coba

Serial Jaka Sembung Eps 04 : Raja Rampok dari Lereng Ciremai

Mode Malam
MATAHARI tepat berada di atas kepala. Langit biru, sangat jernih. Hanya di langit bagian selatan, di atas bukit kelihatan sepotong awan putih bergerak perlahan ditiup angin. Awan itu melayang berarak, lalu pecah berderai dan hilang entah ke mana.

Desa Perbutulan, sebuah desa di lereng gunung Ciremai, tampak masih sepi. Rumah penduduk masih jarang, dan jarak antara yang satu dengan yang lain cukup jauh. Di belakang perumahan penduduk, tampak rangkaian bukit-bukit yang memanjang dari timur ke barat. Hutan di situ tidak terlalu lebat, sehingga dengan jelas terlihat dua pohon kelapa menjulang tinggi bagaikan tiang bendera. Daun-daunnya melambai-lambai bagai menari-nari dengan amat riangnya. Di atas gundukan tanah, akar-akarnya mencengkeram sangat kokohnya membuat pohon kelapa itu tetap berdiri kokoh walau setiap hari dihembus angin. Beberapa ekor burung pipit dengan bulu-bulu berkilauan ditimpa sinar matahari, hinggap di daun pohon kelapa lalu berkicau sepuas-puasnya, mungkin sedang mengabarkan kegembiraannya di siang hari itu.

Tak jauh dari pohon kelapa yang melambai-lambai itu ada sebuah warung sederhana, berukuran sekitar lima kali enam meter. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan atapnya dari rumbia. Agaknya bangunan itu sudah tua. Beberapa tiang yang terbuat dari kayu bulat mulai lapuk dimakan usia. Sekalipun demikian, warung sederhana itu selalu ramai terutama oleh para penjudi, pemabukan serta jagoan-jagoan desa.

Dari warung itu terdengar suara tawa terbahak-bahak, sambung-menyambung seperti bunyi bedug. Di ruangan tengah, di atas meja dan kursi kayu, sekelompok lelaki sedang asyik minum-minum sambil main judi. Usia mereka ratarata empat puluh sampai lima puluh, tapi tak sedikit pun menunjukkan sikap sebagaimana halnya orangtua yang bijaksana. Selain bertampang seram, cara duduk maupun bicara mereka juga sangat kasar. Tetapi karena pengunjung lainnya di warung itu mengetahui kehebatan kelompok lelaki itu, tak ada yang berani melarang atau menasehati.

"Puaslah aku semalam ini. Uang dapat hiburan pun dapat," kata salah seorang di antaranya sambil tertawa terbahak-bahak. Lalu sambil menggebrak meja kuat-kuat, ia berkata kepada pemilik warung dengan suara membentak: "Hei, Pak Kastam! Tambahkan lagi kue getuk dan tuaknya ini. Bawa saja sekalian gentongnya kemari. Cepat! Jangan kelelar-keleler macam keong. Aku sudah kehausan."

Dengan langkah tergopoh-gopoh, Pak Kastam mengambil kue getuk beberapa piring, kemudian menyuguhkan beberapa guci tuak ke meja para jagoan desa itu.

"Hai, kawan-kawan. Marilah kita minum sepuas hati kita. Kita nikmati sepuasnya apa saja yang kita hendaki. Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan, bukan?"

Tiba-tiba seorang lelaki asing masuk ke dalam warung. Seketika tawa dan suara pembicaraan mereka terhenti. Suasana yang tadinya hingar bingar berbalik jadi sepi. Lelaki asing itu sejenak berdiri sambil menyapu seisi ruangan dengan tatapan matanya yang mencorong tajam bagai mata pedang. Usianya sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya kekar dan otot-ototnya berisi. Sama seperti para pendekar desa Perbutulan, ia pun mengikat rambutnya dengan sepotong kain. Pakaiannya serba ungu, dihiasi kain sarung yang dililitkan dari bahu kanan sampai ke pinggang.

Ada satu hal yang paling menarik pada diri lelaki itu, yakni mata kirinya ditutupi kain hitam sehingga mirip kaca mata, yang diikat dengan tali ke belakang kepala. Melihat perawakan serta sinar mata lelaki itu, dapatlah diterka bahwa ia bukanlah orang sembarangan.

"Hei, pemilik warung. Beri aku nasi lengko satu piring dan sambal yang banyak serta arak satu kendi," kata lelaki itu.

"Ini arak istimewa, tuan. Sudah tersimpan lama di dalam kendi," kata Pak Rastam saat menyuguhkan minuman itu di hadapan tamunya.

"Bagus! Bagus! Kebetulan sekali aku bertemu dengan cakil-cakil ini. Inikah jago-jago dari desa ini?" tanya si mata satu sambil menatap para pendekar desa Perbutulan dengan sikap mengejek. Mendengar ucapan yang bernada ejekan itu, para jagoan desa menjadi terkejut. Bukan saja karena tak mengira ada orang yang berani bersikap seperti itu. Tetapi juga karena suara lelaki itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi, sehingga suara yang berat dan serak itu terasa menggetarkan dinding dan menegakkan bulu kuduk orang yang mendengarnya.

Belum hilang rasa terkejut kelompok jagoan desa Perbutulan, si mata satu telah mencengkeram pundak salah seorang di antaranya.

"Hei, cakil. Berikan semua uang yang ada dalam kantong kalian. Hm, seharusnya kalian tahu siapa yang datang ini. Kalian harus menghormatiku. Ayo, kumpulkan uang itu di atas meja!"

Mendengar itu, hilanglah kesabaran para jagoan desa Perbutulan. Bagaikan dikomando, mereka sama-sama bangkit berdiri dan menatap si mata satu dengan sinar mata merah bagaikan memancarkan api.

"Bedebah kau! Berani kurang ajar kepada jago-jago desa Perbutulan ini. Jangan coba-coba unjuk gigi di kandang buaya kalau tak ingin mampus."

"Ha-ha-ha...! Buaya-buaya ompong. Kalian belum kenal siapa aku. Jangan kira aku anak kecil yang bisa digertak orang-orang tolol seperti kalian."

"Lemparkan keluar bangsat yang besar mulut itu!" Bersamaan dengan itu, para jagoan desa segera menghunus pedang dan mengurung si mata satu. Suasana di dalam warung seketika menjadi tegang. Sepertinya pertumpahan darah tidak akan terhindarkan lagi. Sekalipun demikian, si mata satu tetap tenang, bahkan masih sempat tersenyum sinis.

"Kuperingatkan sekali lagi, serahkan semua uang kalian. Atau kepala kalian akan kubuntungi."

"Diam kau, bangsat! Serang !"

Maka terjadilah pertarungan seru di dalam warung yang cukup sempit itu. Gelas, piring dan kendi beterbangan, meja dan kursi terbalik menimbulkan suara gaduh bercampur dengan suara teriakan dan makian. Pak Rastam, pemilik warung itu lari terbirit-birit menyelamatkan diri karena takut jadi sasaran amukan para lelaki yang sedang bertarung itu.

Tepat seperti yang diperkirakan para jagoan desa Perbutulan, si mata satu ternyata bukanlah orang sembarangan. Di samping memiliki tenaga dalam yang dahsyat, gerakannya pun sangat cepat dan sukar diikuti pandangan mata. Tak satu pun sabetan pedang lawan mengenai tubuhnya. Bahkan hanya dalam beberapa jurus saja, si mata satu berhasil memukul dan menendang lawan-lawannya hingga terlempar keluar warung. Sesosok tubuh lawan terpental membobol dinding, sementara seorang lagi melayang membobol atap warung.

Hanya beberapa menit kemudian, warung itu sepi kembali. Para jagoan desa Perbutulan tak berdaya sama sekali menghadapi serangan si mata satu yang luar biasa. Mereka bergelimpangan dengan luka-luka mengucurkan darah segar. Dengan sangat tenangnya, si mata satu kembali mereguk minumannya. Ia duduk sendirian di dalam ruangan warung yang telah acak-acakkan dengan sikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu.

Maka saat itu juga, desa Perbutulan menjadi gempar. Gebrakan lelaki asing bermata satu itu segera meluas dari mulut-mulut. Para jagoan desa lainnya maupun penduduk pun bertanyatanya, siapakah gerangan lelaki yang memiliki kesaktian luar biasa itu? Dari mana asalnya, siapa namanya dan apa maksudnya bikin keonaran di desa Perbutulan?

Sepak terjang si mata satu juga sangat menarik perhatian Gagak Ciremai, guru silat yang paling kesohor di desa Perbutulan. Ia mendapat laporan dari muridnya sore harinya bahwa seorang laki-laki asing bermata satu telah membikin keonaran. Lelaki itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga hanya dalam beberapa jurus saja, beberapa jagoan desa telah tewas di tangannya.

"Di antara kami berempat hanya sayalah yang kebetulan lolos dari pedang mautnya. Karena saya saat itu pingsan ditendang. Saya rasa dia datang dari sebelah selatan gunung Ciremai, Pak Guru."

"Hm... datang dari jauh untuk mengacau rasanya tidak mungkin. Pasti ada suatu maksud tertentu. Dalam dunia persilatan, jika seseorang sampai begitu jauh menempuh perjalanan dan sengaja membuat kerusuhan di suatu tempat, biasanya dia bermaksud balas dendam. Tetapi seingatku sejak masa muda aku belum pernah memusuhi orang lain. Apalagi ketika kau sebutkan ciricirinya. Seingatku belumlah pernah berurusan dengan pendekar bermata satu seperti dia."

"Kalau begitu apakah gerangan maksudnya, Pak Guru?"

"Entahlah, aku sendiri belum bisa menerkanya. Tapi kuperingatkan kepada kalian, jangan sampai lebih dahulu mencari permusuhan dengan orang asing mana pun yang datang ke desa ini. Barangsiapa di antara murid-muridku yang melanggar peraturan ini, pasti akan dihukum. Mengerti?"

"Mengerti, Guru!"

Setelah muridnya itu pergi, Gagak Ciremai termenung. Hatinya masih penuh tanda tanya dan otaknya berpikir keras mengingat-ingat barangkali pada waktu dulu ia pernah berurusan dengan lelaki bermata satu. Tapi rasanya belum pernah sampai usianya yang sekarang telah hampir lima puluh tahun. Gagak Ciremai diam-diam merasa tidak enak, sebab firasatnya mengatakan lelaki bermata satu itu pastilah hendak berurusan dengannya hingga datang ke desa Perbutulan.

Istri Gagak Ciremai rupanya cukup jeli memperhatikan perubahan suaminya. Tak salah lagi, pastilah ada sangkut pautnya dengan kedatangan si mata satu ke desa mereka. Dan itu kemudian ia katakan kepada suaminya.

"Sejak kedatangan orang asing itu, kau tampak selalu resah. Saya rasa ia akan segera meninggalkan desa kita.

"Firasatku berkata tidak, istriku. Ia pasti tidak akan angkat kaki dari sini sebelum maksudnya tercapai. Barangkali kau beranggapan ia hanya seorang pengembara yang terpaksa merampok karena kehabisan bekal. Tidak, istriku. Secara tidak langsung, ia telah menantang aku sebagai guru silat di desa ini."

"Jadi "

Gagak Ciremai meraih anaknya yang baru berusia satu tahun, dan sambil menggendong buah hatinya penuh kasih sayang, guru silat itu berkata:

"Seorang jago silat harus mempunyai dasar batin yang baik, agar menjadi seorang jago bersifat kesatria. Sebaliknya jika batin itu buruk, jago silat akan menggunakan ilmunya secara sewenangwenang. Ia akan menjadi seorang jagoan sombong, brutal, membunuh orang seperti menepuk lalat. Ia tidak segan-segan membunuh hanya karena uang beberapa gulden saja. Atau melakukan pembantaian hanya untuk membakar amarah musuhnya. Itulah makanya perlu kita ajarkan perintah Tuhan kepada murid-murid di perguruan silatku. Ilmu tanpa agama akan runtuh, membuat orang mau berbuat kotor hanya untuk memuaskan nafsu setannya."

Bisikan Gagak Ciremai ternyata kemudian terbukti juga. Beberapa hari kemudian, tepatnya siang hari, segerombolan lelaki warga desa Perbutulan sedang asyik mengadu ayam, hobby mereka yang tradisional.

Para laki-laki itu saling berteriak-teriak menjagokan ayam kesayangannya.

"Ayo, patok merah. Habisi si hitam itu.

Jangan kasih hati."

"Jangan takut, hitam. Hajar si merah sampai mampus," teriak yang lainnya tak kalah serunya. Mereka semakin terlena dalam ketegangan menyaksikan dua ayam jago itu beradu. Apalagi pada saat kedua ayam itu sama-sama melayang tinggi ke udara untuk saling menyerang, para penonton menahan nafas.

Tetapi tiba-tiba terlihat kilatan cahaya ke tengah arena. Dan apa yang terjadi kemudian sungguh sangat di luar dugaan. Kedua leher ayam jago itu sama-sama putus sebatas leher, lalu menggelinding di atas tanah. Sedangkan tubuh ayam yang sudah buntung itu sama-sama berkelojotan dengan darah memancar dari lehernya yang telah putus, kemudian diam tak bergerak-gerak lagi.

Belum hilang rasa terkejut para penonton, tiba-tiba terdengar suara serak dan berat dari arah belakang mereka.

"Maafkan, aku telah mengganggu kalian." Bersamaan dengan itu mendadak muncul seorang lelaki asing, si mata satu!

"Jadi... jadi kaukah yang telah membunuh ayam jagoanku? Huh, bangsat tengik. Apa maksudmu, hah?"

"Kau sudah tahu, kenapa masih bertanya? Aku hanya ingin menolong ayam itu agar tidak tersiksa demi memuaskan hati kalian," kata si mata satu seenaknya.

"Bangsat, picak! Rupanya kau memang coba-coba ingin bermain api dengan jagoan desa Perbutulan. Sekarang aku akan membuat lehermu buntung seperti ayam itu." "Ha-ha-ha...! Kalian tak ubahnya anakanak ayam yang mencoba melawan elang perkasa. Rupanya kalian tidak sayang nyawa. Aku bisa merobohkan kalian sekejap dengan mata terpejam. Sebaiknya kalian panggil guru kalian untuk menghadapi aku. Kalian dengar itu?"

Belum hilang rasa terkejut para penonton, tiba-tiba terdengar suara serak dan berat dari arah belakang mereka.

"Maafkan, aku telah mengganggu kalian," Bersamaan dengan itu mendadak muncul seorang lelaki asing, si mata satu! "Bacotmu terlalu besar, manusia iblis. Langkahilah mayat murid-muridnya lebih dulu. Ayo serbu...!"

Para lelaki yang tadi asyik menonton adu ayam itu kini menyerang dengan senjata golok di tangan. Tampaknya mereka benar-benar marah sehingga serangannya sangat ganas dan mematikan. Sabetan-sabetan golok mereka mengarah kepada bagian tubuh yang sangat vital bagi lawan.

Namun rupanya ucapan si mata satu bukanlah sekadar bualan belaka. Semua serangan lawan-lawannya dengan mudah dapat dielakkannya. Bahkan kemudian, dengan golok mautnya ia balas menyerang dengan gerakan yang teramat sulit diikuti mata saking cepatnya. Satu per satu, lawannya bergelimpangan bersimbah darah dengan tubuh terkena sabetan golok.

Dalam beberapa gebrakan, si mata satu menghabisi nyawa lawannya, kecuali satu yang memang sengaja ia biarkan hidup.

"Aku sengaja membiarkan kau hidup, tikus kecil. Pulanglah sekarang juga dan beritahu kepada gurumu bahwa aku menunggunya dilembah Cadas Kuriling. Ayo, cepat!"

Lelaki yang memang murid Gagak Ciremai itu langsung terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Ia segera melaporkan peristiwa itu kepada gurunya.

"Guru, si mata setan itu kembali menebar maut. Ampunilah kami guru, karena kami tak mampu menghadapi pengacau itu. Ia juga berpesan agar guru menemuinya di lembah Cadas Kuriling."

"Pulanglah, Warso. Aku akan menerima tantangannya."

Sambil menatap kepergian Warso, Gagak Ciremai menghela nafas dalam-dalam. Keningnya tampak berkerut-kerut, sementara matanya menatap lurus ke luar melalui jendela. Tak salah lagi, ilmu pedangnya memang luar biasa. Barangkali aku pun tidak akan mampu menghadapinya. Tetapi sebagai guru silat di desa ini dan sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, aku tak mungkin menolak tantangannya. Akan kuhadapi dia, semoga Tuhan melindungiku. Gagak Ciremai berguman dalam hati.

Kemudian ia menuju ke halaman belakang, menemui pesuruhnya Kosim yang saat itu sedang bercanda ria bersama Ranti.

"Kosim, ibu si Ranti tampaknya belum pulang juga. Mungkin dia agak lama pulangnya. Jagalah anakku baik-baik. Aku akan pergi sebentar ke lembah Cadas Kuriling untuk menemui seseorang."

"Baik, den. Den Ranti akan saya jaga baikbaik. Apakah aden akan lama pulangnya? Kalau ada pesan akan kusampaikan kepada den Ajeng."

"Oh, tidak. Aku hanya sebentar saja. Mungkin sebelum beduk lohor aku sudah pulang." Sehabis berkata begitu, Gagak Ciremai memeluk Ranti. Dibelai-belainya rambut anaknya itu dan diciuminya sepuas-puas hati. Buah hatiku, doakanlah ayahmu... bisiknya dalam hati. Entah kenapa kali ini perasaannya sangat terharu. Hampir saja airmatanya jatuh berderai membasahi pipinya. Tetapi sebagai seorang pendekar yang telah puluhan tahun malang melintang di dunia persilatan, ia masih mampu menahan perasaan.

Gagak Ciremai kemudian menyerah-kan Ranti kepada Kosim, lalu beranjak meninggalkan rumah, diiringi pandangan mata Kosim yang keheranan, seakan-akan firasat pesuruh itu membisikkan sesuatu yang tidak baik.

Gagak Ciremai kemudian menyerahkan Ranti kepada Kosim, lalu beranjak meninggalkan rumah, diiringi pandangan mata Kosim yang keheranan, seakan-akan firasat pesuruh itu membisikkan sesuatu yang tidak baik... Matahari mulai bergulir ke arah barat ketika Gagak Ciremai tiba di lembah Cadas Kuriling. Lembah itu sangat sepi, tak ada suara hiruk pikuk orang mengadu ayam atau suara anak-anak yang sedang bermain-main, atau suara teriakan muridmurid Gagak Ciremai saat latihan jurus-jurus ilmu silat. Di lembah itu ada dataran kecil mirip lapangan. Di pinggirnya, berdiri seorang lelaki, tegak dan tak bergerak-gerak hingga mirip patung. Itulah dia si mata satu!

Pendekar yang dalam beberapa hari ini membuat desa Perbutulan gempar, menatap lurus ke depan. Matanya yang merah bagaikan memancarkan api hampir tak berkedip. Bibirnya terkatup rapat. Dari wajahnya yang dingin itu terpancar kebengisan dan hawa nafsu membunuh yang sepertinya tak mampu dikekang lagi. "Ayah, bertahun-tahun aku menuntut ilmu, kemudian mengembara mengelilingi lereng-lereng gunung Ciremai ini. Hari inilah aku akan menebus dendam patimu. Semoga terwujud sumpah yang pernah kuucapkan di hadapan jenazahmu!" Si mata satu berguman di dalam hati.

Tak lama kemudian, Gagak Ciremai tiba di tempat itu. Guru silat yang kesohor itu melangkah perlahan, kemudian berhenti di ujung dataran kecil itu, sementara di ujung yang satu lagi berdiri pula si mata satu. Kedua pendekar itu saling bertatapan.

"Ha-ha-ha, aku sangat gembira melihat kedatanganmu. Benar juga dugaanku, orang yang selama ini kucari-cari bukan pengecut. Kau telah datang ke sini memenuhi tantanganku. Apakah kau sudah siap?" tanya si mata satu sembari mencekal hulu pedangnya.

"Aku datang untuk menyaksikan permainan golokmu yang luar biasa. Mungkin inilah kesempatan yang pertama kali bagiku menyaksikan ilmu pedang luar biasa. Akan tetapi sebelumnya perkenankanlah aku bertanya, kesalahan apakah yang telah kulakukan hingga Anda mau bersusah payah menyusuri lereng gunung Ciremai ini hanya untuk bertemu dengan aku yang bodoh ini? Siapakah Anda sebenarnya?"

"Hm, rupanya kau telah lupa dengan hutang pati yang telah kau lakukan," bentak si mata satu dengan sikap yang tiba-tiba saja berubah jadi beringas, "Tapi baiklah. Aku pun tidak akan puas sebelum kau mengetahui siapa aku sebenarnya. Orang-orang di lereng selatan menyebutku Gembong Wungu. Kedatanganku ke lereng gunung ini untuk menebus hutang nyawamu, Gagak Ciremai."

"Gembong Wungu, aku tak mengerti maksudmu."

"Jangan belagak pilon, Gagak Ciremai. Ingatkah kau seorang lelaki bernama Gembong Kuning yang kau robohkan lima belas tahun lalu di lereng selatan? Aku adalah anak tunggalnya yang saat itu masih ingusan."

Gagak Ciremai tertegun sejenak. Ia kembali mengingat-ingat pengalamannya semasa muda, saat itu sering mengembara ke seluruh pelosok Jawa Barat, untuk memperdalam ilmunya, termasuk pula menumpas kaum hitam yang sering membuat penduduk sengsara dan tersiksa.

"Ya, aku ingat. Aku ingat, Gembong Wungu. Tapi kau harus mengerti duduk persoalannya. Ayahmu seorang perampok yang selalu mengancam keamanan penduduk desa di lereng selatan. Karena itu saya harap kau tidak termakan emosi. Maksudmu membalas dendam tidak baik, bisa menimbulkan kesan bahwa kau menegakkan kebathilan bukannya kebaikan. Dan perlu kau tahu, saat itu aku sebenarnya tak bermaksud membunuh ayahmu. Aku memberinya kesempatan untuk bertobat, tetapi nyatanya ia tetap bandel. Kewajiban seorang pendekar adalah menumpas kejahatan dan menegakkan keadilan. Tuhan selalu berdiri di pihak yang benar, Gembong Wungu."

"Aku tak butuh ocehanmu gagak pikun. Bagaimana pun, kau telah membunuh ayahku. Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Cabutlah senjatamu, kita selesaikan persoalan kita sampai salah seorang di antara kita menghadap akherat."

"Baiklah, Gembong Wungu. Aku sebenarnya tak ingin berkelahi apalagi

adu nyawa denganmu. Tapi karena kau memaksa, aku pun tidak menolak tantanganmu. Aku sudah siap. Majulah Gembong Wungu!"

Kedua pendekar dari lereng utara dan lereng selatan itu sama-sama menghunus pedang. Melihat golok di tangan Gembong Wungu diamdiam terkejut juga Gagak Ciremai. Golok itu sepintas lalu kelihatannya hanyalah sebatang golok biasa. Namun sebagai pendekar yang sudah cukup banyak makan garam dunia persilatan, tahulah Gagak Ciremai bahwa golok lawan merupakan golok pusaka yang sangat kuat dan berbahaya,

Sambil berteriak dengan suara mengguntur, Gembong Wungu menyerang dengan ganas. Golok pusakanya diayunkan cepat sekali hingga membentuk sinar bagaikan pelangi mengarah ke arah dada Gagak Ciremai. Dengan gerakan yang juga sangat cepat, guru silat desa Perbutulan itu berkelit ke samping, lalu balas menyerang dengan pedangnya. Pertarungan dua jago silat itu berlangsung sangat cepat. Golok mereka diputar sangat cepat hingga membentuk gulungan sinar kemerahmerahan, kadang-kadang terlihat bagaikan membungkus kedua tubuh pendekar sakti itu. Tetapi pada saat-saat tertentu, sinar itu mencelat mengincar tubuh lawan. Suara golok beradu dan teriakan nyaring memenuhi lembah Cadas Kuriling. Kedua tokoh dunia persilatan yang samasama memiliki ilmu kesaktian tinggi itu mengeluarkan segenap kemampuan untuk melumpuhkan lawan. Tubuh mereka berkelebatan menyerupai bayang-bayang, sehingga orang-orang biasa atau yang ilmu silatnya rendah pastilah sulit mengikuti gerakan Gembong Wungu dan Gagak Ciremai.

Sampai jurus yang ke tujuh puluhan, pertarungan maut itu masih berimbang. Gagak Ciremai masih mampu mengimbangi serangan lawan dengan jurus-jurus andalannya. Namun setelah itu, mulai terlihat Gagak Ciremai agak keteter. Diam-diam ia harus mengakui bahwa tenaga lawan lebih kuat dari tenaganya. Selain itu, jurus-jurus Gembong Wungu sangat berbahaya dan sangat tidak terduga. Jagoan bermata satu itu sering terlihat menyerang secara ngawur, tetapi di saat lawan lengah, tiba-tiba ia menyerang dengan jurus-jurus mematikan. Untunglah Gagak Ciremai selalu hatihati hingga sampai saat ini masih bisa bertahan.

Memasuki jurus yang kedelapan puluh, pada saat Gagak Ciremai makin terdesak, tiba-tiba Gembong Wungu menyerang dengan jurus mautnya. Tangan kirinya membentuk cengkeraman menyambar ke arah ubun-ubun lawan sementara pada saat yang hampir bersamaan, kakinya terangkat dengan gerakan kilat menyambar pusar lawan. Serangan itu begitu berbahaya, kalau mengenai sasaran niscaya lawan akan terkapar. Diamdiam Gagak Ciremai terkejut bukan main. Dengan gerakan secepat yang bisa ia lakukan, ia menggeser kakinya, berkelit ke kanan hingga dua serangan itu tidak mengenai tubuhnya. Namun pada saat itu juga ujung golok Gembong Wungu menyambar perut Gagak Ciremai dengan telak.

Disertai jeritan panjang, tubuh guru silat desa Perbutulan itu ambruk ke tanah. Darah segar memancar dari luka menganga di bagian perutnya. Sejenak tubuh itu menggelepar-gelepar bagaikan ayam disembelih, lalu kemudian diam tak bergerak. Maka tamatlah riwayat guru silat yang luhur .... tiba-tiba Gembong Wungu menyerang dengan jurus mautnya. Tangan kirinya membentuk cengkeraman menyambar ke arah ubun-ubun lawan sementara pada saat yang bersamaan, kakinya terangkat dengan gerakan kuat menyambar pusar lawan...

budi itu di ujung golok seorang tokoh hitam dari lereng selatan.

Pada saat yang bersamaan, dengan tangan gemetar, istri Gagak Ciremai membaca secarik kertas yang ditinggal suaminya di atas meja. Isi surat itu singkat saja, namun cukup membuat istri Gagak Ciremai menjadi pucat pasi dengan dada berdebar-debar tak karuan.

Istriku, sayang. Bukan aku hendak mendahului kehendak yang Maha Kuasa. Kurasa tindakan yang paling tepat adalah menerima tantangan si durjana ini. Bila aku tidak kembali, janganlah kau menangis, tetapi berdoalah. Karena semua ini adalah takdir...

"Oh, tidak! Tidak....!" jerit istri Gagak Ciremai. Dengan perasaan tak menentu, wanita itu berlari-lari ke Cadas Kuriling. Ia tak memperdulikan apa-apa lagi. Ia mengerahkan segenap kemampuannya berlari secepat mungkin agar bisa sampai secepatnya ke lembah Cadas Kuriling. Sambil berlari-lari, wanita itu tak henti-hentinya menangis dan menyebut-nyebut nama suaminya.

Sesampai di lembah itu, maka terhenyaklah istri Gagak Ciremai karena jenazah suaminya sudah dikebumikan dua orang murid suaminya itu. Ia menubruk gundukan tanah merah itu sambil meratap sejadi-jadinya. Perpisahan itu sungguh tak pernah diharapkannya, tetapi kini sudah jadi kenyataan. Lelaki yang sangat dicintainya dengan segenap jiwa raganya telah pergi untuk selamanya. Tiada lagi, semuanya telah hancur. Maka pupus pulalah harapan istri Gagak Ciremai.

Wanita itu menjerit-jerit histeris bagaikan orang yang telah kehilangan kewarasan. Ia bangkit meninggalkan kuburan suaminya dan berlari ke arah semak-semak belukar di tempat itu. Dua murid Gagak Ciremai terpaku bagai kena sihir. Keduanya hanya melongo saja, dan ketika tubuh istri Gagak Ciremai telah lenyap di balik belukar, mereka tersentak tersadar lalu sama-sama mengejar. Namun tubuh wanita itu benar-benar lenyap entah ke mana.

Tamatnya riwayat Gagak Ciremai di tangan Gembong Wungu ternyata menjadi awal malapetaka bagi penduduk desa Perbutulan. Jagoan bermata satu dari lereng selatan itu ternyata tidaklah meninggalkan desa itu setelah berhasil melampiaskan dendam kesumatnya kepada musuhnya. Tokoh hitam itu melangkah dengan sikap bengis di antara rumah-rumah penduduk dengan sikap siap sedia membunuh siapa saja yang tampak oleh batang hidungnya.

Sambil membusungkan dada, Gembong Wungu melangkah ke rumah Gagak Ciremai. Ia langsung menendang daun pintu rumah guru silat itu hingga jebol. Kosim yang saat itu meringkuk ketakutan sambil mendekap Ranti semakin ketakutan lagi. Sekujur tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi seolah-olah tak dialiri darah lagi.

"Siapa kau, kunyuk? Heh, anak siapa itu? Bawa anak itu ke mari. Ayo, jangan merondok saja di situ!" bentak Gembong Wungu sambil berkacak pinggang.

"Ja... jangan, tuan. Jangan... oh, ampun tuan. Dia tidak berdosa. Jangan membunuhnya," "Ke sini,  kataku.  Aku senang dengan mata

si mungil yang bening menantang bagaikan bintang kejora itu. Mari, sayang. Jangan takut,  ya    "

Lalu dengan suara yang kembali kasar ia bertanya kepada pesuruh Gagak Ciremai: "Hei, tolol. Siapa namamu?" "Ko... Kosim, tuan "

"Ha-ha-ha. Kosim. Saksikanlah. Mulai de-

tik ini si mungil ini menjadi anak angkatku. Akan kudidik dia menjadi seorang pendekar  yang  gagah berani," kata Gembong Wungu sambil menimang-nimang anak itu.

Sejak saat itu pula, Gembong Wungu mengangkat dirinya sebagai pengganti kedudukan Gagak Ciremai. Namun banyak di antara penduduk desa yang menolak jadi muridnya, lalu melarikan diri ke desa lain. Sebaliknya, di desa Perbutulan semakin banyak penjahat, tokoh-tokoh dari dunia hitam. Sebab kemudian ternyata Gembong Wungu bukannya menjadi pemimpin yang baik seperti almarhum Gagak Ciremai, tapi menjadi gembong komplotan garong dan rampok. Desa Perbutulan yang dulu aman tenteram, kini berubah jadi angker. Penduduk makin hari makin tersiksa oleh kekejaman Gembong Wungu dan pengikutnya. Di sana sini terjadi perampokan, pemerasan, perkosaan dan kejahatan lainnya. Penduduk yang mencoba menentang langsung ditumpas tanpa ampun.

Maka makin banyak jua lah korban yang jatuh di ujung pedang si mata satu serta pengikutnya. Kini tiada lagi penduduk yang bisa hidup dengan tenang. Siang dan malam mereka tertekan, tersiksa dan selalu diburu kecemasan akan kejamnya penjahat di desa mereka.

Keganasan Gembong Wungu serta pengikutnya ternyata tidak hanya di desa Perbutulan saja, tetapi juga merembet sampai ke kota praja. Ganasnya sepak terjang Gembong Wungu dan pengikutnya sampai pula ke telinga para pejabat pemerintah Kompeni Belanda. Pemerintah penjajah ini pernah mengirimkan bala tentara menumpas komplotan Gembong Wungu. Tetapi dengan mudah, pasukan pemerintah Belanda itu ditumpas pasukan Gembong Wungu.

Pemerintah Belanda akhirnya merasa kewalahan juga. Di samping itu, mereka juga punya perhitungan lain, karena berbagai pertimbangan dan alasan mereka akhirnya merasa tak perlu menumpas komplotan penjahat itu, yang penting anak buah Gembong Wungu tidak mempengaruhi hasil pajak yang dipungut dari daerah-daerah. Lagi pula Gembong Wungu bertindak hanya terbatas pada kejahatan biasa untuk kepentingan pribadi atau kelompok kecil. Tidak ada tanda-tanda persatuan untuk menjadi pemberontak terhadap penjajah.

Waktu pun berputar, biar lambat namun pasti. Berbagai kejadian telah tercatat dalam sejarah, tersimpan dalam ingatan orang dan yang kelak menjadi kenangan. Hari berganti hari kemudian minggu bulan dan tahun pun silih berganti.

Lima belas tahun telah berlalu sejak tewasnya Gagak Ciremai di tangan Gembong Wungu. Selama itu pula penduduk desa Perbutulan hidup tersiksa di bawah kejamnya tangan pendekar bermata satu itu. Bahkan komplotan yang terdiri dari tokoh-tokoh dunia hitam itu kini sudah membentuk negeri kecil, hidup di balik tembok yang kuat, sebuah negeri rampok.

Selama lima belas tahun itu pula, kedudukan Gembong Wungu makin kuat, tak ubahnya seorang raja. Setiap kata yang keluar dari mulutnya merupakan undang-undang tak tertulis bagi pengikutnya dan berlaku dalam lingkungan desa perampok itu.

Ranti, putri tunggal almarhum Gagak Ciremai itu pun kini sudah menjadi seorang dara jelita yang tangkas. Sejak anak itu pintar berjalan, ia telah digembleng ayah angkatnya. Dalam hal yang satu ini, Gembong Wungu memang bersikap lain. Ia dengan tulus ikhlas menurunkan semua ilmu yang ada padanya. Tidaklah mengherankan, jika pada usia seremaja itu, Ranti telah memiliki ilmu yang tinggi.

Gadis itu mirip ibunya. Matanya yang mungil selalu berbinar binar. Rambutnya yang hitam panjang dikuncir ke belakang dengan pita emas. Bibirnya tipis dan merah merekah, sehingga jika mengulum senyuman maka terciptalah keindahan yang mampu menggoda siapa pun yang melihatnya.

Namun karena perlakuan Gembong Wungu, jadilah gadis itu menjadi seorang wanita yang bersikap manja tetapi berwatak keras. Semua kemauannya harus dituruti! Dan sekalipun ia cantik jelita bagaikan bidadari yang turun dari langit, tak seorangpun lelaki di desa itu berani menggodanya, apalagi bersikap kasar. Para lelaki itu hanya bisa mengagumi kecantikan Ranti secara diam-diam.

Hari itu matahari mulai condong ke barat. Udara mulai menyejuk. Di sebelah selatan desa Perbutulan ada sebuah hutan yang letaknya lebih tinggi di lereng gunung Ciremai.

Angin yang berhembus sepoi-sepoi menyibak rambut seorang pemuda yang sedang duduk sendirian di hutan itu. Ia masih muda, baru berusia sekitar dua puluh tahun, namun sinar matanya tampak memancarkan kedewasaan yang mengagumkan. Wajahnya tampan dan tampak selalu simpatik dan ramah.

Tetapi kini, ia duduk termenung. Sinar matanya yang tadi cerah, kini berubah jadi muram. Agaknya pemuda itu sedang gundah gulana. Dan itu kemudian tercermin dari alunan serulingnya yang terasa menyayat-nyayat hati. Suara serulingnya kadang-kadang melengking-lengking. Dan apabila angin berhembus kencang, suara sending itu kadang-kadang hilang dan kadang-kadang sangat nyata, seolah-olah ditiup di dekat daun telinga.

Lagu yang dialunkannya adalah sebuah lagu kiser, salah satu jenis lagu rakyat Cirebon, yang sangat romantis. Rupanya irama lagu itu sangat menarik perhatian penghuni hutan itu, yang tak lain adalah monyet-monyet. Sejak dulu, hutan itu memang hanya dihuni binatang tersebut, tak ada binatang lainnya. Monyet-monyet itu berloncatan dari atas pohon menuju ke arah suara merdu itu.

Orang menyebut hutan itu dengan nama 'Plangon'. Dan sampai sekarang hutan itu masih banyak dihuni monyet dan sering didatangi mudamudi sebagai tempat rekreasi.

Parmin, demikian nama lelaki tampan yang sedang meniup seruling itu. Ia tampak tersenyum melihat monyet-monyet itu mengerumuni dirinya, layaknya pengagum artis.

Tanpa diduga-duga, monyet-monyet itu berloncatan ke punggungnya. Bahkan ada pula yang ke kepala, menyibak-nyibak rambut Parmin hendak mencari kutu. Sementara yang lainnya menyambar topi yang terbuat dari anyaman bambu milik Parmin, lalu memakainya. Yang lainnya menarik seruling dari tangan Parmin dan mencoba meniupnya.

Parmin betul-betul kewalahan. Tetapi ia senang. Ia tak henti-hentinya tertawa menyaksikan tingkah laku monyet-monyet itu. Lalu ketika monyet-monyet itu membawa kabur topi dan serulingnya, Parmin cuma tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ah, biarlah mereka bersenang-senang dengan seruling itu. Nanti akan kubikin lagi seruling yang lebih bagus, kata lelaki itu dalam hati.

Ketika ia berdiri kembali, tubuhnya terasa lebih segar dan ringan. Rasa penatnya telah hilang, setelah sejak pagi tadi ia menempuh perjalanan yang sangat jauh. Karena hari masih panas, ingin lah ia mandi di sungai tak jauh dari tempatnya istirahat tadi. Maka ia pun segera menuruni tebing-tebing yang cukup terjal.

Suara gemercik air menerpa batu-batu terdengar dari kejauhan seperti irama lagu yang biarpun monoton namun terasa mengandung suatu keindahan yang tiada taranya. Air sungai itu sangat jernih, sehingga dasarnya yang cukup dalam kelihatan dengan nyata. Beberapa ekor ikan kecil berenang cepat, membentuk lengkunganlengkungan cahaya warna-warni bagaikan pelangi di senja hari.

Ketika hendak membuka bajunya, tiba-tiba terkejutlah lelaki itu karena tak jauh di seberang sungai tampak olehnya seorang wanita. Parmin tak habis pikir, kenapa ada wanita muda belia dan cantik lagi berani sendirian di sungai yang sepi  itu. Wanita itu agaknya baru saja selesai mandi. Ia tengah berdandan di atas batu di tengah kali.

Karena merasa kurang sopan berada di sungai dekat wanita, Parmin bermaksud meninggalkan tempat itu, mandi di tempat yang agak jauh, di hulu atau di mudik sungai.

Namun baru beberapa langkah beranjak, tiba-tiba kilatan-kilatan cahaya menyambar tubuhnya. Parmin merasakan ada senjata rahasia meluncur cepat sekali ke arah tubuhnya.

Sambil berseru nyaring, ia meloncat tinggi kemudian berjumpalitan di udara, sehingga senjata-senjata rahasia berupa pisau-pisau kecil itu tak berhasil mengenai tubuhnya. Pisau-pisau itu tertancap ke dinding batu.

Dengan gerakan yang sangat ringan, Parmin kemudian mendarat di atas batu, sekitar lima belas meter dari hadapan wanita yang sedang mandi itu.

"Maafkan aku, nona. Aku tak sengaja melihatmu tadi. Sungguh, nona. Maafkan kelancanganku ini," kata Parmin.

"Cih, laki-laki hidung belang. Tak tahu malu! Apa maksudmu mengintipku mandi, heh? Kalau ayahku tahu kekurangajaranmu, lehermu pasti dipelintir sampai buntung, bajingan. Rupanya kau belum tahu siapa aku, ya. Akulah putri Gembong Wungu jago silat tanpa tanding yang kesohor di seluruh lereng Gunung Ciremai." Gadis yang tak lain tak bukan Ranti, putri almarhum Gagak Ciremai itu berkata dengan suara membentakbentak.

"Ah, sungguh tak dinyana hari ini aku dapat kehormatan besar bertemu dengan putri pendekar yang sangat sakti itu. Nama ayahmu terkenal sampai ke pantai utara, tempat asalku, nona."

"Daerah ini adalah daerah kekuasaan ayahku. Setiap orang asing yang menginjakkan kakinya di sini harus terlebih dulu meminta izin kepada ayahku. Janganlah kau bertindak seenakmu di daerahku dengan permainan silatmu yang cuma mainan anak-anak itu. Caramu mengelak seranganku tadi biasa dilakukan anak-anak di desa kami. Karena itu, sekali lagi kuperingatkan agar kau jangan coba-coba berbuat seperti ini lagi."

Terkejut juga Parmin mendengar kata-kata Ranti yang angkuh dan congkak itu, Wajahnya cantik dan suaranya pun merdu, tapi sikapnya sungguh tidak bermoral. Tetapi sebagai orang yang sudah berpengalaman, Parmin merasa tak perlu meladeni keangkuhan gadis itu. Ia merasa lebih baik secepatnya meninggalkan tempat itu.

Tetapi ketika hendak berbalik, Ranti membentak: "Tunggu dulu, bajingan! Kau belum boleh pergi!"

"Ah, nona. Kenapa nona segalak itu? Aku benar-benar minta maaf padamu, karena tadi maksudku sebenarnya hanya ingin mandi. Tetapi rupanya nona sudah terlebih dulu berada di sini. Aku melihat nona tanpa sengaja. Sekarang aku hendak membuka baju, nona. Harap nona mau bermurah hati meninggalkan tempat ini. Mudahmudahan di lain kesempatan kita masih bisa bertemu lagi."

"Idih, dasar laki-laki tak tahu malu." Gadis itu membuang muka ketika Parmin membuka baju, lalu dengan muka yang berubah merah padam, ia berkata : "Tapi baiklah. Saya akan pergi. Tapi ingat, kau masih punya urusan denganku. Bagaimana pun juga, kelancanganmu ini tidak boleh didiamkan."

"Terimakasih atas kemurahan hati nona. Tolong katakan kepada ayahmu, bahwa ada seseorang yang numpang bermalam di desa ini," kata Parmin sambil menatap kepergian gadis itu, yang meloncat dengan gesitnya ke atas tebing.

Ranti merasa kesal, kecewa, marah dan entah apa lagi. Sesampainya kembali di rumah, ia duduk termenung di kamarnya. Wajah pemuda yang tadi bertemu dengannya di sungai kembali terbayang di benaknya. Tubuh pemuda itu demikian kekarnya, bersih dan berisi. Sinar matanya tajam dan berbinar-binar. Wajahnya pun tampan dan mencerminkan sesuatu yang sangat istimewa, yang tak ditemui pada wajah para jejaka di desa Perbutulan.

Ada perasaan aneh menyelinap ke dalam hati Ranti sebagai seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Tetapi entah perasaan apa, ia sendiri tidak tahu pasti. Yang jelas, perasaan itu selama ini belum pernah muncul di dalam hatinya. Perubahan gadis cantik jelita itu rupanya tidak luput dari perhatian Gembong Wungu. Tokoh dari kalangan hitam itu menghampiri Ranti. Ditepuknya bahu Ranti dengan penuh kasih sayang.

"Ranti anakku. Mengapa kau termenung saja sejak tadi? Adakah sesuatu yang sedang kau pikirkan atau yang membuatmu terganggu? Si Minem sudah menyiapkan makanan untukmu. Ayo, makanlah, tak baik jika mengurung diri terlalu lama di kamar. Nanti kau sakit."

"Aku belum lapar, ayah. Nanti saja."

"Ah, jangan begitu anakku. Kau kan tahu, ayah sangat sayang padamu. Ayo, makanlah anakku!"

"Baiklah, ayah!"

Sore itu, Parmin mendatangi seorang petani di desa itu. Dengan sikap yang sopan dan ramah tamah, ia mengutarakan maksudnya hendak mencari pekerjaan, karena ia sangat memerlukan bekal untuk perjalanan selanjutnya. "Nama saya Parmin, pak. Saya berasal dari desa Eretan."

"Wah, kau datang dari jauh, Nak? Baiklah, kebetulan sekali aku sedang membutuhkan tenaga mengolah sawah. Besok kau sudah boleh bekerja dan boleh tidur di sini kalau kau suka."

"Terimakasih, pak."

"Penghidup petani di desa ini sekarang susah, Nak. Pajaknya yang harus disetor ke Kotapraja besar sekali. Belum lagi uang jaminan kepada Gembong Wungu. Jika tak dibayar, anak buahnya pasti berbuat kejam, tak segan-segan membakar sawah saat padi mulai berbuah. O, iya Nak. Kunasehatkan janganlah bertindak sembarangan di desa ini. Jangan sampai mengganggu gadis cantik putri raja rampok itu. Aku juga mengerti tentang gejolak hati kaum remaja. Tetapi salah-salah bisa ketiban pulung."

"Terimakasih atas nasehat bapak. Saya akan selalu mengingatnya."

Demikianlah besok harinya ketika ayam mulai berkokok, Parmin sudah bangun. Segar sekali rasanya udara di pagi itu. Dengan langkah ringan, pemuda itu berangkat ke sawah, membawa dua ekor kerbau dan bajak.

Dengan bertelanjang dada, ia membajak sawah. Tubuhnya yang kekar berkilau-kilau dibasahi keringat. Otot-ototnya tampak sangat kekar dan kuat.

Dalam waktu tiga hari saja, ia sudah hampir selesai mengerjakan sawah petani desa itu. Sambil memegang bajak di belakang kedua ekor kerbau, ia sekali-kali berteriak-teriak agar kerbaunya tak malas.

Ia sama sekali tak menyadari ada sepasang mata bening mengawasinya dari balik pepohonan. Mata itu menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman.

Parmin baru menyadarinya ketika gadis yang ternyata putri Gembong Wungu itu melangkah mendekat. Gadis itu berdiri di pematang sawah sambil menatap Parmin dengan berbinarbinar.

"Eh, nona. Selamat siang, nona. Mengapa nona berdiri di situ? Lihatlah, matahari demikian teriknya. Nanti kulit nona menjadi hitam," ujar Parmin sambil melirik sejenak pada gadis itu. Setelah itu, ia kembali meneruskan pekerjaannya.

"Memangnya orang lihat tidak boleh? Kalau kulitku jadi hitam, biar saja. Apa urusanmu?"

Parmin tersenyum geli mendengar ucapan gadis itu. Enak juga bekerja dimandori gadis cantik, katanya dalam hati.

"Hei, kamu!" teriak Ranti lagi, "Dengarlah, aku ingin memberi saran padamu."

"Saran? Saran apa maksudmu, nona?" "Dengarlah baik-baik. Daripada kau meme-

ras keringat seperti ini hanya untuk upah beberapa gulden dan sesuap nasi, lebih baik kau jadi anak buah ayahku. Ayah pasti senang menerimamu. Ilmu silatmu cukup tinggi."

"Ah, ilmu silatku hanya sampai tingkat anak-anak kecil di desa ini."

"Aku sungguh-sungguh!"

"Terimakasih atas saran mu. Tapi aku tak ingin jadi perampok. Merampok ada lah pekerjaan haram. Aku lebih senang dengan upah kecil asalkan pekerjaan itu halal."

"Haram? Apa maksudnya?"

Ah, orang ini benar-benar tak tahu ajaran agama, pikir Parmin diam-diam. "Haram artinya sesuatu yang tidak diridhoi Tuhan. Sesuatu yang dilarang Tuhan. Sedangkan halal sebaliknya, nona."

"Ayahku tak pernah berkata begitu." Ranti kemudian duduk di pematang sawah sehingga pakaiannya berlepotan lumpur.

"Nona jangan duduk di situ. Nanti pakaian nona jadi kotor."

"Biar saja kotor. Nanti ada yang mencucikannya. Ayahku punya banyak pelayan perempuan yang juga memijat ayah bila sedang kecapaian."

Itu namanya, gundik nona manis, kata Parmin dalam hati. Pemuda itu kembali meneruskan pekerjaannya, di bawah tatapan sepasang mata Ranti yang terlalu sukar ditebak maknanya.

Dan sejak itu pula, perasaan aneh di dalam hati Ranti makin menjadi-jadi. Jika sedang sendirian di rumah, ia merasa tak betah. Malam harinya, matanya sulit terpejam sebab wajah Parmin selalu terbayang-bayang di pelupuk matanya. Ada sesuatu gejolak perasaan tak menentu dalam dirinya jika bertemu dengan pemuda itu. Dan jika tak ketemu, perasaan itu malah semakin tak terbendung.

Sebagai gadis yang sudah terbiasa dimanja, Ranti pun tidak mau perduli sekarang. Pada sangkanya, ia boleh saja berbuat sesuka hati terhadap Parmin. Bukankah selama ini tak ada yang berani menolak kehendaknya?

Maka saban hari, Ranti selalu mendatangi Parmin. Ada-ada saja yang dikatakan atau ditanyakannya. Bahkan ketika pemuda itu sedang sembahyang, Ranti tak segan-segan duduk atau berdiri di dekatnya, sambil bertanya yang bukanbukan. Kadang-kadang Parmin jengkel dibuatnya.

"Kenapa kau masuk ke mari tanpa seijin tuan rumah?" tanya Parmin pada suatu hari. Ucapannya tidaklah berupa pertanyaan, tetapi cenderung teguran atas kelancangan gadis itu.

"Aku bebas ke mana saja aku suka. Tak seorang pun berani melarangku."

"Tapi ini rumah orang. Seharusnya kau tahu sopan santun."

"Masa orang mau ketemu saja tidak boleh. Waktu aku datang ke sini, petani tua itu tidak ada. Aku tak mungkin capek-capek mencarinya hanya untuk permisi. Tapi kalau yang punya rumah ini marah, boleh saja. Besok tentu dia akan dihajar ayahku sampai mampus."

"Dengar, nona! Seorang wanita masuk ke kamar laki-laki adalah berbahaya, apalagi kau seorang perawan."

Ranti tidak tersinggung mendengar ucapan itu. Ia malah tersenyum manis, hingga kecantikannya tampak semakin nyata.

"Heh, siapa namamu? Parmin, ya? Parmin! Parmin! Kau suka sembahyang, bukan? kau santri. Kata ayahku, orang yang suka sembahyang itu namanya santri. Tapi ayahku tidak senang melihat santri. Eh, apa sih gunanya sembahyang itu?"

Mendengar pertanyaan gadis itu, tergerak juga hati Parmin untuk menjelaskan. Bagaimana pun juga, ia menyadari Ranti jadi begitu hanya karena pengaruh lingkungan. Orang seperti Gembong Wungu tentulah tidak mau mengajarinya mengenai agama. Diam-diam Parmin merasa kasihan juga, karena Ranti, telah terjerumus dalam kehidupan yang tak baik. Hidup dalam dunia kegelapan.

"Dengarlah, nona. Kau telah diberi mata untuk melihat keindahan. Telinga untuk mendengar musik yang merdu. Hidung untuk mencium bau yang harum semerbak. Mulut untuk merasakan lezatnya makanan serta otak untuk berfikir. Kau punya tangan, kaki, rambut yang ikal mayang dan punya tubuh yang indah molek. Semua itu adalah pemberian Tuhan, yang menciptakan semuanya itu."

"Tapi yang menciptakan aku adalah ayah dan ibuku. Kau salah."

"Bukan, nona. Pernahkan kau melihat seorang anak yang berwajah buruk, hidungnya pesek, mulutnya monyong, matanya juling serta pipinya tembem? Semua itu juga pemberian Tuhan. Ayah dan ibu si anak tentu tak menginginkan rupa anaknya seburuk itu. Semua orang tua ingin punya anak yang cantik seperti kau. Tetapi mereka tidaklah bisa menciptakannya itu. Ayah dan ibu hanya merupakan perantara untuk melahirkan kita ke dunia ini."

"Ho-oh. Aku mengerti. Tetapi kalau memang begitu, berarti Tuhan tidak adil. Kenapa ada yang cantik dan ada yang jelek?"

"Ah, kau telah salah paham nona. Pernahkah kau lihat orang yang wajahnya buruk tapi perangainya baik, punya wajah cantik tapi perangainya jelek? Pasti pernah. Itulah keadilan Tuhan. Tuhan maha adil. Karena itu nona tidak boleh memandang orang dari segi luarnya saja. Rupa itu hanyalah pembungkus yang kelak pasti akan hancur dimakan tanah."

"He-em. Aku mengerti. Kau betul. Lalu apa hubungannya dengan sembahyang?"

"Kita telah diciptakan Tuhan seadil-adilnya. Tuhan mencintai umatnya, maha penyayang dan pengasih. Oleh karena itu, kita wajib berterimakasih dan membalas kasih sayangnya dengan sembahyang dan mematuhi semua perintahNYA. Merampok adalah pekerjaan yang dilarang Tuhan, karena perbuatan itu merampas hak orang lain, menyiksa orang lain. Suatu saat, Tuhan akan menghukum orang yang berbuat demikian."

Ranti tampaknya belum memahami sepenuhnya kata-kata Parmin yang mirip khotbah itu. Tetapi ucapan itu menambah rasa kagum di hatinya. Kadang-kadang, gadis itu membuntuti Parmin tanpa sepengetahuannya. Atau kadangkadang ia mencegat di tengah jalan. Seperti di siang hari bolong itu, ketika Parmin berjalan sendirian di hutan sambil membawa sekeranjang pisang dan kacang tanah.

"Hei, buat apa kau bawa pisang dan kacang tanah?" tanya Ranti setengah berteriak.

"Buat kawan-kawanku."

"Kawan-kawanmu? Bolehkah aku ikut? Aku ingin tahu siapa kawan-kawanmu itu. Boleh, kan?"

"Kenapa nona selalu mengikuti aku? Aku takut terjadi apa-apa. Nanti aku pula yang disalahkan."

"Betul, Parmin. Terus terang saja, sejak ayah tahu kita telah berkenalan, ayah merasa tak senang padamu. Alasannya karena kau selalu sembahyang. Kata ayah itu tidak baik. Tapi aku senang bersahabat denganmu. Kau baik hati, dan sikapmu lain dari pemuda-pemuda di desa ini."

Parmin manggut-manggut mendengar ucapan gadis itu.

Tak lama kemudian, kedua insan berlainan jenis itu sampai ke Plangon.

"Hei, kawan-kawan. Silakan turun. Aku membawa oleh-oleh untuk kalian!" seru Parmin sambil menatap ke sekelilingnya.

Sekejap kemudian, monyet-monyet berloncatan dari balik pepohonan, dan langsung mengerumuni Parmin. Ranti terkejut bukan main, manusia bisa bersahabat dengan binatang, pikirnya.

"Lihatlah mereka, nona. Mereka hidup rukun, tidak saling merebut hak kawannya. Sebuah contoh yang baik bagi manusia."

"Apakah setiap hari kau melakukannya terhadap binatang-binatang ini? Dan apakah hanya untuk mereka pula kau memeras keringat setiap hari? Apa gunanya berkawan dengan monyet?"

"Oh, kau jangan salah mengerti nona. Aku bekerja bukan untuk mereka, tapi untuk diriku sendiri. Bersahabat dengan mereka tentu ada gunanya. Karena binatang lebih tahu membalas budi kepada kita."

"Aku jadi tak mengerti."

"Mungkin karena nona belum membuktikan sendiri. Tapi sebagai orang baik, kita harus menyayangi binatang, karena mereka pun adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kita tak boleh menyiksa binatang apalagi menyiksa manusia. Kita tidaklah boleh membunuh makhluk di bumi dengan seenaknya saja tanpa rasa perikemanusiaan. Karena itu dapatlah kau bayangkan, betapa jahat dan terkutuknya perbuatan para perampok."

Ranti tersentak mendengar kata-kata itu. Perampok! Hatinya berulang kali membisikkan kata-kata itu. Bukankah ayahnya Gembong Wungu adalah perampok, bahkan rajanya perampok? Kalau memang apa yang diucapkan Parmin, berarti ayahnya adalah orang yang tidak baik. Tetapi selama ini ayahnya selalu berbuat baik padanya, selalu memanjakan dan menyayanginya. Kata-kata Parmin itu menjadi bahan pemikiran bagi Ranti pada hari-hari selanjutnya. Kisah menarik selama lima belas tahun terakhir ini tidak hanya terpaku pada Ranti, putri almarhum Gagak Ciremai yang dididik serta dibesarkan Gembong Wungu.

Masih di lereng Ciremai, cukup jauh dari tempat pembicaraan Parmin dan Ranti, ada sebuah hutan yang juga hampir tak pernah didatangi manusia.

Hutan itu sangat lebat dan banyak dihuni binatang buas. Tetapi sebenarnya bukan binatangbinatang berbisa dan buas itu yang membuat orang tak mau menginjakkan kakinya di hutan itu. Ada sesuatu di hutan itu, yang misterius sekaligus menyeramkan yang dari tahun ke tahun menjadi buah bibir dan semacam legenda.

Di hutan itu berkeliaran berbagai jenis makhluk halus seperti jin, hantu, mambang, peri, siluman, setan dan entah apa lagi. Seribu satu macam dedemit yang kabarnya tak kenal kompromi dengan manusia. Sebagian penduduk malah percaya hutan itu adalah tempat perkumpulan segala jenis makhluk halus. Karena itu, penduduk tidak berani pergi ke hutan itu, sebab mereka percaya setiap orang yang berani menginjakkan kakinya di situ, pastilah akan menemui ajalnya di mangsa para dedemit itu.

Orangtua misalnya jika sedang memarahi anaknya, sering menyebut-nyebut hutan itu. Kukirim kau ke hutan dedemit itu, biar tahu rasa kamu. Dan biasanya, si anak langsung ketakutan dan tidak mau lagi melawan orangtuanya.

Walaupun demikian, jika misalnya ditanya apakah sudah ada yang pernah membuktikan kebenaran adanya makhluk-makhluk halus itu, mungkin semuanya akan menggelengkan kepala.

Di sinilah terlihat tidak sedikit manusia yang demikian mudahnya ter-makan hasutan. Kadang-kadang, orang juga suka mengada-ada mengatakan yang tidak ada itu ada. Karena orang yang mendengarnya mudah terpengaruh, maka langsung saja percaya biarpun belum membuktikan sendiri. Pada satu sisi, manusia bisa diperbudak khayalan buruk yang tercipta karena mendengar cerita-cerita menyeramkan.

Di sebuah tempat yang agak lapang di tengah hutan angker itu, terdapat air terjun yang menurut kepercayaan orang adalah tempat para jin itu mandi.

Air terjun itu cukup tinggi, sekitar lima belas meter dan airnya pun cukup besar sehingga tekanannya cukup kuat. Itu terbukti oleh  suara air menghantam bebatuan terdengar sampai ratusan meter. Dasar air terjun itu juga selalu mengepulkan uap mirip asap, padahal airnya sangat dingin.

Di dekat air terjun itu, di atas sebongkah batu tampak sesosok tubuh bergerak-gerak. Kadang-kadang lambat, kadang-kadang cepat sekali hingga sukar diikuti pandangan mata biasa. Sosok tubuh itu rupanya sedang memainkan jurus-jurus ilmu silat tinggi.

Apakah ada jin atau setan sedang berlatih

silat?

Tidak! Sama sekali tidak.  Sosok tubuh  itu

adalah manusia biasa, tepatnya wanita. Wajahnya sudah cukup tua, mungkin sudah enam puluh tahun. Atau mungkin lebih muda sebenarnya, tetapi karena rambutnya awut-awutan dan pakaiannya pun compang-camping, ia tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Di wajahnya, terutama di bagian dahinya terlihat kerut-kerut yang nyata. Tidak hanya mencerminkan ketuaan, tetapi juga  penderitaan bathin yang teramat sangat.

Wanita tua itu memainkan jurus-jurus ilmu pedang yang teramat dahsyat. Pedangnya diputar cepat sekali membentuk gulungan sinar kemerah-merahan, menandakan betapa cepatnya gerakan pedangnya.

Kadang-kadang ia meloncat tinggi ke udara, lalu meluncur bagaikan burung rajawali dengan gerakan menyambar ke bawah. Pedangnya menusuk sementara kedua kakinya menendang ke arah kiri dan kanan. Pada saat yang bersamaan, tangan kirinya membentuk cengkeraman meluncur juga dengan kecepatan luar biasa dan mengandung tenaga dalam yang teramat dahsyat.

Serangan yang sangat mematikan. Dapat dipastikan, pendekar silat yang memiliki ilmu biasa-biasa saja, akan tewas oleh serangan itu.

"Ciaaat...!" Wanita itu berteriak nyaring sambil mengerahkan tenaga dalam hingga tempat itu terasa bergetar. Bersamaan dengan itu, tubuhnya mendarat ringan di atas bongkahan batu. Pergelangan tangan kanannya diputar, sehingga pedangnya yang tadinya menusuk berubah menjadi membabat.

"Mampus kau, laknat! Mampus kau. Mampus...!" teriak wanita itu dengan beringas.

Tetapi kemudian, tiba-tiba ia menjatuhkan diri menelungkup di atas batu sambil menangis tersedu-sedu.

"Kakang, oh kakang. Betapa beratnya penderitaan bathinku. Tapi akan kubalaskan dendam pada si laknat itu. Waktu itu akan segera tiba kakang. Si bangsat itu pasti mati di tanganku..."

Mendadak, ia bangkit lagi, Matanya yang masih basah kini berubah merah bagaikan memancarkan api. Rupanya dalam keadaan sedih ia tetap waspada. Pendengarannya yang sangat tajam menangkap suara mendesis-desis di atas pohon. Sewaktu ia mengangkat wajah, tampaklah olehnya seekor ular belang-belang sebesar paha orang dewasa melingkar di dahan pohon, sementara mulutnya terbuka, siap mematuk mangsa yang lewat di bawah.

"Kebetulan aku sudah lapar sekali. Sejak tadi perutku keroncongan," ujarnya setengah bergumam. Secepat kilat wanita itu meloncat. Seberkas cahaya menghantam leher ular itu, hingga putus seketika oleh pedang di tangan wanita itu.

Wanita itu kemudian menarik tubuh ular yang panjangnya lebih sepuluh meter. Dipotongnya tubuh ular itu menjadi tiga bagian sambil tak henti-hentinya terkekeh-kekeh.

"He-he-he...! Makan besar aku hari ini. Kupotong menjadi tiga. Yang paling besar ini buat kau, kakang. Yang tengah untukku dan ekornya buat anak kita."

Lalu dilahapnya daging ular mentah itu. Darah segar menetes dari mulutnya. "Enak....

enak sekali. Puas, puas rasanya sekarang. Kakang, lihat tetangga kita juga merasakannya. "

Malam harinya, wanita itu menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu duduk bersila di tengah-tengah air terjun yang deras dan penuh gemuruh itu. Tak terlihat bahwa wanita itu terganggu oleh derasnya air terjun yang menimpa tubuhnya. Ia juga tak merasa kedinginan sedikit pun juga. Suatu pertanda betapa hebatnya tenaga dalam wanita itu.

Siapakah sebenarnya wanita itu? Tak ada yang mengetahuinya. Sebab jangankan menjenguknya ke hutan angker itu, membicarakan hutan itu saja orang sudah pada takut. Orang mungkin per nah mendengar suaranya jika kebetulan agak dekat ke hutan itu. Tetapi orang yang mendengarnya tentulah menjadi ketakutan karena mengira suara itu adalah suara para dedemit.

"He he he… Makan besar aku hari ini. Kupotong menjadi tiga... Yang paling besar ini buat kau. Yang tengah untukku, dan ekornya buat anak kita." Suatu malam ketika rembulan sedang bersinar dengan terangnya. Angin bertiup sepoi-sepoi. Dedaunan bergoyang-goyang berkilau-kilau ditimpa sinar rembulan. Suasana sangat sepi, karena penduduk sudah tidur lelap di bawah selimut. Hanya beberapa orang saja penjaga di sekitar rumah Gembong Wungu masih berjaga-jaga.

Tetapi tanpa sepengetahuan para penjaga itu, wanita penghuni hutan angker telah menyelinap masuk ke halaman rumah. Dengan gerakan ringan bagaikan kapas, wanita itu meloncat ke atas genteng. Ia melangkah sambil mengendapendap lalu mengintip ke bawah.

Sebentar kemudian, wanita itu melayang turun ke halaman rumah. Seorang penjaga yang berdiri terkantuk-kantuk di dekat jendela kamar Ranti masih belum menyadari kehadiran orang asing di tempat itu.

Tanpa menimbulkan suara mencurigakan, wanita itu menghantam tengkuk penjaga hingga roboh seketika. Suara jerit tertahan yang keluar dari mulutnya rupanya sempat menarik perhatian penjaga lainnya. Namun penjaga yang satu itu pun tak luput dari sasaran hantaman wanita misterius itu.

Suara berisik itu rupanya tak luput dari perhatian Ranti. Sebagai pendekar yang sejak kecil telah digembleng untuk selalu waspada, ia segera terbangun dari tidurnya. Dengan gerakan yang sangat ringan dan cepat, ia meloncat ke luar dari jendela.

Persis ketika ia menginjakkan kakinya di tanah, sesosok tubuh penjaga yang dilemparkan meluncur ke arahnya. Ranti terpaksa membuang diri ke samping hingga tidak terjadi tabrakan. Ketika ia berdiri kembali, maka tampaklah olehnya seorang wanita berdiri tegak sambil menghunus sebilah pedang di hadapannya.

"Heh, siapa kau? Saya akan menghajarmu, berani datang ke mari membikin keonaran. Sebutkan namamu!" bentak Ranti geram.

Wanita asing itu tiba-tiba tersenyum. Di bawah sinar rembulan terlihat senyumnya itu begitu lembut dan penuh kasih sayang, tidak sinis. Beberapa saat, Ranti merasa terpukau melihatnya. Dadanya berdebar tidak karuan, entah karena apa.

"Oh, Ranti. Ranti, kau sudah besar, cantik jelita dan gagah perkasa."

Alangkah terkejutnya Ranti mendengar orang itu menyebut namanya dengan sikap yang sangat akrab dan lembut, seolah-olah sebelumnya sudah kenal padanya.

"Kau tahu namaku? Siapa kau sebenarnya? Apa maksudmu datang ke sini dan membunuh orang-orangku?"

"He-he-he.....! Mereka yang lebih dulu menyerangku, anak manis. Aku datang ke mari untuk mencari Gembong Wungu, Di mana dia?"

"Oh, jadi kau ingin menghadapi ayahku? Kalau begitu hadapilah aku lebih dulu!" bentak Ranti sambil menghunus pedangnya.

Namun tiba-tiba, Kosim pembantunya yang sangat setia datang ke tempat itu. Dengan sangat terburu-buru dan agak gugup, pelayan tua itu menarik tangan Ranti.

"Aduh, tobat. Tunggu dulu, den. Sabar, den. Sabar." Kosim kemudian duduk bersimpuh sambil memeluk kedua kaki Ranti. Ranti terkejut, karena tak biasanya pelayannya yang setia itu bersikap demikian.

"Heh, Pak Kosim. Apa artinya semua ini? Kenapa sikapmu jadi begini?"

"Ampun, Den. Jangan, jangan hadapi dia. Aku... oh, lebih baik bunuh saja aku lebih dulu. Tolonglah, simpan pedang itu kembali. Ampun, Den. Ya, Allah "

"Apa maksudmu, Pak Kosim? Mengapa semua ini bisa terjadi? Aku sungguh tak mengerti."

Tiba-tiba wanita itu tertawa cekikikan sambil menatap Ranti dan Kosim bergantian dengan tatapan aneh.

"Baiklah anak manis. Aku pergi dulu. Katakan kepada Gembong Wungu aku ingin bertemu dengannya kapan saja ia mau "

Sebelum Ranti dapat menguasai kebingungannya, sosok tubuh wanita itu melesat seperti seekor burung walet terbang ke pohon.

"Katakan kepada Gembong Wungu, aku selalu menantinya di Cadas Kuriling..." kata wanita itu sambil berlalu. Tubuhnya hilang di balik pepohonan.

Ranti tertegun beberapa saat. Perasaannya semakin tak menentu dan otaknya pun penuh tanda tanya. Dan sinar mata wanita tua itu, kenapa membuat dadanya berdebar tak karuan?

"Pak Kosim," kata Ranti kemudian, "Mengapa wanita itu mencari ayahku? Dia bahkan menantangnya untuk bertarung di Cadas Kuriling. Siapakah dia, Pak Kosim? Tampaknya kau mengenalnya. Katakanlah padaku."

"Saya... saya tidak tahu, Den. Sungguh saya tidak tahu. Aku hanya khawatir tadi terhadap keselamatan aden, karena ayah aden tidak ada di rumah," kata Kosim gugup.

"Kau jangan bohong, Pak Kosim."

"Ah, buat apa saya berbohong, Den? Saya sungguh tak mengenalnya. Permisi, Den. Saya harus bekerja sekarang." Lelaki itu segera berlalu dari hadapan Ranti.

Ribut-ribut kecil seperti yang terjadi malam itu sebenarnya adalah hal biasa bagi penduduk desa Perbutulan. Dan biasanya kalau hal seperti itu terjadi dengan cepat dilupakan orang. Tetapi kejadian malam itu, diam-diam menarik perhatian petani tua di mana Parmin bekerja.

Malam itu, ketika keduanya makan bersama-sama, petani tua itu membicarakan kedatangan wanita asing tersebut.

"Parmin, orang-orang di desa ini sebenarnya menyimpan suatu rahasia. Kau dengar kejadian malam itu? Tentu kau tahu, bukan? Ah, kasihan si Kosim itu. Dia selalu dicekam ketakutan, sehingga tidak pernah berani menceritakan halhal yang sebenarnya."

"Kosim yang mana maksud bapak?" "Pelayan  Ranti  sejak    kecil.    Dia seorang

lelaki yang sangat setia kepada juragannya." "Rahasia apakah yang bapak maksud?" "Nanti kau akan  mengetahuinya"  kata pe-

tani tua sambil menghela nafas panjang-panjang. Wajahnya tampak muram, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.

Adapun Ranti sendiri masih tetap penasaran. Nalurinya mengatakan bahwa Kosim mengenal wanita asing itu. Kosim memang tidak mengakuinya, tetapi bisikan nalurinya tidak bohong. Apalagi sejak kejadian itu, Kosim tampak berubah, sering termenung sendiri dengan wajah muram.

"Pak Kosim, kaulah yang mengasuh aku sejak kecil. Kau selalu baik dan menyayangiku. Sekarang aku minta kau berterus terang padaku. Sejak kedatangan pendekar wanita itu, kau tampak jadi berubah. Aku yakin kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Katakanlah, siapa sebenarnya wanita itu?" kata Ranti pada hari berikutnya.

"Den Ranti, sudah kubilang aku tidak mengenalnya. Kenapa pula Den Ranti beranggapan seperti itu?"

"Firasatku berkata begitu, Pak Kosim. Terus-terang saya sendiri merasa aneh melihat wanita itu. Ketika dia tersenyum manis padaku, dadaku terasa berdebar tak karuan. Heran, tak biasanya aku merasa begitu."

"Mungkin Den Ranti kurang sehat."

"Ah, tidak mungkin. Kau jangan mengadaada, Pak Kosim. Katakanlah sejujurnya apa yang kau ketahui. Aku mempercayaimu, Pak. Karena itu, kau juga harus mempercayaiku."

"Ah, Den Ranti..." keluh Kosim dengan suara serak dan hampir tak terdengar. Wajahnya semakin murung lagi. Teringat dia akan masa silam, suatu masa yang tak pernah lepas dari ingatannya. Dan sejak masa itu hingga sekarang, Kosim menyimpan atau terpaksa memendam sebuah rahasia. Sering dadanya hendak meledak, bibirnya ingin berteriak mengungkap tabir tersebut. Tetapi ada suatu pertimbangan baginya, yang membuatnya tak berani membeberkannya.

Tanpa terasa air mata lelaki tua itu menetes satu per satu membasahi wajahnya yang mulai keriputan. Sekarang, ia merasa diri seperti tak berarti karena selama ini tak berani mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Ia tak ingin bersikap seperti itu lagi terus-terusan. Ia tak ingin membiarkan Ranti hidup lama-lama di dalam kegelapan.

Maka dia pun duduk bersimpuh di hadapan Ranti. Dicekalnya kedua lengan gadis itu dengan air mata makin deras membasahi pipi. "Den Ranti, maafkan aku "

"Jangan bersikap begitu, Pak Kosim. Jangan menangis, aku jadi ikut sedih. Sekarang katakanlah keadaan yang sebenarnya."

"Den Ranti, aku sebenarnya takut mengatakannya "

"Kenapa harus takut? Siapa yang kau takuti? Kau tak perlu takut. Aku akan melindungimu. Katakanlah, Pak Kosim!"

"Beliau... beliau adalah ibu kandung Den Ranti sendiri "

"Hah, ibuku? Betulkah itu, Pak Kosim? Tapi ayahku mengatakan bahwa ibu meninggal ketika aku berumur satu tahun," ujar Ranti terkejut bukan main.

"Benar, Den Ranti. Beliaulah ibu kandung Den Ranti sendiri. Beliau menghilang sekitar lima belas tahun yang lalu "

"Saya tak mengerti. Bagaimana semua ini bisa terjadi?"

"Baiklah, Ranti. Aku akan menceritakan semuanya. Tetapi sebelumnya aku minta maaf, karena semua ini mungkin sangat mengejutkan Den Ranti. Saya sudah mengikuti ayah dan ibumu sejak aden belum lahir. Ayahmu bukanlah seorang perampok, melainkan seorang guru silat yang arif bijaksana. Sedangkan Gembong Wungu sendiri bukan "

Tiba-tiba tiga kilatan cahaya keputihputihan meluncur dari balik dinding. Kilatan itu adalah tiga senjata rahasia berupa pisau kecil. Tanpa sempat mengelak, tubuh Kosim pada bagian punggungnya tertancap pisau-pisau tersebut. 

Tiba-tiba tiga kilatan cahaya keputihputihan meluncur dari balik dinding. Kilatan itu adalah tiga senjata rahasia berupa pisau kecil Tanpa sempat mengelak, tubuh Kosim pada bagian punggungnya tertancap pisau-pisau tersebut. "Akh..." jerit lelaki tua itu. Bersamaan dengan itu, tubuhnya ambruk. Darah segar membasahi sekujur tubuhnya. Beberapa saat kemudian, di situ telah muncul Gembong Wungu. Raja rampok itu berdiri sambil menatap tubuh Kosim dengan mata merah.

"Ayah!?" seru Ranti terkejut, "Kenapa kau membunuhnya? Apa salahnya? Oh, kau sungguh kejam, ayah!"

"Diam! Penghasut itu harus lenyap dari muka bumi ini. Aku dengar semua omongannya. Aku tak segan-segan mencopot batang leher setiap Penghasut yang ada di desa ini."

"Jika demikian berarti Kosim benar. Kau telah berbohong. Katakan siapa ibuku!" kata Ranti setelah berteriak. Dan sambil berkata begitu, ia menatap ayahnya dengan sinar mata merah bagaikan memancarkan api. Seolah-olah ia hendak menelan Gembong Wungu hidup-hidup.

"Heh, anak manis. Sejak kapan kau berani menatap aku seperti itu, heh?"

"Aku tak percaya lagi padamu. Ayo, mengakulah sekarang juga."

Gembong Wungu marah bukan main mendengar ucapan Ranti. Wajahnya merah padam. Bahkan sekujur tubuhnya gemetar menahan gejolak emosi. Tetapi ia tak ingin menyakiti Ranti. Ia tak mau melampiaskan kekesalannya kepada gadis manis itu.

Sambil berteriak nyaring, lelaki bermata satu itu menghunus goloknya. Ia lalu meloncat tinggi kemudian membabat tiang-tiang kandang ayam.

"Akan kulenyapkan orang-orang yang mencoba  mengusik  kehidupan  kita. Ciaaat. !" Gem-

bong  Wungu membabat dan  menendang kandang ayam. Demikian marah dan kesalnya jagoan itu, sehingga dalam sekejap saja, kandang ternak itu telah ambruk.

"Siapa yang mau membalas dendam kepadaku? Ayo, siapa? Gembong Wungu tidak gentar sedikit pun juga. Aku adalah raja di seputar lereng Ciremai. Siapa berani menantangku, berarti maut akan menjemputnya!"

Setelah itu, Gembong Wungu menghampiri Ranti yang sedang tersedu-sedu meratapi nasib malang yang menimpa Kosim. Lelaki tua itu selama ini selalu menyayanginya. Selalu memperhatikan dan  mengurus  segala  keperluannya. Semua kebaikan Kosim, tak mungkin hapus begitu saja dari hati sanubari Ranti. Lelaki itu sudah bagaikan orang tua sendiri bagi Ranti. Tidaklah mengherankan, jika ia sangat terpukul melihat kenyataan lelaki yang disayanginya itu sudah tergeletak tanpa nyawa.

"Ranti, kau tak perlu meratapi bangkai anjing penghasut itu. Tinggalkan dia, cepat!"

Ranti tak menyahut, Ia tetap menangis sesunggukan di depan tubuh pelayannya yang setia itu. Ia benar-benar merasa sangat kehilangan. Dan entah mengapa, tiba-tiba saja timbul rasa benci terhadap lelaki yang selama ini menjadi ayahnya.

Melihat Ranti tidak mau beranjak, Gembong Wungu semakin kesal lalu secepatnya meninggalkan tempat itu. Di depan kandang ayam itu kini berdiri dua lelaki lain, menatap Ranti dan jenazah Kosim dengan tatapan penuh keprihatinan.

"Innalillahi! Iblis itu tak segan-segan membunuh. Kasihan si Kosim. Yah, semua orang di desa ini tak berani membuka rahasia karena nasib seperti inilah yang akan menimpa mereka," ujar lelaki tua yang kini sedang berdiri bersama Parmin. Ranti agak terkejut juga mendengar ucapan petani tua itu. Dengan airmata masih berurai membasahi pipi, ditatapnya kedua lelaki itu. Lalu dengan suara parau, gadis itu berkata: "Apakah kalian juga mengetahui rahasia tentang diriku? Benarkah aku bukan anak Gembong Wungu? Kalau memang benar, siapa ibuku, siapa ayahku?"

"Ranti, Tuhan maha Pengasih dan Penyayang. Sekarang duduklah dan tenangkan perasaanmu. Hapus airmatamu, jangan menangis lagi. Kita doakan saja semoga arwah Kosim diterima di sisi Tuhan yang Maha Esa," kata petani tua itu dengan sikap lembut.

Dan setelah Ranti duduk dengan sikap yang lebih tenang, petani tua itu melanjutkan, "Ranti, ayahmu yang sebenarnya adalah Gagak Ciremai. Ia gugur di ujung pedang Gembong Wungu dalam pertarungan di lembah Cadas Kuriling lima belas tahun silam."

"Jadi ?"

"Aku bersama kawanku yang menguburkan jenazah ayahmu saat itu. Sedangkan ibumu sendiri, sejak saat itu menghilang entah ke mana. Kemudian kau dipungut anak oleh Gembong Wungu, selanjutnya menggantikan kedudukan ayahmu. Sayang si Kosim sudah lebih dulu menghadap Tuhan hingga tidak bisa bercerita tentang semua peristiwa itu."

"Aku adalah salah seorang pengikut ayahmu yang masih mau bertahan di desa terkutuk ini. Karena aku yakin dan ingin menyaksikan bahwa suatu saat kezaliman ini akan berakhir."

Oh, benarkah itu? Benarkah? Hati Ranti bertanya-tanya dan berkecamuk hebat. Samarsamar terlintaslah bayang-bayang lima belas tahun lalu. Ia melihat dirinya masih kecil, berusia satu tahun. Ia digendong seorang wanita dan seorang laki-laki. Itukah gerangan ayah dan ibunya? Tetapi bayangan itu sangat samar-samar dan timbul tenggelam di dalam benaknya.

Tetapi sepertinya bayangan wanita itu mempunyai persamaan dengan wajah pendekar wanita berambut awut-awutan yang beberapa malam lalu membunuh penjaga. Dan kalau memang benar bayangannya itu tidak meleset, pastilah ada hubungannya dengan pendekar wanita itu. Siapakah dia sebenarnya? Apakah itu adalah ibunya yang dikabarkan menghilang lima belas tahun lalu?

Secara tiba-tiba, Ranti bangkit dari duduknya dan tubuhnya melesat cepat ke arah rumahnya. Sambil berteriak histeris, ia menendang pintu hingga terpental. Seorang pelayan wanita di rumah itu menjadi terkejut, lalu sujud gemetar di hadapan Ranti.

"Mana majikanmu Gembong Wungu, hah?

Mana dia? Ayo, jawab!"

"Oh, bibi tidak tahu, Den Ranti. Sungguh, bibi tidak tahu kemana juragan pergi..."

Ranti mendengus kesal. Ia lalu berlari-lari seperti orang kesetanan. Wajah dara jelita itu merah padam, matanya bagai memancarkan api.

Setibanya di gerbang desa, Ranti dihadang para penjaga. Namun dengan kasar, Ranti membentak.

"Buka pintunya, cepat! Katakan padaku ke mana Gembong Wungu pergi!"

"Maaf, den Ranti. Ayahmu memerintahkan kami untuk melarang Aden keluar dari lingkungan desa ini," kata penjaga.

"Apa? Ayahku katamu? Gembong Wungu itu bukan ayahku. Cepat buka pintunya, atau nyawa kalian akan melayang di ujung pedangku!" "Maaf, Den Ranti. Kami hanya menjalankan

perintah. Kawan-kawan kepung dia. Jangan sampai keluar dari desa ini."

"Bagus kalau begitu. Jangan salahkan jika aku terpaksa menurunkan tangan kejam."

"Tangkap dia!"

Dengan serempak, para penjaga gerbang menerkam tubuh Ranti. Melihat itu, Ranti tersenyum sinis. Ia sengaja tidak segera mengelak seolah-olah membiarkan dirinya ditangkap. Namun ketika tangan para lelaki itu menyentuh tubuhnya, Ranti meloncat tinggi. 

"Trok....!" Kepala para penjaga itu saling beradu dengan kerasnya. Sambil menjerit kesakitan, tubuh para penjaga itu terlempar dan bergulingan di atas tanah.

Kesempatan itu digunakan Ranti meloloskan diri. Sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh, ia meloncat tinggi ke atas pintu gerbang. Hanya beberapa detik kemudian, tubuhnya telah melesat cepat meninggalkan desa.

Sambil berlari-lari, gadis itu teringat pesan pendekar wanita yang menyatakan ingin bertemu Gembong Wungu setiap saat di lembah Cadas Kuriling. Gembong Wungu yang sangat dibencinya itu sekarang pastilah berada di sana untuk memenuhi tantangan lawan.

Dugaan Ranti memang benar juga. Gembong Wungu pergi ke Cadas Kuriling, bahkan kini sedang berhadap-hadapan dengan pendekar wanita. Kedua pendekar itu kini siap mengadu nyawa. Pedang telah dihunus di tangan, kuda-kuda telah dipasang. Siap menyerang dan diserang.

"Hi-hi-hi...! Aku gembira karena kau ternyata mau memenuhi tantanganku, bangsat keji. Lima belas tahun yang lalu. suamiku kau robohkan di sini. Sekarang aku datang untuk menagih janji, mencabut nyawamu, bangsat tengik!" seru pendekar wanita itu.

"Kalau begitu susullah suamimu ke akherat, wanita iblis. Aku Gembong Wungu takkan tergeser dari muka bumi ini!" "Tutup mulutmu, bangsat! Hiyaaat...!" Wanita itu berteriak nyaring. Bersamaan dengan itu, tubuhnya mencelat ke arah Gembong Wungu. Sementara ujung pedangnya membentuk sinar-sinar bagaikan kilat mengarah ke tubuh lawan.

"Tutup mulutmu, bangsat! Hiyaaaat.!" Wanita itu berteriak nyaring. Bersamaan dengan itu, tubuhnya mencelat ke arah Gembong Wungu, sementara ujung pedangnya membentuk sinar-sinar bagaikan kilat mengarah ke tubuh lawan.

Gembong Wungu segera memutar goloknya. Maka tampaklah sinar golok dan pedang bergulung-gulung membentuk semacam tembok pertahanan yang sangat kokoh.

Pada jurus-jurus berikutnya, Gembong Wungu balas menyerang. Ia sangat geram sekarang ditantang seorang wanita yang menurutnya sinting. Ditambah lagi rasa kesalnya dari rumah lantaran kata-kata Ranti yang mengatakan tidak mau percaya lagi padanya.

Maka dalam menyerang, Gembong Wungu tidak mau tanggung-tanggung. Pendekar bermata satu itu mengeluarkan ilmu pedang andalannya "Grojogan Sewu". Jurus-jurus ilmu pedang ini sangat cepat dan mengandung tenaga dalam yang luar biasa, sehingga pendekar yang tingkat ilmu belum tinggi benar, tidak bisa menguasainya.

Demikian cepatnya gerakan pedang Gembong Wungu, sehingga golok atau pedang pusaka di tangannya seolah-olah berubah jadi banyak sekali, mengincar tubuh lawan dari segala penjuru. Batu-batu beterbangan bercampur debu terkena hantaman tenaga dalam kedua jagoan itu.

Pendekar wanita itu terpaksa harus berjuang mati-matian menghindari serangan lawan. Dengan ilmu meringankan tubuh yang hampir mencapai kesempurnaan, ia berkelit di sela-sela ujung senjata lawan. Diam-diam Gembong Wungu merasa kagum juga melihat kemampuan lawan menghadapi ilmu pedang "Grojogan Sewu" andalannya.

Dahulu Gagak Ciremai sendiri dapat dirobohkannya tanpa mengeluarkan ilmu tertinggi yang dimilikinya itu. Jelaslah sudah bahwa kesaktian pendekar wanita itu lebih tinggi daripada suaminya.

Nafas Gembong Wungu menggeros-geros dan peluh bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Sejenak ia meloncat ke belakang untuk mengatur pernafasan dan mempersiapkan jurus baru.

"Ha-ha-ha..." Wanita pendekar itu tertawa mengejek, "Tidak percuma selama lima belas tahun ini aku berlatih siang dan malam, di lembah dedemit. Tunjukkan kemampuanmu, Gembong Picak."

"Wanita sundal! Awas serangan. !" Dengan

teriakan menggeledak menggetarkan tebing-tebing, Gembong Wungu kembali menyerang. Kali ini ia mengeluarkan jurus inti ilmu pedang Grojogan Sewu, yakni jurus "Dewa Bayu Nitis".

Jurus itu boleh dikatakan tidak lumrah dikuasai manusia. Karena selain sangat cepat hingga yang tampak hanya bayangan, juga karena mempunyai perkembangan yang sangat tak terduga sekaligus amat berbahaya.

Selama melalangbuana di dunia persilatan, pendekar mata satu hampir tak pernah mengeluarkan jurus itu. Atau kalaupun terpaksa mengeluarkannya, lawan pastilah tidak akan bisa menyelamatkan diri.

Gembong Wungu meloncat tinggi ke udara. Tangan kirinya dibuka mengeluarkan pukulan jarak jauh. Hawa panas yang teramat dahsyat menyambar ke arah tubuh lawan. Kaki kiri Gembong Wungu dilipat siap menendang ke arah ulu hati pendekar wanita itu, sedangkan pedangnya diangkat tinggi siap untuk menikam atau membabat.

Semakin terkejutlah istri almarhum Gagak Ciremai menghadapi serangan lawan yang teramat dahsyat dan mematikan itu. Secepat kilat ia mengelak ke kanan, menghindari pukulan jarak jauh lawan. Namun pada saat bersamaan, kaki kiri Gembong Wungu menendang dengan tenaga luar biasa ke arah ulu hati lawan.

Dalam keadaan terdesak, pendekar wanita itu masih sempat berkelit ke sebelah kanan. Maka luputlah tendangan Gembong Wungu yang mengandung maut itu. Namun saat itu juga, pedang pusaka pendekar bermata satu itu menghujam ke arah perut lawan.

Crob! Dengan sangat telaknya, pedang itu merobek kulit perut pendekar wanita.

Disertai jerit panjang yang sangat memilukan, tubuh pendekar wanita itu ambruk ke bumi. Darah segar memancar deras dari luka menganga itu. Sejenak, tubuh itu menggelepar-gelepar bagaikan ayam disembelih. Lalu kemudian diam, tak bergerak-gerak lagi.

"Mampus kau wanita iblis...!" kata Gembong Wungu sambil menyarungkan pedangnya yang masih berlepotan darah. Setelah itu, ia mengempos tenaga, melesat bagai anak panah meninggalkan tempat itu.

Hanya beberapa detik kemudian, Ranti tiba di lembah Cadas Kuriling. Dadanya berdegup kencang, dan matanya nanar melihat tetesan darah di sekitar tempat itu. "Ibu....!" Gadis itu berteriak sambil berlari menghampiri tubuh yang sedang terkapar berlumuran darah itu. Didekapnya tubuh itu erat-erat dan diciuminya, hingga darah wanita itu pun membasahi pakaian Ranti.

"Ibu...! Ibu, jangan tinggalkan aku. Tidak. Tidak, Bu. Jangan tinggalkan aku. Ibu..." jerit gadis itu sekuat-kuat tenaga.

Dan Tuhan memang maha Pemurah. Tibatiba wanita itu membuka kelopak mata. Tatkala ia menatap wajah Ranti, maka seulas senyum manis menghiasi bibirnya. Menandakan betapa ia sangat bahagia sekarang menyaksikan buah hatinya berada di dekatnya.

"Ranti, anakku. Kau datang, Nak..." ujar wanita itu tersendatsendat.

"Ibu, ibu... kau harus sembuh, Bu..." "Tenanglah, anakku. Dekatlah kemari, Nak. Ibu ingin mengusap wajah-mu... ibu ingin memelukmu. Selama lima belas tahun itu memendam rasa mengekang rindu ingin membelaimu. Setiap malam ibu menengokmu tanpa sepengetahuan Gembong Wungu. Tapi selama itu pula kasih ibu tak sampai. Ibu tak berdaya, anakku..."

"Kuatkan hatimu, Bu. Maafkan anakmu yang tak tahu diri ini."

"Jangan berkata begitu, anakku. Semua ini sudah takdir. Manusia telah mempunyai garis kodrat hidup masing-masing. Tapi sekarang ibu sangat bahagia, di saat-saat terakhir ini kau datang. Ibu bahagia karena membela almarhum ayahmu, walaupun dendam pati ayahmu belum terbalas. Itu sudah kewajibanku, anakku..."

Sejenak wanita itu berhenti, seolah-olah sedang mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Setelah itu, ia melanjutkan dengan suara tersendatsendat dan hampir tak terdengar.

"Ranti, anakku. Maafkan ibumu, sayangku. Rasanya waktu ibu telah tiba. Ibu akan menyusul ayahmu. Pesanku... janganlah kau bermaksud membalaskan dendam, karena kutahu engkau bukanlah tandingan raja rampok itu. Cukuplah kau gunakan kepandaianmu itu untuk perikemanusiaan dan kebajikan. Biarlah Tuhan yang kelak menjatuhkan hukuman kepada bajingan itu. Ranti, selamat tinggal anakku..."

Seusai mengucapkan kata-kata itu, kepala wanita itu terkulai. Detak jantungnya terhenti, diam dan mati. Ia telah menghembuskan nafas terakhir, hilang bersama angin yang berhembus sepoi-sepoi. Ia telah pergi untuk selama-lamanya tanpa pernah kembali. 

"Ibu...!" Ranti kembali menjerit histeris di atas jenazah ibunya. Tak terkatakan betapa hancurnya perasaan gadis itu sekarang. Baru bertemu dengan ibunya sudah langsung berpisah. Sungguh sangat menyakitkan karena pertemuan itu ternyata juga sekaligus perpisahan. Maka patahlah segala harapan yang ada dalam hati Ranti. Pupus gairah hidupnya. Dan mataharinya pun telah tenggelam, dan ia hanya bisa meratapinya.

Ketika Ranti meratapi jenazah ibunya, seorang lelaki melangkah sambil menunduk. Wajahnya muram, karena sangat terharu menyaksikan tragedi berdarah yang menimpa keluarga Ranti.

Pemuda yang tak lain tak bukan adalah Parmin itu berusaha menghibur Ranti. Dibelaibelainya rambut gadis itu, dihapusnya airmata yang membasahi pipi Ranti dengan penuh persahabatan.

"Jangan menangis lagi, Ranti. Semua ini sudah takdir. Berdoalah agar arwah ibumu tenang di peristirahatannya yang terakhir."

Menjelang senja, Parmin menguburkan jenazah ibu Ranti. Ranti belum juga mau berhenti menangis. Ia memeluk tanah merah itu dan meraung-raung hingga suaranya semakin parau.

"Sudahlah, Ranti. Jangan terlalu sedih. Toh semuanya sudah terjadi... Ayo, sebaiknya kita segera pulang."

"Tidak! Aku tidak mau pulang. Aku akan membalaskan kematian ibu dan ayahku. Aku tak takut pada Gembong Wungu. Akan kutebas batang lehernya dan kuminum darahnya!"

"Jangan, nona Ranti..." kata Parmin sambil menarik tangan gadis itu.

"Jangan halangi aku. Aku harus membunuh bajingan itu sekarang juga."

"Tenang, nona Ranti. Apakah kau telah lupa akan pesan ibumu? Pesan ibumu itu harus kau patuhi. Dan ketahuilah, pembelaanmu nanti pasti sia-sia. Gembong Wungu adalah jagoan silat yang sangat jarang tandingannya."

"Aku sudah hidup sebatangkara. Apa gunanya hidup lagi?"

"Jangan putus asa, nona! Di dunia ini banyak sekali orang hidup sebatangkara. Bahkan banyak yang lebih sengsara darimu. Percayalah! Pembalasan akan segera datang, walaupun bukan dengan perantaraan tangan nona."

"Bajingan si Gembong Wungu. Bedebah...!" Saking kesalnya, Ranti menancapkan pedangnya ke batu karang sekuat tenaga sehingga amblas sampai ke hulu.

Tiba-tiba terdengar gelak tawa, menggelegar dan sambung-menyambung di atas tebing. Parmin dan Ranti terkejut, lalu serempak memutar tubuh, menatap ke arah asal suara itu. Di atas tebing tampak oleh mereka sejumlah lelaki, mungkin lebih dari tujuh orang. Para lelaki itu rata-rata bertampang seram. Semuanya bersenjatakan golok dan pedang. Melihat tingkah laku dan ciri-ciri mereka, maka tahulah Parmin bahwa kelompok orang itu adalah anak buah Gembong Wungu.

Salah seorang di antaranya, yang agaknya merupakan pemimpin komplotan itu menatap Parmin dengan sinar mata mencorong tajam dan terasa sangat sinis. Sambil menuding Parmin dengan pedang di tangan kirinya, pria itu berkata: "Hei, santri! Jangan coba-coba mempengaruhi Ranti untuk balas dendam pada Gembong Wungu. Bagaimana pun juga, selama ini Gembong Wungu telah merawat, mendidik dan membesarkan Ranti dengan penuh kasih sayang sebagai ayah."

Setelah berkata begitu, lelaki itu memberi isyarat melalui gerakan tangan kanan dan kepalanya. Maka berloncatanlah sekitar tujuh lelaki dari balik tebing dan langsung mengepung Parmin dan Ranti.

"Hei, kau! Kedatanganmu ke desa ini hanya membuat kekacauan. Selama ini desa kami aman tenteram, tak pernah terjadi keributan seperti ini. Dengan kepintaranmu bersilat lidah, kau membujuk-bujuk orang. Karena pergaulanmulah makanya Ranti akhir-akhir ini jadi berubah. Den Ranti jadi bandel, bahkan telah berani menentang ayahnya."

"Apakah kau tidak salah bicara, sahabat?" ujar Parmin tenang.

"Diam kau, bedebah! Orang-orang semacam kau dan petani tua itu harus lenyap dari desa ini. Kalian tidak boleh lagi hidup di desa ini, karena kalian hanya menghasut orang-orang saja. Kalian akan menjadi perintang yang semakin lama semakin kuat karena kepintaran kalian membujuk-bujuk orang."

Setelah berkata demikian, lelaki berkumis tebal itu berpaling kepada teman-temannya yang sebagian lagi masih berada di balik tebing.

"Hai, kawan-kawan. Seret ke mari keledai tua itu. Hari ini akan kita bikin pesta perkedel!"

Dari balik bebatuan, keluarlah beberapa orang laki-laki sambil menyeret petani tua tempat Parmin bekerja. Kakinya diikat begitu juga kedua tangannya diikat ke belakang. Dari kedua tangan itu kemudian diulur tali untuk menyeret tubuh lelaki tua bernasib malang itu, dengan posisi menelungkup.

Terdengar suara tulang berdetak-detak akibat tubuh yang beradu dengan batu-batu di atas tanah. Baju dan celana petani tua itu sobek dan kulit tubuhnya terkelupas hingga mengeluarkan darah.

"Pak...?" seru Parmin terkejut.

"Ha-ha-ha...! Lihat, si tua bangka yang keras kepala ini. Ia berlagak sebagai pahlawan kebenaran. Sekarang rasakan betapa enaknya diseret seperti gedebog pisang..."

Melihat perlakuan yang tidak berperikemanusiaan itu, tubuh Parmin menggigil, darahnya pun mendidih hingga ke ubun-ubun, menahan amarah melihat kekejian anak buah Gembong Wungu. Bagaimana pun juga, petani tua itu telah berjasa padanya, dan selama ini selalu bersikap baik. Sekalipun mereka baru kenal, petani itu seolaholah telah merupakan saudara sendiri bagi Parmin.

"Ha-ha-ha keledai tua! Siapa yang akan menolongmu? Siapa? Kau akan segera mampus sekarang. Tadi kau bilang Tuhan akan menolongmu dan melindungimu "

"Ya, Tuhan selalu melindungiku " kata pe-

tani tua itu tersendat-sendat.

"Bangsat, berani ngomong lagi!" bentak anak buah Gembong Wungu sambil menginjak dada petani tua itu.

"Mana pertolongan Tuhanmu? Mana? Omong kosong kau! Nyawamu sekarang berada di tanganku, bukan di tangan Tuhan seperti yang kau bilang. Akulah yang berkuasa sekarang atas nyawamu!"

Melihat perlakuan yang sudah sangat di luar batas itu ditambah lagi oleh ucapan yang sangat kurang ajar, maka habislah kesabaran Parmin. Ia merasa tak mungkin lagi diam. Ia harus segera bertindak. Maka dicabutnya sebuah golok yang disembunyikan di balik bajunya.

"Ciaaat...!" Pemuda itu berteriak nyaring, sambil meloncat tinggi ke arah anak buah Gembong Wungu. Golok di tangannya ia putar cepat sekali membentuk sinar kemilau dan langsung mengincar dada lawan.

Bet!, bet!

"Augh...!" Tanpa sempat mengelak, dua anak buah Gembong Wungu terjungkal terkena sabetan pedang Parmin.

Kedua tubuh pria sejenak berkelojotan dengan darah menyembur dari luka menganga di bagian dada. Setelah itu, nyawa keduanya pun melayang.

"Hai, orang-orang murtad. Tindakan kalian sudah melewati batas. Bukalah mata kalian lebarlebar. Tuhan telah menolong orang tua itu dengan perantaraan tanganku."

"Jangan kira kami takut padamu, santri tak tahu diri. Bersiaplah untuk mampus!" Anak buah Gembong Wungu menyerang Parmin dari segala penjuru. Pedang di tangan mereka berkelebatan mengincar tubuh lawan. Namun dengan sangat tenangnya, Parmin mengelak kemudian balas menyerang dengan jurus-jurus mautnya.

Ternyata, Parmin bukanlah tandingan para anak buah Gembong Wungu. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, Parmin dapat menumbangkan lawan-lawannya, hingga yang masih hidup tinggal seorang saja.

"Aku sengaja membiarkan kau hidup untuk memberimu kesempatan bertobat. Sekarang enyahlah dari sini. Dan jangan lupa, beritahukan kepada Gembong Wungu bahwa aku menunggunya di hutan Plangon!"

Dengan tubuh gemetaran, lelaki itu berlari meninggalkan tempat itu. Ranti segera berlari menghampiri Parmin. Dicekalnya lengan pemuda itu, lalu berkata dengan agak terburu-buru: "Oh, jadi kau menantang Gembong Wungu? Aku sangat senang mendengarnya. Kau pasti menang! Kau hebat, Parmin! Kau mau membalas dendam atas kematian ayah dan ibuku, bukan?"

"Nona Ranti," ujar Parmin sambil tersenyum bijaksana, "Aku bukan mau membela atas kepentingan seseorang. Aku berjuang atas nama kebenaran, keadilan, perikemanusiaan dan ketuhanan."

"Jadi ?"

"Sudahlah. Sekarang kita harus merawat orangtua itu. Tentunya kau mengetahui jenis daun-daunan untuk obat lukanya. Aku minta kau mau mengambilnya. Sementara itu, aku akan menolong pernafasannya agar ia sadar kembali.

"Baiklah, Parmin. Tapi kupikir, kita harus mengungsikannya ke desa lain. Karena tidak mustahil Gembong Wungu telah memasang jebakan untuk kita."

"Baiklah kalau begitu."

Kedua pendekar muda usia itu segera mengangkat tubuh petani tua ke desa lain. Di tempat itu, mereka menumpang di rumah seorang petani untuk merawat luka-luka yang diderita pria tua bernasib malang itu.

Kejadian tersebut benar-benar telah mengubah pikiran Parmin. Karena sebenarnya, pemuda itu sedang dalam perjalanan jauh yang sangat penting. Dan kehadirannya di desa Perbutulan pada waktu itu hanya karena kebetulan saja. Pendekar itu kehabisan bekal sehingga terpaksa menunda perjalanan dengan maksud mencari upah kepada petani di desa itu.

Akan tetapi sekarang, melihat sepak terjang Gembong Wungu dan anak buahnya, ia merasa tak boleh tinggal diam lagi. Darah kependekaran yang mengalir dalam tubuhnya segera bergejolak, bahwa ia harus segera bertindak. Kesewenang-wenangan itu harus segera dihentikan. Kalau tidak, Gembong Wungu pasti akan semakin menjadi-jadi. Penduduk yang tadinya sudah tersiksa akan semakin tersiksa lagi,

Maka tanpa pikir panjang lagi, pendekar dari pantai utara itu segera memutuskan bahwa ia harus menantang Gembong Wungu. Biarpun secara diam-diam ia sendiri harus mengakui bahwa ilmu Gembong Wungu mungkin berada di atasnya. Atau kalaupun misalnya setingkat, ia masih kalah dalam hal pengalaman. Apalagi tokoh dunia hitam seperti Gembong Wungu, tentulah tidak akan segan-segan berbuat licik demi hasratnya melenyapkan orang-orang yang berani menentangnya. Tapi sebagai pendekar yang gagah perkasa, Parmin merasa tak punya alasan untuk mundur. Ia bahkan merasa lebih baik mati daripada harus bersikap pengecut.

Maka ketika matahari mulai condong ke arah barat, pemuda itu melangkah ke tepi hutan Plangon. Angin yang berhembus cukup kencang menyambutnya, seolah-olah mengatakan selamat datang wahai pendekar muda yang gagah perkasa. Di sebuah dataran yang cukup luas, pen-

dekar dari pantai utara itu berdiri tegak menunggu lawan. Dari sekelilingnya terdengar suara monyetmonyet, yang mungkin masih kenal kepadanya, lalu mengucapkan selamat bertemu kembali.

Parmin tidak terlalu lama menunggu, sebab tak berapa lama berselang, muncullah Gembong Wungu di tempat itu. Pendekar bermata satu itu berjalan tegak, bibirnya mengulum senyum sinis seolah-olah tidak memandang mata sebelah pun terhadap calon lawannya.

Sejenak ia menatap Parmin dengan mata tak berkedip dari bawah sampai ke atas, lalu turun lagi. Ia lalu tertawa terbahak-bahak sambil berkata: "Rupanya kambing kacang semacam inilah yang bermulut lebar mengembik-embik menantang macan dari lereng Ciremai."

"Selamat datang, Gembong Wungu. Saya ucapkan terimakasih atas kejantananmu datang ke tempat ini."

"Ha-ha-ha... santri! Jangan kau kira kau dapat mempengaruhi anak buahku dengan segala ajaranmu itu. Apa sebenarnya yang mendorongmu berani berkaok-kaok dihadapanku? Apakah kau sudah bosan hidup? Sekarang sebutkanlah namamu sebelum lehermu kubuntungi!"

"Namaku? Ah, tentunya kau sudah tahu, Gembong Wungu. Namaku Parmin. Tapi orangorang sering menyebutku dengan nama Jaka Sembung...!"

"Oh, rupanya beginilah rupa pahlawan santri dari Gunung Sembung itu. He-he-he... namaku tentu akan semakin termasyhur setelah melenyapkan kau dari muka bumi ini."

Tak terkatakan betapa marahnya Parmin mendengar kata-kata Gembong Wungu. Pantaslah selama ini sangat banyak korban yang menemui ajal di ujung golok jagoan bermata satu itu. Rupanya Gembong Wungu adalah iblis berdarah dingin yang seolah-olah mempunyai prinsip, makin banyak membunuh adalah makin baik. Terutama jika yang dibunuh itu adalah pendekar yang sudah kesohor. Kebiadaban seperti ini harus dihentikan, pikir Parmin geram.

"Dosamu sudah bertimbun-timbun, Gembong Wungu. Kau selalu mengancam ketenteraman dan kedamaian di daerah ini. Kau memperbudak penduduk dan menjadikannya sebagai sapi perahan. Nyawa manusia tak kau hargai sedikit pun juga. Kau betul-betul biadab, kau menambah derita bangsa kita yang sedang terjajah. Orang semacam kau seharusnya tak perlu dilahirkan ke dunia ini!"

"Aku tak butuh kotbahmu, monyet sem-

bung!"

"Ingat, Gembong Wungu! Kezaliman pasti

akan segera berakhir!"

"Tutup bacotmu, bedebah...!" Gembong Wungu tiba-tiba mengayunkan tangan kirinya. Maka tampaklah kilatan-kilatan cahaya menyambar ke arah dada dan pusar Parmin. Dengan sikapnya yang sangat licik, pendekar bermata satu itu menyerang Parmin dengan senjata rahasia berupa pisau-pisau kecil.

Untunglah pendekar yang dijuluki Jaka Sembung itu selalu waspada. Dengan gerakan yang sangat cepat, yang juga disertai teriakan nyaring, ia meloncat menghindari senjata rahasia lawan.

Namun begitu ia menginjakkan kakinya di tanah, sudah menyusul lagi serangan Gembong Wungu. Goloknya ia ayunkan membabat ke arah kedua kaki Parmin. Terpaksa pendekar muda usia itu meloncat lagi dan bergelantungan ke dahan pohon. Setelah itu ia melompat jatuh ke belakang, mempersiapkan diri menghadapi serangan Gembong Wungu selanjutnya. Ia mencabut goloknya, lalu memasang kuda-kuda dari ilmu silat andalannya.

"Kau pasti mampus di tanganku, Jaka Sembung..." teriak lelaki bermata satu itu geram. Ia kembali menyerang dengan ganas.

Diam-diam Parmin merasa terkejut juga menyaksikan betapa hebat dan dahsyatnya serangan lawan. Jurus-jurus yang dikeluarkan gembong Wungu selalu mengandung maut dan mempunyai perkembangan yang sulit diterka. Nyatalah sudah, jagoan bermata satu itu mempelajari ilmu silat kelas tinggi secara sesat. Tak ada jurusnya yang tidak ganas dan penuh tipu daya, sehingga kalau lawan lengah sedikit saja pastilah terjungkal atau tewas seketika.

Maka Parmin segera mengeluarkan jurusjurus yang sangat baik untuk bertahan. Gulungan sinar goloknya membentuk benteng pertahanan yang sangat kokoh bagaikan tembok batu karang. Dan sekali-kali sinar mata goloknya mencelat mengincar tubuh lawan dengan serangan yang juga berbahaya. Pertempuran itu makin lama makin seru dan menegangkan. Jurus demi jurus berlalu begitu cepat. Rumput-rumput laksana tercabut dari akar-akarnya dan daun-daunan rontok berguguran terkena sambaran tenaga dalam kedua jagoan yang sedang bertarung mengadu nyawa itu.

Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh jurus berlalu dengan keadaan yang cukup berimbang. Serangan golok Gembong Wungu tampak lebih cepat dan berbahaya, sebaliknya Parmin memiliki kelincahan gerak yang sedikit lebih unggul dari lawan.

Memasuki jurus yang kelima puluh, Gembong Wungu mengeluarkan jurus "Angin Beliung", yang merupakan puncak dari ilmu pedang andalannya "Dewa Banyu Nitis".

Begitu menghadapi jurus maut itu, Parmin merasa sangat kewalahan. Nafasnya hampir putus karena harus melakukan jungkir balik beberapa kali di udara tanpa mendapat kesempatan menginjak tanah.

Ketika serangan Gembong Wungu agak mengendur, Parmin meloncat jauh ke belakang, mengatur nafas mempersiapkan jurus baru.

"Ha-ha-ha...! Cuma sampai di sinikah kepandaian pendekar yang diagung-agungkan rakyat Gunung Sembung? Kurasa si Subekti itu terlalu mengobral julukan," kata Gembong Wungu mengejek.

Parmin tidak memperdulikan sindiran lawan. Ia mulai tenang kembali. Setelah konsentrasi sejenak, ia mulai mempersiapkan jurus ampuh dari ilmu silat "Gunung Sembung" yaitu jurus yang kesembilan puluh sembilan dengan sebutan jurus "Wahyu Taqwa". Guruku bilang jurus ini belum pernah dilumpuhkan oleh cabang persilatan mana pun di tanah Pasundan ini, pikir Parmin.

Disertai teriakan mengguntur, Parmin menyerang Gembong Wungu. Tubuhnya melayang di udara, mempersiapkan serangan maut dari kedua tangan dan kakinya. Melihat serangan itu, terkejut juga Gembong Wungu, karena tak dapat dipungkiri lagi, serangan itu sangatlah berbahaya. ia mengelakkan tendangan kaki Parmin, kemudian mengerahkan segenap tenaga dalamnya menangkis sabetan senjata lawan.

"Trang !" Kedua senjata itu beradu keras.

Bunga-bunga api bertebaran, karena kerasnya pertemuan kedua senjata itu. Kedua tubuh pendekar itu sama-sama terdorong mundur beberapa meter pertanda tenaga dalam mereka cukup berimbang.

Dan apa yang telah terjadi benar-benar mengejutkan kedua pendekar itu. Golok di tangan Parmin terpental jauh, sedangkan golok Gembong Wungu patah pada bagian ujungnya.

Hal itu membuat raja rampok itu sangat geram. Dengan raungan bagai harimau lapar, ia menyerang Jaka Sembung dengan golok buntungnya.

"Kau akan segera mampus, monyet sialan...!" bentaknya.

Tetapi tiba-tiba pedang di tangannya terhenti di tengah jalan dan ia berteriak kaget ketika seekor monyet menerkam lengannya. Dengan perasaan semakin geram, Gembong Wungu menyabetkan senjatanya dan hewan kecil itu memekik. Tubuhnya melambung ke udara dalam keadaan terbelah dua.

Rupanya kejadian itu membuat monyetmonyet lainnya menjadi marah. Bagaikan hujan yang turun dari langit, berpuluh-puluh bahkan mungkin ratusan jumlahnya, monyet-monyet berloncatan dari pepohonan menyerbu Gembong Wungu, dari segala penjuru.

Dalam beberapa gebrakan, pendekar bermata satu itu memang bisa membunuh beberapa bahkan puluhan monyet yang menyerangnya. Namun karena hewan itu sangat banyak, ia akhirnya kewalahan juga. Bahkan tak lama kemudian, ia benar-benar tak berdaya. Monyet-monyet itu menggigiti sekujur tubuhnya, bagaikan semut menggerogoti bangkai tikus.

"Aduh... tolong.... tolong...!" teriak Gembong Wungu kesakitan. Tubuhnya menggelepargelepar dan bergulingan ke sana kemari dengan tubuh penuh bekas gigitan dan cakaran monyet.

Karena sangat panik dan kesakitan, Gembong Wungu kemudian berlari-lari tak tentu arah karena matanya yang tinggal satu itu juga sudah luka dicakar monyet. Ia terus berlari sambil melolonglolong menjauhi tempat itu.

Nasib naas rupanya telah tiba bagi jagoan sakti itu. Ia justru berlari ke arah jurang yang sangat dalam yang dasarnya penuh batu cadas runcing. Sambil menjerit panjang, tubuh Gembong Wungu terhempas dan melayang-layang ke dalam jurang, bersama monyet-monyet yang mengerubutinya.

Sambil menghela nafas dalam-dalam, Parmin melangkah perlahan ke pinggir jurang. Ia mencoba melihat ke dasar jurang. Tetapi dia tidak bisa melihat apa-apa, karena dasar jurang itu gelap. Tidak terdengar lagi suara jeritan Gembong Wungu. Tak terlihat lagi sepak terjangnya yang sangat ganas.

"Parmin..." tiba-tiba terdengar suara halus di belakangnya. Manakala Parmin menoleh ke belakang, tampaklah olehnya Ranti berdiri sambil menatapnya dengan airmata berlinang-linang.

"Parmin, terimakasih..." ujar gadis itu lirih. "Bukan aku yang membunuhnya, nona

Ranti. Dia terlalu hebat untuk kukalahkan. Aku hampir saja tewas di tangannya. Tuhanlah yang menghendaki kematiannya. Sayang, selama ini ia mempergunakan kehebatannya untuk memerangi bangsa sendiri. Dia menutup mata dari kenyataan bahwa bangsanya sangat menderita karena penjajah," kata Parmin sedih.

Ranti tidak menyahut. Air matanya makin deras membasahi wajahnya.

"Nona Ranti," kata Parmin lagi, "Semuanya telah berlalu. Bimbinglah sisa anak buah Gembong Wungu ke jalan yang benar. Tanamkan ke dalam jiwa mereka tentang kesadaran bertanah air. Engkaulah pemimpin mereka di desa ini. Dan kau boleh minta nasehat kepada Pak Tani tua jika hendak memutuskan sesuatu."

"Kurasa aku tak mampu. Kaulah yang lebih pantas memegang kedudukan itu. Kau merupakan malaikat penolong bagi desa ini, bahkan di seluruh lereng Ciremai ini."

"Perjalananku masih jauh, Ranti. Aku harus menghubungi pendekar di seluruh daerah selatan ini. Berjanjilah, Ranti. Kita saling bahumembahu mengusir penjajah dari bumi nusantara ini. Aku segera melanjutkan perjalanan setelah Pak Tani itu sembuh dari lukanya."

Malam itu terang bulan. Angin bertiup lembut mengusap bumi persada. Bintang-bintang bertaburan bagaikan zamrud mutu manikan. Bertebaran di atas permadani biru lazuardi. Semua itu melambangkan perdamaian di desa Perbutulan. Dan nun di sana, sayup-sayup terdengar alunan seruling dengan nada rindu.

Suara merdu seruling itu terhenti ketika Ranti muncul di hadapan Parmin si Jaka Sembung. 

dis itu. "Jadikah kau berangkat besok?" tanya ga-

"Ya, nona Ranti."

"Aku kesepian tanpa kau. Aku ingin ikut bersamamu ke mana pun kau pergi. Aku ... aku mencintaimu, Parmin..."

"Nona Ranti, semua orang tentu tertarik padamu karena engkau sangat cantik. Tetapi aku tak boleh ingkar janji. Aku telah berjanji dengan seorang gadis yang setiap saat kurindukan. Seorang lelaki tak boleh mengingkari janjinya, Ranti. Kudoakan semoga engkau memperoleh jodoh yang lebih berarti dariku kelak."

Esok harinya, Jaka Sembung meninggalkan desa Perbutulan, diantarkan Ranti dan Petani Tua itu. Ia terus menuju selatan. Di sana puncak Gunung Ciremai menjulang megah, seakan-akan menantang minta ditaklukkan.

Sedang pada wajah yang ditinggalkan terlukis perasaan berlainan. Petani Tua itu terharu, sedang pipi Ranti basah oleh airmata menyaksikan keberangkatan pendekar yang dikaguminya, Pendekar Jaka Sembung, yang di pundaknya kini terletak tugas yang sangat penting, demi tanah air tercinta.

Bagaimanakah nasib Ranti, gadis pendekar anak angkat Gembong Wungu setelah kepala rampok dari lereng utara Gunung Ciremai itu tewas di tangan Jaka Sembung?

Apa yang ia lakukan dengan dendam cinta tak terbalas? Tak mungkin ia menyerah begitu saja, karena sifat manja dan keras kepala akibat salah-asuh akan mendorongnya untuk berbuat sesuatu diluar dugaan.

SELESAI

0 Response to "Serial Jaka Sembung Eps 04 : Raja Rampok dari Lereng Ciremai"

Post a Comment