coba

Serial Jaka Sembung Eps 12 : Terdampar Di Pulau Hitam

Mode Malam
1

Di atas pasir pantai dengan debur ombak yang bergemuruh, seorang pemuda tampan dalam pakaian seorang pendekar, perlahan-lahan membuka kelopak matanya...

"Terdampar di manakah aku...? Rasanya pantai ini asing bagiku!"

Ia berusaha mengingat-ingat apa yang telah menimpa dirinya, dan apa yang terjadi atas diri kawankawannya. Belum sempat ingatannya pulih semua, entah dari mana datangnya, tahu-tahu beberapa batang tombak telah meluncur di depan hidungnya.

Betapa terkejutnya pemuda itu menghadapi kenyataan ini. "Ha!" Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sambil tengkurap dengan kedua tangan yang terbelenggu rantai besi, ia memandang beberapa orang yang pakaiannya hanya menutup sebatas kemaluan. Orang-orang itu berkulit hitam legam, rambut keriting, raut wajah dihiasi coretan berwarna kuning, putih dan merah serta mata yang beringas. Serentet taring babi sebagai penghias leher dan tulang lain yang mencocok lobang hidung dan telinga mereka, menandakan bahwa mereka belum beradab.

Suasana di pinggir pantai itu tegang sejenak. Debur ombak terasa makin menggelegar memecahkan telinga. Tiba-tiba salah seorang dari mereka memberi aba-aba dengan isyarat gerakan tangan. Pemuda yang masih terbelenggu itu berusaha bersikap tenang serta menuruti kemauan orang-orang dari suku primitif itu.

Sepanjang jalan, sang pemuda yang ternyata adalah Parmin, si Jaka Sembung, terus berpikir. Baru kali ini dia melihat orang berkulit hitam legam dan berambut keriting dengan tubuh hampir telanjang bulat seperti itu.

"Suku apakah ini? Aku tahu maksud mereka. Mereka ingin aku untuk ikut mereka! Yach, melawan pun tak ada gunanya. Barang kali saja aku nanti bisa mengorek keterangan dari orang-orang ini!" gumamnya dalam hati.

Seperti kerbau dicocok hidung, pendekar muda ini mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang-orang bertampang seram dan menakutkan itu.

Sebelum kita mengikuti lebih jauh lagi perjalanan Parmin, kita ikuti bagaimana dia bisa sampai ke daerah yang sama sekali belum dikenalnya itu. Mengapa Parmin bisa sampai ke tempat tersebut?

Kala itu Parmin dan kawan-kawan se-dang berada di atas kapal. Baru saja ia mengatur kemudi ke arah yang akan mereka tempuh, tiba-tiba dari arah Selatan badai datang dan memporakporandakan kapalnya. Dengan menggunakan papan kepingan kapal yang hancur itu mereka masing-masing selamat, hanya sayangnya mereka terdampar di pulau yang berlainan. Parmin alias si Jaka Sembung terdampar di sebuah pulau yang bernama 'PAPUA' atau Pulau Hitam.

Di sepanjang jalan yang ditumbuhi semak belukar, pepohonan raksasa serta jalan setapak yang mereka lewati, masih saja Parmin berpikir. Kali ini pikirannya tertuju kepada teman-temannya.

"Mudah-mudahan saja yang lainnya selamat dan dapat berkumpul kembali!"

Parmin digiring terus dengan todongan ujungujung tombak persis berada di punggung dan tengkuknya. Matahari telah berada tepat di atas ubunubun membuat suasana saat itu panas bukan alangkepalang. Butiran-butiran keringat sebesar biji jagung membasahi keningnya.

Setelah beberapa lama masuk hutan belantara, akhirnya mereka sampai di sebuah dataran terbuka. Bangunan-bangunan tempat tinggal berbentuk kerucut-kerucut besar yang berderet-deret dan membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi sebuah halaman yang luas dengan tonggak-tonggak kayu terpancang di tengah-tengahnya. Jika diperhatikan lebih teliti, ternyata tonggak-tonggak kayu tersebut adalah sebuah patung ukir yang bersusun ke atas membentuk pilar kayu yang cukup tinggi.

Setelah agak dalam memasuki halaman perkampungan suku itu, seorang yang berjalan paling depan memberi isyarat berhenti. Parmin dan sejumlah pengawal pun patuh mengikuti perintahnya. Orang itu lalu berjalan menuju sebuah bangunan yang paling besar beratap ijuk dengan puncak atap berukiran tradisionil.

"Itu pasti rumah kediaman kepala suku mereka! Dan bukan tidak mungkin, mereka adalah suku pemakan daging manusia."

Baru saja Parmin berpikir begitu, beberapa orang bertampang beringas datang menyeret dan mengikatnya kuat-kuat pada sebuah tiang di tengah halaman. Sebagian yang lainnya berjingkrakan mengitarinya sambil meneriakkan kalimat dan kata-kata yang tak dapat dimengerti olehnya. Suara kendang yang ditabuh kencang-kencang menambah riuh suasana. Tak ubahnya seperti upacara agama para suku-suku primitif. 

"Dugaanku tidak meleset!" bisiknya dalam hati. Sementara itu di dalam bangunan besar yang dihiasi berbagai tengkorak kepala binatang-binatang buas dan taring babi, bulu-bulu burung Cendrawasih, beberapa tombak terpampang di atas dinding. Topengtopeng aneh menambah seram suasana bangunan itu. Kepala pasukan langsung menghadap kepala suku sambil membungkukkan badan hampir rebah ke lantai. Dia berbicara dengan bahasa yang mirip suara burung kepada orang yang duduk di atas singgasana yang terbungkus kulit-kulit binatang dan dihiasi manik-manik aneka warna dan ditemani lima orang dayang-dayang yang terdiri dari gadis-gadis berkulit hitam dengan dada telanjang dan tubuh bagian bawah hanya ditutupi ram-bak rambai dari kulit kayu.

"Awom, kau mendapat tawanan orang asing? Bagus! Aku akan datang menemuinya! Siapkan saja segera upacara persembahan untuk nenek moyang kita!" ujar kepala suku.

Kepala suku segera berdiri meninggalkan kursinya dengan diiringi dayang-dayang dan seorang pimpinan agama suku yang berjubah kebesaran, kepalanya yang dihiasi dengan bulu-bulu burung Cendrawasih dan tangannya memegang tongkat dengan hiasan-hiasan unik.

Ketika kepala suku menginjakkan kaki di halaman, semua hiruk-pikuk suara manusia dan tetabuhan mendadak sontak berhenti. Suasana menjadi hening seketika.

Kepala suku terus melangkah mendekati tiang di tengah halaman di mana Parmin si Jaka Sembung terikat tak berkutik.

"Hai! orang asing, coba jelaskan siapa kau, dan dari mana asalmu? Ketahuilah bahwa aku adalah kepala suku di sini!"

Bukan main terkejutnya. Betapa tidak, semula dia sangka kepala suku orang-orang primitif itu seorang laki-laki yang tegap dan hitam menyeramkan, kenyataannya justru bertolak belakang. Kepala suku ternyata seorang wanita cantik berkulit putih dan berambut pirang serta bertubuh tinggi semampai dengan lekuk tubuh yang sangat indah, menyapanya dengan bahasa Melayu yang cukup fasih. Parmin tak percaya dengan apa yang dihadapinya. Rasanya ia sedang bermimpi.

Kepala suku primitif itu ternyata seorang gadis bule yang rupawan. Gadis ini dapat memaklumi apa yang sedang berkecamuk pada diri pendekar muda itu. Maka segera dia berkata,

"Tenanglah! Anda pasti selamat! Aku percaya anda adalah salah seorang dari suku lain yang sudah beradab! Mereka menganggap bahasa Belanda dan bahasa Melayu sebagai bahasa dewa-dewa mereka. Oleh karena itu berbicaralah dengan bahasa yang membuat anda seperti dewa!" si cantik itu mengajari.

"Baiklah, kepala suku! Apakah yang harus kuperbuat sekarang? Apakah anda akan memerintahkan anak buah anda untuk membuatku jadi sate?" tanya Parmin.

"Tentu saja tidak! Malah aku sangat membutuhkan anda. Kita bisa saling membantu! Ketahuilah, aku dengan mudah mempengaruhi mereka, termasuk pemimpin agama suku yang berdiri di sampingku, ini!" katanya sambil menunjuk seorang lelaki hitam yang sejak tadi menunjukkan tampang angkernya sebagai seorang yang sangat berpengaruh setelah keberadaan sang kepala suku.

"Baiklah, apa yang harus kuperbuat?"

"Sebagai orang Timur, anda pasti punya keahlian dalam ilmu-ilmu aneh! Nah, tunjukkanlah kepada mereka suatu keajaiban yang mempesona! Dengan begitu mereka lebih percaya bahwa anda adalah utusan dewa!"

"Baiklah!" jawab Parmin memakluminya.

Untuk beberapa saat suasana menjadi hening namun menegangkan. Tiba-tiba tali yang melilit tubuh pendekar muda itu putus.

Laksana Bhatara Bayu yang sedang murka dalam pewayangan, Parmin mendemontrasikan jurus 'Wahyu Taqwa' suatu jurus yang maha dahsyat. Dia melangkah ke tengah lingkaran orang-orang hitam itu berdiri, lalu kedua kakinya dibuka untuk membentuk kuda-kuda. Setelah itu dia me-narik nafas dalamdalam dan mengeluarkannya berbarengan dengan kedua tangan yang terletak di atas pinggang. Hembusan angin mendadak keluar dari kedua telapak tangannya, diikuti bunyi gemerincing ran-tai besi yang masih membelenggu. Hembusan angin kencang itu membuat debu-debu berhamburan ke angkasa, daun-daun rontok dari dahannya. Pohon-pohon terangkat dan tumbang. Binatang-binatang keluar dari tempat persembunyiannya, bangunan ambruk seketika serta para pengawal yang berada di arena upacara itu berjumpalitan, sehingga membuat kepala suku cepat bertindak.

"Hentikan!! Cukup...!! Anda cukup hebat untuk menjadi seorang dewa!"

Setelah pertunjukan kehebatan utusan dewa usai, kepala suku segera berbicara kepada rakyatnya dalam bahasa suku tersebut.

"Rakyatku! Menyembahlah kalian! Orang yang kalian tangkap ini ternyata utusan dewa!"

Bagaikan tonggak-tonggak kayu yang roboh tertiup angin, rakyat suku primitif itu segera menjatuhkan diri seketika, dan berlutut di hadapan Parmin untuk me-nyembah. Parmin melihat perlakuan seperti itu menjadi rikuh dan menahan rasa geli dalam hati.

Setelah memberi aba-aba kepada rakyatnya untuk berdiri kembali, sang kepala suku menoleh ke arah Parmin sambil berkata:

"Akan kami sediakan tempat tinggal untuk anda di sini. Nanti malam, aku mengundang anda untuk bertukar pikiran serta mengenal riwayat masingmasing!" Parmin mengangguk tanda setuju, tetapi diam-diam Jaka Sembung merasa risih berdekatan dengan seorang wanita muda bangsa asing dengan tubuh nyaris telanjang saja yang ditutupi dengan hiasan beberapa batok kerang besar dililit oleh seuntai tali sebagai pengikatnya.

***

2

Matahari kian condong ke arah Barat dan hilang ditelan awan yang berwarna kemerahan. Rakyat suku primitif itu mulai memasuki tempat tinggal masing-masing dan sebagian lagi berjaga-jaga di setiap sudut halaman dengan senjata tombak dan panah. Sinar matahari tak terlihat menembus sela-sela pohon, pertanda hari mulai berganti malam. Para penjaga pun menyalakan api unggun untuk pemanas dan penerangan perkampungan mereka.

Tak seberapa jauh dari tempat kediaman kepala suku, tampaklah seorang pemuda tampan yang tak lain adalah Parmin si Jaka Sembung sedang merebahkan diri di atas kasur yang terbuat dari tumpukan ijuk dan rumput ilalang. Sebagai seorang pendekar yang beriman, Parmin tak melupakan kewajibannya untuk menunaikan Sholat Maghrib. Walaupun tak terdengar suara adzan dan beduk, Parmin bisa mengirakan kapan waktu Maghrib tiba.

Ia segera bangun dari istirahatnya dan langsung mempersiapkan keperluan Sholat. Kemudian Parmin keluar untuk berwudlu. Ternyata ia mendapat kesulitan untuk mencari air, maka terpaksalah ia melakukan tayammum dengan pasir halus yang cukup bersih di halaman tempat tinggal.

Parmin menunaikan Sholat Maghrib. Tak lama kemudian Parmin duduk tafakur seraya berdo'a sambil mengangkat kedua belah tangannya yang masih terbelenggu rantai besi. Rantai buatan serdadu kompeni Belanda yang sulit untuk dibuka.

"Ya Allah! Semoga Kau selalu memberi petunjuk dan bimbingan kepada hamba-Mu, semoga pula kau selamatkan kawan-kawan seperjuanganku... Amin ya Robbal Alamin!"

Sesaat kemudian....

"Sekarang aku perlu keterangan dari wanita kulit putih itu," pikirnya dan langsung bergegas untuk menemui kepala suku di tempat tinggalnya yang terletak di seberang tempat tinggalnya.

Belum jauh dia melangkah, tiba-tiba dia mendengar suara wanita dari arah rumah kepala suku.

"Auww !!"

Dengan mengerahkan seluruh kemampuannya Parmin melompat. Secepat kilat ia telah menjajakkan kaki di pintu masuk rumah kepala suku dan...

"Terlambat!" keluhnya.

Setelah melihat kepala suku tak ada di tempat, Parmin langsung melihat-lihat keadaan sekeliling ruangan singgasana itu, dan apa yang terjadi, para pengawal kepala suku juga sudah terbunuh semua.

Mereka bergelimpangan di sekitar kursi singgasana dan pintu kamar kepala suku dengan tubuh hangus di bagian dada. Setelah menyapu pandang ke seluruh pelosok ruangan, tiba-tiba matanya melihat ke suatu tempat yang terlihat porak poranda.

"Hmm, ternyata mereka menjebol dinding terlebih dahulu, kemudian menculik kepala suku... Kalau begitu aku harus segera mengejarnya!" pikir Parmin.

Parmin segera berkelebat dari ruangan singgasana kepala suku langsung ke dalam hutan dengan melewati jebolan dinding itu. Ia sengaja mengambil jalan menerobos ke semak-semak belukar, agar dirinya tak diketahui orang lain. Baru saja akan melanjutkan perjalanannya, mendadak dia melihat sesosok bayangan yang melintas di hadapannya. Dengan cepat Jaka Sembung menyergap bayangan tadi.

Ternyata....

"Heh, kau panglima suku, bukan? Apa yang telah terjadi dengan kepala suku mu, Awom?" tanya Parmin tak sabar.

Baru saja akan dijawab, serta merta...

"Chraaaa!!" Sebuah serangan mengancam dirinya sehingga Jaka Sembung harus berkelit...

"Minggir!!" teriak Parmin sambil mendorong tubuh panglima suku agar menjauh dari bahaya, sedangkan kakinya menggaet kaki penyerang gelap tadi. Maka tak ayal lagi si penyerang terhuyung-huyung jatuh menghantam pohon besar di hadapannya. Tetapi, dia cepat bangkit untuk menyerang.

Dengan buasnya dia menyerang dari menghantam Parmin. Untunglah Parmin bergerak cepat, kalau tidak apa yang akan terjadi pada dirinya tentu sangat fatal. Dapat dibuktikan bahwa serangan yang dahsyat itu menghantam sebuah pohon besar di belakangnya. Cengkeraman tangan lawan membuat pohon itu somplak dan tumbang seketika. Sekilas Parmin dapat melihat wajah lawannya bertopeng tengkorak dengan kepala bertanduk dan bersurai terbuat dari ijuk.

"Gila...!! Hem, aku yakin, dia pasti bukan orang sembarangan dan jurus-jurus silatnya seperti kukenal," gumamnya.

Penyerang gelap itu tak memberi ampun terhadap Parmin, dia menyerang dengan membabi buta, sehingga pohon-pohon banyak yang tumbang dan debu serta kerikil berterbangan ke udara terhempas oleh tenaga dalam yang luar biasa. Dengan menjatuhkan diri dan berguling-guling, Parmin dapat menghindari pukulan maut yang dapat menghanguskan apa saja. Tetapi di luar dugaan, serta merta penyerang gelap tersebut berkelebat pergi.

"Eh, dia pergi...? Mengapa dia lari? Kurasa akulah yang kalah bila pertarungan tadi dilanjutkan," pikir Parmin. Belum lagi habis herannya, dia dikejutkan oleh sesuatu yang ditinggalkan oleh lawannya tadi di atas tanah. "Heh! Bekas telapak hitam, dan rumputrumput sekitarnya terbakar hangus? Sebuah pukulan yang tak asing lagi bagiku," gumamnya.

Setelah dirasakan aman, Parmin menyuruh keluar sang panglima suku dari tempat persembunyiannya di balik semak belukar.

"Keluarlah tak ada bahaya lagi!"

Panglima suku bergegas dan menghampiri Parmin. "Lantas ke mana kita mencari kepala suku? Bisakah kau memberi petunjuk padaku?" tanya Parmin dengan bahasa Melayu diiringi dengan gerakangerakan tangan sebagai bahasa isyarat.

Dengan susah payah panglima suku mencoba mengerti maksud Parmin, lalu dengan susah payah pula ia memberi keterangan dengan bahasa isyarat.

"Hm, ya... ya! Aku mengerti sedikit-sedikit maksudmu! Kepala suku diculik oleh suku Papua yang bertubuh kerdil, bukan?"

"Baik, mari kau tunjukkan tempat tinggal suku Papua kerdil itu," pinta Parmin kepada panglima suku yang bernama Awom itu.

Namun belum sempat mereka melangkah untuk melanjutkan perjalanan, Parmin melihat wajah Awom seperti hendak me-nyatakan sesuatu yang cukup penting. "Ada apa lagi...?"

Dengan gaya yang tangkas dan gesit laksana cecak menangkap mangsanya, Awom menjambret salah satu pohon tanggung yang ada di dekatnya. Dan...

"Hm, dia mencabuti daun-daunnya untuk apa...?" tanya Parmin dalam hati.

Dengan isyarat kembali Awom memberi keterangan sambil menunjuk-nunjuk daun-daun yang baru diambilnya itu. Mengertilah Parmin dengan apa yang dimaksud panglima suku.

"Oh, kau bilang daun-daun ini harus kita kunyah agar kita terbebas dari gigitan binatang-binatang yang berbisa? Baiklah, ini memang perlu untuk menjaga diri, terima kasih!" jawab Jaka Sembung sambil mengunyah daun-daun itu. Awom tersenyum senang karena melihat utusan dewa mau menuruti sarannya.

***

3

Setelah mengunyah daun-daunan tersebut, Parmin dan Awom melanjutkan perjalanannya untuk mencari kepala sukunya. Sepanjang jalan mereka menjelajahi rimba belantara pedalaman pulau Hitam Papua. Suasana sunyi mencekam dalam perjalanan tanpa seberkas cahaya pun menerangi langkah mereka. Seringkali kaki mereka tersandung akar-akar pohon yang melintang atau terperosok ke dalam lobang yang sudah tertutup humus daun-daun kering.

Berkilo-kilo meter jalan setapak dan hutan belantara yang telah mereka lewati. Perjalanan yang sangat melelahkan, lapar pun mulai menghantui perutnya. Mata Parmin menjelajah ke atas mencari buah-buahan untuk mengganjal perut dan sambil bersiap siaga terhadap serangan mendadak atau sergapan binatang buas, menjadi santapan segar suku pemakan daging manusia kalau mereka lengah.

Separoh perjalanan sudah terlewati. Mereka berdua tidak tidur, karena memang kesempatan untuk beristirahat tidak ada. Di samping itu pula tempat yang aman untuk pelepasan lelah kurang memungkinkan. Suhu udara semakin dingin mencekam sampai tembus ke tulang sumsum. Sinar rembulan dari kejauhan mulai menipis, lambat laun bergeser ke belahan bumi bagian Timur. Suara-suara binatang hutan pun mulai terdengar kembali pertanda hari mulai pagi. Pagi subuh itu Parmin mengajak Awom beristi-

rahat dan mencari air untuk men-cuci muka dan berwudhu. Tetapi setelah menjelajahi seluruh hutan di sekitarnya, mereka tak menemukan air. Akhirnya mereka kembali lagi ke tempat semula, tempat yang agak memadai untuk menunaikan Sholat Shubuh.

Panglima suku duduk di samping pohon besar kemudian Parmin mencari embun yang membasahi dedaunan untuk digunakannya sebagai air wudhu. Dia berdiri menghadap suatu arah yang ia yakini sebagai kiblat. Seraya mengangkat kedua tangannya sambil berucap "Allahu Akbar...!", Parmin mulai melakukan Takbir.

Awom memperhatikan setiap gerakan Parmin. Ia heran dan bertanya-tanya dalam hati. Dalam hatinya ingin rasanya ia bertanya apa yang sedang dilakukan Parmin. Dari berdiri, mengangkat kedua tangan, berjongkok, duduk lalu berdiri lagi terakhir tengok kanan kiri serta mengusap muka dengan kedua telapak tangannya,

Setelah menyelesaikan suatu rangkaian gerakan yang mengherankan bagi Awom, Parmin berdiri menghampiri orang berkulit hitam yang sudah menjadi sahabatnya itu sambil berkata,

"Kau tentu heran dengan apa yang baru kukerjakan tadi... Jika kau menyembah arwah nenek moyangmu, maka aku menyembah Tuhan yang menciptakan seluruh alam dan isinya, yang juga termasuk menciptakan nenek moyangmu," Parmin berusaha memberi keterangan dan pengertian panglima suku itu. Namun demikian panglima suku masih keheranan, bahkan ia bertanya lebih jauh lagi dengan bahasa isyarat perihal Tuhan yang disebut-sebut Parmin sebagai penguasa jagad dan isinya.

"Apakah Tuhannya lebih tinggi dari apa yang selama ini mereka sembah?"

"Ya, tentu saja Tuhan pencipta alam ini, lebih tinggi dari kekuatan nenek moyangmu atau dewa-dewa sekalipun! Dia jauh lebih tinggi...! Baiklah, kelak lambat laun kau akan mengerti! Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan," jelas Parmin sambil mengajak Awom untuk melanjutkan perjalanan.

Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di tengah hutan belantara. Ribuan pohon-pohon raksasa, tanah berbatu serta sungai-sungai kecil mereka lewati. Butir-butir keringat telah membasahi seluruh tubuh mereka. Akhirnya ketika matahari mulai meninggi, mereka sampai ke sebuah dataran yang indah. Mereka melangkah ke arah batu besar yang terletak persis di tepi bukit. Di atas batu besar itu Parmin dan Awom melihat-lihat pemandangan yang sangat menyegarkan mata. Bukit-bukit tinggi yang ditumbuhi pepohonan serta hamparan rumput ilalang, laksana gelaran permadani menambah suasana menjadi semakin bertambah asri.

"Indah sekali lembah ini! Pernahkah kau ke sini?" tanya Parmin.

Panglima suku Kaimana tak menjawab sepatah katapun, ia hanya mengangguk sambil tersenyum bangga dengan apa yang dimiliki negerinya. Setelah beberapa saat melihat keindahan perbukitan itu, tibatiba Awom menunjuk ke arah gunung yang menjulang tinggi dengan puncaknya yang diselimuti sesuatu berwarna putih kemilau. Ia kemudian memberi penjelasan kepada Parmin dengan bahasa isyarat.

"Oh, puncak gunung itu kalian nama-kan tempat bersemayamnya arwah-arwah nenek moyang? Dan warna putih menyilaukan di puncaknya itu kalian anggap sebagai istana dewa-dewa?" tanya Jaka Sembung dengan hati-hati jangan sampai teman barunya itu tersinggung. Parmin tersenyum dan berkata dalam hati...

"Hm, sebenarnya hanya salju yang menutupi puncak gunung itu. Karena begitu tingginya gununggunung di sini, maka salju itu tak pernah meleleh. Salju abadi."

Setelah menyaksikan beberapa keindahan dan keanehan di sekitar kaki gunung yang berselimut salju tebal tadi, Parmin dan Awom melanjutkan perjalanan.

Menjelang tengah hari Jaka Sembung dan Panglima suku memasuki suatu lembah. Perjalanan mereka sudah cukup jauh dari Kaimana tempat yang mereka tinggalkan. Selama di perjalanan mereka saling belajar bahasa masing-masing sambil mencari buahbuahan apa saja yang dapat dimakan untuk mengganjal perut yang beberapa hari belum terisi.

"Kau bilang sudah dekat? Baiklah, kita beristirahat sejenak."

Belum lagi mereka sempat merebahkan tubuh, tiba-tiba Parmin menangkap gerakan halus dari atas pohon yang berada di hadapannya. Lalu apa yang terjadi? Secepat kilat Jaka Sembung mendorong tubuh Awom ke samping sehingga luput dari sasaran.

"Awas!!! Hiyaaaat!!!" teriak Parmin dan tubuh Awom berguling.

Parmin berusaha sekuat daya untuk menghindari serbuan jarum-jarum yang mengancam. Bukanlah si Jaka Sembung bila dia tidak bisa menguasai keadaan seperti itu. Dengan ketangkasan luar biasa, melalui keahlian menangkis senjata rahasia yang dimilikinya, ia mengembalikan senjata-senjata kecil tadi. Seketika itu pula rontoklah beberapa tubuh cebol dari atas pohon termakan oleh senjatanya sendiri yang ternyata berupa paser-paser beracun yang dilontarkan dengan sumpitan itu.

"Kedebuk! Gusrak!" Laksana durian jatuh. "Inikah yang kau maksud dengan suku Papua

kerdil itu?" tanya Parmin kepada panglima suku.

Belum sempat pertanyaan itu terjawab mendadak tubuh kecil lain dari arah yang tidak terduga menyerang dengan gesitnya. Tak dapat dipungkiri lagi pertarungan yang tak seimbang segera terjadi.

Tidak kurang dari dua puluh orang cebol menyerang Parmin dan Awom. Mereka tak memberi kesempatan pada keduanya mengatur nafas barang sejenak.

Bagaikan binatang yang ganas dan kelaparan mereka menerjang dan menerkam dua orang pendatang itu. Ada yang menggigit, mencekik dan ada pula yang mencakar bagian tubuh Parmin, sehingga baju yang dipakainya terkoyak.

"Tubuh mereka kecil-kecil, tetapi Masya Allah gerakannya lebih tangkas dari monyet..., kita bisa celaka dikeroyok suku kerdil yang ganas ini!"

Parmin tak tinggal diam, dan tak mau ambil resiko. Ia segera mengerahkan tenaga dalamnya, disertai teriakan laksana binatang buas Jaka Sembung mengkibaskan tangan ke depan sehingga manusia-manusia mini itu berpentalan ke segala penjuru.

"Ayo maju lagi!" seru Parmin dengan sinar mata beringas dan mengancam.

Dengan kejadian yang baru saja mereka alami, orang-orang kerdil itu nampak ketakutan. Langsung saja mereka ambil langkah seribu pontang-panting melintasi semak belukar meninggalkan Jaka Sembung dan Awom.

"Mereka lari! Ayo kita kejar terus, sampai kita tahu di mana tempat persembunyian mereka," ujar Parmin.

Belum lagi jauh Parmin dan panglima suku mengejar, salah seorang dari gerombolan orang kerdil itu mengambil sesuatu dari semak-semak pohon diikuti oleh kawan-kawannya.

"Lihat! Mereka mengambil apa dari balik semak-semak?" teriak Jaka Sembung. "Oh, mereka menuangkan cairan kental dari guci-guci itu! Apakah itu?"

Belum sempat Parmin berbuat sesuatu cairan itu sudah membanjiri tanah yang berada di hadapannya. Tak ayal lagi begitu Parmin dan Awom menginjak cairan itu, mereka tergelincir jatuh!

"Ah, licin!!" keluh Parmin kesal.

Sementara Parmin dan Awom bergulat dengan cairan tersebut, kesempatan itu tak disia-siakan oleh gerombolan manusia kate untuk lari jauh dari kejaran mereka. Dengan hati dongkol namun kagum Parmin berdesis, "Mereka cukup pintar untuk menghalangi kita!"

Dalam kesempatan itu panglima suku Kaimana berusaha menjelaskan cairan apa dan terbuat dari apa. Karena dia belum dapat menggunakan bahasa Melayu dengan baik, maka ia campur adukkan penjelasannya dengan bahasa isyarat.

"Minyak ini terbuat dari getah pohon-pohon

opak!"

Sambil mengangguk tanda mengerti Parmin

mengalihkan pandangannya ke arah guci-guci itu "Aha, mereka meninggalkan guci-guci itu, salah satu di antaranya masih berisi cairan itu. Aku yakin minyak ajaib ini berguna buatku."

"Untuk apa?" tanya Awom.

"Nanti kau akan tahu gunanya...!"

Setelah mengambil guci itu, kemudian Parmin mencelupkan kedua tangannya yang masih terbelenggu rantai besi sampai sebatas pergelangan. Apa yang dilakukan Parmin? Ternyata ia menggunakan minyak itu sebagai bahan pelumas untuk melepas-kan belenggu besinya. Ia mengerutkan jari jemarinya dan pelanpelan ia mengurut gelang besi yang sudah dilumuri minyak yang sangat licin itu. Maka beberapa saat kemudian lepaslah besi sial yang selama ini membuatnya repot. "Nah, sekarang lega rasanya! Cukup lama belenggu ini membatasi gerakanku... Sekarang mari kita lanjut-kan perjalanan kita! Kita ikuti saja jejak orang kate itu!"

*** 4

Setelah merasa tak ada lagi yang mengganggu gerakannya, Parmin dan Awom melanjutkan perjalanannya. Berhari-hari mereka telah menempuh perjalanan. Siang dan malam tanpa mengenal lelah. Dengan menelusuri lembah ngarai serta hutan belantara yang belum terjamah manusia. Se-lama itu panglima suku pun tak henti-hentinya memberi penjelasan mengenai berbagai hal yang belum diketahui Parmin, agar pendekar muda itu lebih hati-hati.

Dari Kaimana yang terletak di teluk Etna, kini mereka telah sampai di pinggiran Danau Jamur di kaki pegunungan puncak Jayawijaya. Sepanjang perjalanan, sebagaimana biasa kedua insan itu terus menerus saling belajar bahasa masing-masing. Parmin sudah sedikit lancar bahasa suku Kaimana. Mereka melewati bukit-bukit yang menjulang tinggi, terhias hamparan pohon yang hijau dan tidak ketinggalan burungburung yang indah yang hanya dimiliki oleh pulau Papua, antara lain burung Cendrawasih yang terkenal itu. Ketika Parmin menengadah ke atas dan melihat seekor hewan yang sangat indah dipandang mata, ia bertanya pada teman seperjalanannya itu. "Burung apakah itu? Bulunya indah sekali!"

"Suku kami menyebutnya burung surga," jelas Awom sambil tersenyum bangga.

Parmin coba lebih mendekat untuk menikmati keindahan burung itu sambil membunyikan jari jemarinya dan bersiul. Burung itu menyambut sapaan Parmin dengan membentangkan sayapnya yang berbulu indah, berwarna warni. Jaka Sembung begitu kagum melihatnya dan dalam hati ia memuji kebesaran nama Sang Maha Pencipta. Diam-diam pula ia merasa bangga bahwa sebenarnya kepulauan di kawasan Nusantara ini memiliki kekayaan yang sangat berlimpah, baik hasil bumi, rempah-rempah maupun flora dan faunanya. Seperti kata Awom tentang nama burung itu, benarlah bahwa tanah air tercinta ini bagaikan surga yang terbentang di katulistiwa sehingga dambaan bangsa-bangsa lain untuk menguasai dan memilikinya. Terbukti dengan adanya bangsa Belanda yang sedang menjajah negerinya.

Tak seberapa jauh dari hutan itu nampaklah danau yang dikelilingi bukit-bukit yang menjulang tinggi serta pohon-pohon pinus yang berderet-deret.

"Inilah Danau Jamur! Tempat tinggal suku Papua kerdil itu, ada di sebelah sana," Awom memberitahu Parmin sambil menunjuk ke arah pinggiran Danau Jamur sebelah Selatan.

"Kau katakan tempat mereka dekat, tapi astaga! Sudah berapa hari kita menempuh perjalanan ini?" ucap Parmin yang baru sadar dengan apa yang telah mereka tempuh selama ini.

Setelah sekian lama menyusuri pinggiran Danau Jamur, sampailah mereka pada sebuah tempat yang ditumbuhi pohon-pohon raksasa. Sambil mengendap-endap di balik pepohonan, Parmin membuka matanya lebar-lebar untuk mengamati segala penjuru dan tak lupa bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

"Awom! Coba kau lihat! Apakah itu?" tanya Parmin kepada panglima suku dengan keheranan.

"Nah, itulah perkampungan suku Papua kerdil!" jawab Awom.

Parmin melihat pemandangan yang cukup aneh. Tampaklah pada cabang-cabang pohon itu bergantungan benda-benda besar seperti sarang lebah. Yang tak lain adalah rumah-rumah tempat suku kerdil bermukim. "Mereka memanjat dengan tang-kasnya seperti kera. Mereka adalah suku perusuh yang paling ditakuti oleh suku-suku lain," jelas Awom lebih jauh.

Belum lagi sempat memahami apa yang dijelaskan Awom tiba-tiba Parmin terbelalak melihat sesosok manusia yang bertopeng tengkorak dengan surai ijuk dan berjubah sedang berdiri di bawah pohon-pohon raksasa itu.

"Apakah tidak salah penglihatanku...? Ternyata yang berada di sana itu adalah orang yang telah membokong kita di halaman rumah kepala suku mu," ujar Parmin kepada Awom. Awom mengangguk dengan gigi gemeretak karana geram.

Parmin berusaha tenang sambil memperhatikan apa yang sedang diperbuat orang misterius itu di perkampungan suku kerdil ini.

Dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain, orang berjubah dan bertopeng seram itu berteriak sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Tak lama kemudian dari dalam sarang tawon raksasa itu, serentak keluar tubuh-tubuh kecil bergelayutan ke bawah. Kemudian dengan cepat mereka membentuk barisan mengelilingi manusia bertopeng itu.

Suasana hening sejenak, lalu tiba-tiba dengan bahasa suku Papua kerdil, orang itu menunjuknunjuk ke suatu arah. Dengan serentak mereka berlarian menuju tempat yang ditunjuk. Tak lama kemudian mereka kembali membawa sesosok tubuh molek yang meronta-ronta dalam usungan mereka.

"Lepaskan aku!! Kau mau bawa ke mana diriku?" teriak si tubuh molek yang ternyata seorang gadis berkulit putih dan berambut pirang. Namun teriakan itu tak mereka perdulikan.

Beberapa saat kemudian orang itu memerintahkan orang-orang suku cebol membawa gadis bule ke sebuah balai-balai yang terbuat dari bambu yang memang telah disiapkan di tengah-tengah halaman.

Gadis itu direbahkannya perlahan-lahan di atas balai dengan tangan terikat ke belakang. Sang makhluk menyeramkan itu kemudian menghampiri tubuh menggiurkan dengan pakaian teramat minim tersebut. Orang itu memperhatikan sosok tubuh yang indah mulus di hadapannya sambil beberapa kali menelan ludah diiringi tatapan mata penuh nafsu birahi. Tubuh itu diraba-raba dari atas sampai bawah, dari pipi, leher sampai dada. Berhenti sejenak dan menyingkap penutup buah dada yang besar mengencang itu. Diremasnya perlahan-lahan membuat sang gadis bule terus meronta dan akhirnya dia memaki sambil menyemprotkan air ludah ke wajah bertopeng seram itu.

"Lepaskan jahanam!!!" "Cuihhh!!! Manusia busuk!!"

Betapa kaget dan marahnya orang itu, dengan cepat dia meninggalkan tubuh molek itu menggeliatgeliat dan meronta-ronta berusaha melepaskan tali ikatannya. Namun usahanya itu sia-sia, ikatan itu terlalu kuat buat seorang gadis seperti dia.

Parmin yang sejak tadi mengintai dari kejauhan, terkejut setelah melihat pemandangan itu.

"Astaga! Itu adalah kepala suku mu, Awom! Dia dalam bahaya!" bisik Jaka Sembung kepada Awom agar suaranya tak ter-dengar oleh orang-orang kerdil di depan-nya.

Jaka Sembung mulai memutar otaknya guna mencari akal. Tak lama kemudian, dia berbisik lagi kepada Awom untuk memberi tahu bagaimana cara menyelamatkan gadis bule itu.

"Ssst! Kerjakanlah menurut petunjukku Awom!" "Ya, baik!" Awom menjawab sebagai tanda setu-

ju dengan maksud Parmin. Seketika itu juga keduanya berpencar untuk mencari tempat untuk memulai rencana mereka.

Tubuh molek berwajah cantik itu kini tak berdaya terlentang di atas balai sambil menanti apa yang akan diperbuat suku kerdil itu terhadap dirinya. Sementara itu orang-orang kerdil yang mengelilinginya kini sedang sibuk menumpuk kayu bakar dan ditempatkan di balai bambu tersebut.

Manusia misterius itu tiba-tiba berteriak, "Ambil minyak! Lalu siramkan ke tumpukan

kayu itu!"

Secepat kilat orang-orang kerdil itu berlompatan untuk masing-masing mengambil guci yang berisikan minyak dan mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.

Setelah beres semuanya orang bertopeng itu mengambil sebuah obor yang sedang dipegang oleh salah seorang suku kerdil, lalu ia lemparkan ke bawah balai-balai bambu di mana tumpukan kayu sudah siap untuk dibakar.

Kepala suku Kaimana tak dapat berbuat apaapa. Karena tubuhnya terikat kuat-kuat pada balaibalai bambu yang kini mulai terbakar. Gadis itu putus asa dan berdo'a sambil memanggil nama ayahnya. "Ayah!! Ayah!! Di manakah kau berada, ayah? Apakah kita harus berpisah untuk selama-lamanya, oh Tuhan tolonglah hambaMu! Aku tidak mau mati sebelum bertemu dengan ayahku!"

Api sudah mulai menjalar dan makhluk kecil itu berjingkrakan sambil meneriakkan kata-kata sakral menurut kepercayaan mereka. Seakan mereka bangga dengan apa yang akan mereka persembahkan kepada arwah-arwah nenek moyangnya.

Dari semak belukar Parmin tak punya pilihan selain harus cepat bertindak. "Aku harus segera bertindak sebelum api itu menjilat tubuh gadis kulit putih itu!"

Dengan nekad Parmin berkelebat menuju tempat upacara itu. Tapi sayang, sebelum ia sampai ke arah tujuan, tiba-tiba makhluk misterius itu menyambut tubuh Parmin yang sedang melayang dengan sebuah tendangan yang telak mengenai dadanya. Tak ayal lagi tubuh Parmin terjerembab ke atas balai yang mulai dijilat api.

Api mengelegak seakan marah dan ingin melahap korbannya. Tapi Parmin bukanlah pendekar sembarangan. Dia dapat bertindak cepat dalam situasi gawat sekalipun. Maka dengan sebuah hentakan, ia bangkit dan langsung meraih tubuh gadis itu menjauhi balai-balai bambu yang ham-pir roboh karena dilahap si jago merah.

"Cepat anda berguling ke dalam belukar! Awom akan melindungi anda di sana!"

Tetapi saat itu sang gadis melihat nyala api yang membakar baju Parmin. "Aww!! Baju anda terbakar," teriaknya.

Tapi sebelum Jaka Sembung berbuat sesuatu, mendadak dadanya digedor oleh tendangan keras yang menerjangnya. Parmin merintih menahan sakit di dadanya dan darah segarpun keluar dari mulutnya, sedangkan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.

Dengan sekuat tenaga Parmin menerjang sambil menggaet kaki lawan hingga terjungkal terperosok ke semak-semak belukar. Kesempatan yang sedetik itu ia gunakan untuk melucuti bajunya yang sudah terbakar dan siap memasang kuda-kuda untuk menyambut serangan lawan berikutnya.

Saat itu gadis kulit putih pun terancam bahaya. Tiga orang kerdil datang menyergapnya. Betapa kagetnya sang gadis. Tapi beruntung baju yang berkobar api yang dilepaskan Parmin, tanpa sengaja berhasil menolongnya. Tiga tubuh cebol itu terberangus oleh urukan baju tersebut, dan si gadis pun lari mencari tempat berlindung.

Sementara itu lawan yang bertopeng seram yang terjungkal kini sudah bangun kembali dengan menggeram siap menerjang dengan seluruh tenaganya bertumpu pada tangannya yang berbentuk cakar singa.

"Celaka! Ia bersiap-siap hendak melancarkan pukulan yang menghanguskan itu?" gumam Jaka Sembung dalam hati dengan cemas.

Namun tiba-tiba lawan yang misterius itu terpaksa menunda pukulannya karena sebuah rumah mirip sarang laba-laba raksasa mendadak dengan deras jatuh ke arahnya. Pada detik kritis itu si topeng seram menyambut benda besar itu dengan sebuah pukulan dahsyat.

"Hyaaaaaat...!"

Tak ayal lagi hancurlah rumah-rumah itu berkeping-keping. Bersama rumah yang hancur berantakan, melayang jatuh sebuah benda berbentuk cakar. Saat itu pula Parmin terkejut.

"Hah?! Tangannya copot?"

Tapi orang seram itu menubruk benda yang masih melayang di udara dengan gerakan laksana seekor tupai. Kemudian dengan sebuah loncatan lagi dia kabur ke dalam semak belukar dan menghilang di sana.

"Heh! Dia menghindar lagi! Agaknya ia sengaja mengulur-ulur waktu," umpat Jaka Sembung.

*** 5

Baru saja manusia bertopeng yang memimpin suku kerdil itu pergi, dari arah belakang Parmin puluhan orang suku kerdil menyerang dengan tombaktombak mereka. Namun demikian mereka bukan lawan tanding Parmin. Sekali hentak, puluhan manusia kerdil itu beterbangan laksana kapas ditiup angin. Kendati pun demikian mereka tidak jera, bahkan bangun kembali untuk menyerang. Kali ini mereka menyerang serentak dengan tangan-tangan yang saling bergandengan seperti anyaman pagar.

"Gila! Mereka benar-benar makhluk kecil yang ulet," pikir Parmin.

Usaha mereka tetap sia-sia. Tubuh-tubuh berderet itu kembali terpelanting seperti serentetan bunga rampai. Kali ini tubuh itu terpental menjadi santapan kobaran api, yang sudah bergelagak menelan balai bambu tadi. Seperti kata pepatah hilang satu tumbuh seribu, kini yang lain datang lagi menyerang dari arah belakang.

Dari arah yang berlawanan datang pula segerombolan dari mereka, namun belum sempat menyerang tiba-tiba malaikat penolong datang dengan memutuskan tali-tali pengikat rumah yang banyak bergelantungan di dahan pohon-pohon besar itu. Rumahrumah yang berjatuhan itu berhasil mengacaukan mereka. Ternyata itu adalah ulah Awom sang panglima suku.

Kesempatan demikian tak disia-siakan Parmin untuk melepaskan sang gadis kulit putih itu dari tali yang masih membelenggu tangannya. "Cepat kita lari, nona!" ajak Parmin.

Tetapi sebelum melangkah, sekonyong-konyong Parmin membuka kain sarung yang dipakainya, dan menyuruh gadis bule itu menggunakan kain tersebut untuk menutupi tubuhnya yang nyaris bugil itu.

"Maaf, keindahan tubuhmu itu akan mengganggu pikiranku, nona."

Baru saja gadis bermata biru itu akan mengenakan kain sarung yang biasa digunakan Parmin untuk Sholat, mendadak terdengar suitan yang datang dari salah seorang suku cebol. Entah apa yang terjadi seketika itu pula terdengar suara gemuruh datang dari balik semak belukar. Membuat Parmin terperangah.

"Hah! Suara apakah itu dari dalam hutan?" Ternyata suara itu adalah suara pasukan kava-

leri suku kerdil yang terdiri dari penunggangpenunggang burung Kasuari. Pasukan burung Onta itu datang sebagai bala bantuan.

Betapa kagetnya Parmin melihat se-rombongan laskar pengendara burung ganas itu. Parmin si Jaka Sembung mau tak mau harus melindungi kepala suku Kaimana dengan menerjang seluruh pasukan itu sekuat kemampuannya. Tapi tak urung gadis bule itu mendadak diserang oleh salah seekor burung. Untung saja Parmin bertindak cepat dan langsung menghajar burung itu tepat di batang lehernya, membuat si gadis berkulit putih itu lepas dari cengkeramannya. Parmin segera menggendong tubuhnya sambil berkata: "Pegang aku kuat-kuat, nona! Kita harus segera lari dari sini!!"

Bagaikan sebuah barisan yang rapat, burung itu mengurung Parmin dari segala penjuru. Pada saat yang sulit itu Awom berusaha membantu Parmin dan kepala sukunya. Dari atas pohon Awom menghajar salah seorang dari mereka dengan tombak. Sayangnya tombak yang ada hanya satu-satunya. Namun demikian Awom tak kehabisan akal. Sampailah pikirannya untuk menggunakan ranting-ranting pohon di sekitarnya.

Laksana anak panah yang melesat dari busurnya, patahan ranting-ranting itu menembus tubuhtubuh cebol. Burung-burung ganas itu pun tak dapat mengelak dari serbuan ranting-ranting pohon yang digunakan Awom.

Parmin tak mau membuang-buang kesempatan untuk lolos dari serbuan binatang-binatang ganas dan liar itu. Dengan sekuat tenaga ia terus berlari sambil menggendong gadis bule tersebut. Sementara itu luka bekas tendangan makhluk berjubah dan bertopeng tengkorak tadi mulai terasa sakitnya, membuat nafas Parmin menjadi sesak. Sambil terengah-engah Jaka Sembung terus berlari, sedangkan pasukan kavaleri yang masih tersisa terus memburunya.

"Mereka mengejar kita!" teriak kepala suku Kaimana dengan cemas. Pasukan hampir mendekat, mereka memburu Parmin dengan kecepatan penuh. Karena beban yang ia gendong dan pernafasannya yang mulai sesak itulah, Parmin dengan mudah dapat dikejar.

Awom yang saat itu masih berada di atas pohon sempat melihat kesulitan yang dialami Parmin. Dia berusaha turun untuk membantu meringankan beban dengan mengambil alih gendongannya. Laksana monyet yang turun dari atas pohon, Awom bergelayutan pada akar pohon untuk mencapai tempat di mana Parmin berada.

"Berikan kepala suku padaku! Aku masih punya banyak tenaga," pintanya kepada Jaka Sembung.

Belum lagi terjadi timbang terima, tiba-tiba bahaya lain yang tak kalah gilanya menghadang mereka dari depan. Ternyata yang datang itu serombongan babi hutan yang sangat buas menuju ke arahnya. Taringtaring yang runcing dari binatang itu cukup membuat orang bergidik melihatnya.

Karena dari dua arah yang berlawanan bahaya mengepung, Parmin, Awom dan gadis bule itu terjepit. Kepala suku Kaimana itu cemas, namun Parmin berusaha sedapat mungkin menghibur hatinya. "Aww!! Bagaimana kita kini!"

"Tenanglah! Kita pasti selamat dan dapat keluar dari bahaya ini! Bismillah...." Disusul dengan teriakan keras Parmin mengajak Awom untuk melompati barisan celeng-celeng yang menyerbu. "Loncat Awom!! Hiyaaaaat!!" Bagaikan mendapat suatu dorongan tenaga baru Parmin dan Awom meloncati gerombolan babi hutan itu. Maka apa yang terjadi sesudahnya adalah suatu tubrukan masal antara gerombolan babi hutan dan laskar burung Onta. Hukum rimba benarbenar berlaku di sini, siapa yang kuat mereka yang menang. Korban pun berjatuhan. Tak sedikit dari orang-orang kerdil itu habis tergilas oleh babi hutan.

Amanlah sudah bagi Jaka Sembung dan kawan-kawannya. Mereka benar-benar dapat menarik nafas lega.

Di tempat yang jauh dari keganasan penghuni hutan belantara, Parmin mengajak mereka beristirahat. Di tepi Danau Jamur itu mereka merebahkan diri dengan terengah-engah.

"Kita berhenti dulu di sini, Awom!! Nafasku terasa sesak dan mau putus!!"

"Uuuh, sungguh mengerikan," keluh gadis bule

itu.

Nafas mereka laksana tersekat di tenggorokan

dan keringat jatuh bercucuran. Seluruh sendi tubuh terasa lemas. "Tuhan telah menyelamatkan kita, saudara Parmin! Untunglah benda ini selalu berada dalam genggamanku!" gadis itu berkata sambil mengeluarkan sesuatu dari balik rambutnya yang pirang itu.

"Apakah itu...?" balas Parmin.

"Salib suci! Yang selalu mengusir anasir-anasir jahat yang selalu mengancam jiwaku di pulau Hitam ini."

"Kau tampak terluka... Dadamu sakit?"

Sambil berdiri dan menuju ke pinggir Danau Jamur, Parmin berkata: "Tak apa-apa nona! Aku akan berusaha untuk pulih kembali."

Gadis bule dan panglima suku bingung dengan sikap Parmin yang tenang seakan tak terjadi apa-apa terhadap dirinya.

Setelah menuruni tepi danau, Parmin langsung membasahi mukanya dengan air itu. Jaka Sembung mengangkat tangannya untuk berkonsentrasi, lalu perlahan-lahan ia memejamkan kedua matanya dengan mengucapkan kalimat do'a di dalam hati.

"Bismillahir Rahmanir Rahim, atas kekuasaan ya Allah berikanlah kepadaku kesembuhan melalui kekuatan dalam tubuh-ku "

Setelah berucap dalam hati Parmin mulai memusatkan tenaga dalamnya ke arah dadanya sendiri. Inilah jurus 'Hening Cipta' sebuah jurus yang mengutamakan konsentrasi diri untuk penyembuhan. Si gadis pun terpukau melihat kehebatan Jaka Sembung. Diam-diam dia memuji kehebatan pendekar muda itu.

"Memang banyak sekali keajaiban yang kutemui di belahan dunia sebelah Timur ini."

Beberapa saat Parmin mengheningkan cipta. Setelah ia merasakan tubuhnya normal kembali, sedikit demi sedikit ia membuka kedua matanya sambil mengucap: "Al-Hamdulillah " Dengan gembira gadis berambut pirang itu menghampiri Parmin yang sudah segar kembali. Dengan pancaran mata yang ceria gadis itu menyapa Parmin.

"Anda tampak segar kembali! Sungguh menakjubkan!"

"Tak usah heran nona! Cuma pengobatan tradisionil! Bangsa kami memang belum mengenal cara penyembuhan seperti bangsa-bangsa barat! Oleh karena itu kami hanya dapat menggunakan cara ini!"

"Tubuh manusia adalah bentuk kecil dari alam semesta ini, hampir semua zat-zat yang ada dalam alam terdapat pula dalam tubuh kita. Dengan latihanlatihan tertentu kita bisa mengerahkan zat-zat dalam tubuh kita sendiri untuk menolak zat-zat yang akan merusak tubuh," Parmin berusaha menjelaskan kepada kepala suku Kaimana itu agar ia dapat memahami secara rasional.

Untuk sementara kita tinggalkan dulu mereka yang sedang bercakap. Kita ikuti ke mana larinya manusia bertopeng seram yang selama ini telah bertindak sebagai kepala suku Papua kerdil itu.

Dari kejauhan nampak sosok bayangan tubuh tersebut lari tungang-langgang dan terhuyung-huyung, kelihatannya dia terluka dalam.

Sosok bayangan itu tak lain adalah kepala suku Papua kerdil. Dengan sangat kesal dia memaki dirinya sendiri,

"Gagal lagi...! Saatnya memang belum tepat, aku terlalu terburu-buru! Luka-luka dalam tubuhku belum sembuh betul, inilah yang menghalangi gerakanku!"

Sambil terus memaki dirinya, kepala suku Papua kerdil itu meneruskan perjalanannya menembus semak belukar. Namun pada suatu saat di bawah pohon yang rindang, ia merasakan nafasnya sesak dan seketika itu juga darah beku berwarna hitam kental keluar dari mulutnya.

"Darah! Lukaku berdarah lagi! Mungkin karena aku terlalu banyak bergerak dan mengeluarkan tenaga, tapi aku penasaran kalau belum mengenyahkan dia!" Cakar singanya menghantam tanah sebagai pelampiasan.

Kita kembali lagi pada Parmin. Gadis kulit putih itu sedang menceritakan riwayatnya.

"Aku bersama ayahku Van Boerman dan pendeta Jorgen mengemban tugas missionari dari Gereja Katholik untuk daerah Timur Jauh!"

"Kami bertolak dari negeri Belanda pada awal musim semi menyusuri pantai Selatan Eropa, Timur Tengah, menuju tujuan perjalanan kami yaitu Nusantara. Ayahku bekerja pada biro perjalanan untuk misi Gereja, dan hampir seluruh waktunya ia baktikan kepada kegiatan penyebaran ajaran-ajaran Yesus Kristus. Sampai di Batavia, Pemerintah Kompeni Belanda menugaskan kami untuk melanjutkan misi ke pulaupulau bagian Timur Nusantara ini yang penduduknya rata-rata masih primitif dan kanibalis. Apapun yang akan terjadi aku sudah membulatkan tekad untuk turut serta walau bahaya mengancam jiwa sekalipun."

"Aku mencintai tugas suci dan mulia itu. Karena Yesus Kristus juru selamat bagi seluruh umat manusia. Dengan kasih sayangNya Ia mencari dan menyelamatkan domba-domba sesat menuju jalan terang!"

"Tetapi untuk menempuh jalan Tuhan memang sangat berat. Berbagai rintangan selalu merintangi dan menghadang. Kami harus menghadapi perompakperompak laut yang ganas di perairan pulau Celebes dan Halmahera. Berkat lindungan Tuhan serdaduserdadu pengawal kami selalu berhasil menyikat habis setiap rintangan itu. Namun dari semua yang paling dahsyat adalah bahaya alam."

"Kapal kami tak kuasa menahan dan melawan badai yang mengamuk di sekitar laut Banda dan Arafura. Kapal kami hancur berkeping-keping. Aku tak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu, hanya Tuhan jualah yang menyelamatkan hambaNya. Di kala aku siuman, aku telah berada di pantai sebuah pulau... tapi aku seorang diri! Lalu aku bertanya dalam hati, ya Tuhan ke mana pendeta Jorgen dan ayahku? Bagaimana nasib mereka...? Setelah sekian lama aku tergolek tak sadarkan diri, ternyata kuketahui bahwa aku terdampar di Kaimana di sebuah teluk yang indah. Teluk Etna."

"Sampai akhirnya aku diketemukan oleh pribumi Pulau Papua ini dan untung sekali mereka bukan suku pemakan daging manusia. Justru mereka menganggapku sebagai manusia dari langit yang diturunkan untuk mereka dan mengangkat ku sebagai kepala suku."

"Apa mau dikata, barangkali nasibku memang demikian. Maka akupun menurut saja dengan apa yang baik menurut anggapan mereka. Mereka dombadomba sesat. Oleh karena itu harus diselamatkan."

"Suku pribumi Kaimana bukan suku Kanibalis. Tapi mereka memuja arwah nenek moyang, sejenis Animisme. Mereka memajang tengkorak-tengkorak leluhur sebagai maskot penolak bala."

"Setiap saat aku berdo'a kepada Tuhan dan berharap selalu pada suatu saat aku dapat merubah kepercayaan suku Kaimana menuju kepada ajaran Tuhan! Demikianlah riwayatku kenapa aku berada di pulau ini."

Setelah beberapa saat bercerita, gadis bule yang bernama Yulia itu melanjutkan pembicaraannya, "Aku selalu berdo'a untuk keselamatan pendeta Jorgen dan ayahku Van Boer-man!" ungkapnya.

"Saudari Yulia, sangat kuhargai perjuangan dan pengabdianmu terhadap agama. Semua agama baik. Nabi Isa adalah Rasul Allah juga. Satu di antara dua puluh lima Rasul yang diturunkan Allah untuk umat-Nya di dunia ini! Anda dapat membimbing mereka perlahan-lahan!" Jaka Sembung memberi semangat. "Akupun sangat menghargai perjuangan bang-

samu yang tertindas saudara Parmin!" timpal Yulia.

Parmin agak tercengang mendengar perkataan Yulia. Ternyata gadis ini mempunyai rasa simpati kepada bangsanya yang sedang tertindas. "Syukurlah jika anda mengerti jeritan bangsaku!" jawab Parmin sambil menatap dalam-dalam mata biru Yulia.

"Aku berbicara atas nama kemanusiaan, terlepas dari rasa kebangsaanku sebagai gadis Belanda. Aku berdo'a semoga bangsamu segera terlepas dari belenggu penjajahan!" ungkapnya sambil memandangi ketampanan Parmin. Pemuda itu tampak begitu tampan apalagi bulu-bulu halus tumbuh meremang di wajahnya yang belum sempat bercukur itu.

Setelah cukup lama mereka saling bertukar pikiran ditemani panglima suku Kaimana yang belum banyak mengerti bahasa melayu. Akhirnya mereka bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Parmin berdiri sambil berkata, "Sekarang marilah kita teruskan perjalanan! Insya Allah aku bisa membantu mencari ayahmu dan pendeta Jorgen!"

Setelah istirahat secukupnya mereka melanjutkan perjalanan ke arah Timur meninggalkan Danau Jamur.


Berhari-hari mereka meneruskan perjalanan menjelajahi pedalaman hutan Papua. Di tengah perjalanan mereka bercakap-cakap sekedar untuk menghilangkan ketegangan dan rasa jenuh selama perjalanan panjang dan melelahkan itu.

"Ke mana kita mencari?" tanya Yulia.

"Kita jumpai saja setiap suku di pulau ini. Siapa tahu ayahmu dan pendeta Jorgen ada di sana menjadi tawanan mereka!" ucap Parmin menduga-duga.

Baru saja mereka akan melanjutkan perjalanan, Yulia melihat burung Onta melintas di hadapan mereka.

"Parmin burung-burung Onta itu mengejar kita kembali!" teriak Yulia.

"Hah?!" Parmin berdesis.

Baru saja Parmin dan Awom akan bertindak, mendadak panglima suku itu melihat sesuatu keganjilan. Seraya berkata,

"Tapi itu bukan dari pasukan orang-orang kerdil! Dan lihat ada apakah itu? Asap bergulung-gulung ke udara!"

Benarlah apa kata pemuda suku Kaimana itu, terlihat kepulan asap dari arah hutan.

"Oh! Hutan terbakar!" teriak Parmin memasti-

kan.

Betul juga dugaan Parmin. Berpuluh-puluh  bi-

natang hutan berhamburan seperti terkuras dari tempat persembunyiannya masing-masing. Kasuari, Burung Cendrawasih, Babi hutan dan lain-lain bercampur aduk menjadi satu. Hanya satu tujuan mereka, yaitu menyelamatkan nyawa masing-masing dari jilatan api yang mengejar dengan cepat. Binatangbinatang itu tak memperdulikan apapun kecuali menghindar jauh-jauh dari ancaman maut yang hendak merenggut.

Laksana kiamat, api melahap hutan belantara. Angin bertiup kencang membuat api itu merambat cepat sekali. Pepohonan tumbang, rumput-rumput hangus terbakar. Saat itu udara panas sekali bagaikan di dalam neraka. Jeritan binatang-binatang hutan menimbulkan kebisingan hingga membuat panik ketiga orang itu.

Parmin, Yulia dan Awom berusaha mencari tempat berlindung sementara.

"Kita harus segera lari sebelum api sampai ke mari!" teriak Awom. Belum lagi Awom bertindak, Parmin berteriak,

"Jangan lari mengikuti arah binatang-binatang itu, Awom! Angin bertiup sangat kencang! Kita akan kalah cepat oleh api!"

"Api telah dekat sekali apa yang harus kita perbuat?!" tanya Awom kepada Parmin dengan tak sabar lagi.

"Cari tempat yang agak lowong! Kita terobos api itu!" jawab Jaka Sembung tegas.

Sebelum itu Parmin menyuruh mereka agar menggunakan daun-daunan sebagai pembungkus kaki.

"Cepat kita bungkus dulu telapak kaki kita dengan daun-daun yang segar! Cepat Awom, bantu kepala suku mu!" pinta Parmin kepada Awom.

Pemuda Papua ini cepat tanggap dan bergegas membantu kepala sukunya mengikatkan daun-daun segar sebagai alas kaki sambil mengendap-endap, mencari tempat lowong di tengah-tengah amukan api, akhirnya Parmin menemukan tempat yang di-carinya. Sebuah celah di antara kobaran api yang sedang bergolak.

"Di tempat itu lowong! Kita harus bergerak cepat Yulia, berdoalah!" ungkap Parmin sambil menunjuk ke arah yang akan mereka lewati.

"Sesaat kemudian mereka berdo'a dengan cara mereka masing-masing, Yulia segera menggenggam Rosarionya.

"Demi Bapa, Putra dan Roh Kudus... Amin" Yulia mengawali dilanjutkan oleh Awom dengan caranya sendiri, sedangkan Jaka Sembung dengan membaca, "Bismi-llah...!"

Maka dengan tekad bulat ketiga orang itu menerobos api yang berkobar-kobar dengan ganasnya. Dengan sekuat tenaga Parmin menggotong tubuh Yulia agar bisa melewati tembok api itu. Dengan sekali hentak dan diikuti Awom, mereka berhasil keluar dari neraka itu.

Teori Parmin memang benar. Di balik tembok api yang dahsyat itu terlihat membentang hamparan tanah kosong yang ter-diri dari medan abu dan arang, bekas hutan yang telah musnah. Mereka tertatih-tatih menahan hawa panas dari asap yang masih mengepul dari tanah gundul itu. Butir-butir keringat keluar dari tubuh mereka. Kulit mereka kebiru-biruan karena asap panas dan sengatan matahari yang tepat di atas ubun-ubun.

Asap mengepul hitam ke langit, cahaya matahari lenyap ditelan kepulan asap, langit pun keruh dibuatnya. Angin meniup kencang mendorong kobaran api semakin jauh di belakang mereka, sehingga ketiga orang itu terbebas dari bahaya api.

"Uu... uh! Panas! Aku tak sanggup!" keluh gadis bule itu.

Dia tak tahan dengan panasnya api, kulitnya yang putih berubah menjadi merah kebiru-biruan.

"Mari cepat! Sebentar lagi pasti kita terbebas dari hawa panas ini," hibur Parmin sambil menggendong sang gadis yang sudah tidak sabar.

Sedikit demi sedikit mereka telah cukup jauh menempuh dataran abu yang panas itu. Awom sang panglima terus mengikuti jejak-jejak Parmin dari belakang, sementara daun-daun pembungkus kaki mereka mulai mengering tertembus abu dan arang sisasisa kebakaran tersebut.

Sementara itu dari suatu tempat manusia bertopeng menyeringai puas. Pikirnya dengan membakar hutan, dia yakin ketiga orang musuhnya yang ada di dalam hutan itu pasti sudah hangus dilalap kobaran api.

"Ha., ha., ha., ha., ha! Tentu mereka sudah mampus diberengus api atau setidak-tidaknya mereka sudah tak berbentuk manusia lagi!" si topeng seram berkata dalam hati sambil mencampakkan obor bekas alat penyulut kebakaran itu.

"Angin kencang di musim kemarau ini telah membantuku untuk melampiaskan dendam."

Tapi dugaannya benar-benar meleset, karena Jaka Sembung, gadis bule atau panglima suku itu selamat, walau harus menderita luka-luka kecil.

"Kau tak apa-apa, Awom?" tanya Parmin kepada panglima suku.

"Tak apa-apa, hanya terbakar sedikit!" jawabnya singkat.

Setelah menempuh perjalanan yang menegangkan itu, Parmin mengajak mereka untuk beristirahat di tempat yang cukup teduh. Ternyata masih ada sebuah pohon yang tersisa dari amukan api karena terletak di sebuah dataran yang tinggi. Sambil merebahkan tubuh Yulia yang digendongnya itu, dia berkata kepadanya,

"Kuharap kau baik-baik juga, Yulia!" Sambil mencium Rosarionya dia menjawab, "Tuhan telah menyelamatkan kita, Parmin!" Mereka melepaskan lelah di bawah pohon tersebut sambil melucuti daun-daun pembungkus kaki mereka. Seketika Parmin dapat memastikan diri sambil melepaskan arah pandangannya ke arah kobaran api itu, seraya berkata:

"Aku yakin ini perbuatan seseorang untuk membunuh kita! Tapi sungguh keji. Untuk membunuh dan melenyapkan tiga orang saja harus membakar hutan!"

***

7

Setelah cukup istirahat, mereka kembali meneruskan perjalanan dengan niat semula mencari ayah Yulia dan pendeta Jorgen.

Di bawah teriknya sinar matahari, mereka terus melangkah. Suasana sunyi lengang terasa di tengah padang abu dan arang tersebut.

Tak seekor binatang pun menampak-kan batang hidungnya. Tak terdengar siul-an burung. Segenap penghuni hutan seakan berkabung dengan apa yang baru saja terjadi. Sengat matahari bertambah panas karena kini tidak ada lagi pohon-pohon tempat berteduh. Rasa gatal dan kering menggerogot kerongkongan. Mereka ingin segera menemukan sumber air untuk sekedar membasahi kerongkongan. Setelah berjalan cukup lama di ujung tanah gersang kerontang itu, akhirnya mereka menemukan sebuah danau.

"Anda lelah, Yulia? Baiklah kita istirahat di sini untuk melepas dahaga sambil membersihkan lukaluka!" ajak Jaka Sembung kepada kepala suku dan panglima suku Kaimana. Seakan mengerti situasi, Awom sengaja memisahkan diri dari pasangan mudamudi itu, ia merebahkan dirinya di bawah pohon raksasa yang daunnya lebat serta batangnya sebesar tiga kali pelukan manusia.

Yulia turun ke pinggiran danau dan membersihkan tubuh serta wajahnya yang telah dicorengmoreng abu dengan air danau yang jernih dan sejuk itu. Begitu juga halnya dengan Parmin.

"Biarkan kubersihkan luka-lukamu, Parmin!" pinta Yulia.

"Tak usah repot-repot, Yulia! Biarlah kulakukan sendiri!"

Dengan halus Jaka Sembung menolak, tapi Yulia bergegas menghampiri Parmin dan menggosokkan air dengan jari-jarinya yang halus ke bagian tubuh Parmin yang kotor karena abu.

"Pedih?"

"Tidak!"

Sesaat mereka berdua beradu pandang. Dengan matanya yang biru Yulia menatap Parmin. Sinar mata gadis itu seakan berusaha menembus bola mata Jaka Sembung. Di pihak lain, ditatap seperti itu Parmin menjadi rikuh juga.

"Mengapa, Yulia? Kau seperti hendak mengatakan sesuatu padaku!" tanya Parmin untuk menghilangkan rasa serba salah.

"Parmin...! Oh, aku begitu mengagumimu! Belum pernah aku menjumpai seorang laki-laki segagah dan setangkas engkau!"

"Keadaanlah yang memaksa bangsa kami untuk menjadi laki-laki tangkas dan cekatan!" ujar Parmin coba merendahkan diri.

"Ya, aku mengerti. Karena bangsamu tertindas! Tapi pada dirimu kulihat segala-galanya, Parmin! Gagah, tangkas, halus perasaanmu... Dan kulihat kau sangat taat menjalankan agamamu di saat apapun atau di mana pun!" puji kepala suku Kaimana dengan nada ketulusan.

"Ah, itu memang sudah kewajiban seorang pemeluk agama! Engkau pun setiap saat berdo'a dan ta'at kepada agamamu, bukan?"

"Kurasa kau terlalu memujiku... Kita hanya bertiga di tengah hutan belantara yang luas dan sunyi... Oleh karena itu kau tentu melihatku sebagai manusia yang paling hebat!" Parmin tetap merendahkan diri

"Tidak, Parmin...! Aku kadang-kadang merindukan seorang pria yang sanggup melindungiku dengan segala kesukaran dan keresahanku!"

Belum lagi selesai Yulia berkata. Parmin cepat memotongnya, karena Jaka Sembung melihat suatu gejala yang tidak ia inginkan dari gadis kulit putih ini.

"Maaf... Jangan kau teruskan kata-katamu, Yulia! Jangan!"

"Kau terlalu baik untukku dan bukan itu saja, kau ibarat Musafir di padang pasir yang sedang kehabisan bekal air, dan kau belum banyak menjumpai telaga!" lanjut Parmin agar Yulia mau mengerti apa yang diharapkannya. Namun kenyataannya tidak, bahkan Yulia seakan tidak mau tahu terhadap sikap Jaka Sembung.

"Oh, tidak! Aku telah banyak melihat telaga tetapi tidak sebening dan sesejuk air telagamu!"

Kata-kata Yulia laksana deburan om-bak besar yang menghantam onggokan batu karang. Namun batu karang yang satu ini keras dan begitu tegar tak tergoyahkan, maka ia berusaha menjawab dengan katakata halus dan hati-hati agar si gadis bule itu tidak merasa tersinggung. Belum selesai Parmin mengutarakan sikapnya, tiba-tiba ia melihat benda-benda kecil berkilat menukik ke arah Awom. Parmin berteriak memperingatinya.

"Awom! Awas! "

Terlambat, beberapa anak panah yang telah melesat dari busurnya itu menancap ke tanah memagari tubuh Awom dengan ketatnya, sehingga membuat panglima suku Kaimana itu tak berdaya seakan-akan tubuhnya terpatok kuat-kuat di atas tanah.

Nasib yang sama segera dialami pula oleh Parmin dan Yulia. Anak-anak panah itu bagaikan belenggu yang meringkus tubuh mereka.

Baru saja Jaka Sembung hendak bergerak, tiba-tiba dari semak belukar di sekitar mereka bermunculan sekawanan suku Papua yang masih buas dengan tombak-tombak yang mengancam. Tetapi dalam keadaan seperti itu, mendadak Parmin menghentak dengan diiringi kibasan kedua tangannya yang mencabut anak-anak panah dan sekaligus melemparkannya kembali. Anak-anak panah itu berdesing menuju tuannya masing-masing.

Mereka menjerit tertahan disusul dengan tumbangnya tubuh mereka berguguran ke bumi dan tak berkutik lagi.

Awom yang sudah terbebas dari belenggu anakanak panah itu tak tinggal diam, dengan meniru apa yang diperbuat Parmin dia berhasil menghalau, sebagian kecil pasukan penyerang itu.

"Hiyaaaaat...!" Awom begitu cepat menyerap ilmu Parmin si Jaka Sembung.

Sekali hentak lima orang suku Kanibal yang hidungnya berhias tulang belulang itu ambruk seketika. Tak ayal lagi nyawanya melayang oleh anak panah mereka sendiri.

Namun baru saja Awom dan Parmin merasa bisa bernafas, mendadak dari atas pohon beberapa orang suku pemakan daging manusia itu menjerat tubuh mereka dengan tali yang terbuat dari akar-akar pohon raksasa.

Secepat kilat tubuh Parmin dan Awom terhentak ke atas. Keduanya bergelantung-an dengan kepala di bawah. Yulia yang sejak tadi memperhatikan pertarungan kedua kawannya, juga tak lepas dari sergapan orang-orang buas dan menyeramkan itu.

Dalam waktu yang tak seberapa lama mereka sudah tertangkap sebagai tawanan.

Mereka menurunkan tubuh Parmin dan Awom yang bergelantungan itu. Lalu setelah tiba di bawah mereka segera mengikat keduanya dengan akar-akar pohon dan langsung menyeret ketiga orang itu menuju ke perkampungan mereka.

Di bawah teriknya matahari mereka diseret bagai binatang hasil buruan.

Beberapa saat setelah menelusuri hutan belantara, akhirnya mereka sampai di sebuah perkampungan. Para penduduknya bersorak ramai menyambut kedatangan para pemburunya yang telah datang dengan membawa hasil yang tak kepalang tanggung, tiga orang sekaligus.

Parmin, Yulia dan Awom segera diikat, masingmasing pada sebuah tonggak kayu yang terpancang di tengah halaman perkampungan suku primitif itu.

Hari mulai gelap, beberapa wanita penghuni perkampungan itu menyiapkan kayu bakar yang telah disediakan dan diletakkan di hadapan mereka bertiga. Yulia mulai gelisah. Dia menoleh ke arah Awom dan Parmin sambil bertanya

"Mau diapakan kita ini, Parmin?" Dengan tenang Parmin menjawab:

"Sabar saja, kita lihat apa yang akan mereka perbuat!" Kayu-kayu yang tertumpuk mulai dibakar dan perlahan-lahan api itu menjalar dan berkobar dengan mengeluarkan kepulan asap tebal.

Malam sudah lama turun, api unggun menerangi seluruh perkampungan itu. Di tengah-tengah halaman kini berlangsung upacara yang dimeriahkan oleh teriakan gegap gempita. Ada yang menari sambil mengitari api unggun yang berkobar-kobar dan ada pula yang menabuh gendang, berbaur hingga menimbulkan kebisingan.

Para wanitanya pun tak tinggal diam, mereka turut memeriahkan upacara dengan menari-nari sambil menambah tumpukan kayu yang mulai habis termakan api. Sebagian laki-laki yang lain duduk bersila membuat lingkaran di tengah halaman. Sementara itu Parmin, Yulia dan Awom terikat kuat-kuat tak berdaya.

Mendadak sorak sorai itu berhenti. Ternyata sang kepala suku kanibal berdiri mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan berpidato di hadapan warganya dengan bahasa mereka, disambut dengan sorak sorai dengan riuh rendah.

Setelah sedikit memberi ulasan, sang kepala suku duduk kembali sambil mengarahkan jari telunjuknya kepada Yulia yang terikat di tonggak upacara.

Dengan cepat dua orang yang duduk mengelilingi arena upacara itu bangkit mendekati Yulia, dan melepaskan tali belenggu pengikat tubuh gadis-itu.

Parmin bertanya dalam hati:

"Mau diapakan dia, mengapa wanita dulu?" Setelah bergumam begitu, dia menoleh ke arah

Awom seraya bertanya:

"Kau mengerti bahasa mereka, Awom?"

"Ya, sebelum dijadikan santapan, para tawanan harus menghibur mereka dulu! Kepala suku Kaimana akan diadu dengan jago-jago wanita dari suku ini!!" jelas Awom singkat.

Betul saja, diiringi sorak-sorai, muncullah di tengah gelanggang tiga wanita suku Papua kanibal dan mengurung Yulia.

Wanita bertampang beringas dengan buah dada seperti pepaya dan hanya memakai cawat dari kulit binatang itu agak-nya memang sudah dilatih untuk berkelahi dalam upacara-upacara tradisionil seperti ini.

Dengan hiasan tulang belulang di leher serta hidungnya membuat wanita-wanita itu bertambah seram dipandang. Mata Yulia begitu gugup dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Oh, Tuhan apa yang harus kuperbuat, mereka hendak merobek-robek tubuh-ku...!"

Dengan garang ketiga wanita itu menyerang Yulia, kukunya yang panjang dan runcing itu siap merobek kulit Yulia yang putih mulus.

Dalam keadaan kritis itu Parmin membisikkan kata-kata dari kejauhan.

"Jangan gugup, Yulia! Hadapi dia dengan tenang! Ketengangan akan lebih mudah mengatasi segala kesulitan."

Bagaikan diguyur seember air segar, semangat Yulia sekonyong-konyong bangkit kembali, sekarang dia telah siap untuk menghadapi serangan ketiga lawannya itu.

Yulia tak lupa berdo'a...

"Aku tidak takut karena Tuhan adalah pelindungku."

Baru saja dia mengucapkan do'a, ketiga lawannya yang ganas itu menyergap Yulia. Parmin dari kejauhan dengan cepat memberi aba-aba:

"Yulia! Lompat ke kiri dan gaet kakinya!"

Yulia mempraktekkan apa yang dikatakan Parmin, tak ayal lagi tubuh orang hitam itu terjerembab jatuh. Yulia melihat suatu kenyataan yang menggembirakan hati.

"Benar juga kata Parmin, dia jatuh tapi yang dua orang lagi bagaimana?"

Ketika Yulia mengamati lawannya yang sudah tersungkur, tiba-tiba Parmin berteriak...

"Awas, Yulia!! Ah!"

Yulia tak sempat berbuat apa-apa karena dia lengah sehingga dengan mudah tubuhnya disergap wanita suku primitif itu. Permulaan terjadi, keduanya berguling-guling. Para lelaki yang sedang asyik menonton pergumulan itu mau tak mau diam, mereka bersorak sorai memberi semangat kepada jagoan mereka.

"Ayo hajar! Gigit tengkuknya!" "Patahkan kakinya yang gurih itu!"

Yulia dihajar habis-habisan. Rambutnya dijambak kuat-kuat, sementara tubuhnya tersingkap, sehingga pahanya yang putih mulus itu semakin mengundang selera mereka untuk cepat-cepat makan daging manusia. Batang leher Yulia yang jenjang dicekik, untuk sesaat nafasnya serasa hampir putus oleh cengkraman tangan perempuan hitam itu.

Para penonton gembira melihat jago mereka hampir memenangi pertarungan. Namun Parmin tak henti-hentinya memberikan petunjuk kepada Yulia.

"Yulia! Jepit pinggangnya kuat-kuat dengan kakimu! Lalu lemparkan tubuhnya ke samping!"

Ucapan Jaka Sembung dipraktekkan lagi. Dengan sisa-sisa tenaganya Yulia menghempaskan tubuh lawan yang menindihnya itu sehingga tubuh hitam itu terpental. Namun Yulia kembali terperangah dengan apa yang dihadapi ketika tiba-tiba Parmin berteriak lagi, 

"Cepat bangkit, Yulia! Awas di belakangmu!" Terlambat... Kedua tangan hitam yang berkuku panjang itu telah bersarang di batang lehernya. Yulia berusaha berkelit untuk melepaskan cengkeraman lawan wanitanya itu. Tapi sepasang tangan wanita hitam itu bagaikan terpatri dan sulit untuk dilepaskan.

Yulia merasakan nafasnya semakin sesak. Keringat bercucuran dari tubuhnya sehingga kulit yang putih itu kini berkilat seperti pualam. Di saat-saat menegangkan itu Jaka Sembung berontak dan tali-tali pengikat tubuhnya putus seketika. Dengan teriakan yang membahana ia melompat.

Seketika itu juga orang-orang kanibal yang sedang menonton pertarungan men-jadi terperangah kaget. Namun panglima suku segera memerintahkan agar menghujani Parmin dengan senjata mereka.

Bagaikan kilat, tombak-tombak itu melesat dari tuannya. Tetapi dengan cekatan Jaka Sembung menangkis tombak-tombak itu dengan tonggak kayu yang dicabutnya. "Jep.....!Jep...!"

Kemudian tonggak kayu itu digunakan Parmin untuk menyerang orang-orang kanibal yang menghadangnya.

"Hiyaaaaaaat. "

Tubuh mereka ambruk seketika bersama tonggak kayu yang menimpanya. Dengan sigap Parmin berkelebat untuk menolong Yulia yang sedang menanti saat kematiannya.

Bagaikan binatang buas dan ganas wanita hitam itu tak mau melepaskan tubuh lawannya. Maka sebuah tendangan keras dari Parmin mendarat di tubuhnya. Dengan jerit keras, tubuh hitam itu terpental dan nyawanya pun lenyap seketika.

Parmin tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan cekatan Jaka Sembung membopong tubuh Yulia yang hampir kehabisan nafas, sambil menyarangkan kakinya kepada siapa pun yang coba-coba menghalanginya. Tak ayal lagi mereka pun ambruk berpelantingan.

Nasib baik yang menyertai Awom yang sejak tadi masih berusaha melepaskan ikatannya, tahu-tahu sebilah tombak nyasar memutuskan tali tersebut.

"Bagus!" ujarnya gembira.

Kesempatan baik itu digunakan Awom untuk menggunakan balok kayu di hadapannya untuk digunakan sebagai senjata seperti apa yang dilakukan oleh Jaka Sembung.

"Uuuh! Berat betul! Kok tidak kuat?!"

Ternyata balok yang tertancap dalam tanah itu tak berhasil diangkatnya. Di saat itu beberapa orang suku kanibal datang menyerang Awom yang masih penasaran ingin dapat mencabut balok kayu tersebut.

"Sial, tonggak ini tak bisa ku bedol...!"

Dalam pada itu serangan telah mengancam jiwanya tetapi Awom, dengan cepat membalikkan badannya menirukan gaya Jaka Sembung.

"Hiyaaaat...!"

Dengan tangan dikibaskan ke samping, kemudian kaki menerjang ke depan menghantam dada lawan yang menyerangnya. Tak ayal lagi tubuh-tubuh itu terpental jauh dari hadapan Awom untuk tak berkutik lagi selamanya.

"Heh, sekali tepuk tujuh nyawa! Hebat betul!" ucapnya bangga dalam hati.

Di saat sedang memandangi tubuh-tubuh lawannya yang telah menjadi mayat, Awom melihat sesosok bayangan berkelebat dengan bersenjatakan sebuah kapak ke arah Parmin.

"Aya, kepala suku kanibal itu hendak membokong Parmin!"

Baru saja kapak itu hendak diayunkan ke batok kepala Parmin alias Jaka Sembung, mendadak kakinya tersangkut. Betapa kagetnya kepala suku itu, ternyata yang menggaetnya adalah Awom.

Tak bisa disangkal lagi, tubuh kepala suku kanibal itu ambruk. Ketika ia berusaha bangkit, dengan cepat Awom menghantam tubuh kepala suku itu bertubi-tubi dengan tendangan geledek gaya Jaka Sembung yang berhasil ditirunya.

Kepalan tangan Awom yang keras bertubi-tubi dihujamkan ke wajah serta sikutnya bersarang telak di perut kepala suku kanibal itu.

"Nih, pukulan gaya Parmin! Tiga sekaligus. "Dan ini tendangan geledek Parmin. Hiyaaaaat!" Seketika tubuh kepala suku terhuyung-

huyung. Baru saja Awom hendak bertindak lebih jauh, ia mendengar suatu gerakan orang yang akan membokongnya dengan sebilah tombak.

"Aya, ada yang menyerangku dari belakang!"

Dengan gerakan reflek, kakinya di-ayunkan ke belakang menendang tubuh si penyerang. itu. "Gedebuk!" Tepat bersarang di perut. Orang hitam itu berteriak keras karena perutnya mulas, tubuhnya terhuyung-huyung menyebabkan tombak yang digenggamnya lepas. Dengan cepat Awom menyambar tombak yang masih melayang di udara, "Tap...!" Awom langsung menyarangkan tombak tersebut ke perut lawan. Untuk sesaat si pembokong itu berkelojotan meregang nyawa, kemudian terkulai tak berkutik lagi.

Kepala suku yang baru sadar dari pingsannya kini bangkit lagi siap menyerang Awom. Dia melompat dengan cepat laksana seekor serigala lapar sambil mengayunkan kapaknya ke batok kepala Awom. Tapi Awom berkelit dengan cepat sambil menangkis serangan lawannya dengan tombak yang baru saja digunakannya.

"Heit!" Bersamaan dengan patahnya tombak akibat hantaman kapak, Awom mengibaskan tangan kirinya sambil berteriak penuh percaya diri.

"Masuk...!"

Tak ayal lagi tubuh hitam kelam itu termakan patahan batang tombak di tangan Awom, darah menyembur dari lambungnya, dan tubuhnya terhuyunghuyung ke belakang.

Dengan gemilang Awom berhasil merobohkan sang kepala suku kanibal itu. Serentak Awom berteriak keras sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri seperti seekor gorila yang menang bertanding. Hal ini sengaja ia lakukan agar anggota suku kanibal yang tersisa menjadi ngeri kepadanya.

"Berhentiiiiiiii! Berhenti semua! Kepala suku kalian sudah mampus di tanganku!!" teriaknya dengan penuh kewibawaan.

Suasana hening sejenak, orang-orang suku kanibal yang sedang mengeroyok Parmin, seketika berbalik memandangi Awom seperti tak percaya dengan kenyataan yang terjadi.

""Kalian tak percaya?! Lihatlah ini!" Awom berteriak sambil memperlihatkan apa yang sedang dipegangnya.

Sementara Awom sedang mendemontrasikan, Parmin merebahkan tubuh Yulia dari gendongannya dan segera menolongnya memberikan pernafasan buatan. Dengan cara meniupkan udara dari mulut ke mulut, Yulia telah siuman.

"Oh...!! lenguhnya dengan lirih.

"Untunglah masih bisa tertolong!" ucap Parmin. Tapi agaknya pertolongan darurat itu telah menimbulkan kesan dan prasangka lain pada diri gadis Belanda ini, kelembutan bibir Jaka Sembung telah membuatnya melambung ke alam impian yang sudah lama ia nantikan. Oleh karena itu begitu siuman, Yulia serta merta memeluk tubuh Parmin.

"Oh! Parmin! Aku takut...!!

"Tenanglah, Yulia! Kita selamat!" Jaka Sembung berusaha melepaskan pelukan gadis jelita itu. Terasa sekali betapa getaran tubuh Yulia seakan menuntut kejantanan pemuda yang dikaguminya.

"Bagaimana mungkin kita bisa selamat dari taring-taring suku kanibal itu?!" tanya Yulia dengan tatapan mata menantang.

"Panglima perangmu itu berhasil memenggal kepala suku buas itu dan sedang meyakinkan mereka bahwa kita utusan dewa!" Benar kata Parmin, Yulia mendengar suara Awom sedang berbicara di depan rakyat itu persis seperti gaya Yulia sendiri ketika meyakinkan suku Kaimana dulu.

"Biar kulitku sama dengan kalian, aku adalah utusan dewa!!"

"Aku adalah dewa hitam! Dewa yang memerintah sekalian binatang di hutan belantara ini! Beliau yang itu," sambil menunjuk ke arah Parmin. "Adalah dewa coklat yang menguasai bumi yang berwarna coklat ini! Sedangkan yang satu lagi dewa putih yang menguasai langit dan awan putih yang bergumpalgumpal di atas sana!"

Namun agaknya mereka tidak gampang percaya dan puluhan suku kanibal telah mengurung mereka. Perhatian mereka ter-utama ditujukan kepada Awom yang diang-gap telah memperdayakan mereka.

"Kita cincang!"

"Kupingnya untukku, disambal go-reng!!" "Bikin sate!"

Mereka masing-masing berkata sekehendak perutnya dan segera menyerang Awom dengan ganasnya. Awom yang memang tak banyak berbuat banyak gelagapan dengan keroyokan orang-orang itu. "Wah! Celaka aku bisa mampus dibuatnya!!"

Nyawa Awom bagai di ujung tanduk. Di saat yang genting itu tiba-tiba Parmin si Jaka Sembung bersalto ke udara menuju tonggak kayu yang masih terpancang di tengah-tengah arena.

Dengan mengerahkan ilmu yang sangat dahsyat, dia menghajar tonggak pohon raksasa itu dengan menggunakan telapak tangan miring. "Hiyaaaaaaa!!"

Tonggak kayu yang cukup besar itu hancur berkeping-keping seperti dibelah kapak dan jatuh berserakan di hadapan mereka.

Parmin tak diam hingga di situ dan dengan menggunakan kepingan kayu itu ia mendemontrasikan kebolehannya. Maka bagaikan anak-anak panah yang melesat dari busurnya, patahan kayu itu menancap menghiasi batang-batang pohon raksasa di sekitar halaman perkampungan itu.

Suku kanibal terperanjat melihat kehebatan Parmin. Ada yang melotot seakan mau keluar biji matanya dan sebagian dari mereka ada yang menggigil karena ketakutan.

Dalam kesempatan itu Awom berkhotbah lagi walau sebenarnya ia masih merasa khawatir apakah Jaka Sembung sudah meyakinkan mereka. Tapi kecerdikan pemuda Kaimana ini sanggup menguasai keadaan. 

main!" "He, he., he., he! Apa aku kata? Jangan main-

Sambil menunjuk ke arah kepingan balok  yang menancap di batang-batang pohon besar itu dia berkata:

"Coba lihat! Batok kayu yang besar dan keras seperti itu saja bisa bobol, apalagi batok kepala kalian semua...!" "Kalian tidak percaya bahwa kami semua ini utusan dewa! Ayo kalian bersujud semua! Menyembah!!"

Bagaikan gerak sebuah ombak laut, orangorang suku primitif itu menurut apa yang diucap Awom, lalu mereka menjatuhkan diri untuk bersujud ke hadapan mereka. Pada saat itulah Yulia melihat bahwa salah seorang di antara mereka mengenakan sebuah rosario.

Suasana sunyi sejenak lalu pada saat itu Jaka Sembung menyuruh Awom untuk menanyakan sesuatu kepada suku kanibal itu.

"Awom, tanyakan kepada mereka, di mana mereka mendapatkan kalung salib itu?"

Spontan Awom bertanya kepada salah seorang yang berada di barisan paling de-pan.

"Dewa coklat berbicara dalam bahasa kahyangan, beliau bertanya di mana kalian mendapatkan kalung orang kulit putih itu!"

Sambil menunjuk ke arah bukit yang menjulang tinggi, orang itu berkata:

"Di bukit hulu sungai sebelah Timur!"

Setelah mendapat keterangan Parmin dan kawan-kawannya segera melanjutkan perjalanannya. Yulia meminta Rosario itu dari mereka dan ia segera mengenali bahwa kalung salib itu adalah milik ayahnya sendiri.

"Cepat! Kita pergi dari sini untuk menyelidiki tempat itu," ajak Yulia, Baru saja satu langkah, Awom berbalik dan berkata:

"Dewa-dewa mengampuni jiwa kalian! Kami akan segera pergi dari sini dan kalian boleh mengangkat kepala suku baru!"

"Cepat kita pergi sebelum mereka tahu kita dewa-dewa palsu, Awom!" teriak Parmin memberi peringatan.

Parmin dan Yulia terus melangkah, sedangkan

Awom masih penasaran terhadap apa yang baru dilakukan Parmin terhadap tonggak kayu yang terpancang di tengah arena upacara. Ia segera menghampiri tonggak kayu lain yang masih berdiri tegak.

"Hebat sekali.;.! Bismillah," kemudian teriaknya, "Ciaaaat...!

Dengan suatu loncatan dan teriakan dia menghajar tonggak kayu itu dengan pukulan telapak tangan dimiringkan. Kalau Parmin bisa berbuat begitu karena memiliki ilmunya, sedangkan Awom yang hanya meniru-niru, maka akibatnya menjadi sangat fatal, tangan itu menjadi bengkak seketika. Dia berusaha menahan sakit dan menyembunyikan tangan yang babak belur itu ke dalam celah pahanya dari penglihatan orangorang suku kanibal sambil cepat berlalu sambil terbungkuk-bungkuk. Orang-orang suku kanibal yang sedang memperhatikan mereka bertiga, seketika kaget melihat tingkah laku Awom yang konyol tersebut. Mereka saling pandang dan bertanya-tanya.

Belum lagi suku kanibal itu mengerti permasalahannya, Awom cepat berkata:

"Uuuh! Kalian jangan heran! Dewa juga kadang suka melucu, he., he., he., he!"

Akhirnya sambil berlari dan nyengir nyengir bajing menahan sakit, Awom memaki-maki mereka dalam bahasa melayu.

"Selamat tinggal kerbau-kerbau dungu!"

***

8 Tiga hari sudah mereka meninggalkan perkampungan suku Papua pemakan daging manusia itu. Beberapa kali pula mereka beristirahat untuk melepaskan lelah. Kadangkala mereka bercerita tentang kampung halamannya masing-masing sampai larut malam. Mereka tidur secara bergantian. Itu juga kalau suasana memungkinkan, atau kadangkala mereka tidak tidur sama sekali.

Pagi itu cuaca cerah sekali, sang fajar mulai menampakkan kemilau sinarnya. Binatang hutan berlarian hilir mudik.

Pagi berganti siang, matahari mulai bergeser ke titik Kulminasinya. Binatang yang pagi hari berkeliaran kini tak nampak lagi. Mereka berteduh di tempatnya masing-masing dari sengatan matahari,

Nampak Awom dan Parmin yang menggandeng tangan Yulia berjalan tertatih-tatih menuruni perbukitan setelah keluar masuk hutan belantara. Dengan susah payah akhirnya mereka di tepi sungai dengan kedua tepinya agak gundul tak terdapat pohon-pohon tinggi.

"Ini sungainya!" Awom memberitahu-kan Parmin sambil menyapu pandang ke tempat yang jauh di seberang sana.

"Mungkin bukit di depan itu yang mereka mak-

sud!"

Setelah berhenti sejenak, mereka melanjutkan

perjalanan menuju bukit tersebut. Mereka berputar mencari bagian sungai yang agak dangkal untuk mereka seberangi. Kira-kira beberapa ratus meter melangkahkan kaki, akhirnya mereka mene-mukan bagian sungai yang banyak terdapat batu-batu besar.

Setelah menyeberangi sungai itu mereka sampai di kaki sebuah tebing yang agak terjal. Parmin, Yulia dan Awom naik merambat ke atas dan sampailah mereka ke suatu tempat yang mereka tuju.

Mereka terus melangkah sambil mengamati bekas jejak-jejak sepatu yang cukup banyak terdapat di sana. Tanpa mereka sadari sepasang mata dari balik bebatuan mengintai mereka.

"Apakah kau yakin ayahku masih hidup, Parmin?" tanya Yulia.

"Aku tak bermaksud mendahului keputusan Tuhan, tapi firasatku mengatakan demikian, Yulia," jawab Jaka Sembung mantap.

Sepasang mata yang mengintai mereka bertiga mengarahkan mulut bedil lalu mengokangnya. Parmin yang memang sudah terlatih pendengarannya segera bergerak untuk bertindak.

"Tiaraaaaap!" teriak Parmin.

Dengan cepat mereka menjatuhkan diri masing-masing, hingga sebuah timah panas luput dari sasaran. Namun demikian orang asing yang di atas sana tak cuma sekali memuntahkan pelurunya, bahkan semakin membabi buta. "Dar... dor... dor!!"

"Awas, Yulia!" teriak Parmin sekali lagi. "Auww...!"

Hampir saja Yulia terserempet peluru. Dalam situasi seperti itu, Parmin segera mengatur siasat.

"Lari ke sungai, Awom! Cepat!"

Awom melompat sambil berguling-guling menuju ke arah sungai.

Baru saja ia sampai di tepi sungai, sebuah peluru berdesing nyaris menyambar-nya. Untung saja ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sungai. "Byur...!" Berondong-an peluru bedil itu terus mencecarnya. Awom menyelam lebih dalam untuk menghindari timah panas itu. Ketika merasa tak ada lagi bunyi tembakan, Awom segera menyembulkan kepalanya ke atas permukaan air. Selang berapa lama dia berenang, tiba-tiba bahaya yang lebih ganas datang menghadangnya. Awom terkejut, binatang yang ternyata ular yang sebesar batang pisang mendadak melilit tubuhnya.

Pergumulan tak dapat dielakkan lagi. Ular itu terus melilit seakan hendak meremukkan tulangbelulang pemuda kulit hitam ini. Awom mencengkeram leher ular dan mencekiknya kuat-kuat. Air sungai yang semula tenang, kini bergejolak menimbulkan deburan ombak dan gelombang-gelombang air.

Parmin dari kejauhan menyaksikan pertarungan antara hidup dan mati itu.

"Yulia! Awom diserang ular!"

Yulia yang sudah kenal keahlian orang suku Kaimana dengan tenang menjawab:

"Biarkan saja! Suku Kaimana terkenal sebagai penakluk binatang buas dan berbisa!"

Benar saja apa yang diucapkan Yulia. Kini Awom sudah dapat menguasai keadaan. Tangannya dengan cekatan memukulkan kepala ular ke sebuah batu besar hingga batok kepala binatang reptil itu pecah seketika tak berkutik lagi. Namun baru saja lolos dari lobang jarum, beberapa tembakan kini datang mengarah kepadanya. Awom berkelit sambil melemparkan ular itu ke si penembak gelap yang berada di atas bukit.

Ular besar yang masih dalam sekarat itu kini segar kembali dan melilit mangsanya. Orang asing itu berusaha melepaskan lilitan itu dari tubuhnya. Namun usahanya itu sia-sia, bahkan jepitan ular itu semakin keras dan masih dapat mematuk tepat mengenai pelipisnya, Tak ampun lagi tubuh orang asing itu kaku dan ambruk berguling-guling dari atas bukit ke lembah tempat Parmin dan Yulia berada.

Parmin dan Yulia menghampiri tubuh itu dan membalikkannya, ternyata tubuh itu sudah tak bernyawa lagi. Parmin mengamati tubuh orang kulit putih itu dan bertanya,

"Apakah itu ayahmu?"

"Kurasa bukan! Pakaian ayahku adalah seragam kelasi!" sahut Yulia.

Sengatan matahari kian bertambah hebatnya, apalagi ditambah hawa panas dari dalam bumi yang gundul berbatu-batu itu membuat mereka mandi keringat.

Parmin dan Yulia memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membasahi tubuh dengan sungai. Segar rasanya setelah terkena siraman air.

Setelah itu Parmin mengajak Yulia dan Awom untuk menaiki bukit batu di atas, dengan maksud agar mereka lebih leluasa mengamati sekeliling tempat tersebut.

"Coba kita agak ke atas! Dari sana mungkin kita lebih leluasa melihat ke sekeliling kita!"

Baru saja beberapa langkah mereka menaiki bukit, Parmin mendengar suara orang berbicara. Dengan berlindung di balik sebuah batu besar, mereka melongok ke bawah.

"Sssst!! Coba lihat di bawah sana! Ada dua orang asing sedang menggali tanah!" ucap Parmin sambil menunjuk ke arah dua orang asing yang dilihatnya. Yulia seakan tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya. Dua orang asing dengan pakaian compang-camping sedang menggali tanah, Yulia terus mengamati dua orang asing itu yang tak lain adalah orang sebangsanya sendiri yang memiliki warna kulit sama dan rambut yang sama pula. Sedang mencari apa mereka menggali tanah di tempat gersang seperti ini! Pikirnya.

Ingin rasanya Yulia memanggil dan berteriak siapa mereka itu sebenarnya. Baru saja hendak dilakukannya, dengan cepat Parmin mendekap mulut Yulia, seraya berkata:

"Tenang, Yulia! Jangan bertindak gegabah! Nanti mereka mengetahui kedatangan kita sebelum kita sendiri menguasai situasi lembah ini," jelas Parmin.

"Oh, maafkan aku, Parmin. Aku sudah tidak dapat menahan rindu kepada ayahku!" keluh Yulia.

"Ya.. ya... ya. Aku mengerti perasaanmu, tapi bersabarlah sebentar!" pinta Parmin.

Sambil berusaha menenangkan hati gadis Belanda itu, mereka juga melihat beberapa orang kulit putih dengan pakaian serdadu Kompeni Belanda memegang bedil dan bertindak sebagai seperti sedang mengawal budak-budak yang sedang kerja paksa.

"Godverdom zeg! Ayo kerja terus!" bentak salah seorang dari mereka sambil menenggak air untuk membasahi tenggorokannya.

"Berilah aku minum! Aku haus!" rintih salah seorang pekerja sambil memohon agar diberi seteguk air untuk membasahi kerongkongan yang kering. Namun permintaannya itu tak dihiraukan oleh serdadu penjaga itu dan berbalik membentak, "Kerja dulu, baru minum!!"

Yulia yang sejak tadi memperhatikan tingkah orang yang memegang senjata tak dapat menahan emosinya ketika ternyata pekerja yang minta minum itu ternyata adalah orang yang selama ini sedang dicarinya.

"Oh Tuhan! Itu... Itu ayahku!" teriak Yulia.

Terlambat Parmin mendekap mulut Yulia yang terlanjut berteriak memanggil ayahnya. Saking kerasnya teriakan Yulia, orang-orang berseragam serdadu itu ter-perangah dan menoleh ke arah mereka berada, "Hei, suara siapa di atas?! Raf!! Rafles?!!" orang bersenjata itu memanggil nama temannya namun tak ada jawaban.

Merasa teriakannya tak dapat jawaban, dia sengit dan naik pitam. Sambil mengancam dia membentak,

"Menyahut atau kutembak! Cepaaaaaaat!"

Baru saja dia akan menarik pelatuknya, tibatiba dia mendengar suara batu-batu yang berguguran dari atas bukit.

"Godverdom zeg!" teriaknya.

Ternyata penyebabnya adalah sekumpulan kelelawar yang keluar dari sebuah lobang di atas tempat ia berdiri. Terdengar ia memaki lagi dengan bahasa Belanda.

Setelah kelelawar itu berlalu, tiba-tiba dia ingat kepada temannya yang disuruh ambil air di sungai,

"Godverdom zeg! Lama sekali si Rafles mengambil air di sungai!" gerutunya dengan kesal.

Sambil bersungut-sungut matanya berputar untuk melihat bukit tandus itu. Tiba-tiba dia mendengar percakapan orang yang sedang menggali tanah, "Hah?! Apa ini?..,! Huh?! Bongkahan kuning bercahaya... Tapi bukan belerang!"

Belum lagi si penggali tanah mengamati temuannya, mendadak orang yang bersenjata itu telah berada di hadapannya, seraya menodongkan moncong senjatanya.

"Hah, apa kau bilang?! Berikan batu-batu itu padaku!!"

Ia segera mengamati benda alam yang kekuning-kuningan itu.

"Ha... ha... ha! Ini bongkahan emas! Tambang emas! Sudah kukatakan bahwa di sini banyak terdapat emas!"

Sambil menendangkan kakinya ke tubuh orang yang menggali tanah itu, dia dengan kasar memberikan perintah,

"Ayo kerja terus, zeg! Gali lagi biar banyak! Kita akan menjadi kaya raya! Ha... ha... ha... ha!"

Saking asyiknya orang itu dengan kegembiraannya, dia tak menyadari bahwa beberapa pasang mata terus mengintainya.

"Benar itu ayahku!! Sengsara betul keadaannya!" tanpa sengaja Yulia mengeluarkan suara keras hingga terdengar oleh penjaga yang bersenjata itu, "Eit! Ada suara orang dari atas bukit! Aku yakin itu bukan suara Rafles!!"

"Jangan-jangan ada yang memata-matai tambang mas kita! Kau tunggu di sini! Aku akan mengontrol ke atas bukit!"

Ia terus menaiki bukit sambil mengendapendap dan akhirnya sampai tepat di belakang Parmin dan Yulia. Dari tempat ketinggian ia bermaksud membokong para pengintai itu. Baru saja dia mengokang dan mengarahkan senapannya ke arah Parmin dan Yulia mendadak dari belakang ada orang yang menyergapnya. Senapan itu pun meletus lepas mengarah ke langit yang tinggi, "Dor!" Mendengar suara tembakan itu, Yulia dan Parmin membalikkan badan dan bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

"Oh, itu Awom di atas! Ia berusaha menyelamatkan kita!" teriak Yulia.

Awom tak memberi kesempatan orang kulit putih itu, ia terus memitingnya dengan sekuat tenaga. Tapi tubuh besar itu terus-menerus meronta hingga Awom tidak bisa mengimbangi lawannya.

"Orang kulit putih ini punya tenaga raksasa, aku bisa dibantingnya!"

Saat itu Awom terus berpikir bagaimana cara untuk melumpuhkan lawannya yang besar itu. Akhirnya ia menemukan sesuatu sebagai jalan keluar dan serta merta ia meraih sebuah benda yang tak lain sebuah kelewang yang tersandang di pinggang serdadu itu...

"Nah pedang ini harus memakan tuannya!" pikir Awom sambil menancapkan pedang itu ke perut tuannya sendiri.

Suara teriakan kencang keluar dari mulut orang kulit putih itu, "Aaaaaaaa...!" Seketika itu pula Awom menghempaskan tubuh raksasa itu ke bawah bukit yang terjal berbatu-batu kerikil yang runcing dan tajam.

Melihat kejadian itu penggali tanah kaget bukan main, sementara tubuh serdadu kumpeni Belanda itu ambruk ke bumi dengan kepala remuk. Tubuh itu menegang beberapa saat sebelum terkulai untuk selama-lamanya.

Melihat itu, si penggali tanah segera berlari sambil menjerit-jerit dengan paniknya.

"Simon! Simooooooon!! Kau... Kau mati?! Oh, jangan tinggalkan aku sendiri, Simon! Aku takut!" Dia terus merangkul tubuh kawannya yang sudah terbujur kaku. Belum lagi hilang rasa takut menghantui dirinya, tiba-tiba seorang pemuda kulit hitam telah berada di hadapannya. Orang bule bertubuh kurus dan kotor itu terperangah melihatnya.

"Hah, orang kulit hitam!" pekiknya "Aaaaaaaa... Jangan bunuh aku! Jangan!!" orang bule itu memohon dengan penuh ketakutan.

Namun Awom tetap diam berdiri mematung tak mengeluarkan sepatah kata, bahkan terus memandang dengan garang. Orang bule itu menjadi ketakutan apalagi Awom lebih menampakkan keangkeran dengan sorot mata yang tajam.

"Aaaaa!! Jangan!!" Ketika rasa takutnya kian memuncak, Yulia berlari menghampirinya diiringi Parmin dari belakang. Sambil teriak-teriak,

"Ayah!! Ayah!!"

Namun panggilan Yulia itu tak membuat orang bule berpakaian compang camping itu sadar, justru rasa takutnya semakin menjadi-jadi dengan tubuh yang gemetar hebat.

"Jangan!! Jangan bunuh aku!!" teriaknya sambil tangan kirinya ke belakang untuk mengambil belencong yang digunakan menggali tanah tadi siap akan dihantam-kan ke tubuh Awom. Sementara si bule bertubuh kurus itu jadi ketakutan sendiri, tak kuasa menggunakan belencong terse-but.

Yulia kini berada beberapa langkah dari orang tua kulit putih sambil merentangkan kedua tangannya.

"Ayah!! Ayah!! Ini Yulia, ayah...!"

Tapi agaknya orang Belanda ini sudah tak mengenali siapa lawan siapa kawan lagi bahkan ia berubah menjadi kalap dan beringas.

Parmin segera maklum bahwa ayah Yulia telah mengalami goncangan jiwa yang sangat berat sehingga menjadi sakit ingatan. Van Boerman semakin menjauh dan bergegas menaiki bukit.

"Pergi! Pergi!! Atau kubunuh kalian!" teriaknya dengan sinar mata liar.

"Ayah! Ini aku! Anakmu!" Yulia berteriak dengan tangisan berharap kepada ayahnya agar dia mengenalinya sebagai anaknya sendiri yang hilang terpisah se-lama ini.

Parmin pendekar Gunung Sembung yang sejak tadi memperhatikan suasana memprihatinkan itu menghampiri Yulia sambil memberikan gambaran agar dia dapat memahami keadaan ayahnya. "Sabar, Yulia! Jangan kau dekati dia! Pikirannya mungkin telah terganggu akibat tekanan batin yang dialaminya selama ini!"

Orang tua kulit putih itu terus melangkah, ia berusaha melarikan diri ke atas bukit yang menjulang tinggi itu sambil berteriak-teriak seperti orang kesetanan. "Pergi! Pergi!!"

Yulia hanya dapat memandang dengan sedih dan pilu dari kejauhan, ia benar-benar merasa prihatin melihat kenyataan bahwa orang yang dirindukannya selama ini ternyata sudah tak mengenalinya lagi.

Dengan tangis tertahan, ia membenamkan diri ke dada Parmin.

"Oh!!!" isaknya menggebu.

"Yulia, tenang! Ia akan membunuhmu dengan belencong di tangannya itu jika kau mendekat!" Parmin menasihati Yulia dengan sabar. Lalu dia menoleh ke belakang ke arah Awom yang masih berdiri di tempatnya karena tak tahu mesti berbuat apa untuk menghadapi situasi seperti itu.

"Awom! Kau ikuti dia! Cegat dari atas dan ingat, jangan sampai mengejutkan dia! Hati-hati!" perintah Parmin kepada panglima suku yang setia itu.

Dengan mengangguk, ia pergi ke arah yang berlawanan dengan bukit di depan-nya. Akalnya yang cerdas membuat ia mengambil inisiatif itu.

Sementara Van Boerman terus melangkah jauh meninggalkan Yulia dan Parmin dengan langkah terseok-seok sambil ngoceh dan memaki. Keringatnya bercucuran karena sengatan matahari di atas bukit yang tandus itu. Tak lama kemudian orang Belanda kurus itu telah sampai di atas puncak bukit. Dia tidak menghiraukan apa yang bakal terjadi pada dirinya. Tangannya mengacung ke atas sambil menggenggam belencongnya. Matanya mendelik seakan mau ke luar dan mulutnya tak henti-hentinya berteriak,

"Ha., ha., ha., ha! Kalian jangan cari mampus!

Naiklah! Belencong ini akan berbicara! Ayo naik!"

Mungkin menurut anggapannya ketiga orang pendatang itu bermaksud hendak membantainya. Itu ia ketahui dari kematian kawannya yang berseragam serdadu Kumpeni Belanda tadi. Kini dia harus menyelamatkan diri, terutama dari ancaman seorang pemuda kulit hitam yang menurut anggapannya pastilah seorang suku primitif yang suka makan daging manusia.

Sementara itu Awom sendiri sudah mengambil jalan pintas memutar dan sedang menaiki bukit itu dari arah belakang. Dengan sangat hati-hati ia merayap agar tidak diketahui oleh lelaki tua kulit putih yang sedang kalap itu.

Awom kini sudah berada tepat di belakang Van Boerman yang sedang dihantui oleh pikirannya sendiri. Perlahan-lahan Awom mendekati orang tua itu dan pada kesempatan yang baik, dia menyergap tubuh kurus kering dan kumal itu. "Hep!!" "Raaaaaa?!"

Orang itu berteriak sambil meronta-ronta serta mengibas-ngibaskan belencongnya dengan sepasang tangannya yang sangat kokoh.

Awom mendekap dengan sekuat tenaga. Tetapi di luar dugaannya tubuh kurus itu seperti memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan sebuah hentakan keras, ia meronta dan berhasil meloloskan diri dari bekukan Awom.

Kenyataan yang mengejutkan itu membuat Awom kehilangan keseimbangan dan kakinya tergelincir di bibir tebing. Maka tak ayal lagi tubuh mereka berdua terhempas ke bawah, merosot di dinding bukit yang penuh dengan tonjolan batu runcing dan tajam. Awom merasakan tersenggol sesuatu dan akhirnya kesempatan itu dia gunakan tangannya untuk menjambret benda yang ternyata akar pohon liar yang tumbuh di dinding bukit sebagai tempat bertahan sementara.

Yulia yang sejak tadi memperhatikan adegan menegangkan itu semakin bertambah cemas. Betapa tidak tubuh orang yang dikasihi dan panglima suku yang setia itu nyaris hancur jatuh ke bawah. Dia menutup matanya yang tak kuasa menyaksikan hal itu. Dia berusaha untuk tetap tabah sambil berdo'a.

Parmin tak tinggal diam. Ia melompat dengan cepat menyambar belencong yang masih melayang di udara. "Tap! Tap...!"

Kedua tubuh yang sedang bergelayut di akar pohon tampak sudah kehabisan tenaga karena harus menahan bobot tubuh sendiri.

Sementara Parmin yang telah berhasil menyambar belencong, berlari ke kaki bukit seraya melemparkan belencong itu sekuat tenaga agar dapat tertancap kuat-kuat di dinding tebing.

"Awom! Peganglah ini!"

"Dep.. dep!" Bersamaan dengan tertancapnya belencong di dinding bukit, akar tempat bergelayut itu pun patah. Kraak! Untunglah Awom dengan cekatan menyambar gagang belencong tersebut. Tab! Kini tubuh mereka telah bergelantungan pada gagang belencong, seketika itu Parmin berteriak.

"Awom, lepaskan tubuh orang kulit putih itu!! Belencong yang kau pegang itu tak mampu menahannya!"

Segera Awom melepaskan tubuh dalam dekapannya. Serta merta tubuh itu melayang laksana kapas yang ditiup angin. Parmin si Jaka Sembung yang benda di bawah kaki bukit itu telah siap untuk menangkap tubuh kerempeng itu dengan memasang kuda-kuda yang cukup kuat sedangkan Yulia lagi-lagi menutupi mukanya karena tak kuasa melihat adegan yang mengerikan itu.

Dengan pengaturan nafas dan keyakinan yang kuat Parmin menangkap tubuh Van Boerman dengan selamat. "Hep! Tab!"

Sedangkan Awom mulai berdebar-de-bar melihat belencong yang sebentar lagi akan lepas dari tancapannya di dinding tebing itu.

"Oh, Dewa! Mengapa manusia tidak mempunyai sayap seperti burung?! Dan mengapa kejadian seperti ini terjadi pada diriku!" Awom berdo'a menanti datangnya dewa penolong yang akan membebaskannya. Sementara itu Parmin sedang meletakkan tubuh kerempeng yang sudah tak sadarkan diri itu di hadapan Yulia. Kini dia bergegas untuk menolong Awom yang sedang dalam keadaan kritis.

"Sekarang giliranmu, Awom! Ayo lepaskan peganganmu!" teriak Jaka Sembung.

Tanpa berpikir panjang lagi Awom langsung melepaskan tangannya dari gagang belencong yang dipegangnya. Seketika itu tubuhnya melayang. Parmin dengan tegap dan kokoh memasang kuda-kuda sambil merentangkan kedua tangannya siap menyambut tubuh Awom yang melayang deras ke bawah. Tubuh pemuda hitam itu dengan selamat ditangkapnya.

Peristiwa yang menegangkan itu kini telah berlalu. Parmin dan Awom segera menghampiri Yulia yang sedang memeluk tubuh Van Boerman yang belum sadarkan diri. Tubuh lelaki itu diguncang-guncangnya perlahan-lahan.

"Ayah! Ayah! Sadarlah, ayah! Ini aku Yulia anakmu!"

Beberapa saat kemudian Van Boerman membuka kelopak matanya perlahan-lahan, Yulia berteriak gembira.

"Ayah! Ini aku Yulia anakmu!" Namun apa yang diharapkan oleh gadis Belanda ini belumlah tercapai. Van Boerman tiba-tiba mendelik dengan sinar mata liar.

"Waw! Jangan bunuh aku! Pergi! Pergi! Aku tak mau dicincang! Seperti kalian mencincang kawankawanku!"

Van Boerman masih saja dibayangi oleh peristiwa yang terjadi pada diri ka-wan-kawannya di waktu yang lampau.

"Ayah! Sadar! Aku ini Yulia anakmu bukan suku kanibal yang kau maksud itu!"

"Oh, tidak! Tidak!" jawabnya sambil mengangkat kepala dan memandang Yulia. Dia belum juga berada dalam kewarasannya. Yulia mengeluarkan sebuah benda yang menurut pendapatnya akan menyembuhkan ingatan ayahnya.

"Lihatlah! Salib suci ini, ayah!"

Betapa kagetnya lelaki tua itu setelah melihat rosario yang dikenalnya sebagai pembangkit spiritual bagi dirinya.

Bagaikan disiram seember air orang itu mulai ingat akan dirinya.

"Oh, Bapa yang di surga! Ampunilah aku!"

Ingatannya mulai membaik dan memandangi seorang gadis cantik bermata biru di hadapannya dengan serius.

"Yulia! Kaukah anakku?" tanya Van Boerman dengan bergetar.

Betapa gembiranya Yulia mendengar kata-kata seperti itu, dia langsung mendekap erat-erat tubuh ayahnya yang setelah sekian lama terpisah darinya. Dengan linangan air mata yang membasahi pipi, Yulia tak henti-hentinya menciumi ayahnya.

"Ayah!! Oh, ayah betapa gembiranya hatiku!" "Yulia! Syukurlah kau selamat, sayang! Aku sudah putus asa mencari dirimu!" jawab sang ayah dengan luapan rindu yang tak terbendung lagi.

Matahari yang mulai bergeser ke ufuk Barat kelihatan cerah seakan turut gembira serta bahagia melihat pertemuan anak dan bapak tersebut. Mereka terus berpelukan tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya.

Parmin dan Awom juga turut terharu melihat peristiwa yang menggembirakan itu. Air mata berkacakaca di pelupuk mata mereka. Sejenak ingatan Jaka Sembung melayang ke tempat nan jauh di sana, pulau Jawa tempat ia berasal. Ia ingat Eretan tempat tinggal gurunya. Ia ingat Kandang Haur tempat tinggal kekasih hati yang sangat dicintainya. Entah kapan ia dapat bertemu kembali dengan Roijah yang telah lama ditinggalkannya. Lamunan Parmin tiba-tiba tersentak, karena mendengar orang tua yang bernama lengkap Yan Van Boerman itu berbicara sambil tak lepas dari dekapan anak gadisnya.

"Terima kasihku tak terhingga kepada anda berdua, tuan pendekar yang gagah!" ucapnya dengan bergetar menahan luapan rasa gembira dan rasa syukur yang sangat dalam.

"Entah bagaimana jadinya seandainya tidak ada tuan berdua, kami tentu akan terpisah untuk selama-lamanya," sambungnya sambil menahan isak tangis.

"Semuanya adalah berkat rahmat Ilahi, tuan Boerman! Tuhan telah mempersatukan anda berdua melalui usaha kami," jawab Parmin dengan rendah hati.

"Anda telah menolong orang asing yang justru berasal dari bangsa yang sedang menjajah tanah air anda sendiri, anak muda!" sambung Van Boerman.

"Bangsa kalian memang sedang menjajah bangsa kami. Tetapi kami tidak memusuhi siapa pun karena kami cinta damai. Kalaupun kami berperang melawan Kompeni Belanda, itu kami lakukan karena lebih mencintai kemerdekaan!" jawab Parmin si Jaka Sembung dengan mantap.

"Sesungguhnya kami bukan memerangi bangsa Belanda, tetapi memerangi bangsa mana pun yang bermaksud menjajah tanah air kami. Oleh karena itu kami ikhlas memberikan pertolongan kepada anda berdua atas dasar kewajiban sebagai makhluk Tuhan, bukan atas dasar sebagai dua bangsa yang sedang bermusuhan!" sambung Jaka Sembung dengan tegas namun sangat diplomatis.

Semua ucapan Jaka Sembung terdengar begitu berkesan bagi seorang pemuda Papua yang berjiwa patriot seperti Awom. Sosoknya memang masih primitif, namun jiwanya dengan cepat menyerap peradaban dan sikap mental yang diperlihatkan oleh pendekar muda dari pulau Jawa itu.

Dalam hati Awom kini tumbuh suatu keyakinan baru bahwa penjajahan itu sesuatu yang harus diperangi. Bukan memerangi orangnya, tetapi memerangi sifat jahat yang ada padanya! Dengan kata lain,

biar pun Yulia dan ayahnya adalah orang Belanda, tetapi bukan musuhnya karena mereka tidak bersifat menjajah.

TAMAT 

Pembaca Yang Setia, Parmin si Jaka Sembung telah berhasil mempertemukan Yulia dengan ayahnya Yan Van Boerman, tetapi bagaimana dengan nasib pendeta Yorgen yang tak tentu rimbanya itu?

Dapatkah mereka menemukan pendeta itu? Bagaimana pula dengan manusia misterius ber-

topeng tengkorak yang menyeramkan itu? Siapa sebenarnya dia?

Ikutilah episode berikutnya yang berjudul:

Pertarungan Terakhir! 

0 Response to "Serial Jaka Sembung Eps 12 : Terdampar Di Pulau Hitam"

Post a Comment