Serial Pendekar Pedang Roh eps 04 : Pedang Cacat Jiwa

Suasana gelap gulita dan udara lembab yang pengap mewarnai keadaan di kota Lema. Kota yang sempat terputus hubungan dengan dunia luar itu seperti yang telah sama kita ketahui secara kebetulan ditemukan oleh dewa yang sedang menjalani hukuman di dunia manusia. Orang itu bukan lain adalah Ki Burik Lese. Ki Burik tidak sendiri. Orang tua ini ditemani sahabatnya Ki Ladung Kosa.

Demi mencari jejak pedang Cacat Jiwa, kini kedua tokoh yang memiliki kesaktian tinggi ini terus melakukan penyelidikan di bagian dalam kota yang cukup aneh dan asing. Ketika mereka memasuki kota melalui anak tangga yang membentang dari belahan barat hingga ke bagian timur, keduanya sama berpendapat kota Lama pasti sudah tidak memiliki kehidupan lagi.

Mereka berpendapat demikian mengingat jalan utama yang menghubungkan kota Lama dengan dunia luar terputus oleh rimbunan tanah akibat bencana alam yang terjadi ratusan tahun lalu. Tetapi setelah memasuki kota Lama yang gelap gulita, semua yang mereka perkirakan ternyata meleset. Di sebuah bangunan yang keseluruhannya terdiri dari batu mereka menemukan seorang gadis. Gadis jaman dulu berpakaian ala kadarnya dan telah lapuk.

Menurut pengakuan gadis yang bernama Seruni itu, dirinya memiliki ilmu mati suri. Kemungkinan karena ilmunya itu yang membuatnya tetap bertahan hidup. Sekarang tidak hanya Ki Burik Lose dan Ki Ladung Kosa saja yang berada di kota Lama. Segera setelah bertemu dengan Seruni, mereka bertiga segera melakukan penyisiran di seluruh penjuru kota yang gelap.

Saat itu Ki Burik yang memegang Batu Cahaya tampak memimpin di depan. Dan mereka bertiga tidak berada di jalan, melainkan berdiri tegak di atas satu bangunan beratap batu putih yang amat licin dan ditumbuhi lumut. Ki Burik dengan suara lirih berkata,

"Kita berada pada posisi yang kurang menguntungkan."

"Apa maksudmu Ki ? Kita ada di atas ketinggian, jelas posisi kita di tempat yang aman. Lagi pula aku tidak yakin masih ada yang hidup di tempat ini. Maksudku tentu selain gadis ini,"

Kata Ki Ladung Kosa, menyela. Gadis yang bernama Seruni tidak menanggapi. Dia memperhatikan keadaan di sekeliling bangunan itu. Dia melihat bangunan yang lain, tapi sejauh itu dia tidak dapat memastikan mana di antara sekian banyak bangunan megah penuh batu ukiran yang akan mereka tuju.

"Dalam gelap seperti ini. Aku merasa lebih baik kita keluar secepatnya." Ki Burik tiba-tiba menyampaikan unek-uneknya.

"Apa lagi yang kau khawatirkan sahabatku??"

Ki Burik memandang ke arah kakek bungkuk ompong itu. Matanya berkedap kedip. Sebagai seorang dewa, tidak ada yang dia risaukan. Tapi sebagai orang yang memiliki sahabat, tentu saja dia mencemaskan keselamatan Ki Ladung. Apalagi mereka belum mengenal Seruni. Dia berfikir gadis yang dijumpainya di kota mati itu kemungkinan memang telah bicara sejujurnya, namun tidak tertutup kemungkinan lain bahwa Seruni berbohong untuk merahasiakan sesuatu.

Kesanggupannya untuk bertahan selama ratusan tahun dari kematian bagi kakek ini sudah menimbulkan keheranan tersendiri. Walaupun Seruni mengaku mempunyai ilmu Mati Suri, bukan berarti Ki Burik harus percaya pada pengakuannya.

"Dia harus waspada, bahaya apapun bisa saja muncul dengan tidak terduga apalagi di tempat asing itu."  

"Apakah kau tidak merasakan ada yang ganjil?" Tanya Ki Burik Lose perlahan.

"Entahlah, mungkin di tempat ini banyak arwah-arwah gentayangan. Kau bisa membayangkan sendiri berapa ribu nyawa orang yang meregang nyawa ketika jalan utama di ujung tangga itu tertimbun lengseran batu. Jadi sangat wajar sekali bila mereka mati penasaran."

Ki Ladung memberi komentar. Bibirnya tersenyum, namun wajahnya nampak tegang. "Jika begitu kita harus lebih waspada!" ujar Ki Burik mengingatkan.

Tapi peringatan itu justru disambut dengan tawa oleh Seruni. Ki Burik melotot, "Apakah ada yang lucu dalam ucapanku? Kurasa aku tidak berlebihan."

Kata kakek itu bersungut sungut. Seruni menghentikan lawanya. Sambil menahan tawa gadis itu berkata.

"Orang tua, kuharap kau tidak tersinggung. Mungkin kau beranggapan apa yang kau katakan tidak lucu, namun bagiku hanya membuat aku geli. Coba kau pikir sendiri. Mana mungkin orang yang sudah mati di sini sekarang arwahnya bergentayangan mengancam keselamatan kita. Kau tidak perlu berlebihan. Kalau tempat ini berbahaya, tentu aku sudah menjadi korban selagi berada dalam tidur yang panjang"  

"Kurasa yang dikatakannya benar!" Kata Ki Ladung Kosa. "Kita tak usah berlebihan."

"Sekarang lebih baik kita lanjutkan pencarian kita."

"Pencarian apa? Apakah kau yakin Sapta Jagad dan perempuan yang bernama Aramimbi itu benar-benar berada di sini?"

"Orang tua. Aku satu-satunya saksi hidup yang mengetahui bahwa mereka datang di tempat ini. Waktu itu aku sempat melakukan penyelidikan. Tempat persembunyian mereka telah kuketahui, namun sebelum sempat aku datang menemui Sapta Jagad bencana datang menimpa dan mengubur semua yang ada di sini hidup-hidup." Ujar Seruni tidak senang.

Ki Burik, manggut-manggut. Manusia penjelmaan Dewa ini sangat wajar dengan kecurigaannya sebab dibandingkan dengan Ki Ladung Kosa. Ki Burik yang memiliki penglihatan sangat tajam.  

"Sekarang apa rencanamu?" Tanya orang tua itu dengan tatapan tajam menusuk

"Kita harus mencari Sapta Jagad dan Aramimbi." Jawab gadis itu tegas. Mata orang tua itu menerawang.

"Kau agaknya punya dendam kesumat tersendiri terhadap Sapta Jagad dan Aramimbi."

"Kemarahanmu karena ada dorongan rasa cinta dan cemburu pada perempuan itu. Jadi bukan karena Pedang Cacat Jiwa. Apakah Sapta Jagad dan Aramimbi juga masih hidup seperti halnya dirimu? Bagaimana kalau mereka juga telah mati sebagaimana halnya penduduk kota Lama ini?" Ujar Ki Burik Lose penuh bijaksana.

Seruni menggelengkan kepala dengan keras "Orang tua, kalian berdua tidak mengenal siapa Sapta Jagad. Laki-laki itu adalah tokoh maha sakti yang tiada tandingan. Kesaktian yang kumiliki bahkan berada jauh di bawahnya. Dia menjadi lebih berbahaya bahkan mustahil dihentikan jika Pedang Cacat Jiwa ada di tangannya."

"Kurasa ini sebuah persoalan yang tidak mudah." KI Ladung Kasa menanggapi.

"Seruni, sebagai kekasih Sapta Jagad. Tentu kau mengetahui seberapa hebat pedang itu?"

"Tidak semua kukuasai. Sejak perempuan laknat bernama Aramimbi itu hadir dalam kehidupan Sapta Jagad. Jalan hidup Sapta Jagad lebih cenderung mengikuti kehendak nafsu serakahnya. Pernah suatu saat ada belasan tokoh berkepandaian sangat tinggi mengepung Sapta Jagad dengan tujuan ingin merebut senjata itu. Sapta Jagad kulihat sangat gusar sekali. Kemudian dia mencabut senjata itu, aku melihat pedang Cacat Jiwa begitu keluar dari rangkanya langsung memancarkan cahaya menyilaukan mata. Cahaya itu amat menggidikkan, lalu kulihat sinar pedang menghanguskan belasan lawan yang lengah padahal Sapta Jagad tidak menggunakan pedang untuk menyerang mereka."

"Gila! Sungguh senjata yang mengerikan. Aku tidak yakin dapat menghadapi tantangan dengan resiko seberat itu." Gumam Ki Ladung Kosa.

"Persoalannya memang cukup berat, tapi patut diingat kita bukan bermaksud ingin memiliki. Alangkah baiknya bila senjata itu bisa kita ambil, aku akan membawanya ke langit untuk disimpan oleh para dewa di sana mengingat bahan untuk membuat senjata juga berasal dari sana." Kata Ki Burik Loso.

"Aku setuju." Ujar Ki Ladung Kosa. Lain halnya dengan Seruni, dia hanya diam saja tidak memberi pendapat apa-apa. Ini yang membuat Ki Ladung menduga bahwa tidak mustahil Seruni Ingin memanfaatkan mereka demi untuk mencari keuntungan pribadi.

"Jalan masih panjang. Kita tidak tahu apakah kita bisa lolos dari petaka ataukah kita bakal berhasil mengambil alih Pedang Cacat Jiwa dari tangan Sapta Jagad. Sekarang tunggu apa lagi? Kita harus mencari dan menemukan kedua orang itu secepatnya."

Kata Seruni tidak sabar. KI Burik baru saja hendak menuruti keinginan gadis itu, namun tanpa terduga dia melihat sesuatu dikejauhan.

"Lihat ...!"

Serunya. Semua mata kini memandang ke arah yang ditunjuk oleh kakek jelmaan Dewa ini. Astaga! Baik Seruni maupun si kakek bungkuk sama belalakan mata. Mereka tidak tahu bagaimana harus bersikap, ketika melihat cahaya terang yang muncul menerangi sebagian kecil kota, mereka sempat merasa lega juga gembira. Cahaya itu jelas datang dari belasan rumah yang terdapat di sebelah selatan mereka. Tetapi begitu ingat siapa yang menyalakan lampu-lampu yang tampaknya berasal dari pelita raksasa itu maka yang terbayang oleh mereka adalah sosok-sosok wajah mengerikan.  

"Yang kita lihat ini apakah keanehan ataukah keajaiban?" Gumam Ki Ladung dengan wajah tegang.  

"Aku sendiri tidak tahu. Siapa yang menyalakan pelita bagiku masih tanda tanya. Jika manusia, berarti bukan hanya diri ku yang bertahan hidup di kota ini. Pasti masih ada yang lain."  

"Aku sudah tidak sabar, bukan mustahil ini merupakan sebuah perangkap bagi kita." Gumam gadis itu.

Dia nampak gelisah, perasaannya tidak enak. Dia ingin mengatakan sesuatu pada kedua orang tua yang telah membuka jalan ke kota Lama itu, namun dia takut penjelasannya justru bakal membatalkan keinginan mereka untuk menemukan Sapta Jagad dan Aramimbi. Padahal Seruni tidak ingin hal itu sampai terjadi.

"Kita segera tahu apakah kita ini benar-benar telah mati ataukah masih ada kehidupan yang lain. Sekarang kita menyelidik."

Ki Burik rupanya sudah bulat dengan keputusannya. Sehingga dia segera mengajak si kakek ompong dan Seruni untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Mereka bertiga berkelebat tinggalkan tempat itu. Namun dalam perjalanan menuju ke arah bangunan yang mereka tuju serta merta terdengar suara gaung aneh. Suara itu begitu menusuk tajam hingga membuat sakit telinga mereka. Tanpa bicara mereka segera mengambil tindakan menyumbat telinga dengan menggunakan tenaga dalam.

Semakin lama suara gaung semakin bertambah keras hingga membuat seluruh penjuru kota bergetar. Beberapa bangunan di sekitar tempat yang mereka lewati roboh, atapnya beterbangan. Seiring dengan Itu tulang belulang yang terdapat di sekitar rumah yang jebol juga berpentalan di udara.

"Ada yang menyerang kita!" Teriak Ki Ladung yang berlari di sebelah kanan Ki Burik.

"Kita tidak dapat memastikan. Kita lihat saja dulu!" Ujar orang tua itu.

Sementara itu di sebuah tempat tidak jauh dari ketiga orang yang sedang melakukan pencarian ini, tepatnya di dalam sebuah rumah patung pemujaan seorang perempuan tua renta justru sedang sibuk membersihkan tubuhnya yang terbungkus sarang laba-laba. Perempuan itu sudah sangat tua sekali rambutnya telah memutih. Sambil membersihkan diri dari kotoran yang menempel di badan, si nenek berucap.

"Sudah sangat lama kutunggu-tunggu kesempatan ini. Aku sudah yakin pada akhirnya aku bisa bebas dari kota terkutuk ini. Kebebasan ditandai dengan hembusan angin yang datang dari dunia luar. Dan sekarang kebebasan benar-benar kurasakan. Lampu menyala. Tapi...!"

Si nenek tiba-tiba terdiam. Dia berjalan mondar-mandir sambil berpikir. Tidak berselang lama dia rupanya ingat sesuatu.

"Aku belum melihat bagaimana rupaku. Tidak ada air yang dapat kupergunakan untuk bercermin. Dan... oh tidak. Aku tidak butuh kekasihku itu, sekarang justu aku harus mengambil senjata sebelum ditemukan oleh orang lain." Ujar si nenek.

Serta merta si nenek hantamkan tangannya ke arah pintu rumah patung. Pintupun kemudian hancur dan si nenek melesat keluar dengan tubuh melayang seperti seekor burung yang terbang. Keluarnya nenek ini ternyata diketahui oleh Seruni. Dia tiba-tiba menghentikan langkahnya kemudian menunjuk ke atas. Semua mata lalu memandang sama.

"Aku melihat ada burung putih terbang. Dia nampaknya menuju ke arah tangga keluar." Seru gadis itu kaget.

"Itu bukan burung, tapi orang yang menggunakan kekuatannya hingga dia berlari cepat di atas ketinggian."       Kata Ki Burik yang dapat melihat sosok melayang itu walau cuma sekilas.

"Kita harus mengejarnya!" Ki Ladung Kosa.

"Jangan! Lebih baik biarkan, tak usah dikejar." Cegah Ki Burik Loso tak sependapat.

Walau merasa kecewa, Ki Ladung mengurungkan niatnya. Dengan bersungut-sungut orang tua ini lalu menggerutu.

"Seharusnya kita bisa mencegah siapa saja yang keluar dari sini. Dengan begitu kita pastikan apakah orang yang bersangkutan ada hubungannya dengan yang kita cari atau tidak"

"Aku tidak mau kau dan aku tercerai berai. Mengetahui keadaan disini kurasa jauh lebih penting dari pada mengejar orang tadi. Lagi pula apakah kalian tidak merasakan bahwa setelah orang itu keluar, tiba tiba suara yang memekakkan telinga Itu tiba-tiba lenyap."

"Hmm, benar juga katamu orang tua." Kata Seruni. "Suara itu tidak terdengar lagi."

"Kau tahu dari arah mana orang yang berlari di atas kita tadi muncul?" Tanya Ki Ladung.

"Dia keluar dari arah sebelah sana." Jawab Seruni.

"Mari kita lihat." Ujar Ki Burik.

Ketiganya kemudian menuju ke tempat itu. Hanya dalam waktu yang tidak lama mereka telah sampai di depan pintu bangunan besar yang jebol. Ki Burik Loso segera melangkah masuk, sesampainya di dalam dia tertegun ketika melihat banyak sekali patung di tempat itu.

"Patung ini kemungkinan milik juru ukir yang sangat terkenal pada masa itu." Ujar Ki Ladung Kosa yang sempat kagum melihat banyaknya patung di sana.

"Kau keliru orang tua. Patung-patung di sini dibuat untuk disembah. Bukan untuk diperjual belikan apalagi sekedar dipajang."

"Oh ya, aku tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh orang dulu." Ki Ladung Kosa menyeringai. Temannya

KI Burik Loso sedikitpun tidak begitu mempermasalahkan soal patung. Dia hanya memperhatikannya sekilas, setelah itu segera meneliti keadaan di sekelilingnya. Dia kemudian menemukan satu tempat. Ki Burik pun berjongkok. Dia manggut-manggut.

"Aku menemukan tempatnya. Orang yang kita lihat tadi ternyata berada di sini dalam waktu yang sangat lama."

"Dia laki-laki atau perempuan?" Tanya Seruni inginkan kepastian.

"Dari jejak dan sisa-sisa yang ditinggalkan dia jelas seorang perempuan?" Jawab Ki Burik.  

"Orangnya masih muda ataukan sudah tua?" Desak gadis itu lagi.

"Sudah tua sekali."

Seruni terdiam dan berfikir, menurut KI Burik Loso dirinya terperangkap dalam ruangan itu sudah lebih dari enam ratus tahun. Dan kalau benar nenek tadi bukan perempuan yang lain, tentu dia Aramimbi yang sampai sekarang masih bertahan hidup walaupun usianya sudah sangat tua sekali. Malahan bisa jauh lebih tua dari orang yang dimaksudkan oleh Ki Burik.

"Tapi apakah mungkin perempuan yang meninggalkan bangunan tempat pemujaan patung memang dia."

Seruni tidak mau gegabah dalam mengambil kesimpulan. "Orang yang berada di sini dapat kupastikan sudah tua." Jawaban Ki Burik yang membuat Seruni terkejut, namun dia segera memeriksa dinding yang terdapat di sebelah kanan dan kirinya.

"Apa yang kau cari?" Tanya Ki Ladung Kosa merasa heran melihat apa yang dilakukan oleh si gadis.  

"Aku sedeng melakukan pemeriksaan, siapa tahu ada jejak yang dapat dijadikan petunjuk." Ujar gadis itu.

"Aku kira seandainya saja orang yang meloloskan diri dari sini tadi memang Aramimbi, kemungkinan besar Sapta Jagad juga berada di sekitar sini sebab selama ini di mana ada Sapta Jagad pasti ada Aramimbi atau sebaliknya."

"Kalau begitu aku akan membantumu" Ujar Ki Ladung Kosa.

Selanjutnya tanpa bicara lagi dia dan Ki Burik langsung berpencar dan segera memeriksa setiap sudut yang mereka anggap cukup mencurigakan. Setelah menjelajah hampir semua tempat yang ada dalam bangunan itu, Ki Ladung Kosa tiba-tiba berkata.

"Aku menemukan sebuah pintu yang terkunci. Coba kalian kemari!"

Seru orang tua itu. Dia sendiri memperhatikan pintu batu. Pintu itu terdiri dari dua bagian. Yang satu ada di sebelah kiri dan satunya lagi di sebelah kanan. Di tengah pintu terdapat sebuah gembok yang terbuat dari batu. Tidak lama kemudian muncul Seruni dan Ki Burik Loso. Mereka sama-sama melakukan pemeriksaan. Narmun Ki Burik kemudian berkata,

"Apakah mungkin dibalik pintu ini ada ruangan?"

"Pasti ada. Tadi aku sudah mengetuknya. Aku mendengar suara pantulan ketukanku, seperti gema. Jelas di balik pintu ada ruangan, namun aku tak dapat memastikan bahwa di balik ruangan ini apakah ada orang yang disekap?"

"Kalau begitu kalian berdua jauhi pintu. Aku akan hancurkan pintu itu dengan pukulanku!"

Tegas Ki Burik tidak sabaran. Walau ragu karena takut bagian dinding yang lain ikut runtuh bila kakek ini melepaskan pukulan saktinya. Namun Seruni melangkah mundur. Ki Ladung anggukkan kepala tanda setuju. Dia segera menjauh, namun selagi Ki Burik mengangkat tangan kanannya siap melepaskan satu pukulan yang hebat. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh gaung suara aneh yang membuat tubuh mereka tergetar.

"Suara apa itu?" Seru Seruni kaget.

"Ini suara yang sama seperti suara yang kita dengar ketika kita sedang dalam perjalanan menuju kemari." Kata Ki Ladung Kosa.

"Suaranya bukan suara binatang, tapi juga tidak mirip dengan suara manusia?"

Komentar Ki Burik Loso. Mereka sama melempar pandang. Keraguan kini menyelimuti wajah Seruni. Ki Ladung sendiri nampak gelisah, sedangkan Ki Burik terlihat tenang namun otaknya terus berfikir membayangkan kemungkinan kemungkinan yang tidak diinginkan. Suasana sunyi tambah mencekam. Dalam keheningan suara aneh seperti ledakan petir mendadak lenyap. Namun mereka tiba-tiba saja dikejutkan oleh suara teriakan yang sangat jelas. Suara itu mengandung amarah dan kebencian.

"Aramimbi, apakah kau masih berada di situ?" Kalaupun ada orang yang paling kaget mendengar disebutnya nama Aramimbi tentu saja Seruni. Dia merasa seperti kenal dengan suara itu. Tanpa sadar bibirnya berdesis,

"Sapta Jagad?"

"Apakah mungkin Sapta Jagad? Bagaimana mungkin umurnya bisa panjang?" Kata Ki Ladung. Suaranya pelan namun jelas.

"Huh, mengapa bingung? Dewa saja umurnya bisa jutaan tahun!" Kata Ki Burik acuh. Sebelum orang-orang ini sempat berkomentar lebih banyak, dari balik ruangan kembali terdengar suara.

"Kau tidak mau menjawab betina jalang. Tidak mengapa. Tapi ketahuilah, kelumpuhanku akibat racun yang kau taburkan dalam minumanku telah pulih. Dan kini aku tahu bahwa selama ini ternyata kau hanya memperalat diriku. Aku tidak terima Aramimbi. Gara-gara dirimu aku telah menghilangkan ribuan nyawa orang-orang yang serakah maupun orang yang tak berdosa. Lebih celakanya lagi aku hampir terkubur di kota Lama ini dalam keadaan hidup-hidup. Hei perempuan kurang ajar! Apakah benar seperti katamu kota ini telah terkubur dan kita terputus hubungan dengan dunia luar?"

Tidak ada yang berani menjawab. Ki Burik sendiri kemudian menghampiri Seruni yang berdiri tegak tidak jauh dari KI Ladung Kosa. Merekapun lalu mengatur rencana.

"Dia menyebut nama Aramimbi, bukankah itu adalah nama perempuan yang menurutmu telah merebut Sapta Jagad dari dirimu?"

"Ya, akupun yakin yang bicara adalah Sapta Jagad" Ujar Seruni mulai tidak tenang.

Ratusan tahun mereka terpisah, selama itu mereka tetap hidup. Seruni tidak dapat membayangkan bagaimana rupa Sapta Jagad sekarang. Apakah tetap awet muda seperti dulu, ataukah telah berubah menjadi kakek tua dan bungkuk seperti Ki Ladung Kosa. Jantung gadis itu bergetar. Kegelisahan membayangkan bakal bertemu dengan orang yang pernah dicinta membuatnya jadi salah tingkah.  

"Sekarang begini, kau berpura-puralah menjadi Aramimbi. Tiru suaranya sebisa mungkin. Kemudian ajukan pertanyaan termasuk juga tentang pedang itu." Usul Ki Ladung. Usul ini justru membuat mata Seruni mendelik karena tidak senang.

"Orang tua, mungkin otakmu sudah tidak waras. Kau fikir saja sendiri masa aku kau suruh meniru suara orang yang sangat kubenci yang telah merampas kakang Sapta dan menjerumuskannya pada perbuatan gila?"

Seruni lalu monoleh ke arah Ki Burik. Di luar dugaan kakek itu telah mendukung usul sahabatnya.  

"Usulnya kurasa boleh juga. Hanya kau yang tahu bagaimana suara Aramimbi. Seandainya aku mengenali suaranya, tentu dengan mudah aku bisa menirunya."

Seruni merasa percuma saja bicara pada dua kakek itu. Celakanya lagi sebelum si gadis sempat mengambil keputusan. Dari balik dinding untuk yang kesekian kalinya terdengar bentakan,  

"Perempuan terkutuk. Rupanya kau tidak percaya bahwa aku benar benar telah pulih. Tunggulah aku kembali pada kesadaranku semula, akan kubunuh kau...?"

"Apakah kau ingat berapa banyak siksaan yang kau lakukan padaku selagi diriku tidak berdaya. Kau ingat bagaimana kakiku kau buat cacat hingga membuatku berjalan timpang, apakah juga kau ingat bagaimana merusak wajahku?"

"Aku tidak ingat apa-apa."

Seruni tiba-tiba berkata sesuai saran dengan dua kakek itu. Dan suara si gadis jelas jauh berbeda dengan suaranya yang asli. Dari dalam terdengar suara menggeram.

"Dasar keparat Kau perempuan gila yang pernah kutemui. Seharusnya aku sudah sejak dulu membunuhmu."  

"Mengapa tidak kau lakukan?" Kata Seruni lagi.

"Jahanam tengik. Bukankah kau yang memintaku membunuh semua orang yang menghendaki pedang itu.?"

"Itu benar Tapi tanpa kau bunuh, sinar pedang itu telah sanggup membunuh mereka" Ujar Seruni.  

"Tapi akibatnya tidak sehebat bila kusalurkan tenaga dalam ke pedang itu." Kata suara dari dalam.  

"Jadi sekarang di mana pedang itu?"

Pancing Seruni. Pertanyaan itu justru membuat orang yang berada dibalik pintu semakin bertambah marah.

"Kau memang terkutuk. Seharusnya aku yang bertanya padamu di mana Pedang Cacat Jiwa kau sembunyikan. Bukankah kau yang menyimpannya begitu kau racuni aku?"

"Mungkin aku menyimpannya, tapi bisa jadi kau justru yang lupa. Kau lupa di mana terakhir kali kau menyimpan pedang itu karena otakmu telah aku buat menjadi tolol."

"Perempuan keparat. perempuan keparat. kubunuh kau sekarang juga!"

Teriak orang itu. Kemudian sekonyong-konyong terdengar suara menggemuruh.

"Awaas ...!"

Teriak Ki Ladung Kosa. Mereka kemudian berlarian, menghambur pergi mencari tempat perlindungan.

Jeeeed Blaar! Buum!

Terdengar suara ledakan keras berdetum. Tidak hanya kedua pintu batu dan kuncinya saja yang hancur berkeping-keping. Sebaliknya belasan patung yang berderet rapi tak jauh dari pintu hancur menjadi serpihan. Asap tebal dan debu mengepul menutupi pemandangan. Semua mata kini tertuju lurus ke arah pintu yang rusak.

Mereka tidak bergerak, hingga akhirnya kepulan debu dan asap hilang. Di depan pintu berdiri seorang kakek renta berambut panjang menyentuh tanah, kumis dan janggutnya panjang menyentuh lutut. Matanya menjorok ke dalam rongga sedangkan wajahnya penuh luka bekas sayatan. Sungguh mengenaskan keadaan kakek ini karena kakinya sebelah kiri juga bengkok.

"Siapa yang baru saja bicara denganku, kau di mana Aramimbi?"

Tanya si kakek yang sekujur tubuhnya dipenuhi bekas luka-luka mengenaskan itu dengan mata jelalatan. Seruni tidak berani keluar. Dia merasa yakin bahwa orang yang berdiri di depan pintu itu pastilah Sapta Jagad. Tetapi mengapa tubuhnya dipenuhi luka yang membuat fisiknya cacat begitu rupa. Pada sisi lain, Seruni tentu saja memaklumi proses penuaan yang dialami oleh Sapta Jagad mengingat Sapta Jagad tidak memiliki ilmu Mati Suri, Sapta Jagad memiliki ilmu yang lain yang sukar dicari tandingannya. KI Burik Loso adalah orang yang tidak kenal rasa takut. Dia segera keluar dari balik tempat dirinya mendekam. Kemudian menyusul Ki Ladung. Melihat kemunculan kedua kakek ini. Tentu saja si kakek terheran-heran.

"Kalian siapa? Apakah kalian penduduk kota Lama ini, ataukah kalian datang dari dunia luar?"

"Kami baru sampai di kota ini. Secara tidak sengaja kami menemukan jalan masuk menuju kemari yaitu sebuah tangga yang membentang dari ujung timur hingga ke ujung barat." Ujar Ki Burik mewakili teman-temannya.

"Kalau begitu, kau telah membongkar timbunan batu yang menutup jalan menuju ke kota ini?" Kata si kakek

"Ya," Sahut Ki Ladung Kosa.

"Kalian bukan penduduk kota ini. Semua penduduk di kota ini binasa. Aku tahu pasti dan aku merasakannya. Dan kalian tidak seharusnya datang kemari! Karena kedatangan kalian, orang yang seharusnya bertanggung jawab atas malapetaka yang kutimbulkan melarikan diri." Geram si kakek angker dengan marah.

"Apakah yang kau maksudkan seorang perempuan?" Tanya Ki Burik. Sepasang mata kakek berambut panjang menjela hingga menyentuh tanah itu memandang liar penuh angkara murka.

"Kalian pasti sudah mengetahui, dia tadinya mendekam di ruangan ini dan tadipun aku mendengar suaranya. Mengapa tiba-tiba menghilang? Kalian telah bekerja sama dengan orang yang sangat kubenci. Kalian pasti akan menyesalinya..."

Ki Burik dan Ki Ladung sempat bingung. Untunglah dalam keadaan seperti itu Seruni memberanikan diri muncul menghampiri kedua kakek itu. Melihat kemunculan si gadis, kakek berambut, berkumis dan berjenggot panjang itu sempat kerutkan keningnya. Dia merasa seperti mengenali gadis itu. Perasaannya jadi tidak enak ketika Seruni berjalan ke arahnya dan berhenti tak jauh di depan di kakek.

"Kakang Sapta Jagad? Engkaulah orangnya yang kucintai dulu. Mengapa kau jadi seperti Ini?" Kata Seruni. Si kakek berjingkrak, dia melangkah mundur. Tapi tiba-tiba dia tertawa.

"Ha ha ha. Kau siapa gadis Ingusan. Kau memanggilku kakang? Bukankah seharusnya kau pantas menjadi buyutku? Aku tidak tahu apa yang kau katakan, aku mencari perempuan keparat itu! Di mana dia?!" teriak si kakek.

"Tidak! Aku mengenali suaramu, aku mengenali rupamu, walau sekarang dalam keadaan cacat begitu rupa. Akulah tadi yang menjawab pertanyaanmu untuk memastikan bahwa kau Sapta Jagad."

"Dan kau siapa?"

Tanya si kakek. Nada suaranya tetap tinggi sedangkan pandangan matanya penuh curiga.

"Aku Seruni. Dulu aku kekasihmu sebelum perempuan yang bernarma Aramimbi detang meracuni hidupku." Ujar gadis itu.

Sekujur tubuh si kakek nampak bergetar. Nampak jelas dia seperti orang yang sedang kebingungan.  

"Seruni."

Si kakek terdiam cukup lama, namun kemudian dia menggelengkan kepala dengan keras.

"Aku tidak mengenalmu. ya.. aku memang tidak mengenalmu. Dan aku bukan Sapta Jagad!" B
antah kakek itu.

"Kalau kau bukan Sapta Jagad, lalu bagaimana kau bisa mengenal Aramimbi? Bukankah Aramimbi adalah kekasih Sapta Jagad!" Kata gadis itu.

"Aku tidak tahu apa maksudmu. Kau salah orang, mana mungkin aku punya kekasih secantik dirimu dan masih muda sepertimu. Kau sendiri pantas menjadi cicitku"

Betapa perih perasaan Seruni. Dia bukan saja merasa sedih melihat keadaan si kakek, di samping itu jauh di lubuk hati sesungguhnya dia masih mencintai Sapta Jagad. Dia tahu Sapta Jagad sesungguhnya manusia berhati baik, namun Sapta Jagad punya kelemahan. Dia tidak punya pendirian yang kokoh. Hatinya berubah lemah bila menghadapi rayuan perempuan. Mungkin inilah yang membuatnya terjerumus.

"Kakang Sapta Jagad, apakah kau lupa bahwa aku punya ilmu Mati Suri. Jika diriku tidak memiliki ilmu itu, tidak dapat kupungkiri keadaan diriku juga tidak Jauh berbeda dengan dirimu. Jika aku tetap bertahan hidup, kondisiku pasti sama dengan Aramimbi, perempuan yang telah menjadikan hidupmu sengsara." Ujar gadis itu.

"Cukup! Semua yang kau katakan itu tidak masuk akal. Aku tidak punya kepentingan dengan kalian."

"Orang tua, bukannya aku bermaksud mencampuri. Lebih baik kau berterus terang tentang dirimu yang sesungguhnya. Dengan begitu barangkali aku bisa membantu menyelesaikan persoalan yang sedang kau hadapi!" Kata Ki Burik Loso.

Mata si kakek menatap tajam ke arah Ki Burik, mata itu sangat angker dan berapi-api. Yang lebih mengerikan mata tersebut mengisyaratkan rasa tidak percaya.

"Kau tidak perlu berbasa-basi. Kalau aku butuh keterangan, aku hanya ingin tahu berapa lama kota ini tertutup hubungan dengan dunia luar?"

"Enam ratus tahun!" Jawab Ki Ladung Kosa. Si kakek berjingkrak kaget

"Selama itu." Batinnya dalam hati.

"Semua yang kulihat ternyata jauh dari yang kuperkirakan." Ujar kakek ini dalam hati.

"Aku tidak tahan berada di sini lebih lama. Aku harus segera pergi." Ujarnya lagi.

"Kakang Sapta Jagad, kau hendak ke mana?"

Tanya Seruni begitu melihat kakek itu melangkah meninggalkan pintu yang dihancurkannya.

"Jangan memanggil aku Sapta Jagad. Orang yang kau sebutkan itu kemungkinan sudah mati..." Teriak si kakek.

Tanpa menoleh lagi dia berkelebat meninggalkan mereka.

"Kakang. Aku masih mencintaimu.!" seru Seruni. Gadis itu hendak mengejar, namun dihalang-halangi oleh Ki Burik.

"Biarkan dia pergi. Sesuatu agaknya telah terjadi pada dirinya sehingga dia tidak mengenalmu lagi. Atau kemungkinan dia berpura-pura tidak mengenal karena merasa malu."

"Yang dikatakannya benar. Aku tidak yakin dia melupakanmu, lagipula kalau lupa tidak mengapa, di sini masih ada aku. Aku jauh lebih tampan, sedikit lebih muda. Sedangkan kakek tadi, wajahnya seram, rambut tidak terurus dan mukanya... Ha ha" kata Ki Ladung sambil tertawa terbahak-bahak.  

"Kakek sinting. Jaga mulutmu." Damprat gadis itu sinis

"ha ha.."

"Maafkan sahabatku ini. Lagaknya memang memuakkan." Kata Ki Burik Loso sambil menahan senyum.

"Sekarang kita harus keluar dari tempat ini. Kakek tadi aku yakin adalah Sapta Jagad. Kita harus mengikuti dia."

"Kau salah. Seharusnya sejak tadi kau tanya tentang pedang itu!" Ujar Ki Ladung Kosa menyesalkan. 
"Rupanya kau tidak melihat kakek ompong bahwa dia sedang marah-marah. Kalau aku bertanya tentang pedang. Bisa-bisa kita semua dilabraknya." Ujar Ki Burik

"Ya, dia bisa membunuh kita semua." Kata Seruni menimpali.

"Sebaiknya sekarang kita keluar sana. Dia pasti belum jauh." Ki Burik dan Ki Ladung saling pandang. Selanjutnya Ki-Burik mengangguk setuju. Tanpa membuang waktu lagi ketiganya segera keluar tinggalkan gedung kuno itu.

***

Siapa yang membunuh Pengukir Nisan atau yang mempunyai nama asli Balewa Edan, bagi Saga Merah jelas merupakan sebuah teka-teki yang sulit untuk dicari jawabannya. Hari itu setelah melakukan pencarian di pondok yang menjadi tempet tinggal Pengukir Nisan, murid dari tiga tokoh sakti yang berdiam di puncak Merapi itu segera menuju ke makam kuno. Namun di tempat ini jejak pembunuh Pengukir Nisan tidak dia ditemukan.

Padahal sebelumnya dia mendengar suara tawa datang dari arah makam itu. Setelah merasa tidak menemukan apa yang dia cari, akhirnya Saga Merah memutuskan untuk menuju ke arah timur. Tempat yang ditujunya sudah jelas yaitu sebuah kota kecil yang terdapat di Kadipaten Wetan. Tapi dalam perjalanan menuju ke tempat itu, di luar dugaan hujan turun dengan sangat deras sekali. Si pemuda tidak mungkin melanjutkan perjalanan dalam suasana seperti itu.

Dia lalu memutuskan untuk berteduh di sebuah dangau kecil yang yang terdapat tidak jauh dari sebuah bukit gundul. Belum lama Saga Merah berada di sana, sekanyong-konyong dia melihat sesosok bayangan berkelebat ke arahnya. Dia memandang ke jurusan dari mana orang itu datang, pada saat itu meskipun hujan turun dengan deras sekali namun Saga dapat melihat sosok bayangan yang menuju ke arahnya itu adalah searang kakek gendut. Dia tidak sendiri. Di bahunya memanggul sosok tubuh yang lain, wajahnya tidak terlihat hanya rambutnya yang panjang terurai terjuntai ke tanah.

"Orang tua itu? Kulihat dia sangat tergesa-gesa, sering pula dia melihat ke belakang. Jangan-jangan si gendut ini menculik. Aku harus bersembunyi."

Saga Merah kemudian memandang ke arah dangau. Karena dangau itu berdinding tentu saja bagian dalamnya sangat gelap. Tanpa membuang waktu dia segera melompat ke tempat itu dan mendekam di sana. Saga Merah menunggu, penantiannya tidak berlangsung lama. Kemudian di depan pintu muncul seorang kakek yang dilihatnya tadi dalam keadaan basah kuyup.

"Hujan begini deras. Aku telah membawamu sejauh ini. Menurut yang kudengar kau istri dari Ki Ageng Rana Jiwo. Orang yang menculikmu sudah mati. Aku membawamu kemari bukan untuk menculik, tapi menyelamatkanmu dari tangan mahluk gila yang haus darah itu."

Celetuk si kakek. Dia kemudian membaringkan sosok dalam panggulannya. Sosok itu kini telentang sehingga Saga yang bersembunyi di sudut dangau dapat melihat wajah orang itu. Dia ternyata seorang perempuan. Wajahnya yang basah cantik menawan. Umurnya kemungkinan baru dua puluh tahun. Saga Merah tidak tahu siapa perempuan itu dan siapa pula kakek gendut itu. Namun dia menunggu sampai kemudian terdengar orang tua itu berkata.

"Kukira kau bukan perempuan gagu atau bisu. Sejak aku bawa kau diam saja. Apa kau kira diriku ini orang jahat?"

Di luar dugaan perempuan muda itu berkata. "

Orang tua. Aku bisa bicara tapi Gede Mahendra telah menotok tiga bagian tubuhku hingga aku cuma bisa bicara tapi tidak dapat bergerak." Si kakek seolah baru tersadar. Dia menepuk keningnya sambil tertawa-tawa.

"Aku lupa-aku lupa. Seharusnya aku sudah menyadari itu sejak tadi. Tubuhmu kaku seperti kayu ketika ku bawa. Itu saja sudah merupakan kenyataan bahwa kau dalam kondisi yang tidak normal. Sekarang, aku akan membebaskan totokan tubuhmu itu. Tapi ."

Gumam kakek gendut itu. Dia lalu memperhatikan tubuh wanita yang basah kuyup itu. Si kakek menelan ludah, si perempuan merasa risih dirinya diperhatikan. Dia lalu mendamprat.

"Kau jangan macam-macam orang tua. Jika kau hendak berbuat kurang ajar padaku, aku Nianggum nantinya tak bakal membiarkanmu hidup lebih lama."

Si kakek tersenyum, wajahnya sempat berubah. Namun dia segera berkata.

"Kau istri Ki Ageng Rana Jiwo. Kau mengatakan namamu Nianggum. Aku sampai lupa memperkenalkan namaku sendiri."

"Orang tua, kau tak perlu mengatakan siapa kau, bukankah di depan Gede Mahendra kau mengatakan dirimu adalah Dewa Mimpi?!"

Si kakek manggut-manggut.

"Ya betul. Aku Dewa Mimpi. Seorang pemimpi sudah barang tentu tak bakal mengusik perempuan secantik dirimu, Orang seperti aku biasanya lebih suka tidur agar bisa bermimpi melihat perkembangan yang terjadi di seluruh jagad ini, Jadi kau tidak perlu takut. Aku memperhatikan dirimu bukan karena aku tergiur melihat gunung gunung dan pemandangan yang indah. Aku memperhatikah dirimu karena ingin memastikan di bagian mana yang tertotok." Ujar Dewa Mimpi.

Nianggum merasa lega, namun belum sempat dirinya mengatakan sesuatu tiba-tiba saja dengan kecepatan laksana kilat menyambar, Dewa Mimpi menggerakkan tangannya. Gerakan tangan itu hampir tidak menyentuh, tapi Nianggum yang bertolak di bagian punggungnya tiba-tiba berputar. Posisinya yang semula terlentang kini menelungkup. Lalu dia merasakan ada sambaran angin yang menyentuh di tiga titik bagian ditubuhnya.

Belum sempat wanita cantik ini menyadari apa yang terjadi, Dewa Mimpi sudah menyilangkan ke dua tangannya di depan dada sementara Nianggum segera merasakan aliran darahnya menjadi lancar sedangkan totokan ditubuhnya lenyap. Nianggum bangkit. Si kakek melompat di atas dangau lalu duduk di depan pintu.

"Apa yang telah kulakukan menjadi kewajibanku. Sekarang kau boleh pergi setelah kau berada di tempat yang aman." Kata Dewa Mimpi.

Nianggum merasa hampir tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Dewa Mimpi. Mengapa begitu mudah si kakek melepaskan dirinya. Mengapa pula Dewa Mimpi mengatakan dirinya telah berada di tempat yang aman?

"Orang tua aku berterima kasih atas pertolongan yang kau berikan. Aku memang ingin pergi, aku mau pulang ke rumanku. Cuma ada satu pertanyaan yang membuat aku penasaran" Ujar Nianggum.

"Penasaran? Penasaran apa? Apakah kau merasa penasaran karena Gede Mahendra tidak sempat merusakmu, atau membuatmu jadi perempuan yang tidak memiliki harga diri?"

Wajah Nianggum berubah kemerahan. "Bukan Itu. Bangsat kurang ajar itu memang sepatutnya mati. Yang membuat aku tak mengerti mengapa kau lari dari sosok bayangan yang datang bersama pusaran angin dan membunuh Gede Mahendra?"

"Wualah. pertanyaanmu itu tidak sepantasnya kujawab mengingat ini tidak ada hubungannya dengan dirimu. Tapi terus terang, karena aku menganggap...."

Dewa Mimpi tidak melanjutkan ucapannya. Sebaliknya dia tiba-tiba menoleh ke arah kegelapan di dalam ruangan dangau. Kemudian kakek ini membentak,

"Manusia kampret yang berdiri di sudut ruangan. Sudah sejak tadi kau mendekam di situ. Kau mencuri dengar pembicaraan orang, kalau tidak mau keluar apakah perlu aku menyeretmu?"

Saga Merah diam membisu, namun dia segera keluar dari kegelapan. Ketika itu hujan sudah hampir reda, hanya saja mendung tebal masih menutupi langit. Melihat yang muncul seorang pemuda berambut panjang, berpakaian kulit dan berwajah tampan, Nianggum sempat terpesona.

"Luar biasa tampannya pemuda ini" Batinnya dalam hati. "Kalau saja aku belum bersuami, Hatiku bordebar-debar, dan wajah itu? Belum pernah aku melihat wajah setampan dia."

Sementera itu Dewa Mimpi terdiam cukup lama. Matanya yang bundar memandang ke arah sang pandekar. Kemudian keningnya berkerut, sekali lagi dia menepuk kepalanya sendiri.

"Kau pasti orang baik. Wajahmu kurasa tidak asing, sepertinya aku sering melihatmu." Ujar kakek Itu.

Demi melinat Saga Merah, Dewa Mimpi yang hampir tidak pernah merasa jengkel dalam hidupnya berubah lunak. Malah pertemuan itu seperti pertemuan dua orang yang sudah saling kenal.

"Kau pernah bertemu denganku, orang tua?" Tanya Saga Merah saking kagetnya.

"Aku tidak pernah bertemu apalagi melihat orang sepertimu, bagaimana kau bisa mengaku pernah bertemu denganku?" Ujar si pemuda lagi heran juga bingung.

Dewa Mimpi manggut-manggut, dia nampak serius sekali. "Aku mana mungkin berdusta. Aku benar-benar telah bertemu dengan dirimu. Tapi cuma dalam mimpi." Ujar si kakek.

Saga Merah terdiam, "kakek ini agaknya sudah gila," Batinnya. Tapi sang pendekar kemudian dikejutkan oleh pengakuan si kakek. "Mimpiku bukan mimpi sembarangan. Walau cuma dalam mimpi aku sudah mengenal siapa namamu?"

"Apa?" Sentak Saga Merah kaget. "Aku tidak berbohong. Namamu Saga Merah, kau punya senjata yang memiliki jiwa, namanya Pedang Roh. Gurumu ada tiga, namanya kakek Sun, satunya lagi Sabai Baba dan yang terakhir seorang kakek bergelar Dewa Tujuh Bumi"

"Orang yang kusebutkan terakhir nama-sama mempunyai nama depan 'Dewa. Tapi jelas antara Dewa Tujuh Bumi dan Dewa Mimpi yaitu diriku tidak punya hubungan darah. Persamaan antara diriku dengannya sama-sama kakek-kakek." ujar Dewa Mimpi.

Untuk yang kesekian kalinya. Saga Merah dibuat tercengeng. Dia tidak habis mengerti mengapa hanya melalui mimpi saja kakek itu mengetahui namanya.

"Kau tidak usah bingung. Aku ini seorang pemimpi yang hebat. Hampir semua kejadian di rimba persilatan, sebelum terjadi aku sudah mengetahuinya melalui mimpi. Dan kau bukan orang yang patut kucurigai, begitu sebaliknya dan tentu semua itu setelah melihat asal usulnya."

"Baiklah, kalau begitu di antara kita tidak ada persoalan. Terus terang aku sedang dalam perjalanan mencari seorang pembunuh. Sebelum kau dan perempuan ini datang, hujan deras sekali jadi aku memutuskan untuk berteduh di sini." Ujar Saga Merah menjelaskan.

"Ya, kalau aku boleh tahu siapa pembunuh siapa?" Tanya Dewa Mimpi

"Anak muda, kalau boleh aku tahu dari mana asal usulmu." Sela Nianggum.

Saga Merah memandang ke arah perempuan berwajah ayu rupawan itu, kemudian dia berkata.

"Aku tidak bisa mengatakan asal usulku, mungkin Dewa Mimpi mengetahui asal usulku. Tapi apa gunanya. Saat ini justru aku sedang melakukan pencarian.."

"Ha ha. Aku yakin Nianggum menaruh perhatian kepadamu, tapi dia sudah punya suami. Aku merasa senang karena kau tidak menjawab pertanyaannya. Hayo tunggu apa lagi. Coba katakan padaku siapa yang kau cari?" ujar Dewa Mimpi setelah puas mengumbar tawa.

"Aku tidak tahu. Saat itu sebenarnya aku sedang dalam perjalanan mencari jejak sebuah senjata." ujar Saga Merah agak ragu-ragu. Nianggum tersenyum dan segera menyahut.

"Ah... kebetulan sekali. Suamiku Ki Ageng Rana Jiwo justru sedang mencari jejak pedang. Senjata yang kau cari itu pasti pedang Cacat Jiwa."

Tebak Nianggum membuat Saga Merah tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya.

"Bagaimana mungkin semua orang mencari jejak pedang itu?" Gumam Saga Merah cemas. Dewa Mimpi hanya tertawa saja mendengarnya. Tapi tawanya tidak lama setelah itu dia berkata.

"Kau dengar dalam mimpiku akan banyak lagi korban yang jatuh. Sama seperti yang terjadi pada ratusan tahun silam"

"Jadi pedang itu benar-benar bakal ditemukan?" Tanya sang pendekar.

"Aku belum bermimpi lagi tentang ditemukannya pedang." jawab Dewa Mimpi.

Sementara itu Nianggum sambil bersungut-sungut berkata, nada ucapannya mengandung rasa kecewa dan penyesalan.

"Yang menemukannya pasti Ki Ageng Rana Jiwo. Ini adalah sesuatu yang tidak aku sukai. Ki Ageng itu senjata pusakanya sangat banyak. Bermacam-macam senjata ada padanya. Dia suka mengumpulkan senjata, Dia lebih sayang dengan senjata-senjata itu dibandingkan istri-istrinya. Kalau sudah begini, walau Ki Ageng memberiku segala kemewahan namun hatiku tidak bahagia. Ingin sekali aku meninggalkannya...

"Na-nah-nah, apa kubilang. Dia mulai tertarik padamu anak muda. Tapi kau harus berhati-hati menghadapi perempuan yang sudah berpengalaman. Perempuan seperti itu biasanya akan merasa kesepian, kalau sudah kesepian kau akan tahu sendiri hik hik hik..!"

"Oh dasar dewa gila. Kau sangka diriku ini perempuan apa?"

Damprat Nianggum jengkel, Si kakek hanya tertawa mengekeh. Dia lalu melanjutkan.

"Soal pedang bisa dibicarakan nanti, sekarang aku ingin mendengar soal pembunuh itu."

"Seperti yang kukatakan aku tidak tahu siapa pembunuhnya. Dalam perjalanan aku bertemu dengan seorang kakek yang berdiam di sebuah makam kuno. Kakek itu bernama Pengukir Nisan" Ujar si pemuda.

Belum habis Saga Merah mengatakan tentang kakek yang dimaksudkannya, Dewa Mimpi tiba-tiba memotong.

"Kau sudah mengenal siapa nama Pengukir Nisan yang sebenarnya?"

Pertanyaan itu sangat mengundang heran bagi Saga, tapi dia mengesampingkan perasaannya sendiri. Dengan tegas dia mengangguk.

"Kau pernah bertemu dengannya orang tua?" Tanya pemuda itu.

Yang ditanya mengangguk, matanya menerawang jauh seolah dia ingin mengingat masa lalunya.  

"Kejadiannya sudah sangat lama sekali. Pengukir Nisan punya hubungan dekat dengan Empu Kajang Selo. Empu yang menciptakan Pedang Cacat Jiwa. Dia saudara sepupu Empu."

"Kepadaku dia mengaku begitu. Semula aku tidak percaya, sebab ketika Tiga Bayang Bayang Maut mendesaknya, dia tidak pernah mengakui bahwa dirinya adalah Balewa Edan dan kenal dekat dengan Empu Kajang Selo."

Dewa Mimpi menggelengkan kepala. "Orangnya seperti itu. Dia sering mabuk untuk menghilangkan bayang-bayang malapetaka yang ditimbulkan oteh pedang itu. Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya si kakek.

Saga Merah justru menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat "Justru dia tewas beberapa saat begitu dia mengundangku ke pondoknya." Ujar Saga Merah.

Dia kemudian menuturkan apa yang dia rencanakan termasuk juga soal memanggil arwah Bayang Rego. Penjelasan itu membuat Dewa Mimpi kaget bukan main. (Untuk lebih jelasnya bisa diikuti dalam cerita berjudul 'Prahara Kajang Selo'.)

"Astaga! Ini sebuah kekeliruan yang tidak pernah diketahui oleh Pengukir Nisan maupun oleh dirimu. Dulu ketika aku bertemu dengan Pengukir Nisan dia tidak pernah menyinggung tentang peti batu yang berisi tulang belulang Bayang Rego. Tapi setahun kemudian setelah pertemuanku itu, aku bermimpi tentang peti batu. Di dalam peti batu itu memang tersimpan kerangka Bayang Rego yang mati hangus akibat hantaman sinar pedang itu."

"Tapi perlu diingat, Bayang Rego walaupun seorang abdi yang menghabiskan waktunya untuk Empu Kajang Selo, sesungguhnya dia bukan manusia bodoh dan lemah. Dia itu amat pintar. Dia punya cita-cita setinggi langit. Tentu saja cita-cita itu bakal terlaksana bila didukung oleh orang lain. Dia bekerja sama dengan seseorang" ujar Dewi Mimpi

"Dia yang mencuri pedang itu?" Tanya Saga Merah setengah menduga.

"Benar. Dia pasti telah mencuri pedang atas perintah orang yang menjadi sekutunya."

"Siapa sekutunya?"

"Rahasia itulah yang belum terungkap hingga saat ini" Ujar Dewa Mimpi merasa prihatin. Sejauh itu Nianggum diam-diam memperhatikan pembicaraan mereka dengan penuh minat. Tentu saja dia berminat mendengarkan kisah perjalanan pedang yang menggemparkan dan sanggup membuat suaminya hampir melupakan dirinya itu.

"Dewa Mimpi, satu hal yang tidak kumengerti. Mengapa Pengukir Nisan dihabisi pada saat aku ingin memanggil arwah Bayang Rego."

"Adakah sesuatu yang hilang?"

Tanya Dewa Mimpi tidak terduga hingga membuat Saga merasa bingung. Dia mencoba mengingat-ingat, begitu teringat dengan peti batu tempat menyimpan tengkorak dan tulang belulang Bayang Rego, sang pendekar cepat menjawab.

"Kukira ada. Saat kutinggal sendiri, Pengukir Nisan berada dalam keadaan mengosongkan pikiran"

"Pikiran yang kosong menimbulkan kelengahan." potong Dewa Mimpi.

"Kenyataannya demikian. Dia duduk di atas balai balai, di depannya tergeletak peti batu yang telah dia buka. Aku berada di luar untuk mengusir dua arwah lain yang tidak kuundang tapi datang hendak mengacau."

"Menurutku itu tipuan, anak muda." Ujar Dewa Mimpi tanpa sedikitpun terlihat keraguan di wajahnya. Kening Saga berkerut.

"Apa maksudmu dengan tipuan itu?" Tanya si pemuda.

Dengan punggung bersender pada pintu, Dewa Mimpi meluruskan kedua kakinya. Matanya menyipit ketika dia berkata.

"Bukankah setelah Pengukir Nisan terbunuh, kau mendapati peti itu raib?"

"Ya, pembunuhnya tega menghabisi Pengukir Nisan untuk mengambil tulang yang tidak berguna?" Ujar Saga.

Dewa Mimpi menggeleng. "Sebenarnya tidak ada pembunuh, anak muda. Tulang belulang itu juga tidak hilang. Justru ketika kau keluar dalam mimpiku aku melihat ada tiga cahaya. Pertama cahaya merah, cahaya kuning, dan.cahaya hijau. Cahaya hijau menurut perkiraanmu adalah ujud dari arwah Bayang Rego."

"Ya. aku menganggapnya begitu."

"Padahal tidak demikian. Ketiga cahaya itu memang jelmaan arwah. Namun yang kau lihat itu semuanya palsu. Arwah Bayang Rego yang sesungguhnya menyelinap ke dalam pondok dari belakang. Satu hal yang mungkin tidak kau ketahui atau diketahui oleh siapapun. Aku menduga, sebelum terbunuh dia dikhianati oleh orang yang diajaknya bekerja sama. Itu sebabnya dia punya kecenderungan untuk kembali ke dunia ini."

"Dan yang tidak diketahui orang lain, Bayang Rego memiliki ilmu aneh bernama Tetas Ngabumi. Dengan ilmunya itu bila situasinya mungkin maka dia akan hidup kembali dalam ujud bayang-bayang namun dengan kekuatan yang lebih berbahaya. Jadi ketika dia menyusup ke dalam pondok. Kesempatan itu dipergunakan untuk mencari sisa-sisa jasadnya.

"Dengan menggunakan tulang jari tangannya dia korek tenggorokan Pengukir Nisan. Ketika darah memancar membasahi tulang belulangnya yang ada dalam peti batu maka diapun hidup kembali, Dia hidup dengan darah Pengukir Nisan, dia hidup dengan memanfaatkan sari pati kehidupan Pengukir Nisan juga, Artinya peti batu tidak dicuri oleh siapapun, penghuni peti itulah yang bangkit kembali. Apakah kau sudah paham?"

Penjelasan yang diberikan si kakek membuat Saga tidak mampu berkata-kata. Ini karena kenyataan yang didengarnya sangat sulit diterima akal. Tapi dia kemudian menyadari kekeliruannya sendiri, dia harus menghentikan Bayang Rega yang ternyata dari awal sebenarnya menyimpan kebusukan dibalik topeng kebaikan.

"Pantas aku tidak dapat menemukan pembunuhnya. Pembunuh Pengukir Nisan ternyata Bayang Rego sendiri"

Si kakek tersenyum, "Anak muda! ilmu kesaktian yang kau miliki boleh jadi sangat hebat, tapi kau masih hijau dalam pengalaman. Kau tidak mungkin bisa mengorek keterangan dari arwah Bayang Rego meskipun kau memasukkan arwahnya ke dalam tubuh Pengukir Nisan. Bayang Rego seorang penjahat licik. Dia telah mengecohmu dan dia tidak bodoh. Seorang berhati jahat sulit untuk berkata benar"

"Aku kagum dengan pengalamanmu yang luas."

"Kau tidak boleh menyanjungku setinggi langit, betapapun aku hanya seorang pemimpi." Saga tersenyum,

"Menurutmu dimanakah Bayang Rego sekarang?" Tanya Saga Merah. Dewa Mimpi melirik ke arah Nianggum, setelah itu dia berucap.

"Bayang Rego pada kebangkitan keduanya berubah menjadi sangat sakti, dia bisa dimana saja, Terutama mencari orang yang telah menghianatinya. Sebenarnya aku sampai kemari karena baru saja bertemu dengan dia. Dia bukan manusia lagi, ujudnya hanya berupa bayang-bayang. Dia mengajakku bersekutu. Tapi aku tidak mau. Setelah membunuh Gede Mahendra, dia lalu menyerangku. Aku tidak mau melayani hantu edan itu. Makanya kutinggalkan dia ke sini!" Ujar si kakek.

"Sekarang segalanya menjadi jelas." Ujar Saga Merah seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Mahkluk yang sesungguhnya telah berubah jadi setan itu rupanya yang telah membunuh Pengukir Nisan."

"Ya, memang dia yang membunuhnya. Ketika dia muncul sebenarnya aku bertanya dalam hati siapa yang membuatnya bangkit dan siapa yang dijadikannya korban. Tidak tahunya Pengukir Nisan. Sampai mati dia pasti berpikir bahwa Bayang Rego manusia yang baik hati."

"Menurutmu Bayang Rego pergi ke mana?" Tanya pemuda itu ingin tahu. Tanpa berpikir Dewa Mimpi menjawab.

"Bayang Rego punya dendam kesumat pada orang yang telah menghianatinya. Dia pasti berusaha mencari pengkhianat itu."

"Bagaimana kalau pengkhianatnya sudah mati?" Tanya Nianggum.

"Kalau sudah mati, setidaknya dia bakal mencari pedang itu."

"Tapi dia tidak tahu dimana pedang disembunyikan?!" Ujar Nianggum.

"Hmm, kau lupa. Mahluk yang kau lihat itu bukan manusia lagi. Dia jauh lebih hebat dari suamimu. Dia tentu mengetahui apa yang harus dilakukannya..." Ujar Dewa Mimpi dengan rasa yakin.  

"Kemanapun dia pergi aku akan mengejarnya," Kata Saga bertekad.

"Itu bagus. Dengan mengikutinya. Akan semakin mudah bagimu untuk menelusuri sebenarnya pedang itu berada di tangan siapa." Sahut si kakek. Dalam kesempatan itu Nianggum berkata.  

"Pendekar gagah, Jika kau tidak keberatan bolehkah aku ikut denganmu?"

Walau tatapan Nianggum disertai lirikan menggoda, namun dengan tegas Saga Merah berkata.  

"Perjalananku sangat berbahaya. Aku tidak tahu berapa banyak rintangan yang bakal menghadangku." Kata pemuda itu.

"Karena mengingat semua itu dan demi kebaikanmu juga suamimu. Sebaiknya kau tak usah ikut." Tolak sang pendekar

"Ya, kukira begitu. Kau tak usah ikut. Biar aku saja yang pergi dengan dia." Timpal Dewa Mimpi.  

"Kakek tua mengapa kau tidak mendukungku?" Tanya Nianggum dengan mata mendelik. Si kakek tersenyum.

"Tentu saja aku tidak mendukung karena kalau kau ikut kau bisa mengganggu mimpiku. Ha ha ha ... !"

"Dasar pemimpi tengik" Dengus Nianggum. Si kakek tidak menimpali. Sambil terkekeh dia berkata.  

"Jangan hiraukan dia. Dia tahu mencari jalan pulang. Mari kita pergi." Ujar Dewa Mimpi. Saga pun anggukkan kepala. Dia tidak tahu bahwa seperginya mereka Nianggum diam-diam mengikutinya.

***

Ki Ageng Rana Jiwo duduk diam dalam samadinya. Tujuh hari telah terlewati Laki-laki setengah baya ini masih juga tidak bergerak dari tempat yang didudukinya. Sampai akhirnya dia mendengar ada angin berdesir. Kemudian suara-suara lain muncul datang dari sekelilingnya. Ki Ageng terus menunggu. Kemudian datanglah suara yang pernah dia dengar sebelumnya.

"Selamat bertemu lagi Ki Ageng. Kau telah berhasil melewati tujuh hari samadimu tanpa kesalahan. Kau masih mengenal suaraku Ki Ageng?" Tanya suara itu. Laki-laki setengah baya itu menganggukkan kepala.

"Suaramu tetap kukenali, tapi rupamu belum pernah aku melihatnya. Ataukah kau mungkin manusia yang tidak mempunyai wujud?" Kata Ki Ageng

"Apa pentingnya melihat rupaku, Rana Jiwo. Anggap saja aku adalah orang yang bisa membimbingmu dalam melakukan petilasan ini. Sekarang kau telah berada di tabir gaib ketiga. Kau tidak perlu Sungkan, bukalah matamu!"

Suara itu mengandung perintah. Walau sempat ragu, Ki Ageng Rana Jiwo membuka matanya juga. Ketika mata dibuka justru kini dirinya merasa heran. Dia berada di sebuah tempat yang tidak dikenal sama sekali. Tempat itu sangat asing. Ki Ageng berpikir apakah mungkin dirinya sudah mati.  

"Dimana aku kini?"

"Kau sudah kuberi tahu. Kau berada di lingkup tabir ketiga. Coba perhatikan sekelilingmu baik-baik." 
Tanpa bicara Ki Ageng Rana Jiwo langsung memandang dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Astaga! Ki Ageng kaget bukan main. Dia melihat mayat-mayat yang bergeletakan. Di juga melihat genangan darah dimana-mana.

"Apa yang terjadi?" Tanya laki-laki itu keheranan.

"Ha ha ha. Mungkin kau heran bagaimana orang-orang ini menemui ajalnya" Ujar Suara itu. Ki Ageng hanya mengangguk dalam kebingungannya. Sementara itu setelah suara tawa lenyap, Ki Ageng kembali mendengar suara itu.

"Mereka adalah korban dari senjata yang sedang kau telusuri jejaknya. Mereka mati mengenaskan, tapi kau tak usah memikirkannya. Yang telah menjadi korban adalah bagian dari masa lalu. Sementara itu apakah kau sendiri masih ingin melanjutkan perjalanan?" Rana Jiwo terdiam sesaat dan berpikir. Tapi kemudian dia menjawab dengan mantap.

"Rasanya aku akan melanjutkan perjalanan ini."

"Kau tidak mau mundur?"

"Untuk apa?" Kata Rana Jiwo tidak mengerti.

"Kutegaskan padamu, salah seorang istrimu yang bernama Raras telah terbunuh." Ujar suara itu. Ki Ageng Rana Jiwo tersentak kaget. Rana Jiwo sadar betul bahwa istrinya Raras adalah perempuan yang paling setia dibandingkan Nianggum yang cantik namun selalu bersikap tidak peduli. Kehilangan Raras setidaknya sempat memukul perasaannya. Tapi tanpa mengesampingkan perasaannya sebagai manusia. Kehilangan seorang istri baginya adalah sebuah kenyataan yang harus dia terima karena sudah sejak awal suara yang membimbingnya telah memberi tahu tentang kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.

"Siapa yang membunuhnya?" Tanya Ki Ageng tiba-tiba.

 "Apakah itu perlu?"

"Tentu saja agar mudah bagiku untuk mengenalnya."

"Pembunuhnya adalah Gede Mahendra, orang yang kusebutkan ini adalah seorang penguasa di Padang Api. Tapi dia juga baru terbunuh oleh seseorang yang baru saja bangkit dari kematiannya."  

"Aneh, apakah orang yang sudah mati dapat bangkit lagi." Gumam Ki Ageng Rana Jiwo seolah tidak percaya.

"Mengapa tidak. Bila orang yang bersangkutan memiliki ilmu Tetas Ngabumi, bangkit setelah mati dimungkinkan bila semasa hidup ada sesuatu yang membuatnya penasaran."

"Aku tidak mengerti mengapa Gede Mahendra membunuh orang lemah seperti istriku."

"Kau ingin tahu jawabannya?" Tanya suara itu, Ki Ageng Rana Jiwo menganggukkan kepala.

"Gede Mahendra menyangka istrimu tahu banyak hal tentang yang kau lakukan di sini. Nampaknya dia berada dipihakmu maka laki-laki itu membunuhnya."

"Bagaimana dengan istriku Nianggum?"

"Tentang istrimu Nianggum, Gede Mahendra nampaknya tertarik dengan kecantikannya. Dia membawanya, tapi seseorang menolongnya hingga dia selamat dari perbuatan bejat Gede Mahendra. Tentang istrimu itu kurasa kau tak usah berharap banyak dia perempuan yang tidak tetap pendirian. Nianggum sudah terpikat oleh ketampanan laki-laki."

"Dia memang istri yang patut direjam sampai mati. Aku berjanji bila telah keluar dari tempat ini aku akan menghukumnya," Gumam Ki Ageng Rana Jiwo mantap. "Ha ha ha. Kemarahanmu itu adalah kemarahan yang terjadi akibat dari nafsu cemburu. Kau sudah mengetahui akibat dari keputusanmu datang kesini. Seharusnya tidak ada lagi kemarahan dalam hatimu. Mengapa kau merusak niat dari tujuanmu sendiri hanya karena seorang perempuan."

"Apa?" Ki Ageng Rana Jiwo tersentak kaget.

"Kau masih belum paham juga rupanya. Ketahuilah bahwa kemarahan akibat rasa cemburu dapat merusak rencana petilasan yang kau lakukan." Ujar suara itu.

Diapun lalu melihat suasana disekelilingnya. KI Ageng Rana Jiwo jadi terperanjat begitu mengetahui hamparan luas padang putih yang dipenuhi dengan tebaran mayat kini berubah menjadi sebuah medan perang.

"Ki Ageng. ....!"

"Aku mendengarmu, apa yang telah terjadi?" Teriak laki-laki itu.

Dengan nada menyesalkan suara itu menjawab. "Aku menyesalkan kenyataan lain yang terjadi di luar kehendakmu Ki Ageng. Seharusnya ini tidak terjadi jika kau tetap bersikap tenang dalam menghadapi masalah. Tapi kau lepas kendali. Kau terbakar api cemburu karena ulah istrimu. Mengapa itu terjadi?" 
Ki Ageng memang merasa telah melakukan pelanggaran, tapi semua kesalahan dia anggap bukan dia penyebabnya. "Kau .. kau yang memberi kabar tentang istri-isriku. Kalau kau tidak memberi tahu keadaan mereka, pasti aku tidak mungkin mengalami kegagalan seperti ini," Kata Ki Ageng menyesalkan.

"Jadi sekarang setelah merasa gagal kau menyalahkan aku sebagai penyampai kabar? Apakah kau lupa, bahwa ketika pertama kali ku tanya kau mengatakan kau rela mengorbankan istri-istrimu termasuk juga kekayaanmu asalkan kau dapat menelusuri jejak pedang itu?"

"Jadi pedang itu ada di mana?" Tanya Ki Ageng sudah tidak sabar.

"Dari pertanyaanmu itu aku bisa menarik kesimpulan bahwa sebenarnya kau tidak hanya sekedar ingin mengetahui jejak senjata itu. Sesungguhnya kau menyimpan maksud yang lain. Kau berniat memiliki senjata itu bukan?" Kata suara yang belum pernah terlihat ujudnya itu.

"Semua sudah kepalang basah. Di rumah aku bisa memiliki senjata jenis apapun, mengapa aku tidak bisa memiliki Pedang Cacat Jiwa?" Kata Ki Ageng sinis.

"Ini adalah sesuatu yang paling tidak kusukai. Sudah menjadi kecenderungan sifat manusia bahwa dia sering kali berpura-pura. Manusia sering menipu diri sendiri akibat keserakahannya. Demikian halnya dengan dirimu, kau masih sama seperti manusia kebanyakan."

"Kau pengecut, sesungguhnya dirimu itu manusia ataukah hanya sebangsa dedemit yang gentayangan. Mengapa kau tidak mau memperlihatkan diri? Apakah kau takut rupamu dikenali oleh orang lain?" Dengus KI Ageng.

"Tingkatanku jauh lebih tinggi dibandingkan dirimu Ki Ageng. Aku tidak mengatakan diriku terhormat, namun setidaknya aku sudah tidak punya keinginan apa-apa tentang sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau saja bukan karena seseorang yang harus kubantu, tidak mungkin ku membantumu melakukan perjalanan hingga melewati tabir ke tiga. Sekarang kau lihatlah baik baik Ki Ageng. Pandang ke depan."

"Di sana hanya ada perkelahian. Aku melihat sosok besar berkuda merah. Orang itu memegang pedang menyilaukan." Gumam Ki Ageng.

"Ya, kau perhatikan baik-baik. Bagaimana bentuk pedang itu?"

Perintah suara itu. Ki Ageng membuka mata lebar-lebar. Dia melihat sebilah pedang sepanjang dua tangan yang direntangkan. Pedang itu tidak seperti pedang pada umumnya. Bentuk pedang sangat indah, warna hitam. Ada lekukan di bagian tengah. Sementara di bagian pangkal pedang terdapat empat lubang kecil yang mengeluarkan suara menderu bila senjata itu bersentuhan dengan udara. Pedang itu sendiri memiliki ketajaman di dua sisinya.

"Kau sudah melihatnya?"

"Aku sudah melihat dengan jelas."

"Ketika kau memandang pedang itu, apa yang kau rasakan?" Tanya suara itu.

"Mataku sakit sekali seperti ditusuk puluhan batang jarum."

"Kau tahu apakah nama pedang ditangannya itu?" Ki Ageng Rana Jiwo menggelengkan kepalanya.  

"Itulah pedang yang kau cari. Dia telah menerbangkan ribuan nyawa. Dan laki-laki yang menunggang kuda itu seorang pembunuh tanpa hati. Namanya Tangan Kematian. Kau lihatlah, sebentar lagi musuh-musuhnya dibantai habis. Kau berminat pada pedang itu?"

Tanya suara tanpa rupa itu. Ki Ageng Rana Jiwo terdiam. Dia membutuhkan waktu untuk menjawab. Apa yang harus dilakukannya kini. Apakah dia memilih mundur setelah menyadari munculnya kemarahan dalam diri telah melenyapkan semua keinginan yang harus dicapai. Ataukah tetap bertahan? Pada akhirnya Ki Ageng sampai pada satu keputusan bahwa dirinya tidak mungkin mundur. Yang menjadi niatnya sudah bulat. Kini dia memandang ke medan pertempuran.

Dia memperhatikan laki-laki yang bergelar Tangan Kematian itu. Betapa ganas dan mengerikan laki-laki itu.         Kecepatannya dalam bergerak dan menggunakan senjata tidak diragukan. Dia tidak ubahnya seperti seekor rajawali yang perkasa. Kuat, kokoh, tangguh dan berbahaya. Orang seperti inikah yang harus dihadapi?

"Sudahkah kau memikirkan langkah apa yang kau ambil? Lihatlah, Tangan Kematian musuhnya hanya tinggal satu. Setelah sang musuh terbunuh, berikutnya adalah dirimu!"

"Aku akan mengalahkannya! Aku akan menanggung semua resiko yang mungkin bakal terjadi padaku." Tegas Ki Ageng Rana Jiwo.

"Hmm, ternyata kau laki-laki yang sangat pemberani. Adapun yang terjadi padamu, tugasku nanti adalah mengembalikanmu ke telaga kecil tempat asal tapamu." Ujar suara itu.

"AKu tidak peduli" Jawab Ki Ageng ketus sekali.

"Kalau begitu baiklah, aku akan memanggilnya untukmu!" kata suara itu.

Si suara kemudian keluarkan suara suitan panjang. Tangan Kematian yang baru saja membuat lawannya terjengkang tiba-tiba menoleh. Tentu yang terlihat olehnya adalah Ki Ageng Rana Jiwo. Begitu melihat laki-laki itu dia segera membedal kudanya menghampiri Ki Ageng. Sementara itu pedang yang cahaya kilaunya saja menyilaukan mata telah dia masukkan ke dalam rangka yang tergantung dipunggungnya.

"Kau memanggilku?" Tanya Tangan Kematian, suaranya menggeledek menyakitkan gendang telinga. 
"Begitulah. Aku memanggilmu karena ingin mendapatkan pedang dipunggungmu itu"

"Oh, ha ha ha. Kasihan sekali. Pedang ini milik kekasihku. Aku baru saja hendak mengembalikan padanya. Dia sedang menungguku di suatu tempat. Aku tidak punya waktu untukmu." Ujar Tangan Kematian. Ki Ageng Rana Jiwo diam-diam merasa heran mendengar ucapan Tangan Kematian. Laki-laki tua itu mengaku sedang ditunggu kekasihnya. Dan dia juga mengaku pedang itu adalah milik kekasihnya.

"Ucapanmu sungguh membuatku heran. Yang kuketahui Pedang Cacat Jiwa sebenarnya adalah milik Empu Kajang Selo. Mengapa kau mengaku bahwa senjata itu milik kekasihmu?"

"Oh, tolol sekali dirimu itu. Empu yang kau sebutkan itu hanya menciptakannya, Setelah pedang berpindah tangan, maka pedang itu menjadi milik orang yang bersangkutan."

"Pedang itu dicuri, begitulah cerita yang sebenarnya." Ujar Ki Ageng Rana Jiwo sinis.

"Kau sangat rewel sekali. Ingin sekali aku menghajarmu sampai setengah mampus tanpa menggunakan pedang ini. Karena Pedang Cacat Jiwa tidak layak menghirup darahmu"

"Mulutmu terlalu sombong. Dengan julukan yang kau sandang jangan kau mengira aku jadi takut!"  

Tantang Ki Ageng. Tangan Kematian yang memiliki wajah seangker demit tersenyum dingin. Sekonyong-konyong dia menyentakkan tali kendali kudanya. Kuda itu meringkik keras, lalu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi, selanjutnya melabrak Ki Ageng. Laki-laki ini dengan gesit berkelit. Tetapi begitu dia lolos dari terjangan kuda, kaki Tangan Kematian melabrak dadanya. Ki Ageng tersenyum, dia lalu melompat dengan gerakan berjumpalitan.

Pada waktu tubuhnya melesat, dia menghantam kepala lawannya. Kuda meringkik dengan suaranya yang serak menggidikkan. Di luar dugaan, begitu kuda berputar tangan kiri lawannya melesat memapaki serangan. Ki Ageng penasaran. Dia ingin menjajal setinggi apa tenaga dalam yang dimiliki oleh lawannya. Karena itu dengan nekat dia tidak menarik serangan. Sebaliknya tenaga dalam dialirkan ke bagian tangan yang dipergunakan untuk memukul dilipat gandakan.

Tidak terhindari lagi, dua tangan beradu keras. Ki Ageng meringis kesakitan. Tubuhnya melambung tinggi akibat bentrokan itu. Di sisi lain Ki Ageng Rana merasakan tangannya terasa sakit seperti remuk dan dingin luar biasa. Dari bentrokan yang terjadi tadi dia segera menyadari bahwa tingkatan tenaga dalam lawan ternyata lebih tinggi dibandingkan tenaga dalamnya sendiri. Laki-laki itu kemudian meluncur ke bawah. Dia jatuh dengan kedua kaki terlebih dulu menyentuh tanah.

Ki Ageng segera mengatur posisi, kini dengan kekuatan penuh siap melancarkan serangan ke dua. Ki Ageng tidak mau bertindak setengah-setengah. begitu melakukan gebrakan dia langsung menggunakan jurus-jurus yang menjadi andalannya. Pada dasarnya jurus silat Ki Ageng yang bernama Mengejar Bayangan Memeluk Rembulan' bukan jurus sembarangan. Dengan mengandalkan kecepatan gerak serta serangan pada bagian mematikan. Tangan Kematian yang berada di atas punggung kuda sempat kewalahan.

Namun selagi mendapat serangan gencar seperti itu, justru dalam kesempatan itu tanpa disadari oleh Ki Ageng, Tangan Kematian dengan cepat mempelajari jurus-jurus lawannya yang bertumpu pada kelemahannya. Begitu mengetahui titik kelemahan dari serangan lawan, Tangan Kematian segera menyerang balik dengan menggunakan jurus yang sama seperti jurus Ki Ageng. Ki Ageng Rana Jiwo terbelalak kaget. Dia tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.

"Bagaimana mungkin kunyuk ini menguasai jurus yang sama seperti yang aku gunakan?" Batinnya dalam hati. Dengan sikap seakan mengetahui apa yang dipikirkan oleh lawan, Tangan Kematian sambil terbahak-bahak berkata.

"Kau heran? Demi penghormatanku kepadamu yang telah melakukan semedi hingga menembus tabir gaib ketiga aku menggunakan jurus-jurusmu sendiri. Kau mungkin membutuhkan waktu belasan tahun untuk belajar jurus yang cukup hebat ini, tapi bagiku sekejab saja aku telah menguasainya. Sekarang kau rasakanlah!"

Teriak Tangan Kematian. Kuda tunggangan itu sekonyong konyong berlari ke arah Ki Ageng Rana. Orang tua ini segera menghantam kuda tersebut dengan pukulan mematikan Wuuues! Buum!

Pukulan Ki Ageng dengan telak menghantam kuda berbulu merah itu. Hebatnya lagi kuda itu hanya terjajar, terdorong mundur ke belakang beberapa angkah. Setelah terhuyung kuda merah itu kembali menerjang.

"Kudaku kuda pintar! Kau tak bakal mampu membunuhnya!"

Teriak Tangan Kematian yang tahu-tahu sudah melesat meninggalkan punggung kudanya. Tangan Kematian bergerak meluncur ke arah Ki Ageng. Mendapat serangan ganas seperti itu. Ki Ageng mula-mula mundur, namun kemudian segera melompat ke semping. Wuuues!

Serangan itu dengan cepat dibalas dengan pukulan ganas. Dengan mudah sekali serangan itu dihindari oleh Tangan Kematian. Tendangan Tangan Kematian datang seperti geledek. Angin ganas menderu, Ki Ageng masih mencoba menyambut dengan pukulan jarah jauh. Tapi pukulannya amblas tersambar tendangan orang tua itu.

Dengan telak, tendangan menghantam ke bagian bahu Braaak! Tendangan keras secepat itu membuat Ki Ageng Rana Jiwo jatuh terpental. Sambungan antara tulang lengan dan bahu terputus. Ki Ageng Rana merintih kesakitan. Dia bangkit dan bahunya nampak miring karena patah.

"Aku sudah mengatakan, aku akan membunuhmu dengan menggunakan tanganku sendiri. Sekarang kau lihatlah tanganku ini!"

Teriak Tangan Kematian seraya mengumbar tawa dingin. Dengan penuh marah dan penuh kebencian, Ki Ageng Rana Jiwo mencabut senjatanya berupa sebilah tombak bergagang pendek namun mempunyai tiga deret mata yang aneh. Senjata itu putih berkilauan. Tangan Kematian sadar benar bahwa senjata di tangan lawan amat berbahaya dan memiliki kharisma.

Sebaliknya ketika Ki Ageng Rana Jiwo memandang ke arah Tangan Kematian, dia juga melihat sepasang tangan laki-laki itu mulai dari ujung jari hingga ke bagian pangkal lengan telah berubah menghitam ditumbuhi bulu-bulu kasar seperti duri landak. Perubahan itulah yang membuatnya dijuluki Tangan Kematian.

"Aku belum melihat kehebatannya. Tapi dengan Tombak Samber Nyowo ditanganku ini, perlu apa aku merisaukannya?" Batin Ki Ageng.

"Kau sudah siap mati?"

Teriak Tangan Kematian. Ki Ageng Rana Jiwo merasa tidak ada gunanya menjawab. Dia memutar tombak bermata tiga itu dengan tangan kiri yang tidak cidera. Selanjutnya dia melakukan lompatan lalu menyerang Tangan Kematian bertubi-tubi. Serangan itu membahayakan keselamatan kuda merah yang menjadi tunggangannya. Tangan Kematian bersuit memberi isyarat pada binatang tunggangannya.

Dia sendiri melompat meninggalkan punggung kuda. Kuda menyingkir, Tangan Kematian hindari tusukan-tusukan tombak yang menderu ganas disertai berdesirnya hawa dingin luar biasa. Sejauh itu Ki Ageng merasa penasaran sekali. Dia tidak menyangka lawan masih mampu menghindari setiap serangan yang datang. Malah kini Tangan Kematian setelah berkelit dari tusukan tombak, segera memutar tubuhnya. Gerakan itu berlangsung dengan cepat sekali. Sekonyong-konyong tangannya berkelebat menyambar. Tep!

Ki Ageng kaget bukan main ketika menyadari bahwa tombak ditangannya telah kena dicengkeran oleh lawan. Sekuat tenaga ia mencoba menarik lepas senjata tersebut. Namun cengkeraman Tangan Kematian sangat kokoh. Selagi Ki Ageng berusaha keras membebaskan tombaknya dari jepitan tangan lawan, pada saat itu bulu-bulu kasar setajam duri landak berhamburan dari lengan Tangan Kematian.

Sama seperti seekor landak yang melepaskan duri-durinya ke arah sasaran yang diinginkan. Maka bulu bulu Tangan Kematian yang tajam itu menghujani Ki Ageng Rana Jiwo. Sadar dengan bahaya yang mengancamnya, Ki Ageng Rana melepaskan tombak yang terjepit di antara jari tangan lawan. Namun tindakan yang dia lakukan ini terlambat. Belasan bulu seperti ni menghujaninya. Sementara satu pukulan yang keras melabrak dada Ki Ageng membuat tulang-tulang dadanya berderak dan Ki Ageng menjerit dengan tubuh terkapar.

Tangan Kematian tersenyum sinis. Dia menyadari Ki Ageng tak bakal bertahan lama, kerena itu dia segera melompat ke punggung kudanya. Selanjutnya kuda dipacu, Tangan Kematian tinggalkan tempat itu. Seperginya Tangan Kematian, Ki Ageng hanya mampu mengerang. Dia tidak kuasa bergerak. Hanya matanya yang memandang kosong penuh rasa sakit. Pada saat seperti itu suara yang tadinya menghilang kini terdengar lagi.

"Aku sudah mengatakan, Tangan Kematian bukan lawanmu. Kau pasti mati sia-sia bila ingin mendapatkan pedang itu." KI Ageng mengerang.

"Kau memang jahanam, sekarang aku sudah mau mati. Sampai detik kematianku apakah kau masih belum mau menampakkan diri? Siapa dirimu apakah kau Empu Kajang Selo yang raib dan tidak jelas keadaannya masih hidup atau sudah mati?" Ujar Ki Ageng Rana Jiwo dengan nafas tersengal-sengal.  

"Kau salah menduga, aku ini manusia sepertimu. Aku bukan Empu Kajang Selo. Hanya saja aku punya kemampuan berada di mana saja termasuk juga menembus tabir gaib dan berada di alam lelembut. Sekarang aku akan memenuhi permintaanmu. Kau lihat baik-baik!"

Kata suara itu. Ki Ageng dengan bersusah payah menoleh ke arah datangnya suara. Mula-mula dia melihat cahaya merah dan hitam terang benderang. Setelah cahaya lenyap maka terlihatiah sesosok tubuh tinggi besar berkulit hitam berpakaian gelap. Yang membedakan orang ini dengan yang lain, selain kulitnya yang gelap, bagian wajahnya mulai dari hidung ke atas berwarna merah. Bahkan rambut laki-laki itu juga berwarna merah.

"Kk. kau.. bukankah kau Iblis Hitam?!" Desis Ki Ageng Rana Jiwo.

Sejalan dengan itu kepalanya terkulai. Si kakek yang memang Iblis Hitam itu mengangguk. Dan berjalan menghampiri Ki Ageng.

"Suratanmu sudah sampai di sini. Semoga kita bertemu pada kehidupan berikutnya. Sekarang aku akan mengeluarkanmu dari sini." Ujar si kakek.

Diapun lalu mengangkat Ki Ageng Rana. Selanjutnya dia membawa Ki Ageng melewati lorong, ruang dan waktu. Tidak lama kemudian, di telaga kecil bekas tempat kediaman Empu Kajang Selo selama ratusan tahun yang lalu itu muncul gelembung-gelembung pada permukaan airnya. Selanjutnya air seperti menggelegak dan ...

"Byuur....!"

Ki Ageng muncul dipermukaan air. Setelah Ki Ageng muncul pula iblis Hitam. Kakek ini mengangkat Ki Ageng ke tepi telaga dan membaringkannya di situ. Lalu dia berkata.

"Semoga ada yang menemukanmu. Aku harus pergi mencari bocah itu."

Iblis Hitam tinggalkan mayat Ki Ageng Rana Jiwo terkapar di tepi telaga. Dedongkot tokoh sakti ini pergi tanpa meninggalkan jejak.


***

Menjelang sore hari Bayan Tandira yang lebih dikenal dengan julukan Juru Teluh Delapan Penjuru sudah sampai di puncak gunung Sindur. Dia kemudian memerintahkan muridnya Timur Pradapa untuk mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam. Saat itu kabut mulai turun dan hujan bercampur kabut menghalangi pandangan. Udara dingin sedikitpun tidak dihiraukan mereka.

"Guru, apa yang akan kita lakukan di sini?"

Tanya sang murid sambil menyiapkan ikan bakar dan ubi rebus untuk gurunya. Orang tua berambut putih itu tidak menjawab, tatap matanya memandang kearah lembah di kaki gunung.

"Guru, apakah senjata itu bakal kita dapatkan?"

Untuk yang kedua kalinya Timur Pradapa kembali bertanya, membuat kakek ini merasa terusik dan memandang muridnya dengan mata mendelik. Sang murid menundukkan kepala, dengan terbungkuk-bungkuk dia menyediakan ikan bakar dan ubi yang telah siap dan matang.

Si kakek agaknya memang lapar. Melihat ubi dan ikan bakar yang menebarkan bau harum itu kemarahannya segera surut. Dia mengambil makanan yang terhidang di depannya. Setelah merasa kenyang menyantap makanan yang dihidangkan oleh muridnya Bayan Tandira berkata.

"Kukira kau sudah lama mendengar bahwa menurut Garda Langit, makhluk sahabatku yang kuhadirkan dari alam lelembut itu kita memang harus menunggu di sini. Seseorang entah siapa akan datang kemari. Dia datang bukan untuk pelesir, melainkan untuk mengambil Pedang Cacat Jiwa."

"Kalau begitu Pedang Cacat Jiwa berarti disembunyikan oleh seseorang di daerah ini." Ujar Timur Pradapa.

"Aku tidak bisa menjawab. Kemungkinan pedang dikubur di gunung ini mungkin saja. Kalau begitu kau diamlah sebentar, aku akan mencoba melihat keberadaan senjata itu, apakah benar-benar ada di sini atau di suatu tempat yang lain."

"Bukankah penelitian dengan menggunakan kekuatan batin sebelumnya kau telah melakukan?"

"Itu benar, tapi jarak antara gunung Sindur ini dengan tempat kediaman kita terlalu jauh. Banyak kendala yang merintangi jalannya penelitianku. Sekarang kita telah berada di puncak gunung. Jadi akan lebih mudah untuk meneliti tempat ini."

Timur Pradapa mengangguk-angguk tanda mengerti. Tidak lama setelah itu dia melihat gurunya telah memejamkan matanya. Sang murid maklum bahwa gurunya kini tengah menggunakan ilmu nujumnya untuk melihat keadaan di sekitarnya. Dia diam menunggu. Suasana berubah sunyi mencekam, namun tak sampai sepemakan sirih Bayan Tandira. Bayan Tandira berkata.  

"Mengherankan pedang itu tak terlihat olehku. Jelasnya Pedang Cacat Jiwa tidak berada di puncak gunung ini. Tapi aku melihat. ya, aku melihat ada seseorang sedang menuju ke puncak Sindur."

"Siapakah orang itu?" Tanya Timur Pradapa.

"Entahlah, aku tidak mengenalnya, hanya dia seorang nenek berpakaian aneh, seperti pakaian orang jaman dulu. Nenek ini nampaknya bukan orang sembarangan. Dia berlari seperti hembusan angin, dan larinya tidak di tanah, melainkan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya." Ujar si kakek.  

"Hebat sekali orang itu. Ilmunya pasti sangat tinggi. Lalu adakah guru melihat yang lain?"

"Ya, aku melihat seorang penunggang kuda merah. Orang ini nampaknya bukan manusia biasa. Dia baru saja menembus dinding waktu, dia baru melewati tabir gaib."

"Hemm, sekarang aku baru mengerti" Kata Bayan Tandira. Orang tua itu diam sesaat, nampaknya ada sesuatu yang tidak terlihat mengganggu dirinya, terbukti tubuh si kakek sempat bergetar. Orang tua ini segera memutar kedua tangannya. Terdengar suara letupan dan kepulan asap di sekeliling Bayan Tandira. Asap lenyap, kendala yang dihadapi kakek ini agaknya telah berakhir terbukti dia melanjutkan ucapannya.

"Muridku, kukira pamor pedang itu telah menggangguku. Begitu hebat dan sangat kuatnya, sehingga dalam kontak gaib ini saja aku hampir saja tidak melihat bentuknya."

"Siapa yang membawa pedang itu?" Tanya Timur Pradapa.

"Dia seorang laki-laki, aku tidak begitu mengenalnya, tapi... tunggu. Laki-laki ini mempunyai kelebihan pada kedua tangannya. Laki-laki dengan ciri seperti ini? Astaga! Dia bukan lain adalah Tangan Kematian." Kata Bayan Tandira kaget.

"Mengapa guru sepertinya cemas?" Tanya Timur Pradapa khawatir.

"Tangan Kematian itu hampir tidak berbeda dengan Iblis Pencabut Nyawa. Kesaktiannya hampir tiada banding. Dia pembunuh paling cepat, walau patut kuakui dirinya tidak sehebat Sapta Jagad."

"Siapa Sapta Jagad?" Tanya Timur Pradapa.

"Orang yang kusebutkan itu tokoh maha sakti, yang ilmunya hampir seperti anak lautan. Maksudku dia memiliki beragam ilmu yang serba hebat." Jelas Bayan Tandira.

"Apakah kedua orang itu, maksudku antara penunggang kuda dan nenek yang kau sebutkan bakal naik ke puncak gunung ini?"

"Ku kira di antara keduanya saling mengenal, mungkin kenal dekat. Seperti yang telah dikatakan oleh Garda Langit mereka sedang menuju ke puncak sini?"

"Kalau begitu kita harus mempersiapkan segalanya untuk menyambut mereka." Ujar Timur Pradapa.

Sampai di situ Bayan Tandira membuka matanya. Dia setuju dengan pendapat muridnya.

"Kedua orang itu akan datang. Kita harus mencari tempat yang aman. Sekarang matikan bara api itu, buat kesan seolah kita tak pernah datang kemari."

Timur Pradapa segera melakukan apa yang diperintahkan gurunya. Setelah itu mereka segera menyelinap dan bersembunyi di balik semak belukar. Dari tempat ini mereka dapat mengawasi perkembangan yang terjadi di sekitarnya dengan leluasa. Penantian memang tidak berlangsung lama. Sekejap kemudian di puncak Sindur muncullah seorang nenek berpakaian seperti yang dikatakan oleh Bayan Tandira.

Nenek ini memang sudah sangat tua, namun sisa-sisa kecantikannya di waktu muda masih membekas. Begitu sampai nenek ini segera memperhatikan keadaan disekelilingnya. Dia tidak melihat seorang pun di situ. Si nenek lalu memutuskan untuk duduk di atas sebuah batu, sementara diam-diam dia berkata.

"Sudah sangat lama sekali, apakah mungkin dia masih hidup. Kalau hidup, kukira dirinya sekarang sudah sama seperti diriku. Oh kekasihku, semua ini demi masa depan kita. Demi pedang itu juga selama bertahun-tahun aku berpura-pura jatuh cinta pada Sapta Jagad. Kusingkirkan kekasih sejati yang seharusnya menjadi pendamping hidupnya. Aku telah membuatnya sengsara, ini semua demi kita berdua Tangan Kematian".

"Tapi kemudian segala yang terjadi tidak sesuai dengan rencanaku dan rencanamu. Bencana alam melanda hingga membuat Kota Lama tempat aku bersembunyi dengan Sapta Jagad terkubur. Tidak ada jalan keluar dari sana yang membuatku bisa bertemu dengan dirimu padahal aku telah meracuni Sapta Jagad dan mengurungnya di dalam ruangan khusus yang membuatnya tak dapat keluar dari kota itu. Tapi aku sendiri pun kemudian terjebak di kota terkutuk itu. Tangan Kematian ...dimanakah engkau...?"

Di luar sepengetahuan si nenek, semua yang dikatakannya tentu terdengar dengan jelas oleh Bayan Tandira dan muridnya. Timur Pradapa sebenarnya sudah tidak sabar dan segera ingin keluar dari tempat persembunyiannya. Tetapi Bayan Tandira cepat mencegah, di samping itu juru teluh ini juga mulai mendengar suara langkah kuda yang dipacu cepat menuju ke puncak gunung.

Sementara itu si nenek sendiri begitu mendengar suara langkah kuda segera bangkit dari duduknya. Dia lalu memandang ke satu jurusan tepatnya ke arah lereng gunung. Di antara semak belukar yang lebat, si nenek melihat seekor kuda berbulu merah dengan penunggangnya berpakaian hitam.

"Tangan Kematian, akhirnya kau datang juga!"

Kata nenek itu sambil melonjak-lonjak kegirangan. Tidak lama kemudian di puncak gunung memang muncul seekor kuda, penunggang kuda tersebut seorang laki-laki yang sudah cukup tua. Usianya sudah sangat lanjut, namun fisiknya tetap kokoh layaknya orang yang baru berumur lima puluh tahun.

Sesampai di puncak gunung begitu melihat nenek itu, orang yang berada di atas panggung kuda yang bukan lain adalah Tangan Kematian langsung melompat dari kudanya dan menghambur dalam pelukan nenek itu. Untuk beberapa saat lamanya mereka tenggelam dalam pertemuan yang cukup mengharukan itu.

"Lama sekali aku menunggu kepulanganmu. Aku bahkan melanglang buana hingga ke alam roh. Tapi kau tak kutemukan di sana."

"Kau menyangka aku telah mati akibat jatuhnya benda langit itu?" Tanya si nenek sambil melepaskan rangkulannya.

"Semula aku menduga begitu. Tapi setelah kau tak kutemukan di sana, kemudian aku berpikir jangan jangan sesuatu terjadi padamu."

"Usahaku untuk melumpuhkan Sapta Jagad berhasil dengan baik. Aku beruntung telah menitipkan pedang itu kepadamu kekasihku. Kalau tidak pedang yang kuambil alih dari Sapta Jagad itu mungkin sekarang tidak berada di tangan kita lagi." Ujar nenek itu.

"Aramimbi, pada akhirnya kita bertemu. Walau usia kita sudah tua, kemungkinan besar kita dapat hidup berdua sampai akhir hayat. Yang penting Sapta Jagad sudah kau lumpuhkan."

"Aku sudah melumpuhkannya dengan racun. Tangan Kematian kekasihku."

"Bagus Aramimbi. Tidak ada lagi yang perlu kita takutkan. Hanya Sapta Jagad yang perlu kita perhitungkan mengingat banyaknya kesalahan yang kita lakukan padanya. Pertama kau hanya berpura-pura jatuh cinta padanya. Yang kedua kau mencuri pedangnya lalu menitipkannya padaku."  

"Kau tidak perlu risau. Sapta Jagad tidak mungkin keluar dari kota Lama." Ujar Aramimbi.

Lagi-lagi memeluk Tangan Kematian. Larut dalam pertemuan yang sudah sangat lama mereka nantikan ini.       Baik nenek maupun Tangan Kematian yang juga pantas disebut kakek ini menjadi lengah. Mereka tidak pernah menduga bahwa di tempat itu ada pihak lain yang mendengarkan. Dan kalau saja Juru Teluh Delapan Penjuru tidak minta bantuan Garda Langit, yaitu mahkluk dari alam lelembut yang sangat dia percayai tentu dia tidak akan tahu tentang pertemuan itu.

Dan kini setelah melihat kedua kakek dan nenek itu tenggelam dalam lautan asmara di usia yang sudah senja, maka Juru Teluh Delapan Penjuru Bayan Tandira segera memberi isyarat pada Timur Pradapa untuk diam di tempatnya sedang dia sendiri sambil mengumbar tawa segera tinggalkan tempat di mana dirinya mendekam, lalu jejaknya kaki tak jauh dari kedua orang itu berdiri.

Kejut dihati Tangan Kematian dan Aramimbi bukan kepalang melihat kehadiran Bayan Tandira. Mereka melepaskan pelukannya masing-masing, lalu sama menjauh dan menghadap ke arah Bayan Tandira.  

"Sungguh pertemuan ini sangat mengharukan. Sayang orang yang bernama Sapta Jagad tidak hadir di sini menyaksikan pertemuan ini. Aku yakin hatinya pasti terasa remuk redam karena dikhianati oleh seorang wanita berhati mendua. Tidak dapat kubayangkan bagaimana ulahmu dimasa muda nenek tua." Celetuk Bayan Tandira sambil mengumbar senyumnya.

"Kau siapa?" Hardik Tangan Kematian. Bayan Tandira mengulum senyum.

"Aku Bayan Tandira, gelarku Juru Teluh Delapan Penjuru!" Ujar kakek itu memperkenalkan namanya.

Kening Aramimbi berkerut dalam. Dia mencoba mengingat, setahunya di jamannya tidak ada orang yang memiliki julukan seperti itu. Jadi jelas sekali Juru Teluh ini adalah seorang tokoh yang terlahir kemudian. Si nenek tertawa aneh, mulut bergerak-gerak hingga terpencong ke kanan dan ke kiri.  

"Kau masih kuanggap bocah kemarin sore, Bayan Tandira. Kau tidak mengetahui apa yang terjadi dulu. Tahukah kau bahwa kami orang lama yang kebetulan berumur panjang. Karena itu apapun kepentinganmu, kuharap kau lekas menyingkir dari hadapan kami!" Kata si nenek tegas.

"Aku rasanya tidak bisa lebih sabar dari pada kekasihku ini, kau hanya tinggal mengatakan keinginanmu, barangkali aku bisa meluluskan permintaan!" Kata Tangan Kematian.

"Kakek tua, kau ternyata jauh lebih baik dari kekasihmu, kau mengetahui apa yang kuinginkan. Keinginanku tidak banyak, cukup kau serahkan pedang yang tergantung di punggungmu itu. Setelah itu aku tidak akan mengganggu kemesraan yang terjadi pada pertemuan yang menggembirakan ini."  

Permintaan Bayan Tandira bagi Tangan Kematian adalah yang sudah dapat dia tebak sejak awal. Sementara itu Aramimbi menjadi berang mendengar kata-kata Bayan Tandira yang dianggapnya kurang ajar.

"Kau ternyata menginginkan pedang ini, sayang pemiliknya bukan aku. Kalau kau menghendakinya mengapa kau tidak menanyakannya pada Aramimbi?" Jawaban Tangan Kematian membuat Bayan Tandira menoleh dan menatap ke arah si nenek.

"Hmm, udara di sini terasa dingin, tapi karena kehadiran kakek kurang ajar ini membuat udara berubah menjadi panas dan memuakkan." Kata Aramimbi.

Si nenek kemudian memandang tajam ke arah Bayan Tandira.

"Kau menginginkan pedang ini?" Kata si nenek sambil menunjuk ke arah pedang di punggung Tangan Kematian. Bayan Tandira mengangguk. Melihat itu Aramimbi bertanya.

"Bekal kepandaian apa yang kau bawa sehingga begitu berani meminta senjata sehebat ini?"

"Aku seorang juru teluh, aku telah menyiapkan segala perlengkapan yang kubutuhkan untuk meneluhi kalian. Seandainya aku gagal, aku masih punya ilmu simpanan yang lain untuk menghancurkan kalian." tegas Bayan Tandira.

Jawaban itu membuat Aramimbi dan Tangan Kematian tertawa terbahak-bahak. Si nenek hentikan tawanya, dia memandang Bayan Tandira dengan tatap matanya yang angker menyimpan kelicikan.  

"Kau belum mengetahui berapa banyak tokoh-tokoh cabang atas yang mampus percuma karena inginkan pedang itu. Kau belum tahu berapa ribu nyawa orang tidak berdosa menjadi korban, apakah kau juga belum mendengar betapa puluhan juru teluh sepertimu hanya meregang nyawa? Nah kau tinggal pilih apakah harus angkat kaki sekarang atau ingin menjajal kehebatan kami?"

Hardik si nenek. Bayan Tandira tidak menjawab. Mulutnya terkatub rapat. Tapi tiba-tiba saja dia mengambil dua buah patung terbuat dari sabut dari kantong perbekalannya. Kedua patung sabut kelapa itu berbentuk laki-laki dan perempuan. Di samping itu di tangan kanan si kakek telah menyiapkan beberapa duri jeruk yang tajam dan runcing, gunanya hampir mirip dengan jarum.  

"Anggap saja kedua patung sabut ini adalah diri kalian berdua! Sekarang aku akan meneluh kalian, aku memulainya dari yang perempuan." Ujar si kakek.

Bayan Tandira kemudian menggerakkan tangan kanannya yang memegang duri pohon jeruk. Duri jeruk lalu ditancapkan berturut-turut dari bagian kening, dada dan perut patung sabut perempuan. Tindakan ini sesungguhnya membawa akibat berbahaya. Orang biasa pasti langsung terjengkang dan tewas seketika mendapat tusukan itu. Tetapi Aramimbi adalah seorang tokoh Lawas yang kaya pengalaman.

Begitu Bayan menyerangnya melalui patung dia segera melindungi diri dengan mengerahkan hawa sakti ke sekujur tubuhnya. Tubuh si nenek bergetar, dua kekuatan saling beradu. Aramimbi sempat merasakan kepalanya seperti mau meledak, kemudian rasa sakit berpindah ke dada dan perut. Tapi serangan itu tidak membuatnya tumbang, Bayan Tandira tambah penasaran. Dia melipat gandakan kekuatan teluhnya, akibat pelipat gandaan kekuatan itu tanpa dia sadari membuat tubuhnya melayang.

Selagi melayang lima batang duri jeruk dia tancapkan di bagian mata, lalu leher, selanjutnya kedua pangkal paha patung sabut. Si nenek menggerung. Seumur hidup dia belum pernah menemukan juru teluh dengan kehebatan seperti yang dimiliki Bayan Tandira. Si nenek segera melakukan tindakan. Dia memutar tangannya. Dua ribu jari disatukan lalu diletakkan di depan hidungnya.

Mulut si nenek berkemak-kemik, sementara rasa sakit yang dideritanya itu sesuai dengan di mana ditancapkan duri ke tubuh patung sabut. Perkelahian tanpa kontak badan itu masih terus berlanjut, sejauh itu Tangan Kematian masih belum mengambil tindakan. Ini terjadi karena Tangan Kematian sangat percaya dengan kesaktian yang dimiliki oleh kekasihnya. Di atas sana Bayan Tandira sebenarnya penasaran.

Biasanya tiga tancapan duri ke dalam tubuh patung sabut sudah sanggup membuat musuhnya mati dalam keadaan hangus. Tapi kali ini si nenek yang patungnya sudah ditancapi dengan delapan duri belum juga roboh. Malah Bayan merasakan sebuah perlawanan yang sengit.

"Aku harus menambahkan tiga duri lagi ke patung sabut. Kalau tidak, bisa-bisa keadaanku berada dalam posisi yang terjepit. Apalagi Aramimbi tidak sendiri. Dia didampingi Tangan Kematian, kalau Tangan Kematian sampai menggunakan pedang bukan hanya aku yang celaka, tapi muridku juga bakal menjadi korban."

Batin Bayan Tandira. Tanpa membuang kesempatan dia meraih tiga batang duri dari saku celananya. Namun belum sempat kakek ini menancapkan tiga duri ke tempat-tempat yang dia inginkan, Aramimbi sudah mendorongkan dua telunjuknya yang tadi menempel di hidung. Angin sepanas lahar gunung menderu menghantam ke arah si kakek.

Bayan Tandira yang mengambang di udara segera menangkis dengan tangan kiri. Api menyambar menghanguskan patung sabut perempuan yang diperuntukkan bagi Aramimbi. Patung sabut yang ditujukan buat Tangan Kematian berhasil diselamatkan. Namun sebagai akibatnya dia mengalami luka di kedua kakinya akibat serangan si nenek. Setelah menjejakkan kaki ke tanah dengan terpincang-pincang Bayan Tandira kini menyerang Tangan Kematian melalui patung laki-laki di tangan kirinya.

Lima batang duri langsung ditancapkan ke tubuh patung sabut. Tetapi begitu Tangan Kematian merasa diserang. Sekonyong-konyong dia merasakan bagian punggungnya tempat di mana Pedang Cacat Jiwa tergantung terasa panas. Rupanya pedang bereaksi dengan sendirinya begitu orang yang menguasai pedang mendapat serangan lawan. Dan memang benar, lima titik yang diserang pada patung itu akibatnya sempat dirasakan Tangan Kematian.

Bagian yang diserang terasa sakit sekali dan seperti terbakar dari dalam. Namun hawa yang dipancarkan oleh Pedang Cacat Jiwa kemudian justru melenyapkan rasa sakit itu. Malah hawa aneh yang keluar dari pedang makin menebal membentengi Tangan Kematian dari serangan teluh Bayan Tandira.

Bayan Tandira merasa tidak habis mengerti, lima belas batang duri telah ditancapkan ke patung sabut. Namun orang yang dia kehendaki menjadi korbannya berdiri tegak tidak bergeming. Malah kini Tangan Kematian mengumbar tawa.

"Kalau kau punya seribu duri, maka segeralah tancapkan ke patung sabut itu. Walau serangan teluhmu kau tujukan padaku, tapi Pedang Cacat Jiwa yang tergantung di punggungku telah menangkalnya. Kalau kau punya seribu ilmu teluh semua itu tidak akan berguna. Apakah kau mendengar apa yang kukatakan ini?"

Kata Tangan Kematian. Bayan Tandira keluarkan keringat dingin. Diam diam dia terkesima. Dia sedikitpun tidak menyangka bahwa Pedang Cacat Jiwa dapat berguna untuk melindungi diri. Andai dia yang memiliki pedang itu, sudah barang pasti dirinya tidak bakal dapat dikalahkan. Teringat dengan keinginan itu, sekarang juru teluh ini justru tambah nekat. Berbeda dengan muridnya.

Timur Pradapa setelah sadar melihat kekalahan gurunya pada gebrakan pertama tentu sangat mengkhawatirkan keselamatannya. Namun sebelum dia dapat memutuskan tindakan apa yang harus ditempuhnya, justru pada saat itu Bayan Tandira telah mengibaskan tangannya ke arah dua lawan sekaligus. Dua bola api raksasa menggelinding siap melindas Tangan Kematian dan Aramimbi. Melihat ini Tangan Kematian melompat sambil mendengus.

"Hanya serangan sihir mainan yang tidak berguna!"

Teriak Tangan Kematian. Dia lalu mengibaskan tangannya. Kilauan cahaya hitam kemerahan melabrak bola api itu. Wuus! Blaar! Bola api yang menggelinding cepat musnah begitu terbentur kilauan cahaya yang melesat di tangan lawan. Sementara Aramimbi sendiri membiarkan bola api terus menggelinding melabraknya. Namun beberapa jengkal lagi bola api menelannya hidup hidup.

Si nenek melompatinya, lalu setelah bola api lewat di bawah kakinya justru dia bergerak ke arah Bayan Tandira. Cepat sekali serangan nenek ini tahutahu dia telah berada di samping lawan. Bayan Tandira tidak menyangka serangan lawan datang secepat itu. Selagi dirinya berkelit sambil menangkis.

Kepalanya kena dihantam oleh Aramimbi. Bayan Tandira jatuh terduduk. Si nenek melepaskan tendangan, tapi tendangan Aramimbi kena ditangkisnya. Tangan Kematian berseru memberi tanda pada kekasihnya, Aramimbi melompat mundur. Pada saat itu Tangan Kematian yang sudah jejakkan kaki dan berdiri tegak berkata ditujukan pada Bayan Tandira.

"Aku tahu kau masih punya ilmu yang lain, tapi kami tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu. Kau inginkan pedang Cacat Jiwa, sekarang aku memberikannya. Bersiap-siaplah untuk menerimanya!" Kata Tangan Kematian.

Aramimbi memandang mendelik pada Tangan Kematian. Rupanya dia menyangka kekasihnya itu sungguh-sungguh akan memberikan pedang pada musuh mereka. Tapi dia melihat Tangan Kematian kedipkan matanya, Aramimbi mengetahui arti isyarat itu. Dia melompat menjauh dan menutup kedua matanya. Bayan Tandira tak tahu apa yang dilakukan lawan. Justru muridnya yang mencium gelagat yang tidak baik. Dia melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil berteriak.

"Guru awas." kata Timur Pradapa. Bersamaan dengan melesatnya pemuda itu, justru Tangan Kematian mencabut pedang Cacat Jiwa. Sinar hitam, merah dan biru menerangi puncak gunung Sindur. Bayan Tandira tak kuasa melihat apa-apa akibat silaunya cahaya pedang.

Dia hanya mendengar suara jerit menyayat dan jatuhnya sosok tubuh tak jauh di depannya. Ketika sinar pedang lenyap, Juru Teluh Delapan Penjuru Ini terkejut setengah mati. Dia menyadari yang menjerit dan jatuh tadi ternyata muridnya yang berusaha memberi peringatan padanya.

"Muridku!"

Seru si kakek. Sang murid yang dipanggil diam tidak bergerak. Bayan Tandira beringsut menghampiri. Setelah dekat dia baru tahu bahwa muridnya telah tewas dengan tubuh hangus mengerikan. Kakek ini tercengang, mulutnya terbuka namun dia tidak mampu berkata-kata. Kemarahan, rasa benci dan rasa kehilangan bercampur aduk menjadi satu. Dia memandang ke depan.  

Dia melihat ke sebelah kiri, disana Tangan Kematian berdiri tegak dengan pedang disilangkan di dada. Wajah tangan kematian nampak dingin dan angker, namun rebawa Pedang Cacat Jiwa justru terasa lebih angker.

"Kau bunuh muridku?" Desis Bayan Tandira sengit. Tangan Kematian tersenyum sinis.

"Oh itu muridmu, mengapa kau tidak mengatakannya sejak awal sehingga kami tahu bahwa kau datang kemari tidak sendiri melainkan bersama muridmu." Sahut Tangan Kematian dingin.

"Aku akan mengadu jiwa denganmu!" Teriak Bayan Tandira. Laki-laki tua itu kemudian melesat ke depan. Dalam keadaan seperti itu dia tidak lagi mempertimbangkan bahwa tanpa pedang sekalipun Tangan Kematian sudah merupakan lawan yang sangat berbahaya. Apalagi kini setelah pedang itu dia pergunakan.

"Kau terlalu nekat. Kau seakan lupa bahwa aku sebenarnya bukan lawan yang pantas bagimu. Tapi baiklah, aku tidak pernah menolak orang yang ingin mengadu jiwa denganku. Kesempatanmu dua jurus saja, dalam dua jurus kau tidak bisa menjatuhkan aku, maka pedang ini yang bicara." Ujar Tangan Kematian.

Tangan kanan yang memegang pedang lalu dia sembunyikan di belakang punggung. Dengan begitu Tangan Kematian menghadapi lawan hanya dengan menggunakan tangan kiri saja. Serangan si kakek datang menggebu.

Tendangan dan pukulan mengandung kekuatan dahsyat datang bertubi-tubi. Namun Tangan Kematian dengan gerakan yang lincah mampu menghindari serangan itu. Sebaliknya sekali Tangan Kematian lakukan serangan balasan, Bayan Tandira terpaksa melompat mundur selamatkan diri.

"Satu jurus telah berlalu, sekarang tinggal satu jurus lagi!" Kata Tangan Kematian.

Bayan Tandira tidak puas, namun dia tidak bicara apa-apa. Kini dia melepaskan pukulan jarak jauh untuk mengecoh lawannya. Tangan Kematian kaget juga melihat serangan itu. Dia memutar tangannya, lalu tangan itu didorong menyambut pukulan Bayan Tandira. Untuk kesekian kalinya terjadi ledakan. Selagi Tangan Kematian terguncang, Bayan Tandira yang hampir terjatuh segera pergunakan kesempatan itu.

Dia melompat ke depan, lalu sepuluh jari tangan meluncur menyambar ke bagian leher Tangan Kematian. Kalau saja lawan tidak jeli, tenggorokannya pasti putus terbabat ujung jari lawan. Tapi Tangan Kematian sudah memperhitungkannya. Dia berkelit dengan menarik kepalanya ke belakang. Setelah itu tinjunya menghantam, Buuuk! Bayan Tandira menjerit, tubuhnya terlempar. Dengan mulut memuntahan darah segar dia bangkit. Juru Teluh ini siap menyerang kembali. Namun Tangan Kematian berkata.

"Kesempatanmu telah habis. Sekarang giliranku!"

Bayan Tandira sudah tentu tidak mau menyerah begitu saja. Dia segera melakukan gebrakan lagi, namun saat itu dia mendengar suara gemuruh angin mengerikan disertai dengan berkiblatnya sinar merah hitam dan biru. Bayan Tandira tidak melihat lawan karena lawan terbungkus gulungan sinar pedang.

Sekonyong-konyong gulungan cahaya menyergapnya. Bayan Tandira menjerit, menjerit dan menjerit lagi. Jeritannya lenyap. Tubuh kakek yang sudah tidak utuh itu terjungkal. Dia tewas dalam keadaan kering mengerikan. Tangan Kematian menyimpan pedangnya sambil tersenyum puas. Dia menghampiri Aramimbi.

"Mari kita turun dari puncak gunung ini!" Ujar Tangan Kematian

"Aku setuju, pedang itu masih saja hebat. Tapi kalau aku tidak menutup mataku mungkin mata ini bisa buta karena sinarnya." Gerutu si nenek.

***

Saga Merah sebenarnya sudah tidak sabar menunggu Dewa Mimpi terjaga dari tidurnya. Tidur kakek itu ternyata lama sekali. Hampir semalaman sang pendekar tak dapat memejamkan matanya. Ini karena Dewa Mimpi tidurnya mengorok. Sering pula dia berteriak atau bernyanyi dan tertawa. Entah mimpi gila apa yang dia alami.

Yang pasti setelah matahari mulai tinggi, Saga Merah sudah bosan menunggui si kakek. Dia berniat meninggalkan Dewa Mimpi. Namun ketika Saga membasuh wajahnya di tepi sungai yang bening, Dewa Mimpi tiba-tiba terjaga. Kakek itu menggeliat dan menguap lebar-lebar.

"Huuu, sudah siang rupanya." Kata si kakek.

"Aku sudah hampir pergi. Kalau kau tidak bangun, kurasa aku sudah meninggalkanmu." Ujar pemuda itu serius. Dewn Mimpi mengusap-usap matanya.

"Kau tidak boleh begitu, lagi pula kau mau kemana?" Tanya Dewa Mimpi. Kakek itu kini sudah duduk dan memandang ke pinggir sungai dengan malas-malasan.

"Kau sudah tahu, aku akan mencari Bayang Rego." ujar Saga Merah. Si kakek tersenyum.

"Kau tak usah terburu-buru, tadi malam aku bermimpi lagi." Ujar si kakek.

"Apa mimpimu kali ini ?" Tanya Saga Merah. "Kuharap mimpimu membawa petunjuk."

"Aku melihat di gunung Sindur ramai sekali. Aku melihat Bayang Rego di sana, aku juga bertemu dengan seorang nenek, namanya Aramimbi. Aku juga bertemu dengan dua kakek edan. Dalam mimpi itu kuketahui namanya Ki Burik Loso dan Ki Ladung Kosa. Menurut mimpiku, Ki Burik itu seorang dewa yang menjelma menjadi manusia. Dia sedang menjalani hukuman di dunia. Entah apa yang dilakukannya. Kedua kakek itu bersama dengan seorang gadis. Kuketahui mereka dari kota lama. Kota yang hilang setelah bencana besar melanda tanah Dipa ini."

"Mimpimu panjang sekali. Lalu apa inti dari semua mimpi itu?" Tanya Saga Merah tidak mengerti.  

"Ah, kau ini bagaimana. Masa kau tak dapat mengambil kesimpulan dari mimpi yang kuceritakan itu."

"Aku sudah mengatakan mimpimu membingungkan karena terlalu panjang." Kata Saga jengkel.  

"Hmm, kira-kira begini. Di sekitar gunung Sindur dalam waktu sebentar lagi akan terjadi kejadian yang menggegerkan. Orang-orang yang memiliki dendam kesumat akan bertemu di sana."

"Apakah ini menyangkut soal pedang?" Tanya saga. Si kakek tertawa.

"Ini bukan hanya menyangkut soal pedang, tapi juga menyangkut masalah cinta gila. Kalau kau memang ingin menemukan Bayang Rego, sebaiknya kita mengikuti petunjuk yang kudapat dari mimpiku. Kita datang saja ke gunung Sindur." Ujar Dewa Mimpi. Saga Merah diam dan berfikir.  

"Mungkin kau benar. Kita harus kesana."  

"Kau harus percaya, karena mimpiku selama ini tidak ada yang meleset. Nah kita segera pergi." Ujar si kakek lagi.

Si pemuda segera hendak mengikuti Dewa Mimpi. Namun pada saat itu tiba-tiba saja dia mendengar ada suara aneh datang dari atas ketinggian.

"Dewa Mimpi, apakah kau mendengar suara itu?" Tanya Saga Merah.

"Suara apa?"

Dewa Mimpi memasang telinga dan mencoba mencari tahu apa yang dimaksudkan pemuda itu. Dia kemudian menggelengkan kepala setelah merasa tidak mengetahui dan mendengar suara apa-apa.  

"Mungkin kau salah mendengar! Bagaimanapun telingaku ini belum tuli. Aku tidak mungkin tidak mendengar bila kau mendengar sesuatu." Ujar si kakek

"Kau pasti akan mendengar suara itu. Suaranya mirip orang yang meracau dan suara itu timbul tenggelam. Kadang terdengar kadang menghilang," kata Saga Merah.

Si kakek penasaran, dia kembali memusatkan perhatian dan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Orang tua ini lalu manggut-manggut. Ternyata yang dikatakan Saga Merah memang benar. Ada suara orang meracau seolah menyesali diri sendiri, terkadang dia mengomel seperti orang gila.

"Kau benar anak muda. Sekarang aku mendengar suara itu. Suaranya sendiri datang dari sebuah tempat yang jauh. Kata-katanya pelan saja, namun mengapa terdengar sampai sejauh ini. Siapa yang bicara, apakah mungkin dewa? Kalau dewa mana ada yang mengomel dan memaki maki seperti itu?" Gumam Dewa Mimpi.

"Ah kau ini bagaimana orang tua. Bukankah dirimu dewa juga. Apakah kau tidak tahu ada dewa yang sinting?" Gurau pemuda itu.

"Ha ha ha. Aku ini dewa kesasar, bukan dewa sungguhan. Dewa sungguhan seperti yang kuceritakan padamu. Namanya Ki Burik Loso. Dewa yang satu itu nama aslinya pasti Dewa Salya."

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Apakah kita sebaiknya melanjutkan perjalanan menuju gunung Sindur ataukah mencari tahu siapa yang bicara itu?" Tanya sang pendekar.

Dewa mimpi tidak menjawab, dia berpikir sebentar. Menurutnya yang paling baik adalah mencari tahu siapa orang yang bicara itu. Siapa tahu di luar mimpi mimpinya dia menemukan sesuatu yang berguna. Misalnya sebuah petunjuk penting yang ada kaitannya dengan pedang itu.

"Kita lihat saja dulu, anak muda. Kita lihat siapa tahu kita bisa mendapatkan sesuatu." Ujar Dewa Mimpi.

 "Bagiku tidak mengapa, mengetahui perkembangan yang terjadi di sekitar kita kurasa cukup baik juga. Kalau begitu kita tak usah membuang waktu lagi. Sebaiknya kita mencari tahu asal suara itu."

"Mari ikuti aku!"

Kata Dewa Mimpi. Tanpa membuang waktu, keduanya kemudian berlari ke arah datangnya suara. Tetapi setelah sekian lama mereka mencari, mereka tidak menemukannya.

"Suara itu makin jelas, tapi mengapa kita belum menemukannya juga. Aku jadi khawatir jangan-jangan kita hanya mendengar suara makhluk halus."

"Makhluk halus bagaimana. Kau tidak usah bergurau. Suara yang kita dengar jelas sekali suara manusia. Hanya aku yakin orangnya pasti memiliki ilmu yang sangat tinggi sekali. Sebaiknya pencarian terus kita lakukan orang tua. Bagaimana pun aku jadi penasaran." Ujar Saga Merah.

Dewa Mimpi menganggukkan kepala. Mereka terus mencari, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang tinggi. Dari sini mereka dapat melihat keadaan di sekelilingnya dengan leluasa. Di sebuah tempat di tengah hamparan rumput menghijau mereka melihat sesosok tubuh duduk diam di atas sebuah balai reot di depan bangunan tua. Bangunan tidak terpakai usianya pasti sudah ratusan tahun.

"Coba lihat kesana!" Ujar Saga Merah.

"Aku sudah melihatnya. Tapi jaraknya masih agak jauh, aku tidak bisa melihat bagaimana rupanya dengan jelas." Ujar Dewi Mimpi.

"Kurasa sebaiknya kita lebih mendekat ke sana. Kita harus hati-hati. Siapa tahu dia orang gila yang sakti." Kata pemuda itu.

Keduanya kemudian meninggalkan tempat yang tinggi itu. Selanjutnya mereka berjalan dengan mengendap-endap mendekati bangunan yang sudah hampir runtuh. Setelah jarak semakin dekat, di satu tempat yang terlindung, dibalik rumput tinggi dan semak yang lebat mereka berhenti. Baik Saga maupun Dewa Mimpi sama melayangkan ke atas balai-balai yang lapuk. Saga Merah terkejut. Kening Dewa Mimpi juga berkerut.

Di atas balai-balai itu dengan jelas mereka melihat sosok berwajah angker mengerikan. Wajah itu dipenuhi oleh bekas luka, pelipis kirinya melesak ke dalam, rongga mata juga menjorok, cekung berwarna kehitaman. Walaupun kedua bola matanya masih utuh, namun bola mata itu sendiri seolah amblas ke dalam rongganya. Dia seorang laki-laki. Pakaiannya aneh, hancur di sana-sini dan pakaian itu mirip dengan pakaian orang yang hidup berabad-abad yang lalu.

Selebihnya rambut si kakek yang berwarna putih kelabu sangat panjang sekali hampir menyentuh tanah. Rambut itu satu sama lain saling menyatu hingga sulit terurai. Sementara kumis dan janggutnya hampir menyentuh lutut. Keanehan lain terletak pada kaki kirinya yang bengkok. Kaki itu kemungkinan dulu pernah patah atau dipatahkan.

"Orang satu ini kukira penampilannya jauh lebih buruk dari orang gila. Kau lihat rambutnya yang gimbal. Sudah berapa puluh tahun dia tidak mengurusnya." Kata Dewa Mimpi dengan suara lirih namun jelas.

"Sesuatu yang mengerikan agaknya telah terjadi padanya. Aku berpikir dia kemungkinan besar baru lolos dari cobaan hidup yang amat berat." Ujar Saga Merah.

"Begitu berat dan menyengsarakan. Dan kesengsaraan yang dialaminya masih tersisa dan meninggalkan bekas sampai sekarang." Timpal Dewa Mimpi bersemangat.

"Apa yang akan kita lakukan. Dia diam di situ seperti orang bisu."

"Tenanglah sedikit orang tua. Kita tidak mengenalnya, apakah kau mungkin pernah bermimpi bertemu dengannya?" Tanya Saga Merah. Dewa Mimpi menahan senyum.

"Bertemu dengan mahkluk seburuk dia, gondoruwo sekalipun kukira kalah jelek dibandingkan dirinya. Aku selalu berdoa pada para dewa semoga aku tidak pernah bermimpi dengan orang bertampang seperti itu. Kurasa sebangsa dedemit sekalipun tak pernah berharap bertemu dengan orang seperti dia."

"Baiklah, lupakan tentang mimpi serta harapan tidak bertemu. Kita belum mengetahui siapa dirinya. Sebaiknya kita diam dulu di sini. Aku yakin dia bukan manusia sembarangan." Ujar Saga Merah.  

"Ya, mungkin juga begitu. Seandainya dia hantu, dia juga bukan dari golongan hantu sembarangan."  

Celetuk Dewa Mimpi sambil menahan tawa. Saga Merah tidak menanggapi, dia terus memperhatikan ke jurusan dimana orang tua berambut panjang tidak terurus itu berada. Di depan bangunan orang yang sedang dibicarakan Dewa Mimpi dan Saga Merah justru masih tetap duduk di tempatnya. Tapi dia kemudian seakan merasa terusik. Si kakek tiba-tiba mengangkat wajahnya. Sepasang mata yang cekung seolah amblas ke dalam rongga memandang lurus ke depan. Wajah rusak penuh bekas luka bersemu merah. Selanjutnya dia memaki tidak jelas ditujukan pada siapa.

"Seharusnya wanita keparat itu ada di sini. Tapi dia tidak kutemukan dan pedang yang kusimpan di dalam bangunan ini lenyap. Pasti selama ini dia telah menipuku. Betapa aku sudah tidak punya muka lagi. Aku malu melanjutkan hidupku ... tapi . buat apa aku hidup? Bukankah umurku hampir tujuh ratus tahun. Aku telah menyia-nyiakan kesempatan untuk hidup dengan kekasih yang kucinta. Dan gadis itu betapa setianya dia dan betapa dia masih tetap muda seperti dulu."

"Aku dapat memakluminya kerena dia memiliki ilmu Mati Suri. Sedangkan aku sudah tua renta, dulu aku memandang rendah ilmu Mati Suri. Kuanggap ilmu seperti itu tidak berguna. Tapi setelah aku terperangkap di kota Lama beratus tahun lamanya. Kemudaanku tak bisa kupertahankan. Apalagi perempuan terkutuk itu telah meracuni diriku dengan racun yang sangat ganas."

"Walau pada akhirnya aku dapat memunahkan racun tersebut, tapi kehancuran lain di bagian fisikku tak mungkin disembuhkan. Oh Gusti . huk huk huk! Mengapa engkau tidak mencabut nyawaku saja Gusti Hyang Tunggal. Aku tidak mau hidup dengan sejuta kekalahan yang harus kuterima, apalagi aku telah dikalahkan dan dihancurkan oleh seorang perempuan."

Kata kakek itu sambil menangis tersedu-sedu. Tangisnya itu menimbulkan rasa haru bagi Dewa Mimpi dan Saga Merah. Mereka yakin si kakek tidaklah gila. Dia terguncang akibat masa lalu.

"Aku malu dengan keadaanku, dengan cacat fisikku dan kerentaan tubuhku. Tapi yang lebih memalukan lagi dan membuat ku merasa tidak punya muka terhadapmu, aku telah begitu lama meninggalkanmu. Aku merasa telah mengkhianati cinta kita. Seruni, aku memang sudah tidak pantas hidup. Aku malu melihat dunia dan aku lebih malu lagi bila suatu saat kau menemuiku! Seruni, aku tidak pantas lagi mencintai dan dicintaimu. Perempuan keparat itu telah menghancurkan segalanya."  

Ujar si kakek. Suara orang tua ini tidak beraturan, ini karena luapan amarah datang silih berganti. Sementara di tempatnya mendekam, Dewa Mimpi berkata.

"Ternyata ujung pangkal permasalahan datangnya dari perempuan. Kakek jelek itu kiranya punya dua kekasih, yang baik ditinggalkannya dan dia ikut yang jahat. Kini dia menyesalinya karena merasa tertipu."

Kata Dewa Mimpi sambil senyum senyum sendiri. Dengan mata menerawang si kakek menggumam.  

"Perempuan itu selamanya begitu, terkadang bisa seperti madu, tapi kadang kala bisa berubah menjadi racun mematikan. Beruntung sampai setua ini aku tetap hidup membujang."

"Aku tidak percaya kau masih perjaka!" Ujar Saga Merah. Si kakek tersenyum lagi.

"Kau ini suka usil. Aku tidak mengatakan diriku ini perjaka, yang kukatakan aku beruntung karena masih membujang! Lagi pula siapa yang berani menjamin kalau kau masih perjaka?" Saga tidak menanggapi, saat itu matanya tertuju ke arah kakek yang duduk di depan bangunan. Yang membuat Saga heran, orang tua ini mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. Dan kedua tangan itu berubah putih menyilaukan.

"Lihat orang tua, nampaknya dia hendak membunuh diri." Desis pemuda itu dengan mata terbelalak. Walau sempat terkejut, Dewa Mimpi bersikap acuh, namun dia memandang juga ke depan sana. Dengan tenang justru dia berkata.

"Memang, nampaknya dia hendak membunuh diri."

"Hei, kau ini bagaimana. Orang di depan mata hendak membunuh diri kau malah tenang saja. Kita harus mencegahnya?!"

Tukas murid dari tiga tokoh sakti gunung Merapi itu.

"Dia itu orang sakti, kau lihat tangannya. Hanya orang yang memiliki tenaga dalam luar biasa yang mampu membuat kedua tangannya berubah seperti itu. Kalau dia hendak bunuh diri, biar saja. Nanti kalau kita cegah bisa membuatnya mengamuk bagaimana? Kita bisa mati konyol dan dia mati penasaran."

"Kau gila Dewa Mimpi!" Desis Saga menyayangkan.

"Aku waras, yang gila itu dia. Kita lihat saja dulu. Aku tidak yakin dia mau bunuh diri.?"

Ujar Dewa Mimpi. Yang dikatakan kakek tua itu memang benar. Kakek yang ada di balai-balai kemudian seolah tersadar akan kekeliruan yang diambilnya.. Cepat dia menarik balik tenaga dalam dan turunkan dua tangan yang sudah diangkat di atas kepala. Kedua tangan si kakek berubah kembali seperti biasa, orang tua ini lalu menggeleng dengan keras.

"Tidak! Jika aku mati, dosaku tambah menumpuk. Terlalu enak bagiku membiarkan Aramimbi tetap hidup. Aku harus membunuhnya. Aku harus mengambil pedang itu dulu dan menguburkannya. Jika tidak pedang itu pasti bakal merenggut korban lagi. Jahanam keparat itu kemungkinan tidak sendiri, dia pasti bersama kekasihnya. Siapa yang menjadi kekasihnya aku tidak tahu."

Kata si kakek "Nah apa kataku, dia tidak jadi mati karena ingat dosa dan ingat pedang. Sekarang aku tambah yakin, pedang yang dimaksudkannya tentu Pedang Cacat Jiwa. Kalau dugaanku ini benar ..astaga. Berarti dia adalah.!" belum lagi Dewa Mimpi sempat menyelesaikan ucapannya.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara angin yang menderu. Si kakek yang berada dalam pengawasan Dewa Mimpi dan Saga Merah yang sudah siap untuk pergi juga terlihat kaget melihat kemunculan angin puyuh yang berputar-putar siap melabrak apa yang menghalangi di depannya itu. Semakin lama pusaran angin semakin dekat, kemudian bangunan tua yang berada di belakang si kakek hancur.

Dengan langkah terseok-seok orang tua ini menjauh dari bangunan itu. Namun setelah meluluh lantakkan bangunan di belakang, angin puyuh itu kini bergerak ke depan. Si kakek berwajah dipenuhi bekas luka memandang ke arah pusaran angin puyuh yang berhenti namun terus berputar di depannya itu dengan heran. Dia kemudian melihat sesuatu di tengah pusaran angin yang menggila itu. Sesuatu berupa bayangan seseorang! Walau tidak jelas namun nyata sekali bayangan transparan itu berujud seorang manusia.

"Ha ha ha! Kau hendak pergi ke mana Sapta jagad. Kemana saja dirimu menghilang? Aku nantikan perjumpaan ini!"

Kata suara dibalik pusaran angin yang menggila. Dewa Mimpi berjingkrak kaget. Dia memandang ke arah kakek rambut panjang dan pusaran angin puyuh itu.

"Dugaanku ternyata tidak meleset, dia memang Sapta Jagad, tokoh maha sakti yang kudengar telah menguasai Pedang Cacat Jiwa. Astaga! Pantas saja dia mengatakan telah hidup beratus tahun. Kalau tidak salah usianya memang sudah mencapai tujuh ratus tahun. Kemana saja dia menghilang, dia menyebut Kota Lama. Kota Lama dalam mimpiku terkubur oleh bencana hebat yang terjadi di masa lalu. Bagaimana dia bisa keluar dari kota itu yang lebih mengherankan lagi bagiamana dia bisa bertahan hidup di kota yang terpendam?" gumam Dewa Mimpi heran.

"Kau ini bicara apa orang tua, mulutmu meracau tak karuan. Apa benar dia yang bernama Sapta Jagad?" Tanya Saga yang sangat bingung mendengar ucapan Dewa Mimpi.

"Tadi juga sebelum angin puyuh datang aku hendak mengatakan dia Sapta Jagad."

"Lalu aku mendengar suara, mana ada angin yang bisa bicara?" Kata pemuda itu tak mengerti. Dewa Mimpi tersenyum.

"Nah bukankah kau mencari pembunuh Pengukir Nisan? Kepadamu aku sudah mengatakan Pengukir Nisan dibunuh oleh Bayang Rego yang bangkit kembali dari kematiannya. Orang yang kau cari ada di depan mata. Ujudnya tidak jelas, hanya transparan. Sekarang dia sudah datang bersama pusaran angin yang bersumber dari kekuatan gaibnya.."

"Aku sudah tidak sabar untuk menghancurkan makhluk demit yang satu itu Dewa Mimpi!"

Geram Saga dengan tangan terkepal. Kemudian dia bangkit dan siap keluar dari tempat persembunyiannya. Namun tangan Dewa Mimpi secara tak terduga mencengkeram pundaknya hingga membuatnya terhenyak di tempatnya kembali. Saga Merah jengkel sekali melihat tindakan yang dilakukan oleh kakek ini. Sambil menggeram dia berkata.

"Apa yang kau lakukan ini?" Dengan bersungguh-sungguh Dewa Mimpi menjawab,

"Kau jangan bertindak gegabah memperturutkan kehendak hati yang dilumuri nafsu amarah. Memang tidak salah yang kita lihat adalah Bayang Rego, tapi apakah kau tidak bisa bersabar sedikit untuk mengetahui permasalahan yang sebenarnya? Aku yakin antara Bayang Rego dan Sapta Jagad punya saling sengketa. Mungkin juga tentang pedang itu. Lebih baik kita dengar dulu apa yang mereka bicarakan. Setelah mengetahui duduk soal yang sebenarnya barulah kita mengambil tindakan."

Saga Merah terdiam, yang dikatakan oleh Dewa Mimpi baginya cukup masuk diakal. Mengapa tidak membiarkan dulu orang-orang itu bicara, soal menangkap Bayang Rego itu bisa dilakukan kemudian. Tidak ada pilihan, Saga Merah terpaksa mematuhi keinginan Dewa Mimpi. Dengan sabar dia menunggu. Sementara di halaman berumput itu, Sapta Jagad memandang dengan tidak percaya ke arah bayangan yang berada di tengah pusaran angin puyuh.

"Kau siapa, bagaimana bisa mengenalku?" Tanya si kakek heran.

"Kau lupa siapa aku, Sapta Jagad? Tidakkah dulu kita adalah sahabat dekat. Kita bahkan saudara seperguruan."

Kata orang dibalik angin. Sapta Jagad matanya terbelalak.

"Astaga! Bukankah kau sudah mati?!" Desis orang tua ini.

"Ha ha ha. Aku sudah mati, memang aku sudah mati karena ketololanku sendiri. Aku tolol mematuhi perintahmu untuk mencuri pedang itu. Kemudian kau membunuhku dengan menggunakan pedang curian itu. Oh menyesalnya aku, padahal sudah lama aku mengabdi pada Empu. Hilangnya pedang membuat Empu jadi marah. Beliau kemudian menghilang hingga sekarang."

"Tapi aku tidak membunuhmu, yang menyerangmu dengan meggunakan pedang itu adalah Aramimbi."

"Bukankah Aramimbi adalah kekasihmu!" Hardik Bayang Rego.

"Tidak! Dia justru hanya berpura-pura menjadi kekasihku, yang menjadi tujuan yang sebenarnya adalah Pedang Cacat Jiwa."

"Kau telah ditipunya? Kau telah dibuatnya cacat begitu rupa, sebagai tokoh maha sakti ternyata kau amat lemah." Ejek Bayang Rego. Sapta Jagad menjawab dengan lirih.

"Ya, aku memang lemah. Aku melakukan suatu kebodohan. Yang dirugikan bukan hanya dirimu atau diriku saja, tapi juga orang-orang yang terbunuh akibat berebut senjata itu."

"Sapta Jagad, dulu kau mengatakan kita akan membangun kerajaan besar. Sebagai saudara seperguruan aku rela mengkhianati Empu dan mencuri pedang ciptaannya sebelum senjata itu sempurna. Tapi kemudian aku terbunuh, ini yang membuatku tak dapat menerima dan penasaran sekali."

"Aku dapat memakluminya, kalau kau hendak membunuhku bunuhlah, aku tidak akan melawanmu!" ujar kakek itu pasrah.

"Tapi sebelum aku kau bunuh bolehkan kutanyakan satu hal?"

"Apa?"

"Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu dapat hidup kembali?" Bayang Rego yang dalam ujud samar itu tersenyum sinis.

"Guru kita telah memberikan ilmu Tetas Ngabumi, ilmu itu tidak diturunkannya padamu mengingat ilmu kesaktianmu sudah banyak dari gurumu yang lain. Tapi untuk menjadi seperti ini aku terpaksa membunuh Balewa Edan. Aku butuh darah dan sari pati kehidupannya. Jika tidak begitu aku tidak bisa bangkit!"

"Astaga! Kau menghabisi orang yang seharusnya kau lindungi. Mengapa kau begitu tega?"

Kata Sapta Jagad. Bayang Rego tertawa dingin menyeramkan. Pusaran angin puyuh yang berada disekelilingnya dan berada dalam kendalinya semakin bertambah besar. Ini terjadi sesuai dengan situasi dalam diri Bayang Rego sendiri.

"Kau bisa mencercaku, bagaimana dengan dirimu sendiri. Kau menyimpang dari cita-cita hanya karena seorang perempuan? Bangsat sekali.? Mengapa kau tidak melihat kesalahanmu sendiri Sapta Jagad?"

"Aku mengaku salah! Itu sudah kukatakan sejak tadi."

"Bagus, ternyata setelah mendapat penghinaan dan ditipu begitu rupa kau masih mengakui kesalahanmu. Sekarang dimana perempuan itu Sapta?" Tanya Bayang Rego marah.

"Justru aku sedang mencarinya!" Jawab Sapta Jagad.

"Kau mencari, kau ditinggalkan. Dia bersama laki laki lain begitu?" Tanya Bayang Rego.

"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menemukannya." Jawab Sapta Jagad tegas.

"Baiklah, kalau begitu sekarang serahkan Pedang Cacat Jiwa kepadaku. Aku ingin memilikinya untuk kepentinganku sendiri!" Tegas Bayang Rego ketus. Sapta Jagad menggeleng.

"Aku bukan tidak mau menyerahkan pedang itu padamu Bayang Rego. Aku sudah muak melihat darah dan kematian, pedang itu tadinya kusembunyikan di dalam bangunan yang kau runtuhkan itu. Tapi begitu tadi kuperiksa pedangnya sudah lenyap. Aku yakin Aramimbi yang mengambilnya karena hanya dia yang tahu tempat penyimpanannya."

"Keparat! kau jangan mempermainkan aku, Sapta!" Teriak Bayang Rego marah sekali.

"Aku tidak mempermainkanmu. Yang kukatakan Ini adalah yang sebenarnya." Teriak Sapta Jagad yang juga mulai tak dapat menahan diri.

"Aku tidak percaya. Sejak kalian menipuku dan membunuh aku. Tidak peduli dirimu atau Aramimbi yang membunuhku, aku tidak bakal percaya lagi kepadamu. Kau dan perempuan itu sama saja, karena itu sekali lagi kukatakan lekas serahkan pedang itu kepadaku!"

"Kau kurasa tidak tuli. Aku sudah mengatakan pedang itu di tangan Aramimbi!" Tegas Sapta Jagad.  

"Kau berharap aku mempercayai kata-katamu!" Sinis sekali tanggapan Bayang Rego ini.

"Aku tidak meminta kau mempercayainya. Aku hanya bicara tentang sebuah kenyataan! Mau percaya atau tidak, kenyataannya Pedang Cacat Jiwa tidak berada di tanganku. Lagi pula aku sudah tidak berhasrat untuk memilikinya karena senjata hebat itu tidak sempurna. Ketidak sempurnaannya justru bakal merenggut korban lagi."

"Kau tidak perlu menggurui aku. Lagi pula kau jangan berpikir bahwa aku akan membiarkanmu tetap hidup. Dan aku tak akan kalah sungguhpun kau memiliki ilmu segunung."

"Aku sudah muak, aku tak ingin melayani kehendakmu. Kalau kau mau mendengarku kurasa lebih baik kita cari perempuan itu bersama-sama. Bila kutemukan dia harus kubunuh dan pedangnya kuserahkan padamu!"

"Bagaimana kalau kau menipuku?" Tanya Bayang Rego

"Langit dan bumi menjadi saksi. Aku tidak akan menipumu, kalau kau mau setelah kau ijinkan aku membunuh Aramimbi, kau juga boleh membalas kematianmu dulu dengan kematianku. Kau boleh menggunakan pedang sesuka hati. Dan aku tidak akan melakukan perlawanan."

"Andai saja aku bisa percaya!" Gumam Bayang Rego

"Kau harus percaya. Kau membutuhkan aku, karena bila sampai Aramimbi menggunakan pedang itu, kau tak bakal lolos dari senjata itu walaupun kau sepuluh kali lebih hebat dari dulu."

"Hmm, begitukah?"

"Aku tidak memaksamu Bayang Rego. Semua terserah padamu. Yang kulakukan demi keselamatanmu sendiri setelah dulu aku merasa telah berbuat salah dan mengabaikan keselamatanmu!" Ujar Sapta Jagad nada suaranya mengandung penyesalan. Setelah mempertimbangkan segalanya, Bayang Rego kemudian menyetujui usul Sapta Jagad.

"Kemana kau hendak mencarinya?"

"Aku mengetahui dimana kemungkinan dia berada. Apa keputusanmu?" Tanya Sapta Jagad.

"Aku memutuskan untuk menerima saranmu. Tapi begitu tahu kau menipuku jangan harap aku mengampunimu."

Ancam Bayang Rego. Sapta Jagad menyadari ancaman itu tentu bukan main main. Apalagi kini Bayang Rego boleh dibilang telah berubah menjadi setengah makhluk. Dia bukan lagi manusia yang punya hati dan perasaan. Dia bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya.

"Kita tak usah membuang waktu, sekarang kita harus pergi!" Ujar Sapta Jagad. Bayang Rego tidak menjawab. Sesuai dengan pusaran angin yang membungkus dirinya, sosok Bayang Rego kemudian keluarkan suara menggerung. Selanjutnya angin puyuh bergerak cepat meninggalkan Sapta Jagad. Sapta sendiri tidak menunggu lama, dia segera mengikuti Bayang Rego yang telah berada jauh di depan. Kini tinggallah Dewa Mimpi dan Saga Merah. Keduanya sama memandang begitu orang yang mereka awasi pergi.

"Kita sudah mendengar semuanya." Ujar Dewa Mimpi.

"Sungguh aku tidak menyangka pencuri pedang itu adalah Bayang Rego. Balewa Edan sendiri tidak pernah menyangka pedang itu dicuri oleh orang yang dipercaya Empu Kajang Selo."

"Dia juga berpendapat begitu padaku. Sekarang segalanya sudah mulai jelas. Dan mereka menuju ke suatu tempat." Ujar Saga Merah. Dewa Mimpi mengusapi dagunya yang polos.

"Kau tak usah ragu, mereka kemungkinan pergi ke gunung Sindur. Sesuai dengan mimpiku di tempat itu akan terjadi malapetaka hebat. Ayo kita susul mereka!" Kata Dewa Mimpi.

Sang pendekar mengangguk setuju. Mereka berdua lalu tinggalkan tempat itu menyusul Sapta Jagad dan Bayang Rego.

***

Kehilangan jejak Sapta Jagad bukan berarti bagi Seruni tidak ada cara lain untuk menemukannya. Seruni sudah mengetahui dimana saja biasanya Sapta Jagad menghabiskan waktu. Tetapi gadis cantik yang usia sebenarnya telah mencapai ratusan tahun ini tidak mau bertindak gegabah. Maka akhirnya dia bertanya pada Ki Ladung Kosa.

"Sapta Jagad aku yakin sulit untuk kita susul." Ujar perempuan itu.

"Tapi aku tahu Aramimbi biasanya menghabiskan waktunya di daerah ini."

"Ah kau terlalu yakin bahwa, nenek dan kakek itu Sapta Jagad dan Aramimbi?"

"Bagaimana kalau yang keluar duluan itu bukan Aramimbi?" Ujar Ki Burik Loso.

Kakek bungkuk yang bernama Ladung Kosa ini manggut-manggut membenarkan ucapan sahabatnya. 
"Mungkin juga dia Kukuni Srinti kekasihku."

"Kukuni Srinti siapa?" Tanya Seruni.

"Ah, kau belum tahu bahwa kakek geblek itu punya kekasih? Kekasihnya itu adalah yang namanya baru disebutnya tadi. Kukuni Srinti, kejadiannya sama seperti yang kau alami. Dia memendam rasa cinta pada Kukuni Srintil sejak dirinya masih muda."

"Ki Burik, bukan Kukuni Srintil, tapi Kukuni Srinti."

Ralat kakek bungkuk itu cemberut. Kakek yang sekujur tubuhnya dipenuhi oleh bintik-bintik hitam itu tertawa tergelak-gelak

"Aku tidak perduli salah atau betul aku menyebut nama orang. Yang jelas kejadian yang kau alami oleh gadis itu hampir sama. Bedanya cintamu tidak kesampaian, sedangkan cintanya Seruni dikhianati. Jadi kalian berdua nampaknya sudah ditakdirkan bakal berjodoh!"

"Bicaramu jangan kurang ajar, orang tua. Mana mungkin aku berbagi kasih dengan orang yang baru kukenal. Lagi pula dia sudah tua." Ujar Seruni.

"Wualah, kalau bukan karena ajian Mati Suri, apakah sampai kami temukanmu di kota Lama kau masih semuda ini? Keadaanmu kukira tidak jauh berbeda dengan kakek jelek cacat itu." Dengus Ki Burik Loso.

"Jangan kau menghinanya, aku bisa membunuhmu orang tua." Kata Seruni.

"Ah, ternyata setelah disakiti dan dikhianati, kau masih saja setia. Kau masih begini muda, kalau kau mau. Mencari sepuluh pemuda gagah juga masih dapat, mengapa kau mau menyiksa diri memikirkan laki-laki yang kini telah berubah menjadi tua bangka itu."

"Wajahku memang seperti gadis tujuh belas tahun, tapi aku sadar berapa usiaku. Aku bukannya mengharapkan Sapta Jagad kembali padaku. Aku hanya ingin mendapatkan kejelasan tentang pedang itu." Jawab Seruni tegas.

"Oh, jadi kau bukannya mengharapkan dia kembali kepadamu?" Tanya Ki Ladung sambil senyum-senyum sendiri.

"Untuk apa?"

"Siapa tahu untuk mengulang kisah lama yang penuh manis madu memabukkan!"

Kata Ki Ladung, orang tua ini lalu terkekeh sehingga terlihatlah gigigiginya yang ompong. Ki Burik yang aslinya seorang dewa ikut terkekeh. Tapi tawanya tidak lama, begitu dia ingat dengan tujuan semula, maka orang tua ini segera melayangkan pandang ke segenap penjuru.

"Kita telah sampai di kaki sebuah gunung. Kalau tidak salah gunung itu adalah gunung Sindur."

"Gunung Sindur?" Seruni tersentak kaget.

"Benarkah yang kau katakan ini?" Tanya gadis itu.

"Mengapa tidak? Aku ini seorang dewa, biarpun aku sedang menjalani hukuman. Gunung di depan itu namanya gunung Sindur, aku bisa memastikannya."

"Kalau demikian, kita kemungkinan harus melakukan penyelidikan ke bagian puncak gunung."  

"Mengapa ke sana, Seruni?" Ki Ladung bertanya.

"Kalau Aramimbi benar-benar yang kita lihat di kota Lama dan meloloskan diri, tentu dia bakal pergi ke tempat ini. Siapa tahu dia juga menyimpan pedang di puncak gunung itu!"

Ki Burik dan Ki Ladung saling bersitatap. Mereka sama berpikir kemungkinan yang dikatakan oleh Seruni ada benarnya.

"Kalau begitu kita harus menyelidik ke atas!"

Kata KI Burik. Belum sempat Ki Ladung memberi tanggapan, pada saat itu mereka mendengar suara ringkik kuda yang datang dari arah lereng gunung. Nampaknya kuda itu dipacu dengan sangat cepat.

"Ada orang datang kemari!" Ujar Seruni, "Mari bersembunyi."

"Buat apa bersembunyi. Kurasa ini adalah sebuah jalan satu-satunya yang akan dilewati. Kita tunggu saja." Ujar Ki Burik.

Dugaan laki-laki itu memang tidak meleset. Tidak lama kemudian di tempat itu muncui seekor kuda merah yang ditunggangi oleh dua orang. Penunggang kuda satunya berupa seorang kakek berpakaian hitam, sedangkan duduk membonceng di belakangnya seorang nenek berambut putih namun masih cantik.

"Berhenti!"

Teriak Ki Ladung. Dua penunggang kuda itu sama terkejut, sementara kuda meringkik sambil mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi. Kalau saja nenek yang duduk di bagian belakang tidak segera melompat dan lakukan gerakan berjumpalitan tentu dirinya sudah terbanting. Sementara itu kakek yang memegang kendali kuda masih dapat menjaga keseimbangan. Sehingga dia dapat mengendalikan kuda itu dan tetap bertengger di punggungnya.

Kakek yang duduk di atas kuda memandang ke arah orang-orang yang menghadangnya dengan perasaan tidak mengerti. Dia merasa tidak mengenal dua kakek dan gadis cantik itu. Berbeda dengan Seruni, begitu melihat wajah si nenek dia langsung berseru

"Apa kataku! Orang yang telah melarikan diri dari kota Lama yang kalian buka jalan keluar masuknya memang ada di sini. Dia bersama laki-laki yang tidak kukenal, berarti Sapta Jagad tidak bersamanya." Ujar Seruni.

Si nenek yang bukan lain memang Aramimbi adanya tentu tidak kuasa menyembunyikan kagetnya. Apalagi Seruni menyebut kota Lama dan Sapta Jagad. Walau hatinya dipenuhi sejuta tanya, si nenek yang penasaran langsung membentak.

"Siapa kau? Bagaimana kau bisa mengetahui tentang Kota Lama? Bagaimana kau bisa mengenal Sapta Jagad?"

Pertanyaan itu membuat Seruni tertawa. "Aramimbi, bukankah itu namamu. Bagaimana kau bisa lupa padaku, sedangkan aku sendiri tak dapat melupakanmu. Aku Seruni.."

"Seruni?" Desis si nenek sambil menggeleng tidak percaya.

"Bagaimana kau bisa tetap awet muda seperti dulu. Seharusnya kalau kau panjang umur keadaanmu kurang lebih sama seperti diriku. Kudengar kau terjebak di kota itu juga!"

"Memang aku terjebak di kota itu. Kaulah yang menjadi penyebab dari semua bencana yang membuat aku terpisah dari Sapta Jagad. Perlu kau ketahui bahwa aku memiliki ajian Mati Suri. Dengan ajian itu memungkinkan tubuh tidak mengalami perubahan."

"Hik hik hik! Usiamu sudah ratusan tahun, lalu apa gunanya kau awet muda kalau pemuda yang kau puja kini telah berubah menjadi kakek renta yang tidak berguna? Kau masih juga belum melupakan Sapta Jagad. Mengapa kau tidak mencarinya di rumah patung pemujaan. Aku mengurungnya di sana. Aku sudah meracuninya, membuatnya cacat tak berdaya.."

"Astaga! Berarti kakek yang kita temui itu memang dia!" Ujar Ki Burik pada Ki Ladung Kosa.

"Ya, seperti kataku dia tidak mau mengakui dirinya Sapta Jagad karena merasa malu pada Seruni." Si nenek yang mendengar ini diam-diam kaget juga.

"Oh jadi kau telah menemukan tempat penyekapannya. Bagaimana keadaannya?" Seruni tersenyum sinis.

"Sama sepertimu dia meninggalkan Kota Lama, kekuatannya pulih dan kukira sedang mengejarmu!" Jawab Seruni ketus.

"Tidak mungkin!"

"Kemungkinannya pasti ada. Cepat atau lambat dia akan menemukanmu di sini." Sahut Seruni. Aramimbi menatap ke arah kekasihnya.

"Kau sudah melihat laki-laki di atas kuda itu. Dia adalah Tangan Kematian dan dia adalah kekasihku yang sesungguhnya. Dan pedang yang tergantung di punggungnya itu, senjata itu yang telah membuat geger delapan penjuru persilatan."

"Jahanam, jadi kau telah mempermainkan Sapta Jagad!?" Teriak Seruni kalap.

"Kurang lebih seperti itu. Aku dekati dia karena ingin mendapatkan pedang Cacat Jiwa, Tapi karena aku sadar Sapta Jagad memiliki ilmu yang luar biasa agar tidak membuat aku repot di kemudian hari aku terpaksa meracuninya dan membuat cacat tubuhnya. Tidak kusangka dia masih bisa lolos." Kata Aramimbi menyayangkan. Sementara itu Ki Ladung memberi bisikan pada Ki Burik.

"Aku rasanya sudah mendengar kakek bergelar Tangan Kematian itu. Seperti halnya Iblis Hitam. Tangan Kematian juga dapat menembus dunia lelembut. Kita harus waspada tanpa pedang dipihaknya. Tangan Kematian sudah merupakan lawan yang amat berbahaya bagi kita."

Ki Burik melalui ilmu menyusupkan suara menjawab. "Kau tak usah takut! Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian."

Sementara itu Seruni hampir-hampir tidak dapat menguasai diri. Kekejian yang dilakukan Aramimbi terhadap Sapta Jagad memang telah membakar kemarahannya. Tetapi sejak merasa dikhianati Seruni sendiri sebenarnya sudah tidak menghiraukannya. Terlepas dari semua itu, demi menyadari bahwa Sapta Jagad sesungguhnya manusia yang baik. Dia hanya merasa kasihan pada kakek itu.

"Kau telah melakukan penipuan, kau telah membuat kesalahan besar. Yang membuat aku heran kau tidak menyesalinya. Kau bukan manusia, kau Kajing berhati Kaluak, ya....hanya setan berhati iblis aja yang tidak punya perasaan." Maki Seruni.

Dalam kesempatan itu Tangan Kematian yang sejak tadi hanya diam mendengarkan kini membuka mulutnya.

"Kekasihku Aramimbi. Siapakah kecoak kecoak busuk ini. Mengapa mereka terlalu berisik sekali? Tidakkah kita dapat melakukan sesuatu untuk membungkam mulut mereka?" kata Tangan Kematian dingin.

"Tangan Kematian belahan jantungku, mereka ini adalah orang yang mencari mampus. Gadis yang kau lihat itu umurnya sama dengan umurku, dia kekasihnya Sapta Jagad, namun karena pengaruhku, Sapta Jagad meninggalkannya. Seperti yang kau dengar sendiri, dia memiliki ilmu Mati Suri. Dengan ilmu seperti itu membuatnya tetap awet muda."

"Aku tidak perduli, lalu siapa dua kakek renta itu? Apakah kekasih gelapnya?" Tanya Tangan Kematian. Darah Seruni terasa mendidih mendengar ejekan Tangan Kematian. Kakek bungkuk Ladung Kosa hanya menggeram, sebaliknya Ki Burik justru tertawa aneh.

"Kudengar gelarmu Tangan Kematian, aku tidak mengerti mengapa gelarmu menyamai gelar Dewa Pencabut Nyawa. Apakah julukanmu sehebat kekuatanmu. Terus terang, aku lebih suka menganggap Seruni itu cucuku sendiri, tapi mengingat usianya yang hampir sama dengan Aramimbi, maka dia lebih pantas menjadi anakku. Sekarang kita kesampingkan soal yang sepele. Aku ingin bertanya kepadamu, apakah pedang itu milikmu?"

Tangan Kematian memandang kakek di depannya dengan sorot mata dingin. Dia lalu tertawa.  

"Perduli apa kau dengan pedang ini. Jika pedang ada ditanganku, berarti senjata ini milik kami."

"Tangan Kematian, kau dan Aramimbi telah menipu diri sendiri. Sekarang lebih baik kau serahkan senjata itu kepadaku. Aku seorang dewa sejati, tentu aku tahu apa yang harus kulakukan!"

"Kakek gila, dirimu yang buruk rupa itu mengaku sebagai dewa. Kau tidak perlu menipu kami."  Ujar Aramimbi sinis.

"Apa kukata, mana ada orang yang percaya bahwa kau ini sesungguhnya dewa." Celetuk Ki Ladung Kosa sambil mencibirkan bibirnya.

"Aku tidak perduli orang percaya atau tidak. Aku muak berdebat dengan orang-orang seperti mereka? Sekarang katakan apa yang akan kau lakukan?" tanya Ki Burik.

"Mengapa berdebat, tidak ada jalan kebaikan bagi mereka. Kita pun tidak berdebat. Keputusan sudah disepakati. Bunuh mereka dan ambil pedang itu demi keselamatan dunia persilatan!" Tegas Seruni. Ucapan Seruni ini membuat Aramimbi tertawa mengikik.

"Mulutmu lancang amat, kau mengira akan semudah itu untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan. Persoalannya tidak sederhana seperti yang kau bayangkan!" Ucapnya.

"Mengapa repot, mereka minta mati, kita kabulkan permintaan mereka!" Kata Tangan Kematian ditujukan pada Aramimbi.

Aramimbi menyambut dengan gembira keputusan Tangan Kematian. Dan sesungguhnya perkelahian itu sudah tidak mungkin dihindari lagi, apalagi mengingat Seruni memang memendam dendam kesumat mendalam terhadap Aramimbi. Jadi yang menjadi persoalan bukan hanya karena Pedang Cacat Jiwa, tapi juga ada persoalan lain yang menyangkut soal perasaan.

Tanpa menunggu, Seruni segera menggunakan kesempatan itu untuk menyerang. Serangan yang dilakukannya tentu saja dengan menggunakan tenaga sakti dan jurus-jurus yang sangat berbahaya. Aramimbi segera merasakan berapa hebatnya pukulan yang dilepaskan oleh Seruni. Tetapi Aramimbi bukan perempuan lemah, dia tidak hanya licik. Aramimbi juga mempunyai jurus-jurus andalan yang hebat, pukulannya mengandung hawa dingin luar biasa.

Tidak mengherankan begitu mendapat serangan dari Seruni, si nenek menghentakkan kakinya. Sosok orang tua ini lalu lenyap, tubuhnya melambung ke udara kemudian lenyap berubah menjadi bayang-bayang yang melakukan serangan balik dengan kekuatan berlipat ganda. Seruni mendengus, dalam waktu sekejab sepuluh jurus telah terlewati. Gadis ini mengerahkan tenaga dalamnya. Tenaga dalam dia lipat gandakan kemudian dia salurkan ke bagian kaki dan kedua tangannya. Sambil bergerak lincah menghindari serangan ganas si nenek, pada satu kesempatan di susupkan tangan kirinya ke bagian rusuk.

Si nenek menghindar, kaki menyambar ke atas menghantam ke arah dada. Ini adalah kesempatan yang ditunggu oleh Seruni. Melihat kaki siap menghantam dada, dia melompat mundur. Kemudian secepat kilat tinjunya meluncur. Angin ganas menyambar ke bagian perut Aramimbi. Nenek ini tersentak kaget. Dia berkelit, namun pukulan telak masih menghantam perutnya. Aramimbi terjajar. Perutnya seperti hancur.

Dia marah bukan main, melihat kekasihnya kena dihajar oleh Seruni, Tangan Setan sudah tak dapat lagi menahan diri. Tetapi ketika dia melompat dari punggung kudanya, Ki Ladung Kosa dan Ki Burik Loso tidak membiarkannya. Wuuus! Wuss!

Dua tinju menderu dari arah samping kanan dan kiri. Tangan Kematian langsung selamatkan kepalanya. Dua tangan bergerak menepis. Tapi tangkisan itu nyaris membuatnya terjengkang.

"Apa yang hendak kau lakukan? Kau ini apakah mau berubah menjadi banci?" Celetuk Ki Burik yang tahu-tahu ada di depannya. Ki Ladung ikut menimpali.

"Biarkan saja urusan perempuan diurus oleh perempuan. Apakah kami berdua tidak cukup pantas untuk memuaskan kemarahanmu?"

Tangan Kematian katubkan mulutnya rapat-rapat. Wajahnya nampak mengelam saat itu dia berpikir kedua kakek itu bukan lawan sembarangan. Dia tidak mungkin bertindak kepalang tanggung jika tak mau celaka.       Satu-satunya cara adalah menggunakan ilmu andalannya yang bernama Tangan Kematian atau dia segera menggunakan Pedang Cacat Jiwa untuk membunuh mereka.

Tetapi Tangan Kematian ternyata lebih menyukai cara pertama. Dia lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Wajah Tangan Kematian tiga kali lebih menyeramkan dari aslinya. Sementara tangan itu bergetar dan nampak menebarkan bau busuk menyengat. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup baru kali ini Tangan Kematian menggunakan ilmu pamungkasnya.

Ki Ladung dan Ki Burik segera menyadari, lawan yang mereka hadapi bertindak tidak kepalang tanggung. Ki Ladung segera menggunakan, ilmu simpanannya. Dia mengerahkan itmu Membelah Bumi Mengosongkan Lautan.  Ki Ladung memutar kedua tangannya. Mula-mula tangan itu bergerak ke kiri, ke atas dan ke bawah. Sekujur tubuhnya bermandi keringat.

Sementara Ki Burik dengan tenang namun sempat tegang menggunakan ilmu Kincir Dewa Menyerbu Delapan Mata Angin. Tidak terbayangkan suasana di tempat itu sudah berubah seperti mau kiamat. Kemudian terdengar suara pekikan tiga kali berturut-turut. Tangan Kematian yang segera menyadari betapa dahsyatnya serangan Ki Ladung dan Ki Burik segera mengadu tangannya. Dua tinju saling membentur. Terdengar dentuman menggelegar yang membuat pepohonan dan bukit-bukit hancur akibat terserang getarannya.

Baik Tangan Kematian, Ki Ladung Kosa maupun Ki Burik Loso kini sama berlari menyongsong lawannya. Angin menderu, debu dan pasir beterbangan. Pohon-pohon tumbang dan terpental di udara. Kilauan cahaya yang bersumbar dari tiga kekuatan menerangi kaki gunung Sindur. Bahkan Aramimbi dan Seruni yang sedang terlibat perkelahian sengit dan sudah sama terluka nampak terpelanting terhantam angin panas yang keluar dari serangan yang dilakukan oleh tiga tokoh sakti itu.

Akhirnya, benturan keras tak dapat dihindari. Enam tinju saling membentur. Terjadi ledakan keras menggelegar. Tangan Kematian sungguhpun telah menggunakan ilmu yang paling diandalkannya tetap saja tak kuasa menahan serangan yang dilakukan kedua tokoh itu. Diapun terpental sampai puluhan tombak, sementara Ki Ladung dan Ki Burik yang bersatu padu menggempur lawannya sempat terdorong mundur ke belakang sejauh tiga tombak.

Kuatnya benturan membuat kaki mereka terseret hingga meninggalkan bekas yang dalam dan panjang. Ki Burik merasa dadanya terguncang, Ki Ladung mendekap perutnya yang terasa seperti mau meledak. Di depan sana Tangan Kematian semburkan darah segar. Ki Ladung berbisik demi melihat keadaan Tangan Kematian.

"Inilah kesempatannya!"

Ki Burik mengangguk. Keduanya sama berteriak lalu seperti gelombang air bah yang tidak terbendung keduanya melesat ke arah lawan siap menghabisi Tangan Kematian. Tangan Kematian berada dalam posisi terjepit. Sementara itu Aramimbi sendiri demi melihat kekasihnya siap hendak membantu. Tapi kesempatan itu tidak didapatnya mengingat Seruni terus menyerangnya dengan ganas sekali.

Akhirnya demi keselamatan diri sendiri dia segera menyambut serangan Seruni. Ketika tangan Seruni hampir menghancurkan wajahnya, si nenek menarik tubuhnya ke belakang, tetapi serangan tangan kiri lawan walau Aramimbi berhasil selamatkan wajahnya menghantam ke arah dadanya. Aramimbi kesakitan sekali. Dia menderita luka di dalam, melihat ini Seruni tambah bersemangat. Dia menghantam kakinya, sasaran yang dituju adalah bagian mematikan di tubuh lawannya.

Lawan nampaknya sengaja membiarkan, namun ini sebenarnya adalah tipu muslihat. Begitu kaki lawan hampir mengenai tubuhnya. Aramimbi melompat jauh ke atas melampaui kepala lawannya. Pada saat itulah tangannya yang telah berubah menghitam akibat dialiri tenaga dalam menghantam batok kepala Seruni. Gadis itu merasa ada sambaran angin di atas ubunubunnya, dia berusaha selamatkan diri. Namun tindakan yang dilakukannya ini terlambat. Kraaak!

Kepala gadis itu berderak pecah. Seruni menjerit keras, tubuhnya tergelimpang. Dia tewas seketika dengan mata melotot. Namun suara jeritan Seruni tenggelam oleh suara gemuruh yang ditimbulkan oleh serangan Ki Ladung dan Ki Burik. Walau mereka sadar sesuatu yang buruk sedang menimpa gadis malang itu. Namun mereka tak mungkin mengurungkan serangan ataupun menariknya kembali.

Apalagi melihat Tangan Kematian sudah terdesak sekali. Untuk yang kedua kalinya kedua kakek ini sambil melesat kembali menghantam. Tangan Kematian mustahil dapat menyelamatkan diri, namun pada saat terjepit seperti itu dia tidak kehabisan akal. Sekonyong konyong dia mencabut pedang dipunggungnya. Sinar hitam, merah dan biru berkiblat disertai suara gaung mengerikan.

Demikian cepat sambaran pedang itu hingga hanya Ki Burik yang agak terpaut jauh dari lawan dapat melihat pedang itu. Dia terus menghantam, tapi cahaya pedang mendorongnya ke arah dirinya datang sekaligus hampir menghanguskannya. Celaka bagi Ki Ladung Kosa, kakek ini begitu bersemangat untuk menghabisi Tangan Kematian. Jaraknya pun sangat dekat dari lawannya. Tanpa ampun hantaman cahaya pedang itu melabrak tubuhnya. Ki Ladung Kosa ambruk seperti pohon yang ditebang.

Dari bagian kening hingga ke perut terdapat luka hitam memanjang. Ki Burik terperangah, terlebih lebih ketika melihat perubahan pada tubuh Ki Ladung berlangsung cepat sekali. Tubuh yang sudah tidak bernyawa itu kemudian mengepulkan asap. Tercium bau daging hangus yang terbakar. Sampai akhirnya Ki Ladung hanya tinggal menjadi tengkorak hangus dan gosong. Ki Burik Loso bergidik ngeri.

Sebagai seorang dewa tidak ada yang ditakutinya. Tapi kini dirinya menjelma menjadi manusia. Kesaktiannya tidak utuh karena sebagian tertahan di kayangan. Dia bisa terluka, bisa juga merasakan sakit. Ki Ladung telah mati, yang lebih menyedihkan lagi Seruni juga telah menemui ajal di tangan si nenek. Bahkan nenek itu kini bergabung dengan kekasihnya yaitu Tangan Kematian. Sementara Tangan Kematian dengan congkaknya memasukkan pedang ke rangkanya kembali. Penuh kemenangan dia berkata.

"Sekarang hanya tinggal kau sendiri. Dua kawanmu sudah mampus. Kau mengaku sebagai dewa, selaku dewa apakah kau tidak mengenal kata mati!" Tanya Tangan Kematian dingin.

"Aku tidak takut mati, aku juga tak bakal mengurungkan niatku. Mengapa aku harus takut kepadamu, sedangkan kedudukan manusia itu tidak lebih-lebih dari hamba pada dewa." Jawab Ki Burik tenang sekali.

"Kalau begitu, mari kita buktikan apakah keadaanmu memang berada jauh di atasku?"

Teriak Aramimbi yang yakin dapat menyingkirkan Ki Burik. Aramimbi melangkah mendekati Tangan Kematian. Dia kemudian membisikkan sesuatu ke telinga kekasihnya. Tangan Kematian tertawa, dengan bangga dia berkata,

"Rencanamu itu cukup bagus juga Aku setuju dengan rencana itu. Kita akan membuat kakek yang tubuhnya belang-belang ini akan menjadi cacat seumur hidup!"

"Ya diberi umur panjang, walaupun dia pantas sebagai dewa pada akhirnya dia akan menjadi dewa yang tidak berguna!" Ujar Aramimbi.

Belum lagi Ki Burik sempat menjawab ucapan Aramimbi. Tiba-tiba mereka semua yang ada di situ dikejutkan oleh suara gemuruh angin dan gelak tawa menyeramkan.

"Aramimbi, kucari kemana-mana, tidak tahunya kau berada disini bersama kekasihmu!"

Kata satu suara keras menggeledek. Aramimbi kaget karena dia merasa kenal dengan suara itu.  

"Sapta Jagad! Celaka!" desisnya dengan wajah ketakutan.

"Kau tenang saja kekasihku. Selama aku masih berdiri di sampingmu dan Pedang Cacat Jiwa ada pada kita. Tidak seekor kunyukpun yang bisa mencelakakan kita." Ujar Tangan Kematian.

Angin terus menderu, pohon-pohon terguncang keras. Satu bayangan muncul disertai pusaran angin yang menampilkan bayang-bayang berujud seorang kakek dalam rupa transparan. Jika Aramimbi mengenali orang pertama yaitu kakek berwajah cacat berkaki pincang. Begitu juga dengan Ki Burik namun dia tidak kenal dengan orang yang berada dalam pusaran angin itu.

"Kau lihat pedangnya ada pada Tangan Kematian!" Kata si kakek yang rupanya mengenal Tangan Kematian

"Aku harus merampasnya!" Ujar sosok bayang bayang yang berlindung di dalam pusaran angin.  

"Aku tidak melarangmu, Bayang Rego. Perempuan yang membunuhmu ada di depan sana." Kata si kakek yang memang Sapta Jagad.

"Kau bagaimana kau bisa hidup kembali?" Tanya Aramimbi begitu melihat sosok Bayang Rego mendekatinya

"Kau tidak perlu bertanya. Kau telah membunuhku, sekarang kembalikan pedang itu padaku dan kau harus menerima kematianmu, Aramimbi." Ujar Bayang Rego.

"Hik hik hik! Kekasihku Tangan Kematian, kau sudah mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang sudah mati itu." Ucap Aramimbi.

"Kau tidak perlu takut." Jawab Tangan Kematian.

Sementara itu demi melihat Sapta Jagad, Ki Burik berkata, "Kami semua sudah menduga, kau pasti Sapta Jagad. Seruni selalu mengasihimu, sayang kau datang terlambat. Seruni sudah tewas di tangan mereka. Aku juga kehilangan seorang sahabat. Mayat Seruni ada di sudut itu, yang membunuhnya Aramimbi.Sedangkan mayat kawanku sudah hangus terbakar cahaya pedang jahanam itu."

Wajah buruk Sapta Jagad nampak muram. "Aku minta maaf, aku berdosa kepada Seruni. Tapi aku sudah tidak pantas mendapatkan cintanya karena aku kotor berlumur dosa. Aku tidak bisa menerangkan keadaan pada saat kali bertemu denganku di kota Lama. Aku dalam keadaan tertekan tapi aku berjanji akan membalaskan kematian Seruni serta dendamku pada perempuan itu," Ujar Sapta Jagad.

Orang tua itu kemudian tinggalkan Ki Burik dan bergabung dengan bayang-bayang dalam pusaran angin.

"Aku yang akan membayarkan kematianmu dulu perempuan ini layak mati ditanganku. Bahkan kalau dia punya sepuluh nyawa aku akan membunuhnya sampai sepuluh kali." Ujar Sapta Jagad ditujukan pada Bayang Rego.

"Dia yang membuatku celaka, seharusnya dia bagianku." Sahut Bayang Rego tidak setuju.

"Pedang itu yang jadi pangkal bencana. Seharusnya kaulah yang mengambilnya, bukan aku. Sebab kalau aku yang berhasil merampasnya, pedang itu nantinya tidak bakal kuberikan padamu!" Ujar si kakek. Rupanya pancingan Sapta Jagad cukup berhasil. Terbukti Bayang Rego kemudian menganggukkan kepala.

"Aku setuju, bunuh dia untukku!"

Pesan Bayang Rego sebelum meninggalkan Sapta Jagad. Kakek itu mengangguk. Kini Bayang Rego menghadap Tangan Kematian.

"Kau seharusnya tidak layak berada di dunia ini! Mengapa kau masih inginkan pedang padahal kau sudah mati?" Tanya Tangan Kematian sinis.

"Karena aku hidup kembali, maka aku berniat memiliki pedang yang kau curi." Jawab Bayang Rego.  

Di sisi lain, Ki Burik agaknya sudah mengetahui apa yang bakal terjadi. Dia akhirnya memutuskan untuk memilih mundur. Dia akan mengawasi perkembangan yang terjadi sambil mengurus jasad Ki Ladung dan mayat Seruni. Sementara itu, Sapta Jagad diam-diam tidak dapat menahan diri. Setelah menatap Aramimbi dengan penuh kebencian, orang tua ini berkata.

"Kemana lagi tempat kau melarikan diri?"

"Aku tidak perlu lari dari laki-laki tua yang lemah seperti dirimu. Justru sekarang adalah saat paling menentukan dalam hidupku. Maka bersiap-siaplah kau untuk mati!" Geram Aramimbi sambil tersenyum sinis.

"Kau lupa, kepandaian yang kau miliki tidak sampai separohnya dari kesaktianku. Sebelum aku bertindak, sebaiknya kau membunuh dirimu agar aku tidak mengotori tangan dengan darahmu yang busuk!" Kata Sapta Jagad.

"Hik hik hik! Kalau tadi aku sanggup membunuh bekas kekasihmu Seruni apa sulitnya menyingkirkanmu yang sudah menjadi rongsokan!" Kata Aramimbi.

Dan nenek tua itu kemudian segera melakukan serangan keji yang sangat berbahaya ke arah lawannya. Bibir Sapta Jagad menguraikan senyum dingin. Dia meletakkan tangan kanannya ke belakang. Dengan menggunakan tangan kiri dia menyambut serangan yang dilancarkan Aramimbi. Si nenek merasa diremehkan. Menghadapi serangan ganasnya hanya dengan menggunakan sebelah tangan dianggap sebagai tindakan yang tidak memandang sebelah mata.

Kenyataannya, ketika Aramimbi menyerang Sapta Jagad dengan jurus, Kelelawar Hitam Membelah Malam sambil menghantam dengan pukulan sakti Menguak Kabut Membelah Gunung'. Si kakek dengan gerakan mudah dapat menghindar dari jurus-jurus serangan si nenek, bahkan dengan sebelah tangan pula dia berhasil mematahkan pukulan ganas yang dilakukan Aramimbi.

Begitu serangan si nenek dapat dipatahkannya, dengan menggunakan telapak tangan menghantam perut nenek itu. Walau Aramimbi telah menangkis, tapi tenaga dalamnya kalah tinggi dibanding kakek itu. Tak urung dia terjengkang dan muntahkan darah kental. Aramimbi mendengus, dia bangkit lagi dan melakukan serangan kembali. Sementara itu Tangan Kematian sendiri ketika itu tengah mendapat serangan Bayang Rego. Tentu saja serangan Bayang Rego sangat berbahaya sekali, karena Bayang Rego terlindung oleh angin yang tercipta dari dirinya sendiri.

Di samping itu kekuatan angin itu dapat menyerang dengan yang dilakukan sendirinya. Jadi ketika Tangan Kematian mencoba menghantam lawannya, dia justru seperti membentur dinding batu, malah tangannya yang menghantam kemudian terpental. Tangan Kematian sempat merasa kerepotan menghadapi serangan Bayang Rego itu. Hantaman angin puyuh yang dihasilkan Bayang Rego dari putaran tubuhnya yang tidak mau diam telah membuatnya jatuh, jungkir balik tak karuan.

Kini Tangan Kematian tidak punya pilihan lain. Dia segera menggunakan ilmu yang menjadi andalannya. Ilmu yang diandalkannya itu adalah berupa ilmu yang membuat kedua tangannya berubah menghitam sementara setiap pori-pori tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu sebesar dan setajam duri landak. Tangan Kematian berkomat-kamit. Dua tangan diletakkannya di depan hidung.  

Selanjutnya laki-laki tua itu menghantam ke depan. Dess! Serta merta tangan itu berubah hitam dan besar. Ujung jarinya panjang dan runcing, sementara seluruh kulitnya juga berubah ditumbuhi bulu-bulu yang sangat tajam seperti jarum, sewaktu-waktu bila Tangan Kematian menghendaki, bulu-bulu itu dapat melesat menuju sasaran dan menjadi senjata pembunuh yang bisa diandalkan.

Bayang Rego tidak mengetahui arti perubahan ini. Sementara itu perkelahian antara Aramimbi dan Sapta Jagad memang berlangsung tidak seimbang. Hanya dengan menggunakan sebelah tangannya saja Sapta Jagad sudah berhasil membuat lawannya terluka parah dan terdesak sekali. Jelas Sapta Jagad bukan tandingan si nenek. Namun Aramimbi memang manusia sombong, begitu segala upaya tak membuat Sapta Jagad roboh maka pada puncaknya dia menggunakan asap beracunnya sambil menyambitkan senjata rahasia berupa jarum hitam yang juga mengandung racun mematikan.

Sapta Jagad sebelumnya sudah pernah tertipu, mustahil dia terkecoh untuk yang kedua kalinya. Melihat serangan asap dan jarum beracun, orang tua ini mengibaskan tangannya menyambuti serangan jarum dan asap yang menyerbu ke arahnya. Jarum dan asap itu bermentalan, sebagian kembali berbalik menyerang Aramimbi sedangkan sebagian lagi melesat tidak tentu arah. Aramimbi memekik kaget tidak menyangka lawan dapat membalikkan serangannya.

Dia melompat selamatkan diri, sialnya pada saat itu pula Sapta Jagad melesat ke atas lalu menghantam dengan satu pukulan yang mematikan. Pukulan itu membuat tulang punggung Aramimbi remuk. Dia menjerit setinggi langit. Sosoknya meluncur deras ke bawah dan jatuh berdebum. Perempuan itu mengerang, nafasnya megap-megap namun tak berlangsung lama. Setelah itu dia diam tidak berkutik lagi.

Sapta Jagad tersenyum puas, dia kemudian memandang ke arah Bayang Rego yang sedang terlibat pertempuran sengit dengan Tangan Kematian. Tangan Kematian sendiri ketika itu sudah mulai melepaskan bulu-bulunya yang sekeras duri landak. Dia nampaknya sangat berang sekali melihat Aramimbi tewas di tangan Sapta Jagad. Tetapi serangan Tangan Kematian ternyata tak dapat melukai tubuh lawannya yang hanya berupa bayang-bayang, malah serangan bulu sebagian perpentalan terhembus angin yang berputar mengurungnya.

Tangan Kematian sempat kewalahan. Dia tak mungkin menghadapi lawan dalam keadaan seperti itu. Tidak ada pilihan lain, dia segera hendak meraih pedangnya. Di luar yang dia perkirakan, sebelum gagang pedang dapat diraihnya, Bayang Rego menyergapnya dengan pusaran angin. Tangan Kematian merasa sulit bernafas, sementara Bayang Rego segera berputar hingga posisinya kini berada di punggung lawan. Tangan Kematian kaget bukan main. Dia meraih pedangnya lagi, namun Bayang Rego sudah menyambar pedang berikut sarungnya.

Pedang Cacat Jiwa kini berpindah tangan. Bukan hanya Sapta Jagad yang kaget melihat ini, Tangan Kematian juga terkesima. Tapi dia tidak ingin celaka, segera setelah pedang berpindah tangan kakek itu menggunakan ilmunya melarikan diri. Tangan Kematian mendadak raib dari hadapan Bayang Rego. Laki-laki itu tertawa.

"Pedang ini akhirnya kembali kepadaku! Ha ha ha! Aku akan merajai dunia persilatan seorang diri." Kata Bayang Rego. Kini dia bergerak mendekati Sapta Jagad. Kepada orang tua itu dia berkata,  

"Sapta Jagad. Pedang telah berada di tanganku, sayangnya aku sudah tidak menyukaimu. Maka sekarang juga aku terpaksa membunuhmu!"

Sapta Jagad terbelalak kaget, walau dirinya tidak takut pada Bayang Rego. Jauh di lubuk hati dia sudah tidak menghendaki pedang Cacat Jiwa berada di tangan siapa saja. Pedang itu harus disingkirkan jauh dari dunia persilatan. Dia harus menghentikan Bayang Rego. Kalau tidak dengan pedang ada di tangannya Bayang Rego bakal menimbulkan masalah besar. Tapi belum sempat Sapta Jagad memberi keputusan atas ucapan Bayang Rego pada saat itu terlihat ada dua bayangan berkelebat ke arah mereka. Salah seorang di antara bayangan itu berkata.

"Bayang Rego makhluk demit. Kau tidak akan kemana-mana. Kau harus bertanggungjawab atas kematian Balewa Edan atau Pengukir Nisan yang kau bunuh. Di samping itu kau juga harus bertanggungjawab atas pencurian yang kau lakukan dulu."

Baik Bayang Rego maupun Sapta Jagad terkejut. Mereka memandang ke depan. Di depan sana mereka melihat seorang kakek dan seorang pemuda gondrong bercelana hitam.

"Kalian siapa?" Tanya Sapta Jagad.

"Aku Saga Merah, temanku ini adalah Dewa Mimpi. Aku telah mengikuti kalian dan mendengar semua yang kalian bicarakan," Ujar si pemuda.

"Dia benar. Sejak kau duduk di depan bangunan itu, lalu muncul Bayang Rego kami terus mengawasimu." Ujar Dewa Mimpi.

Bayang Rego yang mengenali Dewa Mimpi juga pernah melihat Saga Merah yang pernah dikecohnya ketika dirinya masih berujud arwah tertawa dingin.

"Sapta Jagad boleh tidak mengenal kalian. Tapi aku Bayang Rego sudah pernah melihat pemuda itu dan kenal dengan Dewa Mimpi. Aku sudah mengatakan padamu agar bekerja sama denganku. Tapi kau tak mau. Sekarang aku telah dapatkan pedang ini kembali. Apa niatmu?"  

"Kau harus menyerahkan pedang itu pada kami. Kami akan memberikannya pada orang yang bisa dipercaya atau menitipkannya pada Dewa Salya."

"Oh kakek Burik itu yang kau maksudkan?" Tanya Bayang Rego.

"Bagus kau mengenalnya." Ujar Dewa Mimpi.

"Tapi aku tak akan memberikannya." Ujar Bayang Rego bersikeras.

Orang-orang yang berada disitu saling pandang. Suasana tegang menggantung di udara. Sementara Ki Burik Loso sendiri sebenarnya sudah tidak berada lagi di sana. Dia membawa abu jenazah temannya dan mayat Seruni ke suatu tempat untuk dimakamkan secara layak. Pada saat seperti itu, Sapta Jagad tiba-tiba berkata.

"Aku tidak kemaruk lagi pada pedang itu. Aku telah melihat bahava yang ditimbulkannya. Karena itu jika kau menghendaki, anak muda. Aku akan pertaruhkan nyawaku untuk membantu mengambil pedang itu dari tangannya." Kata Sapta Jagad menawarkan diri.

"Apakah layak mengeroyoknya?" Tanya Saga Merah.

"Ini tidak menyangkut soal pantas atau tidak pantas. Aku sudah mengetahui kehebatan pedang itu. Tanpa senjata aku bisa meringkus Bayang Rego untukmu."  

"Kau berkata seperti itu untuk menghindari hukuman?!" Tanya Dewa Mimpi.

"Untuk apa. Setelah kubantu kalian merebut pedang itu, jika kalian mau menghukumku tidak jadi masalah."       Ujar Sapta Jagad. Saga Merah terdiam.

"Kau tidak usah ragu. Yang dikatakannya benar. Dengan pedang ada di tangannya, kita harus menghadapi Bayang Rego bersama-sama. Jika tidak begitu jangan harap di antara kita ada yang selamat!" Kata Dewa Mimpi tegas

"Ha ha ha. Setelah pedang ditanganku, tidak kusangka Sekarang siapa yang ingin mampus duluan silahkan maju!" Tantang Bayang Rego.

"Sudah melakukan kesalahan tapi masih juga bicara sombong! Kau kira aku takut kepadamu!" Teriak Saga Merah.

Dia tidak hanya sekedar berteriak. Saat itu juga dia melesat ke arah lawan dengan pukulan Halilintar. Tindakan yang dilakukan pemuda itu kiranya demi mengingat dengan bahaya yang bakal dia hadapi. Bayang Rego segera melihat cahaya biru secara susul menyusul menghantam ke sekujur tubuhnya. Dia beruntung dirinya terlindungi oleh gemuruh angin puyuh yang terus mengikutinya kemana saja dirinya bergerak. Tak urung pukulan Saga Merah sempat merobek selubung angin yang melindungi dirinya.

Bayang Rego bergetar keras. Tetapi dia segera mengambil tindakan. Secepat kilat Bayang Rego melabrak Saga Merah. Tubuhnya berputar sesuai dengan gerakan angin yang menyelimutinya. Pemuda itu terdesak, sambaran angin yang menghantam silih berganti nyaris menggulung menggempur dirinya. Namun berkat jurus Sang Budha warisan kakek Sun. Saga dapat menghindar dari terjangan angin yang lebih hebat lagi. Bayang Rego tambah penasaran, kini dia melipat gandakan kekuatannya.

Ketika tenaga dalam dilipat gandakan, maka pusaran angin yang menyatu dengan dirinya bertambah ganas dan makin menggila. Ketika pusaran angin yang dikendalikan Bayang Rego yang berada ditengah itu kembali menghantam. Maka Saga bergulingan untuk menghindari sapuan angin puyuh yang siap menyerang tubuhnya. Bersama dengan itu pemuda ini segera menggunakan jurus Tanpa Arah Tanpa Bentuk Tanpa Bayangan.

Secara mengagumkan pemuda ini dapat meloloskan diri dari serangan Bayang Rego. selanjutnya tidak mudah bagi Bayang Rego menyentuh apalagi mencederai lawannya. Setelah berbagai serangan gencar tak dapat menghancurkan lawannya, Bayang Rego kini merubah jurus-jurus serangannya. Sekarang dirinya yang dapat melambung ke atas dan ke bawah sesuai dengan hembusan angin yang menerbangkannya segera berputar tinggi di udara. Namun pada saat itu, Dewa Mimpi dan Sapta Jagad ternyata ikut mengambil bagian menyerang Bayang Rego.

"Jangan biarkan dia mengeluarkan pedang itu!" Teriak Sapta Jagad.

"Aku akan menghantamnya dengan pukulan!" Kata Dewa Mimpi.

Saat itu pula Dewa Mimpi menghantam dengan pukulan yang mematikan. Dewa Mimpi sangat cerdik, ketika cahaya biru menyilaukan berkiblat dari tangannya. Dia melihat Bayang Rego segera berkelit, namun celaka bagi dirinya selamat dari pukulan pertama. Dewa Mimpi ternyata kembali menghantamnya secara bertubi-tubi. Perisai angin puyuh yang melindungi Bayang Rego hancur tercabik-cabik Bayang Rego jatuh ke tanah.

Kakek yang baru bangkit dari kematiannya ini menjadi marah. Dia juga menyadari menghadapi Saga Merah saja dirinya sudah kewalahan, apalagi kini Sapta Jagad dan Dewa Mimpi ikut ambil bagian mengepungnya. Bayang Rego yang sudah tidak memiliki pelindung itu segera mencabut Pedang Cacat Jiwa dari rangkanya.

Begitu senjata tercabut, cahaya merah hitam dan biru bertambah di udara. Bayang Rego memutar senjata maut hingga terdengar suara bergaung mengerikan. Kemudian baik Sapta Jagad maupun Dewa Mimpi segera merasakan akibat yang ditimbulkan koleksi senjata ini. Mereka merasa tubuhnya panas seperti dicabik-cabik.

Sementara kilauan cahaya pedang seakan ingin menjebol seluruh pembuluh darah yang terdapat di tubuh mereka. Kepala merekapun laksana mau meledak. Tidak dapat dibayangkan orang yang memiliki kepandaian tinggi sekali masih merasakan akibat yang seperti ini. Di sisi lain Saga Merah terus terseret mendekat ke arah pedang yang diputar oleh Bayang Rego. Akibat yang dialami Saga Merah ini tentu jauh lebih mengerikan mengingat Bayang Rego menghendaki kematiannya.

Berbagai upaya pertolongan dilakukan oleh Dewa Mimpi dan Sapta Jagad. Mereka melepaskan serangan dan pukulan ganas yang menjadi andalannya. Tapi semua serangan itu selalu kandas di tengah jalan begitu membentur sinar pedang. Bayang Rego tersenyum sinis, sementara Saga Merah kini merasa tidak punya pilihan lain. Dia segera meletakkan tangan kanannya di dada. Setelah itu mulutnya berkemak-kemik berusaha memanggil senjata andalannya Pedang Roh yang menyatu dengan dirinya Slap!

Cahaya merah menyilaukan mata memancar dari tubuh pemuda itu. Di depannya kemudian keluar sebilah pedang menyilaukan. Saga merah menggenggam pedang itu dan memutarnya. Semakin lama gulungan sinar pedang melindungi diri pemuda itu dari pengaruh pedang di tangan bayang rego.

"Dua pedang hebat! aku tidak menyaksikan saga memiliki Pedang Roh! Ini tentu sangat menarik!"  

Kata Dewa Mimpi, Si kakek yang sempat merasakan rasa sejuk memancar dari Pedang Roh di tangan Saga Merah segera melompat mundur menjauh dari kalangan pertempuran. Sementara itu Sapta Jagad begitu mengenali Pedang Roh di tangan sang pendekar nampak tertegun.

"Tidak kusangka Pedang Roh ada ditangannya. Dua senjata hebat, satu membawa malapetaka dan satunya lagi Senjata pelindung. Ah gila sekali. Mana sebenarnya yang lebih dahsyat di antara kedua pedang itu!" Ujar Sapta Jagad terkagum-kagum.

Selagi si kakek memperhatikan ke arah perkelahian, Saga Merah dan Bayang Rego nampak saling mendesak untuk menjatuhkan lawannya. Tetapi dalam kecepatan gerak dan kelincahannya dalam setiap menghindari serangan Bayang Rego ternyata kalah dibandingkan Saga Merah. Sampai kemudian benturan antara dua pedang tak dapat dihindari. Saga merah tergetar tapi pedang masih tergenggam di tangannya. Sementara di depan sana Bayang Rego kehilangan keseimbangan diri. Pedang ditangannya jatuh, kemudian satu bayangan datang menyambar itu.

Bayang Rego terkejut karena pedangnya diambil orang. Saga Merah yang sekujur tubuhnya telah berubah merah seperti warna pedang tidak membuang-buang waktu. Dia langsung menusukkan Pedang Roh ke bagian jantung Bayang Rego. Kakek itu menjerit, sosoknya yang seperti cermin mencair. Kemudian tulang belulang berjatuhan. Dia tewas dan kembali ke ujud semula. Yaitu ujud tulang dan tengkorak. Sang pendekar kembali menyilangkan tangan di depan dada. Sekonyong-konyong senjata ditangannya raib.

Tubuh si pemuda yang kemerahan secara perlahan berangsur kembali ke keadaan yang semestinya. Kini pemuda itu memandang ke depan. Dia terkejut ketika melihat kakek tinggi berkulit hitam. Kakek itu memiliki wajah dari hidung ke atas berwarna merah.

"Iblis Hitam! Kau datang kemari? Mengapa kau mengambil pedang itu ?" Tanya sang pendekar  

"Hmm, Saga Merah. Kita bertemu lagi. Kurasa tidak ada yang harus kau ragukan. Aku akan membawa pedang ini ke suatu tempat dan menguburkannya di sana. Apakah ada yang keberatan?"  

Tanya Iblis Hitam sambil memandang Sapta Jagad dan Dewa Mimpi.

"Aku tidak keberatan." Ujar Dewa Mimpi. "Apalagi kau mengenal sahabatku Saga Merah."

"Iblis Hitam, aku percaya padamu. Bawalah pedang itu akupun sudah tidak sudi melihatnya lagi." Ujar Sapta Jagad tanpa ragu.

"Kau sudah mendengar murid para sahabatku. Kelak kita akan bertemu, aku harus pergi sekarang." Ujar si kakek. Berkata begitu sosoknya kemudian raib berubah menjadi cahaya yang kemudian melesat tinggalkan tempat itu.

"Aku merasa lega. Pedang itu tak akan menimbulkan masalah." Ujar Saga.

"Aku juga sama." Ujar Dewa Mimpi.

"Masalah pedang telah usai, kuharap kalian sudi menghukumku!" Kata Sapta Jagad pasrah.

Saga Merah tentu saja kaget. Begitu juga dengan Dewa Mimpi.

"Mana bisa begitu. Aku tidak berhak memberi hukuman apapun padamu orang tua." Ujar pemuda itu. 
"Sama, aku juga begitu." Kata Dewa Mimpi menimpali.

Sapta Jagad memandang mereka dengan tatapan kecewa. "Aku tidak bisa memaksa. Biarpun aku kecewa, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin orang lain yang akan menghukumku kelak. Semoga kalian tidak menyesalinya. Aku mohon pamit!" Ujar si kakek.

Sekali Sapta Jagad hentakkan kakinya. Maka sosoknya raib dari hadapan mereka. Saga Merah lagi-lagi menarik nafas pendek. Dalam hati dia merasa kasihan pada Sapta Jagad. Lain halnya dengan Dewa Mimpi. Setelah sempat tegang akibat pertempuran tadi, kini dia merasa letih dan mengantuk sekali.

"Aku mengantuk, aku ingin tidur sebentar."

Keluh kakek itu. Dan dia lalu merebahkan tubuhnya di bawah pohon. Sebentar saja tidurnya sudah pulas disertai dengkuran yang teratur. 

S E L E S A I