coba

Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 07

Mode Malam
Jilid 07  

Pengiriman seba dari wilayah-wilayah yang diakui Cirebon sebagai wilayah mereka jelas akan ditentang mereka. Kata Ki Banen, jangankan melakukan perjalanan membawa seba secara terang-terangan di wilayah utara, menumpang lewat saja ke Sumedanglarang, rombongan ini tak berani melakukannya.

"Selepas Wado kemarin dulu misalnya, kita tak berani mengambil jalan bagus sebab harus melewati Pasanggrahan dan Ciguling, ibukota Karatuan Sumedanglarang. Berani masuk ke pusat wilayah mereka, kita akan menghadapi berbagai hambatan," kata Ki Banen.

Sebelum matahari ada di atas kepala, rombongan sudah tiba di jalan bercagak tepi sungai. Satu lurus ke timur menuju wilayah kandagalante Sumedang, satunya menyebrang Sungai Cipeles menuju utara ke Sagaraherang.

Di jalan bercagak ini memang terdapat sebuah gardu tempat orang beristirahat. Tapi tidak seperti dikatakan Suji Angkara, ternyata di sini tidak diketemui seseorang yang mengaku utusan Ki Banaspati. Gardu itu kosong.

"Kita terlambat satu hari, sebab seharusnya kita tiba disini kemarin pagi," kata Suji Angkara kemudian.

"Jadi, kita mesti bagaimana Raden?" tanya Ki Ogel.

"Kita lanjutkan perjalanan sampai ke Sagaraherang saja,’ katanya. Yang mendengarkan perkataan Suji Angkara saling pandang satu sama lain.

"Raden, orang-orang kita ini tidak dipersiapkan untuk melakukan perjalanan sejauh itu. Mereka hanya bertugas sampai selepas Sumedanglarang saja," kata Ki Banen. "Boleh, siapa yang tidak siap ikut denganku?" tanya Suji Angkara sambil meneliti tiap-tiap orang. Tapi tidak seorang pun berani berkata tidak. Tidak pula Ki Banen.

"Saya siap mengikuti anda ke mana saja, Raden," kata Seta bersemangat.

"Saya pun siap bersama anda apa pun yang terjadi!" Madi tak kalah semangatnya. Suji Angkara menyipitkan mata dan melihati setiap wajah anak buahnya. Semuanya nampak mengangguk-angguk tanda siap.

"Hei, kamu anak bodoh, bagaimana?" Suji Angkara menatap ke arah Ginggi.

"Aku juga siap sampai mati!" teriak Ginggi bersemangat. Suji Angkara tersenyum mendengarnya.

"Ternyata tak ada yang pengecut melakukan perjalanan jauh, Paman Banen," kata Suji Angkara tersenyum kecil. Ki Banen menunduk.

Dan akhirnya perjalanan dilanjutkan menyebrangi jembatan gantung Sungai Cipeles.

Perjalanan menuju utara juga terasa sangat berat kendati tidak seberat di hutan jati wilayah Wado.

Daerah utara sebetulnya merupakan wilayah dataran rendah. Dan kian ke utara kian rendah sebab menuju pantai. Tapi sebelum tiba di dataran rendah, perjalanan akan melewati wilayah pegunungan hutan pinus dan cemara yang amat lebat. Di beberapa tempat, jalan pedati akan melalui lembah dan ngarai di mana matahari tidak bisa tembus ke bumi.

Rombongan harus berkejaran dengan waktu dan Suji Angkara tak memperkenankan matahari lebih tiba sampai di barat dibandingkan dengan rombongannya. Untuk itu, dia memerintahkan agar rombongan berjalan cepat.

Misteri Terkuak

Keinginan pemuda tampan ini memang bisa dilaksanakan sebab kondisi jalan di daerah ini sedikit lebih baik ketimbang tempat-tempat yang sudah dilalui. Jalan pedati di daerah ngarai, kendati berkelok-kelok dan turun naik tapi permukaan jalan sedikit rata dan memudahkan roda pedati untuk menggelinding dengan mudah.

Hanya satu kali saja ada gangguan di perjalanan yaitu ketika ke tengah jalan melintas seekor ular yang cukup besar. Oleh mereka, ular itu dibunuh ramai-ramai dan dagingnya dipanggang.

Menjelang senja hari, rombongan sudah berhasil melintasi hutan perbukitan dan mereka tengah menempuh perjalanan menurun menuju daerah dataran rendah.

Sebelum matahari benar-benar tenggelam, rombongan sudah tiba di wilayah Kandagalante Sagaraherang. Lawang kori (gerbang) yang sedianya akan segera ditutup, harus menunggu mereka masuk. Sejenak rombongan mendapatkan pemeriksaan. Dan tak berapa lama kemudian petugas mengizinkan rombongan ini memasuki pintu gerbang.

"Ki Banaspati sudah lama menunggu kedatangan rombongan kalian," kata jagabaya. Bergetar dada Ginggi mendengarnya. Mengapa tidak begitu, sebab ini adalah pertemuan pertama dengan orang yang menjadi murid Ki Darma. Melalui Ki Banaspati ini, Ginggi akan segera mendapat petunjuk dan pengarahan perihal tugas-tugas yang dibebankan Ki Darma padanya.

Namun kendati demikian, pemuda ini tetap akan bersifat hati-hati dan tak akan begitu saja memperkenalkan diri. Dia tetap teringat akan teriakan pimpinan perampok di hutan jati bahwa mereka anak buah Ki Banaspati. Biarlah.

Yang disebut Ki Banaspati ini ternyata seorang lelaki setengah baya berusia kurang lebih limapuluh tahun. Lelaki ini nampak gagah dan berwibawa. Tubuhnya tinggi besar dan dadanya bidang. Dia berpakaian seperti bangsawan, menggunakan pakaian bedahan lima jenis beludru coklat. Celanakomprang hitam dengan ornamen warna emas. Pinggangnya dililit ikat pinggang terbuat dari kulit rusa, indah dan gagah. Sedangkan kepalanya ditutup bendo citak dari kain batik corakhihinggulan . Yang membuat Ki Banaspati lebih berwibawa adalah juga penampilan wajahnya. Matanya tajam berkilat, sepasang alis tebal melengkung seperti golok dan hidungnya mancung agak melengkung. Ada kumis tipis di atas bibir menambah kegagahannya.

Ki Banaspati duduk bersila di ruangan tengah yang cukup luas dengan lantai mengkilat terbuat dari papan jati. Di sampingnya duduk seorang lelaki setengah baya lainnya tapi dengan penampilan tak kalah gagahnya. Atau malah bisa juga lebih gagah Mungkin karena jenis pakaiannya lebih mewah, di mana baju bedahan tengah yang dikenakannya terbuat dari bahan antik yang bukan dibuat di Pajajaran. Kalau Ginggi pernah mengenalnya, jenis kain yang digunakan untuk baju bedahan tengah ini hanya dipakai oleh para saudagar yang sering berhubungan dengan saudagar bangsa asing saja, sebab jenis kain yang didapat merupakan hasil pertukaran dengan barang-barang keperluan yang mereka butuhkan dari bumi Pajajaran.

Lelaki ini juga memakai tutup kepala berupa bendo citak dengan motif batik warna lain. Hanya bedanya, tepat di bagian depan bendo, dihiasi ornamen logam warna emas, sehingga ketika lampu minyak kelapa yang digantung di ruangan tengah menerangi, ornamen itu memantulkan warna-warna gemerlap. Wajahnya agak bulat telur, berkulit putih bersih dan ada kumis tebal di bawah hidungnya yang sedikit macung.

Ki Banaspati memperkenalkan lelaki ini sebagai Ki Sunda Sembawa, seorang pejabat berpangkat Kandagalante ( setingkat wedan untuk masa kini-pen)yang mengusai wilayah Sagaraherang.

Hanya lima orang yang berkenan duduk di ruang tengah menghadap Ki Sunda Sembawa dan Ki Banaspati, sebab yang lain-lainnya termasuk Ginggi, duduk bersila ditepas (beranda) saja.

"Terima kasih engkau berhasil mengawal barang seba hingga ke tujuan," kata Ki Banaspati kepada Suji Angkara. Suji Angkara mengangguk hormat sebagai tanda terima kasih bahwa tugasnya dihargai.

"Berkat doa Ki Banaspati, kami bisa selamat sampai di Sagaraherang, kendati di tengah jalan mengalami gangguan pengacau," ujar Suji Angkara. Berkerut alis Ki Banaspati mendengar laaporan ini. "Kami dihadang perampok di tengah hutan jati wilayah Wado," kata Suji Angkara lagi. "Perampok di hutan jati?" Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa terkejut dan saling pandang.
"Benar. Tapi yang mengagetkan kami, para perampok mengaku di bawah kendali Ki Banaspati. Kami secuil pun tidak mempercayainya. Namun begitu, kami akan tetap meminta penjelasan perihal ini," kata Suji Angkara masih bernada hormat tapi tegas.

Untuk kedua kalinya, Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa saling pandang dengan alis berkerut. Nampak sekali kedua orang ini amat terkejut.

"Aku Bersyukur kalian tiba dengan selamat dan dapat menghalau penjahat. Tapi kalian harus percaya sepenuhnya, bahwa pengakun orang-orang jahat itu fitnah belaka," kata Ki Banaspati dengan wajah geram.

Ki Sunda Sembawa pun menampakkan kegeraman, wajahnya yang putih bersemu merah dan bibirnya dikatupkan.

"Kau harus percaya anak muda, bahwa baik kepada Ki Banaspati, maupun kepadaku, ada kelompok-kelompok yang tidak suka. Mereka tidak suka bila kami berpengaruh di daerah sini. Mereka juga tidak suka kami masih tetap menjalankan kebijaksanaan memungut seba untuk Pajajaran. Mungkin kau tahu, di sini daerah apa dan siapa kira-kira yang tidak senang kepada kami," kata Ki Sunda Sembawa.

Suji Angkara mengiyakan.

"Wilayah Kandagalante Sagaraherang memang berbatasan dengan wilayah utara yang dikuasai orang-orang Cirebon. Mereka selalu membuat hambatan agar kita tak mengirimkan seba ke Pakuan," kata Suji Angkara.

Ki Banaspati dan Ki sunda Sembawa sama-sama menggangguk tanda membenarkan pendapat anak muda itu.

"Tapi, mungkinkah mereka menyamar sebagai perampok, padahal mereka mengaku sudah mempercayai agama baru dan pantang melakukan kejahatan?" sambung Suji Angkara meminta pendapat.

Sejenak Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa tak bisa mengeluarkan komentar.

"Sekarang mereka bukan berbicara atas nama agama, akan tetapi bergerak untuk kepentingan politik. Tahukah engkau peristiwa puluhan tahun yang lalu di mana Banten dan Cirebon mengepung serta merebut Pelabuhan Sunda Kalapa? Apakah mereka menyerang dan merampas Sunda Kalapa dari tangan Pakuan karena urusan agama? Tidak! Mereka melakukan kesemuanya karena kepentingan politik semata. Kalau bicara atas nama agama, tak nanti mereka menyengsarakan penduduk Sunda Kalapa dan menutup lalu-lintas perdagangan antar pulau sehingga masa depan Pajajaran terhambat karenanya," kata Ki Sunda Sembawa dengan nada tinggi. Ki Banaspati mengangguk-angguk mengiyakan. Yang hadir juga sama mengangguk-angguk tanda setuju dengan pendapat itu, kecuali Ginggi yang tetap diam mematung. "Kalau begitu, menurut Ki Banaspati, bisa juga perampok di hutan jati itu orang-orang yang sudah masuk pengaruh Cirebon," kata Suji Angkara.

"Bisa juga begitu. Dan supaya namaku buruk, mereka memfitnah seolah-olah perampokan itu dilakukan di bawah perintahku. Begitu kan, Ki Kandagalante?" kata Ki Banaspati kepada Ki Sunda Sembawa.

"Kalau begitu adanya, saya bersyukur. Dengan demikian, tugas yang saya berikan ini tidak percuma," kata Suji Angkara menatap tajam Ki Banaspati. Yang ditatap balas menatap. Dan untuk beberapa lama mereka saling tatap. Ki Banaspati yang duluan memalingkan muka. Dia berpaling sambil tersenyum tipis penuh arti.

Mereka berbincang-bincang beberapa waktu lamanya, sampai akhirnya semua orang akan disuguhi makanan.

Sudah barang tentu semua anggota rombongan, terutama yang bertugas memikul dongdang amat suka cita dengan rencana acara makan ini. Menurut seseorang yang pernah datang ke Kandagalante Sagaraherang, Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa doyan makanan yang enak-enak

Dan benar saja dugaannya. Mereka dibawa ke ruangan khusus, yaitu sebuah bale kambang (bangunan terbuka seperti mengambang di tengah kolam) yang amat benderang karena penerangan api yang dipasang di sana-sini.

Yang menggembirakan mereka, bukan karena benderangnya suasana bale kambang, tetapi karena meja panjang yang digelar di sana. Meja panjang itu sarat dengan berbagai penganan. Ada nasi putih beberapa bakul dengan kepulan asapnya yang memikat selera makan. Ada macam-macam daging, mulai dari panggang daging ayam, kambing, sampai panggang ikan mas. Ada buah-buahan mulai dari buah dukuh, rambutan dan durian, sampai buah pisang yang ranum-ranum.

"Ayo, semua makanan untuk kalian!" seru Ki Banaspati yang disambut oleh teriakan gembira dari semua anggota rombongan.

Ginggi juga termasuk yang berteriak keras saking gembiranya. Betapa tidak, sebab selama ini dia hanya makan jenis makanan yang sederhana saja. Ketika dijamu Kuwu Wado memang ada makanan enak tapi tidak semewah yang disediakan disini.

"Ha, ini minuman apa?" Ginggi menyemput sebuah kendi kecil tapi berbau harum.

"Hus! Jangan dulu ambil minuman itu!" kata Ki Ogel menarik tangan Ginggi dan menyuruhnya menyimpan kembali minuman itu.

"Mengapa jangan diminum, aku haus sekali" kata Ginggi. "Itu tuak, kau bisa mabuk dibuatnya."
" Tuak?" "Tuak adalah jenis minuman keras. Yang tidak biasa minum akan mabuk, bicara mengacau karena tidak sadarkan diri," kata Ki Ogel.

"Kalau membuat orang tak sadar, mengapa disiapkan untuk diminum?"

"Aaaah! Bawel kamu. Dasar anak tolol! Sudah, yang penting kamu makan ini!" kata Ki Ogel sambil membenamkan paha ayam ke mulut Ginggi yang masih melongo. Ginggi kelabakan dan membuat orang yang menyaksikan tertawa dibuatnya.

Semua makan-makan sepuasnya. Kegembiraan kian bertambah sesudah hadir beberapa wanita muda dengan paras yang elok-elok. Kata pelayan pria yang ada disana, wanita-wanita muda ini pun ditugaskan melayani mereka.

"Apa yang kalian minta dari gadis-gadis cantik ini, pasti diserahkan," kata seorang lelaki bertubuh gempal. Mendengar penjelasan ini, semua orang bersorak riang.

Ginggi sibuk dengan berbagai makanan di mulutnya dan tak begitu memperhatikan para gadis cantik berkebaya dengan tonjolan buah dada menantang itu. Tapi ketika perutnya mulai kenyang, dia mulai melihat sekeliling. Teman-temannya sudah berhenti makan dan sekarang beralih kepada minuman di kendi-kendi kecil itu. Mereka minum banyak-banyak. Kian banyak meminum, kian kasar dan tak punya malu kelakuannya. Beberapa dari dari mereka bahkan tak canggung-canggung memeluk gadis cantik-cantik itu. Beberapa orang bahkan berani mencium pipi sang gadis, membuat Ginggi malu melihatnya. Tapi anehnya, gadisgadis itu tidak tersinggung sedikitpun. Bahkan beberapa di antaranya tersenyum-senyum dengan genitnya.

Para anggota rombongan pengirim seba kebanyakan berusia muda, jadi wajar bila mereka begitu bergairah berdekatan dengan gadis-gadis cantik. Akan tetapi Ginggi memuji kepada pendirian pemuda Seta. Dia tak tertarik terhadap suasana romantis ini. Ketika dia dihampiri seorang wanita muda dan duduk merapat di sisinya, Seta malah menggeser duduknya, Seta malah berusaha melepaskannya.

"Ih, sombong betul. Apakah saya kurang cantik, Kakang?" wanita muda itu mendelik tapi senyumnya masih nampak.

"Maaf Nyai, saya sudah punya tunangan. Tunangan saya malah sedang sakit. Tak baik saya di tempat jauh berlaku tak setia kepadanya," kata Seta serius, membuat Ginggi kagum sekaligus malu. Si Seta ini sehari-harinya angkuh tapi ternyata dia memiliki kesetian terhadap sesuatu yang bernama ikatan jodoh.

"Ih, kuno, lelaki kuno!" teriak wanita muda itu sambil ngeloyor pergi.

"Kemana dia pergi? Ah, seperti ke arah sini. Bahaya aku!" Gumam Ginggi berjingkat meninggalkan kehiruk-pikukan ini.

Gadis-gadis di sini nampaknya lebih berani dan terbuka, tidak seperti Nyi Santimi misalnya, selalu nampak pemalu dan penuh ragu. Akan tetapi bagi Ginggi, baik gadis-gadis pemberani ini, mau pun gadis pemalu seperti Nyi Santimi, toh kalau dilayani akan berakhir sama menciptakan banyak urusan baginya. Itulah sebabnya, pemuda itu lebih baik nyeloyor pergi, menjauhkan diri dari gejala-gejala tak baik ini. Ginggi keluar dari tempat romantis di tengah kolam ini. Di luar udaranya agak segar, tidak sepanas di bale kembang. Dia duduk di sebuah bangku tepi kolam dan hanya menyaksikan tingkah polah teman-temannya yang kian menggila bersama para wanita muda genit itu.

Matanya meneliti, yang ramai-ramai bergembira di tempat itu hanya teman-temannya saja. Dia baru menyadari bahwa Suji Angkara tak ada di sana. Begitu pun Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa. Ginggi mengingat-ingat, memang pertama kali dia dan teman-temannya memasuki bale kembang, Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa tidak ikut bersama. Tapi Suji Angkara ada duduk dan makan-makan. Mungkin ketika selesai makan, di mana acara beralih kepada minum-minuman keras, Suji Angkara meninggalkan tempat itu. Tapi ke mana dia?

Ginggi berdiri dari duduknya. Dengan menghilangnya pemuda itu menjadikan ide baginya. Entah pergi ke mana Suji Angkara. Yang jelas, dia pun harus pergi. Entah apa yang tengah dikerjakan Suji Angkara. Tapi yang jelas, Ginggi harus melakukan sesuatu di sini.

Tujuan utama mengikuti rombongan seba ini karena dia ingin menyelusuri di mana keempat murid Ki Darma berada. Sekarang, salah seorang di antaranya diduga sudah bisa dia temukan walau pun masih jadi keraguan dirinya. Betulkah Ki Banaspati yang dimaksud Ki Darma adalah Ki Banaspati yang berada di tempat ini dan sekarang menjadi orang penting?

Ginggi belum mendapatkan keterangan yang sejelasnya kendati sudah bertemu dengan orang itu. Untuk mendapatkan keyakinan, dia harus menyelidikinya.

Teringat sampai di situ, maka sambil menoleh ke kiri dan kanan, pemuda itu segera berlalu setelah tahu bahwa tak ada orang lain yang memperhatikan dirinya.

***

Ginggi meneliti, kompleks rumah yang dimiliki Kandagalante Ki Sunda Sembawa demikian megah dan besar. Bangunan tempat dia tinggal merupakan bangunan utama. Seluruhnya terbuat dari bahan-bahan kayu terpilih, mengkilat karena halus. Atapnya terbuat dari sirap, tersusun rapi bagaikan bulu burung garuda dan berwarna legam. Bangunan utama itu dikelilingi oleh beberapa bangunan lainnya. Ginggi meneliti bangunan-bangunan lain yang ukurannya lebih kecil. Ada sebuah bangunan beratap rumbia berupa panggung tapi amat jangkung. Bangunan besar itu disangga balok-balok kayu besar dan kokoh. Ginggi meloncat ke atas atap dengan mengerahkan tolakan kaki dan ilmukapas ngapung semacam ilmu untuk membuat tubuh menjadi ringan. Sesudah tubuhnya menclok tanpa bunyi di atap, dia mencoba membuka lapisan rumbia sedikit. Ternyata di dalam gelap gulita, kecuali tercium dedak padi. Tak ada orang di sana sebab bangunan ini adalah lumbung padi.

Ginggi kembali meloncat turun dan meneliti bangunan-bangunan lain. Sampai pada suatu saat dia tiba di sebuah bangunan yang amat kokoh.

Berbeda dengan bangunan-bangunan lainnya, bangunan ini tidak berbentuk panggung sebab keempat dindingnya langsung menyambung dengan tanah. Dari celah-celah dinding kayu, Ginggi berkeyakinan di dalam ada penerangan, walau pun remang-remang saja. Lebih yakin dari itu, Ginggi mendapatkan bahwa di ruangan itu ada orang sedang berbincang-bincang.
Atau lebih tepatnya lagi, ada seseorang tengah memarahi orang lain. Siapakah dia, Ginggi perlu melihat lebih jelas. Untuk itu dia segera meloncat kembali ke atas atap dan mencoba membuat lubang kecil pada lapisan atas sirap.

Begitu pandangannya melihat ke bawah, pemuda itu merasa terkejut sebab Ki Banaspati dan Kandagalante Sunda Sembawa tengah memarahi seseorang. Ginggi tak akan demikian terkejut bila dia tak kenal siapa orang yang dimarahinya itu. Orang itu ternyata pimpinan perampok yang tempo hari mencegat rombongan Suji Angkara. Pemuda itu hafal betul, sebab di pipi kiri orang itu ada goresan luka bekas serangan Suji Angkara.

"Sialan! Dasar kau brengsek! Bodoh! Tolol! Kau membahayakan gerakan kita!" kata Ki Banaspati.

Dan, plak, plak, plak! Orang itu tersungkur mencium lantai tanah. Ketika bangun, wajahnya berkelepotan darah.

"Ampun Gusti. Hamba tak tahu bahwa itu rombongan seba yang dikawal anak muda itu. Hamba hanya mengira, mereka rombongan saudagar yang akan mengirim barang-barang dagangan ke Sumedanglarang!" kata orang itu terbata-bata.

"Dasar manusia dungu! Harusnya kau berpikir, tak mungkin saudagar mengambil jalan sunyi. Kalau mereka semua mati olehmu dan barang-barangnya dapat kau rebut, itu tak mengapa.
Tapi celakanya, mereka selamat dan mengalahkan kamu. Kalau mereka tahu akan hal ini dan melapor ke Pakuan, kau bisa apa?" kata Ki Sunda Sembawa sama marahnya.

"Ampunkan hamba, Gusti….." kata orang itu sambil tubuh masih merunduk hingga hampir rata dengan tanah.

"Satu kali lagi kamu membuat kesalahan serupa, nyawa tak berhargamu akan kucabut!" kata Ki Banaspati dengan suara dingin. Orang itu membentur-benturkan jidatnya ke atas tanah tanda mengerti ancaman ini.

"Ayo sudah! Keluar kamu!" kata Ki Banaspati menendang bokong orang itu. Dengan tergopoh-gopoh dia membuka pintu keluar. Tapi belum juga dia melangkah, dari arah luar masuk seseorang.

Suji Angkara!

Nampak oleh Ginggi dari sela-sela lapisan atap sirap, betapa ketiga orang terkejut setengah mati.

"Kau anak muda…" desis Ki Banaspati.

"Akhirnya aku tahu apa yang berlangsung di sini…!" kata Suji Angkara dingin, mencoba menahan kemarahan.

Ucapan ini tidak dijawab dengan perkataan, melainkan gerakan menyerang dari Ki Banaspati. Serangan itu cepat dan keras serta tidak memberikan peringatan terlebih dahulu. Serangan itu pun terlihat ganas dan langsung mengarah ke ubun-ubun Suji Angkara. Ginggi terkejut melihat serangan ini. Ki Banaspati menyerang dengan tangan kiri serta dua jari mengarah tajam hendak menyerang ubun-ubun.

Bagaimana Ginggi tidak terkejut sebab itulah gerakan maut yang biasa dilatihnya dengan Ki Darma. Hanya bedanya, bila Ginggi melakukan serangan dengan menggunakan tangan kanan terbuka lebar, adalah sebaliknya dengan Ki Banaspati. Dia mendahulukan serangan dengan dua jari maut tangan kiri.

Suji Angkara amat terkejut menerima serangan ini. Secepat kilat dia merunduk sambil menangkis tusukan dua jari itu. Namun begitu dua tangan beradu, anak muda itu menjerit ngeri dan seperti menderita kesakitan di bagian pergelangan tangan. Belum juga habis rasa kagetnya, sebuah serangan tangan kanan dengan jari-jari mengembang lebar segera mendorong jidatnya. Plak! Tubuh Suji terlontar ke belakang karena jidatnya terdorong oleh tenaga kuat dari telapak tangan Ki Banaspati. Suji Angkara tubuhnya terjengkang ke belakang dan tak mampu bangun lagi.

"Tenggelamkan dia ke kolam, agar seolah-olah ia mati karena mabuk dan terbenam di sana," kata Ki Banaspati. Anak buahnya yang baru didamprat tadi segera menyeret pemuda pingsan itu. Dibawanya jauh dari tempat itu.

Ginggi secepat kilat turun dari atap sirap. Dengan gerakannapak-sancang , yaitu ilmu berlari cepat tanpa mengeluarkan bunyi, pemuda itu menguntit orang yang memanggul tubuh Suji Angkara secara diam-diam dan tanpa kakinya mengeluarkan bunyi sedikitpun.

Orang itu ternyata memanggul tubuh itu ke kolam lain, jauh dari bale kambang. Namun sebelum tubuh Suji Angkara dicemplungkan ke kolam, Ginggi segera mengambil tindakan cepat. Dengan pukulan telak di tengkuk, orang itu tersuruk jatuh tanpa bersuara dan tak bisa bangun lagi. Pukulan itu tepat mengarah jalan darah di tengkuk.

Sesudah melumpuhkan orang itu, Ginggi mengurut-urut leher Suji Angkara, sehingga tak berapa lama kemudian pemuda itu menggerak-gerakan tubuhnya.

Ginggi memencet kulit tenggorokanya dan berbicara, "Cepat ajak semua temanmu untuk meninggalkan tempat ini!" katanya. Sesudah itu Ginggi pergi dengan cepat.

Dia berlari menuju bangunan besar di mana barusan terjadi peristiwa yang membuat dirinya terkejut.

Mencoba Bergabung

Ketika dia tiba, Ki Banaspati baru saja akan meninggalkan tempat itu bersama Ki Sunda Sembawa.

Ginggi yakin, Ki Banaspati adalah murid Ki Darma, terbukti dari jurus berkelahi yang dia tampilkan ketika menyerang Suji Angkara. Pemuda itu harus meyakinkan dirinya bahwa dia punya hubungan dengan Ki Darma. Maka, empat depa sebelum tiba di depan Ki Banaspati, dia segera melompat menotol tanah. Dua jari tangan kiri menusuk dan telapak tangan kanan mengembang. Nyata sekali ada rasa terkejut di wajah Ki Banaspati. Mungkin bukan terkejut karena itu sebuah serangan maut, tepi terkejut karena bentuk gerakan serangan itu.

Sambil wajah menampakkan keheranan, dengan mudah saja Ki Banaspati melayang ke atas sehingga kedudukannya berada tepat di atas tubuh Ginggi. Pemuda itu juga tahu, inilah cara menangkis seranganwalet notol yang biasa dilatihkan Ki Darma kepadanya. Dan seharusnya, sesudah melayang ke atas untuk memunahkan serangan juruswalet notol , tubuh harus bersalto. Ketika bagian kepala ada di bawah, Ki Banaspati harus melancarkan serangan balasan dari atas. Yang jadi sasaran serangan mestinya punggung atau bagian belakang tubuh Ginggi. Namun pemuda itu merasakan, Ki Banaspati tidak berniat membalas serangan. Dia hanya melayang begitu saja dan kembali turun ke atas tanah dengan lembutnya.

Kini Ginggi mengubah serangan dengan jurus baru. Tubuhnya mendekam seperti harimau. Sepasang tangannya menahan tanah dengan hanya menggunakan semua kuku-kukunya.
Sesudah mengelurakan gerengan dahsyat, sepasang tangan itu menotol bumi berlari cepat satu sampai dua tindak. Setelah itu dengan loncatan yang ringan tapi secepat gerakan harimau, Ginggi menerkam tubuh Ki Banaspati.

"Maung luncat muru mencek(Harimau Memburu Menjangan)…" desis Ki Banaspati mengenali jurus ini sambil tubuh doyong ke belakang dan terus ke belakang hingga akhirnya punggung Ki Banaspati rata merapat di permukaan tanah.

Menurut teori yang dibebankan oleh Ki Darma, seharusnya bila menerima serangan ini, Ki Banaspati bukan hanya menghindar dengan mentelentangkan tubuh saja, tapi harus terus berguling seperti trenggiling sambil membalas serangan dengan tangan dan kaki. Namun Ginggi tahu, Ki Banaspati tak mau melakukan serangan balasan. Rupanya dia hanya ingin mengenal lebih dekat saja gerakan-gerakan ini.

Pemuda itu akan segera melakukan serangan susulan, tapi sebelum Ginggi membentuk pasangan kuda-kuda baru, Ki Banaspati sudah meloncat pergi.

"Ki Sunda, kau tunggu saja aku di bale gede," kata Ki Banaspati. Dia segera menghilang di kegelapan tapi sengaja memperlambat larinya supaya diikuti Ginggi.

Ginggi mengerti maksud Ki Banaspati. Dia pun segera menyusul ke kegelapan malam.

Dan Ki Banaspati memang bukan melarikan diri. Sebab di sebuah lapangan terbuka dia telah menunggu kehadiran Ginggi.

Keduanya sudah saling berhadapan. Ki Banaspati menatap di keremangan sambil bertolak pinggang.

"Kau siapa?" tanyanya.

"Aku suruhan dari Ki Darma!" jawab Ginggi. Ki Banaspati melirik ke kiri dan kanan. "Di muka umum kau jangan sebut nama itu!" kata Ki Banaspati.
"Mengapa?" tanya Ginggi heran. Kini giliran Ki Banapati yang nampak heran.

"Kau mengaku suruhan Ki Guru tapi tidak tahu perihal dirinya!"

"Aku hanya kenal dia telah merawatku selama sepuluh tahun. Suka menyendiri dan tegas dalam berbicara. Lain dari itu aku tak kenal dia," kata Ginggi pula.

"Biarlah kalau kau tak tahu. Tapi satu hal harus kau ingatkan, amat berbahaya di dunia luar membawa-bawa nama Ki Guru. Begitu bila kau ingin selamat," kata Ki Banaspati. "Sekarang, coba kau sebutkan siapa namamu dan apa keperluanmu menemuiku," kata pula Ki Banaspati.

Ginggi terdiam sejenak. Ki Banaspati ini murid Ki Darma. Sedikitnya orang ini harus merasa punya hubungan dekat dengan Ginggi. Namun pemuda itu heran, tak sedikit pun ada sambutan hangat kepadanya. Ki Banaspati bahkan seperti penuh curiga dalam menyambut kehadiran dirinya. Tidakkah ini karena Ki Banaspati merasa punya satu pekerjaan yang orang lain tak boleh tahu, misalnya seperti apa yang telah membuat kemarahan Suji Angkara?

"Aku diutus turun gunung oleh Ki Darma dan ditugaskan mengawasi perkembangan bumi Pajajaran, terutama yang menyangkut nasib rakyat, seperti apa yang Ki Darma tugaskan kepada keempat muridnya. Dan untuk bisa menjalankan tugas ini, aku harus meminta petunjuk dan pengarahan dari keempat murid Ki Darma. Salah satu di antaranya, engkaulah," kata Ginggi menatap wajah Ki Banaspati yang nampak mengangguk-angguk tapi entah apa maksudnya.

"Ya, betul! Aku punya misi menjalankan perintah guru. Juga ketiga saudara perguruanku yang sampai saat ini aku tak tahu berada di mana," gumam Ki Banaspati.

"Kalau begitu aku minta petunjukmu, asal kau tidak beri aku tugas merampok!" kata Ginggi tak berbasa-basi. Mendengar ucapan ini, Ki Banaspati mundur setindak. Secara tak sadar dia memegang hulu gagang senjata yang diselipkan di pinggangnya.

"Kau?"

"Aku tahu ada perampokan di hutan jati sebab aku ikut rombongan Suji Angkara!" kata Ginggi.

"Kau anak buahnya?"

"Bukan, hanya kebetulan saja melakukan perjalanan bersama. Tapi apa betul perampok itu di bawah kendalimu?" tanya Ginggi masih tak mengerti keadaan. Dia bingung menyimak sikap Ki Banaspati ini. Menurut bayangannya, Ki Banaspati ini pembela rakyat seperti apa yang diperintah Ki Darma. Namun kenyataannya, di malah jadimuhara kerajaan yang bertugas menghimpun pajak dari rakyat. Sekurang-kurangnya begitu yang dikatakan oleh Ki Banen tempo hari. Tapi belakangan, Ki Banaspati juga bertindak sebagai orang jahat. Sekurangkurangnya begitu yang dia saksikan dalam percakapan antara Ki Banaspati dengan anak buahnya yang dia lumpuhkan tadi. Jadi, siapa sebenarnya Ki Banaspati yang begitu erat dengan petugas negara seperti Kandagalante Sunda Sembawa namun juga bertindak sebagai "kepala perampok" itu? Ginggi bingung memikirkannya. Baru turun gunung kurang dari seminggu, dia sudah dapat hal-hal yang misterius. Ada penjahat pemerkosa yang entah siapa, ada Suji Angkara dan sekarang Ki Banaspati, yang kesemuanya masih menyimpan kabut misteri.

Terdengar Ki Banaspati terkekeh. Dia membalikkan badan dan berdiri membelakangi pemuda itu.

"Itulah pengorbanan bagi seorang pejuang," katanya dengan suara seperti memendam kepedihan menyayat. "Untuk membela rakyat, aku harus pura-pura mengabdi kepada raja. Juga untuk membela rakyat, aku pun harus pura-pura dan menghinakan diriku menjadi rampok."

"Aku tak mengerti sikapmu," kata Ginggi. Ki Banaspati kembali berbalik dan menatap wajah pemuda itu.

"Kau tahu, aku bertugas sebagaimuhara , bekerja mengumpulkan pajak. Tapi, apakah kau tahu pula dikemanakan hasil pajak itu aku bawa? Tidak! Aku tidak menyetorkan ke Pakuan tapi aku himpun sendiri. Sebagian aku kembalikan kepada rakyat dan sebagian kukumpulkan dan bila menjadi besar akan kugunakan untuk melawan raja!’ kata Ki Banaspati.

Ginggi masih menunggu ucapan Ki Banaspati lebih lanjut.

"Kau pun tahu, aku memimpin perampok. Tapi apakah kau tahu pula, siap yang aku rampok?" "Apakah kau merampok rakyat juga?" tanya Ginggi.
"Tidak, yang aku rampok adalah kaum bangsawan, pejabat negara dan para tuan tanah yang suka memeras kehidupan rakyat. Semua kekayaan aku kumpulkan dan akan aku gunakan untuk memerangi raja," kata Ki Banaspati pula.

Ginggi termangu-mangu mendengar penjelasan Ki Banaspati. Benarkah murid Ki Darma ini berjuang demikian hebat untuk kepentingan rakyat semata?

"Kalau kau percaya kepada tindakkanku, kau boleh ikut bergabung. Tapi bila menyangsikannya, kau boleh pergi meninggalkan aku berjuang sendirian. Hanya saja kau harus pandai-pandai memberikan alasan kepada Ki Guru," tutur Ki Banaspati. Ginggi mendengar ucapan murid Ki Darma ini seperti memaklumi kesangsian dirinya.

"Baiklah aku ikut kau. Tapi kalau ternyata cara kerjamu tak dianggap cocok, aku akan kerja sendirian saja, atau aku akan cari murid-murud Ki Darma yang lainnya!" kata Ginggi. Ki Banaspati tersenyum tipis.

"Terserah apa maumu. Yang penting kau bekerja untuk sisi yang dibebankan Ki Guru. Tapi bila kau memilih ikut aku, kau harus mentaati ketentuan-ketentuan yang kuatur," kata Ki Banaspati menatap tajam.

"Coba katakan."

"Pertama kau harus sopan padaku. Ingat, aku di sini pejabat terkemuka. Semua orang hormat padaku, tidak terkecuali pejabat Kandagalante. Ku maklumi karena kau baru turun gunung. Tapi sesudah kau banyak bergaul dengan kehidupan umum, kau harus mentaati etika yang berlaku," kata Ki Banaspati.

Ini adalah omongan yang kesekian kalinya didengar pemuda itu. Sudah beberapa orang yang mengata-ngatai dia bahwa dirinya manusia tak punya aturan hidup, bila bicara semaunya dan tidak punya sopan-santun.

Bertemu dan melihat orang-orang berhubungan sepertinya punya tata-cara yang sudah diatur. Anak-anak bicara hormat kepada ibu-bapaknya dan orang muda berkata halus kepada yang lebih tua. Dan yang jelas dia saksikan, bahwa seorang yang punya kedudukan rendah harus merunduk-runduk dan mengikuti serta tunduk kepada perkataan dan kehendak orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Ki Ogel dan Ki Banen mentaati perkataan Ki Kuwu Suntara dan Rama Dongdo, pemuda Seta dan Madi juga tunduk kepada Suji Angkara. Sepertinya ini sudah hukum alam, bahwa yang punya kedudukan tinggi kerjanya memerintah dan sebaliknya yang rendah hanya mentaati perintah. Sekarang, setujukah Ginggi terhadap hukum yang berlaku dalam kehidupan ini?

Entahlah sebetulnya dia tak kerasan dengan berbagai basa-basi ini. Peraturan etika hidup ini sepertinya hanya mengikat dan membelit kebebasannya dalam bergerak dan berkata-kata.
Etika sopan-santun bahkan dia saksikan hanya sebagai kedok atau hiasan yang tidak menggambarkan keadaan hati yang sebenarnya. Ginggi mengambil contoh dari beberapa sikap anggota rombongan seba yang dipimpin Suji Angkara. Di hadapan pemimpinnya, mereka berkata sopan dan taat akan segala perintah. Tapi di belakangnya mereka mengomel panjang-pendek. Ginggi tak senang dengan keadaan ini. Yang dia sukai adalah seperti sikap Ki Darma yang kemudian menurun kepadanya. Bahwa apa yang ada di mulut dan di wajah, itulah yang ada di hatinya. Dia tak ingin ada orang pura-pura menangis padahal hatinya tertawa, atau sebaliknya ada orang pura-pura tertawa padahal hatinya menangis.

"Rakyat Pajajaran sekarang banyak yang memaksakan diri untuk tertawa hanya karena menyegani rajanya, padahal hatinya menangis karena prihatin. Karena tradisi harus hormat kepada raja, banyak rakyat tidak memperlihatkan isi hati yang sebenarnya," kata Ki Darma tempo hari.
Sekarang memang zaman kepalsuan. Haruskah dia pun terjun ke kancah kepalsuan itu? Tapi, rupanya sekarang ini memang aku harus melibatkan diri dalam basa-basi ini, pikir
Ginggi. Bukan karena dia ingin menyesuaikan kepada kepalsuan itu. Tapi untuk melancarkan misi yang diembannya. Dia tak boleh banyak mendapatkan rintangan yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Untuk apa memperlihatkan sikap tak sopan bila hanya akan mendatangkan keributan saja?

"Baiklah, aku… maksudnya saya akan mentaati perintah dan persyaratanmu," kata pemuda itu pada akhirnya.

"Nah, begitu lebih baik. Kau kelak akan menjadi anak buahku yang amat kuandalkan," kata Ki Banaspati ceria.

Malam itu juga Ginggi dibawa ke bale gede, yaitu tempat musyawarah antara Kandagalante dan para aparatnya. Selama Ginggi melangkah, dia berharap Suji Angkara sudah pergi menjauh dari wilayah Kandagalante ini, sebab kalau dia ketahuan ikut dengan Ki Banaspati suasana akan berabe.

Dan pemuda itu amat lega. Sebab ketika dia tiba di ruangan bale gede, ada beberapa jagabaya yang mengabarkan kepada Ki Sunda Sembawa bahwa empat orang tangan kanan Suji Angkara telah meninggalkan tempat mereka menginap dengan diam-diam.

Namun rasa lega Ginggi bertolak belakang dengan apa yang dikandung Ki Banaspati serta Ki Sunda Sembawa. Pemuda itu selintas bisa melihat mimik kedua orang itu nampak tak senang mendengarnya.

"Mengapa merka pergi tanpa pamit?" tanya Ki Sunda Sembawa mengerenyitkan alis.

Hanya Ginggi yang menduga apa yang dipikirkan kedua orang itu. Baik Ki Banaspati mau pun Ki Sunda Sembawa pasti menduga bahwa anak buah Suji Angkara sudah mengetahui apa yang terjadi terhadap pemimpinnya.

"Coba cari Ki Joglo dan suruh menghadap ke sini!" perintah Ki Banaspati. Dua orang jagabaya pergi mengemban perintah itu.
Di ruangan besar itu tinggallah mereka bertiga, Ginggi, Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa.

"Siapa anak muda ini?" tanya Ki Sunda Sembawa. Ginggi ingat akan basa-basi etika, maka dia segera mnyembah takzim.

"Dia masih kerabat dekat saya. Dan kelak anak muda ini akan jadi pembantu kita yang bisa diandalkan. Namanya Ginggi," jawab Ki Banaspati.

Ki Sunda Sembawa meneliti wajah Ginggi, "serasa aku pernah melihat wajahmu, anak muda."

"BenarJuragan (tuan), sebab tadi senja saya ikut rombongan Raden Suji Angkara," jawab Ginggi hormat.

Ki Sunda Sembawa menyipitkan pandangan matanya dan jidatnya sedikit berkerut.

"Jangan khawatir, anak muda ini bukan anak buah Si Suji. Dia hanya kebetulan bergabung di tengah perjalanan," kata Ki Banaspati.

"Engkau tahu peristiwa di hutan jati, anak muda?" tanya kandagalante penuh selidik. Ginggi mengangguk. Dan dahi pejabat wilayah Sagaraherang kembali berkerut.

"Jangan khawatir, sudah saya ungkapkan segalanya dan dia mengerti perjuangan kita," kata Ki Banaspati menimpali.

"Kau memang harus mengerti perjuangan kami sebab bila tidak, aku tak mau memberikan pekerjaan kepada orang-orang yang tak sapaham," gumam Ki Sunda Sembawa.

Sementara itu dari luar datang beberapa jagabaya. Dua orang membawa obor dan dua orang lagi mengusungcikrak (tandu). Ketika cikrak diturunkan isinya, nampak tubuh seorang lelaki. "Ki Joglo?" "Betul Juragan…" "Mati?"
"Mati Juragan. Dia ditemukan di tepi kolam dengan leher hampir putus!" kata si pelapor.

Ginggi terkejut sebab yang disebut Ki Joglo ini ternyata pemimpin perampok di hutan jati yang tadi dia lumpuhkan.

"Bawa dan kuburkan malam ini juga. Aku tak senang melihat darah anak buahku," kata Ki Sunda Sembawa yang juga dianggukkan oleh Ki Banaspati.

Mayat Ki Joglo diusung kembali tanpa dilihat untuk kedua kalinya oleh Ki Sunda Sembawa dan Ki Banaspati, sepertinya ini sebuah kematian tak berarti.

"Siapa yang membunuh dia?" Gumam Ki Banaspati. Hanya Ginggi yang bisa mengira-ngira siapa yang bertindak kejam ini. Kurang ajar, Si Suji sebetulnya tak perlu membunuh orang tak berdaya, kata Ginggi dalam hati. Ya, kalau benar pembunuhnya adalah Suji Angkara, dia pun ikut terlibat. Sekurang-kurangnya membantu meringankan tugas anak muda itu untuk menggorok leher Ki Joglo. Sialan, desisnya.

"Juragan, mungkinkah pembunuhnya para anak buah Raden Suji? Kalau begitu, kita balas mereka sebab ada belasan anak buahnya yang lagi tidur karena mabuk tuak. Mereka tak sempat dibangunkan!" kata seorang jagabaya.

"Betul! Kita bunuh mereka!" kata yang lain.

"Jangan dibunuh, mereka tak berdosa!" Ginggi berdiri dan mencegah. "Kau siapa?" tanya jayabaya.
"Dia anggota rombongan seba itu. Pasti sekongkol dengan kaki tangan Raden Suji!" teriak yang lainnya mengamang-amang obor.

Ginggi membalik ke arah Ki Banaspati, "Juragan sebaiknya orang-orang itu tak dibunuh. Mereka hanya tukang pikul biasa saja dan tak ada kaitannya dengan Raden Suji. Membunuh orang tak berarti hanya membuat sibuk pekerjaan saja," kata Ginggi, memohon tapi bernada pasti.

"Bebaskan orang-orang itu dan suruh kembali ke dusunnya masing-masing. Beri pula mereka bekal dan katakan tugasnya sudah selesai." kata Ki Banaspati memutuskan dan disetujui Ki Sunda Sembawa.

Ginggi merasa lega mendengarnya. Dengan demikian, korban sia-sia tak perlu terjadi lagi. Para jagabaya dibubarkan. Sebagian pergi melaksanakantugur (ronda), sebagian mempersiapkan upah dan bekal bagi bekas anak buah Suji Angkara yang akan disuruh kembali ke Desa Cae.

Malam sudah kian larut dan cahaya bulan pudar mengambang di langit sebelah timur. Namun kendati begitu, Ginggi belum disuruh beristirahat. Dia malah dipanggil kembali untuk menghadap di bale gede.

"Ini peringatan pertama bagimu," kata Ki Banaspati. Ginggi tak mengerti atas perkataan ini.

"Di hadapanku dan Ki Sunda Sembawa, tidak di perkenankan siapa pun mengeluarkan pendapat tanpa diminta. Kau paham maksudku?"

"Kalau saya tak mengeluarkan pendapat, apakah orang-orang tadi tak akan dibunuh?" tanya Ginggi.

"Aku lebih tahu dari kau dan kau tak perlu memberi nasihat soal itu," kata Ki Banaspati. Ginggi diam menunduk.
"Ya, sudah kau pergi. Jagabaya sudah mampersiapkan tempat menginap untukmu," kata Ki Banaspati lagi.

Ginggi menyembah hormat dan mengundurkan diri. Namun sebelum jauh benar, pemuda ini meloncat ke atas atap sirap dan menguping pembicaraan kedua orang itu.

"Saya belum percaya benar tehadap kepatuhan pemuda itu," terdengar suara Ki Sunda Sembawa.

"Jangan khawatir. Dia bukan orang yang membahayakan gerakan kita. Tapi harap dimaklum kalau perangainya begitu. Anak itu datang dari gunung terpencil dan tidak mengenal tata cara pergaulan kota. Kita akan coba mendidik etika padanya sebab di kemudian hari kita akan amat membutuhkan tenaganya. Tadi aku menjajal kemampuannya dan ilmu pemuda itu tidak terlalu jauh di bawah kemampuanku," kata Ki Banaspati. "Kalau kita dapat mempengaruhinya, dia akan menjadi salah satu pembantu utama kita," sambungnya.

Pembicaraan berhenti sebentar dan terdengar mereka meneguk minuman. "Bagaimana dengan Suji Angkara?" terdengar suara Ki Sunda Sembawa.
"Itulah yang aku pikirkan. Kita perlu memastikan, apakah Ki Joglo berhasil membunuhnya di kolam. Tapi kalau tak berhasil, kita cukup berbahaya menghadapinya." kata Ki Banaspati.

"Saya khawatir Ki Joglo bukan membunuhnya tapi malah dia yang dibunuh seperti terbukti tadi," kata Ki Sunda Sembawa.

"Aku juga berpikir begitu. Sebab, dari mana pikiran anak buahnya timbul untuk melarikan diri kalau bukan dikabari Si Suji?" kata Ki Banaspati. ‘Mari kita periksa kolam dimana rencana pembunuhan terhadap pemuda itu akan dilakukan," ajak Ki Sunda Sembawa.

Dari atas atap sirap Ginggi melihat dua orang itu keluar dari bale gede dan akan menuju kolam di mana tadi Ki Joglo memanggul tubuh Suji Angkara yang masih pingsan.

Sudah barang tentu, Ginggi tahu pasti bahwa Ki Joglo belum sempat membenamkan Suji Angkara di kolam itu karena orang malang itu sudah lebih dahulu dia lumpuhkan.

Ambisi Sunda Sembawa

Sudah hampir sebulan Ginggi "mengabdi" kepada Ki Banaspati. Selama sebulan itu, pemuda ini sudah mulai mengenal orang yang oleh Ki Darma disebut-sebut sebagai yang harus dia ikuti.

Memang benar seperti apa yang diakui oleh Ki Banaspati, bahwa dirinya bukan orang sembarangan.

Ginggi pun mulai mengenal siapa Ki Sunda Sembawa

Menurut obrolan para jagabaya yang secara diam-diam ditampung olehnya untuk sekadar pengetahuan, Kandagalante Sunda Sembawa ini kekuasaannya sudah semakin luas. Dia membawahi beberapacutak (setingkat camat) dan belasankuwu (kepala desa). Jumlah penduduk Sagaraherang waktu itu, lebih dari 1.200 orang dan kebanyakan masih memegang kepercayaan lama.

Masih memegang erat agama lama, merupakan satu pilihan yang berani sebab Sagaraherang sudah amat dekat ke daerah utara yang dikuasai Cirebon.

Kata beberapa jagabaya, bentrokan-bentrokan kecil dengan Prajurit Cirebon yang sudah memiliki agama baru kerap kali terjadi. Bentrokan itu biasanya terjadi bila sudah mempermasalahkan seba.

Kandagalante Sunda Sembawa membuat kebijaksanaan, seluruh desa yang ada di bawah kekuasaannya harus mengumpulkan sebagian kekayaan desa untuk kepentingan seba ke Pakuan. Seba atau pajak hasil bumi desa ditampung oleh cutak dan cutak harus mengirimkannya ke kandagalante. Tapi kebijaksanaan Ki Banaspati lebih hebat lagi. Dia bahkan berani mengutip seba ke wilayah-wilayah yang sebetulnya sudah menginduk ke pusat pemerintahan agama baru. Banyak desa yang ada di bawah kekuasaan Karatuan Sumedanglarang, asalkan desa itu jauh dari jangkauan pengawasan pusat pemerintahannya, hasil buminya dikutip anak buah Ki Banaspati. Demikian juga beberapa wilayah yang berada di bawah kekuasaan Karatuan Talaga, Ki Banaspati tidak membiarkannya. Asalkan wilayah itu terasa susah dijangkau pemerintahan pusat, pasukannya rajin sekali mengutip hasil bumi wilayah tersebut. Ki Banaspati juga pandai memanfaatkan situasi. Dia tahu, Sumedanglarang dan Talaga belum utuh sebagai kerajaan yang memiliki kesatuan dalam memilih agama baru. Banyak juga di antara wilayah Kandagalante, atau bahkan hanya setingkat wilayah cutak dan desa secara diam-diam masih setia terhadap agama lama. Bila masih terjadi hal demikian, mudah diduga mereka masih setia juga terhadap Pakuan.

Wilayah-wilayah seperti inilah yang menjadi santapan Ki Banaspati. Kandagalante Sunda Sembawa setuju saja dengan kebijaksanaan ini. Ki Banaspati adalah aparatmuhara ( petugas penarik pajak) yang katanya berurusan dengan keputusan pusat. Artinya, kedudukan Kandalante Sunda Sembawa masih lebih rendah ketimbang utusan pusat. Lain dari pada itu, kebijaksanaan Ki Banaspati yang berani mengutip seba sampai jauh ke wilayah timur, hanya berarti menambah wibawa saja bagi keberadaan Kandagalante Sunda Sembawa. Wilayah Sagaraherang disegani oleh lawan dari utara dan mereka tak berani sembarangan menyerang ke pusat kekuasaan. Jadi, kalau pun terjadi penyerangan, itu dilakukan pasukan agama baru terhadap rombongan seba dari timur yang akan memasuki wilayah Sagaraherang saja.

Soal adanya penyerangan terhadap rombongan seba, sebetulnya masih simpang siur dan diragukan kebenarannya. Siapa yang melakukannya, apakah benar dari pasukan agama baru, atau kaum perampok semata?

Beberapa Jagabaya Sagaraherang kerap kali mengabarkan perihal adanya macam-macam perampok.

"Sekarang ini zaman kacau. Di daerah-daerah di mana pengaruh Pakuan amat lemah dan pengaruh kekuasaan kerajaan agama baru belum begitu kuat, terdapat kekuatan-kekuatan baru yang tidak jelas tujuannya. Mereka tidak bersetia lagi kepada Pakuan tapi juga tidak menyukai kehadiran kekuasaan pemerintahan agama baru. Maka jadilah mereka pasukanpasukan tak bertuan. Untuk mempertahankan keberadaannya, mereka menjarah kampung atau juga mencegat rombongan seba yang sekiranya kurang mendapat pengawalan kuat," tutur seorang jagabaya yang berusia tua.

"Apakah kekuatan tak bertuan itu termasuk juga yang mencegat rombongan seba di bawah pimpinan Raden Suji Angkara, Paman?" tanya Ginggi di suatu senja.

"Mungkin juga," tutur jagabaya tua ini.

Mendengar penjelasan ini, Ginggi termenung. Tapi bagaimana dengan pengakuan Ki Banaspati sendiri yang memang mengaku "merampok" rombongan tersebut?

Mendengar bunyi jawaban jagabaya tua ini, timbul kesan bahwa tidak seluruh gerakan Ki Banaspati diketahui seisi wilayah Sagaraherang. Kalau tidak begitu, tak mungkin pertanyaan pancingan Ginggi dijawab seperti itu.

Sampai di situ, terpaksa pemuda ini harus berpikir keras. Ki Banaspati benar-benar misterius. Tempo hari dia mengaku secara gelap menghimpun kekuatan untuk merampok pejabat Pajajaran yang korup dan menindas rakyat. Namun di lain fihak dia menjadi pejabat utama muhara langsung dari pusat guna menarik pajak. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mungkinkah selama ini dia memiliki "dua wajah" dan tak pernah tercium baunya oleh pemerintahan di Pakuan?

"Aku tetap setia terhadap amanat Ki guru, bahwa aku harus menolong rakyat Pajajaran dari penindasan raja yang tak tahu diuntung itu!" kata Ki Banaspati kepada Ginggi tempo hari.

Kata Ki Banaspati, dia memang merampok pejabat korup dan mencegat rombongan pembawa hasil bumi atau kekayaan lainnya dari para saudagar yang bekerja tak halal. Hasil-hasil jarahannya sebagian dia berikan kembali kepada rakyat dan sebagian dihimpun untuk menciptakan kekuatan baru. Bila dia sudah memiliki kekuatan, akan dia pergunakan untuk menyerang Pakuan dan merebut kekuasaan.

"Ratu Sakti harus disingkirkan karena dia tak becus mempertahankan kebesaran Pajajaran. Kemudian, akulah kelak yang akan memegang tampuk pemerintahan di Pakuan. Akan kukembalikan kebesaran Pajajaran seperti ketika dipimpin oleh Kangjang Prabu Sri Baduga Maharaja!" kata pula Ki Banaspati.

Ginggi merenung keras. Begitukah cara melaksanakan amanat Ki Guru Darma dalam upaya membela rakyat? Cukup pantaskah Ki Banaspati mencuatkan dirinya untuk menjadi raja menggantikan Ratu Sakti?

"Sejauh mana keberadaan seseorang untuk diakui sebagai raja yang kelak harus mampu memayungi nasib sejumlah besar manusia di sebuah wilayah bernama negara?" pikir Ginggi. Ginggi memang mengetahui, Ki Banaspati orangnya tegas, suaranya berwibawa, perintahnya tak pernah diabaikan dan selalu melihat darah mengalir sambil tanpa mempengaruhi perasaannya. Bagi Ki Banaspati, darah dan kematian sepertinya sesuatu hal yang biasa.
Ginggi masih teringat peristiwa sebulan lalu. Ki Banaspati dengan enteng saja memerintahkan anak buahnya membunuh Suji Angkara dengan cara dibenamkan ke kolam. Ki Banaspati juga tidak melihat kendati hanya sebelah mata, ketika mendengar Ki Joglo tewas dengan leher hampir putus, padahal orang itu adalah anak buah yang amat dipercayanya dan padahal kematian orang itu karena berupaya melaksanakan perintahnya.

"Betulkah seorang calon raja yang bercita-cita ingin membela rakyat dan ingin mengembalikan kejayaan Pajajaran harus memiliki watak keras dan tega melihat kematian?" pikir Ginggi lagi.

Lantas pemuda ini menerawang ke arah Prabu Ratu Sakti, Raja Pajajaran yang tengah berkuasa sekarang. Khabarnya raja ini selalu menyinggung perasaan rakyat karena tindakantindakannya yang keras, kurang bijaksana dan selalu doyan perempuan. Bila Ki Banaspati punya cita-cita ingin meruntuhkan kekuasaan Sang Prabu Ratu Sakti dan menggantikannya sebagai raja, apakah Ki Banaspati sudah merasa bahwa dirinya jauh lebih baik dari raja sekarang?

Ginggi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras sepertinya dia hendak mengusir rasa penting yang membebani benaknya.

Banyak orang mengatakan bahwa Prabu Ratu Sakti memerintah dengan sewenang-wenang. Tapi sudah hampir tujuh tahun dia memimpin negara tanpa tergoyahkan. Menurut Ki Darma , selama dia memerintah, kekacauan terjadi di mana-mana dan berbagai pemberontakan pun banyak meletus. Akan tetapi raja ini tetap sanggup bertahan duduk di atas singgasananya.
Sanggup bertahan dari serangan pemberontak, bahkan berani memadamkannya, hanya punya arti bahwa raja ini memiliki kekuatan dan banyak dilindungi oleh pembantu-pembantu pandai. Kalau dia masih dikelilingi orang-orang pandai, hanya menandakan bahwa dia berwibawa dan dipercaya aparatnya. Perlukah orang yang masih mendapatkan kepercayaan diusir pergi dari percaturan kekuasaan?

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 07"

Post a Comment