coba

Serial Pendekar Cambuk Naga Eps 09 : Iblis Pulau Keramat

Mode Malam
1

MATAHARI mulai surut ke bumi. Sementara itu, keributan di depan pintu gerbang Griya Teratai Wingit masih berlangsung dengan seru. Seorang pemuda tampan, bertampang imut-imut, berhidung bangir dengan bulu mata yang lentik dan bibir semerah jambu segar itu masih mengamuk dengan pedang peraknya. Lande dan Bonang masih bertahan membendung amukan pemuda itu, sedangkan orang-orang Griya Teratai Wingit sudah mengepung, membentuk satu arena pertarungan yang cukup menegangkan. Hanya Lande dan Bonang, sebagai orang kepercayaan keluarga Sabdawana, sebagai murid Sabdawana yang tertua dari yang lainnya, yang kala itu patut menghadapi pemuda berbadan sedikit kurus tapi alot.

Sabdawana mengunci diri di dalam kamar semadi, sedangkan Kirana Sari putrinya, masih menikmati tidur sore. Ia tak tahu ada keributan di luar rumahnya. Ia masih asyik bermimpi bersama Lanangseta, calon suaminya yang saat ini sedang mencari kembali bunga Teratai Winggit yang dicuri orang pada malam sebelum hari perkawinan mereka. (dalam kisah KUTUKAN JAKA BEGO). Ada beberapa orang mengusulkan agar salah satu ada yang membangunkan putri Bukit Badai yang cantik dan anggun itu. Namun Marwa, pelayan setianya melarang. Marwa hanya berkata kepada para murid Sabdawana:

"Hanya menghadapi tikus satu, masa' harus membangunkan Putri Agung...?"

"Tapi pemuda itu mengamuk dengan hebat. Kami bisa kewalahan. Dia mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi."

"Apakah kalian tidak mempunyai ilmu silat yang tinggi? Kurasa kalian sudah banyak belajar ilmu kanuragan dari Putri Agung maupun Rama Sabdawana. Lawanlah dia beramai-ramai."

Jika Kirana Sari yang disebut Putri Agung itu sedang tidur atau beristirahat, memang tak satu pun ada yang berani mengganggunya. Mereka segan, menaruh rasa hormat yang tinggi kepada Kirana atau pun ayahnya. Sehingga, sekali pun ada keributan yang terjadi seperti sore ini, para murid itulah yang harus mengatasi keributan tersebut dengan dibantu oleh beberapa pengawal dan orang kepercayaan Sabdawana, seperti Lande dan Bonang itu.

Hanya saja kali ini Lande dan Bonang merasa mendapat lawan yang tidak tanggung-tanggung beratnya. Berulangkali mereka melancarkan jurus mematikan, namun selalu saja dapat dihindari oleh pemuda bercelana merah berbaju rompi warna coklat tanah.

Pemuda itu berhenti menyerang pada saat Lande dan Bonang tersungkur akibat tendangannya tadi. Pemuda itu berseru kepada Lande dan yang lainnya:

"Lebih baik kalian jangan menghalangi maksudku untuk bertemu Putri Bukit Badai! Jangan sia-siakan nyawa kalian. Biarkan aku masuk ke dalam dan menemui Putri anak Rama Sabdawana itu!"

"Tidak seorang pun boleh masuk ke dalam lingkungan rumah terhormat ini!" balas Bonang setelah berhasil berdiri lagi. "Kalau kau bertemu Putri Agung, tunggu sampai dia bangun dari tidurnya."

"Aku tak ada waktu...!"

Sambil berkata begitu, pemuda tersebut melompat dengan gerakan yang ringan seperti kapas, ia melayang untuk melewati pagar rumah Kirana yang bertembok tinggi. Tetapi sebelum ia sempat melesat melompati pagar yang menyerupai benteng itu, Bonang sudah lebih dulu melemparkan beberapa butir batu ke arah pemuda tersebut.  Dua lemparannya berhasil ditepiskan oleh pemuda itu, tapi dua lemparan lainnya mengenai dagu dan ketiak pemuda itu. Lemparan lainnya berikutnya menyusul dari Lande yang membuat pemuda itu bersalto ke belakang beberapa kali, dan mendarat di bawah sebuah pohon buni. Ia menggeram gemas. Ia tak berhasil melompati pagar rumah Sabdawana. Satu-satunya jalan ia harus melumpuhkan kedua orang kepercayaan Sabdawana itu.

Sebuah tendangan menyamping dilancarkan ke arah muka Lande. Dengan bergerak ke samping Lande dapat menghindari tendangan tersebut. Sambil bergerak ke samping tangan Lande menghantam betis kaki itu. Meleset. Karena kaki itu segera bergerak ke samping dengan tiba-tiba dan mengenai bawah leher Lande. Tendangan itu membuat Lande limbung. Kelimbungannya disambut dengan satu pukulan tangan kiri, namun masih sempat ditangkis oleh Lande dengan gerakan merendahkan tubuh. Pada saat Lande bergerak merendah, pedang di tangan kanan pemuda itu menghunjam ke arah leher Lande. Dengan cepat Lande berguling ke samping, tapi kaki Lande sempat menyapu kaki pemuda itu dengan keras. Pemuda itu sedikit limbung. Keadaan seperti itu dimanfaatkan oleh Bonang untuk melancarkan pukulan ke arah pinggang lawan. Tapi tangan Bonang yang melesat lurus itu dapat tersentak ke atas karena tendangan pemuda itu yang cukup kuat. Bonang menyeringai kesakitan. Tangannya terasa semutan dan linu. Bonang membungkuk mendekap tangan kirinya sendiri. Ia berputar membelakangi lawan, sehingga dengan cepat pedang lawan membacok ke arah punggung Bonang. Gerakan Lande ternyata tidak terlambat, karena kakinya berhasil menjejak pinggang lawan dengan keras, sehingga lawan terpental dan bacokan pedangnya meleset ketempat kosong.

"Kalian memang tak pantas diberi ampun...!" kata pemuda itu dengan kemarahan yang dalam. Ia menyarungkan pedangnya ke tempat pedang yang terbuat dari perak putih. Lalu ia merenggangkan kakinya ke samping kanan kiri, sedikit merendahkan badan sehingga kaki itu kelihatan kokoh berpijak. Tangan kanan dan kiri bergerak kaku dan keras, membuka ke kanan dan ke kiri. Lalu dengan gerakan kuat tangan itu menjadi kaku dan bersimpang siur di depan wajahnya. Jari telunjuk dan jempolnya berdiri tegak, sedangkan ketiga jari lainnya ditekuk sejajar. Lalu, dengan satu gerakan cepat kedua tangannya itu menghentak ke depan bersamaan.

Dari telapak tangan itu keluar asap yang meluncur dengan cepat. Asap itu berwarna hitam dan mengarah kepada Lande dan Bonang. Secepatnya kedua orang itu melambung ke atas, menghindari asap itu, yang ternyata membuat dua ledakan ketika menghantam ke tanah.

Dua ledakan itu membuat tanah tersebut berongga, tanpa ada sebutir pasir pun yang tersembur ke udara. Dan hal itu membuat tanah di sekitarnya berguncang, bagai terjadi gempa setempat.

"Woow...!" seru orang-orang yang mengepung membentuk arena pertarungan itu. Mereka mulai melangkah mundur dan merasa ngeri. Lande dan Bonang saling berpandangan tegang.

"Ilmu Inti Badai...?!" kata Lande terperangah tegang.

Bonang bergerak menyamping, mendekati Lande, tapi matanya masih mengawasi gerakan pemuda itu. Bonang sempat berbisik:

"Siapa pemuda itu sebenarnya? Mengapa ia menguasai ilmu Inti Badai?"

Sekali lagi tangan pemuda itu maju ke depan dengan menghentak keras, dan sekilas asap hitam melesat ke arah Bonang dan Lande.

"Awas...!" seru Bonang. Lalu keduanya melejit ke atas dan masing-masing berkelit dengan menggulingkan badan ke kanan dan ke kiri.

Sebatang pohon berukuran sedang tumbang karena serangan pemuda itu mengenai akar pohon tersebut. Bumi berguncang sejenak, dan orangorang yang mengepung semakin merenggang mundur. Wajah mereka tetap tegang memandang pertarungan pemuda itu melawan Lande dan Bonang dengan perasaan was-was.

Bonang melancarkan pukulan tenaga dalam yang boleh dibilang tidak seimbang. Namun tujuannya hanya untuk mengacaukan perhatian pemuda itu, sebab ia akan bersalto ke depan untuk mendekati Lande. Kini, mereka berdua saling berhimpitan lengan. Lande berbisik tegang:

"Gunakan jurus Paku Jagat...!"

Dengan gerakan yang sangat cepat, Lande dan Bonang mengibaskan tangan kiri dan kanan ke segala penjuru. Gerakan tangan mereka cukup kuat, kaku dan kokoh, bagai penuh tenaga memadat. Kaki kanan mereka sama-sama bergerak ke depan dengan kekar, lalu bergerak ke kiri sementara posisi tangan mereka mengembang bagai sayap garuda. Kemudian kaki kanan itu segera menghentak ke tanah dengan kuat. Hentakan itu bersamaan dan membuat pemuda tersebut terkejut, ia terpental ke atas dalam keadaan limbung. Lalu jatuh.

Itulah kehebatan jurus Paku Jagad yang baru beberapa saat berhasil mereka pelajari dari Sabdawana. Sebuah hentakan kaki yang cukup mantap, mengalirkan tenaga inti ke dalam tanah dan mencebol ke atas di tempat lawan berdiri. Sudah tentu pemuda itu ter-sentak melambung dalam keadaan tak sempat menjaga keseimbangan badan.

Hanya saja setelah dia rubuh ke tanah, tibatiba ia menggerakkan tangan kanannya dengan keadaan semua jari terarah ke depan. Lalu, dari jari-jarinya itu keluar jarum-jarum kecil berwarna hitam. Jarum itu melesat cepat, nyaris tak terlihat. Untung Kirana segera keluar dan menghentikan gerakan jarum itu dengan sebuah pukulan pembeku yang dilancarkan dari tangan kanannya. Jarum-jarum itu bagai mengumpul menjadi satu dan jatuh ke tanah tanpa dapat bergerak lagi. Pemuda tersebut bergegas bangun, lalu tertawa sinis kepada Kirana.

"Akhirnya kau keluar juga, Putri...!"

Kirana tidak menjawab. Ia melangkah dengan penuh wibawa dan keanggunan. Ia mengenakan celana ketat sebatas bawah lutut berwarna kuning gading, sedangkan kain halus membentuk satu silangan di dada hingga ke dua pundak. Kain itu berwarna merah muda, menambah keanggunannya. Ia membuat rambutnya yang panjang tersanggul bagian tengah, sedangkan ujung rambut lainnya dibiarkan menjuntai lewat pundak, berhenti di dada kiri. Ia berdiri dengan sedikit merenggangkan kaki, menatap pemuda itu dengan sorot mata yang tajam namun mengandung kebekuan. Dingin. "Kau sungguh semakin cantik, Putri "

Kirana diam. Tidak memberi komentar apaapa. Namun sikapnya yang berdiri tegap bagai seorang pendekar putri itu menyatakan bahwa ia siap bertarung melawan musuhnya. Ia bagaikan sedang menunggu serangan dari lawan. Tetapi pemuda itu hanya tersenyum-senyum menjijikkan bagi Kirana, namun barangkali mempesonakan bagi wanita lain. Pemuda itu kini dengan tenang dan gaya langkahnya yang sok jago itu mendekati Kirana. Kirana memandang dingin, sedangkan pemuda itu memandang penuh gairah. Matanya yang nakal nyata-nyata tertuju pada kepadatan buah dada Kirana yang menonjol merangsang syaraf kelaki-lakiannya. Kirana tak banyak bergerak, kedua tangannya bersilang di dada, seakan semakin menonjolkan kedua bukit sucinya itu.

"Bagaimana kabarmu, Putri...? Baik-baik sa-

ja?"

Tak ada jawaban dari Kirana. Sepi. Mereka

yang mengepung membuat satu lingkaran itu juga sepi, tak ada yang berbicara sedikit pun. Juga Lande dan Bonang, diam dalam jarak lima meter dari Kirana. Mereka berdiri berjejer, tapi tetap menunjukkan kesigapannya.

"Bagaimana kalau kita bicara di dalam, Putri? Ada hal penting yang patut kita bicarakan berdua," kata pemuda itu yang sudah mengenai betul siapa Kirana Sari itu. Dan Kirana sendiri juga paham betul siapa pemuda itu. Tapi ia benci kepadanya, dan merasa muak bertemu pemuda berambut ikal bergelombang dan mengenakan ikat kepala dari kain emas itu.

"Rama Sabdawana ada di rumah?" tanya pemuda itu setelah sedikit salah tingkah karena semua kata-katanya tidak mendapat sambutan dari Kirana.

"Dia dalam keadaan baik-baik saja, Putri?"

Dengan suara datar namun tandas itu Kirana berkata:

"Apa maumu, Bajingan...?!"

Semua wajah yang menunduk sepi kini kembali terangkat dengan rona ketegangan yang samar. Pemuda itu tersenyum tenang, berjalan ke belakang sebentar, lalu membalik lagi sehingga posisinya kini berada di depan Kirana dalam jarak tiga langkah. Ia juga merenggangkan kedua kaki seakan siap menunggu serangan lawannya.

"Putri... aku ke mari untuk membicarakan sesuatu yang amat penting bagimu. Bukan untuk bertarung denganmu. Ada hal yang perlu kau ketahui dengan segera."

"Aku tidak butuh keteranganmu, Prabima!" jawab Kirana dengan ketus, tanpa keramahan sedikit pun.

"Tapi aku yakin...." pemuda itu melirik sinis. "Kau pasti membutuhkan keterangan di mana bunga Teratai Wingit itu, bukan?"

Sebenarnya saat itu Kirana ingin membelalakkan mata karena kaget. Ada rasa penasaran juga yang menggumpal di dalam hatinya, namun ia bertahan untuk tetap setenang mungkin, dan berbicara dengan ketus:

"Aku tahu, kaulah pencurinya, Prabima" Kirana cepat mengambil kesimpulan tentang siapa yang mencuri bunga itu.

"Aku tahu segala kelicikanmu, dan sekarang kau mau apa?!" tantang Kirana dengan penuh keberanian.

"Bagaimana kalau bunga itu kukembalikan padamu?"

Kirana tetap menjawab dengan ketus. "Tidak perlu...!"

Prabima berkerut dahi. Pemuda itu dari dulu mencintai Kirana, dari sejak ia menjadi murid kesayangan almarhumah ibu Kirana. Tetapi Kirana tak pernah mau melayani cintanya. Kirana justru menjauhi Prabima setelah ia tahu bahwa murid kesayangan mendiang ibunya itu telah lama mengincar dirinya. Bahkan hubungan Kirana dengan Pendekar Pusar Bumi yang juga berjuluk Malaikat Pedang Sakti itu selalu diganggunya. Prabima tidak rela Kirana jatuh dalam pelukan Lanangseta, atau si Pendekar Pusar Bumi. Sebab itu, segala cara ia tempuh untuk mendapatkan kehangatan cinta Kirana.

Syarat dari perkawinan itu adalah memakan bunga Teratai Wingit dari dalam Goa Malaikat. Tanpa itu, Kirana tak akan dapat berumahtangga dengan Lanangseta, sebab darah Kirana hanya bisa bercampur dan menghasilkan keturunan dengan darah leluhurnya. Tapi jika Lanangseta telah memakan bunga tersebut, maka darahnya akan berubah dan akan bisa menjadi satu dengan darah Kirana, sehingga mereka pun akan bisa menghasilkan keturunan dan Kirana tidak akan mati dalam seminggu setelah perkawinannya. Sebab itulah, kendati usianya sudah dibilang cukup, namun Kirana belum mau jatuh cinta dan menikah dengan pemuda lain, apalagi seperti Prabima. Namun kini, Malaikat Pedang Sakti telah muncul dan membuat cinta bersemi di hatinya. Sebab itu, pendekar tampan berambut panjang itu harus mengambil bunga teratai Wingit dari Goa Malaikat, dan itu sudah dilakukan oleh Lanangseta. Namun, pada malam sebelum hari perkawinan tiba, bunga itu telah dicuri seseorang. Orang berkerudung yang mencuri bunga tersebut tak lain adalah Prabima. Ia berharap dengan mendapatkan bunga teratai itu, maka Kirana tak dapat menikah dengan Lanangseta. Dan hanya kepada Prabima sajalah Kirana dapat bersuami, sebab hanya Prabima yang akan memakan bunga tersebut dan darahnya bisa menyatu dengan darah Kirana.

Jadi bunga teratai yang dicuri Prabima itu kini menjadi senjata ampuh untuk membuat Kirana berlutut dan mau menikah dengannya. Tetapi apa kata Kirana pada waktu itu? Dengan suara lantang dan penuh dendam yang terdekap di dada, Kirana berkata:

"Ambillah bunga itu, dan tak perlu kau kembalikan lagi. Karena calon suamiku itulah yang akan merebut dari tanganmu. Sudah ku pesan padanya, agar jangan lupa persembahkan padaku maskawin lain, yaitu kepalamu! Itulah maskawin yang berharga bagiku, Prabima."

Pemuda itu menjadi gusar. Ia merasa dihina, diremehkan di depan banyak orang. Namun, sekalipun hatinya meledak ingin marah Prabima tetap mencoba untuk bersabar. Ia hanya tersenyum masam, seakan tak merasa dihina.

"Suamimu tak akan berhasil mengalahkan aku, Putri. Camkan dan ingat kata-kataku : dia tidak akan berhasil mengalahkan aku. Percayalah, aku yang sekarang, bukan aku yang dulu. Kau belum mengenal betul siapa aku yang sekarang."

Kirana membalas senyum masam dalam keangkuhan. Ia berkata, "Kalau toh Lanangseta gagal memenggal kepalamu, maka aku akan menyebar sayembara ke seluruh pelosok dunia, barang siapa mampu memberikan maskawin padaku berupa kepalamu, maka aku akan bersedia menjadi istrinya sepanjang masa. Siapa pun orangnya, bagaimana pun ujudnya, kalau memang ia datang dengan membawa kepalamu yang pantas buat sumpal jamban itu, sekali pun ia seekor gorila, aku tetap akan mencintainya dan kawin dengannya."

Merah wajah Prabima mendengar ucapan itu. Nafasnya mulai memburu disekap nafsu kemarahan. Sekalipun demikian Prabima tetap menjaga ketenangannya.

"Siapa pun tidak akan berhasil memenggal kepalaku, tahu kau, Putri?!"

"Kalau begitu akulah yang akan memenggal kepalamu!" kata Kirana dengan tegas.

Prabima memandang penuh kegeraman. Kirana tetap berdiri dengan tegap, kaki terentang sedikit dan kedua tangannya bersilang di dada. Dagunya sedikit terangkat, matanya yang bertepian hitam itu bagai menantang suatu pertarungan. Prabima mendekat dan berkata dengan angkuh:

"Apa kau bisa memenggal kepalaku? Apa bisa?"

"Apa kau perlu bukti...? Nih... heaat!"

Sebuah pukulan yang tak terduga melesat dari tangan Kirana dan mengenai rahang Prabima. Pemuda itu oleng ke kiri dan kakinya menendang putar ke arah Kirana. Tapi oleh Kirana kaki itu bagai hanya ditepiskan saja.

Lalu dalam keadaan tubuh Prabima terbungkuk oleng ke kiri itu, Kirana melihat ada peluang di pinggang Prabima. Kakinya segera menendang dalam bentuk tendangan samping.

"Aauhh...!"

Prabima terpental dan jatuh ke tanah sambil mengaduh. Ia memegangi pinggangnya yang terasa mau patah.

"Ilmumu masih belum seberapa, Monyet busuk...!" kata Kirana sambil mendekati Prabima dengan langkah mantap. "Aku tahu semua jurus yang diajarkan ibu kepadamu, tapi itu tidak cukup untuk membuat kau menjadi bajingan tengik!"

Sebuah tendangan kembali menerjang wajah Prabima. Tendangan itu cukup keras dan membuat bibir Prabima berdarah. Prabima bergegas bangun dan berdiri siap diserang. Namun Kirana tidak menyerangnya. Kirana hanya diam, memperhatikan Prabima yang sibuk menghapus darah dari bibirnya itu.

"Dengar, Putri...! Kau akan menyesal memperlakukan aku demikian. Kau akan menyesal! Sebab sebentar lagi bunga itu akan ku makan, dan hanya akulah laki-laki yang bisa kawin denganmu. Hanya akulah nantinya laki-laki yang bisa memberikan keturunan kepadamu, Putri!"

Kirana mulai diliputi kegelisahan. Gawat juga kalau sampai Prabima memakan bunga teratai Wingit itu. Jelas, hanya Prabima yang dapat memberikan keturunan dan hanya pemuda itulah yang bisa menjadi suaminya. Apakah sudah menjadi garis ketentuan hidupnya bahwa ia harus menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak dicintainya?

Tidak. Sebelum Prabima memakan bunga itu, Kirana harus bisa membunuhnya, supaya bunga tersebut tidak dimakan oleh lelaki mana pun, kecuali Lanangseta.

"Kau memang biadab...!" seru Kirana dengan bergerak melompat dan melayang bagai anak panah menuju Prabima.

Pemuda itu menghindari serangan Kirana dengan cara melompat ke kiri lalu bersalto ke depan beberapa kali. Kirana tak mau menyerah, ia juga bersalto mengejar Prabima. Kakinya tepat mendarat di depan Prabima, lalu dengan segera ia melancarkan beberapa pukulan bertubi-tubi ke wajah Prabima.

"Tap... tap... tap...!" Prabima berhasil menangkis semua pukulan Kirana, malahan kini salah satu pukulan kiri Prabima sempat menghantam perut Kirana. Kirana mundur.

Sambil berbalik mundur, kaki Kirana melayang cepat ke wajah Prabima sehingga pemuda itu menggeragap sementara waktu. Ia mengibaskan kepalanya karena pandangan mata menjadi berkunang-kunang. Saat itulah, Kirana melompat satu kali dan mengibaskan kaki kirinya, namun sebenarnya kaki kanan yang tiba-tiba maju menendang dagu Prabima. Pemuda itu meringis kesakitan karena tendangan Kirana begitu telak mengenai dagunya.

Dengan bersalto ke belakang dua kali, Prabima mengatur jarak serang agak tak terlalu dekat. Tetapi belum sempat Prabima mengatur keseimbangan tubuhnya, tiba-tiba kaki Lande menghentak ke tanah dengan kuat. Jurus Paku Jagat dilancarkan cepat. Tenaga dalam yang hebat meluncur melalui kedalaman tanah dan menjebol ke atas, sehingga membuat Prabima terpental ke atas.

Pada saat tubuh Prabima melayang, Kirana segera mengambil selembar daun kering. Daun itu segera diluncurkan ke arah Prabima, melesat cepat menggores tumit Prabima. Daun yang telah diisi dengan tenaga dalam itu berubah bagai sebilah pisau tajam yang mampu memotong kayu sebesar apa pun. Dan pada saat ini, tumit Prabima yang menjadi sasaran. Tumit itu robek dan terluka dalam. Prabima menjerit kesakitan, lalu berdiri dengan terpincang-pincang. Kaki kanannya berdiri menginjak tanah, sedang kaki kirinya dikibaskibaskan karena darah banyak yang keluar. Posisi berdiri itu dimanfaatkan oleh Bonang untuk menyerang kaki kanan Prabima. Prabima terpelanting jatuh karena kaki kanannya disapu kaki Bonang sekuat tenaga hingga terasa mau patah.

"Kau harus mati, Jahanam...!" teriak Kirana. Lalu sebuah pukulan mengarah ke wajah Prabima. Prabima bergegas bangkit, namun terlambat. Tangan Kirana telah sempat menghantam keningnya dengan keras. Disusul sebuah kibasan tangan Kirana yang bagai memenggal rusuk Prabima dengan keras.

Prabima tak sempat berteriak kesakitan. Ia hanya terguling-guling di tanah, lalu melentik tinggi dan bersalto dua kali. Kini ia berdiri di tempat yang agak jauh dari Kirana. Tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi kabut tipis, kian lama kian tebal, dan menghilang.

Kirana dan yang lainnya tercengang menyaksikan keajaiban tersebut. Tubuh Prabima bagai tertelan kabut, dan entah ke mana. Kini yang ada hanya suaranya. Suara di sela tawa yang terdengar dengan jelas oleh setiap orang:

"Aha... Putri Bukit Badai yang cantik... rupanya tak ada cara lain yang harus kupakai, kecuali dengan jalan pintas menuju gerbang hatimu.   " suara ini berkumandang, seperti memantul

ke segala penjuru dunia. "Putri... tunggu saat kedatanganku lagi. Aku akan datang dengan darah yang siap campur dengan darahmu. Ha, ha, ha....

Bunga itu akan ku makan, dengan begitu hanya akulah yang pantas menjadi suamimu, Putri cantik. Akulah yang bisa memberikan keturunan padamu, untuk melangsungkan keturunan leluhur Bukit Badai ini. Hanya aku. Ya, hanya aku yang mempunyai darah sama dengan leluhur Bukit Badai. Nah, sampai jumpa dalam waktu dekat. Aku pasti datang setelah memakan bunga teratai Wingit itu "

"Keparat kau, Prabima. !!" seru Kirana dengan

geram. "Prabima...! Hadapi aku. Aku menantangmu! Mari kita bertarung, sekarang juga. Kalau aku kalah, kau boleh ambil aku sebagai istrimu. Itu taruhan ku !"

"Rasa-rasanya lebih enak istirahat di rumah sambil memakan bunga itu, Putri.... Selamat tinggal "

"Prabimaaa...!" teriak Kirana kelabakan. "Prabima, perlihatkan ujudmu...! Jangan pergi, Prabima!" Kirana memandang kian ke mari dengan tegang. Orang-orang itu juga memandang ke sana sini, mencari-cari kemunculan Prabima. Tapi lelaki itu agaknya telah pergi. Tidak di tempat itu lagi. Kirana berteriak berulangkali dengan kemarahan yang sangat menyesakkan pernafasan. Tapi Prabima tetap hilang. Kabut itu pun lenyap tanpa bekas.

"Bangsat itu menguasai ilmu Halimun...." ujar Lande.

"Bukan," jawab seseorang di ambang pintu. Oh, rupanya Sabdawana telah keluar dari kamar semadi. "Dia menguasai ilmu iblis yang bernama : Siluman Raga Muspra. !"

Kirana menghampiri ayahnya dengan cemas. "Ayah... ia mengancam  akan  memakan  bunga  itu !"

Sabdawana yang lebih berwibawa itu mengangguk. "Ayah mendengar ucapannya."

"Tapi... tapi aku tak mau kawin dengannya, Ayah."

"Itu yang harus kita pikirkan di dalam. Ayo "

Sabdawana mengajak putrinya masuk dengan sikap penuh ketenangan. 2

LUDIRO, bekas pengawal setia Putri Ayu Sekar Pamikat yang sekarang sudah menjadi orang suci di dalam Goa Malaikat, kini ia sedang menyusul Lanangseta ke arah menuju Pulau Kramat. Ia berjalan bersama Jaka Bego, yang sudah bebas dari tahanan dalam kapal Laksamana Chou, dan Huang Pai, seorang algojo Laksamana Pau yang akhirnya memihak pada Jaka Bego.

Huang Pai menceritakan kehebatan Jaka Bego yang mampu melarikan diri dari kapal Laksamana Chou dengan berjalan di atas permukaan air. Tetapi, sekali lagi Ludiro tersenyum masam, pertanda ia tidak mempercayai cerita itu.

"Kalau Tuan Dewa ini tidak sakti, saya tidak mau ikut dia, Paman Ludiro," kata Huang Pai dalam aksen Cinanya.

"Tuan Dewa...? Kau memanggil dia Tuan Dewa?" Ludiro heran-heran geli. "Orang seperti ini dipanggil Dewa!" seraya Ludiro menjulekkan kepala Jaka Bego. Jaka Bego terdorong ke depan dan hampir jatuh.

"Jangan begitu, Paman," katanya seraya bersungut-sungut.

Huang Pai terkejut. Lalu ia menceritakan keadaan Jaka Bego ketika anak itu diberi setetes madu. Jaka Bego menjadi mengantuk, dan tertidur. Dalam tidurnya itu ia bicara terus, menyebut dirinya sebagai Dewa Seribu Mimpi. Bahkan dalam keadaan tidur itu Jaka Bego menunjukkan kehebatan ilmu silatnya, bahkan mampu berjalan di atas air selama dalam pengejaran. Juga mampu melompat dari darat ke atas pohon kelapa yang tinggi sebagai tempat persembunyian mereka (dalam kisah KUTUKAN JAKA BEGO). "Saya alami sendiri hal itu bersamanya, Paman Ludiro." Huang Pai menegaskan.

Ludiro sama sekali tak percaya. Ia tertawa dan melirik Huang Pai yang bermata lebar, namun masing-masing ujungnya tertarik ke atas, sehingga menandakan betul bahwa ia keturunan dari Tiongkok.

"Jangan percaya dengan omongan dia," kata Ludiro. "Dia cukup ahli kalau disuruh menipu. Malahan dulu pernah kusarankan agar nama Jaka Bego diganti Pendekar Tipu Muslihat. Itu lebih cocok bagi orang yang gemar makan tapi tidak bisa gemuk, seperti dia itu...!" Ludiro tertawa lagi, tapi Jaka Bego hanya bersungut-sungut, tak punya wibawa dan penampilan yang meyakinkan sebagai Dewa Seribu Mimpi. Huang Pai sedikit bingung. Jaka Bego mendekati Huang Pai dan berbisik:

"Sudah kubilang, jangan bilang sama siapa pun, Tolol. Aku malu "

"O, ya maaf, saya tidak ingat kalau itu tipuan

Anda, Tuan Dewa."

"Jangan panggil itu lagi! Hapuskan dari ingatanmu. Panggil saja seperti biasanya: Jaka Bego, begitu!" geram Jaka Bego dalam bisikan sewaktu Ludiro berjalan di depan mereka.

Hari semakin sore. Jaka Bego merasa kesal menempuh perjalanan ke Pulau Kramat itu. Sebentar-sebentar ia bertanya kepada Ludiro: "Apakah masih jatuh tempatnya?"

Ludiro selalu menjawab, "Sudah dekat."

Tapi nyatanya mereka dari tadi pagi sampai sore jalan terus, tak sampai-sampai. Akhirnya dengan jengkel Jaka Bego berkata:

"Paman, sebetulnya berapa malam kita harus berjalan kaki untuk mencapai Pulau Kramat itu?"

"Mana aku tahu?" jawab Ludiro. "Aku belum pernah ke sana. Baru kali ini akan ke sana." "Huhhh...!" Jaka Bego cemberut kesal. Ia ber-

henti dan duduk di bawah pohon. "Aku tidak ikut sajalah " katanya.

"Baiklah," jawab Ludiro. "Dan aku akan menjawab tidak tahu tentang kamu, jika nanti aku singgah ke rumah pak Lodang, lalu Mahani menanyakan kamu, ya?"

Jaka Bego bergegas bangun dari duduknya, "Jadi nanti kita akan singgah dulu ke rumah Mahani?! O, kalau begitu aku ikutlah...." Jaka Bego meringis dan mau berjalan lagi.

Namun ketika mereka sampai di rumah pak Lodang, suasana di sana menjadi lain. Rumah pak Lodang penuh orang. Wajah-wajah cemas dan sedih saling berkasak-kusuk di depan rumah. Ludiro segera mendesak kerumunan orang untuk masuk ke dalam rumah pak Lodang, sementara itu Huang Pai menemani Jaka Bego bertanya kepada seseorang.

"Ada apa di dalam itu, Pak? Apa yang terjadi?"

Jawab orang itu, "Mak Lodang pingsan, lalu kesurupan."

"Kesurupan?!" Jaka Bego mulai tegang, ia memandang Huang Pai yang ikut berkerut dahi. Lalu, mereka menerobos kerumunan orang di pintu.

"Hei, itu dia pencuri yang kita kejar-kejar tempo hari!" seru seseorang kepada temannya sambil menuding Jaka Bego.

"Kita hajar sekarang saja," sahut yang lain. "Jangan. Dia bukan pencuri. Pak Lodang kan

sudah menjelaskan bahwa dia sebenarnya bukan pencuri, tapi seorang pendekar kebetulan."

"Tapi tampangnya kok seperti pencuri?" "Yahh... mungkin  memang orang tuanya  dulu

senang bentuk tampang seperti itu, jadi yang dicetak begitu "

Jaka Bego sebenarnya ingin membentak kasak-kusuk itu, tapi rasa penasaran ingin tahu keadaan sebenarnya membuat ia menganggap kasak-kusuk itu tak perlu ditanggapi. Ia lebih penting segera bergabung dengan Ludiro yang sedang mendapat keterangan dari pak Lodang.

"Mulanya cuma pingsan...! Pingsan biasa!" kata pak Lodang dalam kebingungannya yang panik. "Tapi begitu sadar, ia jadi bersuara lelaki dan...

dan kami segera menyimpulkan bahwa dia kesurupan."

"Mak Lodang pingsan karena apa, Pak?" tanya Jaka Bego.

"Itu... anu...." Pak Lodang gugup. "Gara-gara Mahani "

"Mahani? Ada apa dengan Mahani?" "Mahani...

ah, anak itu memang picik!" geram pak Lodang. "Jadi masalahnya begini, Ludiro... Tadi pagi aku bicara kepada ibunya Mahani, bahwa Lanangseta mau kawin tapi gagal. Bunga sebagai syarat perkawinan dicuri orang, dan pencurinya pergi ke Pulau Kramat. Lalu Lanang lari mengejar ke Pulau Kramat. Nah, pada waktu itu rupanya Mahani menyimak pembicaraan kami. Ia menangis mendengar Lanang mau kawin dengan Putri Bukit Badai. Lalu... lalu "

"Lalu bagaimana?!" desak Jaka Bego tak sabar. "Lalu... beberapa saat tadi, Mahani meminjam kuda tetangga dan ia minggat. Dia minggat entah ke Pulau Kramat menyusul Lanangseta, atau ke rumah Putri Bukit Badai itu. Sebab, kata tetangga yang kemarin ikut ke rumah Lanang, dia meminjam kuda sambil menangis dan menanyakan tempat rumah Lanang kepada tetangga kami itu. Tahu-tahu ia pergi begitu saja tanpa pamit kepada kami.... Ibunya jadi kaget. Maklum ia suka berdebar-debar, jantungnya sering deg-degan jika ada masalah apa saja. Kemudian... ibunya Mahani pingsan dan... dan "

"Apa Bapak punya tulang babi...?" tiba-tiba Huang Pai ikut bicara.

"Apa maksudmu, Huang Pai?" tanya Ludiro. "Saya biasa menyembuhkan orang kesurupan

dengan tulang babi. Kalau memang ada, biarlah saya yang menangani ibu itu," jawab Huang Pai dengan penuh keyakinan.

"Kalau begitu, sebentar... saya mintakan kepada tetangga saya yang punya peternakan babi !"

Pak Lodang segera keluar dan berseru kepada beberapa tetangganya. Waku itu, Mak Lodang mendelik-mendelik bagai setan hendak berontak dari pegangan empat lelaki.

"Huang Pai...." kata Jaka Bego setelah terbengong sesaat." Kau bantu pak Lodang di sini ya? Aku mau mengejar Mahani !"

"Jak, tunggu !" cegah Ludiro.

"Paman, saya tidak ingin Mahani mendapat halangan apa pun di perjalanan. Saya harus menyusul dan melindunginya. Biar saya mengejar sendiri, Paman."

"Jangan, Jaka. Pulau Kramat cukup berbahaya !"

"Demi keselamatan Mahani, saya bersedia menempuh bahaya apa pun !" setelah bicara begitu,

Jaka Bego langsung keluar dan Ludiro mengejarnya setelah berkata kepada Huang Pai:

"Jangan pergi-pergi sebelum kami kembali, Huang Pai!"

"Baik, Paman...!" jawab Huang Pai dengan wajah tegang.

Ludiro tahu, Jaka Bego benar-benar menaruh hati kepada Mahani. Tetapi agaknya Mahani lebih tertarik kepada Lanangseta. Itu memang wajar. Tetapi yang tidak wajar ialah Jaka Bego sendiri. Menurut Ludiro, Jaka Bego kurang bisa mawas diri. Ia hanya memburu rasa cinta tanpa mempertimbangkan keserasian wajah dan kondisi pasangannya.

"Tapi yang namanya cinta memang sering membuat hati manusia menjadi buta," pikir Ludiro. Ia menghempaskan nafas sambil melihat gerakan lari Jaka Bego begitu penuh semangat dan tekad. Ludiro hanya mengikutinya dari belakang, sekali pun sebenarnya Jaka Bego sudah mengetahui, bahwa Ludiro mengikutinya, namun agaknya Jaka Bego tidak mau diusik ketegangannya. Ia tampak benar-benar mencemaskan keselamatan Mahani.

Pulau Kramat, bagi penduduk desa Tayub ternyata sudah bukan tempat aneh lagi. Bagi para nelayan, Pulau Kramat merupakan pulau yang selalu diingat untuk tidak didekati. Semua penduduk desa Tayub mengetahui di mana letak pulau itu, tapi tak seorang pun yang berani dengan sengaja mendekati pulau tersebut, kendati konon di perairan Pulau Kramat terdapat banyak ikan ketimbang di perairan lainnya. Namun kemisterian dan keseraman pulau tersebut membuat dongeng turun-temurun yang dituturkan kepada generasi ke turunan masyarakat Desa Tayub, lalu mereka berkesimpulan, jika ingin selamat, jika tidak ingin ditelan hantu, jangan berlayar dekat Pulau Kramat. Sebab itulah, kepergian Mahani ke Pulau Kramat itu membuat ibunya panik dan pingsan. Sebab itu juga, wajah-wajah penduduk desa Tayub menjadi tegang dan was-was mendengar kabar bahwa Mahani lari mengejar kekasihnya ke Pulau Kramat.

Sebegitu dalamkah cinta Mahani kepada Lanangseta? Sebegitu kuatkah Mahani memendam cinta itu dan baru sekarang orang tuanya mengetahuinya? Menurut Ludiro, Mahani sama piciknya dengan Jaka Bego. Mereka tidak mau memikirkan tentang keselamatan diri sendiri demi mengejar cintanya yang tertiup angin ke arah Pulau Kramat. Jaka Bego seorang lelaki, mungkin bisa saja mengatasi kesulitan demi mengejar kasihnya kepada Mahani. Tetapi bagaimana dengan Mahani? Dia seorang perempuan tanpa bekal ilmu silat sedikit pun, mampukah dia menjaga diri sendiri dalam mengejar cintanya kepada Lanangseta?

Ludiro jadi berhenti dari jalannya ketika ia melihat Jaka Bego merunduk-runduk di balik semak belukar. Ludiro mendekat, dan berbisik:

"Ada apa?"

"Ssstt...!" Jaka Bego hanya memberi isyarat dengan jari telunjuknya yang ditempelkan di bibir. Ludiro manggut-manggut setelah ia tahu apa yang diintai Jaka Bego. Ia mendengar suara dua perempuan yang sedang bertengkar. Lewat celah dedaunan, Ludiro dapat melihat dua perempuan itu adalah Mahani, dan seorang gadis bermata kecil, dengan wajah dan hidung serta bibirnya mungil, cantik. Gadis itu berpakaian kuning dengan bunga-bunga warna merah, dari bahan kain mengkilap yang halus. Rambutnya tersanggul rapi; mengenakan tusuk konde dari kayu cendana, dan pada bagian pelipisnya kanan kiri terdapat beberapa rambut yang terjulur sampai di bawah telinga. Rambut itu melingkar, meliuk-liuk bagai akar yang lembut. Dan rambut itu pula yang membuat

gadis Cina itu kelihatan cantik menawan hati.

Sementara itu, Mahani mengenakan celana dan baju longgar lengan panjang. Warnanya abuabu, mengenakan ikat kepala dari kain merah, seperti seorang pendekar yang siap bertempur sampai titik darah penghabisan. Mahani menariknarik tangan pemuda ganteng, tapi gadis Cina itu memegangi tangan pemuda itu yang sebelahnya. Seakan gadis Cina itu mempertahankan barang miliknya yang hendak direbut Mahani.

"Itukah gadis putri Laksamana Chou, Paman?" tanya Jaka Bego.

"Kurasa begitu. Gadis itulah yang bernama Yin Yin. Dari wajah dan potongan pakaiannya yang berleher tertutup itu kita bisa mengetahui bahwa dia gadis Cina."

"Tapi mengapa mereka jadi berebut Lanangseta, ya? Maksudku, mengapa Lanangseta ternyata mengenal Yin Yin? Padahal menurut pengakuan Lanang, dia tidak pernah bertemu dengan gadis yang bernama Yin Yin. Tapi "

"Ssst. ! Itu bukan Lanangseta!" kata Ludiro.

"Bukan Lanangseta, bagaimana? Apa penglihatan Paman sudah kabur? Jelas pemuda itu adalah "

"Dia adik kembar Lanangseta. Aku mengenalnya waktu ia terluka di Goa Malaikat...." (dalam Kisah RAHASIA SENDANG BANGKAI dan MISTERI GOA MALAIKAT).

Jaka Bego manggut-manggut dengan mulut melongo. Ia baru sekarang diberitahu bahwa Lanangseta mempunyai saudara kembar yang wajah dan potongannya sama persis dengan Lanangseta.

Kata Ludiro masih dari balik semak-semak. "Dia itulah yang bernama Ekayana. "

"Ekayana...?!" Jaka Bego makin berkerut dahi. "O, pantas waktu itu Laksamana Chou menyiksaku untuk mencari keterangan di mana pemuda yang bernama Ekayana berada. Kukira mereka salah menyebutkan nama Lanang menjadi Ekayana. Wah, untung bukan aku yang bernama Ekayana ya?"

"Pemuda itu bergelar Pendekar Maha Pedang." "Pendekar Maha Pedang?! O, kalau begitu ia

mempunyai permainan silat berpedang yang cukup hebat, ya?"

"Memang...! Eh, lihat... Yin Yin ditampar oleh Mahani. Aduh, kasihan dia...!"

"Ayo, kita bantu menyelesaikan kesalahpahaman itu. Mahani pasti mengira Yin Yin merebut Lanang dari hatinya." Lalu, sambil bergegas keluar dari persembunyian, Jaka Bego bicara sendiri dalam gumam, "Mahani, Mahani... kenapa kau berebut hati pemuda itu sedangkan ada hati pemuda lain yang sedang nganggur menunggu usapan kasih mu. Hatiku inilah yang sedang nongkrong mencari tempat untuk berlabuh     Wih, kok syair-

ku seperti kapal ikan saja, pakai berlabuh    " ujar

Jaka Bego sendirian.

Sementara itu, Mahani masih dibungkus kecemburuan yang meluap dan menuding-nuding Yin Yin.

"Kalau tidak mampu cari kekasih, beli saja di tempat lain. Tapi jangan merebut kekasih orang!."

"Kamu yang merebut kekasihku! Ini kekasihku, bukan kekasihmu!" balas Yin Yin sama galaknya.

"Aku lebih dulu mengenai Lanangseta! Aku lebih dulu menaruh hati kepada pemuda ini !

"Tidak bisa! Mungkin memang kau lebih dulu menaruh hati kepadanya, tapi aku sudah lebih dulu menerima benih bayi darinya!"

"Oooh ?! Jadi kau telah mengandung?

Mengandung karena perbuatannya?!" Mahani tercengang kaget sambil menuding Ekayana yang cengar-cengir saja.

Mahani memandang marah kepada Ekayana yang disangka Lanangseta. Air matanya mulai menitik dan ia menampakkan betul sakit hatinya. Dengan tandas ia berkata:

"Lanang.... Kau kejam! Kau biadab! Kau hancurkan semua impian dan dambaan ku dengan menghamili gadis itu, Lanang!"

"Aku bukan Lanang, Nona manis...." jawab Ekayana dengan tersenyum geli sendiri.

"Hahh...! Kau sekarang bahkan mengkhianati dirimu sendiri dengan mengaku bukan Lanang!"

"Betul. Aku bukan Lanangseta!"

"Mustahil! Nyatanya kau bisa menghamili gadis itu! Itu berarti kau Lanang!" geram Mahani, dan Ekayana semakin tersenyum geli.

"Dia Ekayana...!" cetus Ludiro yang muncul dari semak bersama Jaka Bego.

"Oh, Paman Ludiro...?!" Mahani dan Ekayana nyaris berseruan bersamaan. Mahani segera menghambur kepada Ludiro, dan Jaka Bego sudah terlanjur mengembangkan kedua tangannya siap dipeluk Mahani dalam tangis, ternyata Mahani bahkan memeluk Ludiro dalam tangisnya…

"Dia menghancurkan hati saya, Paman.  Dia....

Lanang telah menghamili gadis Cina itu dan dan

ia tak mau mengenal saya lagi. Oooh sakit sekali

hati saya, Paman "

Ludiro melerai tangis Mahani. "Segalanya akan ku jelaskan padamu, Mahani "

"Paman Ludiro," kata Ekayana. "Agaknya gadis itu salah alamat, Paman. Tolong jelaskan bahwa aku bukan Lanang !"

"Bohong !" bentak Mahani.

Jaka Bego yang berdiri di dekat Ludiro ikut berkata:

"Betul, Mahani. Dia bukan Lanang, aku tahu persis cara Lanang memandang perempuan. Ia akan menatap mata perempuan. Sedangkan orang ini selalu melirik belahan dadamu, Mahani. Dia bukan Lanang."

Mahani mencengkeram baju Jaka Bego dengan marah, "Kau tidak tahu apa-apa, Bego! Kau tidak punya rasa kasih yang dapat membedakan mana Lanang dan mana yang bukan. Tapi aku... aku punya cinta kepadanya, aku tahu bahwa dia Lanangseta, buktinya gadis itu bisa hamil dengannya "

"Mahani..." kata Jaka Bego tenang. "Bukan hanya Lanang yang bisa menghamili perempuan. Terus terang aku sendiri bisa!"

"Haah...!" Mahani gemas sendiri lalu mendorong tubuh Jaka Bego. Tapi Jaka Bego masih bersabar, bahkan berkata:

"Soal hamil-menghamil jangan sangsikan ke-

saktianku untuk itu. Aku berani menjamin, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya gadis mana pun bisa hamil denganku. Tidak hamil, uang kembali!"

"Baik! Baik...!" teriak Mahani yang sudah seperti orang kesurupan. Ia menuding-nuding Jaka Bego. "Akan kubuktikan kata-katamu.!"

"Hahh ?!" Jaka Bego membelalak senang.

"Akan kubuktikan kata-katamu. Di rumahku ada seekor kambing perempuan! Nah, buktikan kesaktianmu yang kau katakan tadi! Buktikan, Orang kurus!" bentak Mahani.

Jaka Bego terbengong melompong.

"Aku disuruh menghamili kambing perempuan?! Ah, yang benar saja, Mahani Kamukan

bukan kambing, mana bisa disamakan !"

Ludiro melerai kesalahpahaman mereka. Dengan sabar dan bersikap sebagai penengah yang adil, Ludiro berkata:

"Mahani, Lanangseta mungkin belum pernah bercerita padamu, bahwa ia mempunyai saudara kembar, yaitu adiknya yang berwajah serupa. Namanya, Ekayana. Dan ini, pemuda ini, namanya Ekayana. Ia bergelar: Pendekar Maha Pedang, sedangkan kalau Lanang bergelar Pendekar Pusar Bumi. Jadi, jangan salah duga. Memang Ekayana mempunyai wajah dan potongan tubuh yang sama persis dengan Lanangseta, tapi dia bukan Lanangseta. Percayalah padaku, Mahani Dalam usiaku

yang sudah lanjut ini, untuk apa aku menipu hanya karena membela persoalan  cinta  seperti  ini "

Mahani tertegun sejenak, lalu menangis tersengguk-sengguk.

"Jadi... jadi di mana Lanangseta? Bukankah kata ayah dia juga ingin menikah dengan seorang gadis Bukit Badai? Oh, tidak Paman... aku harus menemuinya. Dia harus tahu bahwa akulah perempuan yang paling mencintainya, sekali pun hal itu belum pernah ku lontarkan padanya "

"Lanangseta pergi ke Pulau Kramat!" sambung Jaka Bego tanpa diminta. "Dia harus merebut bunga teratai, supaya dia dapat kawin dengan putri Bukit Badai!"

"Tidak!" teriak Mahani membuat Jaka Bego terloncat mundur. "Dia tidak boleh kawin dengan siapa pun! Dia tidak boleh ke Pulau Kramat yang sudah sering menimbulkan korban manusia itu !

Tidak! Aku harus mencegahnya !"

"Mahani...! Tunggu...!" teriak Jaka Bego, tapi Mahani tetap naik ke punggung kuda dan memacu kuda dengan cepat.

"Dia pasti ke Pulau Kramat, Paman. Bagaimana ini?!"

"Itu salahmu sendiri! Mengapa kamu bicara asal buka bacot?!"

Ekayana ikut tegang, "Pulau Kramat?! Bahaya...! Kalau begitu aku harus ikut menyusulnya, Paman. Pulau itu kejam!"

*

* *

3

BUKIT karang di tepi laut. Warnanya putih. Cahaya sinar bulan memantulkan warna tersendiri. Bukit karang itu menjadi seperti perak. Dan ombak laut di tepian tebing yang curam memercikkan air yang menerpanya. Buih laut seperti cahaya mata kucing di tengah malam. Bagai kunangkunang bertaburan pada lidah ombak.

"Pemandangan di sini indah sekali," tutur Andini seraya memperhatikan buih-buih ombak yang memercik. Rambutnya bergerai-gerai dipermainkan oleh angin laut. Tak kencang, namun cukup menghadirkan kedinginan yang membungkus tubuh.

"Kalau aku sudah kawin, aku ingin mempunyai rumah di tepi laut seperti ini. Indaaah... sekali."

Lanangseta tidak menanggapi kata-kata gadis manja, Andini. Ia membiarkan gaun merah jambu yang melambai bagai kilasan kabut indah itu di terpa angin. Ia membiarkan tubuh sintal berdada sekal itu berpeluk tangan sendiri. Ia juga membiarkan angin mempermainkan rambutnya sendiri, yang sesekali menutup gagang pedang Wisa Kobra di punggungnya. Lanangseta duduk tenang, memandang gumpalan hitam di tengah lautan. Gumpalan hitam itulah Pulau Kramat. Pulau yang harus dihampiri, karena di sana tersimpan bunga Teratai Wingit, di tangan pencurinya.

Sedari tadi Lanangseta sedang berpikir, bagaimana caranya untuk datang ke sana. Bukan soal kendaraannya, tapi soal keamanannya. Pulau itu terbuka. Sosok manusia melintasi perairan laut, akan dapat terlihat, sekalipun manusia itu berkelit dalam naungan karang-karang yang mencuat dari kedalaman ombak.

'Kau menyukai pemandangan indah ini, bukan?" tanya Andini seraya duduk di batu karang datar, di samping Lanang. Jawaban Lanang hanya sebaris kebisuan. Matanya masih menatap lurus ke depan, pada gumpalan hitam di tengah lautan. Andini semakin bergeser, lebih mendekati ke tubuh Lanang.

"Kau memikirkan untuk membangun rumah di sini? Dan hidup mesra di samping seorang istri tercinta?"

Lanang belum mau menjawab, atau bahkan tidak mendengar apa yang dikatakan Andini. Tapi, Andini tak bosan memancing pembicaraan dengan bisikan lembut:

"Kubayangkan kalau aku mempunyai rumah di sini, dan dapat hidup bersama seorang suami seperti... kamu." Andini melirik, Lanang masih bungkam. "Bukan seperti adikmu, Ekayana yang mata keranjang itu!" Andini cemberut, ketus. Tapi Lanangseta tetap diam. Ia duduk dengan kedua lengannya ditaruh di atas lutut, dan tubuhnya sedikit membungkuk. Ia seakan menunggu sesuatu yang bakal terjadi dan sangat diharapkan. Andini yang manja, masih berceloteh:

"Lama-lama aku bisa menilai, siapa yang terbaik antara adikmu dan... kakaknya. Aku bisa menilai, siapa yang patut mendapat perhatian khusus dariku, kau atau Ekayana. Dan ternyata, setelah kupelajari... kaulah yang terbaik dari segalanya."

Andini memandang Lanangseta terangterangan. Tetapi Lanangseta tak ubahnya seperti patung bernyawa. Diam, tidak bergerak, tapi tetap bernafas. Andini sengaja memandangnya dari jarak dekat, supaya wajah halus berhidung bangir itu dapat lebih bisa dinikmati lagi dalam taburan cahaya rembulan malam.

Andini bergumam sendiri, pelan sekali.

"Kau... punya pesona yang tak mungkin bisa dilupakan oleh setiap wanita. Aku menemukan pesona itu sekarang. Aku tahu, mengapa hatiku sering berdebar-debar sejak kita berada di dalam Goa Malaikat itu. Ternyata... ternyata ini yang membikin hatiku sering tergoda olehmu...." Andini memberanikan diri menyentuh bibir Lanangseta. Ia mengusapnya perlahan-lahan setelah Lanangseta tidak mengelak. Ia semakin girang setelah tahu Lanang hanya diam mematung.

Bibir itu begitu segar, seperti delima direndam salju. Sentuhan Andini sangat lembut, sedikit mengambang agar tidak membuat bibir itu tertekan. Dan kelembutan sentuhan jemarinya itu membuat Andini semakin berdebar-debar. Detakdetak jantungnya terasa jelas, seakan mampu menggerakkan kain bajunya yang tipis dan lembut.

Andini mendesah beberapa kali, tapi Lanangseta tetap diam. Sentuhan jemari itu begitu pelan dan tipis, merayap ke dagu yang halus, kemudian ke bibir, kembali mengusap-usap seraya ia berkata dalam desah: "Bibir ini... pernah menggoda hatiku. Bibir ini pula yang membuat aku gelisah di sela kemesraan ku bersama Ekayana. Dan setelah ku tahu kemesraan itu palsu, bibir ini semakin menggoda ku." Kini, suara Andini berubah bagai sebaris rintih perawan di ambang birahi.

"Aku ingin memiliki selimut malam ini. Ingin... sekarang pun ingin.... Ooh... Kebisuan mu semakin menggoda naluri kewanitaan ku, Lanang    " Ia

mendesah dan mendekatkan wajah. "Lanang    ku-

renggut kau "

Andini yang sudah terengah-engah itu menjadi nekad. Ia tak takut dikatakan perempuan murahan. Ia tak peduli akan dicaci Lanang nantinya, Ia sudah terlanjur diserap birahi yang menjalar ke seluruh tubuh dan membuatnya gemetar serta merinding. Lanangseta tidak bergerak, bagai terhipnotis. Ketika Andini lebih berani menempelkan bibirnya ke bibir Lanangseta, pendekar tampan itu pun masih terpaku seperti patung seorang pangeran malam. Andini merasa diberi peluang untuk menikmati kobaran birahinya. Ia mengecup bibir Lanang beberapa kali dengan penuh penghayatan. Ia menggigit-gigitnya dengan tipis. Sangat tipis, sehingga bibir itu bagai mengalirkan madu surgawi yang amat manis melenakan. Andini tak bosan bermain lidah di permukaan bibir itu. Alam yang sepi, debur ombak yang menyanyi, sungguh merupakan irama malam penghantar kemesraan. "Aaahh !"

Lanangseta terpekik. Secara refleks tangannya bergerak menepis. Gerakan itu bagai sebuah tamparan di wajah Andini. Lanang bangkit dan mengaduh, meringis menahan sakit. Ia memegangi pinggangnya yang ternyata berdarah. Pinggang itu robek beberapa senti. Andini membelalakkan mata. Kaget.

"Lanang...?! Kenapa pinggangmu itu?!" "Uuhhff...!" Lanangseta masih menahan rasa

sakit. Ia segera meludah di telapak tangan, lalu menempelkan ludahnya itu ke tempat yang terluka. Ia semakin menyeringai menahan rasa perih.

"Apa yang terjadi?! Aku tidak melukaimu...!" kata Andini yang sangat cemas dan terheranheran.

"Memang bukan kau yang melukai ku...." kata Lanang mengerang menahan sakit.

"Lalu, kenapa kau terluka begitu?!" "Seseorang di sana telah melukai ku." "Apa...?! Seseorang di pulau itu...?!"

"Ya. Aku sempat bertarung dengannya. Ia mempunyai ilmu silat yang cukup hebat, Dan pedangnya berhasil melukai ku karena pusat pikiranku terganggu oleh perbuatanmu!" Lanangseta jadi geram, menahan kedongkolan.

Andini terbengong dalam keheranan yang tak habis-habisnya. Ia sempat memandang pulau yang hanya kelihatan bagai gumpalan hitam di tengah lautan itu. Lalu ia kembali bicara kepada Lanangseta.

"Tapi... tapi sejak tadi kau berada di sini! Kau sejak tadi diam di sini bersamaku, dan… dan bahkan kita sedang menikmati kemesraan malam. Aneh. Kenapa kau bilang bahwa kau bertarung dengan seseorang di sana?"

"Raga ku di sini, tapi aku mengirim nyawaku, sukma ku ke sana. Aku menyelidiki pulau itu dengan sukma ku, tapi karena kau mengganggu pemusatan pikiranku, maka aku jadi lengah dan ia berhasil menebaskan pedangnya ke pinggangku! Uuh... sialan kau!"

"Ooh... maafkan...." Andini masih tertegun dengan mulut melongo dan kedua tangannya saling remat dalam kecemasan. Ia baru tahu bahwa Lanangseta ternyata mampu mempermainkan jurus yang langka, yaitu mengirimkan sukmanya untuk bertarung jauh, sementara raganya tetap di tempat. Jika lawan berhasil melukai sukmanya, maka raganya itulah yang terluka. "Woow...! Alangkah tinggi ilmunya. Alangkah sempurna," pikir Andini diam-diam.

"Jadi di sana ada manusia penghuninya?!"

Lanangseta mengangguk. "Ada beberapa orang "

"Beberapa orang?!"

"Ya. Perempuan semua." "Perempuan semua?!"

Lanangseta mendesah. Rasa sakitnya berkurang. Ia berkata lagi, "Ia menghadang kedatangan kita."

"Menghadang?!"

"Pulau itu mempunyai sebuah istana."

"Istana?!"

"Tapi tak dapat dilihat oleh mata manusia biasa."

"Biasa ?!"

"Berbahaya sekali jika kita berbuat seenaknya!"

"Berbuat seenaknya?!"

"Uuh... luka ini bisa membuatku tak tahan "

"Tak tahan?! O, ya... aku juga tak tahan !"

"Hei, mabok laut kau ya?!" bentak Lanangseta. Andini menggeragap, ia bagai telah bicara di luar kesadaran. Ia buru-buru menutup mulutnya dan berpaling malu.

"Ngomong asal cuap saja    " gerutu Lanangseta

seraya melangkah mendekati tebing bukit karang, dan matanya memandang jauh ke gumpalan hitam di tengah samudera itu. "Andini...!"

"Ya, Lanang...?!"

"Aku akan ke sana sendirian." "Aku juga akan ikut sendirian." "Tidak bisa."

"Ya, tidak bisa.'"

"Kau harus tinggal di sini." "Aku harus ikut!"

"Andini, ini keadaan gawat. Kau tak boleh ikut ke sana, Andini!" tegas Lanangseta.

"Aku tahu, tapi aku sering berada dalam keadaan gawat, kau harus percaya itu."

"Aaahh...!" Lanang mendesah jengkel. "Pokoknya aku akan ke sana sendirian."

'Pokoknya aku harus ikut!" "Kau gila!"

"Mudah-mudahan kau sadar kalau aku tergilagila padamu!" jawab Andini dengan bersungutsungut manja.

Lanangseta menghempaskan nafas kesal. Ia termenung dan berpikir dalam kedongkolannya. Baginya, membawa Andini ke pulau itu sama saja membawa beban seberat gunung. Lanang merasa dapat dengan mudah datang ke sana. Ia harus menggunakan ilmu peringan tubuh, atau menggunakan jurus Lindung Bumi, yaitu amblas ke tanah dan berjalan melalui dasar lautan. Tetapi bagaimana dengan Andini? Apakah dia bisa?

Andini masih cemberut memunggungi Lanangseta. Ia duduk dengan bertopang tangan kirinya. Lanangseta memperhatikan sejenak, lalu buang muka dan termenung lagi.

"An...." sapa Lanangseta setelah bungkam beberapa saat. Andini hanya berpaling sedikit, melirik Lanang dengan tetap bertopang dagu. Lanang mendekat seraya masih mendekap luka di pinggangnya.

"Kau bisa berenang?" tanya Lanang pelan. "Bisa," jawab Andini malas-malasan. "Yakin kau tidak akan tenggelam?!"

"Entahlah," jawab Andini acuh tak acuh. "Seingatku, dulu aku sering berenang, tapi selalu tenggelam. Entah kalau sekarang."

"Busyet! Apa bedanya dengan sekarang? Itu berarti kau belum bisa berenang!"

"Apakah kau akan membiarkan aku tenggelam?"

"Tentu tidak."

"Nah, itulah yang ku maksud: entah dengan sekarang."

"Jadi maksudmu, kalau sekarang karena ada aku kau mungkin tidak akan tenggelam? Begitu?"

Andini mengangguk, masih cemberut dan malas-malasan.

"Siapa bilang?! Kalau kau tak bisa berenang, biar pun ada aku ya tetap saja tak bisa berenang."

"Apa gunanya punggungmu?" kata Andini dingin.

"Jadi, kau ingin naik ke punggungku sementara aku berenang mengarungi ombak lautan itu?"

"Apakah itu tak bisa terjadi?"

Laming mendengus kesal. Ia berdecak menampakkan kedongkolannya. Lalu berkata dalam gerutu, "Kalau begitu kau lebih baik tak usah ikut! Bikin beban semakin berat saja!"

"Aku ikut!" kata Andini tegas, tapi datar.

"Di sini tidak ada perahu. Dan kau tidak bisa berenang, bagaimana mungkin kau akan sampai ke sana? Kau tidak bisa mengandalkan punggungku untuk menanggung beban tubuhmu selama aku berenang. Aku bisa kehabisan tenaga." "Aku akan sampai ke pulau itu tanpa berenang... "

Lanang menatap Andini dalam kebimbangan dan kesangsian atas ucapan tadi.

"Jadi, apa maksudmu?"

"Aku akan ke Pulau Kramat dengan caraku sendiri!"

"Caranya?!"

"O, kau ingin tahu? Kau ingin belajar padaku?" "Aaah... Andini! Ayolah, jangan main-main...! Aku hanya ingin memperhitungkan keselamatan-

mu."

"Kenapa harus kau perhitungkan. Sudah tentu aku akan selamat sampai di sana."

"Dengan ilmumu sendiri?"

"Dengan perlindunganmu, tentunya...!" Nafas terhempas lagi. Lanangseta murung.

"Itulah yang ku maksud bebanku semakin bertambah."

"Kalau begitu yah... jangan anggap sebagai beban. Kau pun tak perlu melindungiku."

"Kalau kau mati, bagaimana?" "Tanpa nafas, tentunya."

"Maksudku, kalau kau mati, lantas Ekayana menuntut ku sebagai penyebab kematianmu, bagaimana?"

"Jangan singgung-singgung lagi tentang Ekayana!" Andini cemberut. "Aku tak ingin mendengar kau bicara tentang adikmu yang mata keranjang dan penghianat itu!" geramnya.

"Bukankah... bukankah kau masih kekasih Ekayana? Bukankah dulu kalian merencanakan bertunangan?"

"Bertunangan, memang. Tapi berkelanjutan tidak! Aku sudah bukan milik dia, dan dia bukan milik aku. Dia milik Yin Yin, gadis Cina itu. Dan aku milik... milik "

"Milik siapa?!" tanya Lanangseta setelah Andini terdiam.

"Milik... milikmu, kalau kau  mau  memiliki aku "

Andini menunduk, Lanang berkerut dahi. Namun segera menghela nafas, mengendurkan wajah yang berkerut. Ia membuka luka yang disekap oleh tangannya tadi. "Ah, syukur luka itu sudah kering. Ilmu pemberian Tongkat Besi tidak siasia," pikir Lanangseta pada waktu itu.

"Lanang...." ucap Andini seraya mendekat. "Apakah aku salah jika aku... lari dalam dekapan mu?"

"Kau bicara sudah kelewat ngaco, Andini." "Jadi mengharapkan kasih adalah kata-kata

ngaco?! Jadi, mengharapkan balasan cinta kasih darimu adalah ngaco?"

"Ya," jawab Lanangseta dengan tegas. "Kau tidak tahu keadaanku saat ini, Andini."

'Yang ku tahu kita hanya berdua. Yang ku tahu aku sering tergoda oleh bibirmu dari sejak di Goa Malaikat. Yang ku tahu, sekarang tak ada jeleknya jika kita saling mencari kehangatan angin pantai ini. Yang ku tahu "

'Yang ku tahu pikiranmu mulai gila!" sahut Lanang tegas. Andini menunduk, lalu berjalan menjauh. Duduk di batu karang yang tadi. Sorot bulan di langit menampakkan wajahnya yang murung dan berselaput kesedihan. Lanangseta mencoba menyadarkan amukan cinta Andini.

"Aku tahu, kau mengharapkan aku, Andini. Bahkan mungkin akan banyak yang mengharapkan aku, karena... karena darah dewa telah tersentuh dalam bibirku dan mulutku "

Andini memandang sayu, namun punya makna ingin menjelaskan tentang darah dewa. Dan Lanang berkata.

"Kapan-kapan ku jelaskan hal itu. Tapi yang jelas, sekali pun banyak perempuan cantik yang akan tergila-gila padaku, namun aku tetap ingin mencintai satu perempuan, yaitu calon istriku "

"Siapa calon istrimu itu?" tanya Andini yang memang belum tahu bahwa bunga teratai yang ingin direbut Lanang dari tangan penghuni Pulau Kramat itu, adalah syarat untuk perkawinannya dengan Kirana, Putri Bukit Badai itu.

"Jawablah, Lanang siapa calon istrimu itu?"

"Kenapa kau mendesak? Untuk apa kau tahu?" "Barangkali aku bisa menunjukkan padanya bahwa akulah orang yang pantas mendampingimu. Dia perlu tahu bahwa aku punya kehebatan

sebagai seorang istri pendekar."

Lanangseta tersenyum masam seraya gelenggeleng kepala pelan. "Kau keliru, Andini. Kau tak boleh begitu."

"Aku hanya ingin menunjukkan betapa pantasnya seorang istri pendekar gagah dan tampan berilmu tinggi seperti aku. Paling tidak supaya calon istrimu itu sadar dengan apa yang ia impikan!" Sebenarnya Lanangseta merasa tersinggung mendengar ucapan Andini itu. Ia merasa calon istrinya disepelekan. Ia nyaris membawa Andini menemui Kirana dan akan menyuruh Kirana merobek mulut Andini yang sombong. Namun setelah ia berpikir dalam ketenangan, apalah artinya itu semua? Memang, terkadang cinta yang membara sering melakukan kesalahan besar. Adakalanya cinta yang berkobar melakukan tindakan yang

menjadi bencana bagi diri sendiri.

"Ayo, katakan di mana calon istrimu berada saat ini, dan kau bisa pergi ke Pulau Kramat itu sendirian, sementara aku akan menemui dia di rumahnya." desak Andini.

Kepala Lanangseta menggeleng lagi. Ia berkata dengan tenang dan suaranya cukup kalem.

"Kau akan hancur!"

"Hancur? Iih...." Andini mencibir. Menyepelekan.

"Hancur oleh kesombongan dan kebodohanmu sendiri," sambung Lanang yang sempat membuat Andini menatap serius. Andini cemberut dan buang muka, tapi suaranya terdengar penuh kemanjaan:

"Kau senang ya kalau aku hancur? Kau suka kalau aku mati?"

"Kalau kau ingin aku suka, aku bisa bilang suka. Tergantung sikapmu terhadapku dan terhadap calon istriku."

Tiba-tiba Andini berpaling, lalu segera mendekati Lanang. Lanang duduk, sementara Andini berani berjongkok di depan Lanang, kedua tangannya memegang kedua paha Lanang, sepertinya ia seorang hamba yang perlu merayu raja.

"Kenapa kau tidak mau mencintai ku? Kenapa? Apa aku jelek? Apa istrimu itu lebih cantik dariku? Apakah... apakah aku kurang menggairahkan? Apakah kau merasa aku tak bisa memberikan kehangatan yang membuatmu ketagihan?"

"Andini, cukup kata-katamu! Jangan menjadi gila karena hasrat tak sampai!" cetus Lanang.

Andini tidak peduli. "Apakah aku tak pantas kau cumbu, baik besok, lusa, atau pun sekarang...?" Andini mulai semakin berani. Ia melepas kancing gaunnya yang ada di bagian dada sambil berkata, "Apakah tubuhku kurang merangsang kelaki-lakianmu?"

"Terlalu! Terlalu...!" Lanang beringsut dan berpaling.

"Lanang... pandanglah aku... pandanglah milikku di antara taburan sinar bulan ini... pandanglah...!"

"Cukup, Andini!" bentak Lanang dengan suara keras. Andini yang sudah mabok kepayang tak pernah mau mendengarkan bentakan semacam itu. Ia semakin nekad.

"Lanang.... Apakah kau tega tidak mau menerima kehadiranku di hatimu?! Apakah aku tak pantas menjadi istri seorang pendekar setampan kamu dan seperkasa kamu?!"

Lanang menjauh, Andini sengaja mengejar. Ia tahu, Lanang sudah kerepotan menahan nafas dan mengendalikan gejolak dalam dirinya. Ia tahu Lanang sangat tergoda. Sebab itu, Andini semakin menggila. Kini gaunnya sudah lepas di bagian atas. Kedua pundaknya terlihat mulus dan sangat menggairahkan terkena pantulan cahaya rembulan. Lanangseta sendiri menjadi berkeringat, dan bungkam menahan diri sewaktu Andini mendekat menempelkan bibirnya ke lengan Lanangseta. Desahnya terdengar menggetarkan bulu kuduk:

"Beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku, Lanang. Beri aku kesempatan untuk membuatmu tahu, bahwa aku tak akan kalah menarik dengan calon istrimu itu.... Sekarang, Lanang. Sekarang dan di tempat ini saat yang baik untuk membuktikan betapa besar cinta dan pengharapan ku padamu...." Tiba-tiba Lanangseta mendorong tubuh Andini sehingga gadis itu terjengkang ke belakang. Sikap Lanang menjadi kasar dan ganas. Ia sendiri melompat dengan bersalto ke belakang. Andini semula ingin marah kepada Lanang. Tapi kemarahannya itu sirna oleh rasa kaget yang tidak kepalang tanggung. Sebab pada saat tubuh mereka terpisah, sebuah sinar warna biru tua melayang di udara dan melesat bagai meteor, menghantam mereka. Untung Lanang gesit mengelak, sehingga sinar itu membentur batu karang yang menonjol di kejauhan sana, lalu batu itu hancur bersama bunyi sebuah ledakan yang amat mengagetkan.

"Mereka mampu menyerang kita dari pulau itu, Andini!"

"Tapi sekarang ini saatnya aku membuktikan diri, Lanang...!"

"Gila...!" bentak Lanang. "Lihat, ada dua sinar biru lagi yang menuju ke arah kita. Hei. Awas, Andini... yang satu menuju ke arah mu, yang satu ke arah ku.... Awaas...! Pergi dari situ...! Pergiii...!"

"Blaar...! Blaar...!"

*

* *

4

ANDINI nyaris menjadi korban kecerobohan nafsunya. Ia hampir saja terkena sinar biru kalau saja Lanang tidak segera meloncat bagai gerakan macan menerkam, dan menubruk dada Andini sehingga gadis itu tersentak ke belakang. Kepalanya nyaris membentur batu karang yang menonjol.

"Kasar sekali kau padaku, Lanang...." Andini merengek bagai anak kecil hendak menangis. Lanangseta melepaskan hempasan nafas sambil matanya masih tertuju ke arah Pulau Kramat.

"Kita harus segera turun dari tempat ketinggian ini!" kata Lanangseta seraya bergegas bangkit. Ia melongok ke bawah, tebing cukup curam. Ombak dan batu karang runcing saling beradu di bawah tebing. Tempat itu memang menyerupai bukit, namun sesungguhnya sebuah dataran yang tinggi dan menjorok ke laut. Barangkali karena perubahan alam yang panjang, maka dataran itu menjadi sebuah bukit karang yang tandus. Lega, tanpa tanaman apa pun.

"Ayo, kita tinggalkan tempat ini. Kita ke bawah sana!"

"Ke bawah...?!" Andini membiarkan Lanangseta menarik tangannya dan menggandengnya pergi dari tepian bukit karang. Beberapa puluh langkah kemudian mereka memasuki hutan lagi. Sebab kalau hendak menuju ke pantai, harus mengelilingi bukit itu lebih dulu. Dan di sekeliling bukit itu, jauh dari tebingnya, cukup banyak pepohonan yang tumbuh dengan liar, sebagai hutan yang jarang dijamah manusia. Semak belukar banyak, tapi binatang buas boleh dibilang tidak ada, kecuali binatang berbisa sejenis serangga hutan dan ular kecil.

Rimbun dedaunan bagai atap sebuah goa. Tak ada berkas sinar rembulan yang menembus kedalaman hutan. Gelap dan senyap. Mereka terpaksa berjalan meraba-raba, kadang juga tertatih-tatih dan tersandung akar yang melintang pukang.

"Lanang... aku takut...." kata Andini bagai anak kecil yang berada di kamar mayat. Nada suaranya seperti ingin menangis karena dihimpit ketakutan. Lanang hanya menggandengnya sambil berjalan pelan-pelan.

"Aduuh...!" pekik Andini. Lalu ia mengerang dengan suara nyaris tak terdengar.

"Andini? Ada apa? Kenapa kau...?!" Lanang meraba tubuh Andini. Samar-samar pandangan mata Lanangseta mampu melihat bayangan wajah dan kepala Andini yang mendongak-dongak dengan erangan lirih penahan rasa sakit. Lanang segera meraih punggung Andini. Ia sedikit panik karena tak tahu kenapa Andini jadi kesakitan begitu.

"Apa yang terjadi, Andini?!"

"Ular. " jawab Andini dalam erangan tipis.

"Hah ? Ular? kau digigit ular?"

"He, eh...." jawab Andini dalam desah merengek. "Kakiku... tepat di tumit... ular itu menggigitku lalu... lalu entah ke mana. Aduuh badanku

terasa dingin sekali !"

Lanangseta tak dapat memeriksa keadaan Andini lebih teliti lagi. Namun menurutnya, Andini harus segera dibawa ke pantai. Di pantai ada cahaya rembulan Lanang yakin dapat mengobati bisa ular dengan pedangnya, asal ditempelkan persis pada luka gigitannya. Untuk menentukan bekas gigitan, Lanang perlu sinar. Dan di pantai itulah ada sinar yang dapat membantu. Sinar bulan.

"Lanang... badanku dingin dan... dan nafas ku sesak "

"Gawat...! Bisa ular begitu tajam dan ganas!

Kau harus segera kubawa ke pantai, Andini "

Tanpa banyak tanya lagi, Lanangseta mengangkat tubuh Andini dengan kedua tangannya. Ia berlari cepat ke arah pantai, melingkari perbukitan karang, Sepanjang perjalanan, Andini mengeluh pelan. Pelan sekali, seperti seseorang yang berada di ambang maut. Kedua tangannya memeluk Lanang, melingkar pada leher Lanangseta. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Lanang, sehingga Lanang sendiri merasakan betapa hangatnya dengus nafas Andini di pipinya.

"Aaah... ooh... Lanang...." desah dan erangan yang tipis itu sangat mengganggu detak jantung Lanangseta. Sesekali Andini mendesis, menahan rasa sakit. Lalu mengerang pelan dan melepaskan nafas dalam desah. Udara hangat merayap di antara leher Lanangseta sampai ke permukaan wajahnya.

"Bertahanlah...! Bertahanlah, Andini...!" Lanangseta mengalihkan perasaan ganjil yang menyelusup di sela hatinya. Ia membayangkan kalau sampai Andini mati, apa yang harus ia lakukan terhadap mayatnya, dan apa yang harus dikatakan kepada Ekayana. Lanang mencoba berpikir ke situ. Tetapi suara desah dan erangan Andini selalu mengacaukan pikirannya. Semburan nafas yang menghangat di leher Lanang membuat perasaan aneh di dalam dadanya mulai bergejolak terangterangan. Apalagi ia merasa tengkuk kepalanya dalam genggaman jemari Andini yang sesekali bagai meremas-remasnya, bayangan yang ada di benak Lanangseta sudah semakin kacau.

"Lanang...." desah Andini. "Uuhh... sakit...." ia bicara penuh kemanjaan. "Aduuh... oouuh... ssss... aah "

Dan ketika mereka sampai di pantai, cahaya bulan mulai menerpa wajah-wajah mereka. Andini yang berada dalam dekapan kedua tangan Lanangseta semakin mendesah menimbulkan bayangan yang menggelitik benak, memancing khayalan untuk bercumbu. Ternyata, Andini menggunakan kesempatan itu. Wajahnya yang sudah semakin dekat dengan wajah Lanangseta segera menghemburkan ciuman ke pipi Lahang.

"Andini...?!" Lanang terpekik namun dengan suara tertahan. Andini agaknya tak perduli pekikan itu. Ia semakin mengganas, wajahnya yang cantik menghamburkan ciuman bertubi-tubi. Bukan hanya di wajah Lanangseta, namun juga di leher Lanang dan mencekam beberapa kali. Lanangseta segera menurunkan gadis itu dari gendongannya. Ia mencoba mengelak, mendorong tubuh Andini, tapi tak berhasil. Gadis itu semakin gila. Semakin diracuni birahi yang membuatnya lupa diri. Bahkan kini Lanang merasa terdorong dalam keseimbangan tubuh yang tak terkontrol. Ia terjatuh di hamparan pasir pantai. Ombak memercikkan buih, dan Lanang semakin merasa diserang. Kelabakan. Rompi kulitnya terbuka. Bulu dadanya tersirat dan dipagut berulangkali oleh Andini. Jantung Lanang berdetak sangat cepat. Itulah yang membuat Lanang menjadi lemas sekalipun tetap meronta.

Andini tak ubahnya seperti singa betina yang sedang lapar. Ia bagai ingin menggigit seluruh tubuh Lanangseta. Jemarinya meremat pundak Lanang, atau meremas bulu-bulu di dada Lanang dalam erangan nafas yang tak terkendali lagi. Lanang sempat berpikir; merasa aneh terhadap kejadian itu. Sebegitu kuat birahi Andini sehingga ia tidak memikirkan harga dirinya sebagai gadis putri Panglima Negeri Seberang. Mungkinkah cahaya bulan yang menerpa mereka sangat berpengaruh pada semangat birahi? Memang, konon cahaya bulan dapat membangkitkan gairah birahi setiap orang yang disinarinya, tetapi mungkinkah sebegitu dahsyatnya? Mungkinkah sampai membuat seorang gadis bersikap brutal dan berani hendak memperkosa seorang pendekar tampan yang perkasa? Atau, tidak adakah kemungkinan lain? Misalnya adanya pengaruh kekuatan lain yang dipancarkan dari Pulau Kramat itu sehingga merubah otak sehat Andini menjadi seperti singa di padang pasir? Rasa-rasanya bukan mustahil lagi jika Andini menjadi sangat bernafsu karena ia terkena pengaruh kekuatan magis yang terpancar dari Pulau Kramat. Barangkali saja untuk mengacaukan kewaspadaan Lanangseta.

Tepat pada saat Lanang berpikir demikian, tangan Andini sudah meremas bagian terlarang. Ia berada di atas Lanang dalam keadaan separuh bugil. Lanang segera berteriak dan menghentak ke samping, sehingga Andini terpental beberapa jengkal dari tubuh Lanangseta yang sudah berpakaian acak-acakan itu.

Pada saat tubuh Lanang menghentak ke samping dan terguling-guling, pada saat itulah sebatang tombak menancap tepat di mana Lanang tadi berbaring dalam himpitan tubuh Andini. Menyadari hal itu, Lanangseta segera bangkit. Tapi sekali lagi desing sebatang tombak terdengar menuju ke arahnya. Lanangseta melompat tinggi dan bersalto ke belakang. Tombak pun menancap tepat di antara kedua paha Andini yang tengah telentang dalam kerenggangan kakinya. Ia terpekik begitu menyadari sebatang tombak menancap, nyaris mengenai bagian tubuhnya yang keramat. Ia segera mundur, berguling dan melentik ke udara, lalu bersalto satu kali. Dan ia berdiri dengan kaki kokoh di samping Lanang.

Mata Andini terbelalak lebar memandang tombak itu, lalu memandang tombak yang pertama menancap tadi.

"Seseorang hendak membunuh kita, Lanang!" ucap Andini dalam ketegangan yang nyata.

"Mereka...!" "Mereka siapa?"

"Orang-orang di Pulau Kramat itu!" ujar Lanangseta seraya memandang tak berkedip ke arah Pulau Kramat yang kelihatan bagai gumpalan hitam itu.

"Bukan!" bantah Andini. "Tombak ini mana mungkin terlempar dari jarak sebegini jauhnya. Anak panah pun tak mungkin dapat melesat dari pulau itu sampai ke mari."

Lanangseta menggumam. Ada sedikit keraguan dalam pertimbangannya. Ia menggumam panjang seraya memeriksa keadaan sekeliling. Mungkinkah memang ada orang di sekitarnya yang menyerang secara sembunyi-sembunyi?

Tetapi mendadak matanya menjadi terbelalak. Ia berseru kepada Andini seraya menuding tombak yang pertama menancap tadi:

"Lihat...! Lihat tombak itu...! Ia mulai memudar...!"

"Ooh...?!" Andini terperanjat kaget melihat tombak itu memudar pelan-pelan, seperti berubah menjadi asap, namun sebenarnya bukan kabut. Memudar. Hilang sedikit demi sedikit, dan akhirnya lenyap sama sekali.

"Dia lenyap...!" pekik Andini. Gadis itu segera mendekati tempat tombak tadi. Ia meraba, menggerakkan tangannya ke tempat bekas tombak itu, dan ia hanya menemui tempat kosong, tanpa menyentuh apa pun di sana.

"Aneh...!" katanya. "Tombak itu sepertinya hanya sebuah bayangan... yang kemudian hilang karena tak terkenal sorot lampu lagi."

Lanangseta berlari menghampiri tombak yang kedua, yang tadi nyaris mengenai barang 'keramat’ Andini. Tombak itu masih utuh. Masih bisa terpegang tangkainya yang terbuat dari kayu. Lanangseta berseru, "Tombak ini masih nyata!" Andini berlari ikut memegangnya. Ia segera mengikatkan sebuah ikat pinggang yang diambil dari kantong gaunnya. Ikat pinggang itu terbuat dari kain berwarna merah muda, sama dengan gaunnya, lalu ikat pinggang itu diikatkan pada tangkai tombak di bagian agak ke ujung hingga mirip bendera. "Tinggalkan...! Kita lihat perubahannya," kata Andini seraya bergerak mundur. Lanang pun juga bergerak mundur. Mata mereka masih tertuju pada tangkai tombak yang diikat oleh ikat pinggang dari kain halus. Mata mereka enggan berkedip karena ingin menyaksikan perubahan tombak tersebut dalam menghilang. Namun sampai beberapa lama, tombak itu masih utuh. Ikat pinggang masih terkait pada tangkai tombak. Lanangseta memandang Andini sambil angkat bahu.

"Kali ini... ternyata tombak asli!" Andini memandang Lanangseta dengan tatapan penuh sesal.

"Lanang... maafkan aku tadi. Aku... Aku "

"Ah, sudah. Lupakan saja. Aku tahu itu bukan kemauanmu. Aku tahu kau sendiri merasakan suatu keanehan pada saat tadi, bukan?"

"Ya. Dari mana kau tahu aku merasa heran pada diri sendiri? Apakah aku tadi mengatakannya kepadamu?"

"Tidak. Tapi aku punya praduga, bahwa penghuni Pulau Kramat itu telah menggunakan kekuatan gaibnya untuk mempengaruhi birahimu, dan membuat kau lupa diri, seperti macan betina di padang pasir. Aku sendiri tak dapat banyak berbuat, sekalipun ingin meronta namun... aku lemas."

"Ooh...." Andini terduduk di pasiran. Lanang menghampirinya. Ia mengusap kepala Andini satu kali dengan sikap yang lebih bijaksana.

"Apakah... apakah kita tadi sudah berbuat, Lanang?"

"Belum."

"Sungguh? Kau tidak bohong?"

"Apakah kau merasakan ada kelainan pada "

Lanang tak jadi meneruskan kata-katanya. Matanya terbelalak memandang tombak berikat  kain merah muda itu. "Hei, lihat tombak itu...! Tombak itu telah lenyap. Kita tidak sempat memperhatikannya!"

"Astaga...! Barangkali ada yang mengambilnya dengan tenaga dalam yang tinggi."

"Mana mungkin begitu. Lihat saja, kain ikat pinggangmu jatuh di pasir. Dan simpul ikatannya belum lepas. Berarti tombak itu lenyap dengan sendirinya, tanpa membuka ikatan kain itu."

Andini segera menghampirinya dan memungut ikatan kain itu. Ia memperhatikan sejenak, lalu menggumam, "Ajaib...!"

Lanang berjalan lebih mendekati buih-buih ombak yang menghampar di pasiran. Pandangannya tertuju pada Pulau Kramat yang hitam dalam kegelapan itu. Memang tampak lebih angker oleh cahaya bulan, karena Pulau keramat seperti sebuah bayangan mahluk aneh kelihatannya.

"Siapa sebenarnya yang berdiam di pulau itu?" bisik Andini sewaktu mendekati Lanangseta, dan dengan berani menggenggam lengan Lanang bagai pasangan yang mesra.

"Iblis...!" kata Lanang seperti sebuah umpatan dendam.

"Iblis Pulau Kramat?!"

"Ya. Mereka punya kekuatan gaib yang luar biasa."

"Apakah kau nekad ingin ke sana?" "Harus!" jawab Lanang tegas.”

"Kau yakin akan menang melawan kekuatan gaib mereka?"

Lanang menatap Andini. Gadis itu kelihatan penuh kecemasan. Bahkan kini genggaman jemarinya terasa makin erat di lengan Lanangseta.

"Aku sudah memperhitungkan kekuatanku, Andini. Aku akan berhasil, asal tidak bersamamu." "Apakah tidak terbalik kenyataannya nanti?

Kau akan gagal bila tanpa aku!"

Lanangseta jadi berpikir lagi. "Mungkinkah akan begitu?" ia bertanya dalam hati. Sejenak pandangan Lanang ditujukan pada kaki Andini.

"Bagaimana dengan luka di kakimu?" "Luka...?!" Andini memandang heran.

"Kau tadi bilang digigit ular pada tumitmu." "Oh, ya? Tapi... tapi aku merasa tidak digigit

apa-apa!"

"Brengsek...!" geram Lanangseta.

"Maafkan aku jika aku tadi bilang begitu. Tapi sumpah mati, aku tidak sadar waktu bilang begitu."

Nafas Lanang terhempas panjang. Ia kembali memandang pulau di tengah lautan. Jika ia harus menyeberang, ia harus sangat hati-hati, karena banyak karang saling mencuat bagai hambatan maut yang siap menerkam mangsanya.

"Biarkan aku ikut denganmu, Lanang. Biarkan aku mati di sampingmu, kalau memang aku harus mati karenanya," bisik Andini, kini kedua tangannya menggenggam erat lengan pendekar tampan itu.

Ada keharuan tipis yang tersirat di hati Lanangseta. Namun ia buru-buru membungkusnya dengan dendam kepada penghuni Pulau Kramat itu.

"Andini, kau menguasai ilmu peringan tubuh?" 'Ya. Kurasa begitu."

"Kau sanggup berjalan di atas air tanpa tenggelam? Sebab aku akan ke sana dengan cara begitu."

"Akan ku coba. Kau tak perlu mengkhawatirkan keadaanku. Aku akan berusaha dengan caraku sendiri. Yang penting aku boleh mendampingimu."

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Lanang pasrah diri pada rencana Andini. Ia mulai menapak di permukaan air, bahkan ia berdiri di ujung ombak dengan tenang. Ia melangkah, lalu berhenti memandang Andini yang masih tertinggal.

"Jalanlah dulu, nanti kususul...." kata Andini seraya memperhatikan ombak lautan yang tak begitu ganas.

Lanang seta tak perduli lagi kepada gadis manja itu. Ia melangkah, memandang lurus ke depan dengan penuh kewaspadaan. Badannya yang tegap, berambut panjang dengan pedang bertengger di pundak itu bagai membekas di permukaan air laut, karena cahaya bulan menciptakan bayangan tubuhnya di Sana. Langkah sangat hati-hati, sebab ia harus menghindari batu-batu karang yang runcing seperti ujung-ujung tombak. Di samping itu juga ada beberapa batu karang yang ujungnya tertutup permukaan air. Salah langkah, salah menjaga keseimbangannya ia akan jatuh dan terhunus batu karang runcing itu.

Angin bertiup cukup pelan, namun cukup membawa hawa dingin yang menegangkan urat syaraf. Dan tiba-tiba, Lanang merasakan sesuatu yang aneh pada telapak kakinya. Sesuatu itu ialah rasa dingin yang bagai membekukan telapak kaki dan sekitarnya. Lanangseta ingin memandang ke bawah, namun takut ada serangan mendadak dari arah depan. Ia terpaksa meraba dan menduga, bahwa kakinya telah menginjak gumpalan es yang mungkin terselubung air laut.

Tetapi mendadak ia jadi terperanjat setelah ada suara yang menegurnya dari belakang. Suara Andini yang tampaknya cukup gembira. "Lanang...! Lihat, aku berhasil berjalan sendiri, bukan?!"

Bukan keberhasilan Andini yang membuat Lanang terperanjat kaget, namun keadaan alam di bawahnya. Air laut! Ya, air laut itu telah menjadi beku. Beku dan keras. Dinginnya luar biasa. Bahkan bukan hanya di bawah kaki mereka, namun seluruh perairan laut itu menjadi beku. Benarbenar seperti bentangan permadani biru kehijauhijauan yang mempunyai suhu di bawah nol derajat. Lautan yang tadinya berombak menjadi seperti bentangan padang es yang cukup menakjubkan. Lanangseta seperti orang udik yang belum pernah melihat lautan; clingak-clinguk dalam kebingungan.

"Kau...?!" Ia memandang Andini dengan heran. "Kau sanggup membekukan seluruh air laut ini?!"

Andini tersenyum genit. "Untuk membantumu, aku akan sanggup berbuat apa saja. Supaya kau tahu kalau aku bisa berguna bagi hidupmu. Bukan sekarang saja, tapi selama-lamanya aku dapat berguna bagi hidupmu, Lanang."

"Ouhh... Andini. Berhentilah berkhayal. Kita tak boleh lengah sedikit pun di sini "

"Sebab itu aku harus mendampingimu untuk menghindarkan dirimu dari bahaya apa pun."

Ada kapas melayang-layang. Lanangseta memperhatikan kapas itu dengan mendekap diri sendiri karena dingin. Lalu, ada lagi yang melayang dan hinggap di badannya. Lanang menepiskan dengan curiga. Tapi ia menjadi heran, dan mulai meremas-remas benda itu.

Oh, bukan kapas. Salju!

Gila! Alam ini menjadi bersalju. Batu-batu karang memutih dalam bentuk aneh, bagai dilapisi kapas murni. Juga Pulau Kramat yang ada di depannya itu, mulai terlihat berbulu, putih. Salju beterbangan, dan hinggap di mana ia mau. Bahkan di rambut Lanang pun ada serpihan salju yang melekat. Lanangseta memandang kagum kepada alam sekitarnya. Pulau Kramat menjadi seperti pulau es yang memantulkan cahaya bulan di langit. Ia memandang Andini, dan Andini tertawa pelan seraya tangannya menggapai-gapai hembusan angin pembawa salju.

"Bukan main kau ini, Andini "

"Berjalanlah lagi, supaya kita lekas ampai di pulau itu. Dan pujilah aku di sana dalam pelukan mu nanti."

Lanangseta menggeleng-geleng dalam senyum, entah apa artinya. Yang jelas ia mulai salut kepada Andini.

Langkah Lanangseta dipercepat, karena pulau itu sudah semakin dekat. Ia melesat seperti kilasan angin malam, dan ternyata Andini mampu mengimbangi kecepatan gerak Lanang.

"Hati-hati, Lanang...!" Andini mengingatkan. "Kita semakin dekat dengan bahaya. Aku tak ingin kehilangan kau!"

Kalau tidak dalam keadaan penuh kewaspadaan, Lanang ingin memberi jawaban atas katakata itu. Namun kali ini ia lebih tertarik pada gugusan Pulau Kramat yang makin dekat. Perhatiannya itu ternyata tidak sia-sia. Karena pada saat tertentu, dialah yang melihat ada kilasan benda bening melayang; ke arah Andini. Lanangseta menghentakkan kaki dan menyambut tubuh Andini ke udara. Benda itu melesat terus. Bentuknya tak dapat diketahui. Yang jelas, kali ini benda itu datang lagi dari arah depan, sekarang berjumlah lebih dari lima. Semuanya bisa berjajar rapi, membentuk semacam satu barisan yang menyerang Lanangseta dan Andini dengan cepatnya. Lanangseta berseru:

"Andini, merunduk...!"

Andini memperlihatkan kehebatannya lagi. Ia dapat terguling-guling tanpa menyentuh permukaan air. Kira-kira tubuhnya berjarak tiga jengkal dari permukaan air yang telah membeku itu. Sedangkan Lanangseta hanya melayang dan bersalto melebihi ketinggian benda-benda aneh itu. Namun keduanya tetap bergerak maju sekalipun mereka diserang kembali oleh tiga batang tombak bermata mengkilat. Andini kebetulan berada di depan Lanangseta, sehingga dialah yang menangkis ketiga tombak itu dengan tangan dan kakinya. Andini melompat, salah satu kakinya menendang pertengahan tombak, lalu kedua tangan lainnya berusaha menepiskan kedua tombak lainnya sambil kembali mendarat di belakang tombak. Lanang menyaksikan hal itu dengan bangga.

"Awass...!" Lanang berseru, karena sebuah bumerang melayang, melingkar-lingkar tertuju ke arah Andini. Dengan gesit Andini memiringkan tubuhnya, dan bumerang itu memutar kembali ke asal. Andini semakin bergerak lebih cepat. Lanang segera menyusul dengan lompatan-lompatan yang berkecepatan tinggi. Kini ia berada di depan Andini dengan memasang kewaspadaan.

"Hati-hati, Lanang...." bisik Andini ketika mereka sudah menginjakkan kaki di pantai Pulau Kramat. Keadaan di depan mereka amat gelap. Daun-daun memutih di balik kegelapan. Lanangseta berhenti sejenak, memegang Andini. Ia berbisik, "Ada jebakan maut di depan kita...!"

*

* * 5

UDARA dingin sangat membekukan darah. Lanangseta merasa tak tahan dicekam kedinginan es. Dalam hati ia memuji kehebatan ilmu Andini yang mampu merubah keadaan sekitar menjadi sedingin kutub Utara.

Dalam keremangan gelap, Lanangseta mencoba berbisik dengan tidak bergerak. "Jangan sedikit pun menggerakkan kaki. Aku merasa ada jebakan di depan kita."

"Ya, aku sadar," balas Andini… "Bagaimana kalau kita saling berdekapan saja, supaya kelihatan hanya ada satu pendatang."

"Ah, mereka sudah tahu kalau kita berdua." "Tapi mereka akan menyangka kalau salah sa-

tu di antara kita masuk dalam jebakan itu. Lalu, mereka akan sedikit lega. Biasanya orang yang mengalami kelegaan ia tak akan mempunyai kewaspadaan yang setinggi mungkin."

Lanang belum menjawab, tapi dia merasa bahwa kaki Andini mulai bergeser pelan-pelan. Tubuh Lanang menggigil. Ia berbisik, "Andini "

"Hemm ?"

"Dapatkah kau membuat salju-salju itu berhenti dan alam menjadi hangat lagi?"

"Apakah itu perlu, Lanang?" kata Andini dalam desah yang samar-samar.

"Kurasa perlu. Aku tak tahan dingin. Aku gemetaran,"

"Kalau   begitu,   biarlah kau  kuhangatkan !"

Andini memeluk Lanang. Merapatkan tubuhnya lekat-lekat sehingga mereka tampak dalam satu bayangan.

"Andini..." Lanangseta berbisik pelan sekali. "Hati-hati, di sini pengaruh kekuatan gaib akan lebih tajam dan mudah mempengaruhi jiwa kita. Jangan sampai kau menjadi macan seperti di pantai sana tadi."

"Ya, akan ku jaga diriku. Hanya saja... keadaan ini sungguh menggembirakan hatiku. Kau, bagaimana?"

Lanangseta sebenarnya tak ingin menjawab, tapi demi melegakan hati gadis itu yang sangat kasihan, maka ia pun menjawab, "Ya. Aku pun seperti kamu."

"Oh, sungguh, Lanang...?"

"Ah, sudahlah. Jangan hanyut!"

Andini tertawa lirih dalam desah. Ia menempelkan kepalanya di pundak Lanangseta, wajahnya menghadap ke leher sehingga dengus nafasnya terasa menghangat. Membuat darah yang membeku bagai hendak mendidih kembali.

"Injak kakiku, Andini." "Apa?" bisik Andini. "Injak kedua kakiku...!" „

Andini mengikuti perintah itu, kaki kirinya menginjak kaki kanan Lanang, dan kaki kanannya menginjak kaki kiri Lanang.

"Peluk aku kuat-kuat!"

"Apa?" Andini merasa heran mendengar perintah itu, namun di sela keheranan terselip kegembiraan yang indah. Ia pun tak tanggung-tanggung memeluk Lanangseta dalam satu desahan menghangat di leher dan dagu Lanang. Kedua tangan Andini ada di bawah ketiak Lanangseta, sehingga kedua tangan Lanang dapat bergerak dengan bebas.

Pada saat itu, ternyata Lanangseta mempunyai naluri yang peka. Ia segera mencabut pedang karena ada sebatang tombak melayang lagi ke arahnya, datangnya dari tempat gelap. Tombak yang melesat itu segera dihantam dengan pedangnya yang membara bagai besi terpanggang. Sambil menebaskan pedang, kaki Lanang merenggang, dan dengan sendirinya kaki Andini pun ikut merenggang, sebab kedua telapak kaki Andini berada di atas kedua kaki Lanang.

Tombak yang melesat berubah arah. Total. Tombak itu jadi melesat ke arah tempat datangnya. Lalu segera terdengar orang berteriak kesakitan, dan diam. Bagai hilang ditelan sepi. Lanang dan Andini masih tegang.

"Apa yang terjadi, Lanang?" bisik Andini sangat pelan.

"Entah. Aku yakin ada seseorang yang terkena tombaknya sendiri."

"Hanya seorang?"

"Entah. Kita tunggu saja."

"Kita tunggu?! Tunggu datangnya serangan berikutnya?!"

"Ya. Kita buta dalam hal ini. Gelap. Kita tak tahu ada jebakan apa dan di mana saja. Jadi kita tunggu serangan mereka. Sambil kita menantikan terbitnya matahari, kita tetap harus diam dalam kewaspadaan yang tinggi, Andini."

"Sampai matahari terbit kita harus begini? "Kalau kau tak suka, lepaskan pelukan mu

dan turunlah dari kedua kakiku," kata Lanang dengan mata bergerak liar.

"O, tidak...." Andini tertawa lirih sekali. "Aku suka dengan keadaan seperti ini. Mudah-mudahan matahari tak akan terbit lagi, biar aku bisa begini terus bersamamu…"

Lanangseta sempat mendenguskan tawa. Andini semakin mempererat pelukannya. Tapi tangan Lanang mempererat pegangan pedangnya yang masih terhunus dan menyala merah membara. Itulah Pedang Wisa Kobra yang telah berubah menjadi Pedang Malaikat sejak ia berhasil membunuh seorang dewa yang aneh hidupnya (dalam kisah Pedang Semerah Darah).

Lama sekali tak kunjung datang serangan berikutnya, padahal Lanang telah bersiap dan selalu membuka mata lebar-lebar. Mungkin memang hanya satu penjaga pantai pulau itu yang menyerangnya. Betapa pun anehnya keadaan itu, namun Lanang cukup mengakui bahwa penjaga tersebut benar-benar berilmu tinggi. Tak salah jika ia ditempatkan sebagai penjaga pantai seorang diri. Karena ilmunya memang dapat diandalkan. Hanya saja, agaknya hari itu adalah hari sialnya, ia menemui lawan setangguh Lanangseta. Jika bukan Lanangseta, mungkin ia akan menang dan dapat berjaga dengan santai. Kini, ia terpaksa roboh dengan tenang, dan memang tenang selamalamanya. Ia terhunjam tombak pada jantungnya, yaitu tombak yang dilemparkan ke arah Lanang, namun dapat dibalikkan dengan sekali tebasan Pedang Malaikat.

Lanang dapat mengetahui sosok mayat yang tertembus tombak pada jantungnya ketika matahari telah terbit. Alam menjadi remang, bahkan kian terang. Salju hilang, dan ombak menderu kembali. Laut tidak membeku seperti semalaman.

Andini dan Lanang sudah tidak lagi berdekapan. Kini mereka bahkan memandang mayat penjaga pantai dengan seringai kengerian. Mayat itu sudah busuk. Sudah tidak banyak daging yang melekat, kecuali tulang belulang yang sangat jelas bertonjolan di sana-sini. Wajah orang itu pun tak dapat dikenali, sebab telah berwujud sebagai tengkorak dengan sisa daging di sana-sini yang tidak membantu untuk mengenai wajah itu. "Pulau ini benar-benar ganas dan menyeramkan," ujar Andini sambil memandang sekeliling. "Tak ada keramahan sedikit pun di wajah pulau ini."

"Mungkin sebab itulah dikatakan sebagai Pulau Kramat."

Lanangseta melangkah memperhatikan jebakan yang nyaris merenggut nyawa mereka berdua. Jebakan itu membentang di sepanjang pantai, berupa sebuah lubang dilapisi penutup berlapis pasir. Sekilas memang kelihatan seperti hamparan pasir pantai, tetapi sesungguhnya itulah gerbang maut dari Pulau Kramat tersebut. Kecurigaan naluri Lanangseta berhasil membongkar tutup lubang memanjang itu. Ternyata di bawahnya terdapat sejumlah tombak mencuat ke atas dalam jarak yang cukup rapat. Masing-masing ada satu jengkal jaraknya. Dan setelah disusuri, ternyata tombak berjajar-jajar itu mengitari pantai, bagai mengurung pulau tersebut. Lanangseta dan Andini merasa ngeri, bergidik bulu romanya saat mereka melihat bekas telapak kaki mereka ada di tepian lubang memanjang bagai selokan raksasa itu. Andai saja waktu semalam mereka melangkah satu kali lagi, maka mereka akan terperosok ke lubang tersebut dan besar kemungkinannya akan mati tertusuk tombak di sekujur tubuh.

Hutan di situ, sebenarnya tidak selebat hutan di sekitar Bukit Badai. Namun kesepiannya itulah yang membuat suasana aneh mencekam di pulau itu. Tak ada seekor burung pun yang mencicit. Tak ada kehidupan apa pun di sana. Satwa bagai tak mau singgah di pulau itu, dan kabut pagi bagaikan enggan merayap pergi. Kabut pagi begitu tipis merambah di atas permukaan tanah sebatas tumit kaki. Tetapi anehnya di bagian pantai dan laut tak ada kabut seperti itu. Kalau toh ada, hanya sebagian dari kabut di dalam hutan yang tertiup angin ke sana.

"Apakah kau yakin pulau seperti ini ada penghuninya?" tanya Andini seraya ia merayap mengikuti Lanang memasuki hutan tersebut.

"Salah satu contoh adalah penjaga pantai yang mati terkena tusukan tombaknya sendiri itu. Dan kau harusnya berpikir, untuk apa jebakan yang mengelilingi pulau ini sepanjang pantai."

"Supaya orang tak dapat masuk sembarangan di pulau ini," jawab Andini.

"Dan itu berarti di pulau ini ada yang harus dilindungi, bukan?"

"Sebuah benda pusaka maksudmu?!"

"Bisa jadi begitu, tapi bisa jadi sebuah harta karun, atau sebuah makam keramat, atau sejenisnya, yang jelas perlu dilindungi "

"Apakah...." Andini belum habis bicara, tahutahu kakinya masuk dalam jerat tali dan ia seketika itu terangkat ke atas dengan salah satu kaki, tergantung. Tentu saja ia menjerit seketika itu, dan Lanang tercengang melihat Andini sudah bergelantungan di pohon dengan salah satu kakinya terjerat tali.

"Lanaaang...! Bebaskan aku!" teriaknya, dan Lanang sedikit panik, karena ia sadar bahwa seseorang sedang berdiri di atas pohon dengan kedua tangan memegangi tali penggantung kaki Andini, Kalau orang itu melepaskan tali tersebut, maka tubuh Andini akan meluncur jatuh ke bawah. Jika keseimbangan Andini tak terkendali, maka sudah pasti ia akan jatuh dengan kepala dulu. Sebab itu, Lanangseta terpaksa harus hati-hati dan tidak bertindak ceroboh. Ia bisa saja memukul perempuan yang memegangi tali itu, tapi hal itu dapat mengakibatkan tubuh Andini melesat ke bawah dari ketinggian yang begitu mengerikan.

Perempuan yang menjerat kaki Andini itu tertawa kegirangan, Ia mengenakan celana pendek dan penutup dada dari kulit binatang. Di pinggangnya terselip pedang, dan kepalanya yang berambut pendek itu berikatkan seutas tali berwarna ungu. Tali itu sebesar ibu jari, dan kelihatannya dirajut dengan beberapa helai benang emas. Tubuh perempuan itu sangat indah, ramping tapi sexy. Celananya begitu tipis dan kecil sekali, seakan hanya sekedar penutup bagian tertentu.

"Selamat datang di pulau kami... Pendekar tampan...!" seru perempuan berikat kepala ungu. Andini merasa tak suka dengan sebutan perempuan itu kepada Lanangseta, ia pun segera berteriak:

"Iblis betina...! Ku lumatkan mulutmu kalau kau bicara begitu lagi kepada dia!"

"Hai, hai... kau amat cemburu, Nona! Tapi sayang kau akan mati, dan cemburu mu tak akan berkelanjutan!"

"Keparat kau...!" Andini meronta-ronta. "Kalau aku mati, kuhanguskan tubuhmu, Setan!" teriak Andini dengan kemarahan yang besar sekali.

Ia tampak semakin gusar setelah ia melihat Lanangseta dikurung oleh empat perempuan berpakaian minim seperti yang di atas pohon itu. Keempat perempuan itu mengurung Lanangseta dengan masing-masing pedang siap di tangan.

"Arumi...." teriak salah seorang dari keempat gadis-gadis sexy itu. Yang di atas pohon menjawab. "O, itu yang bernama Arumi?" pikir Lanang.

"Arumi, kita mendapat kakap bertenaga kuda.

Wow...! Alangkah hebatnya dia, Arumi!"

"Hei, hei, heii... sisakan aku, ya? Jangan kalian habiskan madunya...!" Arumi tertawa melengking, mirip tawa kuntilanak.

"Kalau bisa jangan terluka, Kuadi...!" kata perempuan berikat kepala kuning tembaga. Yang bernama Kuadi mulai maju mendekati Lanangseta dengan pedang terarah ke tubuh Lanangseta. Kuadi berkata kepada Lanang.

"Sebelum kau mati, kuijinkan kau menikmati kami berlima sebagai sarapan pagi di pulau ini, Bung!"

"Terima kasih. Aku sudah cukup kenyang," jawab Lanang dengan tenang, kendati tetap menjaga kewaspadaan.

"Sekali pun begitu, kau tetap harus mencicipi kami, dan kami pun harus mencicipi kamu! Di sini kami sering menunggu ikan seperti kamu. Tapi... kami jarang mendapatkannya, kecuali Putra Tunggal. Itu pun harus digilir. Tapi dengan kedatanganmu ke mari, berarti kami akan dapat sering menikmati sarapan lezat."

"Jangan sentuh dia...!!" teriak Andini dari atas. "Tangkap dia tanpa luka, Kuadi...!" teriak Arumi yang ada di atas pohon sambil memegangi tali pengikat kaki Andini. Kuadi mendekati La-

nang. Lanang masih diam saja.

"Jangan sentuh dia! Kuhancurkan kalian kalau berani menyentuhnya sedikit pun...!!" ancam Andini dengan semakin gusar. Dalam hati Lanang menggerutu dan mencaci teriakan Andini yang bisa memancing kenekatan mereka. Dengan berteriak begitu, justru mereka akan semakin penasaran. "Uhh...! Tolol sekali Andini itu!" gerutu Lanang dalam hati.

"Buang senjatamu...! Buang!" bentak Kuadi. Tapi tiba-tiba gadis itu menjerit keras dengan tubuh menggeliat ke belakang. Andini telah melancarkan pukulan tenaga dalamnya yang begitu hebat, hingga membuat ulu hati Kuadi menjadi hitam hangus. Kemudian ketiga temannya bergerak menyerang Lanangseta dengan pedang. Lanang melompat ke samping, mencari posisi yang enak untuk menghindar. Ia ragu jika harus menyerangnya. Perempuan-perempuan itu bagai tak mengenal dosa. Ia yakin, perempuan-perempuan itu berada dalam satu perintah dan satu pengaruh jahat. Lanang akan berusaha untuk tidak membunuhnya, tapi membuatnya bersekutu untuk mencari bunga Teratai Wingit.

Tetapi agaknya Andini berpikiran lain. Ia brutal dalam kemarahannya. Ia tak ingin Lanangseta disentuh oleh perempuan mana pun. Karenanya dalam satu gerakan cepat Andini melancarkan pukulan tenaga dalamnya sekali lagi ke arah Arumi yang ada di atas pohon, yang sedang memegangi tali pengikat kaki Andini. Arumi melayang dalam satu teriakan tinggi. Ulu hatinya menjadi hangus dan berasap.

Akibat dari itu, tubuh Andini melesat ke bawah dengan kepala meluncur lebih dulu. Tetapi sebelum ia menyentuh tanah, tubuhnya yang seperti kapas itu melengkung ke belakang dan mendarat dengan manis. Kain merah jambu itu bagai sayap kupu-kupu hinggap di kelopak bunga.

"Lanang, biar aku yang menangani ini...! Mereka musuhku. Aku yang harus menghajar mereka tanpa ampun lagi!"

"O, mereka musuhmu?" kata Lanang.

"Siapa yang ingin menyentuhmu, dia adalah musuhku. Dia harus kubunuh sebelum dia memiliki kamu. Diamlah di situ saja, Lanang...!" Andini bersiap setelah melepaskan tali yang mengikat kakinya. Dua orang musuh menghadapi Andini, mereka hendak menyerang dari kanan dan kiri, sementara satu lagi menghadapi Lanangseta dengan tegang. Pada saat itu Lanangseta hanya memperhatikan dengan senyum menawan, tapi diam-diam tetap berjaga-jaga. Sedangkan Andini meliukkan tubuhnya dengan lembut, tangan kanannya terangkat ke atas dengan gemulai dan tangan kirinya terentang ke samping. Kedua kakinya berdiri berjingkatjingkat dan memutar lembut. Kedua musuhnya terbengong melihat Andini menari dengan lemah gemulai.

Andini perlahan-lahan menarik tangan kanannya yang ke atas itu menjadi turun ke bawah, terus sampai ke betis, sehingga tubuhnya melengkung lemas. Sementara itu, kaki kirinya kini terentang ke belakang dan kepala Andini mendongak ke depan memandang Lanangseta. Tahu-tahu ia bergerak bagai belalang meloncat. Bersalto satu kali dan kaki kanannya berhasil menendang tengkuk kepala perempuan yang sedang menghadapi Lanangseta.

Perempuan yang terkena tendangan Andini tersungkur dengan menyemburkan darah kental dari mulutnya. Sementara itu, kedua temannya terkesiap di tempat, matanya mendelik melihat akibat tendangan gemulai itu ternyata sangat membahayakan. Maka kedua perempuan itu segera menyerang Andini yang kali ini sedang mempermainkan kaki ke atas, nyaris membentuk garis lurus dengan kaki satunya lagi.

Agaknya Andini tak mau membuang-buang waktu. Ia takut Lanangseta matanya tak bisa terpejam karena melihat lekuk tubuh kedua perempuan itu yang cukup aduhai. Karenanya, ketika sebuah pedang menebas kaki Andini yang teracung ke atas, Andini segera meluruskan kaki membentuk sudut 90° dengan kaki yang satunya. Kemudian ia segera berputar dengan cepat, kaki itu menghantam pelipis lawannya. Keras. Yang terkena tendangan Andini terguling di tanah dalam satu erangan memanjang. Namun ia masih berusaha bangkit lagi untuk mengadakan serangan balasan.

Sementara itu, tubuh Andini meliuk bagai seorang penari ketika pedang lawan yang satunya melesat nyaris memotong kepala. Kedua tangan Andini menyentuh tanah, dan menghentak cepat. Tubuhnya melayang dalam posisi tengkurap. Pada saat itulah ia melancarkan pukulan tenaga dalam yang keluar dari telapak tangan kanannya. Pukulan itu mengenai lam bung kanan lawan yang tadi terkena tendangan pelipisnya.

Belum sempat Andini mengetahui hasil pukulannya, tiba-tiba pinggangnya terkena tendangan lawan yang satu. Andini terpental beberapa langkah dan mengerang kesakitan.

"Sekarang kau mampus, Perempuan Lacur...!" geram lawannya. Ia mengarahkan pedang ke dada Andini sambil meloncat menerjang tubuh Andini yang terkapar di tanah. Pada saat yang kritis itu, tangan kiri Andini sempat mengibas, bagaikan ia sedang menaburkan sesuatu di udara. Ternyata segenggam rumput telah dicabut dan disebarkan ke arah tubuh lawannya. Rumput-rumput itu mempunyai kekuatan maha hebat, di mana ketika mengenai musuhnya langsung menembus ke bagian tubuh di atas perut.

"Aaahkk...!!" Perempuan yang hendak menikam dengan pedang itu mengejang. Berhenti seketika. Kepalanya mendongak ke atas dengan tubuh melengkung ke belakang. Erangannya tertahan sesaat, kemudian ia pun rubuh dan berkelojotan sejenak. Darah mengalir dari bagian perut. ke atas. Lobang-lobang kecil bekas masuknya rumput terlihat jelas. Lobang itu menjadi hitam, ada yang membiru. Rumput itu selain berubah menjadi besi tajam juga mempunyai kadar racun yang cukup mematikan, sehingga tubuh itu pun tak pernah bergerak-gerak lagi selamanya.

Lanangseta masih tenang, memperhatikan mayat kelima perempuan berpakaian minim itu. Mengerikan sekali mereka, terkapar dengan darah menghitam dan berbau amis sekali. Andini tersenyum memandang mayat musuh-musuhnya, kemudian ia menghambur dan memeluk Lanangseta erat-erat.

"Mereka sudah kusingkirkan, Lanang," katanya dengan penuh kebanggaan.

"Ya. Tak satu pun ada yang hidup."

"Mereka tak boleh hidup. Kalau mereka ada yang hidup, maka kau akan diganggunya, dan... lelaki biasanya punya ketahanan nafsu yang rapuh. Kau nanti bisa jatuh dalam pelukannya. Dengan begini, maka tak ada dari mereka yang akan merebutmu dari pelukanku." 

"Tapi aku tadi melihat seseorang yang mengintai dari balik rumpun semak itu."

Andini kaget. "Betulkah?"

'Ya. Dan aku tahu dia lari ke arah sana...!" Lanang menunjuk suatu arah. "Sebaiknya mari kita ke sana...!"

Ternyata arah yang dimaksud Lanang itu menuju ke suatu tempat. Di sana ada jalan setapak yang agaknya jarang digunakan orang. Namun Lanang tetap menyusuri jalan setapak itu seraya berkata kepada Andini:

"Aku tadi bagaikan melihat seorang penari beraksi di depanku," kata Lanang mengomentari jurus-jurus yang digunakan Andini dalam bertarung melawan kelima perempuan setengah bugil itu. "Jurus-jurusmu cukup aneh. Aku sampai terkesima memandangnya."

Andini tersenyum senang. "Kalau kau suka, aku akan menari terus di depanmu. Bahkan tanpa busana pun aku sanggup asal kau tahan!" Andini mengikik nakal.

"Aku hanya merasa asing dengan jurusjurusmu."

"Itu yang bernama gabungan tarian Bidadari Manja."

"Ooo...." Lanang manggut-manggut. "Pan-tas, pantas "

"Pantas bagaimana?"

"Pantas kau punya sifat manja."

"Hanya untuk kamu," jawab Andini dengan suara pelan, tapi terlihat dari rona wajahnya, ia sangat gembira.

Sekali pun dalam keadaan ngobrol, namun mata mereka tetap mengawasi keadaan sekeliling. Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah rumah di antara pohon-pohon yang berdaun rimbun. Rumah itu bagaikan sebuah pondok yang terbuat dari kayu, beratap ilalang kering. Tapi bentuknya memanjang, mirip sebuah asrama. Rumah itu mempunyai halaman samping yang cukup luas. Bahkan di halaman itu terdapat kolam air tawar yang teratur rapi dan bersih. Bentuk rumah memakai sistem panggung, dengan anak tangga empat baris. Ia mempunyai serambi depan yang terbuat dari kayu-kayu terbelah menjadi dua bagian. Pondok itu cukup sepi dan sunyi. Tak ada manusia satu pun yang tampak sedang melakukan kesibukan di luarnya. Pagarnya terbuat dari kayukayu pohon berukuran setinggi batas dada manusia normal.

Dari balik semak Andini dan Lanang mengintai keadaan rumah tersebut. Mereka diam beberapa saat di balik semak berdaun mirip gergaji itu. Andini sempat mengaduh beberapa kali karena kulit tubuhnya tersentuh daun itu dan rasanya sakit. Perih. Tapi tak begitu dihiraukan. Ia bahkan berkata dalam bisikan, "Jangan-jangan ini juga sebuah jebakan!"

"Bisa jadi begitu...." jawab Lanang seraya matanya bergerak-gerak liar, penuh waspada.

Mereka tiba-tiba harus segera menunduk dan berlindung lebih rapat lagi, karena tampak seorang perempuan dengan busana miskin: hanya bagian dada dan bawah perut saja yang ditutupi, sedang berlari memasuki halaman rumah tersebut. Perempuan itu juga berikat kepada dari tali, namun kali ini berwarna merah tua.

Di depan tangga menuju ke dalam rumah, perempuan itu merendahkan badan. Lutut kanannya menyentuh tanah sedang kaki kirinya ditekuk dengan lutut menghadap ke atas. Ia menundukkan kepala tiga kali. Kemudian dari dalam pondok itu keluar seorang perempuan berambut panjang, terurai. Perempuan itu hanya mengenakan jubah dari bahan kain yang sangat tipis, transparan, sehingga menampakkan betul kemolekan lekuk tubuhnya. Selain tubuh yang indah, ia juga memiliki paras wajah yang cantik dan sangat mempesona. 

"Mereka sudah tewas semua, Nyai...!" ujar perempuan berpedang di pinggangnya.

"Arumi...?"

"Arumi juga tewas dengan dada hangus dan membusuk."

"Hangus? Membusuk?" "Benar, Nyai."

"Jahanam...! Itu pukulan Bidadari Senja!" geram perempuan yang dipanggil Nyai.

Selintas ingatan Lanang beralih pada wajah perempuan itu. Begitu cantik dan sangat menggetarkan hati. Benar-benar kecantikan yang punya daya tarik luar biasa hebatnya. Wajah dan kecantikan itu, memang baru kali ini dijumpai oleh Lanangseta, namun suaranya terasa pernah didengar Lanangseta. Entah kapan, di mana dan siapa? Lanang masih mencoba mengingat-ingatnya.

"Hei, jangan melotot terus begitu...!" sergah Andini yang merasa was-was ketika Lanang memandang perempuan berjubah biru muda yang tipis sekali itu. "Apa yang kau pikirkan?" Andini bersungut-sungut. Sewot.

"Bidadari Senja. Aku mendengar ia menyebut Bidadari Senja. Apa maksudnya?" Lanang mencoba mengalihkan kecurigaan Andini.

"Nama jurus yang kugunakan memukul mereka," jawab Andini kelihatan mengendurkan kecemberutannya.

Kemudian perempuan cantik yang melebihi seorang ratu mana pun itu berkata lagi kepada perempuan berikat kepala merah tua.

"Panggil Putra Tunggal...! Suruh dia menghadap aku sekarang juga!"

"Baik, Nyai...!"

Perempuan muda berikat kepala warna merah segera menghormat tiga kali dengan tundukan kepalanya, kemudian ia pergi, dan perempuan berjubah tipis itu memandang sekeliling dengan curiga. Sesaat kemudian, ia masuk kembali. Lanang tak sempat memandang tembus isi rumah panjang itu. Tetapi ia segera berbisik kepada Andini.

"Sergap gadis berikat merah itu. Kita korek keterangan di mana bunga terataiku disimpan mereka."

"Bunga teratai? Jadi hanya .setangkai bunga yang dicuri oleh orang yang kau cari itu?" Andini yang baru paham apa yang dicari Lanang itu terpaksa menyipitkan mata dalam keheranan. "Kukira kau mempunyai dendam kepada seseorang yang nyaris memperkosaku itu."

"Nanti akan ku jelaskan, Andini. Tapi sekarang aku butuh waktu untuk menyergap gadis berikat merah tadi."

Andini mendengus kesal, lalu mengikuti langkah Lanang. Sekelebat bayangan gadis itu dapat terlihat oleh pandangan mata Lanangseta. Ia segera memotong jalan, yang diperkirakan akan tembus di depan langkah gadis itu. Ternyata gadis itu mengetahui adanya bahaya yang mengintainya. Ia segera mencabut pedangnya yang seukuran satu hasta. Ia sedikit merundukkan badan, bersiap menyambut bahaya. Matanya liar memandang ke sana-sini. Namun dilihat dari sikapnya dalam berjaga-jaga, ia pasti mempunyai kelincahan seperti anak kijang, secerdik ular sanca. Ia masih bergerak pelan menunggu bahaya datang.

Andini memungut sebutir batu kecil, lalu di sentilkan ke arah kepala gadis itu. Batu yang sudah dialiri tenaga dalam itu melesat dan mengenai tengkuk kepala gadis itu. Pedang menebas ke belakang, tapi pada saat itu perempuan berikat merah segera oleng, lalu jatuh ke tanah. Pingsan. Lanang mengacungkan jempol tangannya kepada Andini.

Gadis berikat kepala merah tergeletak di tanah. Namun ketika Andini hendak menyentuh kakinya, tiba-tiba tangan Andini terpaksa ditarik mundur dengan cepat. Matanya terbelalak kaget. "Kenapa?" tanya Lanang.

"Tubuhnya sangat panas. Luar biasa panasnya. Lihat... rumput dan tanaman di sekitar tubuhnya menjadi layu dan... tuh, lihat... malahan menjadi hangus bagai terbakar!"

Lanangseta tak berkedip memandang keanehan tersebut. Rumput dan tanaman lainnya memang menjadi hangus bagai terbakar. Jelas tubuh itu mengandung bara api yang amat panas, tapi tidak dapat dilihat oleh mata. Barangkali itu akibat tenaga dalamnya yang begitu hebat, sehingga mampu menyemburkan hawa panas tinggi dari pori-pori kulitnya. Jari tangan Andini yang sudah terlanjur menyentuhnya menjadi melepuh.

"Jariku melepuh, Lanang...." rengek Andini seperti anak kecil. "Iih... bagaimana ini? Jariku jadi jelek begini...." Andini bagai anak yang mau menangis. Mewek.

Lanang masih memikirkan bagaimana caranya menawan gadis itu dan mengorek keterangan darinya. Tetapi Andini ribut melulu dengan jarinya.

"Lanang...! Carikan madu dan kain untuk membungkus jariku. Aduuh... bagaimana ini, Lanang...?"

"Andini...!" hardik Lanang. "Hanya soal jari melepuh saja kamu ribut, ah!"

Andini diam. Bersungut-sungut dan cemberut dan bersungut-sungut. Ia menjauhi Lanang seraya meniupi jarinya.

Lanang segera mengambil beberapa ranting bercabang. Bahkan ada dahan yang besar pun diambilnya asal bercabang. Lalu dengan tenaga khusus ia menancapkan dahan bercabang pada kaki gadis itu, sehingga cabang menghimpit kuat kaki gadis itu. Demikian juga kedua tangannya, bahkan bagian leher pun dijepit dengan cabang yang menancap ke tanah. Kemudian Lanangseta menunggu sampai gadis itu sadar.

"Mana kuat kayu segitu untuk menahannya. Ia akan dapat berontak dan dengan mudah cabangcabang itu dihentakkan," kata Andini. Tetapi setelah diam sesaat, Lanang pun berkata pelan:

"Itu bukan kayu. Itu besi yang kokoh dan kuat!"

"Gila...! Sudah jelas kayu dikatakan besi, mana bi...." ucapan Andini terhenti, matanya melebar memandang bahan penjepit kaki, tangan dan leher gadis itu. Ia benar-benar tertegun ketika ia melihat kayu-kayu cabang itu ternyata telah berubah menjadi besi-besi yang kokoh dan kuat. Penasaran sekali Andini jadinya, ia pun mendekat, mengamati benda penjepit tubuh itu, ternyata benar-benar besi. Bukan kayu. Kemudian ia memandang Lanangseta yang tersenyum masam sambil bersilang tangan di dada.

"Kau hebat...! Kayu bisa kau rubah menjadi besi. Ilmu dari mana yang kau peroleh itu? Siapa gurumu sebenarnya?" kata Andini terkagumkagum. Dan sekali lagi Lanang hanya tersenyum. Ia tak mengatakan bahwa itu salah satu ilmu yang diajarkan oleh kakek tua, Si Tongkat Besi.

Beberapa saat kemudian, gadis berikat kepala merah itu siuman. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, lalu berusaha bangkit, namun tubuhnya terasa terjepit oleh besi-besi kokoh. Ia kebingungan, dan kembali tenang setelah menyadari ada orang yang menawannya pada saat itu.'

Lanang berdiri di samping kiri gadis itu, dekat dengan pinggangnya. Gadis itu mencoba meronta, namun tak dapat lepas. Tangan terentang ke atas keduanya, dan kaki pun terentang dalam jepitan keras. "Kau tak akan bisa bangun sebelum kubebaskan " kata Lanangseta dengan tenang.

"Apa maumu, Kunyuk...?!" geram gadis itu dengan suara berat karena lehernya agak tercekik besi penjepit.

"Aku ingin membunuhmu pelan-pelan...!" Lanang tersenyum. Lalu ia mencabut pedang Wisa Kobra yang membara bagai besi terpanggang hendak lumer. Gadis itu mengernyitkan mata, merasa ngeri melihat pedang itu. Andini terkesima kagum secara diam-diam melihat pedang Lanangseta.

"Kalau kau mau menunjukkan di mana bunga teratai disimpan oleh atasanmu, kau akan kubebaskan!"

"Kau bicara mengigau. Di sini tidak ada bunga teratai! Kalau bunga tahi ayam, banyak!" kata gadis itu dengan berani.

Lanangseta menebaskan pedangnya ke ujung besi penjepit kaki. Besi itu terpotong rapi bagai irisan tebu. Gadis itu merasa ngeri. Ia tahu kehebatan pedang Lanangseta yang sudah tentu akan dapat memotong-motong anggota tubuhnya. Lanang semakin menyeringai melihat kengerian gadis itu.

"Aku kehilangan bunga teratai," kata Lanang dengan dingin sambil mengamati pedangnya. "Pencurinya seorang berkerudung hitam "

"Dia juga yang kurang ajar berani menggagahiku!" timpal Andini dengan ketus.

Lanang berkata lagi. "Katakan di mana orang itu, dan di mana bunga teratai itu disimpannya. !"

"Puiih...!" Gadis itu meludah ke arah Lanang, tapi tidak mengenai Lanang sedikit pun. Hanya saja, kaki Andini yang ada di samping kanannya segera menginjak perut gadis itu dengan keras. Gadis itu tak  sempat  mengaduh,  namun ia meringis kesakitan. Lanang sebenarnya kurang setuju dengan tindakan Andini, namun untuk saat itu ia tak ingin banyak berdebat dulu.

"Jangan coba-coba menguji keberanian kami, ya?!" kata Andini. Gadis itu masih menyeringai kesakitan.

"Aku... tidak tahu..." suaranya makin lemah.

Lanang menimpali kata, "Kalau begitu, usaha kami sia-sia menawanmu begini. Baiklah, kubunuh saja kau dengan pelan-pelan...!" Lanang mulai mengarahkan pedangnya pelan-pelan ke arah betis gadis itu.

"Untuk yang pertama, kau harus merasakan betapa sakitnya jika kakimu terpotong dalam keadaan sadar... Selamat menikmati!" Lanang mengangkat pedangnya, dan gadis itu pun berteriak tertahan:

"Jangan...! Jangan lakukan itu...!" Ia mulai menangis.

"Katakan, di mana?" ulang Lanang.

"Di... di dalam rumah panjang itu...." jawab gadis berikat kepala merah dengan perasaan ngeri yang mencekam jiwa.

"Siapa yang ada di dalam rumah itu?"

"Nyai...." jawabnya. "Tadinya kami berenam, tujuh dengan Nyai Katri, guru kami.

Tapi sekarang, lima dari kami sudah kalian bunuh, tinggal kami berdua: aku dan Nyai."

"Kudengar kau disuruh memanggil Putra Tunggal, siapa orang itu?" desak Lanang.

"Dia... dia... satu-satunya lelaki yang menjadi murid Nyai. Di samping murid, juga sebagai pelayan kami, jika... jika kami membutuhkan kehangatan. Sebab itu, dia disebut Putra Tunggal. Dialah yang mencuri bunga itu dan menitipkan kepada Nyai untuk disimpan dan dijaga... Oh, lepaskan aku!"

"Hei, kau bilang di sini hanya ada satu lelaki. Tetapi waktu kami datang, kami diserang seorang lelaki di pantai. " kata Andini.

"Dia... bukan lelaki. Dia perempuan juga "

"Ooh...." Andini bertatapan mata sejenak dengan Lanang.

Lanang mengajukan pertanyaan, "Siapa Nyai Katri itu sebenarnya, hah?!"

"Ia yang berjuluk... Iblis Pulau Kramat,..!" gadis itu menghirup udara dengan susah, lalu berkata lagi. "Nyai adalah penguasa tunggal pulau ini, yang mempunyai rencana untuk mempunyai keturunan. Sebelum ia mempunyai keturunan ia akan menguasai dunia, sehingga kelak dunia ini adalah milik anak turunnya. Untuk itu, ia perlu pasukan, dan kami diculik dan dipaksa untuk menjadi bahan percobaan ilmu dan benih pembuahan "

"Benih dan pembuahan. ?!" Andini merasa he-

ran, tapi gadis itu tetap menjelaskan secara gamblang.

"Ia seorang ahli tanaman. Ia menemukan beberapa getah tanaman yang sangat ajaib. Bila dicampur dengan... dengan bibit dari lelaki akan menghasilkan anak yang luar biasa ketangguhannya. Namun, selama ini masih gagal. Ia masih perlu menguji ilmunya dan mencoba apa yang ditemukannya. Salah satu dari teman kami pernah

melahirkan anak, namun berbentuk aneh. Seperti monyet, tapi mempunyai sisik. Dan... dan ia tak tahan terkena panas matahari, akhirnya bayi itu mati kering seperti tanaman kurang air."

"Kurasa dia di sini juga tertekan," kata Lanang kepada Andini.

Andini mengangguk.

Gadis itu mendengar, dan menyahut, "Benar. Aku memang tertekan. Tapi aku harus menunaikan tugasku jika aku ingin tetap selamat, dan bisa kembali ke rumah keluargaku."

"Kalian dibekali ilmu tinggi dari Nyai?" tanya Lanang.

"Ya. Dan itu kesempatan bagiku untuk mencari kelengahan dan kesempatan kabur dari sini. Nyai memang berilmu tinggi. Tak ada yang bisa membunuhnya, karena ia bisa berubah menjadi bayangan yang tak mampu ditebas pedang atau senjata apa pun "

"Puri Sendang Bangkai!" seru Lanang seperti baru saja menemukan satu ingatan yang sejak tadi dipikirkan. Ya, suara perempuan yang dipanggil Nyai itu persis dengan suara Peri Sendang Bangkai. Ilmu yang dimiliki Nyai juga sama dengan ilmu yang dimiliki Peri Sendang Bangkai, atau Gusti Dalem yang pernah berkuasa di Tebing Neraka.

Merinding bulu kuduk Lanangseta setelah tahu, bahwa perempuan cantik berjubah biru tipis itu adalah perubahan wujud Peri Sendang Bangkai atau Gusti Dalem. Perempuan itu dulu pernah menculik Lanang dan Ekayana untuk dijadikan bibit unggul. Rupanya Peri Sendang Bangkai yang nama aslinya Areswara itu, mempunyai serangkaian kegiatan kejahatan dengan tujuan sama, dari sejak peristiwa Rahasia Sendang Bangkai, sampai peristiwa Gerhana Tebing Neraka, dan sekarang ini, ia masih tetap bertujuan sama: yaitu menciptakan satu keturunan yang akan menguasai dunia dengan ilmu-ilmu dahsyatnya dan kelainan-kelainan fisiknya.

"Dia musuh lamaku, Andini."

"Aku tahu. Tapi tidak kubiarkan kau menyelesaikannya sendiri. Aku harus mendampingimu, Lanang," kata Andini. Gadis itu menyahut. "Jangan! Kalian akan celaka! Apalagi seorang lelaki, ia akan menggunakan ilmunya yang paling dahsyat untuk menundukkan lelaki itu, sehingga kelak akan menjadi budak nafsunya."

"Kau dengar itu, Lanang?" kata Andini. "Kurasa ada baiknya kalau aku saja yang menyelesaikan urusan ini.... Aku tak ingin dia berhasil merenggut mu tiap malam "

Lanang baru saja akan menjelaskan maksudnya kepada Andini, tetapi mulutnya mendadak tak jadi berucap kata, karena tahu-tahu ia harus melesat ke atas dan berguling di udara beberapa kali. Sebuah serangan tak terlihat mata. Serangan itu berupa jarum-jarum hitam yang beracun ganas. Jumlahnya lebih dari seratus mata jarum. Dan Lanangseta berhasil menghindar. Pada saat itu, terdengar pula tawa seorang lelaki yang segera menampakkan diri beberapa langkah dari tempat gadis berikat kepada merah tertawan.

"Lanangseta.... Ahai, punya gundik pula kau rupanya!"

"Prabima...?!" Lanangseta menggeram dan terbakar darahnya teringat peristiwa yang pernah dialami bersama Prabima Wardana, (dalam kisah Pedang Semerah Darah) yang nyaris merenggut nyawa Kirana.

"Lanang, dialah orang yang pernah mau memperkosaku!" teriak Andini. "Hei, Setan sekarang

saatnya aku menebus kekalahanku tempo hari, hiiaaaat !!"

Andini meloncat dengan pukulan diarahkan ke Prabima. Tapi Prabima mengibaskan tangannya bagai menepiskan nyamuk, dan pada saat itu tubuh Andini terlempar bersama satu pekikan tertahan. "Bangsat kau, Prabima...!" Lanangseta hendak menyerang. Namun, Prabima segera mengeluarkan tangan kirinya yang sejak tadi disembunyikan di belakang. Ia berseru:

"Berhenti, Lanang! Atau bunga ini ku makan sekarang juga, ha... ha... ha "

Gerakan Lanang tertahan seketika setelah ia tahu bahwa Prabima membawa bunga Teratai Wingit dan mengancamnya hendak memakan. Lanangseta jadi tegang. Kalau bunga itu dimakan Prabima, maka habislah riwayat cinta kasihnya dengan Kirana. Sebab itu ia harus hati-hati. Prabima memegang bom yang sewaktu-waktu bisa meledak.

"Ikut aku, Lanang. Kalau kau membangkang, maka bunga ini akan ku makan di depanmu! Sekarang kau harus ikut aku menghadap Nyai Katri !"

"Bertarunglah secara ksatria, Prabima !"

"Oh, itu soal nanti. Tetapi sekarang kau harus menurut padaku. Ikut aku, menghadap Nyai, agar Nyai merasa bangga dan gembira, sebab ia pasti membutuhkan bibit keturunanmu. Dan, kujamin... kau akan ketagihan dengannya Lanang.  Kau harus bersekutu dengannya, sebab dialah yang akan memberimu segala yang kau cari di dalam seorang perempuan!"

"Tidak! Jangan paksa dia menghadap Iblis Pulau Kramat itu! Tidaaakk...!" Andini yang ketakutan segera melayang seraya tangan kanannya bergerak memukul Prabima dengan tenaga dalam yang disebut pukulan Bidadari Senja. Prabima melesat dalam satu loncatan, dan pukulan itu mengenai perut gadis yang masih tertawan dalam keadaan telentang di tanah. Akibatnya, gadis itulah yang meregang menemui ajal dengan perut menjadi hitam seketika.

Lanangseta menggunakan kesempatan itu untuk bersalto ke arah Prabima. Hampir saja Prabima lengah dengan bunga di tangannya. Ia masih bisa berkelit menghindari bunga dari raihan tangan Lanang. Tapi pada saat itu tubuh Andini meluncur cepat ke arah Prabima, membuat Prabima terpaksa berguling-guling di tanah. Dan Lanang segera mengimbangi gulingan itu sehingga pandangan Prabima menjadi kacau. Prabima berhasil melentikkan tubuh ke udara, tapi Andini segera menyerang dengan pukulan Bidadari Senja yang membuat Prabima jadi terteter menghindarinya. Ia bersalto lagi. Lanangseta memapaskan dengan gerakan bersalto juga, dan berhasil menendang pinggang Prabima. Tubuh Prabima melayang di udara. Belum sampai mendarat ke tanah, Andini menyongsongnya dengan suatu tendangan berganda dan mengenai dagu Prabima. Tubuh Prabima melesat karena tersentak tendangan kaki Andini. Ia segera menjaga keseimbangan tubuh dengan merentangkan kedua tangan dan me-letakkan posisi kakinya untuk mendarat dengan tegap.

"Hiaaaat...!!"

Kaki Prabima berhasil berdiri tegap di tanah, namun suara pekikan itu mengejutkan dia. Suara itu datang dari arah belakangnya. Sesosok tubuh melayang dan menyambar bunga teratai dari tangan Prabima. Tubuh itu jatuh di depan Lanangseta dengan teriakan kesakitan karena ia jatuh dalam posisi pinggang membentur batu.

"Aadooouuhh...!!" teriaknya seraya memegang bunga teratai di tangannya.

"Jaka Bego...?!" teriak Lanang terkejut melihat Jaka Bego sudah berada di situ dan dalam keadaan memegang bunga teratai. Prabima menyerang Jaka Bego, tetapi suara dari belakangnya membuat gerakan Prabima terhenti.

"Cukup Putra Tunggal...! Serahkan dia padaku...!"

"Oh, rupanya kau turun tangan juga, Peri Sendang Bangkai," kata Lanangseta dengan geram. Saat itu, Prabima mundur, dan Peri Sendang Bangkai maju.

"Kau masih mengenaliku, Lanangseta?! Bagus!"

Jaka Bego segera berkata, "Lanang... bawa bunga ini dan larilah...! Lekas, lari... bawa kabur bunga ini...!"

Lanang telah memegang bunga Teratai Wingit, namun ia masih bimbang dengan saran Jaka Bego. Jaka berseru lagi, "Lekas lari, biar ku rayu perempuan itu, tolol! Lari...!" Jaka Bego terpaksa menendang Lanangseta. Tendangannya begitu kuat dan Lanang pun terpental jauh. Kemudian Andini menggeret tangan Lanang seraya berkata, "Ayo, lari...! Larilah...! Aku yang melindungimu dari belakang!"

"Putra Tunggal, kejar dan tangkap mereka...!!" teriak Peri Sendang Bangkai yang di situ disebut Nyai Katri. Prabima melesat mengejar Lanang dan Andini, sementara itu, Jaka Bego yang hendak bergerak menjadi diam bagaikan robot. Ia telah terhipnotis oleh kekuatan Nyai Katri dan berjalan mengikuti Nyai Katri menuju rumah panjang itu.

SELESAI

0 Response to "Serial Pendekar Cambuk Naga Eps 09 : Iblis Pulau Keramat"

Post a Comment