coba

Serial Pendekar Cambuk Naga Eps 14 : Prahara Raden Klowor

Mode Malam
1

Gagang kayu itu dihantamkan ke punggung Raden Klowor. Tanpa tanggung-tanggung lagi, Raden Klowor memekik kesakitan. Tubuhnya melengkung ke depan dan berusaha untuk lari. Tetapi, kedua perempuan muda itu segera mengejarnya. Yang satu berteriak:

"Jangan minggat kau, Mata keranjang...!" Setelah itu disusul dengan lompatan bersaltonya yang lincah.

"Wess...!"

"Huug...!"

Raden Klowor memekik lagi. Kali ini pekik yang tertahan, bagai kehabisan nafas. Ia jatuh, kaki gadis itu menghentak dengan kuat di punggung Raden Klowor. Yang berpakaian serba hijau pupus menerkam Raden Klowor, menjambak rambut dan menarik kepala Raden Klowor hingga kepala itu mendongak ke atas. Tubuh Raden Klowor masih dalam keadaan tengkurap. Ia memejamkan mata kuat-kuat menahan sakit dengan mulut mengerang tertahan.

"Kau patut dihajar karena perbuatanmu, Kadal! Aku paling benci jika sedang mandi ada yang mengintipnya!" "Tunggu... aku... aku tidak mengintip kalian mandi.

Aku justru "

"Mulut penipu harus dihajar sampai hancur! Hiih !"

Yang berpakaian serba merah muda menendang wajah Raden Klowor dengan keras.

"Aaaooww...!" teriak Raden Klowor. Mulutnya berdarah, karena robek pada bagian kedua bibirnya.

"Setan belang, kau...! Huuhh !"

"Aaooow...! Caciit...!" Raden Klowor berteriak 'sakit' dalam keadaan cadel, karena mulutnya kini semakin berdarah. Pukulan gagang kayu kipas menghantam mulut dua kali. Gadis yang menjambak rambutnya segera menghentakkan kepala Raden Klowor ke tanah. "Mampus kau...!"

"Buug... buug... buug...!"

Tiga kali wajah Raden Klowor bagai dibenturbenturkan ke tanah. Tiga kali pula ia berteriak mengaduh-aduh.

"Wadoow...! Waadoow... waadoww...!" "Hiii...!"

"Ngeekh...!"

Raden Klowor mendelik karena pinggang belakang diinjak kuat-kuat oleh gadis berpakaian serba merah muda. Kemudian Raden Klowor dibiarkan melintir dan menggeliat kesakitan sambil mengerang bagai ingin menangis.

"Sekali lagi kau mengintip kami mandi, ku colok kedua biji matamu, tahu?!"

"Ampuuun...! Aku... aku memang tidak mengintip kalian mandi. Tidak...!"

"Lantas, mengapa kau berada di tepian sendang, tempat kami mandi? Kenapa kau berada di semaksemak itu?"

"Aku... aku sedang mencari telur "

"Huuh ! Alasan saja!"

"Plaak !"

Yang berpakaian hijau pupus menampar memakai kaki, seraya berkata:

"Telurmu yang kau cari ?!"

"Aduuh...! Sumpah...! Sumpah, aku memang sedang mencari telur burung gemak (puyuh). Bukan mengintip kalian!"

"Hemm...! Mulut pemuda jalang seperti dia mana bisa dipercaya, Aweni!" kata gadis berbaju merah muda.

"Seumur hidup aku tak pernah bisa percaya dengan pemuda mata keranjang, Sayung. Sungguh!"

Kedua gadis itu berbicara saling mengecam Raden Klowor. Tetapi, diam-diam Raden Klowor sempat berpikir:

"O, yang berpakaian serba hijau itu bernama Aweni, dan yang merah bernama Sayung. "

"Sudah, mari kita tinggalkan pemuda sinting ini!" kata Aweni seraya melangkah sambil menyampar tangan Raden Klowor yang bertumpu di tanah. Tentu saja hal itu membuat Raden Klowor yang hendak berdiri jadi terjatuh lagi. Sedangkan Sayung masih sempat memukulkan kayu gagang kipasnya ke kepala Raden Klowor.

"Pletak !"

Setelah itu melangkah, mengikuti Aweni.

Sebenarnya dongkol sekali hati Raden Klowor. Ia benar-benar geregetan terhadap kedua gadis itu. Ingin rasanya ia menggempur habis kedua tengkorak kepala gadis itu, tetapi hal tersebut tak dapat dilakukan. Ia harus sabar, dan tabah. Ia harus rela membiarkan kedua gadis itu pergi begitu saja, tanpa harus menanggung dosa. Kalau saja Raden Klowor mau, bisa saja saat ini ia melemparkan dua batu dan pasti mengenai kedua kepala gadis itu. Namun, tetap saja ia bertahan diri untuk berbuat demikian. Ia menghela nafas, mengatur jalannya nafas dengan teratur. Itu dilakukan sebagai penahan kemarahannya.

Terbersit pikiran untuk membalas kekonyolan dua gadis itu. Dan lagi-lagi Raden Klowor harus membuang perasaan tersebut. Ia harus tenang dan sabar.

Sambil mengusap-usap bibirnya yang robek dan berdarah, Raden Klowor meninggalkan tempat tersebut. Ia menganggap sendang berair bening itu adalah sendang sial. Karena, gara-gara sendang itulah ia jadi dituduh mengintip perawan mandi, dan dihajar babak belur begitu. Ah, kasihan juga Raden Klowor itu. Perutnya lapar. Ingin mendapatkan telur burung gemak, sejenis burung puyuh. Tetapi, yang diperoleh hanya pukulan dan siksaan dari dua orang gadis cantik. "Hiih...!"

Sayang ia tidak punya waktu untuk membalas. Coba kalau ia bebas membalas, pasti sudah jadi tape kedua gadis itu.

Sambil melangkah menuju sebuah desa yang tak jauh dari tepian hutan itu, Raden Klowor masih menggeram-geram. Apabila ia ingat nasibnya, dan sadar akan sesuatu yang sedang dilakukan, maka geraman itu pun segera diredakan. Tapi, sesekali memang muncul kejengkelan yang membuat Raden Klowor terpaksa menghela nafas berulang-ulang untuk menahan diri.

"Pak...." kata Raden Klowor kepada seorang penjual enau. "Boleh saya minta sedikit minumannya? Saya haus...!"

Penjual air enau itu menjawab dengan sinis:

"Barang daganganku bukan untuk dibagi-bagikan, tahu? Air enau ini dijual! Enak saja mau minta! Beli...!"

Raden Klowor menampakkan kesedihannya. Tenggorokan dipegang-pegang seraya berkata:

"Haus sekali. Sedikit sajalah "

"Tidak! Kalau mau minum harus punya duit untuk membeli air enauku. Kalau miskin, yah... minum saja air comberan."

Duh, sakit sekali hati Raden Klowor mendengar katakata itu. Ingin rasanya ia menampar mulut penjual enau. Tetapi, niat itu ditahannya kuat-kuat. Berusaha dihapus dari dalam hatinya dengan menghela nafas dan mengatur hembusannya. Untung ada seorang penjual kue serabi yang baru saja buka. Air untuk cuci tangan masih bersih, dan Raden Klowor diizinkan meminum air ember itu beberapa teguk. Kemudian ia melangkah lagi, mencari desa yang bernama Desa Punding. Ia diperintahkan oleh Lanangseta untuk menemui Paman Ludiro, yang telah hidup sebagai petani biasa, dan meninggalkan dunia kependekarannya.

Sebab, seperti telah dikisahkan dalam cerita Utusan Lembah Kubur, bahwa Raden Klowor mengangkat dirinya sebagai murid Lanangseta. Mulanya, Lanangseta tidak mau menerima murid. Tetapi, jurus-jurus kepunyaan Lanangseta bisa tercuri oleh Raden Klowor melalui mimpi-mimpinya yang ajaib. Dan, ketika Raden Klowor terbukti mampu memainkan Cambuk Naga untuk mengalahkan raksasa Barong Dewa, Lanangseta menjadi bertanya-tanya dalam hati: "Mungkinkah Cambuk Naga memang harus menjadi senjata pusaka milik Raden Klowor?"

Tujuan Raden Klowor berkenaan dengan mimpinya pada suatu malam. Ia bermimpi bertemu dengan Putri Ayu Sekar Pamikat, pemilik Cambuk Naga sebenarnya. Raden Klowor mengaku diperintahkan memohon doa restu kepada bekas pemilik Cambuk Naga setelah Sekar Pamikat, dan bekas pemilik itu tak lain adalah: Paman Ludiro, seorang abdi setia Sekar Pamikat dan Lanangseta sampai batas Lanang menikah dengan Putri Bukit Badai, yakni: Kirana.

Itulah sebabnya, Lanang menyuruh Raden Klowor menemui Ludiro di Desa Punding. Sekalipun sebenarnya Lanang sendiri heran, dan sangsi: Benarkah Raden Klowor bertemu dengan Sekar Pamikat di alam mimpinya? Tetapi, karena rasa gembira Lanang atas kelahiran anak pertamanya itu, maka ia tak mau banyak pikir. Ia hanya menyebutkan nama Desa Punding, dan menyuruh Raden Klowor menemui orang yang bernama Ludiro. Raden Klowor sendiri tanpa menunggu perintah kedua, ia langsung berangkat dengan satu catatan yang ia terima dari Sekar Pamikat lewat mimpinya juga. Catatan yang diingat itu ialah: sabar.

Rupanya, tak mudah menemui Paman Ludiro, sekalipun orang separoh baya itu sudah menjadi rakyat jelata, dan meninggalkan dunia persilatannya. Tetapi, nyatanya ada-ada saja kendala dan cobaan selama dalam perjalanan. Digebuk dua gadis hingga babak belur, dihina penjual air enau, dan kali ini malah ada peristiwa yang membuat Raden Klowor harus menahan diri kuatkuat, menahan kemarahannya dan mengalah terlalu lelah.

Dua orang lelaki berkumis menghadangnya. Badan mereka tegap dan kekar. Masing-masing mengenakan rompi hitam dan celana biru. Sama warnanya dengan celana dan baju Klowor: Biru tua! Mereka sama-sama mengenakan ikat kepala dari kain batik. Sebilah golok terselip di masing-masing pinggang kedua lelaki bertampang seram itu. Bedanya, yang satu mengenakan gelang bahar, yang satu tidak. Yang mengenakan gelang bahar adalah orang yang pertama kali membentak Raden Klowor.

"Berhenti!"

Itu yang membuat Raden Klowor berhenti melangkah.

"Ada yang perlu saya bantu, Paman?" sapa Raden Klowor dengan berusaha untuk bersikap ramah.

"Jangan berlagak sopan di hadapanku, ya? Apa kau belum kenal aku? Brogol; pembeset maling?!" Orang bergelang akar bahar itu menepuk dada. Raden Klowor yang masih merasakan sakit karena bibirnya pecah, menyeringai menahan sakit. Tapi, Brogol menyangka Raden Klowor nyengir dalam penghinaan.

Dicengkeramnya baju Raden Klowor, lalu ditamparnya wajah bloon itu dengan kasar.

"Bangsat! Kau menyepelekan aku, ya?!" geram Brogol.

"Buk... bukan...! Bukan menyepelekan, Paman!" "Lalu, apa maksudmu kau nyengir kuda di depanku,

hah?!" "Sa... saya menahan sakit, Paman. Sakit... ini yang sakit." Raden Klowor menunjuk mulutnya sendiri.

"Mulut busuk, huuh...!" "Plok!"

Tangan berjari besar itu menampar wajah Raden Klowor, seakan semua telapak tangan cukup menutup seluruh wajah Klowor. Tentu saja Klowor mengaduh dan terjengkang ke belakang, lalu jatuh di tanah dalam posisi terduduk.

"Hei...!" sapa lelaki yang satunya dengan mata mendelik. "Sebaiknya serahkan saja pusaka itu! Kau tak akan bisa selamat dengan menyembunyikan pusaka tersebut."

"Pusaka apa, Paman?" Raden Klowor kebingungan. "Gibas saja dia, Sumolo...!" kata Brogol kepada te-

mannya yang bernama Sumolo.

"Mengaku saja sebelum kau kuserahkan ke Pademangan!"

Sambil berkata begitu, kaki kanan Sumolo yang jempolnya sebesar buah duku itu menendang dada Raden Klowor. Tapi, secara reflek tangan kanan Raden Klowor bergerak ke depan dada; menangkis tendangan itu.

"Eh, melawan kamu, ya?!" Sumolo semakin geram akibat tendangannya ditangkis. Kemudian, dengan kasar ia menampar kepala Raden Klowor.

"Plok...!"

"Aaaaoow.... Ampun...!" Raden Klowor terpelanting ke samping dan nyaris tersungkur.

Brogol mencengkeram baju Raden Klowor dari belakang dan mengangkatnya ke atas.

"Lebih baik menyerahkan pusaka itu, daripada mati dalam penyiksaan!"

"Saya... saya tidak tahu soal pusaka! Hemm... memangnya, pusaka apa yang dicari...?!"

"Berlagak tolol lagi. Huuh...!" "Plook...!"

Sekali lagi tamparan keras membuat bibir itu berdarah kembali. Uuh sakitnya sampai ke ubun-ubun.

Ada beberapa orang yang memperhatikan penangkapan itu. Mereka saling berbisik di kejauhan.

"Ada maling tertangkap...! Itu dia malingnya! Katanya dia maling pusaka...! O, itu yang dicari-cari Ki Demang? Masih muda kok jadi maling, ya? Kenapa tidak jadi Lurah saja, ya? Kasihan dia... maling sekali saja tertangkap, apalagi kalau maling kedua kali...! Mati, mungkin! Wah, dia dipukul tidak melawan...? Tentu saja, dia maling tanpa modal "

Dan, banyak lagi celetak-celetuk, bisik-bisik mereka. Sementara itu, Raden Klowor berusaha meronta dari cengkeraman Brogol. Tetapi, ia tak berhasil. Bahkan perutnya menjadi mual karena dihantam berulangkali dengan tangan Sumolo yang jarinya bagai sebesar pisang ambon.

"Saya bukan maling... bukan maling...! Saya bukan maling, dan maling bukan saya. !"

Raden Klowor menjerit kesakitan ketika tulang keringnya ada yang melempar dengan batu dari jarak jauh. Lecet, lalu berdarah.

"Serahkan pusaka itu, atau kau mati di sini?!" Brogol menjambak rambut Raden Klowor dari belakang, dan mendongakkan kepala itu. Seringai Raden Klowor bersamaan dengan kedua mata yang menahan sakit dengan memejam kuat-kuat.

"Bukan saya. ! Bukan saya malingnya!"

"Putri Demang tak akan rabun matanya. Ia menyebutkan dengan jelas ciri-cirimu, Bangsat! Dan, ternyata memang benar semua ciri-ciri itu ada padamu. Mau menyangkal apa lagi kau, hah! Hihh !"

"Addoww...!" Klowor memekik lagi karena dagunya dihantam tangan kiri Sumolo. "Sumpah... saya tidak mencuri apa-apa. Itu semua fitnah. Pasti itu keterangan palsu, wadoow...!"

Sekali lagi ia menjerit, karena ada yang melemparkan batu dari jarak jauh, dan mengenai tulang kakinya. Yang tadi kena! Wah, sudah tentu itu sakit sekali. Pandai juga orang yang melemparkan batu itu. Tepat dan jitu!

"Brogol, seret saja dia dan hadapkan ke Ki Demang!" kata Sumolo. Tetapi, Raden Klowor hendak meronta dan berkata:

"Tidak mau...! Aku bukan pencuri... aku bukan "

"Wadaaoow !"

Kali ini yang menjerit Sumolo. Matanya jadi terbelalak dan garang. Rupanya ada penonton yang hendak melemparkan batu lagi ke kaki Raden Klowor, tetapi meleset mengenai lutut Sumolo. Sudah tentu Sumolo pringas-pringis sambil melotot garang, mencari pelemparnya dari arah samping.

"Bangsat mana yang berani melemparkan batu ke lututku, hah?!"

"Sudah, sudah...!" kata Brogol. "Jangan perpanjang soal itu. Ayo, lekas bawa anak ini ke hadapan Ki Demang !"

Karena Raden Klowor meronta terus, akhirnya kedua kakinya diikat, dan kedua tangannya dipegang oleh Brogol dan Sumolo, kemudian diseret begitu saja, seperti mereka menyeret batang pisang busuk.

Sekali lagi, Raden Klowor bagaikan sedang menangis di dalam hatinya. Kedongkolan menyesak di dalam dada dan ingin meledak saja rasanya. Ia tak mau membalas pukulan dan siksaan Sumolo dan Brogol. Padahal ia bisa. Bisa melawan dan pasti bisa menang, karena ada banyak ilmu dari Lanangseta yang telah berhasil diserapnya dan dikuasainya. Apalagi kalau saja saat itu cambuk pusaka itu ada di tangan Klowor, huuuh bisa jadi berkeping-keping kedua orang bertampang sangar itu. Sayang sekali dalam perjalanan tersebut, Raden Klowor tidak diizinkan membawa Cambuk Naga oleh Lanang, karena suatu alasan. Akibatnya, Klowor tak bisa banyak berbuat walau menerima siksaan sesakit apa pun. Bahkan ketika ia dilemparkan begitu saja di depan seorang lelaki beruban tipis yang dipanggil sebagai Demang Gangsir, Raden Klowor hanya bisa mengaduhaduh dan mengerang-ngerang kesakitan. Ia buru-buru membuka ikatan pada kakinya, namun beberapa orang, termasuk Sumolo dan Brogol segera mengepungnya. Raden Klowor tak bisa lari ke mana-mana.

"Mana pusaka itu, Jahanam?!"

"Pusaka apa, Pak...?!" seru Klowor dengan warna kejengkelannya terlihat. Ia buru-buru mengurangi tekanan suara, agar tak terpancing kemarahannya:

"Jangan berlagak gila di sini, kau?! Mana pusakaku itu?!"

"S... saya tidak mencuri... mencuri apa pun dari sini!"

"Harus disiksa dulu dia, baru akan mengaku...!" kata Ki Demang Gangsir kepada Sumolo. Kemudian, Sumolo memerintahkan kepada salah seorang yang berdiri di belakangnya tanpa mengenakan baju San berkepala botak:

"Lugut...! Cambuk dia di kamar penyiksaan...!"

Lugut, orang tanpa rambut di kepalanya itu segera meremas salah satu kaki Raden Klowor dan menyeretnya dengan kasar. Raden Klowor hanya bisa berteriakteriak dan mencoba bertahan. Tapi, tak berhasil. Ia diikat di antara dua tiang berjarak satu langkah. Kakinya direnggangkan dan diikat, tangannya direntangkan dan diikat pula. Sebelumnya, baju yang dikenakan Raden Klowor telah dibuka, sehingga ketika sebuah cambuk pendek terbuat dari serat kulit berduri menghantam pinggangnya, ia menjerit kesakitan. Matanya mendelik, kemudian terpejam kuat-kuat. Pinggang itu luka tergores duri cambuk.

"Kau memilih cambuk itu atau pusaka itu?" tanya Sumolo dengan sinis. Kebengisannya terasa ingin diludahi Klowor, namun perasaan semacam itu juga buruburu dihilangkan dari hati Raden Klowor.

"Saya... saya tidak memilih keduanya...! Saya punya pusaka sendiri yang lebih... lebih ampuh dari segala pusaka!"

"Taarr...!"

"Aoow...!" pekik Klowor ketika cambuk dikibaskan lagi dan merobek dadanya.

"Kalau kau keras kepala, maka kau akan mati dengan kepala menjadi empuk dan bonyok, tahu?!" ancam Sumolo ketika Ki Demang Gangsir datang ke kamar penyiksaan itu.

"Aku... aku tidak bersalah!"

"Mencuri pusaka milik orang lain kok tidak bersalah?

Hah, dalil dari mana itu?!"

"Sungguh, Mas... aku tidak mencuri pusaka itu.

Mungkin ada yang salah lihat...!" "Tarr...!"

Lugut mencambuk lagi setelah diberi kode oleh Sumolo dengan anggukan kepala. Kini, perut Klowor berdarah. Robek beberapa garis. Warna biru memar ada di mana-mana, termasuk di sekujur wajahnya.

"Ampuuuun... jangan siksa akuu...!"

"Kalau kau serahkan pusaka itu, kami akan melepaskan kamu sebagai manusia biasa. Bukan maling!" kata Demang Gangsir dengan muka kaku dan geram.

"Pusaka apa yang harus kuserahkan...?! Aku tidak tahu, kau kehilangan apa, Peot!"

"Jahanam dia...!" "Taar.... Taar...!" Dua kali cambukan membuat Raden Klowor menjerit-jerit. Dua goresan berdarah membekas di ketiak dan pundak Klowor. Ia pun buru-buru menahan diri lagi, jangan sampai mengeluarkan kata-kata makian atau kata-kata umpatan kotor.

Kalau mengumpat pun ia tahan, sudah tentu membalas pun ia hindari. Sebisa mungkin Raden Klowor bertahan, dan bertahan terus. Mengapa harus bertahan? Mengapa tidak menyerang mereka, toh dia bisa. Bukankah ilmu orang-orang itu tidak lebih unggul dibanding ilmu yang dimilikinya dari mimpi?

Tidak. Klowor tidak boleh membalas. Klowor harus bertahan dan bersabar. Ini perintah dari alam mimpinya; perintah dari Sekar Pamikat, bahwa ia harus melakukan semadi sabar, atau tapa sabar. Tidak boleh membalas jika diserang, tidak boleh marah, jika disakiti. Pesan Sekar Pemikat lewat mimpi itu disampaikan guna menambah ilmu pada Raden Klowor, yaitu ilmu yang selama ini jarang digunakan Ratu Ayu Sekar Pamikat, yaitu jurus Naga Linglung.

Karenanya, sejak kemarin lusa Raden Klowor tidak pernah mengungkapkan kemarahannya. Sejak mendapat serangan dari Aweni dan Sayung, Raden Klowor tidak pernah memberikan balasan. Juga, saat ini, tidak ada gerakan pembalasan dari Raden Klowor. Ia harus menerima tuduhan itu, dan menyanggah dengan katakata, bukan dengan gerakan mematikan.

"Saras...!" panggil Ki Demang, dan dari pintu muncullah seorang gadis berkebaya putih dan mengenakan kain kuning tipis. Wajahnya cantik, rambutnya dikuncir dua, tubuhnya cukup menggiurkan dengan pinggul lebar dan dada sekal.

"Benarkah pemuda ini yang kau lihat melompat dari jendela kamarku...?" tanya Ki Demang kepada anak gadisnya yang bernama Saras. Tapi, setelah menatapinya beberapa saat. Saras menjawab dengan pasti:

"Oouw... bukan, Rama! Bukan pemuda ini. Ia memang kurus, seperti tubuh pencuri itu. Tinggi badannya memang sama, tapi wajahnya lebih ganteng pencuri tersebut. Jadi, bukan dia orangnya, Rama "

Klowor menggeram, dan memang hanya bisa menggeram.

*

*  *

2

Panas hati Raden Klowor. Sudah disiksa, disakiti, dituduh maling, eeh... ternyata terbukti tidak bersalah. Rasa-rasanya gatal dan gemetar sekali tangan Raden Klowor. Ingin segera menghantam Sumolo, Brogol, Lugut atau Demang Gangsir sendiri.

Yah, untung ada Saras.

Mata bulat indah, wajah mirip boneka itu sempat membuat Raden Klowor terpana beberapa saat setelah dibebaskan. Gadis seusia dengannya itu, sering memperhatikan Raden Klowor dengan tatapan yang lain, tapi jelas punya maksud tersendiri. Itulah satu-satunya penghibur kemarahan Raden Klowor. Kalau tidak ada Saras, wah... sangat berat bagi Raden Klowor untuk menahan kemarahannya.

"Maafkan ayahku " ujar Saras ketika ia menunggui

Klowor dalam pengobatan seorang pengawal Pademangan yang memang tugasnya mengobati luka.

"Ciri-ciri yang kuberikan kepada mereka tentang pencuri pusaka itu, memang mirip denganmu. Tapi, aku yakin, ayahku pasti sangat menyesal bertindak seceroboh ini." Sekalipun bibir pecah dan perih, meskipun hati panas dan geram, tetapi Raden Klowor berusaha untuk memberikan senyum. Namun, ketika ia meringis, ia malahan mengaduh, karena bagian lukanya pada bibir jadi tertarik. Perih.

"Kurasa tak ada rasa sesal pada diri ayahmu maupun orang-orangnya itu. Buktinya, mereka hanya melepaskan aku begitu saja, tanpa ada kata permintaan maaf sedikit pun."

Dari sipitnya mata yang memar, terlihat sekali ada segumpal dendam yang ditahan mati-matian oleh Raden Klowor. Geletukan gigi pun tak dapat dielakkan lagi. Hanya saja, seringnya Raden Klowor menghela nafas dan menahannya sampai beberapa saat itu, dapat disimpulkan bahwa dia berusaha mengendalikan diri untuk sabar.

"Ternyata berat sekali menjalankan tapa sabar itu, ya?" pikirnya seraya ia membiarkan seorang lelaki setengah tua mengobati luka cambuk pada dadanya. Saras masih berdiri di belakang orang itu dan berbicara dengan hati-hati:

"Mungkin semua itu karena kepanikan ayahku, atas hilangnya pusaka kami."

Setelah menggumam dalam kecemberutan, Raden Klowor memberanikan diri bertanya:

"Pusaka apa itu sebenarnya? Ujudnya seperti apa?" Diam sebentar, lalu Saras menjawab:

"Selendang Tirta Dewi."

Raden Klowor mengeja pelan, "Selendang.... Tirta....

Dewi ?"

"Seperti kau ketahui sendiri, daerah di sebelah Selatan Gunung Sawi, adalah daerah tandus, termasuk Pademangan kami ini, pedesaan-pedesaan lainnya, serta beberapa tanah tak berhuni. Semuanya dalam keadaan tandus. Tapi kau tahu sendiri juga, bahwa Pademangan Kumilir ini bisa menjadi daerah yang subur dan banyak air. Ini karena kesaktian dari pusaka Selendang Tirta Dewi "

"O, begitu ya?" Raden Klowor manggut-manggut. "Apabila Selendang Tirta Dewi dikibaskan, dia akan

mendatangkan hujan, atau memancarkan air dari lereng bebatuan cadas di bagian atas sana. Dan air itulah yang akan mengalir, mengairi persawahan kami."

".... kalau begitu " kata Raden Klowor. "Berarti pen-

curi pusaka itu adalah berasal dari tempat yang tandus!"

"Itu sudah pasti. Kami tahu. Tapi, kami tidak tahu, dari daerah mana dia. Daerah tandus yang mana?"

Raden Klowor tersenyum dalam gumam. Katanya: "Sayang aku ada urusan lain. Kalau saja aku sudah

bisa menyelesaikan urusanku, mungkin aku bisa membantumu mencari pusaka tersebut." Klowor melirik Saras, oh  ada rona kecewa di sudut mata Saras. Kenapa,

ya?

Hari sudah mulai remang ketika Raden Klowor keluar dari Pademangan Kumilir. Masih ada sisa perih di sekujur badannya, tapi ia berusaha untuk tidak merasakan. Masih ada sisa sakit di hatinya, tapi ia berusaha untuk melupakan. Yang ada dalam benaknya adalah Desa Punding dan nama Ludiro yang harus dituju. Sedangkan Demang Gangsir, Brogol, Sumolo dan yang lainnya menjadi lenyap begitu saja, seolah tak pernah terjadi bentrokan dengan mereka. Sebab, orang-orang Pademangan itu pun menganggap sepi, seakan mereka tidak pernah berbuat salah kepada Raden Klowor. Ini sebenarnya menjengkelkan sekali, tapi semadi laku sabar yang sedang dijalani Raden Klowor, memaksa Raden Klowor untuk tidak bersakit hati dengan masalah itu.

Begitu menuruni bukit yang tidak bisa dibilang tinggi, Raden Klowor berhenti melangkah. Terhenyak sesaat. Matanya terbelalak dengan dahi berkerut. Ada seorang perempuan yang berlari-lari meminta tolong. Perempuan itu amat ketakutan. Di belakangnya ada seorang lelaki brewok yang agaknya amat bernafsu kepada perempuan itu.

"Sumini...! Sumini, berhenti kau! Jangan lari...!" teriakan lelaki brewok yang masih berusia muda itu terdengar jelas didengar Raden Klowor.

"Tolooong...! Tolong aku.... Ooh, tolonglah aku...!" Sumini meratap dan bersembunyi di balik badan Raden Klowor. Perempuan muda yang pakaiannya sudah robek beberapa tempat itu meratap-ratap memohon pertolongan dari Raden Klowor. Padahal, Raden Klowor sendiri masih bingung dan clingak-clinguk dengan sedikit panik.

"Tolonglah aku...! O, aku... aku hendak diperkosa lelaki itu...! Tolonglah, lindungilah aku dari kerakusan Mito. Tolonglah jangan diam saja...!"

Sumini memeluk kaki Raden Klowor, bahkan menggoyang-goyangkan dengan ratapan dan tangis. Raden Klowor semakin salah tingkah, sebab baju Sumini sudah tak dapat dikatakan sebagai alat penutup dada lagi. Ngablak! Kelihatan jelas kemulusan dagingnya yang cukup padat dan menonjol itu. Dan, pemandangan tersebut membuat Raden Klowor menelan ludah sendiri.

Mito, lelaki brewokan yang tidak lagi mengenakan baju kecuali celana merah itu, segera berhenti tak jauh dari Raden Klowor. Matanya yang jalang itu memerah, nafasnya terengah-engah.

"Hei, mau jadi pahlawan kesorean, ya?! Ayo, minggir!" hardik Mito dengan bertolak pinggang. Raden Klowor berusaha menampilkan senyum ramah, sekalipun ia sendiri sebenarnya ingin menghajar lelaki itu.

"Sabar, Kang. Sabar...!" Raden Klowor menampakkan kesabarannya, sesuai dengan semadi yang sedang dilakukannya. Semadi Sabar! "Sum...! Ayo, pulang...!"

"Tidak mau! Tidak mau...!" Sumini bergelayutan di kaki Raden Klowor yang punya tampang masih lebih ganteng ketimbang Mito. "Carilah perempuan lain yang bisa melayani nafsumu! Aku tidak mau menjadi budak birahimu, Mito!"

"Hei, sebagai istri kau tidak pantas bicara begitu, Sum!"

"Aku bukan istrimu! Enak saja kau bicara! Aku belum pernah punya suami siapa pun, dan tidak menganggapmu sebagai kekasih! Aku dan kamu kan hanya berteman! Tapi, kamu jangan rakus begitu!"

"Kurang ajar kau, Sum! Tega-teganya mengaku begitu di depan seorang pemuda yang kau anggap lebih tampan dari aku?! Tega-teganya kau, hah?!"

Tangan Mito berusaha meraih Sumini, tetapi Raden Klowor berusaha menghalanginya dengan berkata:

"Nanti dulu, Kang...! Sabar, Kang...! Sebaiknya kita bicarakan dengan baik-baik...!"

"Apa-apaan kau ini, hah? Mau merebut istri orang, ya? Jahanam, hiiiat...!"

"Ceprot...!"

"Uuuhhhh...!" Raden Klowor menutup mulutnya dengan kedua tangan. Oh, bibir yang belum kering dari luka sudah mendapat santapan sekali lagi berupa tonjokan keras. Tentu saja pekikannya mulai terlontar tanda kesakitan. Kesal sekali hatinya, karena lagi-lagi ia kena hajar tanpa bisa melawan.

"Kuhancurkan mukamu kalau kau masih menghalang-halangi niatku mengambil istri sendiri, huaaitt...!"

"Huuugh...!"

Mata Klowor mendelik, membungkuk, karena perutnya ditendang dengan ujung telapak kaki. Kena pada hulu hati. Nafas Klowor tersedak, mampet. Ia meringis dengan menahan nafas. Sementara itu, Sumini masih berlindung di balik tubuh Raden Klowor. Berusaha memegangi kaki Raden Klowor agar tubuhnya tidak mudah ditarik oleh Mito.

"Setan kau, Mito...! Kejam kau...!" teriak Sumini setelah Mito memukul wajah Raden Klowor dengan kepalan tangan kanannya, dan membuat darah mengucur dari hidung Raden Klowor. Pada saat itu, sebenarnya Klowor sudah hendak memberikan pukulan balasan. Tetapi, ia menahan diri. Buru-buru menggenggam tangan kuatkuat untuk tidak melakukan serang balik kepada Mito. Oooh... perihnya hati orang jika harus bersabar.

"Ampun, Kang...! Ampuuun...!" teriak Raden Klowor bagai tanpa daya lagi ketika tangannya dipelintir oleh Mito.

"Sudah pantas tanganmu menjadi patah karena kau mencoba melindungi Sumini! Dia istriku, dan aku berhak melakukan apa saja! Mengapa kamu melarangnya, hah? Mengapa kamu menghalangiku, hah?!"

"Aaaauuuh...!" jerit Mito sama kerasnya dengan jeritan Raden Klowor, Sumini tidak tega, dan dengan berani, nekad, ia memungut batu dan menghantamkannya ke telapak kaki Mito sampai berdarah.

Mata kaki Mito bengkak mendadak, biru. Tapi di bagian dekat mata kaki itu sudah berdarah karena ditumbuk batu sekuat tenaga. Untuk menghindari perbuatan Sumini yang semakin seperti kesetanan itu, Mito menendang wajah Sumini sambil mengaduh-aduh, dan berjingkat-jingkat satu kaki, menjauhi Raden Klowor.

"Bangsat kau...! Bangsat, bangsat, bangsaaat...!" Mito berteriak-teriak sendiri sambil memegangi kakinya yang kanan. Ia duduk dan meringis-ringis sampai kepalanya terdongak-dongak.

"Pukul dia!" kata Sumini kepada Klowor. "Pukul, lekas! Mumpung dia tidak siap...! Ayo, pukul...!" Raden Klowor hanya diam, masih menyeringai sedikit menahan sisa sakit. Matanya hanya menatap Mito yang mengaduh-aduh sambil memegangi kakinya.

"Ayo, pukul dia...! Masa' kamu takut?! Oh, tolonglah aku, hajarlah dia supaya tidak berani menggangguku lagi!"

Dengan sabar Raden Klowor berkata kepada Sumini yang telah berdiri di belakangnya:

"Tak baik seorang istri menyuruh orang lain memukul suaminya."

"Dia bukan suamiku! Kau dikelabuhi olehnya! Dia tetanggaku, yang sudah sering merusak kegadisan teman-temanku, dan kali ini akulah yang akan dijadikan sasarannya...!"

Mito berpaling, lalu dengan cepat ia meraih batu dan melemparkannya kepada Raden Klowor.

"Mampus saja kau, Bajingan...!" "Weees...!"

Batu sebesar genggaman tangan dilemparkan. Gerakan batu yang cepat nyata-nyata terarah ke mata Raden Klowor. Dengan gerakan naluri yang ada, Raden Klowor segera miringkan kepala. Menghindar.

"Pletak...!"

"Aaaauuuwww...!"

Sumini berteriak seru. Menjerit. Batu itu lolos dari kepala Raden Klowor, tapi mengenai kening Sumini. Akibatnya, kening itu berdarah dan Sumini jatuh. Menjerit-jerit dengan wajah penuh lumuran darah. Raden Klowor panik, mulai naik amarahnya kepada Mito. Ia menggeram dan nyaris mencaci maki Mito. Tetapi, ia buru-buru sadar, bahwa ia harus menjadi orang sabar yang mampu meredakan kemarahan hatinya. Sebab itu, ia harus berkata dalam keadaan panik:

"Mito, Sumini berdarah...! Kau yang melukainya! Lihat! Lihatlah sendiri...!" Sumini menangis meraung-raung. Semakin panik saja Raden Klowor melihat hal itu. Pikirannya menjadi bercabang dan kusut, antara ingin menolong Sumini, dan menahan kemarahan kepada Mito. Tetapi, ia pun harus memikirkan bagaimana baiknya menghadapi Mito. Ah, kasihan Sumini. Ia orang tanpa daya. Lemah. Dikejar-kejar Mito dan diperlakukan dengan seenaknya sendiri. Kasihan. Seharusnya Raden Klowor memberi pertolongan. Ah, bingung. Kalau saja tidak sedang menjalankan semadi sabar, puasa sabar, sudah tentu dari tadi mata Mito telah membeliak sekarat karena serangan jurus Raden Klowor.

"Mito, tolong hentikan kekejianmu," kata Raden Klowor. "Kasihan Sumini. Lihatlah sendiri... aku sudah melihatnya, sekarang gantian kau yang melihatnya. Kasihan apa tidak kalau dia menjadi berlumur darah begini? Dilempar memakai batu itu sakit, Mito. Apalagi sampai bocor begini, pasti sakit. Kalau kau tak percaya, cobalah kepalamu kau lempar batu sendiri sampai bocor "

"Sebaiknya kepalamu saja yang kulempar!"

"Eh, jangan! Aku sudah sering kena lempar ! Sudah

hapal rasanya...! Jangan lempar aku," Raden Klowor menggunakan aji kesabaran yang benar-benar diusahakan mati-matian. Dan Sumini masih meraung-raung sambil mencaci maki Mito dengan kata-kata kotor.

"Dasar bajingan...! Buaya...! Buaya rakus! Maliing !"

Mito bergerak terpincang-pincang dengan emosi. "Perempuan busuk! Kurobek mulutmu!"

"Hei, hei... sabar," kata Klowor. "Jangan asal robek saja, kasihan kan? Itu mulut orang, masa' harus dirobek. Toh tidak perlu kau robek, mulut itu sudah robek sendiri...!" kata-kata kasihan yang mencerminkan kesabaran Klowor dibuat berhenti dengan tamparan tangan Mito ke mulut Klowor.

Setelah itu, Mito menendang Sumini dengan kasar. Kepala Sumini tersentak ke belakang, jeritnya makin kencang.

"Jangan...! Jangan galak begitu, ah...!" Klowor mencoba mencegah dengan kesabaran.

"Mampus saja kau, Perempuan laknat...!" "Aagghh...!"

Sumini tak bisa bernafas, karena perutnya diinjak oleh Mito. Raden Klowor serba salah. Ia menggeret tangan Mito dengan menahan kemarahan:

"Sudahlah... dia kan seorang perempuan yang "

"Babi panggang kau, hiiih !"

Telapak tangan Mito menghentak ke pipi Klowor, maka jatuhlah Raden Klowor terguling-guling. Kepalanya membentur batu dan,

"Aaaoohh !"

Ia menjerit menggelepar-gelepar. Ia bergegas untuk bangun, tapi kepalanya bagai berputar dengan cepat. Pandangan matanya sedikit kabur, namun ia masih sempat melihat apa yang dilakukan Mito kepada Sumini. Rupanya itulah sifat kebinatangan Mito yang sesungguhnya. Raden Klowor sempat dibuat semakin gugup.

Dengan kasar dan seperti manusia binatang, Mito merobek-robek kain yang dikenakan Sumini. Lalu ia berusaha menahan gerakan tangan Sumini yang hendak mencakarnya berulang kali itu. Sebuah pukulan dihantamkan ke wajah Sumini yang sudah berlumur darah. Sumini akhirnya mengerang bagai orang di ambang ajal. Ia lemas, tangisnya memanjang dengan suara serak. Sementara itu, Mito melaksanakan niatnya memperkosa Sumini dengan lahap.

"Astagaaaa...! Jangan, Mito...! Jangan! Jangan di depanku, eh... jangan berbuat seperti itu...! Ya, ampuuun... benar-benar kelewatan kau, Mito "

Raden Klowor berusaha untuk melangkah mendekati Mito, ia ingin melarang Mito dengan cara baik-baik agar tidak melakukan perbuatan terkutuk itu. Tetapi, berulangkali melangkah, ia selalu jatuh. Melangkah lagi, jatuh lagi. Ia sempoyongan dengan memegangi kepalanya yang benjol terbentur batu.

"Mito...! Sadarlah...! Dia perempuan lemah, jangan kau paksa dengan.... Auuuh...!" Raden Klowor jatuh kembali, dan kali ini betisnya tertusuk duri yang ada pada sebuah ranting kering. Ia meringis dan mencabut duri itu. Lalu, berusaha untuk bangkit, mendekati Mito. Ia akan menarik tubuh Mito, sebab hatinya sangat kasihan melihat Sumini terengah-engah disekap tangis yang menyayat hati.

Karena ia bangkit dan jatuh lagi. Akhirnya ia merangkak mendekati Mito yang masih rakus memperlakukan Sumini dengan tanpa rasa kemanusiaan lagi. Sayangnya, begitu Raden Klowor dekat dengan Mito, kaki Mito menyepaknya kuat-kuat dan Raden Klowor menggelinding lagi karena tanah di situ masih dalam kemiringan tertentu.

"Ya, ampuuun...! Manusia macam apa kau sebenarnya, Mito. Baru saja mendekat sudah ditendang lagi," kata Raden Klowor semakin kebingungan. Ia sudah menggenggam batu. Ia yakin, sekali lempar pasti akan mengenai kepala Mito dan bisa membuat Mito kelenger. Tetapi, ingat dirinya harus bisa bersikap sabar, sesabarsabarnya, maka batu itu pun segera dibuang. Klowor lemas. Lunglai dalam keadaan terduduk di tanah. Matanya memandang sayu pada segala yang dilakukan Mito terhadap Sumini. Sampai-sampai, akhirnya Klowor berpaling dan menahan kesedihan sendiri di dalam hati. Ia punya kuasa untuk menumpas kebejatan moral seperti itu, tapi ia tidak bisa melakukannya untuk saat ini.

Sumini tergeletak. Berlumur darah dan kekotoran aib. Sambil terpincang-pincang, Mito berlalu begitu saja setelah puas menikmati madu kebahagiaan yang ada pada Sumini. Ia hanya melirik sinis kepada Raden Klowor yang lututnya terasa lemas, kemudian melangkah pergi dengan bangga. Ia merasa berdiri sebagai pihak yang menang. Raden Klowor tak mau memandangnya, sebab jika ia memandang Mito, maka akan timbul kebencian dan kemarahan yang meluap-luap terhadap lelaki brewok itu.

Hari semakin sore. Remang-remang.

Suara tangis yang merintih lirih masih terdengar menyayat hati. Itu pasti suara Sumini. Sumini yang merasa tercampakkan. Ternoda, dan mungkin tidak lagi mempunyai hari tuanya lagi. Ia bagai sehelai daun kering, yang diremas tanpa ada belas kasihan lagi. Ia meratap, dan meratap menembus keheningan sore.

Pelan-pelan, Raden Klowor mendekati dengan hati penuh keharuan. Sumini makin menyembunyikan wajah ke samping.

"Maafkan aku...!" ucap Klowor pelan sekali, seakan merasa sebagai orang yang bersalah. Sekali lagi ia menghela nafas, menggenggam kuat-kuat rambut yang ada di sampingnya. Dendam dan kemarahannya tertahan berat sekali.

"Sebenarnya... aku bisa melakukan! Aku bisa!"

"Kau binatang!" geram Sumini dengan tangis yang makin meratap kembali.

"Terima kasih...! Mungkin aku memang binatang di matamu, tapi... semua ini kulakukan karena... karena ada sesuatu yang membuatku harus tetap diam. Aku harus bersabar...!"

"Kau pengecut!"

"Memang, mungkin benar. Aku pengecut. Tapi kurasa hanya untuk kali ini saja."

"Kau banci...!" "Kurasa tidak. Buktinya aku sempat menelan liur ketika Mito melahap mu, dan aku... hanya melahap rumput kering. Ah, semua ini... semua ini " Raden Klowor

tak sempat lagi merangkai kata. Serba bingung dan malu pada diri sendiri. Benci pada diri sendiri. Marah pada dirinya juga. Lalu, ia menghirup udara panjangpanjang, dan menyimpannya di dalam dada, sebagai penangkal luapan kemarahan pada diri sendiri.

"Hei, mau ke mana kau ?!"

Dengan sempoyongan, Sumini bangkit, lalu berjalan ke arah puncak bukit. Memang bukit itu tidak terlalu tinggi. Gampang di daki. Tetapi untuk jiwa yang goyah dan badan yang penuh luka seperti Sumini, sungguh berbahaya jika ia berjalan mendaki. Kalau tergelincir, cukup ngeri juga. Paling tidak akan patah tulang.

"Sumini, sekali lagi aku mohon maaf, atas. !"

"Diam di situ! Jangan ikuti aku! Kita memang tidak saling mengenal!"

Sumini merasa disepelekan. Kecewa sekali. Harapannya akan tertolong oleh Raden Klowor yang menurutnya sejajar dan seimbang dengan Mito, namun ia justru dijadikan tontonan belaka. Sakit hati Sumini melebihi ditumbuk dengan alu berduri. Ia benci kepada Mito, namun juga benci kepada Raden Klowor.

"Sumini, apa yang ingin kau lakukan di situ?!" Sumini tidak banyak bicara. Ia mengisak dalam tan-

gisnya. Ia berdiri di tepi jurang. Paling pucuk dari bukit itu. Ia siap melompat ke bawah. Sedangkan di bawah sana, terdapat banyak batu yang mampu meremukkan kepala manusia yang melompat dari ketinggian bukit.

"Sumini ?!" Raden Klowor tegang dan kebingungan.

"Pergilah. Teruskan perjalananmu, Pengecut !"

"Aku... aku Oh, apa yang ingin kau lakukan?!"

"Mengakhiri hidup. Aku sudah ternoda. Kebanggaan ku, mahkota hidupku sebagai gadis desa, hilang sudah. Hancur! Dan aku ingin menyempurnakan kehancuran ini...!" Ia mengisak sedih.

"Jangan, Sumini. Jangan picik. Masih ada hari tanpa embun. Masih ada embun tanpa pagi. Buktinya kalau kita memasak air, akan mendapat embun di balik tutup pancinya."

Sumini tidak mau tahu semua kata-kata Raden Klowor. Ia memandang ke bawah, siap melompat dengan jatuh kepala lebih dulu membentur batu.

"Sumini, ingat... kau masih punya setumpuk ke... hei, Suminiiii...!"

"Wesss...!"

Sumini terjun ke jurang, kepalanya menukik ke bawah. Raden Klowor berteriak penuh ledakan emosi. Dan, ia memejamkan mata ketika tubuh Sumini terhempas bagai pelepah pisang yang dibuang begitu saja dari atas bukit.

*

* *

3

Sabar, bukan lagi suatu senjata yang berat dijunjung, namun juga merupakan senjata yang sulit digunakan. Dalam masa menjalankan puasa sabar itu, Raden Klowor yang bertubuh kurus mulai menyadari apa makna bersabar diri. Bahwa sesungguhnya, musuh terbesar manusia bukan dari orang lain, tetapi dari dalam dirinya sendiri. Betapa beratnya Raden Klowor melawan nafsunya sendiri, meredam kemarahannya sendiri, yang terasa lebih mudah menundukkan tokoh sakti dari mana pun. Jangankan melawannya, menghindari gejolaknya nafsu amarah, sungguh merupakan pekerjaan yang berat, barangkali tidak semudah memindahkan gunung dari tengah pulau ke tepian laut.

Bukan hanya Sumini saja yang menjadi cambuk kesabaran Raden Klowor, bukan hanya Demang Gangsir saja yang menempa pengendalian diri Raden Klowor, melainkan banyak lagi peristiwa yang harus dilalui dengan segumpal kesabaran. Dari hari ke hari, Raden Klowor hanya mampu menghela nafas atau menahan nafas, demi menjaga kebrutalan amarahnya.

Sama halnya ketika ia melewati suatu tanah lapang, tempat beberapa anak yang sedang berlatih silat di bawah asuhan seorang guru. Di situ Raden Klowor berhenti untuk sekedar beristirahat dari perjalanannya yang panjang. Ada sekitar delapan anak usia di bawah sepuluh tahun, sedang menirukan jurus-jurus yang diajarkan oleh salah seorang guru berpakaian serba putih. Raden Klowor menyaksikan latihan itu dengan tersenyum senang. Ia merasa menemukan beberapa jurus yang indah dipandang mata.

"Cantik sekali jurus-jurus itu. Pantas kalau diajarkan kepada anak-anak...!" pikir Raden Klowor sambil duduk di bawah sebuah pohon.

Tetapi, senyum kagum dari Raden Klowor itu diartikan lain oleh mereka yang berlatih silat.

"Guru, ada orang menertawakan jurus-jurus kita...!" kata salah seorang anak.

Temannya menyahut:

"Wah, pasti dia menyepelekan jurus-jurus yang sedang kita latih ini."

Yang satunya menyahut:

"Sombong sekali dia. Ayo, kita coba kekuatannya!" "Ayooooo...!"

Anak-anak itu berlarian menyerang Raden Klowor. Guru mereka yang sudah tua berteriak-teriak sampai nafasnya ngos-ngosan. Maksudnya ingin melarang murid-murid kecilnya bertindak gegabah. Tetapi, tak satu pun murid yang mau menghiraukan larangan guru.

"Hei, kamu sudah jagoan, ya? Kamu menyangka jurus-jurus kami ini murahan, sehingga pantas ditertawakan, ya?!" kata salah seorang kepada Raden Klowor. Lantang dan tengil sekali anak itu.

"O, aku tidak menertawakan jurus kalian, tapi...!" "Alaaah... jangan banyak alasan! Katakan saja kalau

kamu menghina kami. Hei, teman-teman... mari kita beri pelajaran kepada orang ini, biar kapok!"

"Ayooo...!"

Salah seorang melompat menendang perut Raden Klowor. Memang tidak begitu sakit tendangan itu, tapi membuat Raden Klowor kebingungan dikeroyok delapan anak. Ada yang memukul punggungnya, ada yang menendang kakinya, ada pula yang menggunakan kayu untuk memukul tulang kakinya.

"Hei, hei... sabar! Aku tidak menghina kalian, Adikadik. Aku justru...!"

"Plook...!"

"Busyet...!"

Ada pukulan yang sempat menghantam pipi Raden Klowor. Kalau dilayani, bisa celaka sekali Raden Klowor. Dan lagi, tak pantas ia marah kepada anak-anak itu, sekalipun kedongkolan hati meletup-letup.

Untuk menghindarinya, hanya ada satu jalan. Lari! Dengan langkah lebar Raden Klowor berlari cepat, te-

tapi anak-anak justru mengejarnya sambil berteriak: "Tangkap...! Tangkap...! Maliiing...! Maliiiing...!"

Akibatnya Raden Klowor menjadi pusat perhatian masyarakat, bahkan ada yang ikut mengepungnya, karena ia disangka benar-benar pencuri.

"Bukan. Aku bukan pencuri. Aku bukan maling...!" "Plak... plok...!"

"Aduh, jangan begitu ah...! Aku bukan maling. Sumpah. Anak-anak itu yang "

Anak-anak segera mengeroyok Raden Klowor. Pukulan dan tendangan mereka berebutan.

"Plak, plook... beeet...! Bug... buug...! Wess, plak !"

Hujan pukulan dan tendangan membuat Raden Klowor tersungkur di bawah sebuah pohon. Ia menutupi wajahnya dengan kedua lengan yang dirapatkan ke batang pohon, supaya tidak banyak terkena pukulan.

"Puih...! Cuiih !"

Eh, pakai diludahi segala. Aduuuh menyakitkan

hati sekali. Kalau Raden Klowor mau, dengan sekali gebrak, mungkin tiga atau empat anak akan sekarat seketika. Tetapi, sekali lagi, demi kesabaran, Raden Klowor hanya mengaduh-aduh dan meminta tolong kepada siapa pun.

"Hei, ada apa ini?!" bentak seorang lelaki bertubuh agak pendek dengan kulitnya yang hitam dan rambut putih samar-samar. Anak-anak yang mengeroyok Raden Klowor berhenti, mundur beberapa langkah kendati salah seorang anak berkata:

"Dia menghina jurus-jurus yang kami latih, Ki."

Seorang lelaki berpakaian putih, guru mereka, juga segera menyusul dan menampar salah seorang anak.

"Plak !"

"Sekali lagi kau menghasut teman-temanmu untuk bertindak bodoh seperti ini, ku hukum sendiri kau sampai mampus!"

"Tapi, guru... dia menghina "

"Dia tidak menghina! Dia mengagumi jurus-jurus kita!" bentak guru mereka. "Ayo, kembali ke tempat !

Kembali ke sana semua! Lekas. !"

Raden Klowor terengah-engah dengan beberapa luka memar dan lecet-lecet. Setelah guru anak-anak itu meminta maaf, dan Raden Klowor melayaninya dengan senyum ramah di sela kesakitan, maka ia pun ditinggalkan oleh anak-anak itu. Sementara, seorang lelaki pendek, tapi bukan cebol, berkulit hitam dan uban tipis, masih memperhatikan Raden Klowor dengan iba. Di tubuh Raden Klowor banyak sekali luka dan bekas memar. Jelas bukan akibat pukulan dari anak-anak, melainkan karena akibat pukulan orang dewasa yang terjadi beberapa hari yang lalu.

"Apakah kau tidak bisa melawan anak-anak itu?" tanya lelaki beruban tipis.

"Bisa, Ki...!" jawab Raden Klowor karena tadi mendengar anak kecil itu memanggil orang tersebut dengan sebutan: Ki.

"Kenapa kau tidak melawan sama sekali? Kenapa hanya diam saja...?"

"Saya... saya... uuuh...!" Raden Klowor belum selesai menjelaskan, ia sudah menyeringai karena lehernya terasa sakit bila untuk berpaling.

"Kau banyak menyimpan luka," kata lelaki beruban tipis. "Kau habis dikeroyok orang, selain anak-anak tadi?"

"Ya. Saya habis dikeroyok banyak orang, dari tempat yang satu dan tempat yang lain. Beda masalah, beda pula pengeroyoknya."

"Hemm... kau pencuri?"

"O, bukan! Sumpah! Saya bukan pencuri. Mereka hanya salah paham saja, dan ada pula yang sengaja memanfaatkan saya untuk pukul-pukulan, karena mereka tahu saya tidak melawan atau membalas mereka."

"Kenapa hal itu kau lakukan?"

"Saya...." Klowor agak malu mengatakannya. "Saya, terus terang saja, ya Ki Saya ini sedang menjalankan

tapa, atau semadi."

"Semadi?!" Orang itu berkerut dahi. "Semadi apa?

Tapa apa?"

"Tapa sabar, Ki. Jadi, selama 40 hari saya harus bisa menahan kesabaran dari segala sesuatu yang memacu di hati saya. Kemarahan, itu yang utama harus ditahan."

"Hemmm...." Orang beruban tipis itu manggutmanggut.

"Ayo, mampir ke rumahku. Ada obat untuk luluran tubuhmu, biar tidak terlalu merasa kesakitan...!"

Baik sekali orang beruban putih tipis itu. Biar belum saling kenal, tetapi sikap ramah dan niat untuk menolong sudah ada pada diri orang tersebut. Raden Klowor diberi semacam bedak dingin yang dilulurkan pada sekujur tubuhnya. Entah ada tujuan lain apa yang tersembunyi dari kebaikannya itu, yang jelas Klowor hanya melihat niat baik lelaki berkulit sedikit hitam itu.

"Agaknya, di sini memang tempat pengobatan ya, Ki?" tanya Raden Klowor sambil dibalur semacam bedak pada kakinya.

"Tempat khusus pengobatan, sebenarnya bukan. Aku hanya seorang petani biasa yang hidup sendirian di rumah ini. Aku punya pengetahuan pengobatan, dan aku kembangkan untuk membantu mereka yang sakit, untuk menolong mereka yang tak mampu membayar ongkos pergi ke dukun."

"Gratis, Ki?"

"Ya. Gratis. Tidak membayar."

"Enak amat mereka. Apa Aki sendiri tidak membutuhkan uang untuk hidup sehari-harinya?"

"Kebetulan, selama aku banyak memberi pertolongan kepada siapa saja, hasil panen sawahku yang hanya sepetak itu, tak pernah dimakan hama. Mungkin di situlah aku mengenyam hasil kebaikanku. Mungkin itulah yang dinamakan panen budi baikku selama ini."

"Jadi, menanam kebaikan itu tidak harus menerima upahnya berupa kebaikan dari orang lain, begitu maksudnya, Ki?" "Ya. Hasil dari kebaikan yang kita lakukan terhadap sesama manusia, bahkan sesama mahluk hidup lainnya, adalah hidup yang aman dan tentram. Tak akan ada rasa kekurangan, karena setiap ada kekurangan kita akan beranggapan; belum masa panen. Sebentar lagi pasti ada masa panen tersendiri untuk kita pribadi."

Enak sekali Raden Klowor dilulur dengan bedak obat sambil diajak bicara panjang lebar tentang hidup dan kehidupan. Selesai dilulur, Raden Klowor disuguhi minum dan makanan ubi rebus. Kebetulan perut lapar. Ubi rebus pun disikat habis oleh Klowor, sampai pemiliknya tersenyum geli.

"Maaf, habis, Ki   "

"Tidak apa-apa. Menghabiskan suguhan juga suatu kebaikan tersendiri yang jarang disadari manusia."

Kalau saja Raden Klowor tidak harus segera sampai ke desa Punding, sudah tentu ia ingin menginap di rumah orang beruban tipis itu. Sayang, sekali, sekarang yang bisa dilakukan hanya beristirahat sebentar di rumah yang tak begitu besar, namun cukup rapi.

"O, ya... dari tadi aku belum tahu siapa namamu, Nak?"

"Namaku Raden Klowor, Ki."

"Ooo Masih keturunan darah biru, ya?"

"Wah, entah itu, Ki. Yang saya tahu, darahku juga merah, seperti orang-orang lainnya," jawab Raden Klowor.

"Maksudku, masih keturunan ningrat?" "Mungkin juga ya, Ki."

"Lantas, ke mana tujuanmu sebenarnya, Raden Klowor?"

"Saya mau pergi ke Desa Punding." "Lho, ini Desa Punding."

"Hah ?!" Raden Klowor membelalak. "Jadi, sekarang

ini aku sudah sampai di Desa Punding, Ki?" "Iya. Benar! Dan... ada urusan apa kau ke desa ini? Maaf, aku bukan ingin turut campur, tapi siapa tahu aku bisa membantumu, Raden Klowor."

"Urusan soal cambuk, Ki."

"Cambuk? Ooh... kau pedagang cambuk? Atau... pengrajin cambuk untuk dijual?"

"Bukan," jawab Raden Klowor seraya mencomot ubi rebus yang sudah kedua kalinya dihidangkan oleh tuan rumah.

"Cambukku ini...." kata Klowor. "Bukan cambuk sembarangan, melainkan cambuk pusaka."

"Cambuk pusaka?! Wah, hebat juga kau diam-diam, punya urusan tentang pusaka, ya? Pusaka milikmu sendiri, maksudnya?"

"Hemm... bagaimana, ya? Cambuk itu bisa dikatakan milikku, tapi bukan juga milikku. Sebab.... Begini, Ki. Aku diberi sebuah cambuk oleh orang sakti, tetapi saat ini ada yang harus kulakukan agar cambuk itu benarbenar resmi jadi milikku."

"Wah, beruntung sekali kau. Cambuk apa namanya?"

"Pusaka... Cambuk Naga...." suara Klowor berbisik, namun justru mengagetkan orang yang diajak bicara. Orang beruban tipis itu menatap Raden Klowor tidak berkedip. Sampai lama.

"Kau,., kau main-main, ya?"

"O, tidak, Ki. Aku sungguh-sungguh diberi pusaka yang bernama Cambuk Naga, dan "

"Siapa yang memberimu?"

"Secara langsung, orang perempuan yang bernama Putri Ayu Sekar Pamikat yang memberiku. Dan, cambuk itu ada di tangan Pendekar Pusar Bumi, Lanangseta "

Orang beruban tipis itu terbengong tanpa kedip sekali pun. Raden Klowor jadi ngeri dipandang demikian. "Kenapa, Ki? Apakah aku... kurang sopan bicaranya?"

"Kau... kau menyebukan Putri Ayu Sekar Pamikat.

Sebenarnya, siapa dirimu itu?"

Raden Klowor bingung. Ia mengatakan:

"Aku... aku ya, Raden Klowor, seperti yang kukatakan tadi. Dan, aku akan diberi hak memegang Cambuk Naga, kalau aku sudah memohon doa restu, istilahnya, meminta izin kepada pemegang cambuk yang kedua, yaitu Paman Ludiro. Dan katanya, Paman Ludiro ada di Desa Punding ini."

Lama sekali orang itu bagai terkesima oleh penuturan Raden Klowor. Ia sangat mencurigakan Raden Klowor, dan merasa aneh dipandang demikian.

"Kenapa memandangku begitu, Ki? Ada apa sebenarnya?"

"Akulah Ludiro "

"Hah...?!" Raden Klowor memekik, ubinya yang hendak disuapkan ke mulut terloncat jatuh. Raden Klowor membiarkan. Ia masih sibuk beradu tatapan mata dengan orang yang mengaku sebagai Ludiro.

"Lanangseta bergelar Malaikat Pedang Sakti. Dialah yang berhak merawat cambuk itu. Aku tidak mau menyandang gelar pendekar lagi. Aku sudah hampir tua. Usiaku di ambang senja. Aku ingin menjadi petani biasa yang tidak sibuk memerangi keangkara-murkaan. Hanya pedang Jalak Pati dari Putri Ayu Sekar Pamikat yang masih kusimpan sebagai kenang-kenangan. Sedangkan Cambuk Naga itu kuserahkan pada Lanang. Cambuk itu, mungkin memang harus ada pemegangnya yang akan menyandang gelar: Pendekar Cambuk Naga. Dan... aku tak tahu, kalau hal itu ada pada dirimu, Klowor."

Sangat di luar dugaan perjumpaan itu. Tetapi, amat menggembirakan hati Raden Klowor. Rasa-rasanya ia telah menjadi pemilik tetap cambuk tersebut, tanpa ada rasa bersalah kepada siapa pun.

"Paman Ludiro.... Apakah Paman tidak menyangsikan pengakuan saya sedikit pun?"

Ludiro yang beruban tipis itu menggeleng.

"Aku percaya, kau pernah bertemu dengan Putri Ayu Sekar Pamikat, yang kini menjadi orang suci di Goa Malaikat."

"Mengapa Paman percaya begitu saja? Mengapa saya tidak diselidiki dulu kebenaran pengakuan saya itu?"

"Semadi Sabar yang kau jalankan itu, sudah pasti atas perintah Putri Ayu Sekar Pamikat, yang dulu dikenal sebagai Dewi Cambuk Naga."

"Ya. Kok Paman bisa tahu kalau perintah Semadi Sabar itu turun dari Putri Ayu Sekar Pamikat?"

"Aku adalah pengawal beliau. Aku pernah mendampingi Sekar Pamikat dalam menjalankan Tapa Sabar, atau Semadi Sabar. Tetapi... dia gagal. Baru yang kedua kalinya berhasil, dan... tahukah kau, mengapa kau harus melakukan Semadi Sabar?"

"Kalau tidak salah, untuk mendapatkan jurus Naga Linglung. Benarkah begitu, Paman?"

"Benar. Kau benar. Dan, jurus itu tidak bisa diberikan begitu saja. Selain harus dijalankan oleh pemegang Cambuk Naga. Dan... eh, kau tahu, apa kehebatan jurus Naga Linglung?"

"Belum, Paman? Bahkan saya belum bisa membayangkan, seperti apa gerakan seekor naga yang sedang linglung?"

Ludiro tersenyum tipis, kemudian berkata:

"Naga Linglung, jurus andalan Putri Ayu yang jarang digunakan. Jika seseorang sudah berhasil memperoleh jurus Naga Linglung, maka ia dapat terbang bersama cambuk itu. Ia bisa berdiri di atas cambuk, dan bahkan bisa membuat cambuk itu tegak kaku seperti tongkat dari besi."

"Wow...?! Hebat sekali kesaktian cambuk dan jurus itu?"

"Kalau tidak sakti, bukan pendekar namanya! Justru kesaktian-kesaktian itulah yang membuat dirimu berhak menyandang gelar: Pendekar Cambuk Naga."

Berbinar-binar mata Raden Klowor membayangkan kehebatan cambuk dan gelar itu. Ia amat gembira dan menjadi semakin bangga setelah Ludiro berkata:

"Mungkin tak ada pemegang cambuk lainnya yang pantas menyandang gelar Pendekar Cambuk Naga yang abadi, selain kamu. Klowor."

"Kenapa Paman sendiri tidak mau menjadi pemegang cambuk itu secara abadi?"

"Karena, duniaku sudah penuh dengan darah. Sudah banyak nyawa yang tercabut oleh tanganku ketika aku menjadi pemegang pusaka Cambuk Naga. Terus terang saja, aku sudah bosan membunuh. Aku ingin hidup tenang, syukur kalau bisa seperti Putri Ayu Sekar Pamikat. Kalau tidak bisa, yah... hidup sebagai masyarakat kecil pun sudah cukup tenang. Eh, tapi ngomongngomong Sejak kapan kau bertemu dengan Putri Ayu

Sekar Pamikat?"

"Sejak...." Raden Klowor bingung mengingat-ingat. Sebelum menjawab, sudah menyusul pertanyaan berikutnya:

"Di mana kau bertemu dengan beliau, Klowor?" "Di. di alam mimpi."

Ludiro sedikit menampakkan sikap tak puas dengan jawaban Klowor. Ia mengulangi pertanyaannya lagi:

"Di Goa Malaikat, maksudmu? Atau di mana?"

"Aku belum pernah melihat seperti apa yang namanya Goa Malaikat itu, Paman."

"Hemm...? Lalu ?"

"Yah... cuma bertemu di alam mimpi, Paman. Aku merasa bertemu dengan beliau, dilatih silat dengannya dan diserahi Cambuk Naga untuk menjadi pusaka peganganku."

"Di alam mimpi?"

"Benar. Aku sering bermimpi bertemu dengan tokohtokoh di dunia persilatan. Bahkan, sebenarnya aku ini murid dari Jaka Bego."

"Hah...?! Jaka Bego...!" Ludiro terheran-heran dan kaget.

"Jaka Bego itu dewa!" tegas Ludiro kemudian. "Memang. Dia adalah Dewa Seribu Mimpi, itu menu-

rut pengakuannya di alam impianku. Dan... dialah Pendekar Agung yang ingin kuikuti jejaknya. Aku ingin menjadi muridnya, tapi harus menjajal dulu ilmunya Lanangseta, kalau aku menang, aku akan dijadikan muridnya, tapi kalau aku kalah maka aku harus mau menjadi murid Lanangseta. Ternyata aku kalah, Paman. Tetapi, Guru Lanangseta seakan segan menerima aku sebagai muridnya."

Ludiro manggut-manggut. Matanya menerawang, bagai teringat masa-masa bersama Lanangseta, sebelum Lanangseta menikah dengan Kirana. Ah, ada kerinduan yang menyentuh hati Ludiro, tapi sebagai orang yang ingin tenang, ia harus menahan kerinduan tersebut, yaitu kerinduan bertempur membasmi kelaliman bersama Lanangseta.

Hanya saja, ada satu hal yang membuat Ludiro menjadi terheran-heran serta tak habis pikir: mimpi. Ini sungguh aneh jika Putri Ayu Sekar Pamikat menurunkan ilmunya kepada seseorang melalui mimpi. Alangkah ajaibnya.

"Apakah sampai sekarang Lanangseta tidak mau menerima kamu sebagai muridnya?"

"Masih disangsikan, Paman. Saya belum pernah mendengar sendiri Guru menyebutku sebagai murid." "Kemudian...?"

"Kemudian saya buktikan bahwa dia pun hadir dalam impian saya dan mengajarkan jurus-jurusnya lewat mimpi."

"Jadi, ada beberapa jurus Lanangseta yang sudah kau kuasai?"

"Benar, Paman." "Jurus apa saja itu?"

"Jurus Lindung Bumi, jurus Tebar Besi, dan "

"Jurus Lindung Bumi sudah kau kuasai?!" Ludiro kaget lagi bercampur heran.

"Benar, Paman. Guru Lanangseta itulah yang mengajarkan lewat mimpi, yaitu ketika ia berbicara dengan Jaka Bego."

"Wah... wah... wah "

"Kenapa, Paman?"

"Itu berarti kau sudah menjadi murid Jaka Bego, Dewa Seribu Mimpi!"

"Ah, masa begitu, Paman?"

"Iya. Sebab semua jurus, semua ilmu, kau peroleh dari mimpinya. Maksudku, dari impianmu yang diatur oleh Jaka Bego. Hanya saja, ingat-ingatlah ! Kalau kau

sudah menjadi Pendekar Cambuk Naga, kau harus sudah siap bertarung dengan siapa pun. Sebab, pemegang Cambuk Naga, adalah musuh kejahatan di mana pun berada. Jadi, siapa memegang pusaka itu, maka ia akan mempunyai banyak musuh. Kalau tak hati-hati, kau akan mati!"

"Gawat !" Klowor menggumam dalam hati.

*

* * 4

Seperti memang sudah diatur oleh garis ketentuan hidup, bahwa perjalanan Raden Klowor ke desa Punding memakan waktu 40 hari pulang pergi. Sebenarnya, kalau ditempuh jalan kaki dari Puri Bukit Bulan, tempat Lanang dan keluarganya tinggal, menuju rumah Ludiro, bisa memakan waktu 20 hari. Tetapi, agaknya perjalanan Raden Klowor itu ada kaitannya dengan Semadi Sabar-nya yang sedang dilakukan. Di dalam perjalanan itulah, Raden Klowor dicoba oleh alam, dicoba oleh kehidupan, dibenturkan kepada berbagai macam persoalan yang harus dilalui dengan kesabaran. Rupanya Raden Klowor bukan orang yang gampang menyerah. Ia tangguh. Kukuh. Tabah. Sehingga, tepat hari keempat puluh ia sampai di hadapan Lanangseta kembali, itulah hari akhir dari Semadi Sabarnya.

Tentu saja kehadiran Raden Klowor menimbulkan banyak tanda tanya dan perhatian besar bagi Lanangseta dan istrinya. Sebab, Klowor hadir dengan wajah bonyok, banyak luka dan memar di sana-sini. Ada luka yang sudah kering, ada luka baru, ada luka yang dalam proses penyembuhan.

"Apa yang terjadi selama perjalananmu, Klowor?" tanya Kirana sambil menggendong bayi lelakinya.

"Banyak sekali, Bibi. Saya disiksa oleh perjalanan.

Dan, saya tak pernah bisa melakukan pembalasan." "Kenapa?"

"Kesabaran itulah yang membuat saya seperti bola, Bibi."

"Lalu, apa kesimpulanmu?" Lanang bertanya. "Sabar itu sama dengan bonyok, Guru!"

Lanangseta dan istrinya tertawa mendengar jawaban itu. Bayi yang digendong itu tidak ikut tertawa, karena ia belum tahu mengapa manusia harus tertawa. "Klowor...." kata Lanangseta. "Sebenarnya bukan be-

gitu kesimpulan dari bersabar. Kesimpulan yang perlu kau ketahui, bahwa bersabar itu adalah sesuatu yang berat dilakukan. Untuk menjadi sabar, kita harus melewati kenyataan-kenyataan yang ada dalam kehidupan manusia. Kita harus merasakan nafsu manusia yang tercurah di hadapan kita. Dan, kita akan tahu, bahwa kesabaran itu sebenarnya kunci utama dari perdamaian. Mungkin kalau tidak berlaku sabar, akan terjadi perang terhadap orang-orang yang menghinamu, memukulmu dan yang menyepelekan kamu. Tetapi, dengan berdiri sebagai orang sabar, kau telah menghindari seribu macam permusuhan. Menghindari permusuhan, adalah awal dari menuju perdamaian."

Raden Klowor yang duduk bersila di serambi depan, seakan sedang menerima wejangan tentang sabar di dalam kehakikian hidup. Lanangseta berdiri dengan bersandar pada tiang serambi, memandang ke depan, lurus pada batas cakrawala di ujung laut. Namun, di dalam hatinya ia mengagumi tekad Raden Klowor dan keberhasilannya melakukan Semadi Sabar selama 40 hari, tidak marah, tidak melawan dan tidak membangkitkan kemarahan orang lain. Lanang sendiri merasa belum tentu sanggup melakukan hal itu.

"Guru, apakah dengan begini saya sudah berhak memiliki pusaka Cambuk Naga?" tanya Klowor.

"Bagaimana menurut Paman Ludiro?"

"Barangkali memang hanya sayalah pemegang Cambuk Naga yang abadi. Dan, dengan begitu, maka saya berhak menyandang gelar Pendekar Cambuk Naga "

"Kalau memang itu pantas untuk kamu, ambillah pusaka itu, dan perangilah kejahatan di mana pun kau berada!"

Senyum kegembiraan mekar di bibir Raden Klowor yang masih pecah-pecah dan mulai kering itu.

Tetapi ketika Raden Klowor bertanya, "Apakah saya sudah resmi menjadi murid Guru dan diakui?!"

Lanangseta hanya menggumam, kemudian menjawab pelan:

"Di sini, aku merasa tidak mempunyai murid. Tapi di dalam impianmu, mungkin kau adalah muridku, Klowor."

"Oh, terima kasih, Guru. Terima kasih...! Guru benar-benar manusia yang murah hati, mudah-mudahan panjang umur, banyak rejeki, enteng jodoh dan "

"Husy! Itu sama saja mendoakan suamiku kawin lagi, Tolol!" sahut Kirana begitu mendengar kata 'enteng jodoh' yang bagai terucap tanpa disadari. Kirana sempat bersungut-sungut dan membuat Lanangseta tertawa geli.

"Guru, apakah guru tidak ingin mengajarkan satu jurus pun kepada saya di luar mimpi?"

"Tidak! Karena di luar mimpi, aku tidak mempunyai murid. Tetapi, di dalam impianmu... entah! Aku sendiri merasa belum pernah mengimpikan wajahmu, apalagi dalam keadaan babak belur seperti ini. Pokoknya, impianmu adalah duniamu sendiri yang tidak bisa kumengerti. Hanya saja, kalau sekali waktu aku melihat kau gunakan ilmuku untuk hal yang tidak baik, maka tak ada ampun lagi bagimu, kau harus melawan aku sampai ada yang mati salah satunya! Jelas?!"

"Jelas sekali. Dan... kurasa tidak mungkin ilmu itu digunakan untuk hal-hal yang tidak benar." Lalu, dengan berbisik Klowor menyambung, "Kecuali kepepet...!"

Pendekar Pusar Bumi yang bergelar Malaikat Pedang Sakti itu, melepas kepergian Raden Klowor, yang katanya ingin menyusuri jejak kejahatan yang hendak ditumpasnya. Kirana berkata di dekat suaminya:

"Ia sangat bersemangat untuk menjadi Sang Penumpas."

"Ah, biasa! Seorang prajurit kalau pangkatnya masih Tamtama, maunya perang melulu. Tetapi, kalau sudah berpangkat Panglima Tinggi, justru berusaha menghindari peperangan. Begitu juga Klowor...!"

"Yaah... mudah-mudahan saja ia bisa berguna bagi kedamaian di muka bumi ini. Yang kukhawatirkan adalah darah mudanya. Sepatutnya kalau ia didampingi seorang guru pembimbing yang dapat meluruskan jalannya sewaktu-waktu membelok ke arah lain."

"Meskipun ia jauh dari gurunya, tapi ia selalu dekat dengan guru-gurunya. Mimpi yang aneh itulah yang akan menegurnya setiap saat...." ujar Lanang seraya menghela nafas.

Memang benar, Klowor selalu dekat dengan gurunya. Mimpi-mimpinya adalah guru yang dapat membuat ia menjadi lebih berilmu. Nyatanya, sekalipun ia tertidur siang di bawah pohon dalam istirahatnya, ia sempat bermimpi bertemu dengan Jaka Bego. Tokoh yang kurus, bloon, nyaris seperti sosok Raden Klowor itu, muncul dalam impian siang itu.

"Klowor, pergilah ke sebuah pulau yang bernama Pulau Kramat. Sekarang juga."

"Ada apa di sana, Eyang Guru?" tanya Klowor di dalam mimpinya.

"Ada apa-apa di sana! Pergilah, dan selamatkan seorang perempuan yang bernama Nyai Katri."

"Apakah dia dalam bahaya, Eyang Guru?"

"Agaknya memang begitu, Klowor. Tak ada yang mau menolongnya, kecuali kamu sendiri."

"Kenapa harus ditolong?"

"Karena dia membutuhkan bantuan. Aku tidak ingin Nyai Katri mati untuk saat-saat sekarang ini."

"Lho, kenapa Eyang Guru punya pikiran begitu? Sebetulnya ada hubungan apa Eyang Guru dengan perempuan itu?"

"Husy! Itu rahasia seorang dewa. Jangan banyak tanya, nanti kucabut hak mimpimu...!"

"Ampun, Guru. Maafkan saya."

Pada saat itu, seolah-olah Lanangseta muncul bersama Kirana dan bayinya. Aneh. Mereka jadi seakan benar-benar berada di alam bebas. Bukan impian. Padahal itu impian.

"Benar apa kata Jaka Bego, Klowor. Perempuan itu yang bernama Nyai Katri butuh pertolongan. Cuma kamu yang bisa menyelesaikan persoalannya! Pergilah ke Pulau Kramat, dan lakukan perintah ini!"

"Di mana arahnya, Guru?"

"Berjalanlah terus ke arah Selatan, temukan tebing karang, dan dari atas tebing itu kau akan tahu letak Pulau Kramat, tempat kenangan kami dulu."

"Kenangan?"

"Ya. Kenangan Eyang Gurumu, Jaka Bego ini." "Husy! Jangan bawa-bawa soal kenangan ah. Kita ini

kan ada di alam mimpi, kok jadi seperti benar-benar nyata?!"

"Maksudku, biar murid kita ini benar-benar paham, Bego!"

"Sudah, sudah...!" kata Klowor. "Sesama guru jangan saling mendahului kemarahannya. Saya akan berangkat ke sana jika sudah bangun tidur nanti, Guru...!"

Pulau Kramat memang masih asing bagi Raden Klowor. Seperti apa ujud pulau itu, Klowor tak bisa membayangkan. Yang jelas, begitu ia terbangun dari tidur siang di bawah pohon, ia langsung mencari arah Selatan. Ia berjalan ke arah itu sesuai dengan perintah para gurunya.

Malam hari, seharusnya Klowor tetap meneruskan perjalanan, sampai pada titik kantuknya. Tetapi, ia terpaksa menghentikan langkah, karena ia ingat tentang desa tersebut. Sebuah desa yang pernah dilalui ketika hendak menuju ke desa Punding, tempat Paman Ludiro. Desa itu cukup luas, sehingga dijadikan suatu Pademangan. Pademangan itu bernama Pademangan Ku-

milir.

Masih teringat jelas di benak Raden Klowor, bahwa di Pademangan itulah dia menerima siksaan dari Sumolo, Brogol, bahkan Ki Demang Gangsir sendiri. Perih sekali hati Klowor jika mengingat semena-mena mereka dalam menuduh dan menyiksanya. Tetapi, di balik kepahitan hati itu, terselip bunga Pademangan yang elok parasnya, bulat matanya dan ranum bibirnya.

Saras. Anak perempuan Demang Gangsir, menggoda ingatan dan hati Klowor. Kecantikan gadis lugu itu, membuat debaran-debaran aneh di dada Klowor, sehingga kendati sudah larut malam, namun ia masih punya niat untuk singgah di rumah Demang Gangsir.

Tetapi, ternyata ia memergoki suatu pemandangan yang memancing emosinya. Ada dua orang lelaki yang melompat dari pagar rumah Demang Gangsir. Orang itu berpakaian kuning dan merah tua. Salah satu menggotong seseorang yang meronta-ronta. Mulut orang yang meronta-ronta itu jelas dibalut kain, sehingga tak mampu berteriak apa-apa. Klowor bagai mendidih darahnya, sebab dia tahu yang digotong seorang berpakaian baju kuning dan celana hitam itu adalah: Sarasati!

Benar! Dia adalah Saras, yang sedang menyusupnyusup ke dalam bayangan benak Klowor. Melihat Saras sepertinya sedang diculik dua orang lelaki, maka Klowor pun tak bisa menahan kesabarannya lagi. Ia segera menghadang gerakan kedua orang tersebut.

"Berhenti! Turunkan perempuan itu!" gertak Klowor. "Hei, ada pemuda kacangan, yang mau unjuk gigi,

Min. Layani dia...!" geram lelaki yang menggendong Saras di pundaknya. Dengan segera, Min melancarkan pukulannya ke arah dada Klowor seraya berkata kepada temannya:

"Larilah terus, Jo. Biar kuhadapi ingusan kelas kambing ini. Hiaaat...! Hup...!"

Dua pukulan yang dilancarkan secara beruntun sempat ditangkis oleh tangan Klowor yang mengibas tepat. Kaki Klowor yang kanan maju ke samping, kemudian ia berputar seraya mengibaskan kaki kirinya.

"Wess...!"

"Buug...!"

"Nggeek...!"

Tumit kaki Raden Klowor tepat menghantam punggung tengah lawannya. Tubuh, itu melengkung ke depan dengan mulut ternganga, namun tak mampu berteriak. Ia sempoyongan sebentar, kemudian berbalik dan siap menghadapi Klowor dengan golok di tangan.

"Kugorok batang lehermu, Jahanam...! Hiaat...!" Ia mengibaskan goloknya ke arah perut Klowor. "Wuuug...!"

Klowor melompat ke belakang dengan kedua tangan terentang. Begitu kaki Klowor menginjak ke tanah, golok itu segera menyusul ditusukkan ke depan. Sasarannya dada Raden Klowor. Tetapi, pemuda kurus ini masih lincah. Ia mampu melompat ke belakang sambil bersalto. Min juga ikut melompat maju dengan senjata di atas, siap bacok.

"Hiaaaat...!"

Raden Klowor justru berguling ke tanah, dan berhenti tepat di bawah kakinya. Begitu berhenti, kaki Klowor langsung menjejak ke atas.

"Modar kau, Kunyuk! Huuh...!"

"Aaaohhh...!"

Min meringis kesakitan. Selangkangannya terkena tendangan Klowor dengan telak sekali. Ia sedikit gemetar menahan rasa sakit yang sampai ke ubun-ubun. Kesempatan itu digunakan oleh Klowor untuk melancarkan jurus Turangga Sujud, yaitu tendangan dua kaki bersamaan, dengan kedua tangan bertumpu pada tanah. Mirip tendangan kuda nungging.

"Hiaaaat...!"

"Krak...!"

Ada suara seperti batang bambu yang patah. Min meringis tak mampu berteriak. Oh, rupanya ada tulang rusuknya yang patah beberapa batang, dan kesakitan yang amat menyiksa itu disusul dengan pukulan Klowor pada iga Min yang satunya lagi.

"Haaap...!"

"Kreeek...!"

Iga itu pun patah. "Aaaahhk...!"

Min semakin kesakitan. Sedangkan Klowor tak memberi kesempatan kepada lawan untuk menikmati rasa sakit. Ia segera menyahut tangan kanan lawannya, kemudian memutarnya ke belakang tubuh lawan, dan tangan itu segera dihentakkan naik ke atas.

"Kraak...!"

"Aaahhh...!"

Makin menjerit saja mulut Min ketika kakinya gemetar lemas karena tangannya dipatahkan oleh Klowor.

Tubuh Min menggelosor di tanah akibat merasakan sakit yang tiada tara. Ia mengerang dengan nafas bagai tersekap oleh sabut kelapa. Susah keluar. Tulangtulangnya yang sudah dipatah-patahkan Raden Klowor membuat ia tak mampu berdiri dengan melakukan perlawanan lagi.

Percuma saja Klowor melayani lawannya yang ini terus menerus. Matanya memandang jauh, menyipit, menembus keremangan malam. Ia sempat melihat sosok bayangan kecil di kejauhan. Itulah orang yang dipanggil Jo, yang sedang melarikan Saras di pundaknya. Klowor harus segera menyusul sebelum kehilangan jejak. "Bleees...!"

Jurus Lindung Bumi digunakan. Tubuh Klowor amblas ke dalam tanah. Bagai cahaya kunang-kunang tubuh itu menyala di dalam tanah dan berlari cepat sehingga tak mampu dilihat oleh siapa pun. Hanya Lanangseta-lah yang mempunyai ilmu Lindung Bumi. Kalau sekarang Raden Klowor mampu melakukannya, itu karena Lanangseta yang mendidiknya lewat mimpi Klowor.

"Bruull...!"

Tubuh Klowor melompat dari kedalaman tanah yang ada di depan langkah kaki Jo. Orang berpakaian kuning itu terbelalak kaget melihat kemunculan Klowor yang bagai menjebol tanah dari kedalaman. Ia sempat terpukau sesaat. Dan, kesempatan itulah digunakan oleh Klowor untuk melayangkan tendangannya ke pinggang kanan orang itu.

"Turunkan gadis itu, hiiat...!" "Hiiigggh...!"

Jo bertahan dalam keadaan kebingungan. Tahutahu, pukulan menyamping dari Klowor diterimanya dengan pipi terbuka.

"Plook...!"

"Aaah...!"

Jo belum mau melepaskan Saras, sementara Saras sendiri semakin meronta-ronta dengan mulut tersekap kain pengikat.

"Dasar bandel...! Waktu kecil belum pernah dihajar kau, ya? Hiaat...! Mampus!"

"Uuugh...!"

Jo meringis kesakitan karena perutnya disodok dengan lutut Klowor dan dagunya dihantam kuat-kuat hingga ia terdongak ke belakang. Kedua serangan serempak itulah yang membuat Jo menggeloyor, kemudian melepaskan Saras begitu saja. Saras jatuh bagai karung beras.

"Buug...!"

Kedua kaki dan tangannya masih terikat. Ia sedikit kesakitan karena pundak kiri jatuh lebih dulu menyentuh tanah.

Panas hati Raden Klowor melihat lawannya menurunkan Saras dengan tidak sopan. Segera pukulannya dilancarkan ke dada lawannya. Tetapi, lebih dulu kaki lawan menjejak ke depan, dan mengenai perut Klowor hingga Klowor terpental. Keseimbangan tubuhnya lepas tak terjaga, dan Klowor pun jatuh terduduk.

Saat itu, Jo menggunakan kesempatan untuk mencabut goloknya dengan cepat, kemudian membacokkan ke kepala Klowor. Namun, sebelum golok menyentuh rambut Klowor, sebuah tendangan keras melayang dari kaki kanan Klowor dalam posisi merebahkan badan miring.

"Buuug...!"

Jo membeliak dan menahan rasa sakit pada perutnya. Sekali lagi tendangan gaya miring merebah menghentak di pinggul Jo dengan keras. Tumit Klowor tepat mengenai tulang pinggul, sehingga linu sekali rasanya. Hal itu membuat Jo sempoyongan dan jatuh terpelanting di sisi Saras. Karena jengkelnya tak dapat menyerang Klowor, Jo akhirnya memukul pinggang Saras dengan keras.

"Hmmm...!"

Saras berteriak kesakitan tanpa suara pekik yang sempurna, karena mulutnya dibalut kain menyumbat. Sekali lagi tangan Jo yang kekar itu menghantam perut Saras dengan geram kemarahannya,

"Mampus kau, Bebek...!"

"Huuughhm...!"

Saras mengerang sesaat, kemudian pingsan. Ini membuat Raden Klowor semakin naik pitam. Ditendangnya wajah lawannya dengan kuat-kuat. Mulut lawan menjadi sasaran telak ujung telapak kaki Klowor. "Uuff...!"

Darah menyembur dari mulut itu. Giginya ada yang copot dua biji. Jo berguling-guling, kemudian menutup mulutnya dengan salah satu tangan. Sementara itu, Klowor semakin garang. Ia melompat ke arah lawan dengan tendangan kaki yang lurus ke depan. Tetapi, pada saat itu, Jo sempat mengibaskan goloknya ke arah kaki Klowor, sehingga mau tidak mau kaki Klowor terangkat sedikit, kemudian ditariknya, tak jadi menendang.

Darah dari mulut lawan kelihatan membasah di sela keremangan petang. Cahaya bulan mengintip sedikit di sela mega. Klowor tak sabar lagi menghadapi lawan yang amat menjengkelkan ini. Segera Klowor menggunakan jurus Pukulan Kilang Baja, pemberian Lanangseta yang juga diperoleh lewat mimpinya. Pukulan itu berupa sebaris gerakan tangan menyibak udara di depannya, dari samping terentang ke belakang, seperti sayap garuda. Dadanya jadi terbuka. Enak untuk diserang. Ini memang sebuah tipuan bagi lawan yang termasuk dalam teknik pukulan Kilang Baja. Lawan jadi bernafsu untuk menyerang dada Klowor yang terbuka lebar. Tetapi pada saat lawan melayang hendak menyerang, tahu-tahu kedua tangan yang terentang ke belakang dengan lurus, dan telapak tangannya terbuka lebar itu, segera bergerak mengagetkan. Keduanya menghempas ke depan dalam keadaan masih lurus dan kaku.

"Wuuuug...!"

Angin pukulan terasa menjepit pinggang kanan kiri lawan. Nafas terhenti sejenak, karena tubuh Jo merasa dijepit oleh dua buah dinding beton di kanan kirinya. Matanya membeliak dengan dagu terangkat ke atas. Ia berusaha untuk bernafas sebisa-bisanya.

Jepitan itu cukup kuat, bagai memeras tubuh Jo. Lalu, menyemburlah ke atas dari mulut Jo sebuah cairan merah yang menjijikkan. Darah! Ya, darah itu tersembur seakan ditekan dari bagian perut samping. Muncrat seperti balon berisi air yang diremat.

Kedua tangan yang kaku ke samping depan itu segera dilipat. Lipatannya tepat di depan dada. Kemudian pergelangan tangan bergulir bagai orang menari, menjadi ke depan. Telapak tangan berjajar menghadap ke depan, dan dihentakkan dalam keadaan kedua kaki terendah rendah.

"Hiaat...!"

Bersamaan suara itu, nafas Klowor terhentak kuat, dan seperti ada hawa panas yang melesat dari kedua telapak tangan itu. Sebuah tenaga dalam meluncur, menghantam dada lawan, sehingga lawan pun tersentak ke belakang dalam keadaan dada berasap. Itulah yang dinamakan jurus Pukulan Badai Gunung. Sebuah rangkaian dari jurus pukulan Kilang Baja yang cukup dahsyat bagi keselamatan lawan.

Jo tak sempat mengerang. Suaranya bagai habis. Namun, ia masih bisa meringis, dan berusaha untuk bangkit. Kemudian dengan gerakan sisa tenaga ia mencoba melarikan diri, dan oleh Klowor tak jadi dikejar, karena ia lebih mementingkan keadaan Saras yang pingsan akibat pukulan Jo.

Klowor membiarkan lawannya melarikan diri. Ia membuka kain penutup mulut Saras dengan perasaan iba. Gadis itu masih belum sadarkan diri. Raden Klowor menepuk-nepuk pipi Saras. Maksudnya supaya Saras sadar. Tetapi, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara:

"Kau lagi yang membuat onar, Kunyuk ceking...?!" Klowor berpaling, oh... ternyata Sumolo dan Brogol. Ia mengenali kedua lelaki itu, sebab dulu ia dituduh mencuri pusaka Selendang Tirta Dewi. Sekarang ia berhadapan lagi dengan mereka berdua. Masih teringat di benak Raden Klowor, betapa sakitnya hati dan tubuhnya ketika berada dalam tuduhan dan siksaan kedua orang itu.

"Kali ini, kau tak akan mungkin bisa bebas dari tuduhan kami, Babi!" geram Brogol. "Mau kau larikan ke mana putri Ki Demang itu, hah?!"

Klowor berdiri, memandang dengan berani. Sempat terbit rasa heran di hati Brogol dan Sumolo melihat keberanian Klowor yang bertolak pinggang di depannya. Tidak seperti dulu; menunduk dan takut kepada mereka berdua.

"Rupanya dia sudah punya nyali untuk menghadapi kita, Sumolo!" kata Brogol sambil tersenyum sinis.

"Nyali tikus yang kepepet, kadang-kadang bisa menggelikan kita, ya?" timpal Sumolo seraya tertawa pelan.

Raden Klowor berkata dengan tegas, namun tidak urakan:

"Aku bermaksud menolong Saras dari tangan kedua penculik, tahu?!"

Brogol dan Sumolo tertawa lagi.

"Menolong, kata dia, Gol. Hah, lucu sekali badut kurus ini, ya?" Sumolo menertawakan Klowor.

Sejenak, Klowor melirik Saras. Ah, belum juga sadar dari pingsannya. Andai saja Saras sadar, pasti gadis itu bisa menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.

"Kuminta, kalian tidak gegabah untuk yang kedua kalinya." kata Klowor. "Kalau kalian gegabah menuduhku dan menyerangku untuk yang kedua kali, maka kalian akan berkenalan dengan aku dalam keadaan di ambang maut."

"Bukti sudah ada. Kau melarikan Putri Demang sampai di sini, apakah itu namanya salah tuduhan?!" "Bukan aku yang melarikan, tapi dua orang penculik

yang sempat ku pergoki dan kukejar di sini...!"

"Brogol, kalau mendengarkan ocehan kunyuk kurus terlalu lama, bisa muntah aku nantinya. Tangkap saja dia, dan kalau perlu patahkan tulang lehernya pelanpelan!"

"Hiaaat...!"

Brogol langsung saja menyerang Raden Klowor dengan sebuah pukulan tangan kanan yang melayang bagai sebongkah batu gunung. Genggaman itu begitu keras, besar dan hitam. Tetapi, Klowor mulai unjuk gigi. Pukulan yang melesat ke arah wajahnya itu hanya ditangkis dengan dua jari tangan kanannya.

"Taab...!"

Kedua jari Klowor mampu menahan pukulan Brogol yang keras dan cepat. Justru kini Brogol yang meringis. Genggaman tangannya bagai menghantam ujung dua batu besar, karena pukulan itu mengenai ujung dua jari Klowor. Segera Brogol mengibas-ngibaskan tangannya itu sambil menyeringai kesakitan. Klowor masih bertolak pinggang dengan tangan sebelah. Seakan siap menunggu serangan berikutnya.

Tentu saja itu membuat Sumolo kaget dan makin geram. Ia tak percaya kalau kedua jari Klowor yang kurus itu mampu membuat genggaman tangan Brogol menjadi kesakitan. Maka, dengan tanpa menunggu komentar dari Brogol, Sumolo melepaskan tendangan kaki kanannya.

"Wuuus...!"

Tendangan itu terarah ke wajah Raden Klowor. Kaki yang besar, seperti kaki kuda nil itu mampu melesat dan dihindari dengan gerak kepala dan pundak miring ke kiri. Pada saat itu, jemari Klowor menyentil mata kaki Sumolo. "Iyaaaooow...!"

Sumolo menjerit kesakitan dan terpincang-pincang. Ia memegangi kaki yang disentil Klowor. Rasanya sakiiiit... sekali, seperti habis dipukul memakai palu besi. Mata Sumolo sampai terbeliak-beliak dengan mulut menganga dan mengaduh-aduh. Jelas sentilan jemari itu bukan sekedar sentilan biasa saja, melainkan mempunyai kekuatan tenaga dalam yang berhasil disalurkan dengan sempurna.

Itulah yang dinamakan Sentilan Jari Kuda, sebuah jurus milik Jaka Bego yang seharusnya tidak perlu menyentuh tubuh lawan sudah membuat lawan kesakitan sendiri. Jurus Sentilan Jari Kuda, merupakan sebuah jurus yang secara tak langsung diberikan oleh Jaka Bego melalui mimpi Raden Klowor. Ketika itu, Raden Klowor bermimpi melihat Jaga Bego berlatih jurus Sentilan Jari Kuda. Kemudian ketika bangun tidur, Klowor mencobanya apa yang dilihat dan diketahui dalam mimpinya. Dan, ternyata tiga minggu kemudian ia berhasil menggunakan jurus tersebut dengan baik.

Tetapi, saat ini ia yakin, bahwa ia tidak sedang bermimpi. Ia benar-benar menghadapi orang-orang kasar dari Pademangan Kumilir. Brogol dan Sumolo, dua orang yang seakan menyediakan diri untuk menerima balasan dari siksaan yang diberikan kepada Raden Klowor ketika itu.

Maka, sewaktu Brogol hendak memukulnya lagi dengan geram kemarahannya, Klowor melompat dan berputar.

"Uuuooouuw...!"

Sambil memekik begitu, kaki kanannya mengibas dalam putaran dan,

"Ploook...!"

Wajah Brogol jadi sasaran kaki Klowor. Begitu kaki itu berdiri tegak lagi, pukulan kuat dihantamkan oleh Klowor ke mulut Brogol. "Ceproot...! Cuuuuur...!"

Darah keluar dari mulut orang berwajah sangar itu.

Bibirnya robek, dan itulah pembalasan!

"Maling kurap...!" geram Sumolo. Ia berusaha untuk menyerangnya dengan pukulan beruntun ke arah tubuh Klowor. Tetapi, badan Klowor segera menggeliat, meliak-liuk menghindari semua pukulan tanpa menangkis. Dan, ternyata tak ada satu pun pukulan yang tersentuh kulit tubuh Klowor, sehingga Sumolo jadi lebih penasaran.

"Sreeet...!"

Golok dicabut, dan segera dilayangkan ke wajah Klowor.

"Mampus kau, Sapi bengek...! Hiaaaaaat...!" "Wess...!"

Golok membelah udara kosong, karena Klowor melompat ke samping. Begitu melompat dan turun ke tanah, dengan cepat, seperti anak panah, jari-jemari Klowor menotok pelipis kepala Sumolo. Cukup dengan dua jari dihentakkan ke pelipis sedikit ke belakang. 

"Taab...!"

Dan, ternyata hal itu membuat sesuatu yang lain. Serangan dan pukulan yang aneh. Namanya, Jurus Totok-totok Tamu.

Tepat pada saat itu, Saras siuman dan mengibaskan kepalanya seraya merintih. Kemudian, ia memperhatikan Brogol yang hendak menyerang Klowor dari belakang, kontan Saras berteriak:

"Hentikan...! Kalian salah duga...!"

Tetapi, Sumolo yang terkena jurus aneh itu sudah tak dapat menghindar dan sudah mulai merasakan akibatnya. Ia tersenyum, ketawa pendek, kemudian mengikik sendiri sambil menjauh. Ia makin terpingkal-pingkal seraya menutup mulutnya dengan tangan, seakan menertawakan seseorang.

"Gila kau?!" geram Brogol. "Ada apa? Kenapa kau menertawakan aku? Kenapa, hah...?!"

Brogol merasa ditertawakan Sumolo, sementara itu Sumolo masih terpingkal-pingkal dengan sebentar berhenti, tersenyum, sebentar kemudian tertawa lagi. Geli. Ini membuat Raden Klowor tersenyum sendiri seraya membantu melepaskan tali pengikat tangan dan kaki Saras.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Raden Klowor...!" Agaknya Saras masih ingat siapa Klowor. Mereka pernah berkenalan dan menjalin pembicaraan yang baik.

"Maafkan kedua orangku itu, mereka memang bodoh dan maunya berkelahi terus."

"Tak apa. Aku sudah merubah salah satunya menjadi maunya tertawa terus."

"Kau apakan dia? "

"Itu jurus Totok-totok Tamu "

"Jurus yang aneh "

"Ya. Jurus itu akan membuat lawan jadi tertawa geli, teringat peristiwa-peristiwa masa lalu yang menggelikan. Jurus totokan jariku akan menyentuh otak, menggerakkan ingatan masa lalu, khususnya ingatan yang lucu-lucu, sehingga orang yang terkena totokan tersebut akan tertawa geli, membayangkan masa lalunya."

"Hebat. Ternyata kau orang yang hebat! Kenapa dulu aku tidak melihat sedikit pun kehebatanmu?"

"Aku Raden Klowor yang sekarang, bukan yang dulu "

Raden Klowor tersenyum bangga memandang Saras dalam keremangan cahaya rembulan. Sementara itu, Brogol masih kebingungan karena merasa dirinya ditertawakan oleh Sumolo tiada habisnya.

Jurus aneh itu, juga pemberian dari Jaka Bego. Sebuah mimpi membawa Raden Klowor ke suatu tempat, di mana Jaka Bego menggerak-gerakkan tangannya, memainkan jurus itu seraya berkata-kata sendiri seperti orang bego. Dari kata dan gerak yang dilihat Raden Klowor, semuanya dihapal dan dilatih di luar mimpinya. Dalam tempo sepuluh hari, ia berhasil menguasai jurus yang diberi nama jurus Totok-totok Tamu.

"Apakah dia tak bisa berhenti tertawa?!" kata Saras dengan masih berdiri di samping Klowor.

"Bisa! Tapi, biar saja dia sibuk dengan tawanya, toh tidak menyakitkan orang lain.... O, ya, bagaimana dengan Pusaka Selendang Tirta Dewi...? Apakah sudah kembali ke tangan keluargamu?"

"Belum. Lihatlah sendiri, daerah ini kalau siang jelas sekali tampak kekeringan. Kami mulai kekurangan air, baik untuk minum maupun untuk pengairan sawah. Sungai menjadi kering dan tanah tidak subur lagi. Hahh... itu gara-gara tak ada lagi yang mampu dari orang kami untuk menemukan Selendang Tirta Dewi." Saras tampak sedih. Lalu, Klowor berbisik pelan:

"Kalau aku bisa membantu menemukan pusaka itu, apa hadiahnya?"

Saras agak kaget. "Apa hadiahnya?"

"Kau minta hadiah apa? Berapa?"

"Tidak banyak. Cukup satu. Hadiahnya... kau!" Semakin kaget Saras mendengarnya, semakin malu

Klowor memandangnya. Berdebar hatinya, berharap jiwanya. Akankah disetujui?

*

*  * 5

Hanya ada satu daerah yang paling subur di daerah sebelah Selatan Gunung Sawi. Mulanya, daerah itu adalah Pademangan Kumilir. Tetapi, sejak Selendang Tirta Dewi hilang dari daerah Pademangan Kumilir, maka tempat itu menjadi gersang. Sama dengan tempattempat lainnya. Selendang Tirta Dewi dicuri. Dan, untuk mengetahui di mana pusaka itu sekarang berada, Raden Klowor mencari daerah yang paling subur dari seluruh kawasan di wilayah Selatan Gunung Sawi. Pasti di sanalah Selendang Tirta Dewi berada.

Tempat subur itu ditemukan. Namanya, Tanah Gempal. Ada suatu pemerintahan tersendiri di Tanah Gempal. Konon, mereka adalah orang-orang buangan dari Kediri. Para pemberontak, penjahat, dan pengkhianat dibuang ke Tanah Gempal. Letaknya, tepat di lembah kaki Gunung Sawi yang terkenal tandus dan berongga seperti jurang. Sebab itu, disana juga ada daerah bernama Jurang Gempal.

Sebuah pemerintahan, lengkap dengan masyarakatnya yang sudah bukan lagi merasa sebagai orang-orang buangan itu, dipimpin oleh seorang warok yang bergelar Ki Warok Wali Kukun. Sebuah gelar yang cukup aneh bagi masyarakat di masa itu. Tetapi, semua orang tunduk kepadanya. Semua penduduk Tanah Gempal menghormat kepadanya. Takut. Sebab dulu ia adalah gembong perampok tak kenal kasih. Cita-citanya adalah menyusun kekuatan, mendirikan suatu kerajaan, untuk menyerang balik keturunan raja Kediri.

Raden Klowor sengaja nongkrong di sebuah kedai. Banyak orang memperhatikan dia, tapi Klowor bersikap biasa-biasa saja. Matanya dipasang, telinganya dipertajam, setiap suara orang didengarnya baik-baik. Sampaisampai, ia sempat menangkap pembicaraan dua orang yang makan di depan mejanya. Dua orang itu membicarakan soal keluarganya yang ingin pindah ke tempat lain.

"Untuk apa pindah ke sana-sana, di sini saja sudah enak."

"Istriku minta tinggal lebih dekat dengan ibunya." "Kalau begitu, lebih baik ibunya saja yang kau

boyong ke mari."

"Mana mau?! Mertuaku tahu kalau tempat ini terlalu gersang dan tidak bisa dipakai untuk bercocok tanam."

"Kasih tahu sama mertuamu, di Tanah Gempal ini sekarang sudah tidak gersang lagi. Nyatanya, sekarang air mulai melimpah, sungai-sungai mulai mengalirkan air bening. Pokoknya, Tanah Gempal dalam waktu dekat akan menjadi tempat yang subur dan makmur. Tidak ada kekurangan air seperti dulu lagi."

"Memang, aku sendiri juga berpendapat begitu. Tetapi, mertuaku mana bisa percaya. Ia mengira tanah ini subur dalam semusim saja. Lebih jauh lagi akan menjadi tanah yang gersang dan tandus kembali."

"Yah, kalau begitu, jelaskan saja bahwa penguasa kita, Ki Warok Wali Kukun telah berhasil memperdalam sebuah ilmu yang dapat mendatangkan air serta hujan."

"Ah, masa begitu, Bar?"

"Ya. Apa kamu belum tahu, bahwa Ki Warok Wali Kukun sudah berhasil semadi di Gunung Sawi, dan mendapatkan pusaka sebuah selendang? Selendang itu dulu pernah diperagakan di depan umum. Sekali disabetkan bisa membuat tanah menjadi berair, seperti keluar mata air dari tanah itu. Kalau dua kali disabetkan, mendatangkan hujan."

"Lho, jadi...? Hujan yang kemarin sore itu juga akibat selendang pusaka tersebut disabetkan dua kali, ya?"

"Iya. Coba bayangkan... apakah tidak rejo, tidak subur, jika Tanah Gempal mempunyai sumber air yang ajaib itu?!"

Jelas. Tidak sangsi lagi. Selendang Tirta Dewi dicuri oleh anak buah Ki Warok Wali Kukun. Dan, sekarang menjadi kebanggaan sekaligus sumber kehidupan masyarakat Tanah Gempal.

Inilah tugas Klowor. Tugas yang dibuatnya sendiri. Sekalipun waktu itu, Saras hanya tersenyum malu dan menundukkan kepala ketika berbicara soal hadiah, tetapi Klowor sudah dapat mengartikan, bahwa jika ia berhasil memperoleh pusaka selendang itu, maka ia pasti mendapat hadiah berupa gadis lugu bermata bulat bening, dengan rambut dikepang dua.

Sekarang hanya sebuah cara yang dipikirkan Klowor. Cara apa dan bagaimana untuk mendapatkan kembali Selendang Tirta Dewi. Sambil menikmati nasi pesanannya dan secangkir tuak ringan, Raden Klowor berpikir keras untuk mendapatkan cara menuju selendang pusaka itu. Jika ia lakukan semata-mata menyerang dan merebut, bahayanya cukup besar. Bisa jadi ia akan dikeroyok orang se-Tanah Gempal.

Ada pembicaraan yang sempat didengar lagi oleh Klowor. Sebuah pembicaraan dari seorang pemuda yang sedang merayu gadis kekasihnya di pojok kedai itu.

"Aku tidak mau pergi terlalu jauh, Kang," kata gadis itu. Sesaat, terbayang di benak Klowor, andai saja yang duduk di pojok sana adalah dirinya dengan Saras. Oh, indahnya. Sayur jengkol yang dimakannya itu terasa seperti panggang ayam hidangan istana raja.

"Lho, kamu baru diajak pergi jauh saja sudah tidak berani, bagaimana kalau diajak berumahtangga? Apa kamu akan menolaknya juga?" kata pemuda itu.

"Itu kan lain, Kang. Kalau kita sudah berumahtangga, ke mana saja aku akan kau bawa, tentu aku mau. Asal jangan kau bawa ke kuburan saja." "Memangnya, kamu tidak berani mati bersamaku?" "Bukan soal berani atau tidak. Kalau ke kuburan,

aku takut. Aku ini kan penakut, Kang. Malahan, aku sudah pesan kepada emakku, kalau aku mati, aku minta mayatku dibakar saja, jangan dikubur. Kalau dikubur, berarti aku harus berada di kuburan terusmenerus, dan... mayatku tentu akan takut sama kuburan "

"Baik. Baiklah.,..! Tapi, sekarang aku tidak berminat bicara soal kuburan. Aku hanya ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat. Tidak sampai malam. Sore hari kita sudah pulang ke rumah. Percayalah."

"Memangnya, mau ke mana kita ini, Kang?" "Ke. ke Lembah Batu."

"Batu apa ada lembahnya, Kang?" "Lembah Batu itu nama tempat, tolol!" Gadis itu tertawa manis.

"Aku cuma becanda, Kang. Aku juga tahu kalau Lembah Batu itu tempat untuk berlatih ilmu kanuragan orang-orangnya Ki Warok."

"Tapi, sekarang mereka tidak lagi berlatih di sana." "Lho, kenapa begitu?"

"Karena tempat tersebut sekarang sudah digenangi air."

"Lembah Batu itu? Ah, bukankah Lembah Batu adalah bagian dari kali mati yang berisi bebatuan saja, tanpa air?"

"Itu kan dulu! Sekarang lain. Kau pikir air sungai yang mengalir di belakang rumahmu itu bukan berasal dari Lembah Batu? Lho... bagaimana kamu ini, Kus? Masa belum tahu?"

"Aku tahu, kalau sungai itu sekarang sudah mengalirkan air bening. Tetapi, dari mana sumbernya, aku belum tahu. Dan, kurasa aku tidak perlu tahu, yang penting aku bisa menikmati kesegaran air yang berlimpah." "Sekarang bagaimana airnya? Masih melimpah?" "Hemmm... sudah agak surut itu, Kang. Aku khawa-

tir juga kalau akan menjadi surut, habis dan kering kembali."

"Nah, aku ke sana... maksudku ingin mengajak kau ke sana untuk menyaksikan upacara Pencurahan Air."

"Maksudnya bagaimana itu, Kang?"

"Di Lembah Batu, akan diadakan upacara Pencurahan Air supaya air sungai tidak menjadi susut dan habis. Di sana Ki Warok akan melakukan suatu keajaiban dengan pusakanya. Dan, kita akan dibuat terkagumkagum melihat keajaiban sebuah selendang yang dapat mendatangkan air dari bebatuan cadas. Huhh... rugi kamu kalau tidak mau nonton!"

"Wah, agaknya perlu ku tonton juga acara itu, Kang. Ingin kulihat, seperti apa selendeng (Editor: selendeng, apa artinya?) kok bisa menggali air dari celah bebatuan cadas. Yuk, kita ke sana, Kang...!"

Sebagai orang asing di Tanah Gempal, Raden Klowor tidak mungkin dapat menemukan Lembah Batu dengan cepat. Satu-satunya cara untuk mencapai ke sana dengan cepat, adalah dengan menguntit sepasang mudamudi itu. Klowor sendiri tertarik ingin melihat seperti apa acara Curah Air yang akan dilangsungkan di Lembah Batu itu. Apa yang harus dilakukan di sana? Ah, itu soal nanti saja! Bagaimana gagasan yang terlintas pada saat nanti saja.

Yang penting, Raden Klowor harus bisa menguntit kedua muda-mudi itu dengan tidak menimbulkan kecurigaan. Memang agak menyiksa diri menguntit kedua muda-mudi yang sepanjang jalan selalu berpelukan, bergandengan, malahan kalau di tempat sepi berani berciuman. Ingin rasanya Klowor melempar batu kepada mereka, karena dianggap sengaja pamer kemesraan. Hal itu memang membuat Klowor jadi ingat kepada Saras, gadis yang mendebarkan hatinya. Akibatnya, Klowor jadi ingin cepat-cepat menemui Sarasati, menyerahkan selendang pusaka, dan membawanya jalan-jalan seperti kedua muda-mudi yang seusia dengannya itu.

Setelah melalui tanjakan beberapa kali, tikungan beberapa kali, sampailah mereka ke sebuah lembah tandus. Ada tebing cadas yang menjulang tinggi, yang menurut perkiraan Klowor, itulah yang dinamakan Jurang Gempal. Tebing cadas itu memancurkan air tak begitu deras. Jika deras, maka akan menjadi seperti air terjun yang langsung memenuhi sebuah sendang di bawahnya. Sendang tersebut sebenarnya adalah bagian dari pada sungai yang paling atas.

Klowor merasa lega, ia berhasil menemukan Lembah Batu yang sudah banyak dikelilingi orang di sana sini. Mereka berada di tempat agak jauh dari tepian tebing. Mereka menunggu saat dimulai acara Curah Air dari sabetan Selendang Tirta Dewi. Mereka tidak berjajar, melainkan berkelompok-kelompok di sana-sini. Sementara itu, rombongan dari Ki Warok Wali Kukun sudah datang. Orang yang bernama Ki Warok Wali Kukun berjalan tegap. Badannya besar, tinggi. Tidak memakai baju. Celananya hitam dililit kain batik putih. Ia mengenakan sabuk dari tali sebesar jempol kakinya. Sementara ikat kepalanya bercorak batik hitam. Kumisnya tebal, matanya membelalak garang.

Di sampingnya, ada dua orang berpakaian serba hitam. Yang satu membawa peti kecil, mungkin berisi Selendang Tirta Dewi, yang satu orang lagi membawa tombak berujung garpu. Runcing, besar dan tajam. Sedangkan, di samping kanan Ki Warok, adalah dua gadis yang mencengangkan Klowor. Ia tahu persis, kapan ia bertemu dengan kedua gadis bersenjata kipas itu. Dialah yang pertama kali merasakan sakitnya tendangan kedua gadis tersebut. Itu menurut Klowor. Sebab sejak itu dia tidak pernah melihat gadis itu lagi, dan tak tahu apakah kedua gadis itu juga pernah melakukan penyiksaan terhadap seseorang yang pasrah tak melawan. Kedua gadis tersebut tak lain adalah: Aweni dan Sayung.

Geram hati Raden Klowor teringat ia dituduh mengintip kedua gadis yang sedang mandi di sebuah telaga, dulu. Rasa-rasanya, sekujur tubuh menjadi perih akibat bayangan saat kedua gadis itu seenaknya menghajar Klowor. Mungkin sekarang inilah saatnya unjuk diri, siapa Klowor. Sehela nafas dihirupnya panjang-panjang untuk menahan gejolak dendamnya. Dalam hati, Klowor bertanya-tanya:

"Mengapa Aweni dan Sayung ada di sini? Ada hubungan apa antara mereka dengan Ki Warok? Istrinya? Atau kedua anak Ki Warok?"

Di belakang Ki Warok, masih ada beberapa orang yang satu di antaranya mirip dengan potongan tubuh Klowor. Pemuda yang mirip dia itu memegang sebuah rantai dari bola berduri. Mungkin pemuda itulah yang mencuri Selendang Tirta Dewi dari Pademangan Kumilir, yang kemudian disangka Raden Klowor. Kemudian, orang-orang di belakang Ki Warok masih banyak lagi, semuanya memegang senjata, seakan barisan pengawal siap tempur. Diam-diam, Klowor mempelajari medan, mencari tempat yang tepat kalau saja ia berhasil merampas selendang pusaka. Atau, ia akan menantang Ki Warok untuk bertarung dengan taruhan selendang itu?

Wah, bagaimana enaknya, ya? Kalau bertarung, lalu Ki Warok kalah, apakah mungkin orang yang memegang selendang mau menyerahkan selendang tersebut. Tak urung Klowor juga harus merebutnya, dan bertarung lagi.

Ki Warok berdiri menghadap tebing cadas. Air merembes dari tebing itu. Kecil sekali rembesannya. Kemudian, ia menyuruh pembawa peti membuka tutup peti kecil itu, dan segera dikeluarkan sehelai selendang berwarna kuning keemasan, tetapi tipis seperti kain sutera. Cahaya matahari memantulkan selendang yang berwarna emas itu. Emas seluruhnya. Sekalipun itu entah emas murni atau hanya rajutan halus benang emas? Yang jelas, dari ujudnya saja orang pasti akan tertarik untuk memilikinya.

"Harus kurebut...!" gumam Klowor dari balik batu. "Harus dengan paksa. Biar sedikit kasar, yang penting bisa berhasil. Kurasa hanya dengan cara menyerobot selendang itu dan membawanya lari, adalah cara yang paling tepat untuk dilaksanakan."

Ki Warok berbicara kepada rakyatnya, sementara itu Raden Klowor mengendap-endap mencari posisi untuk menyerobot selendang tersebut.

"Rakyat ku...!" seru Ki Warok Wali Kukun. "Sekali lagi, ku ingatkan kepada kalian; agar jangan menjadi cemas. Kalian sudah dapat hidup dengan tentram, tanpa memikirkan kekurangan air. Pusaka ini, ku peroleh dari bersemadi dan bertarung melawan raja Setan Gunung Sawi. Pusaka inilah yang akan menjadi harapan bagi kalian, bagi masa depan anak-anak Tanah Gempal yang akan menjadi perkasa, sebab Tanah Gempal akan menjadi tanah yang subur, banyak air, dan murah pangan!"

Semua orang segera berlutut, menandakan menghormat kepada pusaka dan kekuasaan Ki Warok. Sementara itu, Raden Klowor berada di bagian atas, menyamping dari rombongan Ki Warok. Ia berjongkok, menyiapkan sebuah jurus pemberian Kirana dari sebuah mimpinya.

"Tebing cadas ini, akan mengalirkan air sebagai lambang kehidupan dan kebutuhan setiap manusia, khususnya manusia Tanah Gempal...! Sambutlah dengan sorak kemenangan, setelah selendang ini ku sabetkan pada cadas, dan tebing cadas akan mengalirkan air segar untuk kalian."

"Hidup Ki Warok...! Hidup Tanah Gempal...!" seru mereka yang masih berlutut sambil mengacungacungkan tangan.

Diam-diam, Raden Klowor menyiapkan sebuah jurus dari balik batu. Tangannya saling merapat di dada. Telapak tangan itu makin lama semakin gemetaran. Nafasnya tertahan kuat-kuat sejak tadi. Jurus Tapak Semberani segera digunakan. Tepat pada saat Ki Warok hendak mengibaskan selendang emas itu, tangan Klowor menghentak lurus ke depan kedua-duanya dengan telapak tangan tengkurap ke bawah.

"Wuuus...!"

Ada semacam tenaga yang mampu menyedot dengan kuat. Kedua tangan Klowor bergetar, dan selendang pusaka itu lepas dari tangan Ki Warok, melayang dengan cepat ke tangan Raden Klowor.

"Taab...!"

Selendang Tirta Dewi sudah berada di tangan Raden Klowor.

"Woooowww...?!" Semua orang menggumam dalam kekaguman yang sangat mengejutkan. Ki Warok matanya seakan hendak meloncat ke luar. Wajahnya memerah, dan semua pasukannya menjadi berang. Senjata disiapkan, dan Ki Warok berseru dengan lantang:

"Bangsat...! Tangkap anak itu, pancung dia di depan umum...! Serbuuu...!"

Sebuah anak panah melesat dengan sasaran dada Klowor. Lincah sekali Klowor melompat ke tempat lain. Anak panah itu lolos, tetapi muncul serangan sebatang tombak yang meluncur ke arahnya.

"Wees...!"

Tombak melesat melewati atas pundak Klowor. "Serahkan selendang itu, Bangsat! Kau akan hancur

tak berbentuk di depan umum...!" teriak Ki Warok yang segera melompat ke atas. Sementara itu, Raden Klowor sedikit kebingungan, karena serangan mereka cukup bertubi-tubi. Amukan mereka menghadirkan sejumlah senjata yang melayang bersimpang siur di depan mata Raden Klowor.

"Kau pencuri, Ki Warok! Selendang ini bukan milikmu! Selendang ini ada yang punya! Aku harus mengembalikan kepada pemilik pusaka ini yang sebenarnya! Hiaaat...!"

Raden Klowor bersalto ke sana ke mari menghindari lemparan batu, tombak, panah dan bahkan pisau serta senjata beracun. Sementara itu, mereka mulai mengepung Klowor dan mulai mempersiapkan benteng pertahanan dari susunan orang-orang bersenjata pedang.

"Hiaaat...!"

Jurus Pukulan Badai Gunung dilancarkan oleh Klowor. Hal itu dilakukan setelah ia dengan cepat menyabukkan selendang tersebut ke perutnya. Orang yang melayang hendak menyerangnya dengan tombak berujung garpu tajam itu terpental bagai dihempas angin kencang setelah telapak tangan Klowor menghentak.

"Modar kau, Tikus...!"

"Huuugh...!"

Klowor terkena tendangan mantap dari belakang. Punggungnya terasa mau patah. Dan, pada saat itu, sebuah anak panah melesat ke arahnya. Untung ia terpeleset jatuh karena tergelincir batu yang diinjaknya, sehingga anak panah itu lolos dari tubuhnya dan menancap di leher orang yang tadi menendangnya.

"Mampus...! Mampus...! Hiiih...!"

Klowor berguling-guling menghindari hunjaman tombak yang berulangkali diarahkan kepadanya. Tombak itu selalu meleset, mengenai tanah. Menancap. Dicabut, dihunjamkan lagi, dan menancap kembali... demikian seterusnya, sehingga tubuh Raden Klowor berguling-guling terus ke arah kiri. Pada saat itu, ada seorang musuh yang sengaja menghadang dari arah kiri dengan tombaknya. Begitu Klowor berguling ke dekat kakinya, langsung saja tombak itu dihunjamkan ke bawah.

"Seeet...!"

Dengan kecepatan yang luar biasa, Raden Klowor berhasil menangkap tombak yang hendak menembus ke dadanya itu. Tombak tersebut ditekan oleh pemiliknya. Kuat-kuat ditekan ke bawah, dan Klowor bertahan matimatian. Tetapi, ada tombak lain yang datang dari arah kanannya, sasarannya ke wajah Klowor.

Dengan sekuat tenaga, Klowor menghentakkan ke kanan tombak itu, dan pemiliknya terpelanting ke kanan tepat pada saat tombak dari kanan menghunjam.

"Aaaahhk...!"

Orang yang tombaknya ditahan Klowor terkena tusukan tombak temannya sendiri. Dan, Raden Klowor segera melentik dengan kedua tangan, tahu-tahu sudah berdiri dengan kedua kaki tegar menapak.

Nekad. Orang segitu banyak dilawannya. Ini benarbenar perbuatan yang nekad. Ki Warok sampai gelenggeleng kepala melihat keberanian Raden Klowor. Musuhnya lebih dari dua puluh lima orang, tapi Klowor tak gentar menghadapinya. Kalau tidak otak nekad, tidak akan berani ia berbuat seperti itu.

"Huaaaiiit...!"

Klowor menggunakan jurus Kilang Baja. Kedua tangannya menghentak dari belakang lurus ke depan tapi masih menyamping. Dan, orang yang hendak menyerangnya dengan trisula itu mengejang, matanya terbeliak, lalu mulutnya menyemburkan darah kental ke atas. Klowor segera melompat dan menendang leher orang itu dari depan. Tendangan kaki kanannya yang menyamping itu mengakibatkan matinya musuh yang bersenjata trisula.

"Jahanam kau...! Kau bunuh adikku, hah...?!

Hiaaat...!"

Sebuah pedang menebas ke arah perut Klowor. Dengan gesit Klowor melompat ke belakang. Tetapi, ternyata di belakang pun ada musuh yang menggunakan rantai bola berduri.

"Weeeng...!"

Kepala Klowor sedikit lagi hancur kalau saja ia tidak secepatnya menunduk. Bola berduri itu melesat di atas kepalanya. Kibasan anginnya sempat membuat rambut Klowor tegak sejenak. Tetapi, secepatnya pula Klowor menghentakkan telapak tangannya, menggunakan jurus Badai Gunung yang sudah dikuasainya itu. Dada lawan jadi mengepulkan asap. Ia menegang dan mendelik. Tak tahu, mati atau tidak, tetapi Klowor segera melompat dan bersalto karena dua anak panah meluncur ke arahnya bersamaan. Keduanya berhasil dihindari Klowor. Tetapi, sebagai akibatnya, begitu kakinya mendarat, ia terkena pukulan tongkat pada dadanya.

"Begg...!"

Klowor mendelik, nyaris tak bisa bernafas. Lalu, tongkat kertas itu menghantam lagi pelipisnya.

"Pletaak...!"

"Aaaohh...!"

Klowor terpelanting dan jatuh ke samping. Kemudian sebuah tendangan menghampiri dagunya.

"Hiaaat...!"

Klowor mengerang dan meringis kesakitan. Darah keluar dari bibirnya yang robek untuk kesekian kalinya. "Tak ada jalan lain kecuali modar kau, Nyong...!

Hiaaat!"

Seseorang hendak menebaskan goloknya yang panjang dan lebar. Tetapi, Klowor cepat-cepat menghentakkan tangannya ke atas, ke arah orang itu. Dan, sekali lagi pukulan Kilang Baja terhempas, membuat musuh terpental beberapa langkah dengan dada berasap. Bagian dada itu menjadi hitam kebiru-biruan. Orang itu mendelik-delik menahan sakit.

"Munduuur...! Mundur semua...!" teriak Ki Warok Wali Kukun. Semua orang menghentikan serangannya dengan nafas mereka yang terengah-engah.

Klowor bangkit, karena merasa sudah dikepung dalam satu lingkaran maut. Waktu ia berdiri, tiba-tiba:

"Ziiing...!"

Seseorang menyolong kesempatan melemparkan senjata rahasia berupa besi lempengan berbentuk bunga cempaka. Dengan gesit Klowor meliukkan badan ke samping, dan senjata rahasia itu melesat ke arah lain. Hampir saja mengenai teman mereka sendiri.

"Hentikan semua serangan, Monyet!" teriak Ki Warok kepada anak buahnya. Agaknya ia marah juga kepada mereka yang membandel nyolong kesempatan untuk menyerang.

"Hei, Babi panggang...!" teriak Ki Warok kepada Klowor. "Kalau kami mau membunuhmu sekarang juga, kamu sudah mati sejak tadi. Tapi kami masih ingin menangkapmu hidup-hidup! Kami mau mencari jalan lain!"

"Tidak ada jalan lain untuk persoalan ini! Dan, aku memang sudah lelah untuk jalan-jalan ke jalan lain!" kata Raden Klowor dengan memasang kesiagaan, kakinya masih merentang rendah, dan kedua tangannya bersiap menangkis atau memukul siapa saja yang mendekat. Baju dan celananya yang biru itu ditiup angin, bagai sayap elang yang siap terbang.

Matanya begitu tajam memandang liar ke kanan kirinya.

"Monyet Kurap...!" seru Ki Warok. "Percayalah, kau tak akan menang melawan kami! Jadi, sebaiknya kita berdamai saja. Serahkan selendang itu, dan kau akan kuberi apa yang kau inginkan! Tapi, awas, kalau kau menipu kami, tak ada ampun lagi bagimu...!"

"Sekarang pun kau tidak memperoleh ampun dariku, Ki Warok...! Kau telah menyuruh anak buahmu yang ceking itu untuk mencuri selendang pusaka ini! Licik dan pengecut!"

"Kepala batu kau, rupanya! Aku sudah menawarkan hal yang terbaik untukmu, tapi kau membuang kesempatan itu dengan sia-sia...!"

"Hal yang terbaik menurutmu, belum tentu terbaik menurutku. Dan aku sengaja membuangnya, karena aku tidak mau menjadi pengecut dan licik seperti anak buahmu!"

Panas sekali hati Ki Warok Wali Kukun. Matanya semakin merah, dadanya turun naik pertanda nafasnya tak terkendali. Kemudian dengan geram dan marah ia berseru:

"Aweni...! Sayung...! Remukkan kepala orang sinting itu, lekaaas...!"

Aweni dan Sayung, tokoh perempuan yang pernah menghajar Raden Klowor di dekat sendang pemandian, kali ini bertemu dengan Raden Klowor kembali. Setelah Aweni dan Sayung memberi hormat kepada Ki Warok, mereka pun maju ke tengah lingkaran.

"Hei, ketemu lagi kita, ya...?!" Klowor menegurnya dengan senyum sinis. Aweni dan Sayung sama-sama bungkam. Tetapi, beberapa saat kemudian Aweni berkata kepada Sayung:

"Agaknya pemuda inilah yang mengintip kita tempo hari itu, Sayung!"

"O, ya...! Aku ingat. Tetapi, waktu itu ia tidak melawan ketika kuhajar! Sekarang dia mau pasang gaya di depan kita. Huhh...! Kita belah saja tengkorak kepalanya!" "Hebat," ujar Klowor sambil melangkah berkeliling menjaga jarak dan mencari kesempatan untuk menyerang.

"Kalau kalian menemukan buah semangka, kalian bisa berkata begitu. Tetapi, agaknya kepalaku ini bukan buah semangka, melainkan batu granit yang keras dan tak mudah dibelah dengan ujung kipasmu. Kecuali dengan ujung lidahmu...!"

Ki Warok terdengar tak sabar:

"Sayung...! Jangan ngobrol saja! Serang dia! Kau kuperintahkan untuk menyerang, bukan untuk berembuk soal buah-buahan...! Kalau mau rujakan, nanti saja! Sekarang serang, dan serang terus dia! Lekaaas...!"

"Hiaaaatt...!"

Sayung melompat dan membuka kipasnya. Kipas dihentakkan untuk memukul dagu Klowor, tapi kelebatan kipas itu berhasil dielakkan. Andai saja tidak, pasti dagu Klowor akan robek, karena ujung-ujung kipas itu mengeluarkan mata pisau beberapa biji.

"Huaiyaaah...!"

Klowor menjerit sambil menendang dada Sayung. Kena. Tepat tendangannya mendarat di dada kiri Sayung, sehingga Sayung pun menjerit kesakitan. Pada saat itu, Aweni melayang dengan kipas masih tertutup, namun diarahkan ke wajah Klowor. Dari ujung kipas itu keluarlah semacam sinar biru yang berpijar-pijar. Bahaya!

Klowor segera menjatuhkan diri, dan sinar itu lewat di atasnya. Kemudian, dengan jurus tendangan Turangga Sujud, kedua kaki Klowor menjejak ke atas, tepat mengenai perut Aweni yang melayang.

Tubuh gadis itu terpental, melambung tinggi. Kalau ia tidak segera bersalto, maka ia akan jatuh dengan posisi kepala membentur tanah.

Baru saja Klowor hendak berdiri, tahu-tahu sebuah goresan terasa melukai betisnya. Oh, ternyata ujung kipas Sayung telah melesat dan melukai betis Klowor. Untung tidak lebar dan tidak terlalu dalam. Namun, akibatnya Sayung terpaksa terjungkal ke belakang, karena telapak tangan Raden Klowor menghentak dari bawah. Kilang Baja dan Pukulan Badai Gunung dilancarkan. Hanya saja, saat itu Sayung cukup lincah, ia buru-buru bersalto, bergantian tempat dengan Aweni.

Sementara itu, Klowor segera menyadari, bahwa musuh-musuhnya yang mengepung membuat satu lingkaran itu semakin lama semakin menyempit. Mereka maju sedikit demi sedikit, untuk kemudian akan menyergap Klowor dengan di luar dugaan.

Aweni dan Sayung berdiri tegak, seakan sedang mencari kelengahan Klowor. Tetapi, Klowor segera mengirimkan gerakan lembut. Jurus Sentilan Jari Kuda digunakan. Ia menyentil di udara, terarah kepada Aweni. Dan Aweni menjerit kaget sambil kesakitan. Ia memegangi bagian dada kanannya. Rupanya ke dada kanan Aweni itulah Sentilan Jari Kuda dilancarkan Klowor. Bahkan kini, sentilan itu juga diarahkan ke dada kanan Sayung. Sayung pun menjerit kaget dan meringis kesakitan. Anak muda yang nekad itu masih saja sempatsempatnya tersenyum nakal. Ini semakin membuat Aweni dan Sayung menjadi berang.

Mereka berdua mengibaskan kipas yang sudah terentang. Gerakannya cukup lembut, seperti orang menari. Tetapi, kibasan kipas itu mempunyai kekuatan tenaga dalam, sehingga Klowor menyeringai menahan rasa perih di sekujur tubuhnya. Gawat! Bisa jadi itu kipasan racun maut, atau sejenisnya. Tak ada kesempatan lain untuk menghindar karena suasana panas menyengat mulai menyelimuti udara sekeliling Klowor. Maka, pada saat itulah, Klowor menggunakan senjatanya yang sejak tadi terselip di pinggang belakang, tertutup baju birunya.

Cambuk Naga mulai bicara. Mereka yang mengurung Klowor semakin menyempit. Dan, dengan gerakan cepat Klowor melecutkan Cambuk Naga dua kali.

"Tar...! Tar...!"

Gemerlap cahaya merah keluar dari ujung cambuk. Sinar merah itu menghantam tubuh Aweni dan Sayung. Tak ada suara pekik yang mampu keluar dari mulut kedua gadis tersebut. Karena, ketika cambuk lentur itu berkelebat memancarkan sinar merah, leher mereka serempak terpotong total. Kepala menggelinding dan badan mereka kejang-kejang sebentar, kemudian rubuh tak berkutik lagi.

"Bangsaaaaat...! Kau telah membunuh anakku, Bajingan!" Ki Warok geram. Matanya semakin melotot merah. Kemudian ia segera melepas tali kolornya yang sebesar jempol kaki.

"Kuhancurkan otakmu, Iblis Keparat...!" "Wuuung... wuuung... wuuung "

Suara itu terdengar akibat kolor Ki Warok diputarputarkan ke atas kepala. Ada angin yang bertiup, makin lama semakin kuat. Klowor segera menghentakkan cambuknya ke arah Ki Warok.

"Taaar !"

Ki Warok melompat, dan tangan kirinya yang kosong menghentak dan telapak tangan terbuka. Lalu, semacam campuran sinar aneka warna keluar dari telapak tangan tersebut. Dan menggelegar di bawah kaki Klowor.

"Blegaaarrr. !"

Waktu itu, Klowor segera melompat, dan menjadi terbelalak melihat tanah tempatnya berpijak telah retak, dan merenggang, seakan ada sebuah celah jurang yang terjadi secara tiba-tiba.

"Hebat juga ilmumu...!" teriak Klowor setelah ia bersalto pindah tempat. "Weeessss...!"

Sebuah pedang dari barisan pengepung menyerangnya, Klowor berkelit dan mengibaskan cambuknya ke arah mereka.

"Taaar...!"

Cambuk itu mengenai kepala orang yang mencoba membabat kepala Klowor dengan pedangnya. Orang itu menjerit bersama temannya, karena kepalanya menjadi retak dan berdarah. Ia mati, tetapi temannya pucat karena kaget dan merasa ngeri.

"Hadapilah aku saja, Bajingan...!" "Blegaar...!"

Sekali lagi Ki Warok melancarkan pukulan dahsyatnya ke arah Klowor. Klowor segera bersalto, pindah tempat lagi. Dan, tanah tempatnya berdiri menjadi merekah, bagai jurang kecil yang membahayakan kaki manusia. Tanah di bagian tepiannya segera longsor. Mengerikan sekali.

"Taaar...!"

Cambuk Naga berkelebat ke arah Ki Warok, tapi Ki Warok menyambutnya dengan tali kolor yang sejak tadi diputar-putarnya di atas kepala. Benturan ujung cambuk dengan tali kolor itu menimbulkan ledakan yang memekakkan telinga. Tubuh Ki Warok terpental, sedangkan Raden Klowor hanya terhuyung-huyung sejenak.

Semakin meluap kemarahan Ki Warok Wali Kukun melihat tali kolornya rantas. Menjadi seperti serpihan benang akibat benturan dengan Cambuk Naga.

"Huaaaattt...!" Ki Warok berteriak, menggerakgerakkan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka. Lalu, tangan kanan yang di atas kepala dihentakkan ke depan bersamaan dengan tangan kiri yang ada di bawah pinggang. Pada saat itu, ada nyala api yang setinggi manusia dewasa melesat menyambar Raden Klowor. Nyala api itu berkobar-kobar. Raden Klowor menghindar ke kanan dengan satu lompatan, tetapi api itu mengejarnya, dan akhirnya membakar tubuh Raden Klowor. Api tak mau lepas, makin berkobar saja sekalipun Raden Klowor telah kebingungan cara memadamkannya.

"Mampus kau menjadi tikus panggang...! Hua, ha, ha...!" Ki Warok tertawa keras-keras melihat tubuh Klowor dibungkus api.

Gawat! Api semakin panas dan sukar dipadamkan. Klowor sempat panik. Cambuknya dikibaskan ke sanasini, menimbulkan ledakan, namun tidak memadamkan api. Akhirnya, ia teringat mimpinya ketika bertemu dengan istri Lanangseta yang dipanggilnya: Bibi itu. Ia ingat obrolan-obrolan tentang diri perempuan Putri Bukit Badai itu. Lalu, dalam keadaan tubuh terbakar api, Raden Klowor berteriak keras-keras:

"Kiranaaaaaaaaa...!"

Terdengar suara gemuruh. Nama yang tidak boleh diucapkan itu mengakibatkan datangnya rombongan petir di angkasa yang menggelegar. Angin bertiup keras, kencang dan semakin kencang. Api yang membungkus tubuh Klowor melesat bagai kapas dihembus angin. Bebas. Tubuh Klowor memang mengalami luka bakar, tapi tidak berbahaya. Baju dan celananya berasap, tetapi Selendang Tirta Dewi tetap utuh, bagai tak mempan api sama sekali.

Yang lebih mengerikan lagi, akibat Klowor menyebut nama Putri Bukit Badai itu, tanah menjadi berguncang. Langit memerah dengan awan membara berarak-arak.

"Glegaaar...!"

Petir menyambar-nyambar, melompat bagai mengamuk pada alam jagad raya. Angin yang bertiup melebihi topan badai yang mengamuk. Batu-batuan terbang ke sana-sini. Tanah lembah menjadi longsor. Tubuh mereka saling tunggang langgang terhempas angin. Ada yang mati karena kepalanya terbentur batu besar yang dipakai Klowor untuk berlindung dan menahan diri agar tidak dihempaskan angin. Ada juga yang menancap pada tombak kawannya sendiri. Ada lagi yang mati karena terinjak-injak kaki mereka.

Langit menjadi kemerah-merahan, tapi ada mendung hitam di sana-sini. Gelap. Alam bagai membara. Petir merobek langit dan mencurahkan api yang memercikmercik. Bumi yang berguncang itu benar-benar tidak bisa dipakai berdiri tegak. Sungguh mengerikan suasananya kala itu. Kiamat telah terjadi di Tanah Gempal. Hanya batu yang benar-benar besar yang tidak terhempaskan, hanya bergerak-gerak saja. Tetapi, bebatuan yang kecil dan berukuran tanggung terlempar karena amukan badai. Klowor sendiri nyaris terhantam sebuah batu. Untung ia segera merunduk dan batu itu mengenai tubuh Ki Warok Wali Kukun.

Jerit dan tangis mereka seperti irama di tebing neraka. Orang-orang yang sekedar menonton upacara Curah Air dan yang kala itu menyaksikan pertempuran Klowor dengan Ki Warok, ada yang menjadi korban sampai mati terhimpit batu. Klowor sungguh tak mengira kalau kedahsyatan nama Kirana bila diucapkan akan menjadi sebegini mengerikannya. Ia mengira hanya akan terjadi badai biasa-biasa saja, dan guncangan tanah yang wajar-wajar saja. Ia tak mengira kalau tanah akan menjadi merekah dan memancarkan bara merah dari dalamnya, sedangkan guncangannya kian lama kian menghebat, tepat bersamaan dengan hembusan badai yang berubah-ubah arah.

Pantas kalau Lanangseta tidak pernah memanggil nama istrinya, dan Paman Ludiro juga tidak pernah menyebutkan nama Kirana. Rupanya inilah akibatnya jika nama Kirana disebutkan oleh siapa saja.

Pada saat badai menjadi lamban dan langit mulai redup dari kemerahannya, Klowor melihat Ki Warok berlumuran darah, mungkin terkena hempasan batu-batu, atau terkena senjata yang saling beterbangan, atau terseret oleh angin. Entah. Yang jelas ia masih hidup. Dan, ia berusaha mendekati Klowor dengan menggeram bak raksasa marah. Maka, dengan cepat Klowor menghentakkan cambuk ke arahnya:

"Tar... taar...!"

Dua kali, cukup membuat tubuh Ki Warok tak berkutik lagi. Tubuh itu mengerikan sekali. Sadis. Terbelah dari kepala sampai ke dada, dan terbelah juga pada bagian perutnya. Uh, mual jadinya Klowor melihat keadaan itu. Sedangkan di kanan kirinya, banyak mayat bergelimpangan, tertindih batu maupun terpanggang senjata teman sendiri. Yang mengerang kesakitan juga semakin jelas terdengar. Badai reda dan Klowor sendiri tak tega melihat alam kematian yang sebegitu ngerinya. Ia segera melompat, berlari, dan melompat lagi meninggalkan Tanah Gempal, membawa Selendang Tirta Dewi untuk diserahkan kepada Saras.

Si cantik molek dan menggetarkan hati itu terpana saat Raden Klowor datang dan menyerahkan Selendang Tirta Dewi.

"Ambillah hadiah mu sekarang juga," bisik Saras. Tapi, Klowor hanya menggumam dalam senyum kebahagiaan. Ia berbisik, "Aku ada tugas ke Pulau Kramat. Ada yang harus kuselesaikan di sana. Kau mau menungguku...?"

"Pergilah, kutunggu kau sampai rambutku memutih...!"

Saras memejamkan mata. Tanda minta dicium. Tapi, Raden Klowor tak berani. Ia hanya menempelkan jarinya, lalu pergi. 

TAMAT

0 Response to "Serial Pendekar Cambuk Naga Eps 14 : Prahara Raden Klowor"

Post a Comment