coba

Tapak-tapak Jejak Gajahmada Jilid 11

Mode Malam

Awan gelap pekat mengisi sepertiga cakrawala langit di atas pemukiman baru di Hutan Maja itu seperti tidak sabar untuk menggulung sisa senja yang telah lelah menatap bumi.

Akhirnya perlahan langit malam mulai menyelimuti warna bumi menjadi semakin menghitam kelam, kadang semilir angin dingin berdesir menyapu daun dan ranting, menggoyangkan pelita malam yang tergantung diatas pendapa pasanggrahan utama tempat kediaman Raden Wijaya.

“Beberapa hari yang lalu ada beberapa kerabat dagang kami yang telah menyampaikan tentang armada besar yang telah berlabuh di Bandar pelabuhan Rembang”, berkata Raden Wijaya dihadapan beberapa sahabatnya yang sengaja diundang untuk berkumpul di Pasanggrahan Utama, hadir pada saat itu tamu mereka Yongki dan Magucin. “Kehadiran mereka telah meresahkan penduduk setempat”, berkata kembali Raden Wijaya sambil memandang kearah Yongki dan Magucin. “Kami berharap banyak bahwa kehadiran saudara Yongki dan Magucin sebagai setitik cahaya harapan kami. Dan kami meyakini bahwa Gusti Yang Maha Agung telah membawa saudara Yongki dan Magucin datang kepada kami”, berkata Raden Wijaya kembali kepada kedua tamunya itu Yongki dan Magucin.

Terlihat semua mata yang ada di pendapa pasanggrahan utama itu semua memandang kearah Yongki dan Magucin. Sementara itu keduanya juga mengerti bahwa semua yang ada di pendapa itu menunggu jawaban dan perkataannya.

Terlihat Yongki menarik nafas panjang menoleh kearah kawannya sepertinya meminta ijin agar dirinya mewakili bicara. Magucin mengangguk perlahan, sebagai isyarat mempersilahkan Yongki berbicara atas nama mereka berdua.

“Terima kasih telah menerima kami berdua, sepertinya jalan untuk menemui tuanku Raden Wijaya begitu sangat sederhana seperti telah dituntun oleh tangan gaib sehingga hari ini kami telah berhadapan dengan tuanku Raden Wijaya”, berkata Yongki berhenti sebentar sambil menarik nafas perlahan. “Atas nama pemimpin tertinggi armada kami tuan Ike Mesi, kami mohon maaf atas keresahan para penduduk setempat dimana kami memang tidak dapat mengendalikan kebrutalan para prajurit kami sendiri. Kami percaya bahwa tuanku dapat memberikan pencerahan kepada kami sebagaimana harapan saudaraku Mengki yang meminta kami berdua mendatangi tuanku Raden Wijaya. Saudaraku Mengki telah berpesan kepada kami berdua bahwa bila mencari sekutu ditanah Jawa ini, tuanlah sekutu dan kawan terbaik itu”, berkata kembali Yongki. “Dan setelah bertemu dengan tuanku Raden Wijaya, kami semakin percaya ucapan dan perkataan saudaraku Mengki”. berkata Yongki yang ditujukannya kepada Raden Wijaya.

Terlihat Raden Wijaya tidak langsung menjawab perkataan Yongki, dikepalanya telah terkumpul apa yang akan diucapkannya, namun Raden Wijaya sepertinya tengah menunggu suasana. Seketika suasana diatas pendapa itu seperti menjadi begitu hening.

“Terima kasih atas kepercayaan saudaramu Mengki kepadaku, juga kepercayaan kalian berdua”, berkata Raden Wijaya berhenti sebentar sambil mengumpulkan rangkaian ucapannya kembali didalam pikirannya. Sementara semua yang hadir diatas pendapa itu seperti tengah menunggu apa yang akan disampaikan oleh pemimpin muda mereka itu. Dan Raden Wijaya dapat menangkap apa yang diharapkan oleh semua yang ada diatas pendapa itu, juga perasaan kedua tamu asingnya itu, Yongki dan Magucin.

“Hari ini aku telah meyakini sebuah karma phala, siapa yang menyemai angin, dia pula yang akan menuai badai. Sesungguhnya, penguasa Tanah Jawa saat inilah yang telah menyemai sendiri petakanya, atas ulah dan perbuatan merekalah yang telah melukai telinga saudara kita Mengki. Dan aku akan bersedia menjadi sahabat armada Kaisarmu, menuntun kalian lewat sungai dan darat untuk menghancurkan sang angkara, penguasa Tanah Jawa itu”, berkata Raden Wijaya kepada kedua tamu asingnya itu.

“Perkenan Tuanku menjadi sahabat yang dapat mengantar kami menunaikan tugas kami di Tanah Jawa ini adalah sebuah kehormatan”, berkata Yongki sambil merangkapkan kedua tangannya diikuti oleh Magucin, mereka nampaknya merasa gembira mendengar semua ucapan dari Raden Wijaya.

“Katakan kepada pemimpin kalian di Bandar Pelabuhan Rembang, sandarkanlah armada kalian di Bandar Tanah Ujung Galuh ini. Dan kami akan menjadi merasa senang menyambut kedatangan kalian sebagai sahabat”, berkata Raden Wijaya.

“Semua yang Tuanku katakan akan kami sampaikan kepada pimpinan kami”, berkata Yongki. “Secepatnya kami akan kembali ke bandar Rembang agar keresahan penduduk disana tidak berkepanjangan”, berkata kembali Yongki.

“Secepatnya pula kami akan menjadi tuan rumah yang baik bagi armada kalian”, berkata Raden Wijaya penuh senyum kegembiraan, didalam hatinya terasa menjadi lega telah menuntaskan keresahan penduduk Rembang, sebuah upaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab para penguasa Tanah Jawa saat ini. Tapi demi kemanusiaan dan tanggung jawab pribadinya atas  segala penderitaan orang disekitarnya membuat Raden Wijaya merasa ikut peduli.

“Malam ini kami bermaksud mohon pamit diri, besok pagi kami akan segera kembali dimana armada kami tengah menunggu”, berkata Yongki.

“kami berdoa untuk keselamatan kalian berdua, sayangnya malam ini kami terpaksa menahan kalian berdua untuk sekedar menikmati jamuan yang telah siap dihadapan kita ini”, berkata Raden Wijaya sambil melemparkan pandangannya kepada semua yang hadir di pendapanya sebagai sebuah tanda bahwa hidangan jamuan makan malam itu juga untuk semua yang hadir di pendapa pasanggrahannya.

Demikianlah, malam itu suasana di pasanggrahan Raden Wijaya terasa penuh kehangatan senda gurau. Kadang Raden Wijaya mencuri pandang penuh bahagia melihat bahwa semua sahabatnya telah berkumpul di  pemukiman barunya. “Mereka bersatu di atas tanah perdikan ini untukku”, berkata Raden Wijaya dalam hati penuh kebahagiaan dan haru berada diantara para sahabatnya yang setia.

Dan malampun telah lama menyekap batang-batang pohon disekitar Pasanggrahan Raden Wijaya, menyelimutinya dengan warna hitam malam. Semilir angin dingin terasa silih berganti mengusap tubuh siapapun yang ada diatas pendapoa Pasanggrahan utama itu.

“Malam pertama diatas tanah pemukiman baru”, berkata Raden Wijaya kepada Ki Sandikala sebagai orang terakhir yang meninggalkan pendapa Pasanggrahannya.

“Kita akan menyambut pagi esok bersama”, berkata Ki Sandikala kepada Raden Wijaya.

Ketika Ki Sandikala sudah tiba di Pasanggrahannya sendiri, terlihat Ki Sandikala sudah berada di dalam kamarnya tengah duduk di bibir peraduannya sambil memangku sebuah kotak kayu hitam.

Perlahan Ki Sandikala membuka kotak kayu hitam itu, sebuah cahaya merah memancar keluar dari balik kotak kayu hitam itu.

“Saatnya pusaka wahyu keraton ini berada di tangan pemiliknya yang sebenarnya. Semoga dengan Keris Nagasasra ini mampu menyinari jiwa Raden Wijaya menemukan Sang Raja Sejati di dalam dirinya, sebagai pengayom yang dihormati dan dipatuhi, sebagai raja adil di bumi”, berkata Ki Sandikala dalam hati sambil memandang keris yang masih berada di dalam kotak kayu hitam itu.

Perlahan Ki Sandikala menutup kembali kotak kayu hitam itu, terlihat dirinya seperti menarik nafas panjang dan perlahan melepaskannya sepertinya tidak ada beban lagi menghimpit rongga dadanya.

“Dan aku akan menjadi penjaga abadi di sisi Raden Wijaya sepanjang hidup ini”, berkata kembali Ki Sandikala dalam hati sambil kembali menarik nafas panjang.

Namun Ki Sandikala tidak juga dapat tertidur di pembaringannya, mata dan pikirannya jauh terbang melayang ke sebuah peperangan yang begitu besar, perang yang akan terjadi antara pasukan Kediri dengan pasukan Raden Wijaya yang dibantu armada besar pasukan Mongolia yang sebentar lagi akan datang bergabung.

“Garis kehidupan begitu penuh rahasia, siapa yang mampu menahan atau berlari dari guratan nasib ini. Dan aku hanya seorang hamba yang begitu lemah dihadapanMu wahai Gusti yang Maha Perkasa. Semoga hamba dapat menerima dan selalu mensyukuri apapun titahMu”, berkata Ki Sandikala sambil berbaring.

Dan malam diatas bumi Majapahit saat itu memang begitu senyap, cahaya bulan malam menyinari sembilan pasanggrahan yang terhubung satu dengan lainnya dengan jalan setapak yang terlindung dan dibatasi oleh pagar batu dan pintu gapura yang terukir begitu indah dipenuhi aneka tanaman bunga berbagai rupa.

“Istana Singasari begitu megah, tapi tidak seelok keindahan berada di Bumi Majapahit ini”, berkata seorang prajurit penjaga kepada kawannya sambil memandangi segerumbul bunga soka yang berjajar sepanjang jalan setapak.

“Kita seperti berada di Taman Nirwana”, berkata kawannya menyambung perkataan prajurit penjaga itu. “Apakah kamu sudah pernah berada di Taman Nirwana

?”, berkata prajurit penjaga itu sambil melirik penuh canda.

“kamu benar, aku memang belum pernah mati”, berkata kawannya sambil tertawa kecil.

Demikianlah dua prajurit penjaga itu telah kembali ke gardu rondanya menunggu malam yang sebentar lagi akan pergi berganti pagi.

Dan rembulan diatas bumi Majapahit sepertinya sudah terkantuk-kantuk pucat bergelantung terhalang kerindangan sebuah pohon Maja tua di sisi sebuah gardu ronda.

“Hari ini kita berdiri diatas tepi pantai, diatas guratan garis nasib yang Maha Agung”, berkata Ki Sandikala kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping sambil memandang jauh ke ujung sebuah perahu bercadik dimana diatasnya berdiri Magucin dan Yongki melambaikan tangannya.

“Tugas kita di dunia ini hanya menjalaninya, itulah arti syukur yang sebenarnya”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum menyambung perkataan Ki Sandikala.

“Menikmati sebuah perjalanan panjang”, berkata pula Raden Wijaya sambil tersenyum.

Demikianlah, terlihat tiga tokoh utama penguasa Bumi Majapahit itu terlihat berjalan beriring menuju benteng besar Tanah Ujung Galuh. Nampaknya ada banyak hal yang akan mereka perbincangkan menjelang kedatangan armada pasukan besar Mongolia dari Tanah Rembang.

Ketika telah tiba di pendapa benteng Tanah Galuh mereka bertiga sudah langsung membuat berbagai rencana besar, mulai dari penerimaan armada besar pasukan Mongolia sampai rencana serangan besar dari dua pasukan sekutu ini mengepung Kerajaan Kediri.

Namun mereka juga membicarakan beberapa hal penting yang mungkin akan terjadi menjelang usainya peperangan.

“Apa yang akan kita berikan seandainya penguasa Mongolia meminta terlalu banyak dari Tanah Jawa ini”, berkata Ki Sandikala meminta pertimbangan Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Aku terlahir dan hidup di Tanah Jawa ini, garis nasibku dipercaya menjaga dan melindunginya. Tidak akan kuberikan sedikit pun Tanah ini bagi siapa pun yang akan memerasnya seperti seekor sapi betina”, berkata Raden Wijaya dengan penuh semangat.

“Artinya kita harus punya kekuatan yang besar, sebuah tenaga cadangan yang dapat kita gerakkan di waktu  yang tepat”, berkata Ki Sandikala sambil memberikan beberapa rencananya secara rinci terutama menjelang akhir peperangan.

“Sebuah rencana akhir yang hebat”, berkata Mahesa Amping seakan menyetujui buah pikiran dari Ki Sandikala.

Namun belum usai pembicaraan mereka bertiga, datang kepada mereka seorang prajurit yang menyampaikan ada beberapa keluarga dari pulau Tanah Wangi-Wangi telah datang ikut berlayar bersama Jung Singasari.

Bukan main gembiranya hati Raden Wijaya dan Mahesa Amping mendengar kabar itu.

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Terlihat seorang pendeta tua datang bersama dua orang wanita. Terlihat tiga orang bocah kecil berjalan lincah di sisi pendeta tua itu. “Ayah ..!!”, berkata salah seorang bocah kecil itu sambil berlari mendekap Mahesa Amping.

“Ayah…!!!”, berkata pula salah seorang bocah kecil yang lain kepada Raden Wijaya yang langsung mendekapnya penuh kegembiraan.

Bocah kecil pertama yang memeluk Mahesa Amping ternyata adalah Adityawarman, sementara bocah kecil kedua yang berada di pelukan Raden Wijaya adalah Jayanagara.

Dan suasana diatas pendapa Benteng Tanah Ujung Galuh itu telah dipenuhi rasa suka cita penuh kebahagiaan, pertemuan keluarga, pertemuan para sahabat yang terpisah jarak dan waktu kini telah dipertemukan.

Pendeta Gunakara banyak bercerita tentang keadaan mereka selama di Pulau Tanah Wangi-wangi. Tentang kehidupan Ratu Anggabhaya di hari tuanya yang nampaknya telah menemukan dunianya menjadi seorang petani biasa yang begitu sangat bahagia.

“Ratu Anggabhaya titip salam untuk kalian”, berkata Pendeta Gunakara ditengah-tengah ceritanya.

“Bukankah ini tuan putri Gayatri ?”, berkata Mahesa Amping sambil memandang kearah seorang gadis muda yang baru tumbuh mekar berparas manis sangat elok rupawan.

Mendengar ucapan Mahesa Amping secara bersamaan semua orang yang ada diatas pendapa itu langsung melayangkan pandangannya kearah gadis itu.

Duhai sungguh siapapun terkesima memandang wajah gadis putri jelita itu yang semakin bertambah eloknya ketika sebuah senyum manis tersungging sedikit di ujung bibirnya seperti lukisan hidup tidak membuat jemu untuk terus memandangnya.

“Dari Pulau Tanah Wangi-wangi telah tumbuh berkembang sekuntum bunga yang harum penuh pesona. Nyi Ratu Kertanegara meminta aku untuk menjaganya di sepanjang perjalanan, semoga kiranya dapat menjadi hiasan menyempurnakan taman putri Pasanggrahan tuanku Raden Wijaya”, berkata Pendeta Gunakara dengan wajah penuh senyum memandang Raden Wijaya.

“Mewakili Tuanku Raden Wijaya, kami menerima dengan penuh suka cita dan kebanggaan titipan sembah kasih dari Nyi Ratu Kertanegara. Semoga bunga ini dapat tumbuh berkembang di taman hati Pasanggrahan baru, bumi yang masih basah, bumi Majapahit baru”, berkata Ki Sandikala yang dapat memaknai arti kiasan ucapan pendeta Gunakara sebagai arti perjodohan antara Raden Wijaya dengan putri Gayatri.

Demikianlah, suasana penuh kegembiraan diatas pendapa benteng Tanah Galuh itu semakin bertambah meriah ketika perjamuan datang menyempurnakan kehadiran pertemuan keluarga ini.

Sementara itu kehangatan cahaya matahari sudah semakin menjauhi bumi, menjauhi rumput hijau yang terbentang di halaman muka Benteng Tanah Ujung Galuh.

“Kalian adalah orang termuda diatas tanah baru ini, kalian akan lebih lama dari kami memandang cakrawala langit bumi Majapahit”, berkata Mahesa Amping kepada Gajah Mada, Adityawarman dan Jayanagara ketika mereka tengah merapat di tepian Kalimas menginjak tanah di seberang. “Kayu papan lantai pendapaku sudah tidak sabaran menunggu kedatangan kalian malam ini”, berkata Raden Wijaya kepada rombongan iring-iringan yang terpecah karena terbagi dalam beberapa kelompok. Putri Gayatri bersama Pendeta Gunakara ikut Ki Sandikala langsung ke Pasanggrahannya. Sementara itu Nyi Nariratih bersama Gajahmada, Adityawarman dan Jayanagara ikut bersama Mahesa Amping. Nampaknya ketiga bocah kecil itu sudah tidak bisa lagi dipisahkan.

Dan akhirnya sang senja perlahan menarik kerai bumi, perlahan sang malam telah mulai mengembangkan layar hitamnya memenuhi panggung bumi Majapahit dalam warna malamnya.

“Kita terlahir sebagai para ksatria penjaga bumi pertiwi, dan kita tidak akan pernah sedikitpun berbagi kekayaan kepada siapapun bangsa asing, berkata Ki Sandikala di malam itu di pendapa Pasanggrahan Raden Wijaya.

Hadir di pendapa Pasanggrahan Raden Wijaya beberapa tokoh bumi Majapahit selain Ki Sandikala dan tentunya Raden Wijaya, antara lain Mahesa Amping, Gajah Pagon, Ki Sukasrana, Argalanang dan Ranggalawe.

Mereka nampaknya tengah mempersiapkan rencana yang menyangkut kedatangan armada besar pasukan Mongolia yang sebentar lagi akan berlabuh di Bandar Tanah Ujung Galuh.

“Besok kita sebarkan kabar tentang hari upacara perkawinan antara Raden Wijaya dan Putri Gayatri, kabar ini akan menjadikan para penguasa Kediri untuk sementara merasa aman, tidak ada amuk grubuh dari pihak Raden Wijaya. Kita sebarkan undangan hari perkawinan itu di saat menjelang berakhirnya musim angin barat laut, dua kali bulan purnama lagi”, berkata kembali Ki Sandikala sambil merinci beberapa usulan rencananya.

“Sebuah rencana yang gemilang, mengusir anjing dengan membawa armada serigala, dan kita hanya perlu beberapa obor untuk mengusir para serigala yang kelelahan”, berkata Ranggalawe memuji siasat perang dari Ki Sandikala

“Kita perlu mengajak beberapa kerabat kita di beberapa Padepokan yang dapat kita yakini kesetiannya”, berkata Mahesa Amping memberikan sebuah saran.

“yang pasti para cantrik Padepokan Bajra Seta pasti akan berada dibelakang kita”, berkata Ki Sandikala sambil bercerita beberapa waktu yang lewat pernah bertemu dengan guru ketua dari Padepokan Bajra Seta yang tidak lain adalah Mahesa Mukti.

“Siapa yang akan siap berada di Tanah Ujung Galuh ini

?”, bertanya Raden Wijaya sambil menyapu pandangannya ke semua sahabatnya yang ada di pendapa Pasanggrahannya itu.

“Tuanku Raden Wijaya harus ikut dalam penyerangan ke Kediri agar pihak pasukan Mongolia tidak mencium rencana kita, biarlah aku menunjuk diriku sendiri yang tetap tinggal di Tanah Ujung Galuh sebagai obor yang akan memaksa para serigala menjauh”, berkata Ki Sandikala sambil tersenyum dan sepertinya semua yang ada di pendapa pasanggrahan itu menyetujuinya.

“Aku dan Gajah Pagon dalam waktu dekat ini akan menemui beberapa ketua padepokan di Singasari. Mudah-mudahan mereka dapat membantu kita”, berkata Mahesa Amping menawarkan dirinya menjadi utusan Raden Wijaya menemui beberapa ketua Padepokan besar di Singasari. Demikianlah, para tokoh bumi Majapahit itu masih terus menyempurnakan rencana mereka merebut kembali kekuasaan Tanah Jawa yang kini berada di tangan Raja Jayakatwang. Mereka akan menggunakan pasukan besar Mongolia yang sudah diakui kekuatannya di hampir seluruh penjuru dunia sebagai garda depan yang akan melumat habis kekuatan Kediri. Sementara itu setengah pasukan cadangan Raden Wijaya tetap menunggu di Bandar Ujung Galuh.

Sementara itu sang dewi malam telah rebah di barat cakrawala langit, temaram warna kuning cahayanya menerangi ujung-ujung daun pohon Maja tua di sisi sebuah gardu ronda di bumi Majapahit yang sebagian penghuninya sudah banyak yang terlelap tidur bersama mimpinya.

Sang fajar pagi itu bersinar cerah memutihkan tanah lapang di ujung timur bumi Majapahit. Di tanah lapang itu telah berkumpul para lelaki baik mereka yang berasal dari Madhura maupun para cantrik dari Padepokan Teratai Putih. Ki Sandikala dan putut Prastawa bersama Menak Koncar dan Menak Jingga terlihat juga ada bersama mereka. Ki Sandikala telah membagi orangorang di tanah lapang itu menjadi tiga kelompok, masingmasing kelompok berada dalam satu pimpinan. Putut Prastawa, Menak Koncar dan Menak Jingga masingmasing telah ditunjuk oleh Ki Sandikala untuk menjadi pemimpin dari kelompok-kelompok itu.

Sementara itu di Padukuhan Tanah Ujung Galuh juga pagi itu terlihat beberapa prajurit sepertinya telah disiagakan menjaga Padukuhan itu, ternyata Raden Wijaya sangat memperhatikan keamanan dan keselamatan warga Padukuhan itu, mungkin beliau tidak ingin apa yang telah terjadi di Tanah Rembang juga menimpa para warga Padukuhan Tanah Ujung Galuh, terutama para wanitanya. Ada sebuah kabar bahwa para prajurit Mongol sangat liar terutama bila melihat kaum wanita.

“Perang memang akan membawa sebuah penderitaan, baik yang menang apalagi yang kalah. Tugas kita dalam perang ini adalah membawa peperangan tanpa penderitaan yang banyak. Jalur sungai mungkin adalah jalan yang paling aman membawa pasukan besar prajurit Mongol menuju Kediri”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping dan Gajah Pagon yang akan tengah berangkat mencari dukungan ke berbagai Padepokan yang ada di bumi Singasari.

“Kita berjalan diatas genggaman Gusti Yang Maha Agung, semoga arah buah hati dan pikiran kita selalu di dalam genggaman-NYA jua”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

“Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu memberkati perjalanan kita”, berkata Raden Wijaya sambil melepas Mahesa Amping dan Gajah Pagon yang terlihat sudah menuruni anak tangga Pendapa Pasanggrahan Utama Raden Wijaya.

“Selekasnya aku akan kembali”, berkata Mahesa Amping diatas kudanya sambil melambaikan tangannya.

Ketika kuda Mahesa Amping dan Gajah Pagon menghilang di sebuah tikungan jalan, terlihat Raden Wijaya turun dari tangga pendapa Pasanggrahannya. Nampaknya pemimpin muda bumi Majapahit itu tengah melangkah menuju tanah lapang ingin melihat persiapan para pasukan cadangan yang dipimpin langsung oleh Ki Sandikala.

Bukan main gembiranya hati Raden Wijaya melihat persiapan yang dilakukan oleh pasukan cadangan itu, terlihat mereka tengah berlatih dalam berbagai alat peraga berbagai alat rintangan. Ternyata mereka tengah disiapkan untuk sebuah peperangan diatas air.

Raden Wijaya juga melihat para pemanah yang berlatih dengan panah apinya dalam berbagai jarak yang telah ditentukan.

“Sebuah persiapan yang hebat”, berkata Raden Wijaya kepada Ki Sandikala diatas tanah lapang tengah menyaksikan jalannya latihan para pasukannya itu.

“Hamba tengah mempersiapkan sebuah peperangan diatas air”, berkata Ki Sandikala sambil tersenyum menyambut kedatangan Raden Wijaya.

“Pasukan Angin Muson Timur”, berkata Raden Wijaya dengan penuh kegembiraan.

“Kita harus mengenal alam, waktu dan segala keadaan cuaca diatas medan perang, diatas keadaan itulah kita bisa unggul”, berkata Ki Sandikala menyampaikan beberapa siasatnya untuk menggerakkan pasukan cadangan yang dipercayakan kepadanya.

“Sebuah cara pertimbangan yang cermat”, berkata  Raden Wijaya memuji rencana dari Ki Sandikala.

Sementara itu suasana latihan di atas tanah lapang itu masih terus berlangsung penuh , sepertinya mereka tidak pernah merasa lelah sedikitpun, mereka juga seperti  tidak merasakan sinar matahari yang terus menghangat seiring berjalannya waktu.

Dan akhirnya ketika matahari sedikit bergulir dari puncaknya, latihan diatas tanah lapang itu diistirahatkan. Terlihat beberapa lelaki yang ditugaskan di dapur umum tengah membagikan ransum. Masih ditempat yang sama di bumi Majapahit terlihat seorang gadis manis berjalan menyusuri lorong jalan setapak menuju kearah Pasanggrahan Mahesa Amping.

Ternyata gadis manis gadis manis itu tidak lain adalah Endang Trinil, seorang keponakan dari Ki Sandikala.

Akhirnya gadis manis itu sudah berada dibawah tangga pendapa pasanggrahan Mahesa Amping. Datang menyongsong kedatangan gadis manis itu seorang pemuda berbadan tegap yang tidak lain adalah Putu Risang yang sudah melihat dari jauh kedatangan gadis manis itu.

“Apakah Bibi Nariratih ada didalam ?”, bertanya Endang Trinil kepada Putu Risang.

“Ada, aku akan memanggilnya”, berkata Putu Risang yang langsung berjalan menuju kearah pintu pringgitan.

Tidak lama berselang Putu Risang sudah terlihat kembali dari balik pintu pringgitan datang bersamanya seorang wanita yang tidak lain adalah Nyi Nariratih, ibunda dari Gajahmada yang dipanggil sebagai Mahesa Muksa.

Dengan penuh keramahan Nyi Nariratih mengajak Endang Trinil duduk diatas pendapa.

“Apakah aku boleh duduk bersama ?”, berkata Putu Risang dengan senyum menggoda.

Terlihat Endang Trinil tersenyum menatap kearah Putu Risang.

“Kami ada pembicaraan khusus antara kaum hawa, orang lelaki tidak boleh mendengarnya”, berkata Nyi Nariratih dengan gaya seorang ibu memarahi anaknya.

Terlihat Putu Risang hanya tersenyum sambil berpamit masuk kedalam, namun belum sempat melangkah Endang Trinil bertanya kepadanya.

“kakang Putu Risang tidak ikut latihan di tanah lapang ?”, bertanya Endang Trinil karena setahu dirinya semua lelaki di bumi Majapahit itu tengah berlatih diatas tanah lapang.

“Tuan guru Mahesa Amping telah menugaskan diriku ditempat yang berbeda”, berkata Putu Risang kepada Endang Trinil sambil kembali berpamit untuk masuk kedalam.

Terlihat Nyi Nariratih dan Endang Trinil tersenyum menutup bibirnya ketika Putu Risang tidak terlihat lagi menghilang dibalik pintu pringgitan.

Dua orang wanita apalagi yang dibicarakan oleh mereka selain masakan. Dan ternyata mereka memang tengah membicarakan masakan khas masing-masing dimana mereka berasal.

Pembicaraan mereka pun akhirnya terhenti ketika melihat Putu Risang terlihat muncul dari dalam.

“Aku pamit ingin menjenguk Adityawarman, Jayanagara dan Mahesa Muksa yang tengah bersama Pendeta Gunakara bermain di pinggir hutan”, berkata Putu Risang kepada Nyi Nariratih.

“Kalau begitu aku sekalian pamit diri, mumpung ada teman searah perjalanan”, berkata Endang Trinil kepada Nyi Nariratih.

“Bila ada waktu aku akan membuatkan untukmu Bubur Menggah Bali”, berkata Nyi Nariratih kepada Endang Trinil yang terlihat tengah menuruni anak tangga pendapa dimana sudah menunggu Putu Risang untuk berjalan bersamanya.

Dan tidak ada banyak pembicaraan antara dua anak muda itu selain sepatah dua patah kata selama diperjalanan.

“Apakah kamu kerasan tinggal di bumi Majapahit ini ?”, bertanya Putu Risang memecah kecanggungannya.

“Tinggal di bumi Majapahit sangat menyenangkan, bagaimana dengan Kakang Putu Risang sendiri ?”, berkata dan bertanya Endang Trinil

“Aku merasa kerasan, namun terkadang rindu dengan kampung halaman”, berkata Putu Risang dengan datar

“Pasti rindu dengan para gadis Bali tentunya”, berkata Endang Trinil dengan senyum menggoda.

Dan Putu Risang sempat melihat senyum manis itu meski tidak begitu lama, tiba-tiba saja jantungnya terasa berdegup tidak menentu.

“Aku merindukan kampung halaman”, berkata kembali Putu Risang.

“Kampung halaman apa gadis Bali ?”, bertanya kembali Endang Trinil dengan gaya menggoda membuat wajah Putu Risang memerah seperti kepiting rebus.

Dan Endang Trinil merasa kasihan kepada pemuda ini dan mulai mengenalnya sebagai pemuda yang pemalu, itulah sebabnya Endang Trinil tidak terus menggodanya.

Putu Risang merasa aman, jantungnya kembali seperti sedia kala, hanya langkahnya seperti terasa mengambang di udara. Dan Putu Risang merasa diselamatkan ketika mereka menemui sebuah jalan simpang, jalan arah ke Pasanggrahan Mahesa Amping dan jalan menuju ke tepi hutan.

“Terima kasih telah menemani aku “, berkata Endang Trinil ketika mereka berpisah di persimpangan jalan. “inikah rasanya berjalan berdekatan dengan seorang gadis ?”, berkata Putu Risang dalam hati.

Ketika sudah sampai di tepi hutan Maja, hati Putu Risang berdetak penuh kagum.

Apa yang tengah disaksikan oleh Putu Risang ?

Putu Risang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tiga anak lelaki kecil telah dapat naik keatas pohon berbatang besar dengan cara melompat dengan dua kali menjejak sudah dapat langsung berdiri diatas sebuah dahan yang mendatar. Tinggi dahan itu sekitar empat kali tinggi badan orang dewasa, namun dengan beraninya ketiga anak lelaki itu langsung turun kebawah dengan cara terjun melompat.

Ketiga anak lelaki itu ternyata adalah Gajahmada, Adityawarman dan Jayaraga. Sementara berdiri tidak jauh dari mereka adalah seorang berjubah pendeta yang ternyata adalah Pendeta Gunakara.

Terlihat Putu Risang tidak segera mendekati mereka, hanya duduk dibawah sebatang pohon yang rindang  tidak jauh dari mereka.

“Kemarilah”, berkata pendeta Gunakara kepada ketiga anak itu.

Tampaknya ketiga anak itu begitu penurut, serentak mereka bertiga sudah menghentikan permainannya dan berlari mendekati pendeta Gunakara.

“Aku akan tambahkan permainannya, sambil terjun melompat kalian harus dapat mengangkat batu kecil yang aku lemparkan kepada kalian”, berkata pendeta Gunakara dengan wajah penuh senyum kepada ketiga anak itu.

Terlihat Pendeta Gunakara telah mengumpulkan beberapa kerikil. Dan ketiga anak itu sudah kembali ke permainannya, hanya seperti yang sebelumnya dilihat oleh Putu Risang. Kali ini mereka terjun melompat sambil menangkap sebuah batu yang dilemparkan oleh pendeta Gunakara.

“Pendeta Gunakara telah melatih mereka sebuah dasar ilmu meringankan tubuh yang hebat, melatih keseimbangan tubuh”, berkata Putu Risang sambil tetap duduk ditempatnya.

Sementara itu ketiga anak itu seperti mendapat permainan baru, benar-benar anak-anak yang berani. Mungkin didalam diri mereka telah mengalir darah para ksatria.

“Tuan Mahaguru kecilku benar-benar mempunyai bakat yang luar biasa”, berkata Pendeta Gunakara sambil memperhatikan Gajahmada atau Mahesa Muksa yang dipercayakan olehnya sebagai titisan guru besarnya pendeta Jamyang Dawa Lama, seorang pendeta yang ternama dari daerah Tibet, sebuah tempat yang begitu jauh. “Pada waktunya semoga aku dapat membawanya ke Wihara dimana para paman guruku saat ini pasti masih menunggu kabar gembira ini”, berkata kembali pendeta Gunakara dalam hati.

Sementara itu matahari terlihat semakin condong ke barat, tanah diatas hutan itu sudah menjadi semakin teduh.

“permainan hari ini sudah cukup, besok kita lanjutkan kembali, kasihan Kakang Putu Risang sudah lama menunggu kalian”, berkata Pendeta Gunakara tanpa menoleh kearah tempat dimana Putu Risang tengah duduk.

Diam-diam Putu Risang mengagumi ketajaman pendengaran pendeta Gunakara.

Sambil tersenyum Putu Risang berdiri, menanti Pendeta Gunakara dan ketiga anak itu datang mendekat.

Dan dibawah kerindangan hari yang sudah teduh itu mereka terlihat berjalan kearah pulang.

“Lama sekali kalian bermain”, berkata Nyi Nariratih dari atas pendapa menyambut kedatangan mereka yang terlihat satu persatu tengah menaiki anak tangga pendapa.

“Seorang prajurit tadi datang memberi kabar bahwa kamu diminta malam ini datang ke Pasanggrahan utama”, berkata Nyi Nariratih kepada Putu Risang.

“Terima kasih Nyi, nanti malam aku akan kesana”, berkata Putu Risang yang nampaknya sudah dapat memperkirakan gerangan apa atas panggilan itu menghadap Raden Wijaya, penguasa tunggal di bumi Majapahit yang sangat dihormatinya itu.

Beberapa hari yang lewat, Mahesa Amping memang pernah membicarakan sesuatu kepada Putu Risang bahwa dirinya telah ditunjuk untuk melakukan sebuah tugas rahasia dari Raden Wijaya.

Demikianlah, ketika senja mulai berakhir mendekati waktu malam. Putu Risang terlihat pamit diri kepada Nyi Nariratih dan pendeta Gunakara.

Meski sudah tahu bahwa dirinya telah ditunjuk untuk melaksanakan sebuah tugas rahasia, namun Putu Risang tidak dapat menebak tugas rahasia apa yang akan dilaksanakan, kemana dan berapa lama perjalanannya.

Namun Putu Risang adalah seorang pemuda yang sudah dilatih oleh Mahesa Amping baik dalam olah Kanuragan maupun olah kajiwaan. Terlihat dirinya berjalan begitu tenang, langkah kakinya terlihat begitu mapan dan mantap melangkah menyusuri lorong jalan menuju pasanggrahan utama.

“Selamat datang anak muda, aku memang menunggumu”, berkata Raden Wijaya menyambut kedatangan pemuda mencoba memecah kecanggungannya.

“Maafkan hamba bila telah membuat tuanku menunggu”, berkata Putu Risang yang dipersilahkan duduk bersama Raden Wijaya.

“Mungkin sebagian Mahesa Amping telah memberitahukan kepadamu tentang tugas yang akan kamu emban. Malam ini aku hanya memperjelas tugas rahasia ini”, berkata Raden Wijaya sambil tersenyum memandang kearah Putu Risang.

Demikianlah, Raden Wijaya selanjutnya secara terinci menyampaikan tugas apa yang akan diberikannya itu, yaitu sebuah tugas rahasia dimana Putu Risang diminta untuk berangkat sendiri ke Kediri menemui langsung Ratu Turuk Bali, permaisuri Raja Jayakatwang.

“Kamu harus dapat menemui permaisuri Ratu tanpa seorang pun yang mengetahui. Katakan kepadanya pesan dariku bahwa sebelum purnama kedua sudah menjauhi Kediri”, berkata Raden Wijaya kepada Putu Risang tentang apa tugasnya itu sambil memberikan beberapa petunjuk yang harus dilakukannya baik selama diperjalanan maupun setelah tiba di Kotaraja Kediri. Hal ini memang sengaja disampaikan oleh raden Wijaya yang tahu betul bahwa Putu Risang belum pernah punya pengalaman yang banyak dalam tugas pertamanya ini.

Dan malam saat itu telah menyelimuti bumi Majapahit, seorang pemuda terlihat tengah berjalan menyusuri jalan setapak menuju gapura pasanggrahan Mahesa Amping. Pemuda itu tidak lain adalah Putu Risang.

Putu Risang akhirnya telah melewati pintu gapura pasanggrahan dan telah mendekati tangga pendapa. Sementara itu di pendapa sudah menanti Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara diatas pendapa.

“Aku mendapat tugas rahasia”, berkata Putu Risang kepada Nyi Nariratih dan pendeta Gunakara yang diyakini dapat memegang rahasia dan sudah dianggapnya sebagai keluarganya sendiri. Meski begitu Putu Risang tidak bicara seluruhnya terutama pesan apa yang akan disampaikan kepada Ratu Turuk Bali.

“Aku berdoa untukmu, semoga selalu diberikan keselamatan”, berkata Nyi Nariratih kepada Putu Risang.

“Terima kasih Mbokayu”, berkata Putu Risang kepada Nyi Nariratih

“Aku juga berdoa, semoga kamu selalu diberikan kesehatan dan kekuatan lahir bathin”, berkata pula Pendeta Gunakara

“Terima kasih tuan pendeta”, berkata Putu Risang kepada pendeta Gunakara.

Demikianlah, ketika hari masih pagi Putu Risang sudah bersih-bersih siap untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh.

“Selamat jalan anak muda”, berkata Pendeta Gunakara sambil mengarahkan lambaian tangannya kearah Putu Risang yang sudah berjalan menuntun tali kekang kudanya menuju arah gapura luar Pasanggrahan.

Dan angin sejuk di pagi hari itu telah membelai rambut Putu Risang yang disanggul ringkas terlihat sudah berada diatas punggung kudanya.

Ketika melewati sebuah jalan di Bumi Majapahit masih dilihatnya para lelaki yang tengah berlatih diatas tanah lapang.

“Bila tidak ada tugas rahasia ini mungkin aku telah berkumpul bersama mereka”, berkata Putu Risang  sambil menoleh kearah tanah lapang dimana hampir seluruh lelaki di bumi Majapahit itu tengah berkumpul untuk melakukan sebuah latihan khusus.

Akhirnya Putu Risang telah sampai di tepi Hutan Maja. Bayang-bayang kerindangan hutan Maja seperti sebuah mulut besar raksasa hitam melenyapkan tubuh dan kuda Putu Risang yang langsung menyusuri jalan setapak yang nampaknya sudah begitu sering dilalui orang.

Bau tanah dan daun basah yang terbawa angin terhembus dan tercium begitu segarnya dirasakan oleh Putu Risang membuat dirinya sedikit terhibur.

“Senyumnya begitu manis”, berkata Putu Risang dalam hati sambil tersenyum sendiri ketika tiba-tiba saja bayangan Endang Trinil melintas dalam alam pikirannya.

Putu Risang masih terus berjalan diatas kudanya. Sementara alam pikirannya kadang terbang kebelakang dimana dirinya masih di Padepokan Pamecutan membuat dirinya begitu merindukan saat-saat indah bersama saudara seperguruan dalam canda tawa kesederhanaan. Namun terkadang pula alam pikirannya jauh terbang kearah Kotaraja Kediri dan sepanjang perjalanan yang belum pernah disinggahi telah membuat perasaan hatinya dipenuhi rasa khawatir, ragu dan gundah.

Tapi akhirnya Putu Risang mampu mengendalikan dirinya ketika teringat beberapa nasehat dari Empu Dangka bahwa janganlah dirimu di ombang-ambingkan oleh perasaanmu sendiri, manakala dirimu menoleh kebelakang, maka yang hadir adalah perasaan sedihmu, manakala dirimu memandang jauh kedepan, maka yang hadir adalah perasaan cemas dan gelisah. Maka hendaklah dirimu selalu menyandarkan hatimu kepada Yang Maha Agung pemilik diri ini, maka saat itulah dirimu hidup di hari ini, bukan kemarin dan besok.

Demikianlah, akhirnya Putu Risang dapat mengendalikan perasaan hatinya, menikmati perjalanannya dengan memasrahkan segala kehendak hanya kepada Gusti Yang Maha Agung. Dan Putu Risang sudah dapat menikmati indahnya suasana pemandangan hutan Maja, indahnya warna daun yang hijau, indahnya suara burung berkicau yang terbang hinggap diantara batang dahan.

“Indahnya perjalanan ini”, berkata Putu Risang dalam hati ketika dirinya terlihat telah keluar dari hutan Maja dimana dihadapannya terbentang padang ilalang terhadang perbukitan biru jauh di ujung sana.

Dan Putu Risang terlihat telah menghentakkan kakinya sedikit ke perut kudanya. Maka seketika itu kudanya telah berlari menyusuri padang ilalang, berlari membelah padang ilalang.

Terlihat angin seperti mengurai rambut dan pakaian sederhananya. Pakaian sederhana layaknya para pengembara. Namun tidak mengurangi kegagahan Putu Risang, seorang pemuda yang telah mulai tumbuh dewasa dengan tubuh yang terlihat tegap, berotot dan berisi menandakan telah banyak ditempa dalam latihan yang cukup lama.

Dan akhirnya Putu Risang telah berada dibawah kaki sebuah bukit kecil, diarahkan kendali kudanya menapaki jalan yang menanjak menuju punggung bukit kecil.

Dan akhirnya Putu Risang sudah berada diatas puncak bukit kecil itu, dihadapannya dibawah bukit kecil terlihat hamparan sawah padi menghijau. Ditengah persawahan itu terlihat beberapa rumah penduduk seperti sebuah pulau dikelilingi hamparan sawah ladang yang luas.

“Padukuhan Maja”, berkata Putu Risang dalam hati mengingat kembali arah tujuan yang pernah disampaikan oleh Raden Wijaya kepadanya.

Terlihat Putu Risang sudah menuruni bukit kecil itu, dan dihentakkan kakinya ke perut kudanya perlahan ketika menemui sebuah jalan bulakan panjang.

Terlihat kuda Putu Risang telah berlari kembali seperti angin diatas jalan bulakan panjang itu mendekati sebuah jalan padukuhan.

Ketika kudanya telah memasuki Padukuhan Maja, hari sudah mulai terang tanah, beberapa orang  terlihat tengah berlalu lalang di jalan Padukuhan Maja itu. Dan Putu Risang telah memperlambat laju kudanya.

Dan Putu Risang masih diatas punggung kudanya.

Terlihat dua orang gadis desa berjalan membawa bakul berlawanan arah dengan Putu Risang. Salah seorang dari gadis itu terlihat melemparkan pandangannya kearah Putu Risang.

“Seorang pemuda yang cukup tampan”, berkata gadis itu dalam hati sambil mencubit lengan kawannya.

Kawan gadis itu sepertinya mengerti maksud gadis itu, maka dengan senyum dikulum kawan gadis itu ikut pula memandang kearah Putu Risang. Sekejap pandangan kedua gadis itu memang telah ditangkap pula oleh Putu Risang, namun dirinya segera melemparkan pandangannya ke muka, seakan-akan tidak menghiraukan curi pandang kedua gadis itu.

Dan akhirnya Putu Risang telah keluar dari Padukuhan Maja.

Ada sebuah bukit cemara dihadapan Putu Risang yang harus di lewati.

Dan Putu Risang telah berada di punggung bukit itu.

Semilir angin bertiup lembut membelai wajah Putu Risang yang telah terbakar matahari di siang itu. Di sebuah batu besar yang teduh terhalang sinar matahari, Putu Risang berhenti beristirahat.

Dibiarkannya kudanya merumput. Sementara itu Putu Risang telah membuka bekalnya.

Putu Risang memandang kearah puncak bukit Cemara itu yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri.

Perlahan Putu Risang menangkap dua buah kepala muncul dari balik puncak bukit Cemara. Perlahan pula sosok dua kepala itu akhirnya terlihat sempurna seluruh tubuhnya.

“Dua orang lelaki”, berkata Putu Risang dalam hati yang telah melihat dua sosok tubuh berjalan ke arahnya.

Tapi kedua orang itu masih terlalu jauh.

Dan Putu Risang masih tetap menyelesaikan makan bekalnya seperti tidak menghiraukan kedua orang yang sedang berjalan.

Dan Putu Risang masih belum menyelesaikan makannya ketika kedua orang itu sudah datang semakin mendekat. “Kuda yang bagus”, berkata salah seorang diantara mereka.

Dan Putu Risang masih juga belum menyelesaikan makannya, namun matanya sudah melihat sosok kedua orang itu, juga mendengar salah seorang diantara mereka yang mempunyai cacat dikeningnya berkata mengenai kudanya.

“Benar, kuda yang mahal”, berkata juga temannya sambil bertolak pinggang memandangi kuda Putu Risang layaknya seorang saudagar tengah menilik seekor kuda dagangan.

“Cukup untuk modal berjudi”, berkata orang yang berkening cacat sambil tertawa.

Dan Putu Risang memang telah menyelesaikan makan siangnya, bahkan sudah memberesi bungkusannya.

“Siapa yang naik diatas kuda ini? ” berkata kawan orang yang satunya.

“Aku saja yang naik” berkata orang yang punya cacat di keningnya.

Putu Risang mulai tidak menyukai perilaku kedua orang itu, yang tidak menganggap sama sekali kehadirannya.

“Kenapa kalian tidak menanyakan kepada pemiliknya?” berkata Putu Risang kepada kedua orang itu sambil berdiri, tapi masih dapat mengendalikan kemarahannya.

Mendengar perkataan Putu Risang, terlihat kedua orang itu menoleh ke arah Putu Risang memperhatikan diri  Putu Risang dari bawah kaki sampai keatas kepala.

Tiba-tiba saja kedua orang itu tertawa terbahak-bahak.

“Kamu kah pemilik kuda ini?“ berkata orang yang mempunyai cacat di kening masih tertawa. “Jangan-jangan kamu pencuri kuda di sebuah Padukuhan dan sekarang ingin melarikan diri” berkata pula kawannya masih juga dengan tertawa terpingkalpingkal.

“Benar aku pencuri kuda ini, lalu kalian mau apa?” berkata Putu Risang yang benar-benar sudah habis kesabaranya.

Dan kedua orang itu kembali tertawa, kali ini lebih keras lagi.

Tawa kedua orang itu telah menyadarkan diri Putu Risang bahwa dirinya harus dapat mengendalikan perasaanya sendiri.

Maka bukan main herannya kedua orang itu karena melihat Putu Risang tertawa terpingkal-pingkal, dan tawanya itu telah membuat kedua orang itu menjadi tidak suka hati.

“Kenapa kamu tertawa?”, berkata salah satu diantaranya.

Mendengar pertanyaan itu Putu Risang mencoba menghenti-kan tawanya, tapi masih sedikit tersenyum.

“Aku seorang pencuri dan kalian tua bangka raja pencuri” berkata Putu Risang sambil kembali tertawa.

“Jangan tertawa!!”, berkata si cacat kening terlihat sudah menjadi naik pitam.

“Kenapa aku tidak boleh tertawa?” berkata Putu Risang

“Harusnya kamu sudah lari ketakutan seandainya tahu siapa kami” berkata si cacat kening sambil melotot ke arah Putu Risang, wajahnya benar-benar menakutkan.

“Sayangnya aku tidak tahu siapa kalian” berkata Putu Risang dengan begitu santainya tanpa ada perasaan takut sedikit pun. “Pasang telinga kamu agar kami tidak dua kali menyebut nama” berkata si cacat kening

“Aku sudah siap mendengar” berkata Putu Risang sambil menyentuh ujung telinganya.

“Dengar baik-baik, kami adalah sepasang serigala bukit cemara ini”, berkata si cacat kening dengan mata mendelik begitu menyeramkan.

“Sayang sekali aku baru mendengar nama itu”, berkata Putu dengan wajah datar.

“Kamu memang harus di perkenalkan bagaimana rasanya bertemu dengan kami berdua di bukit cemara ini” berkata kawan yang satunya lagi nampaknya sudah terpancing kemarahannya.

“Wusss…!!”, tangan orang itu sudah langsung menyambar wajah Putu Risang namun melesat sedikit karena dengan santainya Putu Risang telah bergeser.

“Plok..!!”, tangan Putu Risang telah berlabuh di daun telinga orang itu, meski Putu Risang tidak menggunakan tenaga penuh namun sudah membuat orang itu terhuyung merasakan panas dan sedikit pening di kepalanya.

Melihat kawannya dengan mudahnya diperlakukan oleh Putu Risang, tanpa berpikir panjang lagi si cacat kening sudah melepas golok yang menggantung di pinggangnya dan langsung menyerang ke arah Putu Risang.

“Bettt…!”, angin sebuah sabetan golok yang lewat sedikit dari pinggang Putu Risang yang sangat cepat bergeser dari tempatnya berdiri dan dengan gerakan yang sudah sangat terlatih langsung melepaskan sebuah tendangan menggunting ke arah si cacat kening.

Akibatnya sangat tidak mengenakkan, karena si cacat kening jatuh ke tanah dengan ekor pantatnya yang lebih dahulu mencium kerasnya tanah diatas bukit cemara yang berbatu itu.

“Ahhhh…” terdengar suara desah kesakitan si cacat kening itu masih tidak berusaha bangkit, nampaknya ingin meredakan rasa sakitnya dahulu.

Sementara kawannya melihat si cacat kening dengan mudahnya dijatuhkan oleh Putu Risang menjadi sangat begitu penasaran, dirinya merasa bahwa Putu Risang hanya kebetulan dan hanya sebuah keberuntungan.

“Jangan gembira dulu dengan sedikit keberuntunganmu”, berkata kawannya sambil melepas golok dari pinggangnya.

Namun belum lagi orang itu berbuat apapun, tiba-tiba saja dirasakannya kedua pipinya seperti dibenturkan oleh batu besar.

“Plok..!!”, terdengar suara tamparan.

Dengan mata terbelalak tidak percaya, orang itu terlihat telah memegang sebelah pipinya yang dirasakan sakit sekali. Ternyata darah segar telah keluar sedikit dari bibirnya dan terlihat lagi orang itu memuntahkan sebuah giginya yang tanggal akibat tamparan yang cukup keras dari Putu Risang yang benar-benar tidak diketahui dengan cara apa bergerak begitu cepatnya.

Dan si cacat kening telah melihat semua itu dengan mata terbelalak seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu.

0 Response to "Tapak-tapak Jejak Gajahmada Jilid 11"

Post a Comment