Serial Pendekar Cambuk Naga Eps 06 : Malaikat Pedang Sakti

Mode Malam


1

LUDIRO meloncat dengan ilmu peringan tubuh yang cukup sempurna. Pagar halaman Griya Teratai Wingit itu cukup tinggi, tetapi Ludiro dapat meloncatinya dengan mudah. Sementara itu, para penjaga Griya Teratai Wingit masih tertidur semua. Malam begitu gelap. Ludiro tidak membangunkan para penjaga. Ia sengaja melakukan penyelidikan sendiri di luar pagar bumi Griya Teratai Wingit. Ia mendengar suatu-suara, seperti dengus nafas seseorang di kegelapan malam. Karena itu ia berusaha memeriksanya dengan cermat. Arah suara ada di samping kanan dari pintu gerbang Griya Teratai Wingit.

"Siapa di sana?! Keluar!" bentak Ludiro tak terlalu keras. Tapi dari kegelapan malam dan rimbunan semak itu tetap tak ada jawaban.

Bagaimana pun sepinya tempat itu, Ludiro yakin ada seseorang yang sedang mengintai di kegelapan sana. Ludiro segera memegang pedang Jalak Pati warisan Putri Ayu Sekar Pamikat itu. Tetapi tak jadi dicabut. Ia juga sudah bersiap hendak melecutkan Cambuk Naga, tetapi cambuk yang bergagang hitam dan menempel di punggungnya itu tak jadi dicabut. Tak jadi dilecutkan.

Mata Ludiro masih memandang tajam mengawasi sekeliling. "Hemm... tak ada gerakan sedikit pun dari semak kegelapan itu," pikir Ludiro. Namun, nalurinya tetap mengatakan ada seseorang atau lebih yang bersembunyi di sana.

Maka secepat kilat Ludiro melemparkan senjata rahasianya berupa mata pisau beracun. "Wess... zzing...!" Bunyinya.

Lalu, terdengar suara, "triing...!"

Nah, senjata rahasia Ludiro ada yang menangkis. Hebat. Pasti bukan orang sembarangan yang dapat menangkis senjata rahasia dalam kegelapan itu. Paling tidak pasti ia mempunyai kecepatan mencabut pedang yang cukup lumayan.

"Keluar kau, Iblis!" geram Ludiro sengaja agak keras.

Ludiro baru saja hendak melangkah mendekati semak yang gelap itu. Tahu-tahu nalurinya merasakan ada sesuatu yang cukup membahayakan. Ada hembusan angin tipis menuju ke arahnya. Segera Ludiro meloncat sambil bersalto ke belakang. Dan ia berdiri di dekat lampu obor penerang jalan. Ia mendengar suara menceracap di dedaunan.

"Hemm... jarum beracun...." gumamnya sambil manggut-manggut. "Pasti jarum beracun yang menyerangku tadi, dan pasti pemuda sinting itu pemiliknya. Siapa lagi yang mempunyai jurus jarum beracun kecuali putri Sabdawana dan pemuda sinting Prabima Wardana itu."

Kemudian tetap di tempatnya Ludiro berseru, "Prabima! Keluar kau dari persembunyianmu, Bangsat!"

Sepi. Tidak ada suara, tidak ada gerakan.

Namun, beberapa saat kemudian Ludiro berjumpalitan lagi di udara, dan menyumpah-nyumpah tak karuan. Ada lima lembar daun kecil melayang ke arahnya. Ludiro menghindari kelima lembar daun itu. Ia tahu, daun itu bukan sembarangan daun, tapi mempunyai tenaga dalam yang dapat memotong leher atau menembus batok kepala.

Sambil melentik tinggi dan berguling di udara, Ludiro sempat melepaskan senjata rahasianya ke arah datangnya lima daun itu. Dari kegelapan itu terdengar lagi denting senjata rahasia yang ditangkis oleh sebuah benda logam, mungkin sebilah pedang.

Ludiro sudah berdiri dengan tegak. Badannya yang pendek untuk ukuran seorang pendekar itu kelihatan semakin legam, sebab kulit tubuhnya memang hitam. Matanya menatap dengan tajam, tegang, mengawasi tempat gelap itu dengan cermat. Ia segera mencabut pedang Jalak Pati ketika dari arah lain muncul sebuah serangan gelap. Serangan itu berupa sebuah senjata berbentuk piringan bergerigi. Ukurannya sebesar tutup gelas, dan warnanya putih logam berkilat.

"Trang...! Trang...!"

Dua kali senjata piring bergerigi itu melesat ke arah Ludiro, dan dua kali pula Ludiro mengibaskan pedangnya. Menangkis senjata itu sehingga tak tahu mental ke mana. Kini Ludiro tahu, musuhnya tidak hanya seorang, tetapi lebih. Bisa dua, bisa tiga, bisa juga banyak. Ia semakin meningkatkan kewaspadaan, mempertajam pandangan mata. Sebab kali ini musuhnya tidak kelihatan karena bersembunyi di tempat gelap.

"Hei, Monyet-monyet...!" kata Ludiro dengan dongkol. "Keluarlah dari persembunyian kalian! Jadilah seorang kesatria. Kalau mau mati, matilah secara kesatria juga!" Dari rimbunan daun lebar, muncullah seorang lelaki berambut panjang. Putih rambutnya, putih juga jenggot dan kumisnya. Ludiro sengaja mundur ke tempat

terang, supaya lelaki itu mendekat ke tempat terang.

Pancingannya mengena. Lelaki itu ternyata seorang kakek berjubah merah. Rambutnya panjang, putih, dan tanpa diikat, sehingga angin malam sempat membuat rambutnya berserakan ke mana-mana. Ia membawa sebatang tongkat sebesar lengan anak-anak. Bentuknya seperti ular, berbintik-bintik dan sedikit mempunyai lengkungan. Kepala tongkat itu juga seperti kepala seekor ular sanca. Matanya sipit tapi tubuhnya masih kekar, seperti tubuh anak muda saja.

"Siapa kau?!" hardik Ludiro menunjukkan keberaniannya. "Aku ingin ketemu Sabdawana!" kata kakek itu tegas. "Rama Sabdawana tak dapat diganggu. Ia sedang repot!" jawab Ludiro yang tetap ingat pesan Sabdawana, ayah perempuan yang bernama Kirana Sari itu. Ludiro ingat, bahwa keamanan  Griya Teratai  Wingit itu dipercayakan kepadanya selama Sabdawana masuk ke kamar semedi. Rohnya akan melayang mencari di mana Pendekar Pusar Bumi berada. Dan Sabdawana telah wanti-wanti kepada Ludiro, agar selama ia semadi jangan ada yang boleh masuk atau mengusiknya.

(dalam kisah Pedang Semerah Darah).

"Jangan halang-halangi langkahku, Orang bodoh!" gertak kakek berambut putih itu. "Kalau kau nekad, kau akan mati dan ragamu akan menjadi debu."

"Setiap orang kelak akan menjadi debu, sebab ia tercipta dari debu pula. Kenapa aku harus takut mati?" jawab Ludiro dengan tenang tapi tetap waspada, sebab ia ingat di lain sisi masih ada pengintai lain yang sewaktu-waktu dapat menyerangnya.

"Supaya kau ketahui," kata kakek itu. "Aku punya urusan dengan Sabdawana. Jadi, aku hanya ingin ketemu dia, bukan kamu. Mengerti?"

"Dan perlu kau ketahui, Kek... untuk menemui Rama Sabdawana harus melangkahi mayat Ludiro dulu, tahu?" seraya Ludiro. menepuk dadanya. Pedang Jalak Pati masih di tangan kanan, tergenggam kuat.

"Hei, jangan panggil aku kakek, ya? Kurobek mulutmu nanti. Panggil namaku... Begal Dogol! Mengerti?!"

Kakek itu tampak marah dengan mata yang sipit dilebarkan. Tapi Ludiro hanya tersenyum menyepelekan. Ludiro bahkan berani berkata,

"Orang setua kamu sudah pantas dipanggil kakek." "Kurang ajar. Kurobek betul mulutmu, hah...?!" Dan

kakek   yang    mengaku    bernama   Begal    Dogol itu menyerang Ludiro dengan satu pukulan tangan kirinya.

Ludiro sempat mengelak ke samping, sehingga pukulan itu hanya lewat beberapa inci dari depan hidungnya. Tapi pada saat ia memiringkan tubuh, dengan cepat tangan kosongnya menghantam rusuk Begal Dogol. Kakek tua itu tidak merasakan sakit, kecuali hanya menahan nafas beberapa saat. Lalu, dengan cepat tongkat ularnya menyodok perut Ludiro. Ia menggunakan satu tangan untuk menyodokkan tongkat itu. Dan oleh Ludiro yang mundur dua langkah dengan cepat itu segera mengibaskan pedangnya, menebas tongkat tersebut. Hanya saja, tongkat itu tidak patah. Bahkan terdengar suara berdenting bagai besi beradu dengan besi. Padahal menurut dugaan Ludiro, tongkat itu hanya terbuat dari akar sebuah pohon yang keras serta dibentuk seperti ular sanca. Aneh. Kok bisa berdenting? Pasti dialiri tenaga dalam yang cukup kuat dan hebat.

"Mampus kau, Kunyuk...!" geram Begal Dogol. Ia memukulkan tongkatnya ke kepala Ludiro. Tapi Ludiro merunduk. Angin pukulannya sempat membuat rambut Ludiro rontok beberapa helai. Pada waktu itu kaki kanan Ludiro memutar dan menghantam tubuh Begal Dogol. Sayang hanya mengenai bagian lengannya. Tetapi sudah cukup membuat Begal Dogol hampir terpelanting.

Ia berhenti. Tidak menyerang. Nafasnya terengah dan diaturnya setenang mungkin. Ludiro sendiri juga tidak melanjutkan pertarungannya. Namun ia tetap sigap dan waspada. Seorang pengintai masih bersembunyi di balik semak kegelapan. Pengintai itu diperkirakan adalah seorang pemuda yang bernama Prabima. Pemuda inilah yang membuat Lanangseta pergi meninggalkan Kirana Sari, putri Sabdawana yang kini menderita sakit karena kerinduan hati berubah menjadi racun di dalam darahnya. Ayah Kirana hanya bisa mencari tahu di mana Lanangseta atau Pendekar Pusar Bumi itu, dengan cara bersemadi, mengeluarkan roh dari raganya untuk melayang-layang mencari Lanangseta. (dalam kisah PEDANG SEMERAH DARAH)

"Sia-sia aku bertarung melawanmu, Kunyuk!" kata Begal Dogol. "Aku punya urusan dengan Sabdawana! Ini urusan orang tua dengan orang tua. Kau tidak mempunyai hak untuk turut campur dalam urusan ini." Ludiro menyunggingkan senyum sinis. Ia menyarungkan pedang Jalak Pati, dan berkata, "Aku diberi hak oleh Rama Sabdawana untuk menangani

masalah seperti ini. Dan "

Orang tak akan menyangka bahwa Ludiro yang masih tenang berbicara dengan Dogol itu tiba-tiba meloncat dan berjumpalitan ke udara. Ternyata ia hanya menghindari serangan jarum beracun yang datang dari arah semak kegelapan. Nalurinya begitu kuat dan sangat peka. Sehingga, jarum-jarum beracun yang jumlahnya lebih dari seratus itu melesat melewati tubuh Ludiro, lalu menuju badan Begal Dogol. Seketika itu pula, Begal Dogol pun kaget dan secara reflek menggerakkan tongkatnya sambil melompat ke arah kanan. Terdengar bunyi kayu dihunjam jarum bertubitubi. Dalam keremangan cahaya obor penerang jalan Ludiro dapat melihat bahwa jarum-jarum itu menancap pada tongkat milik Begal Dogol. Menancap dengan rapi bagai disusun seseorang dengan tekun.

Ludiro tak tahu, apakah Begal Dogol sengaja memancingnya bicara, dan mengurangi kewaspadaan Ludiro supaya bisa diserang dengan tiba-tiba oleh orang yang bersembunyi itu, atau memang sesuatu yang kebetulan saja sifatnya? Tak peduli telah terjadi persekongkolan atau tidak, tapi Ludiro terpaksa mencabut Cambuk Naga untuk bisa memukul dari jarak jauh. Cambuk Naga dilecutkan satu kali ke arah semak kegelapan itu.

"Taar...!"

Sebuah cambukan biasa-biasa saja, tetapi ujung cambuk itu mengenai seseorang yang bersembunyi di sana, dan orang itu mengaduh tertahan. Ludiro hendak mengejar orang tersebut, tetapi ia membatalkan niatnya, sebab Begal Dogol bergerak melayang. Ia ingin masuk ke dalam Griya Teratai Wingit dengan cara melompati pagar tersebut yang tingginya dua kali ukuran tembok. Karena itulah, maka tubuh Ludiro akhirnya melayang juga ke arah pagar tinggi, dan melemparkan Begal Dogol dengan hempasan tenaga dalamnya. Tubuh Begal Dogol melayang bagai daun terbang, dan jatuh di dekat semak kegelapan dengan posisi berdiri tegak, kedua kakinya merenggang kokoh.

"Keparat...!" geram kakek berambut panjang itu.

Begal Dogol hendak menyerang, namun dari dalam semak kegelapan itu keluarlah seorang pemuda yang persis seperti dugaan Ludiro.

"Biar saya yang menghadapi, Guru!" kata Prabima kepada Begal Dogol.

"O, rupanya kau murid si tua bangka peot itu, ya?!" ledek Ludiro dengan masih berdiri di atas pagar. Lalu ia melompat turun dan tertawa dengan sinis.

Kokok ayam menjelang pagi terdengar di kejauhan. Samar-samar sekali. Pada saat itulah, Prabima berlari menyerang Ludiro dengan pedangnya. Ludiro sengaja melompat ke belakang dengan bersalto dua kali. Begitu kakinya menginjak tanah, cambuknya segera dikibaskan.

"Tarr...!" Cambuk itu melecut tangan Prabima. Tangan itu berdarah, seperti dulu lagi. Pedangnya jatuh. Prabima menyeringai kesakitan.

Para penjaga terbangun. Dua orang membuka pintu gerbang dan menghambur keluar. Melihat kedua penjaga membuka pintu gerbang, Begal Dogol tersenyum, kemudian berusaha masuk. Tetapi kedua penjaga itu melarangnya dengan melancarkan pukulan ke arah Begal Dogol. Tongkat Begal Dogol beraksi, memukul tangan penjaga dengan keras, sehingga kedua penjaga itu menyeringai kesakitan. Kemudian kaki Begal Dogol mengibas, bagai menampar kedua penjaga itu, sehingga kedua orang tersebut tersungkur ke samping, Begal Dogol melangkah ke pintu gerbang.

Saat itu Ludiro berlari dan meloncat dengan kaki kiri direntangkan ke samping. Kaki itu mengenai lengan Prabima hingga pemuda bertampang ganteng itu sempoyongan. Dan gerakan Ludiro dilanjutkan dengan bersalto satu kali. Ia mendarat di belakang Begal Dogol yang hendak masuk ke pintu gerbang. Cambuk Naga dikibaskan, lalu berhasil membelit di leher Begal Dogol. Sejenak kakek tua itu berusaha melepaskan lilitan Cambuk Naga yang terbuat dari serat benang sutera tipis namun mempunyai kekuatan yang luar biasa. Agaknya kakek berambut panjang merasa kesulitan membuka lilitan cambuk, sehingga ia menghentakkan kakinya kuat-kuat. Melayang dan bersalto ke belakang dua kali. Kakinya mendarat di tanah dengan mantap, dan kini posisinya berada di belakang Ludiro. Dengan sekali hentakan kaki ke depan, Ludiro nyaris terdorong rubuh. Tapi tangannya masih kuat memegangi gagang cambuk. Dengan tenaga besar Ludiro menggeret cambuknya, di sentakkan kuat-kuat sehingga tubuh Begal Dogol terbawa ke depan. Dan pada saat itulah kaki Ludiro menendangnya kuat sekali, sehingga Begal Dogol terpental ke belakang setelah lehernya merasa bagai tercekik, lalu seperti dibeset dengan benang tajam.

Leher itu berdarah. Begal Dogol segera meludahi telapak tangannya, lalu mengusap leher yang terbeset cambuk. Dalam sekejap, luka dan darah hilang dari leher Begal Dogol. Ia tersenyum sinis kepada Ludiro. Ludiro menggeletukkan gerahamnya. Pada saat itu, tubuh Prabima melayang menyerang Ludiro dengan kaki miring ke samping.

Kemarahan dan kebencian Ludiro meluap, maka ia mengibaskan cambuknya dengan suatu luapan emosi yang kuat. Dan akibatnya, sungguh mengerikan. Cambuk itu mengenai pundak Prabima.

"Aaakhh...!" pekik Prabima kesakitan, karena pundak itu patah dan robek begitu dalam. Darah mengucur banyak sekali. Begal Dogol khawatir kalau luka itu sampai ke jantung, karenanya ia segera menyerang Ludiro dengan lemparan senjata lempengan bulat bergerigi tajam. Tanpa disadari, tangan Ludiro bergerak sendiri, mencambuk-cambukan senjatanya dengan salah satu kaki ditekuk hingga lututnya hampir menyentuh tanah. Cambuk itu melecut sebanyak 7 kali, sesuai dengan senjata bulat yang dilemparkan Begal Dogol. Cambuk itu mengenai lempengan besi bergerigi, dan membuat besi itu terpental ke mana-mana.

Ludiro dalam keadaan sibuk. Begal Dogol segera mengangkat tubuh Prabima dengan gerakan yang tak dapat diikuti oleh pandangan mata orang. Tahu-tahu ia telah berada dalam jarak beberapa meter sambil menggendong Prabima yang terluka parah itu.

"Tunggu! Tunggulah kehadiran muridku yang lain yang akan melumatkan batang hidungmu, Kunyuk!" teriak Begal Dogol. Ludiro hendak mengejar pada waktu Begal Dogol pergi membawa kabur Prabima Wardana, tetapi puncak Ludiro terasa ada yang menekannya dengan berat sehingga ia tak jadi melangkah mengejar Begal Dogol.

Waktu Ludiro berpaling, ia terperanjat sedikit, karena yang menekan pundaknya itu ternyata Sabdawana sendiri. Agaknya Sabdawana telah selesai bersemadi beberapa hari lamanya. Ludiro pun buruburu memberi sikap menghormat kepada lelaki tua itu.

"Jangan kau kejar dia. Berbahaya." "Rama mengenal dia?"

Sabdawana mengangguk, matanya yang memancarkan kharisma dan kewibawaan itu memandang tempat kepergian Begal Dogol. Matahari sudah mulai muncul, dan gumam Sabdawana terdengar jelas.

"Begal Dogol...! Hem, dia musuh lamaku." "Agaknya dia cukup tangguh, ya Rama?"

"Seharusnya begitu. Berpuluh-puluh tahun dia menghilang dari rimba persilatan setelah kukalahkan. Tentunya ia mencari ilmu dan menambah kehebatan dirinya untuk melawanku," tutur Sabdawana dengan datar.

"Jadi, kedatangannya ke mari adalah untuk membalas dendam atas kekalahannya dulu?" tanya Ludiro.

"Ya," Sabdawana mengangguk. "Tapi agaknya ada keperluan lain juga, mengingat dia telah bersekutu dengan Prabima Wardana."

"Pemuda itu muridnya, Rama. Saya mendengar dia memanggil Begal Dogol dengan sebutan 'guru'."

Sabdawana manggut-manggut sambil menggumam. Kemudian ia melangkah masuk halaman Griya Teratai Wingit, di mana ia tinggal di situ bersama anak perempuannya dan para pelayan serta pengawal yang berjumlah sepuluh orang.

"Bagaimana tentang Lanangseta menurut Rama?" tanya Ludiro yang segera ingin mendengar bagaimana keadaan Lanang.

Sabdawana diam beberapa saat, sepertinya menyimpan keraguan. Ia duduk di atas tempat duduk empuk yang berbentuk bunga teratai. Tempat duduk itu terbuat dari batu cadas berukir dan dilapisi beberapa kain yang dibungkus oleh mori putih bersih.

"Aku menemui kesulitan dalam melacak di mana Lanangseta. Rohku hampir saja nyasar tak tentu arah." kata Sabdawana dengan pelan. "Susah memastikan apakah Lanangseta masih hidup atau sudah mati."

"Saya harap Rama jangan bicara terlalu keras, takut kalau putri mendengarnya, dan akan semakin parah."

Setelah diam sejenak, Sabdawana bicara seperti dalam sebuah gumam, "Dia... memang sudah parah."

Ludiro menghela nafas, merasa prihatin dan kasihan terhadap anak gadis Sabdawana.

"Bagaimana selama kutinggal bersemadi?" tanya Sabdawana.

"Baru tadi ada gangguan, si tua bangka Begal Dogol dengan setan kencur Prabima itu."

"Putriku...?"

"Putri anda selalu menanyakan hasil semedi yang anda lakukan, Rama. Ia benar-benar ingin mendengar kabar tentang Pendekar Pusar Bumi itu."

Kini, Sabdawana yang menghempaskan nafas panjang.

"Tapi selama ini saya sudah mencoba dan selalu mencoba mengalihkan perhatian serta pikirannya ke arah lain."

"Berhasil?"

"Sesekali berhasil, sesekali ia ingat Lanangseta, lalu menangis lagi. Ah, saya jadi tak habis pikir, putri anda yang tegar itu bisa berubah menjadi perempuan cengeng dan lemah sekali," ujar Ludiro.

"Itulah keburukan racun yang sudah terlalu bercampur dengan darahnya. Bahkan racun itu akan membuat dia menjadi seperti anak kecil lagi, kemudian... mungkin tak akan tertolong lagi." Kata-kata itu terlontar begitu lirih dan membuat wajah Sabdawana sangat murung.

"Kalau begitu," kata Ludiro setelah sama-sama berpikir beberapa saat. "... anda katakan saja bahwa anda telah bertemu dengan Lanangseta dan hendak kembali kalau sudah selesai urusannya. Mungkin sebentar lagi. Begitu, Rama."

Sabdawana menggeleng. "Aku tak boleh bohong. Kebohongan hanya akan merugikan diri sendiri. Aku harus mengatakan yang sebenarnya. Kalau aku berbohong dengan mengatakan seperti saranmu itu, dia pasti akan bangga dan senang. Harapan untuk bertemu Lanangseta akan semakin menggebu dan tak sabar. Tapi jika sampai beberapa hari ternyata Lanangseta tidak datang, ia akan kecewa. Semakin rindu dan semaian tersiksa. Kerinduan yang sangat kuat itu akan lebih meracuni darahnya, lalu dia akan mati. Kalau dia mati, berarti aku kehilangan dia. Jelas akan membuatku sangat menderita. Itulah sebabnya kukatakan tadi, kebohongan akan merugikan diri kita sendiri."

Ludiro manggut-manggut, merasa menyesal juga telah memberi saran tak sehat kepada Sabdawana. Untung Sabdawana orang yang teliti, yang bisa membedakan mana salah dan mana benar. "Hahhh...!" Ludiro. mendesah bagai merasa gemas. Dalam hati ia bertanya dengan jengkel, "Ke mana sebenarnya Lanangseta itu?!"

*** 2

SINAR matahari menyorot ke bumi dengan tajam. Ada bayangan yang berjalan dengan tegap. Bayangan dari sesosok tubuh yang kekar, tegap dan seakan penuh keyakinan atas dirinya. Bayangan itu tak lain adalah milik Lanangseta, Si Pendekar Pusar Bumi, yang telah mendapat gelar dari seorang guru, sehingga ia patut menyandang gelar Malaikat Pedang Sakti. Sebenarnya, sudah pantaskah ia menyandang gelar agung itu?

Orang akan menilai suatu perbuatan dari orang lain. Dan perbuatan, gerakan serta kemampuan Lanangseta dalam memainkan jurus-jurus pedangnya itulah yang akan membuat orang percaya, bahwa ia memang pantas menyandang gelar Malaikat Pedang Sakti.

Meski sesekali langkahnya menjadi pelan karena merasa ada yang mengikuti, namun Lanangseta tak menunjukkan kecurigaannya. Ia tetap melangkah dengan tegap, tenang dan mantap. Sampai pada suatu saat, ia terpaksa harus berhenti karena melihat pengemis yang duduk di bawah sebuah pohon, tak jauh dari sebuah desa.

"Berilah kami sedekah ala kadarnya, Tuan," pengemis itu mengulurkan tangannya dalam posisi tengadah. Lanangseta memperhatikan sekilas. Tatapan matanya cukup bersahabat. Pengemis muda yang kurus kering dengan pakaian compang-camping itu memperlihatkan wajah sedihnya.

"Sedikit sedekah, Tuan, semoga bisa menjadi berkah. Kasihanilah saya... sudah  beberapa  hari  tidak  makan "

Lanangseta merasa tertarik dengan keadaan pengemis itu. Ia ingin memberikan saran sedikit kepada si pengemis, "Kamu masih muda, kan? Usiamu tidak jauh lebih tua dariku, bahkan lebih muda. Apa tak bisa cari kerja? Jangan malas, bekerjalah. Kerja apa saja, yang penting bisa buat hidup sendiri."

Pengemis muda itu cemberut, "Ini juga bekerja, kan? Apa Tuan pikir mengemis itu bukan suatu pekerjaan?"

Senyum tenang Lanangseta mengembang di bibirnya. "Yang kumaksud bekerja sebagai pengemis, berbeda dengan bekerja sebagai pekerja atau buruh. Kamu masih kuat mencangkul sawah, buruh tani apa saja. Menggembala kambing milik orang kaya juga masih mampu. Kenapa harus mengemis?"

"Yaah... mungkin sudah bakat."

"Apa kau punya cita-cita jadi pengemis?" Pemuda kurus kerempeng itu menggeleng. "Lalu, apa cita-citamu?"

"Mengetuai semua pengemis di dunia ini, Tuan." "Hah... itu sama saja!"

"Lain, Tuan. Pendapatannya lebih besar. Saya tidak perlu merengek, menyusun kata yang menyedihkan supaya diberi berkat. Saya tinggal memberi perintah kepada anak buah saya: hari ini si A mengemis di wilayah sana, si B mengemis di wilayah sini... Besok si A ganti ngemis di sini, si B di sebelah sana... Ah, cuma mengatur jalannya perngemisan dunia, apa susahnya sih? Paling-paling saya memberi pelajaran bagaimana menjadi pengemis yang sukses kepada anak buah. Kan enak kalau begitu? Cita-cita yang agung kan?"

Lanangseta tertawa pendek, pelan. Ia menggeleng samar. "Itu keliru. Itu tidak baik."

"O, jadi Tuan pendekar punya cara yang lebih baik tentang bagaimana mengatur perkembangan pengemis di dunia ini? Jadi, Tuan juga punya teknik mengemis yang lebih tepat lagi, ya?"

"Tidak. Kau tidak mengerti maksudku. Kau " "Kalau begitu, beri sajalah saya sedekah biar Tuan tidak pusing-pusing menasehati saya. "

"Aku tak ingin mendidik orang menjadi malas "

kata Lanangseta seraya pergi meninggalkan pengemis muda. Gerutu pengemis itu terdengar jelas, hanya katakatanya yang sukar dipahami. Tetapi Lanangseta tidak peduli. Ia terus melangkah sambil menimbang-nimbang, haruskah ia pulang ke Griya Teratai Wingit? 

Ah, itulah yang membuat Lanangseta gelisah dalam hati. Ia ingat Kirana kekasihnya, tapi ia juga ingat pemuda Prabima yang memuakkan. Apalagi jika ia ingat kata-kata Prabima yang memberitahu, bahwa Kirana sudah menyerahkan keperawanannya kepada Prabima. Bahwa pula, Kirana yang menyuruh Prabima datang dan melukai Lanangseta, supaya perkawinan Lanang dan Kirana tertunda beberapa saat, sementara Kirana ingin menikmati kemesraan dengan Prabima beberapa saat lagi. Uuh... benci sekali Lanangseta mengingat peristiwa itu (dalam kisah PEDANG SEMERAH DARAH)

Pada waktu itu, Kirana memang tidak ada di tempat. Bahkan menghilang sampai beberapa saat. Hal itu pula yang membuat kecurigaan Lanangseta semakin kuat, bahwa Kirana memang ada main belakang dengan Prabima. Dan sejak saat itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan Kirana, karena almarhum kakek Tongkat Besi telah membawanya kabur ke Bukit Dewa. Dan sampai sekarang, Lanangseta tidak tahu bagaimana keadaan Kirana, bagaimana nasib Prabima dan bagaimana kisah Griya Teratai Wingit sejak kepergiannya sampai dua bulan lebih ini. Tak tahu. Sungguh tak ada berita sedikit pun tentang hal itu yang masuk ke telinga Lanangseta, atau si Malaikat Pedang Sakti, alias Pendekar Pusar Bumi itu.

Langkah Malaikat Pedang Sakti terhenti sejenak, seperti ada sesuatu yang mengejutkan. Ia belum memasuki perbatasan desa, namun ia sudah bertemu dengan seorang pengemis muda yang kini ada di depannya dalam jarak kira-kira 20 langkah lagi. Dan herannya, pengemis muda yang tadi juga yang ditemuinya saat ini. Dalam hati Lanangseta berkata, "Hebat juga kecepatan lari pengemis itu? Atau... mungkin ia telah mendahului langkahku tanpa kusadari? Mungkin pada saat aku melamun itulah ia telah mendahuluiku?"

"Berilah kami sedekah ala kadarnya, Tuan "

Lanangseta sengaja berhenti dan memperhatikan pengemis muda bertubuh kurus kerempeng dengan pakaian compang-camping itu. "Ah, kata-katanya pun sama saja," pikir Lanang. Pengemis itu memperlihatkan wajah dukanya, lesu dan murung. Ia mengucap kata, "Sedikit sedekah, Tuan, semoga menjadi berkah. Kasihanilah saya... sudah  beberapa  hari  tidak  makan "

"Persis!" gumam Lanangseta dalam hati. Persis seperti yang didengarnya tadi, ketika bertemu pengemis muda itu di bawah pohon. Lanangseta bagai menyimpan suatu rahasia. Ia tersenyum, lalu segera meninggalkan diri. Pengemis itu menggerutu tak jelas ucapannya. Namun pada saat ditinggalkan Lanangseta ia tetap duduk di tempatnya bersila. Lanangseta lari dengan cepat dan naik ke atas pohon dengan menggunakan ilmu peringan tubuhnya. Dan dari atas pohon ia tetap melihat pengemis tadi duduk di tempatnya. Karena jauhnya, sampai terlihat seakan sebuah titik yang diam tak bergerak sedikit pun.

Kemudian Lanangseta turun dari pohon. Ia yakin pengemis seusia adiknya itu masih duduk di tempatnya. Ia segera lari ke arah rimbunan pepohonan, di mana di balik rimbunan itu pasti terdapat sebuah desa. Lanang sengaja melesat bagai bayangan cahaya supaya cepat sampai di desa itu. Ia harus mencari kedai buat mengisi perutnya.

Tetapi ia terkejut lagi, karena ketika ia tiba di tepian desa, ia telah melihat seorang anak muda berpakaian compang-camping, duduk bersila menunggu orang lewat. Itu si pengemis kurus kerempeng tadi.

"Sial! Dia sudah ada di depanku?! Padahal aku sudah berlari tidak sekedar berlari. Jurus Badai Menghembus sudah kugunakan. Tapi nyatanya aku kalah cepat dengan pengemis itu. Ia tahu-tahu sudah menghadangku di sana."

Lanangseta sengaja lewat tanpa berhenti di depan pengemis muda itu. Ia berlagak tidak tahu kalau pengemis itu ada di situ. Namun, tak urung ia tetap mendengar ucapan pengemis itu seperti tadi juga:

"Berilah kami sedekah ala kadarnya, Tuan "

Lanang pura-pura tidak mendengar. Lalu pengemis muda itu melanjutkan kata, "Sedikit sedekah, Tuan, semoga menjadi berkah. Kasihanilah saya. sudah

beberapa hari tidak makan "

Sambil berjalan terus tanpa berpaling, Lanangseta berkata dalam hati, "Dia bukan pengemis sembarangan. Anak muda itu pasti punya maksud tertentu di depanku. Ah, biarlah, aku tak mau banyak urusan dengannya."

Lanangseta tiba di depan kedai yang pengunjungnya tak begitu banyak. Perutnya mengkerukuk menahan lapar. Maka ia pun segera masuk ke kedai yang cukup besar itu. Tapi baru tiba di depan pintu masuk, tahutahu ia melihat pengemis muda itu sudah duduk bersila, seakan sudah dari tadi ia berada di situ. Gila!

Dan waktu Lanangseta hendak lewat di depannya, Lanang sudah tahu apa yang ia dengar dari mulut pemuda kurus itu.

"Berilah kami sedekah ala kadarnya, Tuan " Lanang segera menyahut, "Sedikit sedekah, Tuan, semoga menjadi berkah... kasihanilah saya... sudah beberapa hari tidak makan "

Maksudnya Lanangseta mengejek pengemis itu, menirukan kata-kata tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa ia sudah bosan mendengar ucapan si pengemis muda. Tetapi di luar dugaan, ada pengunjung kedai yang mendengar ucapan Lanangseta tadi. Sambil menggerutu, pengunjung itu melemparkan sekeping uang kepada Lanangseta, "Uhh... masih muda, gagah, kuat, kok mengemis. Nih, ala kadarnya saja. !"

Tangan Lanangseta tak sadar menangkap sekeping uang tersebut dengan mulut terbengong. Orang itu mengira Lanang sedang mengemis kepadanya. Dan...

dan Lanang bingung dengan uang tersebut. Akhirnya ia melemparkan uang itu, jatuh di tangan pengemis muda, lalu Lanang segera mendekati orang berkumis yang melemparkan uang tadi.

"Bukan saya yang meminta sedekah, tapi pemuda it...." Lanangseta kebingungan sendiri. Pengemis muda itu menghilang dengan cepat. Jari tangan Lanangseta menunjuk tempat yang sudah kosong. Tentu saja orang berkumis yang melemparkan uang kepada Lanang hanya mencibir, seraya berkata, "Alaaah pakai alasan

segala. Ngemis ya ngemis!"

Tentu saja Lanangseta jadi salah tingkah. Hanya gara-gara hal seperti itu, masa' ia harus berdebat dengan orang berkumis. Nanti apa kata orang: Datangdatang dikira cari keributan. Maka, Lanangseta tak menghiraukan kata-kata orang itu lagi. Ia segera mencari tempat dan memesan makanan serta minuman untuknya. Tetapi ia masih penasaran dengan pengemis muda yang membuatnya terkecoh tadi. "Ke mana perginya anak itu?"

Pemilik kedai menghidangkan nasi dengan dua potong paha ayam goreng. Minumannya... segelas air putih. Lalapnya, sambal terasi dengan daun kemangi dan ketimun mentah. Tak lupa pemilik kedai juga menyediakan kendi air yang diletakkan tak jauh dari jangkauan tangan Lanangseta.

Mendadak Lanang membelalakkan mata, ia melihat pengemis muda yang kurus kerempeng dengan pakaian compang-camping itu duduk pula di salah satu meja kosong. Letaknya di depan Lanang, agak serong ke arah kiri. Menyudut. Lanangseta memperhatikan dengan diam-diam. Perasaannya sedikit heran, mengapa pengemis itu memperhatikan ia juga secara diam-diam. Siapa dia sebenarnya dan apa perlunya?

"Hah...?!" Lanangseta hampir saja berseru kaget. Karena pada saat itu, ia melihat air dalam cangkir yang belum diminum itu sudah habis mendadak. Ia mengangkat cangkir itu, kalau-kalau bocor. Ternyata tidak.

Lanangseta menuang air kendi ke cangkir itu, dan ia segera makan dengan tenang. Tapi pada waktu ia harus minum karena seret, tahu-tahu cangkir itu telah kosong lagi.

"Gila! Apa-apaan ini?!" pikir Lanangseta sambil melirik ke arah pengemis muda yang memperhatikan dari sudut sana. Tampak seulas senyum tipis mekar di bibir pengemis berkulit hitam dan berambut tak teratur itu.

Lanang menggumam dalam hati, seperti menyimpan suatu rencana. Lalu ia menuang kembali air kendi ke dalam cangkirnya. Namun bersamaan dengan itu, gerakan tangan cepat Lanang tak terlihat siapa pun bahwa ia mencampurkan sedikit sambal terasi pada air tersebut. Lalu, ia berlagak makan dengan tenang lagi. Sesaat kemudian, ia mendengar suara orang terbatukbatuk dan megap-megap kepedasan. O, rupanya pengemis muda itu kepedasan, padahal ia tak makan nasi dengan sambal. Lanang melirik cangkirnya; O, kosong!

Sekarang Lanang sudah jelas, bahwa pengemis itu memang bukan pengemis sembarangan. Ia mempunyai ilmu yang di luar dugaan orang, ternyata cukup hebat. Ia dapat meminum air di cangkir orang lain dari jarak jauh. Buktinya ketika minuman Lanang diam-diam dicampur sambal, pengemis muda itu yang kepedasan dan megap-megap. Lidahnya dikipasi dengan tangannya sendiri. Di samping itu, ia juga mempunyai ilmu mempercepat gerakan tubuhnya. Buktinya, tiga kali lebih Lanang menemukan dia masuk duduk bersila di depan langkah Lanang. Padahal waktu tadi, Lanang sudah mencoba berlari melesat menggunakan ilmu Badai Menghembus, nyatanya pengemis kurus kerempeng itu bisa melebihi kecepatan jurus Badai Menghembus.

Hemm... siapa dia sebenarnya? Apa maksudnya memamerkan kehebatannya itu di depan Lanangseta? Apakah ia tak tahu bahwa yang diikutinya itu murid seorang dewa?

Lanangseta berpaling, seperti orang-orang itu, melongok ke luar kedai. Di sana ada serombongan manusia yang tengah mengarak seorang lelaki berikat kepala kain batik warna hitam. Orang itu tidak mengenakan baju, kecuali celana pangsi hitam. Kedua tangannya diikat ke belakang. Dan ia berjalan dengan didorong-dorong oleh beberapa orang bertampang galak. Sesekali ia tersungkur rubuh, lalu diseret agar bangun lagi, dan berjalan kembali. Selain orang-orang bertampang galak, juga ada beberapa penduduk yang mengikuti dengan wajah-wajah tegang dan perasaan sedih yang tak sempat tercurah semuanya.

Salah seorang pengunjung kedai itu berkata kepada temannya, "Wah, akhirnya mati juga Pak Lodang itu "

"Memangnya kenapa sih?" tanya temannya.

"Gara-gara tidak membayar pajak ke Kanjeng Adipati, akhirnya dia akan dihukum gantung, kan? Padahal dia sudah kuingatkan, bayarlah pajak penghasilan sawahnya kepada Kanjeng Adipati, supaya ia tidak celaka. Eh, dia tetap tidak mau."

"Ck, ck, ck... kasihan dia, ya? Akhirnya nasibnya seperti Marjan dan mak Idah. Digantung!" komentar yang lain.

"Tapi anak dan istrinya kok tidak kelihatan?"

"Yah, mungkin mereka sengaja tidak diberitahu oleh kaki tangan Kanjeng Adipati Legowo. Biasa, bikin kejutan!"

Istri pemilik kedai berlari-lari ke luar dari dapur dan bertanya kepada suaminya, "Ada apa lagi itu, Pak?"

"Ada orang mau digantung." "Hahh ?! Siapa?!"

"Pak Lodang "

"Ya, Gustiii... kasihan amat nasibnya...." keluh istri pemilik kedai dengan wajah sedih. "Lalu bagaimana nasib istri dan anak gadisnya, si Mahani itu...? Ah, kasihan sekali dia."

Otak Lanangseta merekam semua pembicaraan yang didengarnya. Hatinya sempat ikut terharu melihat lelaki kurus tanpa baju dengan punggung dan dada membilur biru akibat bekas cambukan itu, didorong-dorong oleh beberapa orang bersenjatakan golok. Mereka kasarkasar, dan tak mengenal belas kasihan.

Karena orang-orang dalam kedai ikut ke luar, mendekati rombongan tersebut, maka Lanangseta pun demikian. Ia ke luar dengan mata memandang orangorang kasar, menghitung dalam hatinya. Ada yang berpakaian seperti warok, serba hitam dan memakai ikat kepala batik hitam dengan bentuk khusus, menyerupai sepasang tanduk. Orang itu berbadan besar, memakai gelang akar bahar, berkumis melintang tebal, alisnya juga tebal, dan matanya lebar membelalak ganas. Ia mengenakan ikat pinggang sepertinya dari sebuah tali halus, besarnya hampir satu genggaman orang dewasa. Pada kedua ujung sabuk itu terjulur ke bawah, hampir sebatas lutut. Warnanya merah berseling hitam. Ia berjalan pada barisan paling belakang. Langkahnya mantap, gerakan matanya penuh kecurigaan. Orang itu agaknya memegang peranan dalam rombongan tersebut. Buktinya, ketika rombongan sampai di bawah tiang gantungan di sebuah alun-alun yang tak jauh dari desa itu, barisan orangorang kasar terbelah menjadi dua jalur, dan orang berkumis melintang itu berjalan dengan tenang mendekati Pak Lodang. 

"Siapa dia?" bisik Lanang kepada salah seorang penduduk.

"Itu yang namanya Warok Sabuk Geni. Orang kuat di dalam dalem kadipaten. Dia kan orang andalan Adipati Legowo "

Lanangseta mengangguk-angguk. Tiba-tiba dari arah sampingnya nyeletuklah suara, "Namanya aneh, ya? Nama kok pakai Borok. Ih, Borok Sabuk Geni. Sabuk Geninya sih hebat, Boroknya yang menjijikkan."

Eh, ternyata pengemis muda yang kurus kerempeng itu yang seakan mengajak bicara Lanangseta. Pengemis itu kelihatan biasa-biasa saja, tidak seperti orang asing, tidak juga menunjukkan kesedihannya seperti waktu mengemis.

"Siapa yang namanya Borok?" Lanang sengaja menimpali.

"Orang berbaju serba hitam itu, kan? Tadi katanya bernama Borok Sabuk Geni."

"Bukan Borok, tapi Warok! Warok Sabuk Geni." "Ooo... tidak jadi Borok? Jadi sekarang diganti Warok?"

"Bego...!" geram Lanangseta.

"Lho, kok tahu nama saya?" kata pengemis muda itu sambil Cengar-cengir. "Sudah kenal nama saya, ya? Wah, kalau begitu saya ini orang terkenal, ya? Hebat juga saya ini."

Lanangseta melirik sinis. "Siapa yang mengenal kamu?"

"Tadi...? Tadi Tuan memanggil saya: Bego... begitu. Nah, mau mengelak nih...." Ia menuding-nuding Lanangseta. "Mau menyanggah nih, ya? Tadi kan bilang: Bego. Itu kan memanggil saya. Iya, kan? Iya toh?! Ah, ngaku saja...!"

Ada beberapa mata sempat mengawasi pengemis muda itu, sebab ia bicara dengan sedikit keras. Lanangseta jadi tak enak. Ia semakin gemas jadinya, tapi hanya ditahan kuat-kuat. Ia berkata setelah pengemis muda itu diam.

"Memangnya namamu Bego?"

"Iya. Nama saya Jaka Bego. Tuan kenal dari mana? Mungkin teknik mengemis saya Tuan kagumi ya, sampai-sampai Tuan melacak nama saya dan... ingin belajar, ya?"

Lanangseta tak banyak komentar. Diam dengan meredam kedongkolan. Matanya memandang ke depan, di mana mereka menyiapkan segala perlengkapan untuk menggantung Pak Lodang. Lanangseta bergeser dari antara kerumunan orang, lebih mendekati ke depan, supaya jelas. Tapi pengemis yang mengaku bernama Jaka Bego itu ternyata juga ikut bergeser ke depan, terus mepet Lanangseta, bagai tak mau berjauhan.

"Kasihan orang itu, ya? Saya melihat wajah tak bersalah sedang dikalungi tali gantungan...." bisik pengemis itu.

Sebenarnya Lanangseta tahu, pengemis itu berbicara kepadanya, tapi ia berlagak tidak mendengar. Ia ada yang mendorong dari belakang, hingga rombongan yang ada di depannya sampai memisah dan Lanang bisa masuk lebih ke depan lagi.

Pada saat itu, yang namanya Pak Lodang sudah naik ke atas bangku bundar, lehernya sudah berkalung tali gantungan, dua orang penjaga berbadan besar dan di samping kanan-kirinya. Sementara itu, yang bernama Warok Sabuk Geni berbicara kepada massa.

"Ingat, ini sebagai peringatan buat kalian. Barang siapa tidak membayar pajak penghasilan sawah, atau kebun, maka hukumannya adalah seperti Pak Lodang ini. Digantung! Mengerti?!"

Tak ada jawaban satu pun dari penduduk yang berkerumun, Masing-masing rupanya dicekam perasaan sedih dan takut. Dan Warok Sabuk Geni tak mau menunggu jawaban lebih lama lagi. Ia menganggap semua penduduk sudah mengerti. Lalu ia perintahkan kepada dua pengawal berbadan besar yang ada di kanan-kiri Pak Lodang.

"Hukuman gantung... kerjakan!"

"Tunggu...!" Ada suara berseru, dan kedua pengawal tak jadi menyeret bangku yang dipakai berdiri Pak Lodang. Suara itu datangnya dari Lanangseta, yang kemudian maju mendekati Warok Sabuk Geni.

"Berapa uang yang harus dibayar oleh orang itu untuk melunasi pajaknya?" tanya Lanangseta dengan sopan dan hormat.

Warok Sabuk Geni kelihatan menggeram jengkel. Matanya yang lebar dan memerah itu memandang penuh curiga. Lalu jawabnya dengan kasar, "Lima ratus keping!"

Lanangseta memandang Pak Lodang sebentar, lalu berkata, "Bebaskan dia, aku akan membayarnya sebanyak enam ratus keping kepadamu, Ki Warok."

"Hahh?!" semua orang terperanjat, demikian juga Warok Sabuk Geni. Sementara itu, Jaka Bego bertepuk tangan kegirangan. Lalu, penduduk jadi ikut bertepuk tangan semua.

"Tidak bisa!" kata Warok Sabuk Geni. "Waktu pembayaran sudah terlambat, sekarang yang ada waktu penghukuman!"

Jaka Bego berseru, "Huhhh...!" Orang-orang ikut berseru bersahutan, "Huhh...! Huuhh...! Uuuhh...!"

***

3

WAROK SABUK GENI membentak orang-orang yang saling 'ha-hu, ha-hu' itu. "Diam...!"

Bentakannya cukup menggetarkan sekian banyak orang yang ada dalam kerumunan itu. Mereka menjadi bungkam mendadak bagai jangkerik terinjak. Sepi. Wajah-wajah takut tergambar jelas dan Warok Sabuk Geni semakin garang.

"Orang ini harus dihukum karena kesalahannya! Tak ada ampun! Tak ada tebusan! Tak ada ganti rugi!" Mata Warok yang merah membelalak, bagai mau loncat, memandangi mereka satu persatu. Lanangseta tetap tenang, kedua tangannya dilipat di depan dada. Dengan seenaknya ia berkata lagi, "Bagaimana kalau kutebus dengan uang tujuh ratus keping?" suaranya pelan, tapi jelas. Semua telinga mendengarnya. Pengemis muda yang mengaku bernama Jaka Bego menyahut, "Iya. Tuh, sudah naik. Dari enam ratus keping menjadi delapan ratus keping. Apa tidak buaaanyak yang segitu?"

Lanang melirik dengan dongkol. "Siapa yang bilang delapan ratus keping?"

"Lho, tadi katanya mau ditebus delapan ratus keping?" Jaka Bego bertampang bingung.

"Tujuh ratus!" geram Lanangseta, seakan ingin sekali menampar mulut Jaka Bego.

"O, tujuh ratus? Kok nggak jadi delapan ratus?" "Bayarlah sendiri kalau dia memang mau delapan

ratus."

"Boleh saja," jawabnya di luar dugaan Lanang. Ia bahkan berkata kepada Warok, "Bagaimana? Delapan ratus?"

Warok Sabuk Geni membentak kasar, "Tidak! Tidak ada, penebusan, tau?!"

"Ya, sudah! Jangan ngotot!" Jaka Bego bagai tak sadar, ganti membentak Ki Warok. Sudah tentu membuat Warok Sabuk Geni menjadi semakin marah. Dengan langkah mantap dihampirinya Jaka Bego. Lalu, ditamparnya keras-keras wajah Jaka Bego. "Plak... plak...!" Kemudian ditinggalkan berdiri di tempat semula.

Jaka Bego meringis kesakitan sambil mengelus-elus pipinya. Ia menyenggol lengan Lanangseta yang tetap berdiri dengan tenang, memandang Pak Lodang yang pucat pasi. Lanang bagaikan tak melihat kejadian itu. Jaka Bego menyenggol lengan Lanangseta lagi dan berbisik dalam sebuah rengekan.

"Saya ditampar " ia bagai mengadu.

"Aku tahu," jawab Lanang dengan tetap pada posisi semula. Ia tidak berpaling ke arah Jaka Bego sedikit pun. "Sakit. "

"O, iya. Tentu sakit," jawab Lanang masih tanpa memandang sedikit pun ke arah Jaka Bego. "Kok tidak dibela?"

"Aku sedang asyik menantikan saat penggantungan Pak Lodang itu." Senyum sinis mekar di bibir Lanang. "Warok itu akan kecele! Pak Lodang tidak akan mati digantung."

"Kok bisa?" "Lihat saja...!"

Pada saat itu, Warok berseru kepada kedua penjaga yang bertugas menarik bangku tempat berdiri Pak Lodang. Jika bangku itu ditarik, maka seketika itu tubuh Pak Lodang akan tergantung, lingkaran tali akan mengencang dan mencekik lehernya.

"Gantung dia! Kerjakan!"

Maka betul juga dugaan orang-orang, kedua penjaga itu menarik dan mendorong kursi itu satu arah. Kaki Pak Lodang terlepas dari bangku dan... dan anehnya tubuh Pak Lodang tidak bergerak turun seperti dugaan mereka semua.

Tubuh Pak Lodang masih tetap, seperti pada saat ia masih berdiri di atas bangku tadi. sudah tentu, tali gantungan tidak menjadi kencang, dan tidak menjerat leher..

Semua mata terperanjat kaget. Semua orang terpekik seketika, kecuali Lanangseta yang tetap tenang. Sedangkan Pak Lodang sendiri masih berkedip-kedip matanya, ia bagai berdiri pada satu penopang kaki. Bahkan ketika kedua pengawal yang menarik bangku tadi kini menarik-narik kaki Pak Lodang, ternyata orang tua yang digantung itu kakinya masih tetap tak mau turun. Masih mengambang pada tempatnya. Dua orang pengawal menarik kuat-kuat sampai mukanya merah dan ototnya keluar semua. Tetapi tubuh Pak Lodang tetap mengambang seperti orang terbang. Bahkan sampai-sampai kedua pengawal bertubuh besar itu bergelantungan pada kaki Pak Lodang, namun tubuh tua tanpa baju itu tetap tak bergerak sedikit pun.

Warok Sabuk Geni mulai naik pitam. Giginya gemeratak menahan luapan kemarahan. Matanya semakin merah, kedua tangannya mengepal kuat-kuat. Semua orang-orangnya sibuk menarik-narik kaki Pak Lodang, tapi tetap saja mereka tidak bisa menurunkan tubuh Pak Lodang. Gumam orang-orang seperti seribu lebah hendak bertelur. Hal itu menambah kegeraman dan kemarahan Warok Sabuk Geni.

Jaka Bego tertawa kecil. "Syukur...!" katanya seperti orang tak sadar berbicara.

Eh, tahu-tahu penduduk yang menyaksikan hal itu saling bersahutan dan berseru, "Syukur...! Syukur...! Syukurin...!"

Mereka tak tahu kalau Lanangseta sudah pergi meninggalkan kerumunan itu. Jaka Bego sendiri masih tak sadar kalau dirinya sudah tidak di samping Lanangseta. Jaka Bego semakin bersemangat meneriakkan kata, "Syukurr...!" Suaranya cempreng dan paling keras kedengaran di telinga ki Warok. Kontan, Ki Warok menamparnya dengan kemarahan. Jaka Bego ketakutan, ia berlari menerjang sekumpulan orang di belakangnya.

"Tangkap anak ingusan itu!" perintah Ki Warok dengan suaranya yang menggelegar. Maka, anak buahnya yang bertampang kasar semua itu segera berlarian mengejar Jaka Bego. Anehnya, semua orang jadi ikut berlarian tak karuan. Mereka ketakutan sendiri, dan lari tunggang langgang, bersimpang siur tak karuan sehingga memusingkan para pengejar Jaka Bego. Ada yang saling berbenturan dan sama-sama nyungsep ke tanah.

Di tiang gantungan tinggal Pak Lodang dan Warok Sabuk Geni. Diam-diam Warok juga ikut mencoba menarik kaki Pak Lodang, tapi tidak berhasil. Sekali lagi Ki Warok mengerahkan tenaganya untuk menarik tubuh Pak Lodang biar turun dan tercekik tali, tapi sampai berulangkali ternyata tak berhasil. Warok takut ketahuan penduduk lainnya, maka ia segera bersikap biasa-biasa saja, seolah-olah tidak pernah mencoba menarik kaki Pak Lodang. Sedangkan ketika Warok berjalan menjauhi tiang gantungan, Pak Lodang berteriak-teriak antara ketakutan dan kebingungan.

"Tolong...! Tolong nasib saya ini bagaimana? Kalau mau mati ya matilah kalau mau selamat ya selamatlah...!"

Tapi tak seorang pun yang mendengar teriakan Pak Lodang. Ia bagai dikatung-katungkan di sana, antara hidup dan mati. Sedangkan hiruk-pikuknya penduduk masih bersimpang siur mengacaukan para pengejar Jaka Bego. Pada waktu itu, Jaka Bego sendiri lari tak tentu arah. Sampai akhirnya ia pun tersudut di suatu tempat, dan tiga orang kasar menghadang serta mengepungnya.

"Jangan! Jangan sentuh aku...! Aku bukan gadis...!" teriak Jaka Bego. Ketiga orang kasar itu makin mendekat. Jaka Bego segera memungut batu. Ia melemparkan batu itu dengan kuat-kuat. "Wess...!" Batu berhasil dihindari oleh salah seorang pengejarnya. Namun di luar dugaan, batu itu meluncur terus, dan mengenai tali gantungan. Herannya lagi, tali itu putus seketika, dan tubuh Pak Lodang pun jatuh ke tanah. Ia meringis kesakitan, karena pantatnya terbentur tanah dengan keras.

Pada saat itu, Jaka Bego sedang mencoba menerobos kepungan pengejarnya. "Bross...!" Dan ia berhasil menerobos kepungan itu, kemudian lari tak karuan arahnya. Kadang berlindung di balik pohon, kadang lari memutari seorang pengejar lain, sehingga pengejar itu jadi pusing sendiri. Akhirnya berhenti, tidak mengikuti gerakan Jaka Bego. Tapi pengejar lainnya masih berusaha menangkap Jaka Bego. Anak itu cepat larinya, dan licin dipegangnya bagai belut sawah. Bahkan ia sempat berhenti sebentar menghadapi pengejar dari kiri dan kanan. Lalu, ia segera merunduk ketika kedua pengejar itu berusaha menubruknya. Akibatnya, kedua pengejar itu saling bertabrakan dan jatuh semua. Kepala mereka sempat benjol akibat benturan sesama kepala.

"Tawanan hilaaang...! Tawanan hilaaang...!" teriak Ki Warok dengan keras. Semua anak buahnya terkejut, berhenti mengejar Jaka Bego. Hal itu digunakan oleh Jaka Bego untuk bersembunyi di balik sebuah pohon besar.

Para anak buah Ki Warok berdatangan mendekati atasannya. Warok Sabuk Geni kelihatan memuncak kemarahannya. Matanya melebar dan nyaris wajah itu seakan menjadi mata semua, hidung dan mulutnya bagaikan tertutup lebarnya mata.

"Tawanan kita, Si Lodang... mana dia? Mana, ha? Hilang kan? Hilang...! Goblok semua!" Warok Sabuk Geni memarahi anak buahnya yang berkumpul. "Kita bisa ganti digantung Kanjeng Adipati Legowo kalau begini caranya! Brengsek!"

Kemudian, ada anak kecil usia kurang dari 10 tahun. Anak itu berlari mendekati Ki Warok, dengan berani anak itu berkata, "Ki Warok... tadi saya lihat orang yang mau digantung lari "

"Lari ke mana? Ke mana?!" bentak Warok tak sabar. "Ke sana. ! Jauh," jawab anak kecil itu.

"Kejar ke sana! Cepat!"

"Tidak mau, ah !" kata anak kecil.

"Aku tidak memerintahkan kamu, Tikus Kecil! Aku menyuruh anak buahku itu! Goblok !" Anak kecil itu tersentak kaget ketika dibentak terakhir kalinya. Kemudian, semua anak buah Warok Sabuk Geni berlarian ke arah yang ditunjuk anak kecil itu. Warok Sabuk Geni ikut ke arah itu dengan berjalan cepat. Dan... keadaan pun menjadi sepi. Orang-orang kasar telah pergi bersama pimpinannya. Jaka Bego ke luar dari persembunyiannya. Matanya jelalatan kian-ke mari, rupanya ia mencari Lanangseta yang telah meninggalkan dia. Lalu, pikirannya teringat pada kedai dan nasi serta dua potong paha ayam goreng yang tadi belum sempat dimakan Lanangseta. Ia segera menghampiri kedai yang tadi, untuk mengambil bagian makanan Lanangseta.

Ketika sampai di kedai yang tadi, Jaka Bego terbengong, sebab Lanang sedang duduk di tempat semula. Malahan kali ini ia ditemani Pak Lodang. Dua potong paha ayam goreng itu sudah di tangan Pak Lodang yang tampaknya kelaparan.

"Lho, Pak Lodang sudah di sini? Tadi dicari-cari sama Ki Warok tuh...." tegur Jaka Bego seakan sudah mengenal Pak Lodang dengan akrab. Kemudian Jaka Bego bergegas pergi, namun Lanangseta sempat menegurnya cepat, "Hei, mau ke mana kamu?!"

"Mau memberi tahu Ki Warok kalau Pak Lodang ada di sini. Mereka mencarinya ke sana, dikira Pak Lodang lari ke sana. Tidak tahunya "

Pak Lodang ketakutan, sedangkan Lanangseta segera mengancam dengan kata-kata, "Larilah ke sana dan beritahukanlah kepada Ki Warok, kalau kakimu ingin patah keduanya. Silahkan."

Jaka Bego bersungut-sungut, dan kembali mendekati mereka. Ia duduk di dekat Pak Lodang yang berhenti makan, karena takut dengan tindakan Jaka Bego.

"Kenapa tidak jadi memberitahu Ki Warok?" tanya Lanang.

Jaka Bego menggeleng sambil murung, "Saya diancam!"

"Sama siapa?"

"Sama orang gila." lalu ia menggerutu, "Kaki bagusbagus mau dipatahkan."

Lanangseta hanya tersenyum sinis. Lalu, kembali berbicara dengan Pak Lodang.

"Tenangkan hati Bapak di sini." Pak Lodang mengangguk. Lanang bicara lagi, "Keserakahan dan kelaliman yang ada di desa ini anggaplah suatu selingan hidup. Jangan terlalu ditakuti."

"Kenapa Ki Warok menolak uang tebusan pajak itu? Bukankah Pak Lodang dihukum gantung karena tidak membayar pajak penghasilan sawah?"

Pak Lodang menjelaskan kepada Jaka Bego, "Sebenarnya bukan karena tidak membayar pajak semata yang membuat saya digantung. Ada persoalan lain antara saya dengan Kanjeng Adipati Legowo."

Lanangseta dan Jaka Bego saling pandang dan manggut-manggut. Mereka mulai jelas apa sebenarnya yang sedang terjadi di hadapan mereka.

"Persoalan apa itu, Pak Lodang?" tanya Lanangseta. "Bukan karena pajak yang tak mau saya bayar,

melainkan karena Mahani, anak gadis saya yang tinggal seorang itu," jawab Pak Lodang dengan menampakkan kemurungannya.

"Ooo... Jadi, Pak Lodang punya anak gadis? Namanya Makroni...?" Jaka Bego menimpali, dan segera disergah Lanangseta.

"Hei, bukan Makroni. Namanya Mahani...! Budeg!" "O, namanya tidak jadi Makroni? Siapa tadi...?

Mahani?"

"Ya," jawab Pak Lodang setelah meneguk air minum. "Dulu saya punya tiga anak, yang dua lelaki. Tapi nasib mereka mati di tangan anak buah Warok Sabuk Geni. Dan sekarang tinggal satu, perempuan. Mahani itu. Dia akan diambil istri oleh Adipati Legowo, tepatnya akan dijadikan gundiknya yang ke lima belas. Dan kami sangat tidak setuju, kemudian kami menyembunyikan Mahani demi keselamatan dirinya, demi masa depannya juga."

"Dan karena itu Pak Lodang dihukum mati?" sela Lanang.

Pak Lodang yang berwajah duka mengangguk. Mengharukan sekali. Lanangseta menghela nafas, demikian juga Jaka Bego yang dari tadi diam, bengong melompong mendengarkan kisah Pak Lodang.

"Buat saya, lebih baik saya mati daripada hidup Mahani hancur berkeping-keping."

"Sekarang di mana dia?"

"Ada dalam persembunyian. Kalau... kalau Ki Sanak tidak keberatan, saya mohon diantar sampai di tempat persembunyian kami "

"O, tidak. Tidak keberatan sedikit pun," jawab Jaka Bego. Lalu. Lanang pun mengangguk.

"Ya, rupanya Jaka Bego itu bersedia mengantar Pak Lodang ke tempat persembunyian, sementara itu saya akan di sini sampai sementara waktu."

"Wah, kok saya. " ujar Jaka Bego.

"Yang bilang tidak keberatan kan kamu."

"Iya, maksudku... sekalian sama sampean...! Kalau saya sendirian, wah... ngeri. Nanti di jalan kepergok Ki Warok, bisa ditampar dua kali lebih saya. "

"O, begitu? Kukira kau memang pemberani," ujar Lanang.

Pak Lodang membawa Lanangseta dan Jaka Bego ke rumahnya. Tetapi mereka datang lewat jalan belakang, karena takut di depan rumah sudah dijaga anak buah Warok Sabuk Geni. Di belakang rumah itu, yang agaknya berukuran lebar dengan bentuk bangunan tergolong mewah, ada sebuah sumur tua yang sudah tidak dipakai. Permukaan sumur itu ditutup oleh dedaunan kering sehingga tampak kurang menarik. Pak Lodang membuka dedaunan kering itu sehingga lobang sumur terlihat jelas. Kotor dan lembab.

"Kita masuk lewat sini," kata Pak Lodang.

Jaka Bego terbelalak. "Kita disuruh bunuh diri?" "Tidak, Jaka Bego... Ini jalan menuju persembunyian

Mahani dan istri saya."

"Ooo " Jaka Bego manggut-manggut.

"Mari, ikuti saya. Kita jangan sampai terlambat. Takutnya kalau anak buah Ki Warok ada yang melihatnya "

Kemudian Pak Lodang menuruni tangga batu yang menuju ke dasar sumur. Lanang memberikan kesempatan kepada Jaka Bego untuk turun lebih dulu setelah Pak Lodang.

"Aku takut tergelincir. Sumur ini biar tua tapi masih berair. Dan airnya kotor. Saya tak bisa menyelam."

"Kalau begitu, kau tunggu saja di atas sampai aku dan Pak Lodang selesai berbicara."

"Nanti kalau anak buah Ki Warok mengetahui aku di sini, terus bagaimana? Ah, lebih baik aku turun saja daripada ditampar lagi...." katanya seraya Jaka Bego pun ikut turun dengan hati-hati.

Rupanya mereka tidak harus menyelam di air sumur. Sebelum mereka sampai pada permukaan air sumur, mereka sudah harus masuk ke sebuah lobang besar yang menembus dinding sumur. Ternyata itu adalah pintu yang membawa mereka ke ruangan rahasia di dasar sumur. Ruangan itu cukup luas, dan agaknya dibangun dalam waktu lama. Mungkin sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Ada meja dan kursi, ada dipan berkasur, ada almari pakaian model kuno dan ada barang-barang berharga atau perabot lainnya yang menandakan bahwa ruangan rahasia itu dibangun sudah sejak lama. Dipersiapkan khusus untuk bersembunyi.

Di situ ada tiga orang perempuan. Istri Pak Lodang adalah perempuan berkebaya biru kusam, sedangkan gadis yang bernama Mahani itu mungkin yang mengenakan kain dodot sebatas dada yang dirangkapi kebaya tipis. Mereka berdua sedang memeluk Pak Lodang dalam tangis keharuan. Sedangkan seorang perempuan lain, bertubuh pendek dan mengenakan kain sedengkul serta kebaya lusuh itu, mungkin pembantu keluarga Lodang.

Lampu minyak dan obor cukup menerangi ruangan tersebut. Mata Jaka Bego menyapu ruangan itu dengan terheran-heran.

"Seperti sarang penyamun saja, ya?" bisik Jaka Bego, tapi tidak ditanggapi Lanangseta.

Kemudian Lanangseta diperkenalkan dengan istri dan anak gadis Pak Lodang: Mahani. Belakangan kemudian diketahui bahwa perempuan berkain sedengkul dengan kebaya lusuh itu adalah pelayan Pak Lodang, yang khususnya melayani Mahani.

Jaka Bego bersalaman dengan istri Pak Lodang dan Genduk, pelayan itu, secara cepat. Sedangkan waktu bersalaman dengan Mahani sengaja diperlama. Bahkan ia sempat cengar-cengir seraya meremat-remat jari tangan yang lentik itu. Mahani meringis kesakitan, Lanangseta menepak punggung Jaka Bego, kemudian Jaka Bego melepaskan jabat tangannya itu.

Gadis bernama Mahani mempunyai bulu mata yang lentik. Matanya sedikit lebar, namun kelihatan serasi dengan bentuk hidungnya yang bangir. Mata itu sesekali mencuri pandang dengan takut-takut ke arah Lanangseta. Rambutnya yang terurai sepanjang pinggang itu tampak indah. Hitam legam dan lemas. Berkilau bagai permata hitam. Sesekali pula ia membetulkan letak kebaya tipisnya agar tak kelihatan bentuk belahan dadanya yang membusung padat itu. Ia duduk di ujung meja, sementara Lanangseta duduk di ujung meja yang satu, sehingga tak sengaja mereka telah duduk saling berhadapan. Gadis berkulit sawo matang dengan wajah desa yang lugu tapi manis itu sesekali menghela nafas, entah ada perasaan apa yang membuat nafasnya kelihatan sesak dan berat dihela. Sedangkan Lanangseta yang mengetahui gerakan mata indah itu, hanya diam saja. Lanangseta sengaja bersikap tenang, seakan tidak menghiraukan gadis manis itu. Ia berlagak lebih serius mengikuti pembicaraan Pak Lodang yang menuturkan kisah keluarganya dari sejak beberapa tahun lalu.

"Kami sebenarnya dari keluarga Adipati," kilah Pak Lodang yang membuat Jaka Bego berbengong-bengong. "Kakek kami adalah Raden Mas Panji Gading. Pada masa itu, Kadipaten Branjangan Wilis ini diperintah oleh beliau. Namun beberapa tahun kemudian, Legowo muncul dan merebut tahta Kadipaten dengan menghasut rakyat dan raja. Mungkin hal itu dilakukan oleh Legowo untuk membalas dendam atas hukuman yang dijatuhkan kepada ayahnya, yang membuat ayah Legowo dibuang ke sebuah pulau akibat kesalahannya. Dan dalam tempo beberapa saat kemudian, maka tumbanglah pemerintahan Adipati Panji Gading, diganti oleh Adipati Legowo. Kemudian, ia mempersulit ruang gerak keluarga dan keturunan Panji Gading, menjatuhkan hukuman mati dengan kesalahan yang dicari-cari. Tujuannya hanya untuk memusnahkan keturunan Panji Gading. Musibah itu, kini sedang menimpa keluarga saya. Kedua anak lelaki saya dijatuhi hukuman mati karena berkelahi dengan anak buah Warok Sabuk Geni. Dan sekarang... Mahani yang akan dijadikan korban nafsu binatang Legowo. Kami mempertahankan Mahani, sebab dialah keturunan terakhir dari keluarga Panji Gading saat ini "

Lanangseta manggut-manggut dan menahan kedongkolan mendengar kekejaman Legowo. Istri Pak Lodang menyahut, "Kami ingin melarikan diri ke desa Tayub, di pesisir pantai Selatan. Tetapi, kami takut dibunuh anak buah Warok dalam perjalanan ke sana."

Pak Lodang menimpali, "Ya... kami punya paman di desa Tayub, yang sudah bukan wilayah Kadipaten Branjangan Wilis. Tapi untuk menuju ke sana, sangat berbahaya. Padahal di sana kami akan hidup aman dan tenang, meski kami sudah bukan keluarga Adipati lagi." Semua tercenung, semua membisu. Sesekali mata gadis manis itu masih mencuri pandang. Lanang tetap

diam saja.

Kata Pak Lodang setelah saling membisu sesaat, "Kalau nak Lanangseta tidak keberatan, tolong antarkan kami ke desa Tayub. Kami sangat membutuhkan tempat yang aman untuk kehidupan keturunan kami selanjutnya. "

***

4

LANANGSETA memilih waktu tengah malam untuk keluar dari Desa Puger. Bahkan menjelang dini hari, Lanangseta dan keluarga Lodang telah meninggalkan perbatasan Desa Puger yang dijaga oleh beberapa orang Kadipaten. Hanya saja, waktu itu para penjaga sedang tertidur pulas, sehingga dengan selamat Lanangseta dan keluarga Lodang berhasil keluar dari Desa Puger.

Namun apakah itu berarti mereka telah aman dari keganasan dan kekasaran orang-orangnya Legowo? Belum. Mereka memang menuju ke desa Tayub, di pesisir pantai Selatan. Tapi jaraknya cukup jauh, sedangkan perbatasan wilayah Kadipaten Branjangan Wilis juga masih jauh. Mereka harus mencapai Gunung Pekayon, lalu melewati gunung itu, barulah mereka akan berada di luar batas Kadipaten Branjangan Wilis. Dan untuk mencapai ke sana membutuhkan waktu kurang lebih sehari semalam.

Lanangseta sebenarnya ingin mengetahui siapa Jaka Bego itu? Mengapa sekarang jadi lengket kepadanya dan selalu mengikutinya? Apa yang dicari oleh Jaka Bego itu? Tetapi agaknya Lanangseta belum mempunyai waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu. Dia masih membiarkan Jaka Bego mengikutinya terus, seakan mendampinginya ke mana saja. Dan tenaganya masih bisa dimanfaatkan untuk disuruh ini-itu oleh Lanangseta. Ia bagai ingin mengabdi kepada Pendekar Pusar Bumi yang sudah menyandang gelar Malaikat Pedang Sakti. Sepanjang tidak terlalu menjengkelkan dan tidak membuat keributan, Lanang masih membiarkannya.

"Berhenti...!" seru suara dari balik semak belukar. Lalu, dua orang bertampang bengis muncul dengan satu loncatan yang mengagetkan Mahani. Gadis itu segera memegangi ayahnya bagai minta perlindungan.

"Kalau tidak salah lihat, gadis itu memang benar Mahani, Kakang Sumo Belang!" ujar lelaki yang memegang rantai bermata kampak tajam.

"Benar, Gendono...! Aku hapal betul dengan wajah cantik calon garwo selir Kanjeng Adipati itu," ujar Sumo Belang yang wajahnya separoh hitam, separohnya lagi coklat. Pak Lodang berbisik kepada Lanang, "Itu juga termasuk orang andalan Legowo. Ia di bawah Warok pangkatnya."

Lanangseta manggut-manggut dengan tenang. Sumo Belang yang memegangi tombak bermata kampak ganda itu mulai mendekat, diikuti orang yang bernama Gendono bersenjata rantai yang ujungnya bermata kampak juga.

Mahani bergeser, merapat ke ayahnya, demikian pula Mak Lodang dan Genduk. Hanya saja, Genduk lebih merapat ke Jaka Bego, sehingga Jaka Bego menjadi risi dibuatnya.

"Tempat lega kok mepet-mepet sih...?!" hardik Jaka Bego kepada Genduk. Perempuan pendek sedikit gemuk itu hanya cemberut dan bersungut-sungut, lalu mencoba merenggangkan jarak dengan Jaka Bego.

"Mau ke mana kalian, hah...?! Mau kabur ke mana Mahani?!" hardik Sumo Belang yang berdiri tegak dan bertolak pinggang dengan tangan sebelah memegangi tombak kampak ganda.

"Apa urusanmu menanyakan hal itu?" kata Lanangseta dengan sikap biasa-biasa saja.

"Aku bertanya kepada Mahani, bukan kepada seekor monyet!" bentak Sumo Belang. "Mau ke mana kau, Mahani?!"

"Mau lari ke desa Tayub!" celetuk Jaka Bego dengan lantang, seakan ia telah bicara dengan berani dan benar. Lanangseta mendekati Jaka Bego dengan geram. Ia menginjak kaki Jaka Bego dan berkata gemas, "Jangan bicara seenak mulutmu, Bego! Itu rahasia kita!" "O, ya... maaf. Aku lupa." Kemudian Jaka Bego memandang berani kepada Sumo Belang dan berkata, "Eh, kami tidak pergi ke desa Tayub! Tidak ke sana!

Sebab itu rahasia yang tidak boleh diomongkan, tahu?!" "Aduuuh...   Jaka   Bego   kok   ngomong begitu...?!" Mahani berbisik penuh kecemasan. "Lanangseta, bagaimana ini?!"

"Tenanglah, Mahani," kata Lanang kalem, sambil di mulutnya ia masih menggigit-gigit sehelai ilalang.

Genduk ikut cemas. "Jaka Bego... bagaimana ini?!" "Diamm...!" bentak Jaka Bego. Padahal yang

diharapkan Genduk adalah jawaban sekalem Lanang terhadap Mahani tadi. Akhirnya Genduk hanya cemberut dan bersungut-sungut lagi.

"Kami harus membawa Mahani, sebab dia adalah calon istri Kanjeng Adipati Legowo. Dia tak boleh ke mana-mana!" kata Gendono seraya mempermainkan rantainya.

"Tidak bisa!" jawab Jaka Bego dengan lantang dan berani. "Mahani harus disembunyikan! Mahani tidak boleh kawin dengan si Legowo...!"

"Keparat kau!" geram Gendono.

"Iya. Memang keparat. Mau apa kalian, ha?" tantang Jaka Bego.

Lanang tenang, mendekati Jaka Bego dan berbisik, "Kau berani...?"

Jaka Bego berpaling dan menatap dengan wajah sedih. Ia menggeleng. "Tidak, ah...!"

"Kok suaramu sekeras kaleng rombeng?!" "Aku cuma menantangkan buat kamu. "

"Aku tidak ingin berkelahi melawan mereka. Kamu tahu, senjata mereka itu cukup berbahaya. Kepalamu bisa dipenggal dengan kampak itu, tahu?"

Jaka Bego berwajah takut dan bergidik merinding. "Hii ngeri, ya?"

Tiba-tiba terdengar suara Sumo Belang. "Gendono !

Seret gadis itu kembali ke kadipaten!"

Gendono maju. Pak Lodang dan istrinya cemas, apalagi Mahani, ia semakin kuat memegangi ayahnya. Jaka Bego segera bersembunyi di balik tubuh Lanangseta yang kekar. Lanang bergerak kebingungan karena pinggangnya bagai digelitik tangan Jaka Bego.

"Hei, hei... apa-apaan ini?! Bisa melorot celanaku, Bego!"

"Mereka mau merebut Mahani. Lihat...!"

"Aauww... jangaaan...!" Mahani meronta di tangan Gendono.

"Pancing dia supaya melepaskan Mahani, nanti aku yang menghadapi Sumo Belang itu," bisik Lanangseta kepada Jaka Bego. Maka, tanpa menunggu perintah kedua kalinya Jaka Bego berlari menyerang Gendono yang tengah berusaha menyeret Mahani dari tangan ayah Mahani. Jaka Bego langsung menggigit tangan Gendono yang memegangi lengan Mahani. Tentu saja Gendono menjerit kesakitan, lalu mengibaskan tangan yang digigit Jaka Bego. Kibasannya begitu kuat sehingga Jaka Bego terpental ke belakang sampai berjarak tiga langkah. Ia jatuh dengan pantat membentur batang kayu kering.

"Kubunuh kau, Bocah edan...!" geram Gendono yang kemudian mengibaskan rantai bermata kampak itu.

"Sreet...!" Rantai meluncur, ujungnya mengarah ke wajah Jaka Bego. Pemuda kurus kerempeng itu ketakutan, lalu berguling ke kiri. Tepat pada waktu itu mata rantai mengenai kayu kering. "Craaak...!"

Jaka Bego buru-buru bangkit dan berusaha melarikan diri. Namun rantai di tangan Gendono itu ternyata bisa terulur menjadi panjang. "Sreeett...!" Jaka Bego melompat ke kiri bagai sedang menubruk seekor katak. Wajahnya membentur tanah berumput. Namun terasa pedas juga di kulit wajah itu. Tetapi baginya itu lebih baik daripada harus disambar ujung kampak yang tajam berkilat itu.

"Biar kuurus anak setan ini, kau geret saja Mahani!" seru Sumo Belang yang kemudian mengejar Jaka Bego. Sementara itu, Gendono segera kembali ke Mahani. Namun langkahnya terhenti, karena sekarang Mahani sudah berada di belakang Lanangseta. Pendekar Pusar Bumi itu berdiri dengan tegap, kakinya terenggang mantap, sekalipun ia masih menggigit-gigit sehelai ilalang dan mengisap-isapnya.

"Kau orang asing di Kadipaten kami! Jangan turut campur urusan ini!" gertak Gendono.

"Aku tidak turut campur," jawab Lanangseta tenang. "Minggir kalau begitu...! Biar kuseret gadis bandel itu

dan kuhadapkan ke Kanjeng Adipati Legowo. Minggir!" "Silahkan singkirkan aku...! Dan ambillah Mahani...!" Gendono menggeram,  kemudian segera  menyerang

Lanangseta dengan sebuah pukulan ke depan. Lanangseta tak menangkis, namun mengelak dengan cara menggerakkan kepalanya ke samping kiri dan badannya pun ikut meliuk. Pukulan Gendono mengenai tempat kosong. Pada saat tangan Gendono molos ke samping kanan Lanangseta, kaki Lanang yang kanan bergerak cepat. Ujung kaki terangkat jarinya, dan dengan mantap menendang ulu hati Gendono.

"Huhhgh...! Setan kau...! Hiaaaat...!"

Gendono mengibaskan tangannya bagai pedang yang sedang membabat leher, dan dengan cepat kepala Lanangseta meliuk ke bawah, lalu tegak lagi setelah tangan itu melesat menuju tempat kosong. Lalu, pada saat itu pula kaki Lanang menginjak kaki Gendono. Dengan gerakan merendahkan badan, tangan Lanang menghantam keras rusuk Gendono.

"Aaahh...!" Gendono mengaduh. Tubuhnya tak bisa bergerak mengelak karena kakinya diinjak Lanangseta.

Tapi kini, sekali lagi Lanangseta memukul kuat dan keras rusuk Gendono sambil melepaskan injakannya. Dan begitu pukulannya menghantam rusuk Gendono, tubuh itu melayang ke belakang dalam satu teriakan kesakitan. Tubuh itu hilang keseimbangan, kemudian jatuh bagai nangka rubuh dari atas pohon.

Lanang berjalan kalem ke arah yang bersifat menjauhi Mahani sekeluarga. Sebab ia tahu Gendono ingin melancarkan pukulan rantai bermata kampak itu. Dugaannya memang tepat. Dalam keadaan belum bangun dari tanah ia masih sempat memutarkan rantai kampaknya yang dapat meluncur jauh itu. Lalu dengan satu hentakan tertentu, rantai itu meluncur hendak menghantam kaki Lanangseta. Dengan ringan tubuh Lanangseta meloncat dan bersalto ke depan. Kakinya jatuh di dekat Gendono. Kaki itu seketika menendang muka Gendono dengan keras sekali, sehingga salah satu giginya ada yang terlepas keluar.

"Wadoooww...!" teriak Gendono sambil menutup mulutnya yang berdarah. Ia berguling sejenak dan meraung kesakitan. Lanang membiarkan. Berdiri dengan tegap dan bertolak pinggang tangan sebelah. Mulutnya masih sibuk menggigit-gigit dan menghisaphisap sehelai ilalang.

Lanang menyempatkan melirik keadaan Jaka Bego. Agaknya Sumo Belang merasa kewalahan menghadapi Jaka Bego. Secara kebetulan setiap ia menebaskan tombak bermata kampak ganda itu tubuh Jaka Bego selalu dapat terhindar. Satu kali Jaka Bego berdiri dengan wajah ketakutan, ingin bicara tapi lidahnya kelu. Tangannya bergerak-gerak seakan mengatakan, "Jangan... jangan bunuh saya...." Namun Sumo Belang sudah terlanjur marah. Ia menusukkan tombaknya dalam jarak hanya tiga langkah dari depan Jaka Bego. Tetapi pada saat tombak bergerak cepat ke arah Jaka Bego, tiba-tiba kakinya yang melangkah mundur itu tersangkut akar semak dan ia terpelanting jatuh tepat pada saat di mana ujung tombak seharusnya menancap di dadanya. Akibatnya, tusukan tombak Sumo Belang mengenai tempat kosong. Jaka Bego terguling di rerumputan, kakinya tak sengaja menggaet kaki Sumo Belang, sehingga di luar dugaan Sumo Belang sendiri terpelanting jatuh. Pada saat itu Jaka Bego semakin ketakutan. Ia segera bangkit dan menolong Sumo Belang seraya berkata, "Maaf... maaf. saya tidak sengaja kok. Sumpah! Tidak sengaja. " Ia mengulurkan tangan

hendak menolong Sumo Belang untuk bangkit. Tentu saja hal itu menggemaskan hati Sumo Belang. Maka kepala Jaka Bego pun segera dipegang. Rambutnya yang acak-acakan ditarik sekuatnya ke arah lutut Sumo Belang. Kepala Jaka Bego hendak dibenturkan dengan lutut Sumo Belang, tetapi karena Jaka Bego meronta dan berteriak kesakitan, akibatnya ia yang mencoba berdiri itu jatuh tersentak ke bawah. Tak sengaja lutut Jaka Bego menghantam mulut Sumo Belang dengan keras.

"Aaoww...! Uuf... uff...!" Sumo Belang membuang kepala Jaka Bego karena mulutnya terasa pecah terkena dengkul anak itu. Jaka Bego terpental jauh dan berguling-guling sambil berteriak ketakutan dan kesakitan. Ia memegangi lututnya setelah mampu berdiri. Ia meringis, merasakan sakit pada lututnya itu. Sedangkan Sumo Belang masih af-uf, af-uf. menahan

sakit di bibirnya. Darah keluar dari bibir yang retak. Hal ini menambah kemarahan yang meluap dari diri Sumo Belang. Ia segera mengejar Jaka Bego.

Hampir saja Lanangseta terkena ujung rantai Gendono karena ia tertawa geli melihat pertarungan Jaka Bego dengan Sumo Belang. Untung gerakan reflek dari kepala Lanangseta cukup sempurna, sehingga mata kampak yang mengkilat itu mampu dihindari dengan hanya merunduk. Dengan cepat tangan kiri Lanangseta menyahut rantai itu. Gendono berusaha mencabut kembali rantainya, namun kekuatannya bagai tak memadai kekuatan Lanangseta dalam menahan rantau. Lalu, dengan sekali hentak, Lanangseta berhasil membuat tubuh Gendono melayang ke arahnya tanpa keseimbangan. Tubuh itu disambut dengan pukulan Lanang ke arah leher Gendono.

"Hekkghh...!" suara leher tersekat benda berat. Mata Gendono mendelik. Pegangan rantainya terlepas dari tangannya, dan sebelum ia jatuh ke tanah, kaki Lanangseta menendangnya keras-keras dengan satu teriakan, "Hiaaat...!"

"Aaaakhhh...!" Tubuh Gendono yang besar itu melambung beberapa meter dari tanah. Pada waktu itu, Sumo Belang sudah kehilangan kesabaran lagi. Ia melemparkan tombaknya ke arah Jaka Bego yang lari meninggalkan Sumo Belang. Kakinya terantuk batu, dan Jaka Bego tersungkur jatuh. Tombak yang menuju ke arah punggungnya melesat terus dan di luar dugaan tombak berujung kampak ganda itu telah mengenai perut Gendono! "Jubb...! Breet...!"

Gendono jatuh ke tanah dengan mata mendelik. Isi perutnya berhamburan. Ia meregang dan kelojotan, lalu tak sempat bernafas untuk selamanya.

Jaka Bego terbengong ngeri melihat tubuh Gendono terkena lemparan tombak Sumo Belang. Ada lecet di kening Jaka Bego karena ia jatuh tersungkur nyaris mencium batu. Tetapi luka kecil itu tak dihiraukannya, karena Sumo Belang telah berdiri di belakangnya hendak menginjak tubuh Jaka Bego. Sumo Belang benar-benar mengalami puncak kemarahan.

"Kau telah membunuh temanku, Bangsaaaat...!" "Lho, bukan saya... saya kan tidak punya tombak...

saya tidak melemparkan apa-apa kok. Sumpah...!" "Jaka...  minggir...!" teriak Pak Lodang yang  merasa

ngeri  melihat  Jaka  Bego  masih  telentang sedangkan kaki Sumo Belang sudah berada di dekatnya. Satu langkah lagi Jaka Bego akan terinjak kaki itu. Tapi memang dasar tolol, Jaka Bego tidak menyingkir, melainkan bahkan meminta maaf, "Maaf... saya tidak sengaja membunuh temanmu. Saya tadi tersandung batu...! Sungguh kok, saya...!"

"Mampus kau!" teriak Sumo Belang sambil menghentakkan kakinya menginjak perut Jaka Bego.

"Aaah...!" jerit Mak Lodang seraya menutup mukanya sendiri, tak tega melihat Jaka Bego yang kurus diinjak oleh kaki Sumo Belang yang besar, kekar itu.

Pada saat kaki Sumo Belang menginjak perut Jaka Bego, anak itu tersentak dengan kaki terangkat seketika. Matanya mendelik, ia sukar bernafas. Tapi kakinya yang tersentak naik secara otomatis itu telah mengenai rusuk Sumo Belang. Akibatnya Sumo Belang meringis kesakitan. Ia menghentakkan kakinya ke perut Jaka Bego lagi. Namun, kali ini kaki Jaka Bego juga terangkat dengan sendirinya, semacam sebuah per yang bekerja untuk menahan rasa sakit.

Mata Jaka Bego mendelik lagi dengan nafas sukar dihembuskan. Ia tak tahu kalau gerakan kakinya telah menendang rusuk Sumo Belang lagi, bahkan lebih keras sehingga Sumo Belang pun jatuh menahan sakit.

"Cepat lari...! Lari, Jaka...! Lariii...!" teriak Mahani di dekat ayahnya.

Mendengar jeritan Mahani, Jaka Bego seperti memperoleh suatu kekuatan. Yang jelas ia merasa malu kalau sampai kalah di depan Mahani, gadis yang cantik manis itu. Jaka Bego segera bangkit dan berlari. Tapi baru satu langkah ia berlari, kakinya telah menginjak batu sebesar satu genggaman. Batu itu tersentak ke belakang bersamaan dengan itu Jaka Bego tersungkur kembali jatuh ke tanah.

"Bruuk...!" "Wadow biyuung...!" teriak Jaka Bego. Hanya saja, ia tak menyadari kalau batu yang diinjaknya itu juga tersentak ke belakang dengan keras. Melesat cepat dan masuk ke mulut Sumo Belang yang waktu itu sedang ternganga untuk menahan sakit.

"Uhmm... uuhmm...!" Sumo Belang berusaha mengeluarkan batu yang masuk ke mulutnya. Jaka Bego terbelalak melihat keadaan musuhnya yang menyedihkan.

"Astagaaa...! Batu itu masuk ke mulutnya?!"

Takut Sumo Belang semakin marah kepadanya, maka Jaka Bego segera menghampiri orang itu dan berusaha mengeluarkan batu dari mulut Sumo Belong. "Maaf, aku tidak sengaja. Aku terpeleset batu ini, dan batu ini mental masuk ke mulut... Maafkan saya. Saya kira waktu tadi mulutmu tidak sedang menganga...!"

Tangan Sumo Belang yang marah itu mengibas dan mengenai pipi Jaka Bego. "Plook...!" Jaka Bego terpental ke belakang. Lalu ia berteriak, "Saya mau membantu mengeluarkan batu itu! Kok malah dipukul...?"

"Biarkan, Jaka...! Biarkan dia mati menelan batu!" teriak Genduk dengan tegang. Mendengar seruan itu, Jaka Bego bahkan semakin berusaha membantu musuhnya mengeluarkan batu. Ia memukul tengkuk kepala Sumo Belang supaya batu itu dapat tersentak keluar. Tapi rupanya batu itu cukup besar dan pas seukuran mulut Sumo Belang.

"Batu bandel...!" geram Jaka Bego. Lalu ia memukul belakang kepala Sumo Belang. Ia terpaksa memukul sekuat tenaga dan berulang-ulang, supaya batu bisa meloncat keluar dari mulut.

Tetapi di luar dugaan, pukulan yang sekeraskerasnya itu telah membuat otak belakang di kepala Sumo Belang terganggu. Persendian antara kepala dengan leher menjadi retak, dan hal itulah yang membuat Sumo Belang mengejang, darah keluar dari mulut dan hidung. Jaka Bego makin kaget. Ia mundur beberapa langkah dengan mata mendelik. Tak lama setelah itu, tubuh Sumo Belang mengejang dan tak bergerak lagi.

"Lho, kok malah mati...?!" Jaka Bego takut bercampur rasa heran. Ia memandang Lanangseta yang dari tadi sengaja diam saja tidak mau membantunya. Senyum Jaka Bego tak ada, tapi senyum Lanangseta terlihat samar. Sepertinya Lanangseta telah mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Ia mendekati Jaka Bego, menepuk pundak dan berkata, "Suatu pukulan yang bagus...! Cukup mematikan."

"Ta... tap... tapi saya tidak bermaksud membunuhnya "

"O, ya...? Katakanlah kepada Genduk dan Mahani begitu. Tapi jangan katakan kepadaku begitu. Aku tidak seperti mereka, Jaka Bego."

Kata-kata Lanangseta seakan mempunyai arti tersendiri yang sukar dipahami orang awam. Pak Lodang dan istrinya berkerut dahi mendengar ucapan itu, namun mereka tak berani menanyakannya. Sebaliknya, Jaka Bego yang tadi bagai orang ketakutan dan heran itu kini mencemberutkan wajah. Kemudian matanya menjadi sayu dalam kebeloonan. Ia seperti orang yang tidak pernah menyesali tindakannya.

Bagi Lanang, ia memang tak dapat dibohongi bahwa semua gerakan sudah diatur sedemikian rupa oleh Jaka Bego. Jelas hentakan batu itu mempunyai suatu kekuatan khusus sehingga bisa tepat masuk ke mulut Sumo Belang. Juga pukulan di tengkuk kepala Sumo Belang itu, bukan semata-mata pukulan yang berguna untuk mengeluarkan batu dari mulut Sumo Belang, melainkan pukulan yang mempunyai suatu tenaga dalam, disalurkan secara tidak kentara. Tanpa begitu, mustahil Sumo Belang yang kekar itu mampu merenggang dan mati akibat pukulan tersebut. Namun agaknya Jaka Bego tidak ingin Lanangseta berbicara soal itu, karenanya Jaka Bego segera berkata kepada Pak Lodang, "Kok bisa mati, ya?"

"Kebetulan Yang Maha Kuasa sedang melindungimu, Nak."

"Ya. Terima kasih Yang Maha Kuasa!" teriak Jaka sambil menengadah ke langit. Kemudian ia berbalik kepada Mahani,

"Kak Mahani...? Kau tidak apa-apa?"

"Tidak. Aku tidak ada yang luka sedikit pun. Oh, Lanang... terima kasih atas pertolonganmu "

Jaka Bego terbengong. "Kok Lanang yang mendapat ucapan terima kasih?" pikirnya.

Lanang menjawab kata-kata Mahani, "Ini baru permulaan. Siapa tahu setelah ini ada yang lebih ganas lagi "

"Tapi tenang saja kita," ujar Genduk. "Kan ada Jaka Bego yang hebat. "

"Huuuhh...!" Jaka Bego bersungut-sungut, merasa tak suka mendapat pujian dari Genduk. Ia ingin Mahani yang memujinya.

"Terima kasih, Jaka Bego," ucap Genduk sambil nyengir.

"Terserah...!" jawab Jaka Bego dengan berjalan menuju arah semula.

*** 5

MALAM menyelimuti bumi. Langkah-langkah kaki mereka mulai loyo, terutama Jaka Bego. Pemuda kurus kerempeng itu bahkan berkata kepada Lanangseta, "Sebaiknya saya pulang saja. Saya tak sanggup mengikuti perjalanan ini. Dari malam sampai malam tak ada berhentinya."

"Silahkan...!" jawab Lanangseta dengan tetap berjalan menuntun Mahani. Mendengar jawaban itu, Jaka Bego hanya menggerutu.

Yang lebih menjengkelkan Jaka Bego adalah keadaan pahit yang ia alami. Pak Lodang menuntun istrinya yang sudah limbung jalannya. Lanangseta menuntun Mahani yang malu-malu berjalan sambil bergelayutan di pundak Lanang. Sedangkan Jaka Bego sebentarsebentar jalan berpindah-pindah urutan. Jika Genduk ke depan, Jaka Bego berganti jalan paling belakang. Jika Genduk memperlambat langkah dan menjadi paling belakang, Jaka Bego mempercepat langkah sehingga ia berjalan paling depan. Begitu seterusnya, sehingga gerutu dan sungut-sungut keduanya samasama silih berganti. Jelasnya, Jaka Bego tak mau jika disuruh menuntun Genduk. Sedangkan Genduk, tak punya pegangan. Hanya Jaka Bego yang masih belum punya tuntunan. Karenanya ia berharap dapat dituntun Jaka Bego.

"Aku lemas sekali, Jaka. " ujar Genduk.

"Aku tidak menyuruhmu lemas. Salah sendiri kenapa mau menjadi lemas." jawab Jaka Bego ketus.

"Uuhh... capeknya...." Genduk sengaja mengeluh. "Kenapa nasibku tidak seperti Non Mahani itu, ya?"

"Jelas lain! Kamu kan bukan keturunan Panji Gading. Menurutku kamu keturunan Gading Gajah "

"Iiih kamu begitu, ah!" Genduk ingin mencubit, tapi

tiba-tiba dihindari oleh Jaka Bego, sehingga tubuh yang lemas itu pun jatuh tersungkur.

"Ada apa itu?" seru Pak Lodang yang ada di paling depan. Jaka Bego hanya menyahut, "Semangka jatuh, Pak."

"Hei," hardik Lanang kepada Jaka Bego. "Jangan usil, Bego! Kasihan Genduk kan?"

"Tapi saya tidak menyuruhnya jatuh kok. Menyentuhnya pun tidak!" bantah Jaka Bego, kemudian jalan lebih cepat sehingga ia ada di paling depan. Lanangseta menyempatkan menolong Genduk. Tetapi ketika hendak dituntun, Genduk merasa tak enak.

"Saya masih bisa jalan sendiri kok, Mas Lanang "

Mahani masih bergelayutan di pundak Lanangseta. Langkahnya sedikit diseret. Rasa lelah, kantuk dan lapar, membuatnya tak dapat bicara apa-apa lagi. Rasa malu kepada Lanangseta dibuangnya jauh-jauh. Yang penting ia bisa tetap berjalan dengan tanpa terjatuhjatuh.

"Masih bisa bertahan, Mahani?" tanya Lanangseta dengan lembut. Mahani mengangguk. Lanangseta merangkul, setengah memapah langkah Mahani. Dan hal ini pula yang membuat Mahani tidak menolak untuk meneruskan perjalanan di malam hari. Tak semua orang tahu kalau tangan Lanangseta merangkulnya, bahkan tak seorang pun tahu kalau hati Mahani berdesir-desir dalam rangkulan pendekar tampan itu.

Sejak dari kedatangan Lanangseta, Mahani telah mengalami keanehan dalam dirinya, yaitu suatu perasaan senang dan gairah untuk hidup lebih lama. Sejak pembicaraan demi pembicaraan, pandangan demi pandangan, hati Mahani selalu mendesah-desah bagai digelitik oleh tangan-tangan usil. Terutama bibir Lanangseta yang begitu menarik baginya, seringkali menghadirkan keluh kemesraan yang tak tahu apakah akan terjangkau olehnya atau tidak. Yang jelas, ia menjadi bersemangat mengadakan perjalanan jauh seperti itu. Ia sangat setuju, sebab ada harapan di balik perjalanannya itu.

Lanangseta tahu bahwa Mahani memaksakan diri untuk berjalan sedemikian jauhnya. Namun Lanangseta tak tahu kalau Mahani menyembunyikan satu debaran jantung dalam pelukan Lanangseta. Yang diketahui Lanang hanya rasa lelah dan kantuk begitu berat menyerang Mahani. Sebenarnya ia ingin menghentikan perjalanan. Menundanya sampai esok. Tapi ia sangat khawatir jika esok sebelum ia keluar dari perbatasan Kadipaten Branjangan Wilis, anak buah Legowo telah menyusulnya. Jadi, meski malam dan melelahkan, ia harus memaksakan mereka untuk tetap berjalan.

"Kau tidak menyesal meninggalkan Desa Puger, tempat kelahiranmu itu, Mahani?" kata Lanangseta, karena menurutnya dengan mengajak ngobrol Mahani, setidaknya dapat mengalihkan perhatian gadis itu sehingga kelelahan dan kantuk sedikit berkurang.

"Tanah kelahiran yang penuh kepahitan, untuk apa diberatkan? Aku ingin hidup tenang, seperti gadis-gadis lainnya." jawab Mahani dengan suara mengambang karena kantuk dan kelelahan.

"Tak sayang meninggalkan teman-temanmu?"

Mahani terasa menggelengkan kepala. "Aku tidak punya teman. Selama ini aku hanya mengeram di kamar, di dalam rumah dan jarang sekali diizinkan ayah untuk keluar."

"Kenapa? Takut menjadi incaran orang-orang Legowo?"

"Kata ayah begitu." "Dan kau... kau juga tidak punya teman pria yang istimewa?" pancing Lanangseta mencarikan gairah lain.

Mahani tidak menjawab. Mungkin malu, mungkin juga bimbang untuk menentukan jawabannya. Namun sebaliknya, ia bahkan bertanya, "Apa kau sendiri mempunyai teman wanita yang istimewa?"

Lanangseta tertawa pendek. "Menurutmu, bagaimana?"

"Pasti kau sudah punya kekasih!" tebak Mahani dengan suatu debaran hati yang menggelisahkan, dan membuat ia punya kekuatan lain untuk melangkah.

"Dari mana kau bisa mengatakan begitu?" desak Lanang.

"Ketampananmu, dan... yah, kurasa hanya gadis bodoh yang tidak tertarik kepadamu, Lanang."

Sekali lagi Lanangseta tertawa pelan. Ia berbisik, "Apakah kau termasuk gadis bodoh?"

Mahani menjadi malu, ia terperangkap dalam jebakannya sendiri. Ia ingin menyatakan bahwa dirinya bukan gadis bodoh, tapi... rasa-rasanya ia lebih malu lagi. Sebab dengan begitu ia berarti telah berterus terang bahwa dirinya tertarik oleh Lanangseta. Oh, dia tak mau mendahului bicara demikian. Ia hanya menjawab, "Apa kau bisa menilaiku, termasuk gadis bodoh atau gadis yang pintar?"

Lanang menjawab lirih, "Kurasa... kau gadis yang pintar, Mahani. Tapi sayang, kau tidak berani mengemukakan kepintaranmu."

Mahani tahu maksudnya, Lanang hanya ingin mengatakan, bahwa dirinya tak berani mengutarakan perasaan tertariknya kepada Lanangseta. Mahani diam saja. Ia tak tahu harus bicara apa lagi kepada pendekar tampan yang menggoda hatinya itu.

Tetapi Lanang tahu gerakan naluriah yang tersirat dari isi hati Mahani. Tangannya menggenggam tangan Lanang dan ia hanya mendesah dengan suatu hempasan nafas yang penuh arti. Lanang sengaja menggodanya. "Sayang tidak ada gadis seperti kamu yang mau tertarik kepadaku. Yahh... maklumlah, aku ini kan orang tak tentu arah. Tak punya rumah dan harta berharga apa pun. Jadi, sangat wajar jika tak ada gadis semanis kamu yang mau mengisi kehidupan ini."

"Jangan berkata begitu, Lanang. Aku tak suka." "Memang nyatanya tak ada kok."

"Kalau ternyata ada gadis yang tertarik denganmu, bagaimana?"

"Yaah... aku bersyukur."

"Hanya bersyukur?" nada ucapan Mahani sedikit protes.

"Dalam segala perkara, dan setiap hal, kita wajib mengucapkan syukur. Berterima kasih kepada Hyang Widi, yang menciptakan kita serta seisi alam ini. Jadi, bersyukur adalah tindakan yang paling baik bagiku, jika memang ada gadis semanis kamu mau menemani hidupku."

"Kalau begitu aku salah duga." Tiba-tiba terdengar suara Mahani setelah bungkam sementara waktu.

"Salah duga bagaimana?"

"Kukira kau tidak hanya akan bersyukur jika ada gadis sepertiku yang mau menemani hidupmu."

Lanangseta tertawa pendek, tetapi ia semakin mempererat pelukannya. Hati Mahani sedikit memperoleh kelegaan ketika merasakan pelukan itu semakin erat. Paling tidak untuk sementara ini ia masih bisa memiliki semangat untuk tetap berjalan menyusuri gelap, menembus semak hutan bersama Lanangseta. Namun, betapa ingin hatinya terpeluk erat, Mahani tetap berusaha menutupi keinginan itu. Ia tak ingin mendapat penilaian sebagai gadis murahan, sebagai gadis gampangan dan ia tak ingin Lanang mengatakan bahwa dirinya tumbuh sebagai gadis kurang sopan. Betapa berat dan sesaknya, Mahani harus bisa menyimpan baik-baik perasaan hatinya. Tak wajar jika ia menyatakan cinta lebih dulu sebelum Lanangseta melontarkan isi hatinya.

Dan ketika itu, pagi mulai menyingsing. Mereka telah sampai di kaki Gunung Pekayon, yang merupakan perbatasan wilayah Kadipaten Branjangan Wilis. Desa yang dituju mereka memang masih jauh. Masih harus ditempuh dengan berjalan kaki kira-kira satu hari lagi. Lanangseta memperkirakan mereka akan tiba di desa Tayub menjelang matahari tenggelam nanti.

"Aku terlalu capek, Pak...." kata mak Lodang. Kemudian Pak Lodang meminta kepada Lanang untuk beristirahat beberapa saat mengingat keadaan istrinya begitu memprihatinkan sekali.

"Iya, istirahat dululah...! Kita harus mempunyai tenaga untuk sampai ke desa Tayub nanti," timpal Jaka Bego.

"Baiklah.... kita istirahat dulu, tapi cari tempat yang aman dan dapat dipakai buat berlindung sewaktuwaktu." kata Lanangseta, dan nafas-nafas pun terhempas lega. Di hutan itu ada pohon cukup besar, akarnya pipih dan membentuk suatu segitiga, mirip sebuah dinding ruangan. Di situlah mereka beristirahat, melepas lelah setelah sehari semalam berjalan tiada henti.

"Pak Lodang...." kata Lanangseta. "Apakah ada jalan lain yang lebih dekat menuju desa Tayub?"

Pak Lodang berpikir, matanya berkedip-kedip, sesekali ia memandang Lanangseta, seperti ragu untuk mengatakan sesuatu. Lanangseta merasa aneh. Lalu mendesak dengan pertanyaan lagi, "Maksud saya, kalau ada yang lebih dekat, ibaratnya kita bisa potong jalan, yah... sebaiknya kita memotong jalan sajalah. Supaya lebih cepat."

Setelah diam sesaat, Pak Lodang berkata dengan lirih, "Sebetulnya ada, tapi kita harus melalui Bukit Badai."

Lanangseta hampir saja ketahuan terkejutnya begitu mendengar kata 'Bukit Badai'. Kegelisahan dan kepedihan kembali lagi menyayat hati. Ingat Bukit Badai, ingat Kirana. Dan setiap ingat Kirana, hati Lanangseta tak dapat dibohongi lagi, pasti berdebardebar menyemburkan rasa perih.

"Kalau begitu, sebaiknya kita lewat Bukit Badai saja," usul Jaka Bego yang mendengar pembicaraan itu.

Pak Lodang menjawab, "Tapi daerah itu daerah berbahaya. Selain ada penguasanya, dan merupakan daerah tertutup bagi orang asing semacam kita, juga... takutnya kalau kepergok orang-orang Tebing Neraka. Mereka itu sangat ganas-ganas. Melebihi orangorangnya Legowo. Karena itu, hanya orang-orang Tebing Neraka yang konon berani nekad sering memasuki wilayah Bukit Badai."

"Ah, tapi siapa tahu orang-orang Tebing Neraka sedang tidak ada di daerah itu." kata Jaka Bego.

"Iya, tapi kalau penguasa Bukit Badai marah, bagaimana? Orang-orang Bukit Badai itu sangat misterius, dan berilmu tinggi lho..." sahut Pak Lodang.

"Alaaah... setinggi-tingginya ilmu mereka, masih bisa ditaklukkan oleh...." Jaka Bego melirik Lanang seraya menuding dengan jempol tangannya. Lalu ia meringis konyol.

Lanangseta diam saja. Pikirannya kacau. Jaka Bego berkata kepadanya, "Lanang, kau sanggup menaklukkan orang Bukit Badai kan?" Lanang tidak menjawab. Semakin resah. Jaka Bego mendesak, "Alaah... jangan takut, nanti kubantu. Kalau orang Bukit Badai marah, gempur saja kepala mereka." Pak Lodang menyahut, "Husy...! memangnya gampang menggempur mereka? Apalagi di Bukit Badai itu, katanya... ini menurut cerita yang pernah kudengar lho... katanya di sana ada seorang perempuan cantik yang sangat judes, galak dan berilmu tinggi. Kalau perempuan itu sedang marah, semua tanaman bergoyang, bumi bagai mau tenggelam, langit pecah dan badai mengamuk tak karuan. Pokoknya kalau perempuan Bukit Badai itu marah, kiamat terjadi sementara waktu! Betul. Itu kata mereka yang pernah menyaksikan sendiri...." Pak Lodang bicara sampai bibirnya monyong-monyong. Bersemangat sekali.

"Hemm   " Jaka Bego mencibir. "Baru hanya seorang

perempuan. Sehebat apa pun kekuatan perempuan itu, kalau menghadapi Lanang, dia tak akan bisa berbuat apa-apa, Pak. Jangankan dengan Lanang, dengan saya saja belum tentu perempuan Bukit Badai bisa unggul. Mungkin akan lari terkencing-kencing kalau sudah kukeluarkan jurus Kodok Nunggingku. Eh, Pak   " Jaka

Bego mendekatkan wajah, "Perempuan Bukit Badai itu akan lemas, lunglai, loyo dan tak bisa marah apa-apa lagi kalau sudah kucium dari kening sampai ujung kakinya, ia pasti akan  kegirangan  kalau  kupeluk  dan "

"Plak !"

Sebuah tamparan mendarat di pipi Jaka Bego. Lanangseta merah mukanya, nafasnya terengah-engah. Jaka Bego heran melihat kemarahan Lanangseta.

"Kenapa kau menamparku?! Salah apa aku padamu?"

Lanangseta mulai sadar, bahwa sesungguhnya mereka tak tahu dari mana asalnya. Mereka tak tahu bahwa Lanangseta adalah bagian dari Bukit Badai itu. Mereka juga tak tahu kalau perempuan Bukit Badai yang diceritakan itu masih membekas di hati Lanang dan sedang menjadi ganjalan kegelisahannya.

"Maafkan aku...." ujar Lanangseta, menyesal. "Aku mengingatkan kamu, agar tidak bicara sembarangan di tempat seperti ini. Aku takut kalau omonganmu itu didengar orang, dan sampai di telinga perempuan Bukit Badai. Kau bisa dihancurkan olehnya, atau paling tidak itu pertanda kita cari gara-gara dengannya. Jangan cari musuh, Bego!"

Matahari mulai merayap ke arah tengah. Lanangseta memberi perintah agar mereka bergegas meneruskan perjalanan kembali.

"Kita tak perlu memotong jalan. Tak perlu lewat Bukit Badai. Ini untuk mengurangi resiko yang berbahaya bagi keselamatan Mak Lodang serta Mahani," itulah alasan Lanang mengapa mereka diminta melalui arah yang semula.

Tetapi baru saja mereka hendak bergerak, di kejauhan terdengar deru kaki kuda terpacu. Suara ringkik kuda menandakan mereka yang ada di kejauhan itu sedang tergesa-gesa. Jaka Bego menjadi tegang, demikian juga Pak Lodang dan istrinya, juga Mahani dan Genduk. Bungkusan berisi pakaian dan perbekalan ala kadarnya itu segera diangkat oleh Genduk, ia bersiap untuk lari jika sewaktu-waktu ada perintah bersembunyi.

Hanya Lanangseta yang kelihatan tenang sekali memandang arah datangnya suara gemuruh kaki kuda. Ia menggumam jelas di telinga Jaka Bego, "Mereka mengejar kita "

"Siapa? Orang-orang Kadipaten Branjangan Wilis itu?"

"Ya "

"Kalau begitu aku bersembunyi dulu, ya?" Jaka Bego hendak bergerak, tetapi Lanangseta segera menenteng lengannya, membawa Jaka Bego ke suatu tempat yang agak jauh dari Mahani dan keluarganya. Dengan pelan dan tegas Lanang berkata, "Bego... aku tahu siapa kamu. Memang belum jelas dari mana asal-usulmu dan apa maksudmu mengikuti aku. Tapi aku tahu, kau punya isi. Tak usah berlagak bego di depanku. Yang jelas, kuminta kau untuk menghadapi mereka untuk melindungi keluarga lemah itu. Kasihan Pak Lodang dan anak istrinya, kan? Kau harus bergerak sebagai dirimu sebenarnya."

"Aku bingung dengan omonganmu."

"Terserah, kau mau bingung atau tidak, tapi hadapi mereka. Tunjukkan kepada keluarga Lodang... khususnya kepada Mahani. Siapa tahu jika Mahani melihat kehebatanmu, dia jadi menyukaimu."

"Aaah... itu kan...." Jaka Bego berhenti menyepelekan kata-kata Lanang, ia bahkan berbisik. "Apa mungkin Mahani bisa mengagumiku...?"

"Kau bisa membuktikannya nanti, setelah kau mampu mengalahkan mereka. "

"Lanang... itu mereka kelihatan?! Warok dan anak buahnya. Ooh... bagaimana kita?!" Mahani berseru dalam ketakutan. Lanang segera bergegas meninggalkan Jaka Bego yang masih termangu-mangu dalam kebingungan. Lanangseta segera menyuruh mereka bersembunyi di bawah sebuah pohon besar, di mana di situ ada batu gunung berlumut yang tingginya melebihi tinggi tubuh Lanangseta. Besar sekali. Di samping itu, ada rimbunan semak yang menutup batu itu, sehingga mereka dapat melihat ke arah Jaka Bego, namun dari sana orang akan sulit memandang yang bersembunyi.

Rombongan Warok Sabuk Geni terlihat semakin jelas. Kuda-kuda mereka sebentar lagi melewati tempat lenggang, di mana pohon dan semak jarang tumbuh. Terlihat oleh Lanang, mereka terdiri dari delapan orang penunggang kuda yang kekar-kekar. Kuda yang ditunggangi Warok paling depan, warnanya putih dan berbulu indah.

"Hei, lihat...! Anak setan itu ada di sana!" seru Ki Warok kepada anak buahnya. "Kejar dia! Dia pasti bersama keluarga Mahani!"

Karena anak buah Warok Sabuk Geni mendatangi Jaka Bego, maka Jaka Bego lari ketakutan ke arah Lanangseta yang berada di balik persembunyian.

"Mereka hendak membunuhku...! Itu mereka ke mari!"

"Goblok! Bego...!" geram Lanangseta. "Mengapa kamu lari ke mari? Kalau begini caranya mereka bisa tahu bahwa kami bersembunyi di sini. Goblok!"

"O, iya! Aku lari ke tempat lain saja...!" Lalu, Jaka Bego yang memang bego itu segera lari ke arah lain sebelum orang-orang Kadipaten memergokinya di tempat persembunyian. Jaka Bego dalam kebingungan, berlari kian ke mari. Perasaannya sudah lari jauh, padahal ia hanya memutar pohon yang satu ke pohon yang lain. Tak urung anak buah Warok Sabuk Geni pun memergoki dia, dan segera mengurung Jaka Bego dengan barisan rapat berkuda. Jaka Bego menampakkan wajah ngerinya, memandang kian ke mari bagai anak mau menangis.

"Di mana Mahani, Setan dekil?!" bentak salah seorang.

"Mahani...? Mahani bersama bapaknya. Bukan bersama aku. Sungguh. Boleh digeledah, saya tidak membawa Mahani...." Jaka Bego mengangkat bajunya dan berputar, maksudnya menunjukkan bahwa ia tidak menyembunyikan Mahani di balik bajunya. Orang yang tadi membentak kini turun dari kuda. Berjalan dengan sangar mendekati Jaka Bego. Jaka Bego semakin ngeri, mimiknya seperti anak mau menangis. "Aku tahu Mahani bersama bapaknya, tapi di mana mereka? Ayo, cepat katakan!" Orang itu menarik baju Jaka Bego.

"Mereka... mereka "

"Cepat katakan kalau mau selamat?!"

"Mereka... mereka bersembunyi. Sumpah kok!

Bersembunyi!"

"Iya, bersembunyi! Tapi di mana mereka bersembunyi?!" teriak orang itu dengan kasar dan semakin mencengkeram baju Jaka Bego.

"Di... di sana " jawab Jaka Bego.

"Di sana mana?! Bangsat !"

"Di sana...!" Jaka Bego menunjuk arah lain. Kebetulan angin berdesir dan menggoyangkan dedaunan rimbun di suatu tempat. Mereka mengira Mahani dan keluarganya bersembunyi di sana. maka mereka pun segera bergerak ke arah yang berlawanan dengan tempat persembunyian Mahani.

"Bagus. cerdik juga dia," gumam Lanangseta sambil

tetap bersembunyi. Tapi di luar dugaan, Jaka Bego kegirangan, karena usahanya berhasil mengecohkan musuh. Ia melonjak dan berseru, "Cihuuu...! Aku berhasil menipu mereka. !"

Ia tidak sadar kalau ucapannya itu bisa didengar oleh mereka, sehingga kuda mereka berhenti dan berbalik menghadap ke arah Jaka Bego.

"Anak itu membohongi kita. !" seru salah seorang.

Lalu orang yang memegang rantai berujung bola berduri itu menggeram, "Kurang ajar...! Kita dibuat mainan! Awas kau...!" Orang itu memacu kudanya hingga berlari ke arah Jaka Bego. Rantai berujung bola berduri itu diputar-putar, siap menghancurkan kepala Jaka Bego. Jaka Bego seperti orang gugup, tak tahu harus lari ke mana. Ia diam di tempat dengan mata memandang tegang, penuh ketakutan. Tapi di luar dugaan, Jaka Bego berguling mendadak, kakinya sengaja dihalangkan sehingga kaki kuda itu tersangkut dan kuda itu tersungkur seketika dengan ringkik yang membahana. Sudah tentu penunggang kuda bersenjata bola berduri itu terjungkal ke depan dan tubuhnya tengkurap seperti kura-kura. Kuda tak bisa membedakan mana rumput dan mana tubuh manusia, akhirnya badan kuda yang besar itu menindihi tubuh orang itu. Kaki kuda meletik-letik berusaha untuk bangun, dan orang itu semakin cengap-cengap. Mulutnya berdarah karena badannya tertindih kuda. Lalu ketika kuda berhasil berdiri dan melarikan diri, tubuh penunggangnya masih diam tak bergerak. Mungkin tulang punggungnya patah dan pernapasannya mengalami penyumbatan.

Jaka Bego tertawa dan tepuk tangan sendiri menyaksikan musuhnya tak bergerak dengan mata mendelik dan mulut berdarah. Tetapi di luar dugaan, beberapa orang penunggang kuda lainnya menyerbu Jaka Bego dengan ganas dan secara bersamaan. Jaka Bego merebah, hendak menjegal kaki kuda lagi, tapi karena banyak kaki kuda yang menyerangnya, ia buruburu bangun kembali dan berlari.

"Wah, bisa-bisa mukaku diinjak-injak kuda...!"

Mereka mengejar Jaka Bego. Salah seorang melemparkan tombak bermata tiga. Pada saat itu tubuh Jaka Bego tersungkur karena tersandung akar pohon. Tombak bermata tiga lolos, melayang di atas kepalanya. Namun akibatnya ia segera terkurung oleh lawanlawannya. Jaka Bego bangkit, hendak melarikan diri, tapi tak jadi. Ia terkurung. Dan dua orang penunggang kuda bersenjata pedang dan clurit bergagang panjang segera turun dari kudanya.

"Jangan...! Jangan bunuh saya. Membunuh itu pekerjaan yang tidak baik, kalau tidak kepepet...!" kata Jaka Bego seraya cengar-cengir mengambil hati lawannya.

Kedua orang itu tidak memberi komentar, tapi yang di atas kuda masih sempat berseru, "Bunuh saja anak itu!"

"Jangan ngotot," kata Jaka Bego. "Tadi sudah kusarankan, membunuh itu tidak baik. Betul!"

Terdengar suara Warok Sabuk Geni, "Jangan lamban! Serang dia...!"

Jaka Bego berpaling memandang Warok Sabuk Geni yang sejak tadi diam di atas punggung kuda, di kejauhan. Pada waktu itu, dua orang bersenjata pedang dan clurit panjang segera menyerang Jaka Bego.

"Jakaaa...! Awaaas...!" teriak Genduk dari tempat persembunyian. Hal itu membuat orang-orang lainnya berpaling memandang ke arah Genduk. Lanangseta jadi gemas dan dongkol sekali kepada Genduk yang secara tak langsung telah membuat musuh mengetahui tempat persembunyian Mahani. Maka, mereka pun mulai berdatangan ke tempat persembunyian yang sebenarnya sudah aman itu. Pak Lodang menampar mulut Genduk dengan keras. Mereka berdua ribut. Tapi Lanangseta tak sempat melerai, karena empat orang penunggang kuda sedang mendatangi persembunyian Mahani. Lanang segera keluar dan melompat menyambut kedatangan mereka berempat, sementara yang dua sedang sibuk membunuh Jaka Bego. Agaknya Jaka Bego licin bagai belut, lincah seperti anak kijang.

Lanangseta sendiri sibuk menghadapi keempat lawannya. Dua orang turun dari kuda, dan dua lagi masih berada di punggung kuda. Mereka menyerang dengan tombak bermata tiga dan tombak bermata pedang. Sedangkan yang turun dari kuda menyerang dengan pedang serta sepasang trisula tajam. Lanangseta sibuk menghindari sepasang trisula yang secara bersamaan terarah ke wajahnya. Ia berhasil menggelinding ke depan, tapi segera disambut oleh pedang lawan. Untung Lanangseta dapat mengelak dengan berguling ke kiri. Kakinya sempat menyepak kaki lawan sehingga orang bersenjata pedang itu jatuh terjengkang ke belakang. Kaki Lanangseta segera menghentak perut orang itu dengan tumit. "Heaat...!"

"Uuuhk...!" Orang itu mengerang, tepat pada saat temannya mencoba menusuk tubuh Lanang dengan tombak berujung tiga. Senjata yang menyerupai garpu tanah itu berhasil dielakkan Lanang dengan meliukkan dan ke kanan. Dengan tangkas senjata itu berhasil ditangkap oleh tangan Lanang, lalu ditarik dengan satu hentakan, sehingga tubuh di atas punggung kuda itu pun jatuh.

Kesempatan itu digunakan oleh Lanang untuk melejit dengan bertumpukan tombak yang menancap di tanah. Tubuh Lanangseta melambung tinggi, bersamaan dengan itu ia pun segera mencabut pedang Wisa Kobra.

"Sreet...!"

Semua mata mendelik melihat pedang itu membawa seperti gumpalan lahar panas., Merah, dan mengerikan. Tombak  berujung pedang  dilemparkan. Dengan kecepatan di luar batas pandangan mata, Lanangseta mengibaskan pedangnya berulangkali. Tahu-tahu tombak itu telah patah menjadi beberapa bagian. Keempat lawannya semakin tercengang. Lanangseta melambung dalam satu hentakan kaki, tubuhnya melayang menuju ke salah satu penunggang kuda dan seketika itu juga orang tersebut jatuh ke tanah dengan kepala terpenggal.  Padahal   mereka tidak melihat Lanang mengibaskan pedangnya. Tapi ternyata kepala

penunggang kuda itu telah terpisah dari leher.

"Gila! Kecepatan pedangnya luar biasa," gumam salah seorang. Dan penunggang kuda lainnya segera menyerang Lanang dengan menggunakan kudanya. Kuda itu dipacu cepat untuk menabrak Lanang. Tapi Lanang tidak bergerak sedikit pun, ia berdiri tegap, sedikit merendahkan badan, dan pedang Wisa Kobra berdiri di depan wajahnya. Pada saat kuda itu menerjang, Lanangseta berkelebat ke samping. Cahaya meraih membara itu pun bagai menyinari tubuh kuda. Namun kuda itu meringkik histeris, dam roboh seketika dengan perut terbelah mengerikan. Penunggang kuda itu terpental jatuh di tempat Jaka Bego yang sedang melompat kian ke mari menghindari tebasan senjata lawannya. Tanpa sengaja, Jaka Bego melompat menghindari tebasan senjata dan jatuh tepat menginjak dada orang yang terlempar dari kuda.

"Uuuhk... eekh... ekh...!" Orang itu mengejang, darah merah tersembur dari mulutnya. Jaka Bego terkejut melihat orang yang tak sengaja diinjaknya itu meregang dan kejet-kejet. Kontan ia melompat ke tempat lain, membiarkan orang itu menggelepar-gelepar dan mati.

"Babi busuk kau...!" teriak temannya yang makin ganas.

Jaka Bego berlari mendekati Lanang. "Mereka semakin marah padaku...!" Ia hendak berlindung di tubuh Lanang. Tapi gerakan Lanang sudah semakin cepat sehingga Lanang tak berhasil dipegang Jaka Bego. Bahkan, Jaka Bego salah pegang, karena matanya memandang musuh yang menyerangnya. Ia memegang pantat kuda dengan kuat-kuat. Tentu saja kuda merasa geli, dan segera menyepaknya. Jaka Bego menjerit dengan tubuh melayang disepak kuda.

Ketika itu, Lanangseta menyongsong kedua musuh yang mengejar Jaka Bego. Ia berguling ke tanah dan berdiri lagi dengan salah satu lututnya. Tahu-tahu kedua orang itu telah rubuh karena goresan pedang yang begitu cepat.

Jaka Bego menggeliat bangun dari jatuhnya. Kepalanya terasa pusing. Ia tak tahu kalau dirinya sedang terancam: Seorang musuh sedang mengangkat pedangnya dan hendak menusuk Jaka Bego dari belakang. Tetapi Jaka Bego bergumam sendiri, "Masa cuma disepak kuda, begini... kok bisa jatuh...." Ketika itulah Jaka Bego memperagakan kuda menyepak dirinya. Dan di luar dugaan gerak kaki yang menirukan kuda menyepak itu telah mengenai dada orang yang ingin membunuhnya. Orang itu terpental bagai menerima tendangan begitu kuat. Jaka Bego berpaling kaget. "Oh, maaf, aku tidak tahu kalau kau di belakangku...!" katanya. Orang itu mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya.

"Maaf, ya aku tidak... Lho, kok jadi mati?"

Rupanya orang itu bukan mati karena tendangan sepak kuda Jaka Bego, melainkan waktu ia terjengkang ke belakang dan jatuh telentang, punggungnya terkena senjata temannya yang tadi jatuh tertindih kuda. Punggung orang itu tertancap bola berduri yang agaknya selain tajam juga mengandung racun. Maka, sudah tentu tubuh itu kejang-kejang dan mati tak berkutik lagi. Sementara itu, tinggal satu orang anak buah Warok Sabuk Geni yang masih nekad menghadapi Lanangseta. Ia menyerang Lanangseta dengan senjata clurit bergagang panjang. Waktu tubuh itu melayang di atas Lanangseta, pedang Wisa Kobra masih berdiri tegak. Lanangseta berguling ke depan, dan ternyata gerakan itu membuat lawannya mengerang sebentar, lalu roboh dengan bagian dada hingga perut terbelah mengerikan. Kilasan pedang itu begitu cepat dan tak sempat terlihat oleh mata siapa pun.

Lanangseta menyarungkan pedangnya setelah dilihatnya tak ada anak buah Warok Sabuk Geni yang masih hidup. Tetapi tiba-tiba ia mendengar suara tawa yang menjijikkan, serak dan kasar. Suara itu datang dari Warok Sabuk Geni, yang diam-diam sudah berhasil menawan Mahani dan Pak Lodang. Ia mengacungkan goloknya yang besar dan tajam ke leher Pak Lodang dan berseru, "Berani mendekat, kubunuh orang ini!"

Lanangseta diam tercengang. Jaka Bego kebingungan melihat keadaan yang di luar dugaan.

"Siapa kamu sebenarnya, Orang asing? Permainan silatmu cukup boleh dibanggakan. Siapa kau, hah?!"

"Aku... Malaikat Pedang Sakti!" jawab Lanang dengan tegas.

"Ha, ha, haaa... pantas-pantas... Ilmu pedangmu sangat mengagumkan. Tapi kau tak akan bisa mengalahkan kekuatanku. Buang senjatamu, atau kurobek leher orang tua ini!"

"Jangan, Lanang!" teriak Mahani.

"Plaak...!" Mahani menjerit karena ditampar Ki Warok.

"Buang jauh-jauh pedangmu itu, lekas!" bentak Warok Sabuk Geni.

"Buang...! Buang saja...!" bisik Jaka Bego kepada Lanang. Lanang hanya diam tak menjawab dan tak bergerak.

"Kuhitung sampai tiga kali, kalau kau tidak membuang senjatamu itu, kurobek leher orang ini. Satu...!"

"Lanang buang saja senjatamu, uuh... payah! Nanti Pak Lodang mati lho...." bujuk Jaka Bego yang ketakutan.

"Dua...!"

"Taaar...!"

Suara letusan kecil terdengar. Seorang bertubuh pendek untuk ukuran seorang pendekar, berdiri di kejauhan. Kulitnya hitam, dan ia memegang cambuk di tangannya.

"Paman Ludiro...?!" seru Lanangseta.

Pada waktu itu, Warok Sabuk Geni hendak mengambil golok besarnya yang jatuh akibat tangannya terkena cambukan Ludiro. Namun selagi ia membungkuk, Cambuk Naga melesat lagi dengan cepat. "Tarr... Tarrr...!"

"Aaahh...!" Warok Sabuk Geni terguling-guling, punggungnya terluka bagai robek dua tempat dan saling bersilang.

Warok Sabuk Geni masih berusaha untuk bangkit, Ludiro dan yang lainnya membiarkan. Warok Sabuk Geni meringis dan segera berlari mendekati kudanya, kemudian naik ke punggung kuda. Dengan sekali hentak, kuda itu berlari ke arah tempat datangnya tadi.

Lanangseta bergumam, "Itu bisa menjadi penyakit bagi rakyat Kadipaten. Harus dimusnahkan... sekali!" Setelah berkata demikian, Lanangseta mencabut pedangnya. Warna merah membara membuat Ludiro terkejut. Lanangseta bagai bicara dengan pedangnya, "Bunuh, Warok Sabuk Geni itu...!" Ia melepaskan pedang Wisa Kobra, tanpa suatu lemparan sedikit pun. Tapi pedang yang merah bagai bara api itu telah melesat dengan sendirinya. Gerakannya cepat, seperti kilasan cahaya merah. Pedang itu menembus punggung Warok Sabuk Geni sampai tembus di perut, dan keluar lagi melayang. Pedang itu bergerak cepat menuju arah Lanangseta, lalu dalam waktu yang begitu singkat pedang Wisa kobra telah berada dalam genggaman Lanangseta. Pedang itu pun dimasukkan ke sarungnya kembali. Sementara. Itu maka Jaka Bego masih mendelik lebar, memandang Warok Sabuk Geni yang rubuh di punggung kuda setelah terpekik sesaat karena ditembus pedang Lanang. Kudanya berjalan terus, bagai mengantarkan mayat Warok Sabuk Geni. "Kita selamat, Mak... Kita selamat...?!" kata Mahani dengan tangis kegembiraan. Mak Lodang pun memeluk anaknya sambil menangis lega. Lalu Pak Lodang segera memeluk keduanya dalam keharuan yang tertahan.

"Jaka... kita selamat...!" teriak Genduk sambil berlari menghampiri Jaka Bego dengan tangan terentang keduanya. Jaka Bego tak mau berpelukan dengan Genduk. Ia segera berkelit ke samping dan Genduk menabrak pohon dalam pelukannya.

"Peluk tuh pohon...!" gerutu Jaka Bego sambil berjalan mendekati Lanangseta.

Sementara itu Ludiro berkata kepada Lanangseta, "Kau harus pulang ke Bukit Badai, Lanang. Harus!"

Jaka Bego terbengong kaget, lalu berseru sampai didengar yang lainnya, "Jadi, kau orang Bukit Badai?! Astaga...!"

Semua mata tertuju pada Lanangseta. Semua mata terbelalak bagai tak mempercayai suara Jaka Bego. Lanangseta terpaksa menghela nafas panjang-panjang.

"Paman, haruskah aku kembali ke sana?!"

"Ya. Harus! Jika kau tidak kembali ke Bukit Badai, maka dia akan mati."

Lanang mengerti yang dimaksud Ludiro, pasti Kirana.

"Kenapa sampai begitu? Bukankah dia sudah mengkhianatiku dan telah menyerahkan "

"Pasti kau telah difitnah oleh Prabima keparat itu!" sahut Ludiro. "Tidak. Kau harus kembali ke Bukit Badai. Ini saat-saat terakhir baginya antara hidup dan mati. Ia telah kehilangan dirinya. Ia tinggal tulang dibungkus kulit yang layu. Rama Sabdawana tak bisa menyembuhkan karena penyakitnya itu sangat langka, dan cuma kamu yang akan berhasil menyelamatkan jiwanya. Cuma kamu, Lanang!"

Lanangseta termenung beberapa saat. Ia berjalan dan memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu. Ia sempat mendengar Jaka Bego bertanya kepada Ludiro yang ikut-ikutan memanggil 'paman' kepada Ludiro.

"Dia itu siapa sebenarnya, Paman? Tumbal Bukit Badai?!"

Ludiro tersenyum tipis. "Dia calon pengganti penguasa Bukit Badai."

"Haahh...?!" Teriakan Jaka Bego begitu keras sehingga mengagetkan yang lain.

Kepada Pak Lodang terpaksa Lanang berkata, "Kita meneruskan perjalanan melalui Bukit Badai. Paman Ludiro yang akan menggantikan saya untuk mengawal Pak Lodang sekeluarga. Sedangkan saya... ada urusan penting yang harus saya kerjakan sekarang juga. Tak boleh terlambat."

Pak Lodang manggut-manggut walau kurang jelas persoalannya. Lanang menambahkan kata, "Paman Ludiro dan Jaka Bego tetap akan mengawal Pak Lodang sampai ke desa Tayub, dan saya sendiri akan menyusul ke sana kalau urusan saya telah selesai "

Sebenarnya Mahani tak ingin berpisah dengan Lanang. Tapi untuk sementara ini ia bisa memahami kesibukan Lanang yang kelihatan sangat penting.

SELESAI
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Pendekar Cambuk Naga Eps 06 : Malaikat Pedang Sakti"

Post a Comment

close