coba

Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 17

Mode Malam
Jilid 17  

Dan walau pun gadis itu tidak mengajukan pertanyaan, Bangsawan Yogascitra nampaknya mengerti isi hati putrinya.

"Aku tidak akan berpanjang-panjang berkata, sebab pokok tujuannya adalah adanya pengertian di hatimu," kata Bangsawan Yogascitra. "Hari ini datang surat kiriman dari Bangsawan Bagus Seta. Isinya, yang pertama membuat sakit hati kita, yaitu pembatalan pertunangan kakakmu dengan anak gadisnya," lanjut bangsawan itu.

Sejenak Nyimas Banyak Inten menatap wajah ayahandanya, kemudian menoleh ke kiri ke arah Banyak Angga yang nampak sejak tadi menundukkan kepala.

"Tapi isi surat yang kedua ada hubungannyaa dengan nasib dan masa depanmu. Karena Bagus Seta merasa berdosa telah membatalkan pertunangan kakakmu, dia tetap ingin menjalin hubungan keluarga dengan kita. Caranya yaitu meminangmu untuk kepentingan Raden Suji Angkara!" kata bangsawan berwajah simpatik ini.

Ginggi melirik ke arah Nyimas Banyak Inten. Dia ingin sekali melongok isi hati gadis itu untuk mengetahui perasaannya setelah mendengar penjelasan ayahandanya.

"Aku belum akan menolak atau menerimanya, sebab aku ingin mendapatkan penjelasan atau barangkali pendapatmu tentang hal ini," Bangsawan Yogascitra menatap gadis itu berlamalama. Namun yang ditatap hanya menunduk saja. Wajahnya kendati ada rona merah namun terkesan tenang dan seperti tak terpengaruh oleh pertanyaan ini.

"Saya hanya ingin tahu, apakah penyebab batalnya pertunangan Kanda Banyak Angga dengan Ayunda Nyimas Layang Kingkin?" gadis itu malah mengajukan pertanyaan lain.

"Pembatalan ini upanya bukan kesalahan Ki Bagus Seta. Sekurang-kurangnya begitu menurut isi surat ini. Pertunangan antara kakakmu dengan Nyimas Layang Kingkin terpaksa dibatalkan karena Sang Prabu amat tertarik terhadap kecantikan gadis itu. Beliau ingin mempersuntingya sebagai selir, anakku," kata Bangsawan Yogascitra.

Semua orang menatap dalam-dalam sepertinya ingin sekali mendengar apa pendapat gadis itu.

Dan rupanya gadis itu pun sadar bahwa dirinya tengah menjadi perhatian semua orang, membuat dirinya menjadi jengah. Gadis itu terus tertunduk. Sesekali tangannya yang putih mulus menyeka ujung hidungnya yang mancung dengan punggung tangannya.

"Engkau belum menjawab perihal rencana pinangan Ki Bagus Seta padamu," kata Bangsawan Yogascitra masih menatap putrinya.

"Apa yang harus saya kemukakan, padahal saya hanyalah sekadar gadis bodoh, Ayahanda…" gumam Nyi Mas Banyak Inten, masih menunduk.

"Seorang anak memang berkewajiban taat terhadap orangtuanya. Tapi aku menginginkan, kendati anak tetap taat terhadap orangtuanya, jangan sampai sang anak menderita karena ketaatannya. Aku ingin hidupmu bahagia," kata Bangsawan Yogascitra bijaksana. Namun gadis itu masih tetap tertunduk. Hanya jari-jari tangannya saja yang melipat-lipat ujung selendangnya.

"Harus kau sadari anakku, aku sendiri sebenarnya tak punya kepentingan untuk menerima atau menolak pinangan mereka. Kalau aku tolak, tak akan merugikan kedudukanku.
Sebaliknya pun bila kuterima, kedudukanku tetap seperti ini. Jadi, urusan menerima atau menolak pinangan, semuanya engkau yang harus menentukan," kata lagi Bangsawan Yogascitra menegaskan.

"Entahlah, Ayahanda," kata Nyimas Banyak Inten pada akhirnya, "Usia saya serasa belum cukup mampu untuk berpikir urusan cinta. Bila saya yang harus memutuskan, mungkinkah keputusan saya tidak keliru? Kakanda Suji memang sudah saya kenal sejak lama. Dia halus perangainya, santun terhadap sesama. Dia pun menyayangi dan amat membela saya.
Barangkali Ayahanda pernah ingat peristiwa penyerbuan penjahat ke puri kita," kata Nyimas Banyak Inten yang diakhiri dengan sepasang pipi berubah merah ketika menceritakan peristiwa beberapa bulan silam itu. Mendengar ucapan terakhir gadis itu, darah Ginggi berdesir dan ada rasa panas di hatinya.

"Naluri wanita saya mengatakan, Kakanda Suji Angkara ada mengharap sesuatu dari saya," kata lagi gadis itu menunduk.

"Ya, jadi perlukah pinangan mereka kita terima, anakku?" desak Bangsawan Yogascitra menatap tajam. Tapi Nyimas Banyak Inten tidak mengiyakannya, membuat ayahandanya penasaran sekali.

"Maafkan saya Ayahanda," kata gadis itu lagi, menunduk dan membisu.

Melihat kebisuan ini, Banyak Angga menyembah takzim dan duduknya agak menggeser ke depan.

"Ada apakah, Angga?" tanya Bangsawan Yogascitra menoleh pada pemuda itu. "Maafkan bila saya lancang berbicara, Ayahanda," katanya masih menyembah.
"Kau katakanlah apa yang ada dalam pikiranmu," Bangsawan Yogascitra mengangkat tangan tanda mempersilakan pemuda itu bicara.

"Saya tak sependapat kepada Ayahanda menyerahkaan segala keputusan pada Dinda Inten, sebab urusan ini amat menyangkut kita semua, termasuk nama baik dan harga diri Ayahanda sendiri," kata Banyak Angga dengan suara sedikit mantap.

"Mengapa, Angga?"

"Apa pun yang jadi alasan Ki Bagus Seta, memutuskan pertunangan saya dan Nyimas Layang Kingkin adalah penghinaan bagi kita. Mereka tidak melihat kita sebelah mata dan tak menghargai keputusan bersama. Bukankah pertunangan kami sudah disetujui Ki Bagus Seta sendiri? Mengapa dia mau menjilat kembali ucapannya tempo hari? Tidak Ayahanda.
Penghinaan ini harus kita balas. Saya harap, Ayahanda harus menolak pinangan mereka terhadap Dinda Inten!" Banyak Angga kembali menyembah, undur ke belakang dan duduk bersila tegak sambil nafas turun-naik karena menahan amarah.

Kini giliran Purbajaya yang maju menyembah.

"Engkau ada apakah, Purbajaya?" tanya Bangsawan Yogascitra melirik kepada pemuda yang sejak tadi diam saja di samping Banyak Angga.

"Maafkan kelancangan saya, Paman. Hampir setahun saya mengabdi di puri ini, serasa saya sudah jadi keluarga di sini. Dan karenanya, saya berhak membela nama baik penghuni puri. Saya setuju dengan pendapat adikku, Banyak Angga. Sebaiknya kita tak menerima pinangan mereka. Benar belaka apa kata Angga, orang-orang Puri Bagus Seta tidak melihat sebelah mata terhadap kita. Secara sefihak begitu saja mereka memutuskan pertunangan adikku dengan Nyimas Layang Kingkin. Kalau yang dijadikan alasan adalah keinginan Raja mempersunting Nyimas Layang Kingkin, saya merasa curiga ini hanya taktik Ki Bagus Seta belaka. Saya kerap kali mengunjungi istanaSri Bhima Untarayana MaduraSuradipati (puri Agung di mana Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan tinggal) karena Sang Prabu kerap kali membutuhkan saya dalam ikut mempelajari kemungkinan-kemungkinan kita merebut kekuasaan di muara dan di pantai. Beliau memang benar seorang pria romantis yang menyenangi keindahan wanita. Namun satu kali pun tidak pernah memperbincangkan Nyimas Layang Kingkin. Tapi sebaliknya, beberapa kali beliau bertanya perihal keberadaan Nyimas Banyak Inten. Suatu saat bahkan langsung bertanya kepada saya, apakah Nyimas Banyak Inten sudah ada yang punya? Ketika saya jawab bahwa Nyimas Banyak Inten adalah bunga yang baru mulai mekar di mana kumbang-kumbang tak sanggup membukakan kelopaknya, maka beliau sepertinya berkhayal bahwa betapa bahagianya bila beliau bisa berdekataan selalu dengan Nyimas. Itu beliau katakan berulang-ulang pada saya," kata Purbajaya. "Ini hanya menjelaskan bahwa perhatian Sang Prabu hanya tertuju kepada Nyimas Banyak Inten semata. Entahlah, bagaimana mulanya secara tiba-tiba saja Sang Prabu diberitakan akan mempersunting putri Ki Bagus Seta. Ini perlu diselidiki, Paman Yogascitra," kata Purbajaya berpanjang lebar namun perkataannya mengundang perhatian semua orang.

Serangan Mendadak

Ginggi yang sejak tadi duduk di belakang setuju dengan perkataan pemuda itu. Menurutnya, benar belaka apa yang barusan dikatakan Purbajaya. Dan sebetulnya, ingin sekali dia ikut memperkuat keterangan ini. Hanya, bagaimana caranya? Berpayah-payah dia melakukan penyamaran sebagaibadega , ternyata hanya mengurung dirinya untuk tidak terlalu bebas mengemukakan pendapat.Badega adalah orang yang memiliki kedudukan paling rendah, apa lagi di kalangan kaum bangsawan seperti ini. Kalau kini dia ikut tampil bicara, di samping akan dianggap lancang dan kurang ajar, juga tidak akan dipercaya. Akhirnya dia hanya mengangguk-angguk saja, sebab ucapan pemuda itu sepertinya mewakili pendapatnya.

Mendengar penjelasan Purbajaya semua orang saling pandang. Purohita Ragasuci berdehem, kemudian minta izin untuk mengemukakan pendapat.

"Aku sebagai orang tua merasa amat bersyukur bahwa kalian yang muda-muda penuh perhatian dalam memperbincangkan masalah penting ini," katanya berdehem lagi beberapa kali. "Yogascitra adikku, kau harus bangga memiliki orang-orang muda seperti ini. Kalau saja bumi Pajajaran dipenuhi pemuda-pemuda yang memiliki jiwa seperti mereka ini, negara akan selalu berada dalam kemegahan. Putrimu adalah seorang gadis berperangai halus, taat kepada orangtua dan selalu berupaya tidak menyakiti hati orang lain. Bisa kau buktikan sendiri, sekali pun kau suruh dia mengambil sikap, tapi yang dipilihnya adalah keputusan yang sekiranya bisa menyenangkanmu. Dia serahkan seluruh nasibnya kepadamu sebagai orangtuanya, kendati sebetulnya dia pasti memiliki keinginan," ujar Purohita Ragasuci sambil menatap lembut Nyimas Banyak Inten.

Kemudian orang tua berwajah sabar itu menatap kepada Banyak Angga dan Purbajaya.

"Kedua pemuda ini pun begitu tangguhnya mempertahankan harga diri keluarga. Mereka patut kau banggakan, Yogascitra," kata Purohita lagi.

"Rasanya aku akan malu bila aku sebagai orang kalangan istana memiliki banyak pengalaman hidup tapi tidak mengeluarkan pendapat. Yogascitra, kali ini aku harus bicara. Dan maafkan bila ucapanku tidak berkenan di hati," Purihita Ragasuci merapatkan kedua belah tangannya seperti melakukan aenghormatan. Dan Bangsawan Yogascitra mengangguk membalas penghormatan itu. "Engkau adalah kakakku yang amat aku hormati, dan engkau adalah Purohita, pendeta agung istana. Semua pendapatmu adalah benar belaka dan saya harus menghargainya," tutur Bangsawan Yogascitra penuh hormat.

"Jangan kau besar-besarkan kedudukanku. Aku pendeta agung, tapi aku juga manusia. Kalau aku berbicara benar, barangkali karena aku mengartikan isi kitab-kitab suci dengan benar.
Tapi aku juga adalah manusia biasa. Sedang kitab suci pun berbicara, tak ada manusia yang sempurna. Artinya, bicaraku pun bisa saja ada kekeliruan. Kalau kau anggap aku keliru, kau jangan segan meyalahkannya, adikku," kata Purohita Ragasuci dengan nada suara tetap halus.

"Tadi kau katakan, menerima atau menolak pinangan keluarga Bagus Seta tidak ada kaitannya dengan kepentinganmu. Barangkali benar begitu. Tapi musti diingat pula bahwa kadangkadang kita tidak bicara untuk kepentingan pribadi saja. Apa lagi kau sekarang hidup sebagai seorang bangsawan, seorang negarawan yang harus memikirkan kepentingan negara. Oleh sebab itu segala jejak langkah kita kini tidak sekadar berjalan di atas kepentingan pribadi, melainkan harus didasarkan pada kepentingan negara," kata Purohita panjang lebar.

Bangsawan Yogascitra nampak mengerutkan dahinya.

"Adakah hubungan pribadi ini dengan kepentingan negara, Kakanda?" tanya bangsawan itu menatap tajam Purohita.

Yang ditanya sejenak tersenyum tipis dan gigi-giginya kendati sudah tak utuh lagi namun nampak bersih terawat.

"Benar belaka, adikku," katanya mengangguk-angguk. "Urusan ini lambat-laun akan mempengaruhi urusan negara. Sudah sejak dulu urusan kekerabatan di kalangan istana akan mempengaruhi jalannya pemerintahan. Terkadang kekerabatan ini membawa kerugian bagi negara. Dahulu kala, hampir 800 tahun lalu kekerabatan hampir menimbulkan perang saudara antara Rakeyan Tamperan dan Sang Manarah. Kemelut negara juga bisa terjadi karena urusan wanita. Wanita adalah mahkluk lemah dan laki-laki harus melindungi serta menghargainya.
Namun adakalanya wanita sanggup mengubah keadaan. Bisa menciptakan peperangan seperti peristiwa menyedihkan menimpa Sang Prabu Wangi di Bubat hampir 200 tahun lalu. Dan wanita juga bisa menurunkan raja dari tahta seperti pernah terjadi kepada Sang Prabu Dewa Niskala 70 tahun lalu. Beliau turun tahta karena melanggar kaidah moral. Adikku Yogascitra, kau harus hati-hati, sebab segalanya kini bergantung padamu. Apakah peristiwa pelanggaran kaidah moral akan kembali terulang atau bisa kita hindarkan. Engkaulah kini yang menentukan," kata Purohita.

Mendengar ucapan ini, semakin berkerut dahi Bangsawan Yogascitra. Dan kebingungan bukan saja melanda Bangsawan Yogascitra seorang, sebab semua yang hadir pun sama-sama mengerutkan dahi, tidak terkecuali Ginggi.

"Mengapa saya harus jadi seseorang yang amat bertanggung jawab kepada situasi negara, Kakanda?" tanya Bangsawan Yogascitra bingung.

"Benar belaka, adikku," jawab Purohita Ragasuci yakin, "Bila benar Sang Prabu memutuskan akan mempersunting Nyimas Layang Kingkin seperti apa kata Bangsawan Bagus Seta, maka akan menimbulkan banyak pertentangan di kalangan istana. Sejak dahulu kala Raja tabu mengawini wanita larangan, sedangkan yang dimaksud wanita larangan menurut keyakinan kita adalah kaum wanita yang sudah terikat pertunangan. Dulu, Sang Prabu Dewa Niskala terpaksa harus turun tahta sebab seluruh pejabat istana dan para pendeta begitu keberatan memiliki Raja yang melanggar tabu. Kalau pelanggaran tabu juga dilakukan Raja sekarang, aku khawatir kemelut istana akan terulang lagi. Dan segalanya bergantung padamu kini, sebab peristiwa aib ada di sekelilingmu. Engkau harus berjuang agar pertunangan Raden Banyak Angga dengan Nyimas Layang Kingkin harus berlangsung. Kalau Ki Bagus Seta tak mencabut atau membatalkan pertunangan putrinya, maka Nyimas Layang Kingkin sudah terikat pertunangan dan dia wanita larangan, tak boleh dipersunting Raja!" kata Purohita Ragasuci dengan suara tegas.

Sunyi suasana di ruangan paseban itu. Semua orang nampaknya begitu terpengaruh oleh ucapan Purohita Ragasuci.

Ginggi juga ikut berpikir. Kalau tradisi semacam ini benar masih dipegang erat oleh orang Pajajaran, maka kedudukan Raja dalam bahaya. Atau lebih luas dari itu, keutuhan negara akan terganggu.

"Apakah aku harus menuetujui seluruh usul Ki Bagus Seta?" gumam Bangsawan Yogascitra. "Benar adikku …"
"Maaf, saya tidak setuju Ayahanda!" Banyak Angga berkata agak keras.

"Saya juga tak setuju dengan kebijaksanaan ini," Purbajaya bahkan ikut memperkuat. Bangsawan Yogascitra menatap tajam kepada kedua pemuda itu satu-persatu.

"Maafkan saya yang lancang Ayahanda," kata Banyak Angga menyembah dan menunduk. Namun hanya sebentar saja wajahnya menatap lantai, sebab pemuda itu segera menatap tajam ayahandanya.

"Tidak saya sangsikan, sebenarnya saya amat mencintai Dinda Layang Kingkin. Serasa saya akan mati bila saya tak sanggup hidup bersamanya. Tapi harga diri saya beserta nama baik penghuni puri lebih saya utamakan. Raja boleh aib karena melanggar kaidah moral tapi tidak bagi kita. Kalau kita datang merengek minta dikasihani agar pertunangan jangan batal, betapa rendahnya kita, betapa kecilnya harga diri penghuni puri Yogascitra di mata mereka.
Barangakali mereka akan tertawa penuh kemenangan. Barangkali juga mereka akan mendikte kita dengan mengemukakan serba keinginan dan berbagai persyaratan. Tidak Ayahanda, jangan biarkan kita menderita aib seperti itu!" kata Banyak Angga tegas. Dia menyembah takzim lagi, undur ke belakang dan duduk dengan kepala tunduk.

Bangsawan Yogascitra termangu-mangu mendengar keputusan putra laki-lakinya itu. Ginggi menyaksikan, betapa bingungnya bangsawan berperangai sabar ini. Barangkali di hatinya penuh dengan kemelut. Bangasawan Yogascitra tentu bimbang dengan banyak pertimbangan. Dia pasti mengerti ada masalah besar di depannya dan segalanya bergantung padanya. Dia harus pandai memilih, apakah harus menyelamatkan negara, ataukah hanya berjuang sebatas perjuangan harga diri keluarga?

Sunyi terus mencekam ruangan paseban. Tak ada yang berani berkata-kata lagi. Sehingga pada suatu saat Purohita Ragasuci mohon diri untuk kembali kemandala (tempat para wiku berkumpul). "Sudah aku sampaikan isi hatiku. Tapi perjalanan hidup memang sudah ada yang mengatur. Aku hanya berusaha, dan mungkin kalianpun begitu. Mari kita serahkan pada Sang Rumuhun agar keputusan-keputusannya tidak berupa petaka buat kita dan bumi Pajajaran," kata Purohita Ragasuci, berkomat-kamit, menengadahkan kedua belah tangan dan kemudian mengucapkan salam karena hendak segera berlalu dari tempat itu.

Semua orang menundukkan kepala tanda hormat terhadap Purohita istana yang hendak meninggalkan paseban puri Yogascitra.

Sepeninggal Purohita, semua orang masih tidak sanggup melakukan pembicaraan. Banyak Angga dan Purbajaya duduk tegak berpangku tangan. Sedangkan Nyimas Banyak Inten duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk. Dan ketika Ginggi menatap wajahnya, betapa mata gadis itu merah lebam dan di pipinya basah bersimbah air mata.

"Saya akan mohon diri, Juragan…" kata Ginggi memecah kesunyian.

Semua orang menengok ke arahnya dan seperti baru sadar bahwa utusan Ki Bagus Seta masih berada di sana.

"Mengapa kau tak kembali ke puri majikanmu?" tanya Purbajaya.

"Percakapan kalian tadi begitu penting dan saya tak berani mengganggu," tutur Ginggi hormat.

"Raden, badega ini lancang benar mendengarkan percakapan kita. Dia orang puri Bagus Seta, barangkali obrolan kita akan disampaikan kepada majikannya!" kata Purbajaya bicara pada Banyak Angga.

"Biarkanlah percakapan di ruangan ini disampaikan badega itu pada majikannya. Dengan demikian Ki Bagus Seta akan tahu kemelut yang ditimbulkannya," kata Banyak Angga seraya menatap tajam pada Ginggi yang masih duduk agak jauh di belakang.

"Bolehkah saya meninggalkan tempat ini, Juragan?" tanya Ginggi.

"Pergilah…" kata Bangsawan Yogascitra. "Jangan kau terpengaruh oleh sikap-sikap kami, anak muda. Kau tidak salah dan kami tidak membencimu," kata Bangsawan Yogascitra sebelum Ginggi meninggalkan paseban.

Ginggi mengangguk hormat dan hatinya senang. Bangsawan ini benar-benar berperangai baik, termasuk sopan terhadap orang kebanyakan. Untuk kedua kalinya Ginggi mohon diri dan menyembah takzim. Sekilas dia pandang lagi wajah Nyimas Banyak Inten yang masih tetap menunduk dan tidak mengacuhkan kepergiaan Ginggi.

"Purbajaya, antarkan pemuda itu ke luar benteng, kalau-kalau dia mengalami kesulitan untuk pulang," kata Bangsawan Yogascitra.

"Akan saya antarkan dia, Paman…" kata Purbajaya. Ginggi akan menolaknya. Tapi kata Purbajaya hari sudah malam. Ginggi akan dicurigai jagabaya yang bertugas malam bila tiba-tiba dia keluar benteng puri sendirian. Mendengar penjelasan ini, Ginggi baru mengikuti pemuda itu untuk diantar keluar benteng puri.

"Maafkan, aku tadi agak kasar padamu, Ginggi…" kata Purbajaya di tengah jalan.

"Kemarahanmu wajar, Raden, sebab aku orang dari puri Bagus Seta …" kata Ginggi memaklumi.

"Aneh, orang sepertimu bisa bekerja di sana," kata pemuda itu di tengah keheningan malam. "Saya seperti apa, Raden?" Ginggi menatapnya.
"Tidak seperti apa-apa. Tapi kebanyakan pekerja puri itu angkuh dan sedikit kasar.’

"Ah, saya kan hanya seorang badega. Kalau Juragan Bagus Seta terkenal angkuh, masa badeganya harus meniru-niru. Bisa marah dia," kata Ginggi.

Purbajaya terkekeh merasa lucu. Ginggi menatap lagi. Ingin sebetulnya dia bertanya pada pemuda itu, terutama hubungannya dengan peristiwa bunuh diri tunangannya yang ditinggalkan di Tanjungpura sana. Tapi bagaimana musti mulai? Kalau secara tiba-tiba bertanya tentang itu hanya akan membuat pemuda itu bingung, atau marah karena tak percaya. Dan lebih ruwet dari itu, Purbajaya pasti menyelidik siapa dia, padahal selama ini Ginggi harus tetap menyamar agar aman dalam melakukan berbagai penyelidikan.

"Sudah sampai di pintu keluar, Raden. Terima kasih atas bantuannya," kata Ginggi.

"Tidak, kita akan sama-sama pergi keluar benteng. Aku akan pergi ke benteng luar, menuju tepi Sungai Cipakancilan …" kata pemuda itu.

" Mau apa malam-malam kesana, Raden?"

"Ah, sekadar jalan-jalan saja. Ada seseorang yang harus aku temui disana," gumam pemuda itu.

Ginggi tak berpanjang-panjang mengajukan pertanyaan, sebab nampaknya pemuda itupun nampaknya enggan membicarakannya lebih lanjut. Hanya saja mendengar nama Cipakancilan serasa diingatkan kembali kepada Ki Ogel dan Ki Banen.

Sebulan lalu Ginggi sengaja berkunjung ke rumah tua di tepi Kali Cipakancilan untuk melihat kesehatan Ki Banen. Bulan lalu orang tua itu sudah berangsur sembuh setelah dia membantunya dengan beberapa ramuan obat. Ginggi sudah meneliti, sakitnya Ki Banen karena ada orang yang membuat agar dirinya sakit dengan cara memberikan obat yang salah. Ketika Ginggi tanya siapa yang memberi obat, Ki Banen mengaku sebagai pemberian Seta dan Madi. Ginggi menyelidik lagi, mengapa kedua pemuda anak buah Suji Angkara itu memberikan jenis obat seperti itu. Dan dari penjelasan kedua orang itu, terkorek rahasia bahwa segalanya bermula dari Suji Angkara. Pemuda itulah yang menyuruh memberikan obat kepada Ki Banen. Dengan begitu terbukti sudah kejahatan Suji Angkara. Dia akan mencelakakan Ki Banen, orang yang selama ini menjadi anak buahnya juga. Mengapa Suji Angkara hendak mencelakakan Ki Banen? Dugaan Ginggi, ini karena Suji Angkara sudah mensinyalir bahwa Ki Banen mencurigai kejahatannya selama ini. Untuk menutupinya, Ki Banen harus dienyahkan!

"Kita bisa jalan bersama sampai jalan berbalay ke arah benteng luar," kata Purbajaya melangkah di lorong yang diapit dua benteng puri. Jalanan demikian sepi dan gelap sebab di sana tak ada penerangan.

"Baik Raden … Tapi di depan kita ada orang yang berjalan mendatangi," bisik Ginggi. Purbajaya rupanya sudah pula melihat tapi dia tidak merasa bercuriga. Lain lagi dengan Ginggi. Kendati suasana gelap tapi matanya sudah demikian terlatih. Yang datang adalah tiga orang. Satu melangkah di depan dan dua mengikuti di belakang. Yang membuat darah Ginggi berdesir, karena Ginggi hafal betul, ketiga orang di depan adalah Suji Angkara, Seta dan Madi.

Ginggi khawatir dirinya diketahui mereka. Itulah sebabnya pemuda itu segera membuka ikat kepalanya dan digunakannya untuk menutupi hidung dan mulutnya dengan jalan kedua ujung ikat kepala diikatkan di belakang tengkuknya.

Ginggi dan Purbajaya di lain fihak sudah hampir berpapasan dengan rombongan Suji Angkara. Dan mereka nampak menghentikan langkah ketika tahu siapa yang dihadapi.

"Purbajaya?"

"Benar …" jawab Purbajaya tidak curiga. "Serbu !!!" teriak Suji Angkara.
Madi dan Seta menerjang ke depan menyerbu Purbajaya. Suji Angkara pun serentak menghambur ke depan. Purbajaya dikurung mereka bertiga.

Kedok Terbuka

Perkelahian satu lawan tiga berlangsung seru di kegelapan malam. Tapi dalam sebentar saja Ginggi mendapatkan bahwa Purbajaya tidak akan menang menghadapinya. Bukan saja karena mendapat pengeroyokan tak seimbang, tapi pun kepandaian Purbajaya tidak begitu tinggi bila dibandingankan dengan Suji Angkara. Jadi, jangankan dikeroyok, sedang hanya dilayani satu orang Suji Angkara saja, pemuda ini pasti akan kalah. Yang jadi pertanyaan, mengapa Suji Angkara musti melakukan pengeroyokan, padahal dengan kepandaiannya sendiri saja bisa melumpuhkan lawan?

Barangkali hanya satu hal bisa diduga, mereka bertiga sudah berniat hendak mencelakakan Purbajaya tidak kepalang tanggung.

Nampak sekali Purbajaya kepayahan menghadapi pengeroyokan ini. Mungkin seranganserangan kedua pemuda Seta dan Madi bisa dia tanggulangi sebab mereka hanya memiliki kepandaian biasa saja. Tapi kemampuan Suji Angkara jauh di atas kemampuannya dan Purbajaya amat keteter dibuatnya. Ginggi sudah menyaksikan, begitu ganasnya serangan-serangan Suji Angkara. Jurus-jurus yang dikeluarkan semua ditujukan untuk mengarah langsung kepada nyawa lawan. Nampak nyata oleh Ginggi, Suji Angkara bermaksud membunuh Purbajaya.

Suatu saat kedudukan Purbajaya ada dalam bahaya. Pemuda ini baru saja menangkis sodokan pukulan tangan Seta yang mengarah ke ulu hatinya. Serbuan ini bisa ditangkis Purbajaya dengan cara menepiskan tangan kanannya ke bawah sambil badannya sedikit membungkuk. Namun dari arah belakang, Madi memukul pundak pemuda itu. Begitu telaknya pukulan Madi. Kendati tidak menimbulkan luka berarti karena pukulannya tidak memiliki tenaga dalam, tapi membuat tubuh Purbajaya tersuruk ke depan.

Terdengar kekeh Suji Angkara. Barangkali dia puas melihat lawannya jatuh. Di saat tubuh Purbajaya tersuruk di tanah, Suji Angkara melompaat ke udara. Maksudnya pasti, dia ingin menyerang kepala Purbajaya dengan sepasang kakinya. Purbajaya sepertinya sudah tak bisa berkelit. Kalau dia berguling tentu kedudukan tubuhnya akan terbalik, yaitu wajah tengadah. Dan ini akan berbahaya lagi, sebab serangan kaki lawan akan mengarah ke wajahnya.

Ginggi harus mencegah penganiayaan ini. Untuk itulah dia segera melayang tinggi. Tangan kanannya dia pentang lebar dan telapak tangannya dibuka berbareng dengan serangan pukulannya. Pemuda ini tersenyum di balik cadar ikat kepalanya, sebab membayangkan telapak tangannya yang terbuka lebar akan dengan telak mengarah jidat Suji.

Dan benar dugaannya. Tubuh pemuda itu yang lagi melayang di udara mendadak terlontar kembali ke belakang diiringi teriakan kesakitan.

Buk! Tubuhnya membentur benteng. Seta dan Madi yang juga sama akan melakukan serangan berbareng dari kiri dan kanan ke arah tubuh telentang Purbajaya juga sama menjerit kesakitan karena dengan sapuan kaki Ginggi, membuat kedua pemuda itu terjajar membentur tembok.

Untuk sementara keduanya meloso tak sanggup bangun lagi. Tapi Suji Angkara yang tubuhnya lebih kuat, sudah sanggup bangun kembali kendati nampaak sempoyongan sambil tangan kiri memegangi jidatnya.

"Kau … kau! Siapa kau…" suara Suji Angkara lebih terdengar heran ketimbang marah.

Ginggi yang wajahnya masih bercadar ikat kepalanya mencoba menakut-nakuti pemuda itu dengaan berpura-pura seolah mau mengejarnya. Dan nampak sekali rasa takut pemuda itu. Dengan tubuh limbung Suji Angkara berlari menjauhi lorong gelap, meninggalkan kedua anak buahnya begitu saja.

"Engkau…?" Purbajaya yang sudah berdiri di sisinya amat terkejut sebab mungkin dia tak menyangka kemampuan Ginggi sehebat itu. Namun sebelum Purbajaya banyak bicara, Ginggi segera menempelkan telunjuk di dekat bibirnya. Dan Purbajaya nampaknya mengerti keinginan Ginggi, apalagi ketika dia melihat Ginggi menutupi wajahnya sendiri.

Ginggi menunjuk kepada kedua anak buah Suji Angkara. Nampak keduanya mencoba bangun dengan susah-payah dan sama-sama memegangi jidatnya masing-masing. Purbajaya mendekati kedua pemuda itu dan menanyainya. Tapi yang ditanya hanya memijitmijit jidatnya sambil sesekali menggoyang kepala seperti mencoba mengusir rasa pening.

"Ini penyerangan kedua kalinya terhadapku. Coba kau jelaskan, mengapa kalian melakukannya?" tanya Purbajaya menarik baju kedua orang itu kiri dan kanan.

"Cepat bicara!" Purbajaya menyentak-nyentak ujung baju Seta dan Madi. "Kami … kami disuruh Raden Suji!" kata Seta meringis menahan sakit.
"Ya, aku tahu kalian pasti disuruh majikanmu yang jahat itu. Tapi coba kau jelaskan, mengapa majikan kalian selalu mencoba untuk mencederai aku? Apa dosaku? Jawab cepat!" teriak Purbajaya kesal.

"Karena kau jahat!" teriak Madi parau.

Plak! Tangan kiri Purbajaya menampar pipi pemuda tonghor itu. Madi mengeluh karena tamparan ini mengarah pipi kanannya.
"Coba sebutkan kejahatanku! Kapan aku merugikan kalian?" kembali Purbajaya mengguncang-guncang tubuh kedua orang itu karena kesal, marah tapi sekaligus heran.

"Engkau menjadi gara-gara matinya Nden Wulansari!" kata Seta.

"Apa? Wulansari tunanganku, tolol! Siapa bilang dia mati?" teriak Purbajaya berang.

"Kami ingin membela Juragan Ilun Rosa karena kematian putrinya. Karena kau penyebabnya, maka kami berniat menghukummu, sebab itu juga yang diinginkan Juragan Ilun Rosa!" kata Seta.

Plak! Purbajaya kini menampar pemuda Seta.

"Bunuhlah aku, agar kejahatanmu tak tanggung-tanggung!" kata Seta menyeka ujung bibirnya. Rupanya ada darah keluar dari mulutnya.

"Aku tidak pernah menyombongkan diri bahwa aku orang baik. Tapi omongan kalian ngaco bila menuduhku melakukan kejahatan, apalagi pembunuhan. Dan kalian katakan, tunanganku sendiri yang aku bunuh? Betulkah Dinda Wulan mati?" Purbajaya lebih bernada heran ketimbang marah.

"Memang kau tak bunuh langsung Nden Wulan. Tapi kau tinggalkan dia begitu saja dan surat yang kau serahkan padanya amat menyakitkan hatinya, sehingga Nden Wulan patah hati dan nekad bunuh diri," kata Seta.

Purbajaya nampak akan kembali memukul pemuda itu, tapi tangan kuat Ginggi segera menahannya.

"Aku tak mengerti omongan ngaco kalian. Aku tak pernah menyakiti kekasihku!" teriak Purbajaya. "Bagaimana dengan surat daun nipah yang kau tinggalkan?" tanya Seta.

"Aku tak pernah meninggalkan surat apa pun sebab ketika aku akan ke Pakuan, aku bicara langsung pada Dinda Wulan. Siapa yang katakan aku tinggalkan surat dan apa isi surat itu?" tanya Purbajaya.

Giliran Seta dan Madi bingung.

"Kau tidak pernah meninggalkan surat?"

"Ya, coba terangkan, apa isi surat itu?" desak Purbajaya.

"Kata Raden Suji, surat itu menyebutkan engkau akan bekerja di Pakuan dan akan melangsungkan perkawinan dengan anak bangsawan Pakuan! Akibatnya Nden Wulan sakit hati dan bunuh diri,’ kata Seta lagi. Kembali Purbajaya akan memukul pemuda Seta. Kali ini disertai tenaga amat kuat karena dorongan kemarahan yang sangat. Namun untuk yang kesekian kalinya tangan kuat Ginggi menahannya dari belakang.

"Biarkan tanganku Ginggi!" teriak Purbajaya menahan marah. Mendengar nama itu disebut, Seta dan Madi berseru kaget.

"Ginggi?!" katanya berbareng.

Ginggi menghela nafas, menyesalkan ucapan Purbajaya yang tak sengaja membuka cadar wajahnya.

"Ya … aku pemuda dungu itu, Seta," gumamnya pelan.

"Kaukah yang barusan melumpuhkan kami dalam satu gebrakan saja?" tanya Seta masih tak percaya.

"Maafkan aku Seta. Dan aku pula yang tiga kali membikin jidat majikanmu menyendul sebesar telur ayam itu. Kau sampaikan pada Raden Suji. Pertama kali jidatnya kubuat bengkak di gua hutan Cae. Kedua kulakukan di depan jendela kamar Nyi Mas Banyak Inten bulan lalu. Dan mungkin yang ketiga kalinya adalah di lorong gelap ini. Kalau kau sampaikan berita ini, dia tak akan berani mungkir!" kata Ginggi masih berkata pelan namun membuat Seta dan Madi semakin mepet ke dinding saking takut dan terkejutnya.

"Seta, juga Madi, aku peringatkan, kau jauhi Raden Suji. Dia orang berbahaya dan kalian memilih majikan yang salah. Seharusnya kalian sudah sadar sejak dulu ketika aku tanya perihal pengobatan untuk Ki Banen. Kalian sadar ramuan obat untuk Ki Banen dari Raden Suji bukan saja tidak menyembuhkan, melainkan juga membahayakan jiwa Ki Banen. Tapi kendati begitu kalian tetap tidak bercuriga, mengapa Raden Suji memaksa memberikan obat berbahaya itu. Ketahuilah, majikanmu berusaha untuk melenyapkan Ki Banen sebab dia menuga, Ki Banen mengetahui kejahatannya. Sekarang kau tetap tertipu oleh kelicinan Raden Suji sehingga hampir saja membunuh orang tak bersalah macam Raden Purbajaya ini. Kalian jangan pura-pura tidak tahu, bahwa selama kalian ikut Raden Suji banyak terjadi wanita bunuh diri. Mungkin kau ingat di Desa Wado. Mungkin pula di Tanjungpura. Dan kalian juga pasti tahu, wanita bunuh diri di antaranya karena alasan kehormatan terganggu. Tidakkah Nyi Santimi dulu melapor padamu bahwa suatu malam dia diculik ke sebuah gua? Semua yang menyangkut wanita selalu di sekitar di mana Raden Suji berada. Dan engkau Raden Purbajaya," Ginggi menoleh pada pemuda disampingnya," Kalau kau merasa nyawamu diancam dua kali oleh Raden Suji, itu karena upaya pemuda jahat tersebut, agar kejahatannya tidak terungkap. Aku sudah bisa menduga, Suji Angkaralah yang membuat surat palsu yang isinya seolah-olah menyakiti perasaan Wulansari dan mendorongnya untuk bunuh diri.
Padahal aku yakin, Wulansari dibunuh oleh pemuda itu setelah kehormatan gadis itu diganggu. Bulan lalu untuk yang kedua kalinya Suji Angkara mencoba mengganggu kehormatan Nyimas Banyak Inten. Peristiwa pertama bisa digagalkan oleh Ki Banen dan peristiwa kedua aku yang menggagalkan," kata Ginggi membeberkan keburukan Suji Angkara secara panjang-lebar.

Ketiga orang yang menyimak penjelasan ini begitu terpana sebab ini adalah berita yang amat mengejutkan sekali.

"Sudahlah Raden, kita lepaskan kedua orang ini. Mereka hanya terbawa-bawa saja dan tak mereka sadari sedikit pun," kata Ginggi.

Seta dan Madi menatap kepada Purbajaya. Tapi karena pemuda itu nampak tidak bermaksud menahannya, maka keduanya menyembah hormat dan undur dari tempat itu.

Tinggallah Purbajaya termangu-mangu di kegelapan malam. Rupanya pemuda itu masih terpengaruh oleh kejadian-kejadian yang baru saja terjadi dan melibatkan dirinya.

"Mari Raden kita lanjutkan perjalanan, bukankah engkau akan menuju tepi Sungai Cipakancilan?" kata Ginggi.

"Tidak perlu ke sana sebab barusan engkau sudah menjelaskannya," gumam pemuda itu dengan nada pahit.

"Kalau boleh aku bertanya, rencanamu apa menuju Sungai Cipakancilan itu?" Ginggi bertanya sambil memandang pemuda itu di kegelapan malam.

"Aku akan menuju rumah Ki Ogel dan Ki Banen karena aku curiga, Suji Angkara pernah masuk ke rumah tua itu," kata Purbajaya. "Sejak setahun yang lalu aku curiga terhadap Suji Angkara sebab dia sepertinya membenciku tanpa sebab. Suatu malam seperti malam ini, aku diserang bayangan hitam. Tapi melihat gerak-geriknya aku tahu. Dia Suji Angkara. Aku waktu itu hampir terbunuh kalau saja tidak datang pertolongan para jagabaya puri Yogascitra. Bayangan hitam itu melarikan diri di kegelapan. Aku tak mau bilang pada siapa-siapa perihal kecurigaanku pada Suji Angkara. Maklum, dia anak pejabat penting di Pakuan ini. Jadi sebelum jelas benar permasalahannya, aku tak akan beritahu siapa pun. Maka aku lakukan penyelidikan. Baru sekarang aku tahu apa penyebabnya … Oh, benarkah Dinda Wulansari sudah mati?" akhirnya pemuda itu mengeluh. Ginggi mengangguk mengiyakan.

"Hanya yang saya heran, mengapa berita kematian gadis kekasihmu tidak pernah diketahui selama ini?" tanya Ginggi.

"Sejauh mana hubunganmu dengan gadis Wulan, Raden?" tanya lagi Ginggi. "Itulah mungkin penyebabnya. Aku bercinta dengan Dinda Wulan baru secara diam-diam saja. Hubungan kami takut tak direstui mengingat antara Ayahandaku dan Kandagalante Subangwara tidak punya kesepakatan pendapat. Subangwara adalah paman kekasihku. Berita kematian Dinda Wulan tidak sampai kepadaku karena Ayahanda mungkin merasa tak berkepentingan memberitahukannya padaku…" kata Purbajaya mengeluh. Nampak sekali dia diliputi kesedihan.

"Kau … Aku lihat sikapmu aneh," akhirnya pemuda itu berkata seperti itu. "Hm … begitukah, Raden?" gumam Ginggi.
"Aku bingung, ada di fihak mana sebetulnya engkau. Aku teliti engkau pernah mengabdi pada Suji Angkara. Sesudah itu sekarang jadibadega (pelayan) Bagus Seta. Tapi sepertinya kau tak memihak mereka," tanya pemuda itu heran.

Ginggi hanya tersenyum.

"Saya ingin memihak kebenaran. Tapi kebenaran yang mana, sampai hari ini saya tak tahu
…" jawab Ginggi.

"Mengabdi dan berfihaklah pada satu kekuatan yang membela kebenaran. Kurasa tak baik menutup-nutupi kemampuan sendiri. Orang tidak pernah menghargai kebodohan. Karena kau dianggap bodoh, maka pekerjaanmu hanya sebatas badega saja. Padahal kepandaianmu hebat sekali. Kau bisa menjadi perwira kerajaan. Pakuan amat membutuhkan orang-orang pandai," kata Purbajaya.

"Saya belum berpikir untuk mengabdi kepada siapa. Itulah sebabnya saya sembunyikan kepandaian yang ada. Dengan demikian saya tidak diperhatikan orang dan bebas melakukan berbagai penyelidikan …"

"Penyelidikan? Apa yang tengah kau selidiki?"

"Perbuatan Suji Angkara, bukankah saya yang selidiki?" kata Ginggi. Purbajaya mengangguk-angguk maklum.
"Penyelidikanmu telah menolongku, mungkin akan menolong banyak orang. Malam ini juga aku harus laporkan kejadian ini pada Paman Yogascitra," kata pemuda itu.

"Jangan dulu," Ginggi mencegahnya.

"Mengapa? Keluarga Yogascitra dalam bahaya. Bukankah kau tahu Bangsawan Bagus Seta melamar Nyimas Banyak Inten untuk kepentingan Suji Angkara?" tanya Purbajaya.

"Betul dalam bahaya, tapi kalian sudah sepakat untuk tidak memberikan Nyimas Banyak Inten kepada pemuda bejat itu, seperti yang kalian rundingkan tadi sore. Yang ingin saya cegah adalah berita kebejatan pemuda itu, harap Raden tidak mengabarkannya dulu pada keluarga Yogascitra," kata Ginggi.

"Mengapa?" "Aib Suji Angkara sulit dibuktikan, sebab semuanya baru bersumber pada ucapan saya semata. Kalau keluarga Yogascitra ikut menuding sambil dasarnya baru dari keterangan seorang badega, keluarga Bagus Seta akan balik menuntut dan itu merugikan nama baik Bangsawan Yogascitra. Sang Prabu tengah mempercayai Bangsawan Yogascitra, dan beliau akan diangkat jadi Penasihat Raja. Itulah sebabnya Ki Bagus Seta mencabut pertunangan Raden Banyak Angga dan Nyimas Layang Kingkin. Sebetulnya bukan Sang Prabu yang minta tapi Ki Bagus Seta yang sengaja menawarkan, dengan harapan dia punya kekerabatan dengan Raja. Dan bila sudah begitu, diharapkan kedudukan Penasihat Raja tidak jatuh ke tangan Bangsawan Yogascitra!" kata Ginggi secara rinci, membuat mulut Purbajaya menganga saking heran mendengar penjelasan seperti itu.

"Engkau hebat, begitu tahu banyak kejadian-kejadian penting yang menyangkut kalangan istana. Dari mana kau tahu, sedangkan aku sendiri yang beberapa kali diundang oleh Raja tidak pernah mendengar berita ini?" tanya Purbajaya heran.

"Itulah perlunya menjadi orang rendahan, Raden. Seorang badega bodoh tak akan diperhatikan. Dan karena tak diperhatikan, dia bebas melakukan penyelidikan penting," kata Ginggi bangga tapi sambil teringat dirinya babak-belur dihajar orang-orang Ki Bagus Seta karena sempat dicurigai.

Kembali Purbajaya termangu-mangu.

"Kalau Raden mau membantu perjuangan saya, tolong rahasiakan keberadaan saya. Malam ini juga saya akan kembali ke puri Bagus Seta. Raden juga di sana harus berjuang menjaga Nyimas Banyak Inten," kata Ginggi.

"Aku siap menjaga keamanannya, Ginggi."

"Terima kasih," jawab Ginggi entah apa maksudnya.

Keduanya berpisah di lorong gelap itu. Ginggi berniat akan kembali ke puri Ki Bagus Seta dan Purbajaya ke puri Bangsawan Yogascitra. Namun sebelum keduanya berpisah, Ginggi beberapa kali menasihati pemuda itu agar tidak sembarangan bertindak.

"Saya bisa mengerti kesedihan dan kemarahan Raden karena kematian gadis yang Raden cintai. Tapi bila secara sembrono Raden menyerbu Puri Suji Angkara, akan terlalu berbahaya. Bahkan sekarang Raden harus hati-hati bepergian seorang diri. Selama setahun ini Raden bebas dari incaran pemuda itu mungkin karena Raden terbiasa keluar-masuk Puri Bangsawan Yogascitra bahkan ke Istana Raja, dan Suji Angkara agak segan bertindak di tempat-tempat itu. Tapi oleh Raden kini terbukti, sedikit saja berada di luar puri, Raden sudah diserang dan diancam bahaya," kata Ginggi panjang-lebar.

Ginggi tak bisa menduga, apakah pemuda ini bisa mengerti untuk bisa menahan emosinya? Ada juga perasaan khawatir, takut kalau-kalau pemuda ini bertindak sendiri. Kalau demikian jadinya, suasana akan bertambah runyam. Peristiwa barusan saja sebenarnya amat tak dikehendaki olehnya. Ginggi sebetulnya masih ingin merahasiakan identitasnya kepada siapa pun juga. Sekarang sudah ada tiga orang yang sekaligus tahu siapa dirinya. Kalau Seta dan Madi masih menginduk kepada Suji Angkara, barangkali orang keempat itu yang tahu siapa dirinya adalah Suji Angkara. Karena sudah terlanjur dirinya diketahui, jadi Ginggi harus secepat mungkin melakukan tindakan. Tapi tindakan apa, Ginggi pun sebetulnya belum tahu persis.

Ginggi meloncat pergi ketika Purbajaya telah meninggalkan tempat itu. Tujuannya tidak kembali ke Puri Bangsawan Bagus Seta, melainkan akan menyelinap ke Puri Suji Angkara.

Ginggi berpikir kemungkinan dirinya sudah dikenal oleh Suji Angkara, karena Seta dan Madi pasti melaporkannya. Kalau benar demikian Suji Angkara tentu akan segera melaporkan kepada ayahnya. Dan bila sudah begitu, akan terputus pula usaha penyelidikannya.

Ginggi harus berpacu. Dia harus mencegah pemuda jahat itu berhubungan dengan ayahnya. Karena jalan pikiran inilah dia memilih pergi menuju Puri Suji Angkara saja.

Ginggi berlari, menyelinap ke kiri dan ke kanan untuk menghindari pertemuan dengan para tugur. Tugur atau ronda setiap malamnya terdiri dari dua rombongan. Satu berjaga dijawi khita dan satu rombongan lagi bertugas didalem khita . Masing-masing rombongan dipecah dua lagi. Semuanya berkeliling memutari benteng untuk pada suata saat saling bertemu pada satu titik.

Tapi Ginggi tak boleh bertemu dengan tugur. Jadi kalau sayup-sayup di depan didengar suarakohkol (kentongan) di tabuh dengan teratur, pertanda tugur tengah berkeliling menyusuri benteng. Pemuda itu harus bersembunyi di balik pepohonan, atau bahkan langsung meloncat ke atas dahan.

Ketika Ginggi bersembunyi di dahan pohon pun nampak serombongan tugur tengah berjalan menyusuri dalem khita. Jumlahnya ada sekitar dua belas orang terdiri dari jagabaya pilihan. Mereka berbekal oncor (obor) tapi kebanyakan membawa tombak, cagak atau bahkan pedang. Hatinya merasa bersyukur ketika terjadi perkelahian di lorong benteng tadi, tugur belum lewat ke wilayah benteng di mana mereka berkelahi dengan rombongan Suji Angkara.

Ketika rombongan tugur sudah lewat, Ginggi baru berani melayang turun dari atas pohon. Sesudah itu dia segera berlari lagi menuju Puri Suji Angkara.

Namun pemuda itu amat terkejut, sebab beberapa saat sebelum tiba di pintu gerbang Puri Suji Angkara, terdengar banyak kentongan dipukul bersahut-sahutan. Para tugur pun berlarian menuju gerbang puri.

Berdebar hati Ginggi. Di Puri Suji Angkara pasti terjadi huru-hara. Tapi huru-hara perkara apa? Dia belum bisa memastikan. Ada sedikit dugaan, barangkali Purbajaya sudah melapor ke Puri Yogascitra perkara kejahatan Suji Angkara dan malam itu mereka melakukan penyerbuan. Kalau Purbajaya melapor bahwa Suji Angkara pernah mencoba melakukan kejahatan terhadap Nyimas Banyak Inten, kemungkinan akan membikin kemarahan para penghuni puri Bangsawan Yogascitra dan malam itu juga pasti melakukan penyerbuan.

Tapi kecurigaan ini segera ditepisnya. Jarak dari Puri Bangsawan Yogascitra ke Puri Suji Angkara cukup jauh. Kalau mereka menyerbu Puri Suji Angkara, sebelumnya tentu harus melewati dirinya, sebab jalan menuju Puri Suji Angkara atau Puri Ki Bagus Seta hanya terdiri dari satu jalan saja. Kalau berkeliling tentu akan sangat melambung dan tak mungkin bisa datang lebih cepat ketimbang dirinya. Jadi kalau begitu, habis ada huru-hara apakah di puri itu?

"Kepung penjahat! Kepung pemberontak!" terdengar teriakan-teriakan di dalam benteng puri.

Ginggi segera menahan napas untuk mengumpulkan tenaga inti. Sesudah terhimpun, inti tenaga disalurkan ke bagian kaki. Sesudah itu Ginggi menggerakkan kedua kakinya dan badannya terlontar ke udara. Badannya kembali turun dan sepasang kakinya tepat menclok di atas benteng setingi 3 depa. Ginggi melihat ada pertempuran kecil. Atau lebih tepat lagi, ada pengeroyokan. Satu orang pemuda bersenjatakan kelewang tengah dikeroyok tujuh orang atau sembilan orang jagabaya yang bersenjatakan macam-macam jenis dari mulai senjata tajam seperti tombak, pedang dan cagak, sampai senjata ringan untuk menangkap orang seperti cangkalak misalnya. Tapi yang membikin Ginggi terkejut setengah mati, karena orang yang tengah dikepung dan dikeroyok adalah pemuda Seta. Seta menyerang membabi-buta mengayunkan kelewang ke kiri dan ke kanan. Nampaknya dia sudah tidak memikirkan jiwanya lagi, sebab serangannya tidak menggunakan ilmu-ilmu berkelahi yang wajar. Dia hanya serampangan saja membanting senjatanya ke kiri dan ke kanan tanpa berniat menangkis serangan lawan. Yang dia lakukan sepertinya berusaha menyerang para pengeroyoknya saja. Memang ada satu dua pengeroyoknya yang terkena bacokan atau tusukan Seta. Tapi di sebuah lapangan rumput tepi paseban kecil sudah berdiri belasan jagabaya lainnya. Jadi setiap satu atau dua pengepung mundur dan terluka, segera digantikan oleh tenaga baru.

Melalui penerangan cahaya obor yang banyak dipegang beberapa jagabaya, Ginggi melihat banyak luka diderita pemuda Seta. Sekujur tubuhnya sudah bersimbah darah, begitu pun wajahnya, sehingga hampir-hampir tidak dikenali lagi.

Yang membuat darah Ginggi berdesir adalah ketika memandang ke arah bagian lain masih di sekitar tepi paseban. Suji Angkara nampak berdiri bertolak pinggang dengan angkuhnya, sedang di depannya terdapat tiga tubuh bergeletakan tak bergerak. Ginggi tak bisa mengenali tubuh-tubuh siapakah itu, sebab ketiganya hampir rebah tertelungkup. Satu tubuh agak gempal, terkujur membelakangi sehingga Ginggi tak bisa mengenali wajahnya. Hanya yang jelas, orang tergeletak itu sudah tak bernyawa sebab dari cahaya remang-remang api obor, banyak luka di punggungnya. Satu mata tombak bahkan masih menempel di tengkuknya.
Rupanya orang itu ditusuk dari belakang dan ujung tombak patah tertinggal di tengkuk orang naas itu.

Kini Ginggi berbalik lagi menyaksikan Seta yang dikepung banyak jagabaya. Sebentar lagi pasti Seta akan bisa dilumpuhkan.

Ginggi membayangkan, bila pemuda itu dibiarkan ada di dalam pengeroyokan, maka nasibnya sudah bisa ditebak, apalagi dengan luka-luka di sekujur tubuhnya yang banyak menguras darah.

Ginggi belum tahu apa penyebab pengeroyokan itu. Yang jelas Seta dalam bahaya dan harus ditolong.

Ginggi hanya punya kesempatan sedikit saja untuk menolong Seta. Oleh sebab itu dia harus segera turun tangan. Pemuda itu membuka bajunya dan membiarkan tubuh bagian atas telanjang begitu saja. Tubuh berelanjang akan lebih mengaburkan identitas ketimbang berpakaian. Ginggi pun segera menutup wajahnya sebatas hidung ke bawah, menggunakan ikat kepala warna hitamnya. Setelah semuanya siap, dia segera meloncat dari atas benteng, jumpalitan mendekati arena pertempuran. Bentakan keras sekeras suara geledek dari mulut Ginggi yang dikerahkan melalui tenaga himpunan di seputar dadanya, mengakibatkan semua orang terkejut setengah mati.

Untuk sejenak konsentrasi para jagabaya terganggu dan sedikit terhenti dalam melakukan penyerangan terhadap Seta. Kesempatan ini dia pergunakan untuk melakukan serangan kepada para pengeroyok Seta. Tubuh Ginggi berputar seperti gasing dengan kedua tangan mengembang lebar. Setiap tangan jagabaya yang kena pukul atau sabetan telapak tangan Ginggi meringis dan menjerit kesakitan dan semua senjata yang mereka pegang terlontar atau jatuh terlepas.

Permohonan Maaf Tak Bersambut

Para jagabaya hiruk-pikuk karena kaget dan heran melihat penyerbu gelap ini. Namun teriakan Suji Angkara agar segera mengepung penyerang baru ini menyadarkan para jagabaya untuk segera bergerak melakukan pengepungan.

Kini Ginggi ada di tengah-tengah bersama Seta yang sudah mulai limbung tubuhnya. Sebelum tubuh pemuda itu jatuh berdebum ke tanah, Ginggi segera memeluknya. Tubuh Seta dia usung di pundaknya.

Dengan tubuh Seta di pundak, gerakan Ginggi tidak selincah ketika masih bebas sendirian. Bahkan kini hanya tangan kanannya saja yang masih bebas. Padahal para pengeroyok mulai mendekat dan melakukan penyerangan dari sana-sini.

Akan sangat berbahaya bila Ginggi membiarkan dirinya ada di tengah pengepungan. Serangan dari depan atau samping masih bisa dia tepis. Tapi serangan beruntun dari belakang akan sangat sulit dihindarkan karena beban tubuh Seta yang dipanggulnya menghalangi gerakannya.

Untuk menghindarkan serangan dari belakang, Ginggi harus meloncat ke tepi dinding puri. Dengan jalan menempelkan tubuh di tepi benteng musuh hanya akan menyerang dari depan saja.

Benteng puri ada di depannya, mungkin berjarak empat atau lima depa saja. Dan untuk memburu tempat itu, Ginggi harus melakukan serangan mendahului penyerangan lawan. Dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, Ginggi meloncat ke depan sambil tangan kiri mengempit tubuh Seta. Para pengepung di bagian depan nampak kaget sekali. Barangkali mereka tidak berpikir bahwa Ginggi akan senekat itu mendahului melakukan penyerangan. Akibat dari rasa terkejutnya ini membuat persiapan mereka kurang matang dalam menyambut datangnya serangan. Sehingga ketika Ginggi melakukan gerakan-gerakan dengan tangan kanannya, tangkisan para jabagaya kurang beraturan. Apalagi Ginggi dalam melakukan serangan disertai teriakan-teriakan membahana agar jantung mereka bergetar dan konsentrasinya terganggu.

Serangan Ginggi ternyata ada hasilnya. Para jagabaya tidak bisa melakukan penyerangan dengan baik. Ketika seorang jagabaya menyodokkan ujung tombaknya ke arah wajah Ginggi. Sodokan itu kurang begitu jitu karena tidak disertai tenaga yang kuat. Maka dengan  mudahnya Ginggi menangkap batang tombak dan dengan kekuatan penuh menariknya. Tubuh jagabaya pemegang tombak tersuruk ke depan. Kalau Ginggi mau bertindak kejam, ujung kakinya bisa menendang jidat jagabaya itu sampai bocor, atau barangkali sampai batok kepalanya hancur berantakan, tergantung sejauh mana tenaga tendangan kakinya dia kerahkan. Namun kepala lawan dia biarkan tersuruk jatuh di depan kakinya. Dia sendiri malah meloncat pergi mendekati tepi benteng puri.

Sekarang dia sudah berada di tepi benteng dan punggungnya membelakangi benteng tersebut. Dengan demikian dia sudah bisa membebaskan diri dari serangan-serangan musuh yang sekiranya dilakukan dari belakang.

Dengan bersenjatakan tombak di tangan kanan, Ginggi begitu mudah menangkis serangan lawan. Setiap ada serangan yang berhasil dia patahkan, ujung tombak dia lanjutkan seolaholah dia mau menusuk tubuh lawan. Sudah barang tentu gerakan-gerakan ini membuat tubuh lawan berkelit karena disangkanya tusukan itu akan berlanjut. Padahal Ginggi secuil pun tidak bermaksud melukai lawan, apalagi membunuhnya.

Sedangkan Suji Angkara dari pinggir paseban terus berteriak-teriak agar para jagabaya segera membunuh penyerang baru ini, tanpa sedikit pun ikut bergerak.

Ginggi sudah cukup membuat penyerang kalang-kabut dan membuat mereka keder untuk melakukan penyerangan. Nyali mereka dipastikan sudah jatuh sehingga dalam melakukan serangannya, mereka sudah nampak meragu. Kesempatan ini digunakan Ginggi untuk melarikan diri dari tempat itu. Ginggi menghimpun inti tenaga lagi, menotolkan sepasang kakinya ke tanah dan badannya melayang naik ke atas benteng di mana tadi dia meloncat turun. Pakaiannya yang dia kaitkan di ranting pohon segera diambil dan dibelitkannya pada lehernya.

"Serbu !!!" teriak Suji Angkara berkali-kali.

Teriakan ini dibalas Ginggi dengan melontarkan tombak yang tadi dibawanya. Senjata itu meluncur tidak begitu deras mengarah jidat Suji Angkara sehingga pemuda itu cukup punya waktu untuk menghindar dengan jalan menjatuhkan tubuhnya ke samping. Mata tombak hanya seujung kuku menempel di tiang kayu. Sebentar kemudian jatuh ke bawah dan ujungnya menimpa jidat pemuda itu. Terdengar teriak kesakitan Suji Angkara. Bukan lantaran ujung tombak jatuh terlalu keras, tapi karena jidat pemuda itu sudah sejak tadi luka memar oleh pukulan Ginggi di lorong gelap itu.

Ginggi berlari menyusuri atas benteng, meloncat di sebuah kelokan yang gelap dan melanjutkn larinya secepat mungkin.

Ginggi tak tahu ke mana harus melarikan tubuh luka pemuda Seta ini. Seta perlu pengobatan segera, tapi Ginggi tak punya cara penanggulangannya. Bila Seta di bawa ke puri Yogascitra, hanya akan menjerumuskan penghuni puri itu ke dalam kancah keributan.

Akhirnya Ginggi mencoba melarikan tubuh Seta menuju Tajur Agung. Jaraknya cukup jauh, yaitu berada di arah timur tembok benteng dalam.

Di Tajur Agung Ginggi pernah lihat banyak jenis tanaman rambat dan salah satunya bisa digunakan membebat luka. Namun baru saja tiba diLeuwi Kamala Wijaya, terdengar suara rintihan Seta. Dengan terputus-putus pemuda itu meminta agar tubuhnya diturunkan.

Ginggi menoleh ke kiri dan kanan serta belakang, meneliti kalau-kalau ada fihak pengejar. Dan sesudah yakin tempat itu sunyi sepi, Ginggi segera membawa tubuh tak berdaya itu ke bawah pohon rindang sehingga suasana di sana demikian gelap.

Ginggi menurunkan pondongannya.

Terdengar erang kesakitan ketika tubuh itu diletakkan di atas tanah berumput. "Engkau … engkau Ginggi, bukan…?" Seta bicara terputus-putus dan terengah-engah. "Ya … aku Ginggi."
"Sudah aku duga. Kau pasti datang menolongku…" kata Seta menahan sakit.

"Tapi aku tak sengaja menolongmu. Aku hanya berpikir kau dan Madi akan melaporkan tentangku pada Suji Angkara. Karena aku sangka begitu, maka aku menuju puri Suji Angkara," kata Ginggi sambil memeriksa bagian-bagian luka pemuda itu. Namun kendati dalam gelap, Ginggi bisa menduga, luka Seta demikian parahnya. Ada beberapa tusukan melukai bagian-bagian amat lemah dan sulit mendapatkan pertolongan. Luka-luka itu banyak mengeluarkan darah dan barangkali sudah sejak tadi sebab ada beberapa luka yang darahnya sudah agak mengering.

"Aku tidak beritahu siapa kau sebenarnya. Suji Angkara sampai saat ini masih tetap menyangka kau sebagai badega bodoh dan tolol. Sengaja aku tak bilang agar kau tetap leluasa melakukan penyelidikan…" kata Seta di tengah erang kesakitan.

"Engkau amat setia pada Suji Angkara, tetapi mengapa kau akan dibunuh mereka?" tanya Ginggi heran.

Dengan susah-payah karena menahan rasa sakit, Seta menjelaskan bahwa sesudah mendapatkan penjelasan dari Ginggi, di lorong benteng, Seta mulai sadar bahwa dia telah salah memilih majikan. Penjelasan Ginggi perihal tindak-tanduk Suji Angkara yang buruk sebenarnya merupakan berita yang kesekian kalinya yang didengar Seta. Jauh sebelumnya ketika bertugas mengirim seba, Ki Banen pun sudah mensinyalir bahwa Suji Angkara amat misterius. Ketika tiba di Pakuan, Ki Banen malah mengajak semua orang agar meninggalkan Pakuan dan tidak mengabdi pada Suji Angkara. Tapi Seta dan Madi tak mau percaya dengan ucapan orang tua itu, sebab Suji Angkara dianggap berjasa telah memberinya pekerjaan yang dianggap Seta cukup terhormat.

Kemarahan Seta memuncak ketika Ginggi mengabarkan bahwa yang menculik Nyi Santimi, calon istrinya adalah Suji Angkara. Seta juga marah ketika diberitahu bahwa obat untuk Ki Banen dari Suji Angkara yang diserahkan melalui dirinya adalah ramuan berbahaya untuk Ki Banen. Seta juga marah setelah tahu yang melukai Ki Banen sampai luka parah adalah juga Suji Angkara. Atas macam-macam bukti kejahatan Suji Angkara yang sebelumnya dia kagumi, maka Seta berbalik menjadi benci. Benci mendengar jenis kejahatan pemuda itu dan juga dendam karena Suji Angkara pernah menculik Nyi Santimi. Untuk melampiaskan kemarahannya, Seta mengajak Madi ke rumah Ki Banen dan ki Ogel. Ketika dikhabarkan peristiwa ini, semua orang tergerak hatinya dan sama-sama membenci Suji Angkara.

Kemarahan tak bisa dibendung sehingga akhirnya secara sembrono mereka berempat mencoba menyerang puri dan berniat membunuh Suji Angkara.

"Tapi … ya, kami sembrono. Suji Angkara orang pandai. Begitu pun anak buahnya. Kami jadi bulan-bulanan…semua temanku tewas!" kata Seta mengeluh menahan tangis.

"Kau maksudkan tiga orang yang bergeletakan itu adalah Madi, Ki Banen dan Ki Ogel?" Ginggi bertanya setengah berteriak.

"Ya … mereka tewas … mereka tewas. Oh … mereka tewas," Seta mengeluh panjang-pendek dan di antara deru napasnya dia menangis sesenggukan.

"Kalian memang sembrono. Kepandaiana kalian belum cukup untuk melawan Suji Angkara begitu saja…" gumam Ginggi penuh sesal. Dia amat sedih mendengar ketiga orang itu tewas mengenaskan. Ya, bahkan dia pun melihat dengan mata-kepala sendiri, betapa ketiga orang itu malang-melintang dengan tubuh penuh luka. Ginggi sedih. Apa pun yang pernah dilakukan mereka terhadapnya tapi sebetulnya mereka orang-orang baik.

"Kalian sembrono dan membuang nyawa sia-sia…" keluh Ginggi penuh sesal. "Maafkan aku, Ginggi…" gumam Seta lemah.
"Memang engkau salah, Seta. Karena sembrono kau jadi celaka seperti ini…" kata Ginggi mengeluh lagi.

"Bukan itu … Aku minta maaf karena aku berdosa padamu. Selama ini aku selalu menghinamu, selalu merendahkanmu. Padahal diriku tidak seujung kukumu. Aku sombong
…aku dungu … Oh, aku benci diriku…" Seta kembali menangis sambil menahan rasa sakitnya.

Mendengar ucapan Seta yang dilakukan sepenuh jiwa, Ginggi jadi terkejut. Tidak! Siapa yang sebenarnya berdosa?

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 17"

Post a Comment