasib sependeritaan tidak seharusnya kalau kita saling membunuh, bila kau membunuh, apa pula manfaatnya bagimu..." "Kau tak usah ngebacot terus" tukas Liong Tian im sambil tertawa dingin "aku harus membunuhmu, kalau tidak, aku sendirilah yang akan mati terbunuh, hmmm..,. kau pasti akan menyergapku dari belakang dan membunuhku"

"Aku berjanji tak akan menyergapmu lagi, aku menjamin dengan nyawaku" jerit Gak Hong lagi.

Keadan Liong Tian im sekarang ibaratnya sekor kueh g yang berhadapan dengan seekor ptJS yang hampir mampus, dia segera tersenyum kembali.

"Selembar nyawamu sudah berada ditanganku, jaminan nyawa apa lagi yang bisa kau berikan ?" dia mengejek.

Dengan putus asa Gak Hong meminta: "Kalau begitu, bagaimana kalau kau bunuh diriku setelah aku dapat melihat matahari lagi."

Liong Tian-im membungkam dalam seribu bahasa, dia hanya memandang lawannya dengan pandangan dingin.

Dengan suara parau Gak Hong berseru lagi.

"Kasihanilah aku, sudah dua belas tahun lamanya aku tak pernah melihat matahari, apakah kau tak dapat membiarkan aku menyaksikan dunia diluar sekejap dulu sebelum membunuh diriku ?"

Liong Tian-im segera terbayang kembali dengan lembah kematian yang penuh dengan kabut beracun itu, lalu sambil menghela napas panjang katanya: "Dua belas tahun aku berlatih ilmu jari maut Kim mo-ci hari ini sebenarnya bisa kupraktekkan, namun aku telah melepaskan kesempatan ini lagi."

Dari ucapan tersebut Gak Hong segera tahu kalau dia mendapat kesempatan untuk hidup lagi, buru buru serunya:

"Temanmu si jago pedang buta mungkin sudah memasuki gua ini dan membuka pintu lagi untuk memasuki lembah Tee ong kok, kita harus berusaha pula untuk menyusulnya di lembah Tee ong kok..."

"Hmm, siapa yang mengatakan kalau aku akan mengampuni jiwamu? Lihat serangan" seru Liong Tian im sambil melotot besar.

Jari tangannya segera di ayunkan kedepan kilas cahaya merah segera berkelebat lewat dalam gua itu, Blam! Sebuah batu cadas hancur berkeping begitu tersambar serangan itu.

Tapi antara batuan yang berguguran, seluruhnya terendus bau busuk yang memuakkan.

Diam-diam Gak Hong menghembuskan napas dingin tapi hatinya pun pelan pelan merasa lega kembali, terdengar Liong Tian im kembali berseru:

"IImu Jariku ini kala tib dengan kabut beracun, siapa saja yang terkena serangan ini, sekujur badannya akan membusuk dan apakah kau yakin mampu menghadapinya ?"

"Aku..."

"Aku bukan seorang penjual belas kasihan akupun tak mengetahui apa yang dinamakan belas kasihan, tapi sekarang, aku bersedia mengampunimu untuk sementara waktu " kata Liong Tian im lagi dingin.

Ia tidak ambil perduli bagaimanakah jalan pemikiran dari Gik Hong, ia lantas duduk bersila dan berpikir bagaimana caranya untuk bisa keluar dari tempat itu.

Dalam waktu singkat pelbagai pikiran segera berkecamuk dalam benaknya, diam-diam pikirnya:

"Disini masih tersedia daging kerang yang bisa dimakan, tampaknya delapan sampai sepuluh hari berada disinipun tidak menjadi soal yang menguatirkan justru adalah Bok Ci toako, dia adalah seorang yang punya ahli waris dari pedang langit, jika dia sampai memasuki lembah Tee ong kok dan berjumpa dengan Leng hongya entah bagaimanakah jadinya?"

"Diantara leniljb tokoh nkd yan? ada di dunia persilatan yakni pedang langit bumi, iblis emas, tiga orang suci dari kaum Budha serta empat dewa dari agama Too, entah berapa orang saja yang masih hidup?"

Tiba-tiba saja dia bertanya:

"Siapa siapa saja yang termasuk didalam empat dewa dari agama To itu.?

"Waktu itu adalah Im Tong cu dari Khong tong pay, Jian soat cu dan Cing shia pay, mereka berempat pernah menyelenggarakan suatu pertemuan besar yang diselenggarakan setiiap dua puluh tahun."

"Ooh..." Liong Tian im termenung sebentar, bertanya lagi, "tahukah kau, apa nama dari tempat pertemuan itu?" "Konon tempat itu dinamakan Si sian peng itu tebing tempat pertamaio para dewi!"

"Hmm. besar amat bacot orang ini." Liong Tian-im berseru.

Diam diam Gak Hong menghela napas panjang setelah menyaksikan keangkuhan si anak muda itu. pikirnya:

"Tampaknya kami dari angkatan tua tak berguna lagi, dunia persilatan memang membutuhkan anak muda seperti dia . . ."

Membayangkan betapa dia merengek-rengek kepadanya tadi, hatinya menjadi malu sakti pikirnya:

"Kalau usia sudah tua, semua kegagahan serasa lenyap tak berbekas, terutama sekali ahli waris dari pedang langit dan ahli waris dari si iblis emas telah bermunculan semua, dunia persilatan pasti akan menghadapi kekacauan lagi.

Berpikir sampai disitu, mendadak sorot matanya tertuju ke atas kerang raksasa yang sudah mati itu, tergerak hatinya dengan cepat dia berpikir :

"Tampaknya dia sama sekali tidak tahu akat kasiat dari daging kerang dingin seribu tahun ini, meski dia telah membawa pergi pil Goan wan tersebut, namun daging kerang ini masih dapat bermanfaat tcsebaim badan, disamping menambah kekuatan otot dan tulang tubuh,.,"

Berpikir sampai disitu, dia lantas mendeham kemudian katanya dengan cepat:

"Kini hampir lima jam lamanya aku tak it8p, bolehlah aku makan daging kerang ini?" "Kalau ingin makan, makan saja" jawab Tian im dingin, "jika didalam sepuluh hari kita tak bisa keluar dari sini, semua akan kelaparan setengah mati dan waktu itu jangan salahkan jika aku akan membunuhmu untuk mengisi perut!?"

Gak Hong menjadi ketakutan setengah mati, ia tersipusipu:

"Jangan bergurau, masa ada orang makan daging manusia...?"

Setelah manikam pelan, lanjutnya:

Walaupun lohu belum pernah datang ke situ tua bstu ioi, tapi aku yakin disini pasti terdapat jalan keluarnya."

"Atas dasar apa kau mengatakan demikian."

Bukankah kau mengatakan kalau tempat merupakan kota kematian?"

Gak Hong berlagak seakan-akan tidak mendengar sindiran tersebut, kembali dia berkata:

"Karena goa iri berhadapan dengan telaga dan setiap bulan dua kali terbenam dalam air, sedang waktu waktu sisanya tetap kering, selain itu apakah sauhiap tidak menjumpai. . ."

"Menjumpai apa?" Liong Tian im meniup otaknya sebentar, "0ooh. udara dalam gua amat segar" "Tepat sekaIi" puji Gak Hong sambil bertepuk tangan, "sauhiap memang tak malu menjadi ahli waris dari iblis emas, kau memang benar-benar pintar sekali."

Liong Tian im sama sekali tidak tergerak hatinya oleh umpakan tersebut dia hanya berkata hambar:

"Aku masih muda dan cetek dalam pengalaman, mana mungkin pengalamanku bisa menangkan dirimu ? Orang bilang jahe semakin tua semakin pedas, kau memang tak malu disebut cianpwe, coba kalau tidak kau singgung lana mungkin aku bisa berpikir sampai disitu."

Walaupun Gak Hong mengetahui Kalau Liong Tian im sedang menyindir, namun ia tetap berlagak pilon, ujarnya kemudian:

"Udara didalam gua ini dapat mempertahankan kesegarannya, hal ini membuktikan kalau tempat ini pasti berhubungan dengan dunia luar menurut analisa lohu, mungkin belakang gua sana terdapat jalan tembus itu"

Liong Tian im berpaling menurut arah yang ditunjuk oleh  Gak Hong, ternyata tempat yang dimaksudkan adalah lekukan gua yang pipih memanjang ke dalam itu.

Gak Hong segera berkata lagi:

Tempat ini gelap gulita entah berakhir sampai dimana, tapi yang pasti tempat tersebut untuk diselidiki

Liong Tian-im segera melompat bangun, kemudian katanya
: "Kalau begitu aku akan pergi kesana . .." Dari sakunya dia mengeluarkan mutiara besar itu, kemudian katanya lebih jauh:

"Tentunya kau sudah tidak mau mutiara ini lagi bukan ?" Gak Hong tertawa kering.
"Sauhiap memiliki ilmu silat yang tiada taranya di dunia ini, sudah sepantasnya kalau kaulah yang menyimpan mutiara tersebut sekalipun lohu inginkan juga percuma, siapa tahu kalau akibat menyimpan mutiara mestika Itu, aku malah terbunuh ditangan orang.

"Oooh, jadi kau berharap aku bisa mati dibunuh orang ?" seru Liong Tian-im dengan wajah dingin.

"Aaaah, mana, mana . .. lohu cuma berharap sauhiap bisa menemukan jalan keluar, sehingga lohu pun bisa melihat matahari lagi, budi pertolongan sauhiap saja belum sempat ku balas, masa aku berani untuk mencelakai diri mu ?"

Liong Tian im mendengus dingin, wajahnya berobah menjadi serius, sambil melemparkan batu api ke arahnya, dia berseru:

"Ambillah batu api ini, aku akan masuk ke dalam lebih dulu
"

Buru buru Gak Hong berseru: "Lohu hendak makan dulu untuk mengisi perut, silahkan siauhiap masuk lebih dulu."

Liong Tian-im juga tidak banyak bicara Iagi, dia segera membungkukkan badan dan menerobos masuk ke dalam gua yang pipih dan memanjang tersebut. Memandang bayangan tubuh Liong Tian im yang menjauh, Gak Hong memungut batu api itu lalu melotot dengan sorot mata penuh kebencian, pikirnya diam diam:

"Asal lohu dapat lolos dengan selamat, aku tak akan menggunakan she Gak bila tak sanggup mencincang tubuhmu menjadi berkeping keping !"

Dia menggosokkan batu api itu, setitik cahaya api melintas lewat lalu padam kembali kera sumpahnya.

"Kalau tiada benda yaag bisa dipakai sebagai bahan bakarnya, apa gunanya batu api ini bagiku ?"

Namun sumpah serapah yang kemudian di ucapkannya sudah tidak terdengar lagi oleh Liong Tian im.

Gua yang pipih memanjang itu berliku liku dengan aneka cahaya gemerlapan yang cantik dan indah.

Liong Tian-im merasakan pandangan matanya agak kabur, hampir saja dia menganggap dirinya sedang berada didalam istana langit.

"0ooh . . . . betapa indahnya pandangan alam disekitar tempat ini" tanpa terasa dia memuji.

Makin ke dalam pemuda itu menelusuri gua tersebut makin lama semakin bertambah lebar, sementara permukaan gua pun makin lama semakin meninggi seakan-akan sedang mendaki sebuah bukit.

Akhirnya sekulum senyuman menghiasi wajahnya, ia berpikir: "Tampaknya aku akan segera akan mencapai ditempat luar
. . ."

Mendadak senyumannya berubah menjadi kaku dan dihiasi rasa tercengang yang tebal.

Ia segera berhenti, suasana didalam gua itu terasa sunyi senyap tak kedengaran suarapun.

Dengan perasaan terkejut, si anak muda iru segera berpikir:

"Sudah jelas aku mendengar suara seruling dan petikan harpa, mengapa secara tiba tiba bisa lenyap tak berbekas . . ."

Sorot matanya segera dialihkan ke atas batuan indah yang menghiasi dinding gua tersebut, kemudian pikirnya lagi.

"Jangan-jangan aku berkhayal sendiri karena menyaksikan keindahan alam di tempat ini. Tapi . .. tidak mungkin ! Suara seruling dan pekikan harpa itu jelas kedengarannya, bahkan seakan akan berkumandang dari atas telingaku, mana mungkin hal ini merupakan suatu khayalan belaka ? Jelas tak mungkin."

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya mendadak ditengah keheningan terdengar suara seruling yang mengalun diangkasa diikuti suara seorang perempuan membawakan lagu dengan suara yaag lembut.

Seketika itu juga seluruh gua telah dipenuhi oleh irama yang indah dan merdu, memberikan semacam kelembutan dan kenangan bagi yang mendengarkan" Dengan termangu-mangu Liong Tian im segera mendengarkan suara nyanyian itu dengan seksama.

Lama lama kemudian, akhirnya irama seruling itu pun lenyap ditengah udara, suasana segera menjadi hening kembali.

Dengan termangu mangu pemuda itu berpikir:

"Gadis itu nampaknya sedih karena kekasih yang telah meninggalkan dlrinya, aku ingin tahu macam apakah perempuan itu.."

Setelah melalui dua buah hutan batu yang rapat, Liong Tian im merasakan pandangan matanya menjadi terang, dari celah celah batu sekarang dia dapat menyaksikan rembulan yang bersinar terang.

Ketika angin dingin berhembus lewat, dia menghembuskan napas panjang panjang.

Baru saja akan melompat keluar dari gua itu, mendadak terdengar seseorang berkata dengan suara dalam:

"Sumoay suara nyanyianmu makia lama  semakin bertambah indah, barang siapa tidak mencucurkan air mata setelah mendengar suara nyanyianmu itu, sudah pasti hatinya sekeras baja.,,..."

Pelan-pelan Liong Tian im berjalan menuju cela-cela batu karang sambil menyimpan mutiara kerang itu ke dalam saku, lalu dia mengintip ke depan.

Lebih kurang berapa kaki dihadapannya diapit sebuah batu hijau yang besar, diatas batu hijau itu duduk seorang pemuda berbaju putih keperak-perakan, kalau dilihat dari potongannya, dia memiliki paras muka yang tampan dengan potongan badan yang kekar.

Waktu itu dia sedang memegang sebuah seruling panjang sambil mengawasi seorang gadis yang berdiri tiga depa didepannya.

Gadis itu mengenakan berbaju warna hijau dengan mantel putih, wajahnya sedang menengadah memandang angkasa.

Setelah termenung sebentar, gadis itu menjawab dengan suara hambar:

"Terima kasih atas pujian dari suheng, tak mungkin suaranya akan begini merayu."

Suara si gadis itu merdu bagaikan kicauan burung nuri,

Liong Tian im segera merasakan jantungnya berdebar keras, segera pikirnya:

"Heran, mengapa suara ini seperti kukenal? seakan pernah pernah kudengar disuatu tempat."

Tapi dengan cepat dia tertawa geli sendiri, pikirnya lebih lanjut:

"Sejak turun gunung sampai sekarang baru sekitar setengah bulan lamanya, akupun telah berjumpa dengan berapa orang perempuan sia feu kalau suara gadis ini agak mirip saja dengan suara perempuan lain yang pernah kujumpai." Walaupun dia berpikir demikian, tapi toh berharap bisa melihat wajah gadis tersebut, karenanya dia sangat berharap gadis itu bersedia untuk berpaling.
Pemuda berbaju perak itu segera tertawa nyaring. "Sumoay, sudah lama kau bergaul denganku, apakah kau
masih belum mengenali watakku ? belum pernah aku memuji orang lain secara sembarangan."

Gadis itu masih saja memandang ke angkasa tanpa berpaling, pelan-pelan katanya lagi:

"Tentu saja, Sin sian-longkun (lelaki tampan seruling sakti) yang bernama besar dalam dunia persilatan masa sudi memandang sebelah matapun kepada orang lain ? Sedang aku
. ."

Setelah mengebaskan baju hijaunya dia lanjutkan dengan dingin:

"Kau terlampau sering memuji diriku, hingga bagiku sudah tentu bukan sesuatu yang aneh"

Liong Tian im yang bersembunyi dibalik batuan dan sempat mendengar perkataan segera merasakan sesuatu perasaan gembira j rxx?1ua?.

Padahal dia sendiripun tak tak tabu apa sebabnya dia bisa menaruh perasaan cemburu buta, dia hanya merasa gadis itu begitu dikenal dalam ingatannya, begitu kenal sehingga  seakan akan setiap saat dapat teringat siapa gerangan dirinya.

"Adik Ciu!" tiba tiba pemuda yang memegang seruling itu melompat bangun dengan gusar. Tapi baru saja dia maju selangkah, dengan cepat gadis tersebut sudah membentak lagi.

"Aku hanya merasa hatiku murung maka ku cari dirimu untuk melepaskan kemurungan, aku sama sekali tidak mempunyai maksud Iroewa, aku harap kau jangan keterlaluan!" katanya lagi dingin.

Pemuda berbaju perak itu tertegun, lalu dengan sedih menundukkan kepalanya rendah rendah, sahutnya tertawa getir:

"Selama hidup aku Sin siau long kun Ka og lin adalah seorang yang angkuh dan tinggi hati, siapa tahu aku tak sanggup mengangkat kepala dihadapanmu adik Ciu !" Dia maju kedepan, lalu memeluk sepasang bahunya dengan emosi, serunya lebih jauh : "Katakan kepadaku, dimanakah letak kejeIekanku ? sehingga mendapat pandangan rendah darimu ? Adik Ciu, katakanlah kepadaku, aku pasti akan berusaha untuk merubahnya."

"Aku merasa kau kelewat sombong, kelewat tekebur, aku ingin membuatmu tahu, jadi manusia harus tahu merendahkan diri"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Bila kau tidak segera lepas tangan, akan kulaporkan kejadian ini kepada ayah."

"Tidak, hari ini pokoknya aku ingin mengetahui alasannya, sekalipun suhu bakal menegurku, akupun tak ambil perduli" ujar Sin-siau long-kun keras keras. "Ka Bong-lin, besar amat nyalimu" hardik nona berbaju  hijau itu, "apakah kau tidak takut dengan lima macam siksaan dan dua belas macam hukuman dari ayahku?"
Ka Bong lin mendongakkan kepalanya tertawa seram: "Haah . . . haah , .. haah . . sekalipun nyaliku lebih
besarpun masa aku berani bersikap kurangajar di depan putri tunggalnya Leng Hongya ? Adik Ciu, aku hanya mengajakmu, bergurau."

Pelan pelan dia menurunkan tangannya, lalu berkata lagi dengan nada menyindir:

"Aku tahu siapakah orang yang sumoay pikirkan dan rindukan setiap hari"

"Ciiss... siapa yang merindukan siapa ? Hanya kau saja yang tiap hari memikirkan hal hal yang bukan bukan, tak sedetikpun otaknya memikirkan hal hal yang baik"

"Haaahh. .. haaaah . . haaaah. . . adik Ciu, apakah kau mengharuskan aku untuk menguta. . ."

Nona berbaju hijau itu mengebaskan embun yang melekat ditubuhnya, kemudian menukas:

"Aku hendak kembali ke kamar, kau tak usah mengaco belo terus menerus. . ."

"Sumoay, kau takut kuucapkannya bukan?"

Nona berbaju hijau itu sudah pelan pelan berlalu dari situ tapi mendengar ucapan tersebut, dia segera berhenti dan berpaling, katanya lebih jauh: "Kalau toh kau mengetahuinya, coba katakan siapakah orang itu?"

"Hmm yang kau pikirkan tak lain adalah bocah dungu bertelanjang dada yang kau jumpai dibawah bukit Lau san tempo hari."

Ucapan tersebut bagaikan guntur yang menggelegar disiang hari bolong bagi Liong Tian-im, seketika itu juga membuat seluruh pikirannya menjadi kosong melompong.

Ka Bong lin berkata lebih jauh:

"Kau anggap aku tidak tahu? Waktu itu kita naik kuda bersama, sedang dijalanan taai yi nngga" sibocah dungu itu makan debu, heeeh . ,.heeh. ."

Setelah tertawa dingin, sambil memperkeras suaranya dia berkata lebih jauh.

Waktu itu aku dapat melihat amat jelas adik Cu, kau telah melemparkan sebuah saputangan untuknya"

Mendengar sampai disitu, tanpa terasa Liong Tian im merogoh kedalam sakunya dan meraba saputangan hijau yang sekarang dipakai untuk membungkus mutiara itu.

Gumamnya kemudian.

"Ternyata dia adalah sinona berbaju hijau yang pernah kujumpai di jalanan gunung Lao san tempo hari, tak heran kalau aku merasa seperti amat mengenal dengan dirinya.

Saputangan yang berada dalam genggamannya itu terasa lembut dan hangat, tanpa terasa ia bergumam lirih. "Leng Ning ciu . . . Leng Ning-ciu. . ."

Sekarang dia baru mengerti, walaupun Hong tin tin berwajah begitu cantik namun hanya bisa menggerakkan hatinya saja, dan tak bisa menumbuhkan bibit cinta didalam hatinya.

Rupanya sejak dia turun dari bukit Lausan dan untuk pertama kali bersua dengan senyum Leng Ning ciu, bayangan tubuh gadis itu sudah melekat dalam-dalam dihatinya.

Cinta yang terpendam itu membuatnya seperti kerasukan setan, tapi tidak disadari olehnya.

Entah hal itulah yang dinamai cinta.

Kini, setelah disinggung kembali oleh Ka Bong lin, dia baru sadar akan hal itu ternyata tanpa disadari ia telah jatuh cinta kepada gadis berbaju hijau yang telah menghadiahkan sapu tangan kepadanya.

"Leng Ning ciu! Leng Ning ciu !" dia menghembuskan napas panjang, "tidak kusangka dia adalah putri tunggal dari Leng Hongya"

Tiba-tiba muncul perasaan gembira yang sangat aneh didalam hatinya, teringat tak lama lagi dia akan berjumpa dengan Leng Hongya, serta bagaimana dia akan menandakan soal genta emas pelenyap irama, itu berarti kisah kematian Poh mia-giam lo Liong Siau thian dimasa lalu, dengan cepatnya akan diketahui kembali.

Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Liong Tian im membuat dia termangu mangu. Mendadak Leng Ning ciu membalikkan badannya lalu menegur dengan suara dingin:

"Ka Bong lin, kau tak usah mengaco belo." Mendengar bentakan itu Ka Bonglin segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaah, haaah, haaah, adik Ciu, kau masih ingin bersikap munafik dihadapanku."

Heeeh heeeeh, bayangkan betapa anggunnya kau hari-hari biasa, menjadi putri yang anggun dalam sebuah lembah Tee ong kok, pemimpin dari lima wanita tercantik didunia persilatan tek lo Kuncu, nyatanya kau hanya jatuh cinta kepada seorang tosu cilik!"

Seluruh badan Leng Nio ciu gemetar keras saking gusarnya, dengan cepat dia membentak keras:

"Ka Bong lin, kau jangan menfitnah orang secara sembarangan, kulaporkan hal ini kepada Toa suheng!"

"Bagaimana?" tampaknya Ka  Bong lin hendak melampiaskan seluruh perasaan dendam jang tersimpan didalam dadanya selama ini, kembali dia menyindir, "  sekarang kau tak mengatakan akan melaporkan kepada suhu? Ehm, bila Toa suheng telah datang, aku pasti akan memberi tahukan kepadanya bahwa Dek lo tua cu kita yang dingin bagaikan salju ternyata jatuh hati terhadap seorang tosu kecil
dari bukit Lau san..,haahh... haaahh,.,.aku kuatir kalau diapun tak akan mempercayainya."

Leng Ning ciu semakin marah lagi hingga sekujur badannya gemetar keras, serunya: "Hm . .. kau beraani "

Saking mendongkol dan marahnya, dia sampai tak mampu untuk melanjutkan kembali kata katanya.
Liong Tian ini pun merasa gusar sekali, pikirnya: "Bedebah amat orang ini, aku harus membunuh dia tahu
akan kelihayan ilmu sakti dari perguruam iblis emas, hmm, agar dia jangan mengejekku sebagai tosu ciiik dari bukit Lau san lagi "

Hawa napsu membunuh segera menyelimui seluruh wajahnya, sambil mencorongkan sinar tajam dia bersiap sedia melompat keluar dari tempat persembunyiannya untuk memberi hajaran kepada Ka Bong-lin . . .

Mendadak terdengar Ka Bong lin membentak keras : "Siapa disitu ?"
Liong Tian im amat terkejut, dia mengira Ka Bong lin sudah mengetahui jejaknya, maka dia siap menampakkan diri.

Tapi belum lagi dia berbuat sesuatu, terdengar seseorang telah menyahut dengan suara dalam:

"Aku!" jawabnya.

Sesosok bayangan manusia pelan-pelan menampakan diri dari balik batuan itu. Orang itu mengenakan baju berwarna hijau tanpa mengeluarkan sedikit suarapun pelan-pelan dia menampakkan diri. Muncul dari balik kegelapan, dan akhirnya orang itu berhenti di bawah sinar rembulan, cahaya rembulan yang menyinari kepalanya menciptakan bayangan gelap di atas tauatau

"Kepada Ka Bong lin segera ujarnya dengan suara dingin:

"Aku sudah cukup lama datang kemari, tapi baru sekarang kau mengetahui jejakku, hal ini menunjukkan kalau Leng Yok peng si tua bangka itu tidak mewariskan kepandaian silat yang sebenarnya kepada kalian !"

Perkataan itu dingin dan hambar, membuat suasana ditengah kegelapan malam terasa lebih dingin dan menggidikkan hati.

Bayangan tubuhnya muncul dari balik pepohonan dan melayang ke arena bagaikan sukma gentayangan yang datang dari akherat, kontan saja dua orang yang berada disitu menjadi terperanjat.

"Siapakah kau?" Ka Bong lin menegur.

"Aku adalah bayanganmu, sukmamu.." Ka Bong lin segera merasakan munculnya hawa dingin yang menggidikkan, tapi setelah memandang sekejap sumoaynya yang sedang melotot sambil memberanikan diri ia menegur lagi:

"Kau tak usah berlagak menjadi setan dihadapan sauhiapmu, aku tidak mempercayai dengan permainan semacam itu."

Dia segera mempersiapkan serulingnya, lalu melanjutkan: "Bila kau tidak segera melaporkan siapa namamu, jangan salahkan sauhiap, kalau sauhiap segera akan membinasakanmu!"

"Hmm, betapa tebalnya hawa pembunuhan di wajahmu, dan betapa besarnya lagakmu, sayang kau salah sasaran, hari ini akulah yang telah kau jumpai.."

Ka Bong-lin segera menggetarkan seruling panjangnya sambil melompat kemuka, bentaknya:

"tinggalkan selembar jiwamu."

Baru saja dia melompat ke depan dan bayangan serulingnya baru saja dikembangkan, tahu tahu dia sudah kehilangan bayangan tubuh dari orang itu.

"Aaaah, kemanakah dia telah pergi?" serunya kemudian dengan wajah tertegun.

Sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, tiba tahu orang itu sudah berdiri dihadapannya sambil menyahut dengan suara dalam:

"Aku berada disini!"

Ka Bong lin amat terperanjat segera bentaknya dengan amat gusar:

"Kau hendak kabur ke mana lagi?"

Serulingnya dengan memainkan juras Liong yo kiu cm  (naga herauaj menembusi sembilan sungai) menciptakan berlapis lapis bayangan seruling yang tebal, kemudian dengan disertai desingan tajam langsung menyerang ke tubuh orang itu.

"Hmm "

Baru saja seruling Ka Bong Lin dilancarkan mendadak dari hadapannya muncul dua jari tangan yang menguning tiba tiba, belum habis jurus serangannya, serangan itu sudah menerobosi bayangan serulingnya sambil mengancam tiba.

D!a berseru tertahan, buru buru sambil mengubah jurus melompat mundur kebelakang.

Orang itu mendengus dingin, sebuah tendangan yang tak bersuara tahu tahu sudah dijejakkan keatas lutut Ka Bong lin.

Menghadapi ancaman semacam itu Ka Bong lin segera melompat sejauh lima depa dan meluncur turun beberapa kaki dari tempat semula.

Leng Ning ciu dibikin terperanjat pula oleh kelihayan bayangan manusia seperti bayangan setan itu, segera tegurnya:

"Siapakah kau?"

Orang itu segera tertawa nyaring:

"Haaahh. . . haaah. . . haaahh. . .Nona Leng, sejak tadi kau tidak berbicara terus, apakah kau sedang memberi kesempatan kepada bocah keparat ini untuk berkentut!"

"Aaah.. kau sendiri yang lagi berkentut!" teriak Ka Bong lin sangat gusar. "Kau harus digampar muIutnya!" seru orang itu mendadak dengan suara yang berubah menjadi dingin.

Ditengah kegelapan malam. tidak nampak dia menggerakan tubuhnya, hanya terlihat sesosok bayangan kelabu berkelebat lewat, tahu tahu terdengar suara pipi yang ditampar orang.

Kemudian terdengar orang itu berkata dengan suara dingin:

"Nona Leng, tamparanku ini sudah cukup belum untuk melampiaskan kemangkelanmu?"

Ka Bong lin sama sekali tak sempat melihat jelas bayangan tubuh dari lawannya,dia hanya merasa ada segulung angin lembut berhembus lewat, tahu-tahu wajahnya sudah kena ditampar keras keras, sedemikian kerasnya suara tamparan itu membuat wajahnya terasa panas dan hatinya mendongkol sekali.

Sambil membentak gusar dia segera menerjang ke depan, serulingnya diiringi suara desingan tajam dan selapis bayangan yang tebal menghajar tubuh orang itu.

Menghadapi ancaman yang datang, orang itu tertawa nyaring, tidak melihat jurus serangan apa yang dipergunakan tahu-tahu telapak tangan kirinya sudah menangkis seruling Ka Bong lin, sementara telapak tangan kanannya disodokkan  lurus ke depan seperti sebatang pedang.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 08"

Post a Comment

close