Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 14

Mode Malam
Jilid 14  

"Ah, Raden, mengapa terlalu menyiksa pemuda itu. Lebih baik kita kerjakan bersama, agar kita bisa makan dengan enaknya," kata Nyimas Banyak Inten seraya mendekati Ginggi dan akan ikut memasak. Nyimas Layang Kingkin dan Raden Banyak Angga pun nampak ikut merubung Ginggi dan siap membantunya.

"Hahaha! Baik, bantulah anak lamban itu biar kita cepat-cepat menikmati ikan bakar," seru Suji Angkara gembira. Dan ternyata dia pun ikut sekalian membeset ikan dan menyalakan api sendiri.

Selama memasak ikan, mereka mengobrol dan bercanda. Suji Angkara nampak selalu menggoda Nyimas Banyak Inten. Terkadang godaan-godaannya terlalu mengarah kepada halhal yang mengarah kepada yang membuat sepasang pipi gadis itu merah-merona.

Sekarang ikan sudah masak, baunya sudah menyengat membuat perut siapa pun semakin lapar. Keempat muda-mudi makan ikan dengan suka-cita namun tanpa meninggalkan sopansantun dan etika makan. Mereka makan dengan tertib, tidak tergesa-gesa juga tidak banyak bicara. Hanya sesekali saja ada suara aduh atau ah karena ikan bakar masih panas atau karena ada duri mengganjal di lidah.

Hanya Ginggi dan Seta yang tidak ikut makan. Seta berdiri mematung sambil melihat ke kejauhan dan Ginggi malah duduk di balai-balai sambil kedua kaki digoyang-goyang.

"Hei, akan lebih ramai nampaknya bila kalian pun ikut makan sama-sama," kata Nyimas Banyak Inten.

"Betul, makanlah sama-sama," kata Nyimas Layang Kingkin. Banyak Angga pun ikut menawari.

Karena ditawari, Ginggi mendekat dan akan segera ikut makan kalau saja Seta tak menghardiknya.

"Lho, kita kan sudah ditawari mereka, lagi pula ikan-ikan ini aku yang tangkap. Mengapa kau halangi?" tanya Ginggi membuat kedua gadis senyum dikulum.

"Anak setan, engkau tak sopan bila harus sama-sama makan bersama mereka!" kata Seta mendelik. Ginggi menundukkan kepala. Dia baru sadar kedudukannya di lingkungan mereka. "Yah, biarlah bila begitu aturannya …" gumamnya menjauh lagi. Namun Nyimas Banyak Inten seperti menaruh kasihan kepada Ginggi. Gadis itu setengah memaksa mengajak pemuda itu agar ikut makan. Dan karena kebetulan yang lain sudah merasa cukup makan ikan, oleh yang lainnya Ginggi dipersilakan mencicipi makanan-makanan enak itu.

Karena memang sudah lapar sejak tadi pagi. Ginggi makan ikan dengan lahapnya. Seta yang beberapa kali dia tawari hanya mendengus sebagai tanda menolak. Sehingga akhirnya hanya Ginggi saja yang sibuk makan ikan. Keempat orang muda-mudi hanya tersenyum saja melihat Ginggi makan dengan perasaan tak canggung.

"Sudah aku katakan, anak muda itu selain bodoh juga punya kejujuran dalam bertindak," kata Suji Angkara sambil memperhatikan tangan Ginggi comot sana comot sini.

"Ayahanda perlu orang yang lugu tapi jujur. Nanti aku ajak kau menghadap ayahanda," kata Suji Angkara.

Ginggi menatap tajam ke arah pemuda itu.

"Engkau harus berterimakasih kepada Raden Suji, sebab kau akan bekerja di puri ayahandanya, yaitu Bangsawan Bagus Seta," kata Banyak Angga.

Bergetar hati Ginggi mendengarnya. Ki Bagus Seta, murid Ki Darma adalah ayahanda Suji Angkara? Ini amat mengejutkan, sekaligus membingungkan. Ginggi terkejut dan bingung, bukankah ayahanda Suji adalah Kuwu Suntara, Kepala Desa Cae?

Kembali ada misteri baru menyelimuti anak muda tampan tapi terkesan angkuh ini. Namun di samping keheranannya, Ginggi pun amat gembira. Kalau benar dirinya akan dipekerjakan di puri ayahanda Suji Angkara, berarti dia akan bertemu dengan Ki Bagus Seta. Dengan begitu, lengkaplah pertemuan dirinya dengan keempat murid Ki Darma.

Bersama tiga murid Ki Darma yang telah ditemukan terlebih dahulu, dia menemukan harapan sekaligus kekecewaan dan tanda tanya. Ketika bertemu dengan Ki Rangga Guna ada secercah harapan bahwa murid ketiga Ki Darma ini sepertinya setia dengan amanat guru. Namun menemukan Ki Rangga Wisesa hanya ada rasa sesal dan kecewa saja sebab orang itu berotak miring dan perangai serta tindakannya memalukan Ki Darma. Ki Banaspati, murid pertama Ki Darma masih berupa teka-teki bagi Ginggi. Sekarang teka-teki makin besar bila ingat Ki Bagus Seta. Dia menjadi bangsawan, dia menjadi pejabat pemungut pajak. Apa yang tengah dilakukan sebenarnya oleh murid kedua ini, Ginggi belum bisa menebaknya.

"Saya amat berbahagia bila dipercaya bekerja di puri ayahandamu, Raden. Bangsawan Bagus Seta sudah lama saya kenal dan saya kagum kepadanya," kata Ginggi menyembah takzim.
Suji mengangguk-angguk sebagai tanda senang.

"Ya, nanti sore aku perkenalkan kau pada ayahanda," kata Suji Angkara. Untuk yang kesekian kalinya Ginggi menyembah takzim, disambut dengan sedikit dengus pemuda Seta dari kejauhan.

Ginggi tak dengar dengusan ini sebab hatinya diliputi kegembiraan bisa berhubungan dengan Ki Bagus Seta. Surat Cinta Suji Angkara

Sudah hampir dua minggu Ginggi berada di Pakuan. Suji Angkara yang pernah berkata akan mempekerjakan Ginggi di kediaman Ki Bagus Seta belum pula melaksanakan janjinya.
Selama dua minggu ini, Ginggi malah disuruhnya berada dekat-dekat dengannya.

Suji Angkara ternyata diam sendirian di sebuah rumah besar tapi masih satu kompleks dengan rumah yang lebih besar lagi, yaitu rumah milik Ki Bagus Seta.

Ginggi belum berkenalan dengan Ki Bagus Seta, namun wajahnya sudah dia kenal. Orang itu bila bepergian selalu mendapatkan pengawalan empat sampai lima orang petugas. Dan melihat gerak-gerik para pengawalnya, Ginggi mendapatkan bahwa mereka bukan dari jagabaya biasa, melainkan kedudukannya jauh lebih tinggi lagi. Mungkin bukan perwira setingkat pengawal raja, namun sepertinya mempunyai kepandaian yang tinggi, dan Ginggi harus demikian hati-hati untuk menyelidikinya.

Ki Bagus Seta berperawakan gagah. Tubuhnya tinggi besar dan selalu berpakaian mewah. Matanya tajam seperti burung elang dan dagunya runcing. Seperti menandakan bahwa orang ini pemikir keras dan selalu bertindak tegas dalam mengambil keputusan. Dan bila memperhatikan sepasang matanya yang tajam bagai mata burung elang itu, Ginggi amat yakin, bahwa orang seperti itu pemerhati yang serius, baik terhadap situasi, mau pun terhadap tindak-tanduk orang lain. Kalau benar dugaannya, maka Ginggi pun harus semakin hati-hati pula dalam bertindak.

Sikap-sikap ini sebenarnya hampir sama dengan tindak-tanduk yang diperlihatkan Suji Angkara. Anak muda ini pun seorang pemerhati dan penyelidik. Namun bedanya, Suji Angkara ini orang yang gila hormat. Bila keinginannya sudah terkabul dia sudah percaya terhadap mulut manis. Selama beberapa hari Ginggi berada dekatnya, masih ada kesan menyelidik dan menguji dari "majikannya" ini. Tapi karena Ginggi selalu bersikap sopan dan selalu "bodoh namun jujur", anak muda itu akhirnya memiliki kepercayaan penuh bahwa Ginggi datang ke hadapannya tidak memiliki tujuan apa-apa selain hendak mengabdi belaka. Ginggi berpikir bahwa sangat mungkin Suji Angkara mudah percaya akan hal ini karena memang selama ini banyak orang yang mengharapkan bisa mengabdi kepadanya. Buktinya, Seta dan Madi, adalah pengabdi yang baik. Ki Ogel dan Ki Banen pun mungkin pada mulanya dianggap pengabdi yang baik kalau saja kedua orang tua ini tidak memperlihatkan sikap-sikap menentang terhadap Suji Angkara.

Dengan siapa kini dekat, bagi Ginggi tak ada bedanya sebab semua orang akan dia selidiki. Kepada anak muda pesolek ini, berbagai kecurigaan sudah menumpuk. Kini usaha Ginggi adalah bagaimana cara mengungkapkannya. Dan bila sekarang sudah bisa berdekatan dengan pemuda itu, akan banyak cara mengungkapkannya.

Namun bagi Ginggi kini ada tantangan yang lebih besar lagi. Dia harus sanggup membuka tabir penuh misteri dari Ki Bagus Seta. Seperti ada rangkaian yang sambung-menyambung dan semakin melebar saja, dan semuanya terselubung misteri.

Ginggi harus sanggup membuka tabir, sejauh mana peran Ki Bagus Seta yang di Pakuan ini berhasil menempatkan dirinya sebagai bangsawan yang memiliki jabatan penting, padahal gurunya sendiri sudah dianggap pengkhianat dan selalu dikejar-kejar. Ginggi juga harus mengetahui, bagaimana hubungan Ki Bagus Seta dengan Ki Banaspati yang menjadi bawahan dalam mengurus pajak-pajak negara.

Ini misteri paling besar dan amat menyangkut urusan negara. Bayangkanlah, Ki Banaspati bertugas sebagaimuhara untuk wilayah timur tapi diketahui Ginggi menyembunyikan hasilhasil pajak sebab akan digunakan menghimpun kekuatan pasukan dalam upaya melawan raja. Sedangkan Ki Bagus Seta di ibukota bertindak sebagai pejabatmuhara dan bertanggung jawab penuh dalam memasukkan penghasilan negara. Adakah hubungan kedua orang itu dalam upaya melaksanakan amanat guru? Betulkah Ki Bagus Seta berusaha menjadimuhara juga karena ingin melaksanakan amanat guru? Ginggi perlu menyelidikinya lebih jelas lagi.

Pemberontakan adalah sesuatu yang tidak disukai Ki Rangga Guna. Tapi kalau ternyata upaya-upaya yang dilakukan Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta merupakan upaya menolong kepentingan rakyat seperti yang diamanatkan Ki Darma Tunggara, maka tak ada jalan lain, Ginggi harus ikut mendukungnya. Mengapa tidak begitu? Selama dua minggu dia berada di ibukota Pajajaran ini, melihat kaum bangsawan hidupnya senang, melihat pula bagaimana bahagianya raja dan keluarganya yang acapkali bercengkrama di Taman Mila Kancana, atau makan-makan buah durian diTajur Agung (kebun istana), itu karena jasa pengabdinya yaitu ambaraahayat. Tapi apa balas budi Raja kepada Ki Darma, perwira yang puluhan tahun mengabdi kepada kepada negara? Ki Darma bahkan dikejar dan diburu serta dicap pemberontak.

Selama dua minggu ini, hampir setiap malam Ginggi menyimak tembang-tembang prepantun(pelantun cerita), dariprepantun istana sampaiprepantun yang menggelar pertunjukannya dijawi khita (benteng luar), selalu menceritakan pengkhianatan Ki Darma Tunggara.

Siapa berkhianat itu yang jahat
seribu perwira siap mati seribu perwira hampir mati mati karena pengkhianatan mati karena pengkhianatan oh,hai, pengkhianat
dialah Ki Darma Tunggara! dialah Ki Darma Tunggara!
Ginggi hampir setiap malam mendengarkan lantunanprepantun yang mengisahkan pertempuran mati-matian di alun-alun luar kota Pakuan antara seribu perwira pengawal raja melawan musuh yang datang menyerbu. Dalam peristiwa ini Ki Darma Tunggara dicurigai melakukan pengkhianatan dengan sengaja mengundang musuh dari barat. Peristiwa itu terjadi belasan atau puluhan tahun yang lalu, ketika Pakuan diperintah Sang Prabu Dewata Buana atau lebih dikenal sebagai Sang Prabu Ratu Dewata (1535-1543 Masehi). Ki Darma Tunggara yang merasa lebih berpengalaman dalam membela negara karena sudah sejak Pakuan dipimpin Sang Ratu Jaya Dewata atau lebih dikenal dengan Sri Baduga Maharaja atau Sang Prabu Siliwangi (1482-1521 Masehi), mengeritik kebijaksanaan Sang Prabu Ratu Dewata yang lebih memperhatikan kehidupan agama ketimbang yang lainnya. Ayahanda Sang Prabu Ratu Dewata, yaitu Ratu Sangiang, atau lebih dikenal sebagai Sang Prabu Surawisesa (1521-1543 Masehi) semasa memerintah gemar berperang. Selama 14 tahun memerintah, melakukan peperangan sebanyak 15 kali. Menurut Sang Prabu Ratu Dewata, seringnya melakukan peperangan mungkin juga akan diakui dunia sebagai bangsa yang gagah berani. Tapi juga akan punya risiko banyak menyakiti musuh. Musuh yang kalah tak akan selamanya takut, suatu waktu mereka akan membalas kekalahan. Peperangan yang berkepanjangan pun, baik dalam kemenangan apalagi dalam kekalahan, hasilnya tetap akan menyengsarakan rakyat. Dan karena perang dibentuk oleh jalan pikiran manusia, maka Sang Prabu Ratu Dewata memilih belajar mengendalikan pikiran agar tak selalu dipenuhi nafsu angkara-murka. Sang Prabu Ratu Dewata memilih hidup damai ketimbang mengundang kemelut. Itulah sebabnya sendi-sendi agama diangkat ke permukaan. Kuil dan biara di Pakuan diperbanyak jumlahnya, demikian pun para wiku dan pendeta, di kuil memperdalam masalah kebatinan ketimbang memperhatikan kehidupan lahiriyah.

Inilah yang dikritik ki Darma. Menurutnya,tapa di nagara untuk seorang raja bukanlah mengurung diri di kuil sambil melepaskan seluruh kehidupan lahiriyah.Tapa di nagara adalah melaksanakan pekerjaan yang ditekuni sehingga berguna untuk kepentingan umum. Hanya memperhatikan kepentingan batiniyah tanpa mengurus kepentingan lahiriyah hidup tidaklah seimbang. Apalagi menurut Ki Darma, negara tetap dalam bahaya. Musuh yang datang tidak sekadar akan membalas kekalahan, tapi karena punya maksud ingin menghilangkan pengaruh Pajajaran dan akan digantikannya dengan pengaruh baru yang dibawa oleh mereka. Jadi, mengurung diri dengan maksud menjauhkan nafsu angkara-murka yang ada dalam diri sendiri tidak akan mengusir bahaya peperangan, sebab musuh tetap mengancam.

Ki Darma pernah memberikan peringatan kepada Raja bahwa sewaktu-waktu musuh dari barat akan menyerang. Ki Darma bisa berkata begitu karena dia pandai meramal sesuatu bahaya. Tapi peringatan ini tak dipercaya Raja dengan mengatakan bahwa ramalan Ki Darma bohong belaka. Namun ketika secara tiba-tiba musuh datang menyerang dan langsung mengepung Pakuan, pemerintah tak berterima kasih kepada Ki Darma, bahkan sebaliknya menuduh Ki Darma berlaku khianat. Kalau benar Ki Darma bisa meramal, mengapa katanya kedatangan musuh yang tiba-tiba tidak bisa diramalkan? Banyak suara mendukung kecurigaan. Katanya, mungkin saja Ki Darma sudah tahu sebelumnya tapi tak dilaporkan.
Atau ada kecurigaan lebih besar, Ki Darma sengaja "mengundang" musuh datang hingga ke "beranda" Pakuan tanpa diketahui sebelumnya. Dan itu semua karena pengkhianatan Ki Darma.

Memang Raja tak berhasil membuktikan kesalahan Ki Darma. Tapi Raja akan tetap menghukumnya ketika Ki Darma akhirnya akan mengundurkan diri dari kegiatan kenegaraan. Perintah untuk mengejar dan menangkap Ki Darma dikeluarkan setelah Pakuan dipimpin oleh Sang Prabu Ratu Sakti yang sejak dia menjadi perwira bekerja menjadi pengawal ayahandanya, sudah membenci Ki Darma yang senang melakukanpanca parisuda (mengeritik). Tak ada yang bisa membuktikan Ki Darma melakukan pengkhianatan. Tapi kebencian terhadapnya terus dihembus-hembuskan. Kisah peperangan di alun-alun luar Kota Pakuan merupakan kisah populer dan penduduk senang menikmati lantunanprepantun (juru pantun). Bilaprepantun yang membawakannya pandai melantun merdu diiringi dawai-dawai kecapinya, maka pendengar akan tergugah dan terbawa arus. Mereka akan membenci Ki Darma si pengkhianat dan akan memuji kehebatan kepahlawanan seorang perwira muda putra mahkota. Dialah kelak Sang Ratu Sakti Sang Mangabatan raja gagah berani yang selalu berupaya mengembalikan kejayaan Pajajaran ke masa puluhan tahun silam.

Kisah-kisah kepahlawanan Sang Ratu Sakti dan pengkhianatan perwira Darma Tunggara terkenal sampai jauh ke wilayah timur seperti ketika Ginggi mendengarkan kisah ini pertama kalinya olehprepantun Ki Baju Rambeng, di Desa Cae hampir setahun lalu.

Peristiwa itu terjadi belasan atau puluhan tahun yang lalu, ketika Pakuan diperintah Sang Prabu Dewata Buana atau lebih dikenal sebagai Sang Prabu Ratu Dewata (1535-1543 Masehi). Ki Darma Tunggara yang merasa lebih berpengalaman dalam membela negara karena sudah sejak Pakuan dipimpin Sang Ratu Jaya Dewata atau lebih dikenal dengan Sri Baduga Maharaja atau Sang Prabu Siliwangi (1482-1521 Masehi), mengeritik kebijaksanaan Sang Prabu Ratu Dewata yang lebih memperhatikan kehidupan agama ketimbang yang lainnya. Ayahanda Sang Prabu Ratu Dewata, yaitu Ratu Sangiang, atau lebih dikenal sebagai Sang Prabu Surawisesa (1521-1543 Masehi) semasa memerintah gemar berperang. Selama 14 tahun memerintah, melakukan peperangan sebanyak 15 kali. Menurut Sang Prabu Ratu Dewata, seringnya melakukan peperangan mungkin juga akan diakui dunia sebagai bangsa yang gagah berani. Tapi juga akan punya risiko banyak menyakiti musuh. Musuh yang kalah tak akan selamanya takut, suatu waktu mereka akan membalas kekalahan. Peperangan yang berkepanjangan pun, baik dalam kemenangan apalagi dalam kekalahan, hasilnya tetap akan menyengsarakan rakyat. Dan karena perang dibentuk oleh jalan pikiran manusia, maka Sang Prabu Ratu Dewata memilih belajar mengendalikan pikiran agar tak selalu dipenuhi nafsu angkara-murka. Sang Prabu Ratu Dewata memilih hidup damai ketimbang mengundang kemelut. Itulah sebabnya sendi-sendi agama diangkat ke permukaan. Kuil dan biara di Pakuan diperbanyak jumlahnya, demikian pun para wiku dan pendeta, di kuil memperdalam masalah kebatinan ketimbang memperhatikan kehidupan lahiriyah.

Inilah yang dikritik ki Darma. Menurutnya,tapa di nagara untuk seorang raja bukanlah mengurung diri di kuil sambil melepaskan seluruh kehidupan lahiriyah.Tapa di nagara adalah melaksanakan pekerjaan yang ditekuni sehingga berguna untuk kepentingan umum. Hanya memperhatikan kepentingan batiniyah tanpa mengurus kepentingan lahiriyah hidup tidaklah seimbang. Apalagi menurut Ki Darma, negara tetap dalam bahaya. Musuh yang datang tidak sekadar akan membalas kekalahan, tapi karena punya maksud ingin menghilangkan pengaruh Pajajaran dan akan digantikannya dengan pengaruh baru yang dibawa oleh mereka. Jadi, mengurung diri dengan maksud menjauhkan nafsu angkara-murka yang ada dalam diri sendiri tidak akan mengusir bahaya peperangan, sebab musuh tetap mengancam.

Ki Darma pernah memberikan peringatan kepada Raja bahwa sewaktu-waktu musuh dari barat akan menyerang. Ki Darma bisa berkata begitu karena dia pandai meramal sesuatu bahaya. Tapi peringatan ini tak dipercaya Raja dengan mengatakan bahwa ramalan Ki Darma bohong belaka. Namun ketika secara tiba-tiba musuh datang menyerang dan langsung mengepung Pakuan, pemerintah tak berterima kasih kepada Ki Darma, bahkan sebaliknya menuduh Ki Darma berlaku khianat. Kalau benar Ki Darma bisa meramal, mengapa katanya kedatangan musuh yang tiba-tiba tidak bisa diramalkan? Banyak suara mendukung kecurigaan. Katanya, mungkin saja Ki Darma sudah tahu sebelumnya tapi tak dilaporkan. Atau ada kecurigaan lebih besar, Ki Darma sengaja "mengundang" musuh datang hingga ke "beranda" Pakuan tanpa diketahui sebelumnya. Dan itu semua karena pengkhianatan Ki Darma.

Memang Raja tak berhasil membuktikan kesalahan Ki Darma. Tapi Raja akan tetap menghukumnya ketika Ki Darma akhirnya akan mengundurkan diri dari kegiatan kenegaraan. Perintah untuk mengejar dan menangkap Ki Darma dikeluarkan setelah Pakuan dipimpin oleh Sang Prabu Ratu Sakti yang sejak dia menjadi perwira bekerja menjadi pengawal ayahandanya, sudah membenci Ki Darma yang senang melakukanpanca parisuda (mengeritik).

Tak ada yang bisa membuktikan Ki Darma melakukan pengkhianatan. Tapi kebencian terhadapnya terus dihembus-hembuskan. Kisah peperangan di alun-alun luar Kota Pakuan merupakan kisah populer dan penduduk senang menikmati lantunanprepantun (juru pantun). Bilaprepantun yang membawakannya pandai melantun merdu diiringi dawai-dawai kecapinya, maka pendengar akan tergugah dan terbawa arus. Mereka akan membenci Ki Darma si pengkhianat dan akan memuji kehebatan kepahlawanan seorang perwira muda putra mahkota. Dialah kelak Sang Ratu Sakti Sang Mangabatan raja gagah berani yang selalu berupaya mengembalikan kejayaan Pajajaran ke masa puluhan tahun silam.

Kisah-kisah kepahlawanan Sang Ratu Sakti dan pengkhianatan perwira Darma Tunggara terkenal sampai jauh ke wilayah timur seperti ketika Ginggi mendengarkan kisah ini pertama kalinya olehprepantun Ki Baju Rambeng, di Desa Cae hampir setahun lalu.

Ginggi sakit hati oleh kesemuanya ini. Barangkali murid-murid Ki Darma lainnya pun sama memendam sakit hati. Itulah sebabnya mungkin, Ki Banaspati tak kepalang tanggung menjalankan amanat guru. Dalam upaya membela kepentingan rakyat, Ki Banaspati akan menghimpun kekuatan untuk digunakan melawan raja. Tidakkah Ki Bagus Seta yang kini mengendalikan kekayaan negara sebetulnya punya tujuan yang sama dengan Ki Banaspati? Barangkali secara diam-diam mereka berdua telah melakukan persekutuan dalam melawan Raja.

Ya, barangkali. Tapi apa pun yang sesungguhnya terjadi, Ginggi harus tetap berlaku hati-hati. Dia harus mengambil keputusan yang tepat. Untuk itulah Ginggi harus melakukan penyelidikan seseksama mungkin. Dia tak mau tergelincir melakukan kekeliruan.

***

Ginggi ikut di rumah besar yang dihuni Suji Angkara. Di rumah besar yang terbuat dari susunan kayu jati pilihan itu juga tinggal beberapabadega (pembantu) termasuk beberapa orang pembantu wanita usia tigapuluh tahunan ke atas tapi berwajah lumayan. Pekerjaan parabadega adalah membersihkan halaman, memandikan kuda, atau pekerjaan-pekerjaan berat yang tak mungkin dilakukan kaum wanita. Sedangkan para pembantu wanita bekerja dari mulai memasak, mencuci, sampai membersihkan dan membereskan tempat tidur Suji Angkara. Para pembantu wanita itu pun kadang-kadang bertugas memijit bila Suji Angkara menghendakinya. Namun selama Ginggi meneliti, sikap pemuda itu wajar-wajar saja. Dia dipijit dan para wanita memijit, tak lebih dari itu. Seta juga tinggal di sana. Menurut parabadega , Seta bertugas sebagai pengawal Raden Suji. Tapi menurut penglihatan Ginggi, pemuda yang bibirnya selalu mencibir itu tugasnya tak lebih hanya sebagai pelayan belaka, kendati tidak seperti badega lainnya. Seta lebih berupa pelayan pribadi pemuda pesolek itu untuk keperluan-keperluan di luar rumah.

Akan halnya Ginggi, Suji Angkara rupanya tak menempatkan pemuda itu secara khusus, sebab sesuai dengan ucapan Suji Angkara, Ginggi akan dipekerjakan di kediaman Ki Bagus Seta.

Hanya saja selama dua minggi ini, Ginggi sudah dua kali menerima tugas khusus, yaitu mengirimkan surat daun nipah kepada Nyimas Banyak Inten. Ini bermula dari tanya-jawab santai antara Ginggi dan Suji Angkara pada suatu senja di taman belakang rumahnya. Suji Angkara tengah dipijit-pijit seorang wanita pembantu dan Ginggi asyik merawat tanaman hias di tepi kolam yang banyak dihuni ikan mas berwarna-warni.

"Duruwiksa, sedang apa kau di sana?" tanya Suji Angkara padahal matanya meram-melek karena tengah menikmati pijitan wanita pembantu.

"Saya tengah mencabuti daun-daun kering, Raden," jawab Ginggi merendah.

Selama dua minggi ini pemuda itu selalu menyebutduruwiksa kepadanya. Namun karena Suji Angkara mengucapkannya dengan wajar tak terasa lagi sebagai ejekan. Bahkan Ginggi pun sudah terbiasa dan seperti betah mendengarnya.

"Kau kesinilah sebentar," kata Suji Angkara melambaikan tangannya.

"Baik, Raden …" Ginggi melangkah terbungkuk-bungkuk. Kemudian duduk bersila di mana pemuda bersolek itu berbaring di sebuah dipan kayu.

"Kepandaianmu, sebetulnya apa sih?" tanya Suji Angkara tiba-tiba.

Ginggi sudah siap untuk menerima berbagai pertanyaan. Dan tentu jawabannya asal bunyi saja, yang penting jauh dari segala kebenaran yang bakal mencurigakan orang lain.

"Saya tak memiliki kepandaian selain yang Raden ketahui selama ini," jawab Ginggi menunduk seolah-olah memperlihatkan rasa malu dan rendah diri.

"Ilmu membaca huruf misalnya?" Ginggi menggelengkan kepala.
"Saya ini pengembara, kemana saja kaki membawa, di situlah saya tinggal. Tidak pernah tahu siapa kedua orang tua saya. Yang saya tahu, saya sudah hidup seperti ini. Jadi kalau ada yang tanya dari mana asal, saya tak bisa jawab. Tugas saya sehari-hari hanya memikirkan bagaimana hari ini bisa makan. Lain dari itu saya tak pikirkan, termasuk mempelajari tektekbengek seperti membaca, menulis dan apalagi belajar ilmu kedigjayaan seperti yang dilakukan Seta, misalnya," kata Ginggi berpanjang lebar agar Suji Angkara segera kehabisan apa yang akan ditanyakan selanjutnya. Mendengar penjelasan Ginggi, pemuda itu hanya manggut-manggut saja tanpa Ginggi tahu apa maksudnya.

"Sebetulnya wajahmu lumayan juga. Kalau kau tak bodoh dan lugu, barangkali akan banyak wanita memperhatikanmu," kata pemuda itu sungguh-sungguh.

Ginggi hanya menatap sejenak. Perempuan pembantu yang tengah memijit juga seperti diingatkan oleh ucapan oleh pemuda itu sehingga serta-merta memandangi wajah Ginggi.

"Apa tidak merepotkan bila seorang lelaki banyak diperhatikan para gadis, Raden?" tanyanya senyum dikulum.

Suji balas tersenyum. Dia tak bicara apa-apa sehingga dia tak bisa mengorek isi hati pemuda pesolek itu lebih jauh mengenai perhatiannya terhadap wanita.

"Barangkali merepotkan. Tapi tidak dicintai wanita pun sama merepotkan. Rasa sepi di hati kupikir merepotkan. Ditolak cinta pun kupikir merepotkan sebab hati bisa gundahgulana," kata Suji Angkara pada akhirnya. Namun perkatannya itu hanya diucapkan sambil mata terus meram-melek karena keenakan mendapat pijitan-pijitan perempuan pembantu itu.

"Sekarang pun aku tengah menderita kerepotan," gumam pemuda itu selanjutnya.

"Terlalu banyak dicinta wanita, Raden?" tanya Ginggi menyipitkan matanya untuk memandang Suji Angkara.

"Terlalu banyak dicinta bagi seorang bangsawan malah lumrah. Yang tak lumrah bagi seorang bangsawan adalah bila menerima semua cinta itu. Orang kebanyakan akan mencibir bila melihat kaum bangsawan semena-mena dan serampangan melakukan cinta. Sesama bangsawan pun akan marah sebab merasa martabatnya dijatuhkan bila ada bangsawan lainnya berlaku tak senonoh dalam urusan cinta. Dan ini merepotkan," kata Suji Angkara.

"Mungkin akan aman bagi bangsawan bila memilih salah satu orang yang dicinta saja," gumam Ginggi menyela ucapan pemuda itu.

Namun Suji Angkara hanya merahuh kesal.

"Raden sedang dilanda nestapa karena urusan cinta?" tanya Ginggi. Dan Suji Angkara pelanpelan menganggukkan kepalanya.

Ginggi terdiam. Tapi perempuan pembantu masih melanjutkan pekerjaannya memijat bagiaan-bagian tubuh Suji Angkara sepertinya obrolan ini bukan sesuatu yang perlu disimak benar.

"Aku tengah menggandrungi Nyimas Banyak Inten, putri cantik Bangsawan Yogascitra. Bagaimana caranya agar cintaku tak bertepuk sebelah tangan?" gumam Suji Angkara lagi mengatupkan mata seolah-olah membayangkan agar cita-citanya terlaksana.

Jantung Ginggi berdegup mendengarnya. Ketika pertemuan pertama kalinya di Pakuan, Ginggi memang melihat Suji Angkara begitu penuh perhatian terhadap gadis putri Bangsawan Yogascitra itu. Waktu itu pun Ginggi sudah menduganya kedua muda-mudi itu sedang menjalin hubungan baik. Tapi siapa kira hubungan mereka belum terikat resmi. Bahkan lebih jauh dari itu, mereka belum melakukan sesuatu ikatan. Buktinya, Suji Angkara kini mengaku bahwa dirinya tengah menaksir gadis itu.
Ginggi berdegup mengetahui kenyatan ini. Tapi mengapa mesti berdegup? Aneh, Ginggi sendiri tak tahu, mengapa harus berdegup?

"Betul-betulkah engkau tak bisa baca-tulis, Duruwiksa?" tanya Suji Angkara.

Ginggi menatap pemuda itu. Apa hubungan Nyimas Banyak Inten dengan dirinya yang mengaku tak bisa baca-tulis?

Namun biar pun dilanda rasa heran, Ginggi akhirnya mengangguk juga.

"Kalau begitu, kau harus tolong aku. Kau sampaikan suratku pada Nyimas Banyak Inten …" kata Suji Angkara.

Ginggi masih menatap pemuda itu karena belum mengerti mengapa dia dipilih untuk mengantarkan surat.

"Aku sebetulnya tak senang rahasia hidupku diketahui orang lain. Kau tak bisa baca tulisan. Jadi kalau aku mengirim surat cinta melalui kamu, rahasia cintaku tak terbongkar," kata Suji Angkara memberikan alasan memilih Ginggi sebagai pengirim surat.

"Biasanya surat diantar di dalam kotak kayu jati tertutup. Mengapa takut benar isi surat itu dibuka orang?" tanya Ginggi.

"Aku tak mau mengirim surat secara resmi, mungkin aku lebih senang melayangkan surat secara diam-diam saja. Surat daun nipah akan tersusun begitu saja seperti susunan daun sirih di atas tempayan. Akan lebih aman bila dibawa oleh orang yang tak bisa baca sepertimu," kata Suji Angkara menerangkan. Ginggi mengangguk karena baru mengerti apa yang ada dalam pikiran pemuda yang tengah dilanda kasmaran.

"Kalau saya dipercaya, tak apa menugaskan saya mengirimkan suratmu itu, Raden," kata Ginggi akhirnya dan hanya dibalas senyum tipis di bibir pemuda tampan itu. Ginggi pun ikut tersenyum. Pemuda yang berkulit putih itu mau menugaskan Ginggi bukan karena percaya, tapi karena beranggapan Ginggi tak bisa baca.

Di Taman Milakancana

Akhirnya Ginggi memang diberi tugas untuk mengirimkan surat daun nipah. Dua kali banyaknya. Surat itu tidak dibungkus apa pun. Suji Angkara hanya menyuruh Ginggi agar menyelipkan saja di pinggangnya.

"Tapi awas, jangan kau perlihatkan surat ini pada siapa pun juga. Kau pun harus hati-hati, daun nipah boleh kau serahkan kepada Nyimas Banyak Inten di saat dia duduk sendirian," kata Suji Angkara sebelum Ginggi melaksanakan tugasnya. Tengah hari Ginggi menuntun kuda-kuda kepunyaan Suji Angkara dengan alasan akan disuruhnya merumput. Padahal yang sesungguhnya Ginggi menuju Taman Mila Kancana. Itu adalah sebuah taman istana. Hanya para putri raja beserta kerabatnya saja yang bisa bercengkrama di sana.

Kaum lelaki sebetulnya dilarang memasuki kompleks taman tanpa seizin jagabaya. Tapi Ginggi mudah akrab dengan siapa saja, termasuk dengan para jagabaya. Hampir semua jagabaya tahu belaka bahwa pemuda tampan tapi lugu dan sedikit bodoh itu adalah pekerja Suji Angkara. Hanya kaum pria dari sesama bangsawan saja yang mendapat pertanyaan agak teliti bila hendak memasuki taman. Tapi para pekerja kasar yang sudah benar-benat dipercaya tidak terlalu dipersulit untuk masuk ke taman apalagi dengan alasan jelas, misalnya hendak membersihkan rumput atau kolam taman.

Kaum lelaki golongan kebanyakan yang menjadi pekerja kasar dianggapnya tak akan berani mati mengganggu para gadis istana. Lain lagi dengan pria kaum bangsawan yang kemungkinan berani menggoda para gadis. Dan itu sebuah pelanggaran etika. Semua orang tidak membiarkan kaum bangsawan atau kerabat istana melanggar etika yang bisa menjatuhkan martabat mereka.

Ini untuk yang kedua kalinya Ginggi memasuki kompleks Taman Mila Kancana dengan alasan membersihkan rumput taman sambil memberi makan kuda. Padahal yang sesungguhnya dikerjakan adalah mengirimkan surat daun nipah kepada gadis cantik putri Bangsawan Yogascitra itu.

Ginggi tidak pernah tahu, bagaimana macamnya etika surat menyurat kaum bangsawan. Tapi ketika mencuri baca surat daun nipah yang ditulis Suji Angkara, isinya begitu lugas dan terus terang dalam memaparkan maksud-maksud cintanya. Surat pertama menggambarkan kerinduan yang sangat dalam Suji Angkara terhadap Nyimas Banyak Inten. Dikatakannya, hanya kematian yaang akan menyambut nasibnya bila Nyimas Banyak Inten tidak memperhatikan cintanya.

"Ketika aku dirampok perampok ganas setiap bertugas mengirim barang-barangseba, aku hadapi segalanya dengan gagah berani, pantang mundur atau putus asa. Tapi bila jiwaku dihadang cinta, maka hatiku tak berbuat apa-apa. Bila cintaku terabaikan, maka tak ada lagi cara memupusnya selain kematian," tutur surat itu menyebalkan. Ya, menyebalkan.

Tapi di lain fihak Ginggi pun bingung sendiri, mengapa menyebalkan bagi dirinya? Ginggi membayangkan kembali, betapa rambut hitam Nyimas Banyak Inten tersibak-sibak indah ketika angin sore di tepileuwi Kamala Wijaya di Sungai Cihaliwung menerpanya. Betapa sepasang mata itu berbinar tajam menyorot dirinya ketika tak sengaja beradu pandang. Betapa pula mulut mungil merah merekah ketika gadis itu menertawakan dirinya ketika wajahnya berkelepotan lumpur lubukleuwi dalam upaya menangkap ikan di sana. Dan rasanya ada semacam kemesraan tak sengaja ketika putri yang berkulit putih halus dengan sepasang pipi kemerahan itu ikut membantu membalik-balikkan ikan yang tengah dibakar Ginggi. Denyut jantung pemuda itu bergetar hebat ketika kulit tangan halus gadis itu secara tak sengaja bersinggungan dengan kulit tangannya. Gadis itu jongkok di sisinya. Dia ikut sibuk menggerak-gerakkan kipas agar api cepat menyala, sampai matanya berair kepedihan oleh asap perapian. Bahagia sekali hari itu. Sepertinya gadis bangsawan itu bukan teman baik Suji Angkara tapi merupakan sahabat dia seorang. Sekarang, gadis yang berperangai halus tapi mudah akrab itu "dilamar" orang, siapa tidak sebal? Surat kedua yang akan diberikan Ginggi pada gadis itu bahkan lebih menyebalkan lagi isinya. Surat itu secara terang-terangan mengajak Nyimas Banyak Inten untuk melakukan pertemuan rahasia. Gila!

Ada keragu-raguan Ginggi, apakah akan diberikan saja atau sebaliknya dibuang ke parit istana? Bila surat tak diserahkan, Ginggi takut rencananya dalam melakukan penyelidikan terhadap Suji Angkara akan gagal total. Bila surat tak disampaikan dan diketahui oleh Suji Angkara, dia pasti akan mendapat kemarahan pemuda bengaal itu. Kalau tak dihukum pasti akan diusir pergi. Dan ini hanya akan merugikan rencananyaa saja. Padahal posisinya kini sudah amat menguntungkan karena telah dipercaya pemuda itu.

Maka ingat ini, dengan berat hati akhirnya dia membawa lembaran daun nipah ke Taman Mila Kancana untuk diserahkan pada Nyimas Banyak Inten.

Taman Mila Kancana itu cukup luas. Di sana banyak pohon rindang, rumput-rumput menghijau dan semerbak macam-macam bunga karena di sana-sini terdapat hamparan bunga beraneka warna. Kolam-kolam berair jernih dengan macam-macam ikan menghiasinya.

Ginggi hadir ke tempat itu sambil berbekal keranjang bambu dan alat penyabit rumput seperti yang diatur Suji Angkara. Namun kendati penyamaran sudah sempurna, pemuda itu tidak bisa segera memberikan surat daun nipah kepada Nyimas Banyak Inten. Di dangau kecil beratap injuk di bawah pohonkecik memang dilihat Ginggi ada dua orang gadis tengah mengobrol santai. Kedua gadis itu dikelilingi para pengasuhnya, terdiri dari sekumpulan wanita setengah baya. Macam-macam tingkah mereka. Ada yang tengah merajut kain, ada juga yang memilin benang. Beberapa pengasuh malah duduk-duduk di bawah pohon sambil ngobrol kesanakemari.

Tidak terlalu jauh Ginggi berada, namun dia jongkok menyabit rumput di tempat yang agak tersembunyi. Kedua gadis yang berpakaian mewah itu adalah Nyimas Banyak Inten dan Nyimas Layang Kingkin. Kepada Ginggi, gadis ini diperkenalkan sebagai adik Suji Angkara. Hanya bedanya, Nyimas Layang Kingkin tinggal di puri Ki Bagus Seta, ayahandanya.

Ginggi tak begitu bisa menangkap apa yang dibicarakan kedua gadis belia itu, sebab suara pengasuh terdengar lebih keras karena posisi mereka lebih dekat ke arah Ginggi.

Selagi banyak orang seperti ini, Ginggi tidak akan mungkin memberikan surat kepada Nyimas Banyak Inten. Oleh sebab itu Ginggi hanya menggerak-gerakkan penyabit rumput dengan asal-asalan, menunggu Nyimas Banyak Inten tinggal sendirian.

Namun harapannya tak akan mencapai hasil, sebab sebelum Nyimas Layang Kingkin pergi, dari jauh ada satu rombongan lain menuju ke tempat itu. Rombongan itu hampir sepuluh orang jumlah banyaknya, laki-laki dan perempuan. Mereka berpakaian bagus-bagus. Satu orang yang berjalan tenang paling depan bahkan berpakaian amat mewah. Dia tidak memakai pakaian tertutup di bagian atasnya, namun tubuhnya yang bidang banyak dihiasi selendang sutra warna-warni. Sebagian membungkus dadanya, sebagian berkibar-kibar di tangannya.
Kepala orang itu diikat hiasan beludru hitam yang banyak ditempeli ornamen emas. Ginggi terkejut. Lelaki usia 40 tahunan berkulit putih halus berkumis tipis dengan sorot mata menyala ini, siapa lagi kalau bukan Susuhunan Pakuan, Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan? Ginggi tak salah menduga, sebab kedua orang gadis beserta pengasuhnya serempak bersimpuh di hamparan rumput hijau serta menyembah takzim kepada rombongan yang baru datang itu.

Ginggi semakin menyembunyikan dirinya, takut kalau-kalau Sang Susuhunan tersinggung oleh kelakuannya. Ingat ini, pemuda ini menjadi serba salah. Tetapi bersembunyi saja di sana akan amat berbahaya bila tiba-tiba diketahui jagabaya dia main sembunyi. Tapi keluar dari tempat itu pun sama tak enaknya. Akhirnya dia memilih tetap saja tinggal di tempat gelap oleh rimbunan pepohonan, dengan harapan kehadirannya tidak diketahui jagabaya.

Namun kendati begitu, rasa penasaran tetap menggelitik hatinya. Sambil sembunyi, kepalanya diusahakan nongol dan matanya menatap ke sana. Dia ingin tahu, apa saja yang dilakukan Sang Susuhunan di taman dengan para putri bangsawan itu.

Dilihatnya Sang Raja tengah berbincang-bincang dengan kedua putri bangsawan itu. Suaranya halus dan lemah-lembut, sehingga Ginggi tak sanggup mendengar ucapan raja tampan berkumis tipis itu. Yang dia saksikan, hanya senyum dan kerling mata tajam dari Sang Prabu Ratu Sakti saja. Secara bergiliran, nampak sepasang mata tajam berbinar itu melirik ke arah Nyimas Banyak Inten dengan sorot penuh kagum dan setelah itu beralih kepada Nyimas Layang Kingkin. Sedang yang diberi kerlingan mata, keduanya hanya menunduk dengan rona merah di pipi dan sesekali menyembah takzim. Para pengawal seolah tak mendengar apa yang diucapkan Sang Prabu. Mereka hanya berdiri tegap ke segala penjuru arah dengan senjata tombak siap di tangan. Sedang para wanita yang cantik-cantik dan pakaiannya yang indahindah itu, hanya menunduk dengan senyum simpul di mulutnya yang rata-rata manis memikat itu.

Sang Prabu tidak terlalu lama mengajak para gadis bangsawan mengobrol. Ketika raja berkulit putih dan berhidung mancung itu akan berlalu, semua orang menunduk dan menyembah takzim dan tak berani menatap muka sebelum rombongan itu benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.

Rombongan raja berjalan ke jalan berbalay (dibuat dari susunan batu sungai) yang kebetulan lewat ke tempat Ginggi sembunyi. Maka untuk menghindari pandangan Raja dan pengawalnya, pemuda itu menggeser badannya sesuai dengan gerakan rombongan. Namun ketika rombongan sudah berjalan jauh, ada suara sepertinya gerakan benda yang ditimpukkan dari arah belakang tubuhnya. Sejenak Ginggi merasa terkejut, kalau-kalau itu sebuah serangan rahasia. Namun mendengar gerakannya, timpukan itu tidak dilakukan dengan pengerahan tenaga khusus.

Tuk! Benda itu menimpuk tepat di tengkuknya. Ginggi pura-pura terkejut dan berpaling ke belakang. Terdengar cekikikan kaum wanita. Dan Ginggi akhirnya jadi ketawa sendiri.
Bagaimana tak ketawa sebab yang dikiranya masih sembunyi, nyatanya tubuhnya sudah berada di tempat yang terbuka dan dengan jelas dilihat sekumpulan wanita itu.

"Hei, laki-laki ceriwis, engkau tukang intip. Berani-beraninya, ya?" teriak wanita-wanita pengasuh dengan tingkah polah macam-macam yang pada intinya mencoba menakut-nakuti Ginggi. Pemuda itu merunduk-rundukkan badan dengan wajah penuh khawatir membuat yang melihat tertawa.

Kedua putri bangsawan itu pun tersenyum sambil menutupi mulutnya. "Ke sini kau! Namamu Ginggi, bukan?Badega (pelayan) Raden Suji, bukan? Kerjamu mengintip orang, bukan?" Salah seorang pengasuh berusia tigapuluhan nyerocos memeriksa pemuda itu. Ginggi hanya menganguk-angguk sembarangan.

"Jadi engkau mengakui main intip orang, ya?"

"Tidak, tidak mengintip. Saya sembunyi, Bibi …!" jawab Ginggi menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau tidak sedang main intip mengapa kau di sini?"

"Lihatlah keranjang bambu yang ada di tangan kiriku, dan lihat pula alat penyabit rumput di tangan kananku. Dengan demikian sudah jelas, apa yang tengah aku kerjakan, Bibi …" kata Ginggi memperlihatkan kedua benda itu.

"Tapi aku tadi melihat kamu berindap-indap?"

"Saya malu diketahui Sang Susuhunan. Kalau beliau tahu saya ada di sini, wah berabe …" kata Ginggi pula.

"Tapi kamu tidak takut oleh kami, ya?"

"Wah … kalian kan baik-baik dan ramah-ramah kepada semua orang?" "Menjilat, ya …"
"Betul, Bibi! Kalian semua ramah dan pemaaf. Bijaksana lagi!" "Huh, cari muka,ya!"
"Saya sudah punya muka, bibi!"

"Cerewet! Mukamu jelek!" terak wanita pengasuh itu. Ginggi hanya garuk-garuk kepala.

"Sudahlah Bibi, jangan terus dimarahi. Dia memang tak salah," kata Nyimas Banyak Inten halus. Ginggi tersenyum mendengarnya, membuat Si Bibi pengasuh kembali mengomel.

"Kau ke sinilahbadega …" Nyimas Layang Kingkin memanggilnya. Ginggi merunduk-runduk datang mendekat. Dia tak berani memandang putri bangsawan ini. Namun walau pun sekilas, Ginggi pandai menilai, gadis yang hampir empat tahun di atas usianya terlihat amat jelita, sehingga Ginggi susah membedakan, mana yang paling elok, wajah Nyimas Banyak Inten ataukah Nyimas Layang Kingkin? Dua-duanya memilik sepasang mata berbinar, berhidung kecil mancung dengan cuping hidung kembang-kempis serta ada lesung pipit di pipi bila keduanya tersenyum. Yang membedakan keduanya, Nyimas Banyak Inten usianya lebih belia, mungkin sekitar 15 tahun atau setahun di bawah usia Ginggi. Sedangkan Nyimas Layang Kingkin nampak lebih dewasa baik raut wajahnya, mau pun potongan tubuhnya yang lebih berisi dan membentuk.

"Ada apakah Tuan Putri …?" tanya Ginggi bersila dan menyembah takzim tanda hormat. "Seharusnya aku yang tanya padamu, ada apakah engkau datang ke sini?" putri elok Nyimas Layang Kingkin balas bertanya. Pemuda itu kian menunduk. Beberapa lama dia tak sanggup memberikan jawaban.

"Mengambil rumput utuk makanan kuda, ya? Kok ambil rumputnya ke sini saja?" tanya Nyimas Layang Kingkin sambil mengerling ke arah Nyimas Banyak Inten. Ginggi juga ikut mengerling dan rona merah di pipi Nyimas Banyak Inten nampak kentara. Ginggi menunduk dan berdegup jantungnya. Rupanya hubungan Suji Angkara dan Nyimas Banyak Inten sudah diketahui orang lain, paling tidak oleh Nyimas Layang Kingkin, adik Suji Angkara.

"Tapi tak apalah ambil rumput di Taman Mila Kancana ini. Yang penting, kau jangan ganggu adikku, Nyimas Banyak Inten," kata Nyimas Layang Kingkin penuh arti. Kembali rona merah di wajah Nyimas Banyak Inten membayang.

"Hari sudah semakin siang, mari Bibi kita kembali ke puri. Ada burung pipit tengah menanti. Siapakah yang datang dan siapakah yang akan dipilih. Burung pipit mesti menimbangnimbang, Bibi …" kata Nyimas Layang Kingkin kembali mengerling ke arah Nyimas Banyak Inten sambil senyum penuh arti. Dan yang dikerling hanya menunduk malu membuat Ginggi tak mengerti apa yang sebenarnya mereka maksudkan.

Tinggallah Nyimas Banyak Inten ditemani dua orang pengasuhnya. Nampak mereka semua tengah termangu-mangu membuat Ginggi tak enak hati.

"Engkau ke sini menyabit rumput, eu …." "Nama saya Ginggi Tuan Putri."
"Jangan sebut aku begitu. Panggil saja Nyimas," potong Nyimas Banyak Inten. "Tuan Putri adalah kerabat Raja juga …" gumam Ginggi.
"Ya, tapi kerabat jauh. Kau baru boleh memanggil seperti itu kepada turunan langsung Raja saja," kata Nyimas Banyak Inten lagi. Ginggi tersenyum. Macam-macam kehendak keluarga bangsawan ini. Nyimas Banyak Inten seperti tak suka disebut tuan putri sedangkan Nyimas Layang Kingkin seperti kebalikannya. Mata Nyimas Layang Kingkin seperti berbinar ketika dipanggil tuan putri oleh Ginggi tadi.

"Baiklah … Nyimas kata Ginggi akhirnya.

Nyimas Banyak Inten puas dengan kesanggupan Ginggi ini. "Engkau datang ke sini karena menyabit rumput, ya?" Ginggi merenung tapi kemudian mengangguk.
"Terima kasih kalau engkau datang ke sini hanya menyabit rumput," gumam Nyimas Banyak Inten seperti bicara pada diri sendiri, membuat Ginggi merasa heran. Kini pemuda itu mengangkat wajah dan memandang muka yang bak bidadari turun dari kahyangan ini.

Nyimas Banyak Inten balik menatap, rupanya tahu akan keheran Ginggi.

"Entahlah Ginggi … aku belum memikirkan hal yang bukan-bukan …" kata Nyimas Banyak Inten masih setengah bergumam. Ginggi menatap tajam wajah rembulan yang kini nampak murung itu. Dia tak menyadarinya bahwa tindakan ini tidak layak bila dilakukan oleh kebanyakan orang sepertinya. Namun kesadaran pemuda itu tertutup oleh gejolak rasa yang menggebu di hatinya. Rembulan itu begitu murung, begitu kelabu bagaikan ada awan tipis memoles wajahnya. Ingin sekali Ginggi jadi penguasa angin dan segera meniup jauh awan kelabu yang menutup sang rembulan. Tapi awan kelabu yang manakah yang membuat si jelita begitu murung?

"Kau katakan pada Raden Suji … aku belum memikirkan urusan seperti itu, Ginggi…" kata Nyimas Banyak Inten menghela nafas panjang.

Siapa Mencinta Nyimas Banyak Inten?

Ginggi ingin berkata sesuatu, namun lidahnya seperti terpotong di tengah jalan. Tidak, tidak akan kukatakan perihal surat yang kubawa ini, kata Ginggi dalam hatinya. Surat itu tak pantas dibaca oleh gadis sehalus Nyimas Banyak Inten. Bayangkan, surat itu mengajak putri berperangai halus itu untuk melakukan kencan-kencan rahasia. Suji Angkara terlalu merendahkan harga diri gadis itu. Kalau surat itu diberikan kepada Nyimas Banyak Inten, Ginggi tak sanggup melihat hancurnya rasa hati gadis itu. Bayangkanlah, wanita anggun sehalus Nyimas Banyak Inten diperlakukan Suji Angkara seolah-olah gadis itu wanita murahan dan bisa diajak apa saja. Ginggi serasa punya alasan untuk menjegal surat itu ketika Nyimas Banyak Inten bicara seperti tadi, "Aku belum memikirkan urusan seperti itu," tentu yang dimaksudnya urusan cinta. Bukankah tempo hari Suji Angkara pernah mengutusnya mengirim surat yang isinya permohonan agar gadis ini suka menjadi kekasih pemuda itu?
Nyimas Banyak Inten telah menolaknya, berarti surat yang isinya sembrono ini tak perlu diberikan Ginggi kepada gadis itu.

"Saya mohon diri, Nyimas…?" gumam Ginggi menyembah takzim. Nyimas Banyak Inten mengangguk lesu. Ginggi segera akan berjingkat tapi gadis itu menahannya sebentar.

"Ada apa Nyimas…?" kata Ginggi menatap wajah gadis itu.

"Bagaimana kau katakan agar Raden Suji tak tersinggung perasaannya, Ginggi?" tanya putri berdagu tipis berbibir merekah merah itu. Ditanya seperti ini Ginggi tercenung sejenak. Ya, Ginggi pun tak tahu, omongan apa yang harus dia sampaikan kepada pemuda tampan tapi berkesan pemarah itu?

"Saya akan coba bicara benar dan wajar sehingga Raden Suji pun akan menanggapinya dengan wajar, Nyimas…" kata Ginggi. Namun gadis itu sepertinya menyangsikan kemampuan Ginggi dalam menyampaikan maksudnya.

"Bagi laki-laki, biasanya cinta itu seperti pertandingan, Nyimas. Ada menang ada kalah. Jadi, kedua hal ini seharusnya sudah diperkirakan oleh Raden Suji," kata Ginggi lagi. Nyimas Banyak Inten seperti tak puas dengan ucapan Ginggi ini. Dia nampak hanya menunduk sambil memilin-milin kain yang oleh pengasuhnya tadi tengah disulam benang emas.

"Bagaimana kalau Nyimas sendiri saja yang sampaikan?" giliran pengasuhnya yang memberikan saran.

"Aku tak biasa berkunjung ke kediaman laki-laki, Bibi …" gumam gadis itu menunduk.

"Tulislah surat di daun nipah, biar saya yang menyampaikannya," kata Ginggi. Tapi Nyimas Banyak Inten menggelengkan kepala.

"Surat suka dijadikan kenangan oleh seseorang. Kalau itu surat baik, akan dijadikan kenangan bahagia. Tapi kalau surat itu isinya buruk, hanya akan dijadikan kenangan menyedihkan. Dan aku akan merasa berdosa bila harus memaksa Raden Suji setiap saat merangkul kenangan pahit," tutur Nyimas Banyak Inten sendu. Gadis yang memiliki rambut ikal dan harum ini terlalu berperasaan dan akibatnya jalan pikiran menyiksanya dirinya, pikir Ginggi.

"Kalau segalanya menjadi tidak tepat, jadi harus bagaimana, Nyimas?" tanya Ginggi bingung. Gadis itu masih termangu-mangu seperti tak sanggup mengambil keputusan.

"Ginggi, begitu ruwetkah urusan cinta?" tanya gadis itu tiba-tiba.

Ginggi menatap wajah Nyimas Banyak Inten. Tapi kemudian menundukkan kepala lagi bila ingat etika di Pakuan takmembenarkan orang kebanyakan saling pandang dengan kaum bangsawan apalagi dengan para wanitanya.

Namun biar pun hanya sejenak, Ginggi sanggup menerobos ke dasar lubuk hati gadis itu. Ya, melalui sorot matanya yang bening dan polos, betapa gadis itu berkata bahwa lembaran hidupnya yang putih bersih belum tergores oleh tulisan hitam tentang cinta. Gadis itu belum mengenal relung pahit-getirnya cinta. Bagaimana harus Ginggi jawab atas pertanyaannya ini. Apakah cinta itu bagaikan mega berarak-arak di langit biru, atau berupa aliran air di sungai berjeram? Pemuda itu pernah merasakannya tapi segalanya serba tak berketentuan. Dan cinta yang datang tanpa persiapan serta tanpa ancang-ancang yang tepat membuat segalanya berantakan.

"Yang membuat ruwet bukan cinta tapi manusianya itu sendiri, Nyimas…" jawab Ginggi pada akhirnya.

"Karena manusianya itu sendiri …?"

"Betul, karena cinta itu urusan hati. Dia bisa datang tanpa diundang dan pergi tanpa diusir. Cinta juga tak bisa diundang dan tak bisa diusir," kata Ginggi.

"Tidak bisa diundang dan tidak bisa diusir?"

"Kalau hati tak punya perasaan cinta, diganggu oleh apa pun kita tak tergoda. Namun sebaliknya bila di hati ada cinta, dipisahkan karena dunia terbelah pun perasaan itu tetap melekat," kata Ginggi lagi. "Oh, bila begitu cinta hanya derita saja…" sergah gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, seolah yang namanya cinta terbentang di hadapannya, membendung dan menghalangi pandangan matanya.

"Engkau hanya membuat Nyimas lebih bingung saja menghadapinya anak muda. Ah, apa sih pengalamanmu bercinta, sehingga berani melontarkan petuah-petuah seperti itu?" wanita pengasuh Nyimas Banyak Inten menyela dantak senang atas kata-kata Ginggi yang dianggapnya lancang dan terlalu sembrono memberikan berbagai petuah.

"Barangkali ucapannya ada benarnya, Bibi…" potong gadis itu seperti membela Ginggi.

"Tapi membikin Nyimas tambah ruwet saja. Nyimas berdiri di antara dua tantangan yang amat berat," kata wanita pengasuhnya dengan ucapan serius.

"Dua tantangan berat?" Ginggi mengeryitkan dahi.

"Nyimas juga tengah dilanda kebingungan karena dicinta oleh Sang Susuhunan Pakuan!"

"Bibi!" teriak Nyimas Banyak Inten setengah menjerit dan membelalakkan matanya. Si wanita pengasuhnya pun nampak terkejut dan baru menyadarinya, mengapa dia mengucapkan perkataan seperti itu.

"Ah, dasar engkau bocah tolol! Mengapa kau datang ke sini dan kasak-kusuk bicara soal cinta? Kau yang salah bocah gendeng!" pengasuh menyumpah-nyumpah kepada Ginggi.

Ginggi sendiri tak begitu memperhatikan sumpah-serapah perempuan setengah baya itu, sebab ucapan awal dari pengasuh gadis itu sudah berdebum menimpa hatinya. Serasa menggeletar seluruh urat tubuhnya mendengar penjelasan singkat ini. Nyimas Banyak Inten juga dicintai Raja? Terpukul rasa hati pemuda itu dan serentak semangatnya jatuh seperti sebatang pohon keropos yang dilanda angin kencang.

"Maafkan saya Tuan Putri…" kata Ginggi tak terasa menyebut gadis itu dengan julukan yang sebetulnya tak disukai gadis itu. Tapi pemuda itu tak tahu, permohonan maafnya itu untuk apa. Apakah karena dia sudah berlaku sembrono memberikan petuah-petuah yang belum tentu kebenarannya, ataukah minta maaf karena … karena apa? Ginggi mencoba mengorek-orek sesuatu yang ada di lubuk hatinya. Perasaan apa yang ada di sana mengenai putriBangsawan Yogascitra itu? Bah! Sialan benar! Dasar lelaki tak tahu diri! Apa yang kau rasakan terhadap gadis yang derajatnya ada di langit ke tujuh itu? Engkau seperti siput yang hendak mendaki ke puncak bukit, atau bagaikan anak itik yang akan menyebrangi lautan. Mana mungkin ada burung gagak minta disejajarkan dengan burung merak? Dia pun mencintai Nyimas Banyak Inten? Bah? Berkaca dululah hei lelaki dungu! Teriak Ginggi di dalam hatinya.

"Saya mohon diri … Saya mohon diri … Maafkan saya, Tuan Putri…" berkali-kali Ginggi bicara terbata-bata atau setengah bergumam. Hatinya marah, menyesal juga sedih.

Tanpa mendapatkan jawaban dari gadis itu, Ginggi cepat-cepat menjinjing keranjang bambu dan alat sabitnya, berlalu dari tempat itu.

Tiba di kediaman Suji Angkara, ternyata sudah didapatkan Nyimas Layang Kingkin bercakap-cakap dengan Suji Angkara. Kedua orang kakak-beradik itu terlibat percakapan yang nampaknya amat penting sekali. Ginggi akan segera berjingkat dari tempat itu kalau saja Suji Angkara tak memanggilnya. Maka Ginggi menghampirinya. Sesudah berada di atas beranda berlantai papan jati mengkilap, Ginggi menghadap sambil beringsut, kemudian menyembah takzim.

"Bagaimana, apa kau sampaikan suratku padanya?" tanya Suji Angkara. Terbayang wajah cemas ketika Ginggi memandangnya.

"Ampun Raden, saya tak berani menyampaikannya, di taman banyak orang…" Kata Ginggi sambil melirik ke arah Nyimas Layang Kingkin.

"Bagus! Aku malah khawatir bila surat itu kau sampaikan…" Suji Angkara bernapas lega.

"Tapi seharusnya kau sampaikan surat itu, Ginggi. Biar Nyimas banyak Inten tahu bahwa kakakku menyimpan harapan padanya," kata Nyimas Layang Kingkin menyela.

"Hus, engkau ceroboh Nyimas! Bagaimana mungkin aku berani mati mencintai gadis yang sedang digandrungi Sang Susuhunan?" Suji Angkara menegur adiknya.

"Tapi kanda, di Pakuan ini bertebaran putri cantik. Sang Susuhunan bisa leluasa memilih yang mana saja kalau beliau tahu Nyimas banyak Inten telah ada yang punya," sanggah Nyimas Layang Kingkin menatap tajam kakaknya. Tapi yang ditatap hanya menghela nafas. Ada kerut-merut di dahinya. Mungkin pemuda tampan itu sedang bingung atau mungkin juga tengah berpikir sesuatu. Hanya yang jelas, ada semacam kebimbangan yang mendera hatinya. Barangkali pemuda itu sedang tergoda untuk memikirkan apa yang diucapkan adiknya.

"Entahlah…aku bingung memikirkannya, Dinda," gumam Suji Angkara terpekur.

"Tidak cintakah Kanda pada Nyimas Banyak Inten?" tanya Nyimas Layang Kingkin mendesak.

Ditanya begitu, Suji Angkara menghela nafas. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Sesampainya di tepi jendela, pemuda itu termangu-mangu sambil menatap taman belakang rumahnya. Di sana terhampar lapangan rumput. Tidak begitu luas tapi di sana-sini diberi hiasan-hiasan tanaman bunga beraneka warna. Ada beberapa ekor angsa berjalan-jalan di tepi kolam dan sesekali menjulurkan patuknya ke permukaan tepi kolam.

"Cintaku selalu kelabu, Dinda…" gumam Suji Angkara hampir seperti berbisik dan menyerupai sebuah ucapan untuk dirinya sendiri saja.

"Perjuangkanlah cintamu itu. Kalau Kanda benar-benar mengharapkan kehadiran Nyimas Banyak Inten dalam kebahagiaan hidupmu, jangan melakukannya dengan setengah hati. Raihlah sampai apa yang Kanda cita-citakan berhasil kau dapatkan!" kata lagi Nyimas Layang Kingkin.

"Sudah sejak lama aku mendambakan cintanya. Tapi semakin aku mengharapkannya, semakin besar tantangannya. Untuk mendapatkan gadis itu, aku harus bersaing dengan Raja…" gumam pemuda itu lagi mengeluh. "Tapi Dinda akan selalu berdoa di kuil agar cintamu terlaksana dengan sempurna, Kanda…." ujar Nyimas Layang Kingkin sungguh-sungguh.

"Kau amat baik padaku, adikku. Aku pun akan berdoa setiap waktu agar cintamu tak kurang suatu apa…" kata Suji Angkara menatap wajah Nyimas Layang Kingkin. Tapi gadis itu nampak menunduk lesu sekali pun pada akhirnya dia tersenyum tipis.

Ginggi yang menyimak percakapan kedua orang itu tidak bisa menduga, apa pula yang ada di hati gadis berwajah bulat telur ini. Namun Ginggi serasa punya naluri, bahwa gadis itu pun memiliki sesuatu yang tengah dirahasiakannya.

Percakapan kedua kakak-beradik itu terhenti ketika mereka melirik ke arah Ginggi. Rupanya mereka baru sadar bahwa ada orang ketiga di ruangan itu. Suji Angkara nampak mengerutkan dahi, sepertinya tak senang dengan kehadiran Ginggi di sana.

"Mengapa kau berada di sini, heiduruwiksa ?" tanya Suji Angkara dengan suara sedikit ketus.

"Bukankah saya tadi dipanggil olehmu, Raden?" jawab Ginggi. Suji Angkara tersenyum, sepertinya dia baru ingat bahwa memang tadi dia menahan Ginggi untuk tidak meninggalkan tempat itu.

"Cepat kembalikan daun nipah itu padaku," kata Suji Angkara pada akhirnya. Ginggi menyerahkan surat yang sedianya diserahkan pada Nyimas Banyak Inten.

Lembaran daun nipah yang sudah diikat benang warna hitam itu serta-merta diremasremasnya sehingga hancur. Pemuda itu rupanya belum puas. Dia segera mengambilpaneker danbululunglum, kemudian segera membuat api. Surat daun nipah segera dibakarnya habis. Semua perbuatan Suji hanya disaksikan saja oleh adiknya.

"Aku amat mencintainya. Adakah cara terbaik agar aku bisa memiliki gadis itu…?" gumam Suji pelan tapi nadanya mengandung rasa penasaran amat sangat.

"Ya, Kanda harus memilikinya. Carilah akal yang paling baik. Kita harus berani mengalahkan Sang Prabu tanpa menyakitinya, Kanda…" kata Nyimas Layang Kingkin mendesak dan penuh harap.

***

Malam hari Ginggi tidur sendirian di sebuah ruangan berlantai tanah, berdempetan dengan istal kuda. Malam demikian dingin sebab langit nampak jernih tak terhalang mega sedikit pun. Kalau Ginggi mau menengok ke halaman, suasana sudah demikian sunyi. Hanya suara binatang malam saja yang terdengar di semak-semak.

Di malam yang dingin dan membuat tulang-tulang sumsum terasa ngilu, seharusnya tak membuat betah orang-orang berkeliaran di luar rumah. Barangkali yang paling pantas adalah membungkus tubuh dengan selimut tebal, tidur meringkuk hingga badan melipat, atau bila mereka sepasang suami-istri, maka dinginnya malam mereka usir dengan cara tidur saling peluk. Namun tentu saja tak semua orang telah beruntung menjadi sepasang suami-istri. Seta dan Madi misalnya, entah kapan mereka akan menjadi seorang suami yang mendapatkan kebahagiaan dari istri tercinta di malam dingin seperti ini. Ginggi sendiri tidak pernah mencita-citakan suasana seperti itu. Baginya, punya istri dan membangun rumah-tangga adalah sebuah pekerjaan besar yang amat memerlukan pengorbanan. Menyinta saja tanpa dicinta wanita adalah sebuah siksaan. Tapi, dicinta wanita tanpa bisa membalas cintanya juga sebuah derita. Terbayangdi mata Ginggi wajah gadis pemilik kedai di Tanjungpura. Gadis itu hanya dalam sehari-semalam saja telah berani menyatakan cintanya. Tidak melalui ucapan langsung. Tapi sorotan matanya yang penuh harap, ucapan-ucapannya yang seperti mengikat, segalanya membeberkan perasaan hatinya, "Kalau engkau kembali lagi ke Tanjungpura, ayah amat menantikanmu," kata gadis itu yang sengaja mencegatnya di tengah jalan saat Ginggi akan meninggalkan Tanjungpura.

Mulanya gadis itu mencurigainya sebagi pemuda ugal-ugalan yang senang mengganggu wanita. Namun setelah belakangan terbukti bahwa Ginggi seorang yang sopan terhadap wanita, maka gadis itu berbalik 180 derajat.

Ini derita buat Ginggi, sebab dirinya tak tega membayangkan bahwa gadis itu kini tengah hidup dalam penantian dan harapan kosong. Pemuda itu tak pernah menolak tapi juga tak pernah menjanjikan sesuatu.

Cinta itu sendiri bagi Ginggi hanyalah sebuah kegelapan. Dia tak pernah tahu, apa sebenarnya cinta itu. Seperti kelelawar mencari makanan di malam hari, di saat tak ada cahaya apa pun yang memberi tahu. Kelelawar hanya makan makanan yang dirasa di mulut enak dan manis. Tapi makanan apa itu sebenarnya, dia sendiri pun tak tahu sebab semua yang dimakannya selalu di saat keadaan gelap-gulita. Dan menurut Ginggi, cinta itu sendiri pun gulita. Dia tak tahu, apakah cinta yang dirasakannya benar-benar murni atau palsu belaka. Ginggi teringat kembali peristiwa aib di hutan kecil di Desa Cae setahun lalu. Bersama Nyi Santimi dia terperosok ke jurang cinta yang hanya mementingkan nafsu lahiriyah belaka. Ketika gejolak birahi meninggi dan bergelombang, serasa itulah cinta. Tapi ketika segalanya sudah berlalu, berlalu pulalah perasaan cintanya. Ginggi tak percaya bila yang namanya cinta hanya sebatas kenikmatan lahiriyah saja. Itulah sebabnya, ketika gejolak darah sudahtak menggelegak lagi, pemuda itu segera sadar dari kekeliruannya. Ginggi menyesal. Dan celakanya, rasa sesalnya hanya ditampilkannya lewat perbuatan pengecut. Ginggi lari menghindar dari kungkungan cinta yang dianggapnya palsu, kendati sampai kini dia sebetulnya tak bisa lepas dari kuntitan dosa.

Sekarang perasaan-perasaan yang sebetulnya dibencinya telah mulai lagi merobek-robek hatinya. Tak kepalang tanggung, perasaannya kini tergoda wajah anggun Nyimas Banyak Inten, putri bangsawan yang banyak diperebutkan setiap ksatria Pakuan. Tidak kepalang tanggung, yang memendam rasa dan cita-cita untuk memetik kembang Taman Mila Kancana itu adalah juga Sang Prabu Ratu Sakti, penguasa Pakuan.

Kalau Ginggi tetap bertahan dengan perasaannya yang sebetulnya dianggap menyebalkan ini, berarti dia harus bersaing dengan Raja, dengan banyak ksatria Pakuan, termasuk juga bersaing dengan Suji Angkara. Suji Angkara?

Ginggi serentak bangun dari tidurnya. Dia duduk di atas dipannya. Benarkah Suji Angkara juga menyinta Nyimas Banyak Inten secara sungguh-sungguh? Ginggi memicingkan sepasang matanya karena berpikir keras.

Suji Angkara sejak awal dicurigainya sebagai pemuda misterius. Bukan saja peranannya di Pakuan sebagai apa, tapi juga tindak-tanduknya yang erat kaitannya dengan urusan wanita. Sejak mulai dari Desa Cae setahun yang lalu, Ginggi sudah mendapatkan sesuatu keganjilan yaitu di mana ada Suji Angkara, di situ terjadi peristiwa yang menyangkut wanita. Di Desa Cae, di Tanjungpura dan baru-baru ini di puri milik Bangsawan Yogascitra kendati tidak sempat menjadi peristiwa yang menggegerkan karena baru terpegok Ki Banen. Dan Ki Banen walau pun tidak bisa meyakinkan secara pasti tapi tetap menaruh curiga bahwa Suji Angkarasecara gelap memasuki puri Yogascitra. Ki Banen curiga, Suji Angkara akan ganggu Nyimas Banyak Inten.

Ginggi menjadi bimbang. Mungkin saja dia bercuriga bahwa Suji Angkara gemar berbuat tak senonoh terhadap wanita. Tapi bukankah pemuda itu mengaku bahwa cintanya tulus terhadap Nyimas Banyak Inten. Tapi amat mustahil seorang yang memiliki cinta tulus nekad melakukan hal yang tak senonoh?

Bila mengingat hal-hal yang seperti ini, Ginggi menjadi semakin tak percaya bila Suji Angkara gemar melampiaskan birahi secara jahat. Pemuda itu kaya dan tampan. Sehariharinya senang berpakaian bagus, anak pejabat lagi. Mustahil tak ada seorang wanita pun yang menyintainya secara benar terhadapnya. Mustahil tak ada wanita yang mau melayani cintanya secara wajar sehingga memaksa pemuda itu melakukan tindakan tak senonoh. Ya, bisa saja seorang lelaki melakukan tindakan berahi secara tak terpuji bila dia sudah merasa bahwa dirinya rendah, takut tak dihargai bahkan takut dibenci wanita. Mungkinkah pemuda itu mempunyai perasaan rendah diri seperti yang Ginggi pikirkan?

Ginggi mengingat-ingat obrolannya beberapa waktu lalu dengan pemuda itu. Tidak, Suji Angkara sebenarnya tidak punya sikap rendah diri. Dia adalah lelaki yang selalu ceria tapi sedikit angkuh. Bila di hadapan umum dia selalu menampilkan dirinya sebagai kaum bangsawan yang terhormat, pandai menjaga diri dan taat kepada etika kebangsawanannya. Di hadapan umum dia adalah benar-benar seorang bangsawan yang pandai membawa diri, hormat terhadap sesama juga terhadap wanita.

Sampai di sini, Ginggi tersentak kaget. Suji Angkara benar-benar pandai menjaga kehormatan di hadapan umum. Ya. Di muka umum. Kalau di belakang bagaimana?

Ginggi jadi teringat ucapan Nyi Santimi di Desa Cae dulu yang mengatakan takut terhadap perangai Suji Angkara.

"Raden Suji bila di muka orang banyak nampak sopan terhadap wanita, tapi bila kebetulan sedang berduaan matanya tajam sedikit jalang, sepertinya sorot matanya sanggup menembus pakaian dan menjilati seluruh tubuh yang dilihatnya. Mulutnya senyum meyeringai dan nafasnya sedikit memburu, membuat bulu kuduk merinding," kata Nyi Santimi ketika itu.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 14"

Post a Comment

close