coba

Tapak-tapak Jejak Gajahmada Jilid 15

Mode Malam
Terlihat Mahesa Amping tidak langsung menjawab, pandangannya terlihat kearah Putu Risang.

“Di bulan purnama ke dua”, berkata Mesa Amping sambil menarik nafasnya dalam-dalam seperti tengah membayangkan sebuah peperangan yang begitu besar didepan matanya. Sebuah peperangan yang  begitu hebat memporak-porandakan sebuah Kotaraja Kediri.

Lain lagi yang ada di pikiran Putu Risang saat itu, mendengar kata bulan kedua purnama, pikiran Putu Risang langsung teringat kepada sebuah pesan yang disampaikan olehnya kepada Ratu Turuk Bali, sebuah pesan rahasia Raden Wijaya.

“Sengaja Tuanku Raden Wijaya menunda penyerangannya, untuk memberi kesempatan Ratu Turuk Bali mengungsi”, berkata Putu Risang dalam hati mengingat kembali pesan rahasia itu.

“Apakah ada kesepakatan lainnya ?”, bertanya Pendeta Gunakara kepada Mahesa Amping.

“Tuanku Raden Wijaya meminta dengan penuh kehormatan agar Raja Kediri tidak dibawa keluar dari Jawadwipa sebagai tawanan perang”, berkata Mahesa Amping.

“Sebuah permintaan dari seorang pemimpin muda yang sangat mulia”, berkata Pendeta Gunakara memuji kemuliaan hati seorang Raden Wijaya.

“Aku melihatnya sebagai sebuah kecerdikan dari Tuanku Raden Wijaya”, berkata Mahesa Amping sambil memandang kearah Pendeta Gunakara dan Putu Risang sambil tersenyum. Dilihatnya keduanya seperti tidak mengerti arah pembicaraannya.

“Panglima besar itu menerima permintaan Tuanku Raden Wijaya. Namun aku yakin sekali sebagaimana keyakinan tuanku Raden Wijaya bahwa pada saatnya Panglima besar itu akan mengingkari persetujuannya itu”, berkata Mahesa Amping menyampaikan pemikirannya kepada Pendeta Gunakara dan Putu Risang yang masih juga terlihat belum mengerti kemana sebenarnya arah pemikiran Mahesa Amping.

“Keingkaran Panglima besar pasukan Mongol itu sudah diperhitungkan oleh Tuanku raden Wijaya, itulah sebabnya jauh-jauh hari telah menugaskan Ki Sandikala untuk menyiapkan sebuah pasukan khusus”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum menatap Pendeta Gunakara dan Putu Risang yang nampaknya sudah dapat mengerti arah pembicaraan Mahesa Amping. “Sebuah rencana yang hebat”, berkata pendeta Gunakara.

“Bersyukurlah bahwa bersama kita ternyata ada seorang pemikir ulung yang hebat, semua rencana itu adalah hasil pemikiran dari seorang Ki Sandikala”, berkata Mahesa Amping memberikan penjelasan bahwa pemikiran rencana besar itu adalah buah pikir dari Ki Sandikala.

“Belakangan kuketahui bahwa orang tua yang sederhana itu ternyata punya garis darah Raja Erlangga, ditangannya sendiri berada sebuah benda Wahyu keraton, sebuah keris pusaka milik Raja Erlangga, keris Nagasasra yang sudah lama tidak terdengar lagi keberadaanya. Dan dengan penuh keikhlasan telah menyerahkan keris pusaka itu kepada Tuanku Raden Wijaya”, berkata kembali Mahesa Amping.

Suasana diatas pendapa itupun seketika menjadi hening, nampaknya mereka telah berada didalam anganangannya masing-masing.

Apa yang ada dalam benak pikiran Putu Risang saat itu ?

Ternyata pikiran Putu Risang jauh melayang terbang di Kotaraja Kediri, sebuah tempat yang belum lama itu disinggahi, sebuah kotaraja yang damai dipenuhi rumahrumah besar yang elok di sepanjang jalan Kotaraja. Dan Bayangan pikiran Putu Risang pun berganti kepada sebuah gambaran huru-hara yang besar, sebuah peperangan besar melanda Kotaraja, tangis dan jeritan pilu terdengar dari mereka yang berduka, dan bayangan benak Putu Risang seperti melihat beberapa rumah di Kotaraja itu yang terbakar api besar menyisakan abu dan puing-puing kayu yang hangus terbakar.

“Purnama kedua sudah tidak akan lama lagi”, berkata Mahesa Amping membuyarkan lamunan Putu Risang.

Perkataan Mahesa Amping ternyata kembali membawa angan-angan Putu Risang ke sebuah peperangan yang hebat antara dua pasukan yang berseteru bersama hiruk pikuk dan denting suara senjata beradu, juga suara rintihan menyayat hati beberapa prajurit yang terluka.

“Aku berharap pada saat kami pergi ke medan pertempuran, Tuan Pendeta dapat menjaga keluarga kami di Bumi Majapahit ini”, berkata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara.

“Aku akan menjaganya sebagaimana menjaga keluargaku sendiri”, berkata Pendeta Gunakara.

“Terimakasih”, berkata Mahesa Amping ditujukan kepada Pendeta Gunakara.

Kembali suasana diatas pendapa itu menjadi hening, masing-masing tengah mengembara dalam angan dan bayangan pikirannya sendiri-sendiri.

“Ternyata aku tidak bisa bergeser sedikitpun dari garis hidupku sendiri, datang ke sebuah peperangan demi peperangan. Namun peperanganku kali ini adalah sebuah perjuangan bangsa, perjuangan sebuah bangsa untuk meraih sebuah kedamaian abadi, kebanggaanku dalam peperangan itu bahwa aku ada bersama sebuah cita-cita membangun kemandirian bangsa, kesejahteraan bangsa”, berkata Mahesa Amping kemudian terdiam sejenak. “tahukah kalian apa yang telah membakar diriku sekembali dari perundingan dengan Panglima pasukan asing itu?”, berkata dan bertanya Mahesa Amping.

Terlihat Putu Risang dan Pendeta Gunakara tidak menjawab, mereka tahu bahwa Mahesa Amping sendiri yang akan menjawab pertanyaannya itu. “Panglima besar pasukan itu meminta sebuah kesepakatan yang sangat berat sekali untuk diterima oleh Tuanku Raden Wijaya. Apakah permintaannya itu ?, tidak lain adalah sebuah permintaan yang harus disanggupi oleh Tuanku raden Wijaya bahwa kelak bila kemenangan berada dipihak mereka, Tuanku raden Wijaya sebagai penguasa baru di Jawadwipa harus tunduk patuh kepada kekuasaan besar Yang Dipertuan Agung Kaisar Kubilai Khan, setiap tahun harus menyampaikan barang upeti, serta memberi keamanan dan perlindungan kepada para pedagang mereka untuk masuk lebih jauh lagi ke nusa timur matahari, hingga ke tanah Gurun tempat tumbuhnya pala”, berkata Mahesa Amping. “Itulah yang membakar diriku, menghalalkan diriku ikut dalam peperangan ini”, berkata kembali Mahesa Amping.

Kembali suasana diatas pendapa itu menjadi hening, masing-masing telah kembali dalam alam pikirannya sendiri. Sekali-sekali terdengar suara katak yang tercekik, mungkin setengah tubuhnya sudah berada di mulut seekor ular belang di sebuah belukar semaksemak.

Keheningan suasana awal malam diatas pendapa pasanggrahan Mahesa Amping kembali mencair ketika Putu Risang minta diri untuk pergi ke sebuah sungai kecil didekat persawahan Bumi Majapahit.

“Aku ingin membangun pliridan di sungai kecil, pasti pliridan yang lama sudah rusak tergilas hujan. Besok paginya aku akan kembali kesana bersama Mahesa Muksa, Jayanagara dan Adityawarman. Mereka pasti senang melihat kubangan sudah dipenuhi banyak ikan yang terjebak”, berkata Putu Risang yang langsung berdiri pergi kebelakang untuk mengambil cangkul.

“Semoga besok aku akan menikmati masakan pecak gabus yang nikmat”, berkata Pendeta Gunakara mengiringi langkah kaki Putu Risang yang tengah berjalan kearah pintu butulan.

Dan malam nampaknya sudah menyelimuti bumi Majapahit di sebuah sungai kecil dimana Putu Risang tengah membangun sebuah pliridan baru, sebuah gundukan tanah berlubang dimana air muncul memancur keatas. Air mancur yang segar itu akan memancing keinginan beberapa ikan yang langsung melompat dan terjebak di sebuah kubangan tanah liat yang licin dan basah.

“Siapa yang punya kecerdikan sebuah pliridan ini ?”, berkata Putu Risang dalam hati menatap bangunan pliridan yang baru saja diselesaikannya dengan senyum kepuasan berharap besok pagi akan melihat banyak ikan yang masuk terjebak di lubang jebakan itu. ”yang pasti seorang ayah yang senang melihat anak-anaknya makan ikan dengan lahapnya”, berkata kembali Putu Risang dalam hati membayangkan kehidupannya nanti sebagai seorang kepala rumah tangga, yang tentu saja bayangan seorang istri di benak Putu Risang saat itu pastilah seorang gadis manis pemilik senyum menawan itu, Endang Trinil, tentunya.

Namun tiba-tiba saja pendengaran Putu Risang yang cukup terlatih terutama setelah mendalami ilmu rahasia pusaka pertapa Gunung Wilis itu telah mendengar sebuah langkah kaki.

“Semula aku tidak yakin kamu akan datang ke sungai kecil ini”, berkata seseorang pemilik langkah kaki itu ketika sudah dekat dengan diri Putu Risang.

“kakang Menak Koncar sengaja datang ke sungai ini untuk menemui aku ?”, berkata Putu Risang kepada seorang lelaki yang ternyata adalah Menak Koncar, salah seorang putra Ki Sandikala.

“Benar, aku memang datang ke sungai kecil ini hanya untuk menemuimu”, berkata Menak Koncar  dengan suara datar.

“Mengapa tidak menunggu besok, aku tidak kemanamana”, berkata Putu Risang dengan sikap penuh tanda tanya, belum dapat menduga apa kepentingan Menak Koncar menemui dirinya.

“Aku ingin pembicaraan kita tidak diketahui oleh siapapun”, berkata Menak Koncar masih dengan suara yang sangat dingin dan datar.

“Adakah sesuatu yang begitu penting harus dibicarakan kepadaku dimalam ini ?”, bertanya Putu Risang masih dalam penuh ketidak tahuan.

“Pembicaraan kita berhubungan dengan Endang Trinil”, berkata Menak Koncar sambil menatap wajah Putu Risang dengan tatapan mata yang sangat tajam.

“Ada apa dengan Endang Trinil ?”, bertanya Putu Risang dengan hati penuh rasa tanda tanya.

“Aku ingin kamu menjawab pertanyaanku, bukan bertanya”, berkata Menak Koncar masih dengan suara yang datar dan dingin.

“Aku akan mencoba menjawab pertanyaanmu”, berkata Putu Risang yang mulai tersinggung dengan  sikap Menak Koncar yang dingin itu, apalagi ternyata pembicaraan itu berhubungan dengan Endang Trinil. Terlihat Putu Risang telah membawa dirinya ke sosok sejatinya, seorang pemuda yang tidak pernah mengenal rasa takut.

“Bagus, pertanyaan pertamaku adalah apakah kamu mencintai Endang Trinil”, bertanya Menak Koncar kepada Putu Risang, diam-diam mengakui sikap Putu Risang sangat jantan didepannya.

Terlihat Putu Risang tidak langsung menjawab, merasa aneh bahwa dimalam sesepi ini Menak Koncar datang menemui dirinya hanya untuk menanyakan perasaan hatinya kepada Endang Trinil. Tapi dirinya tidak ingin membuat Menak Koncar terlalu lama mendapatkan jawaban darinya.

“Aku memang mencintainya”, berkata Putu Risang singkat, ingin selekasnya mendengar apa tanggapan dari Menak Koncar tentang jawabannya itu.

“Bagus, ternyata kamu cukup jantan menjawab pertanyaanku itu”, berkata Menak Koncar dengan senyum kecut.

“Hanya sebuah pertanyaan ini sehingga Kakang Menak Koncar menemui diriku”, bertanya Putu Risang dengan sikap penuh kehati-hatian menduga-duga kemana arah tujuan Menak Koncar menemui dirinya dan bertanya mengenai perasaan hatinya.

“Bukan hanya pertanyaan ini, aku sengaja datang menemuimu untuk mengatakan bahwa aku juga telah lama mencintainya”, berkata Menak Koncar kepada Putu Risang masih dengan tatapan mata yang tajam seperti menusuk langsung rongga dadanya.

Terlihat Putu Risang terhentak perasaan hatinya, tidak menduga bahwa Menak Koncar ternyata punya perasaan yang sama dengannya, sama-sama mencintai seorang Endang Trinil. Tapi Putu Risang tidak ingin Menak Koncar mengetahui perasannya yang terguncang. Terlihat Putu Risang menarik nafas dalam-dalam. “Semua keputusan berada di tangan Endang Trinil”, berkata Putu Risang mencoba mengendalikan perasaan dirinya.

“Endang Trinil sudah memutuskan, bahwa dirinya hanya mencintaimu”, berkata Menak Koncar langsung menyambung perkataan Putu Risang seperti sudah tahu apa yang dikatakan oleh Putu Risang.

Terlihat Putu Risang agak terkejut, tidak menyangka bahwa Menak Koncar langsung berkata menyambut perkataannya, juga isi dari perkataan Menak Koncar ikut mempengaruhi perasaan hatinya. “Endang Trinil mencintaiku, memilih aku”, berkata Putu Risang dalam hati.

“Keputusan ada di tanganmu, menjauhi Endang Trinil atau menerima tantanganku”, berkata Menak Koncar.

“Aku menerima tantanganmu”, berkata Putu Risang dengan sikap lebih dingin dari sikap Menak Koncar merasa tidak takut dan gentar menerima tantangan dari Menak Koncar.

“Ternyata aku berhadapan dengan seorang lelaki, kita bertanding sampai ada yang kalah menyerah. Siapapun yang kalah harus menerima keputusan, menjauhi Endang Trinil”, berkata Menak Koncar merasa begitu yakin dengan ilmu yang dimiliki.

“Senjata kadang tidak bermata, apakah ada cara lain ?”, berkata Putu Risang meminta Menak Koncar mencari cara lain bukan dengan cara bertempur adu senjata.

Tapi ucapan Putu Risang diterima lain, Menak Jingga menyangka Putu Risang meremehkannya menjadi takut terluka oleh senjata cambuknya.

“Apakah kamu kira aku takut terluka oleh cambukmu”, berkata Menak Koncar dengan amarah merasa diremehkan.

“Maksudku bukan itu”, berkata Putu Risang tidak menyangka perkataannya diterima lain oleh Menak Koncar. “Maksudku kita bertanding tanpa bertempur, tapi mengadu kekuatan lewat sebuah batu. Siapa yang dapat memecahkan lebih keras dengan senjatanya, dialah pemenangnya.

Menak Koncar dapat mengerti adu kekuatan seperti apa yang dimaksud oleh Putu Risang, sebuah adu kekuatan memecahkan sebuah batu besar.

Menak Koncar tidak langsung menjawab sebagaimana biasanya, tapi sekejab melirik kearah cambuk yang melilit di pinggang Putu Risang.

“Aku pernah mendengar cerita bahwa cambuk Mahesa Amping mampu meleburkan sebuah batu menjadi abu. Tapi muridnya ini pasti belum sampai ke tataran gurunya, jangan-jangan belum dapat menghentakkan kekuatan tenaga cadangan, masih menggunakan kekuatan wadagnya”, berkata Menak Koncar dalam hati mencoba mengukur kekuatan lawannya, nanti.

Berpikir seperti itu terlihat Menak Koncar sedikit tersenyum menatap kearah Putu Risang.

“Baiklah, kita bertanding adu kekuatan memecahkan sebuah batu”, berkata Menak Koncar penuh percaya diri.

“Kapan dimana kita melakukannya”, berkata Putu Risang dengan suara dan sikap tidak merasa gentar sedikitpun.

“Besok malam adalah purnama penuh, kita bertemu  disini dan mencari batu yang sama kuat dan sama besar”, berkata Menak Koncar masih dengan perasaan penuh percaya diri berkeyakinan dapat mengalahkan Putu Risang dengan senjata andalannya, sebuah cakra.

Setelah berkata, terlihat Menak Koncar tanpa pamit lagi telah membalikkan badannya pergi meninggalkan Putu Risang diatas sungai kecil itu.

Terlihat Putu Risang menarik nafas panjang sambil mengamati punggung dan langkah Menak Koncar yang akhirnya menghilang di sebuah tikungan jalan.

Sementara itu wajah sang malam sudah semakin menghitam.

Terlihat Putu Risang telah meninggalkan pliridannya, sudah menjauhi sungai kecil berjalan menapaki sebuah pematang sawah. Tatapannya menyapu tangkai-tangkai ujung padi yang sudah bunting tapi belum menguning.

Dan hari masih dibawah sepertiga malam ketika Putu Risang sampai di halaman pendapa Pasanggrahan Mahesa Amping.

“Semua sudah tertidur”, berkata Putu Risang dalam hati sambil terus melangkah ke biliknya yang berada dibelakang bangunan utama Pasanggrahan.

Lama Putu Risang tidak dapat memejamkan matanya diatas bale-bale tempat tidurnya. Hati dan pikiran anak muda itu masih saja membayangkan suasana saat adu kekuatan besok malam di sungai kecil bersama Menak Koncar.

Tapi rasa lelah yang sangat akhirnya perlahan telah meredupkan pikiran Putu Risang, terlihat anak muda itu sudah tertidur pulas, entah apa yang dimimpikan oleh anak muda itu didalam alam tidurnya.

Hingga pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Putu Risang sudah membangunkan Gajahmada, Adityawarman dan Jayanagara. Anak muda itu sepertinya telah melupakan pertemuannya dengan Menak  Koncar, terlarut dalam suasana kegembiraan tiga anak lelaki kecil mengumpulkan ikan-ikan yang terjebak di lubang pliridan.

Pagi itu mereka membawa begitu banyak ikan.

Hingga mereka selesai sarapan pagi bersama di atas pendapa Pasanggrahan, Putu Risang tidak berkata apapun tentang pertemuannya dengan Menak Koncar, baik kepada Mahesa Amping maupun kepada Pendeta Gunakara.

Barulah, ketika Mahesa Amping keluar Pasanggrahannya untuk bertemu dengan Raden Wijaya. Disaat berselang sedikit pendeta Gunakara telah mengajak ketiga anakanak bermain dan berlatih.

Dan di Pasanggrahan hanya tertinggal Nyi Nariratih dan Putu Risang.

Disaat itulah hati dan perasaan Putu Risang terasa tidak dapat lagi menyimpan sebuah masalah yang dihadapinya. Akhirnya dengan berat hati Putu Risang menyampaikan persoalan yang mengisi dan bergelayut di dalam pikirannya.

“Ternyata Menak Koncar juga mencintai Endang Trinil”, berkata Nyi Nariratih setelah mendengar penuturan Putu Risang tentang persoalan yang tengah dihadapinya.

“Aku takut persoalan ini menjadi berkembang, aku takut bahwa persoalanku ini berkembang menjadi suatu yang dapat menimbulkan keretakan hubungan Tuanku Senapati Mahesa Amping dengan Ki Sandikala”, berkata Putu Risang menyampaikan kekhawatirannya.

“Batasi persoalanmu sendiri agar tidak melebar dan berkembang. Kamu harus berani mempertahankan apa yang kamu ingin miliki, itulah jiwa seorang lelaki. Aku yakin kamu akan dapat menerima apapun yang terjadi, kalah atau menang”, berkata Nyi Nariratih mencoba menenangkan suasana hati Putu Risang.

Dan hari itu sudah berada di penghujung akhir senja, terlihat wajah purnama pucat sudah bergelinding berdiri di ujung langit malam seperti tak sabar untuk segera meloncat diatas pucuk kerinduannya menyebarkan warna kegembiraan.

Terang bulan purnama di hari kelima belas, seperti itulah diucapkan oleh hampir semua orang ketika wajah bulan purnama bulat penuh bergantung di lengkung langit malam. Dan sesosok bayangan telah berdiri diatas sebuah batu besar di sebuah sungai kecil yang deras mengalir.

Cahaya sinar bulan purnama menyapu wajah sosok bayangan itu, ternyata adalah wajah Putu Risang yang tengah berdiri dengan sabar menunggu kedatangan seseorang yang telah berjanji untuk bertemu di atas sungai kecil itu.

“Ternyata kamu telah datang mendahuluiku”, berkata seseorang yang terlihat baru saja datang mendekati Putu Risang.

“Sejak senja berakhir aku sudah datang”, berkata Putu Risang kepada orang itu yang ternyata adalah Menak Koncar.

“Mari kita mencoba mencari batu yang sama besarnya”, berkata Menak Koncar dengan wajah penuh percaya diri mengajak Putu Risang mencari Batu Besar yang sama di sepanjang sungai kecil itu.

Dan akhirnya mereka mendapatkan dua buah batu yang sama besarnya, berdekatan sebesar setengah tubuh seekor kerbau.

Terlihat dua orang pemuda tengah menatap dua buah batu yang sama diatas sebuah sungai kecil di malam hari disaat bulan purnama menerangi alam sekitarnya.

Namun ternyata mereka tidak hanya berdua, di sebuah semak-semak belukar yang terhalang kegelapan, terlihat dua orang lelaki tengah memandang kearah Putu Risang dan Menak Koncar.

Siapakah dua orang lelaki itu ?

Ternyata kedua orang itu adalah Mahesa Amping dan Ki Sandikala.

Ternyata Ni Nariratih tidak mampu untuk tidak bercerita tentang persoalan yang tengah dihadapi oleh Putu Risang. Dipihak lain, Endang Trinil juga dengan sangat berat hati bercerita tentang apa yang akan dilakukan oleh Menak Koncar dan Putu Risang diatas persaingan cintanya.

“Siapa yang akan memulainya”, berkata Menak Koncar dengan suara penuh keyakinan.

“Kupersilahkan kakang Menak Koncar untuk memulainya”, berkata Putu Risang kepada Menak Koncar tanpa merasa bahwa dihadapannya adalah seorang pesaingnya. Putu Risang sudah dapat menyesuaikan perasaannya, siap menerima apapun yang terjadi. Bahkan berharap bahwa persoalan itu akan cepat berlalu begitu saja.

Terlihat Menak Koncar sudah memegang senjata andalannya, sebuah senjata cakra.

Tanpa berkedip Putu Risang mengamati Menak Koncar berjalan perlahan mendekati batu besar. Tanpa berkedip sedikitpun Putu Risang melihat Menak Koncar telah mengangkat cakranya tinggi-tinggi.

Duarrrr !!!!

Terdengar suara ledakan yang keras begitu memekakkan gendang telinga siapapun yang mendengarnya berasal dari benturan yang sangat kuat dari sebuah cakra di tangan Menak Koncar yang menghantam batu besar dihadapannya.

Dan tanpa berkedip Putu Risang melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa batu dihadapan Menak Koncar telah berubah menjadi lima bongkahan yang terbelah.

“Sekarang giliranmu menunjukkan kekuatan cambukmu”, berkata Menak Koncar kepada Putu Risang penuh kebanggaan atas apa yang baru saja dilakukannya dan merasa begitu yakin bahwa cambuk Putu Risang tidak akan dapat melakukan yang sama.

Maka terlihat Putu Risang berjalan perlahan mendekati sebuah batu besar yang lain diatas sungai kecil berbatu itu. Terlihat Putu Risang telah melepas cambuk pendeknya yang melilit di pinggangnya dan membiarkan ujung cambuk pendek itu jatuh mendekati air yang mengalir dibawah kaki Putu Risang.

Namun tidak sebagaimana Menak Koncar yang mendekatkan jarak jangkau cakranya agar dapat tepat menyentuh batu besar dihadapannya. Putu Risang ternyata berbuat hal lain yang beda !!!

Terlihat Menak Koncar mengerutkan keningnya melihat jarak jangkau Putu Risang yang menurut perhitungan sangat begitu jauh dibandingkan panjang cambuk pendek milik Putu Risang. Namun Menak Koncar tidak berkata apapun, diam dan tertawa dalam hati menganggap bahwa Putu Risang telah melakukan sebuah kebodohan.

Tapi tidak di mata Mahesa Amping yang tengah mengamati mereka bersama Ki Sandikala di sebuah tempat tersembunyi.

Terlihat Mahesa Amping menarik nafas dalam-dalam dengan mata tidak sedikitpun berkedip kearah berdirinya Putu Risang. Sebagai seorang yang sudah sangat mumpuni, Mahesa Amping tahu persis dan dapat mengukur tingkat tataran ilmu cambuk seseorang hanya dengan melihat seberapa jauh seseorang menempatkan dirinya dari jarak jangkau sasarannya.

“Apakah Putu Risang sudah mencapai tataran setinggi itu

??”, bertanya Mahesa Amping dalam hati sendiri dan dengan hati berdebar penuh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “bagaimana anak itu berlatih hingga mampu sampai ditingkat itu dengan begitu pesatnya?”, berkata kembali Mahesa Amping dalam hati masih tanpa mata berkedip ingin melihat apa yang akan terjadi.

Dan Mahesa Amping telah melihat Putu Risang dengan tegap berdiri jauh menghadap batu besar. Mahesa Amping dengan hati berdebar melihat anak muda itu telah menarik nafasnya dalam-dalam seakan ingin menghabiskan seluruh udara di bumi dan mengisinya masuk ke rongga dadanya.

Masih dengan hati berdebar, Mahesa Amping melihat Putu Risang mengangkat cambuk pendeknya perlahan keatas sehingga jurai ujung cambuknya jatuh dibelakang kepalanya.

Mahesa Amping juga masih melihat Putu Risang tengah menghentakkan cambuk pendeknya dengan cara sendal pancing. Degg !!!!

Telinga Mahesa Amping yang tajam meski dari kejauhan masih dapat mendengar suara hentakan berasal dari cambuk Putu Risang, begitu berat berisi.

“Luar biasa”, berkata Mahesa Amping dalam hati seperti tidak menyangka bahwa tataran ilmu Putu Risang ternyata sudah setinggi itu.

Sementara itu, Ki Sandikala didekat Mahesa Amping terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda mengagumi apa yang dilihatnya.

Sebagaimana yang dilihat oleh Mahesa Amping dan Ki Sandikala, ternyata Menak Koncar terlihat berdiri mematung seperti tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.

Ternyata Putu Risang telah memperlihatkan tataran ilmunya sendiri, hanya dengan sebuah hentakan sendal pancing dan dengan jarak jangkau ujung cambuk sekitar tiga langkah dari sasaran dan tanpa menyentuhnya telah membuat sebongkah batu sebesar setengah tubuh kerbau terlihat runtuh menjadi abu yang bertebaran jatuh hanyut terbawa derasnya air.

Terlihat Putu Risang masih berdiri menarik nafas panjang sejenak dan mengikat kembali cambuk pendeknya di lingkaran pinggangnya. Dan dengan penuh senyum memandang kearah Menak Koncar yang dilihatnya masih mematung terkesima dengan apa yang dilihatnya.

“Bagaimana Kakang Menak Koncar, apakah pertandingan ini sudah selesai ?”, berkata Putu Risang kepada Menak Koncar.

“Maafkan aku yang buta ini. Tidak melihat gunung tinggi didepan kelopak mata”, berkata Menak Koncar mengakui kemampuan ilmunya jauh dibawah Putu Risang.”Dan terima kasih telah memilih pertandingan dengan cara seperti ini, apa jadinya seandainya sasaran cambukmu diriku sendiri”, berkata kembali Menak Koncar masih berdiri ditempatnya.

“Akulah yang seharusnya minta maaf, telah merebut hati Endang Trinil”, berkata Putu Risang mendekati Menak Koncar.

“Tidak perlu minta maaf kepadaku, hari ini aku bangga bahwa ternyata Endang Trinil tidak salah pilih. Kamu memang orang yang tepat baginya”, berkata Menak Koncar sambil memegang bahu Putu Risang dengan hati dan jiwa penuh keikhlasan sebagaimana layaknya seorang kesatria memegang janjinya.

“Aku berharap semua yang telah kita perbuat dimalam ini akan berlalu, kita lupakan seperti tidak pernah terjadi apapun”, berkata Putu Risang ikut memegang bahu Menak Koncar.

Dan tanpa dorongan apapun kedua pemuda itu terlihat sudah saling berpelukan, mereka seperti saling mengikhlaskan diri, sudah saling memaafkan satu dengan lainnya dan tidak ada lagi ganjalan apapun diantara mereka.

Dan bulan diatas langit malam begitu damai temaram cahayanya meneduhkan hati.

Hari itu, masih tersisa duapuluh sembilan hari lagi menjelang purnama kedua.

Dan di pagi itu Bumi Majapahit sudah begitu ramai dipenuhi banyak orang yang berlalu lalang. Ada sebagian orang pergi ke sawah untuk memeriksa sawah-sawah mereka yang sudah mulai bunting padi hanya tinggal menunggu hari untuk di panen. Sementara beberapa orang sudah berkumpul di tanah lapang seperti hari sebelumnya untuk berlatih sebagai sebuah pasukan khusus. Begitulah pembagian tugas di bumi Majapahit yang mulai tumbuh, mereka tidak pernah melupakan pentingnya persediaan pangan yang cukup, tanpa itu sekuat apapun sebuah pasukan akan menjadi lemah bila persediaan pangan mereka tidak dipenuhi.

Masih di Bumi Majapahit, tepatnya di sebuah tepian sungai kecil berbatu, tiga anak kecil terlihat tengah bermain berlompat dari satu batu ke batu lainnya. Begitu gembiranya ketiganya melakukan itu. Sementara itu di tempat yang sama terlihat seorang tua duduk bersila diatas sebuah batu besar mengamati tingkah polah keriangan ketiga anak itu.

Ketiga anak laki-laki itu tidak lain adalah Gajahmada, Jayanagara dan Adityawarman. Sementara orang tua yang tengah duduk bersila diatas batu besar di sungai kecil itu ternyata adalah pendeta Gunakara.

“Anak itu tumbuh melampaui anak seusianya”, berkata Pendeta Gunakara mengamati Gajahmada yang tengah berlari bersama Adityawarman dan Jayanagara.

Ternyata pengamatan Pendeta Gunakara terhadap perkembangan tubuh Gajahmada tidak beralasan, meski usianya terpaut beberapa tahun dari Adityawarman dan Jayanagara, tubuh Gajahmada telah menyamai mereka, bahkan dalam perkembangan selanjutnya, Pendeta Gunakara merasa yakin bahwa Gajahmada akan melampaui mereka, lebih tinggi dan lebih besar dari ukuran lumrah orang kebanyakan.

“Nyi Nariratih datang untuk menjemput mereka?”, berkata Pendeta Gunakara tanpa menoleh sedikitpun menyapa seseorang yang tengah datang dibelakang dirinya mendekat, sementara matanya masih asyik mengamati ketiga anak lelaki yang penuh keriangan tanpa lelah sedikitpun berlompat dari satu batu ke batu lainnya tanpa terjatuh.

“Terimakasih telah membimbing anak-anak berlatih ketahanan diri dan keseimbangan”, berkata seorang wanita yang sudah berada didekat Pendeta Gunakara yang ternyata memang Nyi Nariratih adanya.

“Ketahanan dan keseimbangan mereka sudah sangat baik, saatnya untuk mengenal olah gerak kanuragan selagi tubuh mereka masih lentur”, berkata Pendeta Gunakara masih tanpa menoleh, masih terus mengamati ketiga anak-anak itu.

“Kita harus meminta pertimbangan tuanku Senapati Mahesa Amping, garis perguruan mana yang akan diperkenalkan pertama kepada mereka bertiga”, berkata Pendeta Gunakara kepada Nyi Nariratih.

“Benar, nanti malam kita bicarakan hal ini kepada Tuanku Senapati”, berkata Nyi Nariratih kepada Pendeta Gunakara

Dan tidak terasa matahari pagi sudah mulai naik merayapi lengkung langit bumi.

“Ketika berada di Tanah Wangi-wangi, sedikit banyak mereka sudah diperkenalkan dasar olah kanuragan oleh Ratu Anggabhaya sendiri yang mempunyai garis perguruan dan akar yang sama denganku. Berdasar hal itu, akan lebih mudah bagi mereka lewat jalur perguruanku”, berkata Mahesa Amping di sebuah malam diatas pendapa Pasanggrahannya bersama Ni Nariratih dan Pendeta Gunakara. “Siapakah yang akan membimbing mereka?”, bertanya Nyi Nariratih kepada Mahesa Amping karena menurut pikiran dirinya bahwa tidak akan mungkin saat itu Mahesa Amping yang turun membimbing anak-anak itu, terutama dilihat dari kesibukan Mahesa Amping akhirakhir ini.

“Putu Risang adalah pembimbing yang baik buat mereka”, berkata Mahesa Amping kepada Nyi Nariratih dan pendeta Gunakara.

Mendengar keputusan Mahesa Amping yang sangat dihormatinya itu, terlihat Nyi Nariratih menerimanya dengan sangat senang hati, menurutnya olah kanuragan dari garis perguruan mereka yang telah disempurnakan oleh Mahesa Amping sendiri adalah sebuah olah Kanuragan yang sangat hebat. Dan dirinya merasa terhormat bila Gajahmada putranya itu telah diwariskan olah kanuragan dari garis perguruan Mahesa Amping.

“Nanti aku sendiri yang meminta kepada Putu Risang untuk membimbing mereka setiap hari”, berkata Mahesa Amping kepada Nyi Nariratih dan pendeta Gunakara.

“Kita tunggu Putu Risang pulang, saat ini mungkin masih merapikan pliridan di sungai kecil”, berkata Nyi Nariratih kepada Mahesa Amping.

Terlihat Mahesa Amping menarik nafas perlahan, Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Mahesa Amping yang teringat kejadian kemarin malam melihat langsung tataran ilmu Putu Risang. Mahesa Amping merasa yakin bahwa malam ini pasti Putu Risang tidak sekedar memperbaiki pliridan, tapi juga terus berlatih menempa dirinya.

Sebagaimana yang diperkirakan oleh Mahesa Amping, ternyata Putu Risang benar-benar bukan sekedar memperbaiki pliridan, tapi dirinya terlihat tengah berlatih menempa kekuatan dan kecepatannya bergerak, mencoba mengukur dan mengendalikan perkembangan kekuatan dirinya agar dapat lebih mengenal kekuatannya sekaligus daya lontar yang mungkin dapat dihentakkan lewat ujung cambuknya, tentunya.

Akhirnya disaat hari sudah menjadi sepertiga malam, barulah terlihat Putu Risang menyelesaikan latihannya.

Ketika Putu Risang tiba di halaman pendapa Pasanggrahan, dilihatnya Mahesa Amping dan Pendeta Gunakara masih ada di atas pendapa.

Ternyata mereka memang tengah menunggu dirinya.

“Duduklah”, berkata Mahesa Amping kepada Putu Risang.

Akhirnya Mahesa Amping langsung berkata kepada Putu Risang tentang rencana mereka meminta kesediaan Putu Risang membimbing langsung Gajahmada, Adityawarman dan Jayanagara dalam olah Kanuragan.

Pagi sepertinya datang begitu lambat, atau malam memang menjadi panjang.

Pagi itu memang masih buta, masih gelap ketika Putu Risang masuk ke pakiwan untuk bersih-bersih diri, sengaja pagi itu tidak membangunkan Gajahmada dan dua kawannya Adityawarman dan Jayaraga.

“Biarlah mereka tidur lebih lama”, berkata Putu Risang memutuskan untuk tidak membangunkan mereka bertiga, juga tidak mengajaknya seperti biasa ke sungai kecil untuk mengambil ikan yang terjebak di pliridan mereka.

Demikianlah, seperti hari sebelumnya, Putu Risang dipagi buta itu sudah pergi melangkahkan kakinya ke sungai kecil di ujung tepi hutan Maja. “Hari ini banyak ikan yang terjebak”, berkata Putu Risang penuh kegembiraan melihat banyak ikan yang masuk kedalam lubang perangkapnya. “Cukup untuk makan dua kali”, berkata Putu Risang sambil mengambil beberapa ikan dan langsung dimasukkan kedalam korang yang dibawa dari rumah. ”Ikan petik besar”, berkata pula Putu Risang sambil mengambil ikan petik besar itu. Terbayang dimatanya wajah Gajahmada yang akan menikmati ikan petik itu dibumbui palapa. “Mahesa Muksa pasti senang sekali”, berkata kembali Putu Risang penuh kegembiraan membayangkan Gajahmada yang disebutnya Mahesa Muksa itu tengah menikmati ikan petik dibumbui palapa.

“Pagi ini hasil tangkapanmu lumayan banyak”, berkata Pendeta Gunakara kepada Putu Risang yang baru saja melangkah naik tangga pendapa.

“Penjaga sungai itu mungkin hari ini banyak berbelas kasih kepadaku”, berkata Putu Risang yang disambut tawa oleh Pendeta Gunakara.

“Aku tidak melihat Tuanku Senapati”, berkata Putu Risang bertanya kepada Pendeta Gunakara tentang keberadaan Mahesa Amping yang dilihatnya tidak  berada di pendapa pagi itu seperti biasanya.

“Seorang prajurit baru saja datang, meminta Tuanku Senapati untuk datang ke Pasanggrahan Raden Wijaya”, berkata Pendeta Gunakara memberi penjelasan keberadaan Mahesa Amping.

“Tangkapanmu banyak sekali”, berkata Nyi Nariratih kepada Putu Risang di dapur belakang  tengah menunggu perapian melihat ikan yang dibawa oleh Putu Risang.

Demikianlah, setelah bersih-bersih diri di pakiwan, terlihat Putu Risang bergabung menemani Pendeta Gunakara yang sendirian di atas pendapa.

“Pagi ini kamu akan membawa anak-anak ke tepi hutan?”, berkata Pendeta Gunakara kepada Putu Risang.

“Benar, aku akan membawa mereka kesana di tempat yang sama sebagaimana tuan Pendeta membawa dan melatih mereka selama ini”, berkata Putu Risang kepada Pendeta gunakara.

“Sanggar terbuka membuat mereka tidak mudah lelah”, berkata Pendeta Gunakara kepada putu Risang menyetujui pilihan Putu Risang menjadikan tepi hutan sebagai sanggar terbuka.

Demikianlah, pagi itu Putu Risang telah membawa Gajahmada, Adityawarman dan Jayanagara ke tepi hutan Maja.

“Aku akan datang menyusul”, berkata Pendeta Gunakara melepas kepergian mereka.

“Aku akan menyiapkan masakan yang enak  untuk kalian”, berkata Nyi Nariratih diujung pagar pendapa melambaikan tangannya kepada mereka yang terlihat sudah melangkah di halaman muka.

“Ikan Petik bumbu palapa, Bunda”, berkata Gajahmada penuh kemanjaan kepada ibundanya Nyi Nariratih.

Terlihat Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara masih mengikuti langkah kaki mereka yang sudah melewati gerbang Gapura Pasanggrahan dan menghilang disebuah tikungan jalan setapak.

“Anak itu telah melampaui anak seusianya dalam perkembangan tubuhnya”, berkata Pendeta Gunakara kepada Nyi Nariratih menanggapi perkembangan tubuh Gajahmada yang memang terlihat lebih besar dari anakanak seusianya.

“Sudah menyamai tubuh Adityawarman dan Jayanagara yang terpaut beberapa tahun darinya”, berkata Nyi Nariratih menggapi perkataan Pendeta Gunakara.

“Sebentar lagi aku akan menyusul mereka ke tepi hutan Maja”, berkata Pendeta Gunakara  menyampaikan niatnya untuk melihat hari pertama mereka berlatih dibawah bimbingan Putu Risang yang dipercaya oleh Mahesa Amping dapat melakukannya dengan baik sebagaimana dirinya pernah membimbingnya bersama Empu Dangka di Balidwipa di Padepokan Pamecutan.

“Aku akan ke belakang, menyiapkan makan siang kita”, berkata Nyi Nariratih kepada Pendeta Gunakara yang sudah duduk kembali di atas pendapa.

Ketika Nyi Nariratih sudah tidak kelihatan lagi menghilang di balik pintu butulan, terlihat Pendeta Gunakara duduk bersimpuh diatas kau pendapa, matanya terlihat menerawang jauh menembus gerbang gapura Pasanggrahan.

“Titisan Jamyang Dawa lama telah mulai tumbuh, dapatkah kiranya aku membawanya ke Wihara sebagai seorang Guru Besar kami kembali?”, berkata Pendeta Gunakara merasa ragu dapat membawa Gajahmada kembali ke Wiharanya sesuai tugas yang diembankan kepadanya oleh paman-paman gurunya disebuah wihara di Tibet yang sangat jauh dari jawadwipa.

“Masih banyak waktu untukku bersamanya menunggu saatnya tiba, aku akan selalu menjaganya sebagaimana aku menjaga Jamyang Dawa lama hingga diujung usianya”, berkata kembali Pendeta Gunakara membayangkan saat-saat akhir menjelang kematian guru besarnya itu yang mengatakan bahwa dirinya akan menitis kembali disebuah tempat yang jauh, disebuah nusa nirwana yang ternyata adalah nusa Dewata, Balidwipa. Dan Pendeta Gunakara telah menemukan titisan Guru besarnya itu terlahir dari seorang wanita bernama Nyi Nariratih, istri seorang pendeta muda bernama Darmayasa.

“Tuanku Mahesa Amping pasti dengan ketinggian ilmunya telah menghilangkan tanda hitam di pundak  anak itu, tapi tidak dimataku”, berkata kembali Pendeta Gunakara dalam hati mengingat awal pertama menemukan Gajahmada di Padepokan Pamecutan.

Sementara itu masih dibumi Majapahit di Pasanggrahan Raden Wijaya, terlihat Mahesa Amping sedang berbincang-bincang dengan pemimpin muda Bumi Majapahit itu, Raden Wijaya.

“Dari beberapa Padepokan yang mendukung pergerakan kita hari ini sudah berdatangan bergabung di Bumi Majapahit ini. Tahukah kamu diantara meraka ada beberapa orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping dengan senyum penuh kegembiraan.

Bukan main gembiranya Mahesa Amping mendapat berita bahwa ada beberapa cantrik dari Padepokan Bajra Seta ikut bergabung bersama mereka.

Sebagaimana diketahui bahwa Padepokan Bajra Seta punya kenangan khusus buat mereka, karena Padepokan itulah yang telah membesarkan dirinya, Raden Wijaya dan Ranggalawe. Di Padepokan itulah mereka mengenal untuk pertama kali olah kanuragan. Di Padepokan itu pula mereka mulai belajar tentang nilainilai luhur kehidupan yang sebenarnya.

Maka Raden Wijaya menyampaikan kepada Mahesa Amping bahwa beberapa orang dari Padepokan Bajra Seta saat itu telah berada di beberapa rumah tinggal yang khusus untuk kehadiran mereka.

Dengan penuh kegembiraan hati, Mahesa Amping meminta ijin kepada Raden Wijaya untuk menemui mereka.

“Aku tak sabar begitu rindu untuk segera melihat wajah mereka”, berkata Mahesa Amping mengungkapkan perasaan hatinya kepada Raden Wijaya.

Terlihat Mahesa Amping sudah keluar dari Pasanggrahan Raden Wijaya diantar oleh seorang prajurit untuk menemui para cantrik Padepokan Bajra Seta di sebuah tempat.

Bukan main gembiranya hati Mahesa Amping ketika bertemu dengan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Ternyata dari Padepokan Bajra Seta itu telah mengirim seratus cantrik terbaiknya. Dan diantara mereka ada dua orang yang masih begitu sangat dikenalnya yang ternyata adalah Mahesa semu dan Muntilan.

“Kakang Mahesa Semu”, berkata Mahesa Amping memeluk kakak seperguruannya itu penuh haru.

“Gusti yang Maha Agung telah mempertemukan kita kembali”, berkata seorang lelaki setengah tua memandang kepadanya.

“Paman Muntilan”, setengah berteriak Mahesa Amping memanggil dan memeluk orang itu.

“Coba tebak, apakah kamu masih mengenalnya?”, berkata Mahesa Semu kepada Mahesa Amping memperkenalkan seorang pemuda tanggung dihadapannya.

“Kamu pasti Mahesa Darma”, berkata Mahesa Amping memeluk anak muda dihadapannya yang ternyata adalah Mahesa Darma, putra tunggal Mahesa Murti.

“Kalian bertiga ikutlah tinggal bersamaku”, berkata Mahesa Amping menawarkan ketiganya untuk tinggal bersama di Pasanggrahannya.

“Ternyata kemenakan kecilku ini sudah punya sarang yang tetap”, berkata Muntilan yang ditanggapi dengan tawa dan senyum oleh Mahesa Amping.

Demikianlah, Mahesa Amping segera membawa Mahesa Semu, Muntilan dan Mahesa Darma ke Pasanggrahannya. Memperkenalkan ketiganya dengan Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara.

Sementara itu di tepi hutan maja terlihat tiga anak lelaki tengah berlatih penuh semangat dibawah pengawasan seorang pemuda. Putu Risang, pemuda yang diminta oleh Mahesa Amping untuk membimbing Gajahmada, Adityawarman dan Jayanagara terlihat penuh senyum kebanggaan mengawasi gerak ketiga anak itu yang begitu luwes dan gesit.

Putu Risang mengagumi gerakan mereka sudah begitu sempurna, ternyata selama di pulau Tanah Wangi-wangi ketiga anak itu telah dilatih langsung oleh seorang guru yang hebat yang tidak lain adalah Ratu Anggabhaya sendiri.

“Aku hanya sedikit memberikan beberapa perubahan”, berkata Putu Risang dalam hati sambil melihat gerakan ketiga anak itu yang mempunyai satu garis perguruan yang sama dengannya, tapi terakhir bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka telah lebih menyempurnakannya.

“Mereka adalah anak-anak yang cerdas serta sangat tangkas, pada suatu saat aku yakin pasti mereka akan menjadi tiga orang yang hebat, tiga orang yang akan dapat mengukir sejarah yang panjang di bumi ini”, berkata Putu Risang merasa yakin ketiga anak bimbingannya itu pasti punya masa depan yang cemerlang dilihat dari sinar garis wajah mereka seperti memancarkan sinar, cahaya bathin yang hanya dimiliki oleh mereka yang punya bakat sebagai seorang pemimpin sejati.

Terlihat Putu Risang tersenyum sendiri seperti melihat dirinya dimasa yang akan datang.

“Setiap hari aku harus pergi ke sawah, makan siang bersama di saung bersama seorang istri dan anak-anak tercinta, hidup dan tinggal di sebuah rumah sederhana”, berkata Putu Risang dalam hati membayangkan kehidupannya kelak nanti.

Tapi tiba-tiba saja bayangan Putu Risang terasa terbanting manakala terbayang sebuah peperangan dihadapan matanya.

“Mungkinkah suatu saat nanti akan datang sebuah bumi yang damai tanpa sebuah peperangan apapun?”, bertanya Putu Risang kepada dirinya sendiri.

“Setiap manusia yang merasa mampu akan mencari dan berlomba merebut tahta singgasananya, selama itu pula tidak akan surut sebuah peperangan”, berkata kembali Putu Risang merenungi sebuah kehidupan.

Hati dan pikiran Putu Risang akhirnya telah kembali di hari itu, ditepi hutan Maja.

“Hari sudah menjadi begitu terik”, berkata Putu Risang dalam hati sambil melihat matahari yang sudah mulai merayap diatas puncaknya. “Kita sudahi dulu latihan ini, apakah kalian tidak lapar?”, berkata Putu Risang kepada ketiga anak itu yang langsung dijawab dengan anggukan kepala bersamaan.

“Ikan petik bumbu palapa olahan bunda seperti sudah tercium”, berkata Gajahmada sambil memegang  perutnya yang memang terasa sangat lapar sambil berjalan dimuka.

Sementara itu, di tempat yang jauh dari Bumi Majapahit, di sebuah rumah besar salah seorang pejabat penguasa Kediri di Kotaraja Kediri terlihat telah berkumpul beberapa perwira prajurit. Nampaknya mereka tengah merayakan sebuah keberhasilan dari sebuah tugas besar.

“Para pemimpin padepokan ternyata adalah orang-orang bodoh, sekaligus para memimpi besar”, berkata seorang yang berkumis tebal yang nampaknya terlalu banyak minum arak. “Mereka begitu mudah ditipu bahwa hampir semua pemimpin padepokan di Jawadwipa pada bulan kedua akan datang beramai-ramai ke Bumi Majapahit untuk sebuah sayembara besar memperebutkan sebuah keris wahyu keraton, Keris Nagasasra”, berkata perwira berkumis tebal itu penuh kegembiraan.

“Dan mereka begitu mudahnya percaya”, berkata seorang perwira bergelang bahar besar sambil tertawa panjang disambut dengan gelak tawa beberapa orang yang hadir.

“Dan Raden Wijaya menjadi manusia paling bingung di dunia, dituntut untuk menyerahkan keris Nagasasra sebagai benda sayembara”, berkata Perwira berkumis tebal yang disambut gelak tawa semua yang hadir di tempat itu menjadikan suasana menjadi begitu riuh penuh diwarnai gelak tawa kegembiraan. Tapi mereka semua tidak tahu bahwa dirumah itu ada seorang pelayan tua yang telah mencoba  mencuri dengar pembicaraan meraka.

Ternyata pelayan tua itu adalah seorang petugas telik sandi kepercayaan Raden Wijaya yang sengaja ditanam di rumah itu.

Maka ditengah-tengah tugasnya sebagai seorang pelayan, petugas sandi itu telah menyelinap keluar  rumah besar itu untuk menemui pimpinannya disebuah rumah yang menjadi tempat pertemuan para petugas sandi di Kotaraja Kediri.

Kepada pemimpinnya itu, petugas telik sandi yang menyamar sebagai pelayan itu menceritakan semua yang didengarnya.

“Tuanku Raden Wijaya harus segera mengetahui berita ini agar dapat membuat sebuah tindakan yang tepat”, berkata pemimpin itu kepada petugas telik sandi yang langsung pamit diri untuk kembali kerumah pejabat kerajaan itu melaksanakan tugasnya kembali sebagai seorang pelayan.

Demikianlah, ketika matahari terlihat masih bergeser sedikit dari puncaknya terlihat seorang penunggang kuda telah meninggalkan Kotaraja Kediri.

Penunggang kuda itu ternyata adalah petugas telik sandi dari Bumi Majapahit, terlihat ketika sudah jauh keluar dari gerbang kota telah menghentakkan kakinya di perut kudanya agar berlari lebih kencang lagi.

0 Response to "Tapak-tapak Jejak Gajahmada Jilid 15"

Post a Comment