Serial Pendekar Pedang Roh eps 06 : Misteri Dewi Kabut

Tersesat di tengah belantara kabut yang terdapat di sebelah selatan Kulon Progo membuat Hantu Tinggi Tanpa Muka menjadi uring-uringan. Sudah beberapa kali dia mencoba menyisir jalan agar dapat menembus belantara kabut yang menghalangi penglihatan mereka. Sejauh itu mereka tetap kembali ke tempat yang itu-itu juga. Mahluk tinggi berambut lurus yang wajahnya sering berpindah-pindah tempat ini mengomel tidak karuan.

"Sejak tadi kita menjelajah rimba kabut ini, selalu saja kita kembali ke tempat yang sama. Lihatlah itu, semak belukar di sebelah kiri kita! Kita berputar di sini, kembali ke sini, berputar lagi dan sampai di sini!" 

Gerutunya sambil mengusapi Wajahnya yang hitam nyaris rata. Tentu saja si kakek tidak bicara sendiri. Ada orang yang diajak bicara yaitu sosok bening seperti kristal setinggi satu jengkal dan besar tidak melebihi kepalan tangan. Orang itu duduk bertengger di atas bahu Hantu Tinggi dan dia bukan lain adalah Demit Angin sahabat dekat Hantu Tinggi. Melihat sang teman tersesat dan mengomel sepanjang jalan. 

Demit Angin membuka matanya yang bertengger di atas kening. Mahluk yang dapat berubah meleleh seperti timah yang dipanaskan menguap lebar hingga mulut itu hampir menyentuh ke daun telinga kiri dan kanan. Mata mahluk kecil berputar-putar. Dengan perasaan muak dia menegur. 

"Hantu Tinggi. Aku tak habis mengerti mengapa bisamu cuma mengomel. Bukankah lebih baik kau berlari di atas angin seperti yang kau lakukan ketika kita meninggalkan Gua Lawa?"

"Demit Angin, apa matamu sudah buta? Tadi juga aku berlari dari atas awan. Aku bahkan sudah melihat sebuah kawasan indah di balik kabut sialan ini. Entah gerangan apa yang terjadi, tiba-tiba saja tubuhku seperti terbetot ke bawah seolah ada kekuatan tak terlihat yang membetotku. Aku tidak bisa bertahan dan jatuh ke sini."

"Kupikir tempat ini dikuasai oleh Setan Kobeng."

"Setan Kobeng, berarti setan bingung. Mahluk seperti itu tinggal dihutan atau tempat-tempat seperti ini. Setiap orang yang berada dalam pengaruhnya bisa bingung dan tersesat sehingga dia tidak dapat menemukan jalan keluar menuju ke tempat yang diinginkannya."

"Aku Hantu, kau Demit masakah kalah dengan Kajing, setan kedudukannya masih di bawah kita. Dan kau sejak tadi enak-enakan duduk di atas bahuku. Sahabat seperti apakah dirimu ini?" 

Dengus Hantu Tinggi. Dibentak begitu rupa Demit Angin menjadi tersinggung. Dengan mata melotot dia berkata. 

"Hantu Tinggi, apakah kau sudah pikun. Bukankah kau yang meminta aku mengecilkan tubuhku, kau juga yang minta aku duduk dibahumu. Sekarang kau marah?"

"Ah, kau ini mahluk tolol. Saat berlari kau boleh duduk dibahuku. Sekarang aku tersesat dan kesulitan di sini, apa salahnya kau membantu mencari jalan agar kita dapat keluar dari kabut sialan Ini secepatnya?" Kata Hantu Tinggi geram. 

"Baiklah, mula-mula aku harus mengembalikan ukuran tubuh dalam keadaan yang normal. Jika tidak begitu aku bisa hilang dan kau tak dapat menemukanku!" Ujar Demit Angin. 

Mahluk bening itu lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Dia menarik nafas dalam sehingga angin masuk ke dalam perutnya. Begitu angin memasuki tubuhnya langsung melar, mengembang besar dan tinggi. Walau tinggi sosok kakek itu tidak bisa melebihi tinggi Hantu Tinggi Tanpa Muka. Kini besar tubuhnya seukuran manusia normal. Mata Demit Angin yang hanya satu di tengah kening namun besar dan bundar memandang sosok didepannya. 

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Demit Angin dengan suara serak dan parau.

"Yang kulakukan? Kau ini bagaimana, aku sudah mengatakan kita harus cepat keluar dari hutan kabut ini. Jika tidak usaha kita untuk mendapatkan pemuda itu bisa didahului orang lain." Kata Hantu Tinggi gusar. 

"Baiklah, aku akan menggunakan sebuah cara untuk mengetahui letak yang kita tuju!" 

Ujar Demit Angin. Mata tunggal yang terdapat di atas kening Itu kemudian terpejam. Terpejamnya mata tidak lama, Hantu Tinggi lalu melihat Demit Angin manggut-manggut. Dia tidak tahu apa yang dilakukan sahabatnya, namun dia percaya saja. 

"Aku sudah mendapatkan titik terang!" Ujar Demit Angin begitu matanya terbuka kembali. 

"Titik terang apa?"

"Lembah Batas Dunia ada di sebelah sana. Kita harus bergerak lurus ke depan tanpa berbelok."  

"Seberapa jauhnya?" Tanya Hantu Tinggi tidak sabar 

"Kurasa cukup jauh. Kemampuanku melihat cukup terbatas, daerah ini kurasa memang dilapisi perisai gaib."

"Ah, kau terlalu percaya pada hal-hal seperti itu. Sekarang seperti yang kau katakan kita menuju ke arah yang kau lihat dalam batinmu!" 

Hantu Tinggi segera balikkan badan. Dia kemudian melangkah lebar menyisir semak dan hamparan kabut. Belum jauh mereka melangkah, tiba-tiba mereka melihat kilauan cahaya muncul di sebelah kanan dan sebelah kiri. Hantu Tinggi dan Demit Angin saling melempar pandang. 

"Firasatku mengatakan ada yang tidak beres bakal terjadi," Ujar Hantu Tinggi mengingatkan. Demit Angin hanya tersenyum. 

"Perduli apa? Seperti yang kau katakan tujuan kita hanya satu, yaitu menangkap Pemanah Bintang. Siapa pun yang mencoba menghalangi, kita harus menyingkirkannya!"

"Kau lihatlah di sekelilingmu!" 

Ujar Hantu Tinggi. Demit Angin menyeringai. Dia memperhatikan sekelilingnya. Saat itu juga dia melihat di balik kegelapan kabut berdiri beberapa sosok tubuh mengepung mereka. Demit Angin delikkan matanya. Sekarang dia melihat sesuatunya lebih jelas lagi. Orang-orang berjubah putih membawa lentera. Wajah mereka berwarna putih seperti diselimuti bunga es. 

"Siapa mereka? Apakah mereka juga tersesat seperti kita?"

"Aku tidak tahu" Kata Demit Angin. 

"Kukira kemarin penduduk di sini, apa perlunya mereka menampakkan diri?" 

Kata Hantu Tinggi. Belum lagi Hantu Tinggi sempat mengajukan pertanyaan, salah seorang dari mereka yang berjubah dan menyelubungi wajahnya dengan selubung warna putih melangkah maju. Orang ini kemudian berhenti tiga tombak di depan Hantu Tinggi 

"Kalian telah memasuki wilayah kekuasaan kami. Siapa kalian dan hendak pergi kemana?"

Tanya orang berselubung. Hantu Tinggi yang selalu congkak dan pongah tersenyum, tatapan matanya menunjukkan kejengkelan. 

"Perlu apa kau bertanya kemana tujuan kami? Ketahuilah, aku Hantu Tinggi Tanpa Muka dan sahabatku itu Demit Angin. Kami ingin menuju ke suatu tempat. Kau tidak perlu mengetahui tempat apa yang kami tuju, sebaiknya kau menyingkir!" 

Bentak Hantu Tinggi. Demit Angin cepat memotong. 

"Kau dan teman-temanmu akan mendapat hadiah besar jika kau mau menunjukkan Jalan keluar bagi kami!"

"Tidak ada yang tersesat di hutan kabut terkecuali dia ingin menuju Lembah Batas Dunia. Dan aku tahu kalian pasti akan menuju ke sana." Kata orang berjubah Itu 

"Kurang ajar, kalau sudah tahu mengapa bertanya? Siapa kau?!" Bentak Hantu Tinggi Jengkel.

"Aku adalah penguasa hutan kabut, aku pemilik tempat ini. Aku pelindung bagi tetangga di kanan kiri tempat tinggal kami. Penghuni Lembah Batas Dunia adalah mahluk baik-baik."

"Kalau begitu antar kami ke sana!" 

Kata Demit Angin. Sosok yang mengaku sebagai penguasa hutan kabut melayangkan pandang ke arah orang-orangnya sendiri. Terdengar suara racau dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh kedua orang itu. Rupanya di antara mereka sedang bermusyawarah, namun yang menjadi anggotanya kemudian menggeleng. 

"Hmm, katakan apa kepentingan kalian hingga ingin sekali ke Lembah Batas Dunia?" Tanya penguasa hutan kabut. 

"Itu bukan urusanmu!" Jawab Demit Angin. 

"Kalau begitu pergilah cari jalan sendiri! Kalian akan tersesat di sini selamanya sungguh pun kalian memiliki tingkat kesaktian yang sangat tinggi!" 

Kata penguasa hutan kabut. Mendengar perkataan penguasa hutan kabut, Hantu Tinggi menjadi gusar sekali, karena dia merasa tidak dipandang meskipun hanya sebelah mata. 

"Orang-orang tercela! Beraninya kalian menghina kami. Sebagai penguasa tempat ini pasti kau menguasai daerah ini. Sekarang lebih baik tunjukkan Jalan keluar menuju Lembah Batas Dunia!" Kata Hantu Tinggi dengan suara lantang. 

"Kalian sebagai tamu di rumah kami, kalian tidak bisa memaksaku atau memaksa para pengikutku. Jika keras kepala, kalian bakal menemui kesulitan!" Ujar orang berselubung. 

"Sombong sekali. Katakan siapa dirimu!" Bentak Demit Angin. 

"Aku tak perlu memperkenalkan siapa diriku, cukup kalian ketahui bahwa aku Bayangan Putih dan orang-orang yang ikut serta denganku cukup kau kenal sebagai bayangan saja. Apakah Ini sudah cukup!" 

Hantu Tinggi menggeram, dia melirik Demit Angin. Melihat lirikan Hantu Tinggi, Demit Angin segera mengetahui apa yang harus dilakukannya. Sosok putih yang ujudnya tembus pandang ini tiba-tiba melakukan gebrakan. Tiba-tiba dia melesat ke depan. Dua tangannya yang bening terjulur, satu mencengkeram ke bagian rambut yang terlindung selubung sedangkan satunya lagi menarik lepas jubah yang menutupi tubuh Bayangan Putih.

"Kau dan temanmu itu benar-benar orang yang tidak mengenal peradatan sama sekali. Kau pikir dapat mencelakai diriku!" 

Dengus Bayangan Putih. Orang berselubung ini berkelit, serangan Demit Angin luput, dia berbalik namun pada saat itu sebelum dirinya melihat posisi lawan, anak buah Bayangan Putih telah menyerangnya dari segala penjuru. Demit Angin hanya tertawa ketika sekujur tubuhnya terkena hantaman dan pukulan yang dilakukan lawan-lawannya. Tetapi tidak ubahnya menghantam bola karet, semua serangan itu justru membuat para penyerangnya jatuh terpental. 

"Ha ha ha! Kalian boleh memilih bagian tubuhku yang sebelah mana pun untuk dijadikan sasaran. Tapi jangan pernah bermimpi kalian dapat mengalahkan diriku!" Kata Demit Angin sinis. 

"Benarkah seperti itu? Aku tidak percaya! Kalau kutusuk dengan bambu kuning perutmu Itu apakah mungkin tidak tembus?"

Kata Bayangan Putih yang tiba-tiba telah berada di samping kiri Demit Angin. Laki-laki yang tubuhnya dapat melumer ini terkesima. Dia melihat di tangan Bayangan Putih tergenggam sebilah bambu. Bagian ujung bambu runcing dan tajam sekali. Sungguh pun Demit Angin tidak merasa gentar, namun dia juga berpikir seandainya perutnya kena ditusuk bambu itu, maka semua angin yang tersimpan dalam perutnya akan keluar meninggalkan badan. 

Tubuhnya akan mengempis, disamping itu dia akan meleleh pula. Meleleh seperti air. Walau dia tidak mati, namun mengembalikan ujud seperti semula, tentu akan membutuhkan tenaga dan waktu. Hantu Tinggi ternyata lebih tanggap. Dia tahu Demit Angin ragu-ragu. Karena itu dia segera turun tangan mengambil tindakan. Sebelum Bayangan Putih bertindak, Hantu Tinggi melesat ke arahnya. Kemudian dengan gerakan secepat kilat tangannya menyambar sedangkan kaki melakukan tendangan menggeledek. 

Sreet! Sreet! 

Dengan sekali sentak. Selubung yang menutupi wajah dan jubah yang dipakai Bayangan Putih terlepas dari badannya. Hantu Tinggi tertawa tergelak-gelak. Dia memandang ke arah Bayangan Putih, namun sang Hantu melengak kaget begitu melihat di depan sana berdiri tegak sesosok kerangka lengkap dengan kepala.       Tengkorak kepala dan tulang belulang itu masih utuh, walau tanpa kulit dan tanpa daging namun dia berdiri tegak. 

"Ha ha ha! Bagaimana Hantu Tinggi? Bagaimana Demit Angin! Kau masih Ingin melawan kami?" 

Tanya Bayangan Putih. Ketika Bayangan Putih bicara maka mulut tengkorak bergerak terbuka dan menutup seolah tengkorak itulah yang bicara. Demit Angin terkesima, Hantu Tinggi hanya bisa mengangakan mulutnya. 

Hantu Tinggi tidak percaya Bayangan Putih itu ternyata hanya berupa bagian dari kesatuan tengkorak manusia yang utuh. Dia tidak percaya Bayangan Putih bukan manusia sepenuhnya. Mana ada tengkorak yang bisa bicara. Tetapi memang keanehan itulah yang dia hadapi. Sebuah kenyataan yang sulit dimengerti. 

"Hantu Tinggi! Setelah melihatku seperti ini apakah kau masih ingin memaksakan kehendakmu? Aku hanya tinggal tulang belulang yang diberi kehidupan. Walau ujudku hanya berupa tulang tanpa kulit dan tanpa daging. Keadaanku tidak menghalangi diriku untuk menjaga apa yang harus aku jaga"

"Kalau begitu aku akan menghancurkanmu!" Teriak Hantu Tinggi yang merasa dirinya dipermainkan. 

"Aku akan menelanjangi kaki tangannya! Ingin kulihat apakah para pengikutnya sama seperti dia!" Ujar Demit Angin tidak mau kalah. 

Dan sosok bening tembus pandang Demit Angin tiba-tiba melesat ke arah orang-orang berjubah yang mengepung mereka. Kemudian dengan gerakan cepat luar biasa kakinya menyapu lawan-lawannya sedangkan tangan meluncur melakukan gerakan membetot. Kaki tangan Bayangan Putih keluarkan seruan aneh, melihat serangan yang berlangsung cepat itu mereka segera menghindar, menyebar sedemikian rupa hingga membingungkan lawannya. 

Sementara Hantu Tinggi telah merangsak ke depan. Dia melepaskan pukulan ke arah Bayangan Putih disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Bayangan Putih yang hanya berupa rangkaian tulang belulang dan tengkorak itu meliuk-liukkan diri mirip dengan gerakan seperti orang menari. Justru dengan gerakan yang sangat sederhana itu membuat dirinya luput dari serangan. Sebaliknya Bayangan Putih membalas serangan Hantu Tinggi.

Kakinya yang terdiri dari tulang itu melesat menghantam dada dan pinggang Hantu Tinggi. Mahluk satu itu menggerung. Dia berkelit, namun begitu dirinya menghindar tangan Bayangan Putih meluncur mengemplang kepala Hantu Tinggi. Terdengar sambaran angin bersuit. Udara dingin berbau amis menerpa Hantu Tinggi. 

Orang tua ini terpaksa bungkukkan badannya sambil memaki. Serangan Bayangan Putih menderu sejengkal di atas kepalanya. Sambil merunduk hindari serangan, Hantu Tinggi juga tidak tinggal diam. Sekuat tenaga tangannya yang terkepal meluncur menghantam kepala Bayangan Putih. 

"Wueleh...!" 

Bayangan Putih keluarkan seruan kaget. Kaki bergoyang badannya meliuk dan kepalanya juga ikut meliuk mengikuti gerakan badan. Tetapi gerakan menghindar yang dilakukan Bayangan Putih kalah cepat dari serangan yang dilakukan Hantu Tinggi. Tanpa ampun kepala itu terkena jotosan Hantu Tinggi. Kepala terpental, terlepas dari sambungan tulang leher. Bayangan Putih terhuyung dan terdorong mundur. Hantu Tinggi melihat tulang tanpa kepala lenyap di antara kepekatan kabut. 

Tidak lama kemudian begitu anggota badan lenyap, kepala Bayangan Putih yang menggelinding tadi kini meluncur dari balik kabut dan menyerang Hantu Tinggi secara membabi buta. Celakanya tengkorak kepala Bayangan Putih yang sekeras batu berusaha membenturkan diri ke kepala Hantu Tinggi. Bukan hanya benturan yang diinginkan tengkorak kepala, pada saat menyerang mulutnya terbuka siap menyerang bagian tubuh Hantu Tinggi yang lain dengan menggunakan gigi-giginya. 

"Ini sebuah keadaan yang paling tidak aku sukai. Bagaimana mungkin sesuatu yang telah mati bisa menjadi hidup dan yang hidup pergi kemana?" 

Batin Hantu Tinggi. Seolah mengetahui apa yang dipikirkan Hantu Tinggi, tengkorak kepala Bayangan Putih yang melayang-layang itu sambil menyerang berkata. 

"Rimba Kabut belantara tidak dikenal, penyesat dengan batas. Di balik kegelapan ada jalan di balik kehidupan ada kematian, di balik kematian itulah hidup yang sebenarnya. Kebodohan terjadi dua kali, kepintaran terjadi satu kali. Ketika kecil tidak tahu apa-apa, setelah besar menjadi mengerti segala, setelah tua kembali tidak mengingat apa-apa. Kabut tidak hanya di sini, kabut juga ada dalam pikiran dan hati manusia."

"Ketika kabut menyelibuti otak dan hati, manusia menjadi gelap mata. Kabut hanyalah bayangan, kabut seperti fatamorgana dan kabut bagian dari pikiran yang kusut. Orang yang mengaku pintar justru awal dari keserakahan. Alangkah bijaksana berada di jalan tengah. Penuh duri namun banyak nikmat yang dapat dirasakan. Hutan kabut hutan kegelapan dari pikiran manusia itu sendiri. Mengapa harus serakah memperturutkan nafsu?!"

"Hentikan segala ocehan busukmu!" 

Teriak Hantu Tinggi kalap. Dan serta merta dia menghantam tengkorak yang melayang-layang itu dengan dua pukulan yang mengandung hawa panas mematikan. 

Wuut! Wuut! 

Angin menderu, hawa panas berkiblat. Para pengikut Bayangan Putih yang sebagian dapat dilucuti oleh Demit Angin keluarkan seruan kaget. Mereka segera menyebar, berpencar dan selamatkan diri asing-masing. Sementara sebagian dari mereka yang jubahnya dibetot lepas oleh Demit Angin keadaannya tidak sama seperti Bayangan Putih. Orang-orang itu bagian tubuhnya bukan terdiri dari tulang dan tengkorak sepenuhnya, melainkan masih terbalut kulit dan daging membusuk. 

Dan orang-orang yang terdiri dari mayat membusuk Ini jauh lebih nekat dari Bayangan Kabut. Tanpa rasa takut mereka merangkak maju, menyerang Demit Angin dengan sengitnya. Di sisi lain, Bayangan Putih menghindar dari pukulan yang dilepaskan Hantu Tinggi. Dirinya yang berupa potongan tengkorak kepala luput dari pukulan. Kemudian potongan tengkorak kepala itu melesat di antara kegelapan kabut. Di lain waktu tengkorak itu telah berada di belakang bahu Hantu Tinggi. 

Hantu Tinggi Tanpa Muka menoleh begitu dia merasakan sentuhan di belakangnya. Dia terkejut melihat potongan kepala Bayangan Putih. Dengan cepat dia hantamkan sikunya ke arah kepala itu. Tengkorak yang melayang-layang berkelit, lalu meluncur cepat ke depan membentur kepala Hantu Tinggi Taak! Hantu Tinggi meraung tertahan. 

Kepalanya seperti dihantam palu besi. Sumpah serapah menghambur dari mulut Hantu Tinggi. Orang tua ini ternyata bukan hanya geram, namun juga penasaran sekali. Dia berbalik. Dipandanginya sekeliling tempat itu dengan seksama. Dia tidak melihat tengkorak yang menyerangnya. Tengkorak itu lenyap, mungkin juga bersembunyi di balik gelapnya kabut. Sementara itu Demit Angin sendiri sudah berhasil membuat roboh anak buah Bayangan Putih. 

Tapi diam-diam Demit Angin mulai sadar bahwa yang dihadapinya bukan lawan sesungguhnya. Terbukti setiap kali lawan dibuat ambruk dan jatuh di antara kabut, sosok mereka segera lenyap raib tidak tentu rimbanya. 

"Kita menghadapi bayangan, Hantu Tinggi?!" kata Demit Angin merasa dirinya telah diperdaya. Hantu Tinggi terkejut, dia mendengus dan bertanya. 

"Heh, apa maksudmu?"

"Ah, kau masih belum sadar juga rupanya. Kekusutan hati dan kemarahan serta tindakan kita yang tergesa-gesa membuat mereka hadir. Kau lihat....setelah aku dapat menggunakan pikiranku dan menenangkan perasaanku. Kaki tangan Bayangan Putih menghilang dengan sendirinya" 

Hantu Tinggi memperhatikan ke depan. Benar seperti yang dikatakan oleh temannya. Sosok berjubah dan menutupi wajahnya dengan selubung putih satu demi satu ternyata lenyap. 

"Kemana mereka?"

"Aku tidak tahu Hantu Tinggi. Mereka ada, mereka hadir karena pikiran kita sendiri" Ujar Demit Angin. 

"Gila! Bagaimana bisa begitu?" Tanya Hantu Tinggi heran. 

"Hatimu masih jengkel, otakmu kusut. Kau tidak bisa memecahkan keanehan yang terjadi di tempat ini dengan cara seperti itu."

"Lalu aku harus bagaimana?" Hantu Tinggi nampaknya jadi bingung sendiri. 

"Kosongkan pikiranmu, Hilangkan semua niat untuk sementara waktu. Jangan pikirkan Pemanah Bintang serta kehebatannya juga segala sesuatu yang dimilikinya. Dengan begitu kau akan melihat sebuah jalan! Kau akan menyaksikan dengan kepala sendiri bahwa kabut yang menutupi pandangan kita akan lenyap!" 

Ujar Demit Angin. Sungguh pun masih tidak mengerti. Hantu Tinggi turuti juga apa yang diminta oleh Demit Angin. Dia segera mengesampingkan apa yang menjadi tujuan utama. Sampai hatinya benar-benar menjadi tenang. Setelah itu Hantu Tinggi kemudian jadi kaget sendiri ketika melihat dihadapannya. Jalan itu sepertinya sudah lama ada. Dan kabut yang menghalangi pandangan mata hilang, menguap seperti terkena sinar matahari. 

"Kau lihat sebuah jalan?" Tanya Hantu Tinggi ingin memastikan apakah yang dilihatnya memang tidak keliru. 

"Ya. Jalan itu ada di depan kita."

"Yang terjadi nampaknya sesuai dengan suasana hati. Sekarang tunggu apa lagi? Mari kita ikuti jalan ini!" Ujar Hantu Tinggi. 

Demit Angin tidak menjawab, tapi dia segera berjalan mengikuti jalan itu. Dalam perjalanan Hantu Tinggi bertanya. 

"Bagaimana kau bisa memecahkan misteri hutan kabut itu? Aku sempat berpikir kita bakal tersesat di tempat itu selamanya." Ujarnya. Demit Angin tersenyum. 

"Sahabatku, apakah kau lupa bahwa Bayangan Putih ada mengatakan bahwa rimba kabut adalah penyesat dengan batas. Di balik kegelapan seperti yang dikatakannya ada jalan. Kabut tidak hanya ada di hutan ini, di dalam hati dan pikiran juga ada kabut. Kabut bagian dari pikiran yang kusut. Terus terang ketidak tenangan di saat kita bingung itu adalah pencetusnya. Dan semua itu membuat kita tak menemukan jalan keluar!" Ujar Demit Angin. 

Hantu Tinggi tertawa mengekeh mendengar uraian Demit Angin yang dianggapnya cukup cerdik itu. 

"Kau hebat Demit Angin. Tidak tahu aku apa jadinya jika kau tak bersamaku. Bayangan Putih kukira mahluk bodoh, mengapa dia membeberkan rahasia pada kita?"

Demit Angin melengak kaget. Dia juga merasa heran sendiri. Benar Bayangan Putih seolah bicara membuka rahasia. Dan mereka menganggap Bayangan Putih telah bertindak bodoh. Tapi benarkah mahluk tengkorak berselubung itu telah berlaku ceroboh dengan membuka rahasia hutan kabut. Demit Angin tiba-tiba menoleh ke kanan dan ke kiri jalan yang mereka lewati. Ada yang tidak beres. Wajah Demit Angin mendadak berubah, wajah itu dipenuhi kerut merut. Hantu Tinggi menjadi heran, 

"Hei, wajahmu mengapa berantakan begitu. Cairan di tubuhmu mengkristal. Pasti ada sesuatu yang mengganjal dalam otakmu? Katakan cepat!" Demit Angin sempat tercenung. 

"Aku tidak memikirkan apa-apa," Ujar Demit Angin berdusta. Dia terpaksa berbohong karena dia menyadari kalau dirinya berterus terang, Hantu Tinggi yang mempunyai watak tidak sabar tentu akan uring uringan kembali. 

"Benarkah seperti itu?"

"Ya."

"Hmm, aku sudah tahu sekarang. Mengapa kau harus berdusta kepadaku, kepada sahabatmu sendiri?" 

"Eh, apa maksudmu?" Tanya Demit Angin pura-pura kaget. 

"Bukankah Lembah Batas Dunia itu terletak di balik hutan kabut?" Kata Hantu Tinggi. 

"Memangnya ada apa?" Hantu Tinggi mendengus. 

"Kau sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu. Kau pasti menyadari mengapa jalan ini seakan tidak ada ujungnya. Kita berjalan terus, tapi lembah yang kita tuju tak kunjung kelihatan. Apakah ini namanya kalau bukan tersesat?"

"Ah maafkan aku. Sejak tadi pun aku sudah memikirkan keanehan ini. Keanehan yang membuatku heran."

"Demit sialan! Sudah tahu kau malah mencoba menutup-nutupi!" 

Damprat Hantu Tinggi. Demit Angin tertawa. Tapi tawanya bukan mengisyaratkan kelegaan hati. Mahluk yang terdiri dari angin dan air ini berhenti. 

"Ada apa?" Tanya Hantu Tinggi. 

"Kau lihat ke depan! Tadi kau mengatakan jalan ini seolah tidak berujung. Tapi sekarang, di depan sana ada sebuah daerah, mungkin itu dusun. Namun mengapa baunya busuk seperti ini?" 

Hantu Tinggi melirik ke depan seperti yang diinginkan temannya. Benar dia melihat rumah-rumah sederhana berbentuk bundar terbuat dari Jalinan daun ilalang. Rumah bundar itu satu sama lain letaknya agak berjauhan. 

"Apakah ini yang namanya Lembah Batas Dunia!" Gumam Hantu Tinggi bingung. 

"Entahlah. Tempat ini angker menyeramkan, baunya busuk sekali seperti tempat penyimpanan bangkai. Aku curiga kita tidak sampai ke tempat yang dituju sebaliknya malah tersesat ke tempat yang lain." Ujar Demit Angin gelisah. 

Hantu Tinggi cepat berkata membesarkan hati sahabatnya. 

"Kita selidiki saja dulu. Siapa tahu Pemanah Bintang memang tinggal menetap di sini". ujar Hantu Tinggi mencoba meyakinkan. 

"Aku setuju saja, tapi kalau ada apa-apa terjadi di luar kehendak kita jangan salahkan aku." Kata Demit Angin. Hantu Tinggi mengangguk setuju. Tanpa bicara lagi mereka mulai melakukan penyelidikan.

***

Purnama baru saja hadir menerangi kegelapan di sekitarnya. Matahari belum lama tenggelam. Suara jengkerik saling bersahut-sahutan memecah keheningan di sekeliling gubuk reot yang telah ditempatinya selama beberapa belas tahun. Sementara di atas sebuah batu, menghadap ke arah kaki bukit, pemilik gubuk reot itu rupanya tengah duduk menikmati panorama langit yang dipenuhi oleh taburan bintang. 

Dia seorang wanita berambut panjang hingga sepinggang. Melihat wajahnya, usianya kemungkinan baru sekitar empat puluhan padahal usia yang sesungguhnya sudah lebih dari lima puluh tahun. Di langit bulan bersinar terang, sesekali senyumnya mengembang begitu melihat kawanan kelelawar terbang dikejauhan di atas sana. Dia teringat dengan seseorang. Dia menjadi bosan, perempuan ini lalu memandang ke arah lereng bukit. 

Tatap matanya kosong, mata itu kemudlan meredup seolah tidak lagi memiliki gairah hidup. Lama perempuan paruh baya ini memandang ke lereng itu. Sampai dia menarik nafas kembali. Kemudian dia berkata, seperti ditujukan pada diri sendiri. 

"Malang memang sungguh malang. Yang namanya nasib tidak bertulang. Kesalahan sudah lama dilakukan. Penyesalan datang di kemudian hari. Apa gunanya aku menguasai apa yang kuinginkan, jika kenyataannya aku menjadi seperti ini. Aku ingin mendapat kesembuhan. Tapi siapa yang berkenan menolongku. Aku telah kehilangan akal dan kehabisan asa. Segala yang terjadi tak dapat kutolak. Biarlah orang menganggap diriku ini apa, yang terpenting aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan!" 

Ujar perempuan paruh baya itu dengan suara serak dan tatapan sendu. Lama dirinya terdiam. Kemudian telinganya yang lebar bergerak-gerak, Seiring dengan itu dia tersentak, lalu menoleh ke satu jurusan. 

"Siapa yang datang menjambangi setelah bertahun-tahun diriku berada dalam kesendirian!" 

Batin perempuan itu. Dia menunggu, sikapnya acuh sekali sampai kemudian dia mendengar suara desir halus serta gerakan kaki yang menjejak tanah. Di belakangnya terdengar suara dengus, suara itu halus. Meskipun tidak melihat dia yakin yang datang adalah seorang perempuan. Selanjutnya dia mendengar suara perempuan itu. Suara yang seakan menyindirkannya, tapi seperti hari yang lalu dia tidak menghiraukannya. 

"Tidak kusangka di tempat yang sunyi berbau pengab ini ternyata masih ada orang yang betah menetap. Jika melihat keadaannya dia pasti penghuni tetap tempat ini. Uhh, aku letih sekali. Apakah Lembah Batas Dunia masih jauh dari sini aku tidak perduli. Aku harus istirahat!" 

Ujar orang yang baru datang. Perempuan setengah baya yang duduk di batu diam tidak menanggapi. Sikapnya acuh dan tidak ambil perduli. Orang yang baru datang ternyata seorang perempuan muda berwajah ayu. Dia memakai pakaian ringkas sedangkan sebilah pedang tergantung di punggungnya. 

Gadis muda ini mungkin penasaran melihat orang didepannya bersikap tidak perduli. Dia penasaran dan segera melangkah menghampiri perempuan itu. Dari arah depan sang dara tak dapat melihat wajahnya karena selain tertunduk sebagian rambut menutupi separuh wajahnya. Si gadis membuka mulut dan bertanya. 

"Siapapun dirimu, aku Hening Anyali tidak ingin mengganggu. Tapi bolehkah aku mengetahui nama atau gelarmu?" 

Perempuan setengah baya diam membisu. Perlahan dia mengangkat wajahnya, rambut yang menutupi setengah wajah disingkap sehingga melalui adanya bulan purnama gadis bernama Hening Anyali itu dapat melihat, walau sudah lanjut usia. Sesungguhnya perempuan itu memiliki wajah yang cantik. Yang mengherankan mengapa dia berada di tempat terpencil dan sunyi seperti itu seorang diri. Terdorong oleh rasa ingin tahu, Hening Anyali bertanya. 

"Nisanak siapa dirimu, mengapa engkau berada di tempat sesunyi ini?" Perempuan paruh baya berambut awut-awutan mengangkat wajah dan memandang gadis itu. 

"Perlu apa kau bertanya tentang diriku. Beberapa tahun berada di sini baru kau yang berani bertanya seperti itu kepadaku!"

"Suaranya parau, nadanya dingin. Nampaknya dia tidak suka melihat kehadiranku di tempat ini."  

"Maafkan aku. Jika kau menganggap diriku lancang, sekali lagi aku mohon maaf....!"

"Aku tidak butuh maafmu, apa sebenarnya yang Kau cari di tempat ini?" 

Tanya wanita itu ketus, suaranya memendam rasa curiga. Hening Anyali terdiam, apakah perlu mengatakan apa yang dicarinya. Tapi kemudian dia berpikir siapa tahu perempuan berambut awutawutan itu mengetahui orang yang sedang dicarinya. Dengan berat hati dia menjawab juga pertanyaan wanita itu. 

"Maatkan aku Nisanak, sebenarnya aku sedang dalam perjalanan menuju ke Lembah Batas Dunia. Aku sedang mencari seseorang, siapa tahu orang yang kucari ada di sana?"

"Lembah Batas Dunia tidak jauh dari sini, tempat itu letaknya di sebelah selatan Kulon Progo. Tapi kau bisa tak sampai ke tempat tujuan mengingat lembah itu dikelilingi hutan kabut."

"Hutan kabut? Nama itu mengingatkan diriku pada seseorang!" Gumam Hening Anyali. 

"Seseorang siapa?"

"Orang yang kucari nisanak, namanya Dewi Kabut." 

Tegas Hening Anyali. Orang di atas batu sempat terkejut. Beruntung Hening Anyali tidak melihatnya. Tapi kini matanya yang terlindung rambut memandang liar pada gadis itu. 

"Mengapa kau mencari orang itu?" 

Tanya wanita paruh baya di atas batu kemudian. Hening Anyali menyeringai. 

"Mengapa aku mencari perempuan laknat itu? Ketahuilah, aku penguasa lembah Dieng. Dewi Kabut telah menyengsarakan kehidupan rakyatku. Kaum laki-laki dan bayi yang baru terlahir di sana dibunuhnya. Yang dibiarkan hidup hanya perempuan. Dewi Laknat itu tidak mengijinkan kami menikmati hidup berpasang-pasangan. Selama ini Dewi Kabut melancarkan teror dan sering mengancam. Dia sering bicara melalui Jarak yang jauh. Setiap orang yang membangkang perintahnya kalau tidak dibunuh pasti dikutuknya!" 

Kata gadis itu berapi-api. Wanita di atas batu bergetar. Kemarahan hampir membuatnya tidak kuasa menahan diri. Sejauh itu Hening Anyali hanya melihat wanita didepannya bersikap aneh dan gelisah 

"Nisanak, apakah kau mengenal orang yang kau cari?" 

Tanya gadis itu ingin kepastian. Wanita yang ditanya menatap Hening Anyali dengan mata berkilat-kilat. 

"Kau sendiri apakah pernah bertemu atau melihat orang yang kau cari?!" 

Tanyanya ketus. Kening sang dara berkerut, namun dia menggelengkan kepala. 

"Tidak nisanak. Aku tidak pernah bertemu dengan dirinya, aku bahkan belum pernah melihat bagaimana wajahnya."

"Kalau demikian bagaimana kau bisa menuduh bahwa Dewi Kabut yang menjadi penyebab dari kesengsaraan kaummu?"

Tanya wanita itu lebih sinis lagi. Hening Anyali membisu, dia heran mengapa perempuan itu sepertinya merasa tersinggung sekali. Tapi dia sendiri merasa perlu untuk berterus terang, karena itu dia berkata. 

"Dewi Kabut hanya menyebutkan namanya sendiri tanpa pernah menunjukkan diri. Dia mengancam dengan namanya, dia juga membunuh dengan namanya. Semua sesuai dengan pengakuannya."

"Kau yakin Dewi Kabut bisa menjatuhkan kutuk melakukan ancaman dan membunuh orang?" Tanya wanita itu. 

"Tentu aku meyakininya karena sesuai pengakuannya memang demikian," Jawab Hening Anyali. 

"Bagaimana kalau pembunuh itu orang lain yang mengatasnamakan Dewi Kabut?" 

Jawab wanita itu. Hening Anyali terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Boleh jadi yang dikatakan wanita itu benar. Seseorang yang tidak suka pada Dewi Kabut bisa saja mempergunakan namanya untuk melakukan pembunuhan keji. Apalagi orang itu tidak pernah menunjukkan diri sehingga sulit diketahui kebenarannya. 

"Nisanak aku tidak bisa memastikan! Aku selalu penasaran ingin bertemu dengan Dewi Kabut!" Ujar Hening Anyali. Gadis itu tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya.

"Seandainya saja kau dapat bertemu dengan dirinya, apa yang akan kau lakukan?" tanya wanita itu. 

Diam-diam dia menatap lurus ke arah gadis itu.

"Aku ingin bertanya tentang benar tidaknya dia telah membunuh para lelaki di Lembah Dieng. Seandainya dia tidak mau mengakuinya, maka kemungkinan aku akan memaksanya untuk bicara."

"Ternyata kau hanya mempunyai kecantikan di luar sementara di dalam hatimu penuh permusuhan. Kau tidak menggunakan akal sehat, sebaliknya justru suka memperturutkan nafsu dan kebencian. Kau tidak mengenal orang yang kau cari, bagaimana kau bisa menyimpan kebencian sedalam lautan?"

"Eh, apa maksudmu?"

"Aku bicara yang sebenarnya. Yang aku tahu sejak peristiwa besar terjadi pada Dewi Kabut. Dirinya tidak pernah lagi gentayangan di dunia persilatan. Dewi Kabut justru mengasingkan diri untuk merenungi apa yang terjadi pada dirinya."

"Memangnya apa yang telah menimpanya?" Tanya Hening Anyali heran. 

Wanita itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia memandang ke arah lereng bukit, tapi tatapan mata itu kosong. 

"Seperti yang kukatakan orang yang kau cari itu telah mengalami kejadian paling mengerikan dalam hidupnya. Dia mempelajari sebuah ilmu dari kitab yang langka, ketika ilmu tersebut berhasil dikuasainya, dirinya menjadi tumbal dari ilmu itu. Dia harus menembusnya dengan harga yang mahal. Dia mengalami cacat jiwa dan raga seumur hidup yang tidak mungkin dapat disembuhkan."

"Apa maksudmu, aku tidak mengerti"

"Kau tidak akan pernah mengerti. Yang tahu soal ini hanya seorang sahabatnya terdekat, dia bukan hanya sahabatnya, tapi juga saudaranya. Namanya Pendekar Kelelawar."

"Hmm, kau nampaknya mengenal Dewi Kabut dengan baik. Apa hubunganmu dengannya?" Tanya Hening Anyali curiga. 

"Aku tidak bisa menjawabnya" Jawab wanita itu dengan tegas. 

"Kau harus mengatakannya padaku!" Kata gadis itu dengan sikap mengancam 

"Terus terang aku tak dapat mengatakannya. Kuharap kau mau mengerti!" Ujar wanita itu. 

"Kurang ajar! Aku telah cukup bersabar sejak tadi, aku berharap menemukan titik terang tentang Dewi Kabut. Tidak kusangka kau bersikap melindunginya. Tindakanmu itu tidak bisa kuterima."

"Kalau begitu kau mau berbuat apa?" Tanya wanita itu sinis. 

"Aku terpaksa memberi pelajaran!" 

Teriak Hening Anyali. Gadis itu mengangkat tangannya. Ketika tangan berada di atas kepala, sepasang tangan itu berubah menjadi merah seperti darah. Si wanita di atas batu maklum gadis di depannya siap menyerang dengan satu pukulan yang keji. Tapi dia sendiri tetap diam tidak bergeming. 

"Nisanak! Kalau kau sudah bosan hidup, aku akan meluluskannya untukmu. Aku bisa mengirimmu ke Kambung. Tapi jika kau berubah pikiran, mau memberi tahu di mana Dewi Kabut berada. Aku siap mendengar penjelasanmu dan rela meminta maaf."

"Kau gadis keras kepala yang tidak tahu aturan. Mengapa aku harus takut dengan perempuan tengik sepertimu. Kalau mau menyerang, silahkan. Aku ingin melihat sehebat apa pukulan mautmu. Apakah sanggup membunuhku? Jika kau sanggup membunuhku, walau telah berada di alam arwah, aku patut mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepadamu!" kata wanita itu. 

Hening Anyali dibuat heran, Dia tidak habis mengerti mengapa wanita di atas batu malah menginginkan mati? Sang dara tidak mau ambil pusing. Serta merta dia melampat ke depan. Satu pukulan dilepaskannya. Cahaya merah berkiblat, hawa maut menebar, menyabar wanita di atas batu dengan ganas sekali. Perempuan itu nampak tenang saja. Dia tidak melakukan tindakan apa-apa untuk menyelamatkan diri. Sikapnya sangat pasrah sekali. Tetapi sesuatu yang tidak terduga kemudian terjadi. 

Dari bagian perut wanita itu mendadak terdengar suara bergemuruh aneh. Dari bagian pusar mencuat cahaya disertai angin keras, angin itu berputar membentuk sebuah corong raksasa yang makin melebar di bagian ujungnya. Yang terjadi kemudian bukan hanya pukulan gadis itu saja yang amblas tersedot pusaran angin yang keluar dari perut wanita itu, sebaliknya tubuh Hening Anyali juga tersedot ke arah wanita itu. Sang dara terkejut setengah mati melihat kejadian ini. Apa yang dialami merupakan sesuatu yang sulit untuk dipercaya. 

Dia beruntung karena segera mengambil tindakan. Sebelum sekujur tubuhnya tersedot seluruhnya, kedua kakinya yang tertahan segera didorong ke depan, kemudian tubuhnya dimiringkan ke kiri, selanjutnya dengan sekuat tenaga Hening Anyali berjumpalitan ke samping hingga dirinya dapat keluar dari lingkaran pusaran angin yang aneh berbentuk cerobong tersebut. Wajah sang dara berubah pucat, detak jantungnya tidak teratur. Dia memandang ke arah wanita di atas batu. Dilihatnya pusaran angin yang keluar dari perut mulai menipis dan menyusut.

"Apa lagi yang kau tunggu, kau ingin celaka? Jika itu yang kau inginkan kau boleh menyerangku dari arah sebelah mana saja yang kau suka!" Ujar wanita itu dingin. 

Hening Anyali berpikir mengurungkan niat dari tujuan semula baginya adalah tindakan yang memalukan. Dia tidak ingin mundur, karena itu dia segera menghimpun tenaga dan segera salurkan ke arah tangan dan kedua kakinya. Kali ini dengan jurus-jurus tangan kosong dia merangsak maju, wanita yang diserangnya menunggu. Sampai kemudian serangan Hening Anyali menghantam bagian kepala dan bahunya. Ketika serangan mengenai tempat yang dituju, wanita itu tiba-tiba mengibaskan rambutnya. 

Rambut yang panjang dan lembut, seketika berubah kaku seperti kawat baja, rambut itu menusuk dan menghantam dengan tidak beraturan. Hening Anyali terkesima, dia melompat mundur dan kembali melepaskan pukulan jarak jauhnya. Untuk kedua kalinya dari perut wanita itu menderu suara angin disertai pancaran cahaya yang langsung ikut berputar sesuai dengan pusaran angin yang diciptakan oleh wanita tersebut. Seperti tadi, semua pukulan yang dilepaskan oleh Hening Anyali amblas lenyap tersedot ke dalam perut si wanita. 

Hening Anyali penasaran sekali dia segera mencabut pedang. Pedang batu ditangannya diputar sedemikian rupa sehingga menimbulkan suara deru dan kilatan sinar hitam. Jurus-jurus pedang gadis ini sesungguhnya sangat luar biasa, namun ketika dia menyerang lawan dengan tusukan pedang dan dilanjutkan dengan gerakan membabat. Lawan ternyata hanya tersenyum, tangannya berkelebat. Dan tahu-tahu pedang gadis itu terjepit di antara jarinya. Dengan sekuat tenaga Hening Anyali mencoba membetotnya. Di saat itulah tangan lawan diputar, pedang patah menjadi dua bagian dan dia segera menghantam dada Hening Anyali. 

"Wuaak!" 

Sang dara terpental sambil menjerit keras. Begitu terlempar dia menyemburkan darah segar dari mulutnya. Dia mencoba bangkit, namun dadanya berdenyut sakit. Pada saat itu si wanita yang diserangnya tanpa disangka-sangka bangkit. Dia tersenyum dingin. 

"Kalau aku mau, kau sudah terbunuh sejak tadi­. Lebih baik kau kembali ke Dieng, kau butuh waktu yang lama untuk bisa mengalahkan aku. Sekarang aku ingin ke Lembah Batas Dunia." Ujar wanita itu datar. 

"Siapakah kau?" Tanya Hening Anyali. 

"Akulah Dewi Kabut orang yang kau cari. Tapi aku jamin aku tidak pernah melakukan semua apa yang kau tuduhkan itu. Kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyakannya pada Pendekar Kelelawar!" Ujarnya. 

Habis berkata begitu sosok Dewi Kabut mendadak raib dari hadapan Hening Anyali. Dia bermaksud untuk mengejar, namun luka dalam yang dialaminya membuatnya sulit untuk berjalan. 

"Mungkinkah yang dikatakannya benar. Jika Dewi Kabut manusia jahat tentu dia tidak memberiku kesempatan untuk hidup," Ujar gadis itu bingung sendiri.

***

Manusia setengah mahluk yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu sementara kaki dan tangannya seperti cakar ayam terus berlari ke arah suitan dan panggilan yang ditujukan kepadanya. Namun seperti diketahui pada episode sebelumnya. Ketika terlibat perkelahian sengit dengan Pendekar Pedang Roh Saga Merah, mahluk setengah manusia yang bernama Sabarantu berjuluk Sang Penyesat Dari Selatan kaki kirinya dipatahkan oleh Saga Merah. Sebelumnya si kakek telah membunuh Sandi Laya, setelah itu Tupu Lanjar sahabat Saga yang menjadi korban. 

Sebelum itu jauh sebelumnya dia juga telah membantai semua penduduk Lembah Batas Dunia. Kini dalam keadaan terluka, setelah menerima panggilan. Sabarantu terus menuju ke arah datangnya suara itu. Sampai kemudian langkahnya terhenti tak jauh dari sebuah lapangan disekeliling rumah penduduk. Mahluk setengah manusia ini melihat ada sebuah kereta hitam dan dua burung langit yang dikenalnya. Dia juga melihat seorang gadis berpakaian keemasan terbaring di atas batu pualam yang biasa dipergunakan penduduk lembah menikmati kehadiran rembulan malam. 

Tak jauh dari gadis tergeletak itu berdiri seseorang berpakaian aneh yaitu model pakaian perang yang terbuat dari lempengan batu besi. Di atas kepala orang itu bertengger sebuah topi bundar warna hitam yang bagian depannya berbentuk paruh burung. Paruh itu yang melindungi dan menutupi wajahnya sehingga Sabarantu tidak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas. 

Agak di belakang orang ini, Sabarantu juga melihat seorang pemuda berpakaian ringkas berupa selempang putih mirip pakaian pertapa dan memakai celana panjang berwarna putih. Dengan sebuah busur tergantung di bahu kiri dan anak panah tergantung di punggung belakang. Sabarantu segera mengetahui permuda berwajah tampan itulah seperti orangnya yang bernama Pemanah Biniang. 

"Aku yang laki-laki saja terpesona oleh ketampanan wajahnya. Apalagi gadis-gadis cantik. Tidak mengherankan banyak bidadari yang jatuh cinta kepadanya. Aku harus bisa merampas bumbung emas berisi anak panah itu. Tapi apa yang akan dilakukan permuda itu?" 

Pikir Sabarantu. Dia memandang ke depan. Dia melihat Pemanah Bintang berjalan mengelilingi gadis yang tergeletak di bangku batu. Sabarantu mengetahui siapa puteri berpakaian emas itu. Dia adalah Puteri Embun. Sayang dia tidak mengenal orang bertopi perang itu. Di negeri asalnya yaitu Negeri Angin, para pembesar dan panglima perang biasa mengenakan pakaian seperti Itu. Sabarantu menduga-duga, dalam hati dia bertanya. 

"Aku tidak dapat memastikan siapa dia. Yang kutahu Puteri Embun adalah kekasih Sargo, yaitu panglima perang Bayabala. Mengapa dia di bawa ke lembah ini. Apa yang terjadi dengan puteri itu? Apakah orang bertopi burung itu memang panglima Bayabala? Rasanya sulit memastikan sebelum aku dapat melihat wajahnya." 

Hati Sabarantu terus dijelajahi oleh beragam pertanyaan yang datang silih berganti. Kehadiran kereta hitam bersama burung langit sebelumnya jauh di luar yang dia duga. Tetapi bila mengingat suitan dan suara panggilan yang ditujukan kepadanya. Jelas isyarat itu seharusnya datang dari Nyuk Antan Alu, penyihir dari Negeri Angin yang menjadi sekutunya dan telah memberinya perintah untuk datang ke Lembah Batas Dunia. Kalau benar Nyuk Antan Alu yang dilihatnya itu, mengapa dia datang dengan berpakaian seperti panglima perang? 

Seperti dituturkan dalam episode Pemanah Bintang Orang berseragam perang itu pada Pemanah Bintang memang mengakui dirinya adalah Sargo. Panglima perang dari Negeri Angin. Dia datang ingin menolong kekasihnya yang terkena guna-guna teluh Nyuk Antan Alu. Akibat teluh itu membuat Puteri Embun mengalami tidur abadi. Kepada Pemanah Bintang dia meminta agar pemuda itu sudi menolongnya. Untuk melenyapkan pengaruh teluh dibutuhkan mata anak panah Cakra Kalima Inggil. Anak panah itu direndam dalam air, air rendaman diminumkan pada sang puteri sedangkan sisanya ditaburkan ke sekujur tubuh. 

Pemanah Bintang yang percaya atas penjelasan Panglima Bayabala setelah dibujuk akhirnya bersedia mengabulkan permintaan panglima itu. Dia berpikir tidak ada salahnya menolong puteri yang menderita penyakit tidur yang tidak berkesudahan itu. Apalagi dia melihat gelagat, panglima Bayabala memang sangat mencintainya. Maka setelah mengelilingi bangku batu sebanyak tiga kali, Pemanah Bintang akhirnya berdiri menghadap ke arah kendi besar yang tergeletak di samping kepala Puteri Embun. 

Kendi berisi air itu diperhatikannya untuk beberapa kejab lamanya. Selanjutnya tangannya diangkat. Dan kemudian dia menyentuh anak panah yang diinginkannya yaitu anak panah Cakra Kalima Inggil. Ini dilakukan untuk kali yang kedua. Pertama kali ketika Pemanah Bintang hendak mencabut anak panah itu dihatinya masih ada ganjalan. Sementara itu mata yang terlindung di balik topi paruh berbinar tidak sabar ingin melihat anak panah itu. Kini si panglima melihat Pemanah Bintang mencabut Cakra Kalima Inggil dari tempatnya. 

Dengan jelas panglima itu menyaksikan sebuah anak panah sakti berkelok-kelok seperti lekukan keris, sementara pada bagian ujung mata panah berbentuk bulat bergerigi seperti cakra. Begitu anak panah dikeluarkan dari bumbung berlapis emas, mendadak udara di sekitarnya berubah redup dan sejuk sekali. Sementara di sekitar lenmbah terdengar suara riuh dan langkah-langkah kaki orang berlari. 

"Suara apakah itu?" 

Tanya panglima Bayabala heran. Pemanah Bintang terdiam, dia nampak tenang, sementara anak panah Cakra Kalima Inggil yang penuh kharisma itu kini dilintangkannya ke depan dada. 

"Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang sesat, orang seperti itu sulit menerima kebenaran. Mereka bahkan selalu mencari dalih untuk membenarkan perbuatan yang salah. Manusia dan mahluk yang tidak terlihat itu sama saja. Cakra Kalima Inggil adalah sabda dari dewa yang menjelma menjadi sebuah senjata. Kalima Inggil sama dengan kata-kata bermakna tinggi yang mengandung kebenaran. Dan mahluk-mahluk di sekitar lembah yang tidak terlihat sulit menerima kebenaran. Mereka yang tersesat selamanya menganggap kebenaran sama dengan sesuatu yang menakutkan, menjijikkan dan perlu untuk dijauhi." Ujar pemuda itu. 

"Apa yang akan kau lakukan?" 

Tanya Panglima Bayabala, saat itu dia telah siap dengan rencananya. Posisinya yang berada di belakang Pemanah Bintang memudahkan dirinya untuk melakukan sesuatu. Dan semua itu dia lakukan sesuai dengan keinginannya. 

"Kalau benar panglima ingin menyembuhkan kekasihmu Puteri Embun, maka sekaranglah saatnya untuk melakukan keinginanmu itu. Aku yakin Cakra Kalima Inggil dapat membangunkan dia dari tidur yang panjang selama tidak ada gangguan datang begitu diriku menggerakkan kesaktian yang terkandung di dalamnya," 

Kata pemuda itu. Pemanah Bintang lalu memberi isyarat pada panglima itu. Panglima segera menjauh, sementara Pemanah Bintang mulai mengerahkan kekuatannya ke batang anak panah. Ujung anak panah mengeluarkan kilatan kilatan cahaya aneh. Ketika ujung anak panah semakin menghujam ke dalam kendi air. Maka warna air seketika berubah memerah. Semakin lama air di dalam kendi itu semakin bertambah merah. 

Cahaya yang memancar dari mata anak panah berubah meredup. Pemanah Bintang kemudian memasukkan anak panah itu kembali ke tabung bambu berlapis emas. Panglima Bayabala segera menghampiri kendi itu. Sejenak dia memperhatikan permukaan air yang telah berubah warnanya. Wajah di balik topi berbentuk paruh burung menyeringai. Dia lalu berkata. 

"Terima kasih kau telah menolong kekasihku. Sekarang aku akan mengguyur tubuhnya dengan air yang ada dalam kendi ini." 

Panglima Bayabala kemudian mengambil kendi dan mengangkatnya tinggi. Pemanah Bintang segera menjauh. Sementara kendi telah dimiringkan dan isinya kemudian mengucur membasahi sekujur tubuh Puteri Embun mulai dari bagian kepala hingga ke ujung jari-jari kakinya. Setelah air tertumpah seluruhya, Panglima Bayabala menunggu sejenak. Pemanah Bintang memperhatikannya dengan perasaan cemas. 

Dan penantian itu ternyata tidak berlangsung lama. Sebuah perubahan segera terjadi. Sekujur tubuh sang puteri yang terbaring di atas bangku batu mengepulkan asap tebal berwarna putih kehijauan. Seiring dengan itu sang puteri menggeliatkan sementara matanya terbuka. Pemanah Bintang menarik nafas lega melihat Puteri Embun terjaga dari tidurnya yang panjang. 

Tetapi kelegaan yang sempat dirasakan Pemanah Bintang seketika lenyap berganti dengan perasaan kaget bercampur heran begitu melihat perubahan dalam diri Puteri Embun. Panglima Bayabala sunggingkan senyum justru pada saat Pemanah Bintang memandangnya dengan tatapan bertanya. 

"Ada yang tidak beres! Puteri Embun tidak mungkin berubah seperti itu?" 

Ujar Pemanah Bintang curiga. Kecurigaannya semakin menjadi kenyataan karena begitu asap yang keluar di sekujur tubuh sang puteri lenyap, tiba-tiba Pemanah Bintang melihat wajah sang puteri berubah. Wajah itu berubah menjadi angker mengerikan. 

"Siapa yang membangunkan aku?" 

Tanya sang puteri yang telah berubah. Pemanah Bintang terkesima, suara yang didengarnya itu jelas bukan suara perempuan, suara orang di atas batu begitu berat, serak seperti suara laki-laki. 

"Ha ha ha! Kau harus berterima kasih kepadaku bukan pada Pemanah Bintang. Kau telah bangkit dari tidur yang panjang...." kata Panglima Bayabala. 

Di belakang Panglima Bayabala Pemanah Bintang sedikit pun tidak merasa tersinggung atas pernyataan laki-laki dari Negeri Angin itu. Justru yang merisaukan hati dan membuatnya bertanya-tanya adalah perubahan yang terjadi pada diri Puteri Embun. Dia yakin tidak ada yang salah dalam pengobatan dengan panahnya. Jadi kesalahan itu jelas terletak pada diri orang yang disembuhkan. Pemuda itu terus berpikir, namun dia juga tidak ingin bertanya. 

Pemanah Bintang menunggu sementara perhatiannya tetap tertuju ke arah bangku batu. Tidak lama kemudian di tengah keheningan tiba-tiba panglima balikkan badan menghadap ke arah Pemanah Bintang. 

"Kau lihatlah! Aku telah membangkitkan orang terkuat dari Negeri Angin." 

Ujar laki-laki itu disertai seringai. Si pemuda tentu tak dapat melihat seringai itu karena wajah panglima terlindung bagian depan paruh dari­ topi yang dikenakan sang panglima. Sadarlah si pemuda bahwa dirinya telah ditipu. 

"Astaga! Gadis itu nampaknya bukan Puteri Embun. Aku telah curiga sejak semula. Aku yakin dia telah menipu diriku." Pikir Pemanah Bintang. 

"Anak muda apakah kau pernah bertemu dengan Puteri Embun?" 

Tanya panglima itu dingin. Pemanah Bintang menggeleng. 

"Ha ha ha. Kau manusia bodoh, ketahuilah saat ini Puteri Embun berada di Negeri Angin."

"Kalau demikian berarti kau bukan Panglima Bayabala?" Ujar permuda itu. 

"Memang benar. Aku bukan panglima perang gagah perkasa itu."

"Lalu kau siapa?"

"Aku? Aku adalah penyihir terhebat." 

Jawab orang yang menyamar sebagai panglima perang itu. 

"Seorang penyihir hebat? Kau mengatakan penyihir terhebat adalah Nyuk Antan Alu. Apakah berarti orang itu adalah dirimu?" Tanya Pemanah Bintang tenang.

"Aku Nyuk Antan Alu." Jawab laki-laki itu. 

"Lalu siapa orang yang kau bawa itu?" Tanya Pemanah Bintang sambiI memandang ke arah bangku batu.

"Kau tidak perlu tahu siapa dirinya. Yang jelas dia bukan Puteri Embun. Aku membawanya kemari karena aku tidak menemukan cara untuk membangkitkan dirinya dari sebuah tidur yang panjang. 

"Nyuk Antan Alu, tadinya kau mengatakan dia menderita penyakit aneh seperti itu karena ulah Nyuk Antan Alu, orang yang kau sebutkan ternyata dirimu. Lalu apa sebenarnya yang terjadi, tidak bisakah kau bicara dengan Jujur" Ujar pemuda itu dingin. 

"Aku tidak terbiasa bicara apa adanya. Dia menderita kelainan, dan kelainan yang dialaminya bukan karena diriku. Terus terang saat kubawa kemari dia terkena Racun Tidur Seribu Hari. Sampai hari ini belum diketahui siapa pemilik ilmu racun Itu. Aku sedang menyelidiki. Kudengar pemilik lmu racun sehebat Itu bukan dari Negeri Angin, tapi dari negeri Ini"

"Lalu bagaimana kau bisa mengetahui bahwa Anak Panah Cakra Kalima Inggil bisa memunahkan pengaruh racun jahat itu?" Tanya Pemanah Bintang penuh rasa ingin tahu. 

"Ha ha ha! Sudah kukatakan aku adalah penyihir nomor satu di Negeri Angin. Tidak sulit bagiku untuk mengetahui cara apa yang kubutuhkan untuk membuatnya terjaga dari tidurnya akibat pengaruh racun tersebut. Begitu kutahu caranya, maka aku akan membawanya kemari."

"Sekarang aku telah membuatnya terjaga, karena kau telah menipu aku sebaiknya kau lekas angkat kaki dari hadapanku.!"

"Kau tidak bisa mengusir aku, selain itu kau juga harus menyerahkan bumbung berisi anak panah itu." Ujar Nyuk Antan Alu bersemangat. 

"Oh, inikah balasan yang harus kuterima? Aku tidak menyangka hatimu sejahat itu. Kau meminta sesuatu yang tidak bisa kuberikan, lagi pula bagaimana kau bisa memastikan kalau anak-anak panah yang kubawa ini asli?"

"Tadi kau telah menggunakan Cakra Kalima Inggil. Hasilnya telah kulihat." Ujar Nyuk Antan Alu tanpa ragu. 

"Aku bisa merubah segalanya menjadi palsu dalam sekejap. Tanpa menghiraukan kesalahan orang yang kau bawa dan kesalahan dirimu sendiri, aku berbaik hati memaafkanmu? Kuharapkan kau tidak punya keinginan yang lain karena aku tidak bisa melayanimu?" 

Nyuk Antan Alu yang datang dengan menyamar sebagai seorang panglima perang terhebat di negeri Angin sunggingkan seringai sinis. Dia berpikir, dirinya harus merampas bumbung anak panah dipunggung pemuda itu. Dengan menguasai bumbung berarti dia akan menguasai tiga anak panah sakti sekaligus. Pertama panah Sirna Raga yang kedua adalah anak panah Pusaka Langit dan yang ketiga adalah Cakra Kalima Inggil. 

Barulah setelah itu dia dan kaki tangannya akan mencari bocah aneh Si Anak Terbuang, yaitu orang yang telah berhasil masuk ke negeri Angin dan mengobrak-abrik tempat tinggalnya dan melakukan kekacauan di sana. Belum sempat Nyuk Antan Alu berkata apa-apa, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak memecah kesunyian. Pada kesempatan itu pula terdengar suara orang berkata. 

"Ha ha ha! Nyuk Antan Alu, kehadiranmu dengan menyamar seperti itu sempat membuat aku bingung. Tapi pada akhirnya aku merasa lega karena kau menepati janji. Sekarang kita akan bersatu. Pemanah Bintang memang tidak mungkin sudi menyerahkan bumbung anak panah itu kepadamu, celakanya dia juga tak akan melayani segala bentuk kekerasan. Tapi. bagaimana pendapatnya bila dia mengetahui bahwa yang membantai kerabatnya adalah diriku?"

"Hik hik hik! Sabarantu sahabatku, kaukah itu?" Kata Nyuk Antan Alu dengan suara riang.

Kembali terdengar suara tawa sebagai jawaban. Kemudian Pemanah Bintang melihat ada satu sosok bergerak cepat dari arah belakang rumah ke arah lapangan kecil itu. Sekejab kemudian di depan Pemanah Bintang berdiri sosok seorang laki-laki yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu seperti anak burung. 

Sosok itu bukan keadaan fisiknya saja yang aneh, sebaliknya tangan dan kakinya juga aneh karena tangan dan kaki berbentuk cakar besar yang sangat kokoh. Namun dia juga mengetahui kaki kiri orang yang baru datang dalam keadaan terluka. Bila Pemanah Bintang kaget juga geram melihat orang yang mengaku telah membunuh kerabatnya. Sebaliknya Nyuk Antan Alu jadi girang bukan main. 

"Sabarantu, kau telah melakukan tugasmu, kita sudah sama tahu kalau kita bunuh kerabat Pemanah Bintang, itu berarti membangkitkan kemarahannya. Jika kemarahan dia lampiaskan, apalagi dirinya sampai membunuh atau mengotori tangannya dengan darah, berarti niatnya untuk menjadi penyambung lidah dewa akan gagal. Kegagalannya membuatnya jauh dari kehidupan para suci."  

"Kau benar Nyuk Antan Alu. Kemarahan bisa mengikis habis semua perbuatan baik. Kemarahan menjauhkan manusia dari kemurahan Hyang Tunggal," 

Sahut Sabarantu mahluk setengah manusia bertangan dan berkaki cakar itu. 

"Tapi aku tidak akan mengikuti keinginan rendah, walaupun aku mengetahui perbuatan kalian adalah dosa yang tidak dapat dimaafkan!" Geram Pemanah Bintang. 

"Oh begitu," Ujar Sabarantu. Sang Penyesat Dari Selatan ini menyeringai sinis. 

"Mungkin satu yang belum kau ketahui, yang kubunuh bukan hanya para sahabatmu yang menetap di Lembah Batas Dunia ini saja. Aku juga telah membunuh Sandi Laya dengan cara yang amat keji, bagaimana pendapatmu?" 

Tanya Sabarantu dingin. Untuk pertama kalinya setelah hampir dua puluh tahun pemuda itu hidup menuruti keinginan hati yang luhur. Pemanah Bintang merasakan adanya gelegak amarah muncul dari dasar lubuk sanubarinya. Pemuda itu berusaha meredamnya. Bagi Pemanah Bintang kehilangan kerabat melahirkan gelombang duka. Ketika mengetahui penghuni Lembah Batas Dunia tewas si pemuda sudah merasakan dirinya telah ditinggal oleh orang-orang yang selama ini selalu patuh pada ajaran-ajarannya yang mengutamakan budi pekerti yang luhur. 

Dan kini setelah mendengar pengakuan Sabarantu yang menjadi sekutu Nyuk Antan Alu. Dia merasa tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Tapi apakah perlu dia melayani kegilaan itu? para tetamu yang tidak diundang. Jika dirinya melayani orang-orang ini, artinya dia tidak jauh lebih buruk dari mereka. Walau dia menyadari, keinginan Nyuk Antan Alu dianggapnya sebagai permintaan yang berlebihan. 

"Aku harus menyingkir dari lembah ini. Aku butuh waktu untuk berfikir tentang keputusan yang akan kuambil. Aku akan melakukan sesuatu dengan tabung bambu ini, aku juga harus melakukan sesuatu pada diriku!" 

Batin Pemanah Bintang. Sebuah tindakan kemudian dilakukannya. Sementara itu Nyuk Antan Alu mulai memberi isyarat pada Sabarantu untuk merampas tabung berlapis emas yang tergantung dipunggung Pemanah Bintang. 

"Jangan takut Nyuk Antan Alu. Aku akan mengambil tabung itu dalam sekedipan mata!"

Ujar Sabarantu yang melihat isyarat itu. Dan mahluk setengah manusia berkaki dan bertangan aneh ini sekonyong-konyong melompat ke depan. Walau kakinya telah terluka, namun gerakan Sabarantu ternyata masih cepat dan berbahaya. Mengetahui kejadian ini Pemanah Bintang berkelit tangan kiri didorong ke depan melakukan gerakan menghantam. Sementara itu pada saat menghindar, Pemanah Bintang melakukan apa yang menjadi keinginannya. 

Tabung bambu berisi anak panah mengepulkan asap sementara beberapa sinar melesat keluar dari tabung tersebut lalu melesat ke satu arah menembus hutan kabut. Pada kesempatan itu, baik Nyuk Antan Alu maupun Sabarantu tidak sempat melihat adanya lesatan cahaya keluar dari tabung bambu karena Nyuk Antan Alu tengah memeriksa sosok Puteri Embun yang kini telah berubah menjadi sosok seorang laki-laki berwajah aneh di mana keningnya ditumbuhi rambut hitam lebat sementara rambut di bagian belakang di kepang halus dan dalam keadaan tergerai.

Sabarantu yang sibuk menyelamatkan diri dari Jotosan Pemanah Bintang terlalu bernafsu ingin menjajal kehebatan lawannya. Begitu dirinya lolos dari Jotosan, tubuhnya melambung tinggi ke atas. Namun dengan kecepatan dua kali lipat dari gerakan melambung tadi, kini dia meluncur ke bawah. Tangan kanan yang berupa cakar menyambar ke arah tabung. Sedangkan tangan kiri menghantam bahu pemuda itu. Breet! Duk! Duk! 

Tabung berlapis emas berhasil dibetot lepas, tapi pukulan yang mengarah ke bahu berhasil ditangkis Pemanah Bintang. Pemuda itu terhuyung, Sabarantu sendiri tergetar. Walau sempat merasakan kehebatan tenaga dalam lawannya. Sabarantu tersenyum karena berhasil merampas tabung bambu berisi anak panah tersebut. Pada kesempatan itu dia mendengar Nyuk Antan Alu berseru ditujukan kepadanya. 

"Kau habisi saja dia. Dengan demikian dia tidak akan menjadi apa yang diinginkan oleh para dewa!"

"Hmm, aku akan menurutimu! Aku memang sudah berhasrat untuk membunuhnya!" 

Sahut Sabarantu. Dan kini setelah mengamankan tabung bambu rampasan, mahluk setengah manusia ini tiba-tiba berbalik. Sekonyong-konyong dia menyerang Pemanah Bintang dengan serangan mematikan yang dilakukan dengan cepat sekali. Demi melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini, Pemanah Bintang segera mengambil keputusan. Dia harus meninggalkan Lembah Batas Dunia secepatnya. Soal kembali ke lembah itu atau tidak, itu tergantung keputusannya nanti. 

Begitu melihat serangan datang disertai suara bergemuruh dan berkelebatnya sepasang cakar yang mengarah ke bagian dada dan lehernya, Pemanah Bintang cepat sekali menyatukan kedua tangannya di depan dada. Wuees! Seketika pemuda itu raib dari pandangan. Sabarantu dan Nyuk Antan Alu sang penyihir dari Negeri Angin terkejut bukan main. 

"Bagaimana dia bisa menghilang?" 

Desis Sabarantu tidak mengerti. Kekagetan dihatinya belum juga hilang ketika Nyuk Antan Alu membuka mulut dan menghiburnya. 

"Kau tidak perlu risau dan gusar. Kemungkinan dia tidak pergi jauh dari lembah ini. Dia pasti akan kembali, dia pergi untuk mencari bala bantuan." 

Ujar penyihir yang datang ke Lembah Batas Dunia dengan penyamaran sabagai panglima perang Bayabala itu 

"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" Tanya Sabarantu bimbang.

"Sabarantu, apakah kau lupa bahwa semua senjata milik Pemanah Bintang telah berhasil kau rampas. Semua anak panah yang ada dalam bumbung itu adalah senjata-senjata sakti yang tiada duanya." 

Sabarantu memandang ke arah bumbung berlapis emas. Dia melihat ada tiga batang anak panah di dalam bumbung itu. Salah satunya adalah yang dipergunakan untuk memusnahkah pengaruh racun yang mendekam dalam diri orang yang kini terbaring di atas batu. Sabarantu menyeringai. Dia menghampiri Nyuk Antan Alu. 

"Kau benar, Pemanah Bintang telah kehilangan senjata yang menjadi andalannya. Kini hanya tinggal membuat busur dan anak panah ini bisa dipergunakan. Dengan tiga senjata ini aku akan menaklukkan dunia persilatan di luar Negeri Angin."

"Bukan hanya kau, tapi kita Sabarantu! Tanpa diriku kau tidak bisa berbuat banyak." Nyuk Antan Alu memotong. Sabarantu manggut-manggut. 

"Ya, kita berdua." Sabarantu melirik ke atas batu. Dia lalu berkata.

"Sampai sejauh ini. Ada pertanyaan yang masih menjadi ganjalan di dalam hatiku sahabatku," Kata Sabarantu disertai lirikan penuh arti. 

"Apa maksudmu, aku tidak pernah merahasiakan sesuatu kepadamu!" Ujar Nyuk Antan Alu. 

"Aku ingin tahu siapa yang kau bawa itu?" Pertanyaan Sang Penyelamat Dari Selatan membuat Nyuk Antan Alu tersenyum. 

"Oh dia, kukira apa. Dia adalah Gorga Raga, di negeriku dia dijuluki Pembunuh Tanpa Darah. Terus terang semua yang kukatakan di depan Pemanah Bintang tadi adalah dusta betaka. Hal yang sebenarnya, Gorga Raga selama setahun menderita penyakit aneh. Penyakit itu hanya bisa disembuhkan dengan mata anak panah Cakra Kalima Inggil milik pemuda tadi. Dia memiliki kesaktian yang tiada tanding, aku terpaksa melarikannya keluar dari Negeri Angin karena panglima perang memburunya, sementara ancaman lain datang dari mahluk sakti bernama Lelebut?"

"Kau pernah menceritakan tentang Lelebut, tokoh golongan hitam tingkat atas yang sangat misterius. Jadi kau melarikan diri dari kejaran panglima dan Lelebut? Kesalahan apa sebenarnya yang telah kau lakukan?" Tanya Sabarantu ingin tahu. 

"Ah, sudah lama kau mengenal diriku. Kau tahu, sejak dulu aku memang sangat benci dengan orang-orang istana. Sebaliknya panglima Bayabala telah lama memiliki keinginan untuk memusnahkan penyihir sepertiku ini. Sedangkan urusanku dengan Lelebut aku tidak punya silang sengketa dengan dirinya. Hanya saja, dia ingin menjadikan Gorga Raga sebagai kaki tangannya. Padahal Gorga Raga ini adalah alat pembunuh satu-satunya milikku yang sangat kuandalkan. Tentu aku tidak mungkin memberikan Gorga Raga pada Lelebut. Dia terus memburuku, aku tidak punya pilihan lain, aku terpaksa membawanya pergi keluar dari Negeri Angin dan sampai ke sini."

"Jika demikian, semua permasalahannya bisa kumengerti. Nyuk Antan Alu apakah kau akan berpakaian seperti itu?"

"Ah, wajahku ini sangat buruk, Aku butuh pakaian ini, aku mencurinya dari panglima perang. Pakaian ini tentunya sangat berguna bagiku."

"Apa hebatnya?"

"Ini adalah pakaian sakti. Dengan mengenakan pakaian seperti ini akan sulit bagi lawanku untuk melukai diriku. Sama seperti dirimu yang memiliki ilmu kekebalan. Aku kebal, tapi seseorang hampir mengetahui kelemahanku. Kau lihat kaki kiriku, Dia berhasil mematahkan kakiku ini," 

Ujar Sabarantu dengan suara menggeram. Kening di balik topi dengan bagian depan berbentuk paruh burung itu berkerut.

"Siapa orangnya yang berhasil melukaimu?" Tanya Nyuk Antan Alu kaget. 

"Aku tidak tahu, dia mengatakan dirinya Saga Merah. Orangnya masih muda, kukira dia seorang pendekar yang berbahaya," Nyuk Antan Alu terdiam, tapi kemudian dia merasa bahwa tidak ada yang perlu dirisaukan. 

"Kau tidak perlu takut. Bila kita saling membantu, rasanya tidak ada yang perlu dirisaukan. Lagi pula aku bersama Gorga Raga, kita hanya sedikit butuh waktu untuk memulihkan ingatan dan kekuatannya yang selama ini ikut tertidur pula. Bukankah begitu, Gorga?" 

Kata Nyuk Antan Alu sambil memandang ke arah laki-laki tinggi berkulit putih yang keningnya ditumbuhi bulu-bulu lebat. Orang di atas batu mengangguk dengan gerakan yang kaku. Dia kemudian bertanya. 

"Kita berada di mana Nyanyuk, dan laki-laki jelek berkaki dan bertangan cakar ayam itu siapa?" 

Tanya Gorga Raga dengan suara terputus-putus. Sabarantu nampaknya sangat marah mendengar dirinya dikatakan jelek dan bertangan cakar ayam. Namun Nyuk Antan Alu segera berkata. 

"Kau tidak usah tersinggung. Baru sekali ini dia melihat dirimu, maka wajar bila dia berkata begitu." Selanjutnya penyihir ini berkata pula ditujukan pada Gorga Raga. 

"Kepada teman sendiri kau tidak perlu mengucapkan kata-kata yang bernada menghina."

"Bukankah yang kukatakan ini memang benar adanya Nyuk?" Kata Gorga Raga tanpa merasa bersalah. 

"Kau tidak boleh begitu. Saat ini kita berada di negerinya yaitu tanah Jawa Dipa. Kita telah jauh meninggalkan Negeri Angin.... jelas Nyuk Antan Alu hingga membuat Gorga Raga kaget dan menepuk keningnya sendiri. 

"Astaga! Nyuk mengapa kita meninggalkan Negeri Angin. Bukankah di sana kehidupan kita lebih enak!"

"Enak apanya? Di sana banyak musuh, kita bahkan terpaksa meninggalkan negeri kaparat itu karena musuh kita berada di mana-mana!" Dengus Nyuk Antan Alu jengkel. 

"Oh, aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Aku berpikir diriku sudah mati, Nyuk. Lalu bagaimana sekarang ini aku bisa terjaga?" 

Tanya Gorga Raga heran. Nyuk Antan lalu menghampiri Gorga Raga, kemudian dibelainya kepala laki-laki itu 

"Kau telah sembuh, kubawa kau kemari semata-mata bukan hanya karena melarikan diri dari kejaran panglima dan Lelebut. Aku membawamu kemari karena aku ingin menyembuhkanmu. Kenyataannya kau telah sembuh. Sekarang coba kau gerakkan tubuhmu?" 

Ujar penyihir itu dengan nada memerintah. Gorga Raga menganggukkan kepala. Dia lalu menggerakkan tubuhnya, tapi sekujur tubuhnya masih lemah. Ketika hal itu disampaikannya pada Nyuk Antan Alu. Si penyihir dengan cepat berkata. 

"Kau masih membutuhkan waktu untuk memulihkan kesehatanmu. Kau pasti akan pulih seperti dulu."

"Lagi pula kita tidak akan pergi kemana-mana, Nyuk." ujar Sabarantu. 

"Aku telah menetapkan wilayah ini menjadi tempat tinggal kita. Kita akan menetap di sini untuk waktu yang tidak terbatas."  

"Ha ha ha! Semua terserah padamu, akupun nampaknya menyukai lembah ini. Banyak sekali benda-benda berharga terdapat di sekitar sini." Ujar Nyuk Antan Alu. 

Sementara itu tidak jauh dari lapangan kecil di mana Sabarantu dan Nyuk Antan Alu terlibat percakapan. Sejak tadi seorang pemuda berpakaian cokelat dari kulit berambut panjang memakai ikat kepala warna cokelat terus mendengar permbicaraan mereka. Si pemuda yang adalah Saga Merah adanya dikenal dengan julukan Pendekar Pedang Roh kini mulai tahu siapa kiranya Sabarantu dan Nyuk Antan Alu. Dia sendiri tidak tahu Negeri Angin yang disebutkan Nyuk Antan Alu ada di mana. 

Hanya satu yang bisa dia pastikan bahwa sang penyihir adalah manusia jahat yang melarikan diri dari negerinya. Kini pemuda itu memandang ke depan, sementara hatinya ber kata, 

"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengan senjata milik Pemanah Bintang. Aku juga heran mengapa dia tidak merebut anak-anak panah itu. Sebaliknya Pemanah Bintang malah melarikan diri. Ada yang tidak wajar, hanya Pemanah Bintang sendiri yang tahu jawabannya. Sekarang, apa yang harus kulakukan?" Pikir pemuda itu. 

"Mereka mengatakan ingin menetap di lembah ini. Orang-orang aneh itu datang dari negeri asing, datang kemari hanya ingin menguasai. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku akan menangkap mereka, lalu mengambil senjata milik Pemanah Bintang yang dirampas. Setelah kudapatkan, aku mengembalikannya pada pemiliknya."

"Kita akan memulai segalanya dari sini," Ujar Sabarantu. 

"Aku sependapat dengan dirimu!" Kata Nyuk Antan Alu. 

"Kelak kita akan menjadi penguasa di rimba persilatan tanah Dipa ini. Ha ha ha!" 

Nyuk Antan Alu tertawa, Sabarantu juga tertawa membuat suasana disekelilingnya jadi hingar bingar. Di tengah gelak tawa itulah Saga Merah berkata dengan suara menggeledek. 

"Orang-orang serakah gila kekuasaan. Kalian mengira bisa menjadi penguasa dengan cara semudah itu? Aku tidak akan membiarkan sepak terjang kalian di tanah Dipa ini.!" 

Nyuk Antan Alu terkesiap, Sabarantu diam-diam dibuat kaget mendengar suara itu. Dia jelas mengenali suara orang yang baru bicara. Sebentar saja kakek Ini dilanda kaget, sadar pada apa yang telah dilakukan oleh Saga Merah. Dengan penuh geram dia berkata.

"Bocah keparat! Ternyata kau masih berada di lembah ini? Kau sudah tahu kesalahan apa yang telah kau perbuat. Tapi kau masih juga berani datang mencari mati!"

"Ha ha ha! Kau bukan dewa pencabut nyawa, bagaimana kau bisa mengatakan kehadiranku di sini untuk mencari mati?" Ujar Saga merah. 

"Siapa dia?" tanya Nyuk Antan Alu. 

Sabarantu segera menjawab dengan suara lirih, "Itulah orangnya yang telah mematahkan kaki kiriku. Kita harus hati-hati, pemuda itu nampaknya sangat berbahaya sekali" 

Nyuk Antan Alu tersenyum dengan mulut terpencong. Dia kemudian berteriak ditujukan pada Saga Merah. 

"Bocah gila, jangan kau kira temanku ini sudah kau kalahkan lalu kau dapat mengusir kami dari lembah ini. Sekarang sebaiknya kau keluar dan tunjukkan dirimu. Bicara di tempat terbuka kurasa jauh lebih sopan!" 

Nyuk Antan Alu memperhatikan pemuda itu untuk beberapa jenak lamanya. Dia kemudian dongakkan kepala lalu tertawa tergelak-gelak. 

"Inikah orangnya yang telah mematahkan kakimu, Sabarantu?" Tanya penyihir itu. 

Sabarantu mengangguk, melalui ilmu mengirimkan suara dia membisiki. 

"Kau jangan memandang rendah dirinya. Dia memiliki jurus-jurus hebat yang sulit terbaca, di samping itu dia juga mempunyai pukulan ganas, aku sendiri sempat kewalahan menghadapinya." 

Mendengar bisikan itu Nyuk Antan Alu bukannya takut, sebaliknya tawanya kembali bergema memecah keheningan lembah. 

"Hanya menghadapi kunyuk seperti dirinya mengapa harus takut?" Dengus Nyuk Antan Alu sinis. 

"Terserah dirimu, aku sudah memperingatkan. Aku sendiri tidak merasa takut, justru sekarang adalah waktunya bagiku untuk membuat perhitungan dengan dirinya," Ujar Sabarantu dengan tatapan garang penuh dendam. 

"Sabarantu mahluk jelek setengah manusia. Jangan mengira kau bakal lolos dari tanganku. Telah begitu banyak kesalahan yang kau buat di lembah ini. Kau membunuh semua penduduk yang tinggal di tempat ini. Kau juga membunuh Sandi Laya, di samping itu kau merampas senjata yang bukan milikmu. Jadi sangat kecil sekali kemungkinannya kau bisa lolos dari tempat ini," 

Kata Saga Merah. Belum sempat Sabarantu membuka mulut, saat itu Nyuk Antan Alu dengan tidak sabar berkata. 

"Mulutmu terlalu besar dan lancang! Bicaramu tidak mengenal aturan. Kau seorang diri dan kami bertiga, apakah kau mengira dapat mengalahkan kami?" 

Bentak penyihir dari Negeri Angin ini jengkel. Nampaknya dia juga telah kehilangan kesabarannya. Terbukti tanpa banyak bicara lagi dia berkelebat dan melakukan serangan mendadak ke arah pemuda itu. Pendekar Pedang Roh sempat terkesima melihat serangan yang datang dengan cepat. Namun walau serangan disertai angin dingin luar biasa, Saga Merah tetap bersikap tenang. Begitu gelombang angin yang menyertai pukulan menghantam kesekujur tubuhnya. Saga Merah melakukan gerakan cepat. 

Tangan dikibaskan menyapu ke depan. Terdengar suara letupan, hantaman angin lenyap dan tinju Nyuk Antan Alu melesat menghajar ke bagian wajah. Saga Merah menggeser tubuh ke samping satu tindak, kepala ditarik ke belakang. Kemudian dari arah samping lima Jari tangannya berkelebat menangkap pergelangan tangan Nyuk Antan Alu, Pukulan keras yang dilakukan penyihir ini luput, sebaliknya bahaya lain mengancam tangannya. 

Andai saja dia tidak segera membanting tubuhnya ke arah berlawanan, tangan itu kena ditangkap oleh Saga Merah. Setelah berguling-guling menjauh, Nyuk Antan Alu gerakkan kaki dan kepala secara serentak. Tubuh melambung dan dengan gerakan sedemikian rupa dia bangkit berdiri. Kini dia memandang ke depan dengan tatapan tidak percaya. 

"Pemuda ini ternyata sangat berbahaya. Sabarantu tidak berbohong, pantas saja kakinya kena dipatahkan oleh pemuda itu. Ini baru permulaan, aku akan menggunakan ilmu sihir dan pengaruh racun untuk menjatuhkannya!" pikir Nyuk Antan Alu licik.

Dia lalu memberi isyarat pada Sabarantu. Penyihir ini juga mengedipkan matanya pada Gorga Raga. Sang Pembunuh Tanpa Darah yang sejak tadi duduk di atas bangku batu segera bangkit.

"Nyuk! Kalau hanya menghadapi pemuda seperti dia, biarkan aku sendiri yang turun tangan. Buat apa kau berletih diri menyengsarakan badan, kalian berdua lebih baik beristirahat," Ujar Gorga Raga dengan suara kaku terputus-putus. 

"Tidak Gorga! Aku tidak mau membuang waktu untuk melayani pemuda ini. Dia cukup berguna untuk dijadikan budak. Kita bertiga harus menangkapnya bersama-sama agar urusan cepat selesai!" 

Ujar Nyuk Antan Alu tidak sabar. Sabarantu melangkah maju, penuh kebencian dia menatap Saga Merah. 

"Kau telah membuatku cacat, begini rupa, ingin sekali aku mematahkan dua tangan dan kedua kakimu agar hatiku menjadi puas!" Geram laki-laki itu. 

"Kau tidak perlu banyak bicara, kalau kau mampu mengapa kau tidak melakukannya sekarang?"

Tantang pemuda itu. Sikap yang ditunjukkan Saga Merah justru semakin membuat Sabarantu menjadi sangat geram. 

"Pemuda kurang ajar! Terima kematianmu" teriak Sabarantu. 

Orang tua itu kemudian membarengi teriakannya dengan satu serangan beruntun yang belum pernah dilihat oleh Saga Merah sebelumnya. Dan anehnya walau serangan itu terkesan sembarangan, tak urung membuat Saga Merah terpaksa menguras tenaga dan keluarkan kemampuan yang dimilikinya untuk menghindar dari cakaran, pukulan, dan tendangan yang dilakukan Sabarantu. 

"Hmm, ternyata kau masih alot juga. Sekarang coba kau rasakan yang satu ini," Ujar lawannya. 

Sabarantu tiba-tiba jatuhkan diri, dengan bertumpu pada bagian punggung, dia berputar, bergulingan lalu menyerang Saga dengan gerakan yang sulit diikuti kasat mata. Berkat ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tahap sempurna, Saga Merah terpaksa melambungkan tubuhnya ke atas. Dari atas ketinggian dia melepaskan pukulan ke bawah. Cahaya seperti kilat menyambar ke arah kakek itu, hawa panas menghanguskan menyebar ke seluruh lembah. 

Tidaklah mengherankan hal ini sampai terjadi karena saat itu Saga melepaskan pukulan Halilintar dan pukulan Letusan Merapi secara bersamaan. Sabarantu keluarkan suara mendengus. Dia berusaha memusnahkan pukulan itu dengan dua pukulan pula. Dua tangan yang berupa cakar segera didorong ke atas Buum! 

Dua kali ledakan terjadi. Sabarantu terhenyak, tubuhnya yang atos itu amblas ke dalam tanah sedalam dua jengkal. Di atas sana Saga sempati tergetar. Karena tidak ada yang dijadikan tempat berpijak, pemuda ini hampir terjatuh. Namun kemudian dia meluncur turun. Baru saja Saga jejakkan kakinya dari samping, dari belakang datang dua serangan sekaligus. Wuut! Seet! 

Laksana kilat Pendekar Pedang Roh segera menangkis. Tangan kiri bergerak ke samping, lalu tubuhnya sedikit berputar, sedangkan tangan kanan menghantam ke belakang. Plak! Plak! Dess! Si pemuda yang segera melihat Gorga Raga yang menyerangnya dari arah samping sempat terhuyung beberapa tindak ke belakang akibat benturan itu. 

Sementara Nyuk Antan Alu yang menyerang dari belakang sempat mendaratkan pukulan yang cukup telak ke bagian punggung pemuda itu. Saga Merah terjungkal ke depan. Punggungnya yang kena dihantam lawan serasa remuk. Dia merasa sulit bernafas. Belum sempat dia bangkit satu hantaman kaki mendarat di pinggangnya 

"Ha ha ha! Kalau begini kau bisa berbuat apa?!" Kata Gorga Raga sambil menekankan kakinya lebih keras lagi. 

"Hmm, ternyata tidak sulit untuk menaklukkannya," Sahut Nyuk Antan Alu. 

"Kita akan menjadikannya sebagai budak suruhan semua itu bisa kita lakukan dengan mencuci otaknya! Aku setuju! Untuk sementara kita jebloskan dia ke ruang tempat Tapa Pemanah Bintang!" ujar Sabarantu yang punya dendam setinggi langit pada Pemanah Bintang. 

Saga Merah menggeram, diam-diam dia mengumpulkan segenap tenaga untuk membebaskan diri dari injakan kaki Gorga Raga yang kuat bukan main. Pada kesempatan itu dia juga sengaja mengerahkan kekuatan sihir di sekujur tubuhnya hingga memungkinkan tubuh itu berubah menjadi panas melebihi bara. Semua yang dilakukan itu tentu tidak disadari oleh lawan-lawannya. Mereka bangga karena merasa bahwa telah berhasil mengalahkan Saga, hal ini tentu menguntungkan Saga Merah.

***

Sementara kita ntuk tinggalkan dulu Pendekar Pedang Roh yang sedang berusaha membebaskan diri dari Gorga Raga. Sekarang kita menuju ke salah satu sudut di hutan kabut. Pada saat itu Hantu Tinggi dan Demit Angin tengah memasuki sebuah dusun sunyi di mana mereka melihat tengkorak dan tulang belulang berserakan. Bau busuk bangkai menebar di mana-mana. Hantu Tinggi yang berjalan di bagian depan tiba-tiba menghentikan langkah. Dan memandang ke sekeliling. Tidak terlihat tanda-tanda adanya kehidupan di tempat itu. 

"Kita telah sampai ke tempat yang salah Hantu Tinggi!" Ujar Demit Angin. 

Hantu Tinggi menoleh, dia memperhatikan Demit Angin dengan mata mendelik. Saat itu tubuh Demit Angin yang sering berubah-ubah sesuai dengan suasana hatinya nampak meliuk-liuk. Wajah Demit Angin pletat-pletot hampir tidak berbentuk.

"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Hantu Tinggi 

"Ah, kau sepertinya tidak mengerti diriku saja. Saat ini aku sedang dicekam rasa takut, saat ini perasaanku tidak enak. Aku tegang sekali keadaan seperti yang kurasakan ini membuat sekujur tubuhku jadi tidak tetap!" Sahut Demit Angin polos. 

"Kau seorang dedemit dan aku ini hantu. Apa yang kau takutkan? Seharusnya manusia yang takut kepada golongan kita, bukan sebaliknya!" Ujar Hantu Tinggi mencemo'oh.

"Kau rupanya lupa, kita bukan sampai ke tempat kediaman Pemanah Bintang. Yang kutahu Pemanah Bintang tidak berurusan dengan darah dan kematian karena dirinya seorang calon penyampai kebenaran. Dia sedang menjalani ujian yang bisa mengangkatnya menjadi salah satu manusia suci. Sedangkan saat ini kita berada di mana?" 

Gerutu Demit Angin. Hantu Tinggi terdiam, yang dikatakan oleh sahabatnya Demit Angin kalau dipikir-pikir memang benar juga. Pemanah Bintang tidak mungkin tinggal menetap di tempat menyeramkan seperti itu. Kalau demikian mereka sekarang tersesat di mana? Hantu Tinggi bukan cuma tidak puas, dia juga sebenarnya merasa penasaran. 

Mahluk Tinggi berkulit hitam ini mendongak ke atas. Dia melihat sebuah pintu belakang persis di atas kepalanya. Dengan cepat Hantu Tinggi membaca tulisan yang tertera di atas dinding pintu gerbang itu. "Gerbang Kematian". Hantu Tinggi tercekat. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. 

"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Demit Angin. Hantu Tinggi tidak menjawab, sebaliknya dia menunjuk ke atas. Merasa heran Demit Angin juga memandang ke atas sana. Dia melihat tulisan itu. 

"Astaga! Bagaimana kita bisa tersesat sampai ke Gerbang Kematian?" Desis Demit Angin dengan suara di tenggorokan. 

"Aku tidak tahu, kabut celaka itulah yang menuntun kita sampai kemari. Tempatnya sangapti menyeramkan, kaluak atau iblis sekali pun tidak mungkin sudi tinggal di tempat seperti ini."

"Sudahlah, jangan menggerutu terus. Sebelum terlambat kukira ada baiknya kalau kita segera angkat kaki dari tempat ini!" Ujar Demit Angin menyampaikan pendapat. 

"Hmm, usulmu boleh juga. Kalau begitu kita tak usah membuang waktu. Mari kita berangkat...." ujar Hantu Tinggi. Keduanya kemudian membalikkan badan. Belum lagi mereka beranjak dari tempat itu tiba tiba mereka mendengar suara orang bersenandung. Keduanya tercekat dan saling pandang. 

"Kau mendengar suara itu?" Tanya Hantu Tinggi. Demit Angin anggukkan kepala. 

"Ada orang menyenandungkan sebuah lagu. Lagunya sangat sedih menyayat hati," Ujar Demit Angin. 

"Dan suara itu sepertinya suara anak kecil?" Gumam Hantu Tinggi. 

"Bagaimana mungkin di tempat mengerikan seperti ini ada anak kecil? Kemana orang tuanya?" 

Demit Angin tak mampu menjawab. Hantu Tinggi Tanpa Muka jadi ikut terdiam. Mereka memandang ke arah datangnya suara senandung tersebut.Tetapi yang membuat mereka terheran-heran suara itu datang dari arah sebelah barat Gerbang Kematian, tapi kemudian suara itu datang dari sebelah utara. Begitulah seterusnya. 

"Suara yang kita dengar memang suara anak kecil, tapi suara itu berpindah-pindah. Mungkinkah seorang bocah sanggup melakukannya terkecuali dia memiliki ilmu tinggi dan memiliki ilmu memindahkan suara?" 

Kata Hantu Tinggi memberi tanggapan. Demit Angin justru tidak menanggapi, dia nampaknya lebih suka mendengarkan senandung lagu itu. Semakin dia mendengar suara itu, entah mengapa perasaannya terenyuh dan dia seolah ikut tenggelam dalam kesedihan. 

"Dari tiada menjadi ada. Tidak kuminta diriku terlahir ke dunia ini.Hidup dalam pelukan kebencian, ingin kucari makna kata cinta. Cinta terbungkus dalam bayangan nafsu, nafsu dan cinta seiring sejalan. Buah cinta melahirkan kasih sayang, buah nafsu melahirkan kebencian. Antara cinta dan nafsu Antara nafsu dan kebencian. Aku tidak menghendaki lahir dari rahim seorang ibu. Aku tidak ingin berayah dari laki-laki manusia. 

"Kalau boleh aku memilih, aku ingin terlahir dari rahim matahari. Dan aku ingin berayah pada rembulan. Tapi..Keinginan hanyalah harapan. Kemarahan karena diriku si anak jadah. Anak terlunta-lunta. Si Anak Terbuang Dibesarkan oleh kasih Tangan Kematian. Aku tahu segala. Tapi aku tidak tahu ayah bundaku" 

Suara senandung yang mereka dengar mendadak lenyap. Untuk yang kesekian kalinya Demit Angin dan Hantu Tinggi saling pandang. 

"Siapakah yang menyanyi? Suaranya begitu menyayat hati dan menggugah perasaan. Apakah yang disenandungkannya merupakan gambaran dari keadaan jiwanya?" Gumam Hantu Tinggi. Mahluk yang tidak punya perasaan ini nampak berkaca-kaca. 

"Demit Angin apakah kau punya orang tua?"

"Eh, apa maksudmu? Tentu saja aku punya orang tua yang saling menyayangi? Ayahku Demit Topan, dan ibuku Demit Badai. Bagaimana dengan dirimu?" Tanya Demit Angin. 

"Aku juga punya orang tua yang saling cinta. Ayahku Hantu Langit. Sedangkan ibuku Hantu Bumi"

"Kita masih beruntung dibandingkan orang yang menyanyi itu," 

Kata Demit Angin, mulut tersenyum namun bentuk wajahnya berubah-ubah kerena sebenarnya Demit Angin saat itu dalam keadaan tegang. 

"Beruntung bagaimana?" 

Bertanya Hantu Tinggi dengan perasaan dilamun kegelisahan. Walau tidak pernah merasa takut menghadapi bahaya apapun namun Hantu Tinggi patut merasa gelisah. Dia menyadari kalau benar yang bersenandung itu adalah seorang bocah, tentu saja bocah tersebut memiliki tingkatan ilmu yang sangat tinggi. Bagaimana mungkin seorang bocah bisa menguasai ilmu sehebat itu? Kepada siapa dirinya berguru? Bermacam-macam pertanyaan muncul dalam benak Hantu Tinggi. Sebelum dia menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Pada saat itu mereka mendengar suara orang berkata. 

"Aku tahu segala! Mengapa kalian sampai tersesat ke tempat ini Hantu Tinggi dan Demit Angin?" 

Hantu Tinggi melengak kaget, Demit Angin bahkan terkesima. 

"Dia mengetahui nama kita?" 

Desis Demit Angin. Rasa kaget membuat tubuhnya yang tidak stabil itu meliuk-liuk nyaris kehilangan bentuk aslinya. Hantu Tinggi menelan ludah. 

"Sejak awal dia mengatakan, dirinya tahu segala. Tapi dia tidak tahu siapa ayah bundanya!"

"Kurasa itu tidak penting. Lebih baik kita tinggalkan tempat ini!" Ujar Demit Angin. 

Karena memang merasa tidak punya urusan dengan bocah itu, maka Hantu Tinggi sepakat untuk meninggalkan tempat tersebut secepatnya. Tetapi belum sempat mereka melakukan niatnya, pada waktu yang sama tiba-tiba mereka mendengar suara deru angin datang ke arah mereka. Hantu Tinggi dan Demit Angin terkesiap, mereka segera berlompatan ke samping kiri dan ke samping kanan untuk menyelamatkan diri. 

Wuus! Debu dan pasir beterbangan menutupi pandangan. Hantu Tinggi kibaskan tangannya untuk menghalau debu-debu yang menghalangi penglihatannya. Begitu debu dan pasir luruh, saat itu juga tidak jauh di depan sana mereka melihat seorang bocah berdiri tegak berpakaian compang-camping dengan wajah dan tubuh dekil. Melihat bocah itu Hantu Tinggi memperkirakan usianya sekitar tujuh tahun. Yang aneh dengan diri bocah itu adalah tatap matanya. Mata si bocah amat tajam menusuk, mata itu menyimpan kebencian yang mendalam. 

"Kami datang bukan ingin mengganggu, kami tersesat. Bukan tempat ini yang menjadi tujuan kami!" Ujar Demit Angin. 

"Begitukah?" Kata si bocah dingin. 

"Ya, memang demikian kenyataan yang sebenarnya!" kata Hantu Tinggi membenarkan. 

"Aku tahu apa yang menjadi tujuan kalian para hantu. Tapi kalian tidak akan pernah sampai ke Lembah Batas Dunia."

"Eeh, apa maksudmu?" Tanya Hantu Tinggi kaget Si bocah menyeringai

"Aku Si Anak Terbuang baru saja bicara pada pengasuhku."

"Siapa pengasuhmu?" Tanya Demit Angin. 

"Aku tidak perlu mengatakannya padamu, mahluk muka jelek. Pengasuhku mengatakan sudah tiba waktunya bagi kalian untuk kembali. Terkecuali kalan memiliki sebuah cara untuk meloloskan diri."

"Bocah kurang ajar, kami tidak punya silang sengketa denganmu. Mengapa kau justru bermaksud Jahat pada kami?"

Geram Demit Angin kehilangan kesabarannya. Si Bocah Terbuang sunggingkan seringai aneh, namun kemudian dia tertawa tergelak-gelak. Dari suara tawa bocah itu, kedua tokoh yang sudah sangat berpengalaman ini segera sadar, bahwa Si Anak Terbuang ternyata memang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Puas bocah itu tertawa, kemudian dia berkata. 

"Tidakkah kalian menyadari bahwa saat ini kalian telah berada di Gerbang Kematian? Siapa yang datang tidak ada jalan kembali, terkecuali bagi orang-orang yang berhati luhur dan patut diampuni. Kalian mengatakan diriku ini bocah kurang ajar, kalian mengaku aku bermaksud jahat pada kalian. Padahal apa yang menjadi tujuan kalian datang ke Lembah Batas Dunia juga merupakan sebuah tujuan yang lebih keji. Bukankah kalian ingin menangkap Pemanah Bintang. Kalian ingin merampas tiga panah pusaka yang ada padanya. Dan yang lebih keji lagi, kalian ingin membunuhnya untuk mengambil darahnya" 

Hantu Tinggi dan Demit Angin sudah tentu tidak menyangka kalau bocah kecil itu ternyata mengetahui apa yang menjadi niat mereka. 

"Dia mengetahui segalanya. Bocah ini sangat berbahaya, lalu apa yang akan kita lakukan?" 

Tanya Demit Angin berbisik. Hantu Tinggi terdiam, namun dia segera bertanya ditujukan pada Si Anak Terbuang. 

"Apakah kau punya hubungan tertentu dengan Pemanah Bintang?" 

"Pemanah Bintang bukan sanak bukan kadangku!" jawab si bocah. 

"Yang kuketahui dia manusia berhati polos dan jujur. Satu hal yang masih kuhargai adalah arti sebuah kejujuran. Jadi secara tidak langsung aku berada dipihaknya."

"Jika begitu! Nampaknya kau akan menjadi penghambat perjalanan kami. Kau bakal mengalami kesulitan karena kami tidak pernah memandang siapa saja yang harus kami singkirkan!" Ujar Hantu Tinggi. 

"Begitukah? Menyentuh tubuhku saja kalian belum tentu mampu, bagaimana mungkin bisa bicara dengan mulut besar seperti itu?" Kata Si Anak Terbuang ketus. 

"Ha ha ha! Kau terlalu memandang remeh orang lain," kata Hantu Tinggi. Dia kemudian menoleh pada Demit Angin. 

"Bagaimana sahabatku, apakah perlu kita menggebuk bocah ini secara bersama-sama, ataukah kau sendiri yang maju untuk mewakili aku?"

"Kukira mulutnya perlu diberi pelajaran. Untuk memberi pengajaran padanya bukan sesuatu yang sulit. Biarkan aku yang maju. Akan kupelintir telinganya sampai lepas! Ha ha ha!" 

Bocah bertubuh dekil dan berpakaian kumal itu mula-mula diam tidak menanggapi. Hanya tatap matanya saja memandang tidak berkedip ke arah Hantu Tinggi dan Demit Angin. Tiba-tiba dia mendongakkan kepala. Dari mulutnya meluncur kata-kata laksana gerimis yang turun dari langit. 

"Siang tak seterang matahari, malam tidak seindah bulan purnama. Bening tidak sesejuk embun. Kasih sayang tidak seindah yang dibayangkan! Aku mengembara di jagad yang hilang, aku mencari sebuah makna terbuang. Amarahku tertumpah pada waktu. Di ujung keadaan, aku terbentur pada kebencian! Dua mahluk jalang, sabdaku mencakup segala. Cepatlah bertindak sebelum nyawa terpisah dari sang badan." 

Kata bocah itu seperti orang yang melantunkan syair. Belum lenyap suara si bocah, seketika terdengar suara gemuruh mengerikan. Kilat menyambar, petir menggelegar. Kesunyian yang mencekam berubah menjadi petaka. Pohon-pohon tercerabut, sebagian dahannya patah dan diterbangkan angin. Di depan mereka, si bocah telah menekuk kaki kirinya. Kaki kiri menyentuh tanah, sedangkan kaki kanan dalam keadaan mengekang membentuk kuda-kuda yang amat kokoh. 

Tangan kanan Si Anak Terbuang terjulur lurus ke depan dengan telapak terkembang menghadap ke atas seperti peminta-minta. Sedangkan tangan kiri juga dalam keadaan terkembang namun menutupi wajah sikapnya seolah seperti seorang bocah yang malu melihat dunia. 

Hantu Tinggi sempat merinding mendengar kata-kata si bocah yang mengisyaratkan kehampaan hidup. Demit Angin yang tidak tahu banyak tentang kata-kata yang mengandung makna tersirat justru menganggap syair si bocah tidak ubahnya syair peminta-minta yang selalu berkeliaran di keramaian. 

"Bocah edan! Kau ternyata gila benaran. Kau ingin pelajaran, aku akan mengajarimu! Makanlah tendanganku ini!" Teriak Demit Angin. 

Mahluk setengah manusia namun dari golongan lelembut ini melakukan satu gerakan berputar. Sesuai dengan namanya, dalam bergerak pun kecepatannya seperti hembusan angin kencang. Ketika tendangan Demit Angin mencapai sasarannya, kedua kakinya yang terus berputar seiring dengan gerakan badan menyapu tubuh Si Anak Terbuang. 

Serangan itu tentu bukan serangan biasa, batu sebesar kerbau sekalipun bila sampai terkena sambaran kakinya dapat hancur menjadi puing. Tetapi kenyataan yang didapatnya kemudian memang sesuatu yang berada di luar dugaan. Serangan sehebat itu tidak sanggup menyentuh tubuh si bocah apalagi untuk membuatnya terluka. 

Demit Angin terkesiap begitu lawannya lenyap. Dengan mata jelalatan dia memandang sekelilingnya. Demit Angin diam-diam dibuat terkejut ketika melihat bocah itu ternyata berada di belakangnya. Demit Angin mendengus geram sambil memutar tubuh menghadap ke arah si bocah. 

"Apa yang kau tunggu dedemit?!" Kata Si Anak Terbuang sinis. 

Dia masih tetap dalam posisi. Tangan terkembang, lutut menyentuh tanah sedangkan kaki kanan setengah tertekuk dan dipentang lebar. Belum sempat Demit Angin mengambil tindakan, pada kesempatan itu Hantu Tinggi yang melihat gerakan si bocah segera memberi peringatan melalui ilmu mengirimkan suara,

"Kau harus hati-hati, bocah ini nampaknya bukan bocah biasa. Entah dari siapa dia belajar ilmu olah kanuragan, yang jelas dia amat berbahaya sekali. Kecepatannya bergerak bisa disejajarkan dengan tokoh-tokoh utama golongan tingkat tinggi!"

"Aku tidak perduli! Aku ingin sekalii mematahkan batang lehernya!" Geram Demit Angin penuh nafsu.  
Mahluk yang mempunyai mata di atas kening ini tibatiba menggerakkan kedua tangannya. Tangan itu mula mula berputar ke belakang, selanjutnya bergerak ke arah samping, lalu meluncur ke depan siap mencengkeram rambut si bocah sedangkan tangan satunya lagi mengarah ke bagian pinggang. Ketika menyerang dengan dua tangan, Demit Angin sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Tapi tangan itu sebaliknya bisa terjulur memanjang. 

Si bocah yang menjadi incaran nampak tenang tenang saja. Tapi begitu sepasang tangan Demit Angin hampir menyentuh dirinya, si bocah tiba-tiba melambung di udara. Dia berjumpalitan dengan indahnya, selanjutnya meluncur ke bawah, lalu menjejakkan salah satu kaki di lengan kanan Demit Angin. Yang dilakukannya ini berlangsung dalam sekedipan mata, ketika kakinya bersentuhan dengan lengan Demit Angin, dia berlari ke arah lawan. 

Demit Angin terkejut. Dia tak menyangka Si Anak Terbuang bisa bergerak secepat itu. Demit Angin kibaskan tangan dengan maksud agar si bocah terjatuh. Tapi tindakan yang dilakukannya boleh dibilang terlambat. SI Anak Terbuang telah berada didepannya. Laksana kilat kaki si bocah menyambar wajah Demit Angin. 

Dess! Demit Angin meraung keras, tubuhnya terjengkang. Dia mencoba bangkit sambil melepaskan satu pukulan di saat lawan baru saja jejakkan kaki di tanah Wus! Bocah itu lenyap, pukulan mengenai tempat kosong. Demit Angin meraung keras. Dia bangkit, dilihatnya Si Anak Terbuang telah berada di atas gerbang kematian. Dia berdiri di atas ketinggian itu dengan mulut cengengesan namun malanya menyiratkan maut.

"Kau penasaran? Banyak orang selalu penasaran karena belum tahu rasa. Setelah mengetahui justru yang timbul adalah penyesalan. Hi hi hi!"

"Bangsat jahanam, anak ini telah melenyapkan semua kesabaranku, Aku tidak senang bila belum dapat membunuhnya!" Teriak Demit Angin.

Laki-laki itu kemudian melesat ke atas. Pada saat itu dia juga melepaskan pukulan bertubi-tubi. Pukulan itu disambut oleh lawan dengan memutar tangan secepat kitiran. Pukulan-pukulan Demit Angin yang bertenaga dalam tinggi dapat disapu musnah oleh gelombang angin yang muncul akibat gerakan tangan si bocah. Demit Angin tambah penasaran, dia tidak lagi menghiraukan peringatan Hantu Tinggi yang mencegahnya agar jangan naik ke atas Gerbang Kamatian. 

"Jangan lakukan..urungkan niatmu...! "

"Hantu Tinggi! Apakah bisamu hanya berteriak? Melihat kawan dibuat malu oleh bocah ingusan kau tidak mengambil tindakan tapi malah berteriak melulu!" hardik Demit Angin 

"Aku bukan tidak mau membantumu, sekarang lihatlah apa yang akan kulakukan!" teriak Hantu Tinggi.  
Laksana kilat orang tua ini segera menghantam kayu penyangga Gerbang Kematian. Cahaya merah dan hitam berkiblat menderu ke arah dua tiang kayu itu, melihat ini Si Anak Terbuang keluarkan suara menggerung marah. Tidak ingin Gerbang Kematian dibuat hancur oleh Hantu Tinggi dia melesat turun dari atas Gerbang itu. Sambil meluncur ke bawah dia menghantam Demit Angin yang bernafsu ingin membunuhnya. 

Demit Angin menangkis hingga terjadi benturan hebat yang membuat tubuhnya tergetar. Sementara si bocah nampaknya sudah tidak perduli, dia terus bergerak ke bawah dengan tubuh oleng akibat benturan. Wuuus! Dua pukulan dilepaskan berturut-turut untuk menangkis serangan Hantu Tinggi yang mengarah ke bagian tiang kayu, sayang usaha bocah itu agak terlambat. Hantu Tinggi berhasil menghancurkan kayu di sisi kanan dan kiri hingga membuat Gerbang Kematian ambruk. Si bocah menjerit-jerit seperti orang kesurupan. 

"Kematian....telah kutetapkan apa yang harus kulakukan, perbuatannya adalah penghinaan bagi kita. Aku tidak bisa menerima!" Kata si bocah. 

Apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah serangan yang dilakukan oleh si bocah secara tidak beraturan. Hantu Tinggi terkesiap melihat serangan yang datangnya tidak disangka-sangka itu. Tetapi sebagai orang yang amat berpengalaman Hantu Tinggi bersikap tenang menghadapi gelombang serangan si bocah yang seolah tidak terbendung. 

Dengan kelincahan gerak serta berkat ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna dia berhasil menghindari dari tendangan dan cakaran yang mematikan, tangan kiri Hantu Tinggi berkelebat menyambar ke arah si bocah. si Anak Terbuang terkejut, dia miringkan tubuhnya dan sekaligus berusaha menjauh dari jangkauan lawan. 

Secepat apapun dirinya menghindar, tetap saja tangan kirinya kena disambar dan dicengkeram lawan. Bocah itu meringis tapi wajahnya tidak membayangkan rasa takut meski tangannya seperti mau patah berada dalam jepitan lawannya. 

"Sekarang kau bisa berbuat apa?" 

Teriak Hantu Tinggi kegirangan. Dan Demit Angin tidak menyianyiakan kesempatan ini. Dia menghantam punggung bocah itu bertubi-tubi. Si bocah yang tubuhnya dalam keadaan tergantung terguncang keras. Dia meronta, tetapi tindakan yang dilakukannya ini justru membuat Hantu Tinggi memutar tubuhnya. Kemudian sambil keluarkan suara menggeram dia membanting si bocah ke tanah. Braak! 

"Hegkh....!"

Si Anak Terbuang keluarkan suara lolongan panjang. Rasa sakit di sekujur tubuhnya sudah tidak tertahankan lagi. Dia menggeliat, bantingan bertenaga dalam tinggi itu seharusnya membuatnya tewas seketika. Dalam perkiraan Hantu Tinggi bocah itu tak mungkin bangkit lagi. Tetapi apa yang dia duga ternyata meleset. Bocah itu bukannya tewas seperti yang dia perkirakan. Sebaliknya dengan sikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada dirinya. Dengan bertumpu pada punggung dia melambungkan tubuhnya. 

Di udara dia lakukan gerakan berjumpalitan sedemikian rupa. Lalu sebuah gebrakan dilakukannya. Wuut! Serangkaian tendangan beruntun dilepaskan membuat Hantu Tinggi ternganga dan Demit Angin terkesiap. 

"Awaaas..." 

Teriak Demit Angin memberi peringatan. Tak usah diberi peringatan sekali pun sesungguhnya Hantu Tinggi melihat serangan itu. Dia tidak sempat menggeser kaki, namun Hantu Tinggi segera silangkan kedua tangannya melindungi tubuh bagian depan dari incaran lawannya. Plak! Plak! Dua tendangan dapat ditangkis oleh Hantu Tinggi. Namun kaki si bocah seolah-olah mempunyai mata. Begitu si bocah bergerak lebih ke bawah, dia kembali lepaskan tendangan menggeledek. 

Des! Des! Hantu Tinggi meraung keras. Tubuhnya terlempar. Mulutnya menyemburkan darah sedangkan bagian perutnya berubah membiru. Perubahan warna pada kulitnya kemudian menjalar ke sekujur tubuh, Sebagai tokoh berpengalaman dirinya menyadari telah menderita keracunan hebat. Dia bukan hanya terkejut tapi juga heran karena tidak menyangka tendangan Si Anak Terbuang mengandung racun yang sangat mematikan. 

Dengan bersusah payah dia mencoba bangkit. Setelah dapat tegak berdiri Hantu Tinggi mencoba salurkan tenaga dalam untuk memusnahkan pengaruh racun itu. Tetapi mendadak dia pegangi tenggorokannya yang seperti tercekik. 

"Hi hi hi! Tiga tindak dirimu melangkah, maka jiwamu tidak akan tertolong Hantu Tinggi?!!" 

Kata Si Anak Terbuang disertai tawa dingin penuh kebencian. Hantu Tinggi menggeram. Dengan bersusah payah dan penuh kemarahan dia berkata. 

"Anak jahanam, sesungguhnya dirimu ini turunan Kaluak ataukah anak manusia. Segala ilmu yang kau miliki rasanya belum sesuai dengan usiamu?!" 

Anak Terbuang dongakkan kepala, tiba-tiba dia berkata. 

"Hidup adalah sepenggalan waktu singkat. Aku tidak pernah ingin menjadi seperti ini. Aku adalah satu-satunya anak manusia yang punya kebencian sedalam laut setinggi bintang. Aku tidak tahu siapa diriku, aku hanya bisa bernyanyi dengan senandung kematian, Sampai sekarang aku masih terus mencari, agar aku bisa keluar dari kehidupan yang kusut serta dunia yang gelap. Hantu Tinggi.. ajalmu pun telah tiba. Apakah kau punya permintaan?"

"Bocah terkutuk! Aku hanya punya satu keinginan?" Geram Hantu Tinggi 

"Apa keinginanmu?"

"Aku sangat ingin mengorek jantungmu dan mencabut nyawamu!" Teriak kakek itu. 

"Kau ingin mengemis nyawaku, mengapa tidak segera kau lakukan?" Tanya si bocah. 

"Aku akan melakukannya!" Jawab Hantu Tinggi.

Laksana kilat dia bergerak. Tapi gerakannya itu justru membuatnya menjerit kesakitan. Sesuai dengan yang dikatakan Si Anak Terbuang gerakan Hantu Tinggi justru membuatnya menemui ajal. Kakek ini tewas seketika dengan mata mendelik dan tubuh membiru. Si Anak Terbuang tidak menghiraukannya. Sikapnya begitu acuh seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dia menoleh ke arah Demit Angin, tapi sahabat Hantu Tinggi itu ternyata telah raib dari pandangan mata. Si bocah kaget, dia tidak menyangka Demit Angin telah pergi secara diam-diam. 

"Manusia seperti Demit Angin bukan sahabat sejati. Dia memilih lari disaat kawannya membutuhkan bantuan. Tidak mengapa, aku ingin menjumpai Pemanah Bintang. Aku ingin bertanya tentang sesuatu kepadanya. Jika jawabannya tidak memuaskan hatiku, aku akan membunuhnya!" 

Kata bocah itu. Tanpa menoleh lagi Si Anak Terbuang kemudian berkelebat tinggalkan Gerbang Kematian.

***

Keputusan yang ditempuh oleh Pemanah Bintang untuk meninggalkan Lembah Batas Dunia bukanlah keputusan yang diambil tanpa alasan. Dia memilih tidak melayani Nyuk Antan Alu yang menyamar sebagai panglima Perang Bayalaya karena dirinya tidak ingin mengotori tangannya dengan darah sang penyihir. Walaupun dia menyadari kematian penghuni Lembah dan kematian Sandi Laya memukul perasaan dan menjadi beban berat bagi dirinya. 

Pemanah Bintang masih ingat. Hal paling utama yang harus dilakukan adalah mematuhi pantangan-pantangan yang telah ditetapkan atas dirinya. Disamping satu alasan lagi yang rasanya tidak mungkin untuk dibiarkan. Yaitu dalam menghadapi pikiran kacau, dia telah melakukan sebuah kenyataan. Bahwa senjata yang ada pada dirinya secara diam-diam telah dipindahkannya ke suatu tempat disaat dirinya mengetahui bahwa Nyuk Antan Alu yang bekerja sama dengan Sabarantu bukan hanya menipu dirinya tetapi juga bermaksud ingin menguasai panah-panah itu. 

Kini setelah berhasil lolos dari lembah, Pemanah Bintang segera menuju ke suatu tempat yang cukup jauh dari Lembah Batas Dunia. Ketika Pemanah Bintang sampai di tepi sebuah sungai, pemuda itu menghentikan langkahnya. Sejenak dia layangkan pandang ke seberang sungai yang bening. Diseberang sana Pemanah Bintang melihat tebing tanah merah yang sebagian terlindung oleh tumbuhan merambat. 

Pemuda itu tersenyum, hanya dia yang mengetahui bahwa dibalik tumbuhan yang menjuntai menutupi tebing ada sebuah tempat rahasia yang dapat dijadikan tempat untuk bersembunyi. Pemanah Bintang menyadari dia datang bukan untuk bersembunyi dari kejaran orang-orang yang mengincarnya. Dia datang ke tebing itu adalah untuk mengambil senjata yang dia kirim melalui bantuan gaib disaat dirinya harus berhadapan dengan Sabarantu dan Nyuk Antan Alu. 

"Mudah-mudahan manusia-manusia culas dari negeri Angin itu tidak menyadari bahwa senjata yang berhasil mereka rampas bukan anak panah yang sesungguhnya." Batin si pemuda. 

"Sekarang aku akan masuk ke dalam gua yang terdapat di tebing itu!" 

Kata Pemanah Bintang memutuskan, Setelah bulat dengan keputusannya si pemuda segera melompati sungai tersebut. Hanya dalam waktu sekedipan mata, pemuda itu telah mencapai tebing tersebut. Pemanah Bintang jejakkan kakinya diantara batu-batu, setelah itu dia menyibakkan tetumbuhan yang bergelantungan menutupi mulut gua. Dia melihat mulut gua yang besar, Pemanah Bintang tidak mau menunggu, pemuda ini segera melompat memasuki gua. 

Ketika kedua kakinya menginjak lantai bagian dalam gua tersebut, terdengar suara berkeretakan. Kemudian pelita yang terdapat di setiap sudut gua itu menyala hingga membuat suasana gua yang gelap kini berubah menjadi terang benderang. Pemanah Bintang melayangkan pandangan mata kesegenap penjuru ruangan yang luas dingin namun tertata rapi. Selanjutnya dia memandang ke sudut sebelah kanan ruangan gua itu. 

Dia melihat sebuah peti batu pualam yang terbuka. Peti itu memiliki panjang beberapa tombak, sedangkan lebarnya tidak lebih dari satu tombak. Pemuda ini tersenyum, tanpa curiga dia menghampiri peti batu yang terbuka. Sesampai di sana dia julurkan kepala memandang ke arah bagian dalam peti. 

Dia melihat tiga batang anak panah yang dikirimnya dari jarak jauh yaitu pada saat dirinya sedang menghadapi ancaman Nyuk Antan Alu dan Sabarantu. Ketiga anak panah itu tergeletak di bagian dasar peti yang dilapisi jerami. Pemanah Bintang rangkapkan kedua tangannya. Dia lalu menjura ke arah ketiga anak panah di dalam peti. 

"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Kalian adalah senjata yang memiliki kharisma tinggi. Justru karena pamor itulah orang-orang dunia persilatan jadi mengincar diriku. Setelah kesabaran dan ketabahan ketabahan yang selalu kucoba untuk mempertahankannya, kini diriku terombang-ambing dalam kebimbangan. Aku tidak ingin senjata-senjata ini jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Aku pun tidak membutuhkan banyak senjata hebat. Senjata-senjata hebat hanya membuat diriku menjadi incaran orang." 

Pemanah Bintang lalu mondar-mandir didepan peti itu. Tidak berselang lama, tiga anak panah yang tergeletak di dalam peti segera diambilnya. Sebuah tabung yang tergeletak di samping peti diambilnya. Ketiga anak panah berwarna hitam, kuning, dan putih lalu dimasukkan ke dalam tabung. Setelah menyampirkan tabung di bahu belakang, Pemanah Bintang mengambil busur di bahu kiri, si pemuda dengan langkah mantap segera menuju ke mulut gua. 

Sesampainya di mulut gua si pemuda dongakkan kepala memandang ke langit. Pemanah Bintang yang mempunyai hubungan erat dengan para dewa melihat pintu-pintu langit di atas ketinggian sana. Setelah mengatur nafas, dia membaca sesuatu. Di atas ketinggian sana dia melihat dewa pembawa Amanat berdiri di depan pintu dan memandangnya dengan tatap mata bening terang seperti kilau bi­ntang. 

"Apa yang hendak kau lakukan?" Tanya dewa tua. Untuk pertama kalinya Pemanah Bintang menyeringai sinis. 

"Kau sudah tahu apa yang akan kulakukan. Kau juga bahkan lebih mengetahui semua apa yang akan terjadi, Kukira para dewa telah melakukan keputusan yang salah tentang diriku?" Ujar pemuda itu. 

"Salah bagaimana?"

"Aku bukan orang terpilih, memilih diriku adalah kesalahan. Aku berkata seperti ini karena pada kenyataannya sebagai manusia aku tidak bisa terlepas dari perasaan. Aku tidak bisa membiarkan kerabatku mati terbunuh."

"Bukankah hidup dan mati sudah ada yang menentukan?" Kata sang dewa. 

"Aku tahu hidup dan mati sudah ada yang menentukan. Lalu apakah aku harus diam berpangku tangan membiarkan kerabatku dibantai orang? Aku tahu diriku mampu melakukan sesuatu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena diriku terikat oleh aturan aturan." Kata pemuda itu tegas. 

"Bumi dan langit diciptakan dengan berbagai aturan. Kalau tidak demikian siapa yang berani menjamin bahwa bumi tidak akan bertabrakan dengan bulan? Kau harus ingat, kau semestinya lebih bisa menahan diri. Kau harus bersabar karena setiap ujian pasti ada akhirnya."

"Kalau demikian, ijinkan aku untuk datang ke kahyangan!" Ujar Pernanah Bintang. 

"Itu tidak mungkin karena belum sampai waktumu untuk datang ke tempat kami. Kau belum selesai menjalani ujian tertinggi!" Ujar Dewa Amanat mengingatkan. 

"Aku sudah menduga tidak mungkin cepat mencapai tempat itu. Sama hanya aku telah memikirkan bahwa diriku ini tidak mungkin sanggup mentaati pantangan-pantangan yang telah ditetapkan. Aku berpikir diriku bukan siapa-siapa itu sebabnya aku tidak pantas membawa amanat seberat itu."

"Hmm, apapun yang terjadi pada diri manusia tidak terlepas dari pengawasan yang maha kuasa, Kenyataannya semua yang ada di atas sini sesuai dengan prasangka kalian sebagai manusia. Mungkin memang sudah menjadi suratan bahwa orang sepertimu tidak bisa terpilih karena kau lemah."

"Kau mengatakan aku lemah?" Dengus Pemanah Bintang 

"Ya, siapa saja yang selalu menuruti keinginan nafsunya adalah orang yang lemah. Bukankah keadaan dirimu kurang lebih seperti yang kukatakan?" Ujar Dewa Amanat. Pemanah Bintang terdiam. Dia berpikir apa yang dikatakan oleh Dewa Amanat memang benar. Sampai akhirnya dia berkata. 

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya pemuda itu. 

"Apakah aku masih pantas memberimu petunjuk yang harus kau lakukan kukira sesuai dengan keinginan hatimu sendiri, maka disini aku hanya tinggal menyaksikannya."

"Dewa Amanat, jika demikian yang kau katakan. Sekarang aku ingin mengembalikan Cakra Kalima Inggil"

"Lakukanlah!" Kata Dewa Amanat. 

Tanpa banyak pertimbangan lagi, Pemanah Bintang segera mengambil anak panah itu, anak panah selanjutnya diletakkannya ke busur. Selanjutnya busur direntangkan dan diarahkan ke langit. Sekejab saja, dia telah berada beberapa puluh tombak di atas Pemanah Bintang. 

"Senjatamu bila dikembalikan sudah ada yang menyambutnya. Tunggu apa lagi?!" 

Ucapan Dewa Amanat membuat Pemanah Bintang tersadar. Dia lalu menarik busur itu dan Wuuus! Anak panah Cakra Kalima Inggil melesat dari busurnya. Terdengar suara bergemuruh di atas sana disertai memancarnya sinar terang yang menerangi seantero penjuru. Semakin lama anak panah itu semakin tinggi, kecepatannya dalam bergerak bukan makin berkurang. 

Sebaliknya malah bertambah cepat disertai jeritan dan umpatan yang tidak jelas keluar dari mulut siapa. Pemanah Bintang tidak peduli. Dia mengambil anak panah kedua. Anak panah berwarna kuning berkelok-kelok pada bagian ujungnya segera diarahkan ke langit. 

"Kau juga ingin mengembalikan Pusaka Langit?" Tanya Dewa Amanat. 

Pemanah Bintang mengangguk.

"Aku merasa tidak pantas memegang senjata sahabat itu!" Ujar si pemuda. 

Dewa Amanat tidak memberi komentar apa-apa. Untuk yang kedua kalinya Pemanah Bintang kembali melepaskan busur itu hingga anak panah Pusaka Langit melesat dengan kecepatan seperti kilat disertai suara menderu mengerikan. Pemanah Bintang melihat seluruh bagian langit menjadi terang benderang. Sedemikian terangnya cahaya yang ditimbulkan oleh anak panah itu hingga Pemanah Bintang dapat melihat beberapa bagian langit yang tadinya gelap. 

Tetapi tidak lama setelah Pusaka Langit dilepaskannya, tiba-tiba keadaan disekelilingnya menjadi gelap gulita. Kedua anak panah yang diarahkan ke langit lenyap. Dan langit itu sendiri kini berubah menjadi mendung. Angin menderu. Pemanah Bintang memandang ke arah Dewa Amanat yang masih berada di atas ketinggian. Dewa itu sekujur tubuhnya dinaungi cahaya sehingga walau suasana dalam keadaan gelap Pemanah Bintang dapat melihat kehadirannya. 

"Apa yang terjadi?" Tanya Pemanah Bintang begitu melihat hujan mulai turun dengan derasnya. 

"Yang terjadi sesuai dengan yang kau inginkan!" Jawab Dewa Amanat. 

Si pemuda terdiam dengan hati dipenuhi tanya. Sekonyong-konyong dia mengendus bau amis menusuk. Dia juga melihat baju selempangnya yang berwarna putih telah basah kuyup. Yang membuat pemuda itu terkesima, mengapa hujan yang membasahi sekujur tubuhnya berwarna merah seperti darah? Pemanah Bintang memperhatikan dengan lebih seksama. Dia melihat tetesan hujan yang meleleh seperti bubur dan membeku. Pemanah Bintang menjadi panik sendiri. Dengan wajah pucat bibirnya mendesis. 

"Darah hujan lebat yang jatuh dari langit ini ternyata bukan air, tapi darah?!"

"Ya, dan semua itu adalah pertanda bagimu. Sepanjang hidupmu kau akan bergulat dengan nyawa dan darah. Kau akan membenci dan kau juga akan dibenci. Apalagi kau menyisakan satu anak panah di punggungmu. Kau sengaja tidak mengembalikan anak panah Sirna Raga karena kau memandang perlu sesuai dengan kebutuhanmu. Sebaliknya kau malah mengembalikan senjata yang seharusnya dapat kau pergunakan untuk menjaga dirimu dari perbuatan yang dapat membinasakan orang lain." 

Nafas pemuda ini mengengah, dengan hati-hati dia bertanya. "Jadi aku sudah terlepas dari segala pantangan?"

"Kau yang melepaskannya sendiri, sekarang kau bisa berbuat apa saja secara bebas sesuai dengan kehendakmu. Inilah terakhir kali kita bertemu. Kau tidak akan bisa melihatku lagi terkecuali hanya mendengar suaraku saja. Pemanah Bintang, apakah kau sudah puas bila kukatakan para bidadari yang dulu tergila-gila padamu sekarang menjadi membencimu?"

"Aku tidak peduli. Aku tidak butuh perempuan!"

"Kau bicara dengan dewa, bagaimana bila suatu saat kau membutuhkannya?" Tanya Dewa Amanat. 

"Kau ragu untuk menjawabnya bukan. Ingat, sekarang kau akan menghadapi sebuah kenyataan yang lain. Kenyataan itu jauh diluar yang kau perhitungkan. Nah, kuharap kau puas dengan keputusanmu. Aku sendiri tidak bisa berlama-lama di sini, selamat tinggal anak muda!" Kata Dewa Amanat. 

Selesai dengan ucapannya, Dewa Amanat merentangkan kedua tangannya. Secara perlahan namun pasti sosok Dewa Amanat bergerak naik menuju ke langit. Semakin lama semakin jauh, hingga akhirnya berubah menjadi sebuah titik laksana bintang dikejauhan sana, hingga akhirnya lenyap tidak meninggalkan bekas. 

Pemanah Bintang menarik nafas pendek, dalam kesempatan itu di lubuk hatinya muncul rasa heran. Mengapa hujan lebat tiba-tiba berhenti? Si pemuda kembali melayangkan pandang ke seluruh penjuru arah.       Pada saat itulah dia melihat ada belasan orang bersenjata pedang dan tombak berada di tengah sungai. Orang-orang itu semuanya mengepung Pemanah Bintang dan siap membunuhnya. 

"Gila! Aku tidak tahu kedatangan mereka, mengapa sekarang tiba-tiba mereka telah berada disekitar sini?" 

Batin Pemanah Bintang kaget dan tidak habis mengerti. Belum sempat Pemanah Bintang bertanya, salah seorang di antaranya melangkah maju. Dia seorang laki-laki berwajah beringas bermata hitam. Berbeda dengan orang-orang yang datang bersama dirinya. Laki-laki yang satu ini tidak membekal pedang atau tombak, melainkan membawa sebuah tongkat berwarna hitam serta batok kepala yang juga diberi pewarna hitam.

"Siapa kau?" 

Tanya Pemanah Bintang ditujukan pada orang yang dia perkirakan sebagai pimpinan mereka. 

"Ha ha ha! Setelah dicari ke mana-mana, pada akhirnya kami temukan juga dirimu, Ini sesungguhnya aneh, sebelumnya kami sudah mondar-mandir memeriksa sepanjang aliran sungai ini, Kami tidak melihat dirimnu. Lalu tiba-tiba kau muncul seperti demit yang baru datang dari alam gaib."

"Yang kau katakan sama sekali bukan jawaban dari pertanyaanku!" 

Dengus pemuda itu. Diam-diam dia sebenarnya merasa heran sendiri. Laki-laki itu mengaku telah mondar-mandir disepanjang aliran sungai sejak tadi. Dia sendiri sudah berada di tepi sungai sejak tadi. Lalu bagaimana mungkin antara dia dan mereka sama-sama tidak bisa melihat. Apakah semua itu ada kaitannya dengan kehadiran Dewa Amanat? Apa perlunya Dewa Amanat melindungi dirinya dari penglihatan orang lain. 

Jawabannya hanya satu, Dewa Amanat kemungkinan tidak ingin dirinya dilihat oleh orang yang mencarinya mengingat Pemanah Bintang masih diharapkan dapat melewati ujian yang diberikan para dewa kepadanya. Kini setelah terbukti bahwa si pemuda bersikeras ingin menuruti kehendak hati yaitu membalas segala rasa sakit hati dan dendam kesumat pada orang-orang yang membantai kerabatnya. 

Maka Dewa Amanat sudah memandang perjanjian diantara mereka batal. Begitu tidak ada lagi ikatan diantara mereka, tabir pelindung yang menjaga Pemanah Bintang dicabut, akibatnya dengan mudah dia dapat dilihat oleh orang-orang yang mencarinya. 

"Aku tidak peduli dengan segala bentuk pelindung diri. Kenyataan yang terjadi pada diriku saat ini adalah aku tidak akan membiarkan siapa saja menginjak-injak harga diriku". 

Sementara itu di depan sana, laki-laki yang bola matanya bervwarna hitam secara keseluruhannya itu segera menjawab pertanyaannya. 

"Pemanah Bintang! Ketahuilah kami ini berasal dari kehidupan yang jauh berbeda dengan dirimu, Aku bagian dari orang yang bisa dikatakan hidup segan mati tidak mau?"

"Kalau begitu kau seorang pengemis. Hanya pengemis, tapi bisa berpakaian penuh tambalan dari lempengan emas. Oh tentu saja kami jauh lebih mewah dari pengemis lain karena kami meminta seluruh yang dimiliki oleh orang yang kami datangi."

"Kalau demikian, kau pastilah orang yang bergelar Pengemis Nyawa dan Pengemis Nyawa memiliki nama asli Klinik Jingga!" 

Pemanah Bintang yang memang mengetahui banyak tentang kehidupan tokoh-tokoh aneh di rimba persilatan. Laki-laki itu mula-mula unjukkan wajah kaget, namun kemudian segera mengumbar tawa. Orang orang yang datang bersama laki-laki itu juga ikut tertawa hingga membuat suasana yang hening dipecahkan oleh suara gelak tawa.

***

Sementara itu Saga Merah Sang Pendekar Pedang Roh yang dalam injakan kaki Gorga Raga kini telah selesai membaca mantra-mantra dari kekuatan sihirnya. Begitu mantra sihir selesai dibaca, maka mulutnya berucap. 

"Tubuhku adalah api, siapa yang menyentuhnya maka bagian tubuhnya akan hangus!" 

Kata-kata yang diucapkan pemuda ini hanya berupa gumaman, namun akibatnya memang luar biasa. Gorga Raga meraung keras kakinya yang menginjak punggung Saga Merah langsung melepuh. Telapak kaki itu bukan hanya sekedar melepuh tapi juga hangus hingga membuatnya terlonjak-lonjak kesakitan.  
Tawa Nyuk Antan Alu seketika itu juga lenyap, wajah dibalik topi paruh burung nampak berubah, keningnya mengernyit tanda dirinya tidak dapat menahan rasa heran. Sementara itu, Sabarantu sekonyong-konyong hentikan tawanya. Dia menatap ke arah Gorga Raga dengan pandangan tidak mengerti. Dengan suara berbisik namun pandangan tertuju ke arah Saga Merah dia bertanya. 

"Apa yang terjadi pada budakmu itu?"

"Apakah otakmu telah berubah beku hingga kau tidak melihat kenyataan yang ada. Coba kau perhatikan baik-baik pemuda yang telah mematahkan kakimu itu?" 

Ujar Nyuk Antan Alu yang berpakaian panglima perang curian. Sabarantu memandang ke arah Saga Merah. Kening orang tua ini berkerut, andai saja wajahnya tidak terlindung bulu-bulu halus, tentu Nyuk Antan Alu akan menyaksikan betapa wajah itu berubah pucat seperti tidak berdarah lagi.

"Astaga?!"

"Mengapa sejak tadi aku tidak memperhatikannya. Tubuh pemuda itu kulihat berubah seperti bara, kepulan asap panas keluar dari sekujur tubuhnya. Gorga budakmu itu pasti hangus kakinya. Kukira itu yang membuatnya menjerit kesakitan dan berjalan berjingkrak-jingkrak. Tapi ada yang aneh, walau tubuhnya telah berubah seperti bara, mengapa pakaian kulit yang dia pakai tidak ikut hangus? Ilmu apa yang dia pergunakan?"

"Jika tubuh orang bisa berubah menjadi bara, orang itu seharusnya sudah mampus, atau paling tidak karena panas badan yang tinggi membuatnya jadi gila." Kata Nyuk Antan Alu sambil geleng kepala namun tiba-tiba terdiam. 

 "Memang apa yang kau pikirkan?" 

Tanya Sabarantu yang setelah sekian lama menunggu namun Nyuk Antan Alu tidak juga bicara. 

"Ketika aku meninggalkan Negeri Angin, aku mengira telah membekal ilmu sihir yang sulit dicari tandingannya. Aku begitu percaya diri, ternyata bukan hanya di Negeri Angin saja terdapat orang-orang yang memiliki kesaktian luar biasa....!" Ujar Nyuk Antan Alu setengah menggumam.

"Memangnya pemuda itu punya ilmu apa, Nyuk....?" Tanya Sabarantu.

"Dia juga memiliki ilmu sihir sepertiku. Mengherankan sekali, siapa guru pemuda ini?"

"Mengapa kau bertanya soal gurunya?"

"Kau ini sangat tolol, apakah kau tidak tahu, hanya mereka yang memiliki sihir tingkat tinggi saja yang sanggup berbuat seperti yang dilakukan oleh pemuda itu!" Dengus si kakek. 

"Mana aku tahu ilmu silat begituan. Lagi perlu apa kita bahas segala soal guru. Bagiku tidak penting apakah dia murid raja sihir, kukira yang paling utama adalah menangkap pemuda itu agar semua dendam kesumat terhadapnya menjadi impas."

"Itu adalah soal yang mudah. Aku tahu Gorga Raga akibat mengalami tidur yang panjang membuat ilmu kesaktian yang dia miliki belum pulih benar. Seandainya kekuatannya pulih, aku yakin dia dapat menghabisi pemuda itu. Sekarang lebih baik aku menyuruhnya mundur." Ujar Nyuk Antan Alu. 

Sebelum Sabarantu Penyesat Dari Selatan ini sempat memberi jawaban atas keputusan Nyuk Antan Alu, sang penyihir tiba-tiba keluarkan suara suitan panjang. Gorga Raga dongakkan kepala. Dia mengetahu makna suitan itu. Dia berpaling pada Nyuk Antan Alu. Kemudian dengan terheran-heran dia bertanya. 

"Mengapa kau memintaku menyingkir. Sedangkan aku belum mengeluarkan darah dari tubuhnya. Aku ingin sekali meremukkan sekujur tubuhnya!"

"Kau mengenal siapa diriku?" Tanya Nyuk Antar Alu.

"Tentu saja aku mengenalmu, kau adalah orang yang selama ini memberiku perintah! Aku membunuh berdasarkan perintah-perintahmu!" Kata Gorga Raga. 

"Bagus. Ternyata otakmu masih sanggup mengingat walau kau pernah mengalami tidur yang panjang. Sekarang patuhi perintah, kau mundur dan beristirahatlah!" 

Kata-kata yang diucapkan mengandung perintah yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Gorga Raga menggeram, dengan gerakan kaku dan langkah terpincang-pincang dia meninggalkan arena perkelahian. Sementara itu Saga Merah sendiri sekarang telah bangkit berdiri. Walau dia telah menarik kekuatan sihirnya, namun sekujur tubuhnya tetap nampak memerah. Perubahan pada kulitnya itu tentu terjadi karena Saga cukup lama digembleng di dalam air mendidih di samping juga berlatih di bawah hujan petir. 

"Telah kupatahkan kaki sahabatmu itu." Ujar Saga dengan nada ketus dan suara menggeram. 

"Dan kalian adalah orang luar yang tidak layak berada di daerah kami. Lebih baik kalian kembalikan senjata milik Pemanah Bintang, setelah itu angkat kaki dari hadapanku dan bawa serta dua mahluk langit sialan itu menjauh dariku!" 

Nyuk Antan Alu keluarkan suara berdengus dengan geram dia berkata. 

"Anak muda, mulutmu lancang sekali. Kau mengira aku takut padamu? Dengan mematahkan kaki Sabarantu bukan berarti dirimu berada di atas angin!"

"Begitu! Apakah kau ingin aku mematahkan kedua tanganmu?" Tanya si pemuda sinis. 

Nyuk Antan Alu dongakkan kepala, lalu tertawa terbahak-bahak. "Menyentuh tubuhku saja kau belum tentu sanggup, bagaimana kau bisa mematahkan kedua tanganku?" Tanya sang penyihir mengejek. 

"Baiklah! Akan kubuktikan apakah aku benar benar tidak sanggup menyentuhmu!" 

Setelah berkata begitu, Saga Merah membuka jurus-jurus serangannya yang menjadi andalan. Ini dilakukan karena dia menyadari lawan yang dia hadapi adalah lawan tangguh yang dia sendiri belum mengetahui tingkat kehebatannya. Setelah mengawali serangan dengan jurus Naga Berkejaran yang dipadukan dengan jurus Sang Budha. Pemuda ini segera lakukan lompatan ke arah Nyuk Antan Alu. 

Serangan pertama datang seperti gelombang badai yang menghantam bibir pantai. Sang penyihir sempat kaget, namun segera berkelit menghindari jangkauan tangan lawan yang mencoba mencekal bahunya. Serangan itu luput, selanjutnya Saga menggeser kakinya dua tangan dirangkapkan seperti orang yang bersemedi. Nyuk Antan tersenyum mengejek ketika melihat Saga bergerak lambat ke arahnya lalu dia jatuhkan diri dengan kaki terlipat. 

Dalam keadaan duduk bersila dia menghantam kaki Nyuk Antan Alu. Orang tua berpakaian jubah perang ini melompat tinggi, namun gerakannya ternyata kalah cepat dengan gerakan tangan Saga Merah. Satu sentuhan di bagian kaki Nyuk Antan membuat laki-laki itu nyaris terbanting. Dia masih beruntung karena mempunyai keseimbangan tubuh yang sempurna. Seandainya lengah sedikit saja dia sudah dibuat malu oleh lawannya. 

"Hmm, ternyata kau boleh juga, tapi jangan bangga dulu. Sekarang sudah saatnya kau merasakan kehebatanku!" Teriak Nyuk Antan Alu. 

Sang penyihir lalu memasang kuda-kuda. Dia lalu menggoyangkan kepala, sekujur tubuhnya kemudian menggeletar seperti orang yang terserang demam tinggi. Seiring dengan gerakan tubuhnya kedua tangan direntang. Tangan itu selanjutnya bergerak lemah gemulai seperti orang menari, namun dalam kecepatan yang sulit dikuti kasat mata. 

Sabarantu sendiri sempat dibuat kagum oleh jurus-jurus yang dipergunakan sang penyihir. Sementara itu Saga Merah terus memperhatikan setiap gerakan tubuh lawannya. Pertama kali dia merasa agak bingung melihat jurus-jurus hebat yang dipergunakan oleh penyihir itu. 

"Sebuah jurus yang langka dan belum pernah kulihat, tapi aku sudah dapat memecahkan rahasia di balik jurus mautnya itu!" 

Batin si pemuda dalam hati. Benar saja, seperti yang telah dia duga, tidak lama Nyuk Antan Alu bergerak ke arahnya. Kemudian kakinya yang meliuk-liuk menghantam. Saga tidak berkelit, dia menangkis dengan menggunakan sikunya. Karena kaki itu terlindung kasut dari besi, Nyuk Antan Alu tidak merasakan akibat dari benturan yang terjadi. Berbeda dengan Saga, sikunya nampak memar dan bengkak. 

Sambil menyeringai kesakitan pemuda itu harus berjuang menghadapi gempuran tangan Nyuk Antan yang ternyata jauh lebih berbahaya dari serangan kaki. Wuut! Wuut! Satu pukulan luput, Nyuk Antan melanjutkan dengan sodokan yang mengarah ke bagian rusuk. Inipun si kakek menggerung lalu melompat tubuhnya berputar hingga mengeluarkan suara merdu. Saga tidak tinggal diam, melihat tubuh yang berputar julurkan tangan membabat ke arah kaki leher dan perutnya. Dia segera melompat mundur. 

Lawan terus memburunya. Tendangan kini mengarah ke bagian kepala, Saga Merah cepat bungkukkan badan. Kepala ditarik ke belakang. Sungguhpun begitu kaki lawan masih sempat menghajar dadanya. Pemuda itu terhuyung. Celakanya lawan terus bergerak ke arahnya, kemudian tangan kiri melesat ke arah dada. Si pemuda berkelit, ketika serangan ini gagal, Nyuk Antan gerakkan tangan kanan. Yang menjadi incarannya adalah bagian tenggorokan pemuda itu. Tidak ada pilihan lain bagi sang pendekar. 

Satu-satunya kesempatan adalah dengan melompat ke atas. Dia kemudian menghentakkan kakinya, tubuh melambung. Dari atas ketinggian tiba-tiba Saga berjumpalitan ke bawah, ketika Nyuk Antan berada dalam jangkauannya. Dia pun menghantam bahu dan kepala laki-laki itu. Duuuk! Breeng! Ketika hantaman tinju Saga mengenal kepala yang terlindung topi. Topi itu walau terbuat dari lempengan besi terbelah menjadi dua. Nyuk Antan meraung kesakitan. Topi segera dilepas, sehingga terlihatlah wajah si kakek yang buruk. 

Nyuk Antan Alu memiliki wajah dan hidung yang sama rata. Sedangkan matanya agak lebih terangkat ke atas yaitu satu di kening kiri dan satu di kening kanan. Kalau Saga Merah kemudian dibuat kaget, rasa kaget itu hadir bukan karena melihat bagaimana rupa lawannya. Dia terkejut karena melihat sebuah kenyataan bahwa baju pelindung yang dipakai oleh Nyuk Antan Alu ternyata sangat kuat dan tahan terhadap pukulan yang dilepaskan pemuda itu. 

"Pakaian perang itu ternyata bukan pakaian sembarangan. Kalau kau tidak menggunakan cara yang lain, besar kemungkinan kakek ini tidak dapat kuringkus!" 

Pikir pemuda itu. Dia lalu merubah jurus-jurus silatnya dengan jurus Tanpa Bentuk-Tanpa Arah Tanpa Bayangan. Sekarang cara menyerang dilakukan Saga berubah total. Setiap saat gerakan pemuda itu berpindah pindah yang berlangsung sangat cepat sekali. Nyuk Antan dibuat bingung oleh serangan yang selalu berpindah-pindah ini juga berlangsung cepat seperti bayangan. 

"Nyuk Antan, di belakangmu!" 

Teriak Sabarantu memberi peringatan. Si penyihir segera palingkan kepala ke belakang dan menghantam dengan siku kiri, sementara tangan kanan dipergunakan untuk menghajar bagian wajah pemuda itu. Wuut!       Serangan itu keduanya luput. Nyuk Antan Alu tidak ubahnya seperti menghantam bayang-bayang saja. Meskipun diam-diam dibuat kaget tidak menyangka lawannya memiliki jurus seaneh itu, namun kemarahan ternyata lebih menguasai diri penyihir ini. Sementara pada saat yang sama Sabarantu yang melihat kawannya terdesak segera berteriak. 

"Nyuk bagaimana kalau kita keroyok saja dia. Dihadapi sendirian pemuda ini cukup merepotkan, kalau kita berdua mengerubutinya berbarengan kukira dia tidak bisa berbuat banyak." Ujar Sabarantu yang sudah gatal tangan.

"Puah, walau aku bukan golongan manusia gagah yang menjunjung kehormatan. Tapi kau melihat sendiri bahwa aku belum menggunakan semua ilmu simpananku untuk menghadapinya. Kau lihat saja dulu yang bakal kulakukan terhadapnya!" Teriak Nyuk Antan. 

"Nyuk, dia telah mematahkan kakiku. Aku tidak perduli apa katamu, sekarang aku tidak dapat lagi berdiam diri. Aku ingin mencabik-cabik tubuhnya!" Teriak Sabarantu tak kalah sengit. 

"Manusia keras kepala! Berbuatlah sesuka hatimu aku tidak akan melarangmu lagi!" 

Kata Nyuk Antan Alu. Sabarantu menyeringai. Dia yang menyimpan dendam kesumat mendalam pada Saga Merah segera membuka serangan dengan jurus Lima Sayap Membentang di Cakrawala. Si pemuda segera melihat bahwa serangan yang dilakukan Sabarantu kini lebih tertuju ke bagian kepala dan dada. Tidak pelak lagi, sambaran cakar Sabarantu menjadi lebih ganas dan nyaris merobek dada dan bahunya. 

Berkat jurus Langkah Langkah Aneh yang diwariskan oleh Dewa Tujuh Bumi, pemuda ini selalu lolos dari serangan Sabarantu. Sebaliknya dari arah samping Nyuk Antan Alu menggempurnya dengan tendangan-tendangan menggeledek yang mencari sasaran di bagian perut dan kaki Saga Merah. Walau dapat mematahkan setiap serangan yang datang dari dua lawannya. Namun Saga Merah berpikir dirinya tidak mungkin terus bertahan dengan cara seperti itu. 

Pada saatnya tenaga yang dia miliki bakal terkuras habis, Baginya hal ini tidak boleh terjadi. Tidak banyak pilihan yang dia miliki. Tiba-tiba dia melompat mundur dari kepungan lawan-lawannya. Menyangka pemuda itu akan melarikan diri, Sabarantu segera lakukan lompatan. Dua tangan yang jari-jarinya berbentuk cakar terkembang. Dia melayang dengan gerakan menerkam. Pemuda ini mencoba berkelit. 

Tapi pada waktu yang sama kaki kiri lawan siap menghujam di bagian pahanya. Tidak ingin kakinya jebol dihujam cakar-cakar itu. Saga melompat ke samping. Wuus! Serangan kaki Sabarantu menghantam tempat kosong. Bebatuan yang kena terjangkan hancur. Sabarantu cepat memutar tubuh, dua tangan kembali menyergap. Karena pada waktu yang sama Saga juga harus menghadapi serangan Nyuk Antan yang datang dari arah samping. Maka perhatiannya terbagi dua. 

Dia yang melihat Nyuk Antan berusaha meremukkan bahu kanannya. Segera menangkis sambil melepaskan pukulan tangan kosong bertenaga dalam tinggi. Terdengar suara deru mengerikan disertai berkelebatnya cahaya merah berkilau. Nyuk Antan terkejut, jarak yang dekat membuat dirinya tidak sempat menghindar Buum! Pukulan Awan Merapi yang dilepaskan Saga menghantam Nyuk Antan dengan telak sekali. 

Tetapi pukulan yang seharusnya dapat membuat Nyuk Antan tewas atau menderita cidera berat seolah tidak memiliki arti karena pukulan itu menghantam baju besi yang melindungi diri dari si kakek. Nyuk Antan Alu hanya bergetar. Saga Merah terkesima. 

"Pakaian perang itu bukan hanya pelindung biasa. Pakaian yang melekat ditubuhnya itu menyimpan kesaktian dan berhasil menyerap pukulan yang kulepaskan! Hmm, kalau perlu aku akan menggunakan pukulan Kajakala" 

Seperti diketahui pukulan Kajakala bermuatan angin es. Siapa saja yang terkena pukulan itu walau dirinya berlindung di balik pakaian sakti pasti akan membeku. Saga juga berpikir untuk menggunakan pedangnya. Tapi kesempatan berpikir ini dipergunakan Sabarantu untuk melakukan niatnya. Dibarengi dengan satu teriakan melengking. Sabarantu melompat ke arah pemuda itu. Dalam waktu tak sampai sekedipan mata dia telah berada di depan emuda itu. 

Dua tangan bergerak sekaligus. Saga palingkan kepala menghindari cengkeraman . Tapi dia tidak sempat menghindar dari jangkauan tangan kiri. Hek! Pendekar Pedang Roh keluarkan suara seperti tercekik. Tangan kiri lawannya yang berupa cakar membuatnya merasa sulit untuk bernafas. Walau dirinya dalam keadaan tercekik, sebelum tangan Sabarantu yang lain juga kakinya bertindak lebih jauh, Saga Merah diam-diam mengerahkan tenaga saktinya ke tangan kiri. 

Selanjutnya dia menghantam Sabarantu dengan pukulan Bayatala. Ini adalah salah satu pukulan dahsyat yang dimiliki oleh Saga Merah. Pukulan ini bersifat panas, biasanya yang menjadi korban sekujur tubuhnya bakal rontok dan menjadi abu. Sabarantu tidak sempat menghindar, ketika pukulan melabrak dirinya cekalan pada leher Saga terlepas. Dia sendiri terlempar dan jatuh terbanting. Megap-megap dia mencoba bangkit berdiri. 

Walau tidak mati dan hangus tapi dia terkejut sendiri ketika menyadari sekujur tubuhnya terasa terbakar di bagian dalam. Sabarantu segera mengerahkan tenaga dalam berhawa dingin. Dia beruntung karena memiliki kekebalan, tapi ketika dia hendak tegak untuk menghabisi lawannya. Justru mulutnya menyemburkan darah kental kehitaman. Nyuk Antan Alu menyadari, setelah melihat Sabarantu yang sakti dapat diciderai lawan, dia tidak mungkin menggunakan sihir karena dia tahu Saga Merah juga memiliki ilmu sihir. 

Kemudian dia berpikir untuk menggunakan racun ampuh yang dibawanya dari Negeri Angin. Racun itu bernama Ratap Kebinasaan. Si kakek yang membekal racun dalam pernafasannya segera menghirup udara sebanyak banyaknya. Tidak berselang lama setelah paru-parunya penuh berisi udara, dia berteriak. 

"Kau tidak akan lolos!" 

Saga menoleh, dia melihat wajah kakek berambut panjang di kepang ini nampak membiru, pipinya menggembung dan mulutnya terkatub rapat.

"Eh, mengapa wajahnya berubah biru?!" 

Batin pemuda itu. Dia tidak tinggal diam. Pemuda Ini melompat ke samping demi melihat kaki Nyuk Antan meluncur siap menggebrak dada sedangkan kaki kanan melesat ke bagian wajah. Serangan ini masih dibarengi dengan hantaman tinju si kakek. Dari deru angin yang ditimbulkannya. Saga menyadari serangan itu sangat mematikan. Dia menggeser kakinya satu langkah ke samping, setelah itu Saga memutar tangan membentuk perisai diri. 

Tapi begitu melihat lawan membuat benteng diri, Nyuk Antan merubah arah serangan. Dia melambung ke atas hingga posisinya berada di atas kepala pemuda itu. Selanjutnya dia berbalik, kaki ke atas dan kepala menghadap ke bawah. Saga yang mengetahui ini segera menghantam kepala itu. Namun pada waktu yang sama Nyuk Antan meniup sekuat tenaga. 

"Phuuuh...!" 

Asap tebal berwarna kebiruan mengepul menutupi wajah Saga Merah. Pemuda ini segera mengendus bau harum semerbak. Dia menjadi curiga, dia menyadari yang dihembuskan lawannnya pasti asap beracun. Pemuda ini langsung menutup jalan nafasnya. Namun tindakan ini boleh dikatakan terlambat. Pendekar Pedang Roh terlanjur menghirup asap beracun Ratap Kebinasaan yang dihembuskan kakek itu. 

Asap beracun masuk ke paru-parunya. Dalam waktu sebentar menjalar ke sekujur tubuhnya, Tiba-tiba Saga merasa kepalanya sakit berdenyut pandangan matanya jadi berkunang-kunang. Dia terhuyung, sekuat tenaga pemuda ini mencoba bertahan. Dia kerahkan hawa sakti untuk melenyapkan pengaruh racun tersebut. 

Namun semakin dilawan daya serang racun itu makin hebat. Sang pendekar jatuh terjungkal. Dalam keadaan sadar dan tiada, pemuda ini masih mendengar suara tawa Nyuk Antan Alu sayup-sayup penuh kemenangan. Dia juga masih mendengar suara Sabarantu yang datang menghampiri dengan membawa dendam. 

"Dia sudah tidak sadar. Ini kesempatan bagiku untuk membunuhnya!" Teriak Sabarantu kalap. 

"Tidak! Membunuhnya soal yang mudah. Dia lebih berguna bila kita biarkan hidup. Sama seperti Gorga Raga, dia akan kujadikan budak. Pemuda ini bukan hanya tinggi ilmunya, dia juga mempunyai ilmu sihir. Ilmu kami nampaknya cukup berimbang, kelemahannya dia tidak memiliki racun seperti yang aku miliki!" Ujar Nyuk Antan. 

"Tapi Nyuk, dia telah mencideraiku dua kali!" Ujar Sabarantu penasaran. Nyuk Antan Alu dongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak 

"Aku tahu kau masih menyimpan dendam terhadapnya. Aku tahu kau juga sangat membencinya. Tapi hendaknya kau bisa berpikir, dalam hidup lebih baik mencari manfaat dari pada mudarat. Orang seperti dia patut kita manfaat kan."

"Aku tidak sependapat, tapi demi memandang muka kepadamu aku tidak akan mengganggunya. Walau demikian bukan berarti aku tidak akan membunuhnya!" Ujar Sabarantu.

Saga Merah kemudian tidak ingat apa-apa lagi. 

"Sekarang periksa dan geledah dia. Siapa tahu dia mempunyai senjata yang bisa membahayakan kita!" 

Ujar Nyuk Antan Alu. Walau merasa jengkel, Sabarantu patuhi juga perintah si kakek. Dalam hati dia menggerutu. 

 "Kakek sialan ini. Mengapa masih takut dengan segala macam senjata sedangkan senjata yang paling sakti saja berada pada kita." 

Sabarantu menggeledah pakaian pemuda itu. Saga Merah beruntung karena Pedang Roh menyatu dengan dirinya, seandainya tidak. Senjata itu pasti ditemukan Sabarantu. Laki-laki itu kemudian berdiri tegak sambil menggeleng sebagai isyarat bahwa Saga Merah tidak memiliki senjata. 

"Ikat tangannya ke belakang. Untuk sementara dia harus kita kurung di salah satu bangunan itu!" Ujar Nyuk Antan Alu.

"Tapi Nyanyuk, bukankah dia sudah kau racuni?" 

Kata Sabarantu heran melihat sikap si kakek. 

"Lakukan saja perintahku, atau kau ingin aku menyihirmu menjadi kadal?" Gertak si kakek. 

"Bangsat! Mengakunya bekerja sama, tapi mengapa dia memperlakukan diriku seperti budak!" 

Gerutu Sabarantu jengkel. Walau demikian dia tetap lakukan juga apa yang diminta Nyuk Antan. Tangan pemuda itu diangkat dan diikat ke belakang. Setelah Saga Merah dalam keadaan terikat, Nyuk Antan Alu memanggulnya dan membawa Saga menuju ke sebuah bangunan. Pintu depan dibuka, Saga dilemparkan ke dalam ruangan. Selanjutnya pintu ditutup dan dikunci, sementara Sabarantu memeriksa sekeliling bangunan itu dan menutup setiap celah yang memungkinkan bagi orang yang dia benci untuk melarikan diri. 

"Bagaimana?" Tanya Nyuk Antan ketika melihat Sabarantu kembali menemuinya. 

"Sudah beres!"

"Bagus. Kita harus istirahat dulu. Kita butuh waktu untuk mengatur rencana selanjutnya."

"Rencana apa Nyanyuk?"

"Kau ini bodoh sekali. Tiga panah hebat sudah ada pada kita. Kita tinggal memanfaatkan untuk mencari keuntungan. Dengan senjata rampasan ini kita bisa berjaga-jaga siapa tahu panglima Bayabala dari Negeri Angin datang kemari mengejarku." Ujar Nyuk Antan sinis.

"Mengapa dia mengejarmu?''

"Tentu saja dia mengejarku karena aku telah mencuri pakaian perangnya. Ha ha ha!"  

"Hmm, mudah-mudahan aku bisa membantumu!"

"Kau tak perlu takut. Kakimu yang patah masih bisa kulempangkan, luka didadamu bisa kusembuhkan dalam sehari." Ujar Nyuk Antan. 

Sabarantu merasa lega. Dia tidak menyangka Nyuk Antan bisa menyembuhkan penderitaan yang dia alami dalam satu hari. Sementara itu tidak jauh dari lapangan kecil tempat di mana pertaruhan sengit tadi berlangsung, ada sepasang mata yang terus mengawasi. Pemilik sepasang mata itu berpakaian dari daun berwajah jelita dan bermahkota emas. Dan dara berambut panjang ini bukan lain adalah Puteri Padara. 

Gadis yang sebelumnya bersama dengan Sandi Laya. Seperti diiketahui sebelumnya Puteri Padara ditolong dari cengkeraman Bukara yang memiliki Gelar Lelanang Sejati. Bukara ini adalah seorang tokoh yang berada dalam kutukan Dewi Kabut. Kabarnya Dewi Kabut memasung Bukara di gua es karena Bukara terbukti tidak sanggup memberi kesenangan batin yang memuaskan pada Dewi Kabut, perempuan liar tetapi memiliki ilmu tinggi dan mampu memberikan kutukan pada seseorang. 

Tidak disangka setelah ditolong oleh Sandi Laya dan dibawa ke Lembah Batas Dunia. Sandi Laya sendiri dihadapkan pada kenyataan seluruh kerabatnya yang tinggal di lembah itu dibantai oleh Sabarantu, Penyesat Dari Selatan. Puteri Padara kemudian disandera oleh Sabarantu di saat Sandi Laya menemui Pemanah Bintang. Ketika Sandi Laya menemukan dirinya, dia terlibat perkelahian sengit dengan Sabarantu.       Sandi Laya tewas, muncul Tupu Lanjar dan Pendekar Pedang Roh. 

Pemuda gagah ini kemudian terlibat perkelahian dengan Sabarantu. Tupu Lanjar tewas, Saga Merah berhasil mematahkan kaki Sabarantu yang dikenal kebal senjata dan kebal pukulan. Karena Sabarantu melarikan diri Saga melakukan pengejaran. Pemuda yang telah memberi kesan mendalam pada sang puteri karena telah membebaskan totokannya akhirnya ikut mengejar. Dia lalu menemukan pemuda itu terlibat pertempuran hebat dengan Nyuk Antan Alu dan Sabarantu. 

Saat itu ingin sekali Puteri Padara ikut membantu Saga Merah, tapi dia menyadari keterbatasannya. Dia tak mungkin bisa menolong Saga Merah karena ilmu silat serta kepandaian yang dimilikinya begitu rendah. Dia takut bahwa kehadirannya tidak dapat membantu menyelesaikan masalah. Sekarang setelah mengetahui Saga Merah dapat dilumpuhkan oleh serangan racun jahat Nyuk Antan Alu, Puteri Padara menjadi sedih dan bingung sendiri. 

"Apa yang harus kulakukan? Dia telah menolong diriku, dia membebaskan aku dari pengaruh totokan." 

Pikir gadis berwajah jelita ini resah. Perlahan dia menatap ke arah bangunan tempat di mana Saga Merah disekap. Dia telah mengetahui Nyuk Antan Alu dan Sabarantu pergi ke bangunan yang lain. Jadi tempat yang dipergunakan untuk mengurung Saga tidak dijaga. 

"Aku akan mengeluarkan pendekar itu dari sana. Aku harus membawanya keluar dari lembah ini. Seandainya usahaku nanti berhasil, apa yang bisa kulakukan? Aku tidak mungkin bisa memunahkan racun yang mendekam ditubuhnya?" Pikir gadis ini. 

"Mungkin aku dapat membawanya ke tempat lain, tetapi mencari tabib yang dapat memunahkan racun bukan pekerjaan yang mudah." 

Puteri Padara menggelengkan kepala, semakin dipikir semakin bingung saja. 

"Aku harus memikirkan rencanaku secara matang kalau tidak aku sendiri bakal menjadi korban karena aku yakin Sabarantu pasti sangat mengenal diriku. Sekarang lebih baik aku menyusup ke bangunan itu dari arah balakang." 

Kata sang puteri dalam hati. Akhirnya dia mengendap-endap mendekati bagian belakang bangunan. Ketika gadis ini sampai di sana, dia memperhatikan keadaan di sekitarnya dengan seksama. Tidak ada suara dan gerakan mencurigakan. Sang puteri lalu mendekam di salah satu sudut, sementara melalui sebuah lubang dia segera memperhatikan bagian dalam bangunan tempat yang dijadikan untuk mengurung Saga Merah. 

Tidak lama dia melihat Saga Merah tergeletak di tengah ruangan dalam keadaan rebah namun dalam posisi miring. Pemuda itu diam tidak bergerak sedikitpun. Puteri Padara memperhatikan pemuda itu dengan seksama, dia melihat wajah yang tampan dengan mata yang terpejam. Hati sang dara bergetar. 

"Betapa tampannya. Hatiku tidak tenang, jantungku berdebar-debar. Mengapa kau jadi seperti ini, apa yang terjadi pada diriku? Aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak, Sekarang ini yang terpenting adalah mengeluarkan pemuda itu dan kemudian dengan cepat menyingkir ke tempat yang aman. Soal sanggup atau tidaknya aku nanti menyadarkannya, bagiku tidak menjadi soal. Tapi bagaimana aku masuk. Kalau aku masuk dari arah depan, Sabarantu atau Nyuk Antan Alu bisa melihatku. Kalau sampai ketahuan, nasibku bisa lebih buruk dari yang diaiaminya!"

Ujar sang dara. Satu-satunya jalan terbaik adalah menjebol dinding rumah itu. Sementara sang puteri tidak menyadari bahwa sejak tadi ada sepasang mata lain yang terus menerus mengawasi gerak geriknya. Setelah cukup lama memperhatikan sang puteri, akhirnya dia berkata sendiri. 

"Perempuan cantik itu terlalu bertindak ceroboh. Dia tidak pernah berpikir bagaimana seandainya Sabarantu datang. Dia lengah, semua perhatian hanya tertuju ke arah pendekar yang tertangkap. Aku datang dari jauh ke lembah ini ingin bertemu dengan Pemanah Bintang. Tapi dari pembicaraan sebelum pendekar muda itu terlibat perkelahian sengit dengan dua kakek tadi, kukira Pemanah Bintang telah meninggalkan tempat ini."

"Semua ini salahku. Seandainya saja tadi aku datang membantu merampas bumbung emas berisi anak panah milik Pemanah Bintang, nasib pemuda gondrong itu tidak akan begini. Sekarang dia dilumpuhkan dan dara berpakaian daun itu kukira tidak dapat diharapkan banyak untuk menolongnya. Tidak ada jalan lain, aku harus mengeluarkan pemuda itu!" 

Pikir pemilik sepasang mata tajam yang ternyata adalah seorang wanita setengah baya berwajah lumayan. Ketika wanita itu berada di belakang gadis bermahkota, sang dara tidak menyadari kehadirannya. Namun dia kemudian menjadi kaget ketika perempuan berambut panjang sepinggang ini berkata ditujukan padanya. 

"Gadis lengah dan ceroboh. Jika mengintai jangan sampai tidak mendengar kehadiran orang lain"

Puteri Padara kaget setengah mati, seketika dia menoleh ke belakang. Wajahnya tercekat begitu mengetahui di belakangnya berdiri tegak seorang wanita berambut panjang sepinggang. Jelas wanita ini bukan salah satu dari orang yang telah mencelakai Saga Merah. Walau demikian sang puteri merasa harus bersikap waspada, Gadis ini bangkit dan menghadap ke arah perempuan itu. Sementara si perempuan memandangnya dengan sinis hingga membuat Puteri Padara merasa serba salah. 

"Siapakah nisanak?" tanya Puteri Padara curiga. Yang ditanya tersenyum. 

"Untuk apa bertanya tentang diriku? Kau sendiri mengapa mendekam di situ? Gadis bodoh! Kalau saja aku punya niat jahat terhadapmu, sejak tadi aku pasti dapat mencelakaimu!" 

Dengus perempuan itu. Sadar dirinya tidak memiliki kepandaian yang memadai, Puteri Padara hanya tertunduk diam. Dalam hati kecilnya sang puteri berkata. 

"Andai saja aku memiliki ilmu kesaktian tinggi, tentu bukan saja sanggup menolong pemuda itu, tapi juga tentunya tidak akan dihina oleh orang?"

"Kau diam membisu! Apakah kau merasa tersinggung dengan ucapanku?" Puteri Padara menggeleng. 

"Saya hanya ingin menolong seseorang. Tapi saya masih bingung bagaimana caranya mengeluarkan dia dari rumah ini." Ujar gadis itu polos,

"Hi hi hi. Kau ini sangat menggelikan. Kau rupanya tidak takut pada kedua orang yang telah membuatnya tidak sadar kan diri?" Sindir perempuan itu. Sang puteri terkejut. 

"Jadi kau telah melihat seluruh kejadian yang berlangsung di sini?"

"Aku menyaksikan hampir semua kejadian itu. Aku bukan orang jahat. Dan aku yakin kau tidak punya kepandaian apa-apa untuk menolongnya. Pemuda itu harus dikeluarkan dari lembah ini. Lalu imbalan apa kiranya yang dapat kau berikan padaku andai aku menolongnya?" 

Puteri Padara sempat terkejut, tapi dia terlalu mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu. Dia juga merasa telah berhutang nyawa kepadanya. Karena itulah tanpa merasa ragu dia menjawab. 

"Aku tidak punya barang berharga selain mahkota emas ini, Jika kau menginginkannya sebagai imbalan, aku bersedia memberikan." 

Wanita itu tersenyum. Dia menyadari apa yang sedang terjadi pada gadis itu. Namun dia tidak ingin membicarakannya. 

"Apakah mahkota yang bertengger di atas kepalamu itu sudah sepadan untuk ditukar dengan nyawa seorang pemuda tampan?"

"Aku tidak tahu apa maksudmu." Ujar Puteri Padara bingung. 

"Ketidaktahuan itu dapat kumengerti karena kau gadis bodoh. Tapi perlu apa membicarakan kekuranganmu. Saat ini waktu dan tempatnya tidak tepat." 

Ujar wanita setengah baya itu. Dia kemudian melangkah lebar mendekati Puteri Padara. Sang puteri bersikap waspada untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Di luar dugaan, perempuan itu ternyata malah mendekati dinding. Kemudian tanpa bicara apa-apa perempuan itu langsung menjebol dinding. Dinding itu terkuak lebar. Si wanita berambut pirang melangkah masuk dikuti oleh Puteri Padara dengan ragu-ragu. 

Sesampainya di tengah ruangan wanita ini berjongkok dan langsung melepaskan ikatan yang membelenggu kedua tangan pemuda itu. Sesaat dia melakukan pemeriksaan. Dia merasakan denyut nadi pemuda itu agak lemah. 

"Aku tidak tahu apakah jiwanya bisa diselamatkan. Racun yang menyerang dirinya terlalu ganas. Apa yang terjadi nanti tidak perlu dipikirkan. Sekarang lebih baik membawanya menyingkir dari tempat ini sebelum kedua orang itu mengetahui tindakanku!"

"Aku berterima kasih andai kau mau menolongnya, nisanak!" Ujar Puteri Padara tulus. 

Wanita itu tidak menanggapi, dia segera mengangkat Saga Merah dan memanggulnya di atas bahu. Tidak lama setelah itu dia keluar dari tempat di mana dirinya masuk. Sesampai di luar wanita itu berkelebat memasuki semak-semak belukar dengan diikuti oleh Puteri Padara. Dalam perjalanan meninggalkan lembah, sang puteri tidak henti-hentinya berdoa agar wanita yang mengeluarkan Saga dari lembah tidak berniat mencelakainya. Dia juga berharap semoga racun jahat yang membuat Saga Merah tak sadarkan diri tidak sampai merenggut nyawa pemuda itu. 

***

Pada saat itu Pemanah Bintang yang berdiri di atas bebatuan yang terdapat di tebing sungai hanya bisa menahan diri ketika belasan orang yang mengepungnya terus mengumbar tawa. Tetapi Pengemis Nyawa yang menjadi pimpinan mereka tiba-tiba hentikan tawanya. Dengan sinis dia berkata. 

"Kami bukan pengemis biasa, Pemanah Bintang! Kami mengetahui kau baru saja mengembalikan dua senjata pusaka itu," Ujar Pengemis Nyawa. 

"Kalau sudah tahu, lalu apa yang kalian inginkan?" Tanya pemuda itu terang tanpa emosi.

"Ha ha ha. Dulu aku sangat ingin memiliki panah Cakra Kalima inggil, Pusaka Langit dan Panah Sirna Raga. Tapi sayang, aku terlambat menemui dirimu karena aku tidak bisa menembus rimba kabut yang menjadi benteng tempat tinggalmu. Walau begitu aku tahu, kau masih memiliki sebuah senjata sakti. Senjata itu adalah Panah Sirna Raga!"

"Bagus sekali kalau kalian sudah tahu, kemudian apakah kau ingin mengemis untuk meminta satu satunya senjata yang masih aku miliki?" 

Tanya pemuda itu dengan sinis. Pengemis Nyawa yang memiliki bola mata berwarna hitam keseluruhannya ini sunggingkan seringai sinis. Rahangnya bergerak-gerak, bagian gigi saling beradu hingga mengeluarkan suara bergemeletukan. 

"Ingin memiliki bukan berarti serakah, mau meminta bukan berarti mengemis. Walau yang kau katakan memang menjadi tujuan kami, tetapi tujuan utama kami sesungguhnya bukan senjata itu.." ujar Pengemis Nyawa.

Laki-laki itu lalu melirik ke arah kawan-kawannya. Belasan orang disekelilingnya sunggingkan seringai sinis, salah satu yang berada di belakang Pengemis Nyawa berkata. 

"Seperti yang dikatakan tetua kami, tujuan utama memang bukan senjata itu. Kudengar tubuhmu mengandung khasiat yang luar biasa Pemanah Bintang. Kami ini para pengemis bernasib jelek, kalau kami dapat memakan dagingmu. Kemungkinan nasib jelek kami akan berubah. Ha ha ha!"

"Jadi tegasnya kami juga ingin mengemis tubuhmu!" ujar satunya lagi. Untuk yang kesekian kalinya kesunyian kembali dipecahkan oleh gelak tawa mereka. Puas mereka tertawa, Pengemis Nyawa sebagai pimpinan mereka berkata. 

"Pemanah Bintang. Seperti yang dikatakan oleh teman-temanku, kami sesungguhnya ingin merubah nasib. Kami ingin merasakan bagaimana nasib buruk bisa berubah menjadi baik."

"Lalu kau meminta aku merubahnya?"

"Oh tidak! Kau telah ditinggalkan para dewa karena ketidakpatuhanmu pada mereka"

"Orang seperti dirimu mana mungkin segala permintaan dikabulkan. Aku hanya ingin kau merelakan dirimu untuk dipesiangi" Kata Pengemis Nyawa. 

Laki-laki bermuka seram itu julurkan lidah dan basahi bibirnya. Sikap orang tua ini seperti harimau yang kelaparan. Sekarang Pemanah Bintang menyadari, apapun keinginan mereka tujuannya jelas ingin mencelakakan dirinya. 

"Bukan hanya senjata yang mereka minta, tapi jauh lebih buruk dari yang aku duga. Pengemis Nyawa dan anak buahnya kuketahui bukan manusia biasa. Tidak ada salahnya kumusnahkan mereka dari dunia ini agar kelak di kemudian hari tidak ada lagi pengemis yang meminta nyawa." 

Batin pemuda itu. Kini Pemanah Bintang memandang ke depan. Dia melihat orang-orang yang mengepungnya hanya tinggal menunggu perintah tetuanya. 

"Pemanah Bintang, apakah kau sudah siap untuk menyambut datangnya kematianmu?" Tanya Pengemis Nyawa sinis. 

"Tidak ada sesuatu pun yang membuatku takut. Menghadapi golongan pengemis seperti dirimu bukan hal yang sulit, aku hanya khawatir inilah terakhir kalinya kau melihat matahari" Ujar Pemanah Bintang dingin. 

"Puah, mulutmu sombong sekali!" 

Teriak Pengemis Nyawa. Dia lalu memberi isyarat pada anak buahnya untuk memulai penyerangan. Belasan laki-laki berwajah beringas serentak bergerak maju. Senjata di tangan mereka menderu mengeluarkan suara menggiriskan. Empat mata tombak menusuk di empat bagian mematikan di tubuh Pemanah Bintang, sedangkan serangan senjata yang lain membabat ke bagian pinggang dan kepala pemuda itu. Melihat ganasnya serangan yang datang ke arahnya. Pemanah Bintang tidak ingin menunggu lebih lama. 

Tangannya bergerak cepat menyapu serangan senjata yang datangnya laksana hujan itu. Kemudian terdengar suara berdentingan ketika ujung ujung senjata lawan berbenturan dengan jari tangan Pemanah Bintang. Beberapa orang yang menyerangnya terdorong mundur, yang tangan mereka yang memegang senjata terasa kesemutan. Tetapi para penyerang itu seperti mahluk buas yang haus darah, begitu serangan gagal mereka segera kembali merangkak maju Wuut! 

Pemanah Bintang lakukan sebuah gerakan, tubuhnya melambung tinggi ke udara. Setelah itu dia melesat ke seberang sungai. Sesampainya di seberang dia jejakkan kaki, kemudian segera membalikkan badan. Begitu dirinya berbalik sedikitnya ada tiga senjata siap menembus tubuhnya. Pemuda ini melangkah mundur satu tindak, selanjutnya tangannya berputar cepat bergerak menyambar dan menangkis serangan senjata lawannya. 

Kembali terdengar suara dentingan ketika jari-jari pemuda itu berhasil menepis senjata mereka. Salah seorang diantaranya menjadi geram, dia menggebrak maju mendahului kawan-kawannya. Pedang di tangannya bergerak meluncur mengarah ke bagian perut. Pemanah Bintang berkelit ke samping. Serangan itu luput, ketiga pedang lewat di sebelah pinggangnya. Pemanah Bintang menghantam pergelangan tangan lawan, pedang terjatuh. 

Si pemuda meraih kepala lawan. Begitu rambutnya yang panjang dapat dicengkeramnya. Maka kepala itu diputar begitu rupa. Selanjutnya dengan menggunakan siku si pemuda menghantam tengkuk orang itu. 

"Kraak!" 

Terdengar suara berderak akibat patahnya tulang disertai jerit terputus. Anak buah Pengemis Nyawa yang satu ini terkapar dan tewas seketika. Melihat ini Pengemis Nyawa keluarkan suara raungan tinggi. Sementara kaki tangannya demi melihat kematian sang teman berubah beringas. 

"Pemuda keparat, kau harus membayar mahal karena telah membunuh teman kami!" teriak orang-orang itu. 

Dengan kalap mereka mengepung pemuda itu dan menyerangnya dari segala penjuru. Pemanah Bintang tidak memberi jawaban apa-apa. Sebaliknya sejak tadi dia menyalurkan tenaga dalamnya ke bagian tangan.       Sekejab kemudian tangan itu telah berubah memutih laksana perak. Dan lawan lawannya tidak perduli. Walau tangan Pemanah Bintang menyilaukan mata mereka, namun mereka tetap berebut dengan teman-temannya yang lain, saling mendahului untuk menghabisi pemuda itu. 

"Oh, orang-orang nekad yang tidak takut mati! Majulah kemari, aku ingin melihat apa yang bakal kalian lakukan." 

Kata Pemanah Bintang. Pemuda ini tetap berdiri di tempatnya. Dia menahan nafas hingga membuat sekujur tubuhnya berubah keras seperti batu, Dan serangan pedang serta tombak di tangan lawan-lawannya kemudian menghantam serta menusuk seluruh bagian tubuhnya. Tetapi serangan itu tidak mampu menembus atau melukai tubuh Pemanah Bintang karena si pemuda telah melindungi tubuhnya dengan tenaga sakti. 

"Tidak! Dia tidak mungkin kebal senjata!" 

Teriak Pengemis Nyawa. Sejauh itu sebagai pimpinan dia masih belum mengambil tindakan apa-apa melainkan hanya mengawasi anak buahnya. Sebenarnya ini sebuah kekeliruan, karena secara tidak terduga Pemanah Bintang kemudian memutar tubuhnya sambil menghantamkan kedua tangannya ke arah lawan-lawannya. 

"Pukulan Tembok Batu Perisai Matahari!" 

Teriak pemuda itu menyebut nama pukulan yang dilepaskannya. Wus! Wus! Wus! Seperti gunung yang tercabut dari tempatnya berdiri, lalu terbang melayang menghantam apa saja yang terdapat di sekitarnya. Seperti itulah akibat yang dirasakan oleh anak buah Pengemis Nyawa. Mulamula mereka mendengar suara bergemuruh seperti luapan air bah. 

Setelah itu mereka merasakan seperti ada sesuatu yang tidak terlihat menindih tubuh mereka, Selagi mereka berusaha membebaskan diri dari himpitan tenaga besar yang tidak terlihat. Tibatiba hawa panas mengerikan memberangus tubuh mereka. Seperti debu yang beterbangan mereka terpental. Sebagian dari mereka tewas seketika dengan tubuh hangus, sebagian lagi terkapar dalam keadaan sekarat sedangkan yang lainnya menderita luka parah. 

Bukan hanya Pengemis Nyawa yang dibuat terbelalak melihat kejadian yang mengerikan ini. Sebaliknya Pemanah Bintang sendiri delikkan matanya. Betapapun dia tidak pernah menggunakan kesaktiannya selama bertahun-tahun. Selama ini dirinya diuji untuk melatih kesabaran dan mengekang nafsu amarah. Apa yang dilakukannya menimbulkan sebuah penyesalan karena di dalam hati kecilnya Pemanah Bintang tidak pernah menghendaki kejadian seperti itu. Kini setelah melihat lawan-lawannya terkapar, Pemanah Bintang jadi tertegun. Jauh di dalam hati dia berkata. 

"Sebuah pantangan telah kulanggar. Kini aku menjadi seorang pembunuh, sekarang aku benar benar melumuri tanganku dengan darah manusia. Seberapa banyak kesalahan yang kulakukan? Seberapa banyak dosa harus kutuai?" tanya pemuda itu. 

Dalam hatinya yang lain dia menghibur.

"Apa yang kau lakukan adalah untuk'membela diri. Antara dibunuh dan membunuh mana yang harus kau pilih. Bagaimana pun juga kebenaran harus ditegakkan walau dengan taruhan nyawa." 

Pemanah Bintang terombang-ambing dalam kebimbangan. Di saat dirinya dalam pemikiran yang tidak stabil seperti itu. Tiba-tiba dia mendengar suara teriakan Pengemis Nyawa yang melolong seperti seekor anjing jalang yang terluka. 

"Lihatlah! Huk-huk! Kau kini telah terseret dalam perbuatan tercela, terkutuk dunia dan akhirat. Kau telah menghabisi orang-orangku dengan pukulan yang keji!" 

Kata Pengemis Nyawa sambil membanting kakinya. Tanah bergetar, kaki Pengemis Nyawa amblas ke dalam bumi sedalam betis. si pemuda tertegak dalam diam, wajahnya berubah merah. Karena tidak biasa membunuh, kini dirinya seperti orang kebingungan. Dengan suara serak tersendat dia berkata. 

"Aku tidak lagi menjadi manusia yang terlepas dari kejahatan. Tapi yang terjadi bukan atas kehendakku. Kau dan orang-orangmulah yang memaksa." Ujarnya. 

"Pandai sekali kau membela diri. Sekarang aku tidak dapat memaafkanmu!" Teriak Pengemis Nyawa. 

"Aku tidak butuh kata maafmu. Janganlah banyak bicara, kalau kau ingin menuntut balas atas kematian mereka, aku sudah siap untuk menerimanya!" Kata si pemuda dengan suara dingin.

"Ha ha ha! Dimanakah nyawamu bersemayam? Apakah di bagian jantungmu? Ataukah di bagian kepala?" Tanya pengemis nyawa. 

"Kau sudah biasa mengambil nyawa orang lain, lebih baik kau mencarinya sendiri!" 

Kata pemuda itu. Wajah pengemis Nyawa nampak mengelam. Dia lalu berjingkrak-jingkrak seperti monyet yang mendapatkan makanan lezat. Lalu dengan gerakan seperti monyet pula dia berlari-lari ke arah pemuda itu, Si pemuda tertegun, dia heran juga bingung. Selagi Pemanah bintang terkesima, tiba-tiba Pengemis Nyawa melompat. Lompatannya bukan mengarah kepada pemuda itu, tapi yang terjadi kemudian, Pemanah Bintang meraung keras ketika tinju Pengemis Nyawa tiba-tiba menggebrak dadanya. 

Pemuda ini terhuyung, dia megap-megap karena merasa sulit bernafas, Sekejab dia berusaha mengatur aliran darahnya yang sempat kacau. Setelah peredaran darahnya normal dan rasa sakit berkurang dia segera membuka jurus baru untuk menyerang Pengemis Nyawa. Namun kemudian Pemanah Bintang Jadi melongo ketika melihat lawannya malah duduk menjelepok di atas tanah. Tangannya sibuk menoreh permukaan tanah. Ya, Pengemis Nyawa menggambar seseorang. Tidak lama ketika ujud gambaran tak karuan itu tercipta dia menggumam sendiri. 

"Misalnya gambar ini adalah musuhku. Maka aku akan menusuk bagian jantungnya dengan tongkatku ini!" 

Gumamnya. Lalu tongkat hitam itu dihantamkan tepat di bagian kiri gambar. 

"Gekgh...." 

Pemanah Bintang mengeluh tertahan. Dia mendekap dadanya yang sakit seperti ditusuk. Pemuda itu mencoba menghilangkan rasa sakit dengan mengerahkan tenaga dalam. Rasa sakit berkurang. Pengemis Nyawa bersikap acuh. Seperti orang gila dia menggerutu sendiri. 

"Oh hebat juga, musuhku bisa memunahkan serangan di jantung." Ujarnya sambil terus mengawasi gambar yang dibuatnya dengan guratan ujung jari.

"Hmm, sekarang aku ingin menggetok kepalanya dengan tongkatku. Kukira kepalanya perlu diberi pelajaran agar tidak membunuh lagi dengan sewenang-wenang!" 

Ujar Pengemis Nyawa. Dan dia pukulkan ujung tongkatnya ke arah gambar di tanah tepat di bagian kepala. Tuuk! 

"Akhh..." 

Lagi-lagi Pemanah Bintang menjerit sambil dekap kepalanya yang sakit seperti dihantam palu godam, Pengemis Nyawa tertawa terbahak-bahak sambil perhatikan gambar yang dibuatnya sendiri. Seperti orang kurang waras dia bicara sendiri. 

"Sekarang baru tahu rasa dia!" Pemanah Bintang menggeram. 

"Dia menyerangku melalui gambar yang dibuatnya. Dia tidak menggunakan ilmu sihir, dia jelas-jelas menggunakan tenaga dalam. Aku tidak ingin menjadi bulan-bulanan seperti ini. Aku harus menyerangnya karena dia jelas jelas menyerangku!" Batin pemuda itu. 

"Ha ha ha! Telah kupukul kepalanya dengan tongkat. Aku yakin kepalanya jadi benjol. Sekarang bagian mana lagi yang perlu kugebuk. Oh, buat apa aku memberinya kesempatan. Biar kupukul remuk pinggangnya. Ya-ya-ya, kalau pinggangnya sudah kubuat remuk, maka dia tidak akan bisa berbuat apaapa"       Ujar Pengemis Nyawa. 

"Pengemis Nyawa, lihat diriku! Aku sudah muak melihat dirimu memamerkan ilmu rongsokanmu!" Kata Pemanah Bintang. Pengemis Nyawa menoleh, dia terkesima. Saat itu dia melihat Pemanah Bintang telah melesat ke arahnya. Kaki pemuda itu menghantam lurus ke bagian pelipis sedangkan tangannya mencengkeram ke bagian rambut. Pengemis Nyawa tertawa mengekeh. Orang tua ini nampak tenang sekali. 

Dia bungkukkan badan, sedangkan tongkat ditangan diputar menggebuk ke arah kaki yang menderu ke wajah dan tangan yang siap mencengkeram batok kepalanya. Pemanah Bintang terkejut bukan kepalang. Dia tidak menyangka lawan dapat berbuat seperti itu. Namun dia segera merubah arah serangan. Kali ini kakinya ditarik, serangan kaki dibatalkan, si pemuda memutar badannya. Kini tangannya mengemplang ke bagian tengkuk dan bahu. 

Pengemis Nyawa tertawa mengekeh. Dia jatuhkan diri dan bergulingan menghindar dari serangan. Lawan mengejarnya lalu melepaskan tendangan beruntun. Melihat ini Pengemis Nyawa memutar tongkatnya, tongkat menderu mengeluarkan suara bergemuruh dahsyat. Sosok Pengemis Nyawa lenyap terbungkus sinar hitam yang dipancarkan oleh tongkat si kakek. Pemanah Bintang menggeram, secepat apapun dia mencoba menembus pertahanan lawannya, namun dia tidak juga bisa melakukannya. 

Pemuda itu melompat mundur, begitu jejakkan kaki dia segera melepaskan pukulan tangan kosong. Wuut! Wuut! Pengemis Nyawa yang tidak menyangka serangan mendadak ini sebenarnya baru saja hendak bangkit berdiri. Kini demi melihat bahaya mengancam jiwanya dia segera membungkuk, dengan kaki depan ditekuk dia menangkis. Buum! Pengemis Nyawa yang mencoba menangkis pukulan Pemanah Bintang dengan tongkatnya jatuh terpental. Bagian ujung tongkat hancur menjadi serpihan kecil sepanjang satu jengkal. 

"Bangsat jahanam! Kau benar-benar telah melenyapkan kesabaranku!" geram laki-laki itu sinis. 

Jika tadi hanya mempergunakan tongkat, kini Pengemis Nyawa mengeluarkan batok hitam yang terbuat dari tengkorak manusia.

"Kau tidak bakal lolos dari kematian, Pemanah Bintang?!" Ujar Pengemis Nyawa kalap. 

"Hal yang sama telah kau katakan berulang kali. Majulah, aku sudah tahu kehebatan batok tengkorak di tangan kirimu itu!" Ujar Pemanah Bintang. 

Pengemis Nyawa menyeringai. Batok di tangan kiri diangkat di atas kepala. Setelah itu dia mulai membaca mantra-mantra. Pemanah Bintang memperhatikan setiap perkembangan sekecil apapun yang terjadi. Apalagi dia menyadari batok tengkorak berwarna hitam itu sangat berbahaya dan banyak menimbulkan malapetaka. Mulut Pengemis Nyawa masih terus berkemakkemik. Batok di atas ubun ubun laki-laki itu mengepulkan asap yang menebarkan bau busuk menyengat. Matanya yang hitam makin bertambah hitam. 

Sekujur tubuhnya bergetar. Keringat sebesar-besar jagung membasahi pakaiannya. Kemudian dengan mata mendelik seperti orang yang kesurupan Pengemis Nyawa acungkan tongkat ditangannya ke arah lawan. Pemanah Bintang terguncang,tidak ada angin yang menderu, tidak ada cahaya yang melesat namun serangan tongkat itu membuatnya mengalami tekanan yang hebat. Pemanah Bintang terpaksa merangkapkan kedua tangan di depan dada. 

Setelah itu tangannya didorong ke arah lawan. Pengemis Nyawa terguncang, adu kesaktian itu terus berlangsung. Pengemis Nyawa kini menyadari tekanan tenaga dalam yang dikeluarkan pemuda itu semakin lama semakin tinggi. Dia segera menurunkan batok tengkorak hitam dari atas kepala. Setelah itu batok didorongnya ke arah Pemanah Bintang.

"Aku meminta nyawamu!" Teriak sang pengemis. 

Seperti terbang dia melesat ke arah pemuda itu. Batok ditangannya diarahkan ke bagian wajah dengan gerakan menutup wajah itu. Seandainya niat Pengemis Nyawa kesampaian, akibat yang akan terjadi pada pemuda itu sangat fatal. Dia bisa kehilangan nyawa saat itu juga. Namun Pemanah Bintang segera menyadari, ketika batok hitam menyambar ke bagian wajah, ada hawa aneh menyedot muka dan menyirap darah yang terdapat di sekitar kepala. Tidak ada pilihan lain, Pemanah Bintang memutuskan untuk menghindar. 

Mula-mula batok yang siap menyergap wajahnya dia tepis dengan keras hingga membuat Pengemis Nyawa limbung. Kesempatan ini dipergunakan Pemanah Bintang dengan menghantam punggung lawannya. Pengemis Nyawa masih sempat menggerakkan tongkat ke belakang dalam upaya menangkis. Namun gerakan tongkatnya kalah cepat dengan serangan pemuda itu. Tidak ayal lagi Pengemis Nyawa jatuh tersungkur. 

"Tidak ada gunanya kau mengumbar nafsu ingin membunuh diriku. Sebagai manusia aku memiliki batas kesabaran!" Teriak Pemanah Bintang. Pengemis Nyawa yang sudah berdiri tertawa dingin.

"Sejak tadi kemarahanmulah yang kutunggutunggu. Sekarang tunggu apa lagi, aku sudah tidak sabar melihat sampai di mana kehebatanmu!" ujar Pengemis Nyawa. 

Laki-laki itu lalu memutar tongkat ditangannya, sementara batok di tangan kiri berkelebat menyambar disertai berkiblatnya cahaya hitam dan dengung menggiriskan. Merasakan sambaran angin dari jurus yang dipergunakan Pengemis Nyawa, Pemanah Bintang menyadari lawan benar-benar ingin membunuhnya. Dia tidak punya pilihan lain. Tangannya segera dikepal. Seluruh kekuatan diarahkan ke sekujur tubuh. Wajah pemuda itu nampak tegang. Selanjutnya dia berteriak 

"Aku akan menuruti permintaanmu. Mari mengadu jiwa dan kita tentukan siapa yang bakal pergi ke kubur duluan!" 

Pemanah Bintang mengakhiri ucapannya dengan satu serangan cepat. Sementara dari arah depan, Pengemis Nyawa dengan penuh rasa percaya diri juga melakukan gebrakan. Tindakan yang dia lakukan sama seperti yang dilakukan Pemanah Bintang. Dia juga berlari ke depan menyambut serangan Pemanah Bintang dengan tidak kalah sengitnya. Ketika keduanya sama mendekat, tongkat di tangan Pengemis Nyawa bergerak melakukan tusukan dan memukul.

Sementara batok hitam di tangan orang tua itu menderu ke bagian jantung dan tenggorokan Pemanah Bintang. Jika batok tengkorak itu hanya senjata biasa, tentu Pemanah Bintang tidak perlu merasa khawatir. Batok hitam ternyata menyimpan kekuatan gaib sehingga bila telah mendekat ke arah sasaran kekuatan itu bekerja. Hasilnya kulit dan daging lawan seperti dibetot.

"Batok itu mempunyai daya sedot yang sangat luar biasa. Senjata satu ini tidak boleh menyentuh tubuhku. Aku tidak ingin terkena serangan batok yang bisa membuat bagian tubuhku growak bolong.. Apa akal?!" 

Batin Pemanah Bintang sambil menghantam dengan kekuatan penuh. Angin menggulung-gulung tidak ubahnya seperti gelombang laut ganas yang menghantam pantai. Pengemis Nyawa terdorong keras, namun dia segera memutar tongkat melindungi diri. Putaran tongkat untuk beberapa jenak dapat menahan serangan pemuda itu, namun kemudian terdengar suara berderak. Tongkat hancur berkepingkeping. 

Pengemis Nyawa menggerutu, dia tidak ingin celaka tersapu serbuan angin keras yang terjadi akibat pukulan lawarnnya, karena itu dia menggunakan batok sakti di tangannya untuk menahan laju serangan Pemanah Bintang. Begitu batok hitam ditadahkan, deru angin yang sangat hebat itu tersedot masuk ke dalam batok. Akibatnya tidak sampai di sana, bukan hanya pukulan si pemuda saja yang dibuat amblas tidak tersisa, sebaliknya tubuh Pemanah Bintang sendiri sekarang mulai tersedot ke arah batok yang menghadap ke arahnya. 

Pemuda ini terkejut sekali, tubuhnya terus terseret mendekat ke arah batok maut. Pemanah Bintang terpaksa mengerahkan tenaga dalam ke bagian kaki untuk bertahan. Sementara dia segera mencabut Panah Sirna Raga dan merentang busur kesayangannya. Ketika anak panah terpasang dibusurnya. Terlihat cahaya putih menyilaukan memancar dari anak panah itu 

"Sudah lama aku mendengar kehebatan anak panah itu! Kudengar kau juga seorang pemanah nomor satu yang tiada tanding.Itu sebabnya kau dijuluki Pemanah Bintang.Aku ingin melihat apakah batok sakti dari Tengkorak Kaluak ini sanggup menahan anak panahmu atau tidak.Tunggu apa lagi. Sekali lagi aku memutar batok ini, anggota badanmu pasti akan tercabut dari tempatnya masing-masing."

"Mulutmu terlalu takabur, aku tidak berani menjamin apakah dirimu dapat bertahan!" 

Kata Pemanah Bintang dengan suara dingin. Busur direntang lebar, anak panah kemudian dilepaskan. Blaam! Ketika anak panah melesat meninggalkan busurnya, terdengar suara ledakan yang disertai dengan berkiblatnya cahaya putih berhaWa panas mengerikan. Suasana di tepi sungai yang sejuk serta merta berubah panas seperti di neraka. Anak panah itu melesat ke arah Pengemis Nyawa, sedangkan sang pengemis menadahkan batok di tangannya dengan kekuatan penuh ke arah anak panah tersebut. 

Tanpa dapat dihindari lagi, anak panah menembus batok, menghancurkan benda sakti itu dan melenyapkan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Pengemis Nyawa menjerit. Anak panah kembali berputar ke arah Pemanah Bintang. Ketika anak panah berhasil ditangkapnya, dia melihat dari bagian mata anak panah hingga ke ujungnya tampak berwarna merah darah. 

Pemanah Bintang meniup sisa-sisa darah itu. Dia lalu memasukkan anak panah ke tempat semula. Perlahan dia memandang ke depan. Di depan sana Pengemis Nyawa tegak berdiri, dia memandang ke arah batok saktinya dengan mata molotot tidak percaya. 

"Tidak mungkin! Senjataku yang hitam kini mengapa berubah memutih seolah tidak mempunyai kekuatan lagi" ujar orang tua itu. "Senjatamu sudah tidak berguna, senjata itu telah kehilangan kekuatannya. Senjataku telah menghancurkan kekuatannya!" Ujar Pemanah Bintang dingin.

"Keparat! Senjatamu ternyata cukup hebat. Tapi dia hanya menghancurkan batok saktiku. Dia tidak mampu melukai diriku!" Ujar Pengemis Nyawa. 

"Keadaanmu menyedihkan, ucapanmu melantur. Apakah kau tidak melihat bagaimana perutmu?" Kata Pemanah Bintang. 

"Huh, ada apa dengan perutku?" 

Tanya Pengemis Nyawa. Perlahan dia memandang ke arah perutnya. Mataya terbelalak lebar, wajah laki-laki itu berubah pucat. Dia melihat perutnya berlubang besar, darah mengucur sedangkan ususnya berburaian. Ketika dia meraba ke bagian punggung, punggungnya juga berlubang besar.

"Ah, anak panahmu ternyata telah menembus tubuhku sampai ke punggung. Uh, aku pasti mati, tapi mengapa aku tidak merasakan sakit apa-apa?" Tanya Pengemis Nyawa dengan suara tergetar. 

"Pengemis Nyawa. Keadaanmu sungguh menggenaskan. Tidak lama lagi tubuhmu akan mengeras seperti batu pualam, sedangkan setelah itu tubuhmu yang membatu itu akan hancur berkeping-keping bahkan menjadi serpihan debu. Apa yang akan kau lakukan?"

Pengemis Nyawa diam membisu, dia merasa bagian kakinya mulai mengeras dan tidak dapat digerakkan lagi. Kedua tangannya juga begitu, lalu menyusul ke kepalanya berubah membatu. Namun dia masih dapat bicara walau dengan terpatah-patah.

"Kau membunuhku, maka kelak akan datang kakek moyangnya Pengemis Nyawa untuk menagih hutang kepadamu. Aku telah mengirim isyarat kematianku pada kakekku. Kau tidak akan lolos.... aku....hugkh....aku mulai sulit bernafas....aku...!" 

Pengemis Nyawa tidak sempat melanjutkan ucapannya. Pada saat itu sekujur tubuhnya beruah menjadi batu. Dalam keadaan sedemikian rupa sebuah proses pun berlangsung. Tubuh yang membatu itu mengalami keretakan di sana sini. Akhirnya terdengar suara ledakan berdentum. Tubuh Pengemis Nyawa hancur berkeping-keping. Serpihannya berhamburan ke segenap penjuru arah. Pemanah Bintang menahan nafas. Dia memandang ke arah serpihan tubuh lawannya dengan perasaan tidak menentu. Di dalam hati kecilnya dia berkata. 

"Aku telah membunuh, aku telah menumpahkan darah. Ini semua adalah resiko dari keinginanku yang ingin menuntut balas pada orang-orang yang ikut bertanggung jawab membantai kerabat di Lembah Batas Dunia. Sandi Laya, mungkin arwahmu tidak akan tenang sebelum aku dapat membalaskan kematianmu. Tapi kau tidak perlu risau, hidupku kini sudah tidak lagi mengenal pantangan....!" Ujar pemuda itu. 

Selesai berkata begitu, pemuda itu memutar badan dan siap kembali ke Lembah Batas Dunia. Tetapi baru beberapa tindak dia melangkah, tiba-tiba terdengar suara desis di belakangnya. Pemuda ini menoleh, dia tidak melihat apa-apa dibelakangnya terkecuali tebing baru di seberang sungai. 

"Aneh, aku merasa ada orang yang mengawasiku, tapi mengapa aku tidak melihatnya?" Batin pemuda itu. 

"Apakah semua ini hanya perasaanku saja?!" Pemanah Bintang menggeleng perlahan. 

Dia kemudian berjalan meninggalkan tepian sungai itu. Baru beberapa puluh tombak pemuda ini melangkah. Sayup-sayup dia mendengar suara di depan sana. Dia menatap ke arah jurusan di mana suara itu berasal. Tidak terlihat siapa-siapa terkecuali semak belukar dan pepohonan menjulang tinggi. 

"Pemanah Bintang! Aku tahu kau tidak akan suka dengan apa yang kulakukan ini.Tapi kau harus datang kemari karena aku membawakan oleh-oleh untukmu!" Kata suara itu. 

Walau suara yang dia dengar hanya berupa ngiangan, dia yakin orang yang bicara tidak jauh dari tempat dirinya berada. Pemanah Bintang tidak ingin menanggapi, namun hatinya penasaran. Dia lalu bertanya. 

"Siapa kau? Suaramu berubah-ubah, aku tidak mengenalinya?!"

"Kau tidak mengenal ataukah pura-pura tidak kenal? Kau tidak boleh bersikap begitu, bukankah aku sudah mengatakan aku membawakan oleh-oleh untukmu.Oleh-oleh itu kuletakkan di bawah pohon, kututup dengan daun talas besar.Kemarilah, kau pasti akan menyukainya!" 

Kata suara itu. Pemanah Bintang berpikir siapapun orang yang bicara melalui ilmu mengirimkan suara itu pasti memiliki tujuan yang tidak baik. Kemudian dia bartanya pada dirinya sendiri apakah perlu dia menanggapi? 

"Pemanah Bintang, sejak dulu kau selalu terjebak dalam keraguan.Keraguan itu yang telah membuat dirimu terombang-ambing dalam kebimbangan. Sekarang setelah kau melanggar pantangan, masih pantaskah kau menganggap dirimu manusia mulia? Tidak! Kau tidak lagi mempunyai kemuliaan apa-apa.Kau telah sama seperti yang lain, kau seorang pendosa." 

Pemanah Bintang tercekat, bagaimana orang bisa mengetahui dirinya pernah terombang-ambing dalam kebimbangan. Apakah mungkin orang yang bicara melalui ilmu mengirimkan suara mengenal dirinya? 

"Kau siapa? Aku paling tidak suka bicara dengan orang yang tidak mau menunjukkan diri. Sikapmu itu kuanggap sikap manusia pengecut!" Dengus pemuda itu. Terdengar suara menggeram dan tawa terputus putus.

"Aku boleh kau sebut teman, aku juga bisa dikatakan sebagai musuhmu. Semua tergantung dari sudut mana kau melihatku.Tapi kukira semua itu tidak penting bukan? Itu sebabnya untuk menilai diriku, kau harus melihat dulu oleh-oleh yang kubawa khusus untukmu. Tak usah ragu, datanglah kemari di balik pohon ini!" Ujar suara itu setengah memaksa. 

Pemuda ini jadi penasaran. Dengan langkah lebar dia menuju ke arah pohon besar yang terdapat di balik semak belukar. Setelah melewati onak dan duri, pemuda ini akhirnya sampai di pohon yang dituju. Jantung pemuda ini berdebar begitu melihat sebuah bungkusan yang diatasnya tertutup sehelai daun talas "Apa kira-kira isi bungkusan itu?" 

Pemanah Bintang membatin dalam hati. Dia melangkah lebih dekat lagi. Sesampainya dekat bungkusan tersebut justru jantungnya berdetak kian kencang, tubuhnya gemetar dan otaknya agak tegang. Si pemuda tidak berbuat apa-apa, dia hanya menatap bungkusan itu tanpa berani menyentuhnya. Sementara agaknya semua gerak gerik pemuda ini berada dalam pengawasan orang yang mengajaknya bicara, terbukti tidak lama setelah itu Pemanah Bintang kembali mendengar suaranya.

"Kau ini manusia tolol! Mengapa kau tidak segera membuka bungkusan yang kupersembahkan padamu? Padahal aku membawanya dari jauh dan khusus kupersembahkan untukmu!" 

Pemanah Bintang diam membisu, sungguhpun dia merasa tersinggung dengan kata-kata yang dianggapnya kasar itu namun dia tidak menunjukkan reaksi marah. Pemuda itu kemudian berjongkok.

Dengan jari-jari gemetar daun talas yang menutupi bagian atas bungkusan dari kulit disingkirkannya. Kini setelah daun talas disingkirkan dia melihat bungkusan itu dengan jelas. Bungkusan berbentuk empat persegi itu dikemas rapi, ada beberapa tali yang mengikat bagian luarnya. Dia memperhatikan keadaan disekelilingnya, setelah merasa yakin bahwa hanya dirinya saja yang berada di tempat itu, maka pemuda ini mulai membuka simpul-simpul tali yang mengikatnya. Begitu ikatan terbuka, pemuda ini kembali dikejutkan oleh suara yang didengarnya tadi. 

"Pemanah Bintang, setelah bungkusan itu kau lihat.Di sini, di dekatku ini masih kusediakan oleholeh yang lain.Kau pasti merasa senang menerimanya atau sedih melihatnya. Kau tidak perlu berkecil hati, karena aku akan terus mengawasi gerak-gerikmu.Nah, sekarang kau bukalah kotak kecil yang sangat sederhana ini!" ujar suara itu. 

Seperti terpengaruh Pemanah Bintang segera membuka penutup kotak. Begitu penutupnya terbuka maka seketika itu juga tercium bau busuk yang menyengat. Pemanah Bintang menahan nafas sambil memegangi perutnya yang terasa mual. Kemudian dengan tangan kiri dia membalikkan mulut kotak kayu ke bawah hingga isi kotak menggelinding keluar. Begitu melihat apa isi kota itu Pemanah Bintang terduduk lemas. Dia meraung. 

"Keparat! Apa yang kau lakukan terhadapnya?!!"

Teriak Pemanah Bintang dalam raungan marah. Pemuda itu mendengar tawa tergelak-gelak. Dia menatap ke arah potongan kepala yang mulai membusuk dan tampak membiru di bagian wajahnya. Potongan kepala itu bukan lain adalah milik Sandi Laya 

"Mengapa kau marah? Bukankah Sandi Laya telah mati.Pembunuhnya adalah Sabarantu, mahluk berkaki dan bertangan seperti cakar?" Kata suara itu mengingatkan. "Aku tahu dia telah tewas, aku tidak sempat mengurus jasadnya, tapi mengapa kau perlakukan orang yang sudah mati dengan cara seperti ini?" Geram pemuda itu sengit. 

"Akh kau masih juga belum mengerti. Kupersembahkan kepala saudaramu sebagai sebuah pertanda bahwa kau juga harus melunasi hutang dosamu. Aku tidak pernah menghutangkan dosa pada siapa pun? Siapa kau?!" dengus Pemanah Bintang sambil memasukkan kepala Sandi Laya ke dalam kotak. 

"Ha ha ha! Benarkah begitu? Tidakkah kau menyadari bahwa di antara jutaan orang yang bertebaran di muka bumi ini, kaulah orangnya yang paling aku benci. Aku sangat ingin menyingkirkan manusia pendusta seperti dirimu!"

"Kurang ajar! Kau mengira aku takut padamu, tidak ada hujan tidak ada silang sengketa,, tahu-tahu kau muncul membakar kemarahan dihatiku!" Teriak pemuda itu. Terdengar suara tawa mengekeh. "Kau penasaran? Datanglah kemari, aku menunggumu!" Tantang suara itu. Pemanah Bintang menggeram. Tanpa bicara lagi dia segera berlari ke arah dimana suara itu berasal. Pemuda ini nampaknya bukan hanya marah melihat kepala Sandi Laya dipermainkan orang. lebih jauh lagi sesungguhnya dirinya penasaran sekali. 

S E L E S A I