Serial Pendekar Pedang Roh eps 01 : Rahasia Peti Mati Kalawa

Suasana di tepi kali Senowo terasa sunyi mencekam. Udara dingin menusuk hingga ke sumsum tulang. Namun suasana yang seperti itu sedikitpun tidak berpengaruh bagi lakilaki berambut panjang menjela itu. Laki-laki itu tetap pejamkan matanya dalam keadaan duduk bersila. Sudah tiga purnama lakilaki itu menunggui pusara tidak bernisan yang terletak di depannya.

Tidak ada yang tahu siapa yang bersemayam di balik gundukan tanah merah itu. Bahkan laki-laki itu sendiri tidak tahu kapan penantiannya berakhir. Satu hal yang terkadang membuat dirinya gelisah adalah suara-suara aneh yang ditimbulkan dari balik gundukan tanah merah tersebut. Apa yang terjadi, apakah ada kehidupan di balik kematian? 

Laki-laki itu tidak tahu. Sebab dirinya hanyalah seorang manusia yang dipercaya untuk menjaga kuburan tersebut dari gangguan siapapun dengan taruhan nyawa. Di langit bulan sabit yang kemerahan bergerak naik, sesekali sinarnya yang redup lenyap tertutup mega, Waktu berlalu, suasana tambah dingin dan tambah mencekam. 

Laki-laki berambut putih berwajah cekung tetap membisu di tempatnya. Tapi kesunyian berbau kematian itu kali ini amat berbeda dengan waktu sebelumnya. Ada kegelisahan menggamit-gamit kalbunya. Kegelisahan itu terus mencuat kepermukaan, sampai kemudian Ia mendengar suara cericit aneh datang dari arah timur. 

Seiring dengan terdengarnya suara itu, suara kepakan sayap bergemuruh bagai suara jutaan anak panah yang berdesing di udara. Laki-laki itu terkesimak, ia menahan napas hingga menjadi seperti patung yang tidak bergerak. Suara cericit dan gemuruh kepakan sayap semakin mendekat. Si orang tua buka matanya. Ia menatap ke langit sebelah timur ke arah datangnya suara. Tiba-tiba matanya terbelalak, sedangkan bibirnya yang terlindung kumis yang juga telah memutih berdesis. 

"Astaga! Ini adalah pertanda buruk. Kawanan kelelawar itu pasti datang dari gua Lawa. Mereka memberikan peringatan padaku tentang adanya bahaya yang mengintai." Orang tua itu menyeka wajahnya.       Ribuan kelelawar datang menyerbu disertai suara yang berisik. Langit menjadi gelap. Ketika kawanan kelelawar lewat diatas kepalanya. Laki-laki itu membuka mulut. Terdengar suara racauan dari bibirnya. Aneh! 

Kelelawar yang seharusnya menyerang dirinya tiba-tiba membumbung tinggi seperti sekelompok mendung hitam yang ditiup angin. Pada kesempatan itu si rambut putih berteriak ditujukan pada ribuan kelelawar yang mulai bergerak menjauh 

"Katakan pada majikanmu, dia tidak perlu merisaukan keselamatanku. Aku dalam keadaan baik baik saja, tidak ada yang patut dirisaukan..." 

Baru saja si orang tun berkata seperti itu tiba-tiba terlihat kilat menyambar. Suasana yang gelap temaram kini berubah menjadi terang benderang. Ketika cahaya terang lenyap, kini dari seluruh penjuru terlihat berpasang-pasang cahaya merah mengerikan bergerak ke arahnya. Dan cahaya itu ternyata adalah mata dari binatang yang kemudian memperdengarkan suara lolongan panjang. Si orang tua diam tidak bergerak. 

Hanya sepasang matanya terus mengawasi. Mahluk-mahluk itu terus bergerak mendekat. Semakin lama semakin tambah dekat hingga di bawah cahaya yang temaram dirinya dapat melihat kehadiran mahluk-mahluk itu. Mahluk sangar dengan wujud seperti anjing berkepala dan bermoncong panjang, berjalan dongan dua kaki dalam keadaan tegak sementara hanya bagian kepalanya saja ditumbuhi bulu-bulu lebat seperti singa jantan. 

Sedangkan dari bahu, badan dan kaki polos tanpa bulu. Mahluk-mahluk ini memang sejenis anjing bernama Kutukila dengan ekor bergerigi seperti ekor buaya. Melihat kehadiran mahluk-mahluk berujud angker itu si orang tua justru kelihatan lebih tenang. 

"Kalian datang, mengapa baru sekarang? Apakah gusti Prabu baru mengirim kalian kemari? Seharusnya kalian menjaga makam ini sejak pertama kali peti mati dikuburkan. Sungguh aku menyayangkan keterlambatan kalian...!" 

Mahluk bernama Kutukila sejenis anjing hantu ini sama melolong dan unjukkan keberingasan. Si orang tua terkejut dan membentak dengan marah. 

"Mahluk-mahluk tidak tahu diri. Kalian seharusnya tunjukkan sikap yang baik bukannya malah marah padaku...!" 

Kawanan Kutukila menggerung, mulutnya terbuka lebar memperihatkan gigi-giginya yang runcing tajam dan kokoh, sementara lidah terjulur haus akan darah. Si orang tua tahu betul Kutukila hanya minum darah dan memakan daging yang segar. Tapi siapa takut menghadapi kawanan Kutukila. Kini orang tua itu memandang dengan mata melotot ke arah kawanan Kutukila-kutukila itu. Dengan suara menggeram ia berkata marah. 

"Dasar anjing tetap anjing. Kalian inginkan darahku yang pahit, atau menghendaki dagingku yang beracun, Kalau kalian tidak berhenti melolong, aku akan mengenyahkan kalian ke Kambung."  

Kambung adalah sebuah tempat mengerikan dimana gelegak apinya menbumbung tinggi mirip neraka. Kawanan Kutukila itu nampaknya tahu diri melihat kemarahan penjaga makam yang tidak bernisan itu. Seketika itu juga suara lolongan lenyap berganti dengan suara erangan lirih. Kawanan Kutukila yang mempunyai mata merah seperti api tundukkan kepala sebagai tanda patuh. 

"Bagus...! Sekarang kalian harus berjaga-jaga seperti yang kulakukan. Malam ini kukira merupakan malam penentuan dan menjadi malam terakhir tugasku menjaga makam ini..." Ujar si orang tua. 

"Uuuung...!" 

Mahluk-mahluk itu sama melolong seolah mengiyakan apa yang dikatakan oleh penjaga makam. Tetapi belum lagi suara lolongan pendek itu lenyap. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh di kejauhan. Seiring dengan terdengarnya suara gemuruh seperti badai puting beliung itu sayup-sayup si orang tua mendengar suara orang berkata. 

"Penjaga makam, aku mendengar bicaramu dengan mahluk mahluk hantu itu. Kau mengatakan malam ini menjadi malam terakhir bagimu. Kukira yang kau katakan itu bakal menjadi kenyataan jika kau tidak mau mematuhi keinginanku. Aku tahu siapa dirimu, Kaliwangga. Kau seorang pertapa yang seharusnya saat ini tetap di Mojokerto, Jika makam itu tidak begitu penting untuk dijaga, mustahil Prabu Kesa memintamu menjaga makam sampai selama tiga purnama penuh...! Hi hi hi. Ha ha ha...!"

Si orang tua berbaju daun berwarna putih diamdiam tersentak kaget. Dia tidak menyangka masih ada orang mengenali siapa dirinya. Yang lebih mengejutkan lagi orang itu tahu nama dan asal usulnya. Padahal kehadirannya di tempat itu sengaja dirahasiakan. Aneh lagi, orang yang bicara belum terlihat batang hidungnya. Siapakah orang itu, apapun keinginannya pastilah ia merupakan orang yang mempunyai ilmu kepandaian luar biasa tinggi. 

Selagi si orang tua yang ternyata memang seorang pertapa dan bernama Kaliwangga itu sedang memikirkan siapa yang datang. Sekonyong-konyong seolah baru datang dari langit, dari atas sana menggelundung sesosok tubuh serba merah. Ketika sosok itu hampir menyentuh tanah, posisinya yang menggelinding berubah sedemikian rupa, tubuhnya berputar cepat sehingga orang itu dapat jejakkan kakinya dengan baik.

Kawanan anjing hantu menggeram secara naluri mereka rupanya tidak menghendaki kehadiran orang lain yang tidak mereka kenal. Tidaklah mengherankan bila kawanan Kutukila itu kemudian serentak mengepung dengan sikap siap menyerang. 

Si pendatang ternyata seorang perempuan tua, namun walau sudah tua wajahnya tetap cantik. Dia hanya mengenakan pakaian ala kadarnya yang melindungi bagian tertentu dari tubuhnya. Sedangkan sekujur tubuhnya itu sepenuhnya dilapisi sejenis pewarna merah. Sekilas pewarna yang melumuri tubuhnya itu sangat mirip dengan pakaiannyaa Kaliwangga diam membisu, hanya matanya memandang tajam ke arah perempuan yang berdiri tegak tidak jauh diseberang makam.

Kening Kaliwangga berkerut begitu melihat perempuan itu. Dia mempunyai daun telinga yang sangat lebar dan panjang, telinga itu ditumbuhi bulu dalam keadaan tegak dan kaku. Kaliwangga tidak mengenal siapa orang ini, namun melihat tampangnya rasa-rasanya dia pernah bertemu, entah dimana dan kapan? 

"Kau terkejut? aku berharap kau memang mati terkejut. Tapi...oh tidak. Kau jangan mati dulu karena aku ingin tahu apa keterangan yang kau berikan sudah sesuai dengan apa yang kudengar tentang rahasia yang terkubur di balik makam yang tidak bernisan itu." Kata si perempuan. 

Dia mondar-mandir di seberang makam sambil melenggang lenggokan tubuhnya. Caranya dan sikapnya berjalan dibuat sedemikian rupa mirip perempuan yang merasa ayu berusia tujuh belas tahun. Kaliwangga pun kemudian segera mengenal dari cara orang berjalan. Melenggang lenggok seperti seorang putri. Di dunia ini hanya satu perempuan tua yang punya lagak seperti itu. Tetapi sekali lagi dia meneliti orang di seberang makam. Dalam hati kemudian membatin. 

"Yang kutahu perempuan yang bernama Semayang Gading memiliki sepasang tangan tidak seperti lumrahnya manusia. Jari-jari tangannya menyatu seperti kaki kura-kura." 

"Kaliwangga, kau dengar baik-baik. aku datang kemari bukan untuk kau pandangi begitu rupa. Aku datang dengan satu kehendak, apakah kau mendengarku?!" hardik perempuan tua itu ketus.

Kaliwangga tidak segera menjawab, dibentak demikian rupa dia juga tidak merasa tersinggung. Dia pandangi perempuan itu sambil menghembuskan nafasnya. Kemudian dia berkata. 

"Aku sudah mengetahui siapa dirimu, kau pastilah perempuan keji bernama Semayang Gading." 

Perempuan itu dongakkan kepala dan tertawa mengekeh. Dia sama sekali tidak merasa kaget melihat orang mengenalnya. Menurutnya Kaliwangga mengenal namanya tentu Kaliwangga juga mengetahui kehebatannya. Dengan begitu segala urusannya di tempat itu bakal segera terlaksana. 

"Bagus kau mengenal aku, Kaliwangga." Kata Semayang Gading. 

"Pengetahuanku tentang dirimu hanya sebatas kejahatan dan kebejatan yang pernah kau lakukan. Jadi bagiku sebuah suatu kesialan yang tidak kuharapkan. Sekarang katakan apa kehendakmu yang satu itu?" Tanya Kaliwangga. 

Sebenarnya Semayang Gading merasa tersinggung mendengar ucapan Kaliwangga. Namun ia berpikir biarlah untuk sementara waktu dirinya memendam semua kejengkelan dihati karena dia masih berharap masih bisa mendapatkan keterangan penting yang dia butuhkan. Dengan senyum bermain dimulut Si perempuan berkata. 

"Pertemuanmu denganku bisa menjadi merupakan awal menuju ke nirwana, tapi bisa juga merupakan kesialan yang tidak ada ujungnya. Aku masih berbaik hati kepadamu, karena itu kukatakan bahwa yang menjadi kehendakku yaitu bertemu denganmu bukan suatu keberuntungan, cepat katakan apa isi peti mati dibawah pusara itu?" 

Semakin sadarlah Kaliwangga bahwa pada saat saat terakhir melakukan tugas yang diberikan oleh Prabu Kesa ternyata tidak sedikit bahaya yang mengintainya. Kaliwangga semakin sadar bahwa dirinya harus waspada. Kaliwangga tidak pernah ingkar janji, sebuah rahasia harus dijaga, Tidak mengherankan bila kemudian ia berkata. 

"Tidak ada yang sangat istimewa di dalam peti mati. Sama seperti peti mati pada umumnya, isinya tentu saja mayat. Hanya yang kujaga ini agak lain karena si mati merupakan orang tua dari permaisuri raja." 

Mendengar jawaban Kaliwangga, mata Semayang Gading mendelik besar. Tentu saja penjelasan Kaliwangga meragukan. Alasan itu tidak masuk akal mengingat menurut kabar yang dia dengar. Prabu Kesa, penguasa kerajaan Purwa Dipa sengaja menguburkan peti mati itu karena didalamnya terdapat senjata mustika yang amat berharga. Senjata itu berupa sebuah pedang mustika bernama Pedang Cacat Jiwa.

Sebuah senjata yang amat ganas, dahsyat dan penuh angkara murka. Pedang ini kehebatannya tidak kalah dengan Pedang Roh yang raib sekitar lima ratus tahun yang lalu. Sekedar diketahui Prabu Kesa mempunyai berbagai jenis senjata mustika. Salah satu diantaranya adalah Pedang Cacat Jiwa dan Tumbak darah. Tidaklah mengherankan kalau Semayang Gading tidak pernah mempercayai penjelasan Kaliwangga walau barang sedikitpun. 

"Hi hi hi, Kau seorang pertapa, manusia sepertimu seharusnya bicara jujur dan tidak pernah berdusta. Yang terjadi padamu justru sebaliknya, kau seorang pembual besar. aku tidak bisa bersabar, kalau kau tidak mengatakan dengan sebenarnya apa isi peti mati itu, Jangan salahkan aku jika aku terpaksa menjatuhkan tangan yang kejam." 

Kata Semayang Gading mengancam. Kawanan Kutukila yang mengepung perempuan itu seakan mengerti ancaman yang dilakukan lawannya. Mereka menggereng, mulutnya terbuka siap menerkam sedang bagian ekornya yang mirip gergaji dikibas-kibaskan hendak menghantam. Perempuan tua itu sedikitpun tidak merasa takut. dia begitu tenang dan terkesan memandang sebelah mata. 

"Apa saja yang terjadi disini dan apa saja yang terpendam didalam peti sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Kalaupun peti mati isinya harta benda, jelas harta benda itu bukan milik moyangmu. Jika memang peti mati isinya pedang, pedang itu bukan milik bapakmu. Kau tidak usah mengancamku Mayang, karena tua bangka semacamku tidak mengenal rasa takut. Tidaklah aku berbasa-basi, sebaiknya kau menyingkir dari tempat ini. Kau tidak bakal mendapat apa-apa terkecuali malapetaka."

Bukan main berang Semayang Gading mendengar jawaban yang diberikan oleh Kaliwangga. Belum pernah ada orang yang berani mengusirnya demikian rupa. Malah dalam kehidupannya orang akan lari ketakutan melihat kehadirannya. Dan malam ini Kaliwangga telah mempermalukan dirinya. Dengan mata mendelik dan kemarahan menggelegak, Semayang Gading berteriak lantang. 

"Kaliwangga manusia jahanam! Kau masih belum sadar dirimu berhadapan dengan siapa. Ucapanmu itu hanya akan mempercepat kematianmu. Aku akan. membunuhmu setelah itu baru aku bongkar kubur itu dengan leluasa!" 

Kata-kata yang diucapkan Semayang Gading langsung disambut raungan keras kawanan anjing hantu Kutukila. Mahluk-mahluk itu tidak hanya sekedar meraung melainkan segera menyerang dari segala penjuru. Semayang Gading sempat dibuat kaget melihat gerakan mahluk-mahluk tersebut yang amat cepat dan berbahaya. Saat itu kawanan Kutukila memang kelaparan. Tidak mengherankan seperti seonggok daging segar yang amat lezat kawanan Kutukila kini berebut siap mencabik-cabik tubuh perempuan itu. 

Semayang Gading mula-mula sempat gugup melihat serangan yang datang secara beruntun itu. Namun detik kemudian ketika belasan mulut siap mencabik tubuhnya si nenek lakukan gerakan aneh. Wuuut! Sebuah gerakan melompat yang amat cepat dilakukannya.

Hanya dalam waktu sekedipan mata saja, Semayang Gading telah mampu meloloskan diri dari terkaman belasan mahluk yang ganas itu. Melihat mangsanya dapat meloloskan diri, kawanan Kutukila alias anjing hantu tiba-tiba berbalik. kini mereka melakukan penyergapan kedua dengan kecepatan berlipat ganda. Anjing hantu bergerak seperti topan yang melanda. 

Si nenek mendengus, diam-diam di­a salurkan tenaga saktinya ke bagian tangan dan kedua kakinya. Kemudian dengan kecepatan laksana kilat menyambar ia menghantam ke arah mahluk-mahluk itu. Wuuut!       Wuus! Wust!

Akibat pukulan maut yang dilepaskan Semayang Gading ke arah anjing-anjing itu bukan olah-olah. Suasana sejuk ditepi kali Senowo berubah panas seperti di neraka. Sedikitnya empat ekor Kutukila terpental. Mereka terluka parah, tubuhnya melayang di udara. Namun sebelum sempat jatuh ke tanah, ke empat mahluk yang menjadi korban serangan si nenek mendadak raib. 

Si nenek kaget bukan kepalang. Namun dia segera menyadari bahwa Kutukila adalah mahluk hantu berujud anjing. Mahluk-mahluk angker sejenis itu jumlahnya tidak terhitung. Sementara melihat temannya cidera berat akibat serangan si nenek.

Kutukila-Kukukila yang lain bukanlah menjadi surut. Mereka yang lolos dari pukulan si nenek kini semakin mendekat. Dan sesungguhnya gerakan mahluk ini tidak lagi berpijak pada tanah, melainkan melayang mengitari lawannya lalu menghantam lawan dengan ekornya yang mirip gergaji dan terkaman menggunakan kaki depan yang merangkap sebagai tangan. 

Semayang gading dikenal bukan karena ketegasannya saja, nenek itu adalah orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Mendapat serangan yang mengarah pada sepuluh titik yang mematikan ditubuhnya dengan mengunakan jurus-jurus yang menjadi andalannya dia berkelit.

Tapi sehebat apapun orang tua itu bergerak, serangan mahluk itu datangnya laksana badai yang menghantamnya secara sambung menyambung tidak berkeputusan. Dan Kutukila bukan mahluk biasa. Mereka memiliki naluri membunuh yang dipadu dengan kehendak Kaluak. Kaluak artinya kurang lebih sama dengan iblis. Jadi Kutukila adalah sejenis anjing hantu yang memiliki naluri iblis. 

Tidaklah mengherankan bila Semayang Gading kemudian bukan saja terkena hantaman ekor Kutukila, si nenek itu juga terkena cakaran dan hunjaman taring-taring yang tajam dari mahluk itu. Perempuan tua itu terseret kian kemari diperebutkan oleh mahluk mahluk itu. Beberapa bagian tubuhnya mulai terluka.

Tetapi walaupun dirinya mendapat serangan hebat demikian rupa, dia masih dapat menggunakan tangan kiri dan tangan kanannya yang bebas bergerak untuk melepaskan senjata yang menjadi andalannya ke arah mahluk-mahluk itu. Tidak terlihat jelas baÄŸaimana bentuk senjata ampuh yang diberinya nama Cakra Bintang Tiga itu. 

Satu-satunya yang terlihat oleh Kaliwangga adalah pijaran cahaya seperti benda langit yang berpindah tempat, berwarna merah menyilaukan ke arah lawannya. Kawanan Kutukila ada yang sempat menghindar. Namun sebagian diantaranya rela mempertaruhkan jiwa menyambut serangan nenek itu. Akibatnya sungguh mengerikan.

Mahluk-mahluk yang menjadi sasaran si nenek menjadi meledak hancur berkepingkeping terkena hantaman itu. Karena senjata dihantamkan terus menerus. Lambat laun mahluk mahluk dari kegelapan itu mulai menyurut. Walau mereka telah berhasil melukai Semayang Gading tetapi pada akhirnya mereka terbantai ditangan nenek keji itu. 

Semayang Gading merasa lega, tawa panjang mengakhiri kemenangan yang didapatnya. Kini dengan tubuh terluka akibat serangan mahluk itu dia bangkit. Kemudian dia melangkah lebar menghampiri Kaliwangga yang terkesimak melihat kemusnahan mahluk-mahluk penjaga peti mati. Sedikitpun dia tidak menghiraukan nenek itu yang memandangnya dengan mata mendelik.

Bukan main berang Semayang Gading melihat dirinya diremehkan. Semula dia berharap kemenangannya dapat membuat lumer nyali Kaliwangga. Di luar dugaan Kaliwangga ternyata tetap berlaku tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun. 

"Kaliwangga, aku tidak punya waktu berdebat denganmu. Sekarang kuminta kau menyerahkan diri. Jika kau turuti perintahku, aku pasti akan mengampuni jiwamu. Kau akan kubiarkan pergi dengan nyawa masih melekat di badan!" 

Kata nenek tua itu dengan tegas. Kaliwangga tidak mudah digertak. Pengabdian dan kepatuhan dalam jiwanya hanya untuk dipersembahkan kepada seorang sahabat yang menjadi raja. Karena Prabu Kesa seorang pemimpin yang jujur dan adil, demi sang prabu dirinya rela mempersembahkan kesetiaannya. Dengan tersenyum Kaliwangga menyahut. 

"Memangnya dirimu siapa Semayang Gading? Kau tidak lebih dari iblis yang berujud manusia. Pendirianku tidak berubah, demi kepercayaan yang diberikan seorang raja aku rela bertukar jiwa...!" 

"Oh, alangkah malang nasibmu. Kau manusia tolol yang pernah kulihat di jagad ini. Kalau begitu sekarang terimalah kematianmu!" Teriak nenek cantik itu geram. 

Kedua tangannya tiba-tiba saja bergetar, Kaliwangga mendengar suara gemuruh aneh seolah datang dari langit. Bersamaan dengan itu, Semayang Gading menggapai sesuatu di udara. Dilain waktu tangannya menggapai dan mengepal dibalikkan.

Kini diatas telapak tangan yang berkembang Kaliwangga melihat sebuah benda hitam bulat berbentuk bola.       Benda hitam itu hanya dalam sekedipan mata telah memerah memancarkan cahaya. Semakin lama bola semakin membara mengobarkan api dengan panas yang sungguh luar biasa. 

"Asalning Jagad"

Desis Kaliwangga yang mengenali senjata andalan milik si nenek. Asalning Jagad adalah kata lain dari asal usul bumi. Menurut keyakinan orang-orang pada masa itu bumi ini tercipta dari besi batu yang membara. Bila bumi marah, maka semua manusia akan celaka. Dan kini si nenek memegang bola yang berasal dari kemarahan bumi. Kemungkinan kecil sekali bagi Kaliwangga untuk lolos dari senjata itu. 

"Berlutut Kaliwangga! Kalau ingin selamat kau memang harus berlutut kepadaku!" Teriak Semayang Gading. 

"Aku hanya berlutut pada Hyang Tunggal." Jawab laki-laki itu. Si nenek menggeram. 

"Siapa Hyang Tunggalmu? Batu-batu sesembahan, pohon besar, sungai yang angker, atau matahari yang panas?" 

"Bukan!" 

"Keparat! Apakah masih ada sesembahan yang lain selain yang kusebutkan? Bukankan batu, pohon, matahari menjadi sembahan manusia di jaman ini?" teriak si nenek 

"Mereka hanya sekumpulan orang tolol seperti bayi yang baru dilahirkan. Hyang Tunggal bagiku adalah seseorang yang mengadakan sesuatu yang tadinya tiada." 

"Oh mulutmu lancang sekali. Jika para penyembah batu, penyembah pohon dan penyembah laut mendengar ucapanmu ini, kau pasti akan dirajam sampai mampus." 

"Persetan dengan mereka, aku tidak takut pada siapapun. Aku hanya takut pada kemarahan diriku sendiri."       Jawab Kaliwangga. 

"Seperti apakah kemarahanmu, apakah seperti ini?!" Teriak Semayang Gading habis sudah kesabarannya. 

Mulut berteriak, bola membara ditangannya disambitkan dengan sepenuh tenaga. Weer! Bola melesat diudara menyambar apa saja yang dilaluinya, menghanguskan setiap lembar daun, memporak porandakan semak-semak. Dan celakanya ketika melesat diudara bola itu semakin bertambah besar. Membesarnya senjata si nenek membuat panas di tempat itu bertambah berlipat ganda. Kaliwangga diam tegak ditempatnya. 

Dia menunggu hingga bola raksasa itu semakin dekat. Ketika serangan semakin bertambah dekat. Dia angkat tangannya dengan gerakan seperti harimau menerkam. Mulut orang tua itu berkemak-kemik sepuluh jarinya terkembang dan dari setiap jari itu mengepulkan uap putih menyerupai kabut. Akhirnya bukan hanya jari tangan Kallwangga saja yang berubah memutih, sebaliknya sekujur tubuh si orang tua memutih seperti es. 

Dan sesungguhnya saat itu Kaliwangga menggunakan ilmu Karang Es yang hampir tiada memiliki tandingan. Bola membara terus melesat, si nenek hampir yakin Kaliwangga pasti celaka terkena hantaman senjata Asalning Jagad yang disambitkannya. Tetapi diluar dugaan. Lawan ternyata sanggup menangkap bola tersebut meskipun tubuhnya sempat terguncang dan bergetar. 

Pada saat bola panas itu menyentuh tangan si kakek, terdengar seperti besi membara dicelupkan ke dalam air. Asappun mengepul membubung tinggi ke udara. Kaliwangga berjuang keras memadamkan bola api menggunakan kesaktiannya yang bersumber dari tenaga dingin yang dia alirkan melalui pusarnya. Usaha itu sedikit demi sedikit berhasil, bola mulai padam dan menyusut ke bentuk semula. Melihat gelagat yang tidak baik ini, Semayang Gading jadi gelisah. 

"Celaka! Kalau sampai dia dapat memadamkan bola api, berarti aku harus berjuang lama untuk menyingkirkannya. Sekarang aku akan memperberat bola itu kemudian menyerangnya dengan senjataku Cakra Bintang Tiga!" Membatin si nenek. Dia tidak ingin menunggu. Diam-diam ia mengirimkan tenaga dalamnya ke arah bola api yang sedang dijinakkan si kakek. 

"Uh...!" 

Kaliwangga mengeluh. Tubuhnya yang semula tegak kini membungkuk-bungkuk menahan bola yang bertambah berat beratus kali lipat. Kaliwangga menyadari lawan telah menggunakan kesaktiannya untuk memperberat bola itu, satu yang tidak sempat disadarinya. Pada saat itu Semayang Gading tiba-tiba menghantam dengan tangan kirinya ke sekujur tubuhnya itu dengan Puluhan cahaya berwarna merah bertabur di udara, melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah Kaliwangga. 

Orang tua itu terkejut, dia tidak menyangka mendapat serangan susulan dalam keadaan seperti itu. Satu yang harus diingat Kaliwangga tidak mungkin melepas bola maut ditangannya karena senjata itu secara aneh terus mendorong siap menindih tubuhnya.

Kaliwangga tidak punya pilihan lain, dia terpaksa memutar kakinya untuk menangkis serangan lawan dengan menggunakan kakinya. Tidaklah aneh bila kemudian dengan terhuyung-huyung akibat beratnya beban, orang tua itu memutar kakinya. Angin menderu, menghantam lurus ke depan lalu menyebar ke empat penjuru arah. 

Trang! Trang! Sambaran angin yang membentur cahaya mengeluarkan suara aneh. Ini merupakan suatu pertanda, bahwa di dalam cahaya itu sesungguhnya terdapat senjata lawannya. Hanya seorang yang memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi yang sanggup membungkus senjatanya dengan cahaya. Pada kesempatan itu Kaliwangga sudah berhasil mengatasi kesulitan yang dialaminya. Bola Asalning Jagad kini dilumpuhkannya hingga membuat senjata itu menjadi seperti semula kehilangan kekuatannya dan berubah menghitam. 

Belum sempat Kaliwangga menarik nafas lega, serangan senjata lawan kembali melabrak, Si orang tua memutar badan, lalu menghantam sedemikian rupa dengan kedua tangannya. Tess! Trang! Pijaran cahaya lenyap bersama luruhnya senjata yang disambitkan lawan, namun ternyata tidak semua senjata berhasil dipukul runtuh.

Dua diantaranya melesat menghantam bahu dan perutnya. Kaliwangga mengeluh tertahan. Ia melihat bahunya robek, ada darah yang mengucur disana. Namun luka yang cukup dalam ada dibagian perutnya. Melihat ini Semayang Gading tertawa tergelak-gelak. 

Puas tertawa dia berkata. "Kaliwangga, rupanya keberuntungan berpihak padaku. Sebentar lagi kau akan mati, tubuhmu bakal terasa panas. lebih baik kau membunuh diri sebelum aku membunuhmu!" 

Laki-laki tua itu diam membisu, menyerah pada seorang perempuan tidak ada dalam keinginannya apalagi perempuan itu hanya sejenis manusia Kaluak manusia iblis yang menebarkan kejahatan dimanamana. 

"Kaliwangga! Kau tidak ingin bicara? Baiklah, sekarang aku akan mengakhiri penderitaanmu!" 

Berkata begitu Semayang Gading melesat ke arah lawannya. Dua tangannya terpentang lurus siap menjebol tenggorokan dan memberot jantungnya dan tangan itu tiba-tiba berubah seperti cakar yang sangat kokoh berwarna hitam berbau amis menusuk. Kaliwangga sempat tercekat, namun dia tidak bergeser dari tempatnya berdiri. Ketika dua tangan lawan hampir menyentuh tubuhnya. Pada saat itu Kaliwangga memutar badan sambil membungkuk kemudian tinjunya melesat menghantam perut lawannya. 

Semayang Gading tidak pernah menyangka lawan masih sanggup melakukan serangan ganas disaat dirinya siap membantai lawan. Perempuan itu tidak sempat menghindar. Pukulan Kaliwangga dengan telak mengenai sasaran. Si nenek terpelanting wajahnya pucat, mulutnya menyemburkan darah. Seketika itu tubuhnya menggigil kedinginan 

"Kau telah terkena pukulan Karang Es.Kau akan mati dalam dua hari ke depan. Kau masih mau melawan?"

Tanya Kaliwangga yang amat jarang membunuh orang yang sudah tidak berdaya. Semayang Gading menggeram, dia mencoba bangkit untuk melawan. Namun si nenek kaget sendiri begitu menyadari bahwa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga dan yang lebih mengerikan lagi sebagian tubuhnya mulai membeku sulit digerakkan. Merasa tidak punya pilihan lain, Semayang Gading sambar sesuatu dari balik lembaran pakaian kulit penutup dada.

Sebuah benda kemudian dilemparkan ke arah Kaliwangga. Terdengar suara letupan, asap tebal mengepul membumbung tinggi menutupi pandangan. Kaliwangga menahan nafas untuk menjaga kalau-kalau benda yang dilemparkan lawan mengandung racun. Asap kemudian lenyap tersapu dinginnya udara malam.

Kaliwangga memandang ke depan, namun si nenek telah menghilang dalam kegelapan. Belum sempat Kaliwangga menarik nafas lega, pada saat itu pula dirinya mendengar suara seperti palu godam menghantam tanah. Seketika orang tua itu layangkan pandang ke arah datangnya suara. Namun dia tidak melihat apa-apa terkecuali kegelapan semata. Diam-diam laki-laki itu membatin di dalam hati.

"Suara mendebum seperti suara langkah kaki. Apakah ada langkah kaki seberat itu terkecuali kaki gajah? Tidak! Firasatku mengatakan ada orang yang datang. Aku harus bersikap waspada untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan." 

Suara gemuruh menyertai kehadiran suara langkah yang berat itu. Kemudian semak belukar dari arah hulu Sungai terkuak. Kaliwangga tertegun ketika dirinya melihat kehadiran sosok tinggi besar berkulit hitam dan bermata tajam. Dilihat sepintas lalu sosok itu bentuk tubuhnya kaku seperti patung yang dipahat. Dan Kaliwangga mengenali siapa adanya manusia yang satu ini. Kenyataan ini yang membuat Kaliwangga sempat dihinggapi ketegangan. 

"Manusia Batu... gerangan apa yang membuatnya datang kemari? Semoga dia tidak punya keinginan seperti Semayang Gading."

 Batin laki-laki itu. Dugaan Kaliwangga itu ternyata meleset. Begitu muncul Manusia Batu berkata. 

"Aku tidak perlu bertanya, aku datang karena menginginkan peti mati yang terkubur di balik makam itu." 

Diam-diam Kaliwangga melengak kaget, apa yang menjadi dugaannya meleset.. Dan Kaliwangga hanya mengenal Manusia Batu namun dirinya tidak mengetahui tingkat kesaktian yang dimiliki Manusia Batu. Kaliwangga menjura hormat, dengan suara merendah dia berkata. 

"Manusia Batu, aku mengenalmu dan aku menghormatimu. jauh-jauh dari Rimba Batu tempat kediamanmu kurasa kau keliru kalau menginginkan sebuah peti yang hanya berisikan mayat kerabat kerajaan." 

Sepasang mata Manusia Batu yang seperti ukiran itu berkedap-kedip. Tiba-tiba saja manusia yang mempunyai gerak gerik kaku ini tertawa tergelak-gelak. Gemuruh suara tawa manusia yang satu serasa merobek kesunyian dan ini menghancurkan gendang telinga. Kaliwangga menggeleng keras untuk mengusir pengaruh suara tawa lawan. 

"Bagus sekali kau mengenaliku, lebih bagus lagi kau mengetahui bahwa diriku datang dari jauh. Aku Manusia Batu tidak suka berbasa-basi, aku mengetahui muslihat setiap orang. Kalau hanya bangkai yang terdapat dalam peti mati itu mengapa kau menjaganya? Lebih baik kau menyingkir selagi ada kesempatan. Kalau tidak kau bakal mengalami nasib celaka." 

"Ah sayang sekali, aku tidak dapat memenuhi permintaanmu itu. Aku akan tetap berada disini karena ini sudah menjadi tugasku." 

"Kau manusia keras kepala. Kalau begitu jangan salahkan diriku!" Kata Manusia Batu. 

Tidak seperti Semayang Gading, Manusia Batu ternyata adalah orang yang tidak suka banyak bicara. Begitu selesai dengan ucapannya dia langsung melakukan gebrakan. Meskipun gerakan tubuhnya kaku namun dia melangkah dengan cepat, menghampiri Kaliwangga lalu hantamkan tinjunya ke batok kepala orang tua itu. Dengan gerakan yang gesit Kaliwangga melompat kesamping, lalu jatuhkan diri dan berguling-guling menjauh dari jangkauan tangan lawan. 

Pukulan Manusia Batu mengenai tanah disebelah makam. Akibat hantaman itu menimbulkan suara berdebum. Debu dan pasir berterbangan. Manusia Batu menggeram mengetahui Kaliwangga dapat meloloskan diri, ia bangkit lalu melompat ke arah Kaliwangga. Melihat betapa berbahayanya manusia yang satu ini, Kaliwangga tidak berlaku ayal. Ketika Manusia Batu mendekat ke arahnya dia langsung menyongsongnya dengan satu pukulan yang mematikan. 

Tetapi pukulan itu ternyata hanya membuat lawan tergetar. Manusia Batu tidak mengalami cidera sedikitpun. Kaliwangga menggeram, dia melesat ke udara. Di atas ketinggian dia memutar tubuhnya lalu kakinya cepat menghantam dagu lawannya. Thakk! Kecut dihati orang tua ini bukan kepalang, dia tidak mengerti bagaimana tendangan yang telak menghantam di bagian dagu lawan ternyata tidak berakibat apa-apa. Sebaliknya Manusia Batu merangsak maju. Kaki diangkat tinggi. 

Lalu bergerak siap menginjak bahu Kaliwangga. Orang tua itu tidak ingin celaka. Dengan cepat dia melepaskan salah satu pukulan yang menjadi andalannya Wuuus! Pukulan menderu, hawa dingin tindih menindih. Manusia Batu tertawa bergelak mendapat pukulan itu.

Dia lalu memutar tangannya ke depan dada, selanjutnya tangan itu didorongnya ke arah lawan dengan kecepatan penuh. Dua pukulan ganas beradu di udara. Kaliwangga jatuh terpelanting, dia merasakan dadanya berdenyut sakit, sedangkan tangannya panas bukan main laksana terbakar. Sedangkan diseberang sana, Manusia Batu hanya geleng-gelengkan kepalanya yang berdenyut. 

"Pukulannya cukup lumayan juga, tapi ini belum cukup untuk mencegah keinginanku." Berkata begitu Manusia Batu menerjang ke depan. Kakinya menendang ke kanan dan ke kiri mencari sasaran di dada perut lawan. Kaliwangga segera berkelit.

Tapi tak urung gerakannya kalah cepat dengan gerakan kaki lawan. Hanya dalam waktu sekejap, dada Kaliwangga sudah kena diinjak oleh lawan. Orang tua itu megap-megap. Satu pikiran muncul dalam benaknya. Dia harus meremukkan kaki Manusia Batu. Tanpa menunggu Kaliwangga saluran tenaga dalamnya ke bagian tangan. 

Dua tangan kemudian berubah memutih seperti kapas. Kemudian tangan itu segera dihantamkan ke kaki lawan. Kaliwangga terkejut, ketika menyadari bahwa Manusia Batu bukan saja keras kepala, lebih dari itu tubuhnya juga atos melebihi tembok baja.

"Kau sudah siap mampus?"

Teriak Manusia Batu murka. Sekonyong-konyong tangannya menyambar leher Kaliwangga. Kakek itu diangkat tinggi-tinggi, kemudian dibanting ke tanah. Dapat dipastikan tubuh si kakek bakal remuk di bagian dalam. Namun yang terjadi tidak seperti itu. Begitu Kaliwangga menyentuh tanah, sosoknya amblas dan raib entah kemana. 

Manusia Batu terkejut, dia tidak tahu ilmu kesaktian apa yang dimiliki lawan sehingga punya kemampuan menghilang ke dalam tanah. Manusia Batu bahkan terkesan tidak peduli. Semenjak dia menatap ke arah makam tanpa nisan. Sepasang mata menyipit, lalu tanpa terduga dia hentakkan kaki kirinya ke tanah. Tanah makam itu menyembur ke atas, makam terbongkar dengan sendirinya.

Peti mati berwarna hitam yang terkubur di makam itu ikut mencuat ke udara, melambung tinggi hingga akhirnya meluncur ke bawah. Sebelum peti mati jatuh ke tanah. Manusia Batu berkelebat, peti itu disambarnya dan langsung menggeletak dalam panggulannya. "Aku telah mendapatkannya. Peti mati ini jelas berisi senjata pusaka yang sangat berharga!" Kata Manusia Batu sambil berlari tinggalkan tempat itu.

***

Tiga cahaya bergerak cepat mendekati telaga mendidih. Saat itu puncak gunung Merapi sedang dilanda kabut tebal. di dalam telaga yang airnya menggelegak seorang pemuda muda belia berusia sekitar enambelas tahun sedang melatih jurus-jurus maut yang diajarkan oleh para gurunya. Sesekali pemuda itu menghantam kedua tangannya kearah bibir telaga. Terdengar suara gemuruh ketika pukulan yang dilepaskannya mengenai tebing telaga yang keras luar biasa. Puncak gunung Merapi bergetar hebat seperti hendak meletus. 

Si pemuda bercelana hitam gelengkan kepala. Dia yang ketika itu berdiri di tengah batu yang terdapat di tengah telaga segera menghimpun tenaga saktinya di bagian tangan dan kaki. Selanjutnya dengan gerakan enteng pemuda itu melesat melayang melewati permukaan telaga. Ketika tubuhnya melesat di udara kedua tangannya menghantam ke bagian dasar telaga secara bertubi-tubi. Cahaya putih kelabu di bawah tubuhnya, bergerak lurus ke bawah dan terus menghantam. 

Telaga mendidih itu bergolak hebat, airnya muncrat ke udara. Si pemuda yang baru jejakkan tubuhnya di tebing telaga sebelah utara melakukan gerakan berjumpalitan dengan posisi terbalik ke belakang, Setelah itu tubuhnya meluncur turun dan... Byuur! Air telaga bergelombang hebat. Pemuda itu lenyap, tenggelam kedalam air mendidih.

Didalam telaga itu panasnya air bukan kepalang. Jangankan manusia, kerbau sekalipun bila telah tercebur ke dalamnya pasti segera matang. tapi pemuda itu sudah biasa dengan suasana panas seperti itu. Malah dulu ketika dirinya masih kecil, para gurunya yang terdiri dari tiga tokoh sakti yang berasal dari daratan Tiongkok, Himalaya dan juga gurunya yang menetap di puncak Merapi pernah merebusnya ke dalam kawah yang menggelegak di dalam liang kapundan gunung itu. 

Tidaklah mengherankan bila air mendidih di daiam telaga tidak membuatnya meleleh atau matang. Kini pemuda itu muncul dipermukaan telaga. Tubuhnya yang terendam di dalam air tiba-tiba berputar. Kakinya menendang. Untuk yang kesekian kalinya telaga itu bergolak hebat, kemudian akibat tendangan air telaga muncrat membumbung tinggi ke udara. Si pemuda berambut panjang itu lakukan satu gerakan. Sekonyong-konyong tubuhnya yang terbenam di dalam air melambung tinggi ke udara. 

Pada saat dirinya melesat ke atas, pemuda ini menghantam dengan pukulan Halilintar. Dua leret cahaya seperti kilat menyambar melesat dari telapak tangan pemuda ini.Cahaya-cahaya itu lalu melesat ke arah pepohonan yang terdapat di sekeliling lembah. Benturan terjadi, ledakan dahsyat menggelegar pepohonan sebesar pelukan orang dewasa rambas, hancur menjadi kepingan dan bertebaran ke segenap penjuru arah.

Selagi pemuda ini melayang turun siap jejakkan kaki di atas batu tinggi yang terdapat di tengah telaga, dia melihat tiga cahaya ke arahnya. Pertama cahaya merah, lalu cahaya hijau dan terakhir cahaya biru. Ketiga cahaya itu berhenti bergerak begitu sampai di tebing telaga. Sambil jejakan kakinya, pemuda itu berseru, menjura hormat ke arah tiga cahaya sambil berkata.

"Para guru telah datang. Assyiikk...."

"Petir Kumala, kau seperti bocah ingusan yang mendapat manisan. Tidak tahukah kau bahwa kami melatihmu dan melakukan penggemblengan selama belasan tahun bukan untuk berhura-hura." Kata salah satu cahaya itu. Pemuda belia yang bernama Petir Kumala menjura hormat ke arah cahaya biru. 

Begitu tubuh si pemuda membungkuk di tebing telaga, cahaya biru melakukan penjelmaan diri. Desss! Cahaya pecah kabut menebar ketika cahaya biru lenyap di tebing telaga tidak jauh dari cahaya yang lain berdiri tegak seorang kakek bermata sipit berambut putih berpakaian serba biru menjela. Kakek ini memiliki misai yang sangat panjang, ujung kumis dan jenggotnya bahkan panjang hampir menyentuh dada.       Orang tua satu ini bernama kakek Sun atau guru Sun. 

Dirinya dulu berasal dari daratan Tiongkok. Dia seorang tokoh sakti berilmu sangat tinggi, orang tua ini juga ahli dalam ilmu pengobatan. Begitu muncul dalam ujud yang sesungguhnya si kakek mengelus-elus jenggot sambil menatap tajam ke arah Petir Kumala.

"Guru, maafkanlah aku. Selama ini aku aku selalu melatih jurus-jurus andalan serta pukulan sakti yang kalian ajarkan padaku. Mungkin diriku masih melakukan kesalahan di sana sini, karena itu aku mohon petunjukmu!" kata pemuda itu. 

"Manusia memang selalu berada dalam kekurangan. Menurutku, Petir Kumala telah cukup berhasil menguasai dengan benar semua ilmu yang kita ajarkan kepadanya."

Kata cahaya merah. Sama seperti yang dilakukan kakek Sun. Cahaya merah itu kemudian menjelma menjadi seorang kakek bersorban hitam berkulit gelap hidung mancung seperti burung elang. Adapun tokoh yang satu ini bernama Sabai Baba berasal dari daerah Himalaya. Belum lagi sempat Sabai Baba melanjutkan ucapannya, cahaya hijau membuka suara. 

"Menurutku lain lagi. Petir Kumala masih harus mendapatkan gemblengan di Lawang Saga Petir beberapa purnama lamanya. Barulah setelah berakhir kita bisa menjalankan apa yang menjadi rencana kita bertiga."

Suara itu kemudian lenyap. Selanjutnya cahaya hijau memudar dan menjelma menjadi seorang kakek tua renta berpakaian serba hijau di kenal dengan nama Dewa Tujuh Bumi. 

"Tunggu dulu, kalian para guruku membuat sebuah rencana, sementara itu aku tidak tahu apa yang menjadi rencana kalian itu." Ujar Petir Kumala. Dewa Tujuh Bumi delikkan matanya. Kakek Sun menatap muridnya, setelah itu beralih pandang ke arah dua sahabatnya yang lain, yaitu Sabai Baba dan Dewa Tujuh Bumi. Dengan penuh wibawa dia berkata.

"Nanti kau juga akan mengetahuinya. Sekarang keluarlah dari telaga itu. Kau harus segera ke Lawang Saga Petir untuk memantapkan ilmu yang kau miliki." 

"Pada latihan terdahulu kau selamat, kali ini kemujuran tergantung ditanganmu. Aku sudah melihat dilapangan keramat itu hantaman petir sedang gila-gilanya."

Kata Dewa Tujuh Bumi. Petir Kumala pada dasarnya seorang murid periang, tegas dan mempunyai pemikiran yang cerdas. Mendapat perintah gurunya pemuda ini menganggukkan kepala. 

"Melatih ilmu di bawah hujan petir telah menjadi kebiasaanku sejak lama. Sekarang perkenankan murid pergi ke Lawang Saga Petir."

Kata pemuda itu. Dewa Tujuh Bumi manggut-manggut sambil tertawa. Guru Sun dan Sabai Baba saling memberi tanda untuk mengikuti muridnya. Petir Kumala segera melesat tinggalkan telaga. Luar biasa gerakan pemuda berusia enam belas tahun ini pertanda dirinya telah menguasai ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna. 

Walaupun Petir Kumala memiliki ilmu lari cepat yang sudah sangat hebat sekali. Namun ketika dirinya sampai di sebuah lapangan yang riuh rendah dan kacau akibat hambatan petir yang tidak ubahnya seperti curah hujan, Petir Kumala tak urung dibuat kaget. Dia yang semula meninggalkan gurunya lebih awal ternyata ketika sampai ditempat itu para gurunya telah mendahului kedatangannya. Dalam kesempatan itu kakek Sun berkata. 

"Ilmu lari yang kau kuasai memang sudah bagus, namun belum sempurna..."

"Kau masih membutuhkan waktu setidaknya dua belas purnama lagi untuk menyempurnakan semua ilmu yang kami ajarkan padamu." Kata Sabai Baba penuh wibawa. "Guru mohon maafmu atas segala kekuranganku itu." Kata Petir Kumala. 

"Jangan terus minta maaf, sekarang kau lihat ke tengah lapangan!"

Perintah Dewa Tujuh Bumi. Petir Kumala layangkan pandangannya ke tengah lapangan yang luas. Seperti biasa, walaupun tidak ada hujan, di lapangan keramat itu hantaman petir terus melanda. Serangan petir laksana curah hujan, sambung menyambung tiada henti. Petir Kumala sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Tanpa banyak tanya pemuda berambut gondrong itu melesat ke tengah lapangan. 

Namun baru beberapa tombak memasuki lapangan tersebut, tubuhnya telah disambut oleh hantaman petir.       Gleger! Pemuda yang sedang melayang di udara itu jatuh terkapar, manusia biasa pasti akan tewas dan gosong seketika disekujur tubuhnya terkena hantaman petir. Lain halnya dengan Petir Kumala. 

Sejak bertahuntahun dirinya sudah terbiasa dilatih untuk menghadapi ganasnya alam kehidupan. Serangan petir telah menjadi bagian dari latihannya. Kini pemuda itu bangkit berdiri. Di tengah hujan petir dirinya segera menyalurkan tenaga dalam ke sekujur tubuhnya. Petir Kumala bergetar. Yang dilakukan selanjutnya adalah memutar tubuh, sambil berputar dia melepaskan tendangan dan pukulan mautnya ke arah ratusan petir yang siap menghantam dari langit. 

Ketika tangan pemuda itu di dorong ke atas menyambut hantaman petir yang siap meluluh lantakkan tubuhnya, dari telapak tangan itu mencuat cahaya biru disertai suara bergemuruh hebat. Tubrukan antara pukulan dan petir yang datang dari atas tak dapat dihindari. Buuam!

Pemuda ini terlempar, namun masih sempat lakukan gerakan jungkir balik sedemikian rupa hingga pemuda itu dapat jejakan kakinya di tanah. Pemuda ini benar-benar tidak punya waktu, baru saja jejakkan kaki, petir kembali menghantam dan terus menghantam dari segala penjuru. Pemuda ini segera menggunakan jurus-jurus warisan Dewa Tujuh Bumi. Tubuhnya terhuyung-huyung. 

Gerakan kakinya sangat lincah, maju, mundur atau bergeser ke samping. Begitupun serangan petir yang datang bertubi-tubi sebagian masih menyengat tubuhnya. Setiap sengatan petir yang liar dan ganas membuat kulit tubuhnya menjadi merah membara.

Ini merupakan sebuah pertanda bahwa di dalam diri Petir Kumala sudah mempunyai pertahanan yang baik. Disamping itu, tenaga yang memancar dari serangan petir itu ternyata langsung diserap oleh tubuhnya hingga menjadikannya semakin bertambah kuat. Walau akibat penyerangan yang dilakukannya membuat tubuhnya berubah warna menjadi merah seperti darah. 

Meskipun Petir Kumala sudah terbilang dapat menguasai diri, namun ternyata gurunya masih belum puas. Pada saat sang murid sedang menggunakan jurus-jurus maut dan pukulan andalan untuk menghadapi hantaman petir yang menggila justru Dewa Tujuh Bumi berkata.

"Aku akan menggunakan anak panah untuk melatih kecepatan gerak muridku."

Sret! Segenggam anak panah tanpa busur diraup Dewa Tujuh Bumi dari balik kantong yang tergantung di cabang pohon. 

"Hei, belum saatnya kau menggunakan anak panah menyerang murid kita yang sedang menghadapi serangan petir,"

Kata Sabai Baba mengingatkan. Rupanya kakek berkulit gelap berhidung mancung ini merasa keberatan. Dewa Tujuh Bumi tertawa tergelakgelak. Enak saja dia menyahuti.

"Kalau tidak sekarang lalu kapan lagi? Apakah harus menunggu dia menjadi tua bangka seperti kita? Justru kita harus memberinya tantangan yang besar agar kelak kita tidak akan ragu lagi melepas dirinya. Ha ha ha....!"

"Kakek gila! Kau yang bergelar Dewa Tujuh Bumi. Tenyata otakmu tidak waras," Kata Sabai Baba gusar. Kakek Sun tersenyum, yang dikatakan Dewa Tujuh Bumi baginya cukup masuk akal. Tanpa ragu dia mendukung.

"Tidak usah ribut. Dewa Tujuh Bumi kurasa memang ada benarnya. Kelak bila turun gunung Petir Kumala pasti akan menghadapi tantangan hidup yang amat luar biasa. Kita harus menempanya menjadi murid pilihan. Dia harus kuat lahir batin. Sekarang aku akan menyerangnya dengan menggunakan pedang!" 

Sabai Baba tercengang. Dua guru telah memutuskan begitu, satu suara di bandingkan dua, tentu saja kalah yang satu suara. Dengan pasrah dia berkata.

"Aku ingin melihat apa yang akan kalian lakukan,"

Kata si kakek. Dewa Tujuh Bumi tertawa. Belasan anak panah yang berada dalam genggamannya tiba-tiba disambitkan ke arah Petir Kumala. Di tengah suara deru dan gelegar yang tidak kunjung henti Petir Kumala mendengar suara desing. Dengan cepat pemuda ini berpaling ke belakang. Dia terkesiap, namu tidak sampai membuatnya kehilangan kewaspadaan. Pemuda ini diam-diam membatin di dalam hati.

"Ini pasti pekerjaan guru Dewa Tujuh Bumi, hanya kakek satu itu yang suka iseng!"

Dengan cepat pemuda ini balikkan badan. Melihat belasan anak panah menyerang ke arahnya pemuda ini segera melesat ke udara. Kemudian dengan tubuh mengapung dia menghantam belasan anak panah yang siap menambus tubuhnya.

"Guru Dewa Tujuh Bumi, ini adalah pukulan Awan Merapi yang pernah kau ajarkan kepadaku!" Kata Petir Kumala. Wuus! Wuus! Asap putih kelabu bergulung-gulung, angin menderu-deru dan suasana di sekitar lapangan itu menjadi gelap gulita. 

Anak panah yang menyerang Petir Kumala tertahan. Si pemuda membalikkan tangannya, sejalan dengan gerakan tangannya, anak panah yang tertahan itu ikut berbalik kemudian kembali melesat menyerang pemiliknya.

"Wualah, edan!"

Maki Dewa Tujuh Bumi begitu melihat anak panahnya meluncur deras ke arahnya. Melihat ini Sabai Baba tertawa terpingkal-pingkal. Sambil tertawa Sabai Baba berkata.

"Muridmu itu sangat pintar. Dia tentu lebih cerdik dibandingkan dirimu yang pikun dan suka lupa. Ha ha ha." Prak! Prak! Belasan anak panah mampu dimusnakan oleh Dewa Tujuh Bumi. Orang tua itu leletkan lidah dan merasa jerih. Lain lagi halnya dengan kakek Sun. Dengan menggunakan pedang kakek ini langsung melesat ke tengah lapangan. 

Begitu dia jejakkan kaki di tengah lapangan, tentu saja hujan petir menyambutnya. Si kakek tidak perduli. Dengan menggunakan tangan kiri, dia menangkis petir-petir itu. Sementara tangan kanannya bergerak cepat mengerahkan jurusjurus pedang yang menjadi andalannya. Petir Kumala sempat tertegun, mula-mula dia tidak mengerti dengan kelakuan gurunya. Tetapi akhirnya dia menyadari bahwa kakek Sun sedang memberinya satu ujian. "Maafkan aku guru!" Kata Petir Kumala. 

Kemudian dengan gerakan sedemikian rupa dia berkelit dan menghantam gurunya dengan serangkaian serangan yang sangat luar biasa. Kakek Sun sempat kaget. Dia bersurut langkah, lalu menangkis serangan balik yang dilakukan Petir Kumala. Tetapi walau Petir Kumala menghadapi dua ancaman yang datang dari sambaran petir dan serangan pedang.

Perlu diingat jurus-jurus maut dipergunakan pemuda ini merupakan perpaduan dari tiga guru. Tiga guru dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya menurunkan seluruh ilmu yang dimilikinya. Bila sang murid dapat menguasainya dengan baik tentu kehebatannya jadi berlipat ganda. 

Lagi pula Petir Kumala sangat pandai merubah jurusjurus silatnya. Dari jurus warisan kakek Sun, berganti dengan jurus warisan kakek Sabai Baba atau Dewa Tujuh Bumi dan sebaliknya. Pada puncaknya kakek Sun terlempar, walaupun ujung pedangnya sempat menggores bagian bahu Petir Kumala. Hantaman petir masih terus menggelegar. Kakek Sun keluar dari lapangan itu. Si murid segera menyusulnya. Sabai Baba menarik nafas lega. Dia menatap ke arah sang murid. 

Orang tua itu melihat betapa sekujur tubuh muridnya yang merah seperti saga kini berangsur ke warna normal. Dia juga melihat sekujur tubuh muridnya telah basah bersimpah keringat. Sabai Baba tersenyum, penuh harapan dia berkata. 

"Dalam setiap latihan, pemusatan pikiran sangat dibutuhkan untuk mencapai hasil maksimal. Aku bukan orang yang suka bergurau, atau bicara ngaco seperti gurumu Dewa Tujuh Bumi. Terus terang kukatakan, dalam setiap latihan. Kemajuan ilmu yang kau pelajari semakin bertambah pesat. Sekarang kau pergilah!" Ujar Sabai Baba. 

"Terima kasih guru," Ujar Petir Kumala. Pemuda itu menjura hormat ke arah gurunya. Setelah itu dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dees! Petir Kumala tiba-tiba hilang raib dari hadapan mereka. Kakek Sun mengelus-elus jenggotnya yang memutih dan panjang.

"Dia murid yang patuh," Gumam kakek Sun memuji.

"Patuh saja tidak cukup. Dia harus hebat, karena hanya bocah yang hebat sakti dan teruji saja yang pantas menjadi muridku!" Ujar Dewa Tujuh Bumi sambil tertawa tergelak-gelak. 

***

Bukan main marahnya penguasa kerajaan Purba Dipa itu mengetahui penyelewengan yang dilakukan oleh selir ketiga. Perempuan jelita berkulit mulus itu memang memiliki kecantikan melebihi sang ratu. Tetapi tidak seperti para selir lainnya. Selir ketiga selalu saja membuat ulah. Dulu sang selir yang bernama Banowati pernah menuntut bahwa kedudukannya harus sama dengan dengan kedudukan sang permaisuri.       Tetapi tuntutan ini ditolak. 

Kemudian di lain hari selir ketiga berharap punya keturunan. Dan keturunan sang selir nantinya harus punya kedudukan penting di istana Purwa Dipa. Dalam silsilah dan aturan yang berlaku. Seorang putera selir tentu saja tidak dapat menjadi raja menggantikan gusti prabu. Tetapi sebagai selir Banowati tetap ngotot. Dia ingin diistimewakan sebagai selir. Artinya dia tidak hanya sebagai selir, namun harus punya kedudukan serta pengaruh layaknya permaisuri sang prabu. Keinginannya ini ditolak oleh sang prabu. Mungkin karena keinginannya selalu dicegah. 

Banowati diamdiam menyimpan dendam kesumat. Diam-diam dia menjalin hubungan dengan seorang pengawal istana yang tampan dan masih baru bertugas di istana Purwa Dipa. Prabu Kesa bukan tidak mendengar selentingan kabar miring yang membuat merah telinganya ini. Sebagai raja yang bijaksana dirinya tidak ingin bertindak gegabah. Dia ingin bukti. Sampai kemudian terjadi peristiwa dimalam jahanam itu. Selir ketiga tertangkap basah sedang bermain cinta dengan kekasih barunya yang tampan. Raja tidak ingin ingin aib memalukan ini tersiar luas. 

Secara diam-diam Prabu Kesa meminta senopatinya untuk menjebloskan pemuda itu ke penjara. Keesokan harinya telah diputuskan pemuda itu harus dihukum pancung. Sementara untuk sang selir juga ditetapkan hukuman yang sama. Tetapi para pejabat kerajaan yang mengetahui peristiwa itu akhirnya menjadi geger. Pemuda yang hendak digantung meloloskan diri dari penjara. Padahal penjara tersebut dikawal dengan sangat ketat. Entah ilmu kesaktian apa yang dimiliki oleh pemuda itu. Yang pasti ketika meloloskan diri dari penjara, sedikitnya dia tidak merusak pintu penjara. Dia menghilang begitu saja seperti ditelan bumi. 

***

Pagi itu seekor kuda berbulu putih dipacu cepat menuju ke sebuah lembah yang angker. Penunggangnya adalah seorang perempuan jelita berpakaian mewah warna kuning. Melihat caranya menunggang kuda yang setengah berdiri, sangat jelas bahwa perempuan itu sedang tergesa-gesa. Sesekali dia bahkan menoleh ke belakang untuk memastikan apakah ada yang mengejar atau tidak. Dia merasa lega karena melihat dibelakang sana tidak nampak ada yang mengejar terkecuali kepulan debu yang membubung ke udara. 

Kini setelah melewati padang berbatu yang luas.Perempuan jelita itu menuju ke celah dua tebing. Diantara celah itu terdapat jalan menuju ke sebuah lembah yang pengap sesak dan senantiasa menaburkan bau busuknya bangkai. Perempuan ini kemudian melihat sebuah papan peringatan. Dia menghentikan kudanya, pada saat itu dia mengamati papan peringatan itu. 

Dengan cepat dia membacanya. "Lembah berpulang. Setiap yang datang nyawa melayang. Hanya penguasa langit yang punya jalan. Jalan hidup dan jalan kematian." Perempuan itu terdiam beberapa jenak lamanya. Sejak diputuskan bakal menerima hukuman pancung, dirinya memang tidak mungkin terus menetap di istana. Cepat atau lambat hukuman pancung akan menimpa dirinya. Padahal dia tidak ingin mati dengan disaksikan oleh keluarga kerajaan. Itu kematian yang memalukan apalagi ini menyangkut aib. Jadi dengan menemui penguasa lembah merupakan jalan yang terbaik. 

Tidaklah mengherankan bila dia bertekad dari pada tertangkap oleh prajurit kerajaan lebih baik mati ditangan Aryu Jeda, sang penguasa Lembah. Kini dengan tekad yang bulat perempuan itu kembali memacu kudanya. Namun belum sampai kedalam lembah, kuda yang ditungganginya meringkik keras. Perempuan itu nyaris terbanting ketika kuda mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Dengan gerakan yang lincah dia melompat dari atas panggung kuda. Selanjutnya dia jejakkan kakinya di atas tanah berpasir.       "Tidak biasanya si putih bertingkah aneh begini. Apa yang dilihatnya?" Membatin perempuan itu didalam hati. 

Dia lalu layangkan pandang ke depan. Dia melihat timbunan tulang belulang yang putih menggunung. Tengkuknya merinding. Dia yakin tumpukan tulang itu pastilah tulang manusia yang tewas ditangan Aryu Jeda dengan keinginan korbannya sendiri. Tetapi dimanakah Aryu Jeda berada? Perempuan itu layangkan pandang ke segenap penjuru lembah. 

Tidak ada apa-apa yang dilihatnya terkecuali tumpukan tulang belulang. Perempuan itu tidak jadi sabar, apalagi dihatinya ada rasa takut kalau-kalau orang kerajaan menyusulnya. Dia lalu berteriak. 

"Aryu Jeda... aku Banowati datang ingin bertemu. Kuharap kau mau datang menghadapku!" Kata perempuan itu yang ternyata memang selir ketiga prabu Kesa. Perempuan ini menunggu, suaranya bergema memantul ke arah dinding-dinding lembah. Kemudian sayup-sayup dia mendengar suara desis panjang. Kemudian seluruh permukaan tanah di lembah bergerak-gerak seolah ada mahluk raksasa yang menggeliat bangkit didalamnya. 

Banowati sebelumnya tidak pernah tahu bagaimana ujud manusia yang bernama Aryu Jeda itu. Yang sering dia dengar Aryu Jeda selalu mengabulkan permintaan orang yang sudah bosan hidup. Tentang dirinya sesungguhnya Banowati belum ingin mati, hanya keadaan yang memaksanya menyongsong kematian itu. Penantian Banowati tidak berlangsung lama. Sekejab kemudian terdengar suara pekik ditengantengah desis hebat. Guncangan dipermukaan tanah semakin menghebat. 

Lalu tanah berpasir itu tiba-tiba muncrat di udara. Sebuah kepala muncul kepermukaan tanah. Kepala itu memang kepala manusia. Namun dari leher ke bawah berujud mahluk yang lain, mahluk panjang sejenis ular bersisik besar menebar bau amis busuk bukan kepalang. Rasa kaget dihati Banowati tiada terkita. Dia tidak mengira manusia yang diharapkan dapat mengakhiri hidupnya ternyata berujud manusia setengah ular bersisik hitam. Belum hilang kaget dihatinya ular raksasa yang sangat panjang telah bergerak merayap namun dengan kecepatan kilat menuju ke arahnya. 

Begitu sampai ular setengah manusia ini julurkan lidahnya yang panjang bercabang. Kepala ular mendekat, hidungnya mengendusi sekujur tubuh Banowati. Ular itu kemudian menjauhkan diri dari Banowati, matanya yang putih keabuan menatap perempuan cantik itu dengan liar dan ganas. Tidak disangka sang ular bisa bicara. Ucapannya didahului dengan desisan panjang "Aku mencium bau kerajaan, aku juga mencium bau nista.Mengapa kau datang ke Lembah Keramat ini?" Tanya manusia bertubuh ular itu lantang. 

"Maafkan aku, aku ingin bertemu dengan Aryu Jeda sang Pelaksana," Ujar Banowati. "Akulah Aryu Jeda, sang Pelaksana bagi orangorang yang sudah bosan hidup. Apa keinginanmu?" Pertanyaan itu disambut gembira oleh Banowati. "Keinginanku datang kemari adalah sama seperti keinginan orang telah berubah menjadi tulang belulang itu. Kau seorang Pelaksana, karena pelaksana kuharap kau mau mengabulkan permintaanku!" Ular raksasa itu meliuk-liukkan tubuhnya, mulutnya berdesis, taring-taringnya yang sangat panjang mencuat. Dia tertawa dengan suaranya yang dalam dari perutnya. 

"Perempuan secantik dirimu kulihat tidak ada keinginan untuk mati. Yang kulihat justru ketakutan yang sangat besar tentang sesuatu. Kau pasti menghindar dari kejaran hukuman yang telah ditetapkan padamu akibat perbuatan nista yang telah kau lakukan,"kata Aryu Jeda. Pernyataan manusia ular itu sangat mengejutkan Banowati. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa Aryu Jeda mengetahui masalah yang di hadapinya. Tapi dia sudah terlanjur melarikan diri, satu-satunya harapan untuk mati hanya tergantung pada manusia ular. Dengan terus terang dia berkata. 

"Aku lari dari hukuman gantung. Aku kecewa pada prabu, aku telah melakukan perbuatan yang salah. Kuharap kau mau meluluskan permintaanku."

"Oh, aku gembira mendengar niatmu. Namun aku tidak mungkin mengabulkan permintaan mati bagi orang yang telah melakukan perbuatan nista. Aku hanya menghabisi hidup seseorang bila orang itu memang layak untuk menerimanya. Kuharap kau mengerti."

"Jadi orang bagaimana yang kau kabulkan permintaannya?" Tanya Banowati kecewa. 

"Pertama orang itu menderita sakit tidak tersembuhkan. Yang kedua orang itu ingin berhenti dari kejahatannya. Dan ketiga adalah para orang tua yang sudah tidak lagi mengharapkan hidup karena umurnya sangat panjang sementara kerabatnya tidak lagi menghiraukannya," Jelas Aryu Jeda tanpa merasa ragu. "Oh tak kusangka ternyata kau manusia yang berpura-pura menjujung kebenaran. Kau sendiri bukan Hyang Tunggal, tapi kau telah melakukan pembunuhan."

"Pembunuhan kulakukan atas dasar permintaan orang," Kata Aryu Jeda. 

"Kalau demikian mengapa kau tidak mengabulkan permintaanku?" Tanya Banowati. "Bagiku kau merupakan pengecualian. Kau punya dosa yang harus kau tebus selama puluhan tahun. Selain itu kau juga kulihat belum empat puluh hari melahirkan. Kau sangat kotor, kau harus membersihkan diri terlebih dulu."

"Hm, lancang mulutmu. Aku tidak melahirkan apaapa, aku tidak pernah merasa mengandung," Kata Banowati kesal bukan main. "Cobalah kau ingat-ingat peristiwa setelah kau melakukan hubungan dengan kekasih gelapmu?" Kata Aryu Jeda. 

Kening selir ketiga itu berkerut tajam. Menurutnya Aryu Jeda mengetahui banyak hal. Dan dia tidak lupa, waktu itu dua malam setelah dirinya bermain cinta dengan kekasihnya, tubuhnya terserang panas tinggi. Kemudian terjadi pendarahan yang disertai rasa sakit luar biasa. Banowati tidak tahu apa gerangan yang keluar dari kelaminnya. Yang jelas saat itu prabu Kesa nampak sibuk bahkan mendatangkan tabib istana. Sejauh ini dirinya dalam keadaan baikbaik saja. "Kau mengingatnya?" 

"Aku ingat, tapi itu bukan kelahiran hanya pendarahan biasa," Bantah Banowati dengan tegas. "Terserah kau mengatakan apa. Yang pasti aku tidak dapat meluluskan permintaanmu," Kata Aryu Jeda. Banowati terdiam, dia harus berpikir bagaimana caranya agar mahluk ular berkepala manusia itu mau mengabulkan permintaannya. Dia menyusun rencana. Namun sebelum rencana tersusun dengan benar, Aryu Jeda tiba-tiba berkata. "Kau tidak usah bermuslihat denganku. Aku telah melihat rencanamu dari matamu."

 "Sungguh terkutuk!" Maki Banowati. 

"Sayang, kau hanya cantik di wajah namun busuk dihati. Sekarang lebih baik kau pergi mencari kekasihmu yang telah meloloskan diri itu."

"Aku tahu dia telah lolos, tapi aku tidak tahu dimana dirinya berada saat ini," Kata Banowati sejujurnya. "Kalau begitu berjalanlah ke utara. Sebelum dirimu sampai ke candi Kajangkoso, kau akan menemukan kekasihmu itu. Kau bisa membicarakan kesulitanmu syukur-syukur dia bersedia menyuntingmu." Banowati masih meragukan keterangan Aryu Jeda. Dia takut manusia setengah ular itu berbohong kepadanya. 

"Aku bukan orang pembual. Yang kukatakan ini semata-mata berdasarkan penglihatan batinku," Kata mahluk itu meyakinkan. "Benarkah?"

"Tentu saja. Kau harus segera tinggalkan tempat ini. Terlambat sedikit orang kerajaan pasti akan menangkapmu!"

"Nampaknya keteranganmu bisa dipercaya. Kau telah memberikan jalan kepadaku. Aku harusnya berterima kasih, namun tidak kulakukan karena kau tidak bersedia mengabulkan permintaanku!" 

Banowati kemudian memutar kudanya. Selanjutnya tanpa menoleh lagi segera tinggalkan mulut lembah. Aryu Jeda menyeringai. "Kekasihmu itu sejenis Kaluak, setiap Kaluak tidak bisa dipercaya. Ha ha ha.... ssst...!" Manusia setengah ular tersebut mendesis dan tertawa. Sekali kepalanya menghentak ke bawah. Sosoknya seketika lenyap tidak berbekas. 

***

Manusia Batu membawa peti mati itu ke ujung bagian hulu sungai. Selama dalam panggulannya Manusia Batu mendengar caci maki dan sumpah serapah. Laki-laki tinggi yang bentuk tubuhnya seperti ukiran patung batu yang dipahat ini hentikan langkah. Dia menoleh, tidak ada siapapun. Manusia Batu memandang ke arah belakang, rupanya dirinya khawatir ada yang mengikuti. Ternyata di belakang juga tidak ada orang. Manusia Batu terheran-heran sendiri. 

Tidak ada orang mengapa ada suara, bahkan suara tanpa rupa itu mencací maki dirinya. Manusia Batu tidak mengetahui bahwa peti mati yang berada dalam panggulannnya sebenarnya hidup dan memiliki roh. Dalam usianya yang hampir tiga ratus tahun. Peti mati yang oleh Prabu Kesa diberi nama Peti Mati kalawa itu banyak sekali tersimpan misteri dan sejarah didalamnya. Biarpun Manusia Batu tidak mengerti sejarah peti, baginya yang terpenting adalah mengambil benda yang tersimpan didalamnya. Sebuah senjata pusaka yang menurut kabar merupakan sebuah pedang keramat bernama Pedang Cacat jiwa. 

Siapa yang tidak ingin memiliki pedang sehebat itu. Setelah hilangnya Pedang roh sejak lima ratus tahun yang lalu, Pedang Cacat Jiwa adalah sebuah senjata yang bernaluri sesat yang amat cocok berada ditangan manusia berjiwa sesat pula. Pedang Cacat Jiwa sebagaimana Pedang Roh yang diagungkan merupakan sebuah legenda. Beribu jiwa pendekar dipertaruhkan guna mendapatkan senjata mematikan itu. Kini Manusia Batu menyeringai. Bayangan untuk mendapatkan senjata itu telah berada di depan mata. 

Keinginan didorong oleh rasa ingin tahu semakin bertambah besar. Manusia Batu tidak sabar lagi, kini tanpa menghiraukan suara-suara aneh yang didengarnya dia kembali melanjutkan perjalanannya. Sampai kemudian Manusia Batu merasa telah berada disebuah tempat yang aman. Sebuah tikungan sungai dia melihat sebuah tebing berkelok. Manusia Batu merasa inilah saatnya untuk membuka Peti Mati Kalawa dan mengambil isinya. Peti mati itu lalu dia turunkan dari pundaknya. Peti mati selanjutnya dia letakkan di atas dataran tanah berbatu. 

Dalam gelap yang hanya diterangi cahaya bintang, Manusia Batu memperhatikan peti mati tersebut dalam beberapa kejaban saja. Selanjutnya dia meneliti setiap sudut peti. Manusia Batu melihat sebuah kunci. Kunci penutup peti disentakkannya. Peti bergoyang dari dalamnya terdengar suara bergemuruh. Manusia Batu tertegun. Dia merasa ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang sepertinya memiliki kehidupan di dalam sana. 

"Kudengar Pedang Cacat Jiwa merupakan senjata keramat yang hidup dan punya naluri Kaluak." Kata Manusia Batu. Kaluak adalah kata lain yang artinya kurang lebih adalah iblis. Manusia Batu tersenyum, senyum kaku yang sama sekali tidak membuat bibirnya bergerak. Seperti halnya keris yang memiliki jiwa, pedang yang hidup juga bisa bergerak atau terbang dengan sendirinya. 

Dia tidak boleh takut, pedang tetaplah benda, walaupun hidup sebuah pedang tetap merupakan sebuah pusaka yang dibuat oleh manusia. Manusia Batu menunggu sejenak. Setelah menenangkan diri dan mengatur nafas, Manusia Batu siap membuka peti mati tersebut. Dua tangannya diulurkan, jari-jarinya siap membuka penutup peti. Namun sebelum sepuluh ujung jari sempat menyentuh penutup peti. Tiba-tiba saja terdengar suara berkereketan. laki-laki itu menahan nafas, tapi kemudian dia terperangah ketika sekonyong-konyong mendengar suara deru dari dalam peti. 

Suara deru dipeti diikuti oleh deru angin yang terdapat disekitarnya. Angin yang tidak jelas datang dari mana menghantam sekaligus memporak porandakan apa saja. Manusia Batu bergoyang-goyang, kuatnya tiupan angin nyaris membuat dirinya terjungkal. Padahal tubuhnya memiliki bobot yang sangat berat. Laki-laki itu berdiri dengan kebingungan. Dia berpikir tiupan angin itu bukanlah gejala alam biasa. 

Tiupan angin yang menyapu alam sekitarnya punya kaitan yang yang sangat erat dengan isi peti. Apakah pedang Cacat Jiwa memiliki pamor sehebat itu? Tidak! Pedang Cacat Jiwa sepuluh kali lebih dahsyat dari tanda-tanda yang diperlihatkan. Lalu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Laki-laki itu tidak mau sekadar menduga-duga. Dia kini menatap ke arah peti. Ketika itu peti mati telah terbuka dengan sendirinya. Tapi penutup peti belum terbuka seluruhnya. Peti itu dalam keadaan setengah terbuka, Namun yang membuat Manusia Batu tidak habis mengerti, dia melihat ada cahaya merah kebiruan memancar dari dalam peti itu. 

Selanjutnya ada kabut tipis menguap keluar dari mulut peti. Kalau saja Manusia Batu mau memperhatikan menguapnya kabut itu lebih seksama, tentu dia melihat ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang hidup dan bergerak menjauh meninggalkan peti. Tapi Manusia Batu lengah, justru perhatiannya lebih tertuju ke arah peti dan cahaya yang ditimbulkannya. Tetapi pancaran cahaya itu ternyata tidak berlangsung lama. Kemudian bagian dalam peti mati dalam keadaan gelap seiring dengan meredupnya cahaya. Manusia Batu tegang, namun dia juga penasaran. 

Sekali melangkah dia telah sampai di mulut peti. Kemudian penutup peti dibukanya lebarlebar. Laki-laki itu berjongkok, dia segera memeriksa bagian dalam peti. Manusia Batu kaget bukan main ketika melihat bahwa cahaya yang memancar tadi ternyata berasal dari pecahan benda bulat lonjong seperti cangkang telur. Ya! Benda itu memang mirip telur raksasa. Keadaannya seperti kerangka telur yang sudah menetas. Namun besarnya hampir sama dengan kelapa. Manusia Batu merasa heran. Diambilnya salah satu pecahan cangkang itu. Dia menelitinya "Benda ini mirip dengan telur, isinya raib. Tetapi kulitnya mengapa keras seperti batu? Kalaulah benda ini memang sebutir telur, lalu mahluk apakah yang telah ditetaskannya? Mengapa bentuknya seperti ini?" Manusia Batu tidak puas. 

Sekali lagi dia memperhatikan cangkang batu itu lebih seksama. Keningnya yang menonjol berkerut. Dia ingat, dulu ketika ingin memperhebat kesaktiannya. Manusia batu pernah menjebol perut perempuan yang hamil besar. Ketika dia meneliti isi perut yang membuncit berisi calon bayi. Dia menemukan rahim korbannya. Dan rahim itu tidak mirip benar namun hampir sama dengan cangkang yang dia temukan di dalam peti. Jadi jawabnya ada dua kemungkinan boleh jadi cangkang itu bekas tempat tinggal mahluk yang tidak dikenal dan tidak tertutup kemungkinan cangkang batu itu memang sebuah rahim. Manusia Batu jadi bimbang mana ada rahim yang membatu dan berada diluar kandungan. 

Lalu misteri apa sebenarnya yang tersimpan dalam peti mati itu? Manusia Batu tidak mau memikirkannya. Dia juga tidak perduli. Ditelitinya bagian dasar peti, dia mencari benda yang dia inginkan. Tidak ada apa-apa yang dia temukan, juga dengar ternyata hanya kabar burung belaka. Jadi tidak benar Prabu Kesa menyimpan Pedang Cacat Jiwa di dalam peti mati Kalawa. Tapi untuk apa peti mati itu dikubur dan ditunggu oleh seorang pertapa selama tiga purnama? Prabu Kesa merahasiakan sesuatu. Penguasa kerajaan Purwa Dipa itu jelas sengaja menyembunyikan rahasia. 

Apakah dua buah cangkang yang tidak jelas berasal dari telur atau rahim itu? Mungkin ini menyangkut rahasia besar tidak tertutup kemungkinan sebuah aib keluarga. Prabu kesa mengetahui itu, tapi Manusia Batu yakin tidak hanya Prabu Kesa saja yang tahu. Kaliwangga sang pertapa pasti tahu tentang rahasia itu.       Sayang dirinya telah membanting Kaliwangga. Pertapa itu amblas ke dalam tanah. Tidak dapat dipastikan amblasnya Kaliwangga apakah akibat bantingnya atau karena dia sengaja ingin menghindar dari dirinya. Manusia batu kepalkan tinjunya. 

Dia merasa kecewa. "Aku tidak tahu apakah Pedang Cacat Jiwa ada di tangan Prabu Kesa, ataukah pedang itu sebenarnya memang tidak ada padanya. Aku tidak mungkin melabrak ke kerajaan. Istana itu dijaga sangat ketat. Hari itu aku benar-benar tertipu, tapi biarlah, aku akan terus mengikuti perkembangan selanjutnya." Manusia Batu bangkit berdiri. Dengan perasaan kesal peti mati itu ditendangnya. Peti tergelimpang, Manusia batu tanpa perduli segera berlalu meninggalkannya. Andai saja Manusia Batu mau bersabar menunggu. Setidaknya dia bakal mendengar suara orang berkata, suara itu datang dari peti. 

"Keserakahan adalah penyakit manusia yang telah banyak membuat kehancuran di dunia ini. Rasa tidak puas mendorong manusia melakukan perbuatan keji. Aku mengetahui banyak hal tentang apa saja yang disimpan di dalam perutku sejak tiga ratus tahun yang silam. Angin bicara, sayang terlalu banyak rahasia yang harus kuutarakan. Seperti bumi yang menyimpan rahasia kejahatan manusia. Aku juga harus mematuhi hukum alam karena aku merupakan salah satu bagian dari padanya.

Sekarang malapetaka telah meloloskan diri dari perutku. Kaluak atau iblis hanya mempunyai perbedaan cara menyebutnya. Orang-orang akan mati. Mengapa? Karena mereka tidak tahu bahwa kehidupan yang baru membutuhkan darah dan jantung, kehidupan yang baru butuh tenaga yang sangat besar. Dan semua itu hanya bisa didapatkan dengan membunuh dan melenyapkan kehidupan yang lain..!" Kemudian suara itu lenyap, Hari berganti pagi, malam berlalu meninggalkan bumi. 

***

Bergerak perlahan menelusuri kaki gunung Merapi, selir ke tiga kerajaan benar-benar merasa bahwa harapannya hanya tinggal berupa harapan. Dia yang semula mempercayai keterangan Aryu Jeda kini mulai meragukannya. Kini dia mulai berpikir bisa jadi Aryu Jeda membohongi dengan mengatakan bahwa kekasih gelap sang selir berada di sekitar candi Kajangkoso. Banowati merasa tertipu. Diam-diam dia menjadi marah pada Aryu Jeda yang dianggapnya telah menipu dirinya. "Aku yakin dia sengaja membuat senang perasaanku. Mungkin juga dia sengaja tidak ingin membunuhku, dia kemudian mengalihkan perhatianku dengan cara seperti itu," Batin Banowati. 

Perempuan itu merasa penasaran. Walau dihatinya menyimpan rasa kesal karena menganggap telah ditipu, namun Banowati masih tetap berharap dapat menemukan kekasihnya. "Duh, di mana dirimu. Kalau kau berada disekitar kaki gunung Merapi ini kekasihku Jabatala. Seharusnya aku menemukanmu dengan mudah. Aryu Jeda mengatakan engkau berada di sekitar candi Kajangkoso. Aku telah menemukan beberapa candi. Banyak candi di sekitar kaki gunung ini, tapi aku tidak tahu yang mana candi Kajangkoso itu," Kata Banowati. Perempuan itu menarik nafas, pandangan matanya jelalatan memperhatikan sekitarnya. Mata Banowati berkedap kedip begitu melihat sesuatu dikejauhan sana. Dan wajah yang murung itu kini berubah cerah. 

"Dikejauhan itu kulihat ada sebuah bangunan besar. Kurasa itulah yang bernama candi Kajangkoso," batin selir ketiga. Dia lalu menggebrak kudanya tanpa pikir panjang. Selanjutnya kuda telah kelelahan itu berlari menuju ke arah bangunan di depan sana. Banowati melompat turun dari atas kudanya. Karena perjalanan untuk mencapai candi tidak mungkin dilakukan dengan berkuda, akhirnya Banowati terpaksa melanjutkannya dengan berjalan kaki. Setelah berjalan dengan bersusah payah. 

Banowati akhirnya sampai di halaman candi. Saat itu dia melihat banyak burung kematian beterbangan di atas candi. Burung besar berbulu hitam sebenarnya jarang ditemukan terkecuali pada saat-saat tertentu. Terkecuali bila bakal terjadi kematian. Kini Banowati jadi berpikir sendiri. Siapa yang bakal menemui ajal? Tidak ada orang lain berada di sekitar candi terkecuali dirinya. Apakah mungkin? Banowati tidak ingin berpikir lebih jauh. Tengkuknya kini meremang tegak. Cepat-cepat dia berlalu tinggalkan halaman candi dan menuju ke belakang. 

Di halaman samping pada dinding sebuah stupa dia melihat tulisan. Banowati yang cemas karena kehadiran burung pertanda kematian semakin yakin bahwa dirinya telah berada di tempat yang tepat sesuai dengan tulisan yang dibacanya tadi. Tidak lama kemudian perempuan itu masuk ke dalam candi. Selir ketiga prabu Kesa ini tertegun ketika hidungnya mengendus bau busuk yang menyengat. Ketika perempuan itu memandang ke bagian dalam candi. Diam-diam dia menjadi kaget. Di dalam candi sedikitnya terdapat tiga mayat. Mayat itu tidak dikenalnya. Tubuhnya dalam keadaan menggenaskan, dadanya berlubang dan jantung yang berada di dalam dada lenyap. Tubuh mayat itu juga dalam keadaan mengering seolah ada mahluk haus darah yang telah menyedot habis darahnya. 

Banowati melangkah mundur. Dia yang semula hendak memeriksa seluruh bagian dalam candi yang luas segera batalkan niatnya. Setelah berada di luar candi, Banowati sekarang berpikir untuk memeriksa bagian belakang candi tersebut. Tetapi entah mengapa tibatiba saja dirinya merasa ragu. Pada saat diri dilanda keraguan seperti itu, sayup-sayup Banowati mendengar suara siulan. Perempuan cantik ini kaget, hatinya berdebar-debar. Suara siulan itu mengingatkan dirinya pada Jabatala. Biasanya sang kekasih bila ingin bertemu atau menyelinap ke kamarnya selalu menggunakan siulan sebagai isyarat. Apakah mungkin suara siulan yang didengarnya merupakan suara yang sama? 

Selir ketiga merasa penasaran. Dia memasang telinga baik-baik, suara siulan masih terdengar dan Banowati segera mengetahui dari arah mana suara itu datang. Suara siulan datang dari arah belakang candi. Tanpa banyak pertimbangan dia langsung mengayunkan langkah menuju ke arah suara yang di dengarnya. Sesampai dibelakang dirinya kaget. Dia melihat seseorang duduk diatas batu. Orang itu berpakaian kuning. Rambutnya yang panjang tergelung ditutupi topi mirip blangkon namun terbuat dari anyaman bambu. "Siapa dia? Kalau Jabatala, mestinya dia memakai pakaian perajurit kerajaan." Pikir Banowati. Namun perempuan ini kemudian menyadari, bahwa dalam keadaan diri menjadi buronan kerajaan. 

Tidak mungkin Jabatala berpakaian seragam apalagi dirinya kini sudah tidak lagi menjadi perajurit, melainkan seorang calon terhukum yang melarikan diri. Banowati menunggu. Dalam kebimbangan ada harapan. Suara siulan lenyap, kesunyian kini terasa amat mencekam. Dalam sunyi selir ketiga kehilangan kesabaran. Dia lalu memutuskan untuk mendatangi. Baru saja beberapa langkah Banowati berjalan, orang yang di atas batu sekonyong-konyong menoleh ke arahnya. Perempuan itu kaget bukan main tetapi hatinya berbunga-bunga. 

Inilah orang yang dia cari, maka tanpa pikir panjang lagi Banowati segera menghambur ke arah laki-laki itu. "Kakang Jabatala! Aku sudah mencarimu ke mana-mana, tidak tahunya kau berada di sini!?" Ujar perempuan itu sambil menangis terisak-isak. Orang yang dipeluk oleh selir ke tiga ternyata memang Jabatala. Laki-laki itu bangkit berdiri. Dia membalas pelukan Banowati, lalu menciumnya dengan penuh keinginan. 

Kalau menuruti perasaan Banowati tentu saja ikut terhanyut. Apalagi dirinya selama ini haus akan cinta, namun dia menyadari persoalan masih ada dan kehidupan selanjutnya kini menjadi lebih penting dari cinta. Tanpa bicara dia melepaskan pelukannya. Cukup lama Banowati memperhatikan wajah laki-laki yang membuatnya tergila-gila itu. "Apa yang kau lakukan di sini, kakang?" Tanya Banowati dengan bibir bergetar 

"Yang kulakukan?" Desis Jabatala. Bibirnya mepyeringai. Betapa aneh senyum Jabatala itu tidak seperti biasanya yang selalu ramah dan mengundang. "Aku belum lama lolos dari hukuman pancung. Dan sekarang sedang merencanakan sebuah keinginan besar."

"Apakah keinginanmu itu kakang, apakah kita akan hidup bersama setelah diriku menjadi buronan seperti dirimu?" Kata Banowati. Jabatala manggut-manggut. Dia memperhatikan perempuan di depannya dari kepala hingga ke kaki. Dalam hati dia membatin. 

"Rencana tetap rencana. Kau tidak pernah akan tahu bahwa aku telah menitipkan calon penguasa tunggal di dalam rahimmu. Proses gaib terjadi diluar kehidupan nyata. Tiga bulan berlalu. Kini dia sudah mulai dewasa. Dia butuh darah dan jantung sebagai sebuah alat menuju pendewasaan diri. Kau tidak pernah tahu Banowati bahwa saat ini akan membutuhkan dirimu. Kau harus berkorban demi sebuah masa depan, aku tidak lagi membutuhkan tubuhmu. Bagaimana aku bisa hidup denganmu. Kau terlalu bodoh, kemarahan dan dendam tanpa kau sadari telah menjerumuskan dirimu dalam kehidupan yang terhina." 

"Kakang mengapa kau hanya diam saja." Kata perempuan itu gelisah. Jabatala tersenyum. "Apa yang kau inginkan?" Tanya Jabatala. "Aku ingin hidup bersamamu dalam keadaan suka dan duka," Ujar Banowati seadanya. "Bagaimana kalau dalam kehidupan bersamaku nanti yang kau temukan hanya duka. Kau sudah terbiasa hidup dalam kemewahan. Kau pasti tidak bakal sanggup hidup dengan caraku," Kata Jabatala. Perempuan itu menggeleng keras. 

"Kau jangan meragukan diriku kakang. Kau adalah cahaya hatiku, kau tumpuan harapanku satu-satunya. Aku tidak perduli dengan segala kesengsaraan. Yang terpenting aku bisa menjadi istrimu!" Jabatala merasa lega. Dipeluknya perempuan berwajah rupawan itu erat-erat. Menyangka kekasih gelapnya menyetujui apa yang menjadi keinginannya maka Banowati membalas pelukan Jabatala dengan tidak kalah hangat. Pada saat Banowati tenggelam dengan kebahagiaannya sendiri, seketika itu juga tanpa pernah disangka-sangka Jabatala melakukan tindakan. Mula-mula tangan kanannya bergetar. Setelah itu dari ujung jemarinya mencuat kuku hitam yang runcing dan tajam. 

Selanjutnya dengan cara yang mencurigakan Banowati didorongnya menjauh dari tubuhnya. Sebelum selir ke tiga itu mengetahui apa yang bakal terjadi. Lima jari tangan laki-laki itu bergerak dengan kecepatan yang tidak terlihat ke bagian dada Banowati. Jleeb! Lima jari amblas ke bagian dada Banowati. Perempuan itu menjerit tertahan. Matanya mendelik menatap tidak percaya pada Jabatala. Tubuhnya bergetar sedangkan darah menyembur dari luka menganga di dada itu. Jabatala diam mematung. wajahnya dingin angker menggidikkan. Sementara itu sebuah keanehan terjadi. Walau darah itu memancar dari luka sedemikian rupa. 

Namun darah itu menetes ke bawah atau membasahi tubuh Banowati. Darah tersebut menguap ke udara, lalu bergerak ke satu arah seolah ada kekuatan lain yang menyedotnya dikejauhan. "Mengapa..." Dengan bersusah payah Banowati mampu juga ajukan pertannyaan. Seringai Jabatala berlangsung sesaat. Dengan dingin dia berkata. "Anakku adalah titisanku. Anakku saat ini butuh darah dan jantung manusia untuk membangkitkan kekuatannya yang sedang berkembang. Kau jangan pernah berpikir bahwa aku mencintaimu. Aku punya tujuan sendiri, rasa cinta justru harus dilenyapkan dan diganti dengan kebencian. Setelah itu baru di jagad ini ada kisah, ada cerita yang tentunya berkaitan dengan kekejaman. 

Aku kini sudah punya keturunan. Kau pasti tidak tahu bagaimana keturunanku itu lahir dari rahimmu. Dia tidak membutuhkan waktu lama, cukup satu malam dalam kandunganmu. Setelah itu dia akan berproses sesuai dengan keinginannya sendiri. Tumbuh berkembang juga sesuai keinginannya. Tanggung jawabku adalah membantunya cepat besar. Kau tahu Banowati dibutuhkan waktu berapa lama seorang bayi menjadi dewasa?" Banowati diam saja. Jantungnya yang tersentuh kuku-kuku Jabatala terasa sakit tiada terkira. "Katakan cepat!" Jabatala dengan mata liar dan dengusan panjang. Dengan susah payah dan nafas tersengalsengal dia berusaha menjawab. "Dua... dua puluh tahun...!" 

"Bagus! Kau sudah mati tapi otakmu masih terang. Dua puluh tahun waktu yang dibutuhkan seorang bayi untuk menjadi dewasa.Tapi anakku tidaklah demikian.Dia hanya butuh waktu tiga purnama untuk membuatnya jadi dewasa.Kau telah berbuat banyak kepadaku.Aku akan mengenangmu dalam kematianmu. Saat ini darahmu hampir kering. Baginya darahmu akan bermanfaat. Bukan hanya itu, sekarang pun dia membutuhkan jantungmu. Aku tahu Banowati, hatimu tentu bertanya tentang apa yang kukatakan.Kau tidak mungkin mengerti, aku tidak sempat menjelaskannya karena waktuku sangat sedikit.Jadi biarlah pertanyaanmu itu terbawa mati. Maafkan aku, bukan aku tidak suka memberi penjelasan.Sayang sekali waktuku sangat sempit. Tidurlah dengan damai...tidurlah dengan damai..." 

Berkata begitu Jabatala sentakan tangannya yang terbenam di dada Banowati. Seiring dengan tercerabutnya jantung dari tempatnya, Banowati pun terkulai. Tubuhnya kering kerontang karena kehabisan darah. Jabatala menjatuhkan perempuan itu. Dia memperhatikan tangannya yang berlumur darah. Sebuah jantung merah segar yang masih berdenyut berada dalam genggaman tangannya. 

Jabatala tersenyum puas. Setelah itu dia dongakkan kepala. Sambil memandang ke arah jantung yang mulai berhenti berdenyut, laki-laki itu berkata tidak jelas ditujukan pada siapa. "Aku yakin kau mengetahui apa yang kulakukan. Sudahkah kau terima minuman segar yang kukirim padamu? Minuman itu pasti sangat lezat berkhasiat tinggi karena dia berasal dari darah orang dekat. Sekarang terimalah jantung ini. Kau membutuhkannya. Aku telah mengambilnya dengan sukarela." 

Kata Jabatala. Dia menunggu.Tiba-tiba terdengar suara deru dan kilat menyambar ke arah tangan Jabatala. Ketika cahaya kilat lenyap, maka jantung ditangannya juga hilang raib tidak berbekas. Jabatala tersenyum.

"Bagus anakku. Aku akan terus membantumu sampai kau dapat berdiri sendiri. Kau tidak usah ragu melakukan apa saja yang kau inginkan. Aku akan selalu mendukungmu." Kata laki-laki itu. Di langit kilat kembali menyambar. Ada cahaya yang bergerak menjauh dari Candi Kajangkoso. Jabatala tahu apa yang akan dilakukannya. Tidaklah mengherankan bila tanpa menunggu lebih lama dia tinggalkan tempat itu. 

***

Puncak Merapi masih diselimuti hawa dingin luar biasa, tapi matahari di pagi itu bersinar terang. Tidak seperti biasanya sejak pagi buta, Petir Kumala melihat ketiga gurunya nampak berkumpul tidak jauh dari pondok batu. Saat itu baik kakek Sun, Sabai Baba maupun Dewa Tujuh Bumi tengan terlibat pembicaraan serius.

Entah apa yang mereka bicarakan.Yang jelas hingga matahari muncul di ufuk timur mereka masih duduk di bawah pohon di halaman depan. Melihat kejadian yang tidak biasanya itu. Tentu saja di dalam hati pemuda itu muncul berbagai macam pertanyaan. Pemuda itu kemudian bangkit dari balai bambu yang dijadikannya tempat tidur. Selanjutnya Petir Kumala membuka pintu. 

Baru saja pintu terbuka, Dewa Tujuh Bumi melambaikan tangannya ke arah pemuda itu. Saat itu wajah Dewa Tujuh Bumi yang biasanya nampak santai justru terlihat sangat tegang sekali. "Apa yang terjadi dengan guru? Mengapa mereka tidak terlihat seperti biasanya?" Membatin pemuda itu di dalam hati. Meski di dalam hati kecilnya bertanya-tanya Petir Kumala dengan patuh segera menghampiri Dewa Tujuh Bumi. Namun baru saja langkahnya setelah jalan, tiba-tiba kakek bertabiat aneh yang sering bertingkah seperti orang kurang waras itu tiba-tiba berteriak. 

"Petir Kumala. Hari ini adalah waktu yang paling menentukan dalam hidupmu. Sekarang kau lihat serangan...." Berkata begitu tanpa bicara lagi Dewa Tujuh Bumi menyerang muridnya dengan jurus Dewa Terbang'. Melihat kakek itu berubah seperti orang kalap. Petir Kumala bergerak mundur ke belakang sambil bertanya. "Guru... apakah kau telah berubah gila menyerang murid sendiri?" 

Dewa Tujuh Bumi tidak menjawab, tubuhnya melayang-layang diatas ketinggian sambil melancarkan serangan beruntun ke arah Petir Kumala. Setiap serangan yang dilakukannya menimbulkan suara deru angin yang membuat sang murid hampir terpelanting. Pada saat seperti itu, kakek Sun tiba-tiba berkata. "Petir Kumala. Anggaplah apa yang dilakukan kakek sinting itu merupakan sebuah ujian bagimu. Kau tidak perlu sungkan, hantam saja bokongnya kalau kau mampu!" 

"Ya tidak perlu ragu. Kalau perlu kau kemplang saja kepalanya biar otaknya tidak linglung lagi." Ujar Sabai Baba memberi dukungan. Sekarang mengertilah Petir Kumala bahwa Dewa Tujuh Bumi tidak mainmain. Dia juga menyadari kemungkinan bakal mendapat serangan dari dua gurunya yang lain yaitu kakek Sun dan Sabai Baba. "Jangan diam seperti orang tolol. Sekarang perihatkan apa yang telah kami ajarkan padamu. Hiaa.." teriak Dewa Tujuh Bumi. Belum lagi gema suaranya lenyap. Petir Kumala melihat Dewa Tujuh Buni telah berada diatasnya. 

Saat itu tangan si kakek mencengkeram ke bagian bahu sedangkan kakinya menendang dengan keras ke bagian dada. Dua serangan sama ganasnya dan datang dalam waktu bersamaan. Petir Kumala katubkan mulutnya. Dia bergerak ke kiri dua langkah. Tubuhnya ditarik ke belakang. Angin tendangan bersiut menyambar dada menimbulkan rasa nyeri dan panas. Petir Kumala tidak perduli, kini dia memutar tangannya. Dua tangan bergerak, menangkis sambil menghantam. Karena gerakan tangan berlangsung dengan cepat sekali maka Dewa Tujuh Bumi melihat tangan muridnya seolah-olah berubah menjadi berpuluh-puluh pasang. Duk! Duk! Duuk! Dees! 

Benturan terjadi beberapa kali. Petir Kumala melihat celah tangannya cepat menorobos hingga dia berhasil memukul perut Dewa Tujuh Bumi. Sementara diluar dugaannya pada waktu yang sama si kakek berhasil susupkan tangan kiri. Meski sama terdorong mundur hingga beberapa tindak, Dewa Tujuh Bumi tertawa tergelak begitu mampu menghantam bahu muridnya. Petir Kumala menyeringai. 

Dia memandang ke depan. Dirinya merasa beruntung karena sejak pertama kali gurunya menyerang dirinya dia telah melindungi diri dari segala kemungkinan. Sejak tadi pengerahan tenaga dalam dia salurkan ke sekujur tubuh. Kalau itu tidak dilakukannya mungkin bahunya telah hancur mengingat betapa kerasnya pukulan itu "Tunggu apa lagi?" Kata pemuda itu. "Kau hendak mempergunakan jurus 'Titah Sang Dewa'? Atau barangkali kau akan menggunakan jurus 'Murka Sang Dewa?" Kata pemuda itu dingin. 

Jurus yang disebutkan terakhir oleh Petir Kumala adalah jurus tingkat tertinggi yang pernah dipelajarinya dari Dews Tujuh Bumi. Tetapi sang guru hanya tersenyum cengengesan dengan sikap acuh. Malah dia kemudian balas menantang. "Aku sudah mengawali semuanya, sekarang aku ingin melihat kau bisa berbuat apa untuk manusia sepertiku. Kalau kau merasa mampu seranglah aku...!" Bagi Petir Kumala ini bukanlah sekedar ujian. Semua yang tejadi merupakan saat yang paling menentukan untuk menguji kemampuannya. Apakah dirinya pantas disebut pewaris sejati, juga apakah jerih payah yang dilakukan gurunya terhadap dirinya telah berhasil sesuai dengan yang dia harapkan. 

Tidak mengherankan, begitu mendapat peringatan Dewa Tujuh Bumi tanpa sungkan lagi dia menggempur. Mula-mula dia menggunakan jurus yang diwarisinya dari Dewa Tujuh Bumi. "Ini jurus Titah Sang Dewa," Kata Dewa Tujuh Bumi setelah melihat gerakan tangan dan kaki Petir Kumala. Dan kakek itu menyongsong ke depan. Tangan kakek itu diangkat ke atas, lalu tangan kiri meluncur deras mencari sasaran ke bagian kepala. 

Sedangkan tangan dan kakinya dipergunakan untuk menangkis serangan muridnya. Petir Kumala ternyata memiliki pemikiran jauh ke depan. Melihat lawan yang sudah hapal gerakan setiap jurus-jurusnya yang berbahaya itu dapat mematahkan setiap serangan yang dia lakukan. Tiba-tiba saja dia merubah jurus yang dipergunakannya. Kini tubuhnya bergerak lemah gemulai. Gerakan tubuh yang setiap serangan yang dilakukannya terlihat tanpa tenaga. 

Tetapi selain mampu menghindar dari serangan Dewa Tujuh Bumi. Setiap kali serangan dari Petir Kumala tepat mengenai sasaran. Tidak pelak lagi Dewa Tujuh Bumi jatuh terjengkang, Melihat ini Sabai Babs tersenyum. Setengah menyindir dia berkata. "Di negeriku setiap orang pandai menari. Kalau tidak bisa menari berarti bukan orang India. Dewa Tujuh Bumi sobatku. Sekarang kau lihat sendiri betapa hebatnya jurus yang kuwariskan padanya! Ha ha ha...!" Walau Dewa Tujuh Bumi ikut tertawa, namun wajahnya sempat berubah merah. 

Sekarang matanya benarbenar terbuka bahwa jurus Tarian Sungai Gangga yang dikuasai Petir Kumala benar-benar sebuah jurus yang amat mematikan. Padahal dulu ketika Sabai Baba mengajarkan jurus itu pada Petir Kumala, Dewa Tujuh Bumi mencemo'oh dengan mengatakan bahwa jurus Tarian Sungai Gangga' adalah jurus banci mencari mangsa. Kini orang tua berpakaian serba hijau itu bangkit berdiri. Dia menatap muridnya sambil berkata. "Semua yang terjadi masih belum ada seujung kuku. Baru aku yang maju, sebentar lagi semua gurumu akan bergabung untuk menguji." 

Petir Kumala tercengang, matanya mendelik merasa tidak percaya. Belum lagi pemuda itu sempat berkata apa-apa, tiba-tiba kakek Sun yang sejak tadi berdiri mengawasi melesat ke tengah halaman. Tanpa bicara orang tua ini langsung melakukan serangan sambil membuka jurus 'Naga Membelah Laut. Seperti gelombang badai, serangan menerjang Petir Kumala. Serangan si kakek Sun kakek berlangsung cepat, berubah-ubah dan tidak terduga. 

Meskipun telah mewarisi jurus andalan yang diwariskan kakek Sun. Namun Petir Kumala merasakan langsung betapa seriusnya serangan gurunya ini. Petir Kumala melangkah mundur, dia menyambut serangan kakek Sun dengan jurus 'Naga Berkejaran. Begitu kaki kirinya bergeser, tangan Petir Kumala berputar sedemikian rupa seperti kincir angin menderu disertai gemuruh. Petir Kumala mendorong kedua tangannya ke depan. Selanjutnya dengan ilmu mengentengkan tubuh yang sudah sempurna tubuhnya melesat. 

Serangan kakek Sun lolos menghantam angin sementara kaki Petir Kumala melesat menghantam dagu kakek Sun. Orang tua ini keluarkan seruan tertahan. Dia merasa kagum melihat muridnya menguasai jurus warisannya dengan baik. Namun dengan sikap serius kakek Sun terus menekan muridnya. Orang tua ini melambung ke udara. Di atas ketinggian mereka bekejaran seperti dua ekor burung yang memiliki sayap. Semakin lama semakin tinggi. Kemudian diatas ketinggian ratusan tombak mereka saling serang dengan ganasnya. 

Bahkan kakek Sun sendiri mulai menggunakan jurus 'sang Budha. Inilah jurus pemungkas yang dimiliki oleh kakek Sun. Bahkan dia juga sudah menggunakan pukulan Halilintar yang menjadi andalannya. Mengapa kakek Sun sampai menggunakan jurus yang tertinggi? Hal ini tidak lain karena Petir Kumala adalah seorang murid yang mewarisi ilmu langka dari tiga guru sekaligus. Tiga ilmu yang berasal dari tiga sumber berbeda bila digabungkan tentu akibatnya sulit dibayangkan. 

Walaupun Petir Kumala tidak bisa merobohkan gurunya, setidaknya kakek Sun sempat terdesak. Apalagi ketika kakek Sun menggunakan pukulan Halilintar, Petir Kumala menangkisnya dengan pukulan Neraka Perut Bumi. Pukulan ganas itu merupakan warisan dari gurunya Sabai Baba. Kakek Sun belum mampu menjebol pertahanan muridnya, yang terjadi pada Petir Kumala hampir sama. Melihat ini Dewa Tujuh Bumi jadi geregetan. Dia mendongak ke atas, sambil komat-kamit Dewa Tujuh Bumi menggumam, 

"Kakek tolol itu.Mengapa malah bercanda diatas sana. Masa menghadapi murid tengik saja tidak becus!" Omelnya.

"Kau sendiri apa bisanya cuma komat-kamit seperti ayam yang buang kotoran. Tunggu apa lagi, ini kesempatan bagi kita untuk melihat apakah kita berhasil mendidiknya dengan baik," Kata Sabai Baba mencibir. Dewa Tujuh Bumi yang terpancing dan gampang naik darah ini melotot. "Dasar penyihir gila, kau sendiri enak-enakan nonton disitu."

"He he he. Menurutku sekarang memang sudah saatnya bergabung dengan guru Sun!" Ujar Sabai Baba si kakek penyabar yang memang sangat menguasai ilmu sihir. Wuut! Wuut! 

Kedua orang ini saling bersirebut, dua-duanya sama melesat menuju ketinggian dalam satu gerakan yang hampir berbarengan. Kemudian sejarak dua tombak lagi kedua orang tua ini hampir menyamakan ketinggian dengan Petir Kumala dan kakek Sun. Mereka sama melepaskan pukulan andalannya ke arah sang murid. Sinar merah dan sinar biru berkiblat, masing-masing dari tangan Dewa Tujuh Bumi dan Sabai Baba. Petir Kumala walau sudah menduga namun tidak menyangka dua gurunya yang lain menyerang dengan cara seperti itu. 

Ketika hawa panas yang bersumber dari pukulan Neraka Perut Bumi, dia menyadari pukulan itu dilakukan oleh Sabai Baba. Petir Kumala menjadi maklum, dirinya sudah terbiasa digondok di kawah panas dan telaga mendidih, walau sadar pukulan itu sangat berbahaya. Namun pemuda ini berlaku tenang. Namun kemudian dia merasakan sengatan hawa dingin bukan kepalang. Itulah adalah pukulan 'Awan Merapi yang dilancarkan Dewa Tujuh Bumi. Pemuda ini lipat gandakan tenaga dalamnya. Tenaga dalam lalu disalurkan ke bagian tangan dan kaki. 

Tubuh pemuda itu bergetar, kulitnya yang kuning langsat kini berubah merah, semakin lama bertambah merah laksana saga pertanda Petir Kumala tengah membangkitkan semua kekuatan yang dia miliki untuk menghadapi serangan tiga gurunya. "Heaaa...!" Pemuda itu berteriak. Tangannya bergerak ke atas, lalu meluncurkan ke samping. Selanjutnya tangan itu dihantamkan ke bawah kedua arah sekaligus. Dari jari-jari tangan pemuda itu mencuat sinar putih kebiruan yang amat menyilaukan mata. Hawa panas saling tindih menindih menghantam ke dua arah. 

Satu mengancam Sabai Baba dan satunya lagi mengincar Dewa Tujuh Bumi. Kedua kakek itu terkejut bukan main. Terlebih-lebih ketika hawa panas membakar mendorong dan menekan mereka ke bawah. Tubuh mereka yang sudah mencapai pada ketinggian hampir seratus tombak terus meluncur ke bawah. "Bocah kampret sialan. Dia menyerang kita dengan pukulan yang bukan warisan kita!" Omel Dewa Tujuh Bumi yang segera salurkan tenaga ke kaki untuk menahan tubuhnya yang terus meluncur. "Dasar manusia tidak waras. Saat ini dia menggunakan pukulan 'Badai Petir Melanda dan Bumi Musna Terbelah. Pukulan itu kita bertiga yang menciptakan masa kau tidak ingat? Manusia gelo!" Sahut Sabai Baba. 

Dewa Tujuh Bumi geleng-geleng kepala. Sementara itu dia hantamkan tangan ke atas untuk memupus pukulan muridnya. Dirinya juga melihat Sabai Baba menggunakan ilmu sihirnya untuk menghadirkan daun lontar raksasa. Entah dari mana datangnya ratusan daun lontar lansung menopang kaki Sabai Baba. Lagi-lagi Dewa Tujuh Bumi mendamprat. "Kakek gila, bagaimana itu bisa terjadi?" tanya si kakek dalam keheranan. 

"Makanya menguasai ilmu sihir tidak ada jeleknya. Asal dipergunakan dengan tepat tentu ada gunanya. Sekarang kau lihat sendiri buktinya. Ha ha ha." jawab Sabai Baba sambil mengekeh. Orang tua itu lalu mengacungkan telunjuknya ke arah atas. Cahaya yang melesat siap melabrak dirinya tiba-tiba tersedot ke arah jari telunjuk kakek yang menguasai ilmu sihir itu. Tapi Dewa Tujuh Bumi tidak habis mengerti mengapa telunjuk yang digunakan Sabai Baba menggelembung seperti bola karet. Melihat Dewa Tujuh Bumi terheran-heran, Sabai Baba berkata. 

"Baru begini saja kau sudah heran. Proses begini kan sama dengan kita punya tongkat bisa membengkak dan bisa mengecil. Cara mengecilkan jari ini seperti ini, dengan ditiup.Puuuuh...!" Benar saja yang dikatakan Sabai Baba, begitu jari ditiup ujungnya mengepulkan asap sementara bagian yang lain kembali normal. Hanya warna jari itu sedikit hitam gosong. Diam-diam Sabai Baba merasa kesakitan. 

Tapi dia bersikap seolah tidak merasakan apa-apa. "Dasar edan!" Damprat Dewa Tujuh Bumi yang diam-diam merasa kagum dengan kelebihan kelebihan yang dimiliki Sabai Baba. Walaupun anda akhirnya kedua orang ini dapat memupus serangan Petir Kumala. Tidak urung kakek Sun yang berada dia atas mereka mengomel. "Dua kakek tolol. Aku meminta kalian untuk menguji murid bukan berdebat membicarakan kekonyolan." 

Dewa Tujuh Bumi dan Sabai Baba sesungguhnya sangat menghormati kakek Sun yang juga biasa dipanggil guru Sun ini. Melihat kakek itu mengomel mereka jadi jerih. Cepat sekali mereka lambungkan tubuhnya lebih tinggi. Setelah mereka berada dalam ketinggian yang sejajar. Sabai Baba dan Dewa Tujuh Bumi membantu kakek Sun mengempur Petir Kumala. Kini menghadapi serangan tiga guru Petir Kumala benar-benar harus menggunakan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk menyelamatkan diri dari gempuran ganas yang dilakukan oleh mereka bertiga. 

Hampir sebagian besar jurus-jurus simpanan warisan dari tiga guru telah dia pergunakan. Tetapi Petir Kumala masih kewalahan. Akhirnya dia memutar otak. "Mereka menyerangku secara bersamaan. Setiap kali aku bergerak, serangan mereka justru semakin bertambah gencar. Aku harus menunggu waktu yang tepat. Begitu mereka datang aku baru menghantam!" Pikir pemuda itu. Yang terjadi kemudian Petir Kumala membiarkan gurunya menyerang dari jarak dekat. Ketika itu Sabai Baba menyerang dengan pukulan yang mengarah ke bagian punggung. 

Dewa Tujuh Bumi dari samping kiri, sedangkan kakek Sun dari arah depan. Petir Kumala menyadari yang diarah Dewa Tujuh Bumi adalah rusuknya. Sedangkan serangan guru Sun justru yang sulit diterka. Petir Kumala menahan nafas, matanya melirik ke setiap sudut. Ketika tiga serangan datang menghantam pemuda ini dapat memastikan tubuhnya pasti bakal remuk mendapat serangan dari tiga tokoh berilmu sangat tinggi ini. 

Namun tiba-tiba dia jatuhkan diri. Pukulan Sabai Baba luput, malah tangannya hampir menghantam Dewa tujuh Bumi. Kakek itu memaki, namun masih sempat hentakkan kaki ke depan. Guru Sun tidak mau berlaku ayal. Dia masih sempat menghantam dada pemuda itu. Sebaliknya Petir Kumala tiba-tiba berputar, lalu tendangannya terarah ke tiga arah sekaligus. "Weleh...!" Sabai Baba berseru. Dia masih sempat selamatkan diri. Malang bagi Dewa Tujuh Bumi. Kakek itu terjungkal dan tubuhnya melayang-layang siap jatuh di halaman. 

Kakek Sun sendiri sempat terhuyung, orang tua bermisai panjang hilang keseimbangan. Sementara Sabai Baba melakukan satu lompatan dalam keadaan jungkir balik dia memukul muridnya. Diluar dugaan sang murid menyambut serangannya dengan sengit. Dess! Baik serangan Sabai Baba maupun serangan Petir Kumala sama mengenai sasarannya. Keduanya sama terjungkal, lalu meluncur deras ke bawah tanpa dapat dicegah lagi. Setelah melayang-layang, lalu berjumpalitan. Petir Kumala pada akhirnya dapat menjajakkan kaki dengan selamat. 

Namun dari sudut bibirnya meneteskan darah pertanda dia menderita luka dalam. Sabai Baba yang sampai setelah Petir Kumala sempat terperangah. "Kau terluka?" Desis orang tua bersorban merah itu khawatir. Petir Kumala menggeleng. Dia segera menghimpun hawa murninya untuk mengobati luka dalam di bagian dada. Pada kesempatan itu Dewa Tujuh Bumi yang baru jejakkan kaki berkata. "Dasar kakek gila. Memangnya dia saja yang terluka. Lihat dia juga melukaiku, mengapa kau tidak bertanya padaku". 

"Ah kau sudah bau tanah. Kalau karena luka itu menyebabkan kematianmu. Aku mau berbuat apa? Mana mungkin aku dapat melawan kehendak Dewa Kematian." Kata Sabai Baba enteng. "Sudahlah, buat apa kalian bertengkar. Dewa Tujuh Bumi kau tahu apa yang harus kau lakukan. Katanya kau punya obat yang membuat usiamu bertambah seratus tahun, Cepat ambil obatmu dan makan. Kita masih punya banyak urusan." Ujar kakek Sun. Sambil bersungut-sungut Dewa Tujuh Bumi mengambil sebutir benda bulat hitam berisi ramuan yang sudah dipadatkan, Obat itu segera ditelannya. Menelan obat buatannya sendiri Dewa Tujuh Bumi sama saja dengan menelan bara panas karena obat itu mempunyai sampingan cukup berat. 

Bila di telan hawa panas segera bereaksi dan menjalar kesekujur tubuhnya. Namun Dewa Tujuh Bumi segera merasakan manfaat dari obat ramuannya sendiri. Tubuhnya terasa ringan, pikirannya melayang-layang. Seperti biasanya setelah minum obat itu dalam pandangannya dia melihat bidadari tersenyum di sekelilingnya sambil melambaikan tangannya. Dewa Tujuh Bumi senyum-senyum sendiri. Si kakek baru terjaga dari lamunannya begitu kakek Sun berkata. "Petir Kumala bagaimana keadaanmu?"

"Saya baik-baik saja guru." Jawab pemuda itu. Kakek Sun tersenyum. 

Dia sendiri sudah menganggap bahwa pengujian yang mereka lakukan pada petir Kumala telah dianggap selesai. Petir Kumala kemudian mengikuti kakek Sun. Orang tua itu ternyata menuju ke bagian belakang pondok. Setelah sampai di bawah pohon si kakek berhenti. Dia menatap ke arah sebuah batu empat persegi di bawah pohon.Batu itu adalah batu tanda.

Tidak tahu apa yang terdapat dibalik batu tersebut. Yang jelas sejak Petir Kumala kecil dulu Dewa Tujuh Bumi selalu melarang dirinya dekati batu. Menurut Dewa Tujuh Bumi di balik batu bersembunyi sejenis jembalang pemakan anak kecil. Aneh, setelah bertahun-tahun kakek Sun kini berdiri didepan batu. 

Sementara gurunya Petir Kumala yang lain kini telah berada di samping kakek Sun. Mereka bertiga sama memusatkan perhatiannya ke arah batu. Dalam kesempatan itu Dewa Tujuh Bumi berkata. "Lima ratus tahun pusaka yang menggegerkan itu terkubur disana. Dulu kakekku yang menjaga tempat ini, kemudian bapakku, setelah bapakku mati aku yang menggantikannya. Umurku kini sudah seratus lima belas tahun. Rasanya baru kemarin aku terlahir ke dunia ini. Kalau baru kemarin mengapa setua ini."

"Guru memangnya apa yang terkubur dibawah batu tanda itu?" Tanya Petir Kumala dan pertanyaan itu tentu saja ditujukan pada Dewa Tujuh Bumi.

"Menurutmu apa?" 

"Kau bilang jembalang. Jembalang adalah sejenis hantu pemakan anak kecil." Ujar Petir Kumala.  

"Ha ha ha. Dasar anak kecil mau saja dibodohi. Kau tunggu saja disini. Jangan banyak bertanya bukankah begitu para sahabatku." Kata Dewa Tujuh Bumi sambil tertawa. Sekarang mengertilah Petir Kumala bahwa waktu itu Dewa Tujuh Bumi telah membohonginya. Sabai Baba dan kakek Sun tidak menangapi ucapan Dewa Tujuh Bumi.

Sebaliknya kedua orang ini memberi isyarat agar Dewa Tujuh Bumi segera bergabung dengan mereka. Ketiga orang itu mendekati batu tanda. Diluar dugaan Petir Kumala mereka duduk mengelilingi batu tersebut "Apa yang hendak mereka lakukan? Mereka terlihat serius dan tegang. Sebaiknya biar aku mengawasinya." 

Pikir pemuda itu. Kakek Sun duduk bersila, perhatiannya tertuju ke arah batu. Tidak jauh di sampingnya duduk Sabai Baba. Kemudian di sebelahnya lagi Dewa Tujuh Bumi. Mereka membentuk sebuah lingkaran kecil. Pada kesempatan itu kakek Sun berkata. "Senjata pusaka itu telah dilupakan banyak orang. Yang kudengar saat ini, di luar sana para dedengkot dunia keras sedang mencari Pedang Cacat Jiwa."

"Itulah adalah senjata yang keji, penimbun malapetaka terbanyak. Berbeda dengan senjata dengan ini. Kurasa dia berjodoh dengannya. Kita harus mengeluarkannya membangkitkannya dari tidur yang panjang. Hanya ini senjata lurus satu-satunya yang memiliki jiwa," Ujar Dewa Tujuh Bumi 

"Pedang itu harus kita keluarkan sekarang sebagai bekal murid kita turun gunung," Ujar Sabai Baba. Meskipun kaget, Petir Kumala tidak menyangka bahwa dirinya akan turun gunung. Lebih tidak menyangka lagi bahwa di bawah batu tanda terkubur ada sebuah senjata mustika. Dia memandang ke depan. Para gurunya kini memejamkan mata. Pada saat itu Dewa Tujuh Bumi bicara seperti orang mabuk.

"Aku Dewa Tujuh Bumi, aku si orang bingung, aku si pelupa dan aku penjagamu yang setia. Sekarang kuketuk pintumu, kau dengar seruanku. Bangkitlah dari tidurmu. Wahai Pedang Roh, Senjata Sakti para Dewa. Pedang penegak, pedang keadilan, pedang penyelamat dan pedang pemutus. Keluarlah kau dari alam sana. Seseorang yang berjodoh akan membawamu serta. Dia yang ditetapkan, karena dia yang terpilih. Dia sang pembela antara benar dan salah. Aku tahu kau mendengar, kami bertiga menunggu di sini. Keluarlah...."

Bukan hanya Dewa Tujuh Bumi, kakek Sun dan Sabai Baba juga menunggu. Petir Kumala juga menanti dengan jantung berdebar dan perasaan cemas. Tidak ada reaksi, itulah yang terjadi mula-mula. Namun tidak berselang lama kemudian angin bertiup kencang, suara gemuruh disertai kilat menyambar, bahkan petir menggelegar. 

Suasana di puncak Merapi kini berubah redup, padahal di atas sana matahari bersinar cerah. Petir terus menyambar awan hitam menutupi pandangan. Dalam kesempatan itu si pemuda membatin dalam hati.

"Pertanda apakah ini? Kulihat para guruku juga sangat tegang sekali. Apa yang bisa kubuat untuk membantu mereka?" Batin Petir Kumala. Pada saat itu alam nampaknya semakin memperlihatkan keresahannya. Puncak gunung Merapi bergetar dan ini belum pernah terjadi. Di depan batu tanda kakek Sun, Dewa Tujuh Bumi dan Sabai Baba terus memusatkan perhatiannya ke arah batu. Pada kesempatan itu batu tanda di depan mereka terguncang keras. 

Di sekeliling batu kemudian muncul asap tipis. Semakin lama asap semakin menebal. Seiring dengan itu batu tanda memancarkan cahaya merah redup.

"Kerahkan tenaga dalam, lindungi diri dan tetap pusatkan perhatian pada keinginan kita." Ujar Sabai Baba.

"Apa keinginan kita?" Tanya Dewa Tujuh Bumi yang mudah lupa terlebih-lebih pada saat dirinya dalam keadaan tegang.

"Keinginan kita mengeluarkan pedang itu," Ujar Sabai Baba. Ketiga tokoh sakti sama menyatukan keinginan, kontak gaib berlangsung. Dalam kesempatan itu Sabai Baba yang mampu menempus apa yang terjadi di dalam melihat sesuatu. 

Sesuatu yang hidup dan menggeliat. Kemudian sekonyong-konyong batu tanda melesat ke udara. Tanah disekitarnya bertaburan. Batu tanda melesat seolah hendak menembus langit hingga akhirnya hilang dari pandangan. Petir masih terus menyambar, tanah dimana batu tanda selama ini tertancap kini berubah merah membara. Tanah itu juga terbelah disertai suara bergemuruh. Seiring dengan itu dari dalam tanah juga terdengar suara deru mengerikan, bumi bergetar puncak Merapi terguncang seperti dilanda lindu. 

Kemudian dari balik tanah terbelah mencuat beberapa benda lain berbentuk panjang memancarkan cahaya putih berkilau

"Itukah Pedang Roh?" Tanya Sabai Baba yang belum pernah melihat bagaimana bentuk pedang Roh. Dewa Tujuh Bumi yang menggigil akibat menahan guncangan menggeleng.

"Bukan! Itu adalah roh-roh pedang pendamping yang segera terbang ke langit. Ini pertanda baik. Pedang Roh berkenan pada murid kita. Kita harus menunggu, sebentar lagi dia pasti keluar!" Kata Dewa Tujuh Bumi. Mereka menunggu sambil bersikap waspada. Dan akhirnya setelah cahaya putih menyilaukan lenyap. 

Dari balik tanah yang merekah muncul cahaya merah. Cahaya itu memancarkan sinar yang sangat terang. Sementara disekitar tempat di mana mereka berada guncangan yang terjadi semakin bertambah hebat.

"Apa yang terjadi? Tadi aku melihat belasan cahaya putih melesat ke langit. Guru Dewa Tujuh Langit mengatakan itu adalah roh-roh pedang pendamping. Sekarang Sinar merah itu jauh dari lebih kuat dan lebih terang menggantikan sinar putih. Apakah ini senjata yang ditunggu oleh para guru,"

Batin Petir Kumala. Belum lagi pemuda ini mengetahui apa yang terjadi. Tiba-tiba terjadi ledakan hebat. Ledakan berlangsung tiga kali berturut-turut. Ketiga tokoh sakt itu terlempar sejauh beberapa tombak. 

Petir Kumala yang tidak siap jatuh terpelanting. Dia segera bangkit untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Pada saat itu ketiga gurunya sudah kembali duduk mengelilingi rengkahan tanah yang semakin membara

"Kita harus bergandengan tangan. Satukan kekuatan, kalau tidak kita pasti akan terlempar lagi" kata Dewa Tujuh Bumi.

"Itu sebuah isyarat."

Sabai Baba dan kakek Sun maklum Dewa Tujuh Bumi bersungguh sungguh. Ini karena mereka tahu Dewa Tujuh Bumi sangat memahami sifat Pedang Roh. Hawa panas semakin bertambah panas. Puncak gunung Merapi kembali berguncang. Satu ledakan terjadi. Dari balik lubang besar mencuat sebilah senjata berwarna merah membara. Senjata itu berupa sebuah pedang dengan warna merah darah. 

Gagangnya berlekuk-lekuk seperti bentuk kilat menyambar. Badan pedang penuh dengan ukir-ukiran. Diantaranya adalah bentuk langit dan bumi. Pedang itu terlihat sangat aneh, dia memiliki ketajaman pada kedua sisinya. Selain itu begitu muncul sang pedang langsung melayang-layang. Sementara hawa panas berganti dengan hawa dingin yang membuat mereka yang berada di Puncak Merapi menggigil kedinginan. Mereka kerahkan tenaga dalam untuk melindungi diri dari serangan hawa dingin itu. Sementara kakek Sun bertanya.

"Inikah bendanya?"

"Ya. Itu Pedang Roh." Ujar Dewa Tujuh Bumi. 

"Apakah dia mampu bicara?" Tanya Sabai Baba.

"Tidak! Tapi dia mengerti apa yang kita bicarakan. Sekarang kita akan memperkenalkan Pedang Roh dengan murid kita,"

Kata Dewa Tujuh Bumi. Kakek Sun kemudian memberi isyarat pada muridnya untuk mendekat ke arah mereka. Petir Kumala segera mendekat, sementara itu Pedang Roh terus berputar di udara sambil mengeluarkan suara gemuruh dan hawa dingin mematikan. Dewa Tujuh Bumi yang punya peranan besar dalam urusan pedang itu tiba-tiba memperkenalkan Pedang Roh berkata. "

"Pedang Roh, itu adalah murid kami. Namanya Petir Kumala. Keadaan dirinya sama seperti warna dirimu bila sedang menggunakan tenaga dalam. Sekarang kau sapalah dia!"

Tidak seperti yang mereka harapkan. Pedang Roh ternyata tidak menanggapi.

"Apa yang terjadi?" Tanya Sabai Baba. Ketiganya berpandangan.

"Ada yang keliru. Mungkin dia menginginkan nama yang lain untuk murid kita," Ujar kakek Sun, Dugaan si kakek ini atas dasar melihat si pedang bergoyang-goyang seperti orang yang menggelengkan kepala.

"Kau ada usul?"

"Beri aku kesempatan. Hemm... bagaimana kalau... Petir Kumala kita beri julukan si Bocah Merah?" Usul Dewa Tujuh Bumi. 

"Celaka, Pedang Roh semakin tidak setuju. Tapi lihat?!" Kata Sabai Baba. Empat pasang mata menatap ke arah pedang yang terus bergerak melayang-layang seperti terbang. Pedang itu anehnya berputar jungkir balik tidak karuan. Terkadang ujung pedang menunjuk-nunjuk ke arah Petir Kumala. 
"Oh ya, mengapa bodoh? Kupikir dia ingin memberi julukan sendiri pada murid kita!" Kata kakek Sun. Dugaan si kakek ternyata benar. Ketika dirinya berkata seperti Pedang Roh tidak lagi bertingkah aneh.

"Kalau demikian silahkan kau berikan julukan sendiri murid kami itu!"

Kata Sabai Baba. Pedang Roh bergerak mengeluarkan suara gemerincing. Cahaya yang dipancarkannya kemudian meredup. Kemudian bagian ujungnya menoreh udara tepat di sisi yang gelap. Semua dapat melihat dengan jelas. Mereka sama membaca torehan ujung pedang tersebut "Saga Merah" . Kemudian di sisi bawah torehan pertama, Pedang Roh kembali melakukan torehan yang ke dua. "Sang Legenda" 

Pedang kemudian berhenti menoreh. Kakek Sun bedecak kagum. Sabai Baba menatap ke arah pedang itu dengan mata tidak berkedip. Sementara Dewa Tujuh Bumi manggut-manggut. Dari mulut kakek itu terdengar seruan.

"Julukan yang bagus, aku setuju!"

Begitu mendengar seruan Dewa Tujuh Bumi, Pedang Roh langsung meluncur ke arah Petir Kumala yang telah diberi julukan Saga Merah.

"Celaka, pedang itu. Apa yang akan dilakukannya?" Tanya Sabai Baba.

"Dia ingin berkenalan. Jika Pedang Roh berkenan, senjata itu segera raib. Selanjutnya murid kita bisa menggunakannya."

"Cara memanggil pedang itu bagaimana?" Tanya kakek Sun. 

"Dengan merangkapkan kedua tangan di dada dan menyebut Pedang Roh tigakali." Ujar Dewa Tujuh Bumi. Si kakek tidak berdusta, memang begitu caranya mendatangkan Pedang Roh. Tetapi Petir Kumala atau Saga Merah ternyata sempat keget ketika Pedang Roh mendekati dirinya.

Ketika hulu pedang roh menyentuh tangannya dan terus bergerak kesekujur tubuhnya pemuda ini menjerit kesakitan. Tubuhnya serasa panas seperti dibakar namun sekejab kemudian berubah dingin seperti dicemplungkan ke dalam lautan es. Di mata kakek Sun, Sabai Baba dan Dewa Tujuh Bumi. 

Mereka melihat Pedang Roh seperti menembus tubuh muridnya dan terus bergerak kesekujur tubuh. Petir Kumala muntahkan darah segar. Pedang Roh lenyap. Tiga guru yang sama khawatir atas keselamatan muridnya segera mendatangi. Pemuda itu mengerang. Sabai Baba segera memeriksa tubuh muridnya

"Dia tidak apa-apa. Tapi di mana pedang itu?"

"Pedang itu melebur menjadi satu dengan dirinya." Jawab Dewa Tujuh Bumi.

"Sungguh mengagumkan dan langka sekali" gumam kakek Sun.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Dewa Tujuh Bumi. Petir Kumala menggeleng. 

"Entahlah. Aku merasa sepertinya aku tidak sendiri lagi," Kata pemuda itu.

"Bagus. Dia telah menjadi satu dengan dirimu. Jika kau membutuhkannya kau cukup rangkapkan dua tanganmu di dada setelah itu kau sebut pedang itu tigakali. Dia pasti muncul di hadapanmu dan dapat kau gunakan." Ujar Dewa Tujuh Bumi.

"Dan, jangan lupa. Mulai saat ini kau tidak boleh menggunakan nama aslimu. Kau harus menggunakan nama Saga Merah karena Pedang Roh yang telah memberikan julukan itu padamu." Ujar Sabai Baba.

"Saya mengerti guru," Kata Petir Kumala. "Nah, bagus kalau mengerti," Kata kakek Sun. Orang tua ini duduk di samping muridnya. Selanjutnya dia berkata. 

"Muridku. Aku yakin sebelum kami mengambil pedang kau ada mendengar apa yang kami bicarakan."

"Ya... itu yang membuat murid sedih. Kalau tidak salah guru membicarakan tentang turun gunung," Ujar si Pemuda.

 "Benar Saga Merah. Mulai saat ini kau tidak lagi menggunakan nama Petir Kumala. Biarlah nama itu menjadi kenangan bagi kami," Ujar Sabai Baba.

"Kurasa memang sudah waktunya kau turun gunung. Saat ini dunia persilatan sedang dilanda kekacauan dengan munculnya mahluk laknat yang merupakan titisan Kaluak. Kau harus mencarinya sebelum dia menjadikan manusia menjadi budaknya." 

"Apa maksud guru? Mahluk itu laki-laki atau perempuan?"

"Aku tidak tahu."

"Lalu bagaimana caranya untuk mengetahui mahluk itu?"

"Hmm, menurutku kau harus mencari Iblis Hitam," Ujar Dewa Tujuh Bumi. Saga Merah memperhatikan gurunya dengan heran.

"Iblis Hitam?" Desis pemuda itu.

"Ya, Iblis Hitam adalah nama lain dari Kaluak," Ujar Sabai Baba. 

"Apakah dia orang baik-baik?"

"Tidak ada yang tahu. Lebih baik kau cari dan selidiki apakah Iblis Hitam baik atau jahat. Hanya dia yang bisa memberimu petunjuk tentang pembunuh keji yang ingin menguasai jagad itu."

"Dimana dia berada?" Tanya Saga Merah.

"Dia bisa berada dimana saja. Menurut kebiasaan dia suka berada di candi-candi," Ujar kakek Sun.  

"Keberadaan Iblis Hitam tidak dapat dipastikan. Tidak jarang dia senang berada di kawasan sunyi seperti lembah dan gua," Kata Dewa Tujuh Bumi. Saga Merah terdiam. Baginya melakukan tugas yang diberikan pada gurunya bukan hal yang memberatkan. Yang membuatnya merasa berat adalah berpisah dengan mereka yang selama ini telah mengasuhnya. 

"Hei, matamu berkaca-kaca. Kau mau menangisi perpisahan ini? Sungguh murid gelo. Kami tidak mendidikmu supaya menjadi murid yang cengeng." Bentak Dewa Tujuh Bumi.

"Ah aku bukan menangis. Aku hanya merasa sedih saja," Ujar Saga Merah.

"Kau tak usah berkecil hati. Kami selalu mengingatmu. Sekarang sudah waktunya bagimu untuk meninggalkan kami. Lakukanlah tugasmu...!" kata kakek Sun

"Benar, lakukan tugasmu. Doaku selalu bersamamu!" Ujar Sabai Baba. Saga Merah tidak ingin membantah. Dia kemudian menjura hormat ke arah guru-gurunya. 

Setelah itu dia bangkit berdiri, balikkan badan lalu tanpa menoleh lagi segera melangkah pergi. Kakek Sun merasa lega. Sabai Baba tersenyum. Dia yakin muridnya bisa menjaga diri. Sedangkan Dewa Tujuh Bumi seperginya Saga Merah malah sesunggukan. Melihat ini kakek Sun bertanya.

"Hei apa yang membuatmu bersedih."

"Dia bukan cuma sedih tapi menangis. Padahal tadi dia larang murid kita menangis," 

Kata Sabai Baba. Dewa Tujuh Bumi seka air matanya. "Bagaimana pun aku sedih ditinggalkannya. Dia itu sudah kuanggap cucu sendiri. Biarlah aku menangis, yang penting dia tidak melihat. Aku mau menyingkir, aku ingin menangis dari sore sampai pagi,"

Kata Dewa Tujuh Bumi sambil mengusap air matanya. Kakek Sun hanya geleng-geleng kepala. Sabai Baba menggerutu "Semakin lama kurasakan dia malah tambah pikun." Celahnya

***

Mimpi buruk mengusik nyenyaknya tidurnya. Ketika terjaga, dia merasa tidak perlu lagi membicarakan tentang mimpi itu pada ahli penafsir mimpi. Malam itu juga dia meninggalkan Istana. Dengan berpakaian ringkas warna putih laki-laki ini membedal kuda hitamnya menuju ke kali Senowo. Lakilaki itu mencapai tujuan pada saat hari menjelang pagi. Seperti tiga purnama yang telah lewat dia sampai di depan pusara itu.

Namun alangkah kaget hati sang penguasa tertinggi kerajaan Purwa Dipa itu ketika melihat bahwa pusara seperti baru saja dilanda topan besar. Laki-laki gagah berambut panjang yang bukan lain adalah Prabu Kesa ini segera melompat turun dari kudanya. Dia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Wajah sang Prabu-nampak cemas dan tegang.

"Nampaknya telah terjadi perkelahian hebat di tempat ini. Siapa yang datang, siapa yang menyerang sahabatku Kaliwangga?"

Membatin sang prabu dalam hati. Dia kemudian julurkan kepalanya dan memandang ke arah lubang pusara. Dia melihat lubang telah kosong. Peti mati yang terkubur di dalamnya raib. Lebih anehnya lagi Kaliwangga juga lenyap.

Prabu Kesa tidak puas. Apapun yang terjadi pada Kaliwangga, dirinya tidak yakin sahabatnya itu tewas. Walau seorang pertapa, Kaliwangga memiliki ilmu kesaktian yang amat tinggi. Tidak sembarang orang dapat merobohkannya. Lagi pula andai Kaliwangga mati, tentu dirinya bakal menemukan mayatnya. 

"Tidak! Kaliwangga tidak boleh mati karena ulah selir jahanam itu. Dia pasti masih berada di sekitar sini.Lagi pula siapa yang telah melarikan Peti Mati Kalawa?"

Sang Prabu terdiam sejenak. Dia tidak tahu rencana apa yang telah melanda tempat itu. Dia juga tidak tahu siapa yang menyerang Kaliwangga dan melarikan peti mati. Prabu Kesa tidak perduli, sebaliknya justru dia mengkhawatirkan keselamatan Kaliwangga. Maka dicarinya sahabatnya itu. Dia kemudian melihat sebuah lubang menganga seukuran orang dewasa. Lubang itu dalamnya tidak terukur. Prabu Kesa memperhatikannya lebih seksama. 

"Seseorang nampaknya pernah dibanting di tempat ini." Batin lakilaki gagah itu. Dia ingin sesuatu secuil harapan muncul dalam benaknya membuat perasaan sang Prabu merasa lega.

"Kaliwangga... kaukah yang dibanting di tempat ini? Kau mempunyai ilmu menyusup bumi. Berarti dirimu masih selamat." Ujar sang Prabu. Laki-laki tua sekali lagi berteriak. Kemudian pinggiran lubang diketuk ketuknya dengan menggunakan tenaga dalam. Sayup-sayup dikejauhan sana seolah datang dari perut bumi terdengar orang menggeliat. 

"Oh di mana diriku?"

"Kaliwangga, kaukah itu?!" Tanya sang Prabu.

"Gusti..." sang Prabu mendengar seruan kaget.

"Maafkan aku...!

"Jangan memanggilku gusti, aku dalam penyamaran. Kau keluar dari lubang itu. Jelaskan mala petaka apa yang telah melanda tempat ini!" Kata sang Prabu 

"Kau dalam penyamaran. Berarti dirimu saat ini adalah seorang pengembara bernama Gagak Banjaran," Kata suara sayup-sayup di dalam sana.

"Kau benar. Cepat keluar!" Ujar Prabu Kesa yang setiap kali meninggalkan istana seorang diri selalu berpakaian putih dan menggunakan nama Gagak Banjaran.

"Baiklah sahabatku Gagak! Kau menepi!" Ujar Kaliwangga. Belum lagi suara dari dalam lubang lenyap, tiba-tiba terdengar suara menderu. Tidak lama kemudian sesosok tubuh melayang dan muncul ke permukaan tanah. 

Sosok itu berjumpalitan beberapa kali, lalu jejakkan kakinya tidak jauh dari sang Prabu. Ternyata laki-laki itu memang Kaliwangga. Saat itu keadaannya tidak karuan, rambutnya kotor sementara pakaian yang melekat ditubuhnya tercabik-cabik. Melihat orang yang dikenal berada dihadapannya, Kaliwangga segera berlutut dan menjura hormat, namun sang Prabu melarangnya dan menyuruh Kaliwangga cepat berdiri.

"Kalau diriku dalam penampilan seperti ini, jangan sekali-kali kau menghormat padaku dengan cara seperti itu. Bersikaplah seperti biasa, seperti seorang sahabat pada sahabatnya." 

"Baiklah Prabu, eeh Gagak Banjaran." Ujar Kaliwangga agak gugup. Prabu tidak sabar, dia langsung bertanya.

"Apa yang terjadi di tempat ini?" Kaliwangga diam sejenak. Dia memandang ke arah lubang pusara yang kosong. Dan dia menyadari pasti Manusia Batu telah melarikan peti itu begitu dirinya dibanting ke tanah.

"Sahabatku. Malam tadi seharusnya menjadi malam terakhir dari tugasku menjaga peti mati Kalawa. Akupun telah berniat pulang ke Mojokerto. Tetapi sesuatu yang tidak terduga terjadi." Ujar Kaliwangga dengan mata menerawang mengenang.

"Seorang perempuan aneh datang kemari namanya Semayang Gading." Ujar laki-laki tua itu. 

"Kau tidak sendirian. Kau ditemani oleh Kutukila suruhanku." Tukas sang Prabu.

"Ya, kau tidak salah. Tapi mahluk suruhanmu semuanya tewas terbantai. Perempuan itu sangat sakti walau akhirnya dia dapat kusingkirkan. Dia dalam keadaan sekarat ketika melarikan diri."

Jelas Kaliwangga. Sang Prabu terdiam. Dia mencoba mengingat-ingat apakah pernah mengenal perempuan bernama Semayang Gading. Tapi dia merasa tidak mengenal perempuan itu.

"Apakah yang diinginkannya?" Tanya sang Prabu.

"Semayang Gading menyangka di dalam peti mati Kalawa tersimpan senjata maut Pedang Cacat Jiwa. Dia juga menyangka selama ini Pedang Cacat Jiwa ada padamu dan kini kau menguburkannya bersama Peti Mati Kalawa untuk tujuan tertentu." 

"Hmm, perempuan itu tenyata bodoh. Selanjutnya apa yang terjadi?" Tanya sang Prabu penasaran. Kaliwangga mengingat-ingat. Sementara itu dia terus memijiti tengkuknya yang sakit. "Kemudian muncul Manusia Batu....!"

"Ha, Manusia Batu seharusnya tidak gentayangan di tempat ini. Tempat tinggalnya jauh diujung barat pulau ini. Tepatnya di Rimba Batu." Ujar sang Prabu yang tahu banyak tentang kehidupan Manusia Batu "Seharusnya memang begitu, tapi kabar tentang senjata mustika itu selalu menarik perhatian setiap orang dan dia mendengar kabar yang salah," Ujar Kaliwangga 

"Dia juga menyangka di dalam peti mati Kalawa tersimpan Pedang Cacat Jiwa?"

"Benar. Manusia Batu meminta paksa agar aku menyerahkan peti mati itu. Karena aku menolak dia menyerangku."

"Kau bukan tandingan Manusia Batu. Walau aku tidak meragukan kesaktianmu. Terkecuali mengetahui di mana titik kelemahan Manusia Batu. Manusia Batu keras kepala, kalau sudah katanya mau tidak ingin ditolak. Dia juga tidak bisa dibunuh."

"Aku tahu sahabatku. Kami terlibat perkelahian. Dia kemudian membantingku. Aku tidak sadarkan diri, tapi aku merasa beruntung karena aku memiliki ilmu menyusup bumi. Sampai kemudian kau datang...!" 

Kening Prabu Kesa berkerut. Wajahnya nampak kusut sekali. Dengan suara perlahan dia berkata.  

"Peti Mati Kalawa dibawa olehnya. Kita tidak tahu kearah mana dia membawanya pergi. Padahal aku ingin mengetahui apakah benda di dalam peti mati itu musnah, binasa atau sebaliknya."

"Aku yakin Manusia Batu tidak membawa peti mati terlalu jauh. Alasanku karena dia ingin cepat mengetahui benda yang tersimpan dalam peti. Kita bisa menyusuri hulu kali Senowo ini mengingat kita hampir berada di muara sungai, mustahil Manusia Batu melarikan peti ke arah laut selatan." Ujar Kaliwangga. 

Yang dikatakan orang tua itu memang masuk akal. Sampai sejauh ini Prabu Kesa masih belum berniat menceritakan tentang mimpi buruk yang dialaminya. Biarlah untuk sementara dia memendamnya dulu.

 "Bagaimana keadaanmu Kaliwangga?"

"Aku baik-baik saja Gagak Banjaran. Hanya tengkukku terasa agak sakit." Ujar Kaliwangga

"Kau dibanting dengan sangat kuat. Kalau kau tidak punya ilmu menyusup Bumi. Dibanting oleh Manusia Batu bisa membuat tubuhnmu remuk atau hancur berkeping-keping. Seharusnya aku tidak melibatkanmu dalam urusan gila ini." 

"Kau tidak usah begitu. Dirimu sedang mendapat ujian berat, sebagai sahabat aku hanya sekedar membantu." Prabu Kesa kepalkan tinjunya. Matanya berkilat-kilat akibat luapan amarah.

"Selir ke tiga meloloskan diri. Harusnya dia sudah dihukum pancung pagi nanti. Lebih celaka lagi kekasih gelapnya lolos tanpa jejak." Geram Prabu Kesa.

"Sudahlah, untuk sementara jangan dipikirkan soal perempuan jalang itu. Sekarang kita harus mencari Manusia Batu. Kita akan menelusuri kali Senowo hingga ke hulu sana. Aku yakin Manusia Batu pasti akan meninggalkan peti mati begitu dia menemukan apa yang dicarinya."

"Kau benar, aku jadi tidak sabar. Aku hanya membawa seekor kuda." Ujar Prabu Kesa. 

Kaliwangga mengerti apa yang dimaksudkan sahabatnya. "Kau boleh menunggang kuda itu sendiri. Aku akan menggunakan ilmu lariku!" Kata Kaliwangga.

"Gila! Kau tentu akan jauh meninggalkan aku!" ujar Prabu Kesa. "Tidak. Aku akan ada didepanmu. Bukankah kita sedang menelusuri jejak Manusia Batu?" Prabu Kesa setuju. Dia lalu melompat ke atas punggung kudanya. Begitu laki-laki gagah itu menggebrak kudanya. 

Kaliwangga bergerak mendahului. Matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur ketika mereka sampai di sebuah tikungan tajam bertebing curam. Disini Kaliwangga menghentikan langkah. "Kau menemukan sesuatu?"

Tanya Prabu Kesa, seraya mengurangi kecepatan kudanya. Kaliwangga tidak menjawab, melainkan menunjuk ke sebuah tempat diantara semak belukar. Prabu Kesa turun dari kuda. Dia melihat sebuah peti hitam yang dikenalnya tergeletak dalam posisi miring.

"Kau benar. Manusia Batu meninggalkan peti ini. Mari kita lihat." Ujar sang Prabu. 

Dia lalu menghampiri peti tersebut, Kaliwangga mengikutinya dari belakang. Setelah sampai mereka menggotong peti yang berat ke tempat yang aman. Keduanya lalu duduk menghadap peti. Prabu Kesa julurkan tangannya ke arah penutup peti sementara mulutnya nampak berkomatkamit membaca sesuatu. Dengan perasaan tegang peti itu lalu dibukanya. Prabu Kesa melengak kaget. Keduanya saling pandang. Wajah sang prabu menunjukkan rasa khawatir. Dengan bibir bergetar sang prabu berkata.

"Benda seperti telur yang keluar dari rahim selir ketiga waktu itu apakah kau ingat?" 

"Ya.. semua masih segar dalam ingatanku. Benda itu warnanya putih lonjong seperti cumi. Besarnya hanya sebesar telur. Waktu itu kau mencoba memecahkannya. Tetapi senjatamu tidak ada yang bisa menghancurkannya. Ketika kau hendak membakarnya, benda itu melesat dan masuk ke dalam peti. Benda itu keras, dan ternyata ada kehidupan didalamnya. Dipendam selama tiga purnama mahluk di dalam telur batu itu ternyata tidak mati. Dia terus berproses. Lihatlah cangkang batu ini, Dia ternyata menetas. Dia mungkin sudah lahir dan menjadi mahluk entah apa namanya."

"Aneh." Gumam Kaliwangga. Dia memperhatikan cangkang itu baik-baik. 

"Kurasa ini bukan cangkang. Ini adalah pembungkus calon bayi. Semacam ari-ari yang membatu. Pantas aku selalu mendengar suara dari peti ini ketika aku menjaganya."

"Berarti dia sudah terlahir?" Tanya prabu Kesa. Wajahnya mendadak berubah pucat begitu ingat akan mimpinya. "Dia memang sudah lahir. Tetapi apakah ada bayi lahir dengan proses secepat itu. Kalau memang ada bagaimana ujudnya, apakah berujud manusia, hewan atau Kaluak? Jika memang salah satu diantaranya lalu apa jenis kelaminnya?"

"Hmm, ya apa jenis kelaminnya? Laki-laki atau perempuan?" Desis Prabu Kesa. Kedua orang ini saling tatap, wajah mereka tegang sekali. Prabu Kesa lalu menggeleng keras. 

"Aku tidak tahu sudah berapa lama selirku berhubungan dengan Jabatala perajurit baru itu. Menurut Mata Elang, baru kali itu selirku bermain cinta dengan Jabatala. Tetapi dalam hubungan singkat itu apakah mungkin Banowati langsung hamil, lalu kandungannya gugur malam itu juga? Ketika dia tidak sadarkan diri kutemukan kandungannya itu bercampur darah. Kemudian aku menguburnya supaya mahluk yang terbungkus ari ari itu mati. Tapi yang terjadi kau lihat sendiri. Dia malah bertumbuh dengan sebuah proses yang sangat sulit untuk dimengerti." 

"Jika begitu, ada baiknya kita mencari tahu siapa sebenarnya Jabatala. Apakah dia manusia seperti kita ataukah dia sesungguhnya mahluk terkutuk yang datang dari alam lain. Perasaanku semakin tidak enak"

"Hmm, mengapa itu baru terpikirkan olehku sekarang. Kau benar, namun kita tidak mungkin menemukan Jabatala. Setelah lolos dari penjara, tidak ada yang tahu dia pergi kemana. Apakah mungkin Jabatala sejenis uwur-uwur?" Kata Prabu Kesa

"Aku tidak mengerti Gagak Banjaran. Menurutku Uwur-Uwur memang bisa malih rupa atau berubah ujud menjadi siapa saja." Ujar Kaliwangga. 

"Kita harus mencarinya."

"Maksudmu?"

"Jabatatala harus kita temukan. Kita juga harus mencari bayi itu?" Ujar Prabu Kesa.

"Aku tidak melarang, bagaimana kalau mahluk yang baru terlahir itu ternyata sudah dewasa?" Prabu Kesa terperangah.

"Bagaimana mungkin?" Ujar prabu Kesa. "Kita harus ingat bahwa proses aneh terjadi pada mahluk itu. Dengan melihat kenyataan yang ada, tidak tertutup kemungkinan proses menuju pendewasaan diri juga berlangsung cepat." 

"Apakah mungkin mimpi buruk itu bakal jadi kenyataan?" Gumam Prabu Kesa semakin tidak tenang. Kaliwangga merasa heran.

"Maaf, kau baru saja mengatakan tentang mimpi, memangnya kau telah bermimpi apa?" Tanya laki-laki itu. Prabu Kesa merasa telah keterlepasan bicara. Diam-diam dia menyesal karena apa yang dipendamnya akhirnya terlepas begitu saja. Tetapi dia juga menyadari tidak mungkin membohongi Kaliwangga. Dengan berat hati akhirnya dia berkata. 

"Aku telah bermimpi melihat lautan darah. Dan darah itu asalnya dari istanaku."

"Itu bukan mimpi yang baik. Mimpi itu pertanda malapetaka. Mungkin di sinilah segalanya berawal?" kata Kaliwangga yang ikut merasa prihatin. 

Prabu Kesa terdiam. Dia berpikir langkah mana yang harus ditempuhnya. Mengejar mahluk yang baru terlahir barangkali tidak mudah mengingat dia tidak tahu bagaimana ujud mahluk itu dan juga jenis kelaminnya. Yang paling gampang menurutnya adalah mencari Jabatala. Hanya Jabatala yang benar-benar mengerti bagaimana ujud keturunannya. Sang Prabu bulat dengan keputusannya. Dia lalu bangkit berdiri. Sejenak dia menoleh ke arah Kaliwangga. 

"Kau ikut denganku."

"Kemana sahabatku?"

"Kita akan mencari Jabatala. Hanya dia kunci satusatunya yang mengetahui misteri jabang bayi dalam ari-ari batu," Ujar sang Prabu.

"Baik. Saya akan membawa peti mati itu, barangkali kita bakal membutuhkannya," Ujar Kaliwangga. Sang Prabu mengangguk setuju. Tidak lama kemudian mereka sudah tinggalkan tempat itu. 

***

Di kaki gunung Merapi terdapat banyak candicandi. Diantaranya yang terbesar adalah candi Kajangkaso. Kemudian masih ada candi yang lain yaitu candi Pendam, candi Asu juga candi Bulan Matahari. 

Terlalu banyak candi, kemana Saga Merah harus mencari Iblis Hitam. Tujuh belas tahun Saga Merah mendapat gemblengan lahir batin di puncak Merapi. Belum pernah dirinya diizinkan pergi hingga ke kaki gunung Merapi. Dan dia tidak merasa menyesal demi kepatuhan pada guru.

Kini Saga Merah berdiri diantara hijaunya pemandangan di kaki gunung. Sejauh mata memandang hanya warna hijau yang dilihatnya. Tapi diantara hijaunya tumbuhan dia melihat sebuah bangunan tinggi di sebuah lembah. Hati si pemuda bertanya tanya. 

Bangunan ditengah lembah apakah sejenis candi juga mengingat bentuknya yang unik tidak seperti candi lain yang dilihatnya. Si pemuda jadi penasaran. Dia akhirnya memutuskan untuk menghampiri bangunan di tengah lembah. Pemuda ini hentakkan kakinya, dia lalu melayang.

Kakinya terayun namun sedikitpun tidak menyentuh tanah. Sampai kemudian dia jejakkan kaki di halaman bangunan itu. Dia lalu melihat tulisan. Saga Merah membacanya. Ternyata bangunan itu merupakan sebuah candi juga. Namanya candi Nuwun Sewu. Si pemuda geleng kepala. 

Dia berpikir bukankah Nuwun Sewu artinya kurang lebih 'minta maaf. Siapa yang membangun candi. Apakah candi itu ada penghuninya. Si pemuda baru saja hendak memeriksa bagian dalam candi. Namun niatnya urung begitu dia mendengar suara seruling.

Dia berusaha mencari tahu dari arah mana suara itu datang. Setelah mengetahui dia menuju ke arah itu. Saga Merah menuju ke bagian belakang. Semula dia berharap dapat bertemu dengan seseorang di sana. Ternyata dugaannya meleset, di sana tidak terlihat siapapun. 

Bahkan suara seruling yang didengarnya lenyap. "Aneh, tidak ada suara seruling jika tidak ada yang meniup. Aku tidak tahu siapa peniup seruling itu. Tapi...!"

Saga merah memperhatikan tembok di sebelahnya. Dia melihat sebuah tulisan yang agaknya dibuat dengan tergesa-gesa. Dengan kening berkerut di membacanya.

"Yang kau cari bisa saja pembunuh keji yang tidak punya perasaan. Apakah kau tidak takut? Mencari orang dengan ciri-ciri tidak jelas bukannya hal mudah. Lebih baik kau kembali ke puncak Merapi." 

"Hmm, tidak mungkin. Aku tetap dengan perintah mereka, aku tidak akan kembali. Tapi.... bagaimana mungkin orang tahu tentang perintah guruku juga orang yang kucari. Jangan-jangan dia adalah...!"

Saga Merah tidak melanjutkan ucapannya. Saat itu dia mendengar suara gemerisik dan pucuk pohon bergoyang. "Aku melihat ada bayangan berkelebat berlari di antara pucuk pohon-pohon itu. Aku harus mengejarnya," Pikir pemuda itu. 

Baru saja dia hendak mengejar tiba-tiba dia mendengar suara seperti benda berat jatuh berasal dari dalam candi. Pemuda ini batalkan niatnya mengejar bayangan tadi dan segera masuk ke dalam candi. Bagian dalam candi Nuwun Sewu memang cukup luas, namun keadaannya selain kotor juga gelap. Saga Merah yakin candi itu telah ditinggalkan oleh para biksu sejak bertahun-tahun yang lalu.

Si pemuda tidak perduli, justru kini perhatiannya tertuju ke bagian kiri candi tersebut. Dia melihat di atas langitlangit candi tergantung beberapa sosok tubuh. Saga Merah terdiam, dia mengendus bau busuk yang demikian menusuk. Selain itu dia juga melihat sesosok tubuh tergeletak di lantai. 

Pemuda itu kemudian segera menghampiri. Semakin dekat dirinya ke arah sosok yang tergantung maupun yang terkapar di lantai, bau busuk terasa semakin menyengat. Saga Merah menutup jalan nafasnya, Dia lalu melakukan pemeriksaan. Mayat itu ternyata seorang laki-laki. Melihat penampilannya orang ini besar kemungkinan adalah orang rimba persilatan.

Si pemuda terus meneliti. Dia terkejut ketika mengetahui bahwa sekujur tubuh mayat itu dalam keadaan mengering seolah darah dan sari pati kehidupannya telah disedot oleh seseorang. Selain itu dia juga melihat bagian dada korban dalam keadaan berlubang, jantungnya lenyap. Saga Merah merasa heran. 

Apa sebenarnya yang telah terjadi pada diri mayat-mayat itu. Dia memandang ke atas. Diatas sana pemuda ini melihat selain laki-laki terdapat seorang perempuan yang juga dalam keadaan tergantung.  

"Perempuan berpakaian mewah, nampaknya dia bukan perempuan biasa. Setidaknya menurut dugaanku dia berasal dari kalangan bangsawan," batinnya.

Saga Merah penasaran dia lalu melompat ke atas, tangannya bergerak. Dan mayat perempuan yang tergantung itu jatuh berkedebukkan di atas lantal candi. Saga Merah memperhatikan mayat perempuan itu. Keadaan si mayat ternyata tidak jauh berbeda dengan keadaan mayat lainnya. Tubuh mengering, dada berlubang jantungnya lenyap. 

"Aku tidak mengerti siapa yang membunuh mereka, menyedot darah dan jantungnya? Untuk apa bagian dalam tubuh itu diambil? Apakah untuk menambah kekuatan ataukah hanya untuk menghilangkan dahaga dan lapar. Jika perkiraanku yang terakhir terjadi. Pembunuhan ini dilakukan oleh sejenis mahluk buas yang keji dan kejam. Tapi mahluk itu dari jenis apa?"

Batin Saga Merah. Dia terus berpikir, sesekali dia menatap ke arah perempuan cantik itu. Dia tidak menemukan jawaban. Hanya keyakinan yang mengatakan bahwa perempuan tersebut kemungkinan besar adalah anggota keiuarga kerajaan. 

Ini sesuai dengan lambang yang dia temukan terselip di balik pakaian korban. Saga Merah kemudian menyimpan logam keras berwarna putih keperakan itu di balik saku celana panjangnya. Selanjutnya dia keluar. Baru saja dirinya sampai di depan pintu candi. Belasan batang panah melesat ke arahnya. Saga Merah terkesima.

Dia sempat melihat anak panah itu datang dari balik tebing batu tak jauh dari pohon besar. Tanpa menunggu dia segera kerahkan tenaga dalam ke arah kedua tangannya. Selanjutnya tangan itu diputar lalu didorong menyongsong serangan belasan anak panah yang siap menghujani sekujur tubuhnya. 

Segulung angin menderu disertai hawa panas luar biasa. Belasan anak panah rontok, sebagian bermentalan di udara menjadi kepingan kecil. Saga Merah tidak tinggal diam. Dengan cepat dia melesat ke arah tebing lembah kemudian pemuda ini segera melepaskan pukulan tangan kosong ke arah pohon besar tepat di mana anak-anak panah tadi berasal. Dari telapak tangan pemuda itu menderu serangkum hawa panas disertai berkiblatnya cahaya biru menyilaukan mata. 

Pemuda ini ternyata melepaskan pukulan Halilintar Menyambar yang diwariskan oleh gurunya kakek Sun. Ketika pukulan itu menghantam tepat mengenai sasarannya, maka pohon besar itu hancur tercabik. Api memberangus pohon dan semak belukar di sekitarnya. Dinding lembah runtuh. Justru Saga Merah yang baru saja jejakan kakinya membuka mata lebar-lebar begitu melihat di balik reruntuhan tebing itu ternyata terdapat tulisan:

"Perjalananmu untuk menemui Iblis Hitam tidak akan mudah. Kau harus rela mandi madu merah terlebih dulu. Iblis Hitam menantimu dengan tangan terbuka, tetapi musuhmu menunggu dengan tangan terkepal" 

Saga Merah katubkan mulutnya. Dia tidak tahu siapa yang telah menoreh dinding batu sedalam itu. Tentunya kalau dia tidak menghantam tebing tadi tulisan itu akan dibacanya. Selesai membaca, Saga Merah menoleh. Dia tidak melihat ada orang lain disekitarnya. Namun dia menemukan busur serta sisa anak panah yang dipergunakan untuk menyerang dirinya dalam keadaan terbakar. Pemuda ini sempat merasa gusar, dia lalu berteriak.

"Iblis Hitam, engkaulah yang membuat pesan gila ini? Kalau kau mendengar harap jawab pertanyaanku..." Kata pemuda itu. Tidak ada jawaban. 

Justru setelah teriakannya berkumandang di tengeh kesunyian. Dia melihat asap muncul di mana-mana. Sang Saga tidak mengetahui asap itu berasal dari mana dan dari benda apa yang terbakar. Saat itu sayup sayup dia mendengar suara seperti ngiang nyamuk di telinganya.

"Suara teriakanmu membuat madu merah meleleh. Rupanya kau benar-benar sudah tidak sabar ingin mandi madu secepatnya. Ha ha ha... kalau demikian aku hanya bisa mengatakan selamat menikmati mandi madu merah...!"

Suara ngiangan lenyap, Saga Merah masih belum menyadari apa yang terjadi. Ketika dirinya tersadar, kaget pemuda itu bukan kepalang. Dia melihat api yang mulai muncul di manamana, memberangus kawasan lembah dan menjalar dengan cepat mengepung dirinya.

"Mandi madu merah... kurang ajar, yang dimaksudkannya tentu mandi api! Benar-benar terkutuk, dia mengetahui kedatanganku dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan terencana. Tetapi apakah yang terjadi ini benar-benar perbuatan Iblis Hitam?"

Pikir Saga Merah. Dia tidak punya waktu untuk memikirkannya. Saat itu kobaran api telah membubung tinggi mengepung pemuda itu dari segala penjuru. Si pemuda layangkan pandangan matanya dengan liar. Dia melihat sebatang pohon besar dan tinggi. Ke arah itulah tubuhnya melesat. Tetapi berada di pucuk pohon justru membuatnya seperti terpanggang sementara kepulan asap tebal menjadikannya sulit bernapas. Si pemuda memutar otak. Dia melihat batang pohon itu pun mulai diberangus api.

"Hanya air yang bisa memadamkan api, tapi air kencingku tidak sebanyak air yang dibutuhkan. Hmm apa akalku. Aku harus memadamkannya dengan kekuatan angin!"

Pikir pemuda itu. Dua tangan diangkat tinggi. Tangan itu kemudian dia rangkapkan dan ditatakkan di atas kepala. Mulut Saga Merah berteriak

"Heaaa...!"

Begitu Saga Merah keluarkan lantang, seketika itu juga dari sekujur tubuhnya mengeluarkan angin. Angin menderu menyapu seluruh permukaan lembah. Angin dan api bergulung saling tindih menindih menimbulkan suara yang amat menggidikkan.

Tetapi setelah berlangsung beberapa kejab lamanya api tidak kunjung padam, malah semakin mengamuk, membesar dan kian bertambah menggila siap meluluh lantakkan apa saja. Saga Merah adalah orang yang telah mendapatkan gemblengan dalam waktu yang lama di telaga air mendidih maupun digodok di kawah Merapi. 

Tubuhnya kebal menghadapi serangan hawa panas. Namun walau dirinya kuat menghadapi serangan panas yang luar biasa, api yang memberangus kawasan lembah bila dibiarkan semakin lama bisa membuat kulitnya melepuh. Apa akal?

Merasa tidak sanggup memadamkan lautan api. Saga Merah kemudian segera tinggalkan pucuk pohon. Tubuhnya berputar di udara, selanjutnya melayang-layang di udara melewati lautan api yang menyambar dengan ganas. Setelah mampu menyeberangi kawasan lembah. Secara perlahan pemuda itu melayang turun. 

Kemudian dia jejekkan kakinya beberapa tombak dari bibir lembah. Saga Merah menarik nafas lega. Belum lagi dirinya sempat memperhatikan kawasan lembah yang baru ditinggalkan.Tiba-tiba pemuda ini tersentak. Dia mendengar gemuruh di bawahnya. Seketika Saga Merah menatap tanah yang dipijaknya.

Tanah bergetar, ada gerakan di bawah sana seolah ada mahluk hidup yang ingin mencari jalan keluar. Murid tiga tokoh sakti ini bergerak mundur. Getaran yang dia rasakan berubah menjadi guncangan. Lalu...

 Brul! Breel!

Terjadi letusan dipermukaan tanah. Batu, tanah dan air panas menyembur di udara. Dibalik tanah yang ternganga lebar muncul tiga sosok tubuh, ketiga sosok itu melesat bersama semburan cairan panas yang keluar dari lubang.

"Mahluk apakah itu!" Batin Saga Merah dalam hati. Tiga mahluk berjumpalitan, kemudian berputar diudara seperti menari, lalu jejakkan kaki tidak jauh dari tempat Saga Merah berdiri. Si pemuda menatap kehadiran ketiga sosok itu dengan heran. Ketiga sosok yang berdiri di hadapannya mempunyai bentuk badan agak berbeda dengan manusia.

Mereka dapat dikatakan setengah mahluk. Mereka mempunyai dua kaki namun kakinya licin bersisik, sedangkan jarijarinya disatukan oleh sehelai kulit yang tipis seperti kaki kodok. Badan mereka berlendir. Dua tangannya amat pendek tidak seperti tangan manusia.

Bahkan besarnya tangan tidak sesuai dengan panjangnya. Bagian leher lebih aneh legi. Leher mereka memiliki kulit berlipat-lipat seperti insang hiu. Kepala lonjong, hidung sama rata dengan wajah, matanya tunggal dan hanya merupakan sebuah garis mendatar. 

Mata itu terletak di tengah wajah persis di atas hidung, Mahluk ini tidak berambut. Rambutnya hanya beberapa helai dan mirip dengan sungut ikan lele. Seumur hidup Saga Merah tidak pernah melihat mahluk seaneh ini.

"Siapa mereka? Mahluk-mahluk ini datang dari dalam tanah. Tubuh mereka berlendir menebarkan bau amis yang membuat perutku mual. Mereka kemungkinan tidak bisa bicara," Pikir Saga Merah. Dugaan pemuda itu ternyata melesat. Tidak seperti yang dia duga, mahluk ini bisa bersuara walaupun suaranya sengau seakan memang ada kerusakan di dalam rongga hidungnya. 

"Kami mendapat perintah untuk menangkapmu. Kalau melawan kami akan membunuhmu. Serahkan diri sebaik-baiknya dengan begitu kami tidak menyakitimu."

Kata salah satu diantaranya yang bertindak sebagai pemimpin. Saga Merah tersenyum, dia berpikir apakah Iblis hitam yang menyuruh mereka untuk menangkapnya? Kalau ketiga mahluk itu mendapat perintah dari Iblis Hitam, Saga Merah setidaknya telah mendapatkan gambaran bahwa ketiga mahluk itu hanya sebagai alat dan Iblis Hitam bukan manusia baik-baik seperti yang diperkirakannya. 

"Kalian mendapat perintah dari siapa?" Tanya Saga Merah.

Mata yang tunggal itu saling pandang sesamanya. Dua diantaranya menganggukan kepala ke arah yang mewakilinya.

"Sayang kami tidak dapat mengatakan padamu!"

"Kau harus mangatakannya. Kalau tidak aku memilih jalan yang kuanggap tepat untuk menghindari kalian."       Ujar Saga Merah. Dia tidak sekedar mengancam. Yang dikatakannya merupakan peringatan awal bagi ketiga mahluk tersebut. Ketiga mahluk itu bicara dengan sesamanya. Saga Merah tentu tidak mengeti arti bahasa mereka. 

Sampai kemudian yang berada di sebelah kiri berkata. "Baiklah. Akan kukatakan padamu, bahwa kami diperintah oleh calon penguasa jagad raya. Kurasa itu sudah cukup bagimu," Ujar mahluk itu. "Baiklah, kalau begitu aku merasa takut pada kalian.Sekarang terserah kalian mau berbuat apa" kata pemuda itu. Dia lalu ulurkan kedua tangannya. Dua orang di depan mengira Saga Merah menyerah diri. Mereka datang menghampiri. Salah satu diantaranya mengambil seutas tali yang terbuat dari air liur mereka sendiri yang menetes. 

Baru saja mereka hendak mengikat tangan Saga Merah, secepat kilat tangan pemuda itu bergerak menghantam. Serangan yang tidak terduga ini sudah barang tentu tidak sempat dihindari oleh kedua lawannya. Dua pukulan masing masing mendarat dibagian dada. Dua mahluk aneh menggerung kesakitan.       Mereka terlempar, jatuh tunggang langgang melabrak bukit batu yang terdapat di belakangnya. Melihat ini yang jadi pimpinan marah sekali. 

Disamping itu diam-diam sesungguhnya kaget tidak menyangka orang yang hendak mereka tangkap ternyata mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi. Padahal kedua kawannya itu adalah mahluk pilihan dengan keahlian istimewa. Kedua mahluk aneh yang kena pukul kini sudah berdiri. Mereka muntahkan darah pertanda mengalami luka di bagian dalam, namun darah yang keluar ternyata tidak berwarna merah, melainkan hijau keputihan. Tetapi mahluk mahluk itu nampaknya cepat segar kembali. Mereka melangkah cepat menuju ke arah Saga Merah. Bibirnya menyeringai. Saga Merah terkesima begitu mengetahui bahwa gigi mahluk aneh tersebut ternyata runcing tajam seperti gergaji. 

"Bajokere...!" Teriak yang jadi pimpinan dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Dan bahasa isyarat itu ternyata merupakan perintah untuk menyerang dan membunuh. Tiga mahluk aneh kini berdiri berjejer. Kemudian secara kompak mereka julurkan tangan kanannya yang pendek dan besar ke depan. Ketika tangan diangkat dan kemudian dikebutkan ke bawah, Saga Merah segera merasakan akibat yang ditimbulkannya. 

Hawa dingin saling tindih menindih menghantam tubuhnya. Selain itu nafasnya seperti tercekik. Dia juga merasakan seolah ada tangan yang tidak terlihat mencengkeram lehernya. Bukan hanya leher, bagian perutnya juga seperti dihantam palu godam. Selain itu kakinya juga seakan ada yang membetotnya dengan keras. Saga Merah merasakan kesakitan di tiga tempat sekaligus. Tetapi dia segera mengambil tindakan. Tanpa pikir lagi dia menghantam yang berdiri di depan sana dengan pukulan 'Halimun Turun Gunung'. 

Angin topan menderu melabrak apa saja yang ada di depan sana. Tiga mahluk tersapu oleh gelombang pukulan Saga Merah. Tetapi mereka hanya bergoyang, mereka tetap tegak di tempatnya dalam keadaan yang tidak berubah. Saga Merah lipat gandakan tenaga dalamnya. Kemudian dia kembali menghantam, kali ini dia melepaskan pukulan 'Letusan Merapi. Ilmu pukulan yang sanggup menghanguskan apa saja ini adalah warisan dari gurunya Dewa Tujuh Bumi. Tiga makluk aneh tersentak kaget. Tapi dengan cepat dia segera membentuk perisai diri. 

Dua lainnya mengikuti tindakan sang pemimpin. Tangan diputar, mulutnya yang mengeluarkan cairan lendir menyembur ke depan. Cairan itu berputar seperti lingkaran, lalu mengeras seperti logam besi berbentuk payung berwarna putih yang melindungi mereka. Terdengar suara berderak-derak ketika pukulan 'Letusan Merapi melabrak perisai berbentuk payung yang melindungi mereka. Cairan yang membeku berubah memerah akibat sengatan hawa panas yang dilepaskan Saga Merah. Orang-orang ini terdorong mundur dua langkah ke belakang. Namun mereka tidak roboh. 

Saga Merah geleng kepala. "Mereka menyerang tanpa menyentuh. Kalau aku membalasnya dengan pukulan kurasa hasilnya siasia. Sekarang kukira sudah waktunya bagiku untuk menggunakan kekuatan sihir yang diajarkan oleh kakek Sabai Baba..." Batin si pemuda dalam hati. Tibatiba saja Saga Merah melangkah mundur. Tangan kanan dilekatkan di atas dada. Sedangkan tangan kir kini ditempelkan ke bagian perut dengan posisi jari terbalik menghadap ke bawah. Bibir pemuda itu kemudian berkemak-kemik. Tiga mahluk berdiri dengan keadaan siap serang. 

Saga Merah terus membaca mantra-mantra saktinya. Sampai kemudian terdengar suara gaung aneh. Saga Merah merasa yakin mahluk-mahluk itu pasti punya pemimpin. Dan saat itu dia berusaha membayangkan bagaimana ujud pemimpin dari ketiga mahluk itu. Sampai kemudian asap tebal muncul dipermukaan tanah, menyelimuti sang pendekar dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Ketika asap lenyap, tiga mahluk yang berasal dari dalam tanah terperangah. 

Dalam pandangan mereka Saga Merah kini telah berubah menjadi mahluk yang sama seperti mereka namun memakai mahkota batu, bermata merah bertubuh lebih tinggi. Tiga mahluk aneh serentak berlutut dengan tubuh menggigil. Mereka tidak berani menatap Saga Merah yang telah berubah ujud, menjelma menjadi pimpinan tertinggi ketiga mahluk itu. "Hoyosuta...Hoyosuta..." Begitulah ketika mahluk itu berkata sambil menyembah ke arah Saga Merah. Apa yang dikatakan mereka berarti sama dengan ampunilah kami...ampunilah kami... "Bajaika." Kata mahluk jelmaan Saga Merah. Berkat kekuatan sihir yang dimilikinya Saga Merah mengerti bahasa mereka. 

Dia juga tahu bahwa mereka ternyata berasal dari kaum Halfa. Kaum yang tinggal tidak jauh dari Rimba Purba. Ketika mahluk manggut-manggut. Mereka lalu menjura hormat. Begitu kening mereka menyentuh tanah. Terdengar suara letupan dan menebarnya asap tebal. Tiga mahluk lenyap. Saga Merah yang berubah bentuk menjadi pimpinan mereka dengan cepat membalikkan tangan kiri dan memutar posisi tangan kanannya. 

Bibir pemuda itu kembali berkemak-kemik. Selanjutnya kabut kembali mengepul menyelimuti dirinya. Ketika kabut lenyap, maka kini sang pendekar kembali ke ujud aslinya. Pemuda itu menarik nafas pendek. Segala bentuk pertanyaan kini hadir dalam benaknya. Dia masih belum tahu síapa yang menyuruh golongan Halfa untuk menangkap dirinya. Persoalan dirasakannya tambah pelik. Dan rasanya untuk menemukan Iblis Hitam tidak akan mudah. Sambil terus berpikir dia melangkah pergi. 

***

Timbunan tulang belulang di lembah Kematian ditinggalkannya. Manusia bertubuh ular raksasa ini melakukan perjalanan menuju timur, dalam perjalanan itu dia sengaja tidak menembus bumi seperti yang biasa dilakukannya. Dia sengaja merayap di permukaan tanah dan tentu saja dengan kecepatan seperti anak panah melesat.

"Perempuan itu jelas telah mati. Aku harus sampai ke kerajaan Purwa Dipa secepatnya. Prabu Kesa harus mengetahui peristiwa ini, peristiwa besar yang akan mengancam. keselamatan dunia persilatan dan kehidupan Purwa." batin manusia bertubuh ular itu cemas. Tetapi perjalanan menuju istana Purwa Dipa masih terlalu jauh. 

Setidaknya dibutuhkan waktu empat hari perjalanan untuk mencapai tempat itu. Dan ini tergantung dengan hembusan angin, bila angin berhembus dengan arah berlawanan, dirinya membutuhkan waktu lebih lama. Sebenarnya dia masih punya cara lain, dengan berjalan di bawah tanah. Tentu dirinya tidak mungkin mengalami banyak hambatan. Cara mana yang akan ditempuhnya. Selagi manusia ular ini sedang mempertimbangkan mana yang akan dilakukannya. 

Pada saat itu lapat-lapat dia mendengar suara sesuatu yang bergerak cepat menuju ke arahnya. Sementara dibelakang sana dia mendengar suara ringkik kuda. "Kuda meringkik dan orang berlari menggunakan kecepatannya." Batin laki-laki itu. Sepasang mata orang itu mengatup, tubuhnya yang panjang dan besar bergoyang-goyang. Ketika mata itu terbuka, sesungging senyum tersirat di bibirnya. 

"Seorang laki-laki dan seorang penunggang kuda.Laki-laki yang berlari di depan berambut putih.Melihat penampilannya kemungkinan dia seorang pertapa.Sedangkan orang berkuda yang mengikuti dari belakangnya. Hemm, pasti dia. Aku mengenal kuda itu.Tetapi dia melakukan penyamaran. Dia tidak membawa serta seorang pengawal pun." 

Manusia ular yang bernama Aryu Jeda ini lalu menunggu. Penantiannya memang tidak berlangsung lama. Sekejab setelah itu dia melihat dari balik kelebatan pohon di depan sana muncul sesosok bayangan, seorang laki-laki berambut putih dan berpipi cekung. Laki-laki itu berpakaian serba putih terbuat dari kulit kayu yang dilunakkan dan diberi pewarna.

Ketika sampai di depan Aryu Jeda dia sangat kaget melihat manusia aneh dan di depannya. Dia menoleh ke belakang. Dibelakangnya kemudian seorang penunggang kuda berbulu hitam. Dia adalah laki-laki gagah berpakaian sederhana yang mengikat sebagian rambutnya dengan lilitan tali jerami. 

"Sahabatku Gagak Banjaran. Kau lihatlah ke depan sana. Nampaknya perjalanan kita bakal menemui hambatan," Ujar si rambut putih yang bukan lain adalah Kaliwangga. Tidak seperti yang diduga Kaliwangga, Gagak Banjaran yang adalah prabu Kesa. Justru tersenyum. Melihat ini Kaliwangga menjadi sangat heran. Sementara di depan sana manusia ular tersenyum. 

"Tidak biasanya kau berpenampilan seperti ini sahabatku. Apakah perlu aku katakan siapa dirimu yang sesungguhnya?" Kata Aryu Jeda.

"Gagak... dia...!" Kaliwangga tidak sempat melanjutkan ucapannya karena pada saat itu Gagak Banjaran memberi isyarat dengan menempelkan telunjuknya ke bibir. Dengan tenang dia turun dari kudanya. Setelah berdiri di samping Kaliwangga dia berkata.  

"Tidak usah resah Kaliwangga. Manusia yang berada di depan kita itu masih orang sendiri. Namanya Aryu Jeda, si manusia ular yang tinggal di Lembah Keramat atau Lembah Kematian." Ujar sang Prabu yang menyamar sebagai Gagak Banjaran kalem. Sekarang mengertilah Kaliwangga mengapa Gagak Banjaran terlihat tenang tenang saja. "Sahabatku Aryu Jeda, sahabatku ini seorang pertapa." 

"Seorang pertapa satu perjalanan dengan dirimu dan kau sendiri berpenampilan seperti ini. Tentu saja ada apa-apanya," Ujar Aryu Jeda. Gagak Banjaran tersenyum, dia megetahui Aryu Jeda memiliki kelebihan. Di balik jendela jiwa terdapat cermin hati. Dengan cermin hati itu dia mampu melihat-lihat sesuatu yang tak terlihat oleh kasat mata.

Itulah sebabnya Gagak Banjaran tersenyum. "Kau tidak usah pura-pura. Sedikit banyak kau pasti mengetahui kejadian apa yang telah menimpa. Saat ini kami dalam perjalanan sangat penting. Mungkin kau bisa membantu." Aryu Jeda terdiam. Dia menatap Gagak Banjaran dan Kaliwangga silih berganti. Selanjutnya dia berkata. 

"Aku baru saja hendak melakukan perjalanan menuju istana Purwa Dipa. Tidak kusangka pemilik istana ada di sini. Terus terang beberapa hari lalu selirmu datang ke Lembah Kerama...!" Ujar laki laki itu.

Mendengar itu Gagak Banjaran merasa darahnya mendidih. Namun dia segera menekan semua kejengkelan di hati. Sejenak kemudian Gagak Banjaran telah berubah seperti biasa kembali.

"Apa yang dilakukannya? Kau mengabulkan permintaannya?" Dengus laki-laki itu tidak senang

"Ha ha ha. Jangan berburuk sangka. Kematian hanya kuberikan pada orang yang sudah tidak memiliki dosa. Selirmu meminta mati, tapi aku tidak mengabulkannya. Aku malah menyarankan untuk menemui kekasih gelapnya." 

"Kurang ajar. Apa maksudmu. Kekasih gelapnya itu telah melarikan diri dari penjara. Padahal seharusnya dia sudah mati dihukum pancung!" Geram Gagak Banjaran sengit. "Bersabarlah Gagak. Menyingkapi situasi seperti ini, hati boleh panas tapi kepala harus tetap dingin," Ujar Kaliwangga. Gagak Banjaran segera menyadari tidak ada artinya dirinya marah. Bagaimana pun masih ada waktu untuk memperbaiki situasi yang tidak menguntungkan ini. 

"Benar, kau harus bersabar karena kau belum selesai mengatakan semuanya. Ketahuilah prajurit baru mengabdi pada kerajaan itu bukan seperti yang kuduga. Maksudku dia bukan manusia, dia mahluk dari luar jagad yang datang dengan rencana besar. Dia ingin menitiskan turunannya. Itu tidak akan terjadi jika tidak ada perempuan yang menjadi perantara. Di tempat asalnya mahluk itu hanya terdiri dari laki-laki. Kaum perempuannya musnah sejak ratusan tahun yang lalu oleh suatu wabah misterius. Kebetulan sekali, selirmu adalah perempuan lemah rapuh hati namun penuh pemberontakan dan dendam kesumat. Selir ke tiga adalah orang yang mudah melakukan penyelewengan bila dirinya dikecewakan." Ujar Aryu Jeda. 

"Kini mereka telah bertemu?" Kata Gagak Banjaran. "Ya, mereka telah bertemu dan selir telah dibunuhnya karena dia sudah tidak dibutuhkan lagi."

"Astaga, mengapa pemuda itu bertindak sekejam itu? Padahal ketika kutanya Selir ke tiga katanya mencintainya." Ujar Gagak Banjaran heran. "Kau tak usah heran. Selir ke tiga itu bodoh, dia tidak bisa mengetahui isi hati pemuda itu. Oh ya apakah kau tahu siapa nama bekas perajuritmu itu?"

"Ya, namanya Jabatala." Kata Gagak Banjaran. Aryu Jeda tersenyum. "Kau tidak bertanya mengapa selir ke tiga dibunuh?" Sindir Aryu Jeda sinis. "Kau pasti lebih mengetahui dari aku, kau bisa melihat apa yang tidak dapat kami lihat." 

"Kau benar Gagak. Dibalik ujudku yang menjijikkan seperti ini aku diberi kelebihan oleh sang Hyang tunggal. Dalam jiwaku, mata ini melihat Jabatala membunuh selir ke tiga untuk diambil jantung dan darahnya. Darah dan jantung selirmu dipersembahka pada anak yang baru dilahirkan." Gagak Banjaran terkejut, Kaliwangga memandang tajam ke arah Aryu Jeda.

"Apakah ini ada hubungannya dengan Peti Mati Kalawa?" Tanya Kaliwangga ingin tahu. Aryu Jeda manggut-manggut. "Kau benar sekali. Gumpalan berwarna putih yang keluar dari rahim selir itu adalah cikal bakal dari seorang bayi." Kata manusia ular. 

"Waktu itu masih belum jelas tetapi setelah dimasukkan ke dalam peti, calon bayi berkembang dengan pesat. Begitu terlahir kalian hanya menemukan ari-ari batu yang kalian sangka sebagai cangkang. Jabatala mengambil darah dan jantung sebagai makanan bayi itu."

"Sekarang si jabang bayi berada dimana?" Tanya Gagak Banjaran tidak sabar. Aryu Jeda tersenyum "Dia tidak berupa bayi lagi, saat ini dia tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Dia bisa berada dimana saja."       Ujar Aryu Jeda. Tentu saja Gagak Banjaran dan Kaliwangga tidak dapat mempercayai ucapan Aryu Jeda. 

"Saat ini kurasa kau tidak sedang bermimpi. Rasanya sangat mustahil kandungan itu dapat berkembang diluar rahim ibunya. Kemudian dia terlahir sebelum sembilan purnama dan membesar sebelum delapan belas tahun?"

Gumam Gagak Banjaran sambil geleng kepala. Aryu Jeda nampak lebih serius, "Kau dengar. Bayi itu dapat berdiri sendiri. Dia tidak membutuhkan tempat, dia cuma butuh pelindung. Pelindungnya adalah cangkang batu yang kalian temukan.Setelah bayi itu segera menjadi dewasa dalam waktu tidak sampai dua setengah purnama.Kejadian yang dialaminya memang aneh, tapi dia nyata" 

"Kalau begitu aku ingin tahu dia perempuan atau laki-laki?"

Tanya Gagak Banjaran. Aryu Jeda menyadari sahabatnya tidak sabar. Namun dia sendiri tidak pernah bisa mengetahui jenis kelamin bayi itu. Walau sebelumnya dia telah berusaha menemukannya. Aryu Jeda menggeleng dengan terang-terangan. Bagi Gagak Banjaran tidak jelasnya jenis kelamin bayi itu merupakan pertanda buruk.

"Kau yakin?" Tanya Gagak Banjaran.

Aryu Jeda anggukan kepala. "Aku yakin sekali."

"Apa tujuannya?" Tanya Kaliwangga. 

"Merurut pandanganku tujuan Jabatala adalah ingin menjadikan titisannya sebagai seorang penguasa tunggal di jagad ini. Mulamula kerajaanmu yang akan dimusnahkannya." Kata Aryu Jeda. Gagak Banjaran segera membantah. "Aku tidak punya silang sengketa dengannya."

"Memang. Kau tidak punya silang sengketa. Tapi Jabatala dan titisannya amat membenci seorang pemimpin jujur sepertimu. Dia ingin manusia terpecah belah, saling membunuh dan mengorbankan darah sehingga kalian manusia menjadi budak seluruhnya." 

Penjelasan Aryu Jeda ini tentu membuat tengkuk Gagak Banjaran dan Kaliwangga merinding. Menjadi seorang pemimpin ternyata tidak mudah. Bersikap arif justru masih dimusuhi orang. Belum lagi Gagak Banjaran sempat bicara apa-apa atas pertanyaan Aryu Jeda yang mengejutkan itu. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara teriakan menggeledek yang datang dari hutan sebelah utara. Kaliwangga terkesima, seketika dia menoleh dan menatap tajam ke arah suara itu. Mata hatinya segera bekerja, kejab kemudian dia berkata. 

"Orang yang baru kita bicarakan telah datang. Berhati-hatilah kalian. Dan kau kuharap tetap dalam penyamaranmu. Jangan tunjukkan murkamu, atau mengatakan jati dirimu karena begitu tahu kau Prabu Kesa, dia pasti akan berusaha membunuhmu dengan segala cara."

Ujar laki-laki bertubuh ular itu memperingatkan. Gagak Banjaran sebenarnya kurang senang diperingatkan seperti itu. Namun dia sadar betul yang dikatakan oleh Aryu Jeda tentu berdasarkan pertimbangan penglihatan batinnya. Karena itu dia menganggukkan kepala. Tidak lama mereka menunggu, hanya dalam waktu sekedipan mata saja di depan mereka telah berdiri tegak seorang pemuda tampan. 

Pemuda itu berpakaian gemerlap dari kulit binatang air yang langka. Walaupun saat itu si pemuda sudah tidak kenal lagi berpakaian prajurit, namun Gagak Banjaran masih mengenali wajah pemuda itu. Sebaliknya si pemuda yang ada adalah Jabatala tidak mengenal penyamaran Gagak Banjaran. Mendidih darah Gagak Banjaran melihat kehadiran pemuda itu, namun dia tidak mau bertindak tolol dengan mengumbar amarah yang pada akhirnya membuka kedoknya sendiri. Sebaliknya begitu muncul Jabatala sempat terperanjat melihat Aryu Jeda. 

"Jauh aku datang mencari tambahan darah dan jantung. Namun tidak kusangka setelah kutemukan calon korban ternyata salah satu di antaranya berpenampilan ganjil. Manusia bertubuh ular, siapalah dirimu? Apakah kau sejenis mahluk lelembut ataukah bangsanya siluman?"

Tanya pemuda itu. Yang ditanya hanya senyum-senyum. Setelah itu dia malah berkata.

"Aku manusia, ibuku ular. Bapakku seorang dewa, namanya Dewa Kematian. Aku adalah bagian dari antara ada dan tiada. Kau manusia, namamu Jabatala... benarkah yang kulihat dan benarkah yang kukatakan!" Kata Aryu Jeda. Pemuda itu tersenyum mencibir. 

"Dugaanmu sebagian benar. Tentang namaku kau telah menyebutnya dengan tepat, tetapi tentang diriku sesungguhnya kau salah besar." Ujar pemuda itu. Diam-diam sesungguhnya dia sangat terkejut tidak menyangka orang mengetahui dirinya. 

"Tanganmu berlumur darah." Kata Kaliwangga "Apa gerangan yang telah kau lakukan?" Jabatala menatap ke arah Kaliwangga sejenak. Jabatala sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Kaliwangga, karena ketika berada di kerajaan Jabatala sendiri sedang meringkuk dalam penjara. 

"Orang tua rambut putih. Aku ini orang pengelana yang mencari makan untuk seorang anak. Aku butuh darahmu, darah temanmu juga darah manusia ular itu. Setelah darah aku juga membutuhkan jantung kalian!" Kata Jabatala berterus terang.

"Seperti yang kuduga." Kata Aryu Jeda pada Gagak Banjaran dan Kaliwangga melalui ilmu penyusupan suara. Gagak Banjaran yang sudah lama memendam rasa penasaran kini tidak bisa lagi memendam niatnya untuk bertanya. 

"Anak muda, kudengar kau mengatakan membutuhkan darah dan jantung untuk makan seorang anak, memangnya anakmu itu apakah sejenis mahluk buas?" Jabatala tertawa tergelak-gelak. 

"Kau punya bakat menjadi mata elang. Sayang usiamu kukira sudah lanjut. Orang yang berusia lanjut kehilangan kesempatan dan kehilangan harapan. Selain itu aku juga tidak punya waktu untuk menjelaskannya. Kini aku meminta darah dan jantung kalian!" Kata Jabatala lantang.

"Pemuda satu ini memang terkutuk. Harusnya saat ini dia hanya tinggal berupa arwah gentayangan karena mati dipancung. Kemarin dia lolos dari penjara. Tapi hari ini hal itu tidak bakal terjadi lagi." Ujar Gagak Banjaran di dalam hati. Sementara pada kesempatan itu Aryu Jeda menjawab ucapan Jabatala. 

"Kau menginginkan darah dan jantung kami? Kalau kau sanggup mengambilnya sendiri mengapa tidak segera kau lakukan?"

"Ha ha ha. Kau tidak tahu siapa aku. Sekarang serahkan jantung dan darah kalian!"

Berkata demikian Jabatala segera julurkan kedua tangannya ke arah tiga sasaran sekaligus. Anehnya tangan itu hanya bergerak setengah jalan. Walaupun tangan Jabatala tidak menyentuh dada mereka. Ketiga orang itu segera merasakan akibatnya. Jantung mereka berdenyut sakit, sedangkan dada seperti dikorek oleh sebuah senjata yang sangat tajam. Kaliwangga menggeram. Gagak Banjaran menyadari ada yang tidak beres. Sementara Aryu Jeda segera berteriak memberi peringatan. 
"Dia menggunakan ilmu Katukaci"

Banjaran segera menyadari bahwa ilmu Katukaci berarti ilmu siluman. Jabatala menggunakan ilmu siluman. Itu pasti dan mereka tahu apa yang dilakukan. Keduanya lalu hantamkan kakinya ke tanah. Seiring dengan itu tangan mereka langsung dihantamkan ke depan.. Hawa panas dan dingin menderu menghantam Jabatala. Yang diserang sunggingkan seringai sinis, lalu menggoyangkan badannya.

Dari sekujur tubuh Jabatala hawa dingin disertai deru angin menggidikkan menderu menghantam pukulan yang dilepaskan oleh Gagak Banjaran dan Kaliwangga. Kedua orang ini mencoba bertahan dengan melipat gandakan tenaga dalamnya. Tapi hantaman angin dingin yang keluar dari tubuh Jabatala derasnya laksana topan yang melanda. Mereka bergoyang keras. Tapi keduanya segera melesat ke udara. 

Akhirnya hantaman angin yang keluar dari tubuh pemuda itu menghantam pepohonan di belakang mereka.       Terjadi ledakan berdentum. Pohon di belakang mereka hancur berkeping-keping dan nampak memutih diselimuti es. Dalam kesempatan itu Aryu Jeda, putra titisan Dewa Kematian ini telah bergerak menyerang Jabatala guna membela teman-temannya. Tubuhnya yang panjang berputar. Kemudian ekornya yang panjang meliuk. 

Laksana cambuk ekor itu menghantam Jabatala tiga kali berturut-turut. Jabatala semula meremehkan serangan Aryu Jeda ini. Tetapi ketika ekor melecut laksana cambuk yang membelah karang batu. Sadarlah dia bahwa manusia ular itu sesungguhnya harus diwaspadai. Jabatala terpelanting.  

Tubuhnya yang terkena lecutan melepuh, adapula yang menganga seperti tergores tombak batu.Pemuda ini segera bangkit, dia menyerang Aryu Jeda dengan satu lompatan yang disertai dengan tendangan menggeledak. Hawa serangan itu saja sudah membuat si manusia ular terhuyung. 

Namun Aryu Jeda tidak bakal tinggal diam. Dia berkelit dengan gerakan gesit. Tapi punggungnya masih kena hantaman dengan keras hingga membuat tubuhnya yang panjang besar itu bergetar. Jabatala terkekeh, lalu berbalik siap meremukkan kepala Aryu Jeda, Diluar dugaan manusia ular lakukan gerakan melingkar.

Kemudian dengan diawali oleh satu liukan aneh Jabatala kini kena dililitnya dari kepala hingga ke kaki. Semakin lama belitan Aryu Jeda semakin bertambah keras hingga membuat Jabatala sulit bernapas. Pemuda itu berteriak kesakitan, tubuhnya bergetar. Lalu hawa panas seperti matahari memancar dari sekujur tubuhnya. 

Manusia Ular kaget, dia segera lepaskan lilitannya karena tidak mampu menahan hawa panas yang memancar dari tubuh lawan. Jabatala lolos, namun Kaliwangga segera menyergapnya. Laki-laki tua itu melakukan lompatan beberapa kali di udara. Selanjutnya tangannya mencengkeram rambut Jabatala. Tiga pukulan menghantam kepala lawannya. Si pemuda jatuh terjengkang. Kaliwangga menyangka lawan tewas karena dia menggunakan pukulan yang mematikan.

Namun dugaannya ternyata meleset. Jabatala tiba-tiba melayang, kini yang menjadi sasarannya adalah Gagak Banjaran yang berada paling dekat dengan dirinya. Gagak Banjaran menggerung. Dia menggunakan tangan kirinya untuk melindungi diri sedangkan tangan kanannya yang berubah putih keperakan akibat pengerahan tenaga sakti berkelebat dan menangkis serangan lawannya. 

Jabatala menangkis.benturan keras terjadi. Kedua belah pihak nampak terguncang, tapi Jabatala tidak mundur. Sebaliknya pemuda ini merangsak maju sambil terteriak. "Serahkan jantungmu!" Bersamaan dengan teriakannya itu tangan kiri Jabatala meluncur deras ke arah jantung, sedangkan tangan kanan membabat ke bagian leher lawannya.

Serangan ini sangat berbahaya sekali, benturan sambaran angin yang ditimbulkan oleh serangan itu saja telah membuat ngilu sekujur tubuhnya. Namun Gagak juga memiliki ilmu yang amat tinggi. Walau sempat terdesak dia segera memutar kedua tangannya. Dengan gerakan kaki yang lincah, tangannya itu seperti titiran membentuk perisai yang sulit ditembus. Plak! Plak! Dua benturan keras terjadi berturut-turut. Gagak Banjaran menyeringai kesakitan. 

Lengannya yang beradu dengan jari-jari tangan lawannya nampaknya menggembung. Dia terhuyung ke belakang. Di depan sana Jabatala menyeringai, walau pemuda ini sempat merasa kesakitan, tapi benturan itu tidak membuatnya menjadi goyah. Dari sini jelas sekali bahwa tenaga sakti yang dimiliki ternyata memang masih berada di atas Gagak Banjaran.

Berpegang pada kenyataan yang dihadapinya, Jabatala ingin sekali menghabisi lawan secepat yang dapat dilakukan. Tanpa membuang waktu pemuda ini melompat ke atas. Dua tangan segera dialiri tenaga dalam, selagi tubuhnya meluncur di atas kepala Gagak Banjaran, dua tangan ditarik ke belakang lalu didorong ke arah lawan dengan kecepatan luar biasa. 

Angin menderu, hawa panas berkiblat, Cahayanya menyilaukan mata melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Gagak Banjaran kaget bukan main. Serangan yang datang dengan cepat rasanya sulit untuk ditangkis, satu-satunya cara adalah dengan menghindar. Tanpa membuang waktu laki-laki berusia setengah baya ini segera berjumpalitan di belakang. Wuus! Buuum!

Pukulan itu menghantam tempat kosong, tapi akibat ledakan yang ditimbulkannya membuat Gagak Banjaran terpental dan mengalami luka di bagian dalam. Melihat ini Jabatala menyeringai. Dia berpikir dalam satu pukulan lagi kemungkinan Gagak Banjaran dapat dibunuhnya. Tidak mengherankan tanpa menyia-nyiakan kesempatan ini Jabatala terus merangsak mendekati Gagak Banjaran. Satu tendangan dan satu pukulan dilepaskannya. 

Kedua serangan ini ternyata memang ganas sekali. Gagak Banjaran tidak mungkin menghindar mendapat serangan secepat itu, melihat sahabatnya dalam keadaan bahaya, Kaliwangga tidak berpangku tangan. Tanpa bicara sang pertapa ini segera menyerang Jabatala dari arah samping.  

Jabatala terkejut sekali begitu merasakan ada angin menyambar tubuhnya dari arah samping, dia lebih kaget ketika mengetahui Kaliwangga telah berada didepan hidungnya. Sementara itu tinju kiri Kaliwangga menghantam ke bagian wajah. Tangan yang tadinya siap dihantamkan ke perut Gagak Banjaran kini ditarik kembali dan dipergunakan untuk menangkis. Tidak ayal lagi benturan yang sangat keras tak dapat dihindari. 

Jabatala jatuh terjengkal, sedangkan Kaliwangga terhuyung ke belakang. Tangannya yang beradu dengan tangan lawan seperti remuk, dadanya berdenyut. Kaliwangga menyeringai. Dia berpikir entah ilmu apa yang dimiliki oleh lawannya. Yang jelas pemuda itu sangat kuat sekali.

Terbukti kini dia sudah bangkit kembali. Tubuhnya yang agak membungkuk berputar, sepuluh jari tangan terkembang mencari sasaran di sekujur tubuh lawannya. Menghadapi gempuran yang sangat cepat ini, Kaliwangga segera menggunakan jurus-jurus terhebat yang menjadi andalannya. 

Nampaknya masing-masing pihak mengerahkan hampir seluruh kekuatan yang mereka miliki. Benturan keras terjadi keduanya sama terlempar beberapa tombak ke belakang. Kaliwangga benar-benar merasakan bahwa sekujur tubuhnya seperti bertanggalan, kepala orang tua ini berdenyut sakit seperti mau meledak, sedangkan perutnya mual luar biasa.

Kaliwangga mencoba bangkit, namun kakinya terasa goyah, dia sendiri lalu terbatuk hingga akhirnya menyemburkan darah. Di lain pihak Jabatala sudah bangkit berdiri. Pemuda ini menggelengkan kepala untuk menghalau rasa sakit yang dirasakannya. Sementara itu selain merasakan sesak yang luar biasa nampaknya Jabatala tidak merasakan akibat yang lain.

"Kau nampaknya segera berakhir di tanganku!" Jabatala menggeram. Tiba-tiba saja dia mengangkat tangan kanannya. 

Tangan itu selanjutnya ditempelkan di bagian keningnya. Selanjutnya Kaliwangga dan Gagak Banjaran sama melihat betapa jari-jari tangan Jabatala mulai berubah warna menjadi merah kehijauan. Jari tangan itu memancarkan cahaya hingga sebatas siku. Melihat ini mahluk berujud ular keluarkan suara desis panjang sambil berteriak memperingatkan.

"Jabatala mengeluarkan ilmu ajian yang keji. Kalian berdua sebaiknya menyingkir." Kata kakek bertubuh ular besar itu memberi peringatan. Sebenarnya tidak diberi peringatan sekalipun, Kaliwangga telah menyadari betapa ganasnya serangan lawan. Sementara itu Gagak Banjaran tentu tidak ingin menyerahkan semua persoalan itu pada Aryu Jeda si manusia ular.

Dia segera bersiap menjaga setiap kemungkinan yang tidak diinginkan. Sementara Kaliwangga segera bergerak menjauh. Namun kakek ini juga bersikap siaga menghadapi tindakan keji yang kemungkinan dilakukan lawan mereka. Jabatala menggerung.

"Para tua bangka tidak berguna, serta manusia berujud tidak karuan. Kalian adalah orangorang tolol yang bakal kukirim ke Kambung!"

Dengus pemuda itu. Dia melirik ke arah Aryu Jeda. Saat itu yang ditatap telah mengangkat kepala tinggi-tinggi. Sebagian tubuhnya yang panjang dan besar meliuk liuk siap bergerak 

"Manusia ular inilah justru yang harus kumusnakan terlebih dulu, Bila dia telah dapat kubunuh, maka membunuh pertapa itu dan Gagak Banjaran bukan persoalan yang sulit!" Pikir Jabatala.

Sejalan dengan pikirannya itu Jabatala kemudian menghantam Aryu Jeda dengan menggunakan tangan kanan yang tadinya ditempelkan di depan kening. Cahaya hijau berkilauan berkiblat disertai terciumnya bau busuk yang menyengat. Aryu Jeda merasakan hantaman angin pukulan itu saja sudah seperti hendak merontokkan bagian kepala hingga sekujur tubuhnya. Tetapi manusia ular ini mendengus disertai desisan panjang. Dengan menggunakan kedua tangan dia menghantam ke depan. Blaar! 

Ledakan keras terjadi. Serangan yang dilakukan Jabatala kandas di tengah jalan. Namun Jabatala adalah lawan yang sangat cerdik. Pukulan yang dilancarkannya bukan hanya tertuju ke arah Aryu Jeda saja. Dia ternyata menghantam Gagak Banjar Kaliwangga secara berbarengan. Begitu ketiga lawan sibuk menangkis serangan dari jarak dekat. Aryu Jeda, Kaliwangga dan Gagak Banjaran tentunya tidak menduga serangan ini.

Mereka segera menangkis sambil melakukan serangan balasan ketika tinju Jabatala menhujani tubuh mereka. Tapi orang-orang ini juga dibuat repot mengingat Jabatala juga melepaskan tendangan ke arah mereka. Des! Buk! Des! "Ak...."

Kaliwangga dan Gagak Banjaran terjungkal. Kaliwangga yang terkena tendangan di bagian dada menjerit kesakitan. Sementara Gagak Banjaran yang berhasil lolos dari serangan tinju lawannya tak urung tidak bisa menghindar dari sambaran jari-jari tangan kiri Jabatala yang tajam seperti tombak. Gagak Banjaran terluka di bagian bahu, Pakaiannya robek, kulit di bahunya juga robek mengucurkan darah.

Dari semua serangan ganas yang dilakukan oleh Jabatala, hanya Aryu Jeda saja yang dapat menyelamatkan diri. Manusia bertubuh ular ini segera mengambil tindakan tegas demi melihat sahabatnya berpelantingan seperti daun yang tersapu angin. Mula-mula tubuh di bagian atas bergerak meluncur ke arah Jabatala. Pemuda itu menggerung dia berkelit ketika tangan kiri Aryu Jeda siap mencengkeram lehernya.

Lolos dari cengkeraman tangan kiri, tidak terduga tangan kanan Aryu Jeda meluncur menghantam perutnya. Jabatala kembali membuat gerakan aneh yang membuat dirinya luput dari serangan Aryu Jeda. Dia tertawa, sama sekali pemuda ini tidak menyadari bahwa kemudian Aryu Jeda menggunakan ekor untuk menyerang. Gerakan ekor yang sangat cepat ini datangnya seperti badai yang menerjang. Arah serangannya pun sangat sulit untuk dibaca. Tak ayal lagi bagian ekor Aryu Jeda yang sangat keras menghantam tubuh Jabatala. Pemuda ini terlempar. Perut dan bagian pinggangnya seperti terbelah dua. Dia berusaha bangkit. 

Namun selain mulutnya menyemburkan darah, ekor lawannya kini bergerak cepat seperti seutas tali yang siap menggulung tubuhnya. Jabatala rupanya menyadari seandainya ekor lawan dibiarkan melibat tubuhnya. Lilitan ekor itu tentu sanggup membuat sekujur tubuhnya luluh lantak. Dia tidak ingin celaka, sungguhpun saat itu tengah terluka, akhirnya dia berguling-guling menghindari sambaran ekor Aryu Jeda. kakek bertubuh ular. Di depan sana Kaliwangga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Selagi Jabatala berusaha bangkit dirinya bergerak cepat menyongsong pemuda itu. 

Selanjutnya dia berjumpalitan di udara. Begitu tubuhnya meluncur ke bawah, maka pada saat itu pula dia menghantam bahu lawannya. Jabatala menggerung, bahunya miring akibat serangan Kaliwangga. Namun dia sendiri kemudian bertindak cepat. Laksana kilat dia menghantam ke atas. Serangan itu masih dihindari oleh Kaliwangga, namun begitu serangan pertama lolos, dengan gerakan yang indah Jabatala jatuhkan diri dengan punggung terlebih dulu menyentuh tanah. Pada kesempatan itu kakinya menyambar ke atas. Buuk!       

Kaliwangga terdorong mundur, wajahnya nampak pucat sekali, mulut menyeringai menahan sakit luar biasa. Gagak Banjaran ikut menyerbu. Selagi Jabatala masih berada dalam posisi rebah, Gagak Banjaran siap menghajar pemuda itu dengan tendangan menggeledak. Tendangan memang mengenai sasaran di dada, tapi Gagak Banjaran ternyata kena dihantam oleh Jabatala tepat di bagian dada. Laki-laki itu jatuh terpelanting, nafasnya sesak, bagian dada seperti mau remuk. 

Melihat dua lawan dapat dijatuhkannya, Jabatala segera melompat. Begitu dirinya dapat berdiri tegak, dia segera berniat membunuh Gagak Banjaran. Dengan penuh nafsu pemuda ini ingin segera membunuh Gagak Banjaran. Orang tua itu nampaknya sulit menghindar akibat luka dalam yang dia alami. Sementara Kaliwangga sendiri sudah bangkit, namun jarak diantara mereka cukup jauh sehingga kecil bagi Kaliwangga untuk menolong sahabatnya. Jiwa Gagak Banjaran benar-benar dalam keadaan terancam namun pada saat kematian mengincar dirinya. 

Aryu Jeda yang melihat semua kejadian ini segera mengambil tindakan. Mula-mula dia bergulung-gulung hingga tubuhnya yang besar panjang mengeluarkan suara gemuruh. Selanjutnya bagian ekor siap mengambil tindakan. Ekor yang sangat keras itu melecut, menghantam Jabatala dengan kecepatan luar biasa. Terdengar suara deru menggidikkan. Jabatala hanya melihat bayangan hitam panjang menerjang ke arahnya. Dia terkesiap sambil memaki, selagi dirinya berusaha menarik serangan sambil selamatkan diri. Ekor Aryu Jeda menghantam punggungnya. 

Pemuda itu jatuh terjungkal. Darah menyembur dari hidung dan mulutnya. Belum sempat dirinya bangkit, ekor lawannya kini melincur siap melihat tubuhnya. Jabatala tidak mau celaka. Dia juga sudah terluka parah akibat pukulan ekor Aryu Jeda yang melanda tubuhnya belum lama segera berguling guling menjauh.

Tapi satu lecutan kembali melanda bahunya. Suara ledakan menggelegar. Asap tebal berwarna kehijauan menutupi pandangan mata. Aryu Jeda sangat yakin pemuda itu tewas akibat pukulan ekornya yang mematikan. Tapi dia sendiri tak dapat melihat Jabatala. Pandangan mereka terhalang oleh kepulan asap yang menebar dari tubuh Jabatala. 

Semua orang menunggu dengan perasaan tegang, Kaliwangga bersila sambil mengawasi keadaan di sekelilingnya, sedangkan Gagak Banjaran yang masih cidera terus mengawasi. Tetapi apa yang terjadi kemudian sungguh membuat setiap orang melengak kaget. Memang benar asap kehijauan menebar bau busuk itu lenyap. Tapi bersama dengan lenyapnya asap, sosok Jabatala yang sudah terluka parah itu juga raib.

"Dia menghilang. Aku yakin dia belum jauh dari sini kita harus mengejarnya!" Teriak Aryu Jeda. 

"Aku sudah tidak apa-apa, pemuda itu harus kita susul sebelum dia mengadukan nasibnya pada orang yang selama ini diberinya darah dan jantung." Sahut Gagak Banjaran. Kaliwangga tidak menjawab, namun dia segera mengikuti kedua sahabatnya yang telah berlari mendahuluinya. 

S E L E S A I