Cincin Maut Jilid 05

Mode Malam
Jilid 05
BEGITU MELAYANG TURUN KEATAS tanah, sorot matanya yang tajam segera memperhatikan tubuh Liong Tian im lekatlekat, kemudian sambil menjura dalam-dalam katanya.

"Tin tin, siapakah orang ini?"

"Memangnya kau tak bisa bertanya sendiri" tukas Hong Tin tin sambil mencibir.

Sekalipun terkena batunya, pemuda itu sama sekali tidak marah, malah sambil tertawa ja nah dia meluncur kedepan langsung menerjang ke arah Liong Tian im.

Hong Tin tin menjadi gelisah sekali setelah menyaksikan kejadian itu, dengan cepat dia menyelinap ke depan Liong Tian im kemudian menghalangi gerakan tubuh pemuda itu.

Tindakan dari gadis itu segera membiat pemuda baju putih itu menjadi tertegun, sambil menghentikan gerakan tubuhnya ia menegur,

"Tin-tii, apa-apaan kau ini?"

"Lee Tang yang, sekarang dia sedang kritis keadaannya, sekalipun kau bisa membunuhnya juga bukan terhitung enghiong."

ooooOoooo "HMM, aku tak akan memperdulikan urusan tetek bengek semacam itu" tukas Lee Tang yang sambil tertawa dingin, "ayahmu telah menerangkan cukup jelas, barang siapa diantara ka mi bertiga sanggup memenggal batok kepala  bocah keparat ini, siapa pula yang bakal menjadi menantunya, sudah tiga tahun lamanya aku nantikan keadaan seperti ini, masa kesempatan yang begini baiknya akan ku sia-siakan dengan begitu saja..."

Hong Tin-tin yang mendengar perkataan itu segera merasakan hatinya kecut, sementara pipinya berubah menjadi semu merah, serta merta dia menundukkan kepalanya dengan wajah tersipu.

Selang sejenak kemudian, dia baru melirik pula dua orang pemuda lain yang baru datang dan berdiri beberapa depa disekitar sana.

Kedua pemuda itu kira-kira berusia dua puluh tahunan, disebelah kiri berbaju hitam dan dikanan berbaju biru, mereka berdiri di atas tebing dengan posisi segitiga, sorot matanya yang garang mengawasi tubuh Liong Tian im.
Diam diam Hong Tin tin menghela napas panjang, pikirnya: "Gara gara ingin mencarikan seorang suami yang cocok
untukku, ayah telah mengurung tiga ahli waris dari tiga perguruan besar ini untuk menanam rumput obat didalam lembah, padahal kecuali bersua satu kali, selama tiga tahun ini belum pernah kujumpai mereka untuk kedua kalinya. Tak kusangka mereka mempunyai kesabaran yang begitu besar dengan berdiam terus dalam lembah yang terpencil ini."

Setelah menggelengkan kepalanya berulang kali dan berpikir lebih jauh. "Betul ke tiga orang pemuda itu berwajah ganteng dan bertubuh tegap gagah, tapi aku tidak suka kepada mereka,aaaai! Entahlah bagaimana penyelesaiannya dikemudian hari, sementara dia masih melamun, Lee Tang yang telah berkata lagi:

"Tin tin, harap kau menyingkir dari sini, sudah tiga tahun aku selalu bersabar tinggal dalam lembah ini, tujuanku tak lain adalah untuk mempersunting kau, nah sekarang kesempatan telah datang,aku tak akan menyia-nyiakan dengan begitu saja
. . ."

"Hey, kalau hendak berbicara sedikitlah tahu diri" bentak Hong Tin-tin marah, "sekalipun ayah mengatakan akan memilih salah seseorang diantara kalian, bukan berarti kau yang terpilih. ."

"Oooo, itu soah tak menjadi soal" Lee Tang-yang tertawa seram, "bila batok kepala bocah keparat ini telah kupenggal kau pun akan menjadi biniku "

"Mengaco belo!" kembali Hong Tin-tin membentak marah, "kini, kalian bertiga sama sama telah datang kemari, belum tentu kau bisa me raih pahala tersebut, siapa tahu sebelum badan mu bergerak, Pay Hay tiong dan Ciang Tiong ci akan segera melancarkan serangan pula, Tidak percaya ? Tanyakan sendiri kepada mereka !"

Lee Tang-yang tertegun setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa ia lantas melirik sekejap ke arah Ciang Tiong-ci serta Pay Hay-tiong.

"Aaah, tak menjadi soal" ujarnya kemudian "sebelum datang kemari, kami telah merundingkan secara baik-baik, siapa diantara kami bertiga sampai dulu disini, dialah yang berhak untuk turun tangan paling dulu saudara Pay, saudara Ciang begitu bukan ?"

Ciang Tiong-ci serta Pay Hay tiong tidak berkata apa-apa mereka cuma mendengus dingin, setelah saling bertukar pandangan sekejap kedua orang itu serentak maju ke muka jelas mereka tidak setuju dengan apa yang diucapkan Lee Tang-yang barusan.

"Hei, ada apa ?" Lee Tang-yang selera berseru dengan wajah kaget dan tercengang, "apakah kalian berdua kembali akan berubah pikiran ?"

Ciang Tiong-ci mendengus dingin, "Hmm, sebelum dilakukan adu kepandaian tadi, kau telah melakukan perbuatan licik, ini berarti apa yang telah dijanjikan batal. Sekarang kita memiliki kesempatan yang sama siapa pun mempnnyai peluang yang sama pula untuk turun tangan."

Sampai disitu, dia lantas melirik sekejap ke arah Pay Hay tiong yang berbaju biru sambil menambahkan:

"Saudara Pay, betul begini bukan ?" Pay Hay tong tertawa terbahak bahak, "Haahh ... haahh ... hhahh ... apa yang diucapkan saudara Ciang memang benar, siaute memang bermaksud demikian ?"

Dengan penuh kegusaran Lee Tang yang segera membentak keras:

"Orang she Ciang, kau betul betul tak tahu malu, sudah kalah mau mungkir ?"

"Huuhh, katanya saja ahli warisnya Khong jeng bun di Lam hay, nyatanya cara untuk berbicara pun begitu kasar dan tak tahu adat, hmm ! Aku Ciang Tiong ci segan berdebat dengan manusia macam kau, lebih baik saudara Pay saja yang memberikan pertimbangannya"

"Ucapan saudara Ciang memang betul" Pay Hay tong manggut manggut, "Kita memang seharusnya memiliki kesempatan yang sama, mana boleh saat turun tangan dibagi siapa duluan siapa belakangan sehingga "

"Orang she Pay, apa yang kau katakan tadi masih termasuk hitungan tidak ?" Lee Tang-yang marah marah.

"Apa yang kuucapkan tadi ?" seru Pay Hay tiong tercengang.

"Tadi, kita sudah berjanji akan saling beradu ilmu meringankan tubuh, siapa tiba ditempat sasaran paling dulu, dia yang berhak turun tangan lebih duluan, bukankah kalian sudah menyetujuinya ? Sekarang, mengapa kalian nmngkir lagi ?"

Pay Hay tiong menunjukkan sikap yang amat kaget bercampur tercengang, segera gumamnya:

"Heran, sejak kapan sih aku mengucapkan kata-kata seperti ini ?"

Dia segera berpaling sambil bertanya lagi:

"Saudara Ciang, apakah tadi siaute pernah berkata begitu
?"

"Haah, haaah, haaah, aku pun tidak mendengar saudara Pay berkata demikian, mungkin ia sudah salah dengar." Lee Tang yang makin berang, dia segera marah-marah besar.

"Hmmm, katanya saja sau poocu dari benteng Cong liong poo di wilayah Saylam dan ahli waris Sim cian uin oi Kwang tiong, tak tahunya apa yang diucapkan melebihi bau kentut!"

Ciang Tiong ci mau pun Pay Hay tiong menjadi naik pitam, serentak mereka meloloskan senjata masing masing sambil bersiap sedia melancarkan serangan.

Lee Taig yang !" Teriak Ciang Tiong ci dengan suara keras "Jangan kau anggap setelah menjadi muridnya Khong leng bun kau bisa berbuat semena mena dihadapan kami, hmm ! Siapa sih yang memandang sebelah mata kepadamu ?"

Betapa gembiranya Hong Tin tin ketika melihat tiga orang itu cekcok sendiri, dia tahu ke tiga orang pemuda itu sama sama bernapsu ingin mempersunting dirinya, siapapun tak akan mengalah kepada siapa, bila ketiganya bisa saling beradu, niscaya keadaan tersebut akan sangat bermanfaat baginya.

Tapi secara diam diam diapun merasa cemas karena, Liong Tian im sedang bersemedi ketika itu, sedang paras mukanya juga tidak mengalami perubahan lagi, tetap seperti sediakala, keadaan semacan ini bila dibiarkan berlangsung terus, niscaya akan sangat menguntungkan bagi dirinya.

Perlu diketahui tiga orang pemuda itu semuanya, merupakan ahli waris dari perguruan perguruan kenamaan dalam dunia persilatan, mereka semua memiliki serangkaian ilmu silat yang tak terkirakan hebat, padahal Hong Tin-tin tidak tahu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yaag dimiliki Liong Tian im, ditambah pula luka dalam yang dideritanya cukup parah, dapatkah sembuh masih merupakan sebuah tanda tanya amat besar.
Sambil menggigit bibir, diam-diam dia berpikir lagi: "Sekarang aku hanya bisa berusaha untuk mengulur waktu
sedapat mungkin, agar dia bisa menyembuhkan lukanya dengan tenteram, sebab menanti dia telah menyelesaikan semedinya, maka suatu pertarungan sengit sudah pasti tak bisa dihindari lagi.

Berpikir sampai disitu, Hong Tin-tin segera menghela napas panjang, katanya:

"Sudahlah, kalian jangan cekcok sendiri, begini saja, biar aku yang menjadi saksi bagi kalian, cobalah bertanding untuk sekali lagi, akan kulihat siapa yang bisa mencapai puncak tebing diatas air terjun itu paling dulu, dialah yang paling punya harapan untuk mendapatkan aku."

Dengan cepat Pay Hay tong menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya:

"Bagaimana kalau bocah keparat itu sampai melarikan diri
?"

"la sedang menderita luka dalam yang cukup parah, sekarang sudah tak bertenaga lagi untuk bergerak, apalagi ada aku disini, pada hakekatnya dia tak bakal bisa kabur, apakah kau takut kepadanya ?"

"Tapi hal ini jelas tak adil" teriak Lee Tang yang tak senang hati, "sudah jelas aku yang menang, masa. . ." Hong Tin-tin sama sekali tidak memperdulikan ocehannya, dia segera berteriak keras:

"Mulai, siapa lamban siapa pula yang segera menggelinding pergi dari lembah Yok-ong kok ini"

Baru selesai ucapan tersebut diutarakan Pay Hay tiong dan Ciang Tiong ci telah berpekik nyaring, kemudian dengan kecepatan yang luar biasa mereka lari menuju ke atas puncak tebing dimana air terjun itu bersumber.

Dalam keadaan seperti ini, pada hakekatnya tiada kesempatan lagi buat Lee Tang yang untuk berpikir lebih jauh, setelah melotot sekejap ke arah Hong Tin tin dengan gemas, buru-buru dia menyusul pula dari belakang.

Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap segera meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi, dalam beberapa kali lompatan saja mereka sudah mulai mendaki dinding tebing itu.

Sayang tebing itu penuh lumut hijau yang licin dan lembab, hampir boleh dibilang sama sekali tiada tempat berpijak, maka makin ke atas ketiga orang itu mendaki, gerakan mereka semakin tambah lambat.

Memandang bayangan punggung ke tiga orang itu, Hong Tin-tin menghembuskan napas panjang, ia tahu ketiga orang pemuda itu hanya terkecoh untuk sementara waktu bila mereka sudah kembali nanti, entah bagaimana dia harus menghadapi mereka.

Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Liong Tian-im, setelah menghela napas panjang pikirnya: "Heran, entah mengapa aku begitu menaruh perhatian kepadanya ? Bukan cuma begitu, bahkan perkataan ayahku pun tak kuturuti, inikah yang dinamakan cinta ?"

Terlintas rasa jengah diatas pipinya yang merah dadu, kemudian kembali di menghela napas panjang, gumamnya:

"Bila inilah yang dinamakan cinta, maka sepanjang hidup aku tak akan merasakan gembira Iagi, sebab dia begitu kaku, begitu dingin dan susah didekati. . ."

Makin dipikir dia merasa pikirannya makin kalut, akhirnya dia mendongakkan kepalanya memperhatikan tiga sosok bayangan manusia yang makin mengecil didepan sana, ketiga orang pemuda itu sedang pelan-pelan mendekati puncak tebing.

Tapi dinding tebing itu makin ke atas semakin licin seperti cermin, hampir tiada tempat yang bisa digunakan sebagai tempat berpijak, sudah jelas ketiga orang itu tidak akan bisa kembali dalam waktu singkat.

"Hey. cepatlah bangun!"

Ia tahu pada saat itu Liong Tian im sedang bersemedi  untuk mengobati lukanya, dalam keadaan seperti ini jelas tak boleh terpengaruh oleh kekuatan apa pun dari luar, sebab sedikit saja salah bertindak akibatnya bisa menimbulkan jalan api menuju neraka.

Oleh karena itu suara panggilannya amat lirih, kuatir Liong Tian im menjadi terkejut sehingga tenaga dalamnya yang terhimpun itu menjadi tersumbat.. ." Liong tian im sendiri hanya tahu bersemedi untuk mengobati lukanya, pelan pelan dia membawa sisa hawa murni yang terpencar pencar dalam urat nadinya itu berkumpul dalam pusar, kemudian di rasakan peluh dingin meleleh keluar lewat pori pori badannya membuat luka yang semula amat berat lambat laun menjadi semakin ringan dan berkurang.

Dalam lamat lamatnya kesadaran tiba-tiba ia mendengar suara panggilan Hong Tm-iin yang penuh kecemasan itu, serta merta dia lantas membuka matanya dan melihat gadis itu berdiri dihadapannya.

Dengan sinar mata penuh tanda tanya, ia lantas mengawasi sorot mara Hong Tin tin yang penuh dengan rasa kuatir itu.

"Sudah punah racun dalam tubuhmu ?Dapatkah kau bangkit berdiri ?" Hong Tin tin segera bertanya:

Liong Tian im segera muntahkan keluar mutiara penolak racun dari dalam mulutnya, ia menjawab:

"Mutiara ini selain berkhasiat untuk mengusir racun, juga mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka dalam, seandainya tiada dia, mungkin luka ku tak pernah akan lembah kembali !"

"Jadi lukamu telah sembuh sama sekali ?" seru Long Tin tin amat gembira.
Dengan cepat Liong Tian im menggelengkan kepalanya. "Tidak baru sembuh tiga bagian saja, tapi lama kelamaan
luka tersebut akan sembuh dengan sendirinya." Sambil menerima kembali mutiara penolak racun itu, rasa kecewa sempat melintas di wajah Hong Tin tin.

"Barusan ada tiga orang datang hendak membunuhmu, sekarang mereka kena kutipu umuk pergi ke tebing curam diseberang sana katanya sambil menuding air terjun di depan sana.
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia me\anjutkan: "Bila mereka datang lagi nanti. kita pasti tak dapat lolos
dari cengkeraman mereka !"

Liong Tian-im segera mendengus dingin.

"Hmmm, mengapa aku mesti takut kepada mereka ?" serunya,

"Mereka adalah orang orang yang dikirim ayahku untuk membunuhmu" seru Hong Tin tin cemas, "sekarang, marilah kita mencari suatu tempat untuk menghindari kejaran mereka lebih dulu, bila lukamu telah sembuh nanti sudah barang tentu kau tak usah takut kepada mereka lagi"

Liong Tian im memandang sekejap bayangan manusia yang sedang pelan-pelan meluncur turun ril atas dinding tebing seberang sana, kemudian ujarnya keras..

"Aku Liong Tian im tak perlu menghindar kan diri dari pengejaran mereka..."

"Tapi, lukamu baru sembuh tiga bagian, bila lukamu sudah sembuh seratus persen tentu saja aku tak akan menghalangimu untuk tetap tinggal disini, sekarang kumohon kepadamu, ikutilah aku pergi!" Makin berkata hatinya makin sedih sehingga bampir saja airmatanya jatuh bercucuran.

Liong Tian im memandang sekejap kearahnya, kemudian menghela napas panjang.

"Aai...baiklah, aku akan mengikuti dirimu!"

Hong Tin tin segera mengulurkan tangannya yang lembut untuk menarik tangan Liong Tian im, kembali ia berkata:

"Kita hanya bersembunyi dalam gua itu saja agar mereka tak menemukan jejak kita, saat itu kau pasti dapat merawat lukamu dengan hati yang tenang!"

Dia lantas mengajak pemuda itu berjalan berputar-putar kesana kemari, akhirnya sampai dibawah dasar air terjun yang deras itu, kemudian dengan menelusuri dinding tebing menyeberangi pancuran air yang deras menuju ke sebuah selokan kecil yang mengalir ke sisi tebing.

Belum lama tubuh mereka berdua menyelinap masuk ke balik air terjun yang sangat deras itu, dari tengah udara melayang turun tiga sosok bayangan manusia.

Tampaknya ke tiga orang pemuda itu tidak melihat kalau Liong Tian im dan Hong Tin tin telah melompati air selokan dan menyembunyikan diri di belakang air terjun.

Dengan sorot mata yang tajam ketiga orang pemuda itu celingukan ke sana kemari mencari jejak Hong Tin tin, namun selain suara air yang mengalir, mereka tak berhasil mendengar suara apaapa, tidak melihat pula sesosok bayangan manusia pun. Dengan wajah tercengang Pay Hay tiong segera berpikir:

"Heran, setibanya di sini, mengapa bocah keparat tiu bersama dia bisa hilang lenyap?"

Ternyata sekeliling air terjun itu amat kabur suasananya karena diliputi oleh selapis kabut yang tebal, sewaktu mereka bertiga melayang turun tadi, sorot mata mereka terhalang oleh kabut air serta butiran air yang memercik ke empat penjuru, oleh sebab itu mereka saksikan tubuh Liong Tian im dan Hong Tin tin menyelinap disekitar sana, namun tidak melihat kemanakah mereka menyembunyikan diri.

Dengan sinar mata yang tajam bagai sembilu, Ciang Tiong ci segera berseru dengan gusar:

"Bila bocah keparat itu berani menyandera Tin tin, akan kuhajar dia sampai mampus"
Lee Tang yang segera tertawa seram, "Heeeh...heeehh...heeehh...kemungkinan besar kita bertiga
sudah tertipu oleh bocah perempuan itu, seluk beluk dilembah Yok ong kok ini cukup dikuasahi olehnya, apalagi jalan kecil disinipun sangat banyak, sepanjang hari dia selalu bermain disini, mana mungkin tak tahu jalan?, besar kemungkinan dia telah mengajak bocah keparat itu pergi meninggalkan tempat ini.

Pay Hay-Tiong tertegun untuk beberapa saat lamanya, dengan wajah tidak percaya dia berseru:

"Dari mana kau bisa tahu kalau setiap hari dia selalu bermain disini. . . ?" Sekilas rasa bangga segera menghiasi wajah Lee Tong yang, setelah tertawa seram katanya:

"Sebelum kita memasuki lembah ini tempo hari, bukankah Hong Yok-su pernah berpesan secara khusus kepada kita agar jangan mendekati sekitar air terjun ini? waktu itu aku merasa keheranan dan ingin tahu, maka suatu hari secara diam-diam aku pun ngeloyor ke bawah air terjun sana untuk mengintip, setelah berhanti sebentar dengan wajah penuh rasa bangga dia melanjutkan:

"Begitu melihat keadaan disitu, kontan saja aku merasakan sukmaku serasa melayang meninggalkan raga, ternyata diair selokan tepi air terjun tersebut nampak seorang gadis yang putih bersih sedang mandi, coba tebak apakah gadis itu ?"

Dia nampak bangga sekali, terutama setelah bercerita sampai bagian yang paling menegangkan, sambil mendongakkan kepalanya dia segera tertawa terbahak-bahak.

"Bagus sekali, rupanya kau sering ngintip Tin-tin mandi!" seru Ciang Tiong-ci cepat, "mengapa tidak memberitahukan kepada kami"

Lee Tang yang tahu kalau kedua orang itu sedang dibakar oleh api cemburu, dengan bangga sekali dia tertawa terkekeh kekeh.

"Haaah, haaah, haaah, ternyata gadis yang berada dalam keadaan telanjang bulat itu memang Tin-tin. bayangkan saja, disuguhi pemandangan yang begitu merangsang, masa aku akan ceritakan hal ini kepadamu ? seandainya kecantikan Tin tin tidak membuat hatiku terpikat sejak dahulu aku sudah tidak betah tinggal di lembah gersang ini terus menerus, apa lagi menanamkan rumput obat buat Hong Yok su" Suara tertawa dan ceritanya amat keras itu berkumandang sampai di mana-mana, berkumandang pula kedalam gua dibalik air, terjun dimana Liong Tian im dan Hong tin tin berada.

Kontan saja paras muka Hong tin tin berubah merah karena jengah, sekujur badannya gemetar keras menahan rasa gusar, lalu-dengan pandangan malu dan menyesal dia menatap  wajah Liong Tian im.

Entah mengapa ternyata Liong tian im juga merasakan suatu perasaan tak enak yang sukar dilukiskan dengan kata kata, dia merasa hatinya seperti ditusuk dengan sebilah pisau tajam, membuat dia harus mengerang menahan amarahnya.

"Keparat, bedebah bangsat itu harus dibunuh!" sumpahnya dalam hati.

Ia tidak tahu kalau secara diam diam dan tanpa terasa dia telah jatuh cinta kepada yang bernamakan Hong Tin tin itu, ketika mengerti kalau tubuhnya yang putih polos diintip orang, hal ini membuat perasaannya kalut dan tak keruan.
Tapi tak lama kemudian ia jadi geli sendiri pikirnya: "Apa sangkut pautnya persoalan ini dengan diriku ?
Mengapa aku mesti marah sendiri? Toh dia bukan biniku, bukan pula kekasihku, mengapa aku mesti cemburu !"

Dengan termangu-mangu Hong Tin-tin memandang wajah Liong Tian im, lama kemudian dia baru menghela napas sambil bertanya:

"Apakah kau tidak marah ?" Liong Tian im menjadi tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, serunya hambar:

"Mengapa aku harus marah ?"

Hong Tin tin tidak menyangka kalau Liong Tian im bersikap begitu dingin dan hambar kepadanya, ia merasa banyak kesedihan dan kemendongkolan yang tak dapat disalurkan ke luar, tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Sambil menahan isak tangisnya ia berkata:

"Aku tahu kau tidak suka kepadaku, sejak kecil aku tidak beribu, di dunia ini memang tak ada orang yang mencintai aku dan menyayangiku, dalam kehidupanku yang sepi, tak akan pernah ada orang yang memperhatikan diriku."

Setelah memandang sekejap kearah Liong-tian im. lanjutnya kemudian:

"Bahkan kau pun tidak menaruh perhatian kepadaku."

Diam diam Liong tian im menghela rapat panjang, pelbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya, jalan pikirannya pun segera turut berbuat ternama linnug air mata Hong tin tin.

Dia merasa didunia ini tak ada kehangatan tiada cinta, yang ada, dendam kesumat.

Sementara dia masih termenung, mendadak dari balik tirai air terjun ia menangkap ada tiga sosok bayangan manusia sedang bergerak lewat. Dengan cepat dia menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya:

"Tin-tin, apakah disini masih ada jalan ke luar?"

Agaknya Hong Tin-tin pun merasakan juga keadaan yang tak beres, dengan kaget dia menyahut:

"Tidak ada, disini cuma ada sebuah jalan yang menghubungkan tempat luar dengan kuburan ibuku..."

Liong Tian im segera menjulurkan jari tangannya untuk mendekap bibir sinona, kemudian memberi tanda kepada Hong Tin tin agar jangan berbicara.

Saat itulah, diluar air terjun sana kembali berkumandang suara pembicaraan dari ketiga orang pemuda itu.

Terdengar Lee Tang yang berkata:

"Tahukah kalian, dibelakang air terjun ini masih terdapat sebuah gua yang besar?"

"Apa? Dibelakang air terjun ini masih ada sebuah gua besar?" teriak Ciang Tiong ci keras-keras, "kenapa kau tidak kau katakan sedari tadi. Sudah pasti keparat itu bersama Tintin bersembunyi didalam sana!"

"Betul!" sambung Pay Hay tiong pula, "kita sudah mencari disekeliling tempat ini tanpa hasil, sudah pasti mereka bersembunyi didalam gua tersebut"

"Hei, dengarkan dulu perkataanku jangan maunya ngeropos melulu." tukas Lee Tiang-yang. Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Tahukah kalian, apa sebabnya Hong Yok-su melarang kita untuk datang kemari ? Hal ini disebabkan karena isterinya dikubur dibelakang air terjun tersebut."

"Kau maksudkan gua itu tempat menyimpan jenasah ?" tanya Ciang Tiong ci.

"Benar, maka dari itu meski aku berpikir sampai kesitu, namun akupun merasa hal ini tak mungkin terjadi, tapi sekarang, setelah tiada tempat lain yang bisa dicari lagi, terpaksa aku akan memeriksanya juga, Nah. kalian tunggu saja disini"

Ketika Liong Tian im menyaksikan paras muka Hong Tin tin berubah hebat, dengan suara dalam dia lantas berkata:

"Kalau toh disini tiada jalan lain, bilamana pergi, terpaksa aku akan menerjang keluar dengan kekerasan !"

"Weees" mendadak Lee Tang-yang menerobos masuk ke dalam gua itu dengan menyeberangi air terjun.

Begitu menepis air yang membasahi wajahnya, dalam sekilas pandangan saja telah dijumpainya Liong Tian im dan Hong Tin tin sedang menyembunyikan diri diatas batu besar dibelakang air terjun tersebut, tanpa terasa ia tertawa seram.

Sambil maju selangkah, teriaknya keras: "Tin-tin, kau tidak terluka bukan ?"

"Enyah kau dari sini, kau tak boleh memasuki tempat ini !" bentak Hong Tin-tin. Lee Tang-yang tertawa tawa tersipu-sipu segera katanya lagi: "Oooh Tin tin, mengapa kau mengambek kepadaku ?"

"Jika kau berani maju selangkah lagi, segera kulaporkan kepada ayah." ancamnya.

Setelah mendengar ancaman tersebut Lee Tang yang benar benar tak berani maju ke depan, sementara sorot matanya dialihkan kesekeliling tempat itu.

Gua dibelakang air terjun ini memang sangat luas, sebuah batu besar berdiri ditengah ruangan, Liong Tian im dan Hong Tin-tin yang berada diatasnya sama sekali tidak kena percikan air dari atas.

Dibelakang mereka berdua terbentang sebuah gua yang berbentuk persegi, didalamnya gelap gulita tak nampak dasar, entah tempat itu di hubungkan kemana?

Paras muka Liong Tian im diliputi oleh selapis hawa napsu membunuh yang amat tebal, dengan sorot mata setajam sembilu dia mengawasi seluruh tubuh Lee Tang yang tanpa berkedip, sementara suatu perasaan gusar yang aneh muncul dalam hatinya.

Sambil tertawa dingin ia segera membentak: "Saudara, lebih baik kau enyah dari sini" Lee Tang yang agak tertegun, tapi kemudian ia segera tertawa terbahak bahak.

"Haaah...haaahh....haaahh...haaaahh... dalam dunia persilatan dewasa ini barang siapa berjumpa dengan anggota keluarga Lee kami, semuanya menaruh hormat dan sungkan tak kusangka kau si keparat jahanam berani betul menjual aksi dihadapan aku orang she Lee. . ." "Kau tahu, siapakah aku ?" tegur Liong Tian im dengan suara sedingin salju.

"Aku tidak ambil perduli siapakah kau, aku hanya tahu menginginkan batok kepalamu ?"

Sekali lagi Liong Tian-im mendengus dingin.

"Bajingan yang tak tahu diri, lebih baik jangan tekebur lebih dulu, untuk mempertahankan batok kepala sendiripun belum tentu mampu kau masih berani berbicara sesumbar"

Lee Tang-yang marah sekali. mendadak dia meloloskan pedangnya, kemudian berkata:

"Bocah keparat, aku bersumpah hendak membunuhmu . .
."

Belum habis perkataan itu diuctpkan, men dadak dari luar air terjun sudah terdengar suara dari Ciang Tiong-ci berkumandang datang:

"Saudara Lee benarkah bccah keparat itu berada di dalam sana ?"

"Betul," jawab Lee Tang yang dengan lantang, aku orang she Lee yang berhasil menemukan keparat ini, maka kalian berdua pun tak usah berebut lagi denganku !"

Sesudah menarik napas panjang-panjang dia membentak nyaring:

"Bocah keparat, serahkan nyawa anjingmu!" Waktu itu, entah dari mana datangnya hawa amarah yang berkobar di dalam dadanya, tiba-tiba LiongTian-im mendengus dingin, pergelangan tangannya segera digetarkan ke angkasa, sebuah cincin segera melayang ke udara dan menyambar ke depan diiringi suara deringan angin tajam.

Lee Tang yang berasal dari keluarga persilatan, senjata rahasia dari aliran mana pun dalam dunia persilatan diketahui olehnya dengan jelas, tapi belum pernah ia saksikan senjata rahasia berbentuk cincin yang bisa berbunyi begini aneh.

Begitu menyaksikan cincin tersebut menyambar datang dengan membawa suara desingan angin tajam yang memekikkan telinga, dia merasa amat terperanjat buru-buru tubuhnya merendah lalu melompat ke samping kanan.

Liong Tian-im sama sekali tidak menyangka kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya oleh Lee Tang-yang itu adalah begitu luar biasa, ternyata dalam keadaan yang gawat dia sempat menghindarkan diri kearah samping dimana tempat itu lolos dari ancamannya. Dengan cepat tubuhnya melompat ke depan secepat kilat, telapak tangannya segera diayunkan ke depan, menggunakan kesempatan Lee Tangyang sempat berdiri tegak, ia menghantam dada lawan.

Dengan cekatan Lee Tang yang berkelit ke samping, kakinya bergeser lalu telapak tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan dahsyat, sementara pedang ditangan kanannya membacok dengan jurus Thian liong koan jit (Naga langit menerjang matahari).

"Suatu jurus serangan Thian liong koan jit yang sangat lihay l" bentak Liong Tian-im, ia tidak menduga kalau perubahan gerak yang dilakukan Lee Tang yang bisa lebih cekatan daripada seorang jago lihay dari dunia persilatan kecerdasan serta kesiap siagaannya betul betul amat mengagumkan.

Ia mendengus dingin, mendadak dengan kelima jari tangan yang direntangkan dia hantam bahu kiri Lee Tang yang, jurus serangan ini selain dilepaskan lurus ke muka juga dilancarkan dengan kecepatan luar biasa.

Siapa tahu baru saja serangan itu dilepaskan mendadak wajahnya mengejang keras, dadanya kembali turun naik dengan tersengkal-sengkal, meski luka dalamnya yarg parah telah sembuh tujuh delapan puluh persen, tapi pengerahan tenaga dalam yang dilakukannya barusan membuat luka itu kambuh kembali."

Itulah sebabnya sewaktu ke lima jari tangan itu mencengkeram tubuh lawan, dia merasa sudah tak bertenaga lagi.

Lee Tatig yang pun merasa terkesiap sekali ketika menyaksikan datangnya cengkeraman maut itu, menanti ancaman lawan menyentuh diatas badannya, ia baru merasa kalau ancaman tersebut sama sekali tak bertenaga.

Mula-mula hatinya agak tertegun, kemudian dengan capat pikirannya:

"Aneh benar, mengapa tenaga dalam yang dimiliki bocah keparat ini sebentar kuat sebentar kemudian melemah? sesungguhnya spa yang telah terjadi?"

Begitu perasaan takutnya hilang, semangatnya segera berkobar, sambil miringkan badan secepat kilat dia menerjang kemuka. Cahaya pedang berkilauan menjauhi udara selapis cahaya pedang bagaikan hujan gerimis memancar diseluruh angkasa. dalam waktu singkat semua jalan darah penting Liong Tian im sudah berada dibawah kepungan lawan.

Diam-diam Liong Tian im menghela napas panjang, pikirnya:

"Heran, mengapa lukaku bisa kambuh kembali, tampaknya hari ini aku bakal tewas di tangan musuh tangguh...aaai, mumpung lukaku belum bertambah parah, mengapa aku tidak mempertaruhkan sisa tenaga dalam yang kumiliki untuk beradu jiwa dengan ketiga orang musuh tangguh tersebut.!."

Begitu ingatan tersebut melintas didalam benaknya, ia segera menghimpun segenap tenaga dalamnya kedalam telapak tangan kanan, kemudian di ayunkan ke arah lapisan pedang lawan yang berlapis lapis.

Lee Tang-yang mendengus berat, pedangnya kena dipaksa oleh serangan Liong Tian-im sampai keluar dari arena, dalam gugupnya cepat dia mengayunkan tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan.

"Blaaammm ... !" Tahu tahu tubuh Lee Tang yang sudah  kena terhajar oleb angin serangan dari Liong Tian im sehingga mencelat keluar dari gua dan tercebur ke dalam air.

Liong Tian im menarik napas panjang panjang, telapak tangan kanannya kembali di sentakkan keras keras, cincin maut iblis emas nya berputar sutu lingkungan busur di tengah udara, lalu mnnkul kembali ke atas tangannya. Hong Tin tin kuatir pemuda itu akan menyusul keluar, buru buru dia menarik tangan nya sambil berkata dengan suara lembut:

"Kau jangan keluar dari tempat ini, mereka bertiga bisa bekerja sama untuk mengerubuti dirimu."

Liong Tian-im segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu.

"Haaahh . . . haahh . . . haaahh . . . sejak terjun kedalam dunia persilatan, aku iblis emas berjari darah belum pernah takut kepada siapa pun, aku rasa kemampuan ketiga orang keparat itu cuma begitu-begitu saja, aku yakin masih mampu untuk menghadapinya . .,"

Tiba tiba senyumannya hilang, dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi wajah Hong Tin-tin dalam dalam, ketika sorot matanya bertemu dengan wajahnya yang penuh kegelisahan, dia merasa amat terperanjat.

Dari balik sorot matanya yang bening, tiba tiba ia menyaksikan ada selapis kabut kekuatan yang pelan pelan menyebar luas, itulah suatu perasaan yang aneh, ketika ia merasa hatinya bergetar keras, Hong Tin tin pun merasakan pula tubuhnya gemetar keras.

Setitik perasaan itu segera disambut oleh mereka berdua dengan senyuman jengah.

Ada orang bilang, cinta bisa terjadi disaat mata seorang pemuda bertemu dengan mata seorang dara, mungkin juga cinta dari mereka berdua tercipta pula pada detik detik itu. Pelan-pelan Liong Tian im menjulurkan tangannya kedepan sambil mengamati wajah Hong Tin tin dengan termangu.

Sekulum senyuman manis pun segera tersungging diujung bibir gadis itu, pelan-pelan, ia mengulurkan pula tangannya dan diletakkan dalam telapak tangannya yang besar.

Ketika tangannya yang kecil mungil digenggam olehnya, serentetan perasaan bahagia segera timbul dari dalam hati mereka berdua.

Sambil menggandeng tangan Hong Tin tin, pelan pelan Liong Tian im mengajaknya ke luar dari situ.

Ketika bayangan mesrah mereka berdua muncul dihadapan tiga orang jago muda yang berdiri diluar air terjun, tiba tiba saja perasaan api cemburu membara didalam dada ketiga orang itu.

Dengan cepat mereka saling berpandangan sekejap, setelah itu enam buah mata yang tajam bersama sama dialihkan ke wajah Liong Tian im.

Ciang liong ci tertawa dingin, tiba tiba dia berkata:

"Si heng berdua, dalam waktu singkat kita sudah tiga tahun berdiam dalam lembah Yok ong kak, dalam waktu yang panjang dan lama, kita harus menanti terus disini sambil menahan derita dan kesal, tapi . . . kesemuanya ini karena  apa ?"

Lee Taag-yang yang basah kuyup karena tercebur ke air, segera tertawa seram. "Hehh ... heehh ... heeh . .. kita sedang menunggu Hong Yok su memilih salah seorang diantara kita bertiga untuk dijadikan bakal menantunya, tapi aku lihat, tampaknya kita sudah tiga tahun menunggu dengan sia sia."

Pay Hay tiong mendengus dingin, "Hmm, sekalipun demikian, aku rasa bocah keparat itupun masih belum cukup hokki untuk mempersunting gadis secantik bidadari ini sebagai istrinya . . ."

Setelah melirik sekejap ke arah Hong Tin tin, dia melanjutkan:

"Sekalipun Hong Tin tin setuju, Hong Yok su sudah pasti tak akan setuju !"

Ke tiga orang pemuda ini merasa dirinya memiliki serangkaian ilmu silat yang hebat, pada hakekatnya mereka sama sekali tak memandang sebelah mata pun kepada Liong Tian lm, ucapan demi ucapan dilontarkan terus tiada hentinya, membuat Liong Tian-im yang diejek segera memperlihatkan wajah kegusaran.

Mendadak sekulum senyuman sinis tersungging diujung bibir Liong Tian-im. senyuman yang dingin itu sedemikian seramnya membuat ke tiga orang pemuda itu langsung tertegun.

Liong Tian im segera tertawa seram, tegurnya: "Sudah cukupkah kalian berbicara ?"
Lee Tang yang mendesis sinis, pelan pelan dia meloloskan pedangnya yang dingin seperti es itu dan sarungnya, kemudian menyentil tubuh pedang itu keras-keras . ,. i "Criiing . . . !" dentingan nyaring segera berkumandang memecahkan keheningan .. .

Liong Tian lm mendengus dirgin, "Hmmm ! Sebuah pukulanku tadi apakah masih belum cukup ?" dia mengejek dingin.

Merah padam selembar wajah Lee Tang yang karena jengah.

"Kepandaian anda untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan memang betul betul hebat! Kalau cuma kepandaian semacam itu mah apa artinya . .. ?"

"Hmm, kalau begitu kau boleh maju lebih duluan ?" jengek Liong Tian-im sinis.

Lea Tang yang menggetarkan pergelangan tangannya. beberapa gelombang cahaya pedang segera memancar keluar, bentaknya keras:

"Mari, kau telah menghadiahkan sebuah cincin dan sebuah puku'an kepadaku, sekarang aku hendak menghadiahkan kembali sebuah tusukan pedang untukmu"

Secepat sambaran petir cahaya pedang berkelebat lewat, Lee Tang yang bergeser maju berulang kali, pedangnya membentuk satu lingkaran cahaya ditengah udara lalu membacok kedepan.

Menyaksikan datangnya bacokan pedang tersebut, Liong Tian im segera melejit ke samping untuk berkelit, menggunakan kesempatan itu telapak tangan kirinya diayunkan kedepan. Seketika itu juga terdengarlah segulung angin pukulan yang disertai suara gemuruh yang amat nyaring meluncur ke depan menghantam cahaya pedang yang sedang membacok tiba.

Lee Tang yang tidak menduga kalau pihak lawan berani menyongsong datangnya bacokkan pedang yang maha dahsyat itu dengan tangan kolong belaka, bahkan sedikitpun tidak takut terhadap cahaya pedang lawan.

Baru pertama kali ini Lee Tang yang menjumpai taktik pertarungan yang begitu berani menyerempet bahaya, seketika itu juga dia menjadi ketakutan dan buru-buru menarik kembali pedangnya sambil melompat mundur kebelakang.

"Kau benar benar sudah bosan hidup?" hardiknya keras keras.

Butiran keringat sudah membasahi wajah Liong Tian im, dia menarik napas panjang panjang lalu berkata:
"Seandainya kau tidak mundur, yang mati bukan aku!" "Hmm, bocah keparat, kau jangan kelewat tekebur!" seru
Lee Tang yang mendengus dingin.

Sambil berkata dia lantas menghimpun kembali tenaga dalamnya keujung pedang, seketika itu juga cahaya tajam berkilauan di angkasa gelombang pedang pun menggulung gulung membelah angkasa.

"Hmm..." Liong Tian im menjengek sinis, serunya sambil tertawa dingin, "tampaknya sebelum melihat peti mati kau tak akan melelehkan air mata? Baik, agar kau tahu kalau aku Liong tian im bukan manusia tak berguna seperti yang kau bayangkan, lihatlah akan kelihayanku ini."

Mendadak dia maju selangkah dengan tindakkan lebar, bayang tapak tangan membelah di angkasa, terlihatlah segulung tenaga pukulan yang disertai berpuIuh-puluh bayang tangan yang membelah angkasa, langsung membacok ke muka.

Angin pukulan yang menggulung gulung membuat seluruh angkasa serasa penuh dengan daya tekanan yang berat, sedemikian dahsyatnya serangan tersebut hinggi cukup menggetarkan hati setiap orang.

Dalam urutan jago jago muda, Lee Tang-yang adalah seorang jagoan muda yang menonjol, belum pernah ia alami keadaan yang sebegitu mengenaskan seperti hari ini, sambil membentak keras mendadak pedangnya ditekan kebawah lalu berbalik menebas pergelangan tangan Liong Tian-im.

"Enyah kau dari sini !" bentak Liong Tian im sambil melontarkan telapak tangannya ke depan.

Lee Tang yang hanya merasakan datangnya segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat menghantam keatas tubuhnya, dengan ketakutan dia muniur sejauh enam lima langkah dari tempat semula, kemudian memandang ke arah si anak muda itu dengan wajah termangu.

"Ilmu kepandaian apakah itu?" tanyanya dengan suara keras.

"Hmmm. aku yakin kau belum pernah menyaksikan kepandaian ini" ejek Liong Tian-im sinis, "aku pun merasa tidak berkewajiban untuk memberitahukan kepadamu . . ." Ketika Pay Hay-tiong dan Ciang Tiong-ci menyaksikan sebuah sentilan jari dari pemuda she Liong itu berhasil memukul mundur Lee Tang-yang, diam diam mereka saling berpandangan sekejap dengan perasaan terkesiap, mim pipun mereka tak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki lawannya telah mencapai puncak kesempurnaan
Tanpa terasa kedua orang itu maju dua langkah kedepan. "Saudara Lee, perlukah siaute membantu dirimu?" tanya
Ciang Tiong-ci sambil tertawa seram.

Merah padam selembar wajah Lee-yang ka rena jengah, tapi dengan cepat dia menjawab:

"Ako toh belum kalah..."

Liong Tian im sendiripun merasa agak terkejut juga setelah berhadapan dengan tiga orang jago muda yang begitu lihay, satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya.

Dia berpikir:

"Andaikata setelah terluka aku masih sanggup untuk mengalahkan ke tiga orang jago lihay ini, entah betapa gemparnya dunia persilatan karena peristiwa ini ? sayang aku sudah tidak mempunyai peluang sebesar itu lagi."

Dengan sorot mata yang amat dingin dia memandang sekejap ke arah tiga orang jagoan muda itu, kembali mencorong sinar tajam dari balik matanya.

Sedemikian tajamnya sorot mata itu bukan saja membuat ke tiga orang lawannya terkesiap juga membawakan suatu kewibawaan yang besar. "Lebih baik kalian maju bersama-sama !" seru Liong Tian imn dengan suara dingin.

Pay Hay liong marah sekali, dia segera berkoak-koak kegusaran:

"Keparat, anjing geladak, sombong kau.."

Kemudian dia menyikut Ciang Tioog ci dam berbisik lagi dengan suara lirih:

"Saudara Ciang, bagaimana kalau kita berdua turun tangan bersama?"

Sekilas sinar kelicikan terpencar keluar dari balik mata Ciang Tiong ci, dia tertawa dan menjawab:

"Biarkan saja orang she Lee itu mendapat malu lebih dulu, kalau tidak kehilangan muka keparat itu tidak akan mengetahui tingginya langit dan tebalnya bumi, dia mengira dirinya saja yang paling hebat."

Lee Tang yang seakan akan sempat mendengar perkataan itu, dengan pandangan penuh kebencian dia melotot sekejap kearah mereka berdua, lalu mendengus berat berat.

"Bila salah satu diantara kalian berdua berani turun tangan, maka aku akan bermusuhan dengannya," demikian ia berkata dengan suara dingin, "Sampai waktunya jangan salahkan  kalau aku melupakan perhitungan di antara kita sebelumnya .
. ."

Selama ini dia selalu menganggap dirinya paling hebat,  sejak terjun ke dalam dunia persilatan belum pernah sungguhsungguh berjumpu dengan musuh tangguh, maka setelah mendengar kata-kata Ciong liong dan Pay Hay-tiong yang menghina dirinya, dia menganggap kejadian ini sebagai penghinaan yang paling memalukan sepanjang hidupnya, perasaan dendam dan bencinya terhadap ke dua orang ini benar benar sudah merasuk sampai ke tulang sumsum

Untuk menunjukkan kepahlawanan dirinya ia nekad untuk menghadapi Liong Tian-im seorang diri, maka dalam pembicaraan pun dia menunjukkan suatu sikap angkuh yang sinis seakan-akan merasa tak sudi untuk menerima bantuan dari orang lain.
Pay Hay-tiong segera tertawa terbahak-bahak: "Haaahhh... hhaaahhh... hhaaah... saudara Lee benar-
benar tak tahu diri, anggap saja kami lantang banyak mencampuri urusan orang "

"Hmmm !" Ciang Tiong ci mendengus dingin, "kalau toh saudara Lee berkata demikian, terpaksa kami akan menyaksikan sampai dimana kelihayanmu "

Lee Tang-yang tertawa dingin. kepada Liong-Tian im bentaknya:

"Sebelum salah seorang diantara kita berdua mampus, pertarungan ini takkan diakhiri."

Begitu selesai membentak pedangnya bergetar keras, jurus serangan demi jurus serangan dilancarkan bertubi tubi mengancam dada Liong Tian im.

Sekulum senyuman sinis tersungging di ujung bibir Liong Tian im, pikirnya dengan cepat: "Kedua makhluk ini rata-rata merupakan jago lihay kelas satu dalam dunia persilatan, bila aku tidak pergunakan ilmu jari Jian-hun hiat ci rasanya sulit untuk membinasakan ketiga orang ini agar bisa meninggalkan tempat ini lebih cepat, tampaknya aku harus mempertaruhkan tenaga dalamku untuk bertarung. ."

Belum habis ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, cahaya pedang yang dingin menggidikkan itu sudah menyambar tiba, dia segera membentak keras, telapak tangannya diayunkan kedepan menyongsong datangnya tubuh Lee Tang yang.

Betapa kagetnya Lee Tang yang menjumpai ancaman tersebut, untuk menarik kembali serangannya jelas tak  sempat, terpaksa pergelangan tangannya diputar, cahaya pedang menyambar nyambar, dengan menciptakan serentetan cahaya tajam, senjatanya langsung menyambar keatas telapak tangan lawan . . . .

Liong Tian im mendesis sinis, telapak tangannya ditarik kemudian jari tangannya pelan pelan menotok keluar.

xx^xx

DARI ujung jari tangannya yang berwarna putih bersih bagaikan salju itu segera memancar keluar cahaya merah yang segar dan menyala, makin lama cahaya tajam itu makin membara dan amat menyilaukan mata . . .

"Sreeet !"

Sebelum ujung pedang itu menusuk tubuh Liong Tian-im, ilmu jari Jian hun-hiat-ci nya telah berubah menjadi segulung angin serangan jari menerobos masuk melalui celah celah senjata lawan.

Angin serangan jari tangan itu membelah angkasa dan "Sreeet... !" memantul ke depan langsung menyambar tujuh buah jalan darah kematian ditubuh Lee Tang yang.

Mendadak terdengar Pay Hay-tiong menjerit kaget: "Aaah, ilmu jari Jian hun hiat ci .. . "
Lee Tang yang mendengus tertahan, tiba tiba saja serangan pedangnya punah.

Tubuhnya dengan cepat berkelebat lewat dan meluncur sejauh lima depa dan posisi semula, "Traaang!" pedangnya patah menjadi dua bagian dan rontok ke tanah.

Walaupun dia berhasil menahan serangan jari Jian hun hiat ci dari Liong Tian im dengan pedangnya dan beruntung bisa menyelamatkan jalan darah kematian diatas tubuhnya, tapi bawah iganya toh kena tertusuk juga oleh angin pukulan Jianhun-hiat ci tersebut. 

Seketika itu juga paras mukanya berobah menjadi pucat pias seperti mayat dengan sempoyongan badannya mundur beberapa langkah ke belakang, telapak tangan kirinya menekan bawah iganya kencang-kencang, hampir saja tubuhnya terjengkang ke tanah.

Ciang Tiong ci berdiri dengan telapak tangan tunggal disilangkan didepan dada, mendadak ia menyerobot maju ke muka, kemudian membentak nyaring:

"Saudara Pay, mari kita binasakan dia." Sembari berkata telapak tangannya di ayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang segera mengurung sekujur badan Liong Tian im, belum lagi angin pukulannya sampai, segulung hawa dingin yang menggidik kan hati telah menggulung tiba secara berlapis lapis.

Pay Hay tiong cukup mengerti akan kehebatan dari ilmu jari Jian bun hiat ci dengan cepat dia melejit ke samping dan berkelit ke-samping.

Ia memeriksa sejenak keadaan Lee Taog yang, tiba tiba paras mukanya berubah menjadi amat serius, rasa kaget dan takut segera mencekam seluruh benaknya.

Buru-buru dia berteriak keras:

"Saudara Ciang, harap segera mundur, aku ada beberapa patah perkataan hendak ditanya kan kepada saudara ini"

Semenjak Liong Tian im mengeluarkan ilmu jarinya Jian hun hiat ci, nada pembicaraannya sudah makin lunak.

Ciang Tiong ci segera mendengus dingin, dia melejit ke udara dan melayang mundar ke belakang.

Setajam sembilu Pay Hay-tiong mengawasi wajah Liong Tiao-im, setelah itu tegurnya:
"Saudara, boleh aku tahu siapakah nama gurumu ?" "Soal ini mah tak usah kau ketahui" jawab Liong Tian im
dingin, "akupun merasa tiada berkewajiban untuk menjawab pertanyaanmu itu" Tiba tiba muncul segulung api kegusaran yang membara didalam dada Pay Hay tiong, setelah tertawa dingin dia berseru:

"Mungkin aku harus memperlihatkan benda ini lebih dulu sebelum kau bersedia memberitahukan kepadaku"

Seraya berkata, dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebatang pedang pendek berwarna emas.

Pedang emas ito panjangnya hanya berapa inci dengan sebuah burung hong berwarna merah menghiasi diujungnya, sedangkan ekor burung hong yang memanjang ke bawah mencapai sampai ke gagangnya, bentuk maupun modelnya aneh sekali.

Dengan sepasang jari tangannya menjepit pedang kecil itu, pelan pelan Pay Hay-tiong menyodorkan benda mana ke hadapan Liong Tian im.

Paras muka Liong Tian-im beruban hebat, agak emosi dia berseru tertahan:

"Aaah... pedang emas burung hong merah!"

Pay Hay tiong juga nampak sangat emosi, dengan suara gemetar serunya lantang:

"Sekarang tentunya kau bersedia memberi tahukan kepadaku bukan, siapakah gurumu ?"

Liong Tian-im menjadi sedih sekali.

"Guruku telah tiada, lebih baik tak usah di singgung lagi." "Apa? Lenghou Hay telah meninggal ?" seru Pay Hay tiong dengan perasaan bergetar.

Ketika Lee Tang-yang mendengar disebutkannya nama "Lenghou Hay." tiba-tiba saja melompat bangun, kemudian dengan wajah berubah hebat, teriaknya keras keras:

"Kau adalah muridnya Lenghou Hay ?"

Liong Tian im mendongakkan kepalanya sambil menekan gejolak perasaan dalam hatinya, kemudian sambil menuding ke arah Lee Tang yang katanya cepat:

"Kau adalah ahli waris dari Ci hong kim kiam (pedang emas burung hong merah) dan anda tentulah murid keluarga Lee dari Lamhay?"

Sewaktu sorot matanya dialihkan ke wajah Lee Tang yang tadi, Ciang Tiong ci dengan wajah keheranan juga ikut maju ke muka.
Pay Hay tiong segera tertawa seram, katanya: "Lenghou Hay mempunyai dendam kesumat sedalam
lautan dengan kami tiga keluarga, kau sebagai ahli waris dari Lenghou Hay sudah sewajarnya untuk menanggung semua perbuatan dendam yang dilakukan gurumu di masa lampau."

"Benar." jawab Liong Tian-im dengan wajah serius, "dalam perjalananku dalam dunia persilatan kali ini, salah satu tujuanku adalah melacaki kisah dendam kesumat yang terjalin antara guruku dengan kalian tiga keluarga persilatan, selain  itu juga aku hendak menanggung segala tanggung jawabnya."

Ciang Tiong ci mendengus dingin, bentaknya keras keras: "Kentut busuk, gurumu adalah seorang ahli dalam berpura pura mampus, aku tidak percaya kalau Lenghou Hay betul betul sudah mampus!"

Setelah mencibir sebentar, ia melanjutkan: "Sekalipun dia benar benar mati juga belum tiba pada giliranmu untuk menyelesaikan persoalan ini-"

"Mengapa ?" tanya Liong Tian-im dengan suara dalam. "Kau masih belum berhak !"
"Hmmm. cukup berdasarkan perkataanmu itu, aku sudah pantas unjuk membinasakan dirimu." ancaman pemuda itu geram.
Ciang Tiong ci sedikitpun tidak merasa takut, katanya lagi: "Sebelum pertarungan diantara kita dilangsungkan aku
percaya kau masih belum becus untuk melakukannya . . ."

Agaknya kemarahan Liong Tian im betul betul sudah mencapai pada puncaknya, dia telah bersiap sedia melakukan tubrukan ke muka, tapi entah apa yang meragukan olehnya, setelah kesiap siagaan itu dilakukan, akhirnya toh dia mengendorkan kembali segenap tenaga dalam yang telah dihimpunnya itu.

Menggunakan kesempatan ituIah, Pay Hay-tiong menerjang maju kedepan, serunya:

"Setelah bertemu dengan Ci hong kim kiam mengapa kau tidak segera menyerahkan jiwa anjingmu ?" Pada saat itu kemarahannya betul-betul sudah mencapai pada puncaknya sehingga kesadarannya hampir punah, sambil membentak segenap tenaga dalam yang dimilikinya dipancarkan keluar.

Tampak pakaian yang dikenakannya itu tiba-tiba saja menggelembung besar seperti bola yang diisi hawa.

Liong Tian-im mengebaskan ujung bajunya sambil mundur ke belakang , setelah mendengus dingin katanya:

"Omong kosong, murid Lenghou Hay tidak sebodoh gentong nasi .."

Waktu itu telapak tangan dari Pay Hay tiong dilontarkan ke depan mengikuti gerakan badannya, maka sewaktu Liong Tian im melompat ke depan tadi, telapak tangan kanannya juga  ikut di lontarkan ke muka, segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat segera meluncur ke arah lawannya.

"Blaaammm. . !"

Ketika sepasang telapak tangan saling berjumpa, segera terjadilah suatu ledakan keras yang memekikkan telinga.

Liong Tian im tersenyum, tubuhnya hanya sempat bergetar sedikit, sebaliknya Pay Hay tiong kena terdesak sehingga mundur sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula.
Ciang Tiong-ci segera tertawa penuh kegusaran teriaknya: "Saudara Lee, mengapa tidak kita bekuk bajingan ini
kemudian memaksanya untuk menunjukkan tempat persembunyian dari Lenghou Hay ?" Dia dan Lee Tang-yang saling bertukar pandangan, lalu secepat kilat tubuhnya meluncur ke depan dan menyerang punggung Liong Tian im dari belakang.

Hong Tin tin yang berada disisi arena jadi sangat gelisah setelah menyaksikan ke tiga orang jago muda itu mengerubuti Liong Tian im seorang, dia segera membentak nyaring:

"Manusia bedebah yang tak tahu malu . .."

Pergelangan tangannya segera digetarkan, lalu menghantam tubuh Ciang Tiong-ci.

Dengan cekatan Ciang Tiong ci berkelit ke samping, teriaknya dengan suara tertahan:

"Tin tin, kau..."

Hong Tin tin tertawa hambar:

"Bila kalian sampai tiga melawan satu, aku akan beradu jiwa dengan kalian . . ."

Ciang Tiong-ci berkelit ke samping untuk menghindarkan diri dari datangnya serangan itu, tiba tiba dari balik matanya memancar keluar perasaan kasihan dan sayang yang tebal, selama ini belum pernah ia berkesempatan untuk memandang wajah Hong Tin tin yang cantik secara jelas.

Tapi sekarang jarak mereka berdua begitu dekat, sepasang matanya seketika itu juga terpikat oleh kecantikan wajah lawan. Satu perasaan yang aneh segera melintas di dalam benaknya, sesudah termangu sekian lama akhirnya dia berbisik:

"Tin tin, kau sungguh amat cantik !" sebenarnya dia amat pandai mengucapkan kata kata manis, siapa tahu setelah bertemu dengan Hong Tin tin sekarang, tak sepatah kata pujian pun yang dapat diutarakan, bibirnya bergetar sampai setengah harian lamanya, tapi hanya beberapa patah kata ttu saja yang mampu diutarakan.

Siapa sangka tindakannya ini bukan saja tidak berhasil merebut hati Hong Tin tin, malahan sebaliknya justru kena dihantam oleh gadis tersebut.

Dengan mata melotot besar karena gusar, Hong Tin tin membentak amat nyaring:

"Sebelum ayahku menjatuhkan pilihannya di antara kalian bertiga, siapa yang berani mencari keuntungan, siapa pula harus menerima sebuah pukulanku."

Dengan pandangan termangu-mangu Ciang Tiong-ci mengawasi wajah Hong Tin tin tanpa berkedip, semakin gadis itu marah ternyata wajahnya nampak semakin menawan hati, sedemikian terpesonanya dia sampai rasa sakit diatas pipinyapun jadi terlupakan.

Hong Tin tin mendengus dingin, dia segera membalikkan badannya menghadap ke tengah arena.

Dengan termangu mangu Ciang Tiooglci mengawasi bayangan punggungnya yang ramping itu, lalu menghela napas panjang, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya: "Dulu aku hanya mendengar orang memuji putrinya Hong Yok su begini, begini .. . aku masih belum mempercayai sepenuhnya, malah kalau bukan ayah menitahkan kepadaku untuk berada disini sambil mencuri belajar ilmu pertabiban Hong Yok-su, mungkin aku tak akan berdiam kelewat lama disini. . ."

Sesudah menghembuskan napas panjang dia berpikir lebih jauh:

"Siapa sangka setelah berjumpa dengannya, apalagi setelah kau dapat melihat wajahnya sekarang dengan begitu jelas, barulah kuketahui kalau diriku sesungguhnya benar benar mencintainya "

"Blaaam . ..!" tiba tiba terdengar suara benturan nyaring berkumandang dari tengah arena.

Tampaklah tiga sosok bayangan manusia yang sedang melangsungkan pertarungan sengit itu saling memisahkan diri, ternyata Liong Tiao im dengan keadaan terluka parah masih sanggup untuk bertanding seimbang dengan musuh  musuhnya.

pertempuran yang berlangsung diantara ketiga orang itu sekarang juga tidak seseru tadi lagi mereka hanya berjalan sambil mengitari arena, bila ada peluang kadangkala Liong Tian im melancarkan serangan, tapi begitu sampai ditengah jalan, serangan tersebut segera ditarik kembali.

Pada saat itulah mendadak dari atas puncak tebing tersebut berkumandang datang suara pekikan panjang yang amat nyaring, dibaliknya nyaringnya suara tersebut terselip pula hawa napsu membunuh yang tebal, hal mana membuat beberapa orang yang sedang bertarung di bawah air terjun situ sama-sama berubah muka.

Dengan cepat mereka memisahkan diri dan berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.

Terdengar Hong Yok-su berseru dari tempat kejauhan sana:

"Keponakan bertiga, aku toh sudah bilang, barang siapa sanggup mendapatkan batok kepala bocah keparat itu, aku akan menjodohkan Tin tin kepadanya, mengapa hingga kini kalian belum juga turun tangan ..."

Hong Tin tin yang mendengar perkataan itu menjadi amat gelisah, segera serunya:

"Hei, cepat melarikan diri kearah. . . !"

Semenjak mendengar perkataan dari Hong-Yok su tadi, paras muka Ciang Tiong ci segera berubah hebat, mendadak dia melompat kedepan lalu melancarkan sebuah bacokan dahsyat ketubuh Liong Tian im.

"Akulah yang akan memenggal batok kepala bocah keparat ini." bentaknya keras keras. 
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 05"

Post a Comment

close