Tapak-tapak Jejak Gajahmada Jilid 10

Mode Malam
MATAHARI sudah semakin bergeser turun di kaki cakrawala langit ketika rombongan Ki Sandikala terlihat telah keluar dari Hutan Ranu Regola.

“Dibalik bukit cemara itu ada sebuah Kademangan yang cukup ramai, mungkin kita akan bermalam disana sekalian mencari kuda tunggangan yang baik”, berkata Ki Sandikala dengan wajah ceria menunjuk sebuah bukit kecil yang penuh dipenuhi pohon cemara.

Magucin dan Yongki tidak menunggangi kudanya, mereka berjalan beriring sambil menuntun kudanya.

Sungguh elok pemandangan diatas bukit cemara manakala matahari telah berada diujung senja. Hamparan bumi begitu bening dan teduh memayungi setiap hati yang memandangnya. Sejauh mata memandang seperti menatap lukisan alam yang indah mendamaikan setiap jiwa.

Langit senja mengalungi hutan Maja yang masih  dipenuhi banyak orang yang sepertinya tidak pernah  lelah mengukir setiap jengkal tanah hutan itu menjadi sebuah karya kehidupan yang nyata.

Tidak jemu mata Raden Wijaya menatap petak-petak sawah dan ladang yang sudah mulai terbentuk lengkap dengan aliran sungai-sungai kecil yang sengaja dibagi rata guna dapat mengairi sawah sepanjang musim. Adipati Arya Wiraraja ternyata memang telah memenuhi janjinya, mengirim orang-orang terbaiknya yang bukan hanya para petarung yang hebat di medan pertempuran, namun mereka juga sebagai para pekerja yang gigih membuka lahan pertanian.

“Orang-orang dari Padepokan Teratai Putih ternyata bukan hanya pandai memainkan senjata cakranya, tangan-tangan mereka juga sangat mahir mengukir batuan menjadi arca yang sangat halus”, berkata Gajah Pagon kepada Raden Wijaya yang mengantarnya berjalan menyusuri jalan-jalan antar padukuhan.

Seperti yang dikatakan oleh Gajah Pagon, para pengikut Ki Sandikala memang para pematung yang hebat. Mereka telah membuat dinding batu penuh dengan lukisan yang terpahat halus mengelilingi pasanggrahan utama, mereka juga telah membuat delapan gapura yang indah yang menjadi penghubung antara pasanggrahan utama menuju delapan pasanggrahan yang kelak akan dihuni para bebahu dan penguasa tanah perdikan baru di hutan Maja itu.

“Ki Sandikala memang seorang perancang yang hebat, semula aku mengira ditanah ini akan berdiri sebuah Tanah Perdikan sebagaimana yang biasa kita lihat di beberapa tempat. Tapi ternyata yang berdiri di hutan ini mirip sebuah Kotaraja baru yang tumbuh berkembang penuh keasrian. Sebuah Kotaraja yang teduh dipenuhi pohon kayu yang rindang tumbuh disepanjang jalan”, berkata Ki Sukasrana yang juga ikut menemani Raden Wijaya.

“Tanah Perdikan ini akan menjadi sebuah daerah pertahanan yang kuat”, berkata Raden Wijaya sambil memandang sebuah lukisan batu dinding yang indah.

“Musuh dari manapun akan mudah terlihat, dan kita hanya menempatkan para pemanah ulung di setiap tempat”, berkata Gajah Pagon sambil menyapu pandangannya kearah sekitarnya.

“Mari kita kembali ke benteng prajurit”, berkata Raden Wijaya ketika suasana sudah menjadi mulai gelap karena sang malam memang telah mulai datang mewarnai langit.

Namun, ditengah perjalanan menuju Tanah Ujung Galuh mereka menemui seorang prajurit yang datang sengaja mencari Raden Wijaya.

Prajurit itu memberi kabar bahwa telah datang rombongan dari Balidwipa.

“Mahesa Amping dan rombongannya telah datang”, berkata Raden Wijaya kepada Gajah Pagon dan Ki Sukasrana dengan wajah penuh ceria mendengar kedatangan sahabat setianya Mahesa Amping.

“Berapa orang yang datang dari Balidwipa?”, bertanya Raden Wijaya kepada prajurit yang datang membawa kabar itu.

“Ada sekitar seratus orang”, berkata prajurit itu.

“Mahesa Amping pasti bersama orang-orang dari padepokan Pamecutan”, berkata Gajah Pagon.

Raden Wijaya, Ki Sukasrana dan Gajah Pagon terlihat tengah menyeberangi Sungai Kalimas. Nampaknya mereka tidak sabar menemui sahabat mereka Mahesa Amping.

“Seratus orang yang baru datang dari Balidwipa mungkin untuk sementara dapat beristirahat di benteng prajurit”, berkata Ki Sukasrana kepada Raden Wijaya ketika mereka tengah berjalan di Padukuhan Ujung Galuh tengah menuju Benteng Prajurit.

“Selamat datang wahai sahabatku”, berkata raden Wijaya ketika mereka telah tiba di Benteng prajurit melihat Mahesa Amping tengah berbincang-bincang ditemani oleh Ranggalawe.

“Tadinya aku mengira terdampar di pulau lain, karena ketika aku berangkat benteng besar ini belum berdiri”, berkata Mahesa Amping sambil memandang dan mengagumi pendapa utama yang memang cukup besar.

Setelah menyampaikan keselamatan masing-masing, Raden Wijaya bercerita tentang pembangunan tanah hunian baru di Hutan Maja. Bukan main gembiranya hati Mahesa Amping mendengar bahwa pembangunan tanah hunian baru di Hutan Maja dalam pekan ini akan dapat terselesaikan.

“Orang-orang dari Madura dan para pengikut setia Ki Sandikala memang para pekerja yang penuh semangat”, berkata Gajah Pagon memuji hasil kerja para pendatang baru dari Madura dan para pengikut setia Ki Sandikala.

“Semoga tidak ada banyak masalah yang timbul dari perbedaan asal dan usul mereka yang datang dari tempat yang berbeda”, berkata Mahesa Amping yang punya banyak pengalaman bahwa kadang ada terjadi benturan akibat perbedaan budaya yang berbeda.

“Kadang kebersamaan akan tumbuh ketika dua orang yang berbeda menemui kegetiran yang sama”, berkata Ki Sukasrana berbagi pengalaman.

“Saatnya kita melupakan dari mana asal dan usul mereka dengan memperlakukan mereka dengan cara yang sama tanpa sedikitpun perbedaan dan kecemburuan. Saatnya juga kita mempersatukan semua dengan cara pandang yang sama, berjuang untuk kebersamaan berbagi masa depan bersama”, berkata Mahesa Amping.

“Yang paling utama adalah tetap menyembunyikan kekuatan kita sampai waktunya tiba, kita harus menyembunyikan keadaan yang sebenarnya bahwa para penguasa Kediri hanya melihat bahwa kita tengah membangun sebuah tanah perdikan baru, dan bukan kekuatan dan tandingan baru”, berkata Raden Wijaya.

“Maksud dari perkataan tuan Senapati kita adalah bahwa silahkan yang belum punya keluarga untuk mencari gadis-gadis desa terdekat sebagai calon istrinya”, berkata Ranggalawe yang ditanggapi senyum dan tawa dari semua yang ada diatas pendapa utama itu. “Aku akan menunggu siapa yang paling berani datang melamar anak gadis Ki Bekel Ujung Galuh”, berkata Ki Sukasrana menambah suasana menjadi lebih ramai lagi dimana selama ini memang anak gadis Ki Bekel selalu menjadi bahan pembicaraan yang sangat mengasyikkan diantara para prajurit muda.

—oOo—

Ki Sandikala dan rombongannya sudah berada di bawah lereng bukit Cemara, di hadapan mereka sudah terlihat hamparan sawah membentang hijau dipayungi lengkung langit yang sebentar lagi akan menjadi gelap, sebentar lagi hari memang akan menjelang malam.

Mereka telah melewati regol muka pintu gerbang Kademangan Pulungdowo.

Namun ketika mereka tengah menyusuri jalan Kademangan yang telah sepi itu, mereka melihat begitu banyak orang bergerumbul di muka sebuah rumah.

Rasa penasaran membuat mereka mendekati rumah itu yang telah dipenuhi banyak orang.

Ketika Ki Sandikala dan rombongannya memasuki halaman rumah itu, terdengar dari dalam tangisan seorang wanita yang terdengar meraung-raung sesekali menyebut sebuah nama.

“Apa yang terjadi dengan wanita didalam rumah itu?”, bertanya Ki Sandikala kepada seorang lelaki yang ada di halaman rumah itu.

Lelaki yang ditanya oleh Ki Sandikala terlihat mengamati diri Ki Sandikala, merasa belum pernah mengenalnya.

“Kisanak pasti bukan warga Kademangan ini”, berkata lelaki itu masih memperhatikan Ki Sandikala. “Kami hanya pengembara yang kebetulan lewat Kademangan ini”, berkata Ki Sandikala. ”Apa yang terjadi dengan wanita di dalam itu ?”, bertanya kembali Ki Sandikala mengulang pertanyaannya.

“Anak gadisnya telah diculik oleh para prajurit yang lewat di Kademangan ini tadi siang”, berkata lelaki itu menjelaskan apa yang telah terjadi.

“Orang-orang di Kademangan ini tidak ada yang mencegahnya?”, bertanya Ki Sandikala.

“Tidak ada seorang pun lelaki di Kademangan ini yang berani menghadapi sekelompok prajurit itu”, berkata lelaki itu seperti menyesali bahwa dirinya juga termasuk orang-orang yang tidak berani mencegah perbuatan sekelompok prajurit yang tadi siang telah melewati Kademangan mereka dan membawa pergi anak gadis dari keluarga ini.

“Apakah yang kamu maksudkan sekelompok prajurit Kediri?”, bertanya Ki Sandikala mencoba memastikan dugaannya.

“Benar, mereka adalah para ptajurit Kediri”, berkata lelaki itu menjawab pertanyaan Ki Sandikala.

Ki Sandikala menjadi yakin dengan dugaannya, adalah pikirannya telah terbayang sekelompok prajurit Kediri yang dipimpin oleh pamannya sendiri, Ki Narada.

“Hati dan pikiran Paman Narada sudah jauh dari tuntunan”, berkata Ki Sandikala dalam hati.

Kepada keluarga dan dua orang asing, Ki Sandikala menjelaskan apa yang telah terjadi pada keluarga itu dimana ibu dari anak gadis itu masih bersedih dan berduka sangat berat sekali sehingga tangisannya masih seperti meraung-raung. “Kita harus membantunya Ayah”, berkata Menak Koncar yang ikut merasa berduka atas kemalangan dan musibah yang menimpa keluarga itu.

Ki Sandikala menatap wajah Menak Koncar, juga memandang berturut-turut kepada Menak Jinggo dan Endang Trinil. Ki Sandikala melihat dan membaca wajah dua anak dan keponakannya itu sebagai wajah penuh harapan agar dirinya dapat membantu keluarga yang kemalangan itu. Terlihat Ki Sandikala menarik nafas panjang sambil tersenyum memandang dua anak dan gadis keponakannya itu. Ada rasa kebanggaan dalam dirinya bahwa tuntunan yang diberikan kepada kedua putra dan keponakannya itu tentang rasa saling menolong sesama manusia telah tertanam dihati mereka. Maka Ki Sandikala sepertinya tidak ingin mengecewakan harapan mereka.

“Aku akan berbicara kepada orang-orang di  Kademangan ini”, berkata Ki Sandikala sambil melangkah mendekati seorang lelaki yang tadi pertama ditanya itu.

“Kami ingin membantu keluarga ini mengejar para prajurit Kediri untuk merebut kembali anak gadis yang diculik itu”, berkata Ki Sandikala kepada lelaki itu. ”Namun kami malam ini juga perlu lima ekor kuda, apakah ada diantara kalian yang dapat membantu kami?”, berkata Ki Sandikala kembali kepada lelaki itu.

Semula lelaki itu agak ragu mendengar bahwa Ki Sandikala dan kawan-kawannya akan membantu, namun keadaan dan suasana saat itu telah membuat lelaki itu tidak banyak berpikir lain, dianggapnya siapa tahu orangorang yang baru datang itu memang utusan dan kiriman dewata untuk menolong mereka. “Aku akan bicara dengan Ki Demang mengenai hal ini”, berkata lelaki itu yang langsung melangkah menerobos kerumunan orang-orang dihalaman yang tidak dapat masuk seluruhnya kedalam rumah.

Tidak lama kemudian lelaki itu sudah kembali bersama dengan seorang lelaki yang berbadan tambur.

“Inilah orang-orang yang ingin membantu itu, Ki Demang”, berkata lelaki itu berkata kepada seorang yang berbadan tambur yang ternyata adalah seorang Demang Pulongdowo.

“Kalian akan membantu mengejar para prajurit itu?”, bertanya Ki Demang kepada Ki Sandikala.

“Benar Ki Demang, tapi kami perlu lima ekor kuda”, berkata Ki Sandikala kepada Ki Demang yang nampaknya masih ragu, apalagi mendengar tentang lima ekor kuda.

Ki Sandikala memang dapat segera membaca arah pikiran keraguan di hati Ki Demang, dari dalam pakaiannya Ki Sandikala mengeluarkan beberapa keping emas.

“Mungkin ini cukup sebagai jaminan atas lima ekor kuda yang akan kami pinjam”, berkata Ki Sandikala sambil menyerahkan keping-keping emas itu kepada  Ki Demang.

Ki Demang dapat menilai bahwa keping-keping emas itu lebih dari cukup untuk harga lima ekor kuda, timbul rasa malu didalam hatinya bahwa ternyata orang dihadapannya itu dapat membaca keraguannya. “Maaf bila aku semula ragu tentang niat baik kalian, apa yang kamu berikan ini telah lebih dari cukup untuk membeli lima ekor kuda”, berkata Ki Demang dengan wajah merah penuh rasa malu.

“Kami datang ke Kademangan ini memang sengaja untuk membeli lima ekor kuda besok pagi, tapi ternyata ada hal lain yang membuat rencana kami ini berubah”, berkata Ki Sandikala penuh senyum ramah mencoba menutup dan mengalihkan rasa malu dari Ki Demang.

Terlihat Ki Demang berbicara kepada beberapa orang, tidak lama kemudian beberapa orang terlihat telah keluar dari halaman rumah orang yang kemalangan itu.

“Tunggulah, beberapa orang malam ini akan mengambil kuda. Dua ekor kuda diantaranya adalah milikku sendiri”, berkata Ki Demang kepada Ki Sandikala.

“Mudah-mudahan para prajurit itu masih belum jauh meninggalkan Kademangan ini”, berkata Ki Sandikala kepada Ki Demang.

“Semoga usaha kalian berhasil membawa kembali anak gadis itu”, berkata Ki Demang yang nampaknya sudah mulai percaya kepada Ki Sandikala terutama ketika melihat Magucin dan Yongki yang memanggul pedang panjang sangat elok dipunggung mereka. Ki Demang juga masih sempat melihat Endang Trinil, seorang gadis muda yang sangat manis, namun dari pakaian ringkas yang dikenakannya telah menjamin bahwa gadis itu pasti bukan anak gadis biasa yang lemah, terutama ketika Ki Demang melihat senjata cakra yang terselip menggelantung dipinggang gadis manis itu.

Mereka memang tidak harus menunggu lama, lima orang sudah terlihat tengah memasuki halaman rumah sambil menuntun satu orang satu ekor kuda.

Kerumunan orang dihalaman itu sudah berubah arah, mereka semua memandang kepada Ki Sandikala dan rombongannya yang sudah langsung melompat keatas kuda masing-masing.

“Kami mohon doa restu dari Ki Demang, semoga kami berhasil membawa kembali anak gadis itu”, berkata Ki Sandikala kepada Ki Demang.

“Kami di Kademangan ini akan selalu berdoa untuk keselamatan kalian, semoga kalian dapat membawa kembali anak gadis itu”, berkata Ki Demang kepada Ki Sandikala yang telah bersiap diatas punggung kudanya.

Seluruh mata sepertinya telah menjatuhkan harapan kepada tujuh orang diatas kudanya yang terlihat telah keluar dari halaman rumah keluarga yang anak gadisnya telah diculik oleh para prajurit Kediri tadi siang. Kesangsian hati mereka sepertinya berusaha digugurkan oleh rasa keputusasaan bahwa diantara mereka sendiri tidak ada keberanian sedikitpun, atau sebuah usaha untuk membawa kembali anak gadis malang yang diculik itu.

“Malam ini pasti mereka tengah beristirahat, kita curi waktu mereka”, berkata Ki Sandikala sambil menghentakkan kakinya ke perut kuda yang langsung berjingkrak berlari diikuti Magucin dan Yongki, juga anggota keluarga Ki Sandikala lainnya.

Malam sudah menutupi arah pandang mata di jalan Kademangan itu. Terlihat tujuh ekor kuda tengah berlari kencang seperti membelah udara. Di keremangan malam itu hanya terlihat pakaian mereka yang berkibar ditiup angin dingin yang berhembus seperti tujuh bayangan orang berkuda menembus kegelapan di jalan malam.

“Mereka pasti jalan melingkar menghindari Kotaraja Singasari. Kita akan lebih dulu sampai di jalan simpang menuju Kediri mendahului mereka”, berkata Ki Sandikala kepada Putut Prastawa yang berkuda di sampingnya berusaha mengimbangi laju lari kuda Ki Sandikala.

Tujuh orang berkuda terlihat seperti bayangan dikeremangan malam berpacu diatas kudanya.

Hari masih diujung malam ketika Ki Sandikala dan rombongannya telah memasuki Kotaraja Singasari dari sebelah timur.

Melihat Ki Sandikala tidak lagi memacu kudanya, rombongannya pun ikut memperlambat laju kudanya.

Jalan Kotaraja Singasari masih lengang, dan memang telah menjadi sebuah kotaraja yang mati semenjak keruntuhan yang dibumi hanguskan oleh pasukan Raja Jayakatwang.

“Ketika saudaramu datang kemari, Kotaraja ini sangat ramai”, berkata Ki Sandikala kepada Magucin dan Yongki ketika mereka melewati puing-puing rumah dipinggir jalan Kotaraja Singasari.

Ketika mereka melewati gerbang istana Singasari, terlihat gardu jaga masih terang oleh nyala pelita. Beberapa prajurit penjaga masih berkumpul. Raden Wijaya memang masih menempatkan sekitar dua ratus orang prajurit di Istana itu menjaga agar Kotaraja Singasari tetap terpelihara dan berharap suatu waktu akan menjadi sebuah Kota yang ramai sebagaimana sebelumnya.

Ki Sandikala memang tidak ada keinginan untuk singgah di Istana Singasari, takut kehadirannya akan mengganggu karena sebentar lagi pagi akan  tiba. Terlihat rombongan berkuda itu terus menyusuri jalan Kotaraja dan berhenti menepi di sebuah sungai kecil tidak jauh dari gerbang Kotaraja sebelah barat.

“Biarkan kuda-kuda kita beristirahat sejenak”, berkata Ki Sandikala sambil melompat turun dari kudanya memberikan kesempatan kudanya turun ke sungai meneguk air dan merumput.

Yongki dan Magucin juga keluarga Ki Sandikala mengikuti apa yang dilakukan oleh Ki Sandikala. Terlihat mereka juga duduk ditepi sungai kecil itu sambil memperhatikan kuda-kuda mereka meneguk air sungai dan merumput.

Sementara itu langit diatas mereka terlihat sudah mulai terang, cahaya matahari sudah muncul diujung timur bumi.

“Masih ada waktu yang cukup untuk menuju jalan simpang, semoga kita sudah mendahului pasukan Kediri itu”, berkata Ki Sandikala sambil berdiri setelah merasa cukup beristirahat ditepi sungai kecil itu.

Cahaya matahari terlihat menerangi tujuh orang berkuda yang tengah melintas keluar dari gerbang Kotaraja Singasari. Mereka tidak memacu kudanya sebagaimana sebelumnya ketika memasuki Kotaraja Singasari. Mungkin memberi kesempatan kuda-kuda mereka untuk tidak kaget setelah beristirahat sejenak di tepi sungai tadi.

Ketika matahari pagi sudah cukup terasa menghangatkan tubuh mereka, terlihat Ki Sandikala memberi tanda untuk kembali memacu kuda-kuda mereka.

Debu jalan tanah keras itu terlihat mengepul dilewati kaki-kaki kuda yang berlari, Ki Sandikala berjalan dimuka diikuti oleh rombongannya.

Matahari dibelakang punggung mereka terus merangkak naik memanjati kaki lengkung langit. Terlihat mereka telah melewati sebuah tikungan jalan.

Kuda-kuda mereka terus berpacu menghentakkan tanah keras terus melaju membelah angin dibawah keteduhan sinar matahari disebelah kanan mereka yang terhalang daun dan ranting pohon dari hutan di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Ki Sandikala terlihat memberi tanda agar mereka  berhenti manakala telah sampai di sebuah jalan simpang.

“Kita tunggu disini, mereka pasti akan melewati jalan ini menuju Kotaraja Kediri”, berkata Ki Sandikala yang telah turun dari kudanya.

Terlihat mereka tengah menuntun kudanya menyembunyikannya diantara semak dan perdu dipinggir hutan.

“Sambil menunggu kita bisa beristirahat sejenak”, berkata Ki Sandikala

Maka mereka pun mencari tempat yang baik untuk beristirahat, namun mata mereka selalu siaga menanti rombongan pasukan Kediri yang dipastikan akan melewati jalan itu.

Dalam kesempatan itu Ki Sandikala menyampaikan apa yang harus dilakukan menghadapi sejumlah pasukan Kediri.

“Jurus perguruan kita diciptakan untuk sebuah pertempuran berkelompok, paman kalian dapat mewakili sebagai kepala kelompok”, berkata Ki Sandikala kepada keluarganya.

Sinar matahari sudah mulai merangkak naik keatas puncak cakrawala diatas jalan simpang itu, sementara rombongan pasukan kediri yang mereka tunggu belum juga terlihat. “Apakah Ayah yakin mereka akan lewat tempat ini?”, bertanya Menak Koncar tidak sabar kepada Ki Sandikala.

Ki Sandikala tidak langsung menjawab pertanyaan putranya, hanya sedikit tersenyum menatap Menak Koncar.

Putut Prastawa, Menak Jinggo dan Endang Trinil sepertinya ikut menunggu jawaban dari Ki Sandikala dimana mereka juga seperti merasa gelisah sudah menunggu cukup lama namun yang mereka tunggu itu masih juga belum terlihat. Sementara itu Magucin dan Yongki tidak memperlihatkan kegelisahannya, hanya terlihat mata mereka penuh siaga menatap jauh kearah ujung jalan dimana para pasukan Kediri dipastikan akan terlihat dari sana. Mungkin kedua orang asing ini sepertinya punya pengalaman yang cukup lama menghadapi berbagai macam pertempuran sehingga mereka lebih dapat mengendalikan perasaan hatinya.

Akhirnya mereka memang tidak harus menunggu lebih lama lagi, mereka sepertinya menahan nafasnya sejenak ketika diujung jalan tempat dipastikan para pasukan Kediri akan muncul sudah terlihat burung-burung hutan beterbangan diatas pucuk-pucuk pohon seperti terkejut dan terganggu.

“Bersiaplah, mereka sudah datang”, berkata Ki Sandikala ketika melihat sebuah rombongan pasukan berkuda telah terlihat diujung jalan.

Ki Sandikala dan rombongannya terlihat telah berdiri dan melangkah kearah jalan.

Terlihat Ki Narada berjalan di depan pasukannya.

Dua orang yang tidak asing lagi berkuda bersamanya adalah Ki Regola dan Ki Pane, dua orang raja perampok yang menguasai daerah lereng Gunung Bromo dan sekitarnya. Ternyata Ki Narada telah menarik dua orang raja perampok itu bersama para pengikutnya dalam barisan kekuatan Kediri.

“Siapa yang nekat menghadang jalan pasukan kita”, berkata Ki Narada ketika dilihatnya ada tujuh orang berdiri ditengah jalan.

Namun ketika mereka semakin mendekat, Ki Narada sudah dapat mengenali siapa gerangan tujuh orang yang menghadang jalan mereka.

“Ternyata ada tujuh ekor anjing mencari penggebuknya”, berkata Ki Narada kepada Ki Sandikala ketika mereka sudah berhadapan.

“Kami hanya menginginkan gadis yang kalian culik, setelah itu kami akan membiarkan kalian berlalu”, berkata Ki Sandikala langsung ke masalahnya.

“Besar sekali nyali kamu, atau kamu mau jadi pahlawan kesiangan?”, berkata Ki Narada dengan gaya bicara penuh kesombongan, mungkin karena dirinya bersama dua orang raja perampok itu. Dalam hitungannya Ki Narada telah memperhitungkan untuk mengeroyok keponakannya sendiri itu bersama Ki Regola dan Ki Pane, sementara pasukannya dan para pengikut dua raja perampok itu akan membereskan sisa orang yang ada bersama Ki Sandikala.

Diam-diam Ki Sandikala juga menghitung kekuatan lawan, dirinya tidak sama sekali menyangka bahwa Ki Narada dan pasukannya ternyata datang bersama dua orang raja perampok dan para pengikutnya.

“Ternyata para penguasa Kediri telah menjalin kerjasama dengan orang-orang dari golongan hitam”, berkata Ki Sandikala sedikit menyindir.

“Dengan siapapun kami bekerjasama bukan urusanmu”, berkata Ki Narada yang telah turun dari kudanya diikuti oleh Ki Regola dan Ki Pane.

“Paman telah melangkah keluar dari tuntunan ajaran, telah membuat resah orang tua dari gadis yang paman culik. Juga telah hidup bersama orang-orang dari golongan hitam”, berkata Ki Sandikala dengan kata-kata yang cukup tajam masih ingin mengingatkan pamannya untuk kembali kepada ajaran dan tuntunan mereka.

“Jangan merasa seperti orang paling benar, umurmu hanya sampai dihari ini”, berkata Ki Narada sambil memberi tanda kepada dua orang sekutunya Ki Regola dan Ki Pane untuk mengeroyok bertiga Ki Sandikala. “Habisi orang ini”, berkata kembali Ki Narada yang sudah langsung mendahului menyerang Ki Sandikala diikuti oleh Ki Pane dan Ki Regola.

Ki Sandikala sudah siap dengan serangan Ki Narada yang langsung menebas lehernya dengan senjata cakranya, sebuah senjata khas perguruan Teratai Putih.

Ki Sandikala tidak merunduk, tapi bergeser kekanan berlawanan arah senjata Ki Narada dan langsung menyerang balik menjulurkan kakinya menendang kearah pinggang Ki Narada.

Bukan main kagetnya Ki Narada mendapatkan serangan balik yang sangat begitu cepat dan diluar dugaannya, untung saja Ki Sandikala segera menarik  kakinya kembali ketika sebuah golok besar senjata Ki Pane melesat menusuk kearah pangkal pahanya.

Bersamaan dengan serangan Ki Pane, golok besar Ki Regola sudah ikut menghujam kearah pinggang. Tapi Ki Sandikala bukan orang yang mudah dipatahkan, ilmu meringankan tubuhnya sudah dapat dikatakan nyaris sempurna. Maka dengan sekali loncatan dirinya telah terlepas dari kepungan serangan bahkan telah langsung melakukakn serangan balik yang tidak kalah dahsyatnya.

Demikianlah, Ki Sandikala memang dapat mengimbangi serangan tiga orang yang berilmu cukup tinggi. Dan Ki Sandikala memang telah meningkatkan tataran ilmunya yang sebenarnya.

Disisi lain Putut Prastawa, Menak Koncar, Menak Jinggo dan Endang Trinil sudah menghadapi prajurit Kediri dan para pengikut dua raja perampok. Sebagaimana yang sudah diarahkan oleh Ki Sandikala, mereka bertempur dengan cara berkelompok. Dibawah pimpinan Putut Prastawa mereka seperti sebuah lingkaran cakra yang terus bergerak menghantam dan melemparkan siapapun yang datang mendekat.

Sementara itu Magucin dan Yongki terlihat saling beradu punggung saling melindungi membuat tidak mudah musuh menyerang mereka dari arah belakang. Tapi pedang panjang mereka kadang menjadi sebuah ancaman siapapun yang kebetulan datang mendekat.

Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Ki Sandikala bahwa jurus perguruan Teratai Putih diciptakan untuk bertempur secara berkelompok. Terbukti bahwa gerak mereka benar-benar seperti sebuah cakra besar yang sungguh sangat mengerikan, apalagi dimainkan oleh empat orang yang telah mengenal betul intisari dari jurus itu.

Maka sekali berputar telah membawa empat sampai enam orang sekaligus terlempar jatuh tidak berdaya. Jumlah para prajurit kediri dan sekutunya para perampok itu dalam waktu singkat terus menyusut tajam.

Magucin dan Yongki meski terlihat lambat mengurangi jumlah korban, tapi setidaknya juga telah mempengaruhi suasana pertempuran yang dapat dikatakan telah dapat menentukan akhir dan jalannya pertempuran.

Diam-diam Ki Sandikala sambil bertempur memperhatikan suasana pertempuran di pihaknya yang cukup dapat melegakan dirinya. Maka dirinya tidak lagi mengkhawatirkan keadaan rombongannya. Dan hal ini berdampak kepada serangannya yang semakin dahsyat cukup merepotkan ketiga pengeroyoknya itu.

Suittttttt……!!

Sebuah serangan Ki Sandikala melesat begitu cepat dilambari inti tenaga hawa dingin yang begitu tajam telah menerjang lewat angin pukulannya.

Achhhh…!!!, terdengar keluhan tertahan dari Ki Pane yang merasakan pangkal pahanya terluka.

Angin pukulan Ki Sandikala telah merobek cukup dalam di pangkal paha Ki Pane. Terlihat Ki Pane tertahan di tempat menahan rasa sakit yang sangat.

Melihat adik kandungnya terluka telah membuat Ki Regola menjadi kalap, serangannya menjadi brutal penuh rasa amarah.

Dalam sebuah pertempuran tingkat tinggi, sedikit kelengahan saja akan membawa bahaya  dan penyesalan yang tidak akan terlupakan. Dan amarah yang bergejolak di dalam dada Ki Regola telah mendorong kelengahannya dimana sebuah tipuan serangan tidak dapat dibaca oleh Ki Regola dengan seksama, akibatnya sebuah sabetan senjata cakra Ki Sandikala berhasil merobek pangkal tangannya sebelah kiri.

Darah segar terlihat keluar dari kulit daging yang robek akibat sayatan senjata Ki Sandikala. Tapi Ki Regola tidak juga surut terus maju bersama Ki Narada.

Setelah Ki Pane terluka pangkal pahanya dan tidak dapat lagi membantu, keadaan Ki Sandikala sudah mulai berada diatas angin. Ditambah lagi dengan lukanya Ki Regola yang meski masih terus ikut membantu menyerang, namun tenaganya terus menyusut akibat darah segar yang terus keluar. Maka keadaan pertempuran itu lambat tapi pasti telah dapat dipastikan bahwa Ki Sandikala akan dapat menguasai jalannya pertempuran.

Namun meski sudah berada diatas angin, Ki Sandikala sepertinya tidak ingin segera menuntaskan pertempurannya. Sekali-kali sempat memperhatikan pertempuran diluar dirinya.

Ki Sandikala sempat melihat Putut Prastawa dapat memimpin kelompoknya bertempur melawan para prajurit dan perampok dan terlihat sudah ada diatas angin. Begitu hebat gerak serangan mereka yang seperti sebuah kesatuan utuh melibas dan terus bergerak mencari korban-demi korban.

Ki Sandikala juga sempat melihat bagaimana Magucin dan yongki saling membantu dan bertahan menerima serangan para lawannya. Namun sekali-kali dapat mencuri korban yang lengah.

Sementara itu Ki Narada yang juga melihat orangorangnya semakin terdesak merasa berdebar tegang disamping perasaan seperti putus asa mendapatkan lawan seperti Ki Sandikala yang sangat alot tidak dapat ditundukkan meski diserang secara bersama oleh Ki Regola.

Ki Regola sendiri yang sudah terluka terlihat semakin lemah, setiap gerakannya telah membuat lukanya semakin mengucurkan darah segar.

Ternyata keadaan telah membuktikan bahwa orangorang yang berwatak kelam memang tidak punya rasa kesetiaan. Persahabatan bagi mereka memang tidak ada yang abadi, bagi mereka semua diukur dari untung dan ruginya. Dan mereka lebih memikirkan keselamatan pribadi.

“Maaf Ki Narada, aku tidak dapat membantumu lagi”, berkata Ki Regola sambil melompat menjauh membiarkan Ki Narada seorang diri menghadapi Ki Sandikala.

“Dasar pengecut !”, berkata Ki Narada penuh amarah melihat Ki Regola telah menuntun adik kandungnya Ki Pane pergi.

“Apakah pertempuran ini akan diteruskan?”, bertanya Ki Sandikala kepada Ki Narada. “Aku hanya perlu gadis yang paman culik itu dikembalikan”, berkata kembali Ki Sandikala

Tiba-tiba saja Ki Narada melenting menjauh, ternyata dirinya telah mendekati seorang gadis yang disebuah tempat dalam keadaan terikat.

“Gadis inikah yang kamu inginkan?, aku akan membunuhnya agar kesalahan berada di atas pundakmu”, berkata Ki Narada sambil tertawa panjang.

Ki Sandikala terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Pamannya itu, disadari bahwa pamannya merasa putus asa dan merasa bahwa hanya itulah jalan bagi dirinya untuk lepas dari tangannya.

Sementara itu para prajurit yang telah ditinggalkan oleh sekutunya para perampok telah seluruhnya sudah dapat dilumpuhkan oleh orang-orang Ki Sandikala.

“Lepaskan gadis itu, aku akan melupakan dan membiarkan paman pergi”, berkata Ki Sandikala kepada pamannya itu.

“Apakah kamu akan memegang janji?”, bertanya Ki Narada kepada Ki Sandikala.

“Sebagaimana yang kukatakan, aku berjanji”, berkata Ki Sandikala memastikan.

“Pergilah bersama orang itu”, berkata Ki Narada sambil memutuskan tali ikatan gadis itu dan mendorongnya.

Penuh rasa takut gadis itu telah berlari menjauhi Ki Narada dan berjalan mendekati Ki Sandikala.

Bersama dengan itu Ki Narada sudah langsung melompat keatas kudanya dan menghentakkan perut kuda agar lekas berlari.

“Orang itu tidak mempedulikan anak buahnya lagi”, berkata Putut Prastawa kepada Ki Sandikala.

“Kepeduliannya telah hilang”, berkata Ki Sandikala sambil menarik nafas panjang, matanya memandang ke sekitar, dilihat banyak orang bergelimpangan di berbagai tempat, ada beberapa yang tengah mengerang, beberapa lagi hanya luka ringan namun belum dapat bangkit berdiri.

Ki Sandikala bersama-sama telah menyatukan mereka, merawat dan memberikannya pengobatan secukupnya. Ki Sandikala juga berpesan kepada orang-orang itu yang hanya terluka ringan untuk merawat kawannya. “Kami akan membawa kamu kembali kerumah orang tuamu”, berkata Ki Sandikala kepada seorang gadis yang menjadi korban penculikan itu.

Tapi gadis itu menjawabnya dengan tangisan yang meraung-raung membuat seketika Ki Sandikala bingung apa yang harus dilakukannya meredakan tangis anak gadis itu.

Akhirnya Ki Sandikala baru mengerti bahwa gadis itu masih tersentak oleh peristiwa yang sangat mengganggu perasaan hatinya, maka dibiarkannya gadis itu menangis sepuasnya. Ki Sandikala berharap itulah obat yang paling mujarab untuk melepaskan segala kegundahan perasaan hati.

Ki Sandikala agak lega manakala tangis anak gadis itu mereda, tapi Ki Sandikala terkejut manakala gadis itu tiba-tiba saja menubruk kakinya.

“Bawalah aku kemanapun tuan pergi, asal jangan kembali kerumah”, berkata gadis itu sambil bersimpuh memegang kaki Ki Sandikala.

“Kasihan orang tuamu yang begitu sangat mengkhawatirkanmu”, berkata Ki Sandikala kepada gadis itu.

“Aku malu bertemu orang tuaku, diriku telah membawa aib bagi mereka”, berkata gadis itu yang kembali menangis.

Ki Sandikala tidak dapat berpikir, apa yang harus dikatakan kepada gadis itu. Hatinya ikut merasa prihatin atas apa yang menimpa diri gadis itu.

“Untuk sementara dapat kita bawa sampai ke Ujung Galuh, biarlah nanti ada orang kita yang akan berkunjung memberitahukan orang tuanya tentang keadaannya”, berkata Putut Prastawa memberikan usulannya  melihat Ki Sandikala seperti orang yang bingung memutuskan sesuatu.

Mendengar perkataan Putut Prastawa, Ki Sandikala seketika dapat membenarkan usulan iti. “Bukankah gadis ini telah selamat?, orang tuanya pasti gembira mendapat kabar tentang keadaan gadis itu”, berkata Ki Sandikala dalam hati.

“Siapakah namamu ?”, bertanya Ki Sandikala kepada Gadis itu

“Endah Astari”, berkata gadis itu menatap Ki Sandikala merasa pertanyaan itu sebagai sebuah persetujuan permintaannya untuk tidak dibawa kembali kerumahnya.

“Kami akan mengajak kamu bersama”, berkata Ki Sandikala dengan wajah penuh senyum ramah.

“Terima kasih”, berkata gadis itu sambil mengusap sisa air matanya, wajahnya memancarkan sebuah tatapan penuh ketabahan.

Disaat itulah Ki Sandikala baru dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas, ternyata wajah gadis itu begitu elok, sangat manis dipandang mata siapapun lelaki yang memandangnya. Alis mata yang jelas, bentuk wajah, bibir dan hidung yang sangat begitu serasi seperti sengaja diletakkan menyempurnakan seluruh wajah gadis itu.

“Namaku Endang Trinil”, berkata Endang Trinil sambil menjulurkan tangannya kepada gadis itu yang memperkenalkan dirinya bernama Endah Astari.

Ki Sandikala lalu memperkenalkan orang-orangnya kepada Endah Astari. Gadis itu terlihat sepertinya telah melupakan apa saja yang baru saja terjadi atas dirinya, mungkin kegembiraannya diajak pergi kemanapun selain kerumahnya kembali telah membuat dirinya telah cepat melupakan apa yang telah menimpa dirinya, atau memang Endah Astari memang seorang gadis muda yang sangat tabah.

Matahari diatas cakrawala langit telah semakin turun ke barat, senja sebentar lagi akan menjadi warna cahaya di bumi, sebuah warna bening penuh keteduhan menyejukkan mata dan jiwa.

Tujuh ekor kuda terlihat menapaki jalan tanah keras dibawah cahaya langit senja.

Ki Sandikala dan rombongannya ternyata tidak memilih jalan kearah Bandar Cangu, tapi terus keutara. Artinya mereka memilih jalan darat untuk sampai ke Tanah  Ujung Galuh.

Di dalam perjalanan Endang Trinil berkuda bersama Endah Astari. Ternyata mereka berdua menjadi semakin saling mengenal dan dalam waktu singkat telah menjadi begitu akrab.

Ki Sandikala merasa senang melihat keakraban mereka berdua, ternyata Endah Astari adalah seorang  gadis yang baik yang mudah dapat menyesuaikan diri.

Setelah bermalam di dua tempat yang berbeda akhirnya pagi itu mereka telah berada di Padukuhan Maja tidak begitu jauh lagi dari hutan Maja.

“Aku ingin membeli beberapa potong pakaian, terutama untuk Endah Astari”, berkata Endang Trinil kepada Ki Sandikala.

Ki Sandikala tersenyum melihat dua gadis itu, dirinya sangat memaklumi kegembiraan setiap wanita terutama dalam hal berbelanja keperluan pakaian mereka. Disaat itulah Ki Sandikala melihat senyum Endah Astari. Diamdiam Ki Sandikala melihat senyum itu begitu mempesona.

“Kami tunggu kalian dikedai itu”, berkata Ki Sandikala sambil menunjuk sebuah kedai yang berada diujung muka pasar.

Ki Sandikala masih menatap kedua gadis itu yang berjalan beriring penuh kegembiraan. Sekejap ada sebuah rasa yang menyelinap masuk memenuhi rongga hati Ki Sandikala. “Anak manis”, berkata Ki Sandikala dalam hati sambil tersenyum.

Ketika masuk kedalam kedai, bayangan senyum manis itu masih mengusik relung hati Ki Sandikala. Ada sebuah getar yang dirasakannya pernah singgah dihatinya, dan kali ini sepertinya datang kembali mengusik jiwanya. “Aku sudah tua”, berkata dalam hati Ki Sandikala mencoba menepis perasaan hatinya. Tapi perasaan itu tidak jua menghilang. Namun ketika seorang pelayan tua datang menghampirinya, getar bayangan yang terus mengusiknya itu telah hilang untuk sementara.

“Siapkan untuk delapan orang”, berkata Ki Sandikala kepada pelayan tua itu.

Hanya sebentar saja pelayan itu mengerutkan keningnya ketika melihat orang yang datang tidak sama sejumlah pesanan Ki Sandikala. Tapi pelayan tua itu sepertinya langsung mengerti, mungkin ada kawan lain yang belum sempat datang.

Tidak perlu menunggu cukup lama, pelayan tua itu telah datang dengan membawa semua pesanan. Setelah beberapa hari selama dalam perjalanan mereka makan seadanya dan memang seketemunya membuat selera makan mereka di kedai itu telah membangkitkan hasrat. “Selamat menikmati”, berkata Ki Sandikala kepada Magucin dan yongki yang dapat mengerti bahwa makanan dihadapan mereka mungkin baru pertama dilihatnya.

Endang Trinil dan Endah Astari ternyata sudah datang dengan wajah yang gembira, nampaknya mereka sudah dapat menemukan apa yang mereka cari.

Ki Sandikala mencoba mengaburkan perasaan hatinya ketika melihat senyum Endah Astari, namun getar itu semakin berdegup seperti suara seruling dikeheningan malam, begitu menghanyutkan.

Panas mentari diatas Padukuhan Maja sudah hampir menyengat ketika terlihat tujuh orang penunggang kuda berjalan keluar dari pintu regol padukuhan.

“Didepan kita adalah hutan Maja”, berkata Ki Sandikala kepada Magucin dan Yongki yang berjalan berkuda beriringan.

Akhirnya mereka sudah berada di muka hutan Maja, dibawah sinar matahari yang telah berada pas diatas puncaknya mereka mulai memasuki hutan Maja.

Ki Sandikala mulai merasakan bahwa jalan setapak yang dilewatinya terlihat sepertinya sudah begitu sering dilewati banyak orang, tidak seperti sebelumnya untuk pertama kali dilewatinya.

Setelah mulai masuk semakin ketengah, Ki Sandikala akhirnya dapat memakluminya. Bukan main gembiranya Ki Sandikala melihat apa yang telah terjadi diatas hutan Maja itu, sebab yang dilihatnya bukan lagi sebuah hutan yang pekat, tapi sebuah perkampungan baru yang teduh asri penuh keindahan alami di setiap sisi. Ki Sandikala juga telah melihat beberapa pekerja yang tengah membangun sebuah rumah.

“Pemimpin Agung”, berkata salah seorang pekerja kepada kawannya ketika melihat rombongan Ki Sandikala. Perkataan itu kembali diteriakkan sambil berlari kearah Ki Sandikala dan telah didengar oleh hampir semua orang yang ada di Hutan Maja itu.

Luar biasa !!

Ternyata sebagian besar pekerja itu adalah para  pengikut setia Perguruan Teratai Putih yang tersebar antara Jawadwipa dan Balidwipa, mereka semua datang mengambut kedatangan sang pemimpin agung, Ki Sandikala.

Magucin, Yongki dan Endah Astari yang baru mengenal Ki Sandikala beberapa hari itu tidak menyangka sama sekali bahwa orang yang beberapa hari bersamanya itu adalah seorang yang sangat dihormati dan seorang pemimpin agung.

Terlihat Ki Sandikala mengangkat kedua tangannya, dan semua pengikutnya langsung terdiam mengerti bahwa pimpinan agung mereka akan menyampaikan sesuatu.

“Puji keselamatan dan kebahagiaan untuk kita”, berkata Ki Sandikala memulai sambutannya. “Terima kasih kuucapkan atas kedatangan kalian memenuhi undanganku, terima kasih tak terhingga bahwa kalian telah ikut berkarya membuka dan membangun hutan Maja ini”, berhenti sebentar Ki Sandikala sambil menyapu dengan pandangan dan selembar senyum dibibirnya kepada seluruh mata yang tengah memandangnya. ”Bakti kalian hari ini adalah tinta emas bagi kejayaan kita dimasa yang akan datang. Berbahagialah bahwa kalian telah ada dan ikut mengukir sejarah masa depan yang cemerlang ini. Percayalah Gusti Yang Maha Hidup selalu ada bersama perjuangan kita ini”, berkata Ki Sandikala yang disambut dengan ucapan suara gemuruh para pengikutnya mengikuti kata terakhir Ki Sandikala.

“Semoga Gusti Yang Maha Hidup selalu ada bersama perjuangan kita…….”, begitulah suara para pengikutnya bergemuruh memenuhi hutan Maja itu.

Terlihat Ki Sandikala kembali mengangkat kedua tangannya, seketika semua pengikutnya terdiam.

“Mulai hari ini aku akan bersama kalian, mulai hari ini kita akan berjuang bersama sebagai wakil tangan Dewa Syiwa berbuat kebajikan dimuka bumi ini”, berkata Ki Sandikala yang didengar oleh seluruh pengikutnya di hutan Maja itu dengan penuh perhatian. “Hari ini  aku baru tiba dalam perjalanan panjang, dihari lain aku akan memberikan beberapa pesan untuk kalian, maka kembalilah kalian bekerja di tempat masing-masing, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih telah mendatangi undanganku bergabung di tempat ini”, berkata Ki Sandikala sekaligus memerintahkan pengikutnya untuk kembali bekerja ditempatnya masingmasing.

Kharisma Ki Sandikala memang begitu besar dimata  para pengikutnya, terlihat satu persatu pengikutnya telah berjalan melangkah ke tempat kerjanya masing-masing.

Terlihat tiga orang diantaranya tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri.

Ki Sandikala tersenyum melihat tiga orang itu, karena ketiganya memang sudah sangat dikenalnya.

Siapakah ketiga orang itu ?

Ternyata mereka adalah Raden Wijaya, Mahesa Amping dan seorang pemuda tampan yang punya senyum begitu menawan yang tidak lain adalah pemuda bernama Putu Risang.

“Selamat datang sang pemimpin agung milik sejuta umat”, berkata Mahesa Amping dengan wajah penuh gembira behadapan dengan Ki Sandikala.

“Selamat bertemu kembali wahai sahabat sejatiku”, berkata Ki Sandikala menyambut gembira pertemuan mereka.

Akhirnya setelah menyampaikan keselamatannya masing-masing, Ki Sandikala memperkenalkan seluruh keluarganya, juga Magucin dan Yongki.

“Dua orang sahabatku ini datang dari tempat yang jauh hanya untuk bertemu dengan tuanku Raden Wijaya”, berkata Ki Sandikala ketika memperkenalkan Magucin dan Yongki kepada Raden Wijaya.

“Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Sandikala, kami memang datang untuk bertemu muka dengan tuanku Raden Wijaya”, berkata Yongki sambil memperkenalkan dirinya.

“Pedang yang kalian miliki mirip sekali dengan pedang seorang sahabatku bernama Mengki, apakah kalian punya hubungan dengan sahabatku itu?”, bertanya Raden Wijaya kepada Magucin dan Yongki.

“Mata tuan begitu teliti, benar persangkaan tuan bahwa kami adalah saudara seperguruan dengan sahabat tuan itu, kami bersaudara dengan Mengki yang pernah datang ke Tanah Jawa ini”, berkata Magucin yang diam-diam memuji ketelitian Raden Wijaya.

“Selamat datang di Tanah Jawa, saudara sahabatku juga adalah saudaraku. Pasti ada sesuatu yang sangat begitu penting datang ke Tanah Jawa ini, tentunya tidak hanya untuk sekedar bertemu”, berkata Raden Wijaya kepada Yongki dan Magucin.

“Kami memang datang mewakili saudaraku Mengki”, berkata Yongki kepada Raden Wijaya.

“Adakah sebuah halangan besar yang merintangi kehadiran sahabatku itu?”,bertanya Raden Wijaya.

Yongki pun bercerita tentang saudaranya Mengki dimana setelah kembali dari Tanah Jawa langsung menghadap kepada Kaisar Kubilai Khan tentang tugasnya sebagai utusan Kaisar telah diterima dengan baik oleh Raja di Tanah Jawa. Namun entah bisikan dari orang-orang yang tidak menyukai Mengki yang dekat dengan Kaisar Kubilai Khan telah menghasut Kaisar bahwa Mengki telah dihinakan oleh Raja Jawa. Sayangnya Kaisar lebih mempercayai orang lain daripada Mengki sendiri. Itulah sebabnya Kaisar Kubilai Khan terhasut untuk menghukum Raja Jawa dengan mengirimkan sepuluh ribu prajuritnya untuk menghancurkan kerajaan Tanah Jawa.

“Saudaraku Mengki telah berusaha agar Kaisar Kubilai Khan mengurungkan maksudnya itu, tapi malah yang terjadi Kaisar telah mencopot jabatan Mengki dari keprajuritannya”, berkata Yongki bercerita kepada Raden Wijaya. “Itulah sebabnya Mengki telah menyusupkan kami berdua diantara prajurit agar dapat mencari hubungan dengan tuanku Raden Wijaya”, berkata kembali Yongki kepada Raden Wijaya.

“Terima kasih telah bercerita tentang sahabatku itu, kalian kuterima sebagai sahabatku pula. Karena semua saudaranya adalah sahabatku pula”, berkata raden Wijaya kepada Yongki dan Magucin. “Malam ini kutunggu kalian di Puri Pasanggrahanku sendiri”, berkata Raden Wijaya meminta Yongki dan Magucin untuk bertemu malam itu di Pasanggrahannya sendiri, Pasanggrahan Utama di Hutan Maja.

Demikianlah, hari itu Ki Sandikala dan rombongannya telah diantar untuk menghuni sebuah pasanggrahan baru di hutan Maja itu yang memang sengaja diperuntukkan untuk Ki Sandikala dan keluarganya. Pasanggrahan itu sendiri terletak disebelah kanan Pasanggrahan Utama tempat tinggal Raden Wijaya.

Yongki dan Magucin karena datang bersama Ki Sandikala, maka mereka berdua untuk sementara beristirahat di Pasanggrahan Ki Sandikala.

Sebagaimana Ki Sandikala, maka Mahesa Amping juga telah punya pasanggrahan sendiri, letaknya di sebelah kiri Pasanggarhan utama. Ikut bersamanya Putu Risang dan Argalanang.

Sementara itu Ki Sukasrana, Gajah Pagon, Ranggalawe juga beberapa prajurit perwira masing-masing telah menempatkan pasanggrahan yang tersedia. Hutan Maja itu memang telah berubah menjadi sebuah perkampungan besar yang cukup ramai. Seribu orang pengikut Ki Sandikala dan dua ribu orang dari Madhura telah meramaikan tanah baru itu.

“Kulihat matamu tidak bergeming memandang dua orang gadis yang bersama Ki Sandikala”, berkata Argalanang kepada Putu Risang di atas pendapa Pasanggrahan Mahesa Amping.

Wajah Putu Risang langsung merah padam mendengar perkataan Argalanang. Wajah pemuda yang tampan sedikit hitam karena sering terbakar matahari itu seperti udang rebus, tidak kuasa menahan rasa malu. “Seorang lelaki harus berani bukan hanya di medan pertempuran, tapi juga harus berani mengungkapkan dan memperjuangkan keinginannya kepada seorang wanita yang dinginkannya”, berkata kembali Argalanang membuat Putu Risang menjadi tersipu malu.

Putu Risang terlihat hanya tersenyum malu, terbayang dimatanya gadis hitam manis itu.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Tapak-tapak Jejak Gajahmada Jilid 10"

Post a Comment

close