coba

Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 15

Mode Malam
Jilid 15  

Ginggi juga ingat perkataan Suji Angkara, bahwa menjadi bangsawan itu berat. Perilaku harus dijaga, sebab sedikit melanggar saja, sesama bangsawan akan tersinggung. Kata-kata Suji Angkara terdengar seperti kecewa bahwa dia dilahirkan sebagai bangsawan atau sekurangkuranmgnya kecewa sebab dia berada di lingkungan kaum bangsawan yang ketat dengan berbagai aturan. Sepertinya pemuda itu merasa terkungkung dengan kebangsawanannya. Dan bila menyimak "keluhannya" pemuda itu, seolah-olah membuktikan bahwa di muka umum dia ketat memegang etika sebagai bangsawan karena keterikatan saja, karena terpaksa saja.
Sedangkan hatinya berontak, sedangkan dirinya ingin bebas melakukan apa saja, termasuk…termasuk apa? Tidakkah juga termasuk melakukan percintaan dengan bebas seperti kuda binal?

Ginggi dengar, di wilayah Kandagalante Sagaraherang malam hari ada pesta makan dan minum bahkan pesta berahi sebab di sana tersedia wanita-wanita penghibur. Dari sekian orang pengawal barang-barangseba , hanya dua orang yang tidak bermain cinta. Pertama Seta karena dia setia terhadap Nyi Santimi calon istrinya, dan kedua Suji Angkara. Karena apa?
Ya, karena dia harus menjaga etika kebangsawanannya. Kalau dia ketika itu menerima tawaran tuan rumah yangsengaja menjamunya dengan wanita penghibur, maka akan rusaklah mutu kebangsawanannya. Tidak, Suji Angkara tak mau bermain wanita di muka umum. Bila di belakang bagaimana?

Ginggi teringat lagi kesaksian badega Juragan Ilun Rosa yang putrinya mati bunuh diri. Dua malam sebelum peristiwa, Suji Angkara dipergoki tengah mencumbu dan merayu anak gadis Juragan Ilun untuk melakukan hubungan suami-istri. Gadis itu walau pun tersinggung tapi menolak dengan sopan dan mengatakan dirinya sudah bertunangan dengan pemuda bernama Purbajaya. Sesudah terjadi penolakan, maka musibah datang. Gadis itu esok malamnya bunuh diri dan di samping mayatnya ada surat daun nipah yang isinya menerangkan bahwa Purbajaya pamitan kepada kekasihnya akan melakukan pertikahan dengan gadis bangsawan Pakuan. Seolah-olah surat itulah pembawa bencana bunuh dirinya gadis itu.

Betulkah bunuh diri karena putus asa ditinggal kekasih, atau mati bunuh diri karena diperkosa? Atau dibunuh setelah diperkosa terlebih dahulu?

Keculasan Suji Angkara

Ada titik-titik terang yang memandu Ginggi. Bila pemuda itu akan tetap mencurigai Suji Angkara sebagai penjahat berahi, maka alasan-alasannya cukup jelas, mengapa pemuda itu melakukan perbuatan cabul. Ya, dia sebetulnya laki-laki biasa yang lemah terhadap godaan kecantikan wanita. Tapi karena dia seorang bangsawan, harus menjaga etika kebangsawanannya. Namun sebetulnya dia tak bisa menjaganya. Apalagi di lain fihak bila harus menyintai wanita secara berterang, pemuda itu beberapa kali tersandung batu. Seperti pernah diungkapkannya terhadap Ginggi, bahwa Suji Angkara beberapa kali merasa sakit hati karena ditolak cintanya. Bermain cinta secara wajar dia tidak bisa, tapi mencari wanita penghibur secara terang-terangan dia takut kebangsawanannya ternoda. Maka satu-satunya jalan dalam mencurahkan hasrat berahinya, dia lakukan tindakan-tindakan gelap. Ya, mungkin begitu, termasuk kepada Nyimas Banyak Inten yang menolak cintanya.

Hah? Terhadap Nyimas Banyak Inten? Ginggi kembali tersentak. Suji Angkara amat menyinta Nyimas Banyak Inten, tapi dia menghadapi hambatan berat. Selain gadis itu menolak cintanya, juga ada halangan amat besar, dia harus bersaing dengan Raja.

"Aku amat mencintainya. Adakah cara terbaik agar bisa memiliki gadis itu…?" tanya Suji Angkara ketika itu. Dan Ginggi masih ingat saran-saran Nyimas Layang Kingkin kepada kakaknya.

"Ya, Kanda harus memilikinya. Carilah akal yang paling baik. Kita harus berani mengalahkan Sang Prabu tanpa menyakitinya," begitu tutur Nyimas Layang Kingkin ketika itu. Nyimas Layang Kingkin begitu mendesak-desak agar kakaknya tak putus asa dalam mendapatkan cintanya. Adakah ucapan ini punya makna? Atau, akankah ucapan ini dijadikan makna oleh Suji Angkara untuk melakukan sesuatu agar cintanya terlaksana? Ginggi tertegun dengan jalan pikirannya ini. Kalau benar dugaannya, ada beberapa kemungkinan yang akan dilakukan Suji Angkara. Pertama dia akan meminta dengan halus terhadap Sang Prabu, atau menggantikannya dengan gadis lain yang sekiranya Sang Prabu sama menghargainya. Atau kedua, Suji Angkara akan berlaku nekad, memperlakukan Nyimas Banyak Inten secara diamdiam, yang penting hasrat cintanya tersalurkan.

Ginggi serentak bangun. Dengan perasaan tak keruan dia keluar rumah. Di halaman keadaan cukup gelap sebab beberapa penerangan sudah kehilangan minyak bakar. Ada cahaya dari ribuan bintang-gemintang tapi tidak akan sanggup menerangi bumi.

Dengan dada berdebar kencang Ginggi berlari. Yang di tuju adalah puri Bangsawan Yogascitra.

Ya, Ginggi harus ke sana agar kekhawatirannya tidak terbukti. Ginggi takut sekali perkiraannya benar, sebab kalau semua dihubung-hubungkan, ada kecenderungan Suji Angkara melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan Nyimas Banyak Inten. Pemuda itu diduga akan mendahului "mengambil" Nyimas Banyak Inten secara gelap bila secara terang-terangan dia tak akan bisa mendapatkannya. Ginggi teringat kecurigaan Ki Banen bahwa Suji Angkara pernah menyelundup masuk ke puri Bangsawan Yogascitra. Kalau ini benar, bukan tidak mungkin dia akan kembali mengulangi tindakannya.

Ginggi meloncat-loncat di ataskuta (benteng) untuk memotong perjalanan. Dan segera meloncaat ke atas dahan pohon bila berpapasan dengan rombongantugur (ronda).

Ginggi tidak memastikan bahwa malam ini Suji Angkara akan menyelundup masuk ke puri Bangsawan Yogascitra. Tapi Ginggi perlu menjaganya agar kejahatan pemuda itu tidak berlangsung. Kalau tak terjadi malam ini mungkin besok, atau lusa, atau mungkin kapan saja. Tapi kapan pun itu terjadi, Ginggi harus berusaha menjaga dan menggagalkannya. Dan untuk itu terpaksa dia harus memata-matainya. Kalau mungkin, setiap malam dia akan mengawasi puri Bangsawan Yogascitra.

Sekarang Ginggi sudah tiba di belakang puri. Dia tak pernah keluyuran memasuki wilayah puri ini. Namun melihat beberapa bangunan yang terdapat di sana, Ginggi bisa mengira-ngira, mana kediaman pemilik puri dan mana bangunan-bangunan yang biasanya hanya dihuni parabadega atau pelayan.

Bangunan-bangunan di sana amat kokoh, terbuat dari jati pilihan. Atapnya dibuat dari sirap hitam dan beberapa bagian berupa atap ijuk.

Suasana demikian sunyi sebab rupanya semua orang sudah terlelap dalam mimpi. Tapi Ginggi telah memiliki ilmu yang Ki Darma namai sebagaiHiliwir Sumping Ketika di Puncak Cakrabuana. Ginggi kerapkali diajarkan ini. Dia belajar menulikan telinga di saat banyak terdengar suara keras, atau sebaliknya harus sanggup mendengar sesuatu di saat sunyi. Dari kepandaian seperti ini, Ginggi bisa memilah-milah, suara seputarnya. Maka dari sekian jenis suara, mulai dari suara jangkrik bernyanyi sampai bunyi dengkur, pemuda itu bisa melakukannya. Ketikadia pergunakan ilmu tersebut, sempat mendengar bunyi aneh.

Ginggi memiring-miringkan kepalanya, menggerak-gerakkan daun telinganya. Ada suara desah dan bisikan parau. Sebentar kemudian suara itu berganti menjadi kekeh halus seperti tertahan-tahan. Ginggi meloncat seperti kucing, mendekati arah suara itu. Datangnya di sebuah kamar di sudut bangunan besar. Di bagian sudutnya ada jendela. Ginggi memeriksa dengan hati-hati. Jendela itu tidak terkunci. Ditelitinya sudut-sudut daun jendela. Terkesiap pemuda itu sebab jendela jelas dibuka dari luar.

Ginggi mencoba membuka jendela sedikit-sedikit dan amat pelan. di Dalam ruangan amat remang-remang sebab cahaya pelita sungguh kecil. Tapi biar begitu remang Ginggi bisa menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat darahnya naik ke ubun-ubun. Di sebuah ranjang kayu berukir terbaring seorang gadis dan sepertinya tidur pulas. Sedangkan di sisinya duduk seorang pemuda. Pemuda itu berusaha menanggalkan pakaian gadis itu.

"Hhh … Nyimas … Nyimas … Kau jangan siksa aku! Jangan biarkan aku hidup penuh derita. Mengapa kau tolak aku … mengapa kau pilih Sang Prabu…"

Pemuda itu sudah berhasil menanggalkan sebagian pakaian gadis itu yang nampaknya tetap tidur pulas. Namun sebelum niat jahatnya terlaksana, Ginggi sudah melontarkan sebuah kerikil ke arah pundak pemuda itu.

"Aduhhh!" pemuda itu berseru kaget. Serentak dia berjingkat dan meloncat ke arah jendela. Namun begitu dia keluar dari lubang jendela serta-merta disambut oleh pukulan telapak tangan terbuka.

Plak! Terdengar jerit kesakitaan dan tubuh pemuda itu terlontar menubruk dinding kayu dan menimbulkan suara keras.

Rupanya suara ribut-ribut ini sudah mulai terdengar oleh peronda, bahkan oleh orang-orang yang sedang tidur. Ada banyak kaki berlari ke arah tempat itu. Namun sebelum mereka tiba, Ginggi sudah meloncat pergi ke arah kegelapan malam.

"Ada apa ini? Ada apa ini?" penjaga berteriak-teriak sambil meneliti tempat itu.

"Tolong! Ada penjahat! Ada penjahat mau mengganggu rumah ini! Dia lari ke sana! Ohh…" suara ini hanya sayup-sayup ditangkap telinga Ginggi sebab dia sendiri sudah melarikan diri menjauhi tempat itu.

***

Esok harinya saja Ginggi mendengar ribut-ribut bahwa Suji Angkara telah "berhasil" menggagalkan penjahat yang akan memasuki puri Bangsawan Yogascitra.

"Tapi Raden terluka oleh serangan penjahat itu. Sekarang dia dirawat di puri Pangeran Yogascitra!" kata Madi yang mengabarkan berita ini kepada Seta.

Ginggi menatap wajah Seta yang sedikit heran kendati rasa terkejut dan khawatirnya nampak nyata. "Mari kita lihat keadaan Raden…" kata Madi sesudah termangu sejenak. "Mari!" jawab Ginggi dengan semangat.
"Eh, aku tak mengajakmu tolol!" umpat Madi ketus." Tugasmu memandikan kuda, mengapa ikut-ikutan ribut?"

"Kau sendiri pun hari ini punya tugas, mengapa ikut ribut ingin mengetahui keadaan Raden Suji?" jawab Ginggi, selalu ingin mempermainkan pemuda itu yang selalu angkuh padanya.

"Setan, Raden Suji adalah atasanku. Kalau ada apa-apa terhadapnya aku ikut bertanggungjawab!" teriak Madi kesal.

"Aku juga anak buahnya. Apa yang kau rasakan kali ini, juga sama aku rasakan!" kata Ginggi tak mau kalah.

"Sialan kau!" umpat Madi mendelik.

"Biarlah, tak apa dia ikut. Lagi pula untuk apa ribut-ribut dengan pemuda dungu ini?" kata Seta yang kendati masih menampilkan keangkuhannya namun mau juga berkata bijaksana.

Akhirnya ketiga pemuda itu pergi ke puri Bangsawan Yogascitra. Seta dan Madi jalan berdampingan dan Ginggi ikut di belakang.

Benar saja Suji Angkara di rumah Pangeran Yogascitra nampak terbaring dengan jidat dibebat kain. Menurut keterangan para penjaga, Suji Angkara berjuang mati-matian menggagalkan penjahat yang akan mengganggu ketentraman puri Bangsawan Yogascitra. Namun penjahat itu amat licik dan kejam. Kata penjaga, kalau Suji Angkara tidak memiliki kepandaian, barangkali nyawanya tidak akan tertolong.

"Penjahat itu memang kejam, sepertinya dia hendak membunuhku karena kesal niat jahatnya aku gagalkan…" kata Suji Angkara sedikit terengah-engah, mungkin merasakan sesuatu yang sakit di tubuhnya.

Kalau aku berniat membunuhmu, maka batok kepalamu akan berantakan, tidak sekadar benjut saja, kata Ginggi dalam hatinya. Namun perkataan yang keluar melalui mulutnya lain lagi.

"Engkau sungguh mulia Raden, mau berpayah-payah menjadi tugur di puri Pangeran Yogascitra," kata Ginggi. "Penjahat itu mau mencuri apa sebetulnya?" sambungnya lagi seraya menatap Suji Angkara.

Sejenak mulut Suji Angkara seperti terpatri. Namun seterusnya hanya erangan-erangan kecil yang menghiasi mulutnya.

Peristiwa apa yang sebenarnya terjadi, semua orang hampir-hampir tidak mengetahuinya. Berita yang tersebar dari mulut ke mulut hanya menyebutkan bahwa ke puri Bangsawan Yogascitra ada penjahat yang berusaha masuk untuk melakukan pencurian. Secuil pun tak ada yang mengabarkan peristiwa yang sebenarnya. Ginggi menduga, barangkali kejadian sebenarnya, yaitu percobaan perkosaan terhadap Nyimas Banyak Inten telah diketahui, minimal penghuni puri. Namun untuk menjaga aib, peristiwa itu tidak dikemukakan kepada orang luar.

Tiga hari kemudian Madi, Seta dan Ginggi mendapatkan perintah untuk menjemput Suji Angkara yang dikabarkan lukanya sudah agak membaik. Ketika Ginggi tiba di puri Bangsawan Yogascitra, mendapatkan Suji Angkara sudah membuka bebatnya. Namun luka itu belum benar-benar sembuh. Jidat Suji Angkara nampak bengkak dan ada benjolan sebesar telur ayam berwarna hijau. Namun Ginggi agak bercekat hatinya sebab Suji Angkara nampak dilayani makan oleh Nyimas Banyak Inten. Gadis itu begitu sopan dan hati-hati dalam melayani pemuda benjut itu. Dan Ginggi panas hatinya ketika Nyimas Banyak Inten menyuapi Suji Angkara dengan penuh perhatian.

Gadis itu baru berhenti menyuapi ketika ada rombongan anak buah Suji Angkara datang menjemput. Dengan tersipu-sipu gadis itu hendak berlalu dari ruangan itu.

"Tak usah pergi Nyimas, mereka hanyalah orang-orangku semata," kata Suji Angkara sopan tapi bernada penuh kemenangan.

Nyimas Banyak Inten duduk bersimpuh di tepi pembaringan Suji Angkara.

Taka lama kemudian ke ruangan itu hadir pula beberapa orang. Mereka terdiri dari dua pemuda dan satu orang tua setengah baya. Yang seorang Ginggi sudah kenal yaitu Banyak Angga. Tapi pemuda satunya lagi Ginggi tak tahu siapa dia. Sedangkan orang tua setengah baya itu, Ginggi hanya menduga-duga saja. Barangkali inilah Pangeran Yogascitra, seorang bangsawan Pakuan masih kerabat raja.

Bila Ginggi tak lupa, sebetulnya dia pernah melihat bangsawan ini di panggung kehormatan alun-alun benteng luar ketika terjadi uji keterampilan prajurit dalam rangka mencari calon perwira pengawal raja. Waktu itu Pangeran Yogascitra duduk di deretan kaum bangsawan.

Ginggi belum memastikan bahwa lelaki setengah baya ini Pangeran Yogascitra. Tapi melihat penampilannya yang gagah menggunakan baju beludrusenting bedahan lima dan kepala dibungkus bendo kain batikhihinggulan berornamen perak, memberi tanda bahwa dia bangsawan tinggi. Ginggi pun semakin yakin bahwa orang tua ini benar-benar orang yang dihormati di puri ini. Terbukti Suji Angkara pun serentak bangun daan berupaya menyembah takzim. Semua orang sudah menyembah lebih dahulu tak terkecuali Ginggi.

"Sudahlah Raden, kau tak perlu susah payah untuk berbasa-basi sepeti itu," kata orang tua berkumis tipis agak memutih ini.

"Saya orang muda, sudah seharusnya memberi penghormatan ini," kata Suji Angkara halus dan sopan. Orang tua itu hanya mengangguk-angguk biasa. Selanjutnya dia memeriksa kesehatan pemuda itu dengan bertanya itu dan ini.

"Saya sudah sehat berkat doa seluruh penghuni puri ini," ujar Suji Angkara.

"Bagus kalau begitu. Tapi entah bagaimana aku harus berterima kasih padamu, Raden. Sebab menurut para tugur, bila tak ada engkau, sudah bagaimana nasib … maksudku keselamatan harta benda dan kekayaan yang ada di puri ini. Engkau tahu bukan, di puri ini kita simpan benda-benda peninggalan para leluhur raja-raja Sunda sejak ratusan tahun silam…" "Hm, mungkinkah penjahat itu hendak menjarah barang-barang pusaka?" kata Suji Angkara tak kalah menyusun banyolan.

"Tapi benar atau tidak alasan penjahat itu masuk ke puri karena benda pusaka, kita harus selidiki dengan seksama, Ayahanda," kata Banyak Angga. "Penjahat itu amat merendahkan penghuni puri ini. Sehingga bila kelak dia tertangkap, hanya hukuman mati bagiannya," sambungnya.

"Hanya orang-orang yang sudah tahu situasi di sini yang sekiranya bisa mudah menyelundup ke puri, Gusti," kata Ginggi tiba-tiba. Semua orang memandang kepadanya. Seta dan Madi malah melotot marah sebab dianggapnya Ginggi lancang mengemukakan pendapat. Padahal yang tengah berbicara itu siapa? Dan Ginggi yang dianggapnya golongancacah (orang kebanyakan), tak pantas berlaku itu. Namun yang nampak tak senang akan ulah Ginggi hanya Suji Angkara dan anak buahnya, sedangkan orang tua gagah itu beserta Banyak Angga nampak mengerutkan dahi seperti memikirkan apa yang dikemukakan Ginggi.

"Benar perkiraanmu anak muda," gumam orang tua bercelana beludru komprang itu. "hanya orang yang sudah hafal keadaan di sini yang leluasa menyelundup ke sini… Dan apalagi langsung memburu kamar yang dimaksud," sambungnya sedikit tersendat. Ya, siapa yang tahu persis di mana kamar Nyimas Banyak Inten bila bukan orang yang biasa masuk ke puri ini, kata Ginggi dalam hatinya.

"Kita periksa orang dalam, kalau-kalau benar perkiraan ini," kata Banyak Angga sungguhsungguh.

"Betul, sebab bukankah di puri ini terdapat orang luar tapi yang kini sudah menjadi orang dalam, Ramanda?" Suji Angkara lebih meyakinkan, namun gilanya dia berkata sambil memandang ke arah pemuda yang berdiri di samping Banyak Angga. Yang ditatap mendadak pucat-pasi. Kemudian secara tiba-tiba wajah pucat itu berubah menjadi merah-padam.

Ginggi bisa menduga pemuda itu tengah menahan kemarahannya. Ya, siapa tidak akan marah difitnah serampangan seperti itu? Tapi pemuda itu pandai menahan kemarahan. Barangkali karena di sana ada orang tua yang amat dihormatinya.

"SeyogianyaRamanda tidak terlalu mempercayai orang luar tinggal di puri yang damai ini," kata Suji Angkara seperti terus memanas-manasi pemuda itu.

"Aku akan bertindak hati-hati terhadap orang-orang yang biasa hilir-mudik di puri ini, termasuk yang sudah tinggal di puri ini," kata orang tua berkain batik jenispupunjungan ini. Hanya bedanya, orang tua ini bicara dengan wajar dan tidak khusus tertuju kepada seseorang seperti layaknya Suji Angkara.

"Itu sebuah tindakan yang bijaksanaRamanda . Saya pun pasti ikut membantu membuka tabir kejahatan ini," kata Suji Angkara, kembali melirik ke arah pemuda di samping Banyak Angga.

"Nah, Raden, hari ini sudah ada yang menjemputmu. Kau sudah nampak agak mendingan. Jadi bila engkau mau pulang sekarang, aku akan pinjamkan engkaujampana (tandu) agar bisa diangkut ke sana dengan tenang," kata orang tua itu. Suji Angkara nampak turun semangatnya ketika mendengar ucapan orang tua itu. Keinginannya barangkali ingin terus-terusan tinggal di puri ini agar terus mendapat pelayanan Nyimas Banyak Inten. Begitu perkiraan Ginggi. Namun Suji Angkara nampaknya bisa menahan keinginan ini. Dia memang pandai membuat citra bahwa dirinya benar-benar seorang bangsawan yang memiliki etika tinggi.

"Betul, saya harus pulang sekarang sebab di sini hanya merepotkan saja. Lagi pula, tak baik bagi seorang pemuda tinggal di puri yang dihuni oleh seorang gadis rupawan macam Nyimas Banyak Inten. Oh … ya! Terima kasih atas rawatanmu Nyimas. Aku tak akan melupakan jasa baikmu sampai tiba saatnya nyawaku dicabut," kata Suji Angkara lemah-lembut sambil sekilas melirik ke arah Nyimas Banyak Inten yang masih duduk bersimpuh di tepi pembaringan.

"Tidak usah menggunakan jampana, saya akan berjalan kaki saja," kata Suji Angkara turun dari pembaringan dan segera disambut Seta dan Madi. Ginggi pun mau ikut memegangi tubuh Suji Angkara tapi oleh Madi disuruh minggir saja.

"Lebih baik kau ikut aku anak muda. Aku pinjami seekor kuda agar Raden Suji bisa naik kuda saja," kata Banyak Angga kepada Ginggi. "Mari kau ikut ke istal," kata Banyak Angga mengajak Ginggi keluar dari ruangan itu.

Tapi setiba di luar, Banyak Angga malah memohon pada Ginggi agar sudi menyerahkan surat pada Nyimas Layang Kingkin.

"Bila kau berhasil menyerahkan kotak surat ini, aku tambah lagi hadiahnya," kata pemuda itu menyerahkan kotak kecil berukir dan sekantung kecil entah apa isinya.

"Hanya sekadar menyerahkan surat saja, mengapa meski memberi hadiah kepada saya, Raden?" tanya Ginggi dan berupaya menolak pemberian ini.

"Kau terimalah. Tidak besar tapi kau pasti perlu," kata pemuda itu."Yang penting, kau sampaikan surat itu, ya?"

"Tentu…" kata Ginggi. Pemuda di samping Banyak Angga hanya menunduk saja.

"Purbajaya, engkau tak perlu risau dengan ucapan Raden Suji. Terlalu gegabah bila kami mencurigai engkau seperti itu," kata Banyak Angga.

Tersentak hati Ginggi mendengar nama pemuda itu disebut. Raden Purbajaya, itulah nama pemuda yang masuk dalam rencana penyelidikannya. Purbajaya ini tengah dikejar Suji Angkara karena dianggap "penyebab" bunuh dirinya putri Juragan Ilun Rosa di wilayah Kandagalante Tanjungpura. Tapi melihat tindak-tanduk dan perbuatan Suji Angkara, Ginggi tak percaya akan semua berita yang disampaikan mengenai Purbajaya. Dan kalau nanti kejadian sebenarnya dari Purbajaya sudah dia teliti, maka akan semakin terbuka kebohongankebohongan Suji Angkara!

Ginggi menerima kuda pinjaman dari Banyak Angga yang akan digunakan Suji Angkara. Sebelum Ginggi pergi menuntun kuda, sempat dia menatap Purbajaya yang nampak masih murung. Namun perasaan Ginggi lega, bahwa sampai saat ini pemuda itu masih dalam keadaan bugar. Menurut ancaman yang disampaikan kepadabadega Juragan Ilun Rosa, Suji Angkara mengatakan akan melenyapkan pemuda itu sebagai tindakan "balas dendam" atas kelakuannya yang membuat gadis cantik penghuni Tanjungpura itu mati bunuh diri karena dikhianati cintanya.

Jahat sekali Suji Angkara, pikir Ginggi. Dan di tengah perjalanan, di saat dia menuntun kuda, ketika Suji Angkara menclok di atas kuda yang dituntun Ginggi, semakin jelas pula siapa pemuda itu sebenarnya.

"Sialan! Aku harus menyelidiki siapa penjahat itu. Aku rasa, penjahat itu telaah menyerangku beberapa waktu lalu, dan ini serangan yang kedua kalinya…" gumam Suji Angkara seorang diri.

Ginggi menengok sebentar ke atas kuda. Nampak Suji Angkara mengusap-usap jidatnya yang benjut sebesar telur.

Sambil senyum tipis Ginggi kembali menghadap ke depan. Rasakan kau, katanya dalam hati.

Tak jelas benar apa yang dimaksud serangan yang kedua kali seperti apa yang diucapkan pemuda itu. Tapi bila Ginggi mau menduganya, yang dimaksud pemuda itu tentu serangan di sebuah perbukitan Desa Cae. Bukankah dulu Ginggi pernah memukul jidat seorang pemerkosa dengan cara yang sama? Jadi benarkah yang dia pukul sampai tubuhnya terjengkang menubruk dinding gua ketika tak lain dari Suji Angkara?

Ingin sekali Ginggi bertanya langsung kepada pemuda yang kini menclok di atas kuda dengan kepala benjut itu. Tapi tentu ini suatu hal yang tak mungkin bila tak ingin penyelidikannya terbongkar.

Sambil berjalan menuntun kuda, Ginggi terus berpikir. Kini semakin dirasakan bahwa Suji Angkara benar-benar orang yang berbahaya. Dia pandai menyembunyikan nafsu iblisnya dalam penampilan sopan dan anggun. Bila tak hati-hati menyimak perangainya, semua orang akan tertipu dan menganggap pemuda itu benar-benar seorang bangsawan terhormat yang santun dan jujur.

Kini baru Ginggi seorang yang sanggup membuktikan bahwa pemuda yang kini dituntunnya di atas pelana kuda itu seorang durjana licin. Betapa tidak, orang ini sanggup menciptakan sebuah reka-perdaya seketika di saat dirinya terdesak. Ketika tiga hari yang lalu Ginggi memukulnya dengan telak sehingga pemuda itu terjajar dan tak sanggup bangun lagi, Ginggi berharap Suji Angkara ditangkap orang-orang puri Yogascitra. Namun dengan kepandaiannya mengukir kata, pemuda itu malah dianggap pahlawan dalam upaya mengusir "penjahat" yang hendak menyerang puri. Agar semua orang memperlebar rasa curiga, maka Suji Angkara menganjurkan penghuni puri berhati-hati terhadap orang dalam. Dan sambil bicara demikian, Suji Angkara melirik penuh arti kepada Purbajaya. Ini hanya menandakan bahwa pemuda licin itu berusaha menyebar fitnah agar peranan dirinya dalam peristiwa itu makin tertimbun.

Tapi yang paling mengkhawatirkan dari tipu-muslihat ini adalah ketika Ginggi melihat apa yang dilakukan Nyimas Banyak Inten. Ketika Ginggi tiba di puri untuk menjemput Suji Angkara, gadis itu nampak penuh perhatian merawat pemuda jahat itu. Ginggi khawatir dan sekaligus panas hatinya manakala melihat gadis itu tengah menyuapi Suji Angkara. Ini hanya menandakan bahwa Nyimas Banyak Inten pun terkecoh oleh akal bulus pemuda sinting itu. Ginggi khawatir, Nyimas Banyak Inten tidak sekadar terkecoh oleh tipu-daya Suji Angkara tapi lebih jauh dari itu amat berterima kasih terhadap "kepahlawanan" pemuda bejat itu. Dan apa tanda terima kasih gadis itu terhadap Suji Angkara? Ginggi takut membayangkannya bila melihat kelakuan Nyimas Banyak Inten yang begitu telaten merawat pemuda penipu itu.

"Hei … mau kau bawa ke mana aku? Belok!" teriak Suji Angkara manakala merasakan Ginggi menuntun kuda lurus mengikuti jalan pedati berbalay. Madi menggetok belakang kepala Ginggi sebagai tanda teguran atas kesalahan pemuda itu.

"Maaf Raden…" gumam Ginggi membelokkan kuda dan berjalan menyusuri lorong yang diapit dua benteng.

Tugas Rahasia

Satu bulan sudah berlalu pula. Dan selama itu, Ginggi masih "bekerja" di puri Suji Angkara. Selama pemuda itu tinggal di sana, sudah banyak pengetahuan didapat mengenai situasi Pakuan.

Ki Bagus Seta, murid kedua Ki Darma sebenarnya hampir lima tahun bekerja sebagaimuhara , yaitu pejabat yang bertugas mengurusiseba (pajak) negara. Hampir sepuluh tahun lamanya dia mengabdi di Pakuan dan karirnya meningkat pesat. Ki Bagus Seta bisa bernasib demikian baik karena di samping berkepandaian tinggi juga pandai mempengaruhi seorang bangsawan kerabat dekat raja, yaitu Bangsawan Soka.

Menurut pengamatan Ginggi yang didapat dari percakapan orang lain dan kemudian masuk ke telinganya, antara Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta terbentuk persahabatan yang sangat erat. Keduanya dikenal sebagai sepasang pejabat yang amat kuat pengaruhnya di Pakuan.
Menurut khabar, berbagai kebijakan raja yang ada hubungannya dengan ketatanegaraan, boleh dikata lahir dari sepasang pejabat itulah. Gagasan sepasang pejabat ini menurut pengamatan beberapa pejabat lainnya terkadang dinilai terlalu berani sehingga mengakibatkan berbagai ketidak-puasan di sementara pejabat istana. Contoh paling jelas adalah kebijakan dalam memungutseba . Seba yang ditarik ke Pakuan dinilai beberapa penguasa daerah (kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran) terlalu membebani mereka, sehingga banyak rakyat menderita karena pajak-pajak tinggi.

Mengenai seba atau pajak yang demikian tinggi sempat menjadi bahan perdebatan di balai penghadapan raja. Sebagian pejabat mengkhawatirkan bahwa dengan adanya kebijakan pajak yang demikian tinggi akan mengurangi kecintaan raja-raja kecil ke Pakuan. Apalagi akhirakhir ini tengah terjadi perebutan pengaruh dengan penguasa-penguasa yang memiliki agama baru. Bila kerajaan-kerajaan kecil merasa terus-terusan ditekan agar kekayaan daerah lebih banyak ditarik ke pusat, mereka lambat-laun akan melepaskan diri dan bergabung dengan agama baru itu.

Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta menolak kekhawatiran ini. Menurut kedua pejabat ini, memang benar ada beberapa kerajaan kecil yang sudah berpaling dari Pajajaran dan memilih bergabung dengan pengkuasa agama baru. Tapi menurut kedua pejabat itu, yang melepaskan diri dari Pajajaran adalah negara-negara kecil yang letaknya jauh dari jangkauan Pakuan dan kedudukannya lebih dekat ke pusat kekuasaan agama baru. "Mengapa mereka melepaskan diri dari kita? Ini karena kekuatan Pakuan sudah tidak seutuh dahulu. Sebelum hadir kekuatan baru, Pajajaran kuat di mana-mana, ke barat hingga ke Ujungkulon dan ke timur sampai ke Muara Cimanuk (Indramayu). Kita menguasai lautan dan pelabuhan-pelabuhan seperti Bantam (Banten), Pontang, Cigude, Cimanuk, Tangerang, dan Kalapa. Sanggup menghasilkan perdagangan antar negri sehingga kekayaan negara bisa diambil dari perdagangan seluas-luasnya. Tapi sesudah semua wilayah pantai direbut oleh penguasa baru dari Cirebon dan Banten, maka Pajajaran kehilangan penghasilan padaahal tetap butuh pemasukan untuk membangun negri. Maka dari mana lagi Pakuan bisa mendapatkan penghasilan bila bukan datang dari pemasukanseba ?" kata Ki Bagus Seta berbicara dibalai penghadapan raja, di hadapan para pejabat istana.

Kata Ki Bagus Seta, wajar bila pajak yang dibebankan kepada negara-negara kecil semakin meningkat, sebab di samping kebutuhan negara kini hanya bisa diambil dari sektor pajak, juga jumlah wilayah yang dimiliki Pajajaran semakin sempit. Bila pajak tak dinaikkan, penghasilan negara akan semakin kecil.

"Padahal kita tengah berjuang ingin mengembalikan kejayaan Pajajaraan seperti masa silam," kata Ki Bagus Seta lagi.

Kata beberapa pengamat, kedua pejabat ini benar-benar berambisi ingin mengembalikan kebesaran seperti masa-masa leluhur Sunda. Untuk kepentingan ini, mereka selalu mempengaruhi Raja agar menurunkan berbagai kebijakan yang pada hematnya bisa menghasilkan berbagai keuntungan.

Rupanya Raja pun amat cocok dengan gagasan-gagasan kedua pejabat itu. Buktinya, tak ada gagasan mereka yang disetujui Raja. Bahkan Raja pun semakin percaya kepada kedua pejabat ini, sesudah keduanya melontarkan gagasan membentuk petugas-petugas terampil untuk memperjuangkan pemasukan seba dari wilayah-wilayah timur yang punya kecendrungan lebih mendekatkan diri kepada kekuasaan Cirebon.

Dikhabarkan pula, bahwa memang benar ada petugas penting yang menangani seba di wilayah timur. Ginggi cepat menduga, itulah mungkin Ki Banaspati.

Hanya yang hingga kini Ginggi belum sanggup menduga adalah hubungan Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta. Kedua orang ini jelas bekerja dalam satu urusan, tapi mengapa satu sama lain seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Salah satu contoh adalah hubungannya dengan Suji Angkara. Menurut pengakuan Suji Angkara, Ki Bagus Seta adalah ayahandanya, tetapi mengapa Ki Banaspati seperti tak mengenal pemuda ini sebagai orang yang erat hubungannya dengan Ki Bagus Seta?

"Bunuhlah pemuda itu, sebab kukira dia akan membahayakan gerakan kita," kata-kata ini dikeluarkan Ki Banaspati kepada Ginggi di Sagaraherang.

Ki Banaspati memerintahkannya untuk membunuh pemuda pesolek itu karena pertama Suji Angkara dianggap sudah tahu rahasia gerakan Ki Banaspati dan keduanya Ki Banaspati menduga Suji Angkara punya hubungan erat dengan Pakuan padahal sepengetahuannya pemuda itu hanyalah sebagai anak kepala desa saja. Ada sesuatu rahasia di sini. Paling tidak, Ki Bagus Seta pernah mencoba melakukan satu rahasia terhadap Ki Banaspati, dengan cara menyembunyikan identitas Suji Angkara terhadap Ki Banaspati. Ingin Ginggi tahu, bagaimana pendapat dan kesan Ki Banaspati bila sudah mengetahui siapa Suji Angkara sebenarnya.

Ginggi juga kini sudah mengenal siapa Bangsawan Yogascitra. Bangsawan ini masih kerabat raja juga. Di Pakuan menjadi pejabatpuhawang .Puhawang adalah seorang akhli dalam mendalami ilmu teluk dan lautan. Dulu ketika zamannya Pajajaran memiliki kekuatan di lautan, maka bagian ini punya peranan amat penting. Tiga pelabuhan samudra dan tiga pelabuhan muara yaang dimiliki Pajajaran secara strategis adalah hasil pekerjaanpuhawang . Dan Bangsawan Yogascitra sejak muda adalah seorangpuhawang yang benar-benar akhli. Dia adalah pekerja yang ulet dan jujur, serta pengabdiannya terhadap Pakuan demikian tinggi dan tanpa batas. Seluruh adipati yang menguasai enam pelabuhan besar milik Pajajaran, benarbenar segan terhadap Pangeran Yogascitra.

Sekarang di saat menjelang tua, Bangsawan Yogascitra masih tetap didudukkan sebagai pejabat dalam urusanpuhawang . Suatu jabatan yang sebetulnya sudah tak terasa lagi fungsinya. Jabatan itu tetap dipertahankan karena Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta menginginkannya. Mengapa demikian?

"Kita harus tetap memilikipuhawang yang tangguh, sebab dengan demikian kita tetap memiliki peluang untuk menguasai teluk, muara dan lautan. Sudah aku katakan kepada Raja, bahwa Pajajaran harus dikembalikan ke masa silam. Ini hanya punya arti bahwa seluruh wilayah yang dulu pernah dikuasai Pajajaran harus kembali menjadi milik kita!" ujar Ki Bagus Seta dengan penuh semangat.

Begitu tingginya cita-cita Ki Bagus Seta, sehingga gagasan-gagasannya amat memukau Raja. Sang Prabu Ratu Sakti begitu terkesan. Siapa orang Pajajaran yang tak mau kembali ke masa kejayaannya? Kejayaan janganlah dianggap sebagai kenangan atau mimpi semata. Tapi harus dihidupkan kembali. Dan bangkitnya kejayaan Pajajaran hanya bisa dilakukan melalui perjuangan nyata. Tapi menurut Ki Bagus Seta dan Bangsawan Soka, perjuangan ini merupakan suatu perjuangan berat dan amat memerlukan bantuan dana yang amat besar.
Itulah sebabnya, mengapa mereka berdua meminta persetujuan Raja untuk selalu meningkatkan pemasukan negara melaluiseba .

Bila benar penelitian Ginggi ini, maka terbukti bahwa pajak berat yang melanda ambarahayat Pajajaran karena gagasan-gagasan kedua pejabat ini.

Kini Ginggi berpikir, dirinya disuruh turun gunung oleh Ki Darma untuk ikut menyelamatkan rakyat dari tekanan Raja. Barangkali benar seperti apa kata Ki Darma, bahwa Sang Prabu Ratu Sakti sejak pertama kali menggantikan tampuk pemerintahan ayahandanya Sang Prabu Ratu Dewata tujuh tahun lalu (1543 Masehi) selalu bertindak keras. Dia tak segan-segan untuk menghukum siapa saja yang dianggapnya bersalah. Tapi, tahukah Ki Darma bahwa kebijakan Sang Raja dalam menarik pajak tinggi kepada rakyat di antaranya merupakan lontaran gagasan Ki Bagus Seta, muridnya sendiri?

Ginggi menghitung waktu, Ki Darma mengundurkan diri dari urusan kenegaraan tiga tahun sebelum Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan naik tahta. Kalau Ki Bagus Seta mulai mengabdi pada Pakuan sejak lima tahun lalu, maka ada beda waktu tujuh tahun antara kepergian Ki Darma dari Pakuan dengan kedatangan Ki Bagus Seta ke tempat yang sama untuk mengabdi. Mudah diduga kalau Ki Darma tak mengetahui kegiataan murid-muridnya sebab selama itu Ki Darma menyembunyikan diri di tempat sunyi dan jauh dari kehidupan yang ramai. Hanya yang patut Ginggi puji adalah pandainya Ki Bagus Seta atau pun Ki Banaspati dalam menyembunyikan identitas dirinya masing-masing. Waktu mereka muncul di Pakuan, adalah masa-masa di mana Ki Darma dicari dan diburu sebab dianggap memberontak. Raja pun pernah mengeluarkan titah bahwa setiap orang yang punya hubungan dengan Ki Darma kedudukannya juga disamakan dengan Ki Darma yaitu dicap sebagai pemberontak. Sekarang kedua murid Ki Darma ini malah malang-melintang sebagai pejabat penting di Pakuan. Ini hanya menandakan bahwa Raja dan kalangan istana bisa dikelabui oleh murid Ki Darma ini.

Namun pandainya mereka menyembunyikan jati diri barangkali juga karena jasa Ki Darma itu sendiri. Seperti terhadap Ginggi, barangkali kepada semua muridnya pun Ki Darma selalu memberikan pesan jangan membuka identitas. Setiap yang mendapat pelajaran dari Ki Darma diperintahkan untuk tidak sembarangan mengaku punya hubungan dengan orang tua itu.
Ternyata belakangan terbukti bahwa perintah Ki Darma untuk menyembunyikan jati diri telah amat menguntungkan peranan setiap murid-muridnya.

Memang menguntungkan, kendati tetap menjadikan kebingungan bagi diri pemuda itu. Ginggi diperintah Ki Darma untuk membantu rakyat membebaskan diri dari tekanan Raja. Sedangkan di lain fihak, Ki Bagus Seta seolah-olah membantu situasi sehingga rakyat semakin tertekan hidupnya. Dalam situasi ini Ginggi bingung menempatkan posisinya, mau berada di mana sebenarnya dia?

"Kalau saudara seperguruanmu masih berjalan di atas apa yang aku amanatkan, kau ikutilah mereka," kata Ki Darma ketika melepas dirinya pergi.

Kepala Ginggi serasa berat karena memikirkan misteri-misteri ini. Sebelum menentukan sikap, aku akan lihat perkembangannya saja, pikirnya.

Yang tak kalah menimbulkan bahan pikiran adalah Suji Angkara. Tapi kini Ginggi mengkaitkan urusan pemuda ini dengan Nyimas Banyak Inten. Dengan berbagai akal dan tipu dayanya, sepertinya pemuda itu telah berhasil menundukkan gadis itu.

Gadis putri Bangsawan Yogascitra itu nampaknya terlalu jujur, terlalu mempercayai omongan orang dan mudah merasa kasihan. Ketika Ginggi hendak menyerahkan surat Suji Angkara untuk kedua kalinya, gadis itu seperti hendak menolak kehadiran cinta pemuda itu. Tapi setelah ada peristiwa penjahat memasuki purinya dan berhasil "digagalkan" Suji Angkara, sikap gadis itu mulai lunak.

Terus-terang, Ginggi amat berkhawatir mengingatnya. Ginggi takut Nyimas Banyak Inten terperangkap dalam permainan cinta pemuda pembohong itu. Kalau dibiarkan, Ginggi akan membayangkan gadis itu ibarat seekor anak menjangan yang dipermainkan harimau, atau ikan kecil yang jadi santapan burung bangau. Bila permainan pemuda itu semakin sengit, Ginggi harus mencoba dan berupaya untuk menggagalkannya.

"Hati-hati, kau…" gumam Ginggi sendirian sambil bekerja menyeka kuda-kuda puri.

Hampir dua bulan ini Ginggi memang bekerja sebagai perawat kuda. Setingkat di atasbadega tapi setingkat di bawah Seta dan Madi yang lebih berfungsi sebagai orang-orang kepercayaan Suji Angkara. Selama bekerja di puri ini, memang tak ada perlakuan yang jelek terhadapnya. Dalam sehari dia mendapat jatah makan dua kali. Bila Raja mengajak para bangsawan menghirup udara segar diTajur Agung (kebun istana), Ginggi pun suka diajak serta. Dan bila semua bangsawan pesta-pora makan buah durian yang banyak ditanam di sana, Ginggi pun terlibat pesta-pora itu kendati di tempat terpisah.

Tak ada tekanan dari sang "majikan", kecuali satu saja, Ginggi tak diperkenankan lagi menggunakan pakaian yang pernah dipergunakan sebelumnya.

Sebelum datang ke Pakuan, Ginggi memang memiliki tiga stel pakaian pemberian Kuwu Wado. Ketiga stel pakaian itu termasuk jenis mahal sebab terbuat dari kain halus buatan negri sebrang. Hanya kaum bangsawan atau paling rendah golongansantana yang biasa menggunakannya. Dan ketika Suji Angkara menggantinya dengan jenis pakaian katun kasar warna hitam dengan celanasontog dan baju lengan pendek tanpa kancing, Ginggi tak banyak komentar dan menerima aturan itu.

Pemuda itu tersenyum sendiri. Semakin kenal etika orang kota, semakin ruwet menyimaknya. Kendati semua manusia dilahirkan sama, tapi akhirnya membawa tingkatan hidup berbeda.

Entah siapa yang mengatur, tapi begitulah jadinya, termasuk dalam urusan pakaian.

Menggunakan pakaian ternyata tidak sebebas yang dia kira. Ada semacam ukuran kelayakan. Kendati Ginggi punya pakaian bagus tapi harus diukur dulu, apakah layak dipakai olehnya? Ternyata petugas istal tak diperkenankaan secara etika memakai pakaian yang biasa dikenakan kaum bangsawan. Kaum bangsawan juga terikat etika yang sebenarnya mereka pun serasa sesak menerimanya. Karena etika menentukan bahwa kaum bangsawan harus santun dalam segala hal, termasuk urusan cinta, maka menjadikan siksaan bagi Suji Angkara.
Dengan terpaksa dia ketat menjaga kebangsawanannya di muka umum, sehingga desakandesakan birahi yang dia ingin salurkan sebebas mungkin, terpaksa dia lakukan secara gelap. Jadi menurut Suji Angkara, kehormatan hanya diperjuangkan atau dipertontonkan di muka umum saja, sedangkan di belakang di saat umum tak mengetahuinya, dirinya tak terlalu banyak peradatan untuk melakukannya. Persis seperti Ginggi dalam menggunakan pakaiannya. Hanya ketika selama di depan orang banyak saja dia memakai baju orang kebanyakan. Sedangkan di saat pergi tidur, pakaian bagus yang pantas dikenakan kaumsantana itu dia pakai tidur. Barangkali di saat tidur sendirian di bangunan samping istal, etika tak berlaku lagi.

Suatu senja Ginggi dipanggil menghadap. Sudah beberapa kali dia dipanggil bila Suji Angkara memang punya keperluan khusus terhadapnya. Namun pemanggilan kali ini menimbulkan perhatian besar ke dalam hatinya.

"Tiba saatnya kau bertugas di puri ayahku, Ginggi," kata Suji Angkara sambil duduk bersila dengan tubuh tegak berwibawa.

Di hadapannya tergelar penganan yang cocok disantap senja hari yaituulen ketan bakar dan minuman kopi panas di cangkir logam berukir indah yang asapnya mengepul ke udara dan menimbulkan aroma sedap.

Ginggi hanya duduk bersila saja di lantai bawah dengan kepala tertunduk. "Sudah kukatakan sejak dua bulan lalu bahwa kau akan bekerja di puri Bangsawan Bagus Seta. Tapi selama ini kau ku uji dulu di sini agar aku tahu, sejauh mana kesetiaanmu padaku," kata pemuda itu.

Ginggi masih tetap mendengarkan sambil menunduk dan tanpa komentar.

"Namun sebelum kau kukirim ke sana, perlu aku jelaskan sesuatu," lanjutnya lagi menatap Ginggi. "Sekali pun kau sehari-hari bekerja di sana, tapi sebenarnya kau adalah orangku. Dengan perkataan lain, kendati kau tinggal di sana akan tetapi kau sebetulnya bekerja untukku!"

Ginggi mengangkat wajah dan menatap Suji Angkara. "Saya belum mengerti maksudmu, Raden …" katanya.
Ginggi berkata seperti ini memang bukan sekadar basa-basi, melainkan benar-benar belum paham maksud pemuda itu.

"Engkau bekerja untukku dalam memata-matai kegiatan yang ada di puri Bagus Seta!" kata Suji Angkara berkata sungguh-sungguh.

"Memata-matai…?" Ginggi bergumam mengulangi ucaapan pemuda itu.

"Ya, kau bekerja di sana sebagai mata-mata untuk kepentinganku,’ kata Suji Angkara lagi.

"Mengapa saya harus memata-matai ayahandamu sendiri, Raden?" tanya Ginggi heran. Suji Angkara tepekur sejenak. Dia mendekap sebelah dada bagian kanan dengan tangan kirinya, sedangkan yang kanan memegangi dagunya.

"Ki Bagus Seta hanyalah ayah tiriku semata, sebab aku sebenarnya anak seorang kuwu…" gumam Suji Angkara seperti melamun.

"Pasti engkau putra Kuwu Suntara di Desa Cae, Raden," kata Ginggi.

Suji Angkara menganggukkan kepalanya sehingga ornamen warna emas yang dikenakan di bagian muka bendo bergoyang-goyang indah.

"Dulu ibuku adalah istri ayahku, Kuwu Suntara. Pada suata saat Ki Bagus Seta mengadakan perjalanan hingga tiba di Desa Cae. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Belakangan, ayahku menceraikan ibuku. Tak berapa lama kemudian ibuku diboyong ke Pakuan karena dinikahi bangsawan itu…" kata Suji Angkara sambil matanya menerawang jauh ke luar jendela.

"Aku tak tahu, mengapa dulu ayahku menceraikan ibu tanpa sebab. Belakangan hanya bisa diduga, bahwa Bangsawan Pakuan itu tertarik pada ibu dan memintanya untuk dinikahi.
Rupanya ayah taat akan keinginan bangsawan itu dan menyerahkan ibu padanya…" Suji Angkara kembali menerawang ke luar jendela. Kuda warna pekat tunggangan pemuda itu nampak berkeliaran di lapangan rumput samping puri.

"Engkau sakit hati kepada Bangsawan Bagus Seta, Raden?" tanya Ginggi. Tapi Suji Angkara menggelengkan kepala.

"Aku tak marah sebab imbalannya besar. Ayahku diberi kekayaan melimpah dan aku boleh keluar-masuk purinya sekendak hatiku. Belakangan aku pun diangkat Bangsawan Bagus Seta untuk melakukan satu tugas penting, yaitu secara diam-diam mengawasi kelancaran penarikanseba di wilayah timur," kata Suji Angkara.

"Kau memata-matai ayah tiriku bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk negara, untuk Pakuan Pajajaran!" lanjut pemuda itu sungguh-sungguh. "Engkau mau bekerja untuk kepentingan Pakuan?" tanya Suji Angkara menatap tajam.

"Saya siap bekerja untuk kepentingan negara!" sahut Ginggi dengan mengganti "Pakuan" menjadi "negara". Ginggi perlu mengubahnya takut janjinya disalahgunakan untuk membela kepentingan orang-orang Pakuan.

"Bagus!" seru Suji Angkara gembira tanpa menyadari apa yang diucapkan Ginggi, sebab barangkali perubahan ucapan ini bila tak disimak secara teliti sepertinya tidak menimbulkan perubahaan arti yang khusus.

"Tapi saya juga musti tahu, mengapa Raden percaya saya dan apa yang harus saya mata-matai di sana?" tanya Ginggi kembali menatap tajam pemuda itu yang duduk tegak di atas tilam sulaman beludru.

"Engkau pemuda lugu dan terkesan bodoh. Tak akan ada orang percaya bahwa engkau dibebani satu misi yang penting," ujar Suji Angkara membuat kagum hati Ginggi.

Ya, benar. Suatu waktu orang bodoh bisa melaksanakan tugas rahasia sebab bakal diremehkan banyak orang dan akibatnya bakal jauh dari kecurigaan orang.

"Dan tugas saya kelak apa saja?"

"Engkau akan ditempatkan di bagian rumah-tangga puri, melayani berbagai kebutuhan seharihari ayah tiriku. Dengan demikian, setiap saat engkau bisa mencuri dengar percakapan ayah tiriku. Bila ada percakapan tentang apa saja antara ayah tiriku dengan tamu-tamu puri, kau catat dan kau laporkan padaku, paham?"

"Paham Raden…" "Bagus!"
"Tapi percayakah ayahandamu pada saya, Raden?"

"Aku sudah atur sedemikian rupa. Lagi pula ayah tiriku tak pernah berpikiran lain padaku. Kalau aku kemukakan kau orang jujur, maka ayah tiriku pun akan berpendapat begitu," Suji Angkara begitu memastikan.

"Baik bila begitu…" gumam Ginggi. Ginggi dijanjikan esok paginya akan diantar ke puri Bagus Seta. Malam hari Ginggi diperintahkan tidak terlalu banyak bekerja kecuali berkemas untuk persiapan pindah rumah esok paginya.

Semalaman memang Ginggi hanya tiduran saja di balik kamarnya. Namun sepanjang malam otaknya berputar keras menduga-duga sikap Suji Angkara. Ini sesuatu yang mengherankan bila Suji Angkara melakukan penyelidikan terhadap ayah tirinya.

Kesimpulan yang tiba ke hati Ginggi, Suji mencurigai sesuatu terhadap ayah tirinya. Tapi bercuriga tentang apa? Ini yang harus Ginggi selidiki. Dan menerima tugas seperti yang dibebankan Suji Angkara ini, bagi Ginggi tak ubahnya orang yang mau meyebrang dikasih jembatan. Padahal, tidak diberi perintah pun Ginggi akan tetap melakukan penyelidikan seperti itu. Sekarang malah dia serasa dibantu dan dipandu oleh Suji Angkara.

Untuk memasuki puri Bangsawan Bagus Seta tanpa alasan jelas, merupakan sebuah pekerjaan sulit, kendati jarak antara puri Suji Angkara dan puri Bangsawan Bagus Seta hanya dekat saja dan boleh dibilang terletak di satu kompleks.

Ginggi juga serasa dipandu. Kecurigaan Suji Angkara terhadap Ki Bagus Seta hanya memberi panduan padanya bahwa Ki Bagus Seta benar-benar perlu diselidiki.

Ginggi perlu dengan penyelidikan ini. Apakah hasil penyelidikannya kelak akan disampaikan kepada Suji Angkara atau tidak, itu lain soal.

Ingin sekali hari cepat siang agar dirinya bisa segera masuk ke puri Bangsawan yang sebetulnya masih erat kaitannya dengan dirinya itu. Namun karena pada malam itu berbagai pikiran bergayut dalam benaknya, pemuda itu jadi susah memejamkan matanya. Sampai malam menjelang subuh, Ginggi belum juga bisa tertidur. Dia baru menguap dan akan terlelap manakala suara kokok ayam pertama terdengar merdu sayup-sayup.

Dan serasa sekejap dia tidur, sebab di pekarangan, parabadega sudah ribut keluar rumah untuk memulai tugas baru di hari yang baru itu.

Sambil mata masih pedih karena kurang tidur, Ginggi pun cepat bangun untuk mandi dan berkemas menurut apa perintah Suji Angkara.

Percakapan Sekutu

Ginggi memasuki sebuah pelataran luas mengikuti Suji Angkara yang melangkah di depannya. Pelataran itu benar-benar luas, dibelah oleh sebuah jalanberbalay susunan batu hitam yang menuju ke sebuah beranda bangunan besar. Rumah itu indah terbuat dari kayu pilihan. Atapnya berbentukjure (silang) dan tiap sudutnya disangga sebuah tiang kayu besar berukir dan dipoles warna hitam mengkilap.

Sepagi itu Ki Bagus Seta sudah duduk-duduk di beranda bersama dengan istrinya, yang Ginggi bisa menduga inilah istri Kuwu Suntara yang "diambil-alih" oleh Ki Bagus Seta.

Memang tak percuma murid Ki Darma ini nekad "merebut" istri orang. Wanita yang usianya sekitar empatpuluh tahunan lebih itu nampak masih memiliki goresan-goresan kecantikan.
Ginggi bisa membayangkan, sepuluh atau limabelas tahun silam wanita itu pasti memiliki kecantikan laksana dewi dari kahyangan. Sekarang memang terdapat kerut-merut garis ketuaan, namun wanita itu tetap cantik. Sepasang pipinya masih bulat berisi, tubuhnya pun masih tampak sintal. Suji pun tak percuma memiliki ibu seperti ini. Barangkali wajah tampan pemuda itu sebetulnya turunan dari sang ibu.

Wanita ini pun amat cocok bersanding dengan Ki Bagus Seta. Murid Ki Darma yang amat bernasib baik menjadi pejabat ini sebetulnya berwajah gagah. Kulit wajahnya boleh dikata putih. Hidungnya juga sedikit mancung dan sorotan matanya tajam. Ki Bagus Seta yang memiliki kumis tipis ini sedikit memicingkan mata ketika melihat sepagi ini Suji Angkara datang diiringkan seorang pemuda yang dianggapnya kurang dikenal.

Namun ketika Suji Angkara tiba dan kemudian memperkenalkan Ginggi sebagai pekerja yang baru di purinya, Ki Bagus Seta mengangguk-angguk maklum.

"Kau bekerjalah di sini dengan baik agar aku senang melihatmu," kata Ki Bagus Seta melirik tipis kepada Ginggi.

"Baik Juragan…" kata Ginggi hormat.

"Tugasmu tidak terlalu berat. Kau hanya bekerja menyediakan makan dan minum buatku. Atau bisa juga membereskan perabot rumah sehingga setiap hari terbebas dari debu dan kotoran lainnya," kata istri Ki Bagus Seta menimpali. Untuk yang kesekian kalinya Ginggi mengangguk hormat.

"Nah, sekarang kau pergi ke ruangan belakang dan temui para pengurus rumah tangga puri ini," kata Ki Bagus Seta.

Ginggi menyembah takzim dan mundur dari beranda. Dia jalan memutar ke sisi bangunan karena hendak menuju ke ruangan belakang. Namun sebelum jauh benar, pemuda itu sempat mendengar obrolan mereka yang pada pokoknya berkisar memperbincangkan perihal dirinya. Suji meyakinkan bahwa Ginggi bisa dipercaya sebab berpenampilan lugu dan bodoh, namun terampil dalam bekerja.

"Mudah-mudahan penilaianmu tidak keliru, sehingga aku pun tak meragukannya," kata Ki Bagus Seta.

Berdebar Ginggi mendengarnya. Suara Ki Bagus Seta ini nadanya biasa saja. Namun bagi Ginggi ucapan Ki Bagus Seta seperti memiliki makna lain. Curigakaah Ki Bagus Seta terhadapnya?

Ginggi kembali melanjutkan langkahnya manakala obrolan di beranda berhenti.

***

Sudah hampir sebulan pula Ginggi bekerja di puri Ki Bagus Seta ini. Namun selama itu, belum ada laporan berarti yang disampaikannya kepada Suji Angkara. Bukan berarti Ginggi tak menemukan hasil yang dianggap penting. Namun Ginggi memang tak menganggap Suji Angkara sebagai atasan yang harus dia beri laporan penting sebab semua hasil penemuannya di puri ini hanya diperlukan bagi dirinya saja. Dalam sebulan ini Ki Bagus Seta tengah dipusingkan oleh laporan-laporan yang datang dari para pembantunya. Beberapa orang pembantu melaporkan bahwa terjadi keresahan di beberapa wilayah barat tepi Kali Tangerang (Cisadane). Di sana ada wilayah kerajaan kecil hampir terletak di daerah muara. Pelapor mengabarkan bahwa wilayah itu sepertinya hendak memalingkan muka dari Pakuan dan akan berpaling ke Banten. Penyebabnya, wilayah kecil itu amat mudah dijangkau melalui laut. Padahal laut utara sudah dikuasai Banten dan Cirebon. Kedua negara agama baru itu semakin hari semakin malang-melintang dan kian berpengaruh di wilayah utara.

"Kami mendapat laporan bahwa wilayah Tangerang kerapkali dipengaruhi Banten atau Cirebon. Mereka selalu membujuk bahwa apabila ingin lancar melakukan perdagangan di muara, sebaiknya bergabung dengan Cirebon atau Banten," kata pelapor.

"Sikap penguasa wilayah Cisadane itu bagaimana?" tanya Ki Bagus Seta.

"Rupanya mereka mulai terpengaruh juga. Buktinyaseba (pajak) yang mereka serahkan ke Pakuan tahun ini jumlahnya semakin kurang dan cenderung mengabaikan kebijaksanaan kita," ujar pelapor itu.

"Kurang ajar! Harus kita siapkan pasukan untuk menggempurnya! Aku akan menghadap Sang Prabu agar segera menitahkan pasukan penyerbu!" kata Ki Bagus Seta kesal.

"Kita sudah didahului Bangsawan Yogascitra, Gusti,"ujar pelapor. "Maksudmu?"
"Bangsawan Yogascitra kami dengar sudah melapor kepada Raja tentang kekurang-setiaan wilayah barat ini. Namun Pangeran itu sambil mengemukakan alasan, mengapa wilayah barat bertindak begitu. Kata Bangasawan Yogascitra, jangan setiap wilayah yang menipis kesetiaannya lantas diserbu dan dihancurkan, tapi harus diteliti apa penyebabnya. Pangeran itu menjelaskan bahwa pajak yang semakin tinggi adalah penyebab menurunnya rasa setia
negara-negara kecil terhadap Pakuan."

"Kurang ajar Si Yogascitra. Dia mencari pengaruh di istana…" gumam Ki Bagus Seta. "Dia adalah kerabat dekat Raja, Gusti," kata pembantunya.
"Seharusnya Raja tidak melihat kepada kekerabatan. Yang harus dia lihat adalah siapa yang berjuang mempertahankan keberadaan Pakuan!" kata Ki Bagus Seta bersuara keras.

Ini adalah perkembangan paling akhir yang disimak Ginggi. Hanya dalam satu bulan jaraknya, telah terjadi beberapa perubahan yang menyangkut keberadaan Ki Bagus Seta.

Sebelum Ginggi masuk ke puri ini, pengetahuan yang didapat olehnya adalah betapa pengaruh Ki Bagus Seta demikian hebat terhadap Raja. Hampir setiap gagasan yang dilontarkannya disetujui dengan baik oleh Raja. Kebijaksanaan Raja yang selalu berupaya mencari kekayaan negara melalui pajak-pajak tinggi dilahirkan sesudah menerima gagasan-gagasan Ki Bagus Seta yang dibantu Bangsawan Soka. Namun akibat dari kebijaksanaan ini, banyak wilayah merasa keberatan. Wilayah kerajaan kecil seperti yang berada di sebelah timur dan merasa memiliki kekuatan karena dibantu oleh Cirebon dan Demak secara terang-terangan menghentikan kewajibannya mengirim pajak. Belakangan, bukan saja wilayah timur yang begitu jauh letaknya, bahkan wilayah barat yang hanya memakan perjalanan tiga hari saja dari Pakuan, diketahui sudah berani memalingkan kesetiaannya.

Usaha-usaha Ki Bagus Seta yang dibantu Bangsawan Soka dalam memungut pajak, ternyata jauh dari harapan semula. Dulu kedua bangsawan ini mengusulkan agar Pakuan membuat aturan pajak tinggi karena negara butuh dana besar dalam mengembalikan kebesarannya seperti masa-masa silam. Namun belakangan, kebijaksanaan ini hanya membuat wilayahwilayah Pajajaran yang tinggal sedikit itu semakin resah saja. Banyak negara kecil membangkang. Dan karena Raja berperangai keras, setiap wilayah yang membangkang selalu ditindak. Kerapkali terjadi penyerbuan pasukan Pakuan ke wilayah yang dianggapnya membangkang. Namun kebijaksanaan melumpuhkan pembangkang tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Pembangkang yang kuat dan sulit dijatuhkan jelas akan semakin menjauh dari kungkungan Pakuan. Mereka tidak sudi lagi tunduk kepada peraturan-peraturan yang dibuat Pakuan, termasuk dalam memenuhi kewajiban pajak. Sebaliknya negara kecil yang lemah tetapi berani membangkang, sesudah digempur Pasukan Pakuan, akhirnya jadi semakin tak berarti bagi keuntungan Pakuan. Wilayah yang sudah digempur habis sulit untuk berdiri kembali dan akhirnya sama sekali tak menghasilkan apa-apa, termasuk memenuhi kewajiban pajak.

Dan Ki Bagus Seta semakin gundah ketika pada suatu hari didatangi seorang tamu. Tamu tersebut tak lain adalah Bangsawan Soka, mitra kerjanya selama ini.

Mereka berdua mengobrol penting di ruangan tengah, duduk bersila saling berhadapan di hamparan alketip tebal dan empuk buatan Negri Parasi (Parsi atau kini Iran). Keduanya duduk dengan perasaan tegang. Ketika Ginggi menyodorkan minuman ke ruangan tengah sejenak saja dia bisa menatap Bangsawan Soka. Dia bertubuh gemuk, bermata sipit dengan wajah bundar dan hidung sedikit pesek. Ada kumis tebal dan janggut namun nampak kurang terpelihara sehingga membentuk cambang bauk tak beraturan. Hanya cara berpakaian saja yang menentukan bahwa dirinya seorang bangsawan.

Hanya sebentar Ginggi berada di sana sebab serta-merta Ki Bagus Seta segera mengusirnya.

Ginggi sebetulnya ingin sekali mencuri dengar percakapan mereka. Namun karena diusir pergi, rasanya sudah tak mungkin melakukannya lagi.

Ginggi berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa mengintip obrolan mereka? Ruangan tengah begitu luas. Tak tepat untuk bersembunyi. Satu-satunya cara adalah naik ke atas atap sirap. Namun hari masih senja walau pun suasana sudah agak meremang.

Bukan sebuah tindakan tepat bila harus naik ke atas atap. Risikonya terlalu tinggi untuk diketahui orang. Padahal di puri Ki Bagus Seta yang dikelilingi kuta (benteng) tinggi ini banyak dihuni puluhan jagabaya yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi.

Tapi aku harus bisa mencuri dengar percakapan mereka, kata Ginggi dalam hatinya.

Apa boleh buat, Ginggi harus berspekulasi naik ke atas atap sirap. Dia ingat, ada beberapa bagian atap yang dihiasi lengkungan-lengkungan kayu hias. Kalau dia sanggup mendekam di atas sirap, tentu tubuhnya akan terlindungi lengkungan kayu tersebut. Berpikir sampai di sini, pemuda itu segera ke luar bangunan. Sejenak dia terpaku, kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba memeriksa kalau-kalau ada jagabaya lewat ke tempat di mana Ginggi berada. Sudah yakin tidak didapatkan siapa-siapa, Ginggi segera menotol tanah menggunakan inti tenaga di bagian ujung telapak kaki. Ginggi melayang naik seringan burung merpati. Namun begitu kakinya menginjak atap sirap, ada kelepak beberapa burung merpati yang sebelumnya sedang hinggap di sana. Burung-burung itu terbang sambil sedikit riuh-rendah karena terkejut melihat tubuh besar melayang naik.

Begitu menjejak atap, Ginggi langsung menjatuhkan dirinya untuk segera mendekam. Gerakannya ini sedikit menimbulkan suara kendati tidak keras namun bisa didengar orang yang berada di dalam bangunan. Terdengar oleh Ginggi suara kaki-kaki melangkah ke luar halaman.

Pemuda itu tak tahu siapa yang datang, sebab tubuhnya terus mendekam bahkan kian merapat di sudut lengkungan kayu hias. Sampai beberapa lama dia tak berani bergerak barang sedikit. Baru ketika terdengar langkah kaki untuk kedua kalinya, Ginggi agak mendongakkan kepala untuk mengusir sedikit rasa pegal di tengkuknya.

"Ada apa?" suara Bangsawan Soka terdengar mengajukan pertanyaan.

"Entahlah mungkin merpati. Di puriku memang banyak burung merpati bersarang di atas atap," jawab Ki Bagus Seta.

Ginggi terus mendekam sebab nampaknya kedua bangsawan itu akan melanjutkan percakapan penting mereka.

"Aku kira kita sekarang ada dalam bahaya, Seta …" "Barangkali…"
"Kita harus segera bertindak. Jangan sampai Sang Prabu terlanjur mengangkat Pangeran Yogascitra menjadi penasihat Raja. Bila sampai begitu, kedudukan kita terancam. Kita harus saling menolong. Kalau Pangeran Yogascitra dibiarkan menjadi penasihat Raja, maka akan memukul kebijaksanaanmu dalam melakukan tugas sebagaimuhara," kata Bangsawan Soka.

Sunyi sejenak sebab kedua orang itu rupanya tengah berpikir sesuatu.

Sementara suasana sudah semakin gelap karena matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Keremangan kian bertambah sebab kompleks puri ini selain dikelilingi benteng tinggi juga banyak dikepung pohon-pohon besar seperti kecik, tanjung bahkan beringin. Suasana akan semakin meremang gelap bila seandainya tidak datang petugas penyulut lampu-lampu taman.

"Coba kau katakan akal terbaik untuk menjegal keputusan Raja," kata Ki Bagus Seta.

"Engkau harus mencoba mengusulkan nama baru yang kau anggap paling cocok menjabat penasihat Raja," kata Bangsawan Soka.

"Siapa yang harus aku ajukan?" "Seseorang yang kelak kebijaksanaannya akan menguntungkan posisimu sebagaimuhara , Seta," kata Bangsawan Soka.

"Ya, siapa?" desak Bangsawan Bagus Seta tak sabar. "Aku!"
"Engkau yang harus aku ajukan pada Raja?" "Benar, Seta…"
Suasana kembali sepi. Rupanya Ki Bagus Seta lagi berpikir mengenai usul ini.

"Aku perlu pikirkan kemungkinannya…" kata suara Ki Bagus Seta yang kedengaran oleh Ginggi seperti menderita kebingungan.

"Engkau meragukanku, Bagus Seta?"

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 15"

Post a Comment